logo mubaa
Logo Ittihad

DEWAN PIMPINAN PUSAT
IKATAN ALUMNI BATA-BATA

Kategori
Uncategorized

HUKUM MENGINJAK DEBU KAPUR TULIS YANG DIHAPUS DARI TULISAN AYAT AL-QUR’AN

HUKUM MENGINJAK DEBU KAPUR TULIS YANG DIHAPUS DARI TULISAN AYAT AL-QUR’AN

Assalamualaikum
Deskripsi
Dalam menjalani proses belajar mengajar sejak dahulu hingga sekarang ketika menulis pembelajaran tidak jarang bagi ustadz dan ustadzah dilembaga Keagamaan menulis ayat al-Qur’an walau kini telah memasuki zaman milinial yang serba elektronik namun sebagian masih menggunakan kapur hal itu berdasarkan kaidah

المحافظة على القديم الصالح والأخذ بالجديد الأصلح


“Menjaga hal-hal lama yang baik dan mengambil hal-hal baru yang lebih baik”

Nah ketika telah selesai menulis tidak jarang tulisan tersebut dihapus

Pertanyaannya
Bagaimana hukum menginjak kapur yang dihapus dari tulisan ayat tersebut?

Waalaikum salam
Jawaban.
Tidak haram jika menginjaknya bukan tujuan menghina atau meremehkannya, dengan alasan karena hal /kondisi tersebut (Debu kapur) sudah keluar atau bukan Qur’an ( bukan ayat Al-Qur’an) dan sudah terganti bentuk dan keadaannya, bahkan boleh menulis dengan kaki jika mimang tidak memungkinkan dengan tangan dalam kondisi darurat.

قرة العين ص ٢٣١
ماقولكم فى مصحف قد تحرب فأحرق، هل يجوز لأحد أن يطاء برجله رماد ذلك المصحف او أن يعلوه بها أولا؟

الجواب . إذا عرف أن ذلك التراب أو الرماد هو رماد المصحف ، فلايجوز له أن يطاء على وجه الإمتهان . وأما إذا لم يكن قصدا للإمتهان ولامعائدا ، فإن ذلك لايكون حراما ، لأنه قد خرج عن كونه قرآنا وتبدلت ذاته وصفته وشكله وهيئته . والله سبحانه وتعالى أعلم بالصواب

( جمل ج ٥ ص ١٢٣)
فائدة وقع السؤال عن شخص يكتب القرأن برجله لكونه لايمكنه ان يكتبه بيديه لمانع بهما فالجواب عنه كما اجاب به شيخنا الشوبري انه لايحرم عليه ذلك والحالة ما ذكر لأنه لايعد إزراء لإن الإزراء أن يقدر على الحالة االكاملة وينتقل عنها الى غيرها وهذا ليس كذلك

Kategori
Uncategorized

ADZAN KETIKA AKAN BERANGKAT HAJI, APAKAH MUADZZIN HARUS BERADA DIBELAKANG SAFIR


ADZAN KETIKA AKAN MUSAFIR HAJI  APAKAH MUADZZIN  HARUS DIBELAKANG MUSAFIR?

Assalamualaikum 

Deskripsi
Sudah lumrah Setiap rangkaian pemberangkatan haji dan umroh selalu di  adzani dan iqomah.
Pertanyaan

1. Apakah ada dalil yang memperbolehkan muadzin tidak dibelakang jamaah yang mau berangkat ?

Waalaikum salam.
Jawaban.

Perlu diketahui bahwa azan dan iqamah tidak hanya sunnah dikumandangkan untuk mendirikan shalat fardu saja, namun dalam kondisi-kondisi tertentu azan dan iqamah pun juga disunnnahkan. Salah satunya dilakukan ketika  orang yang hendak melakukan perjalanan, baik perjalanan untuk melakukan ibadah haji atau yang lainnya yang penting bukan perjalanan maksiat.

Adapun persoalan posisi muadzzin ketika mengadzani orang yang akan bepergian  tidak  ada  keterangan  harus berada  dibelakangnya saafir karena  adanya dalil hanya anjuran / sunnah  adzan dan tidak ada ketentuan harus dibelakang atau didepan walaupun ada keterangan خلف  yang berarti dibelakang  namun yang  dimaksudkan bukan posisi muadzzin harus berada dibelakang saafir  akan tetapi maksud dari خلف adalah adzan dan iqomah. Oleh karena terkadang makna kalimat dan interpretasi (penafsiran) itu berbeda yang terpenting jika mencari keutamaan dan sunnah adalah muadzzin menghadap kearah kiblat karena adanya hadits.


خير المجالس مااستقبل به القبلة ( رواه الطبرانى)


Artinya sebaik tempat adalah menghadap kearah kiblat.( lihat dalam kitab Tanwirul Qulub)

Dari Malik bin Al Huwairits, ia berkata,

أَتَى رَجُلاَنِ النَّبِىَّ – صلى الله عليه وسلم – يُرِيدَانِ السَّفَرَ فَقَالَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – « إِذَا أَنْتُمَا خَرَجْتُمَا فَأَذِّنَا ثُمَّ أَقِيمَا ثُمَّ لِيَؤُمَّكُمَا أَكْبَرُكُمَا »


“Ada dua orang yang pernah mengunjungi Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, mereka berdua ingin melakukan safar. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pun bersabda, “Jika kalian berdua keluar, maka kumandangkanlah azan lalu iqamah, lalu yang paling tua di antara kalian hendaknya menjadi imam.” (HR.Bukhari no.630).

Dalam Tuhfatul Habib disebutkan:

وَيُسَنُّ الأَذانُ والْإِقامَةُ أَيْضًا خَلْفَ المُسَافِرِ اهـ

Artinya, “Sunnah mengumandangkan azan dan iqamah juga di belakang orang yang hendak melakukan perjalanan.”

Berikut penjelasan interpretasi خلف  dalam kitab I’anatut Thalibin, juz 1, hal. 23 berikut ini:

قوله خلف المسافر—أي ويسنّ الأذان والإقامة أيضا خلف المسافر لورود حديث صحيخ فيه قال أبو يعلى في مسنده وابن أبي شيبه: أقول وينبغي أنّ محل ذالك مالم يكن سفر معصية

“Kalimat ‘menjelang bepergian bagi musafir’ maksudnya dalah disunnahkan adzan dan iqamah bagi seseorang yang hendak bepergian berdasar hadits shahih. Abu Ya’la dalam Musnad-nya dan Ibnu Abi Syaibah mengatakan: Sebaiknya tempat adzan yang dimaksud itu dikerjakan selama bepergian asal tidak bertujuan maksiat.” Dalil kedua diperoleh dari kitab yang sama:

فائدة: لم يؤذن بلال لأحد بعد النبي صلى الله عليه وسلم غير مرة لعمر حين دخل الشام فبكى الناس بكاء شديدا – قيل إنه أذان لأبي يكر إلي أن مات … الخ

“Sahabat Bilal tidak pernah mengumandangkan adzan untuk seseorang setelah wafatnya Nabi Muhammad kecuali sekali. Yaitu ketika Umar bin Khattab berkunjung ke negeri Syam. Saat itu orang-orang menangis terharu sejadi-jadinya. Tapi ada khabar lain: Bilal mengumandangkan adzan pada waktu wafatnya Abu Bakar.” Dalil ketiga, dalam Shahih Ibnu Hibban, juz II, hal 36:

من طريق أبي بكر والرذبري عن ابن داسة قال: حدثنا ابن محزوم قال حدثني الإمام على ابن أبي طالب كرم الله وجهه وسيدتنا عائشة رضي الله عنهم—كان رسول الله صلى الله عليه وسلم إذا استودع منه حاج أو مسافر أذن وأقام – وقال ابن سني متواترا معنوي ورواه أبو داود والقرافي والبيهقي

“Riwayat Abu Bakar dan Ar-Rudbari dari Ibnu Dasah, ia berkata: Ibnu Mahzum menceritakan kepadaku dari Ali dari Aisyah, ia mengatakan: Jika seorang mau pergi haji atau bepergian, ia pamit kepada Rasulullah, Rasul pun mengadzani dan mengomati. Hadits ini menurut Ibnu Sunni mutawatir maknawi. Juga diriwayatkan oleh Abu Dawud, al-Qarafi, dan al-Baihaqi.”

Imam An Naasyirii termasuk  ulama’ Syafiiyyah, di dalam kitab Al Idhoh berkata:
Disunnatkan adzan untuk menolak gangguan para jin,dan bagi orang yang sedih,dan untuk bayi ketika dilahirkan disunnatkan di adzani di telinga kanannya,dan di qomati telinga kirinya,dan disunnatkan adzan dan iqomah di belakang musafir(yang akan berangkat haji/umroh dan lain-lain).

Referensi:

وقال الناشري من الشافعية في الإيضاح يستحب الأذان لمزدحم الجن ، وفي أذن الحزين والصبي عندما يولد في اليمين ، ويقيم في اليسرى ، والأذان خلف المسافر والإقامة ، وفي فتاوى الأصبحي ، هل ورد في الأذان والإقامة عند إدخال الميت القبر خبر ؟ فالجواب : لا أعلم فيه ورود خبر ولا أثر إلا ما يحكى عن بعض المتأخرين ، ولعله مقيس على استحباب الأذان والإقامة في أذن المولود فإن الولادة أول الخروج إلى الدنيا وهذا أول الخروج منها وهذا فيه ضعف فإن مثل هذا لا يثبت إلا توقيفا انتهى .والله أعلم بالصواب.

Kategori
Uncategorized

HUKUM MENGGUNAKAN BEJANA YANG BERTULISKAN AYAT AL-QUR’AN

MENGGUNAKAN BEJANA YANG BERTULISKAN AYAT AL-QUR’AN

Assalamualaikum.
Deskripsi masalah.
Dalam Islam, Al-Qur’an dan Asma’ul Husna memiliki kedudukan yang sangat suci. Ayat-ayat Al-Qur’an merupakan firman Allah yang harus dihormati dan diperlakukan dengan penuh kehati-hatian. Begitu pula dengan Asma’ul Husna, yaitu 99 nama Allah yang melambangkan sifat-sifat-Nya yang agung. Dalam praktik sehari-hari, beberapa umat Muslim menggunakan perabot seperti piring, cangkir, atau benda-benda lain yang dihiasi dengan ayat-ayat Al-Qur’an atau Asma’ul Husna.

Secara umum, para ulama bersepakat bahwa ayat-ayat Al-Qur’an harus dijaga kesuciannya dan tidak boleh ditempatkan di tempat yang berpotensi menghinakannya, seperti di lantai, tempat kotor, atau pada benda yang akan digunakan untuk keperluan yang dianggap tidak layak. Namun, hal ini menimbulkan pertanyaan tentang :

Bagaimana hukum Islam memandang penggunaan perabot yang mengandung tulisan ayat suci tersebut.

Walaikum salam.
Jawaban.
Jika makan menggunakan piring yang bertuliskan ayat dengan tujuan meremehkan maka hukumnya kafir. Tetapi jika tidak ada tujuan meremehkan maka menurut imam Ibnu Hajar maka tidak jauh dari hukum haram.

Referensi:


إسعاد الرفيق ٥٩/١
وكذا كل موضع إستعمال فيه المكلف القرآن بذلك القصد أى بقصد الاستخفاف والاستهزاء، فإن كان قد استعمل بغيرذلك القصد ، بأن أطلق ولم يقصد شيأ فلا يكفر لكن قال الشيخ إبن حجر رحمه الله لاتعبد حرمته اى حرمة إستعمال ذلك إنتهى

Demikian berdosa ( kafir ) “Setiap tempat penggunaan di mana seorang mukallaf (orang yang telah mencapai beban kewajiban agama) menggunakan Al-Qur’an dengan maksud meremehkan dan mengejek, maka jika ia menggunakannya dengan tujuan tersebut, ia menjadi kafir. Namun, jika ia menggunakannya tanpa maksud tersebut, yakni digunakan tanpa maksud apa pun, maka ia tidak menjadi kafir. Akan tetapi, Syaikh Ibnu Hajar, rahimahullah, berkata bahwa hal itu tetap tidak menghilangkan keharamannya, yakni keharaman penggunaan tersebut tetap dianggap tercela.

Kategori
Uncategorized

WALIMATUL HAMLI DAN MEMANDINKAN ORANG YANG HAMIL

WALIMATUL HAMLI DAN MEMANDIKAN ORANG YANG HAMIL

Assalamualaikum,

Deskripsi masalah :

Rasulullah pernah bersabda bahwa anak adalah buah hati.
Bagi suami istri tentu merasa bahagia walaupun belum nampak anaknya dilahirkan namun sudah ada tanda kehamilan sehingga mentradisi, bila kehadiran buah hati mereka mengadakan acara-acara tertentu demi kebaikan sang buah hati, diantaranya: acara 4 bulanan dan 7 bulanan dengan cara mengundang sanak familinya baik keluarga yang dekat ataupun yang jauh lalu yang hamil didudukkan sementara yang diundang para wanita memandikannya dengan air yang dicampur kembang/bunga setaman atau bukhur dan sejenisnya, kemudian ada kelapa kuning ( kelapa kedding Red ) mereka satu-persatu menyirami kepalanya.
Ada sebagian mengundang acara istighasah dengan bacaan al-Qur’an atau sholawat untuk dan do’a untuk yang hamil agar selamat dan anaknya diharapkan menjadi anak yang sholeh sholehah.

Pertanyaan :

Adakah dasar dalam syariat tentang hal-hal di atas (acara memandikan , dan juga istighasah membaca al-Qur’an atau sholawat untuk yang hamil)?

Jawaban :

Secara khusus tidak ditemukan dasar dalam syariat. Hanya saja, dalam fikih disampaikan bahwa apabila dalam kegiatan tersebut tidak terdapat hal-hal yang dilarang agama bahkan merupakan kebajikan seperti sodaqoh, qiro’atul qur’an dan sholawat kepada Nabi serta tidak meyakini bahwa penentuan waktu itu adalah sunnah, maka hukumnya diperbolehkan.
Namun hal penting untuk diketahui adalah

Pertama: bahwa Walimah al-Hamli bukan tergolong walimah yang disyariatkan dalam Islam, namun selagi dalam pelaksanaannya tidak disertai hal-hal yang tercela maka tidak menjadi BID’AH yang QABIIH (tercela).

Kedua : Memandikan itu adalah bid’ah dan mungkin bid’ah madzmumah oleh karenana Syaikh Ismail al-Yamani menjawab dalam kitabnya: Dan Allah memberikan petunjuk kepada yang benar. Sesungguhnya Walimah kehamilan yang disebutkan dalam pertanyaan tersebut adalah bukanlah salah satu walimah yang dianjurkan ( memadikan orang yang hamil dengan air mawar dan sejenisnya yang ada kelapa yang kuning ) , jadi itu adalah bid’ah, dan mungkin bid’ah yang jelek karena adat istiadat yang tercela yang menyertainya, seperti misalnya. hal-hal yang disebutkan dalam pertanyaan itu, semua itu tercela, kecuali yang disebutkan terakhir dalam pernyataan penanya yaitu Ada yang cukup dengan membaca Al-Qur’an setelah selesai lalu bubar / pulang.

Adat istiadat yang jelek maka keburukannya harus diwaspadai dan orang yang mengamalkannya harus diberi nasehat. Apabila orang-orang awam menemukan penasehat yang jujur ​​dari kalangan ahli ilmu yang berniat dengan nasehatnya mencari wajah Allah, ( semata karena Allah) maka mereka akan menerima nasehatnya dengan penuh penerimaan dan itu akan menjadi tempat yang baik bagi mereka, dan orang-orang yang berilmu harus memberikan pengobatan atau masukan dengan perkara-perkara tersebut dengan nasehat yang baik, niat yang baik, dan metode/ cara-cara yang bermanfaat bagi kaum muslimin. Allah berfirman Maka berikanlah peringatan, sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang yang beriman. ….Dan Allah berfirman: Apakah kejalan Tuhanmu dengan cara hikmah ( mencontohkan) dan memberi peringatan yang terbaik.

قرة العين فتاوى الشيخ إسماعيل الزين اليمنى المكي ١٨٢

حول وليمة الحمل وغسل الحامل أمام عدد من النسوة

سؤال : ماقولكم سيدي فى حكم وليمة الحمل . ثم الذي يعتاده بعض أهل بلدنا فى تلك الوليمة أن الحامل يغسلها الحاضرات من النسوة المدعوات حينما أردن أن ينصرفن من بيتها وهى جالسة وبين يديها نرجيل أصفر وبيض وغيرها مما يعتقدون أنه لابد أن يكون معها فيصيبن على رأسها ماء ملخبطا بشيء من حانوط أونحوه .وبعضهم يكتفى بإطعام الطعام وقراءة ماتيسر من القرآن والصلاة على خير الأنام نسألكم عن حكمها مع تضمنته تلك الوليمة من الأمور المذكورة

الجواب.

والله الموفق للصواب أن الوليمة الحمل المذكورة فى السؤال ليست من الولائم المشروعة فهى بدعة ، وقد تكون بدعة قبيحة لما يصحبها من العادات الذمية كالأشياء التى ذكرت فى السؤال ، وكل ذلك مذموم إلا ماذكر آخرا من قول السائل .وبعضهن يكتفين بقراءة القرآن ثم ينصرفن .وأماماعدا ذلك فكله من المنكرات والعادات القبيحة التى ينبغي التنبيهُ على قبحها ونصيحة متعاطيها. فإن العوام إذا وجدوا ناصحا أمينا من أهل العلم يقصد بنصيحته إبتغاء وجه الله يتلقون نصيحته بالقبول وتقع منهم موقعا حسنا ، ويجب على أهل العلم معالجة مثل هذا الأمور بالموعظة الحسنة والنيةِ الصالحةِ والأساليب النافعة للمسلمين قال تعالى : فذكر فإن الذكرى تنفع المؤمنين .وقال : أدع إلى سبيل ربك بالحكمة والموعظة الحسنة …… والله سبحانه وتعالى أعلم

قَالَ الشَّافِعِيُّ ، رَحِمَهُ اللَّهُ : ” الْوَلِيمَةُ الَّتِي تُعْرَفُ : وَلِيمَةُ الْعُرْسِ ، وَكُلُّ دَعْوَةٍ عَلَى إِمْلَاكٍ أَوْ نِفَاسٍ أَوْ خِتَانٍ أَوْ حَادِثِ سُرُورٍ ، فَدُعِيَ إِلَيْهَا رَجُلٌ ، فَاسْمُ الْوَلِيمَةِ يَقَعُ عَلَيْهَا

Imam as-Syafi’i berkata “Walimah yang dikenal (dalam islam) adalah walimah ‘Urs dan setiap jamuan yang diadakan atas dasar mendapatkan sesuatu, persalinan, khitanan atau kebahagiaan yang baru diperoleh kemudian jamuan tersebut dijadikan undangan maka nama walimah layak disematkan padanya”. [ Al-Haawy fii Fiqh as-Syaafi’i IX/555 ].

ISTILAH-ISTILAH WALIMAH YANG DIKENAL DALAM ISLAM

ويقال لدعوة الختان إعذار ولدعوة الولادة عقيقة ولسلامة المرأة من الطلق خرس وقيل الخرس لطعام الولادة ولقدوم المسافر نقيعة ولإحداث البناء وكيرة ولما يتخذ للمصيبة وضيمة ولما يتخذ بلا سبب مأدبة

Jamuan khitanan disebut “ I’DZAAR ”, Jamuan kelahiran disebut “ AQIQAH “, jamuan terselamatkannya wanita dari jatuhnya talak disebut “ KHARS “ namun pendapat lain menyatakan khars adalah jamuan untuk kelahiran anak, Jamuan sampainya seseorang dari bepergian disebut “ NAQI’AH “, Jamuan seusai membangun rumah disebut “ WAKIIRAH “, jamuan selamat dari bencana disebut “ WADHIMAH “, dan jamuan yang diadakan tanpa alasan disebut “ MA’DABAH “. [ Raudhah at-Thoolibiin III/64 ].

وَالْوَلَائِمُ سِتٌّ : وَلِيمَةُ الْعُرْسِ : وَهِيَ الْوَلِيمَةُ عَلَى اجْتِمَاعِ الزَّوْجَيْنِ . وَوَلِيمَةُ الْخُرْسِ : وَهِيَ الْوَلِيمَةُ عَلَى وِلَادَةِ الْوَلَدِ . وَوَلِيمَةُ الْإِعْذَارِ : وَهِيَ الْوَلِيمَةُ عَلَى الْخِتَانِ . وَوَلِيمَةُ الْوَكِيرَةِ : وَهِيَ الْوَلِيمَةُ عَلَى بِنَاءِ الدَّارِ . قَالَ الشَّاعِرُ : كُلُّ الطَّعَامِ تَشْتَهِي رَبِيعَةُ الْخُرْسُ وَالْإِعْذَارُ وَالْوَكِيرَهْ وَوَلِيمَةُ النَّقِيعَةِ : وَهِيَ وَلِيمَةُ الْقَادِمِ مِنْ سَفَرِهِ ، وَرُبَّمَا سَمُّوا النَّاقَةَ الَّتِي تُنْحَرُ لِلْقَادِمِ نَقِيعَةً ، قَالَ الشَّاعِرُ : إِنَّا لَنَضْرِبُ بِالسُّيُوفِ رُءُوسَهُمْ ضَرْبَ الْقُدَارِ نَقِيعَةَ الْقُدَّامِ وَوَلِيمَةُ الْمَأْدُبَةِ : هِيَ الْوَلِيمَةُ لِغَيْرِ سَبَبٍ . فَإِنَّ خُصَّ بِالْوَلِيمَةِ جَمِيعُ النَّاسِ سُمِّيَتْ جَفَلَى ، وَإِنْ خُصَّ بِهَا بَعْضُ النَّاسِ ، سُمِّيَتْ نَقَرَى

Macam Walimah yang dikenal dalam Islam ada enam :

1.Walimah ‘Urs : Walimah yang diadakan atas dasar pertemuan dua insan dalam membentuk rumah tangga

2.Walimah Khurs : Walimah yang diadakan atas dasar lahirnya seorang anak

3.Walimah I’dzaar : Walimah yang diadakan atas dasar khitanan

4.Walimah Wakiirah : Walimah yang diadakan atas dasar membangun rumah

5.Walimah Naqii’ah : Walimah yang diadakan atas dasar kedatangan seseorang dari bepergian

6.Walimah Ma’dabah : Walimah yang diadakan atas dasar tanpa sebabBila undangan walimah tersebut mencakup semua lapisan masyarakat dinamakan ‘JAFLAA’, bila hanya sebatas kalangan tertentu saja dinamakan ‘NAQRAA’. [ Al-Haawy fii Fiqh as-Syaafi’i IX/555 ].

Jadi inti dari taradisi selama tidak menyalahi aturan maka hukumnya boleh sebagaimana dijelaskan dalam sebuah kaidah.

العادات محكمة مالم تخالف الشرع

Seperti mengundang tujuannya untuk sedekah istighasah dengan bacaan al-Qur’an dan sholat dan do’a untuk yang hamil agar dengan do’a diharapkan selamat dan memperoleh anak sholeh dan sholehah maka hukumnya bahkan dianjurkan memperbanyak do’a pada saat hamil terutama menjelang 4 bulanan sangat dibutuhkan, mengingat roh seluruh bani adam serta umur, rizqi pekerjaan dan nasibnya, oleh Allah swt. Diperintahkan untuk ditiupkan dan ditentukan pada saat umur janin 40 hari x 3 atau 120 hari dalam kandungan yang berarti berumur 4 bulan.

Sebagaimana keterangan dalam hadits :

ان احدكم يجمع خلقه في بطن امه اربعين يوما نطفة ثم… الحديث

Juga berdo’a untuk mendapatkan keturunan anak yang sholeh sangatlah dianjurkan, sebagaimana

Firman Allah :


رب هب لي من الصالحين

Dan memperbanyak do’a :

ربنا هب لنا من ازواجنا وذرياتنا قرة أعين واجعلنا للمتقين اماما. آمين يارب العالمين وصلى الله على سيدنا محمد وعلى آله وصحبه وسلم.

Kategori
Uncategorized

HUKUM MEROKOK DIDEKATNYA ORANG YANG MEMBACA AL-QUR’AN

Assalamualaikum.
Deskripsi masalah.
Dimasyarakat tak jarang kita menemukan banyak kegiatan undangan diantaranya adalah acara selamatkan Pemberangkatan Jemaah Haji, selamatkan pernikahan, selamatan kandungan 4 bulanan/7 Bulanan ataupun arisan yang didalam dikemas dengan Khatmil Qur’an, anehnya ketika salah satu dari Jemaah khatmil Qur’an selesai mereka merokok disisi atau disampingnya orang yang baca al-Qur’an sehingga mengakibatkan tidak nyaman bagi orang-orang yang berada dimajlis khatmil Qur’an

Pertanyaan :
Bagaimana hukumnya merokok disampingnya orang yang baca al-Qur’an ( tempat majlis khatmil qur’an) ?

Wa ‘Alaikumussalam Wa Rahmatullah Wa Barakatuh
Jawaban.

Ulama’ berbeda pendapat, tentang Hukum merokok ada yang mengatakan haram dan ada pula yang berpendapat makruh.
Adapun yang berpendapat makruh adalah madzhab Syafiiyah , namun jika merokok didekat orang membaca Al-Qur’an bisa berubah menjadi haram.
Sedangkan yang menghukumi haram secara mutlak adalah Syaikh Ismail Utsman Zain Al-Yamani Al-Makki, beliau berkata: “Merokok di samping majlis al-Qur’an, majlis ilmu hadits, majlis ilmu-ilmu syar’ie atau tempat-tempat yang harus di jaga adab dan ketenangannya hukumnya adalah haram karena termasuk su’ul adab (tidak sopan) dan meremehkan majlis-majlis yang harus di muliakan dan terlebih-lebih bila dilakukan di masjid yang merupakan rumah Allah SWT, dan termasuk bagian syi’ar-syi’ar Allah SWT. “Barang siapa yang mengagungkan syi’ar-syi’ar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketaqwaan hati”.

Syaikh As-Sabrowi As-Syafi’i : Beliau Berkata: “Guruku berkata masalah yang saya pasrahkan terhadap Allah SWT. Adalah keharaman merokok di majlis al-Qur’an dan tidak ada jalan bagi pendapat Makruh. Ketika berbincang-bincang urusan dunia di samping majlis al-Qur’an itu di larang, maka merokok dalam majlis itu lebih utama untuk di larang karena adanya bau yang tidak enak, walaupun pelakunya tidak merasakannya karena senang atau sudah terbiasa, seperti halnya orang yang bekerja di tempat-tempat kotoran maka mereka tak akan terganggu. Ketika orang-orang berakal mengetahui bahwa termasuk adab atau sopan santun menghadap raja di dunia dan mentri-mentrinya adalah tidak merokok, maka apakah mereka tidak mengetahui bahwa merokok ketika menghadap Allah dengan membaca al-Qur’an termasuk sesuatu yang merusak sopan santun ? Banyak sekali sesuatu ketika tidak menghadap raja, itu tidak dilarang tetapi ketika menghadapnya itu di larang. Atas dasar ini merokok itu makruh di luar majlis Al-qur’an, tapi ketika di majlis Al-Qur’an karena termasuk merusak sopan santun di hadapan kalam Allah maka hukumnya haram. Ketahuilah banya segala perbuatan di luar shalat itu di perbolehkan tapi ketika di tengah-tengah shalat maka hukumnya haram. Walaupun tidak membatalkannya, keharaman ini karena tidak adanya kesopanan di hadapan Allah SWT”

Al-Imam Al-Hifny. Beliau menukil dari beberapa gurunya, beliau berkata: “Merokok di majlis Al-Qur’an menghawatirkan penyebab SU’UL KHOTIMAH, semoga Allah melindungi kita semua”. Oleh karena itu atas segala keadaaan berhati-hatilah, karena berhati-hati (ikhtiath) adalah perbuatan orang-orang yang takut kepada Allah SWT.

Referensi:

قرة العين فتوى الشيخ إسماعيل الزين ص ٤٢

{ حول حديث يأتي أقوام فى آخرالزمان يداومون هذاالدخان}

سؤال: ماحكم شرب الدخان إذا نظرنا إلى حديث رسول الله صلى الله عليه وسلم ياأباهريرة يأتي أقوام فى آخر الزمان يداومون هذا الدخان وهم يقولون: نحن من أمة محمد وليسوا من أمتي، ولاأقول: هم أمة محمد،ولكنهم من السوام. ؟
الجواب:والله سبحانه وتعالى الهادى إلى الصواب. أن الدخان المذكور لم يكن فى زمن النبي صلى الله عليه وسلم والحديث المشار إليه فى السؤال لاشك أنه حديث موضوع مكذوب على رسول الله صلى الله عليه وسلم وكان حق السائل أن يبين من أخرجه. أما حكم الدخان المذكور فقد قال بعض العلماء بحرمته وقال بعضهم بكراهته هو مذهب الشافعية نعم قد يحرم عندهم لعارض كالإضرار بالبدن او الإسراف فى المال أو نحو ذلك. وعلى كل هو من الأشياء الخبيثة التى ينبغى إجتنابها ماأمكن. والله سبحانه وتعالى أعلم وصلى الله على سيدنا محمد وعلى آله وصحبه وسلم

Referensi:

(قرة العين بفتاوي اسماعيل الزين، صـ ٢٣١-٢٣٢)

. سؤال: ما حكم شرب الدخان فى المسجد وما حكم شرب الدخان عند قارئ القرآن وبينهما قدر ثلاثة اذرع فهل يعد فى مجلس القرآن فيحرم او لا؟ الجواب والله الموافق للصواب : أن شرب الدخان من حيث هو قد اختلف العلماء فيه فأكثرهم على التحريم وبعضهم قال انه مكروه كراهة تنزيه وهو معتمد مذهب الشافعية لكنهم اجمعوا على أنه قد يعرض له ما يصيره حراما. من ذلك اذا كان بحضرة قراءة القرآن أو حديث نبوي او مجلس علم شرعي أو نحو ذلك من المواضع التي تضم ما تستحقه الأدب والوقار فإن شرب الدخان فيه حينئذ حراما لما فيه من سوء الأدب والاستهتار بمجالس التعظيم –الى ان قال- (مسئلة) ما حكم شرب الدخان عند قارئ القرآن وبينهما قدر ثلاثة اذرع أهو جائز أم لا (الجواب) حرام حيث اعتد انهما فى مجلس واحد كما صرح بذلك فى السم القائل نقلا عن قول الشبراوى الشافعي فى شرح ورد السحر وعبارته قال شيخنا محمد السباعى الذي ندين الله عليه حرمة شرب الدخان فى مجلس القرآن ولا وجه للكراهة بل نقل الامام الحفنى عن بعض أشياخه العارفين أن شربه فى مجلس القرأن يخشى منه سوء الخاتمة اعاذنا الله تعالى منها بمنه وكرمه انه جواد كريم اهـ واذا كان هذا فى مجلس مجالس القرآن وان لم تكن فى المسجد ففى المسجد من باب اولى.

(يسئلونك فى الدين والحياة، جـ ٢، صـ ٩٨)

. ويؤخذ من إلحاق الدخان بالثوم والبصل كراهته تحريما فى المسجد للنهي الوارد فى الثوم والبصل وهو ملحق بهما والظاهر كراهة تعاطيه جال القراءة (يعنى قراءة القرآن) لما فيه من الإخلال بتعظيم كتاب الله تعالى ولا يليق بالمسلم أن يشرب الدخان الدخان وهو فى بيت من بيوت الله عز وجل كما أنه لا يليق به ان يدخل المسجد وما زالت رائحة الدخان تفوح من فمه وقد يكون من المناسب ان تذكر عبادة زاجرة قالها الشيخ الشبراوى نقلا عن شيخه السجاعي فى شرب الدخان فى عند قراءة القرآن وهي الذي ندين الله عليه هو حرمة شرب الدخان فى مجلس القرآن ولا وجه للقول بالكراهة واذا كان الحديث النبوي فى مجلس القرآن منهما عنه فشرب الدخان فى مجلسه اولى بالنهي لما فيه من الرائحة الكريهة

Referensi:

(مجموع فتاوى ورسائل الام السيد علوي المالكي الحسنى، صـ ١٧٨)

 لا ينبغى الاختلاف فى تحريم شربه فى مجالس القرآن وفى المساجد ومجالس الذكر ونهار شهر رمضان

Referensi:

(شرخ منظومة إرشاد الإخوان، صـ ٤٣-٨٠

(فى مجلس الدرس مع الإقراء # شربه مكروه بلا امتراء) (هذ اذا لم يقصد القبيحا # ولا الإهانة ولا المزاحا) (والاحتقار ثم سوء الأدب # لقارئ القرآن والكتاب) (وان يكن قصده ذالمذكور # يحرم بل يخشى عليه الكفر) الى ان قال (وقال فيها لم ار التصريحا # حكمه فى المسجد من اياحا) (لكن كلام الفقهاء قطعا # دل على حرمته فاستمعا) (وهذا إن حصل ما يؤدي # إلى أذى او تقذيرا لمسجد) فى مجلس الدرس مع الإقراء اي فى مجلس القراءة للقرآن…”هذا اذالم يقصد القبيحا” لعدم المبالاة بمجلس المذكور … “وان يكن قصده ذا المذكور” اي من القبيح وما بعده “يحرم” عليه شربه فى المجلس المذكور “وهذا” الذي يدل كلام عليه من الحرمة ليس مطلقا ولكن “ان حصل ما يؤدي الى أذى أو تقذيرا لمسجد” وهو ان فهم انه لم يحرم اذا لم يحصل به ذلك. والله أعلم بالصواب

Begitu juga haram orang yang membaca al-Qur’an disisinya orang yang sedang merokok

حكمة التشريع وفلسفته ص ٣٠٢
يحرم شرب الدخان فى مجلس القرآن الشريف خصوصا من القارئ نفسه أو من مجاوره حال القرآءة فى مجلس القرآن .قال شيخنا محمد السجاعى الذي ندين الله عليه حرمة شرب الدخان فى مجلس القرآن ولاوجه للقول بالكراهة .إنتهى

نفحات الإسلام ص ٢٤٨
ويحرم أيضا قرآءة القرآن بحضرة من شرب الدخان او يستنشق تبغا وفاعل ذلك ممقوت عند الله وعند المؤمنين وباالجملة فيجب على القارئ ان يحافظ على منزل القرآن ومكانته العظيمة كمايجب ذلك على السامع .إنتهى

Referensi : . حكمة التشريع وفلسفته ص : ٣٠٢


يحرم شرب الدخان في مجلس القرأن الشريف خصوصا من القارئ نفسه أو من مجاوره حال القرأة في مجلس القرأن. قال شيخنا محمد السجاعي : الذي ندين الله عليه حرمة شرب الدخان في مجلس القرأن ولا وجه للقول بالكراهة

الكتاب : فيض الخبير وخلاصة التقرير على نهج التيسير ص 147
ويحرم ايضاقراءة القرآن بحضرة من يشرب الدخان او يستنشق تابغا , وفاعل ذلك ممقوت عندالله وعند المؤمنين ,وبالجملة فيجب على القارئ أن يحافظ على منزلة القرآن ومكانته العظيم


Dalam kitab Hikmatut Tasyri’ wa Falsafatuhu halaman 302 disebutkan:

“Haram hukumnya merokok di majelis Al-Qur’an yang mulia, terutama bagi pembaca itu sendiri atau orang yang berada di dekatnya saat pembacaan Al-Qur’an berlangsung. Syaikh kami, Muhammad As-Suja’i, berkata: ‘Kami berkeyakinan di hadapan Allah bahwa haram hukumnya merokok di majelis Al-Qur’an, dan tidak ada alasan untuk mengatakan bahwa hukumnya hanya makruh.’”

Dalam kitab Faidul Khabir wa Khulasatut Taqrir ‘ala Nahj At-Taisir halaman 147 disebutkan:

“Haram juga membaca Al-Qur’an di hadapan orang yang sedang merokok atau menghirup tembakau. Orang yang melakukan hal tersebut dibenci oleh Allah dan juga oleh orang-orang beriman. Secara umum, seorang pembaca Al-Qur’an wajib menjaga kehormatan dan kedudukan Al-Qur’an yang agung.”

Lihat tambahan Referensi :

Al-Ghuror Al-Bahiyah Syarh Al-Bahjah,1/409.

Al-Mahally: 1/227.

Al-Anwar: 1/83.

Tukhfah Ma’a Syarwani: 1/23.

Asnal Matholib Iii/100.

Yas’alinaka Fi-Ad-Din Wa Al-Hayat,2/227.

Talk Khisul Murod: 96.

Syarh Mandhumah Arsyadul Ikhwan: 258-259.

Al-Wajiz: 1:59.Is’adur Rofiq: 1:59.

Bughyah Mustarsidin: 65

At-Turmusi,3/34-36

Kategori
Uncategorized

HUKUM DAN MANFAAT MEMATIKAN LAMPU KETIKA AKAN TIDUR

HUKUM DAN MANFAAT MEMATIKAN LAMPU KETIKA AKAN TIDUR

Assalamualaikum
Sebelumnya mohon maaf.

Deskripsi masalah.
Setiap orang memiliki cara tersendiri untuk mendatangkan kenyamanan saat tidur. Ada dari mereka yang memilih tidur dengan lampu menyala dan ada juga yang lebih suka tidur dengan lampu mati atau gelap. 
Hal ini tak jarang menjadi bahan keributan saat akan tidur dengan teman atau pasangan baru ( suami istri). Yang satu inginnya lampu menyala, yang satu inginnya tidur dalam keadaan gelap.
Nah, membicarakan soal kebiasaan tidur ini, sebagaimana diaats maka timbul sebuah

Pertanyaan;

Apakah tidur malam dengan lampu menyala dan dimatikan lebih banyak manfaat dinyalakan atau sebaliknya ?

Mohon jawabannya🙏

Waalaikum salam.
Jawaban.

Ketika seseorang ingin tidur lebih manfaat memadamkan lampu dari pada menyalakannya baik lampu yang timbul dari api ataupun listrik, karena adanya larangan dari Rasulullah ketika tidur menyalakan lampu yang tentunya ada tujuan dan alasan atau manfaat yang diantaranya adalah: kemaslahatan dunia dan jiwa dan juga harta, yaitu dikhawatirkan terjadi kebakaran bisa disebabkan dirinya lupa atau sebab tikus ataupun cecak ataupun barang yang jatuh tepat pada lampu sehingga terjadilah kebakaran yang dapat mengancam jiwa hartanya . Lalu kalau pakai lampu listrik apakah bisa jadi menimbulkan kebakaran? secara rasional mungkin tidak akan terjadi tanpa adanya sebab , namun bisa jadi terjadi manakala tikus memakan ( menggigit ) kabel sehingga terjadilah sambungan atau menyatunya kabel antara +dan – dll. Artinya walaupun dimasa lalu tidak ada lampu listrik dan baru muncul perkiraan 14 belas abad kemudian tapi hal ini diqiyaskan pada lampu api hukumnya sunnat mematikan ( memadamkannya) karena pasti ada manfaat yang belum kita ketahui.
Begitu juga sunnat menutup pintu ketika akan tidur karena syaitan tidak akan masuk kedala rumah yang mana pintunya ditutup apalagi dengan disertai ucapan Basmalah.
Jadi inti dari dianjurkannya memadamkan lampu ketika ingin tidur secara umum adalah untuk kemaslahan baik kemaslahatan dunia maupun kemaslahatan agama yang diantaranya untuk keselamatan jiwa maupun harta yang diharamkan dengan cara dihambur-hamburkan mubadzzir ( tiada guna) dan juga untuk kenyamananan dan kesehatan badan dll. Juga sunnah menutup pintu ketika akan tidur agar tidak dimasuki syaitan apalagi dimulai dengan ucapan Basmalah.
Berdasarkan hadits Bukhari Nomor 5822

فتح الباري شرح البخارى

حَدَّثَنَا حَسَّانُ بْنُ أَبِي عَبَّادٍ حَدَّثَنَا هَمَّامٌ حَدَّثَنَا عَطَاءٌ عَنْ جَابِرٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَطْفِئُوا الْمَصَابِيحَ بِاللَّيْلِ إِذَا رَقَدْتُمْ وَغَلِّقُوا الْأَبْوَابَ وَأَوْكُوا الْأَسْقِيَةَ وَخَمِّرُوا الطَّعَامَ وَالشَّرَابَ قَالَ هَمَّامٌ وَأَحْسِبُهُ قَالَ وَلَوْ بِعُودٍ يَعْرُضُهُ

Telah menceritakan kepada kami [Hasan bin Abu ‘Abbad] telah menceritakan kepada kami [Hammam] telah menceritakan kepada kami [‘Atha`] dari [Jabir] dia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Matikanlah lampu-lampu kalian pada malam hari jika kalian tidur dan tutuplah pintu dan tempat air kalian serta wadah makanan dan minuman kalian.” Hammam mengatakan; dan aku kira Atha’ juga mengatakan; “Walaupun hanya dengan sesuatu yang dapat menutupinya.” [Bukhari]

Namun perlu dimaklumi, bahwa jika ditili dari sisi medis anjuran tersebut ternyata memang baik untuk kesehatan.
Dimana dalam artikel “How to Make Your Room Dark’ yang dilansir dari laman sleepfoundation.org disebutkan bahwa setiap manusia memiliki ritme sirkadian, yakni proses internal dan alami dalam tubuh yang mengatur siklus tidur-bangun.
Ritme sirkadian akan memberi isyarat kepada kita untuk merasa terjaga di siang hari dan mengantuk di malam hari.
Sementara cahaya lampu adalah faktor eksternal yang paling sering memengaruhi kesiapan seseorang untuk tidur.
Cahaya lampu yang ada dapat menghalangi produksi melatonin, yakni hormon turunan serotonin yang menyebabkan rasa kantuk.
Jika hal ini terjadi sebelum tidur atau selama tidur, tentu akan mengganggu kualitas siklus tidur dan bangun kita.
Beberapa penelitian juga telah menunjukkan bahwa berada di ruangan yang terang benderang sebelum tidur dapat mengakibatkan produksi melatonin dalam tubuh menjadi tertunda dibandingkan dengan cahaya yang redup.
Apalagi jika kita juga menggunakan perangkat elektronik sebelum tidur. Dimana hal itu dikaitkan dengan peningkatan masalah tidur dan kualitas tidur yang lebih buruk.
Paparan cahaya di malam hari juga dapat dikaitkan dengan kondisi kesehatan seperti gangguan kecemasan dan obesitas.
Untuk mencegah itu, para ahli menyarankan agar kita dapat menciptakan lingkungan kamar tidur yang gelap untuk mendorong tidur yang cukup dan restoratif.

باب لَا تُتْرَكُ النَّارُ فِي الْبَيْتِ عِنْدَ النَّوْمِ
الشرح‏:‏ قوله ‏(‏باب لا تترك النار في البيت عند النوم‏)‏ بضم أول ‏”‏ تترك ‏”‏ ومثناة فوقانية على البناء للمجهول وبفتحة ومثناة تحتانية بصيغة النهي المفرد‏.‏ذكر فيه ثلاثة أحاديث‏:‏ الأول حديث ابن عمر في النهي عن ذلك‏.‏
الثاني حديث أبي موسى وفيه بيان حكمة النهي وهي خشية الاحتراق‏.‏
الثالث حديث جابر وفيه بيان علة الخشية المذكورة‏.‏
الحديث‏:‏حَدَّثَنَا أَبُو نُعَيْمٍ حَدَّثَنَا ابْنُ عُيَيْنَةَ عَنْ الزُّهْرِيِّ عَنْ سَالِمٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا تَتْرُكُوا النَّارَ فِي بُيُوتِكُمْ حِينَ تَنَامُونَ
الشرح‏:‏ فأما حديث ابن عمر فقوله في السند ‏”‏ ابن عيينة عن الزهري ‏”‏ وقع في رواية الحميدي ‏”‏ عن سفيان حدثنا الزهري ‏”‏ وقوله ‏”‏ حين ينامون ‏”‏ قيده بالنوم لحصول الغفلة به غالبا، ويستنبط منه أنه متى وجدت الغفلة حصل النهي‏.‏
الحديث‏:‏حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْعَلَاءِ حَدَّثَنَا أَبُو أُسَامَةَ عَنْ بُرَيْدِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ عَنْ أَبِي بُرْدَةَ عَنْ أَبِي مُوسَى رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ احْتَرَقَ بَيْتٌ بِالْمَدِينَةِ عَلَى أَهْلِهِ مِنْ اللَّيْلِ فَحُدِّثَ بِشَأْنِهِمْ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ هَذِهِ النَّارَ إِنَّمَا هِيَ عَدُوٌّ لَكُمْ فَإِذَا نِمْتُمْ فَأَطْفِئُوهَا عَنْكُمْ
الشرح‏:‏ وأما حديث أبي موسى فقوله ‏”‏ احترق بيت بالمدينة على أهله ‏”‏ لم أقف على تسميتهم، قال ابن دقيق العيد‏:‏ يؤخذ من حديث أبي موسى سبب الأمر في حديث جابر بإطفاء المصابيح، وهو فن حسن غريب، ولو تتبع لحصل منه فوائد‏.‏
قلت‏:‏ قد أفرده أبو حفص العكبري من شيوخ أبي يعلى بن الفراء بالتصنيف وهو في المائة الخامسة، ووقفت على مختصر منه، وكأن الشيخ ما وقف عليه فلذلك تمنى أن لو تتبع، وقوله ‏”‏إن هذه النار إنما هي عدو لكم ‏”‏ هكذا أورده بصيغة الحصر مبالغة في تأكيد ذلك، قال ابن العربي‏:‏ معنى كون النار عدوا لنا أنها تنافي أبداننا وأموالنا منافاة العدو، وإن كانت لنا بها منفعة، لكن لا يحصل لنا منها إلا بواسطة، فأطلق أنها عدو لنا لوجود معنى العداوة فيها والله أعلم‏.‏
الحديث‏:‏حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ حَدَّثَنَا حَمَّادٌ عَنْ كَثِيرٍ هُوَ ابْنُ شِنْظِيرٍ عَنْ عَطَاءٍ عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَمِّرُوا الْآنِيَةَ وَأَجِيفُوا الْأَبْوَابَ وَأَطْفِئُوا الْمَصَابِيحَ فَإِنَّ الْفُوَيْسِقَةَ رُبَّمَا جَرَّتْ الْفَتِيلَةَ فَأَحْرَقَتْ أَهْلَ الْبَيْتِ
الشرح‏:‏وأما حديث جابر فقوله في السند ‏”‏ كثير ‏”‏ كذا للأكثر غير منسوب، زاد أبو ذر في روايته ‏”‏ هو ابن شنظير ‏”‏ وهو كذلك، وشنظير بكسر الشين والظاء المعجمتين بينهما نون ساكنة تقدم ضبطه والكلام عليه في ‏”‏ باب ذكر الجن ‏”‏ من كتاب بدء الخلق وشرح حديثه هذا وأنه ليس له في الصحيح غير هذا الحديث، ووقع في رجال الصحيح للكلاباذي أن البخاري أخرج له أيضا في ‏”‏ باب استعانة اليد في الصلاة ‏”‏ فراجعت الباب المذكور من الصحيح وهو قبيل كتاب الجنائز فما وجدت له هناك ذكرا‏.‏ثم وجدت له بعد الباب المذكور بأحد عشر بابا حديثا آخر بسنده هذا وقد نبهت عليه في ‏”‏ باب ذكر الجن ‏”‏ والشنظير في اللغة السيئ الخلق، وكثير المذكور يكنى أبا قرة وهو بصري‏.‏
وقال القرطبي‏:‏ الأمر والنهي في هذا الحديث للإرشاد، قال‏:‏ وقد يكون للندب، وجزم النووي بأنه للإرشاد لكونه لمصلحة دنيوية، وتعقب بأنه قد يفضي إلى مصلحة دينية وهي حفظ النفس المحرم قتلها والمال المحرم تبذيره‏.‏
وقال القرطبي‏:‏ في هذه الأحاديث أن الواحد إذا بات ببيت ليس فيه غيره وفيه نار فعليه أن يطفئها قبل نومه أو يفعل بها ما يؤمن معه الاحتراق، وكذا إن كان في البيت جماعة فإنه يتعين على بعضهم وأحقهم بذلك آخرهم نوما، فمن فرط في ذلك كان للسنة مخالفا ولأدائها تاركا‏.‏
ثم أخرج الحديث الذي أخرجه أبو داود وصححه ابن حبان والحاكم من طريق عكرمة عن ابن عباس قال ‏”‏ جاءت فأرة فجرت الفتيلة فألقتها بين يدي النبي صلى الله عليه وسلم على الخمرة التي كان قاعدا عليها فأحرقت منها مثل موضع الدرهم، فقال النبي صلى الله عليه وسلم‏:‏ إذا نمتم فأطفئوا سراجكم فإن الشيطان يدل مثل هذه على هذا فيحرقكم ‏”‏ وفي هذا الحديث بيان سبب الأمر أيضا وبيان الحامل للفويسقة – وهي الفأرة – على جر الفتيلة وهو الشيطان ، فيستعين وهو عدو الإنسان عليه بعدو آخر وهي النار، أعاذنا الله بكرمه من كيد الأعداء إنه رءوف رحيم‏.‏ وقال ابن دقيق العيد‏:‏ إذا كانت العلة في إطفاء السراج الحذر من جر الفويسقة الفتيلة فمقتضاه أن السراج إذا كان على هيئة لا تصل إليها الفأرة لا يمنع إيقاده، كما لو كان على منارة من نحاس أملس لا يمكن الفأرة الصعود إليه، أو يكون مكانه بعيدا عن موضع يمكنها أن تثب منه إلى السراج‏.‏
قال‏:‏ وأما ورود الأمر بإطفاء النار مطلقا كما في حديثي ابن عمر وأبي موسى – وهو أعم من نار السراج – فقد يتطرق منه مفسدة أخرى غير جر الفتيلة كسقوط شيء من السراج على بعض متاع البيت، وكسقوط المنارة فينثر السراج إلى شيء من المتاع فيحرقه، فيحتاج إلى الاستيثاق من ذلك، فإذا استوثق بحيث يؤمن معه الإحراق فيزول الحكم بزوال علته‏.‏
قلت‏:‏ وقد صرح النووي بذلك في القنديل مثلا لأنه يؤمن معه الضرر الذي لا يؤمن مثله في السراج‏.‏
وقال ابن دقيق العيد أيضا‏:‏ هذه الأوامر لم يحملها الأكثر على الوجوب، ويلزم أهل الظاهر حملها عليه، قال‏:‏ وهذا لا يختص بالظاهري بل الحمل على الظاهر إلا لمعارض ظاهر يقول به أهل القياس، وإن كان أهل الظاهر أولى بالالتزام به لكونهم لا يلتفتون إلى المفهومات والمناسبات، وهذه الأوامر تتنوع بحسب مقاصدها‏:‏ فمنها ما يحمل على الندب وهو التسمية على كل حال، ومنها ما يحمل على الندب والإرشاد معا كإغلاق الأبواب من أجل التعليل بأن الشيطان لا يفتح بابا مغلقا، لأن الاحتراز من مخالطة الشيطان مندوب إليه وإن كان تحته مصالح دنيوية كالحراسة، وكذا إيكاء السقاء وتخمير الإناء‏.‏والله أعلم‏.‏

*باب إِغْلَاقِ الْأَبْوَابِ بِاللَّيْلِ
الشرح‏:‏قوله ‏(‏باب غلق الأبواب بالليل‏)‏ في رواية الأصيلي والجرجاني وكذا لكريمة عن الكشميهني ‏”‏ إغلاق ‏”‏ وهو الفصيح‏.‏
وقال عياض هو الصواب‏.‏
قلت‏:‏ لكن الأول ثبت في لغة نادرة‏.‏
الحديث‏:‏حَدَّثَنَا حَسَّانُ بْنُ أَبِي عَبَّادٍ حَدَّثَنَا هَمَّامٌ حَدَّثَنَا عَطَاءٌ عَنْ جَابِرٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَطْفِئُوا الْمَصَابِيحَ بِاللَّيْلِ إِذَا رَقَدْتُمْ وَغَلِّقُوا الْأَبْوَابَ وَأَوْكُوا الْأَسْقِيَةَ وَخَمِّرُوا الطَّعَامَ وَالشَّرَابَ قَالَ هَمَّامٌ وَأَحْسِبُهُ قَالَ وَلَوْ بِعُودٍ يَعْرُضُهُ
الشرح‏:‏قوله ‏(‏همام‏)‏ هو ابن يحيى، وعطاء هو ابن أبي رباح‏.‏
قوله ‏(‏أطفئوا المصابيح بالليل‏)‏ تقدم شرحه في الذي قبله‏.‏قوله ‏(‏وأغلقوا الأبواب‏)‏ في رواية المستملي والسرخسي ‏”‏ وغلقوا ‏”‏ بتشديد اللام، وتقدم في الباب الذي قبله بلفظ ‏”‏ أجيفوا ‏”‏ بالجيم والفاء وهي بمعنى أغلقوا وتقدم شرحها في ‏”‏ باب ذكر الجن ‏”‏ وكذا بقية الحديث‏.‏
قال ابن دقيق العيد‏:‏ في الأمر بإغلاق الأبواب من المصالح الدينية والدنيوية حراسة الأنفس والأموال من أهل العبث والفساد ولا سيما الشياطين، وأما قوله ‏”‏ فإن الشيطان لا يفتح بابا مغلقا ‏”‏ فإشارة إلى أن الأمر بالإغلاق لمصلحة إبعاد الشيطان عن الاختلاط بالإنسان، وخصه بالتعليل تنبيها على ما يخفى مما لا يطلع عليه إلا من جانب النبوة، قال‏:‏ واللام في الشيطان للجنس إذ ليس المراد فردا بعينه، وقوله في هذه الرواية ‏”‏ وخمروا الطعام والشراب ‏”‏ قال همام‏:‏ وأحسبه قال ‏”‏ ولو بعود يعرضه ‏”‏ وهو بضم الراء بعدها ضاد معجمة، وقد تقدم الجزم بذلك عن عطاء في رواية ابن جريج في الباب المذكور، ولفظه ‏”‏ وخمر إناءك ولو بعود تعرضه عليه ‏”‏ وزاد في كل من الأوامر المذكورة ‏”‏ واذكر اسم الله تعالى ‏”‏ وتقدم في ‏”‏ باب شرب اللبن ‏”‏ من كتاب الأشربة بيان الحكمة في ذلك، وقد حمله ابن بطال على عمومه وأشار إلى استشكاله فقال‏:‏ أخبر صلى الله عليه وسلم أن الشيطان لم يعط قوة على شيء من ذلك، وإن كان أعطى ما هو أعظم منه وهو ولوجه في الأماكن التي لا يقدر الآدمي أن يلج فيها‏.‏قلت‏:‏ والزيادة التي أشرت إليها قبل ترفع الإشكال، وهو أن ذكر اسم الله يحول بينه وبين فعل هذه الأشياء‏.‏ومقتضاه أنه يتمكن من كل ذلك إذا لم يذكر اسم الله، ويؤيده ما أخرجه مسلم والأربعة عن جابر رفعه ‏”‏ إذا دخل الرجل بيته فذكر الله عند دخوله وعند طعامه قال الشيطان‏:‏ لا مبيت لكم ولا عشاء، وإذا دخل فلم يذكر الله عند دخوله قال الشيطان‏:‏ أدركتم ‏”‏ وقد تردد ابن دقيق العيد في ذلك فقال في شرح الإمام‏:‏ يحتمل أن يؤخذ قوله ‏”‏ فإن الشيطان لا يفتح بابا مغلقا ‏”‏ على عمومه، ويحتمل أن يخص بما ذكر اسم الله عليه، ويحتمل أن يكون المنع لأمر يتعلق بجسمه، ويحتمل أن يكون لمانع من الله بأمر خارج عن جسمه، قال‏:‏ والحديث يدل على منع دخول الشيطان الخارج، فأما الشيطان الذي كان داخلا فلا يدل الخبر على خروجه، قال‏:‏ فيكون ذلك لتخفيف المفسدة لا رفعها، ويحتمل أن تكون التسمية عند الإغلاق تقتضي طرد من في البيت من الشياطين، وعلى هذا فينبغي أن تكون التسمية من ابتداء الإغلاق إلى تمامه والله أعلم بالصواب ‏.‏

Kategori
Uncategorized

HUKUM MELAKUKAN SHALAT JUM’AT BUKAN DIMASJID

HUKUM MELAKUKAN SHALAT JUM’AT BUKAN DIMASJID

Assalamualaikum.

Deskripsi masalah

Dalam waqiiyah telah terjadi pada tahun yang silam pelaksanaan demo tepat pada hari Jum’at di Kantor di KPU Pusat terkait penghitungan surat suara pemilihan Presiden dan wakilnya yang dilakukan perhitungan secara Cepat melalui Quick Count  yang tidak sesuai dengan penghitungan secara manual itu semua terjadi dikarenakan Pusat pembangkit listrik terdapat kendala yang mengakibatkan terputusnya jaringan internet yang menyebabkan perhitungan menjadi simpang siur. Maka dalam kondisi yang sedemikian terjadilah demo masyarakat setempat dan masyarakat yang jauh, hingga waktu sholat jum’at hampir masuk mereka berhenti sebentar untuk melakukan shalat jum’at, namun anehnya mereka melakukan shalat jum’at dilapangan dan sebagian shalat diluar Masjid.

Studi kasus yang serupa
Telah terjadi disebagian daerah atau tempat, dimana shalat Jumat tidak didirikan di masjid, hal tersebut dikarenakan terbatasnya luasnya tempat Masjid Keterbatasan dana pembangunan masjid menjadi alasan mereka menunaikan Jumatan di mushala.

Pertanyaannya.

Apakah sah shalat Jumat dilaksanakan diselain Masjid sebagaimana deskripsi

Waalaikum salam.
Jawaban.

Perintah melakukan shalat Jumat terdapat dalam Qur’an surah al-Jumuah (62) ayat 9

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا نُودِيَ لِلصَّلَاةِ مِن يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا إِلَىٰ ذِكْرِ اللهِ وَذَرُوا الْبَيْعَ ۚ ذَٰلِكُمْ خَيْرٌ لَّكُمْ إِن كُنتُمْ تَعْلَمُونَ .


Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat Jumat, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.

Secara eksplisit ayat tersebut menegaskan shalat jum’at tidak di masjid akan tetapi bisa juga di tanah lapang, gedung pertemuan, kantor yang terpenting memenuhi syarat jama’ah. Karena lafal perintah shalat Jumat dalam ayat tersebut bersifat umum tanpa mensyaratkan shalat hanya di satu tempat. Namun demikian ulama fiqih berbeda pandang tentang shalat Jum’at yang dilakukan tidak dimasjid sebagaimana berikut:

1️⃣Menurut mazhab Syafi’i, tidak ada persyaratan bahwa Jumat wajib dilakukan di masjid. Shalat Jumat bisa dilaksanakan di mana saja. Bisa di masjid, mushala, surau atau lapangan, dengan catatan asalkan masih dalam batas wilayah pemukiman warga. Sebagaimana keterangan kitab Fatawiy al-Qubra

الفتاوى الفقهية الكبرى. ج. ١

أَنَّ الْجُمُعَةَ لَا يُشْتَرَطُ لِصِحَّةِ إقَامَتِهَا الْمَسْجِدُ كما صَرَّحُوا بِهِ فَلَوْ أَقَامُوهَا في فَضَاءٍ بين الْعُمْرَانِ صَحَّتْ

“Sesungguhnya Jum’at tidak disyaratkan keshahannya di masjid. Sebagaimana mereka secara tegas berpendapat sekiranya mereka melaksanakan shalat Jum’at di tempat terbuka di antara gedung atau bangunan maka shalatnya sah.

Syekh Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al-Ghazali mengatakan:

الوسيط ج ٢ ص ٢٦٣

وَلَا يُشْتَرَطُ أَنْ يُعْقَدَ الْجُمُعَةُ فِي رُكْنٍ أَوْ مَسْجِدٍ بَلْ يَجُوْزُ فِي الصَّحْرَاءِ إِذَا كاَنَ مَعْدُوْداً مِنْ خِطَّةِ الْبَلَدِ فَإِنْ بَعُدَ عَنِ الْبَلَدِ بِحَيْثُ يَتَرَخَّصُ الْمُسَافِرُ إِذَا انْتَهَى إِلَيْهِ لَمْ تَنْعَقِدْ اَلْجُمُعَةُ فِيْهَا

“Jumat tidak disyaratkan dilakukan di surau atau masjid, bahkan boleh di tanah lapang apabila masih tergolong bagian daerah pemukiman warga. Bila jauh dari daerah pemukiman warga, sekira musafir dapat mengambil rukhshah di tempat tersebut, maka Jumat tidak sah dilaksanakan di tempat tersebut.”

الفقه على المذاهب الأربعة .ج١ص٣٥١-٣٥٢

هل تصح صلاة الجمعة في الفضاء؟
اتفق ثلاثة من الأئمة على جواز صحة الجمعة في الفضاء، وقال المالكية: لا تصح إلا في المسجد وقد ذكرنا بيان المذاهب تحت الخط (١) .
(١) المالكية قالوا: لا تصح الجمعة في البيوت ولا في الفضاء، بل لا بد أن تؤدي في الجامع. الحنابلة قالوا: تصح الجمعة في الفضاء إذا كان قريباً من البناء، ويعتبر القرب بحسب العرف فإن لم يكن قريباً فلا تصح الصلاة، وإذا صلى الإمام في الصحراء استخلف من يصلي بالضعاف. الشافعية قالوا: تصح الجمعة في الفضاء إذا كان قريباً من البناء، وحد القرب عندهم المالكية قالوا: أقل الجماعة التي تنعقد بها الجمعة اثنا عشر رجلاً غير الإمام، ويشترط فيهم شروط: أحدها: أن يكونوا ممن تجب عليهم الجمعة، فلا يصح أن يكون منهم عبد أو صبي أو امرأة، الثاني: أن يكونوا متوطنين، فلا يصح أن يكون منهم مقيم ببلد الجمعة لتجارة مثلاً أو مسافر نوى الإقامة أربعة أيام، الثالث: أن يحضروا من أول الخطبتين إلى تمام الصلاة، فلو بطلت صلاة واحد منهم، ولو بعد سلام الإمام، وقبل سلامه هو، فسدت الجمعة على الجميع؛ الرابع أن يكونوا مالكيين أو حنفيين، فإن كانوا من الشافعية أو الحنابلة الذين يشترطون أن يكون عدد الجماعة أربعين، فلا تنعقد الجمعة بهم إلا إذا قلدوا مالكاً أو أبا حنيفة، ولا يلزم عند إقامة أول جمعة في قرية حضور أهل القرية كلهم، بل يكفي حضور الاثني عشر على الراجح؛ ويشترط في الإمام أن يكون ممن تجب عليه الجمعة ولو كان مسافراً نوى الإقامة أربعة أيام، لكن بشرط أن تكون الإقامة بغير قصد الخطبة، فإن أقام بقصد الخطبة فلا يصح أن يكون إماماً. الحنفية قالوا: يشترط في الجماعة التي تصح بها الجمعة أن تكون بثلاثة غير الإمام، وإن لم يحضروا الخطبة، فلو خطب بحضور واحد، ثم انصرف قبل الصلاة وحضر ثلاثة رجال بعد ذلك وصلى بهم صحت من غير أن يعيد عليهم الخطبة، ويشترط فيها أن يكونوا رجالاً ولو كانوا عبيداً أو مرضى أو مسافرين أو أميين أو بهم صمم، لأنهم يصلحون للإمامة في الجمعة، إما لكل أحد، وإما لمثلهم في الأمي والأخرس بعد أن يخطب واحد غيرهم، إذ لا يشترط أن يكون الخطيب هو إمام الجمعة، فصلاحيتهم للابتداء لغيرهم أولى، بخلاف النساء أو الصبيان، فإن الجماعة في الجمعة لا تصح بهم وحدهم لعدم صلاحيتهم للإمامة بمثلهم فيها ويشترط أن يستمروا مع الإمام حتى يسجد السجدة الأولى. فإن تركوه بعد ذلك بطلت صلاتهم وحدهم وأتمها هو جمعة، وإن تركوه قبل أن يسجد بطلت صلاة الجميع عند أبي حنيفة؛ ويشترط في الإمام أن يكون ولي الأمر الذي ليس فوقه ولي أو من يأذنه بإقامة الجمعة، وهذا شرط في صحة الجمعة، فلو لم يكن الإمام ولي الأمر أو نائبه لم تنعقد الجمعة وصلاها الناس ظهراً،

2️⃣Menurut mazhab Maliki, Jumat wajib dilaksanakan di masjid. Maka menjadi tidak sah pelaksanaan Jumat di selain masjid, seperti mushala. Syekh al-Baji dari kalangan Malikiyyah memberikan syarat lebih ketat lagi, bahwa Jumat harus dilaksanakan di masjid yang masih berbentuk bangunan layaknya arsitektur masjid. Sehingga bila masjid roboh berpuing-puing, maka tidak sah melaksanakan Jumat di tempat tersebut. Pendapat al-Baji tidak disetujui Syekh Ibnu Rusydi. Menurut Ibnu Rusydi, Jumatan di masjid yang roboh tetap sah, sebab statusnya tetap masjid, baik dari sisi penamaan dan hukumnya.

Keterangan tersebut sebagaimana dijelaskan oleh Syekh Abu Abdillah Muhammad bi Yusuf al-Abdari al-Mawaq sebagai berikut:

ـ (وَبِجَامِعٍ) ابْنُ بَشِيرٍ : الْجَامِعُ مِنْ شُرُوطِ الْأَدَاءِ ابْنُ رُشْدٍ : لَا يَصِحُّ أَنْ تُقَامَ الْجُمُعَةُ فِي غَيْرِ مَسْجِدٍ مَبْنِيٍّ 

“Dan disyaratkan pelaksanaannya di masjid Jami’. Syekh Ibnu Basyir berkata, masjid Jami’ merupakan salah satu beberapa syarat pelaksanaan Jum’at. Syekh Ibnu Rusydi berkata, tidak sah mendirikan Jumat di selain masjid yang dibangun.”

المواق التاج والإكليل ج ٢ ص ٢٣٧

 الْبَاجِيُّ : مِنْ شُرُوطِ الْمَسْجِدِ الْبُنْيَانُ الْمَخْصُوصُ عَلَى صِفَةِ الْمَسَاجِدِ فَإِنْ انْهَدَمَ سَقْفُهُ صَلَّوْا ظُهْرًا أَرْبَعًا

“Syekh al-Baji berkata, di antara syaratnya masjid yang dijadikan tempat Jumat adalah bangunan khusus yang sesuai sifatnya masjid. Maka, bila atapnya masjid roboh, jamaah berkewajiban shalat zhuhur empat rakaat.”

 ابْنُ رُشْدٍ : هَذَا بَعِيدٌ ، لِأَنَّ الْمَسْجِدَ إذَا انْهَدَمَ بَقِيَ عَلَى مَا كَانَ عَلَيْهِ مِنْ التَّسْمِيَةِ وَالْحُكْمِ، وَإِنْ كَانَ لَا يَصِحُّ أَنْ يُسَمَّى الْمَوْضِعُ الَّذِي يُتَّخَذُ لِبِنَاءِ الْمَسْجِدِ مَسْجِدًا قَبْلَ أَنْ يُبْنَى وَهُوَ فَضَاءٌ

“Ibnu Rusydi berkata, pendapat al-Baji ini jauh dari kebenaran. Sebab bila masjid roboh, penamaan dan hukumnya masih tetap. Meski tidak sah menamakan tempat yang hendak dibangun masjid sebagai masjid sebelum dibangun. Tempat tersebut disebut dengan tanah lapang.”

3️⃣Menurut Hanafiyah bahwa jum’at dilainnya masjid sepeeti ditanam lapang hukumnya boleh sebagaima keterangan dalam Kitab madzahibul ar-Ba’ah tersebut diatas.  

4️⃣ Menurut Ulama Hambali menyatakan bahwa shalat di padang pasir pun masih sah. Ibnu Qudamah rahimahullah menyatakan dalam kitab al-Mughni.

مغنى المحتاج ج.٣ ص ٢٠٩
وَلَا يُشْتَرَطُ لِصِحَّةِ الْجُمُعَةِ إقَامَتُهَا فِي الْبُنْيَانِ ، وَيَجُوزُ إقَامَتُهَا فِيمَا قَارَبَهُ مِنْ الصَّحْرَاءِ .وَبِهَذَا قَالَ أَبُو حَنِيفَةَ وَقَالَ الشَّافِعِيُّ : لَا تَجُوزُ فِي غَيْرِ الْبُنْيَانِ

“Tidak disyaratkan untuk sahnya jumat untuk dilakukan di masjid. Boleh saja melakukan shalat Jumat di tanah lapang yang dekat dengan bangunan. Demikian juga yang menjadi pendapat dalam madzhab Abu Hanifah. Sedangkan Imam Syafi’i berpendapat bahwa tidak boleh mengerjakan shalat Jumat selain di dalam gedung.”

Dari penjelasan diatas baik melalui dalil al-Qur’an ataupun pendapat ulama kalau ditinjau dari pengertian kata masjid yang secara etimologi memiliki arti tempat sujud.

Dengan demikian, kata masjid tidak terbatas pada masjid yang berupa bangunan yang khusus untuk shalat semata, tetapi di tempat manapun yang dapat dilakukan shalat (sujud) maka dapat difungsikan sebagai masjid. Dalam sebuah hadis disebutkan,

عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: الْأَرْضُ كُلُّهَا مَسْجِدٌ إِلَّا الْحَمَّامَ وَالْمَقْبَرَةَ (رواه الحاكم)

Dari Abī Sa’īd al-Khudrī (diriwayatkan) ia berkata, Rasulullah saw bersabda: Bumi ini semuanya merupakan masjid (tempat sujud untuk shalat) kecuali jamban dan kuburan [HR. al-Ḥākim].

Perluasan makna atas lafal masjid di atas diperkuat oleh perbuatan sahabat Muṣ’ab bin ‘Umair tatkala menjadi utusan Rasulullah ke Madinah setelah Baiat al-Aqabah.
Dalam keterangan yang dinukilkan oleh Ibnu Sa’ad dalam kitabnya Ṭabaqāt al-Kubrā, disebutkan Muṣ‘ab pernah mendirikan shalat Jumat berjamaah di rumah Sa‘ad bin Khaiṡamah,

… فَكَتَبَ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَسْتَأْذِنُهُ أَنْ يُجَمِّعَ بِهِمْ. فَأَذِنَ لَهُ وَكَتَبَ إِلَيْهِ: انْظُرْ مِنَ الْيَوْمِ الَّذِي يَجْهَرُ فِيهِ الْيَهُودُ لِسَبْتِهِمْ فَإِذَا زَالَتِ الشَّمْسُ فَازْدَلِفْ إِلَى اللَّهِ فِيهِ بِرَكْعَتَيْنِ وَاخْطُبْ فِيهِمْ. فَجَمَّعَ بِهِمْ مُصْعَبُ بْنُ عُمَيْرٍ فِي دَارِ سَعْدِ بْنِ خَيْثَمَةَ وَهُمُ اثْنَا عَشَرَ رَجُلا. فَهُوَ أَوَّلُ مَنْ جَمَّعَ فِي الإِسْلامِ جُمُعَةً

.
…Muṣ‘ab kemudian menuliskan surat kepada Rasulullah untuk meminta izin kepada beliau agar bisa mengumpulkan kaum Anshar yang telah masuk Islam untuk mendirikan shalat. Rasulullah pun mengizinkannya dan menuliskan perintah untuk Muṣ‘ab: cermatilah bagaimana persiapan kaum Yahudi untuk beribadah Salat. Tatkala matahari tergelincir (masuk waktu zuhur) bersegeralah engkau menunaikan shalat Jumat menghadap Allah dan berkhutbahlah. Maka Muṣ‘ab mengumpulkan para kaum Anshar di rumah Sa‘ad bin Khaitsamah sebanyak dua belas orang dan itulah shalat Jumat pertama kali yang didirikan di Madinah [Ibn Saʻad, III: 110].

Maka dalam sejarah tercatat bahwa memindahkan lokasi shalat pernah diperbolehkan oleh Rasulullah kepada seorang sahabat bernama ‘Itbān yang meminta izin khusus kepada Nabi saw untuk menjadi imam di rumahnya. Sebagaimana hadis yang diriwayatkan oleh al-Bukhārī,


عن عِتْبَانَ بْنَ مَالِكٍ الأَنْصارِيَّ، ثُمَّ أَحَدَ بَنِي سَالِمٍ، قَالَ: كُنْتُ أُصَلِّي لِقَوْمِي بَنِي سَالِمٍ، فَأَتَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقُلْتُ: إِنِّي أَنْكَرْتُ بَصَرِي، وَإِنَّ السُّيُولَ تَحُولُ بَيْنِي وَبَيْنَ مَسْجِدِ قَوْمِي، فَلَوَدِدْتُ أَنَّكَ جِئْتَ، فَصَلَّيْتَ فِي بَيْتِي مَكَانًا حَتَّى أَتَّخِذَهُ مَسْجِدًا، فَقَالَ أَفْعَلُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ، فَغَدَا عَلَيَّ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَبُو بَكْرٍ مَعَهُ بَعْدَ مَا اشْتَدَّ النَّهَارُ، فَاسْتَأْذَنَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَأَذِنْتُ لَهُ، فَلَمْ يَجْلِسْ حَتَّى قَالَ: أَيْنَ تُحِبُّ أَنْ أُصَلِّيَ مِنْ بَيْتِكَ؟، فَأَشَارَ إِلَيْهِ مِنَ المَكَانِ الَّذِي أَحَبَّ أَنْ يُصَلِّيَ فِيهِ، فَقَامَ، فَصَفَفْنَا خَلْفَهُ، ثُمَّ سَلَّمَ وَسَلَّمْنَا حِينَ سَلَّمَ (رواه البخاري)


Dari Itbān bin Mālik al-Anṣārī, dia berkata, saya menjadi imam shalat kaum saya, Banī Sālim. Lalu saya temui Nabi saw, saya tanyakan kepada beliau, saya tidak bisa terima penglihatan saya, sementara banjir menghalangi rumah saya dengan masjid kaum saya, sungguh saya ingin sekali engkau datang ke rumah saya, engkau tunaikan shalat di rumah saya di tempat yang akan saya jadikan sebagai masjid. Nabi saw menjawab, insya Allah saya datang. Pagi menjelang siang yang memanas Nabi saw bersama Abu Bakar menemui saya. Nabi saw mohon izin masuk dan saya berikan izin. Beliau tidak duduk sampai berkata, di mana engkau ingin saya tunaikan shalat di rumahmu? Kepada beliau saya tunjukkan tempat yang saya ingin beliau shalat. Lalu Rasulullah saw berdiri untuk shalat. Kami berbaris di belakangnya. Beliau tutup shalat dengan salam. Kami pun membaca salam [HR.

Dengan demikian, menambah lokasi pelaksanaan shalat Jumat di selain masjid seperti musala, langgar, tanah lapang, halaman, gedung pertemuan, rumah, ruangan kosong yang telah dipersiapkan untuk tempat ibadah atau tempat-tempat luas lain merupakan hal yang diperbolehkan dikarenakan adanya kemaslahatan (al-ḥājah) yang menuntutnya dan adanya masyaqqah melaksanakannya di tempat terpadu yang biasa dilakukan walaupun dilapangan dengan mengikuti pendapat madzhab ulama yang memperbolehkan. Wallahu A’lam bisshowab

Kategori
Uncategorized

SOLUSI POLIGAMI TANPA MELUKAI HATI

SOLUSI POLIGAMI TANPA MELUKAI HATI

Assalamualaikum.

Assail Ust. Abdul Hamid. Aceh.

Latar belakang Masalah

Poligami atau lebih tepatnya disebut poligini, merupakan satu Isu paling krusial dalam relasi antara umatnya yang laki-laki dan perempuan yang tak pernah selesai diperbincangkan khususnya didunia muslim. Hampir tak ada hari, bulan atau tahun tanpa memperbincangkan isu ini, ia bagaikan dua sisi yang berhadapan dan bertarung ketat dan keras . Relasi dualitas berseteru, antara kenikmatan atau kebutuhan disatu sisi dan kesakitan atau tak penting disisi yang lain. Satu pihak menganggap perlu dan penting, sementara pihak lain menganggap tak perlu, bahkan menciptakan keresahan yang menyakitkan sehingga menjadikan kekacauan dalam rumah tangga.
Di negeri ini ( Indonesia ) fenomena praktek poligami menyeruak dan eksperesif ditengah-tengah kegalauan yang panjang kaum perempuan. Mungkin menarik dikemukakan, seorang tokoh disuatu daerah membawa serta empat orang istrinya dalam acara pelantikannya sebagai anggota Dewan. Usai pelantikan, ia berdiri didepan bublik dengan didampingi empat orang istrinya sambil memperlihatkan wajahnya yang ceria, begitu empat orang istrinya itu . Mereka ingin menunjukkan kepada bublik kebahagiaan dan kebanggaan berpoligami. Belakangan, seorang Wakil kepala daerah tampil kepublik diapit dua orang Istrinya yang baru saja dilantik sebagai kepala desa.
Peristiwa lain yang menarik adalah munculnya inisiasi dari sejumlah tokoh masyarakat disebuah daerah, yakni Aceh, untuk membuat qanun, sebuah regulasi, yang mengatur tentang poligami meski sesungguhnya telah diatur dalam Undang-undang perkawinan No.1/ 1974 DPRD Aceh menyebut qanun Poligami amat vinal untuk mencegah nikah sirri serta menjamin hak perempuan dan anak tak kalah hebohnya, seminar dan ilmu teknik berpoligami diselenggarakan dan ditawarkan dengan bayaran yang cukup mahal disebuah Tempat, dan publik meresponnya dengan penuh antusias. Lebih dari segalanya .
Berangkat dari latar belakang rumusan masalah diatas dapat diangkat sebagai sebuah pertanyaan berikut:

1- Bagaimanakah sebenarnya syarat hukumnya poligami berikut cara agar tak melukai hati (menyakiti ) kepada kedua istri atau antara satu istri dengan istri yang lainnya?

Walaikum salam.
Jawaban.

Sebelumnya penting kami jelaskan pengertian Poligami dari berbagai sudut pandang baik dari segi etemologi maupun termonologi dan juga pendapat Ulama’.

A. Definisi Poligami
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, poligami adalah “Ikatan perkawinan yang salah satu pihak memiliki/mengawini beberapa lawan jenisnya dalam waktu yang bersamaan”. Kata tersebut dapat mencakup poligini yakni “sistem perkawinan yang membolehkan seorang pria mengawini beberapa wanita dalam waktu yang sama”, maupun sebaliknya, yakni poliandri, di mana seorang wanita memiliki/mengawini sekian banyak lelaki.⁵⁰ Dalam hal ini hukumnya haram sebagaimana firman Allah SWT 

وَالْمُحْصَنَاتُ مِنَ النِّسَاءِ إِلَّا مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ، كِتَابَ اللهِ عَلَيْكُمْ، وَأُحِلَّ لَكُمْ مَا وَرَاءَ ذَلِكُمْ أَنْ تَبْتَغُوا بِأَمْوَالِكُمْ مُحْصِنِينَ غَيْرَ مُسَافِحِينَ، فَمَا اسْتَمْتَعْتُمْ بِهِ مِنْهُنَّ فَآتُوهُنَّ أُجُورَهُنَّ فَرِيضَةً، وَلَا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ فِيمَا تَرَاضَيْتُمْ بِهِ مِنْ بَعْدِ الْفَرِيضَةِ، إِنَّ اللهِ كَانَ عَلِيمًا حَكِيمًا (النساء: ٢٣)


Dan diharamkan bagi kalian menikahi para perempuan sedang mempunyai suami, kecuali menyetubuhi para budak perempuan yang kalian miliki; seperti itulah ketentuan muharramatun nisa yang Allah tentukan bagi kalian; dan dihalalkan bagi kalian selain para perempuan yang haram dinikahi itu, agar kalian mencari istri dengan harta-harta kalian dalam kondisi kalian sebagai orang yang menjaga agama kalian dengan mempunyai istri dan dalam kondisi bukan orang yang berzina. Lalu orang yang kalian setubuhi dari para perempuan yang halal dinikahi itu, maka bayarlah maharnya sebagai kefardhuan; dan tidak ada dosa bagi kalian dalam mahar yang kalian saling rela dengannya setelah membayar kadar mahar yang diwajibkan; sungguh Allah adalah Dzat yang Maha Mengetahui dan Maha Bijaksana,” (An-Nisa’: 24).
Adapun Poligami berasal dari bahasa Yunani. Secara etimologis, poligami merupakan derivasi dari kata apolus yang berarti banyak, dan Gamos yang berarti istri atau pasangan. Poligami bisa dikatakan sebagai mempunyai istri lebih dari satu orang secara bersamaan. Adapun secara terminologis, poligami dapat dipahami sebagai suatu keadaan di mana seorang suami mamiliki istri lebih dari satu orang.⁵¹
Istilah poligami dalam bahasa Arab adalah ta‟addud al-zawjāt. Poligami adalah suatu kebolehan suami untuk beristri lebih dari seorang dalam waktu bersamaan. Sebaliknya, perkawinan seorang perempuan dengan beberapa orang laki-laki sering disebut dengan poliandri. Dengan demikian, perkawinan poliandri merupakan lawan dari perkawinan poligami.⁵²
Sedangkan poligami yang berasal dari bahasa Inggris adalah “Poligamy” dan disebut:” تعدد الزوجات dalam hukum Islam, yang berarti beristri lebih dari seorang wanita. Begitu pula dengan istilah poliandri berasal dari bahasa Inggris “Poliandry” dan di sebut تعدد البعول atau تعدد الأزوج dalam hukum Islam, yang berarti bersuami lebih dari seorang pria. Maka poligami adalah seorang pria yang memiliki istri lebih dari seorang wanita, sedangkan poliandri adalah seorang wanita yang bersuami lebih dari seorang.⁵³
Zamakhsyari didalam Tafsir al-Kasyasaaf menerangkan bahwa poligami menurut syari’at Islam adalah rukhshah (kelonggaran) ketika darurat. Sama hal dengan rukhshah bagi musafir dan orang sakit yang dibolehkan berbuka puasa pada bulan Ramadhan ketika dalam perjalanan. Darurat yang dimaksud adalah berkaitan dengan tabiat laki-laki dari segi kecenderungannya untuk bergaul dengan lebih dari seorang istri. Kecenderungan yang ada pada diri seorang laki-laki itulah yang kemudian diatur dalam ajaran Islam. Dalam keadaan seperti itu, seandainya syariat Islam tidak memberikan kelonggaran berpoligami maka akan membuka peluang pada perzinaan itulah sebabnya poligami di perbolehkan dalam Islam. ⁵⁴
Aa Gym menjelaskan berpoligami merupakan ibadah yang dibolehkan dalam syari’at Islam. Realita ditengah masyarakat memandang buruk atau negatif terhadap amaliah poligami. Oleh karena itu diantara tujuan utama beliau berpoligami ialah menghilangkan citra bahwa poligami suatu kekeliruan atau kejahatan, menyadarkan untuk berhati-hati dan tidak menggampangkan berpoligami, karena poligami harus dilakukan dengan persiapan yang baik, kualitatif dan didukung oleh ilmu serta ekonomi yang representatif. Lebih lanjut beliau menuturkan bahwa poligami mengandung unsur penyelamatan serta ikhtiar.⁵⁵
Menurut Prof. Mahmoed Syaltut bahwa poligami menurut asal hukumnya boleh (mubah). Perbuatan ini sejak permulaan Islam menunjukkan bahwa poligami itu di perbolehkan selama tidak dikhawatirkan terjadinya penganiayaan, tetapi jika dikhawatirkan terjadinya penganiayaan tersebut, maka wajiblah mencukupkan istri seorang saja.⁵⁶
Rasyid Ridha mengatakan, sebagaimana yang dikutip oleh Masyfuk Zuhdi, sebagai berikut:
“Islam memandang poligami lebih banyak membawa resiko/mudharat dari pada manfaatnya, karena manusia itu menurut fitrahnya (human nature) mempunyai watak cemburu, iri hati, dan suka mengeluh. Karena itu, poligami hanya diperbolehkan, bila dalam keadaan darurat, misalnya istri ternyata mandul, sebab menurut islam, anak itu merupakan salah satu dari tiga human invesment yang sangat berguna bagi manusia setelah ia meninggal dunia, yakni bahwa amalnya tidak tertutup berkah adanya keturunan yang shaleh yang selalu berdo‟a untuknya”.⁵⁷
Amir Abdul Aziz dalam Tafsir Syamiil mengatakan bahwa Islam pada dasarnya adalah agama yang dapat memahami, yang berdiri berdasarkan keadilan dan penuh dengan pertimbangan serta tidak melampaui batas. Islam tidak mengharuskan menikah hanya sekali saja tapi boleh lebih dari satu, dan islam tidak membiarkan perkara menikah tanpa ada aturan atau tuntunan dan penjagaannya. Bahkan islam memberikan solusi terbaik dalam masalah pernikahan ini. Islam menghimbau untuk segera menikah dan menghindari masa lajang baik laki-laki maupun perempuan. Hal ini dilakukan untuk kemaslahatan umat agar mendapatkan keridhoan dan rasa ketenangan serta kenikmatan dalam rumah tangga. Tetapi jika ada keadaan yang mendesak sehingga sedikit memaksakan sesuatu untuk berpoligami, maka hal itu tidak bisa dihindari untuk poligami.

Islam adalah agama yang sejalan dengan fitrah manusia dan realistis. Ia menghadapi realita kehidupan ini dengan kearifan yang mendidik, menjauhkannya dari sifat melampaui batas sekaligus sikap ceroboh. Hal ini dapat kita saksikan secara jelas dalam memandang masalah poligami. Dengan didasarkan pada pertimbangan-pertimbangan manusiawi yang sangat penting baik secara individu maupun sosial – ia memperbolehkan muslim menikah lebih dari satu perempuan. Bangsa-bangsa dan agama-agama sebelum Islam memperbolehkan kawin dengan perempuan dengan jumlah yang sangat banyak, puluhan hingga ratusan, tanpa syarat dan atau batasan tertentu. Setelah kedatangan Islam, ditentukanlah batas dan syarat-syarat berpoligami itu. Adapun batasannya, Islam mengizinkan batas maksimal empat istri. Ghailan Ats-Tsaqafi ketika masuk Islam ia beristri sepuluh orang. Nabi pun berkata kepadanya.

إختر منهن أربعا وفارق سائرهن


Pilihlah empat diantaranya dan tinggalkan sisanya . ( HR Ahmad, Turmudzi,Ibnu Majah).
Demikian pula orang yang masuk Islam dengan membawa istri delapan atau lima orang Rasulullah melarang mempertahankan kecuali empat diantaranya. Sedangkan perkawinan Rasulullah dengan sembilan orang istri, ini adalah perkecualian yang Allah berikan kepada beliau untuk kebutuhan dakwah dimasa hidupnya. Selain itu, juga kebutuhan umat kepada mereka setelah beliau meninggal .⁵⁸

B. SYARAT-SYARAT POLIGAMI

Adapun persyarat-persyarat seseorang yang berpoligami yaitu : ⁵⁹

  1. Pertama, istri mempunyai suatu penyakit yang tidak dapat disembuhkan sehingga mempengaruhi kehidupan rumah tangga. Dalam kasus ini suami tidak bisa bersabar dalam waktu yang lama sampai dia takut terlibat dalam hal yang dilarang islam, maka suami diperbolehkan untuk poligami.
  2. Kedua, Istri tidak dapat melahirkan. Jika tidak diperbolehkan untuk suami menikah lagi maka tidak akan ada keturunan atau anak dalam pernikahan. Dan manusia dikemas pada cinta keturunan, yang tetap merindukan dan bertemu dengan anak-anak dan cucu-cucu mereka sendiri. Dengan demikian akan terasa lengkap kehidupan mereka bila adanya keturunan sehingga tidak terjadi hal yang dapat mengganggu pernikahan.
  3. Ketiga, Masa-masa Peperangan, itu adalah fakta yang tidak diragukan lagi yang terjadi dari waktu ke waktu. Dimana adanya perselisihan manusia yang menimbulkan persaingan dan pertikaian yang menghancurkan. Masyarakat dan negara-negara beragam sepertinya mereka tidak takut untuk melakukan cara- cara yang paling keras dalam menyesaikan masalah dan perselihan. Sehingga dalam masa-masa peperangan tersebut banyak kaum laki-laki yang terbunuh. Pada hakikatnya peperangan mengharuskan laki-laki untuk pergi dan perempuan tetap tinggal. Dan perkara ini sangat jelas, karena akan terjadi kesenjangan antara jumlah laki-laki dan jumlah perempuan dimana jumlah laki-laki lebih sedikit dibanding perempuan, maka diperbolehkanlah untuk berpoligami kalau terjadi masa-masa seperti ini, masalah ini akan terjadi didalam lingkungan masyarakat atau manusia.
  4. Keempat, tabayun antara istri dan suami. Dalam arti ada perkara-perkara antara suami dan istri yang harus dibicarakan untuk kelangsungan hidup rumah tangga. Karena dalam urusan hidup setiap manusia berbeda-beda baik itu dalam masalah akhlak, prestasi, kesanggupan, kecerdasan, dan dari segi mental, psikologis, spiritual dan fisik, dan dalam hal keuangan atau makanan, begitu juga dalam hal seks. Maka ketika mereka dipisahkan dari hal ini, akan ada kesenjangan antara jiwa dan keinginan yang kuat. Ini semua sudah menjadi ketentuan Allah dan semua makhluk ciptaannya.⁶⁰
    Menurut Musdah Mulia, poligami adalah ikatan perkawinan yang salah satu pihak (suami) mengawini beberapa (lebih dari satu) istri dalam waktu yang bersamaan. Selain poligami, dikenal juga poliandri yaitu seorang istri mempunyai beberapa suami dalam waktu yang bersamaan. ⁶¹

Pandangan para fuqaha dalam masalah poligami dapat diigolongkan menjadi tiga, yakni:

  1. Mereka yang berpegang pada ketidakbolehan menikahi wanita lebih dari satu, kecuali dalam kondisi tertentu. Yang berpendapat seperti ini adalah para fuqahȃ (pemikir) mutakhir seperti Syah Waliyullah, Sayyid Ahmad Khan, Muhammad Abduh, Ameer Ali, Qasim Amin, dan Fazlur Rahman.
  2. Mereka yang menyakini kebolehan menikahi wanita lebih dari satu sampai empat. Pendapat seperti ini dipegang oleh jumhur ulama salaf.
  3. Menikahi wanita bahkan lebih dari empatpun boleh. Pendapat seperti ini disampaikan oleh ulama Dzahiri.⁶²

Pendapat yang lebih ekstrim datang dari Muhammad Abduh yang mengatakan bahwa hukum poligami bagi orang yang merasa khawatir tidak akan berlaku adil adalah haram. Poligami hanya dibolehkan jika keadaan benar-benar memaksa seperti tidak dapat mengandung. Kebolehan poligami juga mensyaratkan kemampuan suami untuk berlaku adil. Ini merupaka sesuatu yang sangat berat, seandainya manusia tetap bersikeras berlaku adil tetap saja ia tidak akan mampu membagi kasih sayangnya secara adil.⁶³
Di dalam undang-undang Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan Bab 1 Dasar Perkawinan Pasal 3 yang berbunyi:

1) Pada asasnya dalam suatu perkawinan seorang pria hanya boleh mempunyai seorang istri. Seorang wanita hanya boleh mempunyai seorang suami.

2) Pengadilan, dapat memberi izin kepada seorang suami untuk beristri lebih dari seorang apabila dikehendaki oleh pihak-pihak yang bersangkutan.⁶⁴
Dari undang-undang di atas dapat disimpulkan bahwa seorang laki-laki boleh mempunyai istri lebih dari satu apabila di izinkan oleh pengadilan bagi seorang pegawai negeri. Seorang laki-laki boleh menikah lebih dari satu kali karena mudarat karena hal-hal seperti seorang istri tidak bisa memberikan keturunan kepadanya dan suami istri tersebut ingin mempunyai anak maka seorang suami boleh menikah lagi, karena istrinya sakit dan tidak bisa mengurus suaminya maka seorang suami boleh menikah lagi.
Meski dalam pasal 3 ayat 1 undang-undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang perkawinan disebutkan bahwa pada dasarnya dalam suatu perkawinan seorang suami hanya boleh mempunyai seorang istri, dan seorang perempuan hanya boleh mempunyai seorang suami. Namun dalam ayat disebutkan bahwa pengadilan dapat memberi ijin pada seorang suami untuk beristri lebih dari seorang bila dikehendaki oleh pihak-pihak yang bersangkutan. ⁶⁵
Sedangkan dalam pasal 4 selain mengatur mengenai bagaimana prosedur mengajukan permohonan untuk melakukan poligami, dalam ayat 2 disebutkan alasan-alasan yang memungkinkan pengadilan untuk mengijinkan poligami. Yaitu bila istri tidak dapat menjalankan kewajibannya sebagai istri, bila istri mendapat cacat badan atau penyakit yang tidak dapat disembuhkan dan bila istri tidak dapat melahirkan keturunan. Selain itu, dalam komplikasi Hukum Islam-aturan hukum yang dipakai umat muslim dalam hukum perdata beracara pada pasal 55 ayat 2 disebutkan syarat-syarat suami untuk melakukan poligami,
“Syarat utama beristri lebih dari seorang, suami harus mampu berlaku adil terhadap istri-istri dan anak-anaknya”. ⁶⁶
Suami wajib berlaku adil terhadap istri-istrinya dalam urusan: pangan, pakaian, tempat tinggal, giliran berada pada masing-masing istri, dan lainnya yang bersifat kebendaan, tanpa membedakan antara istri yang kaya dengan istri yang miskin, yang berasal dari keturunan tinggi dengan yang berasal dari golongan bawah. Berkenaan dengan ketidak adilan suami terhadap istrinya, Nabi Saw bersabda:

عن ابى هريرة أن النبي صلى الله عليه وسلم قال من كانت له إمرأتان فمال إلى أحدهما جاء يوم القيامة وشقه مائل ( رواه ابوا داود والترميذي والنسائي وابن حبان)

“Dari Abu Hurairah ra. Sesungguhnya Nabi saw bersabda: Barang siapa yang mempunyai dua orang istri, lalu memberatkan kepada salah satunya, maka ia akan datang pada Hari Kiamat dengan bahunya miring”. ⁶⁷
Mengenai adil terhadap istri-istri dalam masalah cinta dan kasih sayang, Abu Bakar bin Araby mengatakan bahwa hal ini berada di luar kesanggupan manusia, sebab cinta itu adanya dalam genggaman Allah Swt yang mampu membolakbalikannya menurut kehendak-Nya.

Oleh karena itu Rasulullah Shollallahu alaihi wasallam dulu membagi-bagi secara adil dan belua berdo’. Sehubungan dengan keadilan , Aisyah r.a. berkata “

كان رسول الله صلى الله عليه يقسم فيعدل ويقول اللهم هذا قسمي فيما أملك فلا تَلُمْنِي فيما تملك ولاأملك قال أبوداود يعني القلب (ابوا داود والترميذي والنسائي وابن حبان

Rasulullah SAW selalu membagi giliran sesama istrinya dengan adil. Dan beliau pernah berdo‟a: Ya Allah, ini bagianku yang dapat aku kerjakan. Karena itu, janganlah Engkau mencelakakanku tentang apa yang Engkau Kuasai sedangkan aku tidak mengusainya. Abu Daud berkata: Yang dimaksud dengan „Engkau Kuasai tetapi aku tidak menguasai‟ yaitu hati”.

Maksudnya jangan disiksa karena hal yang tidak dimiliki, menyangkut masalah hati dan kecenderungan perasaan secara husus kepada salah satu diantara mereka. Jika hendak bebergian beliau mengundi mereka. Barang siapa diantara nama mereka muncul dialah yang berhak bersamanya. Beliau lakukan itu semata untuk menghindari penyesalan dan kelanggengan hati.
Menurut Al-Khattabi, hadits tersebut sebagai penguat adanya wajib melakukan pembagian yang adil terhadap istri-istrinya yang merdeka, dan makruh bersikap berat sebelah dalam menggaulinya, yang berarti mengurangi haknya, tetapi tidak di larang untuk lebih mencintai perempuan yang satu daripada yang lainnya, karena masalah cinta berada di luar kesanggupannya. ⁶⁸
Rasulullah Saw. memberi peringatan kepada si lelaki yang telah selesai melakukan ijab qabul dengan wali si perempuan agar dia berlaku baik terhadap istrinya sebab sejak ijab qabul tersebut tanggung jawab atas perempuan telah berpindah dari tangan orang tuanya kepada suaminya. Rasulullah Saw bersabda:

إستوصوا بالنساء خيرا أخذتمو هن بأمانة الله واستحللتم فروجهن بكلمات الله ( رواه البخارى ومسلم

“Aku diperingatkan kepada kamu agar kamu berlaku baik kepada istri-istri kamu. Karena kamu mengambil dia adalah sebagai amanah dari Allah dan telah menjadi halal kehormatannya bagi kamu dengan kalimat Allah. (H.R. Bukhari dan Muslim)”. ⁶⁹
Dari penjelasan hadits dan juga pendapat ulama” berserta Undang- undang perkawinan sebagaimana tersebut diatas, manakala seorang suami telah memenuhi terhadap hak-haknya atau kewajiban-kewajiban kepada istrinya, maka tidaklah mungkin istri-istrinya merasa tersakiti , karena timbul rasa sakit atau merasa tersakiti pada umumnya adalah disebabkan tidak terpenuhinya syarat berpoligami dan tidak terealisasinya sebuah keadilan. Oleh karenanya maka untuk mencover atau menutupi rasa sakitnya seorang istri karena dimadu itu bergantung pada keadilan sang suami dalam berpoligami dan kesabaran istri, karena jika suami yang berpoligami sudah sesuai dengan aturan syariat ( Adil ) tidaklah mungkin antara yang satu dengan yang lainnya merasa tersakiti. Kalau memang masih ada yang tersakiti padahal suami sudah adil, maka hal tersebut bukanlah hal yang timbul dari suami, melainkan timbul dari perindividu istri itu sendiri dan seorang suami tidaklah berdosa melainkan berdosa adalah ditanggung pribadi seorang istri, Allah SWT berfiman :

لِيَتَّخِذْ أَحَدُكُمْ قَلْبًا شَاكِرًا وَلِسَاناً ذَاكِرًا وَزَوْجَةً مُؤْمِنَةً تُعِيْنُ أَحَدَكُمْ عَلَى أَمْرِ الْآخِرَةِ

Di antara contoh istri yang sabar adalah seperti pahala Siti Asiyah istri Fir’aun yang dzalim. Begitu hebat Siti Asiyah menghadapi siksaan dan kedzaliman suaminya yang mengaku dirinya sebagai Tuhan. Siti Asiyah menghadapi siksaan ini dengan penuh kesabaran disertai senyuman dalam setiap rasa sakit yang ia terima sampai maut menjemputnya, sehingga namanya tercatat sebagai wanita mulia yang dijamin masuk surga atas kesabarannya menghadapi akhlak buruk suaminya. Rasulullah SAW bersabda :

مَن صَبَرَت عَلى سوءِ خُلُقِ زَوجِها؛ أعطاها مِثلَ ثَوابِ آسِيَةَ بِنتِ مُزاحِمٍ

Jika seorang istri sabar menghadapi keburukan akhlak suaminya, maka Allah akan memberikan pahala seperti yang diberikan kepada Asiyyah istri Fir’aun. “(H.R Muslim).

Islam menuntut dari seorang muslim yang akan melakukan poligami adalah keyakinan dirinya bahwa ia bisa berlaku adil diantara dua istri atau istri- istrinya baik dalam hal makanan, minuman, tempat tinggal, pakaian, dan nafkah. Barang siapa kurang yakin akan kemampuannya memenuhi hak-hak tersebut dengan seadil-adilnya, haramlah baginya menikah dengan lebih dari satu perempuan . Allahberfirman.

وإن خفتم أن لاتعدلوا فواحدة

Dan jika kalian hawatir tidak bisa berlaku adil cukuplah satu saja.( Annisa’ ;3).

C HISTORIS

Sebelum datangnya Islam, masyarakat Arab khususnya yang hidup di Jazirah Arab telah mempraktekkan poligami yang dilakukan tanpa ada batasan. Sejumlah riwayat menceritakan bahwa rata-rata pemimpin suku ketika itu memiliki puluhan istri, bahkan tidak sedikit kepala suku yang mempunyai sampai ratusan istri.⁷⁰
Poligami dalam sejarah manusia ternyata mengikuti cara pandang masyarakat terhadap kaum perempuan. Ketika masyarakat memandang kedudukan dan derajat perempuan itu sebagai makhluk yang hina, maka poligami menjadi subur (banyak dilakukan), sebaliknya pada masa masyarakat memandang kedudukan dan derajat perempuan itu terhormat, poligamipun berkurang.⁷¹
Sesungguhnya telah terjadi berbagai penafsiran dan pendapat tentang asal mula kejadian perempuan. Pertanyaan yang sering muncul adalah: Apakah dia diciptakan dari tanah seperti Adam, atau dia justru diciptakan dari bagian tubuh Adam. Pembicaraan dalam masalah ini dimulai dari penafsiran surah An-Nisa’ ayat pertama, yaitu:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ ٱتَّقُوا۟ رَبَّكُمُ ٱلَّذِى خَلَقَكُم مِّن نَّفْسٍ وَٰحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَآءً ۚ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ ٱلَّذِى تَسَآءَلُونَ بِهِۦ وَٱلْأَرْحَامَ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

“Artinya: Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang Telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya Allah menciptakan isterinya; dan dari pada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan Mengawasi kamu”.⁷²
Pendapat para ulama tentang kejadian perempuan dari lelaki, khususnya Hawa yang tercipta dari tulang rusuk Adam, bukan tanpa alasan. Sebab ada informasi dari hadis sahih seperti berikut:

وعن أبي هريرةَ قال : قالَ رسول ُ اللَّه ﷺ: اسْتوْصُوا بِالنِّساءِ خيْرًا، فإِنَّ المَرْأَةَ خُلِقَتْ مِنْ ضِلَعٍ، وَإِنَّ أَعْوجَ مَا في الضِّلَعِ أَعْلَاهُ، فَإِنْ ذَهبْتَ تُقِيمُهُ كَسرْتَهُ، وإِنْ تركتَهُ لَمْ يَزلْ أَعوجَ، فاستَوْصُوا بِالنِّسَاءِ متفقٌ عَلَيهِ.

Dari Abu Hurairah Ra.Rasulullah SAW bersabda;” Nasahatilah perempuan itu dengan baik karena dia diciptakan dari tulang rusuk. Dan yang paling bengkok dari tulang rusuk itu adalah bahagian atas. Jika kamu memaksa untuk meluruskannya pasti kamu akan mematahkan dan jika kamu membiarkannya dia akan tetap bengkok”, Nasehatilah perempuan itu ( HR. Bukhari Muslim )
Pada hadis di atas jelas terlihat bahwa perempuan itu dikatakan seperti tulang rusuk yang bengkok, bukan diciptakan dari tulang rusuk yang bengkok. Artinya tulang rusuk bengkok itu bukan asal, tetapi gambaran sikap dasar perempuan. Sebab ada sifat-sifat dasar yang harus dipahami oleh lelaki dan perlu disikapi dengan penuh kebijaksanaan.⁷³
Jika perempuan itu mitra para lelaki maka kedua jenis manusia ini harus seiring selangkah, saling memahami. Sikap superior dan infirior sewajarnya ditiadakan sebab kemitraan pada hakikatnya adalah memadukan kelebihan dan melengkapi kekurangan kedua belah pihak karena tidak menutup kemungkinan diantara keduanya ada kelemahan dan kekurangan untuk saling menutupi diantara keduanya, karena seorang perempuan ( istri ) adalah pakaian bagi seorang suami, begitu juga suami adalah pakaian bagi seorang istri guna untuk saling menutupi kekurangan atau aib diantara keduanya sehingga nantinya terbentuk keluarga dan masyarakat paripurna, sebagaimana Allah berfirman dalam al-Qur’an:”

هُنَّ لِبَاسٌ لَّكُمْ وَأَنتُمْ لِبَاسٌ لَّهُنَّ

Mereka adalah pakaian bagimu, dan kamupun adalah pakaian bagi mereka. QS Al Baqarah 2: 187.

Oleh karenanya bahwa inti dari ajaran Islam adalah memuliakan kedudukan dan kejadian perempuan karena tidak memuliakan kepada perempuan ( istri ) kecuali orang yang mulia sebagaimana Rasulullah SAW bersabda:”

مَا أَكْرَمَ النِّسَاءَ إِلاَّ كَرِيْمٌ ، وَمَا أَهَانَهُنَّ إِلاَّ لَئِيْمٌ

“Tidak menghormati kepada perempuan ( para wanita/istri kecuali laki-laki ( suami ) yang terhormat. Dan tidak merendahkan/menghina kepada perempuan para wanita ( istri ) kecuali laki-laki ( suami ) yang rendah/hina“.“

Islam tidak membedakan di antara perempuan dan lelaki dalam aspek kemuliaan karena, Keduanya adalah manusia yang utuh berasal dari keturunan Adam. Ini yang diungkapkan Allah dalam Al-Qur’an surah Al-Isra’ ayat: 70

وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِي آدَمَ وَحَمَلْنَاهُمْ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَرَزَقْنَاهُم مِّنَ الطَّيِّبَاتِ وَفَضَّلْنَاهُمْ عَلَىٰ كَثِيرٍ مِّمَّنْ خَلَقْنَا تَفْضِيلًا﴾ الإسراء: ٧٠

Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan. ⁷⁴

Wanita memang pernah tertindas dalam sejarah. Misalnya saja dalam sejarah bangsa Arab, bahkan di sejarah bangsa mana pun di dunia ini kaum hawa di masa lampau mengalami hal yang sama. Pada masa Jahiliah, sebelum datangnya suatu ajaran agama yang disebut Islam, tidak dapat dipungkiri bahwa nasib wanita di kala itu memang sangat terpinggirkan dan tertindas di bawah kesewenang-wenangan dan hegemoni kaum lelaki. ⁷⁵
Al-Qur’an menyebutkan perilaku orang-orang Arab jahiliyah bahwa mereka mengubur hidup-hidup anak-anak perempuan mereka karena takut menanggung cela atau makan bersama mereka. Dalam pandangan mereka, wanita tak lebih dari barang warisan sehingga seorang anak laki-laki bisa menikahi istri ayahnya (setelah kematian ayahnya) dan melarang mereka untuk menikah sepanjang masa.⁷⁶
Dengan banyak cara dan berbagai argumentasi. Secara rasional objektif biasanya pendukung poligami sering memakai alasan demografi dengan mengatakandi dunia ini jumlah perempuan lebih banyak dari pada laki-laki, maka poligami akan membantu semua lelaki dan perempuan secara legal formal untuk dapat menikmati seks dan memperoleh keturunan.⁷⁷

Berbicara poligami, kita akan teringat adanya fenomena yang mengundang kontroversi diberbagai kalangan. Tidak hanya kaum aktivis perempuan dan agamawan yang mengomentari fenomena ini, tetapi juga para artis yang ikut dalam debat publik menyikap poligami Award. ⁷⁸

Di India, juga di negeri Islam dan non-Islam lainnya, poligami diserang oleh mereka yang mendukung hak-hak perempuan bahkan. Bukan ha-nya Islam tapi juga semua agama, adat dan tradisi yang terkait yang memperbolehkan beristri lebih dari satu. Mitos dan legenda Hindu bertutur tentang ratusan istri dari beberapa dewa, misalnya, Krishna. Bahkan sebagian Kulin Brahmin memiliki istri lusinan di Bengan Tengah.⁷⁹

Peraturan poligami sebenarnya telah dikenal dan dibolehkan sebelum Islam lahir dan itu berlaku dikalangan penganut agama-agama ardi seperti Berhalaisme, Majusi, dan Budha. Agama-agama ini membolehkan praktek poligami dengan jumlah yang tidak terbatas. Begitupula dalam agama Masehi, tidak ada keterangan yang melarang pengikutnya untuk berpoligami dengan dua perempuan atau lebih.⁸⁰

Dalam agama Hindu, poligami dilakukan sejak zaman bahari. Seperti yang dilakukan oleh beberapa bangsa lain, poligami yang berlaku dalam agama Hindu tidak mengenal batasan tertentu mengenai jumlah perempuan yang boleh dinikahi. Hal tersebut juga membudayakan dan melembaga pada masyarakat Israel sebelum datangnya Nabi Musa a.s. Kebiasaan perkawinan poligami tersebut kemudian diupayakan oleh Talmud di Yerussalem untuk dihapuskan.⁸¹

Agama Yahudi memperbolehkan perkawinan poligami dengan tanpa batasan tertentu. Dalam tradisi Kristen, poligami dijalankan sampai adanya aturan Yustinus. Kebiasaan sebelumnya, tidak ada aturan khusus yang membahas masalah perkawinan tersebut. Perkembaangan modern menyebabkan banyaknya pandangan yang mengutuk perkawinan poligami. Barat mengklaim perkawinan tersebut adalah sesuatu yang tidak bermoral. ⁸²

Dalam kajian antropologi yang mempelajari pola-pola kebudayaan masyarakat, perkawinan antara laki-laki dan perempuan mengakibatkan munculnya suatu kelompok kekerabatan (kin group) yang disebut keluarga inti (nuclear family). Tradisi praktek poligami ini diperkuat oleh masuknya agama Islam ke tanah Nusantara yang mulai menyebar secara luas di awal abad ke 13. Ajaran Islam memang membolehkan poligami, meskipun dibatasi empat istri.⁸³

Melalui perspektif antropologi dan sejarah, terlihat bahwa praktek poligami pada masyarkat-masyarakat pra-industrial, di samping berkaitan dengan pemuasan hasrat seksual, juga terkait dengan persoalan pembagian kerja seksual. Ajaran Islam yang seharusnya tidak membelenggu perempuan, malah kemudian melebur dalam budaya dan struktur patriarki dengan membolehkan laki-laki untuk beristri lebih dari satu. ⁸⁴

Pada masa Nabi Muhammad, ada seorang sahabat yang bernama Ghilan AtTsauqfi. Dia mempunyai sepuluh orang istri. Hal ini dilaporkan pada Nabi, kemudian beliau menyuruhnya untuk mengambil hanya empat dari sepuluh istri tersebut. Riwayat ini membuktikan bahwa poligami merupakan respons sosiologis dan antropologis Al-Qur’an atas masyarakat saat itu. Bilangan empat bukan lagi diartikan sebagai batas maksimal untuk masa sekarang, tetapi batas maksimal untuk masa lalu. Namun, para ahli fiqih yang notabene ulama laki-laki, sering menjadikan batas maksimal 4 yang seringkali menafsirkan ajaran-ajaran Islam masa lalu secara tekstual, tanpa melihat kondisi perubahan yang terjadi dalam masyarakat, seolah-olah keberlakuannya universal dan abadi.⁸⁵

D. NASH

Islam adalah agama yang sesuai dengan fitrah manusia dan selalu terjun dalam suatu realita, mendidik dan menjauhkan dari sikap teledor dan bermalas-malas. Syarat yang ditentukan Islam untuk poligami ialah terpercayanya seorang muslim terhadap dirinya, bahwa dia sanggup berlaku adil terhadap semua istrinya baik tentang soal makannya, minumnya, pakaiannya, tempat tidurnya mahupun nafakahnya. Siapa yang tidak mampu melaksanakan keadilan ini, maka dia tidak boleh kahwin lebih dari seorang.⁸⁶

Bentuk perkawinan dalam Islam ada dua, yaitu monogami dan poligami. Monogami merupakan bentuk perkawinan yang alami, karena di dalamnya terdapat semangat yang eksklusif dalam melimpahkan rasa kasih sayang, cinta dan pelayanan seksual sepasang suami istri tanpa berbagi dengan orang lain. Lawan dari kata monogami adalah poligami, berarti perkawinan dengan lebih dari seorang perempuan.86 Firman Allah dalam surat An-Nisa ayat 3 yang berbunyi:

وَاِنْ خِفْتُمْ اَلَّا تُقْسِطُوْا فِى الْيَتٰمٰى فَانْكِحُوْا مَا طَابَ لَكُمْ مِّنَ النِّسَاۤءِ مَثْنٰى وَثُلٰثَ وَرُبٰعَۚ فَاِنْ خِفْتُمْ اَلَّا تَعْدِلُوْا فَوَاحِدَةً اَوْ مَا مَلَكَتْ اَيْمَانُكُمْۗ ذٰلِكَ اَدْنٰٓى اَلَّا تَعُوْلُوْاۗ ٣

” Artinya :” Jika kamu khawatir tidak akan mampu berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yatim (bilamana kamu menikahinya), nikahilah perempuan (lain) yang kamu senangi: dua, tiga, atau empat. Akan tetapi, jika kamu khawatir tidak akan mampu berlaku adil, (nikahilah) seorang saja atau hamba sahaya perempuan yang kamu miliki. Yang demikian itu lebih dekat untuk tidak berbuat zalim.
Poligami tidak akan ada kecuali jika membludaknya jumlah perempuan. Tujuan mengapa harus disyariatkan poligami adalah agar tidak ada satu pun perempuan muslimah di mana pun mereka berada hidup dalam sebuah masyarakat tanpa memiliki suami. Semuanya bertujuan agar lingkungan tersebut terbebas dari kesesatan dan perempuan ketika mereka mendapat posisi sebagai istri kedua tidak akan melakukan hal yang menyimpang.⁸⁷

Sebenarnya poligami disyariatkan untuk memecahkan berbagai problematika hidup yang dialami oleh kaum perempuan. Di samping itu, untuk mengatasi penyimpangan yang terjadi dalam tubuh masyarakat seandainya terdapat jumlah perempuan yang sangat besar. Sistem poligami ini kebanyakan dapat menjaga kehidupan istri yang pertama dan kedua. Karena tidak setiap prolem atau  masalah menjadikan negatif sehingga orang tersebut terpuruk, lemah dan bahkan merasa kehilangan harga diri-nya. Tetapi, ada juga yang karena mendapatkan problem atau  masalah menjadikan orang tersebut termotivasi  menjadi lebih baik dan bahkan menjadi lebih kuat dari sebelumnya.

Masalahnya sekarag ini adalah, sebagian lakilaki yang ingin atau telah melakukan praktik poligami sering mengabaikan unsur keadilan yang telah Allah syaratkan kepada laki-laki ketika ingin melakukan praktik poligami. ⁸⁸

Allah berfirman dalam surah An-Nisa ayat 129 tentang keadilan berpoligami yang berbunyi:

وَلَنْ تَسْتَطِيْعُوْٓا اَنْ تَعْدِلُوْا بَيْنَ النِّسَاۤءِ وَلَوْ حَرَصْتُمْ فَلَا تَمِيْلُوْا كُلَّ الْمَيْلِ فَتَذَرُوْهَا كَالْمُعَلَّقَةِ ۗوَاِنْ تُصْلِحُوْا وَتَتَّقُوْا فَاِنَّ اللّٰهَ كَانَ غَفُوْرًا رَّحِيْمًا

” Artinya:” Dan kamu tidak akan dapat berlaku adil di antara istri-istri(mu), walaupun kamu sangat ingin berbuat demikian, karena itu janganlah kamu terlalu cenderung (kepada yang kamu cintai), sehingga kamu biarkan yang lain terkatung-katung. Dan jika kamu mengadakan perbaikan dan memelihara diri (dari kecurangan), maka sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.

Ayat ini menjelaskan bahwa kamu wahai para suami sekali-kali tidak akan dapat berlaku adil, yakni tidak dapat mewujudkan dalam hati kamu secara terusmenerus keadilan dalam hal cinta di antara istri-istri kamu walaupun kamu sangat ingin berbuat demikian, karena cinta di luar kemampuan manusia untuk mengaturnya. Karena itu, berlaku adillah sekuat kemampuan kamu, yakni dalam hal-hal yang bersifat material, dan kalaupun hatimu lebih mencintai salah seorang atas yang lain, maka aturlah sedapat mungkin persaan kamu sehingga janganlah kamu terlalu cenderung kepada istri yang kamu cintai dan mendemontrasikan serta menumpahkan semua cintamu kepadanya, sehingga kamu biarkan isrtimu yang lain terkatung-katungtidak merasa diperlakukan sebagai istri dan tidak juga dicerai sehingga bebas untuk menikah atau melakukan apa yang dikehendakinya. Dan jika kamu setiap saat dan bersinambung mengadakan perbaikan dengan menegakkan keadilan yang diperintahkan Allah dan bertakwa, yakni menghindari aneka kecurangan serta memelihara diri dari segala dampak buruk, maka Allah akan mengampuni pelanggaran-pelanggaran kecil yang kamu lakukan karena sesunguhnya Allah selalu Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.⁸⁹

E. Kesimpulan.
Poligami adalah ikatan yang salah satu pihak mengawini beberapa lawan jenisnya dalam waktu bersamaan yang mana kata tersebut dapat mencakup poligini yakni sistem perkawinan yang memperbolehkan seorang pria mengawini beberapa wanita dengan minimalnya dua sedangkan maksimal empat wanita yang hukumnya diperbolehkan dalam Islam dengan didasarkan atas keyakinan terhadap kemampuan dirinya untuk adil dalam memberikan nafkah dhahir batin , pakaian makanan tempat terhadap istr-istrinya dengan berpijak pada tuntunan Al-Qur’an dan Assunnah serta undang-undang perkawinan yang berlaku. ⁹⁰ Akan tetapi sebaliknya jika tidak optimis/ tidak percaraya diri atau tidak ada adanya keyakinan terhadap kemampuan dirinya sehingga tidak terpenuhinya syarat poligami maka hukumnya haram.⁹¹

Dengan demikian timbulnya adanya prolematika yang menyebabkan lukanya hati ( tersakitinya) salah satu dari istrinya adalah dikarenakan tidak adanya keadilan dalam arti suaminya tidak memenuhi terhadap hak-haknya atau tidak memenuhi syarat dalam berpoligami apalagi bersikap kasar bahkan menghinanya maka ini bisa tersakiti karena perempuan semuanya tercipta dari tulang yang bengkok yang mudah fatah jika diperlakukan secara kasar dan bukan secara bijaksana. Akan tetapi sebaliknya apabila suami adil dalam arti telah memenuhi terhadap hak-haknya serta menggaulinya secara makruf dan lemah lembut, maka akan tertanam kehidupan keluarga yang sakinah mawaddah warohmah hatinya tenang tentram rukun dan penuh kedamaian dalam berumah tangga ” بيتي جنتي rumahku adalah surgaku . Wallahu A’lam bisshowab.


REFERENSI / DAFTAR PUSTAKA

⁵⁰: Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama, 2008), hlm, 1089.

⁵¹:Rodli Makmun, dkk, Poligami dalam Tafsir Muhammad Syahrur, (Ponorogo: STAIN Ponorogo Press, 2009), hlm, 15.

⁵²: M. Alfatih Suryadilaga, Sejarah Poligami dalam Islam, Musãwa: Jurnal Studi Gender dan Islam, Vol1Maret 2002

⁵³: Mahyuddin, Masailul Fiqhiyah, (Jakarta: Kalam Mulia, 2003), hlm, 39-40.

⁵⁴:Jurnal RISALAH, Vol. 26, No. 2, Juni 2015: 58.

⁵⁵: Jurnal RISALAH, hlm, 59.

⁵⁶: Ibid, hlm, 59.

⁵⁷: Halal dan haram Dr Susuf Al-Qardhawi, hal.

⁵⁸: Ghazaly ABD Rachman, Fiqih Munakahat, cet.2, (Jakarta: Kencana, 2003), hlm, 130-131.

⁵⁹: Amir Abdul Aziz, Tafsir Al-Syamiil Al-Qur‟anulkarim, Jilid 2, (Al-Azhar: Dar Al Salam, 2000/1420 H), hlm, 652.

⁶⁰: Amir Abdul Aziz, Tafsir Syamiil Al-Qur‟anulkarim, Jilid 2, hlm, 652-653.

⁶¹: Siti Musdah Mulia, Islam Menggugat Poligami, (Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 2003), hlm,43.

⁶²:Fayumi Badriyah, dkk, Isu-Isu Gender Dalam Islam, cet.1, (Jakarta: PSW UIN Syarif Hidayatullah, 2002), hlm, 52.

⁶³: Attan Navaron, Konsep Adil dalam Poligami (Studi Analisis Pemikiran M. Qurasyi Shihab) Skripsi, ( Semarang: IAIN Walisongo, 2010), hlm, 46.

⁶⁴: Mardani, Hukum Islam (Kumpulan Peraturan tentang Hukum Islam di Indonesia), (Jakarta: Kencana, 2013), hlm, 69.

⁶⁵:Vony Reynata, Kebijakan Poligami: Kekerasan Negara Terhadap Perempuan, Jurnal Perempuan (untuk pencerahan dan kesetaraan), Menimbang Poligami, (Jakarta: Yayasan Jurnal Perempuan, 2003), hlm, 11.

⁶⁶: Vony Reynata, hlm, 11-12.

⁶⁷:Gazaly ABD Rachman, hlm, 131-133

⁶⁸: Ibid, hlm, 133.

⁶⁹: Hamka, Buya Hamka Berbicara tentang Perempuan, (Jakarta: Gema Insani, 2015), hlm, 71-72.

⁷⁰:Fayumi Badriyah, dkk, Isu-Isu Gender Dalam Islam, hlm, 42.

⁷¹: Ibid, hlm, 42.

⁷²:.Al-Qur’an, Surah An-Nis, Ayat:1.30

⁷³: Amin Saidul, Filsafat Feminisme ( Studi Kritis Terhadap Gerakan Pembaharuan Perempuan di Dunia Barat dan Islam), (Pekanbaru: CV Mulia Indah Kemala, 2015), hlm, 101-102.

⁷⁴: Op. Cit, hlm, 102-103.

⁷⁵: Eka Kurnia, Poligami Siapa Takut?, (Jakarta: Qultum Media, 2006), hlm, 14.

⁷⁶: Al-Ghamidi Ali bin Sa’id, Fikih Wanita, (Jakarta: Aqwam 2012), hlm, xix.

⁷⁷: Kristi Poerwandri, Ilusi Poligami, Jurnal Perempuan (untuk pencerahan dan kesetaraan), Menimbang Poligami, (Jakarta: Yayasan Jurnal Perempuan, 2003), hlm, 19.

⁷⁸: Leli Nurohmah, Poligami, Saatnya Melihat Realitas, Jurnal Peremppuan, Menimbang Poligami,(Jakarta: Yayasan Jurnal Perempuan, 2003), hlm, 31.

⁷⁹: Engineer Asghar Ali, Matinya Perempuan (Menyingkap Megaskandal Doktrin dan Laki-laki),(Yogyakarta: IRCiSoD, 2003), hlm, 131.

⁸⁰: Engineer Asghar Ali, hlm, 33.

⁸¹: M. Alfatih Suryadilaga, Musãwa Jurnal Studi Gender dan Islam, hlm, 3.

⁸²: Ibid, hlm, 4.

⁸³: Budi Radjab, Meninjau Poligami: Perspektif Antropologi dan Keharusan Mengubahnya, Jurnal Perempuan (untuk pencerahan dan kesetaraan) Menimbang Poligami, (Jakarta: Yayasan Jurnal Perempuan, 2003), hlm, 69-74.

⁸⁴: Budi Radjab, Jurnal Perempuan, hlm, 80-81.

⁸⁵: Ibid, hlm, 81.

⁸⁶: Qardhawi Muhammad Yusuf, Halal Dan Haram Dalam Islam, (Singapura: pt. Bina ilmu, 1993), hlm,

⁸⁷: Usman, Perdebatan Masalah Poligami dalam Islam, An-Nida: Jurnal Pemikiran Islam, Vol.39,No.1 Januari-Juni 2014.hlm 130

⁸⁸: Syaikh Mutawalli As-Sya’rawi, Fikih Perempuan ( Muslimah), Sinar Grafika Offset: Amzah, hlm,, 184.

⁸⁹: Ibid, hlm, 185-186.

⁹⁰: M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Misbah (Pesan, Kesan dan Keserasian al-Qur‟an), Volume 2…, hlm,606-607.
⁹¹: Fiqhul Islamiy Waadillatuhu Syaikh Wah ah Azzuhailiy

كتاب الحلال والحرام للشيخ الدكتور يوسف القرضاوي رحمه الله

:الزواج بأكثر من واحدة ، الإسلام دين يلائم الفطرة ، ويعالج الواقع ، بما يهذبه ، ويبعد به عن الإفراط والتفريط
. زوجات وهذا ما نشاهده جليًّا في موقفه من تعدد الزوجات
فإنه العتبارات إنسانية هامة ، فردية واجتماعية ، أباح للمسلم أن يتزوج
. بأكثر من واحدة
كان كثير من الأمم والملل قبل الإسلام ، يبيحون التزوج بالجم وقد الغفير من النساء ، قد يبلغ العشرات ، وقد يصل إلى المائة والمئات ، دون اشتراط لشرط،ولاتقيد بقيد ، فلما جاء الإسلام وضع لاعدد الزوجات قيدا وشرطا .فأماالقيد فجعل الحد الأقصى للزوجات أربعا . وقد أسلم غيلان الثقفي وتحته عشر نسوة فقال له النبي إختر منهن أربعا وفارق سائرهن . وكذلك من أسلم عن ثمانية نهاه رسول الله أن يمسك منهن إلا أربعا. أما زواج الرسول بتسع نسوة فكان هذا شيأ خصه الله به لحاجة الدعوة فى حياته وحياة الأمة إليهن بعد وفاته.
العدل شرط فى إباحة التعدد.
أما الشرط الذي إشترطه الإسلام للتعدد الزوجات فهو ثقة المسلم
أن يعدل بين زوجتيه او زوجاته فى المأكل والمشرب والملبس والمسكن والمبيت والنفقة ومن لم يثق فى نفسه والقدر ة على آداء هذه الحقوق بالعدل والسوية ، حرم عليه أن يتزوج بأكثر من واحدة .قال تعالى فإن خفتم أن لاتعدلوا فواحدة . ( النساء.٣).وقال النبي صلى الله عليه وسلم من كانت له إمرأتان يميل لإحداهما على الأخرى جاء يوم القيامة يجر أحد شقيه مائل رواه أحمد فى مسنده والميل الذي حذر من هذا الحديث هو الجور على حقوقها لا مجر الميل القلبي ، فإن هذا داخل فى العدل لايستطاع ، والذي عفى الله عنه وسامح فى شأنه قال سبحانه وتعالى ولن تستطيعوا ان تعدلوا بين النساء ولو حرصتم فلا تميلوا كل الميل (النساء .١٢٩) ولهذا كان رسول الله يقسم ويعدل ويقول ؛ اللهم هذا قسمي فيما أملك فلا تلمني فيما تملك ولاعمرك. يعني بما لايملكه أمر القلب والميل العطافي إلى إحداهن خاصة
وكان إذا أراد سفر حكم بينهن القرعة فأيتهن خرج سهما سفربها ، وإنما فعل ذلك دفعات لوخر الصدور وترضية للجمع

الفقه الإسلامي وأدلته، ٩/١٦٠

فَلَا تَعْنِي أَنَّ كُلَّ مُسْلِمٍ يَتَزَوَّجُ أَكْثَرَ مِنْ وَاحِدَةٍ، بَلْ أَصْبَحَ مَبْدَأَ وَحْدَةِ الزَّوْجَةِ هُوَ الْغَالِبُ الْأَعْظَمُ. قُيُوْدُ إِبَاحَةِ التَّعَدُّدِ : اشْتَرَطَتِ الشَّرِيْعَةُ لِإِبَاحَةِ التَّعَدُّدِ شَرْطَيْنِ جَوْهَرِيَيْنِ هُمَا: ١) تَوْفِيْرُ الْعَدْلِ بَيْنَ الزَّوْجَاتِ: أَيْ العَدْلُ الَّذِيْ يَسْتَطِيْعُهُ اْلِإنْسَانُ، وَيَقْدِرُ عَلَيْهِ، وَهُوَ التَّسْوِيَّةُ بَيْنَ الزَّوْجَاتِ فِي النَّوَاحِي الْمَادِيَّةِ مِنْ نَفَقَةٍ وَحُسْنِ مُعَاشَرَةٍ وَمَبِيْتٍ. ;إِلَى أَنْ قَالَ) القُدْرَةُ عَلَى الْإِنْفَاقِ: لَا يَحِلُّ شَرْعاً الِإقْدَامُ عَلَى الزَّوَاجِ، سَوَاءٌ مِنْ وَاحِدَةٍ أَوْ مِنْ أَكْثَرَ إِلَّا بِتَوَافُرِ القُدْرَةِ عَلَى مُؤَنِ الزَّوَاجِ وَتَكَالِيْفِهِ، وَالْاِسْتِمْرَارُ فِي أَدَاءِ النَّفَقَةِ الْوَاجِبَةِ لِلزَّوْجَةِ عَلَى الزَّوْجِ، لِقَوْلِهِ : يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ، مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمْ البَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ… وَالْبَاءَةُ: مُؤْنَةُ النِّكَاحِ. ( (فَإِنْ اشْتَدَّ الشِّقَاقُ) أَيْ الْخِلَافُ بَيْنَهُمَا بِأَنْ دَامَا عَلَى التَّسَابِّ وَالتَّضَارُبِ (بَعَثَ) الْقَاضِي (حَكَمًا مِنْ أَهْلِهِ وَحَكَمًا مِنْ أَهْلِهَا) لِيَنْظُرَا فِي أَمْرِهِمَا بَعْدَ اخْتِلَاءِ حَكَمِهِ بِهِ، وَحَكَمِهَا بِهَا وَمَعْرِفَةِ مَا عِنْدَهُمَا فِي ذَلِكَ، وَيُصْلِحَا بَيْنَهُمَا أَوْ يُفَرِّقَا إنْ عَسُرَ الْإِصْلَاحُ عَلَى مَا سَيَأْتِي قَالَ تَعَالَى:وَإِنْ خِفْتُمْ شِقَاقَ بَيْنِهِمَا فَابْعَثُوا حَكَمًا إلخ ، وَهَلْ بَعْثُهُ وَاجِبٌ، أَوْ مُسْتَحَبٌّ وَجْهَانِ صَحَّحَ فِي الرَّوْضَةِ، وُجُوبَهُ لِظَاهِرِ الْأَمْرِ فِي الْآيَةِ (وَهُمَا وَكِيلَانِ لَهُمَا وَفِي قَوْلٍ) حَاكِمَانِ (مُوَلَّيَانِ مِنْ الْحَاكِمِ) لِأَنَّ اللَّهَ تَعَالَى سَمَّاهُمَا حَكَمَيْنِ، وَالْوَكِيلُ مَأْذُونٌ لَيْسَ بِحَكَمٍ، وَوَجْهُ الْأَوَّلِ أَنَّ الْحَالَ قَدْ يُؤَدِّي إلَى الْفِرَاقِ وَالْبُضْعُ حَقُّ الزَّوْجِ، وَالْمَالُ حَقُّ الزَّوْجَةِ وَهُمَا رَشِيدَانِ، فَلَا يُوَلَّى عَلَيْهِمَا فِي حَقِّهِمَا (فَعَلَى الْأَوَّلِ يُشْتَرَطُ رِضَاهُمَا) بِبَعْثِ الْحَكَمَيْنِ (فَيُوَكِّلُ) هُوَ (حَكَمَهُ بِطَلَاقٍ وَقَبُولِ عِوَضِ خُلْعٍ وَتُوكِلُ) هِيَ (حَكَمَهَا بِبَذْلِ عِوَضٍ وَقَبُولِ طَلَاقٍ بِهِ)، وَيُفَرِّقُ الْحَكَمَانِ بَيْنَهُمَا إنْ رَأَيَاهُ صَوَابًا وَعَلَى الثَّانِي لَا يُشْتَرَطُ رِضَاهُمَا بِبَعْثِ الْحَكَمَيْنِ، وَإِذَا رَأَى حَكَمُ الزَّوْجِ الطَّلَاقَ اسْتَقَلَّ بِهِ وَلَا يَزِيدُ عَلَى طَلْقَةٍ وَإِنْ رَأَى الْخُلْعَ، وَوَافَقَهُ حَكَمُهَا تَخَالَعَا وَإِنْ لَمْ يَرْضَ الزَّوْجَانِ ثُمَّ الْحَكَمَانِ يُشْتَرَطُ فِيهِمَا عَلَى الْقَوْلَيْنِ مَعًا الْحُرِّيَّةُ وَالْعَدَالَةُ وَالِاهْتِدَاءُ إلَى مَا هُوَ الْمَقْصُودُ مِنْ بَعْثِهِمَا دُونَ الِاجْتِهَادِ، وَتُشْتَرَطُ الذُّكُورَةُ عَلَى الثَّانِي وَكَوْنُهُمَا مِنْ أَهْلِ الزَّوْجَيْنِ أَوْلَى لَا وَاجِبٌ.
حاشيتا قليوبي وعميرة، ١٢/٢٢٧
أيماامْرَأَةٍ سَأَلَتْ زَوْجَهَا الطَّلَاقَ) فِي رِوَايَةٍ طَلاَقَهَا (مِنْ غَيْرِ مَا بَأْسٌ) بِزِيَادَةِ مَا للِتَّأْكِيْدِ وَالْبَأْسُ الشِّدَّةُ أَيْ فِي غَيْرِ حَالَةِ شِدَّةٍ تَدْعُوْهَا وَتُلْجِئُهَا إِلَى الْمُفَارَقَةِ كَأَنْ تَخَافَ أَنْ لَا تُقِيْمَ حُدَوْدَ اللهِ فِيْمَا يَجِبُ عَلَيْهَا مِنْ حُسْنِ الصُّحْبَةِ وَجَمِيْلُ الْعُشْرَةِ لِكَرَاهَتِهَا لَهُ أَوْ بَأَنْ يُضَارَّهَا لِتَنْخَلَعَ مِنْهُ (فَحَرَامٌ عَلَيْهَا) أَيْ مَمْنُوْعٌ عَنْهَا (رَائِحَةُ الْجَنَّةِ) وَأَوَّلُ مَا يَجِدُ رِيْحَهَا الْمُحْسِنُوْنَ الْمُتَّقُوْنَ لَا أَنَّهَا لَا تَجِدُ رِيْحَهَا أَصْلًا فَهُوَ لِمَزِيْدِ الْمُبَالَغَةِ فِي التَّهْدِيْدِ وَكَمْ لَهُ مِنْ نَظِيْرٍ. قَالَ اْبنُ الْعَرَبِيِّ: هَذَا وَعِيْدٌ عَظِيْمٌ لَا يُقَابِلُ طَلَبُ الْمَرْأَةِ الْخُرُوجَ مِنَ النِّكَاحِ لَوْ صَحَّ. وَقَالَ ابْنُ حَجَرٍ: الأَخْبَارُ الْوَارِدَةُ فِي تَرْغِيْبِ الْمَرْأَةِ مِنْ طَلَبِ طَلَاقِ زَوْجِهَا مَحْمُولَةٌ عَلَى مَا إِذَا لَمْ يَكُنْ سَبَبٌ يَقْتَضِي ذَلِكَ. (فيض القدير، ١٧٨/٣) الْمَسْأَلَةُ الْخَامِسَةُ: إِذَا وَقَعَ الشِّقَاقُ بَيْنَهُمَا، فَذَاكَ الشِّقَاقُ إِمَّا أَنْ يَكُوْنَ مِنْهُمَا أَوْ مِنْهُ أَوْ مِنْهَا، أَوْ يُشْكَلُ، فَاِنْ كَانَ مِنْهَا فَهُوَ النُّشُوْزُ وَقَدْ ذَكَرْنَا حُكْمَهُ، وَاِنْ كَانَ مِنْهُ، فَاِنْ كَانَ قَدْ فَعَلَ فِعْلًا حَلَالَا: مِثْلَ التَّزَوُّجِ بِامْرَأَةٍ أُخْرَى، أَوْ تَسَرِّي بِجَارِيَةٍ، عَرَفَتِ الْمَرْأَةُ أَنَّ ذَلِكَ مُبَاحٌ وَنُهِيَتْ عَنِ الشِّقَاقِ، فَاِنْ قَبِلَتْ وَإِلَّا كَانَ نُشُوْزَا، وَإِنْ كَانَ بِظُلْمٍ مِنْ جِهَتِهِ أَمَرَهُ الْحَاكِمُ بِالْوَاجِبِ، وَإِنْ كَانَ مِنْهُمَا أَوْ كَانَ الْأَمْرُ مُتَشَابِهًا، فَالْقَوْلُ أَيْضاً مَا قُلْنَاهُ. (تفسير الفخر الرازى، ١٤٤٤/١) (وَيَسْتَحِقُّ الْقَسْمَ مَرِيضَةٌ) وَقَرْنَاءُ (وَرَتْقَاءُ وَحَائِضٌ وَنُفَسَاءُ) وَمَنْ آلَى مِنْهَا أَوْ ظَاهَرَ وَمُحْرِمَةٌ وَمَجْنُونَةٌ لَا يَخَافُ مِنْهَا. قَالَ الْغَزَالِيُّ: وَكَذَا كُلُّ مَنْ بِهَا عُذْرٌ شَرْعِيٌّ أَوْ طَبِيعِيٌّ؛ لِأَنَّ الْمَقْصُودَ مِنْهُ الْأُنْسُ لَا الِاسْتِمْتَاعُ. أَمَّا الْمَجْنُونَةُ الَّتِي يَخَافُ مِنْهَا وَلَمْ يَظْهَرْ مِنْهَا نُشُوزٌ وَهِيَ مُسَلِّمَةٌ لَهُ فَلَا يَجِبُ لَهَا قَسْمٌ كَمَا بَحَثَهُ الزَّرْكَشِيُّ وَإِنْ اسْتَحَقَّتْ النَّفَقَةَ، فَهِيَ مُسْتَثْنَاةٌ مِنْ قَوْلِنَا: وَضَابِطُ مَنْ يَسْتَحِقُّ الْقَسْمَ كُلُّ مَنْ وَجَبَتْ نَفَقَتُهَا وَلَمْ تَكُنْ مُطَلَّقَةً لِتَخْرُجَ الرَّجْعِيَّةُ. وَيُسْتَثْنَى مِنْ اسْتِحْقَاقِ الْمَرِيضَةِ الْقَسْمَ مَا لَوْ سَافَرَ بِنِسَائِهِ فَتَخَلَّفَتْ وَاحِدَةٌ لِمَرَضٍ فَلَا قَسْمَ لَهَا وَإِنْ كَانَتْ تَسْتَحِقُّ النَّفَقَةَ كَمَا نَقَلَهُ الْبُلْقِينِيُّ عَنْ تَصْرِيحِ الْمَاوَرْدِيُّ وَأَقَرَّهُ. وَضَابِطُ مَنْ لَا يَسْتَحِقُّهُ كُلُّ امْرَأَةٍ لَا نَفَقَةَ لَهَا فَلَا تَسْتَحِقُّهُ أَمَةٌ لَمْ تُسَلِّمْ لِلزَّوْجِ لَيْلًا وَنَهَارًا، وَلَا الصَّغِيرَةُ الَّتِي لَا تُطِيقُ الْوَطْءَ، وَلَا الْمَحْبُوسَةُ، وَلَا الْمَغْصُوبَةُ، وَ (لَا نَاشِزَةٌ) بِخُرُوجِهَا عَنْ طَاعَةِ زَوْجِهَا كَأَنْ خَرَجَتْ مِنْ مَسْكَنِهِ بِغَيْرِ إذْنِهِ، أَوْ لَمْ تَفْتَحْ لَهُ الْبَابَ لِيَدْخُلَ، أَوْ لَمْ تُمَكِّنْهُ مِنْ نَفْسِهَا بِلَا عُذْرٍ لَهَا كَمَرَضٍ وَإِلَّا فَهِيَ عَلَى حَقِّهَا كَمَا قَالَهُ الْمَاوَرْدِيُّ، أَوْ دَعَاهَا فَاشْتَغَلَتْ بِحَاجَتِهَا، أَوْ ادَّعَتْ الطَّلَاقَ، وَفِي مَعْنَى النَّاشِزِ الْمُعْتَدَّةُ عَنْ شُبْهَةٍ لِتَحْرِيمِ الْخَلْوَةِ بِهَا، وَنُشُوزُ الْمَجْنُونَةِ كَالْعَاقِلَةِ لَكِنَّهَا لَا تَأْثَمُ. (مغني المحتاج إلى معرفة ألفاظ المنهاج، /١٣/١٢٤)

والله أعلم بالصواب

Kategori
Uncategorized

HUKUM PENCERAMAH NGELAWAK DITINJAU DARI MAQASID SYARIAH

HUKUM PENCERAMAH NGELAWAK DITINJAU DARI MAQASID SYARIAH

Assalamualaikum.
Deskripsi masalah

Dalam berbagai kegiatan yang bersifat Keagamaan baik acara Harlah pesantren haflatul imtihan, Walimatul Urs, walimatul Hitan, walimatul aqiqoh, walimatul Safar ibadah haji, peringatan Maulid Nabi, peringatan 10 Asyura’ Isra’ mi’raj dll yang dikemas didalamnya dengan pengajian umum, maka terkadang kita menemukan Muballig/Penceramah yang suka humor, itu semua sebagai metode untuk memotivasi jama’ah agar giat, dalam berhidmad mendengarkan fatwa dari muballig, namun demikian ada muballig yang pernah ditemukan oleh salah satu Aktifis atau orang yang gemar Ngaji dalam acara pengajian umum bahkan ucapannya sering diungkapkan oleh penceramah dalam berhumor dan bercanda yang isinya membingungkan bagi orang yang cerdas dan berpengalaman dalam bidang ilmu agama sebagaimana ayat yang disamapaikan dalam al-Qur’an .


بسم الله الرحمن الرحيم
والذين كذبوا بايتنا


dia mengungkapkan

والْ والْ والَّذين كذْ كذّ بوا بآ بآ بآ بئ بآبئ

Yang semestinya dibaca

والذين كذبوا بآياتنا سنستدرجهم من حيث لا يعلمون )

Atau dalam ayat lain

وَالَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا صُمٌّ وَبُكْمٌ فِي الظُّلُمَاتِ

Dalam hal kasus tersebut berlu adanya tanggapan yang serius terkait hukumnya humor ditinjau dari maqoshid assyariyah mengingat itu adalah ayat al-Qur’an sebagai kalamullah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW sementara dijadikan ngelawak hingga merubah huruf.

PERTANYAAN :

Sejauh mana hukum muballig diperbolehkan kan ngelawak dalam berceramah?
Apakah ucapan tersebut dlm kasus dibenarkan ditinjau dari maqoshid asyyariah.?

Mohon pencerahan wahai kiyai

Waalaikum salam.
Jawaban
Hukumnya muballig ngelawak atau bercanda diperbolehkan selama atau sejauh ngelawaknya syar’iy, namun jika isinya ngelawak atau candaan diluar syar’iy seperti dusta tidak sesuai dengan kenyataan maka hukumnya dosa apalagi humor yang mengarah pada kemurtadan ini sangat berbahaya yang seharusnya penceramah lebih hati-hati agar tidak diikuti oleh orang awam, kecuali sebagai contoh/atau mencontohkan maka tidak masalah.
Dalam hal kasus diatas sama dengan santri baru yang biasa dites terlebih dahulu oleh tim penguji dulu dimasa saya adalah Ust. Suroto, dan juga saya, Ust.Rofiuddin, dll. ketika saya menguji ada sebagian santri baru dites lewat bacaan al-Qur’an ini adalah kenyataan seperti bacaan awal surat.

حم عسق

Ini dibaca Hama Asaqo’ yang semestinya dibaca

حا ميم ، عين سين، قاف

lalu dibaca

حَمَ عَسَقَ

Maka bacaan tersebut jelas salah dalam kaidah ilmu tajwid .

Jadi jika seorang muballigh atau guru mencontohkan mana yang benar dan salah maka tidak berpengaruh pada kemurtadan karena tujuannya adalah maslahah mencontohkan agar bisa dipahami mana yang benar dan yang salah karena ungkapan main-main ataupun yang tidak main tetap dihukumi serius hanya ada tiga yaitu:

عن أبي هريرة أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: “ثلاث جِدُّهُنَّ جِدٌّ، وهَزْلُهُنَّ جِدٌّ: النكاح، والطلاق، والرَّجْعَةُ”.  
[حسن] – [رواه أبو داود والترمذي وابن ماجه]
المزيــد …


Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah -ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam- bersabda, “Tiga perkara, seriusnya adalah serius, dan candanya adalah serius, yaitu; nikah, perceraian, dan rujuk (membatalkan perceraian).”  
Hadis hasan – Diriwayatkan oleh Ibnu Mājah
Uraian Hadis ini menunjukkan bahwa barangsiapa yang mengucapkan lafal akad nikah, talak, atau rujuk dengan bercanda maka hal itu jatuh karena sikap sengaja, serius dan bercanda memiliki hukum yang satu pada perkara-perkara ini. Barangsiapa yang melangsungkan akad atas wanita yang di bawah perwaliannya, menceraikan istrinya, atau merujuknya, maka hal itu akan terlaksana tatkala ia melafalkan akadnya, baik itu secara serius, bercanda, atau main-main, karena akad-akad ini tidak memiliki khiyār al-majlis (hak pilihan antara melanjutkan dan membatalkan di lokasi transaksi), dan tidak pula khiyār asy-syarṭ (hak pilih dalam persyaratan). Ketiga hukum ini kedudukannya sangat agung dalam syariat. Oleh karena itu, tidak boleh bermain-main dan bercanda dengannya. Barangsiapa mengucapkan salah satu dari hukum-hukum ini maka ia terkena konsekuensinya

Kesimpulan ucapan seorang muballig jika tujuannya untuk maslahat seperti dalam mencontohkan mana yang bacaan lancar tartil dan tidak lancar atau mana yang salah dan benar maka tidak termasuk dosa walau dengan ucapannya menjadi humor bagi pendengar, namun demikian untuk menjaga kehatian-hatian lebih baik melawak dengan ucapan sekiranya tidak su’ul adab dengan bacaan al-Qur’an yang seharusnya harus dibaca dengan khusyu’ , kenapa demikian karena setidaknya ada dua alasan.

  1. Yang dibaca adalah al-Qur’an sebagai kalam Allah bukan perkataan manusia yang seharusnya dibaca dengan berakhlak.
  2. agar tidak ditiru oleh orang awam kerena orang awan tidak lah tahu menahu tentang hukum agama dan sehingga hal tersebut menjerumuskan pada perbuatan dosa. sebagaimana keterangan dalam Kitab ihya’ dan Sullamut Taufiq berikut:

Al-Ghazali dalam kitab Ihya’ Ulumiddin.

فالقارئ ينبغي أن يحضر فى قلبه عظمة المتكلم ويعلم أنما يقرءه ليس من كلام البشر.

Artinya:” Sudah sepantasnya pada diri orang yang membaca Al-Qur’an untuk menghadirkan dalam hatinya akan keagungan Allah. Dan mengetahui bahwa apa yang sedang dibacanya itu bukanlah dari perkataan manusia.
Allah berfirman dalam al-Qur’an.

أفلايتدبر القرآن أم على قلوب أقفالها.

Artinya:” Apakah mereka tidak memperhatikan Al-Qur’an atau hati mereka yang terkunci. ( QS.Muhammad; 24)

Dalil sullamuttaufiq

قال المؤلف رحمه الله تعالى :
وقد كثر في هذا الزمان التساهل في الكلام حتى انه يخرج من بعضهم ألفاظ تخرجهم عن الاسلام ولا يرون ذلك ذنبا فضلا عن كونه كفرا……………..إلى أن قال .أو [أنْ] يَقُولَ [الشَّخْصُ] شَيْئًا مِنْ نَحْوِ هٰذِهِ الألْفاظِ البَشِعَةِ الشَّنِيعَةِ؛
وقَدْ عَدَّ الشَّيْخُ أحْمَدُ ابْنُ حَجَرٍ والقاضِي عِياضٌ رَحِمَهُما اللهُ في كِتابَيْهِما “الإعْلامُ” و”الشِّفا” شَيْئًا كَثِيرًا [مِنَ المُكَفِّراتِ] ، فَيَنْبَغِي الاطِّلاعُ عليه، فَإنَّ مَنْ لم يَعْرِفِ الشَّرَّ يَقَعْ فيه.
قاعِدَةٌ لِمَعْرِفَةِ كَثِيرٍ مِنَ الكُفْرِ:
وحاصِلُ [أيْ حُكْمُ] أَكْثَرِ تلْكَ العِباراتِ يَرْجِعُ إلى [قاعِدَةِ] أنَّ كُلَّ عَقْدٍ أو فِعْلٍ أو قَوْلٍ يَدُلُّ على اسْتِهانَةٍ أو اسْتِخْفافٍ بِاللهِ، أو كُتُبِهِ، أو رُسُلِهِ، أو مَلائِكَتِهِ، أو شَعائِرِ أو مَعالِمِ دِينِهِ، أو أحْكامِهِ، أو وَعْدِهِ، أو وَعِيدِهِ، كُفْرٌ ومَعْصِيَةٌ، فَلْيَحْذَرِ الإنْسانُ مِنْ ذٰلك جَهْدَهُ.

ا

“Pada zaman ini benar-benar telah banyak peremehan ( Gampang ) terhadap suatu perkataan, sehingga keluar dari sebagian orang kata-kata yang dapat mengeluarkan mereka dari Islam, dan mereka tidak menyangka bahwa itu dosa apalagi kekufuran”…………….hingga sampai pada perkataan Mushonnif – atau berkata selain dgn kata2 tersebut(mulai awal )tapi sama buruknya dgn kata2 diatas juga menjadikannya murtad,

Imam Syeikh Ahmad bin Hajar dalam kitab Al-I’lamu Biqowatihil islam, menghitung dan menerangkan banyak masalah murtad dan imam Qodi iyad juga demikian dalam kitab Assyifa, seyogyanya kita melihat dua kitab itu, siapa yang tak mengerti keburukan, tentu jatuh kedalamnya.

Alhashil segala ungkapan-ungkapan tersebut adalah dikembalikan kepada kaidah, setiap keyakinan, perbuatan dan perkataan yang menunjukkan terhadap penghinaan atau merendahkan Allah SWT, kitab-kitabnya, para Rasulnya, Malaikatnya, syi’ar-syiarnya atau tanda-tanda kebenarannya, janji dan ancaman-ancamannya adalah bentuk kekufuran atau kemaksiatan.Maka manusia hendaknya harus menjauhi hal tersebut dengan sungguh-sungguh.

إن العبد ليتكلم بالكلمة لا يرى بها بأسا يهوي بها في النار سبعين خريفا

“Sungguh ada seorang hamba yg berbicara dengan suatu perkataan yg dia tidak menyangka bahwa ada bahaya dalam perkataan itu, (meskipun demikian) dia tetap jatuh ke neraka yg jaraknya sampai ke dasar perjalanan 70 tahun” HR at Tirmidzi
Neraka yg jarak tempuhnya 70 tahun perjalanan adalah dasar Jahannam yg dikhususkan hanya untuk orang-orang kafir.

Disatu sisi metode dakwah itu penting dan tidak bisa diabaikan. Sebagaimana kaidah:


الطريقة اهم من المادة


“Metode penyampaian itu lebih penting daripada materi yang akan disampaikan”.
Di sinilah kita bisa memahami, bila metode dakwah kurang tepat maka dikhawatirkan kebenaran tidak begitu diminati dan kebatilan ( perbuatan  dosa ) begitu larisnya. Namun di sisi lain tidak sedikit penjelasan adanya larangan bercanda yang tidak syar’i seperti candaan dusta, sebagaimana dalam kitab Jami’us Shaghir juz 1 halaman 197, Toko kitab Alhidayah Surabaya:

ويل للذي يحدث فيكذب ليضحك به القوم ويل له ويل له (رواه احد وأبو داوود والترمذي والحاكم)

Lantas apakah gurauan dalam berdakwah hukumnya dilarang ?  Jawabnya “Ia” jika itu candaan yang tidak syar’i seperti ifrath ( berlebih-lebihan dll. Adapun candaan yang syar’i hukumnya boleh bahkan bisa sunnah.
Dalam kitab Al Adzkarun Nawawiyyah hlm.289-290, Darul Jawahir, imam Nawawi menjelaskan bahwa bercanda yang hukum asalnya boleh (mubah), bisa menjadi sunnah apabila bertujuan untuk mewujudkan kebaikan, atau untuk menghibur lawan bicara atau untuk mencairkan suasana yang beku.


قال العلماء; المزاح المنهي عنه ، هو الذي فيه إفراط ويداوم عليه ، فإنه يورث الضحك وقسوة القلب ، ويشغل عن ذكر الله تعالى والفكر في مهمات الدين ، ويؤول في كثير من الأوقات إلى الإيذاء ، ويورث الأحقاد ، ويسقط المهابة والوقار . فأما ما سلم من هذه الأمور ، فهو المباح الذي كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يفعله ، فإنه صلى الله عليه وسلم إنما كان يفعله في نادر من الأحوال لمصلحة ، وتطييب نفس المخاطب ومؤانسته ، وهذا لا مانع منه قطعا ، بل هو سنة مستحبة إذا كان بهذه الصفة.

Yang dilarang adalah melawak ataupun bercanda dengan kebohongan. Kalau melawak ataupun bercanda dengan sesuatu yang benar maka itu Nabi ﷺ juga melakukannya.
Yang dimaksud kalimat yang diucapkan untuk membuat tertawa orang lain yang menyebabkan masuk neraka dalam hadits tersebut adalah perkataan yg mengandung unsur ghibah (menggunjing/membicarakan kejelekan orang lain) atau yang menyakiti hati bukan sekedar bercanda biasa.


إحياء علوم الدين ج ٣ ص ١٤٠ مكتبة الشاملة
وأما قوله صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ الرَّجُلَ لَيَتَكَلَّمُ بالكلمة ليضحك بها الناس يهوى بها في النار أبعد من الثريا (٣)
أراد به ما فيه غيبة مسلم أو إيذاء قلب دون محض المزاح


Dalam ihya juz 3 hal. 128 :


رُوِيَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ إِنِّي لَأَمْزَحُ وَلَا أَقُولُ إِلَّا حَقًّا


Sungguh Nabi ﷺ bersabda: “Sungguh saya bercanda tapi tidaklah saya berkata kecuali yang benar” Sunan abu Dawud dengan isnad hasan :


٤٩٩٠ – حدَّثنا مُسدَّدُ بن مُسَرْهَدٍ، حدَّثنا يحيى، عن بَهْزِ بن حكيم، حدَّثني أبي عن أبيه، قال: سمعتُ رسولَ الله -صلى الله عليه وسلم -يقول: “وَيْلٌ للَّذي يُحَدِّثُ فيكذِبُ ليُضْحِكَ به القومَ، وَيْلٌ له، وَيْلٌ له” (١).


Nabi ﷺ bersabda: “Neraka wel bagi orang yang bercerita/berbicara lalu berdusta agar orang-orang / kaum tertawa sebab dustanya, neraka wel baginya, neraka wel baginya”
Mirqah al-Mafatih Syarah Misykat al-Mashabih ( 14/153 ) :


قال النووي اعلم أن المزاح المنهي عنه هو الذي فيه إفراط ويداوم عليه فإنه يورث الضحك وقسوة القلب ويشغل عن ذكر الله والفكر في مهمات الدين ويؤول في كثير من الأوقات إلى الإيذاء ويورث الأحقاد ويسقط المهابة والوقار فأما ما سلم من هذه الأمور فهو المباح الذي كان رسول الله يفعله على الندرة لمصلحة تطييب نفس المخاطب ومؤانسته وهو سنة مستحبة

“Berkata an-Nawawi : Ketahuilah bahwa bergurau yang dilarang adalah yang keterlaluan dan terus menerus, karena hal itu akan menyebabkan tertawa dan mengeraskan hati, serta memalingkan dari mengingat Allah dan dari memikirkan masalah-masalah agama. Bahkan seringnya bergurau yang keterlauan itu menyakitkan orang lain dan menimbulkan dendam, begitu juga bisa menjatuhkan kewibawaan dan kehormatan seseorang. Adapun jika hal-hal di atas tidak ada (artinya bergurau yang tidak keterlaluan dan tidak terus menerus,dan yang tidak menyakitkan orang lain dan yang tidak menimbulkan dendam, dan yang tidak menjatuhkan kewibawaan dan kehormatan seseorang), maka bergurau adalah sesuatu yang dibolehkan, seperti yang kadang dilakukan oleh Rasulullah, demi kemaslahatan(kemanfaatan) dan menyenangkan orang yang diajak bicara serta menambah keakraban. Dan ini semua merupakan sunnah yang dianjurkan. “. Ibarot Tambahan :

Sunan turmudzi :

٢٣١٥ – حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ، قَالَ: حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ سَعِيدٍ، قَالَ: حَدَّثَنَا بَهْزُ بْنُ حَكِيمٍ قَالَ: حَدَّثَنِي أَبِي، عَنْ جَدِّي، قَالَ: سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: وَيْلٌ لِلَّذِي يُحَدِّثُ بِالحَدِيثِ لِيُضْحِكَ بِهِ القَوْمَ فَيَكْذِبُ، وَيْلٌ لَهُ وَيْلٌ لَهُ. وَفِي البَاب عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ, هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ.

Assunan alkubro linnasa’i :

١١٥٩١ – أَخْبَرَنَا سُوَيْدُ بْنُ نَصْرٍ، أَخْبَرَنَا عَبْدُ اللهِ، عَنْ بَهْزِ بْنِ حَكِيمٍ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ جَدِّهِ، قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: «وَيْلٌ لِلَّذِي يُحَدِّثُ فَيَكْذِبُ لِيُضْحِكَ بِهِ الْقَوْمَ، وَيْلٌ لَهُ، وَيْلٌ لَهُ»

Bulughulmarom :

١٣٢٣ – وَعَنْ بَهْزِ بْنِ حَكِيمٍ، عَنْ أَبيهِ، عَنْ جَدِّهِ -رَضِيَ اللهُ عَنْهُمْ- قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ -صلى الله عليه وسلم-: “وَيْلٌ لِلَّذِي يُحَدِّثُ، فَيَكْذِبُ؛ لِيُضْحِكَ بِهِ القَوْمَ، وَيْلٌ لَهُ، ثُمَّ وَيْلٌ لَهُ! ” أَخْرَجَهُ الثَّلاَثَةُ، وَإِسْنَادُهُ قَوِيٌّ
شرح النووي على مسلم
قوله : ( كان رسول الله صلى الله عليه وسلم أحسن الناس خلقا ، وكان لي أخ يقال له أبو عمير أحسبه قال : كان فطيما قال : فكان إذا جاء رسول الله صلى الله عليه وسلم فرآه قال : أبا عمير ما فعل النغير ؟ وكان يلعب به ) . أما النغير فبضم النون تصغير النغر ، بضمها وفتح الغين المعجمة ، وهو طائر صغير ، جمعه نغران . والفطيم بمعنى المفطوم . 
وفي هذا الحديث فوائد كثيرة جدا منها جواز تكنية من لم يولد له ، وتكنية الطفل ، وأنه ليس كذبا ، وجواز المزاح فيما ليس إثما
فتح الباري شرح صحيح البخاري
وقد أخرج الترمذي وحسنه من حديث أبي هريرة قال قالوا يا رسول الله إنك تداعبنا ، قال : إني لا أقول إلا حقا وأخرج من حديث ابن عباس رفعه لا تمار أخاك وتمازحه الحديث ، والجمع بينهما أن المنهي عنه ما فيه إفراط أو مداومة عليه لما فيه من الشغل عن ذكر الله والتفكر في مهمات الدين ويئول كثيرا إلى قسوة القلب والإيذاء والحقد وسقوط المهابة والوقار ، والذي يسلم من ذلك هو المباح ، فإن صادف مصلحة مثل تطيب نفس المخاطب ومؤانسته فهو مستحب
الأذكار النووية ص : 279 (دار إحياء الكتب العربية)
وروينا فى كتاب الترمذى عن ابن عباس – رضي الله عنه – عن النبى – صلى الله عليه وسلم – قال ولا تمار أخاك ولا تمازحه ولا تعده موعدا فتخلفه قال العلماء المزاح المنهى عنه هو الذى فيه إفراط ويداوم عليه فإنه يورث الضحك وقسوة القلب ويشغل عن ذكر الله تعالى والفكر فى مهمات الدين ويؤول فى كثير من الأوقات إلى الإيذاء ويورث الأحقاد ويسقط المهابة والوقار فأما ما سلم من هذه الأمور فهو المباح الذى كان رسول الله – صلى الله عليه وسلم – يفعله فإنه – صلى الله عليه وسلم – إنما كان يفعله فى نادر من الأحوال المصلحة وتطييب نفس المخاطب ومؤانسته وهذا لا منع منه قطعا بل هو سنة مستحبة إذا كان بهذه الصفة فاعتمد ما نقلناه عن العلماء وحققناه فى هذه الأحاديث وبيان أحكامها فإنه مما يعظم الاحتياج إليه وبالله التوفيق
بريقة محمودية في شرح طريقة محمدية وشريعة نبوية – (4 / 357)
وفي الحديث { إن الرجل ليتكلم الكلمة لا يرى بها بأسا ليضحك بها القوم } أي : لأجل أن يضحكهم { وإنه ليقع بها أبعد من السماء } أي يقع في النار أبعد من وقوعه من السماء إلى الأرض فعلى العاقل ضبط جوارحه فإنها رعاياه وهو مسئول عنها لقوله تعالى – { إن السمع والبصر والفؤاد كل أولئك كان عنه مسئولا } – وإن من أكثر المعاصي عددا وأيسرها وقوعا آثام اللسان إذ آفاته تزيد على عشرين ومن ثمة قال الله تعالى { وقولوا قولا سديدا } –
.( تنبيه ) أخذ الشافعي من هذا الخبر أن اعتياد حكايات تضحك أو فعل خيالات كذلك راد للشهادة وصرح بعضهم أنه حرام وآخرون أنه كبيرة وخصه بعض بما يؤذي الغير كله من الفيض
سلم التوفيق ص : 69- 70 (طه فوترا)
وقال الحسن أن من الخيانة أن تحدث بسر أخيك وكالمزاح إذا كان مفرطا ومداوما أما المداومة فلأنه اشتغال باللعب والهزل فيه وأما الافراط فيه فلأنه يورث كثرة الضحك وكثرة الضحك تميت القلب وتسقط المهابة وأما إذا كان المزاح مطايبة وفيه انبساط وطيب قلب فلم ينه عنه لأنه – صلى الله عليه وسلم – كان ي
مزح ولا يقول إلا حقا كما روى أن أم أيمن جاءت إلى النبى – صلى الله عليه وسلم – فقالت إن زوجى يدعوك ومن هو أهو الذى بعينه بياض قالت والله ما بعينه بياض فقال بلى إن بعينه بياضا فقالت لا والله فقال – صلى الله عليه وسلم – ما من أحد إلا وبعينه بياض وأراد بالبياض المحيط بالحدق وجاءت امرأة أخرى فقالت يا رسول الله احملنى على بعير بل نحملك على ابن البعير فقالت ما أصنع به أنه لا يحملنى فقال – صلى الله عليه وسلم – ما من بعير إلا وهو ابن بعير فكان يمزح به ذكر ذلك الغزالى فى الإحياء
حاشية الجمل على المنهج الجزء الخامس ص : 382 – 383 (دار الفكر)
(والمروءة توقى الأدناس عرفا) لأنها لا تنضبط بل تختلف باختلاف الأشخاص والأحوال والأماكن (فيسقطها أكل وشرب وكشف رأس ولبس فقيه قباء أو قلنسوة حيث) أى بمكان (لا يعتاد) لفاعلها -إلى أن قال- (وقبلة حليلة) من زوجة أو أمة (بحضرة الناس) الذين يستحى منهم فى ذلك (وإكثار ما يضحك) بينهم (أو ) إكثار (لعب شطرنج أو غناء أو استماعه أو رقص) بخلاف قليل الخمسة إلا قليل ثانيها فى الطريق ويقاس به ما فى معناه (قوله وإكثار ما يضحك إلخ) تقييد هذا بالإكثار يفهم عدم اعتباره فيما قبله والأوجه كما قاله الأذرعى اعتبار ذلك فى الكل إلا فى نحو قبلة حليلة فى حضرة الناس فى طريق فلا يعتبر تكرره -إلى أن قال- قوله وإكثار ما يضحك أى سواء فعل ذلك لجلب دنيا تحصل له من الحاضرين أو لمجرد المباسطة اهـ وفى سم ما نصه قوله وإكثار ما يضحك أى بقصد إضحاكهم فلو أكثر من حكاية تلك الحكايات لا بهذا القصد لم ترد شهادته اهـ م ر (قوله أيضا وإكثار ما يضحك) أى لما جاء فى الخبر الصحيح “من تكلم بالكلمة يضحك بها جلساء يهوى بها فى النار سبعين خريفا” فإنه يفيد أنه حرام بل كبيرة لكن يتعين حمله على كلمة فى الغير بباطل يضحك بها أعداءه لأن فى ذلك من الإيذاء ما يعادل ما فى كبائر كثيرة منه اهـ حج

Wallahu A’lam bisshowab Wailahi Uniib

Kategori
Uncategorized

TAUKIL WALI DAN AKAD NIKAH SECARA VIA ONLINE

TAUKIL WALI DAN AKAD NIKAH ONLINE

Assalamualaikum Ustadz, ma’af mengganggu waktunya 🙏

Deskripsi Masalah:
Ibu Yayuk, seorang TKW di Singapura asal Malang, Jawa Timur, ingin segera menikah dengan seorang pria sholeh dari Mesir. Ayah Ibu Yayuk di Malang kurang memiliki pemahaman agama dan sulit menerima nasihat terkait pernikahan. Karena kesibukan sebagai TKW, Ibu Yayuk tidak dapat pulang dalam waktu dekat, namun ingin segera melakukan akad nikah secara online agar hubungan menjadi halal, dan berencana memperbarui akad nikah secara offline setelah kontrak kerja selesai tahun depan.

Pertanyaan
* Sahkah ayah mewakilkan wali nikah ke paman ipar?
* Sahkah nikah online lalu diulang offline setelah kembali kenegara Indonesia?

Waalaikumsalam 

Jawaban no.1

Boleh dan sah  paman ipar menjadi wali nikah jika memang ditunjuk sebagai wakil oleh orang tua calon mempelai wanita. Ucapan atau surat  izin dari orang tua itu penting sebagai bukti penunjukan wakil (taukil), meskipun ijab kabulnya dilakukan melalui telepon. Yang penting semua syarat perwakilan (taukil) terpenuhi, termasuk adanya lafaz atau tulisan izin tersebut.

Jawabannya No.2
Tidak boleh dan tidak sah akad nikah lewat telpon karena akad nikah harus berlangsung dalam satu majlis

الشرقاوى ج ٢ ص١٠

ﻗَﻮْﻟُﻪُ ﻭَﺻِﻴْﻐَﺔً – ﻛَﻮَﻛَّﻠْﺘُﻚَ ﻓِﻰ ﻛَﺬَﺍ ﺍﻭ ﻓَﻮَّﺿْﺖُ ﺇِﻟَﻴْﻚَ ﻛَﺬَﺍ ﺳَﻮَﺍﺀٌ ﻛَﺎﻥَ ﺫَﻟِﻚَ ﻣَﺸَﺎﻓَﻬَﺔً ﺍﻭ ﻛِﺘَﺎﺑَﺔً ﺍﻭ ﻣُﺮَﺍﺳَﻠَﺔً ﻭَﻳُﺸْﺘَﺮَﻁُ ﻋَﺪَﻡُ ﺭَﺩِّﻫَﺎ ﻛَﻤَﺎ ﻳَﺄْﺗِﻰ ﻭَﻻَ ﻳُﺸْﺘَﺮَﻁُ ﺍﻟﻌِﻠْﻢُ ﺑِﻬَﺎ . ﻓَﻠَﻮ ﻭَﻛَّﻠَﻪُ ﻭَﻫُﻮَ ﻻَﻳَﻌْﻠَﻢُ ﺻَﺤَّﺖْ ﺣَﺘَّﻰ ﻟَﻮْ ﺗَﺼَﺮَّﻑَ ﻗَﺒْﻞَ ﻋِﻠْﻤِﻪِ ﺻَﺢَّ ﻛَﺒَﻴْﻊِ ﻣَﺎﻝِ ﺃَﺑْﻴْﻪِ ﻳَﻈُﻦُّ ﺣَﻴَﺎﺗِﻪِ .

بجيرمى على الإقناع ج٣ص١٠

ﻭَﺟُﻤْﻠَﺔُ ﻣَﺎ ﺫَﻛَﺮَﻩُ ﻣِﻦْ ﺷُﺮُﻭﻁِ ﺍﻟﺼِّﻴْﻐَﺔِ ﺧَﻤْﺴَﺔٌ ﻭَﺫَﻛَﺮَ ﻓِﻰ ﺷَﺮْﺡِ ﺍﻟﻤِﻨْﻬَﺞِ ﺃﺭْﺑَﻌَﺔٌ …: ﺇﻟَﻰ ﺃﻥْ ﻗَﺎﻝَ : ﺍﻟﺜَّﺎﻧِﻰ : ﺃﻥْ ﻳَﺘَﻠَﻔَّﻆَ ﺑِﺤَﻴْﺚُ ﻳَﺴْﻤَﻌُﻪُ ﻣَﻦْ ﺑِﻘُﺮْﺑِﻪِ ﻭَﺇِﻥْ ﻟَﻢْ ﻳَﺴْﻤَﻌْﻪُ ﺻَﺎﺣِﺒُﻪُ ﺑِﺄَﻥْ ﺑَﻠَﻐَﻪُ ﺫَﻟِﻚَ ﻓَﻮﺭًﺍ ﺍﻭ ﺣَﻤَﻠَﺘْﻪُ ﺍﻟﺮِّﻳْﺢُ ﺇﻟَﻴْﻪِ ﻓَﻘَﺒِﻞَ .

[تقي الدين الحصني، كفاية الأخيار
في حل غاية الاختصار، صفحة ٣٥٨]

فرع) يشْتَرط فِي صِحَة عقد النِّكَاح حُضُور أَرْبَعَة ولي وَزوج وشاهدي عدل وَيجوز أَن يُوكل الْوَلِيّ وَالزَّوْج فَلَو وكل الْوَلِيّ وَالزَّوْج أَو أَحدهمَا أَو حضر الْوَلِيّ ووكيله وَعقد الْوَكِيل لم يَصح النِّكَاح لِأَن الْوَكِيل نَائِب الْوَلِيّ وَالله أعلم

(اسنى المطالب)
(الرُّكْنُ الرَّابِعُ الصِّيغَةُ فَيُشْتَرَطُ) لِلْوَكَالَةِ (الْإِيجَابُ كَوَكَّلْتُكَ) بِكَذَا (وَفَوَّضْت إلَيْك) كَذَا أَوْ مَا يَقُومُ مَقَامَهُ كَطَلِّقْ (وَبِعْ وَأَعْتِقْ) ؛ لِأَنَّ الشَّخْصَ مَمْنُوعٌ مِنْ التَّصَرُّفِ فِي حَقِّ غَيْرِهِ إلَّا بِرِضَاهُ، وَهُوَ لَا يَحْصُلُ إلَّا بِذَلِكَ (وَيَصِحُّ الْقَبُولُ بِالرِّضَا وَالِامْتِثَالِ) لِمَا فُوِّضَ إلَيْهِ، وَلَوْ (عَلَى التَّرَاخِي) كَالْوَصِيَّةِ نَعَمْ لَوْ وَكَّلَهُ فِي إبْرَاءِ نَفْسِهِ، أَوْ عَرَضَهَا الْحَاكِمُ عَلَيْهِ عِنْدَ ثُبُوتِهَا عِنْدَهُ اُعْتُبِرَ الْقَبُولُ بِالِامْتِثَالِ فَوْرًا ذَكَرَهُ الرُّويَانِيُّ وَغَيْرُهُ وَهَذَانِ لَا يُسْتَثْنَيَانِ فِي الْحَقِيقَةِ؛ لِأَنَّ الْأَوَّلَ مِنْهُمَا مَبْنِيٌّ عَلَى أَنَّهُ تَمْلِيكٌ لَا تَوْكِيلٌ كَنَظِيرِهِ فِي الطَّلَاقِ، وَالثَّانِي إنَّمَا اُعْتُبِرَ فِيهِ الْفَوْرُ لِإِلْزَامِ الْحَاكِمِ إيفَاءَ حَقِّ الْغَرِيمِ لَا لِلْوَكَالَةِ، وَالتَّصْرِيحُ بِالِامْتِثَالِ مِنْ زِيَادَتِهِ، وَأَفَادَ بِهِ مَعَ مَا قَبْلَهُ أَنَّ الْقَبُولَ يَحْصُلُ بِكُلٍّ مِنْهُمَا (وَلَوْ لَمْ يَتَلَفَّظْ) بِمَا يَدُلُّ عَلَى الرِّضَا سَوَاءٌ أَوُجِدَ الرِّضَا أَمْ لَا كَأَنْ أَكْرَهَهُ حَتَّى تَصَرَّفَ لَهُ وَذَلِكَ؛ لِأَنَّ الْوَكَالَةَ إبَاحَةٌ وَرَفْعُ حَجْرٍ كَإِبَاحَةِ الطَّعَامِ فَلَا يَتَعَيَّنُ فِيهَا الْقَبُولُ بِاللَّفْظِ نَعَمْ لَوْ كَانَ لِإِنْسَانٍ عَيْنٌ مُعَارَةٌ أَوْ مُؤَجَّرَةٌ أَوْ مَغْصُوبَةٌ فَوَهَبَهَا لِآخَرَ فَقَبِلَهَا، وَأَذِنَ لَهُ فِي قَبْضِهَا ثُمَّ إنَّ الْمَوْهُوبَ لَهُ وَكَّلَ فِي قَبْضِهَا الْمُسْتَعِيرَ أَوْ الْمُسْتَأْجِرَ أَوْ الْغَاصِبَ اُشْتُرِطَ قَبُولُهُ لَفْظًا وَلَا يُكْتَفَى بِالْفِعْلِ، وَهُوَ الْإِمْسَاكُ؛ لِأَنَّهُ اسْتِدَامَةٌ لِمَا سَبَقَ فَلَا دَلَالَةَ فِيهِ عَلَى الرِّضَا بِقَبْضِهِ عَنْ الْغَيْرِ كَمَا سَيَأْتِي فِي الْهِبَةِ مَعَ مَا فِيهِ (فَإِنْ رَدَّهَا) أَيْ الْوَكِيلُ الْوَكَالَةَ (وَنَدِمَ جُدِّدَتْ) وُجُوبًا؛ لِأَنَّهَا جَائِزَةٌ تَرْتَفِعُ فِي الدَّوَامِ بِالْفَسْخِ فَارْتِدَادُهَا بِالرَّدِّ فِي الِابْتِدَاءِ أَوْلَى.

الأشباه والنظائر : ص.٩٨

تَنْبِيهٌ:
إنَّمَا يَتَجَاذَبُ الْوَضْعُ وَالْعُرْفُ فِي الْعَرَبِيِّ، أَمَّا الْأَعْجَمِيُّ فَيُعْتَبَر عُرْفُهُ قَطْعًا ; إذْ لَا وَضْعَ يُحْمَل عَلَيْهِ. فَلَوْ حَلَفَ عَلَى الْبَيْتِ بِالْفَارِسِيَّةِ، لَمْ يَحْنَثْ بِبَيْتِ الشَّعْرِ، وَلَوْ أَوْصَى لِأَقَارِبِهِ لَمْ يَدْخُلْ قَرَابَةُ الْأُمِّ فِي وَصِيَّةِ الْعَرَبِ وَيَدْخُلُ فِي وَصِيَّةِ الْعَجَمِ.
وَلَوْ قَالَ: إنْ رَأَيْت الْهِلَالَ فَأَنْتِ طَالِقٌ، فَرَآهُ غَيْرُهَا، قَالَ الْقَفَّالُ: إنْ عَلَّقَ بِالْعَجَمِيَّةِ حُمِلَ عَلَى الْمُعَايَنَة. سَوَاء فِيهِ الْبَصِيرُ وَالْأَعْمَى.
قَالَ: وَالْعُرْفُ الشَّرْعِيُّ فِي حَمْلِ الرُّؤْيَةِ عَلَى الْعِلْمِ، لَمْ يَثْبُتْ إلَّا فِي اللُّغَةِ الْعَرَبِيَّةِ، وَمَنَعَ الْإِمَامُ الْفَرْقَ بَيْنَ اللُّغَتَيْنِ

إنَّمَا يَتَجَاذَبُ الْوَضْعُ وَالْعُرْفُ فِي الْعَرَبِيِّ، أَمَّا الْأَعْجَمِيُّ فَيُعْتَبَر عُرْفُهُ قَطْعًا إذْ لَا وَضْعَ يُحْمَل عَلَيْهِ.

الفقه الإسلامي وأدلته – (ج ٤ / ص ٤٦٣)
كيفية إبرام التعاقد بالهاتف واللاسلكي ونحوهما من وسائل الاتصال الحديثة : ليس المراد من اتحاد المجلس المطلوب في كل عقد كما بينا كون المتعاقدين في مكان واحد، لأنه قد يكون مكان أحدهما غير مكان الآخر، إذا وجد بينهما واسطة اتصال، كالتعاقد بالهاتف أو اللاسلكي أو بالمراسلة (الكتابة) وإنما المراد باتحاد المجلس: اتحاد الزمن أو الوقت الذي يكون المتعاقدان مشتغلين فيه بالتعاقد ، فمجلس العقد: هو الحال التي يكون فيها المتعاقدان مقبلين على التفاوض في العقد (٢) ، وعن هذا قال الفقهاء «إن المجلس يجمع المتفرقات» وعلى هذا يكون مجلس العقد في المكالمة الهاتفية أو اللاسلكية: هو زمن الاتصال ما دام الكلام في شأن العقد، فإن انتقل المتحدثان إلى حديث آخر انتهى المجلس -الى أن قال- ومجلس التعاقد بين غائبين: هو محل وصول الكتاب أو تبليغ الرسالة، أو المحادثة الهاتفية. اهـ لكن للمرسل أو للكاتب أن يرجع عن إيجابه أمام شهود، بشرط أن يكون قبل قبول الآخر ووصول الرسالة أو الخطاب ونحوه من الإبراق والتلكس والفاكس. ويرى جمهور المالكية أنه ليس للموجب الرجوع قبل أن يترك فرصة للقابل يقرر العرف مداها، كما تقدم. هذا وإن بقية شروط الإيجاب والقبول عدا اتحاد المجلس لا بد من توافرها في وسائط الاتصال الحديثة.زمن إتمام العقد في التعاقد بين غائبين : أجمع الفقهاء على أن العقد ينعقد بين الغائبين كما في آلات الاتصال الحديثة بمجرد إعلان القبول، ولا يشترط العلم بالقبول بالنسبة للطرف الموجب الذي وجه الإيجاب .فلو كان المتعاقدان يتحدثان بالهاتف أو بالاسلكي، وقال أحدهما للآخر: بعتك الدار أو السيارة الفلانية، وقال الآخر: قبلت، انعقد العقد، بمجرد إعلان القبول، ولو لم يعلم الموجب بالقبول، بأن انقطع الاتصال بينهما. ولو وجهّ أحد العاقدين خطاباً أو برقية إلى آخر أو تلكساً أو فاكساً، وفيها إيجاب ببيع شيء، أو بإبرام عقد زواج، انعقد العقد بعد وصول البرقية أو الخطاب ونحوهما، وإعلان الآخر قبوله، دون حاجة إلى علم الموجب أو سماعه بالقبول لكن إبعاداً لكل لبس أو غموض، وتمكيناً من إثبات العقد، وتأكيداً لإبرامه اهـ الفوائد المختارة لسالك طريق الأخرة المستفادة من كلام العلامة الحبيب زين بن إبراهيم بن سميط جمع و تقديم علي بن حسن باهارون ص : ٢٤٦ التلفون كناية في العقود كالبيع والسلم والإجارة , فيصح ذلك بواسطة التلفون , أما النكاح فلا يصح بالتلفون لأنه يشترط فيه لفظ صريح , والتلفون كناية وأن ينظر الشاهد إلى العاقدين وفقد ذلك إذا كان بالتلفون أو ما هذا معناه اهـ
.بغية المسترشدين صـ ١٨٦
( مسئلة ب )
مذهب الشافعى أن مجرد الكتابة فى سائر العقود والإخبارات والإنشاءات ليس بحجة شرعية , فقد ذكر الأئمة أن الكتابة كناية فتنعقد بها نحو الوصية مع النية ولو من ناطق. اهـ الفقه على مذاهب الأربعة الجزء : 3 صـ :100 الشافعية : وإذا وقع العاقدان على عقد مكتوب كالمتعارف فى زماننا فإنه يصح ويقوم التوقيع على المكتوب مقام التلفظ بالصيغة ويكون من باب الكناية. ومثل ذلك كل عقد مكتوب فالكتابة تقوم مقام الصيغة اللفظية على أنها من باب الكناية . اهـ

(المغني لابن قدامة – الجزء الخامس.)

( ٣٧٤٣ )

فصل : ولا تصح الوكالة إلا بالإيجاب والقبول ; لأنه عقد تعلق به حق كل واحد منهما ، فافتقر إلى الإيجاب والقبول ، كالبيع . ويجوز الإيجاب بكل لفظ دل على الإذن ، نحو أن يأمره بفعل شيء ، أو يقول : أذنت لك في فعله { . فإن النبي صلى الله عليه وسلم وكل عروة بن الجعد في شراء شاة { بلفظ الشراء ، وقال الله تعالى ، مخبرا عن أهل الكهف أنهم قالوا : { فابعثوا أحدكم بورقكم هذه إلى المدينة فلينظر أيها أزكى طعاما فليأتكم برزق منه } .
ولأنه لفظ دال على الإذن ، فجرى مجرىقوله : وكلتك .

 

Referensi:

الموسوعة الفقهية – ٣٣٥/٣١٩٤٩
اتحاد المجلس في عقد النكاح:
١٥ – للعلماء في ارتباط الإيجاب بالقبول في عقد النكاح مع اتحاد المجلس ثلاثة آراء:
الأول: اشتراط اتحاد المجلس، فلو اختلف المجلس لم ينعقد كما لو أوجب أحدهما فقام الآخر أو اشتغل بعمل آخر، ولا يشترط فيه الفور.
وهو مذهب الحنفية، وهو الصحيح عند
الحنابلة، وهو ما في المعيار عن الباجي من المالكية (١) .
الثاني: اشتراط الفورية بين الإيجاب والقبول في المجلس الواحد، وهو قول المالكية عدا ما تقدم عن الباجي، وهو قول الشافعية، غير أنهم اغتفروا فيه الفاصل اليسير. وضبط القفال الفاصل الكثير بأن يكون زمنا لو سكتا فيه لخرج الجواب عن كونه جوابا. والأولى ضبطه بالعرف (٢) .
الثالث: صحة العقد مع اختلاف المجلس، وهو رواية للحنابلة. وعليها لا يبطل النكاح مع التفرق (٣) .
وهذا كله عند اتحاد المجلس الحقيقي، أما مع اتحاد المجلس الحكمي فلا يختلف الأمر عند الحنفية في اشتراط القبول في مجلس العلم، وهو الصحيح عند الحنابلة (٤) .
واشترط المالكية الفورية في الإيجاب حين العلم (٥) . والصحيح عند الشافعية أنه لا ينعقد النكاح بالكتابة. وكذلك إن كان الزوج غائبا وبلغه الإيجاب من ولي الزوجة. وإذا صححنا في المسألتين فيشترط القبول في مجلس بلوغ الخبر وعلى الفور (٦) 

 والله أعلم بالصواب