logo mubaa
Logo Ittihad

DEWAN PIMPINAN PUSAT
IKATAN ALUMNI BATA-BATA

Kategori
Hukum

Meninggalkan Shalat karena Malas dalam Islam

 

Assalamualaikum.

Deskripsi/Latar Belakang:

Sholat merupakan salah satu kewajiban utama dalam Islam yang menjadi pilar kedua dari rukun Islam. Sholat lima waktu wajib dilakukan oleh setiap Muslim yang telah baligh, berakal, dan tidak memiliki uzur syar’i. Kewajiban ini ditegaskan dalam Al-Qur’an dan Hadis Nabi Muhammad ﷺ, di antaranya dalam firman Allah:

إِنَّ ٱلصَّلَوٰةَ كَانَتْ عَلَى ٱلْمُؤْمِنِينَ كِتَٰبًۭا مَّوْقُوتًۭا

“Sesungguhnya sholat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.” (QS. An-Nisa: 103).

Namun, dalam praktiknya, tidak sedikit umat Islam yang meninggalkan sholat karena alasan tertentu, termasuk karena malas. Rasa malas ini dapat muncul akibat lemahnya keimanan, terbiasa menunda-nunda, atau kurangnya kesadaran akan pentingnya sholat sebagai ibadah yang menentukan kualitas hubungan seseorang dengan Allah.

Meninggalkan sholat karena malas sering menjadi permasalahan besar dalam kehidupan beragama. Dalam pandangan syariat, meninggalkan sholat dengan sengaja memiliki konsekuensi serius, baik dari sisi akidah maupun hukuman.

Pertanyaannya

1.Bagaimana hukum seseorang meninggalkan sholat lima waktu menurut madzhab yang empat,

2.Membunuh orang muslim hukumnya haram tapi bagaimana dengan membunuh muslim yang meninggalkan shalat karena malas ?

Waalaikumsalam salam

1. Hukum Meninggalkan Shalat karena Malas Menurut Mazhab Empat

Mazhab Hanafiyah:

Orang yang meninggalkan shalat karena malas dihukumi sebagai fasiq (pelaku dosa besar). Ia tidak dihukum mati, tetapi diberi hukuman ta‘zir dan dipenjara hingga ia bertaubat atau meninggal dunia.

Mazhab Maliki dan Syafi’i:
Orang yang meninggalkan shalat tetap dianggap muslim, tetapi berdosa besar. Hukuman bagi mereka adalah hukuman mati sebagai ta’zir (dalam pengaturan pemerintah), jika setelah diingatkan ia tetap enggan melaksanakan shalat.

Mazhab Hanbali:
Meninggalkan shalat dianggap sebagai kekufuran besar yang mengeluarkan seseorang dari Islam. Jika ia tidak bertaubat setelah diingatkan, maka hukumannya adalah hukuman mati.

2. Hukum Membunuh Muslim yang Meninggalkan Shalat karena Malas

Membunuh seorang muslim tanpa otoritas syar’i adalah haram, sebagaimana firman Allah:

وَمَن يَقْتُلْ مُؤْمِنًۭا مُّتَعَمِّدًۭا فَجَزَآؤُهُۥ جَهَنَّمُ خَـٰلِدًۭا فِيهَا

“Dan barang siapa yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja, maka balasannya ialah neraka Jahanam, ia kekal di dalamnya.”
(QS. An-Nisa: 93)
Namun, untuk pelaku yang meninggalkan shalat:

Dalam Pandangan Syariat:
Hukuman mati hanya dapat dijatuhkan oleh pemerintah atau hakim syar’i berdasarkan hukum Islam. Individu dilarang mengeksekusi hukuman sendiri.

Pendapat Ulama tentang Hukuman:

Imam Syafi’i: Jika seseorang meninggalkan shalat dengan mengakui kewajibannya tetapi tetap enggan melaksanakan, ia diberi waktu untuk bertaubat. Jika menolak, ia dihukum mati sebagai bentuk ta’zir.

Mazhab Hanbali: Meninggalkan shalat dianggap murtad. Jika tetap meninggalkan setelah diingatkan, hukumannya adalah mati sebagai bentuk hadd (hukuman tetap).

Dalil-dalil yang Mendukung Pandangan Ini

Dari Al-Qur’an:

فَخَلَفَ مِنۢ بَعْدِهِمْ خَلْفٌ أَضَاعُوا۟ ٱلصَّلَوٰةَ وَٱتَّبَعُوا۟ ٱلشَّهَوَٰتِ فَسَوْفَ يَلْقَوْنَ غَيًّۭا
(مريم: ٥٩).

“Maka datanglah setelah mereka pengganti yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka mereka kelak akan menemui kesesatan.”QS. Maryam: 59:

{وَأَقِيمُوا۟ ٱلصَّلَوٰةَ وَلَا تَكُونُوا۟ مِنَ ٱلْمُشْرِكِينَ}
(الروم: ٣١).

“Dan hendaknya mereka mendirikan shalat dan janganlah menjadi orang-orang yang musyrik.”
QS. Ar-Rum: 31:

Dari Hadits:

قال النبي ﷺ:
“إِنَّ بَيْنَ الرَّجُلِ وَبَيْنَ الشِّرْكِ وَالْكُفْرِ تَرْكَ الصَّلَاةِ”
(رواه مسلم، رقم ٨٢).

Nabi ﷺ bersabda:
“Sesungguhnya pembatas antara seseorang dengan syirik dan kekufuran adalah meninggalkan shalat.”
(HR. Muslim no. 82)

حديث أنس بن مالك:
“إِذَا سَمِعْنَا الأَذَانَ لَمْ نُغِرْ عَلَيْهِمْ، وَإِنْ لَمْ نَسْمَعْهُ أَغَرْنَا عَلَيْهِمْ”
(رواه البخاري، رقم ٦١٠؛ ومسلم، رقم ١٣٦).

Hadits Anas bin Malik:
“Jika terdengar adzan, maka kami tidak menyerang mereka. Namun, jika tidak terdengar, maka kami serang.”
(HR. Bukhari no. 610, Muslim no. 1365)

Pendapat Sahabat:

قال عبد الله بن شقيق:
“كان أصحاب رسول الله ﷺ لا يرون شيئًا من الأعمال تركه كفر إلا الصلاة”
(رواه الترمذي، رقم ٢٦٢٢).

Abdullah bin Syaqiq berkata:
“Para sahabat Nabi tidak memandang ada amalan yang jika ditinggalkan menyebabkan kekufuran kecuali shalat.”
(HR. Tirmidzi no. 2622)

Kesimpulan

Meninggalkan shalat karena malas adalah dosa besar dengan hukuman yang bergantung pada pendapat mazhab:

Tidak kafir menurut jumhur ulama (Syafi’i, Maliki, Hanafi) tetapi tetap mendapatkan hukuman berat.

Dianggap kafir oleh Mazhab Hanbali.

Eksekusi hukuman terhadap pelaku hanya boleh dilakukan oleh pemerintah yang berwenang dalam penerapan syariat. Individu tidak diperkenankan melakukan pembunuhan atas dasar pribadi.

Nasihat dan Dakwah:
Orang yang meninggalkan shalat wajib diingatkan, didakwahi, dan diberi kesempatan bertaubat sebelum hukuman dijatuhkan.

Wallahu a’lam.

TAMBAHAN REFERENSI:

الموسوعة الفقهية الكويتيه ص ٥٣-٥٤

حُكْمُ تَارِكِ الصَّلاَةِ:

٥ – لِتَارِكِ الصَّلاَةِ حَالَتَانِ: إِمَّا أَنْ يَتْرُكَهَا جُحُودًا لِفَرْضِيَّتِهَا، أَوْ تَهَاوُنًا وَكَسَلاً لاَ جُحُودًا. فَأَمَّا الْحَالَةُ الأُْولَى: فَقَدْ أَجْمَعَ الْعُلَمَاءُ عَلَى أَنَّ تَارِكَ الصَّلاَةِ جُحُودًا لِفَرْضِيَّتِهَا كَافِرٌ مُرْتَدٌّ يُسْتَتَابُ، فَإِنْ تَابَ وَإِلاَّ قُتِل كُفْرًا كَجَاحِدِ كُل مَعْلُومٍ مِنَ الدِّينِ بِالضَّرُورَةِ، وَمِثْل ذَلِكَ مَا لَوْ جَحَدَ رُكْنًا أَوْ شَرْطًا مُجْمَعًا عَلَيْهِ. وَاسْتَثْنَى الشَّافِعِيَّةُ وَالْحَنَابِلَةُ مِنْ ذَلِكَ مَنْ أَنْكَرَهَا جَاهِلاً لِقُرْبِ عَهْدِهِ بِالإِْسْلاَمِ أَوْ نَحْوِهِ فَلَيْسَ مُرْتَدًّا، بَل يَعْرِفُ الْوُجُوبَ، فَإِنْ عَادَ بَعْدَ ذَلِكَ صَارَ مُرْتَدًّا. وَأَمَّا الْحَالَةُ الثَّانِيَةُ: فَقَدِ اخْتَلَفَ الْفُقَهَاءُ فِيهَا – وَهِيَ: تَرْكُ الصَّلاَةِ تَهَاوُنًا وَكَسَلاً لاَ جُحُودًا – فَذَهَبَ الْمَالِكِيَّةُ وَالشَّافِعِيَّةُ إِلَى أَنَّهُ يُقْتَل حَدًّا أَيْ أَنَّ حُكْمَهُ بَعْدَ الْمَوْتِ حُكْمُ الْمُسْلِمِ فَيُغَسَّل، وَيُصَلَّى عَلَيْهِ، وَيُدْفَنُ مَعَ الْمُسْلِمِينَ؛ لِقَوْل النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أُمِرْتُ أَنْ أُقَاتِل النَّاسَ حَتَّى يَشْهَدُوا أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُول اللَّهِ وَيُقِيمُوا الصَّلاَةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ، فَإِنْ فَعَلُوا ذَلِكَ عَصَمُوا مِنِّي دِمَاءَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ إِلاَّ بِحَقِّ الإِْسْلاَمِ وَحِسَابُهُمْ عَلَى اللَّهِ (١) وَلأَِنَّهُ تَعَالَى أَمَرَ بِقَتْل الْمُشْرِكِينَ ثُمَّ قَال: {فَإِنْ تَابُوا وَأَقَامُوا الصَّلاَةَ وَآتَوْا الزَّكَاةَ فَخَلُّوا سَبِيلَهُمْ (٢) } وَقَال صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: خَمْسُ صَلَوَاتٍ كَتَبَهُنَّ اللَّهُ عَلَى الْعِبَادِ فَمَنْ جَاءَ بِهِنَّ لَمْ يُضَيِّعْ مِنْهُنَّ شَيْئًا اسْتِخْفَافًا بِحَقِّهِنَّ كَانَ لَهُ عِنْدَ اللَّهِ عَهْدٌ أَنْ يُدْخِلَهُ الْجَنَّةَ، وَمَنْ لَمْ يَأْتِ بِهِنَّ فَلَيْسَ لَهُ عِنْدَ اللَّهِ عَهْدٌ إِنْ شَاءَ عَذَّبَهُ وَإِنْ شَاءَ أَدْخَلَهُ الْجَنَّةَ (٣) فَلَوْ كَفَرَ لَمْ يَدْخُل تَحْتَ الْمَشِيئَةِ. وَذَهَبَ الْحَنَفِيَّةُ إِلَى أَنَّ تَارِكَ الصَّلاَةِ تَكَاسُلاً عَمْدًا فَاسِقٌ لاَ يُقْتَل بَل يُعَزَّرُ وَيُحْبَسُ حَتَّى يَمُوتَ أَوْ يَتُوبَ. وَذَهَبَ الْحَنَابِلَةُ: إِلَى أَنَّ تَارِكَ الصَّلاَةِ تَكَاسُلاً يُدْعَى إِلَى فِعْلِهَا وَيُقَال لَهُ: إِنْ صَلَّيْتَ وَإِلاَّ قَتَلْنَاكَ، فَإِنْ صَلَّى وَإِلاَّ وَجَبَ قَتْلُهُ وَلاَ يُقْتَل حَتَّى يُحْبَسَ ثَلاَثًا وَيُدْعَى فِي وَقْتِ كُل صَلاَةٍ، فَإِنْ صَلَّى وَإِلاَّ قُتِل حَدًّا، وَقِيل كُفْرًا، أَيْ لاَ يُغَسَّل وَلاَ يُصَلَّى عَلَيْهِ وَلاَ يُدْفَنُ فِي مَقَابِرِ الْمُسْلِمِينَ. لَكِنْ لاَ يُرَقُّ وَلاَ يُسْبَى لَهُ أَهْلٌ وَلاَ وَلَدٌ كَسَائِرِ الْمُرْتَدِّينَ

Hukum Orang yang Meninggalkan Shalat

Orang yang meninggalkan shalat memiliki dua keadaan:

Meninggalkan shalat karena mengingkari kewajibannya. Meninggalkan shalat karena malas dan lalai tanpa mengingkari kewajibannya. Keadaan Pertama:

Para ulama sepakat bahwa orang yang meninggalkan shalat karena mengingkari kewajibannya dihukumi sebagai kafir murtad. Ia diminta bertaubat, dan jika ia tidak bertaubat maka ia dibunuh dalam keadaan kafir, sebagaimana hukuman bagi siapa saja yang mengingkari perkara agama yang telah diketahui secara pasti (ma‘lum min ad-din bi ad-dharurah).
Demikian pula, orang yang mengingkari rukun atau syarat yang telah disepakati dalam shalat.

Namun, mazhab Syafi‘iyah dan Hanabilah memberikan pengecualian bagi orang yang mengingkari kewajiban shalat karena ketidaktahuan, seperti orang yang baru masuk Islam atau orang yang serupa dengannya. Orang tersebut tidak dianggap murtad, tetapi ia diberitahu tentang kewajibannya. Jika setelah diberitahu ia tetap mengingkari, maka ia dianggap murtad.

Keadaan Kedua:

Meninggalkan shalat karena malas dan lalai tanpa mengingkari kewajibannya.
Para ulama berbeda pendapat tentang hukum orang yang berada dalam keadaan ini:

Mazhab Malikiyah dan Syafi‘iyah:
Orang yang meninggalkan shalat karena malas atau lalai dihukum dengan hukuman mati sebagai had (sanksi syar‘i), tetapi ia tetap dianggap sebagai seorang muslim. Setelah wafat, jenazahnya dimandikan, dishalatkan, dan dikuburkan di pemakaman kaum muslimin.
Dalil mereka adalah sabda Nabi ﷺ:

“Aku diperintahkan untuk memerangi manusia hingga mereka bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah, dan Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat. Jika mereka melakukan itu, maka mereka telah menjaga darah dan harta mereka dariku kecuali dengan hak Islam, dan perhitungan mereka ada pada Allah.”
(HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Juga firman Allah Ta‘ala:

“Jika mereka bertaubat, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat, maka lepaskanlah mereka.”
(QS. At-Taubah: 5)

Selain itu, Nabi ﷺ bersabda:

“Lima shalat yang Allah wajibkan atas hamba-Nya. Barang siapa yang menunaikannya tanpa meremehkan haknya, maka baginya janji Allah untuk memasukkannya ke surga. Namun, barang siapa yang tidak menunaikannya, maka ia tidak memiliki janji dengan Allah; jika Dia berkehendak, Dia mengazabnya, dan jika Dia berkehendak, Dia memasukkannya ke surga.”
(HR. Abu Dawud dan An-Nasa’i)

Hadis ini menunjukkan bahwa orang yang meninggalkan shalat karena malas tidak dihukumi kafir, karena ia masih berada di bawah kehendak Allah.

Mazhab Hanafiyah:
Orang yang meninggalkan shalat karena malas dihukumi sebagai fasiq (pelaku dosa besar). Ia tidak dihukum mati, tetapi diberi hukuman ta‘zir dan dipenjara hingga ia bertaubat atau meninggal dunia.

Mazhab Hanabilah:
Orang yang meninggalkan shalat karena malas dipanggil untuk melaksanakan shalat. Jika ia tetap tidak mau shalat, maka ia dihukum mati. Ia tidak langsung dihukum mati, tetapi terlebih dahulu ditahan selama tiga hari, dan setiap waktu shalat ia diajak untuk bertaubat. Jika ia masih tidak mau shalat, maka ia dihukum mati.

Dalam hal status hukumnya setelah wafat, ada dua pendapat di kalangan Hanabilah:

Pendapat pertama: Ia dihukum mati sebagai had, dan statusnya tetap sebagai seorang muslim. Jenazahnya dimandikan, dishalatkan, dan dikuburkan di pemakaman muslimin. Pendapat kedua: Ia dihukumi kafir. Oleh karena itu, jenazahnya tidak dimandikan, tidak dishalatkan, dan tidak dikuburkan di pemakaman muslimin. Namun, keluarganya tidak diperbudak, dan anak-anaknya tidak dijadikan tawanan sebagaimana perlakuan terhadap orang murtad pada umumnya.

شرح سلم التوفيق ص ١٨
“ويجب على ولاة الأمر من الإمام أو نائبه (قتل تارك الصلاة) أو تارك شرط من شروطها المجمع عليها أو كن من أركانها كذلك ودخل فيها الجمعة في محل الإجماع عليها (كلا) أي تساهلا وتهاونا بأن يعد ذلك سهلا هينا (إن لم يتب) أي لم يمتثل الأمر ولم يصل ويتوعد بالقتل إن تركها فإن فعلها بعد ذلك ترك وإلا قتل بضرب عنقه بنحو السيف ولا يقتل بالفائتة إلا إن توعد على تركها قبل وإذا قال صليت قبل منه وإن كان جالسا عندنا ولم نشاهد ذلك منه فلا يعتد بقتل الاحتمال إنه طرأ عذر جوز له الصلاة بالإيماء بخلاف ما لو قال صليت في الحجر لا يقبل منه لأنه من خوارق العادات التي لا يعتد بها شرعًا”

“Dan wajib bagi para pemimpin (imam atau wakilnya) untuk (membunuh orang yang meninggalkan shalat) atau orang yang meninggalkan syarat-syarat shalat yang telah disepakati atau rukun-rukunnya, dan termasuk di dalamnya shalat Jumat di tempat yang telah disepakati (keduanya). Artinya, bersikap lalai dan meremehkan dengan menganggap hal itu mudah dan ringan (jika tidak bertaubat), yaitu tidak mematuhi perintah dan tidak shalat, dan mengancam dengan hukuman mati jika dia meninggalkannya. Jika dia melakukannya setelah itu dan meninggalkannya lagi, maka dia dibunuh dengan cara dipenggal lehernya dengan pedang, dan tidak dibunuh karena meninggalkan shalat yang telah lewat kecuali jika dia telah mengancam untuk meninggalkannya sebelumnya. Dan jika dia mengatakan telah shalat, maka hal itu diterima darinya meskipun dia sedang duduk di hadapan kita dan kita tidak melihatnya melakukan shalat, karena kita tidak dapat menghukumi dengan dugaan bahwa dia sedang dalam keadaan uzur sehingga dibolehkan baginya untuk shalat dengan isyarat. Berbeda halnya jika dia mengatakan telah shalat di atas batu, hal itu tidak diterima darinya karena termasuk dalam kategori hal-hal yang aneh yang tidak dapat dijadikan dasar hukum.”
Penjelasan Singkat:
Ibarat di atas membahas tentang hukum bagi orang yang meninggalkan shalat dan kewajiban pemimpin dalam menegakkan hukum tersebut. Inti dari teks ini adalah:
✅Hukuman bagi yang meninggalkan shalat: Ibarat ini menyatakan bahwa orang yang meninggalkan shalat atau syarat-syarat shalat yang telah disepakati harus dibunuh.
✅ Syarat-syarat pembunuhan: Pembunuhan hanya boleh dilakukan jika orang tersebut tidak bertaubat dan terus-menerus meninggalkan shalat.
✅ Pengecualian: Ada beberapa pengecualian dalam penerapan hukum ini, misalnya jika seseorang mengaku telah shalat namun tidak dapat dibuktikan, maka dia tidak dapat dihukum

الأم الشافعى ص ٢٩١- ٢٩٢

الْحُكْمُ فِي تَارِكِ الصَّلَاةِ.
أَخْبَرَنَا الرَّبِيعُ قَالَ قَالَ الشَّافِعِيُّ – رَحِمَهُ اللَّهُ تَعَالَى -: مَنْ تَرَكَ الصَّلَاةَ الْمَكْتُوبَةَ مِمَّنْ دَخَلَ فِي الْإِسْلَامِ قِيلَ لَهُ لِمَ لَا تُصَلِّي؟ فَإِنْ ذَكَرَ نِسْيَانًا قُلْنَا فَصَلِّ إذَا ذَكَرْت، وَإِنْ ذَكَرَ مَرَضًا قُلْنَا فَصَلِّ كَيْفَ أَطَقْت قَائِمًا أَوْ قَاعِدًا أَوْ مُضْطَجِعًا أَوْ مُومِيًا فَإِنْ قَالَ أَنَا أُطِيقُ الصَّلَاةَ، وَأُحْسِنُهَا، وَلَكِنْ لَا أُصَلِّي وَإِنْ كَانَتْ عَلَيَّ فَرْضًا قِيلَ لَهُ الصَّلَاةُ عَلَيْك شَيْءٌ لَا يَعْمَلُهُ عَنْك غَيْرُك، وَلَا تَكُونُ إلَّا بِعَمَلِك فَإِنْ صَلَّيْت، وَإِلَّا اسْتَتَبْنَاك فَإِنْ تُبْت، وَإِلَّا قَتَلْنَاك فَإِنَّ الصَّلَاةَ أَعْظَمُ مِنْ الزَّكَاةِ، وَالْحُجَّةُ فِيهَا مَا وَصَفْت مِنْ أَنَّ أَبَا بَكْرٍ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – قَالَ ” لَوْ مَنَعُونِي عِقَالًا مِمَّا أَعْطَوْا رَسُولَ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – لَقَاتَلْتهمْ عَلَيْهِ لَا تُفَرِّقُوا بَيْنَ مَا جَمَعَ اللَّهُ.
(قَالَ الشَّافِعِيُّ): يَذْهَبُ فِيمَا أَرَى، وَاَللَّهُ تَعَالَى أَعْلَمُ إلَى قَوْلِ اللَّهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى: {وَأَقِيمُوا الصَّلاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ}: وَأَخْبَرَ أَبُو بَكْرٍ أَنَّهُ إنَّمَا يُقَاتِلُهُمْ عَلَى الصَّلَاةِ وَالزَّكَاةِ، وَأَصْحَابُ رَسُولِ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – قَاتَلُوا مَنْ مَنَعَ الزَّكَاةَ إذْ كَانَتْ فَرِيضَةً مِنْ فَرَائِضِ اللَّهِ جَلَّ ثَنَاؤُهُ، وَنَصَبَ دُونَهَا أَهْلُهَا فَلَمْ يَقْدِرْ عَلَى أَخْذِهَا مِنْهُمْ طَائِعِينَ، وَلَمْ يَكُونُوا مَقْهُورِينَ عَلَيْهَا فَتُؤْخَذُ مِنْهُمْ كَمَا تُقَامُ عَلَيْهِمْ الْحُدُودُ كَارِهِينَ وَتُؤْخَذُ أَمْوَالُهُمْ لِمَنْ وَجَبَتْ لَهُ بِزَكَاةٍ أَوْ دَيْنٍ كَارِهِينَ أَوْ غَيْرَ كَارِهِينَ فَاسْتَحَلُّوا قِتَالَهُمْ وَالْقِتَالُ سَبَبُ الْقَتْلِ فَلَمَّا كَانَتْ الصَّلَاةُ، وَإِنْ كَانَ تَارِكُهَا فِي أَيْدِينَا غَيْرَ مُمْتَنِعٍ مِنَّا فَإِنَّا لَا نَقْدِرُ عَلَى أَخْذِ الصَّلَاةِ مِنْهُ لِأَنَّهَا لَيْسَتْ بِشَيْءٍ يُؤْخَذُ مِنْ يَدَيْهِ مِثْلُ اللُّقَطَةِ، وَالْخَرَاجِ، وَالْمَالِ.
قُلْنَا إنْ صَلَّيْت، وَإِلَّا قَتَلْنَاك كَمَا يُفَكِّرُ فَنَقُولُ إنْ قَبِلْت الْإِيمَانَ، وَإِلَّا قَتَلْنَاك إذْ كَانَ الْإِيمَانُ لَا يَكُونُ إلَّا بِقَوْلِك، وَكَانَتْ الصَّلَاةُ، وَالْإِيمَانُ مُخَالِفَيْنِ مَعًا مَا فِي يَدَيْك، وَمَا نَأْخُذُ مِنْ مَالِك لِأَنَّا نَقْدِرُ عَلَى أَخْذِ الْحَقِّ مِنْك فِي ذَلِكَ، وَإِنْ كَرِهْت فَإِنْ شَهِدَ عَلَيْهِ شُهُودٌ أَنَّهُ تَرَكَ الصَّلَاةَ سُئِلَ عَمَّا قَالُوا فَإِنْ قَالَ كَذَبُوا، وَقَدْ يُمْكِنُهُ أَنْ يُصَلِّيَ حَيْثُ لَا يَعْلَمُونَ صُدِّقَ، وَإِنْ قَالَ نَسِيت صُدِّقَ وَكَذَلِكَ لَوْ شَهِدُوا أَنَّهُ صَلَّى جَالِسًا، وَهُوَ صَحِيحٌ فَإِنْ قَالَ: أَنَا مَرِيضٌ أَوْ تَطَوَّعْت صُدِّقَ (قَالَ الشَّافِعِيُّ): وَقَدْ قِيلَ يُسْتَتَابُ تَارِكُ الصَّلَاةِ ثَلَاثًا، وَذَلِكَ إنْ شَاءَ اللَّهُ تَعَالَى حَسَنٌ فَإِنْ صَلَّى فِي الثَّلَاثِ، وَإِلَّا قُتِلَ، وَقَدْ خَالَفَنَا بَعْضُ النَّاسِ فِيمَنْ تَرَكَ الصَّلَاةَ إذَا أُمِرَ بِهَا، وَقَالَ: لَا أُصَلِّيهَا فَقَالَ: لَا يُقْتَلُ، وَقَالَ بَعْضُهُمْ: أَضْرِبُهُ وَأَحْبِسُهُ، وَقَالَ بَعْضُهُمْ أَحْبِسُهُ، وَلَا أَضْرِبُهُ، وَقَالَ بَعْضُهُمْ لَا أَضْرِبُهُ، وَلَا أَحْبِسُهُ، وَهُوَ أَمِينٌ عَلَى صَلَاتِهِ (قَالَ الشَّافِعِيُّ): فَقُلْت لِمَنْ يَقُولُ لَا أَقْتُلُهُ: أَرَأَيْت الرَّجُلَ تَحْكُمُ عَلَيْهِ بِحُكْمٍ بِرَأْيِك وَهُوَ مِنْ أَهْلِ الْفِقْهِ فَيَقُولُ قَدْ أَخْطَأْت الْحُكْمَ، وَوَاللَّهِ لَا أُسَلِّمُ مَا حَكَمْت بِهِ لِمَنْ حَكَمْت لَهُ قَالَ فَإِنْ قَدَرْتُ عَلَى أَخْذِهِ مِنْهُ أَخَذْتُهُ مِنْهُ، وَلَمْ أَلْتَفِتْ إلَى قَوْلِهِ، وَإِنْ لَمْ أَقْدِرْ، وَنَصَبَ دُونَهُ قَاتَلْتُهُ حَتَّى آخُذَهُ أَوْ أَقْتُلَهُ فَقُلْت لَهُ: وَحُجَّتُك أَنَّ أَبَا بَكْرٍ قَاتَلَ مَنْ مَنَعَ الزَّكَاةَ، وَقَتَلَ مِنْهُمْ، قَالَ: نَعَمْ، قُلْت: فَإِنْ قَالَ لَك: الزَّكَاةُ فَرْضٌ مِنْ اللَّهِ لَا يَسَعُ جَهْلُهُ، وَحُكْمُك رَأْيٌ مِنْك يَجُوزُ لِغَيْرِك عِنْدَك، وَعِنْدَ غَيْرِك أَنْ يَحْكُمَ بِخِلَافِهِ فَكَيْفَ تَقْتُلُنِي عَلَى مَا لَسْت عَلَى ثِقَةٍ مِنْ أَنَّك أَصَبْت فِيهِ كَمَا تَقْتُلُ مَنْ مَنَعَ فَرْضَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ فِي الزَّكَاةِ الَّذِي لَا شَكَّ فِيهِ؟ قَالَ: لِأَنَّهُ حَقٌّ عِنْدِي وَعَلَيَّ جَبْرُك عَلَيْهِ.
(قُلْت): قَالَ لَك، وَمَنْ قَالَ لَك إنَّ عَلَيْك جَبْرِي عَلَيْهِ؟ قَالَ: إنَّمَا وُضِعَ الْحُكَّامُ لِيُجْبِرُوا عَلَى مَا رَأَوْا (قُلْت): فَإِنْ قَالَ لَك: عَلَيَّ مَا حَكَمُوا بِهِ مِنْ حُكْمِ اللَّهِ أَوْ السُّنَّةِ أَوْ مَا لَا اخْتِلَافَ فِيهِ؟ قَالَ: قَدْ يَحْكُمُونَ بِمَا فِيهِ الِاخْتِلَافُ (قُلْت): فَإِنْ قَالَ: فَهَلْ سَمِعْت بِأَحَدٍ مِنْهُمْ قَاتَلَ عَلَى رَدِّ رَأْيِهِ فَتَقْتَدِي بِهِ؟ فَقَالَ: وَأَنَا لَمْ أَجِدْ هَذَا فَإِنِّي إذَا كَانَ لِي الْحُكْمُ فَامْتَنَعَ مِنْهُ قَاتَلْتُهُ عَلَيْهِ (قُلْت): وَمَنْ قَالَ لَك هَذَا؟ (وَقُلْت): أَرَأَيْت لَوْ قَالَ لَك قَائِلٌ: مَنْ ارْتَدَّ عَنْ الْإِسْلَامِ إذَا عَرَضْتَهُ عَلَيْهِ فَقَالَ قَدْ عَرَفْتُهُ، وَلَا أَقُولُ بِهِ أَحْبِسُهُ وَأَضْرِبُهُ حَتَّى يَقُولَ بِهِ قَالَ: لَيْسَ ذَلِكَ لَهُ لِأَنَّهُ قَدْ بَدَّلَ دِينَهُ، وَلَا يُقْبَلُ مِنْهُ إلَّا أَنْ يَقُولَ بِهِ قُلْت: أَفَتَعْدُو الصَّلَاةُ إذْ كَانَتْ مِنْ دِينِهِ، وَكَانَتْ لَا تَكُونُ إلَّا بِهِ كَمَا لَا يَكُونُ الْقَوْلُ بِالْإِيمَانِ إلَّا بِهِ أَنْ يُقْتَلَ عَلَى تَرْكِهَا أَوْ يَكُونَ أَمِينًا فِيهَا كَمَا قَالَ بَعْضُ أَصْحَابِك: فَلَا نَحْبِسُهُ، وَلَا نَضْرِبُهُ؟ قَالَ لَا يَكُونُ أَمِينًا عَلَيْهَا إذَا ظَهَرَ لِي أَنَّهُ لَا يُصَلِّيهَا، وَهِيَ حَقٌّ عَلَيْهِ قُلْت أَفَتَقْتُلُهُ بِرَأْيِك فِي الِامْتِنَاعِ مِنْ حُكْمِك بِرَأْيِك، وَتَدَعُ قَتْلَهُ فِي الِامْتِنَاعِ مِنْ الصَّلَاةِ الَّتِي هِيَ أَبْيَنُ مَا افْتَرَضَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ عَلَيْهِ بَعْدَ تَوْحِيدِ اللَّهِ وَشَهَادَةِ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – وَالْإِيمَانِ بِمَا جَاءَ بِهِ مِنْ اللَّهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى

Hukum tentang Orang yang Meninggalkan Shalat
Al-Rabi’ mengabarkan kepada kami bahwa Imam al-Syafi’i rahimahullah berkata: “Barang siapa yang meninggalkan shalat wajib setelah masuk Islam, maka ia ditanya, ‘Mengapa kamu tidak shalat?’ Jika ia menjawab karena lupa, maka kami katakan kepadanya, ‘Shalatlah ketika kamu ingat.’ Jika ia menyebutkan sakit, kami katakan, ‘Shalatlah sesuai kemampuanmu, baik berdiri, duduk, berbaring, atau dengan isyarat.’ Jika ia berkata, ‘Aku mampu shalat dan menguasainya, tetapi aku tidak mau shalat meskipun itu kewajibanku,’ maka ia diberitahu, ‘Shalat adalah kewajiban yang hanya bisa dilakukan oleh dirimu sendiri, tidak bisa diwakilkan kepada orang lain. Maka, shalatlah atau kami akan memintamu bertobat. Jika kamu bertobat, maka itu baik. Jika tidak, kami akan membunuhmu karena shalat lebih besar (urgensinya) daripada zakat.’”
Imam al-Syafi’i kemudian berkata: “Dalil tentang hal ini adalah apa yang telah aku sampaikan bahwa Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu berkata, ‘Seandainya mereka menahan seutas tali (untuk zakat) yang dahulu mereka berikan kepada Rasulullah ﷺ, aku akan memerangi mereka karenanya. Janganlah kalian memisahkan antara apa yang Allah gabungkan.’”
Al-Syafi’i melanjutkan: “Menurutku, Allah Ta’ala lebih mengetahui, dalil dari firman-Nya: {Dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat}. Abu Bakar menyampaikan bahwa ia akan memerangi mereka karena meninggalkan shalat dan zakat. Para sahabat Rasulullah ﷺ juga memerangi orang-orang yang tidak mau menunaikan zakat karena zakat adalah salah satu kewajiban Allah. Mereka memerangi mereka hingga dapat mengambil zakat tersebut. Namun, shalat berbeda. Orang yang meninggalkannya berada di bawah kekuasaan kita, tetapi kita tidak bisa mengambil shalat darinya karena shalat bukanlah sesuatu yang bisa diambil seperti harta, pajak, atau barang.”
Al-Syafi’i berkata: “Kami berkata kepadanya, ‘Shalatlah atau kami akan membunuhmu, sebagaimana kami berkata kepada seseorang yang menolak iman: ‘Berimanlah, atau kami akan membunuhmu.’ Karena iman tidak bisa terjadi kecuali dengan pengakuanmu, begitu pula shalat adalah ibadah yang hanya bisa dilakukan oleh dirimu sendiri.”
Pendapat dalam Menyikapi Orang yang Meninggalkan Shalat
Al-Syafi’i berkata: “Ada pendapat bahwa orang yang meninggalkan shalat diberi waktu untuk bertobat selama tiga hari. Jika ia shalat dalam waktu tersebut, maka ia dibiarkan hidup. Jika tidak, ia dibunuh. Pendapat ini, insyaAllah, adalah baik. Namun, sebagian ulama berbeda pendapat dengan kami terkait hukum ini. Ada yang berpendapat bahwa orang tersebut tidak dibunuh, melainkan hanya dipukul atau dipenjara. Ada juga yang mengatakan cukup dipenjara tanpa dipukul, atau bahkan tidak dipukul dan tidak dipenjara, karena ia dianggap amanah terhadap shalatnya.”
Imam al-Syafi’i menjawab pendapat ini dengan berkata: “Jika seseorang menolak keputusan hakim dengan alasan bahwa keputusan itu salah, maka hakim akan tetap mengambil haknya dengan paksa. Begitu pula, Abu Bakar memerangi orang yang tidak menunaikan zakat karena zakat adalah kewajiban yang jelas dari Allah, sedangkan shalat memiliki kedudukan yang lebih tinggi.”
Kesimpulan Imam al-Syafi’i
Al-Syafi’i menyatakan bahwa orang yang meninggalkan shalat tanpa uzur wajib diberi peringatan dan diminta bertobat. Jika tetap tidak mau shalat, maka ia dihukum mati, karena meninggalkan shalat adalah pelanggaran besar terhadap kewajiban utama setelah iman kepada Allah dan Rasul-Nya ﷺ.Wallahu A’lam bish-shawab

Kategori
Hukum

Larangan Membaca Al-Qur’an Secara Terbalik: Pentingnya Mematuhi Urutan Ayat dalam Surat  Al-Qur’an

 

Assalamu alaikum wr wb.
Yth para masyayikh dan asatidz dan saudara”ku sekalian yang dirahmati alloh swt.
Apa hukum nya membaca yasin atau surat”yang lain di dalam alqu’an dengan dibaca bersama sama dengan di pimpin seorang ustadz ,tapi bacaan nya ada yang terputus putus atau ada yang di loncat” atau putus di tengah karena tidak kuat nafas
Ada yang utuh dan ada yang loncat” dari ayat 5 loncat ke ayat 7 karena takut ketinggalan jamaah yang lain

Terima kasih banyak

Wassalamu alaikum wr wb.

Waalaikum Salam.

Jawaban.

Susunan Ayat Al-Qur’an: Pentingnya Membaca Sesuai Urutan Susunan ayat Al-Qur’an memiliki keistimewaan berupa i’jaz, makna mendalam, hikmah, keagungan, dan keindahan yang tak tertandingi. Urutan ayat-ayat ini bukan sekadar kebetulan, melainkan memiliki arti besar yang mencerminkan kesempurnaan Al-Qur’an. Oleh karena itu, membaca Al-Qur’an harus dilakukan secara tertib sesuai urutan ayat agar i’jaz, makna, dan keindahannya tetap terjaga. Membaca Al-Qur’an secara terbalik, dari ayat terakhir menuju ayat pertama dalam sebuah surat, atau melompat-lompat tanpa tertib, merupakan tindakan yang dilarang. Hal ini dapat merusak susunan ayat, mencederai bangunan makna, dan menghilangkan keindahan serta hikmah yang terkandung di dalamnya. Imam An-Nawawi secara tegas mengingatkan bahwa membaca Al-Qur’an dengan urutan terbalik dilarang keras dalam agama. Beliau menjelaskan: “Adapun pembacaan surat dalam Al-Qur’an secara terbalik dari ayat terakhir ke ayat pertama dilarang keras karena praktik tersebut dapat menghilangkan sebagian jenis i‘jaz Al-Qur’an dan melenyapkan hikmah urutan ayat-ayat Al-Qur’an.” (Imam An-Nawawi, At-Tibyan fi Adabi Hamalatil Qur’an, [Kairo, Darus Salam: 2020 M/1441 H], hlm. 85). Imam An-Nawawi juga mengutip pendapat dua ulama besar, yaitu Ibrahim An-Nakha’i (ulama dari generasi Tabi’in) dan Imam Malik, yang menilai pembacaan Al-Qur’an secara terbalik sebagai tindakan yang tidak disukai dan dianggap aib besar. Sebagaimana riwayat: “Ibnu Abi Dawud meriwayatkan Ibrahim An-Nakha’ dan Imam Malik bahwa keduanya tidak menyukai cara demikian (pembacaan Al-Qur’an dari ayat terakhir ke ayat pertama). Imam Malik menilai tindakan tersebut sebagai kekeliruan besar dan mengatakan, ‘Tindakan ini adalah kekeliruan besar.’” (An-Nawawi, 2020 M/1441 H: hlm. 85).

Kesimpulan

Susunan ayat-ayat Al-Qur’an bukanlah hal yang sia-sia. Setiap urutan mengandung hikmah, makna, dan keindahan yang saling terhubung. Membaca Al-Qur’an secara terbalik tidak hanya menghilangkan sebagian dari i’jaz Al-Qur’an, tetapi juga merusak makna dan keindahan yang terkandung di dalamnya. Oleh karena itu, umat Islam diharapkan menjaga kesucian dan kesempurnaan Al-Qur’an dengan membaca sesuai urutan ayat yang telah ditetapkan.

ترتيب آيات القرآن الكريم: أهمية القراءة وفق التسلسل

إن ترتيب آيات القرآن الكريم يحتوي على إعجاز ومعانٍ عميقة وحِكم وعظمة وجمال لا مثيل له. هذا الترتيب ليس مجرد صدفة، بل يحمل معاني عظيمة تعكس كمال القرآن الكريم. لذلك، يجب قراءة القرآن الكريم بترتيب منتظم وفق تسلسل الآيات للحفاظ على الإعجاز والمعنى والجمال الكامن فيه.

إن قراءة القرآن بشكل مقلوب، من الآية الأخيرة إلى الأولى داخل السورة، أو القراءة بالقفز بشكل غير منتظم، تعتبر من الأفعال المحرّمة. لأن ذلك يؤدي إلى الإخلال بترتيب الآيات، وتشويه بناء المعنى، وإفساد الجمال والحكمة الموجودة في النصوص. وقد أكد الإمام النووي على تحريم قراءة القرآن بترتيب مقلوب بشكل قاطع.

المراجع

(الإمام النووي، التبيان في آداب حملة القرآن، [القاهرة، دار السلام: ٢٠٢٠ م/١٤٤١ هـ]، ص ٨٥).

“وأما قراءة السورة منكوسة من آخرها إلى أولها فممنوع منعا مؤكدا فإنه يذهب بعض ضروب الإعجاز ويزيل حكمة ترتيب الآيات.”

(الإمام النووي، ٢٠٢٠ م/١٤٤١ هـ: ص ٨٥).
كما نقل الإمام النووي آراء اثنين من كبار العلماء، وهما إبراهيم النخعي (من علماء التابعين) والإمام مالك، حيث عبّرا عن رفضهما الشديد لهذا الفعل، واعتبراه عيباً كبيراً. وجاء في الرواية:

“وقد روى ابن أبي داود عن إبراهيم النخعي والإمام مالك أنهما كرها ذلك (قراءة القرآن من آخر الآيات إلى أولها). وكان الإمام مالك يعيب هذا الفعل ويقول: ‘هذا عظيم’.”

الخلاصة

إن ترتيب آيات القرآن الكريم ليس أمراً عبثياً، بل يحمل حكمة ومعاني وجمالاً متكاملاً. قراءة القرآن بترتيب مقلوب لا تقتصر على إفساد بعض جوانب الإعجاز القرآني، بل تُفسد كذلك معانيه وجماله الفريد. لذلك، يجب على المسلمين الحفاظ على قدسية وكمال القرآن الكريم  بقراءته وفق الترتيب الذي تم وضعه بعناية وحكمة إلهية

والله أعلم بالصواب.

Kategori
Hukum

Perbedaan Al-Qur’an, Hadis Qudsi, dan Hadis Nabawi dalam Perspektif Wahyu dan Kedudukannya

 

Assalamualaikum Saya bertanya dan Mohon jawaban ustadz.

Apa Perbedaan hadist Qudsi da Nabawi dan Al-Qur’an ?

Mengingat ada ayat didalam surah An-Najm

وما ينطق عن الهوى. ان هو الا وحيد يوحى

Apa yang dikatakan oleh Rasulullah bukan dari hwa nafsunya akan tetapi itu Wahyu .

 

Waalaikumsalam salam

Jawaban

1. Al-Qur’an diturunkan kepada Nabi ﷺ dengan lafaz dan maknanya sekaligus untuk dijadikan ibadah dengan membacanya, serta sebagai mukjizat yang menantang manusia agar mendatangkan sesuatu yang serupa dengan surat yang paling pendek darinya.

2. Hadits Qudsi diturunkan kepada Nabi ﷺ tanpa perantara malaikat pada umumnya, melainkan melalui ilham atau mimpi. Kadang diturunkan dengan lafaz dan maknanya sekaligus, atau hanya maknanya saja, lalu Nabi ﷺ menyampaikan dengan lafaz dari beliau sendiri namun tetap dinisbatkan kepada Allah Ta’ala. Hadits Qudsi tidak dimaksudkan untuk ibadah dalam membacanya, juga tidak dimaksudkan sebagai mukjizat.

3. Hadits Nabi hanya diwahyukan maknanya saja, kemudian Nabi ﷺ menyampaikannya dengan lafaz dari beliau sendiri, dan tidak dinisbatkan kepada Allah Ta’ala. Yang paling mulia dari semuanya adalah Al-Qur’an, kemudian hadits Qudsi.

تنوير القلوب ص ٥٥٠

تنبيه

الفرق بين الحديث القدسي والقرآن والحديث النبوي: أن القرآن أنزل على النبي ﷺ باللفظ والمعنى للتعبد بتلاوته، وإعجاز الخلق عن الإتيان بمثل أقصر سورة منه. والحديث القدسي أنزل عليه بغير واسطة الملك غالباً، بل بإلهام أو منام إما باللفظ والمعنى، وإما باللفظ فقط، ويعبر عنه النبي ﷺ بألفاظ من عنده وينسبه إليه تعالى لا للتعبد بتلاوته ولا للإعجاز. والحديث النبوي أوحي إليه معناه فقط، ويعبر عنه بألفاظ من عنده، ولا ينسبه إليه تعالى. وأشرف الكل القرآن، ثم الحديث القدسي

 

Adapun ayat dalam Surah An-Najm: 3-4, yang berbunyi:

وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوَىٰ. إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْيٌ يُوحَىٰ

 

Artinya: “Dan tidaklah dia (Muhammad) berbicara dari hawa nafsunya. Ucapannya itu tidak lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).” Ayat ini menegaskan bahwa seluruh perkataan Rasulullah SAW, baik yang bersumber dari Allah secara langsung (seperti Hadis Qudsi) maupun hasil penjelasan Rasulullah (Hadis Nabawi), berada di bawah bimbingan wahyu Allah. Dengan kata lain, beliau tidak mungkin berbicara berdasarkan keinginan pribadinya saja, melainkan selalu dalam koridor petunjuk Allah SWT.

Kesimpulan:

Meski berbeda dalam aspek tertentu, baik Hadis Qudsi maupun Hadis Nabawi sama-sama berstatus sebagai sumber ajaran Islam yang harus diikuti, sesuai kedudukannya masing-masing.

Referensi Perbedaan antara Hadis Qudsi dan Hadis Nabawi dapat dipahami dari beberapa sisi, sebagai berikut:

1. Sumber Wahyu: Hadis Qudsi: Isi atau maknanya berasal langsung dari Allah SWT, tetapi lafaznya (kata-kata) disampaikan oleh Rasulullah SAW. Rasulullah menyandarkan hadis ini kepada Allah dengan kalimat, “Allah berfirman…”. Hadis Nabawi: Baik makna maupun lafaznya berasal dari Rasulullah SAW, meskipun tetap di bawah bimbingan wahyu Allah.

2. Kandungan: Hadis Qudsi: Biasanya berkaitan dengan aspek keimanan, hubungan antara Allah dan hamba-Nya, seperti rahmat, ampunan, dan ancaman. Hadis Nabawi: Membahas berbagai aspek kehidupan, seperti akhlak, ibadah, muamalah, dan hukum.

3. Kedudukan: Hadis Qudsi: Tidak digunakan sebagai dasar hukum syariat yang mengikat seperti Al-Qur’an, tetapi lebih sebagai motivasi atau peringatan. Hadis Nabawi: Banyak menjadi dasar hukum syariat dalam Islam.

4. Cara Penyampaian: Hadis Qudsi: Disampaikan oleh Rasulullah SAW dengan menyebut bahwa perkataan tersebut adalah firman Allah, misalnya: “Qala Allahu ta’ala…” (Allah Ta’ala berfirman…).

Hadis Nabawi: Rasulullah SAW menyampaikannya sebagai sabdanya sendiri tanpa menyandarkan langsung kepada Allah. Adapun ayat dalam Surah An-Najm: 3-4, yang berbunyi:

وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوَىٰ. إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْيٌ يُوحَىٰ

Artinya: “Dan tidaklah dia (Muhammad) berbicara dari hawa nafsunya. Ucapannya itu tidak lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).” Ayat ini menegaskan bahwa seluruh perkataan Rasulullah SAW, baik yang bersumber dari Allah secara langsung (seperti Hadis Qudsi) maupun hasil penjelasan Rasulullah (Hadis Nabawi), berada di bawah bimbingan wahyu Allah. Dengan kata lain, beliau tidak mungkin berbicara berdasarkan keinginan pribadinya saja, melainkan selalu dalam koridor petunjuk Allah SWT. Kesimpulan: Meski berbeda dalam aspek tertentu, baik Hadis Qudsi maupun Hadis Nabawi sama-sama berstatus sebagai sumber ajaran Islam yang harus diikuti, sesuai kedudukannya masing-masing.

شرح الدردير على قصة المعراج ص٤٩

الكلام على بعض فوائد آية الإسراء وآيات من أول سورة النجم

قوله تعالى: ( وما ينطق عن الهوى ) [النجم: ٣]، نزلت لما قالت قريش أن محمداً يقول القرآن من تلقاء نفسه، وقوله: ( وما ينطق عن الهوى ) دليل على أنه ما ضل وما غوى تقديره كيف يضل أو يغوي وهو لا ينطق عن الهوى؟! وإنما يضل من اتبع هواه، ويدل عليه قوله تعالى: ( ولا تتبع الهوى فيضلك عن سبيل الله ) [ص: ٢٦]، وقال تعالى أولاً: ما ضل وما غوى بصيغة الماضي، وقال هنا: وما ينطق بصيغة المضارع، وهو ترتيب في غاية الحسن؛ أي: ما ضل حين اعتزلكم وما تعبدون، وما غوى حين اختلي بنفسه، وما ينطق عن الهوى الآن حين أرسل إليكم، وجعل شاهدًا عليكم فلم يكن أولاً ضال ولا غاويا، وصار الآن منقذا من الضلال ومرشدا وهاديًا. ولم يقل: وما ينطق بالهوى ؛ لأن نفي نطقه عن الهوى، وأبلغ فإنه يتضمن أن نطقه لا يصدر عن هوى، وإذا لم يصدر عن هوى فكيف ينطق به؟ فتضمن نفي الأمرين نفي الهوى عن مصدر النطق ونفيه عن النطق، فنطقه بالحق ومصدره ٢٧٠ والرشاد لا الغي والضلال، فعن على ذلك على بابها، وهو أولى من جعلها بمعنى الباء؛ أي: وما ينطق بالهوى؛ أي: ما يتكلم بالباطل (١). والهوى مقصور مصدر هويته من باب تعب، وهو محبة من النفس الأمارة وإنما سمي الهوى هوى لأنه يهوي بصاحبه ، قال تعالى: ( أفَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَهَهُ هَوَاهُ ) [الجاثية: ٢٣]، وقال تعالى: ( ومن أضل ممن اتبع هواه بغير هدى من الله ) [القصص: ٥٠]. وقال ثَلَاتٌ مُنْجِبَاتٌ ، وَثَلَاتٌ مُهْلِكَاتٌ : فَأَمَّا الْمُنْجِيَاتُ : فَالْعَدْلُ فِي الْغَضَب   (١) قال ابن عادل: أي ما يصدر عن الهوى نطقه (فعن) على بابها. وقيل: بمعنى الباء، أي: وما ينطق بالهوى يريد لا يتكلم بالباطل، وذلك أنهم قالوا: إنَّ محمداً يقول القرآن من تِلْقَاءِ نَفْسِهِ. وفي فاعل (يَنْطِقُ) وجهان: أحدهما: هو ضمير النبي وهو الظاهر. والثاني: أنه ضمير القرآن كقوله تعالى: هَذَا كِتَبْنَا يَنطِقُ عَلَيْكُم بِالْحَقِّ [الجاثية: ٢٩].والله أعلم.

Firman Allah: ‘Dan Dia tidak berbicara menurut hawa nafsu’ (An-Najm: 3), turun ketika Quraisy mengatakan bahwa Muhammad mengucapkan Al-Qur’an dari dirinya sendiri. Dan firman-Nya: ‘Dan Dia tidak berbicara menurut hawa nafsu’ adalah bukti bahwa Dia tidak sesat dan tidak melenceng. Maksudnya: bagaimana mungkin Dia sesat atau melenceng padahal Dia tidak berbicara menurut hawa nafsu? Sesungguhnya yang sesat adalah orang yang mengikuti hawa nafsunya. Dan hal ini didukung oleh firman Allah: ‘Dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, niscaya ia akan menyesatkanmu dari jalan Allah’ (Ash-Shaffat: 26). Dan Allah telah berfirman sebelumnya: ‘Dia tidak sesat dan tidak melenceng’ dengan bentuk lampau, kemudian Dia berfirman: ‘Dan Dia tidak berbicara’ dengan bentuk sekarang. Dan ini adalah susunan yang sangat baik; artinya: Dia tidak sesat ketika menjauhkan diri dari kalian dan apa yang kalian sembah, dan Dia tidak melenceng ketika menyendiri, dan Dia tidak berbicara menurut hawa nafsu sekarang ketika Dia diutus kepada kalian dan dijadikan saksi atas kalian. Maka Dia sebelumnya tidaklah sesat dan tidak melenceng, dan sekarang Dia menjadi penyelamat dari kesesatan, pembimbing, dan penunjuk jalan. Dan Allah tidak berfirman: ‘Dan Dia tidak berbicara dengan hawa nafsu’, karena menafikan bahwa Dia berbicara menurut hawa nafsu lebih tegas. Sebab, hal itu mengandung makna bahwa ucapan-Nya tidak berasal dari hawa nafsu. Dan jika tidak berasal dari hawa nafsu, maka bagaimana mungkin Dia berbicara dengannya? Sehingga penafian kedua hal ini mencakup penafian hawa nafsu dari sumber ucapan dan penafian hawa nafsu dari ucapan itu sendiri. Maka ucapan-Nya adalah kebenaran dan sumbernya adalah petunjuk dan kebaikan, bukan kesesatan dan keburukan. Maka pendapat ini lebih utama daripada menjadikan kata ‘عن’ bermakna ‘dengan’, yaitu: ‘Dan Dia tidak berbicara dengan hawa nafsu’, artinya: ‘Dan Dia tidak berbicara dengan kebatilan’ (1). Dan hawa nafsu adalah kata benda yang berasal dari kata kerja ‘هاوى’ yang berarti ‘mencintai’, dan itu adalah kecenderungan dari jiwa yang cenderung kepada sesuatu. Dan hawa nafsu dinamakan hawa nafsu karena ia menjatuhkan pemiliknya ke dalam keburukan. Allah berfirman: ‘Maka apakah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya?’ (Al-Jathiyah: 23), dan Allah berfirman: ‘Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang mengikuti hawa nafsunya tanpa petunjuk dari Allah?’ (Al-Qashas: 50). Dan dikatakan: ‘Tiga hal yang melahirkan kebaikan, dan tiga hal yang membinasakan. Adapun yang melahirkan kebaikan adalah adil dalam marah…

____________________’

(1)   Ibn ‘Adil berkata: Yaitu apa yang keluar dari hawa nafsu adalah ucapan-Nya (kata ‘عن’ pada ‘عن الهوى’ bermakna ‘dari’). Dan ada yang mengatakan: Bermakna ‘dengan’, yaitu: ‘Dan Dia tidak berbicara dengan hawa nafsu’, artinya: ‘Dan Dia tidak berbicara dengan kebatilan’. Itulah yang dikatakan oleh mereka yang mengatakan bahwa Muhammad mengucapkan Al-Qur’an dari dirinya sendiri. Dan dalam kata kerja ‘ينطق’ (berbicara) ada dua kemungkinan pelaku: Pertama: Adalah dhamir (kata ganti) yang kembali kepada Nabi, dan ini yang lebih jelas. Kedua: Adalah dhamir yang kembali kepada Al-Qur’an, seperti firman Allah: ‘Inilah kitab Kami, ia berbicara kepada kalian dengan benar’ (Al-Jathiyah: 29). Wallahu a’lam.”

Kategori
Hukum

Hukum Shalat Berjamaah

 

Assalamualaikum

Deskripsi Masalah

Shalat berjamaah merupakan salah satu ibadah yang sangat dianjurkan dalam Islam karena memiliki banyak keutamaan, seperti melipatgandakan pahala hingga 27 derajat dibandingkan dengan shalat sendirian. Pelaksanaannya mencerminkan nilai-nilai ukhuwah Islamiyah dan kebersamaan dalam masyarakat muslim. Namun, terdapat beberapa permasalahan hukum yang sering dibahas oleh para ulama terkait shalat berjamaah (lima waktu).
Permasalahan tersebut antara lain:

Hukum Shalat Berjamaah

1. Apakah hukum melaksanakan shalat berjamaah itu wajib ‘ain bagi setiap muslim laki-laki, wajib kifayah, atau sunnah muakkadah? dan bagaimana maksud dari ungkapan لاصلاة لجار المسجد إلا في المسجد

Lokasi Pelaksanaan Shalat Berjamaah

2. Apakah shalat berjamaah dianggap sah dan mencukupi jika dilakukan di rumah, walaupun tidak dilaksanakan di masjid?

Mohon Jawaban beserta dalilnya.

Waalaikumsalam salam

Jawaban

Jawaban No. 1
Ulama berbeda pendapat tentang hukum shalat berjamaah. Sebagian ulama berpendapat bahwa hukumnya sunnah muakkadah, yaitu sunnah yang sangat dianjurkan. Pendapat lain menyatakan bahwa hukumnya fardhu kifayah, artinya jika di satu desa terdapat sekelompok orang yang telah melaksanakan shalat berjamaah, maka kewajiban tersebut gugur bagi yang lain, sehingga mereka tidak berdosa. Namun, jika dalam satu desa tidak ada yang melaksanakan shalat berjamaah sama sekali, maka seluruh penduduk desa tersebut berdosa.

Adapun Maksud dari jawaban terhadap ucapan Ali radhiyallahu ‘anhu:

“Tidak ada salat bagi tetangga masjid kecuali di masjid,” maknanya adalah salah satu dari dua kemungkinan:

Penafian kesempurnaan (yakni salatnya tidak sempurna jika tidak di masjid).

Salat di rumahnya tidak dianggap berjemaah bersama imam di masjid.

Adapun jawaban terhadap riwayat Ibnu Mas’ud, tujuannya adalah untuk menekankan keutamaan berjemaah dan anjuran menanggung kesulitan demi melaksanakannya. Riwayat ini tidak menunjukkan kewajiban salat berjemaah.

Adapun analogi dengan salat Jumat tidaklah sah, karena salat Jumat diwajibkan berjemaah karena berjemaah adalah syarat sahnya

Jawaban No. 2

Menurut pendapat Imam Syafi’i, orang yang melaksanakan shalat berjamaah baik di rumah maupun di masjid tetap dianggap sah dan mencukupi, artinya kewajiban fardhu kifayah telah terpenuhi. Akan tetapi, keutamaan shalat berjamaah di masjid lebih utama nilai pahalanya dibandingkan jika dilakukan di rumah, apalagi jumlah jamaahnya lebih banyak dimasjid, sedangkan jumlah minimal jamaah dalam shalat berjamaah adalah dua orang, yaitu seorang imam  dan seorang makmum, sedangkan maksimalnya tidak ada batasannya Wallahu a’lam.

حاوى الكبير ٣٠٣
وَرُوِيَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – رَأَى رَجُلًا قَدْ دَخَلَ الْمَسْجِدَ بَعْدَ فَرَاغِ النَّاسِ مِنَ الصَّلَاةِ، فَقَالَ: مَنْ يَتَصَدَّقُ عَلَى هَذَا فَيُصَلِّيَ مَعَهُ “، فَلَوْ كَانَتِ الْجَمَاعَةُ وَاجِبَةً لَأَنْكَرَ عَلَيْهِ تَأَخُّرَهُ، وَلَنَهَاهُ عَنْ مِثْلِهِ، وَلَمَا أَخْبَرَ أَنَّ الصَّلَاةَ معه صدقة عليه، ولأنها تؤدى صلاة جَمَاعَةً وَفُرَادَى فَوَجَبَ أَنْ لَا تَجِبَ الْجَمَاعَةُ فِيهَا كَالنَّوَافِلِ فَأَمَّا الْجَوَابُ عَنْ قَوْله تَعَالَى: {وَإِذَا كُنْتَ فِيهِمْ فَأَقَمْتَ لَهُمُ الصَّلاةَ} [النساء: ١٠٢] فَالْمُرَادُ بِهَا تَعْلِيمُ صَلَاةِ الْخَوْفِ، وَبَيَانُهَا عِنْدَ مُلَاقَاةِ الْعَدُوِّ، لِأَنَّ ذَلِكَ أَبْلَغُ فِي حِرَاسَتِهِمْ، لِأَنَّهُمْ لَوْ صَلَّوْا مُنْفَرِدِينَ اشْتَغَلَ كُلُّ وَاحِدٍ مِنْهُمْ بِنَفْسِهِ، فَلَمْ يُؤْمَنْ سَطْوَةُ الْعَدُوِّ بِهِمْ عِنْدَ انْتِهَازِ الْفُرْصَةِ مِنْهُمْ لِشُغْلِهِمْ، وَلَوْ أُمِرُوا أَنْ يُصَلُّوا مَعًا لَأَدَّى ذَلِكَ إِلَى الظَّفَرِ بِهِمْ وَأَمَرَ اللَّهُ تَعَالَى نَبِيَّهُ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – أَنْ يَفْتَرِقُوا فَرِيقَيْنِ فَيُصَلِّيَ بِفَرِيقٍ وَيَحْرُسَهُمْ فَرِيقٌ فَلَمْ يَكُنْ فِي الْآيَةِ دَلِيلٌ عَلَى وُجُوبِ الْجَمَاعَةِ وَأَمَّا الْجَوَابُ عَنْ قَوْلِهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ -: ” ثُمَّ أُخَالِفَ عَلَى رِجَالٍ لَمْ يَشْهَدُوا الصَّلَاةَ فَأُحَرِّقَ عَلَيْهِمْ بُيُوتَهُمْ ” هُوَ أَنَّ تَحْرِيقَ بُيُوتِهِمْ لِنِفَاقِهِمْ لَا لِتَخَلُّفِهِمْ عَنِ الْجَمَاعَةِ غَيْرَ أَنَّهُ اسْتَدَلَّ بِتَخَلُّفِهِمْ عَلَى نِفَاقِهِمْ وَالدَّلِيلُ عَلَى أَنَّ الْوَعِيدَ لِأَجْلِ النِّفَاقِ لَا لِأَجْلِ التَّخَلُّفِ عَنِ الْجَمَاعَةِ شَيْئَانِ: أَحَدُهُمَا: أَنَّهُ لَا يَجُوزُ حَرْقُ الدُّورِ، وَنَهْبُ الْأَمْوَالِ بِالتَّخَلُّفِ عَنِ الْجَمَاعَةِ وَالْإِجْمَاعِ والثاني: قوله – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – فِي الْخَبَرِ: ” ثُمَّ أُخَالِفُ إِلَى رِجَالٍ لَمْ يَشْهَدُوا الصَّلَاةَ ” وَلَا خِلَافَ أَنَّ مَنْ لَمْ يَشْهَدِ الصَّلَاةَ بِنَفْسِهِ وَأَدَّاهَا جَمَاعَةً فِي مَنْزِلِهِ قد أدى أنه فَرْضَهُ مِنْ غَيْرِ إِثْمٍ وَلَا مَعْصِيَةٍ وَأَمَّا الْجَوَابُ عَنْ قَوْلِهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ -: ” مَنْ سَمِعَ النِّدَاءَ فَلَمْ يَأْتِهِ فَلَا صَلَاةَ لَهُ إِلَّا مِنْ عُذْرٍ ” فَالْمُرَادُ بِهِ نِدَاءُ الْجُمُعَةِ الَّذِي قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: {يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا نُودِيَ لِلصَّلاةِ مِنْ يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا إِلَى ذِكْرِ اللَّهِ} [الجمعة: ٩] وَأَمَّا الْجَوَابُ عَنْ حَدِيثِ عِتْبَانَ بْنِ مَالِكٍ: فَيُحْمَلُ عَلَى أَحَدِ أَمْرَيْنِ: إِمَّا عَلَى صَلَاةِ الْجُمُعَةِ، أَوْ عَلَى أَنَّهُ سَأَلَهُ عَنِ الْأَفْضَلِ وَالْأَكْمَلِ بِدَلِيلِ إِجْمَاعِنَا أَنَّ الضَّرِيرَ مَعْذُورٌ بِالتَّخَلُّفِ عَنْهَا وَأَمَّا الْجَوَابُ عَنْ قَوْلِهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ -: ” بيْننا وَبَيْنَ الْمُنَافِقِينَ أَنْ لَا يحضُروا الْمَغْرِبَ وَعِشَاءَ الْآخِرَةِ ” فَجَوَابَانِ: أَحَدُهُمَا: أَنَّهُ قَصَدَ بِهِ طَائِفَةً مِنَ الْمُنَافِقِينَ مَعْرُوفِينَ كَعَبْدِ اللَّهِ بْنِ أُبَيِّ ابْنِ سَلُولٍ وَأَصْحَابِهِ لِتَخْصِيصِ الْمَغْرِبِ وَالْعِشَاءِ مَعَ اسْتِوَاءِ حُكْمِ الْجَمَاعَةِ فِي كُلِّ الصَّلَوَاتِ وَالثَّانِي: أَنَّهُ أَخْرَجَ ذَلِكَ عَلَى جِهَةِ الْحَثِّ والترغيب كقوله – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ -: ” بَشِّرِ الْمَشَّائِينَ فِي الظُّلَمِ إِلَى الْمَسَاجِدِ بِالنُّورِ التَّامِّ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ” فَكَذَا الْجَوَابُ عَنْ قَوْلِهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ -: ” لَوْ صَلَّيْتُمْ فِي بُيُوتِكُمْ لَضَلَلْتُمْ ” كَالْجَوَابِ عَنِ الْخَبَرِ الْمُتَقَدِّمِ فَأَمَّا الْجَوَابُ عَنْ قَوْلِ عَلِيٍّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: ” لَا صَلَاةَ لِجَارِ الْمَسْجِدِ إِلَّا فِي الْمَسْجِدِ ” فَمَحْمُولٌ عَلَى أَحَدِ أَمْرَيْنِ إِمَّا عَلَى نَفْيِ الْكَمَالِ، أَوْ عَلَى أَنَّهُ لَا صَلَاةَ فِي بَيْتِهِ بِصَلَاةِ الْإِمَامِ فِي مَسْجِدِهِ وَأَمَّا الْجَوَابُ عَنْ خَبَرِ ابْنِ مَسْعُودٍ فَمَقْصُودُهُ بِهِ التَّنْبِيهُ عَلَى فَضْلِ الْجَمَاعَةِ، وَتَحَمُّلِ الْمَشَقَّةِ لَهَا، وَلَيْسَ فِيهِ دَلِيلٌ عَلَى وُجُوبِهَا وَأَمَّا قِيَاسُهُمْ عَلَى الْجُمُعَةِ فَالْمُخَالِفُ يُبْطِلُ الْقِيَاسَ عَلَى أَنَّ الْمَعْنَى فِي الْجُمُعَةِ أَنَّ الْجَمَاعَةَ إِنَّمَا وَجَبَتْ لَهَا؛ لِأَنَّ الْجَمَاعَةَ مِنْ شَرْطِ صِحَّتِهَا، وَلَمَّا لَمْ تَكُنِ الْجَمَاعَةُ مِنْ شَرْطِ سَائِرِ الصَّلَوَاتِ لَمْ تَكُنِ الْجَمَاعَةُ وَاجِبَةً لَهَا فَإِذَا تَقَرَّرَ مَا ذَكَرْنَا أَنَّ الْجَمَاعَةَ لَيْسَتْ فَرْضًا عَلَى الْأَعْيَانِ فَقَدْ ذَكَرْنَا فِيهِمَا وَجْهَيْنِ: أَحَدُهُمَا: هُوَ قَوْلُ أَبِي عَلِيِّ بْنِ أَبِي هُرَيْرَةَ، وَجَمَاعَةٍ مِنْ أَصْحَابِنَا أَنَّهَا سُنَّةٌ، وَدَلِيلُنَا مَا تَقَدَّمَ، فَعَلَى هَذَا لَوْ أَطْبَقَ أَهْلُ بَلَدٍ، أَوْ قَرْيَةٍ عَلَى تَرْكِ الْجَمَاعَةِ فَقَدْ أساؤا بِتَرْكِهَا، وَلَمْ يَأْثَمُوا وَيُؤْمَرُوا بِهَا، وَيُؤَاخَذُوا عَلَى تَرْكِهَا وَالْوَجْهُ الثَّانِي: وَهُوَ قَوْلُ أَبِي الْعَبَّاسِ بْنِ سُرَيْجٍ، وَأَبِي إِسْحَاقَ الْمَرْوَزِيِّ، وَغَيْرِهِمَا أَنَّهَا فَرْضٌ عَلَى الْكِفَايَةِ وَدَلِيلُنَا مَا رَوَاهُ أَبُو الدَّرْدَاءِ أَنَّ النَّبِيَّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – قَالَ: ” مَا مِن ثَلَاثَةٍ فِي قَرْيَةٍ لَمْ تُقَمْ فِيهِمُ الصَّلَاةُ إِلَّا اسْتَحْوَذَ عَلَيْهِمُ الشَّيْطَانُ، عليكم بالجماعة وإن الذثب يَأْخُذُ الْقَاصِيَةَ ” فَعَلَى هَذَا إِنْ أَجْمَعَ أَهْلُ بَلَدٍ عَلَى تَرْكِهَا فَقَدْ عَصَوْا وَأَثِمُوا بِقُعُودِهِمْ عَنْهَا، وَوَجَبَ عَلَى السُّلْطَانِ قِتَالُهُمْ عَلَى تَرْكِهَا وَإِنْ قَامَ بِفِعْلِهَا مَنْ تَقَعُ بِهِ الْكِفَايَةُ مِنْهُمْ وَانْتَشَرَ ظُهُورُهَا بَيْنَهُمْ سَقَطَ فَرْضُ الْجَمَاعَةِ عَنْهُمْ، فَإِذَا كَانَتْ قَرْيَةً صَغِيرَةً، وَأُقِيمَتِ الْجَمَاعَةُ فِي مَسْجِدٍ وَاحِدٍ فَانْتَشَرَتْ وَظَهَرَتْ سَقَطَ الْفَرْضُ، وَكَانَ لِبَاقِي أَهْلِهَا أَنْ يُصَلُّوا مُنْفَرِدِينَ وَإِنْ كَانَ الْبَلَدُ وَاسِعًا لَمْ يَسْقُطِ الْفَرْضُ بِإِقَامَتِهَا فِي مَسْجِدٍ وَاحِدٍ، وَلَا بِإِقَامَتِهَا فِي الْمَنَازِلِ وَالْبُيُوتِ لِعَدَمِ ظُهُورِهَا، وَانْتِشَارِهَا، حَتَّى تُقَامَ فِي عِدَّةِ مَسَاجِدَ تَظْهَرُ بِهَا الْجَمَاعَةُ وَتَنْتَشِرُ فَيَسْقُطُ الْفَرْضُ عَنِ الْبَاقِينَ وَيَجُوزُ أَنْ يُصَلُّوا مُنْفَرِدِينَ

Diriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ pernah melihat seorang laki-laki masuk masjid setelah orang-orang selesai melaksanakan salat, lalu beliau bersabda: “Siapa yang mau bersedekah kepada orang ini dengan salat bersamanya?” Seandainya salat berjemaah itu wajib, niscaya beliau akan mengingkari keterlambatannya, melarang perbuatannya, dan tidak akan menyebut salat bersamanya sebagai sedekah. Hal ini juga karena salat dapat dilakukan secara berjemaah maupun sendirian, sehingga tidak wajibnya berjemaah dapat dianalogikan dengan salat sunnah.
Adapun jawaban terhadap firman Allah Ta’ala:
“Dan apabila kamu berada di tengah-tengah mereka lalu kamu hendak mendirikan salat bersama mereka…” (QS. An-Nisa: 102), ayat ini bermakna mengajarkan salat khauf (salat saat ketakutan) dan menjelaskan tata caranya saat menghadapi musuh, karena hal ini lebih efektif dalam menjaga keamanan mereka. Sebab, jika mereka salat sendiri-sendiri, masing-masing akan sibuk menjaga dirinya, sehingga mereka tidak aman dari serangan musuh yang memanfaatkan kesempatan tersebut. Jika mereka diperintahkan untuk salat bersama secara serentak, maka hal itu justru akan menyebabkan musuh mengalahkan mereka. Maka Allah memerintahkan Nabi-Nya ﷺ untuk membagi mereka menjadi dua kelompok, satu kelompok salat bersama beliau, sementara kelompok lainnya berjaga. Oleh karena itu, ayat ini tidak menunjukkan kewajiban salat berjemaah.
Adapun jawaban terhadap sabda Nabi ﷺ:
“Kemudian aku ingin mendatangi orang-orang yang tidak menghadiri salat, lalu aku bakar rumah-rumah mereka.” Jawabannya adalah, tindakan membakar rumah mereka karena sifat munafik mereka, bukan semata-mata karena mereka tidak menghadiri salat berjemaah. Namun, ketidakhadiran mereka dijadikan bukti atas kemunafikan mereka. Bukti bahwa ancaman ini disebabkan kemunafikan, bukan semata-mata karena meninggalkan berjemaah, adalah:

Tidak diperbolehkan membakar rumah atau merampas harta hanya karena meninggalkan salat berjemaah, berdasarkan ijmak (kesepakatan ulama).

Sabda beliau ﷺ: “Kemudian aku ingin mendatangi orang-orang yang tidak menghadiri salat.” Tidak ada perbedaan pendapat bahwa siapa saja yang tidak menghadiri salat berjemaah di masjid namun melaksanakannya di rumahnya bersama keluarga secara berjemaah telah melaksanakan kewajibannya tanpa dosa atau maksiat.

Adapun jawaban terhadap sabda Nabi ﷺ:
“Barang siapa mendengar azan namun tidak mendatanginya, maka tidak ada salat baginya kecuali ada uzur.” Maksudnya adalah azan untuk salat Jumat, sebagaimana firman Allah Ta’ala:
“Wahai orang-orang yang beriman! Apabila diseru untuk melaksanakan salat pada hari Jumat, maka bersegeralah mengingat Allah…” (QS. Al-Jumu’ah: 9).
Adapun jawaban terhadap hadis ‘Itban bin Malik adalah salah satu dari dua kemungkinan:

Dimaksudkan untuk salat Jumat.

Dimaksudkan sebagai anjuran untuk memilih yang lebih utama dan sempurna. Hal ini ditunjukkan dengan ijmak kita bahwa orang buta diberi uzur untuk tidak menghadiri salat berjemaah.

Adapun jawaban terhadap sabda Nabi ﷺ:
“Di antara tanda kemunafikan adalah tidak menghadiri salat Magrib dan Isya berjemaah,” terdapat dua jawaban:

Sabda ini ditujukan kepada kelompok tertentu dari kalangan munafik yang dikenal, seperti Abdullah bin Ubay bin Salul dan para pengikutnya, karena dikhususkan pada salat Magrib dan Isya, padahal hukum salat berjemaah sama untuk semua salat.

Sabda ini dimaksudkan sebagai dorongan dan motivasi, sebagaimana sabda beliau ﷺ: “Berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berjalan dalam kegelapan menuju masjid bahwa mereka akan mendapatkan cahaya sempurna pada hari kiamat.”

Demikian juga jawaban terhadap sabda Nabi ﷺ:
“Jika kalian salat di rumah-rumah kalian, niscaya kalian akan tersesat.” Hal ini serupa dengan jawaban terhadap hadis sebelumnya.
Adapun jawaban terhadap ucapan Ali radhiyallahu ‘anhu:
“Tidak ada salat bagi tetangga masjid kecuali di masjid,” maknanya adalah salah satu dari dua kemungkinan:

Penafian kesempurnaan (yakni salatnya tidak sempurna jika tidak di masjid).

Salat di rumahnya tidak dianggap berjemaah bersama imam di masjid. Adapun jawaban terhadap riwayat Ibnu Mas’ud, tujuannya adalah untuk menekankan keutamaan berjemaah dan anjuran menanggung kesulitan demi melaksanakannya. Riwayat ini tidak menunjukkan kewajiban salat berjemaah.

Adapun analogi dengan salat Jumat tidaklah sah, karena salat Jumat diwajibkan berjemaah karena berjemaah adalah syarat sahnya. Sementara itu, berjemaah bukanlah syarat sah salat lainnya, sehingga tidak wajib berjemaah dalam salat tersebut.
Berdasarkan hal ini, disimpulkan bahwa salat berjemaah tidak wajib bagi setiap individu. Dalam masalah ini terdapat dua pendapat:

Menurut Abu Ali bin Abi Hurairah dan sebagian ulama mazhab kami, salat berjemaah adalah sunnah. Pendapat ini didukung oleh dalil-dalil yang telah disebutkan sebelumnya. Jika penduduk suatu wilayah atau desa sepakat meninggalkan salat berjemaah, mereka berdosa karena meninggalkannya, tetapi tidak terkena hukuman. Mereka hanya diperintahkan melaksanakannya dan diingatkan atas kelalaian mereka.

Menurut Abu Abbas bin Suraij, Abu Ishaq al-Marwazi, dan lainnya, salat berjemaah adalah fardhu kifayah. Dalilnya adalah hadis Abu Darda bahwa Nabi ﷺ bersabda:
“Tidak ada tiga orang di suatu kampung yang tidak mendirikan salat berjemaah, kecuali setan menguasai mereka. Maka hendaklah kalian berjemaah, karena serigala hanya memakan domba yang terpisah.”

Jika seluruh penduduk suatu wilayah meninggalkan salat berjemaah, maka mereka berdosa dan harus diperangi oleh penguasa atas kelalaian mereka. Namun, jika sebagian dari mereka melaksanakannya sehingga sudah cukup untuk memenuhi kewajiban, maka kewajiban tersebut gugur bagi yang lain.
Jika wilayah itu kecil dan salat berjemaah dilakukan di satu masjid sehingga terlihat dan diketahui, maka kewajiban gugur, dan sisanya boleh salat sendirian. Namun, jika wilayahnya luas, kewajiban tidak gugur dengan pelaksanaan di satu masjid atau di rumah, karena tidak tampaknya pelaksanaan berjemaah. Oleh karena itu, harus ada pelaksanaan di beberapa masjid sampai terlihat dan tersebar, sehingga kewajiban tersebut gugur bagi yang lain.

[(مسألة)] : قال الشافعي رضي الله عنه: ” وَإِنْ جَمَعَ فِي بَيْتِهِ أَوْ مَسْجِدٍ وَإِنْ صَغُرَ أَجْزَأَ عَنْهُ وَالْمَسْجِدُ الْأَعْظَمُ، وَحَيْثُ كَثُرَتِ الْجَمَاعَاتُ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْهُ ” قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ: أَمَّا أَقَلُّ الْعَدَدِ الَّذِي يُدْرَكُ بِهِ الْجَمَاعَةُ فَهُوَ اثْنَانِ يَأْتَمُّ أَحَدُهُمَا بِالْآخَرِ فَيُدْرِكَانِ فَضِيلَةَ الْجَمَاعَةِ لِقَوْلِ النَّبِيِّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ -: ” الِاثْنَانِ فَمَا فَوْقَهُمَا جَمَاعَةٌ ” وَإِذَا تَقَرَّرَ هَذَا فَالْجَمَاعَةُ فِي الْمَسْجِدِ الْأَعْظَمِ وَحَيْثُ كَثُرَتِ الْجَمَاعَةُ أَوْلَى وَأَفْضَلُ مِنْهَا فِي الْجَمْعِ الْيَسِيرِ وَالْجَمَاعَةُ الْيَسِيرَةُ فِي الْمَسْجِدِ أَفْضَلُ مِنْهَا فِي الْمَنْزِلِ فَأَمَّا الدَّلَالَةُ عَلَى أَنَّهَا فِي الْجَمْعِ الْكَثِيرِ أَفْضَلُ مَا رَوَاهُ أُبَيُّ بْنُ كَعْبٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – قَالَ: ” صَلَاةُ الرَّجُلَيْنِ أَزْكَى مِنْ صَلَاتِهِ مُنْفَرِدًا وَصَلَاةُ الرَّجُلِ مَعَ الرَّجُلَيْنِ أَوْلَى مِنْ صَلَاتِهِ مَعَ الْوَاحِدِ كُلَّمَا كَثُرَ كَانَ أَحَبَّ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى ” وَأَمَّا الدَّلَالَةُ عَلَى أَنَّهَا فِي الْمَسْجِدِ أَفْضَلُ مِنْهَا فِي الْمَنْزِلِ مَا رَوَى عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: جَاءَ جِبْرِيلُ إِلَى النَّبِيِّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – فَقَالَ بَشِّرِ الْمَشَّائِينَ فِي الظُّلَمِ إِلَى الْمَسَاجِدِ بِنُورٍ تَامٍّ فِي الْقِيَامَةِ ” وَرُوِيَ عَنِ النَّبِيِّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – قَالَ: ” يُكْتَبُ لَهُ بِكُلِّ خُطْوَةٍ حَسَنَةٌ ” وَأَمَّا إذا لم يكن في المسجد قَبِيلَتِهِ، أَوْ مَحَلَّتِهِ مَنْ يُقِيمُ بِالْجَمَاعَةِ الْيَسِيرَةِ غَيْرُهُ وَكَانَ فِي ذَهَابِهِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَعْظَمِ، وَالْجَمْعِ الْأَكْبَرِ تَعْطِيلٌ لِجَمْعِ مَسْجِدِهِ الْيَسِيرِ، فَصَلَاتُهُ فِي مَسْجِدِهِ وَجَمْعِهِ الْيَسِيرِ فِيهِ أَفْضَلُ مِنْ صَلَاتِهِ فِي الْجَمْعِ الْكَثِيرِ فِي الْمَسْجِدِ الْأَعْظَمِ، لِمَا فِي ذَلِكَ مِنْ قُوَّةِ ظُهُورِهَا، وَكَثْرَةِ انتشارها، أو عمارة الْمَسَاجِدِ بِإِقَامَتِهَا

(Masalah): Imam Syafi’i ra. berkata: “Jika seseorang mengadakan shalat berjamaah di rumahnya atau di masjid, meskipun masjid itu kecil, hal tersebut sudah cukup baginya. Namun, masjid yang lebih besar lebih utama. Shalat berjamaah di tempat yang jumlah jamaahnya lebih banyak lebih aku sukai.”

Al-Mawardi menjelaskan: Adapun jumlah minimal yang dapat dianggap sebagai jamaah adalah dua orang. Salah satu dari mereka menjadi makmum kepada yang lain, maka keduanya akan mendapatkan keutamaan berjamaah. Hal ini berdasarkan sabda Nabi saw.: “Dua orang atau lebih dianggap sebagai jamaah.”

Jika ini sudah dipahami, maka shalat berjamaah di masjid yang lebih besar dengan jamaah yang lebih banyak lebih utama dan lebih baik dibandingkan berjamaah dengan jumlah sedikit. Namun, berjamaah dengan jumlah sedikit di masjid tetap lebih baik dibandingkan melakukannya di rumah.

Adapun dalil yang menunjukkan bahwa berjamaah dengan jumlah besar lebih utama adalah hadis yang diriwayatkan dari Ubay bin Ka’ab, bahwa Rasulullah saw. bersabda:
“Shalat dua orang lebih baik daripada shalat sendirian, dan shalat seseorang bersama dua orang lebih utama daripada bersama satu orang. Semakin banyak jumlah jamaah, maka itu lebih dicintai oleh Allah Ta’ala.”

Sedangkan dalil yang menunjukkan bahwa shalat berjamaah di masjid lebih utama daripada di rumah adalah hadis yang diriwayatkan dari Umar bin Khattab ra., bahwa Jibril datang kepada Nabi saw. dan berkata:
“Berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berjalan dalam kegelapan menuju masjid dengan cahaya sempurna pada hari kiamat.”

Diriwayatkan pula dari Nabi saw. bahwa beliau bersabda:
“Setiap langkahnya akan dicatat sebagai kebaikan.”

Namun, jika di masjid lingkungan atau kampungnya tidak ada orang lain yang melaksanakan shalat berjamaah selain dirinya, sedangkan jika ia pergi ke masjid yang lebih besar dan dengan jamaah yang lebih banyak akan menyebabkan tidak terlaksananya jamaah di masjid kecil di lingkungannya, maka shalatnya di masjid kecil tersebut lebih utama daripada di masjid besar dengan jamaah yang banyak. Hal ini karena shalatnya di masjid kecil itu mendukung kehadiran shalat berjamaah, meningkatkan penyebarannya, serta memakmurkan masjid dengan pelaksanaan shalat di dalamnya.Wallahu A’lam bish-shawab

Kategori
Hikmah

Surga dan Neraka: Kekal atau Fana?

Surga dan Neraka: Kekal ( Abadi) atau Fana?

Assalamualaikum

Deskripsi Masalah

Dalam surat Al-Qashash ayat 88

كل شيئ هالك إلاوجهه

disebutkan bahwa segala sesuatu akan rusak kecuali Dzat Allah.

Pertanyaannya, apakah surga dan neraka termasuk yang akan rusak

Waalaikumsalam

Jawaban
“Yang dimaksud dengan ‘rusak’ dalam ayat di atas adalah segala sesuatu selain Dzat Allah yang dapat mengalami kerusakan (jâ’iz), sedangkan Dzat Allah tidak dapat mengalami kerusakan.
Ada delapan hal yang dikecualikan dari ayat tersebut, yaitu tidak akan rusak karena tidak dikehendaki rusak oleh Allah. Di antaranya adalah surga dan neraka.
Referensi:
(Hasyiah al-‘Allamah al-Shawkani ‘ala Tafsir al-Jalalain, 3/229-230)

(قَوْلُهُ كُلُّ شَيْءٍ هَالِكٌ إِلا وَجْهَهُ) أي وكل ما سوى الله تعالى قابل للهلاك وجائز عليه، لأن وجوده ليس ذاتيًا عليه إلى أن قال قيل المراد بالهلاك الإنعدام بالفعل، ويستثنى منه ثمانية أشياء نظهرها السيوطي: ثمانية حكم البقاء يعمها هو العرش والكرسي ونار وجنة من الخلق والباقون في حيز العدم وعجب وأرواح كذلك اللوح والقلم.”

“Dalam kitab Hasyiah al-‘Allamah al-Shawkani pada Tafsir al-Jalalain, jilid 3 halaman 229-230, disebutkan:
(Dan firman Allah Dan setiap sesuatu hancur/rusak ‘Kecuali wajah-Nya’) artinya, dan semua selain Allah SWT dapat mengalami kehancuran dan kerusakan, karena keberadaan mereka tidak bersifat kekal pada diri-Nya. Sampai kemudian disebutkan, yang dimaksud dengan ‘kehancuran’ di sini adalah ketiadaan secara mutlak. Dan dari hal ini, al-Suyuthi menyebutkan delapan hal yang dikecualikan dari kehancuran, yaitu delapan hal yang tetap ada selamanya, yaitu Arsy, Kursi, neraka dan surga yang diciptakan, serta segala sesuatu yang berada di alam ketiadaan, keajaiban, ruh, dan juga Lauh Mahfuz serta Qalam.”
Penjelasan Singkat:
Ayat yang disebutkan dalam teks ini mengisyaratkan bahwa segala sesuatu di alam semesta ini bersifat fana atau tidak kekal, kecuali Allah SWT. Namun, ada beberapa hal yang dikecualikan dari sifat kefanaan ini, seperti Arsy, Kursi, surga, neraka, dan beberapa hal lainnya.
Penjelasan Lebih Detail:
✅ Hasyiah al-‘Allamah al-Shawkani: Merupakan kitab komentar atau catatan kaki terhadap kitab Tafsir al-Jalalain. Kitab ini ditulis oleh al-‘Allamah al-Shawkani untuk menjelaskan lebih detail beberapa poin yang terdapat dalam Tafsir al-Jalalain.
✅Tafsir al-Jalalain: Adalah kitab tafsir Al-Qur’an yang terkenal dan sering digunakan sebagai rujukan dalam pembelajaran tafsir.
✅Wajah-Nya: Merujuk kepada Allah SWT.
✅ Kehancuran: Maksudnya adalah ketiadaan secara mutlak atau berakhirnya keberadaan sesuatu.
✅Delapan hal yang dikecualikan: Yaitu Arsy, Kursi, neraka, surga, alam ketiadaan, keajaiban, ruh, Lauh Mahfuz, dan Qalam. Hal-hal ini dianggap kekal dan tidak akan pernah mengalami kehancuran.
Kesimpulan:
Ayat yang dijelaskan dalam teks ini menegaskan kekekalan Allah SWT dan kefanaan segala sesuatu selain-Nya. Namun, terdapat beberapa pengecualian yang dianggap kekal karena kehendak Allah SWT. Wallahu a’lam bish-shawab

Kategori
Hukum

Pengaruh Biaya Produksi Terhadap Kewajiban Zakat Pertanian

 

Assalamualaikum

Deskripsi Masalah

Banyak petani saat ini merasa keberatan untuk mengeluarkan zakat dari hasil panen mereka karena tingginya biaya produksi, seperti biaya pupuk, panen, dan pestisida. Mereka timbul tanda tanya yaitu:

apakah biaya-biaya tersebut dapat mengurangi / pempengruhi jumlah zakat yang harus dikeluarkan atau bahkan menghapus kewajiban zakat.?

Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh.

Jawaban

Biaya produksi pertanian seperti pupuk, panen, dan pestisida tidak mengurangi persentase zakat yang harus dikeluarkan. Namun, biaya-biaya ini dapat mempengaruhi kewajiban mengeluarkan zakat itu sendiri.

Penjelasan

* Persentase Zakat Tetap: Jika hasil panen sudah mencapai nishab (batas minimal harta yang wajib dizakati) dan haul (satu tahun penuh), maka persentase zakat yang harus dikeluarkan tetap sesuai dengan ketentuan syariat, misalnya 10% untuk hasil pertanian tertentu.

* Pengaruh terhadap Kewajiban Zakat: Biaya produksi dapat mempengaruhi apakah zakat harus dikeluarkan atau tidak. Jika setelah dikurangi semua biaya, harta yang tersisa masih mencapai nishab dan haul, maka zakat tetap wajib. Namun, jika setelah dikurangi biaya, harta yang tersisa tidak mencapai nishab, maka zakat tidak wajib dikeluarkan.

Contoh:

Seorang petani memiliki hasil panen padi sebesar 10 ton. Setelah dikurangi biaya produksi sebesar 5 ton, sisanya masih 5 ton. Karena 5 ton masih mencapai nishab, maka petani tetap wajib mengeluarkan zakat dari 5 ton tersebut.

Hal Penting yang Perlu Diingat:

* Niat: Niat untuk mengeluarkan zakat adalah hal yang sangat penting. Meskipun biaya produksi tinggi, niat untuk menunaikan zakat harus tetap ada.

Referensi :

فقه الزكاة ليوسف القرضاوي،١/ ٣٤٦)

وَعَنْ عَطَاءٍ أَنــَّهُ يَسْقُطُ مِمَّا أصَابَ النَفَقَةَ فََإنْ بَقِىَ مِقْدَارُ مَا فِيْهِ الزَّكَاةُ زُكِّىَ، وَإلاَّ فَلاَ.

(فتاوى الأزهر، ١٧٩/١ )

وَتَعَرَّضَ إبْنُ الْعَرَبِىِّ فِي شَرْحِ الــتــُّرْْمُذِيِّ لِهَذِهِ الْمَسَألَةِ فَقَالَ: إخْتــَلَفَ قَوْلُ عُلَمَائِنَا، هَلْ تَحُطُّ الْمُؤْنـَةُ مِنَ الْمَالِ اْلمُزَكىَّ، وَحِيْنَئِذٍ تَجِبُ الزَّكَاةُ أيْ فِي الصَّافِي، أوْ تــَكُوْنَ مُؤنــَةُ الْمَالِ وَخِدْمَتِهِ حَتــَّى يَصِيْرَ حَاصِلاً فِي رَبِّ الْمَالِ، وَتـُؤْخَذُ الزَّكَاةُ مِنَ الرَّأْسِ أيْ مِنْ إجْمَالِيِّ اْلحَاصِلِ؟ فَذَهَبَ إلَى أنــَّهُ الصَّحِيْحُ أنْ تـــَحُطَّ وَتَرْفَعَ مِنَ اْلحَاصِلِ، وَأنَّ الْبَاقِيَ هُوَ الَّذِيْ يُؤْخَذُ عُشُرُهُ، وَاسْتَدَلَّ لِذَلِكَ بِحَدِيْثِ النَّبِيِّ  دَعُوْا الثــُلُثَ أوِ الرُّّبــُعَ وَأنَّ الثُّلُثَ أوِ الرُّبــُعَ يُعَادِلُ قَدْرَ اْلمُؤْنَةِ تَقْرِيْبًا، فَإذَا حُسِبَ مَا يَأْكُلُهُ رَطْبًا، وَمَا يُنْفِقُهُ مِنَ اْلمُؤْنــَةِ تَخَلَّصَ الْبَاقِي ثــَلاَثــَةَ أرْبَاعٍ، أوْ ثــُلُثــَيْنِ، قَالَ: وَلَقَدْ جَرَّبْنَاهُ فَوَجَدْنَاهُ كَذَلِكَ فِي اْلأغْلَبِ. إهـ (شرح الترمذي، ٣ /١٣٤

Referensi:

Fikih Zakat karya Yusuf al-Qaradawi, 1/346:

“Dan dari ‘Ata’ bahwa yang terkena biaya (nafkah) itu gugur. Jika masih tersisa sejumlah yang harus dizakati, maka dizakati, jika tidak, maka tidak.”

Fatawa al-Azhar, 1/179:

“Dan Ibnu al-‘Arabi dalam Syarh at-Tirmidzi membahas masalah ini lalu berkata: Berbeda pendapat ulama kami, apakah biaya (mu’nah) itu mengurangi harta yang dizakati, sehingga zakat hanya dikenakan pada sisa harta yang bersih, atau biaya pengelolaan harta itu termasuk beban hingga menjadi hasil bagi pemilik harta, sehingga zakat diambil dari keseluruhan hasil? Beliau berpendapat bahwa yang benar adalah biaya itu mengurangi hasil dan hanya sisa hasil itulah yang dikenakan sepersepuluh. Beliau dalilkan dengan hadits Nabi ﷺ yang berbunyi, ‘Tinggalkan sepertiga atau seperempat.’ Dan sepertiga atau seperempat itu hampir sama dengan jumlah biaya. Jika dihitung apa yang dikonsumsi dalam bentuk basah dan apa yang dikeluarkan sebagai biaya, maka sisanya adalah tiga perempat atau dua pertiga. Beliau berkata, ‘Kami telah mencobanya dan mendapati bahwa hal itu paling sering terjadi demikian.’”Wallahu Alam bisshowab

 

 

 

Kategori
Hukum

Mufaraqah dalam Sholat Berjamaah: Dilema antara Niat dan Gerakan

Deskripsi Masalah

Mufaraqoh dalam shalat berjamaah adalah tindakan seorang makmum memisahkan diri dari imam. Tindakan ini biasanya dilakukan karena adanya alasan syar’i, seperti kesalahan imam dalam bacaan atau gerakan shalat. Namun, bagaimana jika seorang makmum tetap mengikuti gerakan imam setelah memutuskan untuk mufaraqoh? Pertanyaan ini seringkali menimbulkan perdebatan di kalangan ulama.
Analisis Masalah
Skenario:
Seorang makmum mendengar bacaan imam yang dianggapnya membatalkan shalat. Ia kemudian berniat mufaraqoh. Namun, karena khawatir menimbulkan fitnah, ia tetap mengikuti gerakan imam hingga salam.

Pertanyaan Kunci:

1. Bagaimana hukum mufaroqoh sebagaimana Deskripsi?

2. Apakah sah sholatnya makmum  walaupun mufaroqoh sementara gerakan sholatnya tetap seperti bermakmum pada imam sampai salamnya ?

Waalaikumsalam salam

jawaban: Soal No.1

Mofaraqoh adalah Memutus ikatan dalam shalat jamaah. Di saat mufaraqah seseorang diharuskan berniat supaya shalatnya tidak dianggap batal, meskipun terkadang bisa menggugurkan fadhilah jamaah.
Seorang makmum dianjurkan mengikuti imam dalam setiap gerakannya. Namun, karena adanya hal lain,maka boleh mufaroqoh karena beberapa alasan, antara lain misalkan:
a). Kesalahan Imam: Imam melakukan kesalahan yang membatalkan shalat, seperti membaca ayat Al-Qur’an dengan bacaan yang tidak benar dalam Al-Quran atau melakukan gerakan yang bertentangan dengan sunnah.maka hukum nya wajib
b). Keraguan terhadap Imam: Makmum ragu-ragu terhadap kemampuan imam dalam memimpin shalat.Maka hukumnya sunnah
c). Khawatir Terbawa Kesalahan: Makmum khawatir terbawa kesalahan imam sehingga shalatnya menjadi tidak sah.

Referensi:

فتح المعين ص ١٧٤

وتجوز المفارقة بلا عذر، مع الكراهة، فتفوت فضيلة الجماعة والمفارقة بعذر: كمرخص ترك جماعة، وتركه سنة مقصودة كتشهد أول، وقنوت، وسورة، وتطويله وباامأموم ضعف أو شغل لا تفوت فضيلتها. وقد تجب المفارقة، كأن عرض مبطل لصلاة إمامه وقد علمه فيلزمه نيتها ؤضفورا وإلا بطلت، وإن لم يتابعه اتفاقا، كما في المجموع

Sebagaimana yang deijelasksan dalam kitab Fathul Mu’in hal. 174, karangan dari Syaikh Zanuddin Abd al Aziz al Malibary, bahwasanya hukum mufaraqah itu makruh dan bisa menggugurkan fadilah jamaah apabila mufaraqahnya tanpa sebab. Tetapi bisa menjadi mubah dan tidak menggugurkan fadhilah jamaah apabila makmum mufaraqah dikarenakan imamnya meninggalkan sunnah maqsudah seperti tasyahud awal, qunut, membaca surat sunnah atau imam yang memanjangkan bacaan shalatnya, sementara makmum dalam keadaan yang lemah atau dalam urusan tertentu. Adapun bisa menjadi wajib hukumnya, apabila shalat seorang imam batal dan makmum mengetahuinya. Maka dianjurkan makmum dengan segera mufaraqah dari imam tersebut. Seperti yang terdapat dalam kitab Majmu’.

Begitu juga keterangan dalam al-Mausuah al-fiqhiyah ada kalanya hukum mufarqoh wajib dan ada kalanya sunnah, makruh dan mubah

Jawaban soal No.2

Menurut pendapat yang ashah dalam madzhab Syafi’i, jika ada orang yang tidak berniat menjadi makmum atau sebelumnya ia niat makmum lalu niat mufaraqah, namun gerakannya mengikuti imam, maka shalat makmum tersebut hukumnya batal. Alasannya adalah dikarenakan shalatnya terhubung dengan orang yang tidak menjadi imamnya, selain itu orang yang mengerjakan hal tersebut dianggap sebagai orang yang mempermainkan shalat (mutala’ib bish shalah). Namun menurut sebagian ulama bahwa orang yang melakukannya shalatnya dihukumi batal hanya apabila ia memang mengerti ketentuan mengenai batalnya shalat apabila mengikuti gerakan imam tanpa niat menjadi makmum.

Dan juga hukum tersebut mengecualikan jika makmum tersebut tetap mengikuti imam (meskipun sudah niat mufaraqah) dengan tujuan untuk menghindarkan dirinya dari gunjingan dan celaan dari orang-orang yang melihatnya atau menghindari tekanan dari penguasa.

Kesimpulannya, makmum yang mufaraqah namun tetap mengikuti gerakan imam shalatnya dihukumi batal, kecuali: Jika seseorang mengikuti imam secara kebetulan atau karena alasan lain yang sah (misalnya menghindari celaan orang), maka shalatnya tidak batal.

حاشية إعانة الطالبين ج٢ص٢٥

اتفق نص الشافعي والأصحاب على أنه يشترط لصحة الجماعة أن ينوي المأموم الجماعة والاقتداء والائتمام قالوا وتكون هذه النية مقرونة بتكبيرة الإحرام كسائر ما ينويه فإن لم ينو في الابتداء وأحرم منفردا ثم نوى الاقتداء في أثناء صلاته ففيه خلاف ذكره المصنف بعد هذا وإذا ترك نية الاقتداء والانفراد وأحرم مطلقا انعقدت صلاته منفردا فإن تابع الإمام في أفعاله من غير تجديد نية فوجهان حكاهما القاضي حسين في تعليقه والمتولي وآخرون (أصحهما) وأشهرهما تبطل صلاته لأنه ارتبط بمن ليس بإمام له فأشبه الارتباط بغير المصلي وبهذا قطع البغوي وآخرون والثاني لا تبطل لأنه أتى بالأركان على وجهها وبهذا قطع الأكثرون

Hasyiyah I’anah ath Thalibin juz 2 hal. 25:
“Jika seseorang meninggalkan niat ini (niat mengikuti imam), atau ragu-ragu tentang niatnya, lalu mengikuti seorang yang sedang shalat dalam suatu gerakan, seperti ruku’ dengan mengikuti orang tersebut, atau dalam salam dengan maksud seperti itu tanpa niat mengikuti, dan penantiannya cukup lama, maka shalatnya batal.
(Kalimat: “Shalatnya batal”) artinya karena dia telah menjadikan shalatnya tergantung pada shalat orang lain tanpa ada hubungan antara keduanya. Dalam kitab an-Nihayah disebutkan: Apakah kebatilan ini berlaku umum bagi orang yang mengetahui larangan (haramnya) dan orang yang tidak tahu (jahil), atau hanya khusus bagi orang yang tahu? Al-Adzra’i berkata: Saya tidak menemukan sesuatu pun tentang hal ini, dan ini bisa jadi, dan yang lebih dekat adalah bahwa orang yang jahil dimaafkan.

حاشية البجيرمى على الخطيب شرح المنهاج ج١ ص ٣٣٠

فلو ترك هذه النية، أو شك فيها، وتابع مصليا في فعل، كأن هوى للركوع متابعا له، أو في سلام بأن قصد ذلك من غير اقتداء به وطال عرفا انتظاره له، بطلت صلاته
ـ (قوله: بطلت صلاته) أي لأنه متلاعب لكونه وقفها على صلاة غيره بلا رابط بينهما. قال في النهاية: هل البطلان عام في العالم بالمنع والجاهل أو مختص بالعالم؟ قال الأذرعي: لم أر فيه شيئا، وهو محتمل، والأقرب أنه يعذر
______

ـ (فلو تركها) أي هذه النية (أو شك) فيها (وتابع في فعل أو سلام بعد انتظار كثير) للمتابعة بطلت صلاته لأنه وقفها على صلاة غيره بلا رابط بينهما فلو تابعه اتفاقا أو بعد انتظار يسير أو انتظره كثيرا بلا متابعة لم يضر
ولم يذكر محترز قوله للمتابعة ومحترزه ما لو انتظره كثيرا لأجل غيرها كدفع لوم الناس عليه كأن كان لا يحب الاقتداء بالإمام لغرض ويخاف لو انفرد عنه حسا صولة الإمام أو لوم الناس عليه لاتهامه بالرغبة عن الجماعة فإذا انتظر الإمام كثيرا لدفع هذه الريبة فإنه لا يضر كما قرره شيخنا ح ف

Hasyiah al Bujairamiy ‘ala Syarh al Manhaj juz 1 hal. 330:
“(Jika seseorang meninggalkan niat ini) yaitu niat mengikuti imam (atau ragu-ragu) tentang niatnya (lalu mengikuti dalam suatu gerakan atau salam setelah menunggu lama) karena mengikuti, maka shalatnya batal karena dia telah menjadikan shalatnya tergantung pada shalat orang lain tanpa ada hubungan antara keduanya. Jika dia mengikuti secara kebetulan atau setelah menunggu sebentar, atau dia menunggu lama tanpa mengikuti, maka tidak mengapa.
Dan tidak disebutkan syarat untuk kalimat ‘mengikuti’ dan syaratnya adalah jika dia menunggu lama karena alasan lain, seperti untuk menghindari celaan orang, misalnya dia tidak suka mengikuti imam karena suatu alasan dan dia takut jika shalat sendirian akan terdengar suara keras imam atau dicela orang karena dianggap tidak suka berjamaah. Maka jika dia menunggu imam dalam waktu yang lama untuk menghindari kecurigaan ini, maka tidak mengapa, sebagaimana yang telah ditegaskan oleh guruku, al-Hafizh.”
Penjelasan Singkat:
Kedua teks di atas membahas tentang syarat sahnya shalat berjamaah dalam mazhab Syafi’i. Secara umum, teks-teks ini menjelaskan bahwa:
* Niat mengikuti imam: Merupakan syarat wajib dalam shalat berjamaah. Jika seseorang tidak berniat mengikuti imam sejak awal atau ragu-ragu, lalu mengikuti gerakan imam, maka shalatnya batal.
* Alasan pembatalan: Pembatalan shalat dalam kasus ini dikarenakan seseorang menjadikan shalatnya tergantung pada shalat orang lain tanpa adanya hubungan yang sah antara keduanya.
* Pengecualian: Jika seseorang mengikuti imam secara kebetulan atau karena alasan lain yang sah (misalnya menghindari celaan orang), maka shalatnya tidak batal.
Kesimpulan:
Ibarat  sebagaimana yang disebutkan adalah menekankan pentingnya niat mengikuti imam dalam shalat berjamaah. Niat ini harus ada sejak awal shalat dan tidak boleh ragu-ragu. Jika syarat ini tidak terpenuhi, maka shalat seseorang akan dianggap batal..

المكتبة الشاملة
كتاب تحفة المحتاج في شرح المنهاج وحواشي الشرواني والعبادي[ابن حجر الهيتمي] ج٢ص٣٢٧

انْتِظَارُهُ لَهُ (بَطَلَتْ صَلَاتُهُ عَلَى الصَّحِيحِ) ؛ لِأَنَّهُ مُتَلَاعِبٌ، فَإِنْ وَقَعَ ذَلِكَ مِنْهُ اتِّفَاقًا لَا قَصْدًا أَوْ انْتَظَرَهُ يَسِيرًا أَوْ كَثِيرًا بِلَا مُتَابَعَةٍ لَمْ تَبْطُلْ جَزْمًا وَمَا اقْتَضَاهُ قَوْلُ الْعَزِيزِ وَغَيْرِهِ أَنَّ الشَّكَّ هُنَا كَهُوَ فِي أَصْلِ النِّيَّةِ مِنْ الْبُطْلَانِ بِانْتِظَارٍ طَوِيلٍ، وَإِنْ لَمْ يُتَابِعْ وَبِيَسِيرٍ مَعَ الْمُتَابَعَةِ غَيْرُ مُرَادٍ بِدَلِيلِ قَوْلِ الشَّيْخَيْنِ أَنَّهُ فِي حَالِ شَكِّهِ كَالْمُنْفَرِدِ وَمِنْ ثَمَّ أَثَّرَ شَكُّهُ فِي الْجُمُعَةِ إنْ طَالَ زَمَنُهُ، وَإِنْ لَمْ يُتَابِعْ أَوْ مَضَى مَعَهُ رُكْنٌ؛ لِأَنَّ الْجَمَاعَةَ فِيهَا شَرْطٌ فَهُوَ كَالشَّكِّ فِي أَصْلِ النِّيَّةِ وَيُؤْخَذُ مِنْهُ أَنَّهُ يُؤَثِّرُ الشَّكُّ فِيهَا بَعْدَ السَّلَامِ فَتُسْتَثْنَى مِنْ إطْلَاقِهِمْ أَنَّهُ هُنَا بَعْدَهُ لَا يُؤَثِّرُ؛ لِأَنَّهُ لَا يُنَافِي الِانْعِقَادَ ثُمَّ رَأَيْت بَعْضَهُمْ اسْتَثْنَاهَا وَاسْتَدَلَّ بِكَلَامٍ لِلزَّرْكَشِيِّ وَابْنِ الْعِمَادِ.
(وَلَا يَجِبُ تَعْيِينُ الْإِمَامِ) بِاسْمِهِ أَوْ وَصْفِهِ كَالْحَاضِرِ أَوْ الْإِشَارَةِ إلَيْهِ بَلْ يَكْفِي نِيَّةُ الِاقْتِدَاءِ وَلَوْ بِأَنْ يَقُولَ لِنَحْوِ الْتِبَاسٍ لِلْإِمَامِ بِغَيْرِهِ

[حاشية الشرواني]
لَظَهَرَ أَثَرُهُ وَيَحْتَمِلُ أَنَّ مَا هُنَا أَضْيَقُ وَهُوَ الْأَقْرَبُ وَيُوَجَّهُ بِأَنَّ الْمَدَارَ هُنَا عَلَى مَا يَظْهَرُ بِهِ كَوْنُهُ رَابِطًا صَلَاتَهُ بِصَلَاةِ إمَامِهِ وَهُوَ يَحْصُلُ بِمَا دُونَ ذَلِكَ (فَرْعٌ)
لَوْ انْتَظَرَهُ لِلرُّكُوعِ، وَالِاعْتِدَالِ، وَالسُّجُودِ وَهُوَ قَلِيلٌ فِي كُلٍّ وَلَكِنَّهُ كَثِيرٌ بِاعْتِبَارِ الْجُمْلَةِ فَالظَّاهِرُ أَنَّهُ مِنْ الْكَثِيرِ وَاعْتَمَدَ شَيْخُنَا الطَّبَلَاوِيُّ أَنَّهُ قَلِيلٌ سم عَلَى الْمَنْهَجِ أَقُولُ، وَالْأَقْرَبُ مَا قَالَهُ الطَّبَلَاوِيُّ ع ش وَقَالَ الْبُجَيْرِمِيُّ، وَالْمُرَادُ بِالِانْتِظَارِ الطَّوِيلِ هُوَ الَّذِي يَسَعُ الرُّكْنَ، وَإِنْ لَمْ يَفْعَلْ كَمَا قَرَّرَهُ شَيْخُنَا. اهـ. وَفِيهِ نَظَرٌ (قَوْلُهُ: انْتِظَارُهُ إلَخْ) وَاعْتِبَارُ الِانْتِظَارِ لِلرُّكُوعِ مَثَلًا بَعْدَ الْقِرَاءَةِ الْوَاجِبَةِ سم وَعِ ش (قَوْلُهُ: لَهُ) أَيْ لِلْمُتَابَعَةِ شَرْحُ الْمَنْهَجِ قَوْلُ الْمَتْنِ (بَطَلَتْ صَلَاتُهُ) هَلْ الْبُطْلَانُ عَامٌّ فِي الْعَالِمِ بِالْمَنْعِ وَالْجَاهِلِ، أَمْ مُخْتَصٌّ بِالْعَالِمِ قَالَ الْأَذْرَعِيُّ لَمْ أَرَ فِيهِ شَيْئًا وَهُوَ مُحْتَمِلٌ وَالْأَقْرَبُ أَنَّهُ يُعْذَرُ الْجَاهِلُ لَكِنْ قَالَ أَيْ الْأَذْرَعِيُّ فِي التَّوَسُّطِ الْأَشْبَهُ عَدَمُ الْفَرْقِ وَهُوَ الْأَوْجَهُ شَرْحُ م ر. اهـ. سم قَالَ ع ش بَقِيَ مَا لَوْ تَرَكَ نِيَّةَ الِاقْتِدَاءِ أَوْ قَصَدَ أَنْ لَا يُتَابِعَ الْإِمَامَ لِغَرَضٍ مَا فَسَهَا عَنْ ذَلِكَ فَانْتَظَرَهُ عَلَى ظَنِّ أَنَّهُ مُقْتَدٍ بِهِ فَهَلْ تَضُرُّ مُتَابَعَتُهُ حِينَئِذٍ أَوْ لَا فِيهِ نَظَرٌ وَلَا يَبْعُدُ عَدَمُ الضَّرَرِ ثُمَّ رَأَيْت الْأَذْرَعِيَّ فِي الْقُوتِ ذَكَرَ أَنَّ مِثْلَ الْعَالِمِ وَالْجَاهِلِ الْعَامِدُ وَالنَّاسِي فَيَضُرُّ. اهـ.

(قَوْلُهُ: ذَلِكَ) أَيْ الْمُتَابَعَةُ مُغْنِي وَشَرْحُ الْمَنْهَجِ (قَوْلُهُ: أَوْ انْتَظَرَهُ يَسِيرًا) أَيْ مَعَ الْمُتَابَعَةِ سم (قَوْلُهُ: أَوْ كَثِيرًا بِلَا مُتَابَعَةٍ) وَيَنْبَغِي أَنْ يَزِيدَ أَوْ كَثِيرًا وَتَابَعَ لَا لَأَجْلِ فِعْلِهِ أَخْذًا مِنْ قَوْلِهِ لَهُ سم وَع ش عِبَارَةُ الْبُجَيْرِمِيِّ وَلَمْ يَذْكُرْ مُحْتَرَزَ قَوْلِهِ لِلْمُتَابَعَةِ، وَمُحْتَرَزَهُ مَا لَوْ انْتَظَرَ كَثِيرًا لِأَجْلِ غَيْرِهَا كَأَنْ كَانَ لَا يَجِبُ الِاقْتِدَاءُ بِالْإِمَامِ لِغَرَضٍ وَيَخَافُ لَوْ انْفَرَدَ عَنْهُ حِسًّا صَوْلَةَ الْإِمَامِ أَوْ لَوْمَ النَّاسِ عَلَيْهِ لِاتِّهَامِهِ بِالرَّغْبَةِ عَنْ الْجَمَاعَةِ، فَإِذَا انْتَظَرَ الْإِمَامَ لِدَفْعِ نَحْوِ هَذِهِ الرِّيبَةِ فَلَا يَضُرُّ كَمَا قَرَّرَهُ شَيْخُنَا الْحِفْنِيُّ. اهـ.

أَيْ كَمَا فِي الْمَحَلِّيّ، وَالنِّهَايَةِ، وَالْمُغْنِي مَا يُفِيدُهُ (قَوْلُهُ: هُنَا) أَيْ فِي نِيَّةِ الِاقْتِدَاءِ (قَوْلُهُ: بِدَلِيلِ قَوْلِ الشَّيْخَيْنِ إلَخْ) فَمَا تَقَدَّمَ فِي مَسْأَلَةِ الشَّكِّ وَهُوَ الْمُعْتَمَدُ نِهَايَةٌ وَمُغْنِي (قَوْلُهُ: كَالْمُنْفَرِدِ) أَيْ وَالْمُنْفَرِدُ لَا تَبْطُلُ صَلَاتُهُ بِالِانْتِظَارِ الطَّوِيلِ بِلَا مُتَابَعَةٍ (قَوْلُهُ: وَمِنْ ثَمَّ) أَيْ مِنْ أَجْلِ أَنَّ الشَّاكَّ فِي نِيَّةِ الْقُدْوَةِ كَالْمُنْفَرِدِ (قَوْلُهُ: أَوْ مَضَى إلَخْ) عَطْفٌ عَلَى طَالَ زَمَنُهُ (قَوْلُهُ: لِأَنَّ الْجَمَاعَةَ إلَخْ) مُقْتَضَاهُ أَنَّ الْمُعَادَةَ كَالْجُمُعَةِ فَيَكُونُ الشَّكُّ فِي نِيَّةِ الْقُدْوَةِ فِيهَا كَالشَّكِّ فِي أَصْلِ النِّيَّةِ بَصْرِيٌّ وَكُرْدِيٌّ (قَوْلُهُ: فَهُوَ) أَيْ الشَّكُّ فِي نِيَّةِ الْقُدْوَةِ فِي الْجُمُعَةِ (قَوْلُهُ: كَالشَّكِّ فِي أَصْلِ النِّيَّةِ) فَتَبْطُلُ الْجُمُعَةُ بِالشَّكِّ فِي الْقُدْوَةِ إنْ طَالَ زَمَنُهُ أَوْ مَضَى مَعَهُ رُكْنٌ (قَوْلُهُ: مِنْهُ) أَيْ مِنْ أَنَّ الشَّكَّ هُنَا فِي الْجُمُعَةِ كَالشَّكِّ فِي أَصْلِ النِّيَّةِ (قَوْلُهُ: فِيهَا) أَيْ فِي الْجُمُعَةِ سم (قَوْلُهُ: فَتُسْتَثْنَى إلَخْ) أَيْ الشَّكُّ فِي الْجُمُعَةِ بَعْدَ السَّلَامِ (قَوْلُهُ: مِنْ إطْلَاقِهِمْ) يَنْبَغِي أَنْ يُسْتَثْنَى مِنْهُ الْمُعَادَةُ أَيْضًا بَصْرِيٌّ أَيْ، وَالْمَجْمُوعُ بِالْمَطَرِ وَكَذَا الْمَنْذُورُ جَمَاعَةٌ عَلَى مَا يَأْتِي عَنْ النِّهَايَةِ (قَوْلُهُ: أَنَّهُ هُنَا بَعْدَهُ) أَيْ أَنَّ الشَّكَّ فِي الْقُدْوَةِ بَعْدَ السَّلَامِ سم (قَوْلُهُ: لِأَنَّهُ إلَخْ) مُتَعَلِّقٌ بِقَوْلِهِ لَا يُؤَثِّرُ وَعِلَّةٌ لِعَدَمِ التَّأْثِيرِ (قَوْلُهُ: اسْتَثْنَاهَا) أَيْ الْجُمُعَةِ يَعْنِي الشَّكَّ فِي الْقُدْوَةِ فِيهَا بَعْدَ السَّلَامِ.
قَوْلُ الْمَتْنِ (وَلَا يَجِبُ إلَخْ) أَيْ عَلَى الْمَأْمُومِ فِي نِيَّتِهِ نِهَايَةِ (قَوْلُهُ: بِاسْمِهِ) إلَى قَوْلِهِ كَمَا فِي عِبَارَةِ فِي النِّهَايَةِ وَالْمُغْنِي (قَوْلُهُ: بِاسْمِهِ) أَيْ كَزَيْدٍ أَوْ عَمْرٍو مُغْنِي (قَوْلُهُ: أَوْ الْإِشَارَةِ) عَطْفٌ عَلَى اسْمِهِ (قَوْلُهُ: وَلَوْ بِأَنْ يَقُولَ لِنَحْوِ الْتِبَاسٍ لِلْإِمَامِ إلَخْ) وَيَنْبَغِي اشْتِرَاطُ إمْكَانِ الْمُتَابَعَةِ الْوَاجِبَةِ لِكُلٍّ مِنْ اُحْتُمِلَ أَنَّهُ الْإِمَامُ سم عَلَى حَجّ أَيْ ثُمَّ إنْ ظَهَرَ لَهُ قَرِينَةٌ تُعَيِّنُ الْإِمَامَ فَذَاكَ وَإِلَّا لَاحَظَهُمَا فَلَا يَتَقَدَّمُ عَلَى وَاحِدٍ مِنْهُمَا
ــ
[حاشية ابن قاسم العبادي]
الْبُطْلَانُ عَامٌّ فِي الْعَالِمِ بِالْمَنْعِ، وَالْجَاهِلِ أَوْ مُخْتَصٌّ بِالْعَالِمِ قَالَ الْأَذْرَعِيُّ لَمْ أَرَ فِيهِ شَيْئًا وَهُوَ مُحْتَمَلٌ، وَالْأَقْرَبُ أَنَّهُ يُعْذَرُ الْجَاهِلُ لَكِنْ قَالَ فِي التَّوَسُّطِ أَنَّ الْأَشْبَهَ عَدَمُ الْفَرْقِ وَهُوَ الْأَوْجَهُ شَرْحُ م ر (قَوْلُهُ: أَوْ انْتَظَرَهُ يَسِيرًا) أَيْ مَعَ الْمُتَابَعَةِ وَيَنْبَغِي أَنْ يُقَالَ أَوْ كَثِيرًا أَوْ تَابَعَ لَا لِأَجْلِ فِعْلِهِ أَخْذًا مِنْ قَوْلِ الْجَلَالِ الْمَحِلِّيِّ عَقِبَ قَوْلِ الْمُصَنِّفِ عَلَى الصَّحِيحِ؛ لِأَنَّهُ وَقَفَهَا عَلَى صَلَاةِ غَيْرِهِ مِنْ غَيْرِ رَبْطٍ بَيْنَهُمَا وَالثَّانِي يَقُولُ الْمُرَادُ بِالْمُتَابَعَةِ هُنَا أَنْ يَأْتِيَ بِالْفِعْلِ بَعْدَ الْفِعْلِ لَا لِأَجْلِهِ، وَإِنْ تَقَدَّمَهُ انْتِظَارٌ كَثِيرٌ فَلَا نِزَاعَ فِي الْمَعْنَى. اهـ.، وَالْفَرْقُ بَيْنَ الْحَالَيْنِ أَنَّهُ فِي الْأَوَّلِ لَمْ يَقْصِدْ رَبْطَ فِعْلِهِ بِفِعْلِهِ، وَإِنَّمَا اخْتَارَ أَنْ يَتَأَخَّرَ فِعْلُهُ عَنْ فِعْلِهِ وَفِي الثَّانِي قَصَدَ الرَّبْطَ بَقِيَ أَنَّهُ مَتَى يَبْتَدِئُ الِانْتِظَارَ لِلرُّكُوعِ مَثَلًا وَيُتَّجَهُ أَنَّ ابْتِدَاءَهُ إذَا قَصَدَهُ بَعْدَ قِرَاءَةِ الْوَاجِبِ (قَوْلُهُ: غَيْرُ مُرَادٍ) كَذَا م ر (قَوْلُهُ: أَنَّهُ يُؤَثِّرُ الشَّكُّ فِيهَا) أَيْ الْجُمُعَةِ (قَوْلُهُ: أَنَّهُ) أَيْ الشَّكَّ هُنَا أَيْ فِي نِيَّةِ الْقُدْوَةِ بَعْدَ أَيْ بَعْدَ السَّلَامِ لَا يُؤَثِّرُ وَلَوْ شَكَّ بَعْدَ السَّلَامِ فِي أَنَّهُ نَوَى الِاقْتِدَاءَ مَعَ عِلْمِهِ بِمُتَابَعَتِهِ مَعَ الِانْتِظَارِ الْكَثِيرِ قَبْلَهُ فَهَلْ يُحْكَمُ بِبُطْلَانِ صَلَاتِهِ لِبُطْلَانِهَا بِالْمُتَابَعَةِ الْمَذْكُورَةِ وَلَوْ مَعَ الْجَهْل

Perpustakaan Syamilah
Kitab Tuhfatul Muhtaj fi Syarhil Minhaj
Disertai Hasyiyah Syarwani dan Al-‘Abadi
[Oleh Ibnu Hajar Al-Haitami]
Halaman utama
Kategori kitab
Fiqih Syafi’i
Bab Kitab: [Kitab Shalat Berjamaah]
[Fasal tentang beberapa syarat mengikuti imam, banyak adabnya, dan hal-hal yang dimakruhkan]
Isi teks:
“Menunggu imam dengan sengaja membatalkan shalatnya menurut pendapat yang sahih.” Sebab, tindakan ini termasuk bermain-main dalam ibadah. Namun, jika perbuatan tersebut dilakukan secara tidak sengaja, atau menunggu imam dalam waktu singkat maupun lama tanpa disertai niat untuk mengikuti, maka shalatnya tidak batal secara pasti. Pendapat ini didukung oleh ucapan Imam Al-‘Aziz dan lainnya, yang menyamakan keraguan pada perkara ini dengan keraguan dalam niat shalat, sehingga membatalkan shalat jika penantian berlangsung lama. Tetapi jika penantian singkat atau dilakukan tanpa niat untuk mengikuti imam, maka shalatnya tidak batal.
Pendapat tersebut juga sesuai dengan pernyataan dua imam besar bahwa dalam kondisi ragu, makmum dianggap seperti orang yang shalat sendirian. Oleh karena itu, keraguan dalam shalat Jumat, apabila berlangsung lama atau melibatkan satu rukun, akan memengaruhi sahnya shalat. Sebab, berjamaah adalah syarat sahnya shalat Jumat, sehingga keraguan tersebut disamakan dengan keraguan dalam niat awal shalat.
Diambil kesimpulan bahwa keraguan tersebut juga memengaruhi shalat setelah salam. Maka, shalat Jumat dikecualikan dari pendapat umum yang menyatakan bahwa keraguan setelah salam tidak memengaruhi keabsahan shalat. Sebagian ulama, termasuk Az-Zarkasyi dan Ibnu Al-‘Imad, menyebutkan pendapat ini dalam kitab-kitab mereka.
Hasyiyah Syarwani dan Al-‘Abadi:
Tidak wajib menentukan imam dengan namanya atau sifatnya, seperti menyebutkan nama tertentu atau menunjuk dengan isyarat. Cukup berniat mengikuti imam, bahkan jika makmum mengucapkan niat seperti: “Saya mengikuti imam yang ada di depan.”
Apabila seseorang menunggu imam untuk rukuk, i’tidal, atau sujud yang sedikit dalam tiap gerakan, tetapi banyak jika dihitung secara keseluruhan, maka mayoritas ulama menganggapnya sebagai tindakan yang banyak. Namun, sebagian ulama seperti Syaikh Thablawi menyebutnya sebagai hal yang ringan. Pendapat ini didukung oleh ulama lainnya, yang menyatakan bahwa penantian panjang yang mencakup satu rukun dianggap banyak dan dapat memengaruhi shalat.
Makmum yang meninggalkan niat mengikuti imam, atau sengaja tidak mengikuti imam karena alasan tertentu, tetapi kemudian berubah pikiran dan mengikuti imam tanpa niat yang jelas, maka hal ini menjadi perdebatan di kalangan ulama. Sebagian pendapat mengatakan hal tersebut tidak membahayakan, sedangkan yang lain menganggapnya merusak keabsahan shalat. menjadi perdebatan di kalangan ulama. Sebagian pendapat mengatakan hal tersebut tidak membahayakan, sedangkan yang lain menganggapnya merusak keabsahan shalat. melibatkan satu rukun, akan memengaruhi sahnya shalat. Sebab, berjamaah adalah syarat sahnya shalat Jumat, sehingga keraguan tersebut disamakan dengan keraguan dalam niat awal shalat.
Diambil kesimpulan bahwa keraguan tersebut juga memengaruhi shalat setelah salam. Maka, shalat Jumat dikecualikan dari pendapat umum yang menyatakan bahwa keraguan setelah salam tidak memengaruhi keabsahan shalat. Sebagian ulama, termasuk Az-Zarkasyi dan Ibnu Al-‘Imad, menyebutkan pendapat ini dalam kitab-kitab mereka.
Hasyiyah Syarwani dan Al-‘Abadi:
Tidak wajib menentukan imam dengan namanya atau sifatnya, seperti menyebutkan nama tertentu atau menunjuk dengan isyarat. Cukup berniat mengikuti imam, bahkan jika makmum mengucapkan niat seperti: “Saya mengikuti imam yang ada di depan.”
Apabila seseorang menunggu imam untuk rukuk, i’tidal, atau sujud yang sedikit dalam tiap gerakan, tetapi banyak jika dihitung secara keseluruhan, maka mayoritas ulama menganggapnya sebagai tindakan yang banyak. Namun, sebagian ulama seperti Syaikh Thablawi menyebutnya sebagai hal yang ringan. Pendapat ini didukung oleh ulama lainnya, yang menyatakan bahwa penantian panjang yang mencakup satu rukun dianggap banyak dan dapat memengaruhi shalat.
Makmum yang meninggalkan niat mengikuti imam, atau sengaja tidak mengikuti imam karena alasan tertentu, tetapi kemudian berubah pikiran dan mengikuti imam tanpa niat yang jelas, maka hal ini menjadi perdebatan di kalangan ulama. Sebagian pendapat mengatakan hal tersebut tidak membahayakan, sedangkan yang lain menganggapnya merusak keabsahan shalat.

Referensi .

الموسوعة الفقهية الكويتيه ص٢٤٤-٢٤٩

وَالْمُجَاوَزَةُ أَعَمُّ مِنَ الْمُفَارَقَةِ.
الأَْحْكَامُ الْمُتَعَلِّقَةِ بِالْمُفَارَقَةِ:
تَتَعَلَّقُ بِالْمُفَارَقَةِ أَحْكَامٌ مِنْهَا:
أَوَّلاً: الْمُفَارَقَةُ فِي الْعِبَادَاتِ:
الْمُفَارَقَةُ فِي صَلاَةِ الْجَمَاعَةِ.
الْمُرَادُ بِالْمُفَارَقَةِ فِي صَلاَةِ الْجَمَاعَةِ تَرْكُ أَحَدِ الْمُصَلِّينَ صَلاَةَ الْجَمَاعَةِ، وَهَذِهِ الْمُفَارَقَةُ قَدْ تَكُونُ مُمْتَنِعَةً، وَقَدْ تَكُونُ جَائِزَةً، وَقَدْ تَكُونُ وَاجِبَةً، وَبَيَانُ ذَلِكَ فِيمَا يَلِي:
امْتِنَاعُ مُفَارَقَةِ الْمَأْمُومِ صَلاَةَ الْجَمَاعَةِ بِدُونِ عُذْرٍ:
٤ – ذَهَبَ الْحَنَفِيَّةُ وَالْمَالِكِيَّةُ وَالْحَنَابِلَةُ وَالشَّافِعِيَّةُ فِي الْقَدِيمِ إِلَى أَنَّهُ لاَ يَجُوزُ أَنْ يُفَارِقَ الْمُقْتَدِي إِمَامَهُ بِدُونِ عُذْرٍ فَلاَ يَنْتَقِل مَنْ فِي جَمَاعَةٍ إِلَى الاِنْفِرَادِ، لأَِنَّ الْمَأْمُومِيَّةَ تَلْزَمُ بِالشُّرُوعِ، وَإِنْ لَمْ تَجِبِ ابْتِدَاءً كَمَا يَقُول الْمَالِكِيَّةُ (١) ، لِقَوْل النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِنَّمَا جُعِل الإِْمَامُ لِيُؤْتَمَّ بِهِ، فَلاَ تَخْتَلِفُوا عَلَيْهِ (٢) ، وَلأَِنَّهُ تَرَكَ مُتَابَعَةَ إِمَامِهِ وَانْتَقَل مِنَ الأَْعْلَى لِلأَْدْنَى بِغَيْرِ عُذْرٍ أَشْبَهَ مَا لَوْ نَقَلَهَا إِلَى النَّفْل (٣) .وَإِذَا انْتَقَل الْمَأْمُومُ مِنَ الْجَمَاعَةِ إِلَى الاِنْفِرَادِ بِدُونِ عُذْرٍ بَطَلَتْ صَلاَتُهُ عِنْدَ الْحَنَفِيَّةِ وَالْمَالِكِيَّةِ وَفِي أَصَحِّ الرِّوَايَتَيْنِ عِنْدَ الْحَنَابِلَةِ وَفِي الْقَوْل الْقَدِيمِ لِلشَّافِعِيَّةِ، لأَِنَّهُ مَنْ تَرَكَ الْمُتَابَعَةَ بِغَيْرِ عُذْرٍ أَشْبَهَ مَا لَوْ تَرَكَهَا مِنْ غَيْرِ نِيَّةِ الْمُفَارَقَةِ. وَلأَِنَّهُ كَمَا يَقُول الشَّافِعِيَّةُ فِي الْقَدِيمِ الْتَزَمَ الْقُدْوَةَ فِي كُل صَلاَتِهِ وَفِيهِ إِبْطَال الْعَمَل (١) ، وَقَدْ قَال اللَّهُ تَعَالَى: {وَلاَ تُبْطِلُوا أَعْمَالَكُمْ} (٢) .وَالْمَذْهَبُ عِنْدَ الشَّافِعِيَّةِ وَالرِّوَايَةُ الثَّانِيَةُ عِنْدَ الْحَنَابِلَةِ أَنَّ الصَّلاَةَ صَحِيحَةٌ لَكِنْ مَعَ الْكَرَاهَةِ عِنْدَ الشَّافِعِيَّةِ – أَيْ كَرَاهَةِ الْمُفَارَقَةِ -، وَاسْتَدَل الشَّافِعِيَّةُ عَلَى صِحَّةِ صَلاَةِ الْمَأْمُومِ مَعَ الْمُفَارَقَةِ بِأَنَّ صَلاَةَ الْجَمَاعَةِ إِمَّا سُنَّةٌ عَلَى قَوْلٍ وَالسُّنَنُ لاَ تَلْزَمُ بِالشُّرُوعِ إِلاَّ فِي الْحَجِّ وَالْعُمْرَةِ، وَإِمَّا فَرْضُ كِفَايَةٍ عَلَى الصَّحِيحِ فَكَذَلِكَ إِلاَّ فِي الْجِهَادِ وَصَلاَةِ الْجِنَازَةِ وَالْحَجِّ وَالْعُمْرَةِ، وَلأَِنَّ الْفِرْقَةَ الأُْولَى فَارَقَتِ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي ذَاتِ الرِّقَاعِ (٣) ، وَعَلَّل الْحَنَابِلَةُ الصِّحَّةَ – كَمَا قَال ابْنُ قُدَامَةَ – بِأَنَّ الْمُنْفَرِدَ لَوْ نَوَى كَوْنَهُ مَأْمُومًا لَصَحَّ فِي رِوَايَةٍ. فَنِيَّةُ الاِنْفِرَادِ أَوْلَى، فَإِنَّ الْمَأْمُومَ قَدْ يَصِيرُ مُنْفَرِدًا بِغَيْرِ نِيَّةٍ وَهُوَ الْمَسْبُوقُ إِذَا سَلَّمَ إِمَامُهُ، وَغَيْرُهُ لاَ يَصِيرُ مَأْمُومًا بِغَيْرِ نِيَّةٍ بِحَالٍ (١)
جَوَازُ مُفَارَقَةِ الْمَأْمُومِ صَلاَةَ الْجَمَاعَةِ بِعُذْرٍ:
٥ – ذَهَبَ جُمْهُورُ الْفُقَهَاءِ – الْمَالِكِيَّةُ وَالشَّافِعِيَّةُ وَالْحَنَابِلَةُ – إِلَى أَنَّهُ يَجُوزُ لِلْمَأْمُومِ أَنْ يُفَارِقَ صَلاَةَ الْجَمَاعَةِ وَيَنْوِيَ الاِنْفِرَادَ إِذَا كَانَ ذَلِكَ لِعُذْرٍ، وَلَمْ يُجِزِ الْحَنَفِيَّةُ الْمُفَارَقَةَ مُطْلَقًا وَلَوْ بِعُذْرٍ.وَاسْتَدَل الْقَائِلُونَ بِجَوَازِ الْمُفَارَقَةِ بِمَا رَوَاهُ جَابِرٌ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَال: كَانَ مُعَاذُ بْنُ جَبَلٍ يُصَلِّي مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْعِشَاءَ ثُمَّ يَرْجِعُ إِلَى قَوْمِهِ بَنِي سَلَمَةَ فَيُصَلِّيهَا بِهِمْ، وَأَنَّ رَسُول اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَخَّرَ الْعِشَاءَ ذَاتَ لَيْلَةٍ فَصَلاَّهَا مُعَاذٌ مَعَهُ ثُمَّ رَجَعَ فَأَمَّ قَوْمَهُ، فَافْتَتَحَ بِسُورَةِ الْبَقَرَةِ فَتَنَحَّى رَجُلٌ مِنْ خَلْفِهِ فَصَلَّى وَحْدَهُ، فَلَمَّا انْصَرَفَ قَالُوا: نَافَقْتَ يَا فُلاَنُ. فَقَال: مَا نَافَقْتُ وَلَكِنِّي آتِي رَسُول اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأُخْبِرُهُ. فَأَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَال: يَا رَسُول اللَّهِ، إِنَّكَ أَخَّرْتَ الْعِشَاءَ الْبَارِحَةَ، وَإِنَّ مُعَاذًا صَلاَّهَا مَعَكَ ثُمَّ رَجَعَ فَأَمَّنَا فَافْتَتَحَ سُورَةَ الْبَقَرَةِ فَتَنَحَّيْتُ فَصَلَّيْتُ وَحْدِي وَإِنَّمَا نَحْنُ أَهْل نَوَاضِحَ نَعْمَل بِأَيْدِينَا فَالْتَفَتَ رَسُول اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَى مُعَاذٍ فَقَال: أَفَتَّانٌ أَنْتَ يَا مُعَاذُ؟ أَفَتَّانٌ أَنْتَ؟
اقْرَأْ بِسَبِّحِ اسْمَ رَبِّك الأَْعْلَى، وَالسَّمَاءِ وَالطَّارِقِ، وَالسَّمَاءِ ذَاتِ الْبُرُوجِ، وَالشَّمْسِ وَضُحَاهَا، وَاللَّيْل إِذَا يَغْشَى وَنَحْوِهَا، (١) وَلَمْ يَأْمُرِ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الرَّجُل بِالإِْعَادَةِ وَلاَ أَنْكَرَ عَلَيْهِ فِعْلَهُ (٢) . غَيْرَ أَنَّهُمُ اخْتَلَفُوا فِي الأَْعْذَارِ الَّتِي تَجُوزُ مَعَهَا الْمُفَارَقَةُ، فَمِنَ الأَْعْذَارِ الَّتِي تُجِيزُ مُفَارَقَةَ الإِْمَامِ تَطْوِيل الإِْمَامِ فِي الصَّلاَةِ طُولاً لاَ يَصْبِرُ مَعَهُ الْمَأْمُومُ لِضَعْفٍ أَوْ شُغْلٍ فَفِي هَذِهِ الْحَالَةِ يَجُوزُ لِلْمَأْمُومِ أَنْ يُفَارِقَ الإِْمَامَ وَيَنْوِيَ الاِنْفِرَادَ وَيُتِمَّ صَلاَتَهُ مُنْفَرِدًا لِمَا سَبَقَ فِي قِصَّةِ مُعَاذٍ رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهُ.وَهَذَا الْعُذْرُ مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ بَيْنَ الْمَالِكِيَّةِ وَالْحَنَابِلَةِ وَفِي الصَّحِيحِ عِنْدَ الشَّافِعِيَّةِ (٣) .وَزَادَ الشَّافِعِيَّةُ مِنَ الأَْعْذَارِ الَّتِي يَجُوزُ لِلْمَأْمُومِ أَنْ يُفَارِقَ إِمَامَهُ فِي الصَّلاَةِ أَنْ يَتْرُكَ الإِْمَامُ سُنَّةً مَقْصُودَةً كَالتَّشَهُّدِ الأَْوَّل أَوِ الْقُنُوتِ فَلَهُ فِرَاقُهُ لِيَأْتِيَ بِتِلْكَ السُّنَّةِوَاعْتَبَرَ إِمَامُ الْحَرَمَيْنِ أَنَّ الأَْعْذَارَ الَّتِي يَجُوزُ مَعَهَا تَرْكُ الْجَمَاعَةِ ابْتِدَاءً تَجُوزُ مَعَهَا الْمُفَارَقَةُ أَثَنَاءَ الصَّلاَةِ (١) .وَقَال الْحَنَابِلَةُ: مَنْ أَحْرَمَ مَأْمُومًا ثُمَّ نَوَى الاِنْفِرَادَ لِعُذْرٍ يُبِيحُ تَرْكَ الْجَمَاعَةِ كَتَطْوِيل إِمَامٍ وَكَمَرَضٍ وَكَغَلَبَةِ نُعَاسٍ أَوْ غَلَبَةِ شَيْءٍ يُفْسِدُ صَلاَتَهُ كَمُدَافَعَةِ أَحَدِ الأَْخْبَثَيْنِ أَوْ خَوْفٍ عَلَى أَهْلٍ أَوْ مَالٍ أَوْ خَوْفِ فَوْتِ رُفْقَةٍ أَوْ خَرَجَ مِنَ الصَّفِّ مَغْلُوبًا لِشِدَّةِ زِحَامٍ وَلَمْ يَجِدْ مَنْ يَقِفُ مَعَهُ وَنَحْوِ ذَلِكَ مِنَ الأَْعْذَارِ صَحَّ انْفِرَادُهُ فَيُتِمُّ صَلاَتَهُ مُنْفَرِدًا لِحَدِيثِ جَابِرٍ رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهُ فِي قِصَّةِ مُعَاذٍ رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهُ، قَالُوا: وَمَحِل إِبَاحَةِ الْمُفَارَقَةِ لِعُذْرٍ إِنِ اسْتَفَادَ مَنْ فَارَقَ لِتَدَارُكِ شَيْءٍ يُخْشَى فَوَاتُهُ أَوْ غَلَبَةِ نُعَاسٍ أَوْ خَوْفِ ضَرَرٍ وَنَحْوِهِ بِمُفَارَقَةِ إِمَامِهِ تَعْجِيل لُحُوقِهِ قَبْل فَرَاغِ إِمَامِهِ مِنْ صَلاَتِهِ لِيَحْصُل مَقْصُودُهُ مِنَ الْمُفَارَقَةِ فَإِنْ كَانَ الإِْمَامُ يَعْجَل وَلاَ يَتَمَيَّزُ انْفِرَادُهُ عَنْهُ بِنَوْعِ تَعْجِيلٍ لَمْ يَجُزْ لَهُ الاِنْفِرَادُ لِعَدَمِ الْفَائِدَةِ فِيهِ، وَأَمَّا مَنْ عُذْرُهُ الْخُرُوجُ مِنَ الصَّفِّ فَلَهُ الْمُفَارَقَةُ مُطْلَقًا لأَِنَّ عُذْرَهُ خَوْفُ الْفَسَادِ بِالْفِدْيَةِ وَذَلِكَ لاَ يُتَدَارَكُ بِالسُّرْعَةِ، وَفَصَّل الْحَنَابِلَةُ فِيمَا إِذَا نَوَى الْمَأْمُومُ الْمُفَارَقَةَ فَقَالُوا: وَإِذَا فَارَقَ الْمَأْمُومُ الإِْمَامَ لِعُذْرٍ مِمَّا تَقَدَّمَ فِي قِيَامٍ قَبْل قِرَاءَةِ الإِْمَامِ الْفَاتِحَةَ قَرَأَ الْمَأْمُومُ لِنَفْسِهِ لِصَيْرُورَتِهِ مُنْفَرِدًا
قَبْل سُقُوطِ فَرْضِ الْقِرَاءَةِ عَنْهُ بِقِرَاءَةِ الإِْمَامِ، وَإِنْ فَارَقَهُ بَعْدَ قِرَاءَةِ الْفَاتِحَةِ فَلَهُ الرُّكُوعُ فِي الْحَال لأَِنَّ قِرَاءَةَ الإِْمَامِ قِرَاءَةٌ لِلْمَأْمُومِ، وَإِنْ فَارَقَهُ فِي أَثْنَاءِ الْقِرَاءَةِ فَإِنَّهُ يُكَمِّل مَا بَقِيَ مِنَ الْفَاتِحَةِ. وَإِنْ كَانَ فِي صَلاَةِ سِرٍّ كَظُهْرٍ وَعَصْرٍ، أَوْ فِي الأَْخِيرَتَيْنِ مِنَ الْعِشَاءِ مَثَلاً وَفَارَقَ الإِْمَامَ لِعُذْرٍ بَعْدَ قِيَامِهِ وَظَنَّ أَنَّ إِمَامَهُ قَرَأَ لَمْ يَقْرَأْ، أَيْ لَمْ تَلْزَمْهُ الْقِرَاءَةُ إِقَامَةً لِلظَّنِّ مَقَامَ الْيَقِينِ، قَال الْبُهُوتِيُّ: الاِحْتِيَاطُ الْقِرَاءَةُ (١) .
وُجُوبُ الْمُفَارَقَةِ
مِنَ الأَْحْوَال الَّتِي يَجِبُ فِيهَا عَلَى الْمَأْمُومِ مُفَارَقَةُ صَلاَةِ الْجَمَاعَةِ مَا يَلِي:
أ – انْحِرَافُ الإِْمَامِ عَنِ الْقِبْلَةِ
٦ – ذَهَبَ جُمْهُورُ الْفُقَهَاءِ إِلَى أَنَّهُ إِذَا انْحَرَفَ الإِْمَامُ عَنِ الْقِبْلَةِ فَإِنَّهُ يَجِبُ عَلَى الْمَأْمُومِ مُفَارَقَتُهُ وَيُصَلِّي مُنْفَرِدًا (٢) . وَلَوِ اجْتَهَدَ اثْنَانِ فِي الْقِبْلَةِ وَاتَّفَقَ اجْتِهَادُهُمَا وَصَلَّى أَحَدُهُمَا بِالآْخَرِ وَتَغَيَّرَ اجْتِهَادُ أَحَدِهِمَا لَزِمَهُ الاِنْحِرَافُ إِلَى الْجِهَةِ الَّتِي تَغَيَّرَ اجْتِهَادُهُ إِلَيْهَا لأَِنَّهَا تَرَجَّحَتْ فِي ظَنِّهِ فَتَعَيَّنَتْ عَلَيْهِ وَأَتَمَّ صَلاَتَهُ وَيَنْوِي الْمَأْمُومُ الَّذِي ائْتَمَّ بِالآْخَرِ مُفَارَقَةَ إِمَامِهِ لِلْعُذْرِ الْمَانِعِ لَهُ مِنَ اقْتِدَائِهِ بِهِ وَهُوَ التَّغَيُّرُ (١) .وَقَال الْحَنَفِيَّةُ: وَالْمُقْتَدِي إِذَا ظَهَرَ لَهُ وَهُوَ وَرَاءَ الإِْمَامِ أَنَّ الْقِبْلَةَ غَيْرُ الْجِهَةِ الَّتِي يُصَلِّي إِلَيْهَا الإِْمَامُ لاَ يُمْكِنُهُ إِصْلاَحُ صَلاَتِهِ لأَِنَّهُ إِذَا اسْتَدَارَ خَالَفَ إِمَامَهُ فِي الْجِهَةِ قَصْدًا وَهُوَ يَفْسُدُ وَإِلاَّ كَانَ مُتِمًّا صَلاَتَهُ إِلَى مَا هُوَ غَيْرُ الْقِبْلَةِ عِنْدَهُ وَهُوَ مُفْسِدٌ أَيْضًا (٢) .
ب – تَلَبُّسُ الإِْمَامِ بِمَا يُبْطِل صَلاَتَهُ:
٧ – لَوْ رَأَى الْمَأْمُومُ فِي أَثْنَاءِ الصَّلاَةِ الإِْمَامَ مُتَلَبِّسًا بِمَا يُبْطِل الصَّلاَةَ كَأَنْ رَأَى عَلَى ثَوْبِهِ أَوْ بَدَنِهِ نَجَاسَةً أَوْ تَبَيَّنَ أَنَّ الإِْمَامَ مُحْدِثٌ أَوْ جُنُبٌ فَإِنَّهُ يَجِبُ عَلَى الْمَأْمُومِ مُفَارَقَتُهُ وَيُتِمُّ صَلاَتَهُ مُنْفَرِدًا بَانِيًا عَلَى مَا صَلَّى مَعَ الإِْمَامِ، وَهَذَا عِنْدَ الْمَالِكِيَّةِ وَالشَّافِعِيَّةِ فِي الْجُمْلَةِ.قَال الْمَالِكِيَّةُ: إِنْ عَلِمَ الْمَأْمُومُ حَدَثَ إِمَامِهِ فِي الصَّلاَةِ وَلَمْ يَسْتَمِرَّ مَعَهُ بَل فَارَقَهُ وَصَلَّى لِنَفْسِهِ مُنْفَرِدًا أَوْ مُسْتَخْلِفًا فَتَصِحُّ لِلْمَأْمُومِينَ، وَمَفْهُومُهُ أَنَّهُ لَوْ عَلِمَ بِحَدَثِ إِمَامِهِ فِي الصَّلاَةِ وَاسْتَمَرَّ مَعَهُ بَطَلَتْ عَلَيْهِمْ. وَقَالُوا: لَوْ رَأَى الْمَأْمُومُ نَجَاسَةً عَلَى إِمَامِهِ وَأَرَاهُ إِيَّاهَا فَوْرًا وَاسْتَخْلَفَ الإِْمَامُ مِنْ حِينِ ذَلِكَ فَتَبْطُل صَلاَةُ الإِْمَامِ دُونَ الْمَأْمُومِينَ وَاخْتَارَ ابْنُ نَاجِي الْبُطْلاَنَ لِلْجَمِيعِ، وَقَال الشَّافِعِيَّةُ: إِنِ اسْتَمَرَّ الْمَأْمُومُ فِي هَذِهِ الْحَالَةِ عَلَى الْمُتَابَعَةِ لَحْظَةً أَوْ لَمْ يَنْوِ الْمُفَارَقَةَ بَطَلَتْ صَلاَتُهُ بِالاِتِّفَاقِ – أَيِ اتِّفَاقِ فُقَهَاءِ الشَّافِعِيَّةِ – لأَِنَّهُ صَلَّى بَعْضَ صَلاَتِهِ خَلْفَ مُحْدِثٍ مَعَ عِلْمِهِ بِحَدَثِهِ، وَمِمَّنْ صَرَّحَ بِبُطْلاَنِ صَلاَتِهِ إِذَا لَمْ يَنْوِ الْمُفَارَقَةَ وَلَمْ يُتَابِعْهُ فِي الأَْفْعَال الشَّيْخُ أَبُو حَامِدٍ وَالْقَاضِي أَبُو الطَّيِّبِ فِي تَعْلِيقِهِمَا وَالْمَحَامِلِيُّ وَخَلاَئِقُ مِنْ كِبَارِ الأَْصْحَابِ، وَسَوَاءٌ كَانَ الإِْمَامُ عَالِمًا بِحَدَثِ نَفْسِهِ أَمْ لاَ، لأَِنَّهُ لاَ تَفْرِيطَ مِنَ الْمَأْمُومِ فِي الْحَالَيْنِ، وَهَذَا هُوَ الْمَذْهَبُ وَبِهِ قَطَعَ الْجُمْهُورُ كَمَا قَال النَّوَوِيُّ وَقَال الشَّافِعِيَّةُ أَيْضًا: لَوْ كَانَ الْمَأْمُومُ قَارِئًا وَكَانَ الإِْمَامُ أُمِّيًّا، أَوْ كَانَ الإِْمَامُ قَدْ قَامَ إِلَى رَكْعَةٍ خَامِسَةٍ أَوْ أَتَى الإِْمَامُ بِمُنَافٍ غَيْرِ ذَلِكَ فَإِنَّهُ يَجِبُ عَلَى الْمَأْمُومِ مُفَارَقَتُهُ وَيُتِمُّ صَلاَتَهُ مُنْفَرِدًا بَانِيًا عَلَى مَا صَلَّى مَعَ الإِْمَامِ (١) .وَالأَْصَحُّ عِنْدَ الشَّافِعِيَّةِ أَنَّ التَّنَحْنُحَ إِنْ ظَهَرَ مِنْهُ حَرْفَانِ يُبْطِل الصَّلاَةَ، وَاخْتَلَفُوا فِيمَا لَوْ تَنَحْنَحَ الإِْمَامُ فَبَانَ مِنْهُ حَرْفَانِ هَل يَجِبُ عَلَى الْمَأْمُومِ مُفَارَقَتُهُ أَمْ لاَ؟ فَالْمَذْهَبُ أَنَّهُ لاَ يُفَارِقُهُ حَمْلاً عَلَى الْعُذْرِ، لأَِنَّ الظَّاهِرَ تَحَرُّزُ الإِْمَامِ عَنِ الْمُبْطِل وَالأَْصْل بَقَاءُ الْعِبَادَةِ، لَكِنْ قَال السُّبْكِيُّ: إِنْ دَلَّتْ قَرِينَةُ حَال الإِْمَامِ عَلَى خِلاَفِ ذَلِكَ وَجَبَتِ الْمُفَارَقَةُ، وَلَوْ لَحَنَ الإِْمَامُ فِي الْفَاتِحَةِ لَحْنًا يُغَيِّرُ الْمَعْنَى وَجَبَتْ مُفَارَقَتُهُ، كَمَا لَوْ تَرَكَ وَاجِبًا، وَلَكِنْ هَل يُفَارِقُهُ فِي الْحَال أَوْ حَتَّى يَرْكَعَ لِجَوَازِ أَنَّهُ لَحَنَ سَاهِيًا، وَقَدْ يَتَذَكَّرُ فَيُعِيدُ الْفَاتِحَةَ؟ الأَْقْرَبُ الأَْوَّل – أَيِ الْمُفَارَقَةُ فِي الْحَال – لأَِنَّهُ لاَ يَجُوزُ مُتَابَعَتُهُ فِي فِعْل السَّهْوِ كَمَا قَال الزَّرْكَشِيُّ
وَقَال الْخَطِيبُ الشِّرْبِينِيُّ: بَل الأَْقْرَبُ الثَّانِي – أَيْ لاَ يُفَارِقُهُ حَتَّى يَرْكَعَ – لأَِنَّ إِمَامَهُ لَوْ سَجَدَ قَبْل رُكُوعِهِ لَمْ تَجِبْ مُفَارَقَتُهُ فِي الْحَال.
وَلاَ تَصِحُّ الصَّلاَةُ وَرَاءَ السَّكْرَانِ لأَِنَّهُ مُحْدِثٌ، قَال الشَّافِعِيُّ وَالأَْصْحَابُ: فَإِنْ شَرِبَ الْخَمْرَ وَغَسَل فَاهُ وَمَا أَصَابَهُ وَصَلَّى قَبْل أَنْ يَسْكَرَ صَحَّتْ صَلاَتُهُ وَالاِقْتِدَاءُ بِهِ، فَلَوْ سَكِرَ فِي أَثْنَاءِ الصَّلاَةِ بَطَلَتْ صَلاَتُهُ وَيَجِبُ عَلَى الْمَأْمُومِ مُفَارَقَتُهُ وَيَبْنِي عَلَى صَلاَتِهِ، فَإِنْ لَمْ يُفَارِقْهُ وَتَابَعَ مَعَهُ بَطَلَتْ صَلاَتُهُ (١) .
وَقَال ابْنُ عَقِيلٍ مِنَ الْحَنَابِلَةِ: إِنْ عَجَزَ الإِْمَامُ عَنْ إِتْمَامِ الْفَاتِحَةِ فِي أَثْنَاءِ الصَّلاَةِ صَحَّتْ صَلاَةُ الأُْمِّيِّ خَلْفَهُ لِمُسَاوَاتِهِ لَهُ، أَمَّا الْقَارِئُ فَإِنَّهُ يُفَارِقُ الإِْمَامَ لِلْعُذْرِ وَيُتِمُّ لِنَفْسِهِ لأَِنَّهُ لاَ يَصِحُّ ائْتِمَامُ الْقَارِئِ بِالأُْمِّيِّ، وَلَكِنْ قَال الْمُوَفَّقُ: الصَّحِيحُ أَنَّهُ إِذَا لَمْ يَقْدِرْ عَلَى قِرَاءَةِ الْفَاتِحَةِ تَفْسُدُ صَلاَتُهُ لأَِنَّهُ قَادِرٌ عَلَى الصَّلاَةِ بِقِرَاءَتِهَا فَلَمْ تَصِحَّ صَلاَتُهُ لِعُمُومِ قَوْلِهِ: صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: لاَ صَلاَةَ لِمَنْ لَمْ يَقْرَأْ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ (٢) ، وَإِنِ اسْتَخْلَفَ الإِْمَامُ الَّذِي عَجَزَ عَنْ إِتْمَامِ الْفَاتِحَةِ فِي أَثْنَاءِ الصَّلاَةِ مَنْ يُتِمُّ بِهِمْ صَلاَتَهُمْ وَصَلَّى مَعَهُمْ جَازَ (٣) .
وَقَال الْحَنَابِلَةُ: إِذَا قَامَ الإِْمَامُ لِرَكْعَةٍ زَائِدَةٍ وَنَبَّهَهُ الْمَأْمُومُونَ فَلَمْ يَرْجِعْ وَجَبَتْ مُفَارَقَتُهُ وَبَطَلَتْ صَلاَتُهُ لِتَعَمُّدِهِ تَرْكَ مَا وَجَبَ عَلَيْهِ، وَيُسَلِّمُ الْمَأْمُومُ الْمُفَارِقُ لإِِمَامِهِ بَعْدَ قِيَامِهِ لِزَائِدَةٍ وَتَنْبِيهِهِ وَإِبَائِهِ الرُّجُوعَ وَذَلِكَ إِذَا أَتَمَّ التَّشَهُّدَ الأَْخِيرَ (٤) .
أَمَّا إِنْ تَرَكَ الإِْمَامُ التَّشَهُّدَ الأَْوَّل مَعَ
الْجُلُوسِ لَهُ وَقَامَ لَزِمَ رُجُوعُهُ إِذَا لَمْ يَسْتَتِمَّ قَائِمًا، فَإِنِ اسْتَتَمَّ قَائِمًا كُرِهَ رُجُوعُهُ، وَيَحْرُمُ رُجُوعُهُ إِنْ شَرَعَ فِي الْقِرَاءَةِ أَمَّا الْمَأْمُومُ فَالْمُتَّجَهُ أَنْ يُفَارِقَ إِمَامَهُ وَيُتِمَّ صَلاَتَهُ لِنَفْسِهِ وَيُسَلِّمَ عَلَى قَوْلٍ، وَالْمَنْصُوصُ أَنَّ الْمَأْمُومَ إِذَا سَبَّحَ لإِِمَامِهِ قَبْل أَنْ يَعْتَدِل فَلَمْ يَرْجِعْ تَشَهَّدَ لِنَفْسِهِ وَتَبِعَهُ (١) .
وَقَال الْحَنَابِلَةُ: لاَ تَبْطُل صَلاَةُ الْجَمَاعَةِ بِقَطْعِ صَفٍّ مِنْ صُفُوفِهَا سَوَاءٌ كَانَ وَرَاءَ الإِْمَامِ أَوْ عَنْ يَمِينِهِ لَكِنْ لَوْ كَانَ الصَّفُّ الَّذِي انْقَطَعَ عَنْ يَسَارِ الإِْمَامِ وَبَعُدَ بِقَدْرِ مَقَامِ ثَلاَثَةِ رِجَالٍ فَتَبْطُل صَلاَةُ هَذَا الصَّفِّ الْمُنْقَطِعِ وَهَذَا مَا لَمْ تَنْوِ الطَّائِفَةُ الْمُنْقَطِعَةُ مُفَارَقَةَ الإِْمَامِ، فَإِنْ نَوَتْ مُفَارَقَتَهُ صَحَّتْ صَلاَتُهَا (٢) .والله أعلم بالصواب

Kategori
Hukum

Analisis Kalimat “شيء لله ولهم الفاتحة” dalam Perspektif Bahasa dan Agama

Assalamualaikum

Deskripsi Masalah:

Dalam setiap kegiatan  acara itighasah ataupun tahlilan, atupun acacara lain yang sifatnya keagamaan tidak terlepas dari pembukaan atau tawassul dengan bacaan suratul fatihah hal tersebut  seringkali kita temui yang pemimpin acara  membaca kalimat “شيء لله ولهم الفاتحة”. Kalimat ini terkadang diucapkan sebelum membaca surat Al-Fatihah sebagai pembuka acara, atau setelah menyebutkan rangkaian nama-nama arwah yang akan didoakan.Namun demikian ada salah satu kiyai yang dengan tegas menyalahkan dalam ditinjau dari ilmu tatabahasa ( ilmu nahwu ) dengan alasan kata  شيء nakirah sedangkan susunan mubtadah harus terdiri isim ma’rifah

Pertanyaan:

Apakah ada dasar atau dalil yang mendukung pembacaan kalimat “شيء لله ولهم الفاتحة”? Walaupun dalam susunan ilmu tatabahasa,tidak benar dan bagaimana makna atau maksud dari kalimat tersebut?
Mohon jawaban

Waalaikumsalam salam

Jawaban:

Ada dasarnya  yaitu  perkataan ulama yang menjelaskan bahwa Kalimat ” شيئ لله ” adalah Ucapan  umum ( Nakirah/ bukan isim ma’rifah )  artinya ‘Segala sesuatu adalah milik Allah’ ini bukan bahasa Arab murni, tetapi merupakan ungkapan yang berkembang di kalangan ahli tasawuf. Walaupun bukan bahasa Arab murni (  sesuai dengan susunan ilmu nahwu). Tapi hal tersebut bukan berarti kalimat itu dilarang diucapkan, karena tujuannya hanya untuk menghormati nama-nama orang yang sudah meninggal yang disebutkan sebelumnya atau setelahnya. Kalimat ini tidak sampai melanggar aturan agama apa pun.
Bahkan, menurut seorang ulama bernama Syaikh Isma’il Usman Zain, kalimat ini sering digunakan di beberapa negara. Artinya adalah “Tujuan kami adalah apa yang Allah miliki”. Maksudnya, kita berharap hanya kepada Allah, bukan kepada yang lain. Kalimat ini menunjukkan bahwa kita percaya hanya Allah yang mengatur segalanya, meskipun Allah bisa menggunakan manusia untuk menjalankan kehendaknya.
Adapun Inti, kalimat tersebut lebih kepada ungkapan penghormatan dan keyakinan kepada Allah, bukan sesuatu yang wajib atau dilarang dalam agama.

بغية المسترشدين (ص: ٦٤٠)

فائدة: سئل السيد عمر البصري عن قول الشخص: “شيء الله يا فلان” الخ، فأجاب: “قول العامة يا فلان شيء الله غير عربية لكنها من مولدات أهل العرف، ولم يحفظ لأحد من الأئمة نص في النهي عنها، وليس المراد بها في إطلاقهم شيئاً يستدعي مفسدة الحرام أو المكروه، لأنهم إنما يذكرونها استمداداً أو تعظيماً لمن يحسنون فيه الظن” اهـ.

قرة العين بفتاوى إسماعيل عثمان الزين؛ ص ٢١٠
أما المسألة الأولى فإن الجملة المذكورة وهي “شيء لله” مستعملة في بلادنا اليمن وفي حضرموت ومصر والمغرب والشام وهنا عندنا في الحجاز وخصوصا الحرمين الشريفين. ومعنى “شيء لله” مطلوبنا ومقصودنا “شيء لله” أي يستمد لوجه الله ابتغاء واستعدادا لا لغيره ولا من غيره. ففيها اعتراف بأن الذي يسوق المطالب ويحقق المآرب في الحقيقة هو الله تعالى، وإن أجرى ذلك على أيدي بعض عباده.

(Dalam buku “Baghyat al-Mustarshidin” halaman 640)
Kegunaan: Ditanyakan kepada Sayyid Umar al-Basri tentang ucapan seseorang, “Segala sesuatu adalah milik Allah, wahai fulan” dan seterusnya. Beliau menjawab, “Ucapan umum ‘Segala sesuatu adalah milik Allah’ ini bukan bahasa Arab murni, tetapi merupakan ungkapan yang berkembang di kalangan ahli tasawuf. Tidak ada seorang imam pun yang mencatat hadis yang melarang ucapan ini, dan yang dimaksud dengan ucapan ini bukanlah sesuatu yang mengarah pada keharaman atau kemungkaran, karena mereka hanya menyebutnya untuk memohon pertolongan atau memuliakan orang yang mereka anggap baik.”
(Dalam buku “Qarat al-‘Ain bi Fatawa Isma’il ‘Utsman al-Zain” halaman 210)
Adapun masalah pertama, yaitu kalimat “Segala sesuatu adalah milik Allah” yang sering digunakan di negeri kita, Yaman, Hadramaut, Mesir, Maghrib, Syam, dan di sini di Hijaz, khususnya di dua masjid suci. Makna dari “Segala sesuatu adalah milik Allah” adalah apa yang kita inginkan dan maksudkan, yaitu segala sesuatu berasal dari Allah, dengan tujuan mencari keridhaan-Nya dan bersiap diri hanya untuk-Nya, bukan untuk yang lain. Dalam kalimat ini terdapat pengakuan bahwa yang memenuhi kebutuhan dan mencapai tujuan sebenarnya adalah Allah SWT, meskipun Allah melaksanakannya melalui sebagian hamba-Nya.
Penjelasan Singkat
Kedua kutipan di atas membahas tentang penggunaan ungkapan “Segala sesuatu adalah milik Allah” dalam bahasa sehari-hari di kalangan umat Islam, khususnya di wilayah-wilayah Arab. Para ulama berpendapat bahwa ungkapan ini tidak bertentangan dengan ajaran Islam dan sering digunakan sebagai bentuk pengakuan atas kekuasaan Allah dan sebagai doa untuk memohon pertolongan-Nya.
Point-point penting:
Asal usul ungkapan: Ungkapan ini bukan bahasa Arab murni, melainkan berkembang dari tradisi sufi.
Tujuan penggunaan: Untuk memohon pertolongan dan memuliakan Allah.
Hukum: Tidak ada larangan eksplisit dalam Islam untuk menggunakan ungkapan ini.
Makna mendalam: Mengakui bahwa segala sesuatu berasal dari Allah dan hanya kepada-Nyalah kita berharap.Wallahu a’lam bish-shawab

Kategori
Hukum

Inilah Dua Cara Membaca “Mâliki Yaum” dalam Shalat

 

Deskripsi Masalah:
Seorang Ahmad ( nama samaran)sering bepergian ketika mendengar adzan menunjukkan waktu shalat lalu dia berhenti dimasjid untuk melakukan shalat berjamaah, namun Sering terjadi, ketika seorang imam membaca surat al-Fatihah dan sampai pada ayat “Mâliki yaumid-dîn”, di rakaat pertama mîm-nya dipanjangkan, sedangkan pada rakaat kedua dipendekkan.

Pertanyaan:

Bagaimana Hukum praktik bacaan sebagaimana Deskripsi di atas?

Jawaban:

Hukumnya boleh, bahkan sebagian ulama membacanya dengan cara demikian (pendek pada rakaat kedua).

Referensi:
(Hâsyiyah al-Bâjûrî, 1/156)

وَكَانَ بَعْضُ الْعُلَمَاءِ يَقْرَأُ فِي الرَّكْعَةِ الْأُولَى مَالِك بِإِثْبَاتِ الْأَلِفِ وَفِي الثَّانِيَةِ مَلِك بِحَذْفِهَا لِأَنَّهُ يُسَنُّ طَوِيلُ الْأُولَى عَنْ الثَّانِيَةِ وَلَوْ بِحَرْفٍ اهـ

Referensi:
(Hâsyiyah al-Bâjûrî, 1/156)

“Sebagian ulama membaca pada rakaat pertama dengan ‘Mâlik’ (dengan menetapkan alif), dan pada rakaat kedua dengan ‘Malik’ (dengan menghilangkan alif), karena disunnahkan membaca rakaat pertama lebih panjang daripada rakaat kedua, meskipun hanya berbeda satu huruf.”

Intinya:
Perbedaan bacaan ini menunjukkan kekayaan dalam ilmu tajwid dan tafsir Al-Quran. Meskipun ada perbedaan pendapat, namun semua bacaan yang diriwayatkan dari Nabi shallallahu alaihi wasallam dan para sahabat dianggap sahih dan tidak mengurangi makna ayat.

المكتبة الشاملة
كتاب موسوعة التفسير المأثور
[مجموعة من المؤلفين]  ج: ٢ص٣١-٣٢

١١٨ – عن أنس، قال: صلَّيْت خلف النبي – صلى الله عليه وسلم – وأبي بكر وعمر وعثمان وعلي، كلهم كان يقرأ: {مالِكِ يَوْمِ الدِّينِ} (١). (١/ ٧٠)
١١٩ – عن بعض أزواج النبي – صلى الله عليه وسلم -، أنّ النبي – صلى الله عليه وسلم – قرأ: {مالِكِ يَوْمِ الدِّينِ} (٢). (١/ ٧٠)
١٢٠ – عن أبي هريرة، أنّ النبي – صلى الله عليه وسلم – كان يقرأ: «مَلِكِ يَوْمِ الدِّينِ» (٣). (١/ ٧٠)
١٢١ – عن أبي هريرة، أنّ رسول الله – صلى الله عليه وسلم – كان يقرأ: «مَلِكِ يَوْمِ الدِّينِ» (٤). (١/ ٧٠)
١٢٢ – عن عبد الله بن مسعود: أنه قرأ على رسول الله – صلى الله عليه وسلم -: {مالِكِ يَوْمِ الدِّينِ} بالألف، {غَيْرِ المَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ} خفضٌ (٥). (١/ ٧٠)
١٢٣ – عن عمر بن الخطاب -من طرق- أنّه كان يقرأ: {مالِكِ يَوْمِ الدِّينِ} بالألف (٦) .. (١/ ٧٠)
١٢٤ – عن أبي قِلابة، أنّ أُبَيَّ بن كعب كان يقرأ: {مالِكِ يَوْمِ الدِّينِ} (٧). (١/ ٧٠)
١٢٥ – عن أبي عبيدة، أنّ عبد الله [بن مسعود] قرأها: {مالِكِ يَوْمِ الدِّينِ} (٨). (١/ ٧٠)
١٢٦ – عن أبي هريرة: أنّه كان يقرؤها: {مالِكِ يَوْمِ الدِّينِ} بالألف (٩). (١/ ٧٠)
١٢٧ – عن يحيى بن وثاب -من طريق الأعمش- أنه كان يقرأ: {مالِكِ يَوْمِ الدِّينِ} (١) [١٩]. (ز)
١٢٨ – عن محمد بن الحسن الشَّيْبانيّ: أنّ أبا حنيفة صَلّى بهم في شهر رمضان، وقرأ حروفًا اختارها لنفسه من الحروف التي قَرَأَهُنَّ الصحابة والتابعون، فقرأ: (مَلَكَ يَوْمَ الدِّينِ) على مثال: فَعَل، ونصب اليومَ، جعله مفعولًا (٢). (ز)
١٢٩ – قال يحيى بن سلّام: من قرأ «مَلِكِ» فهو من باب: المُلْكِ؛ يقول: هو مَلِكُ ذلك اليوم. وأخبرني بَحْرٌ السَّقّاءُ، عن الزهري، أنّ رسول الله – صلى الله عليه وسلم – وأبا بكر وعمر كانوا يقرؤونها: {مالِكِ يَوْمِ الدِّينِ} بكسر الكاف، وتفسيرها على هذا المقرأ: مالكه الذي يَمْلِكُه. وقرأ بعض القراء: (مالِكَ) بفتح الكاف، يجعله نداء: يا مالك
[١٩] رَجَّحَ ابنُ جرير (١/ ١٥١ – ١٥٤) قراءة «ملكِ يوم الدين» مُسْتَدِلاًّ على ذلك بإجماع القراء، وبالدلالات اللغوية؛ حيث إن لفظة «ملك» أعم من لفظة «مالك»، فكل ملكٍ فهو مالك، وليس كل مالكٍ ملِكًا، ومستدلاًّ بأن في قراءة «مَلِك» مع الآيات السابقة زيادة معنى ليست في قراءة {مالك} مع ما قبلها من الآيات؛ لأنه أخبر أنه مالك كل شيء بقوله: {رب العالمين} فتصير قراءة {مالك} تكريرًا لما قبلها من معنًى.
ورجّح ابن عطية (١/ ٧٤ – ٧٦) وابن كثير (١/ ٢١١) صِحَّة القراءتين معًا.
واستشهد ابن عطية بقراءة النبي – صلى الله عليه وسلم -: «مَلِك» و {مالك}.
وانتَقَدَ ابنُ عطية (١/ ٧٦ – ٧٧) قولَ مَن احتجَّ لقراءة {مَلِك} بأنّ لفظة «مَلِك» أعم من لفظة «مالِك» بقوله: «تتابع المفسرون على سَرْد هذه الحجة، وهي عندي غير لازمة؛ لأنهم أخذوا اللفظتين مطلقتين لا بنسبة إلى ما هو المملوك وفيه الملك، فأما إذا كانت نسبة الملك هي نسبة المالك، فالمالك أبلغ».
ووجّه ابن جرير (١/ ١٥٤ – ١٥٥) قراءة «مَلِك» بأنّ لله المُلْك يوم الدين خالصًا دون جميع خلقه الذين كانوا قبل ذلك في الدنيا ملوكًا جبابرة ينازعونه الملك، ويدافعونه الانفرادَ بالكبرياء والعظمة والسلطان والجبرية.
ووجّه قراءة {مالك} بمعنى: أنه يملك الحكمَ بينهم وفصلَ القضاء، متفرِّدًا به دون سائر خلقه.

“Kitab Ensiklopedia Tafsir Ma’tsur”
[Kumpulan Penulis] Jilid 2, Halaman 31-32
118 – Dari Anas, ia berkata: “Aku salat di belakang Nabi shallallahu alaihi wasallam, Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali, semuanya membaca: ‘Malik yaumid din’ (Penguasa hari pembalasan).” (1/70)
119 – Dari beberapa istri Nabi shallallahu alaihi wasallam, bahwa Nabi shallallahu alaihi wasallam membaca: ‘Malik yaumid din’.” (1/70)
120 – Dari Abu Hurairah, bahwa Nabi shallallahu alaihi wasallam biasa membaca: “Malik yaumid din’.” (1/70)
121 – Dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam biasa membaca: “Malik yaumid din’.” (1/70)
122 – Dari Abdullah bin Mas’ud: Bahwa ia membaca kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam: ‘Malik yaumid din’ dengan alif, ‘ghairul magdhubi alaihim’ dengan rafa’ (1/70)
123 – Dari Umar bin Khattab – melalui beberapa jalur – bahwa ia biasa membaca: ‘Malik yaumid din’ dengan alif” (6) .. (1/70)
124 – Dari Abu Qilabah, bahwa Ubay bin Ka’ab biasa membaca: ‘Malik yaumid din’.” (1/70)
125 – Dari Abu Ubaidah, bahwa Abdullah [bin Mas’ud] membacanya: ‘Malik yaumid din’.” (1/70)
126 – Dari Abu Hurairah: Bahwa ia biasa membacanya: ‘Malik yaumid din’ dengan alif” (9). (1/70)
127 – Dari Yahya bin Wuhab – melalui jalur al-A’masy – bahwa ia biasa membaca: ‘Malik yaumid din’.” (1) [19]. (Z)
128 – Dari Muhammad bin al-Hasan al-Syaibani: Bahwa Abu Hanifah salat bersama mereka di bulan Ramadhan, dan membaca huruf-huruf yang ia pilih sendiri dari huruf-huruf yang dibaca oleh para sahabat dan tabi’in, maka ia membaca: (Malik yaumid din) dengan pola fa’ala, dan nasab yaum, menjadikannya maf’ul (2). (Z)
129 – Yahya bin Sallam berkata: “Barangsiapa membaca ‘Malik’, maka itu dari bab al-mulk; ia berkata: ‘Ia adalah Malik (Penguasa) hari itu.’ Dan telah memberitahuku Bahru al-Saqqaa’, dari al-Zuhri, bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, Abu Bakar, dan Umar biasa membacanya: ‘Malik yaumid din’ dengan kasrah pada huruf kaf, dan tafsirnya menurut bacaan ini adalah: ‘Malik-Nya yang memiliki-Nya.’ Dan beberapa qari’ membaca: (Malik) dengan fathah pada huruf kaf, menjadikannya sebagai panggilan: ‘Ya Malik’.”
[19] Ibn Jarir (1/151-154) lebih meyakini bacaan “Malik yaumid din” dengan dalil ijma’ para qari’, dan dalil-dalil bahasa; karena kata “Malik” lebih umum daripada kata “Malik”, setiap Malik adalah Malik, tetapi tidak setiap Malik adalah Malik, dan beliau berdalil bahwa dalam bacaan “Malik” dengan ayat-ayat sebelumnya terdapat penambahan makna yang tidak ada dalam bacaan {Malik} dengan ayat-ayat sebelumnya; karena telah diberitakan bahwa Dia adalah Penguasa segala sesuatu dengan firman-Nya: {Rabbul ‘alamin}, sehingga bacaan {Malik} menjadi pengulangan dari makna sebelumnya.
Dan Ibn ‘Atiyyah (1/74-76) dan Ibn Kathir (1/211) lebih meyakini kebenaran kedua bacaan tersebut.
Dan Ibn ‘Atiyyah mengutip hadits Nabi shallallahu alaihi wasallam yang membaca “Malik” dan {Malik}.
Dan Ibn ‘Atiyyah (1/76-77) mengkritik pendapat orang yang berdalil untuk bacaan {Malik} dengan mengatakan bahwa kata “Malik” lebih umum daripada kata “Malik” dengan mengatakan: “Para mufassir bersepakat dalam menyajikan dalil ini, namun menurutku tidaklah tepat; karena mereka mengambil kedua kata tersebut secara mutlak, tidak dengan nisbah kepada apa yang dimiliki dan di dalamnya terdapat kekuasaan, maka jika nisbah kekuasaan adalah nisbah pemilik, maka Malik lebih tepat.”
Dan Ibn Jarir (1/154-155) menjelaskan bacaan “Malik” dengan mengatakan bahwa bagi Allah-lah kekuasaan pada hari kiamat secara khusus tanpa semua makhluk-Nya yang sebelumnya di dunia menjadi raja-raja yang besar menyaingi-Nya dalam kekuasaan, dan mempertahankan kesendirian dalam kebesaran, keagungan, kekuasaan, dan ketegasan.
Dan beliau menjelaskan bacaan {Malik} dengan makna: bahwa Dia memiliki keputusan di antara mereka dan pemisahan peradilan, secara khusus tanpa makhluk-Nya yang lain.
Penjelasan Singkat:
Teks di atas membahas perbedaan bacaan dalam Al-Quran, khususnya pada kata “Malik” (Penguasa) dalam surat Al-Fatihah. Para sahabat dan ulama berbeda pendapat mengenai bacaan yang benar, ada yang membaca dengan alif (Malik) dan ada yang membaca dengan kasrah (Malik). Masing-masing pendapat memiliki dalil dan penafsiran yang berbeda.
Intinya:
Perbedaan bacaan ini menunjukkan kekayaan dalam ilmu tajwid dan tafsir Al-Quran. Meskipun ada perbedaan pendapat, namun semua bacaan yang diriwayatkan dari Nabi shallallahu alaihi wasallam dan para sahabat dianggap sahih dan tidak mengurangi makna ayat.

Wallahu a’lam bish-shawab

Kategori
Hukum

Khulu’ dengan Tebusan Donor Darah: Perspektif Fiqih Islam

 

Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh.

Deskripsi Masalah

Khulu’ adalah proses pembubaran ikatan pernikahan atas permintaan istri dengan memberikan tebusan (iwadh) kepada suami sebagai ganti rugi. Biasanya, tebusan berupa uang atau barang berharga, tetapi dalam kasus tertentu, tebusan tersebut dapat berupa sesuatu yang bernilai lain, seperti donor darah .Hal ini memicu pada suatu persoalan karena adanya syarat yang diajukan berupa sesuatu yang tidak lazim dalam khulu’, yaitu menjadikan donor darah sebagai bentuk tebusan. :

Pertanyaan

Apakah sah secara syariat jika khulu’ dilakukan dengan syarat tebusan (iwadh) berupa donor darah, mengingat tebusan tersebut tidak lazim ?

Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh.
Jawaban:

Khulu’ adalah perceraian atas permintaan istri dengan kompensasi yang diberikan kepada suami. Dalam kasus khulu’ dengan kompensasi berupa donor darah, hukumnya perlu ditinjau dari perspektif syariat terkait pengganti (al-‘iwaḍ) dalam khulu’.

1. Syarat Sah Pengganti (al-‘Iwaḍ) dalam Khulu’:

Para ulama sepakat bahwa pengganti dalam khulu’ harus memenuhi beberapa kriteria:

Bernilai (mutaqawwim): Sesuatu yang dianggap bernilai menurut syariat.

Diketahui secara jelas (ma‘lum): Jenis, jumlah, dan sifatnya diketahui oleh kedua pihak.

Halal: Tidak termasuk barang atau perbuatan yang diharamkan.

Dapat diserahkan (qudrat ‘alā al-taslīm): Sesuatu yang dapat diserahterimakan.

Dalam Kitab Tuhfatul Fuqaha’ (Al-Samarqandi, Juz 2, hal. 201) dinyatakan bahwa:

“Segala sesuatu yang tidak boleh dijadikan mahar karena keharamannya, seperti khamar, babi, bangkai, darah, atau orang merdeka, juga tidak boleh dijadikan sebagai pengganti (al-‘iwaḍ) dalam khulu’.”

2. Hukum Donor Darah sebagai Pengganti dalam Khulu’:

Darah Tidak Bernilai dalam Syariat:
Dalam pandangan fiqih, darah tidak dianggap sebagai sesuatu yang bernilai (mutaqawwim), kecuali dalam keadaan darurat medis, seperti transfusi darah, walaupun memiliki nilai yang sangat tinggi bagi kehidupan manusia, namun tidak memiliki harga pasar yang pasti. Oleh karenanya, donor darah secara umum tidak termasuk harta yang sah sebagai kompensasi dalam khulu’.

Talak Tetap Sah, tetapi Syaratnya Batal:
Jika kompensasi yang disepakati adalah donor darah, maka:

Talak tetap terjadi sebagai talak bain (tidak dapat dirujuk).

Kompensasi berupa donor darah dianggap batal, karena tidak sah menurut syariat. Oleh sebab itu, istri tidak wajib melaksanakan kompensasi tersebut.

3. Pendapat Ulama Terkait Khulu’ dengan Pengganti yang Tidak Bernilai:

Dalam Kitab Kifayah al-Akhyar (Taqiyuddin al-Husni, hal. 384):

> “Apabila khulu’ dilakukan dengan pengganti yang tidak bernilai (misalnya darah), maka khulu’ tetap sah sebagai talak bain. Namun, tidak ada kewajiban bagi istri untuk menyerahkan pengganti tersebut, karena syaratnya tidak sah.”

 

Dalam Syarh al-Yaqut al-Nafis (Juz 2, hal. 612):

> “Jika khulu’ dilakukan dengan syarat menyerahkan sesuatu yang tidak bernilai (seperti darah), maka talaknya hanya menjadi talak raj‘i jika belum ada dua talak sebelumnya.”

Kesimpulan:

1. Khulu’ tidak sah krn syarat donor darah sebagai kompensasi tidak sah dalam pandangan syariat.

2. Karena darah tidak dianggap sebagai sesuatu yang bernilai, maka istri tidak wajib melaksanakan syarat tersebut, dan tidak ada kewajiban untuk menggantinya.

3. Sebaiknya, kompensasi dalam khulu’ diganti dengan sesuatu yang sesuai syariat, seperti uang atau harta benda yang memiliki nilai.

 

Wallahu a’lam bish-shawab.

Referensi

المكتبة الشاملة
كتاب تحفة الفقهاء

[علاء الدين السمرقندي]ج ٢ص٢٠١

ثمَّ الْخلْع جَائِز بِكُل بدل يصلح مهْرا وَيلْزم الْمَرْأَة أَدَاؤُهُ إِلَى الزَّوْج
وَمَا ذكرنَا فِي الْمهْر أَن الزَّوْج فِيهِ بِالْخِيَارِ بَين أَن يُعْطي عينه أَو قِيمَته فَفِي الْخلْع الْمَرْأَة بِالْخِيَارِ كَمَا فِي العَبْد الْوسط وَنَحْوه
وكل مَا لَا يجوز أَن يكون مهْرا لِحُرْمَتِهِ كَالْخمرِ وَالْخِنْزِير وَالْميتَة وَالدَّم وَالْحر لَا يجوز أَن يكون بَدَلا فِي الْخلْع
لَكِن إِذا قبل الزَّوْج ذَلِك فِي الْخلْع تقع الْفرْقَة بَينهمَا وَلَا شَيْء على الْمَرْأَة من الْخلْع وَلَا يجب عَلَيْهَا أَن ترد من مهرهَا شَيْئا لِأَن هَذِه الْأَشْيَاء لَا تصلح عوضا فِي حق الْمُسلمين وَالزَّوْج رَضِي بِمَا لَا قيمَة لَهُ والبضع فِي حَال الْخُرُوج عَن ملكه لَا قيمَة لَهُ حَتَّى تجب الْقيمَة فَلَا يرجع عَلَيْهَا بِشَيْء بِخِلَاف النِّكَاح فَإِن ثمَّة يجب مهر الْمثل لِأَن الْبضْع مُتَقَوّم فِي حَال الدُّخُول فِي ملك الزَّوْج
ثمَّ الطَّلَاق على المَال وَالْخلْع فِي الْأَحْكَام سَوَاء إِلَّا فِي فصل وَاحِد وَهُوَ أَن الْخلْع مَتى وَقع على عوض لَا قيمَة لَهُ لَا يجب الْعِوَض وَلَا قيمَة الْبضْع وَيكون الطَّلَاق بَائِنا لِأَن الْخلْع من كنايات الطَّلَاق وَأما الطَّلَاق بعوض لَا قيمَة لَهُ إِذا بَطل الْعِوَض فالطلاق يكون رَجْعِيًا لِأَن صَرِيح الطَّلَاق يكون رَجْعِيًا
وَإِنَّمَا ثبتَتْ الْبَيْنُونَة لأجل الْعِوَض فَإِذا بَطل الْعِوَض بَقِي مُجَرّد صَرِيح الطَّلَاق فَيكون رَجْعِيًا

Kemudian khulu‘ (talak tebus) itu diperbolehkan dengan segala bentuk tebusan yang sah dijadikan mahar, dan wajib bagi perempuan menyerahkan tebusan tersebut kepada suaminya.

Apa yang telah disebutkan mengenai mahar bahwa suami memiliki pilihan antara memberikan barangnya atau nilainya, maka dalam khulu‘, perempuan memiliki pilihan, seperti halnya dalam masalah budak yang menengah dan yang sejenisnya.

Semua hal yang tidak boleh dijadikan mahar karena keharamannya, seperti khamar, babi, bangkai, darah, dan orang yang merdeka, juga tidak boleh dijadikan sebagai tebusan dalam khulu‘.

Namun, jika suami menerima barang-barang tersebut dalam khulu‘, maka perpisahan antara keduanya tetap sah, tetapi tidak ada kewajiban bagi perempuan untuk menyerahkan sesuatu pun sebagai tebusan khulu‘, dan ia tidak harus mengembalikan apa pun dari maharnya. Sebab, barang-barang tersebut tidak sah dijadikan pengganti menurut hukum Islam, dan suami telah rela menerima sesuatu yang tidak memiliki nilai, sedangkan hak suami atas hubungan pernikahan tersebut dalam keadaan keluar dari kepemilikannya tidak memiliki nilai hingga mengharuskan penggantian. Maka dari itu, suami tidak dapat meminta kembali apa pun, berbeda dengan nikah (biasa), di mana dalam nikah diwajibkan mahar yang sebanding (mahar mitsil), karena hak atas hubungan tersebut dianggap memiliki nilai ketika berada dalam kepemilikan suami.

Kemudian, antara talak dengan tebusan (khulu‘) dalam hukum-hukum syariat itu sama, kecuali dalam satu rincian saja, yaitu apabila khulu‘ terjadi dengan tebusan yang tidak memiliki nilai, maka tidak wajib mengganti tebusan tersebut, dan tidak ada kewajiban membayar nilai dari hubungan pernikahan tersebut. Talak tersebut tetap dianggap sebagai talak bain (tidak bisa dirujuk kembali). Hal ini karena khulu‘ termasuk kiasan talak.

Adapun talak dengan tebusan yang tidak memiliki nilai, jika tebusan tersebut batal, maka talaknya menjadi talak raj‘i (dapat dirujuk kembali). Hal ini karena talak yang diucapkan secara tegas (sharih) statusnya raj‘i.

Sesungguhnya, bain-nya status dalam khulu‘ ditetapkan karena adanya tebusan. Jika tebusan itu batal, maka yang tersisa hanyalah talak yang diucapkan secara tegas, sehingga statusnya menjadi talak raj‘i.

كفاية الأخيار في حل غاية الاختصار — تقي الدين الحصني، ص ٣٨٤*
`وضابطه أَن كل مَا جَازَ أَن يكون صَدَاقا جَازَ أَن يكون عوضا فِي الْخلْع` لعُمُوم قَوْله تَعَالَى {فَلا جُنَاحَ عَلَيْهِمَا فِيمَا افْتَدَتْ بِهِ} وَلِأَنَّهُ عقد على بضع فَأشبه النِّكَاح وَيشْتَرط فِي عوض الْخلْع أَن يكون مَعْلُوما متمولاً مَعَ سَائِر شُرُوط الأعواض كالقدرة على التَّسْلِيم واستقرار الْملك وَغير ذَلِك لِأَن الْخلْع عقد مُعَاوضَة فَأشبه البيع وَالصَّدَاق وَهَذَا صَحِيح فِي الْخلْع الصَّحِيح — الى أن قال — `وَاعْلَم أَن الْخلْع على مَا لَيْسَ بِمَال وَلَكِن قد يقْصد يَقع بِهِ الطَّلَاق بَائِنا بِمهْر الْمثل كَمَا لَو خَالعهَا على خمر أَو حر أَو مَغْصُوب بِخِلَاف مَا لَو خَالعهَا على دم فَإِنَّهُ يَقع الطَّلَاق رَجْعِيًا وَفرق بِأَن الدَّم لَا يقْصد بِحَال فَكَأَنَّهُ لم يطْمع فِي شَيْء وَالْخلْع على الْميتَة كَالْخمرِ لَا كَالدَّمِ لِأَنَّهَا قد تقصد للضَّرُورَة والجوارح.`

*شرح الياقوت النفيس، ج ٢ ص ٦١٢*
شروط العوض اربعة : كونه مقصودا ويشبه الفقهاء العوض الذي لا يقصد بالدم `فلو خالعها على ان تعطيه ملء فنجان دما لا ينعقد خلعا، وانما يكون طلاق رجعيا ان لم يسبقه طلقتان` لكن اليوم اصبح دم الادمي مقصودا ويحقن به الشخص ولكننا نمثل بالعوض الذي لا يقصد بالحشرات ويسمونه عوضا فاسدا غير مقصود وهناك عوض فاسد مقصود مثل الخمر فيقع الخلع وله عليها مهر المثل.

Kifāyah al-Akhyār fī Ḥall Ghayah al-Ikhtiṣār — Taqiyuddin al-Ḥuṣni, hal. 384

“Ketentuan tentang apa yang boleh dijadikan sebagai pengganti (al-‘iwaḍ) dalam khulu‘”:
Setiap sesuatu yang boleh dijadikan mahar (ṣadāq) juga boleh dijadikan sebagai pengganti (al-‘iwaḍ) dalam khulu‘, sesuai dengan keumuman firman Allah Ta’ala:
“Maka tidak ada dosa atas keduanya tentang tebusan yang diberikan oleh pihak istri” (QS. Al-Baqarah: 229).
Selain itu, khulu‘ adalah akad yang berhubungan dengan kehalalan hubungan suami istri, sehingga hukumnya menyerupai pernikahan.

Disyaratkan dalam pengganti (al-‘iwaḍ) pada khulu‘ agar:

1. Sesuatu yang diketahui.

2. Sesuatu yang bernilai (mutaqawwim).

3. Memenuhi syarat-syarat lain seperti mampu diserahkan (qudrat ‘alā al-taslīm), kepemilikan yang sah, dan sebagainya.

Hal ini karena khulu‘ adalah akad yang bersifat pertukaran (‘aqd mu‘āwaḍah), sehingga hukumnya menyerupai jual-beli dan mahar.

Ketentuan ini berlaku untuk khulu‘ yang sahih. Namun, bila khulu‘ dilakukan dengan pengganti yang tidak sah (bukan harta yang bernilai), seperti khulu‘ atas khamr, budak yang merdeka, atau barang yang dirampas, maka tetap terjadi khulu‘, tetapi talak yang terjadi adalah talak bain dengan mahar mitsil (mahar yang setara).

Namun, jika khulu‘ dilakukan dengan pengganti berupa darah (dam), maka yang terjadi adalah talak raj‘i (talak yang dapat dirujuk), bukan talak bain. Perbedaannya, darah tidak memiliki tujuan tertentu (tidak bernilai) dalam segala keadaan, sehingga dianggap seolah-olah suami tidak mengharapkan apa pun dari khulu‘ tersebut.

Adapun khulu‘ atas bangkai (maytah) disamakan hukumnya dengan khamr, bukan darah. Sebab, bangkai terkadang dianggap bernilai dalam keadaan darurat atau kebutuhan tertentu, sedangkan darah tidak pernah dianggap demikian.

Syarḥ al-Yāqūt al-Nafīs, jilid 2, hal. 612

“Syarat-syarat pengganti (al-‘iwaḍ) dalam khulu‘”:
Ada empat syarat pengganti:

1. Sesuatu yang memiliki tujuan (maqsūd).

Para ahli fiqih membandingkan pengganti yang tidak memiliki tujuan dengan darah. Misalnya, jika seorang suami melakukan khulu‘ dengan pengganti berupa “mengisi secangkir darah,” maka khulu‘ tersebut tidak sah sebagai khulu‘, melainkan hanya menjadi talak raj‘i, jika belum ada dua talak sebelumnya.

Namun, dalam konteks saat ini, darah manusia sudah dianggap bernilai karena bisa digunakan untuk transfusi darah namun bukan secara umum. Oleh karena itu, perumpamaan “pengganti yang tidak bernilai” diganti dengan benda lain, seperti serangga, yang disebut “pengganti rusak dan tidak bernilai.”

Ada juga pengganti yang rusak tetapi memiliki nilai (maqsūd), seperti khamr (minuman keras). Dalam kasus ini, khulu‘ tidak sah, tetapi istri tetap memiliki kewajiban untuk membayar mahar mitsil (mahar yang setara).Wallahu a’lam bish-shawab