Deskripsi masalah. Ketika saya ( Ahmad Munir al-Ghifari ) shalat berjamaah dimasjid- masjid atau Mushollah dan berma’mum kepada Imam setelah sholat pembukaan dzkirnya ( istighfarnya ) berbeda- beda ” ada yang mengatakan kalima berikut:
” أستغفر الله العظيم لي والدي ولجميع المسلمين والمسلمات و المؤمنين والمؤمنات الأحياء منهم والأموات “
Dan sebagian mengatakan “
أستغفر الله العظيم ألذي لا إله إلا هو الحي القيوم وأتوب إليه “
Dan sebagian ketika berdzikr mengatakan
” اللهم اغفرلي ولوالدي /رب اغفرلي ولوالدي
Pertanyaannya.
Apa bedanya bacaan.. Astaghfirullahaladzim liwaliwadayya… dengan Robbiyfirli waliwalidayya….kalau di baca apa ada beda atau bagaimana kiyai.
Apa hasiatnya bagi yang membaca istighfar tersebut..?
Waalaikum salam.
Jawaban:
أستغفر dan إغفر
Sebenarnya kedua kalimat tersebut serupa namun tidak sama, menurut ilmu tatabahasa disebut Murodiful makna ( sama dalam makna tapi beda kalimatnya). Adapun kesamaannya adalah keduannya sama-sama do’a memohonkan ampunan untuk orang tua. Sedangkan ketidak samaannya karena Astaghfirullah shighatnya adalah fi’il mudlore’ sedangkan Ighfir adalah shighatnya atau bentuk kalimatnya adalah fi’il amar, begitu juga dengan kalimat اللهم dan رب serupa tapi tidak sama ketidak samaannya adalah kalimatnya sedangkan kesamaannya keduanya sama menyimpan makna Ya Allah…!!
Adapun yang dimaksud dengan do’a adalah menuntut atau meminta sesuatu dengan syarat dari bawahan keatasan dengan memakai fi’il amar atau fi’il mudlori’ yang menunjukkan pada do’a. Referensi:
موسوعة النحو والصرف. ص.٣٦٨ الدعاء هو طلب فعل شيئ او الكف عنه بشرط أن يكون من أدنى لأعلى لأنه إن كان من أعلى إلى أدنى فهو امر وإن كان بين متساويين فهو إلتماس ويكون بفعل الأمر الدال على دعاء نحو رب سامحني . وبالفعل المضارع المسبوق بلام الأمر أو ، ب لا، الناهية مع إرادة الدعاء بهما نحو : يارب لتسامحني ولاتخذلني .وبالمصدر النائب عن فعله الدال على دعاء نحو ( سقيا ورعيا) وبالخير المقصود منه الدعاء نحو يوفقني الله أى ليوفقني .. والله أعلم.
Jawaban : No 2 Adapun hasiat atau keistimiwaannya bagi yang membacanya
أستغفر الله العظيم لي والوالدي الخ
Sebanyak 25 kali sehari, maka Allah mencatat baginya sebagai wali diantara banyak walinya Allah.
Didalam tafsir At Thobari, disebutkan,mengenai anjuran bagi kita untuk mohon ampun kepada Allah bagi kita dan bagi kedua orang tua kita.Dan shighot (bentuk lafalnya anjuran bagi kita untuk mohon ampun kepada Allah bagi kita dan bagi kedua orang tua kita) itu tidak ditentukan bentuk lafal tertentu :
وتعطف عليهما بمغفرتك
artinya Dan dimohon hendaklah Engkau,ya Allah,mengasihi terhadap kedua orang tuaku,dengan pengampunanMu kepada kedua orang tuaku.
Jadi lafal
استغفر الله العظيم لي ولوالدي
(astaghfirulloohal adziin lii wa liwaalidayya) artinya:Aku memohon ampunan kepada Allah yang agung,bagiku dan bagi kedua orang tuaku.
dan lafal
رب اغفر لي ولوالدي
(robbighfirlii waliwaalidayya) Wahai Tuhanku, ampunilah aku dan kedua orang tuaku, itu hukumnya adalah sama.
Referensi:
(تفسير الطبري) وأما قوله ( وَقُلْ رَبِّي ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا ) فإنه يقول: ادع الله لوالديك بالرحمة، وقل ربّ ارحمهما، وتعطف عليهما بمغفرتك ورحمتك، كما تعطفا عليّ في صغري، فرحماني وربياني صغيرا، حتى استقللت بنفسي، واستغنيت عنهما.
Referensi:
وصية المصطفى ص ٤ ياعلي: من قال كل يوم خمسة مرات وعشرين ” أستغفر اللله العظيم لي والدي ولجميع المسلمين والمسلمات و المؤمنين والمؤمنات الأحياء منهم والأموات كتبه الله من أوليائه والله أعلم
Wahai Ali :” Barang siapa yang membaca setiap hari 25 kali Astaghfirullahal adhiim liy walidayyah walijamiil muslimin wal muslimat wal mukminiina wal mukminaat al- hayati minum wal amwat maka Allah catat padanya sebagai wali( kekasihnya).
HINDARKAN DIRIMU UNTUK MENJADI “ABU SYIBR (BAPAK SATU JENGKAL)
Assalamualaikum
Sail : Kiyai Ahmad Suyuthi
Deskripsi masalah
Mencari ilmu merupakan suatu kewajiban bagi setiap muslim dan muslimah baik yang berkaitan hakkullah maupun hakkunnas dikatakan ” أطلبوا العلم من المهد إلى اللحد” Tuntulah ilmu mulai dari buaian hingga liang Lahat , karena dengan ilmu manusia dapat mengetahui dan menyelesaikan sesuatu dengan baik dan sempurna, karena ilmu merupakan suatu sifat yang dapat dijadikan sarana menuju kearah terang dan jelas bagi orang yang memilikinya, Namun demikian terkang orang merasa sombong dengan ilmunya terkait dengan hal tersebut kami timbul pertanyaan melalui salah satu maqolah ulama’ berikut:
العلم ثلاثة أشبار فمن دخل فى الشبر الأول تكبر ومن دخل فى الشبر الثاني تواضع ومن دخل فى الشبر الثالث علم أنه ما يعلم
Pertanyaannya Apa maksud dari pembagian ilmu diatas..?
Waalaikum salam.
Jawaban
Maksud dari maqolah sebagaimana tersebut , bahwa Orang yang baru belajar biasanya lebih sombong dari orang yang sudah belajar bertahun-tahun dan lebih banyak membaca baik yang tertulis maupun yang tidak tertulis. Hal seperti ini bukanlah isapan jempol. Seorang tabiin terkemuka, Imam as-Sya’bi (w. 104 H) pernah mengatakan demikian. Ciri-ciri orang yang baru belajar ilmu, ilmu apapun, baik ilmu agama atau ilmu yang lain adalah sombong dan merasa diri paling faham atau mengerti ilmu tersebut. Kesombongan ini dilarang, kalau dalam ilmu tasawwuf biasanya terkadang masih masuk pada tingkatan maqom syariat sebagaimana kisah Nabi Musa dan Nabi Hidir.
Adapun asal usul terjadinya pertemuan antara Nabi Musa dan Nabi Hidir disebabkan oleh salah satu kaum Bani Israil ( Kaumnya Nabi Musa ) , ketika Nabi Musa selesai berkhatbah kepada kaumnya hingga meniteskan air mata dan menakutkan hati ( hati gemetar ) lalu seorang laki-laki mengegikuti Nabi Musa dan bertanya kepada Nabi Musa, Wahai Nabi Musa apakah ada disini ( dimuka bumi ) ini orang yang lebih Alim dari kamu , maka Nabi Musa menjawabnya ” Tidak ada orang yang lebih Alim dimuka bumi selain Aku” ( kata Nabi Musa ) maka akibat jawaban itu, Allah menegurnya ( menyalahkannya ) karena ilmunya yang tidak akan kembali kepadanya melalui firman-Nya, Ya “Sesungguhnya, Aku memiliki seorang hamba di pertemuan dua samudera yang lebih alim darimu.”Nabi Musa menjadi penasaran, “Wahai Tuhanku, bagaimana aku bisa bertemu dengannya?” Allah menjelaskan, “Bawalah olehmu seekor ikan. Lalu simpan dalam keranjang. Di mana ikan itu menghilang, di sanalah hamba itu berada.”Hamba dimaksud tak lain adalah Nabi Khidir alaihis salam Hidir adalah sebuah Nama Laqob gelar ( Jejuluk : Red ) karena ketika Nabi hidir duduk didasar bumi maka seketika itu disekitarnya menjadi biru sedangkan Alami isimnya adalah Balyan Ibnu Malkan sedangkan Alami Kunniyahnya adalah Abul Abbas .Singkat kisah, Ketika Nabi Musa bertemu dengan Nabi Hidir ( maqom ilmu hakikat ) sesuai petunjuk Allah, maka mereka berdua berjalan, ketika Hidir berada diperahu/kapal dengan ” ilmu laduninnya atau mukasyafah “yang jauh dari nalar maqom Syariat Nabi Musa, maka dia ( Hidir ) membolong nya (melubanginya), kemudian ketika keduanya bertemu dengan anak kecil Nabi Hidir membunuhnya, demikian juga Nabi Hidir menegakkan rumah/bangunan atau dingding yang hampir roboh, semua kejadian apa yang dilakukan Nabi Hidir selalu diprotes oleh Nabi Musa karena menurutnya salah secara syariat. Oleh karenanya Perdebatan-perdebatan terkait keilmuan apapun itu selalu diisi oleh orang-orang yang baru belajar sebagaimana Nabi Musa yang ingin belajar kepada Nabi Hidir ( lihat kisah Nabi Hidir dan Nabi Musa Q.S al-Kahfi: ayat: 65 dan dalam kitab Shahih bukhariy ). Begitu juga hal yang terjadi pada kisah Nabi Sulaiman setelah diberi kekuasaan yang luas didunia ( diberi pemahaman berbicara dengan semua makhluk dan kekayaan ) sehingga ia dapat memerintah manusia, jin, binatang-binatang, burung-burung dan angin, dia merasa dirinya ” besar ” dan minta idzin dari Allah agar ia diberi kekuasaan membagi rezki kepada hamba dan makhluknya selama setahun. Allah menjawab: ” Engkau tidak dapat melakukan, tetapi Aku mengizinkan agar engkau mencoba”. Lalu Nabi Sulaiman memerintahkan semua bangsa manusia dan jin berkumpul dan memasak serta menyiapkan segala sesuatu selama empat puluh hari, kemudian disiapkannya hidangan disuatu sahara yang luas. Hidangan yang mana panjangnya sepanjang perjalanan satu bulan dan demikian pula lebarnya. Setelah segala sesuatunya siap, maka Allah bertanya kepada Nabi Sulaiman lewat wahyunya;” Dengan siapa engkau memulai..? Sulaiman menjawab : dengan penghuni darat dan laut”. Kemudian Allah memerintahkan seekor ikan laut yang besar dari ikan-ikan penghuni lautan luas mengunjungi hidangan Nabi Sulaiman dalam sekejab mata, ikan laut itu telah menelan habis semua yang ada diatas hidangan, seraya berkata pada Nabi Sulaiman :” Aku masih lapar” berilah makan untukku. Tuhan telah membebankan rezkiku diatas pundakmu hari ini”. ” Belumkah merasa kenyang dan puas setelah engkau telah habiskan apa yang ada didepanmu ini.. .? Bertanya Nabi Sulaiman. ” Belum” Jawab Ikan. Maka Nabi Sulaiman bersud dan berkata;” Maha besar Tuhan yang telah menyediakan rezki bagi setiap makhluknya dengan tanpa ia rasa dan mengetahui. ( Badiul-Asrar disebutkan dalam kitab Dzurratunnashihin.juz 2 hal 212-213).
Dari kisah diatas dapat diampil pelajaran bagi kita walaupun sebenarnya kisah tersebut sebuah ujian, agar kita tidak merasa paling Alim karena diatas langit masih ada langit, Oleh karenanya perlu kehati-hatian hindari hal-hal yang dapat mendorong pada sifat takabbur atau sombong dengan bermuhasabah merenungi qaul ulama sebagaimana kutipan berikut:
إياك وحلم ( اليقظة)، ومنه بأن تدعي العلم لما لم تعلم، أو إتقان ما لم تتقن فإن فعلت، فهو حجاب كثيف عن العلم.
Jauhkanlah dirimu dari berangan-angan, bermimpi dalam keadaan sadar, yaitu engkau mendaku memiliki ilmu pada perkara yang engkau sadari tidak memiliki ilmu tentangnya, mendaku telah menjadi seorang yang profesional padahal engkau bukanlah seorang yang profesional. Jika engkau telah melakukannya, maka sesungguhnya hal itulah yang akan menjadi hijab tebal yang menghalangimu dari memperoleh ilmu.
Penjelasan .
Redakdasi Ini adalah benar hendaknya engkau berhati-hati untuk tidak berpura-pura ahli ilmu. Misalnya engkau menganggap bahwa engkau menguasai suatu ilmu, padahal engkau tidak menguasainya, atau engkau menganggap dirimu ahli dalam satu bidang, padahal engkau belum meyakinkannya, jika engkau melakukannya, maka hal itu akan menjadi hijab yang sangat tebal dari datangnya cahaya ilmu, karena berapa banyak manusia tergesa-gesa.Terkadang sebagian manusia ingin memperlihatkan kepada para hadirin bahwa dia berilmu, bahwa ia adalah seorang Alim yang sangat ahli .Engkau bisa melihat misalnya, Saat ditanya suatu permasalahan, dia diam sejenak seakan-akan ia merenung dan berfikir mengenai rahasia-rahasia yang akan menjadi jawabannya, kemudian dia mengangkat kepalanya dan berkata ” dalam masalah ini ada dua pendapat menurut ulama” baiklah apa kata ulama itu..? bisa saja dia menjawab dengan jawaban terlintas begitu saja didalam benaknya atau ia akan berkata” Masalah ini memerlukan perenungan ulang”.
Demikianlah.Yang penting engkau mengklain mengetahui sesuatu dan jangan menganggap dirimu sebagai seorang alim yang dapat memberikan fatwa, padahal engkau belum memiliki pengetahuan
Mengenai hal itu adalah suatu kebohongan yang menyia-nyiakan akal dan kesesatan didalam agama. Karena itu Syaikh Bakar berkata; Jika engkau melakukannya maka hal itu akan menjadi hijab yang sangat tebal dari datangnya cahaya ilmu.Karena jika manusia sudah bertingkah seperti itu ia akan berkata” Sudah, aku sekarang sudah menjadi orang yang alim aku tidak perlu lagi menuntut ilmu , dengan demikian ia telah menutup dirinya dari ilmu karena keyakinannya yang keliru.
احذر أن تكون “أبا شبر” فقد قيل: العلم ثلاثة أشبار، من دخل في الشبر الأول، تكبر ومن دخل في الشبر الثانى، تواضع ومن دخل في الشبر الثالث، علم أنه ما يعلم.
Hindarkan dirimu untuk menjadi “Abu Syibr(bapak satu jengkal)”.“ Sungguh telah dikatakan oleh sebagian ulama: Ilmu itu tiga jengkal. Siapa yang berada di jengkal pertama ia merasa jumawa. Siapa yang sampai di jengkal kedua ia akan lebih rendah hati. Dan siapa yang sampai di jengkal ketiga ia yakin bahwa ia tidak tahu apa-apa.”
Penjelasan
Ibarah di atas menggunakan qila (sighat tamridh), yaitu tidak disebutkan nama ulama yang menyebutkannya. Namun ada yang menyebut bahwa qaul tersebut adalah perkataan Imam as-Sya’bi. Pasalnya dalam kitab yang lain (ad-Dar al-Farid) disebutkan qaul dengan substansi yang sama seperti berikut:
Artinya, “Imam as-Sya’bi berkata: Ilmu itu ada tiga tingkatan. Orang yang baru mendapatkan satu tingkatan akan merasa dirinya agung dan seolah-olah dia telah mendapatkan semua ilmu tersebut. Sedangkan ketika sudah mendapatkan dua tingkat, maka ia akan merasa dirinya kecil. Ketika sudah mencapai tingkatan ketiga, maka ia merasa bahwa ia tak mungkin mendapatkan satu pun ilmu selamanya.” Itu lah ajaran para ulama terdahulu. Kita perlu introspeksi diri kita. Jangan-jangan kita masih termasuk golongan yang baru meraih tingkatan pertama, kenapa sombong..? karena dia belum mengetahui dirinya dan hakikatnya. Kalau dalam ilmu tasawwuf ini masuk pada tingkatan maqom Syariat.oleh karena nya penting seseorang agar mengenali dirinya.Dikatakan Oleh ahli tashowwuf.
من عرف نفسه فقد عرف ربه ومن عرف ربه كل لسانه
Barang siapa yang mengetahui terhadap dirinya maka ia akan mengetahui terhadap tuhannya dan barang siapa yang mengetahui/mengenali Tuhannya maka menjadi kelu/tumpul atau lelah lisannya. Maksudnya tidak banyak bicara melainkan banyak dzikir sehingga menjadi kelu lisannya.
Didalam al-Fatawa an-Nawawi disebutkan : “Masalah pada hadits dari Nabi SAW tersebut : Apakah hadits ini tsabit atau tidak ? dan apa maknanya?”. Jawab : “Hadits itu tidak tsabit. Seandaipun tsabit, maknanya adalah barang siapa yang mengenal dirinya dengan sifat dha’if, berhajad kepada Allah Ta’ala dan ber’ubudiyah kepada-Nya, maka akan mengenal tuhannya dengan sifat Kuasa, Perkasa, Rububiyah, Sempurna Mutlaq dan sifat-sifat yang tinggi. Dan barang siapa yang mengenal tuhan dengan demikian, maka kelu lidahnya dari sampai kepada hakikat syukur dan puji’, dzikir kepada tuhannya, sebagaimana tersebut dalam hadits Shahih Muslim dan lainnya, sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda : “Maha Suci Engkau Ya Allah, tidak dapat aku hitung pujian atas-Mu sebagaimana pujian-Mu atas diri-Mu”
Orang yang memasuki tingkatan kedua dia bersikap tawadhu’ ketika bertambah ilmu ia merasa tidak tahu,( bodoh) karena ia memahami bahwa Hakikat yang Alim adalah Allah, yang Maha Mengetahui dan hakikat pemberi pengetahuan adalah Allah. Sebagaimana kisah Nabi Hidir dan Nabi Musa ketika mereka menaiki kapal keduanya melihat seekor burung yang hinggap di pinggir kapal. Lalu sang burung meminum sedikit air laut dengan paruhnya. Nabi Khidir berbisik kepada Nabi Musa, “Demi Allah, tidaklah ilmuku dan ilmumu di sisi Allah kecuali seperti air laut yang diambil burung itu dengan paruhnya.” hal ini sesuai dengan firman Allah SWT.
وماأوتيتم من العلم إلا قليلا
Dan tidak Aku berikan kepadamu sekalian ilmu pengetahuan terkecuali hanyalah sedikit Dalam ayat yang lain Allah berfirman;
قال إني أعلم مالاتعلمون
Artinya:” Allah berfirman sesungguhnya Aku lebih mengetahui terhadap sesuatu apa yang tidak kamu ketahui.
Artinya: “Nabi SAW bersabda: ‘Barang siapa yang tawadhu’ (rendah hati) karena Allah, maka Allah akan mengangkat (derajat) nya (di dunia dan akhirat). Dan siapa yang sombong maka Allah akan merendahkannya.” (HR Imam Ibnu Majah dan Imam Abu Nu’aim).
Tawadu’lah,niscaya engkau akan seperti bintang yang mau merendah di atas air,🔅padahal dia sangat tinggi. Dan janganlah kamu seperti asap yang selalu mengangkat dirinya tinggi di langit,🔅padahal dia sama sekali tidak berharga. Bintang itu selalu bersinar, gemerlang apa yang dapat dilihat oleh mata yg memandangnya kendati jauh tinggi diatas tapi dia mau ada dibawahmu kalau kamu mau berdiri diatas sungai yg jernih lihatlah bintang itu, diatasmu atau dibawahmu??? tapi sebenarnya dia ada diatas ditempat yg sangat tinggi. Begitulah orang yg TAWADU’…,dia sederhana tapi tinggi dan dekat disisi Allah SWT. Janganlah kamu bersifat seperti asap, dia slalu mengangkat dirinya sendiri. Pernahkah antum melihat asap ketika merokok atau membakar sampah asapnya kebawah??? Maka jawabannya tidak kebawah melainkan keatas karena asap itu semakin tinggi dan semakin tinggi keatas dan itu asap tidak berharga. Begitulah sebuah gambaran sifat takabbur , oleh karenanya janganlah kita bersikap, bersifat dan berwatak seperti asap karena asap itu menggangu pernapasan kita dan menjadi polusi bagi lingkungan.
Kemudian tingkatan yang ketiga dia melihat dan memahami bahwa dirinya bodoh dan mengetahui bahwa dirinya bodoh (hakikat bodoh) karena itu dia pernah berlaku takabbur . Akan tetapi apakah tingkatan terakhir ini terpuji atau tidak .. ? Yaitu melihat dirimu sendiri sebagai orang bodoh, jika kamu melihat dirimu sebagai orang bodoh maka engkau tidak akan pernah berazam untuk menduduki jabatan fatwa misalnya.
Hati-hatilah janganlah engkau menampilkan dirimu didepan publik sebelum benar-benar menjadi ahli, karena itu adalah salah satu kecacatan ilmu dan amal .Dikatakan dalam sebuah pepatah ” Barang siapa yang menampilkan diri sebelum waktunya maka ia telah menyongsong kehinaan.
التصدر قبل التأهل: احذر التصدر قبل التأهل، هو آفة في العلم والعمل. وقد قيل: من تصدر قبل أوانه، فقد تصدى لهوانه.
Hindarkan dirimu dari menyampaikan ilmu sebelum menjadi ahlinya, karena ia merupakan cela pada ilmu dan amal. Dikatakan bahwa siapa yang menyampaikan ilmu sebelum waktunya, maka ia telah menjatuhkan dirinya dalam kehinaan.
Penjelasan
Pertama; sikap ucup terhadap dirinya sendiri, dimana ia menampilkan dirinya karena memang melihat dirinya sebagai seorang yang alim dalam berbagai macam bidang ilmu.
Kedua: hal itu justru akan menyingkap kekurangannya, dan ketidak mapanan ilmunya. Karena, jika menampilkan dirinya didepan umum, mungkin ia akan terjebak pada sebuah permasalahan dimana ia tidak bisa membebaskan diri darinya. Saat manusia telah melihatnya tampil didepan publik, maka mereka akan bertanya berbagai macam permasalahan yang mumkin saja menjelaskan kecacatannya.
Ketiga: Jika ia menampilkan diri sebelum Ahli, maka hal itu akan menggiringnya untuk berkata terhadap Allah apa yang ia tidak ketahui. Karena mayoritas orang-orang bertujuan seperti ini, ia tidak akan peduli apakah ia akan menghancurkan ilmu sehancur-hancurnya atau tidak.Ia akan menjawab semua pertanyaan yang diajukan kepadanya dan dia akan berkata seperti yang dikatakan orang-orang awam.
” قطة ولو مقطة أبيض”
apakah kalian mengetahui artinya? Yaitu engkau menebas dengan pisau, hingga tidak mengeluarkan setetes pun darah , saking kencangnya tebasan yang engkau lakukan.
Maksudnya, sebagian manusia berbuat seperti ini, ia berspikulasi dengan agamanya dan berkata kepada Allah tanpa haknya.
Kempat: Jika ia sudah menampilkan dirinya didepan publik, maka biasanya ia akan sulit menerima kebenaran, karena ia mengira dengan kebodohannya, bahwa jika tunduk kepada orang lain, meskipun orang itu jelas-jelas membawa kebenaran, maka itu bisa menjadi bukti bahwa dirinya bukan seorang ahli ilmu.
Yang penting, bahwa dalam hal ini mengandung berbagai macam bahaya yang sangat besar, Karena itu diriwayatkan dari Umar Radliyallaahu anhu, beliau berkata ” Jadilah kalian sebagai faqih sebelum kalian menduduki jabatan ” maksudnya, carilah ilmu dan pahamilah agama Allah, sebelum Allah menjadikan kalian sebagai pemimpin bagi manusia-manusia yang lain, karena pada saat manusia sudah menjadi pemimpin dan kemudian dikenal banyak orang,maka saat itu ia tidak lagi menjadi miliknya sendiri. Dikatakan dalam pepatah ” Engkau memiliki dirimu sendiri selama engkau tidak dikenal. Saat engkau telah dikenal, maka engkau sudah bukan milikmu sendiri “.Ini hal yang dapat kita lihat dalam pengalaman hidup sehari-sehari. Manusia sebelum dikenal dan sebelum ia menduduki suatu jabatan , engkau ia dapat memiliki waktu yang sangat luang ( longgar ) ia bisa mengerjakan berbagai macam kebutuhannya, menyelesaikan semua keperluan nya, akan tetapi, Ketika ia sudah dikenal, maka ia adalah milik manusia umum, bukan miliknya sendiri .Baik , dengan demikian, ini adalah salah satu dari merbahaya ilmu. Dikatakan dalam pepatah ” Barang siapa yang menampilkan dirinya kedepan umum sebelum waktunya, maka sesungguhnya ia mengosongkan kehinaannya”.Ini adalah sebuah sajak yang sangat baik, dan didalamnya juga ada jinas akan tetapi jinas yang tidak sempurna. Ibnu Rajab dalam Qowaid al-fiqhiyahnya berkata:” Barang siapa yang menyegerakan sebelum waktunya, maka dia dihukum dengan tidak mendapat kannya .Karena itu jika seseorang membunuh orang yang berwasiat, maka patahlah wasiatnya. Maksudnya jika seseorang berwasiat misalnya, misalnya dengan berkata: Jika aku mati , maka berikanlah sifulan 10.000 dan sifulan yang diwasiati adalah orang yang sangat membutuhkan uang .Kemudian berlalulah waktu yang sangat lama , dan Allah berkenan untuk memperpanjangkan umur orang yang berwasiat, Lalu orang yang berwasiat itu berkata” sampai sekarang ia belum mati” Lalu ia tidak sabar dan pergi membunuhnya. Apakah ia berhak mendapatkan wasiat? Tidak , wasiat itu batal karena ia menyegerakan sesuatu sebelum waktunya, karena itu dia dihukum dengan tidak mendapat wasiatnya. Demikian juga dalam proses waris , salah satu penyebab batalnya hak waris adalah membunuh, karena ahli waris tidak akan membunuh orang yang mewarisi, kecuali karena ingin segera mendapatkan warisannya.
التنمر بالعلم: احذر ما يتسلى به المفلسون من العلم، يراجع مسألة أو مسألتين، فإذا كان في مجلس فيه من يشار إليه، أثار البحث فيهما، ليظهر علمه! وكم في هذا من سوءة، أقلها أن يعلم أن الناس يعلمون حقيقته.
Berlagak memiliki ilmu yang tinggi. Hindarkan dirimu dari sesuatu yang dijadikan hiburan oleh orang-orang yang bangkrut, yaitu orang-orang mengulang-ulangi satu atau dua masalah dalam rangka mempelajarinya, akan tetapi apabila dalam satu majelis ilmu ada seseorang yang terpandang, maka ia mulai melontarkan dua masalah tadi, untuk memperlihatkan ilmunya di hadapan manusia. Betapa banyak kerugian dari perbuatan keji ini, minimalnya adalah orang-orang akan mengetahui hakikat keburukan dirinya.
Penjelasan
Ini sama dengan yang sebelumnya, tanammur dengan ilmu , artinya seseorang menjadikan dirinya sebagai “Namir” apakah kalian tahu apa itu namir…? Namir adalah saudaranya asad ( macan ) misalnya seseorang datang menelaah suatu permasalahan dalam bidang ilmu , kemudian dia membahas dan mentahkiknya, dengan berbagai dalil , ia juga membaca diskusi dengan ulama mengenai hal itu kemudian saat ia menghadiri suatu majlis,dimana majlis itu diisi oleh ulama yang sudah terkenal, maka dia akan berkata, bagaimana pendapatmu tentang hal ini,? Jika sang alim menjawab haram, misalnya, maka ia akan berusaha bertanya lagi lalu bagaimana jawabannya mengenai Sabda Rasulullah SAW yang begini atau pendapat ulama Fulan yang begini..? Kemudian dia mendatangkan nama-nama orang ahli ilmu yang tidak diketahui oleh sang alim. Bagaimanapun, seorang alim tidaklah harus mengetahui segala sesuatu .Semua itu ia lakukan agar tampak dirinya lebih tahu daripada si alim kerena itu kamu akan mendapati orang-orang awam akan membicarakannya, dan berkata :” Demi Allah si Fulan tadi malam duduk dengan Syaikh fulan yang merupakan salah satu ulama besar kemudian dia mengalahkan ya dengan permasalahan ini, Masyarakat mengetahui ia telah sampai pada tingkatan ilmu yang sangat tinggi, dan menjadi ulama yang paling besar, orang-orang awam itu memang tidak mengerti dalam hal seperti ini banyak sekali terjadi. Banyak sekali yang menelaah suatu permasalahan dengan sangat teliti dan sangat baik hanya untuk menjatuhkan ulama dengan seperti ini, dan ini tidak ragu lagi seperti yang dikatakan oleh al-Bakar adalah sikap ” _Tanammur_Menjadikan dirinya sebagai macan , meskipun ia sebenarnya adalah seorang yang bangkrut ilmunya. Lalu bagaimana caranya untuk menyingkap kelemahan simacan( can-macanan), Maka kita katakan padanya, kesinilah cobalah tolong I’rob kanlah Syair ini, Ketika itulah akan terlihat jelas kecacatannya, atau suruhlan membagi permasalahan warisan Dzafil Furudl misalnya, maka saat itu akan terlihat jelas bahwa sesungguhnya dia tidak memiliki ilmu apapun. Barang siapa yang memerangi dengan pisau , maka perangilah dengan dengan pedang, ini terjadi pada ulama’ sekarang , dan banyak dari para pelajar mengambil Spesialisasi dalam bidang tertentu.
موقفك من وهم من سبقك: إذا ظفرت بوهم لعالم، فلا تفرح به للحط منه، ولكن افرح به لتصحيح المسألة فقط، فإن المنصف يكاد يجزم بأنه ما من إمام إلا وله أغلاط وأوهام لا سيما المكثرين منهم . وما يشغب بهذا ويفرح به للتنقص، إلا متعالم “يريد أن يطب زكاما فيحدث به جذاما
Sikapmu terhadap kesalahan para pendahulumu. Jika telah nampak kesalahan seorang ulama, maka jangan engkau bahagia dengan kesalahannya agar engkau bisa merendahkan martabatnya. Hendaklah engkau berbahagia karena dapat membenarkan satu perkara di mana ia terjatuh pada satu kesalahan, itu saja. Sesungguhnya seorang yang adil akan memastikan bahwa tidaklah seorang imam itu melainkan pasti memiliki kesalahan-kesalahan apalagi mereka yang telah memiliki banyak karya diantara mereka. Siapa saja yang menyimpang dari jalan ini dan berbahagia dengannya untuk merendahkan martabat seorang alim, maka ia hanyalah seorang yang berlagak pandai. Ia ingin menyembuhkan sakit pilek namun justru malah membuat dirinya dan orang lain menderita penyakit kusta/lepra.
نعم، ينبه على خطأ أو وهم وقع لإمام غمر في بحر علمه وفضله، لكن لا يثير الرهج عليه بالتنقص منه والحط عليه فيغتر به من هو مثله
Benar, kesalahan seorang alim yang telah menyelam dalam lautan ilmu dan terkenal dengan kemuliannya tetap harus diluruskan, akan tetapi jangan sampai merendahkan dirinya karena kesalahan itu hingga membuat orang lain tertipu.
Referensi:
قصة موسى والخضر عليهما السلام .المؤلف أبو إسحاق الخويني ص.٢ – ٣ . روى البخاري ومسلم وغيرهما من حديث سعيد بن جبير رحمه الله، قال: قيل لـ ابن عباس رضي الله عنهما: إن نوفل المثالي يزعم أن موسى الذي صاحب الخضر ليس هو موسى بني إسرائيل، قال ابن عباس: كذب عدو الله، حدثني أبي بن كعب عن النبي صلى الله عليه وآله وسلم قال: (خطب موسى في بني إسرائيل يوماً حتى ذرفت العيون ووجلت القلوب، فلما انصرف تبعه رجل، فقال: يا نبي الله! هل هناك أعلم منك في الأرض؟ قال: لا. فعتب الله عز وجل عليه إذ لم يرجع العلم إليه، قال: بلى، إن لي عبداً في مجمع البحرين هو أعلم منك، قال موسى: أي رب! وكيف لي به؟ قال: خذ حوتاً واجعله في مشكل) وفي رواية: (قال: خذ نوناً ميتاً -والنون: هو الحوت، وإليه نسب يونس عليه السلام ((وَذَا النُّونِ إِذْ ذَهَبَ مُغَاضِبًا)) [الأنبياء:٨٧] ، فالنون هو الحوت، وكل سكان البحر يعد من الحيتان، فالسمك اسمه حوت، قال ابن عباس: اشتهيت حيتاناً، أي: أسماكاً- قال: خذ نوناً ميتاً واجعله في مشكل، فحيث فقدته فهو ثم -أي حيث فقدت هذا الحوت فالخضر هناك، فانطلقا، حتى إذا كانا ببقعة من الأرض قال موسى لفتاه: لا أكلفك كثيراً، أيقضني إذا رد الله الحياة في الحوت، قال: ما كلفت كثيراً، ثم إن الحوت ارتدت إليه الحياة وقفز في البحر، فأمسك الله عليه الماء وحبسه فلم يستطع أن يذهب. فلما استيقظ موسى عليه السلام نسي غلامه أن يخبره أن الحوت قفز في الماء، فانطلقا بقية يومهما وليلتهما، فلما كانا من الغد قال موسى لفتاه: {آتِنَا غَدَاءَنَا لَقَدْ لَقِينَا مِنْ سَفَرِنَا هَذَا نَصَبًا} [الكهف:٦٢] ، تذكر الفتى أن الحوت المشوي الذي كانا سيتغديان به قفز في الماء، قال: {أَرَأَيْتَ إِذْ أَوَيْنَا إِلَى الصَّخْرَةِ فَإِنِّي نَسِيتُ الْحُوتَ وَمَا أَنْسَانِيهُ إِلَّا الشَّيْطَانُ أَنْ أَذْكُرَهُ} [الكهف:٦٣] {فَارْتَدَّا عَلَى آثَارِهِمَا قَصَصًا} [الكهف:٦٤] رجعا يقصان الآثار مرة أخرى. فلما ذهبا إلى هناك وجدا عبداً مسجى ببردة خضراء تحت قدميه وتحت رأسه، كالذي يلتحف بلحاف فيجعله تحت رأسه وتحت قدميه، فسلم عليه موسى، فكشف عن وجهه، وقال: وهل بأرضي سلام؟ من أنت؟ قال: أنا موسى. قال: أنت موسى بني إسرائيل؟ قال: نعم. -هذا هو السؤال الذي من أجله قال ابن عباس: كذب عدو الله؛ لأن الخضر عليه السلام قال: أنت موسى بني إسرائيل؟ – قال: وما تريد؟ قال: أريد أن أتعلم. قال: ((إِنَّكَ لَنْ تَسْتَطِيعَ مَعِيَ صَبْرًا)) [الكهف:٦٧] . قال: {سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ صَابِرًا وَلا أَعْصِي لَكَ أَمْرًا} [الكهف:٦٩] . فجاء عصفور فنثر من ماء البحر نثرة، فقال الخضر: يا موسى! إن مثل علمي وعلمك بجانب علم الله عز وجل كمثل الماء الذي أخذه هذا العصفور بمنقاره {فَإِنِ اتَّبَعْتَنِي فَلا تَسْأَلْنِي عَنْ شَيْءٍ حَتَّى أُحْدِثَ لَكَ مِنْهُ ذِكْرًا} [الكهف:٧٠] . فانطلقا، ووقفا على شاطئ البحر، فمر مركب فأراد الخضر وموسى أن يركبا، فقال الغلمان: عبد الله الصالح لا نحمله بأجر، فعمد إلى مكان في السفينة فخلع منه لوحاً بقدوم ووضع مكانه خشبة، قال موسى: قوم حملونا بغير أجره تخلع لوحاً من سفينتهم لتغرق أهلها، لقد جئت شيئاً إمراً {قَالَ أَلَمْ أَقُلْ إِنَّكَ لَنْ تَسْتَطِيعَ مَعِيَ صَبْرًا} [الكهف:٧٢] ، قال النبي صلى الله عليه وآله وسلم: وكانت هذه من موسى نسياناً. فلما نزلا من السفينة وجدا أُغيلمة يلعبون، فعمد الخضر إلى ولد وضيء جميل ذكي، فأخذه من رأسه وأضجعه على الأرض وذبحه بالسكين، فقال موسى: عمدت إلى نفس لم تعمل الحل فقتلتها بغير نفس، لقد جئت شيئاً نكراً، قال الخضر عليه السلام: ((أَلَمْ أَقُلْ إِنَّكَ لَنْ تَسْتَطِيعَ مَعِيَ صَبْرًا)) [الكهف:٧٢] ، قال النبي صلى الله عليه وسلم: وكانت هذه شرطاًَ) ؛ لأن موسى عليه السلام قال له: {إِنْ سَأَلْتُكَ عَنْ شَيْءٍ بَعْدَهَا فَلا تُصَاحِبْنِي قَدْ بَلَغْتَ مِنْ لَدُنِّي عُذْرًا} [الكهف:٧٦] وهناك فرق في التحذير بين المرة الأولى والثانية، ففي المرة الأولى قال له الخضر: {أَلَمْ أَقُلْ إِنَّكَ لَنْ تَسْتَطِيعَ مَعِيَ صَبْرًا} [الكهف:٧٢] ، وفي المرة الثانية قال له: {أَلَمْ أَقُلْ لَكَ إِنَّكَ لَنْ تَسْتَطِيعَ مَعِيَ صَبْرًا} [الكهف:٧٥] ، فكأنه استدار إليه وأشار إليه، ولذلك فرق النبي عليه الصلاة والسلام بينهما وبين أن الأولى كانت من موسى نسياناً فلم يشدد الخضر عليه، وكانت الثانية شرطاً في المفارقة، لذلك كأنه التفت إليه وحذره وأشار: ألم أقل لك -أي: في المرة الثانية- إنك لن تستطع معي صبراً. فدخلوا إلى قرية: {فَأَبَوْا أَنْ يُضَيِّفُوهُمَا فَوَجَدَا فِيهَا جِدَارًا يُرِيدُ أَنْ يَنقَضَّ فَأَقَامَهُ قَالَ لَوْ شِئْتَ لاتَّخَذْتَ عَلَيْهِ أَجْرًا} [الكهف:٧٧] {قَالَ هَذَا فِرَاقُ بَيْنِي وَبَيْنِكَ سَأُنَبِّئُكَ بِتَأْوِيلِ مَا لَمْ تَسْتَطِعْ عَلَيْهِ صَبْرًا} [الكهف:٧٨] ، قال النبي عليه الصلاة والسلام: (يرحم الله موسى -وفي رواية: رحمة الله علينا وعلى موسى- وددنا أنه صبر حتى يقص الله عز وجل علينا من أخبارنا
Kisah Musa dan Khidr (Alaihimas Salam) Penulis: Abu Ishaq Al-Khuwayni (hlm. 2–3)
Al-Bukhari, Muslim, dan lainnya meriwayatkan dari hadits Sa‘id bin Jubair rahimahullah, bahwa dikatakan kepada Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma: “Sesungguhnya Nauf Al-Bikali berpendapat bahwa Musa yang bertemu dengan Khidr bukanlah Musa Bani Israil.” Maka Ibnu Abbas berkata: “Musuh Allah telah berdusta!”
Ubay bin Ka‘b menceritakan kepadaku dari Nabi ﷺ bahwa beliau bersabda:
“Suatu hari, Nabi Musa berkhutbah di hadapan Bani Israil hingga mata mereka bercucuran air mata dan hati mereka bergetar. Ketika ia beranjak pergi, seorang laki-laki mengikutinya dan bertanya: ‘Wahai Nabi Allah, adakah seseorang yang lebih berilmu darimu di bumi ini?’ Nabi Musa menjawab: ‘Tidak ada.’
Maka Allah ﷻ mencelanya karena tidak mengembalikan ilmu itu kepada-Nya. Lalu Allah ﷻ berfirman: ‘Ada seorang hamba-Ku di pertemuan dua lautan yang lebih berilmu darimu.’ Musa pun bertanya: ‘Wahai Rabbku, bagaimana aku dapat bertemu dengannya?’ Allah ﷻ berfirman: ‘Bawalah seekor ikan, lalu letakkan di dalam wadah. Ketika kamu kehilangan ikan itu, di situlah dia berada.’
Dalam riwayat lain disebutkan: ‘Bawalah seekor ikan mati.’ (Kata nun berarti ikan, sebagaimana Nabi Yunus juga disebut Dzun-Nun dalam firman Allah ﷻ: وَذَا النُّونِ إِذْ ذَهَبَ مُغَاضِبًا [Al-Anbiya: 87], yang berarti ‘pemilik ikan’).
Musa pun membawa seekor ikan mati dalam wadah. Ketika mereka sampai di suatu tempat, ia berkata kepada pembantunya: ‘Aku tidak akan membebanimu banyak, hanya saja bangunkan aku ketika ikan itu kembali hidup.’ Pembantunya pun berkata: ‘Ini bukan tugas yang berat.’
Lalu ikan itu hidup kembali dan melompat ke laut, sementara air laut tetap tertahan di sekitarnya, sehingga tidak bisa menyebar. Namun, pembantu Musa lupa memberitahunya. Mereka pun melanjutkan perjalanan sepanjang hari dan malam. Keesokan harinya, Musa berkata:
“Berikan makanan kita! Sungguh, kita telah merasa letih dalam perjalanan ini.” (QS. Al-Kahf: 62)
Barulah pembantunya teringat dan berkata:
“Ingatkah ketika kita berhenti di batu besar? Aku lupa tentang ikan itu, dan setanlah yang membuatku lupa mengingatnya.” (QS. Al-Kahf: 63)
Mereka pun kembali mengikuti jejak mereka hingga menemukan seorang hamba yang berbaring dengan selimut hijau menutupi kaki dan kepalanya. Musa memberi salam, lalu orang itu membuka wajahnya dan bertanya: “Adakah salam di negeri ini? Siapa kamu?”
Musa menjawab: “Aku Musa.”
Khidr bertanya: “Musa Bani Israil?”
Musa menjawab: “Ya.”
(Maka inilah alasan mengapa Ibnu Abbas berkata: “Musuh Allah telah berdusta,” karena Khidr sendiri menegaskan bahwa Musa ini adalah Musa Bani Israil).
Musa berkata: “Aku ingin belajar darimu.”
Khidr menjawab:
“Sungguh, kamu tidak akan mampu bersabar bersamaku.” (QS. Al-Kahf: 67)
Musa menjawab:
“Insya Allah, kamu akan mendapati aku sabar, dan aku tidak akan menentangmu dalam urusan apa pun.” (QS. Al-Kahf: 69)
Kemudian seekor burung datang dan mencelupkan paruhnya ke laut. Khidr berkata:
“Wahai Musa, perumpamaan ilmu yang aku dan kamu miliki dibanding ilmu Allah, ibarat air yang diambil burung ini dengan paruhnya dari laut.”
Lalu mereka berjalan dan sampai di tepi laut. Sebuah kapal melintas, lalu pemiliknya mengizinkan mereka naik tanpa meminta bayaran. Namun, tiba-tiba Khidr merusak salah satu papan kapal itu.
Musa pun protes:
“Mereka mengangkut kita tanpa meminta upah, tetapi kamu justru melubangi kapal mereka agar penumpangnya tenggelam? Sungguh, kamu telah melakukan perbuatan yang tercela!” (QS. Al-Kahf: 71)
Khidr berkata:
“Bukankah sudah kukatakan bahwa kamu tidak akan bisa bersabar bersamaku?” (QS. Al-Kahf: 72)
Nabi ﷺ bersabda: “Ini adalah bentuk kelupaan dari Musa.”
Ketika mereka turun dari kapal, mereka melihat sekelompok anak kecil bermain. Khidr mengambil salah satu dari mereka—seorang anak yang tampan dan cerdas—kemudian membunuhnya.
Musa berkata:
“Mengapa engkau membunuh jiwa yang tidak berdosa? Sungguh, ini adalah perbuatan keji!” (QS. Al-Kahf: 74)
Khidr menjawab:
“Bukankah sudah kukatakan bahwa kamu tidak akan bisa bersabar bersamaku?” (QS. Al-Kahf: 75)
Nabi ﷺ bersabda: “Kali ini adalah syarat pemisahan.” Karena Musa berkata sebelumnya:
“Jika aku bertanya lagi setelah ini, janganlah kau temani aku lagi. Sungguh, engkau telah memberikan uzur kepadaku.” (QS. Al-Kahf: 76)
Perbedaan antara peringatan pertama dan kedua adalah:
Pada pertama kali, Khidr hanya berkata: “Bukankah sudah kukatakan?”
Namun pada peringatan kedua, ia berkata: “Bukankah sudah kukatakan kepadamu?” (QS. Al-Kahf: 75)
Seolah-olah ia menoleh langsung kepada Musa untuk menegaskan peringatan itu.
Kemudian mereka masuk ke sebuah desa dan meminta makanan, tetapi penduduknya menolak menjamu mereka. Di sana, Khidr mendapati sebuah dinding yang hampir roboh, lalu ia memperbaikinya.
Musa berkata:
“Jika engkau mau, engkau bisa meminta upah darinya.” (QS. Al-Kahf: 77)
Khidr menjawab:
“Inilah saat perpisahan antara aku dan kamu. Aku akan memberitahumu tafsir dari hal-hal yang tidak bisa kau sabari.” (QS. Al-Kahf: 78)
Nabi ﷺ bersabda:
“Semoga Allah merahmati Musa. Seandainya ia bersabar, tentu kita akan mendapatkan lebih banyak kisah tentang mereka.”
Referensi
قصة موسى والخضر عليهما السلام كما وردت فى صحيح البخاري تأليف على بن سلطان القاري. ص ٦٥- ١٤٤
وفى رواية : فإذا رجل مسجى ثوبا، فسلم عليه موسى ، فقال الخضر : وأني بأرضك السلام ؟ وفى رواية وعليك السلام وأني يكون هذا السلام بهذا الأرض ومن أنت قال موسى بني إسرائيل؟ نعم أتيتك لتعلمني مماعلمت رشدا.قال: إنك لن تستطيع معى صبرا ياموسى إني على علم من علم الله علمنيه ممالاتعلمه، وأنت على علم من علم الله علمك الله لاأعلمه. قال موسى : ستجدني إن شاء الله صابرا ولاأعصى لك أمرا فقال الخضر : فإن اتبعتني فلاتسألني عن شيئ حتى أحدث لك منه ذكرا . فانيليا يمشيان على ساحل البحر فمرت بهما سفينة ، فكلموهم أن يحملوهم، فعرفوا الخضر ، فحملوه (٤) بغير نول (٥) فلما ركبا فى السفينة لم يفجأ إلا والخضر قد قلع لوحا من الألواح السفينة بالقدوم وفى رواية ووتد (١) .فقال له موسى : قوم حملونا (٢) بغير نول عمدت إلى سفينتهم فخرقتها لتغرق أهلها ؟ لقد جئت شيأ إمرا (٣) قال ألم أقل إنك لن تستطيع معي صبرا ؟ قال لاتؤاخذني بمانسيت ولاترهقني من عمري عسرا(٤) قال: قال (٥) رسول الله صلى الله عليه وسلم وكانت (٦) الأولى من موسى نسيانا ، والوسطى شرطا، والثالثة عمدا.قال : وجاء(٧) عصفور فوقع على حرف السفينة ، فنقر فى البحر نقرة فقال له الخضر : ماعلمي وعلمك من (١) علم الله إلامثل مانقص هذا العصفور من هذا البحر. ثم خرجا من السفينة ، فبينما هما يمشيان على الساحل ، إذا أبصر الخضر غلاما يلعب مع الغلمان فأخذ الخضر رأسه بيده فاقتلعه (٢) وفى رواية : فأخذه وأضجعه ثم ذبحه بالسكين (٣) وفى أخرى : قال فأخذه بيده ثم أخذ حجرا فضرب به رأسه حتى أدمغه فقتله(٤) فقال له موسى :أقتلت نفسا زكية (١) بغير نفس ؟ لقد جئت شيأ نكرا (٢)قال ألم أقل لك إنك لن تستطيع معي صبرا ، قال هذا أشد من الأولى ، قال إن سألتك عن شيئ بعدها فلاتصاحبني قد بلغت من اللدني عذرا. فانطلقا حتى أتيا أهل قرية استطعما أهلها فأبوا أن يضيفوهما ،فوجدا جدارا يريد أن ينقض ، قال (٤) مائل ،فأقامه الخضر بيده فأقامه ، قال موسي: قوم أتيناهم فلم يطعمونا ولم يضيفونا، لو شئت عليه أجرا.قال هذا فراق بينى وبينك ………إلى أن قال والمراد بالعلم اللدني علم الباطن إلهاما(١) _________________________ هذا أحد التعريفات للعلم ( اللدني) الذي ورد فى تفسير النسفى وتفسير البيضاوي، تفسير الآية ٦٥ من سورة الكهف وقد عرف تعريفات أخرى كثيرة ، فيهاخلافات ومناقشة طويلة أفردت لهاجانبا خاصا فى كتابي ( الخضر بين الواقع والتهويل .ط ١، ص ٧٥- ٨٣) وقد يقرب الموضوع مااورده صاحب روح البيان حين قال: اعلم ان كل علم يعلمه الله تعالى عباده ويمكن للعباد أن يتعلموا ذلك من غير الله تعالى فإنه ليس من جملة العلم اللدني ، لأنه يمكن أن يتعلم من لدن غيره .يدل عليه قوله تعالى ( وعلمناه صنعة لبوس) ( الأنبياء:٨٠ ) فإن علم صنعة اللبوس مماعلمه الله داود عليه السلام ، فلايقال : إنه العلم اللدني ، لأنه يحتمل أن يتعلم من غير الله تعالى ، فيكون من لدن ذلك الغير . وايضا إن العلم اللدني مايتعلق بلدن الله تعالى وهو علم معرفة ذاته وصفاته تعالى (روح البيان ج ٢،ص ٤٩٩) والمبهم هنا هو أن العلم الذي أوتيه الخضر عليه السلام علم الرباني مخصوص به ، لم يَفُقْهُ فيه نبي بنى إسرآئيل، وهو أكبر علماء زمانه….(انظر الخضر بين الواقع والتهويل ط ١، ص٧٨) فالعلم الدني يسمى أيضا علم الحقيقة ، وعلم المكاشفة، وعلم الموهبة، وعلم الأسرار، والعلم المكنون، وعلم الوراثة (روح المعاني ج ١٦، ص ١٩) ويتعلق الموضوع بعلم الظاهر والباطن، أو الحقيقة والشريعة التي نبه علمائنا إلى عدم التفرق بينهما، فقد زعم بعضهم أن أحكام العلم الباطن وعلم الحقيقة مخالفة لاحكام الظاهر وعلم الشريعة ، وهو – كمايقول الآلوسي- زعم باطل عاطل وخيال فاسد كاسد (روم المعاني ج١٥، ص٣٣٠) وفى إحياء علوم الدين يقول الإمام الغزالي : من قال إن الحقيقة تخالف الشريعة أو الباطن يناقص الظاهر فهو إلى الكفر أقرب منه إلى الإيمان .(ج١، ص١٠٠) وقد يحتاج بعضهم بقصة موسى والخضر ، ويظنون أن الخضر خرج عن الشريعة فيجوز لغيره من الأولياء مايجوز له من الخروج عن الشريعة .وهم فى هذا ضالين من وجهين: أحدها أن الخضر لم يخرج عن الشريعة ، بل الذي فعله كان جائزا فى شريعة موسى ، ولهذا لما بيّن له الأسباب أقره على ذلك ، ولو لم يكن جائزا لما أقره ، ولكن لم يكن موسى يعلم الأسباب التي بها أبيحت تلك، فظن أن الخضر كالملك الظالم ، فذكر ذلك له الخضر . والثاني أن الخضر لم يكن من أمة موسى ،ولاكان يجب عليه متابعته، بل قال له : إني على علم من علم الله علمنيه الله لاتعلمه، وأنت على علم من علم الله علمكه الله لاأعلمه. وذلك أن دعوة موسى لم تكن عامة، فإن النبي كان يبعث إلى قومه خاصة، ومحمد صلى الله عليه وسلم بعث إلى الناس كافة ، بل بعث إلى الإنس والجن باطنا وظاهرا، فليس لأحد أن يخرج عن طاعته ومتابعته، لافى الباطن ولافي الظاهر، لامن الخواص ولا من العوام ( مجموع فتاوى شيخ الإسلام أحمد بن تيمية ج١٣ص٢٦٦-٢٦٧) والله أعلم بالصواب
Kisah Nabi Musa dan Khidir sebagaimana disebutkan dalam Shahih al-Bukhari
Karya Ali bin Sultan al-Qari (hlm. 65–144)
Dalam sebuah riwayat: Ketika Musa mendekati seseorang yang berselimut dengan kain, ia memberi salam kepada orang itu. Lalu Khidir berkata, “Dari mana ada salam di negerimu ini?” Dalam riwayat lain, Khidir menjawab, “Wa ‘alaikas-salam. Bagaimana mungkin ada salam di negeri ini?” Musa bertanya, “Apakah engkau Khidir?” Khidir menjawab, “Ya.” Musa berkata, “Aku datang kepadamu untuk belajar ilmu yang telah diajarkan Allah kepadamu.” Khidir menjawab, “Sesungguhnya engkau tidak akan mampu bersabar bersamaku. Wahai Musa! Aku memiliki ilmu dari ilmu Allah yang Dia ajarkan kepadaku dan engkau tidak mengetahuinya. Sedangkan engkau memiliki ilmu dari ilmu Allah yang Dia ajarkan kepadamu, tetapi aku tidak mengetahuinya.” Musa berkata, “InsyaAllah engkau akan mendapatiku sebagai orang yang sabar, dan aku tidak akan menentang perintahmu.” Khidir pun berkata, “Jika engkau mengikutiku, maka janganlah engkau bertanya kepadaku tentang sesuatu hingga aku sendiri yang menjelaskannya kepadamu.”
Kemudian keduanya berjalan di tepi pantai, hingga sebuah kapal melewati mereka. Mereka meminta agar diizinkan menumpang, dan para awak kapal mengenali Khidir sehingga mereka memberi tumpangan tanpa bayaran. Namun, ketika mereka sudah di kapal, tiba-tiba Khidir mengambil kapak dan mencabut salah satu papan kapal. Dalam riwayat lain disebutkan bahwa ia mencabutnya dengan pahat.
Musa pun bertanya, “Mereka telah memberi kita tumpangan tanpa bayaran, tetapi engkau malah merusak kapal mereka agar tenggelam? Sungguh engkau telah melakukan sesuatu yang mungkar!”
Khidir menjawab, “Bukankah aku telah mengatakan bahwa engkau tidak akan mampu bersabar bersamaku?”
Musa berkata, “Jangan hukum aku karena kelupaanku, dan jangan bebani aku dengan sesuatu yang sulit.”
Rasulullah ﷺ bersabda, “Kesalahan pertama yang dilakukan oleh Musa adalah karena lupa, yang kedua merupakan syarat, dan yang ketiga adalah dengan sengaja.”
Kemudian seekor burung kecil datang dan hinggap di tepi kapal, lalu mematuk air laut dengan paruhnya. Khidir berkata, “Ilmuku dan ilmumu dibandingkan dengan ilmu Allah hanyalah seperti air yang diambil burung ini dari laut.”
Mereka pun keluar dari kapal dan berjalan di tepi pantai. Kemudian mereka melihat seorang anak kecil sedang bermain dengan anak-anak lainnya. Khidir memegang kepala anak itu, lalu mencabutnya. Dalam riwayat lain disebutkan bahwa ia merebahkan anak itu dan menyembelihnya dengan pisau. Dalam riwayat lain disebutkan bahwa ia memegang anak itu, lalu mengambil batu dan menghantam kepalanya hingga pecah.
Musa berkata, “Apakah engkau telah membunuh jiwa yang suci tanpa alasan yang benar? Sungguh engkau telah melakukan sesuatu yang sangat mungkar!”
Khidir menjawab, “Bukankah aku telah mengatakan kepadamu bahwa engkau tidak akan mampu bersabar bersamaku?”
Musa berkata, “Perbuatan ini lebih berat daripada yang pertama. Jika aku bertanya kepadamu tentang sesuatu setelah ini, maka janganlah engkau lagi menemaniku. Sungguh engkau telah memberikan uzur bagiku.”
Lalu mereka pun berjalan hingga tiba di suatu desa. Mereka meminta makanan dari penduduknya, tetapi mereka menolak menjamu keduanya. Kemudian mereka menemukan sebuah dinding yang hampir runtuh, lalu Khidir menegakkan dinding itu dengan tangannya. Musa berkata, “Penduduk desa ini tidak mau menjamu kita, seharusnya engkau meminta upah atas pekerjaanmu itu.”
Khidir berkata, “Inilah perpisahan antara aku dan engkau…”
Makna Ilmu Laduni
Ilmu laduni adalah ilmu batin yang diberikan Allah secara ilham. Dalam Tafsir an-Nasafi dan Tafsir al-Baidawi, terdapat berbagai definisi ilmu laduni yang telah dibahas dalam buku Al-Khidir: Antara Realita dan Mitos (edisi 1, hlm. 75–83).
Pendekatan mengenai ilmu ini disebutkan dalam kitab Ruh al-Bayan, yang menyatakan bahwa semua ilmu yang Allah ajarkan kepada hamba-Nya dan bisa dipelajari tanpa wahyu, bukan termasuk ilmu laduni. Contohnya adalah ilmu yang Allah ajarkan kepada Nabi Dawud tentang membuat baju besi sebagaimana disebut dalam Al-Qur’an:
“Dan Kami ajarkan kepadanya cara membuat baju besi…” (QS. Al-Anbiya: 80)
Ilmu laduni adalah ilmu khusus yang diberikan Allah kepada hamba pilihan-Nya dan tidak bisa dipelajari dari manusia. Dalam tafsir Ruh al-Ma’ani, ilmu laduni juga disebut sebagai ilmu hakikat, ilmu mukasyafah, ilmu wahbi, ilmu asrar, ilmu maknun, dan ilmu warisan (jilid 16, hlm. 19).
Namun, para ulama menegaskan bahwa tidak ada perbedaan antara ilmu syariat dan ilmu hakikat. Dalam Ihya’ Ulum ad-Din, Imam al-Ghazali berkata:
“Barang siapa mengatakan bahwa hakikat bertentangan dengan syariat, atau bahwa ilmu batin berlawanan dengan ilmu zahir, maka dia lebih dekat kepada kekufuran daripada keimanan.” (jilid 1, hlm. 100)
Sebagian orang keliru dalam memahami kisah Musa dan Khidir. Mereka mengira bahwa Khidir bertindak di luar syariat, sehingga mereka menganggap bahwa wali-wali Allah juga boleh melakukan hal serupa. Ini adalah pemahaman yang salah dari dua sisi:
Khidir tidak bertindak di luar syariat. Perbuatannya tetap dalam batas yang dibolehkan dalam syariat Nabi Musa. Oleh karena itu, setelah Khidir menjelaskan sebab di balik tindakannya, Musa menerimanya. Jika perbuatan Khidir bertentangan dengan syariat, tentu Musa akan menolaknya.
Khidir tidak termasuk umat Nabi Musa. Ia memiliki ilmu khusus dari Allah yang tidak dimiliki Musa. Ketika itu, setiap nabi hanya diutus untuk kaumnya masing-masing. Adapun Nabi Muhammad ﷺ diutus untuk seluruh manusia dan jin, baik secara lahir maupun batin. Oleh karena itu, tidak seorang pun boleh keluar dari syariatnya, baik secara lahir maupun batin, baik orang awam maupun wali-wali Allah.
Sebagaimana dikatakan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Majmu’ al-Fatawa (jilid 13, hlm. 266–267):
“Tidak ada seorang pun yang boleh keluar dari ketaatan dan mengikuti Nabi Muhammad ﷺ, baik secara lahir maupun batin, baik orang khusus maupun orang awam.”
Wallahu A’lam.
Referensi:
حلية طالب العلم .ص ٤١
حلم اليقظة 🔅
إياك و( حلم اليقظة ) ، ومنه بأن تدعي العلم لما لم تعلم، أو إتقان ما لم تتقن، فإن فعلـت، فهـو حجاب كثيف عن العلم
” إحذر أبا شبر ” 🔅
فقد قيل: العلم ثلاثة أشبار، من دخل في الشبر الأول، تكبر ومن دخل في الشبر الثانى، تواضع ومن دخل في الشبر الثالث، علم أنه ما يعلم.
التصدر قبل التأهل 🔅
. احذر التصدر قبل التأهل، هو آفة في العلم والعمل وقد قيل : من تصدر قبل أوانه، فقد تصدى لهوانه
التنمر بالعلم 🔅 احذر ما يتسلى به المفلسون من العلم،يراجع مسألة أو مسألتين، فإذا كان في مجلس فيـه مـن يشار إليه أثار البحث فيهما، ليظهر علمه وكم في هذا من سوءة، أقلها أن يعلم أن النـاس يعلمـون حقيقته وقد بينت هذه مع أخوات لها في كتاب ” التعالم”والحمد الله رب العالمين
تحبير الكاغد 🔅
كما يكون الحذر من التأليف الخالي من الإبداع في مقاصد التأليف الثمانية” ٢ ، والذي نهايته “تحـبير الكاغد” ٣ فالحذر من الاشتغال بالتصنيف قبل استكمال أدواته، واكتمال أهليتك، والنضوج علـى يـد أشياخك، فإنك تسجل به عاراًوتبدى به شناراً أما الاشتغال بالتأليف النافع لمن قامت أهليته، واستكمل أدواته وتعددت معرافه وتمرس به بحثا ومراجعة ومطالعة وجرداً لمطولاته، وحفظاً لمختصراته،واستذكاراً لمسائله، فهو من أفضل ما يقوم بـه النبلاء من الفضلاء ولا تنس قول الخطيب
١- ” تذكرة السامع والمتكلم ”(ص ٦٥) ٢ : أول من ذكرها بن حسب في – ” نقط العروس ”، وانظر تسلسل العلماء لذكرها في إضاءة الراموس ”(٢٨٨/٢) مهم ٣ : هو القرطاس – فارسي معرب
المكتبة الشاملة الحديثة أرشيف ملتقى أهل الحديث – ١ [ملتقى أهل الحديث] الرئيسية الجوامع والمجلات ونحوها فصول الكتاب ج: ص: ٢٤ مسار الصفحة الحالية: فهرس الكتاب المنتدى الشرعي العام ٢٤ العلم ثلاثة أشبار [العلم ثلاثة أشبار] ـ[عبدالرحمن الفقيه.]ــــــــ[١٠ – ١١ – ٠٣, ١٢:٣٥]ـ ص قال الشيخ بكر بن عبدالله أبو زيد حفظه الله في حلية طالب العلم الفصل السابع المحاذير حلم اليقظة: إياك و (حلم اليقظة)، ومنه بأن تدعي العلم لما لم تعلم، أو إتقان ما لم تتقن، فإن فعلت، فهو حجاب كثيف عن العلم. احذر أن تكون ”أبا شبر”. :فقد قيل: العلم ثلاثة أشبار : من دخل في الشبر الأول تكبر ومن دخل في الشبر الثاني تواضع ، ومن دخل في الشبر الثالث علم أنه ما يعلم التصدر قبل التأهل:احذر التصدر قبل التأهل، هو آفة في العلم والعمل. وقد قيل: من تصدر قبل أوانه، فقد تصدى لهوانه. التنمر بالعلم: احذر ما يتسلى به المفلسون من العلم، يراجع مسألة أو مسألتين، فإذا كان في مجلس فيه من يشار إليه، أثار البحث فيهما، ليظهر علمه! وكم في هذا من سوءة، أقلها أن يعلم أن الناس يعلمون حقيقته. وقد بينت هذه مع أخوات لها في كتاب ”التعالم”، والحمد لله رب العالمين. تحبير الكاغد: كما يكون الحذر من التأليف الخالي من الإبداع في مقاصد التأليف الثمانية، والذي نهايته ”تحبير الكاغد” فالحذر من الاشتغال بالتصنيف قبل استكمال أدواته، واكتمال أهليتك، والنضوج على يد أشياخك، فإنك تسجل به عاراً وتبدى به شناراً. أما الاشتغال بالتأليف النافع لمن قامت أهليته، واستكمل أدواته، وتعددت معرافه، وتمرس به بحثا ومراجعة ومطالعة وجرداً لمطولاته، وحفظاً لمختصراته، واستذكاراً لمسائله، فهو من أفضل ما يقوم به النبلاء من الفضلاء. ولا تنس قول الخطيب:“من صنف، فقد جعل عقله على طبق يعرضه على الناس”. موقفك من وهم من سبقك: إذا ظفرت بوهم لعالم، فلا تفرح به للحط منه، ولكن افرح به لتصحيح المسألة فقط، فإن المنصف يكاد يجزم بأنه ما من إمام إلا وله أغلاط وأوهام لا سيما المكثرين منهم. وما يشغب بهذا ويفرح به للتنقص، إلا متعالم ”يريد أن يطب زكاما فيحدث به جذاما”. نعم، ينبه على خطأ أو وهم وقع لإمام غمر في بحر علمه وفضله، لكن لا يثير الرهج عليه بالتنقص منه والحط عليه فيغتر به من هو مثله. دفع الشبهات: لا تجعل قلبك كالسفنجه تتلقى ما يرد عليها، فاجتنب إثارة الشبه وإيرادها على نفسك أو غيرك، فالشبه خطافة، والقلوب ضعيفة، وأكثر من يلقيها حمالة الحطب – المبتدعة – فتوقهم. ـ[أبو عمر الناصر]ــــــــ[٠٤ – ١٢ – ٠٣, ١٢:٥١ ص]ـ بارك الله فيكم شيخنا ونفع بعلومكم
Demikian jawaban penjelasan buat Kiyai Suyuthi . Wallahu A’lam bisshowab.
HUKUM MEMILIH PEMIMPIN ( PRESIDEN ) APAKAH MASUK RANAH AQIDAH ATAU MUAMALAH
Assalamualaikum
Pemilihan Umum, merupakan “pesta demokrasi” untuk menentukan wakil rakyat yang diberi amanat, guna menjaga dan melestarikan kemaslahatan umat secara umum. Baik memilih legislatif atau memilih Presiden. Hal ini, disebut dengan intichabab alriqab wa ahli syura (memilih Pengawas Pemerintah dan Badan Musyawarah. Atau intichab raisul jumhur yang identik dengan nasbu al Imam (memilih Presiden yang identik dengan membentuk atau mengangkat imam) Sebenarnya sehubungan memilih pemimpin bangsa (Presiden ) sebagaimana tersebut terdapat hal penting untuk kami tanyakan.
Pertanyaannya:
Apakah memilih pemimpin ( Presiden ) ini masuk pada ranah aqidah atau ranah mu’amalah
Jika masuk pada ranah Aqidah apakah Jika tidak memilih termasuk kafir atau murtad..?
Dalam perspektif Demokrasi di Indonesia apakah sama dengan hukum memilih pemimpin dalam perspektif islam?
Mohon jawaban dan dalilnya. Terima kasih Kyai/Ust… 🙏🏻
Waalaikum salam.
Jawabannya. Memilih pemimpin ( Presiden) masuk pada ranah Aqidah dan ranah muamalah, artinya keduanya sama-sama masuk didalamnya. Dengan alasan memilih presiden masuk pada ranah aqidah, karena dalam ajaran Islam memilih pemimpin yang dipilih itu harus memenuhi syarat yang diantaranya adalah harus Islam sedangkan Islam sendiri adalah berarti tunduk patuh terhadap ajaran yang dibawa oleh Nabi, sedangkan syaratnya orang dapat dikatakan muslim hendaknya harus bersyahadat artinya harus persaksi bahwa tiada Tuhan yang wajib disembah kecuali Allah ini adalah keyakinan aqidah bahwa Tuhan yang wajib disembah adalah Allah, dan bersaksi bahwa Nabi Muhammad Adalah utusan Allah, oleh karenanya kedua syahadat oleh ulama’ lebih dirinci yang pertama disebut Syahadat Tauhid sedangkan yang kedua disebut Syahadat Rasul, nah kedua inilah aqidah yang harus diyakini oleh setiap muslim dengan kesaksian bahwa tiada Tuhan yang wajib disembah dengan sebenarnya kecuali Allah, dan kesaksian dengan meyakini bahwa Nabi Muhammad Adalah Utusan Allah.
تعريف الإسلام لغة واصطلاحاً تعريف الشريعة الإسلامية تعريف الإسلام لغةً وشرعاً تعريف الإسلام لغةً يُعرَّف الإسلام في اللُّغة العربيَّة على أنَّه الاستسلام،[١] ويدخل فيه معنى الخضوع والانقياد،[٢] ومن أسلَمَ يكون قد أذعن وخضع لله -تعالى- خضوعاً تامَّاً بكلِّ أوامره ونواهيه، وقد ورد لفظ الإسلام بهذا المعنى في القرآن الكريم عندما امتدح الله -تعالى- نبيَّه الكريم إبراهيم -عليه السّلام- حين طلب منه -عز وجل- أن يذبح ابنه، فكان جوابه في الآية الكريمة: (إِذْ قَالَ لَهُ رَبُّهُ أَسْلِمْ قَالَ أَسْلَمْتُ لِرَبِّ الْعَالَمِينَ)،[٣] أي أنَّه استسلم لأمر الله -تعالى- ولم يخالفه، كما أنَّ خضوع العبد لله -تعالى- يعني أنَّه مُحسنٌ عند خالقه، فقد جمع الله -عز وجل- بين الإسلام والإحسان في قوله -تعالى-: (بَلَى مَنْ أَسْلَمَ وَجْهَهُ لِلَّهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ)،[٤] والله -جلّ في علاه- يخضع ويُسلِّم له كلُّ من في السَّماوات والأرض.[٥] تعريف الإسلام اصطلاحاً الإسلام في الاصطلاح الشَّرعي له أكثر من معنى، وهو استسلام العبد لله -تعالى-، وتوحيده والخضوع لأوامره، والابتعاد عن الشِّرك وأهله،[٢] وعرَّفه العديد من لعلماء بأنَّه: النُّطق بالشَّهادتين وأداء الفروض، والإيمان أعمُّ من الإسلام؛ لأنَّ الإيمان يدخل فيه التَّصديق القلبي بالإضافة إلى أعمال الجوارح، كما عرَّف بعض العلماء الإسلام على أنَّه إظهار الاستسلام والانقياد لكلِّ ما جاء في شريعة محمّد -صلّى الله عليه وسلّم-.[١] ولو تأمَّلنا في آيات الله -تعالى- في القرآن الكريم لوجدنا أنَّ لفظ الإسلام قد يأتي لوحده، وقد يقترن بلفظ الإيمان، فعندما جاءت اللّفظة منفردة أُريد بها الإسلام والإيمان والإحسان جميعاً، كقول الله -تعالى-: (وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الإِسْلامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ)،[٦] وعندما قرن الله -تبارك وتعالى- الإيمان بالإسلام فيُراد بالإسلام هنا أعمال الجوارح؛ من النُّطق باللِّسان بالشَّهادتين وكافَّة الأعمال الظَّاهرة على الجوارح كالصَّلاة والصِّيام وغيره، ويكون المراد بالإيمان أعمال القلوب.[٥] فيديو قد يعجبك: أركان الإسلام إنَّ أركان الإسلام الخمسة تجمَّع بين الجانبين الاعتقادي والعملي، إذ إنَّ الرُّكن الأوَّل منها يُعدُّ اعتقادياً، بينما كانت الأركان الأربعة الأخرى أركاناً عمليَّةً،[٧] والأركان الخمسة التي بُني عليها الإسلام هي: الشّهادتان، وإقام الصَّلاة، وإيتاء الزَّكاة، وصوم رمضان، وحجُّ البيت لمن استطاع إليه سبيلاً، ولا يكتمل إسلام المرء إلَّا بهذه الأركان كلِّها مجتمعةً، ولو تُرِك ركنٌ منها اختلَّ إسلام المرء ولم يكتمل،[٨] نورد تفصيل وتوضيح هذه الأركان مرتّبةً فيما يأتي:[٩][١٠] الشَّهادتان: وهي شهادة أنْ لا إله إلَّا الله، وأنَّ محمَّداً رسول الله، أي اعتقاد العبد بأنَّه لا معبود بحقٍّ إلَّا الله -تعالى-، وأنَّه وحده لا شريك له، وأنَّ محمَّداً -صلّى الله عليه وسلّم- هو نبيُّ الله -تعالى- الذي أرسله رحمةً للعالَمين، والنُّطق بهاتين الشَّهادتين دلالةً على إقرار المرء بهما، وهما المفتاح الذي يدخل بهما المرء للإسلام، وكلُّ أعمال المسلم تدخل فيها الشَّهادتان، إذ إنَّ أساس قبول الأعمال عند الله -تعالى هو أمران: الأوّل هو الإخلاص لله -تعالى- في العمل، وهو مقتضى قول المسلم “لا إله إلّا الله”، والثَّاني هو اتِّباع الرَّسول -صلىّ الله عليه وسلّم-، وهو مقتضى قوله “محمّد رسول الله”، ومن شهد بهاتين الشَّهادتين نال رضا الله -تعالى- وسعد في دنياه وآخرته، وتحرَّر من الانصياع لغير خالقه، ونجا من الهلاك والعذاب. إقام الصّلاة: والصّلاة هي الصّلة بين العبد وربّه، وهي عمود الدّين وأعظم أركان الإسلام بعد الشّهادتين، وهي واجبةٌ على كلّ مسلم عاقل، ولا تسقط عنه مهما كان عذره، بل تُخفّف عن أصحاب الأعذار بأحكامٍ خاصّة، وتُفرض على المسلم من سنّ البلوغ، إلّا أنّه يحبّذ تعليم الأطفال عليها قبل البلوغ منذ عمر السّابعة؛ لتتعلّق أنفسهم بالصّلاة، والصّلوات المفروضة هي خمس صلوات في اليوم والليلة، وهم: الفجر والظّهر، والعصر، والمغرب، والعشاء، وقد حدّد الله -تعالى- أوقاتاً مخصّصة لكلّ صلاة لا تصحّ أيٌّ منها إلّا بوقتها، قال الله -تعالى-: (إِنَّ الصَّلَاةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ كِتَابًا مَوْقُوتًا)
فلا خلاف بين المعتبرين من أهل العلم في وجوب تنصيب حاكم، يقوم بخلافة النبي صلى الله عليه وسلم في أمته. قال الماوردي في الأحكام السلطانية: الإمامة موضوعة لخلافة النبوة في حراسة الدين وسياسة الدنيا، وعقدها لمن يقوم بها في الأمة واجب بالإجماع. اهـ. وقال النووي في شرح مسلم: أجمعوا على أنه يجب على المسلمين نصب خليفة
Imam Al Mawardi berkata didalam kitab Al Ahkaamus Sulthooniyyah: Al imaamah ( pengangkatan raja/presiden di negara Islam ) itu diletakkan untuk menggantikan ( meneruskan ) tugas kenabian,didalam menjaga agama Islam dan mengatur urusan dunia. Adapun mengangkat raja/presiden di negara Islam,bagi orang yang ditugasi untuk mengangkat raja/presiden di negara Islam,itu hukumnya wajib dengani jma’nya ( kesepakatan) ulama”.
Kemudian memilih pemimpin juga masuk pada ranah Muamalah artinya saling bekerja dan sama saling berintegrasi antara satu dengan yang lain ( antara pemimpin dan yang dipinpin) dll.
Dalil hadits bahwa memilih pemimpin khalifatullah fil ardl.masuk dalam ranah muamalah.
Artinya: “Ketahuilah setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggung jawabannya atas yang dipimpin. Penguasa yang memimpin rakyat banyak dia akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya, setiap kepala keluarga adalah pemimpin anggota keluarganya dan dia dimintai pertanggung jawaban atas yang dipimpinnya, dan istri pemimpin terhadap keluarga rumah suaminya dan juga anak-anaknya, dan dia akan dimintai pertanggung jawabannya terhadap mereka, dan budak seseorang juga pemimpin terhadap harta tuannya dan akan dimintai pertanggung jawaban terhadapnya. Ketahuilah, setiap kalian adalah bertanggung jawab atas yang dipimpinnya” (HR al-Bukhari).
Hadits di atas memberikan penegasan bahwa presiden, gubernur, wali kota, dan pejabat lainnya bahkan setiap diri seseorang sejatinya setiap diri adalah seorang pemimpin, akan dinyatakan pertanggung jawabannya atas apa yang ia lakukan ini adalah bukti bahwa memilih pemimpin tidak hanya sebatas ranah aqidah tetapi juga menyangkut ranah muamalah.
Dengan demikian, yang terpenting dalam kepemimpinan pada diri manusia bukan persoalan besar atau kecilnya tanggung jawab yang dipikulnya. Akan tetapi, yang terpenting adalah seberapa kuat ia menjalankan tanggung jawabnya dengan amanah dan adil. Dalam Al-Qur’an surah an-Nahl ayat 90, Allah mengingatkan kita:
Artinya: “Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi bantuan kepada kerabat, dan Dia melarang (melakukan) perbuatan keji, kemungkaran, dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran
Jawaban. 2
Jika orang muslim tidak memilih seorang calon pemimpin negara bukan berarti kafir atau murtad walaupun syarat pemimpin dalam Islam itu harus Muslim karena memilih bukanlah kewajiban ain( fardu ain ) melainkan fardu kifayah,
Akan tetapi jika kita sebagai muslim memilih Pemimpin orang nom Muslim maka akan dikhawatirkan murtad karena sebab mendukung orang non muslim. Artinya lebih baik kita tidak memilih Pemimpin Non Muslim dari pada Memilih yang mengkhawatirkan terjerumus pada kemaksiatan karena ini adalah aqidah dalam ajaran Islam. Dalam hadits dijelaskan.
موسوعة الحديث النبوية
عن عبد الله بن عمر رضي الله عنهما عن النبي صلى الله عليه وسلم قال: «من تَشبَّه بقوم، فهو منهم». [حسن] – [رواه أبو داود وأحمد] الشرح الحديث يفيد العموم، فمن تشبه بالصالحين كان صالحا وحشر معهم، ومن تشبه بالكفار أو الفساق فهو على طريقتهم ومسلكهم.
Dari Abdullah bin Umar Radiyallahu Anhuma dari Rasulullah SAW beliau bersabda: Barang siapa yang menyerupai suatu kaum maka dia bagian dari mereka. Dalam hadits ini memberikan penegasan bahwa jika seseorang menyerupai orang-orang yang sholeh maka dia akan menjadi orang yang shaleh, dan dikumpulkan bersama mereka, dan jika seseorang menyerupai orang-orang kafir dan orang-orang fasik maka dia masuk pada jalannya mereka.
Dalam hadits yang lain Rasulullah SAW bersabda:
من أعان على معصية ولو بشطر كلمة كان شريكا له فيها
Barang siapa yang membantu pada kemaksiatan walaupun sepenggal kalimat maka termasuk bagian ( sekutu ) didalamnya.
Akan tetapi jika kita tidak memilih maka kita akan selamat, karena kita wajib mengingkari pemimpin yang maksiat, dengan tanda kutip tidak memilih Pemimpin Non Muslim tetapi memilih pemimpin Muslim.
Jawaban 3
Memilih presiden dalam perspektif Demokrasi diIndonesia itu tidak sama dengan hukum memilih pemimpin dalam perspektif islam , salah satu bukti syarat menjadi presiden yang diatur dalam UU pertama adalah bertakwa kepada Tuhan yang Maha Esa, sedangkan Taqwa disini tidak sama pemamahamannya dengan Non Muslim karena mereka punya agama dan kitab sesuai agama yang mereka anut . Tetapi syarat menjadi pemimpin dalam hukum Islam adalah mutlak harus Islam . Jadi tidak sama udang-undang Negara kita yaitu Negara Kesatuan RI yang berdasarkan pancasila dengan UU negara Islam. Bukti mendasar didalam UU negara kita adalah adanya kebebasan menganut Agama dan kepercayaan masing-masing, mengapa demikian karena Agama yang berada diindonesia tidak hanya Islam melainkan ada Buda Kristen katolik Hindu, ini adalah bukti bahwa UU diNegara kita tidak sama dengan UU dinegara Islam.
Untuk lebih jelasnya bisa difahami hukum memilih pemimpin baik ditingkat desa kabupaten atau tingkat provinsi maupun pusat adalah fardlu kifayah bukan fardu Ain. Sebagaimana Imam Mawardi menjelaskan dalam kitab hukum-hukum pemerintahan
Referensi:
قال الماوردي في الأحكام السلطانية: الإمامة موضوعة لخلافة النبوة في حراسة الدين وسياسة الدنيا، وعقدها لمن يقوم بها في الأمة واجب بالإجماع. اهـ. وقال النووي في شرح مسلم: أجمعوا على أنه يجب على المسلمين نصب خليفة
Imam Al Mawardi berkata didalam kitab Al Ahkaamus Sulthooniyyah: Al imaamah ( pengangkatan raja/presiden di negara Islam ) itu diletakkan untuk menggantikan ( meneruskan ) tugas kenabian, didalam menjaga agama Islam dan mengatur urusan dunia. Adapun mengangkat raja/presiden di negara Islam, bagi orang yang ditugasi untuk mengangkat raja/presiden di negara Islam, itu hukumnya wajib dengan ijma’nya ( kesepakatan)ulama”.
Memilih pemimpin ( Presiden ) hukumnya adalah fardu kifayah. Artinya, kewajiban yang penting “hasilnya maksud”, dengan tanpa melihat pelakunya. Sebagaimana definisi fardu kifayah. Dalam Lubuul Ushul hal. 26:
Artinya: Fardu kifayah adalah sesuatu yang terpenting adalah tujuannya hasil dengan pasti dengan tanpa melihat pelakunya. Yakni, jika tujuannya sudah berhasil, maka kita tidak dituntut untuk melakukan. Sebaliknya, jika tujuan tersebut belum berhasil, maka kita semua yang mampu dan tahu, di tuntut untuk mengusahakan terwujudnya sesuatu . Sesungguhnya, Pemilihan Umum dalam rangka “pesta demokrasi” seperti di Indonesia, tidak pernah ada dalam sistem pemerintahan Islam. Dan sebenarnya, sitem Pilpres langsung, Pilgub langsung, perlu ditinjau ulang melihat dampak negatifnya lebih banyak. Tapi, yang wajib adalah terbentuknya kesejahteraan masyarakat, keamanan, dan berjalannya syariat Islam dengan utuh. Karena hal itu tidak dapat terwujud tanpa adanya pemerintahan yang adil dan bijaksana, maka wujudnya pemerintahan merupakan wajib.
“Segala sesuatu yang sudah menjadi wajib, maka hukumnya wajib sebagaimana kewajiban tersebut”. Sebenarnya, mewujudkan pemerintahan tersebut tidak harus dengan pemilihan umum, jika dapat direalisasikan dengan selain pemilihan umum. Akan tetapi, jika hanya dengan pemilihan umum sebagaimana yang terjadi di Indonesia tercinta ini, maka pemilihan umum menjadi fardu kifayah, karena berusaha mewujdukan cita-cita tersebut. Karenanya, memilih dalam pemilihan umum hukumnya fardu kifayah pula. Jadi kalau mengacu pada “khitob” (tuntutan) fardu kifayah, asalnya di tetapkan pada individu dan akan gugur setelah ada keyakinan atau dhan bahwa kewajiban tersebut sudah berhasil tanpa kita , maka dalam keadaan ragu masih wajib. Hal ini disebabkan kemungkinan arah khitob tersebut dengan melihat dua pandangan sebagai berikut: Melihat jika tidak ada yang melakukan sama sekali, yang berdosa adalah semua individu. Maka, arah khitob fardu kifayah pada individu. Melihat jika sudah ada orang lain yang mencukupi, kita tidak mendapat dosa. Berarti, pada dasarnya kita tidak wajib. Keterangan ini sama dengan fatwa al Syekh Zakaria al Anshari dalam kitab Ghoyatul Wusul hal 27;
Artinya: Menurut pendapat yang lebih benar bahwa “fardu kifayah”, di arahkan kepada semua individu, kerena dosanya dibebankan kepadanya jika sama-sama tidak ada yang melakukan sebagaimana fardu ain. Dengan dasar firman Allah.
وَقَاتِلُوا الَّذِيْنَ لاَ يُؤْمِنُوْنَ بِاللهِ
Ini pendapat mayoritas ulama. Dan sebagaimana nashnya imam Syafi’i dalam kitab Um hanya saja fardu akan gugur dengan sebagian yang melakukan. Karena maksudnya yang penting hasil. Bukan bebannya terhadap mukallaf. Sebagian ulama berpendapat, kewajiban tersebut diarahkan kepada sebagian, bukan setiap indifidu. Sebagaimana pendapat Imam Fatchurrozi, dikarenakan dicukupkan pada sebagian dengan berdasarkan ayat;
Kemudian kisaran kewajiban tersebut pada dugaan masing-masing dengan mengikat kewajiban diarahkan kepada semua individu. Maka, barang siapa menduga bahwa orang lain telah melakukan atau dia sendiri melakukan, maka kewajiban telah gugur. Barang siapa tidak menduga dan tidak melakukan, maka tidak gugur atau tetap wajib. Jika mengikuti atas kewajiban sebagian, maka barang siapa menduga tidak ada orang lain yang melakukan dan ia tidak melakukan maka dia menjadi wajib jika tidak maka tidak wajib.
[Ghoyatul wushul hal 27]. Pengangkatan kepala negara melalui pemilihan umum secara langsung, dapat dibenarkan dan tergolong pemilihan melalui syaukah yang harus ditaati oleh seluruh rakyatnya selama yang terpilih bukan orang non-Muslim.
Adapun yang wajib kita pilih adalah orang yang layak dan memenuhi syarat sebagaimana keterangan berikut:
عانة الطالبين ج ٤ ص ٢١٠ واعلم أنه يشترط فى التولية أن تكون للصالح للقضاء فإن لم تكن صالحا له لم تصح توليته ويأثم المولي بكسر اللام والمولى بفتحها ولاينفذ حكمه وإن أصاب فيه إلا ضرورة بأن ولّى سلطان ذو شوكة مسلما فاسقا فينفذ قضائه للضرورة لئلا تتعطل مصالح الناس واعلم أنه يشترط في التولية أن تكون للصالح للقضاء، فإن لم يكن صالحا له لم تصح توليته، ويأثم المولي – بكسر اللام – والمولى – بفتحها – ولا ينفذ حكمه، وإن أصاب فيه إلا للضرورة، بأن ولي سلطان ذو شوكة مسلما فاسقا، فينفذ قضاؤه للضرورة لئلا تتعطل مصالح الناس – كما سيذكره – روى البيهقي والحاكم: من استعمل عاملا على المسلمين، وهو يعلم أن غيره أفضل منه – وفي رواية رجلا على عصابة، وفي تلك العصابة من هو أرضى لله منه – فقد خان الله ورسوله والمؤمنين
Dan ketahuilah, bahwa pengangkatan itu syaratnya adalah bagi orang yang layak menjadi hakim (pemimpin/pemutus hukum), jika tidak cocok ( tidak layak ) baginya, maka pengangkatannya dianggap tidak sah, kecuali terpaksa maka jabatan dan hukumnya sah, misalkan diangkat langsung oleh kepala negara yang fasik ( orang islam yang fasik /orang yang berbuat maksiat .) Sedangkan detail persyaratannya sebagaimana keterangan berikut:
Referensi:
الصفحة الرئيسية > شجرة التصنيفات كتاب: موسوعة الفقه الإسلامي صفحة البدايةالفهرس<< السابق٢٥١ من ٢٧١التالى >> .٣- أحكام الخليفة: .شروط الخليفة: يشترط في الخليفة الذي
Yang berhak menjabat sebagai kholifah(raja, presiden)
يتولى أمور المسلمين ما يلي:
(1).Harus beragama islam. Maka tidak boleh seorang kafir itu menjadi Kholifah bagi kaum muslimin
. ١ -الإسلام، فلا تنعقد إمامة الكافر على المسلمين.
(2).Harus baligh.Maka tidak sah kepemimpinan anak kecil.
٢-البلوغ، فلا تصح إمامة الصغير.
(3).Harus mempunyai akal. Maka tidak sah kepemimpinan orang gila.
٣-لعقل، فلا تنعقد الإمامة لمجنون.
(4).Harus orang yang merdeka. Alasannya ialah karena budak itu tidak mempunyai kekuasaan bagi dirinya. Bagaimana mungkin budak itu menguasai orang lain.-
٤-لحرية؛ لأن العبد لا ولاية له على نفسه، فكيف تكون له ولاية على غيره.
(5).Harus mempunyai ilmu. Maka tidak sah kepemimpinan orang yang bodoh tentang hukum-hukum Allah.
-٥-لعلم، فلا تصح ولاية جاهل بأحكام الله
(6).Harus adil ( tidak gemar berbuat dosa besar atau dosa kecil ). Maka tidak sah kepemimpinan bagi orang fasik ( orang yang gemar berbuat dosa besar atau dosa kecil ).
-٦-لعدالة، فلا تنعقد الولاية لفاسق.
(7).Harus laki-laki. Maka tidak sah kepemimpinan wanita. Karena kelemahan wanita,dan karena kurangnya agamanya wanita ( disebabkan karena haid, nifas, melahirkan ), dan karena kurangnya akalnya wanita. Namun sebagian ulama’ memperbolehkan wanita menguasai pemerintahan.
-٧-الذكورية، فلا تنعقد ولاية المرأة؛ لضعفها ونقصان دينها وعقلها. فتح البارى. ج ٨ ص ١٢٨ قال الخطابى فى الحديث أن المرأة لاحلى العمارة ولاالقضاء وفيه أنها لاتزود نفسها ولاتلى العقد على غيرها كذا قال متعقب والمنه من أن تلى الإمارة والقضاء قول الجمهور وأجازه الطبرى وهى رواية عن مالك وعن أبى حنيفة تلى الحكم فيما تجوزفيه شهادة النساء الميزان الكبرى ج٢ص ١٨٩ من ذلك قول الأئمة الثلاثة انه لايصح تولية المرأة القضاة مع قول أبي حنيفة إنه يصح أن تكون قضية فى كل شيئ تقبل فيه شهادة النساء – إلى أن قال – ومع قول محمد ابن جرير يصح أن تكون المرأة قاضية فى كل شيئ
(8).Yang baik/yang bijaksana pendapatnya didalam menyelesaikan urusan-urusan yang bermacam-macam dari kebutuhan-kebutuhan ummat.
٨-.حصافة الرأي في القضايا المختلفة من حاجات الأمة
(9).Kuatnya sifat-sifat kepribadiannya. Seperti mempunyai sifat pemberani, adil, dan semangat untuk menjauhi perkara yang haram. Dan mempunyai kemauan yang kuat untuk melaksanakan hukum-hukum Allah.
-٩-صلابة الصفات الشخصية كالجرأة، والشجاعة، والعدل، والغيرة على المحارم، والعزيمة على تنفيذ أحكام الله
(10).Cukup sehatnya badannya, yaitu selamatnya badannya, dan selamatnya anggota tubuhnya, dan selamatnya panca indranya.Yang mana cacatnya panca indra itu mempengaruhi terhadap pendapatnya dan terhadap perbuatannya.
– ١٠-الكفاية الجسدية، وهي سلامة البدن والأعضاء والحواس التي يؤثر فقدها على الرأي والعمل.
(11).Tidak tamak kepada jabatan. Maka janganlah diangkat sebagai pemimpin, yaitu orang yang meminta jabatan dan yang tamak kepada jabatan.
-١١-عدم الحرص على الولاية، فلا يولَّى من سألها وحرص عليها.
(12).Pemimpin itu harus keturunan quraisy. Tapi dengan syarat keturunan quraisy yang melaksanakan peraturan agama Islam. Alasannya ialah karena kaum qurais adalah paling utamanya kabilah ( kelompok ) arab.
-٢١-القرشية، فقريش أفضل قبائل العرب، والإمامة فيهم ما أقاموا الدين، ويُلحق بها مَنْ كلمته نافذة، ومتبوع من الكثرة الغالبة، ليكون مطاعاً مرضياً عنه، وتحصل به الوِحدة، وتزول الفرقة. فإن تولى الإمامة أحد بطريق الغلبة، وخُشيت الفتنة، فتجب طاعته في غير معصية الله. .حكم تولية المرأة الحكم: كل أمر انعقد سببه في عهد النبي صلى الله عليه وسلم وأصحابه ولم يفعلوه، مع إمكانية فعله، فهو بدعة لا يجوز فعله، ولا إقراره، ولا العمل به. فمن رخَّص للمرأة أن تكون ملكة أو رئيسة أو أميرة على الرجال، أو وزيرة أو قاضية أو عضواً في مجلس الشورى، أو غيرها من الولايات العامة التي هي من خصائص الرجال، وتضطر فيها للاختلاط بالرجال، فقد خالف شرع الله، وأحدث في الدين ما ليس منه، وشرع ما لم يأذن به الله. وقد كان في عصر النبي? وأصحابه مجلس شورى، ولم يكن من بينهم امرأة واحدة، مع رجحان عقول كثير منهن، خاصة أمهات المؤمنين. ١- قال الله تعالى: {الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ بِمَا فَضَّلَ اللَّهُ بَعْضَهُمْ عَلَى بَعْضٍ وَبِمَا أَنْفَقُوا مِنْ أَمْوَالِهِمْ} [النساء: ٣٤]. ٢- وَعَنْ أبِي بَكْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: لَقَدْ نَفَعَنِي اللهُ بِكَلِمَةٍ أيَّامَ الجَمَلِ، لَمَّا بَلَغَ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم أنَّ فَارِسًا مَلَّكُوا ابْنَةَ كِسْرَى قَالَ: «لَنْ يُفْلِحَ قَوْمٌ وَلَّوْا أمْرَهُمُ امْرَأةً». أخرجه البخاري. حكم طلب الإمارة: ١- لا يجوز لأحد أن يسأل الإمارة، أو يحرص عليها، ومن سألها فإنه لا يُعطاها. ١- عَنْ عَبدِالرَّحمنِ بنِ سَمرةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ ِلي رسولُ الله؟: «يَا عبدَالرّحمنِ ابنَ سَمرةَ، لا تسْأل الإِمارةَ، فإنْ أُعطيتَها عَن مسْألةٍ وُكلتَ إليهَا، وإنْ أُعطيتَها عَنْ غيِر مسْألةٍ أُعنتَ علَيها». متفق عليه. ٢- وَعَنْ أبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم قَالَ: «إِنَّكُمْ سَتَحْرِصُونَ عَلَى الإِمَارَةِ، وَسَتَكُونُ نَدَامَةً يَوْمَ القِيَامَةِ، فَنِعْمَ المُرْضِعَةُ وَبِئْسَتِ الفَاطِمَةُ». أخرجه البخاري. ٣- وَعَنْ أبِي مُوسَى رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: دَخَلتُ عَلَى النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم أنَا وَرَجُلانِ مِنْ قَوْمِي، فَقَالَ أحَدُ الرَّجُلَيْنِ: أمِّرْنَا يَا رَسُولَ الله، وَقَالَ الآخَرُ مِثْلَهُ، فَقَالَ: «إِنَّا لا نُوَلِّي هَذَا مَنْ سَألَهُ، وَلا مَنْ حَرَصَ عَلَيْهِ». متفق عليه. ٢- يجوز للقادر الأمين طلب الإمارة إذا لم يعرف أفضل منه، كما طلبها يوسف؟ من ملك مصر. قال الله تعالى: {وَقَالَ الْمَلِكُ ائْتُونِي بِهِ أَسْتَخْلِصْهُ لِنَفْسِي فَلَمَّا كَلَّمَهُ قَالَ إِنَّكَ الْيَوْمَ لَدَيْنَا مَكِينٌ أَمِينٌ [٥٤] قَالَ اجْعَلْنِي عَلَى خَزَائِنِ الْأَرْضِ إِنِّي حَفِيظٌ عَلِيمٌ [٥٥]} [يوسف: ٥٤- ٥٥]. اجتناب الضعفاء الولايات: الولاية أمانة، والضعيف لن يقوم بحقها، فالأولى له اجتنابها؛ ليسلم من حسابها. عَنْ أَبِي ذَرٍّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قُلتُ: يَا رَسُولَ الله أَلاَ تَسْتَعْمِلُنِي؟ قَالَ: فَضَرَبَ بِيَدِهِ عَلَى مَنْكِبِي، ثُمّ قَالَ: «يَا أَبَا ذَر إنّكَ ضَعِيفٌ، وَإنّهَا أَمَانَةٌ، وَإنّهَا يَوْمَ القِيَامَةِ خِزْيٌ وَنَدَامَةٌ، إلاّ مَنْ أَخَذَهَا بِحَقِّهَا وَأَدّى الّذِي عَلَيْهِ فِيهَا». أخرجه مسلم.
HUKUM SHAHIBUL MUSHIBAH MENOLAK PEMBERIAN ORANG LAIN
Assalamualaikum Deskripsi masalah. Dalam waqiiyah dimasyarat terkadang kita menemukan seseorang yang dalam kondisi tertimpa musibah baik itu berupa kematian baik ahlinya, orang tuanya, keluarganya saudaranya , anaknya ataupun musibah yang lainnya, dan terkadang kita juga menemukan seseorang yang dalam kondisi sedang memperoses membuat rumah bangunan dll. Dalam kondisi sebagaimana tersebut sebagian adat dimasyarakat mereka membantu dengan pemberian berupa uang, makanan dll. Namun sebagian masyarakat menolak pemberian tersebut, baik karena merasa berkecukupan atau karena merasa zuhud atau merasa malu dll.
Terkait dengan kasus tersebut secara waqiiyah dimasyarat maka:
Bagaimana hukumnya orang yang tertimpa musibah berupa kematian yang mana shahibul musibah menolak pemberian orang lain sebagaimana deskripsi.?
Waalaikum salam.
Jawaban. Sebelum merinci hukum menolak pemberian orang lain maka penting kita memahami sebuah hadits Rasulullah shallahu ‘alaihi wa sallam yang diriwayatkan dari Abu Hurairah radliyallahu ‘anhu sebagai berikut:
تهادوا تحابوا
Artinya: “Salinglah memberi hadiah, maka kalian akan saling mencintai.” (HR al-Bukhari).
Saling memberi hadiah hukumnya sunnah dan saling memberi dapat difahami dengan arti ada pihak pemberi dan ada pula penerima, memberi pada gilirannya bisa menjadi penerima dan sebaliknya. Atau pihak penerima akan memberikan hadiahnya kepada pihak lain lagi yang sebelumnya tidak memberinya hadiah, oleh karena bisa disebut pemberi jika ada penerima dari penjelasan diatas dapat dirinci hukumnya menolak pemberian orang lain sebagaimana berikut;
🅰️.Tidak boleh ( dilarang atau makruh/dibenci), menolak pemberian orang lain dan sunnah menerimanya dengan alasan menolak bisa jadi penyebab ketersinggungan orang yang memberi, karena bagaimanapun Islam menganjurkan untuk berbagi dengan memberikan sebagian dari apa yang dimiliki seseorang kepada orang lain. Bentuk pemberian bisa bermacam-macam, misalnya uang, barang , makanan dan lainnya, maka orang yang menolak pemberian karena gengsi atau ingin menunjukkan kezuhudannya hukumnya tidak boleh, bahkan bisa jadi berdosa jika sampai menimbulkan ketersinggungan dll.Oleh karenanya bagaimana sebenarnya Islam mengatur soal memberi dan menerima pemberian orang lain? Monggo simak hadits berikut:
Ketika Ja’far bin Abi Tholib meninggal dunia. Maka ada hadits dari Nabi Muhammad SAW :
اصنعوا لآل جعفر طعاما فاءنه اصابهم ما يشغلهم
Artinya:Buatkanlah makanan oleh kalian ,untuk keluarganya Ja’far bin Abi Tholib. Karena keluarganya Ja’far bin Abi Tholib itu ditimpa oleh sesuatu yang merepotkan ( menyusahkan ) terhadap keluarganya Ja’far bin Abi Tholib. Didalam hadits ini , Rosulullah memerintahkan kepada tetangganya ahli keluarganya Ja’far bin Abi Tholib untuk membuatkan makanan (membantu) kepada keluarganya Ja’far bin Abi Tholib. Dan dianjurkan bagi keluarganya mayit(keluarganya Ja’far bin Abi Tholib) untuk menerima terhadap bantuan makanan dari tetangganya keluarganya ( shaibul musibah kematian (keluarganya Ja’far bin Abi Tholib).
Referensi:
(بلوغ الاءمنية(انارة الدجى),صحيفة ٢١٩) (تذييل)
اعلم ان الجاويين غالبا اذا مات احدهم جاءوا الى اهله لنحو الاءرز نيءا ثم طبخوه بعد التمليك وقدموه لاءهله وللحاضرين عملا لخبر(اصنعوا لاءل جعفر طعاما)وطمعا في ثواب ما في السوءال بل ورجاء ثواب الاءطعام للميت على ان العلامة الشرقاوي قال في شرح نجريد البخاري ما نصه:والصحيح ان السوءال اي سوءال القبر مرة وقيل يفتن الموءمن سبعا والكافر اربعين صباحا،ومن ثم كانوا يستحبون ان يطعم عن الموءمن سبعة ابام من دفنه.
Sayyid Abdullah bin Alawi al-Haddad menjelaskan dalam kitabnya berjudul Risâlatul Mu‘âwanah wal Mudhâharah wal Muwâzarah (Dar al-Hawi, 1994, hal. 140) memberikan jawaban atas pertanyaan itu sebagai berikut:
Artinya, “Janganlah engkau memecahkan hati orang islam (menyinggung perasaan seorang Muslim ) dengan menolak pemberian (hadiah) darinya, padahal engkau mengetahui bahwa sesuatu yang sampai ke tanganmu sejatinya berasal dari Allah subhanahu wa ta’ala, dan sesungguhnya orang yang menyampaikannnya kepadamu hanyalah perantara yang dikendalikan dan dipaksa (oleh Allah subhanahu wa ta’ala). Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda: ‘Barangsiapa datang kepadanya suatu pemberian tanpa ia memintanya atau menunjukkan keinginan untuk memperolehnya, lalu ia menolaknya, sesungguhnya ia menolak pemberian Allah subhanahu wa ta’ala.’”
Dari redaksi ibarah di atas dapat difahami bahwa kita sebaiknya tidak boleh menolak pemberian orang lain, khususnya dari sesama Muslim, sebab hal ini bisa menyinggung perasaannya. Apalagi sebagai orang mukmin kita mempercayai bahwa semua rezeki berasal dari Allah subhanahu wa ta’ala dan Allahlah yang menanggung semua rizkinya makhluk, termasuk hewan melata, sebagaimana firmanya;
Dan tidak satupun makhluk bergerak (bernyawa) di bumi melainkan semuanya dijamin Allah rezekinya ( Allahlah yang memberinya ). Dia mengetahui tempat kediamannya dan tempat penyimpanannya. Semua (tertulis) dalam Kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh).Q.S .Hud :ayat:6
Dan perintahkanlah keluargamu melaksanakan salat dan sabarlah dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu, Kamilah yang memberi rezeki kepadamu. (Thaahaa : 132)
Dari ayat diatas sebagai dalil bahwa orang yang datang kepada kita untuk memberikan hadiahnya sesugguhnya adalah orang yang digerakkan hatinya oleh Allah untuk menjadi perantara dalam pembagian rezeki-Nya. Artinya, pemberian dari orang lain harus dipahami sebagai pemberian dari Allah subhanahu wa ta’ala dengan catatan sebagaimana dijelaskan dalam hadits di atas bahwa kita memang tidak pernah memintanya kepada orang itu, atau setidaknya kita tidak pernah terjadi ( berharap ) atau isyarat untuk mendapatkan pemberiannya.
Menolak apa yang diberikan orang lain karena merasa malu misalnya, atau karena ingin menunjukkan kezuhudan, tidak bisa dibenarkan sebab itu justru merupakan keburukan. Hal ini sebagaimana dijelaskan lebih lanjut oleh Sayyid Abdullah al-Haddad sebagai berikut:
Artinya, “Menolak pemberian orang (lain) mengandung kerusakan yang besar sebab banyak orang awam menjadi terkagum dengan mengagungkan orang-orang yang menolak pemberian. Padahal adakalanya yang mendorong sebagian orang dari ahli ibadah untuk menolak pemberian adalah keinginannya untuk memperlihatkan kezuhudan diri demi memperoleh kedudukan terhormat di hati orang awam itu. Atas dasar ini, sebagian kaum muhaqqiqin (orang yang menguasai ilmu dan mengamalkannya) secara terbuka mau menerima pemberian orang lain, kemudian menyedekahkannya kembali secara rahasia.”
Penjelasan itu mengandung maksud bahwa menolak pemberian orang lain untuk menunjukkan kezuhudan adalah tindakan yang buruk karena bisa membuat banyak orang terkecoh karena terkagum terhadap praktik zuhud yang tidak pada tempatnya. Menurut Sayyid Abdullah al-Haddad orang-orang zuhud tidak perlu secara terbuka menolak pemberian orang lain. Mereka lebih baik menerima pemberian itu untuk kemudian secara rahasia disedekahkan kepada yang membutukan seperti fakir-miskin, dan orang-orang lemah lainnya.
Dan sepatutnya bagimu, jika tetanggamu, sahabatmu, atau kerabatmu menghadiahkan sesuatu kepadamu, hendaklah engkau menerimanya dan jangan meremehkannya. Hal ini berdasarkan sabda Nabi: “Wahai wanita-wanita Mukmin!” dan dalam riwayat lain: “Wahai wanita-wanita Anshar! Janganlah salah seorang di antara kalian meremehkan hadiah yang diberikan kepada tetangganya, walaupun hanya berupa kaki kambing.”
🅱️.Wajib menolak pemberian orang lain sebagai mana Sayyid Abdullah al-Haddad menjelaskan tentang beberapa kondisi di mana kita diwajibkan menolak pemberian orang lain dengan syarat atau ketentuan-ketentuan sebagaimana ibarah berikut
Artinya, “Dalam beberapa hal, terkadang seseorang wajib menolak suatu pemberian dari seseorang dan terkadang hukumnya sunnah bila kamu mengetahui atau memperkirakan adanya tanda-tanda tertentu bahwa yang diberikan itu adalah barang haram. Atau, pemberian itu adalah zakat disebabkan orang itu mengira kamu termasuk orang yang berhak atas zakat, padahal tidak demikian halnya. Juga, bila si pemberi adalah orang zalim yang terus menerus melakukan kezalimannya sedangkan kamu khawatir bila menerima pemberiannya, hatimu mungkin akan cenderung kepadanya ataupun terpkasa bersikap lunak terhadapnya dalam perbuatannya yang menentang agama. Atau ada dugaan kuat, apabila kamu mau menerima pemberiannya itu, ada kemungkinan dia sudah tidak lagi mau mendengarkan ucapan kebenaran yang kamu tujukan padanya. Atau, bila kamu dapat mengetahui dari keadaan seseorang bahwa ia bermaksud menyesatkanmu dari jalan Allah, yakni dengan membantunya dalam mengerjakan suatu kebatilan ataupun dalam meninggalkan suatu kebenaran.” (lihat hal. 141). Dari ibarah di atas dapat disimpulkan secara ringkas beberapa hal sebagai berikut:
Pertama, jika sebuah pemberian diketahui atau diduga kuat merupakan barang haram seperti uang hasil mencuri atau korupsi, maka wajib hukumnya menolak pemberian itu.
Kedua, jika pemberian itu adalah zakat sementara kita tidak termasuk orang yang berhak atas zakat, maka hendaknya kita menolaknya ( hukumnya wajib ).
Ketiga, jika pemberian itu berasal dari orang zalim atau jahat sedangkan kita tahu pemberian itu akan mempengaruhi kita menjadi tunduk kepadanya dan membiarkan kejahatannya, maka hendaknya kita menolaknya ( hukumnya sunnah ).
Keempat, apabila kita khawatir pemberian yang kita terima akan membuat si pemberi tidak lagi mau mendengarkan kebenaran-kebenaran yang kita sampaikan, maka hendaknya kita menolak pemberiannya (hukumnya wajib ).
Kelima, apabila kita tahu dan mengkhawatirkan sebuah pemberian dimaksudkan untuk mempengaruhi kita hingga kita terjerumus dalam kemaksiatan kepada Allah, seperti suap misalnya, maka kita harus menolaknya ( hukumya wajib ).
Berikut penjelasan secara mafhum mukholafah. Referensi:
(فائدة) قال فى المجمعوع : يكره الأخذ ممن بيده حلال وحرام كالسلطان الجائر .وتختلف الكراهة بقلة الشبهة وكثرتها، ولا يحرم الا إن تيقن ان هذا من الحرام . وقول الغزالى : يحرم الأخذ ممن اكثر ماله حرام وكذا معاملته : شاذ.. اعانة الطالبين المجلد الثانى ،صف
Imam Nawawi berkata dalam kitab majmu’ Syarah muhadzzab.Artinya Makruh menerima pemberian dari orang yang hartanya berada diantara halal dan haram seperti pemberian dari penguasa bermasiat,dan haram jika harta yang diberikan diyakini bahwa hartanya berasal dari harta haram, dan menurut Imam Ghazali jika hartanya bercampur antara halal dan haram dan lebih banyak harta yang haram, maka haram menerimanya.
Dari penjelasan diatas dapat disimpulkan secara mafhum mukholafah ( pemahaman sebaliknya/berbeda).Adalah Sunnah menolak pemberian orang lain yang hartanya bercampur antara halal dan haram. Dan wajib menolak pemberian orang lain jika diyakini harta yang diberikan betul-betul berasal dari barang haram. Begitu juga wajib ditolak pemberian orang lain jika harta yang diberikan bercampur antara halal dan haram sedangkan keramannnya lebih banyakdari kehalalannya .
Menurut kerangan dalam kitab “Bustanul Arifin “bahwa ulama’ berselisih tentang hukumnya penerimaan hadiah dari seorang sulthon, sebagian memperbolehkan selama ia tidak mengetahui bahwa barang yang diterimanya itu adalah barang haram, sedang sebagian yang lain menyatakan tidak boleh . Adapun mereka yang memperbolehkan bersandar kepada fatwa sayyina Ali bin Abu Thalib r.a yang berkata Sesungguhnya Sultan itu memperoleh barang-barang yang dan yang haram, maka apa yang diberikan kepadamu terimalah dan anggaplah memberimu dari bagian yang halal.
Disebutkan dalam kitab Dzurratunnashin sebuah hadits Diriwayatkan oleh sayyina Umar r.a . Bahwa Rasulullah Shallallaahu alaihi wasallam bersabda:
من أعطى شيئا من غير مسألة فليأخذ فإنماهو رزق رزقه الله تعالى
Barang siapa diberi sesuatu tampa meminta-minta, maka itu adalah suatu rizki yang diberikan oleh Allah yang seharusnya diterima.
Diriwayatkan bahwa Habib bin Tsabit berkata: Aku telah melihat Ibnu Umar dan Ibnu Abbas r.a. telah menerima hadiah-hadiah dari ” Al-Mukhtar” padahal ia terkenal seorang pengusaha yang dhalim.
Diriwayatkan oleh Muhammad Ibnu Hasan dari Abu Hanifah, dari Hammad bahwa Ibrahim Annakha’i dan Abu Dzar Al-Hamadzani telah pernah datang menerima hadiah-hadiah dari Abdullah Al-Azdi sewaktu ia menjadi Gubenur di Haffah bahwa tidak ada larangan selama tidak diketahui kenyataan haramnya barang yang dihadapkan. ( Mauidhoh ).
Maka pada zaman sekarang kita ini janganlah orang mengorek-orek dan terlalu meneliti tentang hal-hal yang dapat membawa kesukaran dan kebingungan, sebab pada dasarnya menurut hukum syariat segala sesuatu adalah mubah dan halal selama tiada nas atau dalil yang mengharamkan atau memakruhkan . Maka perihal barang-barang harta benda atau makanan yang harus diterima atau diberi oleh seseorang seyogianya dianggap halal dan mubah selama belum diketahui dengan nyata bahwa barang-barang harta benda atau makanan itu berasal dari rampasan, curian ataupun dari hasil riba walaupun ia mengetahui bawa ada tersedia dalam kekayaan orang yang memberi itu barang haram. ( Lihat kitab Dzurratunnashihin.juz 2: 10-11).Wallahu A’lam
HUKUM SHALATNYA IMAM ( PENGGANTI IMAM PERTAMA )DAN MAKMUM KETIKA IMAM TIDAK MEMPERHITUNGKAN GERAKAN LANGKAH KAKINYA
Assalamualaikum.
Deskripsi masalah: Kekhusyu’an ( khusyu’) dalam ibadah merupakan hal terpenting bagi setiap hamba terutama dalam shalat karena shalat merupakan mi’rajnya ruh sampai kemustawa yang sangat tinggi sebagai tempat munajat hamba kepada Tuhannya, sedangkan khusyu’ adalah rahasianya shalat bahkan ruhnya shalat. Oleh karena satukan hati ( khusyu’ mengadap Allah ) dan jawarih dengan rasa tawadlu’ ketika shalat agar shalatnya diterima dan termasuk orang yang beruntung sebagaimana firman Allah
قد أفلح المؤمنون الذين هم فى صلاتهم خاشعون
Sungguh beruntung orang-orang yang beriman yang mereka khusyuk didalam shalatnya.
Salah satu bentuk kekhusyu’an Sebagaimana kita lihat dalam gambar sang Imam sedang asiknya ber munajat dengan Allah sehingga tak terasa sakitnya sakaratul maut disebabkan nikmatnya bertemu dengan Allah sang pencipta semesta alam. Namun yang menjadi persoalan dalam gambar adalah pengganti imam yang meninggal, dia dengan tergesa-gesa mempoposikan dirinya sebagai Imam dengan tanpa memperhitungkan adanya langkah kedepan mensejajari imam yang pertama.
Bagaimana hukum shalatnya imam ( sebagai pengganti Imam pertama) dan makmum dengan kasus gerakan imam yang tidak memperhitungkan langkahnya yang sudah melebihi tiga gerakan menurut fiqih..?
Waalaikum
Jawaban:
Jika memperhatikan isi gambar dengan secara teliti maka Shalatnya pengganti imam yang pertama adalah batal , dengan alasan karena imam ( khalifah ) tidak memperhitungkan langkah kakinya menuju kedepan sehingga melebihi tiga langkah dengan secara terus menerus. Sedangkan gerak gerik langkah banyak yang diperbolehkan ( gerakan melebihi tiga ) apabila dalam kondisi dloruroh yang akan mengancam jiwanya dalam keadaan shalat seperti membunuh ular dan kala jengking yang akan menggigitnya dll, dengan catatan menurut Syafi’iyah mengatakan bahwa apabila diperlukan gerakan yang banyak untuk membunuhnya, maka shalat seseorang menjadi batal.( dengan cara terus menerus). Dengan demikian dapat disimpulkan shalatnya imam ( pengganti Imam yang pertama ) batal. Sedangkan shalatnya makmum jika tidak mengetahui terhadap batalnya shalatnya imam maka tetap sah karena ma’dzur, dan sebaliknya ( batal kecuali niat mufaroqoh ) Hal ini diqiyaskan dengan imam yang melakukan shalat dalam kondisi hadas yang diketahui hadasnya dirinya setelah melakukan shalat.
Referensi
فتح القريب وحاشية الباجوري – (ج ١ ص ١٧٨) شركة النور أسيا
(فصل)
: في عدد مبطلات الصلاة (والذي يبطل به الصلاة أحد عشر شيئاً الكلام العمد) الصالح لخطاب الآدميين سواء تعلق بمصلحة الصلاة أولا، (والعمل الكثير) المتوالي كثلاث خطوات عمداً كان ذلك أو سهواً، أما العمل القليل فلا تبطل الصلاة به.
(قوله الكثير) أي في العرف وضبط بثلاثة أفعال فأكثر ولو بأعضاء متعددة كأن حرك رأسه ويديه ويحسب ذهاب اليد وعودها فمرتان ومثل العمل الكثير الوثبة الفاحشة وهو النطة وكذا تحريك كل البدن أومعظمه ولومن غيرثقل قدميه ومحل البطلان بالعمل الكثير ان كان بعضو ثقيل فإن كان بعضو خفيف فلابطلان كمالوحرك أصابعه من غير تحريك كفه في سبحة أو حل أوعقد أو حرك لسانه أوأجفانه أوشفته أوذكره ولومرارا متعددة متوالية إذلايخل ذلك بهيئة الخشوع والتعظيم فأشبه الفعل القليل ولوتردد في فعل هل هوقليل أوكثير فالمعتمد أنه لايؤثر وقيل يؤثر وقيل يوقف إلى بيان الحال وإنماقيد العمل بالكثير بخلاف الكلام العمد فيستوي قليله وكثيره في الإبطال لأن العمل يتعذر الإحتراز عنه فعفي عن القليل لأنه لايخل بالصلاة بخلاف الكلام العمد فأماغير العمد فقد سبق أنه لايضر قليله. (قوله المتولي) أي المتتابع عرفا بحيث لايعد العمل الثاني منقطعا عن الأول ولا الثالث منقطعا عن الثاني وقيل بأن لايكون بين الفعلين مايسع ركعة بأخف ممكن وقيل بأن لايطمئن بينهما والمعتمد الأول وإن اقتضى كلام المحشي أن ضابط التوالي ان لايسكن بين الفعلين وخرج بالمتوالي غيرالمتوالي عرفا بحيث يعد العمل الثاني منقطعا عن الأول والثالث منقطعا عن الثاني وهكذا على المعتمد المتقدم ولايكفي التسكين خلافا للمحشي فلايضر غيرالمتوالي بالضابط المذكور ولوكثر جدا. (قوله عمدا) -إلى أن قال- وقوله أوسهوا عطف على قوله عمدا فسهو الفعل المبطل كعمده.
كاشفة السجا لنووي الجاوي – (ج ١ / ص ١٨٩) (و) سابعها بـ (ـثلاث حركات متواليات) أي يقيناً ولو بأعضاء متعددة كأن حرك رأسه ويديه وذهاب الرجل وعودها بعد مرتين مطلقاً سواء حصل اتصال أم لا، بخلاف ذهاب اليد وعودها على الاتصال فإنه يعد مرة واحدة، وكذا رفعها ثم وضعها ولو في غير موضعها، وأما رفع الرجل فإنه يعد مرة ووضعها ولو في غير موضعها مرة، والفرق بين اليدين والرجل أن الرجل عادتها السكوت بخلاف اليد. (ولو سهواً) أي سواء كان عمداً أو سهواً لتلاعبه مع أنه لا مشقة في الاحتراز عنه، أما الحركة القليلة كحركتين فلا تبطل الصلاة بها سواء كان عمداً أو سهواً ما لم يقصد بها اللعب، فإن قصد بها ذلك كأن أقام أصبعه الوسطى في صلاته لشخص لاعباً معه بطلت صلاته، ومنه ما يقع لأهل الرعونة من مد رجله ليضعها على ذيل صاحبه بقصد اللعب ليمنعه من القيام من السجود فتبطل صلاته بمجرد مد رجله، وكثير الفعل كثلاث حركات إذا كان لشدة جرب بأن لا يقدر معه على عدم الحك، أو كان خفيفاً كتحريك أصابعه في سبحة أو حل أو عقد مع قرار كفه لا يبطل الصلاة إذا كان بلا قصد لعب، وكتحريك أصابعه تحريك أجفانه أو أذنه أو ذكره أو أخرج لسانه، ولو نوى ثلاثة أفعال ولاء وفعل واحداً منها ضر لأنه قصد المبطل وشرع فيه كما لو شرع في ثلاثة أفعال ولاء من غير نية، ولو حمل شخص مصلياً ومشى به ثلاث خطوات متواليات لم تبطل صلاة المحمول لأن الخطوات لا تنسب له، لكن إن فعل شيئاً من أركانها حال حمله لم يحسب له حيث لم يمكنه إتمامه حينئذٍ.
Referensi:
فيض الحجا على نيل الرجا للحاجيني – (ج ١ / ص ٩٨) (قوله ثلاث حركات على التوالى) أى يقينا ولو بأعضاء متعددة كأن حرك رأسه ويديه، وذهاب الرجل وعودها يعد مرتين سواء حصل اتصال أم لا بخلاف ذهاب اليد وعودها على الإتصال فإنه يعد مرة واحدة، والفرق أن الرجل عادتها السكون بخلاف اليد (قوله مطلقا) أى سواء كان عمدا أو سهوا، هذا وأما الحركة القليلة كحركتين فلا تبطل الصلاة بها ما لم يقصد بها اللعب.
referensi
بغية المسترشدين للسيد باعلوي الحضرمي – (ج ١ / ص ١٠٥) (مسألة: ب): تبطل الصلاة بالحركات المتوالية ولو مندوبة، كرفع يديه عند تكبيرة الإحرام مع تحريك نحو الرأس، وتصفيق المرأة لموجبه، لأنه إذا لم تغتفر الثلاث لعذر كنسيان فأولى لأجل مندوب قاله ابن حجر. وفرق أبو مخرمة بين أن يكون لهيئة الصلاة كرد اليد لما تحت الصدر والرجل إلى محاذاة الأخرى فيغتفر، إذ هو مأمور به في كل لحظة أو لغيرها فلا، والاحتياط لا يخفى اهـ.
قلت: واعتمد (م ر) عدم البطلان بالحركة المندوبة مطلقاً وإن كثرت
وضابط الكثير يرجع فيه إلى العادة فلا يضر ما يعده الناس قليلا كالإشارة برد السلام وخلع النعل ورفع العمامة ووضعها ولبس ثوب خفيف ومزعه وحمل صغير ووضعه . قالوا : وعليه فالفعلات الثلاث كثير بلا خلاف ولا يشترط أن تكون الأفعال الثلاثة من نوع واحد فمثلا إذا حرك رأسه ويده ومشى اعتبر ذلك عملا كثيرا يبطل الصلاة
Referensi
الفقه الإسلامي وأدلته – (ج ٢ / ص ٢٠٠)
وقال الشافعية والحنابلة: تبطل الصلاة بكثير من العمل عمداً أو سهواً، لا بقليله، وتعرف الكثرة بالعرف والعادة، فالخُطوتان والضربتان قليل، والثلاث المتواليات عند الشافعية كثير. ومعنى التوالي: ألا تعد إحداها منقطعة عن الأخرى. وتبطل بالوثبة الفاحشة وهي النطة لمنافاتها الصلاة، لا الحركات الخفيفة المتوالية، كتحريك أصابعه في سُبْحة أو عِقْد، أو حكّ أو نحو ذلك في الأصح، كتحريك لسانه أو أجفانه أو شفتيه أو ذكره مراراً ولاء، فلا تبطل بذلك.ولا يضر العمل اليسير عادة من غير جنس الصلاة، لفتح النبي صلّى الله عليه وسلم الباب لعائشة، وحمله أمامة ووضعها، كما لايضر العمل المتفرق وإن كثر، ولا الحاصل بعذر كمرض يستدعي حركة لا يستطيع الصبر عنها زمناً يسع الصلاة. ويكره العمل الكثير غير المتوالي بلا حاجة. ولا يقدر عند الحنابلة العمل الكثير بثلاث ولا بعدد.وأضاف الشافعية : أن العمل الكثير في العرف يضبط بثلاثة أفعال فأكثر، ولو بأعضاء متعددة، كأن حرك رأسه ويده. ويحسب ذهاب اليد وعودها مرة واحدة، ما لم يسكن بينهما، وكذا رفع الرجل، سواء عادت لموضعها الذي كانت فيه أو لا. أما ذهابها وعودها فمرتان. وقد عرفنا أن الوثبة الفاحشة كالعمل الكثير، وكذا تحريك كل البدن، أو معظمه ولو من غير نقل قدميه.ومحل البطلان بالعمل الكثير: إن كان بعضو ثقيل، فإن كان بعضو خفيف، فلا بطلان، كما لو حرك أصابعه من غير تحريك كفه في سُبْحة أو حل عِقْد ، أو تحريك لسان وأجفان وشفة أو ذكر ولو مراراً؛ إذ لا يخل ذلك بهيئة الخشوع والتعظيم، فأشبه الفعل القليل.ولو تردد في فعل، هل هو قليل أو كثير، فالمعتمد أنه لا يؤثر.والفرق بين الكلام في أن الصلاة تبطل بقليله وكثيره، وبين العمل في الصلاة لا تبطل إلا بكثيره: هو أن العمل يتعذر الاحتراز عنه، فعفي عن القليل؛ لأنه لا يخل بالصلاة، بخلاف الكلام العمد عند الشافعية، وأما غير العمد فلا يضر قليله، كما تقدم.
HADITS KE 183 :
وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم ( اُقْتُلُوا اَلْأَسْوَدَيْنِ فِي اَلصَّلَاةِ : اَلْحَيَّةَ وَالْعَقْرَبَ ) أَخْرَجَهُ اَلْأَرْبَعَةُ وَصَحَّحَهُ اِبْنُ حِبَّانَ
Dari Abu Hurairah Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: Bunuhlah dua binatang hitam dalam sholat yaitu ular dan kalajengking. Dikeluarkan oleh Imam Empat dan dinilai shahih oleh Ibnu Hibban. MAKNA HADITS : Ular adalah musuh manusia, begitu pula kalajengking yang ekornya mengandung racun. Binatang berbisa ini tidak segan-segan menyerang manusia melalui gigitan dan sengatannya, meskipun manusia sedang mengerjakan shalat. Oleh sebab itu, dua jenis binatang ini mesti dibunuh, sekalipun orang yang melakukannya sedang mengerjakan shalat. Semoga Allah memelihara kita dari gangguan musuh dan menjaga diri kita dari kejahatan segala penyakit.
FIQH HADITS :
Dituntut menolak bahaya yang akan menimpa diri seseorang, sekalipun sedang mengerjakan shalat.
Boleh melakukan banyak gerakan dalam shalat apabila keadaan merbahaya.
Boleh membunuh ular dan kalajengking ketika dalam shalat tanpa adanya hukum makruh baik tindakan membunuhnya memerlukan satu kali pukulan ataupun lebih banyak lagi. Inilah pendapat mazhab Hanafi. Sedangkan menurut mazhab Maliki, makruh membunuhnya apabila kedua hewan tersebut tidak mengganggu orang sedang yang mengerjakan shalat. Bagi mereka, boleh membunuhnya apabila kedua hewan hendak menyerang orang yang shalat tanpa adanya makruh lagi. Menurut zahir pendapat mazhab Hanbali, tidak ada perbedaan dimana seseorang yang sedang shalat boleh membunuh kedua jenis hewan itu baik melakukan sedikit gerakan ataupun terpaksa melakukan banyak gerakan. Dengan arti kata lain, shalat orang yang berbuat demikian tidak batal. Mazhab al-Syafi’i mengatakan bahwa apabila diperlukan gerakan yang banyak untuk membunuhnya, maka shalat seseorang menjadi batal. Tetapi jika tidak memerlukan banyak gerakan, maka tidak batal shalatnya
Referensi Majmu’ Syarah Mauhazzab.
واتفقوا على أنّ من صلى بغير طهارة أنّه يجب عليه الإعادة عمداً أو نسياناَ وكذلك من صلى لغير القبلة عمداَ كان ذلك أو نسيانا
Ulama sepakat bahwa orang yang shalat tanpa bersuci, dia wajib mengulang shalatnya. Baik sengaja maupun lupa. Demikian pula orang yang shalat tanpa menghadap kiblat, baik sengaja maupun lupa. (Bidayah al-Mujtahid, 1/151)
Referensi: Shalatnya makmum sah jika tidak mengetahui terhadap batalnya shalat imamnya
المغني لابن قدامة الحنبلي: ص. أن الإمام إذا صلى بالجماعة محدثا, أو جنبا, غير عالم بحدثه , فلم يعلم هو ولا المأمومون , حتى فرغوا من الصلاة , فصلاتهم صحيحة , وصلاة الإمام باطلة. روي ذلك عن عمر , وعثمان , وعلي , وابن عمر رضي الله عنهم , وبه قال الحسن , وسعيد بن جبير , ومالك , والأوزاعي , والشافعي , وسليمان بن حرب , وأبو ثور. وعن علي أنه يعيد ويعيدون . وبه قال ابن سيرين والشعبي وأبو حنيفة , وأصحابه ; لأنه صلى بهم محدثا , أشبه ما لو علم. ولنا , إجماع الصحابة رضي الله عنهم , روي أن عمر رضي الله عنه صلى بالناس الصبح , ثم خرج إلى الجرف , فأهرق الماء , فوجد في ثوبه احتلاما , فأعاد ولم يعيدوا وعن محمد بن عمرو بن المصطلق الخزاعي , أن عثمان صلى بالناس صلاة الفجر , فلما أصبح وارتفع النهار فإذا هو بأثر الجنابة . فقال : كبرت والله , كبرت والله , فأعاد الصلاة , ولم يأمرهم أن يعيدوا . وعن علي , أنه قال : إذا صلى الجنب بالقوم فأتم بهم الصلاة آمره أن يغتسل ويعيد , ولا آمرهم أن يعيدوا . وعن ابن عمر , أنه صلى بهم الغداة , ثم ذكر أنه صلى بغير وضوء , فأعاد ولم يعيدوا . رواه كله الأثرم . وهذا في محل الشهرة , ولم ينقل خلافه , فكان إجماعا. ولم يثبت ما نقل عن علي في خلافه , وعن البراء بن عازب أن النبي صلى الله عليه وسلم قال : { إذا صلى الجنب بالقوم , أعاد صلاته , وتمت للقوم صلاتهم } . أخرجه أبو سليمان محمد بن الحسن الحراني , في ” جزء ” . ولأن الحدث مما يخفى , ولا سبيل للمأموم إلى معرفته من الإمام , فكان معذورا في الاقتداء به , ويفارق ما إذا كان على الإمام حدث نفسه ; لأنه يكون مستهزئا بالصلاة فاعلا لما لا يحل . وكذلك إن علم المأموم , فإنه لا عذر له في الاقتداء
Referensi: Shalatnya makmum sah jika tidak mengetahui terhadap sebab batalnya shalat imamnya
Hukum dan Cara Mengatasi Penyakit Waswas dalam Islam
Assalamualaikum
Deskripsi Masalah
Waswas adalah kondisi keraguan yang berlebihan dalam menjalankan ibadah atau aktivitas sehari-hari. Penyakit ini bisa muncul karena dua faktor utama: pertama, sebagai akibat dari kesempurnaan iman seseorang yang membuatnya sangat berhati-hati dalam menjalankan syariat;
عن عبد الله بن مسعود رضي الله عنه قال: سُئِل النبي صلى الله عليه وسلم عن الوسوسة فقال: “تلك محض الإيمان” ١٣٣ صحيح مسلم
Dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata: Nabi ﷺ pernah ditanya tentang was-was (bisikan hati yang buruk). Beliau bersabda:
“Itu adalah tanda keimanan yang murni.” (HR. Muslim, No. 133)
kedua, karena kebodohan yang menyebabkan seseorang mudah tergoda oleh bisikan setan. Kondisi ini tidak hanya mengganggu diri sendiri, tetapi juga dapat berdampak pada orang-orang di sekitarnya.
1. Bagaimana Hukum Orang yang Terkena Penyakit Waswas?
2. Adakah Cara untuk Menanggulangi Waswas?
Waalaikum salam.
Jawaban. No.1
Haram hukumnya Was was (ragu ragu) seorang ma’mum ketika membaca takbiratul ihram yang dapat mengganggu ma’mum yang lain, demikian pula membaca dengan keras yang dapat mengganggu orang yang sedang solat disampingnya.
Jawaban. No.2
Menurut Syaikh Imam Abul Hasan As-Syadzili disebutkan dalam kitab Iaanatuttholibin hendaknya seseorang yang waswas meletakkan tangan kanannya diatas dadanya sebelah kiri ( hati ) dan membaca:
سبحان الملك القدوس الخلاق الفعال ( ٣× ) ان يشاء يذهبكم وياءت بخلق جديد وما ذالك على الله بغزيز ( ٧ × )
Referensi:
(حاشية الجمل ج ١ ص ٣٣٧)
فرع قال ابن العماد لو توسوس المأموم فى تكبيرة الاحرام على وجه يشوس على غيره من المأمومين حرم عليه ذلك كمن قعد يتكلم بجوار المصلى وكذا تحرم عليه القراءة جهرا على وجه يشوس على المصلى بجواره.
Was was (ragu ragu) seorang ma’mum ketika membaca takbiratul ihram yang dapat mengganggu ma’mum yang lain hukumnya haram, demikian pula membaca dengan keras yang dapat mengganggu orang yang sedang solatdisampingnya.
Referensi
Keterangan ini dapat ditemukan pada Kitab Al-Fatawil Fiqhiyyatil Kubra, Kitab Hasyiyatul Bujairimi Alal Khatib, Kitab I‘anatut Thalibin, dan Kitab Nihayatuz Zain.
وكان الأستاذ أبو الحسن الشاذلي يعلم أصحابه لدفع الوسواس والخواطر الرديئة ويقول لهم من أحس بذلك فليضع يده اليمنى على صدره وليقل سبحان الملك القدوس الخلاق الفعال سبع مرات ثم يقل إن يشأ يذهبكم ويأت بخلق جديد وما ذلك على الله بعزيز يقول ذلك المصلي قبل الإحرام
Artinya, “Syekh Abul Hasan As-Syadzili mengajarkan para muridnya untuk mengusir was-was dan pikiran-pikiran buruk. Ia mengatakan kepada mereka, ‘Siapa saja yang merasakan demikian, hendaknya ia sebelum memulai shalat dengan takbiratul ihram ia meletakkan tangan kanan pada dadanya dan sambil membaca :
سبحان الملك القدوس الخلاق الفعال ( ٣× ) ان يشاء يذهبكم وياءت بخلق جديد وما ذالك على الله بغزيز ( ٧ × )
CARA MENGINGATKAN MAKMUM KEPADA IMAM YANG TULI DAN BUTA KARENA SEBAB LUPA DALAM RAKAAT SHALAT
Assalamualaikum.
Deskripsi Masalah Dalam shalat berjamaah seseorang yang buta dan tuli boleh menjadi imam, ketika seorang yang tuli dan buta boleh menjadi imam maka boleh juga seseorang bermakmum kepadanya, sebagaimana keterangan dalam kitab Syarkawi ‘Ala Tahrir Cet: Haramain Hal: 250
(فائدة) قال الأسنوي رجل يجوز كونه إماما لا مأموما وهو الأعمى الأصم يصح أن يكون إماما لاستقلاله بأفعاله لا مأموما إذ لا طريق له الى العلم بانتقالات الإمام الا ان كان بجنبه ثقة يعرفه بها
( Satu faidah) Syaik Asnawi berkata: Orang yang boleh menjadi imam tapi tidak boleh menjadi makmum adalah orang buta dan tuli. Orang buta dan tuli boleh menjadi imam karena imam tak perlu mengetahui keadaan shalatnya makmum.. Namun orang buta dan tuli tidak boleh menjadi makmum shalat karena makmum dituntut untuk tahu gerakan imamnya, kecuali di sampingnya ada orang yang dapat dipercaya yang memberi tahu padanya tentang gerak-geriknya imam. Namun yang menjadi musykil bagi kami adalah, jika seseorang bermakmun kepada orang tuli kemudian ditengah-tengah shalat imam yang tuli atau buta tersebut lupa.
Bagaimana cara mengingatkan imam yang lupa sebagaimana deskripsi ?
Waalaikum salam. Jawaban. Menurut keterangan hadits, jika imam lupa, maka makmum harus mengingatkan imam, dengan ucapan subhanallah, dan dalam hadits sifatnya umum tidak menyebutkan imam orang yang mendengar ataupun orang tuli, bahkan boleh makmum mengucapkan subhanallah ketika mengingatkan orang yang buta hampir memasuki sumur artinya makmum tetap punya hak untuk mengingatkan, jika makmum sudah mengingatkan tapi imam tidak menghiraukan ( ini dapat difahami tidak menghiraukannya imam kepada peringatan makmum karena tidak mendengar, ini sama dengan orang tuli, karena yang tahu gerak giriknya imam adalah makmum, maka dalam kondisi yang sedemikian makmum tidak boleh mengikuti imam, akan tetapi mufaroqoh atau menunggu imam menurut qoul mu’tamad
Referensi
موسوعة الحديث النبوية
عن أبي هريرة رضي الله عنه مرفوعًا: «التَّسْبِيحُ للرجال، والتَّصْفِيق للنساء». [صحيح] – [متفق عليه] الشرح معنى الحديث: “التَّسْبِيحُ للرجال، والتَّصْفِيق للنساء”، وفي رواية لمسلم: (في الصلاة ) والمعنى: أن مَن نَابه شيء في الصلاة، يقتضي إعلامَ غيره بشيء، مِن تنبيه إمامه على خَلَلٍ في الصَّلاة، أو رؤية أعمى يقع في بئر، أو استئذان داخل، أو كون المصلِّي يريد إعلامَ غيره بأمر -فإنَّهُ في هذه الأحوال وأمثالها يسبح، فيقول : “سبحان الله”؛ لإفهام ما يُريد التنبيهَ عليه، وهذا في حق الرَّجل، أما المرأة إذا نَابها شيء في صلاتها، فإنها تُصَفِّق، وكيفيته: أن تَضرب إحدى يديها بالأخرى بأي طريقة، وكل هذا إبعاد للصَّلاة عمَّا ليس منها مِنَ الأقوال؛ لأنَّهَا موضعُ مُنَاجَاة مع الله سبحانه وتعالى ، فلمَّا دَعت الحاجةُ إلى الكلام، شُرِعَ ما هو مِن جِنْسِ أقوال الصلاة، وهو التَّسبيح.
Referensi:
اَلْمَجْمُوْعُ شَرْحُ الْمُهَذَّبِ (4/ 238) وَاِنْ سَهَا الْاِمَامُ فيِ صَلَاتِهِ فان كان في قراءة فتح عليه المأموم لما روى أنس قال ” كان أصحاب رسول الله صلى الله عليه وسلم يلقن بعضهم بعضا في الصلاة ” وإن كان في ذكر غيره جهر به المأموم ليسمعه فيقوله وَإِنْ سَهَا فِيْ فِعْلٍ سَبَّحَ بِهِ لِيُعْلِمَهُ فان لم يقع للامام أنه سها لم يعمل بقول المأموم لان من شك في فعل نفسه لم يرجع فيه الي قول غيره كالحاكم إذا نسى حكما حكم به فشهد شاهدان أنه حكم به وهو لا يذكره وَأَمَّا الْمَأْمُوْمُ فَيُنْظَرُ فِيْهِ فَاِنْ كَانَ سَهْوُ اْلِامَامِ فِيْ تَرْكِ فَرْضٍ مِثْلُ أَنْ يَقْعُدَ وَفَرْضُهُ أَنْ يَقُوْمَ أَوْ يَقُوْمَ وَفَرْضُهُ أَنْ يَقْعُدُ لَمْ يُتَابِعْهُ لِاَنَّهُ اِنَّمَا يَلْزَمُهُ مُتَابَعَتُهُ فِيْ أَفْعَالِ الصَّلَاةِ وَمَا يَأْتِي بِهِ لَيْسَ مِنْ أَفْعَالِ الصَّلاَةِ
Artinya: Jika Imam lupa di dalam bacaan shalat, maka makmum mengingatkannya ,dan jika lupa dalam gerakan maka makmum mengingatkannya dengan membaca tasbih, dan bagi makmum yang imamnya lupa dalam gerakan fardhunya, maka harus mufaroqoh (tidak boleh mengikuti imam).
Artinya: Ketika imam menambah satu rakaat maka makmum tidak boleh mengikutinya walaupun makmum masbuq atau ragu dalam hitungan rakaat akan tetapi harus mufaroqoh dan salam atau menunggunya menurut qoul mu’tamad.
Sebaiknya makmum mengingatkan imam, jika imam tidak menghiraukan maka makmum tidak boleh mengikuti Imam akan tetapi mufaroqoh atau menunggu Imam dalam posisi berdiri.
Referensi:
بُغْيَةُ الْمُسْتَرْشِدِيْنِ :ص:٥٧ ( مسألة : ك) : قام الإمام بعد السجدة الأولى انتظره المأموم في السجود لعله يتذكر ، لا في الجلوس بين السجدتين لأنه ركن قصير أو فارقه وهو أولى هنا ، ولا تجوز متابعته ، وَلَوْ تَشَهَّدَ الْإمَامُ فِيْ ثَالِثَةِ الرُّبَاعِيَّةِ سَاهِياً فَارَقَهُ الْمَأْمُوْمُ أَوِ انْتَظَرَهُ فِي الْقِيَامِ ، وأفتى الشهاب الرملي بوجوب المفارقة مطلقاً ، وجوّز سم انتظاره قائماً ، وجوز ابن حجر في الفتاوى متابعته إن لم يعلم خطأه بتيقنه أنها ثالثة
Artinya: Ketika imam melakukan tasyahud dalam keadaan lupa pada rakaat ketiga di dalam shalat yang jumlah rakaatnya empat, maka makmum harus memisahkan diri atau menunggunya dengan cara berdiri. Wallahu A’lam bisshowab
HUKUMNYA BERMAKMUM PADA ORANG YANG BISU BUTA DAN TULI DALAM SHALAT
Dalam masyarakat, terkadang kita menemukan orang yang tidak mendengar atau tuli, bahkan ada yang bisu, dalam kondisi yang sedemikian tumbuh dalam benak kita bahwa orang yang tuli adalah orang yang kurang pendengarannya, begitu juga orang yang buta orang yang tidak melihat tentunya dikarenakan banyak hal. Dalam ilmu kedokteran Tuli, disebut tunarungu atau gangguan kesehatan adalah kondisi fisik yang ditandai dengan penurunan atau ketidakmampuan seseorang untuk mendengarkan suara. kondisi ini bisa saja menimpa seseorang tanpa memandang usia, tua muda, laki laki perempuan dan juga kaya miskin, namun yang menjadi musykil bagi saya adalah orang tersebut melakukan,shalat dan terkadang juga menjadi Imam.
Pertanyaannya .
Bagaimana hukumnya orang yang buta sekaligus tuli dan bisu melakukan shalat, bahkan menjadi imam ?
Bagaimana hukumnya orang bermakmum kepada orang yang tuli dan buta atau bisu..
Jawaban:
Jika orang yang buta dan tuli bahkan bisu yang diciptakan oleh Allah dalam keadaan asli sejak lahir maka tidak wajib melakukan shalat . Alasannya karena orang tersebut tidak terkena taklif(tidak terkena kewajiban melaksanakan syariat Islam ) Seperti melaksanakan sholat, dll.
“Berbeda hukumnya bagi orang yang mengalami tunanetra dan tunarungu setelah mengetahui (hukum-hukum syara’) maka sesungguhnya ia mukallaf (diwajibkan shalat),”Hal ini ditekankan oleh Syekh Nawawi Al-Bantani dalam Nihayatuz Zain fi Irsyadil Mubtadiin, Beirut, Darul Fikr, halaman 9).
بِخِلَاف من طَرَأَ عَلَيْهِ ذَلِك بعد الْمعرفَة فَإِنَّهُ مُكَلّف
Begitu juga jika Tuli dan buta bahkan bisu setelah tamyis maka dalam ha ini wajib melakukan shalat, Hal ini juga diperkuat oleh pendapat Al-Bujairimi dalam Syarah Al-Bujairimi alal Khatib:
Artinya, “Adapun jika kondisi (tunanetra dan tunarungu) itu datang setelah tamyiz,walaupun menjelang baligh dan telah mengetahui hukum (permasalahan) sholat, maka yang bersangkutan terkena kewajiban,” ( Lihat Sulaiman bin Muhammad Al-Bujairami, Al-Bujairami ala Syarhil Khatib, Beirut, Darul Fikr, 1995, halaman 408). Lalu bagaimana jika kecacatan yang ia alami terjadi sejak lahir?
Syekh Nawawi dalam Syarah Kasyifatus Saja menjelaskan bahwa orang tunanetra dan sekaligus tunarungu tidak wajib shalat.
فلا تجب الصلاة علي من خلق أصم أعمى ولو ناطقا
Artinya, “Tidak diwajibkan shalat bagi orang yang dari lahir mengalami tunanetra sekaligus tunarungu walaupun ia bisa berbicara,” (Lihat Muhammad bin Umar Al-Bantani, Kasyifatus Saja Syarah Safinatun Naja, Beirut, Daru Ibni Hazm, 2011 M, halaman 206). Dari penjelasan Syekh Nawawi di atas, secara umum dikatakan bahwa orang yang mengalami dua difabilitas tersebut tidak diwajibkan shalat.
Namun dalam kitabnya yang lain, Nihayatuz Zain, Syekh Nawawi Al-Bantani menjelaskan lebih rinci terkait alasan tidak diwajibkannya shalat bagi kaum tersebut.
وَمن نَشأ بشاهق جبل وَلم تبلغه دَعْوَة الْإِسْلَام غير مُكَلّف بِشَيْءوَكَذَا من خلق أعمى أَصمّ فَإِنَّهُ غير مُكَلّف بِشَيْء إِذْ لَا طَرِيق لَهُ إِلَى الْعلم بذلك وَلَو كَانَ ناطقا لِأَن النُّطْق بِمُجَرَّدِهِ لَا يكون طَرِيقا لمعْرِفَة الْأَحْكَام الشَّرْعِيَّة
Artinya, “Siapa yang tumbuh dan tinggal di puncak gunung dan orang tersebut tidak tersentuh dakwah Islam (karena tidak terjangkau), maka mereka tidak terkena hukum wajib. Begitu juga orang yang dilahirkanan dalam keadaan tunanetra dan tunarungu, mereka tidak terkena kewajiban karena tidak ada cara untuk menyampaikan dakwah kepadanya walaupun ia bisa berbicara karena mampu berbicara bukanlah cara untuk mengetahui hukum-hukum syara’,” (Lihat Muhammad bin Umar Al-Bantani, Nihayatuz Zain fi Irsyadil Mubtadiin, Beirut, Darul Fikr, halaman 9).
Dengan demikian bisa kita ambil kesimpulan bahwa sebenarnya yang menjadikan tunanetra dan tunarungu tidak diwajibkan shalat adalah ketidakmampuannya dalam menerima dakwah lantaran difabilitas yang dialaminya. Jika ada metode atau cara lain yang mampu mengenalkan dakwah kepada penyandang difabilitas ini maka ia tetap mukallaf.
Lalu bagaimana jika keduanya orang yang buta dan tuli menjadi Imam shalat, atau orang lain bermakmum kepada salah satu diantara keduanya atau bermakmun kepada orang yang bisu ? Maka dalam hal ini ditafsil. 🅰️.Sah shalatnya orang yang bermakmum kepada orang yang tuli dan buta, karena orang yang buta dan tuli boleh menjadi imam, kebolehan orang tuli dan buta menjadi imam dikarenakan imam tidak dituntut untuk mengetahui shalatnya makmum .Namun tidak boleh orang yang tuli dan buta menjadi makmum , alasannya karena makmum dituntut untuk mengetahui gerakan imamnya, kecuali disampingnya ada orang yang dapat dipercaya untuk memberi tahu padanya tentang gerak-gerik imam.
🅱️Tidak sah orang bermakmum kepada orang bisu, alasannya karena orang yang menjadi imam dituntut untuk bisa membaca. Dengan kata lain orang bisu boleh menjadi makmum, namun tidak boleh menjadi Imam, karena tidak boleh menjadi imam maka hukumnya bermakmum pada orang bisu tidak sah.
Dengan demikian bahwa, hukumnya orang bermakmum kepada orang yang bisu tidak sah, sedangkan bermakmum kepada orang yang buta dan tuli hukumnya sah.
Dan demikian juga halnya orang yang tercipta dalam keadaan buta tuli, sungguh dia tidak tertuntut dengan apapun karena tidak ada solusi ( jalan keluar ) baginya untuk mengerti hal itu (dakwah Islam) meskipun dia bisa bicara. Karena bisa bicara saja itu bukanlah jalan untuk mengetahui hukum-hukum syari’at.
(فائدة) قال الأسنوي رجل يجوز كونه إماما لا مأموما وهو الأعمى الأصم يصح أن يكون إماما لاستقلاله بأفعاله لا مأموما إذ لا طريق له الى العلم بانتقالات الإمام الا ان كان بجنبه ثقة يعرفه بها
( Satu faidah) Orang yang boleh menjadi imam tapi tidak boleh menjadi makmum adalah orang buta dan tuli. Orang buta dan tuli boleh menjadi imam karena imam tak perlu mengetahui keadaan shalatnya makmum. Namun orang buta dan tuli tidak boleh menjadi makmum shalat karena makmum dituntut untuk tahu gerakan imamnya, kecuali di sampingnya ada orang yang dapat dipercaya yang memberi tahu padanya tentang gerak-gerik shalat imam.
Referensi kitab Hasyiyah al-Syarqawi berikut;
فإن كان احدهما أصليا دون الاخر صح اقتداء الاصلى بالطارئ دون عكسه . وان كان عارضين لم يصح اقتداء احدهما بالآخر على المعتمد ؛
Dalam kitab Bujairimi ‘ala al-Khatib disebutkan bahwa orang yang bisu tidak boleh bermakmum pada imam yang bisu. Hal ini sebagaimana disebutkan berikut;
وفى نهاية المحتاج : عدم صحة اقتداء أخرس بأخرس ولو عجز إمامه فى أثناء صلاته عن القراءة لخرس لزمه مفارقته بخلاف ما لو عجز عن القيام لأن اقتداء القائم بالقاعد صحيح
“Disebutkan dalam kitab Nihayatul Muhtaj mengenai orang bisu yang tidak sah mengikuti orang bisu. Karena itu, jika di pertengahan salat imamnya tidak bisa membaca karena bisu, maka wajib bagi makmum untuk memisahkan diri. Berbeda jika imam tidak mampu berdiri, karena orang yang mampu berdiri berjamaah pada orang yang duduk dihukumi sah.”
Deskripsi Masalah : Misteri kematian Menimpa seorang Fahmi bin Fauzan semasa dalam hidupnya dia berkeluarga 4 dan punya usaha pabrik gula putih ( gula pasir : red) entah persoalan apa kemudian dia meninggal ditemukan disimak belukar rerumputan dengan luka banyak goresan celurit , akhirnya Fahmi bin Fauzan dikuburkan, namun selang satu minggu pihak keluarga yang ke empat merasa tidak terima dengan kematiannya dengan alasan beberapa bukti goresan celurit, akhirnya dia menuntut kepada pihak keamanan ( kepolisian) untuk dibongkar dengan tujuan untuk di outopsi.
Studi kasus yang serupa
Susanti adalah seorang mahasiswi jurusan kedokteran, yang mana dia telah sampai pada proses praktek sehingga dia harus melalui bukti nyata, dengan demikian dia tidak boleh tidak harus membongkar kuburan untuk Outopsi
Pertanyaannya
Bagaimana hukumnya Outopsi sebagaimana deskripsi
Waalaikum salam. Jawaban. Diperbolehkan menggali kembali kubur dengan tujuan tertentu (dhorurot/hajat) untuk mengetahui sebab kematian atau praktek kedokteran .
Referensi:
(الفقه الاسلامى.ج ٣ ص٥٢١-٥٢٢)
واجاز الشافعية شق بطن الميت لاخراج ولدها الى ان قال يجوز التشريح عند الضرورة او الحاجة بقصد التعليم لاغراض طبية او لمعرفة سبب الوفاة واثبات الجناية على المتهم بالقتل ونحو ذلك لاغراض جناية اذا توقف عليها الوصول الى الحق فى امر الجنا ية الى ان قال وعلى كل حال ينبغى عدم التوسع فى التشريح لمعرفة وظائف الاعضاء وتحقيق الجنا يات والاقتصار على قدر الضرورة او الحاجة. والله تعالى أعلم
Assalamualaikum. Deskripsi masalah. Katakanlah nama samarannya Hamidatussholihah, dia biasa jualan kaldu kekel sapi setelah dibasuh kememudian dimasak ternyata setelah mau disantap(makan) oleh pembeli katakan Sunartan seorang hobi makan kaldu kekel , ternyata ada sisa darah didalam daging dan tulangnya.
Pertanyaannya.
Bagaimana hukumnya sisa darah pada daging dan tulang sebagaimana deskripsi?
Waalaikum salam Jawaban.
Hukumnya darah yang tersisa dalam daging dan tulang saat dimasak ada dua pendapat.
Pertama: Suci karena kejadiaan tersebut pernah terjadi pada zaman Rosululloh SAW ketika siti A’isyah memasak daging dalam panci lalu muncullah warna kuning-kuning dari darah, namun pada waktu itu Rosulullah SAW tidak mencegahnya bahkan Nabi Muhammad SAW memakannya.
Kedua : Hukumnya dima’fu ‘anhu (dimaafkan) dengan pertimbangan karena darah tersebut merupakan darah yang mengalir hanya saja tidak mengalir karena sedikit.Dengan demikian maka dari dua pendapat ada titik persamaan yakni sama sama menghukumi boleh dikonsumsi ( dimakan) Wallahu A’lamubisshowab.
( مغنى المحتاج ص112 جز 1)
واما الدم الباقى على اللحم وعظامه فقيل أنه طاهر وهو قضية كلام المصنف في المجموع وجرى عليه السبكى ويدل له من السنة قول عائشة رضى الله عنها ” كنا نطبخ البرمة على عهد رسول الله صلى الله عليه وسلم تعلوها للصفرة من الدم فنأكل ” وظاهر كلام الحليمى وجماعة أنه نجس معفو عنه وهذا هو الظاهر لأنه دم مسفوح وان لم يسل لقلته ولاينافيه ما تقدم من السنة.