logo mubaa
Logo Ittihad

DEWAN PIMPINAN PUSAT
IKATAN ALUMNI BATA-BATA

Kategori
Uncategorized

HUKUMNYA SISA DARAH DALAM DAGING DAN TULANG

Assalamualaikum.
Deskripsi masalah.
Katakanlah nama samarannya Hamidatussholihah, dia biasa jualan kaldu kekel sapi setelah dibasuh memudian dimasak ternyata setelah mau disantap(makan) baik oleh dirinya ataupun oleh pembeli, ternyata ada sisa darah didalam daging dan tulangnya.

Pertanyaannya.

Bagaimana hukumnya sisa darah pada daging dan tulang sebagaimana deskripsi?

Waalaikum salam
Jawaban.

Hukumnya darah yang tersisa dalam daging dan tulang saat dimasak ada dua pendapat.

Pertama: Suci karena kejadiaan tersebut pernah terjadi pada zaman Rosululloh SAW ketika siti A’isyah memasak daging dalam panci lalu muncullah warna kuning-kuning dari darah, namun pada waktu itu Rosulullah SAW tidak mencegahnya bahkan Nabi Muhammad SAW memakannya.

Kedua : Hukumnya dima’fu ‘anhu (dimaafkan) dengan pertimbangan karena darah tersebut merupakan darah yang mengalir hanya saja tidak mengalir karena sedikit.Dengan demikian maka dari dua pendapat ada titik persamaan yakni sama sama menghukumi boleh dikonsumsi ( dimakan) Wallahu A’lamubisshowab.

( مغنى المحتاج ص112 جز 1)

واما الدم الباقى على اللحم وعظامه فقيل أنه طاهر وهو قضية كلام المصنف في المجموع وجرى عليه السبكى ويدل له من السنة قول عائشة رضى الله عنها ” كنا نطبخ البرمة على عهد رسول الله صلى الله عليه وسلم تعلوها للصفرة من الدم فنأكل ” وظاهر كلام الحليمى وجماعة أنه نجس معفو عنه وهذا هو الظاهر لأنه دم مسفوح وان لم يسل لقلته ولاينافيه ما تقدم من السنة .والله تعالى أعلم بالصواب

Kategori
Uncategorized

HUKUM MEMINDAHKAN MAYIT

HUKUM MEMINDAHKAM MAYI

Assalamualaikum ust.
Deskripsi masalah
Ada seseorang memiliki keluaga telah lama meninggal sekitar 5 tahun orang tersebut meninggal didaerah Sumenep tempat dia berkeja yang jauh dari tempat tinggalnya ( Masa lembu ) sementara dia dikuburkan dikota Sumenep, hal itu dikarenakan ketika meninggal kapal masih tinggal seminggu jadwal pemberanggkatan dari pelabuhan Kaleangit menuju Masalembu, akhirnya dengan terpaksa dikuburkan dikota Sumenep. Namun setelah berkisar 5 tahun bihak keluarga yang meninggal ingin memindahkan ketempat kelahirannya yaitu di Masa lembu, mengingat agar mempermudah pihak keluarganya ketika berziarah. Selain itu kuburan yang ditempati hak milik orang lain, namun sebelum menguburkan sipemilik sudah memberi izin,atas permohonan ahli mayit ,walaupun demikian pihak keluarga mayit hawatir dikemudian kuburannya tidak terawat.

Pertanyaannya.
Bagaimana hukumnya memindahkan mayit sebagaimana deskripsi

Waalaikum salam
Jawaban.

Mengenai hukum pemindahan mayit setelah pemakaman terdapat perbedaan pendapat antar fuqoha'(ulama fiqh) sebagai berikut:

➡️Hanafiyah, Syafi’iyah dan Hanabilah mengharomkan secara mutlak. Sebagian ulama mutaakhirin dari..

➡️Hanafiyah menyatakan boleh.

Demikian pula hukum pemindahan mayit dari desa kematiannya ke desa yang lain sebelum dimakamkan :

➡️Hanafiyah memperbolehkan secara mutlak.

➡️Mayoritas Syafi’iyah dan Hanabilah tidak memperbolehkan, kecuali bila ada tujuan yang dibenarkan syari’at semisal dipindah ke tempat yang mulia seperti Mekkah, Sebagian Syafi’iyah menghukumi makruh.
➡️ Malikiyah memperbolehkan dengan beberapa syarat :

1️⃣Ketika pemindahan tidak mengalirkan darah secara terus menerus.

2️⃣Tidak menghilangkan kehormatan mayit .

3️⃣Ada maslahat semisal barokahnya tempat yang akan dijadikan tempat pemindahan (seperti kuburan orang orang soleh), atau supaya kumpul dengan kuburan keluarganya dan lain lain.

(الموسوعة الفقهية ج : ٢١ ص : ١٠).

نقل الميت من مكان إلى آخر : ٤ – ذهب الحنفية والشافعية والحنابلة إلى أنه لا يجوز نقل الميت من مكان إلى آخر بعد الدفن مطلقا . وأفتى بعض المتأخرين من الحنفية بجوازه إلا أن ابن عابدين رده فقال نقلا عن الفتح : اتفق مشايخ الحنفية في امرأة دفن ابنها وهي غائبة في غير بلدها فلم تصبر , وأرادت نقله على أنه لا يسعها ذلك , فتجويز بعض المتأخرين لا يلتفت إليه . وأما نقل يعقوب ويوسف عليهما السلام من مصر إلى الشام ; ليكونا مع آبائهما الكرام فهو شرع من قبلنا , ولم يتوفر فيه شروط كونه شرعا لنا . وأما قبل دفنه فيرى الحنفية وهو رواية عن أحمد أنه لا بأس بنقله مطلقا , وقيل إلى ما دون مدة السفر , وقيده محمد بقدر ميل أو ميلين . وذهب جمهور الشافعية والحنابلة إلى أنه لا يجوز نقل الميت قبل الدفن من بلد إلى آخر إلا ; لغرض صحيح . وبه قال الأوزاعي وابن المنذر . قال عبد الله بن أبي مليكة : توفي عبد الرحمن بن أبي بكر بالحبشة , فحمل إلى مكة فدفن , فلما قدمت عائشة رضي الله تعالى عنها أتت قبره , ثم قالت : ” والله لو حضرتك ما دفنت إلا حيث مت , ولو شهدتك ما زرتك ” . ولأن ذلك أخف لمؤنته , وأسلم له من التغيير , وأما إن كان فيه غرض صحيح جاز . قال الشافعي رحمه الله : لا أحبه إلا أن يكون بقرب مكة , أو المدينة , أو بيت المقدس . فيختار أن ينقل إليها ; لفضل الدفن فيها , وقال بعض الشافعية : يكره نقله , وقال صاحب ” التتمة ” وآخرون : يحرم نقله . وأما المالكية فيجوز عندهم نقل الميت قبل الدفن وكذا بعده من مكان إلى آخر بشروط هي : – أن لا ينفجر حال نقله – أن لا تنتهك حرمته – وأن يكون ; لمصلحة : كأن يخاف عليه أن يأكله البحر , أو ترجى بركة الموضع المنقول إليه , أو ليدفن بين أهله , أو لأجل قرب زيارة أهله , أو دفن من أسلم بمقبرة الكفار , فيتدارك بإخراجه منها , ودفنه في مقبرة المسلمين . فإن تخلف شرط من هذه الشروط الثلاثة كان النقل حراما

Referensi:

وَحَرُمَ نَبْشُهُ قَبْلَ الْبِلَى عِنْدَ أَهْلِ
الْخِبْرَةِ بِتِلْكَ اْلأَرْضِ بَعْدَ دَفْنِهِ لِنَقْلٍ وَغَيْرِهِ كَتَكْفِيْنٍ وَصَلاَةٍ عَلَيْهِ لِأَنَّ فِيْهِ هَتْكًا لِحُرْمَتِهِ إِلاَّ لِضَرُوْرَةٍ كَدَفْنٍ بِلاَ طُهْرٍ مِنْ غُسْلٍ أَوْ تَيَمُّمٍ وَهُوَ مِمَّنْ يَجِبُ طَهْرُهُ

Artinya, “Haram membongkar kuburan sebelum mayat hancur sesuai dengan pendapat para pakar tentang tanahnya setelah penguburannya, untuk dipindahkan ataupun lainnya, seperti mengkafani dan menyalati. Sebab dalam hal itu terdapat perusakan terhadap kehormatan mayat. Kecuali karena darurat, seperti dikuburkan tanpa disucikan dengan dimandikan atau tayamum, sedangkan mayat itu termasuk orang yang harus disucikan.” (Syekh Abu Zakaria Al-Anshari, Fathul Wahhab [Mesir: At-Tijariyatul Kubra: tanpa tahun], jilid II, halaman 211).

أما نقله بعد دفنه فحكمه ما يأتي
قال الحنفية: يحْرُمُ إخراجه ونقله، إلا إذا كانت الأرض التي دفن فيها مغصوبة، أو أخذت بعد دفنه بالشفعة، يعني استحقها شخص آخر مجاور لها.وقال الشافعية: يحْرُم نقله إلا لضرورة، كمن دُفن في أرض مغصوبة، فيجوز نقله إن طالب بها مالكها.وقال الحنابلة: يجوز النقل بالشروط المذكورة في النقل قبل الدفن، فإن فقد شرط كان النقل حرامًا قبل الدفن وبعده.وقال المالكية: يجوز نقله بالشروط الثلاثة المذكورة في النقل قبل الدفن، فإن فُقِد شرط منها حُرِّم النقل.
“انظر كتاب الفقه علىالمذاهب الأربعةـ نشر وزارة الأوقاف المصرية”.

Adapun memindahkan mayit setelah dikuburkan maka hukumnya sebagaimana berikut:

Mazhab Hanafi: Haram. Kecuali jika tanah tersebut tanah rampasan. Atau ternyata tanah itu milik orang lain.

Mazhab Syafi’i: Boleh, jika darurat tingkat tinggi. Misalnya, ternyata tanah itu dulu tanah rampasan, sekarang pemiliknya menuntut kembali.

Mazhab Hambali: Boleh. Dengan syarat tersebut di atas. Jika tidak seperti di atas, maka memindahkan jenazah yang sudah dikubur hukumnya haram.

Mazhab Maliki: Boleh. Jika cukup syarat di atas. Jika tidak cukup syarat, haram.

Sumber: Kitab Al-Fiqh ‘ala al-Maadzahib al-Arba’ah Fiqh empat mazhab. Hukum asalnya, tidak boleh dikebumikan beberapa jenazah dalam satu lubang. Kalau sudah terjadi, sudah dikebumikan, haram hukumnya dibongkar lagi. Wallahu A’lamu bisshowab

Kategori
Uncategorized

HUKUM MENULIS AYAT AL-QUR’AN DENGAN KAKI

Assamualaikum

Deskripsi Masalah

Manusia diciptakan oleh Allah dengan bentuk dan rupa yang berbeda-beda, sedangkan perbedaan itu adalah tanda kekuasaan Allah, oleh karena janganlah seseorang berfikir ketidak samaan itu bukanlah suatu ketidak adilan Tuhan karena adil tidaklah harus sama, dan dibalik ketidak samaan itu pasti ada hikmah yang diharasiakan oleh Allah, selain itu manusia harus sadar dan menyadari bahwa tidak ada manusia yang sempurna karena itu ada kekurangan dan disisi yang lain juga ada kelebihan yang dimiliki oleh seseorang, yang tentunya kelebihan dan kekurangan itu tidaklah mungkin sama dengan apa yang dimiliki oleh orang lain , itulah nasib yang harus diterima dan kita syukuri, ini sesuai dengan sebuah maqolah


لاتحتقر من دونك فإن لكل شيئ مزية


Janganlah kamu meremehkan orang-orang yang berada dibawahmu maka karena setiap sesuatu itu punya kelebihan ( keistimiwaan).Terkait dengan kelebihan dan kekurang yang dimiliki manusia ada seseorang yang tidak punya tangan lalu dia menulis ayat Al-Qur’an dengan kakinya.

Pertanyaanya.
Bagaimana hukumnya sesorang menulis al-Qur’an dengan menggunakan kaki sebagaimana dalam deskripsi.?

Waalaikum salam.
Jawaban.

Menulis Al qur an dengan kaki karena adanya sebab yaitu tidak punya tangan maka dalam kondisi yang sedemikian hukumnya boleh,(tidak haram), karena itulah satu-satunya cara untuk bisa menulis.

Referensi:


( جمل ج ٥ ص ١٢٣)

فائدة وقع السؤال عن شخص يكتب القرأن برجله لكونه لايمكنه ان يكتبه بيديه لمانع بهما فالجواب عنه كما اجاب به شيخنا الشوبري انه لايحرم عليه ذلك والحالة ما ذكر لأنه لايعد إزراء لإن الإزراء أن يقدر على الحالة االكاملة وينتقل عنها الى غيرها وهذا ليس كذلك

Keterangan :
Boleh menulis Al qur an dengan menggunakan kaki (tidak bisa dengan tangan) kalau memang itu adalah satu-satunya cara.Hal ini juga berdasarkan kaidah ushul fikihnya imam Syafi’i:

اذا ضاق الاءمر اتسع.

Artinya:Jika didalam keadaan dorurot(terpaksa),maka mendapat keringanan untuk mengerjakan hal-hal yang tidak diperbolehkan.

Kategori
Uncategorized

HUKUM ORANG ISLAM MASUK GEREJA

Assalamualaikum:
Deskripsi Masalah:

Islam adalah agama yang membawa rahmat Lilalamin tidak sedikit orang muslim mempunyai teman Non Muslim yang akrab walau beda agama namun diantara mereka tetap saling menghargai dan menghormati antara yang satu dengan yang lain . Pada suatu hari bertepatan hari minggu pertama bulan januari katanlah Fulan orang Islam berteman dengan Fulin Non Muslim yang mana Fulin mengajak Fulan memasuki tempat ibadahnya Fulin yaitu Gereja walau hanya menigok keadaan suasana apa yang ada didalam gereja tersebut, dan pada satu bulan berikutnya Fulin mengajak lagi Namun ketika Fulan masuk kedua kalinya Fulan sempat melakukan sholat dhuhur digereja hal itu ia lakukan karena mipetnya waktu.

Pertanyaannya.
Bagaimanakah hukumnya orang Islam memasuki tempat Ibadahnya orang Kristen ( Gereja) jika hanya sebatas melihat keadaan didalamnya atau melakukan shalat sebagaimana deskripsi..?


Waalaikum salam.
Jawaban.
Memasuki tempat Ibadah Non Muslim hukumnya makruh menurut Ulama Madzhab Hanafi, dan boleh menurut mayoritas ulama dikalangan Maliki Syafi’i.

جواهر الإكليل ج ١ ص ٣٨٣

أى معبدها كنيسة أو بيعة ولزوجها المسلم دخوله معها

رد المختار على الدر المختار .ص ١ ص ٣٨٠
يكره للمسلم الدخول فى البيعة والكنيسة الظاهر انها تحريمية

Namun ada sebagian dikalangan madzhab Syafi’i berpendapat hukumnya memasuki Gereja tidak boleh kecuali ada idzin, artinya jika ada idzin maka hukumnya boleh , Syekh Muhammad bin Khatib as Syarbini menyebutkan:   

 لَا يَجُوْزُ لِلْمُسْلِمِ دُخُوْلُ كَنَائِسِ أَهْلِ الذِّمَّةِ إِلَّا بِإِذْنِهِمْ. وَمُقْتَضَى ذَلِكَ الْجَوَازُ بِالْإِذْنِ وَهُوَ مَحْمُوْلٌ عَلَى مَا إِذَا لَمْ تَكُنْ فِيْهَا صُوْرَةٌ

Artinya: Seorang muslim tidak diperkenankan memasuki gereja-gereja ahli dzimmah kecuali atas izin mereka. Artinya, hal itu diperbolehkan mana kala ada izin. Namun kebolehan melakukan hal itu, hanya jika di dalam gereja tersebut tidak terdapat gambar. (Lihat: Muhammad bin Khatib as-Syarbini, Mughnil Muhtaj, juz 4, halaman: 337).   

Syekh al-Qalyubi juga menuliskan sebagai berikut: 

   لَا يَجُوزُ لَنَا دُخُولُهَا إلَّا بِإِذْنِهِمْ وَإِنْ كَانَ فِيهَا تَصْوِيرٌ حَرُمَ مُطْلَقًا، وَكَذَا كُلُّ بَيْتٍ فِيهِ صُورَةٌ

Artinya: Kita tidak diperbolehkan memasuki gereja kecuali atas izin mereka, sedangkan jika di dalam gereja tersebut ada gambar maka hukum memasukinya haram secara mutlak. Begitu pula, haram memasuki setiap rumah yang ada gambarnya. (Lihat: Al-Qalyubi, Hasyiyatal Qalyubi wa Umairah, juz 4, halaman: 492).    

Adapun melakukan shalat ditempat gereja hukumnya makruh, alasan karena gereja adalah tempatnya banyak setan dan tidak sepi dari banyak gambar dan tempat fitnah dan keinginan yang dapat mencegah pada kekhusyu’an shalat.

الفقه الإسلامي و أدلته – ٩٣٩/٧٧٢٢

٥ – الكنيسة (معبد النصارى) والبيعة (معبد اليهود) ونحوهما من أماكن الكفر: تكره الصلاة فيها عند الجمهور وابن عباس، مطلقا عامرة أو دارسة؛ إلا لضرورة كحر أو برد أو مطر، أو خوف عدو أو سبع، فلا كراهة.
وحكمة الكراهة: أنها مأوى الشياطين، لأنها لا تخلو من التماثيل والصور، ولأنها موضع فتنة وأهواء، مما يمنع الخشوع.
وقالت الحنابلة: لا بأس بالصلاة في الكنيسة النظيفة، وقد رخص فيها الحسن البصري وعمر بن عبد العزيز والشعبي والأوزاعي وسعيد بن عبد العزيز، وروي أيضا عن عمر وأبي موسى الأشعري. واستدلوا: بأن النبي صلى الله عليه وسلم صلى في الكعبة وفيها صور (١)، وهي داخلة في عموم قوله عليه السلام: «فأينما أدركتك الصلاة، فصل، فإنه مسجد».
قال النووي في المجموع: وتكره الصلاة في مأوى الشياطين كالخمارة وموضع المكس ونحو ذلك من المعاصي الفاحشة.

المجموع شرح المهذب – ١٢٩١/٩٧٩٢

(فرع)
تكره الصلاة في الكنيسة والبيعة حكاه ابن المنذر عن عمر بن الخطاب وابن عباس ومالك رضي الله عنهم ونقل الترخيص فيها عن أبي موسى والحسن والشعبي والنخعي وعمر بن
عبد العزيز والأوزاعي وسعيد بن عبد العزيز وهي رواية عن ابن عباس واختاره ابن المنذر. والله أعلم بالصواب

Al-Fiqh Al-Islami wa Adillatuhu – 7722/939

5. Gereja (tempat ibadah Nasrani) dan bi’ah (tempat ibadah Yahudi) serta tempat sejenisnya yang merupakan tempat kekufuran: Makruh melakukan shalat di tempat-tempat tersebut menurut mayoritas ulama dan Ibnu Abbas, baik dalam keadaan terawat atau tidak terawat, kecuali dalam kondisi darurat, seperti panas, dingin, hujan, atau ketakutan terhadap musuh atau binatang buas, maka tidak ada kemakruhan.

Hikmah dari kemakruhan tersebut adalah karena tempat-tempat tersebut merupakan tempat berkumpulnya setan, karena biasanya terdapat patung dan gambar di dalamnya, serta menjadi tempat fitnah dan hawa nafsu, yang dapat menghalangi kekhusyukan.

Mazhab Hanbali berpendapat bahwa tidak masalah melakukan shalat di gereja yang bersih. Hasan Al-Bashri, Umar bin Abdul Aziz, Asy-Sya’bi, Al-Auza’i, dan Sa’id bin Abdul Aziz memberikan keringanan untuk melakukan shalat di dalamnya, dan juga diriwayatkan dari Umar dan Abu Musa Al-Asy’ari. Dalil mereka adalah bahwa Nabi صلى الله عليه وسلم pernah shalat di dalam Ka’bah yang di dalamnya terdapat gambar (1), dan hal ini masuk dalam keumuman sabda Nabi صلى الله عليه وسلم: “Di mana pun kamu mendapati waktu shalat, maka shalatlah, karena tempat itu adalah masjid.”

Imam An-Nawawi dalam Al-Majmu’ menyatakan bahwa makruh shalat di tempat yang menjadi tempat tinggal setan, seperti tempat minuman keras, tempat pajak yang zalim, dan tempat kemaksiatan lainnya yang keji.

Al-Majmu’ Syarh Al-Muhadzdzab – 9792/1291

(Cabang)

Makruh melakukan shalat di gereja dan bi’ah, sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnu Mundzir dari Umar bin Khattab, Ibnu Abbas, dan Imam Malik radhiyallahu ‘anhum. Dan diriwayatkan bahwa ada keringanan untuk melakukannya dari Abu Musa, Hasan, Asy-Sya’bi, An-Nakha’i, Umar bin Abdul Aziz, Al-Auza’i, dan Sa’id bin Abdul Aziz. Ini juga merupakan riwayat dari Ibnu Abbas dan dipilih oleh Ibnu Mundzir. Hanya Allah yang Maha Mengetahui kebenaran.

 

Kategori
Uncategorized

GHIBAH YANG DIPERBOLEHKAN

GHIBAH YANG DIPERBOLEHKAN

Assalamualaikum warahmatullahi wa barokatuh.
Deskripsi Masalah
Ahmad.Rodi Hartoyo katakanlah itu nama samarannya, dia punya saudara Ipar , bekerja disatu perusahaan …… namun sayangnya Anak( putra dari pemilik perusahaan ) hobi minum minuman yang memabukkan,dan sering ia lakukan dengan mengajak salah satu karyawannya jika salah satu karyawan tidak mau/menolak maka sang anak pemilik perusahaan memaksanya dengan cara menuangkan khomr kemulutnya

Pertanyaan.
Bagaimana Hukum seseorang (Ahmad.Rodi Hartoyo) Ghibah menceritakan aib tersebut kepada isri dan keluarga istrinya agar iparnya tidak bekerja ditempat perusahaan tersebut dengan tujuan agar tidak terjerumus kepada minum sebagaimana deskripsi?

Waalaikum salam
Jawaban.
Hukumnya Ghibah pada dasarnya adalah haram.Namun jika ghibah dengan tujuan Maslahah baik untuk dirinya ataupun orang lain hukumnya diperbolehkan. Untuk lebih jelasnya berikut Enam keadaan….

باب بيان ما يباح من الغيبة
اعلم أن الغيبة تباح لغرضٍ صحيحٍ شرعي لا يمكن الوصول إليه إلا بها، وهو ستة أسبابٍ: الأول: التظلم، فيجوز للمظلوم أن يتظلم إلى السلطان والقاضي وغيرهما ممن له ولايةٌ، أو قدرةٌ على إنصافه من ظالمه، فيقول: ظلمني فلانٌ بكذا.
الثاني: الاستعانة على تغيير المنكر، ورد العاصي إلى الصواب، فيقول لمن يرجو قدرته على إزالة المنكر: فلانٌ يعمل كذا، فازجره عنه ونحو ذلك، ويكون مقصوده التوصل إلى إزالة المنكر، فإن لم يقصد ذلك كان حراماً.
الثالث: الاستفتاء، فيقول للمفتي: ظلمني أبي، أو أخي، أو زوجي، أو فلانٌ بكذا، فهل له ذلك ؟ وما طريقي في الخلاص منه، وتحصيل حقي، ودفع الظلم ؟ ونحو ذلك، فهذا جائزٌ للحاجة، ولكن الأحوط والأفضل أن يقول: ما تقول في رجلٍ أو شخصٍ، أو زوجٍ، كان من أمره كذا ؟ فإنه يحصل به الغرض من غير تعيينٍ ومع ذلك، فالتعيين جائزٌ كما سنذكره في حديث هندٍ إن شاء الله تعالى.
الرابع: تحذير المسلمين من الشر ونصيحتهم، وذلك من وجوهٍ: منها جرح المجروحين من الرواة والشهود، وذلك جائزٌ بإجماع المسلمين، بل واجبٌ للحاجة.
ومنها المشاورة في مصاهرة إنسانٍ، أو مشاركته، أو إيداعه، أو معاملته، أو غير ذلك، أو مجاورته، ويجب على المشاور أن لا يخفي حاله، بل يذكر المساويء التي فيه بنية النصيحة.
ومنها إذا رأى متفقهاً يتردد إلى مبتدع، أو فاسقٍ يأخذ عنه العلم، وخاف أن يتضرر المتفقه بذلك، فعليه نصيحته ببيان حاله، بشرط أن يقصد النصيحة، وهذا مما يغلط فيه. وقد يحمل المتكلم بذلك الحسد، ويلبس الشيطان عليه ذلك، ويخيل إليه أنه نصيحةٌ فليتفطن لذلك.
ومنها أن يكون له ولايةٌ لا يقوم بها على وجهها: إما بأن لا يكون صالحاً لها، وإما بأن يكون فاسقاً، أو مغفلاً، ونحو ذلك فيجب ذكر ذلك لمن له عليه ولايةٌ عامةٌ ليزيله، ويولي من يصلح، أو يعلم ذلك منه ليعامله بمقتضى حاله، ولا يغتر به، وأن يسعى في أن يحثه على الاستقامة أو يستبدل به.
الخامس: أن يكون مجاهراً بفسقه أو بدعته كالمجاهر بشرب الخمر، ومصادرة الناس، وأخذ المكس؛ وجباية الأموال ظلماً، وتولي الأمور الباطلة، فيجوز ذكره بما يجاهر به؛ ويحرم ذكره بغيره من العيوب، إلا أن يكون لجوازه سببٌ آخر مما ذكرناه.
السادس: التعريف، فإذا كان الإنسان معروفاً بلقبٍ؛ كالأعمش والأعرج والأصم، والأعمى؛ والأحول، وغيرهم جاز تعريفهم بذلك؛ ويحرم إطلاقه على جهة التنقص؛ ولو أمكن تعريفه بغير ذلك كان أولى.
فهذه ستة أسبابٍ ذكرها العلماء وأكثرها مجمعٌ عليه؛ دلائلها من الأحاديث الصحيحة مشهورةٌ…..

Riyaadhusshoolihiin Imam Yahya an-Nawawi

فِي مُصَاهَرَةٍ وَنَحْوِهَا .
ثَالِثًا : إِذَا رَأَيْت مَنْ يَشْتَرِي شَيْئًا مَعِيبًا أَوْ نَحْوَ ذَلِكَ ، تَذْكُرُ لِلْمُشْتَرِي إِذَا لَمْ يُعْلِمْهُ نَصِيحَةً لَهُ ، لاَ لِقَصْدِ الإِْيذَاءِ وَالإِْفْسَادِ .
رَابِعًا : إِذَا رَأَيْت مُتَفَقِّهًا يَتَرَدَّدُ إِلَى فَاسِقٍ أَوْ مُبْتَدِعٍ يَأْخُذُ عَنْهُ عِلْمًا . وَخِفْت عَلَيْهِ ضَرَرَهُ ، فَعَلَيْك نَصِيحَتُهُ بِبَيَانِ حَالِهِ قَاصِدًا النَّصِيحَةَ .
خَامِسًا : أَنْ يَكُونَ لَهُ وِلاَيَةٌ لاَ يَقُومُ لَهَا عَلَى وَجْهِهَا لِعَدَمِ أَهْلِيَّتِهِ أَوْ لِفِسْقِهِ ، فَيَذْكُرُهُ لِمَنْ لَهُ عَلَيْهِ وِلاَيَةٌ لِيَسْتَبْدِل بِهِ غَيْرَهُ أَوْ يَعْرِفَ . فَلاَ يَغْتَرَّ بِهِ وَيُلْزِمُهُ الاِسْتِقَامَةَ . (1)

الْخَامِسُ : أَنْ يَكُونَ مُجَاهِرًابِفِسْقِهِ أَوْ بِدْعَتِهِ . فَيَجُوزُ ذِكْرُهُ بِمَا يُجَاهِرُ بِهِ ، وَيَحْرُمُ ذِكْرُهُ بِغَيْرِهِ مِنَ الْعُيُوبِ ، إِلاَّ أَنْ يَكُونَ
__
(1) رفع الريبة ص13 ، 14 ط السلفية ، والأذكار للنووي 303 ط الكتاب العربي ، وشرح مسلم للنووي 16 / 142 ، 143 ط المصرية .

لِجَوَازِهِ سَبَبٌ آخَرُ . (1)
السَّادِسُ : التَّعْرِيفُ . . فَإِذَا كَانَ مَعْرُوفًا بِلَقَبٍ كَالأَْعْمَشِ وَالأَْعْرَجِ وَالأَْزْرَقِ وَالْقَصِيرِ وَالأَْعْمَى وَالأَْقْطَعِ وَنَحْوِهَا جَازَ تَعْرِيفُهُ بِهِ ، وَيَحْرُمُ ذِكْرُهُ بِهِ تَنَقُّصًا ، وَلَوْ أَمْكَنَ التَّعْرِيفُ بِغَيْرِهِ كَانَ أَوْلَى . (2)
__
(1) الأذكار للنووي 303 ط الكتب المصرية ، وشرح صحيح مسلم للنووي 16 / 143 ط المصرية ، وفتح الباري 10 / 472 ط الرياض ، ورفع الريبة 14 ط السلفية ، والآداب الشرعية لابن مفلح 1 / 276 ط الرياض .
(2) شرح صحيح مسلم للنووي 16 / 143 ط المصرية ، والأذكار للنووي ص304 ط الكتاب العربي ، ورفع الريبة ص 14ط السلفية ، وفتح الباري 10 / 472 ط الرياض .

Al-Mausuuah al-Fiqhiyyah 33/335

‎(باب بيان ما يباح من الغيبة) إعلم أن الغيبة وإن كانت محرمة فإنها تباح في أحوال للمصلحة.
والمجوز لها غرض صحيح شرعي لا يمكن الوصول إليه إلا بها ، وهو أحد ستة أسباب.
الأول : التظلم ، فيجوز للمظلوم أن يتظلم إلى السلطان والقاضي وغيرهما ممن له ولاية أو له قدرة على إنصافه من ظالمه ، فيذكر أن فلانا ظلمني ، وفعل بي كذا ، وأخذ لي كذا ، ونحو ذلك.
الثاني : الاستعانة على تغيير المنكر ورد العاصي إلى الصواب ، فيقول لمن يرجو قدرته على إزالة المنكر : فلان يعمل كذا فازجره عنه ، ونحو ذلك ، ويكون مقصوده التوصل إلى إزالة المنكر ، فإن لم يقصد ذلك كان حراما.
الثالث : الاستفتاء ، بأن يقول للمفتي : ظلمني ، أبي أو أخي ، أو فلان بكذا ، فهل
له ذلك ، أم لا ؟ وما طريقي في الخلاص منه وتحصيل حقي ودفع الظلم عني ؟ ونحو ذلك.
وكذلك قوله : زوجتي تفعل معي كذا ، أو زوجي يفعل كذا ، ونحو ذلك ، فهذا جائز للحاجة ، ولكن الأحوط أن يقول : ما تقول في رجل كان من أمره كذا ، أو في زوج أو زوجة تفعل كذا ، ونحو ذلك ، فإنه يحصل به الغرض من غير تعيين ، ومع ذلك فالتعيين جائز ، لحديث هند الذي سنذكره إن شاء الله تعالى ، وقولها : ” يا رسول الله ، إن أبا سفيان رجل شحيح..” الحديث ، ولم ينهها رسول الله (صلى الله عليه وسلم).
الرابع : تحذير المسلمين من الشر ونصيحتهم ، وذلك من وجوه : منها جرح المجروحين من الرواة للحديث والشهود ، وذلك جائز بإجماع المسلمين ، بل واجب للحاجة.
ومننها ما استشارك إنسان في مصاهرته ، أو مشاركته ، أو إيداعه ، أو الإيداع عنده ، أو معاملته بغير ذلك ، وجب عليك أن تذكر له ما تعلمه منه على جهة النصيحة ، فإن حصل الغرض بمجرد قولك لا تصلح لك معاملته ، أو مصاهرته ، أو لا تفعل هذا ، أو نحو ذلك ، لم تجز الزيادة بذكر المساوئ وإن لم يحصل الغرض إلا بالتصريح بعينه فاذكره بصريحه.
ومنها إذا رأيت من يشتري عبدا يعروف بالسرقة أو الزنا أو الشرب أو غيرها ، فعليك أن تبين ذلك للمشتري إن لم يكن عالما به ، ولا يختص بذلك ، بل كل من علم بالسلعة المبيعة عيبا وجب عليه بيانه للمشتري إذا لم يعلمه.
ومنها إذا رأيت متفقها يتردد إلى مبتدع أو فاسق يأخذ عنه العلم خفت أن يتضرر المتفقه بذلك ، فعليك نصيحته ببيان حاله ، ويشترط أن يقصد النصيحة ، وهذا مما يغلط فيه ، وقد يحمل المتكلم بذلك الحسد ، أو يلبس الشيطان عليه ذلك ، ويخيل إليه أنه نصيحة وشفقة ، فليتفطن لذلك.
ومنها أن لا يكون له ولاية لا يقوم بها على وجهها ، إما بأن لا يكون صالحا لها ، وإما
بأن يكون فاسقا أو مغفلا ونحو ذلك ، فيجب ذكر ذلك لمن له عليه ولاية عامة ليزيله ويولي من يصلح أو يعلم ذلك منه لتعامله بمقتضة حاله ولا يغتر به ، وأن يسعى في أن يحثه على الاستقامة أو يستبدل به.
الخامس : أن يكون مجاهرا بفسقه أو بدعته ، كالمجاهر بشرب الخمر ، أو مصادرة
الناس ، وأخذ المكس ، وجباية الأموال ظلما ، وتولي الأمور الباطلة ، فيجوز ذكره بما يجاهر به ، ويحرم ذكره بغيره من العيوب ، إلا أن يكون لجوازه سبب آخر مما ذكرناه.
السادس : التعريف ، فإذا كان الإنسان معروفا بلقب : كالأعمش ، والأعرج ، والأصم ، والأعمى ، والأحول ، والأفطس ، وغيرهم ، جاز تعريفه بذلك بنية التعريف ، ويحرم إطلاقه على جهة التنقص ولو أمكن التعريف بغيره كان أولى.
فهذه ستة أسباب ذكرها العلماء مما تباح بها الغيبة على ما ذكرناه.
وممن نص عليها هكذا الإمام أبو حامد الغزالي في ” الإحياء ” وآخرون من العلماء ، ودلائلها ظاهرة من الأحاديث الصحيحة المشهورة ، وأكثر هذه الأسباب مجمع على جواز الغيبة بها.

Al-Adzkaar Li an-Nawaawy I/340

GHIBAH, dalam kondisi sebagaimana ibaroh tersebut terjemahnya adalah :

  1. TERANIAYA

Diperbolehkan bagi orang yang teraniaya mengadukan penganiayanya pada penguasa, hakim, dan orang-orang yang memiliki kekuasaan untuk menghentikan penganiayaannya dengan menyebut langsung nama pelakunya, misalnya “Si Anu telah melakukan tindakan ini padaku” atau “Si Anu mengambil seseuatu dariku” dan sebagainya

  1. MEROBAH KEMUNGKARAN DAN KEMAKSIATAN PADA KEBENARAN

Dengan menyebut nama pembuat kemaunkaran serta kemaksiatan pada seseorang yang di harapkan mampu merobahnya dengan berkata “Si Anu telah melakukan tindakan ini, maka cegahlah..!!” dengan tujuan menghilangkan kemungkaran bila tidak maka menggunjingnya hukumnya haram.

  1. DALAM RANGKA MEMINTA SARAN/NASEHAT

Misalkan seseorang yang mengatakan :
“Ayahku atau Saudaraku atau Si Anu menganiaya diriku,
apa tindakan tersebut berhak ia lakukan ?
Bagaimana caraku keluar dari masalah ini ?
Bagaimana aku dapat memperoleh hak-hakku ?” Dan sebagainya

Yang demkian diperbolehkan karena ada kepentingan menggunjingya, namun sebaiknya untuk berhati-hati sebaiknya dalam rangka meminta saran ini tidak dikatakan pelakunya secara lansung semisal dengan pernyataan :
”Bagaimana pendapat anda tentang seorang lelaki yang melakukan semacam ini ?”
” Bagaimana pendapat anda tentang seorang suami atau istri yang melakukan semacam ini ?” dan semacamnya karena tujuan meminta saran dengan perkataan semacam inipun bisa ia dapatkan, meskipun penyebutan pelaku secara langsung juga diperbolehkan berdasarkan hadits dari Hindun ra saat ia meminta saran dari Nabi shallallaahu alaihi wasallam dengan berkata “Wahai rasulullah, sesungguhnya Abu Sufyan lelaki pelit.. dst” dan Nabi pun tidak melarangnya.

  1. MEMBERI PERINGATAN PADA KAUM MUSLIMIN

Menurut Imam Nawawy dalam permasalahan ini terdapat 5 gambaran :
a. Menerangkan/menyebutkan cacatnya nama seseorang dalam sebuah riwayat hadits/saksi, kebolehan ghibah dalam hal ini disepakati ulama dalam rangka kemurnian syariat.
b. Membicarakan seseorang dalam rangka musyawarahsemacam hendak mengikat tali perkawinan
c. Saat melihat seseorang yang hendak membeli suatu barang cirri yang tidak ia ketahui, untuk memberi petunjuk padanya bukan dalam rangka menghina atau merusak citra.
d. Saat melihat seseorang yang hendak belajar agama dan ragu atas dua pilihan, agar tidak tersesat pada orang fasik dan ahli bid’ah maka boleh bagimu memberi nasehat padanya.
e. Mengadukan seorang pimpinan pada atasannya atas ketidak profesionalannya atau kefasikannya agar diketahui dan segera diganti supaya tidak tertipu dan dilanggengkan kepimpinannya.

  1. KEKURANGAN YANG TERANG-TERANGAN IA LAKUKAN

Bila seseorang terang-terangan menjalani kefasikan atau kebid’ahannya, maka boleh menyebutkan cela yang secara jelas ia lakukan dan haram menyebutkan lainnya kecuali bila ada hal yang memperbolehkan penyebutan laiinya.

  1. PENAMAAN

Boleh menyebutkan kekurangan orang lain bila justru ia lebih dikenal dan diberi julukan dengan kekurangannya seperti “Si Rabun, Si Pincang, Si Jereng, Si Cebol, Si Buta, Si Buntung” dan sebagainya asalkan tidak bertujuan merendahkan kekurangannya dan bila masih memungkinkan penamaan dengan selain kekurangannya tentu lebih utama dan bijaksana.
Wallaahu A’lamu Bis Showaab

Kategori
Uncategorized

HUKUMNYA DONOR DARAH DARI ORANG NON MUSLIM

HUKUM MENERIMA DONOR DARAH DARI NON MUSLIM

Assalamualaikum , maaf para kiyai , para ustad ,saya bertanya.
Bagaimana hukumnya menerima donor darah ,Sedangkan orang yang ditransfusi Non muslim (orang yang didonor kafir ) misalnya, atau dia makan barang haram seperti minum khomer atau sering makan barang Riba dll. .
Wassalamualaikum .

Waalaikum salam.
Jawaban.

Hukum menerima transfusi darah dari orang non-muslim ( Donor darah dari Non Muslim ) dalam kondisi sangat dibutuhkan dalam rangka untuk pengobatan hukumnya adalah boleh. Alasannya karena tubuh Non Muslim pada hakikatnya adalah suci, tidak najis.

Imam Nawawi berkata; “Imam Bukhari menyebutkan dalam Shahih Bukhari, bersumber dari Ibnu Abbas secara mu’allaq: Muslim tidaklah najis baik hidup dan matinya. Ini adalah hukum untuk orang muslim. Adapun hukum status orang kafir, maka hukum dalam masalah suci dan najisnya adalah sama dengan hukum seorang muslim (maksudnya suci). Ini adalah pendapat madzhab kami, yang juga menjadi pendapat mayoritas ulama salaf dan khalaf.

Adapun firman Allah; yang artinya:” (Sesungguhnya orang musyrik itu najis) maksudnya adalah najisnya aqidah yang kotor, bukan maksudnya anggota badannya najis seperti najisnya kencing, kotoran , dan sebagainya.
Jika sudah jelas kesucian manusia baik dia muslim atau kafir, maka keringat, ludah, darah, semuanya suci, sama saja apakah dia sedang berhadats, atau junub, atau haid, atau nifas. Semua ini adalah ijma’ kaum muslimin sebagaimana penjelasannya dalam Bab Haid.”Begitu juga tubuh anak-anak mereka Non Muslim, bahkan boleh memakai pakaian mereka digunakan untuk shalat dan makan bersama mereka selama tidak jelas atas kenajisan dari yang mencegahnya ketika mencelupkan tangan mereka.Ini sebuah dalil dari Sunnah dan Ijma’ yang populer.Wallahu A’lam bisshowab.

Referensi

كتاب شرح النووي على مسلم – باب الدليل على أن المسلم لاينجسه- مكتبة الشاملة .ص٦٥-٦٦

(باب الدَّلِيلِ عَلَى أَنَّ الْمُسْلِمَ لَا يَنْجُسُ)
فِيهِ قَوْلُهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ (سبحان الله أن المؤمن لاينجس) وفي الرواية الاخرى (إن المسلم لاينجس
هَذَا الْحَدِيثُ أَصْلٌ عَظِيمٌ فِي طَهَارَةِ الْمُسْلِمِ حَيًّا وَمَيِّتًا فَأَمَّا الْحَيُّ فَطَاهِرٌ بِإِجْمَاعِ الْمُسْلِمِينَ حَتَّى الْجَنِينُ إِذَا أَلْقَتْهُ أُمُّهُ وَعَلَيْهِ رُطُوبَةُ فَرْجِهَا قَالَ بَعْضُ أَصْحَابِنَا هُوَ طَاهِرٌ بِإِجْمَاعِ الْمُسْلِمِينَ قَالَ وَلَا يَجِيءُ فِيهِ الْخِلَافُ الْمَعْرُوفُ فِي نَجَاسَةِ رُطُوبَةِ فَرْجِ الْمَرْأَةِ وَلَا الْخِلَافُ الْمَذْكُورُ فِي كُتُبِ أَصْحَابِنَا فِي نَجَاسَةِ ظَاهِرِ بَيْضِ الدَّجَاجِ وَنَحْوِهِ فَإِنَّ فِيهِ وَجْهَيْنِ بِنَاءً عَلَى رُطُوبَةِ الْفَرْجِ هَذَا حُكْمُ الْمُسْلِمِ الْحَيِّ وَأَمَّا الْمَيِّتُ فَفِيهِ خِلَافٌ لِلْعُلَمَاءِ وَلِلشَّافِعِيِّ فِيهِ قَوْلَانِ الصَّحِيحُ مِنْهُمَا أَنَّهُ طَاهِرٌ وَلِهَذَا غُسِّلَ وَلِقَوْلِهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ الْمُسْلِمَ لَا يَنْجُسُ وَذَكَرَ الْبُخَارِيُّ فِي صَحِيحِهِ عَنِ بن عَبَّاسٍ تَعْلِيقًا الْمُسْلِمُ لَا يَنْجُسُ حَيًّا وَلَا مَيِّتًا هَذَا حُكْمُ الْمُسْلِمِ وَأَمَّا الْكَافِرُ فَحُكْمُهُ فِي الطَّهَارَةِ وَالنَّجَاسَةِ حُكْمُ الْمُسْلِمِ هَذَا مَذْهَبُنَا وَمَذْهَبُ الْجَمَاهِيرِ مِنَ السَّلَفِ وَالْخَلَفِ وَأَمَّا قَوْلُ الله عز وجل انما المشركون نجس فَالْمُرَادُ نَجَاسَةُ الِاعْتِقَادِ وَالِاسْتِقْذَارِ وَلَيْسَ الْمُرَادُ أَنَّ أَعْضَاءَهُمْ نَجِسَةٌ كَنَجَاسَةِ الْبَوْلِ وَالْغَائِطِ وَنَحْوِهِمَا فَإِذَا ثَبَتَتْ طَهَارَةُ الْآدَمِيِّ مُسْلِمًا كَانَ أَوْ كَافِرًا فَعِرْقُهُ وَلُعَابُهُ وَدَمْعُهُ طَاهِرَاتٌ سَوَاءٌ كَانَ مُحْدِثًا أَوْ جُنُبًا أَوْ حَائِضًا أَوْ نُفَسَاءَ وَهَذَا كُلُّهُ بِإِجْمَاعِ الْمُسْلِمِينَ كَمَا قَدَّمْتُهُ فِي بَابِ الْحَيْضِ وَكَذَلِكَ الصِّبْيَانُ أَبْدَانُهُمْ وَثِيَابُهُمْ وَلُعَابُهُمْ مَحْمُولَةٌ على الطهارة حتى تتيقن النجاسة فتجوزالصلاة فِي ثِيَابِهِمْ وَالْأَكْلُ مَعَهُمْ مِنَ الْمَائِعِ إِذَا غمسوا أَيْدِيَهُمْ فِيهِ وَدَلَائِلُ هَذَا كُلِّهِ مِنَ السُّنَّةِ وَالْإِجْمَاعِ مَشْهُورَةٌ وَاللَّهُ أَعْلَمُ

Bab Dalil bahwa Seorang Muslim Tidak Najis
Dalam hadis disebutkan sabda Nabi ﷺ:
“Subhanallah, sesungguhnya seorang mukmin tidak najis”
(Dalam riwayat lain: “Sesungguhnya seorang muslim tidak najis”).

Hadis ini merupakan dalil besar mengenai kesucian seorang muslim, baik ketika hidup maupun setelah meninggal dunia. Adapun ketika hidup, statusnya adalah suci berdasarkan ijma’ (kesepakatan) kaum muslimin, bahkan janin yang dilahirkan oleh ibunya dan masih melekat padanya cairan dari kemaluan ibunya tetap dianggap suci. Sebagian ulama dari kalangan kami (Syafi’iyah) mengatakan bahwa hal ini merupakan kesepakatan kaum muslimin dan tidak berlaku perbedaan pendapat terkait najisnya cairan dari kemaluan wanita. Begitu pula, tidak berlaku perbedaan pendapat yang disebutkan dalam kitab-kitab kami terkait najisnya bagian luar telur ayam atau lainnya yang dipandang berdasarkan cairan kemaluan.

Status Muslim yang Hidup dan Meninggal

Muslim yang hidup: Hukumnya suci.

Muslim yang meninggal: Para ulama berselisih pendapat mengenai statusnya. Dalam mazhab Syafi’i terdapat dua pendapat, dan pendapat yang lebih sahih menyatakan bahwa mayat muslim adalah suci. Oleh karena itu, jenazahnya dimandikan. Hal ini berdasarkan sabda Nabi ﷺ: “Sesungguhnya seorang muslim tidak najis.”


Imam Bukhari dalam Shahih-nya secara ta’liq meriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa: “Seorang muslim itu tidak najis, baik ketika hidup maupun setelah meninggal dunia.”

Status Non-Muslim
Adapun non-muslim, statusnya dalam hal kesucian tubuh sama seperti muslim menurut mazhab kami (Syafi’iyah) dan pendapat mayoritas ulama salaf dan khalaf. Mengenai firman Allah ﷻ: “Sesungguhnya orang-orang musyrik itu najis” (QS. At-Taubah: 28), maksudnya adalah najis dari segi akidah dan sifat yang menjijikkan, bukan najis secara fisik seperti najisnya air seni, kotoran, dan sebagainya.

Kesimpulan Status Kesucian Tubuh
Berdasarkan penjelasan ini, tubuh manusia (baik muslim maupun non-muslim), termasuk keringat, air liur, dan air matanya, semuanya suci. Status ini tetap berlaku, baik seseorang dalam keadaan berhadats, junub, haid, maupun nifas. Hal ini merupakan kesepakatan kaum muslimin sebagaimana telah disebutkan dalam bab tentang haid.

Begitu pula anak-anak kecil, tubuh, pakaian, dan air liur mereka dianggap suci hingga terbukti terdapat najis secara yakin. Dengan demikian, shalat dalam pakaian mereka dibolehkan, begitu juga makan bersama mereka dari makanan cair yang mereka celupkan tangannya ke dalamnya. Dalil-dalil mengenai hal ini dari sunnah dan ijma’ sangat terkenal. Wallahu a’lam.

Adapun Persoalan menerima pemberian orang Non Muslim sedangkan mereka makan barang haram yang diperoleh dari uang judi atau barang riba,selama tidak diketahui secara jelas maka menerima pemberiannya hukumnya boleh namun makruh . Imam Suyuthi berkata dalam kitab Al-Ashbah wan-Nadzair

ومنها: معاملة من أكثر ماله حرام، إذا لم يعرف عينه لا يحرم في الأصح لكن يكره، وكذا الأخذ من عطايا السلطان، إذا غلب الحرام في يده، كما قال في شرح المهذب: إن المشهور فيه الكراهة لا التحريم، خلافاً للغزالي


Artinya: Transaksi seseorang yang kebanyakan hartanya haram, apabila tidak diketahui harta apa yang haram, maka tidak haram menurut pendapat yang paling sahih akan tetapi hukumnya makruh. Begitu juga hukum menerima hadiah dari raja apabila mayoritas harta raja itu haram seperti pendapat Nawawi dalam Al-Majmu’ Syarah Muhadzab bahwa yang masyhur dalam masalah ini adalah makruh, bukan haram. Ini berbedda dengan pendapat Al-Ghazali (menurutnya hukumnya haram).

Kesimpulan
Jika sudah jelas kasabnya diperoleh dari barang yang haram dan diketahui oleh seseorang melalui mata kepalanya sendiri maka haram pula memakannya, ini jika berbentuk materi yang jelas diketahui oleh mata, tetapi jika darah karena barang yang samar ( berada dalam tubuh ) Kemudian ditransfusi , maka hukumnya boleh menerimanya karena tubuh dan darahnya Non Muslim pada hakikatnya suci, dan barang yang tidak nampak itu urusan Allah, Sebagaimana ungkapan dalam kaidah ushul fiqh.

نحن نحكم بالظواهر والله يتولى السرائر


Artinya : “Kami menghukumi dengan sesuatu yang dhahir (lahiriah), dan Allah yang menangani seluruh yang tersembunyi (samar).Wallahu a’lam bisshowab.

Kategori
Uncategorized

HUKUM MENGKONSUMSI KEPITING

HUKUMNYA MENGKONSUMSI KEPITING

Assalamualaikum

Deskripsi Masalah

Terkadang kita jumpai seseorang asal makan pernah alfakir mampir diwarung makan yang didalamnya banyak anika ragam ikan mulai ikan ayam telur sapi, kambing, ikan burung, Kapeting bahkan semua ikan dilautan ada seperti ikan cumi-cumi, kerrang ,udang, mamiran,keramba, Garita, Rajungan dll.padahal dalam agama tidak semua hewan itu halal dimakan kecuali hewan yang berada dilaut, tapi anehnya ketika saya makan ada orang minta ikan kepiting, yang serupa dengan rajungan namun tidak sama bentuknya.

Pertanyaanya.
Bagaimana sebenarnya makan kepiting menurut Ulama fiqih.

Waalaikum salam.
Jawaban.

Ulama berbeda pandang tentang halal dan tidaknya mengkonsumsi kepiting:
➡️Menurut Hanafiyah dan Syafiiyah hukumnya tidak halal.alasannya kerena termasuk kategori Khabaaits
➡️Menurut Malikiyah boleh mengkonsumsi. Alasannya karena tidak ada nash yang mengharamkan
➡️ Menurut Imam Hambali boleh mengkonsumsi dengan syarat disembelih .

Pendapat yang mengharamkan dipatahkan oleh mayoritas ulama’ bahwa pendapat tersebut lemah dan kepeting halal untuk dikonsumsi sebagaimana telah dihikayatkan oleh Syaikh Al-Baghawi dari Syaikh Hulaimiy

Dari beberapa pendapat diatas melihat kondisi kehidupanya Kepiting hidup didua alam, namun setelah diadakan penelitian ternyata kepiting, rajungan dan kampat tidak mampu hidup didua alam oleh karena itu tiga binatang ini hukumnya halal.( Lihat fiqih fauna pustaka sidogiri hal: 151)
Namun untuk menjaga kehati- hatian taqlid kepada Imam Milik, Wallahu a’lamu .
.
Dasar hukum:

المجموع على شرح المهذب. ٣٠/٩ حيات الحيوان ٢٠/٢

الضرب الثانى مايعش فى البر أيضا إلى قوله…..وعدّ الشيخ أبو حامد وإمام الحرمين من هذا الضرب الضفداع والسرطان وهما محرمان على المذهب الصحيح المنصوص وبه قطع الجمهور وفيهما قول ضعيف إنهما حلالتان

( بجيرمى على الخطيب)
( وقوله وسرطان)

وهو من خلق الماء ويعيش فى البر أيضا وهو جيد المشي سريع العدو ذو فكّين ومحلب وأظفار حدّاد وله ثمانية أرجل وهو يمشي على جنبه

Referensi:

المجموع شرح المهذب – ١٣١/٩٧٩٢

(فرع)
ما يعيش في البحر مما له نفس سائلة إن كان مأكولا فميتته طاهرة ولا شك أنه لا ينجس الماء وما لا يؤكل كالضفدع وكذا غيره إذا قلنا لا يؤكل فإذا مات في ماء قليل أو مائع قليل أو كثير نجسه صرح به أصحابنا في طرقهم وقالو لا خلاف فيه إلا صاحب الحاوي فإنه قال في نجاسته به قولان: ولعله أراد أن في نجاسته به خلافا مبنيا على حل أكله وإن أراد مع تحريم أكله فشاذ مردود: وذكر الروياني في الضفدع وجهين أحدهما لا نفس لها سائلة فيكون في نجاسة الماء بها قولان والثاني لها نفس سائلة فتنجسه قطعا وهذا الثاني هو المشهور فِي كُتُبِ الْأَصْحَابِ وَجَعَلُوا الْمَسْأَلَةَ خِلَافِيَّةً فَحَكَوْا هُمْ وَابْنُ الْمُنْذِرِ عَنْ مَالِكٍ وَأَبِي حَنِيفَةَ ومحمد ابن الْحَسَنِ وَأَبِي عُبَيْدٍ أَنَّ الضِّفْدَعَ لَا يُنَجِّسُ مَا مَاتَ فِيهِ وَكَذَلِكَ السَّرَطَانُ وَمَذْهَبُنَا أَنَّهُ يُنَجِّسُهُ وَاَللَّهُ أَعْلَمُ


Referensi:

المجموع شرح المهذب – ٤٥٠٦/٩٧٩٢
(الضرب)

الثاني ما يعيش في الماء وفي البر أيضا فمنه طير الماء كالبط والإوز ونحوهما وهو حلال كما سبق ولا يحل ميتته بلا خلاف بل تشترط زكاته وعد الشيخ أبو حامد وإمام الحرمين من هذا الضرب الضفدع والسرطان وهما محرمان على المذهب الصحيح المنصوص وبه قطع الجمهور وفيهما قول ضعيف انهما حلال وحكاه البغوي في السرطان عن الحليمي.

Referensi:

الفقه الإسلامي و أدلته – ٢٧١٩/٧٧٢٢
النوع الثالث ـ الحيوان البرمائي:
وهو الذي يعيش في البر والماء معا، كالضفدع والسلحفاة والسرطان، والحية والتمساح وكلب الماء ونحوها. وفيه آراء ثلاثة:
١ – قال الحنفية والشافعية (١): لا يحل أكلها؛ لأنها من الخبائث، وللسمية في الحية، ولأن «النبي صلى الله عليه وسلم نهى عن قتل الضفدع» (٢) ولو حل أكله، لم ينه عن قتله.
٢ – وقال المالكية (٣): يباح أكل الضفادع والحشرات والسرطانات والسلحفاة، إذ لم يرد نص في تحريمها. وتحريم الخبائث: هو ما نص عليه الشرع، فلا يحرم ما تستخبثه النفوس مما لم يرد فيه نص.
٣ – وفصل الحنابلة فقالوا (٤): كل ما يعيش في البر من دواب البحر، لا
يحل بغير ذكاة كطير الماء، والسلحفاة، وكلب الماء، إلا مالا دم فيه كالسرطان، فإنه يباح في رأي أحمد بغير ذكاة؛ لأنه حيوان بحري يعيش في البر، وليس له دم سائل، فلاحاجة إلى ذبحه، خلافا لما له دم، لا يباح بغير ذبح. والأصح كما في شرح المقنع لابن مفلح الحنبلي (٢١٤/ ٩): أن السرطان لا يحل إلا بالذكاة.
ولا يباح أكل الضفدع؛ لأن النبي صلى الله عليه وسلم ـ فيما رواه النسائي ـ نهى عن قتله، فيدل ذلك على تحريمه.كما لا يباح أكل التمساح.


Referensi:

( عيش البحر للفقير محمد انوار من اهل صيد البحر البتاعي القوماني ١-٣ )

(الكفيطيع)

من حيوان البحر الذي لا يعيش الا فيه وهو يشبه الرجوعن وله ستة ارجل ذو فكين واظفار لكن ليس في اظفاره  مخلب كاظفار السرطان وذو الة العوم في اخر ارجله وشأنه ان يقدر عليه وانما سمي بذلك لمربوطه بعد ان يأخذ عليه حذرا من تقريضه لآن من شأنه ان يقرض على آخذه بسرعة وقوة —– الى ان قال —– فالكفيطيع حكمه حل الاكل لآن عيشه في البر عيش مذبوح او عيش حي لا يدوم ، ومن قال بتحريمه لم يأت على تحريمه دليل من قول العلماء اى ان قال —- وما نقل بعض المشايخ من الافتاء بتحريمه لم يصح على تحريمه فقد نص الشافعي رضي الله عنه على ان الحيوان البحر الذي يعيش الا فيه يؤكل لعموم الاية وما ذكر في الكتاب المجموع الجاوي ان الكفيطيع حرام لم يأت على تحريمه دليل ولا نقل من قول العلماء فلا يلتفت اليه اهـــ

Referensi:

 ( عيش البحر للفقير محمد انوار من اهل صيد البحر البتاعي القوماني ٩-١٠)

(السرطان)

من حيوان الماء الذي يعيش لا يعيش دائما فيه والبر وهو يشبه الكرايا ولونه اما سواد خالص مشرب بحمرة واما بياض خالص وبياض مشرب بحمرة وايضا بياض مع نقطة سوداء على ظهره وله ثمانية ارجل ذو فكين واظفار حداد ومخلب سريع العدو وجيد المشي ومسكنه اما في الساحل واما في اطراف النهر وفي البستان وقد يتخذ فيه حجرا عامقا يسكن فيه وهو اذ طلع من حجره على وجه الارض ورأى انسانا يعود إفلي جحره بسرعة مخافة على ان يأخذ عليه وهو بالجاوي العريكي ثلاثة اسماء السرينطيل الذي يسكن في الساحل وثانيها الويدع يسكن في اطراف النهر والبستان وثالثها اليويو الذي يسكن فيهما وفي الارض المزرعة وهذا المذكور هو عين السرطان الحكم يحرم اكله للخبيث خلافا لمالك القائل بحله فيجوز للانسان ان ياكله تقليدا لمالك ولأن الاولى تركه احتياطا اهـ

Kategori
Uncategorized

TALAK TIGA SEBELUM DIDUKHUL


TALAK TIGA SEBELUM DIDUKHUL

Assalamualaikum

Deskripsi

Kaprahnya wanita yang ditalak memiliki masa iddah, namun ada seorang wanita yang ditalak 3 oleh suaminya dia tidak pernah dijimak sama sekali. Hingga pada suatu saat mantan suaminya berhasrat dan ingin untuk kembali kepada mantan istrinya.

Pertanyaan

  1. Adakah masa iddah bagi wanita yg ditalak 3 namun tidak pernah dijimak sama sekali sebagai mana deksripsi?
  2. Jika seandainya mantan suaminya itu ingin kembali, haruskah ada muhallil? Mengingat wanita itu sudah dijatuhi talak tiga?

Walaikum salam

Jawaban

Ulama berbeda pandang mengenai masalah talak tiga yang diucapkan sekaligus. Ini didasarkan dari berbagai referensi kitab fiqih di antaranya al-Majmû‘ karya Imam al-Nawawî (631-676 H.), Bidâyat al-Mujtahid karya Ibnur Rusyd (w. 565 H), dan al-Fiqh al-Islâmî wa-Adillatuh karya Doktor Syekh Wahbah al-Zuhailî, ulama kontemporer tentang masalah ini dapat dikelompokkan menjadi empat macam.

➡️Pertama, pendapat yang menghukumi talak tiga yang diucapkan sekaligus adalah jatuh talak tiga. Ini pendapat Empat Imam Mazhab (Hanafi, Maliki, Syafi‘i, Hanbalî), Syiah Zaidiyyah dalam pendapat yang masyhur, dan suatu riwayat Imamiyah, serta pendapat Ibnu Hazm Az-Zhâhirî. Pendapat ini manqûl (diambil) dari pendapat jumhur sahabat, di antaranya Khulafâ’ur Rasyidun (selain Abu Bakar RA), Ibnu ‘Umar, Ibnu ‘Amar, Ibnu ‘Abbâs, Ibn Mas’ûd, Abû Hurairah, dan para tabi’in.

➡️Kedua, pendapat yang menyatakan bahwa talak tiga sekaligus hanya jatuh talak satu. Ini pendapat Dâwud Az-Zhâhirî (mazhab Zhahiriyah selain Ibnu Hazm), Ibnu Ishâq, Ibnu Taimiyyah, dan Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah, Syiah Zaidiyah dalam satu riwayat, serta sebagian besar Syiah Imamiyah, seperti At-Thûsî (385-460 H). Pendapat ini, yang awalnya pendapat Abu Bakar RA, dipilih dan diberlakukan dalam undang-undang Mesir tahun 1929, dan undang-undang Suriah tentang Hukum Keluarga (Qânûn al-Ahwâl al-Syakhshiyyah) Pasal 91-92.
➡️Ketiga, pendapat yang menafsil (memerinci), yakni memisahkan antara istri yang sudah digauli (dijima') oleh suami yang menalaknya dan istri yang belum digauli oleh suaminya. Talak tiga yang diucapkan sekaligus terhadap istri yang sudah digaulinya, maka jatuh talak tiga, tetapi terhadap istri yang belum digaulinya,(belum merasakan dijima') maka jatuh talak satu (talak raj’i).
➡️Pandangan ketiga ini adalah pendapat murid-muridnya Ibnu ‘Abbâs RA di antaranya ‘Atha’, Sa‘îd bin Jubair, Abûs Sya‘tsâ’, ‘Amar bin Dînâr, yang merupakan mazhab Ishâq bin Râhawiyah. Dalilnya antara lain, HR Abû Dâwud: ”Taukah kamu bahwa bila seseorang menalak istrinya tiga kali sebelum ia berhubungan badan dengannya mereka menjadikan (menghukumi)nya talak satu?” (Lihat An-Nawawi, Kitâb Al-Majmû‘, [Jedah, Maktabah Al-Irsyâd: tanpa tahun], juz XVIII, halaman 275).
➡️Keempat, pendapat yang menyatakan bahwa talak tiga sekaligus tidaklah jatuh talak sama sekali sebab merupakan bid‘ah muharramah (bid’ah yang diharamkan), tertolak dan batal, sebab menyalahi prosedur Al-Qur’an dan As-Sunnah tentang talak. Ini pendapat Al-Hajâj bin Arthâh, Muhammad bin Ishâq, dan Syiah Imâmiyah dalam riwayat yang râjih (unggul).

Berikut di antara referensi tentang jatuhnya talak tiga tersebut:

وإيقاع الثلاث للإجماع الذي انعقد في عهد عمر على ذلك ولا يحفظ أن أحدا في عهد عمر خالفه في واحدة منهما. ثم قال: فالمخالف بعد هذا الإجماع مُـنـابذٌ لـه، والجمهور على عدم اعتبار مَن أحدث الاختلاف بعد الاتفاق.اهـ


Artinya, “Jatuhnya talak tiga-dalam kasus mengucapkan talak tiga sekaligus-itu karena ijmak yang terjadi pada masa pemerintahan ‘Umar bin ‘Affân, dan tidak tercatat adanya seseorang pada masa beliau menentang pendapatnya tersebut… Maka orang yang menyalahi atau menentang setelah ada ijma’ ini berarti menentang pendapat beliau, dan Jumhur ulama memandang tidak ada penilaian terhadap orang yang membuat perbedaan pendapat setelah terjadi persepakatan tentang hukum tersebut.” (Ibnu Hajar Al-‘Asqalânî, Syarh Shahîhil Bukhârî [Beirut, Dârul Ma‘rifah: 1379 H], juz X, halaman 364).

Bahkan alangkah baiknya, terutama putusan hakim, mengikuti pendapat yang takhfîf ( meringankan ) sebagaimana yang telah diberlakukan dalam undang-undang di Mesir dan Suriah, sehingga bisa menjadi hukum yang lebih kuat (al-hukm al-aqwâ) untuk diterapkan, yang menetapkan talak tiga sekaligus adalah jatuh talak satu.

Mengambil atau memilih pendapat yang meringankan (takhfîf) ini, tidak berarti menentang putusan, Umar bin Khathab r.a. sebagaimana pula ditetapkan empat imam mazhab, karena persoalan norma hukum dikembalikan kepada ( pertimbangan ) aspek perubahan hukum sebab adanya perubahan ‘urf/kebiasan dan kondisi manusia.
Menerapkan pendapat yang takhfîf ini dimaksudkan untuk memberikan kemudahan (taisîr) bagi manusia, dan menjaga keutuhan hubungan suami istri, serta melindungi kemaslahatan anak-anak, karena ucapan talak tiga sekaligus itu biasanya untuk menakut-nakuti, dan jelas prinsip fiqih itu bersifat solutif (problem solving) dan mengembalikan relasi perkawinan (ruju’).
Dengan demikian maka wanita yang ditalak tiga sebelum didukhol dengan mengikuti pendapat yang ketiga adalah:

🅰️.Tidak ada iddah bagi wanita yang ditalak 3 ( tiga) oleh suaminya sebelum dijima' ( belum merasakan dijima' sama sekali)..

🅱️.Tidak perlu adanya muhallil karena talak 3 ( tiga ) yang diucapkan dengan tanpa dijma' ( belum merasakan nikmatnya jima'), maka dihitung talak 1( satu). Akan tetapi jika istrinya sudah pernah dijima' maka jatulah talak tiga dan wajib jika suaminya akan kembali kepada istrinya , maka istrinya harus menikah dengan orang lain ( muhallil ), dan sudah habis masa iddanya. Wallahu a’lamu

الفقه الإسلامي و أدلته – ٦٧٠٤/٧٧٢٢

أثر مخالفة هذا القيد:
إذا طلق الرجل امرأته ثلاثا بكلمة واحدة أو بكلمات في طهر واحد، يكون آثما مستحقا لعقوبة يراها القاضي، لكن الطلاق يقع ثلاثا في المذاهب الأربعة
أقوال الفقهاء في الطلاق الثلاث بلفظ واحد:

للفقهاء آراء ثلاثة في جمع الطلاق الثلاث بكلمة واحدة وهي (٢):
الأول ـ قول الجمهور منهم أئمة المذاهب الأربعة والظاهرية: يقع به ثلاث طلقات، وهو منقول عن أكثر الصحابة ومنهم الخلفاء الراشدون غير أبي بكر، والعبادلة الأربعة (ابن عمر، وابن عمرو، وابن عباس، وابن مسعود) وأبو هريرة وغيرهم، ومنقول عن أكثر التابعين، لكن لا يسن أن يطلق الرجل أكثر من واحدة
عند الحنفية والمالكية كما تقدم؛ لأن طلاق السنة: هو أن يطلقها واحدة ثم يتركها حتى تنقضي عدتها.
الثاني ـ قول الشيعة الإمامية: لا يقع به شيء.
الثالث ـ قول الزيدية وبعض الظاهرية وابن إسحاق وابن تيمية وابن القيم: يقع به واحدة، ولا تأثير للفظ فيه.
وأخذ القانون في مصر وسورية بهذ الرأي، نص القانون السوري على ما يلي:
(م ٩١) – يملك الزوج على زوجته ثلاث طلقات.
(م ٩٢) – الطلاق المقترن بعدد لفظا أو إشارة لا يقع إلا واحدا.وقد عدلت لجنة الإفتاء بالرياض عن هذا القول واختارت بالأكثرية القول بوقوع الطلاق الثلاث بلفظ واحد ثلاثا (١).

أدلة هذه الأقوال:
أما أدلة الإمامية القائلين بأنه لا يقع شيء: فهي الأدلة نفسها التي استدلوا بها على عدم وقوع الطلاق في الحيض، لأن كلا منهما غير مشروع.
وكذلك قوله تعالى: {فإمساك بمعروف أو تسريح بإحسان} [البقرة:231/ 2] يدل على أن شرط وقوع الطلقة الثالثة أن تكون في حال يصح من الزوج فيها الإمساك. وإذا لم يصح الإمساك إلا بعد المراجعة، لم تصح الثالثة إلا بعدها لما ذكر، وإذا لزم في الثالثة لزم في الثانية.
وأما أدلة الزيدية وابن تيمية وابن القيم القائلين بوقوع طلاق واحد، فهي ما يأتي:
١ – آية {الطلاق مرتان} [البقرة:٢٢٩/ ٢] إلى قوله تعالى في الطلقة الثالثة: {فإن طلقها فلا تحل له من بعد حتى تنكح زوجا غيره} [البقرة:٢٣٠/ ٢] أي أن المشروع تفريق الطلاق مرة بعد مرة، لأنه تعالى قال: {مرتان} [البقرة:٢٢٩/ ٢] ولم يقل «طلقتان».
وليس مشروعا كون الطلاق كله دفعة واحدة، فإذا جمع الطلاق الثلاث في لفظ واحد، لا يقع إلا واحدة، والمطلق بلفظ الثلاث مطلق بواحدة، لا مطلق ثلاث.ويرد عليه بأن الآية ترشد إلى الطلاق المشرو ع أو المباح، وليس فيها دلالة على وقوع الطلاق وعدم وقوعه إذا لم يكن مفرقا، فيكون المرجع إلى السنة، والسنة بينت أن الطلاق الثلاث يقع ثلاثا.ومما جاء في السنة في قصة ابن عمر الذي طلق امرأته في أثناء الحيض: أنه قال: «يا رسول الله، أرأيت لو طلقتها ثلاثا، أكان يحل لي أن أراجعها؟ قال: لا، كانت تبين منك، وتكون معصية» (١).
٢ – حديث ابن عباس قال: «كان الطلاق على عهد رسول الله صلى الله عليه وسلم وأبي بكر وسنتين من خلافة عمر، طلاق الثلاث واحدة، فقال عمر بن الخطاب: إن الناس قد استعجلوا في أمر كانت لهم فيه أناة، فلو أمضيناه عليه، فأمضاه عليهم » (٢) فهو واضح الدلالة على جعل الطلاق الثلاث بلفظ واحد طلقة واحدة، وعلى أنه لم ينسخ لاستمرار العمل به في عهد أبي بكر وسنتين من خلافة عمر، ولأن عمر أمضاه من باب المصلحة والسياسة الشرعية.
وأجيب عنه بأنه محمول على صورة تكرير لفظ الطلاق ثلاث مرات، بأن يقول: (أنت طالق، أنت طالق، أنت طالق) فإنه يلزمه واحدة إذا قصد التوكيد، وثلاث إذا قصد تكرير الإيقاع، فكان الناس على عهد رسول الله صلى الله عليه وسلم وأبي بكر على صدقهم وسلامتهم وقصدهم في الغالب الفضيلة والاختيار، لم يظهر فيهم خب ولا خداع، وكانوا يصدقون في إرادة التوكيد، فلما رأى عمر في زمانه أمورا ظهرت، وأحوالا تغيرت، وفشا إيقاع الثلاث جملة بلفظ لا يحتمل التأويل، ألزمهم الثلاث في صورة التكرير، إذ صار الغالب عليهم قصدها، وقد أشار إليه بقوله: «إن الناس قد استعجلوا في أمر كانت لهم فيه أناة».ثم إن هذا الحكم إنما هو في القضاء، أما في الديانة فإن كل واحد يعامل فيها بنيته. ومخالفة عمر لما مضى لا شيء فيها؛ لأنها ترجع إلى تغير الحكم بسبب تغير العرف وحال الناس. والحق أن في هذا الحديث نظرا.
٣ – حديث ابن عباس عن ركانة: «أنه طلق امرأته ثلاثا في مجلس واحد، فحزن عليها حزنا شديدا، فسأله النبي صلى الله عليه وسلم، كيف طلقتها؟ فقال: ثلاثا في مجلس واحد، فقال له صلى الله عليه وسلم: إنما تلك واحدة فارتجعها» (1).
وأجيب عنه بأجوبة:
منها ـ أن في إسناده محمد بن إسحاق، ورد بأنهم قد احتجوا في غير واحد من الأحكام مثل هذا الإسناد.
ومنها ـ معارضته لفتوى ابن عباس، فإنه كان يفتي من سأله عن حكم الطلاق بلفظ الثلاث بأنه يقع ثلاثا. ورد بأن المعتبر روايته لا رأيه.
ومنها ـ أن أبا داود رجح أن ركانة إنما طلق امرأته البتة، كما تقدم لدينا. ويمكن أن يكون من روى «ثلاثا» حمل «البتة» على معنى الثلاث، وفيه مخالفة للظاهر، والحديث نص في محل النزاع.
أدلة الجمهور القائلين بوقوع ثلاث طلقات:استدل فقهاء المذاهب الأربعة وموافقوهم على وقوع ثلاث طلقات بما يأتي من الكتاب والسنة والإجماع والآثار والقياس:
١ – الكتاب: منه قوله تعالى: {الطلاق مرتان، فإمساك بمعروف أو تسريح بإحسان} [البقرة:٢٢٩/ ٢] فهو يدل على وقوع الثلاث معا مع كونه منهيا عنه؛ لأن قوله تعالى: {الطلاق مرتان} [البقرة:٢٢٩/ ٢] تنبيه إلى الحكمة من التفريق، ليتمكن من المراجعة، فإذا خالف الرجل الحكمة، وطلق اثنتين معا، صح وقوعهما إذ لا تفريق بينهما، ثم إن قوله تعالى: {فلا تحل له من بعد حتى تنكح زوجا غيره} [البقرة:٢٣٠/ ٢] يدل على تحريمها عليه بالثالثة بعد الاثنتين، ولم يفرق بين إيقاعهما في طهر واحد أو في أطهار.ومنه {فطلقوهن لعدتهن} [الطلاق:1/ 65] إلى قوله تعالى: {وتلك حدود الله، ومن يتعد حدود الله فقد ظلم نفسه} [الطلاق:١/ ٦٥] والطلاق المشروع ما يعقبه عدة، وهو منتف في إيقاع الثلاث في العدة، وفيها دلالة على وقوع الطلاق لغير العدة، إذ لو لم يقع لم يكن ظالما لنفسه بإيقاعه لغير العدة، ومن لم يطلق للعدة بأن طلق ثلاثا مثلا، فقد ظلم نفسه.
ومنه آية {وللمطلقات متاع بالمعروف} [البقرة:٢٤١/ ٢] وغيرها من آيات الطلاق. تدل ظواهر هذه الآيات على ألا فرق بين إيقاع الطلقة الواحدة والثنتين والثلاث.
وأجيب: بأن هذه عمومات مخصصة، وإطلاقات مقيدة بما ثبت من الأدلة الدالة على المنع من وقوع ما فوق الطلقة الواحدة.
٢ – السنة: منها حديث سهل بن سعد في الصحيحين في قصة لعان عويمر العجلاني، وفيه: «فلما فرغا قال عويمر: كذبت عليها يا رسول الله، إن أمسكتها، فطلقها ثلاثا قبل أن يأمره رسول الله صلى الله عليه وسلم» ولم ينقل إنكار النبي صلى الله عليه وسلم. وأجيب: إنما لم ينكره عليه؛ لأنه لم يصادف محلا مملوكا له ولا نفوذا.
ومنها ـ حديث محمود بن لبيد عند النسائي السابق، وفيه أن النبي صلى الله عليه وسلم غضب من إيقاع الثلاث دفعة في غير اللعان، وقال: «أيلعب بكتاب الله، وأنا بين أظهركم؟» هذا يدل على أن الطلاق الثلاث بلفظ واحد يكون ثلاثا، ويلزم المطلق بها، وإن كان عاصيا في إيقاع الطلاق بدليل غضب النبي عليه الصلاة والسلام.
وأجيب بأنه حديث مرسل؛ لأن محمود بن لبيد لم يثبت له سماع من رسول الله صلى الله عليه وسلم، وإن كانت ولادته في عهده عليه السلام. وهذا مردود؛ لأن مرسل الصحابي مقبول.
ومنها ـ حديث ركانة بن عبد يزيد المتقدم أنه طلق امرأته سهيمة البتة، فأخبر النبي صلى الله عليه وسلم، وقال: والله ما أردت إلا واحدة، فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم: «والله ما أردت إلا واحدة؟» قال ركانة: والله ما أردت إلا واحدة، فردها إليه رسول الله صلى الله عليه وسلم (١).وهو من أصرح الأدلة وأوضحها على وقوع الطلاق الثلاث بلفظ واحد، لقول ركانة واستحلاف النبي له على أنه لم يرد بلفظ (البتة) إلا واحدة، فهو يدل على أنه لو أراد الثلاث لوقعت.ونوقش الحديث بأنه حديث ضعف الإمام أحمد جميع طرقه، كما ذكر المنذري، وكذلك ضعفه البخاري، وأن قصة ركانة أنه طلقها البتة لا ثلاثا.
ومنها ـ ما أخرجه عبد الرزاق في مصنفه من حديث عبادة بن الصامت قال: «طلق جدي امرأة له ألف تطليقة، فانطلق إلى رسول الله صلى الله عليه وسلم، فذكر له ذلك، فقال النبي صلى الله عليه وسلم: ما اتقى الله جدك، أما ثلاث فله، وأما تسعمائة وسبع وتسعون، فعدوان وظلم، إن شاء الله عذبه، وإن شاء غفر له» وأجيب بأن راويه ضعيف، وبأن والد عبادة بن الصامت لم يدرك الإسلام، فكيف بجده؟
٣ – الإجماع: أجمع السلف على وقوع الطلاق الثلاث بلفظ واحد ثلاثا. وممن حكى الإجماع على لزوم الثلاث في الطلاق بكلمة واحدة: أبو بكر الرازي والباجي وابن العربي وابن رجب.
وأجيب بأنه لم يثبت الإجماع، فقد روى أبو داود عن ابن عباس أنه يجعل الثلاث واحدة، وبأن طاوسا وعطاء قالا: «إذا طلق الرجل امرأته ثلاثا قبل أن يدخل بها، فهي واحدة».
٤ -الآثار: نقل عن كثير من الصحابة رضي الله عنهم أنهم أوقعوا الطلاق الثلاث ثلاثا، منها ما روى أبو داود عن مجاهد، قال: «كنت عند ابن عباس، فجاءه رجل، فقال: إنه طلق امرأته ثلاثا، فسكت حتى ظننت أنه ردها إليه، ثم قال: ينطلق أحدكم فيركب الحموقة، ثم يقول: يا ابن عباس، وإن الله قال: {ومن يتق الله يجعل له مخرجا} [الطلاق:٢/ ٦٥]، وإنك لم تتق الله، فلم أجد لك مخرجا، عصيت ربك، وبانت منك امرأتك».
ومنها ـ ما روى مالك في الموطأ أن رجلا جاء إلى ابن مسعود، فقال: إني طلقت امرأتي ثماني تطليقات، فقال: ما قيل لك؟ فقال: قيل لي: بانت منك، قال: هو مثل ما يقولون.
ومنها ـ ما أخرجه ابن أبي شيبة في مصنفه: «أن رجلا جاء إلى عثمان بن عفان، فقال: إني طلقت امرأتي مئة، فقال: ثلاث تحرمها عليك، وسبع وتسعون عدوان».
وروى أيضا: «أن رجلا جاء إلى علي بن أبي طالب فقال: إني طلقت امرأتي ألفا، فقال: بانت منك بثلاث».
وثبت مثله عن صحابة آخرين، وعن التابعين ومن بعدهم.
٥ – القياس: قال ابن قدامة (١): إن النكاح ملك يصح إزالته متفرقا، فصح مجتمعا كسائر الأملاك. وناقشه ابن القيم بأن المطلق إذا جمع ما أمر بتفريقه، فقد تعدى حدود الله وخالف ما شرعه.
وقال القرطبي (٢): وحجة الجمهور من جهة اللزوم ظاهرة جدا: وهو أن المطلقة ثلاثا لا تحل للمطلق حتى تنكح زوجا غيره، ولا فرق بين مجموعها ومفرقها لغة وشرعا. ونوقش بأن من قال: (أحلف بالله ثلاثا) لا يعد حلفه إلا يمينا واحدة، فليكن المطلق مثله. ورد عليه باختلاف الصيغتين، فإن عدد الطلاق ثلاث، وأما الحلف فلا أمد لعدد أيمانه، فافترقا.والذي يظهر لي رجحان رأي الجمهور: وهو وقوع الطلاق ثلاثا إذا طلق الرجل امرأته دفعة واحدة، لكن إذا رجح الحاكم رأيا ضعيفا صار هو الحكم الأقوى، فإن صدر قانون، كما هو الشأن في بعض البلاد العربية بجعل هذا الطلاق واحدة، فلا مانع من اعتماده والإفتاء به، تيسيرا على الناس، وصونا للرابطة الزوجية، وحماية لمصلحة الأولاد، خصوصا ونحن في وقت قل فيه الورع والاحتياط، وتهاون الناس في التلفظ بهذه الصيغة من الطلاق، وهم يقصدون غالبا التهديد والزجر، ويعلمون أن في الفقه منفذا للحل، ومراجعة الزوجة.

Referensi:

المجموع شرح المهذب – ٨٦٣٢/٩٧٩٢

قال المصنف رحمه الله تعالى:

كتاب العدد

إذا طلق الرجل امرأته قبل الدخول والخلوة لم تجب العدة لقوله تعالى (يا أيها الذين آمنوا إذا نكحتم المؤمنات ثم طلقتموهن من قبل أن تمسوهن فما لكم عليهن من عدة تعتدونها) ولان العدة تجب لبراءة الرحم، وقد تيقنا براءة رحمها، وإن طلقها بعد الدخول وجبت العدة لانه لما أسقط العدة في الآية قبل الدخول دل على وجوبها بعد الدخول، ولان بعد الدخول يشتغل الرحم بالماء فوجبت العدة لبراءة الرحم
وإن طلقها بعد الخلوة وقبل الدخول ففيه قولان

(أحدهما)
لا تجب العدة لما ذكرناه من الآية والمعنى (والثاني) تجب لان التمكين من استيفاء المنفعة جعل كالاستيفاء، ولهذا تستقر به الاجرة في الاجارة كما تستقر بالاستيفاء، فجعل كالاستيفاء في إيجاب العدة.

Referensi:

المجموع شرح المهذب – ٨١٨١/٩٧٩٢
فرع. وان قال أنت طالق  ثلاثا وقع عليها الثلاث، وبه قال جميع الفقهاء الا رواية عطاء فانه قال يقع عليها  طلقة.دليلنا ان قوله أنت طالق اسم لجنس من الفعل يصح للواحدة ولما زاد عليها.وقوله ثلاث مفسر له فكان وقوع الثلاث عليها دفعة واحدة، وان قال لها أنت طالق انت طالق انت طالق، أو قال انت طالق وطالق وطالق ولم ينو بالاولة الثلاث وقع عليها بقوله الاول أنت طالق وبانت بها ولا يلحقها ما بعدها، وبه قال الثوري وابو حنيفة
وقال مالك والليث بن سعد والاوزاعي يقع عليها الثلاث فقال أبو على بن أبى هريرة للشافعي في القديم ما يدل على ذلك، فجعلها على قولين.وقال ابو على الطبري فيها وجهان (احدهما) يقع عليها الثلاث، لانه ربط الكلام بعضه ببعض فحل محل الكلمة الواحدة
(والثانى)
انه يقع عليها طلقه واحدة تبين بها ولا يقع ما بعدها، لانه قد فرق فوقع بالاولة طلقه فبانت بها ولم يقع ما بعدها وقال أكثر اصحابنا هي على قول واحد ولا يقع عليها الا طلقه واحدة.وما ذكره في القديم فإنما حكى مذهب مالك.ووجهه ما روى عن عمر وعلى وابن مسعود وزيد بن ثابت أنهم قالوا يقع عليها طلقة واحدة ولا يقع ما بعدها، ولا مخالف لهم، وقد استدل القائلون بأنه لا يقع من المتعدد إلا واحدة بما وقع في حديث ابن عباس عن ركانة “أنه طلق امرأته ثلاثا في مجلس واحد فحزن عليها حزنا شديدا، فسأله النبي صلى الله عليه وسلم كيف طلقتها؟ فقال ثلاثا في مجلس واحد فقال له صلى الله عليه وسلم: إنما تلك واحدة فارتجعها ” أخرجه احمد وأبو يعلى وصححه.وقد أجيب عن ذلك بأجوبة، منها أن في إسناده محمد بن إسحاق.ورد بأنهم قد احتجوا في غير واحد من الاحكام بمثل هذا الاسناد.
ومنها معارضته لفتوى ابن عباس، ورد بأن المعتبر روايته لا رأيه.
ومنها أن أبا داود رجع أن ركانة إنما طلق امرأته البتة ويمكن أن يكون من روى ثلاثا حمل البتة على معنى الثلاث، وفيه مخالفة للظاهر واستدلوا بحديث ابن عباس ” أن الطلاق كان على عهد رسول الله صلى الله عليه وسلم إلى آخر الحديث الذى سبق إيراده.
وقد اختلف الناس في تأويله فذهب بعض التابعين إلى ظاهره في حق من لم يدخل بها كما دلت عليه رواية ابى داود، وتأوله بعضهم على صورة تكرير لفظ الطلاق، بأن يقول: انت طالق انت طالق انت طالق، فإنه يلزمه واحدة إذا قصدت التوكيد، وثلاث إذا قصد تكرير الايقاع فكان الناس في عهد النبي صلى الله عليه وسلم وأبي بكر على صدقهم وسلامتهم وقصدهم في الغالب الفضيلة والاختيار ولم يظهر فيهم خب ولا خداع فكانوا يصدقون في إرادة التوكيد. والقائلون بالفرق بين المدخولة وغيرها أعظم حجة لهم حديث ابن عباس الذى لفظه عند أبى داود ” أما علمت أن الرجل كان إذا طلق امرأته ثلاثا قبل أن يدخل بها جعلوها واحدة ” الحديث.
ووجهوا ذلك بأن غير المدخول بها تبين إذا قال لها زوجها أنت طالق، فإذا قال ثلاثا لغا العدد لوقوعه بعد البينونة.
ويجاب بأن التقييد بقبل الدخول لا ينافى صدق الرواية الاخرى الصحيحة على المطلقة بعد الدخول، وغاية ما في هذه الرواية أنه وقع فيها التنصيص على بعض أفراد مدلول الرواية الصحيحة المذكورة في الباب، وذلك لا يوجب الاختصاص بالبعض الذى وقع التنصيص عليه، وأجاب القرطبى عن ذلك التوجيه بأن قوله أنت طالق ثلاثا كلام متصل غير منفصل فكيف يصح جعله كلمتين، وتعطى كل كلمة حكما.
هذا حاصل ما في هذه المسألة، وهكذا أفاده الشوكاني في شرح المنتقى.

Referensi:

الفقه الإسلامي و أدلته – ٦٦٦٥/٧٧٢٢

وإذا طلقت المرأة قبل الدخول  والخلوة، فلا عدة عليها، لقوله تعالى: {إذانكحتم المؤمنات ثم طلقتموهن من قبل أن تمسوهن، فما لكم عليهن من عدة تعتدونها} [الأحزاب:٤٩/ ٣٣] ويكون الطلاق بائنا. ويرى الحنفية (١): أنه لايلحقها طلاق آخر، فلو قال الرجل لزوجته التي لم يدخل ولم يختل بها: «أنت طالق، أنت طالق، أنت طالق» لا تقع إلا طلقة واحدة؛ لأنها بالطلاق الأول، صارت بائنة من زوجها، وأصبحت أجنبية، فلا يلحقها آخر. وهذا رأي الشافعية أيضا، فإنهم قالوا: إذا قال ذلك لغير المدخول بها فتقع طلقة واحدة بكل حال؛ لأنها تبين بالأولى فلا يقع ما بعدها (٢).
وقال المالكية والحنابلة (٣): يقع بهذه الألفاظ المتتابعة ثلاث طلقات؛ لأنه نسق أي غير مفترق؛ لأن الواو تقتضي الجمع ولا ترتيب فيها، فيكون الرجل موقعا للثلاث جميعا، فيقعن عليها، كقوله: أنت طالق ثلاثا، أو طلقة معها طلقتان، إلا أنه إذا قصد بالثانية والثالثة تأكيد ما قبلها، فيصدق عند المالكية قضاء بيمين، وديانة بغير يمين.

Referensi ‘:

[مجموعة من المؤلفين، الفقه المنهجي على مذهب الإمام الشافعي، ١٣٩/٤]

إذا طلّق الرجل زوجته قبل أن يدخل بها، بانت منه، ولم يجز له أن يراجعا، إذا لا يجب عليها أن تعتدّ منه، لصريح قول الله عز وجل: {يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا نَكَحْتُمُ الْمُؤْمِنَاتِ ثُمَّ طَلَّقْتُمُوهُنَّ مِن قَبْلِ أَن تَمَسُّوهُنَّ فَمَا لَكُمْ عَلَيْهِنَّ مِنْ عِدَّةٍ تَعْتَدُّونَهَا} [الأحزاب: ٤٩] لذلك ينتهي بها الطلاق إلى البينونة رأساً.

lanjutan ibarot di atas pada halaman berikutnya

مجموعة من المؤلفين، الفقه المنهجي على مذهب الإمام الشافعي، ١٤٠/٤]

ثم إذا كان طلّقها في هذه الحالة طلقة واحدة، أو طلقتين، لم تحلّ له إلا بعقد ومهر جديدين، بناء على اختيارها ورضاها.
وإن كان قد طلّقها ثلاث تطليقات، لم تحلّ له إلا بعد أن تنكح زوجاً غيره، ويدخل بها الزوج الثاني، ثم يطلّقها، ثم تعتدّ منه، ثم يتزوجها هو بعقد ومهر جديدين. والله أعلم بالصواب

Kategori
Uncategorized

MERUNDUK KARENA MENGHORMATI ORANG ALIM

MERUNDUK KARENA MENGHORMATI ORANG ALIM

Deskripsi Masalah :
” Akhlak dan budi pekerti yang baik lebih tinggi nilainya dari pada kecerdasan . Maqolah ini menerangkan bahwa akhlak dan budi pekerti harus lebih banyak mendapat perhatian dan lebih sering dipakai daripada kecerdasan ilmu. Tak hanya maqolah itu saja, tapi masih banyak maqolah-maqolah lain yang juga menerangkan kemuliaan akhlak yang mengungguli kecerdasan kemuliaan ilmu.
Memberikan rasa hormat dengan merundukkan kepala orang lebih muda kepada yang lebih tua bahkan kepada guru sekalipun lebih muda merupakan suatu keharusan di saat bersalaman dan mencium tangan. Termasuk penghormatan adalah tidak berjalan di depannya, tidak menatap wajah,hal tersebut telah dikisahkan dalam suatu hadits.disebutkan dalam kitab Ushfuriyah:

{ ﻭﺣﻜﻲ }
ﺃﻥ ﻋﻠﻴﺎ ﺭﺿﻲ ﷲ ﻋﻨﻪ ﻛﺎﻥ ﻳﺬﻫﺐ ﺇﻟﻰ ﺍﻟﺠﻤﺎﻋﺔ ﻟﺼﻼﺓ ﺍﻟﻔﺠﺮ ﻣﺴﺮﻋﺎ ﻓﻠﻘﻲ ﺷﻴﺨﺎ ﻓﻰ ﺍﻟﻄﺮﻳﻖ ﻳﻤﺸﻲ ﻗﺪﺍﻣﻪ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﺴﻜﻴﻨﺔ ﻭﺍﻟﻮﻗﺎﺭ ﻓﻲ ﺳﻠﻚ ﺍﻟﻄﯩﻴﻖ

Diceritakan bahwa Sayyidina Ali RA suatu ketika sedang bergegas pergi berjamaah untuk sholat subuh, kemudian di jalan beliau bertemu dengan orang tua renta sedang berjalan perlahan-lahan,.

ﻭﻣﺎ ﻣﺮ ﻋﻠﻲ ﺭﺿﻲ ﷲ ﻋﻨﻪ ﺗﻜﺮﻳﻤﺎ ﻟﻪ ﻭﺗﻌﻈﻴﻤﺎ ﻟﺸﻴﺒﺘﻪ ﺣﺘﻰ ﺣﺎﻥ ﻭﻗﺖ ﻃﻠﻮﻉ ﺍﻟﺸﻤﺲ ﻓﻠﻤﺎ ﺩﻧﺎ ﺍﻟﺸﻴﺦ ﺇﻟﻰ ﺑﺎﺏ ﺍﻟﻤﺴﺠﺪ ﻓﻠﻢ ﻳﺪﺧﻞ ﺍﻟﻤﺴﺠﺪ ﻓﻌﻠﻢ ﻋﻠﻲ ﺭﺿﻲ ﷲ ﺗﻌﺎﻟﻰ ﻋﻨﻪ ﺃﻧﻪ ﻛﺎﻥ ﻣﻦ ﺍﻟﻨﺼﺎﺭﻯ ﻓﺪﺧﻞ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻤﺴﺠﺪ ﻓﻮﺟﺪ ﺭﺳﻮﻝ ﷲ ﺻﻠﻰ ﷲ ﺗﻌﺎﻟﻰ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻓﻲ ﺍﻟﺮﻛﻮﻉ

Sayyidina Ali RA tidak mendahuluinya karena beliau memuliakan dan menghormati ubannya hingga mendekati waktu terbitnya matahari. Ketika orang tua renta tersebut mendekati pintu masjid dia tidak masuk masjid, Sayyidina Ali RA pun tahu bahwa dia seorang nasrani, maka Sayyidina Ali RA memasuki masjid dan mendapati Rasulullah SAW dalam keadaan ruku’,

ﻓﻄﻮﻝ ﺍﻟﺮﻛﻮﻉ ﻣﻘﺪﺍﺭ ﺍﻟﺮﻛﻮﻋﻴﻦ ﺣﺘﻰ ﺃﺩﺭﻛﻪ ﻋﻠﻲ ﺭﺿﻲ ﷲ ﺗﻌﺎﻟﻰ ﻋﻨﻪ ﻓﻠﻤﺎ ﻓﺮﻍ ﻣﻦ ﺻﻼﺗﻪ ﻗﺎﻝ ﻳﺎﺭﺳﻮﻝ ﷲ ﻟﻢ ﻃﻮﻟﺖ ﺍﻟﺮﻛﻮﻉ ﻓﻲ ﻫﺬﻩﺍﻟﺼﻼﺓ ﻣﺎﻛﻨﺖ ﺗﻔﻌﻞ ﻣﺜﻞ ﻫﺬﺍ ؟


Maka Nabi memanjangkan ruku’ seukuran dua kali ruku’ sampai Sayyidina Ali RA mendapati beliau SAW. Setelah usai sholat beliau bertanya “Wahai Rasululloh, mengapa engkau memanjangkan ruku’ di sholat ini? engkau belum pernah melakukan seperti ini” .


ﻓﻘﺎﻝ ﺭﺳﻮﻝ ﷲ ﺻﻠﻰ ﷲ ﺗﻌﺎﻟﻰ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻟﻤﺎ ﺭﻛﻌﺖ ﻭﻗﻠﺖ ﺳﺒﺤﺎﻥ ﺭﺑﻲ ﺍﻟﻌﻈﻴﻢ ﻛﻤﺎ ﻛﺎﻥ ﻭﺭﺩﻱ ﻭﺍﺭﺩﺕ ﺃﻥ ﺃﺭﻓﻊ ﺭﺃﺳﻲ ﺟﺎﺀ ﺟﺒﺮﺍﺋﻴﻞ ﻋﻠﻴﻪ ﺍﻟﺴﻼﻡ ﻭﻭﺿﻊ ﺟﻨﺎﺣﻪ ﻋﻠﻰ ﻇﻬﺮﻱ ﻭﺃﺧﺬﻧﻲ ﻃﻮﻳﻼ ﻓﻠﻤﺎ ﺭﻓﻊ ﺟﻨﺎﺣﻪ ﺭﻓﻌﺖﺭﺃﺳﻲ


Maka Rasululloh SAW menjawab “Ketika Aku ruku’ dan mengucap subhanarobbial adzhim seperti biasanya, lalu Aku hendak mengangkat kepalaku (i’tidal), datanglah malaikat Jibril AS dan meletakkan sayapnya di atas punggungku, dia menahanku agak lama, ketika dia mengangkat sayapnya barulah aku mengangkat kepalaku (I’tidal)” .


ﻓﻘﺎﻟﻮﺍ ﻟﻢ ﻓﻌﻞ ﻫﻜﺬﺍ ﻓﻘﺎﻝ ﻣﺎﺳﺄﻟﺘﻪ ﻋﻦ ﺫﻟﻚ


Lantas para sahabat bertanya “Mengapa dia (Jibril) melakukan hal itu ?”,Nabi menjawab “ Aku belum menanyakan kepadanya ( Jibril ) hal tersebut”

ﻓﺤﻀﺮ ﺟﺒﺮﺍﺋﻴﻞ ﻋﻠﻴﻪ ﺍﻟﺴﻼﻡ ﻭﻗﺎﻝ ﻳﺎﷴ ﺇﻥ ﻋﻠﻴﺎ ﻛﺎﻥ ﻳﺴﺘﻌﺠﻞ ﻟﻠﺠﻤﺎﻋﺔ ﻓﻠﻘﻲ ﺷﻴﺨﺎ ﻧﺼﺮﺍﻧﻴﺎ ﻓﻰ ﺍﻟﻄﺮﻳﻖ ﻭﻟﻢ ﻳﻌﻠﻢ ﻋﻠﻲ ﺃﻧﻪ ﻧﺼﺮﺍﻧﻲ ﻭﺃﻛﺮﻣﻪ ﻷﺟﻞ ﺷﻴﺒﺘﻪ ﻭﻣﺎ ﺗﻘﺪﻡ ﻋﻨﻪ ﻭﺣﻔﻆ ﺣﻘﻪ


kemudian Jibril AS mendatangi beliau SAW dan berkata “Wahai Muhammad, sesungguhnya Ali bergegas untuk berjamaah, kemudian di perjalanan dia bertemu dengan orang tua renta nasrani sedangkan Ali RA belum tahu kalau dia (orang tua renta) adalah orang nasrani, dia menghormatinya sebab ubannya dan tidak mendahuluinya serta menjaga haknya.


ﻓﺄﻣﺮﻧﻲ ﷲ ﺗﻌﺎﻟﻰ ﺃﻥ ﺁﺧﺬﻙ ﻓﻰ ﺍﻟﺮﻛﻮﻉ ﺣﺘﻰ ﻳﺪﺭﻙ ﻋﻠﻲ ﺻﻼﺓ ﺍﻟﻔﺠﺮ ﻭﻫﺬﺍ ﻟﻴﺲ ﺑﻌﺠﺐ ﻭﺃﻋﺠﺐ ﺍﻟﻌﺠﺐ ﺃﻥ ﷲ ﺗﻌﺎﻟﻰ ﺃﻣﺮ ﻣﻴﻜﺎﺋﻴﻞ ﻋﻠﻴﻪ ﺍﻟﺴﻼﻡ ﺍﻥ ﻳﺄﺧﺬ ﷲ ﺗﻌﺎﻟﻰ ﺍﻟﺸﻤﺲ ﺑﺠﻨﺎﺣﻪ ﺣﺘﻰ ﻻﺗﻄﻠﻊ ﺍﻟﺸﻤﺲ ﻃﻮﻳﻼ ﻷﺟﻞ ﻋﻠﻲ ﺭﺿﻲ ﻋﻨﻪ ﻭﻗﺎﻝ ﻫﺬﻩ ﺍﻟﺪﺭﺟﺔ ﺑﺤﺮﻣﺔ ﺍﻟﺸﻴﺦ ﺍﻟﻔﺎﻧﻲ ﻣﻊ ﺃﻧﻪ ﻛﺎﻥ ﻧﺼﺮﺍﻧﻴﺎ ﻓﺄﻣﺮﻧﻲ ﷲ ﺗﻌﺎﻟﻰ ﺃﻥ ﺁﺧﺬﻙ ﻓﻰ ﺍﻟﺮﻛﻮﻉ ﺣﺘﻰ ﻳﺪﺭﻙ ﻋﻠﻲ ﺻﻼﺓ ﺍﻟﻔﺠﺮ ﻭﻫﺬﺍ ﻟﻴﺲ ﺑﻌﺠﺐ ﻭﺃﻋﺠﺐ ﺍﻟﻌﺠﺐ ﺃﻥ ﷲ ﺗﻌﺎﻟﻰ ﺃﻣﺮ ﻣﻴﻜﺎﺋﻴﻞ ﻋﻠﻴﻪ ﺍﻟﺴﻼﻡ ﺍﻥ ﻳﺄﺧﺬ ﺍﻟﺸﻤﺲ ﺑﺠﻨﺎﺣﻪ ﺣﺘﻰ ﻻﺗﻄﻠﻊ ﺍﻟﺸﻤﺲ ﻃﻮﻳﻼ ﻷﺟﻞ ﻋﻠﻲ ﺭﺿﻲ ﷲ ﺗﻌﺎﻟﻰ ﻋﻨﻪ ﻭﻗﺎﻝ ﻫﺬﻩ ﺍﻟﺪﺭﺟﺔ ﺑﺤﺮﻣﺔ ﺍﻟﺸﻴﺦ ﺍﻟﻔﺎﻧﻲ ﻣﻊ ﺃﻧﻪ ﻛﺎﻥ ﻧﺼﺮﺍﻧﻴﺎ


Allah menyuruhku untuk menahanmu dalam keadaan ruku’ hingga Ali RA mendapati sholat subuh, dan yang paling mengagumkan bahwasannya Allah Ta’ala menyuruh Mikail AS untuk menahan matahari dengan sayapnya hingga matahari tidak terbit agak lama karena Ali RA, derajat ini sebab hormat kepada orang tua renta walaupun dia seorang nasrani”

Akan tetapi, kami sering menjumpai sebagian dari masyarakat dari saking takdhimnya mereka melakukan penghormatan tersebut dengan membungkukkan badan hingga mencapai batas minimal ruku’.

Pertanyaan :

1.Bagaimanakah sebenarnya hukumnya merunduk dalam rangka menghormati seseorang sebagaimana deskripsi.

Waalaikum salam
Jawaban.
Menghormati seseorang adalah merupakan perbuatan yang mulia terlebih kepada orang tua, guru dan ulama’ ( orang-orang alim) dengan cara berdiri, mencium tangan, mencium kepala bahkan dengan mencium kakinya .Namun jangan sampai penghormatan tersebut hingga menyebabkan seperti hamba atau penghormatan yang melebihi kepada Allah SWT seperti membungkukkan badan hingga mencapai batas minimal rukuk hukumnya haram bahkan bisa menyebabkan kufur. Artinya hukumnya merunduk sebagai penghormatan selama tidak mencapai batas minimal ruku hukumnya boleh, dan ada yang menghukumi makruh.

Hadits anjuran memuliakan orang alim. disebutkan dlm kitab Lubabul hadits

وقال النبي صلى الله عليه وسلم: من أكرم عالما فقد أكرمني، ومن أكرمني فقد أكرم الله، ومن أكرم الله فمأواه الجنة


Nabi SAW bersabda: “Barangsiapa memuliakan orang ‘alim, berarti ia telah memuliakan aku. Barangsiapa memuliakan aku, berarti memuliakan Allah. Barang siapa memuliakan Allah, maka tempat kembalinya adalah surga.”

Larangan membungkuk hingga mencapai paling sedikitnya batas ruku.


مرقاة صعود التصديق فى شرح سلم التوفيق .ص ١١-١٢

وخرج بالسجود الركوع فإن قصد التعظيم لمخلوق بالركوع كتعظيم الله كفر وإلا بأن قصد تعظيمه لا كتعظيم الله أو أطلق فلايكفر بل هو حرام لوقوع صورته للمخلوق عادة ولاكذلك السجود فإنه كفر مطلقا أماماجرات به العادة من خفض الرأس والإنحناء إلى حدٍّ لايصل به إلى أقل الركوع فلاكفر به ولاحرمة أيضا لكن ينبغي كراهته هذا ماقاله الشرقاوى

إسعاد الرفيق الجزء الأول ص٥٥-٥٦ مكتبة “الهداية” سورابيا
وخرج بالسجود الركوع لأن صورته تقع فى العادة للمخلوق كثيرا بخلاف السجود نعم يظهر أن محل الفرق بينهما عند الإطلاق بخلاف ما لوقصد تعظيم مخلوق بالركوع كتعظيم الله به فإنه لاشك فى كفره حينئذ قال فى الإعلام وسواء كان السجود فى دار الحرب أم فى دار الإسلام بشرط أن لاتقوم قرينة على عدم استهزائه أو عذره ومافي الحلية عن القاضي عن النص أن المسلم لوسجد لصنم فى دار الحرب لم يكن بردته ضعيف واضح أن الكلام فى المختار وإنما لم يكفر بالسجود للوالد والعالم على جهة التعظيم لأن الوالد ورد الشرع بتعظيمه إلى أن قال- فافهم أنه بأن قصد به تعظيمه أو أطلق وكذا يقال فى الوالد


Dikecualikan sujud adalah ruku’ karena posisi ruku’ sering menghadap makhluk, berbeda dengan sujud. Dan benar demikian.Namun ruku’ dibedakan dari sujud, ketika tidak ada tujuan apa-apa. Lain halnya jika ada tujuan dengan mengagungkan makhluk dengan ruku’ sebagaimana mengagungkan Allah SWT, maka tidak ada keraguan akan menyebabkan kekafiran jika demikian. Imam Ibnu Hajar berkata dalam kitab I’lam: Sama saja sujud dilakukan dikawasan orang kafir atau kawasan orang Islam, dengan syarat tidak ada petunjuk kuat dia meremehkannya atau udzur.
Adapun keterangan yang berada dalam kitab Hilyah dari Al-Qadli dari Nashnya Imam Syafi’i bahwa jika seorang muslim sujud pada berhala dikawasan orang kafir tidak dihukumi kafir adalah lemah . Dan pembicaraan ini jelas tentang orang dalam keadaan aman ( bukan dipaksa). Dan tiada kafir karena sujud kepada orang tua dan guru dalam rangka menghormati, sebab terdapat perintah dari syara’ untuk menghormatinya- – – – Ungkapan kitab Raudloh memberikan pemahaman bahwa sujud kepada guru atau orang alim terkadang dapat menjadikan kafir, dengan gambaran karena mungkin bertujuan menggambarkan diri atau beribadah mendekatkan diri kepada guru. Dan terkadang dihukumi haram dengan gambaran bertujuan menghormati guru atau tidak bertujuan apa-apa. Kesimpulan ini juga berlaku sujud kepada orang tua.

Referensi :

*الموسوعة الفقهية الكويتية (23/ 135)

ثانيا – الركوع لغير الله : قال العلماء : ما جرت به العادة من خفض الرأس والانحناء إلى حد لا يصل به إلى أقل الركوع – عند اللقاء – لا كفر به ولا حرمة كذلك ، لكن ينبغي كراهته لقوله صلى الله عليه وسلم : لمن قال له : يا رسول الله ، الرجل منا يلقى أخاه أو صديقه أينحني له ؟ قال : لا ، قال : أفيلتزمه ويقبله ؟ قال : لا ، قال : أفيأخذ بيده ويصافحه ؟ قال : نعم. الحديث .أما إذا انحنى ووصل انحناؤه إلى حد الركوع فقد ذهب بعض العلماء إلى أنه إن لم يقصد تعظيم ذلك الغير كتعظيم الله لم يكن كفرا ولا حراما ، ولكن يكره أشد الكراهة لأن صورته تقع في العادة للمخلوق كثيرا .وذهب بعضهم إلى حرمة ذلك ولو لم يكن لتعظيم ذلك المخلوق ، لأن صورة هيئة الركوع لم تعهد إلا لعبادة الله سبحانه . قال ابن علان الصديقي : من البدع المحرمة الانحناء عند اللقاء بهيئة الركوع ، أما إذا وصل انحناؤه للمخلوق إلى حد الركوع قاصدا به تعظيم ذلك المخلوق كما يعظم الله سبحانه وتعالى ، فلا شك أن صاحبه يرتد عن الإسلام ويكون كافرا بذلك ، كما لو سجد لذلك المخلوق .
………….

حواشي الشرواني الجزء التاسع صـ 229

وأفتى المصنف بكراهة الانحناء بالرأس وتقبيل نحو رأس أو يد أو رجل لا سيما لنحو غني؛ لحديث {: من تواضع لغني ذهب ثلثا دينه.} ويندب ذلك لنحو صلاح أو علم أو شرف؛ لأن أبا عبيدة قبل يد عمر رضي الله عنهما، ويسن القيام لمن فيه فضيلة ظاهرة من نحو صلاح أو علم أو ولادة أو نسب أو ولاية مصحوبة بصيانة(ويندب ذلك) دخل فيه تقبيل الرجل وهو كذلك اه سم قوله (لنحو صلاح) أي من الأمور الدينية ككبر سن وزهد اه مغني عبارة ع ش من النحو المعلم المسلم اه وقوله أو ولاية أي ولاية حكم كالقاضي رشيدي وع ش
………..

نهاية المحتاج إلى شرح المنهاج (25/ 439)

( وسجود لصنم أو شمس ) أو مخلوق آخر ؛ لأنه أثبت لله شريكا ، نعم إن دلت قرينة قوية على عدم دلالة الفعل على الاستخفاف كسجود أسير في دار الحرب بحضرة كافر خشية منه فلا كفر ، وخرج بالسجود الركوع لوقوع صورته للمخلوق عادة ، ولا كذلك السجود ، نعم يتجه أن محل ذلك عند الإطلاق ، فإن قصد تعظيم مخلوق بالركوع كما يعظم الله به فلا فرق بينهما في الكفر حينئذ ( قوله : فإن قصد تعظيم مخلوق ) أي فلو لم يقصد ذلك لم يكن كفرا ، بل لا يكون حراما أيضا كما يشعر به قوله لوقوع صورته للمخلوق عادة ، لكن عبارة حج على الشمائل في باب تواضعه صلى الله عليه وسلم عند قول المصنف : وكانوا إذا رأوه لم يقوموا له لما يعلمون من كراهته لذلك نصها : ويفرق بينه : أي القيام للإكرام لا للرياء والإعظام حيث كان مكروها ، وبين حرمة نحو الركوع للغير إعظاما بأن صورة نحو الركوع لم تعهد إلا لعبادة الله بخلاف صورة القيام ا هـ .وهي صريحة في أن الإتيان بصورة الركوع للمخلوق حرام وبأنها لم تعهد لمخلوق ، وهي منافية لقول الشارح لوقوع صورته للمخلوق جرت به العادة من خفض الرأس والانحناء إلى حد لا يعمل به إلى أقل
الركوع فلا كفر به ولا حرمة أيضا لكن ينبغي كراهته
……………

تحفة المحتاج في شرح المنهاج (38/ 261)

(أو سجود لصنم أو شمس) أو مخلوق آخر وسحر فيه نحو عبادة كوكب؛ لأنه أثبت لله تعالى شريكا وزعم الجويني أن الفعل بمجرده لا يكون كفرا رده ولده نعم إن دلت قرينة قوية على عدم دلالة الفعل على الاستخفاف كأن كان الإلقاء لخشية أخذ كافر أو السجود من أسير في دار الحرب بحضرتهم فلا كفر وخرج بالسجود الركوع لأن صورته تقع في العادة للمخلوق كثيرا بخلاف السجود نعم يظهر أن محل الفرق بينهما عند الإطلاق بخلاف ما لو قصد تعظيم مخلوق بالركوع كما يعظم الله به فإنه لا شك في الكفر حينئذ (قوله: أو مخلوق آخر) إلى قوله وخرج بالسجود في المغني (قوله: أو مخلوق آخر) قال في الروضة ما يفعله كثيرون من الجهلة الضالين من السجود بين يدي المشايخ حرام قطعا بكل حال سواء كان إلى القبلة أو غيرها وسواء قصد السجود لله تعالى أو غفل عنه وفي بعض صوره ما يقتضي الكفر قال الشارح في الإعلام بعد نقله ما في الروضة هذا يفهم أنه قد يكون كفرا بأن قصد به عبادة مخلوق أو التقرب إليه وقد يكون حراما بأن قصد به تعظيمه أي التذلل له أو أطلق وكذا يقال في الوالد والعلماء انتهى ا هـ كردي
………..

فتوحات الربانية (3/363)

(ويكره حني الظهر ) ظاهره وان وصل الى حد الركوع فانه يبقى مكروها وكأن الفرق بينه وبين تحريم السجود بين يدي المشايخ بل في بعض صورة ما يقتضي الكفر ان السجود أبلغ في التواضع فحرم فعله لغير الله تعالى وظاهر أن محل ما ذكر في الانحناء ما لم يقصد به الركوع والا فيحرم لأنه تعاطى عبادة فاسدة بل في بعض صوره ما يقتضي الكفر ولا يشكل على ما تقرر من تحريم السجود في ذكرقوله تعالى حكاية عن اخوة يوسف “خروا سجدا له” لأن ذلك شرع من قبلنا وليس هو بشرع لنا مالم يرد في شرعنا تقريره والله أعلم
…………
انوار البروق الجزء الرابع صحـ 251 – 252

(الفرق التاسع والستون والمائتان بين قاعدة ما يباح في عشرة الناس من المكارمة وقاعدة ما ينهى عنه من ذلك) اعلم أن الذي يباح من إكرام الناس قسمان (القسم الأول) ما وردت به نصوص الشريعة من إفشاء السلام وإطعام الطعام وتشميت العاطس والمصافحة عند اللقاء والاستئذان عند الدخول وأن لا يجلس على تكرمة أحد إلا بإذنه أي على فراشه ولا يؤم في منزله إلا بإذنه لقول رسول الله (“لا يؤمن أحد أحدا في سلطانه ولا يجلس على تكرمته إلا بإذنه” ونحو ذلك مما هو مبسوط في كتب الفقه (القسم الثاني) ما لم يرد في النصوص ولا كان في السلف لأنه لم تكن أسباب اعتباره موجودة حينئذ وتجددت في عصرنا فتعين فعله لتجدد أسبابه لأنه شرع مستأنف بل علم من القواعد الشرعية أن هذه الأسباب لو وجدت في زمن الصحابة لكانت هذه المسببات من فعلهم وصنعهم -إلى أن قال- ولا فرق بين أن نعلم ذلك بنص أو بقواعد الشرع وهذا القسم هو ما في زماننا من القيام للداخل من الأعيان وإحناء الرأس له إن عظم قدره جدا والمخاطبة بجمال الدين ونور الدين وعز الدين وغير ذلك من النعوت والإعراض عن الأسماء والكنى والمكاتبات

بالنعوت أيضا كل واحد على قدره وتسطير اسم الإنسان بالمملوك ونحوه من الألفاظ والتعبير عن المكتوب إليه بالمجلس العالي والسامي والجناب ونحو ذلك من الأوصاف العرفية والمكاتبات العادية ومن ذلك ترتيب الناس في المجالس والمبالغة في ذلك ، وأنواع المخاطبات للملوك والأمراء والوزراء وأولي الرفعة من الولاة والعظماء فهذا كله ونحوه من الأمور العادية لم تكن في السلف ونحن اليوم نفعله في المكارمات والمولاة ، وهو جائز مأمور به مع كونه بدعة ولقد حضرت يوما عند الشيخ عز الدين بن عبد السلام وكان من أعيان العلماء وأولي الجد في الدين والقيام بمصالح المسلمين خاصة وعامة والثبات على الكتاب والسنة غير مكترث بالملوك فضلا عن غيرهم لا تأخذه في الله لومة لائم فقدمت إليه فتيا فيها ما تقول أئمة الدين وفقهم الله في القيام الذي أحدثه أهل زماننا مع أنه لم يكن في السلف هل يجوز أم لا يجوز ويحرم فكتب إليه في الفتيا قال رسول الله (“لا تباغضوا ولا تحاسدوا ولا تدابروا ولا تقاطعوا وكونوا عباد الله إخوانا” وترك القيام في هذا الوقت يفضي للمقاطعة والمدابرة فلو قيل بوجوبه ما كان بعيدا هذا نص ما كتب من غير زيادة ولا نقصان فقرأتها بعد كتابتها فوجدتها هكذا وهو معنى قول عمربن عبد العزيز تحدث للناس أقضية على قدر ما أحدثوا من الفجور أي يحدثوا أسبابا يقتضي الشرع فيها أمورا لم تكن قبل ذلك لأجل عدم سببها قبل ذلك لا لأنها شرع متجدد كذلك ها هنا فعلى هذا القانون يجري هذا القسم بشرط أن لا يبيح محرما ولا يترك واجبا فلو كان الملك لا يرضى منه إلا بشرب الخمر أو غيره من المعاصي لم يحل لنا أن نواده بذلك وكذلك غيره من الناس ولا طاعة لمخلوق في معصية الخالق وإنما هذه الأسباب المتجددة كانت مكروهة من غير تحريم فلما تجددت هذه الأسباب صار تركها يوجب المقاطعة المحرمة وإذا تعارض المكروه والمحرم قدم المحرم والتزم دفعه وحسم مادته وإن وقع المكروه هذا هو قاعدة الشرع في زمن الصحابة وغيرهم وهذا التعارض ما وقع إلا في زماننا فاختص الحكم به وما خرج عن هذين القسمين إما محرم فلا تجوز الموادة به أو مكروه فلم يحصل فيه تعارض بينه وبين محرم منهي عنه نهي تنزيه قلت : فينقسم القيام إلى خمسة أقسام محرم إن فعل تعظيما لمن يحبه تجبرا من غير ضرورة ومكروه إذا فعل تعظيما لمن لا يحبه ؛ لأنه يشبه فعل الجبابرة ويوقع فساد قلب الذي يقام له ، ومباح إذا فعل إجلالا لمن لا يريده ، ومندوب للقادم من السفر فرحا بقدومه ليسلم عليه أو يشكر إحسانه أو القادم المصاب ليعزيه بمصيبته ؛ وبهذا يجمع بين قوله عليه السلام { من أحب أن يتمثل له الناس أو الرجال قياما فليتبوأ مقعده من النار } وبين قيامه عليه السلام لعكرمة بن أبي جهل لما قدم من اليمن فرحا بقدومه ، وقيام طلحة بن عبد الله لكعب بن مالك ليهنئه بتوبة الله – تعالى – عليه بحضوره عليه السلام ولم ينكر النبي عليه السلام عليه ذلك فكان كعب يقول : لا أنساها لطلحة { وكان عليه السلام يكره أن يقام له } فكانوا إذا رأوه لم يقوموا له إجلالا لكراهته لذلك وإذا قام إلى بيته لم يزالوا قياما حتى يدخل بيته صلى الله عليه وسلم لما يلزمهم من تعظيمه قبل علمهم بكراهة ذلك ، وقال عليه السلام للأنصار { قوموا لسيدكم } قيل تعظيما له ، وهو لا يحب ذلك وقيل : ليعينوه على النزول عن الدابة قلت : والنهي الوارد عن محبة القيام ينبغي أن يحمل على من يريد ذلك تجبرا أما من أراده لدفع الضرر عن نفسه والنقيصة به فلا ينبغي أن ينهى عنه ؛ لأن محبة دفع الأسباب المؤلمة مأذون فيها بخلاف التكبر ، ومن أحب ذلك تجبرا أيضا لا ينهى عن المحبة والميل لذلك الطبيعي بل لما يترتب عليه من أذية الناس إذا لم يقوموا ومؤاخذتهم عليه فإن الأمور الجبلية لا ينهى عنها فتأمل ذلك فقد ظهر الفرق بين المشروع من الموادة وغير المشروع الي أن قال قلت : ومن هذا القيام عند ذكر مولده صلى الله عليه وسلم في تلاوة القصة فقد قال المولى أبو السعود أنه قد اشتهر اليوم في تعظيمه صلى الله عليه وسلم واعتيد في ذلك فعدم فعله يوجب عدم الاكتراث بالنبي صلى الله عليه وسلم وامتهانه فيكون كفرا مخالفا لوجود تعظيمه صلى الله عليه وسلم أي إن لاحظ من لم يفعله تحقيره صلى الله عليه وسلم بذلك ،

Kategori
Uncategorized

HUKUMNYA MENGQODHO’ SHALAT KARENA TERTIDUR ( MANA YANG HARUS DIDAHULUKAN ANTARA SHALAT QODHO DAN SHALAT ADA’..?)

HUKUM MENGQODLO’ SHALAT KARENA TERTIDUR

Assalamualaiku..

Seseorang katakanlah nama samarannya Sudirman dia kecapek-an dikarenakan pada siang harinya banyak kegiatan yang diantaranya dia mengajar selain itu dia membantu orang tuanya, setelah shalat isya’ dia tidur hingga kesiangan tabebes: red: hingga terbit matahari ( dia tidak shalat subuh).

Pertanyaannya.
1- Apakah shalat yang ditinggalkan sudirman wajib diqodlo’ kalau wajib diqadlo’ mana yang harus didahulukan antara menqodlo’ shalat yang fot dengan melaksanakan sholat yang hadir/shalat ada’an ..?

Mohon pencerahannya.

Waalaikum salam.
Jawaban

Mengqadho’ shalat yang terlewatkan ( fot ) karena tertidur hukumnya wajib dan mensegrakannya mengqadho’ hukumnya adalah sunnah.Tetapi jika tertinggalnya shalat bukan karena udzur maka mensegerakan qadlo’ hukumnya wajib, kecuali apabila ia hawatir terlewat dari sholat hadhiroh maka ia wajib mendahulukan sholat hadhiroh tersebut dari pada mengqodho.
Artinya sunnah didahulukan shalat qodlo’ dari pada shalat yang hadir jika waktunya luas tetapi jika waktunya shalat yang hadir mipet maka dahulukanlah shalat yang hadir.

كاشفة السجا على شرح سفينة النجا

والمبادرة إلى قضاء النفل سنة وكذا إلى الفرض إن فات بعذر وإلا وجبت إلا إن خاف فوت حاضرة فيبدأ بها وجوباً فلا يجوز أن يصرف زمناً في غير قضائها كالتطوع إلا فيما يضطر إليه كنوم أومؤنة من تلزمه مؤنته

Adapun menyesegerakan qodho sholat sunah adalah hukumnya sunah. Begitu juga, hukum bersegera mengqodho sholat fardhu adalah sunah jika memang sholat fardhu tersebut terlewat sebab suatu udzur. Berbeda apabila sholat fardhu terlewat bukan sebab udzhur maka hukum bersegera mengqodhonya adalah wajib kecuali apabila ia hawatir terlewat dari sholat hadhiroh maka ia wajib mendahulukan sholat hadhiroh tersebut daripada mengqodho. Oleh karena wajib mengqodho, seseorang tidak diperbolehkan menggunakan waktu-waktunya untuk melakukan selain pengqodhoan semisal ia mengakhirkan pengqodhoan dan malah melakukan sholat sunah, kecuali melakukan perkara-perkara yang memang harus dilakukan, seperti; tidur atau bekerja membiayai orang-orang yang wajib ia biayai.

Kemudia ketahuilah sesungguhnya ketika seseorang tidur sebelum waktu sholat masuk dan ia masih tidur hingga ia terlewat sholat dari waktunya maka ia tidak berdosa meskipun sebenarnya ia tahu kalau tidurnya tersebut akan sampai melewati waktu sholat meskipun itu sholat Jumat sebagaimana dikatakan oleh pendapat shohih. Ia tidak wajib mengqodhonya dengan segera karena sabda Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallama, “Tidak ada unsur kecerobohan sebab tidur. Kecerobohan hanya terjadi pada orang yang belum sholat tertentu (misal Dzuhur) hingga masuk waktu sholat yang lain (Ashar).” HR. Muslim.
/ dalam hadis di atas menunjukkanفىSuwaifi berkata, “Huruf /arti sababiah sehingga maksud hadis tersebut adalah bahwa kecerobohan bukanlah disebabkan oleh tidur, artinya, jika memang seseorang tidur sebelum masuknya waktu sholat.”

ثم اعلم أنه إذا نام قبل دخول الوقت ففاتته الصلاة فلا إثم عليه وإن علم أنه يستغرقالوقت ولو جمعة على الصحيح ولا يلزمه القضاء فورًا لقوله صلى اﷲ عليه وسلم ليس فيالنوم تفريط إنما التفريط على من لم يصل الصلاة حتى يدخل وقت الأخرى رواه مسلم قال السويفي في للسببية أي ليس بسبب النوم تفريط أي إن نام قبل دخول

وأما إن نام بعد دخوله فإن علم أنه يستغرق الوقت حرم عليه النوم ويأثم إثمين إثم ترك الصلاة وإثم النوم فإن استيقظ على خلاف ظنه وصلى فى الوقت لم يحصل إثم ترك الصلاة وأما الإثم الذى حصل بسبب النوم فلا يرتفع إلا بالاستغفار وإن غلب علىظنه الاستيقاظ قبل خروج الوقت فخرج ولم يصل فلا إثم عليه وإن خرج الوقت لكنه يكره له ذلك إلا إن غلبه النوم بحيث لا يستطيع دفعه، وإن لم يغلب على ظنهالاستيقاظ أثم، ويجب إيقاظ من نام بعد الوجوب، ويسن إيقاظ من نام قبل الوقت إنلم يخش ضرر اً لينال الصلاة في الوقت فإن استيقظ على خلاف ظنه وصلى فى الوقت لم يحصل إثم ترك الصلاة وأما الإثم الذى حصل بسبب النوم فلا يرتفع إلا بالاستغفار

Adapun apabila seseorang tidur setelah masuknya waktu sholat, maka jika ia tahu kalau tidurnya akan sampai melewati waktu sholat maka diharamkan atasnya tidur dan ia bisa menanggung dua dosa, yaitu dosa meninggalkan sholat dan dosa tidur. Apabila ia tahu kalau tidurnya akan sampai melewati waktu sholat, tetapi ternyata ia masih bisa bangun di waktu sholat tersebut, kemudian ia melakukan sholat, maka ia tidak menanggung dosa meninggalkan sholat.
Adapun dosa yang disebabkan oleh tidur maka dapat dihapus dengan cara istighfar

وإن غلب على ظنه الاستيقاظ قبل خروج الوقت فخرج ولم يصل فلا إثم عليه وإن خرج الوقت لكنه يكره له ذلك إلا إن غلبه النوم بحيث لا يستطيع دفعه وإن لم يغلب على ظنه الاستيقاظ أثم ويجب إيقاظ من نام بعد الوجوب، ويسن إيقاظ من نام قبل الوقت إن لم يخش ضررا لينال الصلاة في الوقت

Dan apabila seseorang menang atas sangkaannya bahwa dia akan bangun sebelum waktu sholat habis,maka ternyata terbukti bahwa waktu sholat telah habis dan ia masih tidur, kemudian ia bangun dan belum melakukan sholat, maka ia tidak menanggung dosa sama sekali meskipun waktu sholat telah habis, tetapi tidur dengan kondisi demikian ini dimakruhkan, kecuali jika memang setelah masuknya waktu ia benar-benar mengalahkan rasa ngantuk(tidur) sekiranya dia tidak mampu menolak kantuknya maka tidak dimakruhkan.
Sebaliknya apabila seseorang tidur setelah masuknya waktu dan ia tidak memiliki sangkaan kuat kalau ia akan bangun sebelum waktu shalat habis, dan ternyata terbukti bahwa waktu shalat telah habis dan ia masih tidur, maka ia berdosa.
Dan wajib membangunkan orang yang tidur setelah berkewajiban (masuknya waktu shalat) dan sunnah membangunkan orang yang tidur sebelum masuknya waktu, jika sekiranya tidak takut berbahaya agar dapat melakukan shalat tepat waktu.

Referensi:

[البكري الدمياطي ,إعانة الطالبين على حل ألفاظ فتح المعين ,١/٣١]

ويبادر) من مر (بفائت) وجوبا، إن فات بلا عذر، فيلزمه القضاء فورا.
قال شيخنا أحمد بن حجر رحمه الله تعالى: والذي يظهر أنه يلزمه صرفجميع زمنه للقضاء ما عدا ما يحتاج لصرفه فيما لا بد منه، وأنه يحرم عليه التطوع، ويبادر به – ندبا – إن فات بعذر كنوم لم يتعد به ونسيان كذلك.
(ويسن ترتيبه) أي الفائت، فيقضي الصبح قبل الظهر، وهكذا.
(وتقديمه على حاضرة لا يخاف فوتها) إن فات بعذر، وإن خشي فوت جماعتها – على المعتمد -.وإذا فات بلا عذر فيجب تقديمه عليها.
أما إذا خاف فوت الحاضرة بأن يقع بعضها – وإن قل – خارج الوقت فيلزمه البدء بها.ويجب تقديم ما فات بغير عذر على ما فات بعذر.
وإن فقد الترتيب لانه سنة والبدار واجب.


Referensi ‘:

[ابن حجر الهيتمي، تحفة المحتاج في شرح المنهاج وحواشي الشرواني والعبادي، ٤٣٩/١]

(وَيُبَادِرُ بِالْفَائِتِ) الَّذِي عَلَيْهِ وُجُوبًا إنْ فَاتَ بِغَيْرِ عُذْرٍ وَإِلَّا كَنَوْمٍ لَمْ يَتَعَدَّ بِهِ وَنِسْيَانٍ كَذَلِكَ بِأَنْ لَمْ يَنْشَأْ عَنْ تَقْصِيرٍ بِخِلَافِ مَا إذَا نَشَأَ عَنْهُ كَلَعِبِ شِطْرَنْجٍ، أَوْ كَجَهْلٍ بِالْوُجُوبِ وَعُذْرٍ فِيهِ بِبُعْدِهِ عَنْ الْمُسْلِمِينَ أَوْ إكْرَاهٍ عَلَى التَّرْكِ، أَوْ التَّلَبُّسِ بِالْمُنَافِي فَنَدَبَا تَعْجِيلًا لِبَرَاءَةِ ذِمَّتِهِ (وَيُسَنُّ تَرْتِيبُهُ وَتَقْدِيمُهُ) إنْ فَاتَ بِعُذْرٍ (عَلَى الْحَاضِرَةِ الَّتِي لَا يَخَافُ فَوْتَهَا) وَإِنْ خَشِيَ فَوْتَ جَمَاعَتِهَا عَلَى الْمُعْتَمَدِ خُرُوجًا مِنْ خِلَافِ مَنْ أَوْجَبَ ذَلِكَ وَلِلِاتِّبَاعِ وَلَمْ يَجِبْ؛ لِأَنَّ كُلَّ وَاحِدَةٍ عِبَادَةٌ مُسْتَقِلَّةٌ وَكَقَضَاءِ رَمَضَانَ، وَالتَّرْتِيبُ فِي الْمُؤَدَّيَانِ إنَّمَا هُوَ لِضَرُورَةِ الْوَقْتِ وَفِعْلُهُ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – الْمُجَرَّدُ لِلنَّدْبِ وَقُدِّمَ.والله أعلم بالصواب