السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
بسم الله الرحمن الرحيم
KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI
《JILID II (DUA)》
BAB SHOLAT HARI RAYA IDUL
FITRI DAN IDUL ADLHA
HADITS KE 50 :
وَعَنْ أُمِّ عَطِيَّةَ قَالَتْ: ( أُمِرْنَا أَنْ نُخْرِجَ الْعَوَاتِقَ, وَالْحُيَّضَ فِي الْعِيدَيْنِ; يَشْهَدْنَ الْخَيْرَ وَدَعْوَةَ الْمُسْلِمِينَ, وَيَعْتَزِلُ الْحُيَّضُ الْمُصَلَّى ) مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ
Ummu Athiyyah Radliyallaahu ‘anhu berkata: Kami diperintahkan mengajak keluar gadis-gadis dan wanita-wanita haid pada kedua hari raya untuk menyaksikan kebaikan dan dakwah kaum muslimin, wanita-wanita yang haid itu terpisah dari tempat sholat. Muttafaq Alaihi.
MAKNA HADITS :
Syariat Islam yang telah diperkenalkan oleh Rasulullah (s.a.w) menganjurkan supaya
anak-anak gadis remaja yang sudah baligh dan mereka yang mendekati usia baligh
keluar menuju ke tempat di mana sholat hari raya akan dilaksanakan. Nabi (s.a.w)
menyuruh berbuat demikian menunjukkan betapa penting mengajarkan ilmu-ilmu
agama kepada kaum wanita. Penyertaan mereka untuk menghadiri nasihat dan
majlis taklim diharapkan mampu menanamkan akhlak mulia dan membersihkan
hati mereka. Dengan demikian, mereka turut serta bersama kaum lelaki memetik manfaat yang terdapat pada hari perayaan ini berupa ilmu, bimbingan dan rahmat. Ini khusus apabila keluarnya wanita tidak menimbulkan fitnah. Tetapi apabila menimbulkan fitnah, maka kaum wanita dilarang keluar rumah. Aisyah
(r.a) berkata: “Seandainya Nabi (s.a.w) mengetahui apa yang dilakukan oleh kaum
wanita sesudahnya, niscaya baginda melarang mereka dari hadir di dalam masjid.”
FIQH HADITS :
Pada kedua hari raya itu kaum wanita disyariatkan keluar menuju ke tempat
dimana sholat hari raya dilaksanakan tanpa ada perbedaan antara anak perawan dengan janda, antara pemuda dengan orang tua, wanita yang sedang haid dengan yang tidak haid. Namun wanita yang sedang haid tidak boleh turut serta mengerjakan sholat dan hendaklah mereka keluar rumah tanpa menimbulkan fitnah.
Mazbab al-Syafi’i menegaskan bahwa wanita disunatkan keluar pada hari
lraya idul fitri dan hari raya idul adha, kecuali gadis yang masih muda dan gadis cantik. Mereka makruh keluar rumah menuju tempat dimana sholat dilaksanakan karena dikawatiri menimbulkan fitnah.
Mazhab Hambali juga menyatakan bahwa tidak ada salahnya kaum wanita
keluar rumah menuju tempat dimana sholat hari raya dilaksanakan, tetapi tidak
boleh memakai minyak wangi dan pakaian yang menjolok mata. Dzahir pendapat
mereka ini menunjukkan tidak ada perbedaan antara wanita yang masih muda dengan yang lainnya dimana mereka sama dibolehkan keluar rumah untuk menyaksikan pelaksanaan sholat hari raya.
Mazhab Maliki juga mengatakan bahwa apabila keadaan wanita tidak menimbulkan hasrat kaum lelaki, maka dia dibolehkan keluar untuk melakukan sholat fardu, sholat hari raya, dan sholat istisqa’. Namun jika wanita itu masih muda meskipun tidak cantik, maka tidak dibolehkan keluar rumah karena alasan di atas, dimana sholat hari raya selalu dipenuhi orang banyak hingga mereka berdesak-desakan. Wanita dibolehkan keluar menuju ke masjid untuk mengerjakan sholat
berjemaah, tetapi dengan syarat tidak memakai minyak wangi dan perhiasan.
Hendaklah penampilan dirinya tidak dikawatiri akan menimbulkan fitnah, tidak
memakai pakaian yang menjolok mata, tidak berdesak-desakan dengan kaum lelaki, dan hendaklah jalan yang dilaluinya selamat daripada macam-macam gangguan.
Jika tidak selamat, maka haram baginya keluar rumah. Jika wanita itu memiliki
kecantikan yang mempesonakan, maka secara mutlak dia diharamkan keluar rumah.
Imam Abu Hanifah menegaskan bahwa wanita-wanita yang dikurung tidak
boleh keluar rumah.
Abu Yusuf mengatakan bahwa wanita makruh keluar rumah mereka secara mutlak.
Wallahu a’lam bisshowab..
Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.
Semoga bermanfaat. Aamiin..