logo mubaa
Logo Ittihad

DEWAN PIMPINAN PUSAT
IKATAN ALUMNI BATA-BATA

Kategori
Hukum

Menjual Tembakau Campuran

Menjual Tembakau Campuran

Assalamualaikum

Deskripsi masalah

Sebagian masyarakat melakukan pengoplosan tembakau dengan mencampurnya dengan berbagai bahan seperti gula, cengkeh, klembak, saus, kemenyan, atau bahkan tembakau jenis lain. Beberapa pihak beranggapan bahwa pengoplosan, termasuk penambahan gula halus untuk fermentasi, justru meningkatkan mutu dan bahkan kadar tar serta nikotin. Mereka juga berpendapat bahwa pencampuran berbagai bahan adalah keharusan untuk mendapatkan rasa dan kualitas rokok yang maksimal.
Namun, perlu dipahami bahwa tembakau yang sudah dicampur, baik dengan tembakau lain maupun bahan tambahan, dianggap tidak murni lagi. Praktik pengoplosan ini seringkali bertujuan untuk mendapatkan keuntungan lebih dengan memperbanyak volume tembakau yang dijual. Umumnya, pengoplosan dilakukan dengan mencampurkan tembakau berkualitas tinggi dengan tembakau berkualitas rendah. Meskipun hasil campurannya bisa terlihat seperti tembakau murni setelah proses yang tepat, praktik ini sebenarnya dapat menurunkan kualitas produk secara keseluruhan. Inilah gambaran umum praktik pengoplosan tembakau yang terjadi di sebagian masyarakat.

Pertanyaannya.

  1. Bagaimana proses jual beli tembakau campuran ini jika ditinjau dari kacamata agama ?.
  2. Sudahkah terpenuhi Rukun dan Syarat yang telah digariskan agama,?

Waalaikum salam.

Jawaban ditafsil

  • Tidak boleh ( haram) Jika tembakau masih mentah ( sebelum diproses rokok), sebab terkadang pada barang yang diperdagangkan tidak dapat diketahui ada cacat cacatnya ( karena termasuk majhul dan termasuk penipuan)
  • Boleh jika keduanya /penjual dan pembeli sama-mengetahui ( Pembeli diberi tahu oleh pemiliknya).

Dengan catatan kebolehan tersebut telah memenuhi syarat dan rukunnya transaksi

Berbeda dengan tembakau yang sudah diracek oleh para ahli karena itu sudah berubah nama menjadi rokok ( rokok tembakau) walaupun didalamnya sudah beranika ragam campuran ( racekan) maka dalam hal ini tidak ada musykil.

المكتبة الشاملة 

المجموع شرح المهذب  ج٩ص٧٠٦

المجموع شرح المهذب
فرع .قال أصحابنا لايجوز بيع اللبن والخل ونحوهما إذا كان مخلوطا بالماء لأن المقصود مجهول .

Tidak boleh menjual susu dan cuka ataupun seumpamanya keduanya jika kondisinya dicampur dengan air ( tidak murni) Alasannya karena majhul ( tidak diketahui).kenapa tidak diperbolehkan karena yang dimaksudkan adalah karena bercampurnya tidak diketahui dan termasuk penipuan.

Referensi:


إسعاد الرفيق. ج ١ ص ١٣٦ الهداية سورابيا

ويحرم بيع المعيب بلا إظهار لعيبه وقد يفسد به البيع قال فى النصائح واحذر كل الحذر من الغش والخداع وكتمان عيوب المبيع فإن ذلك محرم شديد التحريم وقد يفسد به البيع من أصله وقد مر عليه الصلاة والسلام برجل يبيع طعاما فأدخل يده فيه فمست بللا فقال ياصاحب الطعام ماهذا ؟ فقال أصابته السماء يعنى المطر فقال عليه الصلاة والسلام هلّا جعلته ظاهرا حتى يراه الناس ! من غشنا فليس منا ويجب على من علم أنّ به عيبا بيانه لمن يريد شرائه وهو لايعلم إن لم يخبره البائع


” Haram menjual barang yang cacat tanpa menampakkan cacatnya, dan terkadang akad jual beli menjadi tidak sah.Al-Habib Al-Haddad berkata dalam kitab Nasho’ih : Takutilah setakut-takutnya dari menipu memperdaya, dan menutupi cacat barang yang dijual .Karena itu adalah sangat diharamkan, dan terkadang jual beli tidak sah dari awal mula. Dan sesungguhnya Nabi SAW lewat bertemu dengan seorang laki-laki yang menjual makanan, kemudian Nabipun memasukkan tangan beliau kedalamnya, lantas tangan beliau menyentuh basah-basah .Lalu beliau pun berkata: Wahai pemilik makanan, apakah ini ? Dia pun menjawab; Telah terkena air hujan .Lalu Nabi SAW bersabda: Mengapa engkau tidak menampakkan ( menjadikan tampak) sehingga dapat dilihatnya oleh manusia..? Siapa yang menipu kami maka bukanlah termasuk golongan kami . ” Wajib bagi seseorang yang mengetahui bahwa suatu barang terdapat cacat untuk menjelaskannya kepada orang yang ingin membelinya, sementara ia tidak mengetahuinya jika penjual tidak memberi tahu padanya.

Adapun mafhum mukholafah dari dua ibarah diatas hukumnya boleh jika pembeli mengetahui atau sipemilik memberitahu (sudah maklum/diketahui).

  • Bughyatul Mustarsyidin karya Sayyid Ba ‘alawi Al-Hadlromiy halaman halaman 297 Maktabah Daar El-Fikr Beirut :

ويجوز خلط الطعام الرديء بالطعام الجيد إن كان ظاهراً يعلمه المشتري، وليس ذلك من الغشّ المحرم، وإن كان الأولى اجتنابه، إذ ضابط الغشّ أن يعلم ذو السلعة فيها شيئاً لو اطلع عليه مريدها لم يأخذها بذلك المقابل فيجب إعلامه حينئذ

“Boleh mencampur jenis makanan yang kualitasnya rendah dicampur dengan makanan yang kualitasnya lebih bagus dengan catatan barang tersebut jelas yang diketahui oleh pembeli, yang demikian ini tidak termasuk al-ghasy(menipu) yang diharamkan, ini diperbolehkan walaupun yang lebih baik adalah menjauhinya, karena definisi dari al-ghasy(menipu) adalah apabila pemilik barang mengetahui terhadap cacatnya barang dagangan , yang apabila seandainya orang yang hendak membeli itu tahu bahwa barang dagangan itu ada cacatnya,maka pembeli itu tidak akan membeli terhadap barang dagangan itu, maka dalam hal ini pemilik wajib memberitahukan terhadap cacatnya barang dagangannya”

  • Hasyiyah Al-Qulyubi II / 235 :

تَنْبِيهٌ: قَالَ فِي شَرْحِ الرَّوْضِ يَجِبُ عَلَيْهِ إعْلَامُ الْمُشْتَرِي بِالْعَيْبِ وَإِنْ لَمْ يَكُنْ الْعَيْبُ مُثْبِتًا لِلْخِيَارِ, وَقَالَ الْأَذْرَعِيُّ: وَقَضِيَّةُ كَلَامِهِمْ أَنَّهُ لَا بُدَّ مِنْ التَّعْيِينِ وَلَا يَكْفِي فِيهِ جَمِيعُ الْعُيُوبِ. ثُمَّ رَأَيْت فِي الْقُوتِ قَالَ الْإِمَامُ الضَّابِطُ فِيمَا يَحْرُمُ كِتْمَانُهُ أَنَّ مَنْ عَلِمَ شَيْئًا يُثْبِتُ الْخِيَارَ فَأَخْفَاهُ أَوْ سَعَى فِي تَدْلِيسٍ فِيهِ فَقَدْ فَعَلَ مُحَرَّمًا, وَإِنْ لَمْ يَكُنْ الشَّيْءُ مُثْبِتًا لِلْخِيَارِ فَتَرْكُ التَّعَرُّضِ لَهُ لَا يَكُونُ مِنْ التَّدْلِيسِ الْمُحَرَّمِ. ا ه

“Peringatan : Barkata Imam An-Nawawi dalam Kitab Ar-Raudhotut tholibin, “Wajib bagi penjual memberitahukan cacat atas barang dagangannya kepada pembeli, walaupun aib(cacat) ini bukan sesuatu yang bisa menyebabkan khiyar” , berkata Al-Adzro’iy , “Maksud dari perkataan ulama adalah wajib (bagi penjual) menjelaskan (keadaan barangnya), tidak cukup hanya dengan menjelaskan aib-aib(cacat-cacat)nya saja, kemudian aku melihat qoul yang tersebut dalam kitab Al-Quut, berkata Al-Imam: Definisi  dari aib(cacat )yang haram disembunyikan adalah barangsiapa mengetahui sesuatu aib(cacat) yang dapat menyebabkan khiyar lalu di menyembunyikannya atau dia melakukan apa yang dilarang dalam tadlis (menyembunyikan / menyamarkan aib barang dari pembeli) maka sungguh dia telah berbuat haram, namun apabila aib tersebut adalah bukan sesuatu yang menyebabkan khiyar, sedang dia tidak menjjelaskan aib itu, maka hal itu bukan termasuk tadlis yang diharamkan”.

…………………

Dari qoidah sabda Rosulullah:


(انما البيع عن تراض)


artinya:Sesungguhnya akad jual beli itu sah jika diantara penjual dan pembeli sudah saling ridho.
maka jika penjual tembakau dan pembeli tembakau itu sudah saling ridho mengenai tembakau yang dicampur dengan gula, maka akad jual belinya tembakau yang dicampur dengan gula itu hukumnya adalah sah.

Referensi:

المجموع شرح المهذب (٩/ ١٥٨)

قوله تَعَالَى (لا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ إِلا أَنْ تَكُونَ تِجَارَةً عَنْ تَرَاضٍ مِنْكُمْ) فدل على أنه إذا لم يكن عن تراض لم يحل الاكل وروي أَبُو سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ إنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ (انما البيع عن تراض) فدل على أنه لا بيع عن غير تراض ولانه قول أكره عليه بغير حق فلم يصح ككلمة الكفر إذا أكره عليها

Jangan kalian memakan harta di antaramu dengan suatu yang batil kecuali harta dagang yang dari saling ridho di antara kalian. Maka jelas menunjukkan apabila bukan dari saling ridho maka tidak halal memakan. Dan Abu Said alkhudry meriwayatkan bahwa nabi saw bersabda : “sesungguhnya jual-beli itu dari saling ridho”
maka menunjukkan bahwa tidak ada penjualan yang sah tanpa adanya saling ridho.

Tapi jika jika penjual tembakau dan pembeli tembakau itu tidak saling ridho mengenai tembakau yang dicampur dengan gula,dan jika pembeli tembakau itu tidak mengetahui bahwa tembakau yang dijual oleh penjual itu sudah dicampur dengan gula,maka akad jual belinya tembakau yang dicampur dengan gula itu hukumnya adalah tidak sah dan termasuk penipuan yang diharamkan oleh Rosulullah.

الفقه المنهجي على مذهب الإمام الشافعي (٦/ ١٦)وكذلك: فإن في هذا النوع من البيع غررا، لأنه على خطر الوجود وعدمه، ولما فيه من الجهالة، وقد نهى رسول الله – صلى الله عليه وسلم – عن بيع الغرر. (مسلم: البيوع، باب: بطلان بيع الحصاة والبيع الذي فيه غرر، رقم ١٥١٣).

Demikian penjelasan buat penanya yang mulia K.H.Moh.Mawardi tentang hukum menjual tembakau campuran. Wallahu A’lam bisshowab

Kategori
Uncategorized

MENJUAL BARANG KADALUARSA

MENJUAL BARANG KADALUARSA

Deskripsi Masalah :


Persaingan ekonomi semakin ketat, ini secara tidak langsung merupakan dampak dari pangsa pasar atau yang lebih dikenal dengan istilah market share merupakan bagian total permintaan terhadap sebuah produk oleh kelompok konsumen tertentu. Kelompok konsumen ini biasanya dibagi berdasarkan kategori tertentu, seperti usia, jenis kelamin, kelas ekonomi atau pendapatan, dan lain-lain. Namun demikian seorang pengusaha tidak bisa dengan mudahnya melakukan distribusi produksinya atau melakukan operasi pasar tanpa adanya suatu jaminan untuk produknya seperti status barang, apakah halal atau harom, masih layak dipakai (baca: konsumsi) ataukah sudah kadaluwarsa dan seterusnya, meski begitu pada realitasnya masih terdapat juga pedagang yang menjual barang yang sudah melewati masa layak pakai (kadaluwarsa) yang telah ditetapkan oleh pihak perusahaan seperti jamu yang tanggal penggunaannya sampai tanggal 10 Juni 2005 tapi pada bulan Agustus pun ternyata masih dijual kepada konsumen, dengan suatu alasan bahwa barang tersebut masih bisa dikonsumsi, konsekwensinya kedua orang yang bertransaksi saling menjustifikasi pendapat masing-masing, pihak pembeli mengatakan bahwa barang ini sudah kadaluwarsa dan tidak bisa dimanfaatkan, sementara si penjual menolak pendapatnya dengan mengatakan bahwa sekalipun barang ini sudah kadaluwarsa tapi masih dapat digunakan atau dikonsumsi.

Pertanyaan :

  1. Bolehkah menjual barang yang sudah melewati batas waktu penggunaannya tapi masih bisa dikonsumsi?
  2. Apakah penjual diperbolehkan mengklaim bahwa barangnya masih bisa dikonsumsi padahal secara defacto (kenyataannya) sudah melampaui batas maksimal yang telah ditetapkan?
  1. Siapakah yang dibenarkan pendapatnya ketika terjadi perselisihan antara penjual dan pembeli dalam masalah tersebut?

Jawaban : No.1
Menjual barang yang sudah kadaluarsa hukumnya ditafshil:

  • Bila barang itu sudah tidak bisa di manfaatkan lagi, maka penjualannya tidak sah
  • Bila barang itu masih bisa dimanfaatkan, maka jika hal itu tidak diberitahukan oleh penjual maka hukumnya haram dan jual belinya sah.

Jawaban. No 2

Klaim ( tuntutan pengakuan ) yang dilakukan oleh penjual di perbolehkan, selama tidak ada unsur كذب, تغرير, مبالغة ( berlebihan, menipu, bohong ) yang dilakukan dalam rangka menawarkan dagangan.

Jawaban. No.3

Dalam kaitan ini penjual bisa dibenarkan,kecuali bila pembeli mempunyai dasar-dasar penguat semisal:

–  Aib yang ada ternyata lebih parah
–  Didukung pendapat orang yang ahli (ahli Khubroh) maka pembeli bisa dibenarkan.

Referensi :

الأشباه والنظائر 227

الحادي عشر: اختلف المتبايعان في صفة هل هي عيب ؟ قال في التهذيب: يرجع إلى قول واحد من أهل الخبرة بأنه عيب يثبت به الردا

تنوير القلوب 248

الثاني أن يكون منتفعا به ولو مألا كجحش صغير إن ام يعد تفريقا بينه وبين أمه فلا يصح بيع ما لا منفعة فيه -إلى أن قال- ولا يصح بيع ما أسقط الشرع منفعته كآلة لهو محرم نحو طنبور ومزمار وقانوة وناي وعود وكتب كفر وفلسفة وتنجيم

أنوار المسالك 161

فصل من علم بالسلعة عيبا لزمه أن يبينه فإن لم يبين فقد غش والبيع صحيح فإذا أطلع المشتري على عيب كان عند البائع فله الرد

حاشية الجمل 3/26

وهل العبرة بالمتعاطي له حتى لو كان القدر الذي يتناوله لا يضره لاعتياده عليه ويضر غيره لم يحرم أو العبرة بغالب الناس فيحرم ذلك عليه وإن لم يضره فيه نظر والأقرب الثاني اهـ ع ش عليه

حاشية الجمل 3/92

(قوله والمعنى في تحريمه الإيذاء) تنبيه قال في العباب في باب الشهادات والصغيرة ككذا إلى أن قال وكالنجش والاحتكار والبيع والسوم والخطبة على بيع أو سوم أو خطبة غيره وبيع الحاضر للبادي وتلقي الركبان والتصرية وبيع معيب لم يذكر عيبه إلى آخر ما ذكر اهـ

المهذب 1 /397

فصل والعيب الذي يرد به المبيع ما يعده الناس عيبا فإن خفي منه شيئ رجع فيه إلى أهل الخبرة بذلك الجنس

حواشي الشرواني ج: 4 ص: 389

قال حج في الزواجر الكبيرة الثالثة والتسعون بعد المائة الغش في البيع وغيره كالتصرية ثم قال وضابط الغش المحرم أن يعلم ذو السلعة من نحو بائع أو مشتر فيها شيئا لو يتحقق عليه مريد أخذها ما أخذها بذلك المقابل فيجب عليه أن يعلمه به ليدخل في أخذه على بصيرة ويؤخذ من حديث وثلة وغيره ما صرح به أصحابنا أنه يجب أيضا على أجنبي علم بالسلعة عيبا أن يخبر به مريد أخذها وإن لم يسأله عنها كما يجب عليه إذا رأى إنسانا يخطب إمرأة بها أو به عيبا أو رأى إنسانا يريد أن يخالط آخر لمعاملة أو صداقة أو قراءة نحو علم وعلم بأحدهما عيبا أن يخبر به وإن لم يستشر به كل ذلك أداء للنصيحة المتأكد وجوبها لخاصة المسلمين وعامتهم انتهى اهـ ع ش عبارة المغني يجب على البائع أن يعلم المشتري بالعيب ولو حدث

بعد البيع وقبل القبض فإنه من ضمانه بل
البائع إذا علم بالعيب أن يبينه لمن يشتريه سواء أكان المشتري مسلما أم كافرا لأنه من باب النصح وكالعيب في ذلك كل ما يكون تدليسا اهـ

إسعاد الرفيق 1 / 137

ضابط الغش المحرم أن يعلم ذو سلعة من نحو بائع او مشتر فيها أشياء لو اطلع عليها ما يريد اخذها ما اخذها بذاك المقابل ويجب عليه أن يعلمه به ليدخل في اخذه على بصيرة ويجب على اجنبي علم أن السلعة عيبا أن يخبر به مريدا اخذها وان لم يسأله عنه كما يجب عليه إذا رأى انسانا يخطب امراة ويعلم بها او به عيبا او رأى انسانا يريد أن يخالط آخر لمعاملة او صدقة او قراءة نحو علم وعلم أن بأحدهما عيبا أن يخبر به وان لم يستتر فيه

إحياء علوم الدين 2 / 76

فكل ما يستضرّ به المعامل فهو ظلم وانما العدل ان لا يضروا لأخيه المسلم والضابط الكلي فيه أن لا يحبوا الا ما يحبوا لنفسه الى أن قال فأما تفسيره ففي أربعة امور أن لا يثني على السلعة بما ليس فيها وان لايكتم عيوبها وخفايا صفاتها شيئا اصلا وان لايكتم في وزنها ومقدارها شيئا وان لايكتم من سعرها مالو عرفه المعامل لامتنع عنه أما الأول فهو ترك الثناء وان وصفه للسلعة إن كان بما ليس فيها فهو كاذب فان قبل المشتري ذلك فهو تدليس وظلم مع كونه كاذبا اهـ

اعانة الطالبين ج: 3 ص: 26

ولا خيار للمشتري إن غبن فيه وإن واطأ البائع الناجش لتفريط المشتري حيث لم يتأمل ويسأل ومدح السلعة ليرغب فيها بالكذب كالنجش وشرط التحريم في الكل علم النهي حتى في النجش (قوله لتفريط المشتري) علة لعدم الخيار قوله بالكذب قال ع ش قضيته أنه لو كان صادقا في الوصف لم يكن مثله أي النجش وهو ظاهر اهـ (قوله وشرط التحريم في الكل) أي الاحتكار وما بعده وقوله علم النهي حتى في النجش أي لقول الشافعي  من نجش فهو عاص بالنجش إن كان عالما بنهي رسول الله  وفي النهاية لا أثر للجهل في حق من هو بين أظهر المسلمين بخصوص تحريم النجش ونحوه وقد أشار السبكي إلى أن من لم يعلم الحرمة لا إثم عليه عند الله وأما بالنسبة للحكم الظاهر للقضاة فما لا يحتاج إلى اعتراف متعاطيه بالعلم بخلاف الخفي وظاهره أنه لا إثم عليه عند الله وإن قصر في التعلم والظاهر مراد اهـ قوله ويصح البيع مع التحريم في هذه المواضع وهي الاحتكار وما ذكر بعده اهـ

الفقه الإسلامية 2/218

التدليس أو التغرير هو إغراء العاقد وخدعته ليقدم على العقد -إلى أن قال- وأما التدليس القولي فهو الكذب الصادر من أحد العاقدين أو ممن يعمل لحسابه حتى يحمل العاقد الآخر على التعاقد ولو بغبن كأن يقول البائع أو المؤجر للمشتري أو للمستأجر هذا الشيئ يساوي أكثر ولا مثل له في السوق أو دفع لي فيه سعر كذا فلم أقبل ونحو ذلك من المغيرات الكاذبة وأما التدليس بكتمان الحقيقة وهي الصورة المشهورة في الفقه باسم التدليس فهو إخفاء عين في أحد العوضين كأن يكتم البائع عيبا في المبيع كتصدع في جدران الدار وطلائها بادهان أو الجص وكسر في محرك السيارة ومرض في الدابة المبيعة أو يكتم المشتري عيبا في النقود كقون الورقة النقدية باطلة التعامل أو زائلة الرقم النقدي المسجل عليها

روضة الطالبين ج: 3 ص: 489

فرع لو زعم المشتري أن بالمبيع عيبا فأنكره البائع فالقول قوله ولو اختلفا في هل هو عيب فالقول قول البائع مع يمينه وهذا إذا لم يعرف الحال من غيرهما قال في التهذيب إن قال واحد من أهل المعرفة به إنه عيب ثبت الرد واعتبر في التتمة شهادة اثنين ولو ادعى البائع علم المشتري بالعيب أو تقصيره في الرد فالقول قول المشتري

التهذيب 3 / 458

لو اختلفا في صفة به هل هي عيب ام لا فإن قال واحد من اهل العلم به إنه عيب رده والا فالقول قول البائع إنه ليس بعيب والعيب الذي يرد به المبيع فسره الشافعية بما ينقص القيمة او العين نقصا يفوت به غرض صحيح

المجموع شرح المهذب الجزء الحادي عشر ص:548

قال المصنف رحمه الله تعالى (والعيب الذي يرد به المبيع ما يعده الناس عيبا فإن خفي منه شيء رجع فيه إلى أهل الخبرة بذلك الجنس) (الشرح) لما تقدمت أحكام العيب احتاج إلى تعريفه فعقد هذا الفصل لذلك وبيان ما هو عيب وما ليس بعيب ولما كانت الأمثلة لا تنحصر قدم عليها الضابط فيها وما ذكره من الضابط سديد فإن المدرك في ذلك العرف ولولا ذلك واقتضى العرف سلامة المبيع حتى جعل ذلك كالمشروط لما ثبت الرد فلذلك جعل ضابطه راجعا إلى العرف فما عده الناس وأهل العرف عيبا كان عيبا وما لا فلا ولكن الإحالة على العرف قد يقع فيها في بعض الأوقات إلباس فلأجل ذلك ضبطه غير المصنف بضابط أبين وأحسن شيء فيه ما أشار له الإمام رحمه الله ولخصه الرافعي أن يقال: ما ثبت الرد بكل ما في المعقود عليه من منقص القيمة أو العين نقصا ما يفوت به غرض صحيح بشرط أن يكون في أمثال ذلك المبيع عدمه وأخصر من ذلك أن يقال: ما نقص القيمة أو العين نقصانا يفوت به غرض صحيح ويغلب على أمثاله عدمه وبعضهم قال: ما نقص القيمة أو العين من الخلقة التامة قال الرافعي: فإنما اعتبرنا نقصان

العين بمسألة الخصي يعني فإنه يرد به وإن لم

ينقص القيمة لكنه نقص العين وإنما لم يكتف بنقص العين واشترط فوات غرض صحيح لأنه لو قطع من فخذه أو ساقه قطعة يسيرة لا تورث شيئا ولا يفوت غرض لا يثبت الرد قال: ولهذا قال صاحب التقريب: إن قطع من أذن الشاة ما يمنع التضحية ثبت الرد وإلا فلا وفيه احتراز أيضا عما إذا وجد العبد والجارية مختونين فإنه فات جزء من أصل الخلقة لكن فواته مقصود دون بقائه فلا رد به إذا كان قد اندمل ; إلى أن قال- قول المصنف رجع فيه إلى أهل الخبرة بذلك الجنس قال صاحب التهذيب: إن قال واحد من أهل العلم به: إنه عيب ثبت الرد به وكذلك يقتضيه كلام صاحب العدة واعتبر صاحب التتمة شهادة اثنين: ولو اختلفا في بعض الصفات هل هو عيب ؟ وليس هناك من يرجع إليه فالقول قول البائع مع يمينه

الفتاوى الكبرى 2 / 251

(وسئل) عمن اشترى شيئا فرأى به عيبا ورضي به ثم قال إنما رضيت لأني ظننته العيب الفلاني وقد بان خلافه فهل تقبل دعواه ؟ (فأجاب) بقوله إن أمكن الاشتباه وكان ما بان دون ما ظنه أو مثله فلا رد وإن كان أعلى منه فله الرد

إعانة الطالبين ج: 3 ص: 46

وإذا اختلف العاقدان فادعى أحدهما اشتمال العقد على مفسد من إخلال ركن أو شرط كأن ادعى أحدهما رؤيته وأنكرها الآخر حلف مدعي صحة العقد غالبا تقديما للظاهر من حال المكلف وهو اجتنابه للفاسد على أصل عدمها لتشوف الشارع إلى إمضاء العقود وقد يصدق مدعي الفساد كأن قال البائع لم أكن بالغا حين البيع وأنكر المشتري واحتمل ما قاله البائع صدق بيمينه لأن الأصل عدم البلوغ (قوله وقد يصدق مدعي الفساد إلخ) محترز قوله غالبا قوله كأن قال البائع لم أكن بالغا إلخ أي أو كنت مجنونا أو محجورا علي وعرف له ذلك ففي الجميع يصدق البائع (وقوله واحتمل ما قاله البائع) أي أمكن ما قاله البائع فإن لم يحتمل ما قاله كأن كان البيع من منذ خمسة أشهر وبلوغه من منذ سنة فلا يصدق بل يصدق المشتري

Wallahu A’lam bisshowab

Kategori
Uncategorized

HUKUMNYA ORANG TUA MEMBAGI HARTANYA KEPADA ANAK-ANAKNYA SECARA BAGI RATA ANTARA LAKI-LAKI DAN PEREMPUAN

HUKUMNYA ORANG TUA MEMBAGI HARTANYA KEPADA ANAK-ANAKNYA SECARA BAGI RATA ANTARA LAKI-LAKI DAN PEREMPUAN

Deskripsi masalah.
Dari sekian banyak anak seorang mahmud dan Ahmad membagi hartanya kepada anak-anaknya ketika keduanya masih hidup, itu semua dikarenakan hawatir ketika ia meninggal timbul percekcokan antara anak yang satu dengan yang lainnya namun demikian pembagian harta yang diberikan kepada anaknya itu disama ratakan Mahmud membagikan harta ia masih sehat sedangkan Ahmad membagi hartanya sedang sakit , menurut hukum warisan kalau anak laki-laki dan anak perempuan beda pembagiannya.

Pertanyaannya.
Bolehkan orang tua yang masih sehat atau dalam kondisi sakit (Keras) membagi hartanya kepada anaknya disama ratakan lalu disebut apakah dalam Islam pembagian tersebut?

Waalaikum salam.

JAWABAN :

Hukumnya boleh dan SAH, orang tua membagi hartanya dalam kondisi hidup dan sehat . Dalam Islam pemberian orang tua dalam kondisi sehat disebut HIBAH. Akan tetapi berbeda dengan pembagian harta manakala orang tua sakit parah, trus harta baru dibagi-bagi, kemudian orang tua wafat karena sakit itu. Maka ini tidak sah. Hukumnya hanya jadi wasiat, artinya jika diberikan pada non ahli waris maksimal hanya 1/3 harta. Jika pada ahli waris maka batal, tidak sah, maka harus tetap dibagi secara faroid.

قال الشافعي رحمه الله تعالى: ” كُلُّ مَرَضٍ كَانَ الْأَغْلَبُ فِيهِ أَنَّ الْمَوْتَ مَخُوفٌ عَلَيْهِ فَعَطِيَّتُهُ إِنْ مَاتَ فِي حُكْمِ الْوَصَايَا وَإِلَّا فَهُوَ كَالصَّحِيحِ “. قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ: اعْلَمْ أَنَّ مَا يُخْرِجُهُ الْإِنْسَانُ. [الماوردي، الحاوي الكبير، ٣١٩/٨]

Ibnu Qudamah dalam Al-Mughni, hlm. 6/317, menyatakan:

….عطيته في مرض موته لبعض ورثته لا تنفذ؛ لأن العطايا في مرض الموت بمنزلة الوصية، في أنها تعتبر من الثلث إذا كانت لأجنبي إجماعا، فكذلك لا تنفذ في حق الوارث. قال ابن المنذر: أجمع كل من أحفظ عنه من أهل العلم، أن حكم الهبات في المرض الذي يموت فيه الواهب، حكم الوصايا، هذا مذهب المديني، والشافعي، والكوفي

Artinya: Pemberian orang yang sakit parah (penyebab wafatnya) pada sebagian ahli waris hukumnya tidak sah. Karena hibah saat sakit parah itu sama dengan wasiat dari arti dianggap 1/3 (sepertiga) apabila dihibahkan (diwasiatkan) pada selain ahli waris dan tidak sah apabila diberikan pada ahli waris. Ibnu Mundzir berkata: Ulama’ sepakat bahwa hukum hibah pada saat sakit yang menyebabkan kematian penghibah itu hukumnya sama dengan wasiat , ini madzhab ulama Madinah, Imam Syafi’i dan Kufah.

Jika orang tua masih waras bedigas maka mustahab(disunnatkan) memberikan pemberian yang sama bagi anak-anaknya

الموسوعة الفقهية الكويتية ج ٣٢ ص ٩٨

التَّسْوِيَةُ بَيْنَ عَطَايَا الأَْبِ لأَِبْنَائِهِ:

٤ – ذَهَبَ الْجُمْهُورُ إِلَى اسْتِحْبَابِ التَّسْوِيَةِ فِي عَطَايَا الأَْبِ لأَِوْلاَدِهِ، وَعِنْدَ الْحَنَفِيَّةِ وَالْحَنَابِلَةِ – وَهُوَ رِوَايَةٌ عَنْ مَالِكٍ – يُبَاحُ التَّفْضِيل عِنْدَ قِيَامِ الْحَاجَةِ إِلَيْهِ، كَكَثْرَةِ الْعِيَال أَوْ الاِشْتِغَال بِالْعِلْمِ وَنَحْوِهَا (٢) .

Jadi ada 3 keadaan pemberian orang tua pada anak dalam hal ini, yaitu:

  1. Hibah tatkala orang tua sehat
  2. Dianggap wasiat tatkala orang tua sedang sakit yang jadi lantaran wafat.
  3. Tatkala orang tua wafat maka jadi harta tirkah(harta tinggalan mayyit). Setelah dikurangi hutang orang tua,wasiat dan biaya pengurusan jenazah, barulah jadi harta al-irts(harta waris) yang siap dibagi untuk ahli waris.

No 2 dan no 3 : wajib dibagi secara faroid.

Jika sudah dibagi secara faroid, kemudian pihak anak laki-laki memberikan bagiannya pada saudarinya agar sama rata maka itu sah.

Berpatut ( bagi rata) hukumnya boleh asal sama senang dan diberitahu bagian masing masing.

Wallohu a’lam.

Referensi :

يقول تعالى مخبراً ومشرعاً من حال الزوجين تارة في حال نفور الرجل عن المرأة، وتارة في حال اتفاقه معها، وتارة في حال فراقه لها، فالحالة الأولى: ما إذا خافت المرأة من زوجها أن ينفر عنها أو يعرض عنها، فلها أن تسقط عنه حقها أو بعضه من نفقة أو كسوة أو مبيت أو غير ذلك من حقوقها عليه، وله أن يقبل ذلك منها فلا حرج عليها في بذلها ذلك له، ولا عليه في قبوله منها، ولهذا قال تعالى: { فلا جناح عليهما أن يصلحا بينهما صلحاً} ثم قال: { والصلح خير} أي من الفراق، وقوله: { وأحضرت الأنفس الشح} أي الصلح عند المشاحة خير من الفراق، ولهذا لما كبرت سودة بنت زمعة عزم رسول اللّه صلى اللّه عليه وسلم على فراقها، فصالحته على أن يمسكها وتترك يومها لعائشة، فقبل ذلك منها وأبقاها على ذلك (ذكر الرواية بذلك): عن عكرمة عن ابن عباس قال: خشيت سودة أن يطلقها رسول اللّه صلى اللّه عليه وسلم فقالت يا رسول اللّه: لا تطلقني واجعل يومي لعائشة، ففعل ونزلت هذه الآية: { وإن امرأة خافت من بعلها نشوزاً أو إعراضاً فلا جناح عليها} الآية. قال ابن عباس: فما اصطلحا عليه من شيء فهو جائز “”أخرجه الطيالسي والترمذي

حاشية الجمل الجزء 3 صحـ : 219 مكتبة دار الفكر

( وَكُرِهَ ) لِمُعْطٍ ( تَفْضِيلٌ فِي عَطِيَّةِ بَعْضِهِ ) مِنْ فَرْعٍ أَوْ أَصْلٍ وَإِنْ بَعُدَ سَوَاءٌ الذَّكَرُ وَغَيْرُهُ لِئَلاَّ يُفْضِيَ ذَلِكَ إلَى الْعُقُوقِ وَالشَّحْنَاءِ وَلِلنَّهْيِ عَنْهُ وَالأَمْرِ بِتَرْكِهِ فِي الْفَرْعِ كَمَا فِي الصَّحِيحَيْنِ قَالَ فِي الرَّوْضَةِ قَالَ الدَّارِمِيُّ فَإِنْ فَضَلَ فِي الأَصْلِ فَلْيَفْضُلْ الأُمَّ وَمَحَلُّ كَرَاهَةِ التَّفْضِيلِ عِنْدَ الاسْتِوَاءِ فِي الْحَاجَةِ أَوْ عَدَمِهَا كَمَا قَالَهُ ابْنُ الرِّفْعَةِ وَالتَّصْرِيحُ بِذِكْرِ الْكَرَاهَةِ مَعَ إفَادَةِ حُكْمِ التَّفْضِيلِ فِي الأَصْلِ مِنْ زِيَادَتِي اهـ

بغية المسترشدين

(مسألة: ب): لا تجب التسوية في عطية الأولاد، سواء كانت هبة أو صدقة أو هدية أو وقفاً أو تبرعاً آخر، نعم يسن العدل كما يسن في عطية الأصول، بل يكره التفضيل، وقال جمع: يحرم سواء الذكر وغيره ولو في الأحفاد مع وجود الأولاد إلا لتفاوت حاجة أو فضل فلا كراهة، فإن كان ذلك وصية فلا بد من إجازة بقيتهم.

حاشية البجيرمي على المنهج

( وكره ) لمعط ( تفضيل في عطية بعضه ) من فرع أو أصل وإن بعد سواء الذكر وغيره لئلا يفضي ذلك إلى العقوق والشحناء وللنهي عنه والأمر بتركه في الفراغ كما في الصحيحين قال في الروضة : قال الدارمي : فإن فضل في الأصل فليفضل الأم ، ومحل كراهة التفضيل عند الاستواء في الحاجة أو عدمها كما قاله ابن الرفعة والتصريح بذكر الكراهة مع إفادة حكم التفضيل في الأصل من زيادتي

فتح الوهاب

(وكره) لمعط (تفضيل في عطية بعضه) من فرع أو أصل وإن بعد سواء الذكر وغيره لئلا يفضي ذلك إلى العقوق والشحناء وللنهي عنه والامر بتركه في الفرع كما في الصحيحين، قال في الروضة: قال الدارمي: فإن فضل الاصل فليفضل الام، ومحل كراهة التفضيل عند الاستواء في الحاجة أو عدمها كما قاله ابن الرفعة، والتصريح بذكر الكراهة مع إفادة حكم التفضيل في الاصل من زيادتي.

تحفة المحتاج

( ويسن للوالد ) أي : الأصل وإن علا ( العدل في عطية أولاده ) أي : فروعه وإن سفلوا ولو الأحفاد مع وجود الأولاد على الأوجه وفاقا لغير واحد وخلافا لمن خصص الأولاد سواء أكانت تلك العطية هبة أم هدية أم صدقة أم وقفا أم تبرعا آخر فإن لم يعدل لغير عذر كره عند أكثر العلماء وقال جمع يحرم ، والأصل في ذلك خبر البخاري { اتقوا الله واعدلوا بين أولادكم } وخبر أحمد أنه صلى الله عليه وسلم { قال لمن أراد أن يشهده على عطية لبعض أولاده لا تشهدني على جور لبنيك عليك من الحق أن تعدل بينهم } .

وفي رواية لمسلم { أشهد على هذا غيري ، ثم قال أيسرك أن يكونوا لك في البر سواء قال بلى قال فلا } إذن فأمره بإشهاد غيره صريح في الجواز وأن تسميته جورا باعتبار ما فيه من عدم العدل المطلوب فإن فضل البعض أعطى الآخرين ما يحصل به العدل وإلا رجع ندبا للأمر به في رواية نعم الأوجه أنه لو علم من المحروم الرضا وظن عقوق غيره لفقره ورقة دينه لم يسن الرجوع ولم يكره التفضيل كما لو أحرم فاسقا لئلا يصرفه في معصية ، أو عاقا ، أو زاد أو آثر الأحوج ، أو المتميز بنحو فضل كما فعله الصديق مع عائشة رضي الله تعالى عنهما ، والأوجه أن تخصيص بعضهم بالرجوع في هبته كهو بالهبة فيما مر وأفهم قوله كغيره عطية أنه لا يطلب منه التسوية في غيرها كالتودد بالكلام وغيره .

لكن وقع في بعض نسخ الدميري لا خلاف أن التسوية بينهم مطلوبة حتى في القيل أي للمميزين وله وجه إذ كثيرا ما يترتب على التفاوت في ذلك ما مر في الإعطاء ومن ثم ينبغي أن يأتي هنا أيضا استثناء التمييز لعذر ويسن للولد أيضا العدل في عطية أصوله فإن فضل كره خلافا لبعضهم نعم في الروضة عن الدارمي فإن فضل فالأولى أن يفضل الأم وأقره لما في الحديث أن لها ثلثي البر وقضيته عدم الكراهة إذ لا يقال في بعض جزئيات المكروه إنه أولى من بعض بل في شرح مسلم عن المحاسبي الإجماع على تفضيلها في البر على الأب وإنما فضل عليها في الإرث لما يأتي أن ملحظه العصوبة ، والعاصب أقوى من غيره ، وما هنا ملحظه الرحم وهي فيه أقوى ؛ لأنها أحوج وبهذا فارق ما مر أنه يقدم عليها في الفطرة ؛ لأن ملحظها الشرف كما مر ويسن على الأوجه العدل بين نحو الإخوة أيضا لكنها دون طلبها في الأولاد وروى البيهقي خبر { حق كبير الإخوة على صغيرهم كحق الوالد على ولده } وفي رواية { الأكبر من الإخوة بمنزلة الأب } وإنما يحصل العدل بين من ذكر ( بأن يسوي بين الذكر ، والأنثى ) لرواية ظاهرة في ذلك في الخبر السابق ولخبر ضعيف متصل وقيل الصحيح إرساله { سووا بين أولادكم في العطية ولو كنت مفضلا أحدا لفضلت النساء وفي نسخة البنات } ( وقيل كقسمة الإرث ) وفرق الأول بأن ملخص هذا العصوبة وهي مختلفة مع عدم تهمة فيه وملحظ ذاك الرحم وهما فيه سواء مع التهمة فيه وعلى هذا ، وما مر في إعطاء أولاد الأولاد مع الأولاد تتصور التسوية بأن يفرض الأسفلون في درجة الأعلين نظير ما يأتي في ميراث الأرحام على قول

Wallohu A’lam bisshowab

Kategori
Uncategorized

HUKUM MELANTUNKAN TARHIM SEBELUM SUBUH


Assalaamualaikum.
Deskripsi masalah.
Ketika tiba bulan Ramadhan terkadang disebagian daerah sudah lumrah membacakan tarhim itu semua untuk mengingatkan waktu sahur atau hampirnya waktu subuh .

Pertanyaannya.
Bagaimana hukumnya tarhim sebelum subuh baik dibulan ramadhan ataupun selain bulan Ramadhan.?
 
Jawab :
 
Wa alaikumus salaam.

Jawaban:

Tarkhim sebelum subuh hukumnya boleh baik dibulan ramadhan atau selain bulan Ramadhan, dengan beberapa catatan :

  • Ada unsur mengingatkan untuk beribadah (التنبيه في العبادة) seperti yang terjadi pada bulan Ramadhan.
  • Tidak berdampak negatif secara syari’at, semisal mengganggu kenyamanan orang yang sedang tidur dll.
  • Digunakan sesuai dengan kebutuhan.
     
    Referensi : Al-Fiqh Alal Madzahib Al Arba’ah Juz: 1 / Hal: 326, Fatawi Al Imam An-Nawawi Hal: 31, Bughyatul Mustarsyidin Juz: 1 / Hal: 66, Al Fiqh Al Islami Wa Adillatihi Juz: 4 / Hal: 394

وفي الفقه على المذاهب الأربعة – (ج 1 / ص 326) ما نصه :
أما التسابيح والاستغاثات بالليل قبل الأذان فمنهم من قال : إنها لا تجوز لأن فيها إيذاء للنائمين الذين لم يكلفهم الله ومنهم من قال : إنها تجوز لما فيه من التنبيه فهي وإن لم تكن عليها ضرر شرعي والأولى تركها إلا إذا كان الغرض منها إيقاظ الناس في رمضان لأن في ذلك منفعة لهم.
 
وفي فتاوى الامام النووي (ص 31) ما نصه :
(مسألة) جماعة يقرؤن القرآن في الجامع يوم الجمعة جهراً وينتفع بسماع قراءتهم ناس ويشوّشون على بعض الناس هل قرأتهم افضل
ام لا ؟ إن كانت المصلحة فيها وانتفاع الناس بها أكثر من المفسدة المذكورة فالقراءة أفضل وإن كانت المفسدة أكثر كرهت.
 
وفي بغية المسترشدين (ج 1 / ص 66) ما نصه :
(مسألة ك) لا يكره في المسجد الجهر بالذكر بأنواعه ومنه قراءة القرآن إلا إن شوس على مصل أو آذى نائما بل إن كثر التأذي حرم فيمنع منه حينئذ كما لو جلس بعد الأذان بذكر الله تعالى وكل من أتى للصلاة جلس معه وشوس على المصلين فإن لم يكن ثم تشويس أبيح بل لنحو تعليم إن لم يخف رياء.
 
& وفي الفقه الإسلامي وأدلته – (ج 4 / ص 394) ما نصه :
القاعدة الرابعة ـ الاستعمال غير المعتاد وترتب ضرر للغير: إذا استعمل الإنسان حقه على نحو غير معتاد في عرف الناس، ثم ترتب عليه ضرر للغير، كان متعسفاً، كرفع صوت المذياع المزعج للجيران والتأذي به، واستئجار دار، ثم ترك الماء في جدرانها وقتاً طويلاً، أو استئجار سيارة ثم يحملها أكثر من حمولتها، أودابة ثم يضربها ضرباً قاسياً أو يحملها ما لا تطيق، ففي كل ذلك يعتبر متعسفاً، فيمنع من تعسفه، ويعوض المتضرر عما أصابه من ضرر. كذلك يمنع من استعمال حقه، إذا استعمل حقه استعمالاً غير معتاد، ولم يترتب عليه ضرر ظاهر؛ لأن الاستعمال على هذا النحو لا يخلو من ضرر، وعدم ظهور الضرر لا يمنع من وجوده في الواقع، وإن كان يمنع من الحكم عليه بالتعويض لعدم وضوح الضرر، فإن كان الاستعمال معتاداً مألوفاً، ووقع الضرر فلا يعد تعسفاً، ولا يترتب على ذلك ضمان.

Dalil tarhim ada kitab fathul bary ibnu rojab (4/235) :


 
وخرج الترمذي من حديث عبد الله بن محمد بن عقيل، عن الطفيل بن أبي بن كعب، عن أبيه، ان النبي – صلى الله عليه وسلم – كان إذا ذهب ثلثا الليل قام، فقال: ((يأيها الناس، اذكروا الله، جاءت الراجفة تتبعها الرادفة، جاء الموت بما فيه، جاء الموت بما فيه)).وقال: حديث حسن.
وفيه دلالة على ان الذكر والتسبيح جهرا في آخر الليل لا بأس به؛ لايقاظ النوام.وقد انكره طائفة من العلماء، وقال: هو بدعة، منهم: ابو الفرج ابن الجوزي. وفيما ذكرناه دليل على انه ليس ببدعة

 
Nabi shollallohu alaihi wasallam dulu ketika telah lewat dua pertiga malam beliau bangun dan bersabda : “Wahai, sekalian manusia, berdzikirlah kepada Allah, Pasti datang tiupan sangkakala pertama yang diikuti dengan yang kedua, datang kematian dengan kengeriannya, datang kematian dengan kengeriannya”. Hadis hasan riwayat imam turmudzi.
 
Dalam hadis ini terdapat dalil bahwa dzikir dan tasbih secara jahr di akhir malam itu tidak masalah, tujuannya untuk membangunkan orang yang tidur. Sebagian ulama’ mengingkarinya dan menganggap bid’ah, misalnya ibnul jauzy, sedangkan hadis yang kami sebutkan menunjukkan bahwa itu bukanlah bid’ah. Wallohu a’lam bisshowab

Kategori
Uncategorized

CARA SHOF(BARISAN) YANG BENAR DALAM MENSHOLATKAN MAYYIT


Pertanyaan:

Deskripsi masalah

Ketika saya melihat orang -orang mensholatkan mayyit ada yang satu shof ada yang dua shof bahkan ada yang lebih.
Pertanyaannya Wahai Kiyai.

Bagaimana sebenarnya shof (barisan ) mennsholatkan mayyit apa seperti sholat berjamaah atau berbeda..?

Wa alaikumussalam.

Jawaban:

“Disunnahkan, jika jamaah shalat jenazah enam orang atau lebih, menjadikan shaf mereka hingga tiga shaf atau lebih”. Ini berdasarkan hadis shahih:
“Barangsiapa shalat atas jenazah tiga shaf, maka dia diampuni”.Maksudnya adalah dilarang kurang dari tiga shaf, sedangkan melebihi dari tiga shaf tidak dilarang.

Dijelaskan dalam kitab Asnal Matholib sunnah dijadikan tiga shof bahkan lebih dari tiga shof dalam sholat jenazah itu adalah lebih utama.

Referensi

أسنى المطالب على شرح روضة الطالب. ص٣٢٣

وَلَا تُكْرَهُ) الصَّلَاةُ عَلَيْهِ (فِي الْمَسْجِدِ بَلْ هِيَ) فِيهِ (أَفْضَلُ) مِنْهَا فِي غَيْرِهِ «؛ لِأَنَّهُ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – صَلَّى فِيهِ عَلَى ابْنِي بَيْضَاءَ سُهَيْلٍ وَأَخِيهِ» رَوَاهُ مُسْلِمٌ؛ وَلِأَنَّ الْمَسْجِد أَشْرَفُ مِنْ غَيْرِهِ، وَأَمَّا خَبَرُ «مَنْ صَلَّى عَلَى جِنَازَةٍ فِي الْمَسْجِدِ فَلَا شَيْءَ لَهُ» فَضَعِيفٌ وَاَلَّذِي فِي الْأُصُولِ الْمُعْتَمَدَةِ فَلَا شَيْءَ عَلَيْهِ وَلَوْ صَحَّ وَجَبَ حَمْلُهُ عَلَى هَذَا جَمْعًا بَيْنَ الرِّوَايَاتِ وَقَدْ جَاءَ مِثْلُهُ فِي الْقُرْآنِ كَقَوْلِهِ، {وَإِنْ أَسَأْتُمْ فَلَهَا} [الإسراء: ٧] أَوْ عَلَى نُقْصَانِ الْأَجْرِ؛ لِأَنَّ الْمُصَلَّى عَلَيْهَا فِي الْمَسْجِدِ يَنْصَرِفُ عَنْهَا غَالِبًا وَمَنْ يُصَلَّى عَلَيْهَا فِي الصَّحْرَاءِ يُحْضَرُ دَفْنُهَا غَالِبًا فَيَكُونُ التَّقْدِيرُ فَلَا أَجْرَ كَامِلَ لَهُ كَقَوْلِهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – «لَا صَلَاةَ بِحَضْرَةِ طَعَامٍ» (وَيُسْتَحَبُّ) فِي الصَّلَاةِ عَلَيْهِ (ثَلَاثَةُ صُفُوفٍ فَأَكْثَرُ) لِخَبَرِ مَالِكِ بْنِ هُبَيْرَةَ السَّابِقِ قَالَ الزَّرْكَشِيُّ قَالَ بَعْضُهُمْ وَالثَّلَاثَةُ بِمَنْزِلَةِ الصَّفِّ الْوَاحِدِ فِي الْأَفْضَلِيَّةِ، وَإِنَّمَا لَمْ يُجْعَلْ الْأَوَّلُ أَفْضَلَ مُحَافَظَةً عَلَى مَقْصُودِ الشَّارِعِ مِنْ الثَّلَاثَةِ (فَلَوْ) الْأَوْلَى وَلَوْ (صَلَّى) الْإِمَامُ (عَلَى حَاضِرٍ وَالْمَأْمُومُ عَلَى غَائِبٍ أَوْ عَكْسُهُ أَوْ) صَلَّى إنْسَانٌ (عَلَى حَاضِرٍ وَغَائِبٍ جَازَ) ؛ لِأَنَّ اخْتِلَافَ النِّيَّةِ فِي ذَلِكَ لَا يَضُرُّ وَالْأَخِيرُ مِنْ زِيَادَتِهِ وَأَفْهَمَ كَلَامُهُ بِالْأَوْلَى جَوَازَ اخْتِلَافِهِمَا فِي الْمُصَلَّى عَلَيْهِ مَعَ الِاتِّفَاقِ فِي الْحَضْرَةِ وَالْغَيْبَةِ (وَإِنْ حَضَرَتْ الْجِنَازَةُ لَمْ يُنْتَظَرْ) أَحَدٌ لِخَبَرِ «أَسْرِعُوا بِالْجِنَازَةِ» (إلَّا الْوَلِيَّ) قَالَ فِي الرَّوْضَةِ فَلَا بَأْسَ بِانْتِظَارِهِ أَيْ عَنْ قُرْبٍ (مَا لَمْ يُخَفْ تَغَيُّرٌ) لِلْمَيِّتِ وَاسْتَثْنَى مَعَ ذَلِكَ الزَّرْكَشِيُّ وَغَيْرُهُ مَا إذَا كَانُوا دُونَ أَرْبَعِينَ فَيُنْتَظَرُ تَكْمِلَتُهُمْ عَنْ قُرْبٍ؛ لِأَنَّ هَذَا الْعَدَدَ مَطْلُوبٌ فِيهَا قَالَ، وَهَذَا كَمَا أَنَّ الْجَمَاعَةَ لَا تُؤَخَّرُ عَنْ أَوَّلِ الْوَقْتِ إذَا حَضَرَتْ وَتُؤَخَّرُ إنْ لَمْ تَحْضُرْ وَفِي مُسْلِمٍ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّهُ كَانَ يُؤَخِّرُ لِلْأَرْبَعَيْنِ

ــ

Di sisi lain, terdapat sebuah hadits sahih yang menerangkan bahwa Nabi pernah mengimami sholat janazah untuk putra Abu Thalhah yang bernama Umair dengan jamaah kurang dari 3 shaf. Sholat yang dipimpin oleh Nabi hanya terdiri dari dua orang makmum, yaitu Abu Thalhah dan istrinya Ummmu Sulaim. Hadits tersebut adalah:


عن إسحاق بن عبد الله بن أبى طلحة عن أبيه: أن أبا طلحة دعا رسول الله صلى الله عليه وسلم إلى عمير بن أبى طلحة حين توفى فأتاه رسول الله صلى الله عليه وسلم فصلى عليه فى منزلهم فتقدم رسول الله صلى الله عليه وسلم وكان أبو طلحة وراءه وَأُمُّ سُلَيْمٍ وَرَاءَ أَبِى طَلْحَةَ وَلَمْ يَكُنْ مَعَهُمْ غَيْرُهُمُ (رواه الطحاوى و الطبرانى وحبيك الحبيك الحبيك الحب


Artinya : “Diriwayatkan d ari Ishaq ibn Abdullah ibn Abu Thalhah dari ayahnya: bahwasanya Abu Thalhah pernah meminta maaf kepada Rasulullah (untuk mensholati janazah) Umair ibn Abu Thalhah ketika ia wafat. Rasulullah mendatangi janazah Umair dan mensholatinya di rumah mereka. Rasulullah maju (berada di posisi imam). Abu Thalhah di belakang beliau. Ummu Sulaim di belakang Abu Thalhah. Tidak ada jamaah selain mereka.”
Hadits ini ditakhij oleh al-Thahawi (w. 321 H) dalam Syarh Ma’anil Astar , al-Tabrani (w. 360 H) dalam al-Mu’jam al-Kabir , al-Hakim (w. 405 H) dalam al -Mustadrak dan al-Baihaqi (w. 458 H) dalam Sunan al-Baihaqi ).

Perhatikankah juga dua hadits Nabi yang sahih berikut ini:


عن ابن عباس قال: فإنى سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول: ما من رجل مسلم يموت فيقوم على جنازته أربعون رجلا لا يشركون بالله شيئا إلا شفعهم الله فيه (رواه مسلم).


Artinya : “Diriwayatkan dari Ibnu Abbas, ia mengatakan: sebenarnya aku pernah mendengar Rasulullah bersabda: kapan seorang muslim meninggal dunia, lalu empat puluh orang berdiri mensholati janazahnya, mereka tidak menyekutukan sesuatu dengan Allah, melainkan Allah memberikan syafaat melalui mereka pada orang yang meninggal tersebut ” (HR. Muslim)

عن عائشة عن النبى صلى الله عليه وسلم قال: ما من ميت يصلى عليه أمة من المسلمين يبلغون مائة كلهم يشفعون له إلا شفعوا فيه (رواه مسلم).


Artinya : “Diriwayatkan dari Aisyah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam . Beliau bersabda: seorang Muslim meninggal dunia, lalu sekumpulan orang mensholatinya, jumlah mereka mencapai seratus orang, mereka mendoakan orang yang meninggal tersebut, melainkan (Allah akan) memberikan syafaat melalui mereka pada orang yang meninggal tersebut ” ( HR. Muslim).

Referensi :

  • Al Mustadrok :

ويقول إن رسول الله صلى الله عليه وآله وسلم قال : ” ما صف صفوف ثلاثة من المسلمين على جنازة إلا أوجبته

Sabda kanjeng Nabi SAW : Tidaklah berbaris tiga baris dari muslimin atas jenazah kecuali ia diampuni. Maksudnya keutamaan shof yang terdiri dari tiga baris adalah diampuninya dosa jenazah.

  • Tuhfatul Muhtaj 11/360 :

( وَيُسَنُّ ) حَيْثُ كَانُوا سِتَّةً فَأَكْثَرَ ( جَعْلُ صُفُوفِهِمْ ثَلَاثَةً فَأَكْثَرَ ) لِلْخَبَرِ الصَّحِيحِ { مَنْ صَلَّى عَلَيْهِ ثَلَاثَةُ صُفُوفٍ فَقَدْ أَوْجَبَ أَيْ غُفِرَ لَهُ } كَمَا فِي رِوَايَةٍ وَالْمَقْصُودُ مَنْعُ النَّقْصِ عَنْ الثَّلَاثَةِ لَا الزِّيَادَةِ عَلَيْهَا وَمِنْ ثَمَّ قَالَ فَأَكْثَرَ

  • Al-Muhadzab :

 ﻭﻓﻲ ﺃﺩﻧﻰ ﻣﺎ ﻳﻜﻔﻲ ﻗﻮﻻﻥ : ﺃﺣﺪﻫﻤﺎ ﺛﻼﺛﺔ ﻷﻥ ﻗﻮﻟﻪ ﺻﻠﻮﺍ ﺧﻄﺎﺏ ﺟﻤﻊ ﻭﺃﻗﻞ ﺍﻟﺠﻤﻊ ﺛﻼﺛﺔ ﻭﺍﻟﺜﺎﻧﻲ ﻳﻜﻔﻲ ﺃﻥ ﻳﺼﻠﻲ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺍﺣﺪ ﻷﻧﻬﺎ ﺻﻼﺓ ﻟﻴﺲ ﻣﻦ ﺷﺮﻃﻬﺎ ﺍﻟﺠﻤﺎﻋﺔ ﻓﻠﻢ ﻳﻜﻦ ﻣﻦ ﺷﺮﻃﻬﺎ ﺍﻟﻌﺪﺩ ﻛﺴﺎﺋﺮ ﺍﻟﺼﻠﻮﺍﺕ ﻭﻳﺠﻮﺯ ﻓﻌﻠﻬﺎ ﻓﻲ ﺟﻤﻴﻊ ﺍﻷﻭﻗﺎﺕ ﻷﻧﻬﺎ ﺻﻼﺓ ﻟﻬﺎ ﺳﺒﺐ ﻓﺠﺎﺯ ﻓﻌﻠﻬﺎ ﻓﻲ ﻛﻞ ﻭﻗﺖ ﻭﻳﺠﻮﺯ ﻓﻌﻠﻬﺎ ﻓﻲ ﺍﻟﻤﺴﺠﺪ ﻭﻏﻴﺮﻩ ﻟﻤﺎ ﺭﻭﺕ ﻋﺎﺋﺸﺔ ﺭﺿﻲ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻨﻬﺎ ﺃﻥ ﺍﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭ ﺳﻠﻢ ﺻﻠﻰ ﻋﻠﻰ ﺳﻬﻴﻞ ﺑﻦ ﺑﻴﻀﺎﺀ ﻓﻲ ﺍﻟﻤﺴﺠﺪ ﻭﺍﻟﺴﻨﺔ ﺃﻥ ﻳﺼﻠﻲ ﻓﻲ ﺟﻤﺎﻋﺔ ﻟﻤﺎ ﺭﻭﻯ ﻣﺎﻟﻚ ﺑﻦ ﻫﺒﻴﺮﺓ ﺃﻥ ﺍﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭ ﺳﻠﻢ ﻗﺎﻝ : ] ﻣﺎ ﻣﻦ ﻣﺴﻠﻢ ﻳﻤﻮﺕ ﻓﻴﺼﻠﻲ ﻋﻠﻴﻪ ﺛﻼﺛﺔ ﺻﻔﻮﻑ ﻣﻦ ﺍﻟﻤﺴﻠﻤﻴﻦ ﺇﻻ ﻭﺟﺒﺖ [ ﻭﺗﺠﻮﺯ ﻓﺮﺍﺩﻯ ﻷﻥ ﺍﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭ ﺳﻠﻢ ﻣﺎﺕ ﻓﺼﻠﻰ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﻓﻮﺟﺎ ﻓﻮﺟﺎ ﻭﺇﻥ ﺍﺟﺘﻤﻊ ﻧﺴﻮﺓ ﻻ ﺭﺟﻞ ﻣﻌﻬﻦ ﺻﻠﻴﻦ ﻋﻠﻴﻪ ﻓﺮﺍﺩﻯ ﻷﻥ ﺍﻟﻨﺴﺎﺀ ﻻ ﻳﺴﻦ ﻟﻬﻦ ﺍﻟﺠﻤﺎﻋﺔ ﻓﻲ ﺍﻟﺼﻼﺓ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻤﻴﺖ ﻓﺈﻥ ﺻﻠﻴﻦ ﺟﻤﺎﻋﺔ ﻓﻼ ﺑﺄﺱ

  • I’anatut tholibin :

 )ﻗﻮﻟﻪ: ﻭﻳﺴﻦ ﺟﻌﻞ ﺻﻔﻮﻓﻬﻢ ( ﺃﻱ ﺍﻟﻤﺼﻠﻴﻦ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻤﻴﺖ. )ﻭﻗﻮﻟﻪ: ﺛﻼﺛﺔ ( ﻗﺎﻝ ﻓﻲ ﺍﻟﺘﺤﻔﺔ: ﺃﻱ ﺣﻴﺚ ﻛﺎﻥ ﺍﻟﻤﺼﻠﻮﻥ ﺳﺘﺔ ﻓﺄﻛﺜﺮ. ﻗﺎﻝ ﻉ ﺵ: ﻭﻣﻔﻬﻮﻣﻪ ﺃﻥ ﻣﺎ ﺩﻭﻥ ﺍﻟﺴﺘﺔ ﻻ ﻳﻄﻠﺐ ﻣﻨﻪ ﺫﻟﻚ، ﻓﻠﻮ ﺣﻀﺮ ﻣﻊ ﺍﻻﻣﺎﻡ ﺍﺛﻨﺎﻥ ﺃﻭ ﺛﻼﺛﺔ ﻭﻗﻔﻮﺍ ﺧﻠﻔﻪ. ﺍﻩ. ﻭﻗﺎﻝ ﺳﻢ ﺑﻌﺪ ﻛﻼﻡ: ﻓﺈﻥ ﻛﺎﻧﻮﺍ ﺧﻤﺴﺔ ﻓﻘﻂ، ﻓﻬﻞ ﻳﻘﻒ ﺍﻟﺰﺍﺋﺪ ﻋﻠﻰ ﺍﻻﻣﺎﻡ – ﻭﻫﻮ ﺍﻻﺭﺑﻌﺔ – ﺻﻔﻴﻦ، ﻻﻧﻪ ﺃﻗﺮﺏ ﺇﻟﻰ ﺍﻟﻌﺪﺩ ﺍﻟﺬﻱ ﻃﻠﺒﻪ ﺍﻟﺸﺎﺭﻉ ﻭﻫﻮ ﺍﻟﺜﻼﺛﺔ ﺍﻟﺼﻔﻮﻑ، ﻭﻻﻧﻬﻢ ﻳﺼﻴﺮﻭﻥ ﺛﻼﺛﺔ ﺻﻔﻮﻑ ﺑﺎﻻﻣﺎﻡ ؟ ﺃﻭ ﺻﻔﺎ ﻭﺍﺣﺪﺍ ﻟﻌﺪﻡ ﻣﺎ ﻃﻠﺒﻪ ﺍﻟﺸﺎﺭﻉ ﻣﻦ ﺍﻟﺼﻔﻮﻑ ﺍﻟﺜﻼﺛﺔ ؟ ﻓﻴﻪ ﻧﻈﺮ. ﻭﺍﻻﻭﻝ ﻏﻴﺮ ﺑﻌﻴﺪ، ﺑﻞ ﻫﻮ ﻭﺟﻴﻪ. ﻭﻓﻲ ﺍﻟﺒﺠﻴﺮﻣﻲ: ﺑﻘﻲ ﻣﺎ ﻟﻮ ﻛﺎﻥ ﺍﻟﺤﺎﺿﺮﻭﻥ ﺛﻼﺛﺔ ﻓﻘﻂ ﺑﺎﻻﻣﺎﻡ. ﻭﻳﻨﺒﻐﻲ ﺃﻥ ﻳﻘﻒ ﻭﺍﺣﺪ ﺧﻠﻒ ﺍﻻﻣﺎﻡ، ﻭﺍﻵﺧﺮ ﻭﺭﺍﺀ ﻣﻦ ﻫﻮ ﺧﻠﻒ ﺍﻻﻣﺎﻡ. ﻭﻳﺤﺘﻤﻞ ﺃﻥ ﻳﻘﻒ ﺍﺛﻨﺎﻥ ﺧﻠﻒ ﺍﻻﻣﺎﻡ، ﻓﻴﻜﻮﻥ ﺍﻻﻣﺎﻡ ﺻﻔﺎ، ﻭﺍﻻﺛﻨﺎﻥ ﺻﻔﺎ، ﻭﺳﻘﻂ ﺍﻟﺼﻒ ﺍﻟﺜﺎﻟﺚ ﻟﺘﻌﺬﺭﻩ. ﺍﻩ. ﻭﻓﻲ ﺍﻟﻤﻐﻨﻲ ﻣﺎ ﻧﺼﻪ: ﻭﻫﻨﺎ – ﺃﻱ ﻓﻲ ﺻﻼﺓ ﺍﻟﻤﻴﺖ – ﻓﻀﻴﻠﺔ ﺍﻟﺼﻒ ﺍﻻﻭﻝ ﻭﻓﻀﻴﻠﺔ ﻏﻴﺮﻩ ﺳﻮﺍﺀ ﺑﺨﻼﻑ ﺑﻘﻴﺔ ﺍﻟﺼﻠﻮﺍﺕ. ﺍﻟﻨﺺ ﻋﻠﻰ ﻛﺜﺮﺓ ﺍﻟﺼﻔﻮﻑ ﻫﻨﺎ. ﺍﻩ.

Wallahu A’lam bisshowab

Kategori
Uncategorized

STATUS KOTAK AMAL MASJID DAN TASHORRUF (PENGGUNAANNYA )

STATUS KOTAK AMAL MASJID DAN TASHORRUF(PENGGUNAAN)NYA.

Deskripsi:
Sebagaimana lazim kita saksikan di masjid-masjid sekitar kita disediakan kotak amal/infaq
baik yang dipasang secara permanen maupun portable (keliling) dengan tujuan untuk memaksimalkan penggalangan dana kemashlahatan masjid. Dampak dari setrategi tersebut, tidak jarang masjid memiliki saldo yang melimpah ruah. Pada titik ini, muncullah gagasan dari takmir masjid atau bahkan masyarakat agar masjid bisa ikut andil dalam memenuhi kebutuhan sosialmasyarakat. Semisal pendidikan, santunan yatim dan atau bantuan bencana alam.

Pertanyaan:

  1. Apa status uang kotak amal masjid?
  2. Bagaimana solusinya agar kas masjid bisa dialokasikan untuk selain masjid sebagaimana dalam deskripsi.

Jawaban. No.1
Setatus uang kotak amal masjid termasuk mal masjid (harta masjid), yang tasarufnya tergantung sistem penggalangannya:

1️⃣Jika Dikususkan ke ‘Imaroh “untuk pembangunan / renovasi masjid” (semisal ditulis dikotak amal untuk pembangunan), maka tasarufnya hanya untuk i’maroh. Seperti: Pembangunan, renovasi, perbaikan/aparasi, ngecet, membeli alat-alat bangunan dan hal-hal lain yang berhubungan dengan fisik masjid.
2️⃣Jika Dikhususkan untuk Masholeh “Kemaslahatan masjid” (semisal dikotak amal tertulis untuk kemaslahatan masjid), Maka tasarufnya, diperinci sebagai berikut:

-Bisa ke Fisik masjid (‘imaroh).
-Dan boleh ke Non Fisik (masholeh) seperti: Membayar pengurus ‘imaroh, takmir masjid, pengajar ngaji dimasjid, gaji imam maupun prabot masjid. Dan untuk membeli perlengkapan seperti tikar, lampu, minyak dll. Dan boleh untuk membeli seperti kopi buat jama’ah jika dibutuhkan dengan tujuan untuk meramaikan masjid dengan syarat sudah tidak dibutuhkan untuk keperluan ‘imaroh.
3️⃣Jika Muthlak (tidak ada tulisan atau sesuatu yang mengarah ke untuk point 1 dan 2), maka terjadi khilaf untuk tasarufnya:
– Menurut imam Al- Baghowi ke ‘imaroh.
– Sedangkan menurut imam Al-Ghozali ke Masholeh.

Catatan
Adapun uang yang awalnya dikhususkan ke pembangunan (mal muqoyad) ketika pembangunan sudah terlaksana dan ada uang sisa, maka uang tersebut menjadi muthlak tasarufnya (bebas bisa buat ‘imaroh maupun masholeh).


Jawaban.No.2
Untuk keperluan selain imaroh atau masholeh sebagaimana jawaban sub 01. Seperti santunan anak yatim, biyaya pendidikan dan lain-lain, yang mana pada dasarnya kegiatan tersebut tidak ada sangkut pautnya dengan kemaslahatan masjid tapi dapat menjadi penunjang/penghantar pada kemakmuran masjid atau dapat menarik simpatisan jamaah. semisal dilakukan di masjid Maka boleh menggunakan harta masjid dari kotak amal (muthlak). Dengan catatan masjid sudah tidak lagi membutuhkan dana untuk ‘imaroh (Pembangunan/Renovasi) dan tidak ada lagi masholeh lain yang lebih penting untuk didanai.
Adapun jika kegiatan-kegiatan tersebut tidak menjadi penunjang pada kemaslahatan memakmurkan masjid seperti berada diluar lingkungan masjid atau untuk mendanai bantuan bencana alam dan lain-lain, maka tidak boleh menggunakan dana dari harta masjid.
Dan sholusinya adalah dengan memasang kotak amal khusus semisal terdapat tulisan “Untuk Kemaslahatan Umat” dll.

Referensi

١. رسالة الاماجد فى احكام المسجد ٣١-٣٢
واعلم أن أموال المسجد تنقسم على ثلاثة أقسام (١)، قسم للعمار كالموهوب والمتصدق به له وريع الموقوف عليه ، وقسم للمصالح كالموهوب والمتصدق به لها وكذا ريع الموقوف عليها وربح التجارة وغلة أملاكه وثمن ما يباع من أملاكه وكذا ثمن الموقوف عله عند من جوز بيعه عند البلى والإنكسار وقسم مطلق كالموهوب والمتصدق به له مطلقا وكذا ريع الموقوف عليه مطلقا , وهذا التقسيم مأخوذ من مفهوم أقوالهم فى كتب القفه المعتبرة والمعتمدة ، والفرق بين العمارة والمصالح هو أن ما كان يرجع إلى عين الوقف حفظا وإحكاما كالبناء والترميم والتجصيص للإحكام والسلالم والسوارى والمكاسن وغير ذلك هو العمارة , أن ما كان يرجع إلى جميع ما يكون مصلحة وهذا يشمل العمارة وغيرها من المصالح كالمؤذن والإمام والدهن للسراج هو المصالح(١) والذي اقتضاه افتاء با مخرمة ان هذه الثلاثة لا يجوز للناظر خلطها
الا اذا اتحد مصرفها

٢. رسالة الأماجد في بيان أحكام المساجد ص ١٩ – ٢٠
صرف اموال المسجد يصرف ريع الوقف على المسجد وقفا مطلقا او على عمارته في البناء ولو لمنارته وفي التجصيص المحكم والسلم وفي أجرة القيم لا المؤذن والامام والحصر والدهن الا ان كان الوقف لمصالحه فيصرف في ذلك لا في التزويق والنقش ” ، وما ذكرته من انه لا يصرف للمؤذن والامام في الوقف المطلق هو مقتضى ما نقله النووي في الروضة عن البغوي لكنه نقل بعده عن فتاوي الغزالي أنه يصرف لهما ” . وهو الاوجه كما في الوقف على مصالحه .3 ۱۰۳ وقال الشيخ ابن حجر : ولو وقف على مصلحته لم يصرف إلى النقش والتزويق أيضا وتجوز عمارته وشراء الحصر والدهن ونحوهما قال الرافعي والقياس جواز الصرف إلى الإمام والمؤذن أيضا ولو وقف على المسجد مطلقا صح قال البغوي هو كما لو وقف على عمارته وفي الجرجانية حكاية وجهين في جواز الصرف إلى النقش ۱۰ : اقول : وكالموقوف في التفصيل المذكور ما وهب له وما تصدق به عليه فانه على قصد المعطي اخذا من كلامهم : ولو قال خذ هذا واشتر لك به كذا تعين ما لم يرد التبسط أو تدل قرينة حاله عليه . ثم الواجب على الناظر ان يبدأ بعمارة الاهم فالاهم.اهـ

٣. بغية المسترشدين ج1/ص367
فرع : أعطى آخر دراهم ليشتري بها عمامة مثلاً ، ولم تدل قرينة حاله على أن قصده مجرد التبسط المعتاد لزمه شراء ما ذكر وإن ملكه لأنه ملك مقيد يصرفه فيما عينه المعطي ، ولو مات قبل صرفه في ذلك انتقل لورثته ملكاً مطلقاً كما هو ظاهر لزوال التقييد بموته ، كما لو ماتت الدابة الموصى بعلفها قبل التصرف فيه ، فإنه يتصرف فيه مالكها كيف شاء ولا يعد لورثة الموصي ، أو بشرط أن يشتري بها ذلك بطل الإعطاء من أصله ، لأن الشرط صريح في المناقضة لا يقبل تأويلاً بخلاف غيره اهـ تحفة.

٤. حاشية قليوبي وعميرة – 10 / 42
الحكم الاول : ماالمراد بعمارة المساجد فى الاية الكريمة ؟ ذهب بعض العلماء الى ان المراد بعمارة المساجد هو بناؤها وتشييدها وترميم ما تهدم منها وهذه هي العمارة الحسية ويدل عليه قوله عليه وسلم : من بنى لله مسجدا ولو كمفحص قطاة بنى الله له بيتا في الجنة . وقال بعضهم : المراد عمارتها بالصلاة والعبادة وأنواع القربات كما قال الله تعالى في بيوت أذن الله ان ترفع ويذكر فيها اسمه . وهذه هي العمارة المعنوية التي هي الغرض الأسمى من بناء المساجد . ولا مانع ان يكون المراد بالآية النوعين : الحسية والمعنوية , وهو اختيار جمهور العلماء لأن اللفظ يدل عليه والمقام يقتضيه . قال ابو بكر الجصاص وعمارة المسجد تكون بمعنيين احدهما زيارته والمكث فيه والاخرى بناؤه وتجديدما استرم منه

٥. روضة الطالبين وعمدة المفتين، ٣٦٠/٥
فُرُوعٌ : عِمَارَةُ الْمَسْجِدِ هِيَ الْبِنَاءُ وَالتَّرْمِيمُ وَالتَّجْصِيصُ لِلْأَحْكَامِ وَالسَّلَالِمُ وَالسَّوَارِي وَالْمَكَانِسُ وَالْبَوَارِي لِلتَّظْلِيلِ أَوْ لِمَنْعِ صَبِّ الْمَاءِ فِيهِ لِتَدْفَعَهُ لِنَحْوِ شَارِعٍ وَالْمَسَّاحِي وَأُجْرَةُ الْقَيِّمِ وَمَصَالِحِهِ تَشْمَلُ ذَلِكَ ، وَمَا لِمُؤَذِّنٍ وَإِمَامٍ وَدُهْنٍ لِلسِّرَاجِ وَقَنَادِيلَ لِذَلِكَ ،وَقَفَ عَلَى عِمَارَةِ الْمَسْجِدِ، لَا يَجُوزُ صَرْفُ الْغَلَّةِ إِلَى النَّقْشِ، وَالتَّزْوِيقِ، وَذَكَرَ فِي «الْعُدَّةِ» أَنَّهُ يَجُوزُ دَفْعُ أُجْرَةِ الْقَيِّمِ مِنْهُ، وَلَا يَجُوزُ صَرْفُ شَيْءٍ مِنْهُ إِلَى الْإِمَامِ وَالْمُؤَذِّنِ، وَالْفَرْقُ أَنَّ الْقَيِّمَ يَحْفَظُ الْعِمَارَةَ، قَالَ: وَيَجُوزُ أَنْ يُشْتَرَى مِنْهُ الْبَوَارِي، وَلَا يُشْتَرَى الدُّهْنُ عَلَى الْأَصَحِّ، وَالَّذِي ذَكَرَهُ الْبَغَوِيُّ، وَأَكْثَرُ مَنْ تَعَرَّضَ لِلْمَسْأَلَةِ: أَنَّهُ لَا يُشْتَرَى مِنْهُ الدُّهْنُ، وَلَا الْحَصِيرُ. وَالتَّجْصِيصُ الَّذِي فِيهِ إِحْكَامٌ مَعْدُودٌ مِنَ الْعِمَارَةِ، وَإِذَا وَقَفَ عَلَى عِمَارَةِ الْمَسْجِدِ جَازَ أَنْ يُشْتَرَى مِنْهُ سُلَّمٌ لِصُعُودِ السَّطْحِ، وَمَكَانِسُ يُكْنَسُ بِهَا، وَمَسَاحِيُّ لِنَقْلِ التُّرَابِ، لِأَنَّ ذَلِكَ كُلَّهُ لِحِفْظِ الْعِمَارَةِ، وَلَوْ كَانَ يُصِيبُ بَابَهُ الْمَطَرُ، وَيُفْسِدُهُ جَازَ بِنَاءُ ظُلَّةٍ مِنْهُ، وَيَنْبَغِي أَنْ لَا يَضُرَّ بِالْمَارَّةِ،

٦. فتح الإله المنان من فتاوى الشيخ العلامة المحقق سالم بن سعيد بكير باغيثان? صـ 161-163
فقال العلامة الحبيب عبد الله بن عمر يحيى الذي نقلنا ملخص هذا الجواب عنه من أصل فتاواه : الذي أراه عدم جواز صرف هذه الأموال للعمارة لعدم ملك المسجد لها إذ لا يجوز قبض الصدقة إلا بإذن المتصدق ولم يوجد هنا, إنتهى وحيث قلنا بملك المسجد المذكور لتلك الأموال فإن ملكها بالنذر ملكها ملكا مطلقا, فيصرفها ناظره في عمارته ومصالحه مقدما الأهم فالأهم كما هو الواجب عليه في كل تصرفاته, وإن ملكها بالهبة أو الصدقة المقبوضتين كما ذكرنا فيتعين صرفها فيما عينت له نظير ما ذكروه كما في التحفة
وغيرها, فيمن أعطى أخر دراهم ليشتري له بها عمامة مثلا ودلت القرينة على أن قصده الصرف لما عينه له لا مجرد التبسط المعتاد أنه يلزمه شراء ما ذكر بها, وإن ملكها لأنه ملك مقيد بصرفها فيما عينه المعطي وما زاد يملكه المسجد ملكا مطلقا ولا يرد لأربابه كما هو ظاهر* وقد ذكروا أنه لو مات الموهوب له قبل الصرف فيما عينه

٧. فتح الاله المنان ص 150
الموقوف على مصالح المساجد كما في مسئلة السؤال يجوز الصرف فيه البناء والتجصيص المحكم وفي أجرة القيم والمعلم والإمام والحصر والدهن وكذا فيما يرغب المصلين من نحو قهوة وبخور يقدم من ذلك الأهم فالأهم وعليه فيجوز الصرف في مسئلة السؤال لما ذكره السائل اذا فضل من عمارته ولم يكن ثم ما هو أهم منه من المصالح

٨. النووي، روضة الطالبين وعمدة المفتين، ٣٦٠/٥
وَقَفَ عَلَى عِمَارَةِ الْمَسْجِدِ، لَا يَجُوزُ صَرْفُ الْغَلَّةِ إِلَى النَّقْشِ، وَالتَّزْوِيقِ، وَذَكَرَ فِي «الْعُدَّةِ» أَنَّهُ يَجُوزُ دَفْعُ أُجْرَةِ الْقَيِّمِ مِنْهُ، وَلَا يَجُوزُ صَرْفُ شَيْءٍ مِنْهُ إِلَى الْإِمَامِ وَالْمُؤَذِّنِ، وَالْفَرْقُ أَنَّ الْقَيِّمَ يَحْفَظُ الْعِمَارَةَ، قَالَ: وَيَجُوزُ أَنْ يُشْتَرَى مِنْهُ الْبَوَارِي، وَلَا يُشْتَرَى الدُّهْنُ عَلَى الْأَصَحِّ، وَالَّذِي ذَكَرَهُ الْبَغَوِيُّ، وَأَكْثَرُ مَنْ تَعَرَّضَ لِلْمَسْأَلَةِ: أَنَّهُ لَا يُشْتَرَى مِنْهُ الدُّهْنُ، وَلَا الْحَصِيرُ. وَالتَّجْصِيصُ الَّذِي فِيهِ إِحْكَامٌ مَعْدُودٌ مِنَ الْعِمَارَةِ، وَإِذَا وَقَفَ عَلَى عِمَارَةِ الْمَسْجِدِ جَازَ أَنْ يُشْتَرَى مِنْهُ سُلَّمٌ لِصُعُودِ السَّطْحِ، وَمَكَانِسُ يُكْنَسُ بِهَا، وَمَسَاحِيُّ لِنَقْلِ التُّرَابِ، لِأَنَّ ذَلِكَ كُلَّهُ لِحِفْظِ الْعِمَارَةِ، وَلَوْ كَانَ يُصِيبُ بَابَهُ الْمَطَرُ، وَيُفْسِدُهُ جَازَ بِنَاءُ ظُلَّةٍ مِنْهُ، وَيَنْبَغِي أَنْ لَا يَضُرَّ بِالْمَارَّةِ،

٩. النووي، روضة الطالبين وعمدة المفتين، ٣٦٠/٥
وَلَوْ وَقَفَ عَلَى الْمَسْجِدِ مُطْلَقًا، وَجَوَّزْنَاهُ، قَالَ الْبَغَوِيُّ: هُوَ كَالْوَقْفِ عَلَى عِمَارَةِ الْمَسْجِدِ، وَفِي «الْجُرْجَانِيَّاتِ» فِي جَوَازِ الصَّرْفِ إِلَى النَّقْشِ، وَالتَّزْوِيقِ فِي هَذِهِ الصُّورَةِ وَجْهَانِ، وَفِي «فَتَاوَى الْغَزَالِيِّ» : أَنَّهُ يَجُوزُ هُنَا صَرْفُ الْغَلَّةِ إِلَى الْإِمَامِ وَالْمُؤَذِّنِ، وَأَنَّهُ يَجُوزُ بِنَاءُ مَنَارَةٍ لِلْمَسْجِدِ، وَيُشْبِهُ أَنْ يَجُوزَ بِنَاءُ الْمَنَارَةِ مِنَ الْمَوْقُوفِ عَلَى عِمَارَةِ الْمَسْجِدِ أَيْضًا،

١٠. فتاوى بافضل ص: ١٠٠
ما قول العلماء نفع الله بهم في مسجد عليه اوقاف.اراد جماعة من طلب العلم احياء بين العشاءين فيه لقراءة بعض كتب الفقه فهل للناظر ان يصرف لهم من غلة الوقف مما يكفي السريح لهم. لان السراح الذي لقراءة الحزب لا يمكنهم القراءة عليه ام لا؟ يجوز للناظر ان يصرف لهم مما يكفي التسريج للقرأة المذكورفي السؤال, والحال ما ذكر السائل, من غلة وقف المسجد الزائدة على عمارته واهم مصالحه ان لم يتوقع طرؤه اهم منه,والا فليس له ذالك,لان قرأة الفقه فيه كقراءة القراءن وهي من المصالح لان فيها احياء له, قال في القلائد:وافتى بعض اهل اليمن بحواز صرف الزائد المتسع لدراسة علم او قراءن فيه (المسجد),قال لانه لا غاية له

١١. فتح الاله المنان للشيخ سالم بن سعيد بكير باغيثان الشافعي ص : ١٥٠
سئل رحمه الله تعالى عن رجل وقف اموالا كثيرة على مصالح المسجد الفلاني وهو الان معمور وفي خزنة المسجد من هذا الوقف الشئ الكثير فهل يجوز اخراج شئ من هذا الوقف لاقامة وليمة مثلا يوم الزينة ترغيبا للمصلين المواظبين ؟ فا جاب الحمد لله والله الموافق للصواب الموقوف على مصالح المساجد كما في مسئلة السؤال يجوز الصرف فيه البناء والتجصيص المحكم و في أجرة القيم والمعلم والامام والحصر والدهن وكذا فيما يرغب المصلين من نحو قهوة وبخور يقدم من ذلك الاهم فالاهم وعليه فيجوز الصرف في مسئلة السؤال لما ذكره السائل اذافضل عن عمارته ولم يكن ثم ما هو اهم منه من المصالح اهـ

١٢. قلائد الخرائد 614-615 للشيخ عبد الله بن محمد
مسألة) الوقف على عمارة المسجد يصرف في بنائه ، وعمارته ، وتجصيصه المحكم ، وسلـم سطحه ، وما يظلل به فيه ، أو على بابه ، بما لم يضر المار ، وفي مساح ومكانس وأجرة قيمه ، لا للإمام والمؤذن والخصر والسّراج ، فإن وقف على مصالحه : جاز لكل ذلك وإن أطلق الوقف عليه : فكذلك على الأوجه ، كالوصية ، كما قال زكريا وجزم به قبيل الباب الثاني من الوقف في « روض المقري » ، وبه أفتى الغزالي ، وجعله البغوي وغيره كالعمارة ، ولا يصرف فيها لنقش وتزويق ، بل لا يصح الوقف لهما ، ونقل في « الروضة » عن « فتاوي » الغزالي جواز بناء منارة من الوقف 614 عليه ، ويشبه جوازه من الوقف على عمارته ، قال الفقيه عبدالله با سرومي وشيخه موسى بن الزين : ويلحق بها المنبر إن كان جامعاً ، وأفتى
شيخنا عبدالله با فضل بجواز إحداث بركة أو أكثر للطهارة بقربه ، وأن يوقد عليها الشتاء لحمي الماء إذا كان يدعو الناس للصلاة فيه ، والظاهر أنه أراد كونها من المصالح ، ومثله إحداث بئر يحتاج إليها بطريق الأولى ، وما عين لنوع لا يصرف لغيره ، كالسقف الخصر والسّراج والجص ، وما وقف لدهنه مطلقاً يشرج به كل الليل إن انتفع به مصل أو نائم ، ولو متوقعاً ، وإلا فلا ، قال ابن عبد السلام : يجوز إيقاد : يسير من المصابيح احتراماً له ، قال الغزالي : ويجوز وقف سُتور لجدره ، قال الأذرعي : ومنعه غيره وهو الأصح المختار ، لما فيه من إضاعة المال ، وليس كالكعبة . انتهى · وحيث نبتت فيه شجرة أو وقفت الأرض مسجداً وفيها شجرة ورأى الإمام قلعها صلاحاً : وجب وإن وقفت إذ لا تكون مسجداً ، كذا في « فتاوي » الغزالي ، ونقل عنها في « الروضة » جوازه لا وجوبه ، قال زكريا : وهو سهو ، وما ذكروه في البيع في غير وقفها مسجداً ، فلو غرست فيه له ولم ير قلعها : صرفت ثمرتها لمصالحه ، أو لأكل الناس فمباحة لكل ، وكذا إن جهل وجرت به العادة ، كشجرة نبتت في مقبرة وصرفها في مصالحها أولى ، كذا نصوه ، وقياسه النابتة في مسجد إذا لم ير قلعها غلة لعظم سعته وبعدها عن مواضع طارقيه ، وما زاد من وقفه يحفظ ما يعمر به لو خرب ، ويشتري بباقيه عقاراً لا الموقـوف على عمارته نصاً ، بل يحفظ وإن كثر ، وحكم ما اشتري له حكم ثمنه ، كما أفتى به ابن البزري وأقره الأذرعي ، وهو ظاهر . وأفتى بعض أهل اليمن بجواز صرف الزائد المتسع لدرسـة علم أو قرآن فيه ، قال : لأنه لا غاية له ، ونقل الريمي عن المحلي وتلميذه القاضي إبراهيم بن وليد أنه يسلك به مسلك مصالح المسلمين كالفقراء والمساجد ، ولعل الشافعي حيث قال : يحفظ : أراد ما لم يحتج إليه المسلمون ، فليس في النص ما يمنعه ، قال الريمي : قال بعضهم : وهو حسن ، كذا في « فتاوي » موسى بـن الزين ، وكذا نقله غيره عن الإمام أبي بكر بن جعفر الضجاعي شيخ إبراهيم المذكور مثله ، قالا : وهو يؤخذ من قول المحاملي : إذا خرب الموقوف عليه لم يبطل وقفه ، لأن مقصود الوقف مصلحة المسلمين ، قال : وقد روي عن بعض السلف أن الله تعالى ينطق كل عالم بما يصلح أهل زمانه ، فلعل الله أنطقهما بذلك ، كذا قال الفقيه عبد الله الحمراني ، قال موسى : ولا يجوز أن : يجعل في المسجد منبر مثبت ليقرأ عليه شيء من القرآن أو العلم ، ولا الوقف على ذلك المنبر ، لأن منفعه موضعه مستحقه لغيره .

١٣. مطالب أولي النهى في شرح غاية المنتهى الحنبلي جلد : 4 صفحه :٣٧٦
تَنْبِيهٌ: سُئِلَ الشَّيْخُ تَقِيُّ الدِّينِ فِيمَنْ بَنَى مَسْجِدًا لِلَّهِ، وَأَرَادَ غَيْرُهُ أَنْ يَبْنِيَ فَوْقَهُ بَيْتًا وَقْفًا لَهُ، إمَّا لِيَنْتَفِعَ بِأُجْرَتِهِ فِي الْمَسْجِدِ، أَوْ لِيُسْكِنَهُ لِإِمَامِهِ، وَيَرَوْنَ ذَلِكَ مَصْلَحَةً لِلْإِمَامِ أَوْ لِلْمَسْجِدِ، فَهَلْ يَجُوزُ ذَلِكَ أَمْ لَا؟ فَأَجَابَ بِأَنَّهُ إذَا كَانَ ذَلِكَ مَصْلَحَةً لِلْمَسْجِدِ بِحَيْثُ يَكُونُ ذَلِكَ أَعْوَنَ عَلَى مَا شَرَعَهُ اللَّهُ وَرَسُولُهُ فِيهِ مِنْ الْإِمَامَةِ وَالْجَمَاعَةِ وَغَيْرِ ذَلِكَ مِمَّا شُرِعَ فِي الْمَسَاجِدِ؛ فَإِنَّهُ يَنْبَغِي فِعْلُهُ كَمَا نَصَّ عَلَى ذَلِكَ وَنَحْوِهِ غَيْرُ وَاحِدٍ مِنْ الْأَئِمَّةِ
والله أعلم بالصواب

Kategori
Uncategorized

HUKUMNYA BERSHODAQOH DALAM KONDISI WAJIB BAYAR HUTANG

Assalaamu warohmatullahi wabarakaatuh

Deskripsi masalah.
Terkadang kita banyak melihat hal-hal yang perlu dibantu baik itu merupakan pembangunan masjid, musholla maupun orang yang sedang datang kerumah-rumah dengan meminta-minta atau ( pengemis ) atau orang yang taklagi mampu bekerja mencari penghasilan ekonomi semisal lansea dll.sementara orang yang dimintai punya beban hutang yang harus dibayar karena untuk biaya orang yang wajib di nafkahi seperti biaya anak maupun keluarga.

Pertanyaannya.
Bolehkan bershodaqoh disaat wajib bayar hutang sebagaimana deskripsi ?

Jawaban:.
Tidak boleh bershodaqoh disaat wajib bayar hutang, bahkan sunnah tidak bershodaqoh kecuali jika yakin dapat membayar hutang dari penghasilan yang lain, jika tidak ada penghasilan lain maka ada yang berpendapat haram bersedekah .Karena yang semestinya harus didahulukan adalah membayar hutang.Ini menurut Syafiiyah.Untuk lebih jelasnya bisa dilihat pendapatnya para ulama’ fiqh berikut:

Referensi:


قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: الصدقة على ظهر غنى وابداء بمن تعول(رواه البخاري)

Rosulullah bersabda: Sedekah itu adalah ketika sedang cukup hartanya. Dan hendaklah kamu memulai bersedekah kepada orang yang kamu tanggung nafkah(belanja)nya( Hadits Riwayat Bukhori)

محلى ج ٣ ص ٢٠٥

( ومن عليه دين أو له من تلزم نفقته يستحب أن لاتصدق)

وفى المحرر وغيره لايستحب له الصدقة، حتى يؤدي ماعليه فالتصدق بدون أدائه خلاف المستحب، وربما قيل يكره ، قلت الأصح تحريم صدقته بمايحتاج إليه لنفقته من تلزمه نفقته أو لدين لايرجو له وفاء ، لو تصدق .والله أعلم فإن رجا وفاء من جهة أخرى قال فى الروضة فلابأس بالصدق بمايحتاج إليه النفقة نفسه قيل يحرم ، وإن الأول أصح أى إنه لايستحب وربما قيل يكره

……………………………………

Pandangan Ulama’ Madzhab tentang bershodaqoh dalam kondisi wajib bayar hutang.

A]• Menurut Madzhab Imam Abu Hanifah

Melunasi hutang lebih penting daripada bersedekah Karena mengurus diri sendiri dan keluarga LEBIH WAJIB dibandingkan mengurus orang lain

قال بدر الدين العيني الحنفي رحمه الله في عمدة القاري شرح صحيح البخاري :

” والمعنى أن شرط التصدق أن لا يكون محتاجاً ، ولا أهله محتاجاً ، ولا يكون عليه دين، فإذا كان عليه دين : فالواجب أن يقضي دينه ، وقضاء الدين أحق من الصدقة والعتق والهبة؛ لأن الابتداء بالفرائض قبل النوافل ، وليس لأحد إتلاف نفسه وإتلاف أهله وإحياء غيره ، وإنما عليه إحياء غيره بعد إحياء نفسه وأهله ؛ إذ هما أوجب عليه من حق سائر الناس
[انظر كتاب “عمدة القاري شرح صحيح البخاري” (13/327)

Imam Badr ad-Din al-‘Ayni Al Hanafiy rahimahullahu (semoga Allah merahmatinya) berkata:

Yang dimaksud dengan syarat bersedekah adalah tidak ada yang membutuhkan dan tidak ada keluarganya yang membutuhkan, dan tidak ada dalam hutang. Jika seseorang berhutang, yang diperlukan adalah melunasi hutangnya. Melunasi hutang lebih penting daripada bersedekah, membebaskan budak dan memberi hadiah, karena seseorang harus memulai dengan hal-hal wajib sebelum hal-hal sunnat. Tidak ada yang berhak menghancurkan dirinya sendiri dan keluarganya sambil menyelamatkan orang lain. Melainkan dia harus membantu orang lain setelah mengurus dirinya dan keluarganya, karena mengurus mereka (dirinya dan keluarganya) lebih wajib baginya daripada mengurus orang lain.
[Lihat Kitab ‘Umdat al-Qaari’ Sharh Saheeh al-Bukhaari, 13/327. Karya Imam Badruddin Al ‘Ainiy Al Hanafiy]

B]• Menurut Madzhab Imam Malik

Hutang itu lebih pantas dilunasi daripada sedekah dan TIDAK SAH HUKUM SEDEKAHNYA

وقال الامام ابن بطال المالكي رحمه الله في كتابه فتح الباري شرح صحيح البخاري:

“وأما قوله: وأما من تصدق وعليه دين، فالدين أحق أن يقضى من الصدقة والعتق والهبة، وهو رد عليه. فهو إجماع من العلماء لا خلاف بينهم فيه” انتهى
[انظر كتاب “شرح صحيح البخاري”(3/430)].

Imam Ibnu Battal Al Malikiy rahimahullah dalam kitabnya Syarhu Shahih Al Bukhariy berkata: Berkenaan dengan sabdanya :

“Barangsiapa yang bersedekah padahal dia berhutang, hendaknya dipahami bahwa hutang itu lebih pantas dilunasi daripada sedekah, membebaskan budak atau memberi hadiah. , dan itu (amal atau hadiah) tidak sah, ” hal tersebut merupakan kesepakatan para ulama dan tidak ada perbedaan pendapat diantara mereka .
[Lihat Kitab Syarh Shahih al-Bukhaari, 3/430. Karya Imam Ibnu Bathal Al Malikiy].

C]• Menurut Madzhab Imam Asy Syafi’iy

WAJIB bagi orang yang berhutang untuk tidak bersedekah sampai dia melunasi hutangnya

وجاء في كتاب “المنهاج مع شرحه مغني المحتاج” للإمام الخطيب الشربيني الشافعي رحمه الله تعالى :

وَمَنْ عَلَيْهِ دَيْنٌ أَوْ وَلَهُ مَنْ تَلْزَمُهُ نَفَقَتُهُ يُسْتَحَبُّ أَنْ لَا يَتَصَدَّقَ حَتَّى يُؤَدِّيَ مَا عَلَيْهِ. قُلْتُ: الْأَصَحُّ تَحْرِيمُ صَدَقَتِهِ بِمَا يَحْتَاجُ إلَيْهِ لِنَفَقَةِ مَنْ تَلْزَمُهُ نَفَقَتُهُ أَوْ لِدَيْنٍ لَا يَرْجُو لَهُ وَفَاءً،. انتهى .
[انظر كتاب المنهاج مع شرحه مغني المحتاج” : 4/197. للإمام الخطيب الشربيني الشافعي. وانظر “روضة الطالبين” : (2/342). للإمام النووي الشافعي].

Dikatakan dalam al-Minhaaj ma’a Sharhihi Mughni al-Muhtaaj karya Imam Al Khathib Asy Syarbiniy Asy Syafi’iy rahimahullahu:

Jika seseorang berhutang, wajib baginya untuk tidak bersedekah sampai dia melunasi hutangnya. Saya berkata: Pendapat yang lebih benar adalah haram baginya untuk bersedekah apa yang dia butuhkan untuk pemeliharaan orang-orang yang wajib dia belanjakan atau untuk membayar hutang yang dia tidak memiliki harapan untuk melunasinya.
[Lihat Kitab Al Minhaj Ma’a Syarhihi Mughni Al Muhtaj : 4/197. Karya Imam Al Khatib Asy Syarbiniy Asy Syafi’iy. Dan Lihat Kitab Raudlotu Ath Thalibin : 2/342. Karya Imam An Nawawiy Asy Syafi’iy. Dan Lihat Kitab Raudlat Ath-Taalibien, 2/342. Karya Imam An Nawawiy Asy Syafi’iy].

D]• Menurut Madzhab Imam Ahmad Bin Hanbal

TIDAK BOLEH bagi yang berhutang untuk bersedekah yang akan mencegahnya melunasi hutangnya

وقال الامام ابن قدامة الحنبلي رحمه الله في كتابه الكافي:

” ومن عليه دين لا يجوز أن يتصدق صدقة تمنع قضاءها ؛ لأنه واجب فلم يجز تركه ” انتهى
[انظر كتاب “الكافي”(1/431)].

Imam Ibnu Qudamah Al Maqdisiy Al Hanbaliy rahimahullahu (semoga Allah merahmatinya) mengatakan:

Jika seseorang berhutang, tidak boleh baginya untuk bersedekah yang akan mencegahnya melunasinya, karena itu wajib (melunasi) dan tidak diperbolehkan untuk menahan diri dari melakukannya.
[Lihat Kitab Al-Kaafi : 1/431. Karya Imam Ibnu Qudamah Al Maqdisiy Al Hanbaliy].

وقد جاء في الإنصاف للمرداوي الحنبلي رحمه الله تعالى:

وَسَأَلَهُ جَعْفَرٌ: مَنْ عَلَيْهِ دَيْنٌ يَتَصَدَّقُ بِشَيْءٍ؟ قَالَ: الشَّيْءِ الْيَسِيرِ. وَقَضَاءُ دَيْنِهِ أَوْجَبُ عَلَيْهِ. قُلْت: وَهَذَا الْقَوْلُ هُوَ الصَّوَابُ. اهــ.

Hukum Tidak Membayar Hutang dalam Islam beserta Dalilnya.

Tidak membayar hutang dalam Islam dianggap sebagai perbuatan tercela yang harus dijauhi. Pasalnya, hutang adalah janji yang harus ditepati. Jika seorang muslim ingkar terhadap janjinya, maka dosa yang akan ditanggung hingga akhir hayatnya. Pemahaman ini sangat penting diketahui oleh umat Muslim karena akan berdampak juga pada kehidupan setelah mati nanti. Banyak ulama’ yang mengungkapkan bahwa orang yang masih memiliki hutang tidak akan bisa masuk surga. Oleh karena itu, mari mengkaji lebih lanjut tentang hukum membayar hutang dan dalilnya dalam agama Islam.

Apa Hukum Hutang dalam Islam?
Mengutip buku Konstruksi Hukum Jaminan Syariah dalam Akad Pembiayaan Mudharabah di Era Revolusi Industri 4.0 oleh Zainal Arifin (2022), utang dan piutang adalah hal yang diperbolehkan dalam agama Islam karena tergolong sebagai akad ta’awun (tolong menolong). Sedangkan hukum membayar utang dalam Islam adalah wajib dan tidak boleh menunda untuk melunasinya jika sudah ada rezeki. Orang yang berhutang dan tidak berniat membayarnya akan mendapatkan dosa.
Apabila tidak mampu melunasi hutang sesuai batas waktu yang sudah dijanjikan, sebaiknya dilakukan musyawarah untuk diambil jalan tengahnya. Hal ini dilakukan untuk meminimalisir timbulnya konflik antara pihak yang berhutang dengan pihak yang memberikan hutang.

Dalil Membayar Utang

Allah SWT telah menerangkan secara gamblang mengenai bab berhutang. Adapun dalil mengenai perkara tersebut dijelaskan di ayat ini.

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِذَا تَدَايَنْتُمْ بِدَيْنٍ اِلٰٓى اَجَلٍ مُّسَمًّى فَاكْتُبُوْهُۗ وَلْيَكْتُبْ بَّيْنَكُمْ كَاتِبٌۢ بِالْعَدْلِۖ وَلَا يَأْبَ كَاتِبٌ اَنْ يَّكْتُبَ كَمَا عَلَّمَهُ اللّٰهُ فَلْيَكْتُبْۚ


Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermuamalah tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya. Dan hendaklah seorang penulis di antara kamu menuliskannya dengan benar. Dan janganlah penulis enggan menuliskannya sebagaimana Allah telah mengajarkannya, maka hendaklah ia menuliskannya.” (QS. Al Baqarah: 282).

Dampak Tidak Membayar Hutang bagi Umat Muslim
Umat Islam yang tidak berusaha melunasi hutang-hutangnya tidak hanya mendapatkan dosa, melainkan juga adzab dari Allah SWT. Beberapa adzab yang sebaiknya menjadi renungan yaitu sebagai berikut:

  1. Tidak Masuk Surga
    Orang yang wafat namun meninggalkan hutang tidak akan masuk surga. Rasulullah SAW bersabda:
    عَنْ ثَوْبَانَ مَوْلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ مَنْ فَارَقَ الرُّوحُ الْجَسَدَ وَهُوَ بَرِيءٌ مِنْ ثَلَاثٍ دَخَلَ الْجَنَّةَ مِنْ الْكِبْرِ وَالْغُلُولِ وَالدَّيْنِ “Barangsiapa disaat ruhnya berpisah dengan jasadnya ia terbebas dari tiga hal maka ia akan masuk surga, yaitu; sombong, mencuri ghanimah sebelum dibagi dan hutang.” (HR. Ibnu Majah).
  1. Orang yang Berhutang Jiwanya Masih Tergantung
    Orang muslim yang masih memiliki hutang saat meninggal jiwanya masih terpasung. Hal ini sesuai dengan hadits Rasulullah berikut:
    عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَفْسُ الْمُؤْمِنِ مُعَلَّقَةٌ بِدَيْنِهِ حَتَّى يُقْضَى عَنْهُ
    Dari Abu Hurairah ia berkata, “Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Jiwa seorang mukmin itu bergantung dengan hutangnya hingga terbayar.” (HR. Ibnu Majah).
  2. Pahalanya Diambil untuk Bayar Utang
    Pahala orng yang meninggal akan diambil jika masih memiliki hutang duniawi. Rasulullah SAW bersabda.
    عَنْ ابْنِ عُمَرَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ مَاتَ وَعَلَيْهِ دِينَارٌ أَوْ دِرْهَمٌ قُضِيَ مِنْ حَسَنَاتِهِ لَيْسَ ثَمَّ دِينَارٌ وَلَا دِرْهَمٌ

Dari Ibnu Umar ia berkata, “Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa meninggal sementara ia mempunyai tanggungan hutang satu dinar atau satu dirham, maka akan diganti dari pahala kebaikannya pada hari yang dinar dan dirham tidak berguna lagi.” ( HR. Ibnu Majah ).
Azab orang yang tidak bayar hutang sangat mengerikan ketika di akhirat. Oleh karena itu, jika sudah memiliki rezeki sebaiknya segeralah membayar karena kematian bisa menjemput manusia kapan saja, dan dimanapun saja berada, jika hal itu sudah sampai waktunya .sedangkan manusia tidak bisa lari dari kematian.Sebagaima firman Allah.

Surat An-Nisa Ayat 78


أَيْنَمَا تَكُونُوا۟ يُدْرِككُّمُ ٱلْمَوْتُ وَلَوْ كُنتُمْ فِى بُرُوجٍ مُّشَيَّدَةٍ ۗ وَإِن تُصِبْهُمْ حَسَنَةٌ يَقُولُوا۟ هَٰذِهِۦ مِنْ عِندِ ٱللَّهِ ۖ وَإِن تُصِبْهُمْ سَيِّئَةٌ يَقُولُوا۟ هَٰذِهِۦ مِنْ عِندِكَ ۚ قُلْ كُلٌّ مِّنْ عِندِ ٱللَّهِ ۖ فَمَالِ هَٰٓؤُلَآءِ ٱلْقَوْمِ لَا يَكَادُونَ يَفْقَهُونَ حَدِيثًا

Artinya: Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh, dan jika mereka memperoleh kebaikan, mereka mengatakan: “Ini adalah dari sisi Allah”, dan kalau mereka ditimpa sesuatu bencana mereka mengatakan: “Ini (datangnya) dari sisi kamu (Muhammad)”. Katakanlah: “Semuanya (datang) dari sisi Allah”. Maka mengapa orang-orang itu (orang munafik) hampir-hampir tidak memahami pembicaraan sedikitpun?

Wallohu A’lam bisshowab

Kategori
Uncategorized

HUKUMNYA BERSHODAQOH DENGAN BARANG YANG TIDAK BAGUS (JELEK)

Assalamualaikum.

Deskripsi masalah.
Realita disebagian masyarakat, jika sanak familinya meninggal pakaian yang pernah dipakai oleh yang meninggal itu dishodaqohkan , mungkin hal tersebut agar berguna atau dipakai sementara barang- barang yang dishodaqohkan ( bekas pakaiannya sudah layu ).

Pertanyaannya.
Apa hukumnya bershodaqoh dengan barang yang layu atau jelek..?

Waalaikum salam.
Jawaban
Shodaqoh dengan barang yang jelek atau tidak bagus atau sudah layu padahal sipemberi itu mempunyai barang bagus atau baik maka hukumnya memberi barang yang jelek adalah makruh .Artinya jika dilaksanakan tidak berpahala.Oleh karena itu jika berkeinginan bershodaqoh maka sunnah memberi barang yang masih bagus agar mendapatkan pahala.

المكروه هو مالايثاب على فاعله ويثاب على تاركه


Makruh: Yaitu sesuatu yang manakala dilakukan tidak berpahala dan bilamana ditinggalkan berpahala.

Sedangkan sunnah :

المندوب هو ما يثاب على فاعله ولا يعاقب على تاركه

Referensi;


إعانة الطالبين ج ٢ ص ٢١٠


(وقوله ويكره بردئ ) أى يكره التصدق بردئ كسوس وذلك لقوله تعالى لن تنالوا البر حتى تتفقوا مما تحبون ، ومحل الكراهة إذا وجد غير الردئ وإلا فلا.
وعبارة المجموع : ( فرع ) يكره تعمد الصدقة بالردئ قال الله تعالى ولاتيمموا الخبيث منه تتفقون، ويستحب تعمد أجود ماله وأحبه إليه قال الله تعالى لن تنالوا البر حتى تتفقوا مما تحبون
والله أعلم بالصواب

Kategori
Uncategorized

CARA BARU ZAKAT ALA PNS

CARA BARU ZAKAT ALA PNS

Assalamualaikum

Deskripsi Masalah :
Jakarta, CNN. Indonesia. Pemerintah akan memotong 2,5 persen dari gaji pegawai negeri sipil (PNS) untuk pembayarkan zakat. Ketentuan itu berlaku khusus PNS muslim dan akan tertuang dalam peraturan presiden (perpres).
Ketika Lukmanul Hakim menjabat sebagai Menteri Agama menegaskan, “pemotongan gaji demi zakat bagi PNS Muslim itu tidak bersifat mandator (wajib). Sehingga PNS muslim yang menolak bisa mengajukan keberatan”.
“sidang dipersiapkan Perpres tentang pungutan zakat bagi aparatur sipil negara (ASN) muslim. Karena kewajiban zakat hanya kepada umat islam ini bukan paksaan lebih kepada imbauan” ujarnya ditemui di kompleks Istana Kepresidenan, senin 5/2. Menurut dia hal ini dilakukan seiring potensi dana himpunan zakat yang besar mengutip BAZNAS potensi zakat nasional bisa tembus Rp. 271 triliun.
Sayangnya ia tidak menyebut pemanfaatan utama dari dana zakat PNS tersebut, ia Cuma bilang pemanfaatan dipertimbangkan oleh BAZNAS. “kami ingin potensi ini bisa diaktualisasikan sehingga lebih banyak masyarakat dapat manfaat dari dana zakat”. Sementara itu presiden Joko Widodo berharap ada perubahan pengelolaan zakat dan wakaf agar dana tersebut bisa digunakan untuk pengentasan kemiskinan dan mengurangi ketimpangan “Reformasi pembangunan juga harus dilakukan dalam pengelolaan zakat dan wakaf” ucapnya.

Pertanyaan :

  1. Apakah profesi sebagai PNS wajib mengeluarkan zakat?
  2. Apakah tindakan pemerintah yang memotong gaji PNS dapat dibenarkan?

Waalaikum salam

Jawaban No.1

Ada dua konsep menyikapi zakat profesi:

  1. Hasil dari sebuah profesi harus dizakati dengan catatan mencapai satu nishob sebagaimana nishobnya emas perak dan mencapai satu tahun. Satu nishob emas = 20 misqol. 1 misqol = 4,25 gram (menurut Syeikh Qordhowi). 4,25 gram x 20 misqol = 85 gram. Jika asumsi 1 gram emas senilai Rp. 500.000 berarti nominal yang wajib dizakati sebesar Rp. 42.500.000. Zakatnya adalah seperempat dari 1/10 atau 2,5 % sebesar Rp. 1.062.500. Konklusi : jika gaji yang diterima PNS itu sudah satu nishob dan lewat 1 tahun maka wajib membayar zakat. Ada sebagian pendapat sahabat yang tidak mensyaratkan haul. Artinya setiap kali menerima gaji dan nilainya mencapai nishob zakat dia wajib membayar zakat sekali untuk satu tahun tanpa menunggu lewatnya masa satu tahun.
  2. kewajiban membayarkan pada mata uang rupiah jika mencapai nishob (20 misqol) karena mata uang rupiah sebagai alat transaksi yang menggangtikan fungsi emas dan perak.

Jawaban. No.2

Tidak dibenarkan karena termasuk mal bathin sehingga PNS memiliki otoritas penuh untuk menyerahkan zakatnya.belum ada kewajiban zakat (kecuali atas nama sumbangan dan secara sukarela)

Referensi :


وفي الترمسى :439

واختلف المتأخرون فى الورقة المعروفة بالنوط فعند الشيخ سالم بن سمير والحبيب عبد الله بن سميط انها من قبيل الديون نظرا الى ما تضمنته الورقة المذكورة من النقود المتعامل بها وعند الشيخ محمد الانبابى والحبيب عبد الله بن ابى بكر انها كالفلوس المضروبة والتعامل بها صحيح عند الكل وتجب زكاة ما تضمنته الاوراق من النقود عند الاولين زكاة عين وتجب زكاة التجارة عتد الاخرين فى اعيانها اذا فصد بها التجارة واما الاعيان الاوراق فقال التى لم تقصدبها التجارة فلا زكاة فيها باتفاق وجمع شيخنا رحمه الله بين كلامهم بعد نقل افتائتهم -الى ان قال- ان الاوراق المذكورة لها جهتان الاولى جهة ما تضمنته من النقدين الثانية جهة اعيان فاذا قصدت المعاملة اتضمنته ففيها تفصيل حاصله انه اذا اشتريت عين به وهو الغالب فى المعاملة بهاكان من قبيل شراء فى الذمة وهو جائز الخ.

وفي المذاهب الأربعة ج : 1 ص : 605

جمهور الفقهاء يرون وجوب الزكاة في الأوراق المالية لأنها حلت محل الذهب والفضة في التعامل ويمكن صرفها بالفضة بدون عسر فليس من المعقول أن يكون لدى الناس ثروة من الأوراق المالية ويمكنهم صرف نصاب الزكاة منها بالفضة ولايخرجون منها زكاة ولذا أجمع فقهاء ثلاثة من الأئمة على وجوب الزكاة فيها وخالف الحنابلة فقط إهـ

وفي الفقه الإسلامي وأدلته ج : 3 ص : 866

المطلب الثاني: زكاة كسب العمل والمهن الحرة: العمل: إما حر غير مرتبط بالدولة كعمل الطبيب والمهندس والمحامي والخياط والنجار وغيرهم من أصحاب المهن الحرة. وإما مقيد مرتبط بوظيفة تابعة للدولة أو نحوها من المؤسسات والشركات العامة أو الخاصة

، فيعطى الموظف راتبا شهريا كما هو معروف. والدخل الذي يكسبه كل من صاحب العمل الحر أو الموظف ينطبق عليه فقها وصف (المال المستفاد)(3).والمقرر في المذاهب الأربعة أنه لا زكاة في المال المستفاد حتى يبلغ نصابا ويتم حولا، ويزكى في رأي غير الشافعية المال المدخر كله ولو من آخر لحظة قبل انتهاء الحول بعد توفر أصل النصاب. ويمكن القول بوجوب الزكاة في المال المستفاد بمجرد قبضه، ولو لم يمض عليه حول، أخذا برأي بعض الصحابة (ابن عباس وابن مسعود ومعاوية) وبعض التابعين (الزهري والحسن البصري ومكحول) ورأي عمر بن عبد العزيز، والباقر والصادق والناصر، وداود الظاهري. ومقدار الواجب: هو ربع العشر، عملا بعموم النصوص التي أوجبت الزكاة في النقود وهي ربع العشر، سواء حال عليها الحول، أم كانت مستفادة. وإذا زكى المسلم كسب العمل أو المهنة عند استفادته أو قبضه لا يزكيه مرة أخرى عند انتهاء الحول. وبذلك يتساوى أصحاب الدخل المتعاقب مع الفلاح الذي تجب عليه زكاة الزروع والثمار بمجرد الحصاد والدياس.  وفي الفقه الإسلامي وأدلته – (ج 3 / ص 173( الزيادة عن الحاجات الأصلية: اشترط الحنفية (1) كون المال الواجب فيه الزكاة فارغاً عن الدين وعن الحاجة الأصلية لمالكه؛ لأن المشغول بها كالمعدوم، وفسر ابن ملك الحاجة الأصلية: بأنها ما يدفع الهلاك عن الإنسان تحقيقاً كالنفقة ودار السكنى وآلات الحرب والثياب المحتاج إليها لدفع الحر أو البرد، أو تقديراً كالدين

وفي حاشية البجيرمي على المنهج – (5 / 328)

( قوله : وليس له طلبها عن الباطن ) أي يحرم عليه وإذا دفعها المالك له حينئذ يبرأ وكذا إذا خالف أمره وصرفها بنفسه للمستحقين فإنه يبرأ ع ش على م ر .( قوله : وألحقوا بزكاة المال الباطن إلخ ) أي في أن الأفضل دفعها للإمام إن طلبها شوبري وليس بظاهر والصواب أن يقول في أنه ليس له طلبها إلا إذا علم أن المالك لا يزكي إلخ كما قرره شيخنا قال الشوبري ووجه الإلحاق أن واجبها اليسار وهو مما يخفى غالبا كالمال الباطن .( قوله : وهو أفضل ) سواء في ذلك زكاة الظاهر والباطن ع ش على م ر .

وفي الفقه الإسلامي وأدلته ج : 3 ص : 866

المطلب الثاني: زكاة كسب العمل والمهن الحرة: العمل: إما حر غير مرتبط بالدولة كعمل الطبيب والمهندس والمحامي والخياط والنجار وغيرهم من أصحاب المهن الحرة. وإما مقيد مرتبط بوظيفة تابعة للدولة أو نحوها من المؤسسات والشركات العامة أو الخاصة، فيعطى الموظف راتبا شهريا كما هو معروف. والدخل الذي يكسبه كل من صاحب العمل الحر أو الموظف ينطبق عليه فقها وصف (المال المستفاد)(3).والمقرر في المذاهب الأربعة أنه لا زكاة في المال المستفاد حتى يبلغ نصابا ويتم حولا، ويزكى في رأي غير الشافعية المال المدخر كله ولو من آخر لحظة قبل انتهاء الحول بعد توفر أصل النصاب. ويمكن القول بوجوب الزكاة في المال المستفاد بمجرد قبضه، ولو لم يمض عليه حول، أخذا برأي بعض الصحابة (ابن عباس وابن مسعود ومعاوية) وبعض التابعين (الزهري والحسن البصري ومكحول) ورأي عمر بن عبد العزيز، والباقر والصادق والناصر، وداود الظاهري. ومقدار الواجب: هو ربع العشر، عملا بعموم النصوص التي أوجبت الزكاة في النقود وهي ربع العشر، سواء حال عليها الحول، أم كانت مستفادة. وإذا زكى المسلم كسب العمل أو المهنة عند استفادته أو قبضه لا يزكيه مرة أخرى عند انتهاء الحول. وبذلك يتساوى أصحاب الدخل المتعاقب مع الفلاح الذي تجب عليه زكاة الزروع والثمار بمجرد الحصاد والدياس.

وفي التشريع الجنائي الإسلامى لعبد القادر عودة الجزء الأول ص: 223

حكم القوانين واللوائح المخالفة للقرآن والسنة إذا القوانين واللوائح متفقة على نصوص القرآن والسنة أو متمسية مع مبادىء الشريعة العامة وروحها التشريعية وجبت الطاعة لها وحقت العقوبة على من خالفها أما إذا جاءت القوانين واللوائح خارجة على نصوص القرآن والسنة أو خارجة على مبادىء الشريعة العامة وروحها التشريعية فهى قوانين ولوائح باطلة بطلانا مطلقة وليس لأحد أن يطيعها بل على كل مسلم أن يحاربها وسيبين فيما يلى أسباب هذا البطلان بعد أن نتكلم عن نظرية البطلان ذاتها

Wallohu A’lam bisshowab

Kategori
Uncategorized

CARA BERSUCI DAN SHALATNYA ORANG YANG BARU OPERASI MATA

Assalamu’alaikum wr wb.

Mohon izin bertanya

  1. Bagaimana cara wudhu’ ben asholat bagi yang baru oprasi mata? Karena saran dokter tidak boleh membungkuk (ruku’/asujud) Ngangkat berat 5 kg keatas, mata kena air.

Mohon penjelasan..!

Waalaikum salam

Jawaban:
Orang yang setelah operasi mata itu tetap punya kewajiban bersuci ketika akan melaksanakan kewajiban shalat, namun jika menggunakan air dapat membahayakan terhadap matanya maka solusinya cara bersucinya dan cara shalatnya adalah:
1. Bertayammum.
2.Sholat dengan Cara terlentang.

Referensi:

(فتخ الوهاب)


” وَ ” ثَالِثُهَا ” خَوْفُ مَحْذُورٍ مِنْ اسْتِعْمَالِهِ ” أَيْ الْمَاءِ مُطْلَقًا أَوْ الْمَعْجُوزُ عَنْ تَسْخِينِهِ ” كَمَرَضٍ وَبُطْءِ بَرْءٍ ” بِفَتْحِ الْبَاءِ وَضَمِّهَا ” وَزِيَادَةُ أَلَمٍ وشين فاحش فِي عُضْوٍ ظَاهِرٍ ” لِلْعُذْرِ وَلِلْآيَةِ السَّابِقَةِ وَالشَّيْنُ الْأَثَرُ الْمُسْتَكْرَهُ مِنْ تَغَيُّرِ لَوْنٍ وَنُحُولٍ وَاسْتِحْشَافٍ وثغرة تبقى ولحمة وتزيد وَالظَّاهِرُ مَا يَبْدُو عِنْدَ الْمَهْنَةِ غَالِبًا كَالْوَجْهِ وَالْيَدَيْنِ ذَكَرَ ذَلِكَ الرَّافِعِيُّ وَذَكَرَ فِي الْجِنَايَاتِ مَا حَاصِلُهُ أَنَّهُ مَا لَا يُعَدُّ كَشْفُهُ هَتْكًا لِلْمُرُوءَةِ وَيُمْكِنُ رَدُّهُ إلَى الْأَوَّلِ وَخَرَجَ بِالْفَاحِشِ الْيَسِيرُ كَقَلِيلِ سَوَادٍ وَبِالظَّاهِرِ الْفَاحِشُ فِي الْبَاطِنِ فَلَا أَثَرَ لِخَوْفِ ذَلِكَ وَيُعْتَمَدُ فِي خَوْفِ مَا ذُكِرَ قَوْلُ عَدْلٍ فِي الرِّوَايَةِ وَذِكْرُ زِيَادَةِ الْأَلَمِ مِنْ زِيَادَتِي وَبِهِ صَرَّحَ فِي الرَّوْضَةِ وَأَصْلِهَا وَتَعْبِيرِي بِمَا ذُكِرَ أَعَمُّ مِنْ تَعْبِيرِهِ بِمَا ذَكَرَهُ وَمَا ذَكَرْتُهُ مِنْ أَنَّ الْأَسْبَابَ ثَلَاثَةٌ هُوَ مَا فِي الْأَصْلِ وذكرها في الروضة كأصلها سَبْعَةٌ وَكُلُّهَا فِي الْحَقِيقَةِ تَرْجِعُ إلَى فَقْدِ الماء حسا أو شرعا.

……………

Di dalam madzhab Syafi’i, seseorang itu tetap diwajibkan sholat,selama orang itu masih mempunyai akal.Alasannya ialah: Orang itu tetap ditaklif(dibebani)dengan kewajiban sholat, disebabkan karena adanya akal dan disebabkan karena orang itu mengerti tentang diwajibkannya sholat.
-Jika orang itu tidak bisa sholat berdiri maka hendaklah orang itu sholat duduk(baik duduknya itu seperti duduknya tahiyyat awwal ataupun duduknya itu seperti duduknya tahiyyat akhir.Tapi yang lebih utama adalah duduk dengan cara duduknya tahiyyat awwal/dengan cara duduk iftirosy).Dan ketika rukuk maka hendaklah orang itu membungkukkan kepala dan badan bagian atasnya.
-Duduknya tahiyyat awwal adalah duduk iftirosy,yaitu orang itu duduk diatas tulang pentil kaki kirinya,sekiranya punggungnya kaki kirinya itu disentuhkan ke tanah.Dan orang itu menjadikan berdiri terhadap kaki kanannya.Dan orang itu meletakkan ujung-ujung jari-jarinya kaki kanannya menghadap kiblat.
-Duduknya tahiyyat akhir adalah duduk tawarruk,yaitu seperti duduk iftirosy.Tapi orang itu mengeluarkan kaki kirinya dari arah dibawah kaki kanannya.Dan orang itu menyentuhkan pangkal pahanya ke tanah.
-Jika orang itu tidak bisa sholat duduk,maka hendaklah orang itu sholat dengan tidur miring kanan.Dan jika orang itu tidak bisa sholat dengan tidur miring kanan maka hendaklah orang itu sholat dengan tidur miring kiri.
-Dan jika orang itu tidak bisa sholat dengan tidur miring kanan(miring kiri) maka hendaklah orang itu sholat dalam keadaan terlentang.Dan kedua telapak kakinya orang itu dihadapkan ke kiblat.
-Jika orang itu tidak bisa melaksanakan sholat seperti cara-cara di atas,maka hendaklah orang itu sholat dengan cara menganggukkan kepalanya.
-Jika orang itu tidak bisa melaksanakan sholat dengan cara menganggukkan kepalanya,maka hendaklah orang itu sholat dengan cara mengedipkan pelupuk matanya.
-Jika pelupuk matanya tidak bisa digerakkan,maka hendaklah orang itu sholat
اجرى اركان الصلاة في قلبه
(ajroo arkaanassolaati  fii qolbihii,artinya hendaklah orang itu menjalankan /mengerjakan terhadap rukun-rukunnya sholat didalam hatinya.

Referensi:

(فقه العبادات على مذهب الشافعي)
ولا تسقط الصلاة عنه ما دام يعقل، لأنه مخاطب بالصلاة لوجود العقل والإدراك فيؤدي ما في وسعه أداؤه لقوله صلى الله عليه وسلم فيما رواه عنه أبو هريرة رضي الله عنه: (وإذا أمرتكم بأمر فأتوا منه ما استطعتم) (البخاري ج 6 / كتاب الاعتصام بالكتاب والسنة باب 2/6858)
ولا يشترط الاستقلال في القيام، فلو قام مستنداً إلى جدار أو إنسان أو اعتمد على عصا بلا حاجة بحيث لو رفع السِنادُ سقط صحت صلاته مع الكراهة لأنه يسمى قائماً
ولو توقف القيام على معين ثم إذا وقف لا يتأذى بالقيام فإنه يجب عليه الاستعانة بالمعين ولو بأجرة فاضلة عن مؤنته ومؤنة من تلزمه نفقته يومه وليلته، هذا إن احتاج إلى المعين في ابتداء كل ركعة فقط، أما لو احتاجه في الدوام فلا يجب ويصلي من قعود، بخلاف العكازة فإنها تجب وإن احتاجها في الدوام أيضاً، وذلك للمشقة في المعين وعدم المشقة في العكازة ولو تمكن المريض من القيام في جميع الصلاة منفرداً بلا مشقة، ولم يمكنه ذلك مع الجماعة إلا بالقعود في بعضها ففي هذه الحال يفضل الانفراد، لكن تصح مع الجماعة وإن قعد في بعضها

فأما العاجز كمن تقوس ظهره لِزَمَانَةٍ (الزمانة: العاهة) أو كبر حتى صار في حد الراكعين فيلزمه القيام، فإذا أراد الركوع زاد في الانحناء ما قدر عليه.
ولو عجز عن الركوع والسجود دون القيام لعلة بظهره مثلاً لزمه القيام، ويأتي بالركوع والسجود بحسب الطاقة، فيحني صلبه قدر الإمكان، فإن لم يطق حنى رقبته ورأسه فإذا احتاج فيه إلى شيء يعتمد عليه أو ليميل إلى جنبه لزمه ذلك. فإن لم يطق الانحناء أصلاً أومأ إليهما، ولو أمكنه القيام والاضطجاع دون القعود يأتي ببدل القعود قائماً.
أما النافلة فيصح فعلها قاعداً أو مضطجعاً مع القدرة على القيام لحديث جابر بن عبد الله رضي الله عنهما قال: “كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يصلي على راحلته حيث توجهت، فإذا أراد الفريضة نزل فاستقبل القبلة” (البخاري ج 1/ كتاب القبلة باب 4/391) ولأن مبنى النوافل

على التيسير، لكن القاعد له نصف أجر القائم، المضطجع له نصف أجر القاعد لما روي عن عمران بن حصين رضي الله عنه قال: “سألت رسول الله صلى الله عليه وسلم عن صلاة الرجل وهو قاعد فقال: (من صلى قائماً فهو أفضل، ومن صلى قاعداً فله نصف أجر القائم، ومن صلى نائماً فله نصف أجر القاعد) ” (الترمذي ج 2/ أبواب الصلاة باب 274/371) قال سفيان الثوري: هذا للصحيح ولمن ليس له عذر – يعني في النوافل – فأما من كان له عذر من مرض أو غيره فصلى جالساً فله مثل أجر القائم (الترمذي ج 2/ أبواب الصلاة باب 274)
أما الاستلقاء في الصلاة النافلة مع القدرة على غيره فمبطل لها.

……………………………………………………….

(كتاب فتح الوهاب ، جز ١ ، صحيفة ٣٨-٤٨)
……………………………………………………….