logo mubaa
Logo Ittihad

DEWAN PIMPINAN PUSAT
IKATAN ALUMNI BATA-BATA

HUKUM MEMANFAATKAN SEBAGIAN DANA MASJID UNTUK FAKIR MISKIN

Assalamualaikum
Deskripsi masalah.

Kemiskinan adalah salah satu keadaan yang dipandang sebagai ketidakmampuan dari sisi ekonomi, dalam memenuhi kebutuhan dasar manusia. Hal ini mencakup pangan dari aspek pemasukan untuk membeli makanan, dan bukan dari aspek pengeluaran. Kemiskinan juga memiliki kaitan erat dengan tingkat pendapatan, sehingga seseorang berada dalam fase kehilangan pendapatan dan aksesibilitas terhadap sumber daya pemenuh kebutuhan hidup, baik berupa pangan, sandang, papan, serta layanan hidup lainnya.
Doktor Syaikh Yusuf al-Qordhowi Rahimahullah, menjelaskan dalam kitabnya fiqih zakat bahwa orang Faqir: “ adalah orang yang tidak memiliki harta atau penghasilan yang halal yang layak untuknya, jatuh dalam posisi ketidak cukupan, seperti makanan, pakaian, perumahan dan semua hal penting lainnya, baik untuk dirinya sendiri dan untuk orang menjadi beban tanggung jawabnya untuk membelanjakan, tanpa adanya pemborosan atau kekikiran, seperti seseorang yang membutuhkan sepuluh dirham setiap hari dan hanya menemukan empat atau tiga atau dua.
Sedangkan Miskin: “adalah orang yang mampu memperoleh uang atau memperoleh penghasilan yang layak secara halal yang termasuk dalam kecukupannya dan kecukupan tanggungannya. Tetapi itu tidak dilakukan dengan cukup, seperti seseorang yang membutuhkan sepuluh dan menemukan tujuh atau delapan, maka dalam upaya untuk menanggulangi kemiskinan”Takmir masjid selama ini bingung masalah fiqih terkait sah/ boleh apa tidak menggunakan uang kas masjid untuk bantuan bencana atau janda miskin yang rumahnya hampir roboh,”

Pertanyaan.

Bolehkah dalam upaya menanggulangi kemiskinan memanfaatkan sebagian dana masjid digunakan atau ditashorrufkan untuk fakir miskin ?

Waalaikum salam

Jawaban

Jika dana masjid telah mencukupi untuk kebutuhan pembangunan, maka boleh dimanfaatkan untuk fakir miskin yang mana fakir dan miskin termasuk dari bagian jamaah masjid bahkan termasuk dari ahli qoryah, alasannya karena masjid itu bagaikan orang yang merdeka yang bisa memiliki sesuatu oleh karenanya tidak dibolehkan menggunakan barang masjid kecuali ada maslahat yang kembali kepada masjid atau untuk kepentingan orang-orang muslim, kepentingan umum mencakup antara orang fakir atau miskin, bahkan disunnahkan bagi takmir melakukan sesuatu yang biasa dilakukan di masjid, seperti menyediakan kopi, rokok dan sesuatu yang disukai para jama’ah, walaupun hal ini tidak dibiasakan sebelumnya, apabila uang kas ini sudah melebihi untuk pembangunan masjid”.
Pernah syaik Salim bin Sa’id Baggitsan As-Syafi’i di tanya tentang seseorang yg mewakafkan hartanya yg sangat banyak untuk kemaslahatan masjid dan sekarang masjid tersebut telah makmur (banyak yg ibadah disana) dan ada di kas masjid harta wakaf orang tersebut masih lebih karena sangat banyaknya, maka apakah boleh mengeluarkan sebagian harta wakof ini untuk suatu acara agar orang orang yg solat lebih giat lagi ?
Maka beliau menjawab :
Segala puji bagi allah dan allah jua lah yg memberikan jalan kepada kebenaran.
Harta harta yg di wakofkan untuk kemaslahatan masjid , sebagaimana pada soal tsb ,Boleh mentasarufkan harta wakof tsb untuk pembangunan , pengecatan , gaji marbot , asatidz , imam , begitu pula boleh untuk membuat lebih giat lagi orang yg solat seperti menyajikan kopi , bukhur(asap yg wangi untuk mewangikan masjid) akan tetapi semua harta wakaf itu harus di utamakan mana yg lebih penting.

الفتاوى الفقهية الكبرى (٣/ ١٥٥)
وَأَنَّ الْمَسْجِدَ حُرٌّ يَمْلِك فَلَا يَجُوزُ التَّصَرُّفُ فيه إلَّا بِمَا فيه مَصْلَحَةٌ تَعُودُ عليه أو على عُمُومِ الْمُسْلِمِينَ

Fatwa Al-Fiqhiyyah Al-Kubra (3/155):
“Sesungguhnya masjid itu bebas dimiliki, sehingga tidak boleh digunakan kecuali untuk sesuatu yang mengandung kemaslahatan yang kembali kepada masjid itu sendiri atau kepada kaum muslimin secara umum

فتوى إبن صالح ص ٣٩٠
وَإِذا ضَاقَ الْأَمر اتَّسع
وَمن نَظَائِر ذَلِك مَا ذكره غير وَاحِد من أَصْحَابنَا *من أَن وقُوف الْمَسَاجِد فِي الْقرى يصرفهَا صلحا أهل الْقرْيَة فِي عمَارَة الْمَسْجِد ومصالحه لعدم من إِلَيْهِ النّظر

Fatwa Ibnu Shalih, hlm. 390:
“Jika suatu perkara menjadi sempit, maka diberikan keluasan.”
Di antara contoh kaidah ini adalah apa yang disebutkan oleh beberapa ulama mazhab kami, yaitu bahwa wakaf masjid di desa-desa dapat digunakan oleh penduduk desa tersebut untuk pembangunan dan kepentingan masjid karena tidak ada pihak yang bertanggung jawab mengelolanya.”

فتوى الرملى ص ٦٣٤
(سُئِلَ)

عَمَّا أَجَابَ بِهِ السُّبْكِيُّ أَنَّ لِلنَّاظِرِ أَنْ يَتَّجِرَ فِي مَالِ الْمَسْجِدِ لِأَنَّهُ كَالْحُرِّ دُونَ غَيْرِهِ هَلْ هُوَ الْمُعْتَمَدُ أَمْ لَا وَمَا الْفَرْقُ بَيْنَ الْمَسْجِدِ وَغَيْرِهِ؟
(فَأَجَابَ)

بِأَنَّهُ الْمُعْتَمَدُ وَالْفَرْقُ بَيْنَ الْمَسْجِدِ وَغَيْرِهِ مَا ذَكَرَهُ أَنَّ الْمَسْجِدَ كَالْحُرِّ أَيْ فِي أَنَّهُ يُمْلَكُ بِالشِّرَاءِ وَالْهِبَةِ وَالْوَصِيَّةِ وَالشُّفْعَةِ وَنَحْوِهَا بِخِلَافِ غَيْرِهِ.

Fatwa Ar-Ramli, hlm. 634:(Pertanyaan):Terkait jawaban As-Subki bahwa seorang nadzir (pengelola wakaf) boleh berdagang menggunakan harta masjid karena masjid itu seperti harta bebas dimiliki, tidak seperti wakaf lainnya, apakah pendapat ini yang dijadikan pegangan atau tidak? Apa perbedaan antara masjid dengan selainnya?

(Jawaban):Pendapat tersebut adalah yang dipegang. Perbedaannya dengan wakaf lain adalah sebagaimana disebutkan, bahwa masjid itu seperti harta bebas yang dapat dimiliki melalui jual beli, hibah, wasiat, syuf’ah, dan sejenisnya, berbeda dengan wakaf lainnya.”

فتوى الرملى ص ٦٣٨

(سُئِلَ)

عَمَّا لَوْ تَعَطَّلَ بِتَعَطُّلِ الْبَلَدِ أَوْ انْهِدَامٍ أَوْ نَحْوِ ذَلِكَ فَهَلْ تُصْرَفُ غَلَّةُ وَقْفِهِ حِينَئِذٍ إلَى الْفُقَرَاءِ وَالْمَسَاكِينِ كَمَا قَالَهُ الْمَاوَرْدِيُّ وَجَزَمَ بِهِ الرُّويَانِيُّ فِي الْبَحْرِ أَوْ تُصْرَفُ لِأَقْرَبِ النَّاسِ إلَى الْوَاقِفِ كَمُنْقَطِعِ الْآخِرِ كَمَا قَالَهُ الرُّويَانِيُّ فِي مَحَلٍّ آخَرَ وَحَكَاهُ الْحَنَّاطِيُّ فِي فَتَاوِيهِ وَجْهًا أَوْ تُصْرَفُ فِي عِمَارَةِ مَسْجِدٍ آخَرَ وَمَصَالِحُهُ وَيَكُونُ الْمُسْتَحِقُّ لِذَلِكَ أَقْرَبَ الْمَسَاجِدِ إلَيْهِ كَمَا نُقِلَ عَنْ الْمُتَوَلِّي أَوْ تُحْفَظُ كَمَا قَالَهُ الْإِمَامُ لِتَوَقُّعِ عَوْدِهِ كَمَا فِي غَلَّةِ وَقْفِ الثَّغْرِ؟

Fatwa Ar-Ramli, hlm. 638:
(Pertanyaan):
Jika sebuah masjid tidak lagi digunakan karena kehancuran kota, runtuh, atau sebab lainnya, apakah hasil wakafnya disalurkan kepada fakir miskin sebagaimana pendapat Al-Mawardi yang ditegaskan oleh Ar-Ruyani dalam kitab Al-Bahr? Ataukah disalurkan kepada kerabat terdekat dari pewakaf seperti dalam kasus pewakaf yang tidak memiliki ahli waris sebagaimana pendapat Ar-Ruyani dalam sumber lain dan disebutkan oleh Al-Hannathi dalam fatwanya? Ataukah digunakan untuk pembangunan masjid lain dan kepentingannya, di mana masjid terdekatlah yang lebih berhak mendapatkannya sebagaimana dinukil dari Al-Mutawalli? Ataukah dana wakaf tersebut disimpan untuk kemungkinan masjid itu dapat dibangun kembali sebagaimana pendapat Imam yang membahas hal serupa dalam wakaf benteng perbatasan?”


(فَأَجَابَ)

بِأَنَّ الَّذِي تَحَرَّرَ لِي فِي هَذِهِ الْمَسْأَلَةِ أَنَّهُ إنْ تَوَقَّعَ عَوْدَهُ حُفِظَ لَهُ وَهُوَ مَا قَالَهُ الْإِمَامُ وَإِلَّا فَإِنْ أَمْكَنَ صَرْفُهُ إلَى مَسْجِدٍ آخَرَ صُرِفَ إلَيْهِ وَهُوَ مَا نُقِلَ عَنْ الْمُتَوَلِّي وَبِهِ جَزَمَ فِي الْأَنْوَارِ وَإِلَّا فَمُنْقَطِعُ الْآخِرِ فَيُصْرَفُ لِأَقْرَبِ النَّاسِ إلَى الْوَاقِفِ وَهُوَ مَا قَالَهُ الرُّويَانِيُّ فِي مَحَلٍّ آخَرَ وَحَكَاهُ الْحَنَّاطِيُّ فَإِنْ لَمْ يَكُونُوا صُرِفَ إلَى الْفُقَرَاءِ وَالْمَسَاكِينِ أَيْ أَوْ مَصَالِحِ الْمُسْلِمِينَ وَهُوَ مَا قَالَهُ الْمَاوَرْدِيُّ وَجَزَمَ بِهِ الرُّويَانِيُّ فِي الْبَحْرِ وَحِينَئِذٍ لَا خِلَافَ فِي الْمَسْأَلَةِ

(Jawaban):
Pendapat yang paling kuat dalam masalah ini adalah: Dalam hal ini, tidak ada perbedaan pendapat dalam masalah ini.” Jika ada kemungkinan masjid itu dibangun kembali, maka hasil wakafnya harus disimpan sebagaimana pendapat Imam. Jika tidak mungkin dibangun kembali, maka harus dialihkan ke masjid lain yang masih ada, sebagaimana pendapat Al-Mutawalli yang juga ditegaskan dalam kitab Al-Anwar. Jika tidak memungkinkan, maka dana tersebut diberikan kepada kerabat terdekat dari pewakaf, sebagaimana pendapat Ar-Ruyani dalam sumber lain yang juga disebutkan oleh Al-Hannathi. Jika tidak ditemukan kerabat pewakaf, maka hasil wakaf disalurkan kepada fakir miskin atau kemaslahatan kaum muslimin, sebagaimana pendapat Al-Mawardi yang ditegaskan oleh Ar-Ruyani dalam Al-Bahr

Disebutkan Dalam sebuah hadits dari Jabir bin Abdillah radhiyallahu anhuma.Beliau berkata:

أَمْرَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ كُلِّ جَادٍّ بِعَشَرَةِ أَوْسُقٍ مِنْ تَمْرٍ، ‌بِقِنْوٍ ‌يُعَلَّقُ فِي الْمَسْجِدِ لِلْمَسَاكِينِ


“Nabi shallallahu‘alaihi wasallam memerintahkan dari setiap buah yang berjumlah sepuluh wasaq kurma (hasil panen) diambil satu tandan dan digantungkan di masjid untuk orang-orang miskin.”
(HR. Ahmad: 14867, Abu Dawud: 1662 dan Musnad Abi Ya’la: 2038 (4/34). Isnad-nya di-jayyid-kan oleh Ibnu Katsir dalam Tafsirnya: 3/348. Di-shahih-kan oleh al-Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud: 1465).
Al-Bara’ bin Azib radhiyallahu anhu berkata:

كُنَّا أَصْحَابَ نَخْلٍ فَكَانَ الرَّجُلُ يَأْتِي مِنْ نَخْلِهِ عَلَى قَدْرِ كَثْرَتِهِ وَقِلَّتِهِ، وَكَانَ الرَّجُلُ يَأْتِي بِالقِنْوِ وَالقِنْوَيْنِ فَيُعَلِّقُهُ فِي المَسْجِدِ، ‌وَكَانَ ‌أَهْلُ ‌الصُّفَّةِ ‌لَيْسَ ‌لَهُمْ ‌طَعَامٌ، فَكَانَ أَحَدُهُمْ إِذَا جَاعَ أَتَى القِنْوَ فَضَرَبَهُ بِعَصَاهُ فَيَسْقُطُ مِنَ البُسْرِ وَالتَّمْرِ فَيَأْكُلُ، وَكَانَ نَاسٌ مِمَّنْ لَا يَرْغَبُ فِي الخَيْرِ يَأْتِي الرَّجُلُ بِالقِنْوِ فِيهِ الشِّيصُ وَالحَشَفُ وَبِالقِنْوِ قَدْ انْكَسَرَ فَيُعَلِّقُهُ»، فَأَنْزَلَ اللَّهُ تَبَارَكَ تَعَالَى: {يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَنْفِقُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا كَسَبْتُمْ وَمِمَّا أَخْرَجْنَا لَكُمْ مِنَ الأَرْضِ وَلَا تَيَمَّمُوا الخَبِيثَ مِنْهُ تُنْفِقُونَ وَلَسْتُمْ بِآخِذِيهِ إِلَّا أَنْ تُغْمِضُوا فِيهِ} [البقرة: ٢٦٧]

“Kami adalah petani kurma, setiap orang datang membawa hasil kurmanya sesuai banyak sedikitnya, seseorang datang membawa setangkai atau dua tangkai lalu menggantungkannya di masjid, sementara penghuni halaman masjid (ahlush shuffah) tidak memiliki makanan, jika salah seorang dari mereka merasa lapar, mereka datang ke tangkai-tangkai kurma dan memukulnya dengan tongkat hingga busr (kurma muda) dan kurma berjatuhan, lalu mereka memakannya, sedangkan orang-orang yang tidak menghendaki kebaikan, datang dengan membawa satu tangkai kurma yang keras lagi jelek dan satu tangkai yang sudah rusak, kemudian digantungkan di masjid, maka Allah Tabaraka wa Ta’ala menurunkan ayat: “Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (di jalan Allah) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang kami keluarkan dari bumi untuk kamu. dan janganlah kamu memilih yang buruk-buruk lalu kamu menafkahkan daripadanya, padahal kamu sendiri tidak mau mengambilnya melainkan dengan memincingkan mata terhadapnya.” (QS.Al-Baqarah: 267).” (HR. At-Tirmidzi: 2987 dan ia berkata hasan shahih dan Ibnu Abi Syaibah dalam al-Mushannaf: 11099 (6/419). Di-hasan-kan pula oleh Muqbil dalam ash-Shahih al-Musnad: 138 (1/119)).
Al-Imam Ibnu Rajab al-Hanbali (wafat tahun 795 H) rahimahullah berkata:

والظاهر من أهل الصفة: أنهم كانوا يأكلون في المسجد، وقد سبق حديث البراء بن عازب أنهم كانوا إذا جاعوا ضربوا ‌القنو المعلق في المسجد للصدقة فأكلوا منه

المساجد بيوت الله ص ١١٠-١١١
(باب: القسمة وتعليق القنو في المسجد)
ثم ذكر حديث أنس -رضي الله عنه -قال: «أتي النبي- صلى الله عليه وسلم -بمال من البحرين، فقال: (انثروه في المسجد) وكان أكثر مال أُتِيَ به رسول الله -صلى الله عليه وسلم- فخرج رسول الله- صلى الله عليه وسلم -ولم يلتفت إليه، فلما قضى الصلاة جاء فجلس إليه، فما كان يرى أحدًا إلا أعطاه، فما قام رسول الله – صلى الله عليه وسلم – وثم منه درهم» (٢)
ففي هذا الحديث جواز تفريق المال في المسجد، بشرط ألاَّ يشغل المصلِّين، ولا يحصل فيه ازدحام وهيشات أصوات، فإن تيسَّر تفريقه في غير المسجد فهو أولى، ومثله تفريق الزكوات وصدقة الفطر، يجوز في المساجد عند الحاجة. (٣)

Dan tampak dari Ahlu Shuffah bahwa mereka biasa makan di dalam masjid. Telah disebutkan dalam hadis al-Barra’ bin ‘Azib bahwa ketika mereka merasa lapar, mereka memukul tandan kurma yang tergantung di masjid sebagai sedekah, lalu mereka memakannya.

(Kitab Al-Masajid Buyutullah, hlm. 110-111, Bab: Pembagian dan Menggantung Tandan Kurma di Masjid)

Kemudian disebutkan hadis dari Anas radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:
“Rasulullah ﷺ didatangi dengan harta dari Bahrain, lalu beliau bersabda: ‘Sebarkanlah harta itu di dalam masjid.’ Itu adalah harta terbanyak yang pernah diberikan kepada Rasulullah ﷺ. Kemudian beliau keluar dan tidak menoleh kepadanya. Setelah selesai salat, beliau datang dan duduk di dekatnya. Setiap orang yang beliau lihat, beliau memberinya harta tersebut, hingga akhirnya tidak tersisa satu dirham pun ketika beliau berdiri.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Hadis ini menunjukkan bolehnya membagikan harta di dalam masjid, dengan syarat tidak mengganggu jamaah yang sedang salat dan tidak menyebabkan keributan atau kebisingan. Namun, jika memungkinkan untuk membagikannya di luar masjid, itu lebih utama. Demikian pula dalam pembagian zakat dan sedekah fitrah, hukumnya diperbolehkan dilakukan di dalam masjid.

Catatan : Bukan berarti masjid menerima zakat , melainkan sebagai sarana mendistribusikan sedekah fitrah


(١) أخرجه مسلم في الصحيح (١٠٢٨)، دون قول أبي بكر – رضي الله عنه – دخلت المسجد ….. ، وهي زيادة ضعيفة، في سندها مبارك بن فضالة، وهو مدلس وقد عنعنه.
(٢) ذكره البخاري (٤٢١) معلقاً بصيغة الجزم ووصله ابن حجر في التغليق (٢/ ٢٢٧)
(٣) انظر المجموع (٢/ ١٧٦) وفصول ومسائل تتعلق بالمساجد لابن جبرين (ص/٤٤)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

#TERKINI

#WARTA

#HUKUM