Dikampung saya ada kegiatan majlis ( patehaan ) yang dikemas dalam acara tersebut dengan bacaan surah Yasin dan tahlil. Dan waktunya dilaksanakan setelah sholat maghrib biasanya setelah sholat isya’ sudah selesai, dan kegiatan tersebut kantino menjadi wiritan surah Yasin dan tahlil. Nah Ketika acara dimulai ( baca suruh Yasin atau tahlil suara adzan dikumandankan.
Pertanyaannya.
Manakah yang lebih baik atau lebih utama antara melanjudkan bacaan Al-Qur’an atau tahlil dengan menjawab adzan ? Mohon penjelasannya Kiyai.
Jawaban:
Orang yang sedang membaca surat Yasin dan tahlil, ketika mendengar adzan, maka yang lebih utama hendaklah orang itu berhenti dulu membaca surat Yasin dan tahlil. Dan orang itu disunnatkan untuk menjawab adzan.Dengan alasan karena setiap kegiatan baik itu ilmu, baca Al-Qur’an atau dzikir ada waktu tersendiri, begitu juga hal adzan punya waktu untuk dijawab.Oleh karenanya Lebih baik berhenti dulu baca Al-Qur’an atau tahlil atau menjelaskan ilmu dengan menjawab adzan lalu teruskan kegiatan tersebut.
Referensi:
إعانة الطالبين على حل ألفاظ فتح المعين ج:1 ص: 279 (فائدة)
قال القطب الشعراني في العهود المحمدية: أخذ علينا العهد العام من رسول الله – صلى الله عليه وسلم – أن نجيب المؤذن بما ورد في السنة، ولا نتلاهى عنه قط بكلام لغو ولا غيره أدبا مع الشارع – صلى الله عليه وسلم -. فإن لكل سنة وقتا يخصها، فلإجابة المؤذن وقت، وللعلم وقت، وللتسبيح وقت، ولتلاوة القرآن وقت. كما أنه ليس للعبد أن يجعل موضع الفاتحة استغفارا، ولا موضع الركوع والسجود قراءة، ولا موضع التشهد غيره. وهكذا فافهم. وهذا العهد يبخل به كثير من طلبة العلم فضلا عن غيرهم، فيتركون إجابة المؤذن، بل ربما تركوا صلاة الجماعة حتى يخرج الناس منها وهم يطالعون في علم نحو أو أصول أو فقه، ويقولون: العلم مقدم مطلقا، وليس كذلك فإن المسألة فيها تفصيل، فما كل علم يكون مقدما في ذلك الوقت على صلاة الجماعة كما هو معروف عند كل من شم رائحة مراتب الأوامر الشرعية.
( SATU FAIDAH ) Imam sya’roni dalam kitab al-Uhud al-Muhammadiyyah, beliau berkata;”Kita telah terikat perjanjian umum dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam untuk menjawab orang yang sedang adzan sebagaimana telah dijelaskan dalam As-Sunnah, dan untuk tidak membicarakan sesuatu yang tak ada gunanya atau membicarakan hal lain, untuk menunjukkan sikap sopan santun kita pada Nabi Muhammad shollallahu alaihi wasallam yang menetapkan syari’at. Mengapa demikian, karena segala sesuatu itu ada waktunya; menjawab adzan ada waktunya, untuk ilmu ada waktunya, tasbih ada waktunya, membaca al-qur’an juga ada waktunya sendiri. Sebagaimana pada waktu membaca fatihah kita tidak boleh menggantinya dengan istighfar, tempatnya rukuk dan sujud tidak boleh ditempati membaca, begitu juga tempatnya tasyahud tidak boleh ditempati untuk hal lain, dan begitu seterusnya. Pahamilah hal ini!
Perjanjian ini ( kesunahan menjawab adzan ) telah banyak ditinggalkan oleh para penuntut ilmu agama, apalagi selain mereka!, mereka tidak lagi mau menjawab adzan, bahkan terkadang meninggalkan sholat berjama’ah hingga sholat jama’ah selesai dikerjakan. Sedangkan mereka sedang asyik bermuthola’ah ( mempelajari ) ilmu nahwu, ushul atau fiqih, dan mereka berkata: “Ilmu itu lebih dikedepankan daripada hal lain secara mutlak”, ucapan itu tentu saja tidak benar, sebab terdapat perincian dalam masalah tersebut, karena tidak semua ilmu itu lebih dikedepankan daripada sholat berjama’ah, sebagaimana telah diketahui oleh orang yang telah pernah “mencium pada baunya tingkatan-tingkatannya perintah-perintah syari’at.
Dari Abi Sa’id Al-Khudri r.a., bahwasannya Rasulullah shollallahu alaihi wasallam. bersabda, “Jika kalian mendengar azan, maka ucapkanlah sebagaimana apa yang diucapkan oleh muadzzin.” (HR. Al-Bukhari)
Sehubungan dengan hal ini, Imam Nawawi juga telah menjelaskan di dalam kitabnya At-Tibyan Fi Adabi Hamalatil Qur’an. Beliau berkata,
” ولو سمع المؤذن قطع القراءة وأجابه بمتابعته في ألفاظ الأذان والإقامة ثم يعود إلى قراءته وهذا متفق عليه عند أصحابنا”.
“Jika seseorang mendengar muadzin (adzan), maka (hendaknya) ia menghentikan (memotong ) bacaannya dan menjawab azan (tersebut) dengan mengikuti lafaz-lafaz adzan dan iqamah (itu), kemudian ia mengulang lagi bacaannya. Inilah yang disepakati menurut ulama’ kita (madzhab Syafii).”
CARA BERKURBAN YANG BENAR,JIKA TERJADI PERBEDAAN HARI RAYA IDUL ADHA.
Assalaamualaikum.
Kurban di titipkan ke Masjid yang hari Idul adha-nya berbeda
Deskrispi masalah
Perbedaan itu rahmat, jika sama kenapa harus beda, jika beda kenapa tidak saling menghargai,begitu bunyi slogan memaknai perbedaan, tahun lalu idul fitri yang berbeda dan sekarang justru Idul Adha, idul Adha identik dengan sembelihan hewan kurban, sekalipun memaklumi perbedaan tetap saja masih menyisakan problema. Sebut saja si imam ( Pemilik Hewan Qurban) , ia meyakini bahwa Idul Adha jatuh pada hari Kamis, namun ia sudah terlanjur menitipkan hewan kurbannya ke Masjid yang merayakan hari raya pada hari Rabu, oleh pihak masjid ( Takmir masjid ) Sementara Qurban itu disembelih pada hari rabu, si imam ( pemilik Qurban) pun bertanya-tanya apakah sah kurbannya disembelih pada hari itu sedang ia meyakini hari raya idul Adha jatuh pada Kamis?
Pertanyaan
Sah kah hewan kurban si imam yang oleh pihak masjid disembelih pada hari rabu? Jika tidak sah, bagaimanakah solusinya?
Apakah pihak yang menyembelih hewan kurban ber-keharusan untuk dloman (ganti rugi), mengingat kurban itu tidak disembelih pada hari Kamis.
Waalikum salam.
Jawaban. Untuk mengetahui sah dan tidaknya pelaksanaan qurban penting adanya kehati- hatian sebagaimana keterangan ibarah berikut:
كاشفة السجا على سفينة النجا. فى باب الصوم
واعلم أنه يثبت رمضان بشهادة العدل وإن دل الحساب القطعي على عدم إمكان رؤيته كما نقله ابن قاسم عن الرملي وهو المعتمد خلافاً لما نقله القليوبي فإنه ضعيف فليحف قال ذلك كله المدابغي
Dan ketahuilah sesungguhnya Ramadhan ditetapkan dengan kesaksian orang adil meskipun hisab qot’i (hitungan pasti) menunjukkan tidak mungkin terjadinya rukyah hilal, seperti keterangan yang dikutip oleh Ibnu Qosim dari Romli. Ini adalah pendapat yang mu’tamad yang bertolak belakang dengan keterangan yang dikutip oleh Qulyubi karena pendapatnya tersebut adalah yang dhoif, seperti yang dikatakan oleh Mudabighi
قال المرغني ودليل الاكتفاء في ثبوته بالعدل الواحد ما صح عن ابن عمر رضي اﷲعنهما أخبرت رسول اﷲ صلى اﷲ عليه وسلّم أني رأيت الهلال فصام وأمر الناس بصيامه اه قوله أخبرت رسول اﷲ صلى اﷲ عليه وسلّم أي بلفظ الشهادة ويكفي في الشهادة أشهد أني رأيت الهلال وإن لم يقل وإن غداً من رمضان
Murghini berkata, “Dalil dicukupkannya penetapan Ramadhan dengan satu orang adil adalah hadis yang shohih dari Ibnu Umar rodhiallahu ‘anhuma, “ Aku memberitahu kepada Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallama bahwa aku melihat hilal (Ramadhan). Kemudian beliau berpuasa dan memerintahkan orang-orang untuk berpuasa.” Perkataan Ibnu Umar, Aku memberitahu kepada Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallama adalah dengan lafadz syahadah ( kesaksian ). Dalam bersyahadah atau bersaksi, cukup mengucapkan, “Aku bersaksi sesungguhnya aku telah melihat hilal,” meskipun tidak mengucapkan, “Sesungguhnya besok sudah masuk Ramadhan.
” والمعنى في ثبوته بالواحد الاحتياط للصوم ومثله سائر العبادات كالوقوف بالنسبة لهلال ذي الحِجة وهي شهادة حسبة بكسر الحاء أي لا مرجوٌ بها ثواب الدنيا فلا تحتاج إلى سبق دعوى
Dan adapun arti pokok ditetapkannya Ramadhan dengan satu orang adil adalah karena ihtiyat ( berhati-hati ) dalam berpuasa. Begitu juga, ibadah-ibadah lain, seperti; wukuf, dengan artian bahwa ditetapkannya Dzulhijah dengan rukyah hilal oleh satu orang adil.
Adapun yang dimaksud syahadah disini adalah syahadah hisbah ( kesaksian yang mencukupi yang lainnya ), maksudnya, syahadah yang tidak diharapkan adanya pahala di dunia. Oleh karena itu,syahadah tersebut tidak perlu ada dakwaan terlebih dahulu.
قال المدابغي ولو رجع عن شهادته بعد شروعهم في الصوم أو بعد حكم الحاكم ولوقبل شروعهم لزمهم الصوم ويفطرون بإتمام العدة وإن لم يروا هلال شوال
Mudabighi berkata, “Apabila orang adil itu mencabut syahadah atau kesaksiannya tentang rukyah hilal, padahal orang-orang sudah mulai berpuasa atau apabila ia mencabut syahadah-nya setelah ditetapkan dan diputuskan oleh hakim ( Menteri Agama ) meskipun orang-orang belum mulai berpuasa, maka wajib atas mereka berpuasa dan mereka nantinya berbuka dengan menggenapkan Ramadhan menjadi 30 hari meskipun mereka melihat hilal Syawal.”
Dari keterangan diatas bahwa Penetapan awal bulan romadhon,dan penetapan awal bulan dzulhijjah, dan penetapan hari raya idul fitri dan penetapan hari raya idul adha itu berdasarkan ru’yatul hilal.
Jadi misalkan jika penetapan ru’ yatul hilal bulan Dzulhijjah tanggal 1 jatuh pada hari senin maka Hari raya idul adha yang berdasarkan ru’yatul hilal tersebut bertepatan pada hari Rabu, tanggal 10 maka benar dan sah si penerima wakil qurban itu dalam melaksanakan menyembelih hewan kurbannya. Dengan alasan karena penyembelihan qurban mulai dari hari rabu sampai berakhirnya ayyamuttasyri’ ( yaitu tanggal 11,12,13 bulan dzulhijjah ) begitu juga halnya disembelih hari Kamis juga sah. . Alasannya karena masih masuk dalam hari tasyrik. Namun dia berdosa karena tidak mengikuti terhadap anjuran sipemilik Qurban .Akan tetapi jika disembelih pada hari selasa, maka hukum penyembelihan qurban tidak sah karena masih belum masuk tgl 10. ( hari qurban ) Dan ia wajib mengganti hewan yang disembelih karena masih belum masuk hari qurban. Namun sembelihannya halal jika sudah memenuhi syarat ” Ad-Dzabhu”. Namun tidak disebut daging qurban. Dengan alasan karena hewan qurban dilaksanan penyembelihan nya belum masuk tanggal 10 yang semestinya mulai dari hari Rabu sampai berakhirnya ayyamuttasyri’ ( yaitu tanggal 11,12,13 bulan dzulhijjah ) . Dan ia berdosa disebabkan ketidak amanahan dalam melaksanakan tugasnya.( jika disembelih hari selasa) begitu juga hari rabu.
Kesimpulan jika pelaksanaan Qurban sudah tepat sesuai dengan keputusan Mentri Agama , maka hukum kurbanya sah dan tidak perlu adanya Dhoman atau ganti. Dan jika salah dalam melaksanakan penyembelihan hewan Qurban dengan tidak mengikuti keputusan menteri Agama walaupun dirinya meyakini akan kebenarannya dengan Ru’yatul hilal, maka hukum Qurbannya tidak sah , kecuali apabila hakim (Menteri Agama) tersebut menawarkannya untuk bersyahadah, bahkan wajib menetapkan Dzulhijjah berdasarkan syahadah-nya itu.” Alasannya karena hal qurban menyangkut kepentingan umum tidak untuk pribadi. Jika tidak adanya syahadah, maka dalam hal ini, Wakil penerima Qurban ( Takmir /pengurus masjid atau panitia Qurban ) wajib menggantinya. ( jika disembelih sebelum masuk tgl 10 ).
Wakil berkewajiban melaksanakan pekerjaan sesuai dengan apa yang ditentukan kepadanya oleh pihak yang mewakilkan ( muwakkil ), mulai dari zaman, tempat, jenis, harga dan kadar, seperti tempo, waktu pelunasan, dan selainnya. Atau meminta bukti yang kuat terkait dengan kalamnya muwakkil, baik berupa pengetahuan penduduk sekitar muwakkil. Apabila hal ini tidak ditemukan juga, maka ia berkewajiban melakukan pekerjaan yang dilakukan dengan prinsip hati-hati .
Keterangan wajibnya mengikuti tersebut jika tidak menyalahi terhadap aturan syariat, dan sebaliknya.
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pelaksanaan penyembelihan hewan kurban yaitu harus memastikan pihak yang berkurban sudah memasuki tanggal 10 Hijriah dari bulan Dzulhijjah.Atau meminta bukti yang kuat terkait dengan kalamnya muwakkil, baik berupa pengetahuan penduduk sekitar muwakkil. Apabila hal ini tidak ditemukan juga, maka ia berkewajiban melakukan pekerjaan yang dilakukan dengan prinsip hati-hati .
Adapun kesalahan yang berkaitan dengan waktu penyembelihan hewan kurban, menjadikan pihak yang ditunjuk sebagai wakil mudlahhi (pihak yang berkurban) wajib mengganti hewan kurbannya mudlahhi karena kurban tersebut menjadi tidak sah, jika disembelih belum masuk waktu penyembelihan qurban ( belum masuk tg 10). Dan apabila wakil bertindak di luar ketentuan muwakkil sebagamana telah disebutkan, maka pentasarufan harta tersebut menjadi rusak, dan ia bertanggung jawab dalam mengganti rugi harga hewan sesuai hari diterimanya hewan tersebut oleh mudlahhi, atau dengan harga mitsil .
Referensi:
بغية المسترشدين ص: ١٥٠
ويجب على الوكيل موافقة ما عين له الموكل من زمان ومكان وجنس ثمن وقدره كالأجل والحلول وغيرها أو دلت عليه قرينة قوية من كلام الموكل أو عرف أهل ناحيته فإن لم يكن شىء من ذلك لزمه العمل بالأحوط نعم لو عين الموكل سوقا أو قدرا أو مستريا ودلت القرائن على ذلك لغير غرض أو لم تدل وكانت المصلحة في حلافه جاز للوكيل مخالفته ولا يلزم فعل ما وكل فيه اهـ.
حاشية إعانة الطالبين ج ٣ص١٠٦
ومتى خالف شيأ مما ذكر فسد تصرفه وضمن قيمته يوم التسليم ولو مثليا
مغني المحتاج [٤ /٢٨٧]
(ويدخل وقتها) أي التضحية (إذا ارتفعت الشمس كرمح يوم النحر) وهو العاشر من ذي الحجة (ثم مضى قدر ركعتين) خفيفتين (وخطبتين خفيفتين) فإن ذبح قبل ذلك لم تقع أضحية لخبر الصحيحين أول ما تبدأ به في يومنا هذا نصلي ثم نرجع فتنحر من فعل ذلك فقد أصاب سنتنا ومن ذبح قبل ذلك فإنما هو لحم قدمه لأهله ليس من النسك في شيء ويستثنى من ذلك ما لو وقفوا بعرفة في الثامن غلطا وذبحوا في التاسع ثم بان ذلك أجزأهم تبعا للحج ذكره في المجموع عن الدارمي وهذا إنما يأتي على رأي مرجوح وهو أن الحج يجزىء والأصح أنه لا يجزىء فكذا الأضحية
المنثور في القواعد – الزركشي [١ /١١٤]
ولو ضحى على أن وقت الأضحية قد دخل فلم يكن فالظاهر أنها على ملك مالكها ويدل له حديث شاة الأضحية وقوله شاتك شاة لحم فإنه يقتضي أنها لا تكون أضحية ولا صدقة فإن العبادة إذا وقعت قبل الوقت لا تصح أصلا
الموسوعة الفقهية الكويتية [٥ /٩١]
قال الحنفية يدخل وقت التضحية عند طلوع فجر يوم النحر وهو يوم العيد وهذا الوقت لا يختلف في ذاته بالنسبة لمن يضحي في المصر أو غيره . لكنهم اشترطوا في صحتها لمن يضحي في المصر أن يكون الذبح بعد صلاة العيد ، ولو قبل الخطبة ، إلا أن الأفضل تأخيره إلى ما بعد الخطبة ، وإذا صليت صلاة العيد في مواضع من المصر كفى في صحة التضحية الفراغ من الصلاة في أحد المواضع . وإذا عطلت صلاة العيد ينتظر حتى يمضي وقت الصلاة بأن تزول الشمس ، ثم يذبح بعد ذلك . وأما من يضحي في غير المصر فإنه لا تشترط له هذه الشريطة ، بل يجوز أن يذبح بعد طلوع فجر يوم النحر ، لأن أهل غير المصر ليس عليهم صلاة العيد . وإذا كان من عليه الأضحية مقيما في المصر ، ووكل من يضحي عنه في غيره أو بالعكس ، فالعبرة بمكان الذبح لا بمكان الموكل المضحي ، لأن الذبح هو القربة
المجموع شرح المهذب [٨ /٣٧٦]
(فرع)
إذا جعل شاته أضحية أو نذر الضحية بشاة معينة ثم ذبحها قبل يوم النحر لزمه التصدق بلحمها ولا يجوز له أكل شئ منه ويلزمه ذبح مثلها يوم النحر بدلا عنها وكذا لو ذبح الهدي المعين قبل بلوغ المنسك لزمه التصدق بلحمه ولزمه البدل في وقته ولو باع الهدي أو الاضحية المعينين فذبحه المشتري واللحم باق أخذه البائع وتصدق به وعلى المشتري أرش ما نقص بالذبح ويضم البائع إليه ما يشترى به البدل وفي وجه ضعيف انه لا يغرم المشتري شيئا لان البائع سلطه والمذهب ولو ذبح اجنبي الاضحية المعينة قبل يوم النحر لزمه ما نقص من القيمة بسبب الذبح قال الرافعي ويشبه ان يجئ فيه الخلاف في ان اللحم يصرف إلى مصارف الضحايا ام ينفك عن حكم الاضحية ويعود ملكا كما سبق فيما إذا ذبح الاجنبي يوم النحر وقلنا لا يقع اضحية * ثم ما حصل من الارش ومن اللحم إن عاد ملكا له فيشتري به أضحية يذبحها يوم النحر * ولو نذر أضحية ثم عين شاة عما في ذمته فذبحها اجنبي قبل يوم النحر اخذ اللحم ونقصان اللحم بالذبح وملك الجميع وبقى الاصل في ذمة الناذر والله أعلم
تحفة المحتاج في شرح المنهاج [٤١ /١١٥]
( فإن أتلفها ) أو قصر حتى تلفت أو ضلت أي وقد فات الوق وأيس منها فيما يظهر وبه يجمع بين هذا وما مر آنفا أو سرقت (لزمه) أكثر الأمرين من قيمتها يوم تلفها أو نحوه ومثلها يوم النحر لأنه بالتزامه ذلك التزم النحر وتفرقة اللحم ففيما إذا تساويا أو زادت القيمة يلزمه ( أن يشتري بقيمتها ) يوم نحو الإتلاف ( مثلها ) جنسا ونوعا وسنا ( و ) أن ( يذبحها فيه ) أي الوقت لتعديه ويصير المشتري متعينا للأضحية إن اشتراه بعين القيمة أو في الذمة لكن بنيته كونه عنها وإلا فيجعله بعد الشراء بدلا عنها وقضية كلامهم تعين الشراء بالقيمة فلو كان عنده مثلها لم يجز إخراجه عنها وهو بعيد والذي يظهر إجزاؤه وظاهر كلامهم تمكينه من الشراء وإن خان بإتلاف ونحوه ويوجه بأن الشارع جعل له ولاية الذبح والتفرقة المستدعية لبقاء ولايته حتى على البدل وليست العدالة شرطا هنا حتى تنتقل الولاية للحاكم بخلافه في نحو وصي خان فاندفع توقف الأذرعي في ذلك وبحثه أن الحاكم هو المشتري وفيما إذا زاد المثل يحصل مثلها لحصول ذينك الملتزمين بكل من هذين ولو كانت قيمتها يوم الإتلاف أكثر فرخص الغنم وفضل عن مثلها شيء اشترى كريمة أو شاتين فأكثر فإن لم يجد كريمة ولم توجد شاة ولو بأي صفة كانت بالفاضل أخذ به شقصا بأن يشارك في ذبيحة أخرى وإن لم يجز فإن لم يجده أخذ به لحما على الأوجه فإن لم يجده تصدق بالدراهم على فقير أو أكثر ولا يؤخرها
Demikianlah penjelasan mengenai ketentuan berkurban sah dan tidaknya harus menunggu keputusan Mentri Agama . Wallahu A’lam.
Sebelumnya mohon maaf kepada para Kyai dan asatidz dengan segala hormat aptinah tero atanyaah .
Pertanyaan
Saya bernadzar jika saya sukses usaha saya, maka saya ingin menyembelih 1 kambing . Yang menjadi permasalahan satu kabing niat nya dua yaitu niat nadar dan aqiqah karena saya belum beraqiqoh boleh napah punten? 🙏🏻🙏🏻
Waalaikum salam Jawaban. Jika seseorang ketika bernadzar dan ingin beraqiqoh kambingnya sudah ditentukan maka hal itupun sudah menjadi nadzar wajib disembelih sedangkan niat yang satunya itu ikut kepada yang lainnya. Artinya keduanya sah .Dengan alasan tujuannya sama tidak berbeda yaitu menyembelih kambing hal ini sesuai Kaidah dan ibaroh berikut;
“Qaidah ke sembilan : Apabila ada dua perkara yang sejenis dan maksud (tujuannya) tidak berbeda berkumpul jadi satu maka secara umum salah satunya masuk kepada yang lain”. Diantara yang masuk dalam qaidah ini adalah : Apabila hadats dan junub berkumpul menjadi satu, maka cukup mandi saja menurut madhab Syafi’i, seperti halnya berkumpulnya junub dan hadats dan hadats sebab haidl, maka cukup mandi satu.
Referensi:
Menurut Imam Romli satu kambing boleh dan cukup bila di niati untuk aqiqah sekaligus kurban, meskipun menurut Imam Ibnu Hajar tidak menganggapnya cukup.
مسئلة) لو نوي العقيقة والضحية لم تحصل غير واحد عند حج ويحصل الكل عند م ر اهـ
(Masalah) Apabila seseorang meniati aqiqah dan qurban, maka tidak hasil kecuali satu (niat) menurut Imam Ibnu Hajar , dan bisa hasil keseluruhannya(yaitu niat berakikah dan niat berkurban) menurut Imam Muhammad Ramli. (Itsmid al-‘Ain Hal 77).
Ibarot senada bisa dilihat di : Bughyah alMustarsyidin 154, al-Baajuri II/304 dan al-Qalyubi IV/255.
Assalamu alaikum. Mohon maaf sebelumnya. Deskripsi masalah. Ada sepasang ( PASUTRI ) bersetubuh Setelah selesai Anuh keduanya sama-sama mandi wajib/ adus dan lang sung sholat tanpa berwudhu’.
Pertanyaannya.
Sahkah shalat seseorang yang sudah adus/hadats besar tanpa wudhu’ Yakni dengan di cukupkan adus tanpa wudhu’ ? . Dengan kata lain dapatkah menghilangkan hadats kecil dengan hilangnya adus/hadats bersar ?
Bagaimana dengan rukun wudhu yang ke 6 yaitu tartib sedang kan adus belum tentu memulai dari muka atau kepala .?
Waalaikum salam.
Jawaban. No.1 Jika seseorang menanggung hadats besar sebagaimana deskripsi diatas, lalu ia adus dengan niat menghilangkan hadts besar, maka secara otomatis hadats kecilnya hilang disebkan hilangnya hadats besar. Dengan kata lain, jika hadats besarnya sudah hilang, walau tidak berwudhu’ sudah dianggap mencukupi dikarenakan hadats kecil masuk pada hilangnya hadats besar.
Jawban .No.2
Dalam bab wudhu tartib merupakan fardunya wudhu’. Namun jika seseorang menanggung hadats besar lalu adus, maka gugurlah rukun wudhu’ yang keenam ( tartib). Artinya tetap sah walau tidak tertib. Karena tartib dalam bab wudhu menjadi gugur, jika bersamaan dengan hadas besar .
Dengan demikian maka sholatnya seseorang sah walau tanpa wudhu’ setelah adus, dikarenan hilangnya hads besar.
CATATAN PENTING
Dengan catatan diwaktu adus dan setelah adus tidak menyentuh hal- hal yang membatalkan wudhu’ seperti menyentuh kemaluannya dengan telapak tangannya.dll .Wallahu A’lam bisshowab.
Referensi
أسنى المطالب الجزء 1 صحـ : 35 مكتبة دار الكتاب الإسلامي
اذا اغتسل من الجنا بة ولم يكن قد توضاء يقو م الغسل عن الوضوء :قالت عائشة كا ن رسو ل الله صلى الله علىه وسلم لا يتوضاء بعدالغسل .و…عن بن عمر رضي الله عنهما انه قال لرجل قال له :اني اتوضاء بعد الغسل فقال له:لقد تغمقت وقال ابو بكر ابن العربي تم يختلف العلماء ان الوضوء داخل تحت الغسل :وان نية طهارة الجنابة تاءتي على طها رة الحدث وتقضى عليها لان موانع الجنابة اكثر من موانع الحدث فدخل الاقل في نية الاكثر واجزءت نية الاكبر عنه اه فقه السنة ج 1 ص 65 دار الف
Referensi:
إعانة الطالبين .ج ١ ص ٤٢
إعانة الطالبين .ج ١ ص ٤٢ (وقوله وسادسها ) أى سادس فروض الوضوء ( ترتيب) وهو وضع كل شيئ فى مرتبته ومحله ( وقوله كماذكر) أى ترتيب كائن كماذكر فى عد الأركان- ( قوله من تقديم الخ ) بيان لما لم يذكر النية لأنه الترتيب بينها وبين غسل الوجه لوجوب اقترانها به ( وقوله للإتباع ) تعليل لوجوب الترتيب وهو فعله صلى الله عليه وسلم المبين للوضوء مأمور به فإنه عليه الصلاة والسلام لم يتوضأ إلا مرتبا وقوله عليه السلام فى حجة الوداع لما قالوا له أنبدأ بالصفا أم بالمروة؟ ابدؤوا بما بدأ ﷲ به فالعبرة بعموم اللفظ لابحصوص السبب ومما يدل على الترتيب أنه تعالى ذكر ممسوحا بين مغسولا فى آية الوضوء وتفريق المتجانس لاترتكبه العرب إلا للفائدة وهى هنا وجوب الترتيب لاندبه بقرينة الأمر فى الخبر ولأن الأية وردت لبيان الوضوء الواجب ومحل وجوب الترتيب إن لم يكن هناك حدث أكبر وإلا – أى وإن كان هناك حدث أكبر سقطت الترتيب لاندراج الأصغر فى الأكبر حتى لو اغتسل الجنب الا أعضاء وضوئه لم يجب عليه ترتيب فيها ولو اغتسل الجنب إلا رجلين مثلا ثم أحدث حدثا أصغر ثم توضأ فله تقديم غسل الرجلين وتأخيره وتوسيطه فلو غسلهما عن الجنابة ثم توضأ لم يجب غسلهما فى الوضوء.
Termasuk rukun wudhu’ adalah tartib sedangkan yang dinamakan tartib adalah meletakkan sesuatu secara berurutan seperti membasuh wajah, kemudian beralih membasuh kedua tangan lalu mengusap sebagian rambut dikepala dan seterusnya . Studi kasus Ahmad dan Mahmud memancing ikan dikesong laut Giliraja Giligenting atau disungai ketika Ahmad mendengar adzan ia ingin sholat langsung menyelam dengan berniat wudhu’ sambil barenang setelah itu ia kembali ketempat semula lalu pulang bersamaan dan melakukan sholat.
Pertanyaannya
Sahkah wudhu Ahmad dengan cara menyelam dalam air karena kalau dilihat secara dhahir tubuhnya Ahmad bersamaan terkena air ( tidak tartib)
Jawaban Hukum wudhu’nya Ahmad dengan cara menyelam dalam air laut atau sungai atau dalam kolam renang adalah sah, dengan syarat ketika menyelam berniat yang bersamaan dengan terkenanya air keanggoto tubuh yaitu muka karena pada hakikatnya adalah tartib walau hanya dengan sekejap .
Referensi:
الباجوري على ابن القاسم .ج ١ ص ٥٣
ولو اغمس المحدث حدثا أصغر ناويا الوضوء أجزأه وإن لم يمكث لحصول الترتيب فى لحظات لطيفة لكن لابد أن تكون النية مقترنا للإصابة الماء لوجهه لأنه يجب أن تكون النية عند ..غسل الوجه
Apabila seseorang yang sedang hadats kecil menyelam dalam air meskipun dalam air yang sedikit dengan disertai niat yang dianggap oleh syara’ maka wudhunya dianggap cukup meskipun dalam masa menyelam tidak ada masa/tempo untuk memungkinkan baginya menjalani tartib.
(Keterangan dalam air yang sedikit) artinya menyelam dalam air muthlak meskipun airnya sedikit, namun cukupnya wudhu dengan menyelam tersebut bila seseorang yang hadats niat saat sudah dalam keadaan menyelam dengan sempurna, bila belum maka yang terangkat hanya hadats yang terdapat pada wajah saja bila disertai dengan niat dan sisa air lainnya menjadi musta’mal.(Keterangan dengan disertai niat yang dianggap oleh syara’) seperti “niat menghilangkan hadats, niat wudhu atau fadhunya wudhu”.
(Keterangan maka wudhunya dianggap cukup) karena tartib dapat ia hasilkan dalam masa yang amat sekejap ( Keterangan meskipun dalam masa menyelam tidak ada masa untuk memungkinkan baginya menjalani tartib) sedang menurut ar-Rofi’i wudhu yang semacam ini tidak dianggap cukup kecuali saat ia menyelam dalam tempo yang memungkinkan baginya menjalani tartib. [ I’aanah at-Thoolibiin I/42 ].
حاشية إعانة الطالبين على حل ألفاظ فتح المعين لشرح قرة العين بمهمات الدين ج 1 – الصفحة 42أبي بكر ابن السيد محمد شطا الدمياطيولو انغمس محدث ولو في ماء قليل بنية معتبرة مما مر أجزأه عن الوضوء ولو لم يمكث في الانغماس زمنا يمكن فيه الترتيب( قوله ولو انغمس محدث ) أي حدثا أصغر لانصرافه إليه عند الإطلاق وقوله ولو في ماء قليل غاية لمقدر أي انغمس في ماء مطلق ولو كان قليلا لكن محل الاكتفاء بالانغماس فيه كما في الكردي فيما إذا نوى المحدث بعد تمام الانغماس رفع الحدث وإلا ارتفع الحدث عن الوجه فقط إن قارنته النية وحكم باستعمال الماء ( قوله بنية معتبرة مما مر ) كنية رفع الحدث أو نية الوضوء أو فرض الوضوء ( قوله أجزأه ) أي لأن الترتيب يحصل في لحظات لطيفة ( قوله ولو لم يمكث إلخ ) الغاية للرد على الرافعي القائل بأنه لا بد للإجزاء من إمكان الترتيب بأن يغطس ويمكث قدر الترتيب
Saporanah sabelluna Abdina mohon jawaben epon deri para asatidz sareng masyayih
Bagaimana hukumnya mengadakan khotmil Qur’an di kuburan yang di laksanakan dalam waktu sehari semalam,( 24 Jam ) dengan pengeras suara?
Wa alaikumussalam. Jawaban: Hukumnya mengadakan khotmil qur’an di kuburan yang di laksakan dalam waktu sehari semalam, jika ada dugaan atau keyakinan bahwa pengeras suaranya khotmil Qur’an itu akan mengganggu kepada orang lain yang sedang sholat atau orang yang sedang tidur. Maka hukumnya menggunakan pengeras suara itu adalah haram.
Referensi :
(الترمسى الجزء الثاني ص: ۳۹٦ – ۳۹۷ طبعة العامرة الشرفية)
HUKUM BERWUDHU’ DAN BERDOA DI DALAM KAMAR MANDI YANG MENYATU DENGAN WC.
PERTANYAAN : Assalaamu ‘alaikum wr wb ! Mohon pencerahannya. 1.Bagaimana hukumnya membaca do’a dalam wudhu’ dibaca dalam kamar mandi yang di situ juga terdapat (WC) ? 2.Bagaimana hukumnya membaca do’a setelah Buang Air Besar dibaca dalam keadaan telanjang karena hendak mandi ? 3.Kapan waktunya membaca do’a “ALLAHUMMA THAHHIR QOLBII MINAN-NIFAAQ WAHAS-SHIN FARJII MINAL FAWAAHISY” apakah langsung setelah BAB (masih setengah telanjang) atau setelah istinja’ ? Mohon bimbingannya. Syukron katsiir.
Wa’alaikumussalaam,
Jawaban No.1 Hukumnya membaca do’a-do’a dalam wudhu’ dibaca dalam kamar mandi yang di situ juga terdapat (WC) Hukumnya boleh, namun baca dalam hati untuk menghormati bacaan-bacaan tersebut, sebab kita dalam situasi dan kondisi tempat yang kotor (wc).
(وَلَا يتَكَلَّم على الْبَوْل وَالْغَائِط) أَي يسكت حَال قَضَاء الْحَاجة فَلَا يتَكَلَّم بِذكر وَلَا غَيره أَي يكره لَهُ ذَلِك إِلَّا لضَرُورَة كإنذار أعمى فَلَا يكره بل قد يجب لخَبر لَا يخرج الرّجلَانِ يضربان الْغَائِط كاشفين عَن عورتهما يتحدثان فَإِن الله يمقت على ذَلِك رَوَاهُ الْحَاكِم وَصَححهُ وَمعنى يضربان يأتيان والمقت البغض وَهُوَ إِن كَانَ على الْمَجْمُوع فبعض موجباته مَكْرُوه فَلَو عطس حمد الله تَعَالَى بِقَلْبِه وَلَا يُحَرك لِسَانه أَي بِكَلَام يسمع بِهِ نَفسه إِذْ لَا يكره الهمس وَلَا التنحنح وَظَاهر كَلَامهم أَن الْقِرَاءَة لَا تحرم حِينَئِذٍ
Jawaban. No.2
Membaca do’a setelah BAB dibaca dalam keadaan telanjang karena hendak mandi Hukumnya boleh, tapi tetap dibatin saja (di dalam hati) tidak dilafadzkan, lebih-lebih jika kamar mandinya menyatu dengan toilet.
Jawaban .No.3
Doa dibaca setelah selesai / keluar dari tempat Qodhil hajah / WC, Di kamar kecil / wc / kakus atau yang dalam bahasa arab الخلاء kita dimakruhkan untuk berdzikir dan berkata-kata terlebih lagi ketika sedang buang hajat. ” Wa an-yaqula Ba’da firoghihi wa ba’da khurujihi min mahalli Qodho-il hajati ( Allohumma Thohhir Qolbi minannifaqi wa hassyin farji minal fawahishi “. [ Nihayatuzzain Hal 16 ].
– Al-Azdkar :
يكره الذكر و الكلام حال قضاء الحاجة، سواء كان فى الصحراء او فى البنيان، سواء فى ذلك جميع الاذ كار و الكلام ، الا كلام الضرورة حتى قال بعض اصحابنا اذا عطس لا يحمد الله تعالى، ولا يشمت عاطسا ولا يرد السلام ولا يجيب المؤذن و ويكون المسلم مقصورا لا يستحق جوابا و الكلام بهذا كله مكروه كراهة تنزيه ولا يحرم فان عطس فحمد الله تعالى بقلبه و لم يحرك لسانه فلا باس، و كشلك يفعل حال الجماع الاذكار ٢٨
Dimakruhkan membaca dzikir dan bercakap-cakap ketika buang hajat, baik di tanah lapang atau bangunan. Kemakruhan ini berlaku untuk semua jenis dzikir dan ucapan. Kecuali ucapan karena keterpaksaan. Bahkan sebagian ulama berpendapat ketika bersin, maka dilarang membaca Alhamdulillah, tidak boleh mendoakan orang yang bersin, tidak boleh menjawab salam, menjawab adzan.
Apabila ini dilakukan maka hukumnya makruh tanzih tidak haram. Adapun misal dia bersin kemudian mengucapkan “Alhamdulillah” tetapi sebatas hati saja, tanpa diucapkan maka tidak jadi mengapa. Hukum makruh ini juga berlaku ketika sedang berhubungan badan. Memasuki kamar kecil ada tata caranya, di antaranya adalah :
Ketika hendak masuk ucapkanlah do’a.اللهم انى اعوذبك من الخبث و الخبائث
Tidak boleh membawa sesuatu yang bertuliskan asma Allah dan Rosulnya
Tidak boleh masuk dengan tanpa penutup kepala
Tidak boleh bertelanjang kaki
Ketika keluar hendaknya membacaالحمد لله الذي اذهب عنى الاذى و عافانى
Ketika selesai cebok setelah keluar dari tempatnya berdoalah.اللهم طهر قلبى من النفاق و حصن فرجى من الفواحش
Do’a ini dibaca hanya bagi orang yang habis buang hajat, kalau sekedar mandi maka tidak dibaca
فاذا قصدت بيت الماء لقضاء الحاجة …………….و عند الخروج اى الانصراف من بيت الماء بان يكون خارجاعنه غفرانك الله…………..و قال عند الفراغ من الاستنجاء و بعد الخروج من محله اللهم طهر قلبى من النفاق……..
مراقي العبودية ١١_١٤
Mengenai do’a do’a wudlu, memang dalam tidak ada anjuran dari diri Nabi tetapi do’a-do’a ini bersumber dari ulama-ulama salaf (terdahulu). Dan untuk kesempurnaan wudlu sangat dianjurkan.
و اما الدعاء على اعضاء الوضوء فلم يجئ فيه شئ عن النبي صلى الله عليه وسلم و قد قال الفقهاء يستحب فيه دعوات جاءت عن السلف ، وزادوا و نقصوا فيها……………. الاذكار ٣٠ و لا باس بالدعاء عند الاعضاء اى انه وان ورد من طريق فهي شديدة الضعيف لا تثبت بها سنيته من حيث انه وارد و ان كان الدعاء فى نفسه وان لم يكن بالوارد سنة لكن رجح فى الاسنى و الشهاب الرملى انه يعمل به فى فضائل الاعمال فهو سنة بشرى الكريم ١/٢٨
Berikut do’a ketika berwudu’
Referensi:
تنوير القلوب . فى باب الضوء
Ketika membasuh muka membaca :
أللهم بيض وجهي يوم تبيض وجوه وتسود وجوه
Saat membasuh tangan kanan membaca :
أللهم أعطني كتابي بيميني وحسبني حسابا يسيرا
Saat membasuh tangan kiri membaca :
أللهم لاتعطني كتابي بشمالي ولامن وراء ظهري
Saat megusap kepala, membaca :
أللهم حرم شعري وبشري على النار
Saat membasuh kedua kaki, membaca :
للهم ثبت قدمي على الصراط يوم تنزل من الاقدام
Do’a-doa seperti di atas banyak sekali kita jumpai di dalam kitab-kitab mu’tabarah, dan tentunya ini pengamalan oleh ulama-ulama salaf kita, termasuk sunnahnya wudhu’.
– AL-BAYAN :
[مسألة: واجبات وسنن الطهارة] ويدعو عند غسل الوجه، فيقول: اللهم بيض وجهي يوم تسود الوجوه. وعند غسل اليد اليمنى: اللهم أعطني كتابي بيميني. وعند غسل اليد اليسرى: اللهم لا تعطني كتابي بشمالي، ولا من وراء ظهري، ولا تغلل يدي إلى عنقي. وعند مسح الرأس: اللهم حرم شعري وبشري على النار. وعند مسح الأذنين: اللهم اجعلني من الذين يستمعون القول فيتبعون أحسنه. وعند غسل الرجلين: اللهم ثبت قدمي على الصراط المستقيم.
AL-MUHADZDZAB :
أن يدعو على وضوئه فيقول عند غسل الوجه: اللهم بيض وجهي يوم تسود الوجوه وعلى غسل اليد اللهم أعطني كتابي بيميني ولا تعطني بشمالي وعلى مسح الرأس اللهم حرم شعري وبشري على النار وعلى مسح الأذنين اللهم اجعلني من الذين يستمعون القول فيتبعون أحسنه وعلى غسل الرجلين اللهم ثبت قدمي على الصراط المستقيم فجعلها أربعة عشر وبالله التوفيق.
Jadi kesimpulannya boleh & sunnah membaca do’a-do’a di atas asalkan dibaca dalam hati, karena menghormati bacaan yang tidak boleh di baca di tempat yang kotor (kamar mandi wc). Sekalipun tidak ada anjuran dari rasulullah tentang bacaan do’a di atas, tetap sunnah di lakukan untuk keutamaan ibadah. Tidak semua bacaan do’a atau dzikir tersebut tidak ada anjuran dari Rosulullah. semisal menyebut Asma Allah sebelum wudhu’ (membaca basmalah) ini anjuran dari Rosulullah, bahkan dari Madzhab Hambali menghukumi WAJIB membaca Basmalah sebelum wudhu’ dan batal wudhu’nya jika tidak menyebut Asma Allah dalam berwudhu’. Termasuk juga anjuran dari Rosulullah, contoh do’a wudhu’ dalam Hadits Shahih disebutkan dalam Sunan Tirmidzi, Shahih Ibnu Hibban, Sunan Baihaqi dll :
Membaca basmalah disetiap pekerjaan dianjurkan sebagaimana Rasulullah Shollallahu alaihi wasallam bersabda: Setiap pekerjaan yang baik yang tidak didahului dengan membaca basmalah maka terputus . Ahli tafsir mengartikan yang dimaksud dengan terputus adalah sedikit barakahnya . Studi kasus ada seseorang pecandu rokok dia baca basmalah sebelum merokok atau ketika merokok dan juga baca hamdalah ketika selesai merokok dikarenakan dia beranganggapan bahwa merokok itu nikmat, apalagi dibarengi dengan minum kopi dan setelah makan.
Pertanyaannya
Bagaimana hukumnya baca basmalah ketika mau mengerjakan hal yang makruh seperti merokok, dan juga makan bawang merah, dan juga membaca hamdalah setelah selesai mengerjakan hal yang makruh tersebut? Mohon jawabannya dengan referensinya
Waalaikum salam.
Jawaban.
Membaca bamalah dalam setiap pekerjaan itu memang sangat dianjurkan bahkan sunnah, namun tidak setiap perbuatan itu dianjurkan membaca basmalah, melainkan yang dianjurkan baca basmalah itu, yaitu pekerjaan yang bernilai baik secara sayariat.
Ulama mengklasifikasikan hukum membaca basmalah menjadi Lima macam.
Wajib
Sunnah
Haram.
Makruh
Mubah
Begitu juga halnya hukum merokok ulama berbeda pendapat
Ulama yang berpendapat haram secara mutlak
Ulama yang berpendapat halal secara mutlak
Ulama menafsil/ memerinci hukum merokok tergantung situasi dan kondisinya, sebagaimana berikut;
a) Haram, jika pembelihan rokok dengan menggunakan uang yang menjadi kebutuhan nafaqoh ( belanja ) keluarga, jika bertujuanmenghambur-hamburkan uang, atau jika yakin akan menimbulkan bahaya .
b) Makruh, Jika merokok tanpa bertujuan apa-apa dan tidak berbahaya.
c) Wajib, jika punya penyakit /bahaya yang tidak bisa disembuhkan kecuali dengan merokok.
d) Sunnah, jika mempunyai penyakit yang berbahaya dan bisa sembuh dengan merokok akan tetapi masih ada obat lain.
e) Mubah
Referensi :
الباجوري ج ١ ص ٣٤٣
(قوله ولا بيع لا منفعة فيه)
قيل منه الدخان المعروف لانه لا منفعة فيه بل يحرم استعماله لان فيه ضررا كبيرا وهذا ضعيف وكذا القول بانه مباح والمعتمد انه مكروه بل قد يعتريه الوجوب كما اذا كان يعلم الضرر بتركه وحينئذ فبيعه صحيح وقد تعتريه الحرمة كما اذا كان يشتريه بما يحتاجه لنفقة عياله او تيقن ضرره
Dikatakan bahwa termasuk dalam kategori ini adalah rokok yang dikenal, karena tidak ada manfaat padanya, bahkan haram menggunakannya karena mengandung bahaya besar. Pendapat ini lemah. Demikian pula pendapat yang mengatakan bahwa rokok itu mubah. Pendapat yang mu’tamad (kuat) adalah bahwa rokok itu makruh, bahkan bisa menjadi wajib jika seseorang mengetahui adanya bahaya jika ia meninggalkannya (misalnya, bagi orang yang sudah sangat kecanduan dan berhenti tiba-tiba bisa membahayakan kesehatannya). Ketika itu, jual belinya sah. Dan bisa juga menjadi haram, seperti jika seseorang membelinya dengan…
(إعانة الطالبين. ٩/١) فيقال: البسملة مطلوبة في كل أمر ذي بال – أي حال – يهتم به شرعا، بحيث لا يكون محرما لذاته ولا مكروها كذلك، ولا من سفاسف الأمور – أي محقراتها – فتحرم على المحرم لذاته كالزنا، لا لعارض كالوضوء بماء مغصوب. وتكره على المكروه لذاته كالنظر لفرج زوجته، لا لعارض كأكل البصل
Maka dikatakan: Basmalah itu dituntut (disunnahkan) dalam setiap perkara yang memiliki nilai – yaitu keadaan – yang diperhatikan oleh syara’, sekira perkara tersebut tidak haram karena zatnya, tidak makruh karena zatnya, dan bukan termasuk perkara remeh – yaitu perkara yang dianggap hina – maka haram membaca basmalah atas perkara yang haram karena zatnya seperti zina, bukan karena sebab lain seperti berwudhu dengan air hasil ghasab. Dan makruh membaca basmalah atas perkara yang makruh karena zatnya seperti melihat kemaluan istrinya, bukan karena sebab lain seperti makan bawang.
كاشفة السجا على سفينة النجا – وعملاً بحديث أبي داود وغيره كل أمر ذي بال لا يبدأ فيه ببسم اﷲ الرحمن الرحيم فهو أبتر أو أقطع أو أجذم والبال الشرف والعظمة أو الحال والشأن الذي يهتم به شرعاً. ومعنى الاهتمام به طلبه أو إباحته بأن لا يكون محرماً لذاته ولا مكروهاً لذاته لكن لاتطلب البسملة على محقات الأمور ككنس زبل ولا تطلب للذكر المحض كالتهليل
– Dan mengamalkan hadits Abu Dawud dan lainnya, setiap perkara yang memiliki nilai yang tidak dimulai dengan “Bismillahirrahmanirrahim” maka ia terputus, kurang berkah, atau cacat. Dan “al-bal” adalah kemuliaan dan keagungan, atau keadaan dan urusan yang diperhatikan oleh syara’. Makna “memperhatikan” adalah menuntutnya atau membolehkannya, dengan syarat tidak haram karena zatnya dan tidak makruh karena zatnya. Akan tetapi, basmalah tidak dituntut pada perkara-perkara yang hina seperti menyapu kotoran, dan tidak dituntut untuk dzikir murni seperti tahlil
إعانة الطالبين.ص ٣ والحاصل تعتريها الأحكام الخمسة . الوجوب كما فى الصلاة عندنا معاشر الشافعية والإستحباب عينا كما فى الوضوء والغسل والإسحباب كفاية كما فى أكل الجماعة وكما فى جماع الزوجين فتكفى تسمية أحدهما والتحريم فى المحرم الذاتي والكراهة فى المكروه الذاتى والإباحة فى المباحات التى لاشرف فيها كنقل متاع من مكان إلى آخر .
Kesimpulannya, basmalah itu memiliki lima hukum: wajib, seperti dalam shalat menurut kami golongan Syafi’iyah; sunnah ‘ain (sunnah bagi setiap individu) seperti dalam wudhu dan mandi; sunnah kifayah (sunnah yang cukup dilakukan oleh sebagian orang) seperti dalam makan berjamaah dan seperti dalam berhubungan suami istri, maka cukup dengan ucapan basmalah salah satu dari keduanya; haram pada perkara yang haram karena zatnya; makruh pada perkara yang makruh karena zatnya; dan mubah pada perkara mubah yang tidak memiliki kemuliaan seperti memindahkan barang dari satu tempat ke tempat lain.
سبعة كتب مفيدة ص ١٥٨
إذا تقررذلك فاعلم أن المسئلة إستعمال التنباك وسعوطا من جملة أفراد الأمور المتشبهات التى فسرها العلماء رحمهم الله تعالى ماليس بواضح الحال والحرمة مما تنازعته وتجاذبته المعانى والأسباب – إلى أن قال – ومن أجل ذلك انقسم العلماء فى الكلام على حكمه ثلاثة مذاهب ، المذهب الأول مذهب من أطلق القول بتحريم استعماله – إلى أن قال- المذهب الثانى مذهب من أطلق القول بعدم تحريم استعمال التنباك المذكور – إلى أن قال – مذهب الثالث من لم ير أطلق القول بتحريم استعمال التنباك أو تحليله لأنه يرى أن المقام مقام تفصيل ، والقاعدة أن الإطلاق للحكم فى مقام التفصيل خطاء فيرى أن جميع الأحكام الشرعية الخمسة الحرمة والكراهة والوجوب والندب والإباحة تجرى فى مسئلة استعمال التنباك بحسب المشتريات الوضعية الشرعية – إلى أن قال – فاعلم أن أمثلة ذلك لاتدخل تحت الحصر ولكن لابأس بالإشارة إلى بيان ذلك فيما نحن بصدده من جميع الأحكام الخمسة ،فمن أمثلة باب الحرام أن يقال استعمال التنباك ضرر محرم يكون ذلك حكما وضعيا لحرمة استعمال التنباك فى حق من هذا صفته – إلى أن قال- ومن أمثلة باب المكروه أن يقال استعمال التنباك اختلف العلماء رحمهم الله تعالى فى حكمه واختلافهم فى الشيء حكم وضعي لكراهة اقتحام الريب قال عليه السلام دع مايريبك إلى مالا يريبك رواه النسائ والترمذي والحاكم وصححه ومن أمثلة الوجوب أن يقال دفع الضرر عن النفس إذا تعين حكم وضعي لوجوب استعمال مايقع به الدفع المفهوم قوله تعالى لَاتَقْتُلُوا أَنْفُسَكُمْ بل لو وقعت التجربة فى أن الدفع لذلك الضرر ليس إلابتعاطى المحرم اكلا وشربا وجب لأنه مضطر فى بقاء روحه – إلى أن قال- ومن أمثلة باب الندب أن يقال دفع الضرر عن النفس من عارض الداء حكم وضعي لندب استعمال مايقع به النفع من تعاطى الدواء لتظاهر الأدلة السمعية المتكاثرة على مشروعة التداوى – إلى أن قال- وقد ذكر الأطباء المتأخرين أنه ينفع لجاع الكبد ومن الحميات الغليظة ومن المغض واليرفان ولتجفيف الرطبات وغير خوف جريان ماذكر فى التنباك سواء قلنا يجوز استعماله أو بحرمته وإن كراهة التنباك وندبه ووجوبه يطلق عليه اسم الجائز بمعنى غير الممنوع من فعلها. والله أعلم بالصواب
Dari referensi ditas dapat disimpulkan bahwa hukum membaca basmalah ketika merokok atau akan merokok dan membaca hamdalah setelah merokok dikondisikan hukumnya dengan hukumnya merokok antara hukum yang lima. Yakni bisa jadi hukumnya sunnah, makruh mubah, haram, selain bukan hukum yang wajib karena hukum baca basmalah itu hanya bisa dicontohkan ketika didalam sholat yaitu baca basmalah karena termasuk bagian dari surah fatihah menurut. Syafiiyah. Jadi dalam hal hukum membaca basmalah ini dikondisikan sebagaimana hukunya merokok dengan berdasarkan sebuah kaidah sebagai berikut:
الوسائل لها حكم المقاصد
Artinya “perantara atau media baginya berlaku pula hukum sebagaimana tujuanya”.
الحكم يدور مع علته وجودا وعداما
Artinya:” Hukum itu berputar ( bisa berubah) beserta illatnya ( sebabnya) ada dan tidak adanya illat itu. Wallahu A’lam bisshowab
Diskripsi masalah: Kasus pemerkosaan masih saja sering terjadi di bumi pertiwi ini. Tak hanya wanita dewasa, akhir-akhir ini bahkan banyak kita dengar korban pencabulan di bawah umur. Dari sekian banyak kasus yang terjadi, biasanya korban dipaksa dan jika tidak menuruti niat bejat pelaku, korban diancam akan di bunuh. Karena merasa takut, korban pun terpaksa menuruti nafsu bejat pelaku. Namun di sisi lain, menjadi perempuan memang harus pandai-pandai menjaga diri. Jangan sampai bertingkah menggoda hingga akhirnya digodai dan ternodai. Jangan sampai berpenampilan menggoda lawan jenis sehingga mengundang kumbang jalang berbuat nakal. Benar kata Bang Napi, kejahatan sering kali bukan karena niat pelakunya tapi karena ada kesempatan.
Pertanyaan:
a. Sebenarnya bagaimana Islam memilihkan jalan keluar bagi si korban dari dua pilihan di atas?
b. Dosakah orang yang diperkosa dan wajibkah ia dihukum?
C. Jika korban tetap menolak diperkosa hingga terbunuh, maka matinya si korban apakah tergolong mati syahid? Dan termasuk syahid apa?
Jawaban:
a. Dengan ancaman apapun korban tidak boleh pasrah dan merelakan dirinya untuk dizinai meskipun berisiko kematian. Akan tetapi ia harus menolak dan menghindar dari perzinaan dengan berbagai cara mulai dari yang paling ringan sampai cara yang paling berat dan menurut dugaannya yang bisa mencegah pemerkosaan. Cara tersebut beserta urutannya mulai dari yang paling ringan adalah; melarikan diri, menolak dengan ucapan seperti mengingatkan pemerkosa akan adzab (siksa) Allah dan lain-lain, meminta tolong, mencegah dengan pelindung, memukul dengan tangan, memukul dengan alat mulai dari yang paling ringan, melukai atau memotong anggota tubuh, dan membunuh. Kewajiban menjaga urutan tersebut berlaku ketika masih dimungkinkan, jika tidak mungkin seperti pada saat pergulatan sudah berkecamuk dan sulit untuk membatasi (mencegah sesuai dengan urutannya), maka korban boleh mencegah tanpa harus sesuai dengan urutan.