HUKUM AKIBAT SALING TIDAK MENYAPA ( SOKERAN ) SESAMA MUSLIM MELEBIHI TIGA HARI/1.TH.
Assalaamu alaikum .
Deskripsi masalah. Dalam menjalani kehidupan bermasyarakat tidaklah terlepas dari saling komunikasi baik diantara teman tetangga dan dll, karena kalam ( ucapan) merupakan bagian dari metode atau alat guna untuk melestarikan terhadap apa yang dituju, Walaupun demikian agama mengatur tatacara berbicara, jika pembicaaraan baik dan dianggap bermanfaat maka sangatlah dianjurkan, akan tetapi jika tidak mendatangkan maslahah dan manfaat dilarang, tapi ada kasus yang tidak sebagaimana biasanya yakni katakan seorang Abdul karim ( nama samarannya) orang yang kaya sementara tetangganya bernama Hayono orang yang miskin dia mau pinjam uang kepada Abdul karim lalu ia tidak memberinya sampai terjadi percekcokan hingga keduanya saling tidak menyapa ketika bertemu sampai melebihi tiga hari bahkan sampai 1 tahun.
Pertanyaan: Bagaimana hukumnya Abdul karim dan Hayono saling tidak menyapa ( sokeran) sebagaimana kasus diatas?
Waalaikum salam.
Jawaban Hukumnya seseorang muslim yang tidak berbicara/ tidak menyapa ( sokerran:red) kepada saudaranya yang seagama ( sama-sama muslim ) sampai melebihi tiga hari maka hukumnya tidaklah halal dalam arti haram bahkan jika lebih dari tiga hari sampai satu tahun maka hukumnya bagaikan orang yang mengalirkan darah,dalam arti seperti orang membunuh dan jika belum juga berbicara atau damai sampai ia meninggal maka ia masuk neraka.
Maka adapun solusinya agar tidak jatuh pada perbuatan yang dilarang ( haram ) maka tidak boleh melebihi dari tiga hari dan jika sampai melebihi tiga hari maka diantara keduanya jika bertemu maka hendaklah berbicara dengan mengucapkan salam, dengan demikian lepaskan sifat saling tidak menyapa disaat itu juga.
Referensi:
كتاب الأدب، باب فيمن يهجر أخاه المسلم، برقم ٤٩١٣، شرح النووي على صحيح مسلم، (١٦/ ٣٥٣)، وفتح الباري لابن حجر (١٠/ ٤٩٢).
من هجر أخاه المسلم فوق ثلاثة أيام فمات قبل أن يعود دخل النار؛ لحديث أبي هريرة رضي الله عنه قال: قال رسول الله – صلى الله عليه وسلم -: ((لا يحل لمسلم أن يهجر أخاه فوق ثلاث، فمن هجر فوق ثلاث فمات دخل النار)) (٢). ٥ – من هجر أخاه المسلم سنة فهو كسفك دمه؛ لحديث أبي خراش السلمي رضي الله عنه، أنه سمع رسول الله – صلى الله عليه وسلم – يقول: ((من هجر أخاه سنة فهو كسفك دمه)) (٣).
Dalam hadits yang disebutkan
إذا سلم أحدهما على الآخر فرد عليه فقد اشتركا في الأجر، وإن لم يرد عليه فقد باء بالإثم, وخرج المسلِّمُ من الهجر؛ لحديث أبي هريرة رضي الله عنه، أن النبي – صلى الله عليه وسلم – قال: ((لا يحلُّ لمؤمن أن يهجر مؤمناً فوق ثلاثٍ، فإن مرت به ثلاث فلقيه فليسلِّم عليه، فإن ردَّ عليه السلام اشتركا في الأجر، وإن لم يردَّ عليه فقد باء بالإثم وخرج المُسلِّمُ من الهجرة)) (٢). وعن عائشة رضي الله عنها أن رسول الله – صلى الله عليه وسلم – قال: ((لا يكون لمسلم أن يهجر مسلماً فوق ثلاثٍ، فإذا لقيه سلَّم عليه ثلاث مرار, كل ذلك لا يردُّ عليه فقد باء بإثمه).
Riba merupakan salah satu larangan syariat Islam. Karena pada dasarnya, riba merugikan salah satu pihak yang saling bertransaksi. Model riba begitu banyak, mulai dari riba hutang (riba qardlu), dan riba yang ada dalam praktek jual beli, seperti riba al-yad, riba al-fadl, dan riba an-nasiah. Sebagian besar umat muslim telah mengetahui hukum-hukum riba tersebut. Dengan berdalih alasan tertentu, misalkan menyebutkan adanya persyaratan dalam akad namun demikian mereka merekayasa (mensiasati) riba agar tidak terjebak dalam ranah riba dalam bermuamalah contoh Tidak menyaratkan adanya bunga dalam akad melainkan mensyaratkan bungan di luar majlis akad atau tidak menyebutkannya di dalam akad, melainkan diluar akad, maka dalam hal ini ulama’ madzhab yang empat berbeda pandang Menurut imam Malik dan Imam Ahmad bin Hambal merekayasa riba hukumya harom . Akan tetapi imam Abi Hanifah dan imam Syafi’i memperbolehkannya, sebagai ulama’ mengatakan rekayasa riba termasuk bagian dari riba.
Pertanyaannya Bagaimana solusinya agar terbebas ( selamat ) dari riba?
Waalaikum salam. Jawaban. Perbedaan pendapat dikalangan ulama merupakan rahmat. Masalah khilafiyah (perbedaan pendapat) bukanlah sebab terjadinya perpecahan. Yang menjadi masalah adalah cara pandang yang keliru terhadap khilafiyah dan tidak ditirunya akhlak mulia para ulama dalam berbeda pendapat. Khilafiyah fiqhiyah dalam masalah furu’ (cabang) bukanlah sebab perpecahan dalam agama, dan tidak boleh menyebabkan permusuhan dan kebencian. Setiap mujtahid mendapatkan pahala ijtihadnya. Tidaklah tabu mengkaji masalah khilafiyah secara ilmiyah dan murni, dalam naungan cinta karena Allah dan tolong menolong untuk mencapai hakikat, tanpa harus terseret kepada debat kusir yang tercela dan fanatisme. Sudah menjadi prinsip dasar, bahwa setiap terjadi perbedaan pendapat, kita harus merujuk kepada kitab Al-Quran dan hadits nabi. Orang awam pun sudah mengetahui hal ini, apalagi para ulama. Maka dari itu, ketika para ulama berijtihad dengan merujuk kepada kedua sumber di atas, lalu kesimpulannya berbeda satu sama lain, dan kita mengikuti salah seorang dari mereka, janganlah kita mudah menyalahkan bahkan mengatakan bahwa ulama lainnya tidak merujuk kepada Al-Qur’an dan hadits hanya karena berbeda pemahaman dengan kita. Kita perlu mengedepankan sikap saling menghargai ketika kesimpulan dari merujuk kepada kedua sumber di atas tidak sama. Betapa pun demikian, hal ini tidak menghalangi kita untuk mengikuti pendapat yang lebih kuat apabila kita mampu memahami istidlalnya (cara menyimpulkan hukum dari dalil). Bila tidak mampu, maka kita boleh atau bahkan harus bertaklid dengan para ulama, agar tidak menyimpulkan hukum secara serampangan sehingga tersesat dan menyesatkan.
Sebagaimana yang telah kami jelaskan diatas bahwa bagi penganut dalam bermadzhab dimana seseorang wajib bertaqlid kepada salah satu imam yang empat .
Contoh perbedaan pendapat tentang rekayasa riba Dalam pandangan imam Malik dan Imam Ahmad bin Hambal merekayasa riba hukumya harom. Akan tetapi imam Abi Hanifah dan imam Syafi’i memperbolehkannya.
Namun demikian keluar dari perbedaan pendapat adalah sunnah ( dianjurkan ) sebagaimana disebutkan dalam sebuah kaidah.
اَلْخُرُوْجُ مِنَ الْخِلَافِ مُسْتَحَبٌّ
Keluar dari perbedaan pendapat (khilafiyah) itu disunnatkan (dianjurkan”). Yaitu dengan cara melakukan sesuatu yang menurut para ulama yang berbeda pendapat itu sah.
Lalu bagaimana cara kita keluar dari perbedaan pendapat tentang rekayasa riba tersebut dalam deskripsi agar tidak termasuk riba ? Maka agar terbebas dari rekayasa riba solusi nya adalah diniatkan nadzar sebagaimana Habib Abdillah bin Haddad berpendapat bahwa rekayasa riba tidak bisa membebaskan seseorang dari dosa bahkan beliau menyatakan bahwa rekayasa riba termasuk riba dalam arti sama hukumnya. Maka solusi agar seseorang dalam bertransaksi bebas dari riba ( selamat dari riba ) adalah harus dengan cara diniatkan nadzar, hibah, atau sedekah.
Referensi:
( إسعاد الرفيق ج ٢ ص١٣٣
وتحرم أيضا حيلته أي الربا أي الحيلة فيه عند الإمام مالك وأحمد رحمهما الله تعالى وقال الشافعي وأبوحنيفة بجوازها اهـ.
Referensi:
(اعانة الطالبين ٣ ٢٧) وقال سيدنا الحبيب عبد الله بن علوى الحداد إياكم وما يتعاطاه بعض الجهال الأغبياء المغرورين الحمقاء من استحلالهم الربا في زعمهم بحيل أو مخادعات ومناذرات يتعاطونها بينهم ويتوهمون أنهم يسلمون بها من إثم الربا ويتخلصون بسببها من عاره في الدنيا وناره في العقبى وهيهات هيهات إن الحيلة في الربا من الربا وإن النذر شيء يتبرر به العبد ويتبرع ويتقرب به إلى ربه لا يصح النذر إلا كذلك وقرائن أحوال هؤلاء تدل على خلاف ذلك
Berikut Referensi tentang riba:
فتح المعين – (ص ٧٣) وأما القرض بشرط جر نفع لمقرض ففاسد، لخبر كل قرض جر منفعة، فهو ربا وجبر ضعفه: مجئ معناه عن جمع من الصحابة
Referensi.
الأشباه والنظائر – شافعي – (ج ١ / ص ٤٨١)
القاعدة الخامسة : تعاطي العقود الفاسدة حرام كما يؤخذ من كلام الأصحاب في عدة مواضع قال الأسنوي و خرج عن ذلك صورة وهي : المضطر إذا لم يجد الطعام إلا بزيادة على ثمن المثل فقد قال الأصحاب : ينبغي أن يحتال في أخذ الطعام من صاحبه ببيع فاسد ليكون الواجب عليه القيمة كذا نقله الرافعي.
محترز قوله بلا شرط في العقد. (قوله: جر نفع لمقرض) أي وحده، أو مع مقترض – كما في النهاية – (قوله: ففاسد) قال ع ش: ومعلوم أن محل الفساد حيث وقع الشرط في صلب العقد.أما لو توافقا على ذلك ولم يقع شرط في العقد، فلا فساد.اهـ والحكمة في الفساد أن موضوع القرض: الارفاق، فإذا شرط فيه لنفسه حقا: خرج عن موضوعه فمنع صحته. (قوله: جر منفعة) أي شرط فيه جر منفعة. (قوله: فهو ربا) أي ربا القرض، وهو حرام.
Referensi:
إعانة الطالبين – (ج٣ / ص٥٣)
( و )
جاز لمقرض ( نفع ) يصل له من مقترض كرد الزائد قدرا أو صفة والأجود في الرديء ( بلا شرط ) في العقد بل يسن ذلك لمقترض لقوله صلى الله عليه وسلم إن خياركم أحسنكم قضاء ولا يكره للمقرض أخذه كقبول هديته ولو في الربوي والأوجه أن المقرض يملك الزائد من غير لفظ لأنه وقع تبعا وأيضا فهو يشبه الهدية وأن المقترض إذا دفع أكثر مما عليه وادعى أنه إنما دفع ذلك ظنا أنه الذي عليه حلف ورجع فيه. ( قوله ولو في الربوي ) غاية لعدم الكراهة أي لا يكره أخذ الزائد ولو وقع القرض في الربوي كالنقد ( قوله والأوجه أن المقرض يملك الزائد إلخ ) أي ولو كان متميزا كأن اقترض دراهم فردها ومعها نحو سمن ( قوله من غير لفظ ) أي إيجاب وقبول ( قوله لأنه وقع تبعا ) علة لكون الزائد يملك من غير لفظ أي وإنما يملك كذلك لأنه تابع للشيء المقترض ( قوله وأيضا فهو ) أي الزائد ( وقوله يشبه الهدية ) أي وهي تملك من غير لفظ.
Referensi:
تحفة المحتاج في شرح المنهاج – (ج ١٧ / ص ٢٥-٣٣) ( تَنْبِيهٌ )
غاية تلخيص المراد من فتاوى ابن زياد – (ص ٦١) (مسألة):
عمت البلوى أن أهل الثروة لا يقرضون أحداً إلاّ بزيادة، إما من نوع المستقرض أو غيره بصيغة النذر، أو يتأجر المقرض من المقترض أرضاً بمال يسير يستغلها مدة بقاء الدين المذكور، أو يردها على المستقرض بأجرة تقابل تلك الزيادة، فالعقود المذكورة صحيحة إذا توفرت شروطها، ولا يدخل ذلك في أبواب الربا.
إعطاء الربا عند الاقتراض ولو للضرورة بحيث إنه إن لم يعطه لم يقرضه لا يدفع الإثم، إذ له طريق إلى حل إعطاء الزائد بطريق النذر أو غيره من الأسباب المملكة، لا سيما إذا قلنا بالمعتمد إن النذر لا يحتاج إلى القبول لفظاً.
Berikut tanbahan Referensi riba dan solusinya :
إعانة الطالبين – (ج ٣ / ص ٢١) (وحرم ربا)
مر بيانه قربيا، وهو أنواع: ربا فضل، بأن يزيد أحد العوضين، ومنه ربا القرض: بأن يشترط فيه ما فيه نفع للمقرض، وربا يد: بأن يفارق أحدهما مجلس العقد قبل التقابض، وربا نساء: بأن يشترط أجل في أحد العوضين، وكلها مجمع عليها، ثم العوضان أن اتفقا جنسا: اشترط ثلاثة شروط، تقدمت، أو علة: وهي الطعم والنقدية، اشترط شرطان، تقدما. قال شيخنا ابن زياد: لا يندفع إثم إعطاء الربا عند الاقتراض للضرورة، بحيث أنه إن لم يعط الربا لا يحصل له القرض. إذ له طريق إلى إعطاء الزائد بطريق النذر أو التمليك، لاسيما إذا قلنا النذر لا يحتاج إلى قبول لفظا على المعتمد. وقال شيخنا: يندفع الاثم للضرورة. (قوله: إذ له إلخ) تعليل لعدم اندفاع إثم الاعطاء عند ذلك، أي لا يندفع ذلك، لان له طريقا في إيصال الزائد للمقرض بنذر، أو هبة، أو نحوهما. (وقوله: أو التمليك) أي بهبة، أو هدية، أو صدقة. (وقوله: للضرورة) أي لاجل ضرورة الاقتراض (قوله: وطريق الخلاص من عقد إلخ) أي الحيلة في التخلص من عقد الربا في بيع الربوي بجنسه مع التفاضل ما ذكره. وهي مكروهة بسائر أنواعه – خلافا لمن حصر الكراهة في التخلص من ربا الفضل – ومحرمة عند الائمة الثلاثة. وقال سيدنا الحبيب عبد الله بن الحداد: إياكم وما يتعاطاه بعض الجهال الاغبياء المغرورين الحمقاء من استحلالهم الربا في زعمهم بحيل أو مخادعات ومناذرات يتعاطونها بينهم، ويتوهمون أنهم يسلمون بها من إثم الربا، ويتخلصون بسببها من عاره في الدنيا، وناره في العقبى، وهيهات هيهات، إن الحيلة في الربا من الربا، وإن النذر شئ يتبرر به العبد، ويتبرع ويتقرب به إلى ربه، لا يصح النذر إلا كذلك، وقرائن أحوال هؤلاء تدل على خلاف ذلك، وقد قال عليه الصلاة والسلام: لا نذر إلا فيما ابتغى به وجه الله. وبتقدير أن هذه المناذرات – على قول بعض علماء الظاهر – تؤثر شيئا، فهو بالنسبة إلى أحكام الدنيا وظواهرها لا غير. فأما بالنسبة إلى أحكام الباطن، وأمور الآخرة فلا. وأنشد رضي الله عنه: ليس دين الله بالحيل فانتبه يا راقد المقل.والله اعلم بالصواب
Asslamualaikum.. Deskripsi masalah Ada seseorang pedagang sedangkan profinya sebagai buruh atau PNS dengan bukti SK ia ingin usaha dagangnya cepat berkembang, maka dalam upaya mendapatkan modal lalu SK dan Slip gajinya digadaikan dibank.
Pertanyaannya.
Bagaimanakah hukum menggadaikan SK dan slip gaji dibank sebagaimana diskripsi?
Menggadaikan SK PNS dan slip gaji sebagai tanda bukti adanya “penghasilan” bagi jaminan pemenuhan utang gadai adalah tidak boleh dan tidak sah dalam syariat. Sebab barang yang menduduki maqam objek adalah terdiri atas slip dan SK yang keduanya hanya merupakan fisik kertas yang sama sekali bukan aset berharga karena tanpa keberadaan aset penjamin (dlaman al-dain, dlaman al-ain, dlaman al-fi’li) selain itu karena keduanya ( SK dan slip gaji ) tidak bisa dijualbelikan, apalagi disewakan. Ini merujuk pada definisi “Gadai” adalah menjadikan zat/harta sebagai bukti kepercayaan jaminan untuk membayar hutang, yang andaikan tidak bisa membayar maka barang tersebut bisa disita. Sedang sebagian ulama yang lain mendeskripsikan gadai secara bahasa adalah penetapan.Sedang menurut istilah syara’ adalah zatnya harta yang dapat dijadikan bukti kepercayaan untuk membayar utang, yang andaikan ada udzur tidak bisa bayar maka barang tersebut yang jadi jaminan (bisa disita). Sedangkan sebagian yang lain juga mendefinisikan gadai adalah menjadikan sesuatu barang sebagai jaminan yang mana barang yang dijadikan jaminan bisa perjual belikan, artinya selama barang yang di objek bisa diperjual belikan maka boleh maka boleh untuk dijadikan jaminan atau digadaikan. Oleh karenanya tidak sah SK slip digadaikan karena objek ( SK ) tidak bisa diperjual belikan, maka beda dengan sertifikat tanah atau PBKP sepeda motor, sebagai bukti keperjayaan karena yang menjadi objek adalah tanah dan sepeda motor yang bisa diperjual belikan, seandainya orang yang hutang tidak bisa bayar/udzur maka tanah/ sawah atau motor bisa diambil atau disita. Maka solusinya adalah pinjam sebagaimana biasanya dengan tanpa ada unsur riba sedang SK boleh dijadikan bukti kepercayaan bahwa seseorang yang berhutang betul-betul punya pekerjaan dan gaji tetap untuk membayar hutang walau gaji dalam perbulannya langsung dipotong ( diambil oleh pihak bank ).Wallahu a’lam bish-shawab.
مغني المحتاج وشرعا جعل عين مال وثيقة بدين يستوفى منها عند تعذر وفائه .
تحفة المحتاج وشرعا جعل عين مال وثيقة بدين يستوفى منها عند تعذر وفائه .
اعانة الطالبين والرهن لغة: الثبوت، وشرعا: جعل عين مال وثيقة بدين يستوفى منها عند تعذر وفائه.
كفاية الأخيار ومقتضاه أنه لا يجوز رهن ما لا يجوز بيعه، وذلك كرهن الموقوف ورهن أم الولد، وما أشبه ذلك، فلا يصح رهنه وهو كذلك لفوات المقصود منه،
الحاوي الكبير وما جاز بيعه جاز رهنه يعني : أن كل شيء كان بيعه جائزا كان رهنه جائزا وكل شيء لم يجز بيعه لم يجز رهنه من الأجناش أو الأنجاش وأمهات الأولاد .
تفسير القرطبي الخامسة – معنى الرهن: احتباس العين وثيقة بالحق ليستوفى الحق من ثمنها أو من ثمن منافعها عند تعذر أخذه من الغريم، وهكذا حده العلماء،
نهاية المحتاج الخامسة – معنى الرهن: احتباس العين وثيقة بالحق ليستوفى الحق من ثمنها أو من ثمن منافعها عند تعذر أخذه من الغريم، وهكذا حده العلماء،
تحفة المحتاج الخامسة – معنى الرهن: احتباس العين وثيقة بالحق ليستوفى الحق من ثمنها أو من ثمن منافعها عند تعذر أخذه من الغريم، وهكذا حده العلماء .والله أعلم بالصواب
PERBEDAAN ORANG KAYA DAN ORANG MISKIN RELASINYA DENGAN PENGGUNAAN DAGING QURBAN.
Assalamualaikum.
Deskripsi masalah.
Ketika memasuki tanggal 10 Dzulhijjah tibalah saat musim kurban, dimana seluruh elemen masyarakat Muslim bersama-sama menikmati “hidangan” Nikmat Tuhan dengan penuh suka cita melalui pendistribusian daging kurban oleh Mudho’hiy ( orang yang berqurban ) atau yang mewakilinya.
Pendistribusian daging qurban oleh Mudha’hiy tidak hanya kepada orang orang miskin, akan tetapi orang kaya juga turut serta menerimanya, Namun demikian menurut tokoh dan Panitia qurban ternyata ada perbedaan hak penerimaan antara kurban yang diterima orang kaya dan miskin
Pertanyaan.
Apa perbedaan antara orang kaya dan orang fakir relasinya dengan setatus daging kurban ? Mohon penjelasannya kiyai ..
Waalaikum salam. Jawaban.
Perbedaannya antara orang kaya dan orang fakir terkait dengan setatus daging qurban adalah orang kaya sebagai intifa’ sedangkan orang fakir sebagai tamlik setelah daging kurban sampai ditangan mereka. Adapun maksud dari orang kaya sebagai intifa’ dari daging kurban adalah jika orang yang berqurban menghadiyahkan daging kubarnya kepada orang yang kaya, maka orang yang kaya boleh menhadiyahkan lagi kepada orang lain, sebagaimana dia boleh menerima pemberian dari orang yang berqurban, alasannya karena orang yang kaya hanya punya hak pakai ( dalam arti memanfaatkan untuk dimakan atau menghadiagkan saja ) setelah daging sampai ditangannya, sehingga tidak punya kebebasan dalam memanfaatkannya untuk dijual karena daging yang diterima bukan bersetarus sebagai hak milik. Sedangkan orang fakir adalah orang yang punya hak ( kewajiban ) untuk menerima dan ketika sudah menerima dan sampai ditangannya berarti sudah menjadi hak milik sehingga punya kebebasan untuk menggunakannya sesuka hatinya, baik untuk dimakan disedekahkan bahkan boleh dijual dll sebagaimana ia berhak menerima zakat. Oleh karenanya bagi orang fakir boleh memanfaatkan qurban yang diambil (secara bebas) meski dengan semisal menjualnya kepada orang Islam, sebab ia memilikinya. Berbeda dari orang kaya, ia tidak diperkenankan menjualnya, tetapi ia hanya diperbolehkan mengalokasikan kurban yang diberikan kepadanya dengan semisal makan, sedekah, dan menghidangkan meski kepada orang kaya, sebab puncak dari tujuannya ia seperti orang yang berkurban itu sendiri.
Apabila seseorang yang berkurban memberikan sebagian daging kurbannya kepada orang kaya, apakah orang kaya tersebut boleh menghadiahkan daging itu kepada orang lain? Jika diperbolehkan, apa makna dari pernyataan Imam Al-Rafi’i bahwa tidak diperkenankan bagi yang berkurban untuk “mentamlikkan” (memberikan hak kepemilikan penuh) daging kurban kepada orang kaya?
(Jawaban)
Imam besar – semoga Allah merahmatinya – menjelaskan: Dasar yang patut dijadikan pedoman dalam hal ini, yang meskipun saya tidak menemukannya secara eksplisit dalam referensi, namun telah saya tetapkan berdasarkan analisis hukum (tafaqquh) karena berbagai masalah dalam topik ini tidak dapat dipahami kecuali dengan dasar tersebut. Kaidah-kaidah dan dalil-dalil juga mendukungnya, yaitu:
Daging kurban yang bersifat sunnah menjadi milik Allah Ta’ala setelah disembelih. Pembagian manfaatnya terbagi menjadi dua bentuk:
1. Fakir miskin (tamlik): Daging kurban diberikan kepada mereka sebagai kepemilikan penuh sehingga mereka dapat memanfaatkannya, termasuk menjualnya.
2. Orang kaya (pemanfaatan): Mereka hanya diberi manfaat dari daging kurban tersebut tanpa kepemilikan penuh.
Orang yang berkurban juga termasuk dalam kategori yang diizinkan memanfaatkannya, dengan hak untuk membagi dan mendistribusikan daging tersebut. Ketika seseorang yang berkurban menyembelih hewan kurbannya, maka ia mendekatkan diri kepada Allah dengan sembelihan tersebut. Dengan demikian, kepemilikannya beralih kepada Allah Ta’ala. Namun, ia diizinkan memakan sebagian darinya karena ada izin dari Allah.
Jika daging tersebut diberikan kepada fakir miskin, pemberian itu bersifat tamlik (kepemilikan penuh), sehingga mereka bebas memanfaatkannya, termasuk menjualnya. Hal ini karena fakir miskin adalah tujuan utama dari pelaksanaan kurban. Untuk merealisasikan manfaat ini, diperlukan tamlik sepenuhnya.
Adapun jika daging diberikan kepada orang kaya, maka pemberian itu tidak untuk tamlik. Artinya, orang kaya hanya diberi izin untuk memanfaatkannya (seperti makan, menyedekahkan, atau menjamu tamu), tetapi tidak diizinkan menjualnya. Ini berbeda dengan fakir miskin yang menjadi tujuan utama kurban. Oleh karena itu, tujuan kurban adalah tamlik bagi fakir miskin, sedangkan bagi orang kaya dan yang berkurban hanya diberikan hak pemanfaatan (ibahah).
Referensi Tambahan
1. “Tuhfatul Muhtaj” dan “Nihayatul Muhtaj”:
وللفقير التصرف في المأخوذ ولو بنحو بيع المسلم لملكه ما يعطاه ، بخلاف الغني فليس له نحو البيع بل له التصرف في المهدي له بنحو أكل وتصدق وضيافة ولو لغني ، لأن غايته أنه كالمضحي نفسه ، قاله في التحفة والنهاية
Fakir miskin dapat memanfaatkan daging yang diterimanya secara penuh, termasuk menjualnya karena menjadi miliknya. Sedangkan bagi orang kaya, mereka tidak boleh menjual daging tersebut. Namun, mereka boleh memanfaatkannya, seperti memakan, menyedekahkan, atau menjamu tamu, baik kepada orang kaya maupun fakir. Hal ini karena mereka hanya disamakan kedudukannya dengan yang berkurban itu sendiri.
Referensi
إعانة الطالبين ج٢ ص ٣٧٩
(قوله: لا تمليكهم) أي لا يجوز تمليك الأغنياء منها شيئا. ومحله إن كان ملكهم ذلك ليتصرفوا فيه بالبيع ونحوه كأن قال لهم ملكتكم هذا لتتصرفوا في بما شئتم أما إذا ملكهم إياه لا لذلك بل للأكل وحده فيجوز، ويكون هدية لهم وهم يتصرفون فيه بنحو أكل وتصدق وضيافة لغني أو فقير لا ببيع وهبة وهذا بخلاف الفقراء، فيجوز تمليكهم اللحم ليتصرفوا فيه بما شاؤا ببيع أو غيره.
2. “I’anah Al-Thalibin”, Juz 2 Halaman 379:
Tidak diperkenankan memberikan daging kurban kepada orang kaya dengan cara tamlik untuk tujuan seperti menjualnya. Namun, jika pemberian itu hanya untuk dimakan atau dimanfaatkan (tanpa hak kepemilikan penuh), maka diperbolehkan. Dalam hal ini, pemberian tersebut dianggap sebagai hadiah, sehingga orang kaya dapat memanfaatkannya dengan memakan, menyedekahkan, atau menjamu tamu, tetapi tidak menjualnya. Sebaliknya, fakir miskin boleh menerima daging dengan tamlik penuh, sehingga mereka bebas memanfaatkannya, sesuka hatinya termasuk menjualnya.
CATATAN
HUKUM QURBAN INI SAMA DENGANGAN AQIQOH ,Artinya aqiqoh demikian juga adanya namun yang utama diberikan masaknya” Wallahu a’lam bish-shawab
Kemiskinan adalah salah satu keadaan yang dipandang sebagai ketidakmampuan dari sisi ekonomi, dalam memenuhi kebutuhan dasar manusia. Hal ini mencakup pangan dari aspek pemasukan untuk membeli makanan, dan bukan dari aspek pengeluaran. Kemiskinan juga memiliki kaitan erat dengan tingkat pendapatan, sehingga seseorang berada dalam fase kehilangan pendapatan dan aksesibilitas terhadap sumber daya pemenuh kebutuhan hidup, baik berupa pangan, sandang, papan, serta layanan hidup lainnya. Doktor Syaikh Yusuf al-Qordhowi Rahimahullah, menjelaskan dalam kitabnya fiqih zakat bahwa orang Faqir: “ adalah orang yang tidak memiliki harta atau penghasilan yang halal yang layak untuknya, jatuh dalam posisi ketidak cukupan, seperti makanan, pakaian, perumahan dan semua hal penting lainnya, baik untuk dirinya sendiri dan untuk orang menjadi beban tanggung jawabnya untuk membelanjakan, tanpa adanya pemborosan atau kekikiran, seperti seseorang yang membutuhkan sepuluh dirham setiap hari dan hanya menemukan empat atau tiga atau dua. Sedangkan Miskin: “adalah orang yang mampu memperoleh uang atau memperoleh penghasilan yang layak secara halal yang termasuk dalam kecukupannya dan kecukupan tanggungannya. Tetapi itu tidak dilakukan dengan cukup, seperti seseorang yang membutuhkan sepuluh dan menemukan tujuh atau delapan, maka dalam upaya untuk menanggulangi kemiskinan”Takmir masjid selama ini bingung masalah fiqih terkait sah/ boleh apa tidak menggunakan uang kas masjid untuk bantuan bencana atau janda miskin yang rumahnya hampir roboh,”
Pertanyaan.
Bolehkah dalam upaya menanggulangi kemiskinan memanfaatkan sebagian dana masjid digunakan atau ditashorrufkan untuk fakir miskin ?
Waalaikum salam
Jawaban
Jika dana masjid telah mencukupi untuk kebutuhan pembangunan, maka boleh dimanfaatkan untuk fakir miskin yang mana fakir dan miskin termasuk dari bagian jamaah masjid bahkan termasuk dari ahli qoryah, alasannya karena masjid itu bagaikan orang yang merdeka yang bisa memiliki sesuatu oleh karenanya tidak dibolehkan menggunakan barang masjid kecuali ada maslahat yang kembali kepada masjid atau untuk kepentingan orang-orang muslim, kepentingan umum mencakup antara orang fakir atau miskin, bahkan disunnahkan bagi takmir melakukan sesuatu yang biasa dilakukan di masjid, seperti menyediakan kopi, rokok dan sesuatu yang disukai para jama’ah, walaupun hal ini tidak dibiasakan sebelumnya, apabila uang kas ini sudah melebihi untuk pembangunan masjid”. Pernah syaik Salim bin Sa’id Baggitsan As-Syafi’i di tanya tentang seseorang yg mewakafkan hartanya yg sangat banyak untuk kemaslahatan masjid dan sekarang masjid tersebut telah makmur (banyak yg ibadah disana) dan ada di kas masjid harta wakaf orang tersebut masih lebih karena sangat banyaknya, maka apakah boleh mengeluarkan sebagian harta wakof ini untuk suatu acara agar orang orang yg solat lebih giat lagi ? Maka beliau menjawab : Segala puji bagi allah dan allah jua lah yg memberikan jalan kepada kebenaran. Harta harta yg di wakofkan untuk kemaslahatan masjid , sebagaimana pada soal tsb ,Boleh mentasarufkan harta wakof tsb untuk pembangunan , pengecatan , gaji marbot , asatidz , imam , begitu pula boleh untuk membuat lebih giat lagi orang yg solat seperti menyajikan kopi , bukhur(asap yg wangi untuk mewangikan masjid) akan tetapi semua harta wakaf itu harus di utamakan mana yg lebih penting.
الفتاوى الفقهية الكبرى (٣/ ١٥٥) وَأَنَّ الْمَسْجِدَ حُرٌّ يَمْلِك فَلَا يَجُوزُ التَّصَرُّفُ فيه إلَّا بِمَا فيه مَصْلَحَةٌ تَعُودُ عليه أو على عُمُومِ الْمُسْلِمِينَ
Fatwa Al-Fiqhiyyah Al-Kubra (3/155): “Sesungguhnya masjid itu bebas dimiliki, sehingga tidak boleh digunakan kecuali untuk sesuatu yang mengandung kemaslahatan yang kembali kepada masjid itu sendiri atau kepada kaum muslimin secara umum
فتوى إبن صالح ص ٣٩٠ وَإِذا ضَاقَ الْأَمر اتَّسع وَمن نَظَائِر ذَلِك مَا ذكره غير وَاحِد من أَصْحَابنَا *من أَن وقُوف الْمَسَاجِد فِي الْقرى يصرفهَا صلحا أهل الْقرْيَة فِي عمَارَة الْمَسْجِد ومصالحه لعدم من إِلَيْهِ النّظر
Fatwa Ibnu Shalih, hlm. 390: “Jika suatu perkara menjadi sempit, maka diberikan keluasan.” Di antara contoh kaidah ini adalah apa yang disebutkan oleh beberapa ulama mazhab kami, yaitu bahwa wakaf masjid di desa-desa dapat digunakan oleh penduduk desa tersebut untuk pembangunan dan kepentingan masjid karena tidak ada pihak yang bertanggung jawab mengelolanya.”
Fatwa Ar-Ramli, hlm. 634:(Pertanyaan):Terkait jawaban As-Subki bahwa seorang nadzir (pengelola wakaf) boleh berdagang menggunakan harta masjid karena masjid itu seperti harta bebas dimiliki, tidak seperti wakaf lainnya, apakah pendapat ini yang dijadikan pegangan atau tidak? Apa perbedaan antara masjid dengan selainnya?
(Jawaban):Pendapat tersebut adalah yang dipegang. Perbedaannya dengan wakaf lain adalah sebagaimana disebutkan, bahwa masjid itu seperti harta bebas yang dapat dimiliki melalui jual beli, hibah, wasiat, syuf’ah, dan sejenisnya, berbeda dengan wakaf lainnya.”
Fatwa Ar-Ramli, hlm. 638: (Pertanyaan): Jika sebuah masjid tidak lagi digunakan karena kehancuran kota, runtuh, atau sebab lainnya, apakah hasil wakafnya disalurkan kepada fakir miskin sebagaimana pendapat Al-Mawardi yang ditegaskan oleh Ar-Ruyani dalam kitab Al-Bahr? Ataukah disalurkan kepada kerabat terdekat dari pewakaf seperti dalam kasus pewakaf yang tidak memiliki ahli waris sebagaimana pendapat Ar-Ruyani dalam sumber lain dan disebutkan oleh Al-Hannathi dalam fatwanya? Ataukah digunakan untuk pembangunan masjid lain dan kepentingannya, di mana masjid terdekatlah yang lebih berhak mendapatkannya sebagaimana dinukil dari Al-Mutawalli? Ataukah dana wakaf tersebut disimpan untuk kemungkinan masjid itu dapat dibangun kembali sebagaimana pendapat Imam yang membahas hal serupa dalam wakaf benteng perbatasan?”
(Jawaban): Pendapat yang paling kuat dalam masalah ini adalah: Dalam hal ini, tidak ada perbedaan pendapat dalam masalah ini.” Jika ada kemungkinan masjid itu dibangun kembali, maka hasil wakafnya harus disimpan sebagaimana pendapat Imam. Jika tidak mungkin dibangun kembali, maka harus dialihkan ke masjid lain yang masih ada, sebagaimana pendapat Al-Mutawalli yang juga ditegaskan dalam kitab Al-Anwar. Jika tidak memungkinkan, maka dana tersebut diberikan kepada kerabat terdekat dari pewakaf, sebagaimana pendapat Ar-Ruyani dalam sumber lain yang juga disebutkan oleh Al-Hannathi. Jika tidak ditemukan kerabat pewakaf, maka hasil wakaf disalurkan kepada fakir miskin atau kemaslahatan kaum muslimin, sebagaimana pendapat Al-Mawardi yang ditegaskan oleh Ar-Ruyani dalam Al-Bahr
Disebutkan Dalam sebuah hadits dari Jabir bin Abdillah radhiyallahu anhuma.Beliau berkata:
“Nabi shallallahu‘alaihi wasallam memerintahkan dari setiap buah yang berjumlah sepuluh wasaq kurma (hasil panen) diambil satu tandan dan digantungkan di masjid untuk orang-orang miskin.” (HR. Ahmad: 14867, Abu Dawud: 1662 dan Musnad Abi Ya’la: 2038 (4/34). Isnad-nya di-jayyid-kan oleh Ibnu Katsir dalam Tafsirnya: 3/348. Di-shahih-kan oleh al-Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud: 1465). Al-Bara’ bin Azib radhiyallahu anhu berkata:
“Kami adalah petani kurma, setiap orang datang membawa hasil kurmanya sesuai banyak sedikitnya, seseorang datang membawa setangkai atau dua tangkai lalu menggantungkannya di masjid, sementara penghuni halaman masjid (ahlush shuffah) tidak memiliki makanan, jika salah seorang dari mereka merasa lapar, mereka datang ke tangkai-tangkai kurma dan memukulnya dengan tongkat hingga busr (kurma muda) dan kurma berjatuhan, lalu mereka memakannya, sedangkan orang-orang yang tidak menghendaki kebaikan, datang dengan membawa satu tangkai kurma yang keras lagi jelek dan satu tangkai yang sudah rusak, kemudian digantungkan di masjid, maka Allah Tabaraka wa Ta’ala menurunkan ayat: “Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (di jalan Allah) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang kami keluarkan dari bumi untuk kamu. dan janganlah kamu memilih yang buruk-buruk lalu kamu menafkahkan daripadanya, padahal kamu sendiri tidak mau mengambilnya melainkan dengan memincingkan mata terhadapnya.” (QS.Al-Baqarah: 267).” (HR. At-Tirmidzi: 2987 dan ia berkata hasan shahih dan Ibnu Abi Syaibah dalam al-Mushannaf: 11099 (6/419). Di-hasan-kan pula oleh Muqbil dalam ash-Shahih al-Musnad: 138 (1/119)). Al-Imam Ibnu Rajab al-Hanbali (wafat tahun 795 H) rahimahullah berkata:
والظاهر من أهل الصفة: أنهم كانوا يأكلون في المسجد، وقد سبق حديث البراء بن عازب أنهم كانوا إذا جاعوا ضربوا القنو المعلق في المسجد للصدقة فأكلوا منه
المساجد بيوت الله ص ١١٠-١١١ (باب: القسمة وتعليق القنو في المسجد) ثم ذكر حديث أنس -رضي الله عنه -قال: «أتي النبي- صلى الله عليه وسلم -بمال من البحرين، فقال: (انثروه في المسجد) وكان أكثر مال أُتِيَ به رسول الله -صلى الله عليه وسلم- فخرج رسول الله- صلى الله عليه وسلم -ولم يلتفت إليه، فلما قضى الصلاة جاء فجلس إليه، فما كان يرى أحدًا إلا أعطاه، فما قام رسول الله – صلى الله عليه وسلم – وثم منه درهم» (٢) ففي هذا الحديث جواز تفريق المال في المسجد، بشرط ألاَّ يشغل المصلِّين، ولا يحصل فيه ازدحام وهيشات أصوات، فإن تيسَّر تفريقه في غير المسجد فهو أولى، ومثله تفريق الزكوات وصدقة الفطر، يجوز في المساجد عند الحاجة. (٣)
Dan tampak dari Ahlu Shuffah bahwa mereka biasa makan di dalam masjid. Telah disebutkan dalam hadis al-Barra’ bin ‘Azib bahwa ketika mereka merasa lapar, mereka memukul tandan kurma yang tergantung di masjid sebagai sedekah, lalu mereka memakannya.
(Kitab Al-Masajid Buyutullah, hlm. 110-111, Bab: Pembagian dan Menggantung Tandan Kurma di Masjid)
Kemudian disebutkan hadis dari Anas radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: “Rasulullah ﷺ didatangi dengan harta dari Bahrain, lalu beliau bersabda: ‘Sebarkanlah harta itu di dalam masjid.’ Itu adalah harta terbanyak yang pernah diberikan kepada Rasulullah ﷺ. Kemudian beliau keluar dan tidak menoleh kepadanya. Setelah selesai salat, beliau datang dan duduk di dekatnya. Setiap orang yang beliau lihat, beliau memberinya harta tersebut, hingga akhirnya tidak tersisa satu dirham pun ketika beliau berdiri.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)
Hadis ini menunjukkan bolehnya membagikan harta di dalam masjid, dengan syarat tidak mengganggu jamaah yang sedang salat dan tidak menyebabkan keributan atau kebisingan. Namun, jika memungkinkan untuk membagikannya di luar masjid, itu lebih utama. Demikian pula dalam pembagian zakat dan sedekah fitrah, hukumnya diperbolehkan dilakukan di dalam masjid.
Catatan : Bukan berarti masjid menerima zakat , melainkan sebagai sarana mendistribusikan sedekah fitrah
(١) أخرجه مسلم في الصحيح (١٠٢٨)، دون قول أبي بكر – رضي الله عنه – دخلت المسجد ….. ، وهي زيادة ضعيفة، في سندها مبارك بن فضالة، وهو مدلس وقد عنعنه. (٢) ذكره البخاري (٤٢١) معلقاً بصيغة الجزم ووصله ابن حجر في التغليق (٢/ ٢٢٧) (٣) انظر المجموع (٢/ ١٧٦) وفصول ومسائل تتعلق بالمساجد لابن جبرين (ص/٤٤)
Kewajiban memberikan nafkah bagi suami kepada istrinya tidak hanya sebatas nafkah dhahir sàja melainkan juga nafkah batin ( jima’). Katakanlah seorang suami bernama Fulan satu bulan lamanya bekerja merantau mencari penghasilan baru datang akhirnya dia bersetubuh dengan istrinya bernama Fulanah, namun ketika selesai mencapai puncak nikmatnya berhubungan (jima’) mendadak istrinya menstruasi, hal itu diketahui karena ada bekas darah dikemaluannya ( Dzakarnya )
Pertanyaan Bagaimana hukumnya persetubuhan suami istri yang diketahui menstruasi secara mendadak setelah jima’ ? 🙏🏻
Waalaikum salam Jawaban Melakukan hubungan intim tanpa ada unsur kesengajaan lalu haid maka tidaklah berdosa, ( dima’fu) karena yang berdosa jika sudah diketahui istrinya haid. Jadi selama tidak diketahui dan tidak mengulanginya jima’ setelahnya maka tidaklah berdosa, karena Allah Mengampuni Siapa yang Tersalah dan Lupa
عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا أَنَّ رَسُولَ اللهِ صلى الله عليه وسلم قَال: (إِنَّ اللهَ تَجَاوَزَ لِي عَنْ أُمَّتِي الْخَطَأَ وَالنِّسْيَانَ وَمَا اسْتُكْرِهُوْا عَلَيْهِ) حَدِيْثٌ حَسَنٌ رَوَاهُ ابْنُ مَاجَه وَاْلبَيْهَقِيّ وَغَيْرُهُمَا.
Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya Allah membiarkan(mengampuni) kesalahan dari umatku akibat kekeliruan dan lupa serta keterpaksaan.” (Hadits Hasan diriwayatkan oleh Ibnu Majah dan Al Baihaqi serta selain keduanya).[1] [1] Diriwayatkan oleh Ibnu Majah (2045), Ibnu Hibban dalam Shahihnya (16/202), Ath Thabrani dalam al Kabir (11274), Al Hakim dalam al Mustadrak (2/216) , Ad Daruquthni dalam Sunannya (4/170) dan Al Baihaqi dalam al Kubra (7/356
Orang yang melakukannya dengan sengaja mendapatkan dosa besar dan wajib baginya untuk bertobat. Jika ia tidak sengaja maka tidak ada dosa baginya.
Al-Khatib As-Syirbini menjelaskan dalam Kitab Mughnil Muhtaj:
Artinya: “Menggauli istri yang sedang haid di kemaluannya adalah dosa besar bagi suami yang sengaja, mengetahui keharamannya, dan tidak terpaksa. Orang yang menghalalkan perbuatan ini dianggap kafir seperti disebutkan di dalam Kitab Al-Majmu’ dari Ashabus Syafi’i dan selainnya. Berbeda dengan orang yang tidak tahu keharamannya, orang lupa, dan terpaksa (maka dimaafkan), karena hadits Nabi: “Sungguh Allah memaafkan dari umatku yang tersalah, lupa, dan yang terpaksa. Ini hadits hasan yang diriwayatkan oleh Al-Baihaqi dan selainnya).” (Al-Khatib As-Syirbini, Mughnil Muhtaj, [Beirut: Darul Ma’rifah], jilid I, halaman 173.Wallahu A’lam bisshowab
Dalam waqiiyah seseorang kontrak tempat toko lalu toto tersebut dipekerjakan kepada orang lain dengan akad bagi hasil baik dalam akad separuh hasil 50% atau 25% padahal siperkerja sama sekali tanpa modal hanya saja bermodal tenaga/ kerja.
Pertanyaan
Termasuk aqad apakah hal tersebut dalam Deskripsi ?
Waalaikum salam . Jawaban.
Mengamati dari latar belang masalah antara orang yang memiliki toko dan orang yang menjaga toko ( pekerja ) disebut akad Mudhorobah atau muamalah, Karena dalam mudharabah yang diserahkan kepada pihak lain ( pekerja) adalah berupa harta modal yang dipasrahkan untuk dikelola.
Referensi
[وهبة الزحيلي، الفقه الإسلامي وأدلته للزحيلي، ٣٩٢٣/٥]
المضاربة أو القراض أو المعاملة من أنواع الشركات. وهي في لغة أهل العراق تسمى مضاربة وفي لغة أهل الحجاز تسمى قراضاً، وهو مشتق من القرض وهو القطع؛ لأن المالك يقطع للعامل قطعة من ماله يتصرف فيها ويعطيه قطعة من الربح، أو مشتق من المقارضة: وهي المساواة لتساويهما في استحقاق الربح، أو لأن المال من المالك والعمل من العامل، وهي لهذا تشبه الإجارة؛ لأن العامل فيها يستحق حصته من الربح جزاء عمله في المال. وأهل العراق يسمون القراض مضاربة؛ لأن كلاً من العاقدين يضرب بسهم في الربح، ولأن العامل يحتاج إلى السفر، والسفر يسمى ضرباً في الأرض .
Referensi:
الفقه على مذهب الأربعة للشيخ عبد الرحمن الجزآئرى
ومناسبة المضاربة للمساقاة والمزارعة ظاهرة لأنك قد عرفت أنهما عقدان بين اثنين من جانب أحدهما الأرض أو الشجر، ومن جانب الآخر العمل، ولكل منهما نصيب في الخارج من الثمر، وكذلك المضاربة فإنها عقد يتضمن أن يكون المال منة جانب والعمل من جانب آخر ولكل من الجانبين نصيب في الربح
Artinya: “Korelasi antara mudharabah dengan akad musâqah dan muzâra’ah tampak jelas. Sebagaimana anda ketahui bahwa kedua akad terakhir ini terbentuk oleh dua pihak yang menjalin relasi, satu pihak menyerahkan tanah atau pohon, sementara pihak lainnya menyerahkan tenaga. Tiap-tiap dari keduanya ada hak berupa bagian dari hasil panenan berupa buah. Demikian pula dengan akad mudharabah, ia terbentuk dari sebuah jalinan akad yang memuat di dalamnya berupa penyerahan harta dari satu sisi, dan kerja dari sisi yang lain sehingga masing-masing berhak atas bagian keuntungan yang diperoleh.” (Abdurrahman al-Jazîry, al-Fiqhu ‘ala al-Madzâhibi al-Arba’ati, Beirut: Dâr al-Fikr, 2019: 3/29)
Dengan memperhatikan unsur kesamaan di atas, maka rukun dari akad mudharabah, musâqah, dan mukhâbarah, pada dasarnya mengikuti rukun yang terdapat dalam akad mudharabah. Para ulama berbeda pendapat terkait dengan rukun mudharabah ini. Menurut kalangan Hanafiyah, rukun mudharabah ada dua yaitu, adanya lafadh ijab dan qabul yang menunjukkan terhadap maksud dilakukannya akad. Menurut pandangan mayoritas ulama, rukun mudharabah ada 3, yaitu:
Adanya ‘aqidain (dua orang yang berakad), yakni terdiri atas pemilik modal (mâlik) dan pengelola (‘amil)
Adanya ma’qùd ‘alaih, yaitu objek yang masuk dalam unsur akad, terdiri dari: (a) jenis pekerjaan (‘amal); (b) laba (ribhu); dan (c) modal (ra’sul mâl)
Shighat akad, terdiri dari shighat ijab (menyerahkan) dan shighat qabul (menerima)
Ulama kalangan Syafiiyah, memerinci akad ini menjadi 5, yaitu: harta (mâl), usaha (‘amal), laba (ribhu), shighat (lafadh ijab dan qabul) dan ‘aqidain (dua orang yang berakad). Dengan begitu, pandangan Syafiiyah ini sebenarnya sama dengan pandangan ulama jumhur (mayoritas). Bagaimana dengan pandangan Hanafiyah? Mengapa hanya ada dua syarat saja, yaitu keberadaan lafadh ijab dan kabul saja?
Untuk mengetahui ceruk dari kalangan Hanafiyah dalam memandang akad mudharabah ini, kita bisa lihat pada definisi ijab dan qabul dari kalangan tersebut. Dalam al-Fiqhu al-Islami wa Adillatuhu, juz 4, dijelaskan bahwa, yang dimaksud dengan lafadh ijab oleh Hanafiyah adalah:
فألفاظ الإيجاب: هي لفظ المضاربة والمقارضة والمعاملة، وما يؤدي معاني هذه الألفاظ بأن يقول رب المال: (خذ هذا المال مضاربة على أن ما رزق الله عز وجل من ربح فهو بيننا على كذا من نصف أو ربع أو ثلث أو غير ذلك من الأجزاء المعلومة).
Artinya: “Yang dimaksud dengan lafadh ijab adalah lafadh yang menunjukkan makna mudharabah, muqâradlah, atau mu’amalah, atau segala bentuk pernyataan yang bisa mendatangkan pengertian pada akad, misalnya seperti pernyataan pemodal: ‘Ambil harta ini sebagai modal usaha dengan bagi hasil keuntungan yang direzekikan oleh Allah ﷻ kepada usaha kita dalam menjalankan modal ini, dengan rasio pembagian separuh (untuk aku atau kamu), seperempat (untuk aku atau kamu), atau sepertiga (untuk aku atau kamu) atau menurut nisbah tertentu lainnya yang kita ketahui bersama” (al-Kasâni, Badâi’u al-Shanâi’ fi Tartîbi al-Syarâi’, Damaskus: Dâr al-Kutub al-Ilmiyyah, 1971: 8/5-6). Wallahu a’lam bish-shawab
HUKUM SEMBELIHAN HEWAN DARI ARAH ATAS LEHER KONDISI HEWAN BERDIRI
Assalamualaikum.
Deskripsi masalah.
Seiring dengan perkembangan zaman praktek sembelihan hewan yang terjadi dimasyarat beraneka ragam cara ada yang dipotong dalam kondisi hewan tanpa diikat kakinya terlebih dahulu yakni dalam kondisi berdiri tegak lalu dipotong melalui leher yang atas : cepleng red: Dan sebagian dengan hewan dirobohkan terlebih dahulu lalu diikat kakinya dan kepalanya dihadapkan kearah kiblat dll.
Pertanyaannya.
Bagaimana hukum sembelihan dengan cara dimulai dari leher atas ( cepleng : Red ) sedangkan hewan yang disembelih dalam kondisi berdiri tanpa diikat terlebih dahulu dihadapkan kearah kiblat?
Waalaikum salam. Jawaban
Ditafsil
🅰️Jika sembelihannya orang Non Muslim ( kafir ) maka tidak sah dan haram memakannya 🅱️Jika sembelihannya orang Islam maka mayoritas ulama fiqh menghukumi makruh, jika dimulai dari atas leher, cepleng: Red, alasannya karena termasuk pada kategori penyiksaan, namun halal sembelihannya, apabila telah memenuhi syarat yaitu dipotong dengan cepat dan saat mari’ (kerongkongan/saluran makanan) dan hulqum (tenggorokan/saluran pernafasan) terputus diduga kuat masih ada hayatun mustaqirrah (tidak sekarat). Akan tetapi sebaliknya jika tidak memenuhi syarat maka hukumnya HARAM.
Referensi:
فقه الإسلامى وادلته للزحيلى ص :٢٦٧٨
المبحث الأول ـ الذابح الذابح أحد أصناف ثلاثة: صنف تحرم ذكاته بالاتفاق، وصنف تجوز تذكيته بالاتفاق، وصنف مختلف فيه (٢). ف الذابح الذي لا تؤكل ذبيحته وتحرم بالاتفاق: هو الكافر من غير أهل الكتاب، كالمشرك أو الوثني عابد الأصنام، والملحد الذي لا يدين بدين، والمرتد وإن تدين بدين أهل الكتاب، والزنديق، لقوله تعالى: {وما ذُبح على النُّصُب} [المائدة:٣/ ٥] وقوله: {وما أهل لغير الله به} [المائدة:٣/ ٥] لأنه يحرم الاتجاه بالذبح إلى غير الله تعالى، والمرتد لا يقر على الدين الذي انتقل إليه، وبناء عليه تحرم اللحوم المستوردة من البلاد الوثنية كاليابان، أو الشيوعية كروسيا والصين، أو التي لا تدين بدين سماوي كالهند. كماتحرم ذبيحة الباطنية إلا من ثبت إيمانه بالإسلام وترك ملته.
والذابح المتفق على ذكاته: هو المسلم البالغ العاقل الذكر، الذي لا يضيع الصلاة، لقوله تعالى: {إلا ما ذكيتم} [المائدة:٣/ ٥] والخطاب فيه موجه للمسلمين. وأشهر المختلف في تذكيته بين الفقهاء: أهل الكتاب والمجوس والصابئون، والمرأة والصبي والمجنون والسكران، والسارق والغاصب. ١ً ـ ذبيحة الكتابي: فأما أهل الكتاب: فتجوز من حيث المبدأ ذبائحهم بالإجماع (١) لقوله تعالى: {وطعام الذين أوتوا الكتاب} ـ أي ذبائحهم ـ {حل لكم، وطعامكم حل لهم} [المائدة:٥/ ٥]. والجائز: هو ما يعتقدونه في شريعتهم حلالاً لهم، ولم يحرم عليهم، كلحم الخنزير، ولو لم يعلم أنهم سموا الله تعالى، أو كانت الذبيحة لكنائسهم وأعيادهم ولو اعتقدوا تحريمه كالإبل. قال ابن عباس: «وإنما أحلت ذبائح اليهود والنصارى من أجل أنهم آمنوا بالتوراة والإنجيل» (٢). إلا أن الإمام مالك قال: ذبائحهم المحرمة عليهم مكروهة لنا، كالإبل والشحوم الخالصة، وهي المذكورة في قوله تعالى: {وعلى الذين هادوا حرمنا كلذي ظفر (١)، ومن البقر والغنم، حرمنا عليهم شحومهما، إلا ما حملت ظهورهما، أو الحوايا، أو ما اختلط بعظم} [الأنعام:١٤٦/ ٦]. وأجازها الجمهور لأنها مسكوت عنها في شرعنا، فتبقى على أصل الإباحة. وكذلك تكره عند المالكية والشافعية وفي رواية عن أحمد المذبوحة لكنائسهم وأعيادهم، لما فيها من تعظيم شركهم، ولأن الذابح قصد بقلبه الذبح لغير الله، ولم يذكر اسم الله عليه. وهذا هو الأصوب. وأما إذا علم أن الذابح سمى على الذبيحة غير اسم الله، بأن ذبح النصراني باسم المسيح، واليهودي باسم العزير، فقال الجمهور بعدم الحل لقوله تعالى: {وما أهل لغير الله به} [المائدة:٣/ ٥] {ولا تأكلوا مما لم يذكر اسم الله عليه} [الأنعام:١٢١/ ٦] وهذا هو الأولى بالصحة؛ لأن المراد بحل ذبائحهم ما ذبحوه بشرطه كالمسلم. وقال المالكية: بكراهة ذلك في غير حرمة، لعموم آية {وطعام الذين أوتوا الكتاب حل لكم} [المائدة:٥/ ٥] لأنه قد علم الله أنهم سيقولون على ذبائحهم مثل ذلك، ولأن تسميتهم باسم الإله حقيقة ليست على طريق العبادة، فكانت التسمية منهم وعدمها على سواء. وقيد الشافعية حل ذبيحة الكتابي وزواج الكتابية بشرط هو ما يأتي (٢):إن لم يكن الكتابي إسرائيلياً: فالأظهر الحل إن علم دخول قومه (أي أول من تدين من آبائه) في ذلك الدين (أي دين موسى وعيسى عليهما السلام) قبل نسخه وتحريفه، لتمسكهم بذلك الدين حين كان حقاً.
Referensi
فقه الإسلامى وادلته للزحيلى ص : ٢٦٨٦
وقال جمهور الفقهاء (٢): يكره ذبح الحيوان من القفا، أو من صفحة العنق، فلو فعل ذلك عصى لما فيه من التعذيب. لكن إن حدث القطع على وجه السرعة، وأتت السكين على موضع الذبح، وفي الحيوان حينئذ حياة مستقرة حتى تقطع العروق عند الحنفية، والحلقوم والمري عند الشافعية والحنابلة، جاز أكله، وإلا لم يحل لموته بلا ذكاة. ويعلم وجود الحياة المستقرة بوجود الحركة أو انفجار الدم بعد قطع موضع الذبح، فهي دليل بقاء الحياة المستقرة قبله. فإن لم يعلم وشك، هل توجد الحياة المستقرة قبل قطع موضع الذبح نظر: فإن كان الغالب بقاء ذلك لحدة الآلة وسرعة القطع، أبيح أكله، وإن كانت الآلة كالَّة (لا تقطع)، وأبطأ قطعه، وطال تعذيبه للحيوان لم يبح أكله؛ لأنه مشكوك في وجود ما يحله، وصار ميتة، فلا يفيده الذبح بعدئذ.
SOLUSI PEMIMPIN DALAM BERDAKWAH MENGHADAPI MASYARAKAT AWAM YANG TALFIQ
Assalamualaikum.
Sa’il Rasid Rusiyadiy
Deskripsi masalah.
Dalam waqiiyah Hidup di kota yang penduduknya jauh dari ilmu agama sangat prihatin untuk para kyai dan para ustadz, begitu juga kondisi disebagian masyarakat terpencil, sehingga mereka (pemimpin) sering kali susah untuk memutuskan permasalahan fiqhih, dikarenakan penduduknya banyak orang” yang talfiq
Pertanyaannya .
Bagaimana solusi yang seharusnya di perbuat oleh pemimpin ( para ulama’ ) pada zaman ini yang masyarakatnya kebanyakan talfiq?.
Waalaikum salam.
Jawaban.
Solusi bagi pemimpin dalam berdakwah menghadapi orang awam yang kebanyakan Talfiq ( yaitu mencampur-adukkan pendapat seorang ulama dengan pendapat ulama lain, yang tidak seorang pun dari mereka yang membenarkannya) dizaman sekarang ini adalah:
Pertama : ikhlas dalam berdakwah .
Kedua: sabar dalam berdakwah serta berpegang teguh terhadap ajaran Nabi Muhammad shallallahu alaihiwasallam .
Ketiga : Selalu berdo’ untuk umat.
اللهم اهد قومى فإنهم لا يعلمون
Ya Allah berikanlah petunjuk ( hidayah ) kepada kaumku sesungguhnya mereka tidak mengetahui
ربنا افتح بيننا وبين قومنا بالحق وأنت خير الفاتحين
Wahai Tuhan kami bukakanlaj diantara kami dan kaum kami dengan yang hak ( benar ) dan engkaulah sebaik-baik pembukaan kebenaran.
Mungkin dengan cara inilah Allah memberikan petunjuk bagi mereka, karena ulama sebagai pemimpin umat hanyalah berkewajiban menyampaikan amar makruf nahi mungkar sebagaimana disebutkan dalam kitab Bustanul Arifin, Rasulullah SAW bersabda:”
بلغو عني ولو آية
Sampaikanlah tentang ajaran ku walaupun adanya cuma satu ayat. Adapun mengerjakan ataupun tidak itu adalah bergantung hidayah Allah, karena siapun tidak akan bisa memberikan petunjuk terhadap orang yang ia cintai melainkan Allahlah yang dapat memberikan petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya
إنك لاتهدى من أحببت ولكن الله يهدى من يشاء
Berikut keterangan dalam kitab
رسالة المعاونة.ص ٢٦
(وعليك)
إذا أمرت أو نهيت بالإخلاص لله تعالى، والرفق وحسن السياسة، وإظهار الشفقة؛ فما اجتمعت هذه الخصال في عبد مع كونه عاملاً بما أمر به مجتنباً لما نهى عنه إلا كان لكلامه صولة وهيبة في الصدور ووقع في القلوب وحلاوة في الأسماع وقل أن يُرَدَّ عليه مع هذا كلامه، وكل من تحقق بمراقبة الله والتوكل عليه وتخلَّق بالرحمة على عباده لم يقدر أن يملك نفسه عند مشاهدة المنكر حتى يزيله أو يحال بينه وبين ذلك بما لا قدرة له على دفعه.
Metode Berdakwah Hendaklah engkau selalu menyampaikan amar makruf nahi munkar dengan ikhlas karena Allah, lemah lembut dan baiknya dalam bersiasah ( politik ) yang disertai dengan kasih sayang.
Apabila sifat-sifat itu telah menyatu dalam diri seorang hamba yang senantiasa mengerjakan perintah-perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya, sudah barang tentu kata-katanya akan didengar, nasihatnya akan berkesan dan tak seorang pun dari pendengarnya yang mampu menyanggah pernyataannya Barangsiapa mendekatkan diri pada Allah Swt., bertawakal kepada-Nya serta menghiasi diri dengan sifat kasih sayang kepada sesama hamba Allah, maka ia tidak kan membiarkan segala macam kemaksiatan yang ada di depannya, sehingga ia menghilangkannya atau menghalang-halanginya jia ia tak mampu menghalaunya.
(وإياك)
والتجسُّسَ وهو طلب الوقوف على عورات المسلمين ومعاصيهم المستورة، قال عليه السلام: “من تتبع عورة أخيه المسلم تتبع الله عورته حتى يفضحه ولو في جوف بيته”.
(واعلم)
أن المعصية إذا سترت لم تضر إلا مرتكبها فإذا ظهرت ولم تغير عم ضررها.
Larangan Memata-matai Janganlah engkau memata-matai orang lain untuk mencari keburukan dan kemaksiatan yang dikerjakannya, khususnya saudaramu sesama muslim.
“Barangsiapa mencari aib saudaranya sesama muslim maka Allah akan mencari aibnya sehingga Allah membuka aib yang ada dalam rumahnya.” (Al-Hadits)
Ketahuilah, bahwa segala kemaksiatan yang tersembunyi tak akan membawa dampak negatif, kecuali bagi pelakunya. Tetapi sebaliknya, bila kemaksiatan sudah tersebar maka bencana pun akan turun secara merata.
Oleh karena itu bersabarlah dan berpegang teguh dengan ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam karena mungkin saja saat ini sampai pada zaman dimana ulama’ dalam berpegang teguh pada agama bagaikan memegang bara api.
Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Akan datang kepada manusia suatu zaman, orang yang berpegang teguh pada agamanya seperti orang yang menggenggam bara api.” (HR. Tirmidzi no. 2260. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa hadits ini hasan).
Dijelaskan dalam Tuhfatul Ahwadzi bahwa di zaman tersebut, orang yang berpegang teguh dengan agama hingga meninggalkan dunianya, ujian dan kesabarannya begitu berat. Ibaratnya seperti seseorang yang memegang bara (nyala) api.
Ath Thibiy berkata bahwa maknanya adalah sebagaimana seseorang tidak mampu menggenggam bara api karena tangannya bisa terbakar sama halnya dengan orang yang ingin berpegang teguh dengan ajaran Islam saat ini, ia sampai tak kuat ketika ingin berpegang teguh dengan agamanya. Hal itu lantaran banyaknya maksiat di sekelilingnya, pelaku maksiat pun begitu banyak, kefasikan pun semakin tersebar luas, juga iman pun semakin lemah. Sedangkan Al Qari mengatakan bahwa sebagaimana seseorang tidaklah mungkin menggenggam bara api melainkan dengan memiliki kesabaran yang ekstra dan kesulitan yang luar biasa. Begitu pula dengan orang yang ingin berpegang teguh dengan ajaran Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam di zaman ini butuh kesabaran yang ekstra.
Itulah gambaran orang yang konsekuen dengan ajaran Islam saat ini, yang ingin terus menjalankan ibadah sesuai sunnah Rasul –shallallahu ‘alaihi wa sallam-, begitu sulitnya dan begitu beratnya. Kadang cacian yang mesti diterima. Kadang dikucilkan oleh masyarakat sekitar. Kadang jadi bahan omongan yang tidak enak. Sampai-sampai ada yang nyawanya dan keluarganya terancam. Demikianlah resikonya. Namun nantikan balasannya di sisi Allah yang luar biasa andai mau bersabar. Ingatlah janji Allah,
“Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (QS. Az Zumar: 10). Sebagaimana disebut dalam Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim karya Ibnu Katsir, Al Auza’i menyatakan bahwa pahala mereka tak bisa ditimbang dan tak bisa ditakar. Itulah karena saking banyaknya. Ibnu Juraij menyatakan bahwa pahala mereka tak bisa terhitung (tak terhingga), juga ditambah setelah itu.
CATATAN
Secara bahasa talfiq berarti melipat. Sedangkan yang dimaksud dengan talfiq secara syar’i adalah mencampur-adukkan pendapat seorang ulama dengan pendapat ulama lain, sehingga tidak seorang pun dari mereka yang membenarkan perbuatan yang dilakukan tersebut. Muhammad Amin al-Kurdi mengatakan:
(تنويرالقلوب , ٣٩٧) (الخامس)
عدم التلفيق بأن لايلفق في قضية واحدة ابتداء ولادوامابين قولين يتولدمنهماحقيقة لايقول بهاصاحبهما
“(syarat kelima dari taqlid) adalah tidak talfiq, yaitu tidak mencampur antara dua pendapat dalam satu qadliyah (masalah), baik sejak awal, pertengahan dan seterusnya, yang nantinya, dari dua pendapat itu akan menimbulkan satu amaliyah yang tak pernah dikatakan oleh orang berpendapat.” (Tanwir al-Qulub, 397) Jelasnya, talfiq adalah melakukan suatu perbuatan atas dasar hukum yang merupakan gabungan dua madzhab atau lebih. sebagaimana seseorang berwudlu menurut madzhab Syafi’I dengan mengusap sebagian (kurang dari seperempat) kepala. Kemudian dia menyentuh kulit wanita ajnabiyyah (bukan mahram-nya), dan langsung shalat dengan mengikuti madzhab Hanafi yang mengatakan bahwa menyentuh wanita ajnabiyyah tidak membatalkan wudlu. Perbuatan ini disebut talfiq, karena menggabungkan pendapatnya Imam Syafi’I dan Hanafi dalam masalah wudlu. Yang pada akhirnya, kedua Imam tersebut sama-sama tidak mengakui bahwa gabungan itu merupakan pendapatnya. Sebab, Imam Syafi’I membatalkan wudlu seseorang yang menyentuh kulit lain jenis. Sementara Imam Hanafi tidak mengesahkan wudlu seseorang yang hanya mengusap sebgaian kepala.
Referensi:
Tanwirul Qulub lissyaikh Sayyid Amin Al-Qurdiy Bustanul Arifin. Risalatul muawanah.Hal.26 Tuhfatul Ahwadzi bi Syarh Jami’ At Tirmidzi, Abul ‘Ala Muhammad ‘Abdurrahman bin ‘Abdurrahim Al Mubarakfuri, terbitan Darus Salam, cetakan pertama, tahun 1432 H. Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, Ibnu Katsir, tahqiq: Syaikh Abu Ishaq Al Huwaini, terbitan Dar Ibnil Jauzi, cetakan pertama, tahun 1431 H.
Tak heran gejolak seks pasangan suami istri baru bisa meluap-luap diawali pernikahan katakanlah seorang Hamidi dan Hamida baru menikah pada tanggal 8 dibulan Dzul hijjah, yang mana keduanya telah mengucap janji sehidup semati, sehingga serasa dunia jadi milik berdua. Betapa tidak, setelah penantian yang panjang, akhirnya Hamidi dan Hamida bisa menikmati momen intim suami istri tanpa ada lagi kekhawatiran, mulai malam pertama tanggal 8 hingga tanpa jidah samapai malam hari raya melakukan hubungan intim.
Pertanyaannya. Bagaimana hukumnya jima’ dimalam hari raya ?
J A W A B A N :
Berhubungan intim suami istri setelah sahnya akad nikah menurut agama dan pemerintah keduanya sudah halal berapa kali boleh berhubungan seks selama semalam, asalkan keduanya merasa nyaman, dan istrinya tidak dalam keadaan haid atau nifas. Namun demikian ulama memberikan penjelasan yang berbeda tentang hukum nafkah batin ( jima’ ) kepada pasangan suami istri yaitu:
✔️Menurut sebagian pendapat dari ulama Syafi’iyah seumur hidup suami wajib berjima’ dengan istrinya satu kali berjima’. Selebihnya disunahkan empat hari sekali dengan tanpa Udzur kecuali jika ditakutkan istri akan selingkuh, maka pada saat itu suami wajib berjima’, karena kemampuan istri itu menahan kesabaran jima’ tiga malam. ✔️Menurut Hanafiyah wajib bagi suami untuk menjima’ istrinya tiap empat bulan sekali. ✔️Menurut Hanabilah wajib bagi suami untuk berjima’ dengan istrinya empat bulan sekali bila tidak ada udzur ( alasan ). ✔️Menurut pendapat kuat dari Malikiyah , wajib bagi suami untuk menjima’ istrinya tiap empat hari sekali bila ada permintaan dari istri.
Lalu bagaimana Hukumnya jima’ dimalam hari raya sebagaimana deskripsi?
Jawabannya adalah makruh, dan sebagian ulama melarangnya namun larangan tersebut hanya sebatas makruh tidaklah sampai mengakibatkan keharaman seperti bersetubuh di kala haid, atau nifas.
Dalam kitab Qurrotul ‘Uyun, Syekh penadhom menjelaskan dalam bait-bait Nadhom kitab tersebut, bahwa terdapat empat malam dimana persetubuhan bersama istrinya tidak diperbolehkan yaitu:
1. Malam hari raya kurban.
2. Malam pertama disetiap bulan.
3. Malam pertengahan disetiap bulan.
4. Malam terahir disetiap bulan, alasannya adalah :
1. Anak akan bertabiat jelek yang senang menumpahkan darah (menjadi pembunuh)
2. Syetan akan hadir pada persetubuhan yang dilakukan pada malam-malam itu
3. Anak yang terlahir akan mudah stress atau berakibat gila
4. Anak yang lahir akan mengidap penyakit kusta .
Adapun dampak dari bersetubuh dimalam hari raya kurban, malam pertama disetiap bulan, malam pertengahan disetiap bulan, malam terahir disetiap bulan sebenarnya Allah yang maha Tahu .
Berikut teks utuh dari kitab Qurrotul ‘Uyun :
وليلة الأضحى على المشهور كالليلة الأولى من الشهور وضف اليها نصف كل شهر وآخر الليالى منه فآدر
أخبر رحمه الله أن الجماع يمنع فى هذه الليالى الأربعة ؛ ليلة عيد الأضحى لما قيل من أن الجماع فيها يوجب كون الولد سفاكا للدماء. والليلة الأولى من أول كل شهر, وليلة النصف من كل شهر, والليلة الأخيرة من كل شهر. لقوله عليه الصلاة والسلام لاتجامع رأس ليلة الشهر وفي النصف. وقال الغزالي رحمه الله يكره الجماع في ثلاث ليال من الشهر: الأول, والأخير, والنصف. يقال إن الشياطين يحضرون الجماع في هذه الليالي, ويقال إن الشياطين يجامعون فيها. وروي كراهة ذلك عن علي ومعاوية وأبي هريرة رضي الله عنهم. ويقال إن الجماع في هذه الليالي يورث الجنون في الولد, والله أعلم. لكن المنع في هذه الأربعة بمعنى الكراهة لا التحريم كالحيض والنفاس وضيق الوقت.
Kebetulan sekali ada nukilan dari sebuah kitab, bahwa melakukan hubungan badan (jima) pada malam-malam tersebut hukumya makruh/karena akan menghasilkan anak cacat.
Pertama: Wahai Ali, jangan menggauli isterimu pada permulaan bulan, pertengahan dan akhir bulan. karena hal itu dapat menyebabkan penyakit gila, kusta, dan kerusakan syaraf padanya dan keturunannya.
Kedua: Wahai Ali, jangan kamu menggauli isterimu sesudah waktu Zhuhur. Karena hal itu (jika membuahkan janin) dapat menyebabkan anaknya kelak punya ganguan psikologis, jiwanya mudah goncang.
Ketiga: Wahai Ali, jangan menggauli isterimu sambil berbicara. Karena hal itu (jika membuahkan janin) dapat menyebabkan kebisuan bagi anak. Dan jangan melihat kemaluan isterinya, karena dapat menyebabkan kebutaan bagi anak
Keempat: Wahai Ali, jangan menggauli isterimu dengan dorongan syahwat pada wanita lain (membayangkan perempuan lain), karena (jika membuahkan janin) dikhawatirkan memiliki sikap seperti wanita itu dan memiliki gangguan psikologis.
Kelima: Wahai Ali, barangsiapa yang bercumbu dengan isterinya di tempat tidur janganlah sambil membaca Al-Qur’an, karena aku khawatir turun api dari langit lalu membakar keduanya.
Keenam: Wahai Ali, jangan menggauli isterimu pada malam ‘Idul Fitri, karena hal itu (jika membuahkan janin) dapat menyebabkan anak memiliki banyak keburukan
Dari kitab fathul izar sepertinya ada keterangan mubah tapi konon jika hasil hubungan intim di malam ied, baik fitri maupun ied qurban, anaknya akan memiliki jari lebih dari sepuluh, ada jari yang kembar.
Namun menurut keterangan yang ada di dalam kitab Tuhfah dan Nihayah pernyataan makruh tersebut tidak tsabit / dalilnya lemah. Jadi yang meriwayatkan masalah kemakruhan itu Imam Ghozali, dibantah oleh Ibnu Hajar dalam kitab Tuhfah bahwa hadisnya tidak tsabit, kalaupun tsabit, maka doa sebelum jimak bisa menjaga dia dari syetan.
إعانة الطالبين. ج. ٣ ص.٣٤٠ ويسن ملاعبة الزوجة إيناسا وأن لايخليهاعن الجماع كل أربع .ليال مرة بغير عذر (قوله وأن لاخليها الخ) أى ويسن أن لايخليها عن الجماع كل أربع ليال أى تحصينا لها ولأن غاية ماتبين المرأة فى الصبر عن الجماع ثلاث ليال ولذا لم يسوي الشارع للحر أكثر من أربع.
Disunnatkan bagi suami istri itu bercumbu rayu sebelum jima’ dan sunnah suami itu memberikan nafkah batin (jima’) kepada istri 4 malam 1 kali hal ini semata memelihara atas ketidak maupun bersabarnya seorang istri menahan jima’. Karena kemampuan istri itu biasanya tiga malam…….