logo mubaa
Logo Ittihad

DEWAN PIMPINAN PUSAT
IKATAN ALUMNI BATA-BATA

Kategori
Uncategorized

BOLEHKAH ZAKAT DIBERIKAN DILUAR TEMPAT DOMISILI ?

BOLEHKAH MEMBAYAR ZAKAT DILUAR DOMISILI MUZAKKI ?

Assalamualaikum

Deskripsi masalah

Ada seorang asal Indonesi punya usaha diluar negri diantara usahanya adalah ternak sapi  dengan di gembalakan artinya tidak dengan diusahakan makanan oleh pemiliknya, melainkan hewan ( sapi ) tersebut mencari makan sendiri  lama- lama kemudian sapi tersebut banyak berkisar 40- keatas

Pertanyaannya

1. Apakah boleh zakat sapi tersebut perupa daging sapi atau diuangkan seharga satu sapi ? Mengingat sapinya berada diluar negeri

2.Bolehkah  zakat tersebut diberikan oleh muzakki diluar batas tempat domisili ( kepada  mustahik zakat   diluar negeri ) ?

Waalikum salam.

Jawaban.1

Harta yang telah dimiliki oleh seseorang secara sempurna ( hak milik penuh ) dan sampai batasan nisab dan haul maka wajib dikeluarkan kecuali harta tambang dan tanaman (maka tidak perlu syarat haul).”

Sedangkan jika hartanya berupa binatang ternak semisal sapi maka zakatnya harus berupa sapi bukan dengan cara disembelih berupa dagingnya  ataupun berupa uang, alasannya karena sudah diatur didalam syariat bahwa zakatnya sapi harus dikeluarkan berupa sapi dan  harus diberikan kepada orang yang berhak menerima zakat.  Berikut rincian nisabnya sapi adalah :

1. 30 ekor  maka wajib dikeluarkan  zakatnya 1 ekor sapi umur 1 tahun

2. 40 ekor 1 ekor sapi umur 2 tahun   Setelah aset mencapai 60 ekor, maka setiap kelipatan 30, zakatnya 1 ekor sapi umur 1 tahun, dan setiap kelipatan 40, zakatnya 1 ekor sapi umur 2 tahun.

Contoh:

1. Aset 60 ekor sapi, zakatnya adalah 2 ekor sapi umur 1 tahun, sebab, 60 ekor terdiri dari 30 ekor x2.

2. 2.Aset 70 ekor sapi, zakatnya adalah 1 ekor sapi umur 1 tahun dan 1 ekor sapi umur 2 tahun. Sebab, 70 ekor sapi terdiri dari 30 ekor dan 40 ekor sapi.

3. Aset 120 ekor sapi, zakatnya adalah 4 ekor sapi umur 1 tahun atau 3 ekor sapi umur 2 tahun. Sebab, 120 ekor terdiri dari 30 ekor x 4 atau 40 ekor x 3. (Lihat Muhammad Nawawi ibn Umar, Qut al-Habib al-Gharib, Surabaya, al-Hidayah, halaman 103-104)

Dalil:

عَنْ مُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ قَالَ بَعَثَنِي النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَى الْيَمَنِ فَأَمَرَنِي أَنْ آخُذَ مِنْ كُلِّ ثَلَاثِينَ بَقَرَةً تَبِيعًا أَوْ تَبِيعَةً وَمِنْ كُلِّ أَرْبَعِينَ مُسِنَّةً

“Dari Mu’adz ibn Jabal, ia berkata, ‘Baginda Nabi shallallahu ‘alaihi wassallam mengutusku ke Yaman, kemudian beliau memerintahku untuk mengambil zakat dari setiap tiga puluh ekor sapi, seekor sapi berusia setahun, menginjak usia tahun keduanya, jantan atau betina, dan dari setiap empat puluh ekor sapi, seekor sapi berusia dua tahun,menginjak usia ketiga’.” (HR. At-Tirmidzi)

Dalam hadits yang lain Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassallam bersabda:

وَلَيْسَ فِي مَالٍ زَكَاةٌ حَتَّى يَحُولَ عَلَيْهِ الْحَوْلُ

“Suatu harta tidak wajib dizakati kecuali telah melewati masa setahun.” (HR. Abu Dawud)

فقه الإسلامى وادلته ج ٣ ص ١٧٨٨

إخراج جزء مخصوص من مال بلغ نصاباً، لمستحقه، إن تم الملك، وحول، غير معدن وحرث


 Artinya: “Keharusan mengeluarkan bagian tertentu dari suatu harta ketika telah mencapai nishab (jumlah minimum wajib zakat) kepada penerima zakat, dengan catatan jika harta tersebut merupakan milik sempurna dan mencapai haul, kecuali harta tambang dan tanaman (maka tidak perlu syarat haul).” (Al-Fiqhu al-Islamy wa Adillatuhu, III/1788).

ولان العوامل والمعلوفة لا تقتنى للنماء فلم تجب فيها الزكاة كثياب البدن وأثاث الدار

“Karena sesungguhnya binatang ternak yang dipekerjakan dan binatang yang diberi makan dengan cara dicarikan rumput tidak semata-mata untuk dikembang-biakan, sehingga tidak wajib dizakati sebagaimana pakaian dan perabot rumah.” (An-Nawawi, al-Majmu’ Syarh al-Muhadzdzab, Mesir, al-Muniriyah, jilid V, halaman: 323).
Dari penjelas diatas dapat disimpulkan bahwa sapi yang wajib dizakati adalah.

1. Sampai minimal satu nisab

2. harus haul sampai satu tahun

3. Milik sempurna

4. Harus digembalakan ( mencari makan sendiri ) .

Jawaban .No 2

Batasan memindah zakat, ( diluar tempat domisili ) Para pakar fiqh masih silang pendapat tentang batasan jarak tidak diperbolehkanya memindah zakat, namun menurut sumber, yang lebih kuat adalah pendapat yang membatasi sampai tempat mulai diperkenankannya mengqosor dan menjama’ sholat.

(حاشية الجمل ج.٤ ص ١٠٨ )
(فرع) ما حد المسافة التى يمتنع نقل الزكاة اليها فيه تردد والمتجه منه ان ضابطها فى البلد ونحوه ما يجوز الترخص ببلوغه ثم رأيت حج مشى على ذلك فى فتاويه فحاصله انه يمتنع نقلها الى مكان يجوز فيه القصر وتجوز الى ما لا يجوز فيه القصر اهـ سم على حج.

Menurut qoul adzhar tidak boleh memindah zakat dari tempat diwajibkannya mengeluarkan zakat seraya wujudnya orang-orang yang berhak menerima zakat, dipindah ke daerah lain yang juga ada orang-orang yang berhak menerimanya. Semisal, zakat tersebut diberikan kepada mereka (mustahiq zakat yang berada didaerah lain), maka hukumnya diharamkan dan tidak mencukupi, karena berdasarkan hadits Bukhorî dan Muslim. “Shodaqoh (Zakat) itu diambilkan dari orang-orang yang kaya, kemudian zakat tersebut dikembalikan (diberikan) kepada orang-orang faqir dari golongan mereka”.
Sedangkan menurut pendapat yang kedua “Boleh memindah zakat dan sudah dianggap mencukupi karena berdasarkan kemutlakan firman Allah”. Dan apabila disebuah daerah tidak ditemukan ashnâf yang menerima zakat, maka zakat wajib pindah kedaerah yang paling terdekat.

Pendapat yang ke-dua ini telah dipilih oleh segolongan ulama’ dari ashâb imam Syafi’I, seperti Ibnu Sholah, Ibnu Al-Farkâh dan ulama’ yang lainnya. Syaikhunâ (Zakaria Al-Anshôrî) berkata dengan mengikuti terhadap pendapat guru kami imam Ar-Romlî, diperbolehkan bagi seseorang mengamalkan pendapat tersebut untuk dirinya sendiri, begitu pula mengamalkan semua hukum-hukum dengan berpijak terhadap pendapat ulama’ yang dapat dipercaya dari beberapa ulama’. Seperti imam Al-Adzrô’I, Al-Subukî dan imam Al-Isnâwî menurut qoul mu’tamad “.

حاشيتا قليوبي وعميرة الجزء ٣ صحيفة :٢٠٤ مكتبة دار إحياء الكتب العربية

( وَالْأَظْهَرُ مَنْعُ نَقْلِ الزَّكَاةِ ) مِنْ بَلَدِ الْوُجُوبِ مَعَ وُجُودِ الْمُسْتَحِقِّينَ فِيهِ إلَى بَلَدٍ آخَرَ فِيهِ الْمُسْتَحِقُّونَ ، بِأَنْ تُصْرَفَ إلَيْهِمْ أَيْ يَحْرُمُ ، وَلَا يُجْزِئُ لِمَا فِي حَدِيثِ الشَّيْخَيْنِ { صَدَقَةٌ تُؤْخَذُ مِنْ أَغْنِيَائِهِمْ ، فَتُرَدُّ عَلَى فُقَرَائِهِمْ } ، وَالثَّانِي : يَجُوزُ النَّقْلُ وَيُجْزِئُ لِلْإِطْلَاقِ فِي الْآيَةِ ، ( وَلَوْ عُدِمَ الْأَصْنَافُ فِي الْبَلَدِ وَوَجَبَ النَّقْلُ ) إلَى أَقْرَبِ الْبِلَادِ إلَيْهِ – إلى أن قال – قَوْلُهُ : ( وَالثَّانِي يَجُوزُ النَّقْلُ وَتُجْزِئُ ) وَاخْتَارَهُ جَمَاعَةٌ مِنْ أَصْحَابِ الشَّافِعِيِّ كَابْنِ الصَّلَاحِ وَابْنِ الْفِرْكَاحِ وَغَيْرِهِمْ ، قَالَ شَيْخُنَا تَبَعًا لِشَيْخِنَا الرَّمْلِيِّ : وَيَجُوزُ لِلشَّخْصِ الْعَمَلُ بِهِ فِي حَقِّ نَفْسِهِ ، وَكَذَا يَجُوزُ الْعَمَلُ فِي جَمِيعِ الْأَحْكَامِ بِقَوْلِ مَنْ يَثِقُ بِهِ مِنْ الْأَئِمَّةِ ، كَالْأَذْرَعِيِّ وَالسُّبْكِيِّ وَالْإِسْنَوِيِّ عَلَى الْمُعْتَمَدِ .

حاشية إعانة الطالبين الجزء ٢ صحيفة : ٢١٢ مكتبة دار الفكر

(إِعْلَمْ)

رَحِمَكَ اللهُ إِنَّ مَسْأَلَةَ نَقْلِ الزَّكَاةِ فِيْهَا اخْتِلاَفٌ كَثِيْرٌ بَيْنَ الْعُلَمَاءِ، وَالْمَشْهُوْرُ فِيْ مَذْهَبِ الشَّافِعِيِّ امْتِنَاعُ نَقْلِهَا إِذَا وُجِدَ الْمُسْتَحِقُّوْنَ لَهَا فِيْ بَلَدِهَا. وَمُقَابِلُ الْمَشْهُوْرُ جَوَازُ النَّقْلِ، وَهُوَ مَذْهَبَ الْاِمَامِ أَبِىْ حَنِيْفَةَ رَضِىَ اللهُ عَنْهُ وَكَثِيْرٌ مِنَ الْمُجْتَهِدِيْنَ، مِنْهُمُ اْلاِمَامُ الْبُخَارِيُّ – إِلَى أَنْ قَالَ – قَالَ شَارِحُهُ الْقَسْطَلاَنِىُّ: ظَاهِرُهُ أَنَّ الْمُؤَلِّفُ يَخْتَارُ جَوَازَ نَقْلِ الزَّكَاةِ مِنْ بَلَدِ الْمَالِ. وَهُوَ أَيْضًا مَذْهَبُ الْحَنَفِيَّةِ وَالْاَصَحُّ عِنْدَ الشَّافِعِيَّةِ وَالْمَالِكِيَّةِ عَدَمُ الْجَوَازِ: اِنْتَهَى.اهــ

Ketahuilah, Semoga Allah memberkatimu “Sesungguhnya masalah memindah zakat terdapat khilafiyah diantara ulama’. Menurut Pendapat yang masyhûr dalam madzhab syâfi’i adalah melarang memindah zakat pada daerah lain, apabila pada daerah tersebut ditemukan orang-orang yang berhak menerima zakat.

Sedangkan menurut muqôbil masyhûr yang memperbolehkan memindah zakat, itu adalah madzhab imam Abu Hanifah ra, dan segolongan ulama’ dari para mujtahid, diantara mereka adalah imam Al-Bukhôrî.
Menurut pengarang syârih (Al-Qostholânî), menurut dzohirnya ibarat diatas, bahwa pengarang “Î’anah Al-tholibîn” memilih memperbolehkan memindah zakat dari daerah harta zakat, itu adalah juga pendapat madzhab Hanifiah. Sedangkan menurut pendapat yang ashoh madzhab Syâfi’î dan Malikiyyah tidak memperbolehkannya”.

• بغية المسترشدين ١٠٥-١٠٦ في باب الزكات مكتبة دار الفكر
اَلرَّاجِحُ فِى الْمَذْهَبِ عَدَمُ جَوَازِ نَقْلِ الزَّكاَتِ وَاخْتَارَ جَمْعُ الْجَوَازَ كَابْنِ عُجَيْلٍ وَابْنِ الصَّلاَحِ وَغَيْرِ هِمَا قَالَ أَبُو مَخْرَمَةَ وَهُوَ الْمُخْتاَرُ إِذاَ كاَنَ لِنَحْوِ قَرِيْبٍ وَاخْتَارَهُ الرَّوْياَنِى وَنَقَلَهُ الْخَطَّابِى عَنْ أَكْثَرِ الْعُلَماَءِ وَبِهِ قَالَ ابْنُ عَتِيْق فَيَجُوْزُ تَقْلِيْدُ هَؤُلاَءِ (مَسْأَلَةٌ ي ك) لاَيَجُوْزُ نَقْلُ الزَّكاَتِ وَالْفِطْرَةِ عَلىَ اْلأَظْهَرِ مِنْ أَقْوَالِ الشَّافِعِى نَعَمْ أُسْتُثْنِيَ فِى التُّحْفَةِ وَالنِّهَاَيَةِ مَا يَقْرُبُ مِنَ الْمَوْضِعِ وَيُعَدُّ مَعَهُ وَاحِدًا وَإِنْ خَرَجَ عَنِ السُّوْرِ. زَادَ ك وح. قَالَ فَالْمَوْضِعُ الَّذِى حَالَ الْحَوْلِ وَالْمَالُ فِيْهِ هُوَ مَحَلُّ إِخْرَاجِ زَكاَتِهِ هَذَا إِنْ كَانَ قَارًّا بِبَلَدٍ وَإِنْ كَانَ سَائِرًا وَلَمْ يَكُنْ نَحْوُ الْمَالِكِ مَعَهُ جَازَ تَأْخِيْرُهَا حَتَّى يَصِلَ إِلَيْهِ وَالْمَوْضِعُ الَّذِى غَرَبَتِ الشَّمْسُ وَالشَّخْصُ بِهِ هُوَ مَحَلُّ إِخْرَاجِ فِطْرِهِ. اهــ

Pendapat madzhab (syafi’i) yang paling unggul tidak memperbolehkan pemindahan zakat ke (daerah lain). Sekelompok ulama memilih di perbolehkan pemindahan zakat, seperti pendapat Ibnu ‘Ujail dan Ibnu Shalah. Yang lebih baik menurut Ibnu Makhromah adalah (kebolehan memindah zakat) untuk daerah yang dekat. Pendapat ini juga di anut oleh Imam Al-Rauyani, Al-khathabi, Ibnu ‘Atiq dan sebagian besar ulama, maka boleh mengikuti mereka itu.

Menurut salah satu pendapat Imam Syafi’i yang lebih shahih, tidak diperkenankan memindahkan zakat (maal) dan (fitrah). Dalam karya Tuhfah dan Nihayah terdapat pengecualian untuk tempat yang berdekatan dan masih dianggap satu walaupun berada di luar perbatasan.
Daerah tempat perputaran harta merupakan tempat pengeluaran zakatnya. Hal ini jika menempati di suatu tempat, sedangkan kalau bepergian, maka boleh mengakhirkan zakat sehingga sampai ke tempat yang dituju. Dan daerah tempat terbenamnya matahari dan orang yang berada di sana merupakan tempat pengeluaran zakat fitrahnya “. Wallohu a’lam.

Kategori
Uncategorized

SAHKAH RUJUK LEWAT TELPON TANPA QOBUL DAN SAKSI?

SAHKAH RUJUK LEWAT TELPON DENGAN TANPA QOBUL DAN SAKSI DALAM IDDAH ?

Assalamualaikum

Deskripsi masalah

Dalam waqiiyah ada sepasang suami Istri pada awalnya mereka itu SAMAWA hingga dikaruniai dua anak entah kenapa pada suatu hari terjadi ungkapan talak setelah terjadi talak Istripun menjalani iddah dan mutholliq (suaminya) lalu berangkat ke Malasia namun ketika sampai dimalasia dia merasa ingin kembali (rujuk ) mengingat masa-masa terindah dimasa lalunya dan kasihan terhadap anak-anaknya lalu dia telpon istrinya yang telah ditalak melalui telpon.
Dengan ucapan saya rujuk kepadamu sayang? Sedang siistri tidak qobul hanya diam saja tapi ketika ditelpon nyambung( bercakap – cakap )
 
PERTANYAAN :

  1. Sahkah rujuk lewat telepon ? Walaupun tanpa qabul dan saksi sebagaimana deskripsi

JAWABAN :

Rujuk itu sah walaupun tanpa qobul (ungkapan menerima) dari istri, sebab qabul tidak menjadi syarat ruju’.Dan Rujuk sah dilakukan lewat telepon, mengambil mafhum dari penjelasan rukun ruju’ yang tidak mensyaratkan khudhur, berbeda halnya dengan ketentuan akad nikah yang harus khudhur (hadir dalam majelis, saling berhadapan) Dengan catatan harus memenuhi syarat berikut.

  1. Bukan ruju’ dari talak 3
  2. .Tholaq yang dilakukan setelah dukhul / istri pernah di-dukhul. Jika istri belum sempat di-dukhul sudah di-thalak maka tidak boleh diruju’ karena langsung jadi thalak ba’in.
  3. Bukan talak yang memakai ‘iwadh / uang tebusan ( bukan tholaq dari sebab zhihar ).
  4. Ruju’ dilakukan sebelum habis masa iddahnya.
  5. Wanita yang mau diruju’ masih dalam satu agama yakni islam.
  6. Jelas wanitanya.

Dari syarat syarat di atas tidak disebutkan syarat qobul dari istri, jadi rujuk itu sah walaupun tanpa qobul (ungkapan menerima) dari istri.Wallahu A’lam bisshowab.

وأركانها ثلاثة محل ومرتجع وصيغة  الكتاب: نهاية الزين ص٣٢٦
ولا يشترط لصحة الرجعة الإشهاد عليها لأنها في حكم استدامة النكاح ومن ثم لم يحتج لولي ولا لرضاء المرأة بل يندب الإشهاد  الكتاب: نهاية الزين .ص٣٢٦
الرَّجْعَةُ حَقٌّ مِنْ حُقُوقِ الزَّوْجِ وَهِيَ لاَ تَحْتَاجُ لِقَبُول الْمَرْأَةِ ، لِذَلِكَ لاَ تُشْتَرَطُ الشَّهَادَةُ لِصِحَّتِهَا  الكتاب : الموسوعة الفقهية الكويتية ج٢٢ ص١١٢

بجيرمى على الخطيب

(وَشُرُوطُ) صِحَّةِ (الرَّجْعَةِ أَرْبَعَةٌ) وَتَرَكَ خَامِسًا وَسَادِسًا كَمَا سَتَعْرِفُهُ: الْأَوَّلُ (أَنْ يَكُونَ الطَّلَاقُ دُونَ الثَّلَاثِ) فِي الْحُرِّ وَدُونَ اثْنَيْنِ فِي الرَّقِيقِ, وَلَوْ قَالَ كَمَا فِي الْمِنْهَاجِ لَمْ يَسْتَوْفِ عَدَدَ الطَّلَاقِ لَشَمِلَ ذَلِكَ أَمَّا إذَا اسْتَوْفَى ذَلِكَ فَإِنَّهُ لَا سُلْطَةَ لَهُ عَلَيْهَا. (وَ) الثَّانِي (أَنْ يَكُونَ) الطَّلَاقُ (بَعْدَ الدُّخُولِ بِهَا) فَإِنْ كَانَ قَبْلَهُ فَلَا رَجْعَةَ لَهُ لِبَيْنُونَتِهَا وَكَالْوَطْءِ اسْتِدْخَالُ الْمَنِيِّ الْمُحْتَرَمِ. (وَ) الثَّالِثُ (أَنْ لَا يَكُونَ الطَّلَاقُ بِعِوَضٍ) مِنْهَا أَوْ مِنْ غَيْرِهَا فَإِنْ كَانَ عَلَى عِوَضٍ فَلَا رَجْعَةَ كَمَا تَقَدَّمَ تَوْجِيهُهُ فِي الْخُلْعِ. (وَ) الرَّابِعُ (أَنْ تَكُونَ) الرَّجْعَةُ (قَبْلَ انْقِضَاءِ الْعِدَّةِ) فَإِذَا انْقَضَتْ فَسَيَأْتِي فِي كَلَامِ الْمُصَنِّفِ فِي الْفَصْلِ بَعْدَهُ مَعَ أَنَّ هَذَا الْفَصْلَ سَاقِطٌ مِنْ بَعْضِ النُّسَخِ. وَالْخَامِسُ: كَوْنُ الْمُطَلَّقَةِ قَابِلَةً لِلْحِلِّ لِلْمَرَاجِعِ فَلَوْ أَسْلَمَتْ الْكَافِرَةُ وَاسْتَمَرَّ زَوْجُهَا وَرَاجَعَهَا فِي كُفْرِهِ لَمْ يَصِحَّ أَوْ ارْتَدَّتْ الْمُسْلِمَةُ لَمْ تَصِحَّ مُرَاجَعَتُهَا فِي حَالِ رِدَّتِهَا ; لِأَنَّ مَقْصُودَ الرَّجْعَةِ الْحِلُّ وَالرِّدَّةُ تُنَافِيه, وَكَذَا لَوْ ارْتَدَّ الزَّوْجُ أَوْ ارْتَدَّا مَعًا. وَضَابِطُ ذَلِكَ انْتِقَالُ أَحَدِ الزَّوْجَيْنِ إلَى دِينٍ يَمْنَعُ دَوَامَ النِّكَاحِ. وَالسَّادِسُ: كَوْنُهَا مُعَيَّنَةً, فَلَوْ طَلَّقَ إحْدَى زَوْجَتَيْهِ وَأَبْهَمَ ثُمَّ رَاجَعَ أَوْ طَلَّقَهُمَا جَمِيعًا ثُمَّ رَاجَعَ إحْدَاهُمَا لَمْ تَصِحَّ الرَّجْعَةُ إذْ لَيْسَتْ الرَّجْعَةُ فِي احْتِمَالِ الْإِبْهَامِ كَالطَّلَاقِ لِشَبَهِهَا بِالنِّكَاحِ لَا يَصِحُّ مَعَ الْإِبْهَامِ, وَلَوْ تَعَيَّنَتْ وَنَسِيَتْ لَمْ تَصِحَّ رَجْعَتُهَا أَيْضًا فِي الْأَصَحِّ. تَتِمَّةٌ: لَوْ عَلَّقَ طَلَاقَهَا عَلَى شَيْءٍ وَشَكَّ فِي حُصُولِهِ فَرَاجَعَ ثُمَّ عَلِمَ أَنَّهُ كَانَ حَاصِلًا فَفِي صِحَّةِ الرَّجْعَةِ وَجْهَانِ, أَصَحُّهُمَا كَمَا قَالَهُ شَيْخُ النَّوَوِيِّ الْكَمَالُ سَلارٌ فِي مُخْتَصَرِ الْبَحْرِ إنَّهَا تَصِحُّ.

Kategori
Uncategorized

HUKUM MENAHAN DANA SUMBANGAN UNTUK ANAK YATIM DITINJAU DARI MAQOSID AS-SYARIAH

HUKUM MENAHAN DANA SUMBANGAN UNTUK ANAK YATIM DITINJAU DARI MAQOSID AS-SYARIAH

Assalamualakum. Wr. Wb.
Mohon ma’af sebelumnya kepada para kiai dan para ustsdz.
Deskripsi masalah

“Dalam waqiiyah disebuah Daerah ada salah satu Masjid mengadakan Peringatan tahun baru Islam atau Peringatan bulan Muharram ( 10 Asyuro’ ) kegiatan tersebut sudah menjadi kegiatan rutinilitas di setiap tahun yang digelar oleh pengurus takmir dimana dalam acara peringatan 10 Asyura’ tersebut didalamnya dikemas dengan acara santunan anak Yatim yang mana biaya dari kegiatan peringatan 10 Muharrom tersebut sekaligus santunan anak yatim diperoleh dari hasil sumbangsih atau menggalang dana dari sumbangan masyarakat sedangkan hasil komolatif dari penggalangan dana tersebut kemudian dipilah-pilah, misalkan untuk sonsistem, konsumsi, dan juga untuk santunanan anak Yatim dll.
Sehubungan dengan adanya dana yang dialokasikan Untuk anak Yatim sangatlah banyak, dan untuk tidak mengkosongkan acara ditahun mendatang, maka panitia membuat aturan kesepakatan bersama, bahwa dana yang akan dialokasikan untuk santunan anak yatim agar diberikan separuh ( tidak dibagikan secara keseluruhan ) artinya sebagian dana tersebut disimpan untuk diberikan atau disantunkan kepada anak Yatim di tahun berikutnya ( yang akan datang ) dan itu terjadi tiap tahun”.

Pertanyaan
Bagaimana hukum menahan dana uang sumbangan santunan anak yatim dengan tujuan akan diberikan pada tahun berikutnya?. Terimakasih sebelumnya atas jawaban. Wassalam. 🙏🙏🙏


Waalikum salam.
Jawaban.
Hukumnya pengurus takmir atau bendara Masjid meyimpan  dana atau menahan uang  yang diperuntukkan untuk santunanan anak yatim tidaklah bertentangan dengan maqoshid al-Syari’ah, karena tujuan syariah adalah kemaslahatan kebaikan bukan untuk diselewengkan hanya saja  waktunya ditunda akan diberikan ditahun mendatang atau karena tujuan agar ditahun mendatang lebih banyak untuk digabungkan dengan partisipasi pengumpulan dana yang baru, maka hukumnya boleh.

Ini adalah maslahah, bukan mafsadah. Dengan catatan kegiatan tersebut sudah menjadi kesepakatan bersama pengurus, namun  yang terpenting adalah amanah dan bertanggung jawab. Ini berdasarkan  kaidah:

الْمُسْلِمُوْنَ عَلَى شُرُوْطِهِمْ

“Kaum muslimin tergantung pada syarat-syarat yang dibuat oleh mereka.”
Ketika mereka sudah sepakat dengan suatu syarat, maka mereka harus menjalankan apa yang mereka sepakati. Ini adalah kaidah yang sangat agung. Dan kaidah ini bisa menjaga hak-hak kaum Muslimin.
Kaidah ini berasal dari sebuah hadits. Hadits tersebut diriwayatkan dari Katsir bin Abdullah bin Amr bin Auf Al-Muzani bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pernah bersabda:


الصُّلْحُ جَائِزٌ بَيْنَ الْمُسْلِمِيْنَ إِلاَّ صُلْحًا حَرَّّمَ حَلاَلاً أَوْ أَحَلَّ حَرَامًا وَالْمُسْلِمُوْنَ عَلَى شُُرُوْطِهِمْ إِلاَّ شَرْطًا حَرَّمَ حَلاَلاً أَوْ أَحَلَّ حَرَامًا


Berdamai dengan sesama muslimin itu diperbolehkan kecuali perdamaian yang menghalalkan suatu yang haram atau mengharamkan suatu yang halal. Dan kaum Muslimin harus memenuhi syarat-syarat yang telah mereka sepakati kecuali syarat yang mengharamkan suatu yang halal atau menghalalkan suatu yang haram. (HR. Bukhari).

مقاصد الشريعة الإسلامية ومكارمها
للشيخ وهبة الزحيلي ج ٢ ص ١٠١٧

ﻣﻘﺎﺻﺪ ﺍﻟﺸ ﺮﻳﻌﺔ ﻫﻲ ﺍﳌﻌﺎﱐ ﻭﺍﻷﻫﺪﺍﻑ ﺍﳌﻠﺤﻮﻇﺔ ﻟﻠﺸﺮﻉ ﰲ ﲨﻴﻊ ﺃﺣﻜﺎﻣﻬﺎ ﺃﻭ ﻣﻌﻈﻤﻬﺎ . ﺃﻭ ﻫﻲ ﺍﻟﻐﺎﻳﺔ ﻣﻦ ﺍﻟﺸﺮﻳﻌﺔ ﻭﺍﻷﺳﺮﺍﺭ ﺍﻟﱵ ﻭﺿﻌﻬﺎ ﺍﻟﺸﺎﺭﻉ ﻋﻨﺪ ﻛﻞ ﺣﻜﻢ ﻣﻦ ﺃﺣﻜﺎﻣﻬﺎ

Maqoshid al-Syari’ah adalah makna-makna dan tujuan yang dapat difahami/dicatat pada setiap hukum dan untuk mengagungkan hukum itu sendiri atau bisa juga difinisikan dengan tujuan akhir dari syariat Islam dan rahasia-rahasia yang ditetapkan oleh as-Syar’iy pada setiap hukum yang ditetapkannya. ( Dikutip dari kitab Alal al-Fasi al-Maqosid as-syari’ah al-Islamiyah Wamakarimuha cet.ke- 5 Dar- al-Gharb al-Islamiy .1993 h.7 Riyadh manshur al-Khalifi al-Maqosid….h.8 Wahbah az-Zuhailiy Usul al-Fiqh al-Islami juz ke-2 cet.1 ( Damasqus Dar al-Fikr (1986 ) h. 1017 )

مقاصد الشريعة الإسلامية للأستاذ الدكتور محمد وهبة بن مصطفى الزحيلي: ص ٧-٨

تعريف المقاصد:
المقاصد لغة جمع مقصد، من قصد الشيء وقصد له وقصد إليه قصدًا من باب ضرب، بمعنى طلبه وأتى إليه واكتنزه وأثبته، والقصد والمقصد هو طلب الشيء أو إثبات الشيء، أو الاكتناز في الشيء أو العدل فيه(١).
ومقاصد الشريعة في اصطلاح العلماء هي الغايات والأهداف والنتائج والمعاني التي أتت بها الشريعة، وأثبتتها في الأحكام، وسعت إلى تحقيقها وإيجادها والوصول إليها في كل زمان ومكان(٢).

Maqāsid menurut bahasa adalah jamak dari kata Maqshid yang berarti tujuan, artinya orang yang berhasrat/bertujuan terhadap sesuatu hal, kepadanya qoshada dari bab Dhoraba artinya dia mencarinya, mendatanginya, menyimpanya, dan membuktikannya mencari sesuatu atau membuktikan sesuatu, atau menyimpan sesuatu atau berlaku adil terhadapnya.

Adapun Maqosid menurut hukum syariah menurut terminologi para ulama adalah maksud, tujuan, hasil, dan makna yang dibawa oleh hukum syariah, yang ditetapkan dalam peraturan, dan diupayakan untuk dicapai, diciptakan, dan dicapai pada setiap waktu dan tempat


(١) انظر: القاموس المحيط ٢/٣٢٧، معجم مقاييس اللغة ٥/٩٥، المصباح المنير ٢/٦٩٢، مختار الصحاح ص. ٥٣٦، تهذيب الأسماء اللغات ٢/٩٢.
(٢) انظر: مقاصد الشريعة الإسلامية ص.١٣، الأصول العامة لوحدة الدين الحق ص.٦١

تحديد مقاصد الشريعة:
إن الله سبحانه وتعالى خلق الإنسان على أحسن تقويم، وكرم بني آدم في غاية التكريم، وفضلهم على سائر المخلوقات، وسخر لهم ما في الأرض وما في السموات، وجعلهم خلفاءه في الأرض، وفوق كل ذلك فن الله تعالى لم يخلق الإنسان عبثًا، ولم يتركه سدًى، وإنما أرسل له الرسل والأنبياء، وأنزل عليهم الكتب والشرائع، إلى أن ختم الله الرسل والأنبياء بسيدنا محمد عليه أفضل الصلاة والسلام، وختم الكتب والشرائع بالقرآن العظيم وشريعة الإسلام، وتهدف هذه الشريعة إلى تحقيق السعادة للإنسان في هذه الدنيا لتحقيق خلافة الله في أرضه، فجاءت الشريعة لتأمين مصالح الإنسان، وهي جلب المنافع له، ودفع المضار عنه فترشده إلى الخير، وتهديه سواء السبيل، وتدله على البر، وتأخذ بيده إلى الهدى القويم، وتكشف له المصالح الحقيقية، ثم وضعت له الأحكام الشرعية لتكون له هاديًا ودليلاً لتحقيق هذه المقاصد والغايات، وأنزلت عليه الأصول والفروع لإيجاد هذه الأهداف، ثم لحفظها وصيانتها وتأمينها وعدم الاعتداء عليها.
وحدد العلماء مقاصد الشريعة بأنها تحقيق مصالح الناس في الدنيا والآخرة، في العاجل والآجل، ومصالح الناس في الدنيا هي كل ما فيه نفعهم وفائدتهم وصلاحهم وسعادتهم وراحتهم، وكل ما يساعدهم على تجنب الأذى والضرر ودفع الفساد، إن عاجلاً أو آجلاً، ومصالح الناس في الآخرة هي الفوز برضاء الله تعالى في الجنة، والنجاة من عدابه وغضبه في النار، وقد وردت الأحكام الشرعية لجلب المصالح للناس، ودفع المفاسد عنهم. هذا وإن كل حكم شرعي إنما نزل لتأمين أحد المصالح أو دفع أحد المفاسد، أو لتحقيق الأمرين معًا، وما من مصلحة في الدنيا والآخرة إلا وقد رعاها المشرع، وأوجد لها الأحكام التي تكفل إيجادها والحفاظ عليها، ويجب التنويه إلى أن المشرع الحكيم لم يترك مفسدة في الدنيا والآخرة، في العاجل والآجل إلا بيَّنها للناس وحذرهم منها، وأرشدهم إلى اجتنابها والبعد عنها.
والدليل على ذلك الاستقراء الكامل للنصوص الشرعية من جهة، ولمصالح الناس من جهة ثانية، وأن الله تعالى لا يفعل الأشياء عبثًا في الخلق والإيجاد والتهذيب والتشريع، وأن النصوص الشرعية في العقائد والعبادات والأخلاق والمعاملات المالية والعقوبات وغيرها جاءت معللة بأنها لتحقيق المصالح ودفع المفاسد(١).
ـ فالعقيدة بمختلف أصولها وفروعها إنما جاءت لرعاية مصالح الإنسان في هدايته إلى الدين الحق، والإيمان الصحيح، مع تكريمه والسمو به عن مزالق الضلال والانحراف، وإنقاذه من العائد الباطلة والأهواء المختلفة والشهوات الحيوانية، فجاءت أحكام العقيدة لترسيخ الإيمان بالله تعالى واجتناب الطاغوت، ليسمو الإنسان بعقيدته وإيمانه، وينجو من الوقوع في شرك الوثنية، وتأليه المخلوقات من بقر وقرود، وشمس وقمر، ونجوم وشياطين، وغير ذلك.
قال تعالى: (فمن يكفر بالطاغوت ويؤمن بالله فقد استمسك بالعروة الوثقى لا انفصام لها( [البقرة: ٢٥٦]
وقال تعالى: (والذين اجتنبوا الطاغوت أن يعبدوها وأنابوا إلى الله لهم البشرى، فبشر عباد الذين يستمعون القول فيتبعون أحسنه، أولئك الذين هداهم الله، وأولئك هم أولوا الألباب( [الزمر: ١٧ ـ ١٨]
وقال تعالى مبينًا الحكمة والغاية من خلق الإنسان: (وهو الذي خلق السموات والأرض في ستة أيام، وكان عرشه على الماء ليبلوكم أحسن عملاً( [هود: ٧]
وقال تعالى (وما خلقت الجن والإنس إلا ليعبدون، ما أريد منهم من رزق وما أريد أن يطعمون [ الذاريات .ص ٥٦-٥٧]


() اختلف علماء الأصول في اعتبار الأحكام معللة أم لا، على قولين: فذهب الجمهور إلى أن جميع الأحكام الشرعية معللة بمصالح العباد، ولكن معظمها معلل بعلة ظاهرة، وبعضها معلل بعلة غير ظاهرة، وهي التي يسمونها (الأحكام التعبدية) أي الأحكام التي تعبّدنا الله تعالى بها، لتنفيذها وإرضاء الله تعالى بها، ولو لم تعرف لها علة وحكمة وسببًا، كأوقات الصلاة، وأعداد الركعات، ونصاب الزكاة، وقال بعض العلماء: إن الأحكام الشرعية كلها غير معللة، قال الشيخ تقي الدين ابن تيمية: “لأهل السنة في تعليل أفعال الله تعالى وأحكامه قولان، والأكثرون على التعليل” [منهاج السنة النبوية ٢/٢٣٩ مطبعة المدني] وانظر تحقيق هذا الموضوع مع مراجعه وأدلته في [شرح الكوكب المنير ١/٣١٢ وما بعدها، الموافقات ٢/٣، الأحكام للآمدي ٢/٢٥٢، ٢٧١، مقاصد الشريعة الإسلامية ١٣، ٢٠، قواعد الأحكام للعز بن عبد السلام ٢/٥].

Kategori
Uncategorized

HUKUM MENAMBAH WAROH MATULLAH WABAROKATUH DALAM MENGUCAPKAN SALAM DIDALAM SHALAT

HUKUM MENAMBAH KALIMAT WARAHMATULLAHI WABARO KATUH DALAM MENGUCAPKAN SALAM DIDALAM SALAT

Assalamu alaikum wr wb

Yth para masyayikh dan para asatidz dan saudara ” ku yang di rahmati oleh Alloh SWT.

Deskripsi masalah

Sebagaimana yang kita maklumi bahwa pengertian shalat menurut bahasa adalah zikir dan doa, sedangkan menurut istilah syara’ shalat adalah suatu perbuatan serta perkataan yang dimulai dengan takbir dan diakhiri dengan salam sesuai dengan syarat-syarat tertentu.Takbiratul ihrom termasuk rukun begitu juga halnya salam, Namun demikian ketika saya melakukan shalat secara berjamaah seorang imam cara mengucapkan salam berbeda-beda. Ada yang hanya mengucapkan Assalamualaikum dan ada yang menambah dengan ucapan warohmatullah begitu juga halnya dalam shalat jenazah ada menambah warohmatullah wabarokatuh

Pertanyaannya.

  1. Adakah landasan hukum hadits atau penjelasan ulama’ tentang hukum menambah salam dalam shalat dengan ucapan warohmatullah Wabarokatuh
  2. Apakah wajib seorang makmum menjawab salamnya imam dalam sholat mengingat salam dalam shalat hukumnya Sunnah diniatkan mengucapkan salam kepada orang yang berada disisinya imam yakni makmum, malaikat, atau jin dll.)

Tolong minta penjelasan tentang bab salam

Untuk imam mengucapkan السلام عليكم ورحمة الله
Tapi makmum kok tidak mengucapkan
عليكم السلام ورحمة الله
Terima kasih banyak.
Wassalamu alaikum wr wb.

Waalaikum salam
Jawaban. Disatukan.

Mengucapkan salam dalam shalat ada dasarnya baik hadits maupun pendapat ulama’ sebagaimana berikut:

إبانة الأحكام الجزء الأول ص ٤٤٧-٤٤٨
عن وائل بن حجر رضي الله عنه قال صليت مع النبي صلى الله عليه وسلم فكان يسلم عن يمينه ( السلام عليكم ورحمة الله وبركاته) وعن يمينه ( السلام عليكم ورحمةالله وبركاته) رواه أبودود بإسناد صحيح

Artinya:” Dari Wail bin Hujr Ra. dia berkata: Saya melakukan shalat bersama Rasulullah dan beliau mengucapkan salam kekanan / menoleh kekanan ( السلام عليكم ورحمةالله وبركاته ) dan mengucapkan salam kekiri/ menoleh Kediri ( السلام عليكم ورحمةالله وبركاته ) .HR. Abu Daud. dengan sanad yang shahih.

Adapun hal tentang hukum mengucapkan salam ulama sepakat bahwa hukum salam yang pertama adalah wajib sedangkan salam yang kedua adalah sunnah baik shalat yang dilakukan secara berjemaah ( imam makmum) ataupun shalat sendirian. Namun menurut Madzhab Imam Ahmad berbeda pandang tentang salam yang kedua hukumnya adalah wajib.
Adapun paling sedikitnya salam adalah السلام عليكم sedangkan sempurnanya adalah السلام عليكم ورحمة الله dan hukumnya Sunnah menurut Syafiiyah, ada sebagian mengatakan sunnah menambah wabarokatuh, namun menurut Imam Nawawi dalam Kitab majmu’ tidak Sunnah, dan sebagian ulama membatalkan terhadap orang yang mengatakan menambah itu adalah bid’ah, oleh karenanya menurut Imam Malik cukup dengan mengucapkan السلام عليكم dengan alasan kalimat tersebut merupakan kebiasannya orang-orang ahli Madinah, sedangkan menurut mereka ( ahli Madina ) tidak ada ketetapan menambah ورحمة الله وبركاته

Selain itu menurut Madzhab Malikiyah Sunnah mengucapkan salam tiga kali dengan tatacara pertama kearah kanan, kedua kekiri dan ketiga kearah depan jika shalat dilakukan secara berjemaah hanya saja kesunnahan itu hanya bagi makmum, dalam rangka salam yang ketiga sebagai salam jawaban ( menjawab ) salamnya Imam , tetapi menurut madzab Syafiyah tidaklah wajib untuk menjawab salamnya imam dalam shalat berjamaah dan juga tidak Sunnah, Akan tetapi hanya disunnatkan menjawab salamnya Imam bagi orang yang tidak melakukan shalat.

Berbeda dengan salam dalam shalat jenazah menurut sebagian ulama Sunnah menambah kalimat Wabarokatuh.

Dari penjelasan diatas dapat disimpulkan bawa paling sedikitnya salam adalah السلام عليكم sedangkan menambah ورحمة الله adalah sunnah sedangkan menambah وبركاته ada yang mengatakan bid’ah selain dalam shalat jenazah.
Adapun Hukumnya makmum menjawab salamnya imam adalah sunnah salam yang ketiga menurut madzhab Maliki, dan tidak Sunnah bahkan tidak wajib menurut madzhab Syafi’i makmum menjawab salamnya Imam . Namun disunnahkan bagi orang yang tidak melakukan shalat menjawab salamnya Imam, karena berpalingnya dari tidak adanya kewajiban menjawab salam dengan menoleh kekanan dan kekiri untuk menghalalkan sesuatu yang haram dalam shalat dalam arti sudah halal setelah salam berbicara diluar shalat dll.Oleh karena itu sunnah ketika salam niat keluar dari shalat.


المعنى الإجمالي
السلام ركن من أركان الصلاة يقع به التحلل منها ففى الحديث الآخر : تحريمها التكبير وتحليلها التسليم . وصيغته المجزئة السلام عليكم .وصيغته الكاملة السلام عليكم ورحمةالله وبركاته بزيادة الرحمة وبركاته وقد كان الصحابة الكرام أحرص الناس على ضبط أقواله وأفعاله صلى الله عليه وسلم للإقتداءه ولذا حرص وائل بن حجر على نقل ذلك .

التحليل اللفظي
السلام عليكم : السلام هو الأمان
ورحمةالله: الرحمة صفة لله تقتضى الإحسان.
وبركاته: البركة فيض إلهى من الله سبحانه وتعالى.

فقه الحديث
١.مشروعية التسلمتين للمصلي كان إماما او مأموما او منفردا وقد اتفق الأئمة رحمهم الله على وجوب التسليمة الأولى واختلفوا فى الثانية قال أحمد بوجوبها والجمهور على أنها سنة.
٢- إستحباب زيادة ( وبركاته) فى التسليم وبطلان ماقاله بعضهم من أن زيادتها بدعة وقال مالك بالإقتصار على قوله السلام عليكم لأنه عمل أهل المدينة فلم يثبت زيادة الرحمة والبركة

إعانة الطالبين المكتبة الشاملة ص ٢٠٠-٢٠١

(وسن)

تسليمة (ثانية) وإن تركها إمامه، وتحرم إن عرض بعد الاولى مناف، كحدث وخروج وقت جمعة ووجود عار سترة.(و) يسن أن يقرن كلا من التسليمتين (برحمة الله) أي معها، دون: وبركاته، على المنقول في غير الجنازة. لكن اختير ندبها لثبوتها من عدة طرق.(و) مع (التفات فيهما) حتى يرى خده الايمن في الاولى والايسر في الثانية.
(تنبيه) يسن لكل من الامام والمأموم والمنفرد أن ينوي السلام على من التفت هو إليه ممن عن يمينه
ــ
ويجوز: والسلام عليكم، بالواو، لأنه سبقه ما يصلح للعطف عليه، بخلاف التكبير.ويجزئ: عليكم السلام، مع الكراهة.كما نقله في المجموع عن النص، فلا يشترط ترتيب كلمتيه لتأدية المعنى ولو من غير ترتيب، وهو: الأمان عليكم.(قوله: للاتباع) دليل وجوب التسليمة الأولى.
(قوله: ويكره: عليكم السلام) أي بتقديم الخبر، ومع الكراهة هو مجزئ لأنه بمعنى ما ورد.(قوله: ولا يجزئ سلام عليكم) أي لعدم وروده، بخلافه في قوله: سلام عليك أيها النبي، وقوله: سلام علينا، لوروده فيه.(قوله: ولا سلام الله أو سلامي عليكم) أي ولا يجزئ ذلك.
(قوله: بل تبطل الصلاة) أي به، وهو اضراب انتقالي راجع للصيغ الثلاثة قبله.(قوله: كما في شرح الإرشاد لشيخنا) عبارته: لا سلام عليكم، بالتنكير، فلا يجزئ بل تبطل به الصلاة، وأجزأ في التشهد لوروده فيه.والتنوين لا يقوم مقام أل في العموم والتعريف وغيره.
ومثله السلام عليكم – بكسر السين – لأنه يأتي بمعنى الصلح.
نعم، إن نوى به السلام لم يبعد إجزاؤه، ولأنه يأتي بمعناه.
ويبطل أيضا تعمد: سلام، أو سلام الله عليكم، أو عليك، أو عليكما، لأنه خطاب.
اه.
(قوله: وسن تسليمة ثانية) أي للاتباع.رواه مسلم.
قال ق ل: وهي من ملحقات الصلاة، لا من الصلاة على المعتمد.
اه. (قوله: وإن تركها إمامه) أي فتسن للمأموم.(قوله: وتحرم إن عرض الخ) أي ولا تبطل صلاته لفراغها بالأولى، وإنما حرمت الثانية حينئذ لأنه انتقل إلى حالة لا تقبل فيها الصلاة فلا تقبل فيها توابعها.(قوله: كحدث إلخ) تمثيل للمنافي.(قوله: وخروج وقت جمعة) أي بخلاف وقت غيرها من بقية الصلوات، فلا تحرم لو خرج الوقت.والفرق أن الجمعة يشترط فيها بقاء الوقت من أولها إلى آخرها، بخلاف غيرها.(قوله: ووجود عار سترة) فيه نظر، لأنه لو استتر أتى بالمطلوب، ولا تحرم إلا أن يقال المراد: وجد سترة ولم يستتر بها فتحريمها حينئذ واضح، كما في سم.
(قوله: ويسن أن يقرن الخ) هذا بيان لأكمل السلام، فهو مقابل قوله: وأقلها السلام عليكم.(قوله: كلا من التسليمتين) أي المتقدمتين، وهي الأولى والثانية.(قوله: برحمة الله) متعلق بيقرن.(وقوله: أي معها) بيان لمعنى الباء بالنظر للمتن وبالنظر للفعل الذي دخل به وهو يقرن، فالباء على معناها إذ هو يتعدى بها.
(قوله: دون وبركاته) أي فلا يقر كلا من التسليمتين بها.وقوله: على المنقول في غير الجنازة أي أما فيها فتسن زيادته.وكتب سم ما نصه: قوله إلا في الجنازة، كذا قيل.
ويؤخذ من قول المصنف في الجنائز كغيرها عدم زيادة وبركاته فيها أيضا.
اه. (قوله: لكن اختير ندبها) أي لكن اختار بعضهم ندب وبركاته في غير الجنازة أيضا.وهو استدراك دفع به ما يتوهم من قوله: على المنقول، أنه متفق عليه.وحكى السبكي فيها ثلاثة أوجه، أشهرها: لا تسن ثانيها تسن ثالثها، تسن في الأولى دون الثانية.
(قوله: لثبوتها) أي لفظة وبركاته.
وهو علة الاختيار.وقوله: من عدة طرق أي من طرق عديدة.
(قوله: ومع التفات) معطوف على برحمة الله.والأولى التعبير بالباء كما مر في نظيره.وقوله: فيهما أي في التسليمتين.(قوله: حتى يرى) بالبناء للمجهول، وهو غاية للالتفات.
وقوله: خده الأيمن أي فقط، ولا يشترط رؤية خديه.وعبارة شرح مسلم: ويلتفت في كل تسليمة حتى يرى من عن جانبه خده.وهذا هو الصحيح.وقال بعض أصحابنا: حتى يرى خديه من عن جانبه.اه.
(وقوله: في الأولى) أي التسليمة الأولى: وهو متعلق بيرى.
وقوله: والأيسر في الثانية أي وحتى يرى خده الأيسر في التسليمة الثانية.(قوله: يسن لكل من الإمام الخ) أي لخبر علي رضي الله عنه: كان النبي – صلى الله عليه وسلم – يصلي قبل العصر أربع بالتسليمة الاولى، وعن يساره بالتسليمة الثانية، من ملائكة ومؤمني إنس وجن، وبأيتهما شاء على من خلفه وأمامه وبالاولى أفضل.وللمأموم أن ينوي الرد على الامام بأي سلاميه شاء إن كان خلفه، وبالثانية إن كان عن يمينه، وبالاولى إن كان عن يساره.
ويسن أن ينوي بعض المأمومين الرد على بعض، فينويه من على يمين المسلم بالتسليمة الثانية ومن على يساره بالاولى، ومن خلفه وأمامه بأيتهما شاء، وبالاولى أولى

(فروع)

يسن نية الخروج من الصلاة بالتسليمة الاولى خروجا من الخلاف في وجوبها، وأن يدرج ركعات يفصل بينهن بالتسليم على الملائكة المقربين ومن معهم من المسلمين والمؤمنين وخبر سمرة: أمرنا رسول الله – صلى الله عليه وسلم – أن نرد على الإمام، وأن نتحاب، وأن يسلم بعضنا على بعض.رواه أبو داود وغيره.(قوله: أن ينوي السلام) أي ابتداءه.وأما نية الرد فقط فقد ذكرها بقوله: وللمأموم أن ينوي الرد، الخ.
(قوله: على من التفت هو) أي على شخص التفت هو.أي كل ممن ذكر إليه – أي إلى ذلك الشخص – ولو غير مصل.ومع ذلك لا يجب على غير المصلي الرد عليه وإن علم أنه قصده بالسلام، كما في ع ش.وقوله: ممن إلخ بيان لمن، أو بدل منه بدل بعض من كل.وقوله: عن يمينه أي يمين كل ممن ذكر.وقوله: بالتسليمة الأولى متعلق بينوي المذكور.أو بعامل البدل على جعل الجار والمجرور بدلا.
(قوله: وعن يساره بالتسليمة الثانية) أي ويسن أن ينوي السلام على من التفت إليه ممن عن يساره بالتسليمة الثانية. وقوله: من ملائكة إلخ بيان لمن الثانية أو الأولى.(وقوله: وبأيتهما شاء إلخ) أي وينوي السلام بما شاءه من التسليمة الأولى أو الثانية على من كان خلفه أو كان أمامه.وأي هنا وفيما بعده موصولة، صلتها الفعل بعدها، وعائدها محذوف.(قوله: وبالأولى أفضل) أي ونية السلام على من ذكر بالتسليمة الأولى أفضل من الثانية.(قوله: وللمأموم الخ) أي ويسن للمأموم الخ، معطوف على لكل.(قوله: بأي سلاميه) متعلق بينوي، والضمير يعود على المأموم.وقوله: شاء صلة، أي والعائد إليها محذوف، أي بالذي شاءه من السلامين.(قوله: إن كان) أي المأموم.وقوله: خلفه أي الإمام.
(قوله: وبالثانية إن كان عن يمينه) أي وينوي الرد على الإمام بالتسليمة الثانية إن كان المأموم عن يمين الإمام.(قوله: وبالأولى إلخ) أي وينوي الرد عليه بالتسليمة الأولى إن كان المأموم عن يساره. قال في المغنى: فإن قيل: كيف ينوي من على يسار الإمام الرد عليه بالأولى؟ مع أن الرد إنما يكون بعد السلام، والإمام إنما ينوي السلام على من عن يساره بالثانية، فكيف يرد عليه؟ أجيب بأن هذا مبني على أن المأموم إنما يسلم الأولى بعد فراغ الإمام من التسليمتين، كما سيأتي.اه.
قوله: ويسن أن ينوي الخ) ذكره أولا مجملا ثم فصله بقوله: فينويه إلخ ليكون أوقع في النفس.(قوله: فينويه) أي الرد.وقوله: من على إلخ فاعل ينوي.وقوله: المسلم بكسر اللام، أي على الراد.وقوله: بالتسليمة الثانية متعلق بينوي أي تسليمة الراد الثانية.وذلك لأن المسلم ينوي ابتداء السلام بالأولى فيكون الرد بالثانية.
(قوله: ومن علي يساره بالأولى) أي وينوي الرد من على يسار المسلم بالأولى.(قوله: ومن خلفه وأمامه إلخ) أي وينوي الرد من كان خلف المسلم أو أمامه، بأيهما شاء.
ومحله: إذا تقدم سلام المسلم على من كان خلفه أو أمامه، وإلا فلا ينوي الرد عليه.كما في البجيرمي.
(قوله: وبالأولى أولى) أي ونية الرد ممن كان خلف أو أمام تكون بالأولى أولى.
(تنبيه) قال سم: هل يشترط مع نية السلام أو الرد فيما ذكر على من ذكر نية سلام الصلاة؟ حتى لو نوى مجرد السلام أو الرد ضر للصارف. وقد قالوا: يشترط فقد الصارف أو لا يشترط، فيكون هذا مستثنى من اشتراط قصد الصارف لوروده.
فيه نظر، ولعل الأوجه الأول، ولا يقال هذا مأمور به فلا يحتاج لفقد الصارف لأن نحو التسبيح لمن نابه شئ والفتح على الإمام مأمور به، مع أنه لو قصد فيه مجرد التفهيم ضر وبطلت صلاته.اه.(قوله: فروع) أي خمسة.(قوله: يسن نية الخروج من الصلاة بالتسليمة الأولى) أي عند ابتدائها.فإن نوى قبلها بطلت صلاته، أو مع الثانية، أو أثناء الأولى فاتته الثانية.اه.نهاية.(قوله: خروجا من الخلاف في وجوبها) أي نية

.

شرح بداية الهداية .ص ٥٠-٥١
ويسن الرد من غير المصلى ولا يجب الرد لانصراف السلام للتحلل

الكوكب الدرى على جامع الترمذي ص ٢٩٠-٢٩١

(٢) أعلم أولاً أن الفقهاء مختلفة في التسليم في الموضعين في الأوجز الأول في الواجب منه فعن الإمام أحمد روايتان إحداهما ركنية السلامين معًا والثانية ركنية إحداهما وكذا اختلف عند الحنفية فقيل الثاني واجب وقيل سنة وعند باقي الأئمة الواجب واحد حتى حكى النووي وابن المنذر إجماع العلماء على ذلك، وأما الاختلاف الثاني ففي المسنون منه فقالت الأئمة الثلاثة السنة اثنان خلافًا لمالك رضي الله عنه وبعض السلف فقالوا يسلم المأموم ثلاثًا وهو مشهور قول مالك والثالث للرد على الإمام، وأما غير المأموم فيسلم واحدًا تلقاء وجهه، ملخص من الأوجز وإذا عرفت ذلك فحديث الباب حجة لمن قال بوحدة السلام وحاول الشيخ توجيهه إلى قول الجمهور، وحاصل ما أفاده أن الحديث ليس بمسوق لبيان العدد بل لبيان ابتداء السلام بأن كان دأبه صلى الله عليه وسلم أن يبتدئ من تلقاء وجهه ويختمه إلى اليمين واليسار، والأوجه عندي أن الحديث حجة للجمهور في المسألة الأولى وهي فرض التسليمة الواحدة فإن النبي صلى الله عليه وسلم قد يكتفي على التسليمة الواحدة بيانًا للجواز.
إذا مال وجهه إلى اليمين وكذا الحكم في تسليم اليسار لكنهما اكتفت بذكر تسليمة لما أن مقصودها بالذكر إنما هو بيان التسليمة من أين تبتدئ وبيان كيفيتها كيف هي وما قيل من أنها لم تبلغها التسليمة الثانية لما أن التسليمة الأولى من النبي صلى الله عليه وسلم كانت فوق صوت التسليمة الثانية فلم تسمع عائشة غيرها فبعيد جدًا فإن التسليمة الثانية كانت إلى جهة حجرتها فهي تتمكن من سماعها فوق تمكنها من سماع التسليمة الأولى ولم يك لإخفاء النبي صلى الله عليه وسلم إياها معنى حتى يقال ما قيل وإنما الثابت أنه لم يكن يرفعها كرفع الأولى.

[النووي، الأذكار للنووي ت الأرنؤوط، صفحة ٦٩]
اعلم أن السلام للتحلّل من الصلاة ركنٌ من أركان وفرضٌ من فروضها لا تصحُّ إلا به، هذا مذهب الشافعي، ومالك، وأحمد، وجماهيرِ السلف والخلف، والأحاديثُ الصحيحةُ المشهورة مُصرّحة بذلك.
178 – واعلم أن الأكمل في السلام أن يقول عن يمينه: ” السَّلامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ ” وَعَنْ يَسارِهِ: ” السَّلامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ ” ولا يُستحبّ أن يقول معه – أن مع السلام عن التحلّل من الصلاة – وبركاته، لأنه خلاف المشهور عن رسوله الله صلى الله عليه وسلم، وإن كان قد جاء في رواية لأبي داود، وقد قال به جماعة من أصحابنا منهم إمام الحرمين، وزاهر السرخسي

[الخطيب الشربيني، مغني المحتاج إلى معرفة معاني ألفاظ المنهاج، ٣٨٥/١]

وَأَقَلُّهُ السَّلَامُ عَلَيْكُمْ) مَرَّةً، فَلَا يُجْزِئُ السَّلَامُ عَلَيْهِمْ وَلَا تَبْطُلُ بِهِ صَلَاتُهُ؛ لِأَنَّهُ دُعَاءٌ لِغَائِبٍ، وَلَا عَلَيْكَ، وَلَا عَلَيْكُمَا، وَلَا سَلَامِي عَلَيْكُمْ، وَلَا سَلَامُ اللَّهِ عَلَيْكُمْ، فَإِنْ تَعَمَّدَ ذَلِكَ مَعَ عِلْمِهِ بِالتَّحْرِيمِ بَطَلَتْ صَلَاتُهُ، وَيُجْزِئُ عَلَيْكُمْ السَّلَامُ مَعَ الْكَرَاهَةِ كَمَا نَقَلَهُ فِي الْمَجْمُوعِ عَنْ النَّصِّ (وَالْأَصَحُّ جَوَازُ سَلَامٌ عَلَيْكُمْ) بِالتَّنْوِينِ كَمَا فِي التَّشَهُّدِ؛ لِأَنَّ التَّنْوِينَ يَقُومُ مَقَامَ الْأَلِفِ وَاللَّامِ .

[الخطيب الشربيني، مغني المحتاج إلى معرفة معاني ألفاظ المنهاج، ٣٨٥/١]
وَأَكْمَلُهُ: السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ) ؛ لِأَنَّهُ الْمَأْثُورُ، وَلَا تُسَنُّ زِيَادَةُ وَبَرَكَاتُهُ كَمَا صَحَّحَهُ فِي الْمَجْمُوعِ وَصَوَّبَهُ

[النووي، المجموع شرح المهذب، ٤٧٣/٣]

ثُمَّ يُسَلِّمُ وَهُوَ فَرْضٌ فِي الصَّلَاةِ لِقَوْلِهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ” مِفْتَاحُ الصَّلَاةِ الطَّهُورُ وَتَحْرِيمُهَا التَّكْبِيرُ وَتَحْلِيلُهَا التَّسْلِيمُ ” وَلِأَنَّهُ أَحَدُ طَرَفَيْ الصَّلَاةِ فَوَجَبَ فِيهِ نُطْقٌ كَالطَّرَفِ الْأَوَّلِ وَالسُّنَّةُ أَنْ يُسَلِّمَ تَسْلِيمَتَيْنِ إحْدَاهُمَا عَنْ يَمِينِهِ وَالْأُخْرَى عَنْ يَسَارِهِ وَالسَّلَامُ أَنْ يَقُولَ السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ لِمَا رَوَى عَبْدُ اللَّهِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُسَلِّمُ عَنْ يَمِينِهِ السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَعَنْ يَسَارِهِ السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ الله حتى يرى بياض خده من ههنا ومن ههنا

Kategori
Uncategorized

UPAYA MEMPERCEPAT NAIK HAJI DENGAN MENEMPATI POSISI GILIRAN ORANG LAIN DENGAN TANPA IZIN

UPAYA MEMPERCEPAT NAIK HAJI DENGAN CARA MENEMPATI POSESI GILIRAN ORANG LAIN

Assalamualaikum.
Deskripsi Masalah
Dengan tersedianya sarana yang memadai dan status ekonomi yang makin membaik, jumlah orang yang ingin melaksanakan ibadah haji tiap tahun terus meningkat. Tak ayal, hal ini memunculkan problema tersendiri bagi Pemerintah baik Arab Saudi maupun Indonesia.
Sebagai solusi, Pemerintah Arab Saudi menetapkan kuota jemaah haji bagi tiap negara. Pemerintah Indonesia pun juga menetapkan kuota bagi tiap-tiap daerah naungannya. Hal ini menyebabkan banyak sekali calon jemaah haji yang masuk waiting list (daftar tunggu). Bahkan di beberapa daerah bila seseorang mendaftar pada tahun ini , secara umum masa tunggu haji reguler di Indonesia adalah 11 tahun hingga paling lama 32 tahun. Artinya, jika seseorang mendaftar haji reguler pada tahun 2024, maka ia harus menunggu 11-32 tahun untuk berangkat. Namun demikian ada sebagian jemaah katakan nama samarannya ( Aziz ) yang biasanya menunggu 10 th. ( 2034 ) tahun lagi ia bisa berangkat, namun apa boleh buat karena antrian masih jauh seorang Aziz berupaya untuk berangkat lebih awal dengan cara melunasi ONH terlebih dahulu guna menduduki posisi giliran orang lain ( sebagai persiapan cadangan) dalam arti menjaga adanya udzur bagi jamaah yang telah terpanggil ( Th 2024 )misalnya sakit parah, hamil, meninggal dll.

Pertanyaan :

1.Bagaimana hukum upaya mempercepat pemberangkatan haji dengan cara melunasi terlebih dahulu menempati posisi giliran orang lain dengan tanpa izin?

Waalaikum salam.

Jawaban :

Jika melalui cara yang benar hukumnya boleh semisal Nama samarannya Ahmad setelah daftar haji ( antrian) bertahun-tahun kemudian dipanggil naik haji pada tahun 2024 sementara giliran pada tahun berikutnya 2025 yaitu Mahmud . Namun sayangnya Ahmad sakit parah atau meninggal maka boleh Mahmud sebagai cadangan menduduki Posisinya Ahmad karena dalam kondisi uzur/Doruroh . Akan tetapi tidak boleh seorang Aziz yang baru mendaftar dalam antrian 10 tahun yang biasanya berangkat th.2034 lalu menggantikan posinya Ahmad maka hukumnya haram alasannya karena ada giliran orang yang layak dan tepat untuk menggantikan posisinya Ahmad yaitu Mahmud. Apalagi dengan cara berangkat tidak melalui prosedur aturan pemerintah yang resmi ( ilegal). Alasannya karena menyalahi peraturan pemerintah, dengan penyuapan, dan mengambil hak orang lain tanpa izin. Namun hajinya tetap dihukumi sah apabila telah memenuhi syarat dan rukunnya .
Melihat kenyataan yang ada, maka lebih utama bersedekah pada fakir miskin, yatim piatu, dan membantu pembangunan sarana peribadatan yang kekurangan dana dari pada menempati hak giliran orang lain.

Referensi :

إسعاد الرفيق ج ٢، ١٤١-١٤٢)

وَمِنْهَا (أخْذُ) الشَّخْصِ نَحْوَ (مَجْلِسِ غَيْرِهِ) وَلَوْ ذِمِّيًّا إذَا سَبَقَ إلَيْهِ سَوَاءٌ كَانَ مِنْ شَارِعٍ أوْ مَسْجِدٍ ;إِلَى أَنْ قَالَ; (أوْ أخْذُ نَوْبَتِهِ) ;إِلَى أَنْ قَالَ فَلاَ يَجُوْزُ ِلأَحَدٍ اْلإسْتِيْلاَءُ عَلَى نَوْبَةِ ذِي النَّوْبَةِ ِلأنَّهُ مِنَ الظُّلْمِ وَأكْلِ حَقِّ الْغَيْرِ بِاْلبَاطِلِ.(بغية المشترشدين، ٩١)

( (مَسْئَلَةٌ ك) يَجِبُ إمْتِثَالُ أَمْرِ الْاِمَامِ فِي كُلِّ مَالَهُ وِلَايَةٌ كَدَفْعِ زَكَاةِ الْمَالِ الظَّاهِرِ، فَإنْ لَمْ تَكُنْ فِيْهِ وِلَايَةٌ وَهُوَ مِنَ الْحُقُوْقِ الْوَاجِبَةِ اَوِ الْمَنْدُوْبَةِ جَازَ الدَّفْعُ إلَيْهِ وَالْاِسْتِقْلَالُ بِصَرْفِهِ فِي مَصَارِفِهِ;إلَى أَنْ قَالَ; قُلْتُ قَالَ ش ق الْحَاصِلُ أَنَّهُ تَجِبُ طَاعَةُ الْاِمَامِ فِي كُلِّ مَاأَمَرَ بِهِ ظَاهِرًا وَبَاطِنًا مِمَّالَيْسَ بِمُحَرَّمٍ اَوْ مَكْرُوْهٍ فَالْوَاجِبُ يَتَأَكَّدُ وَالْمَنْدُوْبُ يَجِبُ وَكَذَا الْمُبَاحَةُ إنْ كَانَ فِيْهِ مَصْلَحَةٌٌ.

(الأحكام السلطانية، ١ /١٩٣)

الْوِلَايَةُ عَلَى الْحَجِّ ضَرْبَانِ: أَحَدُهُمَا أَنْ تَكُونَ عَلَى تَسْيِيرِ الْحَجِيجِ. وَالثَّانِي: عَلَى إقَامَةِ الْحَجِّ، فَأَمَّا تَسْيِيرُ الْحَجِيجِ فَهُوَ وِلَايَةُ سِيَاسَةٍ وَزَعَامَةٍ وَتَدْبِيرٍ. وَالشُّرُوطُ الْمُعْتَبَرَةُ فِي الْمُوَلَّى: أَنْ يَكُونَ مُطَاعًا ذَا رَأْيٍ وَشَجَاعَةٍ وَهَيْبَةٍ وَهِدَايَةٍ. وَاَلَّذِي عَلَيْهِ فِي حُقُوقِ هَذِهِ الْوِلَايَةِ عَشَرَةُ أَشْيَاءَ: أَحَدُهَا جَمْعُ النَّاسِ فِي مَسِيرِهِمْ وَنُزُولِهِمْ حَتَّى لَا يَتَفَرَّقُوا فَيَخَافُ النَّوَى وَالتَّغْرِيرَ. وَالثَّانِي: تَرْتِيبُهُمْ فِي الْمَسِيرِ وَالنُّزُولِ بِإِعْطَاءِ كُلِّ طَائِفَةٍ مِنْهُمْ مُقَادًا حَتَّى يَعْرِفَ كُلُّ فَرِيقٍ مِنْهُمْ مُقَادَهُ إذَا سَارَ وَيَأْلَفَ مَكَانَهُ إذَا نَزَلَ، فَلَا يَتَنَازَعُونَ فِيهِ وَلَا يَضِلُّونَ عَنْهُ. وَالثَّالِثُ: يَرْفُقُ بِهِمْ فِي السَّيْرِ حَتَّى لَا يَعْجِزَ عَنْهُ ضَعِيفُهُمْ وَلَا يَضِلَّ عَنْهُ مُنْقَطِعُهُمْ، وَرُوِيَ عَنْ النَّبِيِّ أَنَّهُ قَالَ: الضَّعِيفُ أَمِيرُ الرُّفْقَةِ يُرِيدُ أَنَّ مَنْ ضَعُفَتْ دَوَابُّهُ كَانَ عَلَى الْقَوْمِ أَنْ يَسِيرُوا بِسَيْرِهِ. الرَّابِعُ: أَنْ يَسْلُكَ بِهِمْ أَوْضَحَ الطُّرُقِ وَأَخْصَبَهَا، وَيَتَجَنَّبَ أَجَدْبَهَا وَأَوْعَرَهَا. وَالْخَامِسُ: أَنْ يَرْتَادَ لَهُمْ الْمِيَاهَ إذَا انْقَطَعَتْ وَالْمَرَاعِيَ إذَا قَلَّتْ. وَالسَّادِسُ: أَنْ يَحْرُسَهُمْ إذَا نَزَلُوا وَيَحُوطَهُمْ إذَا رَحَلُوا حَتَّى لَا يَتَخَطَّفَهُمْ دَاعِرٌ وَلَا يَطْمَعَ فِيهِمْ مُتَلَصِّصٌ. وَالسَّابِعُ: أَنْ يَمْنَعَ عَنْهُمْ مَنْ يَصُدُّهُمْ عَنْ الْمَسِيرِ وَيَدْفَعَ عَنْهُمْ مَنْ يَحْصُرُهُمْ عَنْ الْحَجِّ بِقِتَالٍ إنْ قَدَرَ عَلَيْهِ أَوْ بِبَذْلِ مَالٍ إنْ أَجَابَ الْحَجِيجُ إلَيْهِ وَلَا يَسَعُهُ أَنْ يُجْبِرَ أَحَدًا عَلَى بَذْلِ الْخَفَارَةِ إنْ امْتَنَعَ مِنْهَا حَتَّى يَكُونَ بَاذِلًا لَهَا عَفْوًا وَمُجِيبًا إلَيْهَا طَوْعًا، فَإِنْ بَذَلَ الْمَالَ عَلَى التَّمْكِينِ مِنْ الْحَجِّ لَا يَجِبُ.

(حاشية إبن حجر الهيتمي على الإيضاح، ٨)

وَمِنْ ثَمَّ وَجَّهُوْا قَوْلَ الشَّافِعِيِّ، اْلإشْتِغَالُ بِاْلعِلْمِ أفْضَلُ مِنَ الصَّلاَةِ النَّافِلَةِ، بِأنَّ اْلإشْتِغَالَ بِالْعِلْمِ فَرْضُ كِفَايَةٍ وَهُوَ أفْضَلُ مِنَ النَّفْلِ. وَيَأْتِيْ مَا ذَكَرْتُهُ بِنَاءً عَلَى أنَّ فَرْضَ

الَضقَةِ أفْضَلُ مِنْ فَرْضِ الْحَجِّ وَنَفْلُهَا أفْضَلُ مِنْ نَفْلِهِ، وَهُوَ مَا يَدُلُّ عَلَيْهِ كَثِيْرٌ مِنَ الْعِبَارَاتِ فِيْمَا فَهِمَ مِنْهَا كَلاَمُ الْعُبَادِيِّ فِيْ زِيَادَاتِهِ مِنْ أنَّ حَجَّ التَطَوُّعِ أفْضَلُ مِنْ صَدَقَةِ التَّطَوُّعِ.

(بغية المسترشدين، ص ٥٣٩)

(مَسألة: ك) مِنَ الْحُقُوْقِ الْوَاجِبَةِ شَرْعاً عَلَى كُلِّ غَنِيٍّ وَحْدَهُ مَنْ مَلِكَ زِيَادَةً عَلَى كِفَايَةِ سَنَةٍ لَهُ وَلِمَمُوْنِهِ سَتْرُ عَوْرَةِ اْلعَارِيْ وَمَا يَقِِيْ بَدَنَهُ مِنْ مُبِيْحِ تَيَمُّمٍ، وَإطْعَامُ الْجَائِعِ، وَفَكُّ أسِيْرٍ مُسْلِمٍ، وَكَذَا ذِمِّيٍّ بتَِفْصِيْلِهِ، وَعِمَارَةُ سُوْرِ بَلَدٍ، وَكِفَايَةُ الْقَائِمِيْنَ بِحِفْظِهَا، وَالْقِيَامُ بِشَأْنِ نَازِلَةٍ نَزَلَتْ بِاْلمُسْلِمِيْنَ وَغَيْرُ ذَلِكَ، إنْ لَمْ تَنْدَفِعْ بِنَحْوِ زَكَاةٍ وَنَذَرٍ وَكَفَارَةٍ وَوَقْفٍ وَوَصِيَةٍ وَسَهْمِ الْمَصَالِحِ مِنْ بَيْتِ الْمَالِ لِعَدَمِ شَيْءٍ فِيْهِ أوْ مَنْعِ مُتَوَلِّيْهِ وَلَوْ ظُلْماً، فَإذَا قَصَرَ اْلأغْنِيَاءُ عَنْ تِلْكَ الْحُقُوْقِ بِهَذِهِ الْقُيُوْدِ جَازَ لِلسُّلْطَانِ اْلأخْذُ مِنْهُمْ عِنْدَ وُجُوْدِ الْمُقْتَضِى وَصَرْفُهُ فِيْ مَصَارِفِهِ . والله أعلم بالصواب.

RUKUN-RUKUN Haji Syekh Said bin Muhammad Ba’asyin dalam Kitab Buysral Karim menyebutkan sebagai berikut:

فصل في أركان الحج أي أجزاء الحج والعمرة وهي التي يتوقف صحتهما عليها ولا تجبر بدم وغيره  

Dilansir dari NU Online, Abu Syuja dalam Taqrib, karyanya yang terkenal, menyebut secara rinci rukun haji. Menurutnya, rukun haji terdiri atas empat hal. Sementara wajib haji terdiri atas tiga hal.

وأركان الحج أربعة الإحرام مع النية و الوقوف بعرفة والطواف و السعي بين الصفا والمروة…وواجبات الحج غير الأركان ثلاثة أشياء الإحرام من الميقات ورمي الجمار الثلاث والحلق  

Artinya: Rukun haji ada empat, yaitu ihram beserta niat, wukuf di Arafah, tawaf, dan sa’i antara Shafa dan Marwa. Wajib haji di luar rukun haji ada tiga, yaitu ihram dari miqat, lempar tiga jumrah, dan cukur.

Abu Syuja menempatkan cukur ke dalam wajib haji, bukan rukun haji. Syekh Said bin Muhammad Ba’asyin dalam Buysral Karim berbeda dari Abu Syuja. Menurutnya, rukun haji terdiri atas lima hal. Salah satunya adalah cukur.

وأركان الحج خمسة الإحرام و الوقوف بعرفة والطواف والسعي والحلق  

Artinya: Rukun haji ada lima, yaitu ihram, wukuf di Arafah, tawaf, sa’i, dan cukur (Syekh Bafadhal Al-Hadhrami, dalam Al-Muqaddimah Al-Hadhramiyyah pada Hamisy Buysral Karim).

Perbedaan keduanya dalam penyebutan rukun haji disinggung oleh KH Afifuddin Muhajir dalam karyanya Fathul Mujibil Qarib berikut ini.

ويشترط لصحته ثلاثة أمور الأول كونه سبع مرات والثانى أن يبدأ بالصفا ويختم بالمروة والثالثة أن يكون بعد طواف ركن أو قدوم، وبقي من أركان الحج الحلق والتقصير والمصنف عده من الواجبات لا من الأركان، ويجب أن يكون الإحرام متقدما غلى جميع الأركان السابقة

Artinya: Syarat keabsahan sa’i ada tiga. Pertama, sa’i itu tujuh kali. Kedua, titik mula di bukit Shafa dan titik akhir di bukit Marwah. Ketiga, sa’i dilakukan setelah tawaf rukun atau tawaf qudum. Rukun haji lainnya adalah cukur atau memendekkan rambut. Tetapi penulis Taqrib menganggapnya sebagai wajib haji, bukan rukun haji. Ihram wajib didahulukan dibandingkan rukun-rukun yang lain (KH Afifuddin Muhajir dalam Kitab Fathul Mujibil Qarib).

Bila mengikuti kategori yang dibuat oleh Syekh Ba’asyin, maka rukun haji ada lima, yaitu

Ihram, Wukuf di Arafah, Tawaf, Sa’i, Cukur rambut.  

Wajib Haji
Lain halnya dengan wajib haji. Kalau salah satu wajib haji ditinggalkan, orang yang meninggalkannya dapat menggantinya dengan dam (denda). Sementara hajinya tetap sah. Pelaksanaan dam dan besarannya berbeda-beda yang telah dijelaskan dalam artikel 4 Kategori Dam Haji beserta Penjelasan Jenis Pelanggarannya.

فصل واجبات الحج وهي ما يصح بدونها وكذا الاثم إن لم يعذر  

Artinya: Pasal mengenai wajib haji. Wajib haji adalah sejumlah hal yang mana haji itu tetap sah tanpanya, tetapi dosa bila wajib haji ditinggalkan tanpa uzur (Syekh Said bin Muhammad Ba’asyin dalam Buysral Karim).  

Syekh Said Ba’asyin menyebutkan enam wajib haji sebagai berikut:

Mabit di Muzdalifah.

Lempar jumrah aqabah tujuh kali.

Lempar tiga jumrah di hari tasyriq (11, 12, dan 13 Dzulhijjah).
Mabit pada malam tasyriq.
Ihram dari miqat.
Tawaf wada.  
Sunnah Haji
Sunnah dalam ibadah haji baik dilakukan agar ibadah makin sempurna, selain melaksanakan rukun dan wajib haji. Dilansir dari NU Online, sunnah-sunnah haji menurut pendapat ulama Syafi’iyah yang muktamad adalah sebagai berikut:
Ifrad, yaitu mendahulukan haji dibandingkan umrah.
Talbiyah.​​​​​​​
Thawaf qudum.
Shalat sunnah thawaf sebanyak dua rakaat.
Adapun shalat sunnah thawaf sebanyak dua rakaat dilakukan setelah thawaf. Shalat sunnah thawaf dapat dilakukan di mana saja di tanah haram. Tetapi sedapat mungkin shalat sunnah thawaf ini dilakukan di belakang maqam Ibrahim. 

(و) الخامسة (ركعتا الطواف) أي ركعتان بعد الفراغ من الطواف ويصليهما خلف المقام، فإن لم يتيسر ففي الحجر فإن لم يتيسر ففي المسجد فإن لم يتيسر فحيث شاء من الحرم

Artinya: Kelima (shalat dua rakaat thawaf), yaitu dua rakaat setelah selesai thawaf. Shalat sunnah thawaf dilakukan di belakang maqam Ibrahim. Kalau tidak mungkin, maka shalat sunnah thawaf dilakukan di Hijir Ismail. Kalau tidak mungkin, shalat sunnah thawaf dilakukan di masjid. Kalau tidak mungkin, maka shalat sunnah thawaf dilakukan di mana saja di tanah haram.Wallahu A’lam bisshowab.

Kategori
Uncategorized

TREN TINDIK HIDUNG DITINJAU DARI PERSPEKTIF HUKUM FIQIH

Assalamualaikum

Deskripsi masalah

Dieraglobalisasi remaja/pemuda dan pemudi sekarang ini cenderung meniru kebudayaan barat yang mana kebudayaan barat tidaklah keseluruhan di dalamnya berdampak positif baik dalam bidang ilmu pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, maupun adat istiadat melainkan bisa jadi berdampak negatif sehingga perlu adanya filter untuk tidak terpengaruh dari berbagai budaya mereka yang telah masuk ke Indonesia melalui teknologi ,dan sosial (dari kebiasaan-kebiasaan).

Seiring dengan perjalanan waktu dan berkembangnya ilmu dan teknologi diera globalisasi saat ini maka semakin menekan proses akulturasi budaya barat yang kehadirannya seakan mendominasi dan selalu menjadi trend-centre masyarakat yang diantaranya tren menindik hidung sebagaimana orang India.
Kebudayaan barat yang masuk ke Indonesia sebenarnya memiliki dampak positif dan negatif bagi masyarakat Indonesia. Dampak positif misalnya, kreatifitas, inovasi pengembangan ilmu pengetahuan, dan dijadikan bisnis online. Dampak negatifnya kebudayaan asing atau barat terhadap masyarakat Indonesia khususnya kalangan remaja sudah sampai tahap memprihatinkan karena ada kecenderungan para remaja sudah melupakan kebudayaan bangsanya sendiri dan kebiasaan para leluhur terdahulu. Budaya ikut-ikutan atau latah terhadap cara berpenampilan, mengikuti trend menindik hidung mereka dll.Karena bagi para remaja tidak ingin dikatakan kuno, kampungan kalau tidak mengikuti cara berpakaian ala barat karena menurut mereka dinilai modern, tren dan mengikuti perkembangan zaman.

Pertanyaannya.
Bagaimana sebenarnya menindik hidung ditinjau dari perspektif hukum fiqih?


Waalaikum salam.
Jawaban.

Menindik anggota tubuh seperti hidung, lidah, pusar dan kelopak mata semua itu dihukumi haram secara mutlak, selain telinga, kenapa diharamkan, karena melubagi hidung termasuk tindakan ekstream yang dianggap tidak sebagai berhias yang di tolelir kecuali oleh segelintir kalangan saja. Beda halnya dengan apa yang dilakukan pada telinga, menggantungkan perhiasan di telinga merupakan perhiasan wanita.
Dengan demikian hukum menindik hidung hukumnya haram kerena termasuk dalam kategori merubah ciptaan Allah, berbeda dengan dengan telinga bagi perempuan untuk hiasan maka hukumnya boleh sebagaimana Thahir bin ‘Asyur mengatakan:

وَلَيْسَ مِنْ تَغْيِيرِ خَلْقِ اللَّهِ التَّصَرُّفُ فِي الْمَخْلُوقَاتِ بِمَا أَذِنَ اللَّهُ فِيهِ وَلَا مَا يَدْخُلُ فِي مَعْنَى الْحُسْنِ فَإِنَّ الْخِتَانَ مِنْ تَغْيِيرِ خَلْقِ اللَّهِ وَلَكِنَّهُ لِفَوَائِدَ صِحِّيَّةٍ، وَكَذَلِكَ حَلْقُ الشَّعْرِ لِفَائِدَةِ دَفْعِ بَعْضِ الْأَضْرَارِ، وَتَقْلِيمُ الْأَظْفَارِ لِفَائِدَةِ تَيْسِيرِ الْعَمَلِ بِالْأَيْدِي، وَكَذَلِكَ ثَقْبُ الْآذَانِ لِلنِّسَاءِ لِوَضْعِ الْأَقْرَاطِ وَالتَّزَيُّنِ

Artinya, “Tindakan pada ciptaan Allah yang diizinkan juga yang bukan ditujukan untuk mempercantik tidak termasuk dalam kategori mengubah ciptaan Allah. Praktik sunat merupakan pengubahan terhadap ciptaan Allah, namun membawa manfaat bagi kesehatan, begitu pula mencukur rambut untuk kepentingan menangkal penyakit, memotong kuku untuk kepentingan memperlancar pekerjaan yang melibatkan tangan, dan juga tindik telinga perempuan untuk dipakaikan anting dan berhias” (Muhammad Thahir bin ‘Asyur, At-Tahrir wa at-Tanwir, [Tunis, al-Dar al-Tunisiyah lil Nasyr, 1984]. Jilid V, halaman 205).

نهاية الزين ص ٣٨٥
وحرم تثقيب أذن ) قال الزيادي والأوجه أن ثقب أذن الصغيرة لتعليق الحلق حرام لأنه لم تدع إليه حاجة وغرض الزينة لا يجوز بمثل هذا التعذيب هذا ما قاله الغزالي في الإحياء وأفتى بذلك الشيخ الرملي ورجح في موضع آخر الجواز وهو المعتمد كذا في تحفة الحبيب أما خرم أذن الصبي فحرم قطعا كما يحرم خرم الأنف ليجعل فيه حلقة من ذهب أو نحوه ولا فرق في ذلك بين الذكر والأنثى ولا عبرة باعتياد ذلك لبعض الناس في نسائهم

حاشية بجيرمى على الخطيب ج ٢ ص ٢٦٠
قال الشريف الرحماني : وخرق الأنف لما يجعل فيه من نحو حلقة نقد حرام مطلقا ، ولا عبرة باعتياد ذلك لبعض الناس في نسائهم وأذن الصبي كذلك ، ولا نظر لزينته بذلك دون الأنثى ، فيجوز خرق أذنها على المعتمد من إفتاءين للرملي متناقضين . وعبارة الرملي في شرح الزبد : وأما تثقيب آذان الصبية لتعليق الحلق فحرام لأنه جرح لم تدع إليه حاجة
صرح به الغزالي في الإحياء وبالغ فيه مبالغة شديدة ، قال : إلا أن ثبت فيه من جهة النقل رخصة ولم يبلغنا . وقوله : فحرام ضعيف ، وفي الرعاية في مذهب الإمام أحمد : يجوز تثقيب آذانالصبية للتزيين ويكره ثقب أذن الصبي اه بحروفه. والله أعلم بالصواب

Kategori
Uncategorized

HUKUM PASANG GIGI PALSU ||ANTARA MEMELIHARA KESEHAN DAN UNTUK KECANTIKAN

HUKUM PASANG GIGI PALSU ANTARA MENJAGA KESEHATAN DAN KECANTIKAN

Setiap manusia dikaruniai gigi untuk alat menggigit makanan dan menggoyahnya, hanya saja tidak semua orang memiliki gigi yang kuat sehingga manakala lanjut usia terkadang gigipun kropos sehingga dalam rangka untuk bisa kembali asal dan menjaga penampilan gigi tetap rapi, sebagian orang berupaya memasang gigi palu.

Pertanyaannya
Bagaimana hukum memakai gigi palsu dengan tujuan memelihara kesehatan atau mempercantik diri ?

Waalaikum salam.

Jawaban.
Dalam dunia medis ada istilah Veneer dan crown.
Veneer gigi adalah prosedur medis yang dilakukan dengan menempelkan veneer di bagian depan gigi, sedangkan crown adalah metode pemasangan selubung gigi palsu di atas gigi yang rusak atau patah.
Kedua model perawatan gigi di atas memiliki beragam tujuan, misalnya tujuan medis untuk memelihara gigi dari kerusakan yang lebih parah, atau menghindari gigi yang keropos supaya tidak mudah patah, atau memperbaiki rongga gigi yang tidak seragam, keruncingan gigi yang tidak wajar, hingga warna gigi yang berubah drastis.
Lantas bagaimana pandangan Islam terhadap veneer dan crown gigi, apakah kedua jenis upaya medis ini termasuk ke dalam mengubah ciptaan Allah? Sementara Nabi saw pernah bersabda:

لَعَنَ اللَّهُ الْوَاشِمَاتِ وَالْمُوتَشِمَاتِ وَالْمُتَنَمِّصَاتِ وَالْمُتَفَلِّجَاتِ لِلْحُسْنِ الْمُغَيِّرَاتِ خَلْقَ اللَّهِ

Artinya, “Allah melaknat wanita-wanita yang membuat tato, meminta ditato, mencabuti alis dan memperbaiki susunan giginya untuk mempercantik diri, yang telah merubah ciptaan Allah.” (HR Al-Bukhari).

Hadits di atas secara jelas menuturkan perbaikan susunan gigi dalam rangka mempercantik dan mengubah ciptaan Allah adalah bagian sesuatu yang haram, namun apakah lantas hadits tersebut dapat kita pahami secara tekstual, atau ada makna lain?
Badruddin Al-‘Aini dalam ‘Umdatul Qari menjelaskan makna mengubah gigi pada hadits tersebut, yaitu yang berlebihan dalam melakukannya. Ia berkata:

والمعنى هنا المتفلجة هي التي تتكلف بأن تفرق بين الأسنان لأجل الحسن ولا يتيسر ذلك إلا بالمبرد ونحوه


Artinya, “Makna di sini ‘al-mutafallijah’ yaitu orang memaksakan diri merenggangkan giginya demi kecantikan, dan hal itu tidak mungkin dilakukan kecuali dengan proses mengikir atau sejenisnya.” (Badruddin al-‘Aini, ‘Umdatul Qari, jilid XXII, halaman 62).

Ibnu Hajar Al-‘Asqallani dalam Fathul Bari menjelaskan, jika tujuan semata untuk kecantikan saja, maka itulah yang dianggap tidak baik. Sedangkan kalau tujuannya untuk kesehatan, maka boleh.

والمتفلجات للحسن” يفهم منه أن المذمومة من فعلت ذلك لأجل الحسن، فلو احتاجت إلى ذلك لمداواة مثلا جاز

Artinya, “’Orang-orang yang memperbaiki susunan giginya’, maksudnya itu adalah perbuatan tercela apabila semata-mata dimaksudnya untuk mempercantik, sedangkan apabila untuk kebutuhan semisal pengobatan maka boleh.” (Ibnu Hajar al-‘Asqallani, Fathul Bari, [Beirut: Darul Fikr, t.t.], jilid X, hal. 373).

Senada dengan hal tersebut, An-Nawawi menjelaskan kalau upaya pada gigi untuk tujuan medis seperta pengobatan, mencegah kerusakan, menutupi kecacatan dan kejelekan pada gigi, maka tidak apa-apa. Hanya saja yang tidak boleh, jika giginya sudah bagus, namun ia tetap merenggangkan giginya demi kecantikan semata. Beliau berkata:

وفيه اشارة إلى أن الحرام هو المفعول لطلب الحسن أما لواحتاجت إليه لعلاج أو عيب فى السن ونحوه فلابأس


Artinya, “Dalam hadits tersebut ada isyarat bahwa yang diharamkan adalah [merenggangkan gigi] dengan tujuan mempercantik, namun bila ia merenggangkan gigi sebab kebutuhan pengobatan, pencegahan atau aib dan sejenisnya, maka tidak apa-apa.” (An-Nawawi, Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim ibn Al-Hajjaj, [Beirut: Dar Ihya at-Turats, 1392], jilid XIV, halaman 107).
Dari beberapa penjelasan hadits tersebut, kita mendapati bahwa proses veneer dan crown gigi diperbolehkan dengan tujuan medis seperti yang telah disebutkan pada uraian-uraian di atas. Thahir bin ‘Asyur mengatakan:

وَلَيْسَ مِنْ تَغْيِيرِ خَلْقِ اللَّهِ التَّصَرُّفُ فِي الْمَخْلُوقَاتِ بِمَا أَذِنَ اللَّهُ فِيهِ وَلَا مَا يَدْخُلُ فِي مَعْنَى الْحُسْنِ فَإِنَّ الْخِتَانَ مِنْ تَغْيِيرِ خَلْقِ اللَّهِ وَلَكِنَّهُ لِفَوَائِدَ صِحِّيَّةٍ، وَكَذَلِكَ حَلْقُ الشَّعْرِ لِفَائِدَةِ دَفْعِ بَعْضِ الْأَضْرَارِ، وَتَقْلِيمُ الْأَظْفَارِ لِفَائِدَةِ تَيْسِيرِ الْعَمَلِ بِالْأَيْدِي، وَكَذَلِكَ ثَقْبُ الْآذَانِ لِلنِّسَاءِ لِوَضْعِ الْأَقْرَاطِ وَالتَّزَيُّنِ


Artinya, “Tindakan pada ciptaan Allah yang diizinkan juga yang bukan ditujukan untuk mempercantik tidak termasuk dalam kategori mengubah ciptaan Allah. Praktik sunat merupakan pengubahan terhadap ciptaan Allah, namun membawa manfaat bagi kesehatan, begitu pula mencukur rambut untuk kepentingan menangkal penyakit, memotong kuku untuk kepentingan memperlancar pekerjaan yang melibatkan tangan, dan juga tindik telinga perempuan untuk dipakaikan anting dan berhias” (Muhammad Thahir bin ‘Asyur, At-Tahrir wa at-Tanwir, [Tunis, al-Dar al-Tunisiyah lil Nasyr, 1984]. Jilid V, halaman 205).
Bahkan boleh pasang gigi dan menambalnya sekalipun dari emas dengan syarat ada tujuan untuk kemaslahatan seperti untuk menghaluskan makanan atau agar berbicara tepat dan bacaan benar .

Referensi :


التقريرات السديدة ج ١ ص ٣٥٧.
حالات جواز لبس الذهب : ١. السن أي إذا قلعت إحدى أسنانه أو فسدت بحيث لا ينتفع يها فيجوز أن يضع مكانها سنا من ذهب.


Hal hal yang diperbolehkan menggunakan emas, salah satu diantaranya adalah untuk menambal gigi / sebagai gigi palsu, artinya apabila ada gigi yang tanggal atau rusak sekira tidak bisa dipakai maka diperbolehkan menambalnya / menggantinya dengan gigi dari emas. [Taqrirotus Sadidah I / 357].

Jadi memasang gigi palsu dalam Islam, menyimpulkan apa yg dipaparkan dalam keterangan diatas dan Syeh Qorthowi, hal ini diperjelas lagi oleh Syekh Shaleh Munajid Berkata: “Memasang gigi buatan ditempat gigi yang dicabut karena sakit atau rusak itu adalah perkara yang mubah (diperbolehkan). Tidak ada dosa di dalam melakukannya. Kami tidak mengetahui satupun dari ahli ilmu (Ulama) yang mencegahnya (memasang gigi palsu). Tidak ada perbedaan (hukum) antara dipasang secara permanen ataupun tidak.”begitu juga  veneer dan crown gigi hukumnya boleh jika dimaksudkan untuk tujuan kesehatan menurut medis. Kedua prosedur medis tersebut bukan bagian dari mengubah ciptaan Allah, akan tetapi hanya untuk memperbaiki dan mencegah bagian gigi yang keropos supaya tidak patah.Akan tetapi jika untuk mempercantik hukumnya tidak boleh ( haram.) Wallahu a’lam

Kategori
Uncategorized

HUKUM MENYEMBELIH HEWAN DENGAN MENGGUNAKAN ALAT MESIN LISTRIK

Assalamualaikum

Deskripsi masalah.
Seiring dengan berjalannya waktu dan berkembangnya ilmu dan tehnologi canggih yang semakin maju, dimana tidak sedikit alat-alat itu telah dipakai oleh sebagian masyarakat yang diantaranya menyembelih hewan dengan alat mesin listrik, ini adalah penemuan baru yang tidak ada pada masa lalu yang biasa menyembelih hewan dengan menggunakan alat yang tajam seperti pisau pedang dll.

Pertanyaan.

Bagaimana hukumnya menyembelih hewan dengan alat listrik, halalkah hewan tersebut?

Waalaikum salam.
Hukum sembelihan dengan alat mesin menurut sebagian madzhab Maliki adalah boleh dan halal, karena menurut mereka syarat menyembelih tidaklah harus dengan benda tajam yang terpenting adalah niat tujuanya untuk menyembelih untuk dimakan dan terputusnya ruh, dengan demikian boleh hewan disembelih dengan alat listrik namun hukumnya makruh.

Dalam kitab halal dan Haram Dr.Yusuf al-Qardhowi menjelaskan.
Apakah hewan yang disembelih dengan sengatan listrik dan sejenisnya dihalalkan itu, disyaratkan seperti penyembelihan dalam ajaran agama kita, yakni dengan benda tajam dileher? Karena kebanyakan ulama mensyaratkan hal itu, sedangkan sebagian kelompok dikalangan madzhab Imam Malik memfatwakan tidak disyaratkan.( Wafwa ini termasuk dalil yang sangat jelas atas dasar ilmu agama, dan kehati-hatian Imam Malik beliu tidak terlalu gegabah mengatakan haram sebagaimana dilakukan oleh sebagian ulama sekarang , beliau cukup mengatakan dengan hukum makruh karena ada dua dalil ( dasar )umum yang kontradiktif, yaitu dalil umum hewan yang disembelih atas nama selain Allah dan makanan ahli kitab pada umumnya. Beliau telah memadukan antara kebudayaan sebagaimana kami sebekan )

Tentang Tafsir ayat Al-Maidah tersebut, Al-Qadi Ibnu Arabi mengatan, ini merupakan dalil yang qath’i bahwa buruan dan makanan ahli kitab termasuk makanan baik-baik yang dibolehkan Allah ia adalah halal secara mutlak. Allah SWT mengulang-mengulangnya tidak lain dalam rangka menghilangkan keraguan dan praduga-praduga (kewatiran) yang tidak benar yang kadang melintas, yang hanya menimbulkan pertentangan pendapat yang kepanjangan. Saya bernah ditanya tentang seorang nasrani yang membunuh ayam dengan memilin lehernya, lalu memasaknya, apakah ia boleh dimakan ? Saya katakan boleh. Karena ia adalah makanan dan makanan para pendeta serta rahib-rahibnya, meskipun praktek itu bukan termasuk penyembelihan yang menurut kita. Akan tetapi Allah menghalalkan untuk kita makanan mereka secara mutlak, sesuai dengan pandangan agama yang mereka anut. Semua halal bagi kita, kecuali apa yang Allah dustakan.Para ulama mengatakan, mereka memberikan kepada kita wanita-wanitanya sebagai istri, halal bagi kita mencampurinya, lalu bagaimana mungkin tidak boleh memakannya dibandingkan pernikahan, dalam hal halal dan haram?
Itulah ditegaskan Ibnu Arabi. Ditempat lain mengatakan, apa yang mereka makan bukan dengan cara menyembelih seperti mencekik dan memukul kepala, adalah bangkai yang diharamkan .
Kedua itu tidak bertentangan. Karena maksud pernyataan itu adalah apa yang mereka pandangan sebagai penyembelihan yang sah menurut agama kita. Sebaliknya, apa yang mereka tidak mereka anggap sebagai penyembelihan menurut agama mereka tidaklah halal bagi kita.
Cara pandang yang sama-sama kita akui tentang penyembelihan adalah kesengajaan untuk menghilangkan nyawa binatang dengan niat menghalalkannya untuk dimakan. Itulah madzhab sebagai kelompok maliki.
Berdasarkan perspektif ini tahulah kita hukum daging impor dari negeri ahli kitab, seperti dagingnya ayam daging sapi kalengan, yang boleh jadi penyembelihannya dengan cara sengatan listrik dan sejenisnya. Selama mereka menganggapnya sebagai sembelihan yang halal maka ia halal bagi kita sesuai dengan umumnya makna ayat.
Adapun daging yang diimpor dari negeri-negeri komunitas maka tidak boleh kita mengkonsumsinya, karena kerena membangkan kepada Allah dan semua risahnya. WALLAHU A’LAM BISH-SHAWAB.

كتاب الحلال والحرام للشيخ الدكتور يوسف القرضاوى ص ٧٥-

ما ذكوه بطريق الصعق الكهربائي ونحوه

هل يشترط أن تكون تذكيتهم مثل تذكيتنا ، بمُحدَّد في الحلق

:المسألة الثا نية

إشترط ذلك أكثر العلماء ، والذي أفتى به جماعة من المالكية أن ذلك ليس بشرط قال القاضي ابن العربي في تفسير آية المائدة= هذا دليل قاطع على أن الصيد وطعام الذين أوتوا الكتاب ، من الطيبات التي أباحها الله وهو الحلال المطلق
وإنما كرره الله تعالى ليرف به الشكوك ويزيل الإعتراضات عن الخواطر الفاسدة ، التي توجب الإعتراضات وتحوج إلى تطويل القول.
ولقد سُئلت عن النصراني يفتل عنق الدجاجة ثم يطبخها هل تؤكل لأنها طعامه وطعام أحباره ورهبانه وإن لم تكن هذه ذكاة عندناولكن أباح الله لنا طعامهم مطلقا ، وكل ما يرونه حلالا في دينهم فإنه حلال لنا إلا ماكتب الله.
هذه الفتوى من أظهر الأدلة على فقه الإمام مالك ودينه وورعه رضي الله عنه إذ لم يسارع إلى التحريم كمايفعل بعضهم اليوم واكتفى بالكراهة ، حيث وجدعمومين متعارضين عموم ما أهل لغير الله به وعموم طعام أهل الكتاب وقد جمع بينهما بما ذكرناه فيه . ولقد قال علماؤنا : إنهم يعطوننا نساءهم أزواجا ، فيحل لنا وطؤهن ، فكيف لا نأكل ذبائحهم ، والأكل دون الوطء في الحل(١ )هذا ماقرره ابن العربي .والحرمة؟+وقال هذا في موضع ثانٍ : = ما أكلوه على غير وجه الذكاة كالخنق وحطم
(²)ولا تنافي بين القولين ، فإن المراد : أن ما يرونه مذكًى عندهم حلَّ لناوإن لم تكن ذكاتُه عندنا ذكاةًصحيحة وما لا يرونه مُذكًى عندهم لا يحل لنا . والمفهوم المشترك للذكاة : هو القصد إلى إزهاق روح الحيوان بنية تحليل أكله .وهذا هو مذهب جماعة المالكية . وعلى ضوء ما ذكرنا نعرف الحكم في اللحوم المستوردة ، من عند أهل الكتاب كالدجاج ولحوم البقر المحفوظة ، مما قد تكون تذكيته بالصعق الكهربائي ونحوه . فما داموا يعتبرون هذا حلال مذكًّى فهو حِلٌّ لنا وَفق عموم الآية.
أما اللحوم المستوردة من بلاد شيوعية : فلا يجوز تناولها بحال،
لأنهم ليسوا أهل كتاب ، وهم يكفرون بالأديان كلها ، ويجحدون بالله ورساالته جميعا .والله أعلم بالصواب

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa hukum memotong hewan dengan mesin adalah halal, selama mesin dan cara memotongnya memenuhi syarat-syarat sebagai berikut:

  1. Pemotongnya seorang muslim/ahlu kitab yang asli
  2. Alat mesin yang dipergunakan, merupakan benda tajam yang bukan dari tulang atau kuku , Sengaja menyembelih hewan tersebut

بجيرمى ج ٦ص٢٨٦
وشرط فى الذبح قصد اى قصد العين أو الجنس بالفعل (قوله قصد العين) وإن أخطأفى ظنه، أو الجنس فى الإصابة – ح ل – والمرد بقصد العين أو بالجنس بالفعل أى قصد إيقاع الفعل على العين أو على واحد من الجنس وإن لم يقصد الذبح.

Syarat dalam memotong hewan: menyengaja terhadap hewannya atau jenisnya dengan perbuatan (kata-kata menyengaja pada hewan), meskipun keliru dalam persangkaannya atau jenisnya dalam kenyataannya … artinya menyengaja ialah: sengaja terhadap hewan itu atau jenisnya walupun tidak sengaja menyembelih.

الجمل ج ٥ ص ٢٤١-٢٤٢
وشرط في الآلة كونها محددة بفتح الدال المشددة أى ذات حدة تجرح كحديد أى كمحدد حديد وقصب وحجر ورصاص وذهب وفضة إلا عظما كسن وظفر لخبر الشيخين: ما أنهر الدم وذكر اسم الله عليه فكلوه ليس السنّ والظفر وألحق بهما باقي العظام

Syarat alat untuk menyembelih harus tajam yang bisa melukai seperti pisau besi, bambu, batu, timah, emas, perak, kecuali (tidak boleh) dengan tulang dan kuku. Dengan dasar hadits shohih bukhori dan muslim: sesuatu yang dapat mengalirkan darah dengan menyebut nama Allah maka makanlah selama bukan dengan tulang dan kuku. dan disamakan dengan keduanya semua jenis tulang.

يعلم من قوله الآتى أو كونها جارية سباع او طير الخ … حيث أطلق فيه ولم يشترط أن تقتله بوجه مخصوص. فيسفاد من الإطلاق أنه يحل مقتولها بسائر أنواع القتل.

Telah diketahui dari kata-kata yang akan datang adanya alat memotong hewan, dapat melukainya binatang atau burung dst. Sekira dimutlakkan dan tidak disyaratkan, cara membunuh dengan cara yang khusus, maka dapat diambil pengertian halal apa yang di bunuh binatang dengan segala cara membunuh. Wallahu A’lam bish-shawab

Kategori
Uncategorized

HUKUM MEMPOSTING SHADOW FOTOGRAFI

HUKUM SHADOW FOTO

Assalamualaikum Deskripsi

Di era digital yang sudah sangat liar ini tentu para aktivis media sosial berlomba- lomba mengikuti trend agar terlihat badas dan aesthetic. Katakanlah seorang nama samarannya Devi tidak mau ketinggalan trend ketika libur sekolah tiba, trend yang Devi tiru adalah trend SHADOW PHOTO dimana shadow photo ini adalah sebuah foto yang hanya menampakkan bayangan nya saja, dan Devipun memposting beberapa shadow photo yang tidak mengenakan hijab.

Pertanyaan:

➤ Bagaimana hukum memposting shadow photo seperti foto Devi tersebut?

➤ Bagaimana hukum melihat shadow photo yang diposting oleh Devi ?

Waalaikum salam.

Tanggapan sekaligus sebagai jawaban.

Sebelum menjawab dari pertanyaan penting kami jelaskan secara detail terlebih dahulu tentang Shadow photography.

Shadow photography adalah teknik fotografi yang memotret subjek bersama bayangannya untuk memperkuat visual yang lebih dramatik dan mengikat emosi orang lain lewat foto. Dalam beberapa kasus, fotografer sengaja menonjolkan bayangan di dalam foto sebagai detail agar hasil akhirnya terlihat lebih memukau. Meskipun bayangan tidak dijadikan sebagai titik fokus foto, tetapi penggunaan bayangan dirasa mampu untuk mendukung estetika subjek utama yang berdimensi.
Selain itu, fotografer juga kerap sengaja bereksperimen dengan efek bayangan yang ada pada subjek.
Adapun Caranya adalah menyorotkan cahaya langsung ke subjek guna mendapatkan hasil bayangan yang mereka inginkan. Efek bayangan dirasa mampu memberikan tekstur, pola, dan bahkan emosi kepada orang lain. Semua ini membuktikan bahwa peran bayangan pada shadow photography dibuat secara sengaja oleh fotografer guna mempercantik visual.

Lalu bagaimana hukum memposting shadow foto sebagaimana deskripsi ?

Jawaban disatukan karena serupa.
Hukum memposting shadow foto adalah boleh selama tidak mengandung hal yang dapat menimbulkan syahwat bagi penonton akan tetapi jika sampai menimbulkan syahwat dan fitnah maka hukumnya haram begitu juga hukum menontonnya, sebagaimana seseorang memfosting video forno.

الوسائل لها حكم المقاصد

Dalam hal tersebut diatas sama saja hukumnya dengan fotografi yang mana merupakan hal yang baru yang baru muncul dan belum ada pada masa silam. Disini kita dapat kejelasan pada apa yang difatwakan oleh syaikh Bakhit, seorang ahli fatwa Mesir; Bahwa pengambilan gambar dengan hasil fotografi yang pada hakikatnya adalah proses menangkap bayangan dengan suatu alat tertentu sama sekali bukan kategori menggambar yang dilarang. Karena pembuatan gambar yang dilarang adalah mencipta gambar yang belum ada dan belum ada sebelumnya.Dengan begitu dia membandingi ciptaan Allah SWT. Hal semacam ini tidak terjadi pada pengambilan gambar dengan menggunakan alat gambar fotografi. Begitulah adanya, walaupun ada sebagian ulama berpendapat dengan keras melarang gambar dengan semua jenisnya termasuk juga fotografi. Hanya saja tidak diragukan lagi bahwa ada rukhshoh ( despensasi ) dalam hal-hal darurat atau untuk kemaslahatan. Misalnya foto untuk membuat KTP, foto paspor, foto orang bermasalah , dan foto /gambar yang dipakai media penjelasan dan sebagainya. Semua ini tidak memungkinkan ada niat mengagungkan atau sikap lain yang membahayakan akidah . Kebutuhan memakai gambar-gambar tersebut lebih penting, artinya dibandikan memakai gambar lukisan dalam kain yang dikecualikan Nabi SAW.
Objek gambar
Adalah sama-sama disepakati bahwa objek gambar , mempengaruhi hukumnya haram atau tidak, tak seorang muslim pun yang tidak sependapat akan keharamannya gambar yang objeknya tidak sesuai dengan akidah, dan adab Islam. Misalnya foto wanita telanjang, setengah telanjang, yang membangkitkan hawa nafsu, melukis atau memfoto mereka dalam berbagai fose merangsang birahi dan membangkitkan gairah nafsu, sebagaimana yang kita saksikan dalam sebagian majalah, koran dan sebagian bioskop-bioskop semua itu tidak lah diragukan hukum keharamannya.maka haram menggambarnya dan membublikasikan dimasyarakat. Wallahu a’lam bish-shawab

Referensi:

كتاب الحلال والحرام للشيخ الدكتور يوسف القرضاوي ص.١٣٧-١٣٨

الفوتوغرافية الصور :

ومما لا خفاء فيه أن كل ما ورد في التصوير والصور ، إنما يعني
. الصور التي تُنحت ، أو تُرسم على حسب ما ذكرناـ أما الصور الشمسية ( الفوتوغرافية ) التي تُلخذ بآلة الفوتوغرافيا ـ فهي شيء مستحدث ، لم يكن في عصر الرسول ، ولا سلف المسلمين . فهل ينطبق عليه ما ورد في التصوير والمصورين؟ ـ
أما الذين يقصرون التحريم على التماثيل ( المجسمة ) فلا يرون شيئا
. في هذه الصور ، وخصوصا إذا لم تكن كاملة.وأما على رأي الآخرين فهل تُقاس هذه الصور الشمسية على تلك التي تبدعها ريشة الرسام
؟ أم أن العلة التي نصت عليها بعض الأحاديث فى عذاب المصورين
ـ وهي أنهم يضاهون خلق الله ـ لاتتحقق، هنا في الصور الفوتوغرافية وحيث عدمت العلة عدم المعلول ، كما يقول الأصولين إن الواضح هنا ما أفتى به له الغفور الشيخ محمد بخيت مفتي مصر.أن أخذ الصورة بالفوتوغرافيا
بالوسائط المعلومة لأرباب هذه الصناعة ـ ليس من التصوير المنهي عنه في شيء ؛ لأن التصوير المنهي عنه هو إيجاد صورة ، وصنع صورة لم تكن موجودة ولا مصنوعة من قبل ، يضاهي بها حيوانا خلقه الله تعالى ، وليس هذا المعنى موجودًا في أخذ الصورة بتلك الآلة.
هذا وإن كان هناك من يجنح إلى التشدد في الصور كلها ، وكراهيتها
بكل أنواعها ، حتى الفوتوغرافية منها ، فـلا شـك أنـه يرخ فيـمـا توجـبـه الضرورة أو تقتضيه الحاجة والمصلحة منها ، كصور البطاقات الشخصية ، وجوازات السفر ، وصور المشبوهين ، والصور التي تتخذ وسيلة لإليضاح ونحوها ، مما لا تتحقق فيه شبهة القصد إلى التعظيم ، أو الخوف على العقيدة . فإن الحاجة إلى اتخاذ هذه الصور أشد وأهم ، من الحاجة إلى اتخاذ (النقش) في الثياب الذي استثناه النبي *

موضوع الصورة :

هذا ، ومن المقرر أن لموضوع الصورة أثرًا في الحكم بالحـرمـة أوغيرها . ولا يخالف مسلم في تحريم الصورة ، إذا كان موضوعهامخالفا لعقائد الإسلام ، أو شرائعه وآدابه ، فتصوير النساء عاريات ، أو شبه عاريات ، وإبراز مواضع الأنوثة والفتنة منهن ، ورسمهن أو تصويرهن في أوضاع مثيرة للشهوات ، موقظة للغرائز الدنيا ، كما نرى ذلك واضحا في بعض المجلات والصحف ، ودور (السينما) كل ذلك مما لا شك في حرمته وحرمة تصويره ، وحرمة نشره على الناس ، وحرمة اقتنائه واتخاذه في البيوت أو المكاتب والمحلات ، وتعليقه على الجدران ، وحرمة القصد إلى رؤيته ومشاهدته .


ﺗﻔﺴﻴﺮ أﻳﺎﺕ اﻻﺣﻜﺎﻡ ـ (ج ٢ / ص ٣٠٠)
ﻓﺎﻟﺼﻮﺭ اﻟﻌﺎﺭﻳﺔ ﻭاﻟﻤﻨﺎﻇﺮ اﻟﻤﺨﺰﻳﺔ ﻭاﻻﺷﻜﺎﻝ اﻟﻤﺜﻴﺮﺓ اﻟﺘﻰ ﺗﻈﻬﺮ ﺑﻬﺎ اﻟﻤﺠﻼﺕ اﻟﺨﻠﻴﻌﺔ ﻭﺗﻤﻸ ﻣﻌﻈﻢ ﺻﺤﻔﺎﺗﻬﺎ ﺑﻬﺬﻩ اﻻﻧﻮاﻉ ﻣﻦ اﻟﻤﺠﻮﻥ ﻣﻤﺎ ﻻ ﻳﺸﻖ ﻋﺎﻗﻞ ﻓﻲ ﺣﺮﻣﺘﻪ ﻣﻊ اﻧﻪ ﻟﻴﺲ ﺗﺼﻮﻳﺮا ﺑﺎﻟﻴﺪ ﻭﻟﻜﻨﻪ ﻓﻰ اﻟﻀﺮﺭ ﻭاﻟﺤﺮﻣﺔ ﺃﺷﺪ ﻣﻦ اﻟﺘﺼﻮﻳﺮ ﺑﺎﻟﻴﺪ اهـ

الفقه الإسلامي وأدلته – (ج ٤ / ص ٢٢٤)
أما التصوير الشمسي أو الخيالي فهذا جائز، ولا مانع من تعليق الصور الخيالية في المنازل وغيرها، إذا لم تكن داعية للفتنة كصور النساء التي يظهر فيها شيء من جسدها غير الوجه والكفين، كالسواعد والسيقان والشعور، وهذا ينطبق أيضاً على صور التلفاز وما يعرض فيه من رقص وتمثيل وغناء مغنيات، كل ذلك حرام في رأيي.
وأما أعمال النحت والرسم للنساء العاريات التي يقوم بها طلاب كليات الفنون الجميلة فهي من أشد المحرمات والكبائر، ولا يصح قياس الرسم على تشريح الجثث في كليات الطب، لأن التشريح ضرورة علمية تحقق فائدة الحفاظ على حياة الإنسان، بعكس الرسم الذي هو مجرد عمل ترفيهي كمالي، كما أن التشريح يحدث بعد الموت، والرسم يتم في حال الحياة.
والسبب في إباحة الصور الخيالية: أن تصويرها لا يسمى تصويراً لغة ولا شرعاً، لما تقدم من بيان معنى التصوير في عهد النبوة، ولأن هذا التصوير يعد حبساً للظل أو الصورة، مثل الصورة في المرآة والصورة في الماء، كل مافي الأمر أن صورة المرآة أو الماء متحركة غير ثابتة، والصور الخيالية تثبَّت بالأحماض الكيمياوية ونحوها، وهذا لا يسمى تصويراً في الحقيقة، فإن الحمض هو المانع من الانتقال والتحرك


حاشية الباجورى – (ج ٢ / ص ٩٦)
ومثل الشهوة خوف الفتنة فلو انتفت الشهوة وخيفت الفتنة حرم النظر ايضا وليس المراد بخوف الفتنة غلبة الظن بوقوعها بل يكفي أن لايكون ذلك نادرا وان كانت بغير شهوة وبلا خوف فتنة فهو حرام عند النوووى حيث لا محرمية ولا ملك والأكثرون على خلافه


حاشية القليوبي وعميرة – (ج ٣ / ص ٢٠٩)
وَالْحَاصِلُ أَنَّهُ يَحْرُمُ رُؤْيَةُ شَيْءٍ مِنْ بَدَنِهَا وَإِنْ أُبِينَ كَظُفُرٍ وَشَعْرِ عَانَةٍ وَإِبْطٍ وَدَمِ حَجْمٍ وَفَصْدٍ لَا نَحْوُ بَوْلٍ كَلَبَنٍ، وَالْعِبْرَةُ فِي الْمُبَانِ بِوَقْتِ الْإِبَانَةِ فَيَحْرُمُ مَا أُبِينَ مِنْ أَجْنَبِيَّةٍ، وَإِنْ نَكَحَهَا وَلَا يَحْرُمُ مَا أُبِينَ مِنْ زَوْجَةٍ وَإِنْ أَبَانَهَا، وَشَمِلَ النَّظَرُ مَا لَوْ كَانَ مِنْ وَرَاءِ زُجَاجٍ أَوْ مُهَلْهَلِ النَّسْجِ أَوْ فِي مَاءٍ صَافٍ، وَخَرَجَ بِهِ رُؤْيَةُ الصُّورَةِ فِي الْمَاءِ أَوْ فِي الْمِرْآةِ فَلَا يَحْرُمُ وَلَوْ مَعَ شَهْوَةٍ وَيَحْرُمُ سَمَاعُ صَوْتِهَا، وَلَوْ نَحْوَ الْقُرْآنِ، إنْ خَافَ مِنْهُ فِتْنَةً، أَوْ الْتَذَّ بِهِ وَإِلا فَلَا وَالْأَمْرَدُ فِيمَا ذُكِرَ كَالْمَرْأَةِ.


تحفة المحتاج – (ج ٧ / ص ١٩٢)
خرج مثالها فلا يحرم نظره في نحو مرآة كما أفتى به غير واحد ويؤيده قولهم لو علق الطلاق برؤيتها لم يحنث برؤية خيالها في نحو مرآة؛ لأنه لم يرها ومحل ذلك كما هو ظاهر حيث لم يخش فتنة ولا شهوة.

اعانةالطالبين – (ج ٣ / ص ٣٠١)
مهمة [في بيان النظر المحرم والجائز وغير ذلك] يحرم على الرجل ولو شيخا هما تعمد نظر شيء من بدن أجنبية حرة أو أمة بلغت حدا تشتهى فيه ولو شوهاء أو عجوزا وعكسه خلافا للحاوي كالرافعي وإن نظر بغير شهوة أو مع أمن الفتنة على المعتمد لا في نحو مرآة
(قوله: لا في نحو مرآة) أي لا يحرم نظره لها في نحو مرآة كماء وذلك لانه لم يرها فيها وإنما رأى مثالها. ويؤيده قولهم لو علق طلاقها برؤيتها لم يحنث برؤية خيالها والمرأة مثله فلا يحرم نظرها له في ذلك.


حاشية الجمل – (ج ٨ / ص ٧٥)
قال ع ش عليه وعمومه يشمل الجمادات فيحرم النظر إليها بشهوة اهـ


فتاوي دار الإفتاء المصرية – (ج ٧ / ص ٢٢٠)
ﻭﺍﻟﺬﻯ ﺗﺪﻝ ﻋﻠﻴﻪ ﺍﻷﺣﺎﺩﻳﺚ ﺍﻟﻨﺒﻮﻳﺔ ﺍﻟﺸﺮﻳﻔﺔ ﺍﻟﺘﻰ ﺭﻭﺍﻫﺎ ﺍﻟﺒﺨﺎﺭﻯ ﻭﻏﻴﺮﻩ ﻣﻦ ﺃﺻﺤﺎﺏ ﺍﻟﺴﻨﻦ ﻭﺗﺮﺩﺩﺕ ﻓﻰ ﻛﺘﺐ ﺍﻟﻔﻘﻪ، ﺃﻥ ﺍﻟﺘﺼﻮﻳﺮ ﺍﻟﻀﻮﺋﻰ ﻟﻺﻧﺴﺎﻥ ﻭﺍﻟﺤﻴﻮﺍﻥ ﺍﻟﻤﻌﺮﻭﻑ ﺍﻵﻥ ﻭﺍﻟﺮﺳﻢ ﻛﺬﻟﻚ ﻻ ﺑﺄﺱ ﺑﻪ، ﺇﺫﺍ ﺧﻠﺖ ﺍﻟﺼﻮﺭ ﻭﺍﻟﺮﺳﻮﻡ ﻣﻦ ﻣﻈﺎﻫﺮ ﺍﻟﺘﻌﻈﻴﻢ ﻭﻣﻈﻨﺔ ﺍﻟﺘﻜﺮﻳﻢ ﻭﺍﻟﻌﺒﺎﺩﺓ ﻭﺧﻠﺖ ﻛﻠﺬﻟﻚ ﻋﻦ ﺩﻭﺍﻓﻊ ﺗﺤﺮﻳﻚ ﻏﺮﻳﺰﺓ ﺍﻟﺠﻨﺲ ﻭﺇﺷﺎﻋﺔ ﺍﻟﻔﺤﺸﺎﺀ ﻭﺍﻟﺘﺤﺮﻳﺾ ﻋﻠﻰ ﺍﺭﺗﻜﺎﺏ ﺍﻟﻤﺤﺮﻣﺎﺕ


مرقاة الصعود التصديق – (ص ٦٧)
و حل مع المحرمية او الجنسية او الصغير و لو من غير الجنسية الذي لا يشتهي نظر ما عدا ما بين السرة و الركبة اذا كان اي النظر بغير شهوة فان كان بشهوة فهو حرام باجماع بل يحرم النظر لكل ما يجوز الاستمتاع به و لو جمادا كان ينظر الي العمود بشهوة و ضابط الشهوة هي ان ينظر فيلتذ كما افاده الباجوري.
توشيح على ابن قاسم – (ص ١٩٧
الفتنة هي ميل النفس ودعاؤها إلى الجماع أو مقدماته والشهوة هو أن يلتذ بالنظر


حاشية البجيرمي على الخطيب – (ج ٤ / ص ٦٧)
والحاصل أنه يحرم رؤية شيء من بدنها ـــــ إلى أن قال ـــــ وخرج به رؤية الصورة في نحو المرآة ومنه الماء فلا يحرم ولو مع شهوة


ﺇﺳﻌﺎﺩ اﻟﺮﻓﻴﻖ ـ (ج ٢ / ص ٦٨)
ﺧﺮﺝ ﻣﺜﺎﻟﻬﺎ ﺃﻯ اﻟﻌﻮﺭﺓ ﻓﻼ ﻳﺤﺮﻡ ﻧﻈﺮﻫ ﻓﻰ ﻧﺤﻮ ﻣﺮﺁﺓ ﻛﻤﺎ ﺃﻓﺘﻰ ﺑﻪ ﻏﻴﺮ ﻭاﺣﺪ ﻭﻳﺆﻳﺪ ﻗﻮﻟﻬﻢ ﻟﻮ ﻋﻠﻖ اﻟﻄﻼﻕ ﺑﺮﺅﻳﺘﻬﺎ ﻟﻢ ﻳﺤﻨﺚ ﺑﺮﺅﻳﺔ ﺧﻴﺎﻟﻬﺎ ﻓﻰ ﻧﺤﻮ ﻣﺮﺁﺓ ﻷﻧﻪ ﻟﻢ ﻳﺮﻫﺎ ﻭﻣﺤﻞ ﺫﻟﻚ ﺃﻯ ﻋﺪﻡ ﺣﺮﻣﺔ ﻧﻈﺮ اﻟﻤﺜﺎﻝ ﻛﻤﺎ ﻫﻮ ﻇﺎﻫﺮ ﺣﻴﺚ ﻟﻢ ﻳﺨﺶ ﻓﺘﻨﺔ ﻭﻻ ﺷﻬﻮﺓ ـــــ ﺇﻟﻰ ﺃﻥ ﻗﺎﻝ ـــــ ﻭﻛﺬا ﻋﻨﺪ النظر ﺑﺸﻬﻮﺓ ﺑﺄﻥ ﻳﻠﺘﺬ ﺑﻪ ﻭﺇﻥ ﺃﻣﻦ اﻟﻔﺘﻨﺔ ﻗﻄﻌﺎ


شرح الياقوت النفيس ـ (ج ١ / ص ١١٩)
والفقهاء قد تكون لهم أقوال قد لاتقبل، مثل قولهم لونظر انسان إلى صورة امرأة في مرأّة قالوا: يجوز ذلك له لأنها ليست هي المرأة الحقيقية. بل بالغوا وقالوا: حتى لوكانت عارية فهل تقبل منهم هذ الكلام ؟! طبعا لا.

والله أعلم بالصواب

Kategori
Uncategorized

BENARKAH IPAR ITU ADALAH MAUT?

BENARKAH IPAR ITU ADALAH MAUT

Assalamualaikum

Deskripsi masalah.

Di antara hal yang diatur dengan jelas dalam syariat Islam ialah menetapkan beberapa kriteria syar’i pergaulan antara laki-laki dan perempuan yang bukan mahram semata untuk menjaga kehormatan, melindungi harga diri dan kemurnian. Kriteria syar’i juga berfungsi untuk mencegah kerusakan dan terjadinya mafsadat.
Dalam waqiiyah dimasyarakat ipar dianggap sebagai keluarga besar suami setelah melangsungkan akad pernikahan, sehingga dalam pergaulan dianggap sebagai kakaknya sendiri pergaulanpun menjadikan bebas padahal dia adalah mahram sebab pernikahan artinya andaikan suaminya meninggal boleh iparnya mengawininya ( mengganti posisi suaminya) sehingga saya pernah mendengar ipar adalah maut. Oleh karenanya pergaulan antara laki-laki dan perempuan diatur karena fitnah bagi laki-laki adalah perempuan, bahkan sebagaimana fitnah terbesar perempuan adalah lawan jenisnya.

Pertanyaannya
Apakah benar ipar itu adalah maut yang mana jika ditinjau dari maqosid as-syar’i adalah mati ? Lalu apa maksud ipar itu adalah maut mohon penjelasannya

Waalaikum salam

Jawaban

Benar ipar itu adalah maut karena disebutkan dalam sebuah hadits yang didalamnya menyebutkan bahwa ipar itu maut. Haditsnya adalah shahih, berikut redaksi haditsnya.
Dari ‘Uqbah bin ‘Amir radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِيَّاكُمْ وَالدُّخُولَ عَلَى النِّسَاءِ فَقَالَ رَجُلٌ مِنَ الأَنْصَارِ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَفَرَأَيْتَ الْحَمْوَ . قَالَ الْحَمْوُ الْمَوْتُ

“Berhati-hatilah kalian masuk menemui wanita.” Lalu seorang laki-laki Anshar berkata, “Wahai Rasulullah, bagaimana pendapatmu mengenai ipar?” Beliau menjawab, “Hamwu (ipar) adalah maut.” (HR. Bukhari no. 5232 dan Muslim no. 2172)

Adapun yang dimaksud dengan hamwu ditijau dari maqoshid as-Syar’iyah maut dalam arti tidak bernafas melainkan Hamwu yang dimaksud kan dalam hadis adalah bukan hanya ipar saja namun setiap kerabat dekat istri yang bukan mahram. Yang masih mahram bagi suami dari keluarga istri adalah seperti ayah dan anaknya.

Al Laits berkata bahwa al hamwu adalah ipar (saudara laki-laki dari suami) dan keluarga dekat suami. Sehingga apa yang dikatakan oleh Al Laits menunjukkan bahwa ipar itu bukan mahram bagi istri.
Yang dimaksud dengan maut di sini dalam Maqosid as-Syar’iy yaitu berhubungan dengan keluarga dekat istri yang bukan mahram, yang mana dalam hal ini perlu ekstra ke hati-hatian dibanding dengan yang lain. Karena tidaklah menutup kemungkinan mereka seringkali bertemu dan tidak ada yang bisa menyangka bahwa perbuatan yang mengantarkan pada zina seperti pandangan dengan disertai sayahwat yang mana sebagian ulama mengatan bagian dari zina dalam arti zinanya mata atau zina yang keji itu sendiri bisa terjadi. Kita pun pernah mendapatkan berita-berita semacam itu.
Hadis di atas juga mengajarkan larangan berdua-duaan dengan wanita yang bukan mahram. Karena dalam hadis sudah disebutkan pula,

لاَ يَخْلُوَنَّ أَحَدُكُمْ بِامْرَأَةٍ فَإِنَّ الشَّيْطَانَ ثَالِثُهُمَا

“Janganlah salah seorang di antara kalian berdua-duaan dengan seorang wanita (yang bukan mahramnya) karena setan adalah orang ketiganya.” (HR. Ahmad 1: 18. Syekh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa sanad hadis ini sahih, para perawinya tsiqah sesuai syarat Bukhari-Muslim).

Namun demikian ada sebuah solusi jika tidak boleh tidak harus bersamaan dengan wanita yang bukan mahram yaitu wanita yang bukan mahram itu hendanya ada wanita lain atau terdapat mahramnya, maka jadilah hilang maksud yang dilarang. Ini berlaku untuk pergaulan dengan yang bukan mahram. Wallahu a’lam bish-shawab


 الموسوعة الحديثية 

شروح الأحاديث

روابط مهمة

البحث الموضوعي

خدمات

إيَّاكم والدُّخولَ على النِّساءِ . فقالَ رجلٌ منَ الأنصارِ : يا رسولَ اللَّهِ ! أفرأيتَ الحموَ ؟ قالَ : الحموُ : الموتُ

الراوي : عقبة بن عامر | المحدث : الألباني | المصدر : صحيح الترمذي | الصفحة أو الرقم : ١١٧١ | خلاصة حكم المحدث : صحيح
   

 إيَّاكُمْ والدُّخُولَ علَى النِّساءِ، فقالَ رَجُلٌ مِنَ الأنْصارِ: يا رَسولَ اللَّهِ، أفَرَأَيْتَ الحَمْوَ؟ قالَ: الحَمْوُ المَوْتُ.

الراوي : عقبة بن عامر | المحدث : البخاري | المصدر : صحيح البخاري

الصفحة أو الرقم: ٥٢٣٢ | خلاصة حكم المحدث : [صحيح]

العِفَّةُ والطُّهرُ مِن ثَوابِتِ دِينِنا الحَنيفِ، ومَعلومٌ أنَّ الشَّيطانَ يَجْري مِن ابنِ آدَمَ مَجْرى الدَّمِ في العُروقِ، قاصِدًا إفسادَ دِينِهِ، وتَدنيسَ فِطرتِهِ، وخَلْعَ ثِيابِ العِفَّةِ والطُّهرِ عنه، وجَرَّهُ إلى الفَواحِشِ والمُنكَراتِ؛ ولذلك نَهى الشَّرعُ عن الاقترابِ مِن جَميعِ مُقَدِّماتِ ودَواعِي الشَّرِّ؛ فإنَّ مَن حامَ حَولَ الحِمى يُوشِكُ أنْ يقَعَ فيه.
وقدْ حذَّرَ النَّبيُّ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم في هذا الحديثِ مِنَ الدُّخولِ على النِّساءِ الأجنبيَّاتِ والخَلْوةِ بهنَّ، فقال: «إيَّاكم والدُّخولَ على النِّساءِ»؛ فإنَّه ما خَلا رجُلٌ بامرأةٍ إلَّا كان الشَّيطانُ ثالثَهما؛ فإنَّ النُّفوسَ ضعيفةٌ، والدَّوافعَ إلى المعاصي قَويَّةٌ، «فقالَ رجلٌ مِنَ الأنصارِ: يا رسولَ اللهِ، أفرأيتَ الحَموَ؟» والحَموُ هو قريبُ الزَّوجِ، كأخِيه وعمِّه ونحْوِ ذلك، فقال صلَّى اللهُ عليه وسلَّم: «الحَمْوُ الموتُ»، أي: إنَّ دُخولَ وخَلْوةَ أقاربِ الزَّوجِ بزَوجتِه يجِبُ أنْ يُجتَنَبَا كما يُجتنَبُ الموتُ، أو المعنى: أنَّ دُخولَ أقاربِ الزَّوجِ على المرأةِ كالموتِ؛ لأنَّه يُؤدِّي إلى مَوتِ الدِّينِ في القلوبِ؛ وذلك لأنَّ دُخولَه أخطرُ مِن دُخولِ الأجنبيِّ وأقرَبُ إلى وُقوعِ الجريمةِ؛ لأنَّ النَّاسَ يَتساهلونَ بِخِلْطةِ الرَّجلِ بزَوجةِ أخيهِ والخَلوةِ بها، فيَدخُلُ بدونِ نكيرٍ، فيكونُ الشَّرُّ منه أكثرَ والفتنةُ به أمكَنَ، أو أنَّها تُؤدِّي إلى الموتِ إنْ وقَعَت المعصيةُ ووَجَب الرَّجْمُ، أو إلى هَلاكِ المرأةِ بفِراقِ زَوجِها إذا حمَلَتْه الغَيرةُ على تَطليقِها.
وفي الحَديثِ: النَّهيُ عَنِ الدُّخولِ على الأجنبيَّاتِ والخَلوةِ بهنَّ؛ سدًّا للذَّريعةِ.
وفيه: الابتعادُ عَن مَواطنِ الزَّللِ عامَّةً؛ خَشيةَ الوقوعِ في الشَّرِّ.