logo mubaa
Logo Ittihad

DEWAN PIMPINAN PUSAT
IKATAN ALUMNI BATA-BATA

Kategori
Uncategorized

PROBLEMATIKA POLIGAMI DALAM ISLAM

Assalamualaikum ust/kyai didalam Islam jelas orang poligami dianjurkan bagi laki²yang mampu segalanya tapi poligami itu sangat menyakitkan ke kaum hawa malah banyak kaum hawa itu yang nyuruh suaminya dari pada poligami mendingan pacaran/zina saking sakitnya hati kaum hawa.


Pertanyaannya kyai/ust

Apakah pahala poligami bisa mengcover terhadap sakitnya hati kaum hawa tersebut ust mohon penjelasan dan referensinya ust

Waalikum salam.
Jawaban

Menikah dengan lebih dari seorang istri.

Islam adalah agama yang sejalan dengan fitrah manusia dan realistis. Ia menghadapi realita kehidupan ini dengan kearifan yang mendidik, menjauhkannya dari sifat melampaui batas sekaligus sikap ceroboh. Hal ini dapat kita saksikan secara jelas dalam memandang masalah poligami. Dengan didasarkan pada pertimbangan-pertimbangan manusiawi yang sangat penting baik secara individu maupun sosial – ia memperbolehkan muslim menikah lebih dari satu perempuan. Bangsa-bangsa dan agama-agama sebelum Islam memperbolehkan kawin dengan perempuan dengan jumlah yang sangat banyak, puluhan hingga ratusan, tanpa syarat dan atau batasan tertentu. Setelah kedatangan Islam, ditentukanlah batas dan syarat-syarat berpoligami itu. Adapun batasannya, Islam mengizinkan batas maksimal empat istri. Ghailan Ats-Tsaqafi ketika masuk Islam ia beristri sepuluh orang. Nabi pun berkata kepadanya.

إختر منهن أربعا وفارق سائرهن

Pilihlah empat diantaranya dan tinggalkan sisanya . ( HR Ahmad, Turmudzi,Ibnu Majah).
Demikian pula orang yang masuk Islam dengan membawa istri delapan atau lima orang Rasulullah melarang mempertahankan kecuali empat diantaranya. Sedangkan perkawinan Rasulullah dengan sembilan orang istri, ini adalah perkecualian yang Allah berikan kepada beliau untuk kebutuhan dakwah dimasa hidupnya.Selain itu, juga kebutuhan ummat kepada mereka setelah beliau meninggal . Maka terkait dengan persoalan sebagaimana deskripsi diatas.
Andaikan istri merasa sakit karena dimadu maka untuk mencover atau menutupi rasa sakitnya itu bergantung pada keadilan sang suami dalam berpoligami dan kesabaran istri, karena jika suami yang berpoligami sudah sesuai dengan aturan syariat ( Adil ) tidaklah mungkin antara yang satu dengan yang lainnya merasa tersakiti. Kalau memang masih ada yang tersakiti padahal suami sudah adil, maka hal tersebut bukanlah dosa seorang suami melainkan dosa yang ditanggung pribadi seorang istri.

Allah SWT berfiman :

لِيَتَّخِذْ أَحَدُكُمْ قَلْبًا شَاكِرًا وَلِسَاناً ذَاكِرًا وَزَوْجَةً مُؤْمِنَةً تُعِيْنُ أَحَدَكُمْ عَلَى أَمْرِ الْآخِرَةِ

Hendaklah salah seorang dari kalian memiliki hati yang bersyukur, lisan yang senantiasa berzikir dan istri mukminah yang akan menolongmu dalam perkara akhirat.” (HR. Ibnu Majah no. 1856, dinyatakan shahih oleh asy-Syaikh Albani rahimahullah dalam Shahih Ibnu Majah no. 1505).

Di antara contoh istri yang sabar adalah seperti pahala Siti Asiyah istri Fir’aun yang dzalim. Begitu hebat Siti Asiyah menghadapi siksaan dan kedzaliman suaminya yang mengaku dirinya sebagai Tuhan. Siti Asiyah menghadapi siksaan ini dengan penuh kesabaran disertai senyuman dalam setiap rasa sakit yang ia terima sampai maut menjemputnya, sehingga namanya tercatat sebagai wanita mulia yang dijamin masuk surga atas kesabarannya menghadapi akhlak buruk suaminya. Rasulullah SAW bersabda :

مَن صَبَرَت عَلى سوءِ خُلُقِ زَوجِها؛ أعطاها مِثلَ ثَوابِ آسِيَةَ بِنتِ مُزاحِمٍ

Jika seorang istri sabar menghadapi keburukan akhlak suaminya, maka Allah akan memberikan pahala seperti yang diberikan kepada Asiyyah istri Fir’aun. “(H.R Muslim).

Islam menuntut dari seorang muslim yang akan melakukan poligami adalah keyakinan dirinya bahwa ia bisa berlaku adil diantara dua istri atau istri- istrinya baik dalam hal makanan, minuman, tempat tinggal, pakaian, dan nafkah. Barang siapa kurang yakin akan kemampuannya memenuhi hak-hak tersebut dengan seadil-adilnya, haramlah baginya menikah dengan lebih dari satu perempuan .Allah berfirman.

وإن خفتم أن لاتعدلوا فواحدة

Lalu jika kalian hawatir tidak bisa berlaku adil cukuplah satu saja.( Annisa’ ;3).

Rasulullah Juga bersabda :

من كان له إمرأتان يميل لإحداهما على الأخرى جاء يوم القيامة يجر أحد شقيه مائل (رواه الحاكم )

Barangsiapa mempunyai duan istri kemudian dia condong kepada salah satu dari keduanya, maka pada hari kiamat nanti akan datang dengan menyeret salah satu belahan tubuhnya yang terjatuh atau miring ( HR.Ahlussunan Ibnu Majah dan Alhakim). Miring yang diperingatkan dalam hadits ini adalah ketidak adilan dalam hak-haknya bukan hanya sekedar dalam kecenderungan hati, karena yang disebut terakhir ini termasuk hal yang susah dipenuhi bahkan dimaklumi dan dimaafkan Allah .Allah SWT.berfirman .

ولن تستطيعوا ان تعدلوا بين النساء ولو حرصتم فلا تميلوا كل الميل


Dan kalian tidak mungkin bisa berbuat Adil diantara istri-istrimu meskipun kalian berusaha dengan sungguh-sungguh karena itu janganlah kalian condong dengan berlebihan ( An-Nisa: 129)

Oleh karena itu Rasulullah Shollallahu alaihi wasallam dulu membagi-bagi secara adil dan berkata;

اللهم هذا قسمي فيما أملك فلا تلمني فيما تملك ولاعمرك

Ya Allah inilah pembagian sebatas apa yang aku miliki karena itu, janganlah kau siksa aku dalam hal yang engkau miliki dan tidak aku miliki. Maksudnya jangan disiksa karena hal yang tidak dimiliki, menyangkut masalah hati dan kecenderungan perasaan secara husus kepada salah satu diantara mereka.Jika hendak bebergian beliau mengundi mereka .Barang siapa diantara nama mereka muncul dialah yang berhak bersamanya .Beliau lakukan itu semata untuk menghindari penyesalan dan kelanggengan hati semua pihak .

Referensi; Halal dan haram. Syaikh Dr. Yusuf Al-Qardhawi.

:الزواج بأكثر من واحدة ، الإسلام دين يلائم الفطرة ، ويعالج الواقع ، بما يهذبه ، ويبعد به عن الإفراط والتفريط
. زوجات وهذا ما نشاهده جليًّا في موقفه من تعدد الزوجات
فإنه العتبارات إنسانية هامة ، فردية واجتماعية ، أباح للمسلم أن يتزوج
. بأكثر من واحدة
كان كثير من الأمم والملل قبل الإسلام ، يبيحون التزوج بالجم وقد الغفير من النساء ، قد يبلغ العشرات ، وقد يصل إلى المائة والمئات ، دون اشتراط لشرط،ولاتقيد بقيد ، فلما جاء الإسلام وضع لاعدد الزوجات قيدا وشرطا .فأماالقيد فجعل الحد الأقصى للزوجات أربعا . وقد أسلم غيلان الثقفي وتحته عشر نسوة فقال له النبي إختر منهن أربعا وفارق سائرهن . وكذلك من أسلم عن ثمانية نهاه رسول الله أن يمسك منهن إلا أربعا. أما زواج الرسول بتسع نسوة فكان هذا شيأ خصه الله به لحاجة الدعوة فى حياته وحياة الأمة إليهن بعد وفاته.
العدل شرط فى إباحة التعدد.
أما الشرط الذي إشترطه الإسلام للتعدد الزوجات فهو ثقة المسلم
أن يعدل بين زوجتيه او زوجاته فى المأكل والمشرب والملبس والمسكن والمبيت والنفقة ومن لم يثق فى نفسه والقدر ة على آداء هذه الحقوق بالعدل والسوية ، حرم عليه أن يتزوج بأكثر من واحدة .قال تعالى فإن خفتم أن لاتعدلوا فواحدة . ( النساء.٣).وقال النبي صلى الله عليه وسلم من كانت له إمرأتان يميل لإحداهما على الأخرى جاء يوم القيامة يجر أحد شقيه مائل رواه أحمد فى مسنده والميل الذي حذر من هذا الحديث هو الجور على حقوقها لا مجر الميل القلبي ، فإن هذا داخل فى العدل لايستطاع ، والذي عفى الله عنه وسامح فى شأنه قال سبحانه وتعالى ولن تستطيعوا ان تعدلوا بين النساء ولو حرصتم فلا تميلوا كل الميل (النساء .١٢٩) ولهذا كان رسول الله يقسم ويعدل ويقول ؛ اللهم هذا قسمي فيما أملك فلا تلمني فيما تملك ولاعمرك. يعني بما لايملكه أمر القلب والميل العطافي إلى إحداهن خاصة
وكان إذا أراد سفر حكم بينهن القرعة فأيتهن خرج سهما سفربها ، وإنما فعل ذلك دفعات لوخر الصدور وترضية للجمع

Referensi :


الفقه الإسلامي وأدلته، 9/160) فَلَا تَعْنِي أَنَّ كُلَّ مُسْلِمٍ يَتَزَوَّجُ أَكْثَرَ مِنْ وَاحِدَةٍ، بَلْ أَصْبَحَ مَبْدَأَ وَحْدَةِ الزَّوْجَةِ هُوَ الْغَالِبُ الْأَعْظَمُ. قُيُوْدُ إِبَاحَةِ التَّعَدُّدِ : اشْتَرَطَتِ الشَّرِيْعَةُ لِإِبَاحَةِ التَّعَدُّدِ شَرْطَيْنِ جَوْهَرِيَيْنِ هُمَا: 1) تَوْفِيْرُ الْعَدْلِ بَيْنَ الزَّوْجَاتِ: أَيْ العَدْلُ الَّذِيْ يَسْتَطِيْعُهُ اْلِإنْسَانُ، وَيَقْدِرُ عَلَيْهِ، وَهُوَ التَّسْوِيَّةُ بَيْنَ الزَّوْجَاتِ فِي النَّوَاحِي الْمَادِيَّةِ مِنْ نَفَقَةٍ وَحُسْنِ مُعَاشَرَةٍ وَمَبِيْتٍ. ;إِلَى أَنْ قَالَ) القُدْرَةُ عَلَى الْإِنْفَاقِ: لَا يَحِلُّ شَرْعاً الِإقْدَامُ عَلَى الزَّوَاجِ، سَوَاءٌ مِنْ وَاحِدَةٍ أَوْ مِنْ أَكْثَرَ إِلَّا بِتَوَافُرِ القُدْرَةِ عَلَى مُؤَنِ الزَّوَاجِ وَتَكَالِيْفِهِ، وَالْاِسْتِمْرَارُ فِي أَدَاءِ النَّفَقَةِ الْوَاجِبَةِ لِلزَّوْجَةِ عَلَى الزَّوْجِ، لِقَوْلِهِ : يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ، مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمْ البَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ… وَالْبَاءَةُ: مُؤْنَةُ النِّكَاحِ. ( (فَإِنْ اشْتَدَّ الشِّقَاقُ) أَيْ الْخِلَافُ بَيْنَهُمَا بِأَنْ دَامَا عَلَى التَّسَابِّ وَالتَّضَارُبِ (بَعَثَ) الْقَاضِي (حَكَمًا مِنْ أَهْلِهِ وَحَكَمًا مِنْ أَهْلِهَا) لِيَنْظُرَا فِي أَمْرِهِمَا بَعْدَ اخْتِلَاءِ حَكَمِهِ بِهِ، وَحَكَمِهَا بِهَا وَمَعْرِفَةِ مَا عِنْدَهُمَا فِي ذَلِكَ، وَيُصْلِحَا بَيْنَهُمَا أَوْ يُفَرِّقَا إنْ عَسُرَ الْإِصْلَاحُ عَلَى مَا سَيَأْتِي قَالَ تَعَالَى: وَإِنْ خِفْتُمْ شِقَاقَ بَيْنِهِمَا فَابْعَثُوا حَكَمًا إلخ وَهَلْ بَعْثُهُ وَاجِبٌ، أَوْ مُسْتَحَبٌّ وَجْهَانِ صَحَّحَ فِي الرَّوْضَةِ، وُجُوبَهُ لِظَاهِرِ الْأَمْرِ فِي الْآيَةِ (وَهُمَا وَكِيلَانِ لَهُمَا وَفِي قَوْلٍ) حَاكِمَانِ (مُوَلَّيَانِ مِنْ الْحَاكِمِ) لِأَنَّ اللَّهَ تَعَالَى سَمَّاهُمَا حَكَمَيْنِ، وَالْوَكِيلُ مَأْذُونٌ لَيْسَ بِحَكَمٍ، وَوَجْهُ الْأَوَّلِ أَنَّ الْحَالَ قَدْ يُؤَدِّي إلَى الْفِرَاقِ وَالْبُضْعُ حَقُّ الزَّوْجِ، وَالْمَالُ حَقُّ الزَّوْجَةِ وَهُمَا رَشِيدَانِ، فَلَا يُوَلَّى عَلَيْهِمَا فِي حَقِّهِمَا (فَعَلَى الْأَوَّلِ يُشْتَرَطُ رِضَاهُمَا) بِبَعْثِ الْحَكَمَيْنِ (فَيُوَكِّلُ) هُوَ (حَكَمَهُ بِطَلَاقٍ وَقَبُولِ عِوَضِ خُلْعٍ وَتُوكِلُ) هِيَ (حَكَمَهَا بِبَذْلِ عِوَضٍ وَقَبُولِ طَلَاقٍ بِهِ)، وَيُفَرِّقُ الْحَكَمَانِ بَيْنَهُمَا إنْ رَأَيَاهُ صَوَابًا وَعَلَى الثَّانِي لَا يُشْتَرَطُ رِضَاهُمَا بِبَعْثِ الْحَكَمَيْنِ، وَإِذَا رَأَى حَكَمُ الزَّوْجِ الطَّلَاقَ اسْتَقَلَّ بِهِ وَلَا يَزِيدُ عَلَى طَلْقَةٍ وَإِنْ رَأَى الْخُلْعَ، وَوَافَقَهُ حَكَمُهَا تَخَالَعَا وَإِنْ لَمْ يَرْضَ الزَّوْجَانِ ثُمَّ الْحَكَمَانِ يُشْتَرَطُ فِيهِمَا عَلَى الْقَوْلَيْنِ مَعًا الْحُرِّيَّةُ وَالْعَدَالَةُ وَالِاهْتِدَاءُ إلَى مَا هُوَ الْمَقْصُودُ مِنْ بَعْثِهِمَا دُونَ الِاجْتِهَادِ، وَتُشْتَرَطُ الذُّكُورَةُ عَلَى الثَّانِي وَكَوْنُهُمَا مِنْ أَهْلِ الزَّوْجَيْنِ أَوْلَى لَا وَاجِبٌ. (حاشيتا قليوبي وعميرة، 12/227) (أَيُّمَ

ا امْرَأَةٍ سَأَلَتْ زَوْجَهَا الطَّلَاقَ) فِي رِوَايَةٍ طَلاَقَهَا (مِنْ غَيْرِ مَا بَأْسٌ) بِزِيَادَةِ مَا للِتَّأْكِيْدِ وَالْبَأْسُ الشِّدَّةُ أَيْ فِي غَيْرِ حَالَةِ شِدَّةٍ تَدْعُوْهَا وَتُلْجِئُهَا إِلَى الْمُفَارَقَةِ كَأَنْ تَخَافَ أَنْ لَا تُقِيْمَ حُدَوْدَ اللهِ فِيْمَا يَجِبُ عَلَيْهَا مِنْ حُسْنِ الصُّحْبَةِ وَجَمِيْلُ الْعُشْرَةِ لِكَرَاهَتِهَا لَهُ أَوْ بَأَنْ يُضَارَّهَا لِتَنْخَلَعَ مِنْهُ (فَحَرَامٌ عَلَيْهَا) أَيْ مَمْنُوْعٌ عَنْهَا (رَائِحَةُ الْجَنَّةِ) وَأَوَّلُ مَا يَجِدُ رِيْحَهَا الْمُحْسِنُوْنَ الْمُتَّقُوْنَ لَا أَنَّهَا لَا تَجِدُ رِيْحَهَا أَصْلًا فَهُوَ لِمَزِيْدِ الْمُبَالَغَةِ فِي التَّهْدِيْدِ وَكَمْ لَهُ مِنْ نَظِيْرٍ. قَالَ اْبنُ الْعَرَبِيِّ: هَذَا وَعِيْدٌ عَظِيْمٌ لَا يُقَابِلُ طَلَبُ الْمَرْأَةِ الْخُرُوجَ مِنَ النِّكَاحِ لَوْ صَحَّ. وَقَالَ ابْنُ حَجَرٍ: الأَخْبَارُ الْوَارِدَةُ فِي تَرْغِيْبِ الْمَرْأَةِ مِنْ طَلَبِ طَلَاقِ زَوْجِهَا مَحْمُولَةٌ عَلَى مَا إِذَا لَمْ يَكُنْ سَبَبٌ يَقْتَضِي ذَلِكَ. (فيض القدير، 3/178) الْمَسْأَلَةُ الْخَامِسَةُ: إِذَا وَقَعَ الشِّقَاقُ بَيْنَهُمَا، فَذَاكَ الشِّقَاقُ إِمَّا أَنْ يَكُوْنَ مِنْهُمَا أَوْ مِنْهُ أَوْ مِنْهَا، أَوْ يُشْكَلُ، فَاِنْ كَانَ مِنْهَا فَهُوَ النُّشُوْزُ وَقَدْ ذَكَرْنَا حُكْمَهُ، وَاِنْ كَانَ مِنْهُ، فَاِنْ كَانَ قَدْ فَعَلَ فِعْلًا حَلَالَا: مِثْلَ التَّزَوُّجِ بِامْرَأَةٍ أُخْرَى، أَوْ تَسَرِّي بِجَارِيَةٍ، عَرَفَتِ الْمَرْأَةُ أَنَّ ذَلِكَ مُبَاحٌ وَنُهِيَتْ عَنِ الشِّقَاقِ، فَاِنْ قَبِلَتْ وَإِلَّا كَانَ نُشُوْزَا، وَإِنْ كَانَ بِظُلْمٍ مِنْ جِهَتِهِ أَمَرَهُ الْحَاكِمُ بِالْوَاجِبِ، وَإِنْ كَانَ مِنْهُمَا أَوْ كَانَ الْأَمْرُ مُتَشَابِهًا، فَالْقَوْلُ أَيْضاً مَا قُلْنَاهُ. (تفسير الفخر الرازى، 1/1444) (وَيَسْتَحِقُّ الْقَسْمَ مَرِيضَةٌ) وَقَرْنَاءُ (وَرَتْقَاءُ وَحَائِضٌ وَنُفَسَاءُ) وَمَنْ آلَى مِنْهَا أَوْ ظَاهَرَ وَمُحْرِمَةٌ وَمَجْنُونَةٌ لَا يَخَافُ مِنْهَا. قَالَ الْغَزَالِيُّ: وَكَذَا كُلُّ مَنْ بِهَا عُذْرٌ شَرْعِيٌّ أَوْ طَبِيعِيٌّ؛ لِأَنَّ الْمَقْصُودَ مِنْهُ الْأُنْسُ لَا الِاسْتِمْتَاعُ. أَمَّا الْمَجْنُونَةُ الَّتِي يَخَافُ مِنْهَا وَلَمْ يَظْهَرْ مِنْهَا نُشُوزٌ وَهِيَ مُسَلِّمَةٌ لَهُ فَلَا يَجِبُ لَهَا قَسْمٌ كَمَا بَحَثَهُ الزَّرْكَشِيُّ وَإِنْ اسْتَحَقَّتْ النَّفَقَةَ، فَهِيَ مُسْتَثْنَاةٌ مِنْ قَوْلِنَا: وَضَابِطُ مَنْ يَسْتَحِقُّ الْقَسْمَ كُلُّ مَنْ وَجَبَتْ نَفَقَتُهَا وَلَمْ تَكُنْ مُطَلَّقَةً لِتَخْرُجَ الرَّجْعِيَّةُ. وَيُسْتَثْنَى مِنْ اسْتِحْقَاقِ الْمَرِيضَةِ الْقَسْمَ مَا لَوْ سَافَرَ بِنِسَائِهِ فَتَخَلَّفَتْ وَاحِدَةٌ لِمَرَضٍ فَلَا قَسْمَ لَهَا وَإِنْ كَانَتْ تَسْتَحِقُّ النَّفَقَةَ كَمَا نَقَلَهُ الْبُلْقِينِيُّ عَنْ تَصْرِيحِ الْمَاوَرْدِيُّ وَأَقَرَّهُ. وَضَابِطُ مَنْ لَا يَسْتَحِقُّهُ كُلُّ امْرَأَةٍ لَا نَفَقَةَ لَهَا فَلَا تَسْتَحِقُّهُ أَمَةٌ لَمْ تُسَلِّمْ لِلزَّوْجِ لَيْلًا وَنَهَارًا، وَلَا الصَّغِيرَةُ الَّتِي لَا تُطِيقُ الْوَطْءَ، وَلَا الْمَحْبُوسَةُ، وَلَا الْمَغْصُوبَةُ، وَ (لَا نَاشِزَةٌ) بِخُرُوجِهَا عَنْ طَاعَةِ زَوْجِهَا كَأَنْ خَرَجَتْ مِنْ مَسْكَنِهِ بِغَيْرِ إذْنِهِ، أَوْ لَمْ تَفْتَحْ لَهُ الْبَابَ لِيَدْخُلَ، أَوْ لَمْ تُمَكِّنْهُ مِنْ نَفْسِهَا بِلَا عُذْرٍ لَهَا كَمَرَضٍ وَإِلَّا فَهِيَ عَلَى حَقِّهَا كَمَا قَالَهُ الْمَاوَرْدِيُّ، أَوْ دَعَاهَا فَاشْتَغَلَتْ بِحَاجَتِهَا، أَوْ ادَّعَتْ الطَّلَاقَ، وَفِي مَعْنَى النَّاشِزِ الْمُعْتَدَّةُ عَنْ شُبْهَةٍ لِتَحْرِيمِ الْخَلْوَةِ بِهَا، وَنُشُوزُ الْمَجْنُونَةِ كَالْعَاقِلَةِ لَكِنَّهَا لَا تَأْثَمُ. (مغني المحتاج إلى معرفة ألفاظ المنهاج، 13/124)

والله أعلم بالصواب

Kategori
Uncategorized

HUKUM MEMASANG POLISI TIDUR DIJALAN

POLISI TIDUR UNTUK KEAMANAN SANTRI.

Deskripsi Masalah :
Salah satu Kiai dari madura pernah mengatakan, “Orang memberi keputusan hukum itu sulit, bagaikan orang yang berada di tengah-tengah duri, gak kena yang ini, yang satunya ngena.” Kata-kata ini memang benar sekali, hal ini dapat kita buktikan ketika ada pondok pesantren yang berada tepat di tepi jalan raya, dan gedung sekolahnya berada di seberang jalan. Kalau kita cuma melihat dari satu sudut hukum, pembuatan polisi tidur adalah tidak boleh, hanya saja bila ada hal lain yang menuntut demikian, seperti untuk menjaga keselamatan para santri. Bagaimanakah pandangan fiqih, perihal di atas?

Pertanyaan :

Masih dilarangkah kita untuk membuat polisi tidur ketika ada hal lain yang menuntut  demikian, sebagaimana dalam deskripsi?

Jawaban :
Membuat polisi tidur itu menurut pendapat yang kuat hukumnya tidak boleh, namun sebagian ulama memperbolehkan membuat polisi tidur dengan syarat tidak membahayakan .
                                 

Referensi :

بغية المسترشدين ص١٤٢
ولووجد دكة فى شارع ولم يعرف أصلها كان محلها مستحقا لأهلها فليس لأحد التعرض بها بهدم وغيره مالم تقم بينة بأنها وضعت تعديا كما صرح به ابن حجر ولايجوز إحداثها  كغيره أى من نحو بناء وشجرة فى الشارع وإن تضر بأن كانت فى منعطف على المعتمد عند الشيخين والجمهور ،واعتمد جمع متقدمون ومتأخرون الجواز حيث لاضرر وانتصر له السبكي.

Wallohu A’lam bisshowab

Kategori
Uncategorized

IBADAH HAJINYA TKI YANG ILEGAL/ TIDAK MELALALUI PROSEDUR PEMERINTAH

IBADAH HAJINYA TKI YANG LEGAL ATAU YANG ILEGAL.

Deskripsi Masalah :

Membeludaknya pendaftar jama’ah haji Indonesia membuat pemerintah untuk segera menyiapkan banyak kebijakan dan solusi. Di antara solusi yang diambil pemerintah adalah dengan memperlambat pemberangkatan jama’ah haji dengan kisaran waktu yang berfariataif, ada yang sepuluh tahun atau bahkan hingga sampai lima belas tahun.Dari adanya kebijakan pemerintah yang demikian, nampaknya membuat sebagian warga negara mengambil cara lain, ialah dengan menjadi TKI, baik dengan cara legal atau bahkan dengan cara ilegal. Dan kemudian setelah mereka sampai ditanah suci pada bulan haji dengan visa pasport yang sudah habis masa berlakunya mereka melakukan ibadah haji dan setelah itu, mereka menyerahkan diri ke pihak yang berwajib (polisi) dan kemudian mereka dipulangkan dengan status menyandang haji setelah pulang ke Indonesia.

Pertanyaan :

Dapatkah dibenarkan jika para TKI mengambil cara yang demikian dengan alasan karena waktu yang ditentukan pemerintah terlalu lama?Apakah mereka termasuk kategori maksiat fi al-safar(didalam perjalanan)dengan adanya niat melakukan pelanggaran di negara lain sebelum mereka berangkat melakukan ibadah haji ?

Jawaban :

a. Bila TKI itu legal (sah) dan paspornya belum habis maka dibenarkan bila mendapatkan izin dari pemerintah Saudi, bila tidak maka tidak dibenarkan, namun hukum hajinya tetap sah.

b. Tidak termasuk ‘ashi fi al-safar akan tetapi termasuk ‘ashi bi al-safar.

NB: Setiap mereka yang melaksanakan ibadah haji baik warga Arab Saudi / warga negara asing harus mendapatkan izin dari pemerintah Saudi. Aturan ini dibuat dan disepakati oleh OPI agar tidak membahayakan pada jamaah haji yang lain di tempat-tempat dan waktu yang sama.Jika terpaksa melakukan ibadah haji tanpa melalui prosedur pemerintah ( ilegal) maka haji sah, namun haram. Hal ini sama dengan orang yang melakukan ibadah sholat namun dengan cara Ghasab.

Referensi :

الميزان الكبرى الجزء الثاني ص: ٣٢ مكتبة أوسها كلواركا سماراغ

ومن ذلك قول الأئمة الثلاثة إنه لو غصب دابة فحج عليها أو مالا فحج به أنه يصح حجه وإن كان عاصيا بذلك مع قول أحمد إنه لا يصح حجه ولا يجزيه فالأول فيه تخفيف والثاني مشدد

حاشية الباجوري الجزء الأول ص: ٣٠٩ طه فوترا

والرابعة الوقوع عن فرض الإسلام وشرطها الإسلام والتمييز والبلوغ والحرية وإن لم يكن مستطيعا فيقع حج الفقير عن حجة الإسلام وإن حرم عليه السفر له إذا حصل منه ضرر لكمال حاله. اهـ

بغية المسترشدين ص: ٩١ دار إحياء الكتب العربية

) مسألة ك ) يجب امتثال أمر الإمام في كل ما له فيه ولاية كدفع زكاة المال الظاهر فإن لم تكن له فيه ولاية وهو من الحقوق الواجبة أو المندوبة جاز الدفع إليه والاستقلال بصرفه في مصارفه وإن كان المأمور به مباحا أو مكروها أو حراما لم يجب امتثال أمره فيه كما قاله م ر وتردد فيه في التحفة ثم مال إلى الوجوب في كل ما أمر به الإمام ولو محرما لكن ظاهرا فقط وما عداه إن كان فيه مصلحة عامة وجب ظاهرا وباطنا وإلا فظاهرا فقط أيضا والعبرة في المندوب والمباح بعقيدة المأمور ومعنى قولهم ظاهرا أنه لا يأثم بعدم الامتثال ومعنى باطنا أنه يأثم. اهـ

Al-Mizan al-Kubra, Jilid II, hlm. 32, Perpustakaan Ausha Klwarka Smarag

“Dan dari situ (perkara ini) adalah perkataan tiga imam bahwa jika seseorang merampas seekor hewan tunggangan lalu berhaji dengannya, atau merampas harta lalu berhaji dengannya, maka hajinya sah, meskipun ia melakukan kemaksiatan dengan perbuatan itu. Berbeda dengan pendapat Ahmad yang menyatakan bahwa hajinya tidak sah dan tidak mencukupi. Pendapat pertama lebih cenderung kepada keringanan, sedangkan pendapat kedua lebih tegas.”

Hasyiah al-Bajuri, Jilid I, hlm. 309, Thaha Futra

“Dan yang keempat (syarat sahnya haji) adalah keluar dari kewajiban Islam. Syaratnya adalah Islam, baligh, berakal sehat, merdeka. Dan jika seseorang tidak mampu (secara finansial), maka haji orang miskin menggantikan haji Islam. Dan jika bepergian untuk menunaikan haji akan membahayakan kesempurnaan agamanya, maka ia dilarang bepergian.”

Bighyat al-Mustarshidin, hlm. 91, Dar Ihya al-Kutub al-Arabiyyah

“(Masalah ke-) Wajib bagi seseorang untuk mentaati perintah imam dalam segala hal yang menjadi wewenangnya, seperti membayar zakat harta yang tampak. Jika imam tidak memiliki wewenang dalam hal itu, dan hal itu termasuk hak yang wajib atau sunnah, maka boleh menyerahkan harta zakat kepadanya dan membiarkannya mengelola sendiri. Namun, jika yang diperintahkan itu adalah perkara mubah, makruh, atau haram, maka tidak wajib untuk mentaatinya, seperti yang dikatakan oleh M.R. Beliau ragu-ragu tentang masalah ini dalam kitab al-Tahfa, kemudian cenderung kepada pendapat wajib dalam setiap perintah imam, meskipun itu perkara yang haram, namun hanya secara zahir. Adapun selain itu, jika terdapat maslahat umum, maka wajib secara zahir dan batin. Jika tidak, maka wajib secara zahir saja. Dan yang menjadi patokan dalam perkara sunnah dan mubah adalah keyakinan orang yang diperintah. Maksud dari perkataan mereka ‘secara zahir’ adalah bahwa seseorang tidak berdosa jika tidak mentaati, dan maksud dari ‘secara batin’ adalah bahwa seseorang berdosa jika tidak mentaati.”

Penjelasan Singkat:

 * Teks pertama membahas tentang sah tidaknya haji jika dilakukan dengan harta atau hewan yang diperoleh secara tidak sah.

 * Teks kedua menjelaskan syarat-syarat sahnya haji dan kondisi-kondisi yang menghalangi seseorang untuk menunaikan haji.

 * Teks ketiga membahas tentang kewajiban seorang muslim untuk mentaati perintah imam dalam hal-hal tertentu, terutama yang berkaitan dengan ibadah dan pengelolaan harta umat.

 

فتح الوهاب الجزء الأول ص: ١٣٥ دار إحياء الكتب العربية

(وهي أي الاستطاعة (نوعان) أحدهما (استطاعة بنفسه وشروطها) سبعة أحدها (وجود مؤنته سفرا) كزاد وأوعية وأجرة حَفَارة ذهابا وإيابا وإن لم يكن له ببلده أهل وعشيرة). اهـ

Fathul Wahhab, Jilid 1, Hal. 135, Dar Ihya’ Al-Kutub Al-Arabiyah

(Yaitu, yang dimaksud dengan kemampuan (istitha’ah) ada dua jenis. Salah satunya adalah kemampuan dengan dirinya sendiri dan syarat-syaratnya ada tujuh. Pertama: adanya bekal perjalanan, seperti perbekalan makanan, wadah, biaya untuk penunjuk jalan pergi dan pulang, meskipun di negerinya ia tidak memiliki keluarga dan kerabat). Selesai.

المجموع شرح المهذب – (ج ٣ / ص ١٦٤)

الصلاة في الارض المغصوبة حرام بالاجماع وصحيحة عندنا وعند الجمهور من الفقهاء وأصحاب الاصول

تحفة الحبيب على شرح الخطيب – (ج ٣ / ص ١٨١)

قال الد ميري : يستحب لقاصد الحج أن يكون خليًّا من التجارة في الطريق ، فإن خرج بقصد التجارة والحج صح حجه لكن ثوابه دون ثواب

الخلي عن التجارة اه . والمعتمد أنه إن غلب الباعث الأخروي أثيب بقدره ، وإِلا فلا يثاب أصلاً . –- ويستحب أن يحرص على مال حلال لينفقه في سفره فإن الله طيب لا يقبل إِلا طيباً ؛ وفي الخبر : ( مَنْ حَجَّ بمال حَرَامٍ إذا لَبَّى قيل له لا لَبَّيْكَ ولا سَعْدَيْكَ وحَجُّكَ مَرْدُودٌ عَلَيْكَ ) . ومن حج بمال مغصوب أجزأه الحج وإن كان عاصياً بالغصب ، وقال أحمد : لا يجزئه اه م د على التحرير.

Referensi

تقريرة السديدة ص: ١١٤

وأقسام العاصي من ناحية جواز القصر ( الترخص ) : ثلاثة

١ عاص بالسفر : وهو الذي أنشأ سفره من اجل المعصية .

٢ عاص في السفر وهو الذي أنشأ سفره في مباح , ولكنه عصى في أثنائه .

٣ عاص بالسفر في السفر , وهو الذي أنشأ سفره في مباح , ثم قلبه وجعله للمعصية في أثناء سفره

بغية المسترشدين – (ج ١ / ص ١٥٥)

(مسألة : ي)

: ضابط مبيح الترخص في السفر ما ذكره السيوطي بقوله : فعل الرخصة متى توقف على وجود شيء نظر في ذلك الشيء ، فإن كان تعاطيه في نفسه حراماً امتنع معه الرخصة وإلا فلا اهـ. أي فالقصر والجمع رخصة متوقفة على السفر ، والسفر مشي في الأرض ، فمتى حرم المشي كان سفر معصية فتمتنع جميع الرخص ، وتحريم المشي إما لتضييع حق الغير بسببه ، كإباق المملوك ، ونشوز الزوجة ، وسفر الفرع ، والمدين بلا إذن أصل ، ودائن حيث وجب استئذانهما ، وإما لتعديه بالمشي على نفسه أو غيره ، كإتعاب النفس بلا غرض ، وركوب البحر مع خشية الهلاك ، وسفر المرأة وحدها أو على دابة أو سفينة مغصوبتين ، أو مع إتعاب الدابة ، أو بمال الغير بلا إذن ، وإما لقصد صاحبه محرّماً كنهب وقطع طريق وقتل بلا حق وبيع حرّ ومسكر ومخدّر وحرير لاستعمال محرم ونحوها ، هذا إن كان الباعث قصد المحرم المذكور فقط أو مع المباح ، لكن المباح تبعاً بحيث لو تعذر المحرم لم يسافر ، فعلم أن من سافر بنحو الأفيون قاصداً بيعه مثلاً لمن يظن استعماله في محرّم ، أو بيعه لذلك إن تجرد قصده بأن لم يكن له غرض سواه أو كان ، لكن لو عدم قصد الأفيون لم يسافر ولم يترخص ، وحكم صاحب السفينة في ذلك حكم المسافر به في الحرمة والترخص وعدمهما.

إعانة الطالبين – (ج ٢ / ص ١٠٠)

وهو أن يكون سفره غير معصية فاحترز به عما إذا كان معصية بأن يكون أنشأه معصية من أوله ويسمى حينئذ عاصيا بالسفر وذلك كعبد آبق من سيده وكمدين موسر حل الدين الذي عليه قبل سفره ولم يف به وكمسافر لقطع الطريق أو يكون قلبه معصية بعد أن أنشأه طاعة بأن قطع الطريق أو أبق من سيده ويسمى حينئذ عاصيا بالسفر في السفر فإن تاب الأول وهو العاصي بالسفر فأول سفره محل توبته فإن كان الباقي طويلا في الرخصة التي يشترط فيها طول السفر كالقصر والجمع أو قصيرا في الرخصة التي لا يشترط فيها ذلك كأكل الميتة للمضطر ترخص وإن كان الباقي قصيرا في الرخصة التي يشترط فيها طول السفر لم يترخص وأما الثاني وهو العاصي بالسفر في السفر فإن تاب ترخص مطلقا وإن كان الباقي قصيرا اعتبارا بأوله وآخره وألحق بسفر المعصية سفر من أتعب نفسه أو دابته بالركض بلا غرض شرعي وإن كان سفره لطاعة وبقي قسم ثالث وهو العاصي في السفر وهو من سافر لطاعة بقصد الحج مثلا فارتكب معصية في طريقه كأن زنى أو شرب الخمر مع بقاء قصده الشيء الذي أنشأ السفر لأجله وهذا لا يمنع من الترخص مطلقا ( والحاصل ) أن العاصي ثلاثة أقسام الأول العاصي بالسفر وهو الذي أنشأ معصية والثاني العاصي بالسفر في السفر وهو الذي قلبه معصية بعد أن أنشأه طاعة كأن جعله لقطع الطريق ونأى عن الطاعة التي قصدها والثالث العاصي في السفر وهو الذي يسافر بقصد الطاعة وعصى في أثنائه مع استمرار الطاعة التي قصدها

WallohuA’lambisshowab.

Kategori
Uncategorized

PELESTARIAN RITUAL ADAT ROKAT PAKARANGAN DAN TEMPAT ANGKER

PELESTARIAN RITUAL ADAT(ROKAT) PAKARANGAN DAN TEMPAT ANGKER

Deskripsi Masalah :
Di berbagai daerah masih banyak terdapat tradisi ritual pada hari-hari tertentu, seperti ketika musim tanam dan musim panen, bersih desa, larung sesaji, nyadran dll. Biasanya orang-orang membawa persembahan ke tempat-tempat yang di keramatkan, dipimpin oleh ketua adat. Mereka melaksanakan ritual tertentu yang terkadang berupa bacaan kalimat-kalimat thayyibah, dan ada pula yang di tambah dengan mantra-mantra dan doa-doa permohonan keselamatan pada “penguasa” daerah itu. Oleh pemerintah daerah setempat ritual seperti ini sering dikemas dalam nuansa pariwisata untuk mendongkrak perekonomian warga sekaligus menambah pendapatan asli daerah.

Pertanyaan :

  1. Apakah hukum mengadakan acara nydran (ritual adat) pada hari-hari tertentu?
  2. Bolehkah mencampur kalimat thayyibah dengan doa-doa persembahan pada “penguasa” atau penunggu tempat-tempat keramat?3. Halalkah mengkonsumsi makanan yang dijadikan sesaji pada upacara ritual tersebut?

Jawaban :

  1. Diperinci: haram apabila terdapat penodaan akidah atau penghambur-hamburan harta, dan boleh jika subtansi nyadran sudah diluruskan sesuai dengan tuntunan syariat, seperti doa, sedekah dan bertawasul dengan para nabi dan para orang-orang saleh.
  2. Apabila yang dimaksud dengan penguasa dan penunggu tempat-tempat keramat adalah selain Allah, maka merupakan perbuatan syirik, apalagi di sana terdapat percampuran doa dengan mantra-mantra.
  3. Apabila makanan itu halal dari segi zat dan sifatnya, maka boleh dimakan.

Referensi :
إعانة الطالبين، 2/349)

(قَوْلُهُ فَائِدَةٌ مَنْ ذَبَحَ) أَيْ شَيْئُا مِنَ الْإِبِلِ أَوْ الْبَقَرِ أَوْ الْغَنَمِ وَقَوْلُهُ تَقَرُّبًا للهِ تَعَالَى أَيْ بِقَصْدِ التَّقَرُّبِ وَالْعِبَادَةِ للهِ تَعَالَى وَحْدَهُ وَقَوْلُهُ لِدَفْعِ شَرِّ الْجِنِّ عَنْهُ عِلَّةُ الذَّبْحِ أَيْ الذَّبْحُ تَقَرُّبًا لِأَجْلِ أَنَّ اللهَ سُبْحََانَهُ وَتَعَالَى يَكْفِي الذَابِحَ شَرَّ الْجِنِّ عَنْهُ وَقَوْلُهُ لَمْ يَحْرُمْ أَيْ ذَبْحُهُ وَصَارَتْ ذَبِيْحَتُهُ مُذَكَّاةٌ لِأَنَّ ذَبْحَهُ للهِ لَا لِغَيْرِهِ (قَوْلُهُ أَوْ بِقَصْدِهِمْ حَرُمَ) أَيْ أَوْ ذَبَحَ بِقَصْدِ الْجِنِّ لَا تَقَرُّبًا إِلَى اللهِ حَرُمَ ذَبْحُهُ وَصَارَتْ ذَبِيْحَتُُهُ مَيْتَةً بَلْ إِنْ قَصَدَ التَّقَرُّبَ وَالْعِبَادَةَ لِلْجِنِّ كَفَرَ كَمَا مَرَّ فِيْمَا يَذْبَحُ عِنْدَ لِقَاءِ السُّلْطَانِ أَوْ زِيَارَةِ نَحْوِ وَلِيٍّ ( وَعِبَارَةُ ك: وَأَمَّا التًَّوَسُّلُ بِالْأَنْبِيَاءِ وَالصَّالِحِيْنَ فَهُوَ أَمْرٌ مَحْبُوْبٌ ثَابِتٌ فِي الْأَحَادِيْثِ الصَّحِيْحَةِ وَقَدْ أَطْبَقُوا عَلَى طَلَبِهِ، بَلْ ثَبَتَ التَّوَسُّلُ بِالْأَعْمَالِ الصَّالِحَةِ وَهِيَ أَعِرَاضٌ فَبِالذَّوَاتِ أَوْلَى، أَمَّا جَعْلُ الْوَسَائِطِ بَيْنَ الْعَبْدِ وَبَيْنَ رَبِّهِ، فَإِنْ كَانَ يَدْعُوْهُمْ كَمَا يَدْعُوْ اللهَ تَعَالَى فِي اْلأُمُوْرِ وَيَعْتَقِدُ تَأْثِيْرَهُمْ فِي شَيْءٍ مِنْ دُوْنِ اللهِ فَهُوَ كُفْرٌ، وَإِنْ كَانَ مٌرَادُهُ التَّوَسُّلُ بِهِمْ إِلَى اللهِ تَعَالَى فِي قَضَاءِ مُهِمَّاتِهِ مَعَ اعْتِقَادِهِ أَنَّ اللهَ هُوَ النَّافِعُ الضَّارُّ الْمُؤَثِّرُ فِي الْأُمُوْرِ فَالظَّاهِرُ عَدَمُ كُفْرِهِ وَإِنْ كَانَ فِعْلُهُ قَبِيْحاً.

(بغية المسترشدين للسيد باعلوي الحضرمي، 2/126)

(فَرْعٌ) لَا تَحِلُّ ذَبِيحَةُ الْمُسْلِمِ أَوْ غَيْرِهِ لِغَيْرِ اللَّهِ كَمُحَمَّدٍ أَوْ مُوسَى أَوْ عِيسَى صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَوْ الْكَعْبَةِ أَوْ السُّلْطَانِ تَقَرُّبًا إلَيْهِ عِنْدَ لِقَائِهِ أَوْ لِلْجِنِّ بَلْ إنْ ذَبَحَ لِذَلِكَ تَعْظِيمًا أَوْ عِبَادَةً كَفَرَ نَعَمْ إنْ ذَبَحَ لِلرُّسُلِ أَوْ الْكَعْبَةِ تَعْظِيمًا لِكَوْنِهَا بَيْتَ اللَّهِ أَوْ لِكَوْنِهِمْ رُسُلَ اللَّهِ أَوْ قَصَدَ نَحْوَ الِاسْتِبْشَارِ بِقُدُومِ السُّلْطَانِ أَوْ نَحْوِهِ أَوْ لِيُرْضِيَ غَضْبَانًا أَوْ لِلْجِنِّ بِقَصْدِ التَّقَرُّبِ إلَى اللَّهِ لِيَكْفِيَهُ مِنْ شَرِّهِمْ لَمْ يَحْرُمْ لِانْتِفَاءِ الْقَصْدِ لِغَيْرِ اللَّهِ تَعَالَى فِي الْجَمِيعِ كَذَا فِي حَجّ وَأَقُولُ تَضَمَّنَ هَذَا الْكَلَامُ أَنَّ لِلْحُرْمَةِ صُورَتَيْنِ إحْدَاهُمَا يَكْفُرُ فِيهَا فَلْيُحَرَّرْ فَصْلُ إحْدَى الصُّورَتَيْنِ مِنْ الْأُخْرَى وَيُمْكِنُ أَنْ يُقَالَ يَجْمَعُهُمَا أَنْ يَكُونَ الْحَامِلُ عَلَى الذَّبْحِ هُوَ الْكَعْبَةَ مَثَلًا عَلَى وَجْهِ اسْتِحْقَاقِهَا ذَل

ِكَ ثُمَّ الِاسْتِحْقَاقُ تَارَةً عَلَى وَجْهِ كَوْنِ الْفِعْلِ عِبَادَةً وَتَعْظِيمًا وَتَارَةً لَا عَلَى هَذَا الْوَجْهِ فَالْأَوَّلُ صُورَةُ الْكُفْرِ وَالثَّانِي صُورَةُ مُجَرَّدِ التَّحْرِيمِ ثُمَّ رَأَيْت الطَّبَلَاوِيَّ وَافَقَ عَلَى ذَلِكَ فَلْيُحَرَّرْ جِدًّا فَإِنَّهُ مَحَلُّ تَأَمُّلٍ اهـ سم.

Kategori
Uncategorized

HUKUM ROKAT PETIK LAUT

Assalamu’alaikum
Dengan tidak mengurangi rasa hormat saya kepada beliau semua,,,,
Di sini kami mau bertanya.

Deskripsi masalah:
Saya hidup didaerah tepi pantai pesisir, dimana setiap satu tahun sekali di daerah rumah saya itu adat istiadatnya mengadakan ” Rokat Petik laut,,,, (memberikan suguhan semacam kepala nya sapi atau kambing, dan perhiasan, uang),, lalu di letakan disatu wadah lalu diletakkan di tengah laut dengan cara dihanyutkan bersamaan dengan ombak ,,,, itu semua niatan dan tujuannya adalah untuk selamatan laut ,,,,,,,

Pertanyaan nyaa:
Bagaimana hukum nya adat seperti di atas, jika tidak boleh,,,,, lalu solusi apa yang kami ambil dari kejadian tersebut,,,?

Sekian dari kami.
Wassalamu alaikum

Wa alaikumussalam
Jawaban:
Jika menyembelih hewan atau menyediakan makanan dengan tujuan untuk mendekatkan diri kepada Allah maka hukumnya boleh. Akan tetapi jika untuk Jin atau bukan karena Allah , maka hukumnya Haram. Keterangan dari kitab Fathul Muin yang bersumber dari kitab Tuhfatul Muhtaj, karangan imam Ibnu Hajar:


(فَائِدَةٌ) مَنْ ذَبَحَ تَقَرُّبًا للهِ تَعَالَى لِدَفْعِ شَرِّ الْجِنِّ عَنْهُ لَمْ يَحْرُمْ، أَوْ بِقَصْدِهِمْ حَرُمَ… وَصَارَتْ ذَبِيْحَتُهُ مَيْتَةً. بَلْ إِنْ قَصَدَ التَّقَرُّبَ وَالْعِبَادَةَ لِلْجِنِّ كَفَرَ (إعانة الطالبين – ج 2 / ص 397)


“Barangsiapa menyembelih hewan (atau makanan) sebagai bentuk mendekatkan diri kepada Allah untuk menghindari petaka dari Jin, maka tidak haram. Jika bertujuan untuk Jin (bukan karena Allah), maka haram. Sebab sembelihannya menjadi bangkai. Bahkan jika bertujuan mendekatkan diri dan ibadah kepada Jin, maka ia telah berbuat kufur.” (Syekh Abu Bakar Syatha, Ianat ath-Thalibin, 2/397)

Dan juga seperti dijelaskan oleh Imam Ar-Ramli:


ﻓﻤﺎ ﻳﻘﻊ اﻵﻥ ﻣﻦ ﺭﻣﻲ اﻟﺨﺒﺰ ﻓﻲ اﻟﺒﺤﺮ ﻟﻄﻴﺮ اﻟﻤﺎء ﻭاﻟﺴﻤﻚ ﻟﻢ ﻳﺤﺮﻡ، ﻭﺇﻥ ﻛﺎﻥ ﻟﻪ ﻗﻴﻤﺔ؛ ﻷﻧﻪ ﻗﺮﺑﺔ


“Apa yang terjadi saat ini dengan melempar roti ke laut untuk binatang laut dan ikan adalah tidak haram meskipun memiliki harga sebab hal itu termasuk sedekah kepada hewan.” (Nihayatul Muhtaj, 7/367)

Wallahu A’lam bisshowab

Kategori
Uncategorized

HUKUM BULU HEWAN YANG RONTOK DARI BADANNYA

Assalamualaikum:

Pentanyaan.
Sahkah sholat seseorang jika setelah sholat di temukan bulu burung atau hewan dan sejenisnya.
Mohon jawaban para KIAI
Sertakan referensinya🙏

Wa alaikumussalam.

Jawaban:
Najis Tidaknya Potongan Bulu Hewan.
Status hukum bulu dan rambut yang terpotong dari tubuh hewan tidak langsung dihukumi sama seperti bangkai dari hewan tersebut. Bulu dan rambut memiliki perincian yang berbeda. Bulu atau rambut yang rontok dari hewan yang halal untuk dimakan, maka hukumnya suci.
………………………

(روضة الطالبين)
فرع في أجزاء الحيوان الأصل أن ما انفصل من حي فهو نجس الشعر المجزوز من مأكول اللحم في الحياة والصوف والوبر والريش فكلها طاهرة بالاجماع

والمتناثر والمنتوف طاهر على الصحيح ويستثنى أيضا شعر الآدمي والعضو المبان منه ومن السمك والجراد ومشيمة الآدمي فهذه كلها طاهرة على المذهب وهذا الذي ذكرناه في الشعور تفريع على المذهب في نجاسة الشعر بالموت

[ CABANG ] menjelaskan tentang bagian-bagian tubuh binatang. “Sesuatu yang terpisah dari binatang yang masih hidup hukumnya najis”. Rambut yang di cukur dari binatang yang halal dimakan saat hidupnya, serta bulu (dari semacam wool domba), dan bulu (dari semacam binatang kelinci) dan bulu (dari semacam burung, LAR-java pen.) semuanya dihukumi SUCI dengan kesepakan para Ulama, sedang bulu yang dicabut darinya hukumnya SUCI menurut pendapat yang shahih.

Dikecualikan juga rambut manusia dan anggota yang nyata darinya, ikan, belalang, ari-ari manusia semuanya hukumnya semua juga suci menurut pendapat yang bisa di jadikan Madzhab. [ Roudhotut Thoolibiin I/15 ].
……..

(كفاية الاءخيار)


( وما قطع من حي فهو ميت إلا الشعور المنتفع بها في المفارش والملابس وغيرهما ) الأصل في ذلك حديث أبي سعيد الخدري رضي الله عنه أن النبي صلى الله عليه وسلم سئل عن جباب أسنمة الإبل وأليات الغنم فقال ما قطع من حي فهو ميت وفي رواية ما قطع من بهيمة وهي حية فهو ميت ويستثى من عموم ذلك شعر المأكول وريشه وصوفه ووبره إذا انفصل في حياته بقطع أو قص فإنه طاهر وكذا ما تناثر أو نتف في الأصح

“Sesuatu yang dipotong dari barang hidup hukumnya mati (najis) kecuali rambut yang bisa dimanfaatkan untuk tikar, pakaian dan lain sebagainya berdasarkan hadits Nabi riwayat Abi Said alkhudhri saat Nabi ditanya tentang Jubah yang terbuat punuk unta dan pantat kambing, Nabi menjawab : “Sesuatu yang dipotong dari barang hidup hukumnya mayat, di riwayat lain “Sesuatu yang dipotong dari binatang yang hidup hukumnya mayat”.

Dikecualikan dari keumuman hadits ini rambut dari binatang yang halal di makan dagingnya , bulu2nya bila dipotong saat hidupnya dengan memotong, mencukur maka suci (ulama sepakat) begitu juga yang dicabut menurut pendapat yang shahih (ulama berbeda pendapat). [ Kifaayah Al-Akhyaar I/521 ].

………..

RONTOKAN BULU KUCING, APAKAH NAJIS?

Dalam berbagai literatur fiqih dijelaskan bahwa bagian tubuh yang terpotong dari hewan yang masih hidup, maka status suci dan najisnya persis seperti bangkai dari hewan tersebut. Dalam arti, ketika bangkai dari hewan tersebut dihukumi suci, maka potongan tubuh tersebut dihukumi suci, misalnya potongan tubuh dari ikan dan belalang. Sebaliknya, jika potongan tubuh berasal dari hewan yang bangkainya dihukumi najis, maka potongan tubuh dari hewan tersebut dihukumi najis, seperti pada hewan selain ikan dan belalang. Ketentuan hukum demikian berdasarkan salah satu hadits:
 


مَا قُطِعَ مِنْ حَيٍّ فَهُوَ مَيِّتٌ
 


“Sesuatu yang terpisah dari hewan yang hidup, maka statusnya seperti halnya dalam keadaan (menjadi) bangkai” (HR Hakim).
 
Namun ketentuan hukum di atas, dikecualikan ketika bagian tubuh yang terpotong adalah rambut atau bulu dari hewan. Status rambut atau bulu yang terputus dari bagian hewan tidak langsung dihukumi sama seperti bangkai dari hewan tersebut, tapi terdapat perincian: jika bulu yang rontok berasal dari hewan yang halal untuk dimakan maka dihukumi suci. Seperti bulu yang rontok dari ayam, kambing, sapi, dan hewan-hewan lain yang dagingnya halal dikonsumsi. Sedangkan jika bulu yang rontok berasal dari hewan-hewan yang tidak halal dimakan dagingnya maka bulu tersebut dihukumi najis. Seperti bulu yang rontok pada hewan tikus, anjing, keledai, atau hewan-hewan lain yang dagingnya haram dimakan.
 
Lalu bagaimana dengan bulu kucing yang rontok? Bukankah kucing merupakan salah satu hewan yang haram untuk dimakan?
 
Dalam hal ini, para ulama tetap mengkategorikan bulu yang rontok dari kucing  sebagai benda yang najis. Meski demikian, najis tersebut dihukumi ma’fu (ditoleransi, dimaafkan) ketika dalam jumlah sedikit. Ditoleransi pula dalam jumlah banyak, khusus bagi orang-orang yang sering berinteraksi dengan kucing dan sulit menghindari rontokan buli kucing, misal bagi dokter hewan dan petugas salon kucing yang kesehariannya selalu berinteraksi dengan kucing. Ketentuan hukum ini seperti yang teringkas dalam kitab Hasyiyah al-Baijuri ala Ibni Qasim al-Ghazi:
 


 (وما قطع من) حيوان (حي فهو ميت الا الشعر) اى المقطوع من حيوان مأكول وفى بعض النسخ الا الشعور المنتفع بها فى المفارش والملابس وغيرها
(قوله المقطوع من حيوان مأكول) اى كالمعز مالم يكن على قطعة لحم تقصد او على عضو ابين من حيوان مأكول والا فهو نجس تبعا لذلك وخرج بالمأكول غيره كالحمار والهرة فشعره نجس لكن يعفى عن قليله بل وعن كثيره فى حق من ابتلى به كالقصاصين

 
“Sesuatu yang terputus dari hewan yang hidup, maka dihukumi sebagai bangkai, kecuali rambut yang terputus dari hewan yang halal dimakan. Dalam sebagian kitab lainnya tertulis ‘kecuali rambut yang diolah menjadi permadani, pakaian, dan lainnya.’
 
Rambut yang terputus dari hewan yang halal dimakan ini seperti bulu pada kambing. Kesucian rambut ini selama tidak berada pada potongan daging yang sengaja dipotong, atau berada pada anggota tubuh yang terpotong dari hewan yang halal dimakan. Jika rambut berada dalam dua keadaan tersebut maka dihukumi najis, sebab mengikut pada status anggota tubuh yang terpotong itu. Dikecualikan dengan redaksi ‘hewan yang halal dimakan’ yakni rambut atau bulu hewan yang tidak halal dimakan, seperti keledai dan kucing. Maka bulu dari hewan tersebut dihukumi najis. Namun najis ini dihukumi ma’fu ketika dalam jumlah sedikit, bahkan dalam jumlah banyak bagi orang yang sering dibuat kesulitan dengan bulu tersebut, seperti bagi para tukang pemotong bulu” (Syekh Ibrahim al-Baijuri, Hasyiyah al-Baijuri ala Ibni Qasim al-Ghazi, juz 2, hal. 290). 
 
Salah satu hal yang ditimbulkan dari status najis ma’fu pada bulu yang rontok dari kucing adalah ketika bulu kucing ini mengenai air yang kurang dari dua kullah, maka air tersebut tidak dihukumi najis dan tetap dapat dibuat untuk bersuci. Hal ini seperti dijelaskan dalam kitab Fath al-Wahab:

 
(و لا بملاقاة نجس لا يدركه طرف) أي بصر لقلته كنقطة بول (و) لا بملاقاة (نحو ذلك) كقليل من شعر نجس


 
“Air tidak najis sebab bertemu dengan najis yang tidak dapat dijangkau oleh mata, karena sangat kecilnya najis tersebut, seperti setetes urin. Dan juga dengan bertemu najis yang lain, seperti terkena bulu najis yang sedikit” (Syekh Zakariya al-Anshari, Fath al-Wahab, juz 1, hal. 28)
 
Sedangkan hal yang menjadi tolak ukur dalam membatasi sedikit banyaknya jumlah bulu yang rontok dari kucing adalah ‘urf (penilaian masyarakat secara umum). Jika orang-orang menyebut bulu kucing yang telah rontok dianggap masih sedikit, seperti dua atau tiga bulu, maka dihukumi najis tersebut ma’fu. Sedangkan ketika mereka menganggap bulu yang rontok banyak, maka dihukumi najis yang tidak dima’fu, kecuali bagi orang-orang yang sulit menghindarinya.
 
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa sholatnya orang yang terkena rontokan bulu kucing sah karena bulu kucing merupakan najis yang ditoleransi (ma’fu) selama masih dalam jumlah yang sedikit, dan najis yang tidak ditoleransi ketika dalam jumlah banyak, kecuali bagi orang yang sering dibuat kesulitan dengan banyaknya bulu rontok yang bertebaran di sekitarnya.
 
Oleh sebab itu, memelihara kucing memang diperbolehkan. Namun sebaiknya kita tidak teledor dalam menjaga kesucian pakaian dan tubuh kita karena banyaknya bulu kucing yang rontok dan mengenai pakaian dan tubuh kita. Hal ini dimaksudkan agar segala ibadah yang kita lakukan benar-benar terhindar dari perkara-perkara najis yang disebabkan oleh keteledoran diri kita sendiri. Walloohu a’lam.

Kategori
Uncategorized

MA’RIFATULLAH DAN TANDA-TANDANYA

Assalamualaikum para kiyai dan para ustadz dan juga para sesepuh mator pertanyaan se emaksud ma’rifah (ma’rifatullah ) kaintoh ponapah ben ponapah tetanggerah oreng se ma’rifah ?🙏🙏

Waalaikum salam.

Pengertian Makrifahtullah banyak ulama memberikan pengertian dengan redaksi yang berbeda akan tetapi pada dasarnya mempunyai maksud dan tujuan yang sama yaitu mengenal Allah baik cara menempuhnya melalui intuisi hati atau cara menempuhnya melalui akal .
Menurut Imam Al-Ghazali Ma’rifatullah itu adalah musyahadah pada nur keagungan Allah, menurutnya “Tajalliy adalah tersikapknya sesuatu pada hati dari cahaya keghaiban yang dimaksud kan dengan Tajalliy disini adalah al-Mutajalliy ia adalah Allah.Pendapat ini sama dengan apa yang dikatakan oleh Imam Al-Qusyairiy dalam perbedaan antara Syariat dan Hakikat. Bahwa syariat itu adalah menetapi ibadah sedangkan hakikat adalah melihat Allah dengan penglihatan hatinya.(ma’rifah).

Menurut Sayyid Abubakr alma’ruf dengan Sayyid Bakriy al-Makkiy penyusun kitab At-Qiya’ mendefinisikan Makrifatullah adalah cahaya yang dimasukkan oleh Allah kepada hati hamba maka ia dapat melihat banyak rahasia cahaya singgasananya dan menyaksikan pada keghaiban kerajaan/ singgasananya Allah dan ia memperhatikan banyak sifat alam jabarutnya,

Sedangkan menurut Athoillah Al-Askandari membagi ma’rifat menjadi dua.
1-Makrifat kepada Allah dengan melalui jalan hati adalah menyaksikan kepada Allah dan hadir kepada Allah yang diketahui(dengan menyaksikan dan hadir secara langsung).

2- Makrifat dengan melalui jalan akal adalah mengerti kepada Allah yang diketahui dengan perantaraan panca indra dan yang diketahui dengan perantaraan gambaran didalam hati. Orang yang alim itu mengetahui kepada Allah,dan orang yang ma’rifat itu menyaksikan kepada Allah.

Adapun tanda-tanda orang yang ma’rifatullah diantaranya adalah : Diraihnya rasa takut kepada Allah . Barang siapa yang kemakrifatannya bertambah maka bertambah pula rasa takutnya sedangkan makrifah itu mewajibkan kepada ketenangan jiwa.

Selanjutnya Shahibul hikam syaikh Athoillah al-Askandari menjelaskan tanda-tanda orang yang sampai pada maqom makrifat
“Tidak disebut orang arif itu,yaitu orang yang bila ia memberi isyaroh sesuatu ia merasa bahwa Allah lebih dekat dari isyaroh-Nya, tetapi orang arif itu ialah yang merasa tidak mempunyai isyaroh, karena merasa lenyap diri dalam wujud Allah, dan diliputi oleh menyaksikan [syuhud] kepada Allah”.

Referensi


كفاية الأتقياء .ص ١١

وحقيقة لوصول المقصد#ومشاهد نور التجلى بالنجلى
يعني أن الحقيقة هى وصول السالك للمقصود وهو معرفة الله ومشاهدة نور التجلى قال الغزالي التجلي ماينكشف للقلب من أنوار الغيب ويحتمل أن يراد بالتجلى هنا المتجلى هو الله سبحانه وتعالى وهو يوافق ماقاله القشيري فى الفرق بين الشريعة والحقيقة من أن الشريعة أمر بالتزام العبودية والحقيقة مشاهدة الربوبية أى رؤيته إياها بقلبه

Kifāyah al-Atqiyā’ (hal. 11):
“Hakikat adalah sampai pada tujuan dan menyaksikan cahaya tajalli dengan jelas.”
Maksudnya, hakikat adalah sampainya seorang salik (penempuh jalan spiritual) kepada tujuan, yaitu mengenal Allah dan menyaksikan cahaya tajalli. Al-Ghazali mengatakan bahwa tajalli adalah sesuatu yang tersingkap bagi hati dari cahaya-cahaya gaib. Bisa juga maksud tajalli di sini adalah sesuatu yang menampakkan diri, yaitu Allah SWT, sebagaimana pendapat al-Qushairi dalam membedakan antara syariat dan hakikat. Syariat adalah perintah untuk berpegang teguh pada penghambaan, sementara hakikat adalah penyaksian terhadap rububiyah, yakni melihatnya dengan hati

كفاية الأتقياء ومنها الأصفياء. ص.١١١
وكذاك معرفة لاتخص علية # فى غالب من غيرها لن تحصلا
يعنى أن معرفة الحقيقية المخصوضة العلية لاتحصل فى الغالب من غير هذه المجاهدة أماحصولها من غيرها فهو يمكن لكنه نادر وماذكره الناظم رحمه الله تعالى إنما هو بحسب العادة وإلا فأصل المعرفة لايحصل إلابفيض إلهى فمعرفة الله نور يقذفه الله فى قلب العبد فيرى بذلك النور أسرا ملكه ويشاهد ملكوته ويلاحظ صفات جبروته ولذا لماسئل الصديق الأكبر رضي الله عنه بم عرفت ربك فقال بماعرفني نفسه لايدرك الحواس ولايقاس بالقياس قريب فى بعده بعيد فى قربه فوق كل شيء ولاقال تحته وأمام كل شيء ولاقال أمامه شيء وهو على كل شيء قدير ليس كمثله شيء ولايقال كشيء فى شيء فسحان من هو هكذا وليس هكذا غير ه وجاء فى الخبر أن الله خلق الخلق فى ظلمة ثم رش عليهم من نور فمن أصابه من ذلك اهتدى ومن أخطأ ضل وقيل لعلي بن أبي طالب رضي الله عنه هل عرفت الله بمحمد صلى الله عليه وسلم أو عرفت محمدا بالله تعالى فقال لو عرفت الله بمحمد صلى الله عليه وسلم ماعبدته ولكان محمد أوثق فى نفسي من الله تعالى ولو عرفت محمدا بالله لمااحتجت إلى رسول الله صلى الله عليه وسلم ولكن الله عرفني نفسي بلاكيف كماشاء وبعث محمدا صلى الله عليه وسلم بتبليغ أحكام القرآن وبيان معضلات الإسلام والإيمان وإثبات الحجة وتقويم الناس على منهج الإخلاص فصدقته بماجاء به فعلم أنه يستحيل الوصول إلى معرفة الله بغير الله ولاسبيل إلى معرفة الله تعالى إلابالله فإن الأفهام والأوهام والخواطر عاجزة قاصرة عن إدراك تصورها بصورها وعللها فكيف تطيق ادراك مصورها ومعللها وإنما الحق سبحانه خلق خلقه كماشاء على شاء ووفق من شاء لما شاء وعرف من شاء بما شاء وقول علي رضي الله عنه ولكن الله عرفني نفسي أى بالعجز والإفتقار فعرفت أن لها ربا اوجدها ولذلك قال رسول الله صلى الله عليه وسلم
من عرف نفسه عرف ربه أى من عرف نفسه بالعجز والإفتقار عرف ربه بالقدرة والغني.وأوحى الله تعالى إلى داود عليه السلام أعرفني وأعرف نفسك فقال إلهي عرفتك بالفردانية والقدرة والبقاء وعرفت نفسي بالضعف والعجز والفناء فقال ياداود الآن عرفتني

Kifāyah al-Atqiyā’ wa Minha al-Aṣfiyā’ (hal. 111):
“Begitu pula, makrifat yang khusus dan tinggi tidak akan didapatkan dalam kebanyakan keadaan kecuali dengan mujahadah.”
Maksudnya, makrifat yang khusus dan tinggi biasanya tidak diperoleh kecuali dengan usaha keras (mujahadah). Namun, memperolehnya tanpa mujahadah memang mungkin, tetapi sangat jarang. Apa yang disebutkan oleh sang penyair hanyalah berdasarkan kebiasaan, sedangkan pada hakikatnya, makrifat hanya diperoleh melalui limpahan ilahi.
Makrifat tentang Allah adalah cahaya yang Allah berikan ke dalam hati seorang hamba, sehingga dengan cahaya itu ia dapat melihat rahasia kerajaan-Nya, menyaksikan alam malakut-Nya, dan mengamati sifat-sifat keagungan-Nya.
Oleh karena itu, ketika Abu Bakar as-Shiddiq r.a. ditanya, “Bagaimana engkau mengenal Tuhanmu?” Ia menjawab, “Dengan cara Dia sendiri memperkenalkan diri-Nya kepadaku. Dia tidak dapat dijangkau oleh indera dan tidak dapat diukur dengan perbandingan. Dia dekat dalam kejauhan-Nya, jauh dalam kedekatan-Nya. Dia di atas segala sesuatu, tetapi tidak dikatakan ada sesuatu di bawah-Nya. Dia di depan segala sesuatu, tetapi tidak dikatakan ada sesuatu di depannya. Dia berkuasa atas segala sesuatu, dan tidak ada sesuatu pun yang menyerupai-Nya, serta tidak dapat dikatakan bahwa Dia serupa dengan sesuatu dalam sesuatu.”
Maha Suci Allah, yang tidak ada yang seperti-Nya.
Dalam sebuah hadis disebutkan bahwa Allah menciptakan makhluk dalam kegelapan, lalu Dia memancarkan cahaya kepada mereka. Maka, siapa yang terkena cahaya itu akan mendapatkan petunjuk, dan siapa yang luput darinya akan tersesat.
Diriwayatkan bahwa Ali bin Abi Thalib r.a. ditanya, “Apakah engkau mengenal Allah melalui Muhammad SAW atau mengenal Muhammad SAW melalui Allah?” Ia menjawab, “Jika aku mengenal Allah melalui Muhammad, maka aku tidak akan menyembah-Nya, karena Muhammad akan lebih kuat kedudukannya dalam hatiku daripada Allah. Dan jika aku mengenal Muhammad melalui Allah, maka aku tidak akan membutuhkan Rasulullah SAW. Tetapi Allah-lah yang memperkenalkan diri-Nya kepadaku tanpa kaif (tanpa cara) sebagaimana yang Dia kehendaki. Dia mengutus Muhammad SAW untuk menyampaikan hukum-hukum Al-Qur’an, menjelaskan perkara-perkara Islam dan iman yang sulit, menegakkan hujjah, serta membimbing manusia kepada jalan yang benar. Aku membenarkan ajaran yang dibawanya. Maka, jelas bahwa mustahil seseorang dapat mengenal Allah tanpa Allah. Tidak ada jalan untuk mengenal-Nya kecuali dengan pertolongan-Nya, sebab akal, imajinasi, dan lintasan pikiran manusia tidak mampu memahami-Nya, apalagi mencapai-Nya.”



Ali r.a. juga mengatakan, “Tetapi Allah memperkenalkan kepadaku diriku sendiri,” maksudnya, dengan memperlihatkan kelemahan dan kefakiranku, sehingga aku menyadari bahwa aku memiliki Tuhan yang telah menciptakanku.
Oleh karena itu, Rasulullah SAW bersabda, “Barang siapa mengenal dirinya, maka ia akan mengenal Tuhannya.”
Yakni, barang siapa mengenal dirinya sebagai makhluk yang lemah dan fakir, maka ia akan mengenal Tuhannya sebagai Zat yang Maha Kuasa dan Maha Kaya.
Allah juga mewahyukan kepada Nabi Dawud a.s., “Kenalilah Aku, maka engkau akan mengenal dirimu sendiri.”
Dawud bertanya, “Wahai Tuhanku, bagaimana aku mengenal-Mu?”
Allah berfirman, “Aku mengenalkan diri-Ku kepadamu dengan keesaan, kekuasaan, dan keberadaan-Ku yang kekal. Dan Aku mengenalkan dirimu dengan kelemahan, ketidakmampuan, dan kefanaan.”
Maka Allah berfirman, “Sekarang engkau telah mengenal-Ku.”

واعلم أن من أمارات المعرفة بالله حصول الهيبة من الله فمن ازدادت معرفته ازدادت هيبته المعرفة توجب السكينة وقيل لأبي يعقوب السوسى هل يستأنس العارف بشيء غير الله تعالى فقال فقال وهل يرى غير الله فيستأنس به فقيل له فبأى عين ينظر إلى الأشياء قال بعين الفناء والزوال…..الخ.

Ketahuilah bahwa di antara tanda-tanda makrifat kepada Allah adalah munculnya rasa takut (haibah) kepada-Nya. Semakin dalam seseorang mengenal Allah, semakin besar rasa takutnya kepada-Nya.
Makrifat juga menumbuhkan ketenangan (sakinah).
Ketika Abu Ya’qub as-Susi ditanya, “Apakah seorang arif akan merasa tenang dengan sesuatu selain Allah?” Ia menjawab, “Apakah ia masih melihat selain Allah sehingga bisa merasa tenang dengannya?”
Lalu ia ditanya, “Dengan mata apa ia melihat segala sesuatu?”
Ia menjawab, “Dengan mata kefanaan dan kehancuran.”

الفرق بين المعرفة العقلية والمعرفة القلبية:
ومن الواضح أنّ هناك اختلافاً بين المعرفة العقلية والمعرفة القلبية، وهو نفس الاختلاف بين الإحساس والعلم، أو بين المعرفة الفردية والمعرفة العامة. ويمكننا هنا أن نشير إلى الفرق بين المعرفتين من خلال النقاط التالية:
أولاً: إنّ معرفة الله سبحانه عن طريق القلب هي شهود وحضور المعلوم عند العالم مباشرة،

أما معرفته عن طريق العقل فهي تحصيل وإدراك المعلوم بواسطة الحواس والصور الذهنية. فالعالم يعرف الله ولكنّ العارف يرى الله. كما ورد في الدعاء المروي عن الإمام زين العابدين عليه السلام: “… إلهي فاجعلنا من الذين ترسّخت‏ أشجار الشّوق إليك في حدائق صدورهم وأخذت لوعة محبتك بمجامع قلوبهم فهم إلى أوكار الأفكار يأوون وفي رياض القرب والمكاشفة يرتعون ومن حياض المحبّة بكأس الملاطفة يكرعون وشرائع المصافاة يردون قد كشف الغطاء عن أبصارهم وانجلت ظلمة الرّيب عن عقائدهم من ضمائرهم وانتفت مُخالَجة الشّك عن قلوبهم وسرائرهم وانشرحت بتحقيق‏ المعرفة صدورهم …” (2).
ثانياً: أحد الاختلافات الأخرى بين معرفة الله عن طريق العقل وعن طريق القلب التي تتفرع عن الفرق الأوّل هي أنّ معرفة الله عن طريق القلب إحساس فهي طريق فردي تماماً، ولا تقبل النقل للآخرين والتعليم والتعلم، على خلاف معرفة الله عن طريق العقل فهي ليست فردية وهي قابلة للتعليم والتعلم ويمكن نقلها للآخرين. إنّ معرفة الله عن طريق القلب لا يمكن إبرازها في قالب الاستدلال، وهي ليست أمراً قولياً بل هي أمر ذوقي، ونوع من التجربة الباطنية لا يمكن نقلها للآخرين، كما أنّ المبصر لا يستطيع أن يبين للأعمى اللون وإدراكه له ومعرفته به، وكما أنّ الإحساس بالجوع والعطش لا يقبل النقل للآخرين فكذلك الشخص الذي يستطيع أنْ يحسّ بالله عن طريق القلب لا يستطيع أن ينقل إحساسه إلى من كان بصر قلبه أعمى.
ثالثاً: ومن الاختلافات بين معرفة الله عن طريق القلب ومعرفة الله عن طريق العقل هي أنّ المعرفة القلبية توأم للعمل والالتزام والتقوى، ولكن المعرفة العقلية يمكن أن تكون مع التقوى ويمكن ألا تكون مع التقوى، بل يمكن أن تكون أحياناً مترافقة مع الكفر، كما يتضح ذلك من قوله سبحانه في القرآن الكريم في عدم إيمان قوم فرعون: {وَجَحَدُوا بِهَا وَاسْتَيْقَنَتْهَا أَنْفُسُهُمْ ظُلْمًا وَعُلُوًّا} [النمل: 14].
وعليه فيمكن أن يصدق العقل بالله سبحانه، ولكن اللسان ينكره، ويعمل الإنسان خلاف ما يعلم، إلّا أنّ الأمر الذي لا يمكن هو أن يؤمن القلب بالله ثم ينكر اللسان، فلا يمكن أن توجد المعرفة القلبية من دون أن يوجد الالتزام العملي، وقد أشار الإمام الباقر عليه السلام إلى هذا المعنى بقوله: “لا يُقبَل عمل إلا بمعرفة ولا معرفة إلا بعمل ومن عرف دَلَّتهُ معرفته على العمل ومن لم يعرف فلا عمل له” (3).
هذه المعرفة هي المعرفة القلبية التي هي توأم الالتزام والعمل، والتي لها الدور الأساسي في تكامل الإنسان وتساميه المعنوي والروحي.
مخاطر فصل المعرفة العقلية عن القلبية:
ومن الأمور الهامة التي يجب الالتفات إليها هو أن بعض العرفاء قد أفرط في هذا المجال واعتبر أن البرهان والدليل لا أثر له، وأن أرجل الاستدلاليين خشبية:
أرجل الاستدلاليين خشبية       والأرجل الخشبية ليست قوية

ماَالعاَرِفُ مَن اذاَ اَشارَ وجدَ الحَق َّ اقرَبَ اليهِ مِنْ اِشارَتِهِ ، بلِ العارفُ مَن لاَ اِشارَة َ لهُ لِفَناءـهِ في وُجُوده وانطِواَءـهِ في شهوُدهِ والله أعلم بالصواب


Perbedaan antara ma’rifat Akal dan Pengetahuan Hati:

Jelas bahwa terdapat perbedaan antara ma’rifat akal dan ma’rifat hati. Ini serupa dengan perbedaan antara perasaan dan ilmu, atau antara pengetahuan individual dan pengetahuan umum. Perbedaan antara kedua jenis pengetahuan ini dapat dijelaskan melalui poin-poin berikut:

Pertama:
Mengetahui Allah melalui hati adalah bentuk penyaksian langsung dan kehadiran dari yang diketahui di hadapan orang yang mengetahui.
Sedangkan mengetahui Allah melalui akal adalah proses memperoleh dan memahami pengetahuan melalui panca indera dan gambaran mental.
Seorang ilmuwan mengenal Allah, tetapi seorang arif (yang memiliki ma’rifah) melihat Allah.
Sebagaimana disebutkan dalam doa yang diriwayatkan dari Imam Zainul Abidin:
“Ya Ilahi, jadikanlah kami termasuk orang-orang yang pohon kerinduannya kepada-Mu tertanam kuat di taman dada mereka, dan bara cinta-Mu telah membakar hati mereka. Mereka berlindung di sarang pemikiran, menikmati taman kedekatan dan penyaksian, meminum dari telaga kasih sayang-Mu dengan cawan kelembutan, dan mendatangi sumber ketulusan. Tabir telah tersingkap dari mata mereka, kegelapan keraguan telah lenyap dari keyakinan mereka, kebimbangan telah sirna dari hati dan batin mereka, serta dada mereka telah terbuka dengan keyakinan yang hakiki…”

Kedua:
Perbedaan lain antara mengenal Allah melalui akal dan melalui hati adalah bahwa pengetahuan hati bersifat perasaan dan sepenuhnya merupakan pengalaman individu, sehingga tidak bisa diajarkan atau ditransfer kepada orang lain.
Sebaliknya, pengetahuan Allah melalui akal bersifat umum, dapat diajarkan, dipelajari, dan ditransfer kepada orang lain.
Mengetahui Allah melalui hati tidak dapat diekspresikan dalam bentuk argumentasi, karena bukan sesuatu yang verbal, melainkan pengalaman batin yang tidak dapat disampaikan kepada orang lain.
Sebagaimana seorang yang bisa melihat tidak bisa menjelaskan warna kepada orang buta, dan sebagaimana rasa lapar serta haus tidak bisa ditransfer kepada orang lain, demikian pula seseorang yang merasakan Allah melalui hati tidak bisa menyampaikan perasaannya kepada mereka yang buta hati.

Ketiga:
Perbedaan lain antara mengenal Allah melalui hati dan melalui akal adalah bahwa pengetahuan hati selalu bersanding dengan amal, komitmen, dan ketakwaan.
Sedangkan pengetahuan akal bisa disertai ketakwaan, tetapi bisa juga tidak. Bahkan terkadang bisa beriringan dengan kekufuran, sebagaimana dijelaskan dalam firman Allah tentang kaum Fir’aun:
“Dan mereka mengingkarinya karena kezaliman dan kesombongan mereka, padahal hati mereka meyakininya.” (QS. An-Naml: 14)

Dengan demikian, akal bisa meyakini keberadaan Allah, tetapi lisan bisa mengingkarinya, dan seseorang bisa berbuat bertentangan dengan apa yang ia ketahui.
Namun, sesuatu yang mustahil adalah seseorang memiliki pengetahuan hati tentang Allah tetapi lisannya mengingkari.
Tidak mungkin ada pengetahuan hati tanpa diiringi dengan komitmen amal.
Sebagaimana Imam Al-Baqir berkata:
“Tidak diterima amal tanpa ma’rifah (pengetahuan), dan tidak ada ma’rifah tanpa amal. Barang siapa mengetahui, maka pengetahuannya akan membimbingnya kepada amal. Dan barang siapa tidak mengetahui, maka ia tidak memiliki amal.”

Pengetahuan hati ini selalu beriringan dengan amal dan komitmen, serta memiliki peran utama dalam menyempurnakan manusia dan meninggikannya secara spiritual dan moral.

Bahaya Memisahkan Pengetahuan Akal dari Pengetahuan Hati

Hal yang penting untuk diperhatikan adalah bahwa sebagian sufi telah berlebihan dalam hal ini dengan menganggap bahwa argumentasi dan dalil tidak memiliki pengaruh.
Mereka mengatakan:
“Kaki para pemikir hanyalah kayu, dan kaki kayu tidaklah kuat.”

“Seorang arif bukanlah yang ketika ia menunjuk, ia menemukan kebenaran lebih dekat daripada isyaratnya. Tetapi seorang arif adalah yang tidak memiliki isyarat, karena ia telah fana dalam keberadaan-Nya dan tenggelam dalam penyaksian-Nya.”

فتاوي النووي المسمى المسائل المنثورة ص ٢٨٩

حديث من عرف نفسه فقد عرف ربه..

٦ – (مسألة) في الحديث عن النبي صلى الله عليه وآله وسلم : « من عرف نفسه فقد عرف ربه، ومن عرف ربه كل لسانه » هل هذا الحديث ثابت أم لا وما معناه ؟ .


( الجواب )

ليس هو بثابت (٣) ؛ ولو ثبت كان معناه من عرف نفسه

. (٣) سئل ابن حجر رضي الله عنه عن حديث: من عرف نفسه عرف ربه» من رواه ؟ فأجاب بقوله : لا أصل له ، وإنما يُحكى من كلام يحيى بن معاذ الرازي الصوفي. ومعناه: من عرف نفسه بالعجز والإفتقار والتقصير والذلة والإنكسار عرف ربه بصفات الجلالة والجمالة على ما ينبغي لهما ، فأدام مراقبته حتى يفتح له باب» مشاهدته، فيكون من أخصائه الذين أفرغ عليهم سجال معرفته وألبسهم صوافي خلافته. أهـ. من فتاويه ص ٢٨٩

Fatwa An-Nawawi yang Berjudul “Al-Masa’il Al-Manthurah” Halaman 289

Hadis: “Barang siapa mengenal dirinya, maka ia telah mengenal Tuhannya.”

6 – (Masalah)
Ada sebuah hadis yang dinisbatkan kepada Nabi ﷺ:

“Barang siapa mengenal dirinya, maka ia telah mengenal Tuhannya. Dan barang siapa mengenal Tuhannya, maka lisannya akan diam.”

Apakah hadis ini sahih atau tidak? Dan apa maknanya?

(Jawaban): Hadis ini tidaklah sahih (¹). Jika pun hadis ini sahih, maka maknanya adalah: “Barang siapa mengenal dirinya…”


(¹) Ibnu Hajar ra. pernah ditanya mengenai hadis: “Barang siapa mengenal dirinya, maka ia telah mengenal Tuhannya.” Siapa yang meriwayatkannya?

Beliau menjawab: “Hadis ini tidak memiliki asal-usul.” Hadis ini hanya dinukil dari perkataan Yahya bin Mu’adz ar-Razi, seorang sufi.

Maknanya adalah: “Barang siapa mengenal dirinya sebagai makhluk yang lemah, fakir, penuh kekurangan, hina, dan rendah hati, maka ia akan mengenal Tuhannya dengan sifat keagungan dan keindahan-Nya sebagaimana yang layak bagi-Nya. Lalu, ia akan terus menjaga muraqabah (kesadaran akan pengawasan Allah) hingga terbuka baginya pintu musyahadah (penyaksian terhadap kebesaran Allah). Dengan demikian, ia akan menjadi salah satu dari orang-orang khusus yang telah Allah limpahi pengetahuan makrifat dan memakaikan mereka pakaian khilafah-Nya yang suci.”

Selesai. (Dikutip dari fatwa Ibnu Hajar, halaman 289).

Dan Allah lebih mengetahui yang benar.

Kategori
Uncategorized

MENGENAL NAFSU DAN SIFAT-SIFATNYA

Assalamualaikum.
Cangkolang abdinah sabelunah. Tak langkong abdinah bedih bertanya. ! Nafsu kaetoh akadhi ponapah ??? Ben ponapah se dikatakan nafsu kaetoh.???

Anyo’onah penjelasnah 🙏

Waalaikum salam.

Jawaban.

Ketahuilah bahwa mengetahui nafsu adalah merupakan perkara yang penting dari setiap perindividu manusia, kenapa demikian? karena sesungguhnya orang yang mengenal terhadap nafsunya (dirinya), maka sungguh ia mengenal Tuhannya. Artinya orang yang mengetahui dengan kerendahan /kehinaan dan ketidak mampuan dan kelemahan dan ketidak abadian dirinya ,maka dia mengetahui kepada kemuliaan dan kekuasaan Allah , dan barang siapa yang bodoh/tidak mengetahui terhadap dirinya, maka ia bodoh terhadap Tuhannya, oleh karena itu wajib atas orang yang berakal untuk menyingsingkan lengan bajunya dengan bersungguh-sungguhlah didalam mencari makrifah dan janganlah sampai terlambat dalam menuntut hal tersebut sebelum mati menjemputnya, dan ia adalah orang yang tertimpa musibah disebabkan karena kebodohannya, maka tidak ada jalan setelah kematian menuju penglihatan hati , Allah berfirman:

وَمَن كَانَ فِي هَٰذِهِ أَعْمَىٰ فَهُوَ فِي الْآخِرَةِ أَعْمَىٰ وَأَضَلُّ سَبِيلًا (٧٢)


قوله تعالى : ومن كان في هذه أعمى أي في الدنيا عن الاعتبار وإبصار الحق فهو في الآخرة أي في أمر الآخرة .

Barang siapa didunia ini buta arttinya dari mengambil pelajaran dan melihat yang hak, maka ia diakhirat buta artinya didalam urusan akhirat, dan dia paling sesatnya jalan. ( Tafsir Al-Qurthubiy ).
Kemudian Ketahuilah bahwa sesungguhnya nafsu yang bersifat ketuhanan itu dia adalah ruh sebelum berhubungan dengan jasad , dan Allah sungguh telah menciptakan banyak ruh sebelum jasad, maka pada waktu itu dia tepat berada di sebelahnya yang haq dan kedekatannya, maka ketika yang hak memerintahkan agar ruh berhubungan dengan jasad, maka dia mengetahui kepada yang lain sementara dia sendiri terhalangi dari yang haq (Allah) itu dikarenakan disibukkannya dari Allah taala (hubungannya kepada Allah). Maka dari itu ia butuh adanya peringatan sebagaimana firman Allah:

وَذَكِّرْ فَإِنَّ الذِّكْرَىٰ تَنفَعُ الْمُؤْمِنِينَ (٥٥)


( وذكر فإن الذكرى تنفع المؤمنين ) أي : إنما تنتفع بها القلوب المؤمنة

Dan berilah peringatan sesungguhnya peringatan itu bermanfaat kepada orang-orang mukmin “( Tafsir Ibnu Katsir QS.Adzzariyat: 55 ) .

Nafsu itu adalah mutiara yang mulia (bersinar) pada badan, jika menyinari pada dhahirnya badan dan dalamnya (Dhahir batin)nya badan, maka dia berhasil bangun. Dan jika menyinari pada dalamnya badan tanpa luarnya badan, maka dia berhasil tertidur. Dan jika sinarnya terpus secara keseluruhan maka dia hasil mati/meninggal. Dan adapun asal muassal terjadinya setiap kemaksiatan, lupa dan syahwat/keinginan dan syirik itu adalah karena rela terhadap nafsu, ingatlah..!!! Apa kamu tidak melihat bahwa Firaun ketika ia rela dari nafsunya pada setiap kerelaan, maka ia enteng/ membangkang melampaui batas pada banyak kecongkaan, kesombongannya hingga ia sampai pada pengakuan ” Saya adalah Tuhan kamu yang Maha Tinggi. Dan adapun asal muassal timbulnya dari setiap ketaatan, dan menerima peringatan dan iffah/pemaaf dan musyahadah ( tersingkapnya tabir) itu adalah ketidak adanya kerelaan kepada nafsu, maka ketika itulah tidaklah ada sesuatu yang membawa manfaat (lebih bermanfaat) bagi para hamba dibandingkan dari pada mendidik jiwanya. Dan oleh karena itu ungkapan mengambil ibroh pengaruhnya nafsu itu adalah dengan bersungguh-sungguh. Nafsu ada tujuh tingkatan.

1️⃣Nafsu Ammaroh .Nafsu ini condong pada tabiat/keinginan yang bersifat fisik/badan dan menyuruh pada kelezatan dan kesyahwat/keinginan yang dicegah/dilarang oleh syariat dan tergilanya hati terhadap arah yang rendah maka dialah sebuk-buruknya tempat dan sumbernya akhlak yang tercela seperti halnya takabbur dan tamak dan rakus dan syahwat, dan dengki, dan marah, bahil, dan unek-unek yang buruk ( dan tingkatan ini karena menangnya nafsu sebelum mujahadah. Dalil firman Allah:

وَمَا أُبَرِّئُ نَفْسِي ۚ إِنَّ النَّفْسَ لَأَمَّارَةٌ بِالسُّوءِ إِلَّا مَا رَحِمَ رَبِّي ۚ إِنَّ رَبِّي غَفُورٌ رَحِيمٌ

_Artinya : “Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyanyang”_

2️⃣Nafsu Lawamah ia adalah nafsu yang menyinari dengan hati (menyinari hati) maka sekali-kali tunduklah kekuatan akal dan disisi lain ia ingkar dan bermaksiat kemudian ia merasa menyesal disinilah maka ia menyesali terhadap dirinya dan menyalahkan terhadap dirinya dan Nafsu Lawamah inilah sebagai tempatnya penyesalan dikarenakan ia pemulanya keinginan dan terpelesetnya pada kemaksiatan dan sifat ketamakan dan rakusnya. Dalil firman Allah:

وَلَا أُقْسِمُ بِالنَّفْسِ اللَّوَّامَةِ

_Artinya : “Dan aku bersumpah dengan jiwa yang amat menyesali (dirinya sendiri)”._

3️⃣Nafsu Muthmainnah ia adalah nafsu yang menyinari dengan sinar hatinya ( menyinari hati) hingga ia melepaskan dari sifat yang hina ( dan merasa tenang menuju kepada banyak kesempurnaan) sedangkan banyak celaannya sebagai pemula dari kesempurnaan kapan orang menempuh/berjalan melalui kakinya maka dia terhitung sebagai ahli thoriqoh dikarenakan dia pindah dari tamkin ( warna ) menuju tamkin pemperdayaan yang memungkinkan. Sedangkan orang yang memiliki nafsu lawwamah adalah mabuk sampainya tiupan banyak angin manusia yang membicarakan sedangkan dia termasuk bagian dari mereka dari jarak jauh dari kuatnya/dahsayatnya hubungan kepada yang haq (Allah yang Maha Tinggi). Dalil firman Allah:

يَا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ ﴿٢٧﴾ ارْجِعِي إِلَىٰ رَبِّكِ رَاضِيَةً مَّرْضِيَّةً ﴿٢٨﴾ فَادْخُلِي فِي عِبَادِي ﴿٢٩﴾ وَادْخُلِي جَنَّتِي ﴿٣٠

_Artinya : Hai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai; lalu masuklah ke dalam jemaah hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku._

4️⃣Nafsu Mulhamah dan nafsu ini yang Allah berikan ilham kepadanya berupa ilmu dan sifat tawadu’, dan menerima dan dermawan , maka karena itulah dia menjadi sumber kesabaran dan menanggung hal- hal yang berat dan syukur. Dalil firman Allah :

فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَاهَا

_Artinya : “Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya”._

5️⃣Nafsu Radhiyah .Nafsu Radhiyah adalah nafsu yang rela terhadap pemberian dari Allah sebagaimana firman Allah (” Dan mereka itu rela dari Allah ). Adapun sifat tingkah laku lakunya sifat Radhiyah itu adalah pasrah bernikmat-nikmatan ( berlezat-lezatan) dengan keheranan sebagaimana dikatakan ( Tambakanlah aku dengan kecintaan padamu dengan tumpang tindih # dan sayanglah dengan keras dengan gulapan keinginanmu yang menjadikan sulit ). Dalil firman Allah:

يَا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ ﴿٢٧﴾ ارْجِعِي إِلَىٰ رَبِّكِ رَاضِيَةً مَّرْضِيَّةً ﴿٢٨﴾ فَادْخُلِي فِي عِبَادِي ﴿٢٩﴾ وَادْخُلِي جَنَّتِي ﴿٣٠

_Artinya : “Hai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai; lalu masuklah ke dalam jemaah hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku._

6️⃣Nafsu Mardhiyah adalah nafsu yang ridho/rela kepada Allah dan nampaknya dalam kerelaan itu terdapat pengaruh ridhonya Allah yang Maha Tinggi.dan orang yang sampai pada tingkatan nafsu mardhiyah dia keramat/mulia dan ikhlas dan ingat ( tidak terlepas mengingat Allah) . Dan pada tingkatan ini orang yang menempuh atau melangkahkan kakinya yang pertama didalam makrifat kepada Allah dengan sebenar-benarnya makrifat yang menjadikan nampak keagungan banyak haliyah pekerjaan/pelaksanaan .

7️⃣Nafsu Kamilah adalah nafsu yang menjadikan banyaknya kesempurnaan yang mempunyai watak perilaku akhlak yang baik yang menaiki pada tingkatan kesempurnaan yang memerintahkan agar kembali kepada hamba untuk memberikan petunjuk kepada mereka dan kesempurnaan mereka sedangkan tingkatan maqomnya nafsu Kamilah adalah maqom tajliyaat (mengagungkan asma’) dan banyak sifat , dan sifat haliyahnya nafsu Kamilah itu adalah lebur kepada Allah ( fana’ billah).” Berjalan kepada Allah menuju Allah dan kembali dari Allah menuju Allah ( Dari Allah kembali kepada Allah), dan tidaklah ada tempat bagi nafsu Kamilah selain kembali kepada Allah sedangkan ilmunya bermanfaat dari Allah. Dengan kata lain nafsu Kamalah Yaitu derajat nafsu yang tertinggi dan yang paling sempurna dan sampailah ke Mukasafah makrifat/mengetahui ALLOH dgn ilmu yaqin Ialah tingkatan langit tertinggi, nafsu yg manjadikan manusia sbg Insan ‘Kamil Mukamil’, yaitu manusia yang sempurna dari yang sempurna.

Demikian penjelasan tentang nafsu dan tingkatannya berserta sifat dan prilakunya. Wallahu A’lam bisshowab.

Referensi:


تنوير القلوب: ص ٤٦٤

فصل فى النفس
إعلم أن معرفة النفس أمر مهم لكل فرد من أفراد الإنسان لأن من عرف نفسه فقد عرف ربه أى بالذل والعجز والضعف والفناء، ومن جهل نفسه فهو ربه أجهل، فعل العاقل أن يشمر عن ساعد الجد فى طلب المعرفة ولايتوانى فى ذلك لئلا يدركه الموت وهو مصاب بعمى الجهل فلا يكون له بعد ذلك سبيل إلى البصيرة، قال تعالى : فمن كان فى هذه أعمى فهو فى الآخرة أعمى وأضل سبيلا.
ثم اعلم أن النفس ربانية هى الروح قبل تعلقها بالأجساد، وقد خلق اﷲ الأرواح قبل الأجساد فكانت حينئذ فى جوار الحق وقربه فلما أمرها الحق أن تتعلق بالأجساد عرف الغير فحجبت عن حضرة الحق بسب شغلها عنه تعالى : فذالك إحتاجت إلى مذكر قال تعالى : وذكر فإن الذكرى تنفع المؤمنين وهى جوهر مشرق على البدن فإن أشرق على ظاهر البدن وباطنه حصلت اليقظة .وإن أشرق على باطن البدن دون ظاهره حصل النوم ، وإن انقطع إشراف بالكلية حصل الموت. وأصل كل معصية وغفلة وشهوة وشرك وهو الرضا عن النفس ألا ترى فرعون[ لما رضى عن نفسه كل الرضا أفرط فى الطويان حتى بلغ به أنه] قال [ أنا ريكم الأعلى ] وأصل كل طاعة ويقظة وعفة ومشاهدة هو عدم الرضى عنها فحينئذ لاشيء أنفع للعبد من تهذيب نفسه. ولها باعتبار تأثرها بالمجاهدة سبع مراتب [ الأولى] النفس [ الأمارة] وهى التى تميل إلى الطبيعة البدنية وتأمر بالذات والشهوات الممنوعة شرعا تجذب القلب إلى الجهة السفلية ، فهى مأوى الشرور ومنبع الأخلاق الذميمة كالكبر والحرص والشهوة والحسد والغضب والبخل والحقد [ وهذه المرتبة لغالب النفوس قبل المجاهد ] [ الثانية] النفس [اللوامة] وهى التى تنورت بنور القلب فتطيع القوة العاقلة تارة وتعصى أخرى ثم تندم فتلوم نفسها وهى منبع الندامة لأنها مبدأ الهوى والعثرة والحرص [ الثالثة ] النفس [ المطمئنة ] وهى التى تنورت بنور القلب حتى تخلت عن صفتها الذميمة [ واطمأن إلى الكمالات] وملامحها مبدأ الكمال متى وضع السالك قدمه عد من أهل الطريقة لانتقاله من التلوين إلى التمكين وصاحبها
سكران هبت عليه نسمات الوصال يخاطب الناس وهو عنهم فى بعد من شدة تعلقه بالحق تعالى:[ الرابعة] النفس [ الملهمة] وهى التى ألهمها الله العلم والتواضع والقناعة والسخاوة فلذا كانت منبع الصبر والتحمل والشكر [ والخامسة ] النفس [ الراضية ] وهى التى رضيت عن الله تعالى كما قال الله تعالى [ ورضوا عنه ] وشأنها التسليم والتلذذ بالحيرة كما قيل:[ زدني بفرط الحب فيك تحيرا# وارحم حشا بلظى هواك تعسّرا]
[ السادسة ] النفس [ المرضية ] وهي التى رضي الله تعالى عنها ويظهر فيها أثر رضاه تعالى وهو الكرامة والإخلاص والذكر وفى هذه المرتبة يضع السالك القدم الأول فى معرفة الله تعالى حق معرفته وفيها يظهر تجلى الأفعال [ السابعة ] النفس [ الكاملة ] وهى التى صارت الكمالات للاربعاء وسجية ومع ذلك تترقى فى الكمال وتؤمر بالرجوع إلى العباد لإرشادهم وتكميلهم مقامها مقام تجليات الأسماء والصفات وحالها البقاء بالله، تسير بالله إلى الله وترجع من الله ، إلى الله.ليس لها مأوى سواه علومها مستفيدة من الله. ..والله أعلم بالصواب

Bab tentang Jiwa

Ketahuilah bahwa mengenal diri sendiri adalah hal yang penting bagi setiap individu, karena barang siapa mengenal dirinya, maka ia telah mengenal Tuhannya, yakni dengan kesadaran akan kehinaan, kelemahan, ketidakberdayaan, dan kefanaan dirinya. Namun, barang siapa yang tidak mengenal dirinya, maka ia lebih bodoh terhadap Tuhannya. Oleh karena itu, orang yang berakal seharusnya berusaha dengan sungguh-sungguh untuk mencari pengetahuan dan tidak lalai dalam hal tersebut, agar tidak dijemput oleh kematian dalam keadaan masih diliputi oleh kebutaan kebodohan, sehingga tidak ada lagi jalan menuju kesadaran setelah itu. Allah berfirman: “Barang siapa yang di dunia ini buta, maka di akhirat ia akan lebih buta dan tersesat lebih jauh.”

Ketahuilah bahwa jiwa yang bersifat ilahiah adalah roh sebelum keterikatannya dengan jasad. Allah menciptakan roh sebelum jasad, dan pada saat itu, roh berada di sisi Tuhan dalam kedekatan. Ketika Allah memerintahkan roh untuk melekat pada jasad, roh pun mengenal hal-hal lain sehingga terhalang dari hadirat Tuhan karena kesibukannya terhadap hal-hal tersebut. Maka dari itu, roh membutuhkan pengingat, sebagaimana firman Allah: “Dan berilah peringatan, karena peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang yang beriman.” Jiwa ini adalah inti yang memancarkan cahaya ke tubuh; jika cahayanya menerangi baik bagian luar maupun bagian dalam tubuh, maka terjadilah kesadaran. Jika cahayanya hanya menerangi bagian dalam tubuh saja, maka yang terjadi adalah tidur. Namun, jika pancarannya terputus sama sekali, maka terjadilah kematian.

Sumber segala dosa, kelalaian, hawa nafsu, dan kesyirikan adalah rasa puas terhadap diri sendiri. Tidakkah engkau lihat bahwa Fir’aun, ketika ia merasa sangat puas dengan dirinya, berlebihan dalam kedurhakaan hingga ia berkata, “Akulah tuhanmu yang paling tinggi”? Sebaliknya, sumber segala ketaatan, kesadaran, kemurnian, dan penyaksian adalah ketidakpuasan terhadap diri sendiri. Maka dari itu, tiada yang lebih bermanfaat bagi seorang hamba selain mendidik jiwanya.

Jiwa memiliki tujuh tingkatan berdasarkan pengaruhnya terhadap usaha keras (mujahadah) yang dilakukan:

  1. Jiwa yang Amarah (An-Nafs Al-Ammarah): Jiwa ini condong kepada sifat-sifat jasmani dan memerintahkan kepada hawa nafsu serta syahwat yang dilarang secara syariat. Ia menarik hati ke arah bawah, menjadi tempat bersemayamnya kejahatan, dan merupakan sumber sifat-sifat tercela seperti kesombongan, kerakusan, syahwat, iri hati, marah, kikir, dan dengki. Jiwa pada tingkatan ini merupakan keadaan jiwa kebanyakan manusia sebelum melakukan mujahadah (usaha keras dalam ketaatan).
  2. Jiwa yang Menyesali (An-Nafs Al-Lawwamah): Jiwa ini mulai diterangi oleh cahaya hati, kadang-kadang mengikuti akal yang sehat dan kadang-kadang tidak. Ketika melakukan dosa, jiwa ini merasa menyesal dan mencela dirinya sendiri. Ia adalah sumber penyesalan karena merupakan awal mula dari hawa nafsu, kesalahan, dan kerakusan.
  3. Jiwa yang Tenang (An-Nafs Al-Muthmainnah): Jiwa ini telah diterangi oleh cahaya hati hingga terlepas dari sifat-sifat tercelanya dan menjadi tenang dalam meraih kesempurnaan. Ia adalah tanda dari permulaan kesempurnaan, dan ketika seorang penempuh jalan spiritual (salik) mencapai tingkatan ini, ia dianggap termasuk dalam kalangan ahli thariqah (jalan spiritual) karena ia telah beralih dari ketidaktetapan menuju keteguhan. Pemilik jiwa ini tenggelam dalam cinta Allah, berbicara dengan manusia, namun sebenarnya ia jauh dari mereka karena keterikatannya yang kuat kepada Allah.
  4. Jiwa yang Diilhami (An-Nafs Al-Mulhamah): Jiwa ini telah diilhami oleh Allah dengan ilmu, kerendahan hati, kepuasan, dan kedermawanan. Oleh karena itu, ia menjadi sumber kesabaran, ketahanan, dan rasa syukur.
  5. Jiwa yang Ridha (An-Nafs Ar-Radhiyah): Jiwa ini ridha terhadap ketetapan Allah, sebagaimana firman Allah: “Mereka ridha kepada Allah, dan Allah pun ridha kepada mereka.” Keadaan jiwa ini adalah penerimaan penuh dan menikmati ketidakpastian dalam perjalanan cinta, sebagaimana dikatakan: “Tambahkanlah aku rasa cinta yang amat mendalam kepadamu hingga aku semakin bingung dalam cintaku, dan kasihanilah jiwaku yang terpanggang oleh api cintamu yang semakin menggelora.”
  6. Jiwa yang Diridhai (An-Nafs Al-Mardhiyyah): Jiwa ini telah diridhai oleh Allah, dan tampak padanya tanda-tanda keridhaan-Nya, yaitu kedermawanan, keikhlasan, dan dzikir. Dalam tingkatan ini, seorang salik menapakkan langkah pertama dalam mengenal Allah dengan sebenar-benarnya, dan di sini tampaklah manifestasi dari perbuatan-perbuatan-Nya.
  7. Jiwa yang Sempurna (An-Nafs Al-Kamilah): Jiwa ini telah mencapai kesempurnaan dalam sifat-sifat luhur dan terus-menerus meningkat dalam kesempurnaan. Jiwa ini diperintahkan untuk kembali kepada manusia guna membimbing dan menyempurnakan mereka. Kedudukannya adalah kedudukan manifestasi nama-nama dan sifat-sifat Allah, serta keadaannya adalah tetap (dalam keberadaan bersama Allah). Ia berjalan bersama Allah menuju Allah dan kembali kepada Allah. Ia tidak memiliki tempat berlindung selain Allah, dan ilmunya didapatkan langsung dari Allah.

… Dan hanya Allah yang mengetahui kebenaran yang sesungguhnya.

Kategori
Uncategorized

HUKUM DAN HIKMAH/MANFAAT MELETAKKAN KAPAS BESERTA DUPA DIKAFAN

Assalamualaikum
Apa hukum dan hikmah atau manfaatnya meletakkan kapas beserta dupa dikafan mayyit ketika akan dibungkus , dan berapa jumlahnya serta dimana posisi kapas beserta dupa dikafan itu diletakkan. ?

JAWABAN :

Wa’alaikum salam, hukumnya meletakkan kapas kepada mayyit adalah sunnah sesuai dengan referensi dari kitab al Riyadhul Badi’ah halaman 40 :

والسنة ان يوضع على منافذ الميت كعينيه واذنيه ومنخريه وغيرها من المنافذ الاصلية والطارئة واعضاء سجوده السبعة قطن اكراما لها


Kesunahannya, meletakkan kapas pada lubang-lubang yang terdapat pada mayyit, seperti dua mata, dua telinga, dua hidung dan lubang-lubang lainnya , baik lubang asal atau lubang baru, kemudian hendaklah meletakkan kapas kepada anggota sujudnya yang tujuh(yaitu dahi,kedua telapak tangan, kedua lutut,dan kedua telapak kaki).

Adapun hikmah atau manfaatnya adalah untuk mengharumkan dan menguatkan jasad mayyit dan diletaķkan pada lubang asal atau lubang baru agar menolak dari hewan melata atau serangga serta untuk memuliakan kepada mayyit. 
Jumlah kapasnya adalah disesuaikan dengan kebutuhan.

المجموع شرح المهذب – 2516/9792

ويستحب أن يؤخذ القطن ويجعل عليه الحنوط والكافور ويترك على الفم والمنخرين والعينين والاذنين وعلي خراج نافذ إن كان عليه
ليخفى ما يظهر من رائحته ويجعل الحنوط والكافور علي قطن ويترك علي مواضع السجود لما روى عن عبد الله بن مسعود أنه قال يتتبع بالطيب مساجده ولان هذه المواضع شرفت بالسجود فخصت بالطيب قال وأحب أن يطيب جميع بدنه بالكافور لان ذلك يقوى البدن ويشده ويستحب أن يحنط رأسه ولحيته بالكافور كما يفعل الحى إذا تطيب قال في البويطي فان حنط بالمسك فلا بأس لما روى أبو سعيد إن النبي صلى الله عليه وسلم قال ” المسك من أطيب الطيب ” وهل يجب الحنوط والكافور أم لا فيه قولان وقيل فيه وجهان احدهما يجب لانه جرت به العادة في الميت فكان واجبا كالكفن والثاني انه لا يجب كما لا يجب الطيب في حق المفلس وان وجبت الكسوة}
{الشرح} حديت أبي سعيد الخدري أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال ” المسك أطيب الطيب ” رواه مسلم في صحيحه هكذا ووقع في المهذب من أطيب الطيب بزيادة من والأثر المذكور عن ابن مسعود يتبع الطيب مساجده رواه البيهقي والحنوط بفتح الحاء وضم النون – هذا هو المشهور ويقال الحناط بكسر وهو أنواع من الطيب يخلط للميت خاصة لا يقال في غير طيب الميت حنوط قال الأزهري يدخل في الحنوط الكافور وذريرة القصب والصندل الاحمر والابيض (وقوله) كما يستدل التبان هو بضم المثناة فوق وتشديد الموحدة وهو سراويل قصيرة صغيرة بلاتكة (قوله) وعلى خراج نافذ هو بضم الخاء المعجمة وتخفيف الراء وهو القرحة في الجسد

واما الأحكام فقال الشافعي والأصحاب يستحب أن يبسط أوسع اللفائف وأحسنها ويذر عليها حنوط ثم يبسط الثانية عليها ويذز عليها حنوط وكافور وإن كفن الرجل أو المرأة في لفافة ثالثة أو رابعة كانت كالثانية في أنها دون التي قبلها وفي ذر الحنوط والكافور واتفق الشافعي والأصحاب على استحباب الحنوط كما ذكرنا قال صاحب الحاوي رحمه الله هذا شئ لم يذكره غير الشافعي من الفقهاء وانا اختاره الشافعي ليلا يسرع بلي الا كفان وليقيها من بلل يصيبها قال المصنف والأصحاب رحمهم الله ثم يحمل
الميت مستورا فيوضع فوقها مستلقيا واحتجوا لبسط أحسن اللفائف وأوسعها أولا بالقياس على الحي فإنه يجعل أجمل ثيابه فوقها ثم يؤخذ قطن منزوع الحب فيجعل عليه حنوط وكافور ويدس بين اليته حتى يتصل بحلقة الدبر فيسدها ليرد شيئا يتعرض للخرج قال أصحابنا ولا يدخله إلى داخل الحلقة هذا هو الصحيح الذي قطع به جماهير الاصحاب في الطريقين وذكر البغوي وجهين (أحدها) يكره الإدخال (والثاني) يدخل لأنه إذا لم يدخل لا يمنع الخروج قال وإنما فعل ذلك للمصلحة وقال القاضي حسين في تعليقه قال القفال رأيت للشافعي رحمه الله في الجماع الكبير ادخاله وهذا نقل غريب وحكم ضيف والصواب ما سبق وسبب الخلاف أن المزني نقل في المختصر عن الشافعي أنه قال يأخذ شيئا من قطن منزوع الحب فيجعل فيه الحنوط والكافور ثم يدخل بين اليته إدخالا بليغا ويكثر منه ليرد شيئا إن جاء منه عند تحريكه ويشد عليه خرقة مشقوقة الطرف يأخذ أليته وعانته ثم يشد عليه كما يشد التبان الواسع قال المزني لا احب ما قال من إبلاع الحشو ولكن يجعل كالوزة من القطن بين اليته ويجعل من تحتها قطن يضم إلى بين أليتيه والشداد من فوق ذلك كالتبان يشد عليه فان جاء منه شئ بعد ذلك منعه ذلك أن يظهر فهذا؟ ان في كرامته من انتهاك حرمته هذا آخر كلام المزني قال أصحابنا توهم المزني من كلام الشافعي هذا أنه أرادإدخال القطن في الدبر قالوا وأخطأ في توهمه وانا أراد الشافعي أن يبالغ في حشو القطن بين اليته حتى يبلغ الدبر من غير أن يدخله وقد بين ذلك في الأم فقال حتى يبلغ الحلقة قال بعض أصحابنا ومما يدل علي وهم المزني قول الشافعي لرد شئ ان خرج ولو كان مراده انه يدخل إلى داخل الدبر لقال يمنع من خروج شئ والله أعلم قال الشافعي والأصحاب رحمهم الله ثم يشد الياه ويستوثق في ذلك بأن يأخذ خرقة ويشق رأسها ويجعل وسطها عند أليته وعانته ويشد فوق السرة بأن يرد ما يلي ظهره إلى سرته ويعطف الشقان الآخران عليه ولو شدشق من كل رأس علي هذا الفخذو مثله على الفخذ الآخر جاز وقيل يشد عليه بخيط ولا يشق طرفها والله أعلم قال الشافعي والمنصف والأصحاب ثم يأخذ شيئا من القطن ويضع عليه شيئا من الحنوط والكافور ويجعل على منافذ البدن من الأذنين
والعينين والمنخرين والفم والجراحات النافذة دفعا للهوام ويجعل على قطن وكافور وترك على مواضع السجود وهي الجبهة والأنف وبطن الكفين والركبتان والقدمان هكذا قال المصنف والجمهور ونص عليه الشافعي في المختصر وفيه وجه حكاه


Wallahu a’lam.

Kategori
Uncategorized

MEMASUKI TAHUN BARU HIJRIYAH 1MUHARRAM

AMALAN-AMALAN
1 MUHARROM.

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ. الْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ. اللهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ،ٍ مِفْتَاحِ بَابِ رَحْمَةِ اللهِ، عَدَدَ مَا فِي عِلْمِ اللهِ، صَلاَةً وَسَلاَماً دَائِمَيْنِ بِدَوَامِ مُلْكِ الله، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهَ. أَمَّا بَعْدُ.

Amaliyah Akhir & Awal Tahun Hijriyah

Bulan Muharrom adalah bulan yang agung, dan sangat banyak keutamaannya. Muharram juga bulan yang paling utama untuk berpuasa setelah Ramadhan, kemudian Rajab, Dzulhijjah, Dzulqo’dah, dan Sya’ban.

Pada akhir bulan Dzulhijjah , jangan lupa membaca “Doa Akhir Tahun” seusai shalat Ashar. Kemudian ba’da Maghribnya ( malam 1 Muharrom (tahun baru Islam ) jangan lupa membaca “Doa Awal Tahun”.

Amalan Akhir Bulan Dzulhijjah

  • Berpuasa pada hari terakhir bulan Dzulhijjah.
  • Membaca Doa Akhir Tahun Hijriah.

Syeikh Ibnu Qudamah al-Maqdisy, salah seorang ulama besar yang ikut meriwayatkan “doa awal tahun” menuturkan, “Guru-guruku tidak pernah luput berwasiat untuk selalu membaca doa tersebut. Dan aku belum pernah melewatkan doa itu sepanjang hidupku.”

Doa Akhir & Awal Tahun Hijriah Dari Shohibul Maulid, al-Habib Ali bin Muhammad bin Husein al-Habsyi

Berikut ini adalah Doa Akhir & Awal Tahun Hijriah dari Habib Ali bin Muhammad bin Husein al-Habsyi yang kerap dibaca di penghujung tahun Hijriyah oleh para habaib dan alim ulama di negeri Hadramaut.

Doa Akhir Tahun
Baca 3 kali :

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ.
وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ. اَللَّهُمَّ مَا عَمِلْتُ مِنْ عَمَلٍ فِي السَّنَةِ الْمَاضِيَةِ وَلَمْ تَرْضَهُ ، وَنَسِيْتُهُ وَلَمْ تَنْسَهُ ، وَحَلُمْتَ عَنِّيْ مَعَ قُدْرَتِكَ عَلَى عُقُوْبَتِيْ ، وَدَعَوْتَنِيْ إِلَى التَّوْبَةِ بَعْدَ جَرَاءَتِيْ عَلَيْكَ. اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْتَغْفِرُكَ مِنْهُ فَاغْفِرْ لِيْ اَللَّهُمَّ وَمَا عَمِلْتُ مِنْ عَمَلٍ تَرْضَاهُ وَوَعَدْتَنِيْ عَلَيْهِ الثَّوَابَ وَالْغُفْرَانَ فَتَقَبَّلْهُ مِنِّيْ ، وَلَا تَقْطَعْ رَجَائِيْ مِنْكَ يَا كَرِيْمُ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَز
وَصَلَّى اللهُ تَعَالَى عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ .

Kaifiyah :

Do’a akhir tahun Hijriah ini hendaknya dibaca tiga kali pada akhir waktu Ashar tanggal 29 atau 30 bulan Dzulhijjah.

Fadhilahnya adalah, barang siapa membaca do’a ini dalam waktu tersebut, maka syaitan berkata : “Kesusahanlah bagiku, dan sia-sialah pekerjaanku menggoda anak Adam (manusia) pada satu tahun ini karena mereka mengerjakan amal ini.”

Di mulai dengan membaca surat al-Fatihah 1 kali, kemudian membaca do’a akhir tahun 3 kali, dan diakhiri dengan membaca surat al-Fatihah 1 kali.

Amalan Awal Malam Bulan Muharrom

  • Membaca Doa Awal Tahun Hijriah. Doa Awal Tahun
    Sebelum membaca doa awal tahun, sebaiknya membaca ayat Kursi sebanyak 360/121/100/77/41/21/11 kali (semampunya), dengan Basmalah di setiap permulaannya. Kemudian membaca doa berikut sebanyak salah satu angka tersebut semampunya :

اللّهُمَّ يَا مُحَوِّلَ الأَحْوَالِ حَوِّلْ حَالِيْ إِلَى أَحْسَنِ الأَحْوَالِ بِحَوْلِكَ وَقُوَّتِكَ يَا عَزِيْزُ يَا مُتَعَال، وَصَلَّى اللهُ تَعَالَى عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّم.

Dan dilanjutkan dengan membaca doa awal tahun 3 kali :

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
اَلْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَاةً تَمْلَأُ خَزَائِنَ اللهِ نُوْرًا ، وَتَكُوْنُ لَنَا وَلِلْمُؤْمِنِيْنَ فَرَجًا وَفَرْحًا وَسُرُوْرًا ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا. اَللَّهُمَّ أَنْتَ الْأَبَدِيُّ الْقَدِيْمُ الْأَوَّلُ ، وَعَلَى فَضْلِكَ الْعَظِيْمِ وَكَرِيْمِ جُوْدِكَ الْعَمِيْمِ الْمُعَوَّلِ ، وَهَذَا عَامٌ جَدِيْدٌ قَدْ أَقْبَلَ ، أَسْأَلُكَ الْعِصْمَةَ فِيْهِ مِنَ الشَّيْطَانِ وَأَوْلِيَائِهِ ، وَالْعَوْنَ عَلَى هَذِهِ النَّفْسِ الْأَمَّارَةِ بِالسُّوْءِ ، وَالْاِشْتِغَالَ بِمَا يُقَرِّبُنِيْ إِلَيْكَ زُلْفَى ، يَا ذَا الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ
وَصَلَّى اللهُ تَعَالَى عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ .

kaifiyah :

Pada malam harinya sejak permulaan terbenamnya matahari (timbul merah Jingga) atau setelah Maghrib, itulah tanda tanggal 1 Muharrom telah tiba. Kita perlu mengucapkan selamat datang dengan membaca do’a Awal Tahun Hijriyyah.

Fadhilahnya adalah, barangsiapa membaca do’a ini, maka setan-setan akan berkata demikian : “Alangkah bahagianya orang itu, dia akan dilindungi dari godaan-godaanku pada sisa umurnya, karena Allah mengutus dua malaikat untuk menjaganya dari godaan-godaanku.”

Di mulai dengan membaca surat al-Fatihah 1 kali, kemudian membaca do’a awal tahun 3 kali, dan diakhiri dengan membaca surat al-Fatihah 1 kali.

  • Setelah membaca do’a awal tahun, kemudian sholat 10 roka’at dengan 5 kali salam, tiap rika’at setelah membaca al-Fatihah, membaca surat al-Ikhlas 10 kali.

Niatnya : “Aku niat sholat malam satu Muharram dua raka’at sunnah karena Allah Ta’ala.”

Membaca Ayat Kursi 360 kali.
Berkata al-Imam as-Sayyid Ahmad bin Zaini Dahlan :
“Telah menyebutkan sebagian ulama, sesungguhnya siapa yang di hari pertama dari bulan Muharram membaca ayat Kursi sebanyak 360 kali beserta Basmalah di setiap kali membacanya, di dalamnya terdapat faidah-faidah yang tak terhingga.”

Kemudian setelah selesai seluruhnya membaca do’a berikut:

اللّهُمَّ يَا مُحَوِّلَ الأَحْوَالِ حَوِّلْ حَالِيْ إِلَى أَحْسَنِ الأَحْوَالِ بِحَوْلِكَ وَقُوَّتِكَ يَا عَزِيْزُ يَا مُتَعَال، وَصَلَّى اللهُ تَعَالَى عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّم.

Berkata sebagian ulama yang lain :
“Barangsiapa membaca ayat Kursi sebanyak 360 kali beserta Basmalah di hari pertama bulan Muharram dan membaca do’a di atas, maka dia akan terjaga dari hal-hal yang tidak disenangi selama setahun.”

•Menulis Basmalah 113 kali.*
“Barangsiapa menulis بسم اللّٰه الرحمن الرحيم pada awal bulan Muharram sebanyak 113 kali, maka hal-hal yang dibenci tidak akan mengena kepada pembawa tulisan tersebut maupun keluarganya.”

Imam Muhammad Haqqiy an-Naziliy rahimahullah mencatatkan dalam kitabnya Khazinatul Asrar Jalilatul Adzkar halaman 92 :

Siapa saja yang menulis :

بسم اللّٰه الرحمن الرحيم

Sebanyak 113 kali pada tanggal 1 Muharram di kertas, maka dirinya dan keluarganya akan diberikan perlindungan dari segala musibah dan keburukan selama seumur hidup.

Syekh Muhyiddin Zadah dalam kitab Hasyiyah Tafsir al-Baidhawiy juz 1 halaman 45, mengutip riwayat dari Khalifah Umar Bin Abdul Aziz Rahimahullah yang menyatakan :

طولوا الباء وأظهروا السين ودوروا الميم تعظيما لكتاب الله

Panjangkan huruf Ba’ dan (perjelas) huruf Sin dengan giginya dan bulatkan huruf Mim dengan lubang ketika menulis بسم الله sebagai bentuk penghormatan kepada al-Qur’an.

Boleh dimulai waktu penulisannya sejak adzan Maghrib ketika sudah muncul hilal (bulan muda) hari pertama pergantian tahun tanggal 1 bulan Muharram dan berakhir ketika adzan Maghrib besok malamnya.

kaifiyah :

  • Hendaknya menulis kalimah ( بسم اللّٰه الرحمن الرحيم ) pada tanggal 1 Muharram.
  • Dilakukan dalam keadaan berwudhu.
  • Menghadap qiblat.
  • Menutup aurat dan tidak berbicara.
  • Niat lidaf’ul bala (tolak bala), tahshin (benteng), dan jalbul manafi’ (memperoleh manfaat) semata-mata bertabarruk dengan ayat al-Qur’an ( بسم اللّٰه الرحمن الرحيم ) dan salah satu bulan yang dimuliakan, yaitu bulan Muharram.

Setelah menulis Basmalah 113 kali, dianjurkan untuk membaca doa sesuai hajat yang diinginkan, kemudian tulisan Basmalah 113 tadi disimpan di dalam tempat yang layak.

Kenapa sebanyak 113, & ada rahasia apa pada bilangan 113?

Jawapannya :
Sebab jumlah surat dalam al-Qur’an ada 114 surat dan kesemuanya diawali dengan ( بسم اللّٰه الرحمن الرحيم ) kecuali satu surat saja, yakni surat at-Taubah. Jadi yang diawali dengan Basmalah hanya 113 surat.

Doa setelah menulis Basmalah 113 antara lain :

اللهمّ انّى اسألك بفضل بسم الله الرحمن الرحيم وبحقّ بسم الله الرحمن الرحيم وبهيبة بسم الله الرحمن الرحيم وبمنزلة بسم الله الرحمن الرحيم ارفع قدري ويسّرلى امري واشرح صدري يامن هو كهيــعص حمعسـق المّ المّص المر حـم الله لااله الاهو الحيّ القيّوم بسرّ الهيبة والقدرة وبسرّ الجبروت والعظمة اجعلنى من عبادك المتّقين واهل طاعتك

المحـبّين وارزقنى علمانافعا ياربّ العالمين وصلّى الله على سيّدنامحمّد وعلى آله وصحبه وسلّم

Diambil dari kitab Ittihaful Amajid Binafaisil Fawaid karya Syeikh Abu Mun’yah asy-Syakunjiy.

  • Menulis lafadz ar-Rahman (الرحمن) sebanyak 50 kali.
    “Barangsiapa menulis lafadz الرحمن pada awal bulan Muharram sebanyak 50 kali, kemudian dia masuk ke pemimpin yang dzolim atau hakim yang dzolim, maka dia akan aman dari kejahatan mereka.”
  • Menulis ayat-ayat al-Qur-an di bawah ini :

أَفَأَمِنَ أَهْلُ الْقُرَى أَن يَأْتِيَهُمْ بَأْسُنَا بَيَاتاً وَهُمْ نَآئِمُونَ

“Maka apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka di malam hari di waktu mereka sedang tidur?” (QS. Al-A’raf : 97)

أَوَ أَمِنَ أَهْلُ الْقُرَى أَن يَأْتِيَهُمْ بَأْسُنَا ضُحًى وَهُمْ يَلْعَبُونَ

“Atau apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka di waktu matahari sepenggalahan naik ketika mereka sedang bermain?” (QS. Al-A’raf : 98)

أَفَأَمِنُواْ مَكْرَ اللّهِ فَلاَ يَأْمَنُ مَكْرَ اللّهِ إِلاَّ الْقَوْمُ الْخَاسِرُونَ

“Maka apakah mereka merasa aman dari azab Allah (yang tidak terduga-duga)? Tiada yang merasa aman dan azab Allah kecuali orang-orang yang merugi.” (QS. Al-A’raf : 99)

Khasiat menulis ayat al-Qur-an di atas diantaranya adalah, rumahnya akan aman dari binatang-binatang yang mengganggu (seperti : tikus, kalajengking, dll).

Ayat di atas ditulis pada awal hari bulan Muharram (malam atau siang) pada kertas, kemudian di basuh dengan air, kemudian air tersebut dipercik-percikkan ke dalam rumah.

Puasa di Hari Pertama dan Hari-hari Berikutnya di Bulan Muharram

  • Puasa hari pertama bulan Muharram.

Menyebutkan al-Hafidz Ibnu Hajar, sesungguhnya telah diriwayatkan dari Sayyidatina Hafshah ra. dari Nabi ﷺ, beliau bersabda :
“Baragsiapa berpuasa di hari akhir bulan Dzulhijjah dan awal hari bulan Muharram, maka Allah SWT akan menjadikannya sebagai pelebur dosa 50 tahun. Dan puasa sehari di bulan Muharram sama dengan 30 hari diselainnya.”

  • Puasa Hari Kamis, Jum’at, & Sabtu.
    Berkata Imam Ghazali di dalam kitab Ihya Ulumuddin, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda :
    “Baranggsiapa berpuasa 3 hari dari bulan-bulan mulia (yaitu Muharram, Dzulqa’dah, Dzulhijjah, dan Rajab); pada hari Kamis, Jum’at, dan Sabtu (berturut-turut), maka Allah SWT akan menulis baginya ibadah 700 tahun.”

Sumber Kitab :

١ . احياء علوم الدين
٢ . كنز النجاح والسرور
٣ . خزينة الأسرار
٤ . الغنية
٥ . درة الناصحين
٦.ترجمان .

.٧. مجموعة الشريف

Wallahu a’lam, semoga barokah dan manfaat bagi kita semua.
Aaamiin3x-yaa-mujiibassaa-iliin.