HUKUM WUDHU’ DAN JIIMA’ DENGAN PENGGUNAAN KELAMIN PALSU
Assalamualaikum. Deskripsi masalah. Ditahun yang silam ada suami istri ,yang suaminya selingkuh dengan perempuan lain, tidak lama kemudian akhirnya sang Istri mengetahui hubungan suaminya tersebut, maka untuk menjadi suatu pelajaran bagi suaminya ketika suaminya ingin berjima’ dengan Istrinya maka diam-diam istrinya sudah mempersiapkan diri untuk melakukan hal yang diluar dugaan suaminya, ketika suaminya siap memasang zakarnya lalu dipotong oleh istrinya hingga patah, dan potongannya dibuang hingga tidak ditemukan, maka dalam rangka untuk bisa punya dzakar lagi, sang suami membuat dzakar/kelamin buatan melalui proses dokter.
Setudi kasus yang sama,
Seorang perempuan sejak lahir farji’ nya tertutup , karena kelaminnya tidak berfungsi maka dalam rangka untuk sama dengan perempuan sebagaimana biasanya dia buat kelamin palsu ( kelamin perempuan buatan.).
Pertanyaannya. Bagaimana hukum kelamin tersebut, jika mengeluarkan sesuatu apa dapat membatalkan wudhu’ ketika berjima dengan keluarganya ( suami istri ) apa termasuk orang yang junub ?
Waalaikum salam. Jawaban
Jika keluar sesuatu dari qubul ( kelamin) baik adanya asli atau baru ( kelamin buatan) maka wudhu’nya batal, NamunJika Kelamin buatan tersebut, posisinya berada dibawahnya pusar maka hukumnya ada tiga yaitu: 1).Boleh berhubungan jima’ suami Istri. 2). Tidak batal wudhu dengan kondisi tidur menetapi tempat duduknya 3). Orang yang menjima’ tidak termasuk junub dengan catatan tidak keluar sperma.
Referensi:
نهاية الزين ص ٢٥
وَلَو انسد الْفرج بِأَن صَار لَا يخرج مِنْهُ شَيْء وَإِن لم يلتحم وَانْفَتح بدله ثقبة لخُرُوج الْخَارِج فَإِن كَانَت تَحت السُّرَّة أَعْطَيْت حكم الْفرج فِي ثَلَاثَة أُمُور النَّقْض بِالْخرُوجِ مِنْهَا وَجَوَاز وَطْء الحليلة فِيهَا وَعدم النَّقْض بِالنَّوْمِ مُمكنا لَهَا وَلَا يصير الواطىء جنبا بِالْوَطْءِ فِيهَا إِلَّا إِذا أنزل وَلَو عَاد الْأَصْلِيّ منفتحا عَادَتْ لَهُ جَمِيع الْأَحْكَام من الْآن وتلغو أَحْكَام الثقبة فَإِنَّهَا مَتى كَانَ الْفرج منفتحا لَا عِبْرَة بهَا وَلَا بُد فِي الثقبة الَّتِي تقوم مقَام الْفرج أَن تكون قريبَة من السُّرَّة عرفا فَإِن كَانَت فِي رجله أَو نَحْوهَا فَلَا ينْقض الْخَارِج مِنْهَا فَإِن لم تكن تَحت السُّرَّة بل كَانَت فَوْقهَا أَو فِيهَا أَو فِي محاذيها فَلَا نقض بِالْخرُوجِ مِنْهَا هَذَا فِي الانسداد الْعَارِض أما الخلقي فينقض مَعَه الْخَارِج من المنفتح مُطلقًا أَي فِي أَي مَوضِع كَانَ من الْبدن وَيثبت لَهُ جَمِيع أَحْكَام الْأَصْلِيّ من النّظر بالإيلاج فِيهِ وَوُجُوب الْحَد بِهِ وَحُرْمَة النّظر إِلَيْهِ وَوُجُوب ستره من غير الحليل وَفِي الصَّلَاة وَتبطل بكشفه وَلَو فِي الْجَبْهَة وَيصِح السُّجُود مَعَ الْحَائِل لوُجُوب ذَلِك شرعا والفرج حِينَئِذٍ كعضو زَائِد من الْخُنْثَى لَا يتَعَلَّق بِهِ حكم من أَحْكَام الْفرج وَلَو قَامَ مقَام الْفرج شَيْء من المنافذ الْأَصْلِيَّة كالفم وَالْأنف وَالْأُذن فَلَا نقض بالخارج مِنْهُ على الْمُعْتَمد
Referensi:
بغية المسترشدين ص: ٢٤ ( فائدة) الحاصل فى النقض بالخارج من الثقبة أنه أن كان المخرج منفتحا فلانقض بالخارج من غيره مطلقا اتفاقا أو منسدا نظر، فإن كان خلقيا نقض الخارج مطلقا حتى من المنافذ الفم عن ابن حجر خلافا لمر والخاطيب فيها ، أو عارضا فلانقض به الا ان خرج من تحت السرة وتثبت للمنسد جميع الأحكام سواء كان خلقيا أو عارضا ولايثبت بالمنفتح الا النقض بالخارج منه فقط قاله زكريا وابن حجر ووافقهما م ر فى العارض قال أما فى الخلقى فتنقل جميع الأحكام للمنفتح وتسلب عن الأصلى
. Referensi:
[الرملي، شمس الدين، نهاية المحتاج إلى شرح المنهاج، ١١٥/١]
HUKUMYA SHALAT BEBJAMAAH IMAM DAN MAKMUM BEDA MADZHAB
Assalamualaikum
Deskripsi masalah.
Pada Abad ke- 2 Hijriyah Allah SWT telah mentakdirkan lahirnya ulama-ulama besar yang sangat genius dan seluruh hidupnya diabdikan untuk kepentingan agama, itu semata-semata mardlatillah (keridloan Allah) ulama-ulama itu dikenal dengan mujtahid yang telah menjawab berbagai hukum agama yang amat luas, yang kemudian hasil pemikirannya menjadi madzhab yang diikuti umat Islam diseluruh dunia hingga sekarang ini empat madzhab yang diakui oleh Ahli sunnah wajamaah yaitu: Madzhab Imam Hanafi, Madzhab Imam Malik, Madzhab Imam Syafi’i dan Madzhab Imam Hambali. Dari keempat madzhab tersebut terkadang beda pendapat, dan terkadang sepakat dalam memutuskan hukum itu semua terdapat dasar hukumnya, oleh karena dalam syariat islam memberikan keluasan dalam bermadzhab baik taqlid secara terus menerus atau tidak karena bermadzhab banyak manfaatnya yaitu dapat memudahkan mempelajari hukum Islam sehingga mengetahui hukum suatu perbuatan, dan dapat menyelamatkan umat islam dari penyimpangan salah tafsir dan juga dapat membatasi meluasnya perbedaan pendapat dikalangan umat Islam. Dengan demikian perbedaan-perbedaan madzhab itu harus menjadi rahmat dan kemudahan bagi umat Islam sebagai mana telah disabdakan oleh Nabi Muhammad SAW.
إختلاف أمتي رحمة.
Perbedaan umatku itu adalah rahmat. Dari hadits tersebut terbukti khususnya ketika masyarakat melaksanakan Ibadah haji, kemudian melakukan sholat dimakkah secara berjamaah Imam dan makmumnya terkadang berbeda madzhab Imamnya Madzhab Maliki dengan tanpa basmalah Makmumnya Madzhab Syafi’i yang harus baca basmalah, terkait dengan hal tersebut maka timbullah sebuah:
Pertanyaan.
Apakah boleh dan sah shalatnya makmum sementara Imamnya beda madzhab..?
Walaikum salam.
Jawaban.
Hukumnya boleh dan Sholatnya tetap sah apa bila imam tidak melakukan hal – hal yang membatalkan sholat menurut makmum. Apabila imam melakukan hal hal yang membatalkan sholat menurut makmum, seperti sang imam bermadzhab Hanafi yang menyentuh farjinya sebelum sholat , sementara makmumnya bermadzhab Syafi’i , maka jamaahnya tidak sah menurut pendapat imam Rofi’i & Nawawi . Adapun menurut imam Qoffal dalam permasalahan ini pun sah.
Referensi :
غاية تلخيص المراد من فتاوى ابن زياد ج ١ ص ٣٠
( مسالة )
تصح القدوة بالمخالف اذا علم المأموم اتيانه بما يجب عنده وكذا ان جهل فان اخل بواجب في عقيدة المأموم لم تصح القدوة به عند الشيخين وتصح عند القفال وقال الامام المجتهد المطلق السبكي ما صححه الشيخان هو قول الاكثرين لكن قول القفال اقرب الي الدليل وفعل السلف اه واعلم ان عقيدتنا ان الشافعي ومالكا واباحنيفة والسفيانين واحمد والاوزاعي واسحاق وداود وسائر الائمة المسلمين رضي الله عنهم علي هدى من ربهم ويعتد بخلافهم حتي الداود الظاهري خلافا لمن استثناه.
شمس المنير ج ١ص ٣٤٢
احكام الجماعة: الكراهة كخلف مبتدع ومخالف في المذهب كحنفي
“Hukum-hukum jama’ah : makruh,tapi tetap memperoleh fadilahnya sholat berjamaah, seperti di belakang ahli bid’ah dan di belakang orang yang berlainan madzhabnya seperti madzhab hanafy”.
(اعانة الطالبين ج.٣ ص ) ولو شك شافعى فى اتيان المخالف بالواجبات عند المأموم لم يؤثر فى صحة الاقتداء به تحسينا للظن به فى توقى الخلاء فلا يضر عدم اعتقاده الوجوب اهـ.
“Dan jika orang yang bermadzhab syafi’i ragu -ragu didalam pelaksanaannya orang yang beda madzhab menurut makmum itu sama sekali tidak berpengaruh terhadap keabsahan sholat didalam mengikutinya ( bermakmum ), artinya sholatnya tetap sah. Wallahu A’lam bisshowab
HUKUM MELAKSANAKAN NADZAR NAMUN MENGATAS NAMAKAN ORANG LAIN ( KELUARGANYA ).
Assalamualaikum
Deskripsi masalah.
Ada seseorang katakanlah nama samarannya AHMAD JALIL dia ingin berlomba, dan dia bernadzar “kalau dia menang dia akan memberikan makan orang miskin” demikian nadzarnya. Dan ternyata dia menang, sesuai dengan nadzarnya dia memberikan makan orang miskin tapi nadzarnya tersebut bukan mengatas namakan dirinya, akan tetapi mengatas namakan keluarganya. Tujuannya AHMAD JALIL mengatas namakan keluarganya, karena dia tidak mau kebaikannya dilihat orang lain.
Pertanyaannya:
Apakah Nadzarnya Ahmad Jalil sah dengan cara mengatas namakan orang lain sebagaimana deskripsi..?
Waalaikum salam.
Jawaban.
Pertama yang perlu dikaji terlebih dahulu adalah persoalan lombanya, jika lombannya lomba yang dilarang semisal ngadu ayam dengan cara taruhan maka hukumnya tidak boleh, karena yang dilombakan adalah pekerjaan maksiat begitu juga menerima hadiah dan memberikannya, ماحرم أخذه حرم إعطائه ” sesuatu yang haram mengambilnya maka haram pula memberikannya, Kecuali lomba yang diperbolehkan syariat misalkan lomba MTQ atau lomba Hifdhul Qur’an hukumnya boleh nadzarnya yang bersifat harta diatas namakan kepada orang lain dengan arti kata “nadzarnya diwakilkan kepada orang lain. Dengan kata lain orang lain mengatasnamakan orang yang bernadzar.
Jadi jika si AHMAD JALIL bernadzar sementara mengatasnamakan orang lain itu tidak sah, Tapi jika nadzarnya diatasnamakan kepada orang lain sah. Alasan redaksi kata diatas berbeda yaitu:
🅰️ Mengatasanamakan orang lain, berarti tidak melaksanakan nadzarnya sendiri karena yang menjadi objek adalah orang lain sehingga bisa dikatakan WUJUDUHU KA ADAMIHI walaupun melaksanakan sama dengan tidak melaksanakan.
🅱️.Diatas namakan kepada orang lain , berarti diwakilkan kepada orang lain.Artinya walaupun secara Dhahirnya tidak bekerja akan tetapi sama dengan melaksanakan alasannya karena” الوكيل كالمُوّكل (Wakil / orang yang menerima wakil sepertinya sama dengan Muwakkil /orang yang mewakilkan )
Kenapa tidak sah mengatasnamakan orang lain …? karena nadzar itu harus jelas dan tidak cukup niat tapi disyaratkan adanya Shighot (ungkapan nadzar), kata-kata yang menunjukkan menerima kewajiban, sehingga tidak sah nadzar hanya dengan niat seperti aqad-aqad yang lain,
مغني المختاج ٦ ص :٢٣٣ وأما الصيغة فيشترط فيها لفظ يشعر بالتزام فلا ينعقد بالنية كسائر العقود وتنعقد بإشارة الأخرس المفهمة , وينبغي كما قال شيخنا انعقاده بكناية الناطق مع النية
Disyaratkan dalam Shighot (ungkapan nadzar), kata-kata yang menunjukkan menerima kewajiban, sehingga tidak sah nadzar hanya dengan niat seperti aqad-aqad yang lain, dan nadzar sah dengan isyarat bagi orang bisu. Dan menurut Syaikhuna nadzar sah dengan bahasa kinayah jika disertai niat.
Sedangkan yang dinamakan “Nadzar itu adalah janji seseorang ( dirinya sendiri ) untuk melaksanakan sesuatu yang dinadzarkan semata taqorruban kepada Allah”, kecuali AHMAD JALIL dalam melaksanakan nadzarnya diatasnamakan kepada orang lain ( diwakilkan ) Nadzarnya kepada orang lain ( MAHMUD), maka boleh artinya Mahmud yang melaksanakan nadzarnya dengan diambilkan dari hartanya AHMAD JALIL, alasannya karena Nadzar tersebut bersifat harta, sebagaimana orang ( HAMMAD) bernadzar sedekah qurban dll, namun selang beberapa tahun Nadzir ( HAMMAD )sakit-sakitan karena lanjut usia atau meninggal, maka dalam hal ini wajib ahli warisnya menyelesaikan sebagai Niyabah ( pengganti/wakil ) dari Nadzir ( HAMMAD ) dengan cara diambilkan dari ⅓ dari Harta tirkatnaya.
كتاب حاشية قليوبي وعميرة – ٤٢٤ التوكيل فى طرفي بيع وهبة وسلم ورهن ونكاح وطلاق وسائر العقود…..
كفاية الأخيار ج١ص ٢٨٤ لايصح التوكيل فى العبادات البدنية، لأن المقصود منها الابتلاء والاختيار، وهو لايحصل بفعل الغير ، ويستثنى من ذلك مسائل : الحج، وذبح الأضاحى وتفرق الزكاة وصوم الكفارات، وركعتين الطواف الأخير، إذا صلاها تبعا لطواف الحج.
Jika yang dimaksud dengan “dilaksanakan orang lain” adalah sebagai wakil dari nadzir, maka tidak boleh, didalam Ibadah yang bersifat badaniyah ( fisik ) seperti shalat, puasa ” إلا pengecualian yaitu Haji, kenapa haji itu bisa diwakilkan karena haji didalamnya terdapat syarat yaitu mampu biaya ( harta/ekonomi), maka jika seseorang bernadzar untuk Haji kemudian dia memungkinkan untuk berangkat, namun mati sebelum sempat untuk melakukannya maka menurut Syafiiyah wajib dilaksanakan oleh ahli warisnya baik yang meninggal berwasiat ataupun tidak dengan diambilkan dari harta peninggalannya, yang kemudian disebut dengan kata yang populer ” BADAL HAJI” , sebagaimana dijelaskan ” DiKitab mausu’atul fiqhiyyah al-Quwaitiyah ” bigitu juga boleh Mewakilkan Nadzar yang bersifat harta seperti sedekah quban dan yang lainnya , nah itu dimaksudkan sebagai wakil untuk melaksanakan “suatu pekerjaan secara mutlak”, maka boleh. Sementara niat pekerjaan itu sebagai memenuhi nadzar, adalah haq dari nadzir (musta’jir). Dalam Kitab Fathul Muin disebutkan: Boleh “mengupah” orang lain untuk melaksanakan nadzarnya musta’jir (nadzir) secara mutlak, tanpa ada keharusan dari si mua‘jir (orang yang disewa) untuk meniatkan bahwa apa yang dilakukannya adalah dalam rangka memenuhi nadzarnya musta’jir. Upah tersebut semata hanya untuk mutlaknya mengerjakan apa yang diperintahkan oleh musta’jir saja, sementara niat ada-i al nadzri adalah merupakan kewajiban dari musta’jir. Penggalan ibarat kitab Hasyiata Qulyubiy wa Umairo dan Kifayatul akhyar di atas adalah menjelaskan tentang wakalah. Boleh mengambil wakil dalam melaksanakan haji, umrah, membagi zakat dan menyembelih kurban.
Referensi
فتح المعين الجزء الأول ص٣٧٧ أفتى بعضهم بأنه لو ترك من القراءة المستأجر عليها آيات لزمه قراءة ما تركه ولا يلزمه استئناف ما بعده وبأن من استؤجر لقراءة على قبر لا يلزمه عند الشروع أن ينوي أن ذلك عما استؤجر عنه أي بل الشرط عدم الصارف فإن قلت: صرحوا في النذر بأنه لا بد أن ينوي أنها عنه قلت: هنا قرينة صارفة لوقوعها عما استؤجر له ولا كذلك ثم ومن ثم لو استؤجر هنا لمطلق القراءة وصححناه: احتاج للنية فيما يظهر أو لالمطلقها كالقراءة بحضرته لم يحتج لها فذكر القبر مثال انتهى ملخصا.
إعانة الطالبين ج ٣ص١٣٥ يصرف القراءة لغير ما استؤجر عنه (قوله: صرحوا في النذر) أي نذر القراءة. وقوله أن ينوي، أي عند الشروع، وقوله أنها، أي القراءة. وقوله عنه، أي عما نذره (قوله: قلت هنا) أي في الاستئجار للقراءة على القبر (قوله: قرينة صارفة) أي وهي كونه عند القبر (قوله: لوقوعها) متعلق بصارفه، والضمير يعود على القراءة، (وقوله: عما استؤجر له) متعلق بوقوعها، وعن: بمعنى اللام، أي أن هنا قرينة تصرف القراءة لما استؤجر له.اه. رشيدي. بتصرف (قوله: ولا كذلك ثم) أي وليس في النذر قرينة تصرف القراءة لما ذكر، وانظر: لو نذر القراءة عند القبر فمقتضاه أنه لا يحتاج لنية لوجود القرينة. ثم رأيت سم كتب على قول التحفة، قرينة صارفة، ما نصه: إن كانت كونه عند القبر، فقد يرد ما نذر القراءة عنده (قوله: ومن ثم لو استأجر هنا الخ) أي ومن أجل أن عدم وجوب النية لوجود القرينة لو استؤجر لمطلق القراءة على القول بصحته احتاج للنية، فيما يظهر، لفقد القرينة (قوله: وصححناه) أي قلنا بصحة استئجار مطلق القراءة، أي على خلاف ما مر من الحصر في الأربع، والمعتمد عدم الصحة، لأن شرط الإجارة، عود منفعتها للمستأجر، وليس هنا منفعة تعود عليه فيما إذا استؤجر لقراءة مطلقة (قوله: أو لا لمطلقها) أي أو استؤجر لا لمطلق القراءة، (وقوله: كالقراءة بحضرته) أي المقروء له، وقوله لم يحتج لها، أي النية (قوله: فذكر القبر) أي في قول بعضهم، من استؤجر لقراءة على قبر، (وقوله: مثال) أي لا قيد، إذ المدار، على وجود القرينة الصارفة، سواء كانت هي كونه عند القبر، أو كونه بحضرة المقروء له، أو غير ذلك. تنبيه: قال في التحفة، ما اعتيد في الدعاء بعد القراءة من: اجعل ثواب ذلك، أو مثله مقدما إلى حضرته – صلى الله عليه وسلم -، أو زيادة في شرفه، جائز، كما قاله جماعة من المتأخرين، بل حسن مندوب إليه، خلافا لمن وهم فيه، لانه – صلى الله عليه وسلم – أذن لنا بأمره بنحو سؤال الوسيلة له في كل دعاء له بما فيه زيادة تعظيمه الخ. اه. وفي ع ش: فائدة جليلة: وقع السؤال عما يقع من الداعين عقب الختمات من قولهم، إجعل اللهم ثواب ما قرئ زيادة في شرفه – صلى الله عليه وسلم -، ثم يقول، واجعل مثل ثواب ذلك، وأضعاف أمثاله، إلى روح فلان، أو في صحيفته، أو نحو ذلك، هل يجوز ذلك، أم يمتنع، لما فيه من إشعار تعظيم المدعو إليه بذلك، حيث اعتني به فدعا له بأضعاف مثل ما دعا به للرسول – صلى الله عليه وسلم -؟. أقول: الظاهر أن مثل ذلك لا يمتنع، لأن الداعي لم يقصد بذلك تعظيما لغيره عليه الصلاة والسلام، بل كلامه محمول على إظهار احتياج غيره للرحمة منه سبحانه وتعالى، فاعتناؤه به، للاحتياج المذكور، وللإشارة إلى أنه – صلى الله عليه وسلم -، لقرب مكانته من الله عزوجل، الإجابة بالنسبة له محققة، فغيره، لبعد رتبته عما أعطيه عليه الصلاة والسلام، لا تتحقق الإجابة له، بل قد لا تكون مظنونة – فناسب تأكيد الدعاء له، وتكريره رجاء الإجابة
Referensi:
الموسوعة الفقهية – ٢٦١٢٩/٣١٩٤٩ نذر التعريف: ١ – النذر لغة: هو النحب، وهو ما ينذره الإنسان فيجعله على نفسه نحبا واجبا، يقال: نذر على نفسه لله كذا، ينذر، وينذر، نذرا ونذورا، كما يقال: أنذر وأنذر نذرا، إذا أوجبت على نفسك شيئا تبرعا، من عبادة أو صدقة، أو غير ذلك (١) . والنذر اصطلاحا: إلزام مكلف مختار نفسه لله تعالى بالقول شيئا غير لازم عليه بأصل الشرع (٢) الألفاظ ذات الصلة: أ – الفرض: ٢ – من معاني الفرض في اللغة: الإيجاب، يقال: فرض الأمر: أوجبه، وفرض عليه: كتبه عليه (١) . وفي الاصطلاح: ما يثاب الشخص على فعله، ويعاقب على تركه (٢) . والصلة بين النذر والفرض: أن النذر أوجبه الشخص على نفسه، والفرض وجب بإيجاب الشرع. ب – التطوع: ٣ – التطوع في اللغة: التبرع، يقال تطوع بالشيء تبرع به (٣) . وفي الاصطلاح: هو طاعة غير واجبة (٤) . والصلة بين التطوع والنذر أن النذر فيه التزام بالفعل، بخلاف التطوع فلا التزام فيه. ج – اليمين: ٤ – من معاني اليمين في اللغة: الحلف. لأنهم كانوا إذا تحالفوا ضرب كل واحد منهم يمينه على يمين صاحبه (٥) . واليمين اصطلاحا: تحقيق أمر غير ثابت، ماضيا كان أو مستقبلا، نفيا أو إثباتا، ممكنا أوممتنعا، مع العلم بالحال أو الجهل به (١) . مشروعية النذر: ٥ – لا خلاف بين الفقهاء في صحة النذر في الجملة، ووجوب الوفاء بما كان طاعة منه (٢) . وقد استدلوا على ذلك بالكتاب والسنة والإجماع. أما الكتاب الكريم فبآيات منها قوله تعالى: وليوفوا نذورهم (٣) ومنها ما قاله سبحانه في شأن الأبرار يوفون بالنذر ويخافون يوما كان شره مستطيرا (٤) .وما قاله جل شأنه: ومنهم من عاهد الله لئن آتانا من فضله لنصدقن ولنكونن من الصالحين فلما آتاهم من فضله بخلوا به وتولوا وهم معرضون فأعقبهم نفاقا في قلوبهم إلى يوم يلقونه بما أخلفوا الله ماوعدوه وبما كانوا يكذبون (١) وأما السنة النبوية المطهرة فبأحاديث منها ما ورد عن عائشة رضي الله عنها أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: من نذر أن يطيع الله فليطعه، ومن نذر أن يعصيه فلا يعصه (٢) وما ورد عن ابن عمر أن عمر بن الخطاب رضي الله عنهما سأل رسول الله صلى الله عليه وسلم فقال: يا رسول الله إني نذرت في الجاهلية أن أعتكف يوما في المسجد الحرام فكيف ترى؟ قال: اذهب فاعتكف يوما وفي رواية أخرى أنه قال للنبي صلى الله عليه وسلم: يا رسول الله، إني نذرت في الجاهلية أن أعتكف ليلة في المسجد الحرام. فقال النبي صلى الله عليه وسلم: أوف بنذرك (٣) .وما روى عمران بن الحصين رضي الله عنه أن النبي صلى الله عليه وسلم قال: خير أمتي قرني، ثم الذين يلونهم، ثم الذين يلونهم،ثم إن بعدكم بقوما يشهدون ولا يستشهدون، ويخونون ولا يؤتمنون، وينذرون ولا يفون، ويظهر فيهم السمن (١) . وأما الإجماع فحكى ابن رشد (الحفيد) اتفاق الفقهاء على لزوم النذر المطلق في القرب، وقال ابن قدامة: أجمع المسلمون على صحة النذر في الجملة، ولزوم الوفاء به (٢) . حكم النذر: ٦ – اختلف الفقهاء في فى صفة النذر الشرعية على اتجاهين: الاتجاه الأول: يرى أن النذر مندوب إليه، وإن كان لبعضهم تفصيل في نوع النذر الذي يوصف بذلك. فقد ذهب الحنفية إلى أن النذر قربة مشروعة، ولا يصح إلا بقربة لله تعالى من جنسها واجب. وذهب المالكية إلى أن النذر المطلق – وهو الذي يوجبه المرء على نفسه شكرا لله على ما كان ومضى – مستحب. وذهب القاضي والغزالي والمتولي من الشافعية إلى أن النذر قربة. وقال ابن الرفعة: الظاهر أنه قربة في نذر
Syarat-Syarat Nadzar
موسوعة الفقهية ;2778/31949 شرائط النذر، وهي: الإسلام والبلوغ والعقل والحرية والاختيار، ولتفصيلها يراجع باب النذر.
الموسوعة الفقهية – ٢٥٢٣/٣١٩٤٩ (٦) النذر، فيشترط إسلام الناذر، لأن النذر لا بد أن يكون قربة، وفعل الكافر لا يوصف بكونه قربة. وهذا مذهب الحنفية والمالكية وظاهر مذهب الشافعية. ويصح عند الحنابلة. قال صاحب كشاف القناع: (١) ويصح النذر من كافر ولو بعبادة، لحديث عمر رضي الله عنه قال: قلت يا رسول الله: إني كنت نذرت في الجاهلية أن أعتكف ليلة، فقال النبي صلى الله عليه وسلم: أوف بنذرك. (٢)
الموسوعة الفقهية – ٢٥٦٣٩/٣١٩٤٩ ح – النذر: ٨٨ – إذا مات من وجب عليه النذر دون أن يفي به، فهل يبطل التزامه بالموت أم لا؟ فرق الفقهاء في ذلك بين النذرالمالي كالصدقة والعتق ونحوهما، وبين غير المالي كالصلاة والصوم والحج والاعتكاف ونحوها، وبيان ذلك فيما يلي: أ – النذر المالي: ٨٩ – اختلف الفقهاء في حكم من نذر في صحته ونحوها، ثم مات قبل الوفاء بنذره وذلك على قولين: القول الأول: للحنفية والمالكية، وهو عدم سقوط النذر بموته إذا أوصى بأن يوفى من ماله، ويخرج من ثلثه كسائر الوصايا، فإن لم يوص به سقط في أحكام الدنيا، ولا يجب على الورثة إخراجه من مالهم إلا أن يتطوعوا به (١) . القول الثاني: للشافعية والحنابلة، وهو أن النذر لا يسقط بموته، بل يؤخذ من رأس مال تركته كسائر ديون الله تعالى أوصى بذلك أو لم يوص به (٢) . ب – النذر غير المالي: ٩٠ – فرق الفقهاء في ذلك بين ما إذا كان المنذور به حجا أو صوما أو صلاة أو اعتكافا على النحو التالي: أ – فإن كان النذر صلاة، فمات الناذر قبل فعلها فقد ذهب جمهور الفقهاء من الحنفية والمالكية والشافعية والحنابلة إلى سقوطها بموته، فلا يصلي أحد عن الميت، لأن الصلاة لا بدل لها، وهي عبادة بدنية لا ينوب أحد عن الميت في أدائها (١) . ب – وإن كان النذر حجا، ومات الناذر قبل التمكن من أدائه لأي عذر من الأعذار الشرعية فقد اختلف الفقهاء في ذلك على قولين: أحدهما: للحنفية والمالكية والشافعية، وهو أنه يسقط عنه ولا شيء عليه (٢) .والثاني: للحنابلة في المذهب، وهو أنه يجب أن يخرج عنه من جميع ماله ما يحج به عنه، ولو لم يوص بذلك (١) .وإذا مات بعد أن تمكن من أدائه ولم يحج، فقد اختلف الفقهاء في سقوطه على قولين: القول الأول: للحنفية والمالكية، وهو أنه يسقط بوفاة الناذر، ولا يلزم ورثته الحج عنه، فلا يؤخذ من تركته شيء لأجل قضاء ما وجب عليه من حج إلا إذا أوصى بذلك، فإنه ينفذ في حدود ثلث تركته (٢) . القول الثاني: للشافعية والحنابلة، وهو أنه صار بالتمكن دينا في ذمته، ويجب قضاؤه من جميع تركته إن ترك مالا، بأن يحج وارثه عنه أو يستأجر من يحج عنه، سواء أوصى بذلك أو لم يوص، فإن لم يترك مالا، بقي النذر في ذمته، ولا يلزم الورثة بقضائه عنه (٣) .ج – وإن كان النذر صوما، فمات الناذر قبل فعله فقد اختلف الفقهاء في سقوطه على قولين: أحدهما: للحنفية والمالكية والشافعية في المذهب، وهو أن الصوم يسقط بموته، فلا يصوم عنه أحد، لأن الصوم الواجب جار مجرى الصلاة، فكما أنه لا يصلي أحد عن أحد، فلا يصوم أحد عن أحد (١) . والثاني: للحنابلة والشافعي في القديم، وهو أنه لا يسقط بموته، ويصوم عنه وليه، وذلك لأن النذر التزام في الذمة بمنزلة الدين، فيقبل قضاء الولي له كما يقضي دينه.غير أن الصوم ليس بواجب على الولي في قول الحنابلة والشافعي في القديم، بل هو مستحب له على سبيل الصلة له والمعروف …..والله أعلم بالصواب
Pada mulanya perkataan Ahli sunnah wal jamaah lebih memberikan konotasi aqidah atau keimanan. Tetapi perkembangan selanjutnya justru konotasi madzhab dalam istilah ahli sunnah waljamaah terasa lebih kuat terutama dikalangan Nahdlatul ulama .Bahkan jika Istilah Ahlussunnah wal jamaah disebut, sering terkesan adanya sistem bermadzhab , bermadzhab yang dimaksud adalah taqlidnya orang awam atau orang yang tidak sampai derajat ijtihad kepada madzhab Imam mujtahid baik secara terus menerus atau berpindah-pindah dari madzab yang satu kepada madzhab yang lainnya. Sehubungan dengan hal tersebut, kita ketahui bahwa masyarakat Indonesia mayoritas bermadzhab Syafi’iyah namun demikian tidak sedikit kita mengetahui dari teman yang ketika berhaji masyarakat yang menyentuh lain jenis utamanya ketika melakukan thowaf, itu sering terjadi dikarenan oleh desakan banyak orang sedangkan syaratnya thowaf harus punya wudhu .Ketika si Ahmad thowaf dia menyentuh perempuan dan setelah selesai thowaf dia ingat bahwa dia batal wudhunya, disebabkan sentuhan tersebut.
Studi kasus yang sama
Ahmad melakukan sholat dan setelah shalat dia baru ingat bahwa dirinya hadats ( batal wudhu’nya) karena kentut dll
Pertanyaannya. Bolehkah seseorang taqlid kepada salah seorang Imam madzhab setelah Amal ( setelah melakukan ) seperti deskripsi semisal taqlid kepada Imam malikiy yang tidak batal wudhu’ karena kentut..?atau taqlid pada Imam Hanafi yang tidak batal wudhu’ menyentuh Non muhrim.?
Waalaikum salam.
Jawaban.
Boleh untuk taqlid setelah wujudnya amal, taqlid yang dimaksud adalah mengamalkan perkataan salah satu imam mujtahid dengan tanpa mengetahui dalil-dalilnya, ketika seseorang berniat taqlid kepada salah seorang mujtahid, maka sudah dianggap cukup bahkan hukumnya taqlid adalah wajib, yang terjadi pada hal yang baru. Dan haram bagi imam mujtahid. Dan diperbolehkan bagi seseorang memilih dalam permulaan taqlid pada salah satu dari madzhab yang empat, kemudian setelah taqlid boleh pindah pada madzhab yang lain, sama saja pindahnya selamanya atau pindah dalam sebagian beberapa hukum saja, walaupun tanpa keperluan. Ini menurut pendapat yang kuat. Dengan kata lain” Taqlid adalah mengikuti ( mengamalkan ) pendapatnya salah satu imam mujtahid tentang suatu hukum agama Islam tanpa memperhatikan benar atau salahnya, baik buruknya, manfaat dan mafsadahnya atau tanpa mengetahui alasan dalil Nya”. Berbeda dengan ” It-Tiba’ adalah mengikuti pendapat orang dengan mengerti alasan ( dalil-dalilnya). ” Namun demikian seseorang tidak serta merta taqlid melaikan harus mengetahui terhadap syaratnya, artinya boleh mentaqlid setelah amal sebagamana deskripsi dengan catatan jika muqollid memenuhi dua persayaratan”:
1).Ketika amal dia tidak tahu akan rusaknya sesuatu yang dilakukan atau karena lupa. 2).Imam yang hendak untuk diikuti juga memperbolehkan akan adanya taqlid setelah amal.
(بغية المسترشدين للسيد باعلوي الحضرمي ص ١٠)
( مسألة: ك ) : يجوز التقليد بعد العمل بشرطين: أن لا يكون حال العمل عالماً بفساد ما عنّ له بعد العمل تقليده، بل عمل نسيان للمفسد أو جهل بفساده وعذر به، وأن يرى الإمام الذي يريد تقليده جواز التقليد بعد العمل، فمن أراد تقليد أبي حنيفة بعد العمل سأل الحنفية عن جواز ذلك، ولا يفيده سؤال الشافعية حينئذ، إذ هو يريد الدخول في مذهب الحنفي، ومعلوم أنه لا بد من شروط التقليد المعلومة زيادة على هذين اهـ. وفي ي نحوه، وزاد: ومن قلد من يصح تقليده في مسألة صحت صلاته في اعتقاده بل وفي اعتقادنا، لأنا لا نفسقه ولا نعدّه من تاركي الصلاة، فإن لم يقلده وعلمنا أن عمله وافق مذهباً معتبراً، فكذلك على القول بأن العامي لا مذهب له، وإن جهلنا هل وافقه أم لا لم يجز الإنكار عليه.
Referensi :
تنوير القلوب فى معاملة علام الغيوب (تأليف مولانا العارف بالله المحوم) الشيخ محمد آمين الكردى الإربلي الشافعى مذهبا النقشبندي مشربا.ص ٣٩٦
{فصل فى حكم التقليد وشروطه} وهو العمل بقول المجتهد من غير معرفة دليله ومتى نواه بقلبه كفى وإن لم ينطق به وهو واجب على غير المجتهد وحرام على المجتهد فيما يقع له من الحوادث ويتخير الشخص إبتداء فى تقليد أى مذهب من مذاهب الأربعة ثم تقليده لأى مذهب يجوز له الإنتقال منه إلى مذهب آخر سواء انتقل دواما أو فى بعض الأحكام ولو لغير حاجة على المعتمد…الخ
Dalam kitab fiqih dijelaskan bahwa diantara syarat Qurban menurut Madzhab yang empat harus berupa “An-Na’amu” ( Kambing, sapi, kerbau dan Unta ), Namun ada dikalangan sahabat ( Ibnu Abbas ) memperbolehkan bagi orang yang tidak mampu/fakir berqurban dengan Ayam.
Setudi kasus yang serupa.
Wanita hamil dan menyusui boleh ruhshoh tidak berpuasa, dengan ketentuan:
a). Jika hawatir terhadap anaknya, namun dia wajib qodlho’ dan bayar fidyah ini menurut mayoritas ulama’ selain madzhab Hanafi.
b). Jika hawatir atas dirinya, maka wajib qodlo’ namun tidak wajib bayar fidyah.
c). Jika hawatir terhadap dirinya dan anaknya, maka wajib bayar fidyah hal ini disamakan dengan orang yang lanjut usia, harus membayar fidyah tanpa qodho’, ini jika mampu( fidyah) namun boleh tidak membayar jika kondisinya tidak berkemampuan( Menurut Ibnu Abbas).
Artinya: “Engkau termasuk orang yang berat berpuasa, maka engkau wajib membayar fidyah dan tidak usah mengganti puasa (qadla).” [HR. al-Bazar dan dishahihkan ad-Daruquthni]
Artinya: “Diriwayatkan dari Anas bin Malik, bahwa ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda: Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla telah membebaskan puasa dan separuh shalat bagi orang yang bepergian serta membebaskan puasa dari perempuan yang hamil dan menyusui.” [HR. an-Nasa’i]
Pertanyaannya. Bolehkah taqlid kepada selain madzhab yang empat, ( mentaqlid kepada sahabat) yang memperbolehkan Qurban/aqiqoh berupa ayam ? Begitujuga taqlid kepada sahabat yang memperbolehkan hanya membayar fiyah jika mampu dan jika tidak maka tidak usah sebagaimana deskripsi ?
Waalaikum salam. Jawaban.
Ulama berbeda pendapat:
🅰️.Boleh taqlid pada shohabat dan tabiin berdasarkan hadits Nabi SAW.
Telah menceritakan kepada kami [Muhammad bin Katsir] telah mengabarkan kepada kami [Sufyan] dari [Manshur] dari [Ibrahim] dari [‘Ubaidah] dari [‘Abdullah radliallahu ‘anhu] dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sebaik-baik manusia adalah orang-orang yang hidup pada zamanku (generasiku) kemudian orang-orang setelah mereka kemudian orang-orang setelah mereka. Kemudian akan datang sebuah kaum yang persaksian seorang dari mereka mendahului sumpahnya dan sumpahnya mendahului persaksiannya”. Ibrahim berkata; “Dahulu, mereka (para shahabat) mengajarkan kami tentang bersaksi dan memegang janji (Mereka memukul kami bila melanggar perjanjian dan persaksian) “.[Bukhari]
🅱️.Tidak boleh mentaqlid kepada selain madzhab empat sebagaimana Imam Ibnu Sholah mengutip ijma’ tidak diperbolehkannya taqlid pada selain imam empat meskipun beramal untuk diri sendiri apa lagi untuk dijadikan sebuah keputusan atau memfatwakannya dengan alasan tidak adanya kevalidan (kurang akurat).Namun sebagian ulama memperbolehkan untuk selain fatwa (fatwa seorang mujtahid) .Bahkan Imam Izzuddin bin AbdusSalam berpendapat, yang penting seseorang yang taqlid punya sangkaan kuat akan keabsahan madzhab yang diikuti maka tidak masalah (sah sah saja) meskipun dari selain madzhab empat.
(اعانة الطالبين ص١٧جز١)
نقل ابن الصلاح الاجماع على انه لايجوز تقليد غير الائمة الاربعة اى حتى العمل لنفسه فضلا عن القضاء والفتوى لعدم الثقة بنسبتها لاربابها .
(اصول الفقه الاسلامى ج٢ص ١١٦٨ )
اختلف العلماء فيه : فقال اكثر المتأخرين لايجوز تقليد غير الائمة الاربعة من المجتهدين ……واجاز بعض العلماء تقليد غير الائمة الاربعة فى غير الافتاء ….وقال العز بن عبد الصلام ان المدار على ثبوت المذهب عند المقلد وغلبة الظن على صحته عنده فحيث ثبت عنده مذهب من المذاهب صح له ان يقلده ولوكان صاحب المذهب من غير الائمة الاربعة
Sedangkan mengikuti tindakan orang ‘alim tanpa penjelasan darinya hukumnya tidak diperkenankan bagi orang yang tidak tahu (jahil), mengikuti orang yang alim hanya melihat pekerjaannya saja, melainkan harus adanya klarifikasi terlebih dahulu. Lain halnya menurut Imam Ibnu Qosim yang menyatakan boleh.
(ترشيح المستفيدين ص ٤)
وليس للجاهل تقليد العالم فى فعله شيأ بمجرد كونه فاعلا له قال الفزاري وجنح س م الى أن له ذلك. قيل والأحاديث الصحيحة تؤيده قال السيد عمر نقلا عن ابن زياد أن العامي اذا وافق فعله مذهب إمام يصح تقليده صح فعله وإن لم يقلده توسعة على عباد الله تعالى.
فقه الإسلامي وأدلته
– العجز عن الصيام، فتجب باتفاق الفقهاء على من لا يقدر على الصوم بحال، وهو الشيخ الكبير والعجوز، إذا كان يجهدهما الصوم ويشق عليهما مشقة شديدة، فلهما أن يفطرا ويطعما لكل يوم مسكيناً، للآية السابقة: {وعلى الذين يطيقونه فدية طعام مسكين} [البقرة:184/ 2] وقول ابن عباس: «نزلت رخصة للشيخ الكبير» ولأن الأداء صوم واجب، فجاز أن يسقط إلى الكفارة كالقضاء. والشيخ الهمّ (1) له ذمة صحيحة، فإن كان عاجزاً عن الإطعام أيضاً فلا شيء عليه، و {لا يكلف الله نفساً إلا وسعها} [البقرة:286/ 2] وقال الحنفية: يستغفر الله سبحانه، ويستقبله أي يطلب منه العفو عن تقصيره في حقه.
الفقه الإسلامي و أدلته.١٦٨١/٧٧٢٢ –
والمرضع إذا خافتا على ولدهما، أما إن خافتا على أنفسهما، فلهما الفطر، وعليهما القضاء فقط، بالاتفاق. ودليله الآية السابقة: {وعلى الذين يطيقونه فدية .. } [البقرة:١٨٤/ ٢] وهما داخلتان في عموم الآية، قال ابن عباس: «كانت رخصة الشيخ الكبير والمرأة الكبيرة، وهما يطيقان الصيام أن يفطرا، ويطعما مكان كل يوم مسكيناً، والحبلى والمرضع إذا خافتا على أولادهما أفطرتا وأطعمتا» (١)، ولأنه فطر بسبب نفس عاجزة من طريق الخلقة، فوجبت به الكفارة كالشيخ الهرم. ولا تجب عليهما الفدية مطلقاً عند الحنفية، لحديث أنس بن مالك الكعبي: «إن الله وضع عن المسافر شطر الصلاة، وعن الحامل والمرضع الصوم ـ أو الصيام ـ والله لقد قالها رسول الله صلّى الله عليه وسلم، أحدهما أو كليهما» (٢) فلم يأمر بكفارة، ولأنه فطر أبيح لعذر، فلم يجب به كفارة كالفطر للمرضى. ورأي الجمهور أقوى وأصح لدي؛ لأنه نص في المطلوب، وحديث أنس مطلق لم يتعرض للكفارة.
Hawi al-Kabir Jilid 16 Halaman 52 [(Masalah)] Asy-Syafi’i rahimahullah berkata: “Adapun mengikuti (taqlid) seseorang, maka Allah tidak menjadikannya bagi seorang pun setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.” Adapun taqlid adalah menerima perkataan tanpa dalil. Kata ini diambil dari kata “qiladah al-‘unuq” (kalung leher), karena orang yang menerima perkataan orang lain menjadikannya seperti kalung di lehernya. Taqlid itu ada dua macam: ada yang diperintahkan dan ada yang dilarang. Adapun yang diperintahkan adalah taqlid dalam berita, persaksian, dan taqlidnya orang awam kepada orang alim dalam hal-hal yang khusus dalam ilmunya. Hal ini telah kami jelaskan secara rinci di awal kitab kami ini. Adapun yang dilarang adalah taqlid dalam hal yang diyakini sebagai ilmu, atau diputuskan sebagai hukum, atau difatwakan sebagai berita. Ini adalah hal yang terlarang, tidak akan tegak ilmu dengannya, tidak sah hukum dengannya, dan tidak boleh berfatwa dengannya. Larangan ini berlaku sama baik bagi taqlid kepada orang yang sezaman, orang yang terdahulu, maupun orang yang setara atau lebih tinggi ilmunya. Sebagian ahli fikih membolehkan taqlid kepada ulama salaf dan orang yang sezaman yang lebih tinggi ilmunya, berdasarkan firman Allah Ta’ala: “Maka bertanyalah kepada orang-orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui.” (QS. An-Nahl: 43). Sebagian ahli hadis membolehkan taqlid kepada sahabat dan tabiin saja, tidak kepada selain mereka, berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Sebaik-baik manusia adalah generasiku, kemudian orang-orang setelah mereka.” Sebagian lain dari mereka membolehkan taqlid kepada sahabat saja, tidak kepada tabiin, berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Sahabat-sahabatku bagaikan bintang-bintang, kepada siapa pun di antara mereka kamu mengikuti, kamu akan mendapatkan petunjuk.” Sebagian lain dari mereka membolehkan taqlid kepada Khulafa’ Rasyidin yang empat saja dari kalangan sahabat, tidak kepada selain mereka, berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Berpegang teguhlah pada sunnahku dan sunnah Khulafa’ Rasyidin setelahku.” Sebagian lain membolehkan taqlid kepada Abu Bakar dan Umar radhiyallahu ‘anhuma saja, berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Ikutilah dua orang setelahku: Abu Bakar dan Umar.” Dalil atas rusaknya taqlid dan wajibnya kembali kepada dalil-dalil pokok adalah firman Allah Ta’ala: “Tentang sesuatu apa pun kamu berselisih, maka hukumnya kembali kepada Allah.” (QS. Asy-Syura: 10) dan firman-Nya Ta’ala: “Niscaya orang-orang yang sanggup memahami kebenarannya (akan dapat) mengetahuinya dari mereka (para pemberi peringatan).” (QS. An-Nisa’: 83). Allah menafikan adanya ilmu bagi selain orang yang mampu mengambil kesimpulan hukum (mustanbit). Diriwayatkan bahwa ‘Adi bin Hatim datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan di lehernya terdapat salib atau berhala. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Mereka menjadikan para pendeta dan rahib mereka sebagai tuhan selain Allah.” ‘Adi berkata: “Kami tidak menjadikan mereka sebagai tuhan.” Beliau bersabda: “Bukankah mereka mengharamkan apa yang halal bagi mereka, dan menghalalkan apa yang haram bagi mereka?” ‘Adi menjawab: “Benar.” Beliau bersabda: “Maka itulah ibadah.” Dan karena keadaan orang yang bertaklid tidak lepas dari dua kemungkinan: ia bertaklid kepada seluruh manusia atau sebagian mereka. Jika ia bertaklid kepada seluruh manusia, maka ini tidak mungkin karena perbedaan pendapat mereka. Jika ia bertaklid kepada sebagian mereka, maka perkataan orang yang ia taklidi tidak lebih utama daripada perkataan orang yang ia tinggalkan. Jika ia mengunggulkan salah satunya, maka ia telah menjadi orang yang berdalil (mustadil). Kemudian dikatakan kepada orang yang bertaklid: “Apakah kamu mengikuti taqlid dengan dalil atau tanpa dalil?” Jika ia menjawab dengan dalil, maka ia telah menyalahi perkataannya sendiri dan menjadi orang yang berdalil (mustadil) dan bukan lagi orang yang bertaklid. Jika ia menjawab tanpa dalil, maka dikatakan kepadanya: “Mengapa kamu tidak mengikuti orang yang mengatakan batalnya taqlid?” Maka ia tidak akan menemukan jalan keluar kecuali dengan dalil, sehingga batallah taqlid dengan dalil. Dan dalam perintah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk mengikuti para sahabatnya terdapat hal yang mewajibkan untuk meninggalkan taqlid. Karena ketika mereka berselisih pendapat dalam masalah kakek, ‘aul (penambahan bagian waris), dan lain-lain, mereka berdalil dan tidak saling bertaklid satu sama lain.
Anak merupakan anugrah Allah yang diberikan kepada orang yang dikehendakinya kerana tidak setiap manusia memilikinya walaupun dengan ikhtiar apapun yang mereka lakukan, kecuali dengan kehendaknya ( Allah ) , ini sangat benar sebagaimana telah difirmankan oleh Allah dalam kitabnya yang Mulia ( Al-Qur’an al-Karim ).
Kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi, Dia menciptakan apa yang Dia kehendaki. Dia memberikan anak-anak perempuan kepada siapa yang Dia kehendaki dan memberikan anak-anak lelaki kepada siapa yang Dia kehendaki, [shura: 49]
Ketika suami istri lama dan bertahun-tahun tidak punya keturunan, tentu sebagian merasa kesepian dan cemas hidupnya kurang begitu semangat, karena satu-satu harapan yang dapat diandalkan didunia dan diakhirat adalah do’a anak yang sholeh dan sholehah, namun demikian jangan berputus asa untuk mendapatkannya, karena anak, dan lagit ,bumi dan seisinya sebagaimana tersebut adalah ciptaan Allah, sedangkan manusia hanya wajib usaha, maka sangat keliru ketika seseorang ditanya kamu punya anak..? Jawab Tidak, lalu ada tanggapan cepat-cepatlah membuat anak, inilah keliru, maka yang benar seringlah bergaul ( ikhtiyar/bersetubuh) dengan istrimu agar punya anak. Ketika seseorang telah dianugerahi anak, dan dari saking kembiranya dan bangganya, maka tidak sedikit para ibu-ibu atau para bapak menuliskan asma’ Allah dikening anaknya, apakah itu bertujuan untuk terjaga atau penolak dari gangguan jin, syaitan atau yang lainnya, atau hanya untuk tabarrukan itu ada pada orang yang bersangkutan, namun sangat disayangkan terkadang anak itu sampai dibawa ke WC ketika buang Air besar atau ketika akan mandi.
Pertanyaannya.
1).Adakah dalil Al-Qur’an atau hadits pun aqwal Ulama yang menganjurkan menulis asma dikening anak bayi..?
2).Dosakah jika anak yang dikeningnya ada tulisan kalimat Allah dibawa ke WC.
Waalaikum salam.
Sebenarnya tidak ada Dalil yang warid tentang anjuran menulis asmaa’ dikening bayi baik dari Al Qur’an maupun Hadits. Hanya saja banyak para Masyaikh melakukan ini (yaitu menulis Asma’ul Husna satu persatu setiap hari di dahi bayi yang di lahirkan), apa yang dilakukan itu karena alasan Istihsan, yaitu menganggap baik perbuatan tersebut dengan beberapa alasan yang diantaranya adalah :
🅰️.TABARRUKAN (Mengambil keberkahan) dari Asma’ul Husna yang di tulis itu.
🅱️.Mengaharap agar sang anak nantinya memiliki sifat-sifat yang baik sebagaimana sifatnya Allah subhaanahu wa ta’alaa yang di tulis tersebut.
Jadi intinya alasan menulis Asmaa’ tersebut adalah karena Istihsan (penganggapan) baik dari para Ulama’, hukumnya Tidak Wajib. Bagi yang ingin melakukannya boleh, dan bagi yang tidak mau melakukannya juga boleh. Tapi jangan di katakan ini adalah Bid’ah, karena ini bukan sebuah Ibadah, dan para Ulama’ juga tidak mengatakan ini adalah sebuah Ibadah.
Dari paparan diatas dapat disimpulkan bahwa, penulisan asmaa’ tersebut boleh- boleh saja dengan alasan : karena tulisan itu tidak di tulis di tempat/ bagian tubuh anak yang hina, kotor atau Najis, bahkan tulisan itu di tulis di bagian yang mungkin lebih terhindar dari itu semua. Dan selanjutnya tulisan tersebut harus di jaga, karena Asma’ul Husna termasuk dari tulisan- tulisan yang harus di agungkan, tidak boleh direndahkan. Sehingga jangan sampai terkena Najis, apalagi dibawa ke WC dan hendaknya tulisan itu di hapus terlebih dahulu, karena tidak dengan cara yang demikian maka hukumnya ” DOSA” ketika hendak membawa anak/ bayi tersebut ke tempat- tempat seperti WC dengan tidak dihapus terlebih dahulu.
Referensi :
حاشية إعانة الطالبين ج ١ ص ١٨٦ قال الاذرعي : والمتجه تحريم إدخال المصحف ونحوه الخلاء من غير ضرورة، إجلالا له وتكريما اه. قال الاسنوي وكمال محاسن الشريعة تحريم بقاء الخاتم الذي عليه ذكر الله في اليسار حال الاستنجاء وهو ظاهر إذا أفضى ذلك إلى تنجسه اه ملخصا . وينبغي حمل كلام الاذرعي على ما إذا خيف عليه التنجيس اه. الإقناع ج ١ ص ٩٠ ويكره كتب القرأن على حائط ولو لمسجد و ثياب و طعام و نحو ذلك و يجوز هدم الحائط و لبس الثوب وأكل الطعام.
حاشية الباجوري ج ١ ص ١١٧ ويحل لبس الثياب التي نقش عليها شيئ من القرأن والنوم فيها ولو للجنب. حاشية إعانة الطالبين ج ١ ص ١٠٨ – ١٠٩ و يندب لداخل الخلاء أن يقدم يساره ويمينه لانصرافه بعكس المسجد وينحى ما عليه معظم من قرأن و اسم نبي أو ملك ولو مشتركا كعزيز واحمد ان قصد به معظم، قوله و ينحى أى يندب له أن ينحى أى يزيل منه الشيئ الذي كتب عليه معظم. نهاية المحتاج ج ١ ص ٣٩٩ ( ولا يحمل ذكر الله تعالى ) أي مكتوب ذكره من قرآن أو غيره مما يجوز حمله مع الحدث ويلحق بذلك أسماء الله تعالى وأسماء الأنبياء وإن لم يكن رسولا ، والملائكة سواء عامتهم وخاصتهم ، وكل اسم معظم مختص أو مشترك وقصد به التعظيم أو قامت قرينة قوية على أنه المراد به ، والأوجه أن العبرة بقصد كاتبه لنفسه وإلا فالمكتوب له لما صح من { أنه صلى الله عليه وسلم كان إذا دخل الخلاء وضع خاتمه وكان نقشه محمد رسول الله محمد سطر ورسول سطر والله سطر } قال في المهمات وفي حفظي أنها كانت تقرأ من أسفل ليكون اسم الله تعالى فوق الجميع وشمل ذلك ما لو حمل معه مصحفا فيه فيكره . الفتاوى الفقهية الكبرى ج ٢ ص ٦ فقد أفتى الإمام ابن الصلاح بأنه لا يجوز كتابة شيء من القرآن على الكفن صيانة له عن صديد الموتى ومثل ذلك الكتاب الذي يسمونه كتاب العهدة ينبغي أن لا يجوز وأقر ابن الصلاح على ذلك الأئمة بعده وهو ظاهر المعنى جدا فإن القرآن وكل اسم معظم كاسم الله أو اسم نبي له يجب احترامه وتوقيره وتعظيمه ولا شك أن كتابته وجعله في كفن الميت فيه غاية الإهانة له إذ لا إهانة كالإهانة بالتنجيس ونحن نعلم بالضرورة أن ما في كفن الميت لا بد وأن يصيبه بعض دمه أو صديده أو غيرهما من الأعيان النجسة التي بجوفه فكان تحريم وضع ما كتب فيه اسم معظم في كفن الميت مما لا ينبغي التوقف فيه نهاية المحتاج إلى شرح المنهاج ج ١ ص ٣٨٣ ( فرع ) وضع المصحف أو شيئا منه ووضع عليه مأكولا كالخبز وملح وأكله فوقه ينبغي أن يحرم ؛ لأن فيه إزراء وامتهانا .( فرع ) الوجه تحريم لزق أوراق القرآن ونحوه بالنشا ونحوه في الأقباع ؛ لأن فيه إزراء وامتهانا تأمل ا هـ سم على منهج
Menulis asma’ asma’ sebagai media penolak penyakit atau pengobatan
سئل رضي الله عنه : عن كتابة الأسماء التي لايعرف معناها والتوسل بها هل ذلك مكروه أو حرام ؟ وهل هو مكروه في الكتابة والتوسل بتلك الأسماء التي لايعرف معناها أو حرام في التوسل دون الكتابة ؟ فقد نقل عن الغزالي أنه لايحل لشخص أن يقدم على أمر حتى يعلم حكم الله فيه, وهل فرق في ذلك بين ما وجد في كتب الصالحين كعبد الله بن أسعد اليافعي وغيره أم لا ؟ فأجاب بقوله : الذي أفتي به العز بن عبد السلام كما ذكرته عنه في شرح العباب : أن كتب الحروف المجهولة للأمراض لايجوز الإسترقاء بها ولاالرقي بها لاسنه صلى الله عليه وسلم لما سئل عن الرقي قال ” اعرضوا علي رقاكم فعرضوها فقال لاباس ” وإنما لم يأمر بذلك لأن من الرقي ما يكون كفرا وإذا حرم كتبها حرم التوسل بها. نعم إن وجدناها في كتاب من يوثق به علما ودينا فأن أمر بكتابتها أو قراءتها احتمل القول بالجواز حينئذ, لأن أمره بذلك الظاهر أنه لم يصدر منه إلا بعد إحاطته واطلاعه على معناه وأنه لا محذور في ذلك . وإن ذكرها على سبيل الحكاية عن الغير الذي ليس هو كذلك أو ذكرها ولم يأمر بقراءتها ولا تعرض لمعناها فالذي يتجه بقاء التحريم بحاله. ومجرد ذكر إمام لها لايقتضي أنه عرف معناها فكثيرا من أحوال أرباب هذه التصانيف يذكرون ما وجدوه من غير فحص عن معناه ولا تجربة لمبناه. (الفتاوي الحديثية ص: 47)
Diperbolehkan bagi seseorang menulis asma’ asma’ sebagai media pengobatan selama bisa diketahui ma’nanya .Karena dikhawatirkan asma’ tersebut termasuk jenis dari kalimat yang mengandung kekufuran .Kecuali bila kita temukan dari kitab kitab ulama yang dapat dipercaya ilmu dan agamanya ,maka diperbolehkan.Wallahu A’lam bisshowab.
Dimasyarat sudah mentradisi, jika ada orang tertimpa musibah berupa kematian baik yang meninggal itu ahlinya atau atau tetangganya, biasanya shohibul kifayah, memberikan jamuan, kepada penta’ziah ( para pelayat) tak terkecuali orang yang menshalatkan mayit dikasih pesangon berupa uang. Adapun jamuan itu mulai hari pertama hingga hari ketujuh ini yang lumrah. Bila mayit tergolong orang kaya, pesangon dan jamuan makan itu diambilkan dari harta peninggalan (tirkahnya) sebelum dibagi-bagikan diantara ahli warisnya. Sedang bila mayit termasuk orang miskin, jamuan dan pesangon-pesangonnya itu terkadang juga diperoleh dari bantuan /sumbangan cuma-cuma dari saudara-saudara kerabat mayit, baik berupa makanan koue dll. begitu juga teman-teman dekat mayit dan seluruh kenalannya yang peduli ikut membantu. Namu di sisi lain, kebisaaan ini mengandung sistem putar, dalam roda-roda kegidupan artinya, bila yang meninggal keluarga Aminah misalkan bernama Shohibah maka masyarakat menyumbang kepada shahibul musibah ( Aminah) Misalkan uang sebesar Rp 20.000 maka bagi masyarakat bila ada keluarganya yang meninggal maka Aminah memberi sumbangan juga dengan nominal yang sama Rp.20.000 dan begitu seterusnya. Namun yang menjadi pertimbangan adalah bila hal tersebut tidak dilakukan, dikhawatirkan tidak ada orang yang takziah,( melayat) sedangkan tradisi ini berpotensi menghabiskan tirkah (harta peninggalan ) mayit, jika mayit termasuk orang miskin, maka tidak ada ifroz tarikah (pemilahan harta peninggalan mayit).
Pertanyaan:
Bagaimanakah hukum tradisi di atas dan status uang yang diterima ?
Waalaikum salam
Jawaban
Kebiasaan di atas di hukumi boleh dan sunnah dengan niat bersedekah untuk mayit, namun bisa jadi haram apabila :
A.Jamuan atau uang diberikan di ambilakan dari harta peninggalan mayit (tirkah) sebagian ahli waris ada yang mahjur ‘alaih.
B.Mayit punya hutang yang bisa menghabiskan tirkah.
C. Ada sebagian ahli waris yang tidak ridho.
Selanjutnya status uang yang di terima adalah halal dan bisa termasuk shodaqoh, atau hibah atau qordu, bergantung pada niatan yang menyumbang dan kebiasaan ( urf) jika kebiasaan nya misalkan sebagai qord maka shahibul musibah ( Aminah)wajib mengembalikan uang dengan nominal yang sama, ketika masyarakat yang menyumbang mendapatkan musibah, hal ini diqiyaskan pada acara walimah al-Hitan atau Nikah.
REFERENSI
بلوغ الأمنية ص ١٢٥
الوجه الثاني : أن اتخادهم الطعام المذكور : أما بدعة مكروهة لاتنفذ به الوصية إن كان لنحو نائحة أو رثاء وعلى ذلك حملوا ما رواه أحمد وابن ماجه فى إسناد صحيح عن جرسر بن عبد الله رضي الله عنه قال : كنا نعد الإجتماع إلى أهل الميت وصننعهم الطعام من النحاية . وإما بدعة مكروهة تنفذ به الوصية عند المالكية , وكذا عند الشافعية على الصحيح إن اتخذ لا لنحو ذلك , بل لإطعام المعزين لتصريحهم بكراهة اجتماع أهل الميت للعزاء . وإما بدعة مندوبة مثاب عليها حيث قصد بذلك إطعام المعزين لدفع ألسنة الجهال وخوضهم فى عرضهم بسبب الترك أخذا من أمره صلى الله عليه وسلم من أحدث فى الصلاة بوضع يده على أنفه , وعللوه بصون عرضه عن خوض الناس فيه لو انصرف على غير هذه الكيفية
Halaman 125, Kitab Bulughul Umniyyah
Pendapat Kedua:
Tradisi menjamu makanan yang disebutkan dapat dibagi menjadi beberapa kategori:
1. Bid’ah yang makruh dan wasiat tidak sah dilakukan dengannya jika bertujuan untuk meratapi jenazah atau melantunkan ratapan duka. Hal ini sesuai dengan apa yang diriwayatkan oleh Ahmad dan Ibnu Majah dengan sanad yang sahih dari Jarir bin Abdullah radhiyallahu ‘anhu, yang berkata:
“Kami menganggap berkumpul di rumah keluarga jenazah dan membuat makanan sebagai bagian dari meratapi jenazah.”
2. Bid’ah yang makruh namun wasiat tetap sah dilakukan dengannya menurut mazhab Maliki, demikian juga dalam mazhab Syafi’i menurut pendapat yang sahih, jika tujuan pembuatan makanan tersebut bukan untuk meratapi jenazah, tetapi untuk menjamu para pelayat. Hal ini didasarkan pada pernyataan mereka yang menyebutkan makruh hukumnya keluarga jenazah berkumpul untuk menerima pelayat.
3. Bid’ah yang dianjurkan dan mendapatkan pahala, jika tujuan dari tradisi tersebut adalah untuk menjamu para pelayat demi menghindari gunjingan orang-orang jahil atau celaan terhadap keluarga jenazah karena tidak melakukannya. Hal ini diambil dari perintah Rasulullah ﷺ kepada seseorang yang batal salat untuk meletakkan tangannya di hidung (seolah-olah mimisan). Para ulama menjelaskan hikmahnya adalah menjaga kehormatan orang tersebut agar tidak menjadi bahan gunjingan jika ia keluar dari salat tanpa sebab yang jelas.
Dengan demikian, penilaian terhadap tradisi menjamu makanan bagi pelayat sangat bergantung pada niat dan tujuan pelaksanaannya..
الأمر الثالث : أن محل كون الإتخاذ المذكور بدعة محرمة أو مكروهة إذا لم يثبت معارض لحديث عبد الله بن جعفر وجرير بن عبد الله , أما إذا عارضهما ما رواه أبو داود فى سننه والبيهقي فى دلائل النبوة واللفظ له : عن عاصم بن كليب عن رجل من النصار قال : ( خرجنا مع رسول الله صلى الله عليه وسلم فى جنازة فرأيت رسول الله صلى الله عليه وسلم يوصى الحافر يقول أوسع من قبل رجليه أوسع من قبل رأسه , فلما رجع استقبله داعي امرأته أي زوجة المتوفى فأجاب ونحن معه فجيء بالطعام فوضع يده ثم وضع القوم فاكلوا ونظرنا رسول الله صلى الله عليه وسلم يلوك لقمة فى فيه , ثم قال أجد لحم شاة أخدت بغير إذن أهلها فأرسلت المرأة تقول : يا رسول الله إني أرسلت إلى البقيع وهو موضع يباع فيه الغنام ليشتري لى شاة فلم توجد فأرسلت إلى جار لى قد اشترى شاة أن يرسل بها إليّ بثمانها فلو يوجد , فأرسلت إلى امرأته فأرسلت إلىّ بها فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم أطعمى هذا الطعام الأسرى ) وهم جمع اسير , والغالب أنه فقير قال الطيبي : وهم كفار , وذلك لأنه لم يوجد صاحب الطعام ليستحل منه , وكذا الطعام فى صدد الفساد ولم يكن من اطعامها هؤلاء بدٌ فأمر بإطعامهم , وقد لزمها قيمة الشاة بإتلافها ودفع هذا تصدق عنها , فإن ظاهر هذا الحديث يعارض مفاد الحديثين من كون الإتخاذ المذكور , إما بدعة محرمة وإما بدعة مكروهة كما أجمع عليه علماء المذاهب الأربعة , فينبغى أن يحمل على ما إذا كان الإتخاذ المذكور من التركة , وكان على الميت دين أو كان فى الورثة محجور عليه أو غائب أو من لم يعلم رضاه , وحديث عاصم عن أبيه على ما إذا كان الإتخاذ المذكور من مال شخص معين من الورثة لامن مال الميت قبل قسمة أو منه ولا وارث سوى ذلك المعين , أو من ثلث مال الميت إذا أوصى به لإتخاذ الطعام للقرآء وغيرهم ممن يحضر لأجل التهليل والفقراء ونحوه من المبرات جريا على قاعدة أن إعمال الدليلين بالجمع بينهما ودفع التعارض بينهما أولى من إلغاء أحدهما بالتعارض . فتأمل بإمعان. هذا خلاصة ما تفيده نصوص علماء المذاهب الأربعة
Pembahasan Perkara Ketiga:
Hukum menjadikan (menghidangkan makanan untuk para pelayat) ini dianggap bid’ah yang diharamkan atau dimakruhkan jika tidak terdapat dalil yang menjadi penghalang (pengecualian) dari hadis Abdullah bin Ja’far dan Jarir bin Abdullah. Namun, jika terdapat dalil yang menjadi penghalang, seperti yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dalam Sunan-nya dan Al-Baihaqi dalam Dala’ilun Nubuwwah, dengan lafaz milik Al-Baihaqi:
Dari ‘Ashim bin Kulaib, dari seorang lelaki Nasrani yang berkata: “Kami keluar bersama Rasulullah ﷺ dalam mengiringi jenazah. Aku melihat Rasulullah ﷺ memerintahkan penggali kubur agar memperluas galian di bagian kaki dan kepala. Ketika beliau pulang, beliau dihampiri oleh utusan istri almarhum (istri si mayit). Beliau pun memenuhi undangan itu, dan kami ikut bersamanya. Ketika makanan dihidangkan, beliau meletakkan tangannya (untuk makan), kemudian para sahabat juga makan. Namun, kami melihat Rasulullah ﷺ mengunyah sesuap makanan di mulutnya, lalu beliau bersabda, ‘Aku mendapati daging kambing yang diambil tanpa izin pemiliknya.’ Maka wanita tersebut berkata, ‘Wahai Rasulullah, aku telah mengutus orang ke Baqi’, yaitu tempat menjual kambing, untuk membeli kambing, tetapi tidak ditemukan (kambing yang dijual). Maka aku mengirim pesan kepada tetanggaku yang telah membeli kambing agar mengirimkan kambingnya kepadaku dengan harga yang sama, tetapi tidak ditemukan juga. Maka aku mengutus pesan kepada istrinya, lalu ia mengirimkan kambing itu kepadaku.’ Rasulullah ﷺ bersabda, ‘Berikanlah makanan ini kepada para tawanan (al-asra)’.”
Penjelasan Hadis:
Al-asra adalah bentuk jamak dari asir (tawanan), yang dalam konteks ini kemungkinan besar adalah orang-orang fakir.
Imam At-Tibi mengatakan bahwa mereka adalah orang-orang kafir. Hal ini karena pemilik kambing tidak ditemukan untuk dimintai izin, sedangkan makanan itu berada dalam kondisi akan rusak. Tidak ada pilihan lain selain memberikan makanan itu kepada mereka.
Maka, wanita tersebut bertanggung jawab mengganti harga kambing yang rusak. Rasulullah ﷺ memerintahkan agar makanan tersebut disedekahkan atas nama wanita itu.
Pertentangan dengan Hadis Abdullah bin Ja’far dan Jarir bin Abdullah: Hadis ini tampaknya bertentangan dengan pemahaman bahwa menjadikan (menghidangkan makanan) untuk para pelayat adalah bid’ah yang diharamkan atau dimakruhkan, sebagaimana yang disepakati oleh para ulama dari empat mazhab.
Penggabungan Dalil: Hadis ‘Ashim bin Kulaib ini dapat dipahami bahwa penghidangan makanan tersebut dilakukan:
1. Jika berasal dari harta warisan, maka tidak boleh dilakukan jika terdapat utang yang belum lunas, ada ahli waris yang masih kecil, tidak diketahui keridaan semua ahli waris, atau salah satu ahli waris tidak hadir.
2. Jika berasal dari harta pribadi salah seorang ahli waris, maka diperbolehkan, selama tidak berasal dari harta warisan sebelum dibagi atau berasal dari harta peninggalan tanpa adanya wasiat.
3. Jika berasal dari sepertiga harta peninggalan (yang diwasiatkan), diperbolehkan digunakan untuk menjamu orang-orang yang hadir membaca tahlil, para fakir, atau kegiatan amal lainnya.
Kesimpulan: Penggunaan dua dalil yang tampak bertentangan ini lebih diutamakan dengan cara menggabungkannya (menyesuaikan konteks masing-masing) daripada mengabaikan salah satunya karena dianggap bertentangan. Maka, pahamilah hal ini dengan cermat dan mendalam.
Itulah intisari yang dapat disimpulkan dari berbagai teks para ulama empat mazhab.
إعانة الطالبين ج ٢ ص ١٤٦
وفي حاشية العلامة الجمل على شرح المنهج ومن البدع المنكرة والمكروه فعلها ما يفعله الناس من الوحشة والجمع والأربعين بل كل ذلك حرام إن كان من مال محجور أو من ميت عليه دين أو يترتب عليه ضرر أو نحو ذلك اه
Kitab I’anatut Thalibin, Juz 2, Halaman 146
Dalam Hasyiah Al-‘Allamah Al-Jamal atas Syarh Al-Minhaj:
Di antara bid’ah yang mungkar dan makruh dilakukan adalah apa yang dilakukan oleh masyarakat berupa acara wahsyah (tahlilan hari pertama setelah pemakaman), al-jam’u (tahlilan dengan mengumpulkan orang banyak), dan peringatan hari keempat puluh (arba’in). Bahkan, semua itu hukumnya haram jika berasal dari harta seseorang yang berada dalam status terhalang (seperti anak kecil atau orang yang tidak berwenang), dari harta orang yang meninggal yang masih memiliki utang, menyebabkan mudarat, atau hal serupa lainnya. Selesai.
Dimakruhkan bagi keluarga jenazah untuk duduk-duduk menerima takziah (di satu tempat tertentu) dan membuat makanan untuk mengumpulkan orang-orang di sekitarnya. Hal ini berdasarkan riwayat Ahmad dari Jarir bin Abdullah Al-Bajali yang berkata:
“Kami menganggap berkumpul di rumah keluarga jenazah dan membuat makanan setelah penguburan termasuk bagian dari niyahah (ratapan yang dilarang).”
“Imam Ibnu Hajar ditanya -semoga Allah mengembalikan barakahnya kepada kita-, bagaimanakah tentang hewan yang disembelih dan dimasak kemudian dibawa di belakang mayit menuju kuburan untuk disedekahkan ke para penggali kubur saja, dan tentang yang dilakukan pada hari ketiga kematian dalam bentuk penyediaan makanan untuk para fakir dan yang lain, dan demikian halnya yang dilakukan pada hari ketujuh, serta yang dilakukan pada genap sebulan dengan pemberian roti yang diedarkan ke rumah-rumah wanita yang menghadiri prosesi ta’ziyah jenazah. Mereka melakukan semua itu tujuannya hanya sekedar melaksanakan kebiasaan penduduk setempat sehingga bagi yang tidak mau melakukannya akan dibenci oleh mereka dan ia akan merasa diacuhkan. Kalau mereka melaksanakan adat tersebut dan bersedekah tidak bertujuan (pahala) akhirat, maka bagaimana hukumnya, boleh atau tidak? Apakah harta yang telah ditasarufkan, atas keinginan ahli waris itu masih ikut dibagi/dihitung dalam pembagian tirkah, walaupun sebagian ahli waris yang lain tidak senang pentasarufan sebagian tirkah bertujuan sebagai sedekah bagi si mayit selama satu bulan berjalan dari kematiannya. Sebab, tradisi demikian, menurut anggapan masyarakat harus dilaksanakan seperti “wajib”; bagaimana hukumnya? Beliau menjawab: semua yang dilakukan sebagaimana yang ditanyakan di atas termasuk bid’ah yang tercela tetapi tidak sampai haram (makruh); kecuali jika prosesi penghormatan pada mayit di rumah ahli warisnya itu bertujuan untuk “meratapi” atau memuji secara berlebihan (ratsa’) pada keluarga mayit. Dalam melakukan prosesi tersebut ia harus bertujuan menangkal “ocehan” orang-orang bodoh, agar mereka tidak menodai kehormatan dirinya, gara-gara ia tidak mau melakukan prosesi penghormatan di atas. Dengan sikap demikian, diharapkan ia mendapatkan pahala setara dengan realisasi perintah Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam. terhadap seseorang yang batal (karena hadats) shalatnya untuk menutup hidung dengan tangan (seakan-akan hidungnya keluar darah). Ini demi untuk menjaga kehormatan dirinya, jika ia berbuat di luar kebiasaan masyarakat. Dan tidak boleh diambil/dikurangi dari tirkah seperti kasus di atas. Sebab, tirkah yang belum dibagikan mutlak harus dijaga utuh, atau ahli warisnya sudah pandai-pandai, tetapi sebagian dari mereka tidak rela (jika tirkah itu digunakan sebelum dibagi kepada ahli waris)”.
تحفة المحتاج في شرح المنهاج ج ٣ ص ٢٠٨ (و) يسن ( لجيران أهله ) ولو كانوا بغير بلده إذ العبرة ببلدهم ولأقاربه الأباعد ولو ببلد آخر ( تهيئة طعام يشبعهم يومهم وليلتهم ) للخبر الصحيح { اصنعوا لآل جعفر طعاما فقد جاءهم ما يشغلهم } ( ويلح عليهم في الأكل ) ندبا لأنهم قد يتركونه حياء أو لفرط جزع ولا بأس بالقسم إن علم أنهم يبرونه ( ويحرم تهيئته للنائحات ) أو لنائحة واحدة وأريد بها هنا ما يشمل النادبة ونحوها ( والله أعلم ) لأنه إعانة على معصية وما اعتيد من جعل أهل الميت طعاما ليدعوا الناس عليه بدعة مكروهة كإجابتهم لذلك لما صح عن جرير كنا نعد الاجتماع إلى أهل الميت وصنعهم الطعام بعد دفنه من النياحة ووجه عده من النياحة ما فيه من شدة الاهتمام بأمر الحزن ومن ثم كره لاجتماع أهل الميت ليقصدوا بالعزاء قال الأئمة بل ينبغي أن ينصرفوا في حوائجهم فمن صادفهم عزاهم وأخذ جمع من هذا ومن بطلان الوصية بالمكروه وبطلانها بإطعام المعزين لكراهته لأنه متضمن للجلوس للتعزية وزيادة وبه صرح في الأنوار نعم إن فعل لأهل الميت مع العلم بأنهم يطعمون من حضرهم لم يكره وفيه نظر ودعوى ذلك التضمن ممنوعة ومن ثم خالف ذلك بعضهم فأفتى بصحة الوصية بإطعام المعزين وأنه ينفذ من الثلث وبالغ فنقله عن الأئمة وعليه فالتقييد باليوم والليلة في كلامهم لعله للأفضل فيسن فعله لهم أطعموا من حضرهم من المعزين أم لا أمر ما داموا مجتمعين ومشغولين لا لشدة الاهتمام بأمر الحزن ثم محل الخلاف كما هو واضح في غير ما اعتيد الآن أن أهل الميت يعمل لهم مثل ما عملوه لغيرهم فإن هذا حينئذ يجري فيه الخلاف الآتي في النقوط فمن عليه شيء لهم يفعله وجوبا أو ندبا وحينئذ لا تتأتى هنا كراهته ولا يحل فعل ما للنائحات أو المعزين على الأول من التركة إلا إذا لم يكن عليه دين وليس في الورثة محجور ولا غائب وإلا أثموا وضمنوا قوله ( يعمل لهم مثل ما عملوه الخ ) أي يعمل غير أهل الميت لهم من الطعام مثل ما عمل أهل الميت له في مصيبته على قصد أن ذلك الغير يعمل لهم مثله في مصيبتهم فيكون كالدين عليه كردي قوله ( الخلاف الآتي ) أي في فصل الإفراض ( في النقوط ) من أنه هبة أو قرض والنقوط هو ما يجمع من المتاع وغيره في الأفراح لصاحب الفرح كردي .والله أعلم بالصواب
Dan disunnatkan bagi tetangga-tetangga ahlinya mayit, walaupun adanya bukan didaerahnya, karena ungkapan yang dimaksud bibaladihim adalah kerabat-kerabatnya mayit yang jauh walaupun didaerah yang lain,( disunnatkan membuat/menyiapkan makanan yang dapat mengenyangkan mereka pada siang hari dan malamnya.Karena adanya hadits yang shahih ;” Buatkalah makanan untuk keluaga Ja’far ,maka sungguh dia dalam keadaan susah karena kematian yang menyibukkan mereka.“ ( dan sunnah dia menganjurkan makan pada mereka) karena terkadang mereka tidak makan karena merasa malu, atau karena sangat cemas, dan tidak apa-apa dengan bersumpah jika dia mengetahui jika hal-hal itu dapat membuat mereka bahagia ( Dan haram menyediakannya bagi orang-orang yang meratapinya ) atau bagi satu orang yang neratapi. Inilah yang saya maksud apa yang termasuk ( mencakup) wanita yang sedang berduka dan sejenisnya ( Dan Allah Maha mengetahui ) karena sesungguhnya dia termasuk membantu kepada perbuatan maksiat dan termasuk apa yang menjadi kebiasaan dari keluarga ahli mayit membuat makanan untuk mengundang orang atas tujuan mayit itu adalah bid’ah yang dibenci begitu juga seperti orang yang menghadirinya untuk kepentingan tersebut, karena adanya hadits shahih dari Jabir:” Kami menganggap perkumpulan dirumah keluarga mayit membuatkan makanan ( yang dilakukan oleh keluarga mayit) setelah penguburan adalah termasuk pada kategori meratapi mayit .Alasan dihitung masuk pada kategori meratapi karena apa yang ada didalamnya adalah karena adanya rasa duka yang mendalam, dan dari itulah maka dimakruhkan perkumpulan dirumah keluarga orang yang meninggal karena maksud untuk memuliakan ( belasunggawa)
Para imam mengatakan, sepantasnya mereka pergi ( bubar ) untuk memenuhi keperluan mereka. hendaknya mereka menghibur mereka, dan beliau mengambil bentuk jamak dari hal ini, dan diantara batalnya wasiat dengan yang tidak disukai adalah memberi makan orang yang berduka, karena kemakruhannya ia termasuk duduk berbela sungkawa dan lain-lain, dan dinyatakan di dalamnya dalam Al-Anwar : Ya, jika dilakukan untuk keluarga almarhum dengan mengetahui bahwa mereka memberi makan kepada orang-orang yang ada di hadapannya, maka hal itu tidak dibenci dan patut dipertimbangkan.Adapun ajakan penyertaan itu adalah dilarang , dan dari itu sebagian ulama berbeda pandang (ada yang tidak setuju) , maka sebagian ulama mengeluarkan fatwa tentang keabsahan wasiat dengan memberi makan kepada orang yang yang melayat , dan dapat melestarikan memenuhi mulai dari ⅓. Oleh karenanya dia mengutip dari para imam , dan wajib bertaqlid pada perkataan ulama disiang hari dan malamnya karena semata mengharap hal yang lebih utama, maka disunnahkan bagi mereka memberi makan kepada orang-orang yang melayat atau tidak, itu masalah selama mereka sibuk, bukan karena kuat kepentingan terhadap perkara duka. Maka adapun yang menjadi pokok perselisihan itu, adalah sebagaimana yang telah jelas selain yang lazim sekarang ini, bahwa keluarga orang yang meninggal itu hendaknya berbuat terhadap mereka sama seperti apa yang mereka perbuat terhadap orang yang tertimpa musibah ( kematian). Dalam hal ini timbul perselisihan dalam Nuqoat, barangsiapa yang berhutang pada salah satu darinya, maka ia wajib untuk dilakukan ( mengembalikan) atau sebagai sunnah, dan disinilah hal yang tidak dimakruhkan ( dibenci) , dan tidak boleh berbuat apa-apa kepada orang orang yang meratapi dan orang yang melayat menurut pendapat yang pertama yaitu harta yang bersal dari harta tirkat, kecuali ia tidak mempunyai hutang dan tidak ada ahli waris yang terhalang atau ahli warisnya sedang tidak ada (Ghaib) maka jika simayit punya hutang dan ahli warisnya maka apa yang dilakukan oleh shohibul musibah adalah berdosa dan ia bertanggung jawab ( menggantinya.).
Maksud perkataan Mushonnif (Dia / shohibul musibah akan berbuat kepada mereka ( orang yang melayat )sama seperti apa yang telah mereka ( orang yang melayat ) perbuat, berbuat kepada shohibul musibah dsb.) maksudnya selain keluarga orang yang meninggal itu akan menafkahi mereka dengan makanan yang sama dengan apa yang keluarga orang yang meninggal itu telah berbuat kepadanya pada waktu ia mengalami musibah, dengan maksud agar hal itu orang lain akan melakukan hal yang sama kepada mereka ketika mereka mengalami musibah, maka hal itu sama seperti hutang yang harus dibayar olehnya, seperti dalam jawaban terhadap perkataannya (perselisihan sebagimana berikut), yaitu pada bab tentang berkenaan (dalam Nuqūt (artinya bahwa itu adalah hadiah atau pinjaman, dan adapun yang dimaksud ” Nuqūt ” adalah apa yang dikumpulkan dari dari harta ( barang-barang dunia )dan hal-hal lain di pesta pernikahan untuk pemilik pesta, seperti mengembalikan apa yang ia sumbangkan ).Wallahu A’lam
إعانة الطالبين ج ٣ ص ٤٨
وما جرت به العادة في زماننا من دفع النقوط في الأفراح لصاحب الفرح في يده أو يد مأذونه هل يكون هبة أو قرضا ؟ أطلق الثاني جمع وجرى على الأول بعضهم قال ولا أثر للعرف فيه لاضطرابه ما لم يقل خذه مثلا وينوي القرض ويصدق في نية ذلك هو ووارثه وعلى هذا يحمل إطلاق من قال بالثاني وجمع بعضهم بينهما بحمل الأول على ما إذا لم يعتد الرجوع ويختلف باختلاف الأشخاص والمقدار والبلاد والثاني على ما إذا اعتيد وحيث علم اختلاف تعين ما ذكر
Dan apa yang telah mentradisi di dizaman kita dengan memberikan ” NUQŪTH ” dalam acara pernikahan untuk shohibul bait ditangannya atau tangan yang diberikan idzin apakah itu merupakan hadiah ataukah pinjaman? Orang memuthlakkan Yang kedua ( Pinjaman Utang ) dengan cara menggabungkan ( antara pinjaman dan hibah), dan sebagian dari mereka berjalan pada yang pertama (yaitu hibah) sebagian mereka mengatakan, “Tidak ada pengaruh bagi adat ( kebiasaan) di dalamnya karena kebingungannya, selama dia tidak mengatakan ” ‘Ambillah” misalnya,’ dan dia bermaksud dalam hal memberikan nuquth menjadikan suatu pinjaman utang , Untuk dia ( shohibul Farhi ) dan juga ahli warisnya telah membuktikan niatannya. Berdasarkan hal tersebut, dia menganggap yang kedua (Pinjaman hutang ) dan ada pula sebagian yang menggabungkannya( keduanya) dengan menganggap yang pertama ( sebagai hibah ) selama dia tidak biasa mengkembalikannya, dan itu berbeda-beda tergantung pada perorangan, dan jumlah ukuran, dan negaranya, dan sebagian dari mereka menganggap yang kedua (sebagai pinjaman hutang) sebagai kebiasaan dan sekiranya diketahui perbedaannya, apa yang disebutkan itu ditentukan ( ditentukan dengan catatan Nama ).
عبارة الإيعاب مع العباب فرع النقوط المعتاد فيما بين الناس في الأفراح كالختان والنكاح وهو أن يجمع صاحب الفرح الناس لأكل أو نحوه ثم يقوم إنسان فيعطيه كل من الحاضرين ما يليق به فإذا استوعبهم أعطى ذلك لذي الفرح الذي حضر الناس لأجل إعطائه إما لكونه سبق له مثله وإما لقصد ابتداء معروف معه ليكافئه بمثله إذا وقع له نظيره أفتى النجم البالسي والأزرق اليمني أنه أي بأنه كالقرض الضمني وحينئذ يطلبه هو أي المعطي أو وارثه وأفتى السراج البلقيني القائل في حقه جماعة من الأئمة أنه بلغ درجة الاجتهاد بخلافه فقال لا رجوع به وهو الذي يتجه ترجيحه لعدم مسوغ للرجوع واعتياد المجازاة به وطلبه ممن لم يجاز به لا يقتضي رجوعا عند عدم الصيغة التي تصيره قرضا اهـ
Ungkapan “ie’yab” beserta “al-ibab” merupakan salah satu cabang dari kata benda yang lazim ( NUQŪTH) dikalangan orang-orang dalam acara perkawinan, misalnya khitanan dan perkawinan, yaitu ketika pesta yang dirayakannya maka shohibul bait mengumpulkan pertemuan orang-orang untuk makan atau sejenisnya, maka seseorang ( mausia ) akan tegak ( melaksanakan) dan masing-masing menghadiri memberinya apa yang cocok untuknya, dan jika dia mengakomodasi mereka, dia memberikannya kepada pihak perayaan yang kepadanya orang-orang hadir untuk memberikannya, baik karena dia sebelumnya memiliki sesuatu seperti itu atau Untuk tujuan mengawali bantuan dengannya untuk menghadiahinya dengan yang serupa, jika rekannya menimpanya ( mengadakan acara ), An-Najmul al-Balisiy dan Al-Azraqul Yamaniy mengeluarkan fatwa yang menyatakan bahwa itu seperti pinjaman utang yang sifatnya menabung, dan kemudian dia, yaitu. pemberi ( orang yang menyubang) atau ahli warisnya, memintanya ( menuntuknya kembali ). Al-Sarraj Al-Balqini mengatakan ; Bahwa sekelompok para imam menentangnya, yang mengatakan bahwa dia telah mencapai tingkat ijtihad, dengan berbeda pandang , maka berkata, “Tidak ada jalan untuk mengembalikan ( Wajib ) didalamnya ,” Dialah yang preferensinya diarahkan pada ketidak benaran untuk mengambalikanya kembali dan kebiasaan untuk diberi balasan dan menuntutnya kembali kepada orang yang tidak memberi balasan ( tidak mengembalikan ), Oleh karenanya tidak memerlukan pengembalian ketika tidak ada shighat/ ucapan yang menjadikan pinjaman utang.
Dari paparan diatas dapat dapat difahami bahwa Ada dua sudut pandang Ulama‘ Fiqih terkait masalah tersebut
1.Hibah (pemberian secara cuma-cuma). Meskipun adat setempat mengembalikan apa yang telah diberikan saat walimah sama sekali tidak mempengaruhi status hibah menjadi Qardhu (hutang). Sehingga cara pandang pendapat ini setara dengan definisi hibah sendiri, yakni memberikan sesuatu secara cuma-cuma (tanpa unsur timbal balik).
2.Qardhu (hutang). Sudut pandang Ulama yang menstatuskan hadiah pernikahan seperti amplop uang, barang berharga dan semacamnya sebagai Qardhu adalah kebiasaan mengembalikan apa yang telah diberikan saat acara walimah. Sehingga pengembalian tersebut layak disebut qardhu (hutang).
kedua sudut pandang tersebut telah dijami’kan (dirumuskan detail) oleh para Ulama bahwa bisa dikatakan :
a) hibah jika tidak ada unsur pengembalian, ataupun dikembalikan dengan catatan tidak sama seperti saat dia menerima. Semisal dia dikado 20,000Ribu Rupiah maka dia akan mengembalikan 30, 000 Ribu Rupiah.
b) Qardhu (hutang) ada adat pengembalian dan kadar pengembaliannya sama, yakni sama-sama 20, 000 Ribu Rupiah.
Namun menurut Imam Ibnu Hajar qoul awjah dalam hal ini di anggap hibbah bukan qordhu meski ada tradisi mengembalikan (ianah).
Catatan :
Status hadiah pernikahan seperti amplop uang, barang berharga dan semacamnya saat acara pernikahan lebih baik distatuskan hibah atau Qardhu tergantung masyarakat setempat adatnya seperti apa dan bagaimana cara pengembaliannya.
Lalu bagaimana jika tidak mengengbalikan? Maka jawabannya adalah berdosa, karena menurut Syeikh Ibarohim Albajuri hadiah acara pernikahan atau semacamnya wajib di kembalikan sebagaimana hutang walaupun tidak ada tradisi mengembalikan karena hal ini sangat membingungkan dan banyak orang yang memberikan hadiah dan sumbangan acara, ingin meminta kembali tapi malu untuk menuntutnya (bajuri). Berbeda dengan pandangan Imam Ibnu Hajar yang menekankan wajibnya pengembalian jika terdapat indikasi kuat atau petunjuk seperti tradisi bahwa pemberi tidak akan memberi kecuali pasti menginginkan balasan (fatawal fiqhiyyah) . Catatan : Pengembalian, dalam hal ini ada perbedaan pendapat antara Ulama yang akan di jelaskan berikut : a. Mengacu pada urf atau tradisi yang berlaku, jika biasanya berlaku meminta pengembalian maka boleh menuntut pengembalian dan jika tidak ada kebiasaan yang berlaku maka tidak boleh menuntut (hasyiyah syarwani) . b. Dalam meminta pengembalian terdapat pentafsilan yaitu:
Pertama ketika pemberian di terima langsung oleh pemilik acara atau panitia (orang yang mendapatkan izin) dengan memenuhi 3 syarat dalam hal ini (aljamal). Yaitu :
1). Ketika memberikan barang atau uang di sertai dengan ucapan seperti خُذْه (ambillah).
2). Terdapat niat untuk di kembalikan.
3.) Kebiasaan di masyarakat dalam hal pengembalian harta tersebut.
Kedua ketika tidak di berikan secara langsung melainkan di titipkan ke tangan perias acara atau kotak uang khusus untuk menyumbang maka tidak bisa meminta pengembalian kecuali dengan 2 syarat yaitu:
النقوط المعتاد فى الأفراح يجب رده كالدين ، ولدافعه المطالبه به ، ولا أثر للعرف إذا جرى بعدم الرد ، لأنه مضطرب فلا اعتبار به ، فكم من شخص يدفع النقوط ويريد رده إليه ويستحي به أن يطالب به
الجمل، حاشية الجمل على شرح المنهج = فتوحات الوهاب بتوضيح شرح منهج الطلاب ج ٣ ص ٢٥٦
“Dan makruh [dibenci] hukumnya bagi keluarga mayit ikut duduk bersama orang-orang yang sengaja diundang untuk berta’ziyah dan menghidangkan makanan bagi mereka, sesuai dengan riwayat Ahmad dari Jarir bin Abdullah al-Bajali, yang mengemukakan: “Kami menganggap berkumpul di (rumah keluarga) mayit dengan menyuguhi makanan pada mereka, setelah si mayit dikubur, itu sebagai bagian ratapan (yang dilarang)”.
“Imam Ibnu Hajar ditanya -semoga Allah mengembalikan barakahnya kepada kita-, bagaimanakah tentang hewan yang disembelih dan dimasak kemudian dibawa di belakang mayit menuju kuburan untuk disedekahkan ke para penggali kubur saja, dan tentang yang dilakukan pada hari ketiga kematian dalam bentuk penyediaan makanan untuk para fakir dan yang lain, dan demikian halnya yang dilakukan pada hari ketujuh, serta yang dilakukan pada genap sebulan dengan pemberian roti yang diedarkan ke rumah-rumah wanita yang menghadiri prosesi ta’ziyah jenazah. Mereka melakukan semua itu tujuannya hanya sekedar melaksanakan kebiasaan penduduk setempat sehingga bagi yang tidak mau melakukannya akan dibenci oleh mereka dan ia akan merasa diacuhkan. Kalau mereka melaksanakan adat tersebut dan bersedekah tidak bertujuan (pahala) akhirat, maka bagaimana hukumnya, boleh atau tidak? Apakah harta yang telah ditasarufkan, atas keinginan ahli waris itu masih ikut dibagi/dihitung dalam pembagian tirkah, walaupun sebagian ahli waris yang lain tidak senang pentasarufan sebagian tirkah bertujuan sebagai sedekah bagi si mayit selama satu bulan berjalan dari kematiannya. Sebab, tradisi demikian, menurut anggapan masyarakat harus dilaksanakan seperti “wajib”; bagaimana hukumnya? Beliau menjawab: semua yang dilakukan sebagaimana yang ditanyakan di atas termasuk bid’ah yang tercela tetapi tidak sampai haram (makruh); kecuali jika prosesi penghormatan pada mayit di rumah ahli warisnya itu bertujuan untuk “meratapi” atau memuji secara berlebihan (ratsa’) pada keluarga mayit. Dalam melakukan prosesi tersebut ia harus bertujuan menangkal “ocehan” orang-orang bodoh, agar mereka tidak menodai kehormatan dirinya, gara-gara ia tidak mau melakukan prosesi penghormatan di atas. Dengan sikap demikian, diharapkan ia mendapatkan pahala setara dengan realisasi perintah Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam. terhadap seseorang yang batal (karena hadats) shalatnya untuk menutup hidung dengan tangan (seakan-akan hidungnya keluar darah). Ini demi untuk menjaga kehormatan dirinya, jika ia berbuat di luar kebiasaan masyarakat. Dan tidak boleh diambil/dikurangi dari tirkah seperti kasus di atas. Sebab, tirkah yang belum dibagikan mutlak harus dijaga utuh, atau ahli warisnya sudah pandai-pandai, tetapi sebagian dari mereka tidak rela (jika tirkah itu digunakan sebelum dibagi kepada ahli waris)”.
HUKUM MENAMBAH/ MELEBIHI UKURAN 1 SHO’ (2,751 )Kg DALAM MENGELUARKAN ZAKAT FITRAH
Assalamualaikum. Deskripsi masalah. Menjelang hari raya Idul Fitri semua Muslim sama-sama mempersiapkan kewajiban mengeluarkan zakat fitrah, baik untuk dirinya, keluarganya dan anak-anaknya,dan orang yang menjadi tanggungannya. sebagaimana yang kita maklum bahwa ukuran zakat fitrah itu 1 sho’ atau 2,751 Kg beras atau jagung ini yang lumrah diIndonesia karena dua macam itulah yang menjadi makanan pokok, namun terkadang orang berzakat melebihi ukuran 1 sho’ hal itu terbukti ketika mustahik zakat ( orang yang menerima zakat /amil zakat ) dll, mencoba dengan takaran atau ditimbang terkadang ada yang lebih dari 1 sho’ dan ada yang pas ( 1.sho’).
Pertanyaannya. Bagaimana hukumnya menambah/melebihi ukuran satu sho’ dalam mengeluarkan zakat fitrah menurut Ulama fiqih.
Waalaikum salam. Jawaban. Ulama berbeda pandang tentang hukum menambah ukuran 1 sho’ dalam zakat fitrah atau zakat yang lainnya. Adapun 1 Sho’ Beras putih menurut Dr Wahbah Zuhaili adalah 2,751 Kg, Menurut KH Ma’shum Bin Ali 2, 720 Kg.
1️⃣.Menurut Malikiyah makruh melebihi takaran/ukuran 1 sho’. Alasannya karena ukuran tersebut sudah nash, atau batasan yang sudah ditetapkan oleh syara’, bahkan sunnah tidak melebihi ukuran 1.sho’ , karena menurutnya jika menambah adalah bid’ah yang dimakruhkan, sebagaimana menambah hitungan membaca tasbih yang batasannya 33 kemudian menambah lebih dari 33 kali bacaan, kecuali dalam kondisi ragu maka tidak masalah menambahnya.Syaikh Wahbah As-Suhailiy juga menjelaskan dalam kitabnya, Fiqhul islami Wadillatuhi berikut:
الفقه الإسلامي و أدلته – ١٩٨١/٧٧٢٢
وذكر المالكية أنه يندب إخراجها من قوته الأحسن من قوت أهل البلد. وندب عدم زيادة على الصاع، بل تكره الزيادة؛ لأن الشارع إذا حدد شيئا كان ما زاد عليه بدعة، والبدعة تارة تقتضي الفساد، وتارة تقتضي الكراهة، ومحل الكراهة إن تحققت الزيادة، وإلا فيتعين أن يزيد ما يزيل به الشك.
Malikiyah Menyebukan bahwa seseorang disunnatkan mengeluarkan zakat fitrah yang berasal dari kekuatannya ( makanan pokoknya ) yang paling baik, dari banyak makanan pokok didaerahnya ( ahlil balad/negaranya). Dan sunnah seseorang tidak menambah pada takaran/ukuran 1 sho (2,751 Kg), bahkan jika menambah hukumnya makruh, alasannya jika syara’ sudah menetapkan batasannya terhadap sesuatu, maka menambahnya termasuk pada kategori bid’ah, Sedangkan bid’ah satu sisi dapat menunjukkan atau mengarah pada kerusakan, dan disisi lain bid’ ah menunjukkan pada kemakruhan ( dibenci). Dan adapun mahal ( kondisi ) kemakruhan yaitu manakala telah nyata adanya tambahan, sedangkan apabila tidak nyata, maka tentu hukumnya boleh sebagaimana adanya keragu-raguan.
2️⃣. Menurut pendapat ulama yang lain melebihi ukuran ( 1 sho’ ) hukumnya tidak makruh , melainkan hukumnya sunnah.
Referensi:
فقه الزكاة للشيخ الدكتور يوسف القرضاوي رحمه الله تعالى الجزء الثاني فى باب زكاة الفطر
هل تجوز الزيادة على الصاع؟ من الغريب أنى وجدت في بعض كتب المالكية: “أنه يندب للمزكي ألا يزيد على الصاع، بل تكره الزيادة عليه ؛ لأنه تحديد من الشارع، فالزيادة عليه بدعة مكروهة، كالزيادة في التسبيح على ثلاث وثلاثين، وهذا إذا تحققت الزيادة، وأما مع الشك فلا” (انظر الشرح الكبير للدردير:١/ ٥٠٨).والذي أراه أن هذا التنظير أو التشبيه غير مسلم ؛ فإن الزكاة ليست من الشئون التعبدية المحض كالصلاة وما يتعلق بها من الذكر والتسبيح. فالزيادة فيها على الواجب لا حرج فيه، بل هو أمر حسن، كما قال القرآن الكريم: (فمن تطوع خيرًا فهو خير له) (البقرة: ١٨٤) وذلك في فدية الصيام وهي طعام مسكين.وقد روى الإمام أحمد وأبو داود عن أبي بن كعب، أن رجلاً وجبت عليه في ماله بنت مخاض، فلم يرض أن يعطيها المصدق ؛ لأنها لا لبن فيها ولا تصلح للحمل والركوب، وأبى إلا أن يعطي ناقة كوماء، ولما رفض أبي أن يقبلها منه ؛ لأنها فوق الواجب عليه، احتكما إلى النبي -صلى الله عليه وسلم- فقال له: (ذاك الذي عليك. فإن تطوعت بخير آجرك الله فيه، وقبلناه منك) ثم أمر بقبضها منه، ودعا له في ماله بالبركة (رواه أحمد وأبو داود والحاكم وصححه ووافقه الذهبي، وسيأتي بنصه وتمامه في الباب التاسع – الفصل السادس). وهذا نص في قبول ما زاد عن الواجب، وفيه وعد بزيادة الأجر، لا بالكراهة، وقد قال علي رضي الله عنه: أما إذا أوسع الله عليكم فأوسعوا.على أنه لو صحت بدعية التطوع بالزيادة لكانت محرمة لا مكروهة فقط، فكل بدعة ضلالة. نعم يمكن أن يقال ذلك فيمن يزيد على الصاع من باب الغلو والتنطع، لا من باب السخاء والتطوع، وفي الصحيح: (هلك المتنطعون) (رواه أحمد ومسلم وأبو داود عن ابن مسعود).
Apakah boleh menambah ukuran lebih dari 1 sho’? Anehnya, saya menemukan disebagian kitab- kitab Maliki: “Bahwa disunnatkan bagi orang yang membayar zakat fitrah agar tidak melebihi ukuran satu sho’, bahkan jika sampai melebihi ukuran 1 sho’ hukumnya adalah makruh, alasannya karena ukuran 1 sho’ telah ditentukan oleh syara’ sehingga menambahnya adalah bid’ah yang dibenci, seperti memperbanyak / menambah tiga puluh tiga bacaan tasbih. Akan tetapi boleh menambah jika dalam kondisi meragukan .” (Lihat al-Sharh al-Kabir al-Dardir: 1/508). Adapun teori atau analogi, perumpamaan yang saya lihat, ini adalah menyerupai pada orang yang tidak pasrah. Karena zakat bukanlah ibadah murni ( mahdhoh) seperti shalat dan sesuatu yang ada hubungannya dengan shalat seperti zikir dan tasbih dan menambah dari hal yang wajib tidaklah berdosa . Jadi tidak ada yang salah dengan hal tersebut, tetapi menambah hal tersebut adalah perbuatan yang baik, sebagaimana yang dikatakan Al-Qur’an yang Mulia : “Barang siapa yang berbuat sunnah ( merelakan sesuatu yang baik) , itu lebih baik baginya” (Al-Baqarah: 184).Imam Ahmad dan Abu Dawud meriwayatkan dari Ubayy bin Ka’b, bahwa seorang laki-laki wajib mengeluarkan/ membayar didalam hartanya binti makhadl ( unta yang berumur satu sampai dua tahun) , dan dia tidak rela ( tidak setuju) untuk memberikannya sebagai barang yang disedekahkan; Karena binti makhadl belum ada susu di dalamnya dan begitu juga tidak cocok untuk buatan dan ditunggangi, oleh karenanya dia menolak kecuali dia memberikan seekor unta betina, dan hal itu diberikan ketika dia menolak untuk menerimanya darinya; Karena itu adalah kewajiban padanya , maka keduanya meminta putusan kepada Nabi -ﷺ – dan beliau bersabda kepadanya: (Apa yang ada padamu. Maka jika kamu berbuat tathowwu’ dengan kebaikan, maka Allah akan membalasmu didalam kebaikan itu, dan kami menerima kebaikan darimu. Kemudian beliau menerima dari pemberiannya dan mendoakan baginya didalam hartanya dengan do’a keberkahan. ( H.R Ahmad dan Abu Daud dan Hakim dan menshohihkannya dan Al-Dhahabi, sepakat dengannya dan akan dijelaskan teksnya selengkapannya di Bab Sembilan – Fasal Enam).
Dan ini adalah nash dalam menerima apa yang melebihi dari kewajiban, yang di dalamnya ada janji untuk menambahkan pahala, bukan kerena kemakruhan, dan Ali radhiyallahu ‘anhu berkata: Dan jika Allah meluaskan rizki kepadamu, maka luaskanlah. Namun, jika sah/benar bid’ah tathowwu’ dengan menambahnya ( meningkatkan sukarela) itu mestinya diharamkan ( dilarang ) dan tidak hanya dimakruhkan, karena setiap bid’ah adalah sesat.
Ya,…..dapat dikatakan bid’ah terhadap orang yang menambah ( melebihi) satu sho’ termasuk dari bab
من باب الغلو والتنطع
Termasuk dari Bab ekstremisme, bukan dari bab kedermawanan dan berbuat sunnah ( sukarela), dan pendapat yang benar: (Rusak orang-orang yang tidak dermawan ) (Diriwayatkan oleh Ahmad, Muslim dan Abu Dawud dari Ibnu Mas”ud).
مقدار الصاع وقد حققنا فيما تقدم أن الصاع يساوى سدس كيلة مصرية أي قدح وثلث مصري. كما في شرح الدردير وغيره، وهو يساوى بالوزن بالجرامات 2156 (وذلك حسب الوزن بالقمح).وإذا كان هذا هو وزن الصاع من القمح فقد قالوا: إن ما عداه من الأصناف أخف منه. فإذا أخرج منها مقدار ذلك وزنًا كانت أكثر من صاع.فإن كان هناك صنف يقتات منه الناس وهو أثقل من القمح -كالأرز مثلاً- فالواجب الزيادة على الوزن المذكور بما يوازي الفرق. ومن هنا رأى بعض العلماء الاعتماد على الكيل دون الوزن ؛ لأن في الحبوب الخفيف والثقيل.قال الإمام النووي في الروضة: قد يستشكل ضبط الصاع بالأرطال، فإن الصاع المخرج به في زمن رسول الله -صلى الله عليه وسلم- مكيال معروف، ويختلف قدره وزنًا باختلاف جنس ما يخرج، كالذرة والحمص وغيرهما، وفيه كلام طويل، فمن أراد تحقيقه راجعه في “شرح المهذب “، ومختصره: أن الصواب ما قاله الإمام أبو الفرج الدارمي من أصحابنا: أن الاعتماد في ذلك على الكيل، دون الوزن، وأن الواجب أن يخرج بصاع معاير بالصاع الذي كان يخرج به في عصر رسول الله -صلى الله عليه وسلم- وذلك الصاع موجود، ومن لم يجده وجب عليه إخراج قدر يتيقن أنه لا ينقص عنه، وعلى هذا فالتقدير بخمسة أرطال وثلث تقريبًا (كذا، ولعل الصواب: تقريب أو تقريبي) وقال جماعة من العلماء: الصاع أربع حفنات بكفي رجل معتدل الكفين، والله أعلم” أ هـ (الروضة:١/ ٣٠١ – ٣٠٢).هذا ما قاله النووي ؛ وقد يشق اعتبار ما قاله في عصرنا الذي أصبح كل شيء فيه يقدر بالوزن تقريبًا. وقال ابن حزم: وجدنا أهل المدينة لا يختلف منهم اثنان في أن مد رسول الله -صلى الله عليه وسلم- الذي يؤدى به الصدقات ليس بأكثر من رطل ونصف ولا دون رطل وربع، وقد قال بعضهم: هو رطل وثلث. قال: وليس هذه اختلافًا، ولكنه على حسب رزانة المكيل من البر والتمر والشعير (المحلى:٥/ ٢٤٥).وذكر في المغني عن أحمد قال: صاع ابن أبي ذئب خمسة أرطال وثلث. قال أبو داود: وهو صاع النبي -صلى الله عليه وسلم- قال: والأولى لمن أخرج من طعام ثقيل الوزن أن يزيد شيئًا احتياطًا (المغني:٥٤/٣).
Jumlah atau ukuran sho’.
Dan kami telah menetapkan sebelumnya bahwa 1sho’ sama dengan ⅙ kilo Mesir, yaitu secangkir (segelas)dan ⅓ pound (;ridl) Mesir. Seperti dalam Syarah al-Dardir dan lainnya, itu sama dengan 2156 berat dalam gram (sesuai dengan berat gandum). Dan jika ini seberat 1 sho’ gandum, maka mereka berkata: Semua jenis lainnya lebih ringan dari itu. Jika jumlah berat itu diambil darinya, maka akan lebih dari 1 sho’.Jika ada suatu jenis makanan yang dimakan manusia dan lebih berat dari gandum – seperti beras misalnya – maka wajib menambah berat tersebut sesuai dengan selisihnya.Oleh karena itu sebagian ulama’ berpedoman pada takaran bukan pada timbangan; Dikarenakan biji-bijian ada yang ringan dan ada yang berat.Imam an-Nawawi berkata dalam kitab al-Rawdah: Mungkin bermasalah untuk menyesuaikan 1 sho’ dalam pound ( kateh: red), karena 1 sho’ yang dikeluarkan pada masa Rasulullah ﷺ yang dikenal adalah takaran sedangkan timbangan dapat bervariasi sesuai dengan jenis dari apa yang diproduksi atau dihasilkan, seperti jagung, buncis dan yang lainnya, dan didalamnya terdapat kalam yang panjang, maka barang siapa yang ingin mentahkiknya maka kembalikan kalam itu dalam ”Sharh al-Muhadhdhab”, dan ringkasannya: Bahwa Yang benar adalah apa yang dikatakan oleh Imam Abu al-Faraj al-Darimi dari sahabat kami: Bahwa ketergantungan ( tinjauan )dalam hal ini adalah pada ukuran takaran, bukan pada timbangan berat, dan bahwa apa yang wajib untuk dikeluarkan adalah dengan 1 sho’ yang terukur dengan 1 sho’ yang digunakan pada masa Rasulullah ﷺ dan itulah 1 sho’ yang ada, dan siapa pun yang tidak menemukannya harus mengambil sejumlah yang dia yakini karena 1 sho’ yang ada tidak akan mengurangi dari ukuran takaran yang ada, oleh karenanya maka perkiraannya ( ukurannya ) adalah sekitar lima dan ⅓ pound ( rithl ), demikian juga barangkali yang benar adalah: suatu ukuran atau yang bangsa perkiraan) dan sekelompok ulama berkata: 1 sho’ adalah empat genggam di telapak tangan seorang pria dengan tangan yang moderat/sedang, dan Allah yang lebih mengetahui” (Al-Rawdah: 2/ 301-302).Inilah yang dikatakan Al-Nawawi, dan mungkin sulit untuk mempertimbangkan apa yang dia katakan di zaman kita, di mana segala sesuatunya telah menjadi perkiraan kasar berdasarkan beratnya. Ibnu Hazm berkata: Kami menemukan penduduk Madinah, tidak ada perbedaan dari mereka dua dalam mudnya dari Rasulullah ﷺ yang diberikan untuk sedekah tidak lebih dari satu setengah pound( rithl ) atau kurang dari satu pound ¼, dan sebagian dari mereka berkata: Ini adalah satu pound ( rithl) dan ⅓. Dia berkata: Ini bukanlah perbedaan, tetapi menurut kadar/ukuranya gandum, kurma dan jelai (Al-Muhalla: 5/245). Disebutkan dalam Al-Mughni dari Ahmad yang mengatakan: lima dan ⅓ pound Ibnu Abi Dhi’b s.a. Abu Dawud berkata: Itu adalah 1 sho’nya Nabi,ﷺ , dia mengatakan: Dan yang utama adalah bagi orang yang mengeluarkan dari makanan berat timbangannya untuk menambahkan sesuatu sebagai bentuk kehati- hatian (Al-Mughni: 3/59 ).
أما الحنفية فالصاع عندهم ثمانية أرطال، كما ذكرناه في زكاة الزرع، فهو يساوى صاعًا ونصفًا عند الجمهور. فنصفه يساوى ثلثي صاع غيرهم وقدره (أي النصف) بعض مشايخ الحنفية بقدح وسدس بالمصري، وبعضهم بقدح وثلث (رد المحتار:٢:/ ٨٣-٨٤).وبهذا يكون المقدار الواجب في القمح عند الفريقين واحدًا في النتيجة، رغم احتدام النزاع، ولكن يظهر الفرق شاسعًا في إخراج ما عدا القمح، حيث يخرج الحنفي ضعف غيره، على هذا التقدير.ومن لم يكن عنده مكيال ولا ميزان. فليخرج أربعة أمداد، والمد -كما قالوا- ملء كفى الرجل المعتدل، وأربع حفنات على هذه الطريقة تساوى صاعًا، ومن تطوع خيرًا فهو خير له.الأجناس التي يخرج منها نصت الأحاديث الواردة في زكاة الفطر على أصناف معينة من الطعام، وهي التمر والشعير والزبيب والأقط -وهو اللبن المجفف الذي لم ينزع زبده- وزادت بعض الروايات: القمح، وبعضها: السلت أو الذرة. فهل هذه الأصناف تعبدية ومقصودة لذاتها، بحيث لا يجوز للمسلم العدول عنها إلى غيرها من أصناف الأطعمة والأقوات؟ أما المالكية والشافعية فقالوا: هذه الأصناف ليست تعبدية ولا مقصودة لذاتها، ولهذا كان الواجب على المسلم أن يخرج فطرته من غالب قوت البلد، وفي قول: من غالب قوت الشخص نفسه. وهل القوت المنظور له هو الأغلب في العام كله؟ أم الأغلب في رمضان خاصة؟ أم في يوم الإخراج؟ أم في يوم الوجوب؟احتمالات ذكرها المالكية، ومال بعضهم إلى اعتبار يوم الإخراج، ولكن رجح آخرون اعتبار الأغلب في رمضان (حاشية الدسوقي:٥٠٥/١: ).وعند الشافعية قال الغزالي في “الوسيط”: المعتبر غالب قوت البلد وقت وجوب الفطرة لا في جميع السنة، وقال في الوجيز: غالب قوت البلد يوم الفطر (الروضة٣.٥/٢: ).
Adapun satu sho menurut Hanafi, 8 pound (rithl, kateh:red/takaran) sebagaimana telah kami sebutkan dalam zakat hasil bumi, yang setara dengan satu ½ sho’ menurut mayoritas ulama. Jadi setengahnya sama dengan dua pertiga sho’ selain mereka, dan jumlah kadarnya (yaitu, ½) menurut sebagian dari para masyasyekh Hanafi adalah segelas dan ⅙ di Mesir, dan menurut sebagian dari mereka adalah cangkir (gelas)dan ⅓. (Rad Al-Muhtar: 2/83-84). Dengan demikian, ukuran gandum yang wajib menurut kedua kelompok adalah satu ( sama) dalam hasilnya, meskipun konflik semakin intensif, tetapi perbedaannya menjadi nampak besar dalam mengeluarkan sesuatu kecuali gandum, di mana sekiranya Hanafi mengeluarkan maka yang lainnya menjadi lemah atas ukuran ini.Dan yang tidak memiliki takaran atau timbangan. Maka keluarlah empat mud ( genggam), dan adapun 1 mud – sebagaimana yang mereka katakan – memenuhi telapak tangan orang yang sedang, dan empat genggam dengan cara ini sama dengan 1 sho’, dan barang siapa yang berbuat tathowwu’ itu adalah lebih baik baginya. Beberapa jenis yang dikeluarkan darinya. Hadits tentang zakat fitrah menetapkan jenis makanan tertentu, yaitu kurma, jelai, kismis, dan aqt – yaitu susu kering yang menteganya belum dihilangkan – dan beberapa riwayat ditambahkan: gandum, dan beberapa di antaranya: gandum hitam atau jagung . Apakah kategori-kategori ini bersifat Ubudiyah dan ditujukan untuk diri mereka sendiri, sehingga tidak diperbolehkan bagi seorang Muslim untuk beralih darinya ke jenis makanan dan kekuatan makanan pokok? Adapun Maliki dan Syafi’i, mereka berkata: Kategori-kategori ini tidak termasuk Ubudiyah (kebaktian ) dan tidak ada maksud untuk diri mereka sendiri, oleh karenanya orang muslim ber kewajiban untuk mengeluarkan zakat fitrahnya dari kebiasaan yang menjadi makanan pokok dinegaranya, dan sebagian mereka mengatakan: dari kebiasan yang menjadi kekuatan seseorang itu sendiri ( Dari kebiasaan yang menjadi kekuatan makanan pokok)
Apakah makanan pokok pada umumnya paling banyak sepanjang tahun? Atau kebanyakan di bulan Ramadhan khususnya? Atau pada hari pengeluaran? Atau pada hari kewajiban? Kemungkinan-kemungkinan sebagaima yang disebutkan oleh Malikiyah, dan sebagian dari mereka cenderung menganggap dihari pengeluaran, tetapi sebagian lainnya lebih memilih untuk mempertimbangkan yang paling umum di bulan Ramadhan (Hashiyat al-Dasuqi: 1/505). Dan Menurut Syafi’i, Al-Ghazali mengatakan dalam “Al-Wasit”: Yang dianggap pada umumnya adalah yang menjadi makanan pokok negara pada saat wajibnya zakat fitrah, bukan di sepanjang tahun, dan dia berkata dalam Al- Wajiiz: Pada umumnya makanan pokok dinegaranya adalah pada hari Idul Fitri (Al-Rawdah: 2/305).Wallahu A’lam bisshowab
QODHO’ DAN FIDYAH PUASA YANG TELAT QODHO’ HINGGA BERTAHUN -TAHUN ( 33 KALI RAMADHAN /33TH)
Assalamualaikum. Deskripsi masalah. Ada seorang wanita hamil sampai melahirkan ketika bulan puasa dia tidak puasa karena hawatir terhadap kesehatan dirinya dana juga anaknya, dan dia lupa untuk mengqodlo’nya, dan baru ingat sekarang hingga mencapai hitungan 33 tahun sedang puasanya yang ditinggalkan 19 hari (artinya dia berpuasa 11 hari kemudian buka/ tidak puasa 19 hari ).
Pertanyaannya. Wajibkah dia mengqodlo’ puasa atau hanya membayar fidyah dengan jumlah puasa/hari yang ditinggalkan..? Kalau wajib bagaimana cara..?
Waalaikum salam. Jawaban.
Menurut mayoritas ulama’ selain Imam Abu Hanifah, jika orang yang hamil atau menyusui boleh tidak berpuasa dikarenakan hawatir terhadap anaknya, maka dia wajib qodlo’ dan membayar fiyah ,tetapi jika orang yang hamil atau menyusui hanya hawatir untuk dirinya maka dia hanya wajib qodlo’ saja, tidak usah bayar fidyah, begitu juga halnya orang yang hamil dan menyusui ya ng hawatir terhadap dirinya dan anaknya, maka ia wajib qodlo’ dan tidak wajib bayar fidyah. Karena puasa hanya diwajibkan bagi yang mampu, oleh karena menurut Abu Hanifah jika orang yang hamil atau menyusui hawatir terhadap anaknya maka disamakan dengan orang yang lanjut usia yang tidak mampu, untuk berpuasa maka ia hanya wajib membayar fidyah , tapi bagaimana jika seorang yang melahirkan tidak puasa dan tidak mengqodlo’nya hingga bertahun-tahun disebabkan lupa yang kemudian ingat setelah 33 th…? Berikut penjelasan secara rinci bagi orang yang boleh tidak berpuasa dan boleh qodlo’ saja dan hanya bayar fidyah saja atau keduanya wajib qodlo’ dan bayar fidyah, Firman Allah dalam surat al-Baqarah (2): 184 dan juga beberapa hadits, juga keterangan dalam kitab fiqhul Islami Wa adillatuhu.
Artinya: “(yaitu) Dalam beberapa hari yang tertentu. Maka barangsiapa di antara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka) maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditingggalkan itu pada hari-hari yang lain. Dan wajib bagi orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu) memberi makan seorang miskin. Barangsiapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka itulah yang lebih baik baginya. Dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.” [QS. al-Baqarah (2): 184]
Dari ayat tersebut dapat diambil pelajaran bahwa ada beberapa golongan yang mendapat rukhsah (keringanan) untuk tidak melaksanakan puasa Ramadhan, tetapi dibebankan kepada mereka untuk mengganti puasa yang mereka tinggalkan. Adapun golongan tersebut adalah sebagai berikut:
Pertama, orang yang sakit dan orang yang dalam perjalanan boleh tidak berpuasa pada bulan Ramadhan tetapi orang tersebut wajib mengganti (qadla) pada hari lain. Adapun yang dimaksud hari yang lain adalah hari di luar bulan Ramadhan. Golongan ini sama dengan perempuan yang sedang haid dan tidak berpuasa Ramadhan, maka wajib mengganti puasa (qadla) di luar bulan Ramadhan sebagaimana disebutkan dalam hadis yang diriwayatkan dari Aisyah radhiyallahu ‘anha:
Artinya: “Diriwayatkan dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, bahwa ia berkata: Kami kadang-kadang mengalami itu (haid), maka kami diperintahkan untuk mengganti puasa dan tidak diperintahkan untuk mengganti shalat.” [HR. Muslim]
Kedua, orang yang merasa berat untuk berpuasa maka ia wajib mengganti dengan membayar fidyah, tidak perlu mengganti dengan puasa (qadla). Adapun yang termasuk dalam golongan ini adalah orang yang sudah tua seperti hadis dari Ibnu Abbas:
عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ رُخِصَ لِلشَيْخِ الْكَبِيْرِ أَنْ يُفْطِرَ، وَيُطْعِمَ عَلىَ كُلِّ يَوْمٍ مِسْكِيْنًا وَلاَ قَضَاءَ عَلَيْهِ. [رواه الحاكم، حديث صحيح على شرط البخاري]
Artinya: “Diriwayatkan dari Ibnu Abbas, bahwa ia berkata: Telah diringankan bagi orang yang sudah tua untuk berbuka puasa (di bulan Ramadhan) dan memberi makan (fidyah) kepada orang miskin setiap hari (sesuai dengan hari yang ia tidak puasa) dan tidak wajib mengganti dengan puasa (qadla).” [HR. al-Hakim, hadis ini shahih menurut syarat al-Bukhari]
Juga termasuk di dalamnya adalah perempuan yang hamil dan perempuan yang sedang dalam masa menyusui, sebagaimana perkataan Ibnu Abbas kepada seorang ibu yang hamil:
Artinya: “Engkau termasuk orang yang berat berpuasa, maka engkau wajib membayar fidyah dan tidak usah mengganti puasa (qadla).” [HR. al-Bazar dan dishahihkan ad-Daruquthni]
Artinya: “Diriwayatkan dari Anas bin Malik, bahwa ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda: Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla telah membebaskan puasa dan separuh shalat bagi orang yang bepergian serta membebaskan puasa dari perempuan yang hamil dan menyusui.” [HR. an-Nasa’i] Kedua hadits ini ( tentang orang hamil dan menyusui) pembahasannya telah dirinci oleh ulama’ sebagaimana diawal jawaban diatas.
Adapun caranya menqodlo’ bagi orang yang sakit yaitu dengan puasa (qadla) di hari lain di luar bulan Ramadhan, tidak perlu membayar fidyah. Hal ini karena fidyah hanya diperuntukkan bagi orang tertentu yang dalam katagori “yutiqunahu” atau orang yang berat untuk berpuasa, tetapi jika yang sakit sembuh dan tidak mengqodlo’ hingga melewati Ramadhan lagi maka dia wajib qodlo’ dan bayar fidyah.
Lalu bagaimana jika telat mengodlo’ puasanya dikarenakan:
Keadaan pertama, adanya udzur sepanjang tahun, sebagai contoh misalkan tahun yang lalu ia tidak puasa karena sakit dan sakitnya tersebut menahun hingga Ramadhan berikutnya, maka ia hanya berkewajiban mengqadha puasanya sampai waktu ia mampu melaksanakannya. Hal ini telah dijelaskan oleh Syekh Khatib asy-Syirbini dalam kitabnya Mughni al-Muhtaj:
“Jika tidak memungkinkan untuk qadha’ karena masih ada udzur misalnya sepanjang tahun menjadi musafir, orang sakit, hamil atau menyusui hingga masuk Ramadhan berikutnya, maka tidak ada kewajiban membayar fidyah.”
13 – Perbedaan Pendapat Ulama tentang Membayar Fidyah Secara Dipercepat bagi Orang Tua Renta dan Orang Sakit yang Tidak Diharapkan Kesembuhannya
Para fuqaha berbeda pendapat mengenai apakah orang tua renta yang tidak mampu berpuasa dan orang sakit yang tidak diharapkan sembuhnya boleh membayar fidyah lebih awal.
Mazhab Hanafi memperbolehkan membayar fidyah di awal bulan sebagaimana boleh membayarnya di akhir bulan. (1) Imam Nawawi menyebutkan bahwa para ulama mazhab Syafi’i sepakat bahwa orang tua renta dan orang sakit yang tidak diharapkan sembuhnya tidak boleh membayar fidyah sebelum masuk bulan Ramadan. Namun, fidyah boleh dibayarkan setelah fajar setiap harinya. Apakah boleh membayarnya sebelum fajar dalam bulan Ramadan? Ad-Darimi dengan tegas memperbolehkannya, dan ini adalah pendapat yang benar. (2)
PENGECUALIAN
14 – Hukum Orang yang Meninggal dan Masih Memiliki Tanggungan Puasa yang Terlewat karena Uzur
Mazhab Hanafi, Maliki, Syafi’i, dan Hanbali berpendapat bahwa seseorang yang meninggal dalam keadaan masih memiliki utang puasa yang terlewat karena sakit, safar, atau uzur lainnya, dan tidak sempat mengqadhanya hingga meninggal, maka tidak ada kewajiban apa pun atasnya.
Tidak perlu ada orang lain yang berpuasa menggantikannya.
Tidak perlu membayar fidyah atas namanya.
Hal ini berdasarkan sabda Nabi ﷺ:
“Jika aku memerintahkan sesuatu kepada kalian, maka lakukanlah sesuai dengan kemampuan kalian.” (3)
Keadaan kedua, jika menunda bahkan telat membayar qadha’ karena lalai atau tidak ada udzur padahal ada kesempatan untuk melaksanakannya hingga masuk Ramadhan berikutnya, maka ia berkewajiban menqadha’ puasa dan ditambah dengan membayar fidyah sebesar 1 mud (±7 Ons) beras per harinya. Sebagaimana penjelasan Syekh Khatib asy-Syirbini dalam kitabnya:
“Barang siapa yang menunda qadha’ puasa Ramadhan sementara ia mampu untuk melaksanakannya, yakni tidak ada uzur seperti berpergian atau semacamnya, hingga masuk Ramadhan berikutnya maka ia berkewajiban qadha’ serta membayar fidyah 1 mud per hari.” (Mughni al-Muhtaj)
Bahkan jika menunda qodlo’ puasa hingga beberapa tahun, maka menurut pendapat kuat sebagian ulama fidyahnya juga membengkak sesuai jumlah tahun yang ditinggalkannya ini menurut madzhab Syafi’iyah, Namun menurut pendapat kedua, fidyahnya tidak ikut membengkak ( Menurut Malikiyah dan Hanabilah ) Misalkan punya hutang puasa 10 hari dan belum diqodlo’ hingga 3 tahun maka wajib qodlo’ puasa serta membayar 30 Mud (21 kilogram) menurut pendapat pertama (kuat) atau membayar 10 Mud (7 kilogram) menurut pendapat kedua.
Maka dari itu, wajib bagi kita yang telah mengetahui wajibnya membayar ‘hutang’ puasa untuk segera membayar secepatnya sebelum masuk Ramadhan berikutnya
Jadi jika seseorang meninggalka puasa ramadhan sampai melewati bulan puasa Ramadhan lagi maka ia wajib wajib qodho’ dan wajib bayar fidyah, begitu juga halnya orang yang tidak mengqodho’nya hingga bertahun-tahun sebagaimana deskripsi yaitu hingga 33 th maka ia wajib mengqodho’ puasanya sebanyak yang tinggalkan wajib dan juga wajib membayar fidyah sebanyak tahun yang telah bengkak artinya jika 33 tahun maka perhari dia harus membayar fidyah sebanyak 33 mud. Jika 19 hari yang ditinggal puasanya maka jumlah keseluruhan adalah 627 mud yaitu hasil dari perkalian 33 Th ×19 hari =627 Rinciannya 33.adalah tahun yang dilewati 19 adalah hari ( puasa yang ditinggalkan 19 hari ), alasannya karena orang yang meninggalkan puasa punya kesempatan untuk mengqodlo’ , ini adalah pendapat yang kuat atau rajih dikalangan madzhab Syafi’iyah , yang mewajibkan fidyah sesuai dengan tahun yang telah dilewati.Tetapi Menurut Malikiyah dan Hanabilah tidak perlu pengulangan fidyah.
الفقه الإسلامي و أدلته ١٦٨٠/١٦٧٩/٧٧٢٢
المطلب الثالث ـ الفدية: أما الفدية: فالكلام في حكمها، وسببها، وتكررها بتكرر السنين (١):
فحكم الفدية: الوجوب، لقوله تعالى: {وعلى الذين يطيقونه فدية طعام مسكين} [البقرة:١٨٤/ ٢] أي على الذين يتحملون الصوم بمشقة شديدة الفدية. والفدية عند الحنفية: نصف صاع من بُرّ، أي قيمته، بشرط دوام عجز الفاني والفانية إلى الموت. ومد من الطعام من غالب قوت البلد عن كل يوم عند الجمهور، بقدر ما فاته من الأيام. ومصارف الفدية والنذور المطلقة والكفارات والصدقات الواجبة: هي مصارف الزكاة. وسببها: ١ – العجز عن الصيام، فتجب باتفاق الفقهاء على من لا يقدر على الصوم بحال، وهو الشيخ الكبير والعجوز، إذا كان يجهدهما الصوم ويشق عليهما مشقة شديدة، فلهما أن يفطرا ويطعما لكل يوم مسكينا، للآية السابقة: {وعلى الذين يطيقونه فدية طعام مسكين} [البقرة:١٨٤/ ٢] وقول ابن عباس: «نزلت رخصة للشيخ الكبير» ولأن الأداء صوم واجب، فجاز أن يسقط إلى الكفارة كالقضاء. والشيخ الهم (١) له ذمة صحيحة، فإن كان عاجزا عن الإطعام أيضا فلا شيء عليه، و {لا يكلف الله نفسا إلا وسعها} [البقرة:٢٨٦/ ٢] وقال الحنفية: يستغفر الله سبحانه، ويستقبله أي يطلب منه العفو عن تقصيره في حقه.وأما المريض إذا مات فلا يجب الإطعام عنه؛ لأن ذلك يؤدي إلى أن يجب على الميت ابتداء، بخلاف ما إذا أمكنه الصوم فلم يفعل، حتى مات؛ لأن وجوب الإطعام يستند إلى حال الحياة. ٢ – وتجب الفدية أيضا بالاتفاق على المريض الذي لا يرجى برؤه، لعدم وجوب الصوم عليه، كما تقدم، لقوله عز وجل: {وما جعل عليكم في الدين من حرج} [الحج:٧٨/ ٢٢]. ٣ – وتجب الفدية كذلك عند الجمهور (غير الحنفية) مع القضاء على الحامل والمرضع إذا خافتا على ولدهما، أما إن خافتا على أنفسهما، فلهما الفطر، وعليهما القضاء فقط، بالاتفاق. ودليله الآية السابقة: {وعلى الذين يطيقونه فدية .. } [البقرة:١٨٤/ ٢] وهما داخلتان في عموم الآية، قال ابن عباس: «كانت رخصة الشيخ الكبير والمرأة الكبيرة، وهما يطيقان الصيام أن يفطرا، ويطعما مكان كل يوم مسكينا، والحبلى والمرضع إذا خافتا على أولادهما أفطرتا وأطعمتا» (١)، ولأنه فطر بسبب نفس عاجزة من طريق الخلقة، فوجبت به الكفارة كالشيخ الهرم. ولا تجب عليهما الفدية مطلقا عند الحنفية، لحديث أنس بن مالك الكعبي: «إن الله وضع عن المسافر شطر الصلاة، وعن الحامل والمرضع الصوم ـ أو الصيام ـ والله لقد قالها رسول الله صلى الله عليه وسلم، أحدهما أو كليهما» (٢) فلم يأمر بكفارة، ولأنه فطر أبيح لعذر، فلم يجب به كفارة كالفطر للمرضى. ورأي الجمهور أقوى وأصح لدي؛ لأنه نص في المطلوب، وحديث أنس مطلق لم يتعرض للكفارة. ٤ – وتجب الفدية أيضا مع القضاء عند الجمهور (غير الحنفية) على من فرط في قضاء رمضان، فأخره حتى جاء رمضان آخر مثله بقدر ما فاته من الأيام، قياسا على من أفطر متعمدا؛ لأن كليهما مستهين بحرمة الصوم، ولا تجب على من اتصل عذره من مرض أو سفر أو جنون أو حيض أو نفاس. تكرر الفدية: ولا تتكرر الفدية عند المالكية والحنابلة بتكرر الأعوام وإنماتتداخل كالحدود، والأصح في رأي الشافعية: أنها تتكرر بتكرر السنين؛ لأن الحقوق المالية لا تتداخل (١). وقال الحنفية: لا فدية بالتأخير إلى رمضان آخر، لإطلاق النص القرآني. {فمن كان منكم مريضاً أو على سفر فعدة من أيام أخر} [البقرة:١٨٤/ ٢ – ١٨٥] فكان وجوب القضاء على التراخي، حتى كان له أن يتطوع، فلا يلزمه بالتأخير شيء ولأنه القياس في الكفارات، غير أنه تارك للأولِى من المسارعة في القضاء. والفدية والكفارة والنذر وقتها العمر كله، والأولى التعجيل بقدر الإمكان وأن تكون الفدية في رمضان، لأن الثواب فيه أكثر. ويرى الحنابلة أن النذر والكفارة واجبان على الفور؛ لأنه مقتضى الأمر.
الفقه الإسلامي و أدلته – ١٦٧١/٧٧٢٢
ووقت قضاء رمضان: ما بعد انتهائه إلى مجيء رمضان المقبل، ويندب تعجيل القضاء إبراء للذمة ومسارعة إلى إسقاط الواجب، ويجب العزم على قضاء كل عبادة إذا لم يفعلها فورا، ويتعين القضاء فورا إذا بقي من الوقت لحلول رمضان الثاني بقدر ما فاته، ويرى الشافعية وجوب المبادرة بالقضاء أي القضاء فورا إذا كان الفطر في رمضان بغير عذر شرعي، ويكره لمن عليه قضاء رمضان أن يتطوع بصوم. وأما إذا أخر القضاء حتى دخل رمضان آخر، فقال الجمهور: يجب عليه بعد صيام رمضان الداخل القضاء والكفارة (الفدية). وقال الحنفية: لا فدية عليه سواء أكان التأخير بعذر أم بغير عذر. وتتكرر الفدية عند الشافعية بتكرر الأعوام. ولكن لا يجزئ القضاء في الأيام المنهي عن صومها كأيام العيد، ولا في الوقت المنذور صومه كالأيام الأولى من ذي الحجة، ولا في أيام رمضان الحاضر؛ لأنه متعين للأداء، فلا يقبل صوما آخر سواه. ويجزئ القضاء في يوم الشك لصحة صومه تطوعا، كما تقدم .وتتداخل الكفارة فلا تجب إلا واحدة بتكرر الإفطار في أيام عند الحنفية، وتتعدد الكفارة بتعدد الإفطار في أيام مختلفة عند الشافعية والحنابلة والمالكية (الجمهور). والله أعلم بالصواب .
Mohon izin nanya ( Sail K.Muhammad Rokib) Deskripsi masalah. Ada seseorang yg mau zakat fitrah dengan ukuran 2.5 atau 3kg. Kemudian ukuran zakat fitrah tersebut diberikan kepada tiga orang mustahik zakat( perorang 1kg )
Pertanyaannya.
Bolehkah mengeluarkan zakat fitrah diberikan langsung dengan cara tidak dibagikan pada satu orang ( diberikan kepada 3 orang fakir miskin ) dengan takaran atau ukuran per orang 1 kg.?atau takaran setengah kelo gram?.
Waalaikum salam. Jawaban. Ulama’ fiqih membolehkan memberikan zakat fitrah langsung dengan cara dibagi-bagikan kepada beberapa orang ) fakir miskin, misalkan ukuran 3 kg itu diberikan kepada tiga orang mustahik, yakni A.1 kg , B .1kg dan C. 1kg, Namun jika zakat fitrah itu diberikan langsung ( diberikan sendiri oleh muzakki ) maka gugurlah kewajiban Amil zakat untuk mendestribusikannya, alasannya karena tidak adanya zakat yang mereka kumpulkan.
Terkait memberikan zakat fitrah ulama berbeda pendapat: Pertama: Wajib diberikan ( dibagikan/dicairkan) kepada golongan yang 8 atau salah satu dari delapan golongan dengan cara merata.Ini menurut pendapat yang masyhur dikalangan Syafiiyah Kedua: Boleh memberikan zakat kepada beberapa golongan orang yang berhak menerima zakat, dan boleh mengkhususkan kepada orang-orang fakir ini menurut pendapat mayoritas ulama’. Ketiga: Wajib memberikan zakat fitrah dikhususkan pada orang-orang fakir saja ini menurut pendapat Malikiyah yang diperkuat oleh Imam Ahmad. Walaupun sebenarnya boleh zakat fitrah diberikan kepada satu orang miskin.
فقه الزكاة للشيخ يوسف القرضاوي الجزء الثاني الفصل الخامس لمن تُصرف زكاة الفطر؟ من لا تُصرف له زكاة الفطر فقراء البلد أولى الصرف لفقراء المسلمين بالإجماع الخلاف في فقراء أهل الذمة هل تُفرَّق على الأصناف الثمانية؟ الصرف لفقراء المسلمين بالإجماع قال ابن رشد: أما لمن تصرف؟. فأجمعوا على أنها تصرف لفقراء المسلمين لقوله -صلى الله عليه وسلم- : “أغنوهم”… الحديث. الخلاف في فقراء أهل الذمة قال: واختلفوا: هل تجوز لفقراء أهل الذمة؟. والجمهور على أنها لا تجوز لهم. وقال أبو حنيفة: تجوز لهم.
وسبب اختلافهم: هل سبب جوازها هو الفقر فقط؟ أو الفقر والإسلام معًا؟ فمن قال: الفقر والإسلام لم يجزها للذميين، ومن قال: الفقر فقط أجازها لهم، واشترط قوم في أهل الذمة الذين تجوز لهم أن يكونوا رهبانًا (بداية المجتهد : ٧٣/١: ). روى ابن أبي شيبة عن أبي ميسرة: أنه كان يعطي الرهبان صدقة الفطر (المصنف؛ ٣٩/٤: )، وعن عمرو بن ميمون، وعمرو بن شرحبيل، ومرة الهمداني: أنهم كانوا يعطون منها الرهبان (المغني ٧٨/٣: ). وهي لفتة إنسانية كريمة تنبئ عن روح الإسلام السمح، الذي لا ينهي عن البر بمخالفيه الذين لم يقاتلوا أهله ويعادوهم، فلا غرو أن تشمل مسرة العيد كل من يعيش في كنف المسلمين، ولو كانوا من الكفار في نظره. على أن هذا إنما يكون بعد أن يستغني فقراء المسلمين أولاً. وقد فصلنا القول في ذلك في باب مصارف الزكاة. هل تُفرَّق على الأصناف الثمانية؟ وهل يقتصر صرفها على الفقراء والمساكين أم تعمم على الأصناف الثمانية؟ المشهور من مذهب الشافعي: أنه يجب صرف الفطرة إلى الأصناف الذين تُصرف إليهم زكاة المال، وهم المذكورن في آية: (إنَّمَا الصَّدَقَاتُ) (التوبة: ٦٠)، وتلزم قسمتها بينهم بالسوية (المجموع: ١٤٤/٦: )، وهو مذهب ابن حزم، فإذا فرقها المزكي بنفسه سقط سهم العاملين لعدم وجودهم، والمؤلفة لأن أمرهم إلى الإمام لا إلى غيره (المحلي: ٦ /١٤٣-١٤٥). وردَّ ابن القيم على هذا الرأي فقال: “وكان من هديه -صلى الله عليه وسلم- تخصيص المساكين بهذه الصدقة، ولم يكن يقسمها على الأصناف الثمانية قبضة قبضة، ولا أمر بذلك، ولا فعله أحد من أصحابه، ولا من بعدهم بل أحد القولين عندنا: أنه لا يجوز إخراجها إلا على المساكين خاصة. وهذا القول أرجح من القول بوجوب قسمتها على الأصناف الثمانية (زاد المعاد ٣١٥/١: ).وعند المالكية: إنما تُصرف للفقراء والمساكين، ولا تُصرف لعامل عليها ولا لمؤلف قلبه، ولا في الرقاب، ولا لغارم ولا لمجاهد ولا لابن سبيل يتوصل بها لبلده، بل لا تعطى إلا بوصف الفقر، وإذا لم يوجد في بلدها فقراء نقلت لأقرب بلد فيها ذلك بأجرة من المزكي لا منها، لئلا ينقص الصاع (الشرح الكبير بحاشية الدسوقي :١ /٥٠٨-٥٠٩). فتبين بهذا أن هنا ثلاثة أقوال: ١- قول بوجوب قسمتها على الأصناف الثمانية -أو مَن وجد منهم- بالسوية، وهو المشهور عند الشافعية. ٢- وقول بجواز قسمتها على الأصناف، وجواز تخصيصها بالفقراء، وهو قول الجمهور؛ لأنها صدقة فتدخل في عموم قوله تعالى: (إنما الصدقاتً للفُقَراءِ والمسَاكِينِ) (التوبة: ٦٠)…. الآية. ٣- وقول بوجوب تخصيصها بالفقراء، وهو مذهب المالكية -كما ذكرنا- وأحد القولين عند أحمد، ورجحه ابن القيم، وشيخه ابن تيمية. وإلى هذا القول ذهب الهادي والقاسم وأبو طالب: أن الفطرة تُصرف في الفقراء والمساكين دون غيرهم من مصارف الزكاة الثمانية، لما جاء في الأحاديث أنها: (طعمة للمساكين)، ولحديث: (أغنوهم في هذا اليوم) (نيل الأوطار ١٩٥/٤: ). ومع وجاهة هذا القول، وتمشيه مع طبيعة زكاة الفطر، وهدفها الأساسي فأرى ألا نسد الباب بالكلية ونمنع جواز استخدامها في المصارف الأخرى عند الحاجة. والأحاديث التي ذكروها تدل على أن المقصود الأهم منها إغناء الفقراء بها في ذلك اليوم خاصة، فيجب تقديمهم علي غيرهم إن وجدوا، وهذا لا يمنع أن تُصرف في المصارف الأخرى حسب الحاجة والمصلحة، كما ذكر النبي -صلى الله عليه وسلم- في زكاة الأموال: أنها: (تُؤخذ من أغنيائهم فتُرد على فقرائهم)، ولم يمنع ذلك أن تُصرف في الجهات الأخرى التي أرشدت إليها الآية الكريمة.وبهذا يتضح: أن القول الذي نختاره، هو تقديم الفقراء على غيرهم إلا لحاجة ومصلحة إسلامية معتبرة. والقول الصحيح الذي عليه أكثر الفقهاء أن للشخص الواحد أن يدفع فطرته إلى مسكين أو عدة مساكين، كما أن للجماعة أن يدفعوا فطرتهم إلى مسكين واحد؛ إذ لم يفصل الدليل (البحر الزخار؛١٩٧/٢: ). وكره بعضهم دفع الواحد إلى عدد؛ لأنه لا يتحقق به الإغناء المأمور به في الحديث، ومثل ذلك دفع جماعة كثيرة فطرتهم إلى واحد يؤثرونه بها، مع وجود غيره ممن هو مثله في الحاجة أو أحوج منه، دون مسوغ يقتضي هذا الإيثار (انظر: الدر المختار وحاشيته:٨٥/٢: ، والشرح الكبير بحاشية الدسوقي:٥٠٨/١: ).
من لا تُصرف له زكاة الفطر
وما دامت صدقة الفطر زكاة، فلا يجوز دفعها إلى كل من لا يجوز دفع زكاة المال إليه، من كافر معاد للإسلام، أو مرتد، أو فاسق يتحدى المسلمين بفسقه، أو غني بماله أو كسبه، أو متبطل قادر على الكسب ولا يعمل، أو والد، أو ولد، أو زوجة؛ لأن المسلم حين يدفعها إلى هؤلاء كأنما يدفعها إلى نفسه، وقد فصلنا ذلك في باب “مصارف الزكاة”. فقراء البلد أولى وما قلناه في نقل زكاة المال نقوله هنا، وهو: أن الأصل أن توزع الفطرة في البلد الذي وجبت فيه، وهو البلد الذي فيه المزكي، للاعتبارات التي ذكرناها هناك، ولأن زكاة الفطر خاصة بمثابة إسعاف سريع في مناسبة خاصة، هي مناسبة العيد، فأولى الناس به الجيران وأهل البلد. إلا إن عدم الفقراء فيه، فتنقل إلى ما قرب منه كما ذكرنا عن المالكية، وقال في البحر: تُكره في غير فقراء البلد إلا لغرض أفضل (البحر الزخار:٢٠٣/٢: ).
Referensi:
الفقه الإسلامي و أدلته – ١٩٨٢/٧٧٢٢
وأجازالفقهاء دفع صاع واحد لمساكين يقتسمونه، وأباح غير الشافعي دفع آصع متعددة لواحد من الفقراء، ودفع كل شخص فطرته إلى مسكين أو مساكين، أي إن الجمهور أجازوا إعطاء الواحد ما يلزم الجماعة، والجماعة ما يلزم الواحد، أي دفع صدقة جماعة إلى مسكين واحد، لكن لا خلاف بين الفقهاء في إعطاءالجماعة ما يلزم الواحد؛ لأنه صرف صدقته إلى مستحقها، فبرئ منها كما لو دفعها إلى واحد.أما إعطاء الواحد صدقة الجماعة: فإن الشافعي أوجب تفرقة الصدقة على ستة أصناف، ودفع حصة كل صنف إلى ثلاثة منهم، كما ذكر في مصارف الزكاة. والراجح رأي الجمهور؛ لأنها صدقة لغير معين، فجاز صرفها إلى واحد، فيجوز أن يأخذ الواحد زكاة أكثر من واحد.
Ulama fiqih memperbolehkan memberikan zakat fitrah satu sho’ kepada beberapa orang miskin, yang semuanya memperoleh bagian, artinya yang satu sho’ itu dipilah-pilah misalkan. A.1.kg B.1kg C. 1 kg………………………
تحرير الفتاوي ج ٢ ص ٤٩٦ ٣٤٤٨ – قول ” المنهاج ” [ص ٣٧٠]: (وتجب التسوية بين الأصناف) محله: في غير العامل؛ فإنه لا يعطى إلا أجرة مثله كما صرح به ” التنبيه ” [ص ٦٤] و” الحاوي ” [ص ٤٥٠].
………. Di dalam madzhabnya imam Syafi’i,itu wajib memberikan zakat kepada semua golongan yang ada (diantara 8 golongan yang berhak menerima zakat).Tapi madzhabnya imam yang tiga(imam Ahmad bin Hanbal,imam Malik dan imam Abu Hanifah),itu diperbolehkan mengambil cukup hanya memberikan zakat kepada satu golongan saja.
بغية المسترشدين ص١٠٥ (مسألة ي ش )
لا خفاء أن مذهب الشافعي وجوب استيعاب الموجودين من الأصناف في الزكاة والفطرة ومذهب الثلاث جواز الإقتصار على صنف واحد وأفتى به ابن عجيل والأصبحي وذهب إليه أكثر المتأخرين لعسر الأمر ويجوز تقليد هؤلاء في نقلها ودفعها إلى شخص واحد كما أفتى به ابن عجيل وغيره ويجوز دفع الزكاة إلى من تلزمه نفقته من سهم الغارمين بل هم أفضل من غيرهم لا من سهم الفقراء أو المساكين إلا أن لا يكفيهم ما يعطيهم إياه.