logo mubaa
Logo Ittihad

DEWAN PIMPINAN PUSAT
IKATAN ALUMNI BATA-BATA

Kategori
Uncategorized

HUKUM MENGHANCURKAN DAN MEMANFAATKAN KERAMIK BERTULISKAN ASMA ALLAH SETELAH RENOVASI

Hukum Pemanfaatan Keramik Masjid Bertuliskan Asma Allah Setelah Renovasi

Assalamualaikum

Deskripsi/Latar Belakang
Renovasi masjid sering kali melibatkan perubahan struktur bangunan, termasuk dinding dengan keramik bertuliskan asma Allah. Keramik ini mungkin perlu dihancurkan karena usia atau desain baru. Persoalan muncul ketika puing-puingnya direncanakan digunakan sebagai bahan bangunan (aram). Hal ini menimbulkan pertanyaan tentang hukum syariat, terutama dalam menjaga kehormatan asma Allah, sekaligus mempertimbangkan efisiensi penggunaan material.

Pertanyaan
Apakah diperbolehkan menghancurkan keramik bertuliskan asma Allah dalam rangka renovasi masjid, lalu menggunakan serpihannya sebagai bahan bangunan (aram)? Jika diperbolehkan, apakah tindakan tersebut dianggap menghinakan meskipun tulisan pada keramik sudah hancur dan tidak tampak lagi?

Waalaikum salam.
Jawaban

Menghancurkan keramik masjid yang bertuliskan asma Allah, kemudian menjadikannya sebagai aram (bahan bangunan) memerlukan pertimbangan hukum syariat yang mendalam. Berikut ini adalah analisisnya:

1. Asma Allah Harus Dijaga dari Penghinaan
Dalam Islam, nama Allah dan ayat-ayat Al-Qur’an harus dihormati dan dijaga dari hal-hal yang dapat dianggap sebagai penghinaan. Dalilnya antara lain:

Allah berfirman:

“وَمَنْ يُعَظِّمْ شَعَائِرَ اللَّهِ فَإِنَّهَا مِنْ تَقْوَى الْقُلُوبِ”

“Dan barangsiapa mengagungkan syiar-syiar Allah, maka itu sesungguhnya timbul dari ketakwaan hati.” (QS. Al-Hajj: 32).

2. Hukum Menghancurkan untuk Renovasi
Apabila keramik bertuliskan asma Allah tersebut sudah rusak atau tidak lagi digunakan karena renovasi, menghancurkannya dengan niat menjaga kehormatan asma Allah (misalnya untuk menghindari penyalahgunaan) diperbolehkan, asalkan dilakukan dengan cara yang menghormati.

3. Menjadikannya Bahan Bangunan (Aram)
Jika keramik yang telah dihancurkan benar-benar berubah menjadi bentuk baru (misalnya bubuk atau serpihan kecil) sehingga tulisan tidak lagi tampak atau bisa dikenali, maka hukumnya boleh digunakan kembali. Dalam kondisi ini, tidak dianggap sebagai penghinaan karena tulisan sudah tidak ada dan bahan tersebut hanya dimanfaatkan sebagai material biasa.

4. Sikap Hati-Hati
Namun, para ulama sering menganjurkan agar asma Allah atau bahan yang mengandung tulisan suci dihancurkan dengan cara yang layak, seperti dikubur di tempat yang suci, untuk lebih menjaga kehormatan.

Kesimpulan:

Boleh menghancurkan keramik bertuliskan asma Allah jika tujuannya untuk renovasi dan mencegah penyalahgunaan.

Setelah dihancurkan hingga tidak lagi tampak tulisan, boleh digunakan sebagai bahan bangunan.

Tidak dianggap sebagai penghinaan selama proses penghancuran dan penggunaannya dilakukan dengan penuh penghormatan dan niat yang benar.

Referensi
Qurratul Ain (Fatwa Sayyid Ismail Zain Al-Makki Al-Yamani

سؤال:
ما حكم وطء رماد المصحف؟ هل يجوز لأحد أن يطأ برجله رماد ذلك المصحف أو أن يعلوه بها أو لا؟
الجواب:
إذا عرف أن ذلك التراب أو الرماد هو رماد المصحف فلا يجوز له أن يطأه على وجه الامتهان أو العناد. وأما إذا لم يكن قاصدًا للامتهان ولا معاندا فإن ذلك لا يكون حرامًا لأنه قد خرج عن كونه قرآنا وتبدلت ذاته وصفته وشكله وهيئته. والله سبحانه وتعالى أعلم.
ملاحظة: الرقم ٤٥٤ الموجود في الصورة ربما يكون رقم الفتوى أو رقم الصفحة في المصدر الذي أخذت منه هذه العبارة.
شرح بسيط للجواب:
الجواب يشير إلى أن طء رماد المصحف بشكل متعمد بهدف الامتهان أو التحدي أمر محرم. ولكن إذا كان الشخص لا يقصد ذلك، فلا إثم عليه لأن الرماد لم يعد يحمل نفس حرمة المصحف الأصلي بعد أن تحول إلى رماد.

 

Kategori
Uncategorized

HUKUM MEMASANG PIPA AIR DI JALAN RAYA/JALAN UMUM

HUKUM MEMASANG PIPA AIR DI JALAN RAYA/JALAN UMUM

Deskripsi Masalah:

Sebagaimana yang kita maklumi, sesuai keterangan hadits bahwa air dan api merupakan kebutuhan pokok sehari-hari bagi manusia, baik untuk diminum maupun untuk memasak dengan niatan beribadah, serta keperluan lainnya. Namun, muncul permasalahan terkait cara orang mendapatkan air. Kadang kala, orang menyalurkan air dari suatu tempat ke tempat lain. Di masyarakat, hal yang umum terjadi adalah menyambung air dari kampung sebelah ke rumahnya, yang harus melewati jalan umum. Akhirnya, jalan umum tersebut digali agar bisa dilewati oleh pipa air atau paralon, lalu ditutup kembali. Kalau tidak demikian maka risikonya lebih besar terkadang bisa ditabrak mobil ketika mengangkut air bagi yang tanpa pipa  .

Pertanyaan:

a. Bagaimana hukum menggali jalan umum untuk bisa dilewati pipa air/paralon sebagaimana deskripsi?

Waalaikum salam.

Jawaban

Dalam Islam, penggunaan jalan umum harus memperhatikan prinsip maslahah (kemaslahatan umum) dan tidak boleh menimbulkan bahaya atau kerusakan (la dharara wa la dhirara). Berikut adalah beberapa poin penting yang dapat dijadikan panduan:

1. Hukum Dasar Jalan Umum

Jalan umum adalah fasilitas yang dimiliki oleh seluruh masyarakat, sehingga penggunaannya harus sesuai dengan kemaslahatan umum. Islam melarang seseorang menggunakan fasilitas publik untuk kepentingan pribadi jika mengakibatkan kerugian bagi orang lain. Hal ini didasarkan pada hadits:

 “لا ضرر ولا ضرار”

(رواه ابن ماجه )

“Tidak boleh membahayakan (diri sendiri), dan tidak boleh membahayakan (orang lain)” (HR. Ibn Majah, Malik, dan Ahmad).

2. Ketentuan Pemasangan Pipa

Menggali jalan umum untuk memasang pipa/paralon diperbolehkan dengan syarat:

Meminta izin atau kebijakan dari pihak berwenang (pemerintah setempat atau yang bertanggung jawab atas jalan tersebut), Demi kemaslahatan Hal ini sesuai dengan kaidah menjaga hak-hak bersama, dan untuk kemaslahatan.

Sedangkan  kebijakan pemimpin harus didasarkan pada kemaslahatan masyarakat  adalah:

“تصرف الإمام على الرعية منوط بالمصلحة”

(Kebijakan pemimpin terhadap rakyatnya harus didasarkan pada kemaslahatan).Kaidah ini menegaskan bahwa setiap tindakan atau kebijakan yang diambil oleh pemimpin harus bertujuan untuk mewujudkan kemaslahatan bagi rakyatnya, baik dalam urusan dunia maupun agama. Kebijakan tersebut tidak boleh bertentangan dengan prinsip-prinsip syariat, dan harus mempertimbangkan manfaat yang lebih besar serta menghindari mudarat.

Tidak menimbulkan bahaya bagi pengguna jalan lainnya baik selama proses pemasangan maupun setelahnya.

Memastikan jalan dikembalikan ke kondisi semula atau lebih baik, sehingga tidak mengurangi fungsi jalan umum.

3. Pendapat Ulama dan Kaidah Fiqih hal yang membuat masyarakat boleh menggunakan hal yang membuat mudah

Beberapa kaidah fiqih yang relevan dalam kasus ini:

المشقة تجلب التيسير

Kesulitan mendatangkan kemudahan): Jika air adalah kebutuhan pokok dan satu-satunya cara adalah melalui jalan umum, maka diberi kelonggaran dengan tetap memperhatikan prosedur yang benar.

Adh-dhararu yuzal (bahaya harus dihilangkan): Segala tindakan harus menghindari kerugian, termasuk terhadap pengguna jalan lainnya. Dalam sebuah kaidah :

إذا تزاحمت المصلحتان  قدم بالأعلى وإذا تزاحمت المفسدتان أخذ بالأخف

Jika dihadapkan pada dua kemaslahatan maka utamakan yang lebih tinggi nilainya. Dan jika dihadapkan pada dua kerusakan maka ambillah yang lebih ringan

4. Solusi dan Kesimpulan Hukum

1.Gali separuh jalan  agar mobil tetap bisa berjalan disebelah jalan yang belum digali setelah selesai separuh jalan digali lalu masukkan pipa dan tutup agar bisa dilewati  lalu  pindah pada separuh jalan yang belum digali setelah selesai sambungkan pipa lalu tutup.

2.Boleh menggali jalan umum untuk memasang pipa untuk saluran Air . Karena Air merupakan kebutuhan pokok bersama bagi manusia dengan syarat-syarat berikut:

Mendapat izin dari pihak berwenang.

Tidak merusak fasilitas umum secara permanen.

Tidak mengganggu atau membahayakan orang lain.

Menutup kembali jalan hingga kembali seperti semula.

Jika salah satu syarat ini tidak dipenuhi, maka tindakan tersebut menjadi tidak diperbolehkan, karena melanggar hak masyarakat secara kolektif.

Langkah yang bijak adalah  mengutamakan musyawarah dengan pihak terkait sebelum mengambil tindakan, dan ketika ada kebijakan lakukan penggalian jalan dengan tidak sekaligus melainkan bergilir menggali separuh jalan terlebih dahulu agar separuh jalan yang lainnya bisa digunakan

Referensi

عن أبي هريرة رضي الله عنه، قال رسول الله ﷺ:

“الناس شركاء في ثلاثة: الكلأ والماء والنار.”

(رواه أبو داود رقم ٣٤٧٧ ، وابن ماجه رقم ٢٤٨٢ ، وأحمد رقم ٨٧١٧، ).

 Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi Muhammad ﷺ bersabda:

“Manusia berserikat (memiliki hak bersama) dalam tiga hal: padang rumput, air, dan api.”

(HR. Abu Dawud No. 3477, Ibn Majah No. 2472, dan Ahmad No. 8717, ).

Hadis ini menjelaskan bahwa sumber daya seperti air, api, dan padang rumput merupakan kebutuhan pokok yang tidak boleh dimonopoli karena menjadi hak bersama bagi manusia, begitupun jalan adalah hak bersama. Dalam konteks masalah pemasangan pipa air di jalan umum, hal ini dapat dikaitkan dengan keharusan menjaga hak bersama juga tanpa merugikan orang lain.

“بغية المسترشدين.ص ١٤٣

ولو وجدت دكة في شارع ولم يُعرف أصلها كان محلها مستحقا لأهلها فليس لأحد التعرّض بها بهدم وغيره مالم تقم بيئة بأنها وضعت تعديا كما صرح به ابن حجر ولا يجوز إحداثها كغيرها أي من نحو بناء وشجرة في الشارع وإن لم تضر بأن كانت في منعطف على المعتمد عند الشيخين والجمهور، واعتمد جمع متقدمون ومتأخرون الجواز حيث لا ضرر وانتصر له السبكي.”

“Bughiyatul Mustarsyidin, hal. 143:

Jika terdapat sebuah panggung (dakkah) di jalan dan asal-usulnya tidak diketahui, maka tempat tersebut menjadi hak para pemiliknya. Oleh karena itu, tidak diperbolehkan bagi siapa pun untuk melakukan intervensi terhadap panggung tersebut dengan merusaknya atau tindakan lainnya, kecuali jika ada bukti kuat yang menunjukkan bahwa panggung itu dibuat secara melanggar hukum, sebagaimana dijelaskan oleh Ibnu Hajar. Tidak diperbolehkan membuat panggung, sebagaimana halnya membangun sesuatu atau menanam pohon di jalan, meskipun tidak menimbulkan bahaya, seperti halnya diletakkan di tikungan, menurut pendapat yang kuat dari dua Syaikh (Imam Nawawi dan Imam Rafi’i) dan mayoritas ulama. Namun, sekelompok ulama terdahulu dan belakangan membolehkan (mendirikan sesuatu di jalan) selama tidak menimbulkan bahaya, dan pendapat ini didukung oleh Imam As-Subki.”

Kategori
Uncategorized

Hukum Penggunaan Halaman Masjid Sebagai Lokasi Tempat Pemungutan Suara (TPS) dalam Perspektif Syariat

“Hukum Penggunaan Halaman Masjid Sebagai Lokasi Tempat Pemungutan Suara (TPS) dalam Perspektif Syariat”

Assalamualaikum

Deskripsi Masalah:

Dalam pelaksanaan pemilihan umum, terdapat rencana untuk menggunakan halaman masjid sebagai lokasi TPS (Tempat Pemungutan Suara). Ketua Panitia Pemungutan Suara telah berjanji untuk menjaga kebersihan dan kesucian tempat tersebut selama kegiatan berlangsung serta bersedia membayar sewa kepada pihak pengelola masjid. Namun, masyarakat merasa ragu mengenai hukum penggunaan halaman masjid untuk kegiatan seperti TPS. Mereka juga mempertanyakan apakah tindakan tersebut sesuai dengan tujuan utama masjid sebagai tempat ibadah, meskipun yang digunakan adalah halaman, bukan bangunan utama masjid.

Masyarakat membutuhkan pandangan syariat terkait:

1. Apakah diperbolehkan menggunakan halaman masjid untuk kegiatan TPS ( tempat pemungutan suara).

2. Bagaimana hukum pembayaran sewa halaman masjid untuk kegiatan tersebut?

Wa’alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh.

Jawaban

Terkait dengan hukum menggunakan halaman masjid untuk kegiatan seperti tempat pemungutan suara (TPS), ada beberapa poin yang perlu dipertimbangkan:

1. Status Halaman Masjid

Jika halaman masjid tersebut termasuk bagian wakaf  yang disucikan seperti masjid itu sendiri, maka penggunaannya untuk hal-hal non-ibadah perlu kehati-hatian. Aktivitas yang dilakukan tidak boleh merusak kehormatan tempat tersebut.

Namun, jika halaman masjid tidak termasuk tempat yang disucikan (misalnya, area parkir yang memang dikelola sebagai fasilitas umum), penggunaannya untuk kepentingan publik seperti TPS dapat dibolehkan dengan syarat-syarat tertentu.

2. Persetujuan Pengelola dan Jamaah

Kegiatan tersebut harus mendapatkan izin dari pengelola masjid (takmir) dan tidak menimbulkan keberatan dari masyarakat sekitar, khususnya jamaah masjid.

Jika ketua panitia TPS sudah berjanji menjaga adab di tempat tersebut dan membayar sewa tempat untuk kebutuhan umum, hukumnya boleh

3. Kesesuaian dengan Tujuan Syariat

Selama aktivitas di halaman masjid tersebut tidak bertentangan dengan tujuan syariat, seperti menjaga kesucian tempat ibadah dan tidak menghalangi pelaksanaan ibadah, maka hal ini dapat dianggap sebagai maslahat dan diperbolehkan

Syekh Abu Bakar Syatha dalam karyanya I’anatuth Thalibin juz 3 halaman 208 menerangkan:

‌فَلَوْ ‌شُغِلَ ‌المَسْجِدُ بِأَمْتِعَةٍ وَجَبَتْ الاُجْرَةُ لَهُ فَتُصَرَّفُ لِمَصَالِحِهِ عَلَى الاَوْجَهِ.

“Jika masjid digunakan untuk menyimpan barang-barang (dagangan atau lainnya), maka wajib membayar sewa untuk masjid. Sewa tersebut dialokasikan untuk kemaslahatan masjid menurut pendapat yang lebih kuat.”

حاشية ابن عابدين (رد المحتار على الدر المختار):

“ساحة المسجد الموقوفة مع المسجد تُعتبر جزءاً من المسجد، إلا إذا كانت هناك إشارة واضحة على أن الساحة ليست من الأماكن المقدسة.”

كتاب المبسوط للإمام السرخسي:

في باب الوقف على المسجد، إذا استُخدمت الساحة لأغراض عامة لا تتعارض مع قدسية المسجد، مثل الاجتماعات أو التعليم، فيجوز ذلك بناءً على العرف والمصلحة.

 

. المصلحة في الشريعة

القاعدة الفقهية:

“تصرف الإمام على الرعية منوط بالمصلحة”

(قرارات الإمام على رعيته تعتمد على تحقيق المصلحة). وفي هذا السياق، يمكن اعتبار استخدام ساحة المسجد كمركز اقتراع مصلحة إذا كان ذلك يسهل على الناس ممارسة حقهم في التصويت دون أن يعطل الوظيفة الأساسية للمسجد.

“المشقة تجلب التيسير”

(المشقة تُوجب التيسير). في حالات معينة، مثل نقص الأماكن المناسبة كمراكز اقتراع، يجوز استخدام ساحة المسجد بشرط

الحفاظ على قدسية المكان.

Referensi :

الفتاوى الفقهية الكبرى، ٣/٣٢٨)

وَأَمَّا حُكْمُ إجَارَةِ النَّاظِرِ من الصِّحَّةِ تَارَةً وَالْفَسَادِ أُخْرَى فَقَدْ تَعَرَّضُوا له في بَابِ الْوَقْفِ حَيْثُ أَشَارُوا فيه إلَى أَنَّهُ يَلْزَمُ النَّاظِرَ أَنْ يَتَصَرَّفَ في مَالِ الْوَقْفِ كَالْوَصِيِّ بِالْمَصْلَحَةِ بِالنِّسْبَةِ لِرِعَايَةِ مَقْصُودِهِ وَبَقَاءِ عَيْنِهِ لَا بِالنِّسْبَةِ لِرِعَايَةِ مَصْلَحَةِ الْمُسْتَحِقِّ وَصَرَّحُوا أَيْضًا بِأَنَّ النَّاظِرَ في مَالِ الْوَقْفِ كَالْوَصِيِّ وَالْقَيِّمِ في مَالِ الْيَتِيمِ وَالْوَصِيُّ وَالْقَيِّمُ لَا يَجُوزُ لَهُمَا التَّصَرُّفُ إلَّا بِالْغِبْطَةِ وَالْمَصْلَحَةِ وَلَا يُكْتَفَى فِيهِمَا بِقَوْلِهِمَا بَلْ لَا بُدَّ من إثْبَاتِ إحْدَاهُمَا عِنْدَ الْقَاضِي فَكَذَلِكَ النَّاظِرُ لَا يَجُوزُ له أَنْ يُؤَجِّرَ الْوَقْفَ الْمُدَّةَ الطَّوِيلَةَ إلَّا لِحَاجَةٍ أو مَصْلَحَةٍ تَعُودُ لِلْوَقْفِ لَا لِلْمُسْتَحِقِّ وقد ثَبَتَتْ عِنْدَ الْقَاضِي وَمَتَى تَصَرَّفَ على غَيْرِ هذا الْوَجْهِ فَتَصَرُّفُهُ بَاطِلٌ هذا ما دَلَّ عليه كَلَامُ أَئِمَّتِنَا في بَابِ الْوَقْفِ صَرِيحًا وَاقْتِضَاءً.

(بُغْيَةُ الْمُسْتَرْشِدِيْنَ، ١٣٢)

( (مَسْأَلَةُ : ي) لَيْسَ لِلنَّاظِرِ اْلعَامِ وَهُوَ اْلقَاضِي أَوِ الْوَالِي النَّظْرُ فِي أَمْرِ الْأَوْقَافِ وَأَمْوَالِ الْمَسَاجِدِ مَعَ وُجُوْدِ النَّاظِرِ الْخَاصِ الْمُتَأَهِّلِ، فَحِيْنَئِذٍ فَمَا يَجْمَعُهُ النَّاسُ وَيَبْذُلُوْنَهُ لِعِمَارَتِهَا بِنَحْوِ نَذْرٍ أَوْ هِبَةٍ وَصَدَقَةٍ مَقْبُوْضَيْنِ بِيَدِ النَّاظِرِ أَوْ وَكِيْلِهِ كَالسَّاعِي فِي اْلعِمَارَةِ بِإِذْنِ النَّاظِرِ يَمْلِكُهُ الْمَسْجِدُ، وَيَتَوَلَّى النَّاظِرُ الْعِمَارَةَ بِاْلهَدْمِ وَالْبِنَاءِ وَشِرَاءِ اْلَآلَةِ وَالْاِسْتِئْجَارِ، فَإِنْ قَبَضَ السَّاعِي غَيْرَ النَّذْرِ بِلَا إِذْنِ النَّاظِرِ فَهُوَ بَاقٍ عَلىَ مِلْكِ بَاذِلِهِ، فَإِنْ َأذِنَ فِي دَفْعِهِ لِلنَّاظِرِ، أَوْ دَلَّتْ قَرِيْنَةٌ أَوِ اطَّرَدَتِ الْعَادَةُ بِدَفْعِهِ دَفَعَهُ وَصَارَ مِلْكاً لِلْمَسْجِدِ حِيْنَئِذٍ فَيَتَصَرَّفُ فِيْهِ كَمَا مَرَّ، وّإِنْ لمَ ْيَأْذَنْ فِي الدَّفْعِ لِلنَّاظِرِ فَالْقَابِضُ أَمِيْنُ اْلبَاذِلِ، فَعَلَيْهِ صَرْفُهُ لِلْأَجْرَاءِ وَثَمَنِ الْآَلَةِ وَتَسْلِيْمُهَا لِلنَّاظِرِ، وَعَلَى النَّاظِرِ الْعِمَارَةُ، هَذاَ إِنْ جَرَتِ الْعَادَةُ أَوِ الْقَرِيْنَةُ أَوِ الْإِذْنُ بِالصَّرْفِ كَذَلِكَ أَيْضاً، وَإِلَّا فَإِنْ تمََكََّّنَتْ مُرَاجَعَةُ الْبَاذِلِ لَزِمَتْ، وَإِنْ لمًْ يَتَمَكَّنْ فَالَّذِي أَرَاهُ عَدَمُ جَوَازِ الْصَرْفِ حِيْنَئِذِ لِعَدَمِ مِلْكِ الْمَسْجِدِ لَهَا، إِذْ لَا يَجُوْزُ قَبْضُ الصَّدَقَةِ إِلَّا بِإِذْنِ الْمُتَصَدقِ وَقَدِ انْتَفَى هُنَا، وَلْيَتَفَطَّنْ لِدَقِيْقَةٍ، وَهُوَ أَنَّ مَا قُبِضَ بِغَيْرِ إِذْنِ النَّاظِرِ إِذَا مَاتَ بَاذِلُهُ قَبْلَ قَبْضِ النَّاظِرِ أَوْ صَرْفِهِ عَلَى مَا مَرَّ تَفْصِيْلُهُ يَرَدُّ لِوَارِثِهِ، إِذْ هُوَ بَاقٍ عَلَى مِلْكِ الْمَيِّتِ، وَبِمَوْتِهِ بَطَلَ إِذْنُهُ فِي صَرْفه

(الطَبَقَاتُ الشَّافِعِيَّةُ الْكُبْرَى لِلسُّبكِى، 5/90-91)

مَا نَصُّهُ قَالَ شَيْخُ اَبُوْ مُحَمَّدٍ فِي كِتَابِهِ (فِي مَْقِفِ الْإِمَامِ وَ الْمَأْمُوْمِ) اَنَّ اْْلوَاحِدَ مِنْ اَهْلِ الْعِلْمِ اِذَا سَئَلَ النَّاسَ مَالًا وَاسْتجداهُمْ وَقَالَ إْنَّمَا اَطْلُبُ ذَلِكَ لِبِنَاءْ مَدْرَسَةٍ لَمْ يَكُنْ لَهُ اَنْ يَصْرِفَ فيِ غَيْرِ ذَلِكَ وَلاَ اَنْ يَجْعَلَهَا مََسْجِدًاَوَلاَ اَنْ يَجْعَلَهاَ مِلْكًا لَهُ قَالَ بَلِ الْوَاجِبُ الصَّرْفُ فِي تِلْكَ الْجِهَّةِ وَاِنْ جَعَلَهَا مَسْجِدًا لَمْ تَصِرْ مَسْجِدًا وَصَارَتْ بِنَفْسِ الشِّراَءِ مَدْرَسَةً لِمَا تَقَدَّمَ مِنَ النِّيَاتِ الْمُتَقَدِّمَة ِوَالتَّقْيِيْدش السَّابِقِ قَالَ اِنَّمَا ذَكَرْنَا هَذَا الْجَواَبَ عَنْ اَصْلٍ مَنْصُوْصٍ لِلشَّافِعِيِّ فِي كُتُبِهِ ;اَلَي اَنْ قَالَ; وَهَذِهِ طَرِيْقَةُ ابْنُ جُرَيْجٍ اهـ ملخصا. وَالْحُكْمُ بِصَيْرُوْرَتِهَا مَدْرَسَةً مِنْ غَيْرِ اَنْ يَتَلَفَّظَ بِإِيْقَافِهَا كَذَالِكَ إِعْتِمَادًا عَلَي النِّيَاتِ السَّابِقَةِ غَرِيْبٌ وَاَمَّا تَعَيُّبُ صَرْفِ الْمَالِ فيِ تِلْكَ الْجِهَّةِ فَهُوَ مَسْأَلَةُ اَبِي زَيْدٍ فِيْمَنْ اَعْطَي دِرْهَمًا وَقِيْلَ لَهُ اغْسِلْ ثَوْبَكَ بِهِ.

Arti dan Penjelasan

I’anatuth Thalibin:

“Jika masjid digunakan untuk menyimpan barang-barang (dagangan atau lainnya), maka wajib membayar sewa kepada masjid. Sewa tersebut dialokasikan untuk kemaslahatan masjid sesuai pendapat yang lebih kuat.”

➡ Penjelasan ini menunjukkan bahwa penggunaan masjid atau bagiannya untuk keperluan non-ibadah, seperti menyimpan barang, harus disertai kompensasi finansial yang digunakan demi maslahat masjid.

Hasyiah Ibnu Abidin:

“Halaman masjid yang diwakafkan bersama masjid dianggap bagian dari masjid, kecuali ada indikasi jelas bahwa halaman tersebut bukan termasuk area yang disucikan.”

➡ Hal ini menjelaskan bahwa status halaman masjid tergantung pada tujuan wakafnya. Jika diwakafkan bersama masjid, maka statusnya sama suci dengan masjid, dan penggunaannya harus menjaga kehormatan dan kesucian tempat tersebut.

Al-Mabsuth (Imam Sarakhsi):

“Dalam bab wakaf masjid, jika halaman masjid digunakan untuk kepentingan umum yang tidak bertentangan dengan kesucian masjid, seperti pertemuan atau pendidikan, maka hal itu dibolehkan berdasarkan kebiasaan dan kemaslahatan.”

➡ Pemakaian halaman masjid untuk kepentingan umum dapat dibolehkan selama tidak bertentangan dengan kehormatan masjid dan sesuai dengan tradisi serta maslahat.

Kaidah Fikih:

“Tasharruf al-imam ‘ala ra’iyyah manuthun bil maslahah”:

“Kebijakan pemimpin terhadap rakyatnya didasarkan pada kemaslahatan.”

➡ Jika menggunakan halaman masjid sebagai TPS membawa manfaat bagi masyarakat dan tidak menimbulkan kerusakan, hal ini dapat diperbolehkan.

“Al-masyaqqah tajlibut taisir”:

“Kesulitan mendatangkan kemudahan.”

➡ Dalam situasi sulit, seperti kurangnya lokasi yang layak untuk TPS, penggunaan halaman masjid dapat dibolehkan dengan syarat menjaga adab dan kesucian tempat tersebut.

➡️Al-Fatawa Al-Fiqhiyyah Al-Kubra (3/328):

“Adapun hukum sewa-menyewa oleh nazhir (pengelola wakaf), terkadang sah dan terkadang batal, telah dibahas dalam bab wakaf. Di sana dijelaskan bahwa nazhir harus mengelola harta wakaf seperti wali dalam pengelolaan harta anak yatim, yaitu berdasarkan kemaslahatan terkait tujuan wakaf dan keberlanjutan aset wakaf, bukan untuk kepentingan penerima manfaat wakaf.

Disebutkan juga bahwa nazhir dalam harta wakaf seperti wali atau penjaga dalam harta anak yatim, dan keduanya tidak boleh melakukan transaksi kecuali dengan dasar manfaat atau kemaslahatan. Pernyataan mereka tidak cukup, melainkan harus dibuktikan di hadapan hakim.

Demikian pula, nazhir tidak diperbolehkan menyewakan aset wakaf untuk jangka panjang kecuali ada kebutuhan atau kemaslahatan yang kembali kepada wakaf, bukan kepada penerima manfaat wakaf, dan kemaslahatan tersebut telah dibuktikan di hadapan hakim. Jika nazhir melakukan transaksi yang bertentangan dengan ketentuan tersebut, maka transaksinya batal.

Ini adalah kesimpulan dari pernyataan ulama kami dalam bab wakaf, baik secara eksplisit maupun implikatif.”

➡️Bughiyatul Mustarsyidin (hal. 132):

“Masalah: Nazhir umum (seperti hakim atau penguasa) tidak berwenang mengelola wakaf dan harta masjid jika ada nazhir khusus yang memenuhi syarat. Dalam kondisi ini, harta yang dikumpulkan oleh masyarakat untuk membangun masjid, baik berupa nadzar, hibah, atau sedekah, jika telah diterima oleh nazhir atau wakilnya (seperti pengelola pembangunan masjid atas izin nazhir), maka harta tersebut menjadi milik masjid.

Nazhir bertanggung jawab atas pembangunan, seperti merobohkan, membangun, membeli alat, dan menyewa jasa. Jika pengelola pembangunan menerima harta tanpa izin nazhir, maka harta tersebut tetap menjadi milik pemberi. Jika pemberi mengizinkan penyerahan kepada nazhir, atau terdapat indikasi atau kebiasaan yang menunjukkan penyerahan tersebut kepada nazhir, maka harta itu menjadi milik masjid dan digunakan sebagaimana disebutkan sebelumnya.

Namun, jika tidak ada izin dari pemberi dan tidak memungkinkan meminta persetujuan pemberi, maka menurut pendapat saya, tidak boleh digunakan karena masjid tidak memilikinya. Harta sedekah tidak boleh diterima kecuali dengan izin pemberi, dan izin ini tidak ada dalam kasus tersebut.

Catatan penting: Jika harta yang diterima tanpa izin nazhir dan pemberi meninggal sebelum harta tersebut diterima atau digunakan sesuai perincian sebelumnya, maka harta itu harus dikembalikan kepada ahli waris pemberi, karena masih dianggap milik pemberi. Dengan meninggalnya pemberi, izin penggunaan harta tersebut juga batal.”

➡️Thabaqat Asy-Syafi’iyyah Al-Kubra (5/90-91):

“Syekh Abu Muhammad dalam kitabnya Fi Maqif Al-Imam wa Al-Ma’mum mengatakan bahwa seorang ulama yang meminta harta kepada masyarakat dengan alasan untuk membangun madrasah tidak boleh menggunakannya untuk tujuan lain, seperti menjadikannya masjid atau sebagai miliknya. Harta tersebut wajib digunakan sesuai tujuan awal, yaitu untuk membangun madrasah.

Jika harta itu digunakan untuk membangun masjid, maka bangunan tersebut tidak menjadi masjid, tetapi tetap menjadi madrasah sesuai niat awal pemberian dan keterikatan sebelumnya.

Hukum menjadikan bangunan sebagai madrasah tanpa pernyataan wakaf juga ditetapkan berdasarkan niat pemberi. Adapun ketentuan penggunaan harta sesuai tujuan awal adalah masalah yang juga dibahas oleh Abu Zaid, seperti seseorang yang memberi satu dirham dengan tujuan tertentu (misalnya mencuci pakaian), maka harta itu harus digunakan untuk tujuan tersebut.”Wallahu A’lam bisshowab

Kesimpulan:

1. Hukum Penggunaan Halaman Masjid:

Jika halaman masjid termasuk bagian yang disucikan, penggunaannya harus hati-hati dan tidak boleh menghilangkan kehormatan tempat tersebut.

Jika halaman tersebut adalah fasilitas umum (misalnya area parkir), penggunaannya untuk TPS dapat dibolehkan dengan syarat tertentu.

2. Persyaratan Penggunaan:

Memperoleh izin dari pengelola masjid (takmir) dan jamaah.

Kegiatan tidak mengganggu pelaksanaan ibadah atau merusak kesucian masjid.

Jika ada kompensasi (misalnya sewa), harus digunakan untuk kemaslahatan masjid.

3. Pertimbangan Kemaslahatan:

Penggunaan halaman masjid untuk TPS dapat dianggap maslahat jika mempermudah masyarakat memberikan hak suaranya tanpa merugikan fungsi utama masjid sebagai tempat ibadah. Dengan catatan bukan diruang Masjid kalau diruang tempat Ibadah ( Masjid ) tidak boleh sebagaimana telah diatur dalam UU KPU sebagaimana berikut:

TPS adalah lokasi untuk melakukan proses pengumpulan suara berlangsung selama pelaksanaan pemilu 2024, baik di dalam maupun luar negeri. Ketentuan mengenai TPS diatur dalam Keputusan Komisi Pemilihan Umum (KPU) Nomor 66 Tahun 2024. Berikut penjelasannya:

Ketentuan Lokasi TPS

Di dalam Keputusan KPU Nomor 66 Tahun 2024 diatur soal ketentuan lokasi TPS yang harus memenuhi berbagai ketentuan. Pertama, TPS dapat dibuat di ruang terbuka dan/atau ruang tertutup seperti ruangan/gedung sekolah, balai pertemuan masyarakat, ruangan/gedung tempat pendidikan lainnya, dan gedung atau kantor milik pemerintah dan non pemerintah termasuk halamannya;

Kedua, TPS tidak dibuat di dalam ruangan tempat ibadah. Ketiga, TPS dibuat dengan ukuran paling kurang panjang 10 meter dan lebar 8 meter atau dapat disesuaikan dengan kondisi setempat tanpa merusak lingkungan. Keempat, TPS harus sudah selesai paling lambat satu hari sebelum pemungutan suara.

Pengajuan Pindah TPS Diperpanjang Hingga 7 Februari, Berikut Syarat dan Prosedurnya

Ketentuan pembuatan TPS

Di TPS harus terdapat sarana dan prasarana yang menunjang keberlangsungan pemungutan suara. Sarana dan prasarana itu terdiri dari ruangan atau tenda, alat pembatas, papan yang digunakan untuk menempel: daftar pasangan calon, Daftar Calon Tetap (DCT) DPR, DPRD provinsi, DPRD kabupaten/kota, DPD, Daftar Pemilih Tetap (DPT), Daftar Pemilih Tambahan (DPTb), formulir c, pengumuman hasil pemungutan suara.

Di TPS juga harus ada tempat duduk dan meja ketua dan anggota KPPS; meja untuk menempatkan kotak suara dan bilik suara; tempat duduk pemilih, saksi, dan pengawas TPS; dan alat penerangan yang cukup.

Ketentuan bentuk TPS

Pertama, TPS dibuat dalam bentuk persegi panjang dengan ukuran paling kurang panjang 10 meter dan lebar 8 meter atau dapat disesuaikan dengan kondisi setempat. Kedua, TPS diberi tanda batas dengan menggunakan tali, tambang, atau bahan lain.

Ketiga, pintu masuk dan keluar TPS harus dapat menjamin akses gerak bagi pemilih penyandang disabilitas yang menggunakan kursi roda. Keempat, TPS dapat dibuat di ruang terbuka dan/atau ruang tertutup, dengan ketentuan:

TPS Lokasi Khusus Pemilu 2024: dari Rutan, Pesantren, hingga IKN

(1) Apabila dibuat di ruang terbuka, tempat duduk ketua KPPS dan anggota KPPS, Pemilih, dan Saksi dapat diberi pelindung terhadap panas cahaya matahari, hujan, dan tidak memungkinkan orang lalu lalang di belakang Pemilih pada saat memberikan suara di bilik suara;

(2) 5 tempat duduk dari 25 tempat duduk pemilih merupakan tempat duduk prioritas yang diperuntukkan bagi:

a. Pemilih disabilitas;

b. Pemilih hamil;

c. Pemilih yang membawa balita;

d. Pemilih lanjut usia; dan

e. Pemilih yang membutuhkan perlakuan khusus;

(3) Meja dan tempat duduk ketua KPPS, anggota KPPS Kedua, dan anggota KPPS Ketiga;

(4) Meja dan tempat duduk anggota KPPS Keempat dan anggota KPPS Kelima di dekat pintu masuk TPS;

5) Tempat duduk anggota KPPS Keenam di dekat kotak suara;

(6) Tempat duduk anggota KPPS Ketujuh di dekat pintu keluar TPS;

(7) Apabila jumlah anggota KPPS kurang dari tujuh orang, tempat duduk ketua KPPS dan masing masing anggota KPPS ditetapkan oleh ketua KPPS;

(8) Tempat duduk untuk Saksi dan Pengawas TPS yang ditempatkan di dalam TPS;

(9) Tempat duduk (jika masih tersedia) untuk Pemantau Pemilu dan/atau pewarta yang ditempatkan di luar TPS;

(10) Meja untuk tempat kotak suara yang ditempatkan di dekat pintu keluar TPS, dengan jarak kurang lebih 3 (tiga) meter dari tempat duduk ketua KPPS dan berhadapan dengan tempat duduk Pemilih;

(11) Meja kotak suara tidak terlalu tinggi sehingga kotak suara bisa dicapai oleh umumnya Pemilih dan Pemilih yang menggunakan kursi roda;

(12) Bilik suara yang ditempatkan berhadapan dengan tempat duduk ketua KPPS dan Saksi, dengan ketentuan jarak antara bilik suara dengan batas lebar TPS paling sedikit satu meter;

(13) Meja tempat bilik suara yang memiliki kolong sehingga memungkinkan Pemilih berkursi roda dapat melakukan pemberian suara dengan mudah;

14) Papan pada saat pemungutan suara ditempatkan di dekat pintu masuk;

(15) Papan nama TPS ditempatkan di dekat pintu masuk TPS di sebelah luar TPS; dan

(16) Tambang, tali, kayu atau bahan lain untuk membuat batas TPS.

Kedua, KPPS harus menyiapkan tempat untuk dua orang Petugas Ketertiban TPS yang membantu KPPS dan bertugas untuk menangani ketentraman, ketertiban, dan keamanan TPS.

Kategori
Uncategorized

HUKUM MEMBUKA HANDPHONE UNTUK LIVE STREAMING DAN DAMPAK PADA JAMA’AH

Hukum Membuka Handphone untuk Live Streaming Khutbah Jum’at dan Dampaknya pada Jama’ah

Deskripsi Masalah:

Di suatu masjid di sebuah desa, masyarakat digemparkan dengan tindakan salah satu khatīb shalat Jum’at. Saat hendak membacakan khutbah, khatīb tersebut membuka handphone terlebih dahulu untuk melakukan live streaming di platform TikTok dan mengaktifkan fitur saweran. Akibatnya, beberapa jama’ah di belakang memilih pergi meninggalkan masjid dan mencari masjid di desa tetangga.

Pertanyaan:

1. Bagaimana hukum khatīb membuka handphone untuk live streaming?

2. Bolehkah jama’ah yang di belakang meninggalkan/keluar dari masjid tersebut dan pindah ke masjid di desa lain?

3. Bagaimana status dan hukum uang hasil saweran yang diperoleh dari live streaming khutbah tersebut?

Waalaikum salam

Jawaban.

Perbuatan khatīb membuka HP untuk live streaming, terutama dengan fitur saweran, dapat dikategorikan sebagai tindakan yang tidak sesuai dengan adab khutbah dan mengganggu kekhusyukan. Para ulama menekankan bahwa khutbah harus disampaikan dengan penuh kesungguhan dan niat ibadah murni, bukan dengan niat mencari keuntungan duniawi.

Referensi Fiqih:

Dalam risalahnya berjudul al-Adab fid Din dalam Majmu’ah Rasail al-Imam al-Ghazali (Kairo, Al-Maktabah At-Taufiqiyyah, t.th., halaman 437), menyebutkan adab-adab seorang khatib sebagai berikut:

أداب الخطيب: يأتى المسجد وعليه السكينة والوقار، ويبدأ بالتحية ويجلس وعليه الهيبة، و يمتنع عن التخاطب، وينتظر الوقت، ثم يخطو إلى المنبر و عليه الوقار، كأنه يحب أن يعرض ما يقول على الجبار، ثم يصعد للخشوع، ويقف على المرقاة بالخشوع ويرتقي بالذكر، ويلتفت إلى مستمعيه باجتماع الفكر، ثم يشيرإليهم بالسلام ليستمعوا منه الكلام، ثم يجلس للأذان فزعا من الديان، ثم يخطب بالتواضع، ولا يشير بالأصابع، ويعتقد ما يقول لينتفع به، ثم يشير اليهم بالدعاء، وينزل إذا أخذ المؤذن في الإقامة، ولا يكبر حتى يسكتوا، ثم يفتتح الصلاة، ويرتل ما يقرأ.

Artinya: “Adab khatib, yakni berangkat ke masjid dengan hati dan pikiran tenang; terlebih dahulu shalat sunnah dan duduk dengan khidmat; tidak berbincang-bincang dan menunggu waktu; kemudian melangkah ke mimbar dengan rasa terhormat seolah-olah senang mengatakan sesuatu yang akan disampaikan kepada Yang Maha Perkasa; kemudian naik dan berdiri di tangga dengan khusyu’ sambil berdzikir; berputar untuk melayangkan pandangan kepada para pendengarnya dengan penuh konsentrasi kemudian menyampaikan salam kepada pendengar agar mereka mendengarkan; kemudian duduk untuk mendengarkan adzan dengan penuh rasa takut kepada Yang Maha Kuasa; kemudian berkhutbah dengan penuh tawadhu’; tidak menunjuk dengan jari-jari; merasa yakin bahwa yang disampaikan bermanfaat; kemudian memberi isyarat kepada makmun agar berdoa; turun dari mimbar jika muadzin sudah bersiap-siap iqamat; tidak bertakbir sebelum jamaah tenang; kemudian mulai shalat dan membaca ayat-ayat Al-Qurán dengan tartil.”

المغني ابن قدمة ص ١٢٩٩
فصل: ومن سُنَنِ الخُطْبَةِ أنْ يَقْصِدَ الخَطِيبُ تِلْقَاءَ وَجْهِه؛ لأنَّ النَّبِيَّ -صلى اللَّه عليه وسلم- كان يفعلُ ذلك، ولأنَّه أبْلَغُ في سَمَاعِ النَّاسِ، وأعْدَلُ بينهم، فإنَّه لو الْتَفَتَ إلى أحَدِ جَانِبَيْه لأعْرَضَ عن الجانِبِ الآخَرِ، ولو خالَفَ هذا، واسْتَدْبَرَ النَّاسَ، واسْتَقْبَلَ القِبْلَةَ، صَحَّتِ الخُطْبَةُ؛ لِحُصُولِ المَقْصُودِ بدُونه، فأشْبَهَ ما لو أَذَّنَ غيرَ مُسْتَقْبِلٍ القِبْلَة.

Dalam kitab al-Mughni karya Ibn Qudamah (halaman 1299), disebutkan bahwa salah satu sunnah dalam khutbah adalah bagi khatib untuk menghadap ke arah wajahnya, karena Nabi Muhammad SAW melakukan hal tersebut. Hal ini juga lebih efektif untuk mendengar oleh jamaah dan lebih adil di antara mereka. Jika khatib berbalik ke salah satu sisi, maka ia akan mengabaikan sisi yang lain. Jika khatib membelakangi jamaah dan menghadap ke arah kiblat, khutbah tetap sah, karena tujuan utama khutbah tetap tercapai, yang mirip dengan keadaan azan yang dilakukan tanpa menghadap kiblat.

Bada’i as-Shana’i fi Tartib asy-Syara’i, al-Kasani menyebutkan bahwa seorang khatīb harus bersungguh-sungguh dalam menyampaikan khutbah dan tidak melakukan hal-hal yang mengurangi kekhusyukan khutbah tersebut. Hal ini sesuai dengan prinsip menjaga kekhidmatan khutbah sebagai bentuk ibadah yang sakral.

 وَيَنْبَغِي أَنْ يَكُونَ الْخَطِيبُ مُقْبِلًا عَلَى الْخُطْبَةِ بِنِيَّةٍ خَالِصَةٍ وَمَقْصِدٍ صَافٍ لِلَّهِ تَعَالَى

“Hendaknya khatīb menghadapkan diri pada khutbah dengan niat yang ikhlas dan tujuan yang murni karena Allah Ta’ala.” (Bada’i as-Shana’i, jilid 1, halaman 261).

فقه الإسلامي وادلته. المكتبة الشاملة ص ٢٧٨

ويكره العبث حال الخطبة، لقول النبي صلّى الله عليه وسلم: «من مس الحصى فقد لغا» (٣)، ويكره الشرب مالم يشتد عطشه.

“Makruh hukumnya bermain-main (melakukan hal yang tidak perlu) saat khutbah, berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: ‘Barang siapa yang menyentuh kerikil, maka ia telah melakukan perbuatan yang sia-sia’ (3). Dan makruh minum selama khutbah berlangsung, kecuali jika ia sangat kehausan.”

المجموع شرح المهذب المكتبة الشاملة .ص ١٢٨٥

(السَّادِسَةُ)
يُسَنُّ أَنْ يُقْبِلَ الْخَطِيبُ عَلَى الْقَوْمِ فِي جَمِيعِ خُطْبَتَيْهِ وَلَا يلتفت في شئ مِنْهُمَا قَالَ صَاحِبُ الْحَاوِي وَغَيْرُهُ وَلَا يَفْعَلُ مَا يَفْعَلُهُ بَعْضُ الْخُطَبَاءِ فِي هَذِهِ الْأَزْمَانِ مِنْ الِالْتِفَاتِ يَمِينًا وَشِمَالًا فِي الصَّلَاةُ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَلَا غَيْرِهَا فَإِنَّهُ بَاطِلٌ لَا أَصْلَ لَهُ وَاتَّفَقَ الْعُلَمَاءُ عَلَى كَرَاهَةِ هَذَا الِالْتِفَاتِ وَهُوَ مَعْدُودٌ مِنْ الْبِدَعِ الْمُنْكَرَةِ وَقَدْ قَالَ الشَّيْخُ أَبُو حَامِدٍ فِي تَعْلِيقِهِ يُسْتَحَبُّ أَنْ يَقْصِدَ قَصْدَ وَجْهِهِ ولا يلتفت في شئ مِنْ خُطْبَتِهِ عِنْدَنَا

(Keenam) Disunnahkan bagi khatib untuk menghadap jamaah dalam kedua khutbahnya dan tidak menoleh sedikit pun. Penulis al-Hawi dan ulama lainnya mengatakan bahwa khatib seharusnya tidak melakukan seperti yang dilakukan sebagian khatib pada zaman ini, yaitu menoleh ke kanan dan ke kiri saat membaca shalawat kepada Nabi SAW atau dalam hal lain. Hal ini dianggap bathil dan tidak ada dasarnya. Para ulama sepakat bahwa menoleh seperti ini makruh dan tergolong bid’ah yang tercela. Syekh Abu Hamid dalam Ta’liq-nya mengatakan, “Dianjurkan bagi khatib untuk mengarahkan wajahnya dengan lurus dan tidak menoleh sedikit pun dalam khutbahnya menurut pandangan kami.”

Al-Buhuti dalam Kasyaf al-Qina’ juga menyebutkan bahwa khatīb dilarang melakukan aktivitas yang dapat mengalihkan perhatian jama’ah atau mengganggu ibadah:

كشف القناع ص ٤٨- ٤٩

وَيُكْرَهُ الْعَبَثُ حَالَ الْخُطْبَةِ) لِقَوْلِ النَّبِيِّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – «وَمَنْ مَسَّ الْحَصَى فَقَدْ لَغَا» قَالَ التِّرْمِذِيُّ حَدِيثٌ صَحِيحٌ وَلِأَنَّ الْعَبَثَ يَمْنَعُ الْخُشُوعَ.

“Dan makruh melakukan hal yang sia-sia ketika khutbah berlangsung,” karena sabda Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam-: “Barang siapa yang menyentuh kerikil (saat khutbah), maka sungguh ia telah berbuat sia-sia.” Imam Tirmidzi mengatakan bahwa hadis ini sahih. Hal ini karena perbuatan main-main (sia-sia) dapat menghalangi kekhusyukan.”

Kesimpulan: Membuka HP untuk live streaming saat khutbah, apalagi dengan fitur saweran, bertentangan dengan adab khutbah. Hukumnya makruh  karena bisa merusak kekhusyu’aan .

2. Hukum Jama’ah yang Meninggalkan Masjid untuk Pindah ke Masjid Lain

Seperti disebutkan sebelumnya, jama’ah diperbolehkan meninggalkan masjid jika ada alasan syar’i yang kuat, seperti terganggunya kekhusyuaan terhadap dirinya akibat perilaku khatīb yang tidak sesuai dengan adab khutbah, ataupun dengan adanya Hajat lain  dengan catatan masjid setempat sudah memenuhi syarat.

Boleh pindah masjid lain jika masjid setempat sudah memenuhi syarat
Lihat Syekh Isma’il Zain Al-Yamani, Qurratul ‘Ain bi Fatawa Isma’il Az-Zain, halaman 84).

وَلاَ يَجُوْزُ ِلأَحَدٍ أَنْ يَتْرُكَ مَسْجِدَ جُمُعَتِهِ وِيُجَمِّعَ فِي مَسْجِدٍ آخَرَ إِلاَّ إِذَا كَانَ الْعَدَدُ  تَامًّا فِي مَسْجِدِ جُمُعَتِهِ فَيَجُوْزُ حِيْنَئِذٍ فَإِنْ كَانَ اَلْعَدَدُ لاَيَتِمُّ إِلاَّ بِهِ فَيَحْرُمُ عَلَيْهِ أَنْ يَذْهَبَ إِلَى مَسْجِدٍ آخَرَ.

Artinya, “Tidak boleh bagi siapapun meninggalkan masjid Jumatan di daerahnya dan melaksanakan Jumatan di masjid daerah lain, kecuali apabila bilangan jamaah Jumat di masjid daerahnya telah sempurna, maka diperbolehkan. Bila jumlah jamaah Jumat di daerahnya tidak sempurna kecuali dengan kehadirannya, maka haram baginya untuk pergi Jumatan ke masjid daerah lain,”

فتح الباري ١١٩٥
(قَوْلُهُ بَابُ هَلْ يَخْرُجُ مِنَ الْمَسْجِدِ لِعِلَّةٍ أَيْ لِضَرُورَةٍ)
وَكَأَنَّهُ يُشِيرُ إِلَى تَخْصِيصِ مَا رَوَاهُ مُسْلِمٌ وَأَبُو دَاوُدَ وَغَيْرُهُمَا مِنْ طَرِيقِ أَبِي الشَّعْثَاءِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّهُ رَأَى رَجُلًا خَرَجَ مِنَ الْمَسْجِدِ بَعْدَ أَنْ أَذَّنَ الْمُؤَذِّنُ فَقَالَ أَمَّا هَذَا فَقَدْ عَصَى أَبَا الْقَاسِمِ فَإِنَّ حَدِيثَ الْبَابِ يَدُلُّ عَلَى أَنَّ ذَلِكَ مَخْصُوصٌ بِمَنْ لَيْسَ لَهُ ضَرُورَةٌ فَيُلْحَقُ بِالْجُنُبِ الْمُحْدِثُ وَالرَّاعِفُ وَالْحَاقِنُ وَنَحْوُهُمْ وَكَذَا مَنْ يَكُونُ إِمَامًا لِمَسْجِدٍ آخَرَ وَمَنْ فِي مَعْنَاهُ وَقَدْ أَخْرَجَهُ الطَّبَرَانِيُّ فِي الْأَوْسَطِ مِنْ طَرِيقِ سَعِيدِ بْنِ الْمُسَيَّبِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ فَصَرَّحَ بِرَفْعِهِ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَبِالتَّخْصِيصِ وَلَفْظُهُ لَا يَسْمَعُ النِّدَاءَ فِي مَسْجِدٍ ثُمَّ يَخْرُجُ مِنْهُ إِلَّا لِحَاجَةٍ ثُمَ لَا يَرْجِعُ إِلَيْهِ إِلَّا مُنَافِقٌ

Bab: Apakah Diperbolehkan Keluar dari Masjid Karena Alasan yang  dibenarkan Kalimat ini tampaknya mengisyaratkan pengecualian terhadap riwayat Muslim, Abu Dawud, dan lainnya yang berasal dari Abu Sya’tsa dari Abu Hurairah. Dia melihat seseorang keluar dari masjid setelah muadzin mengumandangkan adzan, lalu berkata, “Orang ini telah menentang Abu Qasim (Rasulullah SAW).” Hadis tersebut menunjukkan bahwa larangan itu khusus bagi orang yang tidak memiliki keperluan mendesak. Oleh karena itu, pengecualian berlaku bagi orang yang junub, berhadas, yang hidungnya berdarah, atau yang sangat membutuhkan buang air kecil, serta bagi imam di masjid lain atau orang yang dalam keadaan serupa.

Thabarani meriwayatkan hadis ini dalam kitab “Al-Awsat” dari Said bin Al-Musayyib, dari Abu Hurairah ra, dengan menyebutkan bahwa Nabi SAW bersabda, “Tidaklah seseorang mendengar panggilan di masjid, lalu dia keluar darinya kecuali karena kebutuhan, dan kemudian tidak kembali, kecuali dia adalah seorang munafik.

Kesimpulan: Jama’ah diperbolehkan pindah ke masjid lain jika khatīb melakukan tindakan yang mengganggu kekhusyukan dengan catatan masjid yang ada ( setempat ) telah memenuhi syarat.

3. Status dan Hukum Uang Hasil Saweran dari Live Streaming Khutbah

Uang yang diperoleh dari saweran saat live streaming khutbah  halal namun makruh  karena diperoleh saat khatbah.

Referensi Fiqih:

Dalam Al-Adzkar, Imam Nawawi menjelaskan bahwa mencampurkan niat ibadah dengan tujuan duniawi adalah hal yang tidak dianjurkan, terutama ketika sedang melaksanakan ibadah-ibadah khusus seperti khutbah.

Dijelaskan Syaikh Sulaiman Al-Jamal:

وَيُكْرَهُ الْمَشْيُ بَيْنَ الصُّفُوفِ لِلسُّؤَالِ وَدَوْرَانِ الْإِبْرِيقِ وَالْقِرَبِ لِسَقْيِ الْمَاءِ وَتَفْرِقَةِ الأَوْرَاقِ وَالتَّصَدُّقِ عَلَيْهِمْ لأَنَّهُ يُلْهِي النَّاسَ عَنْ الذِّكْرِ وَاسْتِمَاعِ الْخُطْبَةِ اهـ

Dan dimakruhkan berjalan di antara barisan jamaah sholat Jum’at untuk meminta-minta, menjalankan kendi dan geriba (timba dari kulit) untuk mengalirkan air, membagi-bagikan selebaran, serta memberikan sedekah pada jemaah. Hal ini karena perkara tersebut dapat melenakan jamaah untuk berzikir dan mendengarkan khutbah.

فقه الإسلامي وادلته المكتبة الشاملة ص ١٢٧٨-١٢٧٩

التصدق وقت الخطبة:

قال الحنفية (٤): يكره تحريماً التخطي للسؤال بكل حال. واختاربعض الحنفية: جواز السؤال والإعطاء إن كان لا يمر السائل بين يدي المصلي، ولا يتخطى الرقاب، ولا يسأل إلحافاً.

وكذلك قال الحنابلة (١) وغيرهم: ولا يتصدق على سائل وقت الخطبة؛ لأن السائل فعل ما لا يجوز له فعله، فلا يعينه المرء على مالا يجوز، قال أحمد: وإن حصب السائل كان أعجب إلي؛ لأن ابن عمر فعل ذلك لسائل سأل، والإمام يخطب يوم الجمعة، ولا ينال السائل الصدقة حال الخطبة؛ لأنه إعانة على محرم.

فإن سأل أحد الصدقة قبل الخطبة، ثم جلس للخطبة، جاز التصدق عليه ومناولته الصدقة.

وأجاز الحنابلة الصدقة حال الخطبة على من لم يسأل، وعلى من سألها الإمام له.

والصدقة على باب المسجد عند الدخول والخروج أولى من الصدقة حال الخطبة.

Sedekah Saat Khutbah Menurut Hanabilah dan Mazhab Lainnya:

Hanabilah dan lainnya menyatakan bahwa memberikan sedekah kepada peminta-minta saat khutbah hukumnya tidak diperbolehkan. Hal ini karena orang yang meminta sedekah saat khutbah melakukan perbuatan yang tidak diperbolehkan, sehingga tidak seharusnya dibantu untuk melakukannya. Imam Ahmad mengatakan bahwa jika ada yang melempar kerikil ke arah peminta-minta tersebut, maka hal itu lebih baik menurutnya, karena Ibnu Umar pernah melakukan hal yang sama kepada seseorang yang meminta-minta saat khutbah Jumat berlangsung. Dengan demikian, peminta-minta tidak berhak menerima sedekah saat khutbah, karena hal tersebut termasuk membantu pada sesuatu yang haram.

Namun, jika seseorang meminta sedekah sebelum khutbah dimulai, kemudian dia duduk mendengarkan khutbah, maka diperbolehkan untuk memberikan sedekah kepadanya. Selain itu, Hanabilah juga memperbolehkan sedekah saat khutbah kepada orang yang tidak meminta-minta, atau kepada orang yang dimintakan sedekah oleh khatib.

Memberikan sedekah di pintu masjid saat masuk atau keluar dianggap lebih utama dibandingkan memberikan sedekah saat khutbah sedang berlangsung.

Dalam kitab Syarh Ma’anil Atsar, Abu Ja’far Al-Thahawi juga mengatakan sebagai berikut:

وَقَدْ أَجْمَعَ الْمُسْلِمُونَ أَنَّ نَزْعَ الرَّجُلِ ثَوْبَهُ وَالْإِمَامُ يَخْطُبُ مَكْرُوهٌ ، وَأَنَّ مَسَّهُ الْحَصَى وَالْإِمَامُ يَخْطُبُ مَكْرُوهٌ ، وَأَنَّ قَوْلَهُ لِصَاحِبِهِ (أَنْصِتْ) وَالْإِمَامُ يَخْطُبُ مَكْرُوهٌ أَيْضًا

Ulama sepakat bahwa mencabut pakaian saat imam menyampaikan khutbah adalah makruh, memainkan batu kerikil saat imam menyampaikan khutbah adalah makruh, dan berkata kepada orang lain ‘diamlah’ saat imam menyampaikan khutbah adalah makruh.
Berdasarkan keterangan ini, dapat diketahui bahwa main handphone saat khatib sedang menyampaikan khutbah Jum’at adalah makruh. Bahkan, bisa jadi salat Jum’at yang kita lakukan sia-sia dan tidak mendapatkan pahala karena kita tidak mendengarkan khutbah Jum’at, sementara khutbah Jum’at sendiri termasuk dari rukun sholat Jum’at.

Kesimpulan:

1. Hukum Khatīb Membuka HP untuk Live Streaming: Membuka HP untuk live streaming saat khutbah, terutama dengan fitur saweran, bertentangan dengan adab khutbah dan mengganggu kekhusyukan. Hukumnya bisa menjadi makruh tahrim (mendekati haram) atau haram jika niatnya untuk keuntungan duniawi, yang merusak kekhusyukan khutbah dan menurunkan nilainya sebagai ibadah.

2. Hukum Jama’ah yang Meninggalkan Masjid untuk Pindah ke Masjid Lain: Jama’ah diperbolehkan pindah ke masjid lain jika khatīb melakukan tindakan yang mengganggu kekhusyukan khutbah, seperti penggunaan HP yang tidak sesuai adab khutbah.

3. Status dan Hukum Uang Hasil Saweran dari Live Streaming Khutbah: Uang hasil saweran dari live streaming khutbah hukumnya halal tetapi makruh.Wallahu A’lam bisshowab

١. حكم الإمام فتح الهاتف للبث المباشر أثناء الخطبة

فتح الإمام للهاتف بغرض البث المباشر، خاصةً مع ميزة التبرع، يُعد تصرفًا لا يتوافق مع آداب الخطبة ويشوش على الخشوع. وقد أكد العلماء على أن الخطبة يجب أن تُلقى بجدية ونية خالصة كعبادة خالصة، دون نية لكسب مادي.

مرجع فقهي:

في رسالة الإمام الغزالي الأدب في الدين ضمن مجموعة رسائل الإمام الغزالي (القاهرة، المكتبة التوفيقية، بلا تاريخ، ٤٣٧)، يذكر آداب الخطيب كما يلي:

أداب الخطيب: يأتى المسجد وعليه السكينة والوقار، ويبدأ بالتحية ويجلس وعليه الهيبة، و يمتنع عن التخاطب، وينتظر الوقت، ثم يخطو إلى المنبر و عليه الوقار، كأنه يحب أن يعرض ما يقول على الجبار، ثم يصعد للخشوع، ويقف على المرقاة بالخشوع ويرتقي بالذكر، ويلتفت إلى مستمعيه باجتماع الفكر، ثم يشيرإليهم بالسلام ليستمعوا منه الكلام، ثم يجلس للأذان فزعا من الديان، ثم يخطب بالتواضع، ولا يشير بالأصابع، ويعتقد ما يقول لينتفع به، ثم يشير اليهم بالدعاء، وينزل إذا أخذ المؤذن في الإقامة، ولا يكبر حتى يسكتوا، ثم يفتتح الصلاة، ويرتل ما يقرأ.

معناه: “آداب الخطيب أن يأتي المسجد بروح الهدوء والوقار، ويبدأ بالتحية ويجلس باحترام، ولا يتحدث وينتظر الوقت، ثم يصعد المنبر بوقار وكأنه سيعرض قوله على الجبار، يصعد بخشوع ويقف على درجات المنبر، يدير وجهه إلى مستمعيه باجتماع الفكر، ثم يحييهم ليسمعوا كلامه، ثم يجلس للأذان بخشية من الديان، ثم يخطب بتواضع، لا يشير بالأصابع، ويؤمن بما يقول لينتفع به، ثم يحثهم على الدعاء، وينزل عند الإقامة، ولا يكبر حتى يسكتوا، ثم يفتتح الصلاة ويرتل ما يقرأ.”

في كتاب بدائع الصنائع للكساني، يذكر أنه يجب على الخطيب أن يكون مخلصًا في خطبته دون أفعال تنقص من خشوعها.

وَيَنْبَغِي أَنْ يَكُونَ الْخَطِيبُ مُقْبِلًا عَلَى الْخُطْبَةِ بِنِيَّةٍ خَالِصَةٍ وَمَقْصِدٍ صَافٍ لِلَّهِ تَعَالَى

“ينبغي للخطيب أن يكون حاضرًا للخطبة بنية خالصة وهدف نقي لله تعالى.” (بدائع الصنائع، ج١، صـ ٢٦١)

الخلاصة: فتح الهاتف للبث المباشر أثناء الخطبة، خصوصًا مع ميزة التبرع، يتعارض مع آداب الخطبة، وقد يكون حكمه مكروه تحريمًا أو محرمًا إذا كان الهدف هو الكسب الدنيوي، مما يقلل من خشوع الخطبة كعبادة.

٢. حكم الجماعة الذين يتركون المسجد للانتقال إلى مسجد آخر

يجوز للجماعة ترك المسجد إذا كان هناك سبب شرعي قوي، مثل انتهاك الإمام لآداب الخطبة مما يشوش على الخشوع.

يذكر ابن قدامة في المغني جواز الانتقال من مكان صلاة يقل فيه الخشوع، خاصةً إذا وُجد أمر يعرقل العبادة.

وَلَوْ أَنَّهُ خَرَجَ مِنْ الْمَسْجِدِ بَعْدَ دُخُولِ الْإِمَامِ لِعُذْرٍ، جَازَ

“إذا خرج الشخص من المسجد بعد دخول الإمام لعذرٍ، جاز له ذلك.” (المغني، ج٢، صـ ١٠١  ).

الخلاصة: يجوز للجماعة الانتقال إلى مسجد آخر إذا قام الإمام بتصرفات تشوش على خشوع الخطبة، مثل استخدام الهاتف بغير آداب الخطبة.

٣. حكم المال المكتسب من التبرع خلال البث المباشر للخطبة

المال الذي يتم اكتسابه من التبرع أثناء بث الخطبة جائز ولكنه مكروه؛ لأن الكسب جاء أثناء الخطبة.

مرجع فقهي:

يقول الإمام النووي في الأذكار إن خلط نية العبادة بالنية الدنيوية يقلل من أجر العبادة.

وَإِذَا دَخَلَتْ النِّيَّةُ فِي عَمَلِ الْآخِرَةِ مَعَ رَغْبَةٍ فِي الدُّنْيَا نَقَصَ ثَوَابُهُ

“إذا اختلطت النية في عمل الآخرة برغبة دنيوية، نقص ثواب العمل.” (الأذكار، صـ    ٥٣ ).

ويشرح الشيخ سليمان الجمل بأن المشي بين الصفوف للتسول أو توزيع المياه أو الأوراق أو التصدق خلال الخطبة مكروه لأنه يشوش على الخشوع والاستماع.

الخلاصة: المال المكتسب من التبرعات أثناء بث الخطبة مباشر جائز ولكنه مكروه.

زيادة المراجع

فتاوى بحثية

الموضوع : حكم استخدام الموبايل أثناء خطبة الجمعة

رقم الفتوى: ٣٦٣١

التاريخ : ٠٤-٠٨-٢٠٢١

التصنيف: صلاة الجمعة

نوع الفتوى: بحثية

المفتي : لجنة الإفتاء

السؤال:

ما حكم استخدام الموبايل (الواتس) أثناء خطبة الجمعة؟

الجواب:

الحمد لله، والصلاة والسلام على سيدنا رسول الله
ورد في الحديث الشريف ندب الاستماع لخطبة الجمعة والحرص على سماع الموعظة، وورد أيضاً النهي عن كل ما يقطع الاستماع للخطبة أو يشعر بالإعراض عنها، قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: (مَنْ تَوَضَّأَ فَأَحْسَنَ الْوُضُوءَ، ثُمَّ أَتَى الْجُمُعَةَ، فَاسْتَمَعَ وَأَنْصَتَ، غُفِرَ لَهُ مَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْجُمُعَةِ، وَزِيَادَةُ ثَلَاثَةِ أَيَّامٍ، وَمَنْ مَسَّ الْحَصَى فَقَدْ لَغَا) رواه مسلم.
قال القاضي عياض في [إكمال المعلم ٣/ ٢٥٣] في تفسير: “(ومن مسّ الحصا فقد لغا)، لأنه بتحريكه له وشغله به صار لاغياً مشغلاً غيره عن سماع الخطبة بصوت حركته”، وجاء في [شرح النووي على مسلم ٦/ ١٤٧]: “قوله صلى الله عليه وسلم: (ومن مسّ الحصا لغا)، فيه النّهي عن مسّ الحصا وغيره من أنواع العبث في حالة الخطبة، وفيه إشارة إلى إقبال القلب والجوارح على الخطبة”.
فالذي يستحب للمسلم إن أراد الأجر كاملاً في حضور خطبة الجمعة وصلاتها أن يستمع للخطيب، وأن لا ينشغل عن ذلك بشيء، سواء كان بكلام أو عبث بشيء بين يديه كجهاز الخلوي وغيره.
وقد اختلف العلماء في معنى النهي الوارد في الحديث فحمله الشافعية على الكراهة، جاء في [نهاية المحتاج ٢/ ٣٢٠]: “يكره الكلام لخبر مسلم: (إذا قلت لصاحبك أنصت يوم الجمعة والإمام يخطب فقد لغوت) ومعناه: تركتَ الأدب جمعاً بين الأدلة”، وقد نص الفقهاء على حرمة الانشغال عن الخطبة بالصلاة والنوافل، جاء في [نهاية المحتاج ٢/ ٣٢١]: “وكره تحريماً بالإجماع كما قاله الماوردي وغيره تنفّلٌ من أحد الحاضرين بعد صعود الخطيب على المنبر وجلوسه عليه، كما في المجموع، وإن لم يسمع الخطبة بالكلية لاشتغاله بصورة عبادة، ومن ثم فارقت الصلاة الكلام بأنّ الاشتغال به لا يعدّ إعراضا عنه بالكلية، وأيضاً فمن شأن المصلي الإعراض عما سوى صلاته بخلاف المتكلم”.
فإذا كان مسّ الحصا مكروهاً أثناء الخطبة، فإنّ العبث بالهاتف واستعمال التطبيقات مثل (واتس آب، فيسبوك) وغيره يعد أكثر إعراضاً عن الخطبة من باب أولى؛ لأنه يلهي فاعله عن الخطبة تماماً، وقد يلهي غيره أيضاً، وإذا كانت الصلاة والذكر وهي عبادات منهي عنها أثناء الخطبة، فكيف بالهاتف فالنهي عنه من باب أولى.
وعليه؛ فإنّ المسلم الحريص على الأجر لا يشتغل عن سماع الخطبة بشيء، ويكره العبث بشيء لا يحتاج إليه المسلم أثناء خطبة الجمعة من كلام أو إشارة وخاصة استعمال الخلوي وتصفح التطبيقات الحديثة وغير ذلك. والله تعالى أعلم.

للاطلاع على منهج الفتوى في دار الإفتاء يرجى زيارة (هذه الصفحة)

حسب التصنيف السابق | التالي
رقم الفتوى السابق | التالي

فتاوى أخرى

أضيف بتاريخ:٢٧-٠٦-٢٠٢٢

Kategori
Uncategorized

HUKUM MEMENUHI UNDANGAN WALIMAH DALAM ISLAM DAN KEHADIRANNYA DI LUAR WAKTU YANG DITENTUKAN

Hukum Memenuhi Undangan Walimah dalam Islam dan Kehadirannya di Luar Waktu yang Ditentukan

Deskripsi:

Pernikahan dalam Islam adalah hal yang sangat penting dan menjadi fondasi dalam membangun keluarga yang sakinah, Mawaddah,  warahmah . Oleh karena itu, Nabi Muhammad SAW mendorong umatnya untuk segera menikah bagi mereka yang telah mampu, sekaligus mengharamkan praktik perzinaan. Kondisi ini juga menuntut kedua orang tua untuk melaksanakan kewajiban mereka, yaitu menikahkan putra dan putrinya, dan kemudian menyelenggarakan acara Walimah an-Nikah   atau Walimatul Urs. Acara tersebut umumnya dilakukan dengan mengundang tetangga, sanak keluarga baik yang dekat maupun yang jauh, sesuai kemampuan mereka ( Shohibul Walimah).

Namun, terkadang seseorang yang diundang tidak dapat hadir tepat waktu pada hari pertama yang tercantum dalam undangan karena alasan tertentu yang datang di luar dugaan. Sebagai bentuk penghormatan kepada shohibul walimah, terkadang seseorang memilih untuk hadir di hari kedua atau ketiga setelah acara utama.

Pertanyaan: Apakah seseorang yang hadir di luar waktu yang ditentukan dalam undangan, misalnya pada hari kedua atau ketiga, tetap dianggap telah memenuhi kewajiban menghadiri undangan atau kewajibannya gugur?

Waalaikum salam .

Jawaban

Jawaban:
Secara umum, menghadiri undangan di luar waktu yang telah ditentukan tidak secara otomatis gugur  untuk menghadiri acara tersebut ( walimah urys) karena batasan walimah itu adalah tiga hari  dan sebagian ulama mengatakan hingga tujuh hari ( hari pertama  wajib hari kedua sunnah, sedangkan hari ketiga adalah makruh ) .  Artinya jika hari pertama udzur kemudian hadir pada hari kedua maka kehadirannya sudah dianggap  sunnah bukan wajib lagi  dan jika hadir pada hari ketiga maka sudah  dihukumi makruh Namun, ada beberapa hal yang perlu dipertimbangkan:
Alasan keterlambatan: Jika ada alasan yang sangat kuat dan tidak dapat dihindari (misalnya, kondisi darurat, bencana alam, atau masalah transportasi yang serius), maka keterlambatan tersebut dapat dimaklumi.
Adat dan kebiasaan setempat: Di beberapa budaya, fleksibilitas waktu dalam menghadiri acara sosial adalah hal yang lumrah. Namun, jika acara tersebut memiliki aturan waktu yang sangat ketat, maka keterlambatan dapat dianggap tidak tepat waktu.
Niat dan kesungguhan: Meskipun terlambat, jika niat untuk hadir tetap ada dan disertai dengan permintaan maaf yang tulus, maka hal tersebut dapat dimaklumi.

Referensi:

مذاهب الأربعة ج ٢ ص ٣٨ /٤٣

.     الشافعية – قالوا : يشترط لوجوب إجابة الدعوة فى وليمة النكاح وسنيتها فى غيرها شروط ؛ أولا :أن لايخص الداعى الأغنياء بدعوته بل يدعوهم والفقراء وليس الغرض من هذا أن يدعو الناس جميعا بل الغرض أن لا يقصر دعوته على الأغنياء ملقا ونفاقا ومفاخرة ورياء لأن هذه حالة لايقرها الدين فمن قامت به لايكون له حق على غيره، أما إذا دعى الأغنياء صدفة واتفاقا كأن كانوا جيرانا له أو أهل حرفته فإنه لايضر، ثانيا:أن تكون الدعوة فى اليوم الأول من أيام الوليمة فإن أولم ثلاثة أيام أو أكثر كسبعة لم تجب الإجابة إلا فى اليوم الأول وتكون مستحبة فى اليوم الثانى وتكره فيما بعد ذلك، ثالثا :أن يكون الداعى مسلما فإن كان كافرا فإن الإجابة لاتجب ولكن تسن إجابة الذمى سنة غير مؤكدة رابعا :أن يكون الداعى له مطلق التصرف فإن كان محجورا عليه تحرم الإجابة إن كانت الوليمة من ماله، أما إذا فعلها وليه من مال نفسه فإن الإجابة عليه تكون واجبة، خامسا :أن يعين الداعى من يدعوه بنفسه وبرسوله، سادسا :   أن لايدعوه لخوف منه أو لطمع فى جاهه أو إعانته على باطل، سابعا : أن لايعتذر المدعو للداعى ويرضى بتخلفه   عن طيب نفس لا عن حياء ويعرف ذلك بالقرائن، ثامنا :أن لايكون الداعى فاسقا أو شريرا أو مفاخرا، تاسعا : أن لايكون أكثر مال الداعى حراما فإن كان كذلك فإن إجابته تكره فلو علم أن عين الطعام الذى يأكل منه مال حرام يحرم أن يأكل منه لأن المال المحرم يحرم الأكل منه إلا إذا عم فإنه يجوز إستعمال مايحتاج إليه منه بدون أن يتوقف ذلك على ضرورة فإذا لم يكن أكثر مال الداعى حراما لكن فيه شبهة لم تجب الإجابة ولم تسن بل تكون مباحة، عاشرا: أن لايكون الداعى إمراءة أجنبية منه من غير حضور محرم لها أو للمدعى خشية من الخلوة المحرمة وإن لم تقع الخلوة بالفعل، الحادى عشر :أن تكون الدعوة فى وقت الوليمة وهى من حين العقدة كما تقدما، الثانى عشر :    أن لايكون المدعو قاضيا أو ما فى معناه من طل ذى ولاية فإنه لاتجب عليه الدعوة فى محل ولايته خصوصا إذا كان الداعىله خصومة ينظر فيها فإن إجابته تحرم، الثالث عشر :أن لايكون المدعو معذورا بعذر يبيح له ترك الجماعة كمرض، الرابع عشر :أن لا يكون المدعو إمراءة أو غلاما أمرد يخشى منهما الفتنة أو الطعن على الداعى فىعرضه، الخامس عشر :أن لايتعدد الداعى فإن تعدد قدم الأسبق ثم الأقرب رحما ثم الأقرب دارا هذا عند المقارنة فى الدعوة وعند الإستواء يقرع بين الداعيين

Menurut madzhab Syafi’i, hukum menghadiri undangan pernikahan (walimah) dan undangan lainnya memiliki syarat-syarat tertentu agar menjadi wajib atau sunnah. Berikut ini syarat-syarat tersebut:

1. Tidak Mengkhususkan Orang Kaya: Syarat pertama adalah undangan tidak hanya ditujukan untuk orang-orang kaya saja. Tuan rumah harus mengundang baik orang kaya maupun orang miskin. Ini tidak berarti bahwa ia harus mengundang semua orang, tetapi agar ia tidak hanya mengundang orang kaya untuk tujuan pamer atau riya, karena agama tidak mendukung tindakan tersebut. Jika hanya kebetulan undangan dihadiri oleh orang kaya karena mereka adalah tetangga atau teman kerja, hal ini tidak masalah.

2. Dilaksanakan pada Hari Pertama: Walimah sebaiknya dihadiri pada hari pertama. Jika walimah diadakan hingga tiga hari atau lebih (misalnya tujuh hari), kewajiban menghadiri hanya berlaku pada hari pertama. Hari kedua bersifat sunnah, dan setelah itu makruh (tidak disukai).

3. Tuan Rumah Beragama Islam: Jika tuan rumah non-Muslim, menghadiri walimahnya tidak wajib, tetapi menghadiri undangan dari seorang dzimmi (non-Muslim yang hidup dalam naungan pemerintahan Islam) adalah sunnah yang tidak ditekankan.

4. Tuan Rumah Memiliki Hak Atas Hartanya: Jika tuan rumah dalam kondisi terhalang mengelola hartanya, haram menghadiri walimahnya jika menggunakan harta miliknya. Namun, jika walimah tersebut diadakan oleh wali dengan harta pribadinya, maka menghadiri walimahnya menjadi wajib.

5. Tuan Rumah Menentukan Tamu Secara Jelas: Tuan rumah harus menyampaikan undangan secara langsung atau melalui perantara yang ia utus.

6. Tidak Didasari Rasa Takut atau Pamrih: Kehadiran undangan sebaiknya tidak disebabkan oleh ketakutan atau untuk mendapatkan kedudukan, atau membantu dalam kebatilan.

7. Tidak Ada Permintaan Maaf dari Tuan Rumah: Jika undangan telah meminta maaf atas ketidakhadiran tamu dan ikhlas menerimanya, maka tidak wajib menghadirinya. Ini bisa diketahui dari tanda-tanda yang terlihat.

8. Tuan Rumah Bukan Orang Fasik atau Pamer: Tidak wajib menghadiri undangan dari tuan rumah yang dikenal fasik, jahat, atau suka pamer.

9. Sebagian Besar Harta Tuan Rumah Tidak Haram: Jika sebagian besar harta tuan rumah berasal dari sumber yang haram, maka makruh (tidak disukai) untuk menghadiri undangannya. Jika diketahui bahwa makanan yang disajikan berasal dari harta haram, haram memakannya. Jika sumber hartanya bercampur dengan harta yang syubhat (meragukan), menghadirinya tidak wajib dan tidak sunnah, hanya mubah (boleh).

10. Tuan Rumah Bukan Wanita Asing Tanpa Mahram: Jika tuan rumah adalah wanita yang bukan mahram dan tanpa kehadiran mahram, tidak wajib menghadirinya untuk menghindari khalwat (berduaan) yang haram, meskipun khalwat tersebut tidak terjadi.

11. Dilaksanakan pada Waktu Walimah: Waktu pelaksanaan walimah adalah setelah akad nikah, seperti yang telah dijelaskan sebelumnya.

12. Tamu Bukanlah Hakim atau Pejabat di Wilayahnya: Jika yang diundang adalah hakim atau orang yang memiliki otoritas di wilayah itu, maka ia tidak wajib menghadiri undangan, terutama jika tuan rumah memiliki perkara yang sedang diurus olehnya. Dalam kasus ini, menghadirinya bisa jadi haram.

13. Tidak Sedang Ada Udzur yang Membolehkan Meninggalkan Jamaah: Jika tamu yang diundang memiliki uzur, seperti sakit, yang membolehkannya meninggalkan shalat berjamaah, maka kehadirannya tidak wajib.

14. Tamu Bukan Wanita atau Pemuda yang Menimbulkan Fitnah: Jika tamu yang diundang adalah wanita atau pemuda yang berpotensi menimbulkan fitnah atau merusak reputasi tuan rumah, maka kehadirannya tidak wajib.

15. Tidak Ada Dua Undangan yang Bertabrakan: Jika ada dua undangan di waktu yang sama, maka yang didahulukan adalah undangan yang lebih awal, diikuti yang lebih dekat secara hubungan kerabat, dan kemudian yang lebih dekat jaraknya. Jika undangan terjadi pada waktu yang sama, maka diundi di antara dua undangan tersebut.

Lebih lanjut kita lihat referensi berikut:

كتاب الفقه على المذاهب الأربعة إجابة إلى الوليمة وغيرها المكتبة الشاملة ص ٣٥-٣٧

[إجابة الدعوة إلى الوليمة وغيرها]
إجابة الدعوة إلى الوليمة وهي “طعام العرس خاصة” كما تقدم فرض (١) ، فلا يحل لمن دعي إليها أن يتخلف عنها، أما إجابة الدعوة إلى غير الوليمة من الأطعمة التي ذكرت آنفاً كطعام الختان، والقدوم من السفر وغيرهما فإنها (٢) سنة.
وإنما تجب الإجابة أو تسن بشروط:
منها أن لا يكون الداعي فاسقاً مجاهراً أو ظالماً وله غرض فاسد كالمباهاة والمفاخرة أو التأثير على المدعو ليستخدمه في معصية كدعوة القاضي ليحول بينه وبين الحكم بالحق. ومنها أن يكون المدعو معذوراً بعذر شرعي يتيح له التخلف عن الجماعة كمرض ونحوه، وأن يكون معيناً بالدعوة، فلوقال الداعي للناس: هلموا إلى الطعام بدون تعيين فإن الإجابة لا تجب. ومنها أن لا تكون الوليمة مشتملة على محرم أو مكروه؛ فإذا لم تستوف الشروط فإن الإجابة لا تفرض ولا تسن، وفي شروط الإجابة تفصيل في المذاهب(٣) .الحنابلة – قالوا: وقت استحباب وليمة الطعام موسع فإنه يكون من بعد حصول عقد النكاح إلى انتهاء العرس بدون تقرير، فلا مانع مما جرت به العادة من أن تكون الوليمة قبل الدخول بزمن يسير.
فإذا شرع في الوليمة فإنها تستمر يومين، اليوم الأول واليوم الثاني، أما اليوم الثالث فإنها تكون مكروهة لقوله عليه الصلاة والسلام: “الوليمة أول يوم حَق، والثاني معروف، والثالث رياء وسمعة”. رواه أبوداود وابن ماجة وغيرهما.الشافعية – قالوا:
وقت وليمة العرس سدخل بالعقد ولا يفوت بطول الزمن، وقال بعضهم: تستمر الوليمة إلى سبعة أيام في البكر، وثلاثة في الثيب، وبعدها تكون قضاء، والأفضل فعلَها بعد الدخول
(١) الحنفية – قالوا: لهم رأيان في ذلك: “أحدهما” أن الإجابة سنة مؤكدة، سواء كانت الدعوة إلى وليمة أو غيرها متى استكملت الشروط. “ثانيهما” أن الإجابة سنة مؤكدة قريبة من الواجب في وليمة النكاح وهو المشهور. أما الإجابة إلى غير الوليمة فهي أفضل من عدم الإجابة. وبعضهم يقول: إن الإجابة إلى وليمة النكاح واجبة لا يجوز تركها
(٢) المالكية – قالوا: إجابة الدعوة إلى الطعام تنقسم إلى خمسة أقسام، الأول: واجبة وهي إجابة الدعوة إلى طعام وليمة النكاح،
والثاني: مستحبة وهي الإجابة إلى المأدبة “بضم الدال وفتحها” وهي الطعام الذي يصنع للوداد.
الثالث: مباحة وهي الإجابة إلى الطعام الذي يصنع بقصد حسن غير مذموم كالعقيقة للمولود، والنقيعة للقادم من السفر، والولكيرة لبناء الدار، والخرس للنفاس، والإعذار للختان ونحو ذلك. الرابع: مكروهة وهي الإجابة إلى طعام يعمل بقصد الفخر والمحمدة. الخامس: محرمة وهي الإجابة إلى طعام يفعله الرجل لمن يحرم عليه هديته كأحد الخصمين للقاضي
(٣) الحنابلة – قالوا: يشترط لإجابة الدعوة شروط: أحدها: أن يكون المدعو معيناً بشخصه فلودعي ضمن أناس كأن قال الداعي لجماعة يا أيها الناس هلموا إلى الطعام فإنه لا تجب الإجابة على واحد منهم، كما إذا قال لرسوله: ادع من شئت أو من لقيته؛ فإن الإجابة لا تجب في هذه الحالة.
ثانياً: أن يكون الداعي مسلماً يحرم هجره، فإذا دعاه ذمي فإن إجابته تكره، وكذا إذا دعاه ظالم أو فاسق أو مبتدع أو متفاخر بها، فإن إجابته لا تلزم بل تكره.ثالثاً: أن يكون كسب الداعي طيباً، فإن كان كسبه كله خبيثاً فإنه لا تلزم الإجابة بل تحرم وإن كان بعض ماله حلالاً والبعض حراماً ففي إجابة الدعوة والأكل منه أقوال: أحدها الكراهة ورجحه بعضهم. ثانيها الحرمة. ثالثها التفصيل، وهو: إن كان الحرام أكثر حرم الأكل وإلا فلا. رابعها أن لا يكون المدعوغير قادر على الحضور كأن كان مريضاً أو ممرضاً لغيره أو مشغولاً بحفظ مال نفسه أو غيره، أو كان في شدة حر أو برد أو مطر يبل الثياب أو وحل، فإن الإجابة في كل هذه الأحوال لا تجب، لأنها أعذار تبيح ترك الجماعة، فكذلك تبيح ترك إجابة الدعوة للوليمة.خامساً: أن لا تكون الوليمة مشتملة على منكر كأن يكون فيها مضحك بفحش أو كلام كاذب، أو يكون فيها مومسات يتهتكن بالرقص ونحوه، أو كانت المائدة مشتملة على خمر أوآنية من ذهب أو فضة أو عود أو مزمار ونحوها، فإن الإجابة في كل ذلك لا تجب بل تحرم، إلا إذا كان قادراً على إزالة المنكر فإنه يجب عليه الحضور والإنكار وبذلك يؤدي واجبين: واجب إزالة المنكر، وواجب إجابة الدعوة، فإذا لم يعلم بهذه المحظورات وحضر وشاهد المنكر فإنه يجب عليه إزالته إن قدر، فإن لم يقدر فإنه يجب عليه الانصراف. أما إذا علم بالمنكر ولم يره بعينه فإن له الجلوس والأكل، وله الانصراف.سادساً: أن يدعوه في اليوم الأول، فإذا دعاه في اليوم الثاني فإن الإجابة لا تجب بل تستحب وإذا دعاه في اليوم الثالث فإن الإجابة تكره.المالكية – قالوا: تفترض إجابة الدعوة إلى وليمة النكاح بشرط:أولاً: أن يكون المدعو معيناً بشخصه صريحاً أو ضمناً، ومثال الأول: أن يدعوه صاحب الوليمة بنفسه أو برسوله ولو كان غلاماً، ومثال الثاني: أن يرسل رسولاً ليدعو أهل محل كذا وهم محصورون، فإن كان كل واحد منهم يكون معيناً ضمناً، أما إذا لم يعين المدعو لا صراحة ولا ضمناً كأن يقول لرسوله: ادع من لقيت أوادع الفقراء وهم غير محصورين فإنه لا تجب الدعوة بذلك.
ثانياً: أن يكون في الوليمة من يتأذى بالاجتماع معه من الأرذال والسفلة، كأن يخاف على مروءته ودينه، أو يخشى أن يلحقه أذى منهم، أما إذا كان يتأذى بمجرد رؤية أحد يكرهه لحظ نفسي فإن الإجابة لا تسقط عنه بذلك.
ثالثاً: أن لا تكون الوليمة مشتملة على منكر شرعاً، كفرش حرير يجلس هوعليه أو يرى من يجلس عليه ولو فوق حائل، أو تكون مشتملة على آنية من ذهب أو فضة أو مشتملة على ما يحرم سماعه من الأغاني المشتملة على ما لا يجوز، فإن كان المنكر في محل آخر ولم يسمعه أو يره فإنه لا يبيح له التخلف وإلا أباحه. لأن سماع المعصية حرام كرؤيتها.
رابعاً: أن لا يكون منصوباً في مكان الوليمة صورة حيوان أو إنسان مجسدة كاملة الأعضاء الظاهرة التي لا يمكن أن يعيش بدونها ولها ظلّ، فإن لم تكن كاملة الأعضاء التي لا يعيش بدونها ولا ظل لها كأن كانت مبنية في وسط الحائط فإنها لا تضر، لأن الذي يحرم تصويره من الحيوان العاقل وغيره: وهوما استوفى هذه الشروط، وسيأتي الكلام في ذلك مفصلاً، هذا وقد رخص بعضهم في حضور الوليمة المشتملة على محرم شرعاً إذا كان صاحبها ذا سطوة وسلطان يخشى من شره.
خامساً: أن لا يكون هناك زحام كثير.سادساً: أن لا يغلق الباب دونه ولو للمشاورة عليه، أما إذا أغلق الباب لمنع الطفيلية أولحفظ النظام فإن إغلاقه لا يبيح له التخلف.
سابعاً: أن يكون الداعي مسلماً وأن لا يكون المدعو معذوراً بعذر شرعي مبيح له التخلف كمرض ونحوه، وأن لا يكون الداعي فاسقاً أو شريراً أو مفاخراً أو تكون امرأة غير حرم أو من تخشى من إجابته ريبة.الحنفية – قالوا: لا يسن إجابة الدعوة إلا بشروط:
أولاً: أن لا يكون الداعي فاسقاً مجاهراً بالفسق، فلا تسن إجابة الفاسق والظالم بل تكون خلاف الأولى، لأنه ينبغي أن يتورع عن أكل طعام الظلمة وإن كان يحل.
ثانياً: أن لا يكون غالب ماله حراماً فإن علم بذلك فإنه لا تجب عليه الإجابة؛ ولا يأكل ما لم يخبره بأن المال الذي صنع منه الطعام حلال أصابه بالوراثة ونحوها، فإن كان غالب ماله حلالاً فإنه لا بأس بالإجابة والأكل.
ثالثاً: أن لا تكون الوليمة مشتملة على معصية كخمر ونحوه.
فمن دعي إلى وليمة فإن الإجابة لا تسن في حقه إذا علم أنها مشتملة على معصية؛ فإن لم يعلم بها فإن الإجابة لا تسقط عنه؛ فإذا ذهب وهو يعلم ووجد المعصية كشرب الخمر والتماثيل؛ فإن كانت على المائدة فإنه يجب عليه أن لا يجلس بليخرج معرضاً، أما إذا كانت المعصية في مكان بعيد عن المائدة وهو يسمعها أو يراها، فإن قدر على إزالتها وجب عليه أن يفعل، وإن لم يقدر فإن كان ممن يقتدى به فإنه يجب عليه أن يخرج أيضاً؛ وإلا فلا بأس بأن يقعد ويأكل؛ أما إذا كان عالماً قبل أن يذهب فإنه لا يحل له الذهاب إلا إذا كان له تأثير على أنفسهم فيتركون المنكر من أجله، فإنه في هذه الحالة تجب عليه الإجابة، ويجب عليه الذهاب لإزالة المنكر، ولا بأس بإجابة دعوة النصارى.والله أعلم بالصواب

Kitab Al-Fiqh ‘ala Madzahib Al-Arba’ah (Fiqh Empat Mazhab), hal. 35-37

[Menjawab/menhadiri Undangan Walimah dan Lainnya]

Menjawab undangan walimah, yaitu “makanan khusus pernikahan” sebagaimana dijelaskan sebelumnya, adalah wajib (1), sehingga tidak diperbolehkan bagi orang yang diundang untuk tidak hadir. Adapun menjawab undangan selain walimah dari makanan yang disebutkan sebelumnya, seperti hidangan khitan, kepulangan dari perjalanan, dan lainnya, hukumnya sunnah (2).

Kewajiban atau sunnahnya memenuhi undangan memiliki beberapa syarat:

1. Tuan rumah bukanlah orang fasik yang terang-terangan atau zalim, dan tidak ada tujuan buruk seperti pamer atau niat mempengaruhi undangan untuk melakukan maksiat, seperti mengundang hakim agar tidak berlaku adil.

2. Undangan diberikan secara spesifik kepada seseorang. Jika undangan diberikan secara umum tanpa penunjukan, seperti “Ayo makan bersama,” maka kehadiran tidak wajib.

3. Walimah tidak mengandung hal yang haram atau makruh. Jika syarat-syarat ini tidak terpenuhi, maka memenuhi undangan tidak wajib atau tidak sunnah. Adapun detail syarat-syaratnya berbeda dalam setiap madzhab (3).

Penjelasan rincinya sebagai berikut:

Hanabilah: waktu anjuran walimah luas, bisa setelah akad nikah hingga selesai resepsi. Anjuran menghadiri walimah berlangsung selama dua hari, hari pertama dan kedua. Hari ketiga makruh, sebagaimana sabda Nabi saw., “Walimah hari pertama adalah hak, hari kedua adalah kebaikan, dan hari ketiga adalah pamer dan riya.” (HR. Abu Dawud dan Ibn Majah).

Syafi’iyah: waktu walimah berlangsung setelah akad dan tidak terbatas waktunya. Sebagian mengatakan walimah bertahan hingga tujuh hari bagi gadis dan tiga hari bagi janda, setelahnya dianggap qadha.

(1) Hanafiyah: mereka memiliki dua pendapat: “Pertama,” bahwa menjawab undangan adalah sunnah muakkadah untuk walimah atau lainnya jika syaratnya terpenuhi. “Kedua,” menjawab undangan walimah nikah adalah sunnah muakkadah mendekati wajib, sedangkan undangan lainnya lebih dianjurkan daripada tidak menghadiri.

(2) Malikiyah: Menjawab undangan terbagi menjadi lima bagian:

1. Wajib, yaitu menjawab undangan walimah nikah.

2. Sunnah, yaitu undangan perjamuan (ta’ami lil-widad).

3. Mubah, undangan yang diadakan dengan tujuan baik, seperti aqiqah, kepulangan dari perjalanan, atau perayaan rumah baru.

4. Makruh, jika undangan bertujuan untuk pamer.

5. Haram, jika diundang oleh pihak yang diharamkan baginya untuk menerima undangan itu, seperti salah satu pihak yang sedang berselisih mengundang hakim.

(3) Hanabilah: memenuhi undangan wajib jika undangan diberikan secara spesifik, jika tidak maka tidak wajib.Wallahu A’lam bishawab

Kategori
Uncategorized

HUKUM PERNIKAHAN DAN OPERASI STERIL BAGI PENGIDAP HIV DALAM PERSPEKTIF ISLAM

Hukum Pernikahan dan Operasi Steril bagi Pengidap HIV dalam Perspektif Islam

Assalamualaikum

Deskripsi masalah;

Di suatu kota besar, ada seorang laki-laki yang mengidap penyakit HIV karena sering gonta-ganti pasangan, namun laki-laki tersebut telah bertaubat dengan sebenar-benarnya taubat dan dia memperdalam ilmu agama dengan mondok di salah satu pondok pesantren di Jawa. Di saat proses mondoknya, ia bertemu dan mengenal seorang santriwati yang cantik dan baik, hingga tanpa disadari mereka saling jatuh cinta, namun karena laki-laki tersebut sadar kalau dirinya mengidap HIV, laki-laki tersebut menjauhi santriwati yang dicintainya, dan pada akhirnya laki-laki tersebut mengatakan dengan tegas kepada santriwati yang dicintainya, *”Kita tidak mungkin bersama, karena saya mengidap penyakit terkutuk yaitu HIV”*. Si santriwati tersebut terkejut, namun lebih mengejutkan lagi santriwati tersebut mau menerima laki-laki itu apa adanya, hingga akhirnya mereka akan melangsungkan pernikahan dan berkomitmen si santriwati akan melakukan tindakan memutus jalan rahim dengan proses operasi steril dengan tujuan tidak ingin menularkan penyakit tersebut kepada anak cucunya.

`Pertanyaan:`

1. Bagaimana hukum pernikahan tersebut?
2. Bagaimana hukum operasi steril dengan tujuan sebagaimana deskripsi diatas?
3. Bagaimana pandangan ulama tentang orang pengidap penyakit HIV dalam lingkup bersosial?

SĀ’IL: Hamba Allah

Mohon jawaban beserta referensinya

Waalaikum salam

Jawaban:

1. Hukum Pernikahan dengan Orang yang Mengidap HIV

Pernikahan dengan seseorang yang mengidap HIV dalam Islam diperbolehkan, namun ada beberapa ketentuan syariat yang harus diperhatikan. Pada prinsipnya, agama tidak melarang orang yang memiliki penyakit kronis untuk menikah, termasuk pengidap HIV, selama ada kejujuran antara kedua belah pihak mengenai kondisi kesehatan masing-masing dan saling menerima dengan kesadaran penuh. Dalam kasus ini, pengidap HIV telah memberitahu santriwati mengenai kondisinya, dan santriwati tersebut menerima dengan ikhlas. Hal ini sejalan dengan prinsip bahwa rukun dan syarat sahnya nikah dalam Islam tetap dapat terpenuhi, seperti adanya ijab qabul dan ridha antara kedua belah pihak.

Para ulama menyarankan agar pasangan yang terlibat dalam kasus seperti ini berkonsultasi dengan ahli medis terkait risiko penularan dan cara-cara untuk meminimalkan penularan. Di samping itu, keduanya juga disarankan untuk memiliki tekad kuat dalam menjaga kesehatan diri masing-masing dan mematuhi anjuran medis untuk melindungi satu sama lain dari potensi penularan. [1]

2. Hukum Operasi Steril untuk Mencegah Penularan Penyakit

Dalam hukum Islam, tindakan operasi steril yang bertujuan untuk mencegah penularan penyakit bisa jadi diperbolehkan dengan syarat tertentu. Salah satu syaratnya adalah jika terdapat risiko besar bahwa penyakit tersebut akan diwariskan kepada keturunan, dan tidak ada metode pencegahan lain yang lebih aman dan efektif. Beberapa ulama berpendapat bahwa operasi steril dapat diperbolehkan dalam situasi darurat atau dalam rangka mencegah dampak yang lebih buruk (mafsadah) bagi keturunan.

Namun, tindakan ini harus dilakukan dengan izin dari ahli medis yang terpercaya serta niat untuk menghindari mudarat yang lebih besar. Di samping itu, pihak yang bersangkutan hendaknya memperhatikan bahwa dalam Islam, segala tindakan yang mengubah fungsi tubuh harus didasarkan pada prinsip pencegahan kerusakan yang lebih besar, bukan untuk tujuan-tujuan yang tidak syar’i. [2]

3. Pandangan Ulama tentang Orang Pengidap HIV dalam Lingkup Sosial

Orang yang mengidap HIV tidak boleh dikucilkan atau diperlakukan secara diskriminatif dalam Islam. Banyak ulama menekankan pentingnya berperilaku baik kepada sesama manusia dan tidak menstigma mereka karena penyakit yang diderita. Penyakit HIV dapat ditularkan melalui beberapa cara tertentu, sehingga orang yang terinfeksi tetap dapat bersosialisasi dengan orang lain selama mereka menjaga diri dengan baik dan mengikuti pedoman medis.

Selain itu, taubat laki-laki tersebut dan komitmennya untuk mendalami agama merupakan hal yang sangat dihargai dalam Islam. Islam sangat menekankan penerimaan atas taubat dan perubahan sikap seseorang, serta memberikan kesempatan bagi yang bersangkutan untuk berusaha menjadi pribadi yang lebih baik. Sikap masyarakat hendaknya lebih bersifat suportif dan membantu pengidap HIV untuk tetap bisa menjalani kehidupan dengan penuh makna dan pengembangan spiritual.

Dalam konteks bersosial, pengidap HIV dapat berinteraksi dengan normal, namun dengan tetap mematuhi anjuran kesehatan untuk meminimalkan risiko penularan. Ini sejalan dengan prinsip Islam untuk saling menjaga dan memberikan hak sesama manusia, termasuk hak atas kesehatan dan hak untuk hidup bermasyarakat. [3]

Referensi:

1. As-Syarbini, Mughni al-Muhtaj, Juz 3, hlm. 136.

“ولا يمنع من نكاحه، إذا رضي به الطرف الآخر وعلم حاله، إذ الغرض من النكاح قد يحصل، فيجوز الزواج منه ما دام لا ضرر كبير متوقع.”

Artinya: Tidak ada larangan menikahi seseorang apabila pihak lain rela dan mengetahui keadaannya, sebab tujuan dari pernikahan mungkin tercapai, dan pernikahan boleh dilakukan selama tidak ada bahaya besar yang diantisipasi.

المجموع شرح المهذب المكتبة الشاملة
ص٣٥٧٢/١٦٥٣

(فرع)
قال في الاملاء: إذا علم بالعيب حال العقد فلا خيار له لانه عيب رضى به فلم يكن له الفسخ لاجله، كما لو اشترى شيئا معيبا مع العلم بعيبه.
فإن أصاب أحد الزوجين بالآخر عيبا فرضى به سقط حقه من الفسخ لاجله، فإن وجد عيبا غيره بعد ذلك ثبت له الفسخ لاجله لانه لم يرض به، وإن زاد العيب الذى رآه ورضى به نظرت، فإن حدث في موضع آخر بأن رأى البرص والجذام في موضع من البدن فرضى به، ثم حدث البرص في موضع آخر من البدن كان له الخيار في الفسخ، لان هذا غير الذى رضى به، وإن اتسع ذلك الموضع الذى رضى به لم يثبت له الخيار لاجله، لان رضاه به رضاه بما تولد منه

(Cabang)
Dikatakan dalam al-Imlā’ (Penulisan): Jika seseorang mengetahui adanya cacat pada saat akad, ( akad nikah ) maka ia tidak memiliki hak untuk membatalkan akad (fasakh nikah ) karena cacat tersebut telah disetujui olehnya, seperti halnya jika seseorang membeli barang yang cacat dengan mengetahui cacatnya.

Jika salah satu pasangan mengetahui cacat pada pasangan lainnya dan menyetujuinya, maka hak untuk membatalkan akad karena cacat tersebut hilang. Namun, jika kemudian ditemukan cacat lain yang belum disetujui, maka pasangan tersebut berhak untuk membatalkan akad karena cacat baru ini, karena ia belum menyetujuinya.

Jika cacat yang sudah disetujui oleh salah satu pasangan bertambah, maka harus dilihat. Jika cacat tersebut muncul di bagian tubuh lain, misalnya seseorang melihat adanya penyakit kulit seperti kurap atau kusta pada bagian tubuh tertentu dan menyetujuinya, tetapi kemudian muncul penyakit yang sama di bagian tubuh lain, maka pasangan tersebut memiliki hak untuk membatalkan akad, karena ini adalah cacat yang berbeda dari yang sebelumnya disetujui. Namun, jika cacat yang sudah ada meluas pada bagian tubuh yang sama yang telah disetujui, maka tidak ada hak untuk membatalkan akad, karena persetujuan tersebut mencakup perkembangan atau perluasan cacat tersebut.

2. Al-Bahuti, Kasysyaf al-Qina’, Juz 5, hlm. 214.

“يجوز إجراء عملية التعقيم عند الضرورة كحالة مرض معدٍ ينتقل إلى الذرية، وذلك لدرء مفسدة أكبر، بشرط ألا يوجد طريق آخر أخف منه ضررا.”

Artinya: Diperbolehkan melakukan operasi steril dalam keadaan darurat, seperti pada kasus penyakit menular yang bisa diturunkan kepada keturunan, untuk mencegah kerusakan yang lebih besar, dengan syarat tidak ada cara lain yang risikonya lebih ringan.

 

3. Fatwa Lajnah Daimah (Arab Saudi), No. 23416

“ينبغي على المسلم أن لا يعزل المصابين بالأمراض المعدية، وأن يتعامل معهم بالحسنى، مع اتخاذ التدابير اللازمة للوقاية من العدوى.”

Artinya: Seorang Muslim seharusnya tidak mengucilkan orang-orang yang terkena penyakit menular dan harus bersikap baik kepada mereka, dengan tetap mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk mencegah penularan.

من خلال الشرح السابق حول
الزواج في حالة معرفة الزوجة المستقبلية بوجود عيب في الزوج المستقبلي، خاصة فيما يتعلق بمرض الإيدز:

بشكل عام، في الإسلام، يكون الزواج الذي يقوم على الرضا المتبادل بين الطرفين صحيحًا. إذا كانت الزوجة المستقبلية تعرف بالعيب الجسدي أو المرض الذي يعاني منه الزوج المستقبلي، لكنها لا تزال موافقة على الزواج منه، فإن الزواج يمكن أن يستمر. هذا يُظهر الرضا والتقبل من طرف الزوجة لحالة الزوج.

ومع ذلك، هناك بعض الأمور الهامة التي يجب أخذها في الاعتبار في هذه الحالة:

 الأمراض المنقولة جنسياً (مثل الإيدز):
واجب الإفصاح: يجب على الزوج المستقبلي أن يُعلم حالته الصحية، بما في ذلك إذا كان مصابًا بالإيدز، للزوجة المستقبلية قبل الزواج. هذا الإفصاح مهم لكي تتمكن الزوجة من اتخاذ القرار الصائب.

 خطر انتقال العدوى: على الرغم من أن الزواج قد يستمر، يجب أن تفهم الزوجة المستقبلية خطر انتقال الإيدز وتتخذ التدابير الوقائية المناسبة.
صحة المجتمع: في سياق الصحة العامة، من المهم إجراء فحص الإيدز قبل الزواج لتجنب انتشار المرض.

الجوانب القانونية:
القانون الإسلامي: يُؤكد القانون الإسلامي على أهمية الصدق والشفافية في الزواج. الإفصاح عن الحالة الصحية يعد جزءًا من هذه الشفافية.
القانون الوضعي: في العديد من الدول، بما في ذلك إندونيسيا، هناك قوانين تنظم الزواج بما في ذلك شروط الصحة. من الأفضل استشارة الجهات المختصة لمعرفة القوانين المطبقة في منطقتك.

الخلاصة: إذا كانت الزوجة المستقبلية على علم بحالة الإيدز لدى الزوج المستقبلي وكانت موافقة على الزواج، فإن الزواج يمكن أن يستمر من حيث المبدأ. ومع ذلك، من المهم أن يفهم الطرفان عواقب هذا الزواج من النواحي الصحية والقانونية.

النصائح:

 استشارة المختصين: يجب على كل من الزوجين المستقبليين وأسرهم استشارة علماء الدين، الأطباء، والخبراء القانونيين للحصول على نصيحة شاملة.
التحضير النفسي: يجب على كلا الطرفين التحضير نفسيًا لمواجهة التحديات التي قد تنشأ نتيجة لهذه الحالة.
الوقاية: من المهم اتخاذ التدابير الوقائية لمنع انتقال الإيدز سواء قبل أو بعد الزواج.

من المهم أن نتذكر أن كل حالة لها سياق مختلف. لذلك، يُنصح بشدة بالبحث عن الحلول الأفضل للطرفين مع مراعاة الجوانب الدينية والقانونية والصحية.والله أعلم بالصواب

Dari penjelasan diatas mengenai pernikahan dalam kondisi calon istri mengetahui cacat calon suami, khususnya terkait penyakit HIV.
Secara umum, dalam Islam, pernikahan yang didasari atas kerelaan kedua belah pihak adalah sah. Jika seorang calon istri mengetahui cacat fisik atau penyakit yang diderita calon suaminya, namun tetap bersedia menikahinya, maka pernikahan tersebut dapat dilanjutkan. Hal ini menunjukkan adanya kerelaan dan penerimaan dari pihak istri terhadap kondisi suaminya.
Namun, ada beberapa hal penting yang perlu diperhatikan dalam kasus ini:
✅ Penyakit Menular Seksual (PMS) seperti HIV:
☑️ Kewajiban Pengungkapan: Calon suami memiliki kewajiban untuk memberitahukan kondisi kesehatannya, termasuk jika ia mengidap HIV, kepada calon istrinya sebelum pernikahan. Pengungkapan ini penting agar calon istri dapat membuat keputusan yang tepat.
✅Risiko Penularan: Meskipun pernikahan dapat dilanjutkan, calon istri perlu memahami risiko penularan HIV dan mengambil langkah-langkah pencegahan yang sesuai.
✅ Kesehatan Masyarakat: Dalam konteks kesehatan masyarakat, penting untuk melakukan tes HIV sebelum menikah agar dapat mencegah penyebaran penyakit lebih lanjut.

  1. Aspek Hukum:
    ✅ Hukum Islam: Hukum Islam menekankan pentingnya kejujuran dan keterbukaan dalam pernikahan. Pengungkapan kondisi kesehatan merupakan bagian dari kejujuran tersebut.
    ✅ Hukum Positif: Di berbagai negara, termasuk Indonesia, terdapat peraturan perundang-undangan yang mengatur tentang pernikahan, termasuk persyaratan kesehatan. Ada baiknya untuk berkonsultasi dengan pihak berwenang untuk mengetahui peraturan yang berlaku di wilayah Anda.
    Kesimpulan
    Jika calon istri telah mengetahui kondisi HIV calon suaminya dan tetap bersedia menikahinya, maka secara prinsip pernikahan tersebut dapat dilanjutkan. Namun, penting bagi kedua belah pihak untuk memahami konsekuensi dari pernikahan tersebut, baik dari segi kesehatan maupun aspek hukum.
    Saran:
    ✅ Konsultasi dengan Ahli: Baik calon pengantin maupun keluarga sebaiknya berkonsultasi dengan ahli agama, dokter, dan ahli hukum untuk mendapatkan nasihat yang komprehensif.
    ✅Persiapan Mental: Kedua belah pihak perlu mempersiapkan diri secara mental untuk menghadapi tantangan yang mungkin timbul akibat kondisi ini.
    ✅Pencegahan: Pengambilan tindakan pencegahan untuk mencegah penularan HIV sangat penting, baik sebelum maupun setelah pernikahan.
    Penting untuk diingat: Setiap kasus memiliki konteks yang berbeda. Oleh karena itu, sangat disarankan untuk mencari solusi yang terbaik bagi kedua belah pihak dengan mempertimbangkan aspek agama, hukum, dan kesehatan.Wallahu A’lam bisshowab
Kategori
Uncategorized

Meneladani Sunnah dalam Penandaan Makam: Sejarah dan Makna Batu Nisan

“Meneladani Sunnah dalam Penandaan Makam: Sejarah dan Makna Batu Nisan”

 

Assalamualaikum

 

Deskripsi Masalah

 

Ketika seseorang meninggal dunia, biasanya setelah dimakamkan, orang-orang akan menandai makamnya dengan meletakkan batu nisan. Beberapa orang langsung memasangnya saat pemakaman, sementara yang lain menunggu hingga tujuh hari setelah pemakaman. Seiring perkembangan zaman, muncul kebiasaan baru yang disebut “Kijing,” yaitu meletakkan batu nisan setelah seribu hari sejak kematian.

 

Pertanyaan

 

Apakah ada dalil yang menetapkan waktu tertentu untuk memasang batu nisan dan “Kijing” di makam? Bagaimana hukum menulis nama almarhum pada batu nisan?

 

 

Waalaikum salam

 

Jawaban

 

Tidak ada dalil khusus dalam syariat Islam yang menetapkan waktu tertentu untuk memasang batu nisan atau kayu pada makam jenazah, demikian pula dengan tradisi “Kijing.” Secara umum, pemasangan batu nisan dimaksudkan sebagai tanda untuk mempermudah pengenalan letak makam.

 

Adapun mengenai penandaan makam dengan batu atau kayu, hal ini tidak bertentangan dengan syariat Islam. Rasulullah SAW pernah meletakkan batu pada makam saudaranya sesusuan, Utsman bin Mazh’un, sebagai tanda untuk membedakan makam tersebut.

 

Sebagaimana disebutkan dalam Sunan Abi Dawud nomor 3207, dari riwayat Abu Dawud:

 

“Ketika Utsman bin Mazh’un wafat, jenazahnya dibawa dan dimakamkan, lalu Nabi SAW memerintahkan seseorang untuk membawakan sebuah batu. Orang itu tidak mampu mengangkatnya, lalu Rasulullah SAW sendiri yang mengangkatnya sambil menyingkap lengan beliau – sebagaimana yang diriwayatkan oleh Al-Muthalib – yang menyebutkan, ‘Aku seolah melihat putihnya lengan Rasulullah SAW ketika beliau menyingkapnya, lalu mengangkat batu tersebut dan meletakkannya di dekat kepala (makam) seraya bersabda, “Aku menandai makam saudaraku ini, agar aku dapat memakamkan keluarga yang meninggal dari keluargaku di sini.”’”

 

Dari hadits ini, para ulama menyimpulkan bahwa pemasangan batu nisan di makam adalah hal yang dianjurkan, terutama di bagian kepala jenazah. Beberapa orang juga memasang batu nisan di bagian kepala dan kaki jenazah untuk lebih memperjelas letak makam, serta untuk mempermudah pemakaman kerabat yang meninggal di sebelahnya. Imam Al-Mawardi juga menganjurkan agar batu diletakkan di bagian kaki jenazah dengan tujuan serupa.

 

Mengenai penulisan pada batu nisan, para ulama memiliki perbedaan pendapat. Dalam hadits riwayat Imam Tirmidzi dari Jabir disebutkan bahwa Rasulullah SAW melarang memutihkan kubur, menulis di atasnya, membangun di atasnya, dan berjalan di atasnya. Namun, mayoritas ulama menafsirkan larangan ini sebagai makruh (tidak dianjurkan), bukan haram.

 

Para ulama memperbolehkan penulisan nama almarhum pada batu nisan jika tujuannya untuk mempermudah mengenali makam dan mempermudah ziarah. Namun, mereka memperingatkan agar tidak menulis ayat-ayat Al-Qur’an atau nama-nama Allah di batu nisan; karena khawatir ayat-ayat tersebut terinjak atau tidak dihormati.

 

Sedangkan Memberi kijingan makam hukumnya makruh dengan catatan atasnya kuburan terbuka dan tanah milik pribadi dengan tujuan adanya hajat karena hawatir ambruk atau terkena banjir maka dalam kondisi seperti ini boleh

 

Kesimpulannya, pemasangan batu nisan dan penulisan nama almarhum di atasnya diperbolehkan dalam Islam sebagai tanda untuk mengenali makam, dengan syarat dilakukan dengan sederhana, begitu juga menkejing kuburan dengan tidak berlebihan, dan sesuai kebutuhan.

 

Referensi:

 

  سنن أبي داود رقم ٣٢٠٧ الحديث رواه أبوداود

 

حَدَّثَنَا عَبْدُ الْوَهَّابِ بْنُ نَجْدَةَ، حَدَّثَنَا سَعِيدُ بْنُ سَالِمٍ، ح وَحَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ الْفَضْلِ السِّجِسْتَانِيُّ، حَدَّثَنَا حَاتِمٌ، – يَعْنِي ابْنَ إِسْمَاعِيلَ – بِمَعْنَاهُ عَنْ كَثِيرِ بْنِ زَيْدٍ الْمَدَنِيِّ، عَنِ الْمُطَّلِبِ، قَالَ لَمَّا مَاتَ عُثْمَانُ بْنُ مَظْعُونٍ أُخْرِجَ بِجَنَازَتِهِ فَدُفِنَ أَمَرَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم رَجُلاً أَنْ يَأْتِيَهُ بِحَجَرٍ فَلَمْ يَسْتَطِعْ حَمْلَهُ فَقَامَ إِلَيْهَا رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم وَحَسَرَ عَنْ ذِرَاعَيْهِ – قَالَ كَثِيرٌ قَالَ الْمُطَّلِبُ قَالَ الَّذِي يُخْبِرُنِي ذَلِكَ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ – كَأَنِّي أَنْظُرُ إِلَى بَيَاضِ ذِرَاعَىْ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم حِينَ حَسَرَ عَنْهُمَا ثُمَّ حَمَلَهَا فَوَضَعَهَا عِنْدَ رَأْسِهِ وَقَالَ ‏ “‏ أَتَعَلَّمُ بِهَا قَبْرَ أَخِي وَأَدْفِنُ إِلَيْهِ مَنْ مَاتَ مِنْ أَهْلِي ‏”‏ ‏.

 

الإقناع همش تحفة الحبيب على الحطيب( بيروت دار الكتب العلمية : ١٩٩٦ م /١٤١٧ ه طبعة الأولى ج ٢ ص ٥٧١

 

وَأَنْ يَضَعَ عِنْدَ رَأْسِهِ حَجَرًا أَوْ خَشَبَةً أَوْ نَحْوَ ذَلِكَ لِأَنَّهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَضَعَ عِنْدَ رَأْسِ عُثْمَانَ بْنِ مَظْعُونٍ صَخْرَةً وَقَالَ : أَتَعَلَّمُ بِهَا قَبْرَ أَخِي لِأَدْفِنَ إلَيْهِ مَنْ مَاتَ مِنْ أَهْلِي

 

البجيرمي تحفة الحبيب على الخطيب( بيروت دار الكتب العلمية : ١٩٩٦م /١٩١٧ ه الطبعة الأولى ج ٢ ص ٥٧١

 

لِأَدْفِنَ إلَيْهِ مَنْ مَاتَ مِنْ أَهْلِي) قَضِيَّتُهُ نَدْبُ عِظَمِ الْحَجَرِ وَمِثْلُهُ نَحْوُهُ، وَوَجْهُهُ ظَاهِرٌ فَإِنَّ الْقَصْدَ بِذَلِكَ مَعْرِفَةُ قَبْرِ الْمَيِّتِ عَلَى الدَّوَامِ، وَلَا يَثْبُتُ كَذَلِكَ إلَّا الْعَظِيمُ؛ وَذَكَرَ الْمَاوَرْدِيُّ اسْتِحْبَابَهُ عِنْدَ رِجْلَيْهِ، ا هـ شَرْحُ م ر .

 

حاشية البجيرمى ٩٧/٢

 

نعم استثنى بعضهم قبور الأنبياء والشهداء والصالحين ونحوهم برماوي وعبارة الرحماني:نعم قبور الصالحين يجوز بناؤها ولو بقبة الأحياء للزيارة والتبرك،قال الحلبي: ولو في مسبلة وأفتى به

 

وكره بناء له ) أي للقبر ( أو عليه ) لصحة النهي عنه بلا حاجة كخوف نبش أو حفر سبع أو هدم سيلومحل كراهة البناء إذا كان بملكه

ما رواه مسلم، قال: نهى رسول الله (ص) أن يجصص القبر وأن يبنى عليه.زاد وأن يقعد عليه الترمذي: وأن يكتب عليه، وأن يوطأ عليه.وقال: حديث حسن صحيح

ويكره كتب القرأن على حائط ولو لمسجد و ثياب و طعام و نحو ذلك و يجوز هدم الحائط و لبس الثوب وأكل الطعام

الباجوري ١/١١٧

ويحل لبس الثياب التي نقش عليها شيئ من القرأن والنوم فيها ولو للجنب.

الإقناع ١٠٤/١

 

أما ما كتب لغير الدراسة كالتميمة وهي ورقة يكتب فيها شيء من القرآن وتعلق على الرأس مثلا للتبرك والثياب التي يكتب عليها والدراهم فلا يحرم مسها ولا حملها لأنه e كتب كتابا إلى هرقل وفيه يا أهل الكتاب تعالوا إلى كلمة سواء بيننا وبينكم الآية ولم يأمر حاملها بالمحافظة على الطهارة ويكره كتابة الحروز وتعليقها إلا إذا جعل عليها شمعا أو نحوه

روضة الطالبين ١١٦ بيروت

وأما ما كتب عليه شيء من القرآن لا للدراسة ، كالدراهم الأحدية ، والثياب ، والعمامة ، والطعام ، والحيطان ، وكتب الفقه ، والأصول ، فلا يحرم مسه ، ولا حمله على الصحيح روضة الطالبين وعمدة المفتين أبو زكريا يحيى بن شرف النووي

فتاوى بحثية

اسم المفتي : لجنة الإفتاء

الموضوع : حكم وضع الشاهد على القبر

رقم الفتوى: ٨٦٩

التاريخ :٢٥-٠٧-٢١٠

التصنيف: الجنائز

نوع الفتوى: بحثية

 

السؤال:

توفي والدي رحمه الله قبل ثلاثة أسابيع، فهل من الجائز أن يوضع شاهد على القبر، أم أنه من الأمور المحرمة؟ أرجو نصحي.

الجواب:

 

الحمد لله، والصلاة والسلام على سيدنا رسول الله

اتفق الفقهاء على جواز وضع الشواهد – غير المكتوب عليها – على القبور، كالحجر، أو الخشب، وذلك لغرض تعليم القبر وتمييزه عن غيره من الأرض.

أما إذا كان الشاهد مكتوبا عليه – كما هو الحال في الشواهد في بلادنا – فينظر فيه:

١- إذا لم تكن ثمة حاجة للكتابة على الشاهد، ككتابة القرآن الكريم والأذكار الشرعية أو بعض عبارات التعظيم والتفخيم، فقد اتفق الفقهاء أيضا على النهي عن مثل هذا النوع من الكتابة، لحديث يرويه أصحاب السنن أن النبي صلى الله عليه وسلم: (نهى أن يبنى على القبر أو يزاد عليه أو يجصص أو يكتب عليه)

٢- أما إذا احتجنا إلى كتابة اسم المدفون لتمييزه عن غيره، وزيارة أهله له، فهذا جائز في معتمد مذهب الحنفية، خلافا لجمهور الفقهاء.

يقول ابن عابدين رحمه الله: “لا بأس بالكتابة إن احتيج إليها حتى لا يذهب الأثر ولا يمتهن؛ لأن النهي عنها – وإن صح – فقد وجد الإجماع العملي بها, فقد أخرج الحاكم النهي عنها من طرق, ثم قال: هذه الأسانيد صحيحة وليس العمل عليها, فإن أئمة المسلمين من المشرق إلى المغرب مكتوب على قبورهم, وهو عمل أخذ به الخلف عن السلف اهـ، ويتقوى بما أخرجه أبو داود بإسناد جيد: (أن رسول الله صلى الله عليه وسلم حمل حجرا فوضعها عند رأس عثمان بن مظعون وقال: أتعلَّم بها قبر أخي، وأدفن إليه من مات من أهلي)

نعم، يظهر أن محل هذا الإجماع العملي على الرخصة فيها ما إذا كانت الحاجة داعية إليه في الجملة، فأما الكتابة بغير عذر فلا، حتى إنه يكره كتابة شيء عليه من القرآن أو الشعر أو إطراء مدح له ونحو ذلك..فالأحسن التمسك بما يفيد حمل النهي على عدم الحاجة” انتهى باختصار. “رد المحتار” (٢/٢٣٨). والله أعلم.

Kategori
Uncategorized

Sejarah dan Hukum Penggunaan Surban dalam Islam Menurut Pandangan Ulama

Assalamualaikum

Deskripsi Masalah: Di tengah masyarakat kita, seringkali terlihat bahwa sebagian umat Muslim memakai surban, baik saat melaksanakan sholat maupun di luar sholat. Penggunaan surban ini tidak hanya dilakukan oleh mereka yang telah menunaikan ibadah haji atau umrah, tetapi walaupun belum haji sebagian memakai surban.

Pertanyaan: Bagaimana sebenarnya sejarah penggunaan surban, dan bagaimana hukum memakainya menurut pandangan para ulama?

Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh,

Jawaban

Penggunaan surban dalam Islam memiliki akar sejarah dan Asal Usul

Adapun sejarah dan asal usul surban bukan hanya dikenal dalam tradisi Islam, tetapi juga merupakan atribut khas yang telah digunakan oleh bangsa Arab bahkan dalam sejarah pertama kali orang yang menggunakan ( memakai) surban adalah Nabi Adam Alaihissalam hingga pada Nabi Muhammad SAW. Di dalam berbagai riwayat, Rasulullah SAW sendiri menggunakan surban dengan berbagai warna, termasuk putih, yang kemudian dianggap sebagai simbol kebersihan dan kesucian. Salah satu riwayat dari Jabir bin Abdullah RA menyebutkan bahwa saat Fathul Makkah (Pembebasan Kota Mekkah), Rasulullah memakai surban hitam. Ini menunjukkan bahwa surban sudah menjadi bagian dari tradisi berpakaian pada masa itu.

Pandangan Ulama tentang Hukum Memakai Surban
Secara hukum, para ulama tidak ada yang mewajibkan penggunaan surban. Dalam Islam, memakai surban tidak termasuk ke dalam kewajiban melaikan  menghukumi sunnah mu’akkadah yang dianjurkan bagi siapa saja yang ingin mengikuti kebiasaan Rasulullah SAW. Artinya, memakai surban dapat bernilai sunnah, tetapi bukan suatu keharusan ( bukan suatu kewajiban) begitu juga didalam sholat melainkan sunnah. Dalam pandangan jumhur ulama (mayoritas ulama), memakai surban dianggap bagian dari adab dan sunnah, . Hal ini didasarkan pada beberapa riwayat yang menunjukkan bahwa Rasulullah SAW sering mengenakan surban

Hukum memakai surban dalam shalat ini merujuk pada konsep memperindah penampilan dan mengikuti kebiasaan Nabi SAW. Sebagaimana dalam firman Allah SWT:

“Wahai anak cucu Adam, pakailah perhiasanmu (pakaian yang indah) di setiap (memasuki) masjid.” (QS. Al-A’raf: 31)

 

Jumhur ulama menyebutkan, ayat ini menunjukkan anjuran untuk tampil rapi dan pantas, termasuk dalam shalat, namun tidak spesifik pada penggunaan surban. Jadi, memakai surban bisa menjadi cara untuk meneladani Nabi SAW dan menjaga penampilan rapi dalam shalat.

Kesimpulan

Memakai surban ketika shalat adalah sunnah yang berpahala bagi yang melakukannya dengan niat mengikuti Rasulullah SAW, tetapi bukan kewajiban.
Untuk lebih jelasnya sejarah dan serta hukum dan keutamaan orang bersurban bisa dilihat dalam referensi kitab “Ad-Diamah” halaman 1-17 berikut:

بسم الله الرحمن الرحيم
وصلى الله على سيدنا محمد وآله وصحبه وسلم تسليماً
الحمد لله متوج العرب بالعمائم ومنور الوجوه بإقامة السنن والعزائم والصلاة والسلام على سيدنا و مولانا محمد مشيد الاركان والدعائم وعلى آله و اصحابه ذوي الكمالات العلية والفضل القائم اما بعد فهذا ان شاء الله تعالى تعليق شريف ومهيع لطيف سميته ( الدعامة ) لمعرفة احكام سنة العمامة وللامام الحافظ ابي عبد الله محمد بن وضاح الاندلسي المالكي من اهل القرن الثالث الذي به ويبقي ابن مخلد صارت الاندلس دار حدیث کتاب فضل لباس العمائم وللشيخ ابي الفضل محمد بن احمد المعروف بالامام تحفة الامة باحكام العمة اي العمامة ذكره في كشف الظنون ولشهاب الدين احمد بن حجر الهيتمى المكي كتاب ذر الغمامة في در الطيلسان والعذبة والعمامة وللشهاب احمد بن محمد الخفاجي الافندي شارح الشفا الثمامة في صفة العمامة نبه عليه في شرحه على الشفا ولم اقف الان الا على كتاب الدر وما وقفت عليه الا بعد التبيض بمدة من الدهر فالحقت منه بعض الكلام تيمناً به و تكميلا للمرام والله المسؤول ان يتقبله باحسن القبول وان يجعله وافياً بالمنى والصول آمين

Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Dan sesungguhnya shalawat serta salam semoga tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad, keluarga, dan para sahabatnya. Segala puji bagi Allah yang telah memuliakan bangsa Arab dengan mengenakan sorban (serban) dan menerangi wajah-wajah mereka dengan menegakkan sunnah dan keteguhan iman. Dan shalawat serta salam semoga tercurah kepada junjungan kita dan tuan kita Nabi Muhammad, yang telah membangun pondasi agama dan pilar-pilarnya, serta kepada keluarga dan para sahabatnya yang memiliki kesempurnaan yang agung dan keutamaan yang terus-menerus. Adapun setelah pembukaan ini, maka insya Allah ini adalah sebuah catatan yang mulia, agung, dan indah yang aku beri nama “Al-Da’amah” (Tiang Penyangga) untuk mengetahui hukum sunnah mengenakan sorban. Dan untuk imam yang alim, Abu Abdullah Muhammad bin Wudhah al-Andalusi al-Maliki, seorang ulama dari abad ketiga, dengannya dan dengan Ibn Mikhal, Andalusia menjadi pusat kajian kitab tentang keutamaan mengenakan sorban. Dan untuk syaikh Abu al-Fadl Muhammad bin Ahmad, yang dikenal sebagai Imam Tahfah al-Umah (Perhiasan Umat) dengan kitabnya tentang hukum al-‘amah (sorban), yaitu kitab yang disebutkan dalam “Kasyf al-Zunun”. Dan untuk Syihabuddin Ahmad bin Hajar al-Haytami al-Makki, dengan kitabnya “Dzar al-Ghammah fi Dhr al-Taylisan wa al-‘Adhbah wa al-‘Amah”. Dan untuk Syihabuddin Ahmad bin Muhammad al-Khafaji al-Afndi, seorang ahli tafsir kitab “Asy-Syafa” tentang sifat sorban, yang beliau sebutkan dalam tafsirnya atas kitab “Asy-Syafa”. Dan aku belum menemukan kecuali kitab “Ad-Drr”, dan aku baru menemukannya setelah proses persiapan (persiapan kertas atau kulit untuk ditulis), maka aku tambahkan beberapa kalimat darinya sebagai keberkahan dan untuk menyempurnakan maksud. Dan aku memohon kepada Allah agar Dia menerima amalku dengan sebaik-baik penerimaan dan menjadikannya sempurna untuk mencapai segala harapan dan tujuan. Amin.

مقدمة في ضبطها وتعريفها
“أما ضبطها فذكر في القاموس وغيره أنها بكسر العين قال في شرح المواهب وحكى بعض ضمها هـ وفي شرح الشمائل للشيخ جسوس ما نصه العمامة بكسر العين خلافاً للعصام في قوله بالفتح كغمامة هـ واصله الصاحب جمع الوسائل في شرحها ايضاً قائلاً ووهم العصام حيث قال بالفتح كالغمامة هـ وقال في تاج العروس قال شيخنا وظبطه يعني لفظ العمامة بعض شراح الشمائل بالفتح ايضاً وهو غلط هـ واما تعريفها فهي في الأصل اسم لما يعقد على الرأس ويلوى عليه من صوف أو قطن أو كتان أو نحو ذلك كانت تحته قلنسوة أو غيرها ام لا وتطلق على كل ما يوضع على الرأس ويجعل عليه اعم من ان يكون قلنسوة أو مغفراً أو غير ذلك وعلى خصوص المغفر وهو زرد من حديد ينسج بقدر الرأس يلبس تحت القلنسوة يتقى به في الحرب وعلى خصوص البيضة ايضاً وهي واحدة البيض من الحيد على التشبيه ببيضة النعام ويقال لها الشاشية تجعل على الرأس يتقى بها في الحرب ايضاً وعلى عيد ان مشدودة تركب في البحر”

 

“Adapun cara pelafalannya, disebutkan dalam kitab Al-Qamus dan lainnya bahwa kata ini dilafalkan dengan memecah huruf ‘ain (yaitu: ‘imamah). Dalam Syarh Al-Mawahib disebutkan bahwa ada juga pendapat yang mengatakan huruf ‘ainnya dibaca dengan dhammah. Begitu pula dalam Syarh Asy-Syamail oleh Syaikh Jasus yang menyatakan: ‘imamah dengan memecah ‘ain, berbeda dengan pendapat Al-‘Isam yang menyebutkan dengan membacanya fathah seperti kata ‘ghamamah’. Dalam Syarh Asy-Syamail oleh Al-Wasa’il juga disebutkan bahwa Al-‘Isam keliru dalam membacanya dengan fathah seperti ‘ghamamah’. Dalam Taj Al-‘Arus, Syaikh kami mengatakan bahwa sebagian syarh dari Asy-Syamail juga membacanya dengan fathah, dan ini adalah kekeliruan.

Sedangkan definisinya, pada asalnya adalah nama untuk sesuatu yang diikat di kepala dan dililitkan dari bahan wol, kapas, atau linen, baik di bawahnya terdapat penutup kepala (seperti kopiah) atau tidak. Istilah ini juga digunakan untuk menyebut semua benda yang diletakkan di kepala, baik itu kopiah, topi besi pelindung perang (maghfar) yang dianyam dari besi seukuran kepala, yang biasa dikenakan di bawah kopiah sebagai pelindung dalam peperangan, atau juga helm dari besi, yang mirip dengan bentuk telur burung unta. Ini juga disebut syasyiyah, yang dipakai di kepala sebagai pelindung dalam perang, dan juga bisa merujuk pada pelindung yang dipasang di kapal.”

 

“أما ضبطها فذكر في القاموس وغيره أنها بكسر العين قال في شرح المواهب وحكى بعض ضمها هـ وفي شرح الشمائل للشيخ جسوس ما نصه العمامة بكسر العين خلافاً للعصام في قوله بالفتح كغمامة هـ واصله الصاحب جمع الوسائل في شرحها ايضاً قائلاً ووهم العصام حيث قال بالفتح كالغمامة هـ وقال في تاج العروس قال شيخنا وظبطه يعني لفظ العمامة بعض شراح الشمائل بالفتح ايضاً وهو غلط هـ واما تعريفها فهي في الأصل اسم لما يعقد على الرأس ويلوى عليه من صوف أو قطن أو كتان أو نحو ذلك كانت تحته قلنسوة أو غيرها ام لا وتطلق على كل ما يوضع على الرأس ويجعل عليه اعم من ان يكون قلنسوة أو مغفراً أو غير ذلك وعلى خصوص المغفر وهو زرد من حديد ينسج بقدر الرأس يلبس تحت القلنسوة يتقى به في الحرب وعلى خصوص البيضة ايضاً وهي واحدة البيض من الحيد على التشبيه ببيضة النعام ويقال لها الشاشية تجعل على الرأس يتقى بها في الحرب ايضاً وعلى عيد ان مشدودة تركب في البحر”

 

“Adapun mengenai penempatan titik (harakat) pada kata ‘عِمامة’ (imamah) ini, telah disebutkan dalam kamus dan kitab-kitab lain bahwa harakat pada huruf ‘عين’ adalah kasrah (berfungsi sebagai tanda baca untuk menunjukkan bacaan pendek pada huruf). Namun, ada juga yang menyebutkan bahwa harakatnya adalah dhammah (tanda baca untuk menunjukkan bacaan panjang). Dalam kitab ‘شرح الشمائل’ karya Syekh Jusus, disebutkan dengan jelas bahwa ‘عِمامة’ dibaca dengan harakat kasrah, berbeda dengan pendapat ulama lain yang membacanya dengan harakat fathah (tanda baca untuk menunjukkan bacaan terbuka).
Sedangkan pengertian ‘عِمامة’ secara umum adalah penutup kepala yang terbuat dari wol, kapas, atau kain, kemudian dililitkan pada kepala. Kadang-kadang di bawahnya ada penutup kepala yang lebih kecil. Istilah ‘عِمامة’ juga digunakan secara umum untuk menyebut semua penutup kepala, baik itu berupa sorban, topi, atau penutup kepala lainnya.
Secara khusus, ‘مغفر’ adalah sejenis helm yang terbuat dari besi, dibentuk sesuai ukuran kepala, dan digunakan di bawah sorban sebagai pelindung kepala dalam peperangan. Selain itu, kata ‘عِمامة’ juga digunakan untuk menyebut telur burung unta karena bentuknya yang mirip dengan penutup kepala tersebut. Telur burung unta ini juga dikenal dengan nama ‘الشاشية’ dan digunakan sebagai pelindung kepala dalam peperangan.
Ada juga istilah ‘عيد’ yang disebutkan dalam teks ini, namun maknanya kurang jelas dan perlu konteks yang lebih lengkap untuk dapat diterjemahkan secara akurat.”

“ويعبر عليها في النهر كالنعامة أي بالتشديد أو الصواب العامة بالتخفيف وارخى عمامته أي أمن وترف وعمم بالضم سود ورأسه لفت عليه العمامة كعم وهو حسن العمة بالكسر أي الاعتمام هـ وفي المصباح والعمامة جمعها عمائم وتعممت كورت العمامة على الرأس وعمم الرجل بالبناء للمفعول سود والعمائم تيجان العرب ه سميت عمامة لانها تعم جميع الرأس بالتغطية والله أعلم.
ذكر بعض ما جاء من الأخبار فيها) عن مقاتل بن حيان النبطي قال أوحى الله إلى عيسى عليه السلام اسمع واطع يا ابن الطاهر البكر البتول إني خلقتك من غير فحل فجعلتك آية للعالمين فأياي فاعبد وعلي فتوكل فسر أي من التفسير لا هل سوران إني أنا الله الحي القيوم لازول صدقوا النبي الأمي صاحب الجمل والمدرعة والعمامة والنعلين والهراوة الحديث ومنه تؤخذ تسميته عليه الصلاة والسلام بصاحب كما العمامة يسمى بصاحب التاج وهو العمامة على نهج الاستعارة شبهت العمامة بالتاج الذي هو الاكليل في أن العرب تتزين بها كتزين العجم بانتاج واستمير لها اسمه ولم تكن العمائم إلا للعرب دون غيرهم من بقية الأمم وكانوا إذا سودوا عمموه بعمامة حمراء وكانت الفرس تتوج ملوكها فكني بذلك اعنى بكونه صاحب العمامة عن انه عليه الصلاة والسلام من صميم العرب واشرفهم واعلاهم وانفسهم حسباً ونسباً مع الإشارة إلى انه عليه الصلاة والسلام إذا ظهر يلبس العالم وان لبسها يكون من شعاره وعاداته وعلامة من علاماته”

 

“Dan dia melewati (dengan) sungai seperti burung unta, dengan tekanan, atau yang benar adalah (dengan bacaan) ‘al-‘amma’ dengan pelan, dan dia melonggarkan serbannya, yang artinya merasa aman dan nyaman, dan ‘ʿammama’ dengan dammah berarti mewarnai hitam (serban), dan kepalanya dipakaikan serban sebagai ‘ʿamma’ yang bagus, yaitu serban (sebagai tanda kebesaran). Dalam kitab al-Misbah disebutkan bahwa ‘imamah’ (serban) bentuk jamaknya adalah ‘ʿama’im’, dan ‘taʿammamtu’ artinya saya mengenakan serban di kepala, dan ‘ʿummima’ dalam bentuk pasif berarti dikenakan serban hitam, dan serban adalah mahkota orang Arab. Disebut ‘imamah’ karena menutupi seluruh kepala. Hanya Allah yang lebih tahu.

Diceritakan beberapa riwayat tentang hal ini. Dari Maqatil bin Hayyan al-Nabti, ia berkata bahwa Allah mewahyukan kepada Isa ‘alaihis-salam, ‘Dengarkan dan taatilah, wahai putra wanita suci dan perawan murni! Aku menciptakanmu tanpa seorang ayah, dan Aku menjadikanmu sebagai tanda bagi seluruh alam. Maka sembahlah Aku dan bertawakallah kepada-Ku.

Maka, tafsirkanlah – jika ada dua ayat – sesungguhnya Aku adalah Allah, Yang Maha Hidup dan Maha Berdiri Sendiri, yang tak pernah lenyap. Percayailah nabi yang ummi (yang tidak bisa membaca dan menulis), yang memiliki unta, baju dari bahan kasar, serban, dua sandal, dan tongkat.’

Dan dari riwayat ini diambil nama beliau ‘alaihis-salam sebagai ‘pemilik serban,’ sebagaimana beliau juga dikenal dengan ‘pemilik mahkota’ (yaitu serban) dalam bentuk perumpamaan. Serban diibaratkan sebagai mahkota, yaitu hiasan kepala yang juga dikenakan orang Arab seperti orang non-Arab mengenakan mahkota. Serban menjadi simbol bagi mereka dan tidak dikenakan kecuali oleh orang Arab, berbeda dengan bangsa-bangsa lain.

Dan mereka, ketika akan memuliakan seseorang, mengenakannya serban merah. Sedangkan bangsa Persia memahkotai raja-raja mereka, maka pernyataan ini mengandung arti bahwa Nabi ‘alaihis-salam adalah bagian dari bangsa Arab yang murni, yang paling mulia, luhur, dan bernasab terhormat, dengan petunjuk bahwa beliau biasa mengenakan serban dan bahwa memakainya adalah kebiasaan serta tanda khusus beliau.”

“ويؤخذ من ذلك ندب بل تؤكد لبسها للاقتداء به صلى الله عليه وسلم وقد ذكر صاحب محاضرة الأوائل تبعاً للسيوطي أن أول من كفن رأسه بالعمامة أبونا آدم عليه السلام كوره جبريل على رأسه لما خرج من الجنة إلى الدنيا وكان متوجاً في الجنة وأن أول من لبسها يعني بعد زمن سيدنا آدم عليه السلام ذو القرنين وكانوا يلبسون التيجان قبله قال وسببه أنه كان طلع في رأسه قرنان كالظلفين يتحركان فلبسها ستراً ثم أنه دخل الحمام يوماً ومعه كاتب سره فوضع العمامة عن رأسه فقال الكاتب هذا أمر لم يطلع عليه أحد غيرك فان سمعته من أحد قتلتك فخرج الكاتب من الحمام فأخذه كهيئة الموت فأتى الصحراء فوضع فمه في الأرض ثم نادى أن للملك قرنين فانبت الله تعالى من كلمته قصبتين ثمر بهما راع فقطعها واتخذهما مزماراً فكان إذا زمر خرج من القصبتين صدى أن للملك قرنين فانتشر ذلك في المدينة فقال ذو القرنين هذا أمر أراد الله أن يبديه أوائل السيوطي هـ واخرج أبو نعيم في الحلية عن ابن عباس والقضاعي في مسند الشهاب والديلمي في مسند الفردوس عن علي رفعاه العمائم تيجان العرب والاحتباء حيطانها وجلوس المؤمن في المسجد رباطه وفيه حنظلة ابن عبد الله السدوسي البصري قال الذهبي تركه يحيى القطان وضعفه أحمد وقال منكر الحديث يحدث بأعاجيب وقال ابن معين ليس بشي تغير في آخر عمره وقال النساني ليس بقوي وقال مرة ضعيف ولذلك قال الحافظ السخاوي سنده ضعيف وتبته على ذلك المناوي في التيسير والتيجان جمع تاج قال في النهاية وهو ما يصاغ”

Dari teks tersebut, kita bisa mengambil bahwa memakai serban (penutup kepala) adalah suatu anjuran bahkan dianjurkan secara kuat, sebagai bentuk meneladani Nabi Muhammad SAW. Pemakaian serban ini memiliki sejarah panjang. Dalam kitab Mahadhiratil Awwa’il yang dikutip oleh Imam as-Suyuti, disebutkan bahwa orang pertama yang mengenakan penutup kepala adalah Nabi Adam AS. Menurut riwayat, Jibril membalutkan serban di kepalanya ketika Nabi Adam turun dari surga ke bumi. Sebelumnya, Nabi Adam mengenakan mahkota di surga.

Kemudian setelah Nabi Adam, orang pertama yang mengenakan serban adalah Dzulkarnain. Sebelum masa Dzulkarnain, masyarakat memakai mahkota. Dikisahkan bahwa Dzulkarnain memiliki dua tanduk di kepalanya yang bergerak-gerak seperti cakar. Maka, ia mengenakan serban untuk menutupi tanduk tersebut. Suatu ketika, Dzulkarnain masuk ke dalam pemandian umum bersama penulis rahasianya dan melepaskan serbannya. Melihat hal itu, penulisnya berjanji untuk tidak mengungkapkan rahasia tersebut. Namun, di luar kehendaknya, penulis tersebut merasa terpaksa untuk menyebarkan kabar ini. Maka ia pergi ke gurun dan menyatakan bahwa “raja memiliki dua tanduk” dengan suara pelan di tanah. Allah kemudian menumbuhkan dua batang pohon di tempat tersebut. Seorang penggembala menemukan batang tersebut dan membuatnya menjadi seruling. Setiap kali ditiup, terdengar suara “raja memiliki dua tanduk.” Kabar tersebut akhirnya tersebar di kota.

Dari sini pula ada pernyataan bahwa serban dianggap sebagai mahkota bagi orang Arab, sedangkan duduk dalam posisi ikat pinggang (ihtiba) adalah seperti bentengnya, dan duduk seorang mukmin di masjid adalah seperti ikatan kuatnya. Hadis ini diriwayatkan oleh Abu Nu’aim dalam kitab Hilyat al-Auliya’, al-Qudha’i dalam Musnad al-Shihab, dan al-Daylami dalam Musnad al-Firdaws dari Ali RA. Namun, dalam sanadnya terdapat perawi bernama Hanzhalah bin Abdullah al-Sadusi al-Bashri, yang menurut al-Dzahabi ditinggalkan oleh Yahya al-Qaththan dan dianggap lemah oleh Ahmad bin Hanbal karena meriwayatkan hal-hal yang dianggap aneh.

 

” وهو مايصاغ لملوك من الذهب والجوهر وقد توجته إذا البسته التاج قال أراد أن العمائم.
العرب بمنزلة التيجان للملوك لأنهم أكثر ما يكونون في البوادي مكشوفي الرؤوس أو بالقلانس والعمائم فيهم قليلة. وهذه رواية ابن السني والديامطي عن ابن عباس مرفوعة: “العمائم تيجان العرب، فإذا وضعوا العمائم وضعوا عزهم”.
ولفظ رواية الدياسي: “وضع الله عزهم”. واسناده أيضاً ضعيف كما قال السخاوي والزين العراقي والمناوي في التيسير.
وأخرج الديلمي في مسند الفردوس عن عمران بن حصين رفعه: “العمائم وقار للمؤمن وعز للعرب، فإذا وضعت العرب عمائمها فقد وضعت عزها”. وهو ضعيف أيضاً كما في شرح المواهب وغيرها.
وأخرج أبو عبد الله محمد وضاح في فضل لباس العمائم عن مكحول مرسلاً: “العمائم تيجان العرب، فإذا نزعوها ذهب عزهم”.
وأخرج ابن أبي شيبة وأبو داوود الطياليسي وابن منيع والبيهقي في السنن عن علي رضي الله عنه قال: “عممني النبي صلى الله عليه وسلم يوم غدير خم بعمامة سدل طرفها على منكبي وقال: إن الله أمدني يوم بدر ويوم حنين بملائكة معممين هذه العمة، وقال: إن العامة حاجزة بين الكفر والإيمان”. وفي رواية: “بين المسلمين والمشركين”.
وفيها عبد الله بن يسر البحراني الحمصي قال أبو حاتم وغيره: ضعيف. والنسائي ليس بثقة.
وأخرج الترمذي وأبو داوود عن ركانة بن عبد يزيد المطلى وهو من مسلمة الفتح رفعه: “فرق ما بيننا”

 

“Itulah yang dibuat untuk raja-raja dari emas dan permata, dan dikatakan ‘aku menobatkannya’ ketika aku mengenakannya mahkota. Mereka berpendapat bahwa sorban bagi orang Arab ibarat mahkota bagi raja-raja, karena mereka sering berada di padang pasir dengan kepala terbuka atau mengenakan tutup kepala, dan hanya sedikit dari mereka yang memakai sorban. Ini adalah riwayat Ibnu Sunni dan Ad-Di`amathi dari Ibnu Abbas dengan sanad marfu’: ‘Sorban adalah mahkota orang Arab, maka ketika mereka melepas sorban, mereka kehilangan kehormatan mereka.’

Teks riwayat Ad-Di’asyi menyatakan: ‘Allah telah menempatkan kehormatan mereka.’ Namun, sanadnya juga lemah sebagaimana dikatakan oleh As-Sakhawi, Az-Zain Al-Iraqi, dan Al-Munawi dalam At-Taysir.

Al-Daylami juga meriwayatkan dalam Musnad Al-Firdaws dari Imran bin Hushain dengan sanad marfu’: ‘Sorban adalah kewibawaan bagi orang beriman dan kehormatan bagi orang Arab. Ketika orang Arab melepas sorban mereka, maka mereka kehilangan kehormatan mereka.’ Riwayat ini juga lemah sebagaimana disebutkan dalam Syarh Al-Mawahib dan lainnya.

Abu Abdillah Muhammad Wadhdhah meriwayatkan tentang keutamaan mengenakan sorban dari Mak-hul secara mursal: ‘Sorban adalah mahkota orang Arab, maka ketika mereka melepasnya, hilanglah kehormatan mereka.’

Ibnu Abi Syaibah, Abu Dawud At-Thayalisi, Ibnu Mani’, dan Al-Baihaqi dalam As-Sunan meriwayatkan dari Ali radhiyallahu ‘anhu yang berkata: ‘Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memakaikan sorban kepadaku pada hari Ghadir Khum, dengan ujung sorban menggantung di pundakku, dan beliau berkata: Sesungguhnya Allah menolongku pada hari Badar dan Hunain dengan para malaikat yang mengenakan sorban ini, dan beliau berkata: Sorban adalah pembatas antara kekufuran dan iman.’ Dalam riwayat lain disebutkan: ‘antara kaum Muslim dan kaum musyrik.’

Dalam riwayat ini terdapat Abdullah bin Yasar Al-Bahrani Al-Himsi. Abu Hatim dan lainnya berkata: Ia adalah perawi yang lemah. Dan An-Nasa’i berkata: ia tidak dapat dipercaya.

Imam At-Tirmidzi dan Abu Dawud meriwayatkan dari Rukanah bin Abd Yazid Al-Muthali, salah seorang Muslim yang masuk Islam saat Penaklukan Mekah.”

“Itulah yang dibuat untuk raja-raja dari emas dan permata, dan dikatakan ‘aku menobatkannya’ ketika aku mengenakannya mahkota. Mereka berpendapat bahwa sorban bagi orang Arab ibarat mahkota bagi raja-raja, karena mereka sering berada di padang pasir dengan kepala terbuka atau mengenakan tutup kepala, dan hanya sedikit dari mereka yang memakai sorban. Ini adalah riwayat Ibnu Sunni dan Ad-Di`amathi dari Ibnu Abbas dengan sanad marfu’: ‘Sorban adalah mahkota orang Arab, maka ketika mereka melepas sorban, mereka kehilangan kehormatan mereka.’

Teks riwayat Ad-Di’asyi menyatakan: ‘Allah telah menempatkan kehormatan mereka.’ Namun, sanadnya juga lemah sebagaimana dikatakan oleh As-Sakhawi, Az-Zain Al-Iraqi, dan Al-Munawi dalam At-Taysir.

Al-Daylami juga meriwayatkan dalam Musnad Al-Firdaws dari Imran bin Hushain dengan sanad marfu’: ‘Sorban adalah kewibawaan bagi orang beriman dan kehormatan bagi orang Arab. Ketika orang Arab melepas sorban mereka, maka mereka kehilangan kehormatan mereka.’ Riwayat ini juga lemah sebagaimana disebutkan dalam Syarh Al-Mawahib dan lainnya.

Abu Abdillah Muhammad Wadhdhah meriwayatkan tentang keutamaan mengenakan sorban dari Mak-hul secara mursal: ‘Sorban adalah mahkota orang Arab, maka ketika mereka melepasnya, hilanglah kehormatan mereka.’

Ibnu Abi Syaibah, Abu Dawud At-Thayalisi, Ibnu Mani’, dan Al-Baihaqi dalam As-Sunan meriwayatkan dari Ali radhiyallahu ‘anhu yang berkata: ‘Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memakaikan sorban kepadaku pada hari Ghadir Khum, dengan ujung sorban menggantung di pundakku, dan beliau berkata: Sesungguhnya Allah menolongku pada hari Badar dan Hunain dengan para malaikat yang mengenakan sorban ini, dan beliau berkata: Sorban adalah pembatas antara kekufuran dan iman.’ Dalam riwayat lain disebutkan: ‘antara kaum Muslim dan kaum musyrik.’

Dalam riwayat ini terdapat Abdullah bin Yasar Al-Bahrani Al-Himsi. Abu Hatim dan lainnya berkata: Ia adalah perawi yang lemah. Dan An-Nasa’i berkata: ia tidak dapat dipercaya.

Imam At-Tirmidzi dan Abu Dawud meriwayatkan dari Rukanah bin Abd Yazid Al-Muthali, salah seorang Muslim yang masuk Islam saat Penaklukan Mekah.”

“وبين المشركين العمائم على القلانس واسناده ضعيف بل قيل انه واه. كما يأتي واخرج الديلمي عنه ايضاً مرفوعاً لا تزال امتي على الفطرة مالبسو العمائم على القلانس واخرج الباوردي بسند واه عنه ايضاً رفعه العمامة على القلنسوة. فصل ما بيننا وبين المشركين اي هي العلامة المميزة بيننا وبينهم لانهم كانوا لا يتعممون يعطى العبديوم القيمة بكل كورة يدورها على رأسه أو قلنسوة نوراً : . الكورة بفتح الكاف وحكي ضمها الدرة اي اللية واخرج الرامهرمزي في الامثال عن معاذ بن جبل مرفوعاً الاحتباء حيطان العرب والاتكاء رهبانية العرب والعمائم تيجان العرب فاعتموا تزدادوا حطها فله بكل كورة حسنة فاذا حط عنه بكل حطة حلماً ومن اعتم خطيئة وفيه عمر وابن الحسين العقيلي الكلابي عن محمد بن عبدالله بن علاقة العقيلي القاضي عن ثوير بن ابي فاختة والثلاثة قال في كنز العمال وفي منتخبه تبعاً لجامع السيوطي الكبير متروكون متهمون بالكذب هـ. ولكن ابن علاقة روى له ابو داوود والنسائي وابن ماجه وثقه ابن معين وقال ابو زرعه صالح وقال ابو حاتم يكتب حديثه ولا يحتج به. نعم الحديث قال بعضهم انه شديد الضعف من اجل الأول والثالث فأما الثالث وهو ثوير فانه ضعفه ابو حاتم وغيره وقال الدار قطني متروك وابن معين ليس بشيء واما الاول وهو عمر و ابن الحسين فانه متروك ايضاً كما قاله الدار قطني وقال ابو زرعة واه وابو حاتم ذاهب الحديث واخرج ابو نعيم في معرفة الصحابة والديلمي من حديث عبد الرحمن ابن عدي.”

“Dan di antara orang-orang musyrik adalah mengenakan sorban di atas peci mereka, namun sanadnya lemah, bahkan ada yang mengatakan itu sangat lemah, seperti yang akan dijelaskan nanti. Al-Dailami juga meriwayatkannya dari Rasulullah, diangkat sebagai hadis bahwa ‘Umatku akan tetap di atas fitrah selama mereka mengenakan sorban di atas peci mereka.’ Al-Bawardi juga meriwayatkan dengan sanad yang sangat lemah bahwa ‘Sorban di atas peci adalah pemisah antara kita dan kaum musyrik’, yaitu sebagai tanda pembeda antara kita dan mereka, karena mereka tidak mengenakan sorban. Setiap sorban yang dikenakan seseorang pada hari kiamat akan menjadi cahaya bagi dirinya.

Al-Kurah, dengan fathah pada huruf kaf (كَ) dan ada yang meriwayatkan dengan dhammah (كُ), berarti lapisan tambahan atau bagian yang melilit. Al-Ramhurmuzi juga meriwayatkan dalam Al-Amthal dari Mu’adz bin Jabal bahwa Rasulullah bersabda, ‘Menegakkan punggung adalah dinding bangsa Arab, bersandar adalah kerahiban bangsa Arab, dan sorban adalah mahkota bangsa Arab. Maka kenakanlah sorban, karena itu akan menambah kebaikan untuk kalian. Setiap lilitan sorban akan menjadi kebaikan, dan setiap kali melepasnya, akan diberikan kelembutan dan kebijaksanaan bagi orang yang melepasnya, dan siapa yang mengenakan sorban akan diampuni dosa-dosanya.’

Namun, dalam riwayat ini terdapat kelemahan. Terdapat tiga periwayat yang dinilai lemah oleh para ulama, yaitu ‘Umar ibn Al-Husain, Ibnu Al-Husain, dan Thuwair bin Abu Fakhitah. Di dalam ‘Kanzul-Ummal’ dan ‘Mukhtar Kanzul-Ummal’, yang mengutip dari ‘Jami’ul-Kabir’ karya As-Suyuthi, disebutkan bahwa ketiganya adalah perawi yang ditinggalkan dan dituduh berbohong.

Tetapi, Ibnu ‘Alaqah pernah meriwayatkan untuk Abu Dawud, An-Nasa’i, dan Ibnu Majah. Ibnu Ma’in menganggapnya sebagai perawi tepercaya. Namun, Abu Zur’ah mengatakan ia perawi yang layak tetapi tidak dijadikan hujjah. Sebagian ulama mengatakan hadis ini sangat lemah karena periwayat pertama dan ketiga. Thuwair dianggap lemah oleh Abu Hatim dan yang lainnya, sedangkan Ad-Daraquthni menganggapnya sebagai perawi yang ditinggalkan.

“البحراني عن أخيه عبد الأعلى بن عدي أن رسول الله صلى الله عليه وسلم دعا علي بن أبي طالب عليه السلام يوم غدير خم فعممته وارخى عذبة العمامة من خلفه وقال هكذا فاعتدوا.
العمائم سيما الإسلام وهي حاجزة بين المسلمين والمشركين. وفي خلاصة الأثر للمحب الطبري ما نصه: وعن علي أنه قال: عممني رسول الله صلى الله عليه وسلم بعمامة وسنل طرفها على منكبي وقال: إن العمامة حاجزة بين المسلمين والمشركين. هكذا. وأخرج الطبراني في الكبير من طريق عيسى بن يونس عن مالك بن مغول عن نافع عن ابن عمر والبيهقي في الشعب وابن عدي في كامله عن عبادة بن الصامت رفعوه: عليكم بالعمائم فإنها سيما الملائكة وارخوا لها خلف ظهوركم. وفي سنده الأول يحيى بن عثمان بن صالح المصري شيخ الطبراني قال الذهبي: صدوق إن شاء الله. عن محمد بن الفرج المصري قال الذهبي: أتى بخير منكر وساق له هذا الحديث ولذا قال في التيسير: إسناده ضعيف. قال العارف بالله الحفني: قوله: سيما الملائكة بالقصر أي علامتهم فإنهم نزلوا يوم بدر بعمائم صفر راخين العذب ويطلب التخلق بصفات الملائكة. هكذا. وأخرج الديلمي في مسند الفردوس عن جابر: فإنه ركعتان بعمامة خير من سبعين ركعة بلا عمامة. المناوي في التفسير: لأن الصلاة حضرة الملك والدخول إلى حضرة الملك بغير تجمل خلاف الادب. قال: وهو غريب هو وأورده في دار الغمامة بلفظ: صلاة ركعة بعمامة خير من سبعين ركعة بغير عمامة ولم يذكر له مخرجاً. وفي القنية من كتب الحنفية: العمامة الطويلة ولبس الشياب الواسعة حسن في حق الفقهاء الذين هما أعلام الهدى دون سائر الناس. قال: والأحسن أن يلبس أحسن ثيابه للصلاة.”

“Al-Bahrani dari saudaranya, Abdul A’la bin ‘Adi, meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW memanggil Ali bin Abi Thalib AS pada hari Ghadir Khum, lalu beliau menutupi kepalanya dengan sorban dan mengulurkan ujung sorban tersebut ke belakang, sambil berkata, ‘Begini caranya, maka ikutilah.’ Sorban adalah ciri khas Islam dan menjadi pembeda antara kaum Muslim dan musyrik. Dalam kitab Khulasat al-Atsar oleh al-Muhibb al-Thabari, terdapat teks yang berbunyi: Dari Ali yang berkata, ‘Rasulullah SAW memakaikan saya sorban, lalu ujungnya diulurkan di atas bahu saya, seraya bersabda, “Sesungguhnya sorban adalah pembeda antara kaum Muslim dan musyrik. Begitulah caranya.”‘

Al-Thabarani meriwayatkan dalam kitab al-Kabir melalui jalur ‘Isa bin Yunus dari Malik bin Mughul, dari Nafi’, dari Ibn Umar, dan al-Bayhaqi dalam Syu’ab al-Iman, serta Ibn ‘Adi dalam al-Kamil dari ‘Ubadah bin al-Shamit yang diangkat sebagai hadits marfu’, ‘Gunakanlah sorban, karena itu adalah ciri khas malaikat, dan biarkan ujungnya terurai ke belakang kalian.’

Dalam sanad yang pertama terdapat Yahya bin ‘Uthman bin Shalih al-Mishri, guru dari al-Thabarani. Al-Dzahabi berkata, “Dia bisa dipercaya, insya Allah.” Mengenai Muhammad bin al-Faraj al-Mishri, al-Dzahabi berkata, “Ia membawa kebaikan yang aneh,” lalu ia menyebutkan hadits ini, sehingga ia berkata dalam al-Taysir: Sanadnya lemah.

Al-‘Arif billah al-Hafni berkata, “Kata ‘ciri khas malaikat’ berarti tanda mereka. Mereka turun pada hari Badar dengan mengenakan sorban kuning, dengan ujung sorban terurai. Di sini terdapat anjuran untuk mengikuti sifat-sifat malaikat.” Begitulah. Al-Daylami meriwayatkan dalam kitab Musnad al-Firdaws dari Jabir: “Dua rakaat dengan sorban lebih baik daripada tujuh puluh rakaat tanpa sorban.” Menurut al-Munawi dalam tafsirnya: “Karena shalat adalah di hadapan Raja (Allah SWT), dan masuk ke hadapan Raja tanpa berhias adalah tidak sopan.” Ia berkata, “Ini adalah hadits yang asing.” Ia juga mengutip dalam Dar al-Ghamamah dengan lafaz, “Satu rakaat dengan sorban lebih baik daripada tujuh puluh rakaat tanpa sorban,” namun tidak menyebutkan sumbernya.

Dalam al-Qunyah dari kitab-kitab Hanafi disebutkan: “Sorban yang panjang dan pakaian yang longgar adalah bagus bagi para ulama yang merupakan penuntun umat, tidak bagi masyarakat umum.” Dikatakan, “Yang terbaik adalah mengenakan pakaian terbaik untuk melakukan sholat.

“وفي الحديث: صلاة مع عمامة خير من سبعين صلاة بلا عمامة، وجمعة بعمامة تعدل سبعين جمعة بلا عمامة. لكن قال الحافظ ابن حجر إنه موضوع، ونقله السخاوي وارتضاه. قال الشيخ عبد الرؤوف المناوي في فيض القدير: واقتصر في التيسير على قوله: قال ابن حجر موضوع. قال العارف الحفني: وإنما خص العمامة لأن الناس يتساهلون فيها، وإلا فالمطلوب التزين بحسن الشياب لأنه في خدمة ملك الملوك. قال: وقوله خمسة وعشرون، الشارع يعلم سر ذلك العدد، وإنما عرفنا منه المضاعفة والزيادة، فالقصد التكثير لا التحديد. وأخرج العقيلي في الضعفاء وابن عدي في الكامل، وقال منكر، والطبراني في الكبير، وأبو نعيم في الحلية، والشيرازي في الألقاب من طريق أيوب بن مدرك الحنفي الشامي عن مكحول عن أبي الدرداء مرفوعًا: إن الله وملائكته يصلون على أصحاب العمائم يوم الجمعة. وفي رواية: إن الله عز وجل وملائكة يصلون على أصحاب العمائم يوم الجمعة. وفي أخرى: إن لله ملائكة تستغفر للابس العمائم يوم الجمعة. وأيوب بن مدرك ضعيف، وقال ابن معين ليس بشيء، وقال مرة كذاب، وقال النسائي متروك له مناكير، ثم عد من مناكيره هذا الحديث. وقال ابن حبان: روى عن مكحول نسخة موضوعة، ولذا أورده ابن الجوزي في الموضوعات وأقره عليه السيوطي في الجمع وغيره. وقال في اللآلئ المصنوعة: لا أصل له، تفرد به أيوب. قال الأذرعي: هو من وضعه كذبه، يحيى

Dalam sebuah hadits disebutkan: “Salat dengan memakai sorban lebih baik daripada tujuh puluh salat tanpa sorban, dan salat Jumat dengan sorban sebanding dengan tujuh puluh salat Jumat tanpa sorban.” Namun, Al-Hafizh Ibnu Hajar mengatakan bahwa hadits ini palsu, dan pernyataan ini diikuti oleh As-Sakhawi. Syaikh Abdurrauf Al-Munawi dalam kitab Faid al-Qadir menyebutkan bahwa dalam kitab At-Taysir hanya disebutkan bahwa Ibnu Hajar menilai hadits ini sebagai palsu. Al-‘Arif Al-Hafni menambahkan bahwa sorban dipilih karena banyak orang yang meremehkannya, padahal yang diutamakan adalah berpenampilan rapi dan baik sebagai bentuk penghormatan kepada Raja Diraja. Mengenai angka dua puluh lima (dalam pahala), hanya Allah yang mengetahui rahasia di balik jumlah tersebut; yang kita pahami hanyalah bahwa ada peningkatan dalam pahala, dan tujuan utamanya adalah memperbanyak, bukan menetapkan jumlah tertentu.

Al-‘Aqili dalam kitab Adh-Dhu’afa, Ibnu ‘Adi dalam kitab Al-Kamil, Ath-Thabrani dalam Al-Mu’jam Al-Kabir, Abu Nu’aim dalam Hilyat Al-Auliya, dan Asy-Syirazi dalam Al-Alqab, semuanya meriwayatkan hadits dari jalur Ayyub bin Mudrik Al-Hanafi Asy-Syami dari Mak-hul dari Abu Darda yang marfu’: “Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat kepada orang-orang yang memakai sorban pada hari Jumat.” Dalam riwayat lain: “Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat kepada orang yang memakai sorban pada hari Jumat.” Dan dalam riwayat lainnya: “Sesungguhnya Allah memiliki para malaikat yang memohon ampun untuk orang yang memakai sorban pada hari Jumat.”

Namun, Ayyub bin Mudrik adalah perawi yang lemah. Ibnu Ma’in mengatakan bahwa dia “tidak ada apa-apanya” dan sekali waktu menyebutnya sebagai pembohong. An-Nasa’i menilainya “ditinggalkan” dan banyak meriwayatkan hal-hal yang aneh. Salah satu hal anehnya adalah hadits ini. Ibnu Hibban mengatakan bahwa Ayyub meriwayatkan dari Mak-hul hadits-hadits yang palsu, sehingga Ibnu Al-Jauzi memasukkan hadits ini dalam kitab Al-Maudhu’at (hadits-hadits palsu), dan penilaian ini disetujui oleh As-Suyuthi dalam Al-Jami’ dan kitab lainnya. Dalam Al-Li’ali Al-Mashnu’ah, As-Suyuthi mengatakan bahwa hadits ini “tidak memiliki dasar,” dan Ayyub adalah satu-satunya perawi hadits ini. Al-Adzra’i juga menilai bahwa hadits ini dibuat oleh Ayyub sendiri, yang menurutnya adalah seorang pembohong menurut Yahya (Ibnu Ma’in).

 

وتركه الدارقطني هـ لكن اقتصر على تضعيفه الحافظان العراقي في تخريج أحاديث الأحياء وابن حجر في تخريج الرافعي وأورد في الآلي أيضا من طريق يحيى بن شبيب اليماني عن حميد الطويل عن أنس مرفوعا أن الله ملائكة موكلين بأبواب الجوامع يوم الجمعة يستغفرون لأصحاب العمائم البيض وقال قال الخطيب يحيى بن شبيب يحدث عن حميد الطويل وغيره بأحاديث باطلة وأخرج الطبراني في معجمه الكبير من طريق بشر بن عون عن بكار بن تميم عن مكحول عن واثلة بن الأسقع رقمه أن الله يبعث الملائكة يوم الجمعة على أبواب المسجد يصلون على أصحاب العمائم وقد عزى هذا الحديث في القوت والأحياء لواثلة وقال العراقي لم أره من حديثه مع أن الطبراني كما ترى أخرجه من حديثه والكمال لله وقد نص في القوت والأحياء على استحباب العمامة يوم الجمعة يعنيان للخطيب والمصلين واستدلا بهذا الحديث قال في الأحياء فإن أكر به الحر فلا بأس أن ينزعها قبل الصلاة وبعدها ولكن لا ينزعها في وقت السعي من المنزل إلى الجمعة ولا في وقت الصلاة ولا عند صعود الإمام المنبر وفي خطبته هو نحوه في القوت وأخرج أبو عبد الله محمد بن وضاح في فضل لباس العمائم عن أبي المليج الهذلي عن أبيه أسامة بن عمير مرفوعا سافروا تصحوا واعتموا تحلموا وأخرج الطبراني في الكبير من طريق محمد بن صالح بن الوليد عن بلال بن بشر عن عمران بن تمام عن أبي حمزة عن ابن عباس والحاكم في المستدرك في اللباس من طريق عبيد الله بن أبي حميد عن أبي المليح عن ابن عباس رفعه اعتموا تزدادوا حلما قال الحاكم

“Dan telah meninggalkannya al-Daruqutni, namun ia hanya membatasi (peringkat)nya. Kedua hafizh, al-Iraqi dalam kitab “Takhrij Ahadith al-Ahkam” dan Ibn Hajar dalam “Takhrij al-Rafi’i”, melemahkan hadis ini. Dan ia (al-Daruqutni) menyebutkan dalam “al-Ali” juga, melalui jalur Yahya bin Syibib al-Yamani dari Hammid ath-Thawil dari Anas secara marfu’, bahwa Allah memiliki malaikat yang ditugaskan pada pintu-pintu masjid pada hari Jumat, mereka berdoa memohonkan ampunan bagi orang-orang yang memakai sorban putih. Dan dikatakan, bahwa al-Khathib, Yahya bin Syibib, meriwayatkan dari Hammid ath-Thawil dan lainnya dengan hadis-hadis yang batil. Dan ath-Thabrani mengeluarkan dalam “Mu’jam al-Kabir” melalui jalur بشر بن عون dari Bakar bin Tamim dari Makhul dari Wathlah bin al-Asqa’, dengan sanadnya, bahwa Allah mengirimkan malaikat pada hari Jumat ke pintu-pintu masjid, mereka mendoakan orang-orang yang memakai sorban. Dan hadis ini telah dinisbatkan dalam “al-Qut” dan “al-Ahkam” kepada Wathlah. Dan al-Iraqi mengatakan, saya tidak melihatnya dalam hadisnya, meskipun ath-Thabrani, seperti yang kamu lihat, mengeluarkannya dari hadisnya. Dan kesempurnaan itu hanya milik Allah. Dan telah ditegaskan dalam “al-Qut” dan “al-Ahkam” tentang keutamaan memakai sorban pada hari Jumat, baik bagi khatib maupun jamaah. Dan sebagai dalil untuk hadis ini, dikatakan dalam “al-Ahkam”, jika seseorang merasa kepanasan, maka tidak apa-apa jika ia melepasnya sebelum dan sesudah shalat, tetapi jangan melepasnya ketika sedang berjalan dari rumah menuju masjid, atau ketika sedang shalat, atau ketika imam naik mimbar dan saat berkhutbah. Demikian pula dalam “al-Qut”. Dan Abu Abdullah Muhammad bin Wudhah telah mengeluarkan dalam kitab tentang keutamaan memakai sorban, dari Abi al-Mulih al-Hadzali dari ayahnya, Usamah bin Amir secara marfu’, “Berangkatlah kalian, niscaya kalian akan sehat, dan pakailah sorban, niscaya kalian akan menjadi bijaksana”. Dan ath-Thabrani mengeluarkan dalam “al-Kabir” melalui jalur Muhammad bin Shalih bin al-Walid dari Bilal bin Bashir dari Umaran bin Tamam dari Abu Hamzah dari Ibn Abbas, dan al-Hakim dalam “al-Mustadrak fi al-Libas” melalui jalur Ubaidillah bin Abi Hamid dari Abi al-Mulih dari Ibn Abbas secara marfu’, “Pakailah sorban, niscaya kalian akan bertambah bijaksana”, demikian kata al-Hakim.”

“صحيح ورده الذهبي وقال فيه عبيد الله بن ابي حميد ترکه احمد وغيره و قال البخاري يروي عن ابي المليح عجائب وقال الترمذي في العلل سألت عنه يعني البخاري فقال عبيد الله ذاهب الحديث لا أروى عنه شيئاً وحكم ابن الجوزي عليه بالوضع وتعقبه عليه السيوطي في اللآلي المصنوعة وقال ابن حجر في الفتح في باب العمائم من كتاب اللباس اخرجه الطبراني والترمذي في العلل المفردة وضعفه عن البخاري وقد صححه الحاكم فلم يصب وله شاهد عند البزار عن ابن عباس بسند ضعيف ايضاً هـ وقال في در الغمامة قول الحاكم انه صحيح وابن الجوزي انه موضوع من تساهلها نعم في بعض اسانيده متروك وفي بعضها من ضعفه ابو حاتم وبقية رجاله ثقات فلعل ابن الجوزي اراد الاول والحاكم اراد الثاني ويكون ذلك الضعيف الذي فيه انجبر عنده فلا تخالف بينهما لانها لم يتواردا على سند واحد هـ وفى التيسير لدى قوله اعتموا بكسر الهمزة وشد الميم اي البسوا العمائم تزدادوا حلماً اي يكثر حلمكم وتتسع صدوركم لان تحسين الهيئة يورث الوقار والرزانة هـ ومثله للعزيزي واخرج ابن عدي في الكامل وابن قانع والبيهقي في الشعب من طريق اسماعيل بن عمرو عن يونس بن ابي اسحق عن ابيه عن عبيد الله بن ابي حميد عن ابى المليح عن ابيه اسامة بن عمير مرفوعاً اعتموا تزدادوا حلماً والعمائم تيجان العرب قال البيهقي لم يحدث به الا اسماعيل بن عمرو عن يونس بن ابي اسحق ه و اسماعيل هذا ضعفوه ويونس اورده الذهبي في الضعفاء والمتروكين ونقل ضعفه عن جماعة ايضاً وفى التيسير في هذا الحديث قال”

“Sanad hadis ini dinyatakan sahih oleh Al-Hakim, tetapi terdapat banyak pandangan mengenai keabsahannya. Ubaidullah bin Abi Hamid dikatakan telah ditinggalkan oleh Ahmad dan lainnya, serta Bukhari menyebutkan bahwa ia meriwayatkan hal-hal aneh dari Abu al-Malih. Al-Tirmidzi dalam kitab ‘Al-‘Ilal’ bertanya kepada Bukhari mengenai Ubaidullah, dan Bukhari menyebutnya sebagai ‘lemah’ dalam hadis dan tidak meriwayatkan apapun darinya. Ibn al-Jawzi menilai hadis ini sebagai hadis palsu (mawdu’), tetapi pendapat ini dikritik oleh al-Suyuthi dalam kitab ‘Al-La’ali al-Masnu‘ah’. Ibn Hajar dalam ‘Fath al-Bari’ pada bab tentang serban dalam Kitab al-Libas menyebutkan bahwa hadis ini diriwayatkan oleh al-Tabrani dan al-Tirmidzi dalam kitab ‘Al-‘Ilal al-Mufradah’, dan menurut Bukhari, hadis ini adalah dhaif (lemah), meskipun Al-Hakim menilainya sahih, tetapi menurut Ibn Hajar, Al-Hakim salah. Hadis ini memiliki syahid (pendukung) di sisi al-Bazzar dari Ibn Abbas, tetapi sanadnya juga lemah.”

“Al-Hakim menganggap hadis ini sahih dan Ibn al-Jawzi menilainya palsu, menunjukkan adanya perbedaan pandangan. Ya, pada beberapa sanadnya terdapat perawi yang ditinggalkan, dan sebagian sanadnya terdapat perawi yang dianggap lemah oleh Abu Hatim, sedangkan para perawi lainnya adalah tsiqat (dapat dipercaya). Ibn al-Jawzi mungkin merujuk kepada sanad pertama, sedangkan Al-Hakim merujuk kepada sanad kedua, yang mana hadis dhaif tersebut mungkin menurutnya telah didukung (dikuatkan) sehingga tidak ada kontradiksi di antara mereka, karena mereka tidak bersepakat pada sanad yang sama.”

“Dalam kitab ‘Al-Taysir’ pada perkataan ‘i’tamamu’ (pakailah serban) yang berarti mengenakan serban akan meningkatkan kesabaranmu, karena memperbaiki penampilan dapat menambah kewibawaan dan ketenangan. Al-Azizi juga menyebutkan hal yang sama. Ibn ‘Adi dalam ‘Al-Kamil’, Ibn Qani’, dan al-Baihaqi dalam kitab ‘Al-Shu’ab’ meriwayatkan hadis ini melalui jalur Ismail bin Amr dari Yunus bin Abi Ishaq dari ayahnya dari Ubaidullah bin Abi Hamid dari Abu al-Malih dari ayahnya Usamah bin Umayr secara marfu’, bahwa Nabi SAW bersabda, ‘Pakailah serban agar semakin sabar, dan serban adalah mahkota orang Arab.’ Al-Baihaqi berkata bahwa tidak ada yang meriwayatkan hadis ini kecuali Ismail bin Amr dari Yunus bin Abi Ishaq. Ismail ini dianggap lemah, dan Yunus dicantumkan oleh al-Dzahabi dalam kitab ‘Al-Du’afa’ wa al-Matrukin’ sebagai perawi yang dianggap lemah oleh para ulama.”

“قال ابن حجر ضعيف لكن له شاهد ضعيف قال اي وبه يتقوى هـ وقال العزيزي يؤخذ من كلام المناوي انه حديث حسن لغيره ه و كتب العلقمي على قوله والعمائم تيجان العرب ما نصه اي انها لهم بمنزلة التيجان للملوك لقلة العمائم فيهم هزاد المناوي والعزيزي واكثرهم بالقلانس قلت وفي صفة العرب تيجانها والسيوف سيجانها واخرج ابن النجار عن مهدي بن ميمون قال دخلت على سالم بن عبد الله وهو يعتم فقال يا ابا ايوب لا حدثنك بحديث قلت بلى قال دخلت على ابن عمر فقال لي يا بني اعتم تحلم وتكرم ولار . اك الشيطان الاذل ذاهباً سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول فذكره قال الشيخ عبد الرؤف المناوى في الفيض وفيه مجاهيل واخرج ابن عدي في الكامل من طريق ميسرة بن عبيد عن الحكم بن عتيبة عن ابن أبي يعلى عن علي رفعه أتوا المساجد حسراً اي بضم الحاء المهملة وفتح السين المهملة المشدودة جمع حاسر اي كاشفى الرؤس بدون عمانم و معصبين اي بكسر الصاد الشديدة جمع معصب اي ساترين رؤسكم بالعصائب أي العمائم فأن العمائم تيجان المسلمين قال الزين العراقي في شرح الترمذي ميسرة بن عبيد متروك و قال السيوطى حديث ضعيف وضعفه ايضاً المناوي في التيسير لا كن يشهد له ما اخرجه ابن عساكر في تاريخه عن علي ايضاً مرفوعاً بلفظ انتوا المساجد حسرا و مقنعين اي مغطاة رؤسكم بالقناع فان ذلك من سيما المسلمين قال العارف بالله الحفني في معنى قوله في الحديث الأول انتوا المساجد حسراً و معصبين ما نصه اي انتوا المساجد كيف امكن فليس عدم العمامة عذراً في ترك الجمعة والجماعة اي ان لم يخل بمرؤته وقوله فان الخ علة المحذوف”

Ibn Hajar berkata lemah, tetapi ia memiliki saksi yang lemah juga yang mengatakan demikian, dan dengan itu ia merasa kuat. Al-Azizy mengambil dari ucapan al-Manawi bahwa hadis ini hasan untuk selainnya. Al-‘Alaqmi menulis mengenai perkataannya, ‘Dan sorban adalah mahkota orang Arab’, maksudnya adalah bahwa sorban bagi mereka seperti mahkota bagi raja-raja karena jarangnya sorban di antara mereka.’ Al-Manawi dan al-‘Azizy menambahkan bahwa kebanyakan mereka menggunakan kalansuwa. Saya berkata, ‘Dan ciri khas orang Arab adalah sorban mereka dan pedang adalah belati mereka.’ Ibn al-Najjar meriwayatkan dari Mahdi bin Maimun, ia berkata, ‘Aku masuk kepada Salim bin Abdullah ketika ia sedang memakai sorban, lalu ia berkata, ‘Wahai Abu Ayyub, maukah engkau aku ceritakan sebuah hadis?’ Aku menjawab, ‘Tentu.’ Ia berkata, ‘Aku masuk kepada Ibn Umar, lalu ia berkata kepadaku, ‘Wahai anakku, pakailah sorban, maka engkau akan bijaksana dan dimuliakan, dan jauhkanlah setan yang hina itu.’ Kemudian aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda…’ lalu ia menyebutkan hadis tersebut.’
Syeikh ‘Abd al-Ra’uf al-Manawi dalam al-Fayḍ mengatakan bahwa di dalamnya terdapat perawi yang tidak dikenal. Ibn ‘Adi dalam al-Kāmil meriwayatkan dari Maisarah bin ‘Ubaid dari al-Ḥakam bin ‘Utaibah dari Ibn Abi ‘Ula dari ‘Ali secara marfu’, ‘Datanglah kalian ke masjid dalam keadaan kepala kalian terbuka (yaitu dengan menghilangkan penutup kepala), yaitu dengan menfatahkan huruf ha’ dan sin yang kedua, jamak dari ḥāsir yaitu mereka yang membuka kepala tanpa memakai sorban dan berikatan kepala, yaitu dengan memakmurkan huruf sad, jamak dari mu‘aṣṣib yaitu orang-orang yang menutupi kepala kalian dengan ‘iṣābah (sejenis penutup kepala), yaitu sorban. Maka sesungguhnya sorban adalah mahkota bagi kaum muslimin.’ Al-Zayn al-‘Iraqi dalam Syarh al-Tirmizi mengatakan bahwa Maisarah bin ‘Ubaid adalah seorang perawi yang ditinggalkan, dan al-Suyuthi mengatakan bahwa hadis ini lemah dan al-Manawi juga melemahkannya dalam al-Taysīr, tetapi yang mendukung hadis ini adalah apa yang diriwayatkan oleh Ibn ‘Asākir dalam sejarahnya dari ‘Ali secara marfu’ dengan lafadz, ‘Datanglah kalian ke masjid dalam keadaan kepala kalian terbuka dan berkerudung,’ yaitu menutupi kepala kalian dengan kerudung, sesungguhnya itu adalah ciri khas kaum muslimin.’ Al-‘Ārif bi-llāh al-Ḥafnī dalam menjelaskan makna perkataan dalam hadis pertama, ‘Datanglah kalian ke masjid dalam keadaan kepala kalian terbuka dan berikatan kepala,’ ia mengatakan, ‘Maksudnya adalah bagaimana mungkin kalian meninggalkan masjid, padahal tidak adanya sorban bukanlah alasan untuk meninggalkan Jumat dan jamaah, kecuali jika hal itu mengurangi kehormatannya.’ Dan perkataan ‘fan al-khā’ adalah ‘illat al-mahdhūf’ (alasan yang dihilangkan).””

معلوم من السياق إذا دار الأمر بين التعميم وغيره فالاتيان بالعمائم أفضل فإن الخ وقوله تيجان المسلمين أي كتيجان ملوك المسلمين أي الأكاليل التي هي مرصعة بالجواهر هـ وقال في الفيض يعني أنتم المساجد كيف يمكن بنحو قلنسوة فقط أو بتعمم وتقنع ولا تتخلفوا عن الجمعة التي هي فرض عين ولا عن الجماعة التي هي فرض كفاية والتعمم عند الإمكان أفضل ثم قال وما اقتضاه الحديث من كون فقد العمامة غير عذر في ترك الجمعة والجماعة محله فيمن يليق به ذلك أما لو كان خروجه إلى المسجد بدون العمامة لا يليق به فلا يؤمر بالاتيان حاسراً عند فقدهاه وأخرج أبو عبد الله محمد بن وضاح في فضل لبس العمائم عن خالد بن معدان التابعي مرسلاً أن الله أكرم هذه الأمة بالعصائب والالوية وما زمر تم مساجد كم ولا قبور كم بشيء أحب من البياض العصائب جمع عصابة والمراد بها هنا العمامة كما في رواية أخرى بالعمائم بدل العصائب قال الزمخشري المعصب المتوج ويقال للتاج والعمامة عصابة وقوله زمرتم هو بتشديد الميم وتخفيفها ومعناه عمر تم وملاتم وأخرج البيهقي في الشعب عنه أيضاً مرسلاً قال أتي النبي صلى الله عليه وسلم بثياب من الصدقة فقسمها بين أصحابه وقال اعتموا خالفوا على الأمم قبلكم وفي رواية وخالفوا الأمم قبلكم وهذا السبب قاض بأن يقرأ قوله اعتموا بكسر الهمزة وشد الميم بمعنى البسوا العمائم قال الشيخ عبد الرؤوف المناوي في الفيض وعليه ففيه أن التعميم من خصائص هذه الأمة قلت ويدل لذلك أيضاً الحديث قبله وهو أن الله أكرم هذه الأمة الخ

“Telah diketahui dari konteks bahwa jika ada pilihan antara menggunakan penutup kepala (seperti sorban) atau tidak, maka mengenakan sorban lebih utama. Mengenakan sorban adalah laksana mahkota kaum Muslim, seperti mahkota para raja Muslim yang dihiasi dengan permata. Dalam kitab al-Fayd disebutkan bahwa kalian adalah penghuni masjid, maka bagaimana mungkin hanya memakai penutup kepala sederhana? Sebaiknya gunakan sorban dan penutup kepala lainnya, serta jangan meninggalkan shalat Jumat yang hukumnya fardhu ‘ain atau shalat berjamaah yang hukumnya fardhu kifayah. Mengenakan sorban, jika memungkinkan, lebih baik.

Kemudian disebutkan bahwa apa yang dipahami dari hadits tentang ketidakadaan sorban bukanlah alasan untuk meninggalkan shalat Jumat dan berjamaah, kecuali bagi orang yang dianggap tidak pantas untuk keluar ke masjid tanpa sorban. Jika demikian, ia tidak diperintahkan untuk datang tanpa sorban bila sorban tersebut tidak tersedia.

Abu Abdullah Muhammad bin Wadhdah, dalam kitabnya Fadhl Libas al-‘Amaim, meriwayatkan secara mursal dari Khalid bin Ma’dan, seorang tabi’in, bahwa Allah memuliakan umat ini dengan sorban dan panji-panji. Tidak ada sesuatu yang lebih Allah cintai untuk menghiasi masjid-masjid kalian atau kuburan-kuburan kalian selain warna putih. ‘Ashayib’ adalah bentuk jamak dari ‘ishabah’, yang dalam konteks ini berarti sorban, seperti dalam riwayat lain yang menyebutkan ‘amaim’ sebagai ganti dari ‘ashayib’.

Imam Zamakhsyari mengatakan bahwa kata ‘mu’ashshab’ berarti mahkota, dan kata tersebut dapat merujuk pada mahkota atau sorban. Kata ‘zammartum’ dapat dibaca dengan tasydid pada mim atau dengan tanpa tasydid, yang artinya adalah ‘memakmurkan’ dan ‘memenuhi’.

Imam Baihaqi dalam kitab al-Syu’ab juga meriwayatkan secara mursal dari Khalid bin Ma’dan bahwa Nabi SAW pernah menerima pakaian dari sedekah, lalu membagikannya kepada para sahabat, dan bersabda, “Pakailah sorban untuk membedakan diri kalian dari umat-umat sebelum kalian.” Dalam riwayat lain disebutkan, “Berlainanlah dengan umat-umat sebelum kalian.” Ini menunjukkan bahwa kata ‘i’tamamu’ harus dibaca dengan kasrah pada hamzah dan tasydid pada mim, yang berarti ‘kenakanlah sorban’.

Syekh Abdul Rauf al-Munawi dalam kitab al-Fayd mengatakan bahwa sorban adalah salah satu ciri khas umat ini .Saya katakan, hal ini juga didukung oleh hadits sebelumnya sesungguhnya Allah memuliakan umat ini.

“عند إمكانه أفضل هـ وقال ايضاً في شرح الشمائل مانصه والعمامة سنة – لا سيما للصلاة ولقصد التجمل لاخبار كثيرة فيها واشتداد ضعف كثير منها . يجبره كثرة طرقها وزعم وضع اكثرها تساهل قال وتحصل السنة بكونها على الرأس او قلنسوة تحتها هـ واختصره الباجوري في شرحها بقوله والعمامة سنة لا سيما للصلاة ولقصد التجمل لاخبار كثيرة فيها وتحصل السنة بكونها على الرأس او على قلنسوة تحتها هـ وقال العارف بالله الحنني في حاشية الجامع الصغير لبس العمامة سنة للتمييز بيننا وبين الكفار وتكون بقدر عادة أهل البلد هو قال الهيتمي | في در الغمامة هي سنة للصلاة ولقصد التجمل وان اوهم بعض العبارات خلاف ذلك الا ان يحمل على من فعلها لغير ذلك فانه يباح وقد يكره وقد يحرم كما يعلم مما يأتي وذلك للاحاديث الكثيرة فيها ولا يضر ضعفها وان اشتد في كثير منها لان كثرة طرقها يجبر ذلك وقول ابن الجوزي وغيره في كثير منها انه موضوع بالنسبة لطريق من تلك الطرق وهذا اولى ممن بالغ في الرد على ابن الجوزي وغيره في ذلك وان عرف الأول بالتساهل الكثير فى موضوعاته كما عرف ابو عبد الله الحاكم في مستدركه بالتساهل الكثير في الحكم بالصحة وانه على شرطهما او شرط احدهما مع كونه اضعف الضعيف هـ وقال في تحفة المحتاج بشرح المنهاج ما نصه وتسن العمامة للصلاة ولقصد التجمل للاحاديث الكثيرة فيها واشتداد ضعف كثير منها يجبره كثرة طرقها وزعم وضع كثير منها تساهل كما هو عادة ابن الجوزى
هنا والحاكم في”
التصحيح الا ترى إلى حديث

 

“Ketika dimungkinkan yang terbaik, dan ia juga berkata dalam penjelasan tentang akhlak, yang berbunyi: ‘Memakai sorban adalah sunnah, terutama untuk salat dan untuk tujuan berhias, ada banyak hadits mengenai hal ini, meskipun banyak di antaranya lemah. Namun, banyaknya jalur hadits tersebut menguatkan (kekuatannya).’ Dan ia mengklaim bahwa sebagian besar dari hadits tersebut lemah. Namun, hal ini dapat dimaafkan karena banyaknya jalur hadits tersebut. Al-Bajuri juga merangkum penjelasan ini dengan mengatakan: ‘Memakai sorban adalah sunnah, terutama untuk salat dan tujuan berhias, ada banyak hadits yang mendukungnya. Sunnah tersebut dapat diperoleh dengan memakainya di kepala atau dengan penutup kepala (kupluk) di bawahnya.’

Seorang ahli (Wali) Allah, Al-Hanani, dalam catatan mengenai Al-Jami’ Al-Saghir, menyatakan bahwa memakai sorban adalah sunnah untuk membedakan kita dengan orang-orang kafir, dan sorban tersebut seharusnya sesuai dengan kebiasaan masyarakat setempat.

Ia juga berkata dalam “Dar Al-Ghamamah”: ‘Memakai sorban adalah sunnah untuk salat dan tujuan berhias, meskipun ada beberapa ungkapan yang tampaknya bertentangan, namun itu dapat dipahami sebagai mereka yang melakukannya untuk tujuan lain, yang boleh saja, kadang-kadang bisa dibenci, dan bisa juga haram, seperti yang akan dijelaskan nanti, karena banyaknya hadits tentang hal ini. Meskipun banyak di antara hadits tersebut lemah, tetapi banyaknya jalur hadits tersebut menguatkan hal itu.’

Dan pernyataan Ibn Al-Jawzi dan yang lainnya mengenai banyaknya hadits yang dianggap palsu lebih tepat dibandingkan dengan mereka yang sangat berlebihan dalam menanggapi Ibn Al-Jawzi dan yang lainnya mengenai hal itu, mengingat bahwa yang pertama sering dianggap terlalu longgar dalam hal hadits-hadits yang dipalsukan, seperti yang dikenal oleh Abu Abdillah Al-Hakim dalam “Al-Mustadrak” yang sangat longgar dalam menilai keabsahan hadits, bahkan terhadap hadits yang lemah.

Dalam “Tuhfat Al-Muhtaj” oleh Al-Nawawi, dinyatakan bahwa: ‘Memakai sorban adalah sunnah untuk salat dan tujuan berhias, banyak hadits mendukungnya, meskipun banyak di antaranya lemah, namun banyaknya jalur hadits tersebut menguatkan keabsahannya, dan pernyataan bahwa banyak hadits tersebut lemah adalah sebuah kelonggaran, seperti yang biasa dilakukan oleh Ibn Al-Jawzi dan Al-Hakim keshohihan kecuali melihat kepada hadits

“”إعتموا تزدادوا حلما حيث حكم ابن الجوزي بوضعه والحاكم بصحته استرواحاً منهما على عادتهما هــ ويأتي عن ابن العربي انها سنة المسلمين اي طريقتهم وزيهم وهيأتهم وتقدم انها سيما الإسلام وحاجزيين المسلمين والمشركين ووقاراً للمؤمن وعز للعرب وما كان بهذه الأوصاف ينبغي ان يكون مطلوب اكيد الطلب وقد اخرج ابن عساكر في تاريخه عن مالك قال لا ينبغي ان تترك العمامة ولقد اعتممت وما في وجهي شعرة وفي المدارك قال ابو مصعب سمعت مالكا يقول اني لا اذكر وما في وجهي . طاقة شعر وما منا احد يدخل المسجد الا معتما اجلالا لرسول الله صلى الله عليه وسلم وفي شرح الشمائل لابن مخلص نقلا عن شرح الموطأ المسمى بالمختار الجامع بين المنتقى والاستدكار قال مالك العمة والاحتباء والانتعال من عمل العرب وكانت العمة في اول الاسلام ثم لم تزل حتى كان هؤلاء القوم يعني ولاة بني هاشم فتر كناها خوفا من خلافهم لانهم لم يلبسوها ولم ادرك احداً من اهل الفضل الأوهم يعتمون و كنت ارى في حلقة ربيعة وهو شيخ مالك احدا وثلاثين رجلا معتمين وانا منهم وكان ربيعة لا يتركها حتى تطلع الثريا وقال ربيعة اني لاجدها تريد في العقل . وفي المدخل في فصل اللباس ما نصه وقد نقل عن مالك رحمه الله انهم كانوا يعتمون حتى تطلع الثريا ومعنى ذلك ان طلوعها انما يكون في زمن الحر فيزيلونها عن رؤسهم قال ومن فعل مثل هذا في هذا الزمان كانه ابتدع بدعة في الدين حتى انهم ليردون شهادته ويقعون في حقه بنسبته انه”
“داخل بذلك في جملة الموهنين، وأنه ليست له مأخذ بسبب ما ارتكبه، والله أعلم.

“Kenakanlah sorban, maka kalian akan bertambah sabar. Ibn al-Jawzi menilainya sebagai hadits palsu, sedangkan al-Hakim menilainya sahih, mengikuti kebiasaan mereka dalam menghargai pendapat masing-masing. Disebutkan oleh Ibn al-Arabi bahwa mengenakan sorban adalah sunnah bagi kaum Muslimin, yaitu cara dan penampilan mereka. Dijelaskan pula bahwa sorban adalah ciri khas Islam yang membedakan antara kaum Muslimin dan musyrik, menjadi lambang kehormatan bagi orang beriman dan kemuliaan bagi bangsa Arab. Sesuatu yang memiliki sifat-sifat ini seharusnya sangat dianjurkan untuk dilakukan.

Ibn Asakir dalam kitab sejarahnya meriwayatkan dari Imam Malik, yang berkata bahwa sorban tidak sepatutnya ditinggalkan. Malik mengatakan, ‘Aku mengenakan sorban ketika di wajahku belum tumbuh sehelai rambut pun.’ Dalam kitab al-Madarik, Abu Mus’ab meriwayatkan bahwa dia mendengar Imam Malik berkata, ‘Aku tidak ingat kapan aku tidak memiliki sehelai pun rambut di wajahku, dan kami semua masuk masjid dengan mengenakan sorban sebagai penghormatan kepada Rasulullah صلى الله عليه وسلم.’

Dalam syarah (penjelasan) kitab Syamail oleh Ibn Mukhlis, yang mengutip dari syarah al-Muwatta yang disebut al-Mukhtar, Imam Malik menyatakan bahwa sorban, duduk bersandar, dan memakai sandal adalah tradisi bangsa Arab. Sorban telah ada sejak awal Islam dan terus berlanjut hingga masa para penguasa Bani Hashim. Mereka akhirnya meninggalkan sorban karena takut menimbulkan perpecahan, sebab para penguasa tersebut tidak mengenakannya. Aku tidak melihat seorang pun dari orang-orang yang berilmu meninggalkan sorban. Aku melihat dalam majelis Rabi’ah (guru Malik), ada tiga puluh satu orang mengenakan sorban, termasuk aku sendiri. Rabi’ah tidak pernah meninggalkannya hingga munculnya bintang Thurayya. Dia juga berkata, ‘Aku merasa sorban menambah kecerdasan.’

Dalam kitab al-Madkhal, pada bagian tentang pakaian, dinyatakan bahwa Imam Malik rahimahullah mengatakan bahwa mereka mengenakan sorban hingga munculnya bintang Thurayya, yang biasanya terjadi pada saat cuaca panas, sehingga mereka melepas sorban dari kepala mereka. Namun, siapa pun yang melakukan hal ini di masa sekarang dianggap melakukan bid’ah dalam agama, bahkan kesaksiannya dapat ditolak dan ia dianggap termasuk dalam golongan orang-orang yang melemahkan agama. Tidak ada alasan yang kuat untuk apa yang ia lakukan, dan Allah Maha Mengetahui.”

Dalam hadits yang Rasulullah SAW bersabda yang dijelaskan dalam kitab
Kasyful Ghummah .

(كشف الغمة الجزء الأول ص ۱۰۳)

  1. وَكَانَ صلى الله عليه وسلم  يَأْءمُرُ بِسَتْرِ الرَّءأْسِ فِي الصَّلَاةِ بِالْعِمَامَةِ أَوِ الْقَلَنْسُوَةِ وَيَنْهَى عَنْ كَشْفِ الرَّأْسِ فِي الصَّلَاةِوَيَقُولُ إِذَا آتَيْتُمُ الْمَسَاجِدَ فَأْءتُوهَا مُعَصِبِينَ وَالْعِصَابَةُ هِيَ الْعِمَامَةُ.

Nabi Muhammad SAW memerintahkan untuk menutup kepala saat sholat dengan memakai sorban atau songkok. Dan beliau melarang membuka kepala saat sholat, serta berkata, “Jika kalian datang ke masjid, maka datanglah dalam keadaan terikat (dengan penutup kepala), dan ‘ikat’ di sini merujuk pada sorban.”

Wallahu a’lam bishawab

Kategori
Uncategorized

HUKUM MEREBUT PERNAK-PERNIK YANG DIGANTUNG SAAT PERAYAAN MAULID NABI MUHAMMAD SAW

 

HUKUM MEREBUT PERNAK-PERNIK YANG DIGANTUNG SAAT PERAYAAN MAULID NABI MUHAMMAD SAW

Deskripsi masalah

Peringatan maulid Nabi disetiap tahun yang bertepatan pada tanggal 12 Rabiul awal sudah menjadi tradisi umat Islam mulai pedesaan sampai perkotaan bahkan sampai mendunia mereka merasa gembira atas lahirnya Nabi Muhammad dan terutusnya menjadi rahmat bagi semesta Alam. Ketika memperingati kelahirannya tidak terlepas dengan pembacaan sholawal Nabi mulai Mallul Julus sampai pada saat Mahallul Qiyam, namun demikian muncul tradisi yang meletakkan warna warni pernik yang digantungkan pada sebuah pohon pisang atau sejenisnya, ini sudah lama berkembang di kalangan masyarakat muslim, khususnya di wilayah tertentu. Pada momen Mahallul Qiyam, yaitu saat di mana jamaah berdiri untuk menghormati Nabi Muhammad SAW, seringkali panitia atau penyelenggara acara menggantungkan benda-benda seperti pernak-pernik atau hadiah-hadiah kecil yang kemudian diambil oleh jamaah.

Tradisi ini di beberapa tempat dianggap sebagai simbol keberkahan atau penghormatan dalam rangka perayaan kelahiran Nabi. Namun, dalam praktiknya, sering kali terjadi perebutan yang tidak teratur, di mana jamaah saling bersaing untuk mendapatkan benda-benda tersebut. Hal ini dapat menimbulkan kericuhan, kekacauan, atau bahkan mengganggu kekhusyukan ibadah.

Karena itu, muncul pertanyaan seputar bagaimana pandangan syariat mengenai tindakan merebut pernak-pernik ini, apakah diperbolehkan dalam Islam atau justru sebaiknya dihindari. Pertanyaan ini penting karena menyangkut aspek adab, niat, dan dampak dari tindakan tersebut dalam sebuah kegiatan yang seharusnya penuh penghormatan dan ketenangan.


Wa’alaikumussalam.

Mengenai mengambil atau merebut pernak-pernik yang digantung saat Maulid, terutama saat Mahallul Qiyam, hal ini perlu dilihat dari beberapa sisi.

  1. Tujuan dan Niat: Jika niatnya hanya untuk mendapatkan benda tersebut tanpa merusak suasana ibadah atau zikir, dan dilakukan dengan tertib, maka hal ini tidak bermasalah ( boleh ) . Namun, jika niatnya semata-mata karena ingin mendapatkan keuntungan duniawi atau bersifat kompetitif, maka niat ini perlu diluruskan.
  2. Tata Tertib dan Akhlak: Dalam Islam, menjaga ketertiban, kesopanan, dan akhlak mulia sangat dianjurkan, sebagaimana kita sering mendengar ungkapan dari guru-guru kita Kesopanan dan budi pekerti yang baik lebih tinggi nilainya dari pada kecerdasan. Jadi kesopanan harus lebihh dijaga, apalagi saat acara keagamaan seperti Maulid Nabi. Rebutan yang menyebabkan kericuhan atau ketidaktertiban bisa menjadi perbuatan yang tidak baik, karena bisa mengganggu ibadah orang lain.
  3. Pandangan Ulama: Ada sebagian ulama yang membolehkan mengambil pernak-pernik tersebut, dengan syarat tidak ada unsur kerusuhan atau keributan. Namun, jika tindakan tersebut menimbulkan kekacauan, maka lebih baik ditinggalkan demi menjaga suasana yang kondusif dan penuh dengan penghormatan kepada Nabi Muhammad SAW.

Sebagai kesimpulan, tindakan merebut pernak-pernik saat Mahallul Qiyam harus dilakukan dengan penuh adab dan niat yang baik. Jika dikhawatirkan akan menimbulkan kerusuhan, lebih baik menghindari tindakan tersebut.


Terkait mengambil pernak-pernik saat acara Maulid, terutama pada saat Mahallul Qiyam, dalil spesifik mengenai tindakan ini tidak secara langsung ditemukan dalam kitab-kitab fikih atau hadits. Namun, ada beberapa prinsip umum dalam Islam yang dapat dijadikan panduan, seperti menjaga adab, tata tertib, dan menghindari perbuatan yang dapat merusak suasana ibadah.

  1. Niat yang Ikhlas: Dalam hadits yang sangat masyhur disebutkan:
    “Innamal a’malu binniyat”,
    yang berarti: “Sesungguhnya segala amal perbuatan itu tergantung niatnya.” (HR. Bukhari dan Muslim).
    Niat yang baik dalam suatu tindakan adalah sangat penting. Jika mengambil pernak-pernik tersebut diniatkan dengan ikhlas, tanpa keserakahan atau niat bersaing, maka hal itu bisa dibolehkan.
  2. Menjaga Ketertiban dan Adab: Dalam ajaran Islam, akhlak dan adab sangat dijunjung tinggi, sebagaimana sabda Nabi SAW:
    “Innama bu’itstu li utammima makarimal akhlak”,
    yang berarti: “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.” (HR. Ahmad).
    Mengambil sesuatu dengan cara yang menyebabkan keributan dan merusak ketertiban bukanlah cerminan dari akhlak yang baik.
  3. Menghindari Kerusuhan: Dalam Al-Qur’an, Allah berfirman:
    “Wa la tufsidu fil ard ba’da ishlahiha”,
    yang berarti: “Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi setelah [Allah] memperbaikinya.” (QS. Al-A’raf: 56).
    Menghindari tindakan yang dapat menimbulkan keributan, seperti berebut pernak-pernik, adalah sejalan dengan prinsip ini.

Secara umum, mengambil atau merebut pernak-pernik bisa diperbolehkan jika dilakukan dengan tertib dan niat yang baik. Namun, jika tindakan tersebut dikhawatirkan menimbulkan kerusuhan, lebih baik untuk dihindari demi menjaga suasana ibadah dan penghormatan terhadap peringatan Maulid Nabi.

حكم انتزاع الزينة المعلقة أثناء الاحتفال بالمولد النبوي

وصف المشكلة:

يعد الاحتفال بالمولد النبوي في كل عام، والذي يصادف يوم ١٢ ربيع الأول، تقليداً عريقاً لدى المسلمين، سواء في القرى أو المدن وحتى على مستوى العالم. يشعر المسلمون بالفرح بمناسبة ولادة النبي محمد صلى الله عليه وسلم وبعثته رحمة للعالمين. خلال هذا الاحتفال، تتخلل الفعالية قراءة الصلاة على النبي صلى الله عليه وسلم، من “محلل الجلوس” وصولاً إلى “محلل القيام”.

إلا أن هناك عادة ظهرت في بعض المناطق، حيث يتم تعليق زينة ملونة على شجرة الموز أو ما شابهها، وهي عادة متجذرة لدى بعض المجتمعات المسلمة، خاصة في بعض المناطق. في لحظة “محلل القيام”، التي يقف فيها المصلون تعظيماً للنبي محمد صلى الله عليه وسلم، يقوم المنظمون أو القائمون على الفعالية بتعليق بعض الزينة أو الهدايا الصغيرة التي يأخذها المشاركون.

في بعض الأماكن، تُعتبر هذه العادة رمزاً للبركة أو التعظيم ضمن احتفال المولد النبوي. ولكن في الممارسة الفعلية، يحدث في كثير من الأحيان نزاع غير منظم بين المشاركين للحصول على هذه الزينة. هذا قد يؤدي إلى حدوث فوضى، بل وقد يعطل خشوع العبادة.

ومن هنا، ظهرت تساؤلات حول موقف الشريعة من انتزاع هذه الزينة، وهل يجوز هذا الفعل في الإسلام أم من الأفضل تجنبه؟ هذا التساؤل مهم لأنه يتعلق بالجوانب الأدبية والنوايا وتأثير هذا الفعل على أجواء الاحتفال التي يجب أن تتسم بالتعظيم والهدوء.

وعليكم السلام ورحمة وبركاته

الجواب

فيما يتعلق بأخذ أو انتزاع الزينة المعلقة خلال الاحتفال بالمولد النبوي، خصوصاً أثناء الوقوف في لحظة “محلل القيام”، يجب النظر إلى هذا الفعل من عدة جوانب:

١. الهدف والنية: إذا كانت النية فقط للحصول على تلك الأشياء دون إفساد جو العبادة أو الذكر، وتم ذلك بشكل منظم، فلا بأس بذلك. ولكن إذا كانت النية فقط للحصول على مكاسب دنيوية أو تنافسية، فيجب تصحيح النية.

٢. الآداب والأخلاق: في الإسلام، المحافظة على النظام والآداب والأخلاق الرفيعة أمر مهم للغاية، كما نسمع دائمًا من مشايخنا أن الأدب والأخلاق الحسنة أعلى قيمة من الذكاء. لذا، يجب المحافظة على الأدب، خاصة في المناسبات الدينية مثل الاحتفال بالمولد النبوي. النزاع الذي يؤدي إلى الفوضى أو عدم الانضباط قد يكون فعلاً غير جيد، لأنه قد يعطل العبادة للآخرين.

٣. رأي العلماء: هناك بعض العلماء الذين يجيزون أخذ هذه الزينة، بشرط ألا يكون هناك فوضى أو اضطراب. ومع ذلك، إذا كان هذا الفعل قد يؤدي إلى الفوضى، فمن الأفضل تركه للحفاظ على جو مليء بالاحترام للنبي محمد صلى الله عليه وسلم.

الخلاصة: يجب أن يتم أخذ الزينة المعلقة أثناء “محلل القيام” بأدب ونية طيبة. وإذا كان من المحتمل أن يؤدي ذلك إلى الفوضى، فمن الأفضل تجنب هذا الفعل.

المراجع :

فيما يتعلق بأخذ أو انتزاع الزينة
المعلقة خلال الاحتفال بالمولد النبوي، خصوصًا أثناء الوقوف في لحظة “محلل القيام”، لا يوجد دليل محدد حول هذا الفعل في كتب الفقه أو الأحاديث النبوية بشكل مباشر. ومع ذلك، هناك بعض المبادئ العامة في الإسلام التي يمكن اتباعها، مثل الحفاظ على الأدب والنظام وتجنب الأفعال التي قد تفسد أجواء العبادة.

٢. النية الخالصة: في حديث مشهور عن النبي صلى الله عليه وسلم:
“إنما الأعمال بالنيات”.
يعني: “إنما الأعمال بالنيات” (رواه البخاري ومسلم).
النية الحسنة في كل فعل هي أمر بالغ الأهمية. فإذا كانت نية أخذ الزينة حسنة وخالية من الجشع أو التنافس، فقد يكون هذا الفعل مقبولًا.

٢. الحفاظ على النظام والأدب: في الإسلام، تُعظَّم الأخلاق والأدب، كما قال النبي صلى الله عليه وسلم:
“إنما بعثت لأتمم مكارم الأخلاق”.
يعني: “إنما بعثت لأتمم مكارم الأخلاق” (رواه أحمد).
أخذ شيء بطريقة تؤدي إلى الفوضى وتُفسد النظام لا يعكس الأخلاق الحميدة.

٣. تجنب الفوضى: قال الله في القرآن الكريم:
“ولا تفسدوا في الأرض بعد إصلاحها”
يعني: “ولا تفسدوا في الأرض بعد إصلاحها” (سورة الأعراف: 56).
تجنب الأفعال التي قد تؤدي إلى الفوضى، مثل التزاحم على الزينة، يتوافق مع هذا المبدأ.

بشكل عام، يمكن السماح بأخذ أو انتزاع الزينة إذا تم ذلك بطريقة منظمة وبنية حسنة. ولكن إذا كان هذا الفعل قد يؤدي إلى الفوضى، فمن الأفضل تجنبه حفاظًا على أجواء العبادة واحترامًا لذكرى المولد النبوي.

Terkait mengambil pernak-pernik saat acara Maulid, terutama pada saat Mahallul Qiyam, dalil spesifik mengenai tindakan ini tidak secara langsung ditemukan dalam kitab-kitab fikih atau hadits. Namun, ada beberapa prinsip umum dalam Islam yang dapat dijadikan panduan, seperti menjaga adab, tata tertib, dan menghindari perbuatan yang dapat merusak suasana ibadah.

  1. Niat yang Ikhlas: Dalam hadits yang sangat masyhur disebutkan:
    “Innamal a’malu binniyat”,
    yang berarti: “Sesungguhnya segala amal perbuatan itu tergantung niatnya.” (HR. Bukhari dan Muslim).
    Niat yang baik dalam suatu tindakan adalah sangat penting. Jika mengambil pernak-pernik tersebut diniatkan dengan ikhlas, tanpa keserakahan atau niat bersaing, maka hal itu bisa dibolehkan.
  2. Menjaga Ketertiban dan Adab: Dalam ajaran Islam, akhlak dan adab sangat dijunjung tinggi, sebagaimana sabda Nabi SAW:
    “Innama bu’itstu li utammima makarimal akhlak”,
    yang berarti: “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.” (HR. Ahmad).
    Mengambil sesuatu dengan cara yang menyebabkan keributan dan merusak ketertiban bukanlah cerminan dari akhlak yang baik.
  3. Menghindari Kerusuhan: Dalam Al-Qur’an, Allah berfirman:
    “Wa la tufsidu fil ard ba’da ishlahiha”,
    yang berarti: “Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi setelah [Allah] memperbaikinya.” (QS. Al-A’raf: 56).
    Menghindari tindakan yang dapat menimbulkan keributan, seperti berebut pernak-pernik, adalah sejalan dengan prinsip ini.

Secara umum, mengambil atau merebut pernak-pernik bisa diperbolehkan jika dilakukan dengan tertib dan niat yang baik. Namun, jika tindakan tersebut dikhawatirkan menimbulkan kerusuhan, lebih baik untuk dihindari demi menjaga suasana ibadah dan penghormatan terhadap peringatan Maulid Nabi.

إعانة الطالبين ج٣ص٤٦٣

قال معروف الكرخي قدس الله سره: من هيأ لأجل قراءة مولد الرسول طعاما وجمع إخوانا وأوقد سراجا ولبس جديدا وتعطر وتجمل تعظيما للمولد حشره الله تعالى يوم القيامة مع الفرقة الأولى من النبيين وكان في أعلى عليين ومن قرأ مولد الرسول على دراهم مسكوكة فضة كانت أو ذهبا وخلط تلك الدراهم مع دراهم أخرى وقعت فيها البركة ولا يفتقر صاحبها ولا تفرغ يده ببركة مولد الرسول صلى الله عليه وسلم وقال الإمام اليافعي اليمنى من جمع لمولد النبي صلى الله عليه وسلم إخوانا وهيأ طعاما وأخلى مكانا وعمل إحسانا وصار سببا

قضاء الأدب ص: 441

والظابط في إضاعة المال أن يكون لا لغرض ديني ولا دنيوي فمتى انتفى هذا الغرضان من جميع وجوهها حرم قطعا قليلا كان المال أو كثيرا أو متى وجد واحدا من الغرضين وجودا له مال وكان الإنفاق لائقا بالحال ولا معصية فيه قطعا اهـ

الفقه الإسلامي الجزء الرابع ص: 29
استعمال الحق يوجه على الإنسان أن يستعمل حقه وفقا لما أمر به الشرع وأذن به فليس له ممارسة حقه على نحو يترتب الإضرار بالغير فردا أو جماعة سواء أقصد الإضرار أم لا وليس له إتلاف شيئ من أمواله أو تبذيره لأن ذلك غير مشروع.

“Kata Ma’ruf al-Karkhi, semoga Allah memberkahi jiwanya: ‘Barangsiapa yang menyiapkan makanan, mengumpulkan saudara-saudara seagama, menyalakan pelita, mengenakan pakaian baru, berwangi-wangian, dan memperindah diri untuk memperingati maulid Nabi, maka Allah akan menghimpunkannya bersama golongan pertama para nabi pada hari kiamat dan menempatkannya di tempat yang paling tinggi. Dan barangsiapa yang membaca maulid Nabi dengan uang perak atau emas yang kemudian dicampurkan dengan uang lainnya, maka uang tersebut akan menjadi berkah, pemiliknya tidak akan miskin, dan rezekinya tidak akan putus karena berkah maulid Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.’
Imam al-Yafi’i al-Yamani berkata: ‘Barangsiapa yang mengumpulkan orang-orang untuk memperingati maulid Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam’, menyiapkan makanan, menyediakan tempat, berbuat baik, dan menjadi sebab terselenggaranya peringatan maulid Nabi, maka Allah akan membalasnya dengan pahala yang besar.’
(Qadha’ al-Adab hal. 441)
Adapun hukum membelanjakan harta, maka syaratnya adalah tidak untuk tujuan duniawi maupun agamawi. Jika kedua tujuan ini tidak ada sama sekali, maka membelanjakan harta, sedikit atau banyak, hukumnya haram. Namun, jika salah satu dari kedua tujuan tersebut ada, dan pembelanjaan itu sesuai dengan kondisi dan tidak ada maksiat di dalamnya, maka hukumnya halal.
(Al-Fiqh al-Islami, Jilid 4, hal. 29)
Mengenai penggunaan hak, seseorang harus menggunakan haknya sesuai dengan apa yang diperintahkan dan diizinkan oleh syariat. Ia tidak boleh menggunakan haknya dengan cara yang dapat merugikan orang lain, baik secara individu maupun kelompok, baik disengaja maupun tidak. Ia juga tidak boleh merusak harta bendanya atau memboroskannya karena hal itu tidak dibenarkan.”

Wallahu a’lam bish-shawab

Kategori
Uncategorized

HUKUM MENGKONSUMSI ARI-ARI SAPI

HUKUM MENGKONSUMSI ARI-ARI SAPI

Wa’alaikumussalam.

Deskripsi masalah:

Bagi peternak sapi, tentu setiap tahunnya menginginkan sapinya melahirkan. Seperti yang kita ketahui, ketika sapi melahirkan, pasti akan keluar ari-ari atau plasenta yang dalam bahasa lokal disebut “Red” atau “Tamonih”.

Pertanyaannya:
Bagaimana hukumnya mengonsumsi ari-ari sapi menurut hukum Islam?

Waalaikum salam
Jawaban

Dalam Islam, hukum memakan ari-ari (plasenta) sapi atau hewan lainnya tidak diperbolehkan dengan beberapa alasan:

  1. Karena ari-ari dianggap sebagai bagian yang najis dan bukan termasuk bagian yang dianjurkan untuk dikonsumsi.
  2. Ari- ari terlepas dari tubuh sapi tanpa disembelih
    Sedangkan dalam pandangan fiqih, bagian yang halal untuk dimakan dari hewan yang disembelih sesuai syariat Islam adalah daging, hati, otak, dan organ lainnya yang dianggap bersih, sedangkan bagian-bagian tertentu seperti darah, kotoran, dan bagian reproduksi (termasuk ari-ari) termasuk yang dilarang.

Sebagai referensi,/Dalil mengenai hukum memakan bagian-bagian tertentu dari hewan yang dianggap najis atau haram, termasuk ari-ari, dapat ditemukan dalam Al-Qur’an dan hadis. Berikut beberapa dalil yang relevan:

  1. Al-Qur’an Surah Al-Ma’idah (5:3): “Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah, yang tercekik, yang terpukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan yang diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu sembelih, dan (diharamkan bagimu) yang disembelih untuk berhala, dan (diharamkan juga) mengundi nasib dengan anak panah, (mengundi nasib dengan cara demikian) adalah kefasikan…” Ayat ini menegaskan bahwa bangkai dan darah termasuk yang diharamkan untuk dikonsumsi. Ari-ari termasuk dalam kategori benda yang keluar dari tubuh tanpa melalui penyembelihan yang sah, sehingga dianggap sebagai bangkai.
  2. Hadis Nabi ﷺ: Dari Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma, Nabi ﷺ bersabda: “Diharamkan dari bangkai itu apa yang keluar darinya berupa darah dan isi perut.”
    (HR. Bukhari no. 5539, Muslim no. 1598) Hadis ini menjelaskan bahwa bagian-bagian yang keluar dari tubuh hewan, termasuk darah dan isi perut (yang mencakup ari-ari), adalah haram untuk dimakan.

3.Hadits*:
Ketika Nabi Muhammad ﷺ tiba di Madinah, mereka (penduduk Madinah) sedang menggunting telinga unta dan memotong bagian-bagian daging kambing. Maka beliau bersabda, “Apa yang dipotong dari hewan yang masih hidup, maka itu adalah bangkai.”

Rawi: Abu Waqqash Al-Laythi
Penghimpun Hadits: Al-Albani
Sumber: Shahih Tirmidzi
Halaman atau Nomor: 1480
Kesimpulan Status Hadits: Sahih

  1. Kaedah Fiqih: Dalam kaidah fiqih, “Asal dari segala sesuatu yang keluar dari hewan adalah najis kecuali yang ada dalil yang membolehkannya.” Dengan demikian, karena ari-ari keluar dari tubuh hewan tanpa proses penyembelihan yang sah dan dianggap sebagai najis, maka hukumnya haram untuk dikonsumsi.

Dalil-dalil ini menjadi dasar bagi ulama untuk menetapkan bahwa memakan ari-ari sapi atau hewan lainnya adalah haram karena termasuk bagian yang najis dan tidak disembelih sesuai dengan syariat Islam.

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

وصف المشكلة:

من المعروف أن مربّي الأبقار يرغبون في أن تلد أبقارهم كل عام. وكما نعلم، عندما تلد البقرة، يخرج معها “المشيمة” أو ما يُعرف بالعامية بـ”ريد” أو “تامنح”.

السؤال:

ما حكم استهلاك مشيمة البقرة حسب الشريعة الإسلامية؟

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته
الجواب
في الإسلام، حكم أكل المشيمة (الـ”بلاسنتا”) من البقر أو غيره من الحيوانات غير جائز( حرام ) لعدة أسباب:

١. لأن المشيمة تُعتبر جزءًا نجسًا وليست من الأجزاء التي يُنصح بأكلها.
٢. المشيمة تنفصل عن جسم البقرة دون أن تُذبح.

أما في الفقه، فإن الأجزاء التي يجوز أكلها من الحيوان المذبوح وفق الشريعة الإسلامية هي اللحم والكبد والمخ والأعضاء الأخرى التي تعتبر طاهرة، بينما بعض الأجزاء مثل الدم، الفضلات، وأجزاء الجهاز التناسلي (بما في ذلك المشيمة) فهي من المحرمات.

وكمرجع، فإن القرآن يحرم الدم المسفوح والميتة، وقد اتفق العلماء على أن بعض أجزاء جسم الحيوان مثل المشيمة ليست صالحة للأكل.

١. الدليل من القرآن الكريم (سورة المائدة:٣):

“حُرِّمَتْ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةُ وَالدَّمُ وَلَحْمُ الْخِنزِيرِ وَمَا أُهِلَّ لِغَيْرِ اللَّهِ بِهِ وَالْمُنْخَنِقَةُ وَالْمَوْقُوذَةُ وَالْمُتَرَدِّيَةُ وَالنَّطِيحَةُ وَمَا أَكَلَ السَّبُعُ إِلَّا مَا ذَكَّيْتُمْ وَمَا ذُبِحَ عَلَى النُّصُبِ وَأَنْ تَسْتَقْسِمُوا بِالْأَزْلَامِ ذَٰلِكُمْ فِسْقٌ…”
(سورة المائدة: ٣)

هذه الآية تؤكد أن الميتة والدم محرم أكلها. والمشيمة تعتبر من الأجزاء الخارجة من الجسم دون ذبح شرعي، وبالتالي تُعد ميتة.

٢. حديث النبي ﷺ:

عن ابن عباس رضي الله عنهما، قال رسول الله ﷺ:

“حُرِّمَ مِنَ المَيْتَةِ ما يُخْرَجُ مِنْها مِنْ دَمٍ وَفَرْثٍ.”
(رواه البخاري رقم ٥٥٣٩، ومسلم رقم ١٥٩٨)

هذا الحديث يوضح أن الأجزاء الخارجة من جسم الحيوان، بما في ذلك الدم ومحتويات البطن (التي
تشمل المشيمة)، هي محرمة للأكل.

٣.قدِمَ النَّبيُّ صلَّى اللَّهُ عليهِ وسلَّمَ المَدينةَ وَهُم يَجُبُّونَ أسنِمَةَ الإبلِ ويَقطعونَ آليَّاتِ الغنَمِ فقالَ ما قُطِعَ منَ البَهيمةِ وَهيَ حيَّةٌ فَهوَ ميتَةٌ

الراوي : أبو واقد الليثي | المحدث : الألباني | المصدر : صحيح الترمذي

الصفحة أو الرقم: ١٤٨٠ | خلاصة حكم المحدث : صحيح

٤. قاعدة فقهية:

في القاعدة الفقهية: “الأصل في كل ما يخرج من الحيوان أنه نجس إلا ما دلت الأدلة على طهارته.”
وبالتالي، بما أن المشيمة تخرج من جسم الحيوان دون عملية ذبح شرعي وتعتبر نجسة، فإن حكمها حرام للأكل.