HADITS KE 111 : DEBU ADALAH PENGGANTI SEMENTARA APABILA TIDAK ADA AIR

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

BAB TENTANG TAYAMUM

HADITS KE 111 :

وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم ( اَلصَّعِيدُ وُضُوءُ اَلْمُسْلِمِ وَإِنْ لَمْ يَجِدِ اَلْمَاءَ عَشْرَ سِنِينَ فَإِذَا وَجَدَ اَلْمَاءَ فَلْيَتَّقِ اَللَّهَ وَلْيُمِسَّهُ بَشَرَتَهُ ) رَوَاهُ اَلْبَزَّارُ وَصَحَّحَهُ اِبْنُ اَلْقَطَّانِ و لَكِنْ صَوَّبَ اَلدَّارَقُطْنِيُّ إِرْسَالَه

وَلِلتِّرْمِذِيِّ: عَنْ أَبِي ذَرٍّ نَحْوُهُ وَصَحَّحَه

Dari Abu Hurairah Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Tanah itu merupakan alat berwudlu bagi orang Islam meskipun ia tidak menjumpai air hingga sepuluh tahun. Maka jika ia telah mendapatkan air hendaklah ia bertakwa kepada Allah dan menggunakan air itu untuk mengusap kulitnya.” Diriwayatkan oleh al-Bazzar. Shahih menurut Ibnul Qaththan dan mursal menurut Daruquthni.

Menurut riwayat Tirmidzi dari Abu Dzar ada hadits serupa dengan hadits tersebut. Hadits tersebut shahih menurutnya.

MAKNA HADITS :

Tayammum dengan debu merupakan salah satu keistimewaan umat Nabi
Muhammad (s.a.w), sebagaimana yang disebutkan dalam sabdanya:

وجعلت التراب ترابتها لنا طهورا، إذا لم نجد الماء

“Dan debunya dijadikan bagi kami dapat menyucikan apabila kami tidak menjumpai air.” Debu merupakan sarana bersuci orang muslim. Dengan debu tersebut dia dierbolehkan melakukan perkara-perkara yang dilarang kerana berhadas kecil dan berhadas besar (junub). Tetapi debu pada dasarnya tidak dapat menghilangkan hadas. Buktinya ialah apabila dijumpai air, maka seseorang diwajibkan berwuduk atau mandi junub. Hukum boleh bertayammum dibatasi dengan adanya air.

Oleh kerana tayammum merupakan cara yang masih belum dikenali oleh
masyarakat Arab dan belum pula oleh yang bangsa yang lain, maka syariat mengukuhkan perintahnya kepada mereka dan menamakannya sebagai sesuatu yang boleh menyucikan ketika air tidak ada. Hal ini dinyatakan dengan ungkapan mubalaghah melalui sabdanya: “Apabila tidak menemukan air, sekalipun selama sepuluh tahun.” Nabi (s.a.w) menamakannya sebagai pengganti air yang menyucikan.

Dalam keadaan di mana sukar dijumpai, tidak ada bedanya antara ketiadaan
yang hakiki atau ketiadaan hukmi seperti seseorang yang kehilangan alat untuk mengeluarkan air atau sedang sakit yang melarangnya menggunakan air kerana sakitnya dikawatiri bertambah terus atau malah lambat sembuh, atau akan mengakibatkan komplikasi penyakit lain yang diketahui secara pasti atau hanya berlandaskan prasangka melalui uji coba atau nasehat pakar seorang dokter muslim.

FIQH HADITS :

1. Tayammum juga disebut sebagai wudhu.

2. Tayammum menggantikan kedudukan air yang dapat menghilangkan junub untuk sementara waktu hingga air ditemukan.

3. Orang yang junub lalu bertayammum apabila dia menemukan air, maka dia wajib segera mandi junub.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *