logo mubaa
Logo Ittihad

DEWAN PIMPINAN PUSAT
IKATAN ALUMNI BATA-BATA

Kategori
Uncategorized

UJIAN DAN SIKAP ULAMA TERHADAP CACIAN DAN HINAAN ORANG-ORANG YANG BODOH

UJIAN DAN SIKAP ULAMA TERHADAP CACIAN DAN HINAAN ORANG-ORANG YANG BODOH

Assalamualaikum

Lansung saja saya bertanya Kiyai

Bagaimanakah sikap ulama kita jika dihina dan dicaci oleh orang-orang yang bodoh

Waalaikum salam.

Tanggapan sekaligus sebagai jawaban.

Di antara ujian dan cobaan ulama yang akan diangkat derajatnya lebih tinggi oleh Allah SWT dan menjadikan motivasi bermanfaat dan barokah ilmunya adalah mereka yang diuji dengan penghinaan dan cacian para sufaha’ (orang-orang bodoh/kurang akal). Bahkan mungkin bisa kita katakan, belum bisa dikatakan ulama sejati jika belum pernah diuji dengan hinaan, cacian dan kata-kata buruk dari para sufaha’. Maka sikap bagi sang ulama, ujian dan cobaan , cacian kata-kata buruk tersebut malah dijadikan semacam “kabar gembira” yang membuatnya semakin optimis bahwa Allah berkehendak untuk mencintai dan menaikkan derajatnya di sisi-Nya lebih tinggi lagi.Hal ini juga sejalan dengan hadis riwayat Abu Hurairah.


إِذا أحَبَّ الله عَبْداً ابْتَلاهُ لِيَسْمَعَ تَضَرُّعَهُ

Ketika Allah mencintai hamba-Nya, maka ia akan mengujinya dengan cobaan supaya Allah dapat mendengar tadaruk hamba-Nya (HR Baihaqi).
Senada dengan hadis ini, Imam al-Ghazali mengatakan demikian, sebagaimana dikutip al-Munawi dalam Faidhul Qadir.

ولهذا تراه يكثر ابتلاء أوليائه وأصفيائه الذين هم أعز عباده وإذا رأيت الله عز وجل يحبس عنك الدنيا ويكثر عليك الشدائد والبلوى فاعلم أنك عزيز عنده وأنك عنده بمكان يسلك بك طريق أوليائه وأصفيائه فإنه يراك ولا يحتاج إلى ذلك أما تسمع إلى قوله تعالى {واصبر لحكم ربك فإنك [ص:246] بأعيينا} بل اعرف منته عليك فيما يحفظ عليك من صلاتك وصلاحك ويكثر من أجورك وثوابك وينزلك منازل الأبرار والأخيار والأعزة عنده

Karena ini, kamu pasti seringkali melihat banyak wali dan hamba pilihan Allah itu banyak diuji, padahal mereka hamba-hamba paling mulia. Ketika Anda melihat Allah menahan duniamu, banyak cobaan dan musibah yang menimpamu, itu tandanya kamu itu mulia di sisi-Nya, sama seperti jalan yang dilalui para kekasih dan hamba pilihan Allah. Allah itu tahu keadaanmu, dan sebenarnya tidak butuh terhadap pengakuan Anda. Apakah kamu tidak pernah mendengar firman Allah, “Dan bersabarlah dalam menunggu ketetapan Tuhanmu, maka sesungguhnya kamu berada dalam penglihatan Kami” Seharusnya kamu pahami bahwa Allah itu memberikan anugerah padamu berupa shalat dan kebaikan yang selalu terjaga. Allah memberikan banyak pahala, ganjaran, dan kedudukan orang-orang baik, terpilih dan mulia di sisi-Nya.

Bagi hamba-hamba Allah yang tulus ikhlas dan terus- menerus ( kontino) menggali ilmu dari sang ulama, karena hinaan dan cacian para sufaha’ itu sama sekali tidak akan berpengaruh menurunkan kemuliaan beliau.
Para sufaha’ adalah sekumpulan orang yang memang tidak mengerti kadar dirinya sendiri dan tidak pernah mau belajar tahu diri. Oleh karena itu betapa pentingnya mengenali diri agar tidak termasuk orang bodoh dan sesat, sebagaimana Sayyid Al-Qurdiy al-Irbiliy rahimahullah mengatakan dalam kitabnya Tanwirul Quluub.

Ketahuilah bahwa mengetahui nafsu adalah merupakan perkara yang penting dari setiap perindividu manusia, kenapa demikian? karena sesungguhnya orang yang mengenal terhadap nafsunya (dirinya), maka sungguh ia mengenal Tuhannya. Artinya orang yang mengetahui dengan kerendahan /kehinaan dan ketidak mampuan dan kelemahan dan ketidak abadian dirinya ,maka dia mengetahui kepada kemuliaan dan kekuasaan Allah , dan barang siapa yang bodoh/tidak mengetahui terhadap dirinya, maka ia bodoh terhadap Tuhannya, oleh karena itu wajib atas orang yang berakal untuk menyingsingkan lengan bajunya dengan bersungguh-sungguhlah didalam mencari makrifah dan janganlah sampai terlambat dalam menuntut hal tersebut sebelum mati menjemputnya, dan ia adalah orang yang tertimpa musibah disebabkan karena kebodohannya, maka tidak ada jalan setelah kematian menuju penglihatan hati , Allah berfirman:

وَمَن كَانَ فِي هَٰذِهِ أَعْمَىٰ فَهُوَ فِي الْآخِرَةِ أَعْمَىٰ وَأَضَلُّ سَبِيلًا (٧٢)


قوله تعالى : ومن كان في هذه أعمى أي في الدنيا عن الاعتبار وإبصار الحق فهو في الآخرة أي في أمر الآخرة .

Barang siapa didunia ini buta arttinya dari mengambil pelajaran dan melihat yang hak, maka ia diakhirat buta artinya didalam urusan akhirat, dan dia paling sesatnya jalan. ( Tafsir Al-Qurthubiy ).


Kemudian Ketahuilah bahwa sesungguhnya nafsu yang bersifat ketuhanan itu dia adalah ruh sebelum berhubungan dengan jasad , dan Allah sungguh telah menciptakan banyak ruh sebelum jasad, maka pada waktu itu dia tepat berada di sebelahnya yang haq dan kedekatannya, maka ketika yang hak memerintahkan agar ruh berhubungan dengan jasad, maka dia mengetahui kepada yang lain sementara dia sendiri terhalangi dari yang haq (Allah) itu dikarenakan disibukkannya dari Allah taala (hubungannya kepada Allah). Maka dari itu ia butuh adanya peringatan sebagaimana firman Allah:

وَذَكِّرْ فَإِنَّ الذِّكْرَىٰ تَنفَعُ الْمُؤْمِنِينَ (٥٥)


( وذكر فإن الذكرى تنفع المؤمنين ) أي : إنما تنتفع بها القلوب المؤمنة

Dan berilah peringatan sesungguhnya peringatan itu bermanfaat kepada orang-orang mukmin “( Tafsir Ibnu Katsir QS.Adzzariyat: 55 ) .

Nafsu itu adalah mutiara yang mulia (bersinar) pada badan, jika menyinari pada dhahirnya badan dan dalamnya (Dhahir batin)nya badan, maka dia berhasil bangun. Dan jika menyinari pada dalamnya badan tanpa luarnya badan, maka dia berhasil tertidur. Dan jika sinarnya terputus secara keseluruhan maka dia hasil mati/meninggal. Dan adapun asal muassal terjadinya setiap kemaksiatan, lupa dan syahwat/keinginan dan syirik itu adalah karena rela terhadap nafsu, ingatlah..!!! Apa kamu tidak melihat bahwa Firaun ketika ia rela dari nafsunya pada setiap kerelaan, maka ia enteng/ membangkang melampaui batas pada banyak kecongkaan, kesombongannya hingga ia sampai pada pengakuan ” Saya adalah Tuhan kamu yang Maha Tinggi. Dan adapun asal muassal timbulnya dari setiap ketaatan, dan menerima peringatan dan iffah/pemaaf dan musyahadah ( tersingkapnya tabir) itu adalah ketidak adanya kerelaan kepada nafsu, maka ketika itulah tidaklah ada sesuatu yang membawa manfaat (lebih bermanfaat) bagi para hamba dibandingkan dari pada mendidik jiwanya. Dan oleh karena itu ungkapan mengambil ibroh pengaruhnya nafsu itu adalah dengan bersungguh-sungguh.

Karena jika seseorang mengenali dirinya maka mereka tidak akan pernah mengetahui kadar keilmuan dan kemuliaan para ulama serta bagaimana memperlakukan mereka.
Kadar keilmuan ulama tentu saja diketahui sesama ulama. Dalam kitab-kitab biografi, akan didapati bagaimana para ulama ini akan saling memuji. Ulama yang benar-benar berilmu (setelah mengetahui ucapan atau tulisan ulama lain) akan bisa mengukur apakah kadar keilmuan ulama yang disaksikannya itu berada di bawahnya, di atasnya atau setara dengannya.

Ulama yang diiuji dengan ucapan hinaan dan dari para sufaha’ ini tidak hanya dialami oleh ulama kontemporer’, malah dialami oleh ulama-ulama besar yang kita kenal. Asy-Syafi’i umpamanya. Pengalaman beliau berinteraksi dengan orang-orang bodoh yang tak bijak ini di antaranya diungkapkan beliau dalam bait syairnya berikut ini,

( روائع الفكر )

قال الإمام الشافعي رحمه الله

Imam Syafi’i berkata:

يخاطبني السفيه بكل قبح


Orang yang bodoh berbicara denganku dengan segala umpatan keji dan keburukan.

فأكره أن أكون له مجيبا

Maka akupun tidak senang untuk menjawabnya.

يزيد سفاهة فأزيد حلماً.

Orang yang bodoh itu menambah terhadap perbuatan bodohnya.
Maka aku menambah terhadap helim(terhadap kesabaranku) (helim adalah kamu tidak menyiksa terhadap orang , yang mana orang itu membuatmu marah).

إذا نطق السفيه فلا تجبه

Jika orang bodoh berbicara kepadamu, maka janganlah kamu menjawabnya.

فخير من إجابته السكوت.

Maka lebih baik kamu diam, daripada kamu menjawab terhadap orang yang bodoh itu.

فإن كلمته فرجت عنه

Jika kamu menjawab terhadap orang bodoh, maka berarti kamu seperti orang yang melepaskan tali kekang kuda(sehingga orang yang bodoh itu semakin liar dan semakin bebas berbicara kasar kepadamu) .


وإن خليته كمداً يموت


Jika kamu meninggalkan terhadap orang bodoh itu,maka orang yang bodoh itu akan mati dalam situasi dan kondisi yang sangat susah.

Bahkan dalam satu riwayat, diceritakan oleh Ar-Romli dalam “Nihayatu Al-Muhtaj” bahwa Asy-Syafi’i dipukul oleh orang Maroko yang bermazhab Maliki karena jengkel akibat hujjahnya dipatahkan Asy-Syafi’i.
Imam Ath-Thobari, sejarawan dan mufassir besar yang terkenal dengan tafsir Ath-Thobari itu juga diuji dengan kata-kata keji para sufaha’. Beliau dituduh syiah dan mulhid/anti agama, sampai-sampai pada saat wafatnya jenazah beliau tidak boleh di kebumikan di pemakaman umum oleh orang-orang awam. akhirnya terpaksalah beliau dimakamkan di dalam rumahnya sendiri!

Imam Ash-Shon’ani, ulama besar yang terkenal dengan kitabnya yang berjudul “Subulu As-Salam” yang merupakan syarah “Bulughu Al-Marom” juga diuji dengan para sufaha’. Kata Az-Zirikli dalam Al-A’lam, Ash-Shon’ani mengalami cobaan berkali-kali dari kalangan juhala dan para awam.
Bukan hanya para sufaha’, kadang-kadang ulama juga harus merasakan pahitnya diuji dengan kedengkian dari orang yang dianggap berilmu. Dengki itu sering dibalut alasan-alasan yang kelihatan “syar’i” di mata awam. Malahan bisa dikatakan, sebagian besar kata-kata buruk yang terbit dari orang awam jahil itu justru berasal dari “teladan” dan restu para pendengki ini.
Tapi mutiara-tetaplah mutiara. Bagaimanapun adanya opini yang berusaha mencitrakan bahwa mutiara itu kotoran kerbau, maka Allah sendiri yang akan membela orang mulia dengan cara-Nya yang indah. Para ulama yang mulia itu selalu menjawab cemoohan, hinaan, tuduhan dan cacian orang-orang jahil maupun para pendengki dengan sikap sabar dan tidak membalas. Dengan demikian semakin terhinalah para penghina dan semakin mulialah para ulama itu.

رحمهم الله رحمة واسعة
اللهم اجعلنا من محبي الحبائب والعلماء الصالحين

Kategori
Uncategorized

HUKUM MEWAKILKAN/MEWAKILI HADIR DALAM UNDANGAN WALIMAH

HUKUM MEWAKILKAN /MEWAKILI UNDANGAN WALIMAH

Assalamualaikum.
Deskripsi.

Pernikahan dalam Islam merupakan hal penting dan menjadi titik tolak ukur dalam rangka membangun masyarakat yang unggul. Oleh karena itu Nabi Muhammad SAW mendorong umat untuk segera minikah bagi yang sudah mampu dan mengharamkan praktek perzinahan. Dalam kondisi yang sedemikian pun menuntut kedua orang tua untuk segera melaksanakan kewajibannya yaitu menikahkan putra dan putrinya, yang kemudian mengadakan acara Walimah an-Nikah dengan cara mengundang tetangganya sanak familinya baik yang dekat maupun yang jauh sesuai dengan kemampuannya. Namun demikian udzur seseorang terkadang datang tanpa diduga sehingga dia tidak bisa datang sesuai dengan waktu dan hari yang tertera dalam undangan tersebut, maka dalam rangka untuk tidak berlarut-larut shohibul walimah menunggu atas kehadirannya sehingga ia harus mewakilkan undanganya kepada orang lain.

Pertanyaannya.
Bolehkah mewakilkan hadir keundangan walimatul urs dalam kondisi udzur secara syar’i ?

Waalaikum salam.

Jawaban.

Menghadiri undangan tidak boleh diwakilkan atau digantikan oleh orang lain, baik undangan walimatul ‘urs ataupun undangan yang lain , sebab setiap hal yang bisa gugur karena adanya uzur maka tidak dapat digantikan orang lain, Sebagaimana disebutkan dalam sebuah kaidah

” كل مايسقط بالعذر لايقبل النيابة

Adapun shahibul bait dalam mengundang seseorang bertujuan menanti kehadirannya bukan menikmati hidangan, oleh sebab itu menghadiri undangan walimah (pernikahan) tetap wajib bagi orang yang berpuasa, atau sunnah (dalam kasus undangan walimah selain pernikahan) selama dalam tempat shohibul walimah tidak ada hal yang diharamkan . Jika mewakilkan kehadiran dalam acara itu diperbolehkan, niscaya boleh bagi orang yang berpuasa mewakilkan undangan pada orang orang lain.”

“Sedangkan orang yang masih menghadiri walimah atas nama wakil, maka terdapat dua kemungkinan, adakalanya orang yang mengundang meridhai kehadirannya, sehingga ia masuk kategori tamu undangan tersendiri. Atau tidak ridha, sehingga ia dianggap sebagai thufaili (tamu liar) dan tergolong maksiat. Jika ikut menyantap hidangan, tamu liar ini berkewajiban mengganti rugi dengan makanan yang sama atau dengan harga yang senilai dengan makanan tersebut, kecuali orang yang mengundang membebaskan tanggungan tersebut.

Terkait buah tangan untuk para tamu undangan (suvenir, snack, atau lainnya, red) yang biasanya dibawa pulang, jika tuan rumah menegaskan bahwa pemberian tersebut untuk para hadirin, dengan pemahaman bahwa jika seorang wakil maka diperuntukkan untuk orang yang mewakilkan padanya, maka pemberian tersebut merupakan amanah yang wajib diberikan pada pemiliknya, jika tidak diberikan maka dalam hal demikian berlaku dua keadaan yang dijelaskan di atas,”
Hukum di atas seperti terangkum dalam kitab Bulghah at-Thullab fi Talkhisi Fatawa Masyayikh al-Anjab  : hal. 327 dan juga dalam kitab Fiqih madzhab yang empat sebagi berikut:

بغية الطلا.ب فى تلخيص فتوى مشايخ الأنساب ص ٣٢٧

مسألة ق: إجابة الوليمة سواء كانت عرسا أو غيره لا تقبل النيابة فلا يصح الوكيل فيها لأن كل ما سقط بالعذر لا يقبل النيابة .ولأن المقصود مجرد الحضور لا الأكل ولذلك يجب على الصائم الحضور أو يسنّ فلو جاز التوكيل لجاز توكيل الصائم غيره في الحضور. 

ومن حضر الوليمة باسم الوكيل فلا يخلو من أحد الأمرين إما أن يرضى صاحب الدعوة بحضوره فيكون مدعوا استقلالا أو لا فيكون طفيليا عاصيا، وإذا أكل ضمن بالمثل أو القيمة الا أن يبرئه صاحب الدعوة وهدية الداعي للمدعوين التي يرجعون بها إلى بيوتهم ان صرّح لمن حضر بزعم أنّه وكيل أنّها لمن وكله فهي في أمانة يجب عليه إيصالها. إلى من هي له وإلّا فالأمر يجري على أحد الحالين السابقين

Referensi

كتاب الفقه على المذاهب الأربعة إجابة إلى الوليمة وغيرها المكتبة الشاملة ص ٣٥-٣٧.

[إجابة الدعوة إلى الوليمة وغيرها]
إجابة الدعوة إلى الوليمة وهي “طعام العرس خاصة” كما تقدم فرض (١) ، فلا يحل لمن دعي إليها أن يتخلف عنها، أما إجابة الدعوة إلى غير الوليمة من الأطعمة التي ذكرت آنفاً كطعام الختان، والقدوم من السفر وغيرهما فإنها (٢) سنة. 
وإنما تجب الإجابة أو تسن بشروط:
 منها أن لا يكون الداعي فاسقاً مجاهراً أو ظالماً وله غرض فاسد كالمباهاة والمفاخرة أو التأثير على المدعو ليستخدمه في معصية كدعوة القاضي ليحول بينه وبين الحكم بالحق. ومنها أن يكون المدعو معذوراً بعذر شرعي يتيح له التخلف عن الجماعة كمرض ونحوه، وأن يكون معيناً بالدعوة، فلوقال الداعي للناس: هلموا إلى الطعام بدون تعيين فإن الإجابة لا تجب. ومنها أن لا تكون الوليمة مشتملة على محرم أو مكروه؛ فإذا لم تستوف الشروط فإن الإجابة لا تفرض ولا تسن، وفي شروط الإجابة تفصيل في المذاهب(٣) .الحنابلة – قالوا: وقت استحباب وليمة الطعام موسع فإنه يكون من بعد حصول عقد النكاح إلى انتهاء العرس بدون تقرير، فلا مانع مما جرت به العادة من أن تكون الوليمة قبل الدخول بزمن يسير.
فإذا شرع في الوليمة فإنها تستمر يومين، اليوم الأول واليوم الثاني، أما اليوم الثالث فإنها تكون مكروهة لقوله عليه الصلاة والسلام: “الوليمة أول يوم حَق، والثاني معروف، والثالث رياء وسمعة”. رواه أبوداود وابن ماجة وغيرهما.الشافعية – قالوا:
وقت وليمة العرس سدخل بالعقد ولا يفوت بطول الزمن، وقال بعضهم: تستمر الوليمة إلى سبعة أيام في البكر، وثلاثة في الثيب، وبعدها تكون قضاء، والأفضل فعلَها بعد الدخول
(١) الحنفية – قالوا: لهم رأيان في ذلك: “أحدهما” أن الإجابة سنة مؤكدة، سواء كانت الدعوة إلى وليمة أو غيرها متى استكملت الشروط. “ثانيهما” أن الإجابة سنة مؤكدة قريبة من الواجب في وليمة النكاح وهو المشهور. أما الإجابة إلى غير الوليمة فهي أفضل من عدم الإجابة. وبعضهم يقول: إن الإجابة إلى وليمة النكاح واجبة لا يجوز تركها
(٢) المالكية – قالوا: إجابة الدعوة إلى الطعام تنقسم إلى خمسة أقسام، الأول: واجبة وهي إجابة الدعوة إلى طعام وليمة النكاح،
والثاني: مستحبة وهي الإجابة إلى المأدبة “بضم الدال وفتحها” وهي الطعام الذي يصنع للوداد.
الثالث: مباحة وهي الإجابة إلى الطعام الذي يصنع بقصد حسن غير مذموم كالعقيقة للمولود، والنقيعة للقادم من السفر، والولكيرة لبناء الدار، والخرس للنفاس، والإعذار للختان ونحو ذلك. الرابع: مكروهة وهي الإجابة إلى طعام يعمل بقصد الفخر والمحمدة. الخامس: محرمة وهي الإجابة إلى طعام يفعله الرجل لمن يحرم عليه هديته كأحد الخصمين للقاضي
(٣) الحنابلة – قالوا: يشترط لإجابة الدعوة شروط: أحدها: أن يكون المدعو معيناً بشخصه فلودعي ضمن أناس كأن قال الداعي لجماعة يا أيها الناس هلموا إلى الطعام فإنه لا تجب الإجابة على واحد منهم، كما إذا قال لرسوله: ادع من شئت أو من لقيته؛ فإن الإجابة لا تجب في هذه الحالة.
ثانياً: أن يكون الداعي مسلماً يحرم هجره، فإذا دعاه ذمي فإن إجابته تكره، وكذا إذا دعاه ظالم أو فاسق أو مبتدع أو متفاخر بها، فإن إجابته لا تلزم بل تكره.ثالثاً: أن يكون كسب الداعي طيباً، فإن كان كسبه كله خبيثاً فإنه لا تلزم الإجابة بل تحرم وإن كان بعض ماله حلالاً والبعض حراماً ففي إجابة الدعوة والأكل منه أقوال: أحدها الكراهة ورجحه بعضهم. ثانيها الحرمة. ثالثها التفصيل، وهو: إن كان الحرام أكثر حرم الأكل وإلا فلا. رابعها أن لا يكون المدعوغير قادر على الحضور كأن كان مريضاً أو ممرضاً لغيره أو مشغولاً بحفظ مال نفسه أو غيره، أو كان في شدة حر أو برد أو مطر يبل الثياب أو وحل، فإن الإجابة في كل هذه الأحوال لا تجب، لأنها أعذار تبيح ترك الجماعة، فكذلك تبيح ترك إجابة الدعوة للوليمة.خامساً: أن لا تكون الوليمة مشتملة على منكر كأن يكون فيها مضحك بفحش أو كلام كاذب، أو يكون فيها مومسات يتهتكن بالرقص ونحوه، أو كانت المائدة مشتملة على خمر أوآنية من ذهب أو فضة أو عود أو مزمار ونحوها، فإن الإجابة في كل ذلك لا تجب بل تحرم، إلا إذا كان قادراً على إزالة المنكر فإنه يجب عليه الحضور والإنكار وبذلك يؤدي واجبين: واجب إزالة المنكر، وواجب إجابة الدعوة، فإذا لم يعلم بهذه المحظورات وحضر وشاهد المنكر فإنه يجب عليه إزالته إن قدر، فإن لم يقدر فإنه يجب عليه الانصراف. أما إذا علم بالمنكر ولم يره بعينه فإن له الجلوس والأكل، وله الانصراف.سادساً: أن يدعوه في اليوم الأول، فإذا دعاه في اليوم الثاني فإن الإجابة لا تجب بل تستحب وإذا دعاه في اليوم الثالث فإن الإجابة تكره.المالكية – قالوا: تفترض إجابة الدعوة إلى وليمة النكاح بشرط:أولاً: أن يكون المدعو معيناً بشخصه صريحاً أو ضمناً، ومثال الأول: أن يدعوه صاحب الوليمة بنفسه أو برسوله ولو كان غلاماً، ومثال الثاني: أن يرسل رسولاً ليدعو أهل محل كذا وهم محصورون، فإن كان كل واحد منهم يكون معيناً ضمناً، أما إذا لم يعين المدعو لا صراحة ولا ضمناً كأن يقول لرسوله: ادع من لقيت أوادع الفقراء وهم غير محصورين فإنه لا تجب الدعوة بذلك.
ثانياً: أن يكون في الوليمة من يتأذى بالاجتماع معه من الأرذال والسفلة، كأن يخاف على مروءته ودينه، أو يخشى أن يلحقه أذى منهم، أما إذا كان يتأذى بمجرد رؤية أحد يكرهه لحظ نفسي فإن الإجابة لا تسقط عنه بذلك.
ثالثاً: أن لا تكون الوليمة مشتملة على منكر شرعاً، كفرش حرير يجلس هوعليه أو يرى من يجلس عليه ولو فوق حائل، أو تكون مشتملة على آنية من ذهب أو فضة أو مشتملة على ما يحرم سماعه من الأغاني المشتملة على ما لا يجوز، فإن كان المنكر في محل آخر ولم يسمعه أو يره فإنه لا يبيح له التخلف وإلا أباحه. لأن سماع المعصية حرام كرؤيتها.
رابعاً: أن لا يكون منصوباً في مكان الوليمة صورة حيوان أو إنسان مجسدة كاملة الأعضاء الظاهرة التي لا يمكن أن يعيش بدونها ولها ظلّ، فإن لم تكن كاملة الأعضاء التي لا يعيش بدونها ولا ظل لها كأن كانت مبنية في وسط الحائط فإنها لا تضر، لأن الذي يحرم تصويره من الحيوان العاقل وغيره: وهوما استوفى هذه الشروط، وسيأتي الكلام في ذلك مفصلاً، هذا وقد رخص بعضهم في حضور الوليمة المشتملة على محرم شرعاً إذا كان صاحبها ذا سطوة وسلطان يخشى من شره.
خامساً: أن لا يكون هناك زحام كثير.سادساً: أن لا يغلق الباب دونه ولو للمشاورة عليه، أما إذا أغلق الباب لمنع الطفيلية أولحفظ النظام فإن إغلاقه لا يبيح له التخلف.
سابعاً: أن يكون الداعي مسلماً وأن لا يكون المدعو معذوراً بعذر شرعي مبيح له التخلف كمرض ونحوه، وأن لا يكون الداعي فاسقاً أو شريراً أو مفاخراً أو تكون امرأة غير حرم أو من تخشى من إجابته ريبة.الحنفية – قالوا: لا يسن إجابة الدعوة إلا بشروط:
أولاً: أن لا يكون الداعي فاسقاً مجاهراً بالفسق، فلا تسن إجابة الفاسق والظالم بل تكون خلاف الأولى، لأنه ينبغي أن يتورع عن أكل طعام الظلمة وإن كان يحل.
ثانياً: أن لا يكون غالب ماله حراماً فإن علم بذلك فإنه لا تجب عليه الإجابة؛ ولا يأكل ما لم يخبره بأن المال الذي صنع منه الطعام حلال أصابه بالوراثة ونحوها، فإن كان غالب ماله حلالاً فإنه لا بأس بالإجابة والأكل.
ثالثاً: أن لا تكون الوليمة مشتملة على معصية كخمر ونحوه.
فمن دعي إلى وليمة فإن الإجابة لا تسن في حقه إذا علم أنها مشتملة على معصية؛ فإن لم يعلم بها فإن الإجابة لا تسقط عنه؛ فإذا ذهب وهو يعلم ووجد المعصية كشرب الخمر والتماثيل؛ فإن كانت على المائدة فإنه يجب عليه أن لا يجلس بليخرج معرضاً، أما إذا كانت المعصية في مكان بعيد عن المائدة وهو يسمعها أو يراها، فإن قدر على إزالتها وجب عليه أن يفعل، وإن لم يقدر فإن كان ممن يقتدى به فإنه يجب عليه أن يخرج أيضاً؛ وإلا فلا بأس بأن يقعد ويأكل؛ أما إذا كان عالماً قبل أن يذهب فإنه لا يحل له الذهاب إلا إذا كان له تأثير على أنفسهم فيتركون المنكر .من أجله، فإنه في هذه الحالة تجب عليه الإجابة، ويجب عليه الذهاب لإزالة المنكر، ولا بأس بإجابة دعوة النصارى.والله أعلم بالصواب

Bughiyat al-Thullab fi Takhlees Fatawa Mashaikh al-Ansab hal. 327

Masalah Q: Memenuhi undangan walimah, baik itu pernikahan maupun lainnya, tidak menerima perwakilan, sehingga tidak sah jika diwakilkan, karena segala sesuatu yang gugur dengan alasan tidak dapat diwakilkan. Tujuan dari undangan hanyalah untuk hadir, bukan untuk makan. Oleh sebab itu, bagi orang yang berpuasa wajib hadir atau disunnahkan. Seandainya diperbolehkan diwakilkan, tentu orang yang berpuasa bisa mewakilkan orang lain untuk hadir.

Orang yang menghadiri undangan atas nama wakil memiliki dua kemungkinan: jika tuan rumah menerima kehadirannya, maka dia dianggap sebagai undangan tersendiri. Jika tidak, maka dia dianggap sebagai penyusup dan berdosa. Jika dia makan, maka dia wajib mengganti makanan tersebut baik secara setara atau nilainya, kecuali jika tuan rumah mengizinkannya. Sedangkan hadiah dari tuan rumah yang diberikan kepada tamu undangan untuk dibawa pulang, jika tuan rumah secara tegas menyatakan bahwa hadiah itu untuk pihak yang diwakili, maka itu adalah amanah yang wajib disampaikan kepada yang berhak. Jika tidak, maka berlaku salah satu dari dua kondisi di atas.

Kitab Al-Fiqh ‘ala Madzahib Al-Arba’ah (Fiqh Empat Mazhab), hal. 35-37

[Menjawab Undangan Walimah dan Lainnya]

Menjawab undangan walimah, yaitu “makanan khusus pernikahan” sebagaimana dijelaskan sebelumnya, adalah wajib (1), sehingga tidak diperbolehkan bagi orang yang diundang untuk tidak hadir. Adapun menjawab undangan selain walimah dari makanan yang disebutkan sebelumnya, seperti hidangan khitan, kepulangan dari perjalanan, dan lainnya, hukumnya sunnah (2).

Kewajiban atau sunnahnya memenuhi undangan memiliki beberapa syarat:

1. Tuan rumah bukanlah orang fasik yang terang-terangan atau zalim, dan tidak ada tujuan buruk seperti pamer atau niat mempengaruhi undangan untuk melakukan maksiat, seperti mengundang hakim agar tidak berlaku adil.


2. Undangan diberikan secara spesifik kepada seseorang. Jika undangan diberikan secara umum tanpa penunjukan, seperti “Ayo makan bersama,” maka kehadiran tidak wajib.


3. Walimah tidak mengandung hal yang haram atau makruh. Jika syarat-syarat ini tidak terpenuhi, maka memenuhi undangan tidak wajib atau tidak sunnah. Adapun detail syarat-syaratnya berbeda dalam setiap madzhab (3).

Penjelasan rincinya sebagai berikut:

Hanabilah: waktu anjuran walimah luas, bisa setelah akad nikah hingga selesai resepsi. Anjuran menghadiri walimah berlangsung selama dua hari, hari pertama dan kedua. Hari ketiga makruh, sebagaimana sabda Nabi saw., “Walimah hari pertama adalah hak, hari kedua adalah kebaikan, dan hari ketiga adalah pamer dan riya.” (HR. Abu Dawud dan Ibn Majah).

Syafi’iyah: waktu walimah berlangsung setelah akad dan tidak terbatas waktunya. Sebagian mengatakan walimah bertahan hingga tujuh hari bagi gadis dan tiga hari bagi janda, setelahnya dianggap qadha.


(1) Hanafiyah: mereka memiliki dua pendapat: “Pertama,” bahwa menjawab undangan adalah sunnah muakkadah untuk walimah atau lainnya jika syaratnya terpenuhi. “Kedua,” menjawab undangan walimah nikah adalah sunnah muakkadah mendekati wajib, sedangkan undangan lainnya lebih dianjurkan daripada tidak menghadiri.

(2) Malikiyah: Menjawab undangan terbagi menjadi lima bagian:

1. Wajib, yaitu menjawab undangan walimah nikah.


2. Sunnah, yaitu undangan perjamuan (ta’ami lil-widad).


3. Mubah, undangan yang diadakan dengan tujuan baik, seperti aqiqah, kepulangan dari perjalanan, atau perayaan rumah baru.


4. Makruh, jika undangan bertujuan untuk pamer.


5. Haram, jika diundang oleh pihak yang diharamkan baginya untuk menerima undangan itu, seperti salah satu pihak yang sedang berselisih mengundang hakim.

(3) Hanabilah: memenuhi undangan wajib jika undangan diberikan secara spesifik, jika tidak maka tidak wajib.

 

Kategori
Uncategorized

PERBEDAAN ANTARA JUAL BELI DAN RIBA

PERBEDAAN ANTARA JUAL BELI DAN RIBA

Perdagangan telah menjadi urat nadi orang-orang Makkah dan sekitarnya. Suku yang mendominasi penduduk Makkah adalah Quraisy.

Para pedagang biasa menjalankan aktivitas perniagaan ke Syam pada musim panas dan ke Yaman pada musim dingin. 

Selama itu pula, mereka telah mengenal praktik riba, termasuk paman Nabi sendiri, Abbas bin Abdul Muthalib. Sampai kemudian turun ayat Alquran yang melarang riba. Daerah yang berada di sebelah tenggara Makkah, Thaif, saat itu adalah pusat perdagangan antarsuku. Ada orang-orang Yahudi yang bermukim di dalamnya.
Dengan demikian bahwa bagi kalangan Yahudi, praktik riba bukan hal baru. Keberadaan Yahudi di sana pun membuat praktik riba kian subur.
Studi kasus seseorang melakukan transaksi jual beli dengan sistem tidak kes/ utang katakanlah Tajir dari Dairah desa yang jauh ia telah biasa merantau kedaerah lain bisnis Pakaian sarung dan celana dll. dengan sistem utangan ( jual beli namun tidak kes / utang ) dengan jangka waktu pembayaran tiga bulan pembayaran harus lunas. Pada satu hari seorang TAJIR Menjualnya kepada Ahmad berupa sarung LAMIRI dengan Harga Utangan sebesar 3000000 keduanya sepakat. Setelah sampai jangka waktu 3 bulan si TAJIR menagihnya kepada Ahmad, namun sayangnya Ahmad dalam usahanya menanam tembakau tidak sukses sehingga ia minta maaf kepada TAJIR dan mohon despensasi waktu agar diperpanjang 3 bulan lagi dan Ahmad berjanji akan membayar lebih dengan nominal 4000000 maka TAJIR pun setuju ( sepakat ). Dan ia bilang bahwa utang kamu bukan 3000000 melainkan 4000000 yang harus dibayar ia jawab Ahmad. Namun demikian sarungnya Ahmad yang diperoleh dari Tajir telah dijual kepada orang lain. Disisi lain ada pengutang sepakat akan memberikan tambahan berupa uang kepada pemilik dana ketika jatuh tempo utangnya diperpanjang.
Jadi, jika seseorang berutang kepada orang lain, sampai datang waktu melunasinya, maka si pemberi utang itu akan bertanya begini: “Apakah kau akan membayar utangmu atau memberikan tambahan uang (karena tidak bisa membayar pokok utang)?”
Bila orang yang berutang itu membayar, maka pemberi utang tersebut mendapatkan pokok utangnya. 
Sedangkan jika yang berutang itu tidak sanggup membayar pada saat jatuh tempo, maka nilai yang harus dibayar bertambah. Dengan kata lain, si pemberi utang akan memperoleh pokok utang dan tambahan dari pokok utang tersebut.

Pertanyaannya.
Bagaimanakah hukum transaksi Tajir dan Ahmad Jual beli keduanya dengan sistem tidak kes/ hutangan dengan jangka tempo waktu sebagaimana deskripsi? Lalu apa perbedaan jual beli dan riba.

Waalaikum salam
Jawaban.

Hukum transaksi jual belinya Tajir dan Ahmad secara tidak kes ( hutang ) sah, namun cara bayarnya setelah melewati waktu dengan menambah nominal uang 3 juta menjadi 4 juta selebihnya itu adalah riba. Oleh karenanya bedakan antara jual beli dan riba.

Adapun Jual beli adalah adanya pertukaran barang dengan uang yang mana masing-masing dari keduanya sebagai imbalan dari yang lain seperti hal halnya Sarung Lamiri sebagaimana deskripsi dijual 3 juta miski standarnya adalah 1,500000 atau menjual baju seharga 20000 miski semestinya 10000 selama kedua belah pihak pejual dan pembeli saling merelakan, karena sarung/baju tersebut dibeli dengan imbalan senilai harga sebagaimana tersebut diatas.

Sedangkan Riba adalah adanya kewajiban pembayaran yang tidak ada imbalannya. Seperti uang Rp 10000 ditukar Rp.20000, karena sisa Rp. 10000 tidak ada imbalannya, dan tidak masuk pada kategori imbalan adanya tempo, sebab tempo bukanlah harta sebagaimana contoh dalam diskrisipi yaitu hutang Sarung Lamiri 3 juta kemudian setelah jatuh tempo tidak bisa bayar lalu waktunya diundurkan sekaligus menambah membayarnya menjadi 4 juta.Jadi pembayaran utang seperti diatas masuk dalam kategori riba yang diharamkan, karena tempo bukan berupa barang yang bisa ditukar. Kasus tersebut mirip dengan Konsep riba jahiliyah yaitu adanya tambahan dari pinjaman pokok yang diberikan oleh orang yeng memberikan hutang kepada orang yang berhutang karena tidak mampu membayar pada saat jatuh tempo.

Dengan kata lain Riba jahiliyah adalah kondisi di mana pengutang sepakat akan memberikan tambahan berupa uang kepada pemilik dana ketika jatuh tempo utangnya diperpanjang atau si pemberi utang akan memperoleh pokok utang dan tambahan dari pokok utang tersebut.
Bahkan, dijelaskan kembali, bahwa praktik riba tidak hanya pada urusan utang-piutang tetapi juga hewan ternak. 
Imam Abu Ja’far Muhammad ibn Jarir dalam ‘Tafsir At-Thabary’ menyampaikan, ketika orang yang berutang tidak bisa mengembalikan hewan ternak yang dipinjamnya, maka durasi pengembalian utang memang bisa diperpanjang. “Tetapi saat pengembalian, dia harus menyerahkan hewan ternak yang lebih tua,” Wallahu ‘A’lam bisshowab.

مرقاد صعود التصديق فى شرح سلم التوفيق ص ٤٨

وحرم الربا كما قال تعالى فى كتابه العزيز : وأحل الله البيع وحرم الربا . قال سليمان الجمل يعني واحل الله لكم الأرباح فى التجارة بالبيع والشراء وحرم الربا الذي هو زيادة فى المال لأجل تأخير الأجل وذكر بعض العلماء الفرق بين البيع والربا فقال إذا باع ثوبا يساوي عشرة بعشرين فقد جعل ذات الثوب مقابلا بعشرين فلما حصل التراضى على هذا التقابل صار كل منهما مقابلا للآخر فى المالية عندهما فلم يكن آخذا من صاحبه شيأ بغير عوض .أما إذا باع عشرة دراهم بعشرين فقد أخذ العشرة الزائدة بغير عوض لايمكن أن يقال أن العوض هو الإمهال بمدة الأجل لأن الإمهال ليس مالا حتى يجعله عوضا عن العشرة الزائدة فقد ظهر الفرق بين الصورتين .إنتهى

(تفسرر ابن كثير)

( يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَأْكُلُوا الرِّبَا أَضْعَافًا مُّضَاعَفَةً ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ )
آل عمران (١٣٠)

يقول تعالى ناهيا عباده المؤمنين عن تعاطي الربا وأكله أضعافا مضاعفة ، كما كانوا يقولون في الجاهلية – إذا حل أجل الدين : إما أن يقضي وإما أن يربي ، فإن قضاه وإلا زاده في المدة وزاده الآخر في القدر ، وهكذا كل عام ، فربما تضاعف القليل حتى يصير كثيرا مضاعفا .

وأمر تعالى عباده بالتقوى لعلهم يفلحون في الأولى والأخرى.

تفسير الطبرى

كان أبي يقول: إنما كان الربا في الجاهلية في التضعيف وفي السن, يكون للرجل فضل دين، فيأتيه إذا حل الأجل فيقول له: تقضيني أو تزيدني؟فإن كان عنده شيء يقضيه قضى، وإلا حوَّله إلى السن التي فوق ذلك = إن كانت ابنة مخاض يجعلها ابنة لبون في السنة الثانية، ثم حِقَّة، ثم جَذَعة، ثم رباعيًا،ثم هكذا إلى فوق = وفي العين يأتيه،فإن لم يكن عنده أضعفه في العام القابل، فإن لم يكن عنده أضعفه أيضًا، فتكون مئة فيجعلها إلى قابل مئتين، فإن لم يكن عنده جعلها أربعمئة، يضعفها له كل سنة أو يقضيه. قال: فهذا قوله: لا تأكلوا الربا أضعافًا مضاعفة. والله أعلم بالصواب

Kategori
Uncategorized

KENAPA NIAT SHOLAT PAKAI FI’IL MUDHORI’ SEDANGKAN NIAT WUDHU’ MEMAKAI FI’IL MADLI

Assalamualaikum

Deskripsi masalah.

Dalam waqiiyah dimasyarat bagi umat Islam dalam melakukan wudhu’ sudah lumrah ketika melafadhkan niat menggunanakan lafadh”

نويت الوضوء لرفع الحدث الأصغر فرضا لله تعالى “

Sedangkan dalam melakukan shalat menggunakan lafadh ” أصلى baik shalat sunnah maupun shalat fardhu’ .

Pertanyaannya

Kenapa beda antara Niat wudhu ” نويت ” fi’il madhi sedangkan niat didalam shalat memakai Fi’il mudhore’ ” أصلى” ?

Waalaikum salam.

Jawaban.
Melafadhkan niat dalam shalat atau pun dalam wudhu’ hukumnya Sunnah, dengan tujuan untuk membantu hati, artinya walaupun tanpa melafadhkan niat dalam lisan hukumnya sah dengan catatan apa yang diniatkan dalam hati sesuai dengan apa yang dituju atau diperbuat. Maksud sesuai dengan apa yang diperbuat adalah semisal seseorang yang ingin melaksanakan shalat dhuhur maka dalam hatinya harus menyertakan shalat Dhuhur bukan sebaliknya maka jika yang akan dilakukan shalat dhuhur sementara niatnya shalat asar maka dalam hal ini tidak sah.
Berbeda dengan seseorang yang ingin melaksanakan shalat dhuhur dengan melafadhkan shalat Ashar ( dalam lisan ) akan tetapi dalam hatinya shalat dhuhur maka hukumnya sah karena yang dihitung apa yang diniatkan dalam hati sebagai tempatnya niat yang sesuai dengan maksud dan tujuannya.
Karena syarat sahnya niat dalam shalat itu niat dalam hati, ta’yin ( menentukan apa yang dituju semisal shalat dhuhur maka harus menyertakan dhuhur , kemudian menyertakan ” Fardu” jika yang dilakukan fardu tetapi jika yang dilakukan sunnah maka syaratnya dua yaitu niat/menyengaja harus menyertakan ta’yin . Akan tetapi jika yang dilakukan shalat sunnah muthlak maka syaratnya cuma satu yaitu al-Qoshdu/menyengaja.

Lalu bagai mana terkait persoalan dalam deskripsi si? Yakni dalam niat wudhu ” menggunakan ” نويت ” fi’iel madhi, sedangkan dalam shalat niatnya memakai fi’il mudhore’ أصلي ?

Jawabannya.

Sebenarnya ucapan niat dalam segala hal ( cara melafadhkan niat itu sama Yaitu diawali dengan نويت ) namun niat dalam sholat sebagian orang tidak dilafadhkan نويت langsung أصلي membuang lafadh نويت Namun diucapkan dalam hati karena cara melafadhnya orang berbeda-beda, namun yang terpenting adalah persyaratan niat itu harus terpenuhi sesuai dengan tujuan yaitu:

NIAT DALAM HATI ( MENYEGAJA ), TA’YIN DAN FARDIYAH ( Niat menentukan sholat semisal dhuhur/asar dan Fardhu)

Jadi kesimpulan

Ucapan niat dalam wudhu dan dalam sholat sebenarnya sama hanya saja niat wudhu’ dilafadhkan (diucapkan dengan lisan ) sedangkan niat shalat diucapkan dalam hati, namun sunnah melafalkan niat dalam lisan guna untuk membantu niat dalam hati . Artinya walaupun tidak melafadhkan niat dalam lisan sah yang penting diniatkan dalam hati sesuai dengan apa yang dituju/tujuan atau yang dimaksud.

Berikut dalil tentang niat Sabda Rasulullah SAW. :

“انما الاعمال بالنيات وانما لكل امرئ ما نوى رواه البخارى


Artinya:“Segala sesuatu tergantung pada niatnya, dan apa yang didapatkan ialah apa yang telah diniatkan.” (HR. Bukhari).

Kaidah:


الامور بمقاصدها

Segala sesuatu tergantung pada tujuannya. Contoh: Diwajibkannya niat dalam berwudhu, mandi, shalat dan puasa.

Kaidah:

ما يشترط فيه التعين فالخطأ فيه مبطل

Sesuatu yang memerlukan penjelasan, maka kesalahan dalam memberikan penjelasan menyebabkan batal.

Contoh: Seseorang yang ingin melakukan shalat dhuhur dengan niat ‘ashar atau sebaliknya, maka shalatnya tersebut tidak sah.

Referensi

Lihat dalam kitab tanwirul qulub.hal:130

فصل أركان الصلاة سبعة عشر اولها( النية) ومحلها القلب ويجب أن تكون مقرونة بتكبيرة الإحرام فإذا كانت الصلاة فرضا فشروطها ثلاثة : ( القصد ) وهو أن يقصد هيئة الصلاة ( والتعيين) بأن يعينها باسمها من كونها مغربا أو عشاء مثلا ( ونية الفرضية ) بأن يصف الصلاة بالفرض ، وإن كانت نفلا معينا كالرواتب فلها شرطان : القصد والتعيين ، وإن كانت نفلا مطلقا فلها شرط واحد وهو القصد فقط ، ويسن النطق بالمنوي ونية الأداء أو القضاء والإضافة إلى الله والاستقبال وبعدد الركعات بأن يقول نويت أن أصلي فرض الظهر أداء لله تعالى مستقبل القبلة أربع ركعات الله أكبر
.. الخ


Adapun Persoalan penglafalan dalam niat berbeda-beda yang terpenting adalah niat ( hasrat/menyengaja), ta’yin dan fardiyah harus ada jika yang dilakukan shalat fardhu jika shalat sunnah maka harus menyertakan ta’yin tetapi jika sunnah muthlak maka cukup satu syarat yaitu القصد berhasrat/menyengaja

Contoh lain

نويت أن أ صلي فرض الظهر أربع ركعات آداء مستقبل القبلة لله تعالى الله أكبر

نويت أن أصلي فرض الظهر أداء لله تعالى مستقبل القبلة أربع ركعات الله أكبر

Kategori
Uncategorized

TUGAS DAN TANGGUNG JAWAB PEMIMPIN DAN ANGGOTA DALAM PERKUMPULAN ARISAN KORELASINYA DENGAN KEUANGAN

TUGAS DAN TANGGUNG JAWAB PEMIMPIN DAN ANGGOTA DALAM PERKUMPULAN ARISAN KORELASINYA DENGAN KEUANGAN

Assalamualaikum.

Deskripsi masalah

Andi mengikuti kegiatan arisan yang hasilnya mencapai 25 juta , beruntungnya andi dapat arisan lebih awal, namun sebelum arisan tuntas dalam satu putaran pelaksanaan arisan kandas ditengah perjalanan, hal tersebut membuat ketua arisannya melarikan diri dan tidak bertanggung jawab padahal masih banyak anggota arisan yang masih belum memperoleh arisan tersebut, sedangkan Andi kalau dihitung masih punya tunggakan ( hutang)1 juta dari arisan tsb,

Pertanyaan :

  1. Bagaimana hukumnya ketua arisan lari dari tanggung jawabnya?
  2. Wajibkah seorang Andi memberikan uang tunggakannya kepada orang yang belum memperolah arisan (tanpa kordinasi dengan ketua arisan krn sudah melarikan diri), meskipun ada anggota yang lain yang belum memperoleh arisan tsb ?

Waalikum salam.

Jawaban disatukan

Dalam sebuah Organisasi yang didalamnya dikemas dengan sebuah perkempulan atau arisan baik itu arisan tahlilan sholawatan, Yasinan dapat dipastikan ada aturan-aturan sebelum pelaksanaan dijalankan, seperti pembentukan ketua sekretaris, bendahara dll. yang tentunya banyak tujuan yang diantaranya untuk saling tolong menolong dalam kebaikan baik membantu khususan fatihah tahlilan yang pahalanya untuk orang yang meninggal atau saling membantu dalam bentuk materi atau uang dengan secara Bergilir. Sebagaimana firman Allah swt:


وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ ۖ وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ


Artinya: Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. (Qs Al Maidah: 2)54

Ayat di atas memerintahkan kita untuk saling tolong menolong di dalam kebaikan, sedang tujuan “arisan” itu sendiri adalah menolong orang yang membutuhkan walaupun dengan aturan dilotri secara rutin dan bergiliran.
Arisan sendiri pada dasarnya tidak masalah. Arisan dalam syariat Islam dibenarkan sebagaimana ketarangan dalam Hasyiyah Qalyubi berikut ini:

فَرْعٌ) الْجمعَةُ الْمَشْهُوْرَةُ بَيْنَ النِّسَاءِ بِأَنْ تَأْخُذَ امْرَأَةٌ مِنْ كُلِّ وَاحِدٍ مِنْ جَمَاعَةٍ مِنْهُنَّ قَدْرًا مُعَيَّنًا فِيْ كُلِّ جُمْعَةٍ وَتَدْفَعُهُ لِوَاحِدَةٍ بَعْدَ وَاحِدَةٍ إِلَى آخِرِهِنَّ جَائِزَةٌ كَمَا قَالَ الْوَالِيُّ الْعِرَاقِيُّ

Artinya, “Perkumpulan populer (semacam arisan) di kalangan wanita, di mana salah seorang wanita mengambil sejumlah tertentu (uang) dari peserta setiap jumatnya dan memberikannya kepada salah seorang dari mereka secara sampai wanita yang terakhir, maka tradisi demikian itu boleh, seperti pendapat Al-Wali Al-Iraqi,” (Lihat Qulyubi, Hasyiyah Qalyubi pada Hasyiyah Qalyubi wa ‘Umairah, [Mesir, Musthafa Al-Halabi: 1956], juz II, halaman 258).

Sedangkan mematuhi adanya aturan-aturan dan persyaratan syaratkan yang dibuat dan telah menjadi kesepakatan bersama merupakan suatu janji atau akad kewajiban yang harus diikuti tanpa adanya udzur syar’iy . Oleh karenanya Melaksanakan dan Menyempurnakan janji yang telah menjadi kesepakatan bersama dalam perkumpulan arisan hukumnya adalah wajib, maka seorang ketua yang lari dari tanggung jawabnya adalah berdosa bahkan mengembalikan uang anggota arisan yang berada ditangannya jika telah mendapati urutan terlebih dahulu wajib mengembalikan kepada anggota berikutnya ( yang mendapati giliran) .Begitu juga Andi yang mempunyai tunggakan uang anggota adalah wajib dikembalikan, karena uang dalam arisan itu sebagai amanah yang harus dikembalikan kepada orang yang berhak menerima giliran baik arisan itu tetap berjalan ataupun kandas ditengah jalan ( arisan macet sebelum semuanya mendapat giliran) dan apabila menyalahi janji terhadap aturan yang telah disepakati maka itu adalah Hukumnya berdosa, dan bisa menjadi hutang.

Dalam Al-Qur’an Allah berfirman,

يَا دَاوُودُ إِنَّا جَعَلْنَاكَ خَلِيفَةً فِي الْأَرْضِ فَاحْكُمْ بَيْنَ النَّاسِ بِالْحَقِّ وَلَا تَتَّبِعِ الْهَوَىٰ فَيُضِلَّكَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ ۚ إِنَّ الَّذِينَ يَضِلُّونَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ لَهُمْ عَذَابٌ شَدِيدٌ بِمَا نَسُوا يَوْمَ الْحِسَابِ

Artinya, “Hai Daud, sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalifah (penguasa) di muka bumi, maka berilah keputusan (perkara) di antara manusia dengan adil dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah. Sesungguhnya orang-orang yang sesat darin jalan Allah akan mendapat azab yang berat, karena mereka melupakan hari perhitungan.” (QS Shad [38]: 26).
Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan, ayat ini menjadi dasar bahwa seorang pemimpin harus menjalankan amanah kepemimpinannya dengan penuh rasa tanggung jawab. Balasan untuk pemimpin yang zalim adalah siksa pedih yang sudah Allah siapkan di akhirat kelak. (Ibnu Kastir, Tafsir Al-Qur’anil ‘Adzim, [Beirut: Darul Kutub al-Ilmiah, 1988], juz IV, h. 29).

Disebutkan dalam hadits, bahwa Rasulullah bersabda:,

أَلَا كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ فَالْإِمَامُ الَّذِي عَلَى النَّاسِ رَاعٍ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ وَالرَّجُلُ رَاعٍ عَلَى أَهْلِ بَيْتِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ وَالْمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ عَلَى أَهْلِ بَيْتِ زَوْجِهَا وَوَلَدِهِ وَهِيَ مَسْئُولَةٌ عَنْهُمْ وَعَبْدُ الرَّجُلِ رَاعٍ عَلَى مَالِ سَيِّدِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْهُ أَلَا فَكُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ.

Artinya, “Ketahuilah Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawabannya atas yang di pimpin, penguasa yang memimpin rakyat banyak dia akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya, setiap kepala keluarga adalah pemimpin anggota keluarganya dan dia dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya, istri pemimpin terhadap keluarga rumah suaminya dan juga anak-anaknya. Dia akan dimintai pertanggungjawabannya terhadap mereka, dan budak seseorang juga pemimpin terhadap harta tuannya dan akan dimintai pertanggungjawaban terhadapnya, ketahuilah, setiap kalian adalah bertanggung jawab atas yang dipimpinnya.” (HR Bukhari).

Hadits ini menegaskan bahwa kita semua adalah pemimpin. Seorang pemimpin bertanggung jawab memimpin anggotanya ( rakyatnya, masyarakatnya) semisal seorang kiai bertanggung jawab memimpin para santri, seorang guru bertanggung jawab memimpin peserta didiknya, seorang bapak bertanggung jawab memimpin seluruh anggota keluarganya, dan seterusnya.Nah begitu juga seorang ketua dalam organisasi perkumpulan arisan harus memimpin dengan penuh rasa tanggung jawab, karena kelak, kepemimpinannya itu akan dimintai pertanggungjawaban baik didunia terlebih di akhirat . Oleh karena Allah berfirman dalam al-Qur’an

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَوْفُوا بِالْعُقُودِ

“Wahai orang-orang yang beriman, penuhilah akad-akadmu.”

Nabi Muhammad SAW juga bersabda, bahwa: 

المسلمون عند شروطهم

orang Islam itu harus senantiasa memperhatikan syaratnya (janjinya). Dalam kitab Fathul Bari, Syeikh Ibnu Hajar al-Asqalani menyebutkan bahwa hadits ini juga diriwayatkan oleh ‘Amru bin ‘Auf dengan tambahan lafadh:

 إلا شرطا حرم حلالا أو أحل حراما

 yang artinya, kecuali syarat mengharamkan perkara halal atau menghalalkan perkara haram”. Walhasil, seorang muslim wajib hukumnya memperhatikan syarat /janji yang telah ia utarakan.

Dalam Kitab Fathul Qarib al-Mujib karya Imam Abu Suja’ :


َإن حق الله تعالى مبني على المسامحة، وحق الآدمي مبني على المشاحة 


Bahwa Hak Allah terbangun atas Ampunan, sedangkan Hak Adami terbangun atas (penyelesaian) persengketaan (yang butuh kepastian hukum).

Dalam ayat yang lain Allah berfirman:

وأوفوا بالعهد إن العهد كان مسؤولا

Penuhilah janjimu itu karena adanya janji akan dimintai pertanggungjawabanya .

Referensi

التفسير المنير الزحيلي ص.٤٤٤٢
النوع التاسع-الوفاء بالعهد: {وَأَوْفُوا بِالْعَهْدِ إِنَّ الْعَهْدَ كانَ مَسْؤُلاً}: بعد أن أمر الله تعالى بخمسة أشياء أولا، ثم نهى عن ثلاثة أشياء (الزنى، والقتل إلا بالحق، وقربان مال اليتيم) أمر بأوامر ثلاثة: أولها- الوفاء بالعهد، والمعنى: وفّوا بالعهد الذي تعاهدون عليه الناس، وبالعقود التي تعاملونهم بها، فإن العهد والعقد، كل منهما يسأل صاحبه عنه، ونظير الآية:
{يا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَوْفُوا بِالْعُقُودِ} [المائدة ١/ ٥] فالعهد فضيلة وميثاق، والعقد التزام وارتباط‍، والإخلال بالعهد خيانة ونفاق، والتحلل من العقد إهدار للثقة وتضييع للحقوق، فيجب شرعا الوفاء بالعهد، وتنفيذ مقتضى العقد، فمن أخلف بوعده، ولم يوف بعهده، ولم ينفذ التزام عقده، وقع في الإثم والمعصية، وأخل بمقتضى الإيمان والدين، والعهد: أمر عام يشمل كل ما بين الإنسان وبين الله والنفس والناس. والعقد: كل التزام يلتزمه الإنسان، كعقد اليمين والنذر، وعقد البيع والشركة والإجارة والصلح والزواج.
وكل عقد لأجل توثيق الأمر وتوكيده، فهو عهد. لذا تواردت الآيات الدالة على وجوب الوفاء بالعهود والعقود، كقوله تعالى: {وَالْمُوفُونَ بِعَهْدِهِمْ إِذا عاهَدُوا} [البقرة ١٧٧/ ٢] وقوله: {وَالَّذِينَ هُمْ لِأَماناتِهِمْ وَعَهْدِهِمْ راعُونَ} [المؤمنون ٨/ ٢٣، ]

Referensi

التفسير المنير الزحيلي. ٤٤٤٧
/فقه الحياة أو الأحكام:
٥ – وجوب الوفاء بالعهد فالإنسان مسئول عنه، قال الزجاج: كل ما أمر الله به ونهى عنه فهو من العهد.

Referensi

إعانة الطالبين. ص ١٥٠٤
(قوله: فإن أعسر) أي فإن كان من عنده المظلمة معسرا.(قوله: عزم على الاداء) أي أداء الظلامة وإعطائها للمستحق لها.(وقوله: إذا أيسر) متعلق بالاداء.(قوله: فإن مات) أي المعسر.(وقوله: قبله) أي قبل الاداء.
(قوله: إنقطع الطلب عنه في الآخرة) أي لا يطالبه بها مستحقها في الآخرة.(قوله: فالمرجو الخ) معطوف على جملة إنقطع، والاولى التعبير بالواو، أي انقطع عنه الطلب، والذي يرجى من فضل الله أن يعوض المستحق في حقه.


Referensi:

الكوكب الوهاج فى شرح صحيح المسلم .ص ١٠٦٠١
عَنْ أَبِي هُرَيرَةَ؛ أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ قَال: “أتَدْرُونَ مَا الْمُفْلِسُ؟ ” قَالُوا: الْمُفْلِسُ فِينَا مَنْ لَا دِرْهَمَ لَهُ وَلَا مَتَاعَ. فَقَال: “إِنَّ الْمُفْلِسَ مِنْ أُمَّتِي، يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِصَلاةٍ وَصِيَامٍ وَزَكَاةٍ، وَيَأتِي قَدْ شَتَمَ هَذَا، وَقَذَفَ هَذَا، وَأَكَلَ مَالَ هَذَا، وَسَفَكَ دَمَ هَذَا، وَضَرَبَ هَذَا. فَيُعْطَى هَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ وَهَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ. فَإِنْ فَنِيَتْ حَسَنَاتُهُ، قَبْلَ أَنْ يُقْضَى مَا عَلَيهِ، أُخِذَ مِنْ خَطَايَاهُمْ فَطُرِحَتْ عَلَيهِ، ثُمَّ طُرِحَ فِي النَّارِ”
عبد الرحمن بن يعقوب الجهني المدني ثقة من (٣) (عن أبي هريرة) رضي الله عنه وهذا السند من خماسياته (أنّ رسول الله صلى الله عليه وسلم قال أتدرون) أي هل تعلمون جواب (ما) هو (المفلس قالوا) أي الحاضرون (المفلس فينا) أي في علمنا وعُرفنا هو (من لا درهم) ولا دينار يتعامل فيه (له ولا متاع) ولا بضاعة يتجر فيه (فقال) رسول الله صلى الله عليه وسلم ليس الأمر كذلك بل (أن المفلس منْ أمتي) منْ (يأتي) على الله (يوم القيامة بصلاة وصيام وزكاة ويأتي) والحال أنه (قد شتم) وسبَّ (هذا) بما لا يوجب الحد (وقذف هذا) بما يوجب الحد (وكل مال هذا) ظلمًا (و) قد (سفك) وأراق (دم هذا) عدوانًا (وضرب هذا) ظلمًا ((فيُعطى هذا) المظلوم شتمًا وقذفًا ومالًا (من) بعض (حسناته وهذا) المظلوم أيضًا دمًا وضربًا (من) بعض (حسناته) الأخرى (فإن فنيت حسناته) أي فإذا وُزعت حسناته على أرباب الحقوق وغلِّقت (قبل أن يقضي) ويوفّي (ما عليه) من الظلامات (أُخذ من خطاياهم) أي من خطايا المظلومين ومعاصيهم (فطُرحت) تلك الخطايا وحمِّلت (عليه) أي على ذلك الظالم المفلس (ثمَّ طُرح) وقذف بمعاصيهم (في النَّار) والعذاب الأليم وقد أفلس من حسناته وارتكبته ديون معاصيهم قوله “إنَّ المفلس من أمتي ” إلخ يعني أن المفلس الحقيقي هو هذا وإن كان الناس يسمون من لا مال له مفلسًا فإن من أعوز المال وفقده فإن ضرره يسير وسوف ينقطع يومًا ما وأما هذا الرّجل الذي فقد حسناته كلها وحضل ذنوب غيره فقد خسر خسرانًا لا يتدارك اهـ نووي بتصرف “قوله أُخذ من خطاياهم” إلخ قال المازري وزعم بعض المبتدعة أن هذا الحديث معارض لقوله تعالى: {وَلَا تَزِرُ وَازِرَةٌ وزْرَ أُخْرَى} وهذا الاعتراض منه غلط وجهالة بينة منه لأنه إنما عوقب بفعله ووزره وظلمه فتوجّهت عليه حقوق لغرمائه فدفعت إليهم من حسناته فلما فرغت وبقيت بقية قوبلت على حسب ما اقتضته حكمة الله تعالى في خلقه


Referensi.

إعانة الطالبين
(قوله: وخروج عن ظلامة آدمي)
معطوف على إقلاع أيضا: أي وبشرط خروج عن ظلامة آدمي.
وعبارة التحفة في الدخول على هذا، ثم صرح بما يفهمه الاقلاع للاعتناء به فقال: ورد ظلامة آدمي، يعني الخروج منها بأي وجه قدر عليه، مالا كانت أو عرضا نحو قود وحد قذف إلى تعلقت به، سواء تمحضت له أم كان فيها مع ذلك حق مؤكد لله تعالى كزكاة، وكذا نحو كفارة وجبت فورا.
اه.
(قوله: من مال)
بيان للظلامة.(وقوله: أو غيره) كالعرض.(قوله: فيؤدي إلخ) أي من عليه ظلامة وأراد التوبة، وهذا هو معنى الخروج عن الظلامة.(قوله: ويرد المغصوب إن بقي) أي إن كان باقيا بعينه.(قوله: وبدله) أي أو يرد بدله إن كان قد تلف.(وقوله: لمستحقه) متعلق بيرد.(قوله: ويمكن الخ) أي ويمكن التائب الذي عليه ظلامة مستحق القود وحد القذف من الاستيفاء، بأن يأتي إليه ويقول له أنا الذي قتلت أو قذفت ولزمني موجبهما، فإن شئت فاستوف وإن شئت فاعف.(قوله: أو يبرئه منه المستحق) الظاهر أنه معطوف على مقدر، أي فبعد التمكين يستوفيه منه اليوم قبل أن لا يكون دينار ولا درهم، فإن كان له عمل يؤخذ منه بقدر مظلمته وإلا أخذ من سيئات صاحبه فحمل عليه وشمل العمل الصوم كما صرح به حديث مسلم خلافا لمن استثناه، فإذا تعذر رد الظلامة على المالك أو وارثه سلمها لقاض ثقة، فإن تعذر صرفها فيما شاء من المصالح عند انقطاع خبره بنية الغرم له إذا وجده فإن أعسر عزم على الاداء إذا أيسر فإن مات قبله انقطع الطلب عنه في الآخرة إن لم يعص بالتزامه.فالمرجو من فضل الله الواسع تعويض المستحق.ويشترط أيضا في صحة التوبة عن إخراج صلاة أو صوم أو وقتهما
ــ
المستحق أو يبرئه منه، فهو مخير في ذلك.(قوله: للخبر الصحيح) دليل إشتراط الخروج عن ظلامة آدمي
.وعبارة الزواجر: والاصل في توقف التوبة على الخروج من حق الآدمي عند الامكان قوله – صلى الله عليه وسلم -: من كان لاخيه إلخ، ثم قال كذا أورده، الزركشي عن مسلم.
والذي في صحيحة كما مر: أتدرون من المفلس؟ قالوا: المفلس فينا من لا درهم له ولا متاع.قال: إن المفلس من أمتي من يأتي يوم القيامة بصلاة وصيام وزكاة وقد شتم هذا وقذف هذا وأكل مال هذا وسفك دم هذا وضرب هذا، فيعطى هذا من حسناته وهذا من حسناته، فإن فنيت حسناته قبل أن يقضي ما عليه أخذ من خطاياهم فطرحت عليه، ثم طرح في النار.رواه الترمذي ورواه البخاري بلفظ: من كانت عنده مظلمة فليستحلله منها، فإنه ليس هناك دينار ولا درهم من قبل أن يؤخذ لاخيه من حسناته، فإن لم يكن حسنات أخذ من سيئات أخيه فطرحت عليه.ورواه الترمذي بمعناه.وقال في أوله: رحم الله عبدا كانت لاخيه مظلمة في عرض أو مال فجاء فاستحله.اه. (قوله: من كانت لاخيه عنده مظلمة) قال في القاموس: المظلمة – بكسر اللام – وكثمامة ما يظلمه الرجل.اه.
وقوله: وكثمامة، أي وهو ظلامة.
(قوله: في عرض) أي من عرض، ففي بمعنى من البيانية.(قوله: فليستحله اليوم) أي في الدنيا.(وقوله: قبل أن لا يكون دينار ولا درهم) أي ينفع، وهو يوم القيامة.(قوله: فإن كان له) أي لمن كانت عنده مظلمة.(وقوله: عمل) أي صالح.(قوله: يؤخذ منه) أي من عمله.(قوله: وإلا) أي وإن لم يكن له عمل: أي صالح.(قوله: أخذ من سيئات صاحبه) أي الذي له المظلمة.(قوله: فحمل عليه) أي طرح عليه قال في التحفة: ثم تحميله للسيئات يظهر من القواعد أنه لا يعاقب إلا على ما سببه معصية، أما من عليه دين لم يعص به وليس له من العمل ما يفي به، فإذا أخذ من سيئات الدائن وحمل على المدين لم يعاقب به.وعليه ففائدة تحميله له تخفيف ما على الدائن لا غير.اه.(قوله: وشمل العمل) أي في الحديث.(وقوله: الصوم) أي فيؤخذ ثوابه ويعطى للمظلوم.(قوله: خلافا لمن استثناه) عبارة التحفة.فمن استثناه فقد وهم.
اه.(قوله: فإذا تعذر رد الظلامة على المالك أو وارثه) عبارة الروض وشرحه: فإن لم يكن مستحق، أو انقطع خبره، سلمها إلى قاض أمين، فإن تعذر تصدق به على الفقراء ونوى الغرم له إن وجده، أو يتركها عنده.
قال الأسنوي: ولا يتعين التصدق بها بل هو مخير بين وجوه المصالح كلها، والمعسر ينوي الغرم إذا قدر، بل يلزمه التكسب لايفاء ما عليه إن عصى به لتصح توبته، فإن مات معسرا طولب في الآخرة إن عصى بالاستدانة كما تقتضيه ظواهر السنة الصحيحة، وإلا فالظاهر أنه لا مطالبة فيها إذ لا معصية منه، والرجاء في الله تعويض الخصم.اه.بحذف.(قوله: فإن تعذر) أي القاضي الثقة، أي الامين بأن لم يوجد أو وجد ولكنه غير ثقة.(قوله: صرفها) أي
الظلامة.(قوله: فيما شاء) أي في الوجه الذي شاءه من هي تحت يده.
(وقوله: من المصالح) بيان لما.
(قوله: عند انقطاع خبره) الظاهر أن ضميره يعود على المستحق ولا حاجة إليه، إذ الكلام مفروض في أنه متعذر، وتعذره يكون بعدم وجوده، أو بانقطاع خبره.(قوله: بنية الغرم) متعلق بصرفها.(وقوله: له) أي للمستحق.(قوله: إذا وجده) أي المستحق.(قوله: فإن أعسر) أي فإن كان من عنده المظلمة معسرا.
(قوله: عزم على الاداء) أي أداء الظلامة وإعطائها للمستحق لها.
(وقوله: إذا أيسر) متعلق بالاداء.
(قوله: فإن مات) أي المعسر.
(وقوله: قبله) أي قبل الاداء.
(قوله: إنقطع الطلب عنه في الآخرة) أي لا يطالبه بها مستحقها في الآخرة.
(قوله: فالمرجو الخ) معطوف على جملة إنقطع، والاولى التعبير بالواو، أي انقطع عنه الطلب، والذي يرجى من فضل الله أن يعوض المستحق في حقه.(قوله: ويشترط أيضا) أي كما اشترط ما مر لصحة التوبة.
(وقوله: عن إخراج صلاة أو صوم عن وقتهما) أي بأن ترك الصلاة في وقتها، ……والله أعلم بالصواب

تفسير الطبرى

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَوْفُوا بِالْعُقُودِ ۚ

القول في تأويل قوله عز ذكره يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَوْفُوا بِالْعُقُودِ
قال أبو جعفر: يعني جل ثناؤه بقوله: ” يا أيها الذين آمنوا أوفوا “، يا أيها الذين أقرّوا بوحدانية الله، وأذعنوا له بالعبودية, وسلموا له الألوهة (٤٧) وصدَّقوا رسوله محمدًا صلى الله عليه وسلم في نبوته وفيما جاءهم به من عند ربهم من شرائع دينه =” أوفوا بالعقود “، يعني: أوفوا بالعهود التي عاهدتموها ربَّكم، والعقود التي عاقدتموها إياه, وأوجبتم بها على أنفسكم حقوقًا، وألزمتم أنفسكم بها لله فروضًا, فأتمُّوها بالوفاء والكمال والتمام منكم لله بما ألزمكم بها, ولمن عاقدتموه منكم، بما أوجبتموه له بها على أنفسكم, ولا تنكُثُوها فتنقضوها بعد توكيدها . (٤٨)واختلف أهل التأويل في” العقود ” التي أمر الله جل ثناؤه بالوفاء بها بهذه الآية, بعد إجماع جميعهم على أن معنى ” العقود “، العهود.فقال بعضهم: هي العقود التي كان أهل الجاهلية عاقد بعضهم بعضًا على النُّصرة والمؤازرة والمظاهرة على من حاول ظلمه أو بغاه سوءًا, وذلك هو معنى ” الحلف ” الذي كانوا يتعاقدونه بينهم.
ذكر من قال: معنى ” العقود “، العهود.
١٠٨٩٣- حدثني المثنى قال، حدثنا عبد الله بن صالح قال، حدثني معاوية بن صالح, عن علي, عن ابن عباس قوله: ” أوفوا بالعقود “، يعني: بالعهود.
١٠٨٩٤- حدثني محمد بن عمرو قال، حدثنا أبو عاصم قال، حدثنا عيسى, عن ابن أبي نجيح, عن مجاهد في قول الله جل وعز: ” أوفوا بالعقود “، قال: العهود.
١٠٨٩٥- حدثني المثنى قال، حدثنا أبو حذيفة قال، حدثنا شبل, عن ابن أبي نجيح, عن مجاهد, مثله.
١٠٨٩٦- حدثنا سفيان قال، حدثنا أبي, عن سفيان, عن رجل, عن مجاهد، مثله . (٤٩)-
١٠٨٩٦ حدثنا ابن وكيع قال، حدثنا عبيد الله, عن أبي جعفر الرازي, عن الربيع بن أنس قال: جلسنا إلى مطرّف بن الشخِّير وعنده رجل يحدثهم, فقال: ” يا أيها الذين آمنوا أوفوا بالعقود “، قال: هي العهود . (٥٠)
١٠٨٩٨- حدثنا المثنى قال، حدثنا إسحاق قال، حدثنا عبد الله بن أبي جعفر, عن أبيه, عن الربيع: ” أوفوا بالعقود “، قال: العهود.
١٠٨٩٩- حدثنا ابن وكيع قال، حدثنا أبو خالد الأحمر, عن جويبر, عن الضحاك: ” يا أيها الذين آمنوا أوفوا بالعقود “، قال: هي العهود.
١٠٩٠٠- حدثت عن الحسين بن الفرج قال، سمعت أبا معاذ يقول، أخبرنا عبيد بن سليمان قال، سمعت الضحاك يقول: ” أوفوا بالعقود “، بالعهود.
١٠٨٠١- حدثنا الحسن بن يحيى قال، أخبرنا عبد الرزاق, عن معمر, عن قتادة في قوله: ” أوفوا بالعقود “، قال: بالعهود.
١٠٩٠٢- حدثنا محمد بن الحسين قال، حدثنا أحمد بن المفضل قال، حدثنا أسباط, عن السدي: ” أوفوا بالعقود “، قال: هي العهود.
١٠٩٠٣- حدثني الحارث قال، حدثنا عبد العزيز قال، سمعت الثوري يقول: ” أوفوا بالعقود “، قال: بالعهود.
١٠٩٠٤- حدثنا القاسم قال، حدثنا الحسين قال، حدثني حجاج, عن ابن جريج, عن مجاهد, مثله.
قال أبو جعفر: و ” العقود ” جمع ” عَقْدٍ”، وأصل ” العقد “، عقد الشيء بغيره, وهو وصله به, كما يعقد الحبل بالحبلِ، إذا وصل به شدًّا. يقال منه: ” عقد فلان بينه وبين فلان عقدًا، فهو يعقده “, ومنه قول الحطيئة:
قَــوْمٌ إذَا عَقَــدُوا عَقْـدًا لِجَـارِهِمُ
شَـدُّوا العِنَـاجَ وَشَـدُّوا فَوْقَـهُ الْكَرَبَا (٥١)وذلك إذا وَاثقه على أمر وعاهده عليه عهدًا بالوفاء له بما عاقده عليه, من أمان وذِمَّة, أو نصرة, أو نكاح, أو بيع, أو شركة, أو غير ذلك من العقود. ذكر من قال المعنى الذي ذكرنا عمن قاله في المراد من قوله: ” أوفوا بالعقود “.
١٠٩٠٥- حدثنا بشر بن معاذ قال، حدثنا يزيد قال، حدثنا سعيد, عن قتادة في قوله: ” يا أيها الذين آمنوا أوفوا بالعقود “، أي: بعقد الجاهلية. ذُكر لنا أن نبيَّ الله صلى الله عليه وسلم كان يقول: أوفوا بعقد الجاهلية, ولا تحدثوا عقدًا في الإسلام. وذكر لنا أن فرات بن حيَّان العِجلي، سأل رسول الله صلى الله عليه وسلم عن حلف الجاهلية, فقال نبي الله صلى الله عليه وسلم: لعلك تسأل عن حِلْف لخْمٍ وتَيْم الله؟ فقال: نعم، يا نبي الله! قال: لا يزيده الإسلام إلا شدة.
١٠٩٠٦- حدثنا الحسن بن يحيى قال، أخبرنا عبد الرزاق قال، حدثنا معمر, عن قتادة: ” أوفوا بالعقود “، قال: عقود الجاهلية: الحلف. وقال آخرون: بل هي الحلف التي أخذ الله على عباده بالإيمان به وطاعته، فيما أحل لهم وحرم عليهم.*ذكر من قال ذلك:
١٠٩٠٧- حدثني المثنى قال، أخبرنا عبد الله قال، حدثني معاوية بن صالح, عن علي بن أبي طلحة, عن ابن عباس قوله: ” أوفوا بالعقود “، يعني: ما أحل وما حرّم, وما فرض, وما حدَّ في القرآن كله, فلا تغدِروا ولا تنكُثوا. ثم شدَّد ذلك فقال: وَالَّذِينَ يَنْقُضُونَ عَهْدَ اللَّهِ مِنْ بَعْدِ مِيثَاقِهِ وَيَقْطَعُونَ مَا أَمَرَ اللَّهُ بِهِ أَنْ يُوصَلَ إلى قوله: سُوءُ الدَّارِ [سورة الرعد: ٢٥ ].
١٠٩٠٨- حدثني المثنى قال، حدثنا أبو حذيفة قال، حدثنا شبل, عن ابن أبي نجيح, عن مجاهد: ” أوفوا بالعقود “، ما عقد الله على العباد مما أحل لهم وحرَّم عليهم.وقال آخرون: بل هي العقود التي يتعاقدها الناس بينهم، ويعقدها المرء على نفسه.
*ذكر من قال ذلك:
١٠٩٠٩- حدثنا سفيان بن وكيع قال، حدثني أبي, عن موسى بن عبيدة, عن أخيه عبد الله بن عبيدة قال: العقود خمس: عُقدة الأيمان, وعُقدة النكاح, وعقدة العَهد, وعقدة البيع, وعقدة الحِلْف.
١٠٩١٠- حدثنا القاسم قال، حدثنا الحسين قال، حدثنا وكيع، عن موسى بن عبيدة, عن محمد بن كعب القرظي = أو عن أخيه عبد الله بن عبيدة, نحوه.
١٠٩١١- حدثني يونس بن عبد الأعلى قال، أخبرنا ابن وهب قال، قال ابن زيد في قوله: ” يا أيها الذين آمنوا أوفوا بالعقود “، قال: عقد العهد، وعقد اليمين وعَقد الحِلْف, وعقد الشركة, وعقد النكاح. قال: هذه العقود، خمس.
١٠٩١٢- حدثني المثنى قال، حدثنا عتبة بن سعيد الحمصي قال، حدثنا عبد الرحمن بن زيد بن أسلم قال، حدثنا أبي في قول الله جل وعز: ” يا أيها الذين آمنوا أوفوا بالعقود “، قال: العقود خمس: عقدة النكاح, وعقدة الشركة, وعقد اليمين, وعقدة العهد, وعقدة الحلف . (٥٢)وقال آخرون: بل هذه الآية أمرٌ من الله تعالى لأهل الكتاب بالوفاء بما أخذ به ميثاقهم، من العمل بما في التوراة والإنجيل في تصديق محمد صلى الله عليه وسلم وما جاءهم به من عند الله.
*ذكر من قال ذلك:
١٠٩١٣- حدثنا القاسم قال، حدثنا الحسين قال، حدثني حجاج, عن ابن جريج: ” أوفوا بالعقود “، قال: العهود التي أخذها الله على أهل الكتاب: أن يعملوا بما جاءهم.
١٠٩١٤- حدثني المثنى قال، حدثنا أبو صالح قال، حدثني الليث قال، حدثني يونس قال، قال محمد بن مسلم: قرأت كتاب رسول الله صلى الله عليه وسلم الذي كتب لعمرو بن حزم حين بعثه على نَجْران
 (٥٣) فكان الكتاب عند أبي بكر بن حزم, فيه: ” هذا بيان من الله ورسوله ” : ” يا أيها الذين آمنوا أوفوا بالعقود ” ، فكتب الآيات منها حتى بلغ إِنَّ اللَّهَ سَرِيعُ الْحِسَابِ.(٥٤)
قال أبو جعفر: وأولى الأقوال في ذلك عندنا بالصواب، ما قاله ابن عباس, وأن معناه: أوفوا، يا أيها الذين آمنوا، بعقود الله التي أوجبَهَا عليكم، وعقدها فيما أحلَّ لكم وحرم عليكم, وألزمكم فرضه, وبيَّن لكم حدوده.وإنما قلنا ذلك أولى بالصواب من غيره من الأقوال, لأن الله جل وعز أتبع ذلك البيانَ عما أحل لعباده وحرم عليهم، وما أوجب عليهم من فرائضه. فكان معلومًا بذلك أن قوله: ” أوفوا بالعقود “، أمرٌ منه عبادَه بالعمل بما ألزمهم من فرائضه وعقوده عقيب ذلك, ونَهْيٌ منه لهم عن نقض ما عقده عليهم منه, مع أن قوله: ” أوفوا بالعقود “، أمرٌ منه بالوفاء بكل عقد أذن فيه, فغير جائز أن يخصَّ منه شيء حتى تقوم حجة بخصوص شيء منه يجب التسليم لها. فإذْ كان الأمر في ذلك كما وصفنا, فلا معنى لقول من وجَّه ذلك إلى معنى الأمر بالوفاء ببعض العقود التي أمرَ الله بالوفاء بها دون بعض.
وأما قوله: ” أوفوا ” فإن للعرب فيه لغتين:إحداهما: ” أوفوا “، من قول القائل: ” أوفيت لفلان بعهده، أوفي له به “.والأخرى من قولهم: ” وفيت له بعهده أفي” . (٥٥) و ” الإيفاء بالعهد “، إتمامه على ما عقد عليه من شروطه الجائزة. والله أعلم

Kategori
Uncategorized

HUKUM MEMAJANGKAN/MENAMPAKKAN ANAK YATIM DIMUKA UMUM PADA ACARA SANTUNAN DALAM TINJAUAN MAQOSID AS-SYARIAH

HUKUM MEMAJANGKAN /MENAMPAKKAN ANAK YATIM DIMUKA UMUM PADA ACARA SANTUNAN DALAM TINJAUAN MAQOSID AS-SYARIAH

Assalamualaikum
Deskripsi masalah

Pada masa dahulu baik dikalangan sahabat dan setelahnya jika ingin menyantuni anak yatim dan orang yang miskin sebagian mereka mendatangi kerumah anak yatim dan sebagian mengajak/ mengundang kerumahnya untuk berkumpul baik santunan berupa makanan ataupun lainnya, maka seiring dengan perkembangan zaman dalam waqiiyah sekarang ini sedikit berbeda disebagian masyarakat yang diantaranya:

  • Untuk menyantuni anak yatim dibentuk kepanitian dalam sebuah organisasi disekolah-sekolah atau pondok atau Masjid atau musholla yaitu berupa acara santunan anak Yatim dengan cara mengundang atau menghadirkan mereka lalu ditampilkan atau diperlihatkan dimuka umum.ketika serah terima santuanan.
  • Mengundang kerumahnya tanpa harus memajangnya dan sebagian santunannya diantarkan kerumah masing-masing anak yatim

Adapun tujuan dari tersebut adalah untuk membantu mereka dengan sedekah sebagai bentuk kepedulian walaupun dengan cara dinampakkan atau dipajang dimuka umum, namun yang menjadi pertimbangan apa yang dikatakan Imam Al-Ghazali apa dengan menampakkan menjadikan tindakan yang menyakitkan atau mengganggu sebagai tolok ukur atas kebolehan amal saleh dan amal ibadah yang dilakukan secara tersembunyi atau dilakukan secara terang-terangan.

وأما ما يمكن إسراره كالصدقة والصلاة فإن كان إظهار الصدقة يؤذي المتصدق عليه ويرغب الناس في الصدقة فالسر أفضل لأن الإيذاء حرام

Artinya, “Adapun amal ibadah yang dapat dilakukan secara sembunyi seperti sedekah dan shalat, jika sedekah terang-terangan (di muka umum) menyakiti orang yang menerima sedekah dan itu dapat memotivasi orang lain untuk sedekah, maka amal secara sembunyi lebih utama karena tindakan menyakitkan (meski dengan niat baik) diharamkan,” (Imam Al-Ghazali, Ihya Ulumiddin, [Beirut, Darul Fikr: 2018 M/1439-1440 H], juz III, halaman 325).

Pertanyaan
Apakah dibenarkan/boleh secara hukum menyantuni anak yatim dengan cara mengundang lalu ditampilkan dimuka umum ? atau dengan menampakkan apa menjadikan sebuah Aib dan tindakan yang menyakitkan ?

Jawaban.
Selama tidak ada dalil yang mengharamkan, maka hukumnya boleh.Karena kenyataannya tidak ada dalil baik dari al-Qur’an maupun hadits dan pendapat ulama yang mengharamkan hal memajangkan atau memperlihatkan anak yatim dimuka umum pada acara santunan anak yatim, dan hal tersebut sudah menjadi tradisi dikalangan umat islam dalam dunia pendidikan baik disekolah pondok pesantren maupun mushollah atau Masjid. Karena tradisi termasuk bagian dari hukum juga selama tidak menyalahi aturan syariat:

العادة محكمة مالم تخالف الشرع

Tradisi menjadi hukum selama tidak menyalahi aturan syariat.

Dalam sebuah kaidah yang lain disebutkan.

اَلْأَصْلُ فِي الْأَشْيَاءِ اَلْإِبَاحَةُ حتي يدل الدليل علي التحريم

Kaidah ini menjelaskan bahwa Hukum asal sesuatu adalah boleh, hingga ada dalil yang menunjukkan keharamannya.

Penerapan kaidah tersebut contohnya adalah sebagaimana deskripsi yaitu mengundang lalu dipajangkan/diperlihatkan dimuka umum pada acara santunan anak Yatim hal tersebut sulit ditentukan keharamannya, karena tidak ditemukan sifat-sifat dan ciri-ciri yang dapat dikategorikan haram baik ditinjau dari memajangkannya ketika dilihat bukan menimbulkan syahwat karena anak yang dipajangkan masih kecil , ditinjau dari muru’ah bukanlah aib, dan bukan merendahkan atau menghina melainkan memuliakan atau menghormati, mengasihi mereka.

Mungkin saja jika ditinjau dari sudut pandang memberi dan menerimanya yang menimbulkan tersakiti yang menjadi haram dalam arti disatu sisi menyakitkan pada yang menerima karena dianggap meremehkan karena dia ( yatim) termasuk orang yang kaya.
Apakah hal ini dibenarkan dalam agama? maka jawabannya dibenarkan dalam sisi kekayaannya karena tidak boleh bersedekah ( zakat) kepada orang yang kaya walaupun itu yatim . Lalu bagaimana solusinya? Maka solusinya adalah diberikan kepada yatim yang miskin,

كفاية الأخيار ج ١ص ١٩٨
قلت أمر الغنيمة فى زمننا هذا قد تعطل فى بعض النواحى لجواز الحكام فينبغى القطع بجواز إعطاء اليتيم إلا أن يكون شريفا

Namun disisi lain bisa tersakiti pada orang yang bersedekah jika pemberiannya ditolak lalu bagaimana solusinya agar tidak menyakiti orang yang bersedekah? Jawabannya adalah tetap diterima selama bukan sedekah ( zakat wajib ) baik anak yatim itu kaya terlebih anak yatim miskin, namun jika anak yatim itu kaya maka setelah santunan diterima berikanlah kepada yang lainnya diluar acara, karena itu adalah rizki dari Allah namun lewat manusia. Karena jika menolak berarti menolak pemberian Allah.SWT.

رسالة المعاونة
(وَاِيَّاكَ)
أَنْ تُكَسِّرَ قَلْبَ مُسْلِمٍ بِرَدِّ صَنِيْعَتِهِ عَلَيْهِ، وَاَنْتَ تَعْلَمُ أَنَّ الوَاصِلَ إِلَيْكَ عَلَى يَدِهِ إِنَّمَا هُوَ مِنَ اللهِ حَقِيْقَةً وَإِنَّمَا هُوَ وَاسِطَةٌ مُسَخّرٌ مَقْهُوْرٌ وَفِي اْلحَدِيْثِ: “مَنْ اَتَاهُ شَيْئٌ مِنْ غَيْرِ مَسْأَلَةٍ وَلَااسْتِشْرَافِ نَفْسٍ فَرَدَّهُ فَإِنَّمَا يَرُدُّهُ عَلىَ اللهِ.”


Artinya, “Janganlah engkau memecahkan hati orang islam (menyinggung perasaan seorang Muslim ) dengan menolak pemberian (hadiah) darinya, padahal engkau mengetahui bahwa sesuatu yang sampai ke tanganmu sejatinya berasal dari Allah subhanahu wa ta’ala, dan sesungguhnya orang yang menyampaikannnya kepadamu hanyalah perantara yang dikendalikan dan dipaksa (oleh Allah subhanahu wa ta’ala). Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda: ‘Barangsiapa datang kepadanya suatu pemberian tanpa ia memintanya atau menunjukkan keinginan untuk memperolehnya, lalu ia menolaknya, sesungguhnya ia menolak pemberian Allah subhanahu wa ta’ala.’”
 
Dari ibaroh diatas jelas yang merasa tersakiti adalah orang yang memberi jika ditolak sedangkan orang menerima semestinya adalah bersyukur bahwa pemberian itu adalah dari Allah namun lewat manusia.

Namun yang terpenting dari persoalan deskripsi diatas adalah pemahaman bahwa hukum Islam bersifat universal untuk segala waktu, tempat kondisi, niat dan kultur. Ia diturunkan sebagai rahmat dan petunjuk bagi umat manusia yang sifatnya serba mencakup .Ini diyakini dapat memberikan pemecahan terhadap problem-problem baru yang dihadapi masyarakat . Jadi perubahan sosial merupakan sebab langsung terhadap perkembangan hukum Islam.
Sejatinya , hukum akan selalu berubah sesuai dengan stuasi dan kondisi sosio antropologi serta kultur tertentu .Dijelaskan dalam prinsip Islam, bahwa al-Islam sholihun likulli zaman wa makan .Artinya Hukum Islam mampu menerapkan dan menyikapi segala lini kehidupan. Kemudian dalam kaidah fiqiyyah, perubahan dalam hukum fiqh dibenarkan bahkan menjadi suatu keharusan jika kondisi sosiologis masyarakat berubah . Sebuah kaidah tentang perubahan hukum yang dinisbatkan kepada Ibnu Qoyyim al-Jauziyah sebagaimana berikut:

تغير الأحكام واختلافها بتغير الأمكنة والأزمنة والأحوال والنيات


Perubahan dan perbedaan hukum adalah disebabkan perbedaan tempat, masa kondisi, motivasi dan budaya.( Ibnu Qoyyim Al-Jauziyyah 691-751 H.)

Dalam redaksi lain disebutkan

تغير الأحكام بتغير الأزمنة الأمكنة والأحوال.


Perbedaan hukum tergantung pada perubahan zaman, tempat, dan keadaan.
Kaidah tersebut tidak hanya disebutkan oleh Ibnu Qoyyim tetapi oleh ulama yang lain . Seperti kaidah yang berbunyi berikit:

لاينكر تغير الأحكام بتغير الأزمان

Tidak diingkari perubahan hukum disebabkan perubahan masa.

Dalam redaksi lain disebutkan sebagai berikut:


لاينكر تغير الفتوى واختلافها بحسب تغير الأزمنة والأمكنة والأحوال والنيات والعوائد

Tidak dapat dipungkiri adanya perbedaan kondisi, stuasi, motivasi, dan tujuan .
Secara de facto, suatu maslahah tidaklah konstan, tetapi sering berubah zaman, tempat, dan orang. Sebagaimana menurut Mahmud Saltut berikut:


تختلف المصلحة فيه بتغير الأزمنة والامكنة والأشخاص ومن هنا وجد الاجتهاد


Maslahah itu sering berubah-rubah seiring perubahan zaman, tempat, dan orang. Oleh karena itu maka diperlukan ijtihad.
Yang ditegakkan hukum dimana ada illat maka disitu ada hukum. Sebaliknya tidak adanya illat penyebab maka tidak adanya hukum. Sebagaimana dijelaskan dalam sebuah kaidah.

الحكم يدور مع علته وجودا وعداما

Hukum itu berputar bersama illatnya baik adanya hukum atau tidak adanya hukum.
Ellat secara etimologi berarti alasan atau sebab sesuai yang menyebabkan perubahannya keadaan sesuatu yang lain dengan keberadaannya.
Adapun secara terminologi terdapat beberapa definisi yang dikemukakan ulama usul fiqh antara lain sebagai berikut:


العلة هى الوصف الظاهر المنضبط الذي جعل مناط الحكم يناسبه

Illat adalah suatu sifat yang nyata yang terang tidak bergeser-geser yang dijadikan pergantungan suatu hukum yang ada minasabah antaranya dengan hukum itu.

Assyathibiy menuliskan difinisi illat sebagai berikut:


العلة هى المصلحة أو المفسدة التي راعاها الشارع فى الطلب كفّا أو فعلا

Illat adalah kemaslahan atau kemanfaatan atau kerusakan yang dipelihara atau diperlihatkan syara’ didalam menyuruh sesuatu pekerjaan atau atau meninggal kannya.

Imam Assyathibiy berkata sebagai berikut:


العلة هى المصالح الشرعية التي تعلقت بها الأوامر والمفاسد التى تعلقت بها النواهى


Illat adalah segala kemaslahatan syara’ yang bergantung ( berhubungan ) dengan segala perintah dan segala kerusakan yang bergantung dengannya segala larangan.
Mayoritas ulama Hanafiyah dan sebagian ulama Hanabilah dan Imam Baidhowi ( Tokoh ulama fiqh Syafiiyah) merumuskan definisi illat dengan pengertian sebagai berikut:


الوصف المُعَرِّف للحكم

Suatu sifat ( yang berfungsi ) sebagai pengenal bagi suatu hukum.

Referensi:Maqosid Assyariah H.55-56

Adapun cara kita memberikan santunan baik berupa makanan araupun yang lainya kepada orang miskin dan anak yatim dalam ajaran Islam itu memberikan kebebasan terserah kita baik dengan cara kita mendatangi orang miskin dan anak yatim, atau dengan cara anak yatim itu kita undang ke rumah kita , yang terpenting semata didasarkan atas niatan ihlas semata untuk memperoleh ridho Allah SWT. Mengajak ( mengundang )anak yatim dalam acara makan berikut penjelasannya:


عَنِ الْحَسَنِ، أَنَّ يَتِيمًا كَانَ يَحْضُرُ طَعَامَ ابْنِ عُمَرَ، فَدَعَا بِطَعَامٍ ذَاتَ يَوْمٍ، فَطَلَبَ يَتِيمَهُ فَلَمْ يَجِدْهُ، فَجَاءَ بَعْدَ مَا فَرَغَ ابْنُ عُمَرَ، فَدَعَا لَهُ ابْنُ عُمَرَ بِطَعَامٍ، لَمْ يَكُنْ عِنْدَهُمْ، فَجَاءَه بِسَوِيقٍ وَعَسَلٍ، فَقَالَ‏:‏ دُونَكَ هَذَا، فَوَاللَّهِ مَا غُبِنْتَ يَقُولُ الْحَسَنُ‏:‏ وَابْنُ عُمَرَ وَاللَّهِ مَا غُبِنَ‏.‏

Dari Al-Hasan Al Bashri bahwasanya seorang yatim piatu biasa hadir makan bersama Ibnu ‘Umar. Suatu hari dia meminta makanan dan dia mencari anak yatim ini tetapi tidak dapat menemukannya. Dia tiba setelah Ibnu ‘Umar selesai. Ibnu ‘Umar meminta lebih banyak makanan untuk dibawakan kepadanya tetapi mereka tidak memilikinya. Maka ia dibawakan sawiq dan madu. Dia berkata, “Ini, ambil ini! Demi Allah, kamu tidak tertipu!” Al-Hasan berkata, “Demi Allah, Ibnu ‘Umar tidak tertipu!”. (HR. Ahmad dalam kitab Az-zuhdu no. 1051 dan Bukhari di kitab Adabul Mufrad no. 134)


Riwayat ini memberikan faedah bahwa Ibnu Umar selalu bersemangat di dalam menghadirkan anak yatim pada waktu beliau makan. Jika sudah waktunya maka maka beliau mencarinya, sebagaimana faidah ini di dapat pada ucapan beliau (Al Hasan) :
“… dia mencari anak yatim ini tetapi tidak dapat menemukannya”.
Si yatim ini pun datang setelah Ibnu Umar selesai dari makannya. Dan Ibnu Umar meminta makan yang lain buatnya namun sudah tidak ada. Makanan yang tadi dihidangkan sudah habis dan akhirnya beliau membawa sawiq dan ‘asal (madu) dan memberikannya kepada si yatim.
Dan beliau berkata : “Ini, ambil ini! Demi Allah, kamu tidak tertipu!” Maksudnya adalah kamu tidak rugi dengan tidak makan bersama kami, bahkan makanan yang ini adalah makanan yang baik.
Perkataan Al-Hasan Al Bashri, “Demi Allah, Ibnu ‘Umar tidak tertipu!” Artinya beliau mendapatkan keuntungan yang besar karena telah berbuat baik kepada si yatim ini. Dan ini adalah kebiasaan Ibnu Umar yang mana beliau tidak makan kecuali menghadirkan anak yatim dalam makan beliau.

عَنْ أَبِيْ بَكْرِ بْنُ حَفْصٍ، أَنَّ عَبْدَ اللهِ كَانَ لاَ يَأْكُلُ طَعَامًا إِلاَّ وَعَلَى خِوَانِهِ يَتِيمٌ‏.‏ رواه البخاري في الأدب المفرد وصحَّحه الألباني.

Dari Abu Bakar bin Hafsh : Bahwasanya Abdullah bin Umar dahulu tidaklah beliau makan kecuali di atas mejanya makan beliau ada seorang anak yatim”. (HR. Bukhari di kitab Adabul Mufrad no. 136 dan dishahihkan oleh Syaikh Al Albani rahimahullahu ta’ala).
Al kharaaithiyyu meriwayatkan dalam kitab makarimul akhlak dari Naafi’, beliau berkata :

كَانَ ابْنُ عُمَرَ رَضِيَ اللّٰهُ عَنْهُمَا لَا يَأْكُلُ طَعَامًا إِلَّا وَعَلَى خِوَانِهِ أَيْتَامٌ.

“Dahulu Ibnu Umar tidaklah makan suatu makanan kecuali dimeja makan beliau ada beberapa anak yatim”. (Dikeluarkan oleh Al kharaaithiyyu dalam kitab makarimul akhlak no. 652)
Riwayat ini menunjukkan akan kesungguhan beliau dalam berbuat baik kepada anak-anak yatim dimana beliau tidaklah makan suatu makanan kecuali disitu ada mereka. Dan Allah berfirman :

وَيُطْعِمُونَ ٱلطَّعَامَ عَلَىٰ حُبِّهِۦ مِسْكِيْنًا وَيَتِيْمًا وَأَسِيْرًا

“Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim dan orang yang ditawan”. (Al-Insan : 8)
Dalam suatu kesempatan, mereka menyukai harta dan makanan namun disisi lain mereka mendahulukan hal itu kepada kecintaan Allah dari pada kecintaan diri-diri mereka sendiri dengan memberikan kepada orang-orang yang paling membutuhkan dari kalangan orang miskin, yatim dan tawanan. Mereka meniatkan wajah Allah dalam hal itu dengan memberikan infaq dan makanan kepada mereka. Bahkan mereka tidak sedikit menginginkan balasan mereka dan ucapan terima kasihnya mereka.
Anggaplah anak yatim sebagaimana keluarga sendiri


عَنْ حَمْزَةَ بْنِ نَجِيحٍ أَبِي عُمَارَةَ قَالَ‏:‏ سَمِعْتُ الْحَسَنَ يَقُولُ‏:‏ لَقَدْ عَهِدْتُ الْمُسْلِمِينَ، وَإِنَّ الرَّجُلَ مِنْهُمْ لَيُصْبِحُ فَيَقُولُ‏:‏ يَا أَهْلِيَهْ، يَا أَهْلِيَهْ، يَتِيمَكُمْ يَتِيمَكُمْ، يَا أَهْلِيَهْ، يَا أَهْلِيَهْ، مِسْكِينَكُمْ مِسْكِينَكُمْ، يَا أَهْلِيَهْ، يَا أَهْلِيَهْ، جَارَكُمْ جَارَكُمْ، وَأُسْرِعَ بِخِيَارِكُمْ وَأَنْتُمْ كُلَّ يَوْمٍ تَرْذُلُونَ‏.‏

Dari Hamzah bin Najih Abu Umaroh beliau berkata : Aku mendengar Al Hasan Al Bashri rahimahullahu ta’ala berkata : “Aku ingat suatu saat di antara kaum Muslimin ketika laki-laki mereka berteriak (untuk mengingatkan keluarga mereka), ‘Hai keluarga! Wahai keluarga! (Jagalah) anak yatim kalian! Yatim piatu kalian! Wahai keluarga! Setelah anak yatim kalian! Orang miskin kalian! Orang miskin kalian! Wahai keluarga! Wahai keluarga! (Jagalah) tetangga kalian! Waktu telah berlalu dengan cepat dalam mengambil yang terbaik dari kalian, sementara setiap hari kalian menjadi orang yang lebih rendah.” (HR. Bukhari di kitab Adabul Mufrad no. 139)
Yaitu seseorang memanggil keluarganya : Wahai keluarga! (Jagalah) anak yatim kalian! Yatim piatu kalian! Wahai keluarga!”. Berbuat baiklah kepada mereka, muliakanlah mereka dan berikan perhatian kalian kepada mereka. Dan ini adalah komando kepada siapapun yang dia jumpai. Mereka saling berwasiat agar memperhatikan anak-anak yatim, orang-orang miskin dan hak-hak para tetangga.
Di zaman para sahabat dahulu terdapat penerang dan pelita dalam hal kebaikan ini dan juga ada saling memerintah agar memiliki perhatian yang besar terhadap anak-anak yatim. Telah tetap beberapa sahabat dan shohabiat yang mereka menjadi penanggung jawab anak-anak yatim baik yang laki-laki maupun perempuan. Mereka mengumpulkan anak-anak yatim itu di rumah-rumah mereka, memiliki perhatian besar terhadap mereka, berbuat baik kepada mereka dan mereka (para sahabat dan shohabiat) menjadi tempat berlindungnya anak-anak yatim bahkan tempat terakhir dalam kebaikan. Demikian pula hal ini terjadi di kalangan para tabi’in dan pengikut mereka setelahnya. Wallahu a’lam bish-shawab.
Referensi :
Kitab Ahaditsul Akhlaq karya Syaikh Abdurrazzaq bin Abdil Muhsin Al Badr hafidzahullahu ta’ala, halaman 112-116.

Dari penjelasan diatas dapat disimpulkan terkait hukum menyantuni anak yatim dengan mengundang atau mengantarkan dan memajangkan atau menampakkan santunan anak Yatim dimuka umum jika ditinjau dari maqoshid assyariah adalah bergantung pada zaman, orangnya (anak yatim atau orang yang menyantuni ) situasi dan kondisi, motivasi dan tujuan. Artinya jika termotivasi (mendorong) orang lebih giat dalam menyantuni anak yatim maka hukumnya boleh dan tidak dilarang bahkan bisa menjadikan sebuah keharusan untuk syi’ar agar diikuti oleh orang lain agar gemar bersedekah, membesarkan hati mereka ( anak-anak yatim) bahwa penyantun menganggap sebagai anaknya sendiri. Begitu juga hal dengan menyantuni anak yatim dengan cara rahasia( diantar kan kerumah mereka ( anak yatim itupun juga boleh jika hawatir bisa mengakibatkan riya’ dll. Wal hasil kebolehan dan keutamaan menampakkan dan merahasiakan santunan ( sedekah ) kepada anak yatim ataupun kepada fakir miskin ditinjau dari maqoshid assyariah adalah bergantung pada zaman, orangnya (anak yatim atau orang yang menyantuni ) situasi dan kondisi, motivasi dan tujuan .Sebagaimana Firman Allah Ta’ala:


{إِنْ تُبْدُوا الصَّدَقَاتِ فَنِعِمَّا هِيَ وَإِنْ تُخْفُوهَا وَتُؤْتُوهَا الْفُقَرَاءَ فَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ وَيُكَفِّرُ عَنْكُمْ مِنْ سَيِّئَاتِكُمْ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ } [البقرة: 271]


“Jika kamu menampakkan sedekah(mu), maka itu adalah baik sekali. Dan jika kamu menyembunyikannya dan kamu berikan kepada orang-orang fakir, maka menyembunyikan itu lebih baik bagimu. Dan Allah akan menghapuskan dari kamu sebagian kesalahan-kesalahanmu; dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” QS. Al Baqarah: 271.

Al Khathib berkata terkait keutamaan antara sedekah terang-terangan dan sedekah secara tersembunyi:

: إِنْ كَانَ الْمُتَصَدِّقُ مِمَّنْ يُقْتَدَى بِهِ ، وَأَظْهَرَهَا لِيُقْتَدَى بِهِ مِنْ غَيْرِ رِيَاءٍ وَلاَ سُمْعَةٍ ، فَهُوَ أَفْضَل


Jika seorang yang bersedekah termasuk dari seorang yang dipanuti lalu ia memperlihatkannya agar diikuti tanpa ada perasaan riya’ dan sum’ah, maka ini lebih utama.” Lihat kitab Mughni Al Muhtaj, 3/121.

Allah Swt. berfirman bahwa demikianlah,

{وَمَنْ يُعَظِّمْ شَعَائِرَ اللَّهِ}

Dan barang siapa mengagungkan syiar-syiar Allah. (Al-Hajj: 32) Yakni perintah-perintah-Nya:

{فَإِنَّهَا مِنْ تَقْوَى الْقُلُوبِ}

maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati. (Al-Hajj: 32) . Wallahu A’lam bisshowab.

Kategori
Uncategorized

PERBEDAAN MENGHORMATI DAN AIB DALAM MENYANTUNI ANAK YATIM DAN FAKIR MISKIN

PERBEDAAN MENGHORMATI DAN AIB DALAM MENYANTUNI ANAK YATIM DAN FAKIR MISKIN

Assalamualaikum.

Sebelumnya mohon maaf kepada Kiyai dan Ust.

Langsung saja Saya bertanya

Apakah mendatangkan ( mengundang )orang fakir dan yatim sebuah aib atau menghormati dalam bersedekah?

Walaikum salam.

Jawaban
Mendatangkan ( mengundang ) anak-anak Yatim itu adalah merupakan penghormatan dan mengagungkan sebagai bentuk kepedulian terhadap mereka karena tanpa ada tujuan untuk menghormati tidaklah mungkin orang mengundangnya baik itu acara santunan ataupun yang lainnya, dan bukan untuk menampakkan aib. Maka sepantasnya jika seseorang dihormati maka seharusnya dia menghormati.( َمن عَظّمَ عُظّم )

Sedangkan aib sendiri dapat diartikan sebuah cela atau kondisi seseorang dilihat dari sisi keburukannya, atau hal yang tidak baik tentangnya.

الموسوعة الفقهية ص ٦٩٦٤
ب – التَّعْظِيمُ:
٣ – التَّعْظِيمُ: مَصْدَرُ عَظَّمَ، يُقَال: عَظَّمَهُ تَعْظِيمًا أَيْ: كَبَّرَهُ وَفَخَّمَهُ. وَالتَّعْظِيمُ يَكُونُ بِاعْتِبَارِ الْوَصْفِ وَالْكَيْفِيَّةِ، وَيُقَابِلُهُ التَّحْقِيرُ فِيهِمَا بِحَسَبِ الْمَنْزِلَةِ وَالرُّتْبَةِ

الموسوعة الفقهية ص ١٩٥٦٦
التَّعْرِيفُ:
١ – الْعَيْبُ لُغَةً: الْوَصْمَةُ وَالنَّقِيصَةُ، وَالْجَمْعُ أَعْيَابٌ وَعُيُوبٌ، وَرَجُلٌ عَيَّابٌ وَعَيَّابَةٌ وَعَيْبٌ: كَثِيرُ الْعَيْبِ، يُقَال: عَيَّبَ الشَّيْءَ فَعَابَ: إِذَا صَارَ ذَا عَيْبٍ فَهُوَ مَعِيبٌ، أَوْ هُوَ: مَا يَخْلُو عَنْهُ أَصْل الْفِطْرَةِ السَّلِيمَةِ. (١)
وَاصْطِلاَحًا يَخْتَلِفُ تَعْرِيفُ الْعَيْبِ بِاخْتِلاَفِ أَقْسَامِهِ، قَال النَّوَوِيُّ: حُدُودُهَا مُخْتَلِفَةٌ، فَالْعَيْبُ الْمُؤَثِّرُ فِي الْبَيْعِ الَّذِي يَثْبُتُ بِسَبَبِهِ الْخِيَارُ: هُوَ مَا نَقَصَتْ بِهِ الْمِلْكِيَّةُ أَوِ الرَّغْبَةُ أَوِ الْغَبْنُ، وَالْعَيْبُ فِي الْكَفَّارَةِ: مَا أَضَرَّ بِالْعَمَل ضَرَرًا بَيِّنًا، وَالْعَيْبُ فِي الأُْضْحِيَّةِ: هُوَ مَا نَقَصَ بِهِ اللَّحْمُ، وَالْعَيْبُ فِي النِّكَاحِ: مَا يُنَفِّرُ عَنِ الْوَطْءِ وَيَكْسِرُ ثَوْرَةَ التَّوَاقِ، وَالْعَيْبُ فِي الإِْجَارَةِ: مَا يُؤَثِّرُ فِي الْمَنْفَعَةِ تَأْثِيرًا يَظْهَرُ بِهِ تَفَاوُتُ الأُْجْرَةِ


Jadi sangat berbeda antara menghormati dan aib, karena aib berarti cela atau kondisi seseorang dilihat dari sisi keburukannya, sedangkan menghormati berarti mengagungkan memuliakan karena sebab adanya kelebihan atau kebaikan bukti bahwa anak yatim punya kelebihan dan keistimewaan dibandingkan dari yang lainnya disebutkan dalam sebuah hadits berikut yang berasal dari Musnad Ahmad, 7/36 berikut:

عَنْ أَبِي أُمَامَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ مَسَحَ رَأْسَ يَتِيمٍ لَمْ يَمْسَحْهُ إِلَّا لِلَّهِ كَانَ لَهُ بِكُلِّ شَعْرَةٍ مَرَّتْ عَلَيْهَا يَدُهُ حَسَنَاتٌ وَمَنْ أَحْسَنَ إِلَى يَتِيمَةٍ أَوْ يَتِيمٍ عِنْدَهُ كُنْتُ أَنَا وَهُوَ فِي الْجَنَّةِ كَهَاتَيْنِ وَفَرَّقَ بَيْنَ أُصْبُعَيْهِ السَّبَّابَةِ وَالْوُسْطَى

Artinya: Diriwayatkan dari Umamah, sesungguhnya Nabi bersabda: Barang siapa mengusap kepala yatim semata-mata karena Allah, maka setiap rambut yang ia usap memperoleh satu kebaikan. Barang siapa berbuat baik kepada yatim di sekitarnya, maka ia denganku ketika di surga seperti dua jari ini. Nabi menunjukkan dua jarinya; jari telunjuk dan jari tengahnya.

Secara tekstual hadits ini tidak menyebutkan secara spesifik harus diselenggarakan pada 10 Muharram, namun mengusap kepala yatim tetap dianjurkan kapan pun. Pertanyaannya mengapa yang dianjurkan adalah mengusap kepala anak yatim? Apa hikmahnya?

Dalam Kitab Majma’ Zawaid dijelaskan seperti ini:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَجُلًا شَكَا إِلَى رَسُولِ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – قَسْوَةَ قَلْبِهِ فَقَالَ: امْسَحْ رَأْسَ الْيَتِيمِ وَأَطْعِمِ الْمِسْكِينَ». رَوَاهُ أَحْمَدُ، وَرِجَالُهُ رِجَالُ الصَّحِيحِ.

Artinya: Diriwayatkan dari Abi Hurairah, sesungguhnya seseorang melaporkan kekerasan hatinya kepada Nabi Muhammad, lalu Nabi berpesan: Usaplah kepala yatim dan berilah makanan orang miskin (HR Ahmad, para perawinya sahih)

Dalam salah satu riwayat Thabrani dari Abu Darda’ memiliki pesan senada:

وَعَنْ أَبِي الدَّرْدَاءِ قَالَ: «أَتَى النَّبِيَّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – رَجُلٌ يَشْكُو قَسْوَةَ قَلْبِهِ، قَالَ: ” أَتُحِبُّ أَنْ يَلِينَ قَلْبُكَ وَتُدْرَكَ حَاجَتُكَ؟ ارْحَمِ الْيَتِيمَ، وَامْسَحْ رَأْسَهُ، وَأَطْعِمْهُ مِنْ طَعَامِكَ، يَلِنْ قَلْبُكَ وَتُدْرِكْ حَاجَتَكَ». رَوَاهُ الطَّبَرَانِيُّ وَفِي إِسْنَادِهِ مَنْ لَمْ يُسَمَّ، وَبَقِيَّةُ: مُدَلِّسٌ

Artinya: Diriwayatkan dari Abi Darda’, ia berkata: Seorang laki-laki sowan Rasulullah mengeluhkan kekerasan hatinya, lalu Rasulullah berpesan: Apakah kamu ingin hatimu lembut dan hajatmu terkabul? Sayangilah yatim, usaplah kepalanya, berilah ia makan dari makananmu, maka hatimu akan lembut dan hajatmu akan terkabul (HR Thabrani, sanadnya ada yang tidak disebutkan dan sebagian mudallis).

Kemudian dalam kitab Tanbihul Ghafilin bi-Ahaditsi Sayyidil Anbiya wal Mursalin karya Abullaits Assamarqandi (w. 373 H) menyebutkan besarnya pahala mengusap kepala yatim:

مَنْ صَامَ يَوْمَ عَاشُورَاءَ مِنَ الْمُحَرَّمِ أَعْطَاهُ اللَّهُ تَعَالَى ثَوَابَ عَشْرَةِ آلافِ مَلَكٍ ، وَمَنْ صَامَ يَوْمَ عَاشُورَاءَ مِنَ الْمُحَرَّمِ أُعْطِيَ ثَوَابَ عَشْرَةِ آلَافِ حَاجٍّ وَمُعْتَمِرٍ وَعَشْرَةِ آلافِ شَهِيدٍ ، وَمَنْ مَسَحَ يَدَهُ عَلَى رَأْسِ يَتِيمٍ يَوْمَ عَاشُورَاءَ رَفَعَ اللَّهُ تَعَالَى لَهُ بِكُلِّ شَعْرَةٍ دَرَجَةً

Artinya: Barang siapa berpuasa para hari Asyura (tanggal 10) Muharram, niscaya Allah akan memberikan seribu pahala malaikat dan pahala 10.000 pahala syuhada’. Dan barang siapa mengusap kepala yatim pada hari Asyura, niscaya Allah mengangkat derajatnya pada setiap rambut yang diusapnya.

Dari beberapa redaksi Hadits di atas, yang juga terdapat dalam kitab ulama, dapat disimpulkan bahwa hikmah mengusap kepala yatim adalah membentuk kasih sayang dan kepedulian kepada mereka. Di sisi lain, yatim merindukan belaian kasih sayang ayahnya. Sehingga dari pertemuan itu akan mengubah hati yang keras menjadi lembut dan doa terkabulkan.

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم من مسح رأس اليتيم رحمة كتب الله له بكل شعرة مرت عليها يده حسنة ومحا عنه بكل شعرة سيئة ورفع له بكل شعرة درجة .

Barang siapa yang mengusap kepala anak yatim karena belas kasihan maka setiap sehelai rambut yang berjan tangannya diatas kepalanya ( yang diusap) adalah satu kebaikan dan Allah menghapus satu kejelekan dan Allah mengangkat setiap satu helai rambut satu derajat ( Alhadits )

Dengan demikian tujuan mengundang anak-anak yatim bukan untuk menampakkan aib, atau menjadi Aib yang berarti menampakkan cela keburukan, melainkan tujuannya adalah menghormati, memuliakan sebagai bentuk kepedulian terhadap mereka agar tidak menjadi aib sedangkan agama memberi kebebasan dalam bersedekah baik dengan cara mendatangkan atau mendatangi.

Jadi, cara kita memberikan makanan kepada orang miskin dan anak yatim itu bebas, terserah kita baik dengan cara kita mendatangi orang miskin dan anak yatim, atau dengan cara anak yatim itu kita undang ke rumah kita , yang terpenting semata didasarkan atas niatan ihlas semata untuk memperoleh ridho Allah SWT.

Mengajak ( mengundang )anak yatim dalam acara makan berikut penjelasannya:

عَنِ الْحَسَنِ، أَنَّ يَتِيمًا كَانَ يَحْضُرُ طَعَامَ ابْنِ عُمَرَ، فَدَعَا بِطَعَامٍ ذَاتَ يَوْمٍ، فَطَلَبَ يَتِيمَهُ فَلَمْ يَجِدْهُ، فَجَاءَ بَعْدَ مَا فَرَغَ ابْنُ عُمَرَ، فَدَعَا لَهُ ابْنُ عُمَرَ بِطَعَامٍ، لَمْ يَكُنْ عِنْدَهُمْ، فَجَاءَه بِسَوِيقٍ وَعَسَلٍ، فَقَالَ‏:‏ دُونَكَ هَذَا، فَوَاللَّهِ مَا غُبِنْتَ يَقُولُ الْحَسَنُ‏:‏ وَابْنُ عُمَرَ وَاللَّهِ مَا غُبِنَ‏.‏


Dari Al-Hasan Al Bashri bahwasanya seorang yatim piatu biasa hadir makan bersama Ibnu ‘Umar. Suatu hari dia meminta makanan dan dia mencari anak yatim ini tetapi tidak dapat menemukannya. Dia tiba setelah Ibnu ‘Umar selesai. Ibnu ‘Umar meminta lebih banyak makanan untuk dibawakan kepadanya tetapi mereka tidak memilikinya. Maka ia dibawakan sawiq dan madu. Dia berkata, “Ini, ambil ini! Demi Allah, kamu tidak tertipu!” Al-Hasan berkata, “Demi Allah, Ibnu ‘Umar tidak tertipu!”. (HR. Ahmad dalam kitab Az-zuhdu no. 1051 dan Bukhari di kitab Adabul Mufrad no. 134)
Riwayat ini memberikan faedah bahwa Ibnu Umar selalu bersemangat di dalam menghadirkan anak yatim pada waktu beliau makan. Jika sudah waktunya maka maka beliau mencarinya, sebagaimana faidah ini di dapat pada ucapan beliau (Al Hasan) :
“… dia mencari anak yatim ini tetapi tidak dapat menemukannya”.
Si yatim ini pun datang setelah Ibnu Umar selesai dari makannya. Dan Ibnu Umar meminta makan yang lain buatnya namun sudah tidak ada. Makanan yang tadi dihidangkan sudah habis dan akhirnya beliau membawa sawiq dan ‘asal (madu) dan memberikannya kepada si yatim.
Dan beliau berkata : “Ini, ambil ini! Demi Allah, kamu tidak tertipu!” Maksudnya adalah kamu tidak rugi dengan tidak makan bersama kami, bahkan makanan yang ini adalah makanan yang baik.
Perkataan Al-Hasan Al Bashri, “Demi Allah, Ibnu ‘Umar tidak tertipu!” Artinya beliau mendapatkan keuntungan yang besar karena telah berbuat baik kepada si yatim ini. Dan ini adalah kebiasaan Ibnu Umar yang mana beliau tidak makan kecuali menghadirkan anak yatim dalam makan beliau.


عَنْ أَبِيْ بَكْرِ بْنُ حَفْصٍ، أَنَّ عَبْدَ اللهِ كَانَ لاَ يَأْكُلُ طَعَامًا إِلاَّ وَعَلَى خِوَانِهِ يَتِيمٌ‏.‏ رواه البخاري في الأدب المفرد وصحَّحه الألباني.


Dari Abu Bakar bin Hafsh : Bahwasanya Abdullah bin Umar dahulu tidaklah beliau makan kecuali di atas mejanya makan beliau ada seorang anak yatim”. (HR. Bukhari di kitab Adabul Mufrad no. 136 dan dishahihkan oleh Syaikh Al Albani rahimahullahu ta’ala).
Al kharaaithiyyu meriwayatkan dalam kitab makarimul akhlak dari Naafi’, beliau berkata :


كَانَ ابْنُ عُمَرَ رَضِيَ اللّٰهُ عَنْهُمَا لَا يَأْكُلُ طَعَامًا إِلَّا وَعَلَى خِوَانِهِ أَيْتَامٌ.


“Dahulu Ibnu Umar tidaklah makan suatu makanan kecuali dimeja makan beliau ada beberapa anak yatim”. (Dikeluarkan oleh Al kharaaithiyyu dalam kitab makarimul akhlak no. 652)
Riwayat ini menunjukkan akan kesungguhan beliau dalam berbuat baik kepada anak-anak yatim dimana beliau tidaklah makan suatu makanan kecuali disitu ada mereka. Dan Allah berfirman :


وَيُطْعِمُونَ ٱلطَّعَامَ عَلَىٰ حُبِّهِۦ مِسْكِيْنًا وَيَتِيْمًا وَأَسِيْرًا


“Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim dan orang yang ditawan”. (Al-Insan : 8)
Dalam suatu kesempatan, mereka menyukai harta dan makanan namun disisi lain mereka mendahulukan hal itu kepada kecintaan Allah dari pada kecintaan diri-diri mereka sendiri dengan memberikan kepada orang-orang yang paling membutuhkan dari kalangan orang miskin, yatim dan tawanan. Mereka meniatkan wajah Allah dalam hal itu dengan memberikan infaq dan makanan kepada mereka. Bahkan mereka tidak sedikit menginginkan balasan mereka dan ucapan terima kasihnya mereka.

Anggaplah anak yatim sebagaimana keluarga sendiri

عَنْ حَمْزَةَ بْنِ نَجِيحٍ أَبِي عُمَارَةَ قَالَ‏:‏ سَمِعْتُ الْحَسَنَ يَقُولُ‏:‏ لَقَدْ عَهِدْتُ الْمُسْلِمِينَ، وَإِنَّ الرَّجُلَ مِنْهُمْ لَيُصْبِحُ فَيَقُولُ‏:‏ يَا أَهْلِيَهْ، يَا أَهْلِيَهْ، يَتِيمَكُمْ يَتِيمَكُمْ، يَا أَهْلِيَهْ، يَا أَهْلِيَهْ، مِسْكِينَكُمْ مِسْكِينَكُمْ، يَا أَهْلِيَهْ، يَا أَهْلِيَهْ، جَارَكُمْ جَارَكُمْ، وَأُسْرِعَ بِخِيَارِكُمْ وَأَنْتُمْ كُلَّ يَوْمٍ تَرْذُلُونَ‏.‏


Dari Hamzah bin Najih Abu Umaroh beliau berkata :
Aku mendengar Al Hasan Al Bashri rahimahullahu ta’ala berkata : “Aku ingat suatu saat di antara kaum Muslimin ketika laki-laki mereka berteriak (untuk mengingatkan keluarga mereka), ‘Hai keluarga! Wahai keluarga! (Jagalah) anak yatim kalian! Yatim piatu kalian! Wahai keluarga! Setelah anak yatim kalian! Orang miskin kalian! Orang miskin kalian! Wahai keluarga! Wahai keluarga! (Jagalah) tetangga kalian! Waktu telah berlalu dengan cepat dalam mengambil yang terbaik dari kalian, sementara setiap hari kalian menjadi orang yang lebih rendah.” (HR. Bukhari di kitab Adabul Mufrad no. 139)
Yaitu seseorang memanggil keluarganya : Wahai keluarga! (Jagalah) anak yatim kalian! Yatim piatu kalian! Wahai keluarga!”. Berbuat baiklah kepada mereka, muliakanlah mereka dan berikan perhatian kalian kepada mereka. Dan ini adalah komando kepada siapapun yang dia jumpai. Mereka saling berwasiat agar memperhatikan anak-anak yatim, orang-orang miskin dan hak-hak para tetangga.
Di zaman para sahabat dahulu terdapat penerang dan pelita dalam hal kebaikan ini dan juga ada saling memerintah agar memiliki perhatian yang besar terhadap anak-anak yatim. Telah tetap beberapa sahabat dan shohabiat yang mereka menjadi penanggung jawab anak-anak yatim baik yang laki-laki maupun perempuan. Mereka mengumpulkan anak-anak yatim itu di rumah-rumah mereka, memiliki perhatian besar terhadap mereka, berbuat baik kepada mereka dan mereka (para sahabat dan shohabiat) menjadi tempat berlindungnya anak-anak yatim bahkan tempat terakhir dalam kebaikan. Demikian pula hal ini terjadi di kalangan para tabi’in dan pengikut mereka setelahnya.

Referensi :
Kitab Ahaditsul Akhlaq karya Syaikh Abdurrazzaq bin Abdil Muhsin Al Badr hafidzahullahu ta’ala, halaman 112-116.


تفسير الجلالين : معنى و تأويل الآية ٨

{ وَيُطْعِمُونَ الطَّعَامَ عَلَىٰ حُبِّهِ مِسْكِينًا وَيَتِيمًا وَأَسِيرًا}
[ سورة الإنسان: ٨]
 الآية السابقة
آية رقم ٨ 

«ويطعمون الطعام على حبه» أي الطعام وشهوتهم له «مسكينا» فقيرا «ويتيما» لا أب له «وأسيرا» يعني المحبوس بحق.
تفسير السعدي : ويطعمون الطعام على حبه مسكينا ويتيما وأسيرا

{ وَيُطْعِمُونَ الطَّعَامَ عَلَى حُبِّهِ }- أي: وهم في حال يحبون فيها المال والطعام، لكنهم قدموا محبة الله على محبة نفوسهم، ويتحرون في إطعامهم أولى الناس وأحوجهم { مِسْكِينًا وَيَتِيمًا وَأَسِيرًا } .
تفسير البغوي : مضمون الآية 8 من سورة الإنسان

“ويطعمون الطعام على حبه”، أي على حب الطعام وقلته وشهوتهم له وحاجتهم إليه.
وقيل: على حب الله عز وجل، “مسكيناً”، فقيراً لا مال له، “ويتيماً”، صغيراً لا أب له “وأسيراً”، قال مجاهد وسعيد بن جبير وعطاء: هو المسجون من أهل القبلة.
وقال قتادة: أمر الله بالأسراء أن يحسن إليهم، وإن أسراهم يومئذ لأهل الشرك.
وقيل: الأسير المملوك.
وقيل: المرأة، لقول النبي صلى الله عليه وسلم: “اتقوا الله في النساء فإنهن عندكم عوان” أي أسراء.
واختلفوا في سبب نزول هذه الآية، قال مقاتل: نزلت في رجل من الأنصار أطعم في يوم واحد مسكيناً ويتيماً وأسيراً.
وروى مجاهد وعطاء عن ابن عباس: أنها نزلت في علي بن أبي طالب رضي الله عنه، وذلك أنه عمل ليهودي بشيء من شعير، فقبض الشعير فطحن ثلثه فجعلوا منه شيئاً ليأكلوه، فلما تم إنضاجه أتى مسكين فسأل فأخرجوا إليه الطعام، ثم عمل الثلث الثاني فلما تم إنضاجه أتى يتيم فسأل فأطعموه، ثم عمل الثلث الباقي فلما تم إنضاجه أتى أسير من المشركين، فسأل فأطعموه، وطووا يومهم ذلك: وهذا قول الحسن وقتادة، أن الأسير كان من أهل الشرك، وفيه دليل على أن إطعام الأسارى، وإن كانوا من أهل الشرك، حسن يرجى ثوابه.
التفسير الوسيط : ويستفاد من هذه الآية

ثم وصفهم- سبحانه – بصفات أخرى فقال: وَيُطْعِمُونَ الطَّعامَ عَلى حُبِّهِ مِسْكِيناً وَيَتِيماً وَأَسِيراً.
أى: أن هؤلاء الأبرار من صفاتهم- أيضا أنهم يطعمون الطعام مع حب هذا الطعام لديهم، ومع حاجتهم إليه واشتهائهم له.

ومع كل ذلك فهم يقدمونه للمسكين، وهو المحتاج إلى غيره لفقره وسكونه عن الحركة..ولليتيم: وهو من فقد أباه وهو صغير، وللأسير: وهو من أصبح أمره بيد غيره.
وخص الإطعام بالذكر: لما في تقديمه من كرم وسخاء وإيثار، لا سيما مع الحاجة إليه، كما يشعر به قوله-تبارك وتعالى- عَلى حُبِّهِ أى: على حبهم لذلك الطعام، وقيل الضمير في قوله عَلى حُبِّهِ يعود إلى الله- عز وجل – أى: يطعمون الطعام على حبهم له-تبارك وتعالى-.

Dalil Aib dalam al-Qur’an

Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an surat An-Nur ayat 19 tentang perintah menutup aib sesama:

إِنَّ ٱلَّذِينَ يُحِبُّونَ أَن تَشِيعَ ٱلْفَٰحِشَةُ فِى ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ فِى ٱلدُّنْيَا وَٱلْءَاخِرَةِ ۚ وَٱللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

Artinya: Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar (berita) perbuatan yang amat keji itu tersiar di kalangan orang-orang yang beriman, bagi mereka azab yang pedih di dunia dan di akhirat. Dan Allah mengetahui, sedang, kamu tidak mengetahui.

Namun jika ditinjau dari sudut padang keutamaannya mungkin berbeda antara mendatangkan dan mendatangi  menarik untuk dicermati. Kita harus mengakui perubahan norma sosial yang terjadi di masyarakat. Kalau dulu masyarakat hampir tidak mempermasalahkan pemberian santunan yatim di muka umum, hari ini nilai sosial itu bergeser. Masyarakat–meski tidak semua–mempersoalkan pemberian santunan yatim dan dhuafa di muka umum.

Dalam Islam, masalah ini juga pernah didiskusikan oleh ulama. Masalah ini diangkat dalam kaitannya dengan keutamaan amal ibadah atau amal saleh yang dilakukan secara terbuka atau dilakukan secara tersembunyi.

Imam Al-Ghazali menjadikan tindakan yang menyakitkan atau mengganggu sebagai tolok ukur atas kebolehan amal saleh dan amal ibadah yang dilakukan secara tersembunyi atau dilakukan secara terang-terangan. Sejauh tidak menyakiti penerima santunan, pemberian santunan dapat dilakukan secara terbuka atau terang-terangan.

وأما ما يمكن إسراره كالصدقة والصلاة فإن كان إظهار الصدقة يؤذي المتصدق عليه ويرغب الناس في الصدقة فالسر أفضل لأن الإيذاء حرام


Artinya, “Adapun amal ibadah yang dapat dilakukan secara sembunyi seperti sedekah dan shalat, jika sedekah terang-terangan (di muka umum) menyakiti orang yang menerima sedekah dan itu dapat memotivasi orang lain untuk sedekah, maka amal secara sembunyi lebih utama karena tindakan menyakitkan (meski dengan niat baik) diharamkan,” (Imam Al-Ghazali, Ihya Ulumiddin, [Beirut, Darul Fikr: 2018 M/1439-1440 H], juz III, halaman 325).

Imam Al-Ghazali sangat memperhatikan sejauh mana dampak mafsadat suatu perbuatan. Sedekah atau amal saleh lainnya–meski dilakukan dengan niat baik–dapat diharamkan jika berdampak pada kezaliman atau berdampak pada adanya orang yang tersakiti atau terganggu.

Imam Al-Ghazali juga mengutip hadits riwayat berikut ini sebagai keutamaan amal ibadah yang dilakukan secara tersembunyi.


وقد روي في الحديث إِنَّ عَمَلَ السِّرِّ يُضَاعَفُ عَلَى عَمَل ِالعَلَانِيَةِ سَبْعِيْنَ ضِعْفًا وَيُضَاعَفُ عَمَلُ العَلَانِيَةِ إِذَا اسْتُنَّ بِعَامِلِهِ عَلَى عَمَلِ السِّرِّ سَبْعِيْنَ ضِعْفًا

Artinya, “Dalam hadits diriwayatkan, Rasulullah saw bersabda, ‘Amal ibadah secara sembunyi dilipatgandakan 70 kali lipat dibanding amal ibadah terang-terangan. Sedangkan amal ibadah secara terang-terangan yang dijadikan teladan dilipatgandakan 70 kali lipat dibanding amal ibadah secara sembunyi,’” (HR Al-Baihaqi).

Disebutkan Dalam sebuah hadits dari Jabir bin Abdillah radhiyallahu anhuma.Beliau berkata:

أَمْرَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ كُلِّ جَادٍّ بِعَشَرَةِ أَوْسُقٍ مِنْ تَمْرٍ، ‌بِقِنْوٍ ‌يُعَلَّقُ فِي الْمَسْجِدِ لِلْمَسَاكِينِ

“Nabi shallallahu‘alaihi wasallam memerintahkan dari setiap buah yang berjumlah sepuluh wasaq kurma (hasil panen) diambil satu tandan dan digantungkan di masjid untuk orang-orang miskin.”
(HR. Ahmad: 14867, Abu Dawud: 1662 dan Musnad Abi Ya’la: 2038 (4/34). Isnad-nya di-jayyid-kan oleh Ibnu Katsir dalam Tafsirnya: 3/348. Di-shahih-kan oleh al-Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud: 1465).
Al-Bara’ bin Azib radhiyallahu anhu berkata:

كُنَّا أَصْحَابَ نَخْلٍ فَكَانَ الرَّجُلُ يَأْتِي مِنْ نَخْلِهِ عَلَى قَدْرِ كَثْرَتِهِ وَقِلَّتِهِ، وَكَانَ الرَّجُلُ يَأْتِي بِالقِنْوِ وَالقِنْوَيْنِ فَيُعَلِّقُهُ فِي المَسْجِدِ، ‌وَكَانَ ‌أَهْلُ ‌الصُّفَّةِ ‌لَيْسَ ‌لَهُمْ ‌طَعَامٌ، فَكَانَ أَحَدُهُمْ إِذَا جَاعَ أَتَى القِنْوَ فَضَرَبَهُ بِعَصَاهُ فَيَسْقُطُ مِنَ البُسْرِ وَالتَّمْرِ فَيَأْكُلُ، وَكَانَ نَاسٌ مِمَّنْ لَا يَرْغَبُ فِي الخَيْرِ يَأْتِي الرَّجُلُ بِالقِنْوِ فِيهِ الشِّيصُ وَالحَشَفُ وَبِالقِنْوِ قَدْ انْكَسَرَ فَيُعَلِّقُهُ»، فَأَنْزَلَ اللَّهُ تَبَارَكَ تَعَالَى: {يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَنْفِقُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا كَسَبْتُمْ وَمِمَّا أَخْرَجْنَا لَكُمْ مِنَ الأَرْضِ وَلَا تَيَمَّمُوا الخَبِيثَ مِنْهُ تُنْفِقُونَ وَلَسْتُمْ بِآخِذِيهِ إِلَّا أَنْ تُغْمِضُوا فِيهِ} [البقرة: ٢٦٧]

“Kami adalah petani kurma, setiap orang datang membawa hasil kurmanya sesuai banyak sedikitnya, seseorang datang membawa setangkai atau dua tangkai lalu menggantungkannya di masjid, sementara penghuni halaman masjid (ahlush shuffah) tidak memiliki makanan, jika salah seorang dari mereka merasa lapar, mereka datang ke tangkai-tangkai kurma dan memukulnya dengan tongkat hingga busr (kurma muda) dan kurma berjatuhan, lalu mereka memakannya, sedangkan orang-orang yang tidak menghendaki kebaikan, datang dengan membawa satu tangkai kurma yang keras lagi jelek dan satu tangkai yang sudah rusak, kemudian digantungkan di masjid, maka Allah Tabaraka wa Ta’ala menurunkan ayat: “Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (di jalan Allah) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang kami keluarkan dari bumi untuk kamu. dan janganlah kamu memilih yang buruk-buruk lalu kamu menafkahkan daripadanya, padahal kamu sendiri tidak mau mengambilnya melainkan dengan memincingkan mata terhadapnya.” (QS.Al-Baqarah: 267).” (HR. At-Tirmidzi: 2987 dan ia berkata hasan shahih dan Ibnu Abi Syaibah dalam al-Mushannaf: 11099 (6/419). Di-hasan-kan pula oleh Muqbil dalam ash-Shahih al-Musnad: 138 (1/119)).
Al-Imam Ibnu Rajab al-Hanbali (wafat tahun 795 H) rahimahullah berkata:

والظاهر من أهل الصفة: أنهم كانوا يأكلون في المسجد، وقد سبق حديث البراء بن عازب أنهم كانوا إذا جاعوا ضربوا ‌القنو المعلق في المسجد للصدقة فأكلوا منه

“Yang jelas dari Ahlus Shuffah adalah bahwa mereka makan di masjid. Dan telah berlalu hadits al-Bara’ bin Azib radhiyallahu anhu bahwa mereka jika lapar memukul tandan kurma sedekah yang tergantung di masjid, lalu mereka memakannya.” (Fathul Bari li Ibni Rajab: 3/163).


. بغية المسترشدين ص : ٦٥ دار الفكر
(مسئلة ب) يجوز للقيم شراء عبد للمسجد ينتفع به لنحو نزح إن تعينت المصلحة فى ذلك.
إذ المدار كله من سائر الأولياء عليها نعم لا نرى للقيم وجها فى تزويج العبد المذكور كولى اليتيم إلا أن يبعه بالمصلحة فيزوجه مشتريه ثم يرد للمسجد بنحو بيع مراعيا فى ذلك المصلحة ويجوز بل يندب للقيم أن يفعل ما يعتاد فى المسجد من قهوة ودخون ونحوهما مما يرغب نحو المصلين وإن لم يعتد قبل إذا زاد على عمارته
. فتح الاله المنان للشيخ سالم بن سعيد بكير باغيثان الشافعي ص : ١٥٠
سئل رحمه الله تعالى عن رجل وقف اموالا كثيرة على مصالح المسجد الفلاني وهو الان معمور وفي خزنة المسجد من هذا الوقف الشئ الكثير فهل يجوز اخراج شئ من هذا الوقف لاقامة وليمة مثلا يوم الزينة ترغيبا للمصلين المواظبين ؟ فا جاب الحمد لله والله الموافق للصواب الموقوف على مصالح المساجد كما في مسئلة السؤال يجوز الصرف فيه البناء والتجصيص المحكم و في أجرة القيم والمعلم والامام والحصر والدهن وكذا فيما يرغب المصلين من نحو قهوة وبخور يقدم من ذلك الاهم فالاهم وعليه فيجوز الصرف في مسئلة السؤال لما ذكره السائل اذافضل عن عمارته ولم يكن ثم ما هو اهم منه من المصالح اهـ
المساجد بيوت الله ص ١١٠-١١١
(باب: القسمة وتعليق القنو في المسجد)
ثم ذكر حديث أنس -رضي الله عنه -قال: «أتي النبي- صلى الله عليه وسلم -بمال من البحرين، فقال: (انثروه في المسجد) وكان أكثر مال أُتِيَ به رسول الله -صلى الله عليه وسلم- فخرج رسول الله- صلى الله عليه وسلم -ولم يلتفت إليه، فلما قضى الصلاة جاء فجلس إليه، فما كان يرى أحدًا إلا أعطاه، فما قام رسول الله – صلى الله عليه وسلم – وثم منه درهم» (٢)
ففي هذا الحديث جواز تفريق المال في المسجد، بشرط ألاَّ يشغل المصلِّين، ولا يحصل فيه ازدحام وهيشات أصوات، فإن تيسَّر تفريقه في غير المسجد فهو أولى، ومثله تفريق الزكوات وصدقة الفطر، يجوز في المساجد عند الحاجة. (٣)
قال الخطابي: كره بعض السلف المسألة في المسجد، وكان بعضهم لا يرى أن يتصدق أحد على السائل المعترض في المسجد. ا. هـ (٢)
بل يقال: إذا مُنع الرجل أن ينشد ضالته في المسجد ,رغم كونه يبحث عن شيء هو يملكه؛ لئلا يشوِّش على المصلِّين، فإنه يُمنع من المسألة في المسجد؛ لأنها مثله وأولى. (٣)
وممَّا يتعلق بهذه الفائدة:
سؤال الصدقات وقت خطبة الجمعة: حيث ترى خادم المسجد يمر بالصندوق وقت الخطبة على الناس ليتصدقوا , وهذا بلا شك يشوِّش على الناس حال سماع الخطبة، كما أنه يتسبب في إبطال جمعة من يمر بهذا الصندوق، فقد قال النبي – صلى الله عليه وسلم-: “مَنْ مَسَّ الْحَصَى فَقَدْ لَغَا”. (٤)، وقال النبي – صلى الله عليه وسلم – “وَمَنْ لَغَا وَتَخَطَّى رِقَابَ النَّاسِ كَانَتْ لَهُ ظُهْرًا” (٥)
(١) أخرجه مسلم في الصحيح (١٠٢٨)، دون قول أبي بكر – رضي الله عنه – دخلت المسجد ….. ، وهي زيادة ضعيفة، في سندها مبارك بن فضالة، وهو مدلس وقد عنعنه.
(٢) ذكره البخاري (٤٢١) معلقاً بصيغة الجزم ووصله ابن حجر في التغليق (٢/ ٢٢٧)
(٣) انظر المجموع (٢/ ١٧٦) وفصول ومسائل تتعلق بالمساجد لابن جبرين (ص/٤٤)

Kategori
Uncategorized

APAKAH MINIMALNYA SUCI 15 HARI DIANTARA DUA KALI HAID DIHITUNG HARINYA SAJA ATAUKAH DENGAN JAMNYA ?

APAKAH MINIMALNYA SUCI 15 HARI DIANTARA DUA HAID HANYA DIHITUNG HARI ATAUKAH HARUS DENGAN JAM , ( SEHARI 24 jm x 15 =360 )

Assalamualaikum

Deskripsi masalah

Dalam satu bulan perempuan yang normal itu mesti tidak terlepas dari suci dan haid. Namun demikian terkadang terjadi bagi perempuan suci dari dua haid artinya dalam satu bulan haid dua kali

Contoh: Tgl 1,2,3,4,5,6,7 haid kemudian tgl 8,9,10,11,12,13,14,15, 16,17, 19,20, 21, 22, suci nah tgl 23 keluar sampai tgl 28 .baru sucinya tgl 29.30.

Catatan
-Tgl 1-7 haid yang pertama dalam satu bulan.
-tgl 23- 28 adalah haid yang kedua dalam satu bulan.
Yang menjadi persoalan ketika tgl 8 sucinya mulai jm 3 sedangkan tgl 23 baru keluar lagi. Artinya masa suci dari tgl 8 jika di hitung sampai tgl 22 menjadi 15 hari 15 mlm X 24 jam = 360 jam.

Pertanyaannya

Apakah minimalnya suci 15 hari diantara dua kali haid dihitung harinya saja ataukah dengan jamnya? Semisal tgl 1-7 haid sedangkan tgl 8 jm 3 suci kemudian keluar darah lagi pada tgl 23 apa darah itu dihukumi haid ataukah dinamakan istihadlah karena tgl 8 jam 3 sore suci hingga tanggal22 . Sementara Tgl 23 jam 10 pagi keluar darah masih 355 jam blm sampai 360 jam ?

Waalikum salam.
Jawaban

Dalam sehari semalam terdapat 24 jam, dan Sistem 24-jam itu adalah standar waktu di mana hari dimulai dari tengah malam hingga tengah malam dan dibagi menjadi 24 jam, ditunjukkan oleh jam yang berlalu sejak tengah malam, dari 0 hingga 23. Maka sehari semalam itulah 24 jam paling sedikitnya satu kali haid sedangkan paling sedikitnya suci diantara dua haid adalah 15 hari sedangkan maksimalnya tidak ada batasan melainkan melainkan dikondisikan maka berbeda dengan satu haid yaitu hanya 15 hari maka andaikan dihitung dengan jam 15 hari dan malam itu berarti 360 jam.
Sedangkan dalam kasus diatas adalah lebih mengingat tgl 8 itu dimulai jm 12 malam yang mana masih berdarah dari jm 12 sampai jm 2 lewat siang.
Dengan demikian jm 12 malam sampai jm 2 lebih siang itu adalah istihadhih.

Sementara permulaan dari suci adalah dihitung dari jam 3 siang tgl 8 suci sampai tgl 22, maka jika dijumlah menjadi 355 jm masih kurang 5 jam lagi, maka tgl 23 itu adalah istihadhoh karena untuk mencapai 360 jm, harus dikmalkan 5 jam menjadi lima 15 hari . Dalam arti walaupun sampai 15 hari akan tetapi harus tetap disesuaikan dengan 24 jam satu hari satu malam dari permulaannya haid, sehingga untuk mencapai 360 jm 15 harus dikmalkan .

Dengan kata lain walaupun jumlah harinya yang diatas telah sampai 15 hari namun belum memenuhi ukuran jumlah 360 jm, maka sehingga harus ( diikmalkan ) ditambah kan jamnya.

Dengan demikian dapat disimpulkan tgl 23 keluarnya darah itu bukan darah haid melainkan darah Istihadhoh, karena keluarnya darah keluar dalam masa suci yang dikmalkan hitungan tgl 8 jm 3 hingga hitungan 15 masuk pada tgl 23 masa suci, sedangkan hitungan 15 hari harus dilihat dari sudut pandang jam permulaannya dalam masalah haid bukan hanya dilihat dari segi hitungan harinya saja.Wallahu A’lam bish-shawab.

حاشية الجمل على شرح المنهاج ص٢٣٦

(وَأَقَلُّهُ)

زَمَنًا (يَوْمٌ وَلَيْلَةٌ) أَيْ قَدْرُهُمَا مُتَّصِلًا وَهُوَ أَرْبَعٌ وَعِشْرُونَ سَاعَةً (وَأَكْثَرُهُ) زَمَنًا (خَمْسَةَ عَشَرَ يَوْمًا بِلَيَالِيِهَا) وَإِنْ لَمْ تَتَّصِلْ وَغَالِبُهُ سِتَّةٌ أَوْ سَبْعَةٌ كُلُّ ذَلِكَ بِالِاسْتِقْرَاءِ مِنْ الْإِمَامِ الشَّافِعِيِّ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – (كَأَقَلَّ) زَمَنِ (طُهْرٍ بَيْنَ) زَمَنَيْ (حَيْضَتَيْنِ) فَإِنَّهُ خَمْسَةَ عَشَرَ بِلَيَالِيِهَا لِأَنَّ الشَّهْرَ لَا يَخْلُو غَالِبًا عَنْ حَيْضٍ وَطُهْرٍ وَإِذَا كَانَ أَكْثَرُ الْحَيْضِ خَمْسَةَ عَشَرَ لَزِمَ أَنْ يَكُونَ أَقَلُّ الطُّهْرِ كَذَلِكَ وَخَرَجَ بِبَيْنَ الْحَيْضَتَيْنِ الطُّهْرُ بَيْنَ حَيْضٍ وَنِفَاسٍ فَإِنَّهُ يَجُوزُ أَنْ يَكُونَ أَقَلَّ مِنْ ذَلِكَ تَقَدَّمَ أَوْ تَأَخَّرَ كَمَا سَيَأْتِي (وَلَا حَدَّ لِأَكْثَرِهِ) أَيْ الطُّهْرِ بِالْإِجْمَاعِ وَغَالِبُهُ بَقِيَّةُ الشَّهْرِ بَعْدَ غَالِبِ الْحَيْضِ.

contoh dalam ibaroh berikut:

بغية المسترشدين في تلخيص فتاوى بعض الأئمة من العلماء المتأخرين – (ص ٣١)


(مسألة ي)

رأت دما يصلح حيضا بأن زاد على يوم وليلة ونقص عن خمسة عشر ونقاء دون خمسة عشر لكن لو اجتمع مع الدم زاد عليها ثم دما، فالأول حيض وما يكمل الطهر من العائد دم فساد والزائد حيض بشرطه ما لم يجاوز أكثره والا فتأخذ المبتدأة غير مميزة من أول الزائد يوما وليلة وتطهر تسعة وعشرين، والمعتادة عادتها حيضا وطهرا.

الابانة والافاضة – (ص ٣٥-٣٦)
فحكم بأنه حيض إذا أتاها بعد طهر خمسة عشر فأكثر، وإلا بأن أتى قبله فيعد هذا الدم دم فساد فكمل أقل الطهر وما زاد فهو حيض جديد.
فتح القريب المجيب – (ج ١ /ص ٦١)
(ﻭﺃﻗﻞ اﻟﺤﻴﺾ) ﺯﻣﻨﺎ (ﻳﻮﻡ ﻭﻟﻴﻠﺔ)، ﺃﻱ ﻣﻘﺪاﺭ ﺫﻟﻚ، ﻭﻫﻮ ﺃﺭﺑﻌﺔ ﻭﻋﺸﺮﻭﻥ ﺳﺎﻋﺔ ﻋﻠﻰ اﻻﺗﺼﺎﻝ اﻟﻤﻌﺘﺎﺩ ﻓﻲ اﻟﺤﻴﺾ. (ﻭﺃﻛﺜﺮﻩ ﺧﻤﺴﺔ ﻋﺸﺮ ﻳﻮﻡا) ﺑﻠﻴﺎﻟﻬﺎ.

Kategori
Uncategorized

HUKUMNYA ORANG TUA MENGGUNAKAN/MEMAKAN HARTA ANAK YATIM

HUKUM ORANG TUA MENGGUNAKAN BAHKAN MEMAKAN HARTA ANAK YATIM YANG DIPEROLEH DARI HASIL SANTUNAN

Assalamualaikum.

Deskripsi masalah
Sudah menjadi kebiasaan bagi umat Islam ketika tiba tahun baru hijriyah dan bertepatan pada tanggal 10 muharram umat Islam yang sudah memahami terhadap fadhilah amalan-amalan di 10 Asyura’ yang diantaranya adanya anjuran menyantuni anak yatim mereka berbondong-bondong menghadiri pada acara santunan kepada mereka ( anak yatim ) semua itu karena didasarkan pada anjuran Al-Qur’an maupun hadits agar belas kasihan dan memberi santunan kepada mereka baik berupa uang beras pakaian maupun yang lainnya, semata untuk memperoleh ridho Allah dan syarafaat Nabi Muhammad dan kebaikan dari anak yatim. Namun karena sebagian anak yatim masih kecil sehingga apa yang diperoleh dari santunan dipegang ( dipelihara) oleh orang tuanya.

Pertanyaannya.
Bolehkah orang tuanya menggunakan bahkan memakan harta anaknya yang yatim yang diperoleh dari santunan tersebut? Mohon jawaban beserta dalilnya.

Waalikum salam.

Jawaban
Yatim adalah anak yang ditinggal mati oleh bapaknya sebelum baligh. Sedangkan batasannya Yatim adalah sampai baligh, yang mana tanda kebalighannya ulama berbeda pandang ada yang mengatakan pernah itilam/bermimpi keluar mani laki-laki atau perempuan dan pernah haid bagi perempuan dan ada yang mengatakan tumbuhnya rambutnya anah , namun yang mashur adalah ihtilam dan haid, walaupun ada sebagian yang berpendapat tumbuhnya bulu anah ( kemaluan ) adalah tanda baligh.
Adapun harta yang diperoleh dari santunan boleh digunakan oleh orang tuanya bahkan boleh memakannya dalam kondisi sangat membutuhkan atau dalam kondisi fakir namun dengan cara yang makruf dan tidak berlebihan, karena bagaimanapun dialah ( orang tuanya ) yang berhak dan berkewajiban untuk memelihara dan menjaga harta-hartanya, namun ketika sudah baligh dan masuk dalam kategori rusy ( pintar dan mampu memelihara agama dan hartanya) maka harta yang dipelihara wajib diserahkan kepadanya. Sebagaimana firman Allah surat an-Nisa’ dan penafsirannya oleh Ibnu Katsir dalam kitab tafsirnya:

تفسير إبن كثير

وَابْتَلُوا الْيَتَامَىٰ حَتَّىٰ إِذَا بَلَغُوا النِّكَاحَ فَإِنْ آنَسْتُم مِّنْهُمْ رُشْدًا فَادْفَعُوا إِلَيْهِمْ أَمْوَالَهُمْ ۖ وَلَا تَأْكُلُوهَا إِسْرَافًا وَبِدَارًا أَن يَكْبَرُوا ۚ وَمَن كَانَ غَنِيًّا فَلْيَسْتَعْفِفْ ۖ وَمَن كَانَ فَقِيرًا فَلْيَأْكُلْ بِالْمَعْرُوفِ ۚ فَإِذَا دَفَعْتُمْ إِلَيْهِمْ أَمْوَالَهُمْ فَأَشْهِدُوا عَلَيْهِمْ ۚ وَكَفَىٰ بِاللَّهِ حَسِيبًا (6)

وقوله تعالى : ( وابتلوا اليتامى ) قال ابن عباس ، ومجاهد ، والحسن ، والسدي ، ومقاتل بن حيان : أي اختبروهم ( حتى إذا بلغوا النكاح ) قال مجاهد : يعني : الحلم . قال الجمهور من العلماء : البلوغ في الغلام تارة يكون بالحلم ، وهو أن يرى في منامه ما ينزل به الماء الدافق الذي يكون منه الولد . وقد روى أبو داود في سننه عن أمير المؤمنين علي بن أبي طالب ، رضي الله عنه ، قال : حفظت من رسول الله صلى الله عليه وسلم : ” لا يتم بعد احتلام ولا صمات يوم إلى الليل ” .
وفي الحديث الآخر عن عائشة وغيرها من الصحابة ، رضي الله عنهم ، عن النبي صلى الله عليه وسلم قال : ” رفع القلم عن ثلاثة : عن الصبي حتى يحتلم ، وعن النائم حتى يستيقظ ، وعن المجنون حتى يفيق ” أو يستكمل خمس عشرة سنة ، وأخذوا ذلك من الحديث الثابت في الصحيحين عن عبد الله بن عمر قال : عرضت على النبي صلى الله عليه وسلم يوم أحد وأنا ابن أربع عشرة ، فلم يجزني ، وعرضت عليه يوم الخندق وأنا ابن خمس عشرة فأجازني ، فقال أمير المؤمنين عمر بن عبد العزيز – لما بلغه هذا الحديث – إن هذا الفرق بين الصغير والكبير .
واختلفوا في إنبات الشعر الخشن حول الفرج ، وهو الشعرة ، هل تدل على بلوغ أم لا ؟ على ثلاثة أقوال ، يفرق في الثالث بين صبيان المسلمين ، فلا يدل على ذلك لاحتمال المعالجة ، وبين صبيان أهل الذمة فيكون بلوغا في حقهم ; لأنه لا يتعجل بها إلا ضرب الجزية عليه ، فلا يعالجها . والصحيح أنها بلوغ في حق الجميع لأن هذا أمر جبلي يستوي فيه الناس ، واحتمال المعالجة بعيد ، ثم قد دلت السنة على ذلك في الحديث الذي رواه الإمام أحمد ، عن عطية القرظي ، رضي الله عنه قال : عرضنا على رسول الله صلى الله عليه وسلم يوم قريظة فكان من أنبت قتل ، ومن لم ينبت خلي سبيله ، فكنت فيمن لم ينبت ، فخلى سبيلي .
وقد أخرجه أهل السنن الأربعة بنحوه وقال الترمذي : حسن صحيح . وإنما كان كذلك; لأن سعد بن معاذ ، رضي الله عنه ، كان قد حكم فيهم بقتل المقاتلة وسبي الذرية .
وقال الإمام أبو عبيد القاسم بن سلام في كتاب ” الغريب ” : حدثنا ابن علية ، عن إسماعيل بن أمية ، عن محمد بن يحيى بن حيان ، عن عمر : أن غلاما ابتهر جارية في شعره ، فقال عمر ، رضي الله عنه : انظروا إليه . فلم يوجد أنبت ، فدرأ عنه الحد . قال أبو عبيد : ابتهرها : أي قذفها ، والابتهار أن يقول : فعلت بها وهو كاذب فإن كان صادقا فهو الابتيار ، قال الكميت في شعره .
قبيح بمثلي نعت الفتاة إما ابتهارا وإما ابتيارا وقوله : ( فإن آنستم منهم رشدا فادفعوا إليهم أموالهم ) قال سعيد بن جبير : يعني : صلاحا في دينهم وحفظا لأموالهم . وكذا روي عن ابن عباس ، والحسن البصري ، وغير واحد من الأئمة . وهكذا قال الفقهاء متى بلغ الغلام مصلحا لدينه وماله ، انفك الحجر عنه ، فيسلم إليه ماله الذي تحت يد وليه بطريقه . وقوله : ( ولا تأكلوها إسرافا وبدارا أن يكبروا ) 
ينهى تعالى عن أكل أموال اليتامى من غير حاجة ضرورية إسرافا ومبادرة قبل بلوغهم .ثم قال تعالى : ( ومن كان غنيا فليستعفف )
 [ أي ] من كان في غنية عن مال اليتيم فليستعفف عنه ، ولا يأكل منه شيئا . قال الشعبي : هو عليه كالميتة والدم . ( ومن كان فقيرا فليأكل بالمعروف ) قال ابن أبي حاتم : حدثنا الأشج ، حدثنا عبد الله بن سليمان ، حدثنا هشام ، عن أبيه ، عن عائشة : ( ومن كان غنيا فليستعفف ) نزلت في مال اليتيم .
وحدثنا الأشج وهارون بن إسحاق قالا حدثنا عبدة بن سليمان ، عن هشام ، عن أبيه ، عن . . ، قالت : نزلت في والي اليتيم الذي يقوم عليه ويصلحه إذا كان محتاجا أن يأكل منه . وحدثنا أبي ، حدثنا محمد بن سعيد الأصبهاني ، حدثنا علي بن مسهر ، عن هشام ، عن أبيه ، عن عائشة قالت : أنزلت هذه الآية في والي اليتيم ( ومن كان غنيا فليستعفف ومن كان فقيرا فليأكل بالمعروف ) بقدر قيامه عليه .
ورواه البخاري عن إسحاق عن عبد الله بن نمير ، عن هشام ، به .
قال الفقهاء : له أن يأكل أقل الأمرين : أجرة مثله أو قدر حاجته . واختلفوا : هل يرد إذا أيسر ، على قولين : أحدهما : لا; لأنه أكل بأجرة عمله وكان فقيرا . وهذا هو الصحيح عند أصحاب الشافعي; لأن الآية أباحت الأكل من غير بدل . وقد قال الإمام أحمد : حدثنا عبد الوهاب ، حدثنا حسين ، عن عمرو بن شعيب ، عن أبيه ، عن جده : أن رجلا سأل رسول الله صلى الله عليه وسلم فقال : ليس لي مال ، ولي يتيم ؟ فقال : ” كل من مال يتيمك غير مسرف ولا مبذر ولا متأثل مالا ومن غير أن تقي مالك – أو قال : تفدي مالك – بماله ” شك حسين .وقال ابن أبي حاتم : حدثنا أبو سعيد الأشج ، حدثنا أبو خالد الأحمر ، حدثنا حسين المكتب ، عن عمرو بن شعيب ، عن أبيه ، عن جده قال : جاء رجل إلى النبي صلى الله عليه وسلم فقال : إن عندي يتيما عنده مال – وليس عنده شيء ما – آكل من ماله ؟ قال : ” بالمعروف غير مسرف
ورواه أبو داود ، والنسائي ، وابن ماجه من حديث حسين المعلم به .
وروى أبو حاتم ابن حبان في صحيحه ، وابن مردويه في تفسيره من حديث يعلى بن مهدي ، عن جعفر بن سليمان ، عن أبي عامر الخزاز ، عن عمرو بن دينار ، عن جابر : أن رجلا قال : يا رسول الله ، فيم أضرب يتيمي ؟ قال : ما كنت ضاربا منه ولدك ، غير واق مالك بماله ، ولا متأثل منه مالا . وقال ابن جرير : حدثنا الحسن بن يحيى ، أخبرنا عبد الرزاق ، أخبرنا الثوري ، عن يحيى بن سعيد ، عن القاسم بن محمد قال : جاء أعرابي إلى ابن عباس فقال : إن في حجري أيتاما ، وإن لهم إبلا ولي إبل ، وأنا أمنح في إبلي وأفقر ، فماذا يحل لي من ألبانها ؟ فقال : إن كنت تبغي ضالتها وتهنأ جرباها ، وتلوط حوضها ، وتسقي عليها ، فاشرب غير مضر بنسل ، ولا ناهك في الحلب .
ورواه مالك في موطئه ، عن يحيى بن سعيد به . وبهذا القول – وهو عدم أداء البدل – يقول عطاء بن أبي رباح ، وعكرمة ، وإبراهيم النخعي ، وعطية العوفي ، والحسن البصري .
والثاني : نعم; لأن مال اليتيم على الحظر ، وإنما أبيح للحاجة ، فيرد بدله كأكل مال الغير للمضطر عند الحاجة . وقد قال أبو بكر ابن أبي الدنيا : حدثنا ابن خيثمة ، حدثنا وكيع ، عن سفيان وإسرائيل ، عن أبي إسحاق ، عن حارثة بن مضرب قال : قال عمر [ بن الخطاب ] رضي الله عنه : إنى أنزلت نفسي من هذا المال بمنزلة والي اليتيم ، إن استغنيت استعففت ، وإن احتجت استقرضت ، فإذا أيسرت قضيت . طريق أخرى : قال سعيد بن منصور : حدثنا أبو الأحوص ، عن أبي إسحاق ، عن البراء قال : قال لي عمر ، رضي الله عنه : إني أنزلت نفسي من مال الله بمنزلة والي اليتيم ، إن احتجت أخذت منه ، فإذا أيسرت رددته ، وإن استغنيت استعففت . إسناد صحيح وروى البيهقي عن ابن عباس نحو ذلك . وهكذا رواه ابن أبي حاتم من طريق علي بن أبي طلحة ، عن ابن عباس في قوله : ( ومن كان فقيرا فليأكل بالمعروف ) يعني : القرض . قال : وروي عن عبيدة ، وأبي العالية ، وأبي وائل ، وسعيد بن جبير – في إحدى الروايات – ومجاهد ، والضحاك ، والسدي نحو ذلك . وروي من طريق السدي ، عن عكرمة ، عن ابن عباس في قوله : ( فليأكل بالمعروف ) قال : يأكل بثلاث أصابع .ثم قال : حدثنا أحمد بن سنان ، حدثنا ابن مهدي ، حدثنا سفيان ، عن الحكم ، عن مقسم ، عن ابن عباس : ( ومن كان فقيرا فليأكل بالمعروف ) قال : يأكل من ماله ، يقوت على يتيمه حتى لا يحتاج إلى مال اليتيم . قال : وروي عن مجاهد وميمون بن مهران في إحدى الروايات والحكم نحو ذلك .
وقال عامر الشعبي : لا يأكل منه إلا أن يضطر إليه ، كما يضطر إلى
 [ أكل ] الميتة ، فإن أكل منه قضاه . رواه ابن أبي حاتم .وقال ابن وهب : حدثني نافع بن أبي نعيم القارئ قال : سألت يحيى بن سعيد الأنصاري وربيعة عن قول الله :
 ( فليأكل بالمعروف ) فقالا ذلك في اليتيم ، إن كان فقيرا أنفق عليه بقدر فقره ، ولم يكن للولي منه شيء .
وهذا بعيد من السياق; لأنه قال :
 ( ومن كان غنيا فليستعفف )
 يعني : من الأولياء ( ومن كان فقيرا فليأكل بالمعروف ) أي : منهم
 ( فليأكل بالمعروف ) أي : بالتي هي أحسن ، كما قال في الآية الأخرى :
 ( ولا تقربوا مال اليتيم إلا بالتي هي أحسن حتى يبلغ أشده ) [ الإسراء : 34 ] أي : لا تقربوه إلا مصلحين له ، وإن احتجتم إليه أكلتم منه بالمعروف .وقوله : ( فإذا دفعتم إليهم أموالهم ) يعني : بعد بلوغهم الحلم وإيناس الرشد [ منهم ] فحينئذ سلموهم أموالهم ، فإذا دفعتم إليهم أموالهم ( فأشهدوا عليهم ) وهذا أمر الله تعالى للأولياء أن يشهدوا على الأيتام إذا بلغوا الحلم وسلموا إليهم أموالهم; لئلا يقع من بعضهم جحود وإنكار لما قبضه وتسلمه .ثم قال
: ( وكفى بالله حسيبا ) أي : وكفى بالله محاسبا وشهيدا ورقيبا على الأولياء في حال نظرهم للأيتام ، وحال تسليمهم للأموال : هل هي كاملة موفرة ، أو منقوصة مبخوسة مدخلة مروج حسابها مدلس أمورها ؟ الله عالم بذلك كله . ولهذا ثبت في صحيح مسلم أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال : ” يا أبا ذر ، إني أراك ضعيفا ، وإني أحب لك ما أحب لنفسي ، لا تأمرن على اثنين ، ولا تلين مال يتيم ” 


{وَابْتَلُوا الْيَتَامَى}

Dan ujilah anak yatim itu. (An-Nisa: 6)
Ibnu Abbas, Mujahid, Al-Hasan, As-Saddi. dan Muqatil mengatakan bahwa makna yang dimaksud ialah perintah untuk melakukan ujian terhadap anak-anak yatim (oleh para walinya).

{حَتَّى إِذَا بَلَغُوا النِّكَاحَ}

sampai mereka cukup umur untuk kawin. (An-Nisa: 6)
Menurut Mujahid, yang dimaksud dengan nikah dalam ayat ini ialah mencapai usia balig.
Jumhur ulama mengatakan bahwa alamat usia balig pada anak remaja adakalanya dengan mengeluarkan air mani, yaitu dia bermimpi dalam tidurnya  melihat sesuatu atau mengalami sesuatu yang membuatnya mengeluarkan air mani. Air mani ialah air yang memancar yang merupakan cikal bakal terjadinya anak.
Di dalam kitab Sunan Abu Daud disebutkan dari Ali yang mengatakan bahwa ia selalu ingat akan sabda Rasulullah Saw. yang mengatakan:

«لَا يُتْمَ بَعْدَ احْتِلَامٍ وَلَا صُمَاتَ يَوْمٍ إِلَى اللَّيْلِ»

Tidak ada yatim sesudah balig dan tidak ada puasa siang sampai malam hari.
Di dalam hadis yang lain dari Siti Aisyah dan sahabat lainnya dari Nabi Saw. disebutkan:

«رُفِعَ الْقَلَمُ عَنْ ثَلَاثَةٍ، عَنِ الصَّبِيِّ حَتَّى يَحْتَلِمَ، وَعَنِ النَّائِمِ حَتَّى يَسْتَيْقِظَ، وَعَنِ الْمَجْنُونِ حَتَّى يُفِيقَ»

Qalam diangkat dari tiga macam orang, yaitu dari anak kecil hingga usia balig atau genap berusia lima belas tahun, dari orang yang tidur sampai terbangun, dan dari orang gila sampai sadar.
Mereka mengambil kesimpulan akan hal tersebut dari hadis yang telah disebutkan di dalam kitab Sahihain melalui Ibnu Umar r.a. yang mengatakan:

عُرِضْت عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وسلم يوم أحد وَأَنَا ابْنُ أَرْبَعَ عَشَرَةَ، فَلَمْ يُجِزْنِي، وَعُرِضْتُ عَلَيْهِ يَوْمَ الخَنْدَق وَأَنَا ابْنُ خَمْسَ عَشَرَةَ فَأَجَازَنِي، فَقَالَ أَمِيرُ الْمُؤْمِنِينَ عُمَرُ بْنُ عَبْدِ الْعَزِيزِ -لَمَّا بَلَغَهُ هَذَا الْحَدِيثُ -إِنَّ هَذَا الْفَرْقَ بَيْنَ الصَّغِيرِ وَالْكَبِيرِ

Diriku ditampilkan kepada Nabi Saw. dalam Perang Uhud, sedangkan saat itu usiaku baru empat belas tahun; maka beliau tidak membolehkan diriku (ikut perang). Dan diriku ditampilkan kepadanya dalam Perang Khandaq. Sedangkan saat itu  berusia lima belas tahun maka aku diperbolehkan ikut perang. Umar ibnu Abdul Aziz —ketika sampai kepadanya hadis ini— mengatakan bahwa sesungguhnya hadis inilah yang membedakan antara anak kecil dan orang yang sudah dewasa.
Para ulama berbeda pendapat mengenai tumbuhnya rambut yang keras di sekitar kemaluan, apakah hal ini merupakan alamat balig atau tidak? Ada tiga pendapat mengenainya. Menurut pendapat yang ketiga, dalam hal ini dibedakan antara anak-anak kaum muslim dengan anak-anak kafir zimmi. Pada anak-anak kaum muslim hal tersebut tidak menunjukkan usia balig, mengingat adanya kemungkinan faktor pengobatan. Lain halnya pada anak-anak kafir zimmi maka tumbuhnya rambut keras pada kemaluan merupakan pertanda usia balig bagi mereka; karena barang siapa yang telah tumbuh rambut kemaluannya, maka dibebankan kepadanya membayar jizyah, untuk itulah mereka tidak mau mengobatinya.
Menurut pendapat yang sahih, tumbuhnya rambut yang keras di sekitar kemaluan merupakan pertanda usia balig, mengingat hal ini merupakan sesuatu yang alami; semua orang tidak ada bedanya dalam hal tersebut, dan mengenai faktor pengobatan jauh dari kemungkinan.
Kemudian sunnah menunjukkan ke arah itu melalui sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad melalui Atiyyah Al-Qurazi yang menceritakan:

عُرضنا عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ قُرَيْظة فَكَانَ مَنْ أنْبَتَ قُتل، وَمَنْ لَمْ يُنْبت خَلّي سَبِيلَهُ، فَكُنْتُ فِيمَنْ لَمْ يُنْبِت، فَخَلَّى سَبِيلِي.

Mereka (orang-orang Bani Quraizah) ditampilkan di hadapan Nabi Saw. seusai Perang Quraizah. Maka Nabi Saw. memerintahkan kepada seseorang untuk memeriksa siapa di antara mereka yang telah tumbuh rambut kemaluannya. Maka orang yang telah tumbuh rambut kemaluannya dikenai hukuman mati, dan orang yang masih belum tumbuh rambut kemaluannya dibebaskan. Maka aku (Atiyyah Al-Qurazi) termasuk salah seorang yang masih belum tumbuh rambut kemaluannya. Akhirnya aku dibebaskan.”
Ahlu sunan mengetengahkan hadis yang semisal, yakni ahlus sunan yang empat orang (yang dikenai dengan sebutan Arba’ah). Imam Turmuzi mengatakan bahwa hadis ini hasan sahih.
Sesungguhnya keputusan tersebut tetap berlaku; sebagai buktinya ialah di saat Sa’d ibnu Mu’az menjatuhkan keputusan hukumnya di antara mereka (para tawanan), ia memutuskan menghukum mati orang-orang (dari kalangan musuh) yang ikut berperang dan menahan anak-anak mereka.
Abu Ubaid di dalam kitab Al-Garib mengatakan. telah menceritakan kepada kami Ibnu Ulayyah. dari Ismail ibnu Umayyah ibnu Yahya ibnu Hibban dari Umar, bahwa pernah ada seorang anak remaja menuduh berzina -seorang wanita muda dalam syairnya. Maka Khalifah Umar berkata “Periksalah dirinya.” Ternyata diketahui bahwa anak tersebut masih belum tumbuh rambut kemaluannya. Akhirnya hukuman had (menuduh berzina) tidak dikenakan terhadap dirinya.
Abu Ubaid mengatakan. ibtaharaha artinya menuduh (si wanita) berbuat zina; al-ibtihar ialah bila seseorang mengatakan.”Aku telah mengerjainya,” padahal ia dusta dalam pengakuannya itu. Jika pengakuan tersebut benar, maka istilahnya disebut ibtiyar. Seperti pengertian yang ada dalam perkataan Al-Kumait melalui salah satu bait syairnya:

قَبِيحٌ بِمِثْلِي نَعْتُ الفَتَاةِ … إِمَّا ابْتِهَارًا وَإِمَّا ابتيارا

Amatlah buruk bagi orang semisalku bila menuduh seorang wanita berbuat zina, bait dengan tuduhan dusta ataupun tuduhan yang sebenarnya.


Firman Allah:

{فَإِنْ آنَسْتُمْ مِنْهُمْ رُشْدًا فَادْفَعُوا إِلَيْهِمْ أَمْوَالَهُمْ}

Kemudian jika menurut pendapat kalian mereka telah cerdas (pandai memelihara harta) maka serahkanlah kepada mereka harta-hartanya. (An-Nisa: 6)
Sa’id ibnu Jubair mengatakan yang dimaksud rusydan ialah kelayakan dalam agamanya dan dapat memelihara hartanya. Hal yang sama dikatakan pula oleh Ibnu Abbas, Al-Hasan Al-Basri, dan bukan hanya seorang dari kalangan para Imam berdasarkan riwayat yang bersumber dari mereka.
Ulama fiqih mengatakan hal yang sama yaitu: Apabila seorang anak yatim telah mencapai usia yang membuat dirinya berlaku layak dalam agama dan hartanya, maka ia dibebaskan dari hijr (larangan menggunakan harta bendanya). Untuk itu, maka semua harta yang berada di tangan walinya diserahkan kepadanya.


Firman Allah Swt.

{وَلا تَأْكُلُوهَا إِسْرَافًا وَبِدَارًا أَنْ يَكْبَرُوا}

Dan janganlah kalian makan harta anak yatim lebih dari batas kepatutan dan (janganlah kalian) tergesa-gesa (membelanjakannya) sebelum mereka dewasa. (An-Nisa: 6)
Allah Swt. melarang memakan harta anak yatim tanpa adanya keperluan yang mendesak.
Yang dimaksud dengan istilah israfan wa bidaran ialah tergesa-gesa membelanjakannya sebelum anak-anak yatim itu dewasa.
Kemudian Allah Swt. berfirman:

{وَمَنْ كَانَ غَنِيًّا فَلْيَسْتَعْفِفْ}

Barang siapa (di antara para pemelihara itu) mampu maka hendaklah ia menahan diri (dari memakan harta anak yatim itu). (An-Nisa: 6)
Yang dimaksud dengan falyasta’fif ialah memelihara diri dari harta anak yatim dan janganlah memakannya barang sedikit pun.
Asy-Sya’bi mengatakan bahwa harta anak yatim baginya (orang yang mampu) sama halnya dengan bangkai dan darah (yakni haram dimakan).

{وَمَنْ كَانَ فَقِيرًا فَلْيَأْكُلْ بِالْمَعْرُوفِ}

Dan barang siapa yang miskin, maka bolehlah ia makan harta itu menurut yang patut (An-Nisa: 6)
Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Al-Asyaj, telah menceritakan kepada kami Abdullah ibnu Sulaiman, telah menceritakan kepada kami Hisyam, dari ayahnya, dari Siti Aisyah sehubungan dengan firman-Nya: Barang siapa (di antara para pemelihara itu) mampu, maka hendaklah ia menahan diri (dari memakan harta anak yatim itu). (An-Nisa: 6) Bahwa ayat ini diturunkan berkenaan dengan harta anak yatim.
Telah menceritakan kepada kami Al-Asyaj serta Harun ibnu Ishaq. Keduanya mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abdah ibnu Sulaiman, dari Hisyam, dari ayahnya, dari Siti Aisyah sehubungan dengan firman-Nya: dan barang siapa yang miskin, maka bolehlah ia makan harta itu menurut yang patut. (An-Nisa: 6) Ayat ini diturunkan berkenaan dengan wali anak yatim yang memeliharanya dan berbuat kemaslahatan untuknya, bilamana keperluan mendesak memakan sebagian dari harta anak yatim yang ada dalam pemeliharaanya.
Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami ayahku. telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Sa’id Al-Asbahani. telah menceritakan kepada kami ali ibnu Mishar, dari Hisyam. dari ayahnya. dari Siti Aisyah yang menceritakan bahwa ayat berikut diturunkan berkenaan dengan wali anak yatim, yaitu firman-Nya: Barang siapa (di antara para pemelihara itu) mampu. Maka hendaklah ia menahan diri (dari memakan harta anak yatim); dan barang siapa yang miskin, maka bolehlah ia makan harta itu menurut yang patut. (An-Nisa: 6) Yang dimaksud dengan cara yang patut ialah sesuai dengan jerih payahnya terhadap anak yatim yang ada dalam pemeliharaannya.
Imam Bukhari meriwayatkan dari Ishaq Ibnu Abdullah ibnu Numair, dari Hisyam dengan lafaz yang sama.
Ulama fiqih mengatakan, wali yang miskin diperbolehkan memakan sebagian dari harta anak yatim yang ada dalam pemeliharaannya dalam jumlah yang paling minim di antara kedua alternatif. yaitu upah misil-nya (standarnya) atau menurut keperluannya.
Ulama fiqih berselisih pendapat mengenai masalah bila wali anak yatim menjadi orang kaya setelah miskinnya, apakah ia diharuskan mengembalikan harta anak yatim yang telah dimakannya, atau tidak? Ada dua pendapat mengenainya.
Pendapat pertama, mengatakan “‘tidak” karena ia hanya memakan sekadar imbalan jerih payahnya dan lagi dia dalam keadaan miskin. Pendapat inilah yang sahih di kalangan murid-murid Imam Syafii, karena makna ayat jelas membolehkan memakan sebagian harta anak yatim tanpa menggantinya.
Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abdul Wahhab, telah menceritakan kepada kami Husain, dari Amr ibnu Syu’aib, dari ayahnya, dari kakeknya, bahwa ada seorang lelaki bertanya kepada Rasulullah Saw. Dia mengatakan, “Aku tidak berharta, sedangkan aku mempunyai anak yatim.”‘ Maka Rasulullah Saw. bersabda:

«كُلْ مِنْ مَالِ يَتِيمِكَ غَيْرَ مُسْرِفٍ وَلَا مُبَذِّرٍ وَلَا مُتَأَثِّلٍ  مَالَا وَمِنْ غَيْرِ أَنْ تَقِيَ مَالَكَ- أَوْ قَالَ- تَفْدِيَ مَالَكَ بِمَالِهِ»

Makanlah dari sebagian harta anak yatimmu dengan tidak berlebih-lebihan, tidak menghambur-hamburkannya, dan tidak menghimpunkannya sebagai harta(mu). Dan juga tanpa mengekang hartamu —atau— tanpa mengganti hartanya dengan hartamu.
Kata   ‘atau’ merupakan ragu dari pihak Husain.
Ibnu Abu Hatim mengatakan. telah menceritakan kepada kami Abu Said Al-Asyaj, telah menceritakan kepada kami Abu Khalid Al-Ahmar, telah menceritakan kepada kami Husain Al-Mukattab, dari Amr ibnu Syu’aib, dari ayahnya, dari kakeknya yang telah menceritakan bahwa ada seorang lelaki datang kepada Nabi Saw., lalu lelaki itu berkata, “Sesungguhnya aku mempunyai seorang anak yatim yang mempunyai harta, sedangkan aku sendiri tidak berharta, bolehkah aku ikut makan dari sebagian hartanya?” Rasulullah Saw. menjawab:

«بِالْمَعْرُوفِ غَيْرَ مُسْرِفٍ»

Makanlah dengan cara yang makruf tanpa berlebih-lebihan!
Imam Abu Daud, Imam Nasai, dan Imam Ibnu Majah meriwayatkannya melalui hadis Husain Al-Mu’allim.
Ibnu Hibban meriwayatkan di dalam kitab sahihnya dan Ibnu Murdawaih di dalam kitab tafsirnya melalui hadis Ya’la ibnu Mahdi, dari Ja’far ibnu Sulaiman, dari Abu Amir Al-Khazzaz, dari Amr ibnu Dinar, dari Jabir, bahwa ada seorang lelaki bertanya, “Wahai Rasulullah, berapakah yang boleh aku ambil dari anak yatimku?” Nabi Saw. menjawab:

«مَا كُنْتَ ضَارِبًا مِنْهُ وَلَدَكَ غَيْرَ وَاقٍ مَالَكَ بِمَالِهِ وَلَا مُتَأَثِّلٍ مِنْهُ مَالًا»

Sejumlah apa yang biasa kamu ambil dari anakmu, tanpa mengekang hartamu terhadap hartanya dan tanpa menghimpunkan dari hartanya sebagai harta(mu).
Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Al-Hasan ibnu Yahya. telah menceritakan kepada kami Abdur Razzaq, telah menceritakan kepada kami As-Sauri, dari Yahya ibnu Sa’id, dari Al-Qasim ibnu Muhammad yang menceritakan bahwa ada seorang Badui datang kepada Ibnu Abbas lalu orang Badui itu berkata.”sesungguhnya di dalam pemeliharaanku terdapat banyak anak yatim, dan mereka mempunyai ternak unta; aku pun mempunyai ternak unta pula, tetapi aku berikan sebagian dari ternak untaku kepada orang-orang miskin. Maka sebatas apakah yang dihalalkan bagiku terhadap air susunya?” Ibnu Abbas menjawab, “Jika engkau bekerja mencari ternak untanya yang hilang, mengobati yang sakit, menggiringnya ke tempat air minumnya. Menggembalakannya maka minumlah (air susunya) tanpa membahayakan terhadap anaknya. dan tidak ada larangan bagimu dalam memerah air susunya”.’
Imam Malik meriwayatkannya di dalam kitab Al-Muwatha dari Yahya ibnu Sa’id dengan lafaz yang sama.
Pendapat inilah —yakni tidak wajib mengganti— yang dikatakan oleh Ata ibnu Abu Rabah, Ikrimah, Ibrahim An-Nakha’i, Atiyyah Al-Aufi, dan Al-Hasan Al-Basri.
Pendapat yang kedua, mengatakan “wajib mengganti” karena harta anak yatim adalah harta yang ada dalam larangan; kecuali bila diperlukan, maka baru diperbolehkan, tetapi diharuskan menggantinya. Perihalnya sama dengan makan harta orang lain bagi orang yang dalam keadaan terpaksa di saat ia memerlukannya.
Ibnu Abud Dunia mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ibnu Khaisamah, telah menceritakan kepada kami Waki’, dari Sufyan dan Israil, dari Abu Ishaq, dari Harisah ibnu Mudarrib yang mengatakan bahwa Khalifah Umar r.a. pernah berkata, “Sesungguhnya aku menempatkan diriku terhadap harta ini dalam kedudukan sebagai wali anak yatim. Jika aku mampu, maka aku menahan diri: dan jika aku perlu, maka aku berutang; dan apabila aku dalam keadaan mudah, maka aku melunasinya.”
Jalur lain diriwayatkan oleh Sa’id ibnu Mansur, telah menceritakan kepada kami Abul Ahwas, dari Abu Ishaq, dari Al-Bana yang mengatakan bahwa Khalifah Umar r.a. pernah berkata kepadanya: Sesungguhnya aku menempatkan diriku terhadap harta Allah ini dalam kedudukan sebagai wali anak yatim. Jika aku memerlukannya, maka aku mengambil sebagian darinya; dan jika aku dalam keadaan mudah, maka aku kembalikan; dan jika aku dalam keadaan mampu, maka aku menahan diri (tidak menggunakannya).
Sanad asar ini sahih. Imam Baihaqi meriwayatkan hal yang semisal dari sahabat ibnu Abbas.
Hal yang sama diriwayatkan oleh Ibnu Abu Hatim melalui jalur Ali ibnu Abu Talhah, dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna firman-Nya: dan barang siapa yang miskin, maka bolehlah ia makan harta itu menurut yang patut. (An-Nisa: 6) Yang dimaksud dengan cara yang makruf ialah dengan utang.
Imam Baihaqi mengatakan, telah diriwayatkan dari Ubaidah, Abul Aliyah, Abu Wail, dan Sa’id ibnu Jubair dalam salah satu riwayatnya, Mujahid, Ad-Dahak, dan As-Saddi hal yang semisal.
Telah diriwayatkan melalui jalur As-Saddi, dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas sehubungan dengan firman-Nya: maka bolehlah ia makan harta itu menurut yang patut. (An-Nisa-6) Menurut Ibnu Abbas, hendaknya orang yang bersangkutan memakan dengan memakai tiga buah jari.
Imam Baihaqi mengatakan pula, telah menceritakan kepada kami Ahmad ibnu Sinan. telah menceritakan kepada kami Ibnu Mahdi, dari Sufyan, dari Al-Hakam, dari Miqsam, dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna firman-Nya: dan barang siapa yang miskin, maka bolehlah makan harta itu menurut yang patut. (An-Nisa: 6) Makna yang dimaksud ialah hendaknya orang yang bersangkutan hanya makan sebagian dari harta anak yatim dalam batasan cukup untuk makan dirinya hingga ia tidak memerlukan harta anak yatim lagi.
Hal yang semisal telah diriwayatkan dari Mujahid dan Maimun ibnu Mihran dalam salah satu riwayatnya, serta Imam Hakim.
Amir Asy-Sya’bi mengatakan bahwa seseorang tidak boleh memakan harta anak yatim kecuali bila ia dalam keadaan terpaksa. sebagaimana seseorang terpaksa memakan bangkai. Jika ia memakan sebagian darinya, maka ia harus menggantinya. Demikianlah menurut apa yang diriwayatkan oleh Ibnu Abu Hatim.
Ibnu Wahb mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ibnu Wahb, telah menceritakan kepada kami Nafi’ ibnu Abu Na’im Al-Qari’ yang mengatakan bahwa ia pernah bertanya kepada Yahya ibnu Sa’id Al-Ansari dan Rabi’ah tentang makna firman Allah Swt. yang mengatakan: dan barang siapa yang miskin, maka bolehlah ia makan harta itu menurut yang patut. (An-Nisa: 6) hingga akhir ayat. Hal tersebut berkenaan dengan anak yatim, yakni: Jika si wali adalah orang yang miskin, maka anak yatim itu diberi nafkah sesuai dengan kemiskinannya, dan tidak ada hak bagi wali terhadap harta anak yatim barang sedikit pun.
Akan tetapi, pendapat tersebut menyimpang dari konteks ayat, mengingat dalam firman-Nya disebutkan: Barang siapa (di antara pemelihara itu) mampu, maka hendaklah ia menahan diri (dari memakan harta anak yatim itu). (An-Nisa: 6) Yakni hendaklah para pemelihara itu menahan dirinya. jangan memakan harta anak yatimnya. dan barang siapa yang miskin, maka bolehlah ia makan harta itu menurut yang patut. (An-Nisa: 6) Bagi para wali yang miskin. diperbolehkan memakan harta anak yatimnya dengan cara yang baik. Seperti pengertian yang disebutkan di dalam ayat lainnya. yaitu firman-Nya:

وَلا تَقْرَبُوا مالَ الْيَتِيمِ إِلَّا بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ حَتَّى يَبْلُغَ أَشُدَّهُ

Dan janganlah kalian dekati harta anak yatim, kecuali dengan cara yang lebih bermanfaat, hingga ia dewasa. (Al-An’am: 152 dan Al-Isra’: 34)
Dengan kata lain, janganlah kalian mendekati harta anak yatim kecuali dengan maksud untuk berbuat yang bermanfaat terhadapnya; jika kalian memerlukannya, kalian boleh memakan sebagian darinya menurut cara yang patut.


Firman Allah Swt.:

{فَإِذَا دَفَعْتُمْ إِلَيْهِمْ أَمْوَالَهُمْ}

Kemudian apabila kalian menyerahkan harta kepada mereka. (An-Nisa: 6)
Sesudah mereka mencapai usia balig dan dewasa, menurut pendapat kalian mereka telah cerdas dan pandai memelihara harta, maka saat itulah kalian harus menyerahkan kepada mereka harta mereka yang ada di tangan kalian. Apabila kalian menyerahkan harta kepada mereka:

{فَأَشْهِدُوا عَلَيْهِمْ}

maka hendaklah kalian adakan saksi-saksi (tentang penyerahan itu) bagi mereka. (An-Nisa: 6)
Hal ini merupakan perintah dari Allah Swt.. ditujukan kepada para wali anak-anak yatim. Perintah ini menyatakan bahwa hendaknya mereka mengadakan saksi-saksi sehubungan dengan anak-anak yatim mereka, bila anak-anak yatim mereka telah mencapai usia dewasa dan harta mereka diserahkan kepadanya. Dimaksudkan agar tidak terjadi sebagian dari mereka adanya pengingkaran dan bantahan terhadap apa yang telah diserahterimakannya. Kemudian Allah Swt. berfirman:

{وَكَفَى بِاللَّهِ حَسِيبًا}

Dan cukuplah Allah sebagai Pengawas  (atas  persaksian  itu). (An-Nisa: 6)
Yakni cukuplah Allah sebagai Penghitung, Saksi, dan Pengawas terhadap para wali sehubungan penilaian mereka terhadap anak yatimnya dan di saat mereka menyerahkan harta kepada anak-anak yatim. Dengan kata lain, apakah harta itu dalam keadaan lengkap lagi utuh, ataukah kurang perhitungannya serta perkaranya dipalsukan, semuanya Allah mengetahui dan mengawasi akan hal tersebut. Karena itulah maka disebutkan di dalam kitab Sahih Muslim bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda:

“يَا أَبَا ذَرٍّ، إِنِّي أَرَاكَ ضَعِيفًا، وَإِنِّي أُحِبُّ لَكَ مَا أُحِبُّ لِنَفْسِي، لَا تَأَمَّرَن على اثنين، ولا تَلِيَنَّ مال يتيم”

Hai Abu Zar, sesungguhnya aku melihatmu orang yang lemah, den sesungguhnya aku menyukai bagimu sebagaimana aku menyukai buat diriku sendiri. Jangan sekali-kali kamu memerintah atas dua orang, dan jangan sekali-kali kamu menjadi wali harta anak yatim. Wallahu a’lam bish-shawab

Kategori
Uncategorized

HUKUMNYA KEDUA KAKI MENYENTUH LANTAI KAMAR MANDI KORELASINYA DENGAN KESUCIAN KAKI DAN SOLUSINYA

HUKUMNYA KEDUA KAKI MENYENTUH LANTAI KAMAR MANDI KORELASINYA DENGAN KESUCIAN KAKI DAN SOLUSINYA

Assalamualaikum
Deskripsi masalah :
Dalam waqiiyah dimasyarat sebut saja joni, di dalam rumah-Nya ada kamar mandi, dan WC yang mana tempat itu merupakan tempat khusus yang dipergunakan Joni atau keluarganya untuk membersihkan diri dari kotoran. Sehingga kamar mandi dan sejenisnya selalu identik dengan najis, sebagaimana saat joni telah buang air kecil, maupun buang air besar tidak luput dari percikan najis.

Sebelum berwudhu si Joni membasuh kemaluannya dan tempat sekitarnya bahkan kedua kakinya lalu ia wudhu’ dan keluar kamar dengan tanpa alas kaki atau sandal. Namun demikian setiap si Joni selesai wudhu sering dihantui keragu-ramuan bahkan tidak hanya Joni seseorang yang serupa dengan joni dirumahnya terdapat kamar mandi yang menyatu dengan WC, merasa ragu yang bersumber dari telapak kaki sebagai anggota badan yang langsung bersentuhan dengan lantai kamar mandi. Sehingga seringkali Joni berjalan dengan berjinjit sangat hati-hati. Merasa seolah lantai kamar mandi itu tidak bebas dari najis, padahal lantai kamar mandi telah disiram berulang-ulang dengan air yang suci.

Pertanyaan :
Bagaimana hukum kaki si Joni, jika memandang  dari situasi dan kondisinya selalu terkena najis sebagaimana dalam deskripsi sucikah ataukah tidak ? Kalau tidak suci adakah solusinya ?

Waalikum salam.

Untuk menghukumi najis dan tidaknya kaki Joni adalah dikondisikan pada tempat yang ia pijak artinya jika lantai sudah dianggap suci setelah disirami air maka suci tetapi jika hanya bersih belum tentu suci karena untuk menghukum cuci dan tidaknya harus dilihat dari sudut pandang cara mencucikannya ( barang yang terkena najis).
Dalam konteks bisa suci yaitu harus menghilangkan sifatnya rasanya dan baunya jika ketiga tersebut sudah hilang maka tempat tersebut dianggap suci akan tetapi jika masih salah satu dari yang tiga ada misalkan berbau maka tentu masih blm dikatakan suci, kecuali apabila warna atau bau najis sulit dihilangkan maka tidak wajib menghilangkannya, bahkan tempat yang dikenainya telah nyata suci. Berbeda apabila warna dan bau secara bersamaan masih ada di satu tempat yang dikenai satu najis maka tempat tersebut belum dihukumi suci karena kuatnya warna dan bau secara bersamaan dalam menunjukkan tetapnya dzat najis.
Begitu juga berbeda apabila rasa najis masih ada maka tempat yang dikenainya belum suci dan karena pada umumnya masih mudah untuk menghilangkan rasa najis tersebut.
Lalu bagaimana cara menghilangkan diantara sifat yang masih ada semisal warna dan bau ?

Adapun cara untuk menghilangkan (sifat-sifat) najis ainiah adalah mengerok dan menggosok sebanyak tiga kali. Disebutkan dalam kitab al-Misbah, “Azhari berkata, ‘Lafadz ( الحت) (mengerok berarti kamu mengerok dengan sisi batu atau kayu. Lafadz القَرْص (menggosok) berarti kamu menggosok dengan ujung jari-jari dengan cara menggosok secara kuat. Kemudian kamu menuangkan air pada tempat yang dikenai najis sampai dzat najis dan bekasnya hilang.’”

Apabila najis ainiah telah dikerok, digosok, dan dituangi air, ternyata masih ada warnanya atau baunya maka dihukumi sulit dan tempat yang dikenainya pun telah dihukumi suci. Tidak wajib menggunakan alat bantu semisal sabun dan tumbuhan asynan. Akan tetapi apabila warna dan bau secara bersamaan masih ada maka wajib menggunakan alat bantu tersebut hingga mencapai batas ta’adzur (sulit menghilangkan). Batasan ta’adzur adalah sekiranya warna dan bau najis tersebut tidak dapat dihilangkan kecuali dengan cara memotong tempat yang dikenai najis. Ketika telah dihukumi ta’adzur maka tempat yang dikenai najis dihukumi ma’fu. Kemudian apabila setelah dihukumi ma’fu, ternyata selang beberapa waktu, warna dan bau najis tersebut bisa dihilangkan maka wajib menghilangkannya. Namun, apabila sebelumnya seseorang telah melakukan sholat di tempat yang ma’fu tersebut maka ia tidak wajib mengulangi sholatnya setelah mampu dihilangkan. Jika tidak, maka tidak perlu dihukumi ma’fu.
Jadi inlah caranya menentukan suci dan tidaknya tempat dan kakinya Joni . Karena Syariah hanya Menghukumi Zhahirnya saja sedangkan masalah yang samar ( Batin ) adalah Urusan Allah yang penting usaha sudah dilakukan.

كتاب التحبير شرح التحرير المكتبة الشاملة ص ٣٧٩٢
وَرُبمَا اسْتدلَّ على ذَلِك بِمَا رُوِيَ عَن النَّبِي – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – أَنه قَالَ: ” نَحن نحكم بِالظَّاهِرِ، وَالله يتَوَلَّى السرائر “، كَمَا اسْتدلَّ بِهِ الْبَيْضَاوِيّ وَغَيره.لكنه حَدِيث لَا يعرف، لَكِن رَوَاهُ الْحَافِظ أَبُو طَاهِر إِسْمَاعِيل بن عَليّ بن إِبْرَاهِيم بن أبي الْقَاسِم الجنزوي فِي كِتَابه: ” إدارة الْأَحْكَام ” فِي قصَّة الْكِنْدِيّ والحضرمي الَّذين اخْتَصمَا إِلَى النَّبِي – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ -، وأصل حَدِيثهمَا فِي ” الصَّحِيحَيْنِ ” فَقَالَ الْمقْضِي عَلَيْهِ: قضيت عَليّ وَالْحق لي، فَقَالَ رَسُول الله – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ -: ” إِنَّمَا نقضي بِالظَّاهِرِ وَالله يتَوَلَّى السرائر ” وَله شَوَاهِد.
والله أعلم بالصواب

Berikut cara mencucikan najis Mutawassithoh dijelaskan dalam kitab Kasyifat al-Saja Syarah Safinat al-Naja (كاشفة السجا شرح سفينة النجا)
Pengarang: Syeikh Muhammad Nawawi Al-Bantani Al-Jawi Nama yang dikenal di Arab:
محمد بن عمر بن عربي بن علي نووي الجاوي أبو عبد المعطي

Kelahiran: 1813 M, Kecamatan Tanara, Banten
Meninggal: 1897 M, Mekkah, Arab Saudi

والمتوسطة تنقسم على قسمين عينية) وهي التي تشاهد بالعين (وحكمية) أي وهي التي حكمنا على المحل بنجاسته من غير أن ترى عين النجاسة

Najis mutawasitoh dibagi menjadi dua macam, yaitu ainiah (yaitu najis yang terlihat oleh mata) dan hukmiah (yaitu najis yang tempat yang dikenainya itu kita hukumi sebagai najis tanpa terlihat dzat najisnya).

Ainiah

العينية) ضابطها هي (التي لها لون) من البياض والسواد والحمرة وغير ذلك (وريح) وهي بمعنى الرائحة عرض يدرك بحاسة الشم (وطعم) بفتح الطاء وهو ما يؤديه الذوق من الكيفية كالحلاوة وضدها

Pengertian najis mutawasitoh [ ainiah adalah najis yang masih memiliki warna], seperti; putih, hitam, merah, dan lain-lain, [dan bau], yakni sesuatu yang dapat diketahui dengan indra pencium, [dan rasa], yakni sesuatu yang dapat diketahui dengan indra pengicip, seperti; manis, pahit (dan lain-lain).

فلا بد من إزالة لو ا وريحها وطعمها) إلا ما عسر زواله من لون أو ريح فلا تجب إزالته بل يطهر محله حقيقة بخلاف ما لو اجتمعنا في محل واحد من نجاسة واحدة لقوة دلالتهما على بقاء عين النجاسة وبخلاف ما لو بقي الطعم لذلك أيضا ولسهولة إزالته غالبا


Cara mensucikan tempat yang dikenai najis ainiah [diwajibkan menghilangkan warna najis, baunya, dan rasanya] kecuali apabila warna atau bau najis sulit dihilangkan maka tidak wajib menghilangkannya, bahkan tempat yang dikenainya telah nyata suci. 
Berbeda apabila warna dan bau secara bersamaan masih ada di satu tempat yang dikenai satu najis maka tempat tersebut belum dihukumi suci karena kuatnya warna dan bau secara bersamaan dalam menunjukkan tetapnya dzat najis.
Begitu juga berbeda apabila rasa najis masih ada maka tempat yang dikenainya belum suci dan karena pada umumnya masih mudah untuk menghilangkan rasa najis tersebut.

فالواجب في إزالة النجاسة الحت والقرص ثلاث مرات وفي المصباح قال الأزهري الحت أن تحك بطرف حجر أو عود والقرص أن تدلك بأطراف الأصابع دلكا شديدا وتصب عليه الماء حتى تزول عينه وأثره انتهى

Perkara yang diwajibkan dalam menghilangkan (sifat-sifat) najis ainiah adalah mengerok dan menggosok sebanyak tiga kali.
Disebutkan dalam kitab al-Misbah, “Azhari berkata, ‘Lafadz ( الحت) (mengerok) berarti kamu mengerok dengan sisi batu atau kayu.
Lafadz القَرْص (menggosok) berarti kamu menggosok dengan ujung jari-jari dengan cara menggosok secara kuat. Kemudian kamu menuangkan air pada tempat yang dikenai najis sampai dzat najis dan bekasnya hilang.’”

فإذا بقي بعد ذلك اللون أو الريح حكم بالتعسر وطهارة المحل ولا تجب الاستعانة بالصابون والاشنان وإن بقيا معا أو الطعم وحده تعينت الاستعانة بما ذكر إلى التعذر وضابطه أن لا يزول إلا بالقطع فإذا تعذر زوال ما ذكر حكم بالعفو فإذا قدر على الإزالة بعد ذلك وجبت ولا تجب إعادة ما صلاه به أولا وإلا فلا معنى للعفو،

Apabila najis ainiah telah dikerok, digosok, dan dituangi air, ternyata masih ada warnanya atau baunya maka dihukumi sulit dan tempat yang dikenainya pun telah dihukumi suci. Tidak wajib menggunakan alat bantu semisal sabun dan tumbuhan asynan. Akan tetapi apabila warna dan bau secara bersamaan masih ada maka wajib menggunakan alat bantu tersebut hingga mencapai batas ta’adzur (sulit menghilangkan). Batasan ta’adzur adalah sekiranya warna dan bau najis tersebut tidak dapat dihilangkan kecuali dengan cara memotong tempat yang dikenai najis. Ketika telah dihukumi ta’adzur maka tempat yang dikenai najis dihukumi ma’fu. Kemudian apabila setelah dihukumi ma’fu, ternyata selang beberapa waktu, warna dan bau najis tersebut bisa dihilangkan maka wajib menghilangkannya. Namun, apabila sebelumnya seseorang telah melakukan sholat di tempat yang ma’fu tersebut maka ia tidak wajib mengulangi sholatnya setelah mampu dihilangkan. Jika tidak, maka tidak perlu dihukumi ma’fu.

ويعتبر لوجوب نحو الصابون أن يفضل ثمنه عما يفضل عنه ثمن الماء في التيمم فإن لم يقدر عليه صلى عاريا وإن لم يقدر على الحت ونحوه لزمه أن يستأجر عليه بأجرة مثله إذا وجدها فاضلة عن ذلك أيضا ذكره الشرقاوى

Kewajiban menggunakan alat bantu semisal sabun harus mempertimbangkan bahwa biaya harga alat bantu tersebut lebihan atas biaya harga air dalam tayamum. Apabila seseorang yang pakaiannya terkena najis dan ia tidak memiliki biaya untuk mendapatkan alat bantu tersebut maka ia sholat dalam keadaan telanjang. Apabila ia tidak mampu mengerok dan menggosok najis dan ia memiliki biaya yang lebihan atas biaya air maka wajib atasnya menyewa orang lain untuk mengerokkan dan menggosokkan najis dengan upah dari biaya lebihan yang ia miliki itu, seperti yang telah disebutkan oleh Syarqowi.

Lalu bagaimana jika hal tersebut ( kamar mandi ) terjadi pada orang-orang besar yang berpangkat sementara dia menginap dihotel yang mana kamarnya terdapat kamarmandi sebagaimana tersebut diatas?
Maka jawabannya hukum Islam tidak memandang orang besar dan orang kecil artinya setiap muslim wajib mengetahui hal yang wajib diketahui dan diyakini secara muthlak baik waktu sholat maupun diluar sholat. ( lihat dalam kitab Syarah sullamuttaufiq ).

Artinya si Joni baik berpangkakat /orang besar ataupun tidak jika dia memandang  kakinya ada di tempat yang selalu terkena najis, dan menyakini bahwa tempat yang dipijak oleh kakinya Joni setelah dibasuh dengan cara tersebut diatas masih menyakini najis ,Maka hukumnya kakinya Joni itu adalah najis.Dan sebaliknya. Namun jika setiap melakukan wudhu’ meragukan maka solusinya sebagai bentuk kehati-kehatian adalah memakai sandalal khusus ( letakkan didekat luar pintu kamar mandi) setelah mengakat salah satu kakinya ( yang kanan) basuhlah lalu pakaian sandalnya lalu basuh kaki yang kiri dan masukkan kedalam sandal yang kiri, atau dengan cara membuat seperti tangga loncatan diluar kamar mandi dll.

Dalam sebuah qoidah disebutkan,

اليقين لا يزال بالشك


Artinya: Keyakinan(bahwa tempat yang dipijak oleh kakinya kakinya) itu najis,itu tidak bisa dihilangkan oleh keraguan (bahwa tempat yang dipijak oleh kakinya kakinya itu suci).
Adapun najis yang dima’fu (yang diampuni) adalah najis yang tidak bisa disaksikan dengan mata, karena sedikitnya najis itu , seperti najis yang tidak bisa disaksikan dengan penglihatan mata,seperti setitik darah,dan setitik khomer,dan najis yang tergantung pada kaki lalat. Alasannya ialah karena sulitnya menjaga terhadap najis itu.

Referensi:

(الاءقناع في حل الفاظ ابي شجاع)
(القَوْل فِي النَّجَاسَة المعفو عَنْهَا) وَيسْتَثْنى أَيْضا نجس لَا يُشَاهد بالبصر لقلته كنقطة بَوْل وخمر وَمَا يعلق بِنَحْوِ رجل ذُبَاب لعسر الِاحْتِرَاز عَنهُ فَأشبه دم البراغيث
قَالَ الزَّرْكَشِيّ وَقِيَاس اسْتثِْنَاء دم الْكَلْب من يسير الدَّم المعفو عَنهُ أَن يكون هُنَا مثله وَقد يفرق بَينهمَا بالمشقة وَالْفرق أوجه ويعفى أَيْضا عَن رَوْث سمك لم يُغير المَاء وَعَن الْيَسِير عرفا من شعر نجس من غير نَحْو كلب وَعَن كَثِيره من مركوب وَعَن قَلِيل دُخان نجس وغبار سرجين وَنَحْوه مِمَّا تحمله الرّيح كالذر وَعَن حَيَوَان مُتَنَجّس المنفذ إِذا وَقع فِي المَاء للْمَشَقَّة فِي صونه وَلِهَذَا لَا يُعْفَى عَن آدَمِيّ مستجمر وَعَن الدَّم الْبَاقِي على اللَّحْم والعظم فَإِنَّهُ يُعْفَى عَنهُ وَلَو تنجس حَيَوَان طَاهِر من هرة أَو غَيرهَا ثمَّ غَابَ وَأمكن وُرُوده مَاء كثيرا ثمَّ ولغَ فِي طَاهِر لم يُنجسهُ مَعَ حكمنَا بِنَجَاسَة فَمه لِأَن الأَصْل نَجَاسَته وطهارة المَاء وَقد اعتضد أصل طَهَارَة المَاء بِاحْتِمَال ولوغه فِي مَاء كثير فِي الْغَيْبَة فرجح

Mengenai hal kehati-hatian Imam Nawawi menjelaskan dalam Kitab Al-Majmu’ Syarhul Muhaddzab pernah menjelaskan,

 
اسْتِحْبَابُ الِاحْتِيَاطِ فِي الْعِبَادَاتِ وَغَيْرِهَا بِحَيْثُ لَا يَنْتَهِي إلَى الْوَسْوَسَة

Diperbolehkan berihthiyath (berhati-hati) dalam masalah ibadah dan yang lain sehingga tidak mengakibatkan waswas.

Penekanan Ihthiyath (kehati-hatian) lebih diutamakan pada masalah ini, dikarenakan bersuci dari najis adalah salah satu syarat sahnya shalat, jika saja ada najis yang mengenai pakaian seseorang, maka akan menjulur pada keabsahan shalat itu sendiri.

Sedangkan maksud dan tujuan dari memakai sandal sendiri adalah untuk menghindari keragu-raguan, najis dan kotoran itu sendiri. Maka jika terpenuhinya maksud tersebut adalah dengan memakai sandal, maka hal itu dianjurkan sebagai sarana terwujudnya maksud dan tujuan. Wallahu A’lam