HUKUM MENYEMBELIH HEWAN DENGAN MENGGUNAKAN ALAT MESIN LISTRIK

Assalamualaikum

Deskripsi masalah.
Seiring dengan berjalannya waktu dan berkembangnya ilmu dan tehnologi canggih yang semakin maju, dimana tidak sedikit alat-alat itu telah dipakai oleh sebagian masyarakat yang diantaranya menyembelih hewan dengan alat mesin listrik, ini adalah penemuan baru yang tidak ada pada masa lalu yang biasa menyembelih hewan dengan menggunakan alat yang tajam seperti pisau pedang dll.

Pertanyaan.

Bagaimana hukumnya menyembelih hewan dengan alat listrik, halalkah hewan tersebut?

Waalaikum salam.
Hukum sembelihan dengan alat mesin menurut sebagian madzhab Maliki adalah boleh dan halal, karena menurut mereka syarat menyembelih tidaklah harus dengan benda tajam yang terpenting adalah niat tujuanya untuk menyembelih untuk dimakan dan terputusnya ruh, dengan demikian boleh hewan disembelih dengan alat listrik namun hukumnya makruh.

Dalam kitab halal dan Haram Dr.Yusuf al-Qardhowi menjelaskan.
Apakah hewan yang disembelih dengan sengatan listrik dan sejenisnya dihalalkan itu, disyaratkan seperti penyembelihan dalam ajaran agama kita, yakni dengan benda tajam dileher? Karena kebanyakan ulama mensyaratkan hal itu, sedangkan sebagian kelompok dikalangan madzhab Imam Malik memfatwakan tidak disyaratkan.( Wafwa ini termasuk dalil yang sangat jelas atas dasar ilmu agama, dan kehati-hatian Imam Malik beliu tidak terlalu gegabah mengatakan haram sebagaimana dilakukan oleh sebagian ulama sekarang , beliau cukup mengatakan dengan hukum makruh karena ada dua dalil ( dasar )umum yang kontradiktif, yaitu dalil umum hewan yang disembelih atas nama selain Allah dan makanan ahli kitab pada umumnya. Beliau telah memadukan antara kebudayaan sebagaimana kami sebekan )

Tentang Tafsir ayat Al-Maidah tersebut, Al-Qadi Ibnu Arabi mengatan, ini merupakan dalil yang qath’i bahwa buruan dan makanan ahli kitab termasuk makanan baik-baik yang dibolehkan Allah ia adalah halal secara mutlak. Allah SWT mengulang-mengulangnya tidak lain dalam rangka menghilangkan keraguan dan praduga-praduga (kewatiran) yang tidak benar yang kadang melintas, yang hanya menimbulkan pertentangan pendapat yang kepanjangan. Saya bernah ditanya tentang seorang nasrani yang membunuh ayam dengan memilin lehernya, lalu memasaknya, apakah ia boleh dimakan ? Saya katakan boleh. Karena ia adalah makanan dan makanan para pendeta serta rahib-rahibnya, meskipun praktek itu bukan termasuk penyembelihan yang menurut kita. Akan tetapi Allah menghalalkan untuk kita makanan mereka secara mutlak, sesuai dengan pandangan agama yang mereka anut. Semua halal bagi kita, kecuali apa yang Allah dustakan.Para ulama mengatakan, mereka memberikan kepada kita wanita-wanitanya sebagai istri, halal bagi kita mencampurinya, lalu bagaimana mungkin tidak boleh memakannya dibandingkan pernikahan, dalam hal halal dan haram?
Itulah ditegaskan Ibnu Arabi. Ditempat lain mengatakan, apa yang mereka makan bukan dengan cara menyembelih seperti mencekik dan memukul kepala, adalah bangkai yang diharamkan .
Kedua itu tidak bertentangan. Karena maksud pernyataan itu adalah apa yang mereka pandangan sebagai penyembelihan yang sah menurut agama kita. Sebaliknya, apa yang mereka tidak mereka anggap sebagai penyembelihan menurut agama mereka tidaklah halal bagi kita.
Cara pandang yang sama-sama kita akui tentang penyembelihan adalah kesengajaan untuk menghilangkan nyawa binatang dengan niat menghalalkannya untuk dimakan. Itulah madzhab sebagai kelompok maliki.
Berdasarkan perspektif ini tahulah kita hukum daging impor dari negeri ahli kitab, seperti dagingnya ayam daging sapi kalengan, yang boleh jadi penyembelihannya dengan cara sengatan listrik dan sejenisnya. Selama mereka menganggapnya sebagai sembelihan yang halal maka ia halal bagi kita sesuai dengan umumnya makna ayat.
Adapun daging yang diimpor dari negeri-negeri komunitas maka tidak boleh kita mengkonsumsinya, karena kerena membangkan kepada Allah dan semua risahnya. WALLAHU A’LAM BISH-SHAWAB.

كتاب الحلال والحرام للشيخ الدكتور يوسف القرضاوى ص ٧٥-

ما ذكوه بطريق الصعق الكهربائي ونحوه

هل يشترط أن تكون تذكيتهم مثل تذكيتنا ، بمُحدَّد في الحلق

:المسألة الثا نية

إشترط ذلك أكثر العلماء ، والذي أفتى به جماعة من المالكية أن ذلك ليس بشرط قال القاضي ابن العربي في تفسير آية المائدة= هذا دليل قاطع على أن الصيد وطعام الذين أوتوا الكتاب ، من الطيبات التي أباحها الله وهو الحلال المطلق
وإنما كرره الله تعالى ليرف به الشكوك ويزيل الإعتراضات عن الخواطر الفاسدة ، التي توجب الإعتراضات وتحوج إلى تطويل القول.
ولقد سُئلت عن النصراني يفتل عنق الدجاجة ثم يطبخها هل تؤكل لأنها طعامه وطعام أحباره ورهبانه وإن لم تكن هذه ذكاة عندناولكن أباح الله لنا طعامهم مطلقا ، وكل ما يرونه حلالا في دينهم فإنه حلال لنا إلا ماكتب الله.
هذه الفتوى من أظهر الأدلة على فقه الإمام مالك ودينه وورعه رضي الله عنه إذ لم يسارع إلى التحريم كمايفعل بعضهم اليوم واكتفى بالكراهة ، حيث وجدعمومين متعارضين عموم ما أهل لغير الله به وعموم طعام أهل الكتاب وقد جمع بينهما بما ذكرناه فيه . ولقد قال علماؤنا : إنهم يعطوننا نساءهم أزواجا ، فيحل لنا وطؤهن ، فكيف لا نأكل ذبائحهم ، والأكل دون الوطء في الحل(١ )هذا ماقرره ابن العربي .والحرمة؟+وقال هذا في موضع ثانٍ : = ما أكلوه على غير وجه الذكاة كالخنق وحطم
(²)ولا تنافي بين القولين ، فإن المراد : أن ما يرونه مذكًى عندهم حلَّ لناوإن لم تكن ذكاتُه عندنا ذكاةًصحيحة وما لا يرونه مُذكًى عندهم لا يحل لنا . والمفهوم المشترك للذكاة : هو القصد إلى إزهاق روح الحيوان بنية تحليل أكله .وهذا هو مذهب جماعة المالكية . وعلى ضوء ما ذكرنا نعرف الحكم في اللحوم المستوردة ، من عند أهل الكتاب كالدجاج ولحوم البقر المحفوظة ، مما قد تكون تذكيته بالصعق الكهربائي ونحوه . فما داموا يعتبرون هذا حلال مذكًّى فهو حِلٌّ لنا وَفق عموم الآية.
أما اللحوم المستوردة من بلاد شيوعية : فلا يجوز تناولها بحال،
لأنهم ليسوا أهل كتاب ، وهم يكفرون بالأديان كلها ، ويجحدون بالله ورساالته جميعا .والله أعلم بالصواب

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa hukum memotong hewan dengan mesin adalah halal, selama mesin dan cara memotongnya memenuhi syarat-syarat sebagai berikut:

  1. Pemotongnya seorang muslim/ahlu kitab yang asli
  2. Alat mesin yang dipergunakan, merupakan benda tajam yang bukan dari tulang atau kuku , Sengaja menyembelih hewan tersebut

بجيرمى ج ٦ص٢٨٦
وشرط فى الذبح قصد اى قصد العين أو الجنس بالفعل (قوله قصد العين) وإن أخطأفى ظنه، أو الجنس فى الإصابة – ح ل – والمرد بقصد العين أو بالجنس بالفعل أى قصد إيقاع الفعل على العين أو على واحد من الجنس وإن لم يقصد الذبح.

Syarat dalam memotong hewan: menyengaja terhadap hewannya atau jenisnya dengan perbuatan (kata-kata menyengaja pada hewan), meskipun keliru dalam persangkaannya atau jenisnya dalam kenyataannya … artinya menyengaja ialah: sengaja terhadap hewan itu atau jenisnya walupun tidak sengaja menyembelih.

الجمل ج ٥ ص ٢٤١-٢٤٢
وشرط في الآلة كونها محددة بفتح الدال المشددة أى ذات حدة تجرح كحديد أى كمحدد حديد وقصب وحجر ورصاص وذهب وفضة إلا عظما كسن وظفر لخبر الشيخين: ما أنهر الدم وذكر اسم الله عليه فكلوه ليس السنّ والظفر وألحق بهما باقي العظام

Syarat alat untuk menyembelih harus tajam yang bisa melukai seperti pisau besi, bambu, batu, timah, emas, perak, kecuali (tidak boleh) dengan tulang dan kuku. Dengan dasar hadits shohih bukhori dan muslim: sesuatu yang dapat mengalirkan darah dengan menyebut nama Allah maka makanlah selama bukan dengan tulang dan kuku. dan disamakan dengan keduanya semua jenis tulang.

يعلم من قوله الآتى أو كونها جارية سباع او طير الخ … حيث أطلق فيه ولم يشترط أن تقتله بوجه مخصوص. فيسفاد من الإطلاق أنه يحل مقتولها بسائر أنواع القتل.

Telah diketahui dari kata-kata yang akan datang adanya alat memotong hewan, dapat melukainya binatang atau burung dst. Sekira dimutlakkan dan tidak disyaratkan, cara membunuh dengan cara yang khusus, maka dapat diambil pengertian halal apa yang di bunuh binatang dengan segala cara membunuh. Wallahu A’lam bish-shawab

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *