logo mubaa
Logo Ittihad

DEWAN PIMPINAN PUSAT
IKATAN ALUMNI BATA-BATA

Kategori
Uncategorized

KESIAPAN SESEORANG MENJADI PEMIMPIN UMAT

KESIAPAN SESEORANG MENJADI PEMIMPIN UMAT

Assalamualaikum wr wb Kiai,ustadz.

Deskripsi masalah:

Mempersiapkan Diri Menjadi Seorang Pemimpin merupakan suatu kewajiban bagi Generasi milenial saat ini yang diharapkan mereka mampu menjadi seorang pribadi yang berhasil , di usianya yang masih muda. Meski begitu, tidak sedikit orang-orang muda yang sangat mudah meraih kesuksesan, namun dengan cepat pula kehilangan kesuksesan tersebut. Tetapi, generasi muda adalah generasi penerus suatu bangsa karena suatu saat nanti, maka para pemudalah yang akan menjadi pemimpin. Saat ini mungkin seseorang masuk dalam kategori hebat dan memiliki banyak ide cemerlang, namun masih belum tentu matang untuk menjadi seorang pemimpin. Sebagai orang muda, tentu harus benar-benar mempersiapkan diri agar kelak bisa menjadi seorang pemimpin Ummat yang baik.

Dalam masyarakat ada seseorang yang masih dalam proses untuk menjadi orang yang shaleh, namun dia sudah diberi keyakinan oleh masyarakat untuk memoslehkan orang lain disebabkan ilmunya.

Pertanyaannya.
Bagaimana sikap seseorang yang masih dalam proses menjadi orang yang sholeh sementara dia sudah diberi keyakinan oleh orang lain untuk memuslehkan orang lain.. ?

MOHON TANGGAPANNYA KIAI, USTADZ 🙏🏻🙏🏻🙏🏻

Waalikum salam

Orang sholih adalah orang yang dapat memenuhi /melaksanakan (bertanggung jawab) atas ketentuan-ketentuan/kewajiban- kewajibannya kepada Allah (hak-hak Allah ) dan dapat memenuhi ( bertanggung jawab ) atas ketentuan-ketentuan/kewajiban-kewajibannya kepada hamba (hak-hak hamba).

 الصالح؛ هو القائم بحقوق الله وبحوق عباده

Lalu bagaimana dengan orang yang diberi keyakinan untuk memushlehkan orang disebabkan pengetahuannya..?.

Jawabannya.
Keyakinan itu yang memberikan Allah kepada hambanya bukan manusia, begitu juga halnya dengan ilmu , yang mana interpretasi dari ilmu Pengetahuan itu adalah suatu sifat yang dapat dijadikan sarana menuju kearah terang dan jelas bagi yang memilikinya, sehingga mengetahui sesuatu itu dengan sempurna ( Dengan ilmu, orang akan dapat melestarikan semua perkara dengan sempurna dan baik).


شرح تعليم المتعلم .ص٩

وأما التفسير العلم فهو صفة يتجلى بها لمن قامت هى به المذكور والفقه معرفة دقائق العلم ( وأما تفسير العلم )هذا شروع فى بيان ماهية العلم والقياس تقديمه على بيان كون طلبه فرضاأوغيره لأنه عارض من عوارضه والمفروض مقدم على العارض إلاأنه قدم للاهتمام بأنه والاشعاربأن البحث عنه أمر مهم ليتني الطالب ويشتغل على طلبه ( فهو صفة يتجلى ) أى يتجح وينكشف بالإنكشاف التام (بها) أى بتلك الصفة ( لمن) متعلق بيتجلى ( قامت هى به ) الضمير راجع إلى الموصول ( المذكور ) فاعل يتجلى أى مايصح أن يذكر ويمكن أن يعبر عنه وعدل عن الشيئ إلى المذكور ليعم الموجود والمعدوم وقد يتوهم أن المراد به المعلوم لأن فى ذكر العلم ذكر المعلوم وعدل عنه إلى المذكور تفاديا عن الدور بالجملة وقد خرج الظن والجهل إذ لايتجلى فيهما وكذ إعتقاد المقلد لانه عقدة على القلب والتجلى اشراح وانحلال العقد ( والفقه ) خصه من أنواع العلم بالبيان لشرفه إذ به يحصل سعادة الدنيا والآخرة( معرفة دقائق العلم قال أبوا حنيفة ) هذا معنى آخر

Dari pengertian orang yang shaleh dan penafsiran ilmu, maka semua orang dalam proses dalam upaya menjadi orang yang sholeh melalui pengaplikasian ilmu, maka dari itu hal bagi orang berproses untuk melayani umat itu bergantung atas keyakinan dirinya bukan keyakinan orang lain, dan keyakinan atas ilmunya, karena keyakinan orang lain bisa tertanam bisa terpancar disebabkan timbulnya melalui keyakinan dirinya, akan tetapi jangan hanya bisa menerangi orang lain tapi bagaimana seseorang itu tidak terbakar oleh dirinya sendiri ini sangat cocok dengan sebuah pepatah.
Janganlah kamu bersifat seperti lilin yang dapat menyinari( menerangi ) orang lain sementara ia terbakar oleh dirinya sendiri, ini sangat berbahaya. Sebagaimana firman Allah.QS.Al-Baqarah:44

أتأمرون الناس بالبر وتنسون أنفسكم وانتم تتلون الكتاب أفلا تعقلون

Artinya, “Mengapa kalian menganjurkan orang lain untuk berbakti, sedangkan kalian melupakan diri sendiri, padahal kalian membaca kitab suci? Tidakkah kalian berpikir?” (Surat Al-Baqarah ayat 44).

Oleh Karena penting seseorang memiliki kesiapan Diri Menjadi Seorang Pemimpin yang berpotensi dalam memimpin umat

Banyak orang yang mengatakan bahwa tidak cocoknya seorang menjadi seorang pemimpin, tergantung dari bakatnya, apakah dia berpotensi atau tidak. Menjadi Potensi seorang pemimpin tidak hanya dapat dilihat dari kemampuan seseorang dalam bekerja . Ada seorang pekerja yang sangat bisa diandalkan. Dia pandai, terampil dan disiplin. Apakah dia cocok untuk menjadi seorang pemimpin? Belum tentu. Mungkin dia memang pintar dan mahir. Tetapi selama ini dia selalu bekerja sendiri. Dia tidak pernah membagikan kepandaian dan keterampilannya kepada orang lain. Karena merasa sebagai orang yang tidak bisa diandalkan, dia juga tidak mau mengembangkan dirinya dengan mempelajari hal-hal ini. Orang seperti itu terlihat tidak potensial untuk menjadi seorang pemimpin. Seorang pemimpin adalah orang yang mau berbagi dan tidak hanya fokus pada dirinya sendiri. Jadi, seorang yang mungkin biasa-biasa saja, tapi dia terlihat sangat mau berkembang dan tidak segan membantu orang lain, justru itulah yang berpotensi menjadi pemimpin.

Kepemimpian Dalam Teori

Ada teori yang mengatakan bahwa pemimpin itu dilahirkan, bukan dihasilkan , inilah yang disebut dengan faktor keturunan (Asbab nasab keturunan Kiyai maka menjadi lora atau kiyai ). Tapi ada juga yang menyebutkan bahwa menjadi pemimpin adalah sesuatu yang dapat dipelajari, inilah yang disebut ” NASIB ” artinya bagian . Dalam hal ini mana yang paling tepat? Yang ideal tentu saja orang yang memang berbakat menjadi pemimpin, berada di tempat yang benar, sehingga dia bisa belajar menjadi pemimpin yang baik. Orang seperti ini tentu dapat menjadi pemimpin yang sangat baik. Memang benar, memimpin adalah kemampuan yang dapat dipelajari. Seorang pemimpin adalah orang yang memiliki visi ke depan, lebih baik dari orang lain. Visi inilah yang dapat membuat seseorang membuat rencana dan rencana tindakan untuk menghadapinya. Inilah yang sangat dibutuhkan dari seorang pemimpin. Selain itu, seorang pemimpin adalah orang yang optimis, orang yang dapat melihat masa depan dengan lebih baik. Tidak semua orang mampu berpikir seperti ini. Apalagi jika kondisi saat ini memang sangat buruk. Kemampuan untuk mengubah keadaan menjadi lebih baik ditentukan dari pola pikir, apa yang bisa dilakukan demi masa depan yang lebih baik. Jadi, jika seseorang merasa tidak dilahirkan untuk menjadi pemimpin alias tidak berbakat menjadi orang yang dapat memushlehkan orang lain maka janganlah perlu berkecil hati. Asah terus mampu menganalisis berpikirnya, untuk menjadikan masa depan menjadi lebih baik. Dengan itulah seorang bisa menjadi pemimpin. Untuk menjadi pemimpin yang baik, ada beberapa hal yang juga harus diperhatikan:

  1. Seorang Pemimpin Adalah Orang yang Mengenal Dirinya Dengan Baik

Seorang pemimpin yang baik adalah dia yang sangat mengenal dirinya sendiri dengan baik pula. Maksudnya, dia tahu kelebihan dan kekurangannya. Dia mengerti bagaimana menggunakan kelebihannya, tapi juga memahami apa yang harus dilakukan untuk memperbaiki kekurangannya. Dengan mengenal dirinya dengan baik, maka dia akan mampu ‘memanfaatkan’ kondisi masyarakat dengan baik, demi kemajuan bersama.

  1. Seorang Pemimpin adalah Orang yang Berintegritas

Seorang pemimpin yang baik adalah orang yang memiliki integritas. Artinya, dia adalah orang yang dapat dipercaya dan diandalkan oleh keluarganya khususnya dan masyarakat lingkungan pada umumnya . Dengan keutuhan tersebut, maka masyarakat dapat leluasa untuk berkomunikasi dengannya. Mereka tidak akan segan untuk memberi tahu dia mengenai semua masalah yang dihadapi. Mereka percaya bahwa pemimpin mereka akan membantu mereka mencari solusinya.

  1. Seorang Pemimpin adalah orang yang Menghargai orang Lain” من عظم عظم ” Barang siapa yang menghargai orang lain maka ia dihargai( diagungkan)

Pemimpin adalah orang yang lebih dianggap baik daripada orang lain (masyarakat) .Bagaimanapun, seorang pemimpin yang baik adalah dia yang menghargai semua orang, khususnya anggota keluarga dan masyarakat pada umumnya. Telah disebutkan bahwa seorang pemimpin yang baik adalah orang yang mengenal dirinya. Dengan mengenal dirinya, maka dia akan menyadari bahwa dia memiliki kelebihan dan kekurangan. Jadi, dia juga akan menyadari bahwa masyarakat /orang lain semuanya juga memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Pemimpin yang baik adalah orang yang mampu memanfaatkan kelebihan anggota masyarakanya, untuk melengkapi kekurangan masyarakat yang lain. Dengan begitu mereka semua antara pemimpin dan juga yang dipinpinnya akan selalu terjaga, bukan sebaliknya artinya dia meremehkan atas kekurangan orang lain ini tidaklah dibenarkan.sebagaimana dikatakan dalam satu maqolah:

لاتحتقر من دونك فإن لكل شيئ مزية

Janganlah kamu meremehkan orang-orang yang berada dibawahmu, karena setiap sesuatu mempunyai kelebihan ( keistimiwaan)

  1. Seorang Pemimpin Adalah Orang yang Mampu Menginspirasi

Seorang pemimpin yang baik adalah orang yang dapat menginspirasi anggota keluarganya dan masyarakatnya . Ketika ada anggota masyarakat yang kinerjanya menurun, maka dia harus dapat membuatnya kembali menunjukkan kinerjanya yang baik. Pemimpin yang baik adalah orang yang dapat menjadikan orang lain menjadi pribadi yang lebih baik. Memang, ada orang yang memang dilahirkan menjadi pemimpin, ini yang disebut dengan keturunan pemimpin ( Asbab nasab Kiyai maka keturunannya bisa menjadi lora, kiyai ) .Tapi ada juga orang yang dihasilkan untuk menjadi pemimpin, inilah yang disebut dengan Nasib ( pagian ). Jenis yang kedua ini adalah orang yang dipengaruhi oleh situasi dan kondisi (keadaan), sehingga dia bisa menjadi seorang pemimpin. Menjadi pemimpin di dalam sebuah masyarakat , jadi kepemimpinan itu terjadi karena dua faktor yaitu “NASAB dan NASIB” ini adalah sebuah perjalanan karir yang harus diperjuangkan. Jika seseorang benar-benar mempelajari bagaimana menjadi seorang pemimpin yang baik, maka ia bisa menjadi seorang pemimpin. Untuk bisa menjalani karir dengan baik, maka ada beberapa hal yang harus seseorang pelajari, yang tentunya dengan belajar tanpa henti baik cara belajarnya dengan yang tertulis ataupun dengan belajar yang tanpa tulis, sehingga menjadi orang yang profesional untuk menapaki karier menjadi seorang pemimpin yang baik.

Berikut sebagai contoh yang harus dimiliki oleh seorang calon pemimpin

Nabi itu sebelum diisra’kan dan diutus dia masih dibuang sifat sifat kotoran hatinya oleh Allah melalui malaikat jibril yang kemudian terpenuhi hatinya dengan hikmah dan keimanan ( hilman /sangat sabar ,Ilmu , keyakinan, islam ).

Artinya dari paparan diatas dapat disimpulkan jika seserang telah mampu memenuhi hak-hak Allah dan hak-hak hamba ( masyarakat ) dan berpontensi untuk memimpin umat dengan keyakinan ilmunya yang mampu merubah keadaan kepada arah yang lebih baik, maka apa boleh buat maka ia harus melayaninya dan itu adalah kewajiban. Jadilah manusia bagaikan ikan yang hidup dilautan, dan janganlah manusia bagai ikan yang mati. Artinya sesorang harus punya keyakinan sebagaimana ikan yang hidup dilautan walau ia hidup diair asin tapi ia tetap tidak asin, artinya tidak mudah diombang ambingkan oleh orang-orang yang berada disekelilingnya, tidak diwarnai tetapi bagaimana ia mampu mewarnai orang-orang yang berada disekelilinggnya ( merubah hal yang tidak baik kepada arah yang lebih baik). Dan jangan menjadi manusia bagaikan ikan yang mati, dimana jika dikasih garam ia ikut menjadi asin.dll..

Surat Ali ‘Imran Ayat 110

كُنتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِٱلْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ ٱلْمُنكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِٱللَّهِ ۗ وَلَوْ ءَامَنَ أَهْلُ ٱلْكِتَٰبِ لَكَانَ خَيْرًا لَّهُم ۚ مِّنْهُمُ ٱلْمُؤْمِنُونَ وَأَكْثَرُهُمُ ٱلْفَٰسِقُونَ

Artinya: Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik

Rasulullah SAW bersabda:

عن جابر رضي الله عنه قال: قال رسول الله – صلى الله عليه وسلم -: “خير الناس أنفعهم للناس”، رواه القضاعي

Sebaik-baik manusia adalah orang yang memberikan manfaat pada orang lain.

المراجع: الدردير

بينما النبي صلى الله عليه وسلم فى الحجر عند البيت مضطجعا بين رجلين اذ أتاه جبريل وميكائيل ومعهما ملك آخر فاحتملوا حتی جاؤابه زمزم فاستلقوه على ظهره فتولاه منهم جبريل وفي رواية فرج سقف بیتی فنزل جبريل فشق من ثغرة نحره إلى أسفل بطنه ثم قال جبريل لميكائيل ائتنی بطست من ماء زمزم کيما اطهر قلبه واشرح صدره فاستخرج قلبه فغسله ثلاث مرات ونزع ما كان به من أذى واختلف الیه میکائیل بثلاث طسات من ماء زمزم ثم أتي بطست من ذهب ممتلئ حكمة وايمانا فأفرغه فى صدره وملأه حلما وعلما ويقينا واسلاما ثم أطبقه ثم ختم بين كتفيه بخاتم النبوة

Diwaktu Nabiyullah Muhammad ﷺ beristirahat. Tidur menyamping di samping Hijir Ismail. Dekat Baitullah. Di samping kanan dan kiri ada dua orang pemuda (Sayyidina Hamzah dan Sayyidina Ja’far bin Abi Tholib).Tiba-tiba di tempat tersebut, beliau didatangi oleh Malaikat Jibril dan Mikail.Selain kedua malaikat itu masih ada satu malaikat lagi, yaitu Malaikat Isrofil.Kemudian ketiga malaikat itu membopong Nabiyullah Muhammad ﷺ hingga kesumur Zam-Zam.Lantas Nabiyullah Muhammad ditelentangkan di sana . Di dalam sebuah riwayat lain dijelaskan bahwa: tiba-tiba atap rumah saya tersingkap. Lantas Malikat Jibril masuk. Setelah itu Jibril membedah/ mengoperasi dada Nabiyullah Muhammad. Dimulai dari bawahnya leher hingga sampai di bawahnya perut. Malaikat Jibril kemudian berucap kata kepada Malaikat Mikail: “Ambillah bokor /bejana yang berisikan air Zam-Zam.
Saya hendak menyucikan hati dan melapangkan dadanya Nabiyullah Muhammad SAW. ” Setelah itu, Malaikat Jibril mengeluarkan hatinya Nabiyullah Muhammad ﷺ sampai tiga kali.Dan membuang semua kotoran yang terdapat di dalam batin Nabi Muhammad ﷺ. Adapun Malaikat Mikail mondar-mandir sambil membawa tiga bokor emas yang di dalamnya berisikan air Zam-Zam. Setelah melakukan semua hal itu, kemudian membawa bokor emas yang isinya penuh dengan hikmah dan iman. Selanjutnya isi bokor tersebut ditumpahkan ke dalam hatinya Nabi hingga batin beliau berisi penuh dengan sifat: sabar, alim,yakin, dan islam. Lantas dikembalikan seperti sediakala. Dan diberikan cap kenabian diantara kedua belikatnya.

تفسير الطبرى

۞ أَتَأْمُرُونَ النَّاسَ بِالْبِرِّ وَتَنسَوْنَ أَنفُسَكُمْ وَأَنتُمْ تَتْلُونَ الْكِتَابَ ۚ أَفَلَا تَعْقِلُونَ (٤٤)

القول في تأويل قوله تعالى : أَتَأْمُرُونَ النَّاسَ بِالْبِرِّ وَتَنْسَوْنَ أَنْفُسَكُمْ
قال أبو جعفر: اختلف أهل التأويل في معنى البر الذي كان المخاطبون بهذه الآية يأمرون الناس به وينسون أنفسهم, بعد إجماع جميعهم على أن كل طاعة لله فهي تسمى ” برا “. فروي عن ابن عباس ما:-
٨٤٠- حدثنا به ابن حميد, قال: حدثنا سلمة, عن ابن إسحاق, عن محمد بن أبي محمد, عن عكرمة, أو عن سعيد بن جبير, عن ابن عباس: ( أَتَأْمُرُونَ النَّاسَ بِالْبِرِّ وَتَنْسَوْنَ أَنْفُسَكُمْ وَأَنْتُمْ تَتْلُونَ الْكِتَابَ أَفَلا تَعْقِلُونَ ) أي تنهون الناس عن الكفر بما عندكم من النبوة والعهدة من التوراة, وتتركون أنفسكم: (٩٦) أي وأنتم تكفرون بما فيها من عهدي إليكم في تصديق رسولي, وتنقضون ميثاقي, وتجحدون ما تعلمون من كتابي.
٨٤١- وحدثنا أبو كريب, قال: حدثنا عثمان بن سعيد, قال: حدثنا بشر بن عمارة, عن أبي روق, عن الضحاك, عن ابن عباس في قوله: (أتأمرون الناس بالبر) يقول: أتأمرون الناس بالدخول في دين محمد صلى الله عليه وسلم, وغير ذلك مما أمرتم به من إقام الصلاة، وتنسون أنفسكم .
* * *
وقال آخرون بما:-
٨٤٢- حدثني به موسى بن هارون, قال: حدثني عمرو بن حماد, قال: حدثنا أسباط, عن السدي: (أتأمرون الناس بالبر وتنسون أنفسكم) قال: كانوا يأمرون الناس بطاعة الله وبتقواه وهم يعصونه.
٨٤٣- وحدثنا الحسن بن يحيى قال: أخبرنا عبد الرزاق, قال: أخبرنا معمر، عن قتادة، في قوله: (أتأمرون الناس بالبر وتنسون أنفسكم) قال: كان بنو إسرائيل يأمرون الناس بطاعة الله وبتقواه وبالبر ويخالفون, فعيرهم الله.
٨٤٤- وحدثنا القاسم, قال: حدثنا الحسين, قال: حدثنا الحجاج, قال: قال ابن جريج: (أتأمرون الناس بالبر) أهل الكتاب والمنافقون كانوا يأمرون الناس بالصوم والصلاة, ويدعون العمل بما يأمرون به الناس, فعيرهم الله بذلك, فمن أمر بخير فليكن أشد الناس فيه مسارعة.
* * *
وقال آخرون بما:-
٨٤٥- حدثني به يونس بن عبد الأعلى, قال: أخبرنا ابن وهب, قال: قال ابن زيد: هؤلاء اليهود كان إذا جاء الرجل يسألهم ما ليس فيه حق ولا رشوة ولا شيء, أمروه بالحق. فقال الله لهم: (أتأمرون الناس بالبر وتنسون أنفسكم وأنتم تتلون الكتاب أفلا تعقلون) (٩٧)
– وحدثني علي بن الحسن, قال: حدثنا مسلم الجَرْمي, قال: حدثنا مخلد بن الحسين, عن أيوب السختياني, عن أبي قلابة، في قول الله: (أتأمرون الناس بالبر وتنسون أنفسكم وأنتم تتلون الكتاب) قال: قال أبو الدرداء: لا يفقه الرجل كل الفقه حتى يمقت الناس في ذات الله، ثم يرجع إلى نفسه فيكون لها أشد مقتا. (٩٨)
* * *
قال أبو جعفر: وجميع الذي قال في تأويل هذه الآية من ذكرنا قوله متقارب المعنى; لأنهم وإن اختلفوا في صفة ” البر ” الذي كان القوم يأمرون به غيرهم، الذين وصفهم الله بما وصفهم به, فهم متفقون في أنهم كانوا يأمرون الناس بما لله فيه رضا من القول أو العمل, ويخالفون ما أمروهم به من ذلك إلى غيره بأفعالهم.
فالتأويل الذي يدل على صحته ظاهر التلاوة إذا: أتأمرون الناس بطاعة الله وتتركون أنفسكم تعصيه؟ فهلا تأمرونها بما تأمرون به الناس من طاعة ربكم؟ معيرهم بذلك، ومقبحا إليهم ما أتوا به. (٩٩)
* * *
ومعنى ” نسيانهم أنفسهم ” في هذا الموضع نظير النسيان الذي قال جل ثناؤه: نَسُوا اللَّهَ فَنَسِيَهُمْ [التوبة: ٦٧] بمعنى: تركوا طاعة الله فتركهم الله من ثوابه.
* * *
القول في تأويل قوله تعالى وَأَنْتُمْ تَتْلُونَ الْكِتَابَ
قال أبو جعفر: يعني بقوله: 
قال أبو جعفر: يعني بقوله: (تتلون) : تدرسون وتقرءون. كما:-
٨٤٧- حدثنا أبو كريب, قال: حدثنا عثمان بن سعيد, قال: حدثنا بشر, عن أبي روق, عن الضحاك عن ابن عباس: (وأنتم تتلون الكتاب)، يقول: تدرسون الكتاب بذلك. ويعني بالكتاب: التوراة. (١٠٠)
* * *
القول في تأويل قوله تعالى أَفَلا تَعْقِلُونَ (٤٤)
قال أبو جعفر: يعني بقوله: (أفلا تعقلون) (١٠١) أفلا تفقهون وتفهمون قبح ما تأتون من معصيتكم ربكم التي تأمرون الناس بخلافها وتنهونهم عن ركوبها وأنتم راكبوها, وأنتم تعلمون أن الذي عليكم من حق الله وطاعته، واتباع محمد والإيمان به وبما جاء به، (١٠٢) مثل الذي على من تأمرونه باتباعه. كما:
٨٤٨- حدثنا به محمد بن العلاء, قال: حدثنا عثمان بن سعيد, قال: حدثنا بشر بن عمارة, عن أبي روق عن الضحاك, عن ابن عباس: (أفلا تعقلون) يقول: أفلا تفهمون؟ فنهاهم عن هذا الخلق القبيح. (١٠٣)
* * *
قال أبو جعفر: وهذا يدل على صحة ما قلنا من أمر أحبار يهود بني إسرائيل غيرهم باتباع محمد صلى الله عليه وسلم, وأنهم كانوا يقولون: هو مبعوث إلى غيرنا! كما ذكرنا قبل. (١٠٤)
————

Kategori
Uncategorized

HUKUM PINJAMAN MODAL BERSYARAT ( DIPOTONG DULUAN DENGAN DIISTILAHKAN AMAL)

HUKUM PINJAMAN MODAL BERSYARAT

Assalamualaikum para kiyai dan ustd,

Studi kasus.
Ada seseorang katakanlah nama samarannya Muhdhor dia terkena musibah usahanya ( dagang tembakau) bangkrut dikarenakan ketika tebas tembakau terkena hujan akibatnya tembakaunya banyak yang gagal panen.maka dalam upaya menutupi uang mudal dia pinjam uang kepada seseorang namun anehnya orang yang hutang ditarik uang duluan ( dipotong duluan ) dengan di istilahkan ungkapan "Amal " oleh pemberi hutang dan ada sebagian tanpa adanya pemotongan.

Pertanyaannya.
Apakah dengan memotong uang terlebih dahulu dengan diistilahkan amal itu termasuk bunga atau kata bahasa amal itu apa termasuk hela atau emang bunga..?

Terimakasih 🙏🏻

Waalaikum salam
Jawaban.

Seorang Muhdlor yang berhutang kepada orang dengan cara dipotong duluan dengan diistilahkan penarikan kata amal . hukumnya adalah haram. Alasannya ialah karena orang tersebut menghutangi dengan bersyarat yang tujuannya adalah untuk mengambil kemanfaatan, hal ini sama dengan mensyaratkan adanya tambahan setelah pembayar.
Jadi istilah amal itu adalah potongan dari hutang yang nantinya ketika membayar lebih dari yang biasa karena sudah dipotong duluan.hal tersebut termasuk riba. Karena sebenarnya amal sedekah di anjurkan kalau yang bersangkutan punya kelebihan dan tidak punya hutang. Wallahu a’lamu bisshowab.

المهذب فى فقه الإمام الشافعي ( ج ١ ص ٣٠٤)
فإذا شرّط النقصان عماأقرضه فقد شرط ماينافي مقتضاه فلم يجز كمالوشرط الزيادة والثاني يجوز لأن القرض جعل رفقا بالمستقرض وشرط الزيادة يخرج به عن موضعه فلم يجز وشرط النقصان لايخرج به عن موضوع فجاز.

(اعانۃ الطالبين,جز ٣,صحيفۃ ٥٣)
وجاز لمقرض نفع يصل له من مقترض كرد الزائد قدرا او صفۃ والأجود للرديئ (بلا شرط) في العقد بل يسن ذلك لمقترض الی ان قال واما القرض بشرط جر نفع لمقترض ففاسد لخبر كل قرض جر منفعۃ فهو ربا (قوله ففاسد) قال ع ش : ومعلوم ان محل الفساد حيث وقع الشرط في صلب العقد, اما لو توافقا علی ذلك ولم يقع شرط في العقد فلا فساد.

Al-Muhadzdzab fi Fiqh Al-Imam Asy-Syafi’i (Jilid 1, Halaman 304):
Jika seseorang menetapkan syarat pengurangan dari apa yang ia pinjamkan, maka ia telah menetapkan sesuatu yang bertentangan dengan hakikat akad tersebut, sehingga tidak diperbolehkan. Sama halnya dengan menetapkan syarat tambahan (melebihi yang dipinjamkan). Pendapat kedua menyatakan boleh, karena pinjaman dimaksudkan untuk memberikan keringanan kepada peminjam. Adapun syarat tambahan mengubah tujuan akad tersebut sehingga tidak diperbolehkan. Namun, syarat pengurangan tidak mengubah tujuan akad, sehingga diperbolehkan.
I’anatuth Thalibin (Jilid 3, Halaman 53):
Diperbolehkan bagi pemberi pinjaman mendapatkan manfaat dari peminjam, seperti pengembalian yang lebih banyak dalam jumlah atau kualitasnya, atau penggantian barang yang buruk dengan yang lebih baik (tanpa syarat) dalam akad. Bahkan, hal itu disunnahkan bagi peminjam. Hingga disebutkan: Adapun pinjaman dengan syarat memberikan manfaat kepada pemberi pinjaman, maka akad tersebut rusak, berdasarkan hadits: “Setiap pinjaman yang memberikan manfaat (kepada pemberi pinjaman) adalah riba.”
(Pernyataan: akad tersebut rusak) Al-Bujairimi berkata: Diketahui bahwa kerusakan (akad) berlaku jika syarat tersebut dinyatakan dalam akad. Namun, jika hanya berupa kesepakatan tanpa disyaratkan dalam akad, maka akad tidak rusak. Wallahu a’lam bish-shawab 

Kategori
Uncategorized

CARA TAYAMMUMNYA ORANG YANG PATAH TANGANNYA KARENA TABRAKAN

CARA TAYAMMUMNYA ORANG YANG PATAH TANGANNYA KARENA TABRAKAN

Assalamualaikum.
Deskripsi masalah.

Katakanlah nama samarannya Ahmad punya teman Namanya Ahmadi , pada suatu hari Ahmadi ingin silaturahm kerumah Ahmad dengan mengendarai sepeda motor karena jaraknya antara rumah Ahmad dan rumah Ahmadi sangat jauh, namun ditengah perjalanan Ahmadi tabrakan yang mengakibatkan patah satu tangannya hingga sampai siku, dia sudah lima hari tidak shalat karena tidak tahu caranya bertayammum.

Pertanyaannya.
Bagaimana cara tayammumnya orang yang hanya punya satu tangan sebagaimana deskripsi…?

Waalaikum salam.

Bertayammum hukumnya wajib bagi seseorang karena adanya tiga sebab
1️⃣ Karena tidak ada air.
2️⃣ Karena hausnya hewan yang dimulyakan syara'.(artinya ada air hanya cukup untuk digunakan wudhu',akan tetapi karena ada hewan yang haus maka ia wajib memberikan air tersebut untuk diminumkan kepada hewan sedangkan dirinya wajib bertayammum).

3️⃣Karena sakit.( lihat dalam kitab Kasyifatussaja fasal Tayammum ).

Lalu bagaimana caranya tayammum jika orang sakit karena tabrakan sementara tangannya patah hanya tinggal satu sebagaimana deskripsi.

Jawabannya

Menurut Ashabussyafi'i adalah ditafsil:

🅰️ Jika tangannya Ahmadi yang patah sampai sebagian lengan maka ia wajib mengusap sebagian yang tersisa dari tempatnya lengan dengan Abu dalam tayammum.

🅱️ Jika tangannya Ahmadi Patah sampai diatasnya siku, maka dia tidak wajib mengusapnya, karena sudah bukan termasuk anggota yang harus dibasuh ketika berwudhu' namun sunnah diusap yang tersisa dengan Abu dalam tayammum.

المجموع شرح المهذب ص ٧٦٧/٩٧٩٢ -

(الخامسة) قال أصحابنا إذا قطعت يده من بعض الساعد وجب مسح ما بقي من محل الفرض فإن قطع من فوق المرفق فلا فرض عليه ويستحب أن يمس الموضع ترابا كما سبق في الوضوء حتى قال البندنيجي والمحاملي لو قطع من المنكب استحب أن يمسح المنكب كما قلنا في الوضوء وبهذا اللفظ نص عليه الشافعي في الأم: قال العبدري هذا الذي ذكرناه من استحباب غسل موضع القطع فوق المرفق في الوضوء ومسحه بالتراب في التيمم هو مذهبنا ومذهب مالك وزفر وأحمد وداود وقال أبو حنيفة وأبو يوسف ومحمد يجب غسله في الوضوء ومسحه في التيمم: دليلنا أنه فات محل الوجوب قال أصحابنا وكل ما ذكرناه في الوضوء من الفروع في قطع اليد وزيادة الكف والاصبع وتدلى الجلدة يجيئ مثله في التيمم قال الدارمي لو انقطعت أصابعه وبقيت متعلقة باليد فهل ييممها فيه وجهان: (قلت) قياس المذهب القطع بوجوب التيمم ولو لم يخلق له مرفق استظهر حتى يعلم: قال أصحابنا ولو كان في أصبعه خاتم فلينزعه في ضربة اليدين ليدخل التراب تحته: قال صاحب العدة وغيره ولا يكفيه تحريكه بخلاف الوضوء لأن الماء يدخل تحته بخلاف التراب.والله أعلم بالصواب

Solusi jika tidak bisa tayammum sendiri adalah minta bantuan orang lain sebagaimana meminta tolong dalam berwudhu

(فصل)

الإستعانات أربع خصال : مباحة وخلاف الأولى ومكروهه وواجبة فالمباحة هي تقريب الماء ، وخلاف الأولى هي صب الماء على نحو المتوضئ ،والمكروهه هي لمن يغسل أعضاءه ، والواجبة هي للمريض عند العجز

“Pasal. Meminta pertolongan (dalam ibadah) terbagi menjadi empat hukum yaitu mubah, khilaf al-aula, makruh, dan wajib. Contoh meminta pertolongan yang mubah seperti meminta pertolongan orang lain agar mendekatkan air pada orang yang hendak bersuci, contoh yang khilaf al-aula yaitu seperti meminta orang lain untuk menuangkan air pada orang yang hendak wudhu, contoh yang makruh seperti meminta orang lain untuk menuangkan air pada anggota wudhunya, dan contoh yang wajib seperti meminta pertolongan orang lain bagi orang yang sakit ketika ia tidak mampu (bersuci sendiri).” (Salim bin Samir al-Hadrami, Safinah an-Naja, Hal. 9)

Kategori
Uncategorized

TATACARA MENGHADAP POSISINYA ORANG YANG MENTALQIN MAYIT

TATACARA MENGHADAP POSISINYA ORANG YANG MENTALQIN MAYIT.

Assalamualaikum
Deskrip masalah.
Ketika saya hadir pada pemakaman ( menguburan) seseorang yang meninggal, setelah selesai lalu ditalqin namun terkadang cara menghapnya orang yang menalqin berbeda-beda ada yang menghadap kearah kiblat, dan ada yang menghadap ketimur yakni dihadapkan kepada wajah mayit
Pertanyaannya
Bagaimana sebenarnya yang utama cara menghadpnya orang ketika mentalqilkin mayit mohon penjelasannya.

Walaikum salam.

Sebenarnya menghadap kearah kiblat itu tidak masalah, namun yang utama duduk menghadap kearah Timur yaitu dihadapkan kewajah mayit karena disunnatkannya talqin dengan tujuan untuk mengingatkan mayit (mukhothabnya kepada mayit ) ya tentunya berhadapan dengan mayit , begitu juga ketika mengucapkan salam maka menghadap kearah wajah mayit.

المجموع شرح المهذب -٩٧٩٢ -٢٦٢١
(الرَّابِعَةُ)

قَالَ جَمَاعَاتٌ مِنْ أَصْحَابِنَا يُسْتَحَبُّ تَلْقِينُ الْمَيِّتِ عَقِبَ دَفْنِهِ فَيَجْلِسُ عِنْدَ رَأْسِهِ إنْسَانٌ وَيَقُولُ يَا فُلَانَ ابْنَ فُلَانٍ وَيَا عَبْدَ اللَّهِ ابن أَمَةِ اللَّهِ اُذْكُرْ الْعَهْدَ الذي خرجت عليه من الدنيا شهادة أن لا اله وحده لا شريك له وأن محمدا عبده ورسوله وأن الجنة حق وأن النار حق وأن البعث حق وأن الساعة آتية لاريب فيها وأن الله يبعث من في القبور وأنك رضيت بالله ربا وبالإسلام دينا وبمحمد صلى الله عليه وسلم نبيا وبالقرآن إماما وبالكعبة قبلة وبالمؤمنين إخوانا زاد الشيخ نصر ربي الله لا إله الا هو عله توكلت وهو رب العرش العظيم فهذا التلقين عندهم مستحب ممن نص على استحبابه القاضي حسين والمتولي والشيخ نصر المقدسي والرافعي وغيرهم ونقله القاضي حسين عن أصحابنا مطلقا وسئل الشيخ أبو عمرو بن الصلاح رحمه الله عنه فقال التلقين هو الذي نختاره ونعمل به قال وروينا فيه حديثا من حديث أبي أمامة ليس إسناده بالقائم لكن اعتضد بشواهد وبعمل أهل الشام قديما هذا كلام أبي عمرو قلت حديث أبي أمامة رواه أبو القاسم الطبراني في معجمه بإسناد ضعيف ولفظه عن سعيد بن عبد الله الأزدي قال " شهدت أبا أمامة رضي الله عنه وهو في النزع فقال إذا مت فاصنعوا بي كما أمرنا رسول الله صلى الله عليه وسلم فقال إذا مات أحد من إخوانكم فسويتم التراب على قبره فليقم أحدكم على رأس قبره ثم ليقل يا فلان ابن فلانة فإنه يسمعه ولا يجيب ثم يقول يا فلان ابن فلانة فإنه يستوي قاعدا ثم يقول يا فلان ابن فلانة فإنه يقول أرشدنا رحمك الله ولكن لا تشعرون فليقل اذكر ما خرجت عليه من الدنيا شهادة أن لا إله إلا الله وأن محمدا عبده ورسوله وأنك رضيت بالله ربا وبالإسلام دينا وبمحمد نبيا وبالقرآن إماما فإن منكرا ونكيرا يأخذ كل واحد منهما بيد صاحبه ويقول انطلق بنا ما نقعد عند من لقن حجته فقال رجل يا رسول الله فإن لم نعرف أمه قال فينسبه إلى أمه حواء يا فلان ابن حواء " قلت فهذا الحديث وإن كان ضعيفا فيستأنس به وقد اتفق علماء المحدثين وغيرهم على المسامحة في أحاديث الفضائل والترغيب والترهيب وقد اعتضد بشواهد من الأحاديث كحديث " واسألوا له الثبيت " ووصية عمرو بن العاص وهما صحيحان سبق بيانهما قريبا ولم يزل أهل الشام على العمل بهذا في زمن من يقتدى به وإلى الآن وهذا التلقين إنما " هو في حق المكلف الميت أما الصبي فلا يلقن والله أعلم (الخامسة) ذكر الماوردي وغيره أنه يكره إيقاد النار عند القبر وسبقت المسألة وسيأتي في باب التعزية كراهية المبيت في المقبرة وكراهة الجلوس على قبر ودوسه والاستناد إليه والاتكاء عليه

تتوير القلوب.ص٢١٦
ويسلم عليه مستقبلا وجهه لقوله صلى الله عليه وسلم مامن أحد يمر بقبر أخيه المؤمن كان يعرفه فى الدنيا فيسلم عليه إلا عرفه ورد عليه السلام( رواه أبي الدنيا والبيهقي )

Dan mengucapkan salam kepada mayit seraya menghadapkan kepada wajahnya karena berdasarkan sabda Nabi Muhammad SAW.Tidak ada seseorang yang berjalan menemui kuburan saudaranya yang mukmin yang kenal kepadanya ( mengetahuinya) didunia lalu mengucapkan salam kepadanya kecuali dia mengenalinya dan menjawab kepada salamnya.

الفقه الإسلامي و أدلته – ١٥٢٣/٧٧٢٢

٥ - التلقين بعد الدفن:
يستحب عند الشافعية والحنابلة (٣) تلقين الميت المكلف بعد الدفن، ويقعد الملقن عند رأس القبر، فيقال له: «يا عبد الله ابن أمة الله، اذكر ما خرجت عليه من دار الدنيا: شهادة أن لا إله إلا الله، وأن محمدا رسول الله، وأن الجنة حق، والنار حق، وأن البعث حق، وأن الساعة آتية لا ريب فيها، وأن الله يبعث من في القبور، وأنك رضيت بالله ربا، وبالإسلام دينا، وبمحمد صلى الله عليه وسلم نبيا، وبالقرآن إماما، وبالكعبة قبلة، وبالمؤمنين إخوانا» لحديث ورد فيه (٤). قال النووي في الروضة: والحديث وإن كان ضعيفا، لكنه اعتضد بشواهد من الأحاديث الصحيحة، ولم تزل الناس على العمل به من العصر الأول في زمن من يقتدى به، وقد قال تعالى: {وذكر فإن الذكرى تنفع المؤمنين} [الذاريات:٥٥/ ٥١]، وأحوج ما يكون العبد إلى التذكير في هذه الحالة.
والحق ـ في تقديري ـ مع القائلين بعدم سنية التلقين، والظاهر أن المستحب لذلك هم الصحابة، بدليل ما روي عن راشد بن سعد، وضمرة بن حبيب، وحكيم ابن عمر قالوا: «إذا سوي على الميت قبره، وانصرف الناس عنه، كانوا يستحبون أن يقال للميت عند قبره: يا فلان، قل: لا إله إلا الله، أشهد أن لا إله إلا الله، ثلاث مرات، يا فلان قل: ربي الله، وديني الإسلام، ونبيي محمد صلى الله عليه وسلم، ثم ينصرف» (١).
وقد عرفنا أنه يندب عند الحنفية والمالكية تلقين المحتضر الشهادتين ولا يلقن بعد الدفن.

المجموع شرح المهذب:

“ويُستحبّ أن يُلقّن الميّت بعد الدّفن فيُقال: يا فلان ابن فلانة اذكر ما خرجتَ عليه من الدنيا شهادة أن لا إله إلا الله، وأنّ محمداً رسول الله، وأنّك رضيتَ بالله رباً، وبالإسلام ديناً، وبمحمدٍ صلى الله عليه وسلم نبيّاً، وبالقرآن إماماً، فإنّه يُقال عند ذلك: يا فلان ابن فلانة، اذكر ما خرجت عليه من الدنيا، وأنّك على ذلك حييت، وعليه متّ، وعليه تُبعث إن شاء الله، ثم يدعو له ويقلب عند الدعاء بالاستقبال القبلة.”

Artinya:
“Disunnahkan untuk menalqinkan mayit setelah dikuburkan, dengan dikatakan: ‘Wahai Fulan bin Fulanah, ingatlah apa yang engkau tinggalkan di dunia berupa kesaksian bahwa tiada Tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah, serta bahwa engkau ridha dengan Allah sebagai Rabb, Islam sebagai agama, dan Muhammad sebagai nabi, serta Al-Qur’an sebagai imam.’ Lalu dikatakan kembali: ‘Wahai Fulan bin Fulanah, ingatlah apa yang engkau tinggalkan dari dunia, dan bahwa engkau hidup di atas itu, mati di atas itu, dan akan dibangkitkan atas itu, insya Allah.’ Kemudian berdoalah untuknya, dan dia berbalik saat berdoa dengan menghadap kiblat.”

Teks ini menggambarkan adab talqin yang dilakukan setelah penguburan, di mana salah satu adabnya adalah berdoa sambil menghadap kiblat setelah proses talqin dilakukan.

Ibarat ini jelas bahwa ketika mentaqin menghadap kearah Timur ( wajah mayat) tapi sampai pada do’a didalam talqin maka dianjurkan untuk berbalik menghadap kiblat

والله أعلم بالصواب

Kategori
Uncategorized

HUKUMNYA SHALAT SAMBIL BERCEMIN DIDEPANNYA KACA

Assalamualaikum
Deskripsi masalah.

Sehubungan dengan fenomena yang banyak terjadi dalam kehidupan kita. Seperti pembangunan masjid yang berfokus pada keindahan dan kemegahan, berhiaskan ukiran kaligrafi dengan keramik dan kaca hingga tanpak jelas tubuh seseorang manakala sedang shalat ketika dilihat dikaca bahkan terkadang ada masjid yang dihiasi dengan foto atau lukisan pendirinya, sajadah untuk shalat hanya terfokus pada hiasan dan corak serta warna karena hanya untuk menjadi komoditi pasar.Maka begitu pula pakaian yang dipakai, bisa saja menggangu pikiran yang membuat lalai orang dari khusyu’ dalam shalatnya.

Pertanyaannya.
Bagaimana hukumnya orang yang shalat sambil bercermin dikaca dihadapannya.. ?

Waalaikum salam

Jawaban

Hukumnya seseorang yang shalat sambil melihat dirinya dicermin ( bercermin) dikaca adalah makruh karena gambar termasuk bagian dari hal yang mengganggu pikiran. Oleh karena sunnah memejamkan matanya dalam kondisi mengganggu pikirannya atau sunnah ketika shalat terus menerus mendawamkan penglihatannya ketempat sujudnya, karena hal itu lebih mendekatkan pada kekhusyu'an.

Hal tentang melihat gambar pernah juga dialami oleh Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam . ‘Aisyah Radhiyallahu anhuma berkata :

أَنَّ النَّبِيَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَّى فِي خَمِيْصَةٍ لَهَا أَعْلاَمٌ فَنَظَرَ إِلَى أَعْلاَمِهَا نَظْرَةً فَلَمَّا انْصَرَفَ قَالَ : اذْهَبُوا بِخَمِيصَتِي هَذِهِ إِلَى أَبِي جَهْمٍ وَأْتُونِي بِأَنْبِجَانِيَّةِ أَبِي جَهْمٍ، فَإِنَّهَا أَلْهَتْنِي آنِفًا عَنْ صَلاَتِي

Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah shalat dengan pakaian khamishah yang bercorak. Dalam shalatnya beliau memandang sekilas corak pakaian tersebut. Setelah selesai shalat, beliaupun berkata: “Serahkan khamishah ini kepada Abu Jahm, dan ambilkan untukku pakaian ambijaniyah hadiah dari Abu Jahm. Karena, pakaian khamishah tadi melalaikan( mengganggu) kekhusyu'an shalatku”. [HR al-Bukhâri, no. 373]

Pakaian anbijâniyyah yang diminta Rasûlullâh adalah pakaian kasar yang tidak bercorak. Berbeda dengan pakaian khamishah yang dikembalikan oleh beliau, pakaian itu memiliki corak ataupun gambar.

HUKUM SHALAT DENGAN MELIHAT GAMBAR DIRINYA DIKACA
Tidak ada yang mengatakan bahwa shalat itu batal. Ini berarti, sah hukumnya shalat menghadap memandang gambar dirinya namun makruh karena dapat mengganggu pikirannya yang membuat lalainya kekhusyu'an sebagaimana penjelasan hadits, maka sebaiknya lakukanlah shalat tidak didepan kaca atau pejamkan matanya walaupun hukum asal adalah maruh namun sunnah namakala dalam kondisi mengganggu sebagaimana dalam keterangan Kitab Kasyifatussaja.

تنبيه الغافلين. ص ١٠٣

استقبال القبلة لقوله تعالى فول وجهك شطر المسجد الحرام وحيث ماكنتم فولوا وجوهكم شطره يعنى نحوه
وأماالإستقبال القبلة فتمامه فى ثلاثة أشياء أولها أن تستقبل القبلة بوجهك والثاني أن تقبل على الله بقلبك والثالث أن تكون خاشعا ذليلا
وأما النية فتمامها فى ثلاثة أشياء أولها أن تعلم أى صلاة تصلى والثاني أن تعلم أنك تقوم بين يدى الله تعالى وهو يراك فتقوم بالهيبة والثالث أن تعلم أنه يعلم مافى قلبك فتفرغ قلبك من أشغال الدنيا.

Referensi:


تنوير القلوب.ص ١٣٧
وهيآت …………….والنظر إلى موضع السجود مائلا برأسه قليلا فى جميع الصلاة ولو كانت فى الكعبة إلا فى التشهد فلايجاوز بصره إشارته بالسبابة عند قوله لاإله إلا الله .

Referensi:

(اعانة الطالبين)
اه‍. (قوله: ويسن فتح عينيه حالة السجود) الذي صرحوا به أنه يسن إدامة النظر إلى موضع سجوده في جميع صلاته، وعللوه بأن جمع النظر في موضع أقرب إلى الخشوع. وأنه يكره تغميض عينيه وعللوه بأن اليهود تفعله، وأنه لم ينقل فعله عن النبي (ص) ولا عن أحد من الصحابة رضي الله عنهم أجمعين.

Referensi:


كاشفة السجا :

وسابعها تغميض جفنه إن خاف ضررًا وإلا فلا كراهة سواء الأعمى والبصير لأن الجفن يسجد معه وقد يجب إذا كان العراة صفوفاً وقد يسن كأن صلى إلى حائط مزوق أي منقش ومزين يشوش الفكر أي يخلطه

Adapun kemakruhan shalat yang ketujuh
(7) adalah memejamkan (kelopak) mata jika memang musholli takut akan bahaya, baik musholli adalah orang yang buta atau dapat melihat karena kelopak mata akan bersujud bersamanya. Jika ia tidak takut bahaya maka tidak dimakruhkan memejamkannya. Terkadang memejamkan mata diwajibkan ketika shof-shof sholat terdiri dari orang-orang yang sholat dalam keadaan telanjang. Terkadang memejamkan mata juga disunahkan ketika misal musholli sholat menghadap tembok yang terukir atau kaligrafi atau dihiasi yang dapat mengganggu pikirannya. Wallahu a’lamu bisshowab.

Kategori
Uncategorized

HUKUMNYA MAKAN BUAH MANGGA YANG POHONNYA DITANAM DIMASJID

HUKUMNYA MAKAN BUAH MANGGA YANG POHONNYA DITANAM DIMASJID.

Assalaamu’alaikum

Deskripsi masalah :
Tak jarang manakala kita berjalan kekota kita temui disebagian masjid ada pohon mangga yang buahnya mangga tersebut mengganggu ke rumah orang di bawahnya katakanlah mengganggu kerumah Ghafur bahkan Buah mangganya banyak yang jatuh dan sebagian busuk mengotori halaman rumahnya.

Pertanyaannya:

Bolehkah Ghafur mengambil buah mangga itu di rujak lalu dimakannya ?

Sebenarnya menanam pohon diMasjid itu ulama tidak memperbolehkan kecuali bumi yang ada pohon- pohonnya kemudian tempat tersebut diwakafkan untuk dijadikan masjid, bahkan Imam Syafi'i memakruhkan, karena menanam pohon dimasjid itu bukanlah pekerjaan ulama' salaf bahwa menurut pendapat yang shohih haram menanamya , jika sampai mengotori masjid, menyempitkan masjid, mana kala daun-daunnya jatuh begitu juga buah-bauhnya jatuh atau dijatuhkan oleh burung-burung lalu kenjing mengotori masjid, karena masjid dibangun untuk Zikir dan shalat juga untuk tempat membaca Al-Qur'an, maka dari itu ulama tidak memperbolehkan, bahkan boleh bagi imam untuk mencabutnya atau menebangnya.
Lalu bagaimana jika pohon itu sudah terlanjur ada atau memang sengaja ditanam yang kemudian berbuah bolehkah orang mengambilnya dan memakannya sebagaimana deskripsi?.

Jawabannya. Ditafsil
🅰️Jika pohon mangga ditanam memang bertujuan untuk masjid maka tidak boleh memakannya kecuali dengan ada ganti.sedangkan kemaslahatannya dikembalikan untuk masjid
🅱️ Jika pohon mangga ditanam memang disediakan untuk dimakan maka hukumnya boleh dengan tanpa ganti, begitu juga boleh memakannya jika tidak diketahuinya niatan menanamnya.

الموسوعة الفقهية – ٢٣٩٩١/٣١٩٤٩

وقال ابن قدامة: لا يجوز أن يغرس في المسجد شجرة وإن كانت النخلة في أرض فجعلها صاحبها مسجدا والنخلة فيها فلا بأس ويجوز أن يبيعها من الجيران، وفي رواية: لا تباع وتجعل للمسلمين وأهل الدرب يأكلونها، وقيل: إن المسجد إذا احتاج إلى ثمن ثمرة الشجرة بيعت وصرف ثمنها في عمارته، أما إن قال صاحبها: هذه وقف على المسجد  فينبغي أن يباع ثمرها ويصرف إليه (١) .
والمالكية لا يجيزون ذلك في المسجد وإن وقع قلع (٢) .
والشافعية قالوا بكراهة غرس الشجر والنخل وحفر الآبار في المساجد لما فيه من التضييق على المصلين، ولأنه ليس من فعل السلف، والصحيح تحريمه لما فيه من تحجير موضع الصلاة والتضييق وجلب النجاسات من ذرق الطيور، وقال الغزالي: لا يجوز الزرع فيه، وإن غرس غرسا يستظل به فهلك به إنسان فلا ضمان.
وقال الرافعي في كتاب الوقف: ولا ينبغي أن يغرس في المسجد شجر لأنه يمنع المصلين، قال في الروضة في باب السجدات: فإن غرس قلعه الإمام، وقال القاضي حسين في تعليقه في الصلاة: لا يجوز الغرس في المسجد ولا الحفر فيه؛ لأن ذلك مما يشغل المصلي.وقال في آخر كتاب الوقف: سئل أبو علي عبد الله الحناطي عن رجل غرس شجرة في المسجد كيف يصنع بثمارها؟ فقال: إن جعلها للمسجد لم يجز أكلها من غير عوض، ويجب صرفها إلى مصالح المسجد، ولا ينبغي أن يغرس في المساجد الأشجار لأنها تمنع الصلاة، فإن غرسها مسبلة للأكل جاز أكلها بلا عوض وكذا إن جهلت نيته حيث جرت العادة به

الفقه الإسلامي و أدلته - ٧٤٢٧/٧٧٢٢
هـ ـ لا يجوز نقل المسجد وإبداله وبيع ساحته، وجعلها سقاية وحوانيت إلا عند تعذر الانتفاع به.
ولا يجوز أن يغرس في المسجد شجرة كالنخلة وغيرها بعد أن صار مسجدا، وقال أحمد: لا أحب الأكل منها، ولو قلعها الإمام لجاز؛ لأن المسجد لم يبن لهذا، وإنما بني لذكر الله والصلاة وقراءة القرآن؛ ولأن الشجرة تؤذي المسجد، وتمنع المصلين من الصلاة في موضعها، ويسقط ورقها في المسجد وثمرها، وتسقط عليها العصافير والطير، فتبول في المسجد، وربما رمى الصبيان ثمرها بالحجارة.
أما إن كانت النخلة في أرض، فجعلها صاحبها مسجدا، والنخلة فيها، فلا بأس.

Ibnu Qudamah mengutip keterangan Abul Khatthab,

قال أبو الخطاب : عندي أن المسجد إذا احتاج إلى ثمن ثمرة الشجرة , بيعت , وصرف ثمنها في عمارته

Abu Khatthab mengatakan, Menurutku bahwa apabila masjid butuh dana dari buah pohon, maka hasilnya dijual, dan uangnya digunakan untuk kemakmuran masjid.

Ibnu Qudamah menjelaskanm mengutip perkataan Imam Ahmad terkait buah pohon di masjid,

وقال في رواية أبي طالب: لا تباع، وتجعل للمسلمين وأهل الدرب يأكلونها. وذلك – والله أعلم -، لأن صاحب الأرض لما جعلها مسجدا والنخلة فيها، فقد وقف الأرض والنخلة معها، ولم يعين مصرفها، فصارت كالوقف المطلق الذي لم يعين له مصرف

Beliau mengatakan menurut riwayat Abu Thalib, ‘Tidak boleh dijual, dan digunakan untuk kemaslahatan kaum muslimin atau musafir yang mampir boleh memakannya.’

Alasannya – Allahu a’lam – karena pemilik tanah ketika dia menjadikannya untuk masjid berikut pohon kurma yang ada di sana, berarti dia telah mewakafkan tanah dan berikut pohon kurma. Sementara ketika dia tidak menentukan penggunaannya, maka tanah dan pohon ini seperti wakaf muthlak, yang tidak ditentukan penggunaannya. (al-Mughni, 6/30)

Keterangan wakaf muthlak, bisa kita dapatkan di Hasyiyah al-Bujairami. Di sana dinyatakan,

وإن كان مسبّلا للأكل ، أو جهل قصد الغارس جاز من غير عوض , ومثلها ثمرة ما في المقبرة المسبلة وكجهل قصده ما إذا لم يكن له قصد , ومثله ما إذا نبتت فيه بنفسها

Jika pohon itu diwakafkan untuk dimakan atau tidak diketahui untuk orang yang menanamnya, maka boleh dimanfaatkan tanpa harus membayar. Termasuk buah dari pohon yang ada di pekuburan yang diwakafkan, sebagaimana wakaf yang tidak diketahui tujuannya, seperti pohon yang tumbuh di tanah wakaf dengan sendirinya. (Hasyiyah al-Bujairami, 3/103).

CATATAN.

Untuk menjaga kehati-hatian ” Wara’ ” lebih baik menayakan terlebih dahulu kepada Nadzir penanggung jawab pengelola wakaf masjid atau kepada Takmir Masjid agar tidak meragukan, apakah tanaman yang berbuah itu untuk masjid atau diperuntukkan orang secara umum untuk dimakan. Wallahu a’lam.

Kategori
Uncategorized

HUKUMNYA SAWER PADA PENYANYI ATAU QORI PADA ACARA RESEPSI PERNIKAHAN

HUKUMNYA SAWER (BERSEDEKAH ) PADA ACARA WALIMAH

Asslamualaikum
Biasanya manakala sebagian masyarakat Mengadakan acara Walimatul urs , walimatul hitan dll, mereka terkadang mengundang orkes dan penyanyi, gambus al-Banjari , atau shalawatan atau seorang Qori’ pada acara pengajian bergantung pada kehobiannya.Ketika acara dimulai terkadang penonton menyawer manakala narasi lagu dan syi’iran lantunan shalawat bagus dan menyentuh hati, atau lagu Qori’ seperti Nahawan , sika ros – yang menyentuh Kalbu lalu kemudian mereka nyawer ( memberi uang) sekedarnya, Tapi sebagian masyarakat menilai sawer itu kurang baik pasalnya termasuk menghambur-hamburkan harta.

Pertanyaan :

  1. Bagaimana hukum nyawer uang kepada penyanyi atau kepada qori’?
  2. Apa tidak termasuk membantu kegiatan kemaksiatan?

Waalaikum salam.

Jawaban : No 1

Hukum sawer memberikan uang diacara walimatul urs atau walimatul hitan kepada penyanyi, atau kepada qori’ adalah:

🅰️.Jika memberi Nyawer sebagai imbalan/pendukung nyayian dan musik hukunya haram , begitu juga halnya nyawer pada Qori’ yang mengganggu kekhusu’an atas ibadahnya orang yang membaca Al-Qur’an, dan termasuk menghina tidak menghormati al-Qur’an maka hukumnya haram.

Berikut hadits tentang mendukung pada kemaksiatan disebutkan dalam kitab Bidayatul hidayah.

كما قال صلى الله عليه وسلم: (من أعان على معصية ولو بشطر كلمة كان شريكا فيها) .

Sebagaimana apa yang telah Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam sabdakan :

من أعان على معصية ولو بشطر كلمة كان شريكا له فيها

“Barangsiap yang saling menolong atas kemaksiatan meskipun dengan setengah kalimat maka ia itu termasuk bekerja sama dalam bermaksiat.” 

Sebagaimana firman Allah.

تعاونوا على البر والتقوى ولاتعاونوا على الإثم والعدوان

Tolong menolonglah kamu sekalian dalam kebaikan dan takwa, dan jangan tolong menolong kamu sekalian pada perbuatan dosa dan permusuhan.

Berikut hadits Rasulullah saw tentang larangan mengganggu ibadahnya orang membaca Al-Qur’an :

أفضل عبادة أمتي قرآءة القرآن

Paling utamanya ibadah umatku adalah membaca Al-Qur’an.

اعْتَكَفَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فِى الْمَسْجِدِ فَسَمِعَهُمْ يَجْهَرُونَ بِالْقِرَاءَةِ فَكَشَفَ السِّتْرَ وَقَالَ : « أَلاَ إِنَّ كُلَّكُمْ مُنَاجٍ رَبَّهُ فَلاَ يُؤْذِيَنَّ بَعْضُكُمْ بَعْضًا وَلاَ يَرْفَعْ بَعْضُكُمْ عَلَى بَعْضٍ فِى الْقِرَاءَةِ »

Ketika Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam i’tikaf di masjid, beliau n pernah mendengar para sahabat saling mengeraskan suara saat membaca al-Qur’ân, maka Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam pun keluar menemui mereka seraya bersabda, “Ketahuilah, bahwasanya kalian ini sedang bermunajat kepada Allâh Azza wa Jalla . Janganlah kalian saling mengganggu satu sama lain dan jangan pula kalian saling mengangkat suara dalam membaca al-Qur’ân atau berdzikir”. [HR Abu Dâwud, 1334].

Dari Abdullah bin ‘Amr bin al ‘Aash radhiyallahu ‘anhu , Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ وَالْمُهَاجِرُ مَنْ هَجَرَ مَا نَهَى اللَّهُ عَنْهُ

“Orang muslim itu adalah orang yang kaum muslimin lainnya selamat dari gangguan lisan dan tangannya. Dan seorang muhajir (orang yang berhijrah) adalah orang yang meninggalkan apa yang dilarang oleh Allah.”

عن عبد الله بن عمرو وجابر بن عبد الله رضي الله عنهم مرفوعاً: «المسلمُ من سَلِمَ المسلمونُ من لسانهِ ويَدِهِ، والمهاجرُ من هَجَرَ ما نهى اللهُ عنهُ». وعن أبي موسى رضي الله عنه قال: قلتُ: يا رسولَ اللهِ أَيُّ المسلمينَ أَفْضَلُ؟ قال: «مَنْ سَلِمَ المسلمونُ من لِسانِهِ وَيَدِه  
[صحيح] – 

حديث عبد الله بن عمرو رضي الله عنه: متفق عليه. حديث جابر رضي الله عنه: رواه مسلم. حديث أبي موسى رضي الله عنه: متفق عليه

الشرح

المسلم من سلم المسلمون من لسانه فلا يسبهم، ولا يلعنهم، ولا يغتابهم، ولا يسعى بينهم بأي نوع من أنواع الشر والفساد، وسلموا من يده فلا يعتدي عليهم، ولا يأخذ أموالهم بغير حق، وما أشبه ذلك، والمهاجر من ترك ما حرم الله تعالى

🅱️ Jika memberi karena takut dari gangguan penganiayaan orang yang dhalim, maka hukumnya tidak haram, namun Haram diterima, oleh penyanyi atau Qori’.sebagaimana keterangan dalam kitab Mughni berikut:

مغنى المحتاج. ج ٢ ص ٣٣٧

وجعل فى التنبيه من المحرمات الغناء ، وفيه كلام ذكرته فى شرحه ، ولايجوز أخذ العوض على شيئ من ذلك كبيع الميتة : أماالإستئجار على حمل الخمر للإراقة أو حمل المحترمة فجائز كنقل الميتة إلى المزبلة، وكما يحرم أخذ الأجرة على المحرمة يحرم إعطائها إلا لضرورة ، وإعطاءِ الشاعر لئلايهجوه ، والظالم ليدفع ظلمه ، والحاكم ليحكم بالحق ، فلايحرم الإعطاء عليها.

Beliau menganggap nyanyian itu haram, dan ada perkataan yang saya sebutkan dalam penjelasannya, dan tidak boleh mengambil imbalan apapun, seperti menjual bangkai hewan, adapun mempekerjakan seseorang untuk membawa anggur untuk persembahan, atau untuk membawa hewan yang suci, hal ini diperbolehkan, seperti mengangkut hewan yang mati ke tempat pembuangan kotoran, dan sebagaimana dilarangnya mengambil bayaran dari hewan yang haram, maka dilarang pula memberikannya kecuali karena dalam kondisi dloruroh, dan memberi kepada seorang penyair. agar dia tidak menghinanya, dan memberi kepada orang yang dhalim agar tertolak penganiayaannya, dan penguasa harus memerintah dengan benar (adil), maka tidak dilarang memberi padanya.

بغية المسترشدين، ١٩٥;١٩٦)
(مَسْئَلَةٌ)
مَا جَرَتْ بِهِ عَاَدةُ اّلنَاسِ فِي اْلأَفْرَاحِ كَالْعُرْسِ وَاْلخِتَانِ وَغَيْرِهِمَا مِنْ اَنَّ نَحْوَ اْلمُزَيِّنِ اّلَذِيْ يَخْدِمُ صَاحِبَ اْلفَرَحِ يَضَعُ طَاسَةً بَيْنَ يَدَيْ صَاحِبِ اْلفَرَحِ فَيَطْرَحُ كُلُّ وَاحِدٍ مِنَ الّنَاسِ شَيْئًا صَاحِبَ اْلفَرَحِ مِنَ الّدَرَاهِيْمِ بِقَدْرِهِ عَلَى طَرِيْقَةِ اْلمُعَاوَنَةِ لَهُ فِيْ ذَلِكَ وَيَطْرَحُ فِي الّطَاسَةِ اْلمَذْكُوْرَةِ أَيْضًا شَيْئًا مِنَ الّدَرَاهِمَ يَقْصِدُ بِهِ اْلمُزَيِّنُ وَمَنْ حَضَرَ مَعَهُ اْلمُزَيِّنِيْنَ اْلمُعَاوَنِيْنَ لَهُ فِي اْلخِدْمَةِ الْمُخْتَاجِ إِلَيْهَا فِي ْالَفرَحِ الْمَذْكُوْرِ وَجَرَتِ اْلعَادَةُ بِقِسْمَةِ ذَلِكَ بَيْنَ مَنْ حَضَرَ كُلٌّ بِمَا يَلِيْقُ بِه ِبِحَسَبِ مُعَاوَنَتِهِ وَمَا بَقِيَ يَأْخُذُهُ اْلمَزَيِّنُ اْلمَذْكُوْرُ فَالْمُجْتَمِعُ مِنَ الّدَارَهِمِ فِي الطَّاسَةِ اْلمَذْكُوْرَةِ يَكُوْنُ بَيْنَ الْمَذْكُوْرِيْنَ عَلَى مَا جَرَتْ بِهِ اْلعَادَةُ وَاْلعُرْفُ فِيْ كَيْفِيَةِ قِسْمَتِهِ أَخْذًا ِمَّما ذَكَرَ ْابنُ الّصَلَاحِ فِيْ الَوقْفِ اَِّن اْلعَادَةَ الْمُقَارَنَةَ لِلْوَقْفِ بِمَنْزِلَةِ الشرْطِ فَلَيْسَ لِلْمُزِّينِ أَخْذًا.

(SATU PERSOALAN ) Hal inilah yang menjadi adat istiadat masyarakat dalam acara perkawinan, seperti pernikahan, khitanan, dan lain-lain, seperti penghias yang melayani orang yang merayakan meletakkan mangkok diantara tangan orang yang membawa keceriaan, masing-masing umat melempar. sebanyak-banyaknya uang yang dia mampu untuk membantunya dalam hal itu dan melemparkannya kepada orang yang berbahagia. Mangkuk tersebut juga berarti sesuatu yang terbuat dari dirham. Bersama dialah yang menghiasi dan mereka yang hadir bersamanya adalah para penghias yang membantunya dalam hal itu. layanan yang dia butuhkan dalam kegembiraan tersebut di atas.

Adatnya uang itu dibagikan kepada yang hadir, masing-masing menurut apa yang cocok bagi dirinya, menurut bantuannya, dan sisanya diambil oleh penghias tersebut, sehingga masyarakat menyetujuinya. keduanya disebutkan, menurut apa yang menjadi adat dan adat istiadat mengenai cara pembagiannya, berdasarkan apa yang disebutkan oleh Ibnu al-Sa’l.Terbukti dalam wakaf bahwa kebiasaan membandingkan wakaf sama kedudukannya dengan suatu syarat. , jadi tidak ada bagi yang berhias berhak mengambilnya.

Jawaban. No.2

Jika dalam acaranya jelas mengandung maksiat maka termasuk membantu kepada maksiat, hal itu dilarang dalam agama.

(إسعاد الرفيق ج، ٢/١٢٧)
( ومنها (الاعانة على المعصية) اي عَلَى مَعْصِيَةٍ مِنْ مَعَاصِي اللهِ بِقَوْلٍ اَوْ فِعْلٍ اَوْغَيْرِهِ ثُمَّ اِنْ كَانَ اْلمَعْصِيَةُ كَبِيْرَةً كَانَتِ اْلاِعَاَنةُ عَلَيْهَا كبَِيْرَةً كَذَلِكَ كَمَا فِيْ الّزََوَاجِرِ اهـ

(Is’ād ar-Rafīq, Juz 2/127)

 

“Di antaranya adalah membantu dalam kemaksiatan, yaitu membantu dalam suatu maksiat dari maksiat-maksiat kepada Allah, baik dengan ucapan, perbuatan, atau lainnya. Kemudian, jika maksiat tersebut termasuk dosa besar, maka membantu dalam maksiat itu juga dihukumi sebagai dosa besar, sebagaimana yang disebutkan dalam Az-Zawājir.”

حاشية الصاوي على تفسير الجلالين (ص: ١٦٩٣، بترقيم الشاملة آليا)
قوله: (أي أقبح جزاء عملهم أشار بذلك إلى أن الكلام على حذف مضاف، دفعاً لما قد يتوهم أنهم يجزون بنفس عملهم الذي عملوه في الدنيا كالكفر مثلاً، والمعنى أن المستهزئين برسول الله يجازون بأقبح جزاء أعمالهم، وفي هذه الآية وعيد لكل من يفعل اللغط في حال قراءة القرآن، ويشوش على القارئ ويخلط عليه، فإنه حرام بإجماع إن لم يقصد إبطال النفع بالقرآن كراهة فيه، وإلا فهو كافر.
دليل الفالحين لطرق رياض الصالحين (٢٦٦)
باب التحذير من إيذاء الصالحين يحتمل أن يراد به المعنى الأعم: أي المسلمين كما حمل عليه الولد الصالح في قوله: «إذا مات ابن آدم انقطع عمله إلا . ثلاث الحديث، ويشهد لهذا الآية الأولى ويحتمل أن يراد به المعنى الخاص، وهو القائم بما عليه من حق الله سبحانه أو لأحد من عباده ( والضعفة) جمع ضعيف والمساكين المراد منه ما يشمل الفقراء والمراد التحذير من إيذاء من لا ناصر له إلا الحق سبحانه من صالح ومسكين وضعيف لا يؤبه به ولا يقام للتعرض، وظاهره أن الكلام في الإيذاء بغير حق كما في الآية فلا يرد نحو حد لأنه مأمور به قال الله تعالى: {والذين يؤذون المؤمنين والمؤمنات بغير ما اكتسبوا ) (بغير جناية استحقوا بها ) ( فقد احتملوا بهتاناً وإثماً مبيناً ) ( ظاهراً قيل إنها نزلت في المنافقين يؤذون علياً رضي الله عنه وقيل في أهل الإفك، وقيل في زناة كانوا يتبعون النساء وهن كارهات

Hasyiah al-Shawawi pada Tafsir al-Jalalayn (hal. 1693, nomor halaman menurut sistem penomoran al-Shamila):
Beliau (yakni penulis tafsir) berkata, “(Artinya: yaitu balasan yang paling buruk atas perbuatan mereka).” Beliau mengisyaratkan dengan ini bahwa kata (yang seharusnya menjadi) tambahan di sini dihilangkan, untuk menolak dugaan bahwa mereka akan mendapat balasan yang sama dengan perbuatan mereka di dunia, seperti perbuatan kafir misalnya. Maksudnya adalah bahwa orang-orang yang meremehkan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam akan mendapat balasan yang paling buruk atas perbuatan mereka. Dan dalam ayat ini terdapat ancaman bagi siapa saja yang membuat keributan ketika membaca Al-Qur’an, dan mengganggu pembaca serta membuat bingung, maka hal itu haram secara ijma’ (konsensus ulama), jika ia tidak bermaksud menghilangkan manfaat Al-Qur’an karena membencinya. Jika niatnya demikian, maka ia kafir.
Terjemahan Dalil al-Falihin li Thuruq Riyad al-Salihin (hal. 266):
Bab tentang peringatan untuk tidak menyakiti orang-orang saleh, kemungkinan yang dimaksud adalah makna yang lebih luas, yaitu seluruh umat Islam, sebagaimana yang dipahami dari hadits tentang anak yang saleh, yang berbunyi: “Apabila seorang anak Adam meninggal, maka terputuslah amalnya kecuali…” dan seterusnya. Ayat pertama ini mendukung makna yang lebih luas tersebut. Namun, kemungkinan juga yang dimaksud adalah makna yang lebih khusus, yaitu orang yang menjalankan kewajiban terhadap Allah Subhanahu wa Ta’ala atau terhadap salah seorang hamba-Nya. (Kata) “al-dha’ifah” (yang lemah) merupakan bentuk jamak dari “dha’if” (lemah) dan “al-masakin” (orang miskin), yang maknanya mencakup orang-orang miskin. Maksudnya adalah peringatan untuk tidak menyakiti orang yang tidak memiliki penolong kecuali Allah Subhanahu wa Ta’ala, yaitu orang yang saleh, miskin, dan lemah yang tidak diperhatikan dan tidak diperhitungkan. Dan yang tampak jelas adalah bahwa pembicaraan di sini adalah tentang penyiksaan tanpa hak, sebagaimana dalam ayat ini, sehingga tidak berlaku untuk hukuman, karena hukuman adalah sesuatu yang diperintahkan. Allah Ta’ala berfirman: “Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang yang beriman dan orang-orang yang beriman perempuan tanpa suatu dosa yang mereka lakukan” (yaitu tanpa kejahatan yang mereka perbuat), “maka sesungguhnya mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata.” (Ayat ini) secara zahir dikatakan turun berkenaan dengan orang-orang munafik yang menyakiti Ali radhiyallahu anhu, atau dikatakan turun berkenaan dengan orang-orang yang berbuat fitnah, atau dikatakan turun berkenaan dengan orang-orang yang berzina yang mengikuti perempuan sedangkan mereka tidak mau ( benci).

نهاية المحتاج إلى شرح المنهاج (٤١٦٧)

(حاشية الرملي) (قَوْلُهُ: تُعْتَبَرُ قَرِينَةً دَالَّةٌ عَلَى الاسْتِهْزَاءِ وَعَلَيْهِ فَمَا جَرَتْ الْعَادَةُ بِهِ مِنَ الْبَصَاقِ عَلَى التَّوْحِ لِإِزَالَةِ مَا فِيهِ لَيْسَ بِكُفْرٍ، وَيَنْبَغِي عَدَمُ حُرْمَتِهِ أَيْضًا، وَمِثْلُهُ مَا جَرَتْ الْعادَةُ بِهِ أَيْضًا مِنْ مَضْعُ مَا عَلَيْهِ قُرْآنُ أَوْ نَحْوُهُ لِلتَّبَرُّكِ بِهِ أَوْ لِصِيَانَتِهِ عَنْ النَّجَاسَةِ. وَبَقِيَ مَا وَقَعَ السُّوَّالُ عَنْهُ وَهُوَ أَنَّ الْفَقِيهَ مَثَلًا يَضْرِبُ الْأَوْلَادَ الَّذِينَ يَتَعَلَّمُونَ مِنْهُ بِأَلْوَاحِهِمْ هَلْ يَكُونُ ذَلِكَ كُفْرًا أَمْ لَا وَإِنْ رَمَاهُمْ بِالْأَلْواحِ مِنْ بَعْدِ فِيهِ نَظَرٌ، وَالْجَوابُ عَنْهُ بِأَنَّ الظَّاهِرَ الثَّانِي؛ لِأَنَّ الظَّاهِرَ مِنْ حَالِهِ أَنَّهُ لَا يُرِيدُ الِاسْتِخْفَافَ بِالْقُرْآنِ، نَعَمْ يَنْبَغِي حُرْمَتُهُ لِإِشْعَارِهِ بِعَدَمِ التَّعْظِيمِ كَمَا قَالُوهُ فِيمَا لَوْ رَوْحَ بِالْكُرَّاسَةِ عَلَى وَجْهِهِ، وَقَالَهُ حَجَ فِي الْفَتَاوَى الْحَدِيثِيَّةِ

إسعاد الرفيق الجزء الثاني ص: ٥٦

ومنها الإستهانة بما عظم الله والتصغير بما عظم الله من طاعة أو معصية أو شيء من قرآن أو من أمره أو من نهيه أو وعده أو وعيده أو بشيء من علم شرعي وآلته أو جنة أو نار فكل ذلك من المعاصي الموبقات والخبائث المهلكات بل بعضها إذا قصدت به الإستهزاء يجري إلى الكفر والعياذ بالله ذلك كما تقدم أول الكتاب فانظر إلى إبليس لما أمر بسجود كيف أبعده الله من رحمته لإستصغاره ما عظم الله حيث قال لا أسجد لمن خلقت طينا وقال أنا خير منه خلقتني من نار وخلقته من طين وقد قال الله تعالى منوها بتعظيم ما عظمه ومن يعظم حرمات الله ومن يعظم شعائر الله والله أعلم إهـ

Nihayatul Muhtaj ila syarhi al-Minhaj (halaman 4167)

(Catatan kaki oleh ar-Ramli): (Beliau berkata: “Perbuatan tersebut dianggap sebagai qorinah yang menunjukkan atas penghinaan. Oleh karena itu, apa yang biasa dilakukan orang untuk meludahkan pada tanah liat (untuk menghilangkan kotoran yang menempel), itu bukan kufur. Dan seharusnya tidak dihormati juga. Begitu pula hal yang sama dengan kebiasaan meludahkan apa yang ada di atasnya Al-Qur’an atau yang semisalnya untuk mendapatkan berkah atau untuk menjaganya dari najis. Dan masih ada pertanyaan yang belum terjawab, yaitu seorang faqih misalnya memukul anak-anak yang belajar darinya dengan papan tulis mereka, apakah itu termasuk kufur atau tidak? Dan jika dia melemparkan papan tulis itu setelah itu, maka perlu diperhatikan. Jawabannya adalah yang kedua lebih kuat, karena yang tampak dari keadaannya adalah dia tidak bermaksud untuk meremehkan Al-Qur’an. Memang, perbuatan itu harus dihindari karena menunjukkan kurangnya penghormatan, sebagaimana yang mereka katakan tentang seseorang yang meletakkan buku catatan di wajahnya. Dan hal ini juga disebutkan oleh al-Hajj dalam fatwa-fatwa hadis.”)

Referensi 

Is’ad ar-Rafiq, Bagian Kedua, halaman 56

Di antaranya adalah meremehkan apa yang telah Allah muliakan dan memperkecil apa yang telah Allah muliakan, baik itu berupa ketaatan, maksiat, sebagian dari Al-Qur’an, atau perintah-Nya, larangan-Nya, janji-Nya, ancaman-Nya, atau sesuatu dari ilmu syari’at dan alatnya, seperti surga atau neraka. Semua itu termasuk dosa besar, kejelekan, dan penyebab kebinasaan. Bahkan sebagian di antaranya, jika dilakukan dengan tujuan menghina, maka akan mengarah pada kufur. Naudzubillah min dzalik. Hal ini sebagaimana telah disebutkan di awal kitab. Perhatikanlah Iblis, ketika diperintahkan untuk sujud, bagaimana Allah menjauhkannya dari rahmat-Nya karena meremehkan apa yang telah Allah muliakan, ketika dia berkata, “Aku tidak akan sujud kepada orang yang Engkau ciptakan dari tanah liat”, dan dia berkata, “Aku lebih baik darinya, Engkau ciptakan aku dari api dan Engkau ciptakan dia dari tanah liat”. Dan Allah Ta’ala telah berfirman dengan menunjukkan kepada kita untuk memuliakan apa yang telah Dia muliakan, “Barangsiapa memuliakan apa yang telah Allah muliakan, maka sesungguhnya Allah telah memuliakan orang-orang yang beriman.” Dan Allah SWT Maha Mengetahui. 

Wallahu A’lam Bisshowab

Kategori
Uncategorized

HUKUMNYA MENJAWAB ADZAN KETIKA BUANG AIR BESAR DI WC

HUKUNYA MENJAWAB ADZAN KETIKA BUANG AIR BESAR DI WC.

Assalamualaikum.
Ketika Faiz buang air besar berda di WC lalu terdengar adzan dikumandangkan.

Pertanyaan
Bagaimana hukumnya Faiz menjawab adzan ketika buang air besar berada diWC..?

Waalaikun salam.
Hukumnya menjawab adzan ketika seseorang buang air besar berada di WC adalah makruh tanzih , alasannya karena berdzikir dan juga berbicara ketika berada di WC dilarang kecuali dzikir dalam hati, namun demikian tetap disunnatkan menjawabnya setelah keluar dari WC jika jaraknya tidak lama atau menjawabnya didalam hatinya.

الأذكار للنووى ص ٢٨

ـ (باب النهي عن الذكر والكلام على الخلاء) يكره الذكر والكلام حال قضاء الحاجة، سواء كان في الصحراء أو في البنيان، وسواء في ذلك جميع الأذكار والكلام، إلا كلام الضرورة حتى قال بعض أصحابنا : إذا عطس لا يحمد الله تعالى، ولا يشمت عاطسا، ولا يرد السلام، ولا يجيب المؤذن، ويكون المسلم مقصرا لا يستحق جوابا، والكلام بهذا كله مكروه كراهة تنزيه، ولا يحرم، فإن عطس فحمد الله تعالى بقلبه ولم يحرك لسانه فلا بأس، وكذلك يفعل حال الجماع


Referensi:

الفقه الإسلامي و أدلته – ٦٩٥/٧٧٢٢

وتشمل الإجابة عند الجمهور كل سامع، ولو كان جنبا أو حائضا أو نفساء، أو كان في طواف فرضا أو نفلا، ويجيب بعد الجماع والخلاء والصلاة ما لم يطل الفصل بينه وبين الأذان.
وقال الحنفية: تشمل الإجابة من سمع الأذان ولو كان جنبا، لا حائضا ونفساء وسامع خطبة وفي صلاة جنازة، وجماع، ومستراح في بيت الخلاء، وأكل، وتعليم علم وتعلمه، لكن في أثناء قراءة القرآن يجيب لأنه لا يفوت، وتكرار القراءة للأجر.

Referensi:

 فيض القدير ج.٥ ص ٤٢٤

فتتأكد مداومة ذكر الله تعالى في جميع الاحوال لكن يستثنى من الذكر القرآن حال الجنابة بقصده فإنه حرام ويستثنى من عمومه أيضا المجامع وقاضي الحاجة فيكره لهما الذكر اللساني أما القلبي فمستحب على كل حال

Referensi:

 إعانة الطالبين ج.١ص٢٤١

وتكره لمجامع وقاضي حاجة، بل يجيبان بعد الفراغ

(وقوله وتكره)

أى إجابة وهذا تقييد لقوله وسن لسامهمافكأنه قال ومحل سنية ذلك له مالم يكن فى حال سماعه مجامعا أو قضى حاجة فإن كان كذلك لايسن ذلك بل يكره (وقوله بل يجيبان) أى المجامع وقاضي الحاجة وقوله بعد الفراغ أى من الجماع وقاضي الحاجة

.والله أعلم بالصو.ابب

Kategori
Uncategorized

HUKUMNYA RAMBUT DAN PAKAIAN YANG TERKENA ASAP NAJIS (SATE BABI)ATAU ASAP YANG TIMBUL DARI NAJIS LAINNYA

HUKUMNYA RAMBUT DAN PAKAIAN YANG TERKENA ASAP NAJIS ( SATE BABI ) ATAU ASAP YANG TIMBUL DARI NAJIS LAINYA

Assalamualaikum

Deskripsi masalah

Pada waktu pagi tepatnya hari minggu sebut saja Faiz sedang libur bekerja di PT SATOS dia berjalan-jalan di depan warung sate babi, kemudian Faiz membelai rambutnya ternyata basah terkena asap sate babi tersebut, hingga ketika Faiz mencoba mencium rambutnya berbau sate babi.

Pertanyaan nya

  1. Bagaimana hukum rambut Faiz?
  2. Apa hukumnya asap yg dihasilkan dari sesuatu yg najis?

Waalaikum salam.
Jawaban.

  1. Rambutnya Faiz dihukumi najis. Dikarena ada bekas sifat najis (bau sate babi) .
    Referensi

الفقه الإسلامي و أدلته – 312/7722

ويعفى عن أثر الاستجمار (1) بعد الإنقاء واستيفاء العدد المطلوب في الاستجمار. وعن يسير طين شارع تحققت نجاسته لمشقة التحرز منه.
وعن يسير سلس بول، مع كمال التحفظ منه، للمشقة.
وعن يسير دخان نجاسة وغبارها وبخارها، ما لم تظهر له صفة في الشيء الطاهر، لعسر التحرز

  1. Hukum asap yang sedikit tafsil :
    a. Imam Romli : di ma’fu (tidak najis) Jika asap tersebut,
    ✓ Bukan dari najis mughalladoh
    ✓ Tidak membuat basah tempat yang terkena najis.

b. Mayoritas ulama’
Menghukumi Ma’fu jika;
✓ Tidak menimbulkan basah pada tempat yang terkena asap.
✓ Bukan atas kelakuan sendiri

Referensi:

اعانة الطالبين جز ١ص ٨٨

ويعفى عن يسير عرفا من دخان النجاسة وهو المتصاعد منها بواسطة النار…سمفى… بشرط ان لا توجد رطوبة فى المحل وان لا يكون بفعله والا فلا يعفى مطلقا لتنزيلهم الدخان منزلة العين

Referensi:

حاشية البجيرمي علي الخطيب ج١ ٢٩٧
قَوْلُهُ : ( وَعَنْ قَلِيلِ دُخَانٍ نَجِسٍ ) وَلَوْ مِنْ مُغَلَّظٍ ، وَقَيَّدَهُ م ر بِغَيْرِ الْمُغَلَّظِ وَبِعَدَمِ الرُّطُوبَةِ ، وَالْأَوْلَى قِرَاءَتُهُ بِالتَّنْوِينِ لِيَشْمَلَ دُخَانَ الْمُتَنَجِّسِ كَحَطَبٍ تَنَجَّسَ بِبَوْلٍ ، فَإِنَّهُ نَجِسٌ يُعْفَى عَنْ قَلِيلِهِ كَمَا قَالَهُ ز ي .

Referensi:


.(بغية المسترشدين ص.١٣)

(مسألة ب) الفرق بين دخان النجاسة وبخارها ان الأول انفصل بواسطة نار والثانى لابواسطتها فاله الشيخ زكريا وفال ابو محرمة هما مترادفان فما انفصل بواسطة نار تنجس وما لا فلا اما نفس الشعلة اى لسان النار فطاهرة قطعا حتى لو اقتبس منها فى شمعة لم يحكم بنجاستها.

Referensi:

تحفة الحبيب على شرح الخطيب – (1 /136 -135)
قوله : ( وعن قليل دخان نجس ) ولو من مغلظ ، وقيده م ر بغير المغلظ وبعدم الرطوبة ، والأولى قراءته بالتنوين ليشمل دخان المتنجس كحطب تنجس ببول ، فإنه نجس يعفى عن قليله كما قاله زي ، لأنه إن قرىء بالإضافة لا يشمله ، وبه يعلم ما عمت به البلوى في الشتاء ، ولو نشف شيئاً رطباً على اللهب المجرد عن الدخان لم يتنجس وهو ظاهر ، وخرج بالدخان الهباب فظاهره أنه لا يعفى عنه كما قاله العناني ، ومال ع ش إلى طهارة اللهب الحاصل من الشمعة النجسة ولهب الجلة والحطب المتنجس الخالي عن الدخان ، ونقل بعضهم عن ابن العماد نجاسته اه برماوي . وكتب ا ج ظاهره ولو كان الدخان بفعله أو من دخان مغلظ ، وإطلاق م ر كما هنا يقتضي العفو مطلقاً ،

Wallahu A’lam bisshowab

Kategori
Uncategorized

DILEMA PERNIKAHAN OLEH ORANG TUA WALI YANG ANAKNYA TIDAK SEKUFU’ DENGAN PILIHANNYA

DILEMA PERNIKAHAN OLEH ORANG TUA WALI YANG ANAKNYA TIDAK SEKUFU’ ( SEPADAN ) DENGAN PILIHANNYA

Asslmualaikum wr wb

Deskripsi masalah.
Disuatu daerah katanlah Desa Sidodadi dilangsungkan akad nikah atau perkawinan Fulan dan Fulanah sementara ketika diakad cantin perempuan tidak tahu karena ada dipondok dan cantin tidak mau dinikahkan dengan si Fulan dikarenakan tidak kufu’ atau tidak cocok atas pilihan orang tuanya, namun orang tuanya memaksa agar tetap menikah dengan si Fulan hingga akad nikah berlangsung tanpa sepengetahuan si Fulanah tersebut.

Pertanyaannya.

Bagaimana hukumnya pernikahan tanpa sepengetahuan putrinya sedangkan putrinya tidak mau terhadap pria tersebut, apakah tetap sah atau gmn?

Terima kasih

Waalikum salam.
Jawaban.

Hukum akad nikah Fulan dengan Fulanah ) tetap sah, apabila pasangan keduanya dianggap kufu’ menurut orang tuanya, walaupun tanpa sepengetahuan anaknya , karena kufu’ juga hak ortu, namun tidak sempurna dikarenakan tidak adanya kekufu’an Fulanah atas pilihan orang tuanya , selain itu karena kufu’ bukanlah syarat sahnya nikah melainkan kufu’ sebagai syarat tetapnya perkawinan, oleh karena itu jika seorang perempuan menikah dengan lelaki yang tidak sekufu’ maka akad nikahnya tetap sah, hanya saja tidak memenuhi syarat tetapnya pernikahan, maka dalam rangka untuk memenuhi tetapnya perkawinan mukaafa’ah dalam pernikahan sangat dianjurkan untuk dicari dengan demikian wali punya hak untuk memaksa menikahkan anaknya yang masih perawan walau pun tanpa seidzin dari anaknya, namun sunnah idzin terlebih dahulu kepadanya.

الفقه الإسلامي و أدلته – ٦٥٢٢/ ٧٧٢٢

المبحث الثاني ـ نوع شرط الكفاءة:
هل الكفاءة شرط صحة أو شرط لزوم؟ اتفق فقهاء المذاهب الأربعة في الراجح عند الحنابلة والمعتمد عند المالكية والأظهر عند الشافعية (١) على أن الكفاءة شرط لزوم في الزواج، وليست شرطا في صحة النكاح، فإذا تزوجت المرأة غير كفء، كان العقد صحيحا، وكان لأوليائها حق الاعتراض عليه وطلب فسخه، دفعا لضرر العار عن أنفسهم، إلا أن يسقطوا حقهم في الاعتراض فيلزم، ولو كانت الكفاءة شرط صحة لما صح، حتى ولو أسقط الأولياء حقهم في الاعتراض؛ لأن شرط الصحة لا يسقط بالإسقاط.
وأخذ القانون السوري (م ٢٦) باعتبار كون الكفاءة شرط لزوم، ونص هذه المادة: «يشترط في لزوم الزواج أن يكون الرجل كفئا للمرأة» ونصت المادة (٢٧) على أنه: «إذا زوجت الكبيرة نفسها من غير موافقة الولي، فإن كان الزوج كفئا، لزم العقد، وإلا فللولي طلب فسخ النكاح» وهذا هو المختار لدى واضعي قانون الأحوال الشخصية في مصر.

KAFAAH ISIM MASDARNYA MUKAAFAAH YANG LUMRAH DISEBUT KUFU’

Artinya ada persamaan tingkat dan derajat,walaupun tidak mutlak, namun lebih kurang ada titik persamaan.
Sebagian besar para ulama fiqih berpendapat, bahwa kufu’ itu adalah hak bagi istri dan wali.Maka wali tidak boleh mengawinkan seorang wanita dengan laki-laki yang tidak sekufu’, kecuali atas persetujuan dari semua walinya, yakni seluruh keluarganya.Karena mengawinkannya dengan yang tidak sekufu’ , berarti menimpakan malu terhadap dirinya dan seluruh keluarganya.
Dasar-dasar Kufu’ adalah hadits sebagai berikut;

الفقه الإسلامي و أدلته – ٦٥٢٩/٧٧٢٢

. أما الكفاءة في الزواج فلتحقيق مصالح الزوجين من دوام العشرة مع المودة والألفة بينهما، ولا تتحقق تلك المصالح إلا باشتراط الكفاءة. وحديث ابن عمر: «العرب بعضهم أكفاء لبعض، قبيلة بقبيلة، ورجل برجل، والموالي بعضهم أكفاء لبعض، قبيلة بقبيلة، ورجل برجل إلا حائك أو حجام» (١).وحديث عائشة وعمر: «لأمنعن تزوج ذوات الأحساب إلا من الأكفاء» (٢).وحديث أبي حاتم المزني: «إذا أتاكم من ترضون دينه وخلقه، فأنكحوه، إلا تفعلوه، تكن فتنة في الأرض وفساد كبير» (٣) وفيه دليل على اعتبار الكفاءة.وحديث بريدة المتقدم الذي جعل فيه النبي صلى الله عليه وسلم الخيار لفتاة زوجها أبوها ابن أخيه ليرفع بها خسيسته (٤).وحديث «العلماء ورثة الأنبياء» (٥) وحديث «الناس معادن كمعادن الذهب والفضة، خيارهم في الجاهلية خيارهم في الإسلام، إذا فقهوا» (٦).قال الشافعي: أصل الكفاءة في النكاح حديث بريرة، فقد خيرها النبي صلى الله عليه وسلم، لما لم يكن زوجها كفئا لها بعد أن تحررت، وكان زوجها عبدا.
وقال الكمال بن الهمام (٧): هذه الأحاديث الضعيفة من طرق عديدة يقوي

Adapun kesetaraan ( kufu’) dalam perkawinan adalah merupakan kenyataan untuk mencapai kemaslahatan pasangan suami istri melalui pergaulan yang terus-menerus dengan cinta dan kasih sayang di antara mereka, dan kenyataan tersebut tidak dapat dicapai kecuali dengan menuntut kesetaraan. Dan hadits Ibnu Umar: “Orang-orang Arab itu sederajat satu sama lain, suku dengan suku, dan seorang laki-laki dengan lelaki lain, dan para penguasa adalah setara satu sama lain, suku dengan suku, dan seorang laki-laki dengan lelaki lain, kecuali penenun atau pembuat bekam. Dan hadits Aisyah dan Umar: “Aku akan mengharamkan pernikahan wanita yang memiliki hubungan intim kecuali mereka yang sederajat” . Dan hadits Abu Hatim Al-Muzani: “Jika seseorang datang kepadamu yang agamanya dan akhlaknya kamu tidak ( puas), maka nikahilah dia, jika kamu tidak melakukan hal itu, maka akan terjadi perselisihan atau fitnah di bumi dan kerusakan yang besar( meluas)” dan itu mengandung bukti bahwa kesetaraan diperhitungkan.Dan hadits Buraydah tersebut di atas yang di dalamnya Nabi Muhammad SAW memberikan pilihan kepada anak perempuan suaminya, ayahnya adalah keponakannya, agar keburukannya dapat dihilangkan melalui dia . Dan hadits “Para ulama adalah ahli waris” para nabi” .dan hadis “
“Sesungguhnya manusia itu seperti tambang perak dan emas. Mereka yang terhormat pada masa masa jahiliah akan terhormat pula di masa lslam, jika mereka memahami (lslam).

Adapun asal muasal keseteraan dalam pernikahan itu adalah hadis Barirah, Nabi Muhammad SAW memberikan pilihan kepadanya, ketika suaminya tidak cocok untuknya setelah dia dibebaskan, dan suaminya adalah seorang budak. Al-Kamal bin Al-Hammam berkata: Hadits-hadits ini lemah namun diperkuat dengan banyak cara atau jalan .

Mukaafaah atau yang biasa disebut kufu’ dalam satu sisi ulama sepakat dan disisi yang lain ulama berbeda pandang untuk lebih jelasnya bisa dilihat dalam keterangan berikut oleh Doktor Syaikh Wahbah Azzuhailiy dalam kitabnya fiqih Syafiyah yaitu Fiqhul islami waadillatuhu berikut:

الفقه الإسلامي و أدلته – ٦٥٢٧/٧٧٢٢

المبحث الرابع: من تطلب الكفاءة في جانبه:
يرى جمهور الفقهاء أن الكفاءة تطلب للنساء لا للرجال، بمعنى أن الكفاءة تعد في جانب الرجال للنساء، فهو حق في صالح المرأة لا في صالح الرجل، فيشترط أن يكون الرجل مماثلا أو مقاربا لها في أمور الكفاءة. ولا يشترط في المرأة أن تكون مساوية للرجل أو مقاربة له، بل يصح أن تكون أقل منه في أمور الكفاءة؛ لأن الرجل لا يعير بزوجة أدنى حالا منه، أما المرأة وأقاربها فيعيرون بزوج أقل منها منزلة (١). لكن يستثنى من هذا الأصل مسألتان تشترط فيهما الكفاءة من جانب المرأة، ذكرتا سابقا وهما:

Bagian Keempat :  Anjuran mencari kecocokan disisinya ( Cocok untuk dijadikan sebagai  pendampingnya) : Mayoritas ulama ahli fiqh berpendapat bahwa kecocokan  itu dianjurkan untuk dicarinya  bagi perempuan, bukan laki-laki, dengan makna atau arti:” *__kecocokan itu dianggap berada di pihak laki-laki bagi perempuan_*_ ” . Itu adalah hak untuk kepentingan perempuan dan bukan untuk kepentingan laki-laki, sehingga disyaratkan bahwa laki-laki itu serupa atau dekat dengannya( perempuan) dalam hal kekufu’an.Dan tidaklah disyaratkan  bagi seorang perempuan untuk setara atau dekat dengan laki-laki, tetapi boleh saja dia lebih rendah dari laki-laki dalam hal kekufu’an. Karena laki-laki tidak mencela istri yang kedudukannya lebih rendah darinya, tetapi perempuan dan kerabatnya tidak mencela suami yang kedudukannya lebih rendah darinya . Namun, ada dua hal yang memerlukan kecocokan perempuan, tidak termasuk dalam prinsip ini, sebagaimana yang telah disebutkan sebelumnya:

الأولى ـ أن يزوج غير الأب أو الجد عديم الأهلية أو ناقصها، أويزوجه الأب أو الجد الذي عرف قبل العقد بسوء الاختيار، فإنه يشترط لصحة هذا الزواج أن تكون الزوجة مكافئة له، احتياطا لمصلحة الزواج، وإلا لم يصح الزواج.
الثانية ـ أن يوكل الرجل غيره في تزويجه وكالة مطلقة، فإنه يشترط لنفاذ العقد على الموكل في رأي المالكية وأبي يوسف ومحمد أن تكون الزوجة كفئا له.

Pertama, Dia dikawinkan oleh  orang lain selain ayah atau kakeknya yang tidak mempunyai  keahlian( tidak lengkap cakap hukumnya,), atau yang menikahkan ayah atau kakeknya yang diketahui telah salah memilih sebelum akad mengawinkannya. Maka sesungguhnya disyaratkan dalam sahnya  perkawinan ini agar isterinya sederajat ( kufu’ atau cocok ) bagi walinya , itu dikarenakan semata kehati-hatian untuk memaslahatan/ kebaikan perkawinan ( suami istri ) .

Kedua, laki-laki menunjuk  orang lain sebagai wakil untuk menikahkannya dengan perwakilan kekuasaan yang mutlak.Agar akad itu dapat dilaksanakan ( diselesaikan ) orang yang menjadi wakil , menurut pendapat Maliki, Abu Yusuf, dan Muhammad, syaratnya adalah istri harus sebanding ( cocok).

المبحث الخامس ـ ما تكون فيه الكفاءة، أو أوصاف الكفاءة:
اختلف الفقهاء في خصال الكفاءة، فهي عند المالكية اثنان: وهما الدين والحال، أي السلامة من العيوب المثبتة للخيار، لا الحال بمعنى الحسب والنسب.
وعند الحنفية ستة: هي الدين والإسلام والحرية والنسب والمال والحرفة (٢).
ولا تكون الكفاءة عندهم في السلامة من العيوب التي يفسخ بها البيع كالجذام والجنون والبرص، والبخر والدفر إلا عند محمد في الثلاثة الأولى.


Pembahasan kelima: adalah harus kufu’ atau sifat-sifat kecocokan  .
: Para fuqaha berbeda pendapat mengenai sifat-sifat kufu’ .

➡️Menurut Maliki ada dua: 

  1. Kufu’ (Kesetaraan) agama
  2. Status, yaitu keselamatan dari cacat yg menentukan pilihan, bukan status dalam arti nasab dan silsilah keturunan.

➡️Menurut mazhab Hanafi ada enam:

1.Kufu’ ( sepadan ) agama,
2. Islam,
3. Merdeka,
4. Garis keturunan,
5. harta, dan
6.kerajinan .
Menurut mereka,( Madzhab Hanafiy ) tidak ada kekufu’an hanya terbebas dari cacat-cacat yang membatalkan jual beli, seperti kusta, kegilaan, kusta, pernafasan, dan diare, kecuali menurut Muhammad pada tiga yang pertama.

وعند الشافعية خمسة: هي الدين أو العفة، والحرية، والنسب، والسلامة من العيوب المثبتة للخيار، والحرفة.

➡️.Menurut Syafi’i, ada lima hal:

  1. Kufu’ ( setara/sepadan) agama atau  iffah (kesucian,). 
  2. merdeka( bukan budak),
  3. Garis keturunan,
  4. Selamat dari cacat yang menegaskan pilihan, dan –
  5. keahlian.

Catatan.

IFFAH: Artinya terpelihara dari segala yang haram dalam pergaulan. Maka tidak dianggap sekufu’ bagi orang yang keturunan yang baik-baik kawin dengan keturunan pezina, walaupun masih seagama.

وعند الحنابلة خمسة أيضاً: هي الدين، والحرية، والنسب، واليسار (المال)، والصناعة أي الحرفة (1).
فهم متفقون على الكفاءة في الدين، واتفق غير المالكية على الكفاءة في الحرية والنسب والحرفة، واتفق المالكية والشافعية على خصلة السلامة من العيوب المثبتة للخيار، واتفق الحنفية في ظاهر الرواية والحنابلة على خصلة المال، وانفرد الحنفية بخصلة إسلام الأصول.

➡️.Menurut Hanbali lima:

  1. Kufu’ ( sepadan )agama,
  2. Merdeka,
  3. Garis keturunan,
  4. Berharta dan
  5. kerajinan

Mereka ulama’ fiqih sepakat tentang kufu’/kecocokan dalam agama, selain Maliki sepakat tentang kekufu’an dalam kebebasa ( merdeka), nasab, dan kerajinan, Maliki dan Syafi’i sepakat tentang sifat keselamatan dari cacat yang membuktikan pilihan, Hanafi sepakat tentang dhahirnya makna riwayat tersebut. Dan Hanbali atas bagian harta, dan Hanafi memilih dengan secara khusus pada  bagian Islam sebagai asal.

١ – الديانة، أو العفة أو التقوى: المراد بها الصلاح والاستقامة على أحكام الدين، فليس الفاجر والفاسق كفئاً لعفيفة أو صالحة بنت صالح، أو مستقيمة، لها ولأهلها تدين وخلق حميد، سواء أكان معلناً فسقه، أم غير معلن أي لا يجهر بالفسق لكن يشهد عليه أنه فعل كذا من المفسقات؛ لأن الفاسق مردود الشهادة والرواية، وهو نقص في إنسانيته، ولأن المرأة تعير بفسق الزوج أكثر ما تعير بضعة نسبه، فلا يكون كفئاً لامرأة عدل، بالاتفاق ما عدا محمد بن الحسن، لقوله تعالى: {أفمن كان مؤمناً كمن كان فاسقاً، لا يستوون} [السجدة:18/ 32]


 
1 – Agama, kesucian, atau ketakwaan :
Adapun yang dimaksud dengan agama adalah kesalehan dan ketaqwaan dalam menjalankan hukum -hukum agama artinya bukan orang yang pendosa dan  fasik/maksiat  tidaklah cocok (kufu’)dengan wanita yang suci, atau anak perempuan yang shalehah dari orang yang shaleh, atau orang yang istiqomah . Perempuan dan keluarganya beragama dan berakhlak baik, baik yang dinyatakan maksiat maupun tidak, artinya tidak terang-terangan menyatakan maksiat, tetapi bersaksi, pastilah ia melakukan perbuatan maksiat ini dan itu; Karena orang yang berbuat maksiat menolak kesaksian dan narasinya, dan itu merupakan kekurangan dalam kemanusiaannya, karena wanita lebih dikritik karena kemaksiatan suaminya daripada dikritik karena silsilah suaminya yang kecil, maka dia tidak layak mendapat wanita yang adil, Menurut kesepakatan ulama, kecuali Muhammad ibn al-Hasan, menurut firman SWT: {Apakah orang yang beriman sama dengan orang yang fasik (maksiat)? Mereka tidak setara.}

وقوله سبحانه: {الزاني لا ينكح إلا زانية} [النور:3/ 24] ونوقش الاستدلال بالآيتين، أما الأولى فهي في حق المؤمن والكافر، وأما الثانية فهي منسوخة، والأصح الاستدلال بحديث أبي حاتم المزني المتقدم: «إذا جاءكم من ترضون دينه وخلقه فأنكحوه، إلا تفعلوا تكن فتنة في الأرض وفساد عريض».
وقال محمد: إن الفسق لا يمنع الكفاءة، إلا إذا كان صاحبه متهتكاً يصفع ويسخر منه، أو يخرج إلى الأسواق سكران؛ لأن الفسق من أحكام الآخرة، فلا تبتنى عليه أحكام الدنيا.


Dan  berfirman Allah SWT: {Orang yang berzina hanya akan mengawini seorang pezina} [An-Nur: 3/24] dan  dibahas dengan  kedua dalil ayat tersebut.
Adapun yang pertama berlaku bagi orang mukmin dan orang kafir, dan adapun yang kedua, batal, alasan yang lebih benar adalah dari hadis Abu Hatim al-Muzani yang disebutkan di atas: “Jika seseorang yang ber agama dan akhlaknya menyenangkan hatimu datang kepadamu, maka nikahilah dia.” Jika kamu tidak melakukannya, maka akan terjadi fitnah/ perselisihan di bumi dan kerusakan  yang meluas.” Muhammad berkata: Sesungguhnya kebajikan tidak menghalangi kepada kekufu”aan, kecuali jika pemiliknya ceroboh, menampar dan mengejeknya( menghinanya), atau keluar pergi ke pasar dalam keadaan mabuk. Karena kefasikan merupakan salah satu hukum-hukum akhirat, maka hukum dunia tidak didasarkan pada hal tersebut.

وهل يكون الفاسق كفئاً لفاسقة بنت صالح، قال بعض الحنفية: لا يكون الفاسق كفئاً لها، وقال ابن عابدين: إن المفهوم من كلامهم اعتبار صلاح الكل أي الفتاة والأب، وإن من اقتصر على صالحة أو صلاح آبائها نظر إلى الغالب من أن صلاح الولد والوالد متلازمان، فعلى هذا لا يكون الفاسق كفئاً لصالحة بنت صالح، بل يكون كفئاً لفاسقة بنت فاسق، وكذا لفاسقة بنت صالح، لأن ما يلحقه من العار ببنته أكثر من العار بصهره. وإذا كانت صالحة بنت فاسق، فزوجت نفسها من فاسق، فليس لأبيها حق الاعتراض؛ لأنه مثله، وهي قد رضيت

Apakah orang yang maksiat itu cocok dengan wanita maksiat putri orang Shalih? Sebagian Hanafi berkata: Orang yang maksiat tidak cocok dengannya. Ibnu Abidin berkata: Yang dimaksud dari perkataan mereka adalah mempertimbangkan kesalehan setiap orang, yaitu anak perempuan dan bapaknya, dan barangsiapa yang membatasi dirinya pada Salihah atau kesalehan bapak-bapaknya, maka kemungkinan besar menganggap bahwa kesalehan anak dan bapaknya tidak dapat dipisahkan.
Berdasarkan hal tersebut maka orang yang maksiat bukanlah tandingan ( yang sekufu”) Salihah putri Shalih, melainkan ia jodohnya dengan wanita maksiat putri Fasiq, demikian pula wanita maksiat putri Shalih, karena aib yang ia timbulkan terhadap putrinya lebih besar daripada aib yang ia timbulkan kepada menantunya. Jika dia adalah anak perempuan salehah dari seorang pendosa, dan dia mengawinkan dirinya dengan seorang pendosa, maka ayahnya tidak mempunyai hak untuk menolak. Karena dia seperti dia, dan dia puas dengannya

٢ – الإسلام: شرط انفرد به الحنفية بالنسبة لغير العرب، خلافاً للجمهور، والمراد به إسلام الأصول أي الآباء، فمن له أبوان مسلمان كفء لمن كان له آباء في الإسلام، ومن له أب واحد في الإسلام لا يكون كفئاً لمن له أبوان في الإسلام؛ لأن تمام النسب بالأب والجد. وألحق أبو يوسف الواحد بالمثنى.ومن أسلم بنفسه لا يكون كفئاً لمن له أب واحد في الإسلام؛ لأن التفاخر فيما بين الموالي (غير العرب) بالإسلام.
ودليل الحنفية على هذه الخصلة: أن تعريف الشخص يكون كاملاً بالأب والجد، فإذا كان الأب والجد مسلماً، كان نسبه إلى الإسلام كاملاً.
ولا تعتبر هذه الخصلة إلا في غير العرب؛ لأنهم بعد إسلامهم صار فخرهم بالإسلام، وهو شرفهم الذي قام مقام النسب. أما العرب فلا يعتبر فيهم التكافؤ في إسلام الآباء؛ لأن العرب يتفاخرون بأنسابهم، ولا يتفاخرون بإسلام أصولهم، فالعربي المسلم الذي ليس له أب مسلم كفء للعربية المسلمة التى لها أب وأجداد مسلمون


2 – Islam : merupakan satu syarat yang sepsial atau syarat yang khas dalam mazhab Hanafi dengan dinisbatkan kepada selain orang Arab ( orang-orang non-Arab), berbeda dengan pendapat mayoritas ulama’ dan adapun yang dimaksud dengan Islam adalah islamnya asal-usul yaitu para bapak( penisepuh orang tuanya ). Barangsiapa mempunyai dua orang tua yang beragama Islam, maka ia adalah sama dengan orang yang mempunyai ayah dalam Islam, dan orang yang mempunyai satu ayah dalam Islam tidak sama dengan orang yang mempunyai dua ayah dalam Islam. Karena seluruh garis keturunannya melalui ayah dan kakek. Abu Yusuf menggabungkan yang satu dengan yang dua. Siapa pun yang masuk Islam sendirian, tidak sama dengan seseorang yang mempunyai satu ayah dalam Islam. Karena membual ( berbangga-banggaan ) di kalangan loyalis (non-Arab) dengan Islam. Dalil Hanafi mengenai ciri bagian ini adalah bahwa mengenal identitas seseorang adalah merupakan adanya kesempurnaan atau lengkap melalui ayah dan kakeknya, jika ayah dan kakeknya beragama Islam, maka garis keturunannya ke Islamannya sempurna ( lengkap) . Kualitas ini hanya dipertimbangkan di kalangan non-Arab. Karena setelah mereka masuk Islam, kebanggaan mereka menjadi Islam, yaitu kehormatan mereka yang menggantikan garis keturunan.
Adapun orang-orang Arab, mereka tidak dianggap setara dalam Islam nenek moyang mereka. Karena orang Arab bangga dengan garis keturunannya,dan mereka (orang Arab) tidak merasa bangga dengan  keislaman asal usulnya ( nenek moyang mereka). Orang Arab yang islam yang tidak mempunyai ayah yang beragama Islam maka sama dengan orang Arab  yang Muslim yang ayah dan kakek nenek yang beragama Islam.

-٣-الحرية: شرط في الكفاءة عند الجمهور (الحنفية والشافعية والحنابلة) فلا يكون العبد ولو مبعضاً كفئاً لحرة ولو كانت عتيقة؛ لأنه منقوص بالرق، ممنوع من التصرف في كسبه، غير مالك له، ولأن الأحرار بمصاهرة الأرقاء كما يعيرون بمصاهرة من دونهم في النسب والحسب.
واشترط الحنفية والشافعية أيضاً حرية الأصل، فمن كان أحد آبائه رقيقاً ليس كفئاً لحر الأصل، أو لمن كان أبوها رقيقاً ثم أعتق، ومن كان له أبوان في الحرية ليس كفئاً لمن كان له أب واحد في الحرية.
وأضاف الحنفية والشافعية أن العتيق ليس كفئاً لحرة أصلية؛ لأن الأحرار يعيرون بمصاهرة العتقاء، كما يعيرون بمصاهرة الأرقاء.
وقال الحنابلة: العتيق كله كفء للحرة.
وأما المالكية فلم يشترطوا الحرية في الكفاءة، وقالوا: في كفاءة العبد للحرة، وعدم كفاءته لها على الأرجح تأويلان: المذهب أنه ليس بكفء، والراجح أنه كفء، وهو الأحسن؛ لأنه قول ابن القاسم.
وقال الدسوقي: والظاهر التفصيل: فما كان من جنس الأبيض فهو كفء؛ لأن الرغبة فيه أكثر من الأحرار، وبه الشرف في عرف مصرنا، وما كان من جنس الأسود فليس بكفء؛ لأن النفوس ـ على حد تعبيره ـ تنفر منه، ويقع به الذم للزوجة. وهذا حكاية لعرف الناس في عصره، وليس أمراً مقرراً في الشرع.
لذا أرى أن هذا الرأي خاص بالدسوقي، فإن مبادئ الشريعة تناقض هذا القول إذ لا تفرقة في أحكامها بين الناس بسبب اللون، وما اعتمده من عرف مصر هو عرف فاسد، لمصادمته مبادئ الشريعة، أو أنه مجرد أهواء نفسية وميول خاصة لا يقرها الشرع؛ لأن الناس سواء في دين الله تعالى


3 – Kebebasan ( merdeka): adalah  Suatu syarat didalam kekufu’an  menurut mayoritas (Hanafi, Syafi’i dan Hanbali), seorang budak, meskipun ia budak muba’ad, maka tidaklah menjadi kufu ( sama/sepadan) dengan wanita yang merdeka, meskipun ia sudah tua. Karena ia diremehkan karena perbudakannya, dilarang mentashorrufkan  atau membelanjakan penghasilannya, tanpa pemiliknya, dan karena orang-orang  yang merdeka adalah  kawin campur dengan budak sebagaimana mereka mencela melalui kawin campur kepada orang yang lebih rendah darinya dalam nasab dan keturunan. Mazhab Hanafi dan Syafi’i juga mensyaratkan kebebasan ( kemerdekaan ) asal usul ( nenek moyang), sehingga barangsiapa yang salah satu bapaknya dijadikan budak, maka ia tidak dapat ditandingkan dengan perempuan yang merdeka secara asal usul, atau dengan orang yang bapaknya adalah seorang budak kemudian dibebaskan ( dimerdekakan), dan siapa yang mempunyai dua ayah yang merdeka, tidaklah sebanding dengan seseorang yang mempunyai satu ayah yang merdeka. Hanafi dan Syafi’i menambahkan bahwa laki-laki tua tidak sama dengan perempuan merdeka yang asli; Karena orang merdeka mereka dicela karena kawin campur dengan budak yang dimerdekakan, sebagaimana mereka dicela karena kawin campur dengan budak. Kaum Hambali berkata:  Budak yang dimerdekakan semuanya kufu’ bagi wanita yang merdeka.
Adapun Maliki, mereka tidak mensyaratkan merdeka masuk  didalam kekufu’an , dan mereka berkata: kufu’/ kecocokan seorang budak untuk wanita yang merdeka, dan ketidakmampuannya untuk dia, kemungkinan besar ada dua penafsiran: pendapat pertama adalah bahwa dia tidak sekufu’  dan yang paling kemungkinan besar pendapat yang kedua adalah bahwa dia kufu’, dan pendapat inilah adalah yang terbaik; Karena itu adalah perkataan Ibnu al-Qasim. Al-Dasouki berkata: Detailnya jelas: apa pun yang sejenis dengan warna putih adalah kompatibel. Karena keinginannya lebih besar dari pada orang merdeka, dan itu terhormat dalam adat Mesir kita, dan kalau dari ras kulit hitam, tidak cocok. Karena, seperti yang dia katakan, jiwa-jiwa merasa jijik padanya, dan dia menyalahkan istrinya. Ini adalah cerita menurut adat istiadat masyarakat pada masanya, dan bukan sesuatu yang ditentukan oleh hukum syariah. Oleh karena itu, menurut saya pendapat ini khusus untuk Al-Dasuki, karena prinsip-prinsip syariah bertentangan dengan pernyataan ini, karena tidak ada perbedaan dalam hukumnya antara orang-orang berdasarkan warna kulit, dan apa yang dianut oleh adat Mesir adalah adat yang korup, karena bertentangan dengan prinsip syariah, atau hanya sekedar keinginan psikologis dan kecenderungan pribadi yang tidak disetujui syariah. Karena manusia adalah sama dalam agama Allah SWT.

-٤ – النسب: وسماه الحنابلة: المنصب.
المراد بالنسب: صلة الإنسان بأصوله من الآباء والأجداد. أما الحسب: فهو الصفات الحميدة التي يتصف بها الأصول أو مفاخر الآباء، كالعلم والشجاعة والجود والتقوى. ووجود النسب لا يستلزم الحسب، ولكن وجود الحسب يستلزم النسب. والمقصود من النسب أن يكون الولد معلوم الأب، لا لقيطاً أو مولى إذ لا نسب له معلوم. ولم يعتبر المالكية الكفاءة في النسب، أما الجمهور (الحنفية والشافعية والحنابلة وبعض الزيدية) فقد اعتبروا النسب في الكفاءة، لكن خصص الحنفية النسب في الزواج من العرب؛ لأنهم الذين عنوا بحفظ أنسابهم، وتفاخروا بها، وحدث التعيير بينهم فيها.

4- Nasab (Silsilah):
Kaum Hambali menyebutnya/ menamakan : kedudukan. Yang dimaksud dengan nasab: hubungan seseorang dengan asal usulnya dari ayah dan kakeknya.
Adapun nasab: sifat-sifatnya baik yang menjadi ciri asal usul atau kebanggaan para ayah, seperti ilmu, keberanian, kedermawanan, dan ketakwaan. Adanya nasab( silsilah) tidak mesti memerlukan nasab, namun adanya nasab mengharuskan nasab(silsilah) Yang dimaksud dengan nasab adalah anak itu mempunyai ayah yang diketahui, bukan anak terlantar atau budak yang merdeka, karena ia tidak diketahui garis keturunannya. Madzhab Maliki tidak menganggap kufu’ dalam soal nasab, sedangkan mayoritas (Hanafi, Syafi’i, Hanbali, dan sebagian Zaidi) menganggap bahwa nasab itu sebagai baigian dari soal kufu’, namun mazhab Hanafi menetapkan atau mengkhususkan nasab itu sebagai soal perkawinan orang Arab. Karena merekalah yang peduli terhadap kelestarian silsilah mereka, dan merasa bangga terhadap mereka, dan timbullah celaan di kalangan mereka atas ketidak pedulian atas silsilah mereka.( Tidak sepadan orang Arab dengan orang Arab ) dalam artian orang Arab dengan Non Arab.

أما العجم فلم يعنوا بأنسابهم ولم يفتخروا بها، ولذا اعتبر فيهم الحرية والإسلام. والأصح عند الحنفية أن العجمي لا يكون كفئاً للعربية ولو كان عالماً أو سلطاناً.
وبناء على هذا الرأي: لا يكون العجمي كفئاً للعربية، لقول عمر: «لأمنعن أن تزوج ذات الأحساب إلا من الأكفاء» (١)، ولأن الله اصطفى العرب على غيرهم، ولأن العرب فضلت الأمم برسول الله صلّى الله عليه وسلم.وقريش عند الحنفية وفي رواية عن أحمد بعضهم أكفاء بعض، وبقية العرب بعضهم أكفاء بعض، واستثنى بعضهم بني باهلة لخستهم. ودليلهم قول ابن عباس: قريش بعضهم أكفاء بعض.ويرى الشافعية وفي رواية أخرى عن أحمد: أن غير الهاشمي والمطلبي ليس  كفئاً لباقي قريش كبني عبد شمس ونوفل، وإن كانا أخوين لهاشم، لخبر: «إن الله اصطفى من العرب كنانة، واصطفى من كنانة قريشاً، واصطفى من قريش بني هاشم، واصطفاني من بني هاشم» (١).

Adapun orang  Ajami, mereka tidak peduli dengan garis keturunan mereka dan tidak bangga akan hal itu, oleh karena itu kebebasan dan Islam dianggap di antara mereka. Yang lebih benar menurut mazhab Hanafi adalah bahwa orang non-Arab tidak cakap berbahasa Arab, sekalipun ia seorang ulama atau sultan.
Berdasarkan pendapat ini: Orang non-Arab tidak dapat ditandingkan ( tidak sekufu’) dengan orang Arab, berdasarkan perkataan Umar: “Saya akan mencegah wanita non-Arab menikahi siapa pun kecuali orang yang cocok”( orang Arab), dan karena Allah memilih orang Arab daripada orang Arab. yang lain, dan karena orang-orang Arab lebih memilih bangsa-bangsa daripada Rasulullah,SAW. Menurut mazhab Hanafi dan menurut riwayat kekuasaan Ahmad, sebagian dari mereka lebih unggul dari yang lain, dan sebagian orang Arab lainnya setara dengan yang lain, dan sebagian dari mereka dikeluarkan dari Bani Bahila karena kekejaman mereka. . Dalilnya adalah sabda Ibnu Abbas: Kaum Quraisy itu setara satu sama lain. Madzhab Syafi’i dan riwayat lain dari Ahmad berpendapat bahwa tidak ada  selain Al-Hashemi dan Al-Muttalabi yang termasuk kufu’/ sepadan terhadap kaum Quraisy lainnya, seperti Bani Abd Syams dan Naufal, meskipun mereka bersaudara dengan Hasyim, berdasarkan hadits : “Sesungguhnya Allah memilih Kinana dari kalangan Arab, memilih Quraisy dari Kinana, memilih Bani Hasyim dari Quraisy , dan memilihku dari Bani Hasyim” .

ويتفق الجمهور على أن قريشاً وهم أولاد النضر بن كنانة أفضل نسباً من سائر العرب، فالقرشية لا يكافئها إلا قرشي مثلها، والقرشي كفء لكل عربية. وأن المرأة العربية غير القرشية يكافئها أي عربي من أي قبيلة كانت، ولكن لا يكافئها غير العربي أي العجمي.ودليل الجمهور حديث: «العرب بعضهم أكفاء لبعض، قبيلة بقبيلة، ورجل برجل، والموالي بعضهم أكفاء لبعض، قبيلة بقبيلة، ورجل برجل، إلا حائك أو حجام» (٢).والحق أن اعتبار النسب في الكفاءة ليس صحيحاً، والصحيح قول المالكية؛لأن مزية الإسلام الجوهرية هي الدعوة إلى المساواة، ومحاربة التمييز العرقي أو العنصري، ودعوات الجاهلية القبلية والنسبية، ولأن انتشار الإسلام بين الناس غير العرب إنما كان أساساً لهذه المزية، وإعلان حجة الوداع واضح وهو أن الناس جميعاً أبناء آدم، وليس لعربي على عجمي فضل إلا بالتقوى.
أما الحديث الذي اعتمد عليه الجمهور فهو ضعيف، لذا فإن تفضيل قريش على سائر العرب، ثم تفضيل العرب على العجم، لم يدل عليه شيء من السنة، بل ورد في السنة خلافه؛ لأن النبي صلّى الله عليه وسلم زوج ابنتيه عثمان، وزوج أبا العاص بنربيع زينب، وهما من بني عبد شمس، وزوج علي عمر ابنته أم كلثوم، وزوج النبي بنت عمته زينب وهي قرشية زيد بن حارثة، وهو من الموالي، وتزوج أسامة ابن زيد فاطمة بنت قيس وهي من قريش، بعد أن طلقها زوجها: أبو عمر بن حفص بن المغيرة، فأخبرته أن معاوية وأبا جهم خطباها، فقال رسول الله صلّى الله عليه وسلم: «أما أبو جهم فلا يضع عصاه عن عاتقه، وأما معاوية فصعلوك لا مال له، انكحي أسامة بن زيد» (١).

Mayoritas ulama sepakat bahwa suku Quraisy yang merupakan anak dari al-Nadr ibn Kinana lebih baik garis keturunannya dibandingkan dengan semua orang Arab lainnya, Kaum Quraisy hanya setara dengan kaum Quraisy sejenis, dan kaum Quraisy setara dengan setiap wanita Arab. Wanita Arab non-Quraisy  termasuk kufu dengan orang Arab mana pun dari suku mana pun, namun ia tidak termasuk kufu’ dengan orang non-Arab, yakni Ajami.
Dalil  mayoritas ulama’ adalah hadis: “Orang-orang Arab itu sederajat satu sama lain, suku dengan suku, dan manusia dengan manusia, dan orang-orang yang beriman itu setara satu sama lain, suku dengan suku, dan manusia dengan manusia, kecuali penenun atau tukang bekam”. Sebenarnya menganggap nasab dalam kufu’ adalah tidak benar, dan pandangan yang benar adalah perkataan pendapatnya  Maliki Karena keistimiwaan (keunggulan/ kelebihan) yang mendasar dalam Islam adalah seruan ( ajakan dakwah) untuk kesetaraan, perjuangan melawan diskriminasi etnis atau ras, dan seruan kesukuan dan garis keturunan pra-Islam, dan karena penyebaran Islam di antran manusia dikalangan orang-orang non-Arab adalah  sebagai dasar dari keistimiwaan /keunggulan atau kelebihan ini, dan sudah jelas dalam Haji wada'( Perpisahan), yaitu seluruh umat manusia adalah anak Adam, dan seorang Arab tidak mempunyai keutamaan atas non-Arab kecuali dengan ketakwaannya. Adapun hadits yang menjadi sandaran mayoritas ulama lemah. Oleh karena itu, keutamaan orang Quraisy terhadap semua orang Arab, dan kemudian keutamaan orang Arab terhadap orang non-Arab, tidak ditunjukkan oleh apapun dari Sunnah. Bahkan  kebalikannya disebutkan dalam Sunnah. Karena Nabi Muhammad SAW mengawinkan kedua putrinya, Utsman, dan menikah dengan Abu Al-Aas bin Rabi’ Zainab, dan mereka berasal dari Bani Abd Syams. Ali Omar mengawinkan putrinya Ummu Kultsum, dan Nabi mengawinkan putri bibi Zainab dari pihak ayah, yang berasal dari suku Quraisy, dengan Zaid bin Haritha, yang merupakan seorang loyalis. Osama bin Zaid menikah dengan Fatima binti Qais yang berasal dari suku Quraisy, setelah suaminya: Abu Omar bin Hafs bin Al-Mughirah, maka dia memberitahukan kepadanya bahwa Muawiyah dan Abu Jahm telah melamarnya, maka Rasulullah SAW, beliau berkata: “Adapun Abu Jahm, dia tidak boleh meletakkan tongkatnya, dan adapun Muawiyah, dia adalah seorang gelandangan yang tidak punya harta. Menikahlah dengan Osama bin Zaid” .


وتزوج عبد الله بن عمرو بن عثمان فاطمة بنت الحسين بن علي، وتزوج المصعب بن الزبير أختها سكينة، وتزوجها أيضاً عبد الله بن عثمان بن حكيم بن حزام، وتزوج المقداد بن الأسود ضباعة بنة الزبير بن عبد المطلب ابنة عم رسول الله صلّى الله عليه وسلم. وزوج أبو بكر أخته أم فروة الأشعث بن قيس، وهما كنديان (٢).ولأن العجم والموالي بعضهم لبعض أكفاء، وإن تفاضلوا، وشرف بعضهم على بعض، وكذلك العرب.
وإذا حرص العرب على أنسابهم وتفاخروا بها، فإن غير العرب قد حرصوا على أنسابهم، وتتعير المرأة منهم إذا تزوجت من لا يساويها في الحسب والنسب.

Abdullah bin Amr bin Utsman menikah dengan Fathimah binti Al-Hussein bin Ali, Al-Musab bin Al-Zubair menikah dengan adiknya Sakina, Abdullah bin Utsman bin Hakim bin Hizam juga menikahinya, dan Al-Miqdad bin Al-Aswad menikah dengan Daba’ah binti. Al-Zubair bin Abdul Muthalib, sepupu Rasulullah,  Abu Bakar menikah dengan saudara perempuannya, Umm Farwa al-Ash`ath ibn Qais, dan mereka berdua orang Kanada .
Dan karena orang-orang non-Arab dan orang-orang non-Arab saling berkompeten, walaupun mereka berbeda pendapat, dan mereka saling menghormati, demikian pula orang-orang Arab. Jika orang-orang Arab tertarik pada garis keturunan mereka dan bangga akan hal itu, maka orang-orang non-Arab juga tertarik pada garis keturunan mereka, dan seorang wanita akan dipermalukan dari mereka jika dia menikah dengan seseorang yang tidak setara dengannya dalam nasab  keturunan dan nasab silsilah .

Referensi:

الموسوعة الفقهية – 27130/31949
أنواع الولاية في النكاح:
80 – ذهب الفقهاء إلى أن الولاية في النكاح بحسب المولى عليه نوعان:
ولاية إجبار: وهي تنفيذ القول بالإنكاح على الغير، أي أن يباشر الولي العقد فينفذ على المولى عليه شاء أو أبى.
وولاية اختيار: أو ولاية ندب واستحباب، أو ولاية شركة، على اختلاف بين الفقهاء في تسميتها.
وليس في هذه الولاية تنفيذ القول على الغير أو إجباره، ومقتضاها أن نكاح المولى عليه يصح بعد أخذ إذنه أو اختياره (1) .
وللفقهاء في كل نوع تفصيل:
النوع الأول – ولاية الإجبار:
81 – اتفق الفقهاء على إثبات ولاية الإجبار لبعض الأولياء على بعض المولى عليهم، ولهم في ذلك تفصيل.
82 – قال الحنفية: ولاية الحتم والإيجاب والاستبداد ” الإجبار ” تكون للولي، وهو عندهم العصبة مطلقا، فله إنكاح الصغير والصغيرة، والمجنون والمجنونة لقوله صلى الله عليه وسلم:” النكاح إلى العصبات ” (1) ، والبالغات خرجن بحديث عائشة رضي الله عنها قالت: ” قلت: يا رسول الله يستأمر النساء في أبضاعهن؟ قال: نعم، قلت: فإن البكر تستأمر فتستحي فتسكت. قال: سكاتها إذنها ” (2) وبخروج البالغات بقي الصغار، ولحديث عائشة: ” أن النبي صلى الله عليه وسلم تزوجها وهي بنت ست سنين، وبنى بها وهي بنت تسع سنين ” (3) .
وشرط ثبوت هذه الولاية عندهم كون المولى عليه صغيرا أو صغيرة، أو مجنونا كبيرا أو مجنونة كبيرة، سواء كانت الصغيرة بكرا أو ثيبا، فلا تثبت هذه الولاية على البالغ العاقل ولا على البالغة العاقلة، لأن هذه الولاية تدور مع الصغر وجودا وعدما في الصغير والصغيرة، وفي الكبير والكبيرة تدور
مع الجنون وجودا وعدما، سواء كان الجنون أصليا بأن بلغ مجنونا، أو عارضا بأن طرأ بعد البلوغ، وقال زفر: إذا طرأ لم يجز للمولى التزويج، وعلى أصل الحنفية ينبني أن الأب والجد لا يملكان إنكاح البكر البالغة بغير رضاها عندهم.

وقالوا: إن إثبات ولاية الإنكاح على هؤلاء، لأن النكاح يتضمن المصالح، وذلك يكون بين المتكافئين، والكفء لا يتفق في كل وقت، فمست الحاجة إلى إثبات الولاية على الصغار تحصيلا للمصلحة، والقرابة موجبة للنظر والشفقة فينتظم الجميع، إلا أن شفقة الأب والجد أكثر.
وإن كان المزوج للصغير أو الصغيرة أبا أو جدا، وللمجنون أو المجنونة ابنهما، وللرقيق مالكه لزم النكاح، ولا خيار لواحد من هؤلاء المولى عليهم، ولو كان النكاح بغير كفء أو بغبن فاحش، لوفور شفقة الأولياء، وشدة حرصهم على نفع المولى عليهم فكأنهم باشروه بأنفسهم، ولأن النبي صلى الله عليه وسلم ما خير عائشة رضي الله تعالى عنها حين بلغت، لكنه يشترط في الأولياء عندئذ أن لا يعرف من أي منهم سوء الاختيار مجانة وفسقا وإلا فبطل النكاح.
وإن كان المزوج لواحد من هؤلاء غير من ذكر من الأولياء، فلكل واحد منهم الخيار وإن كان إنكاحه من كفء وبلا غبن – إن شاء أقام على النكاح، وإن شاء فسخ، وقال أبو يوسف: لا خيار لهم كما في إنكاح الأب والجد.
وقالوا: يملك السيد إجبار العبد والأمة والمدبر وأم الولد على النكاح صيانة لملكه وتحصينا له عن الزنا الذي هو سبب هلاكهم أو نقصانهم، وليس للمولى أن يزوج المكاتب والمكاتبة بغير رضاهما، لخروجهما عن يده، ولا يجوز نكاحهما إلا بإذن المولى للرق الثابت فيهما، ويملك المكاتب تزويج أمته لأنه من الاكتساب، ولا يملك تزويج العبد لأنه خسران لا اكتساب، ولو زوج أمته من عبده بغير مهر جاز ولا مهر، وقيل: يجب حقا للشرع ثم يسقط (1) .
83 – وقال المالكية: الولي المجبر أحد الثلاثة:
أ – الأب فله الجبر، ولو بدون صداق المثل، ولو لأقل حال منها، أو لقبيح منظر لثلاث من بناته:
الأولى: البكر ولو عانسا طالت إقامتها عند أبيها وعرفت مصالح نفسها قبل الزواج.وجبر البكر ولو عانسا هو المشهور في المذهب، خلافا لابن وهب حيث قال: للأب جبر البكر ما لم تكن عانسا، لأنها لما عنست صارت كالثيب.

ومنشأ الخلاف هل العلة في الجبر البكارة أو الجهل بمصالح النساء، فالمشهور ناظر للأول، وابن وهب ناظر للثاني.
واستثنى المالكية من جبر البكر من رشدها الأب، أي جعلها رشيدة أو أطلق الحجر عنها لما قام بها من حسن التصرف، وهذه البكر المستثناة من الجبر لا بد من إذنها في النكاح بالقول.
كما استثنوا من أقامت سنة فأكثر ببيت زوجها بعد أن دخل بها ثم تأيمت وهي بكر فلا جبر عليها تنزيلا لإقامتها ببيت الزوج سنة منزلة الثيوبة.
الثانية: الثيب التي لم تبلغ وتأيمت بعد أن أزال الزوج بكارتها، فللأب جبرها لصغرها إذ لا عبرة بثيوبتها في هذه الحالة، والثيب التي بلغت وزالت بكارتها بزنا ولو تكرر متى زال الحياء عن وجهها أو ولدت من الزنا فللأب جبرها، ولا حق لولادتها من الزنا، والثيب التي زالت بكارتها بعارض كوثبة أو ضربة أو نحو ذلك، فللأب جبرها ولو عانسا.
أما من زالت بكارتها بنكاح فاسد ولو مجمعا على فساده فليس للأب جبرها إن درئ الحد لشبهة، وإلا فله جبرها.
الثالثة: المجنونة البالغة الثيب للأب جبرها لعدم تمييزها، ولا كلام لولدها معه إن كان لها ولد رشيد، إلا من تفيق أحيانا فتنتظر إفاقتها لتستأذن ولا تجبر.
ومحل جبر الأب في الثلاث إذا لم يلزم على تزويج أي منهن ضرر عادة، كتزويجها من خصي أو ذي عاهة – كجنون ونحوه – مما يرد به الزوج شرعا، وإلا فلا جبر.
ب – وصي الأب عند عدم الأب فله الجبر فيما للأب جبر فيه، ومحله إن عين له الأب الزوج، وبذل مهر المثل، ولم يكن فاسقا، بخلاف الأب فله جبرها مطلقا ولو بدون مهر المثل، وللوصي الجبر كذلك إن أمره الأب به ولو ضمنا، أو أمره بالنكاح ولم يعين له الزوج ولا الإجبار، بأن قال له: زوجها، أو زوجها ممن أحببت أو لمن ترضاه، وهذا هو الراجح، وقالوا: الراجح الجبر إن ذكر البضع أو النكاح أو التزويج بأن قال له الأب: أنت وصيي على بضع بناتي، أو على نكاح بناتي، أو على تزويجهن، أو وصيي على بنتي تزوجها، أو تزوجها ممن أحببت، وإن لم يذكر شيء من الثلاثة فالراجح عدم الجبر، كما إذا قال: وصيي على بناتي، أو على بعض بناتي، أو على بنتي فلانة، وأما لو قال: وصيي فقط فلا جبر اتفاقا. والوصي في الثيب البالغة إذا أمره الأب بتزويجها كأب، مرتبته بعد الابن، ولا جبر، فإن زوجها مع وجود الابن جاز على الابن، وإن زوجها الأخ برضاها جاز على الوصي، لصحة عقد الأبعد مع وجود الأقرب، والجواز بمعنى المضي بعد الوقوع، وإلا فالابن مقدم على الوصي، وهذا مقدم على الأخ. هذا عن الولي المجبر للأنثى، أما الولي المجبر للذكر فقالوا: يجبر أب ووصي وحاكم لا غيرهم ذكرا مجنونا مطبقا وصغيرا لمصلحة اقتضت تزويجهما، بأن خيف الزنا أو الضرر على المجنون فتحفظه الزوجة، ومصلحة الصبي تزويجه من غنية أو شريفة أو ابنة عم أو لمن تحفظ ماله، ولا جبر للحاكم إلا عند عدم الأب والوصي، إلا إذا بلغ عاقلا أي رشد ثم جن فالكلام للحاكم.

ج – المالك لأمة أو عبد، له جبرهما على النكاح، ولو كان المالك أنثى فلها الجبر كذلك لكن توكل في العقد على الأمة بخلاف العبد فلها العقد بنفسها، ويمتنع الجبر إن كان يلحق المملوك في النكاح الذي يجبر عليه ضرر، كالتزويج لذي عاهة، فلا جبر، ويفسخ النكاح ولو طال الأمد.
وللمالك الجبر ولو كان المملوك عبدا مدبرا أو معتقا لأجل، ما لم يمرض مالك المدبر، أو يقرب أجل العتق كالثلاثة الأشهر فدون، فإن مرض أو قرب الأجل فلا جبر للمالك.
والأصح عند اللخمي وغيره عدم الجبر مطلقا للأنثى المدبرة أو المعتقة لأجل.
ولا جبر للسيد على المبعض والمكاتب، لأن المكاتب أحرز نفسه وماله، والمبعض تعلقت به الحرية.
وكره للسيد جبر أم ولده بعد أن يستبرئها على النكاح، فإن جبرها صح على الأصح، وقيل: لا جبر له عليها، فإن جبرها لم يمض.
وجبر الشركاء مملوكهم – ذكرا أو أنثى – إن اتفقوا على تزويجه، لا إن خالف بعضهم فليس للآخر جبر.
وقدم المالك على سائر الأولياء المجبرين لقوة تصرفه لأنه يزوج الأمة مع وجود أبيها وله جبر الثيب والبكر، والكبيرة والصغيرة، والذكر والأنثى، لأن الرقيق مال من أمواله، وله أن يصلح ماله بأي وجه (1) .

Syafiiyyah berkata: Bagi bapak itu mempunyai hak wilayatul ijbar,yaitu menikahkan terhadap anak laki-laki nya yang kecil , yang mempunyai akal.Walaupun bapak itu tidak minta idzin terlebih dahulu kepada anak laki-lakinya.
Dan bagi bapak itu mempunyai hak untuk menikahkan terhadap anak perempuan nya yang kecil atau yang besar , yang berakal atau yang gila.Walaupun bapak itu tidak minta idzin terlebih dahulu kepada anak perempuan nya.
Tapi disunnatkan bagi bapak untuk menawarkan kepada putrinya bahwa putrinya itu akan dinikahkan dengan seorang calon mempelai laki-laki.Dan idzinnya putrinya itu diketahui dari diamnya putrinya ketika putrinya ditawarkan bahwa putrinya itu akan dinikahkan dengan seorang calon mempelai laki-laki.

٨٤ – وقال الشافعية: للأب ولاية الإجبار وهي تزويج ابنه الصغير العاقل وابنته البكر صغيرة أو كبيرة، عاقلة أو مجنونة بغير إذنها، لخبر: ” الثيب أحق بنفسها من وليها، والبكر يستأذنها أبوها في نفسها ” (١) ، وفي رواية: ” البكر يستأمرها أبوها ” (٢) حملت على الندب، ولأنها لم تمارس الرجال بالوطء فهي شديدة الحياء.
ولتزويج الأب ابنته البكر بغير إذنها شروط:
الأول: أن لا يكون بينه وبينها عداوة ظاهرة، فإن كان فليس له تزويجها إلا بإذنها بخلاف غير الظاهرة لأن الولي يحتاط لموليته لخوف العار وغيره.
الثاني: أن يزوجها من كفء.
الثالث: أن يزوجها بمهر مثلها.
الرابع: أن يكون المهر من نقد البلد.
الخامس: أن لا يكون الزوج معسرا بالمهر.
السادس: أن لا يزوجها بمن تتضرر بمعاشرته كأعمى وشيخ هرم.
السابع: أن لا يكون قد وجب عليها الحج، فإن الزوج قد يمنعها لكون الحج على التراخي، ولها غرض في تعجيل براءة ذمتها.وهذه الشروط منها ما هو معتبر لصحة النكاح بغير الإذن، ومنها ما هو معتبر لجواز الإقدام فقط.فالمعتبر لصحة النكاح دون إذنها من هذه الشروط: أن لا يكون بينها وبين وليها عداوة ظاهرة، وأن يكون الزوج كفئا، وأن يكون موسرا بحال الصداق حتى لا يكون قد بخسها حقها، وما عدا ذلك من الشروط معتبر لجواز الإقدام على عقد النكاح دون إذنها.وقال الشافعية: ويستحب استئذان البكر إذا كانت مكلفة لحديث: ” البكر يستأمرها أبوها “. وتطييبا لخاطرها، أما غير المكلفة فلا إذن لها، ويسن استفهام المراهقة، وأن لا يزوج الصغيرة حتى تبلغ.والمستحب في الاستئذان أن يرسل إليها نسوة ثقات ينظرن ما في نفسها، والأمأولى بذلك لأنها تطلع على ما لا يطلع عليه غيرها.والجد أبو الأب وإن علا كالأب عند عدمه أو عدم أهليته فيما ذكر لأن له ولاية وعصوبة كالأب، ويزيد الجد عليه في صورة واحدة وهي تولي طرفي العقد بخلاف الأب.
ووكيل الأب والجد كالأب والجد، لكن وكيل الجد يتولى طرفي العقد.
ولا أثر لزوال البكارة بلا وطء في القبل، كسقطة، وحدة طمث وطول تعنيس – وهو الكبر – أو بأصبع ونحوه في الأصح كما في منهاج الطالبين – أو الصحيح كما في روضة الطالبين – بل حكمها حكم الأبكار لأنها لم تمارس الرجال فهي على حالها وحيائها، والثاني أنها كالثيب لزوال العذرة، ولو خلقت بلا بكارة فهي بكر.ويلزم المجبر – الأب أو الجد – تزويج مجنونة أطبق جنونها بالغة محتاجة ولو ثيبا لاكتسابها المهر والنفقة، وربما كان جنونها لشدة الشبق، فإن لم يكن للمجنونة أب أو جد لم تزوج المجنونة الصغيرة حتى تبلغ، وحينئذ يزوجها السلطان في الأصح المنصوص، بمراجعة أقاربها تطييبا لقلوبهم ولأنهم أعرف بمصلحتها، والثاني: يزوجها القريب بإذن السلطان لقيامه مقام إذنها.
وتزوج بواسطة السلطان للحاجة – إلى النكاح بظهور علامة شهوتها، أو توقع شفائها بقول عدلين من الأطباء، لأن تزوجها يقع إجبارا وغير الأب والجد لا يملك الإجبار، وإنما يصار إليه للحاجة النازلة منزلة الضرورة، ولا يزوجها لمصلحة كتوفر المؤن في الأصح، والثاني: نعم كالأب والجد، قال ابن الرفعة وهو الأصح، وإذا أفاقت المجنونة – هذه – بعد تزويجها لا خيار لها، لأن تزويجها كالحكم لها أو عليها.ويزوج الأب والجد المجنونة لأنه لا يرجى لها حالة تستأذن فيها، ولهما ولاية الإجبار، إن ظهرت مصلحة في تزويجها، ولا تشترط الحاجة قطعا، لإفادتها المهر والنفقة، بخلاف المجنون، وسواء في جواز التزويج صغيرة وكبيرة، ثيب وبكر، جنت قبل البلوغ أو بعده.ويلزم الولي المجبر – الأب أو الجد – تزويج مجنون بالغ أطبق جنونه وظهرت حاجته للنكاح بظهور رغبته فيه إما بدورانه حول النساء وتعلقه بهن، أو بتوقع شفائه بالوطء بقول عدلين من الأطباء لظهور المصلحة المترتبة على ذلك.فإن تقطع جنون الرجل والمرأة – ولو ثيبا – البالغين لم يزوجا حتى يفيقا ويأذنا، ويكون العقد حال الإفاقة (١) .والأظهر عند الشافعية أنه ليس للسيد إجبار عبده – غير المكاتب والمبعض ولو صغيرا وخالفه في الدين – على النكاح، لأنه لا يملك رفعه بالطلاق، ولأن النكاح يلزم ذمة العبد مالا فلا يجبر عليه كالكتابة.
والثاني: له إجباره كالأمة، وقيل: يجبر الصغير.وللسيد إجبار أمته غير المبعضة والمكاتبة على النكاح، لأن النكاح يرد على منافع البضع وهي مملوكة له، وبهذا فارقت العبد، فيزوجها برقيق ودنيء النسب وإن كان أبوها قرشيا لأنها لا نسب لها، ولا يزوجها بمعيب كأجذم وأبرص ومجنون بغير رضاها – وإن كان يجوز بيعها منه وإن كرهت – ولو أجبرها السيد والحالة هذه على النكاح لم يصح.وإذا طلب العبد البالغ أو الأمة من سيد كل منهما أن يزوجه لم يجبر السيد على ذلك، لأنه يشوش عليه مقاصد الملك وفوائده، ولما فيه من تنقيص القيمة وتفويت الاستمتاع بالأمة عليه، ومقابل الأظهر في العبد: يجبر السيد على إنكاح العبد أو على بيعه، لأن المنع من ذلك يوقعه في الفجور إن خشي العنت، وقيل في الأمة: إن حرمت الأمة على السيد تحريما مؤبدا بنسب أو رضاع أو مصاهرة أوكانت بالغة تائقة خائفة الزنا، لزم السيد تزويجها، إذ لا يتوقع منه قضاء شهوتها، ولا بد من إعفافها، أما إذا كان التحريم لعارض كأن ملك أختين فوطئ إحداهما ثم طلبت الأخرى تزويجها فإنه لا يلزمه إجابتها قطعا (١) . .
٨٥ – وقال الحنابلة في ولاية الإجبار: للأب خاصة تزويج بنيه الصغار، وكذا المجانين ولو بالغين دون إذنهم، لأنه لا قول لهم فكان له ولاية تزويجهم كأولاده الصغار، وحيث زوج الأب ابنه لصغره أو جنونه فإنه يزوجه بغير أمة لئلا يسترق ولده، ولا معيبة عيبا يرد به النكاح كرتقاء وجذماء لما فيه من التنفير، ويزوج الأب ابنه الصغير والمجنون بمهر المثل وغيره ولو كرها، وليس لأي منهما خيار إذا بلغ وعقل.وللأب تزويج بناته الأبكار ولو بعد البلوغ دون إذنهن لقول النبي صلى الله عليه وسلم: ” الأيم أحق بنفسها من وليها، والبكر تستأذن في نفسها وإذنها صماتها ” (١) فلما قسم النساء قسمين وأثبت الحق لأحدهما دل على نفيه عن القسم الآخر وهي البكر، فيكون وليها أحق منها بها، ودل الحديث على أن الاستئذان هنا والاستئمار في حديث آخر مستحب غير واجب.وللأب أيضا تزويج ثيب لها دون تسع سنين بغير إذنها، لأنه لا إذن لها.وليس للجد تزويج هؤلاء بدون إذنهم لعموم الأحاديث، ولأنه قاصر عن الأب فلم يملك الإجبار كالعم. ويسن استئذان بكر بالغة هي وأمها، أما هي فلما تقدم، وأما أمها فلحديث ابن عمر رضي الله عنهما مرفوعا: ” آمروا النساء في بناتهن ” (١) ، ويكون استئذان الولي لها بنفسه أو بنسوة ثقات ينظرن ما في نفسها لأنها قد تستحيي منه، وأمها بذلك أولى لأنها تطلع منها على ما تخفيه على غيرها.وحيث أجبرت البكر أخذ بتعيين بنت تسع سنين فأكثر كفئا لا بتعيين المجبر من أب أو وصيه، لأن النكاح يراد للرغبة فلا تجبر على من لا ترغب فيه.وقد صرح بعض علماء الحنابلة بأنه يشترط للإجبار شروط هي:أن يزوجها من كفء بمهر المثل، وأن لا يكون الزوج معسرا، وأن لا يكون بينها وبين الأب عداوة ظاهرة، وأن يزوجها بنقد البلد، فإن امتنع المجبر من تزويج من عينته بنت تسع سنين فأكثر، فهو عاضل سقطت ولايته، ويفسق به إن تكرر (٢) .
وقالوا: وأما المجنونة فلجميع الأولياء تزويجها إذا ظهر منها الميل للرجال، لأن لها حاجة إلى النكاح لدفع ضرر الشهوة عنها، وصيانتها عن الفجور، وتحصيل المهر والنفقة والعفاف وصيانة العرض، ولا سبيل إلى إذنها فأبيح تزويجها كالبنت مع أبيها، ويعرف ميلها إلى الرجال من كلامها وتتبعها الرجال وميلها إليهم ونحوه من قرائن الأحوال، وكذا إن قال ثقة من أهل الطب إن تعذر غيره وإلا فاثنان: إن علتها تزول بتزويجها، فلكل ولي تزويجها لأن ذلك من أعظم مصالحها كالمداواة، ولو لم يكن للمجنونة ذات الشهوة ونحوها  ولي إلا الحاكم زوجها.وإن احتاج الصغير العاقل أو المجنون المطبق البالغ إلى النكاح لوطء أو خدمة أو غيرهما زوجهما الحاكم بعد الأب والوصي، أي مع عدمهما، لأنه ينظر في مصالحهما إذن، ولا يملك تزويجهما بقية الأولياء وهم من عدا الأب ووصيه والحاكم لأنه لا نظر لغير هؤلاء في مالهما ومصالحهما المتعلقة به، وإن لم يحتاجا إلى النكاح فليس للحاكم تزويجهما، لأنه إضرار بهما بلا منفعة (١) .وللسيد عند الحنابلة إجبار إمائه الأبكار والثيب على النكاح، لا فرق بين الكبيرة والصغيرة منهن، ولا بين القن والمدبرة وأم الولد، لأن منافعهن مملوكة له، والنكاح عقد على منفعتهن، ولذلك ملك الاستمتاع بها، وبهذا فارقت العبد، ولأنه ينتفع بذلك ما له من مهرها وولدها وتسقط عنه نفقتها وكسوتها، ولا فرق بين كونها مباحة أو محرمة عليه كأخته من رضاع.ولا يجبر مكاتبته ولو صغيرة لأنها بمنزلة الخارجة عن ملكه، ولذلك لا يلزمه نفقتها، ولا يملك إجارتها ولا أخذ مهرها.وللسيد إجبار عبده الصغير، وكذا المجنون ولو بالغا، لأن الإنسان إذا ملك تزويج ابنه الصغير والمجنون فعبده كذلك مع ملكه وتمام ولايته أولى.ولا يملك السيد إجبار عبده الكبير العاقل على النكاح، لأنه مكلف يملك الطلاق فلا يجبر على النكاح كالحر، والأمر بإنكاحه مختص بحالة طلبه (١) .
النوع الثاني: ولاية المشاركة أو ولاية الندب والاستحباب:
٨٦ – هذه الولاية تفيد أن نكاح المولى عليها إنما يكون بعد أخذ إذنها ندبا واستحبابا عند أبي حنيفة وأبي يوسف، أو ولاية مشتركة بين الولي والمولى عليها عند محمد من الحنفية، أي لا ينعقد نكاح الولي إلا بعد أخذ إذن المولى عليها كما نص المالكية والشافعية والحنابلة.
وللفقهاء في ذلك تفصيل:
٨٧ – فيرى أبو حنيفة وأبو يوسف في رأيه الأول أنه لا إجبار على البكر البالغة العاقلة في النكاح، وكذلك الحر البالغ العاقل والمكاتب والمكاتبة ولو صغيرين، لقول النبي صلى الله عليه وسلم: ” الثيب أحق بنفسها من وليها، والبكر تستأمر، وإذنها سكوتها ” (١) ، وقالت عائشة: ” يا رسول الله، يستأمر النساء في أبضاعهن؟ قال: نعم، قلت: فإن البكر تستأمر فتستحي فتسكت. قال: سكاتها إذنها ” (٢) .ولأن ولاية الحتم والإيجاب في حالة الصغر إنما تثبت بطريق النيابة عن الصغيرة لعجزها عن التصرف على وجه النظر والمصلحة بنفسها، وبالبلوغ والعقل زال العجز وثبتت القدرة حقيقة، ولهذا صارت من أهل الخطاب في أحكام الشرع، إلا أنها مع قدرتها حقيقة عاجزة عن مباشرة النكاح عجز ندب واستحباب، لأنها تحتاج إلى الخروج إلى محافل الرجال، والمرأة مخدرة مستورة والخروج إلى محفل الرجال من النساء عيب في العادة، فكان عجزها عجز ندب واستحباب لا حقيقة، فثبتت الولاية عليها على حسب العجز، وهي ولاية ندب واستحباب لا ولاية حتم وإيجاب إثباتا للحكم على قدر العلة.وأما طريق محمد فهو أن الثابت بعد البلوغ ولاية الشركة لا ولاية الاستبداد، فلا بد من الرضا كما في الثيب البالغة (١) .وإذا كان الرضا في نكاح البالغة العاقلة شرط الجواز فإنها إذا زوجت بغير إذنها توقف التزويج على رضاها، فإن رضيت جاز، وإن ردت بطل.وفرق الحنفية – كسائر فقهاء المذاهب – بين ما يعرف به الرضا بالنكاح من الثيب، وما يعرف به من البكر البالغة العاقلة، فقالوا: إن كانت المرأة التي يراد تزويجها ثيبا فرضاها يعرف بالقول تارة وبالفعل أخرى، أما القول فهو التنصيص على الرضا وما يجرى مجراه، والأصل فيه قوله صلى الله عليه وسلم: ” الثيب تستأمر في نفسها ” (٢) ، وقوله صلى الله عليه وسلم: ” الثيب تعرب عن نفسها ” (١) ، وأما الفعل نحو التمكين من نفسها، والمطالبة بالمهر والنفقة، ونحو ذلك، لأن هذا دليل الرضا، وهو يثبت بالنص مرة وبالدليل أخرى، والأصل فيه ما روي عن النبي صلى الله عليه وسلم أنه قال لبريرة رضي الله تعالى عنها: ” إن وطأك فلا خيار لك ” (٢) .وإن كانت المرأة بكرا فيعرف رضاها بهذين الطريقين، وبثالث وهو السكوت، وهذا استحسان، والقياس أن لا يكون سكوتها رضا.وجه الاستحسان ما ورد عن عائشة رضي الله عنها ” أنها سألت رسول الله صلى الله عليه وسلم: يستأمر النساء في أبضاعهن؟ قال: نعم. فقالت عائشة رضي الله تعالى عنها: فإن البكر تستأمر فتستحي فتسكت، فقال صلى الله عليه وسلم: سكاتها إذنها ” وروي: ” سكوتها رضاها ” وروي: ” سكوتها إقرارها ” (٣) ، وكل ذلك نص في الباب، ولأن البكر تستحي عن النطق بالإذن في النكاح، لما فيه من إظهار رغبتها في الرجال فتنسب إلى الوقاحة، فلو لم يجعل سكوتها إذنا ورضا بالنكاح دلالة، وشرط استنطاقها وهي لا تنطق عادة، لفاتت عليها مصالح النكاح مع حاجتها إلى ذلك، وهذا لا يجوز، وترجح جانب الرضا على جانب السخط في سكوت البكر لأنها لو لم تكن راضية لردت، لأنها إن كانت تستحي عن الإذن فلا تستحي عن الرد، فلما سكتت ولم ترد دل على أنها راضية، بخلاف ما إذا زوجها أجنبي أو ولي غيره أولى منه، لأن احتمال السخط – في حالة السكوت – ازداد، فقد يكون سكوتها عن جوابه مع أنها قادرة على الرد تحقيرا له وعدم مبالاة بكلامه، فبطل رجحان دليل الرضا، ولأنها إنما تستحي من الأولياء من الأجانب، والأبعد عند قيام الأقرب وحضوره أجنبي، فكانت في حق الأجانب كالثيب، فلا بد من فعل أو قول يدل على الرضا، ولأن المزوج إذا كان أجنبيا أو كان الولي  الأبعد كان النكاح من طريق الوكالة لا من طريق الولاية لانعدامها، والوكالة لا تثبت إلا بالقول، وإذا
كان وليا فالجواز بطريق الولاية فلا يفتقر إلى القول.ووجه القياس الذي لا يعتبر سكوت المرأة رضا أن السكوت يحتمل الرضا ويحتمل السخط، فلا يصلح دليل الرضا مع الشك والاحتمال، ولهذا لم يجعل دليلا إذا كان المزوج أجنبيا أو وليا غيره أولى منه.والسنة للولي أن يستأمر البكر قبل النكاح ويذكر لها الزوج، فيقول: إن فلانا يخطبك أو يذكرك، فإذا سكتت فقد رضيت، لما ورد عن عائشة وغيرها، فإذا زوجها من غير استئمار فقد أخطأ السنة، زاد في البحر عن المحيط: وتوقف على رضاها، وقد صح ” أنه صلى الله عليه وسلم لما أراد أن يزوج فاطمة من علي رضي الله تعالى عنهما دنا إلى خدرها فقال: إن عليا يذكرك فسكتت فزوجها ” (١) .ولو استأذن الولي البكر البالغة العاقلة في النكاح فضحكت غير مستهزئة، أو تبسمت، أو بكت بلا صوت فهو إذن – في المختار للفتوى – لأنه حزن على مفارقة أهلها، وإنما يكون ذلك عند الإجازة، وعن أبي يوسف في البكاء أنه رضا لأنه لشدة الحياء، وعن محمد رد لأن وضعه لإظهار الكراهة، قال ابن الهمام بعدما سبق: والمعول عليه اعتبار قرائن الأحوال في البكاء والضحك، فإن تعارضت أو أشكل احتيط.ولو استأذنها الولي  فبكت بصوت لم يكن إذنا ولا ردا، حتى لو رضيت بعده انعقد كما قال الحصكفي نقلا عن المعراج وغيره.والحكم كذلك لو استأذنها الولي بواسطة وكيله أو رسوله، أو زوجها وليها وأخبرها رسوله أو فضولي عدل.ولو قال الولي للبكر: أريد أن أزوجك فلانا، فقالت: غيره أولى منه لم يكن إذنا، ولو زوجها ثم أخبرها فقالت: قد كان غيره أولى منه كان إجازة، لأن قولها في الأول إظهار عدم الرضا بالتزويج من فلان، وقولها في الثاني قبول أو سكوت عن الرد، وسكوت البكر عن الرد يكون رضا.ولو قال الولي للبكر: أريد أن أزوجك من رجل ولم يسمه فسكتت لم يكن رضا كذا روي عن محمد، لأن الرضا بالشيء بدون العلم به لا يتحقق.ولو قال: أزوجك فلانا أو فلانا حتى عد جماعة فسكتت، فمن أيهم زوجها جاز.ولو سمى لها الجماعة مجملا بأن قال: أريد أن أزوجك من جيراني أو من بني عمي فسكتت، فإن كانوا يحصون فهو رضا، وإن كانوا لا يحصون لم يكن رضا، لأنهم إذا كانوا يحصون يعلمون فيتعلق الرضا بهم، وإذا لم يحصوا لم يعلموا فلا يتصور الرضا، لأن الرضا بغير المعلوم محال.
ولو سمى الولي لها الزوج ولم يسم المهر فسكتت فسكوتها رضا على ما صححه التمرتاشي والمرغيناني وشراح كتابيهما تنوير الأبصار والهداية وجمهور المتقدمين، لأن للنكاح صحة بدون ذكر المهر، وقيل يشترط تسمية قدر الصداق مع تسمية الزوج، لاختلاف الرغبة باختلاف الصداقة قلة وكثرة، وتمام الرضا لا يثبت إلا بذكر الزوج والمهر وهو ما نقله الحصكفي عن المتأخرين، ونقله الكاساني عن الفتاوي.ولو استأذن المرأة غير الولي الأقرب، كأجنبي أو ولي بعيد، فلا عبرة لسكوتها بل لا بد من القول أو ما هو في معناه من فعل يدل على الرضا كطلب مهرها ونفقتها، وتمكينها من الوطء، ودخوله بها برضاها، وقبول التهنئة والضحك سرورا، ونحو ذلك، لأن السكوت إنما جعل رضا عند الحاجة أي عند استئمار الولي  وعجزها عن المباشرة، فلا يقاس عليه عدم الحاجة وهو من لا يملك العقد ولا التفات إلى كلامه.
وقالوا: من زالت بكارتها بوثبة – أي نطة – من فوق إلى أسفل، أو طفرة وهي عكس النطة، أو درور حيض، أو حصول جراحة، أو تعنيس فهي بكر حقيقة، لأن البكر عندهم المرأة التي لم تجامع بنكاح ولا غيره، كما نقل ابن عابدين عن الظهيرية، فهي وإن زالت منها العذرة – أي الجلدة التي على المحل – فإن بكارتها لم تزل لأنها لم تجامع، فهي بكر حقيقة، وهي كذلك بكر حكما تزوج كما تزوج الأبكار، وتأخذ في الرضا وغيرها حكم الأبكار حتى تدخل – كما قال ابن مودود الموصلي – تحت الوصية لهم بالإجماع.ومن زالت عذرتها بوطء يتعلق به ثبوت النسب، وهو الوطء بعقد جائز أو فاسد أو شبهة عقد تزوج كما تزوج الثيب، ولا يكفي في رضاها السكوت.وإذا زالت عذرتها بالزنا فإنها تزوج كما تزوج الأبكار في قول أبي حنيفة، لأنه علة إقامة السكوت مقام النطق في البكر الحياء، وهو موجود في حق هذه وإن كانت ثيبا حقيقة، لأن زوال بكارتها لم يظهر للناس فيستقبحون منها الإذن بالنكاح صريحا ويعدونه من باب الوقاحة، ولا يزول ذلك ما لم يوجد النكاح أو يشتهر الزنا، ولو اشترط نطقها فإن لم تنطق تفوتها مصلحة النكاح، وإن نطقت والناس يعرفونها بكرا تتضرر باشتهار الزنا عنها، فوجب أن لا يشترط دفعا للضرر. وقال أبو يوسف ومحمد: تزوج كما تزوج الثيب لقوله صلى الله عليه وسلم: ” البكر تستأمر والثيب تشاور ” (١) وهذه ثيب حقيقة، لأن الثيب حقيقة من زالت عذرتها وهذه كذلك، فيجرى عليها أحكام الثيب، ومن أحكامها أنه لا يجوز نكاحها بغير إذنها نصا فلا يكتفى بسكوتها.ولو كانت مشتهرة بالزنا، بأن أقيم عليها الحد، أو اعتادته وتكرر منها، أو قضى عليها بالعدة، تستنطق بالإجماع لزوال الحياء وعدم التضرر بالنطق.
ولو مات زوج البكر أو طلقها قبل الدخول تزوج كالأبكار، لبقاء البكارة والحياء (2) .
88 – ويرى المالكية أن الولي غير المجبر هو من عدا الذين سبق ذكرهم في ولاية الإجبار، وهم الأب والوصي والحاكم والمالك، وعليه لا تزوج بالغ إلا بإذنها، سواء كانت بكرا أو ثيبا، والإذن من كل منهما مختلف فإذن البكر غير المجبرة صمتها، أي إذا سئلت، هل ترضين بأن نزوجك من فلان على مهر قدره كذا على أن الذي يتولى العقد فلان؟ فلا تكلف النطق، وندب إعلامها بأن سكوتها إذن ورضا، فإن لم تعلم بذلك وادعت الجهل فلا تقبل دعواها وتم النكاح عند الأكثر.ولا تزوج البكر إن منعت، بأن قالت: لا أتزوج أو لا أرضى أو ما في معناه، وكذا إن نفرت، لأن النفور دليل عدم الرضا، لا إن ضحكت أو بكت فتزوج، لأن بكاءها يحتمل أنه لفقد أبيها الذي يتولى عقدها.
والثيب – ولو سفيهة – تعرب عن الرضا أو المنع، ولا يكتفى منها بالصمت ويشارك الثيب في عدم الاكتفاء بالصمت ست أبكار:
الأولى: البكر التي رشدها أبوها بأن أطلق الحجر عنها في التصرف المالي وهي بالغ فلا بد من إذنها بالقول.
الثانية: البكر التي عضلت فرفعت أمرها إلى الحاكم فزوجها الحاكم لا بد من إذنها بالقول، فإن أمر الحاكم أباها بالعقد، فأجاب وزوجها لم يحتج لإذن، لأنه مجبر.

الثالثة: البكر المهملة التي لا أب لها ولا وصي وزوجت بعرض، وهي من قوم لا يزوجون بالعروض، أو يزوجون بعرض معلوم فزوجها وليها بغيره لا بد من نطقها بأن تقول: رضيت به، ولا تكفي الإشارة.
الرابعة: البكر ولو مجبرة التي زوجت برقيق – أي التي أراد وليها أن يزوجها لرقيق – لا بد من إذنها بالقول، لأن العبد ليس بكفء للحرة.
الخامسة: البكر التي زوجت لذي عيب – كجذام وبرص وجنون وخصاء – فلا بد من نطقها بأن تقول: رضيت به مثلا.
السادسة: غير المجبرة التي افتيت عليها، أي تعدى عليها وليها غير المجبر فعقد عليها بغير إذنها ثم أنهى إليها الخبر فرضيت، فيصح النكاح، ولا بد من رضاها بالقول.
وقال المالكية: يصح عقد المفتات عليها إذا رضيت بعقد وليها عليها افتياتا بشروط ستة:
الأول: أن يقرب رضاها، بأن يكون العقد بالسوق أو بالمسجد مثلا ويسار إليها بالخبر من وقته.
الثاني: أن يكون الرضا بالقول، فلا يكفي الصمت.
الثالث: أن لا يقع منها رد للنكاح قبل الرضا به.
الرابع: أن تكون من افتيت عليها بالبلد حال الافتيات والرضا، فإن كانت بآخر لم يصح ولو قرب البلدان وأنهى إليها الخبر من وقته. الخامس: أن لا يقر الولي بالافتيات حال العقد، بأن سكت أو ادعى أنه مأذون، فإن أقر به لم يصح.
السادس: أن لا يكون الافتيات على الزوجة والزوج معا، فإن كان عليهما معا لم يصح ولا بد من فسخه.
والافتيات على الزوج كالافتيات على الزوجة في جميع ما مر، أي فيصح العقد إن رضي به نطقا، مع الشروط السابقة (١) .
٨٩ – وقال الشافعية: ليس للولي المجبر تزويج ثيب بالغة وإن عادت بكارتها إلا بإذنها، لخبر: ” لا تنكحوا الأيامى حتى تستأمروهن ” (٢) ، ولأنها عرفت مقصود النكاح فلا تجبر بخلاف البكر، فإن كانت تلك الثيب صغيرة غير مجنونة وغير أمة لم تزوج، سواء احتملت الوطء أم لا، حتى تبلغ، لأن إذن الصغيرة ليس معتبرا فامتنع تزويجها إلى البلوغ، أما المجنونة فيزوجها الأب والجد عند عدمه قبل بلوغها للمصلحة، وأما الأمة فلسيدها أن يزوجها.وقالوا: وسواء في حصول الثيوبة واعتبار إذنها زوال البكارة بوطء في قبلها حلال كالنكاح أو حرام كالزنا أو بوطء لا يوصف بهما كشبهة، ولا فرق في ذلك بين أن يكون في نوم أو يقظة، والوطء في الدبر لا أثر له على الصحيح، لأنها لم تمارس الرجال بالوطء في محل البكارة.ولا أثر لزوال البكارة بلا وطء في القبل، كسقطة وحدة طمث وطول تعنيس – وهو الكبر – أو بأصبع ونحوه في الأصح كما في منهاج الطالبين، أو الصحيح كما في روضة الطالبين بل حكمها حكم الأبكار لأنها لم تمارس الرجال فهي على حالها وحيائها، والثاني أنها كالثيب لزوال العذرة، ولو خلقت بلا بكارة فهي بكر (١) .
٩٠ – وقال الحنابلة: لا يجوز لغير الأب من الأولياء تزويج حرة كبيرة بالغة – ثيبا كانت أو بكرا – إلا بإذنها، لحديث: ” لا تنكح الأيم حتى تستأمر، ولا تنكح البكر حتى تستأذن قالوا: يا رسول الله وكيف إذنها؟ قال: أن تسكت ” (١) إلا المجنونة فلسائر الأولياء تزويجها إذا ظهر منها الميل للرجال، لأن لها حاجة إلى النكاح لدفع ضرر الشهوة عنها، وصيانتها عن الفجور، وتحصيل المهر والنفقة العفاف وصيانة العرض، ولا سبيل إلى إذنها فأبيح تزويجها، كالبنت مع أبيها، ويعرف ميلها إلى الرجال من كلامها وتتبعها الرجال وميلها إليهم ونحوه من قرائن الأحوال، وكذا إن قال ثقة من أهل الطب إن تعذر غيره وإلا فاثنان: إن علتها تزول بتزويجها، فكل ولي  تزويجها لأن ذلك من أعظم مصالحها كالمداواة، ولو لم يكن للمجنونة ذات الشهوة ونحوها ولي إلا الحاكم زوجها.وليس لمن عدا الأب ووصيه الذي نص عليه تزويج صغيرة لها دون تسع سنين بحال، ولهم تزويج بنت تسع سنين فأكثر بإذنها، ولها إذن صحيح معتبر نصا، لما روي عن عائشة رضي الله تعالى عنها أنها قالت: ” إذا بلغت الجارية تسع سنين فهي امرأة ” (٢) ، وروي مرفوعا عن ابن عمر رضي الله تعالى عنهما (١) ، ومعناه: في حكم المرأة، ولأنها تصلح بذلك للنكاح وتحتاج إليه، أشبهت البالغة.
وإذن الثيب الكلام لقوله صلى الله عليه وسلم: ” الثيب تعرب عن نفسها ” (2) ، وهي من وطئت في القبل بآلة الرجال ولو بزنا، وحيث حكمنا بالثيوبة وعادت البكارة لم يزل حكم الثيوبة، لأن الحكمة التي اقتضت التفرقة بينها وبين البكر مباضعة الرجال وهذا موجود مع عود البكارة.
وإذن البكر الصمات ولو زوجها غير الأب لما سبق، وإن ضحكت أو بكت فذلك كسكوتها، لما ورد عن أبي هريرة رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: ” تستأمر اليتيمة فإن سكتت فهو إذنها، وإن أبت فلا جواز عليها ” وفي رواية: ” فإن بكت أو سكتت ” (٣) ولأنها غير ناطقة بالامتناع مع سماعها للاستئذان فكان ذلك إذنا منها، ونطق البكر أبلغ من سكوتها وضحكها وبكائها لأنه الأصل في الإذن وإنما اكتفي منها بالصمات للاستحياء، فإن أذنت نطقا فقد تم الإذن، وإن لم تأذن نطقا استحب أن لا يجبرها على النطق، واكتفي بسكوتها إن لم تصرح بالمنع.وزوال البكارة بأصبع أو وثبة أو شدة حيضة ونحوه كسقوط من شاهق لا يغير صفة الإذن، فلها حكم البكر في الإذن، لأنها لم تخبر المقصود ولا وجد وطؤها في القبل فأشبهت من لم تزل عذرتها، وكذا وطء في الدبر ومباشرة دون الفرج لأنها غير موطوءة في القبل.
ويعتبر في الاستئذان تسمية الزوج على وجه تقع معرفة المرأة به، بأن يذكر لها نسبه ومنصبه ونحوه لتكون على بصيرة من إذنها في تزويجه لها، ولا يشترط في الاستئذان تسمية المهر لأنه ليس ركنا في النكاح ولا مقصودا منه، قال البهوتي: ولا يشترط أيضا اقترانه بالعقد، ولا يشترط الإشهاد على إذنها لوليها أن يزوجها ولو غير مجبرة، والاحتياط الإشهاد (١) . والله أعلم بالصواب