
ZAKAT PRODUKTIF HASIL TAMBAK GARAM
Assalamualaikum
Deskripsi masalah
Pulau Giliraja kecamatan Giligenting merupakan daerah kepulauan yang strategis yang mana sebagian penduduknya berada dipesisir pantai yang dihiasi dengan berbagai pemadangan dan tumbuh- tumbuhan tenjeng . Tenjeng sangatlah bermanfaat untuk menahan benturan ombak dari laut, sehingga tempat disekitar pantai tetap aman .
Ketika memasuki kemarau panjang khususnya masyarakat pesisir mereka memanfaatkan tanahnya untuk dijadikan alat atau lahan pembuatan garam, yang biasa dikenal dengan tambak garam. Garam termasuk barang tambang yang mempunyai nilai ekonomis yang cukup tinggi apalagi ditahun 2023 sekarang ini harga garam per- 1 ton harganya mencapai Rp 5000000 ( lima juta), maka dengan mahalnya harga garam tersebut masyarakat serentak memanfaatkan tanahnya ( tambaknya ) untuk memproduksi garam melalui air laut yang dikelola dengan sebaik mungkin, sehingga per-sembilan hari mereka panen hingga mencapai 5 ton bahkan bisa jadi lebih, hal itu bergantung luas dan tidaknya lahan yang mereka gunakan untuk memperoses produksi garam karena jangka waktu 9 hari itu minimalnya bahkan jika memprosesannya ditempuh dalam jangka waktunya lebih lama hingga 1 bulan bisa jadi perolehan garamnya ketika dipanen 20 ton bahkan lebih.
Pertanyaannya.
Wajibkah garam dikeluarkan zakatnya (apakah petani garam ) wajib mengeluarkan zakat ?
Kalau garam wajib zakat berapakah nisabnya dan yang wajib dikeluarkan?
Wa alaikumussalam.
Jawaban:
Kalau dilihat dari Ain atau dzatnya garam bukanlah harta / komoditas yang disebutkan dalam Al-Qur’an secara eksplisit sebagai barang atau harta yang wajib zakat karena garam tidaklah termasuk dari makanan pokok ( Quwatil balad), Namun bukan berarti bahwa hasil tambak garam tidak wajib dizakati, mengapa demikian karena bagaimanapun juga garam masuk dalam kategori barang perniagaan dan karena itulah zakat yang berlaku atasnya adalah zakat perniagaan . Hal ini didasarkan pada tiga alasan.
Pertama; Bahwa garam mengandung illat an-Namaa'( tumbuh/berkembang).
Kedua’: Adanya niat dari petani garam( produsen) untuk menjualnya .
Ketiga: Bukanlah berbentuk Ain yang wajib zakat sebagaimana emas dan perak , hewan ternak dan hasil pertanian seperti beras jagung dan lainnya termasuk biji-bijian yang menjadi Quatil balad ( makanan pokok) akan tetapi jika adanya produksi garam itu niat diperjual belikan, berarti dalam hal ini sudah masuk dalam kategori dari Uruuduttijarah ( barang dangangan ), maka dalam hal ini wajib dikeluarkan zakatnya tijarah ( jual beli ) bilamana sudah sampai nisab dan haul.
Adapun Nishabnya adalah jika barang dagangan dan labanya dijumlahkan di akhir tahun itu mencapai nishabnya emas,yaitu 85, gram emas.
Dalam harta dagangan yang harus diakumulasi(di kumpulkan) di akhir tahun adalah stok barang dagangan yang ada plus(di tambah) laba yang ada, bila laba tersebut tidak menjadi emas atau perak, sedangkan bila laba tersebut sudah menjadi emas atau perak maka harus di zakati secara tersendiri, bila stok barang yang ada beserta laba yang tidak menjadi emas atau perak omzetnya mencapai harganya nishabnya emas yaitu 85 gram maka wajib zakat yaitu yang wajib dikeluarkan adalah 2,5 %nya, kalau tidak mencapai kadar di atas maka tidak wajib zakat. :
Referensi :
حواشى الشروانى .ج:٣ص:٢٩٥
أن التجارة تقليب المال بالتصرف فيه بنحو البيع لطلب النماء فتبين بذلك أن البزر المشترى بنية أن يُزرع ثم يُتَّجَر بما ينبت ويحصل منه كبزر البقَّم لايكون عرض تجارة لاهو ولا مانبت منه أماالأول فلان شراءه لم يقترن بنية التجارة به نفسه بل بماينبت منه وأماالثانى فلانه لم يملك بمعاوضة بل بِزِراعة بزر القِنْيَة
حواشى المدنية .ج:١ ص:٩٨
وقد قررنا أن مالازكاة فى عينه يجب فيه زكاة التجارة من الجذوع والتين والأرض إذ ليس فى هذه المذكورات زكاة عين ومالا كان فى عينه يجب فيه زكاة التجارة
الباجورى ١/٧٧
.وتقوم عروض التجارة عند آخر الحول بما اشتريت سواء كان ثمن مال التجارة نصابا أم لا فإن بلغت قيمة العروض آخر الحول نصابا زكاها وإلا فلا
إعانة الطالبين ٢/١٥٢
يجب ربع عشر قيمة العرض في مال تجارة بلغ النصب في آخر الحول وإن ملكه بدون نصاب و يضم الربح الحاصل في أثناء الحول إلى الأصل في الحول إن لم ينض أما إذا نض بأن صار ذهبا أو فضة وأمسكه إلى آخر الحول فلا يضم إلى الأصل بل يزكى الأصل بحوله و يفرد الربح بحول
Syarat-syarat zakat tijarah:Tijarah yang berarti perdagangan didefinisikan sebagai setiap harta yang dikembangkan untuk keuntungan laba dengan cara saling tukar menukar (mu’awadhah) atau dikatakan sebagai usaha perdagangan dengan cara jual beli. Sebagian ulama dari kalangan Malikiyah berpendapat bahwa persewaan termasuk dalam usaha perdagangan . (lihat: Hasyiyah al-Dasuqi I/472-473).
Referensi
كاشفة السجا على سفينة النجا
(و) النوع الرابع (أموال التجارة) وهي تقليب المال بالمعاوضة لغرض الربح بنية تجارة عند كل تصرف
Pengertian tijaroh atau berdagang adalah mengelola harta dengan cara muawadhoh (saling mengganti atau membandingi) untuk tujuan memperoleh keuntungan dengan berniat berdagang di setiap penasarufan (transaksi).
والحاصل أن شرط وجوب زكاة التجارة ستة أحدها كون المال مملوكاً بمعاوضة كشراء سواءكان بعرض أم نقد أم دين حال أم مؤجل وكما لو صالح عليه عن دم أو أجر به نفسه سواء كانت المعاوضة غير محضة وهي التي لا تفسد بفساد مقابلها كالنكاح والخلع أومحضة وهي التي تفسد بذلك كالبيع والشراء والهبة بثواب وخرج بذلك ما ملك بغيرمعاوضة كإرث فإذا ترك لورثته عروض تجارة لم تجب عليهم زكاتها وهبة بلا ثواب واختطاب
Kesimpulannya adalah bahwa syarat wajib zakat tijaroh
a. Syarat Wajib Zakat Tijaroh Yaitu ada 6 (enam):
1- Adanya Harta dagangan dimiliki dengan cara muawadhoh, seperti melalui cara pembelian, baik dibayar dengan barang dagangan lain (barter), atau uang (emas/perak), atau dihutang yang dibayar dengan segera atau ditangguhkan, atau melalui cara shuluh, yaitu memperoleh harta atas dasar transaksi shuluh atau damai atas kematian seseorang, atau melalui cara memperoleh harta sebagai upah atas jasa yang disewakan, baik bentuk muawadhoh itu adalah muawadhoh ghoiru mahdoh, yaitu bentuk muawadhoh yang tidak bisa rusak sebab pembandingnya rusak, seperti; nikah, khuluk, atau bentuk muawadhoh itu adalah muawadhoh mahdoh, yaitu bentuk muawadhoh yang bisa rusak sebab pembandingnya rusak, seperti; transaksi penjualan dan pembelian, hibah dengan syarat balasan.
Dengan demikian, dikecualikan harta yang dimiliki tidak melalui cara muawadhoh, seperti harta yang dimiliki sebab menerima warisan. Oleh karena itu, apabila ada mayit meninggalkan harta warisan berupa harta dagangan kepada para ahli warisnya maka mereka tidak berkewajiban menzakatinya. Dikecualikan juga hibah yang tanpa syarat dibalas dan ihtitob (sebatas mengumpulkan harta dagangan).
ثانيها وجود نية التجارة حال المعاوضة قد يقصد به التجارة وقد يقصد به غيرها فلا بدمن نية مميزة وإن لم يجددها في كل تصرف بعد فراغ الشراء مثلاً برأس المال
2- Adanya niat berdagang pada saat melakukan transaksi muawadhoh karena terkadang muawadhoh bisa dimaksudkan untuk berdagang dan bisa dimaksudkan untuk selainnya. Oleh karena ini, harus ada niat yang membedakan antara keduanya, meskipun niat tersebut tidak selalu diperbaharui di setiap penasarufan setelah selesai melakukan pembelian semisal dengan modal.
ثالثها أن لا يقصد بالمال القنية أي الإمساك للانتفاع فإن قصدها به انقطع الحول فيحتاج إلى تجديد نية مقرونة بتصرف وكذا إن قصدها ببعضه وإن لم يعينه ويرجع في تعيينه إليه
3- Tidak ada niatan qun-yah atau menahan harta untuk memperoleh manfaat atau keuntungan. Apabila ia menyengaja qun-yah pada hartanya maka terputuslah haul sehingga memerlukan pembaharuan niat yang disertakan dengan tasarruf. Begitu juga dapat memutus haul apabila meniatkan qun-yah pada sebagian harta meskipun tidak ditentukan harta yang mana. Dan terputusnya haul dikembalikan pada sebagian harta yang ditentukan untuk diniati qun-yah.
ورابعها مضى حول من وقت الملك نعم إن ملكه بعين نقد نصاب أو دونه وفي ملكه باقيه كأن اشترى بعشرين مثقالاً أو بعين عشرة وفي ملكه عشرة أخرى بني على حولالنقد بخلاف ما لو اشتراه بنصاب في الذمة ثم نقده في الس فإنه ينقطع حول النقدويبتدىء حول التجارة من حين الشراء والفرق بين المسألتين أن النقد لم يتعين صرفه للشراء في الثانية بخلاف الأولى
4- Terlewatnya haul (setahun) dari waktu kepemilikan atas harta dagangan. Apabila seseorang memiliki harta dagangan dengan cara membelinya dengan emas yang sebesar nisob atau membelinya dengan emas yang sebesar kurang dari nisob, tetapi masih memiliki sisanya (yang jika dijumlahkan dengan yang digunakan untuk membeli dapat mencapai nisob), seperti; ia membeli barang dagangan dengan 20 mitsqol (nisob emas) atau ia membeli barang dagangan dengan 10 mitsqol dan masih memiliki 10 mitsqol sisanya, maka haul barang dagangan didasarkan pada haul emas itu. Berbeda dengan masalah apabila seseorang membeli barang dagangan dengan emas yang sebesar nisob, tetapi masih dalam bentuk tanggungan, kemudian pada waktu berikutnya, ia membayarnya dengan emas di majlis akad, maka haul emas telah terputus dan haul harta dagangan dimulai dari waktu pembelian.
Perbedaan antara dua masalah di atas adalah bahwa emas dalam masalah kedua tidak harus ditasarrufkan untuk membeli barang dagangan, artinya, masih memungkinkan membelinya dengan harta lain karena pembayarannya bersifat tanggungan, sedangkan dalam masalah pertama, emas sudah pasti ditasarrufkan untuk membelinya.
خامسها أن لا يرد جميع مال التجارة في أثناء الحول إلى نقد من جنس ما يقوم به وهودون نصاب فإن رد إلى ذلك ثم اشترى به سلعة بكسر السين أي بضاعة للتجارة ابتدأحولها من حين شرائها لتحقق نقص النصاب بالتنصيص بخلافه قبله فإنه مظنون أما لورّّد بعض المال إلى ما ذكر أو باعه بعرض أو بنقد لا يقوم به آخر الحول كأن باعه بدراهم والحال يقتضي التقويم بدنانير أو بنقد يقوم به وهو نصاب فحوله باق في جميع ذلك
5- Tidak mengembalikan atau merubah seluruh harta dagangan di tengah-tengah haul menjadi emas/perak yang harta dagangan dinilai harga dengannya, sedangkan emas/perak tersebut kurang dari nisob.
Apabila seseorang mengembalikan seluruh harta dagangan menjadi emas/perak, dan ternyata kurang dari nisob, kemudian ia membeli harta dagangan lain dengan emas/perak tersebut maka haul harta dagangan tersebut dimulai lagi sejak membelinya karena terbukti kurang dari nisob sebab tansis (penumpukan harta dagangan). Berbeda dengan sebelum dikembalikan menjadi emas/perak, maka nisob harta dagangan pertama bersifat madznun atau sekedar sangkaan telah mencapai nisob.
Adapun apabila sebagian harta dagangan dikembalikan menjadi emas/perak, atau sebagian harta dagangan dijual belikan dengan ganti berupa harta dagangan lain (barter), atau dijual dengan ganti emas/perak yang mana harta dagangan tersebut tidak dinilai harganya dengannya di akhir haul, misalnya; seseorang menjual sebagian harta dagangannya dengan ganti beberapa dirham padahal kondisi saat itu menunjukkan bahwa harta dagangan hanya dapat dinilai harganya dengan beberapa dinar, atau sebagian harta dagangan dijual dengan ganti emas/perak yang mana harta dagangan tersebut dapat dinilai harga dengannya dan telah mencapai nisob, maka haul harta dagangan bersifat tetap, artinya, tidak harus mengawali haul lagi.
سادسها أن تبلغ قيمته آخر الحول نصاباً أو دونه ومعه ما يكمل به كما لو كان معه مائة درهم فابتاع أي فاشترى بخمسين منها عرضاً للتجارة وبقي في ملكه خمسون وبلغت قيمة العرض آخر الحول مائة وخمسين فيضم لما عنده وتجب زكاة الجميع
6- Nilai harga harta dagangan di akhir haul telah mencapai nisob, atau kurang dari nisob tetapi masih memiliki harta yang menggenapkannya sehingga mencapai nisob, seperti; seseorang memiliki 100 dirham, lalu ia menggunakan 50 dirham untuk membeli harta dagangan dan ia masih mengantongi 50 dirham sisanya, di akhir tahun, harta dagangannya dinilai harganya dan menghasilkan 150 dirham, kemudian digabungkan dengan 50 dirham sebelumnya hingga berjumlah 200 dirham (mencapai nisob), maka wajib dizakati semuanya.
b. Besarnya Zajat Tijaroh
(واجبها) أي أموال التجارة (ربع عشر قيمة عروض التجارة) فإن ملكت بنقد ولو دون نصاب قومت به ولا بد في التقويم من عدلين فلو لم يبلغ نصاباً لم تجب الزكاة وإن بلغ بغيره
Besar zakat yang wajib dikeluarkan dari harta dagangan (tijaroh) adalah 2,5% dari nilai harga harta dagangan tersebut.
Apabila seseorang memiliki harta dagangan yang dibelinya dengan emas meskipun kurang dari nisob maka harta dagangan tersebut dinilai harganya dengan emas juga. (Begitu juga, apabila ia memiliki harta dagangan yang dibelinya dengan perak maka harta dagangan tersebut dinilai harganya dengan perak juga.) Dalam menilai harga harta dagangan harus menurut dua orang yang adil.
Apabila setelah harta dagangan dinilai harganya dengan emas dan ternyata belum mencapai nisob maka tidak wajib mengeluarkan zakatnya meskipun jika dinilai harganya dengan perak telah mencapai nisob. (Begitu juga sebaliknya)
وإن ملكت بغيره كعرض ونكاح وخلع فبغالب نقد البلد صورة ذلك شخص زوج أمته أو خالع زوجته بعرض نوى به التجارة وكذا لو تزوجت الحرة بعرض نوت به ذلك
Apabila harta dagangan dimiliki dengan cara barter, nikah, dan khuluk, maka harta dagangan tersebut dinilai harganya dengan mata uang yang berlaku, apakah emas atau perak. Contoh; ada seorang suami menikahkan amatnya atau mengkhuluk istrinya dengan ganti barang dagangan yang diniati tijaroh atau berdagang. Begitu juga, seperti perempuan merdeka yang menikah dengan mahar barang dagangan dengan niatan tijaroh atau berdagang. (Maka barang dagangan tersebut dinilai harganya dengan mata uang yang berlaku pada saat itu)
ومثل ذلك ما لو ملكت عروض التجارة بصلح عن دم كأن جنى عليه شخص فوجب على ذلك الشخص قصاص فصالح اني عليه وعفا بالدية بنية التجارة كأن قال عفوت عنك بالدية فكانت الدية بدلا عن القصاص
Selain di atas, artinya, harta dagangan juga dinilai dengan mata uang yang umum digunakan di negara pemiliknya adalah apabila harta dagangan dimiliki dengan transaksi shuluh atau damai, misalnya; si A telah melukai si B, maka si A berhak menerima qisos, lalu si A bertransaksi shuluh atau damai dengan si B, lalu si B memaafkan si A dengan harus membayar denda dengan niatan tijaroh atau berdagang, seperti; si B berkata kepada si A, “Aku memaafkanmu dengan adanya denda darimu,” dengan demikian, denda tersebut adalah gantian dari penetapan qisos (dan harta dagangan tersebut dinilai harganya dengan mata uang yang berlaku di wilayah si A dan si B)
فإن لم يكن بالبلد نقد فبغالب نقد أقرب البلاد إليه
Apabila wilayah harta dagangan tidak berlaku mata uang sama sekali, maka harta dagangan tersebut dinilai harganya dengan mata uang yang ada di wilayah yang paling dekat dengan wilayah yang mata uang tidak berlaku disana
. فإن غلب نقدان على التساوي تخير بينهما إن بلغت نصاباً بكل منهما وإن بلغت نصابا بأحدهما دون الآخر قومت لتحقق تمام النصاب
Apabila wilayah harta dagangan berlaku sama dua mata uang maka pemilik harta dagangan tersebut diperbolehkan memilih antara menilai harga harta dagangannya dengan mata uang yang pertama atau yang kedua jika memang harta dagangan tersebut telah mencapai nisob ketika dinilai harganya dengan masing-masing dari mata uang pertama dan kedua.
Apabila harta dagangan bisa mencapai nisob jika dinilai harganya dengan mata uang pertama dan tidak bisa mencapainya jika dinilai harganya dengan mata uang kedua, maka harta dagangan tersebut dinilai harganya dengan mata uang pertama sebab telah terbukti mencapai nisob dengan mata uang pertama tersebut
.
وإن ملكت بنقد وغيره قوم ما قابل النقد به وما قابل غيره بغالب نقد البلد ويعرف ما قابل غير نقد بتقويمه ومعرفة نسبته للنقد حال المعاوضة
Apabila harta dagangan dimiliki melalui dibeli dengan mata uang emas/perak dan juga dibeli dengan selainnya, (seperti; barter dengan barang dagangan lain), maka harta dagangan yang dibeli dengan emas/perak tersebut dinilai harganya dengan emas/perak juga dan harta dagangan yang dibeli dengan selainnya dinilai harganya dengan mata uang yang berlaku, apakah itu emas atau perak. Cara mengetahui harta dagangan manakah yang dijual belikan dengan selain emas/perak adalah dengan menilai harganya. Dan mengetahui penisbatan harta dagangan tersebut terhadap mata uang emas/perak adalah pada saat proses muawadhoh (dalam contoh ini adalah proses jual beli).
فإن اختلف الغالب وقت الشراء وآخر الحول اعتبر الثاني لأنه المعتبر في زكاة التجارةوقولهم العبرة بما اشترى به وإن أبطله السلطان أو كان الغالب غيره محله فيما اشترى بالنقد لا بعرض كما هنا
(Awal masalah ada seseorang membeli harta dagangannya dengan cara barter dengan barang dagangan lain). Apabila mata uang yang berlaku pada saat pembelian berbeda dengan mata uang yang berlaku di akhir haul maka yang dijadikan patokan untuk menilai harga harta dagangan tersebut adalah mata uang yang berlaku di akhir haul karena mata uang tersebut adalah yang dititik beratkan pada zakat tijaroh/dagangan.
Adapun perkataan para fuqoha, “Yang diberlakukan adalah mata uang yang digunakan untuk membeli harta dagangan meskipun pemerintah menghapus keberlakuan mata uang tersebut atau meskipun yang umum berlaku adalah selain mata uang yang digunakan untuk membeli,” adalah perkataan pernyataan yang dikaitkan dengan masalah apabila pada awalnya memang seseorang membeli harta dagangannya dengan mata uang emas/perak, bukan dengan membelinya melalui barter dengan barang dagangan lain, seperti dalam pembahasan disini.
ويضم ربح حاصل في أثناء الحول لأصل في الحول إن لم ينض بما يقوم به بأن لم ينضأصلاً أو نض بغير ما يقوم به فلو اشترى عرضا قيمته مائتا درهم فصارت قيمته آخر الحول
ثلاثمائة زكاهاأما إذا نض بما يقوم به فلا يضم إلى الأصل بل يزكى الأصل عند حوله والريح عند حوله في فرد كل بحول ومعنى نض صار نانا دراهم دراهم ودنانير
14
14(ويضم ربح) حاصل في أثناء الحول ولو من عين العرض كولد وثمر (لأصل في الحول إن لم ينض)بكسر النون بقيد زدته بقولي ( بما تقوم به ) الآتي بيانه فلو اشترى عرضا بمائتي درهم صارت قيمته في
Ketika telah mencapai haul, keuntungan dagangan yang diperoleh di tengah-tengah haul digabungkan dengan modal, tetapi dengan catatan jika keuntungan tersebut belum ditunai uangkan ke uang dirham atau dinar, sekiranya keuntungan tersebut tidak ditunai uangkan sama sekali atau ditunai uangkan tetapi bukan ke uang dirham atau dinar. Oleh karena itu, apabila seseorang membeli dagangan dengan harga 200 dirham, kemudian di akhir haul dagangannya menjadi 300 dirham, maka semua 300 dirham itu wajib dikeluarkan zakatnya.
Adapun apabila keuntungan yang diperoleh di tengah-tengah haul telah ditunai uangkan ke dirham atau dinar maka keuntungan tersebut tidak digabungkan dengan modal, tetapi modal dizakati sendiri pada saat haul-nya dan keuntungan dizakati sendiri pada saat haul-nya juga, sehingga masing-masing dari modal dan keuntungan memiliki masa haul sendiri-sendiri. Pengertian ditunai uangkan adalah sekiranya menjadi dirham dan dinar. (Contoh; seseorang membeli barang dagangan dengan 200 dirham. Setelah 6 bulan berikutnya, ia menjual barang dagangannya tersebut dengan harga 300 dirham. Lalu, 300 dirham tersebut ditahan sampai akhir haul. Maka pada akhir haul tersebut, yang 200 dirham dikeluarkan zakatnya. Baru 6 bulan kemudian, yang 100 dirham dikeluarkan zakatnya.)
Menurut keterangan dalam kitab Hasyiyah Ad-Dasuqi I/473 syaratnya zakat tijarah yaitu:
1.Diniati untuk diperdagangkan dan bukan untuk selainnya.
Catatan: Menurut Malikiyyah termasuk dalam hal ini ialah niat memperdagangkan ketika membeli meskipun disertai dengan niat untuk digunakan sendiri atau disewakan.
2.Barang yang diperdagangkan harus diperoleh dari proses timbal balik seperti jual beli atau imbalan dari akad persewaan.
3.Dimiliki secara penuh (al-milk al-taam).
4.Satu nishab (krus semua sebanyak harta nishabnya emas, termasuk harta yang ada di orang lain).
5.Satu tahun penuh menurut kalender hijriyah.
Catatan : Menurut Malikiyah harta dagangan yang sifatnya investasi seperti membeli tanah dengan niat dijual ketika harga tinggi, maka zakatnya wajib dikeluarkan ketika sudah laku. (Hasyiyah Ad-Dasuqi I/473).
Wallohu a’lam.