logo mubaa
Logo Ittihad

DEWAN PIMPINAN PUSAT
IKATAN ALUMNI BATA-BATA

HINDARKAN DIRIMU UNTUK MENJADI ABU SYIBR(BAPAK SATU JENGKAL )

HINDARKAN DIRIMU UNTUK MENJADI “ABU SYIBR (BAPAK SATU JENGKAL)

Assalamualaikum

Sail : Kiyai Ahmad Suyuthi

Deskripsi masalah

Mencari ilmu merupakan suatu kewajiban bagi setiap muslim dan muslimah baik yang berkaitan hakkullah maupun hakkunnas dikatakan ” أطلبوا العلم من المهد إلى اللحد” Tuntulah ilmu mulai dari buaian hingga liang Lahat , karena dengan ilmu manusia dapat mengetahui dan menyelesaikan sesuatu dengan baik dan sempurna, karena ilmu merupakan suatu sifat yang dapat dijadikan sarana menuju kearah terang dan jelas bagi orang yang memilikinya, Namun demikian terkang orang merasa sombong dengan ilmunya terkait dengan hal tersebut kami timbul pertanyaan melalui salah satu maqolah ulama’ berikut:

العلم ثلاثة أشبار فمن دخل فى الشبر الأول تكبر ومن دخل فى الشبر الثاني تواضع ومن دخل فى الشبر الثالث علم أنه ما يعلم

Pertanyaannya
Apa maksud dari pembagian ilmu diatas..?

Waalaikum salam.

Jawaban

Maksud dari maqolah sebagaimana tersebut , bahwa Orang yang baru belajar biasanya lebih sombong dari orang yang sudah belajar bertahun-tahun dan lebih banyak membaca baik yang tertulis maupun yang tidak tertulis. Hal seperti ini bukanlah isapan jempol. Seorang tabiin terkemuka, Imam as-Sya’bi (w. 104 H) pernah mengatakan demikian.
Ciri-ciri orang yang baru belajar ilmu, ilmu apapun, baik ilmu agama atau ilmu yang lain adalah sombong dan merasa diri paling faham atau mengerti ilmu tersebut. Kesombongan ini dilarang, kalau dalam ilmu tasawwuf biasanya terkadang masih masuk pada tingkatan maqom syariat sebagaimana kisah Nabi Musa dan Nabi Hidir.

Adapun asal usul terjadinya pertemuan antara Nabi Musa dan Nabi Hidir disebabkan oleh salah satu kaum Bani Israil ( Kaumnya Nabi Musa ) , ketika Nabi Musa selesai berkhatbah kepada kaumnya hingga meniteskan air mata dan menakutkan hati ( hati gemetar ) lalu seorang laki-laki mengegikuti Nabi Musa dan bertanya kepada Nabi Musa, Wahai Nabi Musa apakah ada disini ( dimuka bumi ) ini orang yang lebih Alim dari kamu , maka Nabi Musa menjawabnya ” Tidak ada orang yang lebih Alim dimuka bumi selain Aku” ( kata Nabi Musa ) maka akibat jawaban itu, Allah menegurnya ( menyalahkannya ) karena ilmunya yang tidak akan kembali kepadanya melalui firman-Nya, Ya “Sesungguhnya, Aku memiliki seorang hamba di pertemuan dua samudera yang lebih alim darimu.”Nabi Musa menjadi penasaran, “Wahai Tuhanku, bagaimana aku bisa bertemu dengannya?” Allah menjelaskan, “Bawalah olehmu seekor ikan. Lalu simpan dalam keranjang. Di mana ikan itu menghilang, di sanalah hamba itu berada.”Hamba dimaksud tak lain adalah Nabi Khidir alaihis salam Hidir adalah sebuah Nama Laqob gelar ( Jejuluk : Red ) karena ketika Nabi hidir duduk didasar bumi maka seketika itu disekitarnya menjadi biru sedangkan Alami isimnya adalah Balyan Ibnu Malkan sedangkan Alami Kunniyahnya adalah Abul Abbas .Singkat kisah, Ketika Nabi Musa bertemu dengan Nabi Hidir ( maqom ilmu hakikat ) sesuai petunjuk Allah, maka mereka berdua berjalan, ketika Hidir berada diperahu/kapal dengan ” ilmu laduninnya atau mukasyafah “yang jauh dari nalar maqom Syariat Nabi Musa, maka dia ( Hidir ) membolong nya (melubanginya), kemudian ketika keduanya bertemu dengan anak kecil Nabi Hidir membunuhnya, demikian juga Nabi Hidir menegakkan rumah/bangunan atau dingding yang hampir roboh, semua kejadian apa yang dilakukan Nabi Hidir selalu diprotes oleh Nabi Musa karena menurutnya salah secara syariat. Oleh karenanya Perdebatan-perdebatan terkait keilmuan apapun itu selalu diisi oleh orang-orang yang baru belajar sebagaimana Nabi Musa yang ingin belajar kepada Nabi Hidir ( lihat kisah Nabi Hidir dan Nabi Musa Q.S al-Kahfi: ayat: 65 dan dalam kitab Shahih bukhariy ). Begitu juga hal yang terjadi pada kisah Nabi Sulaiman setelah diberi kekuasaan yang luas didunia ( diberi pemahaman berbicara dengan semua makhluk dan kekayaan ) sehingga ia dapat memerintah manusia, jin, binatang-binatang, burung-burung dan angin, dia merasa dirinya ” besar ” dan minta idzin dari Allah agar ia diberi kekuasaan membagi rezki kepada hamba dan makhluknya selama setahun. Allah menjawab: ” Engkau tidak dapat melakukan, tetapi Aku mengizinkan agar engkau mencoba”. Lalu Nabi Sulaiman memerintahkan semua bangsa manusia dan jin berkumpul dan memasak serta menyiapkan segala sesuatu selama empat puluh hari, kemudian disiapkannya hidangan disuatu sahara yang luas. Hidangan yang mana panjangnya sepanjang perjalanan satu bulan dan demikian pula lebarnya. Setelah segala sesuatunya siap, maka Allah bertanya kepada Nabi Sulaiman lewat wahyunya;” Dengan siapa engkau memulai..? Sulaiman menjawab : dengan penghuni darat dan laut”. Kemudian Allah memerintahkan seekor ikan laut yang besar dari ikan-ikan penghuni lautan luas mengunjungi hidangan Nabi Sulaiman dalam sekejab mata, ikan laut itu telah menelan habis semua yang ada diatas hidangan, seraya berkata pada Nabi Sulaiman :” Aku masih lapar” berilah makan untukku. Tuhan telah membebankan rezkiku diatas pundakmu hari ini”. ” Belumkah merasa kenyang dan puas setelah engkau telah habiskan apa yang ada didepanmu ini.. .? Bertanya Nabi Sulaiman. ” Belum” Jawab Ikan. Maka Nabi Sulaiman bersud dan berkata;” Maha besar Tuhan yang telah menyediakan rezki bagi setiap makhluknya dengan tanpa ia rasa dan mengetahui. ( Badiul-Asrar disebutkan dalam kitab Dzurratunnashihin.juz 2 hal 212-213).

Dari kisah diatas dapat diampil pelajaran bagi kita walaupun sebenarnya kisah tersebut sebuah ujian, agar kita tidak merasa paling Alim karena diatas langit masih ada langit, Oleh karenanya perlu kehati-hatian hindari hal-hal yang dapat mendorong pada sifat takabbur atau sombong dengan bermuhasabah merenungi qaul ulama sebagaimana kutipan berikut:

إياك وحلم ( اليقظة)، ومنه بأن تدعي العلم لما لم تعلم، أو إتقان ما لم تتقن فإن فعلت، فهو حجاب كثيف عن العلم.

Jauhkanlah dirimu dari berangan-angan, bermimpi dalam keadaan sadar, yaitu engkau mendaku memiliki ilmu pada perkara yang engkau sadari tidak memiliki ilmu tentangnya, mendaku telah menjadi seorang yang profesional padahal engkau bukanlah seorang yang profesional. Jika engkau telah melakukannya, maka sesungguhnya hal itulah yang akan menjadi hijab tebal yang menghalangimu dari memperoleh ilmu.

Penjelasan .

Redakdasi Ini adalah benar hendaknya engkau berhati-hati untuk tidak berpura-pura ahli ilmu. Misalnya engkau menganggap bahwa engkau menguasai suatu ilmu, padahal engkau tidak menguasainya, atau engkau menganggap dirimu ahli dalam satu bidang, padahal engkau belum meyakinkannya, jika engkau melakukannya, maka hal itu akan menjadi hijab yang sangat tebal dari datangnya cahaya ilmu, karena berapa banyak manusia tergesa-gesa.Terkadang sebagian manusia ingin memperlihatkan kepada para hadirin bahwa dia berilmu, bahwa ia adalah seorang Alim yang sangat ahli .Engkau bisa melihat misalnya, Saat ditanya suatu permasalahan, dia diam sejenak seakan-akan ia merenung dan berfikir mengenai rahasia-rahasia yang akan menjadi jawabannya, kemudian dia mengangkat kepalanya dan berkata ” dalam masalah ini ada dua pendapat menurut ulama” baiklah apa kata ulama itu..? bisa saja dia menjawab dengan jawaban terlintas begitu saja didalam benaknya atau ia akan berkata” Masalah ini memerlukan perenungan ulang”.

Demikianlah.Yang penting engkau mengklain mengetahui sesuatu dan jangan menganggap dirimu sebagai seorang alim yang dapat memberikan fatwa, padahal engkau belum memiliki pengetahuan

Mengenai hal itu adalah suatu kebohongan yang menyia-nyiakan akal dan kesesatan didalam agama. Karena itu Syaikh Bakar berkata; Jika engkau melakukannya maka hal itu akan menjadi hijab yang sangat tebal dari datangnya cahaya ilmu.Karena jika manusia sudah bertingkah seperti itu ia akan berkata” Sudah, aku sekarang sudah menjadi orang yang alim aku tidak perlu lagi menuntut ilmu , dengan demikian ia telah menutup dirinya dari ilmu karena keyakinannya yang keliru.

احذر أن تكون “أبا شبر”
فقد قيل: العلم ثلاثة أشبار، من دخل في الشبر الأول، تكبر ومن دخل في الشبر الثانى، تواضع ومن دخل في الشبر الثالث، علم أنه ما يعلم.

Hindarkan dirimu untuk menjadi “Abu Syibr(bapak satu jengkal)”.“ 
Sungguh telah dikatakan oleh sebagian ulama: Ilmu itu tiga jengkal. Siapa yang berada di jengkal pertama ia merasa jumawa. Siapa yang sampai di jengkal kedua ia akan lebih rendah hati. Dan siapa yang sampai di jengkal ketiga ia yakin bahwa ia tidak tahu apa-apa.”

Penjelasan

Ibarah di atas menggunakan qila (sighat tamridh), yaitu tidak disebutkan nama ulama yang menyebutkannya. Namun ada yang menyebut bahwa qaul tersebut adalah perkataan Imam as-Sya’bi. Pasalnya dalam kitab yang lain (ad-Dar al-Farid) disebutkan qaul dengan substansi yang sama seperti berikut:


قَالَ الشَّعْبِيُّ: العِلْمُ ثَلَاثةَ أَشْبارٍ، فَمَنْ نَالَ مِنْهُ شِبْرًا شَمَخَ بِأنْفِهِ فصار أَنَّهُ نَالَهُ وَمَنْ نَالَ مِنْهُ الشِّبْرَ الثَّانِي صَغُرَتْ إِلَيْهِ نَفْسُهُ … أَنَّهُ أَنَّهُ وَأَمَّا الشِّبْرُ الثَّالِثُ فَهَيْهَاتَ لا يَنَالُهُ أَحَدٌ أَبَدًا.

Artinya, “Imam as-Sya’bi berkata: Ilmu itu ada tiga tingkatan. Orang yang baru mendapatkan satu tingkatan akan merasa dirinya agung dan seolah-olah dia telah mendapatkan semua ilmu tersebut. Sedangkan ketika sudah mendapatkan dua tingkat, maka ia akan merasa dirinya kecil. Ketika sudah mencapai tingkatan ketiga, maka ia merasa bahwa ia tak mungkin mendapatkan satu pun ilmu selamanya.”
Itu lah ajaran para ulama terdahulu. Kita perlu introspeksi diri kita. Jangan-jangan kita masih termasuk golongan yang baru meraih tingkatan pertama, kenapa sombong..? karena dia belum mengetahui dirinya dan hakikatnya. Kalau dalam ilmu tasawwuf ini masuk pada tingkatan maqom Syariat.oleh karena nya penting seseorang agar mengenali dirinya.Dikatakan Oleh ahli tashowwuf.

من عرف نفسه فقد عرف ربه ومن عرف ربه كل لسانه


Barang siapa yang mengetahui terhadap dirinya maka ia akan mengetahui terhadap tuhannya dan barang siapa yang mengetahui/mengenali Tuhannya maka menjadi kelu/tumpul atau lelah lisannya. Maksudnya tidak banyak bicara melainkan banyak dzikir sehingga menjadi kelu lisannya.

Didalam al-Fatawa an-Nawawi disebutkan :
“Masalah pada hadits dari Nabi SAW tersebut : Apakah hadits ini tsabit atau tidak ? dan apa maknanya?”. Jawab : “Hadits itu tidak tsabit. Seandaipun tsabit, maknanya adalah barang siapa yang mengenal dirinya dengan sifat dha’if, berhajad kepada Allah Ta’ala dan ber’ubudiyah kepada-Nya, maka akan mengenal tuhannya dengan sifat Kuasa, Perkasa, Rububiyah, Sempurna Mutlaq dan sifat-sifat yang tinggi. Dan barang siapa yang mengenal tuhan dengan demikian, maka kelu lidahnya dari sampai kepada hakikat syukur dan puji’, dzikir kepada tuhannya, sebagaimana tersebut dalam hadits Shahih Muslim dan lainnya, sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda : “Maha Suci Engkau Ya Allah, tidak dapat aku hitung pujian atas-Mu sebagaimana pujian-Mu atas diri-Mu”

Orang yang memasuki tingkatan kedua dia bersikap tawadhu’ ketika bertambah ilmu ia merasa tidak tahu,( bodoh) karena ia memahami bahwa Hakikat yang Alim adalah Allah, yang Maha Mengetahui dan hakikat pemberi pengetahuan adalah Allah. Sebagaimana kisah Nabi Hidir dan Nabi Musa ketika mereka menaiki kapal keduanya melihat seekor burung yang hinggap di pinggir kapal. Lalu sang burung meminum sedikit air laut dengan paruhnya. Nabi Khidir berbisik kepada Nabi Musa, “Demi Allah, tidaklah ilmuku dan ilmumu di sisi Allah kecuali seperti air laut yang diambil burung itu dengan paruhnya.”  hal ini sesuai dengan firman Allah SWT.


وماأوتيتم من العلم إلا قليلا


Dan tidak Aku berikan kepadamu sekalian ilmu pengetahuan terkecuali hanyalah sedikit
Dalam ayat yang lain Allah berfirman;

قال إني أعلم مالاتعلمون

Artinya:” Allah berfirman sesungguhnya Aku lebih mengetahui terhadap sesuatu apa yang tidak kamu ketahui.

Dalil anjuran Tawadhu’ sebagaimana Hadits :

قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: {مَنْ تَوَاضَعَ لِلهِ رَفَعَهُ اللهُ وَمَنْ تَكَّبَرَ وَضَعَهُ اللهُ}.


Artinya: “Nabi SAW bersabda: ‘Barang siapa yang tawadhu’ (rendah hati) karena Allah, maka Allah akan mengangkat (derajat) nya (di dunia dan akhirat). Dan siapa yang sombong maka Allah akan merendahkannya.” (HR Imam Ibnu Majah dan Imam Abu Nu’aim).

Dalam riwayat lain disebutkan:

وَمَا تَوَاضَعَ أَحَدٌ لِلَّهِ إِلَّا رَفَعَهُ اللَّهُ


Artinya: “Tidaklah seseorang memiliki sifat tawadhu’ (rendah hati) karena Allah, melainkan Allah akan meninggikannya.” (HR Muslim)

Disebutkan dalam sebuah syair:

ﺗﻮﺍﺿﻊ ﺗﻜﻦ ﻛﺎﻟﻨﺠﻢ ﻻﺡ ﻟﻨﺎﻇﺮﻩ 🔅ﻋﻠﻰ ﺻﻔﺤﺎﺕ ﺍﻟﻤﺎﺀ ﻭﻫﻮ ﺭﻓﻴﻊ
ﻭﻻ ﺗﻜﻦ ﻛﺎﻟﺪﺧﺎﻥ ﻳﻌﻠﻮ ﺑﻨﻔﺴﻪ🔅 ﺍﻟﻰ ﻃﺒﻘﺎﺕ ﺍﻟﺠﻮ ﻭﻫﻮ ﻭﺿﻴﻊ

Tawadu’lah,niscaya engkau akan seperti bintang yang mau merendah di atas air,🔅padahal dia sangat tinggi.
Dan janganlah kamu seperti asap yang selalu mengangkat dirinya tinggi di langit,🔅padahal dia sama sekali tidak berharga.
Bintang itu selalu bersinar, gemerlang apa yang dapat dilihat oleh mata yg memandangnya kendati jauh tinggi diatas tapi dia mau ada dibawahmu kalau kamu mau berdiri diatas sungai yg jernih lihatlah bintang itu, diatasmu atau dibawahmu??? tapi sebenarnya dia ada diatas ditempat yg sangat tinggi.
Begitulah orang yg TAWADU’…,dia sederhana tapi tinggi dan dekat disisi Allah SWT.
Janganlah kamu bersifat seperti asap, dia slalu mengangkat dirinya sendiri. Pernahkah antum melihat asap ketika merokok atau membakar sampah asapnya kebawah??? Maka jawabannya tidak kebawah melainkan keatas karena asap itu semakin tinggi dan semakin tinggi keatas dan itu asap tidak berharga. Begitulah sebuah gambaran sifat takabbur , oleh karenanya janganlah kita bersikap, bersifat dan berwatak seperti asap karena asap itu menggangu pernapasan kita dan menjadi polusi bagi lingkungan.

Kemudian tingkatan yang ketiga dia melihat dan memahami bahwa dirinya bodoh dan mengetahui bahwa dirinya bodoh (hakikat bodoh) karena itu dia pernah berlaku takabbur . Akan tetapi apakah tingkatan terakhir ini terpuji atau tidak .. ? Yaitu melihat dirimu sendiri sebagai orang bodoh, jika kamu melihat dirimu sebagai orang bodoh maka engkau tidak akan pernah berazam untuk menduduki jabatan fatwa misalnya.

Hati-hatilah janganlah engkau menampilkan dirimu didepan publik sebelum benar-benar menjadi ahli, karena itu adalah salah satu kecacatan ilmu dan amal .Dikatakan dalam sebuah pepatah ” Barang siapa yang menampilkan diri sebelum waktunya maka ia telah menyongsong kehinaan.

التصدر قبل التأهل:
احذر التصدر قبل التأهل، هو آفة في العلم والعمل.
وقد قيل: من تصدر قبل أوانه، فقد تصدى لهوانه.

Hindarkan dirimu dari menyampaikan ilmu sebelum menjadi ahlinya, karena ia merupakan cela pada ilmu dan amal. Dikatakan bahwa siapa yang menyampaikan ilmu sebelum waktunya, maka ia telah menjatuhkan dirinya dalam kehinaan.

Penjelasan

Pertama; sikap ucup terhadap dirinya sendiri, dimana ia menampilkan dirinya karena memang melihat dirinya sebagai seorang yang alim dalam berbagai macam bidang ilmu.

Kedua: hal itu justru akan menyingkap kekurangannya, dan ketidak mapanan ilmunya. Karena, jika menampilkan dirinya didepan umum, mungkin ia akan terjebak pada sebuah permasalahan dimana ia tidak bisa membebaskan diri darinya. Saat manusia telah melihatnya tampil didepan publik, maka mereka akan bertanya berbagai macam permasalahan yang mumkin saja menjelaskan kecacatannya.

Ketiga: Jika ia menampilkan diri sebelum Ahli, maka hal itu akan menggiringnya untuk berkata terhadap Allah apa yang ia tidak ketahui. Karena mayoritas orang-orang bertujuan seperti ini, ia tidak akan peduli apakah ia akan menghancurkan ilmu sehancur-hancurnya atau tidak.Ia akan menjawab semua pertanyaan yang diajukan kepadanya dan dia akan berkata seperti yang dikatakan orang-orang awam.

” قطة ولو مقطة أبيض”

apakah kalian mengetahui artinya? Yaitu engkau menebas dengan pisau, hingga tidak mengeluarkan setetes pun darah , saking kencangnya tebasan yang engkau lakukan.

Maksudnya, sebagian manusia berbuat seperti ini, ia berspikulasi dengan agamanya dan berkata kepada Allah tanpa haknya.

Kempat: Jika ia sudah menampilkan dirinya didepan publik, maka biasanya ia akan sulit menerima kebenaran, karena ia mengira dengan kebodohannya, bahwa jika tunduk kepada orang lain, meskipun orang itu jelas-jelas membawa kebenaran, maka itu bisa menjadi bukti bahwa dirinya bukan seorang ahli ilmu.

Yang penting, bahwa dalam hal ini mengandung berbagai macam bahaya yang sangat besar, Karena itu diriwayatkan dari Umar Radliyallaahu anhu, beliau berkata ” Jadilah kalian sebagai faqih sebelum kalian menduduki jabatan ” maksudnya, carilah ilmu dan pahamilah agama Allah, sebelum Allah menjadikan kalian sebagai pemimpin bagi manusia-manusia yang lain, karena pada saat manusia sudah menjadi pemimpin dan kemudian dikenal banyak orang,maka saat itu ia tidak lagi menjadi miliknya sendiri.  Dikatakan dalam pepatah ” Engkau memiliki dirimu sendiri selama engkau tidak dikenal. Saat engkau telah dikenal, maka engkau sudah bukan milikmu sendiri “.Ini hal yang dapat kita lihat dalam pengalaman hidup sehari-sehari. Manusia sebelum dikenal dan sebelum ia menduduki suatu  jabatan , engkau ia dapat memiliki waktu yang sangat luang ( longgar ) ia bisa mengerjakan berbagai macam kebutuhannya, menyelesaikan semua keperluan nya, akan tetapi,
Ketika ia sudah dikenal, maka ia adalah milik manusia umum, bukan miliknya sendiri .Baik , dengan demikian, ini adalah salah satu dari merbahaya ilmu. Dikatakan dalam pepatah ” Barang siapa yang menampilkan dirinya kedepan umum sebelum waktunya, maka sesungguhnya ia mengosongkan kehinaannya”.Ini adalah sebuah sajak yang sangat baik, dan didalamnya juga ada jinas akan tetapi jinas yang tidak sempurna. Ibnu Rajab dalam Qowaid al-fiqhiyahnya berkata:” Barang siapa yang menyegerakan sebelum waktunya, maka dia dihukum dengan tidak mendapat kannya .Karena itu jika seseorang membunuh orang yang berwasiat, maka patahlah wasiatnya. Maksudnya jika seseorang berwasiat misalnya, misalnya dengan berkata: Jika aku mati , maka berikanlah sifulan 10.000 dan sifulan yang diwasiati adalah orang yang sangat membutuhkan uang .Kemudian berlalulah waktu yang sangat lama , dan Allah berkenan untuk memperpanjangkan umur orang yang berwasiat, Lalu orang yang berwasiat itu berkata” sampai sekarang ia belum mati” Lalu ia tidak sabar dan pergi membunuhnya. Apakah ia berhak mendapatkan wasiat? Tidak , wasiat itu batal karena ia menyegerakan sesuatu sebelum waktunya, karena itu dia dihukum dengan tidak mendapat wasiatnya. Demikian juga dalam proses waris , salah satu penyebab batalnya hak waris adalah membunuh, karena ahli waris tidak akan membunuh orang yang mewarisi, kecuali karena ingin segera mendapatkan warisannya.

التنمر بالعلم:
احذر ما يتسلى به المفلسون من العلم، يراجع مسألة أو مسألتين، فإذا كان في مجلس فيه من يشار إليه، أثار البحث فيهما، ليظهر علمه! وكم في هذا من سوءة، أقلها أن يعلم أن الناس يعلمون حقيقته.

Berlagak memiliki ilmu yang tinggi.
Hindarkan dirimu dari sesuatu yang dijadikan hiburan oleh orang-orang yang bangkrut, yaitu orang-orang mengulang-ulangi satu atau dua masalah dalam rangka mempelajarinya, akan tetapi apabila dalam satu majelis ilmu ada seseorang yang terpandang, maka ia mulai melontarkan dua masalah tadi, untuk memperlihatkan ilmunya di hadapan manusia. Betapa banyak kerugian dari perbuatan keji ini, minimalnya adalah orang-orang akan mengetahui hakikat keburukan dirinya.

Penjelasan

Ini sama dengan yang sebelumnya, tanammur dengan ilmu , artinya seseorang menjadikan dirinya sebagai “Namir” apakah kalian tahu apa itu namir…? Namir adalah saudaranya asad ( macan ) misalnya seseorang datang menelaah suatu permasalahan dalam bidang ilmu , kemudian dia membahas dan mentahkiknya, dengan berbagai dalil , ia juga membaca diskusi dengan ulama mengenai hal itu kemudian saat ia menghadiri suatu majlis,dimana majlis itu diisi oleh ulama yang sudah terkenal, maka dia akan berkata, bagaimana pendapatmu tentang hal ini,? Jika sang alim menjawab haram, misalnya, maka ia akan berusaha bertanya lagi lalu bagaimana jawabannya mengenai Sabda Rasulullah SAW yang begini atau pendapat ulama Fulan yang begini..? Kemudian dia mendatangkan nama-nama orang ahli ilmu yang tidak diketahui oleh sang alim.
Bagaimanapun, seorang alim tidaklah harus mengetahui segala sesuatu .Semua itu ia lakukan agar tampak dirinya lebih tahu daripada si alim kerena itu kamu akan mendapati orang-orang awam akan membicarakannya, dan berkata :” Demi Allah si Fulan tadi malam duduk dengan Syaikh fulan yang merupakan salah satu ulama besar kemudian dia mengalahkan ya dengan permasalahan ini, Masyarakat mengetahui ia telah sampai pada tingkatan ilmu yang sangat tinggi, dan menjadi ulama yang paling besar, orang-orang awam itu memang tidak mengerti dalam hal seperti ini banyak sekali terjadi.
Banyak sekali yang menelaah suatu permasalahan dengan sangat teliti dan sangat baik hanya untuk menjatuhkan ulama dengan seperti ini, dan ini tidak ragu lagi seperti yang dikatakan oleh al-Bakar adalah sikap ” _Tanammur_Menjadikan dirinya sebagai macan , meskipun ia sebenarnya adalah seorang yang bangkrut ilmunya. Lalu bagaimana caranya untuk menyingkap kelemahan simacan( can-macanan), Maka kita katakan padanya, kesinilah cobalah tolong I’rob kanlah Syair ini, Ketika itulah akan terlihat jelas kecacatannya, atau suruhlan membagi permasalahan warisan Dzafil Furudl misalnya, maka saat itu akan terlihat jelas bahwa sesungguhnya dia tidak memiliki ilmu apapun.
Barang siapa yang memerangi dengan pisau , maka perangilah dengan dengan pedang, ini terjadi pada ulama’ sekarang , dan banyak dari para pelajar mengambil Spesialisasi dalam bidang tertentu.

موقفك من وهم من سبقك:
إذا ظفرت بوهم لعالم، فلا تفرح به للحط منه، ولكن افرح به لتصحيح المسألة فقط، فإن المنصف يكاد يجزم بأنه ما من إمام إلا وله أغلاط وأوهام لا سيما المكثرين منهم . وما يشغب بهذا ويفرح به للتنقص، إلا متعالم “يريد أن يطب زكاما فيحدث به جذاما


Sikapmu terhadap kesalahan para pendahulumu.
Jika telah nampak kesalahan seorang ulama, maka jangan engkau bahagia dengan kesalahannya agar engkau bisa merendahkan martabatnya. Hendaklah engkau berbahagia karena dapat membenarkan satu perkara di mana ia terjatuh pada satu kesalahan, itu saja. Sesungguhnya seorang yang adil akan memastikan bahwa tidaklah seorang imam itu melainkan pasti memiliki kesalahan-kesalahan apalagi mereka yang telah memiliki banyak karya diantara mereka. Siapa saja yang menyimpang dari jalan ini dan berbahagia dengannya untuk merendahkan martabat seorang alim, maka ia hanyalah seorang yang berlagak pandai. Ia ingin menyembuhkan sakit pilek namun justru malah membuat dirinya dan orang lain menderita penyakit kusta/lepra.


نعم، ينبه على خطأ أو وهم وقع لإمام غمر في بحر علمه وفضله، لكن لا يثير الرهج عليه بالتنقص منه والحط عليه فيغتر به من هو مثله


Benar, kesalahan seorang alim yang telah menyelam dalam lautan ilmu dan terkenal dengan kemuliannya tetap harus diluruskan, akan tetapi jangan sampai merendahkan dirinya karena kesalahan itu hingga membuat orang lain tertipu.


Referensi:

قصة موسى والخضر عليهما السلام .المؤلف أبو إسحاق الخويني ص.٢ – ٣ .
روى البخاري ومسلم وغيرهما من حديث سعيد بن جبير رحمه الله، قال: قيل لـ ابن عباس رضي الله عنهما: إن نوفل المثالي يزعم أن موسى الذي صاحب الخضر ليس هو موسى بني إسرائيل، قال ابن عباس: كذب عدو الله، حدثني أبي بن كعب عن النبي صلى الله عليه وآله وسلم قال: (خطب موسى في بني إسرائيل يوماً حتى ذرفت العيون ووجلت القلوب، فلما انصرف تبعه رجل، فقال: يا نبي الله! هل هناك أعلم منك في الأرض؟ قال: لا.
فعتب الله عز وجل عليه إذ لم يرجع العلم إليه، قال: بلى، إن لي عبداً في مجمع البحرين هو أعلم منك، قال موسى: أي رب! وكيف لي به؟ قال: خذ حوتاً واجعله في مشكل) وفي رواية: (قال: خذ نوناً ميتاً -والنون: هو الحوت، وإليه نسب يونس عليه السلام ((وَذَا النُّونِ إِذْ ذَهَبَ مُغَاضِبًا)) [الأنبياء:٨٧] ، فالنون هو الحوت، وكل سكان البحر يعد من الحيتان، فالسمك اسمه حوت، قال ابن عباس: اشتهيت حيتاناً، أي: أسماكاً- قال: خذ نوناً ميتاً واجعله في مشكل، فحيث فقدته فهو ثم -أي حيث فقدت هذا الحوت فالخضر هناك، فانطلقا، حتى إذا كانا ببقعة من الأرض قال موسى لفتاه: لا أكلفك كثيراً، أيقضني إذا رد الله الحياة في الحوت، قال: ما كلفت كثيراً، ثم إن الحوت ارتدت إليه الحياة وقفز في البحر، فأمسك الله عليه الماء وحبسه فلم يستطع أن يذهب.
فلما استيقظ موسى عليه السلام نسي غلامه أن يخبره أن الحوت قفز في الماء، فانطلقا بقية يومهما وليلتهما، فلما كانا من الغد قال موسى لفتاه: {آتِنَا غَدَاءَنَا لَقَدْ لَقِينَا مِنْ سَفَرِنَا هَذَا نَصَبًا} [الكهف:٦٢] ، تذكر الفتى أن الحوت المشوي الذي كانا سيتغديان به قفز في الماء، قال: {أَرَأَيْتَ إِذْ أَوَيْنَا إِلَى الصَّخْرَةِ فَإِنِّي نَسِيتُ الْحُوتَ وَمَا أَنْسَانِيهُ إِلَّا الشَّيْطَانُ أَنْ أَذْكُرَهُ} [الكهف:٦٣] {فَارْتَدَّا عَلَى آثَارِهِمَا قَصَصًا} [الكهف:٦٤] رجعا يقصان الآثار مرة أخرى.
فلما ذهبا إلى هناك وجدا عبداً مسجى ببردة خضراء تحت قدميه وتحت رأسه، كالذي يلتحف بلحاف فيجعله تحت رأسه وتحت قدميه، فسلم عليه موسى، فكشف عن وجهه، وقال: وهل بأرضي سلام؟ من أنت؟ قال: أنا موسى.
قال: أنت موسى بني إسرائيل؟ قال: نعم.
-هذا هو السؤال الذي من أجله قال ابن عباس: كذب عدو الله؛ لأن الخضر عليه السلام قال: أنت موسى بني إسرائيل؟ – قال: وما تريد؟ قال: أريد أن أتعلم.
قال: ((إِنَّكَ لَنْ تَسْتَطِيعَ مَعِيَ صَبْرًا)) [الكهف:٦٧] .
قال: {سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ صَابِرًا وَلا أَعْصِي لَكَ أَمْرًا} [الكهف:٦٩] .
فجاء عصفور فنثر من ماء البحر نثرة، فقال الخضر: يا موسى! إن مثل علمي وعلمك بجانب علم الله عز وجل كمثل الماء الذي أخذه هذا العصفور بمنقاره {فَإِنِ اتَّبَعْتَنِي فَلا تَسْأَلْنِي عَنْ شَيْءٍ حَتَّى أُحْدِثَ لَكَ مِنْهُ ذِكْرًا} [الكهف:٧٠] .
فانطلقا، ووقفا على شاطئ البحر، فمر مركب فأراد الخضر وموسى أن يركبا، فقال الغلمان: عبد الله الصالح لا نحمله بأجر، فعمد إلى مكان في السفينة فخلع منه لوحاً بقدوم ووضع مكانه خشبة، قال موسى: قوم حملونا بغير أجره تخلع لوحاً من سفينتهم لتغرق أهلها، لقد جئت شيئاً إمراً {قَالَ أَلَمْ أَقُلْ إِنَّكَ لَنْ تَسْتَطِيعَ مَعِيَ صَبْرًا} [الكهف:٧٢] ، قال النبي صلى الله عليه وآله وسلم: وكانت هذه من موسى نسياناً.
فلما نزلا من السفينة وجدا أُغيلمة يلعبون، فعمد الخضر إلى ولد وضيء جميل ذكي، فأخذه من رأسه وأضجعه على الأرض وذبحه بالسكين، فقال موسى: عمدت إلى نفس لم تعمل الحل فقتلتها بغير نفس، لقد جئت شيئاً نكراً، قال الخضر عليه السلام: ((أَلَمْ أَقُلْ إِنَّكَ لَنْ تَسْتَطِيعَ مَعِيَ صَبْرًا)) [الكهف:٧٢] ، قال النبي صلى الله عليه وسلم: وكانت هذه شرطاًَ) ؛ لأن موسى عليه السلام قال له: {إِنْ سَأَلْتُكَ عَنْ شَيْءٍ بَعْدَهَا فَلا تُصَاحِبْنِي قَدْ بَلَغْتَ مِنْ لَدُنِّي عُذْرًا} [الكهف:٧٦] وهناك فرق في التحذير بين المرة الأولى والثانية، ففي المرة الأولى قال له الخضر: {أَلَمْ أَقُلْ إِنَّكَ لَنْ تَسْتَطِيعَ مَعِيَ صَبْرًا} [الكهف:٧٢] ، وفي المرة الثانية قال له: {أَلَمْ أَقُلْ لَكَ إِنَّكَ لَنْ تَسْتَطِيعَ مَعِيَ صَبْرًا} [الكهف:٧٥] ، فكأنه استدار إليه وأشار إليه، ولذلك فرق النبي عليه الصلاة والسلام بينهما وبين أن الأولى كانت من موسى نسياناً فلم يشدد الخضر عليه، وكانت الثانية شرطاً في المفارقة، لذلك كأنه التفت إليه وحذره وأشار: ألم أقل لك -أي: في المرة الثانية- إنك لن تستطع معي صبراً.
فدخلوا إلى قرية: {فَأَبَوْا أَنْ يُضَيِّفُوهُمَا فَوَجَدَا فِيهَا جِدَارًا يُرِيدُ أَنْ يَنقَضَّ فَأَقَامَهُ قَالَ لَوْ شِئْتَ لاتَّخَذْتَ عَلَيْهِ أَجْرًا} [الكهف:٧٧] {قَالَ هَذَا فِرَاقُ بَيْنِي وَبَيْنِكَ سَأُنَبِّئُكَ بِتَأْوِيلِ مَا لَمْ تَسْتَطِعْ عَلَيْهِ صَبْرًا} [الكهف:٧٨] ، قال النبي عليه الصلاة والسلام: (يرحم الله موسى -وفي رواية: رحمة الله علينا وعلى موسى- وددنا أنه صبر حتى يقص الله عز وجل علينا من أخبارنا

Kisah Musa dan Khidr (Alaihimas Salam)
Penulis: Abu Ishaq Al-Khuwayni (hlm. 2–3)

Al-Bukhari, Muslim, dan lainnya meriwayatkan dari hadits Sa‘id bin Jubair rahimahullah, bahwa dikatakan kepada Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma: “Sesungguhnya Nauf Al-Bikali berpendapat bahwa Musa yang bertemu dengan Khidr bukanlah Musa Bani Israil.” Maka Ibnu Abbas berkata: “Musuh Allah telah berdusta!”

Ubay bin Ka‘b menceritakan kepadaku dari Nabi ﷺ bahwa beliau bersabda:

“Suatu hari, Nabi Musa berkhutbah di hadapan Bani Israil hingga mata mereka bercucuran air mata dan hati mereka bergetar. Ketika ia beranjak pergi, seorang laki-laki mengikutinya dan bertanya: ‘Wahai Nabi Allah, adakah seseorang yang lebih berilmu darimu di bumi ini?’ Nabi Musa menjawab: ‘Tidak ada.’

Maka Allah ﷻ mencelanya karena tidak mengembalikan ilmu itu kepada-Nya. Lalu Allah ﷻ berfirman: ‘Ada seorang hamba-Ku di pertemuan dua lautan yang lebih berilmu darimu.’ Musa pun bertanya: ‘Wahai Rabbku, bagaimana aku dapat bertemu dengannya?’ Allah ﷻ berfirman: ‘Bawalah seekor ikan, lalu letakkan di dalam wadah. Ketika kamu kehilangan ikan itu, di situlah dia berada.’

Dalam riwayat lain disebutkan: ‘Bawalah seekor ikan mati.’ (Kata nun berarti ikan, sebagaimana Nabi Yunus juga disebut Dzun-Nun dalam firman Allah ﷻ: وَذَا النُّونِ إِذْ ذَهَبَ مُغَاضِبًا [Al-Anbiya: 87], yang berarti ‘pemilik ikan’).

Musa pun membawa seekor ikan mati dalam wadah. Ketika mereka sampai di suatu tempat, ia berkata kepada pembantunya: ‘Aku tidak akan membebanimu banyak, hanya saja bangunkan aku ketika ikan itu kembali hidup.’ Pembantunya pun berkata: ‘Ini bukan tugas yang berat.’

Lalu ikan itu hidup kembali dan melompat ke laut, sementara air laut tetap tertahan di sekitarnya, sehingga tidak bisa menyebar. Namun, pembantu Musa lupa memberitahunya. Mereka pun melanjutkan perjalanan sepanjang hari dan malam. Keesokan harinya, Musa berkata:

“Berikan makanan kita! Sungguh, kita telah merasa letih dalam perjalanan ini.” (QS. Al-Kahf: 62)

Barulah pembantunya teringat dan berkata:

“Ingatkah ketika kita berhenti di batu besar? Aku lupa tentang ikan itu, dan setanlah yang membuatku lupa mengingatnya.” (QS. Al-Kahf: 63)

Mereka pun kembali mengikuti jejak mereka hingga menemukan seorang hamba yang berbaring dengan selimut hijau menutupi kaki dan kepalanya. Musa memberi salam, lalu orang itu membuka wajahnya dan bertanya: “Adakah salam di negeri ini? Siapa kamu?”

Musa menjawab: “Aku Musa.”

Khidr bertanya: “Musa Bani Israil?”

Musa menjawab: “Ya.”

(Maka inilah alasan mengapa Ibnu Abbas berkata: “Musuh Allah telah berdusta,” karena Khidr sendiri menegaskan bahwa Musa ini adalah Musa Bani Israil).

Musa berkata: “Aku ingin belajar darimu.”

Khidr menjawab:

“Sungguh, kamu tidak akan mampu bersabar bersamaku.” (QS. Al-Kahf: 67)

Musa menjawab:

“Insya Allah, kamu akan mendapati aku sabar, dan aku tidak akan menentangmu dalam urusan apa pun.” (QS. Al-Kahf: 69)

Kemudian seekor burung datang dan mencelupkan paruhnya ke laut. Khidr berkata:

“Wahai Musa, perumpamaan ilmu yang aku dan kamu miliki dibanding ilmu Allah, ibarat air yang diambil burung ini dengan paruhnya dari laut.”

Lalu mereka berjalan dan sampai di tepi laut. Sebuah kapal melintas, lalu pemiliknya mengizinkan mereka naik tanpa meminta bayaran. Namun, tiba-tiba Khidr merusak salah satu papan kapal itu.

Musa pun protes:

“Mereka mengangkut kita tanpa meminta upah, tetapi kamu justru melubangi kapal mereka agar penumpangnya tenggelam? Sungguh, kamu telah melakukan perbuatan yang tercela!” (QS. Al-Kahf: 71)

Khidr berkata:

“Bukankah sudah kukatakan bahwa kamu tidak akan bisa bersabar bersamaku?” (QS. Al-Kahf: 72)

Nabi ﷺ bersabda: “Ini adalah bentuk kelupaan dari Musa.”

Ketika mereka turun dari kapal, mereka melihat sekelompok anak kecil bermain. Khidr mengambil salah satu dari mereka—seorang anak yang tampan dan cerdas—kemudian membunuhnya.

Musa berkata:

“Mengapa engkau membunuh jiwa yang tidak berdosa? Sungguh, ini adalah perbuatan keji!” (QS. Al-Kahf: 74)

Khidr menjawab:

“Bukankah sudah kukatakan bahwa kamu tidak akan bisa bersabar bersamaku?” (QS. Al-Kahf: 75)

Nabi ﷺ bersabda: “Kali ini adalah syarat pemisahan.” Karena Musa berkata sebelumnya:

“Jika aku bertanya lagi setelah ini, janganlah kau temani aku lagi. Sungguh, engkau telah memberikan uzur kepadaku.” (QS. Al-Kahf: 76)

Perbedaan antara peringatan pertama dan kedua adalah:

  • Pada pertama kali, Khidr hanya berkata: “Bukankah sudah kukatakan?”
  • Namun pada peringatan kedua, ia berkata: “Bukankah sudah kukatakan kepadamu?” (QS. Al-Kahf: 75)

Seolah-olah ia menoleh langsung kepada Musa untuk menegaskan peringatan itu.

Kemudian mereka masuk ke sebuah desa dan meminta makanan, tetapi penduduknya menolak menjamu mereka. Di sana, Khidr mendapati sebuah dinding yang hampir roboh, lalu ia memperbaikinya.

Musa berkata:

“Jika engkau mau, engkau bisa meminta upah darinya.” (QS. Al-Kahf: 77)

Khidr menjawab:

“Inilah saat perpisahan antara aku dan kamu. Aku akan memberitahumu tafsir dari hal-hal yang tidak bisa kau sabari.” (QS. Al-Kahf: 78)

Nabi ﷺ bersabda:

“Semoga Allah merahmati Musa. Seandainya ia bersabar, tentu kita akan mendapatkan lebih banyak kisah tentang mereka.”

Referensi

قصة موسى والخضر عليهما السلام كما وردت فى صحيح البخاري تأليف على بن سلطان القاري. ص ٦٥- ١٤٤

وفى رواية : فإذا رجل مسجى ثوبا، فسلم عليه موسى ، فقال الخضر : وأني بأرضك السلام ؟ وفى رواية وعليك السلام وأني يكون هذا السلام بهذا الأرض ومن أنت قال موسى بني إسرائيل؟ نعم أتيتك لتعلمني مماعلمت رشدا.قال: إنك لن تستطيع معى صبرا ياموسى إني على علم من علم الله علمنيه ممالاتعلمه، وأنت على علم من علم الله علمك الله لاأعلمه. قال موسى : ستجدني إن شاء الله صابرا ولاأعصى لك أمرا فقال الخضر : فإن اتبعتني فلاتسألني عن شيئ حتى أحدث لك منه ذكرا . فانيليا يمشيان على ساحل البحر فمرت بهما سفينة ، فكلموهم أن يحملوهم، فعرفوا الخضر ، فحملوه (٤) بغير نول (٥) فلما ركبا فى السفينة لم يفجأ إلا والخضر قد قلع لوحا من الألواح السفينة بالقدوم وفى رواية ووتد (١) .فقال له موسى : قوم حملونا (٢) بغير نول عمدت إلى سفينتهم فخرقتها لتغرق أهلها ؟ لقد جئت شيأ إمرا (٣) قال ألم أقل إنك لن تستطيع معي صبرا ؟ قال لاتؤاخذني بمانسيت ولاترهقني من عمري عسرا(٤) قال: قال (٥) رسول الله صلى الله عليه وسلم وكانت (٦) الأولى من موسى نسيانا ، والوسطى شرطا، والثالثة عمدا.قال : وجاء(٧) عصفور فوقع على حرف السفينة ، فنقر فى البحر نقرة فقال له الخضر : ماعلمي وعلمك من (١) علم الله إلامثل مانقص هذا العصفور من هذا البحر. ثم خرجا من السفينة ، فبينما هما يمشيان على الساحل ، إذا أبصر الخضر غلاما يلعب مع الغلمان فأخذ الخضر رأسه بيده فاقتلعه (٢) وفى رواية : فأخذه وأضجعه ثم ذبحه بالسكين (٣) وفى أخرى : قال فأخذه بيده ثم أخذ حجرا فضرب به رأسه حتى أدمغه فقتله(٤) فقال له موسى :أقتلت نفسا زكية (١) بغير نفس ؟ لقد جئت شيأ نكرا (٢)قال ألم أقل لك إنك لن تستطيع معي صبرا ، قال هذا أشد من الأولى ، قال إن سألتك عن شيئ بعدها فلاتصاحبني قد بلغت من اللدني عذرا. فانطلقا حتى أتيا أهل قرية استطعما أهلها فأبوا أن يضيفوهما ،فوجدا جدارا يريد أن ينقض ، قال (٤) مائل ،فأقامه الخضر بيده فأقامه ، قال موسي: قوم أتيناهم فلم يطعمونا ولم يضيفونا، لو شئت عليه أجرا.قال هذا فراق بينى وبينك ………إلى أن قال والمراد بالعلم اللدني علم الباطن إلهاما(١)
_________________________
هذا أحد التعريفات للعلم ( اللدني) الذي ورد فى تفسير النسفى وتفسير البيضاوي، تفسير الآية  ٦٥ من سورة الكهف وقد عرف تعريفات أخرى كثيرة ، فيهاخلافات ومناقشة طويلة  أفردت لهاجانبا خاصا فى كتابي ( الخضر بين الواقع والتهويل .ط ١، ص ٧٥- ٨٣)
وقد يقرب الموضوع مااورده صاحب روح البيان حين قال: اعلم ان كل علم يعلمه الله تعالى عباده ويمكن للعباد أن يتعلموا ذلك من غير الله تعالى فإنه ليس من جملة العلم اللدني ، لأنه يمكن أن يتعلم من لدن غيره .يدل عليه قوله تعالى ( وعلمناه صنعة لبوس) ( الأنبياء:٨٠ ) فإن علم صنعة اللبوس مماعلمه الله داود عليه السلام ، فلايقال : إنه العلم اللدني ، لأنه يحتمل أن يتعلم من غير الله تعالى ، فيكون من لدن ذلك الغير . وايضا إن العلم اللدني مايتعلق بلدن الله تعالى وهو علم معرفة ذاته وصفاته تعالى (روح البيان ج ٢،ص ٤٩٩) والمبهم هنا هو أن العلم الذي أوتيه الخضر عليه السلام علم الرباني مخصوص به ، لم يَفُقْهُ فيه نبي بنى إسرآئيل، وهو أكبر علماء زمانه….(انظر الخضر بين الواقع والتهويل  ط ١، ص٧٨)  
فالعلم الدني يسمى أيضا علم الحقيقة ، وعلم المكاشفة، وعلم الموهبة، وعلم الأسرار، والعلم المكنون، وعلم الوراثة (روح المعاني ج ١٦، ص ١٩) ويتعلق الموضوع بعلم الظاهر والباطن، أو الحقيقة والشريعة التي نبه علمائنا إلى عدم التفرق بينهما، فقد زعم بعضهم أن أحكام العلم الباطن وعلم الحقيقة مخالفة لاحكام الظاهر وعلم الشريعة ، وهو – كمايقول الآلوسي- زعم باطل عاطل وخيال فاسد كاسد (روم المعاني ج١٥، ص٣٣٠) وفى إحياء علوم الدين يقول الإمام الغزالي : من قال إن الحقيقة تخالف الشريعة أو الباطن يناقص الظاهر فهو إلى الكفر أقرب منه إلى الإيمان .(ج١، ص١٠٠) 
وقد يحتاج بعضهم بقصة موسى والخضر ، ويظنون أن الخضر خرج عن الشريعة فيجوز لغيره من الأولياء مايجوز له من الخروج عن الشريعة .وهم فى هذا ضالين من وجهين: أحدها أن الخضر لم يخرج عن الشريعة ، بل الذي فعله كان جائزا فى شريعة موسى ، ولهذا لما بيّن له الأسباب أقره على ذلك ، ولو لم يكن جائزا لما أقره ، ولكن لم يكن موسى يعلم الأسباب التي بها أبيحت تلك، فظن أن الخضر كالملك الظالم ، فذكر ذلك له الخضر . والثاني أن الخضر لم يكن من أمة موسى ،ولاكان يجب عليه متابعته، بل قال له : إني على علم من علم الله علمنيه الله لاتعلمه، وأنت على علم من علم الله علمكه الله لاأعلمه. وذلك أن دعوة موسى لم تكن عامة، فإن النبي كان يبعث إلى قومه خاصة، ومحمد  صلى الله عليه وسلم  بعث إلى الناس كافة ، بل بعث إلى الإنس والجن باطنا وظاهرا، فليس لأحد أن يخرج عن طاعته ومتابعته، لافى الباطن ولافي الظاهر، لامن الخواص ولا من العوام ( مجموع فتاوى شيخ الإسلام أحمد بن تيمية ج١٣ص٢٦٦-٢٦٧) والله أعلم بالصواب

Kisah Nabi Musa dan Khidir sebagaimana disebutkan dalam Shahih al-Bukhari

Karya Ali bin Sultan al-Qari (hlm. 65–144)

Dalam sebuah riwayat: Ketika Musa mendekati seseorang yang berselimut dengan kain, ia memberi salam kepada orang itu. Lalu Khidir berkata, “Dari mana ada salam di negerimu ini?” Dalam riwayat lain, Khidir menjawab, “Wa ‘alaikas-salam. Bagaimana mungkin ada salam di negeri ini?” Musa bertanya, “Apakah engkau Khidir?” Khidir menjawab, “Ya.” Musa berkata, “Aku datang kepadamu untuk belajar ilmu yang telah diajarkan Allah kepadamu.” Khidir menjawab, “Sesungguhnya engkau tidak akan mampu bersabar bersamaku. Wahai Musa! Aku memiliki ilmu dari ilmu Allah yang Dia ajarkan kepadaku dan engkau tidak mengetahuinya. Sedangkan engkau memiliki ilmu dari ilmu Allah yang Dia ajarkan kepadamu, tetapi aku tidak mengetahuinya.” Musa berkata, “InsyaAllah engkau akan mendapatiku sebagai orang yang sabar, dan aku tidak akan menentang perintahmu.” Khidir pun berkata, “Jika engkau mengikutiku, maka janganlah engkau bertanya kepadaku tentang sesuatu hingga aku sendiri yang menjelaskannya kepadamu.”

Kemudian keduanya berjalan di tepi pantai, hingga sebuah kapal melewati mereka. Mereka meminta agar diizinkan menumpang, dan para awak kapal mengenali Khidir sehingga mereka memberi tumpangan tanpa bayaran. Namun, ketika mereka sudah di kapal, tiba-tiba Khidir mengambil kapak dan mencabut salah satu papan kapal. Dalam riwayat lain disebutkan bahwa ia mencabutnya dengan pahat.

Musa pun bertanya, “Mereka telah memberi kita tumpangan tanpa bayaran, tetapi engkau malah merusak kapal mereka agar tenggelam? Sungguh engkau telah melakukan sesuatu yang mungkar!”

Khidir menjawab, “Bukankah aku telah mengatakan bahwa engkau tidak akan mampu bersabar bersamaku?”

Musa berkata, “Jangan hukum aku karena kelupaanku, dan jangan bebani aku dengan sesuatu yang sulit.”

Rasulullah ﷺ bersabda, “Kesalahan pertama yang dilakukan oleh Musa adalah karena lupa, yang kedua merupakan syarat, dan yang ketiga adalah dengan sengaja.”

Kemudian seekor burung kecil datang dan hinggap di tepi kapal, lalu mematuk air laut dengan paruhnya. Khidir berkata, “Ilmuku dan ilmumu dibandingkan dengan ilmu Allah hanyalah seperti air yang diambil burung ini dari laut.”

Mereka pun keluar dari kapal dan berjalan di tepi pantai. Kemudian mereka melihat seorang anak kecil sedang bermain dengan anak-anak lainnya. Khidir memegang kepala anak itu, lalu mencabutnya. Dalam riwayat lain disebutkan bahwa ia merebahkan anak itu dan menyembelihnya dengan pisau. Dalam riwayat lain disebutkan bahwa ia memegang anak itu, lalu mengambil batu dan menghantam kepalanya hingga pecah.

Musa berkata, “Apakah engkau telah membunuh jiwa yang suci tanpa alasan yang benar? Sungguh engkau telah melakukan sesuatu yang sangat mungkar!”

Khidir menjawab, “Bukankah aku telah mengatakan kepadamu bahwa engkau tidak akan mampu bersabar bersamaku?”

Musa berkata, “Perbuatan ini lebih berat daripada yang pertama. Jika aku bertanya kepadamu tentang sesuatu setelah ini, maka janganlah engkau lagi menemaniku. Sungguh engkau telah memberikan uzur bagiku.”

Lalu mereka pun berjalan hingga tiba di suatu desa. Mereka meminta makanan dari penduduknya, tetapi mereka menolak menjamu keduanya. Kemudian mereka menemukan sebuah dinding yang hampir runtuh, lalu Khidir menegakkan dinding itu dengan tangannya. Musa berkata, “Penduduk desa ini tidak mau menjamu kita, seharusnya engkau meminta upah atas pekerjaanmu itu.”

Khidir berkata, “Inilah perpisahan antara aku dan engkau…”

Makna Ilmu Laduni 

Ilmu laduni adalah ilmu batin yang diberikan Allah secara ilham. Dalam Tafsir an-Nasafi dan Tafsir al-Baidawi, terdapat berbagai definisi ilmu laduni yang telah dibahas dalam buku Al-Khidir: Antara Realita dan Mitos (edisi 1, hlm. 75–83).

Pendekatan mengenai ilmu ini disebutkan dalam kitab Ruh al-Bayan, yang menyatakan bahwa semua ilmu yang Allah ajarkan kepada hamba-Nya dan bisa dipelajari tanpa wahyu, bukan termasuk ilmu laduni. Contohnya adalah ilmu yang Allah ajarkan kepada Nabi Dawud tentang membuat baju besi sebagaimana disebut dalam Al-Qur’an:

“Dan Kami ajarkan kepadanya cara membuat baju besi…” (QS. Al-Anbiya: 80)

Ilmu laduni adalah ilmu khusus yang diberikan Allah kepada hamba pilihan-Nya dan tidak bisa dipelajari dari manusia. Dalam tafsir Ruh al-Ma’ani, ilmu laduni juga disebut sebagai ilmu hakikat, ilmu mukasyafah, ilmu wahbi, ilmu asrar, ilmu maknun, dan ilmu warisan (jilid 16, hlm. 19).

Namun, para ulama menegaskan bahwa tidak ada perbedaan antara ilmu syariat dan ilmu hakikat. Dalam Ihya’ Ulum ad-Din, Imam al-Ghazali berkata:

“Barang siapa mengatakan bahwa hakikat bertentangan dengan syariat, atau bahwa ilmu batin berlawanan dengan ilmu zahir, maka dia lebih dekat kepada kekufuran daripada keimanan.” (jilid 1, hlm. 100)

Sebagian orang keliru dalam memahami kisah Musa dan Khidir. Mereka mengira bahwa Khidir bertindak di luar syariat, sehingga mereka menganggap bahwa wali-wali Allah juga boleh melakukan hal serupa. Ini adalah pemahaman yang salah dari dua sisi:

Khidir tidak bertindak di luar syariat. Perbuatannya tetap dalam batas yang dibolehkan dalam syariat Nabi Musa. Oleh karena itu, setelah Khidir menjelaskan sebab di balik tindakannya, Musa menerimanya. Jika perbuatan Khidir bertentangan dengan syariat, tentu Musa akan menolaknya.

Khidir tidak termasuk umat Nabi Musa. Ia memiliki ilmu khusus dari Allah yang tidak dimiliki Musa. Ketika itu, setiap nabi hanya diutus untuk kaumnya masing-masing. Adapun Nabi Muhammad ﷺ diutus untuk seluruh manusia dan jin, baik secara lahir maupun batin. Oleh karena itu, tidak seorang pun boleh keluar dari syariatnya, baik secara lahir maupun batin, baik orang awam maupun wali-wali Allah.

Sebagaimana dikatakan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Majmu’ al-Fatawa (jilid 13, hlm. 266–267):

“Tidak ada seorang pun yang boleh keluar dari ketaatan dan mengikuti Nabi Muhammad ﷺ, baik secara lahir maupun batin, baik orang khusus maupun orang awam.”

Wallahu A’lam.

Referensi:

حلية طالب العلم .ص ٤١

حلم اليقظة 🔅

إياك و( حلم اليقظة )
، ومنه بأن تدعي العلم لما لم تعلم، أو إتقان ما لم تتقن، فإن فعلـت، فهـو حجاب كثيف عن العلم

إحذر أبا شبر ” 🔅

فقد قيل: العلم ثلاثة أشبار، من دخل في الشبر الأول، تكبر ومن دخل في الشبر الثانى، تواضع ومن دخل في الشبر الثالث، علم أنه ما يعلم.

التصدر قبل التأهل 🔅

. احذر التصدر قبل التأهل، هو آفة في العلم والعمل
وقد قيل : من تصدر قبل أوانه، فقد تصدى لهوانه

التنمر بالعلم 🔅
احذر ما يتسلى به المفلسون من العلم،يراجع مسألة أو مسألتين، فإذا كان في مجلس فيـه مـن يشار إليه
أثار البحث فيهما، ليظهر علمه وكم في هذا من سوءة، أقلها أن يعلم أن النـاس يعلمـون حقيقته
وقد بينت هذه مع أخوات لها في كتاب ” التعالم”والحمد الله رب العالمين

تحبير الكاغد 🔅

كما يكون الحذر من التأليف الخالي من الإبداع في مقاصد التأليف الثمانية” ٢ ، والذي نهايته
“تحـبير الكاغد” ٣ فالحذر من الاشتغال بالتصنيف قبل استكمال أدواته، واكتمال أهليتك، والنضوج علـى يـد أشياخك، فإنك تسجل به عاراًوتبدى به شناراً
أما الاشتغال بالتأليف النافع لمن قامت أهليته، واستكمل أدواته وتعددت معرافه وتمرس به بحثا
ومراجعة ومطالعة وجرداً لمطولاته، وحفظاً لمختصراته،واستذكاراً لمسائله، فهو من أفضل ما يقوم بـه
النبلاء من الفضلاء ولا تنس قول الخطيب

١- ” تذكرة السامع والمتكلم ”(ص ٦٥)
٢ : أول من ذكرها بن حسب في – ” نقط العروس ”، وانظر تسلسل العلماء لذكرها في إضاءة الراموس ”(٢٨٨/٢) مهم
٣ : هو القرطاس – فارسي معرب

المكتبة الشاملة الحديثة
أرشيف ملتقى أهل الحديث – ١
[ملتقى أهل الحديث]
الرئيسية الجوامع والمجلات ونحوها
فصول الكتاب ج:  ص:  ٢٤
مسار الصفحة الحالية:
فهرس الكتاب  المنتدى الشرعي العام  ٢٤  العلم ثلاثة أشبار
[العلم ثلاثة أشبار]
ـ[عبدالرحمن الفقيه.]ــــــــ[١٠ – ١١ – ٠٣, ١٢:٣٥]ـ ص
قال الشيخ بكر بن عبدالله أبو زيد حفظه الله في حلية طالب العلم
الفصل السابع المحاذير
حلم اليقظة: إياك و (حلم اليقظة)، ومنه بأن تدعي العلم لما لم تعلم، أو إتقان ما لم تتقن، فإن فعلت، فهو حجاب كثيف عن العلم.
احذر أن تكون ”أبا شبر”.
:فقد قيل: العلم ثلاثة أشبار : من دخل في الشبر الأول تكبر ومن دخل في الشبر الثاني تواضع ، ومن دخل في الشبر الثالث علم أنه ما يعلم
التصدر قبل التأهل:احذر التصدر قبل التأهل، هو آفة في العلم والعمل. وقد قيل: من تصدر قبل أوانه، فقد تصدى لهوانه.
التنمر بالعلم: احذر ما يتسلى به المفلسون من العلم، يراجع مسألة أو مسألتين، فإذا كان في مجلس فيه من يشار إليه، أثار البحث فيهما، ليظهر علمه! وكم في هذا من سوءة، أقلها أن يعلم أن الناس يعلمون حقيقته. وقد بينت هذه مع أخوات لها في كتاب ”التعالم”، والحمد لله رب العالمين.
تحبير الكاغد: كما يكون الحذر من التأليف الخالي من الإبداع في مقاصد التأليف الثمانية، والذي نهايته ”تحبير الكاغد” فالحذر من الاشتغال بالتصنيف قبل استكمال أدواته، واكتمال أهليتك، والنضوج على يد أشياخك، فإنك تسجل به عاراً وتبدى به شناراً. أما الاشتغال بالتأليف النافع لمن قامت أهليته، واستكمل أدواته، وتعددت معرافه، وتمرس به بحثا ومراجعة ومطالعة وجرداً لمطولاته، وحفظاً لمختصراته، واستذكاراً لمسائله، فهو من أفضل ما يقوم به النبلاء من الفضلاء. ولا تنس قول الخطيب:“من صنف، فقد جعل عقله على طبق يعرضه على الناس”.
موقفك من وهم من سبقك:
إذا ظفرت بوهم لعالم، فلا تفرح به للحط منه، ولكن افرح به لتصحيح المسألة فقط، فإن المنصف يكاد يجزم بأنه ما من إمام إلا وله أغلاط وأوهام لا سيما المكثرين منهم. وما يشغب بهذا ويفرح به للتنقص، إلا متعالم ”يريد أن يطب زكاما فيحدث به جذاما”. نعم، ينبه على خطأ أو وهم وقع لإمام غمر في بحر علمه وفضله، لكن لا يثير الرهج عليه بالتنقص منه والحط عليه فيغتر به من هو مثله.
دفع الشبهات: لا تجعل قلبك كالسفنجه تتلقى ما يرد عليها، فاجتنب إثارة الشبه وإيرادها على نفسك أو غيرك، فالشبه خطافة، والقلوب ضعيفة، وأكثر من يلقيها حمالة الحطب – المبتدعة – فتوقهم.
ـ[أبو عمر الناصر]ــــــــ[٠٤ – ١٢ – ٠٣, ١٢:٥١ ص]ـ
بارك الله فيكم شيخنا ونفع بعلومكم

Demikian jawaban penjelasan buat Kiyai Suyuthi . Wallahu A’lam bisshowab.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

#TERKINI

#WARTA

#HUKUM