logo mubaa
Logo Ittihad

DEWAN PIMPINAN PUSAT
IKATAN ALUMNI BATA-BATA

Kategori
Uncategorized

HUKUM PERNIKAHAN DAN OPERASI STERIL BAGI PENGIDAP HIV DALAM PERSPEKTIF ISLAM

Hukum Pernikahan dan Operasi Steril bagi Pengidap HIV dalam Perspektif Islam

Assalamualaikum

Deskripsi masalah;

Di suatu kota besar, ada seorang laki-laki yang mengidap penyakit HIV karena sering gonta-ganti pasangan, namun laki-laki tersebut telah bertaubat dengan sebenar-benarnya taubat dan dia memperdalam ilmu agama dengan mondok di salah satu pondok pesantren di Jawa. Di saat proses mondoknya, ia bertemu dan mengenal seorang santriwati yang cantik dan baik, hingga tanpa disadari mereka saling jatuh cinta, namun karena laki-laki tersebut sadar kalau dirinya mengidap HIV, laki-laki tersebut menjauhi santriwati yang dicintainya, dan pada akhirnya laki-laki tersebut mengatakan dengan tegas kepada santriwati yang dicintainya, *”Kita tidak mungkin bersama, karena saya mengidap penyakit terkutuk yaitu HIV”*. Si santriwati tersebut terkejut, namun lebih mengejutkan lagi santriwati tersebut mau menerima laki-laki itu apa adanya, hingga akhirnya mereka akan melangsungkan pernikahan dan berkomitmen si santriwati akan melakukan tindakan memutus jalan rahim dengan proses operasi steril dengan tujuan tidak ingin menularkan penyakit tersebut kepada anak cucunya.

`Pertanyaan:`

1. Bagaimana hukum pernikahan tersebut?
2. Bagaimana hukum operasi steril dengan tujuan sebagaimana deskripsi diatas?
3. Bagaimana pandangan ulama tentang orang pengidap penyakit HIV dalam lingkup bersosial?

SĀ’IL: Hamba Allah

Mohon jawaban beserta referensinya

Waalaikum salam

Jawaban:

1. Hukum Pernikahan dengan Orang yang Mengidap HIV

Pernikahan dengan seseorang yang mengidap HIV dalam Islam diperbolehkan, namun ada beberapa ketentuan syariat yang harus diperhatikan. Pada prinsipnya, agama tidak melarang orang yang memiliki penyakit kronis untuk menikah, termasuk pengidap HIV, selama ada kejujuran antara kedua belah pihak mengenai kondisi kesehatan masing-masing dan saling menerima dengan kesadaran penuh. Dalam kasus ini, pengidap HIV telah memberitahu santriwati mengenai kondisinya, dan santriwati tersebut menerima dengan ikhlas. Hal ini sejalan dengan prinsip bahwa rukun dan syarat sahnya nikah dalam Islam tetap dapat terpenuhi, seperti adanya ijab qabul dan ridha antara kedua belah pihak.

Para ulama menyarankan agar pasangan yang terlibat dalam kasus seperti ini berkonsultasi dengan ahli medis terkait risiko penularan dan cara-cara untuk meminimalkan penularan. Di samping itu, keduanya juga disarankan untuk memiliki tekad kuat dalam menjaga kesehatan diri masing-masing dan mematuhi anjuran medis untuk melindungi satu sama lain dari potensi penularan. [1]

2. Hukum Operasi Steril untuk Mencegah Penularan Penyakit

Dalam hukum Islam, tindakan operasi steril yang bertujuan untuk mencegah penularan penyakit bisa jadi diperbolehkan dengan syarat tertentu. Salah satu syaratnya adalah jika terdapat risiko besar bahwa penyakit tersebut akan diwariskan kepada keturunan, dan tidak ada metode pencegahan lain yang lebih aman dan efektif. Beberapa ulama berpendapat bahwa operasi steril dapat diperbolehkan dalam situasi darurat atau dalam rangka mencegah dampak yang lebih buruk (mafsadah) bagi keturunan.

Namun, tindakan ini harus dilakukan dengan izin dari ahli medis yang terpercaya serta niat untuk menghindari mudarat yang lebih besar. Di samping itu, pihak yang bersangkutan hendaknya memperhatikan bahwa dalam Islam, segala tindakan yang mengubah fungsi tubuh harus didasarkan pada prinsip pencegahan kerusakan yang lebih besar, bukan untuk tujuan-tujuan yang tidak syar’i. [2]

3. Pandangan Ulama tentang Orang Pengidap HIV dalam Lingkup Sosial

Orang yang mengidap HIV tidak boleh dikucilkan atau diperlakukan secara diskriminatif dalam Islam. Banyak ulama menekankan pentingnya berperilaku baik kepada sesama manusia dan tidak menstigma mereka karena penyakit yang diderita. Penyakit HIV dapat ditularkan melalui beberapa cara tertentu, sehingga orang yang terinfeksi tetap dapat bersosialisasi dengan orang lain selama mereka menjaga diri dengan baik dan mengikuti pedoman medis.

Selain itu, taubat laki-laki tersebut dan komitmennya untuk mendalami agama merupakan hal yang sangat dihargai dalam Islam. Islam sangat menekankan penerimaan atas taubat dan perubahan sikap seseorang, serta memberikan kesempatan bagi yang bersangkutan untuk berusaha menjadi pribadi yang lebih baik. Sikap masyarakat hendaknya lebih bersifat suportif dan membantu pengidap HIV untuk tetap bisa menjalani kehidupan dengan penuh makna dan pengembangan spiritual.

Dalam konteks bersosial, pengidap HIV dapat berinteraksi dengan normal, namun dengan tetap mematuhi anjuran kesehatan untuk meminimalkan risiko penularan. Ini sejalan dengan prinsip Islam untuk saling menjaga dan memberikan hak sesama manusia, termasuk hak atas kesehatan dan hak untuk hidup bermasyarakat. [3]

Referensi:

1. As-Syarbini, Mughni al-Muhtaj, Juz 3, hlm. 136.

“ولا يمنع من نكاحه، إذا رضي به الطرف الآخر وعلم حاله، إذ الغرض من النكاح قد يحصل، فيجوز الزواج منه ما دام لا ضرر كبير متوقع.”

Artinya: Tidak ada larangan menikahi seseorang apabila pihak lain rela dan mengetahui keadaannya, sebab tujuan dari pernikahan mungkin tercapai, dan pernikahan boleh dilakukan selama tidak ada bahaya besar yang diantisipasi.

المجموع شرح المهذب المكتبة الشاملة
ص٣٥٧٢/١٦٥٣

(فرع)
قال في الاملاء: إذا علم بالعيب حال العقد فلا خيار له لانه عيب رضى به فلم يكن له الفسخ لاجله، كما لو اشترى شيئا معيبا مع العلم بعيبه.
فإن أصاب أحد الزوجين بالآخر عيبا فرضى به سقط حقه من الفسخ لاجله، فإن وجد عيبا غيره بعد ذلك ثبت له الفسخ لاجله لانه لم يرض به، وإن زاد العيب الذى رآه ورضى به نظرت، فإن حدث في موضع آخر بأن رأى البرص والجذام في موضع من البدن فرضى به، ثم حدث البرص في موضع آخر من البدن كان له الخيار في الفسخ، لان هذا غير الذى رضى به، وإن اتسع ذلك الموضع الذى رضى به لم يثبت له الخيار لاجله، لان رضاه به رضاه بما تولد منه

(Cabang)
Dikatakan dalam al-Imlā’ (Penulisan): Jika seseorang mengetahui adanya cacat pada saat akad, ( akad nikah ) maka ia tidak memiliki hak untuk membatalkan akad (fasakh nikah ) karena cacat tersebut telah disetujui olehnya, seperti halnya jika seseorang membeli barang yang cacat dengan mengetahui cacatnya.

Jika salah satu pasangan mengetahui cacat pada pasangan lainnya dan menyetujuinya, maka hak untuk membatalkan akad karena cacat tersebut hilang. Namun, jika kemudian ditemukan cacat lain yang belum disetujui, maka pasangan tersebut berhak untuk membatalkan akad karena cacat baru ini, karena ia belum menyetujuinya.

Jika cacat yang sudah disetujui oleh salah satu pasangan bertambah, maka harus dilihat. Jika cacat tersebut muncul di bagian tubuh lain, misalnya seseorang melihat adanya penyakit kulit seperti kurap atau kusta pada bagian tubuh tertentu dan menyetujuinya, tetapi kemudian muncul penyakit yang sama di bagian tubuh lain, maka pasangan tersebut memiliki hak untuk membatalkan akad, karena ini adalah cacat yang berbeda dari yang sebelumnya disetujui. Namun, jika cacat yang sudah ada meluas pada bagian tubuh yang sama yang telah disetujui, maka tidak ada hak untuk membatalkan akad, karena persetujuan tersebut mencakup perkembangan atau perluasan cacat tersebut.

2. Al-Bahuti, Kasysyaf al-Qina’, Juz 5, hlm. 214.

“يجوز إجراء عملية التعقيم عند الضرورة كحالة مرض معدٍ ينتقل إلى الذرية، وذلك لدرء مفسدة أكبر، بشرط ألا يوجد طريق آخر أخف منه ضررا.”

Artinya: Diperbolehkan melakukan operasi steril dalam keadaan darurat, seperti pada kasus penyakit menular yang bisa diturunkan kepada keturunan, untuk mencegah kerusakan yang lebih besar, dengan syarat tidak ada cara lain yang risikonya lebih ringan.

 

3. Fatwa Lajnah Daimah (Arab Saudi), No. 23416

“ينبغي على المسلم أن لا يعزل المصابين بالأمراض المعدية، وأن يتعامل معهم بالحسنى، مع اتخاذ التدابير اللازمة للوقاية من العدوى.”

Artinya: Seorang Muslim seharusnya tidak mengucilkan orang-orang yang terkena penyakit menular dan harus bersikap baik kepada mereka, dengan tetap mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk mencegah penularan.

من خلال الشرح السابق حول
الزواج في حالة معرفة الزوجة المستقبلية بوجود عيب في الزوج المستقبلي، خاصة فيما يتعلق بمرض الإيدز:

بشكل عام، في الإسلام، يكون الزواج الذي يقوم على الرضا المتبادل بين الطرفين صحيحًا. إذا كانت الزوجة المستقبلية تعرف بالعيب الجسدي أو المرض الذي يعاني منه الزوج المستقبلي، لكنها لا تزال موافقة على الزواج منه، فإن الزواج يمكن أن يستمر. هذا يُظهر الرضا والتقبل من طرف الزوجة لحالة الزوج.

ومع ذلك، هناك بعض الأمور الهامة التي يجب أخذها في الاعتبار في هذه الحالة:

 الأمراض المنقولة جنسياً (مثل الإيدز):
واجب الإفصاح: يجب على الزوج المستقبلي أن يُعلم حالته الصحية، بما في ذلك إذا كان مصابًا بالإيدز، للزوجة المستقبلية قبل الزواج. هذا الإفصاح مهم لكي تتمكن الزوجة من اتخاذ القرار الصائب.

 خطر انتقال العدوى: على الرغم من أن الزواج قد يستمر، يجب أن تفهم الزوجة المستقبلية خطر انتقال الإيدز وتتخذ التدابير الوقائية المناسبة.
صحة المجتمع: في سياق الصحة العامة، من المهم إجراء فحص الإيدز قبل الزواج لتجنب انتشار المرض.

الجوانب القانونية:
القانون الإسلامي: يُؤكد القانون الإسلامي على أهمية الصدق والشفافية في الزواج. الإفصاح عن الحالة الصحية يعد جزءًا من هذه الشفافية.
القانون الوضعي: في العديد من الدول، بما في ذلك إندونيسيا، هناك قوانين تنظم الزواج بما في ذلك شروط الصحة. من الأفضل استشارة الجهات المختصة لمعرفة القوانين المطبقة في منطقتك.

الخلاصة: إذا كانت الزوجة المستقبلية على علم بحالة الإيدز لدى الزوج المستقبلي وكانت موافقة على الزواج، فإن الزواج يمكن أن يستمر من حيث المبدأ. ومع ذلك، من المهم أن يفهم الطرفان عواقب هذا الزواج من النواحي الصحية والقانونية.

النصائح:

 استشارة المختصين: يجب على كل من الزوجين المستقبليين وأسرهم استشارة علماء الدين، الأطباء، والخبراء القانونيين للحصول على نصيحة شاملة.
التحضير النفسي: يجب على كلا الطرفين التحضير نفسيًا لمواجهة التحديات التي قد تنشأ نتيجة لهذه الحالة.
الوقاية: من المهم اتخاذ التدابير الوقائية لمنع انتقال الإيدز سواء قبل أو بعد الزواج.

من المهم أن نتذكر أن كل حالة لها سياق مختلف. لذلك، يُنصح بشدة بالبحث عن الحلول الأفضل للطرفين مع مراعاة الجوانب الدينية والقانونية والصحية.والله أعلم بالصواب

Dari penjelasan diatas mengenai pernikahan dalam kondisi calon istri mengetahui cacat calon suami, khususnya terkait penyakit HIV.
Secara umum, dalam Islam, pernikahan yang didasari atas kerelaan kedua belah pihak adalah sah. Jika seorang calon istri mengetahui cacat fisik atau penyakit yang diderita calon suaminya, namun tetap bersedia menikahinya, maka pernikahan tersebut dapat dilanjutkan. Hal ini menunjukkan adanya kerelaan dan penerimaan dari pihak istri terhadap kondisi suaminya.
Namun, ada beberapa hal penting yang perlu diperhatikan dalam kasus ini:
✅ Penyakit Menular Seksual (PMS) seperti HIV:
☑️ Kewajiban Pengungkapan: Calon suami memiliki kewajiban untuk memberitahukan kondisi kesehatannya, termasuk jika ia mengidap HIV, kepada calon istrinya sebelum pernikahan. Pengungkapan ini penting agar calon istri dapat membuat keputusan yang tepat.
✅Risiko Penularan: Meskipun pernikahan dapat dilanjutkan, calon istri perlu memahami risiko penularan HIV dan mengambil langkah-langkah pencegahan yang sesuai.
✅ Kesehatan Masyarakat: Dalam konteks kesehatan masyarakat, penting untuk melakukan tes HIV sebelum menikah agar dapat mencegah penyebaran penyakit lebih lanjut.

  1. Aspek Hukum:
    ✅ Hukum Islam: Hukum Islam menekankan pentingnya kejujuran dan keterbukaan dalam pernikahan. Pengungkapan kondisi kesehatan merupakan bagian dari kejujuran tersebut.
    ✅ Hukum Positif: Di berbagai negara, termasuk Indonesia, terdapat peraturan perundang-undangan yang mengatur tentang pernikahan, termasuk persyaratan kesehatan. Ada baiknya untuk berkonsultasi dengan pihak berwenang untuk mengetahui peraturan yang berlaku di wilayah Anda.
    Kesimpulan
    Jika calon istri telah mengetahui kondisi HIV calon suaminya dan tetap bersedia menikahinya, maka secara prinsip pernikahan tersebut dapat dilanjutkan. Namun, penting bagi kedua belah pihak untuk memahami konsekuensi dari pernikahan tersebut, baik dari segi kesehatan maupun aspek hukum.
    Saran:
    ✅ Konsultasi dengan Ahli: Baik calon pengantin maupun keluarga sebaiknya berkonsultasi dengan ahli agama, dokter, dan ahli hukum untuk mendapatkan nasihat yang komprehensif.
    ✅Persiapan Mental: Kedua belah pihak perlu mempersiapkan diri secara mental untuk menghadapi tantangan yang mungkin timbul akibat kondisi ini.
    ✅Pencegahan: Pengambilan tindakan pencegahan untuk mencegah penularan HIV sangat penting, baik sebelum maupun setelah pernikahan.
    Penting untuk diingat: Setiap kasus memiliki konteks yang berbeda. Oleh karena itu, sangat disarankan untuk mencari solusi yang terbaik bagi kedua belah pihak dengan mempertimbangkan aspek agama, hukum, dan kesehatan.Wallahu A’lam bisshowab
Kategori
Uncategorized

Meneladani Sunnah dalam Penandaan Makam: Sejarah dan Makna Batu Nisan

“Meneladani Sunnah dalam Penandaan Makam: Sejarah dan Makna Batu Nisan”

 

Assalamualaikum

 

Deskripsi Masalah

 

Ketika seseorang meninggal dunia, biasanya setelah dimakamkan, orang-orang akan menandai makamnya dengan meletakkan batu nisan. Beberapa orang langsung memasangnya saat pemakaman, sementara yang lain menunggu hingga tujuh hari setelah pemakaman. Seiring perkembangan zaman, muncul kebiasaan baru yang disebut “Kijing,” yaitu meletakkan batu nisan setelah seribu hari sejak kematian.

 

Pertanyaan

 

Apakah ada dalil yang menetapkan waktu tertentu untuk memasang batu nisan dan “Kijing” di makam? Bagaimana hukum menulis nama almarhum pada batu nisan?

 

 

Waalaikum salam

 

Jawaban

 

Tidak ada dalil khusus dalam syariat Islam yang menetapkan waktu tertentu untuk memasang batu nisan atau kayu pada makam jenazah, demikian pula dengan tradisi “Kijing.” Secara umum, pemasangan batu nisan dimaksudkan sebagai tanda untuk mempermudah pengenalan letak makam.

 

Adapun mengenai penandaan makam dengan batu atau kayu, hal ini tidak bertentangan dengan syariat Islam. Rasulullah SAW pernah meletakkan batu pada makam saudaranya sesusuan, Utsman bin Mazh’un, sebagai tanda untuk membedakan makam tersebut.

 

Sebagaimana disebutkan dalam Sunan Abi Dawud nomor 3207, dari riwayat Abu Dawud:

 

“Ketika Utsman bin Mazh’un wafat, jenazahnya dibawa dan dimakamkan, lalu Nabi SAW memerintahkan seseorang untuk membawakan sebuah batu. Orang itu tidak mampu mengangkatnya, lalu Rasulullah SAW sendiri yang mengangkatnya sambil menyingkap lengan beliau – sebagaimana yang diriwayatkan oleh Al-Muthalib – yang menyebutkan, ‘Aku seolah melihat putihnya lengan Rasulullah SAW ketika beliau menyingkapnya, lalu mengangkat batu tersebut dan meletakkannya di dekat kepala (makam) seraya bersabda, “Aku menandai makam saudaraku ini, agar aku dapat memakamkan keluarga yang meninggal dari keluargaku di sini.”’”

 

Dari hadits ini, para ulama menyimpulkan bahwa pemasangan batu nisan di makam adalah hal yang dianjurkan, terutama di bagian kepala jenazah. Beberapa orang juga memasang batu nisan di bagian kepala dan kaki jenazah untuk lebih memperjelas letak makam, serta untuk mempermudah pemakaman kerabat yang meninggal di sebelahnya. Imam Al-Mawardi juga menganjurkan agar batu diletakkan di bagian kaki jenazah dengan tujuan serupa.

 

Mengenai penulisan pada batu nisan, para ulama memiliki perbedaan pendapat. Dalam hadits riwayat Imam Tirmidzi dari Jabir disebutkan bahwa Rasulullah SAW melarang memutihkan kubur, menulis di atasnya, membangun di atasnya, dan berjalan di atasnya. Namun, mayoritas ulama menafsirkan larangan ini sebagai makruh (tidak dianjurkan), bukan haram.

 

Para ulama memperbolehkan penulisan nama almarhum pada batu nisan jika tujuannya untuk mempermudah mengenali makam dan mempermudah ziarah. Namun, mereka memperingatkan agar tidak menulis ayat-ayat Al-Qur’an atau nama-nama Allah di batu nisan; karena khawatir ayat-ayat tersebut terinjak atau tidak dihormati.

 

Sedangkan Memberi kijingan makam hukumnya makruh dengan catatan atasnya kuburan terbuka dan tanah milik pribadi dengan tujuan adanya hajat karena hawatir ambruk atau terkena banjir maka dalam kondisi seperti ini boleh

 

Kesimpulannya, pemasangan batu nisan dan penulisan nama almarhum di atasnya diperbolehkan dalam Islam sebagai tanda untuk mengenali makam, dengan syarat dilakukan dengan sederhana, begitu juga menkejing kuburan dengan tidak berlebihan, dan sesuai kebutuhan.

 

Referensi:

 

  سنن أبي داود رقم ٣٢٠٧ الحديث رواه أبوداود

 

حَدَّثَنَا عَبْدُ الْوَهَّابِ بْنُ نَجْدَةَ، حَدَّثَنَا سَعِيدُ بْنُ سَالِمٍ، ح وَحَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ الْفَضْلِ السِّجِسْتَانِيُّ، حَدَّثَنَا حَاتِمٌ، – يَعْنِي ابْنَ إِسْمَاعِيلَ – بِمَعْنَاهُ عَنْ كَثِيرِ بْنِ زَيْدٍ الْمَدَنِيِّ، عَنِ الْمُطَّلِبِ، قَالَ لَمَّا مَاتَ عُثْمَانُ بْنُ مَظْعُونٍ أُخْرِجَ بِجَنَازَتِهِ فَدُفِنَ أَمَرَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم رَجُلاً أَنْ يَأْتِيَهُ بِحَجَرٍ فَلَمْ يَسْتَطِعْ حَمْلَهُ فَقَامَ إِلَيْهَا رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم وَحَسَرَ عَنْ ذِرَاعَيْهِ – قَالَ كَثِيرٌ قَالَ الْمُطَّلِبُ قَالَ الَّذِي يُخْبِرُنِي ذَلِكَ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ – كَأَنِّي أَنْظُرُ إِلَى بَيَاضِ ذِرَاعَىْ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم حِينَ حَسَرَ عَنْهُمَا ثُمَّ حَمَلَهَا فَوَضَعَهَا عِنْدَ رَأْسِهِ وَقَالَ ‏ “‏ أَتَعَلَّمُ بِهَا قَبْرَ أَخِي وَأَدْفِنُ إِلَيْهِ مَنْ مَاتَ مِنْ أَهْلِي ‏”‏ ‏.

 

الإقناع همش تحفة الحبيب على الحطيب( بيروت دار الكتب العلمية : ١٩٩٦ م /١٤١٧ ه طبعة الأولى ج ٢ ص ٥٧١

 

وَأَنْ يَضَعَ عِنْدَ رَأْسِهِ حَجَرًا أَوْ خَشَبَةً أَوْ نَحْوَ ذَلِكَ لِأَنَّهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَضَعَ عِنْدَ رَأْسِ عُثْمَانَ بْنِ مَظْعُونٍ صَخْرَةً وَقَالَ : أَتَعَلَّمُ بِهَا قَبْرَ أَخِي لِأَدْفِنَ إلَيْهِ مَنْ مَاتَ مِنْ أَهْلِي

 

البجيرمي تحفة الحبيب على الخطيب( بيروت دار الكتب العلمية : ١٩٩٦م /١٩١٧ ه الطبعة الأولى ج ٢ ص ٥٧١

 

لِأَدْفِنَ إلَيْهِ مَنْ مَاتَ مِنْ أَهْلِي) قَضِيَّتُهُ نَدْبُ عِظَمِ الْحَجَرِ وَمِثْلُهُ نَحْوُهُ، وَوَجْهُهُ ظَاهِرٌ فَإِنَّ الْقَصْدَ بِذَلِكَ مَعْرِفَةُ قَبْرِ الْمَيِّتِ عَلَى الدَّوَامِ، وَلَا يَثْبُتُ كَذَلِكَ إلَّا الْعَظِيمُ؛ وَذَكَرَ الْمَاوَرْدِيُّ اسْتِحْبَابَهُ عِنْدَ رِجْلَيْهِ، ا هـ شَرْحُ م ر .

 

حاشية البجيرمى ٩٧/٢

 

نعم استثنى بعضهم قبور الأنبياء والشهداء والصالحين ونحوهم برماوي وعبارة الرحماني:نعم قبور الصالحين يجوز بناؤها ولو بقبة الأحياء للزيارة والتبرك،قال الحلبي: ولو في مسبلة وأفتى به

 

وكره بناء له ) أي للقبر ( أو عليه ) لصحة النهي عنه بلا حاجة كخوف نبش أو حفر سبع أو هدم سيلومحل كراهة البناء إذا كان بملكه

ما رواه مسلم، قال: نهى رسول الله (ص) أن يجصص القبر وأن يبنى عليه.زاد وأن يقعد عليه الترمذي: وأن يكتب عليه، وأن يوطأ عليه.وقال: حديث حسن صحيح

ويكره كتب القرأن على حائط ولو لمسجد و ثياب و طعام و نحو ذلك و يجوز هدم الحائط و لبس الثوب وأكل الطعام

الباجوري ١/١١٧

ويحل لبس الثياب التي نقش عليها شيئ من القرأن والنوم فيها ولو للجنب.

الإقناع ١٠٤/١

 

أما ما كتب لغير الدراسة كالتميمة وهي ورقة يكتب فيها شيء من القرآن وتعلق على الرأس مثلا للتبرك والثياب التي يكتب عليها والدراهم فلا يحرم مسها ولا حملها لأنه e كتب كتابا إلى هرقل وفيه يا أهل الكتاب تعالوا إلى كلمة سواء بيننا وبينكم الآية ولم يأمر حاملها بالمحافظة على الطهارة ويكره كتابة الحروز وتعليقها إلا إذا جعل عليها شمعا أو نحوه

روضة الطالبين ١١٦ بيروت

وأما ما كتب عليه شيء من القرآن لا للدراسة ، كالدراهم الأحدية ، والثياب ، والعمامة ، والطعام ، والحيطان ، وكتب الفقه ، والأصول ، فلا يحرم مسه ، ولا حمله على الصحيح روضة الطالبين وعمدة المفتين أبو زكريا يحيى بن شرف النووي

فتاوى بحثية

اسم المفتي : لجنة الإفتاء

الموضوع : حكم وضع الشاهد على القبر

رقم الفتوى: ٨٦٩

التاريخ :٢٥-٠٧-٢١٠

التصنيف: الجنائز

نوع الفتوى: بحثية

 

السؤال:

توفي والدي رحمه الله قبل ثلاثة أسابيع، فهل من الجائز أن يوضع شاهد على القبر، أم أنه من الأمور المحرمة؟ أرجو نصحي.

الجواب:

 

الحمد لله، والصلاة والسلام على سيدنا رسول الله

اتفق الفقهاء على جواز وضع الشواهد – غير المكتوب عليها – على القبور، كالحجر، أو الخشب، وذلك لغرض تعليم القبر وتمييزه عن غيره من الأرض.

أما إذا كان الشاهد مكتوبا عليه – كما هو الحال في الشواهد في بلادنا – فينظر فيه:

١- إذا لم تكن ثمة حاجة للكتابة على الشاهد، ككتابة القرآن الكريم والأذكار الشرعية أو بعض عبارات التعظيم والتفخيم، فقد اتفق الفقهاء أيضا على النهي عن مثل هذا النوع من الكتابة، لحديث يرويه أصحاب السنن أن النبي صلى الله عليه وسلم: (نهى أن يبنى على القبر أو يزاد عليه أو يجصص أو يكتب عليه)

٢- أما إذا احتجنا إلى كتابة اسم المدفون لتمييزه عن غيره، وزيارة أهله له، فهذا جائز في معتمد مذهب الحنفية، خلافا لجمهور الفقهاء.

يقول ابن عابدين رحمه الله: “لا بأس بالكتابة إن احتيج إليها حتى لا يذهب الأثر ولا يمتهن؛ لأن النهي عنها – وإن صح – فقد وجد الإجماع العملي بها, فقد أخرج الحاكم النهي عنها من طرق, ثم قال: هذه الأسانيد صحيحة وليس العمل عليها, فإن أئمة المسلمين من المشرق إلى المغرب مكتوب على قبورهم, وهو عمل أخذ به الخلف عن السلف اهـ، ويتقوى بما أخرجه أبو داود بإسناد جيد: (أن رسول الله صلى الله عليه وسلم حمل حجرا فوضعها عند رأس عثمان بن مظعون وقال: أتعلَّم بها قبر أخي، وأدفن إليه من مات من أهلي)

نعم، يظهر أن محل هذا الإجماع العملي على الرخصة فيها ما إذا كانت الحاجة داعية إليه في الجملة، فأما الكتابة بغير عذر فلا، حتى إنه يكره كتابة شيء عليه من القرآن أو الشعر أو إطراء مدح له ونحو ذلك..فالأحسن التمسك بما يفيد حمل النهي على عدم الحاجة” انتهى باختصار. “رد المحتار” (٢/٢٣٨). والله أعلم.

Kategori
Uncategorized

Sejarah dan Hukum Penggunaan Surban dalam Islam Menurut Pandangan Ulama

Assalamualaikum

Deskripsi Masalah: Di tengah masyarakat kita, seringkali terlihat bahwa sebagian umat Muslim memakai surban, baik saat melaksanakan sholat maupun di luar sholat. Penggunaan surban ini tidak hanya dilakukan oleh mereka yang telah menunaikan ibadah haji atau umrah, tetapi walaupun belum haji sebagian memakai surban.

Pertanyaan: Bagaimana sebenarnya sejarah penggunaan surban, dan bagaimana hukum memakainya menurut pandangan para ulama?

Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh,

Jawaban

Penggunaan surban dalam Islam memiliki akar sejarah dan Asal Usul

Adapun sejarah dan asal usul surban bukan hanya dikenal dalam tradisi Islam, tetapi juga merupakan atribut khas yang telah digunakan oleh bangsa Arab bahkan dalam sejarah pertama kali orang yang menggunakan ( memakai) surban adalah Nabi Adam Alaihissalam hingga pada Nabi Muhammad SAW. Di dalam berbagai riwayat, Rasulullah SAW sendiri menggunakan surban dengan berbagai warna, termasuk putih, yang kemudian dianggap sebagai simbol kebersihan dan kesucian. Salah satu riwayat dari Jabir bin Abdullah RA menyebutkan bahwa saat Fathul Makkah (Pembebasan Kota Mekkah), Rasulullah memakai surban hitam. Ini menunjukkan bahwa surban sudah menjadi bagian dari tradisi berpakaian pada masa itu.

Pandangan Ulama tentang Hukum Memakai Surban
Secara hukum, para ulama tidak ada yang mewajibkan penggunaan surban. Dalam Islam, memakai surban tidak termasuk ke dalam kewajiban melaikan  menghukumi sunnah mu’akkadah yang dianjurkan bagi siapa saja yang ingin mengikuti kebiasaan Rasulullah SAW. Artinya, memakai surban dapat bernilai sunnah, tetapi bukan suatu keharusan ( bukan suatu kewajiban) begitu juga didalam sholat melainkan sunnah. Dalam pandangan jumhur ulama (mayoritas ulama), memakai surban dianggap bagian dari adab dan sunnah, . Hal ini didasarkan pada beberapa riwayat yang menunjukkan bahwa Rasulullah SAW sering mengenakan surban

Hukum memakai surban dalam shalat ini merujuk pada konsep memperindah penampilan dan mengikuti kebiasaan Nabi SAW. Sebagaimana dalam firman Allah SWT:

“Wahai anak cucu Adam, pakailah perhiasanmu (pakaian yang indah) di setiap (memasuki) masjid.” (QS. Al-A’raf: 31)

 

Jumhur ulama menyebutkan, ayat ini menunjukkan anjuran untuk tampil rapi dan pantas, termasuk dalam shalat, namun tidak spesifik pada penggunaan surban. Jadi, memakai surban bisa menjadi cara untuk meneladani Nabi SAW dan menjaga penampilan rapi dalam shalat.

Kesimpulan

Memakai surban ketika shalat adalah sunnah yang berpahala bagi yang melakukannya dengan niat mengikuti Rasulullah SAW, tetapi bukan kewajiban.
Untuk lebih jelasnya sejarah dan serta hukum dan keutamaan orang bersurban bisa dilihat dalam referensi kitab “Ad-Diamah” halaman 1-17 berikut:

بسم الله الرحمن الرحيم
وصلى الله على سيدنا محمد وآله وصحبه وسلم تسليماً
الحمد لله متوج العرب بالعمائم ومنور الوجوه بإقامة السنن والعزائم والصلاة والسلام على سيدنا و مولانا محمد مشيد الاركان والدعائم وعلى آله و اصحابه ذوي الكمالات العلية والفضل القائم اما بعد فهذا ان شاء الله تعالى تعليق شريف ومهيع لطيف سميته ( الدعامة ) لمعرفة احكام سنة العمامة وللامام الحافظ ابي عبد الله محمد بن وضاح الاندلسي المالكي من اهل القرن الثالث الذي به ويبقي ابن مخلد صارت الاندلس دار حدیث کتاب فضل لباس العمائم وللشيخ ابي الفضل محمد بن احمد المعروف بالامام تحفة الامة باحكام العمة اي العمامة ذكره في كشف الظنون ولشهاب الدين احمد بن حجر الهيتمى المكي كتاب ذر الغمامة في در الطيلسان والعذبة والعمامة وللشهاب احمد بن محمد الخفاجي الافندي شارح الشفا الثمامة في صفة العمامة نبه عليه في شرحه على الشفا ولم اقف الان الا على كتاب الدر وما وقفت عليه الا بعد التبيض بمدة من الدهر فالحقت منه بعض الكلام تيمناً به و تكميلا للمرام والله المسؤول ان يتقبله باحسن القبول وان يجعله وافياً بالمنى والصول آمين

Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Dan sesungguhnya shalawat serta salam semoga tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad, keluarga, dan para sahabatnya. Segala puji bagi Allah yang telah memuliakan bangsa Arab dengan mengenakan sorban (serban) dan menerangi wajah-wajah mereka dengan menegakkan sunnah dan keteguhan iman. Dan shalawat serta salam semoga tercurah kepada junjungan kita dan tuan kita Nabi Muhammad, yang telah membangun pondasi agama dan pilar-pilarnya, serta kepada keluarga dan para sahabatnya yang memiliki kesempurnaan yang agung dan keutamaan yang terus-menerus. Adapun setelah pembukaan ini, maka insya Allah ini adalah sebuah catatan yang mulia, agung, dan indah yang aku beri nama “Al-Da’amah” (Tiang Penyangga) untuk mengetahui hukum sunnah mengenakan sorban. Dan untuk imam yang alim, Abu Abdullah Muhammad bin Wudhah al-Andalusi al-Maliki, seorang ulama dari abad ketiga, dengannya dan dengan Ibn Mikhal, Andalusia menjadi pusat kajian kitab tentang keutamaan mengenakan sorban. Dan untuk syaikh Abu al-Fadl Muhammad bin Ahmad, yang dikenal sebagai Imam Tahfah al-Umah (Perhiasan Umat) dengan kitabnya tentang hukum al-‘amah (sorban), yaitu kitab yang disebutkan dalam “Kasyf al-Zunun”. Dan untuk Syihabuddin Ahmad bin Hajar al-Haytami al-Makki, dengan kitabnya “Dzar al-Ghammah fi Dhr al-Taylisan wa al-‘Adhbah wa al-‘Amah”. Dan untuk Syihabuddin Ahmad bin Muhammad al-Khafaji al-Afndi, seorang ahli tafsir kitab “Asy-Syafa” tentang sifat sorban, yang beliau sebutkan dalam tafsirnya atas kitab “Asy-Syafa”. Dan aku belum menemukan kecuali kitab “Ad-Drr”, dan aku baru menemukannya setelah proses persiapan (persiapan kertas atau kulit untuk ditulis), maka aku tambahkan beberapa kalimat darinya sebagai keberkahan dan untuk menyempurnakan maksud. Dan aku memohon kepada Allah agar Dia menerima amalku dengan sebaik-baik penerimaan dan menjadikannya sempurna untuk mencapai segala harapan dan tujuan. Amin.

مقدمة في ضبطها وتعريفها
“أما ضبطها فذكر في القاموس وغيره أنها بكسر العين قال في شرح المواهب وحكى بعض ضمها هـ وفي شرح الشمائل للشيخ جسوس ما نصه العمامة بكسر العين خلافاً للعصام في قوله بالفتح كغمامة هـ واصله الصاحب جمع الوسائل في شرحها ايضاً قائلاً ووهم العصام حيث قال بالفتح كالغمامة هـ وقال في تاج العروس قال شيخنا وظبطه يعني لفظ العمامة بعض شراح الشمائل بالفتح ايضاً وهو غلط هـ واما تعريفها فهي في الأصل اسم لما يعقد على الرأس ويلوى عليه من صوف أو قطن أو كتان أو نحو ذلك كانت تحته قلنسوة أو غيرها ام لا وتطلق على كل ما يوضع على الرأس ويجعل عليه اعم من ان يكون قلنسوة أو مغفراً أو غير ذلك وعلى خصوص المغفر وهو زرد من حديد ينسج بقدر الرأس يلبس تحت القلنسوة يتقى به في الحرب وعلى خصوص البيضة ايضاً وهي واحدة البيض من الحيد على التشبيه ببيضة النعام ويقال لها الشاشية تجعل على الرأس يتقى بها في الحرب ايضاً وعلى عيد ان مشدودة تركب في البحر”

 

“Adapun cara pelafalannya, disebutkan dalam kitab Al-Qamus dan lainnya bahwa kata ini dilafalkan dengan memecah huruf ‘ain (yaitu: ‘imamah). Dalam Syarh Al-Mawahib disebutkan bahwa ada juga pendapat yang mengatakan huruf ‘ainnya dibaca dengan dhammah. Begitu pula dalam Syarh Asy-Syamail oleh Syaikh Jasus yang menyatakan: ‘imamah dengan memecah ‘ain, berbeda dengan pendapat Al-‘Isam yang menyebutkan dengan membacanya fathah seperti kata ‘ghamamah’. Dalam Syarh Asy-Syamail oleh Al-Wasa’il juga disebutkan bahwa Al-‘Isam keliru dalam membacanya dengan fathah seperti ‘ghamamah’. Dalam Taj Al-‘Arus, Syaikh kami mengatakan bahwa sebagian syarh dari Asy-Syamail juga membacanya dengan fathah, dan ini adalah kekeliruan.

Sedangkan definisinya, pada asalnya adalah nama untuk sesuatu yang diikat di kepala dan dililitkan dari bahan wol, kapas, atau linen, baik di bawahnya terdapat penutup kepala (seperti kopiah) atau tidak. Istilah ini juga digunakan untuk menyebut semua benda yang diletakkan di kepala, baik itu kopiah, topi besi pelindung perang (maghfar) yang dianyam dari besi seukuran kepala, yang biasa dikenakan di bawah kopiah sebagai pelindung dalam peperangan, atau juga helm dari besi, yang mirip dengan bentuk telur burung unta. Ini juga disebut syasyiyah, yang dipakai di kepala sebagai pelindung dalam perang, dan juga bisa merujuk pada pelindung yang dipasang di kapal.”

 

“أما ضبطها فذكر في القاموس وغيره أنها بكسر العين قال في شرح المواهب وحكى بعض ضمها هـ وفي شرح الشمائل للشيخ جسوس ما نصه العمامة بكسر العين خلافاً للعصام في قوله بالفتح كغمامة هـ واصله الصاحب جمع الوسائل في شرحها ايضاً قائلاً ووهم العصام حيث قال بالفتح كالغمامة هـ وقال في تاج العروس قال شيخنا وظبطه يعني لفظ العمامة بعض شراح الشمائل بالفتح ايضاً وهو غلط هـ واما تعريفها فهي في الأصل اسم لما يعقد على الرأس ويلوى عليه من صوف أو قطن أو كتان أو نحو ذلك كانت تحته قلنسوة أو غيرها ام لا وتطلق على كل ما يوضع على الرأس ويجعل عليه اعم من ان يكون قلنسوة أو مغفراً أو غير ذلك وعلى خصوص المغفر وهو زرد من حديد ينسج بقدر الرأس يلبس تحت القلنسوة يتقى به في الحرب وعلى خصوص البيضة ايضاً وهي واحدة البيض من الحيد على التشبيه ببيضة النعام ويقال لها الشاشية تجعل على الرأس يتقى بها في الحرب ايضاً وعلى عيد ان مشدودة تركب في البحر”

 

“Adapun mengenai penempatan titik (harakat) pada kata ‘عِمامة’ (imamah) ini, telah disebutkan dalam kamus dan kitab-kitab lain bahwa harakat pada huruf ‘عين’ adalah kasrah (berfungsi sebagai tanda baca untuk menunjukkan bacaan pendek pada huruf). Namun, ada juga yang menyebutkan bahwa harakatnya adalah dhammah (tanda baca untuk menunjukkan bacaan panjang). Dalam kitab ‘شرح الشمائل’ karya Syekh Jusus, disebutkan dengan jelas bahwa ‘عِمامة’ dibaca dengan harakat kasrah, berbeda dengan pendapat ulama lain yang membacanya dengan harakat fathah (tanda baca untuk menunjukkan bacaan terbuka).
Sedangkan pengertian ‘عِمامة’ secara umum adalah penutup kepala yang terbuat dari wol, kapas, atau kain, kemudian dililitkan pada kepala. Kadang-kadang di bawahnya ada penutup kepala yang lebih kecil. Istilah ‘عِمامة’ juga digunakan secara umum untuk menyebut semua penutup kepala, baik itu berupa sorban, topi, atau penutup kepala lainnya.
Secara khusus, ‘مغفر’ adalah sejenis helm yang terbuat dari besi, dibentuk sesuai ukuran kepala, dan digunakan di bawah sorban sebagai pelindung kepala dalam peperangan. Selain itu, kata ‘عِمامة’ juga digunakan untuk menyebut telur burung unta karena bentuknya yang mirip dengan penutup kepala tersebut. Telur burung unta ini juga dikenal dengan nama ‘الشاشية’ dan digunakan sebagai pelindung kepala dalam peperangan.
Ada juga istilah ‘عيد’ yang disebutkan dalam teks ini, namun maknanya kurang jelas dan perlu konteks yang lebih lengkap untuk dapat diterjemahkan secara akurat.”

“ويعبر عليها في النهر كالنعامة أي بالتشديد أو الصواب العامة بالتخفيف وارخى عمامته أي أمن وترف وعمم بالضم سود ورأسه لفت عليه العمامة كعم وهو حسن العمة بالكسر أي الاعتمام هـ وفي المصباح والعمامة جمعها عمائم وتعممت كورت العمامة على الرأس وعمم الرجل بالبناء للمفعول سود والعمائم تيجان العرب ه سميت عمامة لانها تعم جميع الرأس بالتغطية والله أعلم.
ذكر بعض ما جاء من الأخبار فيها) عن مقاتل بن حيان النبطي قال أوحى الله إلى عيسى عليه السلام اسمع واطع يا ابن الطاهر البكر البتول إني خلقتك من غير فحل فجعلتك آية للعالمين فأياي فاعبد وعلي فتوكل فسر أي من التفسير لا هل سوران إني أنا الله الحي القيوم لازول صدقوا النبي الأمي صاحب الجمل والمدرعة والعمامة والنعلين والهراوة الحديث ومنه تؤخذ تسميته عليه الصلاة والسلام بصاحب كما العمامة يسمى بصاحب التاج وهو العمامة على نهج الاستعارة شبهت العمامة بالتاج الذي هو الاكليل في أن العرب تتزين بها كتزين العجم بانتاج واستمير لها اسمه ولم تكن العمائم إلا للعرب دون غيرهم من بقية الأمم وكانوا إذا سودوا عمموه بعمامة حمراء وكانت الفرس تتوج ملوكها فكني بذلك اعنى بكونه صاحب العمامة عن انه عليه الصلاة والسلام من صميم العرب واشرفهم واعلاهم وانفسهم حسباً ونسباً مع الإشارة إلى انه عليه الصلاة والسلام إذا ظهر يلبس العالم وان لبسها يكون من شعاره وعاداته وعلامة من علاماته”

 

“Dan dia melewati (dengan) sungai seperti burung unta, dengan tekanan, atau yang benar adalah (dengan bacaan) ‘al-‘amma’ dengan pelan, dan dia melonggarkan serbannya, yang artinya merasa aman dan nyaman, dan ‘ʿammama’ dengan dammah berarti mewarnai hitam (serban), dan kepalanya dipakaikan serban sebagai ‘ʿamma’ yang bagus, yaitu serban (sebagai tanda kebesaran). Dalam kitab al-Misbah disebutkan bahwa ‘imamah’ (serban) bentuk jamaknya adalah ‘ʿama’im’, dan ‘taʿammamtu’ artinya saya mengenakan serban di kepala, dan ‘ʿummima’ dalam bentuk pasif berarti dikenakan serban hitam, dan serban adalah mahkota orang Arab. Disebut ‘imamah’ karena menutupi seluruh kepala. Hanya Allah yang lebih tahu.

Diceritakan beberapa riwayat tentang hal ini. Dari Maqatil bin Hayyan al-Nabti, ia berkata bahwa Allah mewahyukan kepada Isa ‘alaihis-salam, ‘Dengarkan dan taatilah, wahai putra wanita suci dan perawan murni! Aku menciptakanmu tanpa seorang ayah, dan Aku menjadikanmu sebagai tanda bagi seluruh alam. Maka sembahlah Aku dan bertawakallah kepada-Ku.

Maka, tafsirkanlah – jika ada dua ayat – sesungguhnya Aku adalah Allah, Yang Maha Hidup dan Maha Berdiri Sendiri, yang tak pernah lenyap. Percayailah nabi yang ummi (yang tidak bisa membaca dan menulis), yang memiliki unta, baju dari bahan kasar, serban, dua sandal, dan tongkat.’

Dan dari riwayat ini diambil nama beliau ‘alaihis-salam sebagai ‘pemilik serban,’ sebagaimana beliau juga dikenal dengan ‘pemilik mahkota’ (yaitu serban) dalam bentuk perumpamaan. Serban diibaratkan sebagai mahkota, yaitu hiasan kepala yang juga dikenakan orang Arab seperti orang non-Arab mengenakan mahkota. Serban menjadi simbol bagi mereka dan tidak dikenakan kecuali oleh orang Arab, berbeda dengan bangsa-bangsa lain.

Dan mereka, ketika akan memuliakan seseorang, mengenakannya serban merah. Sedangkan bangsa Persia memahkotai raja-raja mereka, maka pernyataan ini mengandung arti bahwa Nabi ‘alaihis-salam adalah bagian dari bangsa Arab yang murni, yang paling mulia, luhur, dan bernasab terhormat, dengan petunjuk bahwa beliau biasa mengenakan serban dan bahwa memakainya adalah kebiasaan serta tanda khusus beliau.”

“ويؤخذ من ذلك ندب بل تؤكد لبسها للاقتداء به صلى الله عليه وسلم وقد ذكر صاحب محاضرة الأوائل تبعاً للسيوطي أن أول من كفن رأسه بالعمامة أبونا آدم عليه السلام كوره جبريل على رأسه لما خرج من الجنة إلى الدنيا وكان متوجاً في الجنة وأن أول من لبسها يعني بعد زمن سيدنا آدم عليه السلام ذو القرنين وكانوا يلبسون التيجان قبله قال وسببه أنه كان طلع في رأسه قرنان كالظلفين يتحركان فلبسها ستراً ثم أنه دخل الحمام يوماً ومعه كاتب سره فوضع العمامة عن رأسه فقال الكاتب هذا أمر لم يطلع عليه أحد غيرك فان سمعته من أحد قتلتك فخرج الكاتب من الحمام فأخذه كهيئة الموت فأتى الصحراء فوضع فمه في الأرض ثم نادى أن للملك قرنين فانبت الله تعالى من كلمته قصبتين ثمر بهما راع فقطعها واتخذهما مزماراً فكان إذا زمر خرج من القصبتين صدى أن للملك قرنين فانتشر ذلك في المدينة فقال ذو القرنين هذا أمر أراد الله أن يبديه أوائل السيوطي هـ واخرج أبو نعيم في الحلية عن ابن عباس والقضاعي في مسند الشهاب والديلمي في مسند الفردوس عن علي رفعاه العمائم تيجان العرب والاحتباء حيطانها وجلوس المؤمن في المسجد رباطه وفيه حنظلة ابن عبد الله السدوسي البصري قال الذهبي تركه يحيى القطان وضعفه أحمد وقال منكر الحديث يحدث بأعاجيب وقال ابن معين ليس بشي تغير في آخر عمره وقال النساني ليس بقوي وقال مرة ضعيف ولذلك قال الحافظ السخاوي سنده ضعيف وتبته على ذلك المناوي في التيسير والتيجان جمع تاج قال في النهاية وهو ما يصاغ”

Dari teks tersebut, kita bisa mengambil bahwa memakai serban (penutup kepala) adalah suatu anjuran bahkan dianjurkan secara kuat, sebagai bentuk meneladani Nabi Muhammad SAW. Pemakaian serban ini memiliki sejarah panjang. Dalam kitab Mahadhiratil Awwa’il yang dikutip oleh Imam as-Suyuti, disebutkan bahwa orang pertama yang mengenakan penutup kepala adalah Nabi Adam AS. Menurut riwayat, Jibril membalutkan serban di kepalanya ketika Nabi Adam turun dari surga ke bumi. Sebelumnya, Nabi Adam mengenakan mahkota di surga.

Kemudian setelah Nabi Adam, orang pertama yang mengenakan serban adalah Dzulkarnain. Sebelum masa Dzulkarnain, masyarakat memakai mahkota. Dikisahkan bahwa Dzulkarnain memiliki dua tanduk di kepalanya yang bergerak-gerak seperti cakar. Maka, ia mengenakan serban untuk menutupi tanduk tersebut. Suatu ketika, Dzulkarnain masuk ke dalam pemandian umum bersama penulis rahasianya dan melepaskan serbannya. Melihat hal itu, penulisnya berjanji untuk tidak mengungkapkan rahasia tersebut. Namun, di luar kehendaknya, penulis tersebut merasa terpaksa untuk menyebarkan kabar ini. Maka ia pergi ke gurun dan menyatakan bahwa “raja memiliki dua tanduk” dengan suara pelan di tanah. Allah kemudian menumbuhkan dua batang pohon di tempat tersebut. Seorang penggembala menemukan batang tersebut dan membuatnya menjadi seruling. Setiap kali ditiup, terdengar suara “raja memiliki dua tanduk.” Kabar tersebut akhirnya tersebar di kota.

Dari sini pula ada pernyataan bahwa serban dianggap sebagai mahkota bagi orang Arab, sedangkan duduk dalam posisi ikat pinggang (ihtiba) adalah seperti bentengnya, dan duduk seorang mukmin di masjid adalah seperti ikatan kuatnya. Hadis ini diriwayatkan oleh Abu Nu’aim dalam kitab Hilyat al-Auliya’, al-Qudha’i dalam Musnad al-Shihab, dan al-Daylami dalam Musnad al-Firdaws dari Ali RA. Namun, dalam sanadnya terdapat perawi bernama Hanzhalah bin Abdullah al-Sadusi al-Bashri, yang menurut al-Dzahabi ditinggalkan oleh Yahya al-Qaththan dan dianggap lemah oleh Ahmad bin Hanbal karena meriwayatkan hal-hal yang dianggap aneh.

 

” وهو مايصاغ لملوك من الذهب والجوهر وقد توجته إذا البسته التاج قال أراد أن العمائم.
العرب بمنزلة التيجان للملوك لأنهم أكثر ما يكونون في البوادي مكشوفي الرؤوس أو بالقلانس والعمائم فيهم قليلة. وهذه رواية ابن السني والديامطي عن ابن عباس مرفوعة: “العمائم تيجان العرب، فإذا وضعوا العمائم وضعوا عزهم”.
ولفظ رواية الدياسي: “وضع الله عزهم”. واسناده أيضاً ضعيف كما قال السخاوي والزين العراقي والمناوي في التيسير.
وأخرج الديلمي في مسند الفردوس عن عمران بن حصين رفعه: “العمائم وقار للمؤمن وعز للعرب، فإذا وضعت العرب عمائمها فقد وضعت عزها”. وهو ضعيف أيضاً كما في شرح المواهب وغيرها.
وأخرج أبو عبد الله محمد وضاح في فضل لباس العمائم عن مكحول مرسلاً: “العمائم تيجان العرب، فإذا نزعوها ذهب عزهم”.
وأخرج ابن أبي شيبة وأبو داوود الطياليسي وابن منيع والبيهقي في السنن عن علي رضي الله عنه قال: “عممني النبي صلى الله عليه وسلم يوم غدير خم بعمامة سدل طرفها على منكبي وقال: إن الله أمدني يوم بدر ويوم حنين بملائكة معممين هذه العمة، وقال: إن العامة حاجزة بين الكفر والإيمان”. وفي رواية: “بين المسلمين والمشركين”.
وفيها عبد الله بن يسر البحراني الحمصي قال أبو حاتم وغيره: ضعيف. والنسائي ليس بثقة.
وأخرج الترمذي وأبو داوود عن ركانة بن عبد يزيد المطلى وهو من مسلمة الفتح رفعه: “فرق ما بيننا”

 

“Itulah yang dibuat untuk raja-raja dari emas dan permata, dan dikatakan ‘aku menobatkannya’ ketika aku mengenakannya mahkota. Mereka berpendapat bahwa sorban bagi orang Arab ibarat mahkota bagi raja-raja, karena mereka sering berada di padang pasir dengan kepala terbuka atau mengenakan tutup kepala, dan hanya sedikit dari mereka yang memakai sorban. Ini adalah riwayat Ibnu Sunni dan Ad-Di`amathi dari Ibnu Abbas dengan sanad marfu’: ‘Sorban adalah mahkota orang Arab, maka ketika mereka melepas sorban, mereka kehilangan kehormatan mereka.’

Teks riwayat Ad-Di’asyi menyatakan: ‘Allah telah menempatkan kehormatan mereka.’ Namun, sanadnya juga lemah sebagaimana dikatakan oleh As-Sakhawi, Az-Zain Al-Iraqi, dan Al-Munawi dalam At-Taysir.

Al-Daylami juga meriwayatkan dalam Musnad Al-Firdaws dari Imran bin Hushain dengan sanad marfu’: ‘Sorban adalah kewibawaan bagi orang beriman dan kehormatan bagi orang Arab. Ketika orang Arab melepas sorban mereka, maka mereka kehilangan kehormatan mereka.’ Riwayat ini juga lemah sebagaimana disebutkan dalam Syarh Al-Mawahib dan lainnya.

Abu Abdillah Muhammad Wadhdhah meriwayatkan tentang keutamaan mengenakan sorban dari Mak-hul secara mursal: ‘Sorban adalah mahkota orang Arab, maka ketika mereka melepasnya, hilanglah kehormatan mereka.’

Ibnu Abi Syaibah, Abu Dawud At-Thayalisi, Ibnu Mani’, dan Al-Baihaqi dalam As-Sunan meriwayatkan dari Ali radhiyallahu ‘anhu yang berkata: ‘Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memakaikan sorban kepadaku pada hari Ghadir Khum, dengan ujung sorban menggantung di pundakku, dan beliau berkata: Sesungguhnya Allah menolongku pada hari Badar dan Hunain dengan para malaikat yang mengenakan sorban ini, dan beliau berkata: Sorban adalah pembatas antara kekufuran dan iman.’ Dalam riwayat lain disebutkan: ‘antara kaum Muslim dan kaum musyrik.’

Dalam riwayat ini terdapat Abdullah bin Yasar Al-Bahrani Al-Himsi. Abu Hatim dan lainnya berkata: Ia adalah perawi yang lemah. Dan An-Nasa’i berkata: ia tidak dapat dipercaya.

Imam At-Tirmidzi dan Abu Dawud meriwayatkan dari Rukanah bin Abd Yazid Al-Muthali, salah seorang Muslim yang masuk Islam saat Penaklukan Mekah.”

“Itulah yang dibuat untuk raja-raja dari emas dan permata, dan dikatakan ‘aku menobatkannya’ ketika aku mengenakannya mahkota. Mereka berpendapat bahwa sorban bagi orang Arab ibarat mahkota bagi raja-raja, karena mereka sering berada di padang pasir dengan kepala terbuka atau mengenakan tutup kepala, dan hanya sedikit dari mereka yang memakai sorban. Ini adalah riwayat Ibnu Sunni dan Ad-Di`amathi dari Ibnu Abbas dengan sanad marfu’: ‘Sorban adalah mahkota orang Arab, maka ketika mereka melepas sorban, mereka kehilangan kehormatan mereka.’

Teks riwayat Ad-Di’asyi menyatakan: ‘Allah telah menempatkan kehormatan mereka.’ Namun, sanadnya juga lemah sebagaimana dikatakan oleh As-Sakhawi, Az-Zain Al-Iraqi, dan Al-Munawi dalam At-Taysir.

Al-Daylami juga meriwayatkan dalam Musnad Al-Firdaws dari Imran bin Hushain dengan sanad marfu’: ‘Sorban adalah kewibawaan bagi orang beriman dan kehormatan bagi orang Arab. Ketika orang Arab melepas sorban mereka, maka mereka kehilangan kehormatan mereka.’ Riwayat ini juga lemah sebagaimana disebutkan dalam Syarh Al-Mawahib dan lainnya.

Abu Abdillah Muhammad Wadhdhah meriwayatkan tentang keutamaan mengenakan sorban dari Mak-hul secara mursal: ‘Sorban adalah mahkota orang Arab, maka ketika mereka melepasnya, hilanglah kehormatan mereka.’

Ibnu Abi Syaibah, Abu Dawud At-Thayalisi, Ibnu Mani’, dan Al-Baihaqi dalam As-Sunan meriwayatkan dari Ali radhiyallahu ‘anhu yang berkata: ‘Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memakaikan sorban kepadaku pada hari Ghadir Khum, dengan ujung sorban menggantung di pundakku, dan beliau berkata: Sesungguhnya Allah menolongku pada hari Badar dan Hunain dengan para malaikat yang mengenakan sorban ini, dan beliau berkata: Sorban adalah pembatas antara kekufuran dan iman.’ Dalam riwayat lain disebutkan: ‘antara kaum Muslim dan kaum musyrik.’

Dalam riwayat ini terdapat Abdullah bin Yasar Al-Bahrani Al-Himsi. Abu Hatim dan lainnya berkata: Ia adalah perawi yang lemah. Dan An-Nasa’i berkata: ia tidak dapat dipercaya.

Imam At-Tirmidzi dan Abu Dawud meriwayatkan dari Rukanah bin Abd Yazid Al-Muthali, salah seorang Muslim yang masuk Islam saat Penaklukan Mekah.”

“وبين المشركين العمائم على القلانس واسناده ضعيف بل قيل انه واه. كما يأتي واخرج الديلمي عنه ايضاً مرفوعاً لا تزال امتي على الفطرة مالبسو العمائم على القلانس واخرج الباوردي بسند واه عنه ايضاً رفعه العمامة على القلنسوة. فصل ما بيننا وبين المشركين اي هي العلامة المميزة بيننا وبينهم لانهم كانوا لا يتعممون يعطى العبديوم القيمة بكل كورة يدورها على رأسه أو قلنسوة نوراً : . الكورة بفتح الكاف وحكي ضمها الدرة اي اللية واخرج الرامهرمزي في الامثال عن معاذ بن جبل مرفوعاً الاحتباء حيطان العرب والاتكاء رهبانية العرب والعمائم تيجان العرب فاعتموا تزدادوا حطها فله بكل كورة حسنة فاذا حط عنه بكل حطة حلماً ومن اعتم خطيئة وفيه عمر وابن الحسين العقيلي الكلابي عن محمد بن عبدالله بن علاقة العقيلي القاضي عن ثوير بن ابي فاختة والثلاثة قال في كنز العمال وفي منتخبه تبعاً لجامع السيوطي الكبير متروكون متهمون بالكذب هـ. ولكن ابن علاقة روى له ابو داوود والنسائي وابن ماجه وثقه ابن معين وقال ابو زرعه صالح وقال ابو حاتم يكتب حديثه ولا يحتج به. نعم الحديث قال بعضهم انه شديد الضعف من اجل الأول والثالث فأما الثالث وهو ثوير فانه ضعفه ابو حاتم وغيره وقال الدار قطني متروك وابن معين ليس بشيء واما الاول وهو عمر و ابن الحسين فانه متروك ايضاً كما قاله الدار قطني وقال ابو زرعة واه وابو حاتم ذاهب الحديث واخرج ابو نعيم في معرفة الصحابة والديلمي من حديث عبد الرحمن ابن عدي.”

“Dan di antara orang-orang musyrik adalah mengenakan sorban di atas peci mereka, namun sanadnya lemah, bahkan ada yang mengatakan itu sangat lemah, seperti yang akan dijelaskan nanti. Al-Dailami juga meriwayatkannya dari Rasulullah, diangkat sebagai hadis bahwa ‘Umatku akan tetap di atas fitrah selama mereka mengenakan sorban di atas peci mereka.’ Al-Bawardi juga meriwayatkan dengan sanad yang sangat lemah bahwa ‘Sorban di atas peci adalah pemisah antara kita dan kaum musyrik’, yaitu sebagai tanda pembeda antara kita dan mereka, karena mereka tidak mengenakan sorban. Setiap sorban yang dikenakan seseorang pada hari kiamat akan menjadi cahaya bagi dirinya.

Al-Kurah, dengan fathah pada huruf kaf (كَ) dan ada yang meriwayatkan dengan dhammah (كُ), berarti lapisan tambahan atau bagian yang melilit. Al-Ramhurmuzi juga meriwayatkan dalam Al-Amthal dari Mu’adz bin Jabal bahwa Rasulullah bersabda, ‘Menegakkan punggung adalah dinding bangsa Arab, bersandar adalah kerahiban bangsa Arab, dan sorban adalah mahkota bangsa Arab. Maka kenakanlah sorban, karena itu akan menambah kebaikan untuk kalian. Setiap lilitan sorban akan menjadi kebaikan, dan setiap kali melepasnya, akan diberikan kelembutan dan kebijaksanaan bagi orang yang melepasnya, dan siapa yang mengenakan sorban akan diampuni dosa-dosanya.’

Namun, dalam riwayat ini terdapat kelemahan. Terdapat tiga periwayat yang dinilai lemah oleh para ulama, yaitu ‘Umar ibn Al-Husain, Ibnu Al-Husain, dan Thuwair bin Abu Fakhitah. Di dalam ‘Kanzul-Ummal’ dan ‘Mukhtar Kanzul-Ummal’, yang mengutip dari ‘Jami’ul-Kabir’ karya As-Suyuthi, disebutkan bahwa ketiganya adalah perawi yang ditinggalkan dan dituduh berbohong.

Tetapi, Ibnu ‘Alaqah pernah meriwayatkan untuk Abu Dawud, An-Nasa’i, dan Ibnu Majah. Ibnu Ma’in menganggapnya sebagai perawi tepercaya. Namun, Abu Zur’ah mengatakan ia perawi yang layak tetapi tidak dijadikan hujjah. Sebagian ulama mengatakan hadis ini sangat lemah karena periwayat pertama dan ketiga. Thuwair dianggap lemah oleh Abu Hatim dan yang lainnya, sedangkan Ad-Daraquthni menganggapnya sebagai perawi yang ditinggalkan.

“البحراني عن أخيه عبد الأعلى بن عدي أن رسول الله صلى الله عليه وسلم دعا علي بن أبي طالب عليه السلام يوم غدير خم فعممته وارخى عذبة العمامة من خلفه وقال هكذا فاعتدوا.
العمائم سيما الإسلام وهي حاجزة بين المسلمين والمشركين. وفي خلاصة الأثر للمحب الطبري ما نصه: وعن علي أنه قال: عممني رسول الله صلى الله عليه وسلم بعمامة وسنل طرفها على منكبي وقال: إن العمامة حاجزة بين المسلمين والمشركين. هكذا. وأخرج الطبراني في الكبير من طريق عيسى بن يونس عن مالك بن مغول عن نافع عن ابن عمر والبيهقي في الشعب وابن عدي في كامله عن عبادة بن الصامت رفعوه: عليكم بالعمائم فإنها سيما الملائكة وارخوا لها خلف ظهوركم. وفي سنده الأول يحيى بن عثمان بن صالح المصري شيخ الطبراني قال الذهبي: صدوق إن شاء الله. عن محمد بن الفرج المصري قال الذهبي: أتى بخير منكر وساق له هذا الحديث ولذا قال في التيسير: إسناده ضعيف. قال العارف بالله الحفني: قوله: سيما الملائكة بالقصر أي علامتهم فإنهم نزلوا يوم بدر بعمائم صفر راخين العذب ويطلب التخلق بصفات الملائكة. هكذا. وأخرج الديلمي في مسند الفردوس عن جابر: فإنه ركعتان بعمامة خير من سبعين ركعة بلا عمامة. المناوي في التفسير: لأن الصلاة حضرة الملك والدخول إلى حضرة الملك بغير تجمل خلاف الادب. قال: وهو غريب هو وأورده في دار الغمامة بلفظ: صلاة ركعة بعمامة خير من سبعين ركعة بغير عمامة ولم يذكر له مخرجاً. وفي القنية من كتب الحنفية: العمامة الطويلة ولبس الشياب الواسعة حسن في حق الفقهاء الذين هما أعلام الهدى دون سائر الناس. قال: والأحسن أن يلبس أحسن ثيابه للصلاة.”

“Al-Bahrani dari saudaranya, Abdul A’la bin ‘Adi, meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW memanggil Ali bin Abi Thalib AS pada hari Ghadir Khum, lalu beliau menutupi kepalanya dengan sorban dan mengulurkan ujung sorban tersebut ke belakang, sambil berkata, ‘Begini caranya, maka ikutilah.’ Sorban adalah ciri khas Islam dan menjadi pembeda antara kaum Muslim dan musyrik. Dalam kitab Khulasat al-Atsar oleh al-Muhibb al-Thabari, terdapat teks yang berbunyi: Dari Ali yang berkata, ‘Rasulullah SAW memakaikan saya sorban, lalu ujungnya diulurkan di atas bahu saya, seraya bersabda, “Sesungguhnya sorban adalah pembeda antara kaum Muslim dan musyrik. Begitulah caranya.”‘

Al-Thabarani meriwayatkan dalam kitab al-Kabir melalui jalur ‘Isa bin Yunus dari Malik bin Mughul, dari Nafi’, dari Ibn Umar, dan al-Bayhaqi dalam Syu’ab al-Iman, serta Ibn ‘Adi dalam al-Kamil dari ‘Ubadah bin al-Shamit yang diangkat sebagai hadits marfu’, ‘Gunakanlah sorban, karena itu adalah ciri khas malaikat, dan biarkan ujungnya terurai ke belakang kalian.’

Dalam sanad yang pertama terdapat Yahya bin ‘Uthman bin Shalih al-Mishri, guru dari al-Thabarani. Al-Dzahabi berkata, “Dia bisa dipercaya, insya Allah.” Mengenai Muhammad bin al-Faraj al-Mishri, al-Dzahabi berkata, “Ia membawa kebaikan yang aneh,” lalu ia menyebutkan hadits ini, sehingga ia berkata dalam al-Taysir: Sanadnya lemah.

Al-‘Arif billah al-Hafni berkata, “Kata ‘ciri khas malaikat’ berarti tanda mereka. Mereka turun pada hari Badar dengan mengenakan sorban kuning, dengan ujung sorban terurai. Di sini terdapat anjuran untuk mengikuti sifat-sifat malaikat.” Begitulah. Al-Daylami meriwayatkan dalam kitab Musnad al-Firdaws dari Jabir: “Dua rakaat dengan sorban lebih baik daripada tujuh puluh rakaat tanpa sorban.” Menurut al-Munawi dalam tafsirnya: “Karena shalat adalah di hadapan Raja (Allah SWT), dan masuk ke hadapan Raja tanpa berhias adalah tidak sopan.” Ia berkata, “Ini adalah hadits yang asing.” Ia juga mengutip dalam Dar al-Ghamamah dengan lafaz, “Satu rakaat dengan sorban lebih baik daripada tujuh puluh rakaat tanpa sorban,” namun tidak menyebutkan sumbernya.

Dalam al-Qunyah dari kitab-kitab Hanafi disebutkan: “Sorban yang panjang dan pakaian yang longgar adalah bagus bagi para ulama yang merupakan penuntun umat, tidak bagi masyarakat umum.” Dikatakan, “Yang terbaik adalah mengenakan pakaian terbaik untuk melakukan sholat.

“وفي الحديث: صلاة مع عمامة خير من سبعين صلاة بلا عمامة، وجمعة بعمامة تعدل سبعين جمعة بلا عمامة. لكن قال الحافظ ابن حجر إنه موضوع، ونقله السخاوي وارتضاه. قال الشيخ عبد الرؤوف المناوي في فيض القدير: واقتصر في التيسير على قوله: قال ابن حجر موضوع. قال العارف الحفني: وإنما خص العمامة لأن الناس يتساهلون فيها، وإلا فالمطلوب التزين بحسن الشياب لأنه في خدمة ملك الملوك. قال: وقوله خمسة وعشرون، الشارع يعلم سر ذلك العدد، وإنما عرفنا منه المضاعفة والزيادة، فالقصد التكثير لا التحديد. وأخرج العقيلي في الضعفاء وابن عدي في الكامل، وقال منكر، والطبراني في الكبير، وأبو نعيم في الحلية، والشيرازي في الألقاب من طريق أيوب بن مدرك الحنفي الشامي عن مكحول عن أبي الدرداء مرفوعًا: إن الله وملائكته يصلون على أصحاب العمائم يوم الجمعة. وفي رواية: إن الله عز وجل وملائكة يصلون على أصحاب العمائم يوم الجمعة. وفي أخرى: إن لله ملائكة تستغفر للابس العمائم يوم الجمعة. وأيوب بن مدرك ضعيف، وقال ابن معين ليس بشيء، وقال مرة كذاب، وقال النسائي متروك له مناكير، ثم عد من مناكيره هذا الحديث. وقال ابن حبان: روى عن مكحول نسخة موضوعة، ولذا أورده ابن الجوزي في الموضوعات وأقره عليه السيوطي في الجمع وغيره. وقال في اللآلئ المصنوعة: لا أصل له، تفرد به أيوب. قال الأذرعي: هو من وضعه كذبه، يحيى

Dalam sebuah hadits disebutkan: “Salat dengan memakai sorban lebih baik daripada tujuh puluh salat tanpa sorban, dan salat Jumat dengan sorban sebanding dengan tujuh puluh salat Jumat tanpa sorban.” Namun, Al-Hafizh Ibnu Hajar mengatakan bahwa hadits ini palsu, dan pernyataan ini diikuti oleh As-Sakhawi. Syaikh Abdurrauf Al-Munawi dalam kitab Faid al-Qadir menyebutkan bahwa dalam kitab At-Taysir hanya disebutkan bahwa Ibnu Hajar menilai hadits ini sebagai palsu. Al-‘Arif Al-Hafni menambahkan bahwa sorban dipilih karena banyak orang yang meremehkannya, padahal yang diutamakan adalah berpenampilan rapi dan baik sebagai bentuk penghormatan kepada Raja Diraja. Mengenai angka dua puluh lima (dalam pahala), hanya Allah yang mengetahui rahasia di balik jumlah tersebut; yang kita pahami hanyalah bahwa ada peningkatan dalam pahala, dan tujuan utamanya adalah memperbanyak, bukan menetapkan jumlah tertentu.

Al-‘Aqili dalam kitab Adh-Dhu’afa, Ibnu ‘Adi dalam kitab Al-Kamil, Ath-Thabrani dalam Al-Mu’jam Al-Kabir, Abu Nu’aim dalam Hilyat Al-Auliya, dan Asy-Syirazi dalam Al-Alqab, semuanya meriwayatkan hadits dari jalur Ayyub bin Mudrik Al-Hanafi Asy-Syami dari Mak-hul dari Abu Darda yang marfu’: “Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat kepada orang-orang yang memakai sorban pada hari Jumat.” Dalam riwayat lain: “Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat kepada orang yang memakai sorban pada hari Jumat.” Dan dalam riwayat lainnya: “Sesungguhnya Allah memiliki para malaikat yang memohon ampun untuk orang yang memakai sorban pada hari Jumat.”

Namun, Ayyub bin Mudrik adalah perawi yang lemah. Ibnu Ma’in mengatakan bahwa dia “tidak ada apa-apanya” dan sekali waktu menyebutnya sebagai pembohong. An-Nasa’i menilainya “ditinggalkan” dan banyak meriwayatkan hal-hal yang aneh. Salah satu hal anehnya adalah hadits ini. Ibnu Hibban mengatakan bahwa Ayyub meriwayatkan dari Mak-hul hadits-hadits yang palsu, sehingga Ibnu Al-Jauzi memasukkan hadits ini dalam kitab Al-Maudhu’at (hadits-hadits palsu), dan penilaian ini disetujui oleh As-Suyuthi dalam Al-Jami’ dan kitab lainnya. Dalam Al-Li’ali Al-Mashnu’ah, As-Suyuthi mengatakan bahwa hadits ini “tidak memiliki dasar,” dan Ayyub adalah satu-satunya perawi hadits ini. Al-Adzra’i juga menilai bahwa hadits ini dibuat oleh Ayyub sendiri, yang menurutnya adalah seorang pembohong menurut Yahya (Ibnu Ma’in).

 

وتركه الدارقطني هـ لكن اقتصر على تضعيفه الحافظان العراقي في تخريج أحاديث الأحياء وابن حجر في تخريج الرافعي وأورد في الآلي أيضا من طريق يحيى بن شبيب اليماني عن حميد الطويل عن أنس مرفوعا أن الله ملائكة موكلين بأبواب الجوامع يوم الجمعة يستغفرون لأصحاب العمائم البيض وقال قال الخطيب يحيى بن شبيب يحدث عن حميد الطويل وغيره بأحاديث باطلة وأخرج الطبراني في معجمه الكبير من طريق بشر بن عون عن بكار بن تميم عن مكحول عن واثلة بن الأسقع رقمه أن الله يبعث الملائكة يوم الجمعة على أبواب المسجد يصلون على أصحاب العمائم وقد عزى هذا الحديث في القوت والأحياء لواثلة وقال العراقي لم أره من حديثه مع أن الطبراني كما ترى أخرجه من حديثه والكمال لله وقد نص في القوت والأحياء على استحباب العمامة يوم الجمعة يعنيان للخطيب والمصلين واستدلا بهذا الحديث قال في الأحياء فإن أكر به الحر فلا بأس أن ينزعها قبل الصلاة وبعدها ولكن لا ينزعها في وقت السعي من المنزل إلى الجمعة ولا في وقت الصلاة ولا عند صعود الإمام المنبر وفي خطبته هو نحوه في القوت وأخرج أبو عبد الله محمد بن وضاح في فضل لباس العمائم عن أبي المليج الهذلي عن أبيه أسامة بن عمير مرفوعا سافروا تصحوا واعتموا تحلموا وأخرج الطبراني في الكبير من طريق محمد بن صالح بن الوليد عن بلال بن بشر عن عمران بن تمام عن أبي حمزة عن ابن عباس والحاكم في المستدرك في اللباس من طريق عبيد الله بن أبي حميد عن أبي المليح عن ابن عباس رفعه اعتموا تزدادوا حلما قال الحاكم

“Dan telah meninggalkannya al-Daruqutni, namun ia hanya membatasi (peringkat)nya. Kedua hafizh, al-Iraqi dalam kitab “Takhrij Ahadith al-Ahkam” dan Ibn Hajar dalam “Takhrij al-Rafi’i”, melemahkan hadis ini. Dan ia (al-Daruqutni) menyebutkan dalam “al-Ali” juga, melalui jalur Yahya bin Syibib al-Yamani dari Hammid ath-Thawil dari Anas secara marfu’, bahwa Allah memiliki malaikat yang ditugaskan pada pintu-pintu masjid pada hari Jumat, mereka berdoa memohonkan ampunan bagi orang-orang yang memakai sorban putih. Dan dikatakan, bahwa al-Khathib, Yahya bin Syibib, meriwayatkan dari Hammid ath-Thawil dan lainnya dengan hadis-hadis yang batil. Dan ath-Thabrani mengeluarkan dalam “Mu’jam al-Kabir” melalui jalur بشر بن عون dari Bakar bin Tamim dari Makhul dari Wathlah bin al-Asqa’, dengan sanadnya, bahwa Allah mengirimkan malaikat pada hari Jumat ke pintu-pintu masjid, mereka mendoakan orang-orang yang memakai sorban. Dan hadis ini telah dinisbatkan dalam “al-Qut” dan “al-Ahkam” kepada Wathlah. Dan al-Iraqi mengatakan, saya tidak melihatnya dalam hadisnya, meskipun ath-Thabrani, seperti yang kamu lihat, mengeluarkannya dari hadisnya. Dan kesempurnaan itu hanya milik Allah. Dan telah ditegaskan dalam “al-Qut” dan “al-Ahkam” tentang keutamaan memakai sorban pada hari Jumat, baik bagi khatib maupun jamaah. Dan sebagai dalil untuk hadis ini, dikatakan dalam “al-Ahkam”, jika seseorang merasa kepanasan, maka tidak apa-apa jika ia melepasnya sebelum dan sesudah shalat, tetapi jangan melepasnya ketika sedang berjalan dari rumah menuju masjid, atau ketika sedang shalat, atau ketika imam naik mimbar dan saat berkhutbah. Demikian pula dalam “al-Qut”. Dan Abu Abdullah Muhammad bin Wudhah telah mengeluarkan dalam kitab tentang keutamaan memakai sorban, dari Abi al-Mulih al-Hadzali dari ayahnya, Usamah bin Amir secara marfu’, “Berangkatlah kalian, niscaya kalian akan sehat, dan pakailah sorban, niscaya kalian akan menjadi bijaksana”. Dan ath-Thabrani mengeluarkan dalam “al-Kabir” melalui jalur Muhammad bin Shalih bin al-Walid dari Bilal bin Bashir dari Umaran bin Tamam dari Abu Hamzah dari Ibn Abbas, dan al-Hakim dalam “al-Mustadrak fi al-Libas” melalui jalur Ubaidillah bin Abi Hamid dari Abi al-Mulih dari Ibn Abbas secara marfu’, “Pakailah sorban, niscaya kalian akan bertambah bijaksana”, demikian kata al-Hakim.”

“صحيح ورده الذهبي وقال فيه عبيد الله بن ابي حميد ترکه احمد وغيره و قال البخاري يروي عن ابي المليح عجائب وقال الترمذي في العلل سألت عنه يعني البخاري فقال عبيد الله ذاهب الحديث لا أروى عنه شيئاً وحكم ابن الجوزي عليه بالوضع وتعقبه عليه السيوطي في اللآلي المصنوعة وقال ابن حجر في الفتح في باب العمائم من كتاب اللباس اخرجه الطبراني والترمذي في العلل المفردة وضعفه عن البخاري وقد صححه الحاكم فلم يصب وله شاهد عند البزار عن ابن عباس بسند ضعيف ايضاً هـ وقال في در الغمامة قول الحاكم انه صحيح وابن الجوزي انه موضوع من تساهلها نعم في بعض اسانيده متروك وفي بعضها من ضعفه ابو حاتم وبقية رجاله ثقات فلعل ابن الجوزي اراد الاول والحاكم اراد الثاني ويكون ذلك الضعيف الذي فيه انجبر عنده فلا تخالف بينهما لانها لم يتواردا على سند واحد هـ وفى التيسير لدى قوله اعتموا بكسر الهمزة وشد الميم اي البسوا العمائم تزدادوا حلماً اي يكثر حلمكم وتتسع صدوركم لان تحسين الهيئة يورث الوقار والرزانة هـ ومثله للعزيزي واخرج ابن عدي في الكامل وابن قانع والبيهقي في الشعب من طريق اسماعيل بن عمرو عن يونس بن ابي اسحق عن ابيه عن عبيد الله بن ابي حميد عن ابى المليح عن ابيه اسامة بن عمير مرفوعاً اعتموا تزدادوا حلماً والعمائم تيجان العرب قال البيهقي لم يحدث به الا اسماعيل بن عمرو عن يونس بن ابي اسحق ه و اسماعيل هذا ضعفوه ويونس اورده الذهبي في الضعفاء والمتروكين ونقل ضعفه عن جماعة ايضاً وفى التيسير في هذا الحديث قال”

“Sanad hadis ini dinyatakan sahih oleh Al-Hakim, tetapi terdapat banyak pandangan mengenai keabsahannya. Ubaidullah bin Abi Hamid dikatakan telah ditinggalkan oleh Ahmad dan lainnya, serta Bukhari menyebutkan bahwa ia meriwayatkan hal-hal aneh dari Abu al-Malih. Al-Tirmidzi dalam kitab ‘Al-‘Ilal’ bertanya kepada Bukhari mengenai Ubaidullah, dan Bukhari menyebutnya sebagai ‘lemah’ dalam hadis dan tidak meriwayatkan apapun darinya. Ibn al-Jawzi menilai hadis ini sebagai hadis palsu (mawdu’), tetapi pendapat ini dikritik oleh al-Suyuthi dalam kitab ‘Al-La’ali al-Masnu‘ah’. Ibn Hajar dalam ‘Fath al-Bari’ pada bab tentang serban dalam Kitab al-Libas menyebutkan bahwa hadis ini diriwayatkan oleh al-Tabrani dan al-Tirmidzi dalam kitab ‘Al-‘Ilal al-Mufradah’, dan menurut Bukhari, hadis ini adalah dhaif (lemah), meskipun Al-Hakim menilainya sahih, tetapi menurut Ibn Hajar, Al-Hakim salah. Hadis ini memiliki syahid (pendukung) di sisi al-Bazzar dari Ibn Abbas, tetapi sanadnya juga lemah.”

“Al-Hakim menganggap hadis ini sahih dan Ibn al-Jawzi menilainya palsu, menunjukkan adanya perbedaan pandangan. Ya, pada beberapa sanadnya terdapat perawi yang ditinggalkan, dan sebagian sanadnya terdapat perawi yang dianggap lemah oleh Abu Hatim, sedangkan para perawi lainnya adalah tsiqat (dapat dipercaya). Ibn al-Jawzi mungkin merujuk kepada sanad pertama, sedangkan Al-Hakim merujuk kepada sanad kedua, yang mana hadis dhaif tersebut mungkin menurutnya telah didukung (dikuatkan) sehingga tidak ada kontradiksi di antara mereka, karena mereka tidak bersepakat pada sanad yang sama.”

“Dalam kitab ‘Al-Taysir’ pada perkataan ‘i’tamamu’ (pakailah serban) yang berarti mengenakan serban akan meningkatkan kesabaranmu, karena memperbaiki penampilan dapat menambah kewibawaan dan ketenangan. Al-Azizi juga menyebutkan hal yang sama. Ibn ‘Adi dalam ‘Al-Kamil’, Ibn Qani’, dan al-Baihaqi dalam kitab ‘Al-Shu’ab’ meriwayatkan hadis ini melalui jalur Ismail bin Amr dari Yunus bin Abi Ishaq dari ayahnya dari Ubaidullah bin Abi Hamid dari Abu al-Malih dari ayahnya Usamah bin Umayr secara marfu’, bahwa Nabi SAW bersabda, ‘Pakailah serban agar semakin sabar, dan serban adalah mahkota orang Arab.’ Al-Baihaqi berkata bahwa tidak ada yang meriwayatkan hadis ini kecuali Ismail bin Amr dari Yunus bin Abi Ishaq. Ismail ini dianggap lemah, dan Yunus dicantumkan oleh al-Dzahabi dalam kitab ‘Al-Du’afa’ wa al-Matrukin’ sebagai perawi yang dianggap lemah oleh para ulama.”

“قال ابن حجر ضعيف لكن له شاهد ضعيف قال اي وبه يتقوى هـ وقال العزيزي يؤخذ من كلام المناوي انه حديث حسن لغيره ه و كتب العلقمي على قوله والعمائم تيجان العرب ما نصه اي انها لهم بمنزلة التيجان للملوك لقلة العمائم فيهم هزاد المناوي والعزيزي واكثرهم بالقلانس قلت وفي صفة العرب تيجانها والسيوف سيجانها واخرج ابن النجار عن مهدي بن ميمون قال دخلت على سالم بن عبد الله وهو يعتم فقال يا ابا ايوب لا حدثنك بحديث قلت بلى قال دخلت على ابن عمر فقال لي يا بني اعتم تحلم وتكرم ولار . اك الشيطان الاذل ذاهباً سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول فذكره قال الشيخ عبد الرؤف المناوى في الفيض وفيه مجاهيل واخرج ابن عدي في الكامل من طريق ميسرة بن عبيد عن الحكم بن عتيبة عن ابن أبي يعلى عن علي رفعه أتوا المساجد حسراً اي بضم الحاء المهملة وفتح السين المهملة المشدودة جمع حاسر اي كاشفى الرؤس بدون عمانم و معصبين اي بكسر الصاد الشديدة جمع معصب اي ساترين رؤسكم بالعصائب أي العمائم فأن العمائم تيجان المسلمين قال الزين العراقي في شرح الترمذي ميسرة بن عبيد متروك و قال السيوطى حديث ضعيف وضعفه ايضاً المناوي في التيسير لا كن يشهد له ما اخرجه ابن عساكر في تاريخه عن علي ايضاً مرفوعاً بلفظ انتوا المساجد حسرا و مقنعين اي مغطاة رؤسكم بالقناع فان ذلك من سيما المسلمين قال العارف بالله الحفني في معنى قوله في الحديث الأول انتوا المساجد حسراً و معصبين ما نصه اي انتوا المساجد كيف امكن فليس عدم العمامة عذراً في ترك الجمعة والجماعة اي ان لم يخل بمرؤته وقوله فان الخ علة المحذوف”

Ibn Hajar berkata lemah, tetapi ia memiliki saksi yang lemah juga yang mengatakan demikian, dan dengan itu ia merasa kuat. Al-Azizy mengambil dari ucapan al-Manawi bahwa hadis ini hasan untuk selainnya. Al-‘Alaqmi menulis mengenai perkataannya, ‘Dan sorban adalah mahkota orang Arab’, maksudnya adalah bahwa sorban bagi mereka seperti mahkota bagi raja-raja karena jarangnya sorban di antara mereka.’ Al-Manawi dan al-‘Azizy menambahkan bahwa kebanyakan mereka menggunakan kalansuwa. Saya berkata, ‘Dan ciri khas orang Arab adalah sorban mereka dan pedang adalah belati mereka.’ Ibn al-Najjar meriwayatkan dari Mahdi bin Maimun, ia berkata, ‘Aku masuk kepada Salim bin Abdullah ketika ia sedang memakai sorban, lalu ia berkata, ‘Wahai Abu Ayyub, maukah engkau aku ceritakan sebuah hadis?’ Aku menjawab, ‘Tentu.’ Ia berkata, ‘Aku masuk kepada Ibn Umar, lalu ia berkata kepadaku, ‘Wahai anakku, pakailah sorban, maka engkau akan bijaksana dan dimuliakan, dan jauhkanlah setan yang hina itu.’ Kemudian aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda…’ lalu ia menyebutkan hadis tersebut.’
Syeikh ‘Abd al-Ra’uf al-Manawi dalam al-Fayḍ mengatakan bahwa di dalamnya terdapat perawi yang tidak dikenal. Ibn ‘Adi dalam al-Kāmil meriwayatkan dari Maisarah bin ‘Ubaid dari al-Ḥakam bin ‘Utaibah dari Ibn Abi ‘Ula dari ‘Ali secara marfu’, ‘Datanglah kalian ke masjid dalam keadaan kepala kalian terbuka (yaitu dengan menghilangkan penutup kepala), yaitu dengan menfatahkan huruf ha’ dan sin yang kedua, jamak dari ḥāsir yaitu mereka yang membuka kepala tanpa memakai sorban dan berikatan kepala, yaitu dengan memakmurkan huruf sad, jamak dari mu‘aṣṣib yaitu orang-orang yang menutupi kepala kalian dengan ‘iṣābah (sejenis penutup kepala), yaitu sorban. Maka sesungguhnya sorban adalah mahkota bagi kaum muslimin.’ Al-Zayn al-‘Iraqi dalam Syarh al-Tirmizi mengatakan bahwa Maisarah bin ‘Ubaid adalah seorang perawi yang ditinggalkan, dan al-Suyuthi mengatakan bahwa hadis ini lemah dan al-Manawi juga melemahkannya dalam al-Taysīr, tetapi yang mendukung hadis ini adalah apa yang diriwayatkan oleh Ibn ‘Asākir dalam sejarahnya dari ‘Ali secara marfu’ dengan lafadz, ‘Datanglah kalian ke masjid dalam keadaan kepala kalian terbuka dan berkerudung,’ yaitu menutupi kepala kalian dengan kerudung, sesungguhnya itu adalah ciri khas kaum muslimin.’ Al-‘Ārif bi-llāh al-Ḥafnī dalam menjelaskan makna perkataan dalam hadis pertama, ‘Datanglah kalian ke masjid dalam keadaan kepala kalian terbuka dan berikatan kepala,’ ia mengatakan, ‘Maksudnya adalah bagaimana mungkin kalian meninggalkan masjid, padahal tidak adanya sorban bukanlah alasan untuk meninggalkan Jumat dan jamaah, kecuali jika hal itu mengurangi kehormatannya.’ Dan perkataan ‘fan al-khā’ adalah ‘illat al-mahdhūf’ (alasan yang dihilangkan).””

معلوم من السياق إذا دار الأمر بين التعميم وغيره فالاتيان بالعمائم أفضل فإن الخ وقوله تيجان المسلمين أي كتيجان ملوك المسلمين أي الأكاليل التي هي مرصعة بالجواهر هـ وقال في الفيض يعني أنتم المساجد كيف يمكن بنحو قلنسوة فقط أو بتعمم وتقنع ولا تتخلفوا عن الجمعة التي هي فرض عين ولا عن الجماعة التي هي فرض كفاية والتعمم عند الإمكان أفضل ثم قال وما اقتضاه الحديث من كون فقد العمامة غير عذر في ترك الجمعة والجماعة محله فيمن يليق به ذلك أما لو كان خروجه إلى المسجد بدون العمامة لا يليق به فلا يؤمر بالاتيان حاسراً عند فقدهاه وأخرج أبو عبد الله محمد بن وضاح في فضل لبس العمائم عن خالد بن معدان التابعي مرسلاً أن الله أكرم هذه الأمة بالعصائب والالوية وما زمر تم مساجد كم ولا قبور كم بشيء أحب من البياض العصائب جمع عصابة والمراد بها هنا العمامة كما في رواية أخرى بالعمائم بدل العصائب قال الزمخشري المعصب المتوج ويقال للتاج والعمامة عصابة وقوله زمرتم هو بتشديد الميم وتخفيفها ومعناه عمر تم وملاتم وأخرج البيهقي في الشعب عنه أيضاً مرسلاً قال أتي النبي صلى الله عليه وسلم بثياب من الصدقة فقسمها بين أصحابه وقال اعتموا خالفوا على الأمم قبلكم وفي رواية وخالفوا الأمم قبلكم وهذا السبب قاض بأن يقرأ قوله اعتموا بكسر الهمزة وشد الميم بمعنى البسوا العمائم قال الشيخ عبد الرؤوف المناوي في الفيض وعليه ففيه أن التعميم من خصائص هذه الأمة قلت ويدل لذلك أيضاً الحديث قبله وهو أن الله أكرم هذه الأمة الخ

“Telah diketahui dari konteks bahwa jika ada pilihan antara menggunakan penutup kepala (seperti sorban) atau tidak, maka mengenakan sorban lebih utama. Mengenakan sorban adalah laksana mahkota kaum Muslim, seperti mahkota para raja Muslim yang dihiasi dengan permata. Dalam kitab al-Fayd disebutkan bahwa kalian adalah penghuni masjid, maka bagaimana mungkin hanya memakai penutup kepala sederhana? Sebaiknya gunakan sorban dan penutup kepala lainnya, serta jangan meninggalkan shalat Jumat yang hukumnya fardhu ‘ain atau shalat berjamaah yang hukumnya fardhu kifayah. Mengenakan sorban, jika memungkinkan, lebih baik.

Kemudian disebutkan bahwa apa yang dipahami dari hadits tentang ketidakadaan sorban bukanlah alasan untuk meninggalkan shalat Jumat dan berjamaah, kecuali bagi orang yang dianggap tidak pantas untuk keluar ke masjid tanpa sorban. Jika demikian, ia tidak diperintahkan untuk datang tanpa sorban bila sorban tersebut tidak tersedia.

Abu Abdullah Muhammad bin Wadhdah, dalam kitabnya Fadhl Libas al-‘Amaim, meriwayatkan secara mursal dari Khalid bin Ma’dan, seorang tabi’in, bahwa Allah memuliakan umat ini dengan sorban dan panji-panji. Tidak ada sesuatu yang lebih Allah cintai untuk menghiasi masjid-masjid kalian atau kuburan-kuburan kalian selain warna putih. ‘Ashayib’ adalah bentuk jamak dari ‘ishabah’, yang dalam konteks ini berarti sorban, seperti dalam riwayat lain yang menyebutkan ‘amaim’ sebagai ganti dari ‘ashayib’.

Imam Zamakhsyari mengatakan bahwa kata ‘mu’ashshab’ berarti mahkota, dan kata tersebut dapat merujuk pada mahkota atau sorban. Kata ‘zammartum’ dapat dibaca dengan tasydid pada mim atau dengan tanpa tasydid, yang artinya adalah ‘memakmurkan’ dan ‘memenuhi’.

Imam Baihaqi dalam kitab al-Syu’ab juga meriwayatkan secara mursal dari Khalid bin Ma’dan bahwa Nabi SAW pernah menerima pakaian dari sedekah, lalu membagikannya kepada para sahabat, dan bersabda, “Pakailah sorban untuk membedakan diri kalian dari umat-umat sebelum kalian.” Dalam riwayat lain disebutkan, “Berlainanlah dengan umat-umat sebelum kalian.” Ini menunjukkan bahwa kata ‘i’tamamu’ harus dibaca dengan kasrah pada hamzah dan tasydid pada mim, yang berarti ‘kenakanlah sorban’.

Syekh Abdul Rauf al-Munawi dalam kitab al-Fayd mengatakan bahwa sorban adalah salah satu ciri khas umat ini .Saya katakan, hal ini juga didukung oleh hadits sebelumnya sesungguhnya Allah memuliakan umat ini.

“عند إمكانه أفضل هـ وقال ايضاً في شرح الشمائل مانصه والعمامة سنة – لا سيما للصلاة ولقصد التجمل لاخبار كثيرة فيها واشتداد ضعف كثير منها . يجبره كثرة طرقها وزعم وضع اكثرها تساهل قال وتحصل السنة بكونها على الرأس او قلنسوة تحتها هـ واختصره الباجوري في شرحها بقوله والعمامة سنة لا سيما للصلاة ولقصد التجمل لاخبار كثيرة فيها وتحصل السنة بكونها على الرأس او على قلنسوة تحتها هـ وقال العارف بالله الحنني في حاشية الجامع الصغير لبس العمامة سنة للتمييز بيننا وبين الكفار وتكون بقدر عادة أهل البلد هو قال الهيتمي | في در الغمامة هي سنة للصلاة ولقصد التجمل وان اوهم بعض العبارات خلاف ذلك الا ان يحمل على من فعلها لغير ذلك فانه يباح وقد يكره وقد يحرم كما يعلم مما يأتي وذلك للاحاديث الكثيرة فيها ولا يضر ضعفها وان اشتد في كثير منها لان كثرة طرقها يجبر ذلك وقول ابن الجوزي وغيره في كثير منها انه موضوع بالنسبة لطريق من تلك الطرق وهذا اولى ممن بالغ في الرد على ابن الجوزي وغيره في ذلك وان عرف الأول بالتساهل الكثير فى موضوعاته كما عرف ابو عبد الله الحاكم في مستدركه بالتساهل الكثير في الحكم بالصحة وانه على شرطهما او شرط احدهما مع كونه اضعف الضعيف هـ وقال في تحفة المحتاج بشرح المنهاج ما نصه وتسن العمامة للصلاة ولقصد التجمل للاحاديث الكثيرة فيها واشتداد ضعف كثير منها يجبره كثرة طرقها وزعم وضع كثير منها تساهل كما هو عادة ابن الجوزى
هنا والحاكم في”
التصحيح الا ترى إلى حديث

 

“Ketika dimungkinkan yang terbaik, dan ia juga berkata dalam penjelasan tentang akhlak, yang berbunyi: ‘Memakai sorban adalah sunnah, terutama untuk salat dan untuk tujuan berhias, ada banyak hadits mengenai hal ini, meskipun banyak di antaranya lemah. Namun, banyaknya jalur hadits tersebut menguatkan (kekuatannya).’ Dan ia mengklaim bahwa sebagian besar dari hadits tersebut lemah. Namun, hal ini dapat dimaafkan karena banyaknya jalur hadits tersebut. Al-Bajuri juga merangkum penjelasan ini dengan mengatakan: ‘Memakai sorban adalah sunnah, terutama untuk salat dan tujuan berhias, ada banyak hadits yang mendukungnya. Sunnah tersebut dapat diperoleh dengan memakainya di kepala atau dengan penutup kepala (kupluk) di bawahnya.’

Seorang ahli (Wali) Allah, Al-Hanani, dalam catatan mengenai Al-Jami’ Al-Saghir, menyatakan bahwa memakai sorban adalah sunnah untuk membedakan kita dengan orang-orang kafir, dan sorban tersebut seharusnya sesuai dengan kebiasaan masyarakat setempat.

Ia juga berkata dalam “Dar Al-Ghamamah”: ‘Memakai sorban adalah sunnah untuk salat dan tujuan berhias, meskipun ada beberapa ungkapan yang tampaknya bertentangan, namun itu dapat dipahami sebagai mereka yang melakukannya untuk tujuan lain, yang boleh saja, kadang-kadang bisa dibenci, dan bisa juga haram, seperti yang akan dijelaskan nanti, karena banyaknya hadits tentang hal ini. Meskipun banyak di antara hadits tersebut lemah, tetapi banyaknya jalur hadits tersebut menguatkan hal itu.’

Dan pernyataan Ibn Al-Jawzi dan yang lainnya mengenai banyaknya hadits yang dianggap palsu lebih tepat dibandingkan dengan mereka yang sangat berlebihan dalam menanggapi Ibn Al-Jawzi dan yang lainnya mengenai hal itu, mengingat bahwa yang pertama sering dianggap terlalu longgar dalam hal hadits-hadits yang dipalsukan, seperti yang dikenal oleh Abu Abdillah Al-Hakim dalam “Al-Mustadrak” yang sangat longgar dalam menilai keabsahan hadits, bahkan terhadap hadits yang lemah.

Dalam “Tuhfat Al-Muhtaj” oleh Al-Nawawi, dinyatakan bahwa: ‘Memakai sorban adalah sunnah untuk salat dan tujuan berhias, banyak hadits mendukungnya, meskipun banyak di antaranya lemah, namun banyaknya jalur hadits tersebut menguatkan keabsahannya, dan pernyataan bahwa banyak hadits tersebut lemah adalah sebuah kelonggaran, seperti yang biasa dilakukan oleh Ibn Al-Jawzi dan Al-Hakim keshohihan kecuali melihat kepada hadits

“”إعتموا تزدادوا حلما حيث حكم ابن الجوزي بوضعه والحاكم بصحته استرواحاً منهما على عادتهما هــ ويأتي عن ابن العربي انها سنة المسلمين اي طريقتهم وزيهم وهيأتهم وتقدم انها سيما الإسلام وحاجزيين المسلمين والمشركين ووقاراً للمؤمن وعز للعرب وما كان بهذه الأوصاف ينبغي ان يكون مطلوب اكيد الطلب وقد اخرج ابن عساكر في تاريخه عن مالك قال لا ينبغي ان تترك العمامة ولقد اعتممت وما في وجهي شعرة وفي المدارك قال ابو مصعب سمعت مالكا يقول اني لا اذكر وما في وجهي . طاقة شعر وما منا احد يدخل المسجد الا معتما اجلالا لرسول الله صلى الله عليه وسلم وفي شرح الشمائل لابن مخلص نقلا عن شرح الموطأ المسمى بالمختار الجامع بين المنتقى والاستدكار قال مالك العمة والاحتباء والانتعال من عمل العرب وكانت العمة في اول الاسلام ثم لم تزل حتى كان هؤلاء القوم يعني ولاة بني هاشم فتر كناها خوفا من خلافهم لانهم لم يلبسوها ولم ادرك احداً من اهل الفضل الأوهم يعتمون و كنت ارى في حلقة ربيعة وهو شيخ مالك احدا وثلاثين رجلا معتمين وانا منهم وكان ربيعة لا يتركها حتى تطلع الثريا وقال ربيعة اني لاجدها تريد في العقل . وفي المدخل في فصل اللباس ما نصه وقد نقل عن مالك رحمه الله انهم كانوا يعتمون حتى تطلع الثريا ومعنى ذلك ان طلوعها انما يكون في زمن الحر فيزيلونها عن رؤسهم قال ومن فعل مثل هذا في هذا الزمان كانه ابتدع بدعة في الدين حتى انهم ليردون شهادته ويقعون في حقه بنسبته انه”
“داخل بذلك في جملة الموهنين، وأنه ليست له مأخذ بسبب ما ارتكبه، والله أعلم.

“Kenakanlah sorban, maka kalian akan bertambah sabar. Ibn al-Jawzi menilainya sebagai hadits palsu, sedangkan al-Hakim menilainya sahih, mengikuti kebiasaan mereka dalam menghargai pendapat masing-masing. Disebutkan oleh Ibn al-Arabi bahwa mengenakan sorban adalah sunnah bagi kaum Muslimin, yaitu cara dan penampilan mereka. Dijelaskan pula bahwa sorban adalah ciri khas Islam yang membedakan antara kaum Muslimin dan musyrik, menjadi lambang kehormatan bagi orang beriman dan kemuliaan bagi bangsa Arab. Sesuatu yang memiliki sifat-sifat ini seharusnya sangat dianjurkan untuk dilakukan.

Ibn Asakir dalam kitab sejarahnya meriwayatkan dari Imam Malik, yang berkata bahwa sorban tidak sepatutnya ditinggalkan. Malik mengatakan, ‘Aku mengenakan sorban ketika di wajahku belum tumbuh sehelai rambut pun.’ Dalam kitab al-Madarik, Abu Mus’ab meriwayatkan bahwa dia mendengar Imam Malik berkata, ‘Aku tidak ingat kapan aku tidak memiliki sehelai pun rambut di wajahku, dan kami semua masuk masjid dengan mengenakan sorban sebagai penghormatan kepada Rasulullah صلى الله عليه وسلم.’

Dalam syarah (penjelasan) kitab Syamail oleh Ibn Mukhlis, yang mengutip dari syarah al-Muwatta yang disebut al-Mukhtar, Imam Malik menyatakan bahwa sorban, duduk bersandar, dan memakai sandal adalah tradisi bangsa Arab. Sorban telah ada sejak awal Islam dan terus berlanjut hingga masa para penguasa Bani Hashim. Mereka akhirnya meninggalkan sorban karena takut menimbulkan perpecahan, sebab para penguasa tersebut tidak mengenakannya. Aku tidak melihat seorang pun dari orang-orang yang berilmu meninggalkan sorban. Aku melihat dalam majelis Rabi’ah (guru Malik), ada tiga puluh satu orang mengenakan sorban, termasuk aku sendiri. Rabi’ah tidak pernah meninggalkannya hingga munculnya bintang Thurayya. Dia juga berkata, ‘Aku merasa sorban menambah kecerdasan.’

Dalam kitab al-Madkhal, pada bagian tentang pakaian, dinyatakan bahwa Imam Malik rahimahullah mengatakan bahwa mereka mengenakan sorban hingga munculnya bintang Thurayya, yang biasanya terjadi pada saat cuaca panas, sehingga mereka melepas sorban dari kepala mereka. Namun, siapa pun yang melakukan hal ini di masa sekarang dianggap melakukan bid’ah dalam agama, bahkan kesaksiannya dapat ditolak dan ia dianggap termasuk dalam golongan orang-orang yang melemahkan agama. Tidak ada alasan yang kuat untuk apa yang ia lakukan, dan Allah Maha Mengetahui.”

Dalam hadits yang Rasulullah SAW bersabda yang dijelaskan dalam kitab
Kasyful Ghummah .

(كشف الغمة الجزء الأول ص ۱۰۳)

  1. وَكَانَ صلى الله عليه وسلم  يَأْءمُرُ بِسَتْرِ الرَّءأْسِ فِي الصَّلَاةِ بِالْعِمَامَةِ أَوِ الْقَلَنْسُوَةِ وَيَنْهَى عَنْ كَشْفِ الرَّأْسِ فِي الصَّلَاةِوَيَقُولُ إِذَا آتَيْتُمُ الْمَسَاجِدَ فَأْءتُوهَا مُعَصِبِينَ وَالْعِصَابَةُ هِيَ الْعِمَامَةُ.

Nabi Muhammad SAW memerintahkan untuk menutup kepala saat sholat dengan memakai sorban atau songkok. Dan beliau melarang membuka kepala saat sholat, serta berkata, “Jika kalian datang ke masjid, maka datanglah dalam keadaan terikat (dengan penutup kepala), dan ‘ikat’ di sini merujuk pada sorban.”

Wallahu a’lam bishawab

Kategori
Hukum

HUKUM MEMBANGUN MASJID BARU DALAM SATU KOTA ATAU DESA KETIKA MASJD YANG LAMA MAMPU MENAMPUNG JAMAAH

Hukum Pembangunan Masjid  Baru Dalam satu desa atau kata ketika Masjid yang  lama  Mampu Menampung Jamaah 

Assalamualaikum

Deskripsi Masalah:

Pembangunan masjid merupakan salah satu amalan yang sangat mulia dalam Islam, karena masjid berperan sebagai pusat ibadah dan kegiatan keagamaan bagi umat Muslim. Namun, ada beberapa pandangan dan pertimbangan terkait pembangunan masjid baru di suatu daerah, terutama ketika masjid yang sudah ada masih cukup untuk menampung jamaah yang ada.

Dalam beberapa kasus, pembangunan masjid baru dilakukan meskipun masjid lama masih berfungsi dengan baik dan mampu memenuhi kebutuhan jamaah. Hal ini menimbulkan pertanyaan mengenai efektivitas dan tujuan dari pembangunan tersebut.

  1. Bagaimana hukum pembangunan masjid baru disatu desa sementara masjid yang lama masih memuat menampung jamaah?
  2. Apa yang dimaksud Kota atau desa?

Waalikum salam

Jawaban.
Membangun masjid lebih dari satu dalam satu desa menurut pendapat yang kuat) adalah dibolehkan secara mutlak, dengan syarat jumlah jamaah di setiap masjid tidak kurang dari empat puluh orang. Jika kurang dari itu, maka mereka bergabung dengan jamaah terdekat karena tidak ada dalil yang menunjukkan bahwa Nabi shallallahu alaihi wasallam pernah mengimami shalat Jumat dengan jumlah yang lebih sedikit. Begitu pula para salaf saleh setelah beliau. Dan pendapat yang mengatakan tidak boleh kecuali jika sulit berkumpul di satu tempat tidak ada dalil yang jelas atau yang mendekati jelas, baik dari nash (teks Al-Qur’an dan hadis) maupun dari qiyas (analogi). Bahkan, tujuan syariat yang ingin dicapai adalah menunjukkan kekuasaan agama Islam pada hari itu dan meninggikan suara di atas mimbar untuk menyeru kepada Allah dan memberi nasihat kepada umat Islam. Semakin banyak mimbar, semakin jelas tanda-tanda kekuasaan Islam dan semakin terangkat kejayaan agama Islam di berbagai tempat sekaligus jika setiap masjid dipenuhi oleh empat puluh orang atau lebih. Inilah yang tampak jelas bagi saya. Dan Allah-lah yang memberi taufik.

Referensi.


قرة العين فتاوى إسماعيل عثمان زين ص ٩٠-٩١

حكم تعدد الجمعة في بلدة واحدة أو قرية واحدة
مسألة:
ما قولكم في تعدد الجمعة في بلدة واحدة أو قرية واحدة مع تحقق العدد المعتبر في كل منهما مسجد من مساجدها. (١) فهل تصح جمعة الجميع أو فيه تفصيل فيما يظهر لكم ؟

Hukum Banyaknya Shalat Jumat di Satu Kota atau Desa

Pertanyaan:
Apa pendapatmu tentang banyaknya shalat Jumat di satu kota atau desa, padahal jumlah penduduk yang memenuhi syarat untuk shalat Jumat sudah terpenuhi di masing-masing masjid?

الجواب
“أما مسألة تعدد الجمعة فالظاهر جواز ذلك مطلقًا، بشرط أن لا ينقص عدد كل عن أربعين رجلاً، فإن نقص عن ذلك انضموا إلى أقرب جمعة إليهم إذ لم ينقل عن النبي صلى الله عليه وسلم أنه جمع بأقل من ذلك. وكذلك السلف الصالح من بعده، والقول بعدم الجواز إلا عند تعذر الاجتماع في مكان واحد ليس عليه دليل صريح ولا ما يقرب من الصريح لا نصًا ولا شبهه، بل إن الستر المقصود بالشريعة هو في إظهار الشعار في ذلك اليوم وأن ترفع الأصوات على المنابر بالدعوة إلى الله والنصح للمسلمين. فكلما كانت المنابر أكثر كانت الشعارات أظهر وتبلوّت عزة دين الإسلام في آن واحد في أماكن متعددة إذا كان كل مسجد عامرًا بأربعين فأكثر. هذا هو الظاهر لي. والله ولي التوفيق.
تخصيص المسجد لطائفة معينة)
سؤال:
ما قولكم في بناء مسجدين أو أكثر في قرية واحدة لا لكثرة المجمعين فيها؛ بل لوقوع التشاجر والعداوة بينهم؛ ففريق منهم يمنع آخر عن أن يصلي في مسجده، وكذلك الفريق الآخر يمنعه عن أن يصلي في مسجده؟
الجواب:
والله الموفق للصواب: لا مانع من كثرة المساجد في قرية واحدة. وأما ما ذكر في السؤال من كون كل مسجد منها يختص لطائفة ويمنعون الآخرين من الصلاة فيه فهذا لا يجوز، فينبغي للعلماء المصلحين أن يعالجوا مثل هذه المشاكل بما يرفع الوحشة والبغضاء ويوجب الألفة والمودة بين المسلمين.
(1). كون إقامة الجمعة في المسجد ليس شرطًا لها عند جمهور الفقهاء الحنفية والشافعية والحنابلة خلافا للمالكية حيث يشترطون المسجد الجامع لصحة إقامتها. والله أعلم.

وأما بالنسبة لصلاة الجمعة فمذهب الشافعية أن تعدد صلاة الجمعة في قرية واحدة لا يجوز إلا لحاجة. وقد ذكروا أسباب الحاجة، وأن منها مثل ما ذكر في السؤال من الشحناء القبلية وخوف الفتنة. نسأل الله أن يهدي المسلمين أجمعين وأن يؤلف بين قلوبهم. والله سبحانه وتعالى أعلم.
مقدار المسافة التي يجب منها حضور الجمعة)
سؤال:
كم مقدار المسافة التي يجب على أهل الجمعة أن يصليها في مسجده. وهل يصح لشخص أن يصلي الجمعة في مسجد آخر؟”

“Adapun masalah banyaknya shalat Jumat, maka yang zahir (pendapat yang kuat) adalah dibolehkan secara mutlak, dengan syarat jumlah jamaah di setiap masjid tidak kurang dari empat puluh orang. Jika kurang dari itu, maka mereka bergabung dengan jamaah terdekat karena tidak ada dalil yang menunjukkan bahwa Nabi shallallahu alaihi wasallam pernah mengimami shalat Jumat dengan jumlah yang lebih sedikit. Begitu pula para salaf saleh setelah beliau. Dan pendapat yang mengatakan tidak boleh kecuali jika sulit berkumpul di satu tempat tidak ada dalil yang jelas atau yang mendekati jelas, baik dari nash (teks Al-Qur’an dan hadis) maupun dari qiyas (analogi). Bahkan, tujuan syariat yang ingin dicapai adalah menunjukkan kekuasaan agama Islam pada hari itu dan meninggikan suara di atas mimbar untuk menyeru kepada Allah dan memberi nasihat kepada umat Islam. Semakin banyak mimbar, semakin jelas tanda-tanda kekuasaan Islam dan semakin terangkat kejayaan agama Islam di berbagai tempat sekaligus jika setiap masjid dipenuhi oleh empat puluh orang atau lebih. Inilah yang tampak jelas bagi saya. Dan Allah-lah yang memberi taufik.

Memperuntukkan Masjid untuk Golongan Tertentu

Pertanyaan:
Apa pendapatmu tentang membangun dua masjid atau lebih di satu desa, bukan karena banyaknya jamaah, tetapi karena adanya perselisihan dan permusuhan di antara mereka, sehingga satu kelompok melarang kelompok lain untuk shalat di masjidnya, dan begitu pula sebaliknya?
Jawaban:
Wallahu a’lam bisshawab (Hanya Allah yang mengetahui kebenaran): Tidak ada larangan untuk banyaknya masjid di satu desa. Adapun apa yang disebutkan dalam pertanyaan, yaitu setiap masjid diperuntukkan bagi kelompok tertentu dan mereka melarang orang lain untuk shalat di sana, maka hal ini tidak dibolehkan. Para ulama yang shalih seharusnya mengatasi masalah seperti ini dengan cara yang dapat menghilangkan permusuhan dan kebencian serta menimbulkan keakraban dan kasih sayang di antara umat Islam.
(1). Mendirikan shalat Jumat di masjid bukanlah syarat bagi sahnya shalat Jumat menurut jumhur ulama Hanafi, Syafi’i, dan Hanbali, berbeda dengan mazhab Maliki yang mensyaratkan masjid jami’ untuk sahnya shalat Jumat. Wallahu a’lam.
Adapun mengenai shalat Jumat, maka mazhab Syafi’i berpendapat bahwa banyaknya shalat Jumat di satu desa tidak dibolehkan kecuali karena suatu kebutuhan. Mereka telah menyebutkan beberapa sebab kebutuhan, di antaranya seperti yang disebutkan dalam pertanyaan, yaitu permusuhan antar suku dan kekhawatiran akan fitnah. Kita mohon kepada Allah agar menunjuki seluruh umat Islam dan menyatukan hati mereka. Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala Maha Mengetahui.

الميزان الكبرى (١/٢٠٩)

(وقال القرافي يحكي ونقل ذكر الكفارة في الأبدال والأوقات بحسب الداجة واختلف العلماء في جواز تعدد الجمعة في البلد الواحد فمن قال جوازها قال إنما تجوز في الضرورة ومساواة الكل – فإن كان هذا القول مقبولاً فالأولى وقوف الناس عند إمام واحد لئلا يكثر الجدل والاختلاف في الأوقات وأما من قال جواز ذلك مطلقاً فإنه لو كان كذلك لكان عندنا في كل ناحية مساجد كثيرة والناس يترددون بينها والأمر عندنا غير مقيد بعلماء بعينهم وجال ذكره ذلك وأنه في حبس واحد.

فتاوى السبكي (١٨٧-١٨٨)

واختلف مع كثير من مشايخنا في هذا المعنى فوجدت في أذهان أكثرهم أن القول بجواز التعدد مع عدم الحاجة رواية عن محمد ولقد فحصت ونقبت الكثير في كتبه فلم أر أحداً صرح بجواز التعدد عند عدم الحاجة بل بعضهم أطلق عن جواز التعدد وبعضهم قيد بالحاجة.

حاشية على مراقي الفلاح شرح نور الإيضاح، (١/٣٢٧)

ومقابل الأصح ما في البدايع أن ظاهر الرواية جوازها في موضعين فلا تجوز في أكثر من ذلك وعليه الاعتمد اه فإن المذهب الجواز مطلقاً الى ان قال – والأصح إطلاق الجواز في مواضع لا إطلاق الدليل اهـ

الإنصاف للشيخ علي بن سليمان بن أحمد المرداوي (٤٠١-٢/٤٠٠)

قال الزرقشي هو المشهور ومختار الأصحاب وأطلقها في الفائق وعنه: لا يجوز إقامتها في أكثر من موضع واحد وأطلقها في المحرر.

Al-Mīzān al-Kubrā (1/209)

“Al-Qarafi meriwayatkan dan menyebutkan tentang kafarat dalam pengganti dan waktu sesuai dengan kondisi yang berlaku. Para ulama berbeda pendapat mengenai kebolehan mendirikan shalat Jumat di lebih dari satu tempat dalam satu kota. Sebagian ulama yang membolehkan mengatakan bahwa hal itu hanya diperbolehkan karena adanya kebutuhan mendesak dan kesetaraan di antara semua pihak. Jika pendapat ini dapat diterima, maka lebih utama jika masyarakat berkumpul di belakang satu imam agar tidak terjadi banyak perdebatan dan perselisihan terkait waktu pelaksanaan. Adapun bagi mereka yang membolehkan hal itu secara mutlak, jika demikian maka di setiap sudut kota akan terdapat banyak masjid dan orang-orang akan berpindah-pindah di antara masjid tersebut. Namun, di sisi kami, masalah ini tidak dibatasi oleh ulama tertentu dan pendapat ini diungkapkan dalam konteks tertentu.”

Fatāwā as-Subkī (187-188)

“Aku berbeda pendapat dengan banyak guru kami dalam masalah ini. Aku mendapati bahwa di benak sebagian besar dari mereka, pendapat tentang bolehnya mendirikan shalat Jumat di beberapa tempat tanpa adanya kebutuhan adalah riwayat dari Muhammad (bin Hasan as-Syaibani). Aku telah meneliti dan menelaah dengan seksama kitab-kitabnya, namun aku tidak menemukan seorang pun yang dengan jelas membolehkan pendirian shalat Jumat di beberapa tempat tanpa adanya kebutuhan. Sebagian ulama membolehkan secara umum, sedangkan sebagian lainnya membatasinya dengan adanya kebutuhan.”

Hāsyiyah ‘alā Marāqī al-Falāḥ Syarḥ Nūr al-Īdhāḥ (1/327)

“Pendapat yang berseberangan dengan yang paling shahih adalah apa yang terdapat dalam kitab al-Badā’i bahwa riwayat yang tampak adalah kebolehan mendirikan shalat Jumat di dua tempat, dan tidak diperbolehkan di lebih dari itu. Pendapat ini dipegang kuat. Pendapat yang paling shahih adalah kebolehan secara mutlak di beberapa tempat, bukan kebolehan yang bersifat umum tanpa batasan dalil.”

 

Al-Inṣāf oleh Syaikh ‘Ali bin Sulaiman bin Ahmad al-Mardāwī (2/400-401)

“Az-Zarkasyi berkata, pendapat yang masyhur dan dipilih oleh para ulama madzhab adalah kebolehan mendirikan shalat Jumat di beberapa tempat. Hal ini disebutkan secara umum dalam kitab al-Fā’iq. Disebutkan pula bahwa tidak boleh mendirikan shalat Jumat di lebih dari satu tempat, sebagaimana disebutkan dalam kitab al-Muḥarrar.”

Jawaban N0.2

Para ulama berbeda pendapat mengenai definisi
kota, desa, atau perkampungan.
Diantara mereka berpendapat

Suatu kota (masr) tidak dianggap sebagai tempat yang memenuhi syarat untuk shalat Jumat jika tidak memiliki pemimpin yang sah (hakim syar’i), polisi, dan pasar. Sementara itu, sebuah desa (balad) tidak dianggap memenuhi syarat jika tidak memiliki sebagian dari fasilitas tersebut. Sedangkan sebuah perkampungan (qaryah) harus memiliki semua

Yang dimaksud dengan ‘kota’ adalah kumpulan bangunan tempat tinggal yang padat, baik itu kota, desa, atau perkampungan. Syaratnya adalah harus ada pemimpin yang sah, polisi, dan pasar. Kota adalah tempat yang memiliki sebagian dari fasilitas tersebut, sedangkan desa harus memiliki semua fasilitas tersebut.”

Referensi :

حاشية البجيرمي على المنهج ج ١ ص ٣٥٠

أن المصر ما كان فيها حاكم شرعي وشرطي وسوق والبلد ما خلت عن بعض ذلك والقرية ما خلت عن الجميع 

إعانة الطالبين ج ٢ ص ٥٩

وقوله: بمحل معدود من البلد) المراد بالبلد: أبنية أوطان المجمعين، سواء كانت بلدا أو قرية أو مصرا، وهو ما فيه حاكم شرعي، وحاكم شرطي، وأسواق للمعاملة.والبلد: ما فيه بعض ذلك.والقرية ما خلت عن ذلك كله 

تحفة المحتاج ج ٢ ص ٣٤٢

قال ابن عجيل ولو تعددت مواضع متقاربة وتميز كل باسم فلكل حكمه .ا هـ .وإنما يتجه إن عد كل مع ذلك قرية مستقلة عرفا 

كفاية الأخيار  

وَاعْلَمْ أَنَّ شَرْطَ الأَرْبَعِيْنَ الذُّكُورَةُ وَ التَّكْلِيْفُ وَالحُرِّيَّةُ وَالإِقَامَةُ عَلَى سَبِيْلِ التَّوَطُّنِ لاَيَظْعَنُونَ شِتَاءً وَلاَصَيْفًا إِلاَّ لِحَاجَةٍ فَلاَيَنْعَقِدُ بِالإِنَاثِ وَلاَ بِالصِّبْيَانِ وَلاَبِالعَبِيْدِ وَلاَ بِالمُسَافِرِيْنَ وَلاَ بِالمُسْتَوطِنِيْنَ شِتَاءً دُونَ صَيْفِ وَعَكْسُهُ 

كفاية الأخيار

إِذَا تَقَارَبَ

قَرْيَتَانِ فِى كُلٍّ مِنْهُمَا دُوْنَ أرْبَعِيْنَ بِصِفَةِ الكَمَالِ وَلَوِ اجْتَمَعُوا لَبَلَغَوا أَرْبَعِيْنَ لَمْ يَنْعَقِدُ بِهَمْ الجُمْعَةُ وَإِنْ سَمِعَتْ كُلُّ قَرْيَةٍ نِدَاءَ الأُخْرَى لأَنَّ الأَرْبَعِيْنَ غَيْرُ مُقِيْمِيْنَ فىِ مَوضِعِ الجُمْعَةِ واللهُ أَعْلَمْ 

الفتاوى الفقهية الكبرى ج ٢ صـــ ٤٥٧

( وسئل )

أعاد الله علينا من بركاته لو اتصلت قريتان فهل يجوز تعدد الجمعة فيهما ؟ ( فأجاب ) بقوله الذي يظهر أنهم حيث عدوهما كالقرية الواحدة بالنسبة إلى مجاوزة عمرانهما في السفر امتنع تعددها وإلا جاز ويدل لذلك قولهم في توجيه تعدد الجمعة في بغداد أنها كانت قرى ثم اتصلت ولا فرق حيث اتصلتا الاتصال الذي ذكروه بين أن يتميز كل منهما باسم أو لا ولا بين أن يحجز بين بعض جوانبهما نهر أو لا .

مجموع فتاوى العلامة الفقيه المحقق الباحت المدقق الحبيب عبد الله بن عمر بن يحيى / ص ٥٣-٥٦

تعريف حد البلد والقرية وهي كما في الفتح وغيره الأبنية المجتمعة عرفا ولما قال في المنهاج في شروط الجمعة ((الثاني)) ان تقام في خطة ابنية (قال ابن حجر في التحفة) والمراد بالخطة كما هو ظاهر من كلامهم وصرح به جمع متقدمون محل معدود من البلد او القرية بان لم يجز لمريد السفر منها القصر فيه اهـ، ثم قال بعد كلام قال ابن عجيل ولو تعددت مواضع وتميز كل باسم فلكل حكمه اهـ وانما يتجه ان عد كل مع ذلك قرية مستقلة عرفا اهـ

فقوله ان عد الخ اي بحيث ان المسافر اذا خرج من احدهما الى جهة الاخرى يجوز له القصر قبل دخولها فهذا هو بيان العرف والاستقلال وسيأتي ما يؤيده ان شاء الله.


فكل قرية اتصل بناءها في العرف ببناء غيرها بحيث لم يتخلل بينهما شيء فهما بلدة واحدة، والمراد بالعرف الاتصال المعروف بين غالب دور البلد ومتى تخلل بينهما شيء مما ذكر او لم يتخلل لكن لم يتصل دورها الاتصال الغالب في دور البلدان فهما قريتان وهذا شيء يسير ولهذا قال في العباب والقريتان المتصلتان كالقرية لا المنفصلتان ولو يسيرا اهـ فانظر قوله يسيرا.

وقال في التحفة والقريتان ان اتصلتا عرفا فكقرية وان اختلفا اسما والا كفى مجاوزة قرية المسافر، وقول الماوردي ((ان الانفصال بذراع كاف)) في اطلاقه نظر والوجه ما ذكرته من اعتبار العرف ثم رأيت الاذرعي وغيره اعتمدوه اهـ.

فما نظر الشيخ الا في اطلاق الماوردي ان الفصل بذراع كاف من غير تقييد بان يعدهما العرف بالذراع منفصلتين فلو قيده بذلك لم يكن في كلامه نظر عند ابن حجر فتأمله بانصاف. وعلم من قوله وان اختلفا اسما الخ انه لا عبرة باتحاد الاسم ولاختلافه بل المدار على الانفصال والاتصال اتحد الاسم او تعدد.

وقال في النهاية والقريتان المتصلتان عرفا كالواحدة وان ختلف اسمها والا اكتفي بمجاوزة قرية المسافر، وقول الماوردي يكفي في الانفصال ذراع جري على الغالب والمعول عليه العرف اهـ، فالجمال الرملي موافق لابن حجر على اعتبار العرف في الانفصال والاتصال وقد جعل الفصل بالذراع الذي ذكره الماوردي هو الفصل في العرف غالبا وقد لا يكون هو الفصل في العرف في غير الغالب فليزد عليه حتى يحكم العرف بانهما منفصلتان فتدبره لتعلم به انه يحصل في العرف بشيء يسير.

وقال في فتح الجواد ولو انفصلت قريتان ولو يسيرا لم يشترط مجاوزة الاخرى اهـ. فتأمل قوله ولو يسيرا ونحوه في شرح المختصر

Ringkasan Umum
Teks-teks di atas membahas syarat-syarat berdirinya shalat Jumat dalam Islam, khususnya terkait dengan jumlah penduduk yang harus ada di suatu tempat. Para ulama berbeda pendapat mengenai definisi “tempat” atau “daerah” yang dimaksud, apakah itu sebuah kota, desa, atau perkampungan. Mereka juga membahas kriteria yang membedakan satu tempat dengan tempat lainnya, seperti adanya batas-batas fisik, jumlah penduduk, dan keberadaan fasilitas umum.

Terjemah dan Penjelasan dari beberapa referensi diatas sebagai berikut:

Hasyiah al-Bajuri:

“Suatu kota (masr) tidak dianggap sebagai tempat yang memenuhi syarat untuk shalat Jumat jika tidak memiliki pemimpin yang sah (hakim syar’i), polisi, dan pasar. Sementara itu, sebuah desa (balad) tidak dianggap memenuhi syarat jika tidak memiliki sebagian dari fasilitas tersebut. Sedangkan sebuah perkampungan (qaryah) harus memiliki semua fasilitas tersebut.”

  • Penjelasan: Teks ini memberikan syarat-syarat minimal untuk sebuah tempat agar bisa dijadikan tempat shalat Jumat.

I’anat al-Talibin:
“Yang dimaksud dengan ‘kota’ adalah kumpulan bangunan tempat tinggal yang padat, baik itu kota, desa, atau perkampungan. Syaratnya adalah harus ada pemimpin yang sah, polisi, dan pasar. Kota adalah tempat yang memiliki sebagian dari fasilitas tersebut, sedangkan desa harus memiliki semua fasilitas tersebut.”

  • Penjelasan: Teks ini memperkuat pendapat sebelumnya dan memberikan definisi yang lebih rinci tentang “kota”.
    Tahfah al-Muhtāj
    “Jika ada beberapa tempat yang berdekatan dan masing-masing memiliki nama yang berbeda, maka setiap tempat memiliki hukumnya sendiri. Namun, jika setiap tempat dianggap sebagai satu desa secara umum, maka hukumnya menjadi berbeda.”
  • Penjelasan: Teks ini membahas kasus di mana ada beberapa tempat yang berdekatan.

Kafiyat al-Akhyaar:

Teks ini membahas syarat-syarat bagi seseorang untuk dianggap sebagai bagian dari jumlah 40 orang yang diperlukan untuk menyelenggarakan shalat Jumat.

  • Penjelasan: Bagian ini tidak secara langsung membahas definisi tempat, tetapi lebih kepada syarat-syarat bagi individu yang ikut dalam shalat Jumat.
    Kafiyat al-Akhyaar (lanjutan)
    “Jika ada dua desa yang berdekatan dan masing-masing memiliki kurang dari 40 orang yang memenuhi syarat, meskipun jika digabungkan jumlahnya mencapai 40 orang, shalat Jumat tidak bisa dilaksanakan. Hal ini karena 40 orang tersebut tidak berada di tempat yang sama.”
  • Penjelasan: Teks ini membahas kasus di mana ada dua desa yang berdekatan tetapi jumlah penduduknya tidak mencukupi untuk shalat Jumat.

Al-Fatawa al-Fiqhiyyah al-Kubra:

Teks ini membahas kasus di mana dua desa bergabung menjadi satu.

  • Penjelasan: Bagian ini membahas apakah shalat Jumat bisa dilaksanakan di dua tempat yang sebelumnya terpisah tetapi kemudian bergabung.

Kesimpulan:

  1. Hukum Pembangunan Masjid Baru di Desa atau Kota: Membangun masjid baru di satu kota atau desa diperbolehkan, dengan syarat bahwa jumlah jamaah di setiap masjid mencapai minimal 40 orang. Jika jumlah jamaah kurang dari itu, jamaah tersebut dianjurkan untuk bergabung dengan masjid terdekat. Hal ini bertujuan agar pelaksanaan shalat Jumat dapat berlangsung sesuai dengan tuntunan syariat.
  2. Kota dan Desa dalam Konteks Syariah: Kota (masr) atau desa (balad) didefinisikan berdasarkan keberadaan pemimpin yang sah, pasar, dan fasilitas lainnya. Sebuah kota dianggap memenuhi syarat jika memiliki sebagian dari fasilitas tersebut, sedangkan sebuah desa harus memiliki semua fasilitas ini. Jika dua tempat berdekatan memiliki syarat dan jumlah jamaah yang mencukupi, maka masing-masing dapat melaksanakan shalat Jumat secara mandiri.
  3. Perbedaan Masjid Berdasarkan Golongan: Membangun masjid untuk golongan tertentu yang melarang orang lain shalat di dalamnya tidak dibolehkan. Para ulama dianjurkan untuk menyelesaikan permasalahan yang memecah belah umat Islam agar tercipta persatuan dan kasih sayang.

Secara keseluruhan, pembangunan masjid baru diizinkan selama memenuhi syarat-syarat yang telah disebutkan, dan pembangunan masjid tidak boleh dilakukan semata-mata untuk kepentingan golongan tertentu yang dapat memecah belah umat.Wallahu A’lam bish-shawab

Kategori
Uncategorized

HUKUM MEREBUT PERNAK-PERNIK YANG DIGANTUNG SAAT PERAYAAN MAULID NABI MUHAMMAD SAW

 

HUKUM MEREBUT PERNAK-PERNIK YANG DIGANTUNG SAAT PERAYAAN MAULID NABI MUHAMMAD SAW

Deskripsi masalah

Peringatan maulid Nabi disetiap tahun yang bertepatan pada tanggal 12 Rabiul awal sudah menjadi tradisi umat Islam mulai pedesaan sampai perkotaan bahkan sampai mendunia mereka merasa gembira atas lahirnya Nabi Muhammad dan terutusnya menjadi rahmat bagi semesta Alam. Ketika memperingati kelahirannya tidak terlepas dengan pembacaan sholawal Nabi mulai Mallul Julus sampai pada saat Mahallul Qiyam, namun demikian muncul tradisi yang meletakkan warna warni pernik yang digantungkan pada sebuah pohon pisang atau sejenisnya, ini sudah lama berkembang di kalangan masyarakat muslim, khususnya di wilayah tertentu. Pada momen Mahallul Qiyam, yaitu saat di mana jamaah berdiri untuk menghormati Nabi Muhammad SAW, seringkali panitia atau penyelenggara acara menggantungkan benda-benda seperti pernak-pernik atau hadiah-hadiah kecil yang kemudian diambil oleh jamaah.

Tradisi ini di beberapa tempat dianggap sebagai simbol keberkahan atau penghormatan dalam rangka perayaan kelahiran Nabi. Namun, dalam praktiknya, sering kali terjadi perebutan yang tidak teratur, di mana jamaah saling bersaing untuk mendapatkan benda-benda tersebut. Hal ini dapat menimbulkan kericuhan, kekacauan, atau bahkan mengganggu kekhusyukan ibadah.

Karena itu, muncul pertanyaan seputar bagaimana pandangan syariat mengenai tindakan merebut pernak-pernik ini, apakah diperbolehkan dalam Islam atau justru sebaiknya dihindari. Pertanyaan ini penting karena menyangkut aspek adab, niat, dan dampak dari tindakan tersebut dalam sebuah kegiatan yang seharusnya penuh penghormatan dan ketenangan.


Wa’alaikumussalam.

Mengenai mengambil atau merebut pernak-pernik yang digantung saat Maulid, terutama saat Mahallul Qiyam, hal ini perlu dilihat dari beberapa sisi.

  1. Tujuan dan Niat: Jika niatnya hanya untuk mendapatkan benda tersebut tanpa merusak suasana ibadah atau zikir, dan dilakukan dengan tertib, maka hal ini tidak bermasalah ( boleh ) . Namun, jika niatnya semata-mata karena ingin mendapatkan keuntungan duniawi atau bersifat kompetitif, maka niat ini perlu diluruskan.
  2. Tata Tertib dan Akhlak: Dalam Islam, menjaga ketertiban, kesopanan, dan akhlak mulia sangat dianjurkan, sebagaimana kita sering mendengar ungkapan dari guru-guru kita Kesopanan dan budi pekerti yang baik lebih tinggi nilainya dari pada kecerdasan. Jadi kesopanan harus lebihh dijaga, apalagi saat acara keagamaan seperti Maulid Nabi. Rebutan yang menyebabkan kericuhan atau ketidaktertiban bisa menjadi perbuatan yang tidak baik, karena bisa mengganggu ibadah orang lain.
  3. Pandangan Ulama: Ada sebagian ulama yang membolehkan mengambil pernak-pernik tersebut, dengan syarat tidak ada unsur kerusuhan atau keributan. Namun, jika tindakan tersebut menimbulkan kekacauan, maka lebih baik ditinggalkan demi menjaga suasana yang kondusif dan penuh dengan penghormatan kepada Nabi Muhammad SAW.

Sebagai kesimpulan, tindakan merebut pernak-pernik saat Mahallul Qiyam harus dilakukan dengan penuh adab dan niat yang baik. Jika dikhawatirkan akan menimbulkan kerusuhan, lebih baik menghindari tindakan tersebut.


Terkait mengambil pernak-pernik saat acara Maulid, terutama pada saat Mahallul Qiyam, dalil spesifik mengenai tindakan ini tidak secara langsung ditemukan dalam kitab-kitab fikih atau hadits. Namun, ada beberapa prinsip umum dalam Islam yang dapat dijadikan panduan, seperti menjaga adab, tata tertib, dan menghindari perbuatan yang dapat merusak suasana ibadah.

  1. Niat yang Ikhlas: Dalam hadits yang sangat masyhur disebutkan:
    “Innamal a’malu binniyat”,
    yang berarti: “Sesungguhnya segala amal perbuatan itu tergantung niatnya.” (HR. Bukhari dan Muslim).
    Niat yang baik dalam suatu tindakan adalah sangat penting. Jika mengambil pernak-pernik tersebut diniatkan dengan ikhlas, tanpa keserakahan atau niat bersaing, maka hal itu bisa dibolehkan.
  2. Menjaga Ketertiban dan Adab: Dalam ajaran Islam, akhlak dan adab sangat dijunjung tinggi, sebagaimana sabda Nabi SAW:
    “Innama bu’itstu li utammima makarimal akhlak”,
    yang berarti: “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.” (HR. Ahmad).
    Mengambil sesuatu dengan cara yang menyebabkan keributan dan merusak ketertiban bukanlah cerminan dari akhlak yang baik.
  3. Menghindari Kerusuhan: Dalam Al-Qur’an, Allah berfirman:
    “Wa la tufsidu fil ard ba’da ishlahiha”,
    yang berarti: “Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi setelah [Allah] memperbaikinya.” (QS. Al-A’raf: 56).
    Menghindari tindakan yang dapat menimbulkan keributan, seperti berebut pernak-pernik, adalah sejalan dengan prinsip ini.

Secara umum, mengambil atau merebut pernak-pernik bisa diperbolehkan jika dilakukan dengan tertib dan niat yang baik. Namun, jika tindakan tersebut dikhawatirkan menimbulkan kerusuhan, lebih baik untuk dihindari demi menjaga suasana ibadah dan penghormatan terhadap peringatan Maulid Nabi.

حكم انتزاع الزينة المعلقة أثناء الاحتفال بالمولد النبوي

وصف المشكلة:

يعد الاحتفال بالمولد النبوي في كل عام، والذي يصادف يوم ١٢ ربيع الأول، تقليداً عريقاً لدى المسلمين، سواء في القرى أو المدن وحتى على مستوى العالم. يشعر المسلمون بالفرح بمناسبة ولادة النبي محمد صلى الله عليه وسلم وبعثته رحمة للعالمين. خلال هذا الاحتفال، تتخلل الفعالية قراءة الصلاة على النبي صلى الله عليه وسلم، من “محلل الجلوس” وصولاً إلى “محلل القيام”.

إلا أن هناك عادة ظهرت في بعض المناطق، حيث يتم تعليق زينة ملونة على شجرة الموز أو ما شابهها، وهي عادة متجذرة لدى بعض المجتمعات المسلمة، خاصة في بعض المناطق. في لحظة “محلل القيام”، التي يقف فيها المصلون تعظيماً للنبي محمد صلى الله عليه وسلم، يقوم المنظمون أو القائمون على الفعالية بتعليق بعض الزينة أو الهدايا الصغيرة التي يأخذها المشاركون.

في بعض الأماكن، تُعتبر هذه العادة رمزاً للبركة أو التعظيم ضمن احتفال المولد النبوي. ولكن في الممارسة الفعلية، يحدث في كثير من الأحيان نزاع غير منظم بين المشاركين للحصول على هذه الزينة. هذا قد يؤدي إلى حدوث فوضى، بل وقد يعطل خشوع العبادة.

ومن هنا، ظهرت تساؤلات حول موقف الشريعة من انتزاع هذه الزينة، وهل يجوز هذا الفعل في الإسلام أم من الأفضل تجنبه؟ هذا التساؤل مهم لأنه يتعلق بالجوانب الأدبية والنوايا وتأثير هذا الفعل على أجواء الاحتفال التي يجب أن تتسم بالتعظيم والهدوء.

وعليكم السلام ورحمة وبركاته

الجواب

فيما يتعلق بأخذ أو انتزاع الزينة المعلقة خلال الاحتفال بالمولد النبوي، خصوصاً أثناء الوقوف في لحظة “محلل القيام”، يجب النظر إلى هذا الفعل من عدة جوانب:

١. الهدف والنية: إذا كانت النية فقط للحصول على تلك الأشياء دون إفساد جو العبادة أو الذكر، وتم ذلك بشكل منظم، فلا بأس بذلك. ولكن إذا كانت النية فقط للحصول على مكاسب دنيوية أو تنافسية، فيجب تصحيح النية.

٢. الآداب والأخلاق: في الإسلام، المحافظة على النظام والآداب والأخلاق الرفيعة أمر مهم للغاية، كما نسمع دائمًا من مشايخنا أن الأدب والأخلاق الحسنة أعلى قيمة من الذكاء. لذا، يجب المحافظة على الأدب، خاصة في المناسبات الدينية مثل الاحتفال بالمولد النبوي. النزاع الذي يؤدي إلى الفوضى أو عدم الانضباط قد يكون فعلاً غير جيد، لأنه قد يعطل العبادة للآخرين.

٣. رأي العلماء: هناك بعض العلماء الذين يجيزون أخذ هذه الزينة، بشرط ألا يكون هناك فوضى أو اضطراب. ومع ذلك، إذا كان هذا الفعل قد يؤدي إلى الفوضى، فمن الأفضل تركه للحفاظ على جو مليء بالاحترام للنبي محمد صلى الله عليه وسلم.

الخلاصة: يجب أن يتم أخذ الزينة المعلقة أثناء “محلل القيام” بأدب ونية طيبة. وإذا كان من المحتمل أن يؤدي ذلك إلى الفوضى، فمن الأفضل تجنب هذا الفعل.

المراجع :

فيما يتعلق بأخذ أو انتزاع الزينة
المعلقة خلال الاحتفال بالمولد النبوي، خصوصًا أثناء الوقوف في لحظة “محلل القيام”، لا يوجد دليل محدد حول هذا الفعل في كتب الفقه أو الأحاديث النبوية بشكل مباشر. ومع ذلك، هناك بعض المبادئ العامة في الإسلام التي يمكن اتباعها، مثل الحفاظ على الأدب والنظام وتجنب الأفعال التي قد تفسد أجواء العبادة.

٢. النية الخالصة: في حديث مشهور عن النبي صلى الله عليه وسلم:
“إنما الأعمال بالنيات”.
يعني: “إنما الأعمال بالنيات” (رواه البخاري ومسلم).
النية الحسنة في كل فعل هي أمر بالغ الأهمية. فإذا كانت نية أخذ الزينة حسنة وخالية من الجشع أو التنافس، فقد يكون هذا الفعل مقبولًا.

٢. الحفاظ على النظام والأدب: في الإسلام، تُعظَّم الأخلاق والأدب، كما قال النبي صلى الله عليه وسلم:
“إنما بعثت لأتمم مكارم الأخلاق”.
يعني: “إنما بعثت لأتمم مكارم الأخلاق” (رواه أحمد).
أخذ شيء بطريقة تؤدي إلى الفوضى وتُفسد النظام لا يعكس الأخلاق الحميدة.

٣. تجنب الفوضى: قال الله في القرآن الكريم:
“ولا تفسدوا في الأرض بعد إصلاحها”
يعني: “ولا تفسدوا في الأرض بعد إصلاحها” (سورة الأعراف: 56).
تجنب الأفعال التي قد تؤدي إلى الفوضى، مثل التزاحم على الزينة، يتوافق مع هذا المبدأ.

بشكل عام، يمكن السماح بأخذ أو انتزاع الزينة إذا تم ذلك بطريقة منظمة وبنية حسنة. ولكن إذا كان هذا الفعل قد يؤدي إلى الفوضى، فمن الأفضل تجنبه حفاظًا على أجواء العبادة واحترامًا لذكرى المولد النبوي.

Terkait mengambil pernak-pernik saat acara Maulid, terutama pada saat Mahallul Qiyam, dalil spesifik mengenai tindakan ini tidak secara langsung ditemukan dalam kitab-kitab fikih atau hadits. Namun, ada beberapa prinsip umum dalam Islam yang dapat dijadikan panduan, seperti menjaga adab, tata tertib, dan menghindari perbuatan yang dapat merusak suasana ibadah.

  1. Niat yang Ikhlas: Dalam hadits yang sangat masyhur disebutkan:
    “Innamal a’malu binniyat”,
    yang berarti: “Sesungguhnya segala amal perbuatan itu tergantung niatnya.” (HR. Bukhari dan Muslim).
    Niat yang baik dalam suatu tindakan adalah sangat penting. Jika mengambil pernak-pernik tersebut diniatkan dengan ikhlas, tanpa keserakahan atau niat bersaing, maka hal itu bisa dibolehkan.
  2. Menjaga Ketertiban dan Adab: Dalam ajaran Islam, akhlak dan adab sangat dijunjung tinggi, sebagaimana sabda Nabi SAW:
    “Innama bu’itstu li utammima makarimal akhlak”,
    yang berarti: “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.” (HR. Ahmad).
    Mengambil sesuatu dengan cara yang menyebabkan keributan dan merusak ketertiban bukanlah cerminan dari akhlak yang baik.
  3. Menghindari Kerusuhan: Dalam Al-Qur’an, Allah berfirman:
    “Wa la tufsidu fil ard ba’da ishlahiha”,
    yang berarti: “Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi setelah [Allah] memperbaikinya.” (QS. Al-A’raf: 56).
    Menghindari tindakan yang dapat menimbulkan keributan, seperti berebut pernak-pernik, adalah sejalan dengan prinsip ini.

Secara umum, mengambil atau merebut pernak-pernik bisa diperbolehkan jika dilakukan dengan tertib dan niat yang baik. Namun, jika tindakan tersebut dikhawatirkan menimbulkan kerusuhan, lebih baik untuk dihindari demi menjaga suasana ibadah dan penghormatan terhadap peringatan Maulid Nabi.

إعانة الطالبين ج٣ص٤٦٣

قال معروف الكرخي قدس الله سره: من هيأ لأجل قراءة مولد الرسول طعاما وجمع إخوانا وأوقد سراجا ولبس جديدا وتعطر وتجمل تعظيما للمولد حشره الله تعالى يوم القيامة مع الفرقة الأولى من النبيين وكان في أعلى عليين ومن قرأ مولد الرسول على دراهم مسكوكة فضة كانت أو ذهبا وخلط تلك الدراهم مع دراهم أخرى وقعت فيها البركة ولا يفتقر صاحبها ولا تفرغ يده ببركة مولد الرسول صلى الله عليه وسلم وقال الإمام اليافعي اليمنى من جمع لمولد النبي صلى الله عليه وسلم إخوانا وهيأ طعاما وأخلى مكانا وعمل إحسانا وصار سببا

قضاء الأدب ص: 441

والظابط في إضاعة المال أن يكون لا لغرض ديني ولا دنيوي فمتى انتفى هذا الغرضان من جميع وجوهها حرم قطعا قليلا كان المال أو كثيرا أو متى وجد واحدا من الغرضين وجودا له مال وكان الإنفاق لائقا بالحال ولا معصية فيه قطعا اهـ

الفقه الإسلامي الجزء الرابع ص: 29
استعمال الحق يوجه على الإنسان أن يستعمل حقه وفقا لما أمر به الشرع وأذن به فليس له ممارسة حقه على نحو يترتب الإضرار بالغير فردا أو جماعة سواء أقصد الإضرار أم لا وليس له إتلاف شيئ من أمواله أو تبذيره لأن ذلك غير مشروع.

“Kata Ma’ruf al-Karkhi, semoga Allah memberkahi jiwanya: ‘Barangsiapa yang menyiapkan makanan, mengumpulkan saudara-saudara seagama, menyalakan pelita, mengenakan pakaian baru, berwangi-wangian, dan memperindah diri untuk memperingati maulid Nabi, maka Allah akan menghimpunkannya bersama golongan pertama para nabi pada hari kiamat dan menempatkannya di tempat yang paling tinggi. Dan barangsiapa yang membaca maulid Nabi dengan uang perak atau emas yang kemudian dicampurkan dengan uang lainnya, maka uang tersebut akan menjadi berkah, pemiliknya tidak akan miskin, dan rezekinya tidak akan putus karena berkah maulid Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.’
Imam al-Yafi’i al-Yamani berkata: ‘Barangsiapa yang mengumpulkan orang-orang untuk memperingati maulid Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam’, menyiapkan makanan, menyediakan tempat, berbuat baik, dan menjadi sebab terselenggaranya peringatan maulid Nabi, maka Allah akan membalasnya dengan pahala yang besar.’
(Qadha’ al-Adab hal. 441)
Adapun hukum membelanjakan harta, maka syaratnya adalah tidak untuk tujuan duniawi maupun agamawi. Jika kedua tujuan ini tidak ada sama sekali, maka membelanjakan harta, sedikit atau banyak, hukumnya haram. Namun, jika salah satu dari kedua tujuan tersebut ada, dan pembelanjaan itu sesuai dengan kondisi dan tidak ada maksiat di dalamnya, maka hukumnya halal.
(Al-Fiqh al-Islami, Jilid 4, hal. 29)
Mengenai penggunaan hak, seseorang harus menggunakan haknya sesuai dengan apa yang diperintahkan dan diizinkan oleh syariat. Ia tidak boleh menggunakan haknya dengan cara yang dapat merugikan orang lain, baik secara individu maupun kelompok, baik disengaja maupun tidak. Ia juga tidak boleh merusak harta bendanya atau memboroskannya karena hal itu tidak dibenarkan.”

Wallahu a’lam bish-shawab

Kategori
Uncategorized

HUKUM MENGKONSUMSI ARI-ARI SAPI

HUKUM MENGKONSUMSI ARI-ARI SAPI

Wa’alaikumussalam.

Deskripsi masalah:

Bagi peternak sapi, tentu setiap tahunnya menginginkan sapinya melahirkan. Seperti yang kita ketahui, ketika sapi melahirkan, pasti akan keluar ari-ari atau plasenta yang dalam bahasa lokal disebut “Red” atau “Tamonih”.

Pertanyaannya:
Bagaimana hukumnya mengonsumsi ari-ari sapi menurut hukum Islam?

Waalaikum salam
Jawaban

Dalam Islam, hukum memakan ari-ari (plasenta) sapi atau hewan lainnya tidak diperbolehkan dengan beberapa alasan:

  1. Karena ari-ari dianggap sebagai bagian yang najis dan bukan termasuk bagian yang dianjurkan untuk dikonsumsi.
  2. Ari- ari terlepas dari tubuh sapi tanpa disembelih
    Sedangkan dalam pandangan fiqih, bagian yang halal untuk dimakan dari hewan yang disembelih sesuai syariat Islam adalah daging, hati, otak, dan organ lainnya yang dianggap bersih, sedangkan bagian-bagian tertentu seperti darah, kotoran, dan bagian reproduksi (termasuk ari-ari) termasuk yang dilarang.

Sebagai referensi,/Dalil mengenai hukum memakan bagian-bagian tertentu dari hewan yang dianggap najis atau haram, termasuk ari-ari, dapat ditemukan dalam Al-Qur’an dan hadis. Berikut beberapa dalil yang relevan:

  1. Al-Qur’an Surah Al-Ma’idah (5:3): “Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah, yang tercekik, yang terpukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan yang diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu sembelih, dan (diharamkan bagimu) yang disembelih untuk berhala, dan (diharamkan juga) mengundi nasib dengan anak panah, (mengundi nasib dengan cara demikian) adalah kefasikan…” Ayat ini menegaskan bahwa bangkai dan darah termasuk yang diharamkan untuk dikonsumsi. Ari-ari termasuk dalam kategori benda yang keluar dari tubuh tanpa melalui penyembelihan yang sah, sehingga dianggap sebagai bangkai.
  2. Hadis Nabi ﷺ: Dari Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma, Nabi ﷺ bersabda: “Diharamkan dari bangkai itu apa yang keluar darinya berupa darah dan isi perut.”
    (HR. Bukhari no. 5539, Muslim no. 1598) Hadis ini menjelaskan bahwa bagian-bagian yang keluar dari tubuh hewan, termasuk darah dan isi perut (yang mencakup ari-ari), adalah haram untuk dimakan.

3.Hadits*:
Ketika Nabi Muhammad ﷺ tiba di Madinah, mereka (penduduk Madinah) sedang menggunting telinga unta dan memotong bagian-bagian daging kambing. Maka beliau bersabda, “Apa yang dipotong dari hewan yang masih hidup, maka itu adalah bangkai.”

Rawi: Abu Waqqash Al-Laythi
Penghimpun Hadits: Al-Albani
Sumber: Shahih Tirmidzi
Halaman atau Nomor: 1480
Kesimpulan Status Hadits: Sahih

  1. Kaedah Fiqih: Dalam kaidah fiqih, “Asal dari segala sesuatu yang keluar dari hewan adalah najis kecuali yang ada dalil yang membolehkannya.” Dengan demikian, karena ari-ari keluar dari tubuh hewan tanpa proses penyembelihan yang sah dan dianggap sebagai najis, maka hukumnya haram untuk dikonsumsi.

Dalil-dalil ini menjadi dasar bagi ulama untuk menetapkan bahwa memakan ari-ari sapi atau hewan lainnya adalah haram karena termasuk bagian yang najis dan tidak disembelih sesuai dengan syariat Islam.

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

وصف المشكلة:

من المعروف أن مربّي الأبقار يرغبون في أن تلد أبقارهم كل عام. وكما نعلم، عندما تلد البقرة، يخرج معها “المشيمة” أو ما يُعرف بالعامية بـ”ريد” أو “تامنح”.

السؤال:

ما حكم استهلاك مشيمة البقرة حسب الشريعة الإسلامية؟

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته
الجواب
في الإسلام، حكم أكل المشيمة (الـ”بلاسنتا”) من البقر أو غيره من الحيوانات غير جائز( حرام ) لعدة أسباب:

١. لأن المشيمة تُعتبر جزءًا نجسًا وليست من الأجزاء التي يُنصح بأكلها.
٢. المشيمة تنفصل عن جسم البقرة دون أن تُذبح.

أما في الفقه، فإن الأجزاء التي يجوز أكلها من الحيوان المذبوح وفق الشريعة الإسلامية هي اللحم والكبد والمخ والأعضاء الأخرى التي تعتبر طاهرة، بينما بعض الأجزاء مثل الدم، الفضلات، وأجزاء الجهاز التناسلي (بما في ذلك المشيمة) فهي من المحرمات.

وكمرجع، فإن القرآن يحرم الدم المسفوح والميتة، وقد اتفق العلماء على أن بعض أجزاء جسم الحيوان مثل المشيمة ليست صالحة للأكل.

١. الدليل من القرآن الكريم (سورة المائدة:٣):

“حُرِّمَتْ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةُ وَالدَّمُ وَلَحْمُ الْخِنزِيرِ وَمَا أُهِلَّ لِغَيْرِ اللَّهِ بِهِ وَالْمُنْخَنِقَةُ وَالْمَوْقُوذَةُ وَالْمُتَرَدِّيَةُ وَالنَّطِيحَةُ وَمَا أَكَلَ السَّبُعُ إِلَّا مَا ذَكَّيْتُمْ وَمَا ذُبِحَ عَلَى النُّصُبِ وَأَنْ تَسْتَقْسِمُوا بِالْأَزْلَامِ ذَٰلِكُمْ فِسْقٌ…”
(سورة المائدة: ٣)

هذه الآية تؤكد أن الميتة والدم محرم أكلها. والمشيمة تعتبر من الأجزاء الخارجة من الجسم دون ذبح شرعي، وبالتالي تُعد ميتة.

٢. حديث النبي ﷺ:

عن ابن عباس رضي الله عنهما، قال رسول الله ﷺ:

“حُرِّمَ مِنَ المَيْتَةِ ما يُخْرَجُ مِنْها مِنْ دَمٍ وَفَرْثٍ.”
(رواه البخاري رقم ٥٥٣٩، ومسلم رقم ١٥٩٨)

هذا الحديث يوضح أن الأجزاء الخارجة من جسم الحيوان، بما في ذلك الدم ومحتويات البطن (التي
تشمل المشيمة)، هي محرمة للأكل.

٣.قدِمَ النَّبيُّ صلَّى اللَّهُ عليهِ وسلَّمَ المَدينةَ وَهُم يَجُبُّونَ أسنِمَةَ الإبلِ ويَقطعونَ آليَّاتِ الغنَمِ فقالَ ما قُطِعَ منَ البَهيمةِ وَهيَ حيَّةٌ فَهوَ ميتَةٌ

الراوي : أبو واقد الليثي | المحدث : الألباني | المصدر : صحيح الترمذي

الصفحة أو الرقم: ١٤٨٠ | خلاصة حكم المحدث : صحيح

٤. قاعدة فقهية:

في القاعدة الفقهية: “الأصل في كل ما يخرج من الحيوان أنه نجس إلا ما دلت الأدلة على طهارته.”
وبالتالي، بما أن المشيمة تخرج من جسم الحيوان دون عملية ذبح شرعي وتعتبر نجسة، فإن حكمها حرام للأكل.

Kategori
Uncategorized

POLEMIK PENAMPAKAN SEDEKAH:Pendapat Ulama tentang Santunan untuk Duafa’ dan Anak Yatim

Polemik Penampakan Sedekah: Pendapat Ulama tentang Santunan untuk Duafa’ dan Anak Yatim

Assalamualaikum
Deskripsi masalah.
Telah terjadi polemik antara ulama perihal menampakan sedekah atau zakat pada duafa’ dan anak yatim dengan memajang mereka dimuka umum ( dalam acara ) santunan anak yatim pada 2 bulan yang lalu ( 10 muharrom) Menurut sebagian mereka lebih utama tidak dinampakkan karena dinampakkan dapat menyakiti hati mereka sebagian lebih utama dinampakkan.
Bagaimana menanggapi hukum hal tersebut menurut perspektif ulama fiqih ( apakah lebih utama tidak dinampakkan sedekah atau sebaliknya).

Waalaikumsalam.

Jawaban

Perdebatan mengenai menampakkan sedekah atau zakat, terutama yang diberikan kepada duafa’ dan anak yatim, memang menjadi isu yang kompleks di kalangan ulama. Terdapat dua pandangan utama dalam masalah ini:

  1. Menampakkan Sedekah atau Zakat
    Sebagian ulama berpendapat bahwa menampakkan sedekah atau zakat, terutama dalam konteks acara santunan, bisa bermanfaat untuk beberapa alasan:
  • Memberi Motivasi kepada Masyarakat: Menampilkan bantuan dapat menginspirasi orang lain untuk berpartisipasi dalam amal, sehingga dapat meningkatkan kepedulian sosial.
  • Mengangkat Martabat Penerima: Dalam beberapa konteks, memperlihatkan penerima zakat atau sedekah dapat membantu mengangkat martabat mereka dan memberikan mereka pengakuan sebagai bagian dari masyarakat.
  • Transparansi: Menampakkan penerima sedekah dapat memberikan transparansi dalam distribusi bantuan, memastikan bahwa sumbangan digunakan dengan tepat. Ini berdasarkan pada apa yang dijelaskan oleh Imam Nawawi Madzhab Syafi’i beliau Imam Nawawi berkata: “Yang lebih utama dalam zakat adalah menampakkan penyerahannya agar dilihat orang lain, sehingga mereka dapat menirunya, dan juga agar tidak disangka buruk terhadapnya. Ini sama halnya dengan salat wajib yang dianjurkan untuk ditampakkan, sedangkan yang dianjurkan untuk disembunyikan adalah salat dan puasa sunnah.” (Al-Majmu’: 6/233. Lihat juga: Fiqh Imam Ja’far: 2/96, di mana disebutkan dalam riwayat: “Menampakkan lebih baik daripada menyembunyikan.”)
    Hal ini karena zakat adalah salah satu syiar Islam yang dengan menampakkannya, memuliakannya, dan melakukannya secara terang-terangan dapat memperkuat agama dan menegaskan identitas kaum Muslimin. Seorang pemberi zakat harus memiliki motivasi untuk menjaga makna-makna luhur ini, bukan untuk pamer di hadapan manusia yang dapat merusak niat, mencemari amal, dan menghilangkan pahala di sisi Allah.
    Adapun berusaha untuk menampakkan syiar-syiar Islam, memuliakannya, dan membuat orang mencintainya, ini adalah tanda-tanda keimanan dan bukti ketakwaan. Allah berfirman: “Demikianlah, dan barangsiapa yang mengagungkan syiar-syiar Allah, maka itu berasal dari ketakwaan hati.” (QS. Al-Hajj: 32).
    Mungkin inilah yang dimaksud dengan sikap sombong (bangga diri) yang disukai oleh Allah dalam hal sedekah sebagaimana disebutkan dalam hadis Nabi: “Sikap sombong yang disukai oleh Allah ‘Azza wa Jalla adalah bangga diri seorang lelaki ketika dalam peperangan dan saat bersedekah.” (Diriwayatkan oleh An-Nasa’i dalam As-Sunan, Kitab Zakat: 5/79). Dasar dari hal ini adalah firman Allah Ta’ala: “Jika kalian menampakkan sedekah-sedekah kalian, maka itu adalah hal yang baik.” (QS. Al-Baqarah: 271).
  1. Tidak Menampakkan Sedekah atau Zakat
    Di sisi lain, banyak ulama yang berpendapat bahwa lebih baik tidak menampakkan sedekah atau zakat. Alasan-alasan mereka antara lain:
  • Menghindari Rasa Malu atau Tertekan pada Penerima: Memajang penerima bantuan di muka umum dapat membuat mereka merasa tertekan, kehilangan harga diri, atau malu. Islam mengajarkan pentingnya menjaga kehormatan individu.
  • Mencari Ridha Allah: Dalam Al-Qur’an, Allah menyebutkan bahwa sedekah yang diberikan secara sembunyi-sembunyi lebih baik daripada yang diumumkan (Q.S. Al-Baqarah: 271-273). Ini menunjukkan bahwa tujuan utama sedekah adalah untuk mendapatkan ridha Allah, bukan untuk menunjuk-nunjukkan.
  • Prinsip Keikhlasan: Keikhlasan dalam beramal menjadi terganggu ketika amal tersebut ditujukan untuk menunjukkan diri kepada orang lain.Ini berdasarkan apa yang dijelaskan oleh Imam Malik bahwa tidak menampakkan itu lebih baik karena menampakkan hal itu hukumnya makruh, karena dapat menyakiti hati orang miskin

Kesimpulan
Menanggapi perdebatan ini, perspektif ulama fiqih bisa berbeda-beda tergantung pada konteks dan tujuan amal itu sendiri. Jika menampakkan sedekah bertujuan untuk mendorong amal dan tidak merugikan penerima, maka bisa dipertimbangkan. Namun, jika ada risiko menyinggung perasaan penerima atau menimbulkan rasa malu, maka lebih utama untuk menyembunyikan sedekah tersebut.
Sebagai langkah bijaksana, tentang keutamaan keutamaannya adalah sebaiknya dilaksanakan dengan mempertimbangkan stuasi dan kondisi penerima dan nilai-nilai yang diajarkan dalam Islam, seperti menjaga martabat, keikhlasan, dan niat baik. Sebuah pendekatan yang bijaksana dan penuh empati harus diutamakan.

Referensi:

فقه الزكاة للشيخ الدكتور يوسف القرضاوي الجزء الثانى ص ٦٤٢-٦٤٣
إظهار إخراج الزكاة
قال الإمام النووي:
الأفضل في الزكاة إظهار إخراجها ليراه غيره، فيعمل عمله، ولئلا يساء الظن به، وهذا كما أن الصلاة المفروضة يستحب إظهارها، وإنما يستحب الإخفاء في نوافل الصلاة والصوم (المجموع: ٦/٢٣٣، انظر: فقه الإمام جعفر: ٢/٩٦، حيث قال في رواية: “الإعلان أفضل من الإسرار “.
وذلك أن الزكاة من شعائر الإسلام التي في إظهارها وتعظيمها والمعالنة بها تقوية للدين وتأكيد لشخصية المسلمين، ويجب أن يكون الحرص على هذه المعاني الكريمة رائد المزكي، لا مراءاة الناس التي تفسد النية، وتلوث العمل، وتحبط الأجر عند الله.
أما الحرص على إظهار شعائر الإسلام وتعظيمها وتحبيبها إلى الناس، فهذا من دلائل الإيمان، وأمارات التقوى. قال تعالى: (ذلك ومن يعظم شعائر الله فإنها من تقوى القلوب). (الحج: ٣٢).
ولعل هذا هو المراد بالاختيال الذي يحبه الله في الصدقة الذي جاء به الحديث النبوي: (والاختيال الذي يحبه الله عز وجل اختيال الرجل بنفسه عند القتال وعند الصدقة) (رواه النسائي في السنن، كتاب الزكاة: ٥/٧٩)، وأصل ذلك قوله تعالى: (إن تبدوا الصدقات فنعما هي). (البقرة: ٢٧١).
هل يخبر الفقير بأنها زكاة؟
إذا لم تكن الحكومة المسلمة هي التي تتولى أمر الزكاة جباية وتوزيعًا، وكان الأفراد هم الذين يقومون بصرفها على مستحقيها -كما هو الشأن في معظم البلاد الإسلامية اليوم- فالأولى لمن يخرج الزكاة: ألا يخبر الفقير أن ما يعطيه إياه زكاة فقد يؤذى الآخذ ذلك القول -وخاصة إذا كان من المستورين الذين يتعففون عن أخذ الصدقات- ولا حاجة إليه.
قال في “المغنى”: “وإذا دفع الزكاة إلى من يظنه فقيرًا، لم يحتج إلى إعلامه أنه زكاة، قال الحسن: أتريد أن تقرعه؟! لا تخبره.
وقال أحمد بن الحسن: قلت لأحمد: يدفع الرجل الزكاة إلى الرجل فيقول: هذا من الزكاة أو يسكت؟
قال: “ولم يبكته بهذا القول؟! يعطيه ويسكت. ما حاجته إلى أن يقرعه”؟! (المغنى: ٢/٦٤٢).
بل قال بعض المالكية: يكره، لما فيه من كسر قلب الفقير (بلغة السالك وحاشية الصاوي: ١/٣٣٥)

Menampakkan Penyerahan Zakat
Imam Nawawi berkata: “Yang lebih utama dalam zakat adalah menampakkan penyerahannya agar dilihat orang lain, sehingga mereka dapat menirunya, dan juga agar tidak disangka buruk terhadapnya. Ini sama halnya dengan salat wajib yang dianjurkan untuk ditampakkan, sedangkan yang dianjurkan untuk disembunyikan adalah salat dan puasa sunnah.” (Al-Majmu’: 6/233. Lihat juga: Fiqh Imam Ja’far: 2/96, di mana disebutkan dalam riwayat: “Menampakkan lebih baik daripada menyembunyikan.”)
Hal ini karena zakat adalah salah satu syiar Islam yang dengan menampakkannya, memuliakannya, dan melakukannya secara terang-terangan dapat memperkuat agama dan menegaskan identitas kaum Muslimin. Seorang pemberi zakat harus memiliki motivasi untuk menjaga makna-makna luhur ini, bukan untuk pamer di hadapan manusia yang dapat merusak niat, mencemari amal, dan menghilangkan pahala di sisi Allah.
Adapun berusaha untuk menampakkan syiar-syiar Islam, memuliakannya, dan membuat orang mencintainya, ini adalah tanda-tanda keimanan dan bukti ketakwaan. Allah berfirman: “Demikianlah, dan barangsiapa yang mengagungkan syiar-syiar Allah, maka itu berasal dari ketakwaan hati.” (QS. Al-Hajj: 32).
Mungkin inilah yang dimaksud dengan sikap sombong (bangga diri) yang disukai oleh Allah dalam hal sedekah sebagaimana disebutkan dalam hadis Nabi: “Sikap sombong yang disukai oleh Allah ‘Azza wa Jalla adalah bangga diri seorang lelaki ketika dalam peperangan dan saat bersedekah.” (Diriwayatkan oleh An-Nasa’i dalam As-Sunan, Kitab Zakat: 5/79). Dasar dari hal ini adalah firman Allah Ta’ala: “Jika kalian menampakkan sedekah-sedekah kalian, maka itu adalah hal yang baik.” (QS. Al-Baqarah: 271).

Apakah orang miskin diberitahu bahwa itu adalah zakat?
Jika pemerintah Muslim tidak mengurus pengumpulan dan distribusi zakat, dan individu-lah yang memberikan kepada yang berhak—seperti yang terjadi di sebagian besar negara Islam saat ini—maka sebaiknya orang yang mengeluarkan zakat tidak memberitahu orang miskin bahwa yang diberikan adalah zakat, karena hal itu bisa menyakiti perasaan penerima, terutama jika mereka adalah orang yang tertutup dan enggan menerima sedekah.
Dalam kitab “Al-Mughnī”, disebutkan: “Dan jika dia memberikan zakat kepada seseorang yang dia anggap miskin, tidak perlu untuk memberitahunya bahwa itu adalah zakat.” Al-Hasan berkata: “Apakah kamu ingin mempermalukannya? Jangan beri tahu dia.”
Ibn al-Hasan berkata: “Aku bertanya kepada Ahmad: Apakah seorang lelaki memberikan zakat kepada seorang lelaki dan berkata: Ini dari zakat, atau dia diam saja?” Ahmad menjawab: “Mengapa dia harus mempermalukannya dengan ucapan itu?! Dia memberinya dan diam saja. Apa perlunya untuk mempermalukannya?” (Al-Mughnī: 2/642).
Bahkan, beberapa ulama Maliki mengatakan bahwa hal itu tidak hukumnya makruh, karena dapat menyakiti hati orang miskin (dalam Bahjat al-Salik dan Hasyiah al-Sawi: 1/335).Wallahu A’lam

Kategori
Uncategorized

HUKUM HILAH DALAM ZAKAT

HUKUM HILAH DALAM ZAKAT

Dalam konteks zakat, “hilah” mengacu pada upaya manipulatif untuk menghindari kewajiban membayar zakat atau menyalurkannya kepada pihak yang tidak sah menurut syariat. Beberapa contoh hilah dalam zakat termasuk:

  1. Menyalurkan Zakat kepada Orang Tua Melalui Orang Lain:
    Jika seseorang ingin memberikan zakat kepada orang tuanya — yang tidak diperbolehkan karena adanya hubungan nafkah — ia akan memberikan zakatnya kepada orang miskin. Kemudian, orang miskin tersebut diminta atau diarahkan untuk memberikan uang tersebut kepada orang tua. Ini adalah bentuk hilah karena zakat dialihkan kepada pihak yang tidak berhak menerimanya.
  2. Menjual Bagian dari Harta Sebelum Haul:
    Seseorang yang memiliki emas yang mencapai nishab, tetapi belum genap satu tahun (haul), menjual sebagian kecil emasnya (misalnya 3 gram) untuk mengurangi jumlah emas sehingga zakat tidak wajib baginya.

Pertanyaan yang Diajukan:
Apakah diperbolehkan untuk menghindari atau melarikan diri dari kewajiban zakat? Dan apakah diperbolehkan menggunakan hilah untuk menghindari kewajiban zakat bagi mereka yang wajib membayarnya?

Waalaikum salam warahmatullahi wabarakatuh

Jawaban:

Para ulama memiliki pandangan yang berbeda mengenai masalah hilah dalam zakat:

  1. Pandangan Ibn Taimiyah:
    Dalam bukunya “Al-Qawa’id An-Nuraniyah,” Ibn Taimiyah menyebutkan bahwa Abu Hanifah membolehkan penggunaan hilah untuk menghindari zakat. Namun, ada perbedaan di kalangan pengikutnya: Muhammad bin Hasan menganggapnya makruh, sementara Abu Yusuf tidak.
  2. Pandangan Imam Malik:
    Imam Malik melarang penggunaan hilah untuk menghindari zakat dan tetap mewajibkan zakat meskipun ada hilah.
  3. Pandangan Imam Syafi’i:
    Imam Syafi’i menganggap hilah dalam menghindari zakat adalah makruh.
  4. Pandangan Imam Ahmad:
    Imam Ahmad sependapat dengan Imam Malik, yakni penggunaan hilah untuk menggugurkan kewajiban zakat adalah haram, dan zakat tetap wajib dikeluarkan meskipun ada hilah.

Pandangan Abu Yusuf dalam kitabnya “Al-Kharaj” juga menyatakan bahwa penggunaan hilah untuk menggugurkan zakat adalah haram. Beliau menegaskan bahwa tidak boleh menggunakan hilah untuk menggugurkan zakat dalam kondisi apapun.

Mazhab Hanafi membedakan antara beberapa bentuk hilah yang makruh dan yang tidak makruh. Sebagai contoh, penggunaan hilah untuk menyalurkan zakat kepada orang tua yang miskin dengan cara memberikan zakat kepada orang lain kemudian diarahkan kepada orang tua adalah makruh. Namun, hilah untuk menyalurkan zakat kepada hal-hal seperti pembangunan masjid atau pengurusan jenazah dianggap sah.

Mazhab Malikiyah dan Hanabilah mengharamkan hilah secara umum. Dalam mazhab Malik, jika seseorang mencoba menghindari kewajiban zakat dengan menjual atau menukar harta sebelum haul, zakat tetap wajib dikeluarkan dari harta yang ditukar.

Pandangan Mazhab Zaidiyah:

  • Sebelum zakat wajib: Jika seseorang sengaja mengurangi nishab sebelum haul untuk menghindari zakat, hal ini dianggap tidak diperbolehkan dan merupakan dosa.
  • Setelah zakat wajib: Jika zakat diberikan kepada fakir miskin dengan syarat agar dikembalikan, maka hal ini dianggap tidak sah dan dilarang.

Kesimpulan:
Hilah dalam zakat, atau upaya manipulatif untuk menghindari kewajiban zakat atau menyalurkannya secara tidak sah, adalah masalah yang diperdebatkan di kalangan ulama. Namun, pandangan yang lebih kuat adalah bahwa penggunaan hilah untuk menghindari zakat tidak diperbolehkan, dan mayoritas ulama berpendapat bahwa ini adalah dosa. Seorang Muslim seharusnya melaksanakan kewajiban zakat dengan niat yang tulus tanpa mencoba menghindarinya melalui hilah.

  1. Referensi Fiqih Zakat Dr. Yusuf Al-Qaradhawi, jilid 2, halaman 622.
  2. Al-Jami’u Li Ahkamil Qur’an 9/236.
  3. Al-Furu’: 4/138. Berikut ibarat dalam kitab tersebut:

هل يجوز التهرب أو الفرار من الزكاة؟ وبعبارة أخرى: هل يجوز الاحتيال لإسقاط الزكاة عمن وجبت عليه؟
اختلاف الفقهاء:
ذكر ابن تيمية في “القواعد النورانية” أن أبا حنيفة يجِّوز الاحتيال لإسقاط الزكاة، قال: واختلف أصحابه: هل هو مكروه أم لا، فكرهه محمد، ولم يكرهه أبو يوسف.
قال: وحرم مالك الاحتيال لإسقاطها، وأوجبها مع الحيلة، وكره الشافعي الحيلة في إسقاطها.
وأما أحمد فقوله في الاحتيال كقول مالك: يحرم الاحتيال لسقوطها ويوجبها مع الحيلة، كما دلت عليه سورة (ن). (يقصد قصة أصحاب الجنة، كما سيأتي ذلك في كلام ابن قدامة)، وغيرها من الدلائل (القواعد النورانية ص ٨٩).
وما ذكره ابن تيمية عن أبى يوسف يخالف ما صرح به في كتابه “الخراج” حيث قال ما نصه بالحرف: “لا يحل لرجل يؤمن بالله واليوم الآخر منع الصدقة، ولا إخراجها من ملكه إلى ملك جماعة غيره، ليفرقها بذلك، فتبطل عنه الصدقة، بأن يصير لكل واحد منهم من الإبل والبقر والغنم ما لا تجب فيه الصدقة، ولا يحتال في إبطال الصدقة بوجه ولا سبب ” (الخراج لأبى يوسف ص ٨).
وهذا الكلام واضح الدلالة على أن الإمام أبا يوسف يحرم الاحتيال لإسقاط الزكاة وإبطالها بأي وجه أو سبب.
فلعل الذي ذكره ابن تيمية واشتهر عن أبى يوسف: أن الحيل تنفذ قضاء، وإن كانت لا تجوز ديانة.
والمنصوص في كتب الحنفية: أن بعض الحيل يكره وبعضها لا يكره.
فقد قالوا: يكره أن يحتال في صرف الزكاة إلى والديه المعسرين بأن تصدق بها على فقير ثم صرفها الفقير إليهما، وهى شهيرة مذكورة في غالب الكتب.
وحين ذكروا: أن الزكاة لا تصرف لبناء مسجد، ولا إلى كفن ميت وقضاء دينه ونحو ذلك، قالوا: والحيلة في الدفع إلى هذه الأشياء مع صحة الزكاة أن يتصدق على الفقير، ثم يأمره بفعل هذه الأشياء، ويكون له ثواب الزكاة، وللفقير ثواب هذه القرب، كما قالوا هنا: إن للفقير أن يخالف أمره إن شاء؛ لأنه مقتضى صحة التمليك، والظاهر أنه لا شبهة فيه؛ لأنه ملكه إياه عن زكاة ماله وشرط عليه شرطًا فاسدًا، والهبة والصدقة لا يفسدان بالشرط الفاسد (الدر المختار وحاشيته: ٢/٦٩).
ولكن يلاحظ أن هذه الحيل – ما يكره منها وما لا يكره – في صرف الزكاة. أما في إسقاط الزكاة عن مالك النصاب، فلم أجد في كتب الحنفية التي راجعتها من صرح بجوازه.
المالكية يحرمون الحيل ويبطلون أثرها:
وعند المالكية: لا تجوز الحيل ديانة ولا تنفذ قضاء.
ولهذا قالوا: من كان عنده نصاب من مال تجب فيه الزكاة، كالماشية مثلاً، فأبدله كله أو بعضه بعد الحول أو قبله بقليل، كشهر، بماشية أخرى من نوعها كأن أبدل خمسة من الإبل بأربعة، أو من غير نوعها، كأن يبدل الإبل بغنم أو عكسه، سواء أكانت الأخرى نصابًا أم أقل من نصاب، أو أبدلها بعروض أو نقود، أو ذبح ماشيته، أو نحو ذلك، وعلم أنه فعل ذلك فرارًا من الزكاة، وتهربًا من وجوبها – ويعرف ذلك بإقراره، أو بقرائن الأحوال، فإن ذلك الإبدال أو غيره من التصرفات لا يسقط عنه زكاة المال المبدل، بل يؤخذ بزكاته معاملة له بنقيض قصده، ولا يؤخذ بزكاة البدل وإن كانت زكاته أكثر؛ لأن البدل لم تجب فيه زكاة لعدم مرور الحول عليه.
وذلك لما تقرر في المذهب: أن الحيل لا تفيد في العبادات ولا في المعاملات.
قالوا: ولا يكون فارًا إلا إذا كان مالكًا للنصاب.
قالوا: ومن الحيل الباطلة: أن يهب ماله أو بعضه لولده أو لعبده قرب الحول ليأتي عليه الحول ولا زكاة عليه، ثم يعتصره أو ينتزعه منه، ليكون – بزعمه – ابتداء ملكه، وقد يقع ذلك للزوج مع زوجته ثم يقول لها: ردى إلى ما وهبته لك، بقصد إسقاط الزكاة عنه! فتؤخذ منه ويجب إخراجها (انظر: بلغة السالك وحاشيته: ١/٢١٠).
الحنابلة كالمالكية:
وقال ابن قدامة في “المغنى”: ” قد ذكرنا أن إبدال النصاب بغير جنسه يقطع الحول، ويستأنف حولاً آخر، فإن فعل هذا فرارًا من الزكاة لم تسقط عنه، سواء أكان البدل ماشية أو غيرها من النصب، وكذا لو أتلف جزءًا من النصاب قصدًا للتنقيص لتسقط عنه الزكاة لم تسقط، وتؤخذ الزكاة منه في آخر الحول، إذا كان إبداله وإتلافه قرب الوجوب، ولو فعل ذلك في أول الحول لم تجب الزكاة؛ لأن ذلك ليس بمظنة الفرار.
” وبما ذكرناه قال مالك والأوزاعي وابن الماجشون وإسحاق وأبو عبيد
وقال أبو حنيفة والشافعي: تسقط عنه الزكاة؛ لأنه نقص قبل تمام حوله، فلم تجب فيه الزكاة، كما لو أتلف لحاجته.
قال ابن قدامة: ولنا قول الله تعالى: (إنا بلوناهم كما بلونا أصحاب الجنة إذ أقسموا ليصرمنها مصبحين ولا يستثنون فطاف عليها طائف من ربك وهم نائمون فأصبحت كالصريم).(القلم: ١٧ – ٢٠). فعاقبهم الله تعالى بذلك لفرارهم من الصدقة، ولأنه قصد إسقاط نصيب من انعقد سبب استحقاقه (يعنى الفقراء والمستحقين). فلم يسقط، كما لو طلق امرأته في مرض موته، ولأنه لما قصد قصدًا فاسدًا، اقتضت الحكمة معاقبته بنقيض قصده، كمن قتل مورثه لاستعجال ميراثه عاقبه الشرع بالحرمان (المغنى المطبوع مع الشرح الكبير: ٢: ٥٣٤ – ٥٣٢)، وهذا بخلاف ما إذا أتلف بعض ماله لحاجته، فإنه لم يقصد قصدًا فاسدًا فلا يستحق العقاب.
الزيدية يحرمون الحيل:
وعند الزيدية في ذلك بعض تفصيل، حيث قالوا: لا يجوز التحيل لإسقاط الزكاة، وفى ذلك صورتان: إحداهما قبل الوجوب (وبتعبير أدق: قبل حصول الشرط وهو الحول)، والثانية: بعده.
أما قبل الوجوب، فنحو أن يملك نصابًا من نقد، فإذا قرب حولان الحول عليه، اشترى به شيئًا لا تجب فيه الزكاة كالطعام، قصدًا للحيلة في إسقاطها. فذلك لا يجوز، فإن فعل أثم وسقطت.
ومن فقهائهم من قال: إنه مباح.
وأما الصورة التي بعد الوجوب، فنحو أن يصرفها إلى الفقير ويشرط عليه الرد إليه ويقارن الشرط العقد نحو أن يقول: قد صرفت إليك هذا عن زكاتي، على أن ترده على، فإن هذه الصورة لا تجوز ولا تجزئ، بلا خلاف في المذهب.
فإن تقدم الشرط نحو أن تقع مواطأة – قبل الصرف – على الرد، ثم صرفها إليه من غير شرط مما تواطآ عليه، فالمذهب أن ذلك لا يجوز ولا يجزئ، وقال بعضهم تجزئ مع الكراهة التحريمية

“الجامع لأحكام القرآن” (٩ / ٢٣٦)

يجوز للرجل أن يبيع ماله قبل حلول الحول إذا احتاج إلى ذلك ، ما لم يقصد الفرار من الزكاة
قال القرطبي رحمه الله :
” أجمع العلماء على أن للرجل قبل حلول الحول التصرف في ماله بالبيع والهبة إذا لم ينو الفرار من الصدقة ” انتهى

فإذا كان هذا المال معدا للتجارة فباعه : فإذا بلغ النصاب على رأس الحول زكّاه ، وإذا لم يبلغ إلا بضمه إلى ماله الذي عنده ، أو لم يبلغ ماله الذي عنده النصاب إلا بضمه إليه ضمه إليه وزكاه ؛ لأن العبرة فيما أعد للتجارة قيمته المالية .

“الفروع” (٤/١٣٨).

قال ابن  مفلح رحمه الله :
” وتضم قيمة عروض التجارة إلى كل واحد ، من الذهب والفضة ، جزم به صاحب المستوعب ، والشيخ وعلله بأنه يُقَوَّم بكل واحد منهما ، وقال : لا أعلم فيه خلافا . قال : ولو كان ذهب وفضة وعروض ، ضم الجميع في تكميل النصاب ” . انتهى والله أعلم بالصواب

.

Kategori
Uncategorized

HUKUM MENUNDA PEMGELUARAN ZAKAT HARTA

HUKUM MENUNDA PEMGELUARAN ZAKAT

Assalamualaikum

Deskripsi Masalah:

Seorang muslim memiliki harta yang telah mencapai nisab dan telah berlalu satu tahun hijriah (haul), yang berarti zakat atas harta tersebut telah wajib ditunaikan. Namun, karena suatu alasan, ia menunda pembayaran zakatnya hingga beberapa bulan setelah jatuh tempo. Alasan penundaan ini bisa bermacam-macam, seperti menunggu waktu yang lebih tepat, seperti bulan Ramadan, menunggu kerabat yang lebih membutuhkan, atau kesulitan dalam menemukan mustahik (penerima zakat). Dari kasus ini muncul sebuah pertanyaan :

1. Apakah diperbolehkan menunda pembayaran zakat dengan alasan tertentu, seperti menunggu bulan Ramadan atau kesulitan distribusi? Menurut pandangan ulama’ fiqih dan ulama kontemporer seperti Dr.Yusuf al-Qardhawi?

Masalah ini penting untuk dibahas agar umat Islam memahami batasan penundaan zakat, sehingga mereka tidak terjebak dalam kelalaian dalam menunaikan kewajiban zakat.

Waalaikum salam.
Jawaban

Hukum Menunda Pengeluaran/Pembayaran Zakat Mal

Menunda pembayaran zakat mal (setelah satu tahun berlalu atau setelah mencapai nisab) adalah hal yang sering ditanyakan oleh umat Islam. Berikut adalah penjelasan hukum syar’i terkait dengan penundaan pembayaran zakat mal menurut para ulama fikih serta pandangan dari Dr. Yusuf al-Qaradawi:

1. Pendapat Para Ulama


   Menurut para ulama fikih, hukum menunda pembayaran zakat setelah waktu wajibnya (yakni setelah mencapai nisab dan melewati satu tahun hijriah) umumnya tidak diperbolehkan tanpa alasan yang syar’i, kecuali dalam keadaan darurat atau ada kebutuhan mendesak yang membenarkan penundaan. Berikut beberapa pandangan:

   – Mazhab Syafi’i: Zakat harus segera dikeluarkan setelah satu tahun penuh (haul) dan tidak diperbolehkan menunda pembayaran zakat tanpa alasan yang syar’i, seperti menunggu waktu tertentu atau menunda karena alasan pribadi.

   – Mazhab Hanafi: Sama seperti dalam mazhab Syafi’i, zakat wajib segera dibayar ketika syarat-syaratnya terpenuhi. Namun, jika ada alasan syar’i seperti sulit menemukan orang yang berhak menerima zakat, maka diperbolehkan menunda asalkan tidak terlalu lama.

   – Mazhab Maliki dan Hanbali: Kedua mazhab ini juga mewajibkan pembayaran zakat segera setelah satu tahun berlalu. Namun, mereka memperbolehkan penundaan jika ada alasan yang kuat, seperti kesulitan dalam distribusi zakat atau adanya keadaan darurat yang tidak dapat dihindari.

Dari penjelasan di atas, dapat dipahami bahwa menunda pembayaran zakat mal (dengan alasan menunggu waktu tertentu seperti bulan Ramadan)” diharamkan“. Ini karena kebutuhan orang yang berhak menerima zakat tidak dapat ditunda. Seperti yang dikatakan oleh Syekh Zakariya al-Ansari:

أَدَاؤُهَا فِي وَقْتِهَا عِنْدَ التَّمَكُّنِ مِنْهُ وَاجِبٌ عَلَى الْفَوْرِ لِلْأَمْرِ بِهِ مَعَ نِجَازِ حَاجَةِ الْمُسْتَحِقِّينَ

“Pembayaran zakat pada waktunya, ketika mampu, wajib segera karena diperintahkan dengan adanya kebutuhan mendesak dari para mustahik.”

Namun, jika penundaan dilakukan karena alasan yang sah, seperti menunggu kerabat, tetangga, atau orang yang lebih membutuhkan, maka tidak apa-apa. Seperti yang dikatakan oleh Syekh Zainuddin al-Malibari:

إن أخر لانتظار قريب، أو جار، أو أحوج، أو أصلح، لم يأثم

“Jika penundaan dilakukan karena menunggu kerabat, tetangga, atau orang yang lebih membutuhkan atau lebih tepat, maka tidak berdosa.”

Ini berlaku jika mustahik yang ada tidak dalam kondisi darurat. Namun, jika kondisinya sangat mendesak, maka tidak boleh menunda zakat. Syekh al-Bakri ibn Shaṭṭa mengatakan:

محله ما لم يشتد ضرر الحاضرين، وإلا أثم بالتأخير، لأن دفع ضررهم فرض، فلا يجوز تركه لحيازة الفضيلة.

“Penundaan diperbolehkan untuk menunggu kerabat, orang yang lebih membutuhkan, atau tetangga jika kondisi mustahik yang ada tidak darurat. Jika kondisinya sangat mendesak, maka haram menunda karena membantu menghilangkan kesulitan mereka adalah kewajiban, dan tidak boleh ditinggalkan demi mengejar keutamaan.”

Secara umum, para ulama sepakat bahwa menunda zakat tanpa alasan syar’i tidak diperbolehkan, dan orang yang menundanya dianggap lalai dalam menunaikan kewajiban zakat. Zakat harus segera dikeluarkan karena itu adalah hak bagi fakir miskin.

2. Pendapat Dr. Yusuf al-Qardhawi


   Dalam bukunya Fiqh al-Zakat, Dr. Yusuf al-Qardhawi menjelaskan hukum penundaan pembayaran zakat. Beliau merinci sebagai berikut:

   – Jika zakat sudah wajib dan mencapai haul, maka harus segera dikeluarkan. Tidak boleh ditunda kecuali jika ada alasan darurat. Menunda zakat tanpa alasan yang jelas dianggap sebagai pelanggaran terhadap hak fakir miskin dan kelalaian dalam menunaikan kewajiban.
  
   – Dr. al-Qardhawi menegaskan bahwa zakat bukan sekadar kewajiban finansial, tetapi juga merupakan hak fakir miskin yang harus segera dipenuhi. Menunda pemberian hak ini tanpa alasan syar’i adalah tidak dapat diterima dalam syariat.

   – Namun, jika ada alasan syar’i untuk menunda pembayaran zakat, seperti menunggu waktu yang tepat untuk distribusi atau kesulitan dalam menemukan mustahik, atau dalam keadaan darurat, maka boleh menunda sementara hingga masalah tersebut teratasi. Zakat harus segera dikeluarkan begitu alasan tersebut hilang.

Kesimpulan
Hukum Asal: Menunda pembayaran zakat setelah tiba waktunya (haul) tidak diperbolehkan/haram , kecuali jika ada alasan syar’i seperti keadaan darurat atau kesulitan menemukan orang yang berhak menerima zakat, atau alasan lainnya yang dibenarkan syariat.
  
Jika Ditunda Tanpa Alasan: Penundaan ini dianggap sebagai kelalaian dalam menunaikan kewajiban, sehingga disarankan untuk segera mengeluarkan zakat sesegera mungkin guna menghindari tanggungan lebih besar dalam kewajiban syar’i.

Pandangan Dr. Yusuf al-Qardhawi: Penundaan tidak diperbolehkan kecuali ada alasan syar’i. Jika ada alasan syar’i, maka penundaan harus bersifat sementara, dan zakat harus segera dikeluarkan setelah alasan tersebut hilang.

Dengan demikian, jika zakat ditunda tanpa alasan yang sah, maka harus segera dikeluarkan untuk menghindari tanggungan akibat kelalaian ini.

Wallahu a’lam.
Berikut adalah referensi yang digunakan dalam penjelasan mengenai hukum penundaan zakat:

1. Zakarīyā al-Anṣārī, Asna al-Matalib :
   Buku ini adalah salah satu referensi penting dalam mazhab Syafi’i. Dalam Asna al-Matalib, al-Anṣārī menjelaskan bahwa pembayaran zakat harus dilakukan segera setelah mencapai nisab dan melewati haul, kecuali ada alasan syar’i. [Asna al-Matalib, Beirut, Dar al-Kutub al-Ilmiyah, Jilid 4, Halaman 481].

2. Zainuddin al-Malibari,Fath al-Mu’in“:
   Karya ini banyak digunakan dalam kajian fikih Syafi’i. Al-Malibari memperbolehkan penundaan zakat dalam keadaan tertentu, seperti menunggu kerabat atau orang yang lebih membutuhkan, namun melarang penundaan jika mustahik dalam keadaan darurat. [Fath al-Mu’in, Semarang, Thoha Putra, Edisi Ketiga, 2001, Halaman 76].

3. Syekh al-Bakri ibn Shaṭṭa,I’ana al-Thalibin“:

Dalam kitab ini, al-Bakri ibn Shaṭṭa menjelaskan bahwa menunda zakat hanya diperbolehkan jika tidak ada orang yang sangat membutuhkan. Jika ada yang mendesak, maka menunda zakat tidak diperbolehkan. [*I’ana al-Thalibin*, Beirut, Dar al-Fikr, Edisi Pertama, 1997, Jilid 2, Halaman 200].

4. Dr. Yusuf al-Qardjawi,Fiqh al-Zakat Juz 2:

Kitab ini adalah salah satu karya modern terkemuka mengenai fikih zakat. Dalam Fiqh al-Zakat, Dr. al-Qardhawi menegaskan bahwa zakat harus segera dikeluarkan begitu zakat wajib, dan penundaan hanya diperbolehkan dengan alasan syar’i. [Fiqh al-Zakat, Dr. Yusuf al-Qardhawi].

5. Ibnu al-Humam,Fath al-Qadir” (Mazhab Hanafi):

Dalam karya ini dijelaskan bahwa zakat harus segera dibayar setelah wajib, namun penundaan diperbolehkan jika ada alasan syar’i. [Fath al-Qadir].

6. Ibnu Qudamah,Al-Mughni (Mazhab Hanbali):

Ibnu Qudamah juga menyebutkan bahwa zakat wajib dibayar segera setelah mencapai nisab dan haul, namun ada toleransi untuk penundaan jika ada kesulitan atau keadaan darurat. [Al-Mughni].

7. Ibnu Rusyd,Bidayat al-Mujtahid” (Mazhab Maliki):

Dalam kitab ini, Ibnu Rusyd juga membahas bahwa zakat harus dibayar segera setelah memenuhi syarat, dan menunda pembayaran tanpa alasan syar’i tidak diperbolehkan. [*Bidayat al-Mujtahid*].

Referensi-referensi ini menjelaskan pandangan ulama klasik dan kontemporer mengenai pentingnya menunaikan zakat tepat waktu dan ketentuan penundaan dengan alasan syar’i.Wallahu A’lam bisshowab.

حكم تأخير الزكاة

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

الوصف:

مسلم يمتلك مالًا قد بلغ النصاب، ومرت عليه سنة هجرية (الحول)، مما يعني أن الزكاة على هذا المال قد وجبت. ومع ذلك، لأسباب معينة، قام بتأجيل دفع الزكاة لعدة أشهر بعد استحقاقها. قد تتنوع أسباب التأخير، مثل انتظار وقت أفضل مثل شهر رمضان، أو انتظار أحد الأقارب الذين يحتاجون الزكاة، أو صعوبة العثور على المستحقين للزكاة.

السؤال الذي يطرح نفسه: هل يجوز تأخير دفع الزكاة لأسباب معينة، مثل انتظار شهر رمضان أو وجود صعوبة في التوزيع؟ وفقًا لرأي علماء الفقه والعلماء المعاصرين مثل الدكتور يوسف القرضاوي.

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

الجواب

حكم تأخير إخراج الزكاة

تأخير إخراج الزكاة بعد مرور الحول والوصول إلى النصاب هو مسألة يتساءل عنها كثير من المسلمين. وفيما يلي توضيح الحكم الشرعي بشأن تأخير إخراج الزكاة وفقًا لآراء علماء الفقه وكذلك رأي الدكتور يوسف القرضاوي:

آراء الفقهاء
وفقًا للفقهاء، فإن حكم تأخير إخراج الزكاة بعد وقت وجوبها (أي بعد وصول النصاب ومرور الحول) عمومًا غير جائز دون عذر شرعي، إلا في حالات الضرورة أو الحاجة الملحة التي تبرر التأخير. وفيما يلي بعض الآراء:

١.المذهب الشافعي
   يجب إخراج الزكاة فورًا بعد مرور الحول، ولا يجوز تأخير دفع الزكاة دون عذر شرعي، مثل انتظار وقت معين أو التأجيل لأسباب شخصية.

٢. المذهب الحنفي
   مثل المذهب الشافعي، تجب الزكاة فورًا عند تحقق الشروط. ومع ذلك، إذا كان هناك عذر شرعي مثل صعوبة العثور على المستحقين، يجوز التأخير بشرط ألا يطول.

٣. المذهب المالكي والحنبلي
   يوجبان إخراج الزكاة فورًا بعد مرور الحول، لكنهما يسمحان بالتأخير إذا كان هناك عذر قوي، مثل صعوبة في التوزيع أو وجود ضرورة ملحة لا يمكن تجنبها.

من خلال هذه الآراء، يُفهم أن تأخير إخراج الزكاة (بنية انتظار وقت معين كرمضان) حرام ، لأن حاجة المستحقين للزكاة لا يمكن تأجيلها. كما قال الشيخ زكريا الأنصاري:

“أداؤها في وقتها عند التمكن منه واجب على الفور للأمر به مع نجاز حاجة المستحقين.”

ومع ذلك، إذا تم التأخير بسبب عذر شرعي، مثل انتظار قريب أو جار أكثر حاجة، فلا بأس. كما قال الشيخ زين الدين المليباري:

“إن أخر لانتظار قريب، أو جار، أو أحوج، أو أصلح، لم يأثم.”

ولكن إذا كانت حاجة المستحقين ملحة، فيحرم التأخير. كما قال الشيخ البكري بن شطة:

“محله ما لم يشتد ضرر الحاضرين، وإلا أثم بالتأخير، لأن دفع ضررهم فرض.”

عمومًا، يتفق العلماء على أن تأخير الزكاة بدون عذر شرعي غير جائز، ومن يؤخرها يعتبر مقصرًا في أداء واجب الزكاة.
رأي الدكتور يوسف القرضاوي
في كتابه “فقه الزكاة”، يوضح الدكتور يوسف القرضاوي حكم تأخير إخراج الزكاة بالتفصيل، حيث يؤكد ما يلي:

١. إذا وجبت الزكاة وبلغت الحول، فيجب إخراجها فورًا، ولا يجوز تأخيرها إلا إذا كان هناك عذر شرعي. يعتبر تأخير إخراج الزكاة بدون سبب مشروع تعديًا على حقوق الفقراء وتقصيرًا في أداء الواجب.

٢. يوضح الدكتور القرضاوي أن الزكاة ليست مجرد واجب مالي، بل هي حق للفقراء والمساكين يجب الوفاء به فورًا. تأخير إعطاء هذا الحق بدون عذر شرعي غير مقبول في الشريعة.

٣. ومع ذلك، إذا كان هناك عذر شرعي لتأخير إخراج الزكاة، مثل انتظار الوقت المناسب للتوزيع أو صعوبة العثور على المستحقين، أو في حالة الضرورة، يجوز التأخير بشكل مؤقت حتى يتم حل المشكلة. ويجب إخراج الزكاة فور زوال العذر.

الخلاصة

الحكم الأصلي: تأخير دفع الزكاة بعد استحقاقها (الحول) غير جائز، إلا إذا كان هناك عذر شرعي مثل حالة ضرورة أو صعوبة العثور على مستحقي الزكاة.

إذا تم التأخير دون عذر: يعتبر هذا التأخير تقصيرًا في أداء الواجب، لذلك ينصح بإخراج الزكاة فورًا لتجنب الوقوع في مخالفة شرعية.

رأي الدكتور يوسف القرضاوي:** لا يجوز تأخير الزكاة إلا إذا كان هناك عذر شرعي، وإذا وجد عذر شرعي فيجب أن يكون التأخير مؤقتًا، وتجب المبادرة بإخراج الزكاة فور زوال العذر.

والله أعلم

فيما يلي المراجع المستخدمة في الشرح حول حكم تأخير الزكاة:

١. زكريا الأنصاري، أسنى المطالب 
   هذا الكتاب من المراجع الهامة في المذهب الشافعي. في أسنى المطالب، يوضح الأنصاري أن الزكاة يجب أن تؤدى فور بلوغ النصاب ومرور الحول، إلا إذا كان هناك سبب شرعي. [أسنى المطالب، بيروت، دار الكتب العلمية، الجزء ٤، الصفحة ٤٨١].

٢. زين الدين المليباري، فتح المعين
   هذا العمل يستخدم كثيرًا في دراسة الفقه الشافعي. المليباري يسمح بتأخير الزكاة في ظروف معينة، مثل انتظار الأقارب أو الأشخاص الأكثر حاجة، ولكنه يحرم التأخير إذا كان المستحقون في حالة طارئة. [*فتح المعين*، سمارة، طهى بن بطرس، الطبعة الثالثة، ٢٠٠١، الصفحة ٧٦].

٣. الشيخ البكري بن شطة، إعانة الطالبين
   في هذا الكتاب، يوضح البكري بن شطة أن تأخير الزكاة جائز فقط إذا لم يكن هناك شخص في حاجة ماسة. وإذا كان هناك مستحقون في حاجة عاجلة، فلا يجوز تأخير الزكاة. [*إعانة الطالبين*، بيروت، دار الفكر، الطبعة الأولى، ١٩٩٧، الجزء ٢، الصفحة ٢٠٠٠].

٤. الدكتور يوسف القرضاوي، فقه الزكاة الجزء الثاني
   هذا الكتاب من الأعمال المعاصرة الهامة حول فقه الزكاة. في فقه الزكاة، يوضح الدكتور القرضاوي أن الزكاة يجب أن تؤدى فور وجوبها، ولا يجوز تأخيرها إلا بسبب شرعي. [فقه الزكاة، الدكتور يوسف القرضاوي الجزء الثانى].

٥. ابن الهمام، فتح القدير (المذهب الحنفي)
   في هذا العمل، يوضح أن الزكاة يجب أن تؤدى فور وجوبها، ولكن يسمح بالتأخير إذا كان هناك سبب شرعي. [فتح القدير].

٦. ابن قدامة، المغني (المذهب الحنبلي)
   يشير ابن قدامة إلى أن الزكاة يجب أن تؤدى فور بلوغ النصاب ومرور الحول، ولكنه يسمح بالتأخير إذا كانت هناك صعوبة أو ضرورة. [المغني].

٧.ابن رشد، بداية المجتهد (المذهب المالكي)
   في هذا الكتاب، يناقش ابن رشد أن الزكاة يجب أن تؤدى فور استيفاء الشروط، وأن تأخير دفعها بدون سبب شرعي غير جائز. [*بداية المجتهد*].

توضح هذه المراجع آراء الفقهاء التقليديين والمعاصرين حول أهمية أداء الزكاة في وقتها وشروط التأخير بعذر شرعي.

Kategori
Uncategorized

MENGGUGAT MAKNA: Apakah Ungkapan Suami ‘Aku Seperti Tidak Punya Istri’ Dapat Dikenal Sebagai Talak..?

Assalamu’alaikum

Deskripsi Masalah:

Seorang suami, karena merasa tidak mendapatkan nafkah batin dari istrinya, mengucapkan kalimat “aku seperti tidak punya istri.” Namun, suami tidak memiliki niat atau perasaan untuk menceraikan istrinya ketika mengucapkan kalimat tersebut. Suami timbul tanda tanya yaitu:
Apakah ungkapan ini dianggap sebagai talak atau tidak.?

Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh.

Pertanyaan ini berkaitan dengan talak kinayah (talak yang tidak secara tegas menggunakan kata talak) yang memerlukan niat sebagai syarat terjadinya talak. Dalam kasus ini, suami mengatakan kepada istrinya, “aku seperti tidak punya istri“, tanpa niat atau perasaan untuk menceraikan. Untuk menjawab pertanyaan ini, kita harus melihat beberapa hal secara rinci:

1. Pengertian Talak Kinayah

Talak kinayah adalah talak yang diucapkan dengan kalimat-kalimat yang tidak jelas langsung menunjukkan maksud cerai, seperti kalimat “aku seperti tidak punya istri“. Kalimat ini bisa bermakna banyak hal, tergantung pada niat dan konteksnya. Berbeda dengan talak sharih (talak yang jelas), seperti mengatakan “aku ceraikan kamu”, di mana tidak diperlukan niat untuk terjadinya talak.

2.Niat dalam Talak Kinayah
Dalam talak kinayah, niat sangat penting. Jika suami tidak ada niat untuk menceraikan istrinya ketika mengucapkan kalimat tersebut, maka talak tidak terjadi. Ulama sepakat bahwa dalam kasus kalimat-kalimat kinayah, niatlah yang menjadi penentu apakah talak terjadi atau tidak

3. Konteks Kalimat

Jika suami mengucapkan kalimat “aku seperti tidak punya istri” hanya sebagai ungkapan rasa kecewa atau kekecewaan karena kurangnya nafkah ( menafkai) batin tanpa bermaksud menceraikan, maka itu tidak dianggap sebagai talak. Sebaliknya, jika kalimat ini diucapkan dengan niat talak, maka talak bisa terjadi.

4. Hukum dalam Kasus Ini
Berdasarkan informasi yang Anda berikan, jika suami tidak ada niat untuk menceraikan, maka talak tidak terjadi. Kalimat tersebut hanya menjadi ekspresi emosional tanpa efek hukum dalam bentuk perceraian. Dalam Islam, talak adalah tindakan yang sangat serius dan harus dilakukan dengan niat yang jelas, terutama dalam talak kinayah.

5. Solusi untuk Masalah Nafkah Batin
Jika masalah utama dalam pernikahan adalah kurangnya nafkah ( menafkai ) batin, maka disarankan untuk mencoba mencari solusi bersama melalui komunikasi yang baik, nasihat, atau bahkan konsultasi dengan ahli atau pihak ketiga yang dapat membantu. Islam mendorong penyelesaian masalah dalam rumah tangga dengan cara yang baik sebelum mengambil langkah-langkah drastis seperti talak.

Kesimpulan: Dalam kasus ini, jika suami tidak berniat menceraikan dan hanya mengucapkan kalimat tersebut sebagai ungkapan kecewa, talak tidak terjadi. Namun, penting untuk mencari solusi bagi masalah yang ada agar hubungan rumah tangga tetap harmonis.

Semoga penjelasan ini bermanfaat dan membantu. Jika ada yang ingin ditanyakan lebih lanjut, silakan.

Wallahu a’lam.

Referensi mengenai hukum talak kinayah dan pentingnya niat dalam menentukan terjadinya talak dapat ditemukan dalam berbagai kitab fikih klasik dan kontemporer, di antaranya:

  1. Al-Mughni oleh Ibn Qudamah (mazhab Hanbali):
    Dalam kitab ini, Ibn Qudamah menjelaskan bahwa talak kinayah memerlukan niat yang jelas agar talak dianggap sah. Jika suami mengucapkan kalimat yang samar, niat menjadi syarat untuk menetapkan apakah talak terjadi atau tidak.
  2. Al-Fiqh al-Islami wa Adillatuhu oleh Dr. Wahbah az-Zuhaili:
    Kitab ini menjelaskan perbedaan antara talak sharih (jelas) dan talak kinayah (samar). Dalam bab tentang perceraian, beliau menekankan bahwa talak kinayah hanya sah jika ada niat menceraikan.
  3. Fath al-Bari oleh Ibn Hajar al-Asqalani:
    Dalam syarah Shahih al-Bukhari ini, Ibn Hajar menjelaskan tentang berbagai jenis talak dan pentingnya niat dalam talak kinayah berdasarkan hadits-hadits Nabi SAW.
  4. Al-Muhazzab oleh Imam al-Shirazi (mazhab Syafi’i):
    Kitab ini membahas hukum talak, termasuk talak kinayah. Dijelaskan bahwa ungkapan samar seperti “aku seperti tidak punya istri” atau yang serupa, tidak dianggap talak kecuali ada niat menceraikan.
  5. Kifayatul Akhyar oleh Abu Bakr bin Muhammad al-Husaini (mazhab Syafi’i):
    Kitab ini juga menjelaskan hukum talak, termasuk talak kinayah dan pentingnya niat dalam kasus-kasus ungkapan yang tidak tegas mengarah pada perceraian.
  6. Al-Hidayah oleh Al-Marghinani (mazhab Hanafi):
    Dalam kitab ini, dijelaskan bahwa talak kinayah tidak sah tanpa niat. Kata-kata samar tidak dapat dianggap sebagai talak kecuali disertai dengan maksud yang jelas dari suami.
  7. Fathul Qorib
  8. Fathul Whhab.
    فتح الوهاب

BERIKUT CONTOH UNGKAPAN KINAYAH

انت خلية برية من الزوج:


Kamu adalah seorang yang terputus dari suami.

انت بتة (أي مقطوعة الوصلة)


Kamu adalah wanita yang terputus (dari suami).

اعتدي، استبرئي رحمك (أي لأني طلقتك):

Berhati-hatilah, bersihkan dirimu (karena aku telah menceraikanmu).

الحقي بأهلك (أي لأني طلقتك):


Kembalilah kepada keluargamu (karena aku telah menceraikanmu).

حبلك على غاربك (أي خليت سبيلك كما يخلى البعير في الصحراء وزمامه على غاربه
-وهو ما تقدم من ظهره)

Kamu bebas (seperti unta yang dilepas di padang pasir dengan tali yang terlepas).

لا انده سربك (أي لا اهتم بشأنك)

: Jangan aku pedulikan urusanmu.

اعزبي (أي من الزوج :

Jadilah wanita mandiri (tanpa suami).

-دعيني (أي اتركيني، أي لأني طلقتك):

Biarkan aku (karena aku telah menceraikanmu).

-اغربي (أي صيري غريبة بلا زوج):

Menjauhlah (jadilah asing tanpa suami).

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

وصف المشكلة:

زوج يشعر بالإحباط بسبب عدم حصوله على النفقة الجنسية من زوجته، فقام بقول عبارة: “أنا كأني ليس لدي زوجة“. لكنه لم يكن ينوي الطلاق أو يشعر بذلك عندما قال هذه العبارة. الزوج يتساءل: هل تعتبر هذه العبارة طلاقًا أم لا؟

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته.

هذه المسألة تتعلق بـطلاق الكناية (الطلاق الذي لا يُستخدم فيه لفظ الطلاق بشكل صريح)، والذي يتطلب نية لكي يقع الطلاق. في هذه الحالة، قال الزوج لزوجته: “أنا كأني ليس لدي زوجة” دون أن يكون لديه نية أو شعور بطلاق زوجته. للإجابة على هذا السؤال، يجب علينا توضيح عدة نقاط بالتفصيل:

١. تعريف طلاق الكناية
طلاق الكناية هو الطلاق الذي يُقال بعبارات لا تدل بشكل صريح على الطلاق، مثل عبارة “أنا كأني ليس لدي زوجة“. هذه العبارة يمكن أن تحتمل عدة معانٍ، وتختلف حسب النية والسياق. يختلف هذا النوع عن الطلاق الصريح الذي يستخدم فيه ألفاظ واضحة مثل قول الزوج “أنت طالق”، حيث لا يحتاج الطلاق الصريح إلى نية لكي يقع.

٢. النية في طلاق الكناية
في طلاق الكناية، النية ضرورية جدًا. فإذا لم يكن لدى الزوج نية لطلاق زوجته عند نطق العبارة، فإن الطلاق لا يقع. اتفق العلماء على أن العبارات الغامضة في طلاق الكناية تحتاج إلى نية لكي يقع الطلاق.

٣. سياق العبارة
إذا قال الزوج عبارة “أنا كأني ليس لدي زوجة” كنوع من التعبير عن الإحباط أو خيبة الأمل بسبب نقص النفقة الجنسية دون أن يكون هناك قصد للطلاق، فإن ذلك لا يُعتبر طلاقًا. ولكن إذا قال هذه العبارة بنية الطلاق، فإن الطلاق يمكن أن يقع.

٤. الحكم في هذه الحالة
بناءً على المعلومات المقدمة، إذا لم يكن لدى الزوج نية لطلاق زوجته، فإن الطلاق لا يقع. هذه العبارة تكون مجرد تعبير عن مشاعر الإحباط دون أثر قانوني من حيث الطلاق. في الإسلام، الطلاق مسألة جدية ويجب أن يُنطق به بنية واضحة، وخاصة في حالة طلاق الكناية.

٥. حل لمشكلة النفقة الجنسية
إذا كان سبب المشكلة الرئيسي هو نقص النفقة الجنسية، يُنصح الزوجان بمحاولة إيجاد حل مشترك من خلال التواصل الجيد، أو طلب النصيحة من شخص مؤهل أو طرف ثالث يمكن أن يساعد. الإسلام يشجع على حل المشكلات داخل الأسرة بطريقة حسنة قبل اللجوء إلى الطلاق كخيار نهائي.

وفى قول الأخر في التعبير عن الطلاق، قسم مذهب الشافعي الطلاق إلى نوعين: الطلاق الصريح والطلاق الكنائي. والفرق بينهما هو:

فالصريح ما لا يحتمل غير الطلاق، والكناية ما تحتمل غيره. ولو تلفظ الزوج بالصريح.

بمعنى: “الطلاق الصريح هو التعبير الذي لا يحتوي على معنى سوى الطلاق. بينما الطلاق الكنائي هو التعبير الذي يحتوي على معنى آخر بجانب الطلاق.” (ابن قاسم الغزي، فتح القريب المجيب، [بيروت، دار ابن حزم: ٢٠٠٥]، الصفحة ٢٤١).

أما الطلاق الكنائي فيجب أن يكون مصحوبًا بالنية، فإذا لم توجد نية الطلاق فلا يقع الطلاق.

والكناية كل لفظ احتمل الطلاق وغيره، ويفتقر إلى النية فإن نوى بالكناية الطلاق وقع، وإلا فلا.

بمعنى: “الطلاق الكنائي هو كل قول يحمل معنى الطلاق ومعاني أخرى، وهذا يحتاج إلى النية. فإذا نوى الطلاق بعبارة الطلاق الكنائي فإنه يقع (الطلاق)، وإذا لم تكن هناك نية (طلاق) فإنه لا يقع (الطلاق).” (ابن قاسم الغزي، ٢٤١).

الخلاصة: في هذه الحالة، إذا لم يكن الزوج ينوي الطلاق وقال هذه العبارة فقط كتعبير عن إحباط، فالطلاق لا يقع. ومع ذلك، من المهم إيجاد حل للمشكلة القائمة لضمان استمرار العلاقة الزوجية بشكل سليم.

نرجو أن يكون هذا التوضيح مفيدًا.
إذا كان لديك أي استفسار آخر، فلا تتردد في طرحه.

والله أعلم.

المراجع:

توجد مراجع عديدة في كتب الفقه الكلاسيكية والمعاصرة حول أحكام طلاق الكناية وأهمية النية في وقوع الطلاق، ومنها:

١. المغني لابن قدامة (المذهب الحنبلي):
شرح ابن قدامة في هذا الكتاب أن طلاق الكناية يتطلب نية واضحة لكي يكون الطلاق صحيحًا. إذا نطق الزوج بعبارة غامضة، فإن النية تصبح شرطًا لتحديد ما إذا كان الطلاق قد وقع أم لا.

٢. الفقه الإسلامي وأدلته للدكتور وهبة الزحيلي:
يوضح الكتاب الفرق بين الطلاق الصريح (الواضح) والطلاق الكنائي (الغامض). في باب الطلاق، يؤكد الزحيلي أن الطلاق الكنائي لا يقع إلا إذا كانت هناك نية للطلاق.

٤. فتح الباري لابن حجر العسقلاني:
في شرح صحيح البخاري، يوضح ابن حجر أنواع الطلاق وأهمية النية في طلاق الكناية بناءً على الأحاديث النبوية.

٤. المهذب للإمام الشيرازي (المذهب الشافعي):
يناقش الكتاب أحكام الطلاق، بما في ذلك طلاق الكناية. يوضح أن العبارات الغامضة مثل “أنا كأني ليس لدي زوجة” لا تُعتبر طلاقًا إلا إذا كانت هناك نية للطلاق.

٥. كفاية الأخيار لأبي بكر بن محمد الحسيني (المذهب الشافعي):
يناقش الكتاب أيضًا أحكام الطلاق، بما في ذلك طلاق الكناية وأهمية النية في العبارات غير الصريحة التي قد تدل على الطلاق.

٦. الهداية للمرغيناني (المذهب الحنفي):
يوضح هذا الكتاب أن طلاق الكناية لا يكون صحيحًا إلا بوجود نية. لا يمكن اعتبار الكلمات الغامضة طلاقًا إلا إذا كانت هناك نية واضحة من الزوج.
٧. فتح الوهاب
انت خلية برية من الزوج
انت بتة(اي مقطو عة الوصلة)
اعتدي،استبرءي رحمك(اي لاءني طلقتك) الحقي باءهلك(اي لاءني طلقتك) حبلك على غاربك(اي خليت سبيلك كما يخلى البعير في الصحراء وزمامه على غاربه وهو ما تقدم من ظهره) لا انده سربك(اي لا اهتم بشاءنك) اعزبي(اي من الزوج)
دعيني (اي اتركيني،اي لاءني طلقتك)اغربي(اي صيري غريبة بلا زوج).

٨.(ابن قاسم الغزي، فتح القريب المجيب، [بيروت، دار ابن حزم: ٢٠٠٥]، الصفحة ٢٤١).(ابن قاسم الغزي، ٢٤١).

تشرح هذه المراجع أن النية في طلاق الكناية هي العامل الأساسي الذي يحدد ما إذا كان الطلاق يقع أم لا. إذا لم تكن هناك نية، فالطلاق لا يقع.والله أعلم بالصواب