logo mubaa
Logo Ittihad

DEWAN PIMPINAN PUSAT
IKATAN ALUMNI BATA-BATA

Kategori
Uncategorized

ZAKAT PRODUKTIF HASIL TAMBAK GARAM

ZAKAT PRODUKTIF HASIL TAMBAK GARAM

Assalamualaikum
Deskripsi masalah

Pulau Giliraja kecamatan Giligenting merupakan daerah kepulauan yang strategis yang mana sebagian penduduknya berada dipesisir pantai yang dihiasi dengan berbagai pemadangan dan tumbuh- tumbuhan tenjeng . Tenjeng sangatlah bermanfaat untuk menahan benturan ombak dari laut, sehingga tempat disekitar pantai tetap aman .

Ketika memasuki kemarau panjang khususnya masyarakat pesisir mereka memanfaatkan tanahnya untuk dijadikan alat atau lahan pembuatan garam, yang biasa dikenal dengan tambak garam. Garam termasuk barang tambang yang mempunyai nilai ekonomis yang cukup tinggi apalagi ditahun 2023 sekarang ini harga garam per- 1 ton harganya mencapai Rp 5000000 ( lima juta), maka dengan mahalnya harga garam tersebut masyarakat serentak memanfaatkan tanahnya ( tambaknya ) untuk memproduksi garam melalui air laut yang dikelola dengan sebaik mungkin, sehingga per-sembilan hari mereka panen hingga mencapai 5 ton bahkan bisa jadi lebih, hal itu bergantung luas dan tidaknya lahan yang mereka gunakan untuk memperoses produksi garam karena jangka waktu 9 hari itu minimalnya bahkan jika memprosesannya ditempuh dalam jangka waktunya lebih lama hingga 1 bulan bisa jadi perolehan garamnya ketika dipanen 20 ton bahkan lebih.

Pertanyaannya.
Wajibkah garam dikeluarkan zakatnya (apakah petani garam ) wajib mengeluarkan zakat ?
Kalau garam wajib zakat berapakah nisabnya dan yang wajib dikeluarkan?

Wa alaikumussalam.
Jawaban:

Kalau dilihat dari Ain atau dzatnya garam bukanlah harta / komoditas yang disebutkan dalam Al-Qur’an secara eksplisit sebagai barang atau harta yang wajib zakat karena garam tidaklah termasuk dari makanan pokok ( Quwatil balad), Namun bukan berarti bahwa hasil tambak garam tidak wajib dizakati, mengapa demikian karena bagaimanapun juga garam masuk dalam kategori barang perniagaan dan karena itulah zakat yang berlaku atasnya adalah zakat perniagaan . Hal ini didasarkan pada tiga alasan.
Pertama; Bahwa garam mengandung illat an-Namaa'( tumbuh/berkembang).
Kedua’: Adanya niat dari petani garam( produsen) untuk menjualnya .
Ketiga: Bukanlah berbentuk Ain yang wajib zakat sebagaimana emas dan perak , hewan ternak dan hasil pertanian seperti beras jagung dan lainnya termasuk biji-bijian yang menjadi Quatil balad ( makanan pokok) akan tetapi jika adanya produksi garam itu niat diperjual belikan, berarti dalam hal ini sudah masuk dalam kategori dari Uruuduttijarah ( barang dangangan ), maka dalam hal ini wajib dikeluarkan zakatnya tijarah ( jual beli ) bilamana sudah sampai nisab dan haul.

Adapun Nishabnya adalah jika barang dagangan dan labanya dijumlahkan di akhir tahun itu mencapai nishabnya emas,yaitu 85, gram emas.
Dalam harta dagangan yang harus diakumulasi(di kumpulkan) di akhir tahun adalah stok barang dagangan yang ada plus(di tambah) laba yang ada, bila laba tersebut tidak menjadi emas atau perak, sedangkan bila laba tersebut sudah menjadi emas atau perak maka harus di zakati secara tersendiri, bila stok barang yang ada beserta laba yang tidak menjadi emas atau perak omzetnya mencapai harganya nishabnya emas yaitu 85 gram maka wajib zakat yaitu yang wajib dikeluarkan adalah 2,5 %nya, kalau tidak mencapai kadar di atas maka tidak wajib zakat. :

Referensi :

حواشى الشروانى .ج:٣ص:٢٩٥

أن التجارة تقليب المال بالتصرف فيه بنحو البيع لطلب النماء فتبين بذلك أن البزر المشترى بنية أن يُزرع ثم يُتَّجَر بما ينبت ويحصل منه كبزر البقَّم لايكون عرض تجارة لاهو ولا مانبت منه أماالأول فلان شراءه لم يقترن بنية التجارة به نفسه بل بماينبت منه وأماالثانى فلانه لم يملك بمعاوضة بل بِزِراعة بزر القِنْيَة

حواشى المدنية .ج:١ ص:٩٨

وقد قررنا أن مالازكاة فى عينه يجب فيه زكاة التجارة من الجذوع والتين والأرض إذ ليس فى هذه المذكورات زكاة عين ومالا كان فى عينه يجب فيه زكاة التجارة

الباجورى ١/٧٧

.وتقوم عروض التجارة عند آخر الحول بما اشتريت سواء كان ثمن مال التجارة نصابا أم لا فإن بلغت قيمة العروض آخر الحول نصابا زكاها وإلا فلا

إعانة الطالبين ٢/١٥٢

يجب ربع عشر قيمة العرض في مال تجارة بلغ النصب في آخر الحول وإن ملكه بدون نصاب و يضم الربح الحاصل في أثناء الحول إلى الأصل في الحول إن لم ينض أما إذا نض بأن صار ذهبا أو فضة وأمسكه إلى آخر الحول فلا يضم إلى الأصل بل يزكى الأصل بحوله و يفرد الربح بحول

Syarat-syarat zakat tijarah:Tijarah yang berarti perdagangan didefinisikan sebagai setiap harta yang dikembangkan untuk keuntungan laba dengan cara saling tukar menukar (mu’awadhah) atau dikatakan sebagai usaha perdagangan dengan cara jual beli. Sebagian ulama dari kalangan Malikiyah berpendapat bahwa persewaan termasuk dalam usaha perdagangan . (lihat: Hasyiyah al-Dasuqi I/472-473).

Referensi

كاشفة السجا على سفينة النجا

(و) النوع الرابع (أموال التجارة) وهي تقليب المال بالمعاوضة لغرض الربح بنية تجارة عند كل تصرف


Pengertian tijaroh atau berdagang adalah mengelola harta dengan cara muawadhoh (saling mengganti atau membandingi) untuk tujuan memperoleh keuntungan dengan berniat berdagang di setiap penasarufan (transaksi).


والحاصل أن شرط وجوب زكاة التجارة ستة أحدها كون المال مملوكاً بمعاوضة كشراء سواءكان بعرض أم نقد أم دين حال أم مؤجل وكما لو صالح عليه عن دم أو أجر به نفسه سواء كانت المعاوضة غير محضة وهي التي لا تفسد بفساد مقابلها كالنكاح والخلع أومحضة وهي التي تفسد بذلك كالبيع والشراء والهبة بثواب وخرج بذلك ما ملك بغيرمعاوضة كإرث فإذا ترك لورثته عروض تجارة لم تجب عليهم زكاتها وهبة بلا ثواب واختطاب

Kesimpulannya adalah bahwa syarat wajib zakat tijaroh

a. Syarat Wajib Zakat Tijaroh Yaitu ada 6 (enam):

1- Adanya Harta dagangan dimiliki dengan cara muawadhoh, seperti melalui cara pembelian, baik dibayar dengan barang dagangan lain (barter), atau uang (emas/perak), atau dihutang yang dibayar dengan segera atau ditangguhkan, atau melalui cara shuluh, yaitu memperoleh harta atas dasar transaksi shuluh atau damai atas kematian seseorang, atau melalui cara memperoleh harta sebagai upah atas jasa yang disewakan, baik bentuk muawadhoh itu adalah muawadhoh ghoiru mahdoh, yaitu bentuk muawadhoh yang tidak bisa rusak sebab pembandingnya rusak, seperti; nikah, khuluk, atau bentuk muawadhoh itu adalah muawadhoh mahdoh, yaitu bentuk muawadhoh yang bisa rusak sebab pembandingnya rusak, seperti; transaksi penjualan dan pembelian, hibah dengan syarat balasan.
Dengan demikian, dikecualikan harta yang dimiliki tidak melalui cara muawadhoh, seperti harta yang dimiliki sebab menerima warisan. Oleh karena itu, apabila ada mayit meninggalkan harta warisan berupa harta dagangan kepada para ahli warisnya maka mereka tidak berkewajiban menzakatinya. Dikecualikan juga hibah yang tanpa syarat dibalas dan ihtitob (sebatas mengumpulkan harta dagangan).

ثانيها وجود نية التجارة حال المعاوضة قد يقصد به التجارة وقد يقصد به غيرها فلا بدمن نية مميزة وإن لم يجددها في كل تصرف بعد فراغ الشراء مثلاً برأس المال


2- Adanya niat berdagang pada saat melakukan transaksi muawadhoh karena terkadang muawadhoh bisa dimaksudkan untuk berdagang dan bisa dimaksudkan untuk selainnya. Oleh karena ini, harus ada niat yang membedakan antara keduanya, meskipun niat tersebut tidak selalu diperbaharui di setiap penasarufan setelah selesai melakukan pembelian semisal dengan modal.


ثالثها أن لا يقصد بالمال القنية أي الإمساك للانتفاع فإن قصدها به انقطع الحول فيحتاج إلى تجديد نية مقرونة بتصرف وكذا إن قصدها ببعضه وإن لم يعينه ويرجع في تعيينه إليه

3- Tidak ada niatan qun-yah atau menahan harta untuk memperoleh manfaat atau keuntungan. Apabila ia menyengaja qun-yah pada hartanya maka terputuslah haul sehingga memerlukan pembaharuan niat yang disertakan dengan tasarruf. Begitu juga dapat memutus haul apabila meniatkan qun-yah pada sebagian harta meskipun tidak ditentukan harta yang mana. Dan terputusnya haul dikembalikan pada sebagian harta yang ditentukan untuk diniati qun-yah.


ورابعها مضى حول من وقت الملك نعم إن ملكه بعين نقد نصاب أو دونه وفي ملكه باقيه كأن اشترى بعشرين مثقالاً أو بعين عشرة وفي ملكه عشرة أخرى بني على حولالنقد بخلاف ما لو اشتراه بنصاب في الذمة ثم نقده في الس فإنه ينقطع حول النقدويبتدىء حول التجارة من حين الشراء والفرق بين المسألتين أن النقد لم يتعين صرفه للشراء في الثانية بخلاف الأولى


4- Terlewatnya haul (setahun) dari waktu kepemilikan atas harta dagangan. Apabila seseorang memiliki harta dagangan dengan cara membelinya dengan emas yang sebesar nisob atau membelinya dengan emas yang sebesar kurang dari nisob, tetapi masih memiliki sisanya (yang jika dijumlahkan dengan yang digunakan untuk membeli dapat mencapai nisob), seperti; ia membeli barang dagangan dengan 20 mitsqol (nisob emas) atau ia membeli barang dagangan dengan 10 mitsqol dan masih memiliki 10 mitsqol sisanya, maka haul barang dagangan didasarkan pada haul emas itu. Berbeda dengan masalah apabila seseorang membeli barang dagangan dengan emas yang sebesar nisob, tetapi masih dalam bentuk tanggungan, kemudian pada waktu berikutnya, ia membayarnya dengan emas di majlis akad, maka haul emas telah terputus dan haul harta dagangan dimulai dari waktu pembelian.
Perbedaan antara dua masalah di atas adalah bahwa emas dalam masalah kedua tidak harus ditasarrufkan untuk membeli barang dagangan, artinya, masih memungkinkan membelinya dengan harta lain karena pembayarannya bersifat tanggungan, sedangkan dalam masalah pertama, emas sudah pasti ditasarrufkan untuk membelinya.


خامسها أن لا يرد جميع مال التجارة في أثناء الحول إلى نقد من جنس ما يقوم به وهودون نصاب فإن رد إلى ذلك ثم اشترى به سلعة بكسر السين أي بضاعة للتجارة ابتدأحولها من حين شرائها لتحقق نقص النصاب بالتنصيص بخلافه قبله فإنه مظنون أما لورّّد بعض المال إلى ما ذكر أو باعه بعرض أو بنقد لا يقوم به آخر الحول كأن باعه بدراهم والحال يقتضي التقويم بدنانير أو بنقد يقوم به وهو نصاب فحوله باق في جميع ذلك


5- Tidak mengembalikan atau merubah seluruh harta dagangan di tengah-tengah haul menjadi emas/perak yang harta dagangan dinilai harga dengannya, sedangkan emas/perak tersebut kurang dari nisob.
Apabila seseorang mengembalikan seluruh harta dagangan menjadi emas/perak, dan ternyata kurang dari nisob, kemudian ia membeli harta dagangan lain dengan emas/perak tersebut maka haul harta dagangan tersebut dimulai lagi sejak membelinya karena terbukti kurang dari nisob sebab tansis (penumpukan harta dagangan). Berbeda dengan sebelum dikembalikan menjadi emas/perak, maka nisob harta dagangan pertama bersifat madznun atau sekedar sangkaan telah mencapai nisob.
Adapun apabila sebagian harta dagangan dikembalikan menjadi emas/perak, atau sebagian harta dagangan dijual belikan dengan ganti berupa harta dagangan lain (barter), atau dijual dengan ganti emas/perak yang mana harta dagangan tersebut tidak dinilai harganya dengannya di akhir haul, misalnya; seseorang menjual sebagian harta dagangannya dengan ganti beberapa dirham padahal kondisi saat itu menunjukkan bahwa harta dagangan hanya dapat dinilai harganya dengan beberapa dinar, atau sebagian harta dagangan dijual dengan ganti emas/perak yang mana harta dagangan tersebut dapat dinilai harga dengannya dan telah mencapai nisob, maka haul harta dagangan bersifat tetap, artinya, tidak harus mengawali haul lagi.


سادسها أن تبلغ قيمته آخر الحول نصاباً أو دونه ومعه ما يكمل به كما لو كان معه مائة درهم فابتاع أي فاشترى بخمسين منها عرضاً للتجارة وبقي في ملكه خمسون وبلغت قيمة العرض آخر الحول مائة وخمسين فيضم لما عنده وتجب زكاة الجميع


6- Nilai harga harta dagangan di akhir haul telah mencapai nisob, atau kurang dari nisob tetapi masih memiliki harta yang menggenapkannya sehingga mencapai nisob, seperti; seseorang memiliki 100 dirham, lalu ia menggunakan 50 dirham untuk membeli harta dagangan dan ia masih mengantongi 50 dirham sisanya, di akhir tahun, harta dagangannya dinilai harganya dan menghasilkan 150 dirham, kemudian digabungkan dengan 50 dirham sebelumnya hingga berjumlah 200 dirham (mencapai nisob), maka wajib dizakati semuanya.


b. Besarnya Zajat Tijaroh

(واجبها) أي أموال التجارة (ربع عشر قيمة عروض التجارة) فإن ملكت بنقد ولو دون نصاب قومت به ولا بد في التقويم من عدلين فلو لم يبلغ نصاباً لم تجب الزكاة وإن بلغ بغيره


Besar zakat yang wajib dikeluarkan dari harta dagangan (tijaroh) adalah 2,5% dari nilai harga harta dagangan tersebut.
Apabila seseorang memiliki harta dagangan yang dibelinya dengan emas meskipun kurang dari nisob maka harta dagangan tersebut dinilai harganya dengan emas juga. (Begitu juga, apabila ia memiliki harta dagangan yang dibelinya dengan perak maka harta dagangan tersebut dinilai harganya dengan perak juga.) Dalam menilai harga harta dagangan harus menurut dua orang yang adil.
Apabila setelah harta dagangan dinilai harganya dengan emas dan ternyata belum mencapai nisob maka tidak wajib mengeluarkan zakatnya meskipun jika dinilai harganya dengan perak telah mencapai nisob. (Begitu juga sebaliknya)

وإن ملكت بغيره كعرض ونكاح وخلع فبغالب نقد البلد صورة ذلك شخص زوج أمته أو خالع زوجته بعرض نوى به التجارة وكذا لو تزوجت الحرة بعرض نوت به ذلك


Apabila harta dagangan dimiliki dengan cara barter, nikah, dan khuluk, maka harta dagangan tersebut dinilai harganya dengan mata uang yang berlaku, apakah emas atau perak. Contoh; ada seorang suami menikahkan amatnya atau mengkhuluk istrinya dengan ganti barang dagangan yang diniati tijaroh atau berdagang. Begitu juga, seperti perempuan merdeka yang menikah dengan mahar barang dagangan dengan niatan tijaroh atau berdagang. (Maka barang dagangan tersebut dinilai harganya dengan mata uang yang berlaku pada saat itu)

ومثل ذلك ما لو ملكت عروض التجارة بصلح عن دم كأن جنى عليه شخص فوجب على ذلك الشخص قصاص فصالح اني عليه وعفا بالدية بنية التجارة كأن قال عفوت عنك بالدية فكانت الدية بدلا عن القصاص


Selain di atas, artinya, harta dagangan juga dinilai dengan mata uang yang umum digunakan di negara pemiliknya adalah apabila harta dagangan dimiliki dengan transaksi shuluh atau damai, misalnya; si A telah melukai si B, maka si A berhak menerima qisos, lalu si A bertransaksi shuluh atau damai dengan si B, lalu si B memaafkan si A dengan harus membayar denda dengan niatan tijaroh atau berdagang, seperti; si B berkata kepada si A, “Aku memaafkanmu dengan adanya denda darimu,” dengan demikian, denda tersebut adalah gantian dari penetapan qisos (dan harta dagangan tersebut dinilai harganya dengan mata uang yang berlaku di wilayah si A dan si B)

فإن لم يكن بالبلد نقد فبغالب نقد أقرب البلاد إليه


Apabila wilayah harta dagangan tidak berlaku mata uang sama sekali, maka harta dagangan tersebut dinilai harganya dengan mata uang yang ada di wilayah yang paling dekat dengan wilayah yang mata uang tidak berlaku disana

. فإن غلب نقدان على التساوي تخير بينهما إن بلغت نصاباً بكل منهما وإن بلغت نصابا بأحدهما دون الآخر قومت لتحقق تمام النصاب


Apabila wilayah harta dagangan berlaku sama dua mata uang maka pemilik harta dagangan tersebut diperbolehkan memilih antara menilai harga harta dagangannya dengan mata uang yang pertama atau yang kedua jika memang harta dagangan tersebut telah mencapai nisob ketika dinilai harganya dengan masing-masing dari mata uang pertama dan kedua.
Apabila harta dagangan bisa mencapai nisob jika dinilai harganya dengan mata uang pertama dan tidak bisa mencapainya jika dinilai harganya dengan mata uang kedua, maka harta dagangan tersebut dinilai harganya dengan mata uang pertama sebab telah terbukti mencapai nisob dengan mata uang pertama tersebut

.
وإن ملكت بنقد وغيره قوم ما قابل النقد به وما قابل غيره بغالب نقد البلد ويعرف ما قابل غير نقد بتقويمه ومعرفة نسبته للنقد حال المعاوضة


Apabila harta dagangan dimiliki melalui dibeli dengan mata uang emas/perak dan juga dibeli dengan selainnya, (seperti; barter dengan barang dagangan lain), maka harta dagangan yang dibeli dengan emas/perak tersebut dinilai harganya dengan emas/perak juga dan harta dagangan yang dibeli dengan selainnya dinilai harganya dengan mata uang yang berlaku, apakah itu emas atau perak. Cara mengetahui harta dagangan manakah yang dijual belikan dengan selain emas/perak adalah dengan menilai harganya. Dan mengetahui penisbatan harta dagangan tersebut terhadap mata uang emas/perak adalah pada saat proses muawadhoh (dalam contoh ini adalah proses jual beli).


فإن اختلف الغالب وقت الشراء وآخر الحول اعتبر الثاني لأنه المعتبر في زكاة التجارةوقولهم العبرة بما اشترى به وإن أبطله السلطان أو كان الغالب غيره محله فيما اشترى بالنقد لا بعرض كما هنا


(Awal masalah ada seseorang membeli harta dagangannya dengan cara barter dengan barang dagangan lain). Apabila mata uang yang berlaku pada saat pembelian berbeda dengan mata uang yang berlaku di akhir haul maka yang dijadikan patokan untuk menilai harga harta dagangan tersebut adalah mata uang yang berlaku di akhir haul karena mata uang tersebut adalah yang dititik beratkan pada zakat tijaroh/dagangan.
Adapun perkataan para fuqoha, “Yang diberlakukan adalah mata uang yang digunakan untuk membeli harta dagangan meskipun pemerintah menghapus keberlakuan mata uang tersebut atau meskipun yang umum berlaku adalah selain mata uang yang digunakan untuk membeli,” adalah perkataan pernyataan yang dikaitkan dengan masalah apabila pada awalnya memang seseorang membeli harta dagangannya dengan mata uang emas/perak, bukan dengan membelinya melalui barter dengan barang dagangan lain, seperti dalam pembahasan disini.

ويضم ربح حاصل في أثناء الحول لأصل في الحول إن لم ينض بما يقوم به بأن لم ينضأصلاً أو نض بغير ما يقوم به فلو اشترى عرضا قيمته مائتا درهم فصارت قيمته آخر الحول
ثلاثمائة زكاهاأما إذا نض بما يقوم به فلا يضم إلى الأصل بل يزكى الأصل عند حوله والريح عند حوله في فرد كل بحول ومعنى نض صار نانا دراهم دراهم ودنانير
14

14(ويضم ربح) حاصل في أثناء الحول ولو من عين العرض كولد وثمر (لأصل في الحول إن لم ينض)بكسر النون بقيد زدته بقولي ( بما تقوم به ) الآتي بيانه فلو اشترى عرضا بمائتي درهم صارت قيمته في


Ketika telah mencapai haul, keuntungan dagangan yang diperoleh di tengah-tengah haul digabungkan dengan modal, tetapi dengan catatan jika keuntungan tersebut belum ditunai uangkan ke uang dirham atau dinar, sekiranya keuntungan tersebut tidak ditunai uangkan sama sekali atau ditunai uangkan tetapi bukan ke uang dirham atau dinar. Oleh karena itu, apabila seseorang membeli dagangan dengan harga 200 dirham, kemudian di akhir haul dagangannya menjadi 300 dirham, maka semua 300 dirham itu wajib dikeluarkan zakatnya.
Adapun apabila keuntungan yang diperoleh di tengah-tengah haul telah ditunai uangkan ke dirham atau dinar maka keuntungan tersebut tidak digabungkan dengan modal, tetapi modal dizakati sendiri pada saat haul-nya dan keuntungan dizakati sendiri pada saat haul-nya juga, sehingga masing-masing dari modal dan keuntungan memiliki masa haul sendiri-sendiri. Pengertian ditunai uangkan adalah sekiranya menjadi dirham dan dinar. (Contoh; seseorang membeli barang dagangan dengan 200 dirham. Setelah 6 bulan berikutnya, ia menjual barang dagangannya tersebut dengan harga 300 dirham. Lalu, 300 dirham tersebut ditahan sampai akhir haul. Maka pada akhir haul tersebut, yang 200 dirham dikeluarkan zakatnya. Baru 6 bulan kemudian, yang 100 dirham dikeluarkan zakatnya.)

Menurut keterangan dalam kitab Hasyiyah Ad-Dasuqi I/473 syaratnya zakat tijarah yaitu:
1.Diniati untuk diperdagangkan dan bukan untuk selainnya.
Catatan: Menurut Malikiyyah termasuk dalam hal ini ialah niat memperdagangkan ketika membeli meskipun disertai dengan niat untuk digunakan sendiri atau disewakan.
2.Barang yang diperdagangkan harus diperoleh dari proses timbal balik seperti jual beli atau imbalan dari akad persewaan.
3.Dimiliki secara penuh (al-milk al-taam).
4.Satu nishab (krus semua sebanyak harta nishabnya emas, termasuk harta yang ada di orang lain).
5.Satu tahun penuh menurut kalender hijriyah.
Catatan : Menurut Malikiyah harta dagangan yang sifatnya investasi seperti membeli tanah dengan niat dijual ketika harga tinggi, maka zakatnya wajib dikeluarkan ketika sudah laku.  (Hasyiyah Ad-Dasuqi I/473).

Wallohu a’lam.

Kategori
Uncategorized

PETUNJUK TATA CARA SHALAT SAFAR DAN PULANG DARI SAFAR

Asslamualaikum.

Deskripsi masalah

Ketika jama’ah Haji atau umroh menjelang pemberangkatan mereka semuanya dibimbing cara- cara melakukan ibadah haji dan umroh mulai dari syarat- syarat sampai melaksanakan rukun-rukun haji/umroh bahkan tidak cuma itu, melainkan ketika akan berangkat dari rumahnya mulai dari sholat sunnah safar dan juga do’a keluar rumah maupun do’a safarnya ada didalam panduan do’a-do’a haji/ umroh. Akan tetapi ada seseorang yang pernah haji/ umroh tidak ada dalam buku panduan bimbingan jamaah haji sholat setelah pulang dari perjalanan.

Pertanyaannya

Apakah ada anjuran shalat sunnah safar dan bagaimana tatacaranya melaksanakannya.Lalu bagaimana dengan orang yang pulang haji adakah juga anjuran melakukan sholat kalau ada bagaimana caranya karena didalam panduan buku haji tidak ditemukan ? Mohon penjelasannya.

Waalaikum salam

Jawaban .

Dalam Islam sebenarnya tidak hanya sholat safar yang dianjurkan melaikan ada juga anjuran sholat sunnah setelah pulang dari safar, oleh karena itu bagi seseorang yang ingin bepergian jauh baik untuk tuor ziarah ataupun safar untuk ibadah haji dan umroh disunnatkan melakukan sholat safar dan salat sunnah pulang dari safar/ dari perjalanan hal itu dilaksanakan ketika berada dirumah atau sampai dirumahnya . Kesunnahan Sholat sunnah safar ini disebabkan kebiasaan Rasulullah yang tidak pernah meninggalkan sebuah tempat kecuali ia melakukan shalat sunnah sebelum pergi, yaitu shalat sunnah safar.

Dalam sebuah hadits, Rasulullah ﷺ bersabda:

مَا خَلَّفَ أَحَدٌ عَلَى أَهْلِهِ أَفْضَلُ مِنْ رَكْعَتَيْنِ يَرْكَعُهُمَا عِنْدَهُمْ حِينَ يُرِيدُ السَّفَرَ

Artinya, “Tidak ada sesuatu yang lebih utama untuk ditinggalkan seorang hamba bagi keluarganya, daripada dua rakaat yang dia kerjakan di tengah (tempat) mereka ketika hendak melakukan perjalanan.” (HR ath-Thabrani). 

Dalam hadits yang lain juga disebutkan, Rasulullah bersabda:

إِنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لاَ يَنْزِلُ مَنْزِلاً إِلاَّ وَدَّعَهُ بِرَكْعَتَيْنِ

Artinya, “Sungguh, Nabi Muhammad ﷺ tidak tinggal di suatu tempat kecuali meninggalkan tempat tersebut dengan shalat dua rakaat” (HR Anas bin Malik).

Waktu dan Tata Cara Shalat Safar
Imam Nawawi dalam kitab Majmu’ Syarhil Muhadzdzab menjelaskan beberapa aturan (baca: etika) bagi orang-orang yang hendak melakukan perjalanan. Aturan itu menjadi bagian yang sangat penting untuk dilakukan sebelum pergi meninggalkan keluarga dan tempat tinggalnya. Sebab, selain mempunyai keutamaan tersendiri, shalat sunnah safar merupakan shalat sunnah yang tidak pernah Rasulullah tinggalkan ketika hendak meninggalkan sebuah tempat.

Menurut Imam Nawawi, shalat safar hanya disunnahkan bagi orang-orang yang hendak bepergian, dan boleh dilakukan di waktu apa pun. Artinya, ia boleh melakukan di malam hari maupun siang hari. Shalat yang satu ini dilakukan sebagai wujud permohonan seorang hamba kepada Tuhan-Nya agar diberikan hidayah, pertolongan, dan keselamatan selama perjalanan.

Tata cara shalat safar sebenarnya tidak jauh berbeda dengan shalat sunnah lainnya. Ketentuannya sama dengan ketentuan shalat sunnah pada umumnya. Shalat safar juga mempunyai syarat dan rukun yang harus dipenuhi, seperti harus mempunyai wudhu’, menutup aurat, dimulai dengan takbiratul ihram dan diakhiri dengan salam, membaca al-Fatihah, ruku’, i’tidal, sujud, dan lainnya. Sedangkan lafal niatnya adalah sebagai berikut:

أُصَلِّي سُنَّةَ السَّفَرِ رَكْعَتَيْنِ لِلّٰهِ تَعَالَى

Ushalliî sunnatas safari rak’ataini lillâhi ta’âla

Artinya, “Saya niat shalat sunnah perjalanan dua rakaat karena Allah ta’âla.”

Menurut Imam Nawawi dalam kitab Majmu’ Syarhil Muhadzdzab, praktik yang dianjurkan pada rakaat pertama membaca surat Al-Kafirun setelah membaca surat Al-Fatihah, dan untuk rakaat kedua membaca surat Al-Ikhlas setelah membaca Al-Fatihah.

Setelah shalat dua rakaat itu selesai, dianjurkan membaca ayat Kursi, yaitu:

اَللّٰهُ لَآ اِلٰهَ اِلَّا هُوَۚ اَلْحَيُّ الْقَيُّوْمُ ەۚ لَا تَأْخُذُهٗ سِنَةٌ وَّلَا نَوْمٌۗ لَهٗ مَا فِى السَّمٰوٰتِ وَمَا فِى الْاَرْضِۗ مَنْ ذَا الَّذِيْ يَشْفَعُ عِنْدَهٗٓ اِلَّا بِاِذْنِهٖۗ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ اَيْدِيْهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْۚ وَلَا يُحِيْطُوْنَ بِشَيْءٍ مِّنْ عِلْمِهٖٓ اِلَّا بِمَا شَاۤءَۚ وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضَۚ وَلَا يَـُٔوْدُهٗ حِفْظُهُمَاۚ وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيْمُ

Artinya, “Allah, tidak ada tuhan selain Dia, Yang Mahahidup lagi terus-menerus mengurus (makhluk-Nya). Dia tidak dilanda oleh kantuk dan tidak (pula) oleh tidur. Milik-Nyalah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Tidak ada yang dapat memberi syafaat di sisi-Nya tanpa izin-Nya. Dia mengetahui apa yang ada di hadapan mereka dan apa yang ada di belakang mereka. Mereka tidak mengetahui sesuatu apa pun dari ilmu-Nya, kecuali apa yang Dia kehendaki. Kursi-Nya (ilmu dan kekuasaan-Nya) meliputi langit dan bumi. Dia tidak merasa berat memelihara keduanya. Dialah yang Mahatinggi lagi Mahaagung” (QS al-Baqarah: 255).

Keuntungan membaca ayat Kursi di atas, sebagaimana dijelaskan Imam Nawawi dalam kitab Al-Adzkar lin Nawawi, adalah keselamatan selama perjalanan dan tidak akan tertimpa sesuatu yang tidak diinginkan sampai ia selesai dari perjalanannya (Imam Nawawi, al-Adzkar lin Nawawi, [Bairut: Darul Minhaj, 2010], h. 216).

Selanjutnya membaca surat Quraisy, yaitu:

لِاِيْلٰفِ قُرَيْشٍۙ اٖلٰفِهِمْ رِحْلَةَ الشِّتَاۤءِ وَالصَّيْفِۚ فَلْيَعْبُدُوْا رَبَّ هٰذَا الْبَيْتِۙ الَّذِيْٓ اَطْعَمَهُمْ مِّنْ جُوْعٍ ەۙ وَّاٰمَنَهُمْ مِّنْ خَوْفٍ

Artinya, “Disebabkan oleh kebiasaan orang-orang Quraisy, (yaitu) kebiasaan mereka bepergian pada musim dingin dan musim panas (sehingga mendapatkan banyak keuntungan), maka hendaklah mereka menyembah Tuhan (pemilik) rumah ini (Ka‘bah), yang telah memberi mereka makanan untuk menghilangkan lapar dan mengamankan mereka dari rasa takut” (QS Quraisy: 1-4).

Mengenai kelebihan surat yang satu ini, Imam Nawawi menceritakan sebuah kisah, bahwa suatu saat Syekh Abu Thahir hendak melakukan perjalanan, hanya saja ia takut. Kemudian ia pergi menemui Imam Qazwaini untuk memohon doa kepadanya. Imam Qazwaini berkata, “Siapa hendak bepergian, namun takut dengan musuh, atau gangguan-gangguan lainnya, maka bacalah surat Quraisy, karena sesungguhnya ia merupakan pengaman dari segala marabahaya dan kejelekan.” Setelah mendengar penjelasan itu, Syekh Abu Thahir melakukannya, dan tidak ada kejadian apa pun yang mengenainya selama perjalanan sampai ia pulang” (Imam Nawawi, Al-Adzkar lin Nawawi, 2010, h. 217).

Menurut Imam Nawawi, dua bacaan di atas menjadi sangat penting untuk dibaca setelah melakukan shalat sunnah safar, keduanya mempunyai keberkahan yang sangat besar dalam hal apa pun, keberkahan itu tidak terbatas oleh waktu dan keadaan. Oleh karenanya, sangat dianjurkan untuk membaca dua bacaan di atas ketika hendak berangkat bepergian (Imam Nawawi, Majmu’ Syarhil Muhadzdzab, [Bairut: Darul Fikr, 1999], juz IV, h. 387).

Doa Shalat Safar
Setelah bacaan-bacaan di atas selesai, dianjurkan untuk berdoa kepada Allah ﷻ dengan khusyuk dan penuh pengharapan disertai dengan keikhlasan. Secara umum, tidak ada doa secara tertulis yang harus dijadikan pedoman ketika hendak bepergian. Artinya, orang yang hendak melakukan perjalanan boleh berdoa sesuai dengan keinginannya masing-masing. Ia boleh berdoa tentang hal-hal yang berkaitan dengan akhirat, juga boleh berdoa tentang hal-hal duniawi, atau boleh juga menggabung keduanya, sebagaimana penjelasan Imam Nawawi dalam kitab Majmu’ Syarhil Muhadzdzab. Hanya saja, yang terpenting dalam doa ini adalah memohon pertolongan, taufiq, hidayah, keselamatan, dan kesehatan selama bepergian.

Meski dalam kitab Majmu’ Imam Nawawi tidak memberikan doa secara khusus yang harus dibaca ketika hendak beergian, namun, dalam kitabnya yang lain, yaitu Al-Adzkar lin Nawawi menganjurkan membaca doa berikut:

اَللهم بِكَ أَسْتَعِيْنُ، وَعَلَيْكَ أَتَوَكَّلُ ، اَللهم ذَلِّلْ لِي صُعُوْبَةَ أَمْرِيْ ، وَسَهِّلْ عَلَيَّ مَشَقَّةَ سَفَرِيْ، وَارْزُقْنِيْ مِنَ الْخَيْرِ أَكْثَرَ مِمَّا أَطْلُبُ، وَاصْرِفْ عَنِّي كُلَّ شَرٍّ، رَبِّ اشْرَحْ لِيْ صَدْرِيْ، وَيَسِّرْ لِيْ أَمْرِيْ، اللهم إِنِّي أَسْتَحْفِظُكَ وَأَسْتَوْدِعُكَ نَفْسِيْ وَدِيْنِيْ وَأَهْلِي وَأَقَارِبِي وَكُلَّ مَا أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَيْهِمْ بِهِ مِنْ آَخِرَةٍ وَدُنْيًا، فَاحْفَظْنَا أَجْمَعِيْنَ مِنْ كُلِّ سُوْءٍ يَا كَرِيْمُ

Artinya, “Ya Allah, hanya kepada-Mu aku meminta tolong, hanya kepada-Mu aku berpasrah. Tuhanku, tundukkanlah bagiku segala kesulitan urusanku, mudahkan untukku hambatan perjalananku, anugerahkanlah aku sebagian dari dari kebaikan melebihi apa yang kuminta, palingkan diriku dari segala kejahatan. Tuhanku, lapangkanlah dadaku, dan mudahkan urusanku. Ya Allah, aku meminta penjagaan dan menitipkan diriku, agamaku, keluargaku, kerabatku, dan semua yang telah Kauberikan kepadaku, baik kebaikan ukhrawi maupun duniawi. Lindungilah kami dari segala kejahatan, wahai Dzat Yang Mahapemurah.”

Pada bacaan doa di atas, ia dianjurkan untuk memulai dan mengakhirinya dengan bacaan tahmid (alhamdulillah) disertai dengan bacaan shalawat kepada Rasulullah ﷺ. Setelah doa tersebut selesai, dan hendak pergi, ia dianjurkan membaca doa yang biasa Rasulullah baca sebelum berangkat bepergian, yaitu:

اَللهم إِلَيْكَ تَوَجَّهْتُ، وَبِكَ أَعْتَصَمْتُ، اَللهم اكْفِنِيْ مَا هَمَّنِي وَمَا لَا أَهْتَمُّ لَهُ، اَللهم زَوِّدْنِي التَّقْوَى، وَاغْفِرْ لِيْ ذَنْبِيْ، وَوَجِّهْنِيْ لِلْخَيْرِ أَيْنَمَا تَوَجَّهْتُ

Artinya, “Ya Allah, hanya kepada-Mu aku menghadap dan hanya kepada-Mu aku berlindung. Tuhanku, cukupilah aku dari segala yang membuatku bimbang dan segala yang tidak kubimbangkan. Tuhanku, bekalilah diriku dengan takwa, ampunilah dosaku, dan hadapkan diriku pada kebaikan di mana saja aku menghadap.” (Imam Nawawi, al-Adzkar lin Nawawi, 2010, halaman 217).

Keutamaan Shalat Safar
Imam As-Suyuthi dalam kitab Jam’ul Jawami’ menuliskan hadits Rasulullah tentang shalat safar, Rasulullah ﷺ bersabda:

إِذَا خَرَجْتَ مِنْ مَنْزِلِكَ فَصَلِّ رَكْعَتَيْنِ تَمْنَعَانِك مَخْرَجَ السُّوءِ وإذَا دَخَلتَ إِلَى مَنْزِلِكَ فَصَلِّ رَكْعَتَيْنِ تَمْنَعَانِك مَدْخَلَ السُّوءِ.

Artinya, “Jika engkau keluar dari rumahmu maka lakukanlah shalat dua rakaat, yang dengan ini akan menghalangimu dari kejelekan yang berada di luar rumah. Dan jika engkau memasuki rumahmu, maka lakukanlah shalat dua rakaat yang akan menghalangimu dari kejelekan yang masuk ke dalam rumah” (HR al-Baihaqi).

Dari hadits di atas bisa dipahami bahwa shalat sunnah safar tidak hanya berfungsi sebagai ajang peningkatan spiritualitas kepada Allah ﷻ dengan memperbanyak ibadah, juga tidak hanya sebatas manifestasi penghambaan kepada-Nya. Lebih dari itu, dengan melaksanakan shalat safar, akan diselamatkan oleh Allah dari segala bahaya yang akan menimpanya selama dalam perjalanan. Tentunya, jika keselamatan juga didapatkan oleh setiap orang yang bepergian, ia masih bisa melanjutkan ibadah-ibadah yang lain setelah perjalanannya selesai.

Begitu juga halnya pulang dari perjalanan dianjurkan untuk melakukan sholat sunnah yaitu disebut dengan sholat sunnah karena pulang ( datang ) dari perjalanan kembali kenegerinya, apalagi ditambah dengan sujud syukur karena Allah memberikan keselamatan mulai berangkat hingga pulang ketanah airnya.

Dalil sholat sunnah datang dari perjalanan Hadits Rasulullah yang diriwayatkan dari Ka’ ab ra :


عَنْ كَعْبٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا قَدِمَ مِنْ سَفَرٍ ضُحًى دَخَلَ الْمَسْجِدَ فَصَلَّى رَكْعَتَيْنِ قَبْلَ أَنْ يَجْلِسَ. (رواه البخاري)

Dari Ka’ab radliallahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallahu ’alaihiwasallam apabila tiba kembali dari bepergian di waktu dluha, Beliau memasuki masjid lalu shalat dua Raka’at sebelum duduk”. (HR.Al-Bukhari (no.2858) , Muslim (no.2769), dan Ahmad (no.15345)).

Penjelasan:

Perkataan Ka’ab : bahwa Nabi Shallallahu’ alaihiwasallam, apabila tiba kembali dari bepergian di waktu dluha. Menyiratkan bahwa seorang musafir yang datang pada waktu terlarang tidak disyari’atkan mengerjakan shalat dua raka’at. Akan tetapi perkara ini tidak difahami demikian.
Ibnu Hajar mengatakan : Imam an-Nawawi berkata : Shalat tersebut adalah shalat yang dikerjakan (diniatkan) setibanya dari suatu perjalanan dengan meniatkan shalat qudum (shalat setibanya dari perjalanan), bukan shalat Tahiyyatul Masjid yang diperintahkan bagi seseorang yang baru masuk ke dalam masjid sebelum duduk. Akan tetapi shalat  qudum ini telah mencakup shalat Tahiyyatul Masjid. Dan sebagian ulama menolak pembolehan shalat pada waktu-waktu yang terlarang, walaupun dengan alasan tertentu, berdasarkan ucapan Ka’ab : Waktu Dhuha, akan tetapi ucapan Ka’ab ini tidak bisa dijadikan hujjah, karena shalat ini terkait dengan kejadian tertentu (waqi’ah ‘ain (kejadian yang berlaku khusus)). (Fat-hul Bari (I/640))

أصلى سنة القدوم من السفر ركعتين لله تعالى

Saya niat shalat sunnah datang dari perjalanan dua rakaat karena Allah ta’ala.

شرح مسلم – النووي – ج ٥ – الصفحة ٢٢٧ /٢٢٨

باب استحباب ركعتين في المسجد لمن قدم من سفر أول قدومه فيه حديث جابر قال اشترى مني رسول الله صلى الله عليه وسلم بعيرا فلما قدم المدينة أمرني أن آتي المسجد  فأصلي ركعتين وفي الرواية الأخرى قال جابر قدم رسول الله صلى الله عليه وسلم قبلي وقدمت فوجدته على باب المسجد قال الآن جئت قلت نعم قال فدع جملك ثم ادخل فصل ركعتين فدخلت فصليت ثم رجعت وفيه حديث كعب بن مالك  أن رسول الله صلى الله عليه وسلم  كان لا يقدم من سفر إلا نهارا في الضحى فإذا قدم بالمسجد فصلى  فيه ركعتين ثم جلس فيه في هذه الأحاديث استحباب ركعتين للقادم من سفره في المسجد أول قدومه وهذه الصلاة مقصودة للقدوم من السفر لا أنها تحية المسجد  والأحاديث المذكورة صريحة فيما ذكرته وفيه استحباب القدوم أوائل النهار وفيه أنه يستحب للرجل الكبير في المرتبة ومن يقصده الناس إذا قدم من سفر للسلام عليه أن يقعد أول قدومه قريبا من داره في موضع بارز سهل على زائريه اما المسجد وإما غيره قوله حدثنا أحمد ابن جواس هو بجيم مفتوحة وواو مشددة مهملة وسين قوله محارب بن دثار بكسر الدال وبالثاء المثلثة قوله كان لي على رسول الله صلى الله عليه وسلم دين فقضاني وزادني فيه استحباب أداء الدين زائدا والله أعلم باب استحباب صلاة الضحى وأن أقلها ركعتان وأكملها ثمان ركعات  وأوسطها أربع ركعات أو ست والحث على المحافظة عليها

Referensi:


فقه الإسلامى وأدلته ص.٥٧


وأماالنوافل فهى قسمين
١- مالاسبب له : وهي التطوع فى الأوقات الجائزة غير الخمسة المكروهة المذكورة سابقا.
٢- وماله سبب: وهي عشرة الصلاة عند الخروج إلى السفر وعند الرجوع منه وعند دخول إلى المنزل وعندالخروج منه وصلاة الاستخارة ركعتان …الخ

الموسوعة الفقهية – 2950/31949


ب – النفل المطلق:
9 – يتفق الفقهاء على أن الإطلاق يكفي في نية صلاة النفل المطلق، وألحق بعض الشافعية بالنفل المطلق (3) تحية المسجد، وركعتي الوضوء، وركعتي الإحرام، وركعتي الطواف، وصلاة الحاجة، وصلاة الغفلة بين المغرب والعشاء،والصلاة في بيته إذا أراد الخروج للسفر، والمسافر إذا نزل منزلا وأراد مفارقته. (1

الموسوعة الفقهية – 14912/31949

سجود الشكر
. التعريف:
1 – السجود تقدم بيانه، والشكر لغة: هو الاعتراف بالمعروف المسدى إليك، ونشره، والثناء على فاعله، وضده الكفران، قال تعالى: {ومن يشكر فإنما يشكر لنفسه ومن كفر فإن الله غني حميد} (1) وحقيقة الشكر: ظهور أثر النعمة على اللسان والقلب والجوارح، بأن يكون اللسان مقرا بالمعروف مثنيا به، ويكون القلب معترفا بالنعمة، وتكون الجوارح مستعملة فيما يرضاه المشكور. (2)
والشكر لله في الاصطلاح: صرف العبد النعم التي أنعم الله بها عليه في طاعته. (3)
وسجود الشكر شرعا: هو سجدة يفعلها الإنسان عند هجوم نعمة، أو اندفاع نقمة (1) .

مشروعية سجود الشكر:
2 – اختلف الفقهاء في مشروعية السجود للشكر، فذهب الشافعي وأحمد وإسحاق وأبو ثور وابن المنذر وأبو يوسف ومحمد وعليه الفتوى، وهو قول ابن حبيب من المالكية وعزاه ابن القصار إلى مالك وصححه البناني إلى أنه مشروع. لما ورد من حديث أبي بكرة رضي الله عنه أن النبي صلى الله عليه وسلم كان إذا أتاه أمر سرور – أو: بشر به – خر ساجدا شاكرا لله. (2) وسجد أبو بكر الصديق رضي الله عنه حين فتح اليمامة حين جاءه خبر قتل مسيلمة الكذاب.
وسجد علي رضي الله عنه حين وجد ذا الثدية بين قتلى الخوارج، وروي السجود للشكر عن جماعة من الصحابة.
وروى أحمد في مسنده من حديث عبد الرحمن بن عوف رضي الله عنه أن جبريل قال للنبي صلى الله عليه وسلم: يقول الله تعالى: من صلى عليك صليت عليه، ومن سلم عليك سلمت عليه فسجد النبي صلى الله عليه وسلم شكرا لله. (1) وذكر الحاكم أنه صلى الله عليه وسلم سجد لرؤية زمن، وأخرى لرؤية قرد، وأخرى لرؤية نغاشي. (2) قال الحجاوي: النغاشي قيل: هو ناقص الخلقة، وقيل: هو المبتلى، وقيل: مختلط العقل. واستدلوا أيضا بحديث ابن عباس رضي الله عنهما قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم في سجدة (ص) : سجدها داود توبة، وأسجدها شكرا، (3) وبحديث كعب بن مالك رضي الله عنه عند
البخاري أنه ” لما بشر بتوبة الله عليه خر ساجدا (1) .
وذهب أبو حنيفة ومالك على المشهور عنه، والنخعي على ما حكاه عنه ابن المنذر إلى أن السجود للشكر غير مشروع.
قال البناني: وجه المشهور عن مالك عمل أهل المدينة، وذلك لما في العتبية أنه قيل لمالك: إن أبا بكر الصديق سجد في فتح اليمامة شكرا، قال: ما سمعت ذلك، وأرى أنهم كذبوا على أبي بكر، وقد فتح الله على رسوله صلى الله عليه وسلم وعلى المسلمين فما سمعت أن أحدا منهم سجد. (2)
واحتج ابن المنذر لأصحاب هذا القول بأن النبي صلى الله عليه وسلم شكا إليه رجل القحط وهو يخطب، فرفع يديه ودعا، فسقوا في الحال ودام المطر إلى الجمعة الأخرى، فقال رجل: يا رسول الله، تهدمت البيوت وتقطعت السبل فادع الله يرفعه عنا، فدعا فرفعه في الحال (3) قال: فلم يسجد النبي صلى الله عليه وسلم لتجدد نعمة المطر أولا، ولا لرفع نقمته آخرا.
واحتج أيضا بأن الإنسان لا يخلو من نعمة، فإن كلفه لزم الحرج. (1)

الحكم التكليفي:
3 – مذهب الشافعية والحنابلة في حكم سجود الشكر عند وجود سببه أنه سنة، لما ورد من الأحاديث الدالة على أن النبي صلى الله عليه وسلم كان يفعله.
وقد أفاد الزرقاني – على القول بمشروعيته عند المالكية – أنه على هذا القول غير مطلوب، أي ليس مستحبا، ولكنه جائز فقط.
ومشهور مذهب المالكية أن سجود الشكر مكروه، وهو نص مالك، والظاهر أنها عنده كراهة تحريم.
ومذهب أبي حنيفة الكراهة، إلا أنهم صرحوا بما يدل على أنها كراهة تنزيه، فعبارة الفتاوى الهندية: سجدة الشكر لا عبرة بها، وهي مكروهة عند أبي حنيفة لا يثاب عليها، وتركها أولى. (2) .

أسباب سجود الشكر:
4 – يشرع سجود الشكر عند من قال به لطروء نعمة ظاهرة، كأن رزقه الله ولدا بعد اليأس، أو لاندفاع نقمة كأن شفي له مريض، أو وجد ضالة، أو نجا هو أو ماله من غرق أو حريق. أو لرؤية مبتلى أو عاص أي شكرا لله تعالى على سلامته هو من مثل ذلك البلاء وتلك المعصية.
وصرح الشافعية والحنابلة بأنه يسن السجود سواء كانت النعمة الحاصلة أو النقمة المندفعة خاصة به أو بنحو ولده، أو عامة للمسلمين، كالنصر على الأعداء، أو زوال طاعون ونحوه.
وفي قول عند الحنابلة: يسجد لنعمة عامة ولا يسجد لنعمة خاصة، قدمه ابن حمدان في الرعاية الكبرى. (1)
ثم إنه عند الشافعية والحنابلة: لا يشرع السجود لاستمرار النعم لأنها لا تنقطع. (2) ولأن العقلاء يهنئون بالسلامة من الأمر العارض ولا يفعلونه كل ساعة. (3)
قال الرملي: وتفوت سجدة الشكر بطول الفصل بينها وبين سببها (4) .
شروط سجود الشكر:
5 – صرح الشافعية والحنابلة بأن سجود الشكر يشترط له ما يشترط للصلاة، أي من الطهارة، واستقبال القبلة، وستر العورة، واجتناب النجاسة.
وعلى هذا فمن كان فاقد الطهورين ليس له أن يسجد للشكر كما صرح به الشرقاوي.
وعلى القول بجواز سجود الشكر عند المالكية فالمشهور أنه يفتقر إلى طهارة على ظاهر المذهب، واختار بعض المالكية عدم افتقاره إلى ذلك، قال الحطاب: لأن سر المعنى الذي يؤتى بالسجود لأجله يزول لو تراخى حتى يتطهر. واختار ابن تيمية أنه لا يشترط الطهارة لسجود الشكر. (1)

Wallahu A’lam bisshowab

Kategori
Uncategorized

HUKUM CALON PNS DENGANCARA SUAP (MENYOGOK) DAN SETATUS GAJINYA

SOGOK MENYOGOK CALON PEGAWAI NEGERI SIPIL(CPNS)

Assalamualaikum.

Deskripsi masalah

Menjelang tahun baru disetiap tahunnya pemerintah selalu memberikan peluang kepada masyarakat dengan membuka pendaftaran CPNS dalam berbagai bidang , hal itu dibuka oleh pemerintah karena untuk mempersiapkan pengganti pegawai Negeri yang akan pensiun, Namun demikian pemerintah tidak semerta-merta mengangkat pegawai yang baru melainkan harus melalui prosedur pendaftaran dan penyeleksian syarat-syarat pendaftaran yang meliputi Ijazah Asli, Foto sesuai ukuran 4×6 KTP, umur maksimal dan lain-lain .Contoh : Pada gelombang pertama mulai dibuka pendaftaran CPNS bidang Kehakiman atau Qodi dimana dalam surat edaran itu dicantumkan perkecamatan maksimalnya 3 orang peserta. Dan jika peserta memenuhi persyaratan dan juga sesuai dengan kereteria nilai tes maksimal mulai dari tes tulis dan tes lisan dll , maka pesarta tersebut akan lulus. Studi kasus disatu kecamatan sebut saja Kecamatan Sidodangi dimana dikecamatan tersebut hanya terdapat 1 peserta yaitu Fulan maka dalam upaya Fulan bisa lulus ,ia menyogok. Hal itu ia lakukan menurutnya karena ia layak untuk diangkat dikarenakan dikecamatan tersebut hanya 1 orang peserta ( tunggal )

Pertanyaan.
1.Adakah sogok yang diperbolehkan dengan maksud agar peserta itu lulus sebagaimana deskripsi?

  1. Bagaimana status gaji Fulan sebagai PNS?

Jawaban :

  1. Tindakan Fulan termasuk suap yang diharamkan, kecuali jika uang tersebut diberikan untuk keputusan yang benar dan atau untuk mendapatkan haknya menyuap merupakan satu-satunya maka dalam hal ini diperbolehkan .Misalnya Fulan itu memang layak untuk menjadi hakim.Dan Fulan itu bisa memegang amanah untuk menjadi hakim. Dengan begitu hukum dari pemberiannya boleh, dan haram menerimanya bagi pemegang kebijakan.
  2. Gaji tersebut adalah tunjangan dari pemerintah yang hukumnya halal, kecuali yang bersangkutan tidak memenuhi kriteria atau syarat minimum untuk menjadi PNS sejak awal pengangkatan.   

إسعادالرفيق الجزء الثانى ص ١٠٠ مكتبة ” الهداية ” سورابيا
فمن أعطى قاضيا أو حاكما أو أهدى إليه هدية فإن كان ليحكم له بباطل أو ليتوصل بها لنيل مالايستحقه أو لأذية مسلم ففسق الراشى والمهدى بالإعطاء والمرتشى والمهدى إليه بالأخذ والرائش بالسعي وإن لم يقع حكم منه بعد ذلك أو ليحكم له بحق أو لدفع ظلم أولينال ما يستحقه فسق الأخذ فقط ولم يأثم المعطى للضروره للتوصل لحق بأي طريق كان…


Artinya:” Barang siapa memberi suap pada hakim, atau memberikan hadiah kepadanya, maka jika dimaksudkan agar hakim memberikan putusan hukum yang menguntungkannya dengan cara yang tidak benar, ia jadikan sarana untuk mendapatkan sesuatu yang bukan menjadi haknya, atau ia maksudkan untuk menyakiti sesama muslim, maka sipenyuap dan sipemberi hadiah menjadi fasiq sebab pemberiannya itu, begitu pula penerima suap atau hadiah sebab mengambil suap atau hadiah itu, dan begitu pula dengan perantaranya sebab usahanya , walaupun setelah pemberian suap tersebut tidak terjadi putusan hukum. Atau (ia memberikan suap )    dimaksudkan agar hakim memberikan putusan hukum yang menguntungkannya secara benar, atau dimaksudkan mencegah kedhaliman atau dimaksudkan untuk memperoleh yang sesuatu yang menjadi haknya, maka yang menjadi fasiq hanya yang mengambil (suapnya) saja, sedangkan yang memberi tidaklah berdosa dikarenakan terpaksa agar bisa mendapatkan haknya dengan jalan apapun.”                                  

Referensi :


إحياء علوم الدين، 2/154)

الثَّالِثُ أنْ َيكُوْنَ الْمُرَادُ إعَانَةً بِفِعْلٍ مُعَيَّنٍ كَالْمُحْتَاجِ إلَى السُّلْطَانِ يَهْدِيْ إلَى وَكِيْلِ السُّلْطَانِ وَخَاصَّتِهِ وَمَنْ لَهُ مَكَانَةٌ عِنْدَهُ فَهَذِهِ هَدِيَةٌ بِشَرْطِ ثَوَابٍ يُعْرَفُ بِقَرِيْنَةِ الْحَالِ فَلْيُنْظَرْ فِيْ ذَلِكَ اْلعَمَلِ الَّذِيْ هُوَ الثَّوَابُ فَإنْ كَانَ حَرَامًا كَالسَّعْيِ فِيْ تَنْجِيْزِ إدْرَارٍ حَرَامٍ أوْ ظُلْمِ إنْسَانٍ أوْ غَيْرِهِ حَرُمَ اْلأخْذُ وَإنْ كَانَ وَاجِبًا كَدَفْعِ ظُلْمٍ مُتَعَيِّنٍ عَلَى كُلِّ َمنْ يَقْدِرُ عَلَيْهِ أوْ شَهَادَةٍ مُتَعَيِّنَةٍ فَيَحْرُمُ عَلَيْهِ مَا يَأْخُذُهُ وَهِيَ الرِّشْوَةُ الَّتِيْ لاَ يُشَكُّ فِيْ تَحْرِيْمِهَا وَإنْ كَانَ مُبَاحًا لاَ وَاجِبًا وَلاَ حَرَامًا وَكَانَ فِيْهِ تَعَبٌ بِحَيْثُ لَوْ عُرِفَ لَجَازَ اْلإسْتِئْجَارُ عَلَيْهِ فَمَا يَأْخُذُهُ حَلاَلٌ مَعَهَا وَفِي الْغَرْضِ وَهُوَ جَارٍ مَجْرَى الْجُعَالَةِ كَقَوْلِهِ أوْصِلْ هَذِهِ الْقِصَّةَ إلَى يَدِ فُلاَنٍ أوْ يَدِ السُّلْطَانِ وَلَكَ دِيْنَارٌ وَكَانَ بِحَيْثُ يَحْتَاجُ إلَى تَعَبٍ وَعَمَلٍ مُتَقَوِّمٍ أوْ قَالَ إقْتَرِحْ عَلَى فُلاَنٍ أنْ يُعِيْنَنِيْ فِيْ غَرْضِ كَذَا. ( وَقَبُوْلُ الرِّشْوَةِ حَرَامٌ: وَهِيَ مَا يُبْذَلُ لِلْقَاضِيْ لِيَحْكُمَ بِغَيْرِ الْحَقِّ، أوْ لِيَمْتَنِعَ مِنَ الْحُكْمِ بِالْحَقِّ وَإعْطَاؤُهَا كَذَلِكَ لأنَّهُ إعَانَةٌ عَلَى مَعْصِيَةٍ، أمَّا لَوْ رَشِيَ لِيَحْكُمَ بِالْحَقِّ جَازَ الدَّفْعُ وإنْ كَانَ يَحْرُمُ عَلَى الْقَاضِي اْلأخْذُ عَلَى الْحُكْمِ مُطْلَقاً: أيْ أُعْطِيَ مِنْ بَيْتِ الْمَالِ أمْ لاَ، وَيَجُوْزُ لِلْقَاضِْي أخْذُ اْلأُجْرَةِ عَلَى الْحُكْمِ لأنَّهُُ شَغَلَهُ عَنِ الْقِيَامِ بِحَقِّهِ.

(نهاية الزين شرح قرة العين، 2/217)

وَمِنْهَا أخْذُ الرِّشْوَةِ وَلَوْ بِحَقٍّ، وَإعْطَاؤُهَا بِبَاطِلٍ، وَمِثْلُهُمَا السَّعْيُ فِيْهِمَا بَيْنَ الرَّاشِيْ وَاْلمُرْتَشِيْ.

(إسعادالرفيق، 2/100)

فَقَالَ الزَّرْكَشِيُّ فِيْ شَرْحِ الْمِنْهَاجِ فِيْ بَابِ اْلإجَارَةِ: ظَنَّ بَعْضُهُمْ أنَّ الْجَامِكِيَّةَ عَنِ اْلإمَامَةِ وَالطَّلَبِ وَنَحْوِهِمَا مِنْ بَابِ ْالإجَارَةِ حَتَّى لاَ يَسْتَحِقُّ شَيْئاً إذَا أخَلَّ بِبَعْضِ الصَّلَوَاتِ أوِ اْلأيَّامِ وَلَيْسَ كَذَلِكَ بَلْ هُوَ مِنْ بَابِ اْلأرْصَادِ وَالأرْزَاقِ الْمَبْنِيِّ عَلَى اْلإحْسَانِ وَالْمُسَامَحَةِ، بِخِلاَفِ اْلإجَارَةِ فَإنَّهَا مِنْ بَابِ الْمُعَارَضَةِ وَلِهَذَا يَمْتَنِعُ أخْذُ اْلأُجْرَةِ عَلَى الْقَضَاءِ وَيَجُوْزُ إرْزَاقُهُ مِنْ بَيْتِ الْمَالِ بِاْلإجْمَاعِ انتهى.

(الحاوي للفتاوي للسيوطى، 1/157) 

وَفِي مُفِيدِ النِّعَمِ وَمُبِيدِ النِّقَمِ : الْمُدَرِّسُ إذَا لَمْ يَكُنْ صَالِحًا لِلتَّدْرِيسِ لَمْ يَحِلَّ لَهُ تَنَاوُلُ الْمَعْلُومِ، وَلَا يَسْتَحِقُّ الْفُقَهَاءُ الْمُنَزِّلُونَ مَعْلُومًا؛ لِأَنَّ َدْرَسَتَهُمْ شَاغِرَةٌ مِن مدرس أه

(غمز عيون البصائر في شرح الأشباه والنظائر، 7/298)(الحاوي للفتاوي للسيوطى، 1/151) 

وَقَدْ قَالَ الدَّمِيْرِيُّ فِيْ شَرْحِ الْمِنْهَاجِ: سَأَلْتُ شَيْخَنَا يَعْنِيْ اْلأسْنَوِيَّ مَرَّتَيْنِ عَنْ غَيْبَةِ الطَّالِبِ عَنِ الدَّرْسِ هَلْ يَسْتَحِقُّ الْمَعْلُوْمَ أوْ يُعْطَى بِقِسْطِ مَا حَضَرَ؟ فَقَالَ: إنْ كَانَ الطَّالِبُ فِيْ حَالِ انْقِطَاعِهِ يَشْتَغِلُ بِالْعِلْمِ إسْتَحَقَّ وَإلاَّ فَلاَ، وَلَوْ حَضَرَ وَلَمْ يَكُنْ بِصَدَدِ اْلإشْتِغَالِ لَمْ يَسْتَحِقَّ لأنَّ الْمَقْصُوْدَ نَفْعُهُ بِالْعِلْمِ لاَ مُجَرَّدُ حُضُوُرِهِ، وكَانَ يَذْهَبُ إلَى أنَّ ذَلِكَ مِنْ بَابِ اْلاِرْصَادِ

WallahuA’lambisshowab.

Kategori
Uncategorized

HUKUMNYA KAWIN LARI DAN MACAM-MACAMNYA WALI DALAM PERNIKAHAN

HUKUMNYA KAWIN LARI DAN MACAM-MACAMNYA WALI DALAM PERNIKAHAN

Deskripsi Masalah :
Sebut saja Melati, dia sangat mencintai kekasihnya (Muhaimin) walaupun kekasihnya tuna nitra bahkan bukanlah orang yang kaya , Namun Melati tetap mencintai dan menyayangi kekasihnya, padahal kekasihnya dia dibenci sama keluarganya, bahkan tidak hanya itu, melaikan hubungan mereka sama sekali tidak dapat restu dari orang tuanya dengan alasan tidak kufu’, karena Melati dan Muhaimin tetap tidak dapat restu maka mereka nikat kawin lari sedangkan mereka yang melaksanakan kawin lari masih dalam kawasan mereka (غير مسافة القصر) (tidak sampai dua marhalah/tidak sampai ( 88,704 km ) , lama-lama hubungan mereka di ketahui oleh pihak keluarga melati, lalu salah satu keluarga melati (anggaplah kakaknya) membawa paksa Melati jauh dari Muhaimin, dengan alasan tidak kufu’ dan nikahnya tidak sah. Dalam kondisi yang seperti itu Muhaimin tidak bisa berbuat apa-apa di karenakan pihak keluarganya telah membawanya .

Pertanyaan :

  1. Apakah dapat dibenarkan tindakan orang tua sebagaimana deskripsi ?
  2. Bagaimanakah hukum nikahnya mereka ? Bila tidak sah bagaimana solusinya ?
  3. Bagaimanakah hukumnya kakak melati yang mengklaim nikahnya melati tidak sah serta membawa paksa melati jauh dari Muhaimin ?
  4. Sebenarnya sebatas manakah kufu’ (Kafaah) itu menurut agama ?

Jawaban : No.1

Orang tuanya dibenarkan. Alasannya karena ortu / Wali nikah itu berhak memaksa menikahkan anak gadisnya walaupun tanpa seidzinnya.Namun dalam Islam sunnah orang tua itu menawarkan kepada anak gadisnya.Hal ini berbeda dengan anak janda ( wanita yang sudah pernah nikah) maka ia lebih berhak menikah walaupun tanpa seidzin walinya. Artinya lebih berhak untuk menentukan calon suaminya

Jawaban No.2

🅰️.Jika Muhaimin membawa lari Melati sejauh diperbolehkannya sholat qosor(paling sedikit 85 kilometer) namun menurut jumhur Ulama masaafatul Qashri : 88,704 km, jika yang menikahkan adalah wali hakim, setelah ditetapkan atas adlalnnya wali dengan surat resmi oleh pengadilan, maka akad nikahnya sah.

Referensi:

غاية تلخيص المراد من فتاوى ابن زياد ص 102
(مسألة)

أخذ رجل امرأة عن أهلها قهرا وبعدها عن وليها إلى مسافة القصر وكذا دونه إن تعذرت مراجعته لنحو خوف صح نكاحها بإذنها إن زوجها الحاكم من كفء إذ لم يفرق الأصحاب بين غيبة الولي وغيبتها ، ولا في غيبتها بين أن تكون مكرهة على السفر أو مختارة، بل أقول لو كان لها ولي بالبلد وعضلها بعد أن دعته إلى كفء وتعسر لها إثبات عضله فسافرت إلى موضع بعيد عن الولي وأذنت لقاضي البلد الذي انتقلت إليه في تزويجها من الكفء صح النكاح، وليس تزويج الحاكم في الأول من رخص السفر التي لا تناط بالمعادي كما يتخيل ذلك، نعم قد ارتكب المتعاطي لذلك بقهره الحرة والسفر بها وتغريبها عن وطنها ما لا يحل في الدين ولا يرتضي، بل ذلك من الكبائر العظام التي ترد بها الشهادة ويحصل بها الفسق.

🅱️.Nikahnya Melati dan muhamin Tidak sah. Apabila tidak memenuhi syarat menjauhkan diri dari ortunya atau lari dari tempatnya tinggalnya tidak mencapai ( مسافة القصر ) ukuran Masafatul Qashri menurut Jumhur Ulama : 88,704 km , empat burud ini ada banyak, di antaranya adalah sabda Rasulullah SAW berikut ini :

يَاأَهْلَ مَكَّةَ لاَ تَقْصُرُوا فيِ أَقَلِّ مِنْ أَرْبَعَةِ بَرْدٍ مِنْ مَكَّةَ إِلىَ عُسْفَان


Dari Ibnu Abbas radhiyallahuanhu bahwa Rasulullah SAW bersabda,”Wahai penduduk Mekkah, janganlah kalian mengqashar shalat bila kurang dari 4 burud, dari Mekkah ke Usfan”. (HR. Ad-Daruquthuny)
Selain dalil hadits di atas, dasar dari jarak minimal 4 burud adalah apa yang selalu dilakukan oleh dua ulama besar dari kalangan shahabat, yaitu Ibnu Umar dan Ibnu Abbas radhiyallahuanhuma. Mereka berdua tidak pernah mengqashar shalat kecuali bila perjalanan itu berjarak minimal 4 burud. Dan tidak ada yang menentang hal itu dari para shahabat yang lain.
Dalil lainnya adalah apa yang disebutkan oleh Al-Atsram, bahwa Abu Abdillah ditanya, “Dalam jarak berapa Anda mengqashar shalat?”. Beliau menjawab,”Empat burud”. Ditanya lagi,”Apakah itu sama dengan jarak perjalanan sehari penuh?”. Beliau menjawab,”Tidak, tapi empat burud atau 16 farsakh, yaitu sejauh perjalanan dua hari”.
Para ulama sepakat menyatakan bahwa jarak 1 farsakh itu sama dengan 4 mil. Dalam tahkik kitab Bidayatul Mujtahid dituliskan bahwa 4 burud itu sama dengan 88,704 km. Meski jarak itu bisa ditempuh hanya dengan satu jam naik pesawat terbang, tetap dianggap telah memenuhi syarat perjalanan. Karena yang dijadikan dasar bukan lagi hari atau waktu, melainkan jarak tempuh. Dua Hari Perjalanan = 88,704 km. Dan semua ulama sepakat bahwa meski pun disebut masa perjalanan dua hari, namun yang dijadikan hitungan sama sekali bukan masa tempuh. Tetapi yang dijadikan hitungan adalah jarak yang bisa ditempuh di masa itu selama dua hari perjalanan.
Sedangkan dalam menentukan standar jarak menurut ukuran sekarang terdapat beberapa pendapat:
a. Jarak 80,64 km (8 km lebih 640 m) (Lihat Al-Kurdi, Tanwirul Quluub, Thoha Putra, juz I hal 172).

b. Jarak 88, 704 km (Lihat Al-Fiqhul Islami, juz I, halaman 75).

c. Jarak 96 km bagi kalangan Hanafiyah.

d. Jarak 119,9 km bagi mayoritas ulama.

e. Jarak 94,5 km menurut Ahmad Husain Al-Mishry.

Dari paparan diatas dapat disimpulkan, bahwa jika seseorang yang nikat melakukan kawin lari sementara perjalannannya minimalnya tidak sampai مسافة القصر sebagaimana yang telah disebutkan diatas, maka hukum nikahnya tidak sah . Akan tetapi sebaliknya jika sampai مسافة القصر dan telah memenuhi syarat yang lainnya , maka nikahnya sah, namun maksiat .Alasannya karena tidak mendapatkan restu dari ortunya.

Solusinnya:

Dinikahkan kembali oleh hakim setelah ditetapkan ‘adlalnnya wali oleh Pengadilan Agama dengan bukti surat resmi. (عضل)

Wali adlal ialah wali yang tidak mau menikahkan anaknya karena alasan-alasan tertentu yang menurut walinya itu tidak disetujui adanya pernikahan anaknya atau cucunya dengan calon suaminya, karena hal itu tidak sesuai kehendak walinya, padahal wanita yang hendak menikah itu berakal sehat dan bakal suaminya itu dalam keadaan kufu.
Apabila terjadi hal seperti itu diatas, maka perwalian pindah langsung pada wali Hakim ( Qadi ) bukan pada wali ab’ad, mengapa demikian karena adlal itu adalah Dhalim sedangkan yang dapat menghilangkan kedhaliman satu-satunya adalah Hakim .

Apabila adlalnya sampai 3×, maka perwaliannya pindah kepada wali ab’ad bukan wali Hakim.
Kalau adlalnya itu karena sebab yang riel (benar secara syar’i ) maka tidak disebut adlal seperti:

  • Seperti Wanita nikah dengan peria yang tidak kufu
  • Maharnya dibawah mahar mitsli.
  • Atau wanita itu dipinang oleh peria lain yang lebih pantas ( kufu ) dari pinangan pertama itu.

Jawaban no.3

Kalau klaim dan tindakan tersebut dilakukan sebelum terjadinya solusi, maka klaim itu sah, dan tindakan untuk memisahkan keduanya adalah wajib dalam rangka amar ma’ruf mahi mungkar.

Jawaban No.4

Kafaah atau bisa disebut kufu’ , artinya adanya persamaan tingkat dan derajat, walaupun tidaklah muthlak, namun lebih kurang adanya ada titik kesamaan/kesetaraan.

Sebagian besar para ulama fiqih berpendapat, bahwa kufu itu merupakan hak bagi istri dan wali. Maka wali tidak boleh mengawinkan seorang wanita dengan laki- laki yang tidak sekufu’, kecuali atas persetujuan dari semua walinya, yakni seluruh keluarganya. Karena mengawinkannya dengan yang tidak sekufu, berarti menimpakan malu terhadap dirinya dan seluruh keluarganya.

a) Kufu ditinjau dari segi agama .
Orang Islam yang kawin dengan orang yang bukan Islam, hal ini dianggap bukan sekufu yakni tidak sepadan dalam Al-Qur’an dinyatakan:

وَلاَ تَنْكِحُوا الْمُشْرِكَاتِ حَتَّى يُؤْمِنَّ وَلأَمَةٌ مُّؤْمِنَةٌ خَيْرُُ مِّن مُّشْرِكَةٍ وَلَوْ أَعْجَبَتْكُمْ وَلاَ تُنكِحُوا الْمُشْرِكِينَ حَتَّى يُؤْمِنُوا وَلَعَبْدٌ مُّؤْمِنٌ خَيْرُُ مِّن مُّشْرِكٍ وَلَوْ أَعْجَبَكُمْ أُوْلاَئِكَ يَدْعُونَ إِلَى النَّارِ وَاللهُ يَدْعُوا إِلَى الْجَنَّةِ وَالْمَغْفِرَةِ بِإِذْنِهِ وَيُبَيِّنُ ءَايَاتِهِ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُونَ {221}

“Dan janganlah kamu menikahi wanita-wanita musyrik sebelum mereka beriman. Sesungguhnya wanita budak yang mukmin lebih baik dari wanita musyrik, walaupun dia menarik hatimu. Dan janganlah kamu menikahkan orang-orang musyrik (dengan wanita-wanita mukmin) hingga mereka beriman. Sesungguhnya budak yang mukmin lebih baik dari orang musyrik, walaupun dia menarik hatimu. Mereka mengajak ke neraka, sedang Allah mengajak ke surga dan ampunan dengan izinNya. Dan Allah menerangkan ayat-ayatNya (perintah-perintahNya) kepada manusia supaya mereka mengambil pelajaran.” (QS. Al-Baqarah : 221).

Lafaz ” Syirik ” dilihat termasuk orang-orang yangenganut agama yang menganggap Allah lebih dari satu. Jika ada yang menganut agama yang menganggap Allah itu lebih dari satu atau menyekutukan Allah berarti musyrik

b) Kufu ditinjau dari segi Iffah

Iffah artinya terpelihara dari segala yang haram baik dari hal tingkah laku maupun pergaulan . Maka dianggap tidak kufu bagi orang yang nasab nya atau keturunannya yang baik-baik, misalnya kawin dengan keturunan penzina walaupun masih seagama hal ini sesuai dengan firman Allah:

اَلزَّانِيْ لَا يَنْكِحُ اِلَّا زَانِيَةً اَوْ مُشْرِكَةً ۖوَّالزَّانِيَةُ لَا يَنْكِحُهَآ اِلَّا زَانٍ اَوْ مُشْرِكٌ ۚ وَحُرِّمَ ذٰلِكَ عَلَى الْمُؤْمِنِيْنَ ﴿النور : ۳

Artinya :” Pezina laki-laki tidak boleh menikah kecuali dengan pezina perempuan, atau dengan perempuan musyrik; dan pezina perempuan tidak boleh menikah kecuali dengan pezina laki-laki atau dengan laki-laki musyrik; dan yang demikian itu diharamkan bagi orang-orang mukmin. (QS. An-Nur: 3)

Dalam hal keseimbangan ( kufu ) antara laki-laki dan perempuan, maka yang terpenting menurut agama adalah keseimbangan dalam agama, Yakni hendaklah calon suami atau CANTIN adalah orang yang diridhoi agamanya dan akhlaknya.Sebagaima hal ini dijelaskan dalam hadits ;


وإذا أتاكم من ترضون دينه وخلقه فانكحوه إلاتفعلوه تكن فتنة فى الأرض وفساد كبير ( رواه الترمذي عن إبن خاتم )

Artinya :” Apabila datang kepadamu seorang peminang yang kamu didloi agamanya dan akhlaknya, terimalah pinangan itu dan kawinkanlah perempuan yang dipinang dengannya. Jika kamu tidak lakukan, tentu akan mendapat fitnah dalam masyarakat dan kerusakan yang luas. ( HR. Turmudzi dari Ibnu Khatim ) .

Dari keterangan hadits diatas kita dapat memperoleh pelajaran bahwa dalam hal kufu ( kafaah ) yang terpenting adalah keseimbangan agamanya dan akhlaknya.

Referensi :

إعانة الطالبين الجزء ٣ صحـ٣٦٢


وعبارة التحفة مع الاصل: وكذا يزوج السلطان إذا عضل القريب أو المعتق أو عصبته إجماعا، لكن بعد ثبوت العضل عنده بامتناعه منه أو سكوته بحضرته بعد أمره به والخاطب والمرأة حاضران أو وكيلهما أو بينة عند تعززه أو تواريه. نعم: إن فسق بعضله لتكرره منه مع عدم غلبة طاعاته على معاصيه أو قلنا بما قاله جمع إنه كبيرة زوج الابعد، وإلا فلا: لان العضل صغيرة وإفتاء المصنف بأنه كبيرة بإجماع المسلمين مراده أنه عند عدم تلك الغلبة في حكمها لتصريحه هو وغيره بأنه صغيرة. اه. وقوله لتكرره منه: قال في الروض: ولا يفسق إلا إذا تكرر ثلاث مرات. اه. (قوله: ولو مجبرا) غاية في الولي: أي لا فرق فيه بين أن يكون مجبرا أو لا (قوله: أي منع) تفسير لعضل (قوله: مكلفة) مفعول عضل، وهو قيد أول

.
أسنى المطالب الجزء ١٤ صحــ ٣٧٤


فإذا تعذر منه ناب عنه السلطان ( فإن عضل الولي ) ولو مجبرا أي منع ( بالغة ) عاقلة من تزويجها ( أمره القاضي ) به ( فإن امتنع ) منه ( أو سكت ) بحضرته ( زوجها ) كما في الغائب ويأثم بالعضل لقوله تعالى { فلا تعضلوهن أن ينكحن أزواجهن } ( وكذا ) يزوجها ( إن اختفى أو تعزز ) أو غاب غيبة لا يزوج فيها القاضي ( وأثبتت ) أي أقامت ( بعضله ) حينئذ بينة كما في سائر الحقوق ( وله الامتناع ) من التزويج ( لعدم الكفاءة ) فلا يكون امتناعه منه عضلا ؛ لأن له حقا في الكفاءة ويؤخذ من التعليل أنها لو دعته إلى عنين أو مجبوب بالباء فامتنع كان عاضلا ، وهو كذلك إذ لا حق له في التمتع واعتبر القفال مع الكفاءة أن يتبين موضع الصلاح للمرأة في مناكحته واستحسنه الزركشي ، ولو دعت إلى رجل وادعت كفاءته وقال الولي ليس بكفء رفع إلى القاضي فإن ثبتت كفاءته لزمه تزويجها منه فإن امتنع زوجها القاضي منه ( لا لنقصان المهر ) أو لكونه من غير
نقد البلد فليس له الامتناع من تزويجها لأجله ؛ لأن المهر محض حقها

– للشربني الجزء-٢ص٤١٣
وانما يحصل العضل من الولي إذا دعت بالغة عاقلة رشيدة كانت او سفهية الى كفء وامتنع الولي من تزويجه ولو عينت كفا واراد الأب او الجد المجبر كفا غيره فله ذلك في الأصح لأنه اكمل نظرا منها.
الفتاوى الفقهية الكبرى الجزء ٨ صحــ ٤٤٧
( وسئل ) بما صورته حلف الولي بالطلاق أنه لا يزوج ابنته لزيد فخطبها رجل من أخيها فامتنع فزوجه القاضي فهل يصح لكون الولي عاضلا وللشهود حضور العقد أو لا وإذا أقرت امرأة بالرضاع بينها وبين آخر فهل تقبل أو لا ؟ ( فأجاب ) بقوله ما ذكر ليس بعضل لأن شرط العضل أن تطلب بالغة عاقلة التزويج من كفء ولو عنينا أو مجبوبا بشرط أن يخطبها وأن تعينه ولو بالنوع بأن خطبها أكفاء ودعت إلى أحدهم فإذا امتنع الولي حينئذ من التزويج مطلقا أو إلا ممن هو أكفأ من ذلك المعين وثبتت ذلك عند القاضي ولم يتكرر عضل الولي ثلاث مرات زوجها القاضي ولو بحضرة
روضة الطالبين وعمدة المفتين الجزء ٢ صحــ ٤٧٤
الطرف السابع في خصال الكفاءة إحداها التنقي من العيوب المثبتة للخيار واستثنى البغوي منها التعنين وقال لا يتحقق فلا ينظر إليه وفي تعليق الشيخ أبي حامد وغيره التسوية بين التعنين وغيره وإطلاق الجمهور يوافقه فمن به عيب ليس كفءا لسليمة منه وكذا إن كان بها ذلك العيب لكن ما به أفحش أو أكثر فليس بكفء فإن تساويا أو كان ما بها أكثر فوجهان بناء على ثبوت الخيار في هذه الحالة ويجريان لو كان مجبوبا وهي رتقاء وزاد الروياني على العيوب المثبتة للخيار العيوب المنفرة كالعمى والقطع وتشوه الصورة وقال هي تمنع الكفاءة عندي وبه قال بعض الأصحاب واختاره الصيمري
بغية المسترشدين صحـــــ ٢٥١ ; ٢٥٢
وليس لعامى يجهل حكم ما رآه أن ينكره حتى يعلم أنه مجمع عليه أو فى اعتقاد الفاعل ولا لعالم أن ينكر مختلفا فيه حتى يعلم من فاعله أنه حال ارتكابه معتقد تحريمه لاحتمال أنه قلد من يرى حله أو جهل حرمته -إلى أن قال- وله أركان: الأول المحتسب -إلى أن قال- الثانى ما فيه الحسبة وهو كل منكر ولو صغيرة مشاهد فى الحال الحاضر ظاهر للمحتسب بغير تجسس معلوم كونه منكرا عند فاعله فلا حسبة للآحاد فى معصية انقضت نعم يجوز لمن علم بقرينة الحال أنه عازم على المعصية وعظه ولا يجوز التجسس إلا إن ظهرت المعصية كأصوات المزامير من وراء الحيطان ولا لشافعى على حنفى فى شربه النبيذ ولا لحنفى على شافعى فى أكل الضب مثلا الثالث المحتسب عليه ويكفى فى ذلك كونه إنسانا ولو صبيا ومجنونا الرابع نفس الاحتساب وله درجات التعريف ثم الوعظ بالكلام اللطيف ثم السب والتعنيف ثم المنع با لقهر والأولان يعمان سائر المسلمين والأخران مخصوصان بولاة الأمور زاد ج وينبغى كون المرشد عالما ورعا حسن الخلق إذ بها تندفع المنكرات وتصير الحسبة من القربات وإلا لم يقبل منه بل ربما تكون الحسبة منكرة لمجاوزة حد الشرع
حواشى الشرواني ومعه الجزء ٩ صحـــــ ٤٦٢-٤٦٣

(ومن المنكر فراش حرير) في دعوة اتخذت للرجال وظاهر كلامهم هنا أن العبرة في الذي ينكر باعتقاد المدعو وبه عبر جمع من الشراح وغيرهم ولا ينافيه ما يأتي في السير أن العبرة في الذي ينكر باعتقاد الفاعل تحريمه لأن ما هنا في وجوب الحضور ووجوبه مع وجود محرم في اعتقاده فيه مشقة عليه فسقط وجوب الحضور لذلك وأما الإنكار ففيه إضرار بالفاعل ولا يجوز إضراره إلا إن اعتقد تحريمه بخلاف ما إذا اعتقده المنكر فقط لأن أحدا لا يعامل بقضية اعتقاد غيره فتأمله وإذا سقط الوجوب وأراد الحضور اعتبر حينئذ اعتقاد الفاعل فإن ارتكب أحد محرما في اعتقاده لزم هذا المتبرع بالحضور الإنكار فإن عجز لزمه الخروج إن أمكنه عملا بكلامهم في السير حينئذ ثم رأيت غير واحد قالوا المنقول أنه لا يحرم الحضور إلا إن اعتقد الفاعل التحريم وهو صريح فيما ذكرته وسواء فيما ذكرته النبيذ وغيره خلافا لمن فرق ولا ينافيه قول الشافعي  في شاربه الحنفي: أحده وأقبل شهادته لأن المعتمد في تعليله أن الحاكم يجب عليه رعاية اعتقاده دون المرفوع إليه (قوله فسقط وجوب الحضور لذلك) جعل سقوط الوجوب منوطا باعتقاد المدعو والوجه أنه منوط باعتقاد المدعو أو الفاعل أو هما فتأمله (قوله وإذا سقط الوجوب) الوجه أن المعتبر في سقوطه اعتقاد المدعو أو الفاعل وفي الإنكار اعتقاد الفاعل (قوله وسواء فيما ذكرته النبيذ وغيره خلافا لمن فرق إلخ) وقول الشارح يعني المحلي هنا ولو كان المنكر مختلفا فيه كشرب النبيذ والجلوس على الحرير حرم الحضور على معتقد تحريمه محمول على ما إذا كان المتعاطي له يعتقد تحريمه أيضا شرح م ر أي أما إذا كان يعتقد حله فيجوز الحضور ولا يجب فالحاصل أنه إن كان الفاعل يعتقد حرمته حرم على معتقد حرمته الحضور إلا لإزالته أو يعتقد حله جاز لمعتقد الحرمة الحضور ولا يجب.
الإقناع للشربني الجزء ٢ صحـــــ ٤١٣
وانما يحصل العضل من الولي إذا دعت بالغة عاقلة رشيدة كانت او سفهية الى كفء وامتنع الولي من تزويجه ولو عينت كفا واراد الأب او الجد المجبر كفاء غيره فله ذلك في الأصح لأنه اكمل نظرا منها
حاشيتا قليوبي وعميرة الجزء ٣ صحـ ٢٣٧
( وخصال الكفاءة ) , أي الصفات المعتبرة فيها ليعتبر مثلها في الزوج خمسة , ( سلامة من العيوب المثبتة للخيار ) , وسيأتي في بابه فمن به بعضها كالجنون أو الجذام أو البرص لا يكون كفؤا للسليمة عنها ; لأن النفس تعاف صحبة من به , ذلك , ولو كان بها عيب أيضا , فإن اختلف العيبان , فلا كفاءة بينهما , وإن اتفقا وما به أكثر , فكذلك وكذا إن تساويا أو كان ما بها أكثر في الأصح ; لأن الإنسان يعاف من غيره , ما لا يعافه من نفسه , ويجري الخلاف فيما لو كان مجبوبا , وهي رتقاء , أو قرناء , ( وحرية فالرقيق ليس كفؤا لحرة ) أصلية كانت أو عتيقة ; لأنها تعير به , وتتضرر بأنه لا ينفق إلا نفقة المعسرين , ( والعتيق ليس كفؤا لحرة أصلية ) بخلاف المعتقة ومن مس الرق أحد آبائه ليس كفؤا لمن لم يمس أحدا من آبائها أو مس أبا أبعد قال الرافعي , ويشبه أن يكون الرق في الأمهات مؤثرا , ولذلك تعلق بها الولاء زاد في الروضة قوله : المفهوم من كلام الأصحاب أنه لا يؤثر وصرح , به صاحب البيان فقال : من ولدته رقيقة كفء لمن ولدتها عربية ; لأنه يتبع الأب في النسب ( ونسب ) كأن تنتسب إلى من تشرف به بالنظر إلى مقابله كالعرب فإن الله فضلهم على غيرهم , ( فالعجمي ليس كفء عربية ) والاعتبار بالأب فمن أبوه عجمي وأمه عربية , ليس كفؤا لمن أبوها عربي وأمها عجمية , ( ولا غير قرشي ) من العرب ( قرشية ) أي كفء قرشية لحديث { قدموا قريشا , ولا تقدموها } رواه الشافعي بلاغا , ( ولا غير هاشمي ومطلبي ) , من قريش كفؤا ( لهما ) لحديث مسلم { إن الله اصطفى كنانة من ولد إسماعيل , واصطفى قريشا من كنانة واصطفى من قريش بني هاشم واصطفاني من بني هاشم } , وحديث البخاري { نحن وبنو المطلب شيء واحد , وبنو هاشم , وبنو المطلب , أكفاء , وغير قريش من العرب بعضهم أكفاء بعض } , كما ذكره جماعة قال في الروضة : وهو مقتضى كلام الأكثرين ( والأصح اعتبار النسب في العجم كالعرب ) , والثاني لا يعتبر ; لأنهم لا يعتنون بحفظ الأنساب , ولا يدونونها بخلاف العرب , ( وعفة فليس فاسق كفء عفيفة ) , وإنما يكافئها عفيف , وإن لم يشتهر بالصلاح شهرتها , والمبتدع ليس كفؤا للسنية ,
( وحرفة فصاحب حرفة دنيئة ليس كفء أرفع منه , فكناس وحجام وحارس , وراع وقيم الحمام ليس كفء بنت خياط ولا خياط بنت تاجر أو بزاز , ولا هما بنت عالم وقاض ) نظر المعرف في ذلك , ( والأصح أن اليسار لا يعتبر ) ; لأن المال غاد ورائح , ولا يفتخر به أهل المروءات والبصائر . والثاني يعتبر ; لأنه إذا كان معسرا تتضرر هي بنفقته , وبعدم إنفاقه على الولد , وعلى هذا قيل يعتبر اليسار بقدر المهر والنفقة فيكون بهما كفؤا لصاحبة الألوف والأصح , أنه لا يكفي ذلك ; لأن الناس أصناف غني وفقير ومتوسط , وكل صنف أكفاء , وإن اختلفت المراتب ولا يعتبر أيضا الجمال نعم يعتبر إسلام الآباء , وكثرتهم فيه فمن أسلم بنفسه ليس كفؤا , لمن لها أبوان أو ثلاثة في الإسلام , وقيل إنه كفؤ لها ومن له أبوان في الإسلام ليس كفؤا لمن لها عشرة آباء في الإسلام , وقيل : إنه كفؤ لها ; لأن الأب الثالث لا يذكر في التعريف فلا يلحق العار بسببه
( و ) الأصح ( وإن بعض الخصال لا يقابل ببعض ) فلا يزوج سليمة من العيوب دنيئة بمعيب نسيب , ولا حرة فاسقة بعبد عفيف , ولا عربية فاسقة بعجمي عفيف , ولا عفيفة رقيقة بفاسق حر , لما بالزوج في الصور المذكورة من النقص المانع من الكفاءة , ولا ينجبر بما فيه من الفضيلة الزائدة عليها , ومقابل الأصح أن دناءة نسبه تنجبر بعفته الظاهرة , وأن الأمة العربية يقابلها الحر العجمي , قال الإمام : والتنقي من الحرف الدنيئة يعارضه الصلاح وفاقا واليسار إن اعتبر يعارض بكل خصلة غيره , ( وليس له تزويج ابنه الصغير أمة ) لانتفاء خوف الزنا المشترط في جواز نكاحها . ( وكذا معيبه على المذهب ) ; لأنه خلاف الغبطة فلا يصح وفي قول يصح ويثبت له الخيار إذا بلغ , وقطع بعضهم بالبطلان في تزويجه الرتقاء أو القرناء لما فيه من بذل مال في بضع لا ينتفع به , ( ويجوز من تكافئه بباقي الخصال ) كالنسب والحرفة , ( في الأصح ) ; لأن الزوج لا يعير باستقراض من لا تكافئه نعم يثبت له الخيار إذا بلغ , والثاني لا يجوز ذلك ; لأنه قد لا يكون فيه غبطة
تحفة المحتاج في شرح المنهاج الجزء ٣٠ صحـ ١٢٠

أما العيوب التي لا تثبت الخيار فلا تؤثر كعمى وقطع أطراف وتشوه صورة خلافا لجمع متقدمين بل قال القاضي : يؤثر كل ما يكسر ثورة التوقان والروياني ليس الشيخ كفؤا للشابة واختير وكل ذلك ضعيف لكن تنبغي مراعاته بخلاف زعم قوم رعاية البلد فلا يكافئ جبلي بلديا فلا يراعى لأنه ليس بشيء كما في الروضة.

MACAM-MACAM WALI DALAM PERNIKAHAN

Wali nikah dalam pernikahan sangatlah penting karena akad nikah tidak sah kecuali dengan seorang wali ( dari pihak perempuan) dan dua orang saksi yang adil. Dalam hal ini dijelaskan dalam sebuah hadits:


عن عائشة رضي الله عنها قالت : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: ايماامرأة نكحت بغير إذن وليها فنكاحها باطل ، فإن دخل بها فلها المهر بمااستحل من فرجها فإاشتجروا فالسلطان ولى من لأولي له ( أخرجه الأربعة إلاالنسائ وصححه أبوعوانة وابن حبان والحاكم)


Dari:” Aisyah RA .ia berkata : Rasulullah shollallahu alaihi wasallam bersabda: Siapapun perempuan yang menikah tanpa dengan seidzin walinya, maka batallah pernikahannya , dan jika ia telah disetubuhi, maka perempuan itu berhak menerima maskawin lantaran ia telah menghalalkan kemaluannya , dan jika terdapat pertentangan antara wali-wali, maka Sultan-lah yang menjadi wali bagi orang yang tidak mempunyai wali. ( Imam yang empat )

Adapun macam-macamnya wali dalam pernikahan rinciannya sebagaimana dijelaskan dalam ibarah berikut;

Referensi

الموسوعة الفقهية – 27130/31949

أنواع الولاية في النكاح:
80 – ذهب الفقهاء إلى أن الولاية في النكاح بحسب المولى عليه نوعان:
ولاية إجبار: وهي تنفيذ القول بالإنكاح على الغير، أي أن يباشر الولي العقد فينفذ على المولى عليه شاء أو أبى.
وولاية اختيار: أو ولاية ندب واستحباب، أو ولاية شركة، على اختلاف بين الفقهاء في تسميتها.
وليس في هذه الولاية تنفيذ القول على الغير أو إجباره، ومقتضاها أن نكاح المولى عليه يصح بعد أخذ إذنه أو اختياره (1) .
وللفقهاء في كل نوع تفصيل:

1- Mujbir

Pengertian Wali Mujbir adalah wali yang berhak mengawinkan anak perempuannya yang sudah baligh, berakal dan gadis untuk dikawinkan dengan tiada meminta idzin terlebih dahulu kepada anak perempuannya tersebut. Wali mujbir ini hanya bapak dan kakeknya artinya yang menjadi wali mujbir itu hanyalah Bapak dan kakeknya. Sedangkan selain keduanya disebut Wali Ghairu Mujbir.

النوع الأول – ولاية الإجبار:
81 – اتفق الفقهاء على إثبات ولاية الإجبار لبعض الأولياء على بعض المولى عليهم، ولهم في ذلك تفصيل.
82 – قال الحنفية: ولاية الحتم والإيجاب والاستبداد ” الإجبار ” تكون للولي، وهو عندهم العصبة مطلقا، فله إنكاح الصغير والصغيرة، والمجنون والمجنونة لقوله صلى الله عليه وسلم:” النكاح إلى العصبات ” (1) ، والبالغات خرجن بحديث عائشة رضي الله عنها قالت: ” قلت: يا رسول الله يستأمر النساء في أبضاعهن؟ قال: نعم، قلت: فإن البكر تستأمر فتستحي فتسكت. قال: سكاتها إذنها ” (2) وبخروج البالغات بقي الصغار، ولحديث عائشة: ” أن النبي صلى الله عليه وسلم تزوجها وهي بنت ست سنين، وبنى بها وهي بنت تسع سنين ” (3) .
وشرط ثبوت هذه الولاية عندهم كون المولى عليه صغيرا أو صغيرة، أو مجنونا كبيرا أو مجنونة كبيرة، سواء كانت الصغيرة بكرا أو ثيبا، فلا تثبت هذه الولاية على البالغ العاقل ولا على البالغة العاقلة، لأن هذه الولاية تدور مع الصغر وجودا وعدما في الصغير والصغيرة، وفي الكبير والكبيرة تدور
مع الجنون وجودا وعدما، سواء كان الجنون أصليا بأن بلغ مجنونا، أو عارضا بأن طرأ بعد البلوغ، وقال زفر: إذا طرأ لم يجز للمولى التزويج، وعلى أصل الحنفية ينبني أن الأب والجد لا يملكان إنكاح البكر البالغة بغير رضاها عندهم.
وقالوا: إن إثبات ولاية الإنكاح على هؤلاء، لأن النكاح يتضمن المصالح، وذلك يكون بين المتكافئين، والكفء لا يتفق في كل وقت، فمست الحاجة إلى إثبات الولاية على الصغار تحصيلا للمصلحة، والقرابة موجبة للنظر والشفقة فينتظم الجميع، إلا أن شفقة الأب والجد أكثر.
وإن كان المزوج للصغير أو الصغيرة أبا أو جدا، وللمجنون أو المجنونة ابنهما، وللرقيق مالكه لزم النكاح، ولا خيار لواحد من هؤلاء المولى عليهم، ولو كان النكاح بغير كفء أو بغبن فاحش، لوفور شفقة الأولياء، وشدة حرصهم على نفع المولى عليهم فكأنهم باشروه بأنفسهم، ولأن النبي صلى الله عليه وسلم ما خير عائشة رضي الله تعالى عنها حين بلغت، لكنه يشترط في الأولياء عندئذ أن لا يعرف من أي منهم سوء الاختيار مجانة وفسقا وإلا فبطل النكاح.
وإن كان المزوج لواحد من هؤلاء غير من ذكر من الأولياء، فلكل واحد منهم الخيار وإن كان إنكاحه من كفء وبلا غبن – إن شاء أقام على النكاح، وإن شاء فسخ، وقال أبو يوسف: لا خيار لهم كما في إنكاح الأب والجد.
وقالوا: يملك السيد إجبار العبد والأمة والمدبر وأم الولد على النكاح صيانة لملكه وتحصينا له عن الزنا الذي هو سبب هلاكهم أو نقصانهم، وليس للمولى أن يزوج المكاتب والمكاتبة بغير رضاهما، لخروجهما عن يده، ولا يجوز نكاحهما إلا بإذن المولى للرق الثابت فيهما، ويملك المكاتب تزويج أمته لأنه من الاكتساب، ولا يملك تزويج العبد لأنه خسران لا اكتساب، ولو زوج أمته من عبده بغير مهر جاز ولا مهر، وقيل: يجب حقا للشرع ثم يسقط (1) .
83 – وقال المالكية: الولي المجبر أحد الثلاثة:
أ – الأب فله الجبر، ولو بدون صداق المثل، ولو لأقل حال منها، أو لقبيح منظر لثلاث من بناته:
الأولى: البكر ولو عانسا طالت إقامتها عند أبيها وعرفت مصالح نفسها قبل الزواج.وجبر البكر ولو عانسا هو المشهور في المذهب، خلافا لابن وهب حيث قال: للأب جبر البكر ما لم تكن عانسا، لأنها لما عنست صارت كالثيب.
ومنشأ الخلاف هل العلة في الجبر البكارة أو الجهل بمصالح النساء، فالمشهور ناظر للأول، وابن وهب ناظر للثاني.
واستثنى المالكية من جبر البكر من رشدها الأب، أي جعلها رشيدة أو أطلق الحجر عنها لما قام بها من حسن التصرف، وهذه البكر المستثناة من الجبر لا بد من إذنها في النكاح بالقول.
كما استثنوا من أقامت سنة فأكثر ببيت زوجها بعد أن دخل بها ثم تأيمت وهي بكر فلا جبر عليها تنزيلا لإقامتها ببيت الزوج سنة منزلة الثيوبة.
الثانية: الثيب التي لم تبلغ وتأيمت بعد أن أزال الزوج بكارتها، فللأب جبرها لصغرها إذ لا عبرة بثيوبتها في هذه الحالة، والثيب التي بلغت وزالت بكارتها بزنا ولو تكرر متى زال الحياء عن وجهها أو ولدت من الزنا فللأب جبرها، ولا حق لولادتها من الزنا، والثيب التي زالت بكارتها بعارض كوثبة أو ضربة أو نحو ذلك، فللأب جبرها ولو عانسا.
أما من زالت بكارتها بنكاح فاسد ولو مجمعا على فساده فليس للأب جبرها إن درئ الحد لشبهة، وإلا فله جبرها.
الثالثة: المجنونة البالغة الثيب للأب جبرها لعدم تمييزها، ولا كلام لولدها معه إن كان لها ولد رشيد، إلا من تفيق أحيانا فتنتظر إفاقتها لتستأذن ولا تجبر.
ومحل جبر الأب في الثلاث إذا لم يلزم على تزويج أي منهن ضرر عادة، كتزويجها من خصي أو ذي عاهة – كجنون ونحوه – مما يرد به الزوج شرعا، وإلا فلا جبر.
ب – وصي الأب عند عدم الأب فله الجبر فيما للأب جبر فيه، ومحله إن عين له الأب الزوج، وبذل مهر المثل، ولم يكن فاسقا، بخلاف الأب فله جبرها مطلقا ولو بدون مهر المثل، وللوصي الجبر كذلك إن أمره الأب به ولو ضمنا، أو أمره بالنكاح ولم يعين له الزوج ولا الإجبار، بأن قال له: زوجها، أو زوجها ممن أحببت أو لمن ترضاه، وهذا هو الراجح، وقالوا: الراجح الجبر إن ذكر البضع أو النكاح أو التزويج بأن قال له الأب: أنت وصيي على بضع بناتي، أو على نكاح بناتي، أو على تزويجهن، أو وصيي على بنتي تزوجها، أو تزوجها ممن أحببت، وإن لم يذكر شيء من الثلاثة فالراجح عدم الجبر، كما إذا قال: وصيي على بناتي، أو على بعض بناتي، أو على بنتي فلانة، وأما لو قال: وصيي فقط فلا جبر اتفاقا. والوصي في الثيب البالغة إذا أمره الأب بتزويجها كأب، مرتبته بعد الابن، ولا جبر، فإن زوجها مع وجود الابن جاز على الابن، وإن زوجها الأخ برضاها جاز على الوصي، لصحة عقد الأبعد مع وجود الأقرب، والجواز بمعنى المضي بعد الوقوع، وإلا فالابن مقدم على الوصي، وهذا مقدم على الأخ. هذا عن الولي المجبر للأنثى، أما الولي المجبر للذكر فقالوا: يجبر أب ووصي وحاكم لا غيرهم ذكرا مجنونا مطبقا وصغيرا لمصلحة اقتضت تزويجهما، بأن خيف الزنا أو الضرر على المجنون فتحفظه الزوجة، ومصلحة الصبي تزويجه من غنية أو شريفة أو ابنة عم أو لمن تحفظ ماله، ولا جبر للحاكم إلا عند عدم الأب والوصي، إلا إذا بلغ عاقلا أي رشد ثم جن فالكلام للحاكم.
ج – المالك لأمة أو عبد، له جبرهما على النكاح، ولو كان المالك أنثى فلها الجبر كذلك لكن توكل في العقد على الأمة بخلاف العبد فلها العقد بنفسها، ويمتنع الجبر إن كان يلحق المملوك في النكاح الذي يجبر عليه ضرر، كالتزويج لذي عاهة، فلا جبر، ويفسخ النكاح ولو طال الأمد.
وللمالك الجبر ولو كان المملوك عبدا مدبرا أو معتقا لأجل، ما لم يمرض مالك المدبر، أو يقرب أجل العتق كالثلاثة الأشهر فدون، فإن مرض أو قرب الأجل فلا جبر للمالك.
والأصح عند اللخمي وغيره عدم الجبر مطلقا للأنثى المدبرة أو المعتقة لأجل.
ولا جبر للسيد على المبعض والمكاتب، لأن المكاتب أحرز نفسه وماله، والمبعض تعلقت به الحرية.
وكره للسيد جبر أم ولده بعد أن يستبرئها على النكاح، فإن جبرها صح على الأصح، وقيل: لا جبر له عليها، فإن جبرها لم يمض.
وجبر الشركاء مملوكهم – ذكرا أو أنثى – إن اتفقوا على تزويجه، لا إن خالف بعضهم فليس للآخر جبر.
وقدم المالك على سائر الأولياء المجبرين لقوة تصرفه لأنه يزوج الأمة مع وجود أبيها وله جبر الثيب والبكر، والكبيرة والصغيرة، والذكر والأنثى، لأن الرقيق مال من أمواله، وله أن يصلح ماله بأي وجه (1) .
84 – وقال الشافعية: للأب ولاية الإجبار وهي تزويج ابنه الصغير العاقل وابنته البكر صغيرة أو كبيرة، عاقلة أو مجنونة بغير إذنها، لخبر: ” الثيب أحق بنفسها من وليها، والبكر يستأذنها أبوها في نفسها ” (1) ، وفي رواية: ” البكر يستأمرها أبوها ” (2) حملت على الندب، ولأنها لم تمارس الرجال بالوطء فهي شديدة الحياء.
ولتزويج الأب ابنته البكر بغير إذنها شروط:
الأول: أن لا يكون بينه وبينها عداوة ظاهرة، فإن كان فليس له تزويجها إلا بإذنها بخلاف غير الظاهرة لأن الولي يحتاط لموليته لخوف العار وغيره.
الثاني: أن يزوجها من كفء.
الثالث: أن يزوجها بمهر مثلها.
الرابع: أن يكون المهر من نقد البلد.
الخامس: أن لا يكون الزوج معسرا بالمهر.
السادس: أن لا يزوجها بمن تتضرر بمعاشرته كأعمى وشيخ هرم.
السابع: أن لا يكون قد وجب عليها الحج، فإن الزوج قد يمنعها لكون الحج على التراخي، ولها غرض في تعجيل براءة ذمتها.
وهذه الشروط منها ما هو معتبر لصحة النكاح بغير الإذن، ومنها ما هو معتبر لجواز الإقدام فقط.
فالمعتبر لصحة النكاح دون إذنها من هذه الشروط: أن لا يكون بينها وبين وليها عداوة ظاهرة، وأن يكون الزوج كفئا، وأن يكون موسرا بحال الصداق حتى لا يكون قد بخسها حقها، وما عدا ذلك من الشروط معتبر لجواز الإقدام على عقد النكاح دون إذنها.
وقال الشافعية: ويستحب استئذان البكر إذا كانت مكلفة لحديث: ” البكر يستأمرها أبوها “. وتطييبا لخاطرها، أما غير المكلفة فلا إذن لها، ويسن استفهام المراهقة، وأن لا يزوج الصغيرة حتى تبلغ.
والمستحب في الاستئذان أن يرسل إليها نسوة ثقات ينظرن ما في نفسها، والأم أولى بذلك لأنها تطلع على ما لا يطلع عليه غيرها.
والجد أبو الأب وإن علا كالأب عند عدمه أو عدم أهليته فيما ذكر لأن له ولاية وعصوبة كالأب، ويزيد الجد عليه في صورة واحدة وهي تولي طرفي العقد بخلاف الأب.
ووكيل الأب والجد كالأب والجد، لكن وكيل الجد يتولى طرفي العقد.
ولا أثر لزوال البكارة بلا وطء في القبل، كسقطة، وحدة طمث وطول تعنيس – وهو الكبر – أو بأصبع ونحوه في الأصح كما في منهاج الطالبين – أو الصحيح كما في روضة الطالبين – بل حكمها حكم الأبكار لأنها لم تمارس الرجال فهي على حالها وحيائها، والثاني أنها كالثيب لزوال العذرة، ولو خلقت بلا بكارة فهي بكر.
ويلزم المجبر – الأب أو الجد – تزويج مجنونة أطبق جنونها بالغة محتاجة ولو ثيبا لاكتسابها المهر والنفقة، وربما كان جنونها لشدة الشبق، فإن لم يكن للمجنونة أب أو جد لم تزوج المجنونة الصغيرة حتى تبلغ، وحينئذ يزوجها السلطان في الأصح المنصوص، بمراجعة أقاربها تطييبا لقلوبهم ولأنهم أعرف بمصلحتها، والثاني: يزوجها القريب بإذن السلطان لقيامه مقام إذنها.
وتزوج بواسطة السلطان للحاجة – إلى النكاح بظهور علامة شهوتها، أو توقع شفائها بقول عدلين من الأطباء، لأن تزوجها يقع إجبارا وغير الأب والجد لا يملك الإجبار، وإنما يصار إليه للحاجة النازلة منزلة الضرورة، ولا يزوجها لمصلحة كتوفر المؤن في الأصح، والثاني: نعم كالأب والجد، قال ابن الرفعة وهو الأصح، وإذا أفاقت المجنونة – هذه – بعد تزويجها لا خيار لها، لأن تزويجها كالحكم لها أو عليها.
ويزوج الأب والجد المجنونة لأنه لا يرجى لها حالة تستأذن فيها، ولهما ولاية الإجبار، إن ظهرت مصلحة في تزويجها، ولا تشترط الحاجة قطعا، لإفادتها المهر والنفقة، بخلاف المجنون، وسواء في جواز التزويج صغيرة وكبيرة، ثيب وبكر، جنت قبل البلوغ أو بعده.
ويلزم الولي المجبر – الأب أو الجد – تزويج مجنون بالغ أطبق جنونه وظهرت حاجته للنكاح بظهور رغبته فيه إما بدورانه حول النساء وتعلقه بهن، أو بتوقع شفائه بالوطء بقول عدلين من الأطباء لظهور المصلحة المترتبة على ذلك.
فإن تقطع جنون الرجل والمرأة – ولو ثيبا – البالغين لم يزوجا حتى يفيقا ويأذنا، ويكون العقد حال الإفاقة (1) .
والأظهر عند الشافعية أنه ليس للسيد إجبار عبده – غير المكاتب والمبعض ولو صغيرا وخالفه في الدين – على النكاح، لأنه لا يملك رفعه بالطلاق، ولأن النكاح يلزم ذمة العبد مالا فلا يجبر عليه كالكتابة.
والثاني: له إجباره كالأمة، وقيل: يجبر الصغير.
وللسيد إجبار أمته غير المبعضة والمكاتبة على النكاح، لأن النكاح يرد على منافع البضع وهي مملوكة له، وبهذا فارقت العبد، فيزوجها برقيق ودنيء النسب وإن كان أبوها قرشيا لأنها لا نسب لها، ولا يزوجها بمعيب كأجذم وأبرص ومجنون بغير رضاها – وإن كان يجوز بيعها منه وإن كرهت – ولو أجبرها السيد والحالة هذه على النكاح لم يصح.
وإذا طلب العبد البالغ أو الأمة من سيد كل منهما أن يزوجه لم يجبر السيد على ذلك، لأنه يشوش عليه مقاصد الملك وفوائده، ولما فيه من تنقيص القيمة وتفويت الاستمتاع بالأمة عليه، ومقابل الأظهر في العبد: يجبر السيد على إنكاح العبد أو على بيعه، لأن المنع من ذلك يوقعه في الفجور إن خشي العنت، وقيل في الأمة: إن حرمت الأمة على السيد تحريما مؤبدا بنسب أو رضاع أو مصاهرة أو كانت بالغة تائقة خائفة الزنا، لزم السيد تزويجها، إذ لا يتوقع منه قضاء شهوتها، ولا بد من إعفافها، أما إذا كان التحريم لعارض كأن ملك أختين فوطئ إحداهما ثم طلبت الأخرى تزويجها فإنه لا يلزمه إجابتها قطعا (1) . .
85 – وقال الحنابلة في ولاية الإجبار: للأب خاصة تزويج بنيه الصغار، وكذا المجانين ولو بالغين دون إذنهم، لأنه لا قول لهم فكان له ولاية تزويجهم كأولاده الصغار، وحيث زوج الأب ابنه لصغره أو جنونه فإنه يزوجه بغير أمة لئلا يسترق ولده، ولا معيبة عيبا يرد به النكاح كرتقاء وجذماء لما فيه من التنفير، ويزوج الأب ابنه الصغير والمجنون بمهر المثل وغيره ولو كرها، وليس لأي منهما خيار إذا بلغ وعقل.
وللأب تزويج بناته الأبكار ولو بعد البلوغ دون إذنهن لقول النبي صلى الله عليه وسلم: ” الأيم أحق بنفسها من وليها، والبكر تستأذن في نفسها وإذنها صماتها ” (1) فلما قسم النساء قسمين وأثبت الحق لأحدهما دل على نفيه عن القسم الآخر وهي البكر، فيكون وليها أحق منها بها، ودل الحديث على أن الاستئذان هنا والاستئمار في حديث آخر مستحب غير واجب.
وللأب أيضا تزويج ثيب لها دون تسع سنين بغير إذنها، لأنه لا إذن لها.
وليس للجد تزويج هؤلاء بدون إذنهم لعموم الأحاديث، ولأنه قاصر عن الأب فلم يملك الإجبار كالعم. ويسن استئذان بكر بالغة هي وأمها، أما هي فلما تقدم، وأما أمها فلحديث ابن عمر رضي الله عنهما مرفوعا: ” آمروا النساء في بناتهن ” (1) ، ويكون استئذان الولي لها بنفسه أو بنسوة ثقات ينظرن ما في نفسها لأنها قد تستحيي منه، وأمها بذلك أولى لأنها تطلع منها على ما تخفيه على غيرها.
وحيث أجبرت البكر أخذ بتعيين بنت تسع سنين فأكثر كفئا لا بتعيين المجبر من أب أو وصيه، لأن النكاح يراد للرغبة فلا تجبر على من لا ترغب فيه.
وقد صرح بعض علماء الحنابلة بأنه يشترط للإجبار شروط هي:
أن يزوجها من كفء بمهر المثل، وأن لا يكون الزوج معسرا، وأن لا يكون بينها وبين الأب عداوة ظاهرة، وأن يزوجها بنقد البلد، فإن امتنع المجبر من تزويج من عينته بنت تسع سنين فأكثر، فهو عاضل سقطت ولايته، ويفسق به إن تكرر (2) .
وقالوا: وأما المجنونة فلجميع الأولياء تزويجها إذا ظهر منها الميل للرجال، لأن لها حاجة إلى النكاح لدفع ضرر الشهوة عنها، وصيانتها عن الفجور، وتحصيل المهر والنفقة والعفاف وصيانة العرض، ولا سبيل إلى إذنها فأبيح تزويجها كالبنت مع أبيها، ويعرف ميلها إلى الرجال من كلامها وتتبعها الرجال وميلها إليهم ونحوه من قرائن الأحوال، وكذا إن قال ثقة من أهل الطب إن تعذر غيره وإلا فاثنان: إن علتها تزول بتزويجها، فلكل ولي تزويجها لأن ذلك من أعظم مصالحها كالمداواة، ولو لم يكن للمجنونة ذات الشهوة ونحوها ولي إلا الحاكم زوجها.
وإن احتاج الصغير العاقل أو المجنون المطبق البالغ إلى النكاح لوطء أو خدمة أو غيرهما زوجهما الحاكم بعد الأب والوصي، أي مع عدمهما، لأنه ينظر في مصالحهما إذن، ولا يملك تزويجهما بقية الأولياء وهم من عدا الأب ووصيه والحاكم لأنه لا نظر لغير هؤلاء في مالهما ومصالحهما المتعلقة به، وإن لم يحتاجا إلى النكاح فليس للحاكم تزويجهما، لأنه إضرار بهما بلا منفعة (1) .
وللسيد عند الحنابلة إجبار إمائه الأبكار والثيب على النكاح، لا فرق بين الكبيرة والصغيرة منهن، ولا بين القن والمدبرة وأم الولد، لأن منافعهن مملوكة له، والنكاح عقد على منفعتهن، ولذلك ملك الاستمتاع بها، وبهذا فارقت العبد، ولأنه ينتفع بذلك ما له من مهرها وولدها وتسقط عنه نفقتها وكسوتها، ولا فرق بين كونها مباحة أو محرمة عليه كأخته من رضاع.
ولا يجبر مكاتبته ولو صغيرة لأنها بمنزلة الخارجة عن ملكه، ولذلك لا يلزمه نفقتها، ولا يملك إجارتها ولا أخذ مهرها.
وللسيد إجبار عبده الصغير، وكذا المجنون ولو بالغا، لأن الإنسان إذا ملك تزويج ابنه الصغير والمجنون فعبده كذلك مع ملكه وتمام ولايته أولى.
ولا يملك السيد إجبار عبده الكبير العاقل على النكاح، لأنه مكلف يملك الطلاق فلا يجبر على النكاح كالحر، والأمر بإنكاحه مختص بحالة طلبه (1) .

2- Wali Musyarokah atau Wali Nadbu

النوع الثاني: ولاية المشاركة أو ولاية الندب والاستحباب:
86 – هذه الولاية تفيد أن نكاح المولى عليها إنما يكون بعد أخذ إذنها ندبا واستحبابا عند أبي حنيفة وأبي يوسف، أو ولاية مشتركة بين الولي والمولى عليها عند محمد من الحنفية، أي لا ينعقد نكاح الولي إلا بعد أخذ إذن المولى عليها كما نص المالكية والشافعية والحنابلة.
وللفقهاء في ذلك تفصيل:
87 – فيرى أبو حنيفة وأبو يوسف في رأيه الأول أنه لا إجبار على البكر البالغة العاقلة في النكاح، وكذلك الحر البالغ العاقل والمكاتب والمكاتبة ولو صغيرين، لقول النبي صلى الله عليه وسلم: ” الثيب أحق بنفسها من وليها، والبكر تستأمر، وإذنها سكوتها ” (1) ، وقالت عائشة: ” يا رسول الله، يستأمر النساء في أبضاعهن؟ قال: نعم، قلت: فإن البكر تستأمر فتستحي فتسكت. قال: سكاتها إذنها ” (2) .
ولأن ولاية الحتم والإيجاب في حالة الصغر إنما تثبت بطريق النيابة عن الصغيرة لعجزها عن التصرف على وجه النظر والمصلحة بنفسها، وبالبلوغ والعقل زال العجز وثبتت القدرة حقيقة، ولهذا صارت من أهل الخطاب في أحكام الشرع، إلا أنها مع قدرتها حقيقة عاجزة عن مباشرة النكاح عجز ندب واستحباب، لأنها تحتاج إلى الخروج إلى محافل الرجال، والمرأة مخدرة مستورة
والخروج إلى محفل الرجال من النساء عيب في العادة، فكان عجزها عجز ندب واستحباب لا حقيقة، فثبتت الولاية عليها على حسب العجز، وهي ولاية ندب واستحباب لا ولاية حتم وإيجاب إثباتا للحكم على قدر العلة.
وأما طريق محمد فهو أن الثابت بعد البلوغ ولاية الشركة لا ولاية الاستبداد، فلا بد من الرضا كما في الثيب البالغة (1) .
وإذا كان الرضا في نكاح البالغة العاقلة شرط الجواز فإنها إذا زوجت بغير إذنها توقف التزويج على رضاها، فإن رضيت جاز، وإن ردت بطل.
وفرق الحنفية – كسائر فقهاء المذاهب – بين ما يعرف به الرضا بالنكاح من الثيب، وما يعرف به من البكر البالغة العاقلة، فقالوا: إن كانت المرأة التي يراد تزويجها ثيبا فرضاها يعرف بالقول تارة وبالفعل أخرى، أما القول فهو التنصيص على الرضا وما يجرى مجراه، والأصل فيه قوله صلى الله عليه وسلم: ” الثيب تستأمر في نفسها ” (2) ، وقوله صلى الله عليه وسلم: ” الثيب تعرب عن نفسها ” (1) ، وأما الفعل نحو التمكين من نفسها، والمطالبة بالمهر والنفقة، ونحو ذلك، لأن هذا دليل الرضا، وهو يثبت بالنص مرة وبالدليل أخرى، والأصل فيه ما روي عن النبي صلى الله عليه وسلم أنه قال لبريرة رضي الله تعالى عنها: ” إن وطأك فلا خيار لك ” (2) .
وإن كانت المرأة بكرا فيعرف رضاها بهذين الطريقين، وبثالث وهو السكوت، وهذا استحسان، والقياس أن لا يكون سكوتها رضا.
وجه الاستحسان ما ورد عن عائشة رضي الله عنها ” أنها سألت رسول الله صلى الله عليه وسلم: يستأمر النساء في أبضاعهن؟ قال: نعم. فقالت عائشة رضي الله تعالى عنها: فإن البكر تستأمر فتستحي فتسكت، فقال صلى الله عليه وسلم: سكاتها إذنها ” وروي: ” سكوتها رضاها ” وروي: ” سكوتها إقرارها ” (3) ، وكل ذلك نص في الباب، ولأن البكر تستحي عن النطق بالإذن في النكاح، لما فيه من إظهار رغبتها في الرجال فتنسب إلى الوقاحة، فلو لم يجعل سكوتها إذنا ورضا بالنكاح دلالة، وشرط استنطاقها وهي لا تنطق عادة، لفاتت عليها مصالح النكاح مع حاجتها إلى ذلك، وهذا لا يجوز، وترجح جانب الرضا على جانب السخط في سكوت البكر لأنها لو لم تكن راضية لردت، لأنها إن كانت تستحي عن الإذن فلا تستحي عن الرد، فلما سكتت ولم ترد دل على أنها راضية، بخلاف ما إذا زوجها أجنبي أو ولي غيره أولى منه، لأن احتمال السخط – في حالة السكوت – ازداد، فقد يكون سكوتها عن جوابه مع أنها قادرة على الرد تحقيرا له وعدم مبالاة بكلامه، فبطل رجحان دليل الرضا، ولأنها إنما تستحي من الأولياء من الأجانب، والأبعد عند قيام الأقرب وحضوره أجنبي، فكانت في حق الأجانب كالثيب، فلا بد من فعل أو قول يدل على الرضا، ولأن المزوج إذا كان أجنبيا أو كان الولي الأبعد كان النكاح من طريق الوكالة لا من طريق الولاية لانعدامها، والوكالة لا تثبت إلا بالقول، وإذا كان وليا فالجواز بطريق الولاية فلا يفتقر إلى القول.
ووجه القياس الذي لا يعتبر سكوت المرأة رضا أن السكوت يحتمل الرضا ويحتمل السخط، فلا يصلح دليل الرضا مع الشك والاحتمال، ولهذا لم يجعل دليلا إذا كان المزوج أجنبيا أو وليا غيره أولى منه.
والسنة للولي أن يستأمر البكر قبل النكاح ويذكر لها الزوج، فيقول: إن فلانا يخطبك أو يذكرك، فإذا سكتت فقد رضيت، لما ورد عن عائشة وغيرها، فإذا زوجها من غير استئمار فقد أخطأ السنة، زاد في البحر عن المحيط: وتوقف على رضاها، وقد صح ” أنه صلى الله عليه وسلم لما أراد أن يزوج فاطمة من علي رضي الله تعالى عنهما دنا إلى خدرها فقال: إن عليا يذكرك فسكتت فزوجها ” (1) .
ولو استأذن الولي البكر البالغة العاقلة في النكاح فضحكت غير مستهزئة، أو تبسمت، أو بكت بلا صوت فهو إذن – في المختار للفتوى – لأنه حزن على مفارقة أهلها، وإنما يكون ذلك عند الإجازة، وعن أبي يوسف في البكاء أنه رضا لأنه لشدة الحياء، وعن محمد رد لأن وضعه لإظهار الكراهة، قال ابن الهمام بعدما سبق: والمعول عليه اعتبار قرائن الأحوال في البكاء والضحك، فإن تعارضت أو أشكل احتيط.
ولو استأذنها الولي فبكت بصوت لم يكن إذنا ولا ردا، حتى لو رضيت بعده انعقد كما قال الحصكفي نقلا عن المعراج وغيره.
والحكم كذلك لو استأذنها الولي بواسطة وكيله أو رسوله، أو زوجها وليها وأخبرها رسوله أو فضولي عدل.
ولو قال الولي للبكر: أريد أن أزوجك فلانا، فقالت: غيره أولى منه لم يكن إذنا، ولو زوجها ثم أخبرها فقالت: قد كان غيره أولى منه كان إجازة، لأن قولها في الأول إظهار عدم الرضا بالتزويج من فلان، وقولها في الثاني قبول أو سكوت عن الرد، وسكوت البكر عن الرد يكون رضا.
ولو قال الولي للبكر: أريد أن أزوجك من رجل ولم يسمه فسكتت لم يكن رضا كذا روي عن محمد، لأن الرضا بالشيء بدون العلم به لا يتحقق.
ولو قال: أزوجك فلانا أو فلانا حتى عد جماعة فسكتت، فمن أيهم زوجها جاز.
ولو سمى لها الجماعة مجملا بأن قال: أريد أن أزوجك من جيراني أو من بني عمي فسكتت، فإن كانوا يحصون فهو رضا، وإن كانوا لا يحصون لم يكن رضا، لأنهم إذا كانوا يحصون يعلمون فيتعلق الرضا بهم، وإذا لم يحصوا لم يعلموا فلا يتصور الرضا، لأن الرضا بغير المعلوم محال.
ولو سمى الولي لها الزوج ولم يسم المهر فسكتت فسكوتها رضا على ما صححه التمرتاشي والمرغيناني وشراح كتابيهما تنوير الأبصار والهداية وجمهور المتقدمين، لأن للنكاح صحة بدون ذكر المهر، وقيل يشترط تسمية قدر الصداق مع تسمية الزوج، لاختلاف الرغبة باختلاف الصداقة قلة وكثرة، وتمام الرضا لا يثبت إلا بذكر الزوج والمهر وهو ما نقله الحصكفي عن المتأخرين، ونقله الكاساني عن الفتاوي.
ولو استأذن المرأة غير الولي الأقرب، كأجنبي أو ولي بعيد، فلا عبرة لسكوتها بل لا بد من القول أو ما هو في معناه من فعل يدل على الرضا كطلب مهرها ونفقتها، وتمكينها من الوطء، ودخوله بها برضاها، وقبول التهنئة والضحك سرورا، ونحو ذلك، لأن السكوت إنما جعل رضا عند الحاجة أي عند استئمار الولي وعجزها عن المباشرة، فلا يقاس عليه عدم الحاجة وهو من لا يملك العقد ولا التفات إلى كلامه.
وقالوا: من زالت بكارتها بوثبة – أي نطة – من فوق إلى أسفل، أو طفرة وهي عكس النطة، أو درور حيض، أو حصول جراحة، أو تعنيس فهي بكر حقيقة، لأن البكر عندهم المرأة التي لم تجامع بنكاح ولا غيره، كما نقل ابن عابدين عن الظهيرية، فهي وإن زالت منها العذرة – أي الجلدة التي على المحل – فإن بكارتها لم تزل لأنها لم تجامع، فهي بكر حقيقة، وهي كذلك بكر حكما تزوج كما تزوج الأبكار، وتأخذ في الرضا وغيرها حكم الأبكار حتى تدخل – كما قال ابن مودود الموصلي – تحت الوصية لهم بالإجماع.
ومن زالت عذرتها بوطء يتعلق به ثبوت النسب، وهو الوطء بعقد جائز أو فاسد أو شبهة عقد تزوج كما تزوج الثيب، ولا يكفي في رضاها السكوت.
وإذا زالت عذرتها بالزنا فإنها تزوج كما تزوج الأبكار في قول أبي حنيفة، لأنه علة إقامة السكوت مقام النطق في البكر الحياء، وهو موجود في حق هذه وإن كانت ثيبا حقيقة، لأن زوال بكارتها لم يظهر للناس فيستقبحون منها الإذن بالنكاح صريحا ويعدونه من باب الوقاحة، ولا يزول ذلك ما لم يوجد النكاح أو يشتهر الزنا، ولو اشترط نطقها فإن لم تنطق تفوتها مصلحة النكاح، وإن نطقت والناس يعرفونها بكرا تتضرر باشتهار الزنا عنها، فوجب أن لا يشترط دفعا للضرر. وقال أبو يوسف ومحمد: تزوج كما تزوج الثيب لقوله صلى الله عليه وسلم: ” البكر تستأمر والثيب تشاور ” (1) وهذه ثيب حقيقة، لأن الثيب حقيقة من زالت عذرتها وهذه كذلك، فيجرى عليها أحكام الثيب، ومن أحكامها أنه لا يجوز نكاحها بغير إذنها نصا فلا يكتفى بسكوتها.
ولو كانت مشتهرة بالزنا، بأن أقيم عليها الحد، أو اعتادته وتكرر منها، أو قضى عليها بالعدة، تستنطق بالإجماع لزوال الحياء وعدم التضرر بالنطق.
ولو مات زوج البكر أو طلقها قبل الدخول تزوج كالأبكار، لبقاء البكارة والحياء (2) .
88 – ويرى المالكية أن الولي غير المجبر هو من عدا الذين سبق ذكرهم في ولاية الإجبار، وهم الأب والوصي والحاكم والمالك، وعليه لا تزوج بالغ إلا بإذنها، سواء كانت بكرا أو ثيبا، والإذن من كل منهما مختلف فإذن البكر غير المجبرة صمتها، أي إذا سئلت، هل ترضين بأن نزوجك من فلان على مهر قدره كذا على أن الذي يتولى العقد فلان؟ فلا تكلف النطق، وندب إعلامها بأن سكوتها إذن ورضا، فإن لم تعلم بذلك وادعت الجهل فلا تقبل دعواها وتم النكاح عند الأكثر.
ولا تزوج البكر إن منعت، بأن قالت: لا أتزوج أو لا أرضى أو ما في معناه، وكذا إن نفرت، لأن النفور دليل عدم الرضا، لا إن ضحكت أو بكت فتزوج، لأن بكاءها يحتمل أنه لفقد أبيها الذي يتولى عقدها.
والثيب – ولو سفيهة – تعرب عن الرضا أو المنع، ولا يكتفى منها بالصمت ويشارك الثيب في عدم الاكتفاء بالصمت ست أبكار:

الأولى: البكر التي رشدها أبوها بأن أطلق الحجر عنها في التصرف المالي وهي بالغ فلا بد من إذنها بالقول.

الثانية: البكر التي عضلت فرفعت أمرها إلى الحاكم فزوجها الحاكم لا بد من إذنها بالقول، فإن أمر الحاكم أباها بالعقد، فأجاب وزوجها لم يحتج لإذن، لأنه مجبر.

الثالثة: البكر المهملة التي لا أب لها ولا وصي وزوجت بعرض، وهي من قوم لا يزوجون بالعروض، أو يزوجون بعرض معلوم فزوجها وليها بغيره لا بد من نطقها بأن تقول: رضيت به، ولا تكفي الإشارة.

الرابعة: البكر ولو مجبرة التي زوجت برقيق – أي التي أراد وليها أن يزوجها لرقيق – لا بد من إذنها بالقول، لأن العبد ليس بكفء للحرة.

الخامسة: البكر التي زوجت لذي عيب – كجذام وبرص وجنون وخصاء – فلا بد من نطقها بأن تقول: رضيت به مثلا.

السادسة: غير المجبرة التي افتيت عليها، أي تعدى عليها وليها غير المجبر فعقد عليها بغير إذنها ثم أنهى إليها الخبر فرضيت، فيصح النكاح، ولا بد من رضاها بالقول.
وقال المالكية: يصح عقد المفتات عليها إذا رضيت بعقد وليها عليها افتياتا بشروط ستة:

الأول: أن يقرب رضاها، بأن يكون العقد بالسوق أو بالمسجد مثلا ويسار إليها بالخبر من وقته.

الثاني: أن يكون الرضا بالقول، فلا يكفي الصمت.

الثالث: أن لا يقع منها رد للنكاح قبل الرضا به.

الرابع: أن تكون من افتيت عليها بالبلد حال الافتيات والرضا، فإن كانت بآخر لم يصح ولو قرب البلدان وأنهى إليها الخبر من وقته. الخامس: أن لا يقر الولي بالافتيات حال العقد، بأن سكت أو ادعى أنه مأذون، فإن أقر به لم يصح.

السادس: أن لا يكون الافتيات على الزوجة والزوج معا، فإن كان عليهما معا لم يصح ولا بد من فسخه.
والافتيات على الزوج كالافتيات على الزوجة في جميع ما مر، أي فيصح العقد إن رضي به نطقا، مع الشروط السابقة (1) .
89 – وقال الشافعية: ليس للولي المجبر تزويج ثيب بالغة وإن عادت بكارتها إلا بإذنها، لخبر: ” لا تنكحوا الأيامى حتى تستأمروهن ” (2) ، ولأنها عرفت مقصود النكاح فلا تجبر بخلاف البكر، فإن كانت تلك الثيب صغيرة غير مجنونة وغير أمة لم تزوج، سواء احتملت الوطء أم لا، حتى تبلغ، لأن إذن الصغيرة ليس معتبرا فامتنع تزويجها إلى البلوغ، أما المجنونة فيزوجها الأب والجد عند عدمه قبل بلوغها للمصلحة، وأما الأمة فلسيدها أن يزوجها.
وقالوا: وسواء في حصول الثيوبة واعتبار إذنها زوال البكارة بوطء في قبلها حلال كالنكاح أو حرام كالزنا أو بوطء لا يوصف بهما كشبهة، ولا فرق في ذلك بين أن يكون في نوم أو يقظة، والوطء في الدبر لا أثر له على الصحيح، لأنها لم تمارس الرجال بالوطء في محل البكارة.
ولا أثر لزوال البكارة بلا وطء في القبل، كسقطة وحدة طمث وطول تعنيس – وهو الكبر – أو بأصبع ونحوه في الأصح كما في منهاج الطالبين، أو الصحيح كما في روضة الطالبين بل حكمها حكم الأبكار لأنها لم تمارس الرجال فهي على حالها وحيائها، والثاني أنها كالثيب لزوال العذرة، ولو خلقت بلا بكارة فهي بكر (1) .
90 – وقال الحنابلة: لا يجوز لغير الأب من الأولياء تزويج حرة كبيرة بالغة – ثيبا كانت أو بكرا – إلا بإذنها، لحديث: ” لا تنكح الأيم حتى تستأمر، ولا تنكح البكر حتى تستأذن قالوا: يا رسول الله وكيف إذنها؟ قال: أن تسكت ” (1) إلا المجنونة فلسائر الأولياء تزويجها إذا ظهر منها الميل للرجال، لأن لها حاجة إلى النكاح لدفع ضرر الشهوة عنها، وصيانتها عن الفجور، وتحصيل المهر والنفقة العفاف وصيانة العرض، ولا سبيل إلى إذنها فأبيح تزويجها، كالبنت مع أبيها، ويعرف ميلها إلى الرجال من كلامها وتتبعها الرجال وميلها إليهم ونحوه من قرائن الأحوال، وكذا إن قال ثقة من أهل الطب إن تعذر غيره وإلا فاثنان: إن علتها تزول بتزويجها، فلكل ولي تزويجها لأن ذلك من أعظم مصالحها كالمداواة، ولو لم يكن للمجنونة ذات الشهوة ونحوها ولي إلا الحاكم زوجها.
وليس لمن عدا الأب ووصيه الذي نص عليه تزويج صغيرة لها دون تسع سنين بحال، ولهم تزويج بنت تسع سنين فأكثر بإذنها، ولها إذن صحيح معتبر نصا، لما روي عن عائشة رضي الله تعالى عنها أنها قالت: ” إذا بلغت الجارية تسع سنين فهي امرأة ” (2) ، وروي مرفوعا عن ابن عمر رضي الله تعالى عنهما (1) ، ومعناه: في حكم المرأة، ولأنها تصلح بذلك للنكاح وتحتاج إليه، أشبهت البالغة.
وإذن الثيب الكلام لقوله صلى الله عليه وسلم: ” الثيب تعرب عن نفسها ” (2) ، وهي من وطئت في القبل بآلة الرجال ولو بزنا، وحيث حكمنا بالثيوبة وعادت البكارة لم يزل حكم الثيوبة، لأن الحكمة التي اقتضت التفرقة بينها وبين البكر مباضعة الرجال وهذا موجود مع عود البكارة.
وإذن البكر الصمات ولو زوجها غير الأب لما سبق، وإن ضحكت أو بكت فذلك كسكوتها، لما ورد عن أبي هريرة رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: ” تستأمر اليتيمة فإن سكتت فهو إذنها، وإن أبت فلا جواز عليها ” وفي رواية: ” فإن بكت أو سكتت ” (3) ولأنها غير ناطقة بالامتناع مع سماعها للاستئذان فكان ذلك إذنا منها، ونطق البكر أبلغ من سكوتها وضحكها وبكائها لأنه الأصل في الإذن وإنما اكتفي منها بالصمات للاستحياء، فإن أذنت نطقا فقد تم الإذن، وإن لم تأذن نطقا استحب أن لا يجبرها على النطق، واكتفي بسكوتها إن لم تصرح بالمنع.
وزوال البكارة بأصبع أو وثبة أو شدة حيضة ونحوه كسقوط من شاهق لا يغير صفة الإذن، فلها حكم البكر في الإذن، لأنها لم تخبر المقصود ولا وجد وطؤها في القبل فأشبهت من لم تزل عذرتها، وكذا وطء في الدبر ومباشرة دون الفرج لأنها غير موطوءة في القبل.
ويعتبر في الاستئذان تسمية الزوج على وجه تقع معرفة المرأة به، بأن يذكر لها نسبه ومنصبه ونحوه لتكون على بصيرة من إذنها في تزويجه لها، ولا يشترط في الاستئذان تسمية المهر لأنه ليس ركنا في النكاح ولا مقصودا منه، قال البهوتي: ولا يشترط أيضا اقترانه بالعقد، ولا يشترط الإشهاد على إذنها لوليها أن يزوجها ولو غير مجبرة، والاحتياط الإشهاد (1) .

والله أعلم بالصواب

Kategori
Uncategorized

HUKUMNYA MAKAN MAKANAN PEMBERIAN ORANG YANG SUKA MAIN JUDI

Assalamu Alaikum warahmatullahi wabarakaatuh

Diskripsi masalah

Begini kiyai. Aku duduk serumah bersama si Fulan, dan saya tahu terhadap kelakuan atau aktifitasnya /profesinya si Fulan ia adalah orang yang suka main judi suka belli nomer /togel dan lain sebagainya dan saya tahu yang di makan setiap harinya si Fulan itu adalah hasil dari main judi .

Pertanyaannya.

Bagaimana hukumnya kalau aku makan pemberian orang tersebut.?

Waalaikum salam.
Jawaban.

Ketahuilah bahwa yang halal itu adalah jelas dan yang harampun juga jelas dan sesuatu yang berada diantara yang halal dan haram itu adalah subhat maka jika seseorang jatuh pada perkara yang subhat maka berarti jatuh kepada perkara yang haram . Artinya jika seseorang sudah mengetahui terhadap perbuatan seseorang atau kasabnya yang diperoleh dari judi ataupun mencuri dan dilihat oleh mata kepalanya sendiri maka itulah yang disebut dengan haram yang sudah jelas, maka haram memakannya, berbeda dengan hal yang belum diketahui secara jelas walaupun sifulan dia suka mencuri atau judi maka dalam hal ini boleh memakannya namun makruh , oleh karenanya , jika seseorang itu ingin menjaga kesucian agamanya agar ia tidak jatuh kepada barang yang subhat lebih baik tidak memakannya itu semua agar tidak jatuh kepada yang haram. hal ini berdasarkan dengan sebuah hadits sebagai berikut:

Segala Hal yang Haram dan yang Halal telah Jelas

عَنْ أَبِيْ عَبْدِ اللهِ النُّعْمَانِ بْنِ بِشِيْر رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ  صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ: (إِنَّ الحَلاَلَ بَيِّنٌ وَإِنَّ الحَرَامَ بَيِّنٌ وَبَيْنَهُمَا أُمُوْرٌ مُشْتَبِهَاتٌ لاَ يَعْلَمُهُنَّ كَثِيْرٌ مِنَ النَّاس، فَمَنِ اتَّقَى الشُّبُهَاتِ فَقَدِ اسْتَبْرأَ لِدِيْنِهِ وعِرْضِهِ، وَمَنْ وَقَعَ فِي الشُّبُهَاتِ وَقَعَ فِيْ الحَرَامِ كَالرَّاعِي يَرْعَى حَوْلَ الحِمَى يُوشِكُ أَنْ يَقَعَ فِيْهِ. أَلاَ وَإِنَّ لِكُلِّ مَلِكٍ حِمَىً. أَلا وَإِنَّ حِمَى اللهِ مَحَارِمُهُ، أَلاَ وإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الجَسَدُ كُلُّهُ وإذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ أَلاَ وَهيَ اْلقَلْبُ) رَوَاهُ اْلبُخَارِيُّ وَمُسْلِمٌ

Dari Abu ‘Abdillah Nu’man bin Basyir radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ”Sesungguhnya perkara yang halal itu telah jelas dan perkara yang haram itu telah jelas. Dan di antara keduanya terdapat perkara-perkara yang (samar), tidak diketahui oleh mayoritas manusia. Barang siapa yang menjaga diri dari perkara-perkara samar tersebut, maka dia telah menjaga kesucian agama dan kehormatannya. Barang siapa terjatuh ke dalam perkara syubhat, maka dia telah terjatuh kepada perkara haram, seperti  seorang penggembala yang menggembalakan ternaknya di sekitar daerah larangan (hima), dikhawatirkan dia akan masuk ke dalamnya. Ketahuilah, bahwa setiap raja itu mempunyai hima, ketahuilah bahwa hima Allah subhanahu wa ta’ala adalah segala yang Allah subhanahu wa ta’ala haramkan. Ketahuilah bahwa dalam tubuh manusia terdapat sepotong daging. Apabila daging tersebut baik maka baik pula seluruh tubuhnya dan apabila daging tersebut rusak maka rusak pula seluruh tubuhnya. Ketahuilah segumpal daging tersebut adalah kalbu (hati). [HR. Al-Bukhari dan Muslim][1]
[1] Diriwayatkan oleh Imam al Bukhari no. 52, 2051 dan Muslim no. 1599

Begitupun hadis yang menyatakan tidak diterimanya Shodaqoh dari hasil Ghulul (korupsi):


عَنْ مُصْعَبِ بْنِ سَعْدٍ قَالَ دَخَلَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عُمَرَ عَلَى ابْنِ عَامِرٍ يَعُودُهُ وَهُوَ مَرِيضٌ فَقَالَ أَلَا تَدْعُو اللَّهَ لِي يَا ابْنَ عُمَرَ قَالَ إِنِّي سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ لَا تُقْبَلُ صَلَاة بِغَيْرِ طُهُورٍ وَلَا صَدَقَةٌ مِنْ غُلُولٍ

“Dari Mush’ab bin Sa’d beliau berkata; Abdullah bin Umar menjenguk ibnu ‘Amir yang sedang sakit. Maka Ibnu ‘Amir berkata; Tidakkah engkau mau mendoakan untukku wahai Ibnu Umar? Ibnu Umar menjawab; Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda; Shalat tidak diterima tanpa bersuci dan Shodaqoh juga tidak diterima dari hasil kecurangan” (H.R. Muslim)[9]

Hadits di atas merupakan dalil yang memuat atau mencakup beberapa materi fiqih yang kemudian di formulasikan kepada suatu kaidah,yang diantaranya adalah;

Menggunakan Harta yang Bercampur antara Halal dan Haram

كتاب الأشباه والنظائر -السيوطي

[الْقَاعِدَةُ الثَّانِيَةُ: إذَا اجْتَمَعَ الْحَلَالُ وَالْحَرَامُ غَلَبَ الْحَرَامُ]


Pendapat pertama, apabila yang haram lebih banyak dari yang halal, maka status uang harta pemilik toko/warung hukumnya haram. Alasan lain adalah karena orang yang jualan di tempat haram itu sama dengan membantu secara tidak langsung terhadap orang-orang yang berbuat dosa.Hal ini juga dijelaskan dalam sebuah Hadits

من أعان على معصية ولو بشطر كلمة كان شريكا له فيها

Artinya :” Barangsiapa membantu pada perbuatan maksiat walaupun adanya separuh kata maka ia termasuk bekerja sama baginya dalam perbuatan maksiat


Pendapat kedua, hukumnya halal walaupun yang halal lebih sedikit daripada yang haram. Ini disebut harta syubhat. Dan harta syubhat statusnya makruh (tidak sampai haram). Ini adalah pendapat yang dianggap lebih unggul dibanding yang pertama. Berdasarkan pada hadits sahih riwayat Bukhari Muslim:

فمن اتقى الشبهات فقد استبرأ لدينه وعرضه، ومن وقع في الشبهات وقع في الحرام، ‏كالراعي يرعى حول الحمى يوشك أن يقع فيه

Artinya: Barangsiapa yang takut syubhat maka dia telah membebaskan diri dari agama dan harga dirinya. Barang siapa yang terjatuh pada perkara syubhat, maka ia jatuh pada perkara haram. Sebagaimana penggembala yang menggebmlala di sekitar pagar, maka dia hampir mengenai pagar itu.

Ini berdasarkan pendapat Ibnu Mas’ud

عن ذر بن عبد الله عن ابن مسعود قال : جاء إليه رجل فقال : إن لي جارا يأكل الربا ، وإنه لا يزال يدعوني ، فقال : مهنأه لك ، وإثمه عليه

Dari Dzar bin Abdullah, dia berkata, “Ada seseorang yang menemui Ibnu Mas’ud lalu orang tersebut mengatakan, ‘Sesungguhnya, aku memiliki tetangga yang membungakan utang, namun dia sering mengundangku untuk makan di rumahnya.’ Ibnu Mas’ud mengatakan, ‘Untukmu enaknya ( makanannya ) sedangkan dosa adalah tanggungannya.’” ( Diriwayatkan oleh Abdurrazzaq ) [11]

عن سلمان الفارسي قال: إذا كان لك صديق عامل، أو جار عامل أو ذو قرابة عامل، فأهدى لك هدية، أو دعاك إلى طعام، فاقبله، فإن مهنأه لك، وإثمه عليه.

Dari Salman Al-Farisi, beliau mengatakan, “Jika kamu memiliki kawan, tetangga, atau kerabat yang profesinya haram, lalu dia memberi hadiah kepadamu atau mengajak kamu makan di rumahnya, terimalah! Sesungguhnya, rasa enaknya adalah hak kamu, sedangkan dosanya adalah tanggung jawabnya.” (Diriwayatkan oleh Abdurrazzaq)

Dalam hadits di atas seorang muslim dan muslimah dianjurkna untuk menghindari situasi syubhat. Namun, tidak ada larangan di situ. Oleh karena itu, Ulama hanya menyimpulkan bahwa harta syubhat adalah makruh.

Pendapat Madzhab Syafi’i Tentang Harta Campuran Halal Dan Haram

Madzhab Syafi’iyah berpendapat bahwa uang atau harta yang bercampur antara halal dan haram hukum penggunaannya adalah makruh. Imam Suyuthi berkata dalam kitab Al-Ashbah wan-Nadzair

ومنها: معاملة من أكثر ماله حرام، إذا لم يعرف عينه لا يحرم في الأصح لكن يكره، وكذا الأخذ من عطايا السلطان، إذا غلب الحرام في يده، كما قال في شرح المهذب: إن المشهور فيه الكراهة لا التحريم، خلافاً للغزالي

Artinya: Transaksi seseorang yang kebanyakan hartanya haram, apabila tidak diketahui harta apa yang haram, maka tidak haram menurut pendapat yang paling sahih akan tetapi hukumnya makruh. Begitu juga hukum menerima hadiah dari raja apabila mayoritas harta raja itu haram seperti pendapat Nawawi dalam Al-Majmuk Syarah Muhadzab bahwa yang masyhur dalam masalah ini adalah makruh, bukan haram. Ini berbedda dengan pendapat Al-Ghazali (menurutnya hukumnya haram).

Pendapat Imam Malik Dan Hanafi Tentang Harta Syubhat (Campur Halal Haram)

Madzhab Malik sependapat dengan madzah Syafi’i bahwa harta yang bercampur antara halal dan haram adalah makruh. Menurut salah satu pendapat dari madzhab Maliki hukumnya haram memakan harta syubhat dan menerima hadiah dari harta syubhat.

Sedang Muhammad bin Mustafa Al Khadimi dari madzhab Hanafi dalam kitab Bariqah Mahmudiyah menyatakan bahwa menurut pendapat terpilih di kalangan ulama Hanafi adalah apabila mayoritas harta itu haram, maka status harta dan penggunaannya adalah haram. Dan apabila mayoritas dari harta itu halal, maka hukumnya makruh. Lihat teksnya di bawah:

أن المختار عندهم أنه إن كان الغالب حراماً فحرام، وإن كان الغالب حلالا فموضع توقفنا.

Pendapat Madzhab Hanbali Tentang Harta Campuran Halal Dan Haram (Syubhat)

Ada 4 (empat) pendapat dalam Madzhab Ahmad bin Hanbal (Hanbali) terkait dengan masalah harta syubhat sebagai berikut:

Pertama, apabila diketahui bahwa dalam harta itu terdapat harta halal dan haram, maka hukumnya haram.

Kedua, apabila perkara yang haram itu melebihi 1/3 (sepertiga), maka haram semuanya. Kalau kurang sepertiga maka halal.

Ketiga, apabila yang haram lebih banyak, maka hukumnya haram. Apabila harta yang halal lebih banyak, maka hartanya halal. karena yang sedikit ikut pada yang banyak Seperti dinyatakan Ibnul Jauzi dalam kitab Al-Minhaj.

Keempat, tidak haram secara mutlak. Baik harta yang haram itu sedikit atau banyak tapi makruh. Kemakruhannya meningkat atau menurun berdasarkan kadar banyak atau sedikitnya harta yang haram. Ini pendapat Ibnu Qudamah dalam kitab Al-Mughni.[12]

Kesimpulan
Jika sudah jelas kasabnya diperoleh dari barang yang haram dan diketahui oleh seseorang melalui mata kepala sendiri maka haram pula memakannya. Sebagaimana ungkapan dalam kaidah ushul fiqh.

نحن نحكم بالظواهر والله يتولى السرائر

Artinya : “Kami menghukumi dengan sesuatu yang dhahir (lahiriah), dan Allah yang menangani seluruh yang tersembunyi (samar)
Dan barang siapa yang memakan barang yang syubhat maka agamanya ikut syubhat dan menjadi perantara petangnya hatinya , dan barang siapa yang memakan barang haram maka hatinya menjadi mati dan enteng terhadap agamanya dan menjadi penyebab lemahnya keyakinannya dan terhalang doanya, serta sedikit ibadahnya, bahkan jika Allah murka terhadap seseorang maka Allah berikan rizki kepadanya dengan rizki yang haram , bahkan jika seseorang berjalan dengan tujuan mencari barang yang haram maka syaitan akan menjadi temannya. Akan tetapi jika tidak diketahui dengan mata kepala sendiri walau dia tukang judi main togel atau lainnya maka hukumnya makaruh namun sebagian ulama mengatakan haram jika aktifitas kasabnya sudah biasa barang yang haram. Dan sebaliknya jika seseorang memakan barang yang halal maka bersihlah/jernih agamanya dan hatinya lembut serta tidak ada penghalang do’anya untuk tidak diterima.

Imam Nawawi didalam kitab Al Majmu’ berkata: Dimakruhkan mengambil uang(makanan)dari orang, yang mana ditangan orang itu ada barang yang halal dan barang yang haram, seperti menerima uang(makanan)dari raja yang dholim.Dan kemakruhannya itu berbeda-beda disebabkan karena banyaknya  syubhat atau  sedikitnya syubhat.
(Syubhat adalah uang/barang yang tidak jelas halal dan haramnya).

Referensi:

(فائدة)

قال فى المجمعوع : يكره الأخذ ممن بيده حلال وحرام كالسلطان الجائر .وتختلف الكراهة بقلة الشبهة وكثرتها، ولا يحرم الا إن تيقن ان هذا من الحرام . وقول الغزالى : يحرم الأخذ ممن اكثر ماله حرام وكذا معاملته : شاذ.. اعانة الطالبين المجلد الثانى ،صفحة 355

Referensi


وصية المصطفى.ص١

من أكل الحلال صفا دينه ورق قلبه ولم يكن لدعوته حجاب
ياعلي من أكل الشبهات إشتبه عليه دينه وأظلم قلبه وخف دينه وضعف يقينه وحجب دعوته وقلت عبادته .ياعلي: إذا غضب الله على أحد رزقه مالا حراما فإذا اشتد غضبه عليه وكل به الشيطان يبارك له فيه ويصحبه ويشغله بالدنيا عن الدين ويسهله أمور دنياه ويقول الله غفور رحيم ياعلي: من سافر أحد طالبا الحرام ماشيا إلا كان الشيطان قرينه ولاراكبا إلا كان ديفه ولاجمع أحد مالاحراما إلا أكله الشيطان… الخ. والله أعلم بالصواب

Kategori
Uncategorized

HUKUMNYA MENJEMPUT JAMAAH HAJI/UMROH DENGAN IRING IRINGAN MOBIL/SEPEDA MOTOR

HUKUMNYA MENYAMBUT JAMAAH HAJI DENGAN IRING-IRINGAN KONVOI MOBIL DAN SEPEDA MOTOR

Pertanyaan:
Bagaimana hukumnya menjemput kedatangan orang yang haji datang dari mekkah yang kedatangannya jamaah haji(jemaah umroh)itu disambut dan ditunggu dan diiringi dengan iring-iringan konvoi sepeda motor dan mobil, yang mana iring-iringan sepeda motor dan mobil itu bersuara ramai dan gaduh sehingga mengganggu.

Jawaban:

Hukumnya menjemput jamaah haji adalah sunnah karena hal yang sedemikian telah pernah dilakukan oleh Hasan dan husen ketika Rasulullah datang dari safar. Bejitu juga boleh menyambut kedatangan jamah haji disambut dengan hadiah lagu- lagu sholawah memukul rebana , Sebagaimana dijelaskan dari hadis kitab Shahih Muslim Juz 4 Halaman 185, diriwayatkan Abdullah bin Ja’far.


كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا قَدِمَ مِنْ سَفَرٍ تُلُقِّيَ بِنَا .فَتُلُقِّيَ بِي وَبِالْحَسَنِ أَوْ بِالْحُسَيْنِ . قَالَ : فَحَمَلَ أَحَدَنَا بَيْنَ يَدَيْهِ وَالْآخَرَ خَلْفَهُ حَتَّى دَخَلْنَا الْمَدِينَةَ


“Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila pulang dari safar, kami menyambutnya. Beliau menghampiriku, Hasan, dan Husain, lalu beliau menggendong salah satu diantara kami di depan, dan yang lain mengikuti di belakang beliau, hingga kami masuk kota Madinah.” (HR. Muslim 6422
Adapun Kedatangannya jemaah haji(jemaah umroh) yang disambut dan ditunggu dan diiringi dengan iring-iringan sepeda motor dan mobil,selama tidak ada dalil yang mengharamkan maka hukumnya boleh,  tapi dengan syarat jika iring-iringan sepeda motor dan mobil itu tidak mengganggu.
Tapi jika iring-iringan sepeda motor dan mobil itu mengganggu maka hukumnya adalah tidak boleh.Dan jika gangguan dari iring-iringan sepeda motor dan mobil itu sudah sangat maka hukumnya adalah haram.

Referensi:

(المجالس السنية على شرح الحديث الاءربعين النووية)

المجلس الثانى والثلاثون في الحديث الثاني والثلاثين )

عن ابي سعيد سعد بن مالك بن سنان الخزرجى رضى الله عنه أن رسول الله ما قال الاضر ولا ضرار حدیث حسن رواه ابن ماجه والدار قطنی و غیر هما مسندا ورواه مالك في الموطأ عن عمرو بن يحيى عن أبيه عن النبي الا مرسلا فأسقط أبا سعيد وله طرق يقوى بعضها بعضا ) اعلموا اخواني وفقني الله واياكم لطاعته أن هذا الحديث حديث عظيم ( فقوله لا ضرر ولا ضرار ) بكسر أوله من ضره وضار ره بمعنى ، و هو خلاف النفع ، كذا قاله الجوهري ، فالجمع بينهما للتأكيد ، والمشهور أن بينهما فرقا ، قيل الأول الحاق مفسدة بالغير مطلقا ، والثاني الحاق مفسدة بالغير على وجه المقابلة أى كل منهما يقصد ضر ر صاحبه من غير جهة الاعتداء بالمثل والانتصار بالحق ، وقال ابن حبيب الضرر عند أهل العربية الاسم والضرار الفعل ، فمعنى الأول لاتدخل على أخيك ضررا لم يدخله على نفسه ، ومعنى الثاني لا يضار أحد بأحد ، وقيل الضرر أن يدخل على غيره ضر را بما ينتفع هو به ، والضرار أن يدخل على غيره ضر را بمالا منفعة له به كمن منع مالا يضره ويتضرر به الممنوع ، ورجح هذا طاءفة منهم ابن عبد البر وابن الصلاح ، وقيل الأول مالك فيه منفعة وعلى جارك فيه مضرة ، والثاني مالا منفعة فيه لك وعلى جارك فيه مضرة ، وهو مجرد تحكم بلادليل وان قال غير واحد ان هذا وجه حسن ، المعنى في الحديث وفي رواية ولا اضرار من أضر به اضرارا اذا ألحق به ضر را ، قال ابن الصلاح هي على ألسنة كثير من الفقهاء والمحدثين ولاصحة لها ، ولذا أنكرها آخرون ، وخبر لا محذوف أى فى ديننا أو في شريعتنا ، و ظاهر الحديث تحريم سائر أنواع الضرر الالدليل ، لأن النكرة في سياق النفي ، نعم و في الحديث بعثت بالحنيفية السمحة السهلة ، وقد صح حرم الله من المؤءمن دمه وماله وعرضه وأن لا يظن به الا خيرا ، وصح ايضا ان دماءكم واموالكم واعراضكم حرام عليكم

Majelis Kedua Puluh Dua

Dalam Hadis Ke-32

Dari Abu Sa’id Sa’d bin Malik bin Sinan al-Khazraji radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Tidak boleh membahayakan diri sendiri dan tidak boleh membahayakan orang lain.”

Hadis hasan diriwayatkan oleh Ibnu Majah, ad-Daraquthni, dan selain keduanya dengan sanad yang bersambung. Malik juga meriwayatkannya dalam al-Muwaththa’ dari ‘Amr bin Yahya dari ayahnya dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam secara mursal (terputus sanadnya) tanpa menyebutkan Abu Sa’id. Namun, hadis ini memiliki jalur periwayatan lain yang saling menguatkan.

Penjelasan Hadis

Ketahuilah, saudara-saudaraku—semoga Allah memberikan taufik kepada kita semua untuk menaati-Nya—bahwa hadis ini adalah hadis yang agung.

Sabda Nabi “لا ضرر ولا ضرار” (tidak boleh membahayakan diri sendiri dan tidak boleh membahayakan orang lain):

Kata “ضرر” (dharar) dan “ضرار” (dhirar) berasal dari kata kerja yang sama, yang berarti “bahaya” atau “kerugian.” Hal ini bertentangan dengan manfaat, sebagaimana dijelaskan oleh al-Jauhari.

Pengulangan kedua kata tersebut bertujuan untuk penguatan makna.


Namun, pendapat yang lebih terkenal menyatakan bahwa terdapat perbedaan antara keduanya:

1. Dharar: Mendatangkan bahaya kepada orang lain secara umum.


2. Dhirar: Mendatangkan bahaya kepada orang lain sebagai bentuk pembalasan, tanpa alasan yang sah atau hak yang benar.

 

Ibnu Habib menjelaskan:

Menurut ahli bahasa, dharar adalah kerugian yang sifatnya substantif (nama benda), sedangkan dhirar adalah kerugian yang sifatnya perbuatan (kata kerja).

Makna dharar: Janganlah kamu mendatangkan kerugian kepada saudaramu yang tidak ia sebabkan pada dirinya sendiri.

Makna dhirar: Janganlah ada satu pihak yang membalas kerugian kepada pihak lain.


Pendapat lain menyatakan:

Dharar: Mendatangkan bahaya kepada orang lain dengan sesuatu yang bermanfaat bagi diri sendiri.

Dhirar: Mendatangkan bahaya kepada orang lain tanpa adanya manfaat bagi diri sendiri, seperti menahan sesuatu yang tidak merugikan diri sendiri tetapi merugikan orang lain.


Pendapat ini dikuatkan oleh sebagian ulama seperti Ibnu Abdil Barr dan Ibnu Shalah. Namun, ada yang menilai ini hanya dugaan tanpa dalil, meskipun sebagian lain menyebutnya sebagai penafsiran yang baik.

Makna Hadis

Ungkapan dalam hadis ini menunjukkan larangan terhadap segala jenis kerugian tanpa alasan yang dibenarkan syariat, karena bentuk larangan dalam hadis ini bersifat umum.

Dalam hadis lain disebutkan:
“Aku diutus dengan agama yang lurus, toleran, dan mudah.”

Hadis lain juga menjelaskan:
“Allah mengharamkan darah, harta, dan kehormatan seorang mukmin serta melarang berprasangka buruk kepadanya kecuali dengan kebaikan.”

Hadis lain yang shahih menyatakan:
“Darah, harta, dan kehormatan kalian adalah haram (dilanggar) oleh sesama kalian.”

Kesimpulan

Hadis ini menjadi dasar hukum Islam dalam melarang segala bentuk kerugian atau bahaya, baik terhadap diri sendiri maupun terhadap orang lain. Adanya larangan ini mengajarkan pentingnya keadilan, toleransi, dan penghormatan terhadap hak sesama manusia.

 

Referensi 

القاعدة التي تشير إليها تعود إلى أصل من أصول الفقه، وهو:

“الأصل في الأشياء الإباحة حتى يدل الدليل على التحريم”.
(الأصل في كل شيء الإباحة حتى يثبت دليل يدل على التحريم).

الشرح:

١. أساس القاعدة

تستند هذه القاعدة إلى أدلة من القرآن الكريم، مثل قول الله تعالى:

 “هو الذي خلق لكم ما في الأرض جميعاً”.

(سورة البقرة: ٢٩)

هذه الآية تدل على أن كل ما في الأرض يجوز الانتفاع به في الأصل، إلا إذا ورد دليل خاص يدل على التحريم.

٢. تطبيق القاعدة

تُطبق هذه القاعدة في الأمور الدنيوية، مثل الطعام والشراب واللباس والمعاملات. على سبيل المثال:

كل أنواع الطعام حلال في الأصل، إلا ما حُرِّم كَلحم الخنزير أو الخمر.

كل أنواع المعاملات جائزة، إلا إذا تضمنت الربا أو الغرر أو أي عنصر محرَّم آخر.

٣. الاستثناء

في مجال العبادات، تسري قاعدة عكسية، وهي:
“الأصل في العبادة التحريم حتى يدل الدليل على المشروعيتها”.
(الأصل في العبادات التحريم حتى يثبت دليل يدل على مشروعيتها).
بمعنى أن العبادات لا تجوز إلا إذا ورد بها أمر أو دليل من الشريعة.

من خلال فهم هذه القاعدة، يمكننا التفريق بين ما يحتاج إلى دليل للإباحة وما يحتاج إلى دليل للتحريم.

Referensi 

الموسوعة الفقهية – 2179/31949

وأما القياس: فإن الغناء الذي لا يصاحبه محرم، فيه سماع صوت طيب موزون، وسماع الصوت الطيب من حيث إنه طيب لا ينبغي أن يحرم، لأنه يرجع إلى تلذذ حاسة السمع بإدراك ما هو مخصوص به، كتلذذ الحواس الأخرى بما خلقت له.
20 – وأما الوزن فإنه لا يحرم الصوت، ألا ترى أن الصوت الموزون الذي يخرج من حنجرة العندليب لا يحرم سماعه، فكذلك صوت الإنسان، لأنه لا فرق بين حنجرة وحنجرة.
وإذا انضم الفهم إلى الصوت الطيب الموزون، لم يزد الإباحة فيه إلا تأكيدا.
21 – أما تحريك الغناء القلوب، وتحريكه العواطف، فإن هذه العواطف إن كانت عواطف نبيلة فمن المطلوب تحريكها، وقد وقع لعمر بن الخطاب أن استمع إلى الغناء في طريقه للحج – كما تقدم – وكان الصحابة ينشدون الرجزيات لإثارة الجند عند اللقاء، ولم يكن أحد يعيب عليهم ذلك، ورجزيات عبد الله بن رواحة وغيره معروفة مشهورة. (1)
الغناء لأمر مباح:
22 – إذا كان الغناء لأمر مباح، كالغناء في العرس، والعيد، والختان، وقدوم الغائب، تأكيدا للسرور المباح، وعند ختم القرآن الكريم تأكيدا للسرور كذلك، وعند سير المجاهدين للحرب إذا كان للحماس في نفوسهم، أو للحجاج لإثارة الأشواق في نفوسهم إلى الكعبة المشرفة، أو للإبل لحثها

على السير – وهو الحداء – أو للتنشيط على العمل كغناء العمال عند محاولة عمل أو حمل ثقيل، أو لتسكيت الطفل وتنويمه كغناء الأم لطفلها، فإنه مباح كله بلا كراهة عند الجمهور. (1)
واستدلوا على ذلك بما ذكر سابقا من حديث الجاريتين الذي روته أم المؤمنين عائشة رضي الله عنها (2) وهذا نص في إباحة الغناء في العيد.
وبحديث بريدة قال: خرج رسول الله صلى الله عليه وسلم في بعض مغازيه، فلما انصرف جاءت جارية سوداء فقالت: يا رسول الله إني كنت نذرت – إن ردك الله سالما – أن أضرب بين يديك بالدف وأتغنى، فقال لها رسول الله صلى الله عليه وسلم: إن كنت نذرت فاضربي وإلا فلا. (3)
وهذا نص في إباحة الغناء عند قدوم الغائب تأكيدا للسرور، ولو كان الغناء حراما لما جاز نذره، ولما أباح لها رسول الله صلى الله عليه وسلم فعله.
وبحديث عائشة: أنها أنكحت ذات قرابة لها
من الأنصار، فجاء رسول الله فقال: أهديتم الفتاة؟ قالوا: نعم، قال: أرسلتم معها من يغني؟ قالت: لا، فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم: إن الأنصار قوم فيهم غزل، فلو بعثتم معها من يقول: أتيناكم أتيناكم، فحيانا وحياكم. (1) وهذا نص في إباحة الغناء في العرس.
وبحديث عائشة قالت: كنت مع رسول الله صلى الله عليه وسلم في سفر. وكان عبد الله بن رواحة جيد الحداء، وكان مع الرجال، وكان أنجشة مع النساء، فقال النبي صلى الله عليه وسلم لابن رواحة: حرك القوم، فاندفع يرتجز، فتبعه أنجشة، فأعنفت الإبل، فقال النبي صلى الله عليه وسلم لأنجشة رويدك، رفقا بالقوارير. يعني النساء. (2)
وعن السائب بن يزيد قال: كنا مع عبد الرحمن بن عوف في طريق الحج، ونحن نؤم
مكة، اعتزل عبد الرحمن الطريق، ثم قال لرباح بن المغترف: غننا يا أبا حسان، وكان يحسن النصب – والنصب ضرب من الغناء – فبينا رباح يغنيه أدركهم عمر في خلافته فقال: ما هذا؟ فقال عبد الرحمن: ما بأس بهذا؟ نلهو ونقصر عنا السفر، فقال عمر: فإن كنت آخذا فعليك بشعر ضرار بن الخطاب بن مرداس فارس قريش (1) .
وكان عمر يقول. الغناء من زاد الراكب (2) ، وهذا يدل على إباحة الغناء لترويح النفس.
وروى ابن أبي شيبة أن عمر بن الخطاب رضي الله عنه كان يأمر بالحداء (3) .

Pendapat tentang hukum mendengarkan suara merdu dan teratur (mizan):
Adapun berdasarkan analogi (qiyas), mendengarkan nyanyian yang tidak disertai hal yang haram, hanya berupa suara merdu dan teratur, maka mendengarkannya tidak seharusnya diharamkan. Hal ini karena mendengarkan suara merdu merupakan bentuk kenikmatan indera pendengaran terhadap apa yang menjadi fungsinya, sebagaimana kenikmatan indera lainnya terhadap hal-hal yang sesuai dengan penciptaannya.

1. Suara yang teratur tidak membuatnya haram:


Suara yang teratur, meskipun berasal dari manusia, tidak berbeda dengan suara burung bulbul yang merdu, yang tidak diharamkan untuk didengar. Maka, tidak ada perbedaan antara suara manusia dan suara burung jika sama-sama tidak disertai hal yang diharamkan. Bahkan, jika suara tersebut dipahami maknanya dan memiliki ritme yang baik, itu justru semakin memperkuat kebolehannya.

2. Efek nyanyian pada emosi:


Jika nyanyian menggerakkan hati dan membangkitkan emosi mulia, maka membangkitkan emosi semacam itu justru dianjurkan. Sebagai contoh, Umar bin Khattab pernah mendengarkan nyanyian dalam perjalanan hajinya, dan para sahabat biasa melantunkan syair-syair untuk membangkitkan semangat pasukan. Tidak ada seorang pun yang mencela tindakan tersebut. Syair-syair Abdullah bin Rawahah dan lainnya dikenal luas dalam hal ini.

Nyanyian untuk tujuan yang dibolehkan:

3. Acara tertentu:


Nyanyian yang dilakukan dalam acara-acara tertentu yang dibolehkan, seperti pernikahan, hari raya, khitanan, kedatangan tamu, atau dalam situasi tertentu seperti penutupan bacaan Al-Qur’an untuk menegaskan kebahagiaan, disepakati oleh mayoritas ulama sebagai mubah (boleh) tanpa makruh. Termasuk nyanyian untuk menyemangati pasukan perang, menumbuhkan kerinduan jamaah haji kepada Ka’bah, memotivasi unta agar terus berjalan (huda’), atau mengiringi para pekerja dalam pekerjaan berat, serta menidurkan anak kecil dengan nyanyian seorang ibu.

4. Dalil kebolehan nyanyian:

 

Hadis dua budak perempuan:
Diriwayatkan oleh Aisyah radhiyallahu ‘anha bahwa ada dua budak perempuan menyanyi di rumahnya pada hari raya. Rasulullah ﷺ mendengarkan mereka tanpa mengingkarinya. (HR Bukhari).

Hadis Buraidah:
Seorang budak perempuan berkata kepada Rasulullah ﷺ, “Aku bernazar untuk menyanyi dan memukul rebana di hadapanmu jika engkau pulang dengan selamat.” Rasulullah ﷺ bersabda, “Jika engkau bernazar, maka lakukanlah, jika tidak, jangan lakukan.” (HR Abu Dawud). Hadis ini menunjukkan kebolehan menyanyi saat menyambut tamu untuk menegaskan kebahagiaan.

Hadis Aisyah tentang pernikahan:
Rasulullah ﷺ berkata, “Kirimlah seorang penyanyi bersama pengantin wanita.” Hal ini menunjukkan kebolehan menyanyi dalam acara pernikahan.

Hadis tentang nyanyian dalam perjalanan:
Dalam suatu perjalanan, Rasulullah ﷺ meminta Abdullah bin Rawahah untuk menyemangati para sahabat dengan nyanyian ritmis. Ketika Anjasyah yang bersama para wanita melantunkan nyanyian, Rasulullah ﷺ bersabda, “Pelan-pelanlah, wahai Anjasyah, kasihanilah kaca-kaca (wanita).”


Kisah Umar bin Khattab:
Diriwayatkan bahwa Umar bin Khattab mendengar seseorang menyanyikan nyanyian jenis “nashb” saat dalam perjalanan haji bersama Abdurrahman bin Auf. Ketika Umar bertanya, Abdurrahman menjawab, “Tidak mengapa, kami hanya bersenang-senang untuk meringankan perjalanan.” Umar berkata, “Kalau kau ingin bernyanyi, nyanyikan syair-syair Dzurar bin Al-Khattab.” Umar juga pernah berkata, “Nyanyian adalah bekal perjalanan.” Ibnu Abi Syaibah meriwayatkan bahwa Umar bin Khattab memerintahkan untuk melantunkan nyanyian jenis huda’.

Kesimpulan:
Nyanyian yang dilakukan tanpa unsur haram, untuk tujuan yang mubah seperti acara kebahagiaan, semangat, atau hiburan yang positif, diperbolehkan oleh mayoritas ulama.

Wallahu A’lam bisshowaf

Kategori
Uncategorized

HUKUMNYA HAJI/UMROH TANPA IDZIN KEPADA ORANG TUANYA YANG MASIH HIDUP

Assalamualaikum.
Deskripsi masalah.

Ada seseorang diberi kemampuan untuk melakukan ibadah haji/umroh namun ia daftar / berangkat tanpa idzin kepada orang tuanya baik adanya haji itu haji/umrah wajib atau sunnah .

Pertanyaannya.
1-Sahkah haji/umrohnya?

2-Dosakah orang tua andaikan melarang anaknya melakukan haji sunnah ?

Waalaikum salam.

Jawaban. No.1

Ketika seseorang melakukan Ibadah haji/umroh dengan tanpa idzin sebelumnya kepada kedua orang tuanya maka secara mutlak hajinya sah , Namun ia termasuk orang yang maksiat dalam melaksanakan haji tathowwu’ karena disebabkan tanpa idzin sebelumya kepada orang tuanya sebagaimana ia juga keluar mencari ilmu dengan tanpa idzin dari orang tuanya.

Jawaban. No.2

Jika orang tua mencegah anaknya untuk melakukan Ibadah haji/umroh sunnah maka hukumnya tidaklah berdosa. Akan tetapi jika orang tuanya melarang haji wajib maka ia berdosa.

Referensi:


فتوى النووي المسمى المسائل المنثورة .ص ٦٦
لهما منعه من حج التطوع ، ولايأثمان بذلك ، وليس لهما منعه من الحج المفروض ، ويأثمان منعه ومتى حج بغير إذنهما صح حجه مطلقا – وإن كان عاصيا فى التطوع – وله السفر فى طلب العلم بغير إذنهما. والله أعلم بالصواب

Kategori
Uncategorized

HUKUM MENGGUNAKAN SINYAL Wi-FI LIAR

HUKUM MENGGUNAKAN SINYAL WI-FI LIAR

Deskripsi:
Sering sekali ketika kita berada ditempat-tempat ramai, saat menyalakan notifikasi Wi-Fi di handphone banyak Wi-Fi yang tersambung. Sebut saja kang Gohan (nama samaran) dia pun mengalami hal serupa diatas dan betapa senang saat ternyata ada banyak sinyal Wi-Fi yang tidak dikunci sandi oleh pemiliknya. Namun karena kang Gohan adalah santri yang mencoba untuk terus jadi baik akhirnya muncul grundel dibenaknya, Sebenarnya halal tidak dia pakai Wi-Fi yang tidak dikunci sandi pemiliknya itu. 

Pertanyaan:
Bagaimana hukum menggunakan sinyal Wi-Fi liar seperti dalam deskripsi?

Jawaban:
Mempertimbangkan :

  1. Wi-Fi merupakan mal ma’nawi yang padanya berlaku hukum perorangan (احكام الشخصية).
  2. Wi-Fi bisa diatur sedemikian rupa bila ingin diprivasi, seperti : disembunyikan, dikunci, ataupun dibatasi.
  3. Wi-Fi juga dapat diberi nama seperti: jangan dipakai, silahkan aku mah bebas.
    Memutuskan bahwa :
    Dengan menggunakan Wi-Fi liar berarti seseorang telah menggunakan hak milik orang lain, sehingga;
  4. Ketika diketahui atau ada dugaan kuat kebolehan dalam menggunakan Wi-Fi tersebut maka hukum menggunakannya adalah boleh.
  5. Ketika diketahui dan atau ada dugaan ketidak bolehan, ataupun tidak ada dugaan kebolehan dalam menggunakan Wi-Fi tersebut maka hukum menggunakan Wi-Fi tersebut adalah haram.

Catatan:
Dugaan atau kebolehan dari seseorang bebeda-beda pada setiap individu, akan tetapi bisa diketahui melalalui :

  1. Ucapan langsung dari seseorang
  2. Kebiasaan seseorang.
  3. Tanda yang telah diisyaratkan oleh seseorang.
  4. Keadaan seseorang
  5. Keumuman sebuah perkara

Referensi:

١. ابن حجر الهيتمي ,تحفة المحتاج في شرح المنهاج وحواشي الشرواني والعبادي ,7/436
وله) أي الضيف مثلا (أخذ ما) يشمل الطعام والنقد وغيرهما وتخصيصه بالطعام رده في شرح مسلم فتفطن له ولا تغتر بمن وهم فيه (يعلم) أو يظن أي بقرينة قوية بحيث لا يختلف الرضا عنها عادة كما هو ظاهر (رضاه به) ؛ لأن المدار على طيب نفس المالك فإذا قضت القرينة القوية به حل *وتختلف قرائن الرضا في ذلك باختلاف الأحوال ومقادير الأموال.

٢. الفتاوي الكبرى ج ٤ ص ۱۱٦

وَسُئِلَ) بِمَا لَفْظُهُ هَلْ جَوَازُ الْأَخْذ بِعِلْمِ الرِّضَا مِنْ كُلِّ شَيْءٍ أَمْ مَخْصُوصٌ بِطَعَامِ الضِّيَافَةِ؟ (فَأَجَابَ) بِقَوْلِهِ الَّذِي دَلَّ عَلَيْهِ كَلَامُهُمْ أَنَّهُ غَيْر مَخْصُوصٍ بِذَلِكَ وَصَرَّحُوا بِأَنَّ غَلَبَةَ الظَّنِّ كَالْعِلْمِ فِي ذَلِكَ وَحِينَئِذٍ فَمَتَى غَلَبَ ظَنُّهُ أَنَّ الْمَالِكَ يَسْمَحُ لَهُ بِأَخْذِ شَيْءٍ مُعَيَّنٍ مِنْ مَالِهِ جَازَ لَهُ أَخْذُهُ ثُمَّ إنْ بَانَ خِلَافُ ظَنّه لَزِمَهُ ضَمَانُهُ

٣. حاشية قليوبي/ 299


قوله ( وله أخذ إلخ ) ظاهره رجوع الضمائر للضيف والمضيف له ولا يختص هذا الحكم بهما بل لكل أحد أن يأخذ من مال غيره حاضرا أو غائبا نقدا أو مطعوما أو غيرهما ما يظن رضاه به ولو بقرينة قوية فالمراد بالعلم ما يشمل الظن بدليل مقابلته بالشك , وقد يظن الرضا لشخص دون آخر , وفي نوع أو وقت أو مكان دون آخر فلكل حكمه ويتقيد التصرف في المأخوذ بما يظن جوازه فيه من مالكه من أكل أو غيره

٤. القليوبي، حاشيتا قليوبي وعميرة٢٨/٣


(ولو سكن بيتا) من الدار (ومنع المالك منه دون باقي الدار فغاصب للبيت فقط) ، أي دون باقي الدار، (ولو دخل) الدار (بقصد الاستيلاء وليس المالك فيها فغاصب) لها. وإن كان ضعيفا والمالك قويا، (وإن كان) المالك (فيها ولم يزعجه) عنها (فغاصب لنصف الدار) لاستيلائه مع المالك عليها

٥. 

 الفقه المهجي ج١ ص٨٢

 
اﻟﻐﺼﺐ ,ﺗﻌﺮﻳﻔﻪ:اﻟﻐﺼﺐ – ﻓﻲ اﻟﻠﻐﺔ – ﺃﺧﺬ اﻟﺸﺊ ﻇﻠﻤﺎ.ﻭﺷﺮﻋﺎ: ﻫﻮ اﻹﺳﺘﻴﻼء ﻋﻠﻰ ﺣﻖ ﻏﻴﺮﻩ ﻋﺪﻭاﻧﺎ. ﻭاﻟﻤﺮاﺩ ﺑﺤﻖ ﻏﻴﺮﻩ: ﻣﺎ ﻛﺎﻥ ﻋﻴﻨﺎ ﻛﺪاﺭ ﻭﻧﺤﻮﻫﺎ، ﺃﻭ ﻣﻨﻔﻌﺔ ﻛﺴﻜﻨﻰ اﻟﺪاﺭ ﺑﻐﻴﺮ ﺭﺿﺎﻩ، ﺃﻭ اﺧﺘﺼﺎﺻﺎ ﻛﻜﻠﺐ ﺻﻴﺪ ﻭﻧﺤﻮﻩ، ﻭﻛﺤﻖ اﻟﺸﺮﺏ ﻭﻧﺤﻮﻩ. 

٦. فتح المعين 3 /369


ويجوز للإنسان أخذ من نحو طعام صديقه مع ظن رضا مالكه بذلك ويختلف بقدر المأخوذ وجنسه وبحال المضيف ومع ذلك ينبغي له مراعاة نصفة أصحابه فلا يأخذ إلا ما يخصه أو يرضون به عن طيب نفس لا عن حياء. وكذا يقال في قران نحو تمرتين أما عند الشك في الرضا فيحرم الأخذ كالتطفل ما لم يعم كأن فتح الباب ليدخل من شاء

٧. كفاية الأخيار جز ١ صح ٢٨٢

ﻭﺣﺪﻩ ﻓﻲ اﻟﺸﺮﻉ ﻫﻮ اﻻﺳﺘﻴﻼء ﻋﻠﻰ ﻣﺎﻝ اﻟﻐﻴﺮ ﻋﻠﻰ ﻭﺟﻪ اﻟﺘﻌﺪﻱ ﻛﺬا ﻗﺎﻟﻪ اﻟﺮاﻓﻌﻲ ﻭﻓﻴﻪ ﺷﻲء ﻭﻟﻬﺬا ﻗﺎﻝ اﻟﻨﻮﻭﻱ ﻫﻮ اﻻﺳﺘﻴﻼء ﻋﻠﻰ ﺣﻖ اﻟﻐﻴﺮ ﻋﺪﻭاﻧﺎ ﻋﺪﻝ ﻋﻦ ﻗﻮﻝ اﻟﺮاﻓﻌﻲ ﻣﺎﻝ اﻟﻐﻴﺮ ﺇﻟﻰ ﻗﻮﻟﻪ ﺣﻖ اﻟﻐﻴﺮ ﻷﻥ اﻟﺤﻖ ﻳﺸﻤﻞ ﻣﺎ ﻟﻴﺲ ﺑﻣﺎﻝ ﻛﺎﻟﻜﻠﺐ ﻭاﻟﺰﺑﻞ ﻭﺟﻠﺪ اﻟﻤﻴﺘﺔ ﻭاﻟﻤﻨﺎﻓﻊ ﻭاﻟﺤﻘﻮﻕ ﻛﺈﻗﺎﻣﺔ ﺷﺨﺺ ﻣﻦ ﻣﻜﺎﻥ ﻣﺒﺎﺡ ﻛﺎﻟﻄﺮﻳﻖ ﻭاﻟﻤﺴﺠﺪ ﻭاﺣﺘﺮﺯ ﺑﺎﻟﻌﺪﻭاﻥ ﻋﻤﺎ ﺇﺫا اﻧﺘﺰﻉ ﻣﺎﻝ اﻟﻤﺴﻠﻢ ﻣﻦ اﻟﺤﺮﺑﻲ ﻟﻴﺮﺩﻩ ﻋﻠﻰ اﻟﻤﺴﻠﻢ ﺃﻭ ﻣﻦ ﻏﺎﺻﺐ ﻣﺴﻠﻢ ﻋﻠﻰ ﻭﺟﻪ ﺛﻢ اﻻﺳﺘﻴﻼء ﺑﺤﺴﺐ اﻟﻤﺄﺧﻮﺫ ﻭاﻟﺮﺟﻮﻉ ﻓﻴﻪ ﺇﻟﻰ ﺗﺴﻤﻴﺘﻪ ﻏﺼﺒﺎ ﻓﻠﻮ ﺟﻠﺲ ﻋﻠﻰ ﺑﺴﺎﻁ اﻟﻐﻴﺮ ﺃﻭ اﻏﺘﺮﻑ ﺑﺂﻧﻴﺔ اﻟﻐﻴﺮ ﺑﻼ ﺇﺫﻥ ﻓﻐﺎﺻﺐ ﻭﺇﻥ ﻟﻢ ﻳﻘﺼﺪ اﻻﺳﺘﻴﻼء ﻷﻥ ﻏﺎﻳﺔ اﻟﻐﺼﺐ ﺃﻥ ﻳﻨﺘﻔﻊ ﺑﺎﻟﻤﻐﺼﻮﺏ

٨. التعريفات  149  دار الكتب العلمية


العرف ما استقرت عليه النفوس بشهادة العقول وتلقته الطبائع بالقبول وهو حجة ايضا لكنه اسرع إلى الفهم وكذا العادة وهى ما استمر الناس عليه على حكم العقول وعادوا إليه مرة بعد أخرى إهـ

227٩  أسنى المطالب الجزء الثالث ص: 


(ويحرم التطفل) وهو حضور الوليمة من غير دعوة إلا إذا علم رضا المالك به لما بينهما من الأنس والانبساط وقيد ذلك الإمام بالدعوة الخاصة أما العامة كأن فتح الباب ليدخل من شاء فلا تطفل والطفيلي مأخوذ من التطفل وهو منسوب إلى طفيل رجل من أهل الكوفة كان يأتي الولائم بلا دعوة فكان يقال له طفيل الأعراس (وله) أي للضيف (حمل ما علم رضاه) أي المضيف (به لا إن شك) فيه والمراد بالعلم ما يشمل الظن ويختلف ذلك بقدر المأخوذ وجنسه وبحال المضيف والدعوة قال الغزالي وإذا علم رضاه ينبغي له مراعاة النصفة مع الرفقة فلا ينبغي أن يأخذ إلا ما يخصه أو يرضون به عن طوع لا عن حياء (وله الشرب من السقايات) الموضوعة في الطرق للعرف

١٠. تحفة المحتاج الجزء السابع ص: 436
(وله) أي الضيف مثلا (أخذ ما) يشمل الطعام والنقد وغيرهما وتخصيصه بالطعام رده في شرح مسلم فتفطن له ولا تغتر بمن وهم فيه (يعلم) أو يظن أي بقرينة قوية بحيث لا يختلف الرضا عنها عادة كما هو ظاهر (رضاه به) لأن المدار على طيب نفس المالك فإذا قضت القرينة القوية به حل وتختلف قرائن الرضا في ذلك باختلاف الأحوال ومقادير الأموال وإذا جوزنا له الأخذ فالذي يظهر أنه إن ظن الأخذ بالبدل كان قرضا ضمينا أو بلا بدل توقف الملك على ما ظنه لا يقال قياس ما مر في توقف الملك على الازدراد أنه هنا يتوقف على التصرف فيه فلا يملكه بمجرد قبضه له لأنا نقول الفرق بينهما واضح  لأن قرينة التقديم للأكل ثم قصرت الملك على حقيقته ولا يتم إلا بالازدراد وهنا المدار على ظن الرضا فأنيط بحسب ذلك الظن فإن ظن رضاه بأنه يملكه بالأخذ أو بالتصرف أو بغيرهما عمل بمقتضى ذلك وعلم مما تقرر أنه يحرم التطفل وهو الدخول إلى محل الغير لتناول طعامه بغير إذنه ولا علم رضاه أو ظنه بقرينة معتبرة بل يفسق بهذا إن تكرر منه للحديث المشهور أنه يدخل سارقا ويخرج مغيرا وإنما لم يفسق بأول مرة للشبهة ولأن شرط كون السرقة فسقا مساواة المسروق لربع دينار كالمغصوب على ما فيهما ومنه أن يدعي ولو صوفيا مسلكا وعالما مدرسا فيستصحب جماعته من غير إذن الداعي ولا ظن رضاه بذلك وأما إطلاق بعضهم أن دعوته تتضمن دعوة جماعته فليس في محله بل الصواب ما ذكرته فيه من التفصيل

470١١. حاشية الجمل الجزء الثالث صحـ


(كتاب الغصب) –إلى أن قال- (هو) لغة أخذ الشيء ظلما وقيل أخذه ظلما جهارا وشرعا (استيلاء على حق غير) ولو منفعة كإقامة من قعد بمسجد أو سوق أو غير مال ككلب نافع وزبل (بلا حق) كما عبر به في الروضة بدل قوله كالرافعي عدوانا فدخل فيه ما لو أخذ مال غيره يظنه ماله فإنه غصب وإن لم يكن فيه إثم وقول الرافعي إن الثابت في هذه حكم الغصب لا حقيقته ممنوع وهو ناظر إلى أن الغصب يقتضي الإثم مطلقا وليس مرادا وإن كان غالبا والغصب  (كركوبه دابة غيره وجلوسه على فراشه) وإن لم ينقلهما ولم يقصد الاستيلاء (وإزعاجه) له (عن داره)  بأن أخرجه منها وإن لم يدخلها أو لم يقصد الاستيلاء (ودخوله لها) وليس المالك فيها (بقصد استيلاء) عليها وإن كان ضعيفا (قوله وشرعا استيلاء إلخ) –إلى أن قال- ومدار الاستيلاء على العرف كما يظهر بالأمثلة الآتية فليس منه منع المالك من سقي زرعه أو ماشيته حتى تلف فلا ضمان لانتفاء الاستيلاء سواء أقصد منعه عنه أم لا على الأصح وفارق هذا هلاك ولد شاة ذبحها بأنه ثم أتلف غذاء الولد المتعين له بإتلاف أمه بخلافه هنا –إلى أن قال- (قوله وجلوسه على فراشه) أي ولم تقم القرينة أي قرينة الحال على إباحة الجلوس مطلقا أو لناس مخصوصين منهم هذا الجالس ا هـ  ح ل (قوله وإن لم ينقلهما) أفهم كلام المصنف اعتبار النقل في كل منقول سوى الأمرين المذكورين وهو كذلك وإن ذهب جمع إلى أنه لو رفع منقولا ككتاب من بين يدي مالكه لينظره ويرده حالا من غير قصد استيلاء عليه لم يضمنه اللهم إلا أن يحمل كلامهم على ما إذا دلت قرينة على رضا مالكه بأخذه للنظر فيه ومحل اشتراط نقل المنقول في الاستيلاء عليه في منقول ليس بيده فإن كان بيده كوديعة أو غيرها فنفس إنكاره غصب لا يتوقف

على نقل كما قاله الأصحاب (قوله وجلوسه على فراشه) أي ولم تقم القرينة أي قرينة الحال على إباحة الجلوس مطلقا أو لناس مخصوصين منهم هذا الجالس ا هـ  ح ل
والله اعلم بالصواب

Kategori
Uncategorized

CARA MENGHILANGKAN KEDURHAKAAN ANAK KEPADA ORANG TUA

Assalamualaikum
Deskripsi masalah.
Ada seseorang anak pernah menyakiti orang tuanya hingga orang tuanya menangis meniteskan air mata, saya pernah mendengar seseorang yang durhaka kepada orang tuanya sampai ia menangis meniteskan air mata maka ia tidak akan masuk surga. Sementara anak yang durhaka itu sudah minta maaf namun si orang tua itu tidak mau memaafkannya, hingga ia meninggal.

Pertanyaannya.
Apakah masih ada cara untuk menghilangkan kedurhakaan anak kepada orang tua setelah meninggal ( Apakah masih ada cara bagi anak yang durhaka bisa dimaafkan setelah orang tuanya meninggal) Sementara ia minta maaf tidak diterima sebagaimana deskripsi?

Waalaikum salam

Jawaban.
Adapun cara meminta keduanya diakhirat tidaklah ada jalan untuk membatalkannya, Namun demikian sepantasnya bagi anak yang durhaka setelah sadar atas kesalahannya ia harus menyesali terhadap hal-ha yang mengakibatkan tersakitinya hati orang tua dengan cara melaksanakan sholat libirril walidain atau sholat sunnah Ihda’ Dan juga dengan memperbanyak istighfar kepada Allah untuk orang tuannya dengan kalimat أستغفر الله العظيم لي ولوالدي dan memperbanyak do’a untuk kedua orang tuanya

اللهم إغفرلي ذنوبي ولوالدي وارحمهما كما ربياني صغيرا

Artinya:” Ya Allah ampunilah dosa-dasaku dan dosa kedua orang tuaku dan kasihinilah mereka berdua sebagaimana mereka merawatku berkasih sayang kepadaku ketika aku masih kecil.

Dan bersedekah untuk orang tuanya (bersedekah diniatkan untuk orang tuanya ) dan menghormati orang yang dicintai oleh keduanya ( yang diantaranya adalah teman- teman orang tuanya atau seumpamanya) dan juga menyambung silaturrahim kepada sanak familinya pun juga anak itu melunasi terhadap hutang-hutannya.

Referensi:


فتوى الإمام النووي المسمى المسائل المنثورة.ص٦٧

طريقة إزالة عقوق الوالدين بعد موتهما

(مسئلة )

إذا كان الإنسان عاق لوالديه ومات ساخطين عليه فماطريقة إلى إزالة ذلك، وإسقاط مطالتهما له فى الآخرة

الجواب) أما مطالبتهما له فى الآخرة فلا طريق إلى إبطالها، ولكن ينبغى له بعد الندم على ذلك أن يكثر من الاستغفار لهما والدعاء وأن يتصدق عنهما إن أمكن ، وأن يكرم من كانا يحبان إكرامه: من صديق لهما ونحوه، وأن يصل رحمهما ، وأن يقضى دينهما أو ما تيسر له من ذلك. والله أعلم بالصواب.

CARA MELAKUKAN SHALAT SUNNAH LIBIRRIL WALIDAINI DAN SHOLAT IHDA’

Referensi:

ترجمان كرغان شيخ عبد الحميد بن إثبات بيوايار

1- Waktu malam Jum’at diantara waktu maghrib dan isya’

2- Niat أصلي ﺳﻨﺔ لبرﺍﻟﻮﺍﻟﺪﻳﻦ ﺭﻛﻌﺘﻴﻦ ﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ

Artinya :” Saya niat sholat sunnah karena berbakti kepada kedua orang tua dua dua rakaat karena Allah Taala

3- Setelah baca surat fatihah membaca ayat kursi 1x dan surat ikhlas 5x dan al-muawwidain 5x

4- Membaca Isrighfar 15 x dan sholawat 15 x

1- Niat shalat Ihda’

أصلي سنة لإهداء ثوابها إلى……..ركعتين لله تعالى

Artinya :” Saya niat shalat ihda” untuk dihadiahkan pahalanya kepada…….. bin……dua rakaat karena Allah Taala

2- Setelah fatihah baca ayat kursi dan surat At-Tatsur dan surat al- Ikhlas 11x

3- Setelah salam bacalah do’a sebagai berikut:

اللهم إني صليت هذه الصلاة وتعلم ماأريد اللهم ابعث ثوابها إلى قبر ……….بن ………

Artinya :” Ya Allah sesungguhnya saya melakukan sholat ini dan kamu mengetahui terhadap apa yang aku inginkan, maka sampaikanlah pahala sholatku kepada…..bin ……

JERITAN ORANG YANG MENINGGAL DUNIA
BERIKUT KISAH ANAK YANG DURHAKA

Referensi:

دقائق الأخبار فى

{الباب الحادى عشر فى ذكر نداء الروح بعد الخروج }

ياوارثي ماجمعت مالاكثرا من الدنيا إلاتركته لكم فتذكروني بكثرة خيركم وقد علمتكم القرآن والأدب فلاتنسوني من دعائكم وعلى هذا حكاية أبي قلابة رضي الله عنه وهى ماروى أنه رأى فى المنام كان القبور قد انشقت وأمواتها قد خرجوا منها وقعدوا على شفير القبور وكان بين يدي كل واحد منهم طبق من نور ورأى فيما بينهم رجلا من جيرانهم ولم ير من بين يديه شيأ فسألته فقلت مالي لاأدري بين يديك نور فقال الميت إن لهؤلاء أولادا وأصدقاء يهدون إليهم خيرا ويتصدقون لأجلهم وهذالنور ممايهدونه إليهم وكان لي إبن غير صالح ولايدعو لي ولايتصدق لأجلي ولهذا لانور لي وأنا خجل بين جيراني فلما انتبة أبو قلابة دعا إبنه وأخبره بما رأى فقال ابن أنا تبت على يدك فلاأعود الى ماكنت عليه أبدا فاستغل بالطاعة والدعاء والتصدق عن أبيه لأجله فلما مضى عليه زمان رأى أبو قلابة مرة أخرى فى منامه تلك المقبرة على حالها ورأى نورا بين يدي ذلك الرجل أضوأ من الشمس أكثر من نور أصحابه فقال لي ياأباقلابة جزاك الله خيرا فقد نجوت من خجلة الجيران

Ahli Kubur berkata : “Wahai ahli ibadah ( ahli warisku), tidaklah aku kumpulkan harta yang banyak kecuali aku tinggalkan untuk kalian. Maka ingatlah kepadaku dengan memperbanyak amal baik, karena Al-Quran telah mengajari kalian berbagai sopan santun dan janganlah kalian lupa mendoakanku ”.
Dan atas dasar ini ada sebuah ” HIKAYAT ABU QILABAH ” . Dan hikayah itu menerangkan bahwa di dalam mimpi Abi Qilabah ada suatu kejadian seakan-akan suatu perkuburan telah terbelah lalu keluarlah semua ahli kubur darinya. Mereka duduk-duduk di tepi kubur, sedangkan di hadapan masing-masing mereka terdapat sebuah talam dari cahaya, dan Abu Qilabah melihat bahwa salah satu di antara ahli kubur itu terdapat seorang yang tidak ada cahaya sedikitpun di mukanya. Lalu dia bertanya kepadanya : “Apa sebabnya tidak aku lihat di mukamu secerah cahayapun?” maka mayat tersebut menjawab : “Sesungguhnya mereka-mereka itu (tetangga) mempunyai anak dan sahabat-sahabat yang sama-sama menghadiahkan amal kebaikan dan shadaqah bagi mereka. Dan cahaya ini adalah sebagai bukti dari hadiah-hadiah mereka. Sedangkan saya mempunyai anak yang durhaka tidak bershadaqah untuk diriku, maka dari itu tiada secercahpun cahaya yang aku miliki, hingga aku merasa malu kepada tetanggaku.” Ketika Abi Qilabah terbangun maka dia memanggil anak dari mayat yang diimpikan tersebut dan menceritakan kepdanya tentang apa yang dilihatnya dalam mimpinya. Maka anak tersebut berkata : “Aku sekarang bertaubat di mukamu dan tidaklah aku akan kembali kepada perbuatanku yang lalu untuk selama-lamanya.” Maka anak tersebut mulai menyibukkan diri dengan semua ketaatan, doa dan bershadaqah demi ayahnya. Ketika selang beberapa waktu Abi Qilabah melihat perkuburan itu yang kedua kalinya dalam mimpi, maka terlihat olehnya nur di muka mayit tersebut yang lebih terang dari cahaya matahari dan lebih banyak dari nur para tetangganya, seraya mayat tersebut berkata : “Wahai Abi Qilabah, mudah-mudahan Allah Swt. membalas kebaikan bagimu karena aku telah selamat dari rasa malu di antara tetangga-tetanggaku .

Dengan hikayat diatas mudah- mudahan anak yang durhaka dan bertaubat menyesali terhadap kesalahannya diampuni oleh Allah dengan sebab berbuat amal baik untuk kedua orang tuanya yang telah berada didalam kubur .Amien Yarabbal Alamien.

Wallahu A’lam bisshowab

Kategori
Uncategorized

HUKUMNYA PEREMPUAN HAID ZIYARAH KUBUR.

Assalamualaikum

Deskripsi masalah.

Dalam menjalani hubungan PASUTRI ( Pasangan Suami Istri) hendaknya keduanya saling mengetahui dan memahami kondisi dan karakter diantara keduanya terlebih seorang suami sebagai presiden atau pemimpin dalam rumah tangga hendaknya memberikan contoh baik dalam bidang ubudiyahnya maupun sikap sosialnya sehingga tertanam kehidupan rumah tangga yang SAMARA .Dalam kondisi tidak sengaja seorang Istri datang bulan ( haid) ia telah terbiasa disetiap minggunya ( hari jum’at) ziarah kubur kepada para penisepuh ( leluhurnya) dia bingung karena dalam kondisi haid, antara meneruskan dan tidak untuk ziarah kubur.

Pertanyaannya.

Bagaimana hukumnya perempuan Haid ziarah kubur? ( boleh ataukah tidak ?

Kalau boleh bagaimana andaikan dia menangis dengan tanpa disengaja tetapi nangis ya tidak sampai menjerit-jerit.?

Waalaikum salam.

Jawaban kami satukan.
Boleh bagi perempuan Haid ziyarah kubur, dengan catatan tidak membaca Al-Qur’an dengan menggerakkan lisan , Jika membaca al-Qur’an maka haram, ini kesepakatan ulama, kecuali dibaca didalam hati. Ini menurut Syafiiyah.
Jika menurut Hanifiyah selama tidak bermaksud baca al- Qur’an artinya dengan maksud do’a dan dzikir maka hukumnya boleh.

Adapun berdzikir, ulama’ sepakat atas kebolehan orang yang haid, junub dan orang lagi nifas.
Keterangan dalam kitab Syarah sullamuttaufiq.H. 26

أجمع العلماء على جواز الذكر للمحدث والجنب والحائض والنفساء

Kebolehan perempuan ziarah kubur mengacu pada keterangan dan hadits berikut;

الموسوعة الفقهية – 14597/31949

زيارة القبور

حكم زيارة القبور:
1 – لا خلاف بين الفقهاء في أنه تندب للرجال زيارة القبور، لقوله صلى الله عليه وسلم: إني كنت نهيتكم عن زيارة القبور فزوروها، فإنها تذكر بالآخرة، (1) ولأنه صلى الله عليه وسلم كان يخرج إلى البقيع لزيارة الموتى ويقول: السلام عليكم دار قوم مؤمنين وأتاكم ما توعدون غدا مؤجلون، وإنا إن شاء الله بكم لاحقون. وزاد في رواية: أسأل الله لي ولكم العافية. (2)
أما النساء، فمذهب الجمهور أنه تكره زيارتهن للقبور، لقوله صلى الله عليه وسلم: لعن الله زوارات القبور (3) . ولأن النساء فيهن رقة قلب، وكثرة جزع، وقلة احتمال للمصائب، وهذا مظنة لطلب بكائهن، ورفع أصواتهن.
وذهب الحنفية – في الأصح – إلى أنه يندب للنساء زيارة القبور كما يندب للرجال، لقوله صلى الله عليه وسلم: إني كنت نهيتكم عن زيارة القبور (1) الحديث.
وقال الخير الرملي: إن كان ذلك لتجديد الحزن والبكاء والندب وما جرت به عادتهن فلا تجوز، وعليه حمل حديث لعن الله زوارات القبور. وإن كان للاعتبار والترحم من غير بكاء، والتبرك بزيارة قبور الصالحين فلا بأس – إذا كن عجائز – ويكره إذا كن شواب، كحضور الجماعة في المساجد.
قال ابن عابدين: وهو توفيق حسن.
وقال الحنابلة: تكره زيارة القبور للنساء، لحديث أم عطية رضي الله عنها نهينا عن اتباع الجنائز ولم يعزم علينا (2) فإن علم أنه يقع منهن محرم، حرمت زيارتهن القبور، وعليه يحمل قوله صلى الله عليه وسلم: لعن الله زوارات القبور.
قالوا: وإن اجتازت امرأة بقبر في طريقها فسلمت عليه ودعت له فحسن؛ لأنها لم تخرج لذلك.
ويستثنى من الكراهة زيارة قبر النبي صلى الله عليه وسلم، فإنه يندب لهن زيارته، وكذا قبور الأنبياء غيره عليهم الصلاة والسلام، لعموم الأدلة في طلب زيارته صلى الله عليه وسلم

Larangan bagi perempuan Haid

الموسوعة الفقهية – 9435/31949 .


17 – ويحرم على الجنب قراءة القرآن عند عامة العلماء من الحنفية والمالكية والشافعية والحنابلة

لما روي أن النبي صلى الله عليه وسلم كان لا يحجزه شيء عن قراءة القرآن إلا الجنابة (1) وعن عبد الله بن عمر رضي الله عنهما عن النبي صلى الله عليه وسلم أنه قال: لا تقرأ الحائض ولا الجنب شيئا من القرآن (2) .
وروي عن ابن عباس وسعيد بن المسيب أنه يجوز للجنب قراءة كل القرآن. قال القاضي أبو الطيب وابن الصباغ وغيرهما: اختاره ابن المنذر ويجوز عند الجميع تلاوة ما لم يقصد به القرآن كالأدعية والذكر البحت (3) .
18 – ويحرم على الجنب دخول المسجد واللبث فيه، وأجاز الشافعية والحنابلة وبعض المالكية عبوره، للاستثناء الوارد في قوله تعالى: {ولا جنبا إلا عابري سبيل (4) } . ومنع الحنفية وهو المذهب عند المالكية العبور إلا بالتيمم (5) .
19 – ويحرم الاعتكاف للجنب لقوله تعالى:ولا جنبا إلا عابري سبيل} وقد سبق تفصيل ذلك في مصطلح (اعتكاف)
ما يستحب وما يباح للجنب:
20 – يباح للجنب الذكر والتسبيح والدعاء (1) لما روى مسلم عن عائشة رضي الله عنها قالت: كان النبي صلى الله عليه وسلم يذكر الله على كل أحيانه (2) .
21 – يستحب للجنب إذا أراد أن ينام أو يأكل أو يشرب أو يطأ ثانيا أن يغسل فرجه ويتوضأ وضوءه للصلاة، وذلك عند الشافعية والحنابلة، وهو قول عند المالكية: لما روى مسلم: كان رسول الله صلى الله عليه وسلم إذا كان جنبا فأراد أن يأكل أو ينام توضأ وضوءه (3) . وعن أبي سعيد الخدري رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: إذا أتى أحدكم أهله ثم أراد أن يعود فليتوضأ بينهما وضوءا رواه مسلم (4) .
وفي القول الثاني للمالكية: أن الوضوء للنوم أو لمعاودة الأهل واجب؛ لأن الجنب مأمور

بالوضوء قبل النوم، فهل الأمر للإيجاب أو للندب؟ قولان (1) .
وأجاز الحنفية للجنب إذا أراد النوم أو معاودة الأهل الوضوء وعدمه، قال الكاساني: لا بأس للجنب أن ينام ويعاود أهله؛ لما روي عن عمر رضي الله عنه قال: يا رسول الله أينام أحدنا وهو جنب؟ قال: نعم (2) ، ويتوضأ وضوءه للصلاة، وله أن ينام قبل أن يتوضأ وضوءه للصلاة؛ لما روي عن عائشة رضي الله عنها قالت: كان النبي صلى الله عليه وسلم ينام وهو جنب من غير أن يمس ماء (3) ولأن الوضوء ليس بقربة بنفسه وإنما هو لأداء الصلاة، وليس في النوم ذلك – وهو قول ابن المسيب.
لكن استحب الحنفية بالنسبة للأكل والشرب لمن كان جنبا أن يتمضمض ويغسل يديه، وهو قول ابن المسيب، وحكي ذلك عن الإمام أحمد وإسحاق، وقال مجاهد: يغسل كفيه

Referensi


الموسوعة الفقهية – 11272/31949

أ – قراءة القرآن:
39 – اختلف الفقهاء في حكم قراءة الحائض للقرآن، فذهب جمهور الفقهاء – الحنفية والشافعية والحنابلة – إلى حرمة قراءتها للقرآن لقول النبي صلى الله عليه وسلم لا تقرأ الحائض ولا الجنب شيئا من القرآن (1) .
وهناك تفصيلات بيانها فيما يلي:
فمذهب الحنفية حرمة قراءتها للقرآن ولو دون آية من المركبات لا المفردات، وذلك إذا قصدت القراءة، فإن لم تقصد القراءة بل قصدت الثناء أو الذكر فلا بأس به. قال ابن عابدين: فلو قرأت الفاتحة على وجه الدعاء، أو شيئا من الآيات التي فيها معنى الدعاء، ولم ترد القراءة لا بأس به، وصرحوا أن ما ليس فيه معنى الدعاء كسورة المسد، لا تؤثر فيه نية الدعاء فيحرم، وقد أجازوا للمعلمة الحائض تعليم القرآن كلمة كلمة، وذلك بأن تقطع بين كل كلمتين، لأنها لا تعد بالكلمة قارئة. كما أجازوا للحائض أن تتهجى بالقرآن حرفا حرفا، أو كلمة كلمة مع القطع، من غير كراهة،
وكرهوا لها قراءة ما نسخت تلاوته من القرآن، ولا يكره لها قراءة القنوت، ولا سائر الأذكار والدعوات.
ومذهب الشافعية حرمة قراءة القرآن للحائض ولو بعض آية، كحرف للإخلال بالتعظيم سواء أقصدت مع ذلك غيرها أم لا، وصرحوا بجواز إجراء القرآن على قلبها من غير تحريك اللسان، وجواز النظر في المصحف، وإمرار ما فيه في القلب، وكذا تحريك لسانها وهمسها بحيث لا تسمع نفسها، لأنها ليست بقراءة قرآن. ويجوز لها قراءة ما نسخت تلاوته.
ومذهب الحنابلة أنه يحرم عليها قراءة آية فصاعدا، ولا يحرم عليها قراءة بعض آية، لأنه لا إعجاز فيه، وذلك ما لم تكن طويلة، كما لا يحرم عليها تكرير بعض آية ما لم تتحيل على القراءة فتحرم عليها. ولها تهجية آي القرآن لأنه ليس بقراءة له، ولها التفكر فيه وتحريك شفتيها به ما لم تبين الحروف، ولها قراءة أبعاض آية متوالية، أو آيات سكتت بينها سكوتا طويلا. ولها قول ما وافق القرآن ولم تقصده، كالبسملة، وقول الحمد لله رب العالمين، وكآية الاسترجاع {إنا لله وإنا إليه راجعون} وآية الركوب، ولها أيضا أن يقرأ عليها وهي ساكتة، لأنها في هذه الحالة لا تنسب إلى القراءة، ولها أن تذكر الله تعالى، واختار ابن تيمية أنه يباح للحائض أنتقرأ القرآن إذا خافت نسيانه، بل يجب لأن ما لا يتم الواجب إلا به فهو واجب.
وذهب المالكية إلى أن الحائض يجوز لها قراءة القرآن في حال استرسال الدم مطلقا، كانت جنبا أم لا، خافت النسيان أم لا. وأما إذا انقطع حيضها، فلا تجوز لها القراءة حتى تغتسل جنبا كانت أم لا، إلا أن تخاف النسيان.
هذا هو المعتمد عندهم، لأنها قادرة على التطهر في هذه الحالة، وهناك قول ضعيف هو أن المرأة إذا انقطع حيضها جاز لها القراءة إن لم تكن جنبا قبل الحيض. فإن كانت جنبا قبله فلا تجوز لها القراءة

Referensi

الأذكار للنووي – (ص 10)
أجمع العلماء على جواز الذكر بالقلب واللسان للمحدث والجنب والحائض والنفساء، وذلك في التسبيح والتهليل والتحميد والتكبير والصلاة على رسول الله صلى الله عليه وسلم والدعاء وغير ذلك. ولكن قراءة القرآن حرام على الجنب والحائض والنفساء، سواء قرأ قليلا أو كثيرا حتى بعض آية، ويجوز لهم إجراء القرآن على القلب من غير لفظ، وكذلك النظر في المصحف، وإمراره على القلب. قال أصحابنا : ويجوز للجنب والحائض أن يقولا عند المصيبة : إنا لله وإنا إليه راجعون، وعند ركوب الدابة : سبحان الذي سخر لنا هذا وما كنا له مقرنين، وعند الدعاء : ربنا آتنا في الدنيا حسنة وفي الآخرة حسنة وقنا عذاب النار، إذا لم يقصدا به القرآن، ولهما أن يقولا : بسم الله، والحمد لله، إذا لم يقصدا القرآن، سواء قصدا الذكر أو لم يكن لهما قصد، ولا يأثمان إلا إذا قصدا القرآن، ويجوز لهما قراءة ما نسخت تلاوته ك (الشيخ والشيخة إذا زنيا فارجموهما). وأما إذا قالا لإنسان : خذ الكتاب بقوة، أو قالا : ادخلوها بسلام آمنين، ونحو ذلك، فإن قصدا غير القرآن لم يحرم، وإذا لم يجدا الماء تيمما وجاز لهما القراءة، فإن أحدث بعد ذلك لم تحرم عليه القراءة كما لو اغتسل ثم أحدث. ثم لا فرق بين أن يكون تيممه لعدم الماء في الحضر أو في السفر، فله أن يقرأ القرآن بعده وإن أحدث.

Referensi

روضة الطالبين – (ج 1 / ص 86)


وَلَوْ قَرَأَ شَيْئًا مِنْهُ وَلَمْ يَقْصِدِ الْقُرْآنَ، جَازَ، كَقَوْلِهِ: بِسْمِ اللَّهِ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ، أَوْ قَالَ: (سُبْحَانَ الَّذِي سَخَّرَ لَنَا هَذَا وَمَا كُنَّا لَهُ مُقْرِنِينَ) الزُّخْرُفِ: الْآيَةُ 13. عَلَى قَصْدِ سُنَّةِ الرُّكُوبِ. وَلَوْ جَرَى هَذَا عَلَى لِسَانِهِ وَلَمْ يَقْصِدْ قُرْآنًا وَلَا ذِكْرًا، جَازَ. وَيَحْرُمُ عَلَى الْحَائِضِ وَالنُّفَسَاءِ مَا يَحْرُمُ عَلَى الْجُنُبِ مِنَ الْقِرَاءَةِ عَلَى الْمَذْهَبِ، وَأَثْبَتَ جَمَاعَةٌ مِنَ الْمُحَقِّقِينَ قَوْلًا قَدِيمًا أَنَّهَا لَا تَحْرُمُ.
قُلْتُ: وَلَوْ كَانَ فَمُ غَيْرِ الْجُنُبِ وَالْحَائِضِ نَجِسًا، فَفِي تَحْرِيمِ الْقِرَاءَةِ عَلَيْهِ وَجْهَانِ، الْأَصَحُّ يُكْرَهُ وَلَا يَحْرُمُ. وَلَا تُكْرَهُ الْقِرَاءَةُ فِي الْحَمَّامِ. وَيَجُوزُ لِلْحَائِضِ وَالْجُنُبِ قِرَاءَةُ مَا يُسْتَحَبُّ تِلَاوَتُهُ. وَاللَّهُ أَعْلَمُ.

Referensi


المجموع – (ج 2 / ص 164)


(اﻟﻌﺎﺷﺮﺓ) ﺃﺟﻤﻊ اﻟﻤﺴﻠﻤﻮﻥ ﻋﻠﻰ ﺟﻮاﺯ التسبيح ﻭاﻟﺘﻬﻠﻴﻞ ﻭاﻟﺘﻜﺒﻴﺮ ﻭاﻟﺘﺤﻤﻴﺪ ﻭاﻟﺼﻼﺓ ﻋﻠﻰ ﺭﺳﻮﻝ اﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻭﻏﻴﺮ ﺫﻟﻚ ﻣﻦ اﻷﺫﻛﺎﺭ ﻭﻣﺎ ﺳﻮﻯ اﻟﻘﺮﺁﻥ ﻟﻠﺠﻨﺐ ﻭاﻟﺤﺎﺋﺾ ﻭﺩﻻﺋﻠﻪ ﻣﻊ اﻹﺟﻤﺎﻉ ﻓﻲ اﻷﺣﺎﺩﻳﺚ اﻟﺼﺤﻴﺤﺔ ﻣﺸﻬﻮﺭﺓ:
ﻓﺄﻣﺎ ﺇﺟﺮاء اﻟﻘﺮاءﺓ ﻋﻠﻰ اﻟﻘﻠﺐ ﻣﻦ ﻏﻴﺮ ﺗﺤﺮﻳﻚ اﻟﻠﺴﺎﻥ ﻭاﻟﻨﻈﺮ ﻓﻲ اﻟﻤﺼﺤﻒ ﻭﺇﻣﺮاﺭ ﻣﺎ ﻓﻴﻪ ﻓﻲ اﻟﻘﻠﺐ ﻓﺠﺎﺋﺰ ﺑﻼ ﺧﻼﻑ ﻭﺃﺟﻤﻊ اﻟﻌﻠﻤﺎء ﻋﻠﻰ ﺟﻮاﺯ التسبيح ﻭاﻟﺘﻬﻠﻴﻞ ﻭﺳﺎﺋﺮ اﻷﺫﻛﺎﺭ ﻏﻴﺮ اﻟﻘﺮﺁﻥ ﻟﻠﺤﺎﺋﺾ ﻭاﻟﻨﻔﺴﺎء ﻭﻗﺪ ﺗﻘﺪﻡ ﺇﻳﻀﺎﺡ ﻫﺬا ﻣﻊ ﺟﻤﻞ ﻣﻦ اﻟﻔﺮﻭﻉ اﻟﻤﺘﻌﻠﻘﺔ ﺑﻪ ﻓﻲ ﺑﺎﺏ ﻣﺎ ﻳﻮﺟﺐ اﻟﻐﺴﻞ ﻭاﻟﻠﻪ ﺃﻋﻠﻢ.
مغني المحتاج – (ج 1 / ص 217)
(وَتَحِلُّ) لِجُنُبٍ (أَذْكَارُهُ) وَغَيْرُهَا كَمَوَاعِظِهِ وَأَخْبَارِهِ وَأَحْكَامِهِ (لَا بِقَصْدِ قُرْآنٍ) كَقَوْلِهِ عِنْدَ الرُّكُوبِ: {سُبْحَانَ الَّذِي سَخَّرَ لَنَا هَذَا وَمَا كُنَّا لَهُ مُقْرِنِينَ} [الزخرف: 13] أَيْ مُطِيقِينَ، وَعِنْدَ الْمُصِيبَةِ {إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ} [البقرة: 156] وَلَا مَا جَرَى بِهِ لِسَانُهُ بِلَا قَصْدٍ، فَإِنْ قَصَدَ الْقُرْآنَ وَحْدَهُ أَوْ مَعَ الذِّكْرِ حَرُمَ، وَإِنْ أَطْلَقَ فَلَا كَمَا نَبَّهَ عَلَيْهِ فِي الدَّقَائِقِ لِعَدَمِ الْإِخْلَالِ بِحُرْمَتِهِ؛ لِأَنَّهُ لَا يَكُونُ قُرْآنًا إلَّا بِالْقَصْدِ، قَالَهُ الْمُصَنِّفُ وَغَيْرُهُ. وَظَاهِرٌ أَنَّ ذَلِكَ جَارٍ فِيمَا يُوجَدْ نَظْمُهُ فِي غَيْرِ الْقُرْآنِ كَالْآيَتَيْنِ الْمُتَقَدِّمَتَيْنِ، وَالْبَسْمَلَةِ وَالْحَمْدَلَةِ، وَمَا لَا يُوجَدُ نَظْمُهُ إلَّا فِيهِ كَسُورَةِ الْإِخْلَاصِ وَآيَةِ الْكُرْسِيِّ وَهُوَ كَذَلِكَ، وَإِنْ قَالَ الزَّرْكَشِيُّ: لَا شَكَّ فِي تَحْرِيمِ مَا لَا يُوجَدُ نَظْمُهُ فِي غَيْرِ الْقُرْآنِ، وَتَبِعَهُ عَلَى ذَلِكَ بَعْضُ الْمُتَأَخِّرِينَ كَمَا شَمِلَ ذَلِكَ قَوْلُ الرَّوْضَةِ، أَمَّا إذَا قَرَأَ شَيْئًا مِنْهُ لَا عَلَى قَصْدِ الْقُرْآنِ فَيَجُوزُ، وَلَوْ عَبَّرَ الْمُصَنِّفُ بِهَا هُنَا كَانَ أَوْلَى لِيَشْمَلَ مَا قَدَّرْتُهُ، بَلْ أَفْتَى شَيْخِي بِأَنَّهُ لَوْ قَرَأَ الْقُرْآنَ 

المجموع شرح المهذب ج ٥ ص ٣١٠-٣١١ المكتبة الشاملة


وَأَمَّا النِّسَاءُ فَقَالَ الْمُصَنِّفُ وَصَاحِبُ الْبَيَانِ لَا تَجُوزُ لَهُنَّ الزِّيَارَةُ وَهُوَ ظَاهِرُ هَذَا الْحَدِيثِ وَلَكِنَّهُ شَاذٌّ فِي الْمَذْهَبِ وَاَلَّذِي قَطَعَ بِهِ الْجُمْهُورُ أَنَّهَا مَكْرُوهَةٌ لَهُنَّ كَرَاهَةَ تَنْزِيهٍ وَذَكَرَ الرُّويَانِيُّ فِي الْبَحْرِ وَجْهَيْنِ
(أَحَدَهُمَا)
يُكْرَهُ كَمَا قَالَهُ الْجُمْهُورُ
(وَالثَّانِي)
لَا يُكْرَهُ قَالَ وَهُوَ الْأَصَحُّ عندي إذا أمن الا فتتان وَقَالَ صَاحِبُ الْمُسْتَظْهِرِيِّ وَعِنْدِي إنْ كَانَتْ زِيَارَتُهُنَّ لِتَجْدِيدِ الْحُزْنِ وَالتَّعْدِيدِ وَالْبُكَاءِ وَالنَّوْحِ عَلَى مَا جَرَتْ بِهِ عَادَتُهُنَّ حَرُمَ قَالَ وَعَلَيْهِ يُحْمَلُ الْحَدِيثُ ” لَعَنَ اللَّهُ زَوَّارَاتِ الْقُبُورِ ” وَإِنْ كَانَتْ زيارتهن للاعتبار مِنْ غَيْرِ تَعْدِيدٍ وَلَا نِيَاحَةٍ كُرِهَ إلَّا إن تكون عجوزا لا تشثهى فَلَا يُكْرَهُ كَحُضُورِ الْجَمَاعَةِ فِي الْمَسَاجِدِ وَهَذَا الَّذِي قَالَهُ حَسَنٌ وَمَعَ هَذَا فَالِاحْتِيَاطُ لِلْعَجُوزِ تَرْكُ الزِّيَارَةِ لِظَاهِرِ الْحَدِيثِ
…….
تحفة المحتاج في شرح المنهاج هامش حاشية الشرواني ج ٣ ص ١٨٩ المكتبة الشاملة
(وَيُشْتَرَطُ) اتِّفَاقًا (لِصِحَّةِ الصَّلَاةِ تَقَدُّمُ غُسْلِهِ) أَوْ تَيَمُّمِهِ بِشَرْطِهِ لِأَنَّهُ الْمَنْقُولُ وَتَنْزِيلًا لِلصَّلَاةِ عَلَيْهِ مَنْزِلَةَ صَلَاتِهِ وَمِنْ ثَمَّ اُشْتُرِطَ طَهَارَةُ كَفَنِهِ أَيْضًا إلَى فَرَاغِ الصَّلَاةِ عَلَيْهِ
………….
إعانة الطالبين ج ٢ ص ١٤٨ المكتبة الشاملة
وكما يشترط تقدم طهره، يشترط أيضا تقدم طهر ما اتصل به، كصلاة الحي، فيضر نجاسة ببدنه أو كفنه أو برجل نعشه وهو مربوط به
…………

Kesimpulan boleh orang haid ziarah kubur dengan berdzkir dan bertasbih dan berdo’ a selama ia tidak membaca al-Qura’an kecuali dengan dibaca didalam hati ini.

Kebolehan perempuan ziarah kubur mangacu pada hadits tersebut diatas selama tidak mengandung fitnah bagi perempuan cantik , dan Di dalam kitab al Majmu’ disebutkan bahwa jika bisa menambah kesedihan, seperti jika perempuan yang berziarah ke kubur itu menangis dan menjerit-jerit, maka hukumnya perempuan yang berziarah ke kubur ( yang menghadiri panguburan mayyit) itu haram.Akan tetapi jika perempuan menangis tanpa adanya unsur kesengajaan misalakan perempuan ziarah kubur menangisi dosanya diri perempuan itu sendiri,dan mengingat nasibnya si perempuan itu sendiri di akhirat,maka hukum menangis nya perempuan itu adalah boleh.
Apalagi tanpa adanya unsur kesengajaan maka
Allah Mengampuni Siapa yang Tersalah dan Lupa

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا أَنَّ رَسُولَ اللهِ صلى الله عليه وسلم قَال: (إِنَّ اللهَ تَجَاوَزَ لِي عَنْ أُمَّتِي الْخَطَأَ وَالنِّسْيَانَ وَمَا اسْتُكْرِهُوْا عَلَيْهِ) حَدِيْثٌ حَسَنٌ رَوَاهُ ابْنُ مَاجَه وَاْلبَيْهَقِيّ وَغَيْرُهُمَا.

Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya Allah membiarkan(mengampuni) kesalahan dari umatku akibat kekeliruan dan lupa serta keterpaksaan.” (Hadits Hasan diriwayatkan oleh Ibnu Majah dan Al Baihaqi serta selain keduanya).[1]
[1] Diriwayatkan oleh Ibnu Majah (2045), Ibnu Hibban dalam Shahihnya (16/202), Ath Thabrani dalam al Kabir (11274), Al Hakim dalam al Mustadrak (2/216) , Ad Daruquthni dalam Sunannya (4/170) dan Al Baihaqi dalam al Kubra (7/356).

Wallahu A’lam bisshowab