Hukum dan Cara Mengatasi Penyakit Waswas dalam Islam
Assalamualaikum
Deskripsi Masalah
Waswas adalah kondisi keraguan yang berlebihan dalam menjalankan ibadah atau aktivitas sehari-hari. Penyakit ini bisa muncul karena dua faktor utama: pertama, sebagai akibat dari kesempurnaan iman seseorang yang membuatnya sangat berhati-hati dalam menjalankan syariat;
عن عبد الله بن مسعود رضي الله عنه قال: سُئِل النبي صلى الله عليه وسلم عن الوسوسة فقال: “تلك محض الإيمان” ١٣٣ صحيح مسلم
Dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata: Nabi ﷺ pernah ditanya tentang was-was (bisikan hati yang buruk). Beliau bersabda:
“Itu adalah tanda keimanan yang murni.” (HR. Muslim, No. 133)
kedua, karena kebodohan yang menyebabkan seseorang mudah tergoda oleh bisikan setan. Kondisi ini tidak hanya mengganggu diri sendiri, tetapi juga dapat berdampak pada orang-orang di sekitarnya.
1. Bagaimana Hukum Orang yang Terkena Penyakit Waswas?
2. Adakah Cara untuk Menanggulangi Waswas?
Waalaikum salam.
Jawaban. No.1
Haram hukumnya Was was (ragu ragu) seorang ma’mum ketika membaca takbiratul ihram yang dapat mengganggu ma’mum yang lain, demikian pula membaca dengan keras yang dapat mengganggu orang yang sedang solat disampingnya.
Jawaban. No.2
Menurut Syaikh Imam Abul Hasan As-Syadzili disebutkan dalam kitab Iaanatuttholibin hendaknya seseorang yang waswas meletakkan tangan kanannya diatas dadanya sebelah kiri ( hati ) dan membaca:
سبحان الملك القدوس الخلاق الفعال ( ٣× ) ان يشاء يذهبكم وياءت بخلق جديد وما ذالك على الله بغزيز ( ٧ × )
Referensi:
(حاشية الجمل ج ١ ص ٣٣٧)
فرع قال ابن العماد لو توسوس المأموم فى تكبيرة الاحرام على وجه يشوس على غيره من المأمومين حرم عليه ذلك كمن قعد يتكلم بجوار المصلى وكذا تحرم عليه القراءة جهرا على وجه يشوس على المصلى بجواره.
Was was (ragu ragu) seorang ma’mum ketika membaca takbiratul ihram yang dapat mengganggu ma’mum yang lain hukumnya haram, demikian pula membaca dengan keras yang dapat mengganggu orang yang sedang solatdisampingnya.
Referensi
Keterangan ini dapat ditemukan pada Kitab Al-Fatawil Fiqhiyyatil Kubra, Kitab Hasyiyatul Bujairimi Alal Khatib, Kitab I‘anatut Thalibin, dan Kitab Nihayatuz Zain.
وكان الأستاذ أبو الحسن الشاذلي يعلم أصحابه لدفع الوسواس والخواطر الرديئة ويقول لهم من أحس بذلك فليضع يده اليمنى على صدره وليقل سبحان الملك القدوس الخلاق الفعال سبع مرات ثم يقل إن يشأ يذهبكم ويأت بخلق جديد وما ذلك على الله بعزيز يقول ذلك المصلي قبل الإحرام
Artinya, “Syekh Abul Hasan As-Syadzili mengajarkan para muridnya untuk mengusir was-was dan pikiran-pikiran buruk. Ia mengatakan kepada mereka, ‘Siapa saja yang merasakan demikian, hendaknya ia sebelum memulai shalat dengan takbiratul ihram ia meletakkan tangan kanan pada dadanya dan sambil membaca :
سبحان الملك القدوس الخلاق الفعال ( ٣× ) ان يشاء يذهبكم وياءت بخلق جديد وما ذالك على الله بغزيز ( ٧ × )
CARA MENGINGATKAN MAKMUM KEPADA IMAM YANG TULI DAN BUTA KARENA SEBAB LUPA DALAM RAKAAT SHALAT
Assalamualaikum.
Deskripsi Masalah Dalam shalat berjamaah seseorang yang buta dan tuli boleh menjadi imam, ketika seorang yang tuli dan buta boleh menjadi imam maka boleh juga seseorang bermakmum kepadanya, sebagaimana keterangan dalam kitab Syarkawi ‘Ala Tahrir Cet: Haramain Hal: 250
(فائدة) قال الأسنوي رجل يجوز كونه إماما لا مأموما وهو الأعمى الأصم يصح أن يكون إماما لاستقلاله بأفعاله لا مأموما إذ لا طريق له الى العلم بانتقالات الإمام الا ان كان بجنبه ثقة يعرفه بها
( Satu faidah) Syaik Asnawi berkata: Orang yang boleh menjadi imam tapi tidak boleh menjadi makmum adalah orang buta dan tuli. Orang buta dan tuli boleh menjadi imam karena imam tak perlu mengetahui keadaan shalatnya makmum.. Namun orang buta dan tuli tidak boleh menjadi makmum shalat karena makmum dituntut untuk tahu gerakan imamnya, kecuali di sampingnya ada orang yang dapat dipercaya yang memberi tahu padanya tentang gerak-geriknya imam. Namun yang menjadi musykil bagi kami adalah, jika seseorang bermakmun kepada orang tuli kemudian ditengah-tengah shalat imam yang tuli atau buta tersebut lupa.
Bagaimana cara mengingatkan imam yang lupa sebagaimana deskripsi ?
Waalaikum salam. Jawaban. Menurut keterangan hadits, jika imam lupa, maka makmum harus mengingatkan imam, dengan ucapan subhanallah, dan dalam hadits sifatnya umum tidak menyebutkan imam orang yang mendengar ataupun orang tuli, bahkan boleh makmum mengucapkan subhanallah ketika mengingatkan orang yang buta hampir memasuki sumur artinya makmum tetap punya hak untuk mengingatkan, jika makmum sudah mengingatkan tapi imam tidak menghiraukan ( ini dapat difahami tidak menghiraukannya imam kepada peringatan makmum karena tidak mendengar, ini sama dengan orang tuli, karena yang tahu gerak giriknya imam adalah makmum, maka dalam kondisi yang sedemikian makmum tidak boleh mengikuti imam, akan tetapi mufaroqoh atau menunggu imam menurut qoul mu’tamad
Referensi
موسوعة الحديث النبوية
عن أبي هريرة رضي الله عنه مرفوعًا: «التَّسْبِيحُ للرجال، والتَّصْفِيق للنساء». [صحيح] – [متفق عليه] الشرح معنى الحديث: “التَّسْبِيحُ للرجال، والتَّصْفِيق للنساء”، وفي رواية لمسلم: (في الصلاة ) والمعنى: أن مَن نَابه شيء في الصلاة، يقتضي إعلامَ غيره بشيء، مِن تنبيه إمامه على خَلَلٍ في الصَّلاة، أو رؤية أعمى يقع في بئر، أو استئذان داخل، أو كون المصلِّي يريد إعلامَ غيره بأمر -فإنَّهُ في هذه الأحوال وأمثالها يسبح، فيقول : “سبحان الله”؛ لإفهام ما يُريد التنبيهَ عليه، وهذا في حق الرَّجل، أما المرأة إذا نَابها شيء في صلاتها، فإنها تُصَفِّق، وكيفيته: أن تَضرب إحدى يديها بالأخرى بأي طريقة، وكل هذا إبعاد للصَّلاة عمَّا ليس منها مِنَ الأقوال؛ لأنَّهَا موضعُ مُنَاجَاة مع الله سبحانه وتعالى ، فلمَّا دَعت الحاجةُ إلى الكلام، شُرِعَ ما هو مِن جِنْسِ أقوال الصلاة، وهو التَّسبيح.
Referensi:
اَلْمَجْمُوْعُ شَرْحُ الْمُهَذَّبِ (4/ 238) وَاِنْ سَهَا الْاِمَامُ فيِ صَلَاتِهِ فان كان في قراءة فتح عليه المأموم لما روى أنس قال ” كان أصحاب رسول الله صلى الله عليه وسلم يلقن بعضهم بعضا في الصلاة ” وإن كان في ذكر غيره جهر به المأموم ليسمعه فيقوله وَإِنْ سَهَا فِيْ فِعْلٍ سَبَّحَ بِهِ لِيُعْلِمَهُ فان لم يقع للامام أنه سها لم يعمل بقول المأموم لان من شك في فعل نفسه لم يرجع فيه الي قول غيره كالحاكم إذا نسى حكما حكم به فشهد شاهدان أنه حكم به وهو لا يذكره وَأَمَّا الْمَأْمُوْمُ فَيُنْظَرُ فِيْهِ فَاِنْ كَانَ سَهْوُ اْلِامَامِ فِيْ تَرْكِ فَرْضٍ مِثْلُ أَنْ يَقْعُدَ وَفَرْضُهُ أَنْ يَقُوْمَ أَوْ يَقُوْمَ وَفَرْضُهُ أَنْ يَقْعُدُ لَمْ يُتَابِعْهُ لِاَنَّهُ اِنَّمَا يَلْزَمُهُ مُتَابَعَتُهُ فِيْ أَفْعَالِ الصَّلَاةِ وَمَا يَأْتِي بِهِ لَيْسَ مِنْ أَفْعَالِ الصَّلاَةِ
Artinya: Jika Imam lupa di dalam bacaan shalat, maka makmum mengingatkannya ,dan jika lupa dalam gerakan maka makmum mengingatkannya dengan membaca tasbih, dan bagi makmum yang imamnya lupa dalam gerakan fardhunya, maka harus mufaroqoh (tidak boleh mengikuti imam).
Artinya: Ketika imam menambah satu rakaat maka makmum tidak boleh mengikutinya walaupun makmum masbuq atau ragu dalam hitungan rakaat akan tetapi harus mufaroqoh dan salam atau menunggunya menurut qoul mu’tamad.
Sebaiknya makmum mengingatkan imam, jika imam tidak menghiraukan maka makmum tidak boleh mengikuti Imam akan tetapi mufaroqoh atau menunggu Imam dalam posisi berdiri.
Referensi:
بُغْيَةُ الْمُسْتَرْشِدِيْنِ :ص:٥٧ ( مسألة : ك) : قام الإمام بعد السجدة الأولى انتظره المأموم في السجود لعله يتذكر ، لا في الجلوس بين السجدتين لأنه ركن قصير أو فارقه وهو أولى هنا ، ولا تجوز متابعته ، وَلَوْ تَشَهَّدَ الْإمَامُ فِيْ ثَالِثَةِ الرُّبَاعِيَّةِ سَاهِياً فَارَقَهُ الْمَأْمُوْمُ أَوِ انْتَظَرَهُ فِي الْقِيَامِ ، وأفتى الشهاب الرملي بوجوب المفارقة مطلقاً ، وجوّز سم انتظاره قائماً ، وجوز ابن حجر في الفتاوى متابعته إن لم يعلم خطأه بتيقنه أنها ثالثة
Artinya: Ketika imam melakukan tasyahud dalam keadaan lupa pada rakaat ketiga di dalam shalat yang jumlah rakaatnya empat, maka makmum harus memisahkan diri atau menunggunya dengan cara berdiri. Wallahu A’lam bisshowab
HUKUMNYA BERMAKMUM PADA ORANG YANG BISU BUTA DAN TULI DALAM SHALAT
Dalam masyarakat, terkadang kita menemukan orang yang tidak mendengar atau tuli, bahkan ada yang bisu, dalam kondisi yang sedemikian tumbuh dalam benak kita bahwa orang yang tuli adalah orang yang kurang pendengarannya, begitu juga orang yang buta orang yang tidak melihat tentunya dikarenakan banyak hal. Dalam ilmu kedokteran Tuli, disebut tunarungu atau gangguan kesehatan adalah kondisi fisik yang ditandai dengan penurunan atau ketidakmampuan seseorang untuk mendengarkan suara. kondisi ini bisa saja menimpa seseorang tanpa memandang usia, tua muda, laki laki perempuan dan juga kaya miskin, namun yang menjadi musykil bagi saya adalah orang tersebut melakukan,shalat dan terkadang juga menjadi Imam.
Pertanyaannya .
Bagaimana hukumnya orang yang buta sekaligus tuli dan bisu melakukan shalat, bahkan menjadi imam ?
Bagaimana hukumnya orang bermakmum kepada orang yang tuli dan buta atau bisu..
Jawaban:
Jika orang yang buta dan tuli bahkan bisu yang diciptakan oleh Allah dalam keadaan asli sejak lahir maka tidak wajib melakukan shalat . Alasannya karena orang tersebut tidak terkena taklif(tidak terkena kewajiban melaksanakan syariat Islam ) Seperti melaksanakan sholat, dll.
“Berbeda hukumnya bagi orang yang mengalami tunanetra dan tunarungu setelah mengetahui (hukum-hukum syara’) maka sesungguhnya ia mukallaf (diwajibkan shalat),”Hal ini ditekankan oleh Syekh Nawawi Al-Bantani dalam Nihayatuz Zain fi Irsyadil Mubtadiin, Beirut, Darul Fikr, halaman 9).
بِخِلَاف من طَرَأَ عَلَيْهِ ذَلِك بعد الْمعرفَة فَإِنَّهُ مُكَلّف
Begitu juga jika Tuli dan buta bahkan bisu setelah tamyis maka dalam ha ini wajib melakukan shalat, Hal ini juga diperkuat oleh pendapat Al-Bujairimi dalam Syarah Al-Bujairimi alal Khatib:
Artinya, “Adapun jika kondisi (tunanetra dan tunarungu) itu datang setelah tamyiz,walaupun menjelang baligh dan telah mengetahui hukum (permasalahan) sholat, maka yang bersangkutan terkena kewajiban,” ( Lihat Sulaiman bin Muhammad Al-Bujairami, Al-Bujairami ala Syarhil Khatib, Beirut, Darul Fikr, 1995, halaman 408). Lalu bagaimana jika kecacatan yang ia alami terjadi sejak lahir?
Syekh Nawawi dalam Syarah Kasyifatus Saja menjelaskan bahwa orang tunanetra dan sekaligus tunarungu tidak wajib shalat.
فلا تجب الصلاة علي من خلق أصم أعمى ولو ناطقا
Artinya, “Tidak diwajibkan shalat bagi orang yang dari lahir mengalami tunanetra sekaligus tunarungu walaupun ia bisa berbicara,” (Lihat Muhammad bin Umar Al-Bantani, Kasyifatus Saja Syarah Safinatun Naja, Beirut, Daru Ibni Hazm, 2011 M, halaman 206). Dari penjelasan Syekh Nawawi di atas, secara umum dikatakan bahwa orang yang mengalami dua difabilitas tersebut tidak diwajibkan shalat.
Namun dalam kitabnya yang lain, Nihayatuz Zain, Syekh Nawawi Al-Bantani menjelaskan lebih rinci terkait alasan tidak diwajibkannya shalat bagi kaum tersebut.
وَمن نَشأ بشاهق جبل وَلم تبلغه دَعْوَة الْإِسْلَام غير مُكَلّف بِشَيْءوَكَذَا من خلق أعمى أَصمّ فَإِنَّهُ غير مُكَلّف بِشَيْء إِذْ لَا طَرِيق لَهُ إِلَى الْعلم بذلك وَلَو كَانَ ناطقا لِأَن النُّطْق بِمُجَرَّدِهِ لَا يكون طَرِيقا لمعْرِفَة الْأَحْكَام الشَّرْعِيَّة
Artinya, “Siapa yang tumbuh dan tinggal di puncak gunung dan orang tersebut tidak tersentuh dakwah Islam (karena tidak terjangkau), maka mereka tidak terkena hukum wajib. Begitu juga orang yang dilahirkanan dalam keadaan tunanetra dan tunarungu, mereka tidak terkena kewajiban karena tidak ada cara untuk menyampaikan dakwah kepadanya walaupun ia bisa berbicara karena mampu berbicara bukanlah cara untuk mengetahui hukum-hukum syara’,” (Lihat Muhammad bin Umar Al-Bantani, Nihayatuz Zain fi Irsyadil Mubtadiin, Beirut, Darul Fikr, halaman 9).
Dengan demikian bisa kita ambil kesimpulan bahwa sebenarnya yang menjadikan tunanetra dan tunarungu tidak diwajibkan shalat adalah ketidakmampuannya dalam menerima dakwah lantaran difabilitas yang dialaminya. Jika ada metode atau cara lain yang mampu mengenalkan dakwah kepada penyandang difabilitas ini maka ia tetap mukallaf.
Lalu bagaimana jika keduanya orang yang buta dan tuli menjadi Imam shalat, atau orang lain bermakmum kepada salah satu diantara keduanya atau bermakmun kepada orang yang bisu ? Maka dalam hal ini ditafsil. 🅰️.Sah shalatnya orang yang bermakmum kepada orang yang tuli dan buta, karena orang yang buta dan tuli boleh menjadi imam, kebolehan orang tuli dan buta menjadi imam dikarenakan imam tidak dituntut untuk mengetahui shalatnya makmum .Namun tidak boleh orang yang tuli dan buta menjadi makmum , alasannya karena makmum dituntut untuk mengetahui gerakan imamnya, kecuali disampingnya ada orang yang dapat dipercaya untuk memberi tahu padanya tentang gerak-gerik imam.
🅱️Tidak sah orang bermakmum kepada orang bisu, alasannya karena orang yang menjadi imam dituntut untuk bisa membaca. Dengan kata lain orang bisu boleh menjadi makmum, namun tidak boleh menjadi Imam, karena tidak boleh menjadi imam maka hukumnya bermakmum pada orang bisu tidak sah.
Dengan demikian bahwa, hukumnya orang bermakmum kepada orang yang bisu tidak sah, sedangkan bermakmum kepada orang yang buta dan tuli hukumnya sah.
Dan demikian juga halnya orang yang tercipta dalam keadaan buta tuli, sungguh dia tidak tertuntut dengan apapun karena tidak ada solusi ( jalan keluar ) baginya untuk mengerti hal itu (dakwah Islam) meskipun dia bisa bicara. Karena bisa bicara saja itu bukanlah jalan untuk mengetahui hukum-hukum syari’at.
(فائدة) قال الأسنوي رجل يجوز كونه إماما لا مأموما وهو الأعمى الأصم يصح أن يكون إماما لاستقلاله بأفعاله لا مأموما إذ لا طريق له الى العلم بانتقالات الإمام الا ان كان بجنبه ثقة يعرفه بها
( Satu faidah) Orang yang boleh menjadi imam tapi tidak boleh menjadi makmum adalah orang buta dan tuli. Orang buta dan tuli boleh menjadi imam karena imam tak perlu mengetahui keadaan shalatnya makmum. Namun orang buta dan tuli tidak boleh menjadi makmum shalat karena makmum dituntut untuk tahu gerakan imamnya, kecuali di sampingnya ada orang yang dapat dipercaya yang memberi tahu padanya tentang gerak-gerik shalat imam.
Referensi kitab Hasyiyah al-Syarqawi berikut;
فإن كان احدهما أصليا دون الاخر صح اقتداء الاصلى بالطارئ دون عكسه . وان كان عارضين لم يصح اقتداء احدهما بالآخر على المعتمد ؛
Dalam kitab Bujairimi ‘ala al-Khatib disebutkan bahwa orang yang bisu tidak boleh bermakmum pada imam yang bisu. Hal ini sebagaimana disebutkan berikut;
وفى نهاية المحتاج : عدم صحة اقتداء أخرس بأخرس ولو عجز إمامه فى أثناء صلاته عن القراءة لخرس لزمه مفارقته بخلاف ما لو عجز عن القيام لأن اقتداء القائم بالقاعد صحيح
“Disebutkan dalam kitab Nihayatul Muhtaj mengenai orang bisu yang tidak sah mengikuti orang bisu. Karena itu, jika di pertengahan salat imamnya tidak bisa membaca karena bisu, maka wajib bagi makmum untuk memisahkan diri. Berbeda jika imam tidak mampu berdiri, karena orang yang mampu berdiri berjamaah pada orang yang duduk dihukumi sah.”
Deskripsi Masalah : Misteri kematian Menimpa seorang Fahmi bin Fauzan semasa dalam hidupnya dia berkeluarga 4 dan punya usaha pabrik gula putih ( gula pasir : red) entah persoalan apa kemudian dia meninggal ditemukan disimak belukar rerumputan dengan luka banyak goresan celurit , akhirnya Fahmi bin Fauzan dikuburkan, namun selang satu minggu pihak keluarga yang ke empat merasa tidak terima dengan kematiannya dengan alasan beberapa bukti goresan celurit, akhirnya dia menuntut kepada pihak keamanan ( kepolisian) untuk dibongkar dengan tujuan untuk di outopsi.
Studi kasus yang serupa
Susanti adalah seorang mahasiswi jurusan kedokteran, yang mana dia telah sampai pada proses praktek sehingga dia harus melalui bukti nyata, dengan demikian dia tidak boleh tidak harus membongkar kuburan untuk Outopsi
Pertanyaannya
Bagaimana hukumnya Outopsi sebagaimana deskripsi
Waalaikum salam. Jawaban. Diperbolehkan menggali kembali kubur dengan tujuan tertentu (dhorurot/hajat) untuk mengetahui sebab kematian atau praktek kedokteran .
Referensi:
(الفقه الاسلامى.ج ٣ ص٥٢١-٥٢٢)
واجاز الشافعية شق بطن الميت لاخراج ولدها الى ان قال يجوز التشريح عند الضرورة او الحاجة بقصد التعليم لاغراض طبية او لمعرفة سبب الوفاة واثبات الجناية على المتهم بالقتل ونحو ذلك لاغراض جناية اذا توقف عليها الوصول الى الحق فى امر الجنا ية الى ان قال وعلى كل حال ينبغى عدم التوسع فى التشريح لمعرفة وظائف الاعضاء وتحقيق الجنا يات والاقتصار على قدر الضرورة او الحاجة. والله تعالى أعلم
Assalamualaikum. Deskripsi masalah. Katakanlah nama samarannya Hamidatussholihah, dia biasa jualan kaldu kekel sapi setelah dibasuh kememudian dimasak ternyata setelah mau disantap(makan) oleh pembeli katakan Sunartan seorang hobi makan kaldu kekel , ternyata ada sisa darah didalam daging dan tulangnya.
Pertanyaannya.
Bagaimana hukumnya sisa darah pada daging dan tulang sebagaimana deskripsi?
Waalaikum salam Jawaban.
Hukumnya darah yang tersisa dalam daging dan tulang saat dimasak ada dua pendapat.
Pertama: Suci karena kejadiaan tersebut pernah terjadi pada zaman Rosululloh SAW ketika siti A’isyah memasak daging dalam panci lalu muncullah warna kuning-kuning dari darah, namun pada waktu itu Rosulullah SAW tidak mencegahnya bahkan Nabi Muhammad SAW memakannya.
Kedua : Hukumnya dima’fu ‘anhu (dimaafkan) dengan pertimbangan karena darah tersebut merupakan darah yang mengalir hanya saja tidak mengalir karena sedikit.Dengan demikian maka dari dua pendapat ada titik persamaan yakni sama sama menghukumi boleh dikonsumsi ( dimakan) Wallahu A’lamubisshowab.
( مغنى المحتاج ص112 جز 1)
واما الدم الباقى على اللحم وعظامه فقيل أنه طاهر وهو قضية كلام المصنف في المجموع وجرى عليه السبكى ويدل له من السنة قول عائشة رضى الله عنها ” كنا نطبخ البرمة على عهد رسول الله صلى الله عليه وسلم تعلوها للصفرة من الدم فنأكل ” وظاهر كلام الحليمى وجماعة أنه نجس معفو عنه وهذا هو الظاهر لأنه دم مسفوح وان لم يسل لقلته ولاينافيه ما تقدم من السنة.
Assalamualaikum. Deskripsi masalah. Katakanlah nama samarannya Hamidatussholihah, dia biasa jualan kaldu kekel sapi setelah dibasuh memudian dimasak ternyata setelah mau disantap(makan) baik oleh dirinya ataupun oleh pembeli, ternyata ada sisa darah didalam daging dan tulangnya.
Pertanyaannya.
Bagaimana hukumnya sisa darah pada daging dan tulang sebagaimana deskripsi?
Waalaikum salam Jawaban.
Hukumnya darah yang tersisa dalam daging dan tulang saat dimasak ada dua pendapat.
Pertama: Suci karena kejadiaan tersebut pernah terjadi pada zaman Rosululloh SAW ketika siti A’isyah memasak daging dalam panci lalu muncullah warna kuning-kuning dari darah, namun pada waktu itu Rosulullah SAW tidak mencegahnya bahkan Nabi Muhammad SAW memakannya.
Kedua : Hukumnya dima’fu ‘anhu (dimaafkan) dengan pertimbangan karena darah tersebut merupakan darah yang mengalir hanya saja tidak mengalir karena sedikit.Dengan demikian maka dari dua pendapat ada titik persamaan yakni sama sama menghukumi boleh dikonsumsi ( dimakan) Wallahu A’lamubisshowab.
( مغنى المحتاج ص112 جز 1)
واما الدم الباقى على اللحم وعظامه فقيل أنه طاهر وهو قضية كلام المصنف في المجموع وجرى عليه السبكى ويدل له من السنة قول عائشة رضى الله عنها ” كنا نطبخ البرمة على عهد رسول الله صلى الله عليه وسلم تعلوها للصفرة من الدم فنأكل ” وظاهر كلام الحليمى وجماعة أنه نجس معفو عنه وهذا هو الظاهر لأنه دم مسفوح وان لم يسل لقلته ولاينافيه ما تقدم من السنة .والله تعالى أعلم بالصواب
Assalamualaikum ust. Deskripsi masalah Ada seseorang memiliki keluaga telah lama meninggal sekitar 5 tahun orang tersebut meninggal didaerah Sumenep tempat dia berkeja yang jauh dari tempat tinggalnya ( Masa lembu ) sementara dia dikuburkan dikota Sumenep, hal itu dikarenakan ketika meninggal kapal masih tinggal seminggu jadwal pemberanggkatan dari pelabuhan Kaleangit menuju Masalembu, akhirnya dengan terpaksa dikuburkan dikota Sumenep. Namun setelah berkisar 5 tahun bihak keluarga yang meninggal ingin memindahkan ketempat kelahirannya yaitu di Masa lembu, mengingat agar mempermudah pihak keluarganya ketika berziarah. Selain itu kuburan yang ditempati hak milik orang lain, namun sebelum menguburkan sipemilik sudah memberi izin,atas permohonan ahli mayit ,walaupun demikian pihak keluarga mayit hawatir dikemudian kuburannya tidak terawat.
Mengenai hukum pemindahan mayit setelah pemakaman terdapat perbedaan pendapat antar fuqoha'(ulama fiqh) sebagai berikut:
➡️Hanafiyah, Syafi’iyah dan Hanabilah mengharomkan secara mutlak. Sebagian ulama mutaakhirin dari..
➡️Hanafiyah menyatakan boleh.
Demikian pula hukum pemindahan mayit dari desa kematiannya ke desa yang lain sebelum dimakamkan :
➡️Hanafiyah memperbolehkan secara mutlak.
➡️Mayoritas Syafi’iyah dan Hanabilah tidak memperbolehkan, kecuali bila ada tujuan yang dibenarkan syari’at semisal dipindah ke tempat yang mulia seperti Mekkah, Sebagian Syafi’iyah menghukumi makruh. ➡️ Malikiyah memperbolehkan dengan beberapa syarat :
1️⃣Ketika pemindahan tidak mengalirkan darah secara terus menerus.
2️⃣Tidak menghilangkan kehormatan mayit .
3️⃣Ada maslahat semisal barokahnya tempat yang akan dijadikan tempat pemindahan (seperti kuburan orang orang soleh), atau supaya kumpul dengan kuburan keluarganya dan lain lain.
(الموسوعة الفقهية ج : ٢١ ص : ١٠).
نقل الميت من مكان إلى آخر : ٤ – ذهب الحنفية والشافعية والحنابلة إلى أنه لا يجوز نقل الميت من مكان إلى آخر بعد الدفن مطلقا . وأفتى بعض المتأخرين من الحنفية بجوازه إلا أن ابن عابدين رده فقال نقلا عن الفتح : اتفق مشايخ الحنفية في امرأة دفن ابنها وهي غائبة في غير بلدها فلم تصبر , وأرادت نقله على أنه لا يسعها ذلك , فتجويز بعض المتأخرين لا يلتفت إليه . وأما نقل يعقوب ويوسف عليهما السلام من مصر إلى الشام ; ليكونا مع آبائهما الكرام فهو شرع من قبلنا , ولم يتوفر فيه شروط كونه شرعا لنا . وأما قبل دفنه فيرى الحنفية وهو رواية عن أحمد أنه لا بأس بنقله مطلقا , وقيل إلى ما دون مدة السفر , وقيده محمد بقدر ميل أو ميلين . وذهب جمهور الشافعية والحنابلة إلى أنه لا يجوز نقل الميت قبل الدفن من بلد إلى آخر إلا ; لغرض صحيح . وبه قال الأوزاعي وابن المنذر . قال عبد الله بن أبي مليكة : توفي عبد الرحمن بن أبي بكر بالحبشة , فحمل إلى مكة فدفن , فلما قدمت عائشة رضي الله تعالى عنها أتت قبره , ثم قالت : ” والله لو حضرتك ما دفنت إلا حيث مت , ولو شهدتك ما زرتك ” . ولأن ذلك أخف لمؤنته , وأسلم له من التغيير , وأما إن كان فيه غرض صحيح جاز . قال الشافعي رحمه الله : لا أحبه إلا أن يكون بقرب مكة , أو المدينة , أو بيت المقدس . فيختار أن ينقل إليها ; لفضل الدفن فيها , وقال بعض الشافعية : يكره نقله , وقال صاحب ” التتمة ” وآخرون : يحرم نقله . وأما المالكية فيجوز عندهم نقل الميت قبل الدفن وكذا بعده من مكان إلى آخر بشروط هي : – أن لا ينفجر حال نقله – أن لا تنتهك حرمته – وأن يكون ; لمصلحة : كأن يخاف عليه أن يأكله البحر , أو ترجى بركة الموضع المنقول إليه , أو ليدفن بين أهله , أو لأجل قرب زيارة أهله , أو دفن من أسلم بمقبرة الكفار , فيتدارك بإخراجه منها , ودفنه في مقبرة المسلمين . فإن تخلف شرط من هذه الشروط الثلاثة كان النقل حراما
Artinya, “Haram membongkar kuburan sebelum mayat hancur sesuai dengan pendapat para pakar tentang tanahnya setelah penguburannya, untuk dipindahkan ataupun lainnya, seperti mengkafani dan menyalati. Sebab dalam hal itu terdapat perusakan terhadap kehormatan mayat. Kecuali karena darurat, seperti dikuburkan tanpa disucikan dengan dimandikan atau tayamum, sedangkan mayat itu termasuk orang yang harus disucikan.” (Syekh Abu Zakaria Al-Anshari, Fathul Wahhab [Mesir: At-Tijariyatul Kubra: tanpa tahun], jilid II, halaman 211).
أما نقله بعد دفنه فحكمه ما يأتي قال الحنفية: يحْرُمُ إخراجه ونقله، إلا إذا كانت الأرض التي دفن فيها مغصوبة، أو أخذت بعد دفنه بالشفعة، يعني استحقها شخص آخر مجاور لها.وقال الشافعية: يحْرُم نقله إلا لضرورة، كمن دُفن في أرض مغصوبة، فيجوز نقله إن طالب بها مالكها.وقال الحنابلة: يجوز النقل بالشروط المذكورة في النقل قبل الدفن، فإن فقد شرط كان النقل حرامًا قبل الدفن وبعده.وقال المالكية: يجوز نقله بالشروط الثلاثة المذكورة في النقل قبل الدفن، فإن فُقِد شرط منها حُرِّم النقل. “انظر كتاب الفقه علىالمذاهب الأربعةـ نشر وزارة الأوقاف المصرية”.
Adapun memindahkan mayit setelah dikuburkan maka hukumnya sebagaimana berikut:
Mazhab Hanafi: Haram. Kecuali jika tanah tersebut tanah rampasan. Atau ternyata tanah itu milik orang lain.
Mazhab Syafi’i: Boleh, jika darurat tingkat tinggi. Misalnya, ternyata tanah itu dulu tanah rampasan, sekarang pemiliknya menuntut kembali.
Mazhab Hambali: Boleh. Dengan syarat tersebut di atas. Jika tidak seperti di atas, maka memindahkan jenazah yang sudah dikubur hukumnya haram.
Mazhab Maliki: Boleh. Jika cukup syarat di atas. Jika tidak cukup syarat, haram.
Sumber: Kitab Al-Fiqh ‘ala al-Maadzahib al-Arba’ah Fiqh empat mazhab. Hukum asalnya, tidak boleh dikebumikan beberapa jenazah dalam satu lubang. Kalau sudah terjadi, sudah dikebumikan, haram hukumnya dibongkar lagi. Wallahu A’lamu bisshowab
Manusia diciptakan oleh Allah dengan bentuk dan rupa yang berbeda-beda, sedangkan perbedaan itu adalah tanda kekuasaan Allah, oleh karena janganlah seseorang berfikir ketidak samaan itu bukanlah suatu ketidak adilan Tuhan karena adil tidaklah harus sama, dan dibalik ketidak samaan itu pasti ada hikmah yang diharasiakan oleh Allah, selain itu manusia harus sadar dan menyadari bahwa tidak ada manusia yang sempurna karena itu ada kekurangan dan disisi yang lain juga ada kelebihan yang dimiliki oleh seseorang, yang tentunya kelebihan dan kekurangan itu tidaklah mungkin sama dengan apa yang dimiliki oleh orang lain , itulah nasib yang harus diterima dan kita syukuri, ini sesuai dengan sebuah maqolah
لاتحتقر من دونك فإن لكل شيئ مزية
Janganlah kamu meremehkan orang-orang yang berada dibawahmu maka karena setiap sesuatu itu punya kelebihan ( keistimiwaan).Terkait dengan kelebihan dan kekurang yang dimiliki manusia ada seseorang yang tidak punya tangan lalu dia menulis ayat Al-Qur’an dengan kakinya.
Pertanyaanya. Bagaimana hukumnya sesorang menulis al-Qur’an dengan menggunakan kaki sebagaimana dalam deskripsi.?
Waalaikum salam. Jawaban.
Menulis Al qur an dengan kaki karena adanya sebab yaitu tidak punya tangan maka dalam kondisi yang sedemikian hukumnya boleh,(tidak haram), karena itulah satu-satunya cara untuk bisa menulis.
Referensi:
( جمل ج ٥ ص ١٢٣)
فائدة وقع السؤال عن شخص يكتب القرأن برجله لكونه لايمكنه ان يكتبه بيديه لمانع بهما فالجواب عنه كما اجاب به شيخنا الشوبري انه لايحرم عليه ذلك والحالة ما ذكر لأنه لايعد إزراء لإن الإزراء أن يقدر على الحالة االكاملة وينتقل عنها الى غيرها وهذا ليس كذلك
Keterangan : Boleh menulis Al qur an dengan menggunakan kaki (tidak bisa dengan tangan) kalau memang itu adalah satu-satunya cara.Hal ini juga berdasarkan kaidah ushul fikihnya imam Syafi’i:
اذا ضاق الاءمر اتسع.
Artinya:Jika didalam keadaan dorurot(terpaksa),maka mendapat keringanan untuk mengerjakan hal-hal yang tidak diperbolehkan.
Islam adalah agama yang membawa rahmat Lilalamin tidak sedikit orang muslim mempunyai teman Non Muslim yang akrab walau beda agama namun diantara mereka tetap saling menghargai dan menghormati antara yang satu dengan yang lain . Pada suatu hari bertepatan hari minggu pertama bulan januari katanlah Fulan orang Islam berteman dengan Fulin Non Muslim yang mana Fulin mengajak Fulan memasuki tempat ibadahnya Fulin yaitu Gereja walau hanya menigok keadaan suasana apa yang ada didalam gereja tersebut, dan pada satu bulan berikutnya Fulin mengajak lagi Namun ketika Fulan masuk kedua kalinya Fulan sempat melakukan sholat dhuhur digereja hal itu ia lakukan karena mipetnya waktu.
Pertanyaannya. Bagaimanakah hukumnya orang Islam memasuki tempat Ibadahnya orang Kristen ( Gereja) jika hanya sebatas melihat keadaan didalamnya atau melakukan shalat sebagaimana deskripsi..?
Waalaikum salam. Jawaban. Memasuki tempat Ibadah Non Muslim hukumnya makruh menurut Ulama Madzhab Hanafi, dan boleh menurut mayoritas ulama dikalangan Maliki Syafi’i.
جواهر الإكليل ج ١ ص ٣٨٣
أى معبدها كنيسة أو بيعة ولزوجها المسلم دخوله معها
رد المختار على الدر المختار .ص ١ ص ٣٨٠ يكره للمسلم الدخول فى البيعة والكنيسة الظاهر انها تحريمية
Namun ada sebagian dikalangan madzhab Syafi’i berpendapat hukumnya memasuki Gereja tidak boleh kecuali ada idzin, artinya jika ada idzin maka hukumnya boleh , Syekh Muhammad bin Khatib as Syarbini menyebutkan:
Artinya: Seorang muslim tidak diperkenankan memasuki gereja-gereja ahli dzimmah kecuali atas izin mereka. Artinya, hal itu diperbolehkan mana kala ada izin. Namun kebolehan melakukan hal itu, hanya jika di dalam gereja tersebut tidak terdapat gambar. (Lihat: Muhammad bin Khatib as-Syarbini, Mughnil Muhtaj, juz 4, halaman: 337).
Artinya: Kita tidak diperbolehkan memasuki gereja kecuali atas izin mereka, sedangkan jika di dalam gereja tersebut ada gambar maka hukum memasukinya haram secara mutlak. Begitu pula, haram memasuki setiap rumah yang ada gambarnya. (Lihat: Al-Qalyubi, Hasyiyatal Qalyubi wa Umairah, juz 4, halaman: 492).
Adapun melakukan shalat ditempat gereja hukumnya makruh, alasan karena gereja adalah tempatnya banyak setan dan tidak sepi dari banyak gambar dan tempat fitnah dan keinginan yang dapat mencegah pada kekhusyu’an shalat.
الفقه الإسلامي و أدلته – ٩٣٩/٧٧٢٢
٥ – الكنيسة (معبد النصارى) والبيعة (معبد اليهود) ونحوهما من أماكن الكفر: تكره الصلاة فيها عند الجمهور وابن عباس، مطلقا عامرة أو دارسة؛ إلا لضرورة كحر أو برد أو مطر، أو خوف عدو أو سبع، فلا كراهة. وحكمة الكراهة: أنها مأوى الشياطين، لأنها لا تخلو من التماثيل والصور، ولأنها موضع فتنة وأهواء، مما يمنع الخشوع. وقالت الحنابلة: لا بأس بالصلاة في الكنيسة النظيفة، وقد رخص فيها الحسن البصري وعمر بن عبد العزيز والشعبي والأوزاعي وسعيد بن عبد العزيز، وروي أيضا عن عمر وأبي موسى الأشعري. واستدلوا: بأن النبي صلى الله عليه وسلم صلى في الكعبة وفيها صور (١)، وهي داخلة في عموم قوله عليه السلام: «فأينما أدركتك الصلاة، فصل، فإنه مسجد». قال النووي في المجموع: وتكره الصلاة في مأوى الشياطين كالخمارة وموضع المكس ونحو ذلك من المعاصي الفاحشة.
المجموع شرح المهذب – ١٢٩١/٩٧٩٢
(فرع) تكره الصلاة في الكنيسة والبيعة حكاه ابن المنذر عن عمر بن الخطاب وابن عباس ومالك رضي الله عنهم ونقل الترخيص فيها عن أبي موسى والحسن والشعبي والنخعي وعمر بن عبد العزيز والأوزاعي وسعيد بن عبد العزيز وهي رواية عن ابن عباس واختاره ابن المنذر. والله أعلم بالصواب
Al-Fiqh Al-Islami wa Adillatuhu – 7722/939
5. Gereja (tempat ibadah Nasrani) dan bi’ah (tempat ibadah Yahudi) serta tempat sejenisnya yang merupakan tempat kekufuran: Makruh melakukan shalat di tempat-tempat tersebut menurut mayoritas ulama dan Ibnu Abbas, baik dalam keadaan terawat atau tidak terawat, kecuali dalam kondisi darurat, seperti panas, dingin, hujan, atau ketakutan terhadap musuh atau binatang buas, maka tidak ada kemakruhan.
Hikmah dari kemakruhan tersebut adalah karena tempat-tempat tersebut merupakan tempat berkumpulnya setan, karena biasanya terdapat patung dan gambar di dalamnya, serta menjadi tempat fitnah dan hawa nafsu, yang dapat menghalangi kekhusyukan.
Mazhab Hanbali berpendapat bahwa tidak masalah melakukan shalat di gereja yang bersih. Hasan Al-Bashri, Umar bin Abdul Aziz, Asy-Sya’bi, Al-Auza’i, dan Sa’id bin Abdul Aziz memberikan keringanan untuk melakukan shalat di dalamnya, dan juga diriwayatkan dari Umar dan Abu Musa Al-Asy’ari. Dalil mereka adalah bahwa Nabi صلى الله عليه وسلم pernah shalat di dalam Ka’bah yang di dalamnya terdapat gambar (1), dan hal ini masuk dalam keumuman sabda Nabi صلى الله عليه وسلم: “Di mana pun kamu mendapati waktu shalat, maka shalatlah, karena tempat itu adalah masjid.”
Imam An-Nawawi dalam Al-Majmu’ menyatakan bahwa makruh shalat di tempat yang menjadi tempat tinggal setan, seperti tempat minuman keras, tempat pajak yang zalim, dan tempat kemaksiatan lainnya yang keji.
Al-Majmu’ Syarh Al-Muhadzdzab – 9792/1291
(Cabang)
Makruh melakukan shalat di gereja dan bi’ah, sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnu Mundzir dari Umar bin Khattab, Ibnu Abbas, dan Imam Malik radhiyallahu ‘anhum. Dan diriwayatkan bahwa ada keringanan untuk melakukannya dari Abu Musa, Hasan, Asy-Sya’bi, An-Nakha’i, Umar bin Abdul Aziz, Al-Auza’i, dan Sa’id bin Abdul Aziz. Ini juga merupakan riwayat dari Ibnu Abbas dan dipilih oleh Ibnu Mundzir. Hanya Allah yang Maha Mengetahui kebenaran.
Assalamualaikum warahmatullahi wa barokatuh. Deskripsi Masalah Ahmad.Rodi Hartoyo katakanlah itu nama samarannya, dia punya saudara Ipar , bekerja disatu perusahaan …… namun sayangnya Anak( putra dari pemilik perusahaan ) hobi minum minuman yang memabukkan,dan sering ia lakukan dengan mengajak salah satu karyawannya jika salah satu karyawan tidak mau/menolak maka sang anak pemilik perusahaan memaksanya dengan cara menuangkan khomr kemulutnya
Pertanyaan. Bagaimana Hukum seseorang (Ahmad.Rodi Hartoyo) Ghibah menceritakan aib tersebut kepada isri dan keluarga istrinya agar iparnya tidak bekerja ditempat perusahaan tersebut dengan tujuan agar tidak terjerumus kepada minum sebagaimana deskripsi?
Waalaikum salam Jawaban. Hukumnya Ghibah pada dasarnya adalah haram.Namun jika ghibah dengan tujuan Maslahah baik untuk dirinya ataupun orang lain hukumnya diperbolehkan. Untuk lebih jelasnya berikut Enam keadaan….
باب بيان ما يباح من الغيبة اعلم أن الغيبة تباح لغرضٍ صحيحٍ شرعي لا يمكن الوصول إليه إلا بها، وهو ستة أسبابٍ: الأول: التظلم، فيجوز للمظلوم أن يتظلم إلى السلطان والقاضي وغيرهما ممن له ولايةٌ، أو قدرةٌ على إنصافه من ظالمه، فيقول: ظلمني فلانٌ بكذا. الثاني: الاستعانة على تغيير المنكر، ورد العاصي إلى الصواب، فيقول لمن يرجو قدرته على إزالة المنكر: فلانٌ يعمل كذا، فازجره عنه ونحو ذلك، ويكون مقصوده التوصل إلى إزالة المنكر، فإن لم يقصد ذلك كان حراماً. الثالث: الاستفتاء، فيقول للمفتي: ظلمني أبي، أو أخي، أو زوجي، أو فلانٌ بكذا، فهل له ذلك ؟ وما طريقي في الخلاص منه، وتحصيل حقي، ودفع الظلم ؟ ونحو ذلك، فهذا جائزٌ للحاجة، ولكن الأحوط والأفضل أن يقول: ما تقول في رجلٍ أو شخصٍ، أو زوجٍ، كان من أمره كذا ؟ فإنه يحصل به الغرض من غير تعيينٍ ومع ذلك، فالتعيين جائزٌ كما سنذكره في حديث هندٍ إن شاء الله تعالى. الرابع: تحذير المسلمين من الشر ونصيحتهم، وذلك من وجوهٍ: منها جرح المجروحين من الرواة والشهود، وذلك جائزٌ بإجماع المسلمين، بل واجبٌ للحاجة. ومنها المشاورة في مصاهرة إنسانٍ، أو مشاركته، أو إيداعه، أو معاملته، أو غير ذلك، أو مجاورته، ويجب على المشاور أن لا يخفي حاله، بل يذكر المساويء التي فيه بنية النصيحة. ومنها إذا رأى متفقهاً يتردد إلى مبتدع، أو فاسقٍ يأخذ عنه العلم، وخاف أن يتضرر المتفقه بذلك، فعليه نصيحته ببيان حاله، بشرط أن يقصد النصيحة، وهذا مما يغلط فيه. وقد يحمل المتكلم بذلك الحسد، ويلبس الشيطان عليه ذلك، ويخيل إليه أنه نصيحةٌ فليتفطن لذلك. ومنها أن يكون له ولايةٌ لا يقوم بها على وجهها: إما بأن لا يكون صالحاً لها، وإما بأن يكون فاسقاً، أو مغفلاً، ونحو ذلك فيجب ذكر ذلك لمن له عليه ولايةٌ عامةٌ ليزيله، ويولي من يصلح، أو يعلم ذلك منه ليعامله بمقتضى حاله، ولا يغتر به، وأن يسعى في أن يحثه على الاستقامة أو يستبدل به. الخامس: أن يكون مجاهراً بفسقه أو بدعته كالمجاهر بشرب الخمر، ومصادرة الناس، وأخذ المكس؛ وجباية الأموال ظلماً، وتولي الأمور الباطلة، فيجوز ذكره بما يجاهر به؛ ويحرم ذكره بغيره من العيوب، إلا أن يكون لجوازه سببٌ آخر مما ذكرناه. السادس: التعريف، فإذا كان الإنسان معروفاً بلقبٍ؛ كالأعمش والأعرج والأصم، والأعمى؛ والأحول، وغيرهم جاز تعريفهم بذلك؛ ويحرم إطلاقه على جهة التنقص؛ ولو أمكن تعريفه بغير ذلك كان أولى. فهذه ستة أسبابٍ ذكرها العلماء وأكثرها مجمعٌ عليه؛ دلائلها من الأحاديث الصحيحة مشهورةٌ…..
لِجَوَازِهِ سَبَبٌ آخَرُ . (1) السَّادِسُ : التَّعْرِيفُ . . فَإِذَا كَانَ مَعْرُوفًا بِلَقَبٍ كَالأَْعْمَشِ وَالأَْعْرَجِ وَالأَْزْرَقِ وَالْقَصِيرِ وَالأَْعْمَى وَالأَْقْطَعِ وَنَحْوِهَا جَازَ تَعْرِيفُهُ بِهِ ، وَيَحْرُمُ ذِكْرُهُ بِهِ تَنَقُّصًا ، وَلَوْ أَمْكَنَ التَّعْرِيفُ بِغَيْرِهِ كَانَ أَوْلَى . (2) __ (1) الأذكار للنووي 303 ط الكتب المصرية ، وشرح صحيح مسلم للنووي 16 / 143 ط المصرية ، وفتح الباري 10 / 472 ط الرياض ، ورفع الريبة 14 ط السلفية ، والآداب الشرعية لابن مفلح 1 / 276 ط الرياض . (2) شرح صحيح مسلم للنووي 16 / 143 ط المصرية ، والأذكار للنووي ص304 ط الكتاب العربي ، ورفع الريبة ص 14ط السلفية ، وفتح الباري 10 / 472 ط الرياض .
Al-Mausuuah al-Fiqhiyyah 33/335
(باب بيان ما يباح من الغيبة) إعلم أن الغيبة وإن كانت محرمة فإنها تباح في أحوال للمصلحة. والمجوز لها غرض صحيح شرعي لا يمكن الوصول إليه إلا بها ، وهو أحد ستة أسباب. الأول : التظلم ، فيجوز للمظلوم أن يتظلم إلى السلطان والقاضي وغيرهما ممن له ولاية أو له قدرة على إنصافه من ظالمه ، فيذكر أن فلانا ظلمني ، وفعل بي كذا ، وأخذ لي كذا ، ونحو ذلك. الثاني : الاستعانة على تغيير المنكر ورد العاصي إلى الصواب ، فيقول لمن يرجو قدرته على إزالة المنكر : فلان يعمل كذا فازجره عنه ، ونحو ذلك ، ويكون مقصوده التوصل إلى إزالة المنكر ، فإن لم يقصد ذلك كان حراما. الثالث : الاستفتاء ، بأن يقول للمفتي : ظلمني ، أبي أو أخي ، أو فلان بكذا ، فهل له ذلك ، أم لا ؟ وما طريقي في الخلاص منه وتحصيل حقي ودفع الظلم عني ؟ ونحو ذلك. وكذلك قوله : زوجتي تفعل معي كذا ، أو زوجي يفعل كذا ، ونحو ذلك ، فهذا جائز للحاجة ، ولكن الأحوط أن يقول : ما تقول في رجل كان من أمره كذا ، أو في زوج أو زوجة تفعل كذا ، ونحو ذلك ، فإنه يحصل به الغرض من غير تعيين ، ومع ذلك فالتعيين جائز ، لحديث هند الذي سنذكره إن شاء الله تعالى ، وقولها : ” يا رسول الله ، إن أبا سفيان رجل شحيح..” الحديث ، ولم ينهها رسول الله (صلى الله عليه وسلم). الرابع : تحذير المسلمين من الشر ونصيحتهم ، وذلك من وجوه : منها جرح المجروحين من الرواة للحديث والشهود ، وذلك جائز بإجماع المسلمين ، بل واجب للحاجة. ومننها ما استشارك إنسان في مصاهرته ، أو مشاركته ، أو إيداعه ، أو الإيداع عنده ، أو معاملته بغير ذلك ، وجب عليك أن تذكر له ما تعلمه منه على جهة النصيحة ، فإن حصل الغرض بمجرد قولك لا تصلح لك معاملته ، أو مصاهرته ، أو لا تفعل هذا ، أو نحو ذلك ، لم تجز الزيادة بذكر المساوئ وإن لم يحصل الغرض إلا بالتصريح بعينه فاذكره بصريحه. ومنها إذا رأيت من يشتري عبدا يعروف بالسرقة أو الزنا أو الشرب أو غيرها ، فعليك أن تبين ذلك للمشتري إن لم يكن عالما به ، ولا يختص بذلك ، بل كل من علم بالسلعة المبيعة عيبا وجب عليه بيانه للمشتري إذا لم يعلمه. ومنها إذا رأيت متفقها يتردد إلى مبتدع أو فاسق يأخذ عنه العلم خفت أن يتضرر المتفقه بذلك ، فعليك نصيحته ببيان حاله ، ويشترط أن يقصد النصيحة ، وهذا مما يغلط فيه ، وقد يحمل المتكلم بذلك الحسد ، أو يلبس الشيطان عليه ذلك ، ويخيل إليه أنه نصيحة وشفقة ، فليتفطن لذلك. ومنها أن لا يكون له ولاية لا يقوم بها على وجهها ، إما بأن لا يكون صالحا لها ، وإما بأن يكون فاسقا أو مغفلا ونحو ذلك ، فيجب ذكر ذلك لمن له عليه ولاية عامة ليزيله ويولي من يصلح أو يعلم ذلك منه لتعامله بمقتضة حاله ولا يغتر به ، وأن يسعى في أن يحثه على الاستقامة أو يستبدل به. الخامس : أن يكون مجاهرا بفسقه أو بدعته ، كالمجاهر بشرب الخمر ، أو مصادرة الناس ، وأخذ المكس ، وجباية الأموال ظلما ، وتولي الأمور الباطلة ، فيجوز ذكره بما يجاهر به ، ويحرم ذكره بغيره من العيوب ، إلا أن يكون لجوازه سبب آخر مما ذكرناه. السادس : التعريف ، فإذا كان الإنسان معروفا بلقب : كالأعمش ، والأعرج ، والأصم ، والأعمى ، والأحول ، والأفطس ، وغيرهم ، جاز تعريفه بذلك بنية التعريف ، ويحرم إطلاقه على جهة التنقص ولو أمكن التعريف بغيره كان أولى. فهذه ستة أسباب ذكرها العلماء مما تباح بها الغيبة على ما ذكرناه. وممن نص عليها هكذا الإمام أبو حامد الغزالي في ” الإحياء ” وآخرون من العلماء ، ودلائلها ظاهرة من الأحاديث الصحيحة المشهورة ، وأكثر هذه الأسباب مجمع على جواز الغيبة بها.
Al-Adzkaar Li an-Nawaawy I/340
GHIBAH, dalam kondisi sebagaimana ibaroh tersebut terjemahnya adalah :
TERANIAYA
Diperbolehkan bagi orang yang teraniaya mengadukan penganiayanya pada penguasa, hakim, dan orang-orang yang memiliki kekuasaan untuk menghentikan penganiayaannya dengan menyebut langsung nama pelakunya, misalnya “Si Anu telah melakukan tindakan ini padaku” atau “Si Anu mengambil seseuatu dariku” dan sebagainya
MEROBAH KEMUNGKARAN DAN KEMAKSIATAN PADA KEBENARAN
Dengan menyebut nama pembuat kemaunkaran serta kemaksiatan pada seseorang yang di harapkan mampu merobahnya dengan berkata “Si Anu telah melakukan tindakan ini, maka cegahlah..!!” dengan tujuan menghilangkan kemungkaran bila tidak maka menggunjingnya hukumnya haram.
DALAM RANGKA MEMINTA SARAN/NASEHAT
Misalkan seseorang yang mengatakan : “Ayahku atau Saudaraku atau Si Anu menganiaya diriku, apa tindakan tersebut berhak ia lakukan ? Bagaimana caraku keluar dari masalah ini ? Bagaimana aku dapat memperoleh hak-hakku ?” Dan sebagainya
Yang demkian diperbolehkan karena ada kepentingan menggunjingya, namun sebaiknya untuk berhati-hati sebaiknya dalam rangka meminta saran ini tidak dikatakan pelakunya secara lansung semisal dengan pernyataan : ”Bagaimana pendapat anda tentang seorang lelaki yang melakukan semacam ini ?” ” Bagaimana pendapat anda tentang seorang suami atau istri yang melakukan semacam ini ?” dan semacamnya karena tujuan meminta saran dengan perkataan semacam inipun bisa ia dapatkan, meskipun penyebutan pelaku secara langsung juga diperbolehkan berdasarkan hadits dari Hindun ra saat ia meminta saran dari Nabi shallallaahu alaihi wasallam dengan berkata “Wahai rasulullah, sesungguhnya Abu Sufyan lelaki pelit.. dst” dan Nabi pun tidak melarangnya.
MEMBERI PERINGATAN PADA KAUM MUSLIMIN
Menurut Imam Nawawy dalam permasalahan ini terdapat 5 gambaran : a. Menerangkan/menyebutkan cacatnya nama seseorang dalam sebuah riwayat hadits/saksi, kebolehan ghibah dalam hal ini disepakati ulama dalam rangka kemurnian syariat. b. Membicarakan seseorang dalam rangka musyawarahsemacam hendak mengikat tali perkawinan c. Saat melihat seseorang yang hendak membeli suatu barang cirri yang tidak ia ketahui, untuk memberi petunjuk padanya bukan dalam rangka menghina atau merusak citra. d. Saat melihat seseorang yang hendak belajar agama dan ragu atas dua pilihan, agar tidak tersesat pada orang fasik dan ahli bid’ah maka boleh bagimu memberi nasehat padanya. e. Mengadukan seorang pimpinan pada atasannya atas ketidak profesionalannya atau kefasikannya agar diketahui dan segera diganti supaya tidak tertipu dan dilanggengkan kepimpinannya.
KEKURANGAN YANG TERANG-TERANGAN IA LAKUKAN
Bila seseorang terang-terangan menjalani kefasikan atau kebid’ahannya, maka boleh menyebutkan cela yang secara jelas ia lakukan dan haram menyebutkan lainnya kecuali bila ada hal yang memperbolehkan penyebutan laiinya.
PENAMAAN
Boleh menyebutkan kekurangan orang lain bila justru ia lebih dikenal dan diberi julukan dengan kekurangannya seperti “Si Rabun, Si Pincang, Si Jereng, Si Cebol, Si Buta, Si Buntung” dan sebagainya asalkan tidak bertujuan merendahkan kekurangannya dan bila masih memungkinkan penamaan dengan selain kekurangannya tentu lebih utama dan bijaksana. Wallaahu A’lamu Bis Showaab