
Assalamualaikum para kiyai dan para ustadz dan juga para sesepuh mator pertanyaan se emaksud ma’rifah (ma’rifatullah ) kaintoh ponapah ben ponapah tetanggerah oreng se ma’rifah ?🙏🙏
Waalaikum salam.
Pengertian Makrifahtullah banyak ulama memberikan pengertian dengan redaksi yang berbeda akan tetapi pada dasarnya mempunyai maksud dan tujuan yang sama yaitu mengenal Allah baik cara menempuhnya melalui intuisi hati atau cara menempuhnya melalui akal .
Menurut Imam Al-Ghazali Ma’rifatullah itu adalah musyahadah pada nur keagungan Allah, menurutnya “Tajalliy adalah tersikapknya sesuatu pada hati dari cahaya keghaiban yang dimaksud kan dengan Tajalliy disini adalah al-Mutajalliy ia adalah Allah.Pendapat ini sama dengan apa yang dikatakan oleh Imam Al-Qusyairiy dalam perbedaan antara Syariat dan Hakikat. Bahwa syariat itu adalah menetapi ibadah sedangkan hakikat adalah melihat Allah dengan penglihatan hatinya.(ma’rifah).
Menurut Sayyid Abubakr alma’ruf dengan Sayyid Bakriy al-Makkiy penyusun kitab At-Qiya’ mendefinisikan Makrifatullah adalah cahaya yang dimasukkan oleh Allah kepada hati hamba maka ia dapat melihat banyak rahasia cahaya singgasananya dan menyaksikan pada keghaiban kerajaan/ singgasananya Allah dan ia memperhatikan banyak sifat alam jabarutnya,
Sedangkan menurut Athoillah Al-Askandari membagi ma’rifat menjadi dua.
1-Makrifat kepada Allah dengan melalui jalan hati adalah menyaksikan kepada Allah dan hadir kepada Allah yang diketahui(dengan menyaksikan dan hadir secara langsung).
2- Makrifat dengan melalui jalan akal adalah mengerti kepada Allah yang diketahui dengan perantaraan panca indra dan yang diketahui dengan perantaraan gambaran didalam hati. Orang yang alim itu mengetahui kepada Allah,dan orang yang ma’rifat itu menyaksikan kepada Allah.
Adapun tanda-tanda orang yang ma’rifatullah diantaranya adalah : Diraihnya rasa takut kepada Allah . Barang siapa yang kemakrifatannya bertambah maka bertambah pula rasa takutnya sedangkan makrifah itu mewajibkan kepada ketenangan jiwa.
Selanjutnya Shahibul hikam syaikh Athoillah al-Askandari menjelaskan tanda-tanda orang yang sampai pada maqom makrifat
“Tidak disebut orang arif itu,yaitu orang yang bila ia memberi isyaroh sesuatu ia merasa bahwa Allah lebih dekat dari isyaroh-Nya, tetapi orang arif itu ialah yang merasa tidak mempunyai isyaroh, karena merasa lenyap diri dalam wujud Allah, dan diliputi oleh menyaksikan [syuhud] kepada Allah”.
Referensi
كفاية الأتقياء .ص ١١
وحقيقة لوصول المقصد#ومشاهد نور التجلى بالنجلى
يعني أن الحقيقة هى وصول السالك للمقصود وهو معرفة الله ومشاهدة نور التجلى قال الغزالي التجلي ماينكشف للقلب من أنوار الغيب ويحتمل أن يراد بالتجلى هنا المتجلى هو الله سبحانه وتعالى وهو يوافق ماقاله القشيري فى الفرق بين الشريعة والحقيقة من أن الشريعة أمر بالتزام العبودية والحقيقة مشاهدة الربوبية أى رؤيته إياها بقلبه
Kifāyah al-Atqiyā’ (hal. 11):
“Hakikat adalah sampai pada tujuan dan menyaksikan cahaya tajalli dengan jelas.”
Maksudnya, hakikat adalah sampainya seorang salik (penempuh jalan spiritual) kepada tujuan, yaitu mengenal Allah dan menyaksikan cahaya tajalli. Al-Ghazali mengatakan bahwa tajalli adalah sesuatu yang tersingkap bagi hati dari cahaya-cahaya gaib. Bisa juga maksud tajalli di sini adalah sesuatu yang menampakkan diri, yaitu Allah SWT, sebagaimana pendapat al-Qushairi dalam membedakan antara syariat dan hakikat. Syariat adalah perintah untuk berpegang teguh pada penghambaan, sementara hakikat adalah penyaksian terhadap rububiyah, yakni melihatnya dengan hati
كفاية الأتقياء ومنها الأصفياء. ص.١١١
وكذاك معرفة لاتخص علية # فى غالب من غيرها لن تحصلا
يعنى أن معرفة الحقيقية المخصوضة العلية لاتحصل فى الغالب من غير هذه المجاهدة أماحصولها من غيرها فهو يمكن لكنه نادر وماذكره الناظم رحمه الله تعالى إنما هو بحسب العادة وإلا فأصل المعرفة لايحصل إلابفيض إلهى فمعرفة الله نور يقذفه الله فى قلب العبد فيرى بذلك النور أسرا ملكه ويشاهد ملكوته ويلاحظ صفات جبروته ولذا لماسئل الصديق الأكبر رضي الله عنه بم عرفت ربك فقال بماعرفني نفسه لايدرك الحواس ولايقاس بالقياس قريب فى بعده بعيد فى قربه فوق كل شيء ولاقال تحته وأمام كل شيء ولاقال أمامه شيء وهو على كل شيء قدير ليس كمثله شيء ولايقال كشيء فى شيء فسحان من هو هكذا وليس هكذا غير ه وجاء فى الخبر أن الله خلق الخلق فى ظلمة ثم رش عليهم من نور فمن أصابه من ذلك اهتدى ومن أخطأ ضل وقيل لعلي بن أبي طالب رضي الله عنه هل عرفت الله بمحمد صلى الله عليه وسلم أو عرفت محمدا بالله تعالى فقال لو عرفت الله بمحمد صلى الله عليه وسلم ماعبدته ولكان محمد أوثق فى نفسي من الله تعالى ولو عرفت محمدا بالله لمااحتجت إلى رسول الله صلى الله عليه وسلم ولكن الله عرفني نفسي بلاكيف كماشاء وبعث محمدا صلى الله عليه وسلم بتبليغ أحكام القرآن وبيان معضلات الإسلام والإيمان وإثبات الحجة وتقويم الناس على منهج الإخلاص فصدقته بماجاء به فعلم أنه يستحيل الوصول إلى معرفة الله بغير الله ولاسبيل إلى معرفة الله تعالى إلابالله فإن الأفهام والأوهام والخواطر عاجزة قاصرة عن إدراك تصورها بصورها وعللها فكيف تطيق ادراك مصورها ومعللها وإنما الحق سبحانه خلق خلقه كماشاء على شاء ووفق من شاء لما شاء وعرف من شاء بما شاء وقول علي رضي الله عنه ولكن الله عرفني نفسي أى بالعجز والإفتقار فعرفت أن لها ربا اوجدها ولذلك قال رسول الله صلى الله عليه وسلم
من عرف نفسه عرف ربه أى من عرف نفسه بالعجز والإفتقار عرف ربه بالقدرة والغني.وأوحى الله تعالى إلى داود عليه السلام أعرفني وأعرف نفسك فقال إلهي عرفتك بالفردانية والقدرة والبقاء وعرفت نفسي بالضعف والعجز والفناء فقال ياداود الآن عرفتني
Kifāyah al-Atqiyā’ wa Minha al-Aṣfiyā’ (hal. 111):
“Begitu pula, makrifat yang khusus dan tinggi tidak akan didapatkan dalam kebanyakan keadaan kecuali dengan mujahadah.”
Maksudnya, makrifat yang khusus dan tinggi biasanya tidak diperoleh kecuali dengan usaha keras (mujahadah). Namun, memperolehnya tanpa mujahadah memang mungkin, tetapi sangat jarang. Apa yang disebutkan oleh sang penyair hanyalah berdasarkan kebiasaan, sedangkan pada hakikatnya, makrifat hanya diperoleh melalui limpahan ilahi.
Makrifat tentang Allah adalah cahaya yang Allah berikan ke dalam hati seorang hamba, sehingga dengan cahaya itu ia dapat melihat rahasia kerajaan-Nya, menyaksikan alam malakut-Nya, dan mengamati sifat-sifat keagungan-Nya.
Oleh karena itu, ketika Abu Bakar as-Shiddiq r.a. ditanya, “Bagaimana engkau mengenal Tuhanmu?” Ia menjawab, “Dengan cara Dia sendiri memperkenalkan diri-Nya kepadaku. Dia tidak dapat dijangkau oleh indera dan tidak dapat diukur dengan perbandingan. Dia dekat dalam kejauhan-Nya, jauh dalam kedekatan-Nya. Dia di atas segala sesuatu, tetapi tidak dikatakan ada sesuatu di bawah-Nya. Dia di depan segala sesuatu, tetapi tidak dikatakan ada sesuatu di depannya. Dia berkuasa atas segala sesuatu, dan tidak ada sesuatu pun yang menyerupai-Nya, serta tidak dapat dikatakan bahwa Dia serupa dengan sesuatu dalam sesuatu.”
Maha Suci Allah, yang tidak ada yang seperti-Nya.
Dalam sebuah hadis disebutkan bahwa Allah menciptakan makhluk dalam kegelapan, lalu Dia memancarkan cahaya kepada mereka. Maka, siapa yang terkena cahaya itu akan mendapatkan petunjuk, dan siapa yang luput darinya akan tersesat.
Diriwayatkan bahwa Ali bin Abi Thalib r.a. ditanya, “Apakah engkau mengenal Allah melalui Muhammad SAW atau mengenal Muhammad SAW melalui Allah?” Ia menjawab, “Jika aku mengenal Allah melalui Muhammad, maka aku tidak akan menyembah-Nya, karena Muhammad akan lebih kuat kedudukannya dalam hatiku daripada Allah. Dan jika aku mengenal Muhammad melalui Allah, maka aku tidak akan membutuhkan Rasulullah SAW. Tetapi Allah-lah yang memperkenalkan diri-Nya kepadaku tanpa kaif (tanpa cara) sebagaimana yang Dia kehendaki. Dia mengutus Muhammad SAW untuk menyampaikan hukum-hukum Al-Qur’an, menjelaskan perkara-perkara Islam dan iman yang sulit, menegakkan hujjah, serta membimbing manusia kepada jalan yang benar. Aku membenarkan ajaran yang dibawanya. Maka, jelas bahwa mustahil seseorang dapat mengenal Allah tanpa Allah. Tidak ada jalan untuk mengenal-Nya kecuali dengan pertolongan-Nya, sebab akal, imajinasi, dan lintasan pikiran manusia tidak mampu memahami-Nya, apalagi mencapai-Nya.”
Ali r.a. juga mengatakan, “Tetapi Allah memperkenalkan kepadaku diriku sendiri,” maksudnya, dengan memperlihatkan kelemahan dan kefakiranku, sehingga aku menyadari bahwa aku memiliki Tuhan yang telah menciptakanku.
Oleh karena itu, Rasulullah SAW bersabda, “Barang siapa mengenal dirinya, maka ia akan mengenal Tuhannya.”
Yakni, barang siapa mengenal dirinya sebagai makhluk yang lemah dan fakir, maka ia akan mengenal Tuhannya sebagai Zat yang Maha Kuasa dan Maha Kaya.
Allah juga mewahyukan kepada Nabi Dawud a.s., “Kenalilah Aku, maka engkau akan mengenal dirimu sendiri.”
Dawud bertanya, “Wahai Tuhanku, bagaimana aku mengenal-Mu?”
Allah berfirman, “Aku mengenalkan diri-Ku kepadamu dengan keesaan, kekuasaan, dan keberadaan-Ku yang kekal. Dan Aku mengenalkan dirimu dengan kelemahan, ketidakmampuan, dan kefanaan.”
Maka Allah berfirman, “Sekarang engkau telah mengenal-Ku.”
واعلم أن من أمارات المعرفة بالله حصول الهيبة من الله فمن ازدادت معرفته ازدادت هيبته المعرفة توجب السكينة وقيل لأبي يعقوب السوسى هل يستأنس العارف بشيء غير الله تعالى فقال فقال وهل يرى غير الله فيستأنس به فقيل له فبأى عين ينظر إلى الأشياء قال بعين الفناء والزوال…..الخ.
Ketahuilah bahwa di antara tanda-tanda makrifat kepada Allah adalah munculnya rasa takut (haibah) kepada-Nya. Semakin dalam seseorang mengenal Allah, semakin besar rasa takutnya kepada-Nya.
Makrifat juga menumbuhkan ketenangan (sakinah).
Ketika Abu Ya’qub as-Susi ditanya, “Apakah seorang arif akan merasa tenang dengan sesuatu selain Allah?” Ia menjawab, “Apakah ia masih melihat selain Allah sehingga bisa merasa tenang dengannya?”
Lalu ia ditanya, “Dengan mata apa ia melihat segala sesuatu?”
Ia menjawab, “Dengan mata kefanaan dan kehancuran.”
الفرق بين المعرفة العقلية والمعرفة القلبية:
ومن الواضح أنّ هناك اختلافاً بين المعرفة العقلية والمعرفة القلبية، وهو نفس الاختلاف بين الإحساس والعلم، أو بين المعرفة الفردية والمعرفة العامة. ويمكننا هنا أن نشير إلى الفرق بين المعرفتين من خلال النقاط التالية:
أولاً: إنّ معرفة الله سبحانه عن طريق القلب هي شهود وحضور المعلوم عند العالم مباشرة،
أما معرفته عن طريق العقل فهي تحصيل وإدراك المعلوم بواسطة الحواس والصور الذهنية. فالعالم يعرف الله ولكنّ العارف يرى الله. كما ورد في الدعاء المروي عن الإمام زين العابدين عليه السلام: “… إلهي فاجعلنا من الذين ترسّخت أشجار الشّوق إليك في حدائق صدورهم وأخذت لوعة محبتك بمجامع قلوبهم فهم إلى أوكار الأفكار يأوون وفي رياض القرب والمكاشفة يرتعون ومن حياض المحبّة بكأس الملاطفة يكرعون وشرائع المصافاة يردون قد كشف الغطاء عن أبصارهم وانجلت ظلمة الرّيب عن عقائدهم من ضمائرهم وانتفت مُخالَجة الشّك عن قلوبهم وسرائرهم وانشرحت بتحقيق المعرفة صدورهم …” (2).
ثانياً: أحد الاختلافات الأخرى بين معرفة الله عن طريق العقل وعن طريق القلب التي تتفرع عن الفرق الأوّل هي أنّ معرفة الله عن طريق القلب إحساس فهي طريق فردي تماماً، ولا تقبل النقل للآخرين والتعليم والتعلم، على خلاف معرفة الله عن طريق العقل فهي ليست فردية وهي قابلة للتعليم والتعلم ويمكن نقلها للآخرين. إنّ معرفة الله عن طريق القلب لا يمكن إبرازها في قالب الاستدلال، وهي ليست أمراً قولياً بل هي أمر ذوقي، ونوع من التجربة الباطنية لا يمكن نقلها للآخرين، كما أنّ المبصر لا يستطيع أن يبين للأعمى اللون وإدراكه له ومعرفته به، وكما أنّ الإحساس بالجوع والعطش لا يقبل النقل للآخرين فكذلك الشخص الذي يستطيع أنْ يحسّ بالله عن طريق القلب لا يستطيع أن ينقل إحساسه إلى من كان بصر قلبه أعمى.
ثالثاً: ومن الاختلافات بين معرفة الله عن طريق القلب ومعرفة الله عن طريق العقل هي أنّ المعرفة القلبية توأم للعمل والالتزام والتقوى، ولكن المعرفة العقلية يمكن أن تكون مع التقوى ويمكن ألا تكون مع التقوى، بل يمكن أن تكون أحياناً مترافقة مع الكفر، كما يتضح ذلك من قوله سبحانه في القرآن الكريم في عدم إيمان قوم فرعون: {وَجَحَدُوا بِهَا وَاسْتَيْقَنَتْهَا أَنْفُسُهُمْ ظُلْمًا وَعُلُوًّا} [النمل: 14].
وعليه فيمكن أن يصدق العقل بالله سبحانه، ولكن اللسان ينكره، ويعمل الإنسان خلاف ما يعلم، إلّا أنّ الأمر الذي لا يمكن هو أن يؤمن القلب بالله ثم ينكر اللسان، فلا يمكن أن توجد المعرفة القلبية من دون أن يوجد الالتزام العملي، وقد أشار الإمام الباقر عليه السلام إلى هذا المعنى بقوله: “لا يُقبَل عمل إلا بمعرفة ولا معرفة إلا بعمل ومن عرف دَلَّتهُ معرفته على العمل ومن لم يعرف فلا عمل له” (3).
هذه المعرفة هي المعرفة القلبية التي هي توأم الالتزام والعمل، والتي لها الدور الأساسي في تكامل الإنسان وتساميه المعنوي والروحي.
مخاطر فصل المعرفة العقلية عن القلبية:
ومن الأمور الهامة التي يجب الالتفات إليها هو أن بعض العرفاء قد أفرط في هذا المجال واعتبر أن البرهان والدليل لا أثر له، وأن أرجل الاستدلاليين خشبية:
أرجل الاستدلاليين خشبية والأرجل الخشبية ليست قوية
ماَالعاَرِفُ مَن اذاَ اَشارَ وجدَ الحَق َّ اقرَبَ اليهِ مِنْ اِشارَتِهِ ، بلِ العارفُ مَن لاَ اِشارَة َ لهُ لِفَناءـهِ في وُجُوده وانطِواَءـهِ في شهوُدهِ والله أعلم بالصواب
Perbedaan antara ma’rifat Akal dan Pengetahuan Hati:
Jelas bahwa terdapat perbedaan antara ma’rifat akal dan ma’rifat hati. Ini serupa dengan perbedaan antara perasaan dan ilmu, atau antara pengetahuan individual dan pengetahuan umum. Perbedaan antara kedua jenis pengetahuan ini dapat dijelaskan melalui poin-poin berikut:
Pertama:
Mengetahui Allah melalui hati adalah bentuk penyaksian langsung dan kehadiran dari yang diketahui di hadapan orang yang mengetahui.
Sedangkan mengetahui Allah melalui akal adalah proses memperoleh dan memahami pengetahuan melalui panca indera dan gambaran mental.
Seorang ilmuwan mengenal Allah, tetapi seorang arif (yang memiliki ma’rifah) melihat Allah.
Sebagaimana disebutkan dalam doa yang diriwayatkan dari Imam Zainul Abidin:
“Ya Ilahi, jadikanlah kami termasuk orang-orang yang pohon kerinduannya kepada-Mu tertanam kuat di taman dada mereka, dan bara cinta-Mu telah membakar hati mereka. Mereka berlindung di sarang pemikiran, menikmati taman kedekatan dan penyaksian, meminum dari telaga kasih sayang-Mu dengan cawan kelembutan, dan mendatangi sumber ketulusan. Tabir telah tersingkap dari mata mereka, kegelapan keraguan telah lenyap dari keyakinan mereka, kebimbangan telah sirna dari hati dan batin mereka, serta dada mereka telah terbuka dengan keyakinan yang hakiki…”
Kedua:
Perbedaan lain antara mengenal Allah melalui akal dan melalui hati adalah bahwa pengetahuan hati bersifat perasaan dan sepenuhnya merupakan pengalaman individu, sehingga tidak bisa diajarkan atau ditransfer kepada orang lain.
Sebaliknya, pengetahuan Allah melalui akal bersifat umum, dapat diajarkan, dipelajari, dan ditransfer kepada orang lain.
Mengetahui Allah melalui hati tidak dapat diekspresikan dalam bentuk argumentasi, karena bukan sesuatu yang verbal, melainkan pengalaman batin yang tidak dapat disampaikan kepada orang lain.
Sebagaimana seorang yang bisa melihat tidak bisa menjelaskan warna kepada orang buta, dan sebagaimana rasa lapar serta haus tidak bisa ditransfer kepada orang lain, demikian pula seseorang yang merasakan Allah melalui hati tidak bisa menyampaikan perasaannya kepada mereka yang buta hati.
Ketiga:
Perbedaan lain antara mengenal Allah melalui hati dan melalui akal adalah bahwa pengetahuan hati selalu bersanding dengan amal, komitmen, dan ketakwaan.
Sedangkan pengetahuan akal bisa disertai ketakwaan, tetapi bisa juga tidak. Bahkan terkadang bisa beriringan dengan kekufuran, sebagaimana dijelaskan dalam firman Allah tentang kaum Fir’aun:
“Dan mereka mengingkarinya karena kezaliman dan kesombongan mereka, padahal hati mereka meyakininya.” (QS. An-Naml: 14)
Dengan demikian, akal bisa meyakini keberadaan Allah, tetapi lisan bisa mengingkarinya, dan seseorang bisa berbuat bertentangan dengan apa yang ia ketahui.
Namun, sesuatu yang mustahil adalah seseorang memiliki pengetahuan hati tentang Allah tetapi lisannya mengingkari.
Tidak mungkin ada pengetahuan hati tanpa diiringi dengan komitmen amal.
Sebagaimana Imam Al-Baqir berkata:
“Tidak diterima amal tanpa ma’rifah (pengetahuan), dan tidak ada ma’rifah tanpa amal. Barang siapa mengetahui, maka pengetahuannya akan membimbingnya kepada amal. Dan barang siapa tidak mengetahui, maka ia tidak memiliki amal.”
Pengetahuan hati ini selalu beriringan dengan amal dan komitmen, serta memiliki peran utama dalam menyempurnakan manusia dan meninggikannya secara spiritual dan moral.
Bahaya Memisahkan Pengetahuan Akal dari Pengetahuan Hati
Hal yang penting untuk diperhatikan adalah bahwa sebagian sufi telah berlebihan dalam hal ini dengan menganggap bahwa argumentasi dan dalil tidak memiliki pengaruh.
Mereka mengatakan:
“Kaki para pemikir hanyalah kayu, dan kaki kayu tidaklah kuat.”
“Seorang arif bukanlah yang ketika ia menunjuk, ia menemukan kebenaran lebih dekat daripada isyaratnya. Tetapi seorang arif adalah yang tidak memiliki isyarat, karena ia telah fana dalam keberadaan-Nya dan tenggelam dalam penyaksian-Nya.”
فتاوي النووي المسمى المسائل المنثورة ص ٢٨٩
حديث من عرف نفسه فقد عرف ربه..
٦ – (مسألة) في الحديث عن النبي صلى الله عليه وآله وسلم : « من عرف نفسه فقد عرف ربه، ومن عرف ربه كل لسانه » هل هذا الحديث ثابت أم لا وما معناه ؟ .
( الجواب )
ليس هو بثابت (٣) ؛ ولو ثبت كان معناه من عرف نفسه
. (٣) سئل ابن حجر رضي الله عنه عن حديث: من عرف نفسه عرف ربه» من رواه ؟ فأجاب بقوله : لا أصل له ، وإنما يُحكى من كلام يحيى بن معاذ الرازي الصوفي. ومعناه: من عرف نفسه بالعجز والإفتقار والتقصير والذلة والإنكسار عرف ربه بصفات الجلالة والجمالة على ما ينبغي لهما ، فأدام مراقبته حتى يفتح له باب» مشاهدته، فيكون من أخصائه الذين أفرغ عليهم سجال معرفته وألبسهم صوافي خلافته. أهـ. من فتاويه ص ٢٨٩
Fatwa An-Nawawi yang Berjudul “Al-Masa’il Al-Manthurah” Halaman 289
Hadis: “Barang siapa mengenal dirinya, maka ia telah mengenal Tuhannya.”
6 – (Masalah)
Ada sebuah hadis yang dinisbatkan kepada Nabi ﷺ:
“Barang siapa mengenal dirinya, maka ia telah mengenal Tuhannya. Dan barang siapa mengenal Tuhannya, maka lisannya akan diam.”
Apakah hadis ini sahih atau tidak? Dan apa maknanya?
(Jawaban): Hadis ini tidaklah sahih (¹). Jika pun hadis ini sahih, maka maknanya adalah: “Barang siapa mengenal dirinya…”
(¹) Ibnu Hajar ra. pernah ditanya mengenai hadis: “Barang siapa mengenal dirinya, maka ia telah mengenal Tuhannya.” Siapa yang meriwayatkannya?
Beliau menjawab: “Hadis ini tidak memiliki asal-usul.” Hadis ini hanya dinukil dari perkataan Yahya bin Mu’adz ar-Razi, seorang sufi.
Maknanya adalah: “Barang siapa mengenal dirinya sebagai makhluk yang lemah, fakir, penuh kekurangan, hina, dan rendah hati, maka ia akan mengenal Tuhannya dengan sifat keagungan dan keindahan-Nya sebagaimana yang layak bagi-Nya. Lalu, ia akan terus menjaga muraqabah (kesadaran akan pengawasan Allah) hingga terbuka baginya pintu musyahadah (penyaksian terhadap kebesaran Allah). Dengan demikian, ia akan menjadi salah satu dari orang-orang khusus yang telah Allah limpahi pengetahuan makrifat dan memakaikan mereka pakaian khilafah-Nya yang suci.”
Selesai. (Dikutip dari fatwa Ibnu Hajar, halaman 289).
Dan Allah lebih mengetahui yang benar.