logo mubaa
Logo Ittihad

DEWAN PIMPINAN PUSAT
IKATAN ALUMNI BATA-BATA

Kategori
Hukum

Status Konsumsi Makanan Aqiqah Setelah Disedekahkan kepada Fakir Miskin

Assalamualaikum,

Deskripsi Masalah

Seorang bernama Mahmud (nama samaran) melaksanakan ibadah aqiqah untuk anaknya atau untuk dirinya sendiri. Kambing aqiqah tersebut kemudian disedekahkan sepenuhnya (dipasrahkan) kepada seorang kyai yang tergolong fakir. Setelah itu, kambing tersebut disembelih oleh pak kyai, dimasak, dan akhirnya saya diberi satu piring dari masakan tersebut oleh pak kyai.

Pertanyaan:
Apakah saya diperbolehkan untuk memakan masakan tersebut?

Mohon jawaban dan penjelasan.

Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh.

Jawaban dan Penjelasan

Dalam konteks ini, hukum memakan makanan tersebut dapat dianalisis berdasarkan ketentuan ibadah aqiqah dan pengelolaannya. Berikut penjelasannya:

1. Hak Kepemilikan Setelah Disedekahkan

Ketika kambing aqiqah disedekahkan sepenuhnya kepada seorang fakir (dalam hal ini, pak kyai), maka kepemilikan kambing tersebut telah berpindah sepenuhnya kepada pak kyai. Sebagai pemilik baru, pak kyai memiliki hak penuh atas kambing tersebut, termasuk menyembelih, memasak, dan memberikan sebagian kepada orang lain.

2. Hukum Memakan Pemberian

Jika pak kyai memberikan satu piring masakan kepadamu, maka statusnya adalah pemberian atau sedekah dari pak kyai, bukan dari kambing aqiqah secara langsung. Dalam hal ini, kamu diperbolehkan memakannya karena hak kepemilikan kambing sudah sepenuhnya berada pada pak kyai, dan dia berhak memberikan bagian tersebut kepada siapa saja.

Berdasarkan penjelasan  diatas, setelah kambing disedekahkan, penerima memiliki hak penuh untuk mengelola harta tersebut, termasuk memberikan sebagian kepada orang lain.

Referensi

المكتبة الشاملة كتاب فتح الوهاب بشرح منهج الطلاب [زكريا الأنصاري] الفقه الشافعي ج٢ص٢٣٤

وَذِكْرُ مَنْ يَعُقُّ مِنْ زِيَادَتِي ” وَهِيَ ” أَيْ الْعَقِيقَةُ ” كَضَحِيَّةٍ ” فِي جَمِيعِ أَحْكَامِهَا مِنْ جِنْسِهَا وَسِنِّهَا وَسَلَامَتِهَا وَنِيَّتِهَا وَالْأَفْضَلِ مِنْهَا وَالْأَكْلِ وَالتَّصَدُّقِ وَحُصُولِ السُّنَّةِ بِشَاةٍ وَلَوْ عَنْ ذَكَرٍ وَغَيْرِهَا مما يأتي فِي الْعَقِيقَةِ لَكِنْ لَا يَجِبُ التَّصَدُّقُ بِلَحْمٍ مِنْهَا نِيئًا كَمَا يُعْلَمُ مِمَّا يَأْتِي فَتَعْبِيرِي بِذَلِكَ أَعَمُّ مِنْ قَوْلِهِ وَسِنُّهَا وَسَلَامَتُهَا وَالْأَكْلُ والتصدق كالأضحية ” وسن لذكر شاتان وغيره ” مِنْ أُنْثَى وَخُنْثَى ” شَاةٌ ” إنْ أُرِيدَ الْعَقُّ بِالشِّيَاهِ لِلْأَمْرِ بِذَلِكَ فِي غَيْرِ الْخُنْثَى رَوَاهُ التِّرْمِذِيُّ وَقَالَ حَسَنٌ صَحِيحٌ وَقِيسَ بِالْأُنْثَى الْخُنْثَى وَإِنَّمَا كَانَا عَلَى النِّصْفِ مِنْ الذَّكَرِ لِأَنَّ الْغَرَضَ مِنْ الْعَقِيقَةِ اسْتِبْقَاءُ النَّفْسِ فَأَشْبَهَتْ الدِّيَةَ لِأَنَّ كُلًّا مِنْهُمَا فِدَاءٌ لِلنَّفْسِ وَذِكْرُ الْخُنْثَى مِنْ زِيَادَتِي ” وَ ” سُنَّ ” طَبْخُهَا ” كَسَائِرِ الْوَلَائِمِ إلَّا رِجْلَهَا فَتُعْطَى نِيئَةً لِلْقَابِلَةِ لِخَبَرِ الْحَاكِمِ الْآتِي ” وَ ” سُنَّ طَبْخُهَا ” بِحُلْوٍ ” مِنْ زِيَادَتِي تَفَاؤُلًا بِحَلَاوَةِ أَخْلَاقِ الْوَلَدِ وَلِأَنَّهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يُحِبُّ الْحَلْوَى وَالْعَسَلَ وَإِذَا أُهْدِي لِلْغَنِيِّ مِنْهَا شَيْءٌ مَلَكَهُ بِخِلَافِهِ فِي الْأُضْحِيَّةِ كَمَا مَرَّ لِأَنَّ الْأُضْحِيَّةَ ضِيَافَةٌ عَامَّةٌ مِنْ اللَّهِ تَعَالَى لِلْمُؤْمِنِينَ بِخِلَافِ الْعَقِيقَةِ ” وَأَنْ لَا يَكْسِرَ عَظْمَهَا ” تَفَاؤُلًا بِسَلَامَةِ أَعْضَاءِ الْوَلَدِ فَإِنْ كَسَرَ فَخِلَافُ الْأَوْلَى. ” وَأَنْ تُذْبَحُ سَابِعَ وِلَادَتِهِ ” أَيْ الْوَلَدِ وَبِهَا يَدْخُلُ وَقْتُ الذَّبْحِ وَلَا تَفُوتُ بِالتَّأْخِيرِ عَنْ السَّابِعِ وَإِذَا بَلَغَ بِلَا عَقٍّ سَقَطَ سُنُّ الْعَقِّ عَنْ غَيْرِهِ “

Fathul Wahhab bi Syarhi Minhajit Thullab (Zakariya al-Anshari), Juz 2, Halaman 234

Dan penyebutan siapa yang melakukan aqiqah (termasuk tambahan dari saya) “Dan ia” yaitu aqiqah, “seperti kurban” dalam semua hukumnya, dari jenisnya, usianya, kesehatannya, niatnya, mana yang lebih utama di antara jenisnya, hukum makan dan sedekah darinya, serta kesunnahan sudah tercapai dengan satu ekor kambing meskipun untuk anak laki-laki, dan lainnya sebagaimana yang akan dijelaskan dalam pembahasan aqiqah. Namun, tidak wajib bersedekah dengan dagingnya dalam keadaan mentah, sebagaimana yang akan dijelaskan nanti. Oleh karena itu, ungkapanku lebih umum dibandingkan perkataannya (pengarang kitab) yang hanya menyebutkan usia hewan, kesehatannya, hukum makan, dan sedekahnya seperti kurban.

“Dan disunnahkan untuk anak laki-laki dua ekor kambing, sedangkan untuk selainnya” yaitu perempuan dan khuntsa (orang dengan kelamin ganda) “satu ekor kambing” jika aqiqah dilakukan dengan kambing, karena adanya perintah dalam hadis yang diriwayatkan oleh at-Tirmidzi (dan beliau berkata: hadis ini hasan sahih). Perempuan dan khuntsa dianalogikan dengan perempuan dalam jumlah hewan aqiqahnya. Hikmah perbedaan jumlah ini adalah karena tujuan aqiqah adalah sebagai bentuk keselamatan bagi anak, sehingga aqiqah menyerupai diyat (denda dalam hukum Islam), karena keduanya sama-sama sebagai tebusan bagi jiwa. Penyebutan khuntsa dalam hukum ini adalah tambahan dari saya.

“Dan disunnahkan untuk memasaknya” seperti dalam acara jamuan lainnya, kecuali kakinya yang diberikan dalam keadaan mentah kepada bidan (yang membantu kelahiran), sebagaimana dalam hadis yang diriwayatkan oleh al-Hakim yang akan disebutkan nanti.

“Dan disunnahkan memasaknya dengan sesuatu yang manis” (tambahan dari saya) sebagai bentuk tabarruk (mengambil berkah) agar anak memiliki akhlak yang baik. Juga karena Rasulullah ﷺ menyukai makanan manis dan madu. Jika daging aqiqah dihadiahkan kepada orang kaya, maka ia berhak memilikinya, berbeda dengan daging kurban yang memiliki aturan berbeda. Hal ini karena kurban adalah bentuk jamuan umum dari Allah bagi seluruh kaum mukminin, berbeda dengan aqiqah yang merupakan jamuan khusus.

“Dan tidak boleh mematahkan tulangnya”, sebagai bentuk tabarruk agar anggota tubuh anak tetap sehat. Namun, jika tulangnya dipatahkan, maka hukumnya hanya makruh tanzih (lebih baik ditinggalkan, tetapi tidak haram).

“Dan hendaknya aqiqah disembelih pada hari ketujuh dari kelahirannya”, yaitu dihitung sejak hari lahirnya. Pada hari ketujuh ini, waktu penyembelihan aqiqah masuk dan tidak gugur jika dilakukan setelah hari ketujuh. Namun, jika seorang anak telah baligh dan belum diaqiqahi oleh orang tuanya, maka kesunnahan aqiqah tidak lagi berlaku bagi selain dirinya (tidak lagi menjadi tanggung jawab orang tua).

Kesimpulan:
Kamu diperbolehkan untuk memakan masakan tersebut, karena statusnya adalah pemberian dari pak kyai sebagai pemilik sah kambing yang telah disedekahkan.

Wallahu a’lam bish-shawab.

Referensi:

كتاب شرح سنن أبي داود للعباد
[عبد المحسن العباد] ج: ٢٠١ ص: ١٠

 إهداء الفقير للغني من الصدقة

[شرح حديث: (هو لها صدقة ولنا هدية)]
قال المصنف رحمه الله تعالى: [باب: الفقير يهدي للغني من الصدقة.
حدثنا عمرو بن مرزوق أخبرنا شعبة عن قتادة عن أنس رضي الله عنه (أن النبي صلى الله عليه وآله وسلم أتي بلحم، قال: ما هذا؟ قالوا: شيء تصدق به على بريرة، فقال: هو لها صدقة، ولنا هدية)].
قال الإمام أبو داود السجستاني رحمه الله تعالى: باب: الفقير يهدي للغني من الصدقة.
أي أن ذلك سائغ وجائز؛ لأن الصدقة إذا تصدق بها على الفقير صارت ملكا له يتصرف فيها كيف يشاء، فله أن يهديها، وله أن يدعو لأكلها، وإلى أكل طعامه الذي تصدق عليه به؛ فإن الشيء إذا تصدق به على الفقير فإنه يدخل في ملكه، وتصير ملكا له، وإذا أكلها غني بعد ذلك، أو أكلها من لا تحل له الصدقة؛ فإن ذلك لا بأس به، ولا محذور فيه، وقد سبق أن مرت بعض التراجم التي تماثل هذه الترجمة، وهنا جاءت بالنسبة للنبي صلى الله عليه وسلم، فلو كانت الترجمة: باب الفقير يهدي إلى من لا تحل له الصدقة، لكان أولى.
وسبق أن مرت بعض التراجم التي فيها أن فقيرا يهدي إلى غني، وفي بعض الأحاديث أنه يدعوه، فسواء أهدى إليه، أو دعاه لحضور وليمة، أو إلى أن يأكل من طعامه؛ فكل ذلك لا بأس به، لكن هذه الترجمة كان الأولى أن تكون كما ذكرت آنفا.
أورد أبو داود حديث أنس رضي الله عنه أن النبي صلى الله عليه وسلم قدم إليه لحم فقال: (ما هذا؟ قالوا: لحم تصدق به على بريرة، فقال عليه الصلاة والسلام: هو لها صدقة، ولنا هدية).
يعني: أنه وصل إليها عن طريق الصدقة فملكته، ثم وصل إلينا هدية، والنبي صلى الله عليه وسلم يأكل من الهدية ويقبلها، ولكنه لا يأخذ الصدقة صلى الله عليه وسلم، فوصول الصدقة إلى الفقير يصيرها ملكا له، فيتصرف فيها كيف يشاء، فإذا شاء أن يهديها إلى من لا تحل له الصدقة فله ذلك، وإن شاء أن يدعو إليها من لا تحل له الصدقة فله ذلك، فقد خرجت عن كونها صدقة؛ لكونها صارت ملكا للذي تصدق بها عليه، فيتصرف فيها كيف شاء.
ويدل هذا الحديث أيضا على سؤال الرجل عما يحصل في بيته مما يكون غريبا، فالنبي صلى الله عليه وسلم قال: (ما هذا؟)، وذلك أنه رأى اللحم، وكان حصول اللحم ليس معتادا لهم، فلما رآه عليه الصلاة والسلام سأل عنه، فأخبر عن حقيقته، وأنه تصدق به على بريرة، وأعطتهم بريرة إياه هدية، فقال عليه الصلاة والسلام: (هو لها صدقة، ولنا هدية).

Penjelasan Hadis: “Itu Sedekah untuknya, dan Hadiah untuk Kita”
Imam Abu Daud rahimahullah membuat bab: “Orang fakir memberi hadiah kepada orang kaya dari sedekah.”
Ini menunjukkan bahwa hal tersebut diperbolehkan dan dibolehkan. Karena sedekah yang diberikan kepada orang fakir menjadi miliknya, dan dia dapat menggunakannya sesuka hati. Dia boleh memberikannya sebagai hadiah, atau mengundang orang lain untuk memakannya. Jika orang kaya memakannya setelah itu, atau orang yang tidak berhak menerima sedekah memakannya, maka tidak ada masalah dan tidak ada larangan.
Sebelumnya telah disebutkan beberapa bab yang serupa dengan bab ini. Di sini, hal itu dikaitkan dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Alangkah lebih baiknya jika bab ini diberi judul: “Orang fakir memberi hadiah kepada orang yang tidak berhak menerima sedekah.”
Sebelumnya juga telah disebutkan beberapa bab yang menyebutkan bahwa orang fakir memberi hadiah kepada orang kaya, dan dalam beberapa hadis disebutkan bahwa dia mengundangnya. Baik dia memberinya hadiah, atau mengundangnya untuk menghadiri walimah, atau makan dari makanannya, semuanya diperbolehkan.
Abu Daud meriwayatkan hadis dari Anas radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam diberi daging, lalu beliau bertanya: “Apa ini?” Mereka menjawab: “Daging yang disedekahkan kepada Barirah.” Maka beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Itu sedekah untuknya, dan hadiah untuk kita.”
Artinya, daging itu sampai kepadanya melalui sedekah, sehingga dia memilikinya, lalu sampai kepada kita sebagai hadiah. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memakan hadiah dan menerimanya, tetapi beliau tidak mengambil sedekah. Sedekah yang sampai kepada orang fakir menjadikannya miliknya, sehingga dia dapat menggunakannya sesuka hati. Jika dia ingin memberikannya sebagai hadiah kepada orang yang tidak berhak menerima sedekah, maka dia boleh melakukannya. Jika dia ingin mengundang orang yang tidak berhak menerima sedekah untuk memakannya, maka dia boleh melakukannya. Karena sedekah itu telah keluar dari statusnya sebagai sedekah, karena telah menjadi milik orang yang disedekahkan kepadanya, sehingga dia dapat menggunakannya sesuka hati.
Hadis ini juga menunjukkan bahwa seseorang boleh bertanya tentang hal-hal aneh yang terjadi di rumahnya. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya: “Apa ini?” Karena beliau melihat daging itu, dan daging bukanlah sesuatu yang biasa mereka dapatkan. Ketika beliau melihatnya, beliau bertanya tentangnya, lalu diberi tahu tentang hakikatnya, yaitu bahwa daging itu disedekahkan kepada Barirah, dan Barirah memberikannya kepada mereka sebagai hadiah. Maka beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Itu sedekah untuknya, dan hadiah untuk kita.” Wallahu a’lam bisshowab

__________________________
زيادة المراجع فتوى السبكي ص ٢٨٨

[كِتَابُ الضَّحَايَا]

(مَسْأَلَةٌ)

إذَا أَهْدَى الْمُضَحِّي مِنْ أُضْحِيَّةٍ إلَى غَنِيٍّ شَيْئًا هَلْ يَجُوزُ لِلْغَنِيِّ أَنْ يُهْدِيَهُ إلَى غَيْرِهِ؟ إنْ قُلْتُمْ: يَجُوزُ فَمَا مَعْنَى قَوْلِ الرَّافِعِيِّ لَيْسَ لَهُ أَنْ يُمَلِّكَ الْأَغْنِيَاءَ؟
(الْجَوَابُ)

قَالَ الشَّيْخُ الْإِمَامُ – رَحِمَهُ اللَّهُ -: الْأَصْلُ الَّذِي يَنْبَغِي أَنْ يُعْتَمَدَ فِي هَذَا الْبَابِ وَلَمْ أَرَهُ مَنْقُولًا وَلَكِنِّي قَرَّرْتُهُ تَفَقُّهًا لَمَّا رَأَيْت الْمَسَائِلَ لَا تَسْتَمِرُّ إلَّا عَلَيْهِ، وَالْقَوَاعِدَ، وَالْأَدِلَّةَ تَشْهَدُ لَهُ أَنَّ أُضْحِيَّةَ التَّطَوُّعِ يَزُولُ الْمِلْكُ عَنْهَا بِالذَّبْحِ لِلَّهِ تَعَالَى، وَمَصْرِفُهَا وَجْهَانِ: أَحَدُهُمَا: الْفُقَرَاءُ تَمْلِيكًا، وَالثَّانِي: الْأَغْنِيَاءُ انْتِفَاعًا، وَالْمُضَحِّي أَحَدُهُمْ، وَلَهُ الْوِلَايَةُ عَلَى ذَلِكَ، وَقِسْمَتُهُ وَتَفْرِقَتُهُ، فَإِنَّ الْمُضَحِّيَ يَتَقَرَّبُ بِأُضْحِيَّتِهِ بِالذَّبْحِ، وَبِذَلِكَ تَنْتَقِلُ عَنْهُ إلَى اللَّهِ تَعَالَى، وَهَذَا مَعْنَى الْقُرْبَةِ فِيهَا، وَإِنْ جَازَ لَهُ الْأَكْلُ مِنْهَا؛ لِأَنَّهُ مَأْذُونٌ فِي ذَلِكَ مِنْ اللَّهِ تَعَالَى، وَإِذَا عَلِمَ ذَلِكَ
فَإِذَا أَعْطَى مِنْهَا لِلْفُقَرَاءِ كَانَ تَمْلِيكًا وَلَيْسَ الْمَعْنَى يُمَلِّكُهُمْ بَلْ يُعْطِيهِمْ كَمَا يُعْطِيهِمْ لِلزَّكَاةِ فَيَمْلِكُونَهَا مِلْكًا تَامًّا يَتَصَرَّفُونَ فِيهِ بِالْبَيْعِ وَغَيْرِهِ؛ وَذَلِكَ لِأَنَّهُمْ الْمَقْصُودُ الْأَعْظَمُ بِهَا، وَلَا يَحْصُلُ لَهُمْ التَّصَرُّفُ التَّامُّ إلَّا بِالتَّمْلِيكِ التَّامِّ فِي ذَلِكَ لِيَنْتَفِعُوا بِهَا وَبِثَمَنِهَا. فَمَعْنَى قَوْلِهِ: يُمَلِّكُ الْفُقَرَاءَ أَنَّهُ يُعْطِي لَهُمْ وَيُسَلِّطُهُمْ تَسْلِيطًا تَامًّا عَلَيْهَا، وَإِذَا أَكَلَ هُوَ مِنْهَا يَأْكُلُهَا وَلَيْسَتْ عَلَى مِلْكِهِ بَلْ الْإِذْنُ مِنْ اللَّهِ تَعَالَى، وَإِذَا أَهْدَى مِنْهَا إلَى غَنِيٍّ فَقَدْ أَحَلَّ ذَلِكَ الْغَنِيَّ مَحَلَّهُ وَرَفَعَ يَدَهُ عَمَّا أَهْدَاهُ لَهُ، فَلِلْغَنِيِّ أَنْ يَأْكُلَ مِنْهُ وَيُهْدِيَ أَيْضًا، وَلَيْسَ ذَلِكَ مِنْ بَابِ الْهَدِيَّةِ الَّتِي هِيَ التَّمْلِيكُ لِمَا قَدَّمْنَاهُ أَنَّهَا لَيْسَتْ مِلْكَهُ، وَإِنَّمَا مَعْنَاهُ رَفْعُ يَدِهِ وَتَسْلِيطُ غَيْرِهِ عَلَيْهَا، وَلَيْسَ لَهُ أَنْ يَبِيعَ لِكَوْنِهِ غَيْرَ مِلْكٍ، وَإِنَّمَا لَمْ يَمْلِكْ لِكَوْنِهِ لَيْسَ هُوَ الْمَقْصُودَ الْأَعْظَمَ مِنْهَا لِمَا قَدَّمْنَا أَنَّ الْمَقْصُودَ الْأَعْظَمَ مِنْهَا الْفُقَرَاءُ، فَمَقْصُودُ الْأُضْحِيَّةِ تَمْلِيكُ الْفُقَرَاءِ، وَالْإِبَاحَةُ لِلْمُضَحِّي، وَالْأَغْنِيَاءِ هَذِهِ حَقِيقَتُهَا

Referensi

وللفقير التصرف في المأخوذ ولو بنحو بيع المسلم لملكه ما يعطاه ، بخلاف الغني فليس له نحو البيع بل له التصرف في المهدي له بنحو أكل وتصدق وضيافة ولو لغني ، لأن غايته أنه كالمضحي نفسه ، قاله في التحفة والنهاية

Referensi

إعانة الطالبين ج٢ ص ٣٧٩

(قوله: لا تمليكهم) أي لا يجوز تمليك الأغنياء منها شيئا. ومحله إن كان ملكهم ذلك ليتصرفوا فيه بالبيع ونحوه كأن قال لهم ملكتكم هذا لتتصرفوا في بما شئتم أما إذا ملكهم إياه لا لذلك بل للأكل وحده فيجوز، ويكون هدية لهم وهم يتصرفون فيه بنحو أكل وتصدق وضيافة لغني أو فقير لا ببيع وهبة وهذا بخلاف الفقراء، فيجوز تمليكهم اللحم ليتصرفوا فيه بما شاؤا ببيع أو غيره  .والله أعلم بالصواب

 Fatwa Al-Subki Halaman 288 [Kitab Al-Dhahayaa]

(Masalah)

Apabila seseorang yang berkurban memberikan sebagian daging kurbannya kepada orang kaya, apakah orang kaya tersebut boleh menghadiahkan daging itu kepada orang lain? Jika diperbolehkan, apa makna dari pernyataan Imam Al-Rafi’i bahwa tidak diperkenankan bagi yang berkurban untuk “mentamlikkan” (memberikan hak kepemilikan penuh) daging kurban kepada orang kaya?

(Jawaban)

Imam besar – semoga Allah merahmatinya – menjelaskan:
Dasar yang patut dijadikan pedoman dalam hal ini, yang meskipun saya tidak menemukannya secara eksplisit dalam referensi, namun telah saya tetapkan berdasarkan analisis hukum (tafaqquh) karena berbagai masalah dalam topik ini tidak dapat dipahami kecuali dengan dasar tersebut. Kaidah-kaidah dan dalil-dalil juga mendukungnya, yaitu:

Daging kurban yang bersifat sunnah menjadi milik Allah Ta’ala setelah disembelih. Pembagian manfaatnya terbagi menjadi dua bentuk:

1. Fakir miskin (tamlik): Daging kurban diberikan kepada mereka sebagai kepemilikan penuh sehingga mereka dapat memanfaatkannya, termasuk menjualnya.

2. Orang kaya (pemanfaatan): Mereka hanya diberi manfaat dari daging kurban tersebut tanpa kepemilikan penuh.

Orang yang berkurban juga termasuk dalam kategori yang diizinkan memanfaatkannya, dengan hak untuk membagi dan mendistribusikan daging tersebut. Ketika seseorang yang berkurban menyembelih hewan kurbannya, maka ia mendekatkan diri kepada Allah dengan sembelihan tersebut. Dengan demikian, kepemilikannya beralih kepada Allah Ta’ala. Namun, ia diizinkan memakan sebagian darinya karena ada izin dari Allah.

Jika daging tersebut diberikan kepada fakir miskin, pemberian itu bersifat tamlik (kepemilikan penuh), sehingga mereka bebas memanfaatkannya, termasuk menjualnya. Hal ini karena fakir miskin adalah tujuan utama dari pelaksanaan kurban. Untuk merealisasikan manfaat ini, diperlukan tamlik sepenuhnya.

Adapun jika daging diberikan kepada orang kaya, maka pemberian itu tidak untuk tamlik. Artinya, orang kaya hanya diberi izin untuk memanfaatkannya (seperti makan, menyedekahkan, atau menjamu tamu), tetapi tidak diizinkan menjualnya. Ini berbeda dengan fakir miskin yang menjadi tujuan utama kurban. Oleh karena itu, tujuan kurban adalah tamlik bagi fakir miskin, sedangkan bagi orang kaya dan yang berkurban hanya diberikan hak pemanfaatan (ibahah).

Referensi Tambahan

1. “Tuhfatul Muhtaj” dan “Nihayatul Muhtaj”:

Fakir miskin dapat memanfaatkan daging yang diterimanya secara penuh, termasuk menjualnya karena menjadi miliknya. Sedangkan bagi orang kaya, mereka tidak boleh menjual daging tersebut. Namun, mereka boleh memanfaatkannya, seperti memakan, menyedekahkan, atau menjamu tamu, baik kepada orang kaya maupun fakir. Hal ini karena mereka hanya disamakan kedudukannya dengan yang berkurban itu sendiri.

2. “I’anah Al-Thalibin”, Juz 2 Halaman 379:

Tidak diperkenankan memberikan daging kurban kepada orang kaya dengan cara tamlik untuk tujuan seperti menjualnya. Namun, jika pemberian itu hanya untuk dimakan atau dimanfaatkan (tanpa hak kepemilikan penuh), maka diperbolehkan. Dalam hal ini, pemberian tersebut dianggap sebagai hadiah, sehingga orang kaya dapat memanfaatkannya dengan memakan, menyedekahkan, atau menjamu tamu, tetapi tidak menjualnya. Sebaliknya, fakir miskin boleh menerima daging dengan tamlik penuh, sehingga mereka bebas memanfaatkannya,sesuka hatinya termasuk menjualnya.Wallahu A’lam bish-shawab

Kategori
Hukum

Mengalihkan Material Masjid yang tak Digunakan untuk Musholla

 

Deskripsi Masalah:

H. Faiz  merupakan ketua ta’mir masjid Al-Amien, beliau ingin merenovasi masjid agar lebih luas dan megah. Renovasi pun terjadi, ada beberapa bahan milik masjid yang sudah tidak dipakai karena sudah diganti dengan yang baru seperti genteng, kayu, tikar dan lain-lain. Sementara itu K.Mahmud Membangun Musholla untuk tempat ngaji setelah pondasi bangunan selesai ternyata ada kebutuhan mendesak seperti kayu dan genting dll. Oleh karena K.Mahmud meminta dengan hormat kepada H. Faiz agar kayu dan genting masjid  dialihkan kemusholla secara cuma-cuma . Jika tidak dikasih maka akan dibeli. Maka karena adanya kebutuhan musholla dan barang tersebut tidak dipakai,  H. Faiz merespon atas permohonan K.Mahmud untuk mengalihkan atau menjual barang sisa masjid tersebut .

Pertanyaan:

1.Bagaimana Hukum menggunakan barang masjid yang tidak laku dimanfaatkan untuk mussholla? Karena jika tidak digunakan maka akan rusak /hilang

2.Bagaimana hukum menjual barang masjid yang tidak digunakan tersebut

Jawaban.No.1
Prioritas Penggunaan:
1. Barang bekas renovasi masjid:

Prioritas pertama: Dialihkan ke masjid lain yang membutuhkan.

Jika tidak ada masjid yang membutuhkan: Dapat dialihkan ke wakaf umum lain seperti ribath, zawiyah, jembatan, atau sumur yang bermanfaat untuk umat Islam.

2. Pengalihan ke musholla:

Jika musholla statusnya setara dengan masjid (wakaf umum): Boleh digunakan, tetapi tetap lebih utama diberikan ke masjid lain terlebih dahulu.

Jika musholla bukan wakaf umum: Tidak diperbolehkan tanpa izin atau kejelasan dari pewakaf.

Jawaban No.2

Jika tidak dapat dimanfaatkan: Boleh dijual, dengan syarat hasil penjualan digunakan untuk keperluan masjid atau wakaf umum lainnya.

إعانة الطالبين ج٣ ص ٢١٦
غير جنسه كرباط وبئر – كالعكس – إلا إذا تعذر جنسه.والذي يتجه ترجيحه في ريع وقف المنهدم، أنه إن توقع عوده: حفظ له، وإلا صرف لمسجد آخر.فإن تعذر: صرف للفقراء، كما يصرف النقض لنحو رباط.

(وسئل)

شيخنا عما إذا عمر مسجد بآلات جدد، وبقيت آلاته القديمة: فهل يجوز عمارة مسجد آخر قديم بها أو تباع ويحفظ ثمنها؟
(فأجاب) بأنه يجوز عمارة مسجد قديم وحادث بها حيث قطع بعدم احتياج ما هي منه إليها قبل فنائها،
والنقض مثل قفل وحمل بمعنى المنقوض واقتصر الأزهري على الضم، قال: النقض اسم البناء المنقوض إذا هدم، وبعضهم يتقصر على الكسر ويمنع الضم، والجمع نقوض.
اه.
وقوله فينقض، أي يبطل بناؤه بالحيثية السابقة. وقوله ويحفظ، أي نقضه.وقوله أو يعمر به، أي بالنقض. وقوله إن رآه الحاكم، أي رأى تعمير مسجد آخر به أصلح (قوله: والأقرب إليه أولى) أي وعمارة المسجد الأقرب إلى المنهدم أولى من غير الأقرب.
قال ع ش: وبقي ما لو كان ثم مساجد متعددة واستوى قربه من الجميع، هل يوزع على الجميع أو يقدم الأحوج؟ فيه نظر.
والأقرب الثاني، فلو استوت الحاجة والقرب، جاز صرفه لواحد منها.
اه.
(قوله: ولا يعمر به غير جنسه) أي ولا يعمر بالنقض ما هو من غير جنس المسجد. وقوله كرباط وبئر، تمثيل لغير جنس المسجد، وقوله كالعكس: هو أن لا يعمر بنقض الرباط والبئر غير الجنس كالمسجد (قوله: إلا إذا تعذر جنسه) أي فإنه يعمر به غير الجنس (قوله: والذي يتجه ترجيحه الخ) في سم ما نصه، الذي اعتمده شيخنا الشهاب الرملي أنه إن توقع عوده حفظ، وإلا صرفه لأقرب المساجد، وإلا فللأقرب إلى الواقف، وإلا فللفقراء والمساكين أو مصالح المسلمين.
وحمل اختلافهم على ذلك.
اه.

(واعلم) أن الوقف على المسجد إذ لم يذكر له مصرف آخر بعد المسجد من منقطع الآخر، كما قال في الروض، وإن وقفها، أي الدار على المسجد صح، ولو لم يبين المصرف وكان منقطع الآخر إن اقتصر عليه ويصرف في مصالحه اه. وقد تقرر في منقطع الآخر أنه يصرف إلى أقرب الناس إلى الواقف، فقولهم هنا إنه إذا لم يتوقع عوده يصرف إلى مسجد آخر أو أقرب المساجد، يكون مستثنى من ذلك.
فليتأمل

“Tidak boleh digunakan untuk membangun yang berbeda jenisnya, seperti ribath (pondokan) dan sumur – begitu pula sebaliknya – kecuali jika tidak memungkinkan menggunakan jenisnya.”

Pendapat yang diunggulkan terkait hasil wakaf dari masjid yang runtuh:
Jika ada harapan masjid tersebut akan dibangun kembali, maka hasilnya harus disimpan. Namun, jika tidak memungkinkan untuk dibangun kembali, hasilnya disalurkan ke masjid lain. Jika tidak memungkinkan pula, maka disalurkan kepada fakir miskin, sebagaimana hasil penjualan bangunan wakaf lain seperti ribath.

Pertanyaan:
Syaikh kami pernah ditanya tentang masjid yang dibangun ulang dengan material baru, dan material lamanya masih tersisa. Apakah diperbolehkan menggunakan material lama tersebut untuk membangun masjid lain yang sudah ada atau menjualnya untuk menyimpan hasilnya?

Jawaban:
Beliau menjawab bahwa diperbolehkan menggunakan material lama tersebut untuk membangun masjid lain yang sudah ada atau masjid baru, asalkan dipastikan bahwa masjid asalnya tidak membutuhkan material tersebut hingga materialnya benar-benar habis.

Penjelasan:

“Material lama” di sini mencakup benda seperti pintu atau tiang bekas. Al-Azhari menyebutkan bahwa istilah naqdh (material lama) mengacu pada bangunan yang telah dibongkar.

Material lama dapat digunakan untuk membangun masjid lain jika dianggap lebih maslahat oleh hakim.

Dalam kasus terdapat beberapa masjid yang sama-sama dekat dengan lokasi masjid yang runtuh, maka yang lebih membutuhkan didahulukan. Jika kebutuhan dan jaraknya sama, boleh dialokasikan hanya kepada salah satu masjid tersebut.

Catatan:

Tidak diperbolehkan menggunakan material masjid untuk membangun bangunan selain masjid, seperti ribath atau sumur, kecuali jika tidak memungkinkan digunakan untuk masjid.

Pendapat yang lebih kuat menyebutkan bahwa jika ada harapan masjid tersebut akan dibangun kembali, maka hasil wakafnya disimpan. Namun, jika tidak ada harapan, hasilnya disalurkan ke masjid lain yang terdekat. Jika tidak memungkinkan, disalurkan kepada fakir miskin atau untuk kemaslahatan umum umat Islam.

Tambahan:
Jika wakaf untuk masjid tidak mencantumkan rincian penggunaan setelah masjid tersebut tidak ada, maka hasilnya tetap disalurkan untuk kemaslahatan masjid lain atau umat Islam, sesuai pandangan ulama seperti yang disebutkan dalam Ar-Raudh.

Adapun kemaslahatan umum (mashalih ‘ammah) dalam konteks wakaf dapat mencakup musholla dan madrasah, terutama jika penggunaannya mendukung tujuan utama dari wakaf tersebut, yaitu manfaat bagi umat Islam. Berikut beberapa poin penjelasannya:

1. Definisi Kemaslahatan Umum
Kemaslahatan umum mengacu pada segala hal yang memberikan manfaat bagi masyarakat luas, khususnya dalam mendukung kebutuhan agama, pendidikan, dan sosial. Musholla dan madrasah masuk dalam kategori ini karena keduanya digunakan untuk ibadah, pendidikan agama, dan pembinaan umat.

2. Syarat dan Ketentuan

Jika tidak memungkinkan digunakan untuk masjid: Ketika material wakaf atau dana wakaf masjid tidak bisa digunakan untuk masjid, maka penyalurannya diperbolehkan ke fasilitas lain yang mendukung ibadah, seperti musholla.

Keselarasan dengan tujuan wakaf: Pengalihan penggunaan wakaf ke musholla atau madrasah harus tetap selaras dengan niat awal wakaf, yaitu mendukung agama Islam dan kemaslahatan umat.

3. Pendapat Ulama
Dalam Hasyiyah Asy-Syarwani dan Fathul Mu’in, disebutkan bahwa hasil atau manfaat wakaf masjid, jika tidak bisa digunakan untuk masjid lain, dapat dialihkan kepada keperluan umat Islam lainnya seperti lembaga pendidikan, madrasah, atau musholla.

4. Contoh Implementasi

Material bekas masjid dapat digunakan untuk pembangunan musholla jika musholla tersebut membutuhkan dan tidak ada masjid lain yang lebih membutuhkan.

Dana hasil wakaf dapat diberikan ke madrasah untuk mendukung pendidikan agama, seperti penyediaan fasilitas belajar atau pembangunan ruang kelas.

Namun, untuk memastikan keabsahan pengalihan ini, biasanya memerlukan keputusan hakim atau otoritas yang berwenang dalam pengelolaan wakaf agar tetap sesuai dengan syariat dan tidak menyalahi amanah wakaf:

Referensi

*بغية المسترشدين في تلخيص فتاوى بعض الأئمة المتأخرين، ص ١٣٤*
(مسألة : ك) انهدم مسجد وله وقف، فإن توقع عوده حفظ ريعه، وإلا جاز صرفه لمسجد آخر، فإن تعذر صرف للفقراء كما في التحفة ، وقال في النهاية : صرف لأقرب الناس إلى الواقف ثم الفقراء اهـ. قلت : وقال أبو مخرمة : وإذا عمر المسجد المنهدم رد عليه وقفه اهـ. فائدة : تعطل مسجد وتعذرت عمارته لخراب البلاد وقلة ما يحصل من غلته وخيف ضياعها باستيلاء ظالم ، جاز نقلها لمسجد آخر معمور على المعتمد من خمسة أوجه ، نعم المسجد الأقرب أولى ، وكذا يقال في البئر والقنطرة إذا تعذرت إعادتها أو استغني عنها ، أما المسجد في المكان العامر فتجمع غلاّت وقفه إلى أن يحصل منها ما يعمره ولا تنقل عنه اهـ حسن النجوق للعموي ، وبنحوه أفتى العلامة أحمد بن حسن الحداد قال : فإن تعذر وجود مسجد فلرباط أو زاوية أو قنطرة أو بئر ونحوها من الأوقاف العامة الأشبه فالأشبه ، ولا يبنى بها مسجد جديد مع إمكان صرفها لعامر اهـ.فائدة : لا يجوز للقيم بيع الفاضل مما يؤتى به لنحو المسجد من غير لفظ ، ولا صرفه في نوع آخر من عمارة ونحوها ، وإن احتيج إليه ما لم يقتض لفظ الآتي به أو تدل قرينة عليه ، لأن صرفه فيما جعل له ممكن وإن طال الوقت ، قاله أبو شكيل اهـ فتاوى ابن حجر.

Bughiyatul Mustarsyidin fi Talkhishi Fatawa Ba‘dhil Aimmatil Muta’akhkhirin, hlm. 134

(Masalah: K) Jika sebuah masjid runtuh dan memiliki harta wakaf, jika diharapkan masjid tersebut akan dibangun kembali, maka hasil wakafnya disimpan. Namun, jika tidak ada harapan untuk membangunnya kembali, maka diperbolehkan mengalihkan hasil wakaf tersebut ke masjid lain. Jika tidak memungkinkan, maka disalurkan kepada fakir miskin sebagaimana disebutkan dalam Tuhfah. Dalam Nihayah disebutkan: “Disalurkan kepada kerabat terdekat dari pewakaf, kemudian kepada fakir miskin.” Saya berkata: Abu Makhramah berkata, “Jika masjid yang runtuh tersebut dibangun kembali, maka hasil wakafnya dikembalikan kepada masjid itu.”

Faedah: Jika sebuah masjid tidak dapat digunakan dan tidak memungkinkan untuk diperbaiki karena kehancuran wilayah atau sedikitnya hasil wakafnya, serta dikhawatirkan hasil wakaf tersebut akan hilang akibat perampasan orang zalim, maka diperbolehkan memindahkan hasil wakaf tersebut ke masjid lain yang masih berfungsi. Pendapat ini merupakan yang paling kuat dari lima pendapat. Namun, masjid yang paling dekat lebih utama. Hal yang sama berlaku pada sumur atau jembatan jika tidak memungkinkan untuk diperbaiki atau jika keberadaannya sudah tidak diperlukan. Adapun masjid yang terletak di daerah yang masih dihuni, maka hasil wakafnya dikumpulkan hingga mencukupi untuk membangunnya kembali, dan tidak boleh dipindahkan. (Hasanun Nujum lil ‘Amuwi). Pendapat serupa juga dikemukakan oleh Al-‘Allamah Ahmad bin Hasan Al-Haddad yang berkata, “Jika tidak memungkinkan untuk menemukan masjid, maka hasil wakaf boleh dialihkan ke ribath, zawiyah, jembatan, sumur, atau tempat wakaf umum lainnya yang paling sesuai. Tidak diperbolehkan membangun masjid baru selama masih memungkinkan untuk memanfaatkan hasil wakaf tersebut pada masjid yang sudah ada.”

Faedah: Tidak diperbolehkan bagi pengelola wakaf untuk menjual kelebihan yang diberikan untuk masjid (tanpa adanya pernyataan eksplisit) atau mengalihkannya untuk jenis perbaikan lain seperti renovasi, kecuali jika hal tersebut diizinkan oleh orang yang memberikan atau ada indikasi yang jelas untuk itu. Karena memanfaatkan hasil wakaf untuk tujuan yang telah ditentukan masih memungkinkan meskipun membutuhkan waktu yang lama. Hal ini sebagaimana disebutkan oleh Abu Syaqil dalam Fatawa Ibn Hajar.

Berikut keterangan tentang
Menjual sisa-sisa barang masjid terjadi perbedaan pendapat:

1. Menurut Imam Syafi’i dan Imam Malik tidak boleh dijual dan barang-barang yang masih dapat digunakan, diberikan kepada masjid lain yang membutuhkan.

2. Menurut Imam Ahmad boleh dijual dan uang hasil penjualan digunakan untuk membeli barang yang sama.

Menurut pendapat Syeikh Abu Bakar bin Ahmad Al-Khotiib bekas dari bangunan masjid baik berupa batu bata atau genteng boleh dijual jika tidak dibutuhkan lagi oleh masjid tersebut dan khawatir tersia-sia atau dicuri orang.

مواهب الفضال بفتوى بافضال الجزء ١ صح : ٢٢٨
وَسُئِلَ الْعَلامَةُ الشَّيْخُ أَبُو بَكْرِ ابْنُ مواهب الفضال بفتوى بافضال الجزء ١ صح : ٢٢٨
وَسُئِلَ الْعَلامَةُ الشَّيْخُ أَبُو بَكْرِ ابْنُ أَحْمَدَ الْخَطِيبُ مُفْتِي تَرِيْمٍ عَمَّا بَقِيَ فَتَاتُ النَّوْرَةِ وَالطِّينِ وَالأَخْشَابِ بَعْدَ الْهَدْمِ فَأَجَابَ بِجَوَابِ طَوِيلِ مَالَ بهِ إِلَى جَوَازِ بَيْعِهَا إِذَا لَمْ تَظْهَرْ حَاجَةً لَهَا لِلْمَسْجِدِ الْمَذْكُورِ وَلَوْ فِي الْمُسْتَقْبَلِ وَخِيفَ ضِيَاعُهُ أَوْ أَخَذَ ظَالِمٌ أَوْ غَاصِبٌ لَهَا عَمَّا إِذَا لَمْ يُخْشَ شَيْءٌ مِنْ ذَلِكَ فَتُحْفَظُ إِلَى آخِرِ مَا أَطَالَ بِهِ رَحِمَ اللهُ اهـ نَصُ الْوَارِدِ فِي حُكْمِ تَجْدِيدِ الْمَسْجِدِ لِلْعَلامَةِ عَلَوِي ابْنِ عَبْدِ اللَّهِ ابْنِ حُسَيْنِ – إلى أن قال – ثُمَّ اخْتَلَفُوا فِي جَوَازِ بَيْعِهِ وَصَرْفِ ثَمَنِهِ فِي مِثْلِهِ وَإِنْ كَانَ مَسْجِدًا فَقَالَ الْمَالِكُ وَالشَّافِعِيُّ يَبْقَى عَلَى حَالِهِ وَلاَ يُبَاعُ وَقَالَ أَحْمَدُ يَجُوزُ بَيْعُهُ وَصَرْفُ ثَمَنِهِ فِي مِثْلِهِ وَكَذَلِكَ فِي الْمَسْجِدِ إِذَا كَانَ لَا يُرْجَى عَوْدُهُ وَلَيْسَ عِنْدَ أَبِي حَنِيفَةَ نَصَّ فِيَهَا اهـ
الْخَطِيبُ مُفْتِي تَرِيْمٍ عَمَّا بَقِيَ فَتَاتُ النَّوْرَةِ وَالطِّينِ وَالأَخْشَابِ بَعْدَ الْهَدْمِ فَأَجَابَ بِجَوَابِ طَوِيلِ مَالَ بهِ إِلَى جَوَازِ بَيْعِهَا إِذَا لَمْ تَظْهَرْ حَاجَةً لَهَا لِلْمَسْجِدِ الْمَذْكُورِ وَلَوْ فِي الْمُسْتَقْبَلِ وَخِيفَ ضِيَاعُهُ أَوْ أَخَذَ ظَالِمٌ أَوْ غَاصِبٌ لَهَا عَمَّا إِذَا لَمْ يُخْشَ شَيْءٌ مِنْ ذَلِكَ فَتُحْفَظُ إِلَى آخِرِ مَا أَطَالَ بِهِ رَحِمَ اللهُ اهـ نَصُ الْوَارِدِ فِي حُكْمِ تَجْدِيدِ الْمَسْجِدِ لِلْعَلامَةِ عَلَوِي ابْنِ عَبْدِ اللَّهِ ابْنِ حُسَيْنِ – إلى أن قال – ثُمَّ اخْتَلَفُوا فِي جَوَازِ بَيْعِهِ وَصَرْفِ ثَمَنِهِ فِي مِثْلِهِ وَإِنْ كَانَ مَسْجِدًا فَقَالَ الْمَالِكُ وَالشَّافِعِيُّ يَبْقَى عَلَى حَالِهِ وَلاَ يُبَاعُ وَقَالَ أَحْمَدُ يَجُوزُ بَيْعُهُ وَصَرْفُ ثَمَنِهِ فِي مِثْلِهِ وَكَذَلِكَ فِي الْمَسْجِدِ إِذَا كَانَ لَا يُرْجَى عَوْدُهُ وَلَيْسَ عِنْدَ أَبِي حَنِيفَةَ نَصَّ فِيَهَا .اهـ

“Dan ditanyakan kepada al-‘Allamah Syekh Abu Bakar bin Ahmad al-Khathib, Mufti Tarim, tentang sisa-sisa puing berupa kapur, tanah, dan kayu setelah pembongkaran bangunan. Maka beliau menjawab dengan jawaban panjang yang condong pada pendapat bolehnya menjual sisa-sisa tersebut apabila tidak ada kebutuhan yang nyata untuk masjid yang dimaksud, bahkan di masa mendatang, serta dikhawatirkan barang-barang tersebut akan hilang atau diambil oleh orang zalim atau perampas. Adapun jika tidak ada kekhawatiran terhadap hal-hal tersebut, maka barang-barang itu hendaknya disimpan. Hingga akhir jawaban panjangnya, semoga Allah merahmatinya.

Inilah teks yang disebutkan terkait hukum memperbarui masjid dari al-‘Allamah Alawi bin Abdullah bin Husain, hingga beliau berkata: ‘Kemudian terjadi perbedaan pendapat mengenai bolehnya menjual barang-barang tersebut dan menggunakan hasil penjualannya untuk hal serupa (perbaikan masjid atau keperluan sejenisnya). Jika berupa masjid, maka menurut pendapat Imam Malik dan Imam Syafi’i, barang-barang tersebut tetap dibiarkan sebagaimana adanya dan tidak dijual. Sedangkan Imam Ahmad berpendapat boleh menjualnya dan menggunakan hasil penjualannya untuk keperluan serupa. Begitu pula dalam kasus masjid apabila tidak diharapkan lagi penggunaannya. Adapun menurut Abu Hanifah, tidak terdapat teks (keterangan langsung) mengenai hal ini

هامش الشرواني جزء  ٦ ص ٢٨٢

( وَالْأَصَحُّ جَوَازُ بَيْعِ حُصْرِ الْمَسْجِدِ إذَا بَلِيَتْ وَجُذُوعِهِ إذَا انْكَسَرَتْ ) ، أَوْ أَشْرَفَتْ عَلَى الِانْكِسَارِ ( وَلَمْ تَصْلُحْ إلَّا لِلْإِحْرَاقِ ) لِئَلَّا تَضِيعَ فَتَحْصِيلُ يَسِيرٍ مِنْ ثَمَنِهَا يَعُودُ عَلَى الْوَقْفِ أَوْلَى مِنْ ضَيَاعِهَا وَاسْتُثْنِيَتْ مِنْ بَيْعِ الْوَقْفِ ؛ لِأَنَّهَا صَارَتْ كَالْمَعْدُومَةِ وَيُصْرَفُ ثَمَنُهَا لِمَصَالِحِ الْمَسْجِدِ… الى ان قال… وَالْخِلَافُ فِي الْمَوْقُوفَةِ وَلَوْ بِأَنْ اشْتَرَاهَا النَّاظِرُ وَوَقَفَهَا بِخِلَافِ الْمَمْلُوكَةِ لِلْمَسْجِدِ بِنَحْوِ شِرَاءِ فَإِنَّهَا تُبَاعُ جَزْمًا .

“Menurut pendapat ‘Ashoh’ adalah diperbolehkannya menjual karpet-karpet milik masjid jika bendanya telah rusak, robek atau hampir robek dan tidak layak kecuali untuk dibakar. Agar tidak sia-sia begitu saja, maka mendapatkan sedikit pemasukan (dari penjualan diatas) yang dimasukkan (ke dalam kas) wakaf, tentu lebih baik. Dan hal ini dikecualikan dari (larangan) penjualan benda wakaf, karena dihukumi seolah tidak ada, dan keuntunagannya dialokasikan untuk kepentingan masjid…. Dan khilaf Ulama terjadi pada benda-benda yang diwakafkan, meskipun telah dibeli oleh pihak yang menanganinya (Nadzir) lalu mewakafkannya. Berbeda halnya dengan infentarisir milik masjid yang diperoleh dengan cara membeli, maka sudah pasti boleh dijual kembali”

رسالة الاماجد فى احكام المسجد (٣١-٣٢)
`واعلم أن أموال المسجد تنقسم على ثلاثة أقسام، قسم للعمار كالموهوب والمتصدق به له وريع الموقوف عليه، وقسم للمصالح كالموهوب والمتصدق به لها وكذا ريع الموقوف عليها وربح التجارة وغلة أملاكه وثمن ما يباع من أملاكه وكذا ثمن الموقوف عله عند من جوز بيعه عند البلى والإنكسار وقسم مطلق كالموهوب والمتصدق به له مطلقا وكذا ريع الموقوف عليه مطلقا,` وهذا التقسيم مأخوذ من مفهوم أقوالهم فى كتب القفه المعتبرة والمعتمدة، والفرق بين العمارة والمصالح هو أن ما كان يرجع إلى عين الوقف حفظا وإحكاما كالبناء والترميم والتجصيص للإحكام والسلالم والسوارى والمكاسن وغير ذلك هو العمارة, أن ما كان يرجع إلى جميع ما يكون مصلحة وهذا يشمل العمارة وغيرها من المصالح كالمؤذن والإمام والدهن للسراج هو المصالح والذي اقتضاه افتاء با مخرمة ان هذه الثلاثة لا يجوز للناظر خلطها الا اذا اتحد مصرفها.

رسالة الاماجد فى احكام المسجد (٣١-٣٢)
`واعلم أن أموال المسجد تنقسم على ثلاثة أقسام، قسم للعمار كالموهوب والمتصدق به له وريع الموقوف عليه، وقسم للمصالح كالموهوب والمتصدق به لها وكذا ريع الموقوف عليها وربح التجارة وغلة أملاكه وثمن ما يباع من أملاكه وكذا ثمن الموقوف عله عند من جوز بيعه عند البلى والإنكسار وقسم مطلق كالموهوب والمتصدق به له مطلقا وكذا ريع الموقوف عليه مطلقا,` وهذا التقسيم مأخوذ من مفهوم أقوالهم فى كتب القفه المعتبرة والمعتمدة، والفرق بين العمارة والمصالح هو أن ما كان يرجع إلى عين الوقف حفظا وإحكاما كالبناء والترميم والتجصيص للإحكام والسلالم والسوارى والمكاسن وغير ذلك هو العمارة, أن ما كان يرجع إلى جميع ما يكون مصلحة وهذا يشمل العمارة وغيرها من المصالح كالمؤذن والإمام والدهن للسراج هو المصالح والذي اقتضاه افتاء با مخرمة ان هذه الثلاثة لا يجوز للناظر خلطها الا اذا اتحد مصرفها.

“Ketahuilah bahwa harta benda masjid terbagi menjadi tiga bagian:

1. Bagian untuk perbaikan bangunan seperti harta yang dihibahkan dan disedekahkan untuk itu, serta hasil dari harta wakaf yang diperuntukkan baginya.

2. Bagian untuk kepentingan umum seperti harta yang dihibahkan dan disedekahkan untuk keperluan itu, begitu juga hasil dari harta wakaf yang diperuntukkan baginya, keuntungan perdagangan, hasil dari properti milik masjid, serta harga dari properti yang dijual, termasuk harga wakaf yang dijual ketika mengalami kerusakan atau kehancuran menurut pendapat yang membolehkan penjualannya.

3. Bagian yang bersifat umum, yaitu harta yang dihibahkan dan disedekahkan untuk masjid secara umum, serta hasil dari harta wakaf yang diperuntukkan bagi masjid secara umum.

Pembagian ini diambil dari pemahaman pernyataan mereka dalam kitab-kitab fiqih yang terpercaya dan diakui.

Perbedaan antara perbaikan bangunan dan kepentingan umum adalah bahwa segala sesuatu yang berkaitan dengan perawatan dan penguatan fisik bangunan wakaf, seperti pembangunan, renovasi, pelapisan dengan plester untuk penguatan, tangga, tiang, dan alat-alat lainnya, termasuk dalam kategori perbaikan bangunan.
Adapun segala sesuatu yang menjadi manfaat secara umum, baik berupa perbaikan bangunan maupun lainnya, seperti gaji muadzin, imam, dan minyak untuk lampu, termasuk dalam kategori kepentingan umum.

Menurut fatwa Ibn Makhromah, ketiga jenis harta ini tidak boleh dicampurkan oleh pengelola (nadzar) kecuali jika penggunaannya sama.”

Kategori
Hukum

Komunikasi dengan Orang yang Sudah Wafat: Perspektif Islam dan Keabsahan Tawasul kepada Waliyyullah

Assalamualaikum

Deskripsi Masalah:

Kebanyakan umat Islam terutama masyarakat awam masih merasa  timbul tanda tanya  terhadap suatu berita yang menyebutkan bahwa orang yang sudah meninggal masih bisa berkomunikasi dengan orang yang masih hidup,Pasalnya  karena ada seseorang pernah sowan kepada salah satu Kiyai yang punya karomah ia berkomunikasi dengan orang sudah meninggal ( Waliyyullah) dengan mengucapkan salam terlebih duhulu  Kepada orang yang meninggal lalu membaca fatihah dikhususkan kepadanya ( orang yang meninggal). Tapi yang  sowan tidak melihatnya . Demikian juga ada yang mengatakan bahwa di dalam kuburan bersemayam seorang waliyyullah padahal sebelumnya tidak ada orang yang tahu.

Pertanyaan:

1. Apa ada keterangan yang menyatakan bahwa orang yang sudah meninggal masih bisa berkomunikasi dengan orang yang masih hidup?

2. Apakah dapat dibenarkan ucapan orang yang mengatakan bahwa di dalam kuburan ini bersemayam seorang waliyyullah?

3. Bagaimana hukumnya bertawasul kepada orang yang diduga seorang waliyyullah?

Waalaikumsalam salam

Jawaban

1. Apakah orang yang meninggal bisa berkomunikasi dengan orang yang masih hidup?

Dalam Al-Qur’an dan Hadis, tidak ada dalil yang secara eksplisit menyatakan bahwa orang yang meninggal dapat berkomunikasi langsung dengan orang yang masih hidup. Namun, terdapat beberapa riwayat yang menjelaskan kemungkinan interaksi antara ruh orang hidup dan ruh orang meninggal, khususnya dalam mimpi. Firman Allah dalam QS. Az-Zumar [39]: 42

“يَتَوَفَّى الْأَنْفُسَ حِينَ مَوْتِهَا وَالَّتِي لَمْ تَمُتْ فِي مَنَامِهَا فَيُمْسِكُ الَّتِي قَضَى عَلَيْهَا الْمَوتُ وَيُرْسِلُ الْأُخْرَى إِلَى أَجَلٍ مُسَمَّى إِنَّ فِي ذَلِكَ آيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ

Ayat ini menunjukkan bahwa ruh seseorang dapat bertemu dalam mimpi:

“Allah memegang jiwa (orang) ketika matinya dan (memegang) jiwa (orang) yang belum mati di waktu tidurnya…”

Imam Ibn Qayyim dalam kitab Ar-Ruh menyebutkan bahwa ruh orang hidup dan ruh orang mati dapat bertemu dalam mimpi dan saling mengenal. Namun, ini adalah bentuk pertemuan ruh dan bukan komunikasi fisik langsung.

2. Benarkah klaim bahwa di kuburan tertentu bersemayam seorang waliyyullah?

Tidak ada dalil tegas dalam Al-Qur’an atau Hadis yang menyebutkan keberadaan waliyyullah di kuburan tertentu tanpa bukti yang jelas. Namun, ziarah kubur yang dilakukan untuk mendoakan ahli kubur adalah amalan sunnah. Mengklaim bahwa seseorang adalah waliyyullah harus berdasarkan bukti yang kuat, seperti kesalehan hidupnya yang masyhur di masyarakat. Dalam kitab Tuhfah At-Tathrib, disebutkan pentingnya mengetahui lokasi makam para orang saleh untuk ziarah dan menghormatinya, tetapi klaim tanpa bukti tidak dianjurkan.

3. Bagaimana hukum bertawasul kepada waliyyullah?

Bertawasul kepada Nabi Muhammad SAW, orang-orang saleh, atau waliyyullah yang sudah meninggal adalah hal yang  disepakati sebagai bagian dari ajaran Ahlus Sunnah wal Jamaah, bahkan hukumnya sunnah dengan syarat niat bertawasul adalah memohon kepada Allah melalui kedudukan mereka di sisi-Nya. Dalilnya terdapat dalam QS. Al-Ma’idah [5]: 35:

ياأيها الذين آمنوا اتقوا الله وابتغوا إليه الوسيلة

“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan carilah wasilah (perantara) kepada-Nya…”

Dalam kitab Al-Hawi lil Fatawi oleh Imam As-Suyuthi disebutkan bahwa bertawasul adalah bagian dari akidah Ahlus Sunnah wal Jamaah. Selain itu, dalam Tabaqat Al-Kubra karya Imam Nawawi, dijelaskan bahwa karomah wali mencakup kemampuan memberi manfaat atau syafaat dengan izin Allah.

Kesimpulan:

a).Komunikasi semacam ini tidak terjadi secara fisik, melainkan dalam bentuk mimpi atau pertemuan ruh yang diizinkan Allah.

b).Pernyataan bahwa di suatu kuburan bersemayam wali harus didasarkan pada riwayat atau bukti yang kuat, bukan hanya dugaan.

c). Bertawasul kepada waliyyullah diperbolehkan dan merupakan sunnah, asalkan tidak menimbulkan keyakinan syirik bahwa wali tersebut memiliki kekuatan selain dari Allah.

Catatan Penting:

Karomah: Keistimewaan yang Allah berikan kepada wali-Nya sebagai tanda kedekatan mereka dengan Allah.

Penting untuk tetap berada dalam koridor tauhid, tidak menisbahkan kekuatan atau kemampuan kepada wali selain atas kehendak Allah.

Referensi Utama:

QS. Az-Zumar [39]: 42

QS. Al-Ma’idah [5]: 35

Ar-Ruh karya Ibn Qayyim

Al-Hawi lil Fatawi karya Imam As-Suyuthi

Tuhfah At-Tathrib dan Kitab lainnya sebagaimana ibarat berikut:

جامع كرامات الأولياء، صفحة ١٤
المسألة الثالثة: وهل تتلاقى أرواح الأحياء وأرواح الأموات أم لا؟
شواهد هذه المسألة وأدلتها كثيرة من أن يحصيها إلا الله تعالى والحس والواقع من أعدل الشُهود بها فتلاقى أرواح الأحياء والأموات كما تلاقى أرواح الأحياء وقد قال تعالى: “يَتَوَفَّى الْأَنْفُسَ حِينَ مَوْتِهَا وَالَّتِي لَمْ تَمُتْ فِي مَنَامِهَا فَيُمْسِكُ الَّتِي قَضَى عَلَيْهَا الْمَوتُ وَيُرْسِلُ الْأُخْرَى إِلَى أَجَلٍ مُسَمَّى إِنَّ فِي ذَلِكَ آيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ”. قال أبو عبد الله بن مندة حدثنا أحمد بن محمد بن إبراهيم حدثنا عبد الله بن حسين الحاراني حدثنا جدي أحمد بن شُعَيْبٍ حدثنا موسى بن عين عن مطرف عن جعفر بن أبي المغيرة عن سعيد بن جُبَيْرٍ عن ابن عباس في هذه الآية قال: بلغني أن أرواح الأحياء والأموات تلتقي في المنام فتسألون بينهم فيمسك الله أرواح الموتى ويرسل أرواح الأحياء إلى أجسادها. وقال ابن أبي حاتم في تفسيره حدثنا عبد الله بن سُلَيْمَانَ حدثنا الحسين حدثنا عامر حدثنا أسباط عن السدي وفي قوله تعالى “والَّتِي لَمْ تَمُتْ فِي مَنَامِهَا” (الزمر ٣٩:٤٩) قال: يتوفاها في منامها فيلتقي روح الحي وروح الميت فيتذاكران ويتعرفان قال: فترجع روح الحي إلى جسده في الدنيا إلى بقية أجله وتريد روح الميت أن ترجع إلى جسده فتحبس وهذا أحد القولين في الآية (الروح ٢٠).
المطلب الثاني في أنواع الكرامات. قال النووي في طبقات الكبرى للكرامات أنواع النوع الأول إحياء الموتى إلى أن قال النوع الثاني: (من الكرامة) كلام الموتى وهو أكثر من النوع قبله وروي مثله عن أبي سعيد الخراز ثم عن الشيخ عبد القادر وعن جماعة من آخرهم بعض مشايخ الشيخ الإمام الوالد يعني والده الإمام تقي الدين الشبكي رحمه الله. الثالث: أن جماعة من أئمة الشريعة نصوا على أن من كرامة الولي أنه يرى النبي ويجتمع به في اليقظة ويأخذ عنه ما قسم له من معارف ومواهب، وممن نص على ذلك من أئمة الشافعية الغزالي والبارزي والتاج بن السبكي والعفيف اليافعي ومن أئمة المالكية القرطبي وابن أبي جمرة وابن الحاج في المدخل وقد حكي عن بعض الأولياء أنه حضر مجلس فقيه فروا ذلك الفقيه حديثا فقال له الولي هذا الحديث باطل فقال الفقيه ومن أين لك هذا فقال هذا النبي واقف على رأسك يقول إني لم أقل هذا الحديث وكشف للفقيه فرآه وقال الشيخ أبو الحسن الشاذلي لو حجبني عن النبي طرفة عين ما عدت نفسي مع المسلمين فإذا كان هذا حال الأولياء مع النبي فعيسى النبي أولى بذلك أن يجتمع به في أي وقت شاء ويأخذ عنه ما أراد من أحكام شريعته من غير حاجة إلى اجتهاد ولا تقليد لحفاظ الحديث”
“والحاوي للفتاوي للسيوطي ٢/١٥٤”.
“واختلف أهل العلم هل يجوز أن يعلم أنه ولي أم لا فكان الإمام أبو بكر بن فورق رحمه الله تعالى يقول لا يجوز ذلك لأنه يسلب الخوف ويوجب له الأمان وكان الأستاذ أبو علي الدقاق رحمه الله تعالى يقول بجوازه وهو الذي تؤثره ونقول به وليس ذلك بواجب في جميع الأولياء حتى يكون كل ولي يعلم أنه ولي واجب بشكل واجب أنه ولي ولكن يجوز أن يعلم بعضهم ذلك كما يجوز أن يعلم بعضهم فإذا علم بعضهم أنه ولي كانت معرفته تلك كرامة له انفرد بها”.

Masalah Ketiga: Apakah ruh orang yang masih hidup dan ruh orang yang telah meninggal bisa saling bertemu atau tidak?
Dalil-dalil dan bukti-bukti terkait masalah ini sangat banyak, bahkan hanya Allah yang mampu menghitungnya. Kenyataan dan fakta menjadi saksi paling adil atas adanya pertemuan antara ruh orang yang hidup dan ruh orang yang telah meninggal, sebagaimana ruh-ruh orang yang hidup dapat saling bertemu. Allah Ta’ala berfirman:

“Allah memegang jiwa (orang) ketika matinya dan (memegang) jiwa (orang) yang belum mati di waktu tidurnya; maka Dia tahan jiwa (orang) yang telah Dia tetapkan kematiannya dan Dia lepaskan jiwa yang lain sampai waktu yang ditentukan. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang berpikir.” (QS. Az-Zumar [39]: 42).

Abu Abdullah bin Mandah meriwayatkan: “Ahmad bin Muhammad bin Ibrahim telah menceritakan kepada kami, ia berkata: Abdullah bin Husain al-Harani telah menceritakan kepada kami, ia berkata: Kakekku Ahmad bin Syu’aib telah menceritakan kepada kami, ia berkata: Musa bin Ayyun telah menceritakan kepada kami dari Mutarrif dari Ja’far bin Abi al-Mughirah dari Sa’id bin Jubair dari Ibnu Abbas tentang ayat ini, ia berkata: Aku mendengar bahwa ruh orang yang hidup dan ruh orang yang meninggal bertemu dalam mimpi, lalu mereka saling bertanya satu sama lain. Maka Allah menahan ruh orang yang telah meninggal dan mengembalikan ruh orang yang masih hidup ke jasadnya.”

Ibn Abi Hatim dalam tafsirnya berkata: “Abdullah bin Sulaiman telah menceritakan kepada kami, ia berkata: Husain telah menceritakan kepada kami, ia berkata: Amir telah menceritakan kepada kami, ia berkata: Asbath telah menceritakan kepada kami dari al-Suddi tentang firman Allah Ta’ala: ‘Dan yang belum mati di waktu tidurnya’ (QS. Az-Zumar [39]: 42). Ia berkata: Allah mencabut ruh seseorang di saat tidurnya, lalu ruh orang yang hidup bertemu dengan ruh orang yang mati. Mereka saling berbincang dan saling mengenal. Kemudian ruh orang yang hidup dikembalikan ke jasadnya di dunia hingga sisa ajalnya, sedangkan ruh orang yang telah meninggal ingin kembali ke jasadnya, tetapi tertahan.” Ini adalah salah satu pendapat tentang ayat tersebut. (Kitab al-Ruh, hal. 20).

Bagian Kedua: Tentang Jenis-jenis Karomah.
Imam al-Nawawi dalam Tabaqat al-Kubra menyebutkan bahwa karomah memiliki beberapa jenis:

1. Jenis pertama adalah menghidupkan orang yang telah meninggal.

2. Jenis kedua adalah (dari karomah) berbicara dengan orang yang telah meninggal. Jenis ini lebih sering terjadi dibandingkan jenis sebelumnya. Hal ini diriwayatkan dari Abu Said al-Kharraz, kemudian dari Syekh Abdul Qadir, dan sekelompok ulama lainnya hingga sebagian guru besar Syekh Imam ayahnya, yakni Imam Taqiyuddin al-Subki, rahimahullah.

3. Jenis ketiga adalah sebagian imam syariat menegaskan bahwa salah satu karomah seorang wali adalah ia dapat melihat Nabi Muhammad SAW, bertemu dengannya dalam keadaan terjaga, dan mengambil darinya ilmu pengetahuan serta anugerah yang telah dibagi untuknya.

Di antara yang menyebutkan hal ini dari kalangan ulama mazhab Syafi’i adalah Imam al-Ghazali, al-Barizi, Tajuddin al-Subki, dan al-‘Afif al-Yafi’i. Dari kalangan ulama mazhab Maliki adalah Imam al-Qurthubi, Ibn Abi Jamrah, dan Ibn al-Hajj dalam kitab al-Madkhal.

Diriwayatkan bahwa salah seorang wali menghadiri majelis seorang faqih. Sang faqih meriwayatkan sebuah hadis, lalu wali tersebut berkata: “Hadis ini batil.” Sang faqih bertanya: “Dari mana kamu tahu itu?” Ia menjawab: “Ini Nabi SAW berdiri di belakangmu dan berkata: ‘Aku tidak pernah mengatakan hadis ini.’” Lalu sang wali menunjukkan kepada faqih tersebut sehingga ia pun melihat Nabi SAW.

Syekh Abu Hasan al-Syadzili berkata: “Seandainya aku terhalang dari Nabi SAW walau sekejap mata, aku tidak akan menganggap diriku sebagai seorang Muslim.” Jika ini adalah keadaan para wali dengan Nabi SAW, maka Nabi Isa AS tentu lebih berhak bertemu dengannya kapan pun ia mau, mengambil darinya hukum-hukum syariat tanpa perlu ijtihad atau taqlid kepada para hafiz hadis. (Kitab al-Hawi lil Fatawi oleh Imam al-Suyuthi, jilid 2, hal. 154).

Perbedaan Pendapat tentang Apakah Seorang Wali Mengetahui Dirinya sebagai Wali atau Tidak.
Para ulama berbeda pendapat dalam masalah ini. Imam Abu Bakr bin Furak, rahimahullah, mengatakan: “Tidak boleh bagi seorang wali untuk mengetahui bahwa dirinya adalah wali karena hal itu dapat menghilangkan rasa takut dan menyebabkan rasa aman.”

Sedangkan Ustadz Abu Ali al-Daqqaq, rahimahullah, berpendapat: “Hal itu boleh diketahui.” Pendapat ini yang diunggulkan, dan kami mengikutinya. Namun, hal tersebut tidak wajib bagi semua wali sehingga setiap wali harus mengetahui dirinya sebagai wali. Hal ini hanya terjadi pada sebagian wali, sebagaimana mungkin sebagian mereka mengetahuinya. Jika seorang wali mengetahui bahwa dirinya adalah wali, maka pengetahuan tersebut adalah karomah baginya yang menjadi keistimewaannya.

“الرسالة التفسيرية (٣٥٤)”.
“وذكر ابن حبان في صحيحه أن قبر موسى بمدين بين المدينة وبيت المقدس واعترض عليه الحافظ ضياء الدين المقدسي وقال فيه نظر واستدل بهذا الحديث قال ومدين ليست قريبة من بيت المقدس ولا من الأرض المقدسة وقد اشتهر أن قبرا قريبا من أريحا وهي من الأرض المقدسة يزار ويقال إنه قبر موسى وعنده كثيب أحمر وطريق وقد حدثنا عنه غير واحد ممن زاره انتهى”.

“Ar-Risalah At-Tafsiriyah (354)”
Ibnu Hibban menyebutkan dalam kitab Shahih-nya bahwa makam Nabi Musa berada di Madyan, antara Madinah dan Baitul Maqdis. Pernyataan ini dibantah oleh Al-Hafizh Dhiyauddin Al-Maqdisi. Ia mengatakan bahwa pendapat tersebut perlu ditinjau ulang dan mendukung argumennya dengan hadits ini. Al-Maqdisi menyatakan, ‘Madyan tidak dekat dengan Baitul Maqdis maupun dengan tanah suci. Telah masyhur bahwa ada sebuah makam dekat Ariha (Jericho), yang termasuk tanah suci, sering diziarahi dan dikatakan sebagai makam Nabi Musa. Di sana terdapat bukit kecil berwarna merah dan sebuah jalan. Beberapa orang yang telah menziarahinya menceritakan hal tersebut kepada kami.’ Selesai.

دقائق الأخبار فى باب الحادي عشر فى ذكر نداء الروح بعد الخروج  ص١١

وعلى هذا حكاية أبي قلابة  رضي الله عنه وهى ماروى أنه رأى فى المنام كان القبور قد انشقت وأمواتها قد خرجوا منها وقعدوا على شفير القبور وكان بين يدي كل واحد منهم طبق من نور ورأى فيما بينهم رجلا من جيرانهم ولم ير من بين يديه شيأ فسألته فقلت مالي لاأدري بين يديك نور فقال الميت إن لهؤلاء أولادا وأصدقاء يهدون إليهم خيرا ويتصدقون لأجلهم وهذالنور ممايهدونه إليهم وكان لي إبن غير صالح ولايدعو لي ولايتصدق لأجلي ولهذا لانور لي وأنا خجل بين جيراني فلما انتبة أبو قلابة دعا إبنه وأخبره بما رأى فقال ابن أنا تبت على يدك فلاأعود الى ماكنت عليه أبدا فاستغل بالطاعة والدعاء والتصدق عن أبيه لأجله فلما مضى عليه  زمان رأى أبو قلابة مرة أخرى فى منامه تلك المقبرة على حالها ورأى نور بين يدي ذلك الجل أضوأ من الشمس أكثر من نور أصحابه فقال لي ياأباقلابة جزاك الله خيرا فقد نجوت من خجلة الجيران

Disebutkan dalam kitab Daqoiqul Akhbar pada bab 11 yang menerangkan tentang seruan ruh setelah keluar

Dan atas dasar ini ada sebuah HIKAYAT dari Abi qilabah ra. dan hikayat itu menerangkan bahwa di dalam mimpi Abi Qilabah ada suatu kejadian seakan-akan suatu perkuburan telah terbelah lalu keluarlah semau ahli kubur darinya. Mereka duduk-duduk di tepi kubur, sedangkan di hadapan masing-masing mereka terdapat sebuah talam dari cahaya, dan Abu Qilabah melihat bahwa salah satu di antara ahli kubur itu terdapat seorang yang tidak cahaya sedikitpun di mukanya ( wajahnya) . Lalu dia( Abu Qilabah ) bertanya kepadanya : “Apa sebabnya tidak aku lihat di mukamu secerah cahayapun?” maka mayat tersebut menjawab : “Sesungguhnya mereka-mereak itu yang bercahaya  adalah (tetangga ku ) mempunyai anak dan sahabat-sahabat yang sama-sama menghadiahkan amal kebaikan dan shadaqah bagi mereka. Dan cahaya  itulah adalah sebagai bukti dari hadiah-hadiah mereka. Sedangkan saya mempunyai anak yang tholeh ( durhaka) ia  tidak bershadaqah untuk diriku, maka dari itu tiada secercahpun cahaya yang aku miliki, hingga aku merasa malu kepada tetanggaku.” Ketika Abi Qilabah terbangun maka dia memanggil anak dari mayat yang diimpikan tersebut dan menceritakan kepdanya tentang apa yang dilihatnya dalam mimpi ( bertemu dengan ahli kubur ) Maka anak tersebut berkata : “Aku bertaubat di mukamu dan tidaklah aku akan kembali kepada perbuatanku yang lalu  untuk selama-lamanya.” Maka anak tersebut mulai menyibukkan diri dengan semua ketaatan, dan berdoa serta bershadaqah demi ayahnya. Ketika selang beberapa waktu Abi Qilabah melihat perkuburan  itu yang kedua kalinya dalam mimpi, maka terlihat olehnya nur di muka mayit tersebut yang lebih terang dari cahaya matahari dan lebih banyak dari nur para tetangganya, seraya mayat tersebut berkata : “Wahai Abi Qilabah, mudah-mudahan Allah SWT. membalas kebaikan bagimu karena aku telah selamat dari rasa malu di antara tetangga-tetanggaku.

“طرح التثريب ص٣١٨/٤
الثامنة الكثيب بالتاء المثلة قطعة من الرمـل مستطيلة محدودة سُمِّيَ بذلك؛ لأنَّهُ انصبَّ في مكان فاجتمع فيه وفيه استحباب معرفة قبور الصالحين لزيارتها والقيام بحقها، وقد ذكر النبي لقبر السيد موسى علامة موجودة في قبر مشهور عند الناس الآن بأنه قبره والظاهر أن الموضع المذكور هو الذي أشار إليه النبي عليه الصلاة والسلام، وقد دل على ذلك حكايات ومنامات وقال الحافظ الضياء حدثني الشيخ سالم التل قال: ما رأيت استحباب الدعاء أسرع منه عند هذا القبر، وحدّثني الشيخ عبد الله بن يونس المعروف بالأرميني أنه زار هذا القبر وأنه نام فرأى في منامه قبة عنده وفيها شخص أسمر فسلم عليه وقال له أنت موسى كليم الله أو قال نبي الله فقال نعم فقلت قل لي شيئاً فأومأ إلي بأربع أصابع ووصف طولهن فانتبهت فلم أدر ما قال فأخبرت الشيخ ذيال بذلك فقال: يولد لك أربعة أولاد فقلت أنا قد تزوجت امرأة فلم أقرّبها فقال: تكون غير هذه فتزوجت أخرى فولدت لي أربعة أولاد انتهى وليس في قبور الأنبياء ما هو محقق سوى قبر نبينَا وأما قبر موسى فمظنون بالعلامة التي في الحديث وقبر إبراهيم الخليل ومن معه عليهم السلام أيضاً مظنون بمنامات وأنحوها”

“Tuhfah At-Tathrib, hal. 318/4”
_Poin kedelapan: ‘Katsib’ dengan huruf ta’ adalah gundukan pasir memanjang yang terbatas. Dinamakan demikian karena pasir tersebut mengalir ke suatu tempat dan berkumpul di sana. Dari situ disunnahkan untuk mengetahui makam orang-orang saleh guna menziarahinya dan menunaikan haknya. Nabi telah memberikan tanda mengenai makam Nabi Musa, yang sesuai dengan makam yang kini masyhur di kalangan masyarakat sebagai makam beliau. Tampaknya tempat tersebut adalah lokasi yang ditunjukkan Nabi ﷺ. Hal ini diperkuat dengan kisah-kisah dan mimpi-mimpi. Al-Hafizh Adh-Dhiya’ berkata: ‘Syaikh Salim At-Til menceritakan kepadaku bahwa ia tidak pernah melihat doa yang lebih cepat terkabul dibandingkan di makam ini.’

Syaikh Abdullah bin Yunus, yang dikenal dengan sebutan Al-Armini, menceritakan bahwa ia pernah mengunjungi makam tersebut. Ia tidur di sana dan bermimpi melihat sebuah kubah dengan seseorang berkulit sawo matang. Ia menyapanya dan bertanya, ‘Apakah engkau Musa, Kalimullah (yang diajak bicara oleh Allah) atau Nabi Allah?’ Ia menjawab, ‘Ya.’ Lalu saya berkata, ‘Katakanlah sesuatu kepadaku.’ Ia mengisyaratkan dengan empat jarinya yang panjang. Ketika saya terbangun, saya tidak memahami maksudnya. Saya pun menceritakannya kepada Syaikh Dhiyaa’. Ia berkata, ‘Akan lahir bagimu empat orang anak.’ Saya berkata, ‘Saya telah menikahi seorang wanita, tetapi belum berhubungan dengannya.’ Ia berkata, ‘Itu akan terjadi dengan wanita lain.’ Saya kemudian menikahi wanita lain dan memiliki empat anak darinya. Selesai._

Tidak ada makam para nabi yang benar-benar pasti kecuali makam Nabi kita ﷺ. Adapun makam Nabi Musa hanya bersifat dugaan berdasarkan tanda dalam hadits. Sedangkan makam Nabi Ibrahim dan orang-orang bersamanya juga hanya bersifat dugaan berdasarkan mimpi-mimpi dan hal serupa.

طرح التثريب ص ٣١٩/٤
(سُئِلَ) عمن أسلم وأبواه كافران ثم تردد بعد موتهما في إسلامهما هل يدعو لوالديه بالرحمة أم لا؟ (فأجاب) بأنه إن غلب على الظن إسلامهما جاز الدعاء لهما بالمغفرة والرحمة ونحوهما وإلا فلا يجوز ذلك لكن يستحب أن يدعو بالمغفرة والرحمة لكل من أسلم من والديه على سبيل الإيهام فيدخل أبواه في ذلك إن كانا أسلمّا.

Tahrir at-Tathrib (hal. 319, jilid 4):
(Pertanyaan): Seorang yang masuk Islam sedangkan kedua orang tuanya masih kafir, lalu setelah keduanya meninggal ia ragu apakah keduanya telah masuk Islam atau tidak. Apakah ia boleh mendoakan rahmat untuk kedua orang tuanya?
(Jawaban): Jika kuat dugaan bahwa keduanya telah masuk Islam, maka diperbolehkan baginya untuk mendoakan ampunan, rahmat, dan sebagainya untuk mereka. Namun, jika tidak ada dugaan seperti itu, maka tidak diperbolehkan. Akan tetapi, dianjurkan baginya untuk berdoa dengan lafaz yang mencakup setiap orang tua yang masuk Islam secara umum, sehingga kedua orang tuanya termasuk dalam doa tersebut jika memang mereka telah masuk Islam.

نهاية الرملي ٢/٢٧٠

(فائدة): زيارة القبور إما لمجرد تذكر الموت والآخرة فتكون برؤية القبور من غير معرفة أصحابها أو لنحو دعاء فتسن لكل مسلم أو للتبرك فتسن لأهل الخير لأن لهم في برزخهم تصرفات وبركات لا يحصى مَدَدُها أو لأداء حق كصديق ووالد لخبر: من زار قبر والديه أو أحدهما يوم الجمعة كان كحجة وفي رواية غفر له وكتب له براءة من النار أو رحمة وتأنيس لما روي: أنس ما يكون الميت في قبره إذا زاره من كان أحبه في الدنيا اهـ إيهاب.

Nihayah ar-Ramli (jilid 2, hal. 270):
(Faedah): Ziarah kubur bisa dilakukan dengan beberapa tujuan:

1. Untuk sekadar mengingat kematian dan akhirat, yang bisa dilakukan hanya dengan melihat kuburan tanpa mengenal pemiliknya.

2. Untuk mendoakan mayit, yang disunnahkan bagi setiap muslim.

3. Untuk mencari keberkahan, yang disunnahkan dilakukan terhadap kuburan orang-orang saleh, karena mereka memiliki pengaruh dan keberkahan di alam barzakh yang tidak terhitung.

4. Untuk menunaikan hak terhadap teman atau orang tua, berdasarkan hadis: “Barang siapa yang menziarahi kuburan kedua orang tuanya atau salah satunya pada hari Jumat, maka ia seperti telah melaksanakan haji.” Dalam riwayat lain disebutkan: “Dosa-dosanya diampuni, ia ditulis sebagai orang yang terbebas dari neraka, dan mendapatkan rahmat.”

5. Untuk menghibur mayit, sebagaimana diriwayatkan bahwa keadaan mayit di kuburnya paling menyenangkan saat diziarahi oleh orang yang dicintainya di dunia

بغية المسترشدين (٢٠١)
(فائدة): رجل مر بمقبرة فقرأ الفاتحة وأهدى ثوابها لأهلها فهل يقسم أو يصل لكل منهم مثل ثوابها كاملاً؟ أجاب ابن حجر بقوله: أفتى جمع بالثاني وهو اللائق بسعة رحمة الله

تعالى اهـ.

Bughyah al-Mustarsyidin (hal. 201):
(Faedah): Seorang lelaki melewati pemakaman, lalu ia membaca Surah al-Fatihah dan menghadiahkan pahalanya untuk penghuni kubur tersebut. Apakah pahala itu terbagi atau masing-masing penghuni kubur mendapatkan pahala utuh? Ibn Hajar menjawab bahwa sebagian ulama memberi fatwa bahwa setiap penghuni kubur mendapatkan pahala yang utuh, dan hal ini sesuai dengan keluasan rahmat Allah Ta’ala.

بغية المسترشدين ص : ٢٩٧

التوسل بالأنبياء والأولياء في حياتهم وبعد وفاتهم مباح شرعا كما وردت به السنة الصحيحة،______وأما التوسل بالأنبياء والصالحين فهو أمر محبوب ثابت في الأحاديث الصحيحة وقد أطبقوا على طلبه بل ثبت التوسل بالأعمال الصالحة وهي أعراض فبالذوات أولى.

“Tawassul kepada para nabi dan wali saat mereka hidup maupun setelah wafat hukumnya mubah secara syariat, sebagaimana telah disebutkan dalam hadits-hadits shahih. Tawassul kepada para nabi dan orang-orang saleh adalah sesuatu yang disukai dan telah ditetapkan dalam hadits-hadits shahih, bahkan para ulama telah sepakat akan kebolehannya. Bahkan, tawassul dengan amal saleh yang merupakan sesuatu yang bersifat non-fisik telah terbukti kebolehannya, maka tawassul dengan zat (diri) mereka lebih utama.”

بغية المسترشدين ص : ٢٩٧
.أما جعل الوسائط بين العبد وبين ربه فإن كان يدعوهم كما يدعو الله تعالى في الأمور ويعتقد تأثيرهم في شيئ من دون الله فهو كفر وإن كان مراده التوسل بهم إلى الله تعالى في قضاء مهماته مع اعتقاده أن الله هو النافع الضار المؤثر في الأمور فالظاهر عدم كفره وإن كان فعله قبيحا.

“Tawassul kepada para nabi dan wali saat mereka hidup maupun setelah wafat hukumnya mubah secara syariat, sebagaimana telah disebutkan dalam hadits-hadits shahih. Tawassul kepada para nabi dan orang-orang saleh adalah sesuatu yang disukai dan telah ditetapkan dalam hadits-hadits shahih, bahkan para ulama telah sepakat akan kebolehannya. Bahkan, tawassul dengan amal saleh yang merupakan sesuatu yang bersifat non-fisik telah terbukti kebolehannya, maka tawassul dengan zat (diri) mereka lebih utama.”

بغية المسترشدين ص : ٢٩٧
.أما جعل الوسائط بين العبد وبين ربه فإن كان يدعوهم كما يدعو الله تعالى في الأمور ويعتقد تأثيرهم في شيئ من دون الله فهو كفر وإن كان مراده التوسل بهم إلى الله تعالى في قضاء مهماته مع اعتقاده أن الله هو النافع الضار المؤثر في الأمور فالظاهر عدم كفره وإن كان فعله قبيحا.

“Adapun menjadikan perantara antara hamba dengan Rabb-nya, jika ia memanggil mereka sebagaimana ia memanggil Allah dalam berbagai urusan, serta meyakini bahwa mereka memiliki pengaruh dalam sesuatu tanpa Allah, maka hal tersebut adalah kekufuran. Namun, jika maksudnya adalah bertawassul dengan mereka kepada Allah untuk memenuhi kebutuhannya, dengan keyakinan bahwa Allah-lah yang memberikan manfaat dan mudarat serta yang berkuasa dalam segala urusan, maka menurut pendapat yang kuat, hal tersebut tidak dianggap kufur meskipun perbuatannya buruk (tidak terpuji).” Wallahu Alam bisshowab.

Kategori
Hikmah

Ghibah Lebih Berat dari Zina: Sebuah Kajian Tentang Dosa Sosial dan Individual

 

Latar Belakang Masalah:

Fenomena ghibah (menggunjing) menjadi salah satu kebiasaan buruk yang sering kali dianggap remeh dalam kehidupan bermasyarakat. Padahal, dalam ajaran Islam, ghibah adalah dosa besar yang memiliki dampak buruk tidak hanya pada pelaku, tetapi juga pada orang lain dan masyarakat secara keseluruhan. Bahkan, terdapat ungkapan dalam hadits yang menyatakan bahwa “Ghibah lebih berat dosanya dibanding zina”.

Pertanyaan
Kenapa Ghibah lebih besar dosanya daripada zina? Mohon penjelasannya

Waalaikum salam.
Jawaban

Ungkapan “الغيبة أشد من الزنا” (ghibah lebih besar dosanya dari zina) berasal dari beberapa riwayat yang menunjukkan betapa seriusnya dosa ghibah (menggunjing). Salah satu hadits yang mendukung hal ini adalah:

 “الغيبة أشد من الزنا، قالوا: وكيف؟ قال: إن الرجل يزني فيتوب فيتوب الله عليه، وإن صاحب الغيبة لا يغفر له حتى يغفر له صاحبه”

(Ghibah itu lebih berat daripada zina. Para sahabat bertanya: Bagaimana bisa? Beliau menjawab: Sesungguhnya seorang yang berzina, ia bisa bertaubat dan Allah akan mengampuninya. Adapun pelaku ghibah, ia tidak akan diampuni hingga orang yang digunjingnya memaafkannya).
(HR. Thabrani dalam Al-Mu’jam Al-Kabir, no. 10003, meskipun sebagian ulama berbeda pendapat mengenai kekuatan sanadnya).

Penjelasan:

1. Ghibah (menggunjing) adalah berbicara tentang keburukan seseorang yang tidak hadir, meskipun keburukan itu benar adanya. Rasulullah ﷺ bersabda:

“الغيبة ذكرك أخاك بما يكره”

(Ghibah adalah engkau menyebut saudaramu dengan sesuatu yang ia benci) (HR. Muslim, no. 2589).

Ghibah merusak hubungan sosial, menyebarkan kebencian, dan sulit untuk diperbaiki karena pelaku ghibah harus meminta maaf kepada orang yang ia gunjing.

2. Dosa zina meskipun besar, dampaknya cenderung lebih individual dan masih ada jalan untuk bertaubat langsung kepada Allah. Dalam banyak riwayat, Allah membuka pintu ampunan bagi pelaku zina jika ia benar-benar bertaubat.

3. Mengapa ghibah lebih berat?

Pelaku ghibah tidak hanya berdosa kepada Allah, tetapi juga kepada manusia. Taubatnya membutuhkan permintaan maaf kepada pihak yang dirugikan.

Ghibah merusak nama baik seseorang, yang dampaknya bisa meluas di masyarakat.

(كتاب غاية الوصول :صحيفة ١٠٠ )

أما الغيبة وهي ذكرك لإنسان بما تكرهه وإن كان فيه فصغيرة قاله صاحب العدة، وأقرّه الرافعي ومن تبعه لعموم البلوى بها. نعم قال القرطبي في تفسيره إنها كبيرة بلا خلاف، ويشملها تعريف الأكثر الكبيرة بما توعد عليه بخصوصه قال تعالى {أيحب أحدكم أن يأكل لحم أخيه ميتا} قال الزركشي وقد ظفرت بنص الشافعي في ذلك، فالقول بأنها صغيرة ضعيف أو باطل. قلت ليس كذلك لإمكان الجمع بحمل النص، وما ذكر على ما إذا أصر على الغيبة أو قرنت بما يصيرها كبيرة أو اغتاب عدلاً وقد أخرجتها بزيادتي غالبا.

Adapun ghibah (menggunjing), yaitu menyebutkan sesuatu tentang seseorang yang ia tidak sukai, meskipun hal tersebut memang ada padanya, adalah dosa kecil. Hal ini dikatakan oleh penulis kitab *Al-‘Uddah*, dan disepakati oleh Imam Ar-Rafi’i serta para pengikutnya karena banyaknya kejadian yang terjadi (umum al-balwa). Namun, Imam Al-Qurthubi dalam tafsirnya menyatakan bahwa ghibah adalah dosa besar tanpa ada perbedaan pendapat. Hal ini mencakup definisi dosa besar menurut mayoritas ulama, yaitu sesuatu yang secara khusus diancam oleh syariat.
Allah Ta’ala berfirman:
“Apakah salah seorang di antara kalian suka memakan daging saudaranya yang telah mati?”

Imam Az-Zarkasyi berkata: “Saya menemukan nash dari Imam Asy-Syafi’i tentang hal ini, maka pendapat bahwa ghibah adalah dosa kecil adalah oendapat yang lemah atau batil.”

Saya (penulis) berkata: “Tidak demikian, karena memungkinkan untuk mengompromikan pendapat tersebut dengan membawa nash dan apa yang disebutkan pada kasus di mana seseorang terus-menerus melakukan ghibah, atau disertai hal-hal yang menjadikannya dosa besar, atau menggunjing (berghibah) kepada seseorang yang adil. Dalam hal ini, saya biasanya menjelaskan lebih rinci dengan tambahan-tambahan saya.”

(Kitab Ghooyatul Wushul, halaman 100)

Kesimpulan:

Meskipun kedua dosa ini besar, konteks “lebih beratnya” ghibah dalam hadits ini adalah karena sifatnya melibatkan hak sesama manusia (haqul adami). Dengan demikian, dosa ini memerlukan maaf dari pihak yang digunjing agar bisa diampuni. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya menjaga lisan dan kehormatan orang lain.

Kategori
Hukum

Ghibah yang Diperbolehkan

 

Latar Belakang:
Dalam kehidupan sehari-hari, seseorang tidak terlepas dari hubungan sosial, sehingga sering terjadi pembicaraan tentang orang lain, baik dalam bentuk kritik maupun sekadar menceritakan keburukan mereka. Hal ini menimbulkan persoalan etika dan hukum dalam Islam, terutama terkait ghibah. Ghibah, yaitu membicarakan aib seseorang saat ia tidak hadir, dianggap sebagai dosa besar kecuali terdapat alasan yang dibenarkan oleh syariat. Namun, tidak semua orang memahami secara tepat batasan antara ghibah yang dilarang dan kondisi yang membolehkannya, sehingga penting untuk memberikan penjelasan yang mendalam mengenai hal tersebut.

Pertanyaan:

1. Apakah kebiasaan seseorang membicarakan keburukan orang lain termasuk ghibah yang diharamkan atau diperbolehkan ?

Waalaikum salam.

Jawaban

Ghibah (menggunjing) pada umumnya dilarang dalam agama. Namun, ada beberapa pengecualian yang diizinkan dalam kondisi tertentu, yaitu ketika ada tujuan syari’ yang tidak dapat tercapai kecuali dengan menyebutkan kekurangan seseorang.

Referensi:

Ihya Ulumuddin (3/162)

(بيان الأعذار المُرخَّصة في الغيبة اعلم أن المُرَخَّص فيه ذكر مساوئ الغير هو غرض صحيح في الشريعة لا يُمْكِنُ التَّوَصَلُ إِلَيْهِ إِلَّا بِهِ فَيَدْفَعُ ذلك اسم الغيبة وهو ستة أمور التظلم الاستعانة على تغيير المنكر ردّ المعاصي إلى منهج الصلاح الاستفتاء تخذير المسلم من الشر أن يكون الإنسان معروفاً بلقب أن يكون مجاهراً بفسقه اهـ)

“Penjelasan tentang alasan-alasan yang membolehkan ghibah. Ketahuilah bahwa yang dibolehkan dalam menyebutkan kekurangan orang lain adalah tujuan yang benar dalam syariat, yang tidak dapat dicapai kecuali dengan cara itu. Dengan demikian, hal tersebut dapat menghilangkan sifat ghibah. Adapun tujuan-tujuan tersebut ada enam hal: mengajukan pengaduan, meminta pertolongan untuk mengubah kemungkaran, mengembalikan pelaku maksiat ke jalan yang benar, meminta fatwa, memperingatkan seorang muslim dari bahaya, seseorang yang dikenal dengan julukan tertentu, atau seseorang yang terang-terangan berbuat fasik.”
Penjelasan Tambahan:
Ghibah: Mengatakan sesuatu tentang orang lain di belakangnya dengan tujuan mencela atau mempermalukan.
Ihya Ulumuddin: Sebuah kitab karya Imam al-Ghazali yang membahas berbagai aspek ilmu agama.
Syari’: Segala sesuatu yang berkaitan dengan hukum agama Islam.
Intinya:
Walaupun ghibah umumnya dilarang, dalam kondisi tertentu dan dengan tujuan yang benar, maka ghibah tersebut dapat dibolehkan. Namun, perlu diingat bahwa ghibah tetaplah sesuatu yang tidak dianjurkan dan harus dilakukan dengan sangat hati-hati.

Kategori
Hukum

Cara Mengqadha Shalat yang Ditinggalkan selama Bertahun-tahun

Assalamualaikum

Deskripsi Masalah:
Seorang muslim setelah baligh bertahun-tahun meninggalkan shalat, baik karena kesibukan maupun karena keimanannya yang masih lemah. Namun, ketika menginjak usia lanjut, ia mendapatkan hidayah dari Allah dan menyadari bahwa meninggalkan shalat adalah dosa besar. Ia pun berniat untuk mengqadha shalat-shalat yang telah ditinggalkan selama ini.

Pertanyaan:
Bagaimana tata cara mengqadha shalat yang telah ditinggalkan bertahun-tahun tersebut?

Wa’alaikumsalam

Jawaban
Cara mengqadha shalat yang ditinggalkan adalah dengan memperkirakan jumlah shalat yang diyakini telah ditinggalkan, berdasarkan dugaan kuat setelah melakukan penelitian yang hati-hati. Hal ini sebagaimana pendapat ulama yang diantaranya al-Imam Ghazali. Jika seseorang tidak pernah shalat sama sekali sejak kecil, maka ia wajib menghitung seluruh shalat yang ditinggalkan sejak ia baligh hingga bertobat, lalu mengqadhainya sesuai kemampuan.

Referensi

إحياء علوم الدين،   ٣٧/ ٤

وَشَرْطُ صِحَّتِهَا فِيمَا يَتَعَلَّقُ بِالْمَاضِي، أَنْ يُرَدَّ فِكْرَتُهُ إِلَى أَوَّلِ يَوْمٍ بَلَغَ فِيهِ بِالسِّنِّ، أَوْ الِاحْتِلَامِ، فَيُفَتِّشُ عَمَّا مَضَى مِنْ عُمْرِهِ سَنَةً سَنَةً، وَشَهْرًا شَهْرًا، وَيَوْمًا يَوْمًا، فَنَفَسًا نَفَسًا، وَيَنْظُرُ إِلَى الظَّلَمَاتِ مَا الَّذِي قَصَّرَ فِيهِ مِنْهَا، أَوْ الْمَعَاصِي، مَا الَّذِي قَارَفَهُ مِنْهَا، فَإِنْ كَانَ قَدْ تَرَكَ صَلَاةً، أَوْ صَلَاهَا فِي ثَوْبٍ نَجِسٍ، أَوْ صَلَاهَا بِبِنْيَةٍ غَيْرِ صَحِيحَةٍ، لِجَهْلِهِ، يَشْرَعْ قَضَاءَهَا مَعَ أُجْرَةٍ أُخْرَى، فَإِنْ شَكَّ فِي عَدَدِ مَا فَاتَهُ مِنْهَا، حَسَبَ مِنْ أَدْنَى مَا يُتَصَوَّرُ. فَهَذَا هُوَ قَدْرُ الِاجْتِهَادِ الَّذِي اقْتَضَتْهُ الْعَادَةُ وَقَضَى بِهِ الْبَاقِي، وَقِيلَ إِنَّهُ يَأْخُذُ فِيهِ بِغَالِبِ الظَّنِّ، وَيَصِلُ أَبَدًا عَلَى سَبِيلِ الشُّكْرِ وَالِاجْتِهَادِ. اهـ

Dan syarat sahnya (taubat dan qadha) terkait dengan kewajiban di masa lalu, hendaklah ia mengembalikan perhatiannya kepada hari pertama ia baligh, baik melalui usia maupun ihtilam. Kemudian ia meneliti (mengevaluasi) dari usia yang telah berlalu, tahun demi tahun, bulan demi bulan, hari demi hari, bahkan setiap napas yang telah ia lalui. Ia memperhatikan dosa-dosa dan kegelapan (maksiat) yang pernah ia lakukan, apakah ia meninggalkan shalat, atau shalat dengan pakaian yang najis, atau shalat dengan niat yang tidak sah karena ketidaktahuannya. Maka ia wajib mengqadha shalat itu beserta hal lainnya yang harus diganti.

Jika ia ragu terhadap jumlah shalat yang telah ia tinggalkan, maka ia memperkirakan jumlah paling sedikit yang mungkin terjadi. Demikianlah kadar ijtihad yang dituntut oleh kebiasaan, dan ia harus melakukannya secara terus-menerus sebagai bentuk syukur dan kesungguhan.

الفقه الإسلامي وأدلته للزحيلي ٢/‏١١٦١ — و الزحيلي (ت ١٤٣٦)
خامسًا – القضاء إن جهل عدد الفوائت: قال الحنفية: من عليه فوائت كثيرة لا يدري عددها، يجب عليه أن يقضي حتى يغلب على ظنه براءة ذمته. وعليه أن يعين الزمن، فينوي أول ظهر عليه أدرك وقته ولم يصله، أو ينوي آخر ظهر عليه أدرك وقته ولم يصله، وذلك تسهيلًا عليه.
`وقال المالكية والشافعية والحنابلة: يجب عليه أن يقضي حتى يتيقن براءة ذمته من الفروض، ولا يلزم تعيين الزمن، بل يكفي تعيين المنوي كالظهر أو العصر مثلًا.`

إعانة الطالبين على حل ألفاظ فتح المعين — البكري الدمياطي, ج ١ ص ٣١
`قال شيخنا أحمد بن حجر رحمه الله تعالى: والذي يظهر أنه يلزمه صرف جميع زمنه للقضاء ما عدا ما يحتاج لصرفه فيما لا بد منه، وأنه يحرم عليه التطوع،` ويبادر به – ندبا – إن فات بعذر كنوم لم يتعد به ونسيان كذلك.
_______________
(قوله: والذي يظهر أنه) أي من عليه فوائت فاتته بغير عذر.
`(قوله: ما عدا ما يحتاج لصرفه فيما لا بد له منه) كنحو نوم، أو مؤنة من تلزمه مؤنته، أو فعل واجب آخر مضيق يخشى فوته.`
(قوله: وأنه يحرم عليه التطوع) أي مع صحته، خلافا للزركشي.
والله اعلم بالصواب

Al-Fiqh Al-Islami wa Adillatuhu oleh Wahbah Az-Zuhaili (2/1161)

Kelima: Qadha’ jika jumlah shalat yang terlewat tidak diketahui
Menurut mazhab Hanafi, seseorang yang memiliki banyak shalat yang terlewat dan tidak mengetahui jumlah pastinya wajib mengqadha hingga ia merasa yakin bahwa tanggungannya telah gugur. Ia juga harus menentukan waktu shalat tersebut, seperti berniat: “Ini adalah shalat Zuhur pertama yang saya tinggalkan waktunya dan belum saya tunaikan,” atau berniat: “Ini adalah shalat Zuhur terakhir yang saya tinggalkan waktunya dan belum saya tunaikan,” untuk mempermudah dirinya.

Adapun menurut mazhab Maliki, Syafi’i, dan Hanbali, seseorang wajib mengqadha hingga ia yakin bahwa tanggungannya telah gugur dari kewajiban shalat fardhu. Tidak diwajibkan menentukan waktu shalat tersebut, cukup dengan menentukan jenis shalat, seperti Zuhur atau Ashar.

I’anah Ath-Thalibin ‘Ala Hall Alfazh Fathul Mu’in karya Al-Bakri Ad-Dimyathi (Jilid 1, hlm. 31)

Pendapat Ibnu Hajar Al-Haitami:
“Yang tampak jelas adalah bahwa seseorang yang memiliki shalat terlewat tanpa uzur wajib menyisihkan seluruh waktunya untuk mengqadha, kecuali waktu yang diperlukan untuk hal-hal yang sangat penting. Selain itu, ia diharamkan melaksanakan shalat sunnah.”

Penjelasan tambahan:
Ia dianjurkan untuk segera mengqadha (secara sunnah) jika shalat tersebut terlewat karena uzur seperti tidur yang tidak disengaja atau kelupaan yang tidak disengaja.

Keterangan lebih lanjut:

1. “Yang tampak jelas adalah…” merujuk pada seseorang yang meninggalkan shalat tanpa uzur.

2. “Kecuali waktu yang diperlukan untuk hal-hal yang sangat penting,” seperti tidur, memenuhi nafkah orang yang menjadi tanggungannya, atau melaksanakan kewajiban lain yang waktunya sangat sempit dan dikhawatirkan akan terlewat.

3. “Diharamkan melaksanakan shalat sunnah,” jika ia dalam kondisi sehat, berbeda dengan pendapat Az-Zarkasyi. Wallahu a’lam bish-shawab.

Kategori
Hukum

Hukum Konsumsi Balut (Telur Embrio) dalam Perspektif Islam

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh

Deskripsi Masalah

Bismillahirrahmanirrahim.
Fenomena konsumsi balut sebagai makanan khas Filipina kini menjadi tren, bahkan di kalangan masyarakat Indonesia, terutama melalui konten mukbang di media sosial. Balut adalah telur itik atau ayam yang dieramkan hingga janinnya terbentuk hampir sempurna. Tiga hari sebelum menetas, telur ini direbus hingga matang, lalu isinya dikonsumsi, termasuk janin unggas di dalamnya.

Pertanyaan

Lantas, bagaimana hukum mengonsumsi makanan semacam ini dalam perspektif Islam?

Waalaikumsalam salam
Jawaban

Pernyataan bahwa janin unggas dalam balut adalah “buatan” tidak mengubah hukum kehalalannya. Dalam Islam, penentuan hukum makanan tidak hanya berdasarkan proses pembuatannya tetapi juga kondisi zatnya dan cara matinya. Berikut penjelasan dalam kitab Nihayah az-Zain dan Syarh Fath al-Jawad:

1. Konsep Hewan Buatan dalam Syariat

Dalam Islam, telur hewan halal (seperti itik atau ayam) tetap dihukumi suci, selama tidak tercampur najis. Jika di dalam telur terdapat embrio, maka hukum konsumsinya bergantung pada tahap perkembangan embrio tersebut:

Jika embrio belum sempurna (masih berupa mudghah atau segumpal daging), maka hukumnya tetap halal dimakan.

Jika embrio sudah sempurna tetapi belum ditiupkan ruh, maka embrio tersebut juga tetap halal dimakan, sesuai dengan penjelasan dalam Nihayah az-Zain dan Syarh Fath al-Jawad.

Namun, jika embrio telah mencapai tahap sempurna dan ruh telah ditiupkan, maka hukumnya berubah. Jika mati tanpa disembelih, statusnya menjadi bangkai, sehingga haram dimakan.

2. Status Hewan yang Mati Tanpa Disembelih

Al-Qur’an telah menjelaskan hukum bangkai dalam QS. Al-Ma’idah: 3:

“حُرِّمَتْ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةُ وَالدَّمُ وَلَحْمُ الْخِنزِيرِ وَمَا أُهِلَّ لِغَيْرِ اللَّهِ بِهِ…” (المائدة: 3).

“Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, dan hewan yang disembelih bukan atas nama Allah…”

Menurut referensi dalam Nihayah az-Zain (Juz 1, Hal. 39):

Jika telur dipecahkan dan terdapat embrio yang belum sempurna atau belum memiliki ruh, maka embrio tersebut halal dikonsumsi.

Namun, jika embrio telah sempurna dan mati tanpa penyembelihan, maka ia dianggap bangkai.

Ini sesuai dengan kaidah syar’i bahwa hewan yang mati tanpa disembelih dihukumi haram, kecuali dalam kondisi darurat.

3. Fatwa Ulama tentang Telur yang Mengandung Embrio

Berikut penjelasan berdasarkan referensi:

Nihayah az-Zain:

Jika di dalam telur terdapat embrio yang belum sempurna bentuknya (seperti segumpal daging), maka hukumnya halal dimakan. Jika embrio telah sempurna tetapi belum ditiupkan ruh, tetap halal dimakan. Namun, jika ruh telah ditiupkan dan embrio mati tanpa disembelih, maka hukumnya haram karena termasuk bangkai.

Syarh Fath al-Jawad:

Jika embrio telah mencapai tahap sempurna dan menunjukkan tanda kehidupan seperti darah mengalir atau gerakan, maka statusnya adalah makhluk hidup yang memerlukan penyembelihan syar’i. Jika mati tanpa disembelih, hukumnya haram dikonsumsi.

4. Konteks Balut dalam Pandangan Fiqih

Berdasarkan penjelasan di atas, hukum balut tergantung pada tahapan perkembangan embrio di dalam telur:

1. Jika embrio belum sempurna atau belum memiliki tanda kehidupan (seperti darah mengalir atau gerakan), maka telur tersebut halal dikonsumsi.

2. Jika embrio telah sempurna tetapi belum ditiupkan ruh, maka statusnya tetap halal.

3. Jika embrio telah sempurna dan ruh telah ditiupkan, maka hukum berubah menjadi haram jika embrio mati tanpa penyembelihan yang sesuai syariat.

5. Kesimpulan

Berdasarkan referensi dalam Nihayah az-Zain dan Syarh Fath al-Jawad:

Jika balut mengandung embrio yang belum sempurna atau belum ditiupkan ruh, maka tetap halal.

Namun, jika embrio sudah mencapai tahap sempurna dan mati tanpa disembelih, maka hukumnya menjadi haram karena dianggap bangkai.

Penjelasan ini tidak bertentangan dengan keterangan kitab, melainkan memperjelas bahwa tahap perkembangan embrio menjadi faktor utama dalam menentukan kehalalan atau keharaman makanan tersebut.Walllahu a’lam

Referensi:

نهاية الزين ج: ١ ص: ٣٩
ويجوز أكل قشر البيض ولو من مأكول وإذا لم تفسد البيضة لكن اختلط بياضها بصفارها وأنتنت فهي طاهرة يحل أكلها سواء كان ذلك بلا سبب أو بسبب حضن دجاجة لها أو وضعها في مكان وإرسال الدخان عليها ليخرج الفرخ عنها كقطعة لحم أنتنت ودادت فإنه يحل أكلها على الصحيح ولو مع الدود الذي تولد منها ما لم تضر ولو كسرت بيضة حيوان مأكول ووجد في جوفها فرخ لم يكمل خلقه أو كمل خلقه لكن قبل نفخ الروح فيه جاز أكله بخلاف ما إذا كان بعد نفخ الروح وزالت حياته بغير ذكاة شرعية فإنه يكون ميتة وأما إذا كانت البيضة من مأكول ووجد في جوفها حيوان كامل كامل مأكول ولو صلقت البيضة بالماء المتنجس تنجس ظاهرها فقط دون بياضها وصفارها

 شرح فتح الجواد ص: ٧١-٧٢

ولو انقلبت البيضة دما كلا او بعضا وكان غير المنقلب مائعا حرم اكلها حيث لم تصلجح للتخلق لنجاسة الدم وتنجيسه لغير المنقلب المائع ويعلم ذلك بقول اهل الخبرة كما قال م ر في شرح العباب اما القشر وغير المنقلب من احشو اذا كان جامدا فيجوز اكلهما بعد تظهيرهما ولو مذرت بان احتلط بياضها بصفرتها او أنتنت فالاصح حل اكلها لان مجرد الاحتلاط وتغير الرائحة لا يفيد تنجيسا ولا تحريما ولا فرق في ذلك كما قال الطبلاوي على التبيان بين كون الاحتلاط وتغير الرائحة بلا سبب او بسبب حضن الدجاجة لها او وضعها في محل او ارسال الدخان عليها ليجيئ منها الفرخ ففسدت بسبب ذلك كقطعة لحم انتنت ودودت فانه يحل اكلها على الصحيح مع الكراهة مفردة ومع الدود الذي تولد منها قبل انفصاله عنها بخلاف دودها المنفرد عنها والذي طرأ عليها من غيرها وعاد اليها بعد انفصاله عنها فانه حينئذ لا يحل ولو كسرت بيضة طائر مأكول ووجد داخل جوفها فرح لم يكمل خلقه كأن صار قطعة لحم كالمضغة او كمل خلقه لكن كسرت عنه البيضة وخرج قبل نفخ الروح فيه جاز اكله لانه طاهر غير مستقذر كما قالوا بذلك في مضغة خرجت من حيوان مأكول من انها طاهرة وانها تحل بالذكاة لأمها بل الفرخ اولى بالطهارة من المضغة لانه مستحيل من طاهر بلا خلاف بخلاف المضغة فانها مستحيلة عن المني وفيه قول بالتنجيس اما اذا كانت بيضة غير مأكول فلا يحل لك اكل ما في جوفها من الفرخ لانه حيوان غير مأكول اهـ
Terjemah

1. Nihayah az-Zain Juz 1 Halaman 39:

Diperbolehkan memakan kulit telur, meskipun dari telur hewan yang halal dimakan, selama tidak merusak telur tersebut. Jika putih telur bercampur dengan kuningnya dan membusuk, maka tetap suci dan boleh dimakan, baik disebabkan oleh sesuatu maupun tidak, seperti karena dierami oleh ayam, diletakkan di suatu tempat, atau diasapi agar anak ayam keluar darinya. Hal ini seperti sepotong daging yang membusuk dan berulat, tetap boleh dimakan menurut pendapat yang shahih, baik bersama ulat yang tumbuh darinya selama tidak membahayakan.

Jika telur hewan halal dimakan dipecahkan dan di dalamnya terdapat embrio anak ayam yang belum sempurna bentuknya, atau sudah sempurna tetapi belum ditiupkan ruh, maka boleh dimakan. Namun, jika ruh telah ditiupkan dan ia mati tanpa disembelih secara syar’i, maka dianggap bangkai.

Adapun jika telur berasal dari hewan halal dimakan, kemudian ditemukan di dalamnya hewan utuh yang juga halal dimakan, maka boleh dimakan, bahkan jika telur tersebut direbus dengan air najis, hanya bagian luarnya saja yang terkena najis, sedangkan putih dan kuning telurnya tetap suci.

2. Syarh Fath al-Jawad Halaman 71-72:

Jika telur berubah menjadi darah seluruhnya atau sebagian, dan bagian yang tidak berubah masih cair, maka haram dimakan karena darah itu najis dan menajiskan bagian cair yang tidak berubah. Hal ini dapat diketahui melalui keterangan para ahli. Namun, kulit telur dan bagian yang tidak berubah jika berupa zat padat, boleh dimakan setelah disucikan.

Jika telur membusuk dan putihnya bercampur dengan kuningnya, pendapat yang lebih shahih menyatakan tetap boleh dimakan, karena campuran tersebut dan perubahan bau tidak menyebabkan kenajisan atau keharaman. Tidak ada perbedaan, baik pembusukan tersebut terjadi tanpa sebab atau karena dierami ayam, diletakkan di tempat tertentu, atau diasapi untuk menghasilkan anak ayam darinya. Ini seperti daging yang membusuk dan berulat, tetap boleh dimakan menurut pendapat yang shahih, meskipun makruh, baik bersama ulat yang tumbuh darinya selama belum terpisah.

Namun, ulat yang terpisah dari telur dan kembali kepadanya, atau berasal dari luar, tidak boleh dimakan. Jika telur hewan halal dimakan dipecahkan dan di dalamnya terdapat embrio ayam yang belum sempurna bentuknya, seperti potongan daging menyerupai mudghah (segumpal daging), atau telah sempurna bentuknya tetapi belum ditiupkan ruh, maka boleh dimakan karena suci dan tidak menjijikkan.

Berbeda halnya jika telur berasal dari hewan yang tidak halal dimakan, maka hewan utuh di dalamnya juga tidak boleh dimakan karena termasuk hewan yang haram dimakan. Wallahu a’lam

Kategori
Hukum

Shalat di Atas Kursi

SHALAT DIATAS KURSI BAGI ORANG YANG SAKIT

Assalamualaikum

Deskripsi Masalah:
Ketika saya ke Bali saya mendengar adzan dimasjid lalu saya shalat berjamaah. Ketika shalat ternyata ada orang sholat diatas kursi dan dia tidak sujud sebagaimana orang didepan saya, dan saya menyangka orang tersebut struke, namun dia hanya menundukkan punggungnya saat dia sujud , ( artinya dia tidak meletakkan anggota sujud ke tempat sujud, namun hanya membungkukkan badannya dengan posisi lebih rendah daripada rukuknya.)

Pertanyaan:

Bolehkah melakukan shalat sebagaimana deskripsi di atas?

Wa’alaikumsalam salam.
Jawaban .
Orang yang sakit dan tidak bisa untuk sujud sebagaimana biasanya boleh melakukan shalat diatas kursi walaupun ketika sujud dengan membungkukkan punggungnya ( kepala tidak menyentuh tempat sujud) hukum shalatnya sah.Alasannya karena ada udzur atau masyarakat yang berat disebabkan sakit

(١/٢٨٠ الشرقاوي)
من يقدر عليها أي الركوع والسجود لو وقع فصلى قاعدا ويُتمهما لا قائما ويؤمن بهما . باب كيفية وحكم صلاة المعذور الآتي بيانه. يُصلى المريض كيف أمكنه ولو مؤميا للضرورة ولا يعيد ما صلى لعومم عذره ولا ينقص ثوابه عن ثوابه لو صلى متيما للأركان لأنه معذور ولخبر البخاري إذا مرض العبد أو سافر كتب له ما كان يعمل صحيحا مقيما” والمعتبر في المرض المشقة الظاهرة أو خوف زيادة مرض أو نحوه.

Referensi
(1/280 Al-Syairkawi)
“Barangsiapa yang mampu melakukannya, yaitu rukuk dan sujud, jika ia jatuh maka ia shalat dalam keadaan duduk dan menyempurnakannya, tidak berdiri, dan ia beriman padanya. Bab mengenai cara dan hukum shalat orang yang berhalangan, berikut penjelasannya. Orang sakit shalat sesuai dengan kemampuannya, meskipun dengan isyarat jika terpaksa, dan ia tidak mengulangi shalat yang telah dilakukannya karena alasan sakitnya bersifat umum, dan pahalanya tidak berkurang dari pahala jika ia shalat sempurna untuk rukun-rukun shalat, karena ia berhalangan dan berdasarkan hadits Bukhari: ‘Jika seorang hamba sakit atau bepergian, maka dituliskan untuknya apa yang biasa ia kerjakan dalam keadaan sehat dan menetap.’ Dan yang dipertimbangkan dalam sakit adalah kesulitan yang tampak atau khawatir akan bertambah sakit atau semisalnya.”
Penjelasan Singkat:
Teks di atas membahas tentang hukum shalat bagi orang yang sakit atau memiliki keterbatasan fisik sehingga tidak mampu melakukan shalat secara sempurna seperti orang sehat. Islam memberikan keringanan bagi orang-orang tersebut dengan memperbolehkan mereka untuk shalat sesuai dengan kemampuan mereka.
Poin-poin penting:
* Orang sakit: Diperbolehkan shalat dalam keadaan duduk jika tidak mampu berdiri.
* Isyarat: Jika tidak mampu melakukan gerakan rukuk dan sujud, boleh digantikan dengan isyarat.
* Tidak perlu mengulang: Shalat yang telah dilakukan tidak perlu diulang karena alasan sakit.
* Pahala: Pahala shalat orang sakit sama dengan orang sehat yang melakukan shalat sempurna.
* Kriteria sakit: Yang dimaksud sakit di sini adalah sakit yang menyebabkan kesulitan dalam melakukan shalat atau dikhawatirkan akan bertambah parah jika dipaksakan.

Kategori
Hukum

Shalat Tahajud sebelum Tidur

 

Deskripsi Masalah:
Sebagaimana yang kita maklumi Keamanan pondok lazimnya, tidak tidur semalam demi untuk menjaga ketentraman santri berjaga di pos kamling. Dari sini, timbul seorang Mahmud katakanlah Nama samaranya sebelum Subuh ingin shalat Tahajud, tetapi ia belum tidur malam karena bejaga-jaga .

Pertanyaan:

1. Bolehkah shalat Tahajud dilakukan sebelum tidur?

Mohon jawabannya

Waalaikumsalam salam
Jawaban
Sholat tahajjud tidak boleh dilakukan sebelum tidur.( Ini adalah pendapat mayoritas ulama) Alasannya karena tahajjud sendiri mempunyai makna sholat yang dilakukan setelah tidur, dan sebagian mengatakan sholat malam. Namun tidak semua sholat malam dinamakan tahajjud jika tidak didahului tidur sebelumnya dan tidak diniatkan tahajud.
Jika terpaksa melakukan sholat tahajjud sebelum tidur apapun itu tetap tidak dinamakan sholat tahajjud, seperti witir sebelum tidur, maka tetap dinamakan witir meskipun berupa witir”) yakni, jika ia tidak melaksanakannya setelah tidur, tetapi melaksanakannya sebelum tidur, maka itu hanya dihitung sebagai witir dan bukan sebagai tahajud. Maka tidak setiap witir itu tahajud, tetapi setiap tahajud mencakup witir.
Walaupun ada yang mengatakan shalat tahjjud bisa dilakukan tanpa tidur seperti apa yang dikatakan oleh Imam Addasuki , namun pendapat ini adalah lemah.
Sebagaimana dikatakan

لايقال قيل الا ضعيف

Tidaklah diucapkan sebuah Qiil kecuali pendapat ini adalah lemah.Oleh karena itu mayoritas ulama berpendapat shalat tahajjud dapat dilakukan setelah tidur dan bukan sebelum tidur karena jika dilakukan sebelum tidur tidak sesuai dengan definisi tahajjud baik secara bahasa maupun istilah . Wallahu a’lam

حاشية البيجريمي على الخطيب ٣ ج ٤٦٠
(والنوافل المؤكدة) بعد الرواتب (ثلاثة الأول: صلاة الليل) وهو التهجد ولو عبر به لكان أولى لموافقته صلى الله عليه وسلم ولقوله تعالى {ومن الليل فتهجد به نافلة لك} وقوله تعالى {كانوا قليلاً من الليل ما يهجعون} وهو لغة رفع النوم واصطلاحاً صلاة التطوع في الليل بعد النوم كما قاله القاضي حسين. سمي بذلك لما فيه من ترك النوم، ويسمى المتهجد القائم، وهي القيام قبل الزوال بخلاف السحر للصائم لقوله صلى الله عليه وسلم: {استعينوا بالقيلولة على قيام الليل} رواه أبو داود.

المجموع شرح ٤٣/٤)
قال العلماء التهجد أصله الصلاة في الليل بعد النوم وقوله تعالى كانوا قليلاً من الليل ما يهجعون قال المفسرون وأهل اللغة الهجوع النوم في الليل واختلفوا في معنى الآية فقيل إن ما صلة والمعنى كانوا يهجعون قليلاً من الليل ويصلون أكثره وقيل معناه كان الليل الذي ينامونه قليلاً قبل الوقف قليلاً أي كانوا قليلاً من الناس ثم يبدؤون من الليل ما يهجعون أي لا ينامون شيئاً بعد ضعف هذا القول والإسحار جمع سحر والسحر الآخر ما قبل طلوع الفجر.

قال ابن زيد السحر السدس الأخير من الليل وقالوا في تفسيره كان جزءاً من الليل يقظة وجزءاً هجعة لسان العرب حكاهما ابن السكيت وغيره.

Hasyiyah al-Bujairimi atas al-Khatib (hal. 460, jilid 3)
“Shalat sunnah yang dianjurkan setelah shalat rawatib ada tiga. Yang pertama adalah shalat malam (qiyamullail), yaitu tahajjud. Jika istilah ‘tahajjud’ digunakan, itu lebih utama karena sesuai dengan sabda Nabi Muhammad SAW dan firman Allah SWT: ‘Dan dari sebagian malam bertahajjudlah dengannya sebagai tambahan ibadah bagimu’ (QS. Al-Isra: 79). Dan firman Allah: ‘Mereka sedikit sekali tidur di waktu malam’ (QS. Adz-Dzariyat: 17). Kata ‘yahja’uun’ secara bahasa berarti ‘mengangkat tidur’. Secara istilah, tahajjud adalah shalat sunnah malam yang dilakukan setelah tidur, sebagaimana dikatakan oleh Qadhi Husain. Dinamakan demikian karena meninggalkan tidur. Pelaku tahajjud disebut ‘qa’im’. Tahajjud dilakukan sebelum waktu sahur, berbeda dengan waktu sahur bagi orang yang berpuasa, berdasarkan sabda Nabi SAW: ‘Bersiaplah untuk bangun malam dengan tidur sejenak di siang hari (qailulah)’ (HR. Abu Dawud).”

Al-Majmu’ Syarh al-Muhadzdzab (jilid 4, halaman 43)
Para ulama menjelaskan bahwa tahajjud pada dasarnya adalah shalat malam setelah tidur. Mengenai firman Allah SWT: ‘Mereka sedikit sekali tidur di waktu malam’ (QS. Adz-Dzariyat: 17), para mufassir dan ahli bahasa menjelaskan bahwa ‘yahja’uun’ berarti tidur di malam hari. Mereka berbeda pendapat tentang makna ayat tersebut. Ada yang mengatakan bahwa kata ‘maa’ adalah tambahan, sehingga maknanya: ‘Mereka tidur sebentar di malam hari dan lebih banyak menghabiskan waktu untuk shalat.’ Pendapat lain mengatakan maknanya adalah: ‘Sebagian kecil dari malam yang mereka habiskan untuk tidur.’ Oleh karena itu mayoritas ulama berpendapat tahajjud setelah tidur bukan sebelum tidur.

Ibnu Zaid menambahkan bahwa ‘waktu sahur’ adalah seperenam terakhir malam sebelum fajar, sedangkan sebagian ulama mengatakan bahwa malam dibagi menjadi dua bagian: waktu terjaga dan waktu tidur.

إعانة الطالبين ج١ص ٢٥٢

(قوله ثم إن فعل إلخ) أي ثم إن أخره وفعله بعد النوم حصل له بالوتر سنة التهجد لما مر من أن التهجد هو الصلاة بعد النوم (قوله وإن كان وترا) أي وإن لم يفعله بعد النوم بل فعله قبله كان وترا لا تهجدا فليس كل وتر تهجدا عكسه فيجمعان في صلاة بعد النوم بينة الوتر وينفرد الوتر بصلاة قبل النوم والتهجد بصلاة بعده من غير نية الوتر

(Perkataannya “kemudian jika ia melakukannya dan seterusnya”) yakni, kemudian jika ia menunda (shalatnya) dan melaksanakannya setelah tidur, maka ia mendapatkan sunnah tahajud dengan witir tersebut, sebagaimana telah dijelaskan bahwa tahajud adalah shalat yang dilakukan setelah tidur. (Pernyataannya “meskipun berupa witir”) yakni, jika ia tidak melaksanakannya setelah tidur, tetapi melaksanakannya sebelum tidur, maka itu hanya dihitung sebagai witir dan bukan sebagai tahajud. Maka tidak setiap witir itu tahajud, tetapi setiap tahajud mencakup witir. Keduanya dapat digabungkan dalam satu shalat setelah tidur dengan niat witir, sementara witir berdiri sendiri jika dilakukan sebelum tidur, dan tahajud berdiri sendiri jika dilakukan setelah tidur tanpa niat witir.

الموسوعة الفقهية الكويتية ٣٤/‏١١٨
وَأَمَّا فِي الاِصْطِلاَحِ: فَقَدْ ذَكَرَ الْقَاضِي حُسَيْنٌ مِنَ الشَّافِعِيَّةِ: أَنَّ التَّهَجُّدَ فِي الاِصْطِلاَحِ هُوَ صَلاَةُ التَّطَوُّعِ فِي اللَّيْل بَعْدَ النَّوْمِ، وَيُؤَيِّدُهُ مَا رُوِيَ مِنْ حَدِيثِ الْحَجَّاجِ بْنِ عَمْرٍو قَال: يَحْسِبُ أَحَدُكُمْ إِذَا قَامَ مِنَ اللَّيْل يُصَلِّي حَتَّى يُصْبِحَ أَنَّهُ قَدْ تَهَجَّدَ، إِنَّمَا التَّهَجُّدُ: الْمَرْءُ يُصَلِّي الصَّلاَةَ بَعْدَ رَقْدَةٍ (١)، `وَقِيل: إِنَّهُ يُطْلَقُ عَلَى صَلاَةِ اللَّيْل مُطْلَقًا (٢) .`
___________
(١) ومغني المحتاج ١ / ٢٢٨.
(٢) حاشية الدسوقي ٢ / ٢١١.

الفقه واصوله ص٣٣٣
س : ۳۸۳- هل التهجد هو الصلاة بالليل بعد النوم؟
ج : ۳۸۳- والتهجد في اللغة: القيام بعد نوم، وفي عرف الشرع صلاة الليل مطلقا، `فالمصلى بالليل متهجد شرعا ولو لم ينم قبل الصلاة.`

Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyyah Al-Kuwaitiyyah 34/118
Dalam istilah syariat: Qadhi Husain dari mazhab Syafi’iyah menyebutkan bahwa tahajjud secara istilah adalah salat sunnah di malam hari setelah tidur. Pendapat ini didukung oleh hadis yang diriwayatkan dari Al-Hajjaj bin Amr radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:
“Apakah salah seorang dari kalian mengira bahwa jika ia berdiri (salat) sepanjang malam hingga pagi, maka ia telah bertahajjud? Sesungguhnya tahajjud itu adalah seseorang yang melaksanakan salat setelah tidur.” (1)
Pendapat lain mengatakan bahwa istilah tahajjud mencakup seluruh salat malam secara umum. (2)

Catatan kaki:
(1) Mughni Al-Muhtaj, 1/228.
(2) Hashiyah Ad-Dusuqi, 2/211.

Al-Fiqh wa Ushuluhu, hal. 333
Soal 383: Apakah tahajjud adalah salat malam setelah tidur?
Jawaban 383: Tahajjud secara bahasa berarti bangun setelah tidur, sedangkan dalam pengertian syariat, tahajjud mencakup seluruh salat malam secara umum.
Maka, siapa pun yang salat malam, ia disebut telah bertahajjud secara syariat, meskipun ia belum tidur sebelum salat.

CATATAN:

Jika ada ungkapan kata “قيل” (dikatakan) adalah:

a. Menunjukkan adanya khilaf (perbedaan pendapat) pada wajah-wajah ashhab.

b. Menunjukkan pendapat yang lemah.

لايقال قيل إلا ضعيف

“Tidak dikatakan suatu perkatan “قيل” terkecuali lemah.

التقريرات السديدة ٢٨٧-٢٨٨

صلاة الليل ، أي : التَّهجد، وهُو الصّلاةُ بعد النوْمِ وصلاةِ العِشاء .
أفضَلُ وقُتِهِ : إِنْ قَسمَهُ نِصْفَيْنِ فِنِصْفُه الأخير، وإن قَسمَهُ أثلاثاً فثلثه
الأوسط، وإن قسمهُ اسْداساً فسدُسُهُ الرابع والخامس، وهو الأفضل مطلقاً (٤) .
فضله : قال تعالى: ﴿ وَعِبَادُ الرَّحْمَنِ الَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى الْأَرْضِ هَوْنًا وَإِذَا خَاطَبَهُمُ
الْجَاهِلُونَ قَالُوا سَلَامًا وَالَّذِينَ يَبِيتُونَ لِرَبِّهِمْ سُجَّدًا وَقِيمًا (٥) وقال
وانده هانی
(۱) لشبهها بالفرض في طلب الجماعة فيها فلا تغير عما ورد.
(۲) وصورته أن ينوي عشر ركعات ثم أراد أن ينقص فيجوز بشرط أن ينوي قبل أن
يشرع في النقصان ، أي : قبل النهوض من السجود وكذلك لو أراد الزيادة .
(۳) وكذلك يندب قضاء نفل مطلقٍ قَطَعَه ، وقضاء ما فاته من ورد لئلا يميله إلى التهاون .
(٤) لحديث الشيخين : أحب الصلاة إلى الله صلاة داود كان ينام نصف الليل ويقوم
ثلثه ، وينام سدسه) .
(۵) سورة الفرقان :

أيضاً : أَمَّنْ هُوَ قَانِتٌ آنَاءَ اللَّيْلِ سَاجِداً وَقَائِماً يَحْذَرُ الْآخِرَةَ وَيَرْجُو رَحْمَةَ رَبِّهِ قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُولُو الْأَلْبَابِ ﴾ دورة في الليل ) ، وعليكم بقيام الليل فإنه دأب الصالحين قبلكم ومقربة إلى ربِّكُمْ، وَمَكْفَرَةٌ للستان ومَطْرَدَةٌ للدَاءِ عن الجسد (۳) .
سنن قيام الليل: أن يمسح وجهه إذا استيقظ، وأن ينظر إلى السماء ويقرأ الآيات من آخِرِ سُورةِ آلِ عمران (۱) ، وأن يفتتح التهجد بركعتين خفيفتين، والإكثار من الدعاء والاستغفار (٥) .
مكروهات قيام الليل : تخصيص ليلة الجمعة بقيام، وقيام الليل كله دائماً، وتَرْكُ تهجد اعتاده .
(1) سورة الزمر : … ٩.
(٢) أخرجه مسلم صحيحه (۲) : ۸۲۱) برقم (۱۱۶۳) من حديث أبي هريرة رضي الله عنه.
(۳) أخرجه الترمذي في جامعه (٣٥٤٩) وقال: حديث غريب، وأخرجه الطبراني في المعجم الأوسط (٢٥٩:٤ برقم (٣٢٧٧).
(٤) وهي قوله تعالى : ( إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَآيَاتٍ لِأُولِي الْأَلْبَابِ الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَى جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَذَا بَاطِلاً سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ رَبَّنَا إِنَّكَ مَن تُدْخِلِ النَّارَ فَقَدْ أَخْزَيْتَهُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنصَارٍ رَبَّنَا إِنَّنَا سَمِعْنَا مُنَادِيًا يُنَادِي لِلْإِيمَانِ أَنْ آمِنُوا بِرَبِّكُمْ فَآمَنَّا رَبَّنَا فَاغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَكَفِّرْ عَنَّا سَيِّئَاتِنَا وَتَوَفَّنَا مَعَ الْأَبْرَارِ رَبَّنَا وَآتِنَا مَا وَعَدتَّنَا عَلَىٰ رُسُلِكَ وَلَا تُخْزِنَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّكَ لَا تُخْلِفُ الْمِيعَادَ فَاسْتَجَابَ لَهُمْ رَبُّهُمْ أَنِّي لَا أُضِيعُ عَمَلَ عَامِلٍ مِّنكُم مِّن ذَكَرٍ أَوْ أُنثَىٰ ) [ سورة آل عمران : ۱۹۰-١٩٥]، والأفضل إلى آخر السورة.
(٥) وللإعانة على قيام الليل أسباب أهمها : نوم القيلولة، وترك المعصية، وترك كثرة الأكل، وترك الأعمال الشاقة.

Shalat Malam (Qiyamul Lail)

Shalat malam, yaitu tahajjud, adalah shalat yang dilakukan setelah tidur dan setelah shalat Isya.

Waktu yang paling utama:
Jika dibagi menjadi dua bagian, maka setengah bagian terakhir lebih utama. Jika dibagi menjadi tiga bagian, maka sepertiga bagian tengah lebih utama. Jika dibagi menjadi enam bagian, maka bagian keempat dan kelima adalah yang paling utama secara mutlak(4).

Keutamaannya:
Allah Ta’ala berfirman:
“Dan hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pengasih itu adalah orang-orang yang berjalan di bumi dengan rendah hati, dan apabila orang-orang bodoh menyapa mereka, mereka mengucapkan (kata-kata) yang baik. Dan orang-orang yang menghabiskan malam mereka dengan bersujud dan berdiri untuk Tuhan mereka.” (QS. Al-Furqan: 63-64)

Juga dalam firman-Nya:
“Apakah (orang yang taat itu sama dengan orang yang durhaka)? Orang yang beribadah di waktu malam dengan sujud dan berdiri, takut akan (azab) akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya? Katakanlah: ‘Apakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?’ Sesungguhnya hanya orang-orang yang berakal sehat yang dapat mengambil pelajaran.” (QS. Az-Zumar: 9)

Diriwayatkan dari Nabi ﷺ:
“Laksanakanlah qiyamul lail, karena itu adalah kebiasaan orang-orang saleh sebelum kalian, mendekatkan kalian kepada Tuhan kalian, menghapus dosa-dosa, dan mengusir penyakit dari tubuh.”(3)

Sunnah dalam Qiyamul Lail:

Mengusap wajah ketika bangun. Melihat ke langit dan membaca ayat-ayat terakhir dari Surah Ali Imran(1). Memulai tahajjud dengan dua rakaat ringan. Memperbanyak doa dan istighfar(5).

Hal-hal yang dimakruhkan dalam Qiyamul Lail:

Mengkhususkan malam Jumat untuk qiyamul lail. Melaksanakan qiyamul lail sepanjang malam terus-menerus. Meninggalkan tahajjud yang telah menjadi kebiasaan.

Dalil-dalil tambahan:
(1) QS. Az-Zumar: 9.
(2) Hadis riwayat Muslim dalam Shahih-nya (2:821), hadis no. 1163, dari Abu Hurairah r.a.
(3) Hadis riwayat At-Tirmidzi dalam Jami’-nya (3549), ia mengatakan: hadis ini gharib. Juga diriwayatkan oleh Ath-Thabrani dalam Al-Mu’jam Al-Awsath (4:259, hadis no. 3277).
(4) Yakni firman Allah: “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi serta pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang yang berakal. (Yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk, atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): ‘Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia; Maha Suci Engkau, maka lindungilah kami dari azab neraka…'” (QS. Ali Imran: 190-195). Yang paling utama adalah membacanya hingga akhir surah.
(5) Faktor yang membantu dalam qiyamul lail adalah tidur siang (qailulah), menjauhi maksiat, tidak berlebihan dalam makan, dan menghindari pekerjaan yang terlalu melelahkan.

Wallahu a’lam bish-shawab

Kategori
Hukum

Hukum dan Etika Makmum Membantu Imam yang Lupa Bacaan Surat  Seteleh Fatihah dalam Shalat Berjamaah

Assalamualaikum

Deskripsi Masalah/Latar Belakang

Dalam pelaksanaan shalat berjamaah, terjadi dinamika yang melibatkan imam dan makmum dalam menjaga kesempurnaan ibadah. Salah satu situasi yang sering terjadi adalah ketika imam membaca surat pendek setelah Al-Fatihah, tetapi lupa melanjutkan bacaan atau terhenti karena lupa ayat berikutnya. Dalam keadaan seperti ini, sebagian makmum spontan melanjutkan bacaan surat pendek tersebut untuk membantu imam mengingat ayat yang dilupakan.

Fenomena ini memunculkan beberapa pertanyaan yang berkaitan dengan hukum dan etika dalam shalat berjamaah. Mengingat bahwa shalat berjamaah memiliki aturan-aturan yang mengatur hubungan antara imam dan makmum, termasuk kewajiban makmum untuk mengikuti imam dalam rangka menjaga kekhusyukan dan tertib shalat. Oleh karena itu, situasi ini membutuhkan penjelasan dari sudut pandang fikih untuk memastikan ibadah tetap sesuai dengan syariat.

Pertanyaan

1.      Apakah shalat makmum tetap sah?

2.      Apakah tindakan makmum tersebut dibenarkan ?

Wa’alaikumsalam salam

Jawaban.

Kasus seperti ini memang sering menjadi perhatian dalam praktik shalat berjamaah. Berikut penjelasannya:

1. Apakah sah shalatnya makmum?

Shalat makmum tetap sah. Dalam kasus ini, makmum tidak bermaksud memimpin shalat atau menggantikan imam, tetapi hanya bermaksud membantu imam melanjutkan bacaan. Selama makmum mengikuti gerakan dan niat shalat berjamaah di bawah imam,dan juga diniatkan membaca Al-Qur’an maka shalatnya tetap sah.

2. Apakah tindakan makmum itu dibenarkan?

Tindakan makmum yang langsung melanjutkan bacaan imam secara umum tidak dianjurkan. Mengapa? Karena:

Kedudukan imam dalam shalat adalah pemimpin. Sebaiknya imam sendiri yang menyelesaikan bacaan, meskipun harus mengulang atau membaca surat yang mudah diingat.

Jika makmum membantu dengan melanjutkan bacaan, ini dikhawatirkan melanggar tata tertib shalat berjamaah, di mana makmum seharusnya hanya mengikuti imam tanpa mengambil alih.

Namun, ada pengecualian jika:

Imam meminta bantuan dengan diam sejenak atau memberi isyarat. Dalam hal ini, makmum boleh membantu melafalkan bacaan dengan pelan untuk mengingatkan imam.

Imam lupa dan tidak menyelesaikan bacaan, maka makmum tidak diperbolehkan melanjutkan bacaan dengan keras. Sebaiknya makmum memberikan isyarat tasbih (subhanallah) atau menyebutkan ayat pertama dari surat tersebut secara pelan untuk mengingatkan imam.

Kesimpulan:

Shalatnya makmum sah alasannya berbicara dengan ayat al-Qur’an walaupun sebenarnya tidak dianjurkan bagi makmum melanjutkan bacaan surat pendek imam. Jika ingin membantu, cukup dengan isyarat atau bacaan pelan untuk mengingatkan imam.

Adapun anjuran mengingatkan imam yang lupa adalah dengan bettasbih jika laki-laki dan bertepuk tangan bagi perempuan

Rujukan Dalil dan Pendapat Ulama

1.      Dalam shalat berjamaah, Rasulullah SAW bersabda:

إنماجعل الإمام ليؤتم به”

Sesungguhnya imam itu diangkat untuk diikuti, maka janganlah kalian menyelisihinya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Ini menunjukkan bahwa makmum harus mengikuti imam, bukan mengambil alih tugasnya.

2.     Al-Qulyubi dan Umairoh

القليوبي وعميرة ١/١٨٧

“تبطل الصلاة بالنطق عمداً من غير القرآن (قوله من غير القرآن) دخل فيه المنسوخ والتلاوة والتوراة والإنجيل والأحاديث ولو قُدسية ولو قال الله أو قال النبي أو قاف أو صاد بطلت ما لم يقصد أنه من القرآن اهـ”

Kitab Hasyiyah al-Qalyubi wa Umairah (1/187):

“Shalat batal karena berbicara dengan sengaja selain (membaca) Al-Qur’an. (Ucapan) ‘selain Al-Qur’an’ mencakup (membaca) ayat yang telah dihapus (hukumnya) atau (membaca) kitab Taurat, Injil, hadis-hadis, meskipun hadis qudsi. Begitu juga jika ia mengucapkan ‘Allah berfirman’, ‘Rasulullah bersabda’, huruf-huruf seperti Qaf atau Shad, maka shalatnya batal, kecuali jika ia berniat bahwa itu bagian dari Al-Qur’an.”

Artinya Mafhum mukhalafah dari ibarat diatas jika yang diucapkan adalah ayat Al-Qur’an  maka tidaklah membatalkan shalat  .Wallahu a’lam bish-shawab

3. Hasyiah Ad-Dasuqi

(حاشية الدسوقي – (ج ٣ / ص ٢٨٢

قوله ( وكلام لإصلاحها بعد سلام ( حاصله أن الإمام إذا سلم من ركعتين مثلا فحصل كلام منه أو من المأموم أو منهما لأجل إصلاحها فلا تبطل به الصلاة ولا سجود عليه بل هو مطلوب لكن إن كان المتكلم لإصلاحها المأموم فيشترط في عدم بطلان صلاته أمران الأول أن لا يكثر الكلام فإن كثر بطلت والثاني أن يتوقف التفهيم على الكلام وإن كان الكلام لإصلاحها صادرا من الإمام فيشترط فيه زيادة على ما ذكر أمران أيضا أن يسلم معتقدا التمام وإن لا يطرأ له بعد سلامه شك في نفسه بأن لا يحصل له شك أصلا أو يحصل له من المأمومين واعلم أن الكلام لإصلاح الصلاة لا سجود فيه ولا بطلان به سواء وقع بعد السلام أو قبله كأن يسلم من اثنتين ولم يفقه بالتسبيح فكلمه بعضهم فسأل بقيتهم فصدقوه أو زاد أو جلس في غير محل الجلوس ولم يفقه بالتسبيح فكلمه بعضهم وكمن رأى في ثوب إمامه نجاسة فدنا منه وأخبره كلاما لعدم فهمه بالتسبيح وكالمستخلف بالفتح ساعة دخوله ولا علم له بما صلاه الإمام الذي استخلفه فيسألهم عن عدد ما صلى إذا لم يفقه بالإشارة إذا علمت هذا فقول الصنف بعد سلام إمامه لا مفهوم له وإنما نص على عدم السجود في الكلام بعد السلام لإصلاحها ردا على من قال إن الكلام بعد السلام لإصلاحها لا يجوز وتبطل به الصلاة وأن حديث ذي اليدين منسوخ كذا أجاب بعضهم وفيه أن الرد على من ذكر لا يكون بنفي السجود إنما يكون بإثبات الجواز بأن يقول وجاز كلام لإصلاحها بعد سلام

Hasyiah ad-Dasuqi (Juz 3, Halaman 282)

“Ucapan untuk memperbaiki (shalat) setelah salam”

Kesimpulannya adalah bahwa apabila imam mengucapkan salam dari dua rakaat, misalnya, lalu terjadi ucapan dari dirinya, makmum, atau keduanya untuk memperbaiki (shalat), maka shalat tersebut tidak batal karenanya, dan tidak ada sujud (sahwi) yang diwajibkan, bahkan hal itu disyariatkan. Namun, apabila yang berbicara untuk memperbaiki (shalat) adalah makmum, maka ada dua syarat agar shalatnya tidak batal:

1. Ucapannya tidak terlalu banyak. Jika terlalu banyak, maka shalatnya batal.

2. Penjelasan atau pemahaman (imam) tidak bisa dicapai tanpa ucapan tersebut.

Apabila ucapan untuk memperbaiki (shalat) berasal dari imam, maka ada dua syarat tambahan di samping syarat yang telah disebutkan:

1. Imam harus mengucapkan salam dengan keyakinan bahwa shalatnya telah sempurna.

2. Tidak ada keraguan yang muncul setelah salam, baik keraguan sama sekali tidak terjadi, atau keraguan itu muncul dari makmum.

Ketahuilah bahwa ucapan untuk memperbaiki shalat tidak menyebabkan kewajiban sujud (sahwi) dan tidak membatalkan shalat, baik ucapan itu terjadi setelah salam maupun sebelum salam. Misalnya, seorang imam mengucapkan salam setelah dua rakaat, tetapi tidak memahami isyarat tasbih dari makmum, kemudian makmum berbicara untuk mengingatkannya. Imam pun bertanya kepada makmum lain, dan mereka menguatkan (bahwa shalat belum sempurna). Atau imam menambah (rakaat) atau duduk di tempat yang bukan posisi duduk (yang benar), dan tidak memahami isyarat tasbih, lalu makmum berbicara untuk memperingatkannya. Begitu pula dengan kasus seseorang melihat ada najis pada pakaian imamnya, lalu ia mendekat dan mengingatkan dengan ucapan karena imam tidak memahami isyarat tasbih.

Hal serupa berlaku pada orang yang diangkat menjadi pengganti imam (mukhtalaf) saat masuk (untuk menggantikan), tetapi tidak tahu jumlah rakaat yang telah ditunaikan oleh imam sebelumnya, maka ia bertanya kepada makmum lain tentang jumlah rakaat yang telah dikerjakan, jika ia tidak memahami isyarat.

Jika kamu telah memahami ini, maka ucapan sang pengarang mengenai “setelah salam imamnya” tidak memiliki pemahaman yang berbeda. Ia hanya menyebutkan tidak ada kewajiban sujud dalam ucapan setelah salam untuk memperbaiki shalat, sebagai bantahan terhadap pendapat yang mengatakan bahwa ucapan setelah salam untuk memperbaiki shalat tidak diperbolehkan dan membatalkan shalat.

Pendapat ini menggunakan dalil bahwa hadis Dzul Yadain telah dimansukhkan. Namun, bantahan terhadap pendapat tersebut tidak dapat dilakukan hanya dengan menafikan kewajiban sujud (sahwi). Sebaliknya, harus ditegaskan kebolehan ucapan untuk memperbaiki shalat setelah salam.

4. Al-Majmu’ Syarah Muhadzzab

(المجموع شرح المهذب – (ج 4 / ص 15

(فرع) في مذاهب العلماء في كلام المصلي هو ثلاثة أقسام (أحدها) يتكلم عامدا لا لمصلحة الصلاة فتبطل صلاته بالإجماع نقل الإجماع فيه ابن المنذر وغيره لحديث معاوية بن الحكم السابق وحديث ابن مسعود وحديث جابر وحديث زيد بن أرقم وغيرها من الأحاديث التي سنذكرها إن شاء الله تعالى (الثاني) أن يتكلم لمصلحة الصلاة بأن يقوم الإمام إلى خامسة فيقول قد صليت أربعا أو نحو ذلك فمذهبنا ومذهب جمهور العلماء أنه تبطل الصلاة وقال الأوزاعي لا تبطل وهي رواية عن مالك وأحمد لحديث ذي اليدين ودليل الجمهور عموم الأحاديث الصحيحة في النهي عن الكلام ولقوله صلى الله عليه وسلم من نابه شيء في صلاته فليسبح الرجال وليصفق النساء ” ولو كان الكلام مباحا لمصلحتها لكان أسهل وأبين وحديث ذي اليدين جوابه ما سنذكره إن شاء الله تعالى

(Al-Majmu’ Syarh al-Muhadzdzab, Juz 4, Halaman 15)

(Cabang pembahasan) mengenai hukum berbicara saat shalat memiliki tiga kategori. (Pertama): Berbicara dengan sengaja tanpa ada kepentingan shalat, maka shalatnya batal berdasarkan ijma’. Kesepakatan ini telah dinukil oleh Ibnul Mundzir dan lainnya, berdasarkan hadits Mu’awiyah bin al-Hakam yang telah disebutkan sebelumnya, juga hadits Ibnu Mas’ud, hadits Jabir, hadits Zaid bin Arqam, serta hadits-hadits lainnya yang akan disebutkan, insya Allah Ta’ala. (Kedua): Berbicara untuk kepentingan shalat, seperti apabila imam berdiri untuk rakaat kelima, lalu seseorang berkata, “Engkau telah shalat empat rakaat” atau ucapan semisalnya. Menurut mazhab kami dan mayoritas ulama, hal ini membatalkan shalat. Namun, menurut al-Awza’i, shalat tidak batal. Ini juga merupakan salah satu riwayat dari Malik dan Ahmad, dengan dalil hadits Dzul Yadain. Sedangkan dalil mayoritas ulama adalah keumuman hadits-hadits shahih tentang larangan berbicara, serta sabda Nabi ﷺ, “Apabila seseorang menghadapi sesuatu dalam shalatnya, hendaklah kaum laki-laki bertasbih dan kaum perempuan bertepuk tangan.” Jika berbicara untuk kepentingan shalat itu diperbolehkan, tentu hal tersebut lebih mudah dan lebih jelas. Adapun hadits Dzul Yadain, jawabannya akan disebutkan, insya Allah Ta’ala.Wallahu a’lam bish-shawab