Assalamualaikum , maaf para kiyai , para ustad ,saya bertanya. Bagaimana hukumnya menerima donor darah ,Sedangkan orang yang ditransfusi Non muslim (orang yang didonor kafir ) misalnya, atau dia makan barang haram seperti minum khomer atau sering makan barang Riba dll. . Wassalamualaikum .
Waalaikum salam. Jawaban.
Hukum menerima transfusi darah dari orang non-muslim ( Donor darah dari Non Muslim ) dalam kondisi sangat dibutuhkan dalam rangka untuk pengobatan hukumnya adalah boleh. Alasannya karena tubuh Non Muslim pada hakikatnya adalah suci, tidak najis.
Imam Nawawi berkata; “Imam Bukhari menyebutkan dalam Shahih Bukhari, bersumber dari Ibnu Abbas secara mu’allaq: Muslim tidaklah najis baik hidup dan matinya. Ini adalah hukum untuk orang muslim. Adapun hukum status orang kafir, maka hukum dalam masalah suci dan najisnya adalah sama dengan hukum seorang muslim (maksudnya suci). Ini adalah pendapat madzhab kami, yang juga menjadi pendapat mayoritas ulama salaf dan khalaf.
Adapun firman Allah; yang artinya:” (Sesungguhnya orang musyrik itu najis) maksudnya adalah najisnya aqidah yang kotor, bukan maksudnya anggota badannya najis seperti najisnya kencing, kotoran , dan sebagainya. Jika sudah jelas kesucian manusia baik dia muslim atau kafir, maka keringat, ludah, darah, semuanya suci, sama saja apakah dia sedang berhadats, atau junub, atau haid, atau nifas. Semua ini adalah ijma’ kaum muslimin sebagaimana penjelasannya dalam Bab Haid.”Begitu juga tubuh anak-anak mereka Non Muslim, bahkan boleh memakai pakaian mereka digunakan untuk shalat dan makan bersama mereka selama tidak jelas atas kenajisan dari yang mencegahnya ketika mencelupkan tangan mereka.Ini sebuah dalil dari Sunnah dan Ijma’ yang populer.Wallahu A’lam bisshowab.
Referensi
كتاب شرح النووي على مسلم – باب الدليل على أن المسلم لاينجسه- مكتبة الشاملة .ص٦٥-٦٦
Bab Dalil bahwa Seorang Muslim Tidak Najis Dalam hadis disebutkan sabda Nabi ﷺ: “Subhanallah, sesungguhnya seorang mukmin tidak najis” (Dalam riwayat lain: “Sesungguhnya seorang muslim tidak najis”).
Hadis ini merupakan dalil besar mengenai kesucian seorang muslim, baik ketika hidup maupun setelah meninggal dunia. Adapun ketika hidup, statusnya adalah suci berdasarkan ijma’ (kesepakatan) kaum muslimin, bahkan janin yang dilahirkan oleh ibunya dan masih melekat padanya cairan dari kemaluan ibunya tetap dianggap suci. Sebagian ulama dari kalangan kami (Syafi’iyah) mengatakan bahwa hal ini merupakan kesepakatan kaum muslimin dan tidak berlaku perbedaan pendapat terkait najisnya cairan dari kemaluan wanita. Begitu pula, tidak berlaku perbedaan pendapat yang disebutkan dalam kitab-kitab kami terkait najisnya bagian luar telur ayam atau lainnya yang dipandang berdasarkan cairan kemaluan.
Status Muslim yang Hidup dan Meninggal
Muslim yang hidup: Hukumnya suci.
Muslim yang meninggal: Para ulama berselisih pendapat mengenai statusnya. Dalam mazhab Syafi’i terdapat dua pendapat, dan pendapat yang lebih sahih menyatakan bahwa mayat muslim adalah suci. Oleh karena itu, jenazahnya dimandikan. Hal ini berdasarkan sabda Nabi ﷺ: “Sesungguhnya seorang muslim tidak najis.”
Imam Bukhari dalam Shahih-nya secara ta’liq meriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa: “Seorang muslim itu tidak najis, baik ketika hidup maupun setelah meninggal dunia.”
Status Non-Muslim Adapun non-muslim, statusnya dalam hal kesucian tubuh sama seperti muslim menurut mazhab kami (Syafi’iyah) dan pendapat mayoritas ulama salaf dan khalaf. Mengenai firman Allah ﷻ: “Sesungguhnya orang-orang musyrik itu najis” (QS. At-Taubah: 28), maksudnya adalah najis dari segi akidah dan sifat yang menjijikkan, bukan najis secara fisik seperti najisnya air seni, kotoran, dan sebagainya.
Kesimpulan Status Kesucian Tubuh Berdasarkan penjelasan ini, tubuh manusia (baik muslim maupun non-muslim), termasuk keringat, air liur, dan air matanya, semuanya suci. Status ini tetap berlaku, baik seseorang dalam keadaan berhadats, junub, haid, maupun nifas. Hal ini merupakan kesepakatan kaum muslimin sebagaimana telah disebutkan dalam bab tentang haid.
Begitu pula anak-anak kecil, tubuh, pakaian, dan air liur mereka dianggap suci hingga terbukti terdapat najis secara yakin. Dengan demikian, shalat dalam pakaian mereka dibolehkan, begitu juga makan bersama mereka dari makanan cair yang mereka celupkan tangannya ke dalamnya. Dalil-dalil mengenai hal ini dari sunnah dan ijma’ sangat terkenal. Wallahu a’lam.
Adapun Persoalan menerima pemberian orang Non Muslim sedangkan mereka makan barang haram yang diperoleh dari uang judi atau barang riba,selama tidak diketahui secara jelas maka menerima pemberiannya hukumnya boleh namun makruh . Imam Suyuthi berkata dalam kitab Al-Ashbah wan-Nadzair
ومنها: معاملة من أكثر ماله حرام، إذا لم يعرف عينه لا يحرم في الأصح لكن يكره، وكذا الأخذ من عطايا السلطان، إذا غلب الحرام في يده، كما قال في شرح المهذب: إن المشهور فيه الكراهة لا التحريم، خلافاً للغزالي
Artinya: Transaksi seseorang yang kebanyakan hartanya haram, apabila tidak diketahui harta apa yang haram, maka tidak haram menurut pendapat yang paling sahih akan tetapi hukumnya makruh. Begitu juga hukum menerima hadiah dari raja apabila mayoritas harta raja itu haram seperti pendapat Nawawi dalam Al-Majmu’ Syarah Muhadzab bahwa yang masyhur dalam masalah ini adalah makruh, bukan haram. Ini berbedda dengan pendapat Al-Ghazali (menurutnya hukumnya haram).
Kesimpulan Jika sudah jelas kasabnya diperoleh dari barang yang haram dan diketahui oleh seseorang melalui mata kepalanya sendiri maka haram pula memakannya, ini jika berbentuk materi yang jelas diketahui oleh mata, tetapi jika darah karena barang yang samar ( berada dalam tubuh ) Kemudian ditransfusi , maka hukumnya boleh menerimanya karena tubuh dan darahnya Non Muslim pada hakikatnya suci, dan barang yang tidak nampak itu urusan Allah, Sebagaimana ungkapan dalam kaidah ushul fiqh.
نحن نحكم بالظواهر والله يتولى السرائر
Artinya : “Kami menghukumi dengan sesuatu yang dhahir (lahiriah), dan Allah yang menangani seluruh yang tersembunyi (samar).Wallahu a’lam bisshowab.
Terkadang kita jumpai seseorang asal makan pernah alfakir mampir diwarung makan yang didalamnya banyak anika ragam ikan mulai ikan ayam telur sapi, kambing, ikan burung, Kapeting bahkan semua ikan dilautan ada seperti ikan cumi-cumi, kerrang ,udang, mamiran,keramba, Garita, Rajungan dll.padahal dalam agama tidak semua hewan itu halal dimakan kecuali hewan yang berada dilaut, tapi anehnya ketika saya makan ada orang minta ikan kepiting, yang serupa dengan rajungan namun tidak sama bentuknya.
Pertanyaanya. Bagaimana sebenarnya makan kepiting menurut Ulama fiqih.
Waalaikum salam. Jawaban.
Ulama berbeda pandang tentang halal dan tidaknya mengkonsumsi kepiting: ➡️Menurut Hanafiyah dan Syafiiyah hukumnya tidak halal.alasannya kerena termasuk kategori Khabaaits ➡️Menurut Malikiyah boleh mengkonsumsi. Alasannya karena tidak ada nash yang mengharamkan ➡️ Menurut Imam Hambali boleh mengkonsumsi dengan syarat disembelih .
Pendapat yang mengharamkan dipatahkan oleh mayoritas ulama’ bahwa pendapat tersebut lemah dan kepeting halal untuk dikonsumsi sebagaimana telah dihikayatkan oleh Syaikh Al-Baghawi dari Syaikh Hulaimiy
Dari beberapa pendapat diatas melihat kondisi kehidupanya Kepiting hidup didua alam, namun setelah diadakan penelitian ternyata kepiting, rajungan dan kampat tidak mampu hidup didua alam oleh karena itu tiga binatang ini hukumnya halal.( Lihat fiqih fauna pustaka sidogiri hal: 151) Namun untuk menjaga kehati- hatian taqlid kepada Imam Milik, Wallahu a’lamu . . Dasar hukum:
المجموع على شرح المهذب. ٣٠/٩ حيات الحيوان ٢٠/٢
الضرب الثانى مايعش فى البر أيضا إلى قوله…..وعدّ الشيخ أبو حامد وإمام الحرمين من هذا الضرب الضفداع والسرطان وهما محرمان على المذهب الصحيح المنصوص وبه قطع الجمهور وفيهما قول ضعيف إنهما حلالتان
( بجيرمى على الخطيب) ( وقوله وسرطان)
وهو من خلق الماء ويعيش فى البر أيضا وهو جيد المشي سريع العدو ذو فكّين ومحلب وأظفار حدّاد وله ثمانية أرجل وهو يمشي على جنبه
Referensi:
المجموع شرح المهذب – ١٣١/٩٧٩٢
(فرع) ما يعيش في البحر مما له نفس سائلة إن كان مأكولا فميتته طاهرة ولا شك أنه لا ينجس الماء وما لا يؤكل كالضفدع وكذا غيره إذا قلنا لا يؤكل فإذا مات في ماء قليل أو مائع قليل أو كثير نجسه صرح به أصحابنا في طرقهم وقالو لا خلاف فيه إلا صاحب الحاوي فإنه قال في نجاسته به قولان: ولعله أراد أن في نجاسته به خلافا مبنيا على حل أكله وإن أراد مع تحريم أكله فشاذ مردود: وذكر الروياني في الضفدع وجهين أحدهما لا نفس لها سائلة فيكون في نجاسة الماء بها قولان والثاني لها نفس سائلة فتنجسه قطعا وهذا الثاني هو المشهور فِي كُتُبِ الْأَصْحَابِ وَجَعَلُوا الْمَسْأَلَةَ خِلَافِيَّةً فَحَكَوْا هُمْ وَابْنُ الْمُنْذِرِ عَنْ مَالِكٍ وَأَبِي حَنِيفَةَ ومحمد ابن الْحَسَنِ وَأَبِي عُبَيْدٍ أَنَّ الضِّفْدَعَ لَا يُنَجِّسُ مَا مَاتَ فِيهِ وَكَذَلِكَ السَّرَطَانُ وَمَذْهَبُنَا أَنَّهُ يُنَجِّسُهُ وَاَللَّهُ أَعْلَمُ
Referensi:
المجموع شرح المهذب – ٤٥٠٦/٩٧٩٢ (الضرب)
الثاني ما يعيش في الماء وفي البر أيضا فمنه طير الماء كالبط والإوز ونحوهما وهو حلال كما سبق ولا يحل ميتته بلا خلاف بل تشترط زكاته وعد الشيخ أبو حامد وإمام الحرمين من هذا الضرب الضفدع والسرطان وهما محرمان على المذهب الصحيح المنصوص وبه قطع الجمهور وفيهما قول ضعيف انهما حلال وحكاه البغوي في السرطان عن الحليمي.
Referensi:
الفقه الإسلامي و أدلته – ٢٧١٩/٧٧٢٢ النوع الثالث ـ الحيوان البرمائي: وهو الذي يعيش في البر والماء معا، كالضفدع والسلحفاة والسرطان، والحية والتمساح وكلب الماء ونحوها. وفيه آراء ثلاثة: ١ – قال الحنفية والشافعية (١): لا يحل أكلها؛ لأنها من الخبائث، وللسمية في الحية، ولأن «النبي صلى الله عليه وسلم نهى عن قتل الضفدع» (٢) ولو حل أكله، لم ينه عن قتله. ٢ – وقال المالكية (٣): يباح أكل الضفادع والحشرات والسرطانات والسلحفاة، إذ لم يرد نص في تحريمها. وتحريم الخبائث: هو ما نص عليه الشرع، فلا يحرم ما تستخبثه النفوس مما لم يرد فيه نص. ٣ – وفصل الحنابلة فقالوا (٤): كل ما يعيش في البر من دواب البحر، لا يحل بغير ذكاة كطير الماء، والسلحفاة، وكلب الماء، إلا مالا دم فيه كالسرطان، فإنه يباح في رأي أحمد بغير ذكاة؛ لأنه حيوان بحري يعيش في البر، وليس له دم سائل، فلاحاجة إلى ذبحه، خلافا لما له دم، لا يباح بغير ذبح. والأصح كما في شرح المقنع لابن مفلح الحنبلي (٢١٤/ ٩): أن السرطان لا يحل إلا بالذكاة. ولا يباح أكل الضفدع؛ لأن النبي صلى الله عليه وسلم ـ فيما رواه النسائي ـ نهى عن قتله، فيدل ذلك على تحريمه.كما لا يباح أكل التمساح.
Referensi:
( عيش البحر للفقير محمد انوار من اهل صيد البحر البتاعي القوماني ١-٣ )
(الكفيطيع)
من حيوان البحر الذي لا يعيش الا فيه وهو يشبه الرجوعن وله ستة ارجل ذو فكين واظفار لكن ليس في اظفاره مخلب كاظفار السرطان وذو الة العوم في اخر ارجله وشأنه ان يقدر عليه وانما سمي بذلك لمربوطه بعد ان يأخذ عليه حذرا من تقريضه لآن من شأنه ان يقرض على آخذه بسرعة وقوة —– الى ان قال —– فالكفيطيع حكمه حل الاكل لآن عيشه في البر عيش مذبوح او عيش حي لا يدوم ، ومن قال بتحريمه لم يأت على تحريمه دليل من قول العلماء اى ان قال —- وما نقل بعض المشايخ من الافتاء بتحريمه لم يصح على تحريمه فقد نص الشافعي رضي الله عنه على ان الحيوان البحر الذي يعيش الا فيه يؤكل لعموم الاية وما ذكر في الكتاب المجموع الجاوي ان الكفيطيع حرام لم يأت على تحريمه دليل ولا نقل من قول العلماء فلا يلتفت اليه اهـــ
Referensi:
( عيش البحر للفقير محمد انوار من اهل صيد البحر البتاعي القوماني ٩-١٠)
(السرطان)
من حيوان الماء الذي يعيش لا يعيش دائما فيه والبر وهو يشبه الكرايا ولونه اما سواد خالص مشرب بحمرة واما بياض خالص وبياض مشرب بحمرة وايضا بياض مع نقطة سوداء على ظهره وله ثمانية ارجل ذو فكين واظفار حداد ومخلب سريع العدو وجيد المشي ومسكنه اما في الساحل واما في اطراف النهر وفي البستان وقد يتخذ فيه حجرا عامقا يسكن فيه وهو اذ طلع من حجره على وجه الارض ورأى انسانا يعود إفلي جحره بسرعة مخافة على ان يأخذ عليه وهو بالجاوي العريكي ثلاثة اسماء السرينطيل الذي يسكن في الساحل وثانيها الويدع يسكن في اطراف النهر والبستان وثالثها اليويو الذي يسكن فيهما وفي الارض المزرعة وهذا المذكور هو عين السرطان الحكم يحرم اكله للخبيث خلافا لمالك القائل بحله فيجوز للانسان ان ياكله تقليدا لمالك ولأن الاولى تركه احتياطا اهـ
Kaprahnya wanita yang ditalak memiliki masa iddah, namun ada seorang wanita yang ditalak 3 oleh suaminya dia tidak pernah dijimak sama sekali. Hingga pada suatu saat mantan suaminya berhasrat dan ingin untuk kembali kepada mantan istrinya.
Pertanyaan
Adakah masa iddah bagi wanita yg ditalak 3 namun tidak pernah dijimak sama sekali sebagai mana deksripsi?
Jika seandainya mantan suaminya itu ingin kembali, haruskah ada muhallil? Mengingat wanita itu sudah dijatuhi talak tiga?
Walaikum salam
Jawaban
Ulama berbeda pandang mengenai masalah talak tiga yang diucapkan sekaligus. Ini didasarkan dari berbagai referensi kitab fiqih di antaranya al-Majmû‘ karya Imam al-Nawawî (631-676 H.), Bidâyat al-Mujtahid karya Ibnur Rusyd (w. 565 H), dan al-Fiqh al-Islâmî wa-Adillatuh karya Doktor Syekh Wahbah al-Zuhailî, ulama kontemporer tentang masalah ini dapat dikelompokkan menjadi empat macam.
➡️Pertama, pendapat yang menghukumi talak tiga yang diucapkan sekaligus adalah jatuh talak tiga. Ini pendapat Empat Imam Mazhab (Hanafi, Maliki, Syafi‘i, Hanbalî), Syiah Zaidiyyah dalam pendapat yang masyhur, dan suatu riwayat Imamiyah, serta pendapat Ibnu Hazm Az-Zhâhirî. Pendapat ini manqûl (diambil) dari pendapat jumhur sahabat, di antaranya Khulafâ’ur Rasyidun (selain Abu Bakar RA), Ibnu ‘Umar, Ibnu ‘Amar, Ibnu ‘Abbâs, Ibn Mas’ûd, Abû Hurairah, dan para tabi’in.
➡️Kedua, pendapat yang menyatakan bahwa talak tiga sekaligus hanya jatuh talak satu. Ini pendapat Dâwud Az-Zhâhirî (mazhab Zhahiriyah selain Ibnu Hazm), Ibnu Ishâq, Ibnu Taimiyyah, dan Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah, Syiah Zaidiyah dalam satu riwayat, serta sebagian besar Syiah Imamiyah, seperti At-Thûsî (385-460 H). Pendapat ini, yang awalnya pendapat Abu Bakar RA, dipilih dan diberlakukan dalam undang-undang Mesir tahun 1929, dan undang-undang Suriah tentang Hukum Keluarga (Qânûn al-Ahwâl al-Syakhshiyyah) Pasal 91-92. ➡️Ketiga, pendapat yang menafsil (memerinci), yakni memisahkan antara istri yang sudah digauli (dijima') oleh suami yang menalaknya dan istri yang belum digauli oleh suaminya. Talak tiga yang diucapkan sekaligus terhadap istri yang sudah digaulinya, maka jatuh talak tiga, tetapi terhadap istri yang belum digaulinya,(belum merasakan dijima') maka jatuh talak satu (talak raj’i). ➡️Pandangan ketiga ini adalah pendapat murid-muridnya Ibnu ‘Abbâs RA di antaranya ‘Atha’, Sa‘îd bin Jubair, Abûs Sya‘tsâ’, ‘Amar bin Dînâr, yang merupakan mazhab Ishâq bin Râhawiyah. Dalilnya antara lain, HR Abû Dâwud: ”Taukah kamu bahwa bila seseorang menalak istrinya tiga kali sebelum ia berhubungan badan dengannya mereka menjadikan (menghukumi)nya talak satu?” (Lihat An-Nawawi, Kitâb Al-Majmû‘, [Jedah, Maktabah Al-Irsyâd: tanpa tahun], juz XVIII, halaman 275). ➡️Keempat, pendapat yang menyatakan bahwa talak tiga sekaligus tidaklah jatuh talak sama sekali sebab merupakan bid‘ah muharramah (bid’ah yang diharamkan), tertolak dan batal, sebab menyalahi prosedur Al-Qur’an dan As-Sunnah tentang talak. Ini pendapat Al-Hajâj bin Arthâh, Muhammad bin Ishâq, dan Syiah Imâmiyah dalam riwayat yang râjih (unggul).
Berikut di antara referensi tentang jatuhnya talak tiga tersebut:
وإيقاع الثلاث للإجماع الذي انعقد في عهد عمر على ذلك ولا يحفظ أن أحدا في عهد عمر خالفه في واحدة منهما. ثم قال: فالمخالف بعد هذا الإجماع مُـنـابذٌ لـه، والجمهور على عدم اعتبار مَن أحدث الاختلاف بعد الاتفاق.اهـ
Artinya, “Jatuhnya talak tiga-dalam kasus mengucapkan talak tiga sekaligus-itu karena ijmak yang terjadi pada masa pemerintahan ‘Umar bin ‘Affân, dan tidak tercatat adanya seseorang pada masa beliau menentang pendapatnya tersebut… Maka orang yang menyalahi atau menentang setelah ada ijma’ ini berarti menentang pendapat beliau, dan Jumhur ulama memandang tidak ada penilaian terhadap orang yang membuat perbedaan pendapat setelah terjadi persepakatan tentang hukum tersebut.” (Ibnu Hajar Al-‘Asqalânî, Syarh Shahîhil Bukhârî [Beirut, Dârul Ma‘rifah: 1379 H], juz X, halaman 364).
Bahkan alangkah baiknya, terutama putusan hakim, mengikuti pendapat yang takhfîf ( meringankan ) sebagaimana yang telah diberlakukan dalam undang-undang di Mesir dan Suriah, sehingga bisa menjadi hukum yang lebih kuat (al-hukm al-aqwâ) untuk diterapkan, yang menetapkan talak tiga sekaligus adalah jatuh talak satu.
Mengambil atau memilih pendapat yang meringankan (takhfîf) ini, tidak berarti menentang putusan, Umar bin Khathab r.a. sebagaimana pula ditetapkan empat imam mazhab, karena persoalan norma hukum dikembalikan kepada ( pertimbangan ) aspek perubahan hukum sebab adanya perubahan ‘urf/kebiasan dan kondisi manusia. Menerapkan pendapat yang takhfîf ini dimaksudkan untuk memberikan kemudahan (taisîr) bagi manusia, dan menjaga keutuhan hubungan suami istri, serta melindungi kemaslahatan anak-anak, karena ucapan talak tiga sekaligus itu biasanya untuk menakut-nakuti, dan jelas prinsip fiqih itu bersifat solutif (problem solving) dan mengembalikan relasi perkawinan (ruju’). Dengan demikian maka wanita yang ditalak tiga sebelum didukhol dengan mengikuti pendapat yang ketiga adalah:
🅰️.Tidak ada iddah bagi wanita yang ditalak 3 ( tiga) oleh suaminya sebelum dijima' ( belum merasakan dijima' sama sekali)..
🅱️.Tidak perlu adanya muhallil karena talak 3 ( tiga ) yang diucapkan dengan tanpa dijma' ( belum merasakan nikmatnya jima'), maka dihitung talak 1( satu). Akan tetapi jika istrinya sudah pernah dijima' maka jatulah talak tiga dan wajib jika suaminya akan kembali kepada istrinya , maka istrinya harus menikah dengan orang lain ( muhallil ), dan sudah habis masa iddanya. Wallahu a’lamu
الفقه الإسلامي و أدلته – ٦٧٠٤/٧٧٢٢
أثر مخالفة هذا القيد: إذا طلق الرجل امرأته ثلاثا بكلمة واحدة أو بكلمات في طهر واحد، يكون آثما مستحقا لعقوبة يراها القاضي، لكن الطلاق يقع ثلاثا في المذاهب الأربعة أقوال الفقهاء في الطلاق الثلاث بلفظ واحد:
للفقهاء آراء ثلاثة في جمع الطلاق الثلاث بكلمة واحدة وهي (٢): الأول ـ قول الجمهور منهم أئمة المذاهب الأربعة والظاهرية: يقع به ثلاث طلقات، وهو منقول عن أكثر الصحابة ومنهم الخلفاء الراشدون غير أبي بكر، والعبادلة الأربعة (ابن عمر، وابن عمرو، وابن عباس، وابن مسعود) وأبو هريرة وغيرهم، ومنقول عن أكثر التابعين، لكن لا يسن أن يطلق الرجل أكثر من واحدة عند الحنفية والمالكية كما تقدم؛ لأن طلاق السنة: هو أن يطلقها واحدة ثم يتركها حتى تنقضي عدتها. الثاني ـ قول الشيعة الإمامية: لا يقع به شيء. الثالث ـ قول الزيدية وبعض الظاهرية وابن إسحاق وابن تيمية وابن القيم: يقع به واحدة، ولا تأثير للفظ فيه. وأخذ القانون في مصر وسورية بهذ الرأي، نص القانون السوري على ما يلي: (م ٩١) – يملك الزوج على زوجته ثلاث طلقات. (م ٩٢) – الطلاق المقترن بعدد لفظا أو إشارة لا يقع إلا واحدا.وقد عدلت لجنة الإفتاء بالرياض عن هذا القول واختارت بالأكثرية القول بوقوع الطلاق الثلاث بلفظ واحد ثلاثا (١).
أدلة هذه الأقوال: أما أدلة الإمامية القائلين بأنه لا يقع شيء: فهي الأدلة نفسها التي استدلوا بها على عدم وقوع الطلاق في الحيض، لأن كلا منهما غير مشروع. وكذلك قوله تعالى: {فإمساك بمعروف أو تسريح بإحسان} [البقرة:231/ 2] يدل على أن شرط وقوع الطلقة الثالثة أن تكون في حال يصح من الزوج فيها الإمساك. وإذا لم يصح الإمساك إلا بعد المراجعة، لم تصح الثالثة إلا بعدها لما ذكر، وإذا لزم في الثالثة لزم في الثانية. وأما أدلة الزيدية وابن تيمية وابن القيم القائلين بوقوع طلاق واحد، فهي ما يأتي: ١ – آية {الطلاق مرتان} [البقرة:٢٢٩/ ٢] إلى قوله تعالى في الطلقة الثالثة: {فإن طلقها فلا تحل له من بعد حتى تنكح زوجا غيره} [البقرة:٢٣٠/ ٢] أي أن المشروع تفريق الطلاق مرة بعد مرة، لأنه تعالى قال: {مرتان} [البقرة:٢٢٩/ ٢] ولم يقل «طلقتان». وليس مشروعا كون الطلاق كله دفعة واحدة، فإذا جمع الطلاق الثلاث في لفظ واحد، لا يقع إلا واحدة، والمطلق بلفظ الثلاث مطلق بواحدة، لا مطلق ثلاث.ويرد عليه بأن الآية ترشد إلى الطلاق المشرو ع أو المباح، وليس فيها دلالة على وقوع الطلاق وعدم وقوعه إذا لم يكن مفرقا، فيكون المرجع إلى السنة، والسنة بينت أن الطلاق الثلاث يقع ثلاثا.ومما جاء في السنة في قصة ابن عمر الذي طلق امرأته في أثناء الحيض: أنه قال: «يا رسول الله، أرأيت لو طلقتها ثلاثا، أكان يحل لي أن أراجعها؟ قال: لا، كانت تبين منك، وتكون معصية» (١). ٢ – حديث ابن عباس قال: «كان الطلاق على عهد رسول الله صلى الله عليه وسلم وأبي بكر وسنتين من خلافة عمر، طلاق الثلاث واحدة، فقال عمر بن الخطاب: إن الناس قد استعجلوا في أمر كانت لهم فيه أناة، فلو أمضيناه عليه، فأمضاه عليهم » (٢) فهو واضح الدلالة على جعل الطلاق الثلاث بلفظ واحد طلقة واحدة، وعلى أنه لم ينسخ لاستمرار العمل به في عهد أبي بكر وسنتين من خلافة عمر، ولأن عمر أمضاه من باب المصلحة والسياسة الشرعية. وأجيب عنه بأنه محمول على صورة تكرير لفظ الطلاق ثلاث مرات، بأن يقول: (أنت طالق، أنت طالق، أنت طالق) فإنه يلزمه واحدة إذا قصد التوكيد، وثلاث إذا قصد تكرير الإيقاع، فكان الناس على عهد رسول الله صلى الله عليه وسلم وأبي بكر على صدقهم وسلامتهم وقصدهم في الغالب الفضيلة والاختيار، لم يظهر فيهم خب ولا خداع، وكانوا يصدقون في إرادة التوكيد، فلما رأى عمر في زمانه أمورا ظهرت، وأحوالا تغيرت، وفشا إيقاع الثلاث جملة بلفظ لا يحتمل التأويل، ألزمهم الثلاث في صورة التكرير، إذ صار الغالب عليهم قصدها، وقد أشار إليه بقوله: «إن الناس قد استعجلوا في أمر كانت لهم فيه أناة».ثم إن هذا الحكم إنما هو في القضاء، أما في الديانة فإن كل واحد يعامل فيها بنيته. ومخالفة عمر لما مضى لا شيء فيها؛ لأنها ترجع إلى تغير الحكم بسبب تغير العرف وحال الناس. والحق أن في هذا الحديث نظرا. ٣ – حديث ابن عباس عن ركانة: «أنه طلق امرأته ثلاثا في مجلس واحد، فحزن عليها حزنا شديدا، فسأله النبي صلى الله عليه وسلم، كيف طلقتها؟ فقال: ثلاثا في مجلس واحد، فقال له صلى الله عليه وسلم: إنما تلك واحدة فارتجعها» (1). وأجيب عنه بأجوبة: منها ـ أن في إسناده محمد بن إسحاق، ورد بأنهم قد احتجوا في غير واحد من الأحكام مثل هذا الإسناد. ومنها ـ معارضته لفتوى ابن عباس، فإنه كان يفتي من سأله عن حكم الطلاق بلفظ الثلاث بأنه يقع ثلاثا. ورد بأن المعتبر روايته لا رأيه. ومنها ـ أن أبا داود رجح أن ركانة إنما طلق امرأته البتة، كما تقدم لدينا. ويمكن أن يكون من روى «ثلاثا» حمل «البتة» على معنى الثلاث، وفيه مخالفة للظاهر، والحديث نص في محل النزاع. أدلة الجمهور القائلين بوقوع ثلاث طلقات:استدل فقهاء المذاهب الأربعة وموافقوهم على وقوع ثلاث طلقات بما يأتي من الكتاب والسنة والإجماع والآثار والقياس: ١ – الكتاب: منه قوله تعالى: {الطلاق مرتان، فإمساك بمعروف أو تسريح بإحسان} [البقرة:٢٢٩/ ٢] فهو يدل على وقوع الثلاث معا مع كونه منهيا عنه؛ لأن قوله تعالى: {الطلاق مرتان} [البقرة:٢٢٩/ ٢] تنبيه إلى الحكمة من التفريق، ليتمكن من المراجعة، فإذا خالف الرجل الحكمة، وطلق اثنتين معا، صح وقوعهما إذ لا تفريق بينهما، ثم إن قوله تعالى: {فلا تحل له من بعد حتى تنكح زوجا غيره} [البقرة:٢٣٠/ ٢] يدل على تحريمها عليه بالثالثة بعد الاثنتين، ولم يفرق بين إيقاعهما في طهر واحد أو في أطهار.ومنه {فطلقوهن لعدتهن} [الطلاق:1/ 65] إلى قوله تعالى: {وتلك حدود الله، ومن يتعد حدود الله فقد ظلم نفسه} [الطلاق:١/ ٦٥] والطلاق المشروع ما يعقبه عدة، وهو منتف في إيقاع الثلاث في العدة، وفيها دلالة على وقوع الطلاق لغير العدة، إذ لو لم يقع لم يكن ظالما لنفسه بإيقاعه لغير العدة، ومن لم يطلق للعدة بأن طلق ثلاثا مثلا، فقد ظلم نفسه. ومنه آية {وللمطلقات متاع بالمعروف} [البقرة:٢٤١/ ٢] وغيرها من آيات الطلاق. تدل ظواهر هذه الآيات على ألا فرق بين إيقاع الطلقة الواحدة والثنتين والثلاث. وأجيب: بأن هذه عمومات مخصصة، وإطلاقات مقيدة بما ثبت من الأدلة الدالة على المنع من وقوع ما فوق الطلقة الواحدة. ٢ – السنة: منها حديث سهل بن سعد في الصحيحين في قصة لعان عويمر العجلاني، وفيه: «فلما فرغا قال عويمر: كذبت عليها يا رسول الله، إن أمسكتها، فطلقها ثلاثا قبل أن يأمره رسول الله صلى الله عليه وسلم» ولم ينقل إنكار النبي صلى الله عليه وسلم. وأجيب: إنما لم ينكره عليه؛ لأنه لم يصادف محلا مملوكا له ولا نفوذا. ومنها ـ حديث محمود بن لبيد عند النسائي السابق، وفيه أن النبي صلى الله عليه وسلم غضب من إيقاع الثلاث دفعة في غير اللعان، وقال: «أيلعب بكتاب الله، وأنا بين أظهركم؟» هذا يدل على أن الطلاق الثلاث بلفظ واحد يكون ثلاثا، ويلزم المطلق بها، وإن كان عاصيا في إيقاع الطلاق بدليل غضب النبي عليه الصلاة والسلام. وأجيب بأنه حديث مرسل؛ لأن محمود بن لبيد لم يثبت له سماع من رسول الله صلى الله عليه وسلم، وإن كانت ولادته في عهده عليه السلام. وهذا مردود؛ لأن مرسل الصحابي مقبول. ومنها ـ حديث ركانة بن عبد يزيد المتقدم أنه طلق امرأته سهيمة البتة، فأخبر النبي صلى الله عليه وسلم، وقال: والله ما أردت إلا واحدة، فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم: «والله ما أردت إلا واحدة؟» قال ركانة: والله ما أردت إلا واحدة، فردها إليه رسول الله صلى الله عليه وسلم (١).وهو من أصرح الأدلة وأوضحها على وقوع الطلاق الثلاث بلفظ واحد، لقول ركانة واستحلاف النبي له على أنه لم يرد بلفظ (البتة) إلا واحدة، فهو يدل على أنه لو أراد الثلاث لوقعت.ونوقش الحديث بأنه حديث ضعف الإمام أحمد جميع طرقه، كما ذكر المنذري، وكذلك ضعفه البخاري، وأن قصة ركانة أنه طلقها البتة لا ثلاثا. ومنها ـ ما أخرجه عبد الرزاق في مصنفه من حديث عبادة بن الصامت قال: «طلق جدي امرأة له ألف تطليقة، فانطلق إلى رسول الله صلى الله عليه وسلم، فذكر له ذلك، فقال النبي صلى الله عليه وسلم: ما اتقى الله جدك، أما ثلاث فله، وأما تسعمائة وسبع وتسعون، فعدوان وظلم، إن شاء الله عذبه، وإن شاء غفر له» وأجيب بأن راويه ضعيف، وبأن والد عبادة بن الصامت لم يدرك الإسلام، فكيف بجده؟ ٣ – الإجماع: أجمع السلف على وقوع الطلاق الثلاث بلفظ واحد ثلاثا. وممن حكى الإجماع على لزوم الثلاث في الطلاق بكلمة واحدة: أبو بكر الرازي والباجي وابن العربي وابن رجب. وأجيب بأنه لم يثبت الإجماع، فقد روى أبو داود عن ابن عباس أنه يجعل الثلاث واحدة، وبأن طاوسا وعطاء قالا: «إذا طلق الرجل امرأته ثلاثا قبل أن يدخل بها، فهي واحدة». ٤ -الآثار: نقل عن كثير من الصحابة رضي الله عنهم أنهم أوقعوا الطلاق الثلاث ثلاثا، منها ما روى أبو داود عن مجاهد، قال: «كنت عند ابن عباس، فجاءه رجل، فقال: إنه طلق امرأته ثلاثا، فسكت حتى ظننت أنه ردها إليه، ثم قال: ينطلق أحدكم فيركب الحموقة، ثم يقول: يا ابن عباس، وإن الله قال: {ومن يتق الله يجعل له مخرجا} [الطلاق:٢/ ٦٥]، وإنك لم تتق الله، فلم أجد لك مخرجا، عصيت ربك، وبانت منك امرأتك». ومنها ـ ما روى مالك في الموطأ أن رجلا جاء إلى ابن مسعود، فقال: إني طلقت امرأتي ثماني تطليقات، فقال: ما قيل لك؟ فقال: قيل لي: بانت منك، قال: هو مثل ما يقولون. ومنها ـ ما أخرجه ابن أبي شيبة في مصنفه: «أن رجلا جاء إلى عثمان بن عفان، فقال: إني طلقت امرأتي مئة، فقال: ثلاث تحرمها عليك، وسبع وتسعون عدوان». وروى أيضا: «أن رجلا جاء إلى علي بن أبي طالب فقال: إني طلقت امرأتي ألفا، فقال: بانت منك بثلاث». وثبت مثله عن صحابة آخرين، وعن التابعين ومن بعدهم. ٥ – القياس: قال ابن قدامة (١): إن النكاح ملك يصح إزالته متفرقا، فصح مجتمعا كسائر الأملاك. وناقشه ابن القيم بأن المطلق إذا جمع ما أمر بتفريقه، فقد تعدى حدود الله وخالف ما شرعه. وقال القرطبي (٢): وحجة الجمهور من جهة اللزوم ظاهرة جدا: وهو أن المطلقة ثلاثا لا تحل للمطلق حتى تنكح زوجا غيره، ولا فرق بين مجموعها ومفرقها لغة وشرعا. ونوقش بأن من قال: (أحلف بالله ثلاثا) لا يعد حلفه إلا يمينا واحدة، فليكن المطلق مثله. ورد عليه باختلاف الصيغتين، فإن عدد الطلاق ثلاث، وأما الحلف فلا أمد لعدد أيمانه، فافترقا.والذي يظهر لي رجحان رأي الجمهور: وهو وقوع الطلاق ثلاثا إذا طلق الرجل امرأته دفعة واحدة، لكن إذا رجح الحاكم رأيا ضعيفا صار هو الحكم الأقوى، فإن صدر قانون، كما هو الشأن في بعض البلاد العربية بجعل هذا الطلاق واحدة، فلا مانع من اعتماده والإفتاء به، تيسيرا على الناس، وصونا للرابطة الزوجية، وحماية لمصلحة الأولاد، خصوصا ونحن في وقت قل فيه الورع والاحتياط، وتهاون الناس في التلفظ بهذه الصيغة من الطلاق، وهم يقصدون غالبا التهديد والزجر، ويعلمون أن في الفقه منفذا للحل، ومراجعة الزوجة.
Referensi:
المجموع شرح المهذب – ٨٦٣٢/٩٧٩٢
قال المصنف رحمه الله تعالى:
كتاب العدد
إذا طلق الرجل امرأته قبل الدخول والخلوة لم تجب العدة لقوله تعالى (يا أيها الذين آمنوا إذا نكحتم المؤمنات ثم طلقتموهن من قبل أن تمسوهن فما لكم عليهن من عدة تعتدونها) ولان العدة تجب لبراءة الرحم، وقد تيقنا براءة رحمها، وإن طلقها بعد الدخول وجبت العدة لانه لما أسقط العدة في الآية قبل الدخول دل على وجوبها بعد الدخول، ولان بعد الدخول يشتغل الرحم بالماء فوجبت العدة لبراءة الرحم وإن طلقها بعد الخلوة وقبل الدخول ففيه قولان
(أحدهما) لا تجب العدة لما ذكرناه من الآية والمعنى (والثاني) تجب لان التمكين من استيفاء المنفعة جعل كالاستيفاء، ولهذا تستقر به الاجرة في الاجارة كما تستقر بالاستيفاء، فجعل كالاستيفاء في إيجاب العدة.
Referensi:
المجموع شرح المهذب – ٨١٨١/٩٧٩٢ فرع. وان قال أنت طالق ثلاثا وقع عليها الثلاث، وبه قال جميع الفقهاء الا رواية عطاء فانه قال يقع عليها طلقة.دليلنا ان قوله أنت طالق اسم لجنس من الفعل يصح للواحدة ولما زاد عليها.وقوله ثلاث مفسر له فكان وقوع الثلاث عليها دفعة واحدة، وان قال لها أنت طالق انت طالق انت طالق، أو قال انت طالق وطالق وطالق ولم ينو بالاولة الثلاث وقع عليها بقوله الاول أنت طالق وبانت بها ولا يلحقها ما بعدها، وبه قال الثوري وابو حنيفة وقال مالك والليث بن سعد والاوزاعي يقع عليها الثلاث فقال أبو على بن أبى هريرة للشافعي في القديم ما يدل على ذلك، فجعلها على قولين.وقال ابو على الطبري فيها وجهان (احدهما) يقع عليها الثلاث، لانه ربط الكلام بعضه ببعض فحل محل الكلمة الواحدة (والثانى) انه يقع عليها طلقه واحدة تبين بها ولا يقع ما بعدها، لانه قد فرق فوقع بالاولة طلقه فبانت بها ولم يقع ما بعدها وقال أكثر اصحابنا هي على قول واحد ولا يقع عليها الا طلقه واحدة.وما ذكره في القديم فإنما حكى مذهب مالك.ووجهه ما روى عن عمر وعلى وابن مسعود وزيد بن ثابت أنهم قالوا يقع عليها طلقة واحدة ولا يقع ما بعدها، ولا مخالف لهم، وقد استدل القائلون بأنه لا يقع من المتعدد إلا واحدة بما وقع في حديث ابن عباس عن ركانة “أنه طلق امرأته ثلاثا في مجلس واحد فحزن عليها حزنا شديدا، فسأله النبي صلى الله عليه وسلم كيف طلقتها؟ فقال ثلاثا في مجلس واحد فقال له صلى الله عليه وسلم: إنما تلك واحدة فارتجعها ” أخرجه احمد وأبو يعلى وصححه.وقد أجيب عن ذلك بأجوبة، منها أن في إسناده محمد بن إسحاق.ورد بأنهم قد احتجوا في غير واحد من الاحكام بمثل هذا الاسناد. ومنها معارضته لفتوى ابن عباس، ورد بأن المعتبر روايته لا رأيه. ومنها أن أبا داود رجع أن ركانة إنما طلق امرأته البتة ويمكن أن يكون من روى ثلاثا حمل البتة على معنى الثلاث، وفيه مخالفة للظاهر واستدلوا بحديث ابن عباس ” أن الطلاق كان على عهد رسول الله صلى الله عليه وسلم إلى آخر الحديث الذى سبق إيراده. وقد اختلف الناس في تأويله فذهب بعض التابعين إلى ظاهره في حق من لم يدخل بها كما دلت عليه رواية ابى داود، وتأوله بعضهم على صورة تكرير لفظ الطلاق، بأن يقول: انت طالق انت طالق انت طالق، فإنه يلزمه واحدة إذا قصدت التوكيد، وثلاث إذا قصد تكرير الايقاع فكان الناس في عهد النبي صلى الله عليه وسلم وأبي بكر على صدقهم وسلامتهم وقصدهم في الغالب الفضيلة والاختيار ولم يظهر فيهم خب ولا خداع فكانوا يصدقون في إرادة التوكيد. والقائلون بالفرق بين المدخولة وغيرها أعظم حجة لهم حديث ابن عباس الذى لفظه عند أبى داود ” أما علمت أن الرجل كان إذا طلق امرأته ثلاثا قبل أن يدخل بها جعلوها واحدة ” الحديث. ووجهوا ذلك بأن غير المدخول بها تبين إذا قال لها زوجها أنت طالق، فإذا قال ثلاثا لغا العدد لوقوعه بعد البينونة. ويجاب بأن التقييد بقبل الدخول لا ينافى صدق الرواية الاخرى الصحيحة على المطلقة بعد الدخول، وغاية ما في هذه الرواية أنه وقع فيها التنصيص على بعض أفراد مدلول الرواية الصحيحة المذكورة في الباب، وذلك لا يوجب الاختصاص بالبعض الذى وقع التنصيص عليه، وأجاب القرطبى عن ذلك التوجيه بأن قوله أنت طالق ثلاثا كلام متصل غير منفصل فكيف يصح جعله كلمتين، وتعطى كل كلمة حكما. هذا حاصل ما في هذه المسألة، وهكذا أفاده الشوكاني في شرح المنتقى.
Referensi:
الفقه الإسلامي و أدلته – ٦٦٦٥/٧٧٢٢
وإذا طلقت المرأة قبل الدخول والخلوة، فلا عدة عليها، لقوله تعالى: {إذانكحتم المؤمنات ثم طلقتموهن من قبل أن تمسوهن، فما لكم عليهن من عدة تعتدونها} [الأحزاب:٤٩/ ٣٣] ويكون الطلاق بائنا. ويرى الحنفية (١): أنه لايلحقها طلاق آخر، فلو قال الرجل لزوجته التي لم يدخل ولم يختل بها: «أنت طالق، أنت طالق، أنت طالق» لا تقع إلا طلقة واحدة؛ لأنها بالطلاق الأول، صارت بائنة من زوجها، وأصبحت أجنبية، فلا يلحقها آخر. وهذا رأي الشافعية أيضا، فإنهم قالوا: إذا قال ذلك لغير المدخول بها فتقع طلقة واحدة بكل حال؛ لأنها تبين بالأولى فلا يقع ما بعدها (٢). وقال المالكية والحنابلة (٣): يقع بهذه الألفاظ المتتابعة ثلاث طلقات؛ لأنه نسق أي غير مفترق؛ لأن الواو تقتضي الجمع ولا ترتيب فيها، فيكون الرجل موقعا للثلاث جميعا، فيقعن عليها، كقوله: أنت طالق ثلاثا، أو طلقة معها طلقتان، إلا أنه إذا قصد بالثانية والثالثة تأكيد ما قبلها، فيصدق عند المالكية قضاء بيمين، وديانة بغير يمين.
Referensi ‘:
[مجموعة من المؤلفين، الفقه المنهجي على مذهب الإمام الشافعي، ١٣٩/٤]
إذا طلّق الرجل زوجته قبل أن يدخل بها، بانت منه، ولم يجز له أن يراجعا، إذا لا يجب عليها أن تعتدّ منه، لصريح قول الله عز وجل: {يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا نَكَحْتُمُ الْمُؤْمِنَاتِ ثُمَّ طَلَّقْتُمُوهُنَّ مِن قَبْلِ أَن تَمَسُّوهُنَّ فَمَا لَكُمْ عَلَيْهِنَّ مِنْ عِدَّةٍ تَعْتَدُّونَهَا} [الأحزاب: ٤٩] لذلك ينتهي بها الطلاق إلى البينونة رأساً.
lanjutan ibarot di atas pada halaman berikutnya
مجموعة من المؤلفين، الفقه المنهجي على مذهب الإمام الشافعي، ١٤٠/٤]
ثم إذا كان طلّقها في هذه الحالة طلقة واحدة، أو طلقتين، لم تحلّ له إلا بعقد ومهر جديدين، بناء على اختيارها ورضاها. وإن كان قد طلّقها ثلاث تطليقات، لم تحلّ له إلا بعد أن تنكح زوجاً غيره، ويدخل بها الزوج الثاني، ثم يطلّقها، ثم تعتدّ منه، ثم يتزوجها هو بعقد ومهر جديدين. والله أعلم بالصواب
Deskripsi Masalah : ” Akhlak dan budi pekerti yang baik lebih tinggi nilainya dari pada kecerdasan . Maqolah ini menerangkan bahwa akhlak dan budi pekerti harus lebih banyak mendapat perhatian dan lebih sering dipakai daripada kecerdasan ilmu. Tak hanya maqolah itu saja, tapi masih banyak maqolah-maqolah lain yang juga menerangkan kemuliaan akhlak yang mengungguli kecerdasan kemuliaan ilmu. Memberikan rasa hormat dengan merundukkan kepala orang lebih muda kepada yang lebih tua bahkan kepada guru sekalipun lebih muda merupakan suatu keharusan di saat bersalaman dan mencium tangan. Termasuk penghormatan adalah tidak berjalan di depannya, tidak menatap wajah,hal tersebut telah dikisahkan dalam suatu hadits.disebutkan dalam kitab Ushfuriyah:
Diceritakan bahwa Sayyidina Ali RA suatu ketika sedang bergegas pergi berjamaah untuk sholat subuh, kemudian di jalan beliau bertemu dengan orang tua renta sedang berjalan perlahan-lahan,.
Sayyidina Ali RA tidak mendahuluinya karena beliau memuliakan dan menghormati ubannya hingga mendekati waktu terbitnya matahari. Ketika orang tua renta tersebut mendekati pintu masjid dia tidak masuk masjid, Sayyidina Ali RA pun tahu bahwa dia seorang nasrani, maka Sayyidina Ali RA memasuki masjid dan mendapati Rasulullah SAW dalam keadaan ruku’,
Maka Nabi memanjangkan ruku’ seukuran dua kali ruku’ sampai Sayyidina Ali RA mendapati beliau SAW. Setelah usai sholat beliau bertanya “Wahai Rasululloh, mengapa engkau memanjangkan ruku’ di sholat ini? engkau belum pernah melakukan seperti ini” .
Maka Rasululloh SAW menjawab “Ketika Aku ruku’ dan mengucap subhanarobbial adzhim seperti biasanya, lalu Aku hendak mengangkat kepalaku (i’tidal), datanglah malaikat Jibril AS dan meletakkan sayapnya di atas punggungku, dia menahanku agak lama, ketika dia mengangkat sayapnya barulah aku mengangkat kepalaku (I’tidal)” .
ﻓﻘﺎﻟﻮﺍ ﻟﻢ ﻓﻌﻞ ﻫﻜﺬﺍ ﻓﻘﺎﻝ ﻣﺎﺳﺄﻟﺘﻪ ﻋﻦ ﺫﻟﻚ
Lantas para sahabat bertanya “Mengapa dia (Jibril) melakukan hal itu ?”,Nabi menjawab “ Aku belum menanyakan kepadanya ( Jibril ) hal tersebut”
kemudian Jibril AS mendatangi beliau SAW dan berkata “Wahai Muhammad, sesungguhnya Ali bergegas untuk berjamaah, kemudian di perjalanan dia bertemu dengan orang tua renta nasrani sedangkan Ali RA belum tahu kalau dia (orang tua renta) adalah orang nasrani, dia menghormatinya sebab ubannya dan tidak mendahuluinya serta menjaga haknya.
Allah menyuruhku untuk menahanmu dalam keadaan ruku’ hingga Ali RA mendapati sholat subuh, dan yang paling mengagumkan bahwasannya Allah Ta’ala menyuruh Mikail AS untuk menahan matahari dengan sayapnya hingga matahari tidak terbit agak lama karena Ali RA, derajat ini sebab hormat kepada orang tua renta walaupun dia seorang nasrani”
Akan tetapi, kami sering menjumpai sebagian dari masyarakat dari saking takdhimnya mereka melakukan penghormatan tersebut dengan membungkukkan badan hingga mencapai batas minimal ruku’.
Pertanyaan :
1.Bagaimanakah sebenarnya hukumnya merunduk dalam rangka menghormati seseorang sebagaimana deskripsi.
Waalaikum salam Jawaban. Menghormati seseorang adalah merupakan perbuatan yang mulia terlebih kepada orang tua, guru dan ulama’ ( orang-orang alim) dengan cara berdiri, mencium tangan, mencium kepala bahkan dengan mencium kakinya .Namun jangan sampai penghormatan tersebut hingga menyebabkan seperti hamba atau penghormatan yang melebihi kepada Allah SWT seperti membungkukkan badan hingga mencapai batas minimal rukuk hukumnya haram bahkan bisa menyebabkan kufur. Artinya hukumnya merunduk sebagai penghormatan selama tidak mencapai batas minimal ruku hukumnya boleh, dan ada yang menghukumi makruh.
Hadits anjuran memuliakan orang alim. disebutkan dlm kitab Lubabul hadits
وقال النبي صلى الله عليه وسلم: من أكرم عالما فقد أكرمني، ومن أكرمني فقد أكرم الله، ومن أكرم الله فمأواه الجنة
Nabi SAW bersabda: “Barangsiapa memuliakan orang ‘alim, berarti ia telah memuliakan aku. Barangsiapa memuliakan aku, berarti memuliakan Allah. Barang siapa memuliakan Allah, maka tempat kembalinya adalah surga.”
Larangan membungkuk hingga mencapai paling sedikitnya batas ruku.
مرقاة صعود التصديق فى شرح سلم التوفيق .ص ١١-١٢
وخرج بالسجود الركوع فإن قصد التعظيم لمخلوق بالركوع كتعظيم الله كفر وإلا بأن قصد تعظيمه لا كتعظيم الله أو أطلق فلايكفر بل هو حرام لوقوع صورته للمخلوق عادة ولاكذلك السجود فإنه كفر مطلقا أماماجرات به العادة من خفض الرأس والإنحناء إلى حدٍّ لايصل به إلى أقل الركوع فلاكفر به ولاحرمة أيضا لكن ينبغي كراهته هذا ماقاله الشرقاوى
إسعاد الرفيق الجزء الأول ص٥٥-٥٦ مكتبة “الهداية” سورابيا وخرج بالسجود الركوع لأن صورته تقع فى العادة للمخلوق كثيرا بخلاف السجود نعم يظهر أن محل الفرق بينهما عند الإطلاق بخلاف ما لوقصد تعظيم مخلوق بالركوع كتعظيم الله به فإنه لاشك فى كفره حينئذ قال فى الإعلام وسواء كان السجود فى دار الحرب أم فى دار الإسلام بشرط أن لاتقوم قرينة على عدم استهزائه أو عذره ومافي الحلية عن القاضي عن النص أن المسلم لوسجد لصنم فى دار الحرب لم يكن بردته ضعيف واضح أن الكلام فى المختار وإنما لم يكفر بالسجود للوالد والعالم على جهة التعظيم لأن الوالد ورد الشرع بتعظيمه إلى أن قال- فافهم أنه بأن قصد به تعظيمه أو أطلق وكذا يقال فى الوالد
Dikecualikan sujud adalah ruku’ karena posisi ruku’ sering menghadap makhluk, berbeda dengan sujud. Dan benar demikian.Namun ruku’ dibedakan dari sujud, ketika tidak ada tujuan apa-apa. Lain halnya jika ada tujuan dengan mengagungkan makhluk dengan ruku’ sebagaimana mengagungkan Allah SWT, maka tidak ada keraguan akan menyebabkan kekafiran jika demikian. Imam Ibnu Hajar berkata dalam kitab I’lam: Sama saja sujud dilakukan dikawasan orang kafir atau kawasan orang Islam, dengan syarat tidak ada petunjuk kuat dia meremehkannya atau udzur. Adapun keterangan yang berada dalam kitab Hilyah dari Al-Qadli dari Nashnya Imam Syafi’i bahwa jika seorang muslim sujud pada berhala dikawasan orang kafir tidak dihukumi kafir adalah lemah . Dan pembicaraan ini jelas tentang orang dalam keadaan aman ( bukan dipaksa). Dan tiada kafir karena sujud kepada orang tua dan guru dalam rangka menghormati, sebab terdapat perintah dari syara’ untuk menghormatinya- – – – Ungkapan kitab Raudloh memberikan pemahaman bahwa sujud kepada guru atau orang alim terkadang dapat menjadikan kafir, dengan gambaran karena mungkin bertujuan menggambarkan diri atau beribadah mendekatkan diri kepada guru. Dan terkadang dihukumi haram dengan gambaran bertujuan menghormati guru atau tidak bertujuan apa-apa. Kesimpulan ini juga berlaku sujud kepada orang tua.
Referensi :
*الموسوعة الفقهية الكويتية (23/ 135)
ثانيا – الركوع لغير الله : قال العلماء : ما جرت به العادة من خفض الرأس والانحناء إلى حد لا يصل به إلى أقل الركوع – عند اللقاء – لا كفر به ولا حرمة كذلك ، لكن ينبغي كراهته لقوله صلى الله عليه وسلم : لمن قال له : يا رسول الله ، الرجل منا يلقى أخاه أو صديقه أينحني له ؟ قال : لا ، قال : أفيلتزمه ويقبله ؟ قال : لا ، قال : أفيأخذ بيده ويصافحه ؟ قال : نعم. الحديث .أما إذا انحنى ووصل انحناؤه إلى حد الركوع فقد ذهب بعض العلماء إلى أنه إن لم يقصد تعظيم ذلك الغير كتعظيم الله لم يكن كفرا ولا حراما ، ولكن يكره أشد الكراهة لأن صورته تقع في العادة للمخلوق كثيرا .وذهب بعضهم إلى حرمة ذلك ولو لم يكن لتعظيم ذلك المخلوق ، لأن صورة هيئة الركوع لم تعهد إلا لعبادة الله سبحانه . قال ابن علان الصديقي : من البدع المحرمة الانحناء عند اللقاء بهيئة الركوع ، أما إذا وصل انحناؤه للمخلوق إلى حد الركوع قاصدا به تعظيم ذلك المخلوق كما يعظم الله سبحانه وتعالى ، فلا شك أن صاحبه يرتد عن الإسلام ويكون كافرا بذلك ، كما لو سجد لذلك المخلوق . ………….
حواشي الشرواني الجزء التاسع صـ 229
وأفتى المصنف بكراهة الانحناء بالرأس وتقبيل نحو رأس أو يد أو رجل لا سيما لنحو غني؛ لحديث {: من تواضع لغني ذهب ثلثا دينه.} ويندب ذلك لنحو صلاح أو علم أو شرف؛ لأن أبا عبيدة قبل يد عمر رضي الله عنهما، ويسن القيام لمن فيه فضيلة ظاهرة من نحو صلاح أو علم أو ولادة أو نسب أو ولاية مصحوبة بصيانة(ويندب ذلك) دخل فيه تقبيل الرجل وهو كذلك اه سم قوله (لنحو صلاح) أي من الأمور الدينية ككبر سن وزهد اه مغني عبارة ع ش من النحو المعلم المسلم اه وقوله أو ولاية أي ولاية حكم كالقاضي رشيدي وع ش ………..
نهاية المحتاج إلى شرح المنهاج (25/ 439)
( وسجود لصنم أو شمس ) أو مخلوق آخر ؛ لأنه أثبت لله شريكا ، نعم إن دلت قرينة قوية على عدم دلالة الفعل على الاستخفاف كسجود أسير في دار الحرب بحضرة كافر خشية منه فلا كفر ، وخرج بالسجود الركوع لوقوع صورته للمخلوق عادة ، ولا كذلك السجود ، نعم يتجه أن محل ذلك عند الإطلاق ، فإن قصد تعظيم مخلوق بالركوع كما يعظم الله به فلا فرق بينهما في الكفر حينئذ ( قوله : فإن قصد تعظيم مخلوق ) أي فلو لم يقصد ذلك لم يكن كفرا ، بل لا يكون حراما أيضا كما يشعر به قوله لوقوع صورته للمخلوق عادة ، لكن عبارة حج على الشمائل في باب تواضعه صلى الله عليه وسلم عند قول المصنف : وكانوا إذا رأوه لم يقوموا له لما يعلمون من كراهته لذلك نصها : ويفرق بينه : أي القيام للإكرام لا للرياء والإعظام حيث كان مكروها ، وبين حرمة نحو الركوع للغير إعظاما بأن صورة نحو الركوع لم تعهد إلا لعبادة الله بخلاف صورة القيام ا هـ .وهي صريحة في أن الإتيان بصورة الركوع للمخلوق حرام وبأنها لم تعهد لمخلوق ، وهي منافية لقول الشارح لوقوع صورته للمخلوق جرت به العادة من خفض الرأس والانحناء إلى حد لا يعمل به إلى أقل الركوع فلا كفر به ولا حرمة أيضا لكن ينبغي كراهته ……………
تحفة المحتاج في شرح المنهاج (38/ 261)
(أو سجود لصنم أو شمس) أو مخلوق آخر وسحر فيه نحو عبادة كوكب؛ لأنه أثبت لله تعالى شريكا وزعم الجويني أن الفعل بمجرده لا يكون كفرا رده ولده نعم إن دلت قرينة قوية على عدم دلالة الفعل على الاستخفاف كأن كان الإلقاء لخشية أخذ كافر أو السجود من أسير في دار الحرب بحضرتهم فلا كفر وخرج بالسجود الركوع لأن صورته تقع في العادة للمخلوق كثيرا بخلاف السجود نعم يظهر أن محل الفرق بينهما عند الإطلاق بخلاف ما لو قصد تعظيم مخلوق بالركوع كما يعظم الله به فإنه لا شك في الكفر حينئذ (قوله: أو مخلوق آخر) إلى قوله وخرج بالسجود في المغني (قوله: أو مخلوق آخر) قال في الروضة ما يفعله كثيرون من الجهلة الضالين من السجود بين يدي المشايخ حرام قطعا بكل حال سواء كان إلى القبلة أو غيرها وسواء قصد السجود لله تعالى أو غفل عنه وفي بعض صوره ما يقتضي الكفر قال الشارح في الإعلام بعد نقله ما في الروضة هذا يفهم أنه قد يكون كفرا بأن قصد به عبادة مخلوق أو التقرب إليه وقد يكون حراما بأن قصد به تعظيمه أي التذلل له أو أطلق وكذا يقال في الوالد والعلماء انتهى ا هـ كردي ………..
فتوحات الربانية (3/363)
(ويكره حني الظهر ) ظاهره وان وصل الى حد الركوع فانه يبقى مكروها وكأن الفرق بينه وبين تحريم السجود بين يدي المشايخ بل في بعض صورة ما يقتضي الكفر ان السجود أبلغ في التواضع فحرم فعله لغير الله تعالى وظاهر أن محل ما ذكر في الانحناء ما لم يقصد به الركوع والا فيحرم لأنه تعاطى عبادة فاسدة بل في بعض صوره ما يقتضي الكفر ولا يشكل على ما تقرر من تحريم السجود في ذكرقوله تعالى حكاية عن اخوة يوسف “خروا سجدا له” لأن ذلك شرع من قبلنا وليس هو بشرع لنا مالم يرد في شرعنا تقريره والله أعلم ………… انوار البروق الجزء الرابع صحـ 251 – 252
(الفرق التاسع والستون والمائتان بين قاعدة ما يباح في عشرة الناس من المكارمة وقاعدة ما ينهى عنه من ذلك) اعلم أن الذي يباح من إكرام الناس قسمان (القسم الأول) ما وردت به نصوص الشريعة من إفشاء السلام وإطعام الطعام وتشميت العاطس والمصافحة عند اللقاء والاستئذان عند الدخول وأن لا يجلس على تكرمة أحد إلا بإذنه أي على فراشه ولا يؤم في منزله إلا بإذنه لقول رسول الله (“لا يؤمن أحد أحدا في سلطانه ولا يجلس على تكرمته إلا بإذنه” ونحو ذلك مما هو مبسوط في كتب الفقه (القسم الثاني) ما لم يرد في النصوص ولا كان في السلف لأنه لم تكن أسباب اعتباره موجودة حينئذ وتجددت في عصرنا فتعين فعله لتجدد أسبابه لأنه شرع مستأنف بل علم من القواعد الشرعية أن هذه الأسباب لو وجدت في زمن الصحابة لكانت هذه المسببات من فعلهم وصنعهم -إلى أن قال- ولا فرق بين أن نعلم ذلك بنص أو بقواعد الشرع وهذا القسم هو ما في زماننا من القيام للداخل من الأعيان وإحناء الرأس له إن عظم قدره جدا والمخاطبة بجمال الدين ونور الدين وعز الدين وغير ذلك من النعوت والإعراض عن الأسماء والكنى والمكاتبات
بالنعوت أيضا كل واحد على قدره وتسطير اسم الإنسان بالمملوك ونحوه من الألفاظ والتعبير عن المكتوب إليه بالمجلس العالي والسامي والجناب ونحو ذلك من الأوصاف العرفية والمكاتبات العادية ومن ذلك ترتيب الناس في المجالس والمبالغة في ذلك ، وأنواع المخاطبات للملوك والأمراء والوزراء وأولي الرفعة من الولاة والعظماء فهذا كله ونحوه من الأمور العادية لم تكن في السلف ونحن اليوم نفعله في المكارمات والمولاة ، وهو جائز مأمور به مع كونه بدعة ولقد حضرت يوما عند الشيخ عز الدين بن عبد السلام وكان من أعيان العلماء وأولي الجد في الدين والقيام بمصالح المسلمين خاصة وعامة والثبات على الكتاب والسنة غير مكترث بالملوك فضلا عن غيرهم لا تأخذه في الله لومة لائم فقدمت إليه فتيا فيها ما تقول أئمة الدين وفقهم الله في القيام الذي أحدثه أهل زماننا مع أنه لم يكن في السلف هل يجوز أم لا يجوز ويحرم فكتب إليه في الفتيا قال رسول الله (“لا تباغضوا ولا تحاسدوا ولا تدابروا ولا تقاطعوا وكونوا عباد الله إخوانا” وترك القيام في هذا الوقت يفضي للمقاطعة والمدابرة فلو قيل بوجوبه ما كان بعيدا هذا نص ما كتب من غير زيادة ولا نقصان فقرأتها بعد كتابتها فوجدتها هكذا وهو معنى قول عمربن عبد العزيز تحدث للناس أقضية على قدر ما أحدثوا من الفجور أي يحدثوا أسبابا يقتضي الشرع فيها أمورا لم تكن قبل ذلك لأجل عدم سببها قبل ذلك لا لأنها شرع متجدد كذلك ها هنا فعلى هذا القانون يجري هذا القسم بشرط أن لا يبيح محرما ولا يترك واجبا فلو كان الملك لا يرضى منه إلا بشرب الخمر أو غيره من المعاصي لم يحل لنا أن نواده بذلك وكذلك غيره من الناس ولا طاعة لمخلوق في معصية الخالق وإنما هذه الأسباب المتجددة كانت مكروهة من غير تحريم فلما تجددت هذه الأسباب صار تركها يوجب المقاطعة المحرمة وإذا تعارض المكروه والمحرم قدم المحرم والتزم دفعه وحسم مادته وإن وقع المكروه هذا هو قاعدة الشرع في زمن الصحابة وغيرهم وهذا التعارض ما وقع إلا في زماننا فاختص الحكم به وما خرج عن هذين القسمين إما محرم فلا تجوز الموادة به أو مكروه فلم يحصل فيه تعارض بينه وبين محرم منهي عنه نهي تنزيه قلت : فينقسم القيام إلى خمسة أقسام محرم إن فعل تعظيما لمن يحبه تجبرا من غير ضرورة ومكروه إذا فعل تعظيما لمن لا يحبه ؛ لأنه يشبه فعل الجبابرة ويوقع فساد قلب الذي يقام له ، ومباح إذا فعل إجلالا لمن لا يريده ، ومندوب للقادم من السفر فرحا بقدومه ليسلم عليه أو يشكر إحسانه أو القادم المصاب ليعزيه بمصيبته ؛ وبهذا يجمع بين قوله عليه السلام { من أحب أن يتمثل له الناس أو الرجال قياما فليتبوأ مقعده من النار } وبين قيامه عليه السلام لعكرمة بن أبي جهل لما قدم من اليمن فرحا بقدومه ، وقيام طلحة بن عبد الله لكعب بن مالك ليهنئه بتوبة الله – تعالى – عليه بحضوره عليه السلام ولم ينكر النبي عليه السلام عليه ذلك فكان كعب يقول : لا أنساها لطلحة { وكان عليه السلام يكره أن يقام له } فكانوا إذا رأوه لم يقوموا له إجلالا لكراهته لذلك وإذا قام إلى بيته لم يزالوا قياما حتى يدخل بيته صلى الله عليه وسلم لما يلزمهم من تعظيمه قبل علمهم بكراهة ذلك ، وقال عليه السلام للأنصار { قوموا لسيدكم } قيل تعظيما له ، وهو لا يحب ذلك وقيل : ليعينوه على النزول عن الدابة قلت : والنهي الوارد عن محبة القيام ينبغي أن يحمل على من يريد ذلك تجبرا أما من أراده لدفع الضرر عن نفسه والنقيصة به فلا ينبغي أن ينهى عنه ؛ لأن محبة دفع الأسباب المؤلمة مأذون فيها بخلاف التكبر ، ومن أحب ذلك تجبرا أيضا لا ينهى عن المحبة والميل لذلك الطبيعي بل لما يترتب عليه من أذية الناس إذا لم يقوموا ومؤاخذتهم عليه فإن الأمور الجبلية لا ينهى عنها فتأمل ذلك فقد ظهر الفرق بين المشروع من الموادة وغير المشروع الي أن قال قلت : ومن هذا القيام عند ذكر مولده صلى الله عليه وسلم في تلاوة القصة فقد قال المولى أبو السعود أنه قد اشتهر اليوم في تعظيمه صلى الله عليه وسلم واعتيد في ذلك فعدم فعله يوجب عدم الاكتراث بالنبي صلى الله عليه وسلم وامتهانه فيكون كفرا مخالفا لوجود تعظيمه صلى الله عليه وسلم أي إن لاحظ من لم يفعله تحقيره صلى الله عليه وسلم بذلك ،
Seseorang katakanlah nama samarannya Sudirman dia kecapek-an dikarenakan pada siang harinya banyak kegiatan yang diantaranya dia mengajar selain itu dia membantu orang tuanya, setelah shalat isya’ dia tidur hingga kesiangan tabebes: red: hingga terbit matahari ( dia tidak shalat subuh).
Pertanyaannya. 1- Apakah shalat yang ditinggalkan sudirman wajib diqodlo’ kalau wajib diqadlo’ mana yang harus didahulukan antara menqodlo’ shalat yang fot dengan melaksanakan sholat yang hadir/shalat ada’an ..?
Mohon pencerahannya.
Waalaikum salam. Jawaban
Mengqadho’ shalat yang terlewatkan ( fot ) karena tertidur hukumnya wajib dan mensegrakannya mengqadho’ hukumnya adalah sunnah.Tetapi jika tertinggalnya shalat bukan karena udzur maka mensegerakan qadlo’ hukumnya wajib, kecuali apabila ia hawatir terlewat dari sholat hadhiroh maka ia wajib mendahulukan sholat hadhiroh tersebut dari pada mengqodho. Artinya sunnah didahulukan shalat qodlo’ dari pada shalat yang hadir jika waktunya luas tetapi jika waktunya shalat yang hadir mipet maka dahulukanlah shalat yang hadir.
كاشفة السجا على شرح سفينة النجا
والمبادرة إلى قضاء النفل سنة وكذا إلى الفرض إن فات بعذر وإلا وجبت إلا إن خاف فوت حاضرة فيبدأ بها وجوباً فلا يجوز أن يصرف زمناً في غير قضائها كالتطوع إلا فيما يضطر إليه كنوم أومؤنة من تلزمه مؤنته
Adapun menyesegerakan qodho sholat sunah adalah hukumnya sunah. Begitu juga, hukum bersegera mengqodho sholat fardhu adalah sunah jika memang sholat fardhu tersebut terlewat sebab suatu udzur. Berbeda apabila sholat fardhu terlewat bukan sebab udzhur maka hukum bersegera mengqodhonya adalah wajib kecuali apabila ia hawatir terlewat dari sholat hadhiroh maka ia wajib mendahulukan sholat hadhiroh tersebut daripada mengqodho. Oleh karena wajib mengqodho, seseorang tidak diperbolehkan menggunakan waktu-waktunya untuk melakukan selain pengqodhoan semisal ia mengakhirkan pengqodhoan dan malah melakukan sholat sunah, kecuali melakukan perkara-perkara yang memang harus dilakukan, seperti; tidur atau bekerja membiayai orang-orang yang wajib ia biayai.
Kemudia ketahuilah sesungguhnya ketika seseorang tidur sebelum waktu sholat masuk dan ia masih tidur hingga ia terlewat sholat dari waktunya maka ia tidak berdosa meskipun sebenarnya ia tahu kalau tidurnya tersebut akan sampai melewati waktu sholat meskipun itu sholat Jumat sebagaimana dikatakan oleh pendapat shohih. Ia tidak wajib mengqodhonya dengan segera karena sabda Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallama, “Tidak ada unsur kecerobohan sebab tidur. Kecerobohan hanya terjadi pada orang yang belum sholat tertentu (misal Dzuhur) hingga masuk waktu sholat yang lain (Ashar).” HR. Muslim. / dalam hadis di atas menunjukkanفىSuwaifi berkata, “Huruf /arti sababiah sehingga maksud hadis tersebut adalah bahwa kecerobohan bukanlah disebabkan oleh tidur, artinya, jika memang seseorang tidur sebelum masuknya waktu sholat.”
ثم اعلم أنه إذا نام قبل دخول الوقت ففاتته الصلاة فلا إثم عليه وإن علم أنه يستغرقالوقت ولو جمعة على الصحيح ولا يلزمه القضاء فورًا لقوله صلى اﷲ عليه وسلم ليس فيالنوم تفريط إنما التفريط على من لم يصل الصلاة حتى يدخل وقت الأخرى رواه مسلم قال السويفي في للسببية أي ليس بسبب النوم تفريط أي إن نام قبل دخول
وأما إن نام بعد دخوله فإن علم أنه يستغرق الوقت حرم عليه النوم ويأثم إثمين إثم ترك الصلاة وإثم النوم فإن استيقظ على خلاف ظنه وصلى فى الوقت لم يحصل إثم ترك الصلاة وأما الإثم الذى حصل بسبب النوم فلا يرتفع إلا بالاستغفار وإن غلب علىظنه الاستيقاظ قبل خروج الوقت فخرج ولم يصل فلا إثم عليه وإن خرج الوقت لكنه يكره له ذلك إلا إن غلبه النوم بحيث لا يستطيع دفعه، وإن لم يغلب على ظنهالاستيقاظ أثم، ويجب إيقاظ من نام بعد الوجوب، ويسن إيقاظ من نام قبل الوقت إنلم يخش ضرر اً لينال الصلاة في الوقت فإن استيقظ على خلاف ظنه وصلى فى الوقت لم يحصل إثم ترك الصلاة وأما الإثم الذى حصل بسبب النوم فلا يرتفع إلا بالاستغفار
Adapun apabila seseorang tidur setelah masuknya waktu sholat, maka jika ia tahu kalau tidurnya akan sampai melewati waktu sholat maka diharamkan atasnya tidur dan ia bisa menanggung dua dosa, yaitu dosa meninggalkan sholat dan dosa tidur. Apabila ia tahu kalau tidurnya akan sampai melewati waktu sholat, tetapi ternyata ia masih bisa bangun di waktu sholat tersebut, kemudian ia melakukan sholat, maka ia tidak menanggung dosa meninggalkan sholat. Adapun dosa yang disebabkan oleh tidur maka dapat dihapus dengan cara istighfar
وإن غلب على ظنه الاستيقاظ قبل خروج الوقت فخرج ولم يصل فلا إثم عليه وإن خرج الوقت لكنه يكره له ذلك إلا إن غلبه النوم بحيث لا يستطيع دفعه وإن لم يغلب على ظنه الاستيقاظ أثم ويجب إيقاظ من نام بعد الوجوب، ويسن إيقاظ من نام قبل الوقت إن لم يخش ضررا لينال الصلاة في الوقت
Dan apabila seseorang menang atas sangkaannya bahwa dia akan bangun sebelum waktu sholat habis,maka ternyata terbukti bahwa waktu sholat telah habis dan ia masih tidur, kemudian ia bangun dan belum melakukan sholat, maka ia tidak menanggung dosa sama sekali meskipun waktu sholat telah habis, tetapi tidur dengan kondisi demikian ini dimakruhkan, kecuali jika memang setelah masuknya waktu ia benar-benar mengalahkan rasa ngantuk(tidur) sekiranya dia tidak mampu menolak kantuknya maka tidak dimakruhkan. Sebaliknya apabila seseorang tidur setelah masuknya waktu dan ia tidak memiliki sangkaan kuat kalau ia akan bangun sebelum waktu shalat habis, dan ternyata terbukti bahwa waktu shalat telah habis dan ia masih tidur, maka ia berdosa. Dan wajib membangunkan orang yang tidur setelah berkewajiban (masuknya waktu shalat) dan sunnah membangunkan orang yang tidur sebelum masuknya waktu, jika sekiranya tidak takut berbahaya agar dapat melakukan shalat tepat waktu.
Referensi:
[البكري الدمياطي ,إعانة الطالبين على حل ألفاظ فتح المعين ,١/٣١]
ويبادر) من مر (بفائت) وجوبا، إن فات بلا عذر، فيلزمه القضاء فورا. قال شيخنا أحمد بن حجر رحمه الله تعالى: والذي يظهر أنه يلزمه صرفجميع زمنه للقضاء ما عدا ما يحتاج لصرفه فيما لا بد منه، وأنه يحرم عليه التطوع، ويبادر به – ندبا – إن فات بعذر كنوم لم يتعد به ونسيان كذلك. (ويسن ترتيبه) أي الفائت، فيقضي الصبح قبل الظهر، وهكذا. (وتقديمه على حاضرة لا يخاف فوتها) إن فات بعذر، وإن خشي فوت جماعتها – على المعتمد -.وإذا فات بلا عذر فيجب تقديمه عليها. أما إذا خاف فوت الحاضرة بأن يقع بعضها – وإن قل – خارج الوقت فيلزمه البدء بها.ويجب تقديم ما فات بغير عذر على ما فات بعذر. وإن فقد الترتيب لانه سنة والبدار واجب.
Referensi ‘:
[ابن حجر الهيتمي، تحفة المحتاج في شرح المنهاج وحواشي الشرواني والعبادي، ٤٣٩/١]
Mempersiapkan Diri Menjadi Seorang Pemimpin merupakan suatu kewajiban bagi Generasi milenial saat ini yang diharapkan mereka mampu menjadi seorang pribadi yang berhasil , di usianya yang masih muda. Meski begitu, tidak sedikit orang-orang muda yang sangat mudah meraih kesuksesan, namun dengan cepat pula kehilangan kesuksesan tersebut. Tetapi, generasi muda adalah generasi penerus suatu bangsa karena suatu saat nanti, maka para pemudalah yang akan menjadi pemimpin. Saat ini mungkin seseorang masuk dalam kategori hebat dan memiliki banyak ide cemerlang, namun masih belum tentu matang untuk menjadi seorang pemimpin. Sebagai orang muda, tentu harus benar-benar mempersiapkan diri agar kelak bisa menjadi seorang pemimpin Ummat yang baik.
Dalam masyarakat ada seseorang yang masih dalam proses untuk menjadi orang yang shaleh, namun dia sudah diberi keyakinan oleh masyarakat untuk memoslehkan orang lain disebabkan ilmunya.
Pertanyaannya. Bagaimana sikap seseorang yang masih dalam proses menjadi orang yang sholeh sementara dia sudah diberi keyakinan oleh orang lain untuk memuslehkan orang lain.. ?
MOHON TANGGAPANNYA KIAI, USTADZ 🙏🏻🙏🏻🙏🏻
Waalikum salam
Orang sholih adalah orang yang dapat memenuhi /melaksanakan (bertanggung jawab) atas ketentuan-ketentuan/kewajiban- kewajibannya kepada Allah (hak-hak Allah ) dan dapat memenuhi ( bertanggung jawab ) atas ketentuan-ketentuan/kewajiban-kewajibannya kepada hamba (hak-hak hamba).
الصالح؛ هو القائم بحقوق الله وبحوق عباده
Lalu bagaimana dengan orang yang diberi keyakinan untuk memushlehkan orang disebabkan pengetahuannya..?.
Jawabannya. Keyakinan itu yang memberikan Allah kepada hambanya bukan manusia, begitu juga halnya dengan ilmu , yang mana interpretasi dari ilmu Pengetahuan itu adalah suatu sifat yang dapat dijadikan sarana menuju kearah terang dan jelas bagi yang memilikinya, sehingga mengetahui sesuatu itu dengan sempurna ( Dengan ilmu, orang akan dapat melestarikan semua perkara dengan sempurna dan baik).
شرح تعليم المتعلم .ص٩
وأما التفسير العلم فهو صفة يتجلى بها لمن قامت هى به المذكور والفقه معرفة دقائق العلم ( وأما تفسير العلم )هذا شروع فى بيان ماهية العلم والقياس تقديمه على بيان كون طلبه فرضاأوغيره لأنه عارض من عوارضه والمفروض مقدم على العارض إلاأنه قدم للاهتمام بأنه والاشعاربأن البحث عنه أمر مهم ليتني الطالب ويشتغل على طلبه ( فهو صفة يتجلى ) أى يتجح وينكشف بالإنكشاف التام (بها) أى بتلك الصفة ( لمن) متعلق بيتجلى ( قامت هى به ) الضمير راجع إلى الموصول ( المذكور ) فاعل يتجلى أى مايصح أن يذكر ويمكن أن يعبر عنه وعدل عن الشيئ إلى المذكور ليعم الموجود والمعدوم وقد يتوهم أن المراد به المعلوم لأن فى ذكر العلم ذكر المعلوم وعدل عنه إلى المذكور تفاديا عن الدور بالجملة وقد خرج الظن والجهل إذ لايتجلى فيهما وكذ إعتقاد المقلد لانه عقدة على القلب والتجلى اشراح وانحلال العقد ( والفقه ) خصه من أنواع العلم بالبيان لشرفه إذ به يحصل سعادة الدنيا والآخرة( معرفة دقائق العلم قال أبوا حنيفة ) هذا معنى آخر
Dari pengertian orang yang shaleh dan penafsiran ilmu, maka semua orang dalam proses dalam upaya menjadi orang yang sholeh melalui pengaplikasian ilmu, maka dari itu hal bagi orang berproses untuk melayani umat itu bergantung atas keyakinan dirinya bukan keyakinan orang lain, dan keyakinan atas ilmunya, karena keyakinan orang lain bisa tertanam bisa terpancar disebabkan timbulnya melalui keyakinan dirinya, akan tetapi jangan hanya bisa menerangi orang lain tapi bagaimana seseorang itu tidak terbakar oleh dirinya sendiri ini sangat cocok dengan sebuah pepatah. Janganlah kamu bersifat seperti lilin yang dapat menyinari( menerangi ) orang lain sementara ia terbakar oleh dirinya sendiri, ini sangat berbahaya. Sebagaimana firman Allah.QS.Al-Baqarah:44
أتأمرون الناس بالبر وتنسون أنفسكم وانتم تتلون الكتاب أفلا تعقلون
Artinya, “Mengapa kalian menganjurkan orang lain untuk berbakti, sedangkan kalian melupakan diri sendiri, padahal kalian membaca kitab suci? Tidakkah kalian berpikir?” (Surat Al-Baqarah ayat 44).
Oleh Karena penting seseorang memiliki kesiapan Diri Menjadi Seorang Pemimpin yang berpotensi dalam memimpin umat
Banyak orang yang mengatakan bahwa tidak cocoknya seorang menjadi seorang pemimpin, tergantung dari bakatnya, apakah dia berpotensi atau tidak. Menjadi Potensi seorang pemimpin tidak hanya dapat dilihat dari kemampuan seseorang dalam bekerja . Ada seorang pekerja yang sangat bisa diandalkan. Dia pandai, terampil dan disiplin. Apakah dia cocok untuk menjadi seorang pemimpin? Belum tentu. Mungkin dia memang pintar dan mahir. Tetapi selama ini dia selalu bekerja sendiri. Dia tidak pernah membagikan kepandaian dan keterampilannya kepada orang lain. Karena merasa sebagai orang yang tidak bisa diandalkan, dia juga tidak mau mengembangkan dirinya dengan mempelajari hal-hal ini. Orang seperti itu terlihat tidak potensial untuk menjadi seorang pemimpin. Seorang pemimpin adalah orang yang mau berbagi dan tidak hanya fokus pada dirinya sendiri. Jadi, seorang yang mungkin biasa-biasa saja, tapi dia terlihat sangat mau berkembang dan tidak segan membantu orang lain, justru itulah yang berpotensi menjadi pemimpin.
Kepemimpian Dalam Teori
Ada teori yang mengatakan bahwa pemimpin itu dilahirkan, bukan dihasilkan , inilah yang disebut dengan faktor keturunan (Asbab nasab keturunan Kiyai maka menjadi lora atau kiyai ). Tapi ada juga yang menyebutkan bahwa menjadi pemimpin adalah sesuatu yang dapat dipelajari, inilah yang disebut ” NASIB ” artinya bagian . Dalam hal ini mana yang paling tepat? Yang ideal tentu saja orang yang memang berbakat menjadi pemimpin, berada di tempat yang benar, sehingga dia bisa belajar menjadi pemimpin yang baik. Orang seperti ini tentu dapat menjadi pemimpin yang sangat baik. Memang benar, memimpin adalah kemampuan yang dapat dipelajari. Seorang pemimpin adalah orang yang memiliki visi ke depan, lebih baik dari orang lain. Visi inilah yang dapat membuat seseorang membuat rencana dan rencana tindakan untuk menghadapinya. Inilah yang sangat dibutuhkan dari seorang pemimpin. Selain itu, seorang pemimpin adalah orang yang optimis, orang yang dapat melihat masa depan dengan lebih baik. Tidak semua orang mampu berpikir seperti ini. Apalagi jika kondisi saat ini memang sangat buruk. Kemampuan untuk mengubah keadaan menjadi lebih baik ditentukan dari pola pikir, apa yang bisa dilakukan demi masa depan yang lebih baik. Jadi, jika seseorang merasa tidak dilahirkan untuk menjadi pemimpin alias tidak berbakat menjadi orang yang dapat memushlehkan orang lain maka janganlah perlu berkecil hati. Asah terus mampu menganalisis berpikirnya, untuk menjadikan masa depan menjadi lebih baik. Dengan itulah seorang bisa menjadi pemimpin. Untuk menjadi pemimpin yang baik, ada beberapa hal yang juga harus diperhatikan:
Seorang Pemimpin Adalah Orang yang Mengenal Dirinya Dengan Baik
Seorang pemimpin yang baik adalah dia yang sangat mengenal dirinya sendiri dengan baik pula. Maksudnya, dia tahu kelebihan dan kekurangannya. Dia mengerti bagaimana menggunakan kelebihannya, tapi juga memahami apa yang harus dilakukan untuk memperbaiki kekurangannya. Dengan mengenal dirinya dengan baik, maka dia akan mampu ‘memanfaatkan’ kondisi masyarakat dengan baik, demi kemajuan bersama.
Seorang Pemimpin adalah Orang yang Berintegritas
Seorang pemimpin yang baik adalah orang yang memiliki integritas. Artinya, dia adalah orang yang dapat dipercaya dan diandalkan oleh keluarganya khususnya dan masyarakat lingkungan pada umumnya . Dengan keutuhan tersebut, maka masyarakat dapat leluasa untuk berkomunikasi dengannya. Mereka tidak akan segan untuk memberi tahu dia mengenai semua masalah yang dihadapi. Mereka percaya bahwa pemimpin mereka akan membantu mereka mencari solusinya.
Seorang Pemimpin adalah orang yang Menghargai orang Lain” من عظم عظم ” Barang siapa yang menghargai orang lain maka ia dihargai( diagungkan)
Pemimpin adalah orang yang lebih dianggap baik daripada orang lain (masyarakat) .Bagaimanapun, seorang pemimpin yang baik adalah dia yang menghargai semua orang, khususnya anggota keluarga dan masyarakat pada umumnya. Telah disebutkan bahwa seorang pemimpin yang baik adalah orang yang mengenal dirinya. Dengan mengenal dirinya, maka dia akan menyadari bahwa dia memiliki kelebihan dan kekurangan. Jadi, dia juga akan menyadari bahwa masyarakat /orang lain semuanya juga memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Pemimpin yang baik adalah orang yang mampu memanfaatkan kelebihan anggota masyarakanya, untuk melengkapi kekurangan masyarakat yang lain. Dengan begitu mereka semua antara pemimpin dan juga yang dipinpinnya akan selalu terjaga, bukan sebaliknya artinya dia meremehkan atas kekurangan orang lain ini tidaklah dibenarkan.sebagaimana dikatakan dalam satu maqolah:
لاتحتقر من دونك فإن لكل شيئ مزية
Janganlah kamu meremehkan orang-orang yang berada dibawahmu, karena setiap sesuatu mempunyai kelebihan ( keistimiwaan)
Seorang Pemimpin Adalah Orang yang Mampu Menginspirasi
Seorang pemimpin yang baik adalah orang yang dapat menginspirasi anggota keluarganya dan masyarakatnya . Ketika ada anggota masyarakat yang kinerjanya menurun, maka dia harus dapat membuatnya kembali menunjukkan kinerjanya yang baik. Pemimpin yang baik adalah orang yang dapat menjadikan orang lain menjadi pribadi yang lebih baik. Memang, ada orang yang memang dilahirkan menjadi pemimpin, ini yang disebut dengan keturunan pemimpin ( Asbab nasab Kiyai maka keturunannya bisa menjadi lora, kiyai ) .Tapi ada juga orang yang dihasilkan untuk menjadi pemimpin, inilah yang disebut dengan Nasib ( pagian ). Jenis yang kedua ini adalah orang yang dipengaruhi oleh situasi dan kondisi (keadaan), sehingga dia bisa menjadi seorang pemimpin. Menjadi pemimpin di dalam sebuah masyarakat , jadi kepemimpinan itu terjadi karena dua faktor yaitu “NASAB dan NASIB” ini adalah sebuah perjalanan karir yang harus diperjuangkan. Jika seseorang benar-benar mempelajari bagaimana menjadi seorang pemimpin yang baik, maka ia bisa menjadi seorang pemimpin. Untuk bisa menjalani karir dengan baik, maka ada beberapa hal yang harus seseorang pelajari, yang tentunya dengan belajar tanpa henti baik cara belajarnya dengan yang tertulis ataupun dengan belajar yang tanpa tulis, sehingga menjadi orang yang profesional untuk menapaki karier menjadi seorang pemimpin yang baik.
Berikut sebagai contoh yang harus dimiliki oleh seorang calon pemimpin
Nabi itu sebelum diisra’kan dan diutus dia masih dibuang sifat sifat kotoran hatinya oleh Allah melalui malaikat jibril yang kemudian terpenuhi hatinya dengan hikmah dan keimanan ( hilman /sangat sabar ,Ilmu , keyakinan, islam ).
Artinya dari paparan diatas dapat disimpulkan jika seserang telah mampu memenuhi hak-hak Allah dan hak-hak hamba ( masyarakat ) dan berpontensi untuk memimpin umat dengan keyakinan ilmunya yang mampu merubah keadaan kepada arah yang lebih baik, maka apa boleh buat maka ia harus melayaninya dan itu adalah kewajiban. Jadilah manusia bagaikan ikan yang hidup dilautan, dan janganlah manusia bagai ikan yang mati. Artinya sesorang harus punya keyakinan sebagaimana ikan yang hidup dilautan walau ia hidup diair asin tapi ia tetap tidak asin, artinya tidak mudah diombang ambingkan oleh orang-orang yang berada disekelilingnya, tidak diwarnai tetapi bagaimana ia mampu mewarnai orang-orang yang berada disekelilinggnya ( merubah hal yang tidak baik kepada arah yang lebih baik). Dan jangan menjadi manusia bagaikan ikan yang mati, dimana jika dikasih garam ia ikut menjadi asin.dll..
Artinya: Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik
Rasulullah SAW bersabda:
عن جابر رضي الله عنه قال: قال رسول الله – صلى الله عليه وسلم -: “خير الناس أنفعهم للناس”، رواه القضاعي
Sebaik-baik manusia adalah orang yang memberikan manfaat pada orang lain.
المراجع: الدردير
بينما النبي صلى الله عليه وسلم فى الحجر عند البيت مضطجعا بين رجلين اذ أتاه جبريل وميكائيل ومعهما ملك آخر فاحتملوا حتی جاؤابه زمزم فاستلقوه على ظهره فتولاه منهم جبريل وفي رواية فرج سقف بیتی فنزل جبريل فشق من ثغرة نحره إلى أسفل بطنه ثم قال جبريل لميكائيل ائتنی بطست من ماء زمزم کيما اطهر قلبه واشرح صدره فاستخرج قلبه فغسله ثلاث مرات ونزع ما كان به من أذى واختلف الیه میکائیل بثلاث طسات من ماء زمزم ثم أتي بطست من ذهب ممتلئ حكمة وايمانا فأفرغه فى صدره وملأه حلما وعلما ويقينا واسلاما ثم أطبقه ثم ختم بين كتفيه بخاتم النبوة
Diwaktu Nabiyullah Muhammad ﷺ beristirahat. Tidur menyamping di samping Hijir Ismail. Dekat Baitullah. Di samping kanan dan kiri ada dua orang pemuda (Sayyidina Hamzah dan Sayyidina Ja’far bin Abi Tholib).Tiba-tiba di tempat tersebut, beliau didatangi oleh Malaikat Jibril dan Mikail.Selain kedua malaikat itu masih ada satu malaikat lagi, yaitu Malaikat Isrofil.Kemudian ketiga malaikat itu membopong Nabiyullah Muhammad ﷺ hingga kesumur Zam-Zam.Lantas Nabiyullah Muhammad ditelentangkan di sana . Di dalam sebuah riwayat lain dijelaskan bahwa: tiba-tiba atap rumah saya tersingkap. Lantas Malikat Jibril masuk. Setelah itu Jibril membedah/ mengoperasi dada Nabiyullah Muhammad. Dimulai dari bawahnya leher hingga sampai di bawahnya perut. Malaikat Jibril kemudian berucap kata kepada Malaikat Mikail: “Ambillah bokor /bejana yang berisikan air Zam-Zam. Saya hendak menyucikan hati dan melapangkan dadanya Nabiyullah Muhammad SAW. ” Setelah itu, Malaikat Jibril mengeluarkan hatinya Nabiyullah Muhammad ﷺ sampai tiga kali.Dan membuang semua kotoran yang terdapat di dalam batin Nabi Muhammad ﷺ. Adapun Malaikat Mikail mondar-mandir sambil membawa tiga bokor emas yang di dalamnya berisikan air Zam-Zam. Setelah melakukan semua hal itu, kemudian membawa bokor emas yang isinya penuh dengan hikmah dan iman. Selanjutnya isi bokor tersebut ditumpahkan ke dalam hatinya Nabi hingga batin beliau berisi penuh dengan sifat: sabar, alim,yakin, dan islam. Lantas dikembalikan seperti sediakala. Dan diberikan cap kenabian diantara kedua belikatnya.
القول في تأويل قوله تعالى : أَتَأْمُرُونَ النَّاسَ بِالْبِرِّ وَتَنْسَوْنَ أَنْفُسَكُمْ قال أبو جعفر: اختلف أهل التأويل في معنى البر الذي كان المخاطبون بهذه الآية يأمرون الناس به وينسون أنفسهم, بعد إجماع جميعهم على أن كل طاعة لله فهي تسمى ” برا “. فروي عن ابن عباس ما:- ٨٤٠- حدثنا به ابن حميد, قال: حدثنا سلمة, عن ابن إسحاق, عن محمد بن أبي محمد, عن عكرمة, أو عن سعيد بن جبير, عن ابن عباس: ( أَتَأْمُرُونَ النَّاسَ بِالْبِرِّ وَتَنْسَوْنَ أَنْفُسَكُمْ وَأَنْتُمْ تَتْلُونَ الْكِتَابَ أَفَلا تَعْقِلُونَ ) أي تنهون الناس عن الكفر بما عندكم من النبوة والعهدة من التوراة, وتتركون أنفسكم: (٩٦) أي وأنتم تكفرون بما فيها من عهدي إليكم في تصديق رسولي, وتنقضون ميثاقي, وتجحدون ما تعلمون من كتابي. ٨٤١- وحدثنا أبو كريب, قال: حدثنا عثمان بن سعيد, قال: حدثنا بشر بن عمارة, عن أبي روق, عن الضحاك, عن ابن عباس في قوله: (أتأمرون الناس بالبر) يقول: أتأمرون الناس بالدخول في دين محمد صلى الله عليه وسلم, وغير ذلك مما أمرتم به من إقام الصلاة، وتنسون أنفسكم . * * * وقال آخرون بما:- ٨٤٢- حدثني به موسى بن هارون, قال: حدثني عمرو بن حماد, قال: حدثنا أسباط, عن السدي: (أتأمرون الناس بالبر وتنسون أنفسكم) قال: كانوا يأمرون الناس بطاعة الله وبتقواه وهم يعصونه. ٨٤٣- وحدثنا الحسن بن يحيى قال: أخبرنا عبد الرزاق, قال: أخبرنا معمر، عن قتادة، في قوله: (أتأمرون الناس بالبر وتنسون أنفسكم) قال: كان بنو إسرائيل يأمرون الناس بطاعة الله وبتقواه وبالبر ويخالفون, فعيرهم الله. ٨٤٤- وحدثنا القاسم, قال: حدثنا الحسين, قال: حدثنا الحجاج, قال: قال ابن جريج: (أتأمرون الناس بالبر) أهل الكتاب والمنافقون كانوا يأمرون الناس بالصوم والصلاة, ويدعون العمل بما يأمرون به الناس, فعيرهم الله بذلك, فمن أمر بخير فليكن أشد الناس فيه مسارعة. * * * وقال آخرون بما:- ٨٤٥- حدثني به يونس بن عبد الأعلى, قال: أخبرنا ابن وهب, قال: قال ابن زيد: هؤلاء اليهود كان إذا جاء الرجل يسألهم ما ليس فيه حق ولا رشوة ولا شيء, أمروه بالحق. فقال الله لهم: (أتأمرون الناس بالبر وتنسون أنفسكم وأنتم تتلون الكتاب أفلا تعقلون) (٩٧) – وحدثني علي بن الحسن, قال: حدثنا مسلم الجَرْمي, قال: حدثنا مخلد بن الحسين, عن أيوب السختياني, عن أبي قلابة، في قول الله: (أتأمرون الناس بالبر وتنسون أنفسكم وأنتم تتلون الكتاب) قال: قال أبو الدرداء: لا يفقه الرجل كل الفقه حتى يمقت الناس في ذات الله، ثم يرجع إلى نفسه فيكون لها أشد مقتا. (٩٨) * * * قال أبو جعفر: وجميع الذي قال في تأويل هذه الآية من ذكرنا قوله متقارب المعنى; لأنهم وإن اختلفوا في صفة ” البر ” الذي كان القوم يأمرون به غيرهم، الذين وصفهم الله بما وصفهم به, فهم متفقون في أنهم كانوا يأمرون الناس بما لله فيه رضا من القول أو العمل, ويخالفون ما أمروهم به من ذلك إلى غيره بأفعالهم. فالتأويل الذي يدل على صحته ظاهر التلاوة إذا: أتأمرون الناس بطاعة الله وتتركون أنفسكم تعصيه؟ فهلا تأمرونها بما تأمرون به الناس من طاعة ربكم؟ معيرهم بذلك، ومقبحا إليهم ما أتوا به. (٩٩) * * * ومعنى ” نسيانهم أنفسهم ” في هذا الموضع نظير النسيان الذي قال جل ثناؤه: نَسُوا اللَّهَ فَنَسِيَهُمْ [التوبة: ٦٧] بمعنى: تركوا طاعة الله فتركهم الله من ثوابه. * * * القول في تأويل قوله تعالى وَأَنْتُمْ تَتْلُونَ الْكِتَابَ قال أبو جعفر: يعني بقوله: قال أبو جعفر: يعني بقوله: (تتلون) : تدرسون وتقرءون. كما:- ٨٤٧- حدثنا أبو كريب, قال: حدثنا عثمان بن سعيد, قال: حدثنا بشر, عن أبي روق, عن الضحاك عن ابن عباس: (وأنتم تتلون الكتاب)، يقول: تدرسون الكتاب بذلك. ويعني بالكتاب: التوراة. (١٠٠) * * * القول في تأويل قوله تعالى أَفَلا تَعْقِلُونَ (٤٤) قال أبو جعفر: يعني بقوله: (أفلا تعقلون) (١٠١) أفلا تفقهون وتفهمون قبح ما تأتون من معصيتكم ربكم التي تأمرون الناس بخلافها وتنهونهم عن ركوبها وأنتم راكبوها, وأنتم تعلمون أن الذي عليكم من حق الله وطاعته، واتباع محمد والإيمان به وبما جاء به، (١٠٢) مثل الذي على من تأمرونه باتباعه. كما: ٨٤٨- حدثنا به محمد بن العلاء, قال: حدثنا عثمان بن سعيد, قال: حدثنا بشر بن عمارة, عن أبي روق عن الضحاك, عن ابن عباس: (أفلا تعقلون) يقول: أفلا تفهمون؟ فنهاهم عن هذا الخلق القبيح. (١٠٣) * * * قال أبو جعفر: وهذا يدل على صحة ما قلنا من أمر أحبار يهود بني إسرائيل غيرهم باتباع محمد صلى الله عليه وسلم, وأنهم كانوا يقولون: هو مبعوث إلى غيرنا! كما ذكرنا قبل. (١٠٤) ————
Studi kasus. Ada seseorang katakanlah nama samarannya Muhdhor dia terkena musibah usahanya ( dagang tembakau) bangkrut dikarenakan ketika tebas tembakau terkena hujan akibatnya tembakaunya banyak yang gagal panen.maka dalam upaya menutupi uang mudal dia pinjam uang kepada seseorang namun anehnya orang yang hutang ditarik uang duluan ( dipotong duluan ) dengan di istilahkan ungkapan "Amal " oleh pemberi hutang dan ada sebagian tanpa adanya pemotongan.
Pertanyaannya. Apakah dengan memotong uang terlebih dahulu dengan diistilahkan amal itu termasuk bunga atau kata bahasa amal itu apa termasuk hela atau emang bunga..?
Terimakasih 🙏🏻
Waalaikum salam Jawaban.
Seorang Muhdlor yang berhutang kepada orang dengan cara dipotong duluan dengan diistilahkan penarikan kata amal . hukumnya adalah haram. Alasannya ialah karena orang tersebut menghutangi dengan bersyarat yang tujuannya adalah untuk mengambil kemanfaatan, hal ini sama dengan mensyaratkan adanya tambahan setelah pembayar. Jadi istilah amal itu adalah potongan dari hutang yang nantinya ketika membayar lebih dari yang biasa karena sudah dipotong duluan.hal tersebut termasuk riba. Karena sebenarnya amal sedekah di anjurkan kalau yang bersangkutan punya kelebihan dan tidak punya hutang. Wallahu a’lamu bisshowab.
المهذب فى فقه الإمام الشافعي ( ج ١ ص ٣٠٤) فإذا شرّط النقصان عماأقرضه فقد شرط ماينافي مقتضاه فلم يجز كمالوشرط الزيادة والثاني يجوز لأن القرض جعل رفقا بالمستقرض وشرط الزيادة يخرج به عن موضعه فلم يجز وشرط النقصان لايخرج به عن موضوع فجاز.
(اعانۃ الطالبين,جز ٣,صحيفۃ ٥٣) وجاز لمقرض نفع يصل له من مقترض كرد الزائد قدرا او صفۃ والأجود للرديئ (بلا شرط) في العقد بل يسن ذلك لمقترض الی ان قال واما القرض بشرط جر نفع لمقترض ففاسد لخبر كل قرض جر منفعۃ فهو ربا (قوله ففاسد) قال ع ش : ومعلوم ان محل الفساد حيث وقع الشرط في صلب العقد, اما لو توافقا علی ذلك ولم يقع شرط في العقد فلا فساد.
Al-Muhadzdzab fi Fiqh Al-Imam Asy-Syafi’i (Jilid 1, Halaman 304): Jika seseorang menetapkan syarat pengurangan dari apa yang ia pinjamkan, maka ia telah menetapkan sesuatu yang bertentangan dengan hakikat akad tersebut, sehingga tidak diperbolehkan. Sama halnya dengan menetapkan syarat tambahan (melebihi yang dipinjamkan). Pendapat kedua menyatakan boleh, karena pinjaman dimaksudkan untuk memberikan keringanan kepada peminjam. Adapun syarat tambahan mengubah tujuan akad tersebut sehingga tidak diperbolehkan. Namun, syarat pengurangan tidak mengubah tujuan akad, sehingga diperbolehkan. I’anatuth Thalibin (Jilid 3, Halaman 53): Diperbolehkan bagi pemberi pinjaman mendapatkan manfaat dari peminjam, seperti pengembalian yang lebih banyak dalam jumlah atau kualitasnya, atau penggantian barang yang buruk dengan yang lebih baik (tanpa syarat) dalam akad. Bahkan, hal itu disunnahkan bagi peminjam. Hingga disebutkan: Adapun pinjaman dengan syarat memberikan manfaat kepada pemberi pinjaman, maka akad tersebut rusak, berdasarkan hadits: “Setiap pinjaman yang memberikan manfaat (kepada pemberi pinjaman) adalah riba.” (Pernyataan: akad tersebut rusak) Al-Bujairimi berkata: Diketahui bahwa kerusakan (akad) berlaku jika syarat tersebut dinyatakan dalam akad. Namun, jika hanya berupa kesepakatan tanpa disyaratkan dalam akad, maka akad tidak rusak. Wallahu a’lam bish-shawab
CARA TAYAMMUMNYA ORANG YANG PATAH TANGANNYA KARENA TABRAKAN
Assalamualaikum. Deskripsi masalah.
Katakanlah nama samarannya Ahmad punya teman Namanya Ahmadi , pada suatu hari Ahmadi ingin silaturahm kerumah Ahmad dengan mengendarai sepeda motor karena jaraknya antara rumah Ahmad dan rumah Ahmadi sangat jauh, namun ditengah perjalanan Ahmadi tabrakan yang mengakibatkan patah satu tangannya hingga sampai siku, dia sudah lima hari tidak shalat karena tidak tahu caranya bertayammum.
Pertanyaannya. Bagaimana cara tayammumnya orang yang hanya punya satu tangan sebagaimana deskripsi…?
Waalaikum salam.
Bertayammum hukumnya wajib bagi seseorang karena adanya tiga sebab 1️⃣ Karena tidak ada air. 2️⃣ Karena hausnya hewan yang dimulyakan syara'.(artinya ada air hanya cukup untuk digunakan wudhu',akan tetapi karena ada hewan yang haus maka ia wajib memberikan air tersebut untuk diminumkan kepada hewan sedangkan dirinya wajib bertayammum).
3️⃣Karena sakit.( lihat dalam kitab Kasyifatussaja fasal Tayammum ).
Lalu bagaimana caranya tayammum jika orang sakit karena tabrakan sementara tangannya patah hanya tinggal satu sebagaimana deskripsi.
Jawabannya
Menurut Ashabussyafi'i adalah ditafsil:
🅰️ Jika tangannya Ahmadi yang patah sampai sebagian lengan maka ia wajib mengusap sebagian yang tersisa dari tempatnya lengan dengan Abu dalam tayammum.
🅱️ Jika tangannya Ahmadi Patah sampai diatasnya siku, maka dia tidak wajib mengusapnya, karena sudah bukan termasuk anggota yang harus dibasuh ketika berwudhu' namun sunnah diusap yang tersisa dengan Abu dalam tayammum.
المجموع شرح المهذب ص ٧٦٧/٩٧٩٢ -
(الخامسة) قال أصحابنا إذا قطعت يده من بعض الساعد وجب مسح ما بقي من محل الفرض فإن قطع من فوق المرفق فلا فرض عليه ويستحب أن يمس الموضع ترابا كما سبق في الوضوء حتى قال البندنيجي والمحاملي لو قطع من المنكب استحب أن يمسح المنكب كما قلنا في الوضوء وبهذا اللفظ نص عليه الشافعي في الأم: قال العبدري هذا الذي ذكرناه من استحباب غسل موضع القطع فوق المرفق في الوضوء ومسحه بالتراب في التيمم هو مذهبنا ومذهب مالك وزفر وأحمد وداود وقال أبو حنيفة وأبو يوسف ومحمد يجب غسله في الوضوء ومسحه في التيمم: دليلنا أنه فات محل الوجوب قال أصحابنا وكل ما ذكرناه في الوضوء من الفروع في قطع اليد وزيادة الكف والاصبع وتدلى الجلدة يجيئ مثله في التيمم قال الدارمي لو انقطعت أصابعه وبقيت متعلقة باليد فهل ييممها فيه وجهان: (قلت) قياس المذهب القطع بوجوب التيمم ولو لم يخلق له مرفق استظهر حتى يعلم: قال أصحابنا ولو كان في أصبعه خاتم فلينزعه في ضربة اليدين ليدخل التراب تحته: قال صاحب العدة وغيره ولا يكفيه تحريكه بخلاف الوضوء لأن الماء يدخل تحته بخلاف التراب.والله أعلم بالصواب
Solusi jika tidak bisa tayammum sendiri adalah minta bantuan orang lainsebagaimana meminta tolong dalam berwudhu
(فصل)
الإستعانات أربع خصال : مباحة وخلاف الأولى ومكروهه وواجبة فالمباحة هي تقريب الماء ، وخلاف الأولى هي صب الماء على نحو المتوضئ ،والمكروهه هي لمن يغسل أعضاءه ، والواجبة هي للمريض عند العجز
“Pasal. Meminta pertolongan (dalam ibadah) terbagi menjadi empat hukum yaitu mubah, khilaf al-aula, makruh, dan wajib. Contoh meminta pertolongan yang mubah seperti meminta pertolongan orang lain agar mendekatkan air pada orang yang hendak bersuci, contoh yang khilaf al-aula yaitu seperti meminta orang lain untuk menuangkan air pada orang yang hendak wudhu, contoh yang makruh seperti meminta orang lain untuk menuangkan air pada anggota wudhunya, dan contoh yang wajib seperti meminta pertolongan orang lain bagi orang yang sakit ketika ia tidak mampu (bersuci sendiri).” (Salim bin Samir al-Hadrami, Safinah an-Naja, Hal. 9)
TATACARA MENGHADAP POSISINYA ORANG YANG MENTALQIN MAYIT.
Assalamualaikum Deskrip masalah. Ketika saya hadir pada pemakaman ( menguburan) seseorang yang meninggal, setelah selesai lalu ditalqin namun terkadang cara menghapnya orang yang menalqin berbeda-beda ada yang menghadap kearah kiblat, dan ada yang menghadap ketimur yakni dihadapkan kepada wajah mayit Pertanyaannya Bagaimana sebenarnya yang utama cara menghadpnya orang ketika mentalqilkin mayit mohon penjelasannya.
Walaikum salam.
Sebenarnya menghadap kearah kiblat itu tidak masalah, namun yang utama duduk menghadap kearah Timur yaitu dihadapkan kewajah mayit karena disunnatkannya talqin dengan tujuan untuk mengingatkan mayit (mukhothabnya kepada mayit ) ya tentunya berhadapan dengan mayit , begitu juga ketika mengucapkan salam maka menghadap kearah wajah mayit.
المجموع شرح المهذب -٩٧٩٢ -٢٦٢١ (الرَّابِعَةُ)
قَالَ جَمَاعَاتٌ مِنْ أَصْحَابِنَا يُسْتَحَبُّ تَلْقِينُ الْمَيِّتِ عَقِبَ دَفْنِهِ فَيَجْلِسُ عِنْدَ رَأْسِهِ إنْسَانٌ وَيَقُولُ يَا فُلَانَ ابْنَ فُلَانٍ وَيَا عَبْدَ اللَّهِ ابن أَمَةِ اللَّهِ اُذْكُرْ الْعَهْدَ الذي خرجت عليه من الدنيا شهادة أن لا اله وحده لا شريك له وأن محمدا عبده ورسوله وأن الجنة حق وأن النار حق وأن البعث حق وأن الساعة آتية لاريب فيها وأن الله يبعث من في القبور وأنك رضيت بالله ربا وبالإسلام دينا وبمحمد صلى الله عليه وسلم نبيا وبالقرآن إماما وبالكعبة قبلة وبالمؤمنين إخوانا زاد الشيخ نصر ربي الله لا إله الا هو عله توكلت وهو رب العرش العظيم فهذا التلقين عندهم مستحب ممن نص على استحبابه القاضي حسين والمتولي والشيخ نصر المقدسي والرافعي وغيرهم ونقله القاضي حسين عن أصحابنا مطلقا وسئل الشيخ أبو عمرو بن الصلاح رحمه الله عنه فقال التلقين هو الذي نختاره ونعمل به قال وروينا فيه حديثا من حديث أبي أمامة ليس إسناده بالقائم لكن اعتضد بشواهد وبعمل أهل الشام قديما هذا كلام أبي عمرو قلت حديث أبي أمامة رواه أبو القاسم الطبراني في معجمه بإسناد ضعيف ولفظه عن سعيد بن عبد الله الأزدي قال " شهدت أبا أمامة رضي الله عنه وهو في النزع فقال إذا مت فاصنعوا بي كما أمرنا رسول الله صلى الله عليه وسلم فقال إذا مات أحد من إخوانكم فسويتم التراب على قبره فليقم أحدكم على رأس قبره ثم ليقل يا فلان ابن فلانة فإنه يسمعه ولا يجيب ثم يقول يا فلان ابن فلانة فإنه يستوي قاعدا ثم يقول يا فلان ابن فلانة فإنه يقول أرشدنا رحمك الله ولكن لا تشعرون فليقل اذكر ما خرجت عليه من الدنيا شهادة أن لا إله إلا الله وأن محمدا عبده ورسوله وأنك رضيت بالله ربا وبالإسلام دينا وبمحمد نبيا وبالقرآن إماما فإن منكرا ونكيرا يأخذ كل واحد منهما بيد صاحبه ويقول انطلق بنا ما نقعد عند من لقن حجته فقال رجل يا رسول الله فإن لم نعرف أمه قال فينسبه إلى أمه حواء يا فلان ابن حواء " قلت فهذا الحديث وإن كان ضعيفا فيستأنس به وقد اتفق علماء المحدثين وغيرهم على المسامحة في أحاديث الفضائل والترغيب والترهيب وقد اعتضد بشواهد من الأحاديث كحديث " واسألوا له الثبيت " ووصية عمرو بن العاص وهما صحيحان سبق بيانهما قريبا ولم يزل أهل الشام على العمل بهذا في زمن من يقتدى به وإلى الآن وهذا التلقين إنما " هو في حق المكلف الميت أما الصبي فلا يلقن والله أعلم (الخامسة) ذكر الماوردي وغيره أنه يكره إيقاد النار عند القبر وسبقت المسألة وسيأتي في باب التعزية كراهية المبيت في المقبرة وكراهة الجلوس على قبر ودوسه والاستناد إليه والاتكاء عليه
تتوير القلوب.ص٢١٦ ويسلم عليه مستقبلا وجهه لقوله صلى الله عليه وسلم مامن أحد يمر بقبر أخيه المؤمن كان يعرفه فى الدنيا فيسلم عليه إلا عرفه ورد عليه السلام( رواه أبي الدنيا والبيهقي )
Dan mengucapkan salam kepada mayit seraya menghadapkan kepada wajahnya karena berdasarkan sabda Nabi Muhammad SAW.Tidak ada seseorang yang berjalan menemui kuburan saudaranya yang mukmin yang kenal kepadanya ( mengetahuinya) didunia lalu mengucapkan salam kepadanya kecuali dia mengenalinya dan menjawab kepada salamnya.
الفقه الإسلامي و أدلته – ١٥٢٣/٧٧٢٢
٥ - التلقين بعد الدفن: يستحب عند الشافعية والحنابلة (٣) تلقين الميت المكلف بعد الدفن، ويقعد الملقن عند رأس القبر، فيقال له: «يا عبد الله ابن أمة الله، اذكر ما خرجت عليه من دار الدنيا: شهادة أن لا إله إلا الله، وأن محمدا رسول الله، وأن الجنة حق، والنار حق، وأن البعث حق، وأن الساعة آتية لا ريب فيها، وأن الله يبعث من في القبور، وأنك رضيت بالله ربا، وبالإسلام دينا، وبمحمد صلى الله عليه وسلم نبيا، وبالقرآن إماما، وبالكعبة قبلة، وبالمؤمنين إخوانا» لحديث ورد فيه (٤). قال النووي في الروضة: والحديث وإن كان ضعيفا، لكنه اعتضد بشواهد من الأحاديث الصحيحة، ولم تزل الناس على العمل به من العصر الأول في زمن من يقتدى به، وقد قال تعالى: {وذكر فإن الذكرى تنفع المؤمنين} [الذاريات:٥٥/ ٥١]، وأحوج ما يكون العبد إلى التذكير في هذه الحالة. والحق ـ في تقديري ـ مع القائلين بعدم سنية التلقين، والظاهر أن المستحب لذلك هم الصحابة، بدليل ما روي عن راشد بن سعد، وضمرة بن حبيب، وحكيم ابن عمر قالوا: «إذا سوي على الميت قبره، وانصرف الناس عنه، كانوا يستحبون أن يقال للميت عند قبره: يا فلان، قل: لا إله إلا الله، أشهد أن لا إله إلا الله، ثلاث مرات، يا فلان قل: ربي الله، وديني الإسلام، ونبيي محمد صلى الله عليه وسلم، ثم ينصرف» (١). وقد عرفنا أنه يندب عند الحنفية والمالكية تلقين المحتضر الشهادتين ولا يلقن بعد الدفن.
المجموع شرح المهذب:
“ويُستحبّ أن يُلقّن الميّت بعد الدّفن فيُقال: يا فلان ابن فلانة اذكر ما خرجتَ عليه من الدنيا شهادة أن لا إله إلا الله، وأنّ محمداً رسول الله، وأنّك رضيتَ بالله رباً، وبالإسلام ديناً، وبمحمدٍ صلى الله عليه وسلم نبيّاً، وبالقرآن إماماً، فإنّه يُقال عند ذلك: يا فلان ابن فلانة، اذكر ما خرجت عليه من الدنيا، وأنّك على ذلك حييت، وعليه متّ، وعليه تُبعث إن شاء الله، ثم يدعو له ويقلب عند الدعاء بالاستقبال القبلة.”
Artinya: “Disunnahkan untuk menalqinkan mayit setelah dikuburkan, dengan dikatakan: ‘Wahai Fulan bin Fulanah, ingatlah apa yang engkau tinggalkan di dunia berupa kesaksian bahwa tiada Tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah, serta bahwa engkau ridha dengan Allah sebagai Rabb, Islam sebagai agama, dan Muhammad sebagai nabi, serta Al-Qur’an sebagai imam.’ Lalu dikatakan kembali: ‘Wahai Fulan bin Fulanah, ingatlah apa yang engkau tinggalkan dari dunia, dan bahwa engkau hidup di atas itu, mati di atas itu, dan akan dibangkitkan atas itu, insya Allah.’ Kemudian berdoalah untuknya, dan dia berbalik saat berdoa dengan menghadap kiblat.”
Teks ini menggambarkan adab talqin yang dilakukan setelah penguburan, di mana salah satu adabnya adalah berdoa sambil menghadap kiblat setelah proses talqin dilakukan.
Ibarat ini jelas bahwa ketika mentaqin menghadap kearah Timur ( wajah mayat) tapi sampai pada do’a didalam talqin maka dianjurkan untuk berbalik menghadap kiblat
Sehubungan dengan fenomena yang banyak terjadi dalam kehidupan kita. Seperti pembangunan masjid yang berfokus pada keindahan dan kemegahan, berhiaskan ukiran kaligrafi dengan keramik dan kaca hingga tanpak jelas tubuh seseorang manakala sedang shalat ketika dilihat dikaca bahkan terkadang ada masjid yang dihiasi dengan foto atau lukisan pendirinya, sajadah untuk shalat hanya terfokus pada hiasan dan corak serta warna karena hanya untuk menjadi komoditi pasar.Maka begitu pula pakaian yang dipakai, bisa saja menggangu pikiran yang membuat lalai orang dari khusyu’ dalam shalatnya.
Pertanyaannya. Bagaimana hukumnya orang yang shalat sambil bercermin dikaca dihadapannya.. ?
Waalaikum salam
Jawaban
Hukumnya seseorang yang shalat sambil melihat dirinya dicermin ( bercermin) dikaca adalah makruh karena gambar termasuk bagian dari hal yang mengganggu pikiran. Oleh karena sunnah memejamkan matanya dalam kondisi mengganggu pikirannya atau sunnah ketika shalat terus menerus mendawamkan penglihatannya ketempat sujudnya, karena hal itu lebih mendekatkan pada kekhusyu'an.
Hal tentang melihat gambar pernah juga dialami oleh Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam . ‘Aisyah Radhiyallahu anhuma berkata :
Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah shalat dengan pakaian khamishah yang bercorak. Dalam shalatnya beliau memandang sekilas corak pakaian tersebut. Setelah selesai shalat, beliaupun berkata: “Serahkan khamishah ini kepada Abu Jahm, dan ambilkan untukku pakaian ambijaniyah hadiah dari Abu Jahm. Karena, pakaian khamishah tadi melalaikan( mengganggu) kekhusyu'an shalatku”. [HR al-Bukhâri, no. 373]
Pakaian anbijâniyyah yang diminta Rasûlullâh adalah pakaian kasar yang tidak bercorak. Berbeda dengan pakaian khamishah yang dikembalikan oleh beliau, pakaian itu memiliki corak ataupun gambar.
HUKUM SHALAT DENGAN MELIHAT GAMBAR DIRINYA DIKACA Tidak ada yang mengatakan bahwa shalat itu batal. Ini berarti, sah hukumnya shalat menghadap memandang gambar dirinya namun makruh karena dapat mengganggu pikirannya yang membuat lalainya kekhusyu'an sebagaimana penjelasan hadits, maka sebaiknya lakukanlah shalat tidak didepan kaca atau pejamkan matanya walaupun hukum asal adalah maruh namun sunnah namakala dalam kondisi mengganggu sebagaimana dalam keterangan Kitab Kasyifatussaja.
Ketahuilah bahwa ada beberapa kesempurnaan tingkah laku kesempurnaan seseorang dalam shalat yang diantaranya ketika menghadap kiblat yaitu ada tiga: 1- Hadapkanlah wajahmu kearah kiblat. 2- Hadapkanlah hatimu kepada Allah 3- Keadaanmu harus khusu' Yang dimaksud dengan hadapkan wajahmu keadarah kiblat adalah menghadapkan kearah masjidil haram ( Ka' bah ).artinya hadapkan wajah kebaitullah sedangkan hati menghadap kepada Allah SWT.
Dan disunnatkan menundukkan kepalanya sedikit ketempat sujudnya karena hal itu dapat mempengaruhi kekhusu'an. Sedangkan kesempurnaan niat yaitu ada tiga: 1- Kamu harus mengetahui kepada shalat artinya kamu mengetahui sedang sholat. 2- Kamu haruslah mengetahui bahwa kamu berdiri didepannya Allah Azzawajal dan dia melihatmu,maka kamu dalam keadaan berdiri merasakan takut . 3-Kamu harus mengetahui bahwa Allah mengetahui terhadap apa yang berada pada hatimu, oleh karena itu kosongkan hatimu dari kesibukan-kesibukan dunia, diantaranya termasuk berkaca, dll.
تنبيه الغافلين. ص ١٠٣
استقبال القبلة لقوله تعالى فول وجهك شطر المسجد الحرام وحيث ماكنتم فولوا وجوهكم شطره يعنى نحوه وأماالإستقبال القبلة فتمامه فى ثلاثة أشياء أولها أن تستقبل القبلة بوجهك والثاني أن تقبل على الله بقلبك والثالث أن تكون خاشعا ذليلا وأما النية فتمامها فى ثلاثة أشياء أولها أن تعلم أى صلاة تصلى والثاني أن تعلم أنك تقوم بين يدى الله تعالى وهو يراك فتقوم بالهيبة والثالث أن تعلم أنه يعلم مافى قلبك فتفرغ قلبك من أشغال الدنيا.
Referensi:
تنوير القلوب.ص ١٣٧ وهيآت …………….والنظر إلى موضع السجود مائلا برأسه قليلا فى جميع الصلاة ولو كانت فى الكعبة إلا فى التشهد فلايجاوز بصره إشارته بالسبابة عند قوله لاإله إلا الله .
Referensi:
(اعانة الطالبين) اه. (قوله: ويسن فتح عينيه حالة السجود) الذي صرحوا به أنه يسن إدامة النظر إلى موضع سجوده في جميع صلاته، وعللوه بأن جمع النظر في موضع أقرب إلى الخشوع. وأنه يكره تغميض عينيه وعللوه بأن اليهود تفعله، وأنه لم ينقل فعله عن النبي (ص) ولا عن أحد من الصحابة رضي الله عنهم أجمعين.
Referensi:
كاشفة السجا :
وسابعها تغميض جفنه إن خاف ضررًا وإلا فلا كراهة سواء الأعمى والبصير لأن الجفن يسجد معه وقد يجب إذا كان العراة صفوفاً وقد يسن كأن صلى إلى حائط مزوق أي منقش ومزين يشوش الفكر أي يخلطه
Adapun kemakruhan shalat yang ketujuh (7) adalah memejamkan (kelopak) mata jika memang musholli takut akan bahaya, baik musholli adalah orang yang buta atau dapat melihat karena kelopak mata akan bersujud bersamanya. Jika ia tidak takut bahaya maka tidak dimakruhkan memejamkannya. Terkadang memejamkan mata diwajibkan ketika shof-shof sholat terdiri dari orang-orang yang sholat dalam keadaan telanjang. Terkadang memejamkan mata juga disunahkan ketika misal musholli sholat menghadap tembok yang terukir atau kaligrafi atau dihiasi yang dapat mengganggu pikirannya. Wallahu a’lamu bisshowab.