logo mubaa
Logo Ittihad

DEWAN PIMPINAN PUSAT
IKATAN ALUMNI BATA-BATA

Kategori
Uncategorized

HUKUM ZAKAT GABAH ATAU PADI GAGANG YANG DIPANEN DARI DUA SAWAH

Tinggalkan Komentar / Bahtsul MasailUncategorizedZakat / Oleh K Abd Ghani Al-Jazary

HUKUM ZAKATNYA GABAH ATAU PADI GAGANG YANG DIPANEN DARI DUA SAWAH
Assalamualaikum.
Deskripsi masalah.
Seorang Hamid berprofesi sebagai petani dia mempunyai dua sawah yang satu berada di Desa Muangan dan satu ada di Desa Talang, setiap sawah berukuran 150 meter persegi dan setiap tahunnya ditanami padi, sedangkan panennya sawah tersebut selisih satu bulan sedangkan jumlah dari masing-masing keduanya ketika panen tidak sampai satu nisab, namun apabila dikumpulkan dari hasil panen keduanya sampai satu nisab.

Pertanyaanya.

Apakah Hamid berkewajiban mengeluarkan zakat..? Mohon jawabannya.

Waalaikum salam.
Jawaban.
Hamid wajib mengeluarkan zakat dengan mengumpulkan seluruh panen dari dua sawah tersebut.

مرقاة صعود التصديق فى شرح سلم التوفيق.ص ٣٩


( ويضم زرع العام )

أى أنواع زرع العام ( بعضه إلى بعض ) فى إكمال النصاب إن اتخذ الجنس ووقع الحصاد فى عام واحد إثني عشر شهرا عربية وإن لم يقع الزرعان فى سنة إذ الحصاد هو المقصود.


Dan dikumpulkan tanaman dalam setahun antara yang satu dengan yang lainnya dalam menyempurnakan nisab apabila sejenis. Dan adanya panen berada dalam satu tahun, yakni 12 bulan hijriyah, meskipun dua tanaman tidak dipanen pada tahun yang sama.Karena panen tersebut yang damaksud”

الفقه الإسلامي و أدلته – ١٨٢٤/٧٧٢٢

وقال الصاحبان وجمهور الفقهاء (٣): النصاب شرط، فلا تجب فيه الزكاة في شيء من الزروع والثمار حتى تبلغ خمسة أوسق

(653,kg)

أو 50 كيلة مصرية لقوله صلى الله عليه وسلم ليس فيما دون خمسة أوسق صدقة» (١) والوسق ستون صاعا، وهذا حديث خاص بهذه الزكاة، يجب تقديمه، وتخصيص عموم أدلة أبي حنيفة، كما خصص قوله: «في سائمة الإبل الزكاة» بقوله في نهاية هذا الحديث: «ليس فيما دون خمسة ذود صدقة »،وقوله: «في الرقة العشر» بقوله «ليس فيما دون خمس أواق صدقة»، ولأنه مال تجب فيه الصدقة، فلم تجب في يسيره كسائر الأموال الزكائية، ولأن الصدقة تجب على الأغنياء، ولا يحصل الغنى بدون النصاب، كسائر الأموال الزكائية. وهذا هو الراجح لدي لصحة الحديث.وإنما لم يعتبر الحول؛ لأنه يكمل نماؤه باستحصاده لا ببقائه، واعتبر الحول في غيره من الزكوات؛ لأنه مظنة لكمال النماء في سائر الأموال. والنصاب معتبر بالكيل، فإن الأوساق مكيلة، وكان الصاع مكيال أهل المدينة في عهد النبي صلى الله عليه وسلم وقدره أربعة أمداد، والصاع خمسة أرطال وثلث رطل، والرطل (675غم) وذكر الشافعية والحنابلة أنه يعتبر النصاب تمرا أو زبيبا إن تتمر وتزبب، لحديث مسلم «ليس في حب ولا تمر صدقة حتى يبلغ خمسة أوسق» وإن لم يتتمر الرطب ولم يتزبب العنب، بأن لم يأت منه تمر ولا زبيب جيدان في العادة، أو كانت تطول مدة جفافه كسنة، اعتبر نصابا رطبا وعنبا، فيوسق رطبا وعنبا؛ لأن ذلك وقت كماله. فيكمل به نصاب ما يجف من ذلك، وتخرج الزكاة من كل منهما في الحال؛ لأن ذلك أكمل أحوالهما.ويعتبر الحب خمسة أوسق حال كونه مصفى من تبنه؛ لأنه لا يدخر فيه ولا يؤكل معه.وأما ما ادخر في قشره كالأرز والعلس، فنصابه عشرة أوسق، اعتبارا بقشرهالذي يكون ادخاره فيه أصلح له أو أبقى بالنصف ، ولا يضم ثمر عام إلى ثمر عام آخر في إكمال النصاب، ولا زرع عام إلى زرع عام آخر كذلك، ويضم ثمر العام بعضه لبعض، وكذلك زرع العام بعضه لبعض، وإن اختلف إدراكه لاختلاف أنواعه وبلاده حرارة وبرودة. والمراد بالعام هنا: اثنا عشر شهراً عربية.
وذكر المالكية أن المعتبر كون الحب منقى من تبنه وصوانه الذي لا يخزن به، مقدر الجفاف، وكون الرطب تمراً والعنب زبيباً، فإن بيع رطباً أوعنباً فيجب نصف عشر القيمة، ونصف عشر ثمن فول أخضر وحمص مما شأنه ألا ييبس. ويؤخذ نصف العشر من زيت ماله زيت. ويحسب في النصاب الشرعي قشر الأرز والعلس والشعير الذي يخزن به. فلو كان الأرز مثلاً مقشوراً أربعة أوسق، وبقشره خمسة أوسق زكي، وإن كان أقل فلا زكاة.واتفق الجمهور مع الحنفية على أنه لا ينقص النصاب بمؤنة الحصاد والدياس وغيرهما من نفقات الزرع

Para sahabat Abu Hanifah dan mayoritas fuqaha berpendapat bahwa nishab merupakan syarat dalam zakat hasil pertanian dan buah-buahan. Oleh karena itu, zakat tidak wajib pada hasil pertanian dan buah-buahan hingga mencapai lima wasaq (653 kg) atau 50 kīlah Mesir, berdasarkan sabda Nabi ﷺ:

“Tidak ada zakat pada sesuatu yang kurang dari lima wasaq.”

Satu wasaq setara dengan enam puluh sha’. Hadis ini adalah dalil khusus terkait zakat ini, sehingga harus didahulukan dan mengkhususkan dalil umum dari Abu Hanifah, sebagaimana perkataan Nabi ﷺ:

“Pada unta yang digembalakan terdapat zakat,”

yang dikhususkan oleh akhir hadis ini:

“Tidak ada zakat pada sesuatu yang kurang dari lima ekor unta.”

Begitu pula, perkataan beliau:

“Pada perak dikenakan sepersepuluh,”

yang dikhususkan dengan sabda beliau:

“Tidak ada zakat pada sesuatu yang kurang dari lima uqiyah.”

Alasannya adalah karena harta yang wajib dizakati tidak dikenakan zakat jika jumlahnya sedikit, sebagaimana hukum harta zakat lainnya. Selain itu, zakat diwajibkan atas orang-orang kaya, sementara kekayaan tidak terwujud tanpa adanya nishab, sebagaimana harta zakat lainnya. Pendapat ini lebih rajih (kuat) menurut saya karena keabsahan hadis tersebut.

Siklus satu tahun tidak disyaratkan dalam zakat ini, karena pertumbuhan hasil pertanian sempurna dengan proses panen, bukan dengan keberlangsungan waktu. Berbeda dengan zakat lainnya, yang mensyaratkan haul (satu tahun) karena haul adalah indikasi sempurnanya pertumbuhan harta lainnya.

Nishab dalam zakat ini dihitung berdasarkan takaran, karena wasaq merupakan satuan takaran. Sha’ adalah takaran penduduk Madinah pada masa Nabi ﷺ, dengan ukuran empat mud. Satu sha’ setara dengan lima rithl dan sepertiga rithl, sedangkan satu rithl setara dengan 675 gram.

Mazhab Syafi’i dan Hanbali menyatakan bahwa nishab dihitung dalam bentuk kurma atau kismis apabila buah kurma atau anggur telah mengering dan menjadi kurma atau kismis, berdasarkan hadis Muslim:

“Tidak ada zakat pada biji-bijian dan kurma hingga mencapai lima wasaq.”

Namun, jika kurma masih dalam bentuk basah (ruthab) atau anggur masih segar dan belum menjadi kismis, atau jika proses pengeringannya membutuhkan waktu lama hingga setahun, maka nishab dihitung dalam keadaan masih basah (ruthab dan anggur segar). Artinya, penghitungan nishab dilakukan saat buah dalam kondisi sempurna, dan zakat dikeluarkan dalam kondisi tersebut karena itu adalah keadaan yang paling sempurna.

Biji-bijian dihitung mencapai lima wasaq dalam keadaan telah dibersihkan dari jeraminya, karena biji-bijian tidak disimpan atau dikonsumsi bersama jeraminya. Sedangkan hasil panen yang disimpan dengan kulitnya, seperti padi (beras dengan sekam) dan gandum al-‘ils, maka nishabnya adalah sepuluh wasaq, karena penyimpanannya lebih baik dalam keadaan masih berkulit. Maka, nisabnya dihitung dengan kulitnya, dan jika dikupas, ukurannya menjadi setengah dari itu.

Hasil panen dari satu tahun tidak digabungkan dengan hasil panen tahun berikutnya untuk melengkapi nishab, demikian pula hasil pertanian dari satu tahun tidak digabungkan dengan tahun lainnya. Namun, hasil panen dalam satu tahun digabungkan satu sama lain untuk melengkapi nishab, meskipun waktu panennya berbeda karena perbedaan jenis dan daerahnya (baik daerah panas maupun dingin). Yang dimaksud dengan “satu tahun” di sini adalah dua belas bulan hijriyah.

Mazhab Maliki berpendapat bahwa hasil panen dihitung dalam keadaan telah dibersihkan dari jerami dan kulit yang tidak disimpan bersamanya, serta dalam kondisi telah kering. Kurma dihitung setelah menjadi kurma kering dan anggur setelah menjadi kismis. Jika kurma dan anggur dijual dalam keadaan basah, maka zakatnya sebesar setengah dari sepersepuluh nilai jualnya. Setengah dari sepersepuluh juga berlaku pada kacang-kacangan hijau seperti kacang fava dan kacang arab yang biasanya tidak dikeringkan. Zakat minyak diambil setengah dari sepersepuluhnya.

Dalam penghitungan nishab, kulit padi, gandum, dan jelai yang disimpan bersama dihitung dalam nishab syar’i. Maka, jika padi yang telah dikupas hanya mencapai empat wasaq, tetapi dengan kulitnya mencapai lima wasaq, maka tetap wajib zakat. Namun, jika kurang dari itu, maka tidak wajib zakat.

Mayoritas ulama sepakat dengan mazhab Hanafi bahwa biaya panen, perontokan, dan biaya lainnya tidak mengurangi jumlah nishab.

1.Hadits Abdullâh bin Umar Radhiyallahu anhuma bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

فِيْمَا سَقَتِ السَّمَاءُ وَالْعُيُوْنُ، أَوْ كَانَ عَثَريّاً : الْعُشُرُ، وَمَا سُقِيَ باِلنَّضْحِ: نِصْفُ الْعُشُرِ

Pada pertanian yang disirami hujan atau mata air atau yang menggunakan penyerapan akar (Atsariyan) diambil sepersepuluh dan yang disirami dengan penyiraman maka diambil seperduapuluh . [HR al-Bukhari]

2.Hadits Jâbir bin Abdillah Radhiyallahu anhu bahwa beliau mendengar Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

فِيْمَا سَقَتِ الأَنْـهَارُ وَالْغَيْمُ: الْعُشُوْرُ، وَفِيْمَا سُقِيَ بِا لسَّانِيَةِ: نِصْفُ اْلعُشُرِ

Semua yang diairi dengan sungai dan hujan maka diambil sepersepuluh dan yang diairi dengan disiram dengan pengairan maka diambil seperduapuluh [HR Muslim]

  1. Hadits Mu’âdz bin Jabal Radhiyallahu anhu yang berbunyi :

بَعَثَنِيّ رَسُوْلُ اللهِ إِلَى الْيَمَنِ فَأَمَرَنِيْ أَنْ آخُذَ مِمَّا سَقَتِ السَّمَاءُ: الْعُشُرَ، وَفِيْمَا سُقِيَ باِلدَّوَالِيْ: نِصْفَ الْعُشرِ

Rasûlullâh mengutusku ke negeri Yaman lalu memerintahkan aku untuk mengambil dari yang disirami hujan sepersepuluh dan yang diairi dengan pengairan khusus maka seperduapuluh [HR. an-Nasâ’i dan disahihkan al-Albâni rahimahullah dalam Shahîh Sunan an-Nasâ`i 2/193]

Nishab padi, jagung, dan gandum.
Nishab (batas minimal ukuran harta yang dizakati) dari jenis ini sebagaimana dijelaskan dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh imam Bukhari adalah 5 wasaq. Zakat yang dikeluarkan adalah sepersepuluh (10%) apabila menggunakan air hujan, sedangkan apabila tidak menggunakan air hujan maka zakatnya adalah seperduapuluh (5 %) dari hasil tanaman yang didapatkan.  

4. Hadits yang lain Rasulullah saw bersabda:

   عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «فِيمَا سَقَتِ السَّمَاءُ وَالعُيُونُ أَوْ كَانَ عَثَرِيًّا العُشْرُ، وَمَا سُقِيَ بِالنَّضْحِ نِصْفُ العُشْرِ  

Artinya: Dari nabi saw bersabda: “Pada tanaman yang diairi dengan air hujan, mata air atau air tanah maka zakatnya sepersepuluh, sedangkan yang diairi dengan tenaga zakatnya seperduapuluh.   Dalam menjelaskan 5 wasaq inilah para ulama memberikan keterangan yang mungkin tidak sama antara satu dengan yang lain.   Dalam kitab Fath al-Mu’in, Syaikh Zainuddin al-Malibari dari madzhab Syafi’i memberikan keterangan sebagai berikut;

   وتجب على من مر في قوت اختياري من حبوب كبر وشعير وأرز إلى قوله …بلغ قدر كل منهما خمسة أو سق وهي بالكيل: ثلاثمائة صاع والصاع أربعة أمداد  

Artinya: “Dan wajib zakat bagi orang yang telah lewat pembahasannya (muslim dan merdeka) dalam makanan pokok mereka (dalam kondisi normal) dari biji-bijian seperti gandum dan padi…. yang telah mencapai 5 wasaq, yakni 300 sha’ (dalam timbangan), sedangkan 1 sha’ adalah 4 mud.”  

Syarat-syarat zakat tanaman.

Imam Syafi’i menetapkan tiga syarat :
1 – Adanya Hasil bumi harus berupa makanan pokok ,yang disimpan, dan ditanam manusia: yang berupa dari biji-bijian: gandum, biji syair, millet, jagung, beras, lentil, buncis, dan sejenisnya. Itu, dan di antara buah-buahan: kurma dan kismis. Tidak ada zakat pada sayur-sayuran, kacang-kacangan, dan buah-buahan seperti mentimun, semangka, delima, dan tebu.
Adapun Zakat pada biji-bijian yaitu setelah dibersikan dari kulitnya .
2 – Adanya hasil tanaman sampai sempurna satu nishab , yaitu lima awasq, yaitu seribu enam ratus (1600) kati Baghdadi, dan Damaskus .Adapun yang lebih Ashoh ( lebih tepat ) adalah tiga ratus empat puluh dua ( 342 ) Kati dan enam per tujuh ( 6/7 ) Kati, yaitu sama dengan 653kg.

3. Milik penuh ( pemilik tertentu) : Maka tidak wajib zakat atas harta yang diwakafkan pada masjid, menurut pendapat yang benar, alasannya karena masjid tidak dimiliki orang tertentu, dan juga tidak wajib zakat pada pohon Palem yang berada ara-ara yang diperbolehkan , alasannya karena tidak ada yang memiliki secara tertentu.

الفقه الإسلامي و أدلته – ١٨١٤/٧٧٢٢

أولا ـ فرضية زكاة الزروع والثمار وسبب الفرضية (١):هذه الزكاة واجبة بدليل من القرآن والسنة والإجماع والمعقول:أما القرآن: ققوله تعالى: {وآتوا حقه يوم حصاده} [الأنعام:١٤١/ ٦] قال ابن عباس: حقه: الزكاة المفروضة، وقال مرة: العشر، ونصف العشر، وقوله: {يا أيها الذين آمنوا أنفقوا من طيبات ما كسبتم، ومما أخرجنا لكم من الأرض} [البقرة:267/ 2] والزكاة تسمى نفقة، بدليل قوله تعالى: {والذين يكنزون الذهب والفضة، ولا ينفقونها في سبيل الله} [التوبة:٣٤/ ٩].
وأما السنة: فقوله صلى الله عليه وسلم: «فيما سقت السماء والعيون أو كان عثريا (٢) العشر، وفيما سقي بالنضح نصف العشر» (٣) وقوله: «فيما سقت الأنهار والغيم: العشور، وفيما سقي بالسانية (٤) نصف العشور» (٥).وأما الإجماع: فقد أجمعت الأمة على فرضية العشر.
وأما المعقول: فكما ذكرت في حكمة مشروعية الزكاة؛ لأن إخراج العشر إلى الفقير من باب شكر النعمة، وإقدار العاجز، وتقويته على القيام بالفرائض، ومن باب تطهير النفس عن الذنوب وتزكيتها، وكل ذلك لازم عقلا وشرعا.وأما سبب فرضية هذه الزكاة: فهو الأرض النامية بالخارج منها، حقيقة في حق العشر، أو تقديرا في حق الخراج، فلوأصاب الخارج آفة، فهلك لا يجب فيه العشر في الأرض العشرية، ولا الخراج في الأرض الخراجية، لفوات النماء حقيقة وتقديرا. ولو كانت الأرض عشرية فتمكن من زراعتها، فلم تزرع، لا يجب العشر، لعدم الخارج حقيقة. ولو كانت أرضا خراجية يجب الخراج، لوجود الخارج تقديرا.
ولا تجب زكاة الزروع إلا بعد انعقاد الحب واشتداده، ولو بعضه. ولا تثبت الزكاة في الثمار إلا بعد بدو صلاحها، أي ظهور نضجها باحمرار أو اصفرار أو تموه أوتلون، بحسب المعهود في كل ثمر، ويكفي ظهور الصلاح في بعض الثمر من جنس واحد، كما سأبين.
واشترط الشافعية ثلاثة شروط (٢):
١ – أن يكون الناتج الذي تخرجه الأرض مما يقتات ويدخر وينبته الآدميون: فمن الحب: الحنطة والشعير والدُخن والذرة والأرز والعدس والحمص وما أشبه
ذلك، ومن الثمار: التمر والزبيب. ولا زكاة في الخضروات والبقول والفواكه كالقثاء والبطيخ والرمان والقصب. والزكاة على الحبوب بعد تصفيتها من القش والتبن.
٢ – أن يكون الناتج نصاباً كاملاً، وهو خمسة أوسق وهي ألف وست مئة رطل بغدادية، وبالدمشقي في الأصح ثلاث مئة واثنان وأربعون رطلاً وستة أسباع رطل، وهي تساوي ٦٥٣ كغ.
٣ – أن يكون مملوكاً لمالك معين: فلا زكاة في الموقوف على المساجد على الصحيح، إذ ليس لها مالك معين، ولا زكاة في نخيل الصحراء المباح إذ ليس له مالك معين. …….

Kewajiban Zakat Hasil Pertanian dan Sebab Disyariatkannya

Zakat hasil pertanian diwajibkan berdasarkan dalil dari Al-Qur’an, Sunnah, Ijma’, dan logika:

1. Dalil dari Al-Qur’an

Allah Ta’ala berfirman:

“Berikanlah haknya pada hari panennya.” (QS. Al-An’am: 141)

Ibnu Abbas berkata bahwa “haknya” dalam ayat ini adalah zakat yang diwajibkan. Dalam riwayat lain, ia menyebutkan bahwa yang dimaksud adalah ‘ushr (sepersepuluh) dan nishfu ‘ushr (seperdua sepuluh).

Allah juga berfirman:

“Wahai orang-orang yang beriman, infakkanlah sebagian dari hasil usaha kalian yang baik-baik dan dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untuk kalian.” (QS. Al-Baqarah: 267)

Zakat disebut sebagai nafkah (infak), sebagaimana firman Allah:

“Dan orang-orang yang menimbun emas dan perak, lalu tidak menafkahkannya di jalan Allah…” (QS. At-Taubah: 34)

2. Dalil dari Sunnah

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Pada tanaman yang disirami oleh air hujan dan mata air, atau tumbuh dengan sendirinya (‘atsariyyan*), dikenakan zakat sepersepuluh (‘ushr). Sedangkan yang disirami dengan alat (nadh) dikenakan zakat setengah dari sepersepuluh (nishfu ‘ushr).”*

Beliau juga bersabda:

“Tanaman yang diairi oleh sungai dan air hujan dikenakan zakat sepersepuluh (‘ushr*), sedangkan yang disirami dengan alat (saniyah) dikenakan zakat setengah dari sepersepuluh (nishfu ‘ushr).”*

3. Dalil dari Ijma’

Umat Islam telah sepakat (ijma’) mengenai kewajiban zakat hasil pertanian dengan kadar sepersepuluh atau setengahnya.

4. Dalil dari Akal (Logika)

Sebagaimana telah dijelaskan dalam hikmah pensyariatan zakat, mengeluarkan zakat hasil pertanian merupakan bentuk rasa syukur atas nikmat Allah, membantu orang-orang yang membutuhkan, memperkuat mereka agar dapat menjalankan kewajiban agama, serta menyucikan jiwa dari dosa. Semua ini adalah sesuatu yang diwajibkan oleh akal dan syariat.

Sebab Kewajiban Zakat Ini

Sebab diwajibkannya zakat ini adalah tanah yang subur dan menghasilkan panen. Hal ini berlaku secara hakiki dalam zakat pertanian (‘ushriyyah) dan takdiran (perkiraan) dalam zakat tanah kharajiyyah (tanah yang dikenakan pajak kharaj).

  • Jika hasil panen terkena bencana dan musnah, maka zakat ‘ushr tidak wajib pada tanah ‘ushriyyah, begitu pula pajak kharaj tidak wajib pada tanah kharajiyyah, karena hasilnya benar-benar tidak ada.
  • Jika seseorang memiliki tanah ‘ushriyyah tetapi tidak menanamnya, maka tidak ada kewajiban zakat karena tidak ada hasil yang nyata.
  • Namun, jika tanahnya termasuk tanah kharajiyyah, maka pajak kharaj tetap wajib meskipun tidak ditanami, karena hasilnya dianggap ada secara perkiraan.

Zakat hasil pertanian tidak wajib kecuali setelah biji-bijian telah berisi dan mengeras, meskipun sebagian saja. Sedangkan pada buah-buahan, zakat hanya wajib jika telah tampak tanda-tanda kematangannya,


CATATAN 
:

ZAKAT PERTANIAN MAKANAN POKOK

Hasil pertanian makanan pokok seperti beras dan gandum adalah sebagai berikut:

Nishab: 5 wasaq yang setara dengan 652,8 kg atau 653 kg gabah kering atau 520 Kg beras. Waktu mengeluarkan zakat: setelah panen.

Jumlah zakat yang harus dikeluarkan:

  1. 1/10 atau 10% apabila disiram air hujan/mata air/sungai.
  2. 1/20 atau 5% apabila pemeliharaannya menelan biaya pengairan seperti pakai pompa diesel, dll.

Cara menghitung zakat:

Pertama, biaya pupuk, insektisida, dan biaya lain selain pengairan diambilkan dari hasil panen. Apabila hasil bersih mencapai 653 kg gabah kering/520 kg beras, maka berarti sudah wajib zakat.

Kedua, zakatnya hasil bersih panen x 5% apabila pengairan memakan biaya. Hasil bersih panen x 10% apabila pengairan tidak memakan biaya seperti dengan air hujan, sungai, dll.

Terkait

HUKUMNYA TUKAR MENUKAR GULING TANAH WAKAF

November 30, 2023

dalam “Bahtsul Masail”

M093. HUKUM MEMANFAATKAN BARANG GADAI

November 1, 2018

dalam “Bahtsul Masail”

HADITS KE 158 : ZAKAT UNTUK BUAH-BUAHAN

Januari 3, 2020

dalam “001. BAHASAN ZAKAT SECARA UMUM”Navigasi pos

Pos Sebelumnya

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *Ketik di sini..

Nama*

Surel*

Situs web

 Simpan nama, email, dan situs web saya pada peramban ini untuk komentar saya berikutnya.

Post Terbaru

Archives

Archives  Pilih Bulan   Desember 2023    November 2023    Oktober 2023    September 2023    Agustus 2023    Juli 2023    Juni 2023    Januari 2023    Desember 2022    Maret 2022    Agustus 2021    April 2021    Januari 2021    September 2020    Agustus 2020    Juli 2020    Juni 2020    Mei 2020    April 2020    Maret 2020    Februari 2020    Januari 2020    Desember 2019    November 2019    Oktober 2019    September 2019    Agustus 2019    Juli 2019    Juni 2019    Mei 2019    April 2019    Maret 2019    Februari 2019    Januari 2019    Desember 2018    November 2018    Oktober 2018    September 2018    Agustus 2018    Juli 2018    Juni 2018    Mei 2018    April 2018    Maret 2018    Februari 2018    Januari 2018    Mei 2016    Maret 2016    Februari 2016    Januari 2016    Desember 2015    November 2015    Juni 2015    Mei 2015    April 2015    Maret 2015    Januari 2015  

Search

Cari untuk:

Post Terbaru

Archives

Archives  Pilih Bulan   Desember 2023    November 2023    Oktober 2023    September 2023    Agustus 2023    Juli 2023    Juni 2023    Januari 2023    Desember 2022    Maret 2022    Agustus 2021    April 2021    Januari 2021    September 2020    Agustus 2020    Juli 2020    Juni 2020    Mei 2020    April 2020    Maret 2020    Februari 2020    Januari 2020    Desember 2019    November 2019    Oktober 2019    September 2019    Agustus 2019    Juli 2019    Juni 2019    Mei 2019    April 2019    Maret 2019    Februari 2019    Januari 2019    Desember 2018    November 2018    Oktober 2018    September 2018    Agustus 2018    Juli 2018    Juni 2018    Mei 2018    April 2018    Maret 2018    Februari 2018    Januari 2018    Mei 2016    Maret 2016    Februari 2016    Januari 2016    Desember 2015    November 2015    Juni 2015    Mei 2015    April 2015    Maret 2015    Januari 2015  

Search

Cari untuk:

Post Terbaru

Archives

Archives  Pilih Bulan   Desember 2023    November 2023    Oktober 2023    September 2023    Agustus 2023    Juli 2023    Juni 2023    Januari 2023    Desember 2022    Maret 2022    Agustus 2021    April 2021    Januari 2021    September 2020    Agustus 2020    Juli 2020    Juni 2020    Mei 2020    April 2020    Maret 2020    Februari 2020    Januari 2020    Desember 2019    November 2019    Oktober 2019    September 2019    Agustus 2019    Juli 2019    Juni 2019    Mei 2019    April 2019    Maret 2019    Februari 2019    Januari 2019    Desember 2018    November 2018    Oktober 2018    September 2018    Agustus 2018    Juli 2018    Juni 2018    Mei 2018    April 2018    Maret 2018    Februari 2018    Januari 2018    Mei 2016    Maret 2016    Februari 2016    Januari 2016    Desember 2015    November 2015    Juni 2015    Mei 2015    April 2015    Maret 2015    Januari 2015  

Facebook

Youtube

Kategori
Uncategorized

DAMPAK WANITA BEKERJA MENJADI TKW TERHADAP PEMBETUKAN KELUARGA SAKINAH

DAMPAK WANITA YANG BEKERJA MENJADI TKW TERHADAP PEMBENTUKAN KELUARGA SAKINAH

Kemiskinan di Indonesia bukan merupakan masalah baru, kenyataan ini dapat dilihat dari meningkatnya pertumbuhan penduduk sedangkan sektor lapangan kerja yang ada di Indonesia sangat sempit membuat banyak masyarakat yang memutuskan untuk bekerja di luar negeri, banyak wanita yang diantaranya sebut saja nama samarannya Surati yang menjadi TKW karena berbagai alasan, diantaranya ingin memperbaiki perekonomian keluarga, ingin membangun rumah, modal usaha, dan biaya anak. Akan tetapi disisi lain menjadi TKW pastinya banyak dampak yang ditimbulkan terutama terkait dengan pembentukan keluarga sakinah , artinya disatu sisi menjadi TKW berdampak positif dan disisi lain menjadi TKW berdampak negatif bagi keluarga, dampak positif yang ditimbulkan yaitu memperbaiki perekonomian keluarga, kehidupan menjadi terjamin karena hasil yang diperoleh dibuat untuk modal usaha dan tempat tinggal menjadi layak. Dampak negatif yang di timbulkan yaitu anak kurang mendapatkan kasih sayang dari ibu.

Pertanyaan:

A. Apakah dibenarkan Keputusan Surati bekerja menjadi TKW Sebagaimana deskripsi di Atas?

B. Jika sudah terlanjur menjadi TKW, Bolehkah surati menjama’ sholat sebagaimana deskripsi diatas ?

Waalaikum salam.
Jawaban. Sub .A

ISTRI DIBENARKAN (BOLEH ) BEKERJA MENJADI TKW DENGAN CATATAN SYARAT:

A.) Suami tidak mampu menafkahi sesuai standart ( ukuran ) paling minimal/paling sedikit (nafaqah al-mu’sir).
B.) Suami mampu tapi tidak memberikan nafkah kepada nya.
C.) Suami memberikan nafkah paling minimal (paling sedikit) tapi tidak mencukupi.
E ). Wanita TKW harus bersama Mahrom.

REFERENSI :
Wanita karier :

آداب حياة الزوجية ص: 163
ليس في الإسلام ما يمنع المرأة أن تكون تاجرة أو طبيبة أو مدرسة أو محترفة لأي حرفة تكسب منها الرزق الحلال ما دامت الضرورة تدعو إلى ذلك وما دامت تختار لنفسها الأوساط الفاضلة وتلتزم خصائص العفة التي اسلفنا بعضها

الموسوعه الفقهيه الكويتيه ٨٢/٧
هـ – حق العمل:
١٤ – الأصل أن وظيفة المرأة الأولى هي إدارة بيتها ورعاية أسرتها وتربية أبنائها وحسن تبعلها، يقول النبي صلى الله عليه وسلم: المرأة راعية في بيت زوجها ومسئولة عن رعيتها (١) . وهي غير مطالبة بالإنفاق على نفسها، فنفقتها واجبة على أبيها أو زوجها؛ لذلك كان مجال عملها هو البيت، وعملها في البيت يساوي عمل المجاهدين. (٢)
وَمَعَ ذَلِكَ فَالإْسْلاَمُ لاَ يَمْنَعُ الْمَرْأَةَ مِنَ الْعَمَل فَلَهَاا أَنْ تَبِيعَ وَتَشْتَرِيَ، وَأَنْ تُوَكِّل غَيْرَهَاا، وَيُوَكِّلَهَا غَيْرُهَا، وَأَنْ تُتَاجِرَ بِمَالِهَا، وَلَيْسَ لأِحَدٍ مَنْعُهَا مِنْ ذَلِكَ مَا دَامَتْ مُرَاعِيَةً أَحْكَامَ الشَّرْعِ وَآدَابَهُ
{الفقه على المذاهب الأربعة، الجزء ٤ الصحفة ٥٠٩}
الشافعية – قالوا: إذا عجز الزوج فلم يستطع الإنفاق على زوجته أقل النفقة المتقدمة بأنواعها الثلاثة، من إطعام، وكسوة، ومسكن، ولو كان المسكن غير لائق بالمرأة، فإن صبرت على ذلك، كأن أنفقت على نفسها من مالها صارت النفقة المقررة لها ديناً في ذمته تأخذها منه متى أيسر، ما عدا المسكن والخادم فإنها يسقطان، لأنهما ليس بتمليك، بل امتاع للمرأة، ويشترط في بقاء النفقة ديناً عليه، أن تمكنه من نفسها، فلم تمنعه عن التمتع بها تمتعاً مباحاً، وإن لم تصبر فلها فسخ الزواج، بشرط أن ترفع الأمر إلى القاضي، وعلى القاضي أن يمهله ثلاثة أيام ليتحقق فيها من إعساره، ثم يفسخ العقد في صبيحة اليوم الرابع، أو يأمرها هي بفسخه، ومثل القاضي المحكم، فإذا لم يكن في جهتها قاض ولا محكم أمهلته ثلاثة أيام، وفسخت العقد في صبيحة الرابع بنفسها. فإن سلمها النفقة قبل مضي المدة فلا فسخ٠
حاشية الجمل الجزء 4 صحـ : 509 مكتبة دار الفكر
( وَلَهَا خُرُوْجٌ فِيْهَا لِتَحْصِيْلِ نَفَقَةٍ ) مَثَلاً بِكَسْبٍ أَوْ سُؤَالٍ وَلَيْسَ لَهُ مَنْعُهَا مِنْ ذَلِكَ ِلانْتِفَاءِ اْلإِنْفَاقِ الْمُقَابِلِ لِحَبْسِهَا ( وَعَلَيْهَا رُجُوْعٌ ) إلَى مَسْكَنِهَا ( لَيْلاً ) ِلأَنَّهُ وَقْتُ الدَّعَةِ وَلَيْسَ لَهَا مَنْعُهُ مِنْ التَّمَتُّعِ ( ثُمَّ ) بَعْدَ اْلإِمْهَالِ ( يَفْسَخُ الْقَاضِيْ أَوْ هِيَ بِإِذْنِهِ صَبِيْحَةَ الرَّابِعِ ) نَعَمْ إنْ لَمْ يَكُنْ فِي النَّاحِيَةِ قَاضٍ وَلاَ مُحَكَّمٌ فَفِي الْوَسِيْطِ لاَ خِلاَفَ فِي اسْتِقْلاَلِهَا بِالْفَسْخِ ( فَإِنْ سَلَّمَ نَفَقَتَهُ فَلاَ ) فَسْخَ لِتَبَيُّنِ زَوَالِ مَا كَانَ الْفَسْخُ ِلأَجْلِهِ لَوْ سَلَّمَ بَعْدَ الثَّلاَثِ نَفَقَةَ يَوْمٍ وَتَوَافَقَا عَلَى جَعْلِهَا مِمَّا مَضَى فَفِي الْفَسْخِ احْتِمَالاَنِ فِي الشَّرْحَيْنِ وَالرَّوْضَةِ بِلاَ تَرْجِيْحٍ وَفِي الْمَطْلَبِ الرَّاجِحُ مَنْعُهُ .اهـ

Referensi:

الفتاوى الفقهية الكبرى – (ج 9 / ص 232)
( وَسُئِلَ ) نَفَعَ اللَّهُ تَعَالَى بِهِ هَلْ لِلْمَرْأَةِ أَنْ تَخْرُج مِنْ بَيْتِ زَوْجِهَا لِلِاسْتِفْتَاءِ وَالتَّكَسُّب وَنَحْو ذَلِكَ أَمْ لَا ؟ ( فَأَجَابَ ) بِقَوْلِهِ لَهَا الْخُرُوجُ بِغَيْرِ إذْنٍ لِلضَّرُورَةِ كَخَوْفِ هَدْمٍ وَعَدُوّ وَحَرِيقٍ وَغَرَقٍ وَلِلْحَاجَةِ لِلتَّكَسُّبِ بِالنَّفَقَةِ إذَا لَمْ يَكْفِهَا الزَّوْجُ وَلِلْحَاجَةِ الشَّرْعِيَّةِ كَالِاسْتِفْتَاءِ وَنَحْوِهِ إلَّا أَنْ يُفْتِيهَا الزَّوْجُ أَوْ يَسْأَل لَهَا لَا لِعِيَادَةِ مَرِيض وَإِنْ كَانَ أَبَاهَا وَلَا لِمَوْتِهِ وَشُهُودِ جِنَازَتِهِ قَالَهُ الْحَمَوِيُّ فِي شَرْحِ التَّنْبِيهِ وَاسْتَدَلَّ لَهُ بِأَنَّ امْرَأَةً اسْتَأْذَنَتْ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي عِيَادَةِ أَبِيهَا وَكَانَ زَوْجُهَا غَائِبًا فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ { اتَّقِي اللَّهَ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَأَطِيعِي زَوْجَك فَلَمْ تَخْرُج وَجَاءَ جِبْرِيلُ فَأَخْبَرَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ قَدْ غَفَرَ لِأَبِيهَا بِطَاعَتِهَا لِزَوْجِهَا }.
ترشيح المستفدين – (ص 352)
يجوز لها الخروج فى مواضع: منها اذا أشرف البيت على لانهدام …الى أن قال… ومنها اذا خرجت لاكتساب نفقة بتجارة او سؤال او كسب اذا اعسر الزوج
فتح المعين – (ج 4 / ص 92)
تنبيه: يجوز لها الخروج في مواضع: منها إذا أشرف البيت على الانهدام، وهل يكفي قولها خشيت انهدامه أو لا بد من قرينة تدل عليه عادة ؟ قال شيخنا: كل محتمل، والاقرب الثاني، ومنها إذا خافت على نفسها أو مالها من فاسق أو سارق، ومنها إذا خرجت إلى القاضي لطلب حقها منه، ومنها خروجها لتعلم العلوم العينية أو للاستفتاء حيث لم يغنها الزوج الثقة أو نحو محرمها، فيما استظهره شيخنا، ومنها إذا خرجت لاكتساب نفقة بتجارة، أو سؤال أو كسب إذا أعسر الزوج، ومنها إذا خرجت على غير وجه النشوز في غيبة الزوج عن البلد بلا إذنه لزيارة أو عيادة قريب لا أجنبي أو أجنبية على الاوجه لان الخروج لذلك لا يعد نشوزا عرفا.
حاشية الجمل على شرح المنهاج – (ج 4 / ص 509)
ﻭﻟﻬﺎ ﺧﺮﻭﺝ ﻓﻴﻬﺎ ﻟﺘﺤﺼﻴﻞ ﻧﻔﻘﺔ) ﻣﺜﻼ ﺑﻜﺴﺐ ﺃﻭ ﺳﺆاﻝ، ﻭﻟﻴﺲ ﻟﻪ ﻣﻨﻌﻬﺎ ﻣﻦ ﺫﻟﻚ ﻻﻧﺘﻔﺎء اﻹﻧﻔﺎﻕ اﻟﻤﻘﺎﺑﻞ ﻟﺤﺒﺴﻬﺎ (ﻭﻋﻠﻴﻬﺎ ﺭﺟﻮﻉ) ﺇﻟﻰ ﻣﺴﻜﻨﻬﺎ (ﻟﻴﻼ)؛ ﻷﻧﻪ ﻭﻗﺖ اﻟﺪﻋﺔ، ﻭﻟﻴﺲ ﻟﻬﺎ ﻣﻨﻌﻪ ﻣﻦ اﻟﺘﻤﺘﻊ.

الموسوعة الفقهية الكويتية (ج ٨ / ص ٨٣)

ثُمَّ إِنَّهَا لَوْ عَمِلَتْ مَعَ الزَّوْجِ كَانَ كَسْبُهَا لَهَا. جَاءَ فِي الْفَتَاوَى الْبَزَّازِيَّةِ: أَفْتَى الْقَاضِي الإْمَامُ فِي زَوْجَيْنِ سَعَيَا وَحَصَّلاَ أَمْوَالاً أَنَّهَا لَهُ؛ لأِنَّهَا مُعِينَةٌ لَهُ، إِلاَّ إِذَا كَانَ لَهَا كَسْبٌ عَلَى حِدَةٍ فَلَهَا ذَلِكَ. وَفِي الْفَتَاوَى: امْرَأَةٌ مُعَلَّمَةٌ، يُعِينُهَا الزَّوْجُ أَحْيَانًا فَالْحَاصِل لَهَا، وَفِي الْتِقَاطِ السُّنْبُلَةِ إِذَا الْتَقَطَا فَهُوَ بَيْنَهُمَا أَنْصَافًا.

Larangan perempuan keluar rumah tanpa muhrim.

عن ابن عمر رضي الله عنهما أن رسول الله صلى الله عليه وآله وسلم قال: لاَ تُسَافِرِ المَرْأَةُ ثَلاَثًا إِلَّا مَعَ ذِي مَحْرَمٍ

Artinya, “Dari Ibnu Umar bahwa Nabi SAW bersabda, ‘Janganlah seorang wanita bepergian selama tiga hari kecuali bersama mahramnya,’” (HR Bukhari dan Muslim).

Dalam redaksi hadits yang lainnya disebutkan,

عن أبي هريرة رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: لا يَحل لامرأة تؤمن بالله واليوم الآخر أن تسافر مسيرة يوم وليلة إلا ومعها ذو مَحرم

Artinya, “Dari Abi Hurairah bahwa Rasulullah SAW bersabda, ’Janganlah seorang wanita bepergian sejauh perjalanan sehari semalam kecuali bersama dengan mahramnya,’” (HR Tirmidzi).
Kesimpulan jika seorang wanita menjadi TKW tidak memenuhi sebagaima syarat catatan tersebut diatas maka hukumnya menjadi TKW haram.

Jawaban. Sub .B

Jika Istri /Surati telah memenuhi syarat sebagaimana yang kami sebutkan diatas maka hukumnya boleh Menjama’ dan mengqashar shalat sebagai rukhshah dalam kondisi bepergian, dengan catatan perjalanannya bukan kemaksiatan , berdasarkan sebuah hadits

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم
أفضل أمتي الذين يعملون بالرخص.رواه الطبراني


Paling utamanya umatku adalah orang-orang yang mengamalkan dengan rukhshah.( HR.Thabrani)

Adapun rukhshoh yang diperbolehkan ( menjama’ dan menkoshor shalat ) jika musafirnya bertujuan bukan maksiat, akan tetapi jika tuannya maksiat maka gugurlah rukhsah ( menjamak dan menkoshor shalat ) tersebut, sebagaimana keterangan dalam sebuah kaidah:

  الرُّخَصُ لَا تُنَاطُ بِالْمَعَاصِي

Keringanan syara’ tidak bisa didapat dengan maksiat.

“  Para ulama fiqih mengklasifikasi berbagai motif kemaksiatan musafir menjadi tiga hal. Ketiga pembagian ini secara ringkas dijelaskan daam kitab Hasyiyah I’anah at-Thalibin:

  (والحاصل)

أن العاصي ثلاثة أقسام الاول: العاصي بالسفر، وهو الذي أنشأ معصية. والثاني: العاصي بالسفر في السفر، وهو الذي قلبه معصية بعد أن أنشأه طاعة، كأن جعله لقطع الطريق ونأى عن الطاعة التي قصدها. والثالث: العاصي في السفر، وهو الذي يسافر بقصد الطاعة وعصى في أثنائه مع استمرار الطاعة التي قصدها “

Kesimpulannya bahwa musafir yang melakukan maksiat terbagi menjadi tiga. Pertama, al-‘ashi bis-safar, yakni orang yang sejak awal bepergian bertujuan melakukan maksiat. Kedua, al-‘ashi bis-safar fis-safar, yakni orang yang mengganti tujuan bepergian ke arah maksiat setelah awalnya bertujuan untuk melakukan ketaatan, seperti musafir yang bertujuan merampas harta di jalan dan berpaling dari tujuan awal yakni melaksanakan ketaatan. Ketiga, al-‘ashi fis-safar, yakni orang yang bepergian dengan tujuan ketaatan, tapi di tengah perjalanan ia melakukan kemaksiatan, besertaan terus-menerusnya tujuannya yang berupa melakukan ketaatan” (Syekh Abu Bakar Muhammad Syatha, Hasyiyah I’anah at-Thalibin, juz 2, hal. 116).
Dengan demikian tidak boleh bagi seseorang melakukan rukhshoh ( shalat jama’ dan qoshor ) jika tujuannya dalam musafir maksiat. Wallahu A’lam bisshowab.

Kategori
Uncategorized

APAKAH YANG MENJADI PATOKAN MASUKNYA WAKTU SHALAT JUM’AT MATAHARI ATAU ADZAN..?

APAKAH YANG MENJADI PATOKAN MASUKNYA SHOLAT JUM’AT MATAHARI ATAU ADZAN

Assalamualaikum.

Deskripsi Masalah.
Sail Ust.Rafik Rasiadiy

Disuatu daerah terdapat banyak masjid dimana cara adzannya ketika shalat jum’at’ terkadang tidak bersamaan ada yang pas waktu terkelincirnya matahari baru dikumandangkan adzan dan ada sebagian terlambat 10 menit dan juga sebagian dikumandangkan adzan sampai jarak 15 menit.

Pertanyaannya.

Apakah yang menjadi patokan masuknya waktunya shalat pada hari jum’at itu adzan,atau matahari?

Wassalamu alaikum wr wb.

Waalaikum salam.

Jawaban.
Waktu dzuhur, Ketika matahari tergelincir ulama sepakat sebagai tanda masuknya waktu shalat, namun dikumandangkannya adzan ulama berbeda pandang khususnya dikalangan Syafiiyah ada yang mengatakan disyariatkannya adzan sebagai pemberitahuan tanda masuknya waktu, sedangkan sebagian yang lain berpendapat bahwa disyariatkannya adzan sebagai pemberitahuan pelaksanaan shalat fardu termasuk shalat jum’at yang waktunya bisa dilakukan ketika masuk waktu dzuhur . Sebagaimana Sayyid Amin Al-Qurdiy menjelaskan dalam kitabnya Tanwirul Qulub.Hal 176 [ ووقوعها فى وقت الظهر ] , Artinya terjadinya shalat jum’at itu ialah diwaktu dhuhur.(tergelincirnya matahari).
Kenapa sebagian ulama berpendapat adzan sebagai tanda masuknya waktu shalat fardu ..? karena latar belakang dianjurkannya hukum dikumandangkan adzan adalah sebagai panggilan tanda masuknya waktu , namun tidak semua adzan yang dikumandangkan sebagai tanda masuknya waktu shalat karena adzan sebagai hak untuk shalat bukan untuk waktu sehingga adzan bisa digunakan atau dikumandankan ketika orang akan bepergian seperti pergi haji sunnah adzan, juga ketika anak lahir, dan juga ketika kebakaran dan banyak jin dan ketika mayit dikuburkan. Oleh karena itu penting terlebih dahulu seorang muadzzin harus melihat mata hari jika sudah tergelincir berarti sudah masuk waktu shalat baru adzan, karena kata adzan (أذن), kata نادى di dalam berbagai macam bentuknya terulang sebanyak 53 kali di dalam Al-Quran. Dari pengulangan 53 kali tersebut, adzan selain memiliki arti panggilan ataupun seruan, kata tersebut juga berarti permohonan ataupun doa.
Apabila kata tersebut ditujukan untuk manusia, maka memiliki arti sebagai panggilan atau seruan. Sementara bila kata tersebut ditujukan untuk Tuhan, maka dapat diartikan sebagai permohonan atau doa.
Dalam hubunganya dengan seruan atau panggilan untuk shalat, Al-Quran tidak menggunakan kata adzan namun menggunakan kata ناديتم (QS al-Maidah 5: 58) dan نودي (QS al-Jumu’ah 62: 9).
Kata yang pertama berkaitan dengan perilaku orang-orang Yahudi yang mana mereka mengejek kaum muslim ketika sedang buru-buru pergi ke masjid saat adzan dikumandangkan. Sementara kata yang disebutkan kedua yaitu berkaitan dengan adzan yang dikumandangkan di Hari Jumat sebagai salah satu tanda bahwa semua kegiatan harus dihentikan.
Adzan memiliki arti pemberitahuan, yaitu kata seruan ataupun panggilan yang ditujukan untuk pemberitahuan akan masuk waktu shalat wajib atau fardhu. Orang yang mengumandangkan adzan disebut dengan muadzin.
Sementara kata iqamah dari segi bahasa artinya mendirikan, yaitu kata-kata yang digunakan sebagai salah satu tanda bahwa shalat fardhu akan dimulai. Untuk shalat sunnah tidak disunnahkan untuk menggunakan adzan ataupun iqamah, kecuali shalat sunnah yang disunnahkan untuk berjamaah.
Seperti halnya shalat tarawih, shalat ied, dan lain sebagainya. Adzan dan juga iqamah hukumnya adalah sunnah muakkad untuk shalat fardhu, baik itu dilakukan secara berjamaah ataupun sendiri. Pelaksanaannya disunahkan dengan suara yang lantang, berdiri menghadap kiblat.
Jika dilihat dari segi bahasa, adzan memiliki arti yaitu pengumuman, pemakluman, dan pemberitahuan. Sebagaimana yang telah ada di dalam Al-Quran surat Al-Kariem, yaitu:

وَأَذَانٌ مِّنَ اللّهِ وَرَسُولِهِ إِلَى النَّاسِ يَوْمَ الْحَجِّ الأَكْبَرِ أَنَّ اللّهَ بَرِيءٌ مِّنَ الْمُشْرِكِينَ وَرَسُولُهُ فَإِن تُبْتُمْ فَهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ وَإِن تَوَلَّيْتُمْ فَاعْلَمُواْ أَنَّكُمْ غَيْرُ مُعْجِزِي اللّهِ وَبَشِّرِ الَّذِينَ كَفَرُواْ بِعَذَابٍ أَلِيمٍ) التوبة:٣


Artinya: Dan (inilah) suatu permakluman daripada Allah dan Rasul-Nya kepada umat manusia pada hari haji akbar bahwa sesungguhnya Allah dan RasulNya berlepas diri dari orang-orang musyrikin. Kemudian jika kamu (kaum musyrikin) bertobat, maka bertaubat itu lebih baik bagimu ; dan jika kamu berpaling, maka ketahuilah bahwa sesungguhnya kamu tidak dapat melemahkan Allah. Dan beritakanlah kepada orang-orang kafir (bahwa mereka  akan mendapat) siksa yang pedih (QS. At-Taubah: 3)

Tak hanya itu saja, adzan juga berarti panggilan atau seruan. Makna yang satu ini dipakai saat Nabi Ibrahim AS diperintahkan untuk memberitahukan kepada umat manusia untuk melakukan ibadah haji:

وَأَذِّن فِي النَّاسِ بِالْحَجِّ يَأْتُوكَ رِجَالاً وَعَلَى كُلِّ ضَامِرٍ يَأْتِينَ مِن كُلِّ فَجٍّ عَمِيقٍ) الحج: ٢٧

Artinya: Dan panggillah manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh. (QS. Al-Hajj: 27).
Jika dilihat secara syariat, pengertian adzan yaitu perkataan tertentu yang berfungsi untuk memberitahukan masuknya waktu shalat fardhu. Di dalam kitab Nailul Authar disebutkan bahwa pengertian adzan adalah pengumuman atas waktu shalat dengan lafadz tertentu.

Sejarah Perintah Adzan Umat Islam

Kata seorang sahabat yang bernama Abdullah bin Zaid, Nabi Muhammad SAW memiliki keinginan untuk mencari cara dalam memberitahukan waktu shalat, akan tetapi beliau belum juga menemukan cara tersebut. Pada masa-masa awal di Madinah, umat Islam berkumpul di dalam sebuah masjid untuk menunggu datangnya waktu shalat.
Akan tetapi, saat waktu shalat sudah tiba, tidak ada seorangpun yang memberitahukannya. Mereka akan langsung shalat saja, tanpa adanya penanda bahwa waktu shalat telah tiba. Seakan-akan semua orang sama-sama tahu.

Seiring dengan berjalannya waktu dan Islam sudah mulai berkembang, banyak sahabat Nabi yang tinggalnya jauh dari masjid. Bahkan sebagian lainnya mempunyai kesibukan yang bertambah sampai membuat mereka tidak dapat menunggu waktu shalat di masjid.
Oleh karena itu, beberapa sahabat memberikan usul kepada Nabi Muhammad SAW supaya membuat tanda shalat. Sehingga mereka yang tinggal jauh dari masjid ataupun yang mempunyai kesibukan dapat menjalankan shalat dengan tepat.

Para sahabat Nabi mempunyai usulan yang beragam terkait tanda masuknya waktu shalat. Ada yang memberikan usul supaya menggunakan lonceng seperti orang Nasrani. Namun ada juga yang memberikan saran untuk menggunakan terompet seperti orang Yahudi.
Di sisi lain juga ada yang memberikan usul untuk menyalakan kembang api di tempat yang tinggi. Sehingga umat muslim yang rumahnya jauh dari masjid bisa melihat tanda tersebut.

Semua usul tersebut akhirnya ditolak. Saat kondisi umat Islam buntu dan tidak menemukan solusi pada saat itu, dikutip dari Sirah Nabawi (Ibnu Hisyam, 2018), ada seorang sahabat yang bernama Abdullah bin Zaid menghadap Rasulullah SAW. Ia bercerita tentang dirinya yang baru saja bermimpi melihat seruan adzan di malam sebelumnya. Di dalam mimpi tersebut, dirinya didatangi oleh seseorang yang menggunakan jubah hijau dan sedang membawa loceng.

Awalnya, Abdullah bin Zaid berniat untuk membeli lonceng yang dibawa oleh seseorang berjubah hijau itu. Dimana beliau ingin menggunakan lonceng tersebut untuk memanggil orang-orang untuk melaksanakan shalat. Akan tetapi, orang tersebut justru menyarankan kepada Abdullah bin Zaid untuk mengucapkan serangkaian kalimat yang digunakan sebagai tanda waktu shalat telah tiba.

Serangkaian kalimat adzan yang dimaksud yaitu Allahu Akbar Allahu Akbar, Asyhadu alla ilaha illallah, Asyhadu anna Muhammadar Rasulullah, Hayya ‘alash sholah hayya ‘alash sholah, Hayya ‘alal falah hayya ‘alal falah, Allahu Akbar Allahu Akbar, dan La ilaha illallah.

Rasulullah SAW lalu meminta kepada Abdullah untuk mengajari Bilal bin Rabah tentang bagaimana cara melafalkan kalimat tersebut. Ketika Bilal bin Rabah mengumandangkan adzan, Umar bin Khattab yang sedang berada di rumahnya mendengar lantunan adzan tersebut. Ia pun bergegas untuk menghadap Nabi Muhammad SAW dan menceritakan bahwasannya dirinya juga bermimpi mengenai hal serupa dengan Abdullah bin Zaid. Yaitu adzan sebagai penanda masuknya waktu shalat.
Di dalam suatu riwayat, Nabi Muhammad SAW disebutkan sudah memperoleh wahyu mengenai adzan. Oleh sebab itu, beliau membenarkan apa yang diucapkan oleh Abdullah bin Zaid itu. Sejak saat itu, adzan sudah resmi menjadi penanda waktu shalat. Adapun menurut pendapat yang lebih shahih adzan pertama kali disyariatkan di Kota Madina di tahun pertama Hijriyah.

Bilal bin Rabah adalah muadzin pertama di dalam Islam. Terdapat empat alasan mengapa Bilal bin Rabah dipilih Nabi Muhammad menjadi muadzin. Yang pertama yaitu karena beliau memiliki suara yang bagus dan lantang, bisa menghayati kalimat adzan yang dikumandangkan, berdisiplin tinggi, dan berani.
Sejak saat itu, Bilal terus mengumandangkan adzan. Saat Nabi Muhammad SAW wafat, beliau tidak bersedia lagi untuk menjadi seorang muadzin. Alasannya yaitu, air matanya pasti akan menetes ketika sampai pada kalimat ‘Asyhadu anna Muhammadar Rasulullah’.
Sehingga membuatnya tidak bisa lagi melanjutkan kalimat selanjutnya. Akan tetapi, ketika Khalifah Umar bin Khattab tiba di Yerusalem, Bilal diminta untuk mengumandangkan adzan lagi. Akhirnya, Ia menyanggupi permintaan tersebut.
Adapun menurut Syekh Abdullah As-Syarqawi, Nabi Muhammad SAW pernah mengumandangkan adzan satu kali. Yaitu saat beliau dalam sebuah perjalanan. Saat sampai pada syahadat kedua, Nabi Muhammad SAW mengumandangkan ‘Asyhadu anna Muhammadar Rasulullah’. Sementara riwayat lain menyebutkan bahwa Nabi Muhammad mengucapkan ‘Asyhadu anni Rasulullah’.

Selain menjadi tanda waktu masuknya shalat, adzan juga menjadi panggilan dari Allah SWT pada hamba-Nya untuk melaksanakan perintah-Nya dengan menjalankan shalat lima waktu. Umat Islam akan mendengar kumandang adzan lima kali sehari semalam.
Saat mendengar suara adzan, umat Islam diperintahkan untuk memprioritaskan adab yang baik. Kumandang adzan sendiri harus digunakan sebagai alarm untuk umat Islam untuk lebih memperhatikan amalan baik yang harus dilaksanakan saat mendengarkannya.
Adzan sendiri adalah panggilan shalat yang akan selalu dikumandangkan sebanyak lima kali dalam sehari. Islam mengajarkan beberapa adab dalam setiap perbuatan, termasuk juga saat mendengar kumandang adzan. Berikut ini adalah beberapa hal yang harus dilakukan saat mendengar kumandang adzan, antara lain

1).Mendengarkan dengan Penuh Perhatian dan mejawabnya serta Memohon Berkat untuk Nabi SAW .Hal ini dijelaskan dalam hadist dari Rasulullah SAW.

إِذَا سَمِعْتُمُ الْمُؤَذِّنَ فَقُولُوا مِثْلَ مَا يَقُولُ ثُمَّ صَلُّوا عَلَىَّ فَإِنَّهُ مَنْ صَلَّى عَلَىَّ صَلاَةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ بِهَا عَشْرًا ثُمَّ سَلُوا اللَّهَ لِىَ الْوَسِيلَةَ فَإِنَّهَا مَنْزِلَةٌ فِى الْجَنَّةِ لاَ تَنْبَغِى إِلاَّ لِعَبْدٍ مِنْ عِبَادِ اللَّهِ وَأَرْجُو أَنْ أَكُونَ أَنَا هُوَ فَمَنْ سَأَلَ لِىَ الْوَسِيلَةَ حَلَّتْ لَهُ الشَّفَاعَةُ

Artinya: “Jika kalian mendengar muadzin, maka ucapkanlah seperti apa yang diucapkan oleh muadzin. Kemudian bershalawatlah untukku. Karena siapa yang bershalawat kepadaku sekali, maka Allah akan bershalawat padanya (memberi ampunan padanya) sebanyak sepuluh kali. Kemudian mintalah wasilah pada Allah untukku. Karena wasilah itu adalah tempat di surga yang hanya diperuntukkan bagi hamba Allah, aku berharap akulah yang mendapatkannya. Siapa yang meminta untukku wasilah seperti itu, dialah yang berhak mendapatkan syafa’atku.” (HR Muslim).

2).Berdoa setelah adzan. 


 اَللَّهُمَّ رَبَّ هَذِهِ الدَّعْوَةِ التَّامَّةْ وَالصَّلاةِ القَائِمَةْ آتِ سَيِّدَنَا مُحَمَّدَنِ اْلوَسِيْلَةَ وَاْلفَضِيْلَةْ وَابْعَثْهُ مَقَاماً مَحْمُوْدًا اَّلذِيْ وَعَدْتَهْ 

 Dalam satu riwayat dengan redaksi yang berbeda disebutkan kan

اللهُمَّ رَبَّ هذِهِ الدَّعْوَةِ التَّآمَّةِ، وَالصَّلاَةِ الْقَآئِمَةِ، آتِ مُحَمَّدَانِ الْوَسِيْلَةَ وَالْفَضِيْلَةَ وَالشَّرَفَ وَالدَّرَجَةَ الْعَالِيَةَ الرَّفِيْعَةَ وَابْعَثْهُ مَقَامًامَحْمُوْدَانِ الَّذِىْ وَعَدْتَهُ اِنَّكَ لاَتُخْلِفُ الْمِيْعَادَ

“Ya Allah, Tuhan pemilik panggilan yang sempurna ini dan shalat yang didirikan. Berilah al-wasilah dan al-fadhilah kepada nabi Muhammad. Dan bangkitkanlah beliau di kedudukan yang terpuji yang telah Engkau janjikan kepadanya.”

Doa yang satu ini mempunyai variasi, di antaranya” والدرجة العالية “’ dan ‘ إنك لاتخلف الميعاد’. Kemudian penambahan “ إنك لاتخلف الميعاد ”. Di dalam permohonan tersebut diriwayatkan oleh Imam Baihaqi di dalam Sunannya dan kemudian diterima untuk tindakan oleh para ulama sebagaimana telah disebutkan oleh Ibn Abidin dalam Radd al-Muhtar, yang mengutip Shdadbulali’s Imdad al-Fattah dan Fath al-Qadir dari Ibn al-Humam.
Diceritakan oleh Jabir bin Abdullah, Nabi Muhammad SAW bersabda:
Doa ini diriwayatkan oleh sahabat Jabir dalam sahih Bukhari.


 
 وعن جابر بن عبد الله رضي الله عنهما أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال من قال حين يسمع النداء اللَّهُمَّ رَبَّ هَذِهِ الدَّعْوَةِ التَّامَّةِ وَالصَّلاَةِ القَائِمَةِ آتِ مُحَمَّداً الوَسِيْلَةَ وَالفَضِيْلَةَ، وَابْعَثْهُ مَقَاماً مَحْمُودًا الَّذِي وَعَدْتَهُ، حلت له شفاعتي يوم القيامة رواه البخاري في صحيحه 

 
Artinya, “Dari Jabi bin Abdullah ra, Rasulullah saw bersabda, ‘Siapa saja yang berdoa ketika mendengar seruan azan ‘ niscaya jatuhlah syafaatku padanya di hari kiamat.’ (HR Bukhari),” (An-Nawawi, Al-Adzkar, [Kairo, Darul Hadits: 2003 M/1424 H], halaman 44).

Abdullah bin Amr bin Al-Ash meriwayatkan, saya pernah mendengar Rasulullah SAW mengatakan:
“Ketika kamu mendengar adzan, ulangi apa yang dikatakan Muadzin. Kemudian mintalah kepada Allah untuk meninggikan penyebutan saya karena setiap orang yang melakukannya akan menerima imbalan sepuluh imbalan dari Allah. Kemudian memohon kepada Allah untuk memberikan saya Al-Wasilah (yang disebutkan dalam doa di atas), yang merupakan peringkat tinggi dalam Jannah, cocok untuk hanya satu dari budak Allah; dan saya berharap bahwa saya akan menjadi pria itu. Jika ada yang meminta Al-Wasilah untuk saya, menjadi kewajiban saya untuk menjadi perantara baginya.” (Sahih Muslim)

Adapun berikut adalah doa setelah iqamah. 



اَللَّهُمَّ رَبَّ هَذِهِ الدَّعْوَةِ التَّامَّةْ وَالصَّلاةِ القَائِمَةْصَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَأٰتِهِ سُؤْلَهُ يَوْمَ الْقِيَا مَةِ

Artinya, “Wahai Tuhanku, yang memiliki seruan sempurna ini serta shalat yang segera akan dilaksanakan, curahkanlah rahmat dan salam atas junjungan kita Nabi Muhammad Saw, dan berilah/kabulkanlah segala permohonannya pada hari kiamat.” 

3).Berdoa di antara Adzan dan Iqamah hal ini berdasar hadits dari sahabat Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ الدُّعَاءَ لَا يُرَدُّ بَيْنَ الْأَذَانِ وَالْإِقَامَةِ، فَادْعُوا


“Sesungguhnya doa yang tidak tertolak adalah doa (yang dipanjatkan) di antara adzan dan iqamah, maka berdoalah (di waktu itu).” (HR. Ahmad no. 12584, sanad hadits ini shahih sebagaimana penilaian Syaikh Syu’aib Al-Arnauth)
Dalam riwayat yang lain disebutkan,

الدُّعَاءُ لَا يُرَدُّ بَيْنَ الأَذَانِ وَالإِقَامَةِ

“Doa itu tidak tertolak (jika dipanjatkan di antara) adzan dan iqamah.” (HR. Tirmidzi no. 212)

Dari penjelasan diatas, berikut adalah beberapa ringkasan apa yang harus kita lakukan setelah mendengar adzan:

Harus fokus mendengarkan adzan

Ulangi apa saja yang dikatakan oleh muadzin kecuali untuk hayya alas-shalah dan hayya-ala-falah. Alih-alih katakan la hawla wala quwwata illa billah .

Setelah selesai adzan, kirimkan shalawat untuk Nabi Muhammad SAW

Lalu ucapkan doa wasilah

Berdoa diantara adzan dan iqamah

إعانة الطالبين .ج ١ص ٢٢٨

(فصل فى الآذان والإقامة ) أى فى بيان حكمهما وشروطها وسننهما ( قوله هما لغة الإعلام ) فيه أن الآذان فقط لغة الإعلام قال تعالى وأذن فى الناس بالحج أى أعلمهم به واماالإقامة فهى لغة مصدر أقام أى حصل القيام فهما مختلفان لغة كما فى التحفة والنهاية والمغنى فكان الأولى أن يزيد وتحصيل القيام ويكون على التوزيع الأول والثانى للثانى ثم رأيت فى فتح الجواد مثل ماذكره الشارح فلعله تبعه فى ذلك ولكن الايراد باق ويكون عليهما…
( قوله وشرعا) معطوف على لغة وقوله ماعرف به من الألفاظ المشهورة وهى الله أكبر الله أكبر الخ وهى كماقال القاضى عياض كلمات جامعة لعقيدة الإيمان مشتملة على نوعيه العقلية السمعية فأولها فيه إثبات ذاته تعالى وماتستحقه من الكمال بقوله الله أكبر أى أعظم من كل شيئ ثم الشهادة بالوحدانية له بقوله أشهد أن لاإله إلا الله وبالرسالة لسيدنامحمد صلى الله عليه وسلم بقوله وأشهد أن محمدا رسول الله ثم الدعاء إلى الصلاة بقوله حى على الصلاة أى أقبلوا عليها ولاتكسلوا عنها فحى إسم فعل أمر بمعنى أقبلوا ثم الدعاء إلى الفلاح بقوله حى على الفلاح أى أقبلوا على سبب الفلاح وهو الفوز والظفر بالمقصود وسببه هو الصلاة فهو تأكيد لما قبله بعد تأكيد وتكرير بعد تكرير وفيه إشعار بأمور الآخرة من البعث والجزاء لتضمن الفلاح لذلك ثم كرر التكبير لمافيه من التعظيم له تعالى وختم بكلمة التوحيد لأن مدار الأمر عليه جعلنا الله وأحييتنا عند الموت ناطقين بها عالمين بمعناها وقوله فيهما أى الآذان والإقامة 🔅واعلم أنه اختلف في الاذان هل شرع للاعلام بدخول الوقت؟ أو شرع للاعلام بالصلاة المكتوبة؟ على قولين للامام الشافعي رضي الله عنه، والراجح الثاني، وأما الأول فهو مرجوح، وينبني على القولين أنه لا يؤذن للفائتة على المرجوح لان وقتها قد فات، ويؤذن لها على الراجح لان الاذان حق للصلاة لا للوقت.(قوله: والأصل فيهما) أي الدليل على مشروعية الأذان والإقامة. وقوله: الاجماع إلخ هكذا في التحفة.
والذي في النهاية والمغنى والأسنى الأصل فيهما قبل الاجماع، قوله تعالى: * (إذا نودي للصلاة من يوم الجمعة) * وقوله تعالى: * (وإذا ناديتم إلى الصلاة) * وما صح من قوله (ص): إذاأقيمت الصلاة فليؤذن لكم أحدكم. اه‍. وقوله: المسبوق صفة للاجماع. وقوله: برؤية عبد الله إلخ فإن قيل: رؤية المنام لا يثبت بها حكم. أجيب بأنه ليس مستندا لاذان الرؤيا فقط، بل وافقها نزول الوحي. فالحكم ثبت به لا بها. ويؤيده رواية عبد الرازق وأبي داود في المراسيل، من طريق عبيد بن عمير الليثي، أحد كبار التابعين، أن عمر لما رأى الاذان جاء ليخبر النبي (ص فوجد الوحي قد ورد بذلك، فما راعه إلا أذان بلال، فقال له النبي (ص): سبقك بذلك الوحي. (قوله: ليلة تشاوروا) الظرف متعلق برؤية، وواو الجماعة عائد على النبي (ص) ومن معه من الصحابة. وقوله: فيما يجمع الناس أي في الامر الذي يكون سببا لجمع الناس للصلاة. (قوله: وهي) أي رؤية الاذان من حيث هي، بقطع النظر عن كونها صدرت من عبد الله، وإلا لحصل ركة بقوله بعد عن عبد الله. (قوله: لما أمر النبي (ص)) أي بعد اتفاقهم عليه. وكتب ع ش ما نصه: قوله: لما أمر النبي (ص) إلخ. عبارة حجر تفيد عدم أمره (ص)، ويوافقه ما في سيرة الشامي حيث قال: اهتم (ص) كيف يجمع الناس للصلاة، فاستشار الناس فقيل: انصب راية. ولم يعجبه ذلك، فذكر له القنع – وهو البوق – فقال: هو من أمر اليهود.
فذكر له الناقوس فقال: هو من أمر النصارى. فقالوا: لو رفعنا نارا؟. فقال: ذاك للمجوس. فقال عمر: أو لا تبعثون رجلا ينادي بالصلاة؟ فقال (ص): يا بلال قم فناد بالصلاة. قال النووي: هذا النداء دعاء إلى الصلاة  غيرالأذان، كأن شرع قبل الاذان. قال الحافظ ابن حجر: وكان الذي ينادي به بلال: الصلاة جامعة. اه‍. وهو كما ترى مشتمل على النهي عن الناقوس والامر بالذكر. اه‍. (قوله: بالناقوس) قال في المصباح: هو خشبة طويلة يضربها النصارى إعلاما للدخول في صلاتهم. (قوله: يعمل) أي يصنع. (قوله: ليضرب به للناس) عبارة غيره: ليضرب به الناس، بحذف لام الجر. وعليها يكون الناس فاعل يضرب، وعلى عبارة شارحنا يكون الفعل مبنيا للمجهول، وبه نائب فاعل، وللناس متعلق بالفعل. وقوله: لجمع الصلاة أي لاجتماع الناس لها. فالإضافة لأدنى ملابسة. والجار والمجرور إما بدل من الجار والمجرور قبله أو متعلق بالفعل، وتجعل اللام للتعليل، وبه يندفع ما يقال إنه يلزم عليه تعلق حرفي جر بمعنى واحد بعامل واحد. وهو لا يصح. وحاصل الدفع أن الحرفين ليسا بمعنى واحد، لان الثاني للتعليل والأول للتعدية.(قوله: طاف إلخ) جواب لما. وقوله: وأنا نائم الجملة حالية، وهي معترضة بين الفعل وفاعله وهو رجل. (قوله:فقال) أي الرجل لعبد الله. وقوله: وما تصنع به أي بالناقوس. (قوله: ثم استأخر) أي الرجل. (قوله: فقال) أي النبي (ص). وقوله: إنها أي رؤيتك يا عبد الله. وقوله: حق أي صادقة. وهو بالرفع صفة لرؤيا أو بالجر على أنه مضاف إليه ما قبله، وهي من إضافة الموصوف للصفة. (قوله: فألق عليه ما رأيت) أي لقنه ما رأيته منامك. (قوله فليؤذن به) أي فليؤذن بلال بما رأيت. وفي ع ش ما نصه: ذكر بعضهم في مناسبة اختصاصه – أي بلال – بالاذان دون غيره، كونه لما عذب ليرجع عن الاسلام فلم يرجع وجعل يقول: أحد أحد. جوزي بولاية الاذان المشتمل على التوحيد في ابتدائه وانتهائه. اه‍ حواشي المواهب لشيخنا الشوبري. (قوله: فإنه) أي بلالا. وقوله: أندى صوتا منك أي أرفع وأعلى. وقيل: أحسن وأعذب. وقيل: أبعد. (قوله: فقمت مع بلال) أي فامتثلت أمر النبي (ص) إلخ، وقمت مع بلال.
وقوله: فجعلت ألقيه أي ما رأيته. وقوله: عليه أي على بلال. (قوله: فيؤذن) أي بلال.

تقريب

الصلاة المفروضة خمس الظهر وأول وقتها زوال وقتها زوال الشمس وآخره إذا صار ظل كل شيء مثله بعد الزوال والعصر وأول وقتها الزيادة على ظل المثل وآخره في الاختيار إلى ظل المثلين وفي الجواز إلى غروب الشمس والمغرب ووقتها واحد وهو غروب الشمس وبمقدار ما يؤذن ويتوضأ ويستر العورة ويقيم الصلاة ويصلي خمس ركعات والعشاء أول وقتها إذا غاب الشفق الأحمر وآخره في الاختيار إلى ثلث الليل وفي الجواز إلى طلوع الفجر الثاني والصبح وأول وقتها طلوع الفجر الثاني وآخره في الاختيار إلى الأسفار وفي الجواز إلى طلوع الشمس.

Artinya: Shalat fardhu (wajib) ada 5 (lima) yaitu:
(a) Shalat Dhuhur. Awal waktunya adalah condongnya matahari sedang akhir waktu dzuhur adalah apabila bayangan benda sama dengan ukuran bendanya.
(b) Shalat Ashar. Awal waktunya adalah apabila bayangan sama dengan benda lebih sedikit. Akhir waktu Ashar dalam waktu ikhtiyar adalah apabila bayangan benda 2 (dua) kali panjang benda; akhir waktu jawaz adalah sampai terbenamnya matahari.
(c) Shalat maghrib. Awal waktunya adalah terbenamnya matahari (sedang akhir waktunya) adalah setelah selesainya adzan, berwudhu, menutup aurat, mendirikan shalat dan shalat 5 (lima) raka’at.
(d) Shalat Isya’. Awal waktunya adalah apabila terbenamnya sinar merah sedangkan akhirnya untuk waktu ikthiyar adalam sampai 1/3 (sepertiga) malam; untuk waktu jawaz adalah sampai terbitnya fajar yang kedua (shadiq).
(e) Shalat Subuh. Awal waktunya adalah terbitnya fajar kedua (fajar shadiq) sedang akhirnya waktu ikhtiyar adalah sampai isfar (terangnya fajar); akhir waktu jawaz adalah sampai terbitnya matahari.

KESIMPULAN

Dari penjelasan diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa keduanya antara Matahari ( tergelincirnya matahari ) dan adzan dapat dijadikan patokan masuknya waktu shalat jum’at Namun tidak setiap adzan menjadi tanda masuknya waktu, karena adzan adalah hak bagi shalat dan bukan hak bagi waktu, sebagaimana keterangan dalam kitab Iaanatuttholibin tersebut. .Wallahu A’lam bisshowab.

Kategori
Uncategorized

HUKUMNYA MUALLAF MELAKUKAN AQIQOH UNTUK DIRINYA SENDIRI DAN KELUARGANYA

HUKUM MUALLAF MELAKUKAN AQIQOH UNTUK DIRINYA SENDIRI DAN KELUARGANYA

Assalamualaikum
Deskripsi masalah
Muallaf atau muallafu Qulubuhum adalah orang kafir yang baru masuk Islam.Dalam syariat Islam mereka itu termasuk dari gologon orang yang berhak untuk menerima sedekah/ zakat , oleh karenanya orang yang baru masuk Islam layak untuk dibantu, agar keislamannya dan keyakinannya bertambah kuat.walaupun mereka termasuk golongan orang yang kaya.

Adapun yang menjdi Musqil bagi saya adalah;
Bagaimana hukumya Muallaf itu melakukan aqiqoh untuk dirinya sendiri,dan keluarganya

Walaikum salam.
Jawabannya.
Muallaf melakukan aqiqoh untuk dirinya bahkan untuk keluarganya hukumnya sunnah. Karena pada dasarnya, aqiqoh itu sudah ada atau dilakukan pada masa jahiliyah mereka melumuri anaknya dengan darahnya aqiqoh, Namun setelah Islam datang Rasulullah memerintahkan kepada mereka ( orang jahiliyah ) agar mereka mengganti dengan melumuri anaknya dengan minyak zakfaron. Aqiqah sendiri sangat sunah untuk dilaksanakan ketika anak berumur tujuh hari setelah kelahiran. Meski demikian, aqiqah boleh bagi kita atau orang tua lakukan sebelum anaknya berumur tujuh hari atau setelahnya, jika orang tuanya tidak mampu,boleh diakhirkan karena aqiqoh tidak ada batas akhir waktunya.Akan tetapi Muhammad bin Qosim Al-Ghozzi penulis Kitab Fathul Qorib berkata bahwa perihal aqiqoh terdapat pendapat Mazhab Syafi’i yang mengatakan bahwa : Aqiqah tidaklah luput atau gugur jika diakhirkan setelah itu. Namun jika aqiqah diakhirkan hingga baligh, maka gugurlah tanggung jawab aqiqah dari orang tua terhadap anaknya. 
Adapun setelah baligh, anak punya pilihan bisa mengaqiqahi dirinya sendiri.
jadi, jika si anak sudah baligh belum juga diaqiqohkan oleh orang tuanya, maka orang tua sudah tidak ada kewajiban untuk mengaqiqohkan anaknya, karena tanggung jawabnya gugur untuk mengaqiqohkan anaknya. Jika seorang anak sudah baligh dia berhak untuk mengaqiqohkan dirinya sendiri.

Sehubungan seseorang yang melakukan aqiqoh untuk dirinya sendiri.Ulama berbeda pandang tentang hukumnya :

1️⃣Menurut Hanafiyah hukumnya tidak boleh melakukan aqiqoh untuk dirinya sendiri tetapi boleh orang tuanya melakukan aqiqoh untuk anaknya

2️⃣Malikiyah Hukum melakukan aqiqoh untuk dirinya sendiri tidak boleh, karena disyariatkannya aqiqoh itu adalah hak orang tua, tidak boleh orang lain.
3️⃣Menurut Syafiyah melakukan aqiqoh untuk dirinya sendiri hukumnya boleh sebagaima keterangan diatas.Hal ini juga didukung/disetujui oleh ulama salaf bahwa jika kita belum pernah diaqiqohkan oleh orang tua kita maka kita dianjurkan untuk mengaqiqohkan untuk diri kita sendiri seperti Ibnu Sirin.Ibnu Sirin berkata :

لو أعلم أنه لم يعق عني لعققت عن نفسي


Artinya : “seandainya aku tahu bahwa aku belum diaqiqahi, maka aku akan mengaqiqahkan diriku sendiri.” (HR. Ibnu Abi Syaibah dan Mushonnaf, 8: 235-236.)
Demikian juga imam Al-Hasan Al-Bashri, beliau berkata:

إذَا لَمْ يُعَقَّ عَنْك فَعُقَّ عَنْ نَفْسِك وَإِنْ كُنْت رَجُلًا


“Jika engkau belum diaqiqahi, maka lakukan aqiqah untuk dirimu sendiri, walaupun engkau sudah menjadi lelaki dewasa”. [Al-Muhalla bil Atsâr, 6/240; karya Ibnu Hazm]
Begitu juga halnya Syaikh Khatib As-Syarbiniy, boleh hukumnya aqiqoh sendiri.

4️⃣Menurut se golongan kelompok Madzhab Hanabilah hukumnya boleh aqiqoh untuk dirinya sendiri karena kesunnahan.

KESIMPULAN.
Dari penjelasan diatas bahwa seseorang yang belum aqiqoh sampai baligh bahkan sampai dewasa baik itu Muallaf , maka hukumnya boleh aqiqoh untuk dirinya sendiri,atau keluarganya. Menurut madzhab Syafi’iyah dan sekelompok madzhah Hanabilah.Karena Aqiqoh banyak hikmah dan tidak ada batasan akhir waktunya dan adanya keterangan hadits bersifat umum.

«كل غلام رهينة بعقيقته، تُذبح عنه يوم سابعه، ويُسمى فيه، ويحلق رأسه»

HIKMAH AQIQOH.MENURUT SYAIKH WAHBAH ASSUHAILIY

  1. Ungkapan syukur kepada Allah Swt atas diberi rezeki seorang anak.
  2. Menumbuhkan keutamaan berbagi dan sifat kedermawanan.
  3. Melembutkan hati keluarga, kerabat dan para sahabat dengan mengumpulkan mereka dengan makan bersama.
  4. Menebarkan kasih sayang, cinta kasih dan kebersamaan

Untuk lebih jelasnya bisa dilihat keterangan berikut:

Referensi:

فتح القريب فى باب العقيقة


وفسر المصنف العقيقة بقوله ( وهى الذبيحة عن المولود يوم سابعه) أى يحسب يوم سابع ولادته ويحسب يوم الولادة من السبعة ولو مات المولود قبل السابع ولاتفوت بالتأخير بعده فإن تأخرت للبلوغ سقط حكمها فى حق العاق عن المولود أما هو فمخير فى العق عن نفسه

Referensi:


الباجور على ابن قاسم .ص.٣.٣
فالأفضل للذكر الحلق وأماالمرأة فالأفضل لها التقصير وفى حق الكافر إذا أسلم ولو إمرأة وفى المولود بعد العقيقة

Referensi:

الفقه الإسلامي و أدلته – ٢٦٦٦/٧٧٢٢

الفَصْلُ الثّاني: العَقِيقة وأحكامُ المولود وفيه مبحثان:
المبحث الأول ـ العقيقة:
الكلام عن العقيقة فيما يأتي:

١ – حكم العقيقة ومعناها وحكمتها:
قال الحنفية (١): تباح العقيقة ولا تستحب؛ لأن تشريع الأضحية نسخ كل دم كان قبلها من العقيقة، والرجبية، والعتيرة، فمن شاء فعل، ومن شاء لم يفعل. والنسخ ثبت بقول عائشة: «نسخت الأضحية كل ذبح كان قبلها».
والعقيقة: الذبيحة التي تذبح عن المولود، يوم أسبوعه. والأصل في معناها اللغوي: أنها الشعر الذي على المولود، ثم أسمت العرب الذبيحة عند حلق شعر المولود عقيقة، على عادتهم في تسمية الشيء باسم سببه، أو ما يجاوره.
والرجبية: شاة كان العرب في الجاهلية يذبحونها في رجب، فيأكل منها أهل البيت، ويطبخون، ويطعمون.

والعتيرة: أول ولد للناقة أو الشاة، يذبح، ويأكله صاحبه، ويطعم منه. وقيل: إنها الشاة التي تذبح في رجب، وفاء لنذر، أو إذا أنتجت الشاة عشراً، فتذبح واحدة منها.
والصحيح أن العتيرة هي الرجبية، سواء بنذر أو بغير نذر، وهي سنة جاهلية (٢).
وقال جمهور الفقهاء (غير الحنفية) (٣): لا تسن العتيرة، أو الرجبية، وتسن للأب من ماله العقيقة عن المولود، ولا تجب؛ لأن النبي صلّى الله عليه وسلم، في حديث ابن عباس: «عق عن الحسن والحسين عليهما السلام كبشاً كبشاً» (٤). وقال: «مع الغلام عقيقة، فأهريقوا عنه دماً، وأميطوا عنه الأذى» (٥) «كل غلام رهينة بعقيقته، تُذبح عنه يوم سابعه، ويُسمى فيه، ويحلق رأسه» (٦). وقال الشافعية: تسن لمن تلزمه نفقته.
وحكمتها: شكر نعمة الله تعالى برزق الولد، وتنمية فضيلة الجود والسخاء وتطييب قلوب الأهل والأقارب والأصدقاء بجمعهم على الطعام، فتشيع المحبة والمودة والألفة.(٧) قال ابن سراقة: آكد الدماء المسنونة: الهدايا، ثم الضحايا، ثم العقيقة، ثم العتيرة، ثم الفرع. والعتيرة: ذبيحة كانوا يذبحونها في العشر الأول من رجب، ويسمونها الرجيبة، والفرع: أول نتاج البهيمة، كانوا يذبحونه ولا يملكونه رجاء البركة في الأم، ويكرهان لخبر البخاري: «لا فرع ولا عتيرة».
٢ – جنسها وسنها وصفتها:
هي في الجنس والسن والسلامة من العيوب مثل الأضحية، من الأنعام: الإبل، والبقر، والغنم. وقيل: لا يعق (٨) بالبقر ولا بالإبل.

٣ – عددها:
هي عند المالكية: شاة عن الذكر، أو الأنثى، لحديث ابن عباس السابق أنه عليه الصلاة والسلام: «عق عن الحسن شاة، وعن الحسين شاة» وهو المعقول والأيسر.
وقال الشافعية والحنابلة: عن الغلام شاتان، وعن الأنثى شاة. لخبر عائشة: «عن الغلام شاتان مكافئتان، وعن الجارية شاة» (٩) وحديث ابن عباس محمول على الجواز. وكالشاة: سُبْع أو بقرة، فلو ذبح بدنة أو بقرة عن سبعة أولاد، جاز. ولو كان المساهم في العقيقة عند الشافعية يريد اللحم فقط. وتتعدد العقيقة بتعدد الأولاد. وتتحقق السنة بشاة عن الغلام، وشاة عن الأنثى، لفعل النبي صلّى الله عليه وسلم المتقدم عن الحسن والحسين. وتتعدد العقيقة بتعدد الأولاد، فلو ولد له توأمان، كان لهما عقيقتان، ولا تكفي واحدة عنهما.

ليلاً، حسب اليوم الذي يليه. وعند المالكية: يحسب يوم الولادة إن ولد قبل الفجر أو معه، ولا يعد اليوم الذي ولد فيه، إن ولد بعد الفجر. وقيل عندهم: يحسب إن ولد قبل الزوال لا بعده. ويندب الذبح ضحى إلى الزوال لا ليلاً.
وصرح الشافعية والحنابلة: أنه لو ذبح قبل السابع أو بعده، أجزأه. وأضاف الحنابلة والمالكية: لا يعق غير الأب، ولا يعق المولود عن نفسه إذا كبر، لأنها مشروعة في حق الأب، فلا يفعلها غيره. واختار جماعة من الحنابلة: أن للشخص أن يعق عن نفسه استحباباً. ولا تختص العقيقة بالصغر، فيعق الأب عن المولود، ولو بعد بلوغه؛ لأنه لا آخر لوقتها.
ويقول الذابح بعد التسمية: اللهم منك وإليك عقيقة فلان؛ لخبر ورد فيه رواه البيهقي بإسناد حسن، وروت عائشة أن النبي صلّى الله عليه وسلم عق عن الحسن والحسين، وقال: «قولوا: بسم الله، اللهم لك وإليك عقيقة فلان».
ويكره لطخ رأس المولود بدم العقيقة، خلافاً لما كان عليه الجاهلية من تلطيخ رأسه بدمها، قالت عائشة: «كانوا في الجاهلية يجعلون قطنة في دم العقيقة، ويجعلونها على رأس المولود، فأمرهم النبي صلّى الله عليه وسلم أن يجعلوا مكان الدم خَلوقاً» أي زعفراناً.
ودليل كراهية التلطيخ أيضاً قوله صلّى الله عليه وسلم: «مع الغلام عقيقة، فأهريقوا عنه دماً، وأميطوا عنه الأذى» (١٠)


(١) البدائع: ٦٩/ ٥.
(٢) الشرح الكبير للدردير: ١٢٦/ ٢، القوانين الفقهية: ص ١٩١، مغني المحتاج: ٢٩٣/ ٤ ومابعدها، المهذب: ٢٤١/ ١ ومابعدها، المغني: ٦٤٥/ ٨ ومابعدها،٦٥٠، كشاف القناع: ٢٠/ ٣ ومابعدها، بداية المجتهد: ٤٤٨/ ١ ومابعدها.
(٣) رواه أبو داود، والنسائي، وقال: بكبشين كبشين (نيل الأوطار: ١٣٥/ ٥).
(٤) رواه الجماعة إلا مسلماً عن سلمان بن عامر الضَّبي (نيل الأوطار: ١٣١/ ٥).
(٥) رواه الخمسة (أحمد وأصحاب السنن) وصححه الترمذي عن سمرة (نيل الأوطار، المكان السابق).
٦ – وقتها:
تذبح يوم سابع ولادة المولود، ويحسب يوم الولادة من السبعة. فإن ولدت
(٧) عق يعق: بكسر العين وضمها.
(٨) رواه أحمد والترمذي وصححه. وفي لفظ: «أمرنا رسول الله صلّى الله عليه وسلم أن نعق عن الجارية شاة، وعن الغلام شاتين» رواه أحمد وابن ماجه. وفي معناه حديث أم كُرز الكعبية الذي رواه أحمد والترمذي وصححه (نيل الأوطار: ١٣٢/ ٥).

.(٩) رواه الجماعة إلا مسلماً عن الصبي، وسبق تخريجه، وهذا يقتضي ألا يمس بدم لأنه أذى. ولكن ذكر في رواية: «فأهرقوا عليه دماً» وروى همام عن قتادة عن الحسن عن سمرة: «الغلام مرتهن بعقيقته، تذبح عنه يوم السابع، ويدمى» وهذا دليل قتادة والحسن القائلين باستحباب اللطخ بالدم. قال ابن عبد البر: لا أعلم أحداً قال هذا إلا الحسن وقتادة، وأنكر سائر أهل العلم وكرهوه، للحديث السابق (المغني: ٦٤٧/ ٨).

Referensi:

قال الخطيب الشربيني في شرح المنهاج: «(يسن) لمن تلزمه نفقة فرعِه بتقدير فقره (أن يعق عن) مولود (غلام بشاتين) متساويتين (و) عن (جارية بشاة)». [مغني المحتاج 6/ 138، ط: دار الكتب العلمية].
وقال الشمس الرملي: «والعاقُّ: هو من تلزمه نفقته بتقدير فقره من مال نفسه دون ولده، بشرط كون العاقِّ موسرًا: أي يسار الفطرة فيما يظهر قبل مضيِّ مدَّة أكثر النّفاس ولا تفوت بالتأخير، وإذا بلغ بلا عقٍّ سقط سَن العق عن غيره، وهو مخيَّرٌ فيه عن نفسه. وعقه -صلى الله عليه وسلم- عن الحسن وأخيه لأنهما كانا في نفقته لإعسار والديهما أو كان بإذن أبيهما، وولد الزنا في نفقة أمه فيندب لها العقُّ عنه، ولا يلزم من ذلك إظهاره المفضي لظهور العار، والمتجه كما قاله البلقيني عدم ندب العقِّ من الأصل الحرِّ لولده القِنِّ لأنه لا يلزمه نفقته». [نهاية المحتاج 8/ 138، ط. مصطفى الحلبي].
والذي تلزمه النفقة ليس الأب فقط؛ فقد جاء في شرح المنهاج للخطيب الشربيني في باب النفقات: «فصلٌ في نفقة القريب، والموجب لها قرابة البعضية فقط (يلزمه) أي الشخص ذكرًا كان أو غيره (نفقة الوالد) الحر (وإن علا) من ذكر أو أنثى (والولد) الحر (وإن سفل) من ذكر أو أنثى». [مغني المحتاج 5/ 183، ط. دار الكتب العلمية] والله أعلم بالصواب

Kategori
Uncategorized

TALAK DAN MACAM-MACAMNYA DITINJAU DARI BERBAGAI SISI

TALAK DAN MACAM-MACAMNYA DITINJAU DARI BERBAGAI SISI

Assalamualaikum
Deskripsi Masalah.
Dalam kehidupan berkeluarga sehari-harinya tidaklah terlepas dari komunikasi, bahkan terkadang orang dengan mudah mengungkapkan kata-kata talak walaupun hanya bercanda tidak tahunya bisa jadi talak, Oleh karena itu penting saya mengetahui ucapan-ucapan kata selain tersebut yang dapat merusak nikah, baik ucapan itu jelas atau kata-kata yang semakna ataupun kata yang berbentuk sindiaran :


Pertanyaan


1.Apakah yang dinamakan talak..?

  1. Ada berapakah Macam-manya pembagian talak mohon penjelasan beserta contohnya.

Waalaikum salam.
Jawaban No.1
🅰️ Pengertian talak.
TALAK Isim masdarnya At-Tathliiq.Talak ditinjau dari segi etemologi berarti melepaskan , mengangkat/ menghilankan ikatan, artinya Talak adalah dilepaskan dengan tanpa ikatan.
Adapun yang dimaksud dengan talak secara Istilah syara’ menurut Syaikh Wahbah Assuhailiy Talak adalah melepaskan ikatan pernikahan dengan lafal talak atau yang semakna dengannya, atau mengangkat ikatan pernikahan secara langsung atau ditangguhkan dengan lafal yang di khususkan. Dengan kata lain ” Talak ” adalah melepaskan ikatan nikah dari pihak suami dengan mengucapkan lafaz yang tertentu, misalnya suami berkata terhadap istrinya : Engkau telah aku talak. Dengan ucapan ini ikatan nikah menjadi lepas, artinya suami istri jadi cerai.
Talak yaitu perbuatan yang halal, namun juga suatu hal yang dibenci oleh Allah sebagaimana sabda Nabi SAW.


عن أبي هريرة رضي الله عنه قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم :أبغض الحلال إلى الله الطلاق
( رواه أبو داود وصححه إبن ماجة ورجح الحاكم إرساله حاكم


Referensi


الفقه الإسلامي و أدلته – ٦٦٥٠/٧٧٢٢
معنى الطلاق: الطلاق لغة، حل القيد والإطلاق، ومنه ناقة طالق، أي مرسلة بلا قيد، وأسير مطلق، أي حل قيده وخلي عنه، لكن العرف خص الطلاق بحل القيد المعنوي، وهو في المرأة، والإطلاق في حل القيد الحسي في غير المرأة.
وشرعا: حل قيد النكاح، أو حل عقد النكاح بلفظ الطلاق ونحوه. أو رفع قيد النكاح في الحال أو المآل بلفظ مخصوص.

فتح القريب فى باب الطلاق.
فصل فى أحكام الطلاق وهو لغة حل القيد وشرها إسم لحل قيد النكاح

الموسوعة الفقهية – ١٨٠٣٨/٣١٩٤٩
طلاق
التعريف:
١ – الطلاق في اللغة: الحل ورفع القيد، وهو اسم مصدره التطليق، ويستعمل استعمال المصدر، وأصله: طلقت المرأة تطلق فهي طالق بدون هاء، وروي بالهاء (طالقة) إذا بانت من زوجها، ويرادفه الإطلاق، يقال: طلقت وأطلقت بمعنى سرحت، وقيل: الطلاق للمرأة إذا طلقت، والإطلاق لغيرها إذا سرح، فيقال: طلقت المرأة، وأطلقت الأسير، وقد اعتمد الفقهاء هذا الفرق، فقالوا: بلفظ الطلاق يكون صريحا، وبلفظ الإطلاق يكون كناية.
وجمع طالق طلق، وطالقة تجمع على طوالق، وإذا أكثر الزوج الطلاق كان مطلاقا ومطليقا، وطلقة (١) . والطلاق في عرف الفقهاء هو: رفع قيد النكاح في الحال أو المآل بلفظ مخصوص أو ما يقوم مقامه (٢)
والمراد بالنكاح هنا: النكاح الصحيح خاصة، فلو كان فاسدا لم يصح فيه الطلاق، ولكن يكون متاركة أو فسخا.
والأصل في الطلاق أنه ملك الزوج وحده، وقد يقوم به غيره بإنابته، كما في الوكالة والتفويض، أو بدون إنابة، كالقاضي في بعض الأحوال، قال الشربيني في تعريف الطلاق نقلا عن التهذيب: تصرف مملوك للزوج يحدثه بلا سبب، فيقطع النكاح .


(١)المصباح المنير، ومختار الصحاح، والمغرب والقاموس، والدار المختار ٣ / ٢٢٦.
(٢) الدر المختار ٣
/ ٢٢٦ – ٢٢٧، وانظر الشرح الكبير ٢ / ٣٤٧، والمغني ٧ / ٢٩٦، ومغني المحتاج ٣ / ٢٧٩

Jawaban .No.2
🅱️.Macam-macam talak atau perceraian dari sisi hukumnya,
Pertama:
Para ulama’ fikih membangi perceraian dari sisi hukum syar’inya menjadi dua:
1️⃣Talak yang dibolehkan (jaiz) yang sesuai dengan syariat Islam itu dinamakan ‘Talak Sunni’ yaitu mentalak isteri dengan sekali talak saat dia dalam kondisi hamil atau dalam kondisi suci yang belum digauli.
2️⃣Talak yang dilarang yaitu talak yang menyalahi syariat Islam, maka talaq ini dinamakan dengan ‘talak bid’i. Talaq bid’i ini ada dua macam:

🅰️.Talak bid’i dari segi waktunya. Contoh, mentalak isteri padahal belum dipastikan kehamilannya, maka iddahnya harus berdasarkan masa haidnya jika dia masih mengalami haid atau ditalak saat isterinya  suci tapi sudah digauli (dijima’). Kalau telah jelas kehamilannya, maka dibolehkan mentalaknya, meskipun dia telah digauli waktu suci. Begitu juga kalau seorang wanita termasuk orang  yang tidak diharuskan menunggu iddah seperti wanita yang belum pernah digauli, maka kalau dia ditalak dalam kondisi haid, talak tersebut masih termasuk talak sunah. Atau termasuk  orang yang tidak haid seperti masih kecil atau sudah tua dan berumur, maka tidak mengapa kalau dia ditalak.
🅱️.Talak bid’i dari sisi bilangannya, seperti mentalak lebih dari sekali dengan mengatakan ‘Kamu saya talak dua.’ atau dia mengatakan, ‘Kamu saya talak tiga.’ Karena yang sesuai sunah adalah mentalak satu kali saja.
Talak bid’ah adalah suami mentalak terhadap istrinya ketika istrinya itu haid atau ketika istrinya itu suci (tidak haid) yang telah terjadi jimak, Hukumnya dilarang dan haram. Madzhab Syafi’i menyatakan talaknya sah dan terjadi walaupun haram , akan tetapi ada perbedaan ulama.


الحاوي الكبير ج.١٠،ص.١١٥
طَلَاقُ الْبِدْعَةِ فِي حَيْضٍ أَوْ فِي طُهْرٍ مُجَامَعٍ فِيهِ. فَهُوَ مَحْظُورٌ مُحَرَّمٌ بِوِفَاقٍ. وَاخْتُلِفَ فِي وُقُوعِهِ مَعَ تَحْرِيمِهِ. فَمَذْهَبُنَا إِنَّهُ وَاقِعٌ وَإِنْ كَانَ مُحَرَّمًا. وَهُوَ قَوْلُ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِينَ وَجُمْهُورِ الْفُقَهَاءِ.

Para ulama berbeda pendapat akan jatuhnya talak bid’i ini, pendapat yang kami pilih adalah bahwa talak seperti tidak jatuh. Maka talak tiga jatuhnya cuma talak satu saja.
Kedua: Jenis talak dari segi lafadz (perkataan)
Para ulama fikih membagi talak dari segi ucapan menjadi dua; Sharih (ucapan yang  jelas) dan kinayah (kiasan).
Ucapan yang jelas (sharih) adalah sesuatu yang tidak difahami kecuali talak. Seperti ucapan seorang suami kepada istrinya, ‘Kamu saya talak’ atau ‘Kamu sudah ditalak.’ Maka talak seperti ini jatuh, baik sang suami niat cerai atau tidak.
Sementara kiasan (kinayah) adalah ucapan yang maksudnya masih ada kemungkinan talak atau lainnya. Seperti suami mengatakan kepada istrinya ‘Kamu lepas’ atau ‘kamu bebas’ atau ‘urusanmu ada ditanganmu’ atau ‘kamu bebas, silakan pergi kemana saja’ atau ‘silakan kembali ke keluargamu’ atau ‘saya sudah tidak ada butuh lagi kepadamu’ dan semisal itu.
Maka yang menjadi patokan pada macam ini adalah niat. Kalau suami niat talak, maka jatuh talak. Kalau tidak, maka tidak jatuh talak.

Ketiga:
Macam talak dari sisi dampaknya.
Perceraian dilihat dari sisi akibatnya dibagi menjadi dua bagian:
1️⃣.Talak raj’i. Yaitu ketika suami mentalak istrinya talak satu atau dua tanpa imbalan (bukan khulu). Maka dia dibolehkan untuk rujuk (kembali lagi) sebelum selesai masa iddahnya.
2️⃣. Talak bain. Talak jenis ini ada dua macam;

🅰️.Bain Kubra, yaitu seorang suami mentalak istrinya tiga kali. Maka sejak itu isterinya tidak halal lagi kecuali jika suaminya ingin kembali lagi maka ia harus memenuhi lima syarat:

  1. Habis masa iddahnya (dari suami pertama)lalu
  2. Nikah dengan laki-laki lain dengan nikah yang sah kemudian diceraikannya (berpisah dengan suami kedua).
  3. Suami kedua tersebut harus mewathi’ (menjima’) farji’nya/bukan dubur dengan syarat dzakarnya tegang dan harus orang dewasa/bukan anak kecil.
  4. Suami kedua harus menthalaq bain (thalak 3 atau khulu’ dan atau setelahnya habis iddahnya thalak roj’iy)
  5. Habisnya iddah dari suami kedua. .

ﺍﻟﺒﺎﺟﻮﺭﻱ ٢/١٥٤
ﻓﺈﻥ ﻃﻠﻘﻬﺎ ﺯﻭﺟﻬﺎ ﺛﻼﺛﺎ ﺃﻯ ﻣﻌﺎ ﺃﻭ ﻣﺮﺗﺒﺎ ﺇﻥ ﻛﺎﻥ ﺣﺮﺍ ﺃﻭ ﻃﻠﻘﺘﻴﻦ ﺍﻥ ﻛﺎﻥ ﻋﺒﺪﺍ ﻗﺒﻞ ﺍﻟﺪﺧﻮﻝ ﺃﻭ ﺑﻌﺪﻩ ﻟﻢ ﺗﺤﻞ ﻟﻪ ﺍﻻ ﺑﻌﺪ ﻭﺟﻮﺩ ﺧﻤﺲ ﺷﺮﺍﺋﻂ ﺃﺣﺪﻫﺎ ﺍﻧﻘﻀﺎﺀ ﻋﺪﺗﻬﺎ ﻣﻨﻪ ﺃﻯ ﺍﻟﻤﻄﻠﻖ ﻭﺍﻟﺜﺎﻧﻰ ﺗﺰﻭﻳﺠﻬﺎ ﺑﻐﻴﺮﻩ ﺗﺰﻭﻳﺠﺎ ﺻﺤﻴﺤﺎ ﻭﺍﻟﺜﺎﻟﺚ ﺩﺧﻮﻟﻪ ﺍﻯ ﺍﻟﻐﻴﺮ ﺑﻬﺎ ﻭﺇﺻﺎﺑﺘﻬﺎ ﺑﺄﻥ ﻳﻮﻟﺞ ﺣﺸﻔﺘﻪ ﺃﻭ ﻗﺪﺭﻫﺎ ﻣﻦ ﻣﻘﻄﻮﻋﻬﺎ ﺑﻘﺒﻞ ﺍﻟﻤﺮﺃﺓ ﻻ ﺑﺪﺑﺮﻫﺎ ﺑﺸﺮﻁ ﺍﻹﻧﺘﺸﺎﺭ ﻓﻲ ﺍﻟﻤﺬﻛﻮﺭ ﻭﻛﻮﻥ ﺍﻟﻤﻮﻟﺞ ﻣﻤﻦ ﻳﻤﻜﻦ ﺟﻤﺎﻋﻪ ﻻ ﻃﻔﻼ ﻭﺍﻟﺮﺍﺑﻊ ﺑﻴﻨﻮﻧﺘﻬﺎ ﻣﻨﻪ ﺃﻯ ﺍﻟﻐﻴﺮ ﺃﻯ ﺇﻣﺎ ﺑﺎﻟﻄﻼﻕ ﺍﻟﺜﻼﺙ ﺃﻭ ﺑﺨﻠﻊ ﺃﻭ ﺑﺎﻧﻘﻀﺎﺀ ﺍﻟﻌﺪﺓ ﻓﻲ ﺍﻟﻄﻼﻕ ﺍﻟﺮﺟﻌﻲ ﻭﺍﻟﺨﺎﻣﺲ ﺇﻧﻘﻀﺎﺀ ﻋﺪﺗﻬﺎ ﻣﻨﻪ .

🅱️.Bain Sughra, yaitu seorang suami menceraikan istrinya talak satu atau dua sampai selesai masa iddahnya. Atau mentalak istrinya dengan imbalan yang dinamakan Khulu atau dia mentalaknya sebelum digauli. Dalam kondisi seperti ini dia (suami) dibolehkan rujuk (kembali lagi) akan tetapi harus dengan akad nikah yang baru dan mahar baru.
Keempat: Jenis talak dari segi secara langsung atau Muallaq ( menggantungkan).
Hal ini ada dua macam:
1️⃣.Talak langsung  atau tanpa jeda. Contoh, suami mengatakan kepada istrinya ‘Kamu saya ceraikan’ atau melafazkan dengan lafaz kiasan disertai niat menceraikan tanpa digantungkan dengan syarat tertentu.
2️⃣.Talak mu’allaq, maksudnya yang digantungkan dengan suatu syarat. Hal ini ada tiga macam:
Memberikan syarat saja, maka jatuh cerai dalam semua kondisi. Contoh dia mengatakan, ‘ Jika kamu memasuki rumah, maka kamu cerai.’ Ketika si-Istri memasuki rumah , maka istrinya jatuh talaq/ cerai. Karena dia menggantungkan hanya pada syarat saja, sedangkan syaratnya telah terpenuhi.
Hanya sumpah saja, maka tidak jatuh cerai, tapi harus bayar kafarat sumpah. Misalnya dia mengatakan, “Kalau saya berbicara dengan Suhartono, maka istriku jatuh talak.” Maksudya, dia tidak ingin berbicara dengan Suhartono dan ini hanya sumpah semata. Karena tidak ada hubungan antara pembicaraannya dengan Suhartono dan perceraian istrinya.
Berpotensi mengandung makna syarat saja atau sumpah saja. Maka hal ini dikembalikan kepada niat yang digantungkan. Seperti (suami) mengatakan kepada istrinya, ‘Kalau kamu keluar dari rumah, maka jatuh talak kamu.’ Maka ada kemungkinan dia inginkan sekedar syarat saja, dalam artian bahwa istrinya kalau keluar dengan hati suka rela maka akan jatuh cerai atasnya. Maka waktu itu dia menginginkan perceraian.
Atau ada kemungkinan, dia tidak bermaksud menjatuhkan cerai, dia tetap menginginkan dia sebagai istrinya meskipun istrinya keluar rumah, dia tidak menginginkan perceraian. Akan tetapi dia bermaksud melarangnya keluar rumah, sehingga dia gantungkan perceraian itu sebagai ancaman kepadanya. Kalau dia keluar dalam kondisi seperti ini, maka tidak jatuh cerai. Karena dia bermaksud sumpah. Untuk lebih jelasnya lihat dalam kitab Mausuah al-Fiqhiyah al-Quwaitiyah berikut:


التقريب فى باب الطلاق.
“فصل” والطلاق ضربان صريح وكناية فالصريح ثلاثة ألفاظ الطلاق والفراق والسراح ولا يفتقر صريح الطلاق إلى النية والكناية كل لفظ احتمل الطلاق وغيره ويفتقر إلى النية والنساء فيه ضربان ضرب في طلاقهن سنة وبدعة وهن ذوات الحيض فالسنة أن يوقع الطلاق في طهر غير مجامع فيه والبدعة أن يوقع الطلاق في الحيض أو في طهر جامعها فيه وضرب ليس في طلاقهن سنة ولا بدعة وهن أربع الصغيرة والآيسة والحامل والمختلعة التي لم يدخل بها.


“Fasal”
Dan perceraian itu ada dua jenis: Jelas dan Sindiran. Talak Jelas itu ada tiga kata: cerai dan pemisah dan bebas. Talak Yang Jelas tidak membutuhkan niat, sedang talak kinayah yaitu semua lafat yang memuat talak dan kinayah itu membutuhkn niyat. Dan dalam urusa talak, perempuan itu ada macam : 1. Tidak haram: 2. Haram yaitu perempuan yang dalam keadaan haid. Sedang perempuan yang dicerai mendapat hukum tidak haram yaitu menjatuhkan talak dalam keadaan suci dan belum kikumpuli. Sedangkan talak yang mendapat hukum haram yaitu menjatuhkan talak dalam waktu haid atau dalam keadaan suci tapi sudah dicampuri, perempuan yang telah luas, hamil, perempuan yang dikhuluk tidak dicampurinya.

الموسوعة الفقهية١٨١١٨/٣١٩٤٩ .

أنواع الطلاق:
٣٣ – للطلاق أنواع مختلفة تختلف بحسب النظر إليه. – فهو من حيث الصيغة المستعملة فيه على نوعين: صريح وكنائي – ومن حيث الأثر الناتج عنه على نوعين: رجعي وبائن، والبائن على نوعين: بائن بينونة صغرى، وبائن بينونة كبرى – ومن حيث صفته على نوعين: سني وبدعي – ومن حيث وقت وقوع الأثر الناتج عنه على ثلاثة أنواع: منجز، ومعلق على شرط، ومضاف إلى المستقبل. وتفصيل ذلك كما يلي:

أولا: الصريح والكنائي:
٣٤ – اتفق الفقهاء (١) ، على أن الصريح في الطلاق هو: ما لم يستعمل إلا فيه غالبا، لغة أو عرفا، وعرف كذلك بأنه: ما ثبت حكمه الشرعي بلا نية، وليس بين التعريفين تناف، بل تكامل، فالأول تعريفه بحسب اللفظ المستعمل فيه، والثاني بحسب الأثر الناتج عنه.كما اتفقوا على أن الكنائي في الطلاق هو: ما لم يوضع اللفظ له، واحتمله وغيره، فإذا لم يحتمله أصلا لم يكن كناية، وكان لغوا لم يقع به شيء (٢) . واتفقوا على أن الصريح يقع به الطلاق بغير نية، وكذلك بالنية المناقضة قضاء فقط، وعلى ذلك فلو أطلق اللفظ الصريح، وقال: لم أنو به شيئا وقع به الطلاق، ولو قال: نويت غير الطلاق لم يصدق قضاء وصدق ديانة، هذا ما لم يحف باللفظ من قرائن الحال ما يدل على صدق نيته في إرادة غير الطلاق، فإن وجدت قرينة تدل على عدم قصده الطلاق  صدق قضاء أيضا، ولم يقع به عليه طلاق، وذلك كما إذا أكره على  الطلاق فطلق صريحا غير نا وبه الطلاق، فإنه لا يقع ديانة ولا قضاء لقرينة الإكراه (٣) . وهذا لدى الجمهور، وخالف الحنفية وقالوا بوقوع الطلاق من المكره كما تقدم. أما الكنائي فلا يقع به الطلاق إلا مع النية، ذلك أن اللفظ يحتمل الطلاق  وغيره، فلا يصرف إلى الطلاق إلا بالنية، وأما وقوعه بالنية فلأن اللفظ يحتمله، فيصرف إليه بها. وقد ألحق المالكية الكنايات الظاهرةبالصريح، فأوقعوا الطلاق بها بغير نية، وهي الكنايات التي تستعمل في الطلاق كثيرا وإن لم توضع له في الأصل، وهي لفظ: الفراق والسراح. والحنابلة مع المالكية هنا في قول القاضي، إلا أن مفهوم كلام الخرقي أنه لا يقع به الطلاق من غير نية مطلقا.
٣٥ – وهل يحل محل النية قرائن الحال في وقوع الطلاق بالكناية من غير نية؟ . ذهب الحنفية والحنابلة في المعتمد إلى أن قرائن الحال كالنية في وقوع الطلاق باللفظ الكنائي، كما لو قال لزوجته في حالة غضب: الحقي بأهلك، فإنه طلاق ولو لم ينوه، وكذلك إذا كان في حالة مساءلة الطلاق. وذهب المالكية، والشافعية، والحنابلة في رواية إلى عدم الاعتداد بقرائن الحال هنا، فلا يقع الطلاق باللفظ الكنائي عندهم إلا إذا نواه مطلقا. وقد ذهب الفقهاء إلى أن الألفاظ الصريحة في الطلاق هي مادة (طلق) وما اشتق منها لغة وعرفا، مثل: طلقتك، وأنت طالق، ومطلقة.فلو قال لها: أنت مطلقة بالتخفيف كان كناية، فلا يقع  الطلاق به إلا بالنية. وقد تقدمت الإشارة إلى أن المالكية أنزلوا
الكنايات المشهورة منزلة الصريح في وقوع الطلاق بها من غير نية، وإن لم يعدوها من الصريح (٤) . وذهب الشافعية في المشهور والحنابلة، إلى أن الصريح ألفاظ ثلاثة هي: الطلاق والفراق والسراح، وما اشتق منها لغة وعرفا، مثل: طلقتك، وأنت طالق، ومطلقة، فلو قال: أنت مطلقة بالتخفيف كان كناية، لعدم اشتهاره في الطلاق. وأما الكنائي فما وراء الصريح من الألفاظ مما يحتمل الطلاق كلفظ: اعتدي، واستبرئي رحمك، والحقي بأهلك، وأنت خلية، وأنت مطلقة بغير تشديد ونحو ذلك (٥) . ونص الحنفية على وقوع الطلاق باللفظ المصحف، ثم إن كان اللفظ صريحا وقع الطلاق به بغير نية، كلفظ: طلاغ، وتلاغ، وطلاك، وتلاك. . . بلا فرق بين أن يكون المطلق عالما أو جاهلا، إلا أن يقول المطلق: تعمدت التصحيف هذا للتخويف به، ويحف به من قرائن الحال ما يصدقه، كالإشهاد على ذلك قبلالطلاق، فإنه لا يقع به شيء على المفتى به، وإلا وقع الطلاق (٦) . ولم يحصر الفقهاء الصريح في الطلاق بالعربية، بل أطلقوه فيها وفي غيرها، وذكروا ألفاظا بالفارسية والتركية يقع بها الطلاق صريحا بغير نية، مثل: ” سان بوش ” بالتركية ” وبهشتم ” بالفارسية، وقد جرى في هذه الألفاظ بعض اختلاف بينهم، أهي من الصريح أم من الكنائي؟ والحقيقة أن مرد ذلك إلى من يعلم بهذه اللغات والأعراف (٧) .
ما يقع بالصريح والكنائي من الطلاق:
٣٦ – ذهب جمهور الفقهاء (٨) إلى أن طلاق الزوج يكون رجعيا دائما ولا يكون بائنا إلا في أحوال ثلاث، وهي:
أ – الطلاق قبل الدخول، ويكون بائنا.
ب – الطلاق على مال، ويكون بائنا ضرورة وجوب المال به على الزوجة، ذلك أنها لم تبذله له إلا لبينونتها.
ج – الطلاق الثلاث، وذلك ضرورة وقوع البينونة الكبرى به، بنص الآية الكريمة: {فإن طلقها فلا تحل له من بعد حتى تنكح زوجا غيره} (٩) . هذا إلى جانب أحوال يكون الطلاق في بعضها بائنا إذا كان بحكم القاضي، كالتفريق للغيبة، والتفريق للإيلاء، والتفريق للعيب، والتفريق للشقاق والضرر، والتفريق للإعسار بالنفقة.
وذهب الحنفية إلى أن الكنائي يقع الطلاق به بائنا مطلقا، إلا ألفاظا قليلة قدر وجود لفظ الطلاق الصريح فيها، فيكون رجعيا، مثل: اعتدي، واستبرئي رحمك، وأنت واحدة. والتقدير: طلقتك فاعتدي، وطلقتك فاستبرئي رحمك، وأنت طالق طلقة واحدة (١٠) أما الصريح فيقع به الطلاق رجعيا بشروط، وهي:
الأول: يكون بعد الدخول، فإذا كان قبل الدخول وقع به الطلاق بائنا مطلقا، سواء أكان بلفظ صريح أم بلفظ كنائي.
الثاني: أن لا يكون مقرونا بعوض، فإن قرن بعوض (طلاق على مال) كان بائنا.
الثالث: أن لا يكون مقرونا بعدد الثلاث لفظا أو إشارة أو كتابة، وأن لا يكون الثالثبعد طلقتين سابقتين عليه، رجعيتين أو بائنتين؛ لأن الطلاق الثالث لا يكون إلا بائنا بينونة كبرى.
الرابع: أن لا يكون موصوفا بصفة تنبئ عن البينونة، أو تدل عليها من غير حرف العطف، كقوله لها: أنت طالق بائنا، بخلاف: أنت طالق وبائن، فإنه يقع بالأولى طلقة رجعية، وبالثانية طلقة بائنة، وكذلك أنت طالق طلقة تملكين بها نفسك، فإنه بائن.
الخامس: أن لا يكون مشبها بعدد أو صفة تدل على البينونة، كأن يقول لها: أنت طالق مثل هذه ويشير بأصابعه الثلاثة، فإنها تبين منه بثلاث طلقات. فإذا تخلف شرط من هذه الشروط وقع به الطلاق بائنا (١١) .
ثانيا: الرجعي والبائن:
٣٧ – الطلاق الرجعي هو: ما يجوز معه للزوج رد زوجته في عدتها من غير استئناف عقد، والبائن هو: رفع قيد النكاح في الحال. هذا، والطلاق البائن على قسمين: بائن بينونة صغرى، وبائن بينونة كبرى. فأما البائن بينونة صغرى فيكون بالطلقةالبائنة الواحدة، وبالطلقتين البائنتين، فإذا كان الطلاق ثلاثا، كانت البينونة به كبرى مطلقا، سواء كان أصل كل من الثلاث بائنا أم رجعيا بالاتفاق.
فإذا طلق الزوج زوجته رجعيا حل له العود إليها في العدة بالرجعة، دون عقد جديد، فإذا مضت العدة عاد إليها بعقد جديد فقط.
فإذا طلق زوجته طلقة بائنة واحدة أو اثنتين جاز له العود إليها في العدة وبعدها، ولكن ليس بالرجعة، وإنما بعقد جديد.
فإذا طلقها ثلاثا كانت البينونة كبرى، ولم يحل له العود إليها حتى تنقضي عدتها وتتزوج من غيره، ويدخل بها، ثم تبين منه بموت أو فرقة، وتنقضي عدتها، فإن حصل ذلك حل له العود إليها بعقد جديد (١٢) ، وذلك لقوله سبحانه: {فإن طلقها فلا تحل له من بعد حتى تنكح زوجا غيره فإن طلقها فلا جناح عليهما أن يتراجعا إن ظنا أن يقيما حدود الله وتلك حدود الله يبينها لقوم يعلمون} (١٣) .
البينونة الكبرى والصغرى:
٣٨ – البينونة عند إطلاقها تنصرف
للصغرى، ولا تكون كبرى إلا إذا كانت ثلاثا.إلا أن طرق وقوع الثلاث اختلف الفقهاء في بعضها، واتفقوا في بعضها الآخر حسب الآتي:
اتفق الفقهاء على أن الزوج إذا طلق زوجته مرة واحدة رجعية أو بائنة، ثم عاد إليها بعقد أو رجعة، ثم طلقها مرة أخرى رجعيا أو بائنا، ثم عاد إليها بعقد أو رجعة، ثم طلقها للمرة الثالثة كان ثلاثا، وبانت منه بينونة كبرى، وذلك لقوله سبحانه: {الطلاق مرتان فإمساك بمعروف أو تسريح بإحسان} (١٤) . وقوله: {فإن طلقها فلا تحل له من بعد حتى تنكح زوجا غيره} (١٥) . كما اتفقوا على أنه إذا طلقها مرة واحدة، ثم طلقها ثانية بعد انقضاء عدتها، أن الثانية لا تقع عليها، لعدم كونها محلا للطلاق، لانقضاء الزوجية بالكلية، والطلاق خاص بالزوجات، وكذلك إذا طلقها ثالثة بعد ذلك، فإنها لا تقع عليها، وفي هذه الحال تكون البينونة صغرى ويحل له العود إليها بعقد جديد.
والمطلقة قبل الدخول بها إذا طلقها: فإنالحكم يختلف باختلاف اللفظ.
فذهب المالكية والحنابلة إلى وقوع الثانية والثالثة عليها – كالمدخول بها – إذا عطفهن على بعضهن بالواو فقال: أنت طالق وطالق وطالق؛ لأن العطف بالواو يقتضي المغايرة، فتكون الأولى غير الثانية، وهن كالكلمة الواحدة (١٦) . وذهب الحنفية إلى أنه لو قال لغير الموطوءة: أنت طالق واحدة وواحدة بالعطف، أو قبل واحدة، أو بعدها واحدة، تقع واحدة بائنة، ولا تلحقها الثانية لعدم العدة، وكذلك إذا عطفها بالفاء وثم. وفي أنت طالق واحدة بعد واحدة، أو قبلها أو مع واحدة أو معها واحد ثنتان، الأصل: أنه متى أوقع بالأول لغا الثاني، أو بالثاني اقترنا، لأن الإيقاع في الماضي إيقاع في الحال.ويقع بأنت طالق واحدة وواحدة إن دخلت الدار ثنتان لو دخلت لتعلقهما بالشرط دفعة، وتقع واحدة إن قدم الشرط، لأن المعلق كالمنجز (١٧) . وقال الشافعية: لو قال لغير موطوءة: أنت طالق وطالق وطالق وقعت طلقة؛ لأنها تبينبالأولى، فلا يقع ما بعدها، ولو قال لها: إن دخلت الدار فأنت طالق وطالق فدخلت وقعت ثنتان في الأصح لأنهما متعلقان بالدخول ولا ترتيب بينهما، وإنما يقعان معا، والثاني مقابل الأصح لا يقع إلا واحدة كالمنجز، ولو عطف بثم أو نحوها مما يقتضي الترتيب لم يقع بالدخول إلا واحدة.ولو قال لها: أنت طالق إحدى عشرة طلقة طلقت ثلاثا، بخلاف إحدى وعشرين، فلا يقع إلا طلقة للعطف.ولو قال لها: أنت طالق طلقة مع طلقة، أو معها طلقة، فثنتان معا في الأصح، وقيل على الترتيب واحدة تبين بها.ولو قال لها: أنت طالق طلقة قبل طلقة أو طلقة بعدها طلقة، فطلقة واحدة؛ لأنها تبين بالأولى، فلا تصادف الثانية نكاحا (١٨) أما المدخول بها إن طلقها طلقة واحدة، ثم طلقها ثانية في عدتها، فإن كانت الأولى رجعية، فقد ذهب الجماهير إلى وقوع الثانية، فإذا طلقها ثالثة في العدة – وكانت الثانية رجعية أيضا – وقعت الثالثة وبانت منه بينونة كبرى، هذا ما لم ينو بالثانية والثالثة تأكيد الأولى، فإن نوى تأكيد الأولى صدق ديانة، ولم يصدق قضاء، وأمضي عليه الثلاث، ما لمتحف به قرائن أحوال ترجح صحة نيته، فإن حفت به قرائن حال ترجح صحة نيته صدق ديانة وقضاء، كما إذا طلق زوجته فسئل: ماذا فعلت؟ فقال: طلقتها، أو قلت: هي طالق، نص على ذلك الحنفية (١٩) . ونص الشافعية على قريب من ذلك، قال في مغني المحتاج: وإن قال: أنت طالق، أنت طالق، أنت طالق وتخلل فصل، فثلاث، سواء أقصد التأكيد أم لا، لأنه خلاف الظاهر، لكن إذا قال: قصدت التأكيد، فإنه يدين، فإن تكرر لفظ الخبر فقط، كأنت طالق طالق طالق، فكذا عند الجمهور خلافا للقاضي في قوله: يقع واحدة، وإن لم يتخلل فصل، فإن قصد تأكيدا – أي قصد تأكيد الأولى بالأخيرتين – فواحدة. . . أو قصد استئنافا فثلاث. . وكذا إذا أطلق بأن لم يقصد تأكيدا ولا استئنافا يقع ثلاث في الأظهر (٢٠) . والحنابلة في هذا مع الشافعية (١٢) . والمالكية مذهبهم لا يخرج عن ذلك. قال الدردير: وإن كرره ثلاثا بلا عطف لزمه ثلاث في المدخول بها كغيرها، أي غير المدخول بها يلزمه الثلاث إن نسقه ولو حكما، كفصلهبسعال، إلا لنية تأكيد فيهما – أي في المدخول بها وغيرها – فيصدق بيمين في القضاء، وبغيرها في الفتوى، بخلاف العطف فلا تنفعه نية التأكيد مطلقا كما تقدم، لأن العطف ينافي التأكيد (٢٢) .
٣٩ – فإذا طلقها بائنا واحدة، أو اثنتين معا، ثم طلقها ثانية وثالثة في عدتها، لم تقع الثانية أو الثالثة عند الشافعية والمالكية والحنابلة لخروجها عن الزوجية بالأولى، فلم تعد محلا للطلاق بعد ذلك (٢٣) . وذهب الحنفية إلى أن الأولى أو الثانية إذا كانتا بلفظ صريح، لحقتها الثانية والثالثة، بلفظ صريح كانت أو كنائي، فإذا كانت الأولى أو الثانية بائنا لحقتها الثانية والثالثة إذا كانت بلفظ صريح فقط، فإذا كانت بائنا لم تلحقها إذا أمكن جعلها إخبارا عنها لاحتمال ذلك، كقوله لها: أنت بائن بائن فإن لم يمكن جعلها إخبارا عنها لحقتها أيضا، كقوله لها: أنت بائن ثم قوله: أنت بائن بأخرى، فإنها تلحقها لتعذر جعلها إخبارا عنها (٢٤) فإذا طلقها وذكر أنه ثلاث لفظا وقع ثلاث عند جمهور الفقهاء وكذلك إذا قال: اثنتين، فإنه يقع عليه اثنتان، كأن يقول لها: أنت طالق ثلاثا، أو أنت طالق اثنتين (٢٥) . فإذا قال لها: أنت طالق وأشار بأصابعه الثلاث، فقد ذهب الحنفية والشافعية إلى أنه إن قال لها: (هكذا) مع الإشارة وقع الثلاث، وإن قال: مثل هذه، مع الإشارة بالثلاث وقع ثلاث إن نواها، وإلا وقعت واحدة، فإن لم يقل شيئا مع الإشارة بالأصابع وقعت واحدة ولغت الإشارة.فإن كتب لها ثلاثا بدل الإشارة بالأصابع، فمثل الإشارة. فإن قال لها: أنت طالق أكبر الطلاق  أو أغلظه. . فإن نوى به ثلاثا، فثلاث لاحتمال اللفظ ذلك، وإلا وقع به واحدة بائن (٢٦) . إلا أن الشافعية نصوا على أنه لو قال لها: أنت طالق، ونوى عددا وقع ما نواه، فإن قال: أنت طالق واحدة، ونوى عددا، وقع ما نواه واحدة به على الراجح؛ لأن الملفوظ يناقض المنوي، واللفظ أقوى، فالعمل به أولى. وقيل: يقع المنوي عملا بالنية (٢٧) . والحنابلة مع الحنفية والشافعية فيما تقدم،إلا أنه روي عن الإمام أحمد قوله: وإذا قال لها: أنت برية، أو أنت بائن أو حبلك على غاربك، أو الحقي بأهلك، فهو عندي ثلاث، ولكن أكره أن أفتي به، سواء دخل بها أم لم يدخل (٢٨) . أما الحنفية والشافعية فيوقعون بذلك ثلاثا إن نواها، لاحتمال اللفظ لها، فإذا لم ينو الثلاث لم يقع به ثلاث.والمالكية مع الجمهور في كل ما تقدم، إلا أنهم في المسألة الأخيرة يقولون: يقع ثلاث مطلقا، إلا في الخلع أو قبل الدخول، فيكون واحدة (٢٩) . فإذا قال لها: أنت طالق واحدة، ونوى به ثلاثا، وقع واحدة، وبطلت النية، لعدم احتمال اللفظ لها، فإن قال لها: أنت طالق ثلاثا ونوى به واحدة، وقع عليه ثلاث عند الجميع، لصراحة اللفظ، فلا تعمل النية بخلافه.فإن قال لها: أنت طالق ونوى به ثلاثا، وقع به واحدة عند الحنفية، وهو إحدى روايتين عند الحنابلة، وفي الرواية الثانية يقع ثلاث، وهو قول مالك والشافعي (٣٠)
ثالثا – السني والبدعي
٤٠ – قسم الفقهاء الطلاق من حيث وصفه الشرعي إلى سني وبدعي يريدون بالسني: ما وافق السنة في طريقة إيقاعه، والبدعي: ما خالف السنة في ذلك، ولا يعنون بالسني أنه سنة، لما تقدم من النصوص المنفرة من الطلاق، وأنه أبغض الحلال إلى الله تعالى.وقد اختلف الفقهاء في بعض أحوال كل من السني والبدعي، واتفقوا في بعضها الآخر، كما يلي: قسم الحنفية الطلاق إلى سني وبدعي، وقسموا السني إلى قسمين: حسن وأحسن فالأحسن عندهم: أن يوقع المطلق على زوجته طلقة واحدة رجعية في طهر لم يطأها فيه، ولا في حيض أو نفاس قبله، ولم يطأها غيره فيه بشبهة أيضا، فإن زنت في حيضها ثم طهرت، فطلقها لم يكن بدعيا. وأما الحسن: فأن يطلقها واحدة رجعية في طهر لم يطأها فيه ولا في حيض أو نفاس قبله، ثم يطلقها طلقتين أخريين في طهرين آخرين دون وطء، هذا إن كانت من أهل الحيض، وإلا طلقها ثلاث طلقات في ثلاثة أشهر، كمن بلغت بالسن ولم تر الحيض.وهذا في المدخول أو المختلى بها، أما غيرالمدخول أو المختلى بها، فالحسن: أن يطلقها واحدة فقط، ولا يهم أن يكون ذلك في حيض أو غيره ، ولا يضر أن طلاقها يكون بائنا؛ لأنه لا يكون إلا كذلك.وما سوى ذلك فبدعي عندهم، كأن يطلقها مرتين أو ثلاثا في طهر واحد معا أو متفرقات، أو يطلقها في الحيض أو النفاس، أو يطلقها في طهر مسها فيه، أو في طهر مسها في الحيض قبله.فإن طلقها في الحيض، ثم طلقها في الطهر الذي بعده، كان الثاني بدعيا أيضا؛ لأنهما بمثابة طهر واحد، وعليه أن ينتظر حيضها الثاني، فإذا طهرت منه طلقها إن شاء، ويكون سنيا عند ذلك، ولو طلقها في الحيض، ثم ارتجعت، ثم طلقها في الطهر الذي بعده كان بدعيا في الأرجح، وهو ظاهر المذهب، وقال القدوري: يكون سنيا.وهذا كله ما لم تكن حاملا، أو صغيرة دون سن الحيض، أو آيسة، فإن كانت كذلك كان طلاقها سنيا، سواء مسها أم لم يمسها؛ لأنها في طهر مستمر، ولكن لا يزيد على واحدة، فإن زاد كان بدعيا. واستثنى الحنفية من البدعي عامة: الخلع، والطلاق على مال، والتفريق للعلة، فإنه لا يكون بدعيا ولو كان في الحيض، لمافيه من الضرورة، وكذلك تخييرها في الحيض سواء اختارت نفسها في الحيض أم بعده وكذلك اختيارها نفسها في الحيض، سواء أخيرها في الحيض أم قبله، فإنه لا يكون بدعيا لأنه ليس من فعله المحض (٣١) . وقسم جمهور الفقهاء الطلاق من حيث وصفه الشرعي إلى سني وبدعي، ولم يذكروا للسني تقسيما، فهو عندهم قسم واحد خلافا للحنفية، إلا أن بعض الشافعية قسموا الطلاق إلى سني وبدعي، وما ليس سنيا ولا بدعيا وهو المرجح عندهم، والذي ليس سنيا ولا بدعيا هو ما استثناه الحنفية من البدعي كما تقدم والسني عند الجمهور: هو ما يشمل الحسن والأحسن عند الحنفية معا. والبدعي عندهم: ما يقابل البدعي عند الحنفية، إلا أنهم خالفوهم في أمور، أهمها: أن الطلاق الثلاث في ثلاث حيضات سني عند الحنفية، وهو بدعي عند الجمهور، وكذا الطلاق  ثلاثا في طهر واحد لم يصبها فيه، فإنه سني عند الشافعية أيضا، وهو رواية عند الحنابلة، اختارها الخرقي. وذهب المالكية إلى أنه محرم كما عند الحنفية، وهو رواية ثانية عند الحنابلة (٣٢) هذا، والمدار على معرفة السني والبدعي من الطلاق القرآن والسنة، أما القرآن فقوله تعالى: {يا أيها النبي إذا طلقتم النساء فطلقوهن لعدتهن} (٣٣) وقد فسر ابن مسعود رضي الله عنه ذلك بأن يطلقها في طهر لا جماع فيه، ومثله عن ابن عباس رضي الله عنهما (٣٤) . وأما السنة فما رواه ابن عمر رضي الله عنهما أنه طلق امرأته وهي حائض، فسأل عمر رضي الله عنه رسول الله صلى الله عليه وسلم عن ذلك فقال له رسول الله صلى الله عليه وسلم: مره فليراجعها، ثم ليتركها حتى تطهر، ثم تحيض، ثم تطهر، ثم إن شاء أمسك بعد وإن شاء طلق قبل أن يمس، فتلك العدة التي أمر الله أن يطلق لها النساء (٣٥) . وما ورد عن عبد الله بن مسعود رضي الله عنه قال: طلاق السنة تطليقة وهي طاهر في غير جماع، فإذا حاضت وطهرت طلقها أخرى، فإذا حاضت وطهرت طلقها أخرى، ثم تعتد بعد ذلك بحيضة (٣٦)والمعنى العام في السني والبدعي، أن السني يمنع الندم، ويقصر العدة على المرأة فيقل تضررها من الطلاق.
حكم الطلاق البدعي من حيث وقوعه ووجوب العدة بعده:

٤١ – اتفق جمهور الفقهاء على وقوع الطلاق البدعي، مع اتفاقهم على وقوع الإثم فيه على المطلق لمخالفته السنة المتقدمة. فإذا طلق زوجته في الحيض وجب عليه مراجعتها، رفعا للإثم لدى الحنفية في الأصح عندهم، وقال القدوري من الحنفية: إن الرجعة مستحبة لا واجبة (٣٧) . وذهب الشافعي إلى أن مراجعة من طلقها بدعيا سنة، وعبر الحنابلة عن ذلك بالاستحباب. وذهب المالكية إلى تقسيم البدعي إلى: حرام ومكروه، فالحرام: ما وقع في الحيض أو النفاس من الطلاق  مطلقا، والمكروه: ما وقع في غير الحيض والنفاس، كما لو أوقعه في طهرها الذي جامعها فيه، وعلى هذا يجبر المطلق في الحيض والنفاس على الرجعة رفعا للحرمة، ولا يجبر غيره على الرجعة وإن كان بدعيا (٣٨)وهذا كله ما دامت الرجعة ممكنة، بأن كان الطلاق رجعيا، فإذا كان بائنا بينونة صغرى أو كبرى تعذر الرجوع واستقر الإثم.دليل ذلك ما تقدم من أمر رسول الله صلى الله عليه وسلم عبد الله بن عمر رضي الله عنهما باسترجاع زوجته ما دام ذلك ممكنا، فإذا لم يكن ممكنا للبينونة امتنع الرجوع، فقد ورد عن ابن عمر رضي الله عنهما أنه كان إذا سئل عن الرجل يطلق امرأته وهي حائض يقول: أما أنت طلقتها واحدة أو اثنتين، إن رسول الله صلى الله عليه وسلم أمره أن يرجعها. ثم يمهلها حتى تحيض حيضة أخرى، ثم يمهلها حتى تطهر، ثم يطلقها قبل أن يمسها، وأما أنت طلقتها ثلاثا، فقد عصيت ربك فيما أمرك به من طلاق امرأتك، وبانت منك (٣٩) .
رابعا – الطلاق المنجز والمضاف والمعلق
الأصل في الطلاق التنجيز، إلا أنه يقبل التعليق والإضافة باتفاق الفقهاء، وله تفصيلات وأحكام كما يلي:
أ – الطلاق المنجز
٤٢ – تعريفه: هو الطلاق الخالي في صيغته عن التعليق والإضافة، كقوله: أنت طالق، أو اذهبي إلى بيت أهلك، ينوي طلاقها.
حكمه: أنه ينعقد سببا للفرقة في الحال، ويعقبه أثره بدون تراخ ما دام مستوفيا لشروطه، فإذا قال لها: أنت طالق، طلقت للحال وبدأت عدتها، هذا مع ملاحظة الفارق بين البائن والرجعي كما تقدم.
ب – الطلاق المضاف
٤٣ – تعريفه: هو الطلاق الذي قرنت صيغته بوقت بقصد وقوع الطلاق  عند حلول ذلك الوقت، كقوله: أنت طالق أول الشهر القادم، أو آخر النهار، أو أنت طالق أمس.
حكمه: ذهب الجمهور إلى أن الطلاق المضاف إلى المستقبل ينعقد سببا للفرقة في الحال، ولكن لا يقع به الطلاق إلا عند حلول أجله المضاف إليه بعد استيفائه لشروطه الأخرى، فإذا قال لها: أنت طالق آخر هذا الشهر، لم تطلق حتى ينقضي الشهر، ولو قال: في أوله طلقت أوله، ولو قال: في شهر كذا، طلقت في أوله عند الأكثر، وخالف البعض وقالوا يقع في آخره. فإذا أضاف  الطلاق إلى زمن سابق، فإن قصد وقوعه للحال مستندا إلى ذلك الزمن
السابق، وقع للحال كالمنجز مقتصرا على وقت إيقاعه، وقيل: يلغو، وإن قصد الإخبار عن نفسه، وأنه طلقها في ذلك الزمن السابق، صدق في ذلك بيمينه إن كان التصديق ممكنا، فإن كان مستحيلا، كأن يقول لها: أنت طالق منذ خمسين سنة وعمرها أقل من ذلك كان لغوا (٤٠) . هذا مذهب الحنفية.وذهب المالكية إلى أنه إن أضاف طلاقه إلى زمن مستقبل كأن قال لها: أنت طالق بعد سنة، أو أنت طالق يوم موتي طلقت للحال منجزا، وكذلك إذا أضافه إلى زمن ماض قاصدا به الإنشاء، كقوله: أنت طالق أمس، فإنها، تطلق للحال، فإن قصد به الإخبار دين عند المفتي (٤١) . ونص الحنابلة على أنه إن قال: أنت طالق أمس ولا نية له، فظاهر كلام أحمد أن الطلاق لا يقع، وقال القاضي في بعض كتبه: يقع الطلاق، وإن قصد الإخبار صدق، ووقع الطلاق  (٤٢) . ومذهب الشافعية كالحنفية، إلا أنهم خالفوهم فيما لو أضافه إلى زمن سابق محال ولميكن له نية، فإنه يقع عندهم، كما لو قال لها: أنت طالق قبل أن تخلقي، فإنه يقع للحال إذا لم يكن له نية (٤٣) .
ج – الطلاق المعلق على شرط
٤٤ – التعليق على شرط هنا هو ربط حصول مضمون جملة بحصول مضمون جملة أخرى (٤٤) سواء أكان ذلك المضمون من قبل المطلق أو المطلقة أو غيرها، أو لم يكن من فعل أحد.فإن كان من فعل المطلق أو المطلقة أو غيرهما سمي يمينا لدى الجمهور مجازا، وذلك لما فيه من معنى القسم، وهو: تقوية عزم الحالف أو عزم غيره على فعل شيء أو تركه، كما إذا قال لزوجته: أنت طالق إن دخلت دار فلان، أو: أنت طالق إن ذهبت أنا إلى فلان، أو: أنت طالق إن زارك فلان. . . فإن كان  الطلاق معلقا لا على فعل أحد، كما إذا قال لها: أنت طالق إن طلعت الشمس مثلا، كان تعليقا، ولم يسم يمينا، لانتفاء معنى اليمين فيه، وإن كان في الحكم مثل اليمين، وهنالك من الفقهاء من أطلقعليه اليمين أيضا (٤٥) . وأدوات الربط والتعليق هي: إن، وإذا وإذ ما وكل، وكلما، ومتى، ومتى ما، ونحو ذلك، كلها تفيد التعليق بدون تكرار إلا: كلما، فإنها تفيد التعليق مع التكرار (٤٦) . وقد يكون التعليق بدون أداة، كما إذا قال – لها: علي الطلاق سأفعل كذا، فهو بمثابة قوله: علي الطلاق إن لم أفعل كذا، وهو – التعليق المعنوي، وقد جاء به العرف.
حكمه: اتفق جمهور الفقهاء على صحة اليمين بالطلاق أو تعليق  الطلاق على شرط مطلقا، إذا استوفى شروط التعليق الآتية: فإذا حصل الشرط المعلق عليه وقع  الطلاق، دون اشتراط الفور إلا أن ينويه، وإذا لم يحصل لم يقع، سواء في ذلك أن يكون الشرط المعلق عليه من فعل الحالف أو المحلوف عليها، أو غيرهما، أو لم يكن من فعل أحد، هذا إذا حصل الفعل المعلق عليه طائعا ذاكرا التعليق، فإن حصل منه الفعل المعلق عليه ناسيا أو مكرها وقع الطلاق به أيضا عند الجمهور. وعند الشافعية فيه قولان أظهرهما: أنها لم تطلق (٤٧) .ثم ما دام لم يحصل المعلق عليه لم يمنع من قربان زوجته عند الجمهور، وقال مالك: يضرب له أجل المولي.وذهب المالكية (٤٨) إلى أنه إن علق طلاقه بأمر في زمن ماض ممتنع عقلا أو عادة أو شرعا حنث للحال، وإن علقه بأمر ماض واجب فعله عقلا أو شرعا أو عادة فلا حنث عليه. وإن علقه بأمر في زمن مستقبل، فإن كان محقق الوجود أو مظنون الوجود عقلا أو عادة أو شرعا لوجوبه نجز للحال، كما إذا قال: هي طالق إن لم أمس السماء، أو هي طالق إن قمت، أو إن صليت.وإن كان المعلق عليه مستحيلا، أو نادرا، أو مستبعدا عقلا أو عادة أو شرعا لحرمته، لم يحنث، كما لو قال: أنت طالق لو جمعت بين الضدين، أو إن لمست السماء، أو إن زنيت.
شروط صحة التعليق :
يشترط لوقوع الطلاق المعلق على شرط ما يلي:
٤٥ – ١ – أن يكون الشرط المعلق عليه معدوما عند الطلاق وعلى خطر الوجود في المستقبل، فإذا كان الشرط موجودا عند التعليق، كما إذا قال لها: أنت طالق إن كانأبوك معنا الآن، وهو معهما، فإنه طلاق صحيح منجز يقع للحال، وليس معلقا، أما أنه على خطر الوجود، فمعناه: أن يكون الشرط المعلق عليه ممكن الحصول في المستقبل، فإذا كان مستحيل الحصول لغا التعليق، ولم يقع به شيء، لا في الحال ولا في المستقبل، كما إذا قال لها: إن عاد أبوك حيا – وهو ميت – في الحياة الدنيا فأنت طالق، فإنه لغو. وهذا مذهب الحنفية، وذهب المالكية إلى وقوعه منجزا، وللحنابلة فيه قولان (٤٩) .
٤٦ – ٢ – أن يكون التعليق متصلا بالكلام، فإذا فصل عنه بسكوت، أو بكلام أجنبي، أو كلام غير مفيد، لغا التعليق ووقع الطلاق منجزا، كما لو قال لها: أنت طالق، وسكت برهة، ثم قال: إن دخلت دار فلان، أو قال لها: أنت طالق، ثم قال لها: أعطني ماء، ثم قال: إن لم تدخلي دار فلان. إلا أنه يغتفر الفاصل الضروري، كما إذا قال لها: أنت طالق، ثم تنفس لضرورة، ثم قال: إن دخلت دار فلان، فإنه معلق، ولا يقع إلا بدخولها الدار المحلوف عليها، وكذلك: إساغة اللقمة، أو كلمة مفيدة، كأن يقول لها: أنت طالق بائنا إن دخلت دار فلان، فإنه معلق ويقع به بائنا عند الدخول، فإن قال لها: أنت طالق رجعيا إن دخلت دار فلان، لغا التعليق ووقع الرجعي منجزا؛ لأن كلمة ” رجعيا ” لم تفد شيئا، فكانت قاطعا للتعليق، بخلاف كلمة ” بائن ” فإنها أفادت، فلم تكن قاطعا، وهذا المثال وفق مذهب الحنفية الذين يوقعون بكلمة ” بائن ” طلاقا بائنا (٥٠) .
٤٦ – ٣ – أن لا يقصد به المجازاة، فإذا قصد به المجازاة، وقع منجزا ولم يتعلق بالشرط، كما إذا قالت له: يا خسيس، فقال لها: إن كنت كذلك فأنت طالق، يريد معاقبتها، لا تعليق الطلاق على تحقق الخساسة فيه، فإنه يقع الطلاق هنا منجزا، سواء أكان خسيسا أم لا، فإن أراد التعليق لا المجازاة تعلق الطلاق، ويدين (٥١) .
٤٨ – ٤ – أن يذكر المشروط في التعليق، وهو المعلق عليه، فلو لم يذكر شيئا، كما إذا قال لها: أنت طالق إن، فإنه لغو في الراجح لدى الحنفية، وهو قول أبي يوسف، وقال محمد بن الحسن: تطلق للحال (٥٢)
٤٩ – ٥ – وجود رابط، وهو أداة من أدوات الشرط، وقد تقدمت، إلا أن يفهم الشرط من المعنى، فإنه يتعلق بدون رابط، كما إذا قال لها: علي الطلاق سأذهب إلى فلان، فإنه تعليق صحيح مع عدم الرابط (٥٣) .
٥٠ – ٦ – قيام الزوجية بين الحالف والمحلوف عليها عند التعليق، حقيقة أو حكما، بأن تكون زوجته أو معتدته من رجعي أو بائن، فإذا لم تكن زوجته عند التعليق، ولا معتدته، لغا التعليق ولم يقع عليها به شيء، كما إذا قال لأجنبية عنه: أنت طالق إن دخلت دار فلان، فإنه لغو، إلا أن تكون زوجة لغيره، فإنه يتوقف التعليق عندها على إجازة زوجها؛ لأنه فضولي، فإن أجازه الزوج صح التعليق، ثم إن دخلت بعد الإجازة وقع الطلاق عليها، وإلا فلا.هذا مالم يعلق الطلاق على نكاحها، فإن علقه عليه صح التعليق أيضا ولو لم تكن زوجته أو معتدته عند التعليق، كأن يقول لأجنبية عنه: إن تزوجتك فأنت طالق، ثم يتزوجها، فإنها تطلق بذلك، وكذلك قوله: كل امرأة أتزوجها فهي طالق، ثم يتزوج امرأة أجنبية، فإنها تطلق بذلك لصحة التعليق هنا، فإذا علق بغير نكاحها لم يصح التعليق، ويلغو الطلاق، كما إذا قال لأجنبية عنه: إن دخلت دار فلان فأنت طالق، ثم دخلتها قبل زواجها منه أو بعده، فإنها لا تطلق. وهذا كله لدى المالكية، وفي القول الراجح عند الحنفية، وهو قول أبي حنيفة وأبي يوسف.وقال محمد بن الحسن: لا يصح التعليق، ويلغو الطلاق. وقال الشافعية والحنابلة: لاينعقد الطلاق  هنا، كما لو علقه على غير الزواج. فإذا علقه بمقارنة النكاح لا عليه، لغا بالاتفاق، كأن يقول لأجنبية: أنت طالق مع نكاحك، فإنه لغو، وكذلك إذا علقه على انتهاء النكاح، كأن يقول لها: أنت طالق مع موتي، أو مع موتك، فإنه لغو أيضا لعدم الملك (٥٤ ) .
٥١ – ٧ – قيام الزوجية بين الحالف والمحلوف عليها عند حصول الشرط المعلق عليه حقيقة أو حكما، بأن تكون زوجة له أو معتدة من طلاق رجعي أو بائن، فإذا لم تكن كذلك عند وقوع الشرط لم يقع الطلاق به عليها، فإذا قال لزوجته: إن دخلت دار فلان فأنت طالق، فدخلتها وهي زوجته أو معتدتهطلقت، وإن دخلتها بعد أن طلقها وانقضت عدتها، لم تقع عليها الطلقة المعلقة، لعدم صلاحيتها لوقوع الطلاق عليها عندئذ (٥٥) .
٥٢ – ٨ – كون الزوج أهلا لإيقاع الطلاق عند التعليق، بأن يكون بالغا عاقلا عند الجمهور، خلافا للحنابلة كما سبق، ولا يشترط كونه كذلك عند حصول الشرط المعلق عليه، فلو قال لها الزوج عاقلا: إن دخلت دار فلان فأنت طالق، ثم جن، ثم دخلت الدار المحلوف عليها، فإنها تطلق، وكذلك إذا دخلتها قبل جنونه، فإنها تطلق أيضا، بخلاف ما لو علق طلاقها وهو مجنون، فإنه لغو (٥٦) .
انحلال الطلاق المعلق على شرط
٥٣ – إذا علق الزوج الطلاق على شرط، فإنه ينحل بحصول الشرط المعلق عليه مرة واحدة، مع وقوع  الطلاق به على الزوجة في هذه المرة، فإذا عادت إليه ثانية في العدة أو بعدها، لم تقع عليها به طلقة أخرى لانحلاله، هذا ما لم يكن التعليق بلفظ (كلما) ، وإلا وقع عليهابه ثانية وثالثة؛ لأن كلما تفيد التكرار دون غيرها.وعلى ذلك فلو قال لزوجته: أنت طالق ثلاثا إن دخلت دار فلان، ثم طلقها منجزا واحدة قبل دخول الدار، ثم مضت عدتها، ثم دخلت الدار المحلوف عليها، ثم عادت إليه بزوجية أخرى، جاز، فإذا دخلت الدار المحلوف عليها بعد ذلك لم يضرها، ولم يقع عليها بذلك شيء،لانحلال  الطلاق المعلق بالدخول الأول بعد العدة، فإذا علق طلاقها الثلاث على دخول الدار، ثم نجز طلاقها مرة واحدة، وانقضت عدتها دون أن تدخل الدار المحلوف عليها، ثم عادت إليه بعقد جديد، ثم دخلتها، وقع الثلاث عليها، لعدم انحلال اليمين المعلقة، بخلاف ما لو دخلتها بعد عدتها، فإنها تنحل بذلك. وكذلك تنحل اليمين المعلقة على شرط بزوال الحل بالكلية، كما إذا علق طلاقها الثلاث على دخول الدار، ثم طلقها ثلاثا منجزة، ثم تزوجها بعد التحليل، ثم دخلت الدار ولم تكن دخلتها من قبل، فإنها لا تطلق هنا لانحلال اليمين المعلقة بزوال الحل بالكلية، وذلك بوقوع الثلاث عليها، على خلاف وقوع ما دون الثلاث، فإنه لا يزيل الحل، فلا تنحل به اليمين المعلقة إلا بحصول الشرط فعلا مرة.وهذا مذهب الحنفية والمالكية، وللشافعية فيه أقوال ثلاثة: الأول: يقع مطلقا، والثاني: لا يقع مطلقا، والثالث: يقع بما دون الثلاث، ولا يقع بعد الثلاث، وذهب الحنابلة إلى وقوعه في الكل.
كما تنحل اليمين المعلقة على شرط بردة الحالف مع لحاقه بدار الحرب، فلو طلقها معلقا، ثم ارتد ولحق بدار الحرب، ثم عاد إلى الإسلام، وعاد إليها، ثم فعلت المعلق عليه، فإنها لا تطلق بذلك، لانحلال اليمين المعلقة بردته، وهذا قول الإمام أبي حنيفة، وخالفه الصاحبان: أبو يوسف ومحمد، وقالا: لا ينحل التعليق بالردة مطلقا.وتنحل اليمين المعلقة على شرط أيضا بفوت محل البر، فإذا قال لها: أنت طالق إن دخلت دار فلان، ثم خربت الدار، أو إن كلمت زيدا فمات زيد، انحلت اليمين المعلقة، حتى لو أن الدار الخربة بنيت ثانية فإن اليمين المعلقة لا تعود، لأنها غير الدار المحلوف عليها (٥٦)تعليق الطلاق على شرطين:
٥٤ – إذا علق طلاقها على شرطين أو أكثر وقع الطلاق عليها بحصول المعلق عليه كله في النكاح، وكذلك بوقوع الثاني أو الأخير فقط في النكاح، وعلى هذا فإن حصل الشرط الأول في النكاح، والشرط الثاني بعده، كما إذا قال لها: إن جاء زيد وعمرو فأنت طالق، فجاء زيد، ثم طلقها منجزا واحدة، ثم جاء عمرو بعد انقضاء عدتها، لم تطلق ثانية بمجيئه. فإن طلقها منجزا واحدة إثر تعليقه، ثم جاء الأول زيد بعد انقضاء العدة، ثم تزوجها فجاء عمرو وهي زوجته، وقع عليها المعلق، فكانتا اثنتين، نص على ذلك الحنفية (٥٧) .
الاستثناء في الطلاق
تعريفه وحكمه
٥٥ – الاستثناء في اللغة: هو الإخراج بإلا أو بإحدى أخواتها، بعضا مما يوجبه عموم سابق، تحقيقا أو تقديرا، والأول هو المتصل، والثاني هو المنقطع، والأول هو المراد هنا دون الثاني لدى الفقهاء، ويضاف إلى الأول الاستثناء الشرعي، وهو التعليق على مشيئة الله تعالى (٥٨) ، أخذا من قوله سبحانه:{إذ أقسموا ليصرمنها مصبحين ولا يستثنون} (٥٩) . والاستثناء الشرعي – وهو التعليق على مشيئة الله تعالى – مبطل للطلاق، (أي لا يقع به الطلاق) لدى الحنفية والشافعية إذا استوفى شروطه للشك فيما يشاؤه سبحانه، وخالف الحنابلة والمالكية، وقالوا: لا يبطل الطلاق به – أي يقع به الطلاق  (٦٠) . أما الاستثناء اللغوي بإلا وأخواتها فمؤثر وملغ للطلاق بحسبه إذا استوفى شروطه، وعلى ذلك لو قال لزوجته: أنت طالق ثلاثا إلا واحدة، طلقت اثنتين فقط، ولو قال: أنت طالق ثلاثا إلا اثنتين طلقت واحدة فقط، فإن قال: أنت طالق ثلاثا إلا ثلاثا، وقع الثلاث؛ لأنه إلغاء، وليس استثناء، والإلغاء باطل هنا.
شروطه
يشترط لصحة الاستثناء من الطلاق، سواء أكان استثناء لغويا أم تعليقا على مشيئة الله تعالى، شروط هي (٦١)
٥٦ – ١ – اتصاله بالكلام السابق عليه، أي اتصال المستثنى بالمستثنى منه، بحيث يعدان كلاما واحدا عرفا، فإن فصل بينهما بكلام أو سكوت لغا الاستثناء، وثبت حكم الطلاق، فإذا قال لها: أنت طالق، ثم قال: إن شاء الله تعالى منفصلا، طلقت، أو قال: أنت طالق اثنتين، ثم سكت، ثم قال: إلا واحدة وقع اثنتان، ولغا الاستثناء، وكذلك إذا قال لها: أنت طالق ثلاثا، ثم سألها عن أمر، ثم قال: إلا اثنتين، فإنها تطلق ثلاثا، لإلغاء الاستثناء بالكلام الفاصل.إلا أنه يعفى هنا عن الفاصل القصير الضروري، كالسكوت للتنفس أو إساغة اللقمة، كما يعفى عن الكلام المفيد المتعلق بالمستثنى منه، كأن يقول لها: أنت طالق ثلاثا يا زانية إلا اثنتين، فإنها تطلق بواحدة، لأن لفظة (زانية) بيان لسبب الطلاق، وكذلك قوله لها: أنت طالق ثلاثا بائنا إلا اثنتين عند الحنفية، فإنه يقع به واحدة بائنة عندهم، بخلاف: أنت طالق ثنتين رجعيتين إلا واحدة، فإنه يقع به اثنتان رجعيتان، ويلغو الاستثناء لعدم إفادة هذا الفاصل.
٥٧ – ٢ – نية الحالف الاستثناء قبل الفراغ من التلفظ في الطلاق عند المالكية والشافعيةفي الأصح، فإن نواه بعده لم يصح ويقع الطلاق  بدونه، وفي قول ثان للشافعية إن نواه بعده جاز، وقال الحنفية: يصح بغير نية مطلقا، ولم أر من نص على ذلك من الحنابلة، ولعلهم مع الحنفية في ذلك.
٥٨ – ٣ – أن يكون الاستثناء بصوت مسموع لنفسه على الأقل، فلو كان دون ذلك لم يصح الاستثناء، لأنه مجرد نية، وهي غير كافية لصحته بالاتفاق.
٥٩ – ٤ – عدم استغراق المستثنى للمستثنى منه، فإذا قال: أنت طالق ثلاثا إلا ثلاثا لم يصح؛ لأنه رجوع وإلغاء، وليس استثناء. وهل يجوز استثناء الأكثر؟ نص الجمهور على صحته، ونص الحنابلة على عدم صحته (٦٢) . إلا أنه إن قال: طالق ثلاثا إن شاء الله تعالى قاصدا الاستثناء متصلا لغا طلاقه عند الجمهور، خلافا للحنابلة لما تقدم.وهل يجب تقديم المستثنى منه على المستثنى؟ نص الشافعية والحنفية على عدم شرطية ذلك، وسووا بين أن يقدم المستثنى أو المستثنى منه، فلو قال: أنت طالق ثلاثا إلا واحدة وقع ثنتان، وإذا قال: أنت إلا واحدةطالق ثلاثا وقع ثنتان أيضا، وإذا قال: أنت طالق إن شاء الله تعالى، صح الاستثناء أو قال: إن شاء الله تعالى فأنت طالق فكذلك ما دام أدخل الفاء على (أنت) فإن لم يدخلها فقولان، المفتى به منهما: عدم الوقوع (٦٣) . وهل يجب التلفظ بالمستثنى والمستثنى منه؟ نص الحنفية على عدم اشتراط ذلك، وعلى هذا إذا قال لزوجته: أنت طالق ثلاثا، ثم كتب متصلا: إلا واحدة، وقع اثنتان، ولو كتب: أنت طالق ثلاثا، ثم قال متصلا: إلا واحدة وقع اثنتان أيضا. فإن كتبهما معا، ثم أزال الاستثناء وقع اثنتان فقط، ولا قيمة لإزالة الاستثناء بعد كتابته؛ لأنه رجوع عنه، والرجوع هنا غير صحيح (٦٤)
٦٠ – ٥ – أن لا يكون المستثنى جزء طلقة، فإن استثنى جزء طلقة لم يصح الاستثناء، وعلى ذلك إذا قال لزوجته: أنت طالق ثلاثا إلا نصف طلقة طلقت ثلاثا، ولو قال لها: أنت طالق اثنتين إلا ثلثي طلقة، طلقت اثنتين أيضا لدى الجمهور، وهو الصحيح لدى الشافعية، والثاني: يصح الاستثناء، ويستثنى بجزء الطلقة طلقة كاملة (٦٥)وهل يكون الاستثناء من المستثنى منه الملفوظ دون المملوك؟ ذكر الحنفية ذلك، وذكر الشافعية قولين، الأصح منهما: أن الاستثناء من الملفوظ كالحنفية. والثاني: أنه يعتبر من المملوك، وعلى ذلك فلو قال لزوجته: أنت طالق خمسا إلا ثلاثا طلقت اثنتين عند الحنفية والأصح من قولي الشافعية، وفي قول الشافعية الثاني طلقت ثلاثا؛ لأنه يملك عليها ثلاثا، فلما استثنى منه ثلاثا كان رجوعا فلغا. وكذلك إذا قال لها: أنت طالق عشرا إلا تسعا، فإنها تطلق بواحدة على القول الأول، وبثلاث على القول الثاني.وللمالكية في ذلك قولان. الراجح منهما اعتبار الملفوظ فيستثنى منه، ومقابل الراجح اعتبار المملوك، فلو قال لها: أنت طالق خمسا إلا اثنتين، فعلى الراجح يلزمه ثلاث، وعلى المرجوح يلزمه واحدة. (٦٧)


(١) ابن عابدين ٣ / ٢٤٣ – ٢٩٦، والدسوقي ٢ / ٣٧٨، ومغني المحتاج ٣ / ٢٨٠، والمغني ٧ / ٣١٨ – ٣١٩.
(٢) المغني ٧ / ٣٢٩.
(٣) الدسوقي ٢ / ٣٧٩.
(٤) ابن عابدين ٣ / ٢٤٧ – ٢٤٨، والدسوقي ٢ / ٣٧٨، المغني ٧ / ٣٢٢، ٣٢٦، ومغني المحتاج ٣ / ٢٨٠.
(٥) مغني المحتاج ٣ / ٢٨٠، والمغني ٧ / ٣١٨ – ٣١٢، ونيل المآرب ٢ / ٢٣٧.
(٦) ابن عابدين 3 / 249 ط. عيسى الحلبي.
(٧) ابن عابدين ٣ / ٢٤٨، والحطاب ٤ / ٤٤، ومغني المحتاج ٣ / ٢٨٠، والمغني ٧ / ١٢٤، ٢٣٨.
(٨) المغني ٧ / ٤٥٤، ومغني المحتاج ٣ / 
(٩) الآية / ٢٣٠ من سورة البقرة.
(١٠) الاختيار ٣ / ١٣٢.
(١١) ابن عابدين ٣ / ٢٥٠، ٣ / ٢٧٨ – ٢٨١.
(١٢) ابن عابدين ٣ / ٢٩٣، والدسوقي ٢ / ٣٨٥، ومغني المحتاج ٣ / ٣٩٦، والمغني ٧ / ٤١٧.
(١٣) الآية / ٢٣٠ من سورة البقرة.
(١٤) الآية / ٢٢٩ من سورة البقرة.
(١٥) لآية ٢٣٠ من سورة البقرة.
(١٦) المغني ٧ / ٤١٨، والدسوقي ٢ / ٣٨٥.
(١٧) الدر المختار ٣ / ٢٨٨.
(١٨) مغني المحتاج ٣ / ٢٩٧.
(١٩) ابن عابدين ٣ / ٢٩٣.
(٢٠) مغني المحتاج ٣ / ٢٩٦.
(٢١) المغني ٧ / ٤١٧.
(٢٢) الشرح الكبير ٢ / ٣٨٥.
(٢٣) مغني المحتاج ٣ / ٢٩٤.
(٢٤) الدر المختار ٣ / ٣٠٩ – ٢١٠.
(٢٥) المغني ٧ / ٤١٨.
(٢٦) الدر المختار ابن عابدين عليه ٣ / ٢٧٤ – ٢٧٧.
(٢٧) مغني المحتاج ٣ / ٢٩٤ و ٣٢٦.
(٢٨) المغني ٧ / ٣٢٤.
(٢٩) المغني ٧ / ٣٢٥، والدسوقي ٢ / ٣٦٤.
(٣٠) الدسوقي ٢ / ٣٦٤، ومغني المحتاج ٣ / ٣٢٦، والمغني ٧ / ٤٢٠ – ٤١٢.
(٣١) الدر المختار وابن عابدين عليه ٣ / ٢٣٠ – ٢٣٤.
(٣٢) المغني ٧ / ٣٠١، ومغني المحتاج ٣ / ٣١١ – ٣١٢، والدسوقي ٢ / ٣٦١ وما بعدها.
(٣٣) الآية ١ من سورة الطلاق.
(٣٤) المغني ٧ / ٢٩٨.
(٤٥) حديث: ” مرة فليراجعها. . . ” تقدم فـ ٩.
(٣٦) المغني ٧ / ٢٩٨. وأثر عبد الله بن مسعود: طلاق السنة تطليقة، أخرجه النسائي (٧ / ١٤٠) .
(٣٧) ابن عابدين ٣ / ٢٣٣.
(٣٨) الدسوقي ٢ / ٣٦١ – ٣٦٢.
(٣٩) حديث: ” أن ابن عمر كان إذا سئل عن الرجل يطلق امرأته. . “. أخرجه مسلم (٢ / ١٠٩٤) .
(٤٠) الدر المختار ٣ / ٢٦٥ – ٢٦٨، ومغني المحتاج ٣ / ٣١٤، والمغني ٧ / ٣٦٣ – ٣٦٤.
(٤١) الشرح الكبير وحاشية الدسوقي عليه ٢ / ٣٩٠.
(٤٢) المغني ٧ / ٣٦٣ – ٣٦٤.
(٤٣) مغني المحتاج ٤ / ٣١٥.
(٤٤) الدر المختار ٣ / ٣٤١ ط. الحلبي.
(٤٥) الدر المختار ٣ / ٣٤١، والمغني ٧ / ٣٦٩.
(٤٦) ابن عابدين ٣ / ٣٥٠ – ٣٥٢.
(٤٧) مغني المحتاج ٣ / ٣١٦ و ٣٢٦، والمغني ٧ / ٣٧٩.
(٤٨) الشرح الكبير والدسوقي عليه ٢ / ٣٨٩ – ٣٩٧.
(٤٩) الدر المختار ٣ / ٣٤١ – ٣٤٨، والشرح الكبير ٢ / ٣٧٠، ومغني المحتاج ٣ / ٢٩٢.
(٥٠) الدر المختار ٣ / ٣٦٦ – ٣٦٧، والمغني ٧ / ٢٤٠ و ٢٩٤ ومغني المحتاج ٣ / ٣٣٤.
(٥١) الدر المختار ٣ / ٣٤٣، ومغني المحتاج ٣ / ٣٣٤.
(٥٢) الدر المختار ٣ / ٣٤٤.
(٥٣) الدر المختار ٣ / ٣٤٤.
(٥٤) الدر المختار ٣ / ٣٤٤، والدسوقي ٣ / ٣٧٠ – ٣٧٦، والخرشي ٤ / ٣٢ ومغني المحتاج ٣ / ٣٩٢
(٥٥) مغني المحتاج ٣ / ٢٩٢، والدسوقي ٣ / ٣٧٠ – ٣٧٦، والدر المختار ٣ / ٣٤٥.
(٥٦) الدسوقي ٣ / ٣٦٥، ومغني المحتاج ٣ / ٢٧٩، والدر المختار ٣ / ٣٤٨.
(٥٧) المغني ٧ / ٢٩٤ – ٢٩٦، مغني المحتاج ٣ / ٢٩٣، والدسوقي ٢ / ٣٧٥ – ٣٧٦، والدر المختار ٣ / ٣٥٢ – ٣٥٣.
(٥٨) الدر المختار ٣ / ٣٦٣ – ٣٦٤.
(٥٩) مغني المحتاج ٣ / ٣٠٠.
(٦٠) الآية ١٧ – ١٨ من سورة القلم.
(٦١) المغني ٧ / ٤٠٢ – ٤٠٣، والقوانين الفقهية ص ٢٤٢، ومغني المحتاج ٣ / ٣٠٢، والدر المختار ٣ / ٣٦٦ – ٣٦٨.
(٦٢) الدر المختار ٣ / ٣٦٦ – ٣٧٠، ومغني المحتاج ٣ / ٣٠٠ – ٣٠٣، والشرح الكبير ٢ / ٣٨٨.
(٦٣) المغني ٧ / ٣٥٤.
(٦٤) مغني المحتاج ٣ / ٣٠٠، والدر المختار ٣ / ٣٧٢.
(٦٥) الدر المختار ٣ / ٣٧٣ – ٣٧٧.
(٦٦) الدر المختار ٣ / ٣٧٦، ومغني المحتاج ٣ /

Kategori
Uncategorized

MENIKAH ITU MENJAGA AGAMA

MENIKAH ITU MENJAGA AGAMA

Assalamualaikum warah matullahi barakatuh.

Deskripsi Masalah.

Nikah artinya suatu akad yang menghalalkan suatu pergaulan antara laki-laki dan perempuan,yang bukan Muhrim dan menimbulkan hak dan kewajiban antara keduanya.
Dalam pengertian yang luas, pernikahan adalah merupakan suatu ikatan lahir antara dua orang yaitu laki-laki dan perempuan, hidup bersama dalam suatu rumah tangga dan untuk mendapatkan keturunan yang dilangsungkan menurut kententuan-ketentuan syariat Islam.
Ketika orang laki-laki dan perempuan sudah menikah maka separuh agamanya sempurna sebagaimana dijelaskan dalam hadits

من تزوج فقد استكمل نصف دينه فليتق الله في النصف الباقي

Barang siapa yang telah menikah maka sungguh telah sempurna separuh agamanya maka takutlah kepada Allah didalam separuh yang tersisa.
Dalam hadits tersebut menyebutkan separuh Agamanya sempurna sedangkan anjuran yang terakhir agar takut kepada Allah didalam separuhnya yang tersisa.

Pertanyaannya.

  1. Apa yang dimaksud agama dalam hadits tersebut…?
  2. Apa yang dimaksud separuh yang tersisa.( فليتق الله فى النصف الباقي ) Mohon jawabannya.

Walaikum salam.

Jabawan. No.1
Makna ad-Diin dalam hadits adalah baiknya akhlak ( حسن الخلق) atau akhlak al-karimah, kehormatan diri. Maksudnya adalah : Manakala seseorang sudah melakukan akad nikah, dengan secara resmi ( nikah yang sah menurut agama dan juga sah menurut Undang-pemerintah ) maka dia telah menjaga kehormatan dirinya, yang maksudnya adalah tidak melakukan zina, karena apapun yang dilakukan dua orang ( laki-laki dan perempuan ) setelah menikah diantaranya persetubuhan itu telah halal bagi keduanya.

Jawaban .No.2
Anjuran Rasulullah bertaqwalah kepada Allah, maksudnya ” TAQWA” melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangannya. Maka dalam menjalankan ketaqwaan yang harus dijahui dalam hadits ini adalah separuh yang tersisa, maksud makna separuh yang yang tersisa itu adalah menjaga lidah dan kemaluan, karena sebab kedua inilah kebanyakan orang tidak selamat, dan menjadi faktor hancurnya hubungan keluarga, bahkan kebanyakan manusia masuk neraka disebabkan dari keduanya ( karena tidak bisa memelihara/menjaganya ).

Makna Taqwa.
Referensi:

كفاية الأتقياء.ص ٧-٨
تقوى الإله مدار كل سعادة#وتباع أهوا رأس شر حبائلا.
شروع فيما هو المقصود من هذا النظم وهو بيان مايحتاج إليه سلك طريق الآخرة مبتدئا بالأصل الجامع لخير الدنيا والآخرة وهو التقوى وهى عبارة عن إمتثال أوامر الله واجتناب نواهيه ظاهرا وباطنا مع استعمار التعظيم والهيبة والخشية الرهبة والرهبة من الله……………. إلى أن قال – وقال بعضهم التقوى عمل بطاعة الله على نور من الله مخافة عقابة الله ……..
والتقوى مصدر وقاه إذا منعه فالتقى قد منع نفسه من شهواتها

Makna agama dan separuh dari yang tersisa dijelaskan oleh Imam Al-Qurthubi dalam kitab tafsirnya,


Referensi:


تفسير القرطبي — القرطبي (٦٧١ هـ)

﴿وَلَقَدۡ أَرۡسَلۡنَا رُسُلࣰا مِّن قَبۡلِكَ وَجَعَلۡنَا لَهُمۡ أَزۡوَ ٰ⁠جࣰا وَذُرِّیَّةࣰۚ وَمَا كَانَ لِرَسُولٍ أَن یَأۡتِیَ بِـَٔایَةٍ إِلَّا بِإِذۡنِ ٱللَّهِۗ لِكُلِّ أَجَلࣲ كِتَابࣱ﴾ [الرعد ٣٨]

فِيهِ مَسْأَلَتَانِ: الْأُولَى- قِيلَ: إِنَّ الْيَهُودَ عَابُوا عَلَى النَّبِيِّ ﷺ الْأَزْوَاجَ، وَعَيَّرَتْهُ بِذَلِكَ وَقَالُوا: مَا نَرَى لِهَذَا الرَّجُلِ هِمَّةً إِلَّا النِّسَاءَ وَالنِّكَاحَ، وَلَوْ كَانَ نَبِيًّا لَشَغَلَهُ أَمْرُ النُّبُوَّةِ عَنِ النِّسَاءِ، فَأَنْزَلَ اللَّهُ هذه والآية، وَذَكَّرَهُمْ أَمْرَ دَاوُدَ وَسُلَيْمَانَ فَقَالَ: (وَلَقَدْ أَرْسَلْنا رُسُلًا مِنْ قَبْلِكَ وَجَعَلْنا لَهُمْ أَزْواجاً وَذُرِّيَّةً) أي جعلناهم بشرا يقضون مَا أَحَلَّ اللَّهُ مِنْ شَهَوَاتِ الدُّنْيَا، وَإِنَّمَا التَّخْصِيصُ فِي الْوَحْيِ. الثَّانِيَةُ- هَذِهِ الْآيَةُ تَدُلُّ عَلَى التَّرْغِيبِ فِي النِّكَاحِ وَالْحَضِّ عَلَيْهِ، وَتَنْهَى عَنِ التَّبَتُّلِ، وَهُوَ تَرْكُ النِّكَاحِ، وَهَذِهِ سُنَّةُ الْمُرْسَلِينَ كَمَا نَصَّتْ عَلَيْهِ هَذِهِ الْآيَةُ، وَالسُّنَّةُ وَارِدَةٌ بِمَعْنَاهَا، قَالَ ﷺ: (تَزَوَّجُوا فَإِنِّي مُكَاثِرٌ بِكُمُ الْأُمَمَ) الْحَدِيثَ. وَقَدْ تَقَدَّمَ فِي “آلِ عِمْرَانَ”(١) وَقَالَ: (مَنْ تَزَوَّجَ فَقَدِ اسْتَكْمَلَ نِصْفَ الدِّينِ فَلْيَتَّقِ اللَّهَ فِي النِّصْفِ الثَّانِي)(٢). وَمَعْنَى ذَلِكَ أَنَّ النِّكَاحَ يُعِفُّ عن الزني، وَالْعَفَافُ أَحَدُ الْخَصْلَتَيْنِ اللَّتَيْنِ ضَمِنَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ عَلَيْهِمَا الْجَنَّةَ فَقَالَ: “مَنْ وَقَاهُ اللَّهُ شَرَّ اثْنَتَيْنِ وَلَجَ الْجَنَّةَ مَا بَيْنَ لَحْيَيْهِ وَمَا بَيْنَ رِجْلَيْهِ” خَرَّجَهُ الْمُوَطَّأُ وَغَيْرُهُ. وَفِي صَحِيحِ الْبُخَارِيِّ عَنْ أَنَسٍ قَالَ: (جَاءَ ثَلَاثَةُ رَهْطٍ إِلَى بُيُوتِ أَزْوَاجِ النبي ﷺ يَسْأَلُونَ عَنْ عِبَادَةِ النَّبِيِّ ﷺ، فَلَمَّا أُخْبِرُوا كَأَنَّهُمْ تَقَالُّوهَا فَقَالُوا: وَأَيْنَ نَحْنُ مِنَ النَّبِيِّ ﷺ! قَدْ غَفَرَ اللَّهُ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ وَمَا تَأَخَّرَ. فَقَالَ أَحَدُهُمْ: أَمَّا أَنَا فَإِنِّي أُصَلِّي اللَّيْلَ أَبَدًا، وَقَالَ الْآخَرُ: إِنِّي أَصُومُ الدَّهْرَ فَلَا أُفْطِرُ. وَقَالَ الْآخَرُ: أَنَا أَعْتَزِلُ النِّسَاءَ فَلَا أَتَزَوَّجُ، فَجَاءَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ إِلَيْهِمْ فَقَالَ: “أَنْتُمُ الَّذِينَ قُلْتُمْ كَذَا وَكَذَا أَمَا وَاللَّهِ إِنِّي لَأَخْشَاكُمْ لِلَّهِ وَأَتْقَاكُمْ لَهُ لَكِنِّي أَصُومُ وَأُفْطِرُ وَأُصَلِّي وَأَرْقُدُ وَأَتَزَوَّجُ النِّسَاءَ فَمَنْ رَغِبَ عَنْ سُنَّتِي فَلَيْسَ مِنِّي”. خَرَّجَهُ مُسْلِمٌ بِمَعْنَاهُ، وَهَذَا أَبْيَنُ. وَفِي صَحِيحِ مُسْلِمٍ عَنْ سَعْدِ بْنِ أَبِي وَقَّاصٍ قَالَ: أَرَادَ عُثْمَانُ أَنْ يَتَبَتَّلَ فَنَهَاهُ النَّبِيُّ ﷺ، وَلَوْ أَجَازَ لَهُ ذَلِكَ لاختصينا، وَقَدْ تَقَدَّمَ فِي “آلِ عِمْرَانَ”(٤) الْحَضُّ عَلَى طَلَبِ الْوَلَدِ وَالرَّدُّ عَلَى مَنْ جَهِلَ ذَلِكَ. وَقَدْ رُوِيَ عَنْ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أنه كان يقول: إني لا تزوج الْمَرْأَةَ وَمَا لِي فِيهَا مِنْ حَاجَةٍ، وَأَطَؤُهَا وَمَا أَشْتَهِيهَا، قِيلَ لَهُ: وَمَا يَحْمِلُكَ عَلَى ذَلِكَ يَا أَمِيرَ الْمُؤْمِنِينَ؟ قَالَ: حُبِّي أَنْ يُخْرِجَ اللَّهُ مِنِّي مَنْ يُكَاثِرُ بِهِ النَّبِيُّ ﷺ النَّبِيِّينَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، وَإِنِّي سَمِعْتُهُ يَقُولُ: “عَلَيْكُمْ بِالْأَبْكَارِ فَإِنَّهُنَّ أَعْذَبُ أَفْوَاهًا وَأَحْسَنُ أَخْلَاقًا وَأَنْتَقُ أَرْحَامًا وَإِنِّي مُكَاثِرٌ بكم الأمم يوم القيامة” يعني بقول: “أَنْتَقُ أَرْحَامًا” أَقْبَلُ لِلْوَلَدِ، وَيُقَالُ لِلْمَرْأَةِ الْكَثِيرَةِ الْوَلَدُ نَاتِقٌ، لِأَنَّهَا تَرْمِي بِالْأَوْلَادِ رَمْيًا. وَخَرَّجَ أَبُو دَاوُدَ عَنْ مَعْقِلِ بْنِ يَسَارٍ قَالَ: جَاءَ رَجُلٌ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ ﷺ فَقَالَ: إِنِّي أَصَبْتُ امْرَأَةً ذَاتَ حَسَبٍ وَجَمَالٍ، وَإِنَّهَا لَا تَلِدُ، أَفَأَتَزَوَّجُهَا؟ قَالَ “لَا” ثُمَّ أَتَاهُ الثَّانِيَةَ فَنَهَاهُ، ثُمَّ أَتَاهُ الثَّالِثَةَ فَقَالَ: “تَزَوَّجُوا الْوَدُودَ الْوَلُودَ فَإِنِّي مُكَاثِرٌ بِكُمُ الْأُمَمَ”. صَحَّحَهُ أَبُو مُحَمَّدٍ عَبْدُ الْحَقِّ وَحَسْبُكَ.
قَوْلُهُ تَعَالَى: ﴿وَما كانَ لِرَسُولٍ أَنْ يَأْتِيَ بِآيَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ﴾ عَادَ الْكَلَامُ إِلَى مَا اقْتَرَحُوا مِنَ الْآيَاتِ- مَا تَقَدَّمَ ذِكْرُهُ فِي هَذِهِ السُّورَةِ- فَأَنْزَلَ [اللَّهُ(٥) ذَلِكَ فِيهِمْ، وَظَاهِرُ الْكَلَامِ حَظْرٌ وَمَعْنَاهُ النَّفْيُ، لِأَنَّهُ لا يحظر على أحد ما لا يقدر عَلَيْهِ.
(لِكُلِّ أَجَلٍ كِتابٌ) أَيْ لِكُلِّ أَمْرٍ قضاه الله كتاب عند الله، قال الْحَسَنُ. وَقِيلَ: فِيهِ تَقْدِيمٌ وَتَأْخِيرٌ، الْمَعْنَى: لِكُلِّ كتاب أجل، قال الفراء وَالضَّحَّاكُ، أَيْ لِكُلِّ أَمْرٍ كَتَبَهُ اللَّهُ أَجَلٌ مُؤَقَّتٌ، وَوَقْتٌ مَعْلُومٌ، نَظِيرُهُ. ﴿لِكُلِّ نَبَإٍ مُسْتَقَرٌّ﴾(٦) [الأنعام: ٦٧]، بَيَّنَ أَنَّ الْمُرَادَ لَيْسَ عَلَى اقْتِرَاحِ الْأُمَمِ فِي نُزُولِ الْعَذَابِ، بَلْ لِكُلِّ أَجَلٍ كِتَابٌ. وَقِيلَ: الْمَعْنَى لِكُلِّ مُدَّةٍ كِتَابٌ مَكْتُوبٌ، وَأَمْرٌ مُقَدَّرٌ لَا تَقِفُ عَلَيْهِ الْمَلَائِكَةُ. وَذَكَرَ التِّرْمِذِيُّ الْحَكِيمُ فِي “نَوَادِرِ الْأُصُولِ” عَنْ شَهْرُ بْنُ حَوْشَبٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: لَمَّا ارْتَقَى مُوسَى صَلَوَاتُ اللَّهِ عَلَيْهِ وَسَلَامُهُ طُورَ سَيْنَاءَ رَأَى الْجَبَّارَ فِي إِصْبَعِهِ خَاتَمًا، فَقَالَ: يَا مُوسَى مَا هَذَا؟ وَهُوَ أَعْلَمُ بِهِ، قَالَ: شي من حلي الرجال، قال: فهل عليه شي مِنْ أَسْمَائِي مَكْتُوبٌ أَوْ كَلَامِي؟ قَالَ: لَا، قال: فاكتب عليه “لِكُلِّ أَجَلٍ كِتابٌ”.

(١) راجع ج ٤ ص ٧٢ فما بعد. (٢) روى ابن الجوزي في العلل “ومن تزوج فقد أحرز نصف دينه فليتق الله في النصف الباقي” وراجع الحديث بطرقه في ج ٢ كشف الخفا ص ٢٣٩ ففيه بحث. (٣) من ى. (٤) راجع ج ٤ ص ٧٢، وج ٦ ص ٢٦٠ فما بعد. (٥) من ع.] (٦) راجع ج ٧ ص ١١.

Referensi Hadits nabi:
   

 سُئِلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ أَكْثَرِ مَا يُدْخِلُ النَّاسَ الْجَنَّةَ فَقَالَ تَقْوَى اللَّهِ وَحُسْنُ الْخُلُقِ وَسُئِلَ عَنْ أَكْثَرِ مَا يُدْخِلُ النَّاسَ النَّارَ فَقَالَ الْفَمُ وَالْفَرْجُ

 
Artinya: Rasulullah SAW pernah ditanya tentang sesuatu yang paling banyak memasukkan seseorang ke dalam surga, maka Rasulullah saw pun menjawab, “Takwa kepada Allah dan akhlak yang mulia”. Dan ketika ditanya tentang sesuatu yang paling banyak memasukkan orang ke dalam neraka, maka Rasulullah saw menjawab, “Mulut dan kemaluan”. (HR Tirmidzi).
Demikian penjelasan hadits tentang kesempurnaan agama dan separuh sisinya yang harus dijaga. Wallahu A’lam bisshowab.

Kategori
Uncategorized

HUKUM MENARUH UANG/KOIN DIDALAM MUSHHAF AL-QUR’AN ATAU DIATASNYA

HUKUM MENARUH UANG DAN BARANG DIDALAM MUSHHAF AL-QUR’AN ATAU DIATASNYA

Assalamu ‘alaikum.

Deskripsi Masalah.
Pada suatu waktu Katanlah Ahmad ingin mengundang Mahmud dalam acara walimatunikah, sesampainya dirumahnya Mahmud dia dalam kondisi mengaji Al-Qur’an lalu berhenti sejenak karena ada Ahmad, dan Ahmad melihat Mahmud ketika menutup al-qur’an terdapat uang Rp.100000, dilipatkan didalam Al-Qur’an.

Pertanyaan

Bagaimana hukumnya menaruh uang atau koin didalam al-Qur’an..?

Wasalamualaikum.

JAWABAN :

Wa’alaikumussalaam.
Tidak boleh bahkan haram hukumnya meletakkan sesuatu didalam mushaf Al-Qur’an,seperti meletakkan  Uang, peci, jam tangan, pensil dan lain-lain, begitu pula tidak boleh meletakkannya diatasnya atau di bawah kitab-kitab Agama Islam.

Referensi:

 ﻓﺘﺢ ﺍﻟﻤﻌﻴﻦ ﺑﻬﺎﻣﺶ ﺍﻋﺎﻧﺔ ﺍﻟﻄﺎﻟﻴﻦ ﺝ ﺍﻻﻭﻝ ﺹ ٦٨ 

ﻭﻳﺤﺮﻡ ﺗﻤﻜﻴﻦ ﻏﻴﺮ ﺍﻟﻤﻤﻴﺰ -ﺍﻟﻰ ﺍﻥ ﻗﺎﻝ- ﻭﻭﺿﻊ ﻧﺤﻮ ﺩﺭﻫﻢ ﻣﻜﺘﻮﺑﻪ ﻭﻋﻠﻢ ﺷﺮﻋﻲ ﻭﻛﺬﺍ ﺟﻌﻠﻪ ﺑﻴﻦ ﺍﻭﺭﺍﻗﻪ.

ﺇﻋﺎﻧﺔ ﺍﻟﻄﺎﻟﺒﻴﻦ – ﺍﻟﺒﻜﺮﻱ ﺍﻟﺪﻣﻴﺎﻃﻲ – ﺝ ١ – ﺍﻟﺼﻔﺤﺔ ٨٤ ﻗﻮﻟﻪ: ﻭﺿﻊ ﻧﺤﻮ ﺩﺭﻫﻢ. ﺑﺎﻟﺮﻓﻊ، ﻣﻌﻄﻮﻑ ﺃﻳﻀﺎ ﻋﻠﻰ ﺗﻤﻜﻴﻦ. ﺃﻱ ﻭﻳﺤﺮﻡ ﻭﺿﻊ ﻧﺤﻮ ﺩﺭﻫﻢ. ﻭﻗﻮﻟﻪ: ﻓﻲ ﻣﻜﺘﻮﺑﻪ ﺃﻱ ﻓﻴﻤﺎ ﻛﺘﺐ ﻓﻴﻪ ﻣﺼﺤﻒ، ﺃﻱ ﻗﺮﺁﻥ، ﻛﻠﻪ ﺃﻭ ﺑﻌﻀﻪ. ﻭﻋﺒﺎﺭﺓ ﺍﻟﻨﻬﺎﻳﺔ: ﻭﻻ ﻳﺠﻮﺯ ﺟﻌﻞ ﻧﺤﻮ ﺫﻫﺐ ﻓﻲ ﻛﺎﻏﺪ ﻛﺘﺐ ﻋﻠﻴﻪ ﺑﺴﻢ ﺍﻟﻠﻪ ﺍﻟﺮﺣﻤﻦ ﺍﻟﺮﺣﻴﻢ. ﺍﻫ. 

ﻗﺎﻝ ﻉ ﺵ: ﺃﻱ ﻭﻏﻴﺮﻫﺎ ﻣﻦ ﻛﻞ ﻣﻌﻈﻢ. ﻛﻤﺎ ﺫﻛﺮﻩ ﺍﺑﻦ ﺣﺠﺮ ﻓﻲ ﺑﺎﺏ ﺍﻻﺳﺘﻨﺠﺎﺀ. ﻭﻣﻦ ﺍﻟﻤﻌﻈﻢ ﻣﺎ ﻳﻘﻊ ﻓﻲ ﺍﻟﻤﻜﺎﺗﺒﺎﺕ ﻭﻧﺤﻮﻫﺎ، ﻣﻤﺎ ﻓﻴﻪ ﺍﺳﻢ ﺍﻟﻠﻪ ﺃﻭ ﺍﺳﻢ ﺭﺳﻮﻟﻪ ﻣﺜﻼ، ﻓﻴﺤﺮﻡ ﺇﻫﺎﻧﺘﻪ ﺑﻮﺿﻊ ﻧﺤﻮ ﺩﺭﺍﻫﻢ ﻓﻴﻪ. ﺍﻫ 
ﻗﻮﻟﻪ: ﻭﻋﻠﻢ ﺷﺮﻋﻲ. ﺑﺎﻟﺠﺮ، ﻋﻄﻒ ﻋﻠﻰ ﺿﻤﻴﺮ ﻣﻜﺘﻮﺑﻪ. ﺃﻱ ﻭﻳﺤﺮﻡ ﺃﻳﻀﺎ ﻭﺿﻊ ﻧﺤﻮ ﺩﺭﻫﻢ ﻓﻲ ﻣﻜﺘﻮﺏ ﻋﻠﻢ ﺷﺮﻋﻲ، ﺃﻱ ﻣﺎ ﻛﺘﺐ ﻓﻴﻪ ﻋﻠﻢ ﺷﺮﻋﻲ ﻛﺎﻟﺘﻔﺴﻴﺮ ﻭﺍﻟﺤﺪﻳﺚ ﻭﺍﻟﻔﻘﻪ. ﻭﻟﻮ ﻗﺎﻝ: ﻛﻐﻴﺮﻩ ﻭﻛﻞ ﻣﻌﻈﻢ، ﻟﻜﺎﻥ ﺃﻭﻟﻰ. ﺇﺫ ﻋﺒﺎﺭﺗﻪ ﺗﻘﺘﻀﻲ ﺃﻧﻪ ﺇﺫﺍ ﻭﺿﻊ ﻓﻲ ﻣﻜﺘﻮﺏ ﻏﻴﺮ ﺍﻟﻌﻠﻢ ﺍﻟﺸﺮﻋﻲ ﻣﻦ ﺑﻘﻴﺔ ﺍﻟﻌﻠﻮﻡ ﻛﺎﻟﻨﺤﻮ ﻭﺍﻟﺼﺮﻑ ﻻ ﻳﺤﺮﻡ ﻭﻟﻮ ﻛﺎﻥ ﻓﻴﻪ ﻣﻌﻈﻢ، ﻭﻟﻴﺲ ﻛﺬﻟﻚ. 
ﻗﻮﻟﻪ: ﻭﻛﺬﺍ ﺟﻌﻠﻪ ﺑﻴﻦ ﺃﻭﺭﺍﻗﻪ ﺃﻱ ﻭﻛﺬﺍ ﻳﺤﺮﻡ ﺟﻌﻞ ﻧﺤﻮ ﺩﺭﻫﻢ ﺑﻴﻦ ﺃﻭﺭﺍﻕ ﺍﻟﻤﺼﺤﻒ ﻭﻓﻴﻪ ﺃﻥ ﻫﺬﺍ ﻳﻐﻨﻲ ﻋﻨﻪ. ﻗﻮﻟﻪ ﺃﻭﻻ: ﻭﻭﺿﻊ ﻧﺤﻮ ﺩﺭﻫﻢ ﻓﻲ ﻣﻜﺘﻮﺑﻪ، ﺇﺫ ﻫﻮ ﺻﺎﺩﻕ ﺑﻤﺎ ﻭﺿﻊ ﺑﻴﻦ ﺃﻭﺭﺍﻗﻪ ﺍﻟﻤﻜﺘﻮﺏ ﻓﻴﻬﺎ ﺍﻟﻤﺼﺤﻒ، ﻭﺑﻤﺎ ﻭﺿﻊ ﻓﻲ ﻭﺭﻗﺔ ﻣﻜﺘﻮﺏ ﻓﻴﻬﺎ ﺫﻟﻚ. ﻭﻳﻤﻜﻦ ﺃﻥ ﻳﻘﺎﻝ ﺇﻧﻪ ﻣﻦ ﺫﻛﺮ ﺍﻟﺨﺎﺹ ﺑﻌﺪ ﺍﻟﻌﺎﻡ. 

ﻗﻮﻟﻪ: ﺧﻼﻓﺎ ﻟﺸﻴﺨﻨﺎ. ﺭﺍﺟﻊ ﻟﻤﺎ ﺑﻌﺪ ﻛﺬﺍ، ﻭﻓﻴﻪ ﺃﻧﻪ ﻟﻢ ﻳﺬﻛﺮﻩ ﻓﻲ ﺍﻟﺘﺤﻔﺔ ﻭﻻ ﻓﻲ ﺷﺮﺡ ﺍﻻﺭﺷﺎﺩ ﺍﻟﺼﻐﻴﺮ ﻭﻻ ﻓﻲ ﻏﻴﺮﻩ ﻣﻦ ﻛﺘﺒﻪ ﺍﻟﺘﻲ ﺑﺄﻳﺪﻳﻨﺎ ﺣﺘﻰ ﻳﺴﻨﺪ ﺍﻟﺨﻼﻑ ﺇﻟﻴﻪ. 

ﻭﻋﺒﺎﺭﺓ ﺍﻟﺘﺤﻔﺔ: ﻭﻭﺿﻊ ﻧﺤﻮ ﺩﺭﻫﻢ ﻓﻲ ﻣﻜﺘﻮﺑﻪ ﺑﻪ، ﻭﺟﻌﻠﻪ ﻭﻗﺎﻳﺔ، ﻭﻟﻮ ﻟﻤﺎ ﻓﻴﻪ ﻗﺮﺁﻥ ﻓﻴﻤﺎ ﻳﻈﻬﺮ. ﺛﻢ ﺭﺃﻳﺖ ﺑﻌﻀﻬﻢ ﺑﺤﺚ ﺣﻞ ﻫﺬﺍ، ﻭﻟﻴﺲ ﻛﻤﺎ ﺯﻋﻢ. ﺍﻫ. 

ﻭﻋﺒﺎﺭﺓ ﺷﺮﺡ ﺍﻻﺭﺷﺎﺩ، ﻭﺟﻌﻞ ﻧﺤﻮ ﺩﺭﻫﻢ ﻓﻲ ﻭﺭﻗﺔ ﻛﺘﺐ ﻓﻴﻬﺎ ﻣﻌﻈﻢ. ﺍﻫ. ﺑﻞ ﻗﻮﻟﻪ: ﻭﺿﻊ ﻧﺤﻮ ﺩﺭﻫﻢ ﻓﻲ ﻣﻜﺘﻮﺑﻪ ﺻﺎﺩﻕ ﺑﻤﺎ ﺇﺫﺍ ﻭﺿﻌﻪ ﺑﻴﻦ ﻭﺭﻗﺎﺕ ﻛﻤﺎ ﻣﺮ ﺗﺄﻣﻞ.

Di atas ibaroh sudah soreh (jelas) . Hanya tambahan ibaroh tentang adab kepada mushaf.


قامع الطغيان على منظومة شعب الايمان ٨ مكتبة طه فوترا.

و ان لا يترك الصحيفة منثورة اذا وضعها و ان لا يضع فوقه شيئا من الكتب حتى يكون ابدا عاليا على سائر الكتب و ان يضعه فى حجره ذا قراه او على شئ بين يديه ولا يضعه بالارض

“Jangan lah meninggalkan al-qur’an dengan kondisi yang terbuka, janganlah meletakan sesuatu diatasnya meskipun berupa kitab sehingga Al-qur’an berada di posisi paling atas selamanya, letakkanlah Al-qur’an dalam pangkuan ketika membacanya atau letakanlah Al Qur’an pada sesuatu dan janganlah diletakan di lantai”.Wallahu A’lam bisshowab.

Kategori
Uncategorized

HUKUMNYA MELAKSANAKAN SHALAT KETIKA ADZAN DIKUMANDANGKAN

Assalamualaikum.

Deskripsi Masalah.
Ketika saya pagi-pagi kemasjid dan melaksanakan shalat tahiyyah, setelah shalat lalu adzan dikumandangkan sementara jamaah shalat jumat baru datang sebagian dari mereka ada yang langsung melaksanakan tahiyatul masjid dan sebagian menunggu selesainya adzan.

Pertanyaannya

1- Bagaimana hukumnya melakukan shalat saat adzan dikumandangkan (adzan sedang berlangsung).
2- Ketika adzan dikumandangkan mana utama antara mejawab adzan daripada langsung melaksanakan shalat..?

Waalaikum salam.

Jawaban disatukan.

Melaksanakan shalat ketika adzan dikumandangkan hukum shalatnya sah, namun yang lebih utama, adalah menunggu rampungnya ( selesainya )muadzdzin terlebih dahulu dengan mengikuti apa yang diucapkan muadzzin hingga selesai ditutup dengan do’a adzan. Alasannya karena setiap sesuatu ada waktunya .Oleh karena itu sunnah merampungkan adzan baru memulai shalat, karena ketika adzan dikumandangkan setan lari dan tersungkur dan juga agar mendapatkan dua keutamaan yaitu keutamaannya menjawab adzan dan keutamaan melaksanakan shalat.

 Referensi

فقه الإسلامى وأدلته .ج ١ ص.٥٥٥
قال الشافعية : وإذا دخل المسجد، والمؤذن قد شرع في الأذان، لم يأت بتحية ولا بغيرها، بل يجيب المؤذن واقفاً حتى يفرغ من أذانه ليجمع بين أجر الإجابة والتحية

Artinya : Kalangan madzhab Syafi’i  mengatakan : jika seseorang masuk ke masjid sedangkan muadzdzin mengumandangkan adzan, maka dia hendaknya tidak melakukan shalat sunnah tahiyyatul masjid atau yang lain, akan tetapi menjawab adzan dalam keadaan berdiri sampai adzan selesai. Ini dilakukan untuk mendapatkan pahala menjawab adzan dan sekaligus pahala sholat tahiyyatul Masjid.

المجموع شرح المهذب. ج ١.ص ١٥١

قال الأثرم : سمعت أبا عبد الله يسأل عن الرجل يقوم حين يسمع المؤذن مبادرا يركع فقال : يستحب أن يكون ركوعه بعدما يفرغ المؤذن ، أو يقرب من الفراغ ; لأنه يقال : إن الشيطان ينفر حين يسمع الأذان ، فلا ينبغي أن يبادر بالقيام . وإن دخل المسجد فسمع المؤذن استحب له انتظاره ليفرغ ، ويقول مثل ما يقول جمعا بين الفضيلتين . وإن لم يقل كقوله وافتتح الصلاة ، فلا بأس . نص عليه أحمد .


Al-Atsram berkata: “Saya pernah mendengar Abu Abdillah ditanya tentang seseorang yang langsung melaksanakan salat ketika mendengar adzan dan dia cepat-cepat rukuk. Maka dia (Abu Abdillah) menjawab; dianjurkan rukuknya setelah muazin selesai adzan atau hampir selesai. Hal ini karena pernah dikatakan bahwa setan lari ketika mendengar adzan sehingga tidak layak cepat-cepat melaksanakan shalat. Jika seseorang masuk masjid dan mendengar muazin, maka disunahkan untuk menunggu muazin hingga selesai adzan dan melafalkan seperti apa yang dikatakan muazin agar bisa mendapatkan dua keutamaan. Jika tidak mengucapkan seperti apa yang diucapkan muazin dan langsung mulai salat, maka tidak masalah. Ini ditegaskan oleh Imam Ahmad.” 

إعانة الطالبين على حل ألفاظ فتح المعين ج:1 ص: 279
(فائدة)
قال القطب الشعراني في العهود المحمدية: أخذ علينا العهد العام من رسول الله – صلى الله عليه وسلم – أن نجيب المؤذن بما ورد في السنة، ولا نتلاهى عنه قط بكلام لغو ولا غيره أدبا مع الشارع – صلى الله عليه وسلم -. فإن لكل سنة وقتا يخصها، فلإجابة المؤذن وقت،وللعلم وقت، وللتسبيح وقت، ولتلاوة القرآن وقت.كما أنه ليس للعبد أن يجعل موضع الفاتحة استغفارا، ولا موضع الركوع والسجود قراءة، ولا موضع التشهد غيره.وهكذا فافهم.
وهذا العهد يبخل به كثير من طلبة العلم فضلا عن غيرهم، فيتركون إجابة المؤذن، بل ربما تركوا صلاة الجماعة حتى يخرج الناس منها وهم يطالعون في علم نحو أو أصول أو فقه، ويقولون: العلم مقدم مطلقا، وليس كذلك فإن المسألة فيها تفصيل، فما كل علم يكون مقدما في ذلك الوقت على صلاة الجماعة كما هو معروف عند كل من شم رائحة مراتب الأوامر الشرعية.

( SATU FAIDAH ) Imam sya’roni dalam kitab al-Uhud al-Muhammadiyyah, beliau berkata;”Kita telah terikat perjanjian umum dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam untuk menjawab orang yang sedang adzan sebagaimana telah dijelaskan dalam As-Sunnah, dan untuk tidak membicarakan sesuatu yang tak ada gunanya atau membicarakan hal lain, untuk menunjukkan sikap sopan santun kita pada Nabi Muhammad shollallahu alaihi wasallam yang menetapkan syari’at. Mengapa demikian, karena segala sesuatu itu ada waktunya; menjawab adzan ada waktunya, untuk ilmu ada waktunya, tasbih ada waktunya, membaca al-qur’an juga ada waktunya sendiri. Sebagaimana pada waktu membaca fatihah kita tidak boleh menggantinya dengan istighfar, tempatnya rukuk dan sujud tidak boleh ditempati membaca, begitu juga tempatnya tasyahud tidak boleh ditempati untuk hal lain, dan begitu seterusnya. Pahamilah hal ini !!!
Perjanjian ini ( kesunahan menjawab adzan ) telah banyak ditinggalkan oleh para penuntut ilmu agama, apalagi selain mereka!, mereka tidak lagi mau menjawab adzan, bahkan terkadang meninggalkan sholat berjama’ah hingga sholat jama’ah selesai dikerjakan. Sedangkan mereka sedang asyik bermuthola’ah ( mempelajari ) ilmu nahwu, ushul atau fiqih, dan mereka berkata: “Ilmu itu lebih dikedepankan daripada hal lain secara mutlak”, ucapan itu tentu saja tidak benar, sebab terdapat perincian dalam masalah tersebut, karena tidak semua ilmu itu lebih dikedepankan daripada sholat berjama’ah, sebagaimana telah diketahui oleh orang yang telah pernah “mencium pada baunya tingkatan-tingkatannya perintah-perintah syari’at.
Referensi:


عَنْ أَبِيْ سَعِيْدٍ الْخُدْرِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: إِذَا سَمِعْتُمُ النِّدَاءَ فَقُوْلُوْا مِثْلَ مَا يَقُوْلُ الْمُؤَذِّنُ.  أخرجه البخاري

Dari Abi Sa’id Al-Khudri r.a., bahwasannya Rasulullah shollallahu alaihi wasallam. bersabda, “Jika kalian mendengar azan, maka ucapkanlah sebagaimana apa yang diucapkan oleh muadzzin.” (HR. Al-Bukhari).
Kaidah. Fikih.

ماكان أكثر فعلا كان أكثر فضلا


Sesuatu yang lebih banyak pekerjaannya maka lebih banyak keutamaannya.Contoh menjawab adzan dan melaksanakan shalat setelah adzan, keduanya sama-sama dicapai.

Wallahu A’lam bisshowab

Kategori
Uncategorized

HUKUM MEMANDIKAN MAYIT LAIN JENIS ( BUKAN MAHRAM)

HUKUM MEMANDIKAN MAYIT LAIN JENIS NON MAHRAM

Assalamualaikum warahmatullah

Deskripsi masalah.Waqiiyah

Sail Moh. Halifiy Waru.

Saya pernah menghadiri (Takziyah) kerumah orang yang terkena musibah ( kematian) Ketika pelaksanaan Tajhizul mayit Yakni yang menadikan orang laki-laki sedangkan yang meninggal orang perempuan ( yang dimandikan perempuan), saya tanya kepada orang-orang yang menyaksikan acara jathizul jenazah (memandikan mayit) tersebut, kok orang laki-laki yang memandikan, kan yang perempuan yang meninggal ? Jawabannya mereka karena perempuan karena tidak biasa, bahkan ibu nyainya bilang seperti itu juga. Kemudian setelah dimandikan lalu mayitnya diudhu’in dan dibungkus dan disholati sedangkan ketika akan dikuburkan yang menerima/nampanen;red dikuburan itu orang laki-laki juga, nah ketika membuka tali kafan itu kan pasti pipinya mayit itu tersentuh oleh orang yang membukanya.

Pertanyaannya.

1-Bagaimana hukumnya orang laki-laki yang bukan mahronya memandikan mayit perempuan menurut syariat?

2- Apakah tidak batal wudu’nya mayit ketika disentuh orang yang bukan mahromnya?

Waalaikum salam.

JAWABAN : No.1

Wa’alaikumsalam.
Seorang laki-laki lain (bukan mahram) memandikan wanita lain (bukan mahram) atau sebaliknya, meskipun mandinya telah mencukupi ( sah) namun pelakunya berdosa. Artinya kewajiban adusnya mayit sah namun berdosa bagi yang memandikannya.

أن الميت لا ينتقض طهره بذلك أنه لو تعدى الاجنبي بتغسيل الاجنبية أو بالعكس أجزأ الغسل وإن أثم الغاسل اه وتقدم عن ع ش الجزم بذلك.


Sesungguhnya mayit tidak menjadikan batal kesuciannya sebab persentuhan kulit antar lawan jenis, sungguh pun bila seorang laki-laki lain (bukan mahram)yang memandikan wanita lain (bukan mahram) atau sebaliknya mandinya pun telah tercukupi meskipun yang memandikan berdosa. [ Hawaasyi as-Syarwaani III/109 ].

Bila dalam kondisi terpaksa saat laki-laki lain tidak dijumpai yang memandikan kecuali wanita lain atau sebaliknya , maka terdapat tiga pendapat ulama dalam rangka melestarikan kewajiban tajhizul jenazah :

  1. Yang paling shahih menurut mayoritas ulama ditayammumi dan tidak dimandikan jasad mayat tersebut.
  2. Dimandikan dengan memakai pakaian yang menutupi aurat mayat, yang memandikan ditangannya disarungi kain dan sedapat mungkin dengan memejamkan penglihatannya.
  3. Tidak dimandikan dan tidak ditayammumi tapi mayitnya langsung dikubur , namun pendapat yang ketiga ini adalah pendapat yang sangat dhaif/lemah bahkan batal. Maka solusinya jika tidak ada solusi yang no1 dan no.2 maka suaminya memandikan / memtayammuminya, jika istrinya yang meninggal atau istrinya yang memandikan/mentayammuminya, jika suaminya yang meninggal.

Referensi: [ Al-Muhadzdzab V/141 ].

إذا مات رجل وليس هناك الا امرأة اجنبية أو امرأة وليس هناك الا رجل اجنبي ففيه ثلاثة اوجه (اصحها) عند الجمهور ييمم ولا يغسل وبهذا قطع المصلح في التنبيه والمحاملى في المقنع والبغوى في شرح السنة وغيرهم وصححه الرواياتي والرفعي وآخرون ونقله الشيخ أبو حامد والمحاملي والبندنيجي وصاحب العدة وآخرون عن اكثر اصحابنا اصحاب الوجوه ونقله الدارمي عن نص الشافعي واختاره ابن المنذر لانه تعذر غسله شرعا بسبب اللمس والنظر فييمم كما لو تعذرحسا (والثاني) يجب غسله من فوق ثوب ويلف الغاسل علي يده خرقة ويغض طرفه ما امكنه فان اضطر الي النظر نظر قدر الضرورة صرح به البغوي والرافعي وغيرهماكما يجوز النظر الي عورتها للمداواة وبهذا قال القفال ونقله السرخسي عن أبى طاهر الزيادي من اصحابنا ونقله صاحب الحاوى عن نص الشافعي وصححه صاحب الحاوى والدارمى وامام الحرمين والغزالي لان الغسل واجب وهو ممكن بما ذكرناه فلا يترك (والثالث) لا يغسل ولا ييمم بل يدفن بحاله حكاه صاحب البيان وغيره وهو ضعيف جدا بل باطل

( نهاية الزين ١٥١ )

و يجوز للرجل غسل حليلته من زوجة و امة و لو كتابية، و يجوز للمراة غسل زوجها و يجوز لكل منهما النظر و المس للاخر بدون شهوة و لو لما بين السرة و الركبة، و لابد من اتحاد الجنس في الغاسل و الميت الا فى الحليل و المحرم، فاذا لم يوجد الا اجنبي فى الميت المراة او اجنبية فى الميت الرجل يمم

Boleh seorang laki-laki memandikan orang yang halal baginya, yakni istri dan budak perempuannya. Begitu juga sebaliknya seorang istri boleh memandikan suaminya.Baik istri atau suami tatkala memandikan boleh melihat dan menyentuh dengan catatan tanpa syahwat meski bagian yang disetuh dan dilihat itu adalah bagian tubuh antara pusar dan lutut.Dalam memandikan mayit, wajib menyamakan jenis kelaminnya,misalnya mayit laki-laki maka yang memandikan adalah laki-laki, begitu sebaliknya kecuali orang yang telah dihalalkan dan para mahramnya.
Tatkala tidak dijumpai seorangpun kecuali ajnabiy atau orang lain yang bukan mahramnya,maka mayit hendaknya ditayamumkan.

ﺟﺎء ﻓﻰ ﻛﺘﺎﺏ ” اﻟﻔﻘﻪ ﻋﻠﻰ اﻟﻤﺬاﻫﺐ اﻷﺭﺑﻌﺔ ” ﻗﺎﻝ اﻟﻤﺎﻟﻜﻴﺔ: ﺇﺫا ﻣﺎﺗﺖ اﻟﻤﺮﺃﺓ ﻭﻟﻴﺲ ﻣﻌﻬﺎ ﺯﻭﺟﻬﺎ ﻭﻻ ﺃﺣﺪ ﻣﻦ اﻟﻨﺴﺎء، ﻓﺈﻥ ﻛﺎﻥ ﻣﻌﻬﺎ ﻣﺤﺮﻡ ﻟﻬﺎ ﻏﺴﻠﻬﺎ ﻭﺟﻮﺑﺎ، ﻭﻟﻒ ﻋﻠﻰ ﻳﺪﻳﻪ ﺧﺮﻗﺔ ﻏﻠﻴﻈﺔ ﻣﻊ ﺳﺘﺎﺭﺓ ﺑﻴﻨﻪ ﻭﺑﻴﻨﻬﺎ، ﻓﺈﻥ ﻟﻢ ﻳﻮﺟﺪ ﻣﺤﺮﻡ ﻳﻤﻤﻬﺎ ﻭاﺣﺪ ﻟﻜﻮﻋﻴﻬﺎ ﻓﻘﻂ.
ﻭﻗﺎﻝ اﻟﺤﻨﻔﻴﺔ: ﺇﺫا ﻣﺎﺗﺖ اﻟﻤﺮﺃﺓ ﻭﻟﻢ ﺗﻜﻦ ﻫﻨﺎﻙ ﻧﺴﺎء ﻳﻤﻤﻬﺎ اﻟﻤﺤﺮﻡ. ﺇﻟﻰ اﻟﻤﺮﻓﻖ، ﻭﻳﻤﻤﻬﺎ اﻷﺟﻨﺒﻰ ﻣﻊ ﻭﺿﻊ ﺧﺮﻗﺔ ﻋﻠﻰ ﻳﺪﻩ ﻭﻏﺾ ﺑﺼﺮﻩ
ﻭﻗﺎﻝ اﻟﺸﺎﻓﻌﻴﺔ: ﺇﺫا ﻣﺎﺗﺖ ﺑﻴﻦ ﺭﺟﺎﻝ ﻟﻴﺲ ﻓﻴﻬﻢ ﺯﻭﺝ ﻭﻻ ﻣﺤﺮﻡ ﻳﻤﻤﻬﺎ اﻷﺟﻨﺒﻰ ﺇﻟﻰ اﻟﻤﺮﻓﻘﻴﻦ، ﻣﻊ ﻏﺾ اﻟﺒﺼﺮ ﻭﻋﺪﻡ اﻟﻠﻤﺲ
ﻭﻗﺎﻝ اﻟﺤﻨﺎﺑﻠﺔ: ﺇﺫا ﻣﺎﺗﺖ اﻟﻤﺮﺃﺓ ﻭﻟﻢ ﻳﻮﺟﺪ ﺯﻭﺝ ﻳﻤﻤﻬﺎ اﻟﻤﺤﺮﻡ، ﻭﺇﻻ ﻳﻤﻤﻬﺎ اﻷﺟﻨﺒﻰ ﺑﺤﺎﺋﻞ

JAWABAN .No.2

Wudhu’nya mayit tidak batal walaupun disentuh orang yang lain jenis atau bukan mahromnya, Tetapi yang hidup jika ia punya wudhu’.

ألإقناع الجزء الأول ص ٥٧
الرابع من نواقض الوضوء لمس الرجل ببشرته (المرأة الأجنبية) أى بشرتها…..الخ..
إذ اللمس لايختص بالجماع قال الله تعالى فلمسوه بأيديهم، وقال صلى الله عليه وسلم لعلك لمست ولا فرق فى ذلك بين أن يكون بشهوة إكراه أونسيان أو يكون الرجل ممسوحا أو خصيا أو عنينا أو المرأة عجوزا شوهاء أوكافرة بتمجس أوغيره أوحرة أورقيقة أو أحدهما ميتا لكن لاينقض وضوء الميت واللمس الجس باليد.


” Batalnya wudhu’ yang ke empat adalah menyentuhnya kulit seorang laki-laki dengan seorang perempuan yang bukan mahramnya.
Karena menyentuh itu tidak haruskan dengan jima’. Allah swt. berfirman ” Maka mereka menyentuhnya dengan tangan mereka”
Dan Rasulullah saw. bersabda “Mudah-mudahan kamu telah menyentuh, tiada perbedaan sentuhan itu dengan syahwat, dipakasa, ataupun lupa, atau ada seorang lelaki di usap dengan gembira ataupun membantu atau orang perempuan yang lemah/ tua pikun atau perempuan kafir majusi atau yang lainnya seperti orang yang merdeka atau budak atau salah satu kedua mati, maka tidaklah batal wudhu’nya orang yang mati dan menyentuh dengan rabaan tangan.

مرقاة صعود التصديق فى شرخ سلم التوفيق ص ٢١
وينتقض وضوء اللامس والملموس لاشتراكهما فى لذة اللمس كالمشتركين فى لذة الجماع ولاينتقص وضوء الميت.

“Dan batal wudhu’nya orang yang menyentuh dan yang di sentuh kerena keduanya dapat merasakan kenikmatan bersama, sebagaimana nikmatnya orang yang bersetubuh, dan tidak batal wudhu’ mayit yang disentuh.
والله تعالى أعلم.
Yang batal yang hidup kalau wudhunya yang mati tidak batal [baca Kitab Tausyeh, hal. 22], SEANDAINYA DIJIMA’ pun, mayat tersebut tidak perlu dimandikan lagi, yang harus mandi atau batal wudhunya adalah yang menyentuh / menyetubuhinya [lihat Kasyifatus Saja halaman 22], yang batal wudhunya non mahrom yang memegang mayatnya sedang wudhunya si mayat tidak menjadi BATAL.

(و) رابعها (تلاقى بشرتى ذكر وأنثى) ولو بلا شهوة وإن كان أحدهما مكرها أو ميتا لكن لا ينقض وضوء الميت

Nomor empat dari hal yang dapat membatalkan wudhu adalah pertemuan dua kulit orang laki-laki dan wanita meskipun tanpa disertai syahwat dan meskipun salah satu dari keduanya dipaksa atau sudah meninggal, hanya saja wudhunya orang yang telah meninggal tidak menjadi batal. [ Hamisy I’anah at-Thoolibiin I/64 ].

ولا فرق في ذلك بين أن يكون بشهوة أو إكراها أو نسيان، أو يكون الرجل ممسوحا أو خصيا أو عنينا، أو المرأة عجوزا شوهاء، أو كافرة بتمجس أو غيره، أو حرة أو رقيقة، أو أحدهما ميتا، لكن لا ينتقض وضوء الميت. والله أعلم بالصواب

Kategori
Uncategorized

HUKUMNYA SALAM DAN MENJAWAB SALAMNYA ORANG NON MUSLIM

Assalamualaikum ustadz dan ustadzah🙏🏽
Izin untuk bertanya perihal wajibnya menjawab salam
RUMUSAN MASALAH.
Saya mempunyai kenalan orang kristen tapi dia sangat toleransi banget sampai dia ” ngontrak bareng, pada suatu hari dia mengucapkan salam sebelum masuk ke kontrakan.
pernyataannya:

  1. Bagaimana terkait salam tersebut apakah dijawab apakah tidak.?
  2. Dan apabila dijawab apakah saya ada dampak apa bagaimana.? Mohon bantuan jawan para Kiyai ustadz dan ustadzah🙏🏽

Waalaikum salam

Inilah jawaban no.1 berasarkan QS. Surah an-Nisaa’Ayat 85 – 87 dan juga hadits serta pendapat para ulama’ secara rinci atau detail sebagaimana saya kutip dari Tafsir munir Az-Zuhailiy .Jili 3: halaman 183-190

SYAFAAT YANG BAIK, MEMBALAS SALAM DAN MENEGASKAN KEJADIAN HARI KEBANGKITAN DAN JUGA MEMPERTEGAS AJARAN TAUHID .

Surah an-Nisaa’Ayat 85 – 87

من يشفع شفاعة حسنة يكن له نصيب منها ومن يشفع شفاعة يكن له كفل منها وكان الله على كل شيئ حسيبا (٧٥) وإذا حييتم بتحية فحيوا بأحسن منها أو ردوها ، إن الله كان علي كل شيئ حسيبا (٧٦) الله لاإله إلا هو ليجمعنكم إلى يوم القيامة لا يباع فيه، ومن أحدث من الله حديثا (٨٧)

Barangsiapa memberi pertolongan dengan pertolongan yang baik niscaya dia akan memperoleh bagian dari (pahala)nya. Dan barangsiapa memberi pertolongan dengan pertolongan yang buruk, niscaya dia akan memikul bagian dari (dosa)nya. Allah Maha kuasa atas segala sesuatu. Dan apabiln kamu dihormati dengan suatu (salam) penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik atau balaslah (penghormatan itu, yang sepadan) dengannya. Sungguh, Allah memperhitungkan segala sesuatu. Allah, tidak ada tuhan selain Dia. Dia pasti akan mengumpulkan kamu pada hari Kiamat yang tidak diragukan terjadinya. Siapakah yang lebih benar perkataan(nya) daripada Allah?” (an-Nisad: ayat :8 5- 87)
🔅 Qiraa’aat
Kata ( أصدق) oleh Hamzah dan al-Kisa’i dibaca dengan cara meng-isymam-kan huruf shad kepada suara za. l’raab Huruf lam dalam kalimat { ليجمعنكم } merupakan lam untuk membuka sumpah. Lafal { الله} berada pada posisi mubtada’.Sedangkan kalimat { لاإله إلاهو} menjadi khabar. Kalimat { ليجمعنكم }merupakan sumpah. Setiap huruf laam yang disusul dengan nunnya yang di tasydiid maka ia merupakan laam qasam.
🔅 MufradatuI Lughawiyyah
Maksud { من يشفع } adalah orang yang menjadi penolong. Arti dari { نصيب } adalah bagian dari pahala. Maksud dari ( كفل ) adalah bagian dosa yang dibebankan. Arti { مقيتا } adalah mengawasi dan menilai, kemudian membalas sesuai dengan amal perbuatan. Arti { تحية } pada asalnya adalah mendoakan supaya hidup. Kemudian menjadi ucapan selamat baik pada waktu pagi atau sore. Sementara itu, dalam syari’at Islam ucapan selamat yang di-masyru’kan adalah ‘assalaamu’alaikumi. Arti { حسيبا } adalah mengawasi dan menghitung amal, lalu membalasnya. Maksud dari { لاريب فيه } adalah tidak ada keraguan di dalamnya. Maksud dari ( ومن أصدق من الله حديثا ) adalah tidak ada seorang pun yang lebih benar ucapannya selain Allah.
🔅 Keserasian Antar Ayat
Setelah Allah memerintahkan kaum Mukminin untuk berjihad, di sini Allah menerangkan bahwa jika kaum Mukminin benar-benar mau taat kepadamu [wahai Muhammad), mereka akan mendapatkan kebaikan yang besar, dan kamu juga akan mendapatkan bagian dari kebaikan itu, karena kamu telah bersungguhsungguh mendorong mereka untuk berjihad. Mujahid berkata, ‘Ayat ini turun berkenaan dengan pertolongan yang diberikan oleh satu orang ke yang lain.”
🔅 Tafsir dan Penjelasan
Barangsiapa melakukan sesuatu, kemudian timbul konsekuensi- konsekuensi positif, orang tersebut akan mendapatkan pahala kebaikan dari konsekuensi-konsekuensi positif tersebut. Umpamanya orang yang berjuang menegakkan kebenaran dan membasmi kebatilan, dia akan mendapat pahala di dunia seperti kehormatan dan harta dan juga mendapat pahala di akhirat. Barangsiapa melakukan perbuatan jeleh dia akan mendapat dosa akibat perbuatan dan niatnya tersebut. Hal ini sebagaimana yang diterangkan dalam hadits shahih,

إشفعوا- أى فى الخير – تؤجروا ويقضي الله على لسان نبيه ماشاء

“Berilah bantuan dalam kebaikan, maka kamu akan mendapat pahala, dan Allah akan menetapkan dengan lisan Nabi-Nya apa yang Dia kehendaki.” (HR Bukhari, Muslim, Abu Dawud, Tirmidzi, an-Nasa’i, ad-Darimi dari Abu Musa)
Syafaat ada dua macam, yaitu syafaat yang baik dan syafaat yang buruk. Syafaat yang baik adalah satu bentuk pertolongan yang memerhatikan hak-hak seorang Muslim, yaitu dengan cara melindunginya dari mara bahaya atau mengusahakan kebaikan untuknya. Semua ini dilakukan dengan ikhlas karena Allah SWT. Pertolongan ini dilakukan bukan karena sogokan (risywah) dan harus berada dalam koridor yang dibenarkan oleh agama. Tidak boleh menolong orang untuk meringankan hukuman hadd atalu yang mengakibatkan hak orang lain dilanggar. Ada juga yang mengatakan bahwa yang dimaksud dengan syafa’at yang baik adalah berdoa untuk kebaikan saudaranya yang Muslim, karena yang demikian termasuk bentuk menolong seseorang karena Allah. Nabi Muhammad saw.bersabda,


من دعالأخيه المسلم بظهر الغيب أستجيب له وقال له الملك ولك مثل ذلك

“Barang siapa secara diam-diam mendoakan saudaranya Muslim, maka doanya akan dikabulkan oleh Allah. Dan Malaikat pun berkata,’kamu juga mendapatkan bagian seperti yang diberikan kepada orang yang kamu doakan.”‘(HR Muslim dan Abu Dawud dari Abu Darda).
Adapun mendoakan saudara Muslim supaya mendapat musibah atau kecelakaan tidak dibenarkan dan berdosa. Yang dimaksud dengan syafa’at yang buruk adalah kebalikan syafa’at yang baik Yang banyak berlaku sekarang adalah perantara, syafa’at atau saling menolong dalam masalah kejelekan seperti menyogok dengan harta kekayaan supaya dibantu dalam usaha merampas hak orang lain atau menguasai harta orang lain. Imam Masruq pernah membatu seseorang, kemudian orang tersebut memberi hadiah seorang budak perempuan kepadanya namun Imam Masruq marah dan mengembalikan hadiah tersebut, dia pun berkata, “Kalau kamu tahu apa yang ada di hatimu maka kamu tidak akan [ mampu ]mengatakan hajatmu, dan saya juga tidak (sanggup) mengungkapkan yang lebih dari itu.”³⁸
Maksud kata { مقيتا} pada ayat { وكان الله على كل شيء مقيتا } adalah Yang Menjaga dan Yang Menjadi Saksi. Ada jugayangmengatakan bahwa artinya adalah Yang Berkuasa atau Yang Mengganjar. Sesungguhnya Allah mengetahui isi hati orangorang yang memberi pertolongan. Dia akan memberi pahala kepada setiap orang sesuai dengan niatnya, berkuasa memberi pahala yang setimpal karena dalam sunnatullah pahala selalu dikaitkan dengan amal perbuatan. Kemudian Allah SWT mengajarkan cara memberi salam ltahiyyah) dan adab-adabnya. Fungsi memberi salam adalah sama dengan memberi pertolongan dalam kebaikan (syafaa’ah hasanah), yaitu dapat mempererat hubungan di antara manusia. Dan syafaa’ah hasanah juga dianggap sebagai tahiyyah [penghormatan]. Arti asal < التحية> adalah mendoakan semoga diberi kehidupan. Adapun arti { التحيات لله } adalah kata- kata yang menunjukkan kepada keagungan, kemuliaan dan kehebatan. Sedangkan yang dimaksud dengan { التحية } pada ayat ini adalah mengucapkan salam. Dalilnya adalah firman Allah SWT “Dan apabila mereka datang kepadamu (Muhammad), mereka mengucapkan salam dengan cara yang bukan seperti yang ditentukan Allah untukm u.” (al-Muiaadilah: 8)
Apabila ada seorang Muslim mengucapkan salam kepadamu,hendaklah kamu menjawabnya dengan jawaban yang lebih baik atau yang sepadan. Memberi jawaban yang sepadan adalah wajib, adapun menambah jawaban dengan yang lebih baik adalah sunah.” Apabila seseorang berkata kepadamu, ‘السلام عليكم “, hendaklah kamu menjawab, “وعليكم السلام ” atau “وعليكم السلام ورحمة “. Dan apabila ditambah lagi sehingga menjadi ” وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته “adalah lebih baik. Setiap satu kalimat dicatat sebagai sepuluh amal kebajikan. Yang terbaik adalah membalas salam dengan muka yang ceria, gembira, dan penuh suka cita. Ibnu farir meriwayatkan dari Salman alFarisi yang menceritakan bahwa ada seorang Iaki-laki datang menghadap Rasul. Orang itu berkata,’ السلام عليكم يارسول الله “.Nabi menjawab,” وعليكم السلام ورحمة الله .” Kemudian datang orang lain dan berkata,’ السلام عليكم يارسول الله ورحمة الله “. Nabi menjawab,” وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته.” Kemudian datang lagi seorang yang lain dan dia berkata,’ السلام عليك يارسول الله وبركاته ” Nabi menjawab, ‘ وعليك (dan kamu juga mendapatkan sama seperti yang kamu ucapkan. Kemudian orang yang datang terakhir itu bertanya kepada Nabi, ‘Wahai Nabi Allah. Sebelum ini datang dua orang yang mengucapkan salam kepadamu, dan kamu membalas salamnya dengan balasan yang lebih banyak dari apa yang mereka ucapkan,sedangkan kepadaku, kamu tidak menjawab lebih dari yang aku ucapkan.” Nabi menjawab, “Kamu tidak menyisakan lagi (kata-kata salam) untukku. Allah SWT berfirman, Dan apabila kamu dihormati dengan suatu (salam) penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih bail<, atau balaslah (penghormatan itu, yang sepadan) dengannya.” (an-Nisaa’: 86)
Sesungguhnya Allah memperhitungkan segala sesuatu, sehingga Dia akan memberi pahala atas setiap ucapan salam dan perbuatan- perbuatan baik lainnya. Ini merupakan penegasan dan anjuran kuat untuk menyebarkan salam dan wajibnya menjawab salam. Abu Dawud meriwayatkan dari Abu Hurairah yang menceritakan bahwa Rasulullah saw. bersabda,


والذي نفسي بيده لاتدخلوا الجنة حتى تؤمنوا، ولاتؤمنوا حتى تحابوا أفلا أدلكم على أمر إذا فعلتمواه تحاببتم أفشوا السلام بينكم


“Demi Zat yang diriku b erada dalam kekuasaan-Nya, kalian tidak akan masuk surga hingga kalian beriman, dan kalian tidak akan beriman hingga kalian salingkasih mengasihi. Tidak inginkah kalian saya beritahu tentang perkara yang jika kalian melakukannya maka kalian akan saling mengasihi: Sebarkanlah salam di antara kalian.” (HRAbu Dawud).
Kemudian Allah menerangkan bahwa mereka akan mendapatkan pahala atas tahiyyah, jihad, amal-amal kebajikan dan pertolongan [syafa’at) yang mereka lakukan. Allah juga menegaskan bahwa manusia nantinya akan kembali kepada Allah SWT Ditegaskan pula bahwa hari kebangkitan dan pembalasan amal di akhirat adalah perkara yang pasti terjadi.
Ayat ini menegaskan dua dasar penting dalam agama yaitu pertama, menetapkan ajaran tauhid; keesaan Allah yang merupakan Tuhan semua makhluk di jagad raya, yaitu dalam firman-Nya,( الله لاإله إلا هو). Kedua, menetapkan bahwa hari kebangkitan dan hari pembalasan di akhirat pasti terjadi, yaitu dalam firman Allah { ليجمعنكم إلى يوم القيامة لاريب فيه} , maksudnya ³⁹ adalah Allah akan mengumpulkan orang- orang terdahulu dan orang-orang setelahnya yang telah mati, kemudian membangkitkan mereka semua di satu padang yang luas, kemudian Allah akan membalas semua amal yang mereka lakukan. Ayat ini turun berkenaan dengan orang-orang yang ragu tentang terjadinya hari kebangkitan.
Adapun maksud firman Allah SWT ; { ومن أصدق من الله حديثا } adalah tidak ada pembicaraan,informasi, janji dan ancaman yang lebih benar selain pembicaraan, informasi, janji, dan ancaman Allah SWT. Tidak ada Tuhan selain Allah. Semua kalam Allah berdasarkan kepada ilmu-Nya yang Mahaluas melingkupi semua alam raya, sebagaimana ditegaskan dalam ayat Al-Qur’an, “Tuhanku tidak akan salah ataupun lupa.” (Thaahaa:52)
🔅 Fiqih Kehidupan atau Hukum-hukum
Rangkaian ayat di atas mengandung beberapa ajaran tentang hukum dan akhlak.

1.Dibolehkannya menolong dalam masalah kebaikan dan kebenaran (as-Syafaa’ah al-hasanah), tidak dikotori dengan praktik risywah. Sedangkan menolong dalam masalah kejelekan, kebatilan, permusuhan, dosa atau menolong untuk membatalkan hukuman hadd atau yang menyebabkan hak-hak orang lain teraniaya, atau pertolongan yang dikotori dengan praktik risywah, yang semuanya itu diistilahkan dengan asy-syafaa’ah as-sayyi’ah adalah haram hukumnya. Yang dimaksud dengan kebaikan [al- hasanah) adalah segala sesuatu yang dianggap baik dan diakui oleh syara’ seperti perilaku kebajikan dan ketaatan. Adapun waktu itu manusia bangkit (yaquumuuna) dari kuburnya, sebagaimana firman Allah, “(yaitu) pada hari ketika mereka keluar dari kubur dengan cepat.” (al-Ma’aarii: 43) kejelekan (as-sayyi’ah) adalah semua perkara yang tidak disukai dan diharamkan oleh syara’ seperti kemaksiatan.

2.Mendorong dan menganjurkan supaya menghormati dan memberi salam kepada orang yang sudah dikenal maupun kepada yang belum dikenal. An-Nakha’i berkata, “Mengucapkan salam adalah sunah, sedangkan menjawabnya adalah wajib’ ) Jika bentuk jawaban salam lebih baik dari bentuk salam yang diucapkan, pahala jawaban itu akan lebih besar.Ucapan salam saja mendapatkan pahala sepuluh kebajikan. fika ditambah dengan permohonan rahmat dari Allah, menjadi dua puluh kebajikan, dan jika ditambah lagi dengan permohonan berkah kepada Allah, pahalanya berlipat menjadi tiga puluh kebajikan sebagaimana yang diriwayatkan oleh an-Nasa’i dari Imran bin Hushain. Ibnu Abbas juga berkata, “Menjawab salam adalah wajib. Apabila ada seseorang melewati sekumpulan kaum Muslimin, kemudian dia memberi salam kepada mereka, namun mereka tidak mau menjawabnya, maka ruh alquds (ruh yang suci) akan dicabut dari diri mereka, dan yang meniawab salam orang tersebut adalah malaikat. Ibnu farir menceritakan dari lbnu Abbas bahwa Rasulullah saw bersabda,


من أسلم عليك من خلق الله فاردد عليه وإن كان مجوسيا لقول الله، وإذا حييتم بتحية فحيوا بأحسن منها أو ردوها إن الله كان علي كل شيئ حسيبا

“Barangsiapa saja makhluk Allah yang mengucapkan salam kepadamu, maka jawablah salamnya, meskipun dia adalah orang majusi, karena Allah SWT berfirman,”Dan apabila kamu dihormati dengan suatu(salam)penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik, atau balaslah (penghormatan itu, yang sepadan) dengannya.” (an-Nisaa’: 36) (HR Ibnu farir) .Barangsiapa mengucapkan salam kepada musuhnya, dia telah melindungi dirinya sendiri.Orang yang baru datang dan orang yang naik tunggangan disunahkan mengucapkan salam kepada orang yang berjalan. Orang yang berjalan disunahkan mengucapkan salam kepada orang yang duduk. Kumpulan yang sedikit disunahkan mengucapkan salam kepada kumpulan yang lebih banyak jumlahnya. Orang yang lebih muda disunahkan mengucapkan salam kepada orang yang lebih tua, karena orang tua harus dihormati. Seorang lakilaki tidak dibenarkan mengucapkan salam kepada perempuan yang bukan mahramnya. Seorang laki-laki dibenarkan mengucapkan salam kepada istrinya. Dalam kitab ash-Shahihqin disebutkan bahwa Rasul bersabda,


يسلم الراكب على الماشى والماشى على الراكب والقليل على الكثير


“Orang yang naik, kendaraan hendaklah memberi salam kepada orang yang berjalan kaki, orang yang berjalan kaki hendaklah memberi salam kepada orang yang duduk, kelompok yang sedikit hendaklah memberi salam kepada kelompok yang banyak.” (HR.Bukhari dan Muslim) Diriwayatkan juga bahwa Nabi Muhammad saw pernah melewati anakanak kecil dan beliau mengucapkan salam kepada mereka. At-Tirmidzi menceritakan bahwa Rasulullah saw. melewati seorang perempuan dan beliau mengisyaratkan tangannya sebagai tanda salam. Dalam kitab ash-Shahihain disebutkan bahwa Rasulullah saw. bersabda,


إن أفضل الإسلام وخيره إطعام الطعام وأن تقرء السلام على من عرفت ومن لم تعرف.


“Islam yang paling utama dan paling baik adalah memberi makan, mengucapkan salam kepada orang yang kamu kenal dan kepada orang yang tidak kamu kenal”. (HR Bukhari dan Muslim) Al-Hakim menyebutkan bahwa Rasulullah saw bersabda,


أفشوا السلام تسلموا


“Sebarkanlah salam maka kalian selamat.” (HR al-Hakim) akan tetapi Madzhab Maliki membolehkan mengucapkan salam kepada kaum perempuan kecuali kepada perempuan yang masih muda karena takut timbul godaan untuk berbincang dengannya dengan dorongan setan dan juga pandangan yang diikuti hawa nafsu. Madzhab hanafi tidak membolehkan mengucapkan salam kepada kaum perempuan jika memang mereka bukan mahram. Mereka berkata, “jika perempuan tidak diperintahkan azan, iqamah, membaca Al-Qur’an dengan suara keras sewaktu shalag maka mereka juga tidak wajib menjawab salam, dan mereka juga tidak boleh diberi salam.” Pendapat yang tepat adalah pendapat madzhab Maliki karena ada dalil yang kuat dalam kitab .Shahlh Bukhari yang menyatakan bahwa para sahabat mengucapkan salam kepada perempuan-perempuan tua semasa di Madinah.
As-Suyuthi menerangkan bahwa dalam sunnah disebutkan tidak wajib menjawab salam yang diucapkan oleh orang-orang kafir ahli bid’ah, orang fasik, orang yang sedang buang air, orang yang ada di dalam kamar mandi dan orang yang sedang makan. Hukum menjawab salam tersebut adalah makruh kecuali kepada orang yang sedang makan. Cara yang dibolehkan untuk menjawab salam orang kafir adalah dengan mengucapkan, “وعليكم .” Nabi Muhammad saw. bersabda,’ Apabila Ahlul Kitab memberi salam kepadamu maka jawablah,’وعليكم “‘ Maksudnya adalah ”dan semoga kamu juga mendapatkan sama seperti yang telah kamu ucapkan‘. Hal ini karena salam yang diucapkan Ahlul Kitab adalah “as-saamu ‘alaikum.” yang berarti semoga kematian menghampirimu. Dalam suatu riwayat disebutkan, ‘Janganlah kamu memulai memberi salam kepada orang Yahudi. Jika dia mulai memberi salam, maka jawablah, وعليك! Ini adalah pendapat Mayoritas ulama. Ucapan salam juga tidak wajib dibalas apabila diucapkan sewaktu khutbah, membaca Al-Qur’an dengan keras, meriwayatkan hadits, sedang belajaq, adzan dan iqamah. Begitu juga tidak boleh mengucapkan salam kepada orang yang sedang shalat. Apabila orang yang sedang shalat diberi ucapan salam, dia boleh memilih: membalas salam itu dengan isyarat jarinya atau menunggu hingga selesai shalat kemudian baru membalas ucapan salam tersebut.
Abu Yusuf berkata, “Tidak boleh mengucapkan salam kepda orang yang sedang main dadu dan catur begitu juga kepada penyanyi, orang yang sedang buang air, orang yang telanjang tanpa uzur baik di dalam kamar mandi atau di tempat lainnya.”⁴⁰
Ath-Thahawi berkata, “Disunahkan membalas salam dalam keadaan suci, diriwayatkan bahwa Rasulullah saw. bertayamum dulu sebelum menjawab salam.” Abu Hanifah berkata, “Menjawab salam tidak boleh dengan suara yang sangat keras.” Hasan al-Bashri membolehkan seorang Mukmin mengucapkan salam kepada orang kafir dengan berkata, وعليكم السلام.” Namun tidak boleh menambah, “ورحمة الله.” karena yang demikian berarti memintakan ampun kepada Allah untuk dosa-dosa mereka. Asy-Sya’bi pernah menjawab salam orang Nasrani dengan berkata, “وعليكم السلام ورحمة الله .” Kemudian dia ditanya mengenai penggunaan kata ” ورحمة الله “, dia menjawab, “Bukankah dengan rahmat Allah mereka bisa hidup?” Sebagian ulama membuat keringanan hukum dalam masalah salam, yaitu boleh memulai mengucapkan salam kepada ahli adz-Dzimmah jika memang keadaan menuntut sikap seperti itu. Diriwayatkan bahwa an-Nakha’i mempunyai pendapat yang seperti itu.

تفسير المنير الزحيلي ص ١٥٤٤

ثم علّم الله الناس التحية وآدابها، وهي كالشفاعة الحسنة من أسباب التواصل والتقارب بين الناس، وعدت من التحية. وأصل التحية: الدعاء بالحياة، والتحيات لله: أي الألفاظ‍ التي تدل على الملك، ويكنى بها عنه لله تعالى، والصحيح أن التحية هاهنا: السلام، لقوله تعالى: {وَإِذا جاؤُكَ حَيَّوْكَ بِما لَمْ يُحَيِّكَ بِهِ اللهُ} [المجادلة ٨/ ٥٨].
فإذا سلم عليكم المسلم فالواجب الرد عليه بأفضل مما سلم، أو الرد عليه بمثل ما سلم، فالزيادة مندوبة، والمماثلة مفروضة. فإذا قال الشخص: السلام عليكم، أجاب المسلّم عليه إما بقوله: وعليكم السلام، أو وعليكم السلام ورحمة الله، وإذا زاد: «وبركاته» كان أفضل، وفي كل كلمة عشر حسنات. والأولى أن يكون الرد ببشاشة وسرور وحسن استقبال.
روى ابن جرير عن سلمان الفارسي قال: جاء رجل إلى النبي صلّى الله عليه وسلّم، فقال السلام عليك يا رسول الله، فقال: «وعليك السلام ورحمة الله» ثم جاء آخر فقال: السلام عليك يا رسول الله ورحمة الله، فقال له رسول الله صلّى الله عليه وسلّم: «وعليك
السلام ورحمة الله وبركاته» ثم جاء آخر فقال: السلام عليك يا رسول الله ورحمة الله وبركاته، فقال له: «وعليك» فقال له الرجل: يا نبي الله، بأبي أنت وأمي، أتاك فلان وفلان، فسلما عليك، فرددت عليهما أكثر مما رددت علي، فقال: «إنك لم تدع لنا شيئا» قال الله تعالى: {وَإِذا حُيِّيتُمْ بِتَحِيَّةٍ، فَحَيُّوا بِأَحْسَنَ مِنْها أَوْ رُدُّوها} فرددناها عليك».
{إِنَّ اللهَ كانَ عَلى كُلِّ شَيْءٍ حَسِيباً} أي يحاسبكم على كل شيء من التحية وغيرها، وهذا تأكيد لإشاعة السلام ووجوب رد التحية على من سلّم.
روى أبو داود عن أبي هريرة قال: قال رسول الله صلّى الله عليه وسلّم: «والذي نفسي بيده لا تدخلوا الجنة حتى تؤمنوا، ولا تؤمنوا حتى تحابوا، أفلا أدلكم على أمر إذا فعلتموه تحاببتم: أفشوا السلام بينكم».
ثم بيّن الله تعالى أنهم مجزيون على التحية والجهاد وأعمال الخير والشفاعة، فقرر أن المرجع والمصير إلى الله الواحد الأحد، وأن البعث والجزاء في الدار الآخرة ثابت. وهذه الآية تقرر ركنين أساسيين للدين وهما: إثبات التوحيد وإخباره تعالى بتفرده بالألوهية لجميع المخلوقات بقوله: {اللهُ لا إِلهَ إِلاّ هُوَ}.
وإثبات البعث والجزاء في الآخرة بالقسم الذي أقسمه: {لَيَجْمَعَنَّكُمْ إِلى يَوْمِ الْقِيامَةِ ١ لا رَيْبَ فِيهِ} أي أنه سيجمع الأولين والآخرين في الموت وتحت الأرض ثم يبعثهم في صعيد واحد، فيجازي كل عامل بعمله. وقد نزلت في الذين شكوا في البعث، فأقسم الله تعالى بنفسه.
وقوله: {وَمَنْ أَصْدَقُ مِنَ اللهِ حَدِيثاً} معناه: لا أحد أصدق منه عز


(١) سميت القيامة؛ لأن الناس يقومون فيه لرب العالمين جل وعز، قال الله تعالى: أَلا يَظُنُّ أُولئِكَ أَنَّهُمْ مَبْعُوثُونَ لِيَوْمٍ عَظِيمٍ، يَوْمَ يَقُومُ النّاسُ لِرَبِّ الْعالَمِينَ [المطففين ٤/ ٨٣ – ٥]. وقيل: لأن الناس يقومون من قبورهم إليها: يَوْمَ يَخْرُجُونَ مِنَ الْأَجْداثِ سِراعاً [المعارج ٤٣/ ٧٠].
وجل في حديثه وخبره، ووعده ووعيده، فلا إله إلا هو، ولا رب سواه؛ إذ كلامه تعالى عن علم محيط‍ بسائر الكائنات، كما قال: {لا يَضِلُّ رَبِّي وَلا يَنْسى} [طه ٥٢/ ٢٠].

فقه الحياة أو الأحكام:
تضمنت الآيات آدابا وأحكاما مهمة هي:
١ – إباحة الشفاعة الحسنة، أي الموصلة إلى الحق، غير المقترنة بالرشوة، وتحريم الشفاعة السيئة، أي التي فيها التعاون على الباطل أو الإثم والعدوان، أو المسقطة لحد من حدود الله، أو المضيعة لحق من الحقوق، أو المصحوبة بالرشوة.
والحسنة فيما استحسنه الشرع ورضيه أي في البر والطاعة، والسيئة فيما كرهه الشرع أو حرمه أي في المعاصي.
٢ – الترغيب في التحية والسلام على من عرفت ومن لم تعرف،
وعن النخعي: «السلام سنة، والرد فريضة» وكلما كان الرد أفضل كان الثواب أكثر،
فالسلام وحده من المسلّم والمجيب له من الأجر عشر حسنات، وضم الرحمة إليه: له عشرون حسنة، وضم: «وبركاته» له ثلاثون حسنة كما روى النسائي عن عمران بن حصين. وعن ابن عباس: «الرد واجب، وما من رجل يمر على قوم مسلمين، فيسلم عليهم ولا يردون عليه، إلا نزع عنهم روح القدس، وردت عليه الملائكة»
وروى ابن جرير عن ابن عباس أيضا عن النبي صلّى الله عليه وسلّم قال: «من سلم عليك من خلق الله فاردد عليه، وإن كان مجوسيا، فإن الله يقول: {وَإِذا حُيِّيتُمْ بِتَحِيَّةٍ فَحَيُّوا بِأَحْسَنَ مِنْها أَوْ رُدُّوها} [النساء ٨٦/ ٤].
ومن قال لخصمه: السلام عليكم، فقد أمنه على نفسه.
والسنة أن يسلم القادم، والراكب-لعلو مرتبته-على الماشي، والماشي على
القاعد لوقاره وسكونه، والقليل على الكثير، والصغير على الكبير مراعاة لشرف الجمع وأكثريتهم. ولا يسلم الرجل على المرأة الأجنبية، ويسلم على زوجته.
جاء في الصحيحين أنه «يسلم الراكب على الماشي، والماشي على القاعد، والقليل على الكثير».
وروي «أن النبي صلّى الله عليه وسلّم مرّ بصبيان فسلم عليهم»
وروى الترمذي:
«أنه مر بنسوة فأومأ بيده بالتسليم»
وفي الصحيحين: «إن أفضل الإسلام وخيره: إطعام الطعام، وأن تقرأ السلام على من عرفت ومن لم تعرف»
وروى الحاكم من قوله صلّى الله عليه وسلّم: «أفشوا السلام تسلموا» وأجاز المالكية التسليم على النساء إلا على الشابات منهن خوف الفتنة من مكالمتهن بنزعة شيطان أو خائنة عين، ومنعه الحنفية إذا لم يكن منهن ذوات محرم، وقالوا: لما سقط‍ عن النساء الأذان والإقامة والجهر بالقراءة في الصلاة سقط‍ عنهن رد السلام، فلا يسلم عليهن.
والصحيح مذهب المالكية لما ثبت في البخاري من تسليم الصحابة في المدينة على عجوز.
وذكر السيوطي: أنه ثبت في السنة أنه لا يجب الرد على الكافر والمبتدع والفاسق وعلى قاضي الحاجة ومن في الحمام والآكل، بل يكره في غير الأخير، ويقال للكافر: وعليك. ثبت
عن النبي صلّى الله عليه وسلّم أنه قال: «إذا سلم أهل الكتاب فقولوا: وعليكم» (١) أي وعليكم ما قلتم؛ لأنهم كانوا يقولون: السام عليكم.
وروي: «لا تبتدئ اليهودي بالسلام، وإن بدأ فقل: وعليك» وهذا مذهب الجمهور.
ولا يرد السلام في الخطبة، وقراءة القرآن جهرا، ورواية الحديث، وعند مذاكرة العلم، والأذان والإقامة. ولا يسلّم على المصلي، فإن سلّم عليه فهو بالخيار: إن شاء ردّ بالإشارة بإصبعه، وإن شاء أمسك حتى يفرغ من الصلاة ثم يرد.


(١) رواه أحمد والشيخان والترمذي وابن ماجه عن أنس


🔅 Kesimpulannya

Adalah sebagian ulama membolehkan mengucapkan salam kepada non-Muslim dan juga boleh mejawab salamnya. Ketika mengucapkan salam dan membalasnya disunahkan dengan suara yang keras, menurut asy-Syafi’i tidak cukup hanya dengan isyarat jari tangan atau telapak tangan, namun madzhab Maliki membolehkan cara seperti itu jika memang jaraknya jauh.

3.Allah Maha Mengetahui dan Mahakuasa atas segala sesuatu, Dia juga Maha Mengawasi, Maha Menjaga dan akan membalas semua amal yang dilakukan oleh makhlukNya. Tidak ada perkataan yang lebih tepat dan lebih benar daripada kalam Allah baik yang berupa informasi, janji, ancaman, atau lainnya.
Penetapan prinsip tauhid. Allah adalah satu-satunya ilaah dan rabb bagi seluruh makhluk. Ayat di atas juga menegaskan bahwa hari kebangkitan dan pembalasan amal adalah sesuatu yang pasti terjadi. Al-Qur’an adalah kalam Allah, karena AlQur’an adalah wahyu-Nya tidak ada yang lebih benar dari pada kalam Allah. Adapun ucapan-ucapan selain Allah dan selain Nabi, mungkin benar dan mungkin salah, baik kesalahannya itu karena sengaja, lupa, maupun tidak tahu. Wallahu A’lam bisshowab
³⁸ Al-Kasysyaf, jil. 1, hal.413.
³⁹. Hari akhir dinamakan dengan qiyaamah karena pada waktu itu semua manusia berdiri (yaquumuuna) dihadapan Allah. Allah berfirman, “Tidakkah mereka itu mengira, bahwa sesungguhnya mereka akan dibangkitkan,pada suatu hari yang besar” (al-Muthaffifiin: 4-S) Ada juga yang mengatakan bahwa alasannya adalah pada waktu itu manusia bangkit (yaquumuuna) dari kuburnya,sebagaimana firman Allah, “(yaitu) pada hari ketika mereka keluar dari kubur dengan cepat.” (al-Ma’aarii: 43)
⁴⁰.Hadits riwayat Ahmad, Bukhari dan Muslim, at-Tirmidzi dan Ibnu Majah dari Anas.

Tambahan referensi

Referensi:

{شرح النووي على مسلم، ج ١٤ ص ١٤٥}
ﻭاﺧﺘﻠﻒ اﻟﻌﻠﻤﺎء ﻓﻲ ﺭﺩ اﻟﺴﻼﻡ ﻋﻠﻰ اﻟﻜﻔﺎﺭ ﻭاﺑﺘﺪاﺋﻬﻢ ﺑﻪ

Artinya : Para Ulama’ berbeda pendapat dalam hukum menjawab salam dari orang-orang kafir, dan hukum orang-orang kafir mengawali ucapan salam kepada kita.

ﻓﻤﺬﻫﺒﻨﺎ ﺗﺤﺮﻳﻢ اﺑﺘﺪاﺋﻬﻢ ﺑﻪ ﻭﻭﺟﻮﺏ ﺭﺩه ﻋﻠﻴﻬﻢ ﺑﺄﻥ ﻳﻘﻮﻝ ﻭﻋﻠﻴﻜﻢ ﺃﻭ ﻋﻠﻴﻜﻢ ﻓﻘﻂ٠ ﻭﺩﻟﻴﻠﻨﺎ ﻓﻲ اﻻﺑﺘﺪاء ﻗﻮﻟﻪ ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻻﺗﺒﺪﺃﻭا اﻟﻴﻬﻮﺩ ﻭﻻاﻟﻨﺼﺎﺭﻯ ﺑاﻟﺴﻼﻡ٠ ﻭﻓﻲ الرد ﻗﻮﻟﻪ ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻓﻘﻮﻟﻮا ﻭﻋﻠﻴﻜﻢ ﻭﺑﻬﺬا اﻟﺬﻱ ﺫﻛﺮﻧﺎﻩ ﻋﻦ ﻣﺬﻫﺒﻨﺎ ﻗﺎﻝ ﺃﻛﺜﺮ اﻟﻌﻠﻤﺎء ﻭﻋﺎﻣﺔ اﻟﺴﻠﻒ


Adapun madzhab kami (Syafi’iyah) berpendapat bahwa haram hukumnya orang-orang kafir mengawali ucapan salam kepada kita, dan kita wajib menjawab salam orang-orang kafir dengan ucapan : “wa alaikum” atau “alaikum” saja. Adapun dalil kami dalam hal mengawali ucapan salam kepada orang-orang kafir adalah sabda Rosululloh : “Janganlah kalian mengawali mengucap salam kepada orang Yahudi maupun Nasrani”.

Adapun dalil menjawab salam orang kafir adalah Sabda Rosululloh SAW: ” (jika orang-orang kafir mengucapkan salam kepada kalian) maka ucapkanlah wa alaikum”. Dan pendapat madzhab kami ini merupakan pendapat kebanyakan Ulama’ serta pendapat umum Ulama’ salaf.

ﻭﺫﻫﺒﺖ ﻃﺎﺋﻔﺔ ﺇﻟﻰ ﺟﻮاﺯ اﺑﺘﺪاﺋﻨﺎ ﻟﻬﻢ ﺑﺎﻟﺴﻼﻡ ﺭﻭﻱ ﺫﻟﻚ ﻋﻦ اﺑﻦ ﻋﺒﺎﺱ ﻭﺃﺑﻲ ﺃﻣﺎﻣﺔ ﻭ اﺑﻦ ﺃﺑﻲ ﻣﺤﻴﺮﻳﺰ ﻭﻫﻮ ﻭﺟﻪ ﻟﺒﻌﺾ ﺃﺻﺤﺎﺑﻨﺎ ﺣﻜﺎﻩ اﻟﻤﺎﻭﺭﺩﻯ ﻟﻜﻨﻪ ﻗﺎﻝ ﻳﻘﻮﻝ اﻟﺴﻼﻡ ﻋﻠﻴﻚ ﻭﻻﻳﻘﻮﻝ ﻋﻠﻴﻜﻢ ﺑﺎﻟﺠﻤﻊ ﻭاﺣﺘﺞ ﻫﺆﻻء ﺑﻌﻤﻮﻡ اﻷﺣﺎﺩﻳﺚ ﻭﺑﺈﻓﺸﺎء اﻟﺴﻼﻡ
ﻭﻫﻲ ﺣﺠﺔ ﺑﺎﻃﻠﺔ ﻷﻧﻪ ﻋﺎﻡ ﻣﺨﺼﻮﺹ ﺑﺤﺪﻳﺚ ﻻﺗﺒﺪﺃﻭ اﻟﻴﻬﻮﺩ ﻭﻻاﻟﻨﺼﺎﺭﻯ ﺑﺎﻟﺴﻼﻡ


Segolongan Ulama’ berpendapat kita boleh mengawali salam kepada orang-orang kafir. Pendapat ini diriwayatkan dari Ibnu Abbas, Abu Umamah, Ibnu Abi Muhairiz, itu juga salah satu pendapat sebagian madzhab kami, hal ini diceritakan oleh Imam Mawardi, tetapi orang yang mengawali mengucapkan salam tersebut cukup mengucap “assalamualaika” dan tidak boleh mengucapkan “assalamualaikum” dengan sighot(bentuk lafal) jama’.

Berhujjah dengan dalil tersebut adalah salah, karena hadist tersebut bersifat umum yang kemudian ditakhshis(di khususkan) dengan hadist : “Janganlah kalian mengawali mengucap salam kepada orang Yahudi maupun Nasrani”.

ﻭﻗﺎﻝ ﺑﻌﺾ ﺃﺻﺤﺎﺑﻨﺎ ﻳﻜﺮﻩ اﺑﺘﺪاﺅﻫﻢ ﺑﺎﻟﺴﻼﻡ ﻭﻻﻳﺤﺮﻡ ﻭﻫﺬا ﺿﻌﻴﻒ ﺃﻳﻀﺎ ﻷﻥ اﻟﻨﻬﻲ ﻟﻠﺘﺤﺮﻳﻢ ﻓﺎﻟﺼﻮاﺏ ﺗﺤﺮﻳﻢ اﺑﺘﺪاﺋﻬﻢ
ﻭﺣﻜﻰ اﻟﻘﺎﺿﻲ ﻋﻦ ﺟﻤﺎﻋﺔ ﺃﻧﻪ ﻳﺠﻮﺯ اﺑﺘﺪاﺅﻫﻢ ﺑﻪ ﻟﻠﻀﺮﻭﺭﺓ ﻭاﻟﺤﺎﺟﺔ ﺃﻭ ﺳﺒﺐ ﻭﻫﻮ ﻗﻮﻝ ﻋﻠﻘﻤﺔ ﻭاﻟﻨﺨﻌﻲ

Sebagian pengikut Madzhab Syafi’iyah berpendapat : “Orang-orang kafir mengawali mengucapkan salam kepada kita hukumnya makruh, tidak haram. Pendapat ini juga dloif karena fungsi nahi dalam hadist tersebut adalah untuk pengharaman, jadi yang benar adalah hukum orang kafir mengawali ucapan salam kepada kita adalah haram.

Qodli Husain menceritakan pendapat dari segolongan Ulama’, bahwa boleh orang -orang kafir mengawali ucapan salam kepada kita karena dlorurot, adanya hajat (keperluan)atau karena satu sebab tertentu, ini merupakan pendapat Al-Qomah dan An-Nakho’i.

Jawaban. No.2

Tidak ada dampak negatif jika orang Islam menjawab salamnya Non Muslim, bahkan jika mengikuti ulama yang memperbolehkan mengucapkan salam kepada non-Muslim dan juga boleh mejawab salamnya. Ketika mengucapkan salam dan membalasnya disunahkan dengan suara yang keras, menurut asy-Syafi’i tidak cukup hanya dengan isyarat jari tangan atau telapak tangan, namun madzhab Maliki membolehkan cara seperti itu jika memang jaraknya jauh, berarti memperoleh pahala jika diniatkan mengikuti sunnah Nabi Muhammad saw sebagaimana penjelasan tersebut.

والله أعلم بالصواب