logo mubaa
Logo Ittihad

DEWAN PIMPINAN PUSAT
IKATAN ALUMNI BATA-BATA

Kategori
Hukum

Menjaga Amal dan Menjauhi Dosa: Antara Wirid dan Perbuatan Maksiat

 

Assalamualaikum…
Saya bertanya ustadz….
sekarang kan bulan rajab penuh dengan amalan- amalan pagi sore….andaikan saya aktitf/istiqomah mengamalkan wiridan ini ustadz namun saya sering nonton film porno, apakah amalan saya selama bulan rajab tak memperoleh pahala ustadz dan apakah saya memperoleh dosa?…mohon jawaban ustadz

Waalaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh.

Jawaban

Saudara yang dirahmati Allah, pertanyaan Anda sangat baik karena mencerminkan keinginan untuk memperbaiki diri. Semoga Allah memberi taufik kepada kita semua.

Terkait pertanyaan diatas:

1. Amalan wirid dan pahala Amalan seperti membaca wirid, zikir, atau ibadah lainnya tetap memiliki nilai di sisi Allah, meskipun seseorang juga melakukan dosa. Namun, pahala dari amalan tersebut dapat berkurang atau bahkan tidak berdampak secara maksimal jika hati dan perilaku tidak selaras dengan ajaran Allah. Allah berfirman:

۞ وَاتْلُ عَلَيْهِمْ نَبَاَ ابْنَيْ اٰدَمَ بِالْحَقِّۘ اِذْ قَرَّبَا قُرْبَانًا فَتُقُبِّلَ مِنْ اَحَدِهِمَا وَلَمْ يُتَقَبَّلْ مِنَ الْاٰخَرِۗ قَالَ لَاَقْتُلَنَّكَۗ قَالَ اِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللّٰهُ مِنَ الْمُتَّقِيْنَ ۝٢٧

Bacakanlah (Nabi Muhammad) kepada mereka berita tentang dua putra Adam dengan sebenarnya. Ketika keduanya mempersembahkan kurban, kemudian diterima dari salah satunya (Habil) dan tidak diterima dari yang lain (Qabil). Dia (Qabil) berkata, “Sungguh, aku pasti akan membunuhmu.” Dia (Habil) berkata, “Sesungguhnya Allah hanya menerima (amal) dari orang-orang yang bertakwa. (QS. Al-Maidah: 27)

Artinya, ayat tersebut menekankan bahwa menjaga ketakwaan—termasuk menjauhi dosa—sangat penting agar amal diterima dan bermanfaat.

2. Menonton film porno
Menonton film porno adalah dosa yang jelas dilarang dalam Islam karena melibatkan pandangan haram, merusak hati, dan memicu syahwat yang dilarang. Allah berfirman:

قُلْ لِّلْمُؤْمِنِيْنَ يَغُضُّوْا مِنْ اَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوْا فُرُوْجَهُمْۗ ذٰلِكَ اَزْكٰى لَهُمْۗ اِنَّ اللّٰهَ خَبِيْرٌۢ بِمَا يَصْنَعُوْنَ ۝٣٠

Katakanlah kepada laki-laki yang beriman hendaklah mereka menjaga pandangannya dan memelihara kemaluannya. Demikian itu lebih suci bagi mereka. Sesungguhnya Allah Mahateliti terhadap apa yang mereka perbuat.

(QS. An-Nur: 30)

Setiap kali seseorang melakukan dosa,maka ia memperoleh dosa kecuali bertaubat dengan sungguh-sungguh.

3. Bagaimana menyikapinya?

Istighfar dan taubat: Perbanyak istighfar dan taubat kepada Allah, serta niat kuat untuk meninggalkan perbuatan tersebut. Taubat yang diterima adalah taubat yang disertai penyesalan dan komitmen untuk tidak mengulanginya.

Konsistensi dalam kebaikan: Tetaplah istiqamah dalam wirid dan amalan baik lainnya, karena hal itu bisa menjadi wasilah untuk melemahkan hawa nafsu yang buruk.

Cari pengganti aktivitas: Hindari lingkungan, perangkat, atau situasi yang memudahkan dosa, dan sibukkan diri dengan aktivitas positif.

Ingatlah bahwa Allah Maha Pengampun dan selalu membuka pintu taubat. Jangan putus asa dari rahmat-Nya. Allah berfirman:

An-Nur · Ayat 31

وَقُلْ لِّلْمُؤْمِنٰتِ يَغْضُضْنَ مِنْ اَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوْجَهُنَّ وَلَا يُبْدِيْنَ زِيْنَتَهُنَّ اِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلٰى جُيُوْبِهِنَّۖ وَلَا يُبْدِيْنَ زِيْنَتَهُنَّ اِلَّا لِبُعُوْلَتِهِنَّ اَوْ اٰبَاۤىِٕهِنَّ اَوْ اٰبَاۤءِ بُعُوْلَتِهِنَّ اَوْ اَبْنَاۤىِٕهِنَّ اَوْ اَبْنَاۤءِ بُعُوْلَتِهِنَّ اَوْ اِخْوَانِهِنَّ اَوْ بَنِيْٓ اِخْوَانِهِنَّ اَوْ بَنِيْٓ اَخَوٰتِهِنَّ اَوْ نِسَاۤىِٕهِنَّ اَوْ مَا مَلَكَتْ اَيْمَانُهُنَّ اَوِ التّٰبِعِيْنَ غَيْرِ اُولِى الْاِرْبَةِ مِنَ الرِّجَالِ اَوِ الطِّفْلِ الَّذِيْنَ لَمْ يَظْهَرُوْا عَلٰى عَوْرٰتِ النِّسَاۤءِۖ وَلَا يَضْرِبْنَ بِاَرْجُلِهِنَّ لِيُعْلَمَ مَا يُخْفِيْنَ مِنْ زِيْنَتِهِنَّۗ وَتُوْبُوْٓا اِلَى اللّٰهِ جَمِيْعًا اَيُّهَ الْمُؤْمِنُوْنَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ ۝٣١

Katakanlah kepada para perempuan yang beriman hendaklah mereka menjaga pandangannya, memelihara kemaluannya, dan janganlah menampakkan perhiasannya (bagian tubuhnya), kecuali yang (biasa) terlihat. Hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya. Hendaklah pula mereka tidak menampakkan perhiasannya (auratnya), kecuali kepada suami mereka, ayah mereka, ayah suami mereka, putra-putra mereka, putra-putra suami mereka, saudara-saudara laki-laki mereka, putra-putra saudara laki-laki mereka, putra-putra saudara perempuan mereka, para perempuan (sesama muslim), hamba sahaya yang mereka miliki, para pelayan laki-laki (tua) yang tidak mempunyai keinginan (terhadap perempuan), atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat perempuan. Hendaklah pula mereka tidak mengentakkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Bertobatlah kamu semua kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman, agar kamu beruntung.

(QS. An-Nur: 31)

Mengutip dalam khutbah Jum’at yang menyebutkan dua konsep utama:

١. “الحسنات يذهبن السيئات”

Artinya: Amal kebaikan dapat menghapuskan dosa-dosa. Hal ini sesuai dengan firman Allah dalam Al-Qur’an:

“وَأَقِمِ ٱلصَّلَوٰةَ طَرَفَىِ ٱلنَّهَارِ وَزُلَفًا مِّنَ ٱلَّيْلِ إِنَّ ٱلْحَسَنَـٰتِ يُذْهِبْنَ ٱلسَّيِّـَٔاتِ ذَٰلِكَ ذِكْرَىٰ لِلذَّٰكِرِينَ”

(QS. Hud: 114).
Ayat ini menjelaskan bahwa kebaikan, seperti ibadah atau amal shalih, dapat menjadi sarana untuk menghapus kesalahan yang telah dilakukan.

٢. “والسيئات يبطلن صالح الأعمال”

Artinya: Perbuatan buruk dapat membatalkan amal kebaikan. Ini merujuk pada bahaya dosa besar atau kezaliman, yang bisa menghapuskan pahala amal shalih. Isi Khotbah (Kata diatas) merujuk pada sebuah hadits yang disebutkan dalam kitab sunan Abi daud sebagaimana berikut:

سنن أبي داوود ٤٢٥٧: حَدَّثَنَا عُثْمَانُ بْنُ صَالِحٍ الْبَغْدَادِيُّ حَدَّثَنَا أَبُو عَامِرٍ يَعْنِي عَبْدَ الْمَلِكِ بْنَ عَمْرٍو حَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ بْنُ بِلَالٍ عَنْ إِبْرَاهِيمَ بْنِ أَبِي أَسِيدٍ عَنْ جَدِّهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِيَّاكُمْ وَالْحَسَدَ فَإِنَّ الْحَسَدَ يَأْكُلُ الْحَسَنَاتِ كَمَا تَأْكُلُ النَّارُ الْحَطَبَ أَوْ قَالَ الْعُشْبَ

Sunan Abu Daud 4257: Telah menceritakan kepada kami [Utsman bin Shalih Al Baghdadi] berkata: telah menceritakan kepada kami [Abu Amir] -maksudnya Abdul Malik bin Amru- berkata: telah menceritakan kepada kami [Sulaiman bin Bilal] dari [Ibrahim bin Abu Asid] dari [Kakeknya] dari [Abu Hurairah] bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Jauhilah oleh kalian hasad (dengki), karena hasad dapat memakan kabaikan seperti api memakan kayu bakar atau rumput.”

Penjelasan Hadits

1. Makna Hasad
Hasad adalah perasaan iri terhadap nikmat yang dimiliki orang lain, dengan keinginan agar nikmat tersebut hilang darinya. Dalam Islam, hasad termasuk penyakit hati yang dilarang keras karena dapat menghancurkan hubungan sosial dan merusak amal ibadah seseorang.

2. Dampak Hasad
Dalam hadits ini dijelaskan bahwa hasad dapat memakan kebaikan (amal shalih), sebagaimana api melahap kayu bakar atau rumput. Artinya, hasad bisa menghapus pahala dari amal ibadah seseorang, sehingga tidak tersisa apa-apa, meskipun seseorang telah melakukan banyak amal shalih.

3. Peringatan Keras
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menggunakan perumpamaan yang kuat untuk menegaskan bahaya hasad. Seperti api yang cepat menghanguskan kayu bakar, demikian pula hasad cepat menghancurkan kebaikan, begitu juga halnya perbuatan dosa lainnya.

4. Dua Pendapat dalam Perumpamaan
Dalam riwayat ini, terdapat keraguan (syak) pada perawi apakah Rasulullah menyebutkan “kayu bakar” atau “rumput.” Namun, hal ini tidak memengaruhi makna pokok dari hadits, yakni peringatan terhadap bahaya hasad.

Kesimpulan

1. Bahaya Hasad
Hasad adalah dosa besar yang dapat menghancurkan pahala amal shalih. Oleh karena itu, seorang muslim harus menjauhi penyakit hati ini.

2. Pentingnya Mengendalikan Hati
Islam sangat menekankan pengendalian hati agar terhindar dari sifat buruk seperti hasad. Sebagai gantinya, seorang muslim diajarkan untuk berdoa agar orang lain diberkahi dan turut bersyukur atas nikmat Allah.

3. Penyucian Jiwa
Untuk menghindari hasad, seorang muslim perlu memperbanyak dzikir, istighfar, dan memperbaiki niat dalam setiap amal ibadah.

Hadits ini menjadi peringatan bahwa selain menjauhi dosa yang bersifat lahiriah, seorang muslim juga wajib menjauhi dosa batin seperti hasad, yang dapat merusak hubungan dengan Allah dan sesama manusia. Wallahu a’lam bish-shawab

Kategori
Hukum

Donor Darah dan Berbekam: Mana yang Utama dalam Islam

Assalamualaikum

Deskripsi Masalah/Latar Belakang

Di tengah masyarakat, terdapat berbagai cara untuk menjaga kesehatan sekaligus berkontribusi bagi kebaikan sesama. Dua di antaranya adalah donor darah dan berbekam (atau dikenal juga dengan istilah acanduk di beberapa daerah). Donor darah merupakan tindakan medis yang bertujuan membantu orang lain yang membutuhkan transfusi darah, sedangkan berbekam adalah metode pengobatan tradisional yang disunnahkan dalam Islam untuk mengeluarkan darah kotor dari tubuh guna menjaga kesehatan.

Muncul pertanyaan dari masyarakat yaitu:
Mana lebih besar pahala dan manfaatnya di antara donor darah dan berbekam.

Wa’alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh.

Jawaban

Pertanyaan yang sangat baik dan menarik untuk dibahas. Dalam Islam, perbuatan baik yang bermanfaat untuk orang lain sangat dianjurkan, baik itu donor darah maupun berbekam. Namun, keduanya memiliki keutamaan masing-masing yang berbeda tergantung pada niat, manfaat, dan kondisi. Berikut penjelasannya:

1. Keutamaan Donor Darah

Pahala Sedekah: Donor darah termasuk dalam bentuk sedekah karena memberikan sesuatu yang sangat berharga (darah) untuk menolong kehidupan orang lain. Allah berfirman:

مِنْ اَجْلِ ذٰلِكَۛ كَتَبْنَا عَلٰى بَنِيْٓ اِسْرَاۤءِيْلَ اَنَّهٗ مَنْ قَتَلَ نَفْسًا ۢ بِغَيْرِ نَفْسٍ اَوْ فَسَادٍ فِى الْاَرْضِ فَكَاَنَّمَا قَتَلَ النَّاسَ جَمِيْعًاۗ وَمَنْ اَحْيَاهَا فَكَاَنَّمَآ اَحْيَا النَّاسَ جَمِيْعًاۗ وَلَقَدْ جَاۤءَتْهُمْ رُسُلُنَا بِالْبَيِّنٰتِ ثُمَّ اِنَّ كَثِيْرًا مِّنْهُمْ بَعْدَ ذٰلِكَ فِى الْاَرْضِ لَمُسْرِفُوْنَ

Oleh karena itu, Kami menetapkan (suatu hukum) bagi Bani Israil bahwa siapa yang membunuh seseorang bukan karena (orang yang dibunuh itu) telah membunuh orang lain atau karena telah berbuat kerusakan di bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh semua manusia. Sebaliknya, siapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, dia seakan-akan telah memelihara kehidupan semua manusia. Sungguh, rasul-rasul Kami benar-benar telah datang kepada mereka dengan (membawa) keterangan-keterangan yang jelas. Kemudian, sesungguhnya banyak di antara mereka setelah itu melampaui batas di bumi.(QS. Al-Maidah: 32).

Tafsir Wajiz

Tafsir Tahlili

Pembunuhan yang dilakukan Qabil ini ternyata berdampak panjang bagi kehidupan manusia. Oleh karena itu, kemudian Kami tetapkan suatu hukum bagi Bani Israil, dan juga bagi seluruh masyarakat manusia, bahwa barang siapa membunuh seseorang tanpa alasan yang dapat dibenarkan, dan bukan pula karena orang itu membunuh orang lain, atau bukan karena berbuat kerusakan di bumi, maka dengan perbuatannya itu seakan-akan dia telah membunuh semua manusia, karena telah mendorong manusia lain untuk saling membunuh. Sebaliknya, barang siapa yang siap untuk memelihara dan menyelamatkan kehidupan seorang manusia, maka seakan-akan, dengan perilakunya itu, dia telah memelihara kehidupan semua manusia. Sesungguhnya, untuk menjelaskan ketetapan ini, Rasul Kami telah datang kepada mereka dengan membawa keterangan-keterangan yang jelas untuk mereka dan juga semua manusia sesudahnya. Tetapi kemudian banyak di antara manusia yang tidak memperhatikan dan melaksanakannya, sehingga mereka setelah itu bersikap melampaui batas dan melakukan kerusakan di bumi dengan pembunuhan-pembunuhan yang dilakukannya.

Manfaat Sosial: Darah yang didonorkan dapat menyelamatkan nyawa seseorang, sehingga manfaatnya langsung dirasakan oleh banyak orang.

Niat yang Ikhlas: Jika dilakukan dengan niat mencari ridha Allah, maka donor darah bisa menjadi amal sedekah , dan Allah pasti akan membantu (membalas kebaikannya)

Sebagaimana Rasulullah SAW bersabda

خير الناس أنفعهم للناس

“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.”
(HR. Ath-Thabarani dalam al-Mu’jam al-Ausath).
Dan beliau juga bersabda:

إن الله في عون العبد ماكان العبد فى عون أخيه

“Sesungguhnya Allah senantiasa menolong hamba-Nya selama hamba tersebut menolong saudaranya.”
(HR. Muslim, no. 2699).

2. Keutamaan Berbekam (Hijah)

Sunnah Nabi SAW: Berbekam adalah sunnah yang dianjurkan Nabi Muhammad SAW. Rasulullah bersabda:
“Kesembuhan itu terdapat dalam tiga hal: minum madu, berbekam, dan dengan besi panas (kauterisasi). Namun, aku melarang umatku menggunakan besi panas.”
(HR. Bukhari dan Muslim).

Manfaat Kesehatan: Berbekam membantu mengeluarkan darah kotor dan racun dalam tubuh sehingga dapat meningkatkan kesehatan. Ini termasuk ikhtiar menjaga kesehatan yang dianjurkan dalam Islam.

Manfaat Spiritual: Selain manfaat kesehatan, berbekam juga dianggap sebagai bentuk taat kepada sunnah Rasulullah.sebagamana keterangan berikut:

المكتبة الشاملة
كتاب شرح زاد المستقنع – عبد الكريم الخضير[عبد الكريم الخضير]
الفقه الحنبلي ص:   ١٧
يقول: ما فائدة الحجامة؟
فائدة الحجامة ما في شك أنها معروفة وملموسة تخفف النوم، وتخرج الدم الفاسد الزائد، وهي أيضاً جاء النص على أنها مفيدة، إن كان الشفاء ففي ثلاث، ومنها شرطة محجم

Kitab Syarah Zad al-Mustaqni’ – Abdul Karim al-Khudair [Abdul Karim al-Khudair]
Fiqh Hanbali, hal. 17

Seseorang bertanya: Apa manfaat hijamah (bekam)?

Manfaat hijamah tidak diragukan lagi sudah dikenal dan dirasakan. Hijamah dapat mengurangi rasa kantuk, mengeluarkan darah kotor yang berlebih, dan juga terdapat dalil yang menegaskan bahwa hijamah bermanfaat. Disebutkan dalam teks bahwa kesembuhan itu terdapat pada tiga hal, salah satunya adalah sayatan bekam (hijamah).

Referensi

المكتبة الشاملة
كتاب الفقه المنهجي على مذهب الإمام الشافعي[مجموعة من المؤلفين]

الفقه الشافعي ص٤٩

١ـ عند المداواة، لأن في التحريم حرجاً، والإسلام دين اليُسْر ورفع الحرج. قال تعالى:
{وَمَا جَعَلَ عَلَيْكُمْ فِي الدِّينِ مِنْ حَرَجٍ} [الحرج: ٧٨]. فيُنظر إلى المواضع التي يحتاج إليها.
روى مسلم (السلام، باب: لكل داء ودواء واستحباب التداوي، رقم: ٢٢٠٦) عن جابر – رضي الله عنه -: (أن أم سلمة رضي الله عنهما استأذنت رسول الله – صلى الله عليه وسلم – في الحجامة، فأمر النبي – صلى الله عليه وسلم – أبا طيبة أن يحجمها). فللرجل مداواة المرأة إذا كانت الضرورة تتطلب ذلك، ولم توجد امرأة تعالجها، وكذلك للمرأة مداواة الرجل إذا لم يوجد رجل يعالجه، ودعت الضرورة إلى ذلك، لكن لا يعالج الرجل المرأة إلا بحضرة مَحرَم، أو زوج، أ, امرأة ثقة. وإذا وجد الطبيب المسلم، لا يعدل إلى غيره.

Kitab “Al-Fiqh Al-Manhaji ‘ala Madzhab Al-Imam Al-Syafi’i”:

1. Ketika berobat: Karena pengharaman (melihat lawan jenis) dapat menyebabkan kesulitan, sedangkan Islam adalah agama yang mudah dan menghilangkan kesulitan. Allah Ta’ala berfirman:

“Dan Dia tidak menjadikan kesulitan untukmu dalam agama” (QS. Al-Hajj: 78).

Oleh karena itu, dibolehkan melihat bagian tubuh yang dibutuhkan untuk pengobatan.

Dalam Shahih Muslim (Kitab As-Salam, Bab: “Setiap Penyakit Ada Obatnya dan Disunnahkan Berobat”, Hadis No. 2206), disebutkan dari Jabir -radhiyallahu ‘anhu-:

“Bahwa Ummu Salamah radhiyallahu ‘anhuma meminta izin kepada Rasulullah ﷺ untuk melakukan hijamah (bekam), maka Nabi ﷺ memerintahkan Abu Thayyibah untuk membekamnya.”

Maka, laki-laki boleh mengobati perempuan jika ada kebutuhan mendesak dan tidak ditemukan perempuan yang dapat mengobatinya. Begitu juga perempuan boleh mengobati laki-laki jika tidak ditemukan laki-laki yang dapat mengobatinya dan ada kebutuhan mendesak. Namun, laki-laki tidak boleh mengobati perempuan kecuali dengan kehadiran mahram, suami, atau perempuan terpercaya.

Jika ada dokter Muslim, maka tidak boleh berpindah ke dokter non- muslim

Referensi

المكتبة الشاملة
كتاب شرح سنن أبي داود للعباد
[عبد المحسن العباد]
[الحجامة للحفظ]٤٤.ص
السؤال
هل تشرع الحجامة لأجل الحفظ؟
الجواب
حديث ابن عمر الذي فيه: (يزيد في العقل وفي الحفظ) لعله لمن احتاج إلى الاحتجام؛ لوجود الدم الفاسد فيه، وإذا أزيل الدم الفاسد فلا شك أنه فيه فائدة من ناحية صفاء الذهن، وقوة الحفظ، ولكن هذا لا يعني أن كل إنسان يحتجم من أجل أن يحفظ وهو ليس بحاجة إلى الحجامة، فالذي عافاه الله لا يحتاج إلى الحجامة ولا إلى العلاج، والحجامة هي علاج.

Kitab Syarah Sunan Abi Dawud – Al-‘Abbad
[Abdul Muhsin al-‘Abbad]
[Hijamah untuk Menguatkan Daya Ingat], hal. 44

Pertanyaan:
Apakah hijamah (bekam) disyariatkan untuk menguatkan daya ingat?

Jawaban:
Hadis dari Ibnu Umar yang menyebutkan: (Hijamah dapat meningkatkan akal dan daya ingat) barangkali berlaku bagi orang yang membutuhkan hijamah karena adanya darah kotor dalam tubuhnya. Jika darah kotor itu dihilangkan, tidak diragukan lagi hal tersebut bermanfaat dalam menjernihkan pikiran dan menguatkan daya ingat. Namun, ini tidak berarti setiap orang harus melakukan hijamah hanya untuk menguatkan daya ingat, padahal ia sebenarnya tidak memerlukannya. Orang yang telah diberikan kesehatan oleh Allah tidak memerlukan hijamah atau pengobatan. Hijamah adalah salah satu bentuk pengobatan.

Perbandingan Pahala dan Manfaat

Donor Darah memiliki pahala besar karena manfaatnya dirasakan langsung oleh orang lain yang membutuhkan. Ini juga mencerminkan kasih sayang dan kepedulian terhadap sesama.

Berbekam lebih bersifat individual, fokus pada menjaga kesehatan diri sendiri, dan bernilai ibadah karena mengikuti sunnah Rasulullah SAW.

Referensi

المكتبة الشاملة
كتاب فتاوى الشبكة الإسلامية
[مجموعة من المؤلفين]
الرئيسيةأقسام الكتب الفتاوى
فصول الكتاب ج.١١
ص : ١٣٢.٨
رقم الحديث:
مسار الصفحة الحالية:
فهرس الكتاب  وصول القربات للميت ٢٣٦  حكم إهداء ثواب التبرع بالدم للميت
[حكم إهداء ثواب التبرع بالدم للميت]
[السُّؤَالُ]
ـ[توفيت جدتي رحمها الله، فلم يكن معي مال حتى أتصدق به على روحها فقمت بالتبرع بالدم على روحها، فهل هذا يعتبر صدقة أصلا، وهل تعتبر صدقة جارية؟]ـ
[الفَتْوَى]
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أما بعد:
فقد بينا حكم التبرع بالدم وضوابطه وفضيلته في الفتوى رقم:
٥٠٩٠، والفتوى رقم: ١١٩٩٤.
ومن هذا تعلم أن التبرع بالدم بالضوابط المذكورة صدقة، ولكن ليس صدقة جارية، وقد اتفق أهل العلم على جواز إهداء ثواب الصدقة إلى الميت وأن الله ينفعه بذلك
والله أعلم.
[تَارِيخُ الْفَتْوَى]
٢١ ربيع الأول ١٤٢٣

Hukum Menghadiahkan Pahala Donor Darah untuk Orang yang Telah Meninggal

[Pertanyaan]
Nenek saya telah wafat, semoga Allah merahmatinya. Saya tidak memiliki uang untuk bersedekah atas namanya, sehingga saya mendonorkan darah atas namanya. Apakah ini dianggap sebagai sedekah, dan apakah termasuk sedekah jariyah?

[Jawaban]
Segala puji bagi Allah, salawat dan salam semoga tercurah kepada Rasulullah, keluarganya, dan para sahabatnya.

Kami telah menjelaskan hukum donor darah, ketentuannya,serta keutamaannya dalam Fatwa Nomor: 5090 dan Fatwa Nomor: 11994.

Dari penjelasan tersebut, dapat diketahui bahwa donor darah yang dilakukan dengan memenuhi ketentuan yang disebutkan adalah bentuk sedekah. Namun, hal ini bukanlah sedekah jariyah. Para ulama sepakat bahwa menghadiahkan pahala sedekah kepada orang yang telah meninggal adalah diperbolehkan, dan Allah akan memberikan manfaat kepada si mayit dengan pahala tersebut.
[Tanggal Fatwa]
22 Rabiul Awal

Kesimpulan

Pahala donor darah lebih besar jika niatnya untuk menolong sesama dan mencari ridha Allah, karena manfaatnya langsung dirasakan oleh banyak orang.

Namun, berbekam juga sangat dianjurkan sebagai ikhtiar menjaga kesehatan dan menjalankan sunnah Rasulullah.

Keduanya memiliki keutamaan masing-masing, dan tidak ada yang perlu dibandingkan secara mutlak. Yang terpenting adalah niat ikhlas dan keinginan untuk berbuat baik sesuai kemampuan.
Wallahu a’lam bish-shawab.

Kategori
Hukum

Perbedaan Pelafalan dalam Adzan dan Dzikir: Implikasi Hukum Islam

Latar Belakang
Dalam pelaksanaan ibadah Islam, terdapat dua permasalahan yang memerlukan klarifikasi hukum. Pertama, terkait pelafalan adzan, khususnya pada kalimat الصلاة خير من النوم, di mana beberapa orang membacakan النوم dengan cara memendekkan. Kedua, terkait dzikir dengan kalimat واعف عنا واغفر لنا, di mana huruf fa’ dan lam pada لنا dibaca panjang. Perbedaan pelafalan ini menimbulkan pertanyaan tentang validitas dan kesempurnaan ibadah.

Pertanyaan

1. Apakah membaca النوم dengan cara memendekkan atau pun memmanjangkan dalam adzan salah / berdosa ?

2. Apakah membaca واعف عنا واغفر لنا dengan huruf fa’ panjang dan لنا dengan lam panjang (لالنا) dibenarkan menurut ilmu tajwid ?

Waalaikumsalam salam

Jawaban.

Kalimat “النوم” (an-naum) pada kalimat adzan الصلاة خير من النوم  jika ditinjau dari ilmu tajwid termasuk dalam jenis bacaan Mad Lin. Mad lin atau mad layyin merupakan salah satu jenis mad dalam ilmu tajwid. Cara membacanya wajib dilafalkan dengan panjang 2, 4, atau 6 harakat. Setiap qori atau pembaca Al-Quran harus memahami bahasan mad dalam ilmu tajwid. Sebab, bacaan mad akan selalu ditemui dalam setiap surat Al-Quran. Secara bahasa, mad artinya panjang, sedangkan lin artinya lunak atau lentur.
Sebagai catatan, apabila pembaca Al-Quran sudah memutuskan untuk membaca mad lin dalam 2 harakat, pembacaan waqaf mad lin selanjutnya juga harus 2 harakat lagi secara konsisten. Demikian juga 4 harakat atau 6 harakat
Mad Lin adalah wawu mati atau ya’ mati yang terletak setelah huruf berbaris fathah. Mad layyin ini berguna pada saat bacaan berhenti, waqaf ditanda berhenti atau waqaf pada ujung ayat. Dikutip dari kitab Nihayatul Qaul al-Mufid, cara membaca mad layyin adalah dengan membaca huruf berharakat fathah lebih dulu. Kemudian, disambung dengan huruf ya atau wau sukun dengan cara dibaca panjang, kemudian dikunci menggunakan huruf hijaiyah setelahnya.
Panjang bacaan dari mad layyin boleh 2 harakat (1 alif), 4 harakat (2 alif), atau 6 harakat (3 alif), tergantung mana yang dipilih. Hukum ini tetap berlaku jika panjang bacaannya konsisten (tetap, rata, dan teratur).

Dengan kata lain Mad lin adalah  huruf mad yang mati jatuh setelah harkat fathah ,  dibaca panjang sedankangkan mim yang disukunkan pada kata tersebut ( النوم) sebagai pengunci . Hal ini dikarenakan adanya aturan dalam tajwid yang disebut “aridh Lissukun , karena waqof . Namun demikian membaca  kalimat النوم dalam adzan  sama dengan membaca hadis , di mana  yang penting  adalah makna atau lafadznya, bukan cara melafalkannya sehingga tidak berdosa karena bukan merupakan bagian dari ayat Al-Qur’an ( الصلاة خير من النوم ) Namun makruh jika yang panjang tidak dibaca panjang  dan yang pendek dibaca panjang dengan catatan tidak merubah makna  apabila merubah makna maka haram.

Adapun membaca Al-Qur’an. Setiap huruf dalam Al-Qur’an memiliki hukum bacaan yang sangat diperhatikan. Jika kita tidak mengikuti kaidah tajwid dalam membaca Al-Qur’an,  maka berdosa dan bisa jadi  berpotensi melakukan kesalahan yang dapat mengubah makna ayat. Oleh karena itu, mempelajari dan menerapkan ilmu tajwid sangat penting bagi setiap muslim.
Contoh seperti واعف عنا واغفر لنا maka huruf fa’ berharkat dhommah tidak boleh dipanjangkan begitu juga dengan huruf  lam  ( لنا) tidak boleh dibaca panjang ( menurut ilmu tajwid) adalah haram

Terkait dengan bacaan adzan, para ulama telah menetapkan hukum-hukum tertentu. Salah satunya adalah pentingnya menjaga ketepatan dalam melafalkan setiap huruf, baik dari segi makhraj (tempat keluarnya huruf) maupun sifat huruf (cara pengucapan). Hal ini bertujuan agar makna adzan tidak berubah. Jika sampai mengubah makna, maka bacaan adzan tersebut menjadi haram.

Referensi
Hadits yang berbunyi “سمى قارئ القرآن بغير تجويد فاسقا” (Barangsiapa membaca Al-Qur’an tanpa tajwid, maka dia adalah orang fasik) menunjukkan betapa pentingnya membaca Al-Qur’an dengan tajwid. Selain itu, Hasyiah Al-Syarqawi pada kitab Tahrif Tanqih Al-Lubab juga menjelaskan beberapa hal yang makruh dalam pelaksanaan adzan dan iqamat, seperti dilakukan oleh orang yang sedang hadats, bernyanyi, dan memanjangkan bacaan secara berlebihan.
.

المكتبة الشاملة  كتاب غاية المريد في علم التجويد ص٣٨

ومعرفة أحكام التجويد لها فضل كبير في مساعدة قارئ القرآن الكريم على عدم الإخلال بمباني الكلمات القرآنية ومعانيها.
وبلوغ نهاية الإتقان هو رياضة اللسان على الأداء باللفظ الصحيح الْمُتَلَقَّى عن فم المحسن المجيد للقراءة.
أما دليله من الإجماع:
فلقد أجمعت الأمة الإسلامية على وجوب تلاوة القرآن الكريم بالتجويد من زمن النبي -صلى الله عليه وآله وسلم- إلى زماننا هذا، ولم يختلف فيه منهم أحد، فلا يجوز لأي قارئ أن يقرأ القرآن بغير تجويد، وإلا كان من الذين شملهم الوعيد الشديد في قوله تعالى: {وَمَنْ يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَى وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّى وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ وَسَاءَتْ مَصِيرًا} ١.
وإلى ضرورة العمل بالتجويد يشير الإمام ابن الجزري بقوله:
والأَخْذُ بالتجويدِ حَتْمٌ لازِمُ … من لم يُجَوِّدِ القُرْآنَ آثِمُ
لأنه به الإلهُ أنْزَلا … وهكذا منهُ إلينا وَصَلا
وهو أيضًا حِلْيةُ التِّلاوة … وزينةُ الأداءِ والقراءة
فقد جعله واجبًا شرعيًّا يأثم الإنسان بتركه، وبه قال أكثر العلماء والفقهاء، ذلك لأن القرآن نزل مجودًا، وقرأه الرسول -صلى الله عليه وآله وسلم- على جبريل كذلك، وأقرأه الصحابة فهو سنة نبوية٢.

Al-Kutub al-Shamilah, Tab Ghaayat al-Murīd fī ‘Ilmi al-Tajwīd
Dan mengetahui hukum-hukum tajwid memiliki keutamaan yang besar dalam membantu pembaca Al-Qur’an untuk tidak melakukan kesalahan dalam dasar-dasar kata-kata Al-Qur’an dan maknanya.
Dan mencapai kesempurnaan akhir adalah melatih lidah untuk melafalkan dengan lafaz yang benar yang diterima dari mulut orang yang mahir dan sempurna dalam membaca.
Adapun dalilnya dari ijma’ (kesepakatan ulama):
Maka sungguh seluruh umat Islam telah sepakat tentang wajibnya membaca Al-Qur’an dengan tajwid sejak zaman Nabi Muhammad SAW hingga zaman kita sekarang, dan tidak ada satupun di antara mereka yang berbeda pendapat tentang hal itu. Maka tidak halal bagi pembaca manapun untuk membaca Al-Qur’an tanpa tajwid, jika tidak maka dia termasuk orang-orang yang terkena ancaman keras dalam firman Allah SWT: “Barangsiapa yang mendurhakai Rasul setelah jelas baginya petunjuk dan ia mengikuti jalan selain jalan orang-orang yang beriman, Kami biarkan ia leluasa dalam kesesatan yang telah dia pilih dan Kami masukkan ia ke dalam neraka Jahannam, dan neraka itu seburuk-buruk tempat kembali.” (QS. An-Nisa: 115).
Dan tentang pentingnya mengamalkan tajwid, Imam Ibnul Jazari menyatakan:
“Mengambil (ilmu) tajwid adalah suatu keharusan yang mutlak. Barangsiapa yang tidak membaca Al-Qur’an dengan tajwid maka dia berdosa. Karena Allah telah menurunkannya dengan tajwid dan demikian pula sampai kepada kita. Dan ia juga merupakan perhiasan tilawah dan keindahan bacaan.”
Beliau telah menjadikan tajwid sebagai kewajiban syar’i yang jika ditinggalkan maka seseorang berdosa. Dan demikian pula pendapat sebagian besar ulama dan fuqaha. Itu karena Al-Qur’an diturunkan dengan tajwid, dan Rasulullah SAW membacakannya kepada Jibril demikian pula, dan beliau membacakannya kepada para sahabat, maka ini adalah sunnah Nabi.

المكتبة الشاملة  كتاب الحديث في علوم القرآن والحديث

[حسن أيوب] ص ٧٤-٧٥
من المهمات تجويد القرآن وقد أفرده جماعة كثيرون بالتصنيف منهم الداني وغيره، أخرج عن ابن مسعود أنه قال: جوّدوا القرآن. قال القراء: التجويد حلية القراءة، وهو إعطاء الحروف حقوقها، وترتيبها ورد الحرف إلى مخرجه وأصله وتلطيف النطق به على كمال هيئته من غير إسراف ولا تعسف ولا إفراط ولا تكلف، وإلى ذلك أشار صلّى الله عليه وسلم بقوله: «من أحب أن يقرأ القرآن غضّا كما أنزل فليقرأه على قراءة ابن أم عبد» يعني ابن مسعود، وكان رضي الله عنه قد أعطي حظّا عظيما في تجويد القرآن، ولا شك أن الأمة كما أنهم متعبدون بفهم معاني القرآن وإقامة حدوده، فهم متعبدون بتصحيح ألفاظه وإقامة حروفه على الصفة المتلقاة من أئمة القراء المتصلة بالحضرة النبوية.

وقد عدّ العلماء القراءة بغير تجويد لحنا، فقسموا اللحن إلى جليّ وخفيّ، فاللحن خلل يطرأ على الألفاظ فيخل بها، إلا أن الجلي يخل إخلالا ظاهرا يشترك في معرفته علماء القراءة وغيرهم وهو الخطأ في الإعراب، والخفي يخل إخلالا يختص بمعرفته علماء القراءة وأئمة الأداء الذين تلقوه من أفواه العلماء وضبطوه من ألفاظ أهل الأداء.

وكل منها واجب على من قدر عليه؛ لأن بهما يكون الفهم الصحيح.

قال ابن الجزري: ولا أعلم لبلوغ النهاية في التجويد مثل رياضة الألسن والتكرار على اللفظ المتلقى من فم المحسن.

وقاعدته ترجع إلى كيفية الوقف والإمالة والإدغام، وأحكام الهمزة والترقيق والتفخيم ومخارج الحروف. اه.

[كيفية تحمل القرآن الكريم]

اعلم أن حفظ القرآن فرض كفاية على الأمة، صرح به الجرجاني في «الشافي»، والعبادي وغيرهما .. قال الجويني: والمعنيّ فيه أن لا ينقطع عدد التواتر فيه، فلا يتطرق إليه التبديل والتحريف، فإن قام بذلك قوم يبلغون هذا العدد سقط عن الباقين وإلا أثم الكل.

وتعليمه- أيضا- فرض كفاية، وهو أفضل القرب، ففي الصحيح «خيركم من تعلم القرآن وعلّمه».

Pentingnya Tajwid dalam Membaca Al-Qur’an
Menjaga kualitas bacaan Al-Qur’an (tajwid) merupakan hal yang sangat penting sehingga banyak ulama yang membuat kitab khusus tentang tajwid, di antaranya adalah Al-Dani dan lainnya. Dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, beliau bersabda: “Perbaguslah bacaan Al-Qur’an kalian.” Para qari’ (pembaca Al-Qur’an) mengatakan, “Tajwid adalah perhiasan bagi bacaan. Tajwid berarti memberikan hak-hak setiap huruf, menempatkannya pada posisi yang benar, mengembalikan huruf pada tempat keluarnya dan asal bunyinya, serta melatih lidah untuk melafalkannya dengan sempurna tanpa berlebihan, memaksakan diri, atau berlebih-lebihan. Hal ini sesuai dengan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘Barangsiapa ingin membaca Al-Qur’an dengan cara yang sesuai dengan saat pertama kali diturunkan, maka hendaklah ia membacanya dengan cara bacaan Ibnu Umm Abd (Ibnu Mas’ud).’ Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu memang diberi karunia yang luar biasa dalam tajwid Al-Qur’an. Tidak diragukan lagi bahwa umat Islam diwajibkan untuk memahami makna Al-Qur’an, menjalankan hukum-hukumnya, dan juga diwajibkan untuk membacanya dengan benar serta menjaga huruf-hurufnya sesuai dengan cara yang diterima dari para imam qari’ yang bersambung sampai kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Para ulama menganggap membaca Al-Qur’an tanpa tajwid adalah kesalahan (lahn). Lahn dibagi menjadi dua: lahun yang jelas dan lahun yang tersembunyi. Lahun adalah kesalahan yang terjadi pada lafal sehingga mengubah makna. Lahun yang jelas adalah kesalahan yang terlihat jelas dan dapat dikenali oleh para ahli qiraat maupun orang awam, seperti kesalahan dalam irab. Sedangkan lahun yang tersembunyi adalah kesalahan yang hanya dapat dikenali oleh para ahli qiraat dan para imam qari’ yang mempelajarinya langsung dari para ulama dan mencatatnya dari ucapan para pembaca Al-Qur’an.
Kedua jenis lahun ini wajib dihindari oleh siapa saja yang mampu, karena dengan menghindari lahun, maka seseorang akan dapat memahami Al-Qur’an dengan benar.
Ibnu Jazari berkata, “Saya tidak mengetahui cara yang lebih baik untuk mencapai kesempurnaan dalam tajwid selain melatih lidah dan terus-menerus mengulang-ulang lafal yang didengar dari seorang guru yang mahir.”
Intinya, tajwid berkaitan dengan cara berhenti, memadankan huruf, menggabungkan huruf, hukum-hukum hamzah, meringankan dan mempertegas huruf, serta tempat keluarnya huruf.
Cara Menjaga Kelestarian Al-Qur’an
Ketahuilah bahwa menghafal Al-Qur’an adalah kewajiban fardhu kifayah bagi umat Islam. Al-Jurjani dalam kitabnya “As-Syafi” dan Al-Abbadi serta ulama lainnya telah menegaskan hal ini. Al-Juwaini berkata, “Maksudnya adalah agar jumlah para penghafal Al-Qur’an tidak pernah putus, sehingga Al-Qur’an terjaga dari perubahan dan penyimpangan. Jika sudah ada sekelompok orang yang mampu menjaga jumlah penghafal ini, maka kewajiban tersebut gugur dari orang lain. Jika tidak, maka semua umat Islam berdosa.”
Mempelajari dan mengajarkan Al-Qur’an juga merupakan kewajiban fardhu kifayah. Ini adalah ibadah yang paling utama. Dalam hadits sahih disebutkan, “Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya.”

وأوجه التحمل السماع من لفظ الشيخ والقراءة عليه
أما القراءة على الشيخ فهي المستعملة سلفا وخلفا، وأما السماع من لفظ الشيخ فيحتمل أن يقال به هنا؛ لأن الصحابة رضي الله عنهم إنما أخذوا القرآن من النبي صلّى الله عليه وسلم. لكن لم يأخذ به أحد من القراءة، والمنع فيه ظاهر؛ لأن المقصود هنا كيفية الأداء، وليس كل من سمع من لفظ الشيخ يقدر على الأداء كهيئته بخلاف الحديث، فإن المقصود فيه المعنى أو اللفظ لا بالهيئات المعتبرة في أداء القرآن، وأما الصحابة فكانت فصاحتهم وطباعهم السليمة تقتضي قدرتهم على الأداء كما سمعوه من النبي صلّى الله عليه وسلم؛ لأنه نزل بلغتهم، ومما يدل للقراءة على الشيخ: عرض النبي صلّى الله عليه وسلم على جبريل في رمضان كل عام.
ويحكى أن الشيخ شمس الدين الجزري لما قدم القاهرة وازدحمت عليه الخلق، لم يتسع وقته لقراءة الجميع فكان يقرأ عليهم الآية، ثم يعيدونها عليه دفعة واحدة فلم يكتف بقراءته.
وتجوز القراءة على الشيخ ولو كان غيره يقرأ عليه في تلك الحالة بحيث لا يخفى عليه حالهم.
وقد كان الشيخ علم الدين السخاوي يقرأ عليه اثنان وثلاثة في أماكن مختلفة ويرد على كل منهم، وكذا لو كان الشيخ مشتغلا بشغل آخر كنسخ ومطالعة، وأما القراءة من الحفظ فالظاهر أنها ليست بشرط بل تكفي ولو من المصحف.
[كيفيات القراءة]
كيفيات القراءة ثلاث:
[إحداها: التحقيق وهو إعطاء كل حرف حقه، من إشباع المد]
وتحقيق الهمزة، وإتمام الحركات واعتماد الإظهار والتشديدات، وبيان الحروف وتفكيكها، وإخراج بعضها من بعض بالسكت والترتيل والتؤدة، وملاحظة الجائز من الوقوف بلا قصر للممدود ولا اختلاس للحروف ولا إسكان محرّك ولا إدغامه.
وهو يكون برياضة الألسن وتقويم الألفاظ، ويستحب الأخذ به على المتعلمين من غير أن يتجاوز فيه إلى حد الإفراط بتوليد الحروف من الحركات، وتكريم الراءات، وتحريك السواكن، وتطنين النونات بالمبالغة في الغنّات، كما قال حمزة لبعض من سمعه يبالغ في ذلك: أما علمت أن ما فوق البياض برص، وما فوق الجعودة قطط، وما فوق القراءة ليس بقراءة؟ وكذا يحترز من الفصل بين حروف الكلمة كمن يقف

Dan cara-cara memperoleh bacaan (Al-Qur’an) adalah dengan mendengarkan langsung dari seorang guru (syaikh) dan membaca di hadapannya.

Membaca Al-Qur’an di hadapan guru adalah cara yang sudah umum dilakukan oleh para pendahulu dan generasi setelahnya. Mempelajari bacaan langsung dari lisan guru juga bisa dibenarkan dalam konteks ini karena para sahabat Nabi saw. mempelajari Al-Qur’an langsung dari Nabi saw. Namun, tidak ada satu pun di antara mereka yang menjadikan cara ini sebagai suatu qiraat (cara membaca Al-Qur’an yang diakui). Larangan terhadap hal ini cukup jelas karena yang dimaksud di sini adalah cara melafalkan, dan tidak semua orang yang mendengarkan langsung dari guru mampu melafalkan dengan cara yang sama persis seperti guru. Berbeda dengan hadis, di mana yang penting adalah makna atau lafadznya, bukan cara melafalkannya yang memiliki kaidah-kaidah tertentu. Sedangkan para sahabat, kefasihan dan pemahaman bahasa Arab mereka yang sangat baik memungkinkan mereka melafalkan Al-Qur’an sebagaimana yang mereka dengar dari Nabi saw. karena Al-Qur’an diturunkan dalam bahasa mereka.
Salah satu bukti bahwa membaca di hadapan guru adalah cara yang disunnahkan adalah kebiasaan Nabi saw. yang selalu mengulang bacaan Al-Qur’an kepada Jibril setiap bulan Ramadhan.
Ada kisah tentang Syeikh Syamsuddin al-Jaziri yang ketika datang ke Kairo dan banyak orang yang ingin belajar darinya, waktu beliau tidak mencukupi untuk mengajari mereka semua secara individual. Maka beliau membacakan satu ayat, kemudian mereka mengulanginya bersama-sama. Beliau tidak hanya puas dengan bacaannya sendiri.
Membaca di hadapan guru diperbolehkan meskipun ada orang lain yang juga sedang belajar darinya dalam waktu yang bersamaan, asalkan guru tersebut masih bisa memperhatikan semua muridnya.
Syeikh ‘Alauddin al-Sakhawi pernah mengajari dua atau tiga orang sekaligus di tempat yang berbeda dan beliau menanggapi setiap muridnya. Begitu juga jika seorang guru sedang sibuk dengan pekerjaan lain seperti menyalin atau membaca kitab, membaca di hadapannya tetap diperbolehkan.
Membaca dari hafalan bukanlah syarat mutlak, cukup membaca dari mushaf pun sudah sah.
Cara-cara Membaca Al-Qur’an
Ada tiga cara membaca Al-Qur’an:
* Tahqiq: Memberikan hak setiap huruf, seperti memanjangkan huruf mad, melafalkan hamzah dengan jelas, menyempurnakan harakat, menerapkan kaidah idgham dan izhar, membedakan huruf-huruf dengan jelas, dan memisahkan satu huruf dengan huruf lainnya dengan berhenti sejenak, merangkai kata dengan baik, dan memperhatikan tempat-tempat yang boleh berhenti tanpa memendekkan huruf mad, menghilangkan huruf, atau menghilangkan harakat pada huruf hidup.
Cara tahqiq ini diperoleh melalui latihan dan melatih lidah untuk mengucapkan kata-kata dengan benar. Cara ini dianjurkan untuk para pemula, tetapi tidak boleh berlebihan hingga menghasilkan suara yang tidak wajar seperti memanjangkan huruf ra, menggerakkan huruf sukun, atau mendengungkan huruf nun dengan berlebihan. Hamzah pernah berkata kepada seseorang yang berlebihan dalam membaca tahqiq, “Apakah kamu tidak tahu bahwa melebihi batas dalam hal putih adalah kekuningan, melebihi batas dalam duduk adalah berbaring, dan melebihi batas dalam membaca bukanlah membaca?” Begitu juga, kita harus menghindari memisahkan huruf-huruf dalam satu kata.
Semoga terjemahan ini bermanfaat. Jika ada pertanyaan atau bagian yang ingin diperjelas, jangan ragu untuk bertanya.

حاشية الشرقاوي على تحفة الطلاب بشرح تحرير تنقيح اللباب، ج ١ ص ٢٣٠*
ومكروهاتهما أى الأذان والإقامة وقوعهما من محدث `والتغني أى التطريب بهما والتمطيط أى التمديد،قوله والتغني أى الإنتقال من نغم إلى نغم آخر فالسنة أن يستمر على نغم واحد، قوله أى التمديد أى مد الحروف ولو بنغم واحد ومحل كراهته مالم يتغير به المعنى وإلا حرم.

`
Hasyiah Al-Syarqawi pada kitab Tahrif Tanqih Al-Lubab yang Anda berikan.
Terjemahan:
“Dan makruhnya keduanya, yaitu adzan dan iqamat, jika dilakukan oleh orang yang sedang hadats (junub atau najis). Dan berlagu, yaitu melantunkannya dengan suara merdu dan memanjangkan bacaan, yaitu memperpanjang bacaan.
Kata ‘berlagu artinya berpindah dari satu nada ke nada yang lain, sedangkan sunnahnya adalah tetap pada satu nada. Kata ‘memanjangkan bacaan’ artinya memperpanjang huruf-huruf, meskipun dengan satu nada. Makruhnya hal ini adalah jika tidak mengubah makna, jika mengubah makna maka menjadi haram.”
Penjelasan Singkat:
Hasyiah ini menjelaskan tentang hal-hal yang makruh (dibenci) dalam pelaksanaan adzan dan iqamat. Di antaranya:
* Dilakukan oleh orang yang sedang hadats: Orang yang sedang dalam keadaan junub atau najis tidak boleh mengumandangkan adzan dan iqamat.
* Bernyanyi: Melantunkan adzan dan iqamat dengan suara yang merdu dan berganti-ganti nada adalah makruh. Sunnahnya adalah menggunakan satu nada yang sama.
* Memanjangkan bacaan: Memperpanjang bacaan adzan dan iqamat juga makruh, kecuali jika perubahan panjang pendek bacaan itu mengubah makna dari kalimat yang dibaca. Jika sampai mengubah makna, maka menjadi haram.
Kesimpulan:
Hasyiah ini menegaskan pentingnya menjaga kesucian dan kesantunan dalam pelaksanaan adzan dan iqamat. Pelaksanaan keduanya harus  dengan sunnah dan menghindari hal-hal yang makruh.Wallahu a’lam bisshowab.

Kategori
Hukum

Hukum Penggunaan Semir dan Sampo Pewarna Rambut dalam Persefektif Fiqih

Assalamualaikum

Deskripsi Masalah

Tren perawatan rambut, termasuk semir dan penggunaan sampo pewarna rambut, semakin berkembang di kalangan generasi milenial, baik di kalangan pria maupun wanita. Berbagai alasan mendorong fenomena ini, mulai dari keinginan untuk mengikuti tren, perubahan penampilan, hingga upaya meningkatkan rasa percaya diri dan daya tarik. Selain itu, tren ini juga diterapkan oleh sebagian orang tua yang ingin menutupi uban sebagai akibat dari penuaan.

Namun, di balik praktik ini, muncul berbagai pertanyaan yang perlu dikaji lebih lanjut dari perspektif fiqih,sebagaimana berikut:

1. Bagaimana hukum menyemir rambut bagi laki-laki, baik yang masih muda maupun yang sudah tua?

2. Bagaimana hukum mengubah warna rambut dengan menggunakan sampo khusus pewarna rambut?

Hukum Menyemir Rambut dalam Pandangan Fiqih

Waalaikum salam.
Jawaban

1. Hukum Umum Menyemir Rambut bagi Laki-laki dan Perempuan

Para ulama berbeda pendapat tentang hukum menyemir rambut, dengan pertimbangan jenis warna yang digunakan serta tujuan di baliknya. Perbedaan ini merujuk pada berbagai dalil dari hadis dan pendapat para sahabat serta tabi’in:

Haram: Menyemir rambut dengan warna hitam jika tujuannya untuk menipu atau menutupi usia sebenarnya, kecuali dalam kondisi tertentu seperti dalam situasi perang untuk menunjukkan kesan kuat dan berwibawa di hadapan musuh.

Sunnah: Menggunakan pewarna rambut selain hitam seperti warna kuning, cokelat, merah, atau warna alami lainnya, yang tidak bertujuan untuk penipuan dan tidak melanggar syariat. Hal ini didasarkan pada hadis Rasulullah ﷺ:
“Ubah warna uban dan jangan menyerupai orang Yahudi dan Nasrani.”

Makruh: Tidak menyemir rambut jika di lingkungan tersebut menyemir rambut sudah menjadi kebiasaan baik yang diakui syariat, sehingga meninggalkannya dianggap kurang menjaga penampilan.

2. Hukum Menggunakan Sampo atau Produk Pewarna Rambut

Penggunaan sampo pewarna rambut pada dasarnya mengikuti hukum umum menyemir rambut di atas. Jika sampo tersebut digunakan untuk pewarnaan dengan tujuan yang dibolehkan, seperti menutupi uban atau untuk penampilan yang wajar dan tidak berlebihan, maka hukumnya diperbolehkan. Namun, jika digunakan untuk tujuan yang melanggar syariat, seperti menipu orang lain atau menyerupai kaum yang diharamkan untuk ditiru, maka hukumnya menjadi haram.

Dalil dan Pendapat Ulama

Dalam Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyyah Al-Kuwaitiyyah (hal. 277), dijelaskan bahwa perbedaan pendapat ulama mengenai pewarnaan rambut berfokus pada warna dan tujuannya.

Asy-Syaukani menukil pendapat Qadhi Iyadh, yang menyatakan bahwa sebagian sahabat dan tabi’in lebih mengutamakan tidak mewarnai uban sebagai bentuk ketundukan dan penerimaan terhadap ketentuan Allah. Namun, sebagian lain berpendapat bahwa mewarnai uban lebih utama untuk menyelisihi kebiasaan orang Yahudi dan Nasrani.

Rasulullah ﷺ sendiri menganjurkan pewarnaan uban dengan bahan seperti henna (pacar) dan katam, sebagaimana diriwayatkan dalam beberapa hadis sahih.

Kesimpulan:

Laki-laki dan Perempuan: Diperbolehkan menyemir rambut dengan warna selain hitam, dengan syarat tidak bertujuan menipu atau menyerupai golongan yang diharamkan.

Warna Hitam: Diharamkan kecuali dalam kondisi tertentu seperti perang.

Sampo Pewarna: Hukumnya sama dengan pewarna rambut biasa, bergantung pada warna dan tujuan penggunaannya.

Referensi:

Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyyah Al-Kuwaitiyyah, Halaman 277

الموسوعة الفقهية الكويتية ص ٢٧٧
٥ – يَخْتَلِفُ حُكْمُ الْخِضَابِ تَبَعًا لِلَوْنِهِ، وَلِلْمُخْتَضِبِ، رَجُلاً كَانَ أَوِ امْرَأَةً. وَسَيَأْتِي.
الْمُفَاضَلَةُ بَيْنَ الاِخْتِضَابِ وَعَدَمِهِ:
٦ – نَقَل الشَّوْكَانِيُّ عَنِ الْقَاضِي عِيَاضٍ قَوْلَهُ (٢) : اخْتَلَفَ السَّلَفُ مِنَ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِينَ فِي الاِخْتِضَابِ، وَفِي جِنْسِهِ، فَقَال بَعْضُهُمْ: تَرْكُ الاِخْتِضَابِ أَفْضَل، اسْتِبْقَاءً لِلشَّيْبِ، وَرَوَى حَدِيثًا عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي النَّهْيِ عَنْ تَغْيِيرِ الشَّيْبِ (٣) .
وَقَال بَعْضُهُمْ: الاِخْتِضَابُ أَفْضَل لِقَوْل رَسُول اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ غَيِّرُوا الشَّيْبَ، وَلاَ تَشَبَّهُوا بِالْيَهُودِ (٤) . وَفِي رِوَايَةٍ زِيَادَةُ ” وَالنَّصَارَى (٥) “،وَلِقَوْلِهِ: إِنَّ الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى لاَ يَصْبُغُونَ فَخَالِفُوهُمْ (١) فَهَذِهِ الأَْحَادِيثُ تَدُل عَلَى أَنَّ الْعِلَّةَ فِي الصِّبَاغِ وَتَغْيِيرِ الشَّيْبِ هِيَ مُخَالَفَةُ الْيَهُودِ وَالنَّصَارَى. وَبِهَذَا يَتَأَكَّدُ اسْتِحْبَابُ الاِخْتِضَابِ. وَقَدْ كَانَ رَسُول اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُبَالِغُ فِي مُخَالَفَةِ أَهْل الْكِتَابِ وَيَأْمُرُ بِهَا.
وَاخْتَضَبَ جَمَاعَةٌ مِنَ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِينَ وَمَنْ بَعْدَهُمْ لِلأَْحَادِيثِ الْوَارِدَةِ فِي ذَلِكَ. ثُمَّ قَدْ كَانَ أَكْثَرُهُمْ يَخْتَضِبُ بِالصُّفْرَةِ، مِنْهُمُ ابْنُ عُمَرَ وَأَبُو هُرَيْرَةَ، وَاخْتَضَبَ جَمَاعَةٌ مِنْهُمْ بِالْحِنَّاءِ وَالْكَتَمِ، وَبَعْضُهُمْ بِالزَّعْفَرَانِ، وَاخْتَضَبَ جَمَاعَةٌ بِالسَّوَادِ، مِنْهُمْ عُثْمَانُ بْنُ عَفَّانَ وَالْحَسَنُ وَالْحُسَيْنُ وَعُقْبَةُ بْنُ عَامِرٍ وَغَيْرُهُمْ.
وَنَقَل الشَّوْكَانِيُّ عَنِ الطَّبَرِيِّ قَوْلَهُ (٢) : الصَّوَابُ أَنَّ الأَْحَادِيثَ الْوَارِدَةَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِتَغْيِيرِ الشَّيْبِ وَبِالنَّهْيِ عَنْهُ كُلُّهَا صَحِيحَةٌ، وَلَيْسَ فِيهَا تَنَاقُضٌ. بَل الأَْمْرُ بِالتَّغْيِيرِ لِمَنْ شَيْبُهُ كَشَيْبِ أَبِي قُحَافَةَ، وَالنَّهْيُ لِمَنْ لَهُ شَمَطٌ (٣) فَقَطْ، وَاخْتِلاَفُ السَّلَفِ فِي فِعْل الأَْمْرَيْنِ بِحَسَبِ اخْتِلاَفِ أَحْوَالِهِمْ فِي ذَلِكَ، مَعَ أَنَّ الأَْمْرَ وَالنَّهْيَ فِي ذَلِكَ لَيْسَ لِلْوُجُوبِ بِالإِْجْمَاعِ، وَلِهَذَا لَمْ يُنْكِرْ بَعْضُهُمْ عَلَى بَعْضٍ (٤) .
٧ – وَقَدْ جَاءَتْ أَحَادِيثُ فِي صَحِيحِ الْبُخَارِيِّ تَدُل عَلَى اخْتِضَابِ رَسُول اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَجَاءَتْ أَحَادِيثُ تَنْفِي اخْتِضَابَهُ (١) ، فَمِنَ الأُْولَى: مَا وَرَدَ عَنْ عُثْمَانَ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَوْهَبٍ قَال: دَخَلْنَا عَلَى أُمِّ سَلَمَةَ فَأَخْرَجَتْ إِلَيْنَا مِنْ شَعْرِ رَسُول اللَّهِ فَإِذَا هُوَ مَخْضُوبٌ. (٢)
وَمِنْهَا مَا وَرَدَ أَنَّ ابْنَ عُمَرَ كَانَ يَصْبُغُ لِحْيَتَهُ بِالصُّفْرَةِ حَتَّى تَمْلأََ ثِيَابَهُ، فَقِيل لَهُ فِي ذَلِكَ، فَقَال: إِنِّي رَأَيْتُ رَسُول اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصْبُغُ بِهَا، وَلَمْ يَكُنْ شَيْءٌ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْهَا، وَكَانَ يَصْبُغُ بِهَا ثِيَابَهُ حَتَّى عِمَامَتَهُ (٣) .
وَمِنَ الثَّانِيَةِ قَوْل أَنَسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: مَا خَضَّبَ رَسُول اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَنَّهُ لَمْ يَبْلُغْ مِنْهُ الشَّيْبُ إِلاَّ قَلِيلاً، وَلَوْ شِئْتُ أَنْ أَعُدَّ شَمَطَاتٍ كُنَّ فِي رَأْسِهِ لَفَعَلْتُ. (٤)
وَمِنْهَا قَوْل أَبِي جُحَيْفَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: رَأَيْتُ رَسُول اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ هَذِهِ مِنْهُ بَيْضَاءُ يَعْنِي عَنْفَقَتَهُ (٥)
مَا غَيَّرْتُمْ بِهِ الشَّيْبَ الْحِنَّاءُ وَالْكَتَمُ (١) ، فَإِنَّهُ يَدُل عَلَى أَنَّ الْحِنَّاءَ وَالْكَتَمَ مِنْ أَحْسَنِ الصِّبَاغَاتِ الَّتِي يُغَيَّرُ بِهَا الشَّيْبُ. وَأَنَّ الصَّبْغَ غَيْرُ مَقْصُورٍ عَلَيْهِمَا، بَل يُشَارِكُهُمَا غَيْرُهُمَا مِنَ الصِّبَاغَاتِ فِي أَصْل الْحُسْنِ (٢) لِمَا وَرَدَ مِنْ حَدِيثِ أَنَسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَال: اخْتَضَبَ أَبُو بَكْرٍ بِالْحِنَّاءِ وَالْكَتَمِ، وَاخْتَضَبَ عُمَرُ بِالْحِنَّاءِ بَحْتًا (٣) .
الاِخْتِضَابُ بِالْوَرْسِ وَالزَّعْفَرَانِ:
١٠ – الاِخْتِضَابُ بِالْوَرْسِ وَالزَّعْفَرَانِ يُشَارِكُ الاِخْتِضَابَ بِالْحِنَّاءِ وَالْكَتَمِ فِي أَصْل الاِسْتِحْبَابِ. وَقَدِ اخْتَضَبَ بِهِمَا جَمَاعَةٌ مِنَ الصَّحَابَةِ. رَوَى أَبُو مَالِكٍ الأَْشْجَعِيُّ، عَنْ أَبِيهِ، قَال: كَانَ خِضَابُنَا مَعَ رَسُول اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْوَرْسَ وَالزَّعْفَرَانَ (٤) ، وَقَال الْحَكَمُ بْنُ عَمْرٍو الْغِفَارِيُّ: دَخَلْتُ أَنَا وَأَخِي رَافِعٌ عَلَى أَمِيرِ الْمُؤْمِنِينَ عُمَرَ، وَأَنَا مَخْضُوبٌ بِالْحِنَّاءِ، وَأَخِي مَخْضُوبٌ بِالصُّفْرَةِ، فَقَال عُمَرُ: هَذَا خِضَابُ الإِْسْلاَمِ. وَقَال لأَِخِي رَافِعٍ: هَذَا خِضَابُ الإِْيمَانِ (٥) .

Ensiklopedia Fiqih Kuwait, Halaman 277

5 – Hukum Menggunakan Pewarna Rambut Ulama berbeda pendapat Berdasarkan Warnanya dan Penggunanya, Baik Laki-Laki maupun Perempuan. Berikut  Penjelasannya.

Keutamaan antara Menggunakan Pewarna Rambut dan Tidak Menggunakannya:

6 – Asy-Syaukani menukil perkataan Qadhi Iyadh: Para salaf dari kalangan sahabat dan tabi’in berbeda pendapat tentang menggunakan pewarna rambut dan sejenisnya (  seperti; pacar , katam, za’faran ataupun sampo dll.)

Sebagian dari mereka berpendapat bahwa meninggalkan pewarna rambut lebih utama sebagai bentuk menjaga uban. Mereka meriwayatkan hadis dari Nabi ﷺ yang melarang mengubah warna uban.

Sebagian lainnya berpendapat bahwa mewarnai rambut lebih utama berdasarkan sabda Rasulullah ﷺ:
“Ubah warna uban dan janganlah kalian menyerupai orang Yahudi.”

Dalam riwayat lain ditambahkan, “dan Nasrani.”
Dalam sabda lain disebutkan:
“Sesungguhnya orang Yahudi dan Nasrani tidak mewarnai rambut mereka, maka selisihilah mereka.”

Hadis-hadis ini menunjukkan bahwa alasan pewarnaan rambut dan mengubah uban adalah untuk menyelisihi Yahudi dan Nasrani. Oleh karena itu, sunnah pewarnaan rambut semakin ditekankan. Rasulullah ﷺ sangat menekankan perintah untuk menyelisihi Ahlul Kitab dan beliau memerintahkannya.

Sejumlah sahabat, tabi’in, dan generasi setelahnya menggunakan pewarna rambut karena adanya hadis-hadis yang menganjurkan hal tersebut. Kebanyakan dari mereka menggunakan warna kuning, di antaranya adalah Ibnu Umar dan Abu Hurairah. Sebagian lainnya menggunakan henna (pacar) dan katam. Sebagian lainnya menggunakan za’faran. Ada pula yang mewarnai dengan warna hitam, di antaranya adalah Utsman bin Affan, Hasan, Husein, Uqbah bin Amir, dan lainnya.

Asy-Syaukani juga menukil dari At-Thabari:
“Yang benar adalah bahwa hadis-hadis tentang perintah mengubah uban dan larangan melakukannya semuanya sahih dan tidak saling bertentangan. Perintah untuk mengubah uban berlaku bagi mereka yang ubannya sudah menyeluruh seperti uban Abu Quhafah, sedangkan larangan berlaku bagi yang hanya memiliki beberapa helai uban. Perbedaan para salaf dalam mengamalkan dua hadis tersebut bergantung pada kondisi mereka masing-masing. Selain itu, perintah dan larangan dalam masalah ini tidak bersifat wajib menurut kesepakatan ulama. Oleh karena itu, sebagian mereka tidak mengingkari sebagian lainnya.”

7 – Dalam Shahih Al-Bukhari, terdapat hadis yang menunjukkan bahwa Rasulullah ﷺ mewarnai rambutnya, dan ada pula hadis yang menafikan hal tersebut.

Di antara hadis yang menunjukkan bahwa beliau mewarnai rambutnya:

Hadis dari Utsman bin Abdullah bin Mauhab, ia berkata: “Kami masuk ke rumah Ummu Salamah, lalu beliau mengeluarkan rambut Rasulullah ﷺ. Ternyata rambut itu diwarnai.”

Hadis dari Ibnu Umar, ia berkata: “Aku melihat Rasulullah ﷺ mewarnai rambut dengan warna kuning, dan beliau sangat menyukainya. Beliau juga mewarnai pakaian dan serbannya dengan warna tersebut.”

Sedangkan hadis yang menafikan pewarnaan rambut beliau:

Hadis dari Anas radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: “Rasulullah ﷺ tidak mewarnai rambutnya, dan uban beliau hanya sedikit. Jika aku mau menghitung helai uban beliau, aku bisa melakukannya.”

Hadis dari Abu Juhaifah, ia berkata: “Aku melihat Rasulullah ﷺ, dan di bagian dagunya terdapat rambut putih (uban).”

8 – Hadis-hadis ini menunjukkan bahwa henna (pacar) dan katam adalah pewarna terbaik untuk mengubah uban. Namun, pewarnaan tidak terbatas hanya pada keduanya, tetapi juga dapat menggunakan pewarna lain yang memiliki keindahan serupa.

Hal ini diperkuat oleh hadis dari Anas radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: “Abu Bakar mewarnai rambut dengan henna dan katam, sedangkan Umar hanya dengan henna murni.”

Pewarnaan dengan Wars dan Za’faran:

9 – Pewarnaan dengan wars dan za’faran memiliki kesamaan dalam keutamaan seperti pewarnaan dengan henna dan katam. Sejumlah sahabat menggunakan pewarna ini.

Diriwayatkan oleh Abu Malik Al-Asyja’i dari ayahnya, ia berkata:
“Pewarna rambut kami bersama Rasulullah ﷺ adalah wars dan za’faran.”

Al-Hakam bin Amr Al-Ghifari berkata: “Aku dan saudaraku Rafi’ datang kepada Amirul Mukminin Umar, aku mewarnai rambut dengan henna, sedangkan saudaraku dengan warna kuning. Umar berkata kepadaku: ‘Ini adalah pewarna Islam.’ Dan kepada saudaraku: ‘Ini adalah pewarna iman.'”

Syekh Musthafa al-Khin, Musthafa al-Bugha, dan Ali asy-Syarbaji dalam kitabnya mengatakan, bahwa haram bagi laki-laki dan wanita untuk menyemir rambutnya menggunakan warna hitam, dan sunnah menggunakan warna yang lain, seperti kuning, merah, dan lainnya,

الفقه المنهجي  في مذهب الإمام الشافعي ص٩٩

[٣ – تحريم الخضاب بالسواد]
يحرم صبغ شعر الرأس واللحية بالسواد للرجال والنساء. ويستحب خضاب الشيب، وصبغ الشعر بغير السواد للرجال والنساء، بصفرة، أو حمرة.
ودليل ذلك ما رواه مسلم في [اللباس والزينة – باب – استحباب خضاب الشيب بصفرة أو حمرة، وتحريمه بالسواد، رقم ٢١٠٢] وغيره عن جابر – رضي الله عنه -، قال: أتي بأبي قحافة يوم الفتح، ورأسه ولحيته كالثغامة بياضاً، فقال رسول الله – صلى الله عليه وسلم -: ” غيروا هذا بشيء واجتنبوا السواد”.
[الثغامة: نبت له زهر أبيض، شبه بياض الشيب به.
أبو قحافة: والد أبي بكر الصديق رضي الله عنهما، واسمه عثمان أسلم عام الفتح].
وروى الترمذي في [اللباس -باب – ما جاء في الخضاب، رقم: ١٧٥٢] عن أبي هريرة – رضي الله عنه -، قال: قال رسول الله – صلى الله عليه وسلم -: ” غيروا الشيب، ولا تشبهوا باليهود”.
وروى البخاري في [اللباس – باب – الخضاب، رقم: ٥٥٥٩] ومسلم في [اللباس والزينة -باب – في مخالفة اليهود في الصبغ، رقم: ٢١٠٣]

عن أبي هريرة – رضي الله عنه -، أن النبي – صلى الله عليه وسلم – قال: ” إن اليهود والنصارى لا يصبغون فخالفوهم”.
[الخضاب: الصبغ].
[حكمة تحريم الخضاب بالسواد:]
ولعل الحكمة من تحريم الصبغ بالسواد إنما تعود لِما في الخضاب به من التزوير، وتغيير الواقع، فإن السواد يجعل من الكبير صغيراً، ومن المسنّة شابة، في أعين الناس، فيظنون أمرهما على خلاف ما هو عليه في الواقع.
أما ما عدا السواد، فقد لا يصل إلى هذا الحد من التغير، والتغرير، والتزوير.
ونقول بعد هذا: إن عامة هذه الموضوعات، إنما تقوم أحكامها على محض التعبد، وعلى الامتثال، والاختبار الخالصين.

Haram Mewarnai Rambut dengan Warna Hitam

Diharamkan mewarnai rambut kepala dan jenggot dengan warna hitam bagi laki-laki dan perempuan. Namun, disunnahkan mewarnai uban serta mewarnai rambut dengan selain warna hitam, seperti kuning atau merah, bagi laki-laki dan perempuan.

Dalilnya adalah hadis yang diriwayatkan oleh Muslim dalam [Kitab Al-Libas wa Al-Zinah – Bab: Dianjurkannya Mewarnai Uban dengan Warna Kuning atau Merah dan Diharamkannya dengan Warna Hitam, No. 2102] dan selainnya, dari Jabir -raḍiyallāhu ‘anhu-, ia berkata:
“Pada hari penaklukan Makkah, Abu Quhafah dibawa, sementara rambut kepala dan jenggotnya memutih seperti bunga tsughamah. Maka Rasulullah -ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam- bersabda: ‘Ubahlah warna ini dengan sesuatu, tetapi jauhilah warna hitam.'”

[Tsughamah: Tumbuhan yang memiliki bunga berwarna putih, diibaratkan dengan putihnya uban.
Abu Quhafah: Ayah Abu Bakar As-Shiddiq -raḍiyallāhu ‘anhumā-, bernama Utsman, masuk Islam pada tahun penaklukan Makkah].

At-Tirmidzi meriwayatkan dalam [Kitab Al-Libas – Bab: Hadis tentang Mewarnai Rambut, No. 1752] dari Abu Hurairah -raḍiyallāhu ‘anhu-, ia berkata:
“Rasulullah -ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam- bersabda: ‘Ubahlah warna uban dan jangan menyerupai orang Yahudi.'”

Al-Bukhari meriwayatkan dalam [Kitab Al-Libas – Bab: Mewarnai Rambut, No. 5559] dan Muslim dalam [Kitab Al-Libas wa Al-Zinah – Bab: Menyelisihi Orang Yahudi dalam Mewarnai Rambut, No. 2103] dari Abu Hurairah -raḍiyallāhu ‘anhu-, bahwa Nabi -ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam- bersabda:
“Sesungguhnya orang Yahudi dan Nasrani tidak mewarnai rambut mereka, maka selisihilah mereka.”

[Al-Khidhab: Pewarnaan rambut].

[Hikmah Diharamkannya Mewarnai Rambut dengan Hitam:]
Hikmah diharamkannya mewarnai rambut dengan warna hitam mungkin karena adanya unsur penipuan dan perubahan realitas. Sebab, warna hitam dapat membuat orang tua tampak muda, dan perempuan lanjut usia tampak seperti gadis muda di mata orang lain, sehingga orang-orang mengira sesuatu yang tidak sesuai dengan kenyataannya.

Adapun selain warna hitam, umumnya tidak sampai pada tingkat perubahan, penipuan, dan pemalsuan seperti itu.

Akhirnya, dapat dikatakan bahwa hukum dalam masalah ini sebagian besar berdiri di atas dasar ketaatan, kepatuhan, dan ujian yang murni.

Penjelasan

“Diharamkan menyemir rambut dan jenggot dengan (semir) hitam bagi laki-laki dan perempuan. Dan, sunnah menyemir rambut dengan selain warna hitam bagi laki-laki dan perempuan, seperti warna kuning, atau warna merekah.” (Musthafa al-Khin, dkk, Fiqhu al-Manhaji ‘ala Mazhabil Imam asy-Syafi’i, [Damaskus, Darul Qalam: 1992], juz III, halaman 99).

Larangan menyemir rambut menggunakan warna hitam dan anjuran menggunakan warna lain sebagaimana penjelasan di atas, berdasarkan salah satu hadits Rasulullah setelah peristiwa Fathu Makkah. Saat itu, ia menyuruh sahabat Abu Quhafah untuk merubah warna rambutnya dengan selain warna hitam. Dalam sebuah hadits disebutkan:

أُتِىَ بِأَبِى قُحَافَةَ رَضِىَ اللَّهُ عَنْهُ يَوْمَ فَتْحِ مَكَّةَ وَرَأْسُهُ وَلِحْيَتُهُ كَالثَّغَامَةِ بَيَاضًا فَقَالَ رَسُولُ اللَّه: غَيِّرُوا هَذَا بِشَىْءٍ وَاجْتَنِبُوا السَّوَادَ

Artinya, “Suatu hari ketika Fathu Makkah, Abu Quhafah dipanggil oleh Rasulullah. Saat itu, rambut kepala dan jenggotnya berwarna putih seperti merpati. Kemudian Rasulullah bersabda: ‘Ubahlah warna ubanmu ini, namun jangan gunakan warna hitam.” (HR Jabir).

Ragam Pendapat Ulama

Imam Abu Zakaria Muhyiddin an-Nawawi (wafat 676 H) dalam salah satu kitabnya mengutip beberapa pendapat para ulama dalam mengomentari hadits di atas, yaitu: (1) kalangan mazhab Syafi’iyah (Ashabuna) menganjurkan laki-laki untuk mewarnai rambut dengan warna kuning atau merah, dan haram menggunakan warna hitam, dan ini merupakan pendapat paling sahih (ashah) dalam mazhab Syafi’i;  (2) menurut suatu pendapat (qil), mewarnai rambut dengan warna hitam hukumnya makruh tanzih (tidak berdosa jika dilakukan).

Selain itu, ada beberapa sahabat dan kalangan tabi’in yang menilai bahwa tidak mewarnai rambut lebih baik, pendapat ini diprakarsai oleh Imam al-Qadhi, karena menurutnya, sekalipun terdapat hadits yang menganjurkan kepada Abu Quhafah untuk mewarnai rambut, Rasulullah sendiri tidak mewarnai rambutnya.
Oleh karena itu, ia mengatakan:

تَرْكُ الخّضَابِ أَفْضَلُ

Artinya, “Tidak mewarnai rambut lebih baik.”

Namun demikian, ada juga sahabat dan kalangan tabi’in yang menilai bahwa mewarnai rambut lebih baik, bahkan beberapa figure saat itu memilih mewarnai rambut karena adanya hadits di atas, di antaranya adalah Umar bin Khattab, Abu Hurairah, Uqbah bin Amir, Ibnu Sirin, Abu Bardah, dan beberapa figure lainnya. (Imam Nawawi, Syarhun Nawawi ‘alal Muslim, [Beirut, Darul Ihya’: 1392], juz 14, halaman 80).

Jika ditanya, “Lebih baik ikut yang mana? Dan bagaimana pengaplikasian hukum yang tepat dalam konteks saat ini?”

Dua pendapat dan komentar para ulama di atas pada hakikatnya sama-sama dalam konteks ijtihad dalam menyimpulkan hukum dari hadist perihal mewarnai rambut tersebut. Jika benar, maka mendapatkan dua pahala, dan jika salah maka mendapatkan satu pahala.

Hanya saja, Imam Nawawi menyebutkan bahwa dalam konteks mewarnai rambut, para ulama mempertimbangkan keadaan dan posisinya masing-masing. Dalam kitabnya disebutkan:

وَاخْتِلَافُ السَّلَفِ فِى فِعْلِ الْأَمْرَيْنِ بِحَسَبِ اخْتِلَافِ أَحْوَالِهِمْ فِى ذَلِكَ مَعَ أَنَّ الْأَمْرَ وَالنَّهْىَ لَيْسَ لِلْوُجُوْبِ بِالْاِجْمَاعِ

Artinya, “Perbedaan ulama salaf dalam melakukan dua hal tersebut (mewarnai dan tidak), tergantung perbedaan keadaan mereka. Sebab, perintah (baca: anjuran) dan larangannya tidak menunjukkan wajib secara konsensus.” (Imam Nawawi, 14/80)
Maksud dari perbedaan keadaan dalam penjelasan di atas adalah, jika seseorang hidup di tempat yang mayoritas penduduknya menyemir rambut, maka hukum menyemir di tempat tersebut dianjurkan, dan makruh jika tidak melakukannya karena telah melanggar dari adat. Dan, jika mayoritas penduduknya tidak menyemir rambut, maka sunnah untuk tidak menyemirnya dan makruh jika melakukannya.

 Hikmah Diharamkannya Warna Hitam

Syekh Musthafa al-Khin, dkk, dalam kitabnya menjelaskan hikmah diharamkannya menyemir rambut dengan warna hitam. Menurutnya, menyemir rambut dengan warna tersebut merupakan penipuan, da nada unsur merubah kenyataan. Sebab, warna hitam akan menjadikan orang yang sudah tua terlihat muda, yang lanjut usia juga terlihat muda dalam pandangan manusia. (Musthafa al-Khin, Maksud dari perbedaan keadaan dalam penjelasan di atas adalah, jika seseorang hidup di tempat yang mayoritas penduduknya menyemir rambut, maka hukum menyemir di tempat tersebut dianjurkan, dan makruh jika tidak melakukannya karena telah melanggar dari adat. Dan, jika mayoritas penduduknya tidak menyemir rambut, maka sunnah untuk tidak menyemirnya dan makruh jika melakukannya.

Hikmah Diharamkannya Warna Hitam

Syekh Musthafa al-Khin, dkk, dalam kitabnya menjelaskan hikmah diharamkannya menyemir rambut dengan warna hitam. Menurutnya, menyemir rambut dengan warna tersebut merupakan penipuan, da nada unsur merubah kenyataan. Sebab, warna hitam akan menjadikan orang yang sudah tua terlihat muda, yang lanjut usia juga terlihat muda dalam pandangan manusia. (Musthafa al-Khin, dkk, 3/100).
, 3/100). Wallahu A’lam bish-shawab

Kategori
Hukum

Hukum Sholat bagi Lansia dengan Gangguan Ingatan dan Tata Cara Ibadah bagi Pasien yang Diinfus

Deskripsi Masalah:
Manusia adalah makhluk ciptaan Allah yang paling sempurna dengan anugerah akal yang luar biasa. Melalui akal, manusia mampu mengingat berbagai peristiwa, pengalaman, dan pengetahuan sepanjang hidupnya. Namun, seiring bertambahnya usia, kemampuan akal mengalami penurunan. Banyak lansia yang mulai kesulitan mengenali orang di sekitarnya, bahkan lupa akan identitas dirinya sendiri. Dalam kondisi seperti ini, mereka seringkali meninggalkan kewajiban agama, seperti sholat lima waktu, bukan karena kesengajaan, tetapi karena keterbatasan daya ingat dan kesadaran.

Selain itu, dalam konteks kesehatan, ada pula kondisi di mana seseorang tidak dapat menjalankan ibadah dengan sempurna karena keterbatasan fisik, seperti pasien yang sedang diinfus. Jika infus dilepas untuk berwudhu, hal itu dapat membahayakan kesehatannya.

Pertanyaan:

1. Apakah lansia dengan kondisi seperti yang disebutkan di atas masih dibebani kewajiban sholat lima waktu?

2. Bagaimana tata cara wudhu dan sholat bagi pasien yang sedang diinfus, sedangkan membuka infus dapat membahayakan kesehatannya?

Waalaikum salam

Jawaban:

1. Kewajiban Sholat bagi Lansia dengan Gangguan Ingatan
Dalam Islam, kewajiban sholat lima waktu hanya dibebankan kepada orang yang memiliki kemampuan akal yang sehat dan kesadaran penuh. Hal ini sesuai dengan sabda Rasulullah SAW:

“Pena diangkat dari tiga golongan: orang yang tidur sampai ia bangun, anak kecil sampai ia baligh, dan orang gila sampai ia sadar.” (HR. Abu Dawud, no. 4403).

Berdasarkan hadits ini, jika seorang lansia mengalami gangguan ingatan yang membuatnya kehilangan kesadaran dan tidak dapat membedakan waktu serta kewajiban, maka kewajiban sholat tidak lagi berlaku baginya. Namun, jika ia masih memiliki kesadaran walaupun terbatas, maka ia tetap diwajibkan sholat sesuai dengan kemampuannya, baik dengan gerakan, isyarat, maupun dalam hati jika tidak mampu bergerak sama sekali.

2. Tata Cara Wudhu dan Sholat bagi Pasien yang Diinfus

Wudhu: Jika pasien yang diinfus tidak memungkinkan untuk berwudhu secara sempurna karena membuka infus dapat membahayakan, maka ia diperbolehkan bertayammum. Jika tayammum pun tidak memungkinkan, ia dapat sholat tanpa wudhu atau tayammum karena Allah tidak membebani hamba-Nya di luar kemampuannya (la yukallifullahu nafsan illa wus’aha).

Sholat: Pasien sholat sesuai kemampuannya, baik dalam posisi duduk, berbaring, atau dengan isyarat mata atau hati jika tidak mampu bergerak sama sekali. Hal ini berdasarkan firman Allah SWT:

“Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu.” (QS. At-Taghabun: 16).

Dengan demikian, Islam memberikan kemudahan dan keringanan dalam melaksanakan ibadah bagi orang yang memiliki uzur syar’i, baik karena usia lanjut dengan gangguan ingatan maupun kondisi kesehatan seperti pasien yang diinfus.

Referensi

“التشريع الجنائي في الإسلام ج ٢ / ص (١٤٢)
وفقدان القوى العقلية قد يكون تاماً ومستمراً ويسمونه جنوناً مطبقاً. وقد يكون تاماً وغير مستمر ويسمونه جنوناً متقطعاً. وقد يكون جزئياً فيفقد الإنسان قدرة الإدراك في موضوع بعينه، ولكنه يظل متمتعاً بالإدراك فيما عداه، وهذا ما يسمونه بالجنون الجزئي. وقد لا تفقد القوى العقلية تماماً، ولكنها تضعف ضعفاً غير عادي، فلا ينعدم الإدراك كلية، ولا يصل في قوته إلى درجة الإدراك العادي للأشخاص الأصحاء، وهذا ما يسمونه بالعته أو البله. وهناك مظاهر أخرى لفقدان القوى العقلية اصطلح على تسميتها بأسماء معينة، ولكنها جميعاً تقوم على أساس واحد هو انعدام الإدراك في الإنسان، وحكم هذه الحالات جميعاً واحد على تعدد مظاهرها واختلاف مسمياتها، وهو أن المسئولية الجنائية تنعدم كلما انعدم الإدراك فإذا لم ينعدم فالمسئولية قائمة وإذا أفاق صاحب الجنون المتقطع إفاقة جزئية، بمعنى أنه لا يدرك إدراكاً تاماً في حالة أو في حالات معينة، ولكنه يدرك إدراكاً تاماً فيما عدا ذلك، فحكمه في حالة الإفاقة الجزئية حكم صاحب الجنون الجزئي. وإذا أفاق صاحب الجنون المتقطع ولكنه كان في إفاقته ضعيف الإدراك بصفة عامة فحكمه في هذه الحالة حكم المعتوه. وأكثر الفقهاء يسلمون أن العته نوع من الجنون وبأن درجات الإدراك تتفاوت في المعتوهين ولكنها لا تخرج عن حالة الصبي المميز، ولكن بعض الفقهاء يرون أن بعض المعتوهين يكونون من حيث الإدراك كالصبي الغير مميز وبعضهم كالصبي المميز، وأصحاب هذا الرأي لا يجعلون فرقاً بين الجنون والعته إذا كان المعتوه في أقل درجات التمييز ولذلك فرقوا بين الجنون والعته بأن الأول يصحبه اضطراب وهيجان والثاني يلازمه الهدوء ولكن حقيقتهما واحدة. وسواء صح هذا الرأي أو ذاك فهي مسميات لحقائق واقعة ومعبرة بالواقع لا بالمسمى؛ لأن فاقد الإدراك معفى من العقاب سواء سمي معتوهاً أو مجنوناً أو كان له اسم آخر

“At-Tasyri’ al-Janiy fil Islam, Jilid 2, Halaman 142
Hilangnya kemampuan akal dapat terjadi secara total dan terus-menerus, yang disebut kegilaan mutlak. Atau bisa juga terjadi secara total namun tidak terus-menerus, yang disebut kegilaan terputus-putus. Atau bisa pula terjadi secara sebagian, di mana seseorang kehilangan kemampuan memahami dalam hal tertentu, namun tetap memiliki kemampuan memahami dalam hal lainnya. Hal ini disebut kegilaan sebagian.
Atau bisa jadi kemampuan akal tidak hilang sepenuhnya, namun melemah secara tidak wajar, sehingga pemahaman tidak lenyap sama sekali, namun tidak mencapai tingkat pemahaman normal orang sehat. Kondisi ini disebut kebodohan atau kebodohan tingkat rendah.
Selain itu, ada berbagai manifestasi lain dari hilangnya kemampuan akal yang diberi istilah-istilah tertentu, namun semuanya didasarkan pada satu hal yang sama, yaitu hilangnya kemampuan memahami pada diri manusia. Hukum untuk semua kondisi ini adalah sama, terlepas dari berbagai manifestasinya dan perbedaan istilahnya, yaitu tanggung jawab pidana hilang ketika kemampuan memahami hilang. Jika kemampuan memahami tidak hilang, maka tanggung jawab pidana tetap ada.
Jika seseorang yang mengalami kegilaan terputus-putus sadar kembali secara sebagian, artinya ia tidak memahami sepenuhnya dalam satu atau beberapa hal tertentu, namun memahami sepenuhnya dalam hal lainnya, maka hukum yang berlaku padanya saat sadar sebagian adalah sama dengan hukum bagi orang yang mengalami kegilaan sebagian. Dan jika seseorang yang mengalami kegilaan terputus-putus sadar kembali namun dalam keadaan kesadarannya lemah secara umum, maka hukum yang berlaku padanya adalah sama dengan hukum bagi orang yang bodoh.
Sebagian besar ulama sepakat bahwa kebodohan adalah jenis kegilaan dan tingkat pemahaman pada orang yang bodoh berbeda-beda, namun tidak melampaui tingkat pemahaman anak yang sudah bisa membedakan. Namun, sebagian ulama berpendapat bahwa sebagian orang yang bodoh memiliki tingkat pemahaman seperti anak yang belum bisa membedakan, dan sebagian lainnya seperti anak yang sudah bisa membedakan. Pendapat ini tidak membedakan antara kegilaan dan kebodohan jika orang yang bodoh berada pada tingkat pemahaman yang paling rendah. Oleh karena itu, mereka membedakan antara kegilaan dan kebodohan dengan alasan bahwa kegilaan disertai gangguan dan kegelisahan, sedangkan kebodohan disertai ketenangan, namun pada dasarnya keduanya adalah satu hal.
Terlepas dari benar atau salahnya pendapat ini, semua istilah tersebut hanyalah sebutan untuk kenyataan yang ada dan menggambarkan kenyataan tersebut, bukan sebutan itu sendiri. Karena orang yang kehilangan kemampuan memahami dibebaskan dari hukuman, terlepas dari apakah ia disebut bodoh, gila, atau memiliki sebutan lainnya.”

 

  1. (حاشية البجيرمي على الخطيب – (ج ٤ / ص ٥٩)
    مسألة، فعدم الإعادة مقيد بقيود أربعة. فإن وضعت على حدث وجبت الإعادة إلا في صورة واحدة وهي: ما إذا كانت في غير أعضاء التيمم ولم تأخذ من الصحيح شيئا. والحاصل: أن الجبيرة إن كانت في أعضاء التيمم وجبت الإعادة مطلقا، وإن كانت في غيرها فإن لم تأخذ من الصحيح شيئا فلا إعادة مطلقا، وإن أخذت زيادة على قدر الاستمساك وجبت الإعادة مطلقا، وإن أخذت ما لا بد منه للاستمساك فإن وضعها على طهر، ولم يسهل نزعها فلا قضاء، وإلا بأن وضعها على حدث أو سهل النزع وجب القضاء ا هـ شوبري. وفي حج: ولو غرز إبرة مثلا ببدنه أو انغرزت فغابت أو وصلت لدم قليل لم يضر أو لدم كثير أو لجوف لم تصح الصلاة لاتصالها بنجس ا هـ. قال سم: عليه ومحل عدم الصحة حيث كان طرفها بائنا ظاهرا ا هـ. أقول: وما قيد به قد يؤخذ من قوله فغابت. وقوله: لم تصح إلخ. ينبغي أن محله إذا لم يخف من نزعها ضررا يبيح التيمم، وأن محله أيضا إذا غرزها لغرض، أما إذا غرزها عبثا فتبطل؛ لأنه بمنزلة التضمخ بالنجاسة عمدا، وهو يضر.

(Hasyiah Bajuri pada al-Khatib – Jilid 4, halaman 59)
Masalah: Ketidakwajibannya mengulang wudhu dibatasi oleh empat syarat. Jika (pembal) diletakkan pada saat junub, maka wajib mengulang wudhu, kecuali dalam satu keadaan, yaitu: jika (pembal) itu tidak berada pada anggota yang digunakan untuk tayammum dan tidak mengambil sesuatu dari anggota yang suci.
Kesimpulannya: Jika pembal itu berada pada anggota yang digunakan untuk tayammum, maka wajib mengulang wudhu secara mutlak. Jika berada pada anggota selainnya, dan tidak mengambil sesuatu dari anggota yang suci, maka tidak wajib mengulang wudhu secara mutlak. Jika mengambil lebih dari sekadar untuk menempel, maka wajib mengulang wudhu secara mutlak. Jika mengambil seperlunya untuk menempel, dan jika diletakkan pada saat suci dan sulit untuk dilepas, maka tidak ada qadha. Namun jika diletakkan pada saat junub atau mudah untuk dilepas, maka wajib qadha. Demikian menurut Syubri.
Dalam kitab al-Hujjah disebutkan: Walaupun menusukkan jarum misalnya pada tubuhnya atau jarum tersebut tertanam sehingga hilang atau sampai pada sedikit darah, tidak mengapa. Namun jika sampai pada banyak darah atau pada rongga, maka shalatnya tidak sah karena bersambungan dengan najis.
Kata Syam berkata: Pendapat ini berlaku pada kondisi di mana ujung jarum tersebut terlihat jelas.
Saya katakan: Syarat yang disebutkan oleh Syam ini dapat diambil dari kalimat “sehingga hilang”. Dan kalimat “maka shalatnya tidak sah” dll, menurut saya maksudnya adalah jika tidak khawatir akan bahaya jika mencabutnya sehingga dibolehkan tayammum. Dan juga syaratnya adalah jika menusukkan jarum tersebut dengan sengaja. Adapun jika menusukkannya dengan sia-sia, maka shalatnya batal, karena sama halnya dengan mengoleskan najis dengan sengaja, dan ini membatalkan wudhu.
Penjelasan Singkat:
Teks di atas membahas tentang syarat-syarat batalnya wudhu akibat adanya benda asing (pembal) pada tubuh. Secara umum, jika pembal tersebut mengenai anggota wudhu atau mengambil sesuatu dari anggota suci, maka wudhu menjadi batal. Namun, ada beberapa pengecualian dan syarat yang perlu diperhatikan, seperti jenis pembal, letaknya, dan tujuan menusukkannya.

Kategori
Hukum

Hukum Libur Siswa di Tahun Baru

 

Assalamualaikum
Deskripsi masalah sebagaimana ibarat berikut:

يحرم على المسلمين التشبه بالكفار بإقامة الحفلات بهذه المناسبة، أو تبادل الهدايا أو توزيع الحلوى، أو أطباق الطعام، أو تعطيل الأعمال ونحو ذلك، لقول النبي صلى الله عليه وسلم: “من تشبه بقوم فهو منهم”.

Haram bagi Muslim untuk meniru orang-orang kafir dengan mengadakan perayaan pada kesempatan seperti itu, atau bertukar hadiah atau membagikan permen, atau menyajikan makanan, atau menangguhkan pekerjaan, dan semacamnya, karena Nabi saw bersabda: “Barangsiapa meniru suatu kaum, maka ia termasuk bagian dari mereka.”

Pertanyaanya:

Bagaimana hukumnya dengan siswa yg ikut libur pass tahun baru, karena setiap tahun baru kalender pasti tanggalnya merah🙏🏻🙏🏻

Waalaikum salam
jawaban

Libur pada tanggal merah saat Tahun Baru Masehi bukanlah sesuatu yang secara khusus dimaksudkan untuk merayakan perayaan agama tertentu, melainkan merupakan kebijakan pemerintah sebagai hari libur nasional. Oleh karena itu, hukum bagi siswa atau siapa pun yang memanfaatkan hari libur tersebut bukan termasuk dalam kategori tasyabbuh (menyerupai) yang diharamkan, selama niatnya bukan untuk merayakan acara keagamaan atau tradisi yang bertentangan dengan ajaran Islam.

Penjelasan Ulama tentang Tasyabbuh (Menyerupai Orang Kafir)

Tasyabbuh yang dilarang adalah meniru orang kafir dalam hal yang khusus terkait agama atau simbol keagamaan mereka.

Adapun jika sesuatu sudah menjadi bagian dari kebiasaan umum (urf am), seperti libur nasional yang berlaku untuk semua orang tanpa memandang agama, maka hal itu tidak termasuk dalam tasyabbuh yang diharamkan, dan hal itu merupakan kebijakan pemerintah bagi rakyat yang berdasarkan maslahah. Sebagaimana
Dalam kaidah fiqih, disebutkan kaidah:

تصرف الامام على الرعية منوط بالمصلحة

Artinya: “Kebijakan imam/pemerintah bagi rakyat harus berdasar maslahah,”

Ibnu Taimiyah rahimahullah menjelaskan:
“Sekadar melakukan suatu perkara yang kebetulan mereka (non-Muslim) juga melakukannya, namun tidak ada maksud untuk menyerupai mereka, maka hal itu tidak termasuk dalam larangan tasyabbuh.” (Iqtidha’ Ash-Shirath Al-Mustaqim, 1/241)

Oleh karena itu sebagai Rakyat atau bawahan harus mengikuti aturan pemerintah selama bukan hal yang maksiat sebagaimana Referensi ibarat berikut :

بغية المسترشدين ص : ٩١ دار الفكر
(مسألة ك)

يجب امتثال أمر الإمام فى كل ما له فيه ولاية كدفع زكاة المال الظاهر فإن لم تكن له فيه ولاية وهو من الحقوق الواجبة أو المندوبة جاز الدفع إليه والاستقلال بصرفه فى مصارفه وإن كان المأمور به مباحا أو مكروها أو حراما لم يجب امتثال أمره فيه كما قاله م ر وتردد فيه فى التحفة ثم مال إلى الوجوب فى كل ما أمر به الإمام ولو محرما لكن ظاهرا فقط وما عداه إن كان فيه مصلحة عامة وجب ظاهرا وباطنا وإلا فظاهرا فقط أيضا والعبرة فى المندوب والمباح بعقيدة المأمور ومعنى قولهم ظاهرا أنه لا يأثم بعدم الامتثال ومعنى باطنا أنه يأثم اهـ قلت وقال ش ق والحاصل أنه تجب طاعة الإمام فيما أمر به ظاهرا وباطنا مما ليس بحرام أو مكروه فالواجب يتأكد والمندوب يجب وكذا المباح إن كان فيه مصلحة كترك شرب التنباك إذا قلنا بكراهته لأن فيه خسة بذوى الهيآت وقد وقع أن السلطان أمر نائبه بأن ينادى بعدم شرب الناس له فى الأسواق والقهاوى فخالفوه وشربوا فهم العصاة ويحرم شربه الآن امتثالا لأمره ولو أمر الإمام بشىء ثم رجع ولو قبل التلبس به لم يسقط الوجوب اه.

(Masalah K)

Wajib menaati perintah imam dalam segala hal yang ia memiliki wewenang di dalamnya, seperti kewajiban membayar zakat harta yang tampak (zakat al-mal az-zahir). Jika imam tidak memiliki wewenang dalam hal tersebut, tetapi berkaitan dengan hak yang wajib atau sunnah, maka boleh diserahkan kepadanya atau disalurkan secara mandiri ke pos-pos yang semestinya. Jika yang diperintahkan adalah sesuatu yang mubah, makruh, atau haram, maka tidak wajib menaati perintahnya dalam hal tersebut, sebagaimana dijelaskan oleh Imam ar-Ramli. Namun, dalam kitab Tuhfah, terdapat keraguan mengenai hal ini. Kemudian pendapat yang lebih condong adalah wajib menaati imam dalam semua yang ia perintahkan, meskipun haram, tetapi hanya pada perkara yang tampak (zahir). Adapun selainnya, jika terdapat kemaslahatan umum, maka wajib menaati baik secara zahir maupun batin. Jika tidak, maka hanya wajib secara zahir.

Adapun patokan untuk perintah yang sunnah dan mubah adalah berdasarkan keyakinan orang yang diperintah. Makna perkataan mereka “zahir” adalah tidak berdosa jika tidak menaati perintah tersebut. Sedangkan makna “batin” adalah berdosa jika tidak menaati perintah tersebut.

Saya (penulis) berkata: Imam asy-Syarqawi menyatakan bahwa kesimpulannya adalah wajib menaati imam, baik secara zahir maupun batin, dalam perkara yang bukan haram atau makruh. Kewajiban itu semakin ditekankan dalam perkara yang wajib, sedangkan yang sunnah menjadi wajib ditaati, begitu juga yang mubah jika di dalamnya terdapat kemaslahatan. Misalnya, meninggalkan rokok tembakau (tanbak) jika dikatakan makruh karena dianggap merendahkan martabat orang-orang terhormat (dzawil hay’at).

Pernah terjadi, seorang sultan memerintahkan wakilnya untuk mengumumkan larangan merokok di pasar-pasar dan kedai-kedai kopi. Namun, masyarakat melanggarnya dan tetap merokok. Maka mereka dihukumi sebagai orang-orang yang durhaka. Saat ini, merokok menjadi haram sebagai bentuk ketaatan pada perintah imam. Jika imam memerintahkan sesuatu, lalu ia menarik kembali perintah tersebut—meskipun sebelum orang yang diperintah memulai pelaksanaannya—kewajiban untuk menaati perintah itu tidak gugur.

Referensi:

تحفة الأحوذي – (ج ٥ / ص ٢٩٨)
باب ما جاء لا طاعة لمخلوق في معصية الخالق
[١٧٠٧] قوله ( السمع الأولى الأمر بإجابة أقوالهم ( والطاعة ) لأوامرهم وأفعالهم ( على المرء المسلم ) أي حق وواجب عليه ( فيما أحب وكره ) أي فيما وافق غرضه أو خالفه ( ما لم يؤمر ) أي المسلم من قبل الإمام نية تكرة الإحرام دان نكبو أو نتو كوعي بمعصية ) أي بمعصية الله فإن أمر بمعصية فلا سمع عليه ولا طاعة ) يجب بل يحرم إذ لا طاعة لمخلوق في معصية الخالق وفيه أن الإمام إذا أمر بمنكر أو ما وجب قال الطيبي يعني سمع كلام الحاكم وطاعته واجب على كل مسلم سواء أمر بما يوافق طبعه أو لم يوافقه بشرط أن لا يأمره بمعصية، فإن أمره بها فلا تجوز طاعته، ولكن لا يجوز له محاربة الإمام وقال النووي في شرح مسلم قال جماهير أهل السنة من الفقهاء والمحدثين والمتكلمين لا يعزل الإمام بالفسق والظلم وتعطيل الحقوق ولا يخلع ولا يجوز الخروج عليه بل يجب وعظه وتخويفه بالأحاديث الواردة في ذلك.

Tuhfat al-Ahwadzi – (Juz 5 / Halaman 298)
Bab tentang larangan menaati makhluk dalam kemaksiatan kepada Sang Pencipta.
[1707] Sabda beliau: “(As-Sam’u) yang pertama adalah perintah untuk menaati perkataan mereka (wa ath-tha’ah) dan ketaatan terhadap perintah dan tindakan mereka (ala al-mar’i al-muslim) yaitu kewajiban dan hak yang harus dipenuhi (fima ahabba wa kariha) baik yang sesuai dengan keinginannya maupun yang tidak disukainya (ma lam yu’mar) yakni selama seorang Muslim tidak diperintahkan oleh imam untuk melakukan maksiat kepada Allah. Jika ia diperintahkan untuk bermaksiat, maka tidak ada kewajiban mendengar atau menaati, bahkan itu diharamkan. Karena tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam kemaksiatan kepada Sang Pencipta. Dalam hal ini, jika seorang imam memerintahkan kemungkaran atau sesuatu yang tidak diwajibkan, Ath-Thibi berkata bahwa mendengar perkataan penguasa dan menaati perintahnya wajib bagi setiap Muslim, baik sesuai dengan keinginannya atau tidak, dengan syarat tidak diperintahkan untuk bermaksiat. Jika ia diperintahkan untuk bermaksiat, maka tidak boleh ditaati. Akan tetapi, tidak diperbolehkan memerangi imam. An-Nawawi berkata dalam syarah Shahih Muslim, bahwa mayoritas ulama Ahlus Sunnah dari kalangan fuqaha, ahli hadis, dan teolog menyatakan bahwa seorang imam tidak boleh dicopot karena kefasikan, kezaliman, atau menelantarkan hak-hak. Tidak diperbolehkan memberontak kepadanya, tetapi wajib menasihatinya dan memperingatkannya dengan hadis-hadis yang berkaitan dengan hal tersebut.

غاية البيا شرح زبد إبن رسلان ج١ ص ١٥
لم يجز في غير محض الكفر خروجنا على ولي الأمر أي يحرم الخروج على ولي الأمر وقتاله باجماع المسلمين لما يترتب على ذلك من فتن وإراقة الدماء وفساد ذات البين فتكون المفسدة في عزله أكثر منها في بقائه ولأننا تحت طاعته في أمره ونهيه ما لم يخالف حكم الشرع وإن كان جائرا قال النووي في شرح مسلم إن الخروج عليهم وقتالهم حرام باجماع المسلمين وإن كانوا فسقه ظالمين اهو هو محمول على الخروج عليهم بلا عذر ولا تأويل وخرج بقول المصنف ولى الأمر مالو طرأ عليه كفر فإنه يخرج عن حكم الولاية وتسقط طاعته ويجب على المسلمين القيام عليه وقتاله ونصب غيره إن أمكنهم ذلك ويمكن أن يستفاد هذا من قوله في غير محض الكفر بجعل ( في ) للتعليل كما في قوله تعالى { لمسكم فيما أفضتم } أي لم يجز لأجل غير محض الكفر خروجنا على ولي الأمر.

“Tidak dibolehkan keluar melawan pemimpin kecuali dalam keadaan kafir yang nyata. Artinya, keluar melawan pemimpin dan memeranginya adalah haram berdasarkan kesepakatan seluruh umat Islam. Hal ini karena akan menimbulkan fitnah, pertumpahan darah, dan kerusakan hubungan antar manusia. Kerusakan yang ditimbulkan akibat menyingkirkannya lebih besar daripada membiarkannya tetap berkuasa. Selain itu, kita berada di bawah ketaatannya dalam perintah dan larangannya selama tidak bertentangan dengan hukum syariah, meskipun ia zalim. Al-Nawawi dalam Syarh Muslim menyatakan bahwa keluar melawan mereka dan memerangi mereka adalah haram berdasarkan kesepakatan seluruh umat Islam, meskipun mereka fasik dan zalim. Kata ‘ahu’ di sini merujuk pada keluar melawan mereka tanpa alasan yang jelas dan tanpa tafsir lain. Kalimat ‘waliul amr malu thara’ alaihi kufr’ yang digunakan oleh penulis berarti apabila seorang pemimpin melakukan kekufuran, maka ia keluar dari kedudukannya sebagai pemimpin dan ketaatan kepadanya gugur. Maka, umat Islam wajib memberontak dan memeranginya serta mengangkat pemimpin lain jika mereka mampu. Hal ini dapat disimpulkan dari kalimat ‘fi ghair mahdhil kufr’ yang menggunakan kata ‘fi’ untuk menunjukkan sebab akibat, seperti dalam firman Allah ‘limaskum fi ma afadtum’. Artinya, tidak dibolehkan keluar melawan pemimpin kecuali dalam keadaan kafir yang nyata.”
Penjelasan Singkat:
Teks di atas menjelaskan tentang hukum keluar melawan pemimpin (pemberontakan) dalam Islam. Intinya adalah:
* Hukum Dasar: Keluar melawan pemimpin adalah haram kecuali jika pemimpin tersebut melakukan kekufuran yang nyata.
* Alasan: Hal ini karena akan menimbulkan kerusakan yang lebih besar, seperti fitnah, pertumpahan darah, dan kerusakan hubungan sosial.
* Pengecualian: Jika pemimpin melakukan kekufuran yang jelas, maka ketaatan kepadanya gugur dan umat Islam boleh memberontak.

الفتاوى الكبرى الفقهية، ٤/٢٣٨-٢٣٩)
وسئل الإمام شهاب الدين أحمد بن حجر الهيتمي المكي رحمه الله تعالى ورضي عنه، هل يحل اللعب بالقسى الصغار التي لا تنفع، ولا تقتل صيداً، بل أعدت للعب الكفار وأكل الموز الكثير المطبوح بالشكر والباس الصبيان الثياب وإعطاء الأثواب والمصروف لهم فيه إذا كان بينه وبينهم تعلق من كون أحديهما أجيراً للآخر من قبيل تعظيم النيروز ونحوه فإن الكفار صغارهم وكبيرهم وضيعهم ورفيعهم حتى ملوكهم يعتنون بهذا القسى الصغار واللعب بها وبأكل الموز الكثير المطبوح بالشكر اعتناء كثيراً وكذلك بالباس الصبيان الثياب المصفرة وإعطاء الأثواب والمصروف لمن يتعلق بهم وليس لهم في ذلك اليوم عبادة صنم ولا غيره وذلك إذا كان القمر سعد الذابح في برج الأسد وجماعة من المسلمين إذا رأوا أفعالهم يفعلون مثلهم فهل يكفر ويأثم المسلم إذا عمل مثل عملهم من غير اعتقاد تعظيم عيدهم ولا اقتداء بهم أولاً؟
(فأجاب) نفع الله تعالى بعلومه المسلمين بقوله، لا كفر بفعل شيء من ذلك، فقد صرح أصحابنا بأن لو شد الزنار على وسطه أو وضع على رأسه فلنوسة المجوس لم يكفر بمجرد ذلك اهـ فعدم كفره بما في السؤال أولى وهو ظاهر، بل فعل شيء مما ذكر فيه لا يحرم إذا قصد به النشبه بالكفار لا من حيث الكفر، وإلا كان كافراً قطعاً. فالحاصل أنه إن فعل ذلك بقصد التشبه بهم في شعار الكفر كفر قطعاً، أو في شعار العيد مع قطع النظر عن الكفر لم يكفر، ولكنه يأثم وإن لم يقصد التشبه بهم أصلاً ورأسا فلا شيء عليه اهـ

(Al-Fatawa al-Kubra al-Fiqhiyyah, 4/238-239)
Dan Imam Syahiduddin Ahmad bin Hajar al-Haytami al-Makki rahimahullah wa radhiyallahu ‘anhu ditanya, apakah dihalalkan bermain dengan panah-panah kecil yang tidak berguna dan tidak bisa membunuh buruan, melainkan dipersiapkan untuk permainan orang-orang kafir, dan makan pisang yang banyak ditaburi dengan jintan, serta memakaikan anak-anak pakaian dan memberi mereka pakaian dan uang saku di dalamnya, jika antara mereka ada hubungan seperti salah satunya menjadi pekerja untuk yang lain, seperti dalam rangka memuliakan perayaan Nowruz (tahun baru Persia) dan semacamnya. Karena orang-orang kafir, baik kecil maupun besar, baik rendah maupun tinggi, bahkan raja-raja mereka, sangat memperhatikan panah-panah kecil ini, bermain dengannya, dan makan pisang yang banyak ditaburi dengan jintan, begitu juga dengan memakaikan anak-anak pakaian kuning dan memberi pakaian dan uang saku kepada orang yang memiliki hubungan dengan mereka, dan mereka tidak memiliki ibadah kepada berhala atau yang lainnya pada hari itu, dan itu terjadi ketika bulan berada pada posisi bulan sabit yang memotong di rasi singa, dan sekelompok Muslim ketika melihat perbuatan mereka, mereka melakukan hal yang sama. Maka apakah seorang Muslim akan kafir dan berdosa jika dia melakukan hal yang sama seperti mereka tanpa niat memuliakan hari raya mereka atau meniru mereka pada awalnya?
(Beliau menjawab), semoga Allah Ta’ala bermanfaat bagi para Muslim dengan ilmunya, beliau berkata, “Tidak ada kekufuran dalam melakukan sesuatu hal dari itu. Karena para ulama kami telah menyatakan dengan jelas bahwa jika seseorang mengikat ikat pinggang di pinggangnya atau memakai sorban seperti Majusi, dia tidak akan kafir hanya dengan itu. Maka tidak adanya kekufuran dalam masalah yang ditanyakan lebih utama dan jelas. Bahkan melakukan sesuatu yang disebutkan di dalamnya tidak haram jika niatnya adalah menyerupai orang-orang kafir bukan dari segi kekufuran, jika tidak maka dia pasti kafir. Kesimpulannya adalah jika dia melakukan itu dengan niat menyerupai mereka dalam simbol kekufuran, maka dia pasti kafir, atau dalam simbol hari raya dengan mengabaikan kekufuran, maka dia tidak kafir, tetapi dia berdosa, meskipun dia tidak berniat menyerupai mereka pada awalnya dan secara langsung, maka tidak ada sesuatu pun padanya.”

Arti sederhana Imam Ahmad bin Hajar ditanya tentang hukum bermain dengan mainan anak-anak dan mengikuti kebiasaan orang kafir dalam merayakan hari raya mereka. Beliau menjawab bahwa melakukan hal tersebut tidak menjadikan seseorang kafir, kecuali jika niatnya adalah untuk meniru ajaran agama mereka yang sesat.

Kesimpulan Hukum Libur Tahun Baru Masehi bagi Siswa.
1. Bukan Termasuk Tasyabbuh yang Diharamkan:
Libur pada tanggal merah Tahun Baru Masehi bukanlah bentuk tasyabbuh (menyerupai orang kafir) yang diharamkan, karena libur tersebut merupakan kebijakan pemerintah sebagai hari libur nasional yang berlaku untuk semua warga negara, tanpa memandang agama.
2. Tidak Ada Niat Merayakan Hari Raya Keagamaan:
Jika siswa atau siapa pun hanya memanfaatkan hari libur untuk istirahat atau aktivitas yang mubah (diperbolehkan), tanpa adanya niat untuk merayakan Tahun Baru dengan unsur ritual atau simbol keagamaan yang bertentangan dengan Islam, maka hukumnya boleh.
3. Kebijakan Pemerintah Berdasarkan Maslahat Umum:
Berdasarkan kaidah fiqih:

“تصرف الامام على الرعية منوط بالمصلحة”

“Kebijakan imam/pemerintah bagi rakyat harus berdasar pada kemaslahatan umum.”
Kebijakan libur nasional bertujuan untuk kemaslahatan bersama, bukan sebagai bagian dari perayaan keagamaan tertentu.
4. Penjelasan Ibnu Taimiyah:
Jika seseorang melakukan sesuatu yang kebetulan juga dilakukan oleh non-Muslim, namun tanpa maksud untuk menyerupai atau merayakan simbol agama mereka, maka hal itu tidak termasuk dalam larangan tasyabbuh (Iqtidha’ Ash-Shirath Al-Mustaqim, 1/241).
5. Ketaatan pada Pemerintah dalam Hal yang Bukan Maksiat:
Berdasarkan kitab Bughiyah al-Mustarsyidin (hlm. 91), wajib menaati kebijakan pemerintah dalam hal yang mendatangkan maslahat dan tidak bertentangan dengan syariat.

6. Hukum Bergantung pada Niat:
Sebagaimana dijelaskan dalam Al-Fatawa al-Kubra al-Fiqhiyyah (4/238-239), jika tidak ada niat untuk menyerupai atau memuliakan simbol agama tertentu, maka tidak ada dosa.
Kesimpulan Akhir:
Siswa yang memanfaatkan libur pada Tahun Baru Masehi, selama tidak disertai niat merayakan simbol keagamaan atau ritual yang bertentangan dengan Islam, hukumnya diperbolehkan dan tidak termasuk dalam larangan tasyabbuh. Yang perlu dihindari adalah mengikuti perayaan dengan unsur keyakinan atau ritual agama yang bertentangan dengan Islam.Wallahu A’lam Bishawab.

Kategori
Hukum

Syarat Sah Azan: Waktu, Niat, dan Ketentuan Khusus Azan Subuh, untuk Sholat dan Puasa

Assalamualaikum

Deskripsi Masalah/Latar Belakang:

Waktu sahur merupakan salah satu momen penting dalam pelaksanaan ibadah puasa, di mana umat Islam dianjurkan untuk makan dan minum sebelum datangnya waktu fajar sebagai persiapan untuk menjalankan ibadah puasa. Penanda masuknya waktu Subuh, yang juga menandai berakhirnya waktu sahur, umumnya adalah adzan Subuh. Namun, dalam praktiknya, sering terjadi perbedaan waktu antara masjid satu dengan masjid lainnya dalam mengumandangkan adzan.

Permasalahan muncul ketika seseorang yang sedang makan sahur mendengar adzan Subuh dari masjid di wilayah tetangga, sedangkan masjid di dekat rumahnya masih melantunkan sholawat (الصلاة والسلام عليك) atau belum mengumandangkan adzan. Hal ini memicu kebingungan:

Pertanyaan: Apakah adzan yang pertama kali terdengar sudah menandakan waktu Subuh dan mengharuskan orang tersebut untuk segera menghentikan makan dan minumnya, ataukah ia masih boleh melanjutkan sahur hingga masjid terdekat mengumandangkan adzan?

Masalah ini menjadi penting untuk dibahas karena berkaitan langsung dengan sah atau tidaknya puasa seseorang, serta memerlukan pemahaman yang tepat mengenai batas waktu sahur yang ditentukan oleh syariat. Mohon jawaban / penjelasan berikut dengan dalilnya.

Waalaikum salam

Jawaban: Untuk mengetahui adzan sebagai tanda masuknya waktu shalat Subuh sekaligus menandakan larangan makan dan minum bagi orang yang berpuasa, maka hendaknya melihat terbitnya fajar terlebih dahulu. Dalam syariat terdapat dua fajar, yaitu:

1. Fajar Kadzib (fajar yang salah) – waktu fajar ini muncul lebih dulu dan tidak menghalalkan shalat atau mengharamkan makan. Biasanya adzan pertama dilantunkan saat fajar kadzib untuk memberi peringatan, namun tidak mengharuskan seseorang untuk berhenti makan sahur.

2. Fajar Shadiq (fajar yang benar) – masuknya waktu Subuh, di mana adzan kedua menandakan dimulainya waktu shalat Subuh dan mengharamkan makan dan minum bagi orang yang berpuasa.

Jika adzan yang terdengar adalah adzan pertama (Fajar Kadzib), maka orang yang masih makan sahur tetap diperbolehkan melanjutkan makan meskipun masjid di wilayah tetangga sudah mengumandangkan adzan. Namun, jika yang terdengar adalah adzan kedua (Fajar Shadiq), yang menandakan masuknya waktu sholat Subuh, maka tidak diperbolehkan lagi makan sahur.

Dalil Hadits: Dari Jabir radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Fajar itu ada dua: adapun fajar yang muncul seperti ekor serigala (fajar kadzib), maka ia tidak menghalalkan shalat dan tidak mengharamkan makanan. Sedangkan fajar yang menjalar di ufuk (fajar shadiq), maka ia menghalalkan shalat dan mengharamkan makanan.” (HR. Muslim)

Adapun untuk penjelasan lebih lanjut, kitab “الفجر فجران” karya Adnan Al-Ar’ur menjelaskan bahwa waktu antara fajar kadzib dan fajar shadiq berkisar antara 1 hingga 25 menit, bergantung pada musim. Oleh karena itu, disyariatkan adanya dua adzan: pertama sebagai peringatan dan kedua sebagai tanda masuknya waktu Subuh.

Kesimpulan: Jika adzan yang terdengar adalah adzan pertama (fajar kadzib), orang yang sedang makan sahur masih diperbolehkan melanjutkan makan. Namun, jika sudah terdengar adzan kedua (fajar shadiq), maka saat itu waktu Subuh telah masuk, dan makan sahur tidak diperbolehkan lagi.

Semoga penjelasan ini bermanfaat dan memberikan pemahaman yang lebih jelas tentang hukum mendengar adzan Subuh saat sahur.

Referensi:

 المكتبة الشاملة كتاب الفجر فجران
[عدنان العرعور]
مسائل فقهية ص٢
فهرس الكتاب  المسألة الأولى: الأكل والشرب حتى بعد طلوع الفجر الصادق

– وعن جابر رضي الله عنه قال: قال رسول الله – صلى الله عليه وسلم -: ((الفجر فجران؛ فأما الفجر الذي يكون كذنب السرحان، وهو الكاذب فلا يُحِل الصلاة ولا يُحرم الطعام، وأما الفجر الذي يذهب مستطيلاً في الأفق، وهو الفجر الصادق فإنه يُحل الصلاة ويُحرم الطعام)) (١).
وبهذا يُعلم أن الفجر فجران: فجر كاذب يطلع أولاً، ويظهر نوره على شكل ذنب السرحان (الذئب) – أي: عموداً في الأفق ومن الأسفل دقيقا ومن الأعلى كبيراً عريضاً – وفجر صادق، يطلع بعد الفجر الكاذب، ويكون موازياً للأفق .. وزمن ما بينهما من ١ – ٢٥ دقيقة تتفاوت حسب فصول السنة.
ولأجل هذا شُرع للفجر أذانان؛ الأول: مع الفجر الكاذب، وهو تنبيهي، ينبه على قرب طلوع الفجر الصادق، وغايته: أن يتعجل المتسحِّر، ويستيقظ النائم، ويرجع القائم، ويتجهز الناس للصلاة، وهذا الأذان لا يُحرم الطعام، ولا يُحل صلاة الفجر، ويسمى في بعض البلدان – خطأً – أذان الإمساك! إذ يلزمون الناس – غلواً – أن يمسكوا عن الطعام عند سماعة قبل الفجر الصادق، وهذا الأذان الأول هو الذي يقال فيه: (الصلاة خير من النوم).
والأذان الثاني: أذان الفجر الصادق، وهو الذي يُحرم الطعام للصائم، ويُبيح صلاة الفجر للمصلي، غير أن الشارع قد استثنى من ذلك حالة واحدة وهي: مَن كان يأكل وأذَّن المؤذِّن للفجر الصادق، فيباح له قضاء حاجته من الطعام على وجه العجلة … وذلك لقول النبي – صلى الله عليه وسلم -: ((إذا سمع أحدكم النداء، والإناء على يده، فلا يضعه، حتى يقضي حاجته منه)) (٢).
والمقصود بالأذان هاهنا: أذان الفجر الصادق لما يلي:
الأول: إباحة الرسول – صلى الله عليه وسلم – الطعام بعد الأذان الأول آذان الفجر الكاذب، ((فأما الفجر الذي يكون كذنب السرحان فلا يُحل الصلاة، ولا يُحرم الطعام))، وعلى هذا؛ فسواء كان الطعام على يده أو ليس عليها، فإنه يباح للصائم الأكل بعد الفجر الكاذب، ولذا؛ فلا معنى لحمل الحديث على الأذان الأول.
الثاني: قوله صلى الله عليه وسلم: ((إن بلالاً يؤذن بليل … ))، ومن المعلوم أن الطعام لم يحرم للصائم في الليل – بالكتاب والسنة والإجماع -.
(١) – صحيح الجامع [٤٢٧٨]
(٢) – صحيح الجامع [٦٠٧].

Kitab “الفجر فجران” (Adnan Al-Ar’ur)

Judul Bab: Masalah Pertama: Makan dan Minum Hingga Setelah Terbit Fajar Shadiq

Dari Jabir radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Fajar itu ada dua: adapun fajar yang muncul seperti ekor serigala (fajar kadzib), maka ia tidak menghalalkan shalat dan tidak mengharamkan makanan. Sedangkan fajar yang menjalar di ufuk (fajar shadiq), maka ia menghalalkan shalat dan mengharamkan makanan.” (1)

Dari sini diketahui bahwa fajar itu ada dua: fajar kadzib yang muncul lebih dahulu, cahayanya tampak seperti ekor serigala — yaitu memanjang di ufuk dengan bagian bawahnya kecil dan bagian atasnya lebih besar dan lebar. Fajar shadiq muncul setelah fajar kadzib dan cahayanya memanjang secara horizontal di ufuk. Waktu antara keduanya berkisar antara 1 hingga 25 menit, bergantung pada perbedaan musim sepanjang tahun.

Karena itulah, disyariatkan adanya dua adzan fajar:

1. Adzan pertama: Bertepatan dengan fajar kadzib, bersifat tanbihiy (peringatan). Tujuannya adalah untuk membangunkan orang yang tidur, memberi tahu orang yang makan sahur untuk menyelesaikannya, serta mempersiapkan orang-orang untuk shalat. Adzan ini tidak mengharamkan makanan bagi orang yang berpuasa dan tidak membolehkan shalat fajar. Di beberapa negara, adzan ini disebut —secara keliru— sebagai adzan imsak, yang membuat sebagian orang menahan makan lebih awal, padahal seharusnya tidak demikian. Adzan pertama inilah yang di dalamnya dikumandangkan kalimat: “Shalat lebih baik daripada tidur.”

2. Adzan kedua: Bertepatan dengan fajar shadiq. Adzan ini mengharamkan makan bagi orang yang berpuasa dan membolehkan shalat fajar. Namun, terdapat pengecualian bagi orang yang sedang makan ketika adzan fajar shadiq berkumandang. Ia diperbolehkan untuk menyelesaikan makannya dengan cepat. Hal ini berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:

“Jika salah seorang di antara kalian mendengar adzan, sedangkan wadah (makanan/minuman) berada di tangannya, maka janganlah ia meletakkannya hingga ia menyelesaikan kebutuhannya darinya.” (2)

Yang dimaksud adzan di sini adalah adzan fajar shadiq, dengan alasan berikut:

1. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membolehkan makan setelah adzan pertama (fajar kadzib). Sabda beliau: “Adapun fajar yang seperti ekor serigala, maka ia tidak menghalalkan shalat dan tidak mengharamkan makanan.” Dengan demikian, baik makanan itu berada di tangan seseorang atau tidak, maka diperbolehkan makan setelah fajar kadzib. Oleh karena itu, hadits tersebut tidak mungkin dimaknai dengan adzan pertama.

2. Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Sesungguhnya Bilal mengumandangkan adzan di waktu malam…” Telah diketahui bahwa di malam hari, makanan tidak diharamkan bagi orang yang berpuasa, berdasarkan Al-Qur’an, Sunnah, dan ijma’ ulama.

Referensi kitab tersebut adalah Hadits:
(1) Shahih Al-Jami’ [4278]
(2) Shahih Al-Jami’ [607]

إعانة الطالبين .ج ١ص ٢٢٨
(فصل فى الآذان والإقامة ) أى فى بيان حكمهما وشروطها وسننهما ( قوله هما لغة الإعلام ) فيه أن الآذان فقط لغة الإعلام قال تعالى وأذن فى الناس بالحج أى أعلمهم به واماالإقامة فهى لغة مصدر أقام أى حصل القيام فهما مختلفان لغة كما فى التحفة والنهاية والمغنى فكان الأولى أن يزيد وتحصيل القيام ويكون على التوزيع الأول والثانى للثانى ثم رأيت فى فتح الجواد مثل ماذكره الشارح فلعله تبعه فى ذلك ولكن الايراد باق ويكون عليهما…
( قوله وشرعا) معطوف على لغة وقوله ماعرف به من الألفاظ المشهورة وهى الله أكبر الله أكبر الخ وهى كماقال القاضى عياض كلمات جامعة لعقيدة الإيمان مشتملة على نوعيه العقلية السمعية فأولها فيه إثبات ذاته تعالى وماتستحقه من الكمال بقوله الله أكبر أى أعظم من كل شيئ ثم الشهادة بالوحدانية له بقوله أشهد أن لاإله إلا الله وبالرسالة لسيدنامحمد صلى الله عليه وسلم بقوله وأشهد أن محمدا رسول الله ثم الدعاء إلى الصلاة بقوله حى على الصلاة أى أقبلوا عليها ولاتكسلوا عنها فحى إسم فعل أمر بمعنى أقبلوا ثم الدعاء إلى الفلاح بقوله حى على الفلاح أى أقبلوا على سبب الفلاح وهو الفوز والظفر بالمقصود وسببه هو الصلاة فهو تأكيد لما قبله بعد تأكيد وتكرير بعد تكرير وفيه إشعار بأمور الآخرة من البعث والجزاء لتضمن الفلاح لذلك ثم كرر التكبير لمافيه من التعظيم له تعالى وختم بكلمة التوحيد لأن مدار الأمر عليه جعلنا الله وأحييتنا عند الموت ناطقين بها عالمين بمعناها وقوله فيهما أى الآذان والإقامة واعلم أنه اختلف في الاذان هل شرع للاعلام بدخول الوقت؟ أو شرع للاعلام بالصلاة المكتوبة؟ على قولين للامام الشافعي رضي الله عنه، والراجح الثاني، وأما الأول فهو مرجوح، وينبني على القولين أنه لا يؤذن للفائتة على المرجوح لان وقتها قد فات، ويؤذن لها على الراجح لان الاذان حق للصلاة لا للوقت.(قوله: والأصل فيهما) أي الدليل على مشروعية الأذان والإقامة. وقوله: الاجماع إلخ هكذا في التحفة.
والذي في النهاية والمغنى والأسنى الأصل فيهما قبل الاجماع، قوله تعالى: * (إذا نودي للصلاة من يوم الجمعة) * وقوله تعالى: * (وإذا ناديتم إلى الصلاة) * وما صح من قوله (ص): إذاأقيمت الصلاة فليؤذن لكم أحدكم. اه‍. وقوله: المسبوق صفة للاجماع. وقوله: برؤية عبد الله إلخ فإن قيل: رؤية المنام لا يثبت بها حكم. أجيب بأنه ليس مستندا لاذان الرؤيا فقط، بل وافقها نزول الوحي. فالحكم ثبت به لا بها. ويؤيده رواية عبد الرازق وأبي داود في المراسيل، من طريق عبيد بن عمير الليثي، أحد كبار التابعين، أن عمر لما رأى الاذان جاء ليخبر النبي (ص فوجد الوحي قد ورد بذلك، فما راعه إلا أذان بلال، فقال له النبي (ص): سبقك بذلك الوحي. (قوله: ليلة تشاوروا) الظرف متعلق برؤية، وواو الجماعة عائد على النبي (ص) ومن معه من الصحابة. وقوله: فيما يجمع الناس أي في الامر الذي يكون سببا لجمع الناس للصلاة. (قوله: وهي) أي رؤية الاذان من حيث هي، بقطع النظر عن كونها صدرت من عبد الله، وإلا لحصل ركة بقوله بعد عن عبد الله. (قوله: لما أمر النبي (ص)) أي بعد اتفاقهم عليه. وكتب ع ش ما نصه: قوله: لما أمر النبي (ص) إلخ. عبارة حجر تفيد عدم أمره (ص)، ويوافقه ما في سيرة الشامي حيث قال: اهتم (ص) كيف يجمع الناس للصلاة، فاستشار الناس فقيل: انصب راية. ولم يعجبه ذلك، فذكر له القنع – وهو البوق – فقال: هو من أمر اليهود.
فذكر له الناقوس فقال: هو من أمر النصارى. فقالوا: لو رفعنا نارا؟. فقال: ذاك للمجوس. فقال عمر: أو لا تبعثون رجلا ينادي بالصلاة؟ فقال (ص): يا بلال قم فناد بالصلاة. قال النووي: هذا النداء دعاء إلى الصلاة  غيرالأذان، كأن شرع قبل الاذان. قال الحافظ ابن حجر: وكان الذي ينادي به بلال: الصلاة جامعة. اه‍. وهو كما ترى مشتمل على النهي عن الناقوس والامر بالذكر. اه‍. (قوله: بالناقوس) قال في المصباح: هو خشبة طويلة يضربها النصارى إعلاما للدخول في صلاتهم. (قوله: يعمل) أي يصنع. (قوله: ليضرب به للناس) عبارة غيره: ليضرب به الناس، بحذف لام الجر. وعليها يكون الناس فاعل يضرب، وعلى عبارة شارحنا يكون الفعل مبنيا للمجهول، وبه نائب فاعل، وللناس متعلق بالفعل. وقوله: لجمع الصلاة أي لاجتماع الناس لها. فالإضافة لأدنى ملابسة. والجار والمجرور إما بدل من الجار والمجرور قبله أو متعلق بالفعل، وتجعل اللام للتعليل، وبه يندفع ما يقال إنه يلزم عليه تعلق حرفي جر بمعنى واحد بعامل واحد. وهو لا يصح. وحاصل الدفع أن الحرفين ليسا بمعنى واحد، لان الثاني للتعليل والأول للتعدية.(قوله: طاف إلخ) جواب لما. وقوله: وأنا نائم الجملة حالية، وهي معترضة بين الفعل وفاعله وهو رجل. (قوله:فقال) أي الرجل لعبد الله. وقوله: وما تصنع به أي بالناقوس. (قوله: ثم استأخر) أي الرجل. (قوله: فقال) أي النبي (ص). وقوله: إنها أي رؤيتك يا عبد الله. وقوله: حق أي صادقة. وهو بالرفع صفة لرؤيا أو بالجر على أنه مضاف إليه ما قبله، وهي من إضافة الموصوف للصفة. (قوله: فألق عليه ما رأيت) أي لقنه ما رأيته منامك. (قوله فليؤذن به) أي فليؤذن بلال بما رأيت. وفي ع ش ما نصه: ذكر بعضهم في مناسبة اختصاصه – أي بلال – بالاذان دون غيره، كونه لما عذب ليرجع عن الاسلام فلم يرجع وجعل يقول: أحد أحد. جوزي بولاية الاذان المشتمل على التوحيد في ابتدائه وانتهائه. اه‍ حواشي المواهب لشيخنا الشوبري. (قوله: فإنه) أي بلالا. وقوله: أندى صوتا منك أي أرفع وأعلى. وقيل: أحسن وأعذب. وقيل: أبعد. (قوله: فقمت مع بلال) أي فامتثلت أمر النبي (ص) إلخ، وقمت مع بلال.
وقوله: فجعلت ألقيه أي ما رأيته. وقوله: عليه أي على بلال. (قوله: فيؤذن) أي بلال.

Kitab I‘ânah Ath-Thâlibîn, Juz 1, Halaman 228

(Bab tentang Adzan dan Iqamah) – yaitu dalam penjelasan hukum, syarat, dan sunnah keduanya. (Perkataan: “keduanya secara bahasa berarti pemberitahuan”) — Di sini terdapat catatan bahwa secara bahasa, adzan saja yang berarti pemberitahuan. Allah Ta‘ala berfirman: “Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji” (QS. Al-Hajj: 27), yakni beritahukanlah kepada mereka. Adapun iqamah, secara bahasa adalah bentuk mashdar dari aqaama yang berarti menegakkan atau mendirikan. Maka keduanya berbeda secara bahasa, sebagaimana disebutkan dalam kitab Tuhfah, Nihayah, dan Mughni. Oleh karena itu, lebih baik ditambahkan kata “dan mendirikan shalat” untuk membedakan keduanya. Kemudian, aku menemukan dalam kitab Fathul Jawad penjelasan yang sama dengan yang disampaikan oleh penulis. Barangkali, ia hanya mengikutinya dalam hal ini, tetapi kritik tersebut tetap ada.

(Perkataan: “dan secara syara‘”) — Ini dihubungkan dengan “secara bahasa”. (Perkataan: “adalah lafaz-lafaz yang sudah masyhur”) — yaitu “Allahu Akbar, Allahu Akbar” dan seterusnya. Menurut Qadhi Iyadh, lafaz-lafaz ini mencakup pokok-pokok aqidah iman, baik yang bersifat rasional (aqliyah) maupun yang bersifat pendengaran (sam’iyyah). Awalnya terdapat penegasan akan keberadaan Allah Ta‘ala dan kesempurnaan-Nya dengan kalimat “Allahu Akbar”, yang berarti “Allah Maha Besar dari segala sesuatu”. Kemudian, terdapat kesaksian tentang keesaan Allah dengan kalimat “Asyhadu an laa ilaaha illallah”, dan kesaksian tentang kerasulan Nabi Muhammad ﷺ dengan kalimat “Asyhadu anna Muhammadan Rasulullah”.

Kemudian, terdapat seruan untuk melaksanakan shalat dengan kalimat “Hayya ‘ala ash-shalaah”, yang berarti “Marilah melaksanakan shalat, jangan malas!”. Kata “Hayya” adalah fi’il amar yang berarti “datangilah atau hadirilah!”. Selanjutnya, ada seruan untuk meraih keberuntungan dengan kalimat “Hayya ‘ala al-falaah”, yang berarti “Datangilah sebab keberuntungan”, yakni kemenangan dalam mencapai tujuan yang puncaknya adalah shalat. Pengulangan takbir di akhir mengandung pengagungan terhadap Allah Ta‘ala, sedangkan penutupan dengan kalimat tauhid (Laa ilaaha illallah) karena seluruh amalan berpangkal padanya. Semoga Allah menjadikan kita termasuk orang yang mengucapkannya di akhir hayat dengan penuh kesadaran akan maknanya.

(Perkataan: “Dalam keduanya”) — yaitu adzan dan iqamah. Ketahuilah bahwa terdapat perbedaan pendapat tentang tujuan disyariatkannya adzan. Apakah untuk memberitahukan masuknya waktu shalat atau untuk memberitahukan adanya kewajiban shalat? Imam Syafi‘i memiliki dua pendapat dalam hal ini. Pendapat yang lebih kuat adalah bahwa adzan disyariatkan untuk memberitahukan adanya kewajiban shalat, bukan sekadar masuk waktu. Konsekuensinya, menurut pendapat yang lemah, adzan tidak disyariatkan untuk shalat yang terlewatkan waktunya (shalat qadha), sedangkan menurut pendapat yang kuat, adzan tetap disyariatkan karena adzan adalah hak shalat, bukan hak waktu.

(Perkataan: “Dan dasar dari keduanya”) — yaitu dalil yang menunjukkan disyariatkannya adzan dan iqamah. (Perkataan: “Ijma‘”) — seperti yang disebutkan dalam kitab Tuhfah. Sedangkan dalam kitab Nihayah, Mughni, dan Asna, dasar keduanya sebelum ijma‘ adalah firman Allah Ta‘ala: “Apabila diserukan adzan untuk shalat pada hari Jumat” (QS. Al-Jumu‘ah: 9) dan firman Allah Ta‘ala: “Dan apabila kalian menyeru untuk shalat” (QS. Al-Ma’idah: 58). Selain itu, terdapat hadits sahih yang menyatakan: “Apabila iqamah sudah dikumandangkan, maka hendaknya salah seorang dari kalian mengumandangkan adzan”.

(Perkataan: “Mimpi Abdullah”) — Jika ada yang bertanya, bukankah hukum tidak dapat ditetapkan hanya berdasarkan mimpi? Maka jawabannya adalah bahwa hukum adzan tidak hanya berdasarkan mimpi tersebut, tetapi mimpi tersebut sesuai dengan wahyu yang turun. Hal ini diperkuat dengan riwayat dari ‘Abdurrazzaq dan Abu Dawud dalam kitab Marasil, dari ‘Ubaid bin Umair Al-Laitsi, salah seorang tabi’in senior, bahwa ketika Umar melihat adzan dalam mimpinya dan hendak memberitahukan Nabi ﷺ, ternyata wahyu sudah turun terlebih dahulu mengenai hal tersebut.

(Perkataan: “Malam ketika mereka bermusyawarah”) — keterangan waktu ini terkait dengan peristiwa mimpi tersebut. (Perkataan: “Mereka bermusyawarah tentang cara mengumpulkan manusia untuk shalat”) — Nabi ﷺ dan para sahabat bermusyawarah tentang cara memanggil orang untuk shalat. Mereka mengusulkan bendera, tetapi Nabi ﷺ tidak menyukainya. Kemudian mereka mengusulkan terompet seperti Yahudi, tetapi Nabi ﷺ menolaknya. Lalu diusulkan lonceng seperti Nasrani, Nabi ﷺ pun menolaknya. Setelah itu, Umar mengusulkan: “Mengapa tidak ada seseorang yang memanggil manusia untuk shalat?” Maka Nabi ﷺ bersabda kepada Bilal: “Wahai Bilal, bangkitlah dan serulah shalat!”

Menurut Imam Nawawi, seruan pertama tersebut bukanlah adzan yang kita kenal sekarang, tetapi seruan umum untuk shalat. Ibnu Hajar menambahkan bahwa seruan tersebut adalah dengan kalimat “As-Shalaatu Jaami‘ah” (“Shalat akan dilaksanakan secara berjamaah”).

(Perkataan: “Lonceng”) — Menurut kitab Al-Mishbah, lonceng adalah kayu panjang yang dipukul oleh orang Nasrani untuk memberi tahu waktu shalat mereka.

(Perkataan: “Kemudian seseorang datang dalam mimpi”) — Abdullah bin Zaid melihat seorang laki-laki dalam mimpinya, yang mengajarkannya lafaz adzan. Nabi ﷺ kemudian bersabda: “Mimpi itu benar.” Dan beliau memerintahkan agar Bilal yang mengumandangkan adzan karena suaranya lebih nyaring dan merdu.

Inilah ringkasan dari penjelasan terkait adzan dan iqamah dalam kitab I‘ânah Ath-Thâlibîn.

Tapi salah satu syarat sahnya adzan adalah masuk waktu kyai, tentunya masjid sebelah melakukan adzan karena ada keyakinan masuknya waktu subuh.

*شرح المقدمة الحضرمية المسمى بشرى الكريم بشرح مسائل التعليم، ص ١٨٥*
`(وشرط) صحة (الأذان) -كالإقامة- دخول (الوقت) في الواقع وإن لم يظن دخوله؛ لأنهما للصلاة، ولا معنى لهما قبل طلبها، وفيه لبس قبله، ولهذا حرم قبله، فإن أمنه .. لم يحرم؛ لأنه ذكر.`
نعم؛ إن نوى به الأذان .. حرم؛ لأنه حينئذٍ تلبس بعبادة فاسدة، ويبقى جوازه ما بقي الوقت، لكن تنتهي مشروعيته بفعل الصلاة بالنسبة لمن صلاها (إلا) أذان (الصبح .. فيجوز بعد نصف الليل) كالدفع من مزدلفة، ولأن العرب تقول حينئذٍ: أنعم صباحاً؛ لخبر: “إن بلالاً يؤذن بليل، فكلوا واشربوا حتى يؤذن ابن أم مكتوم”.

(Syarat) sahnya (azan) — seperti iqamah — adalah masuknya (waktu) salat secara nyata, meskipun tidak disangka telah masuk waktunya. Hal ini karena azan dan iqamah berhubungan dengan salat, dan keduanya tidak memiliki makna sebelum waktu salat tiba. Selain itu, azan sebelum waktunya dapat menimbulkan kerancuan. Oleh karena itu, azan sebelum waktunya diharamkan. Jika aman dari kerancuan tersebut, maka tidak diharamkan karena pada dasarnya azan adalah zikir.

Namun, jika azan diniatkan sebagai ibadah (azan yang syar’i) sebelum waktunya, maka hukumnya haram. Sebab, pada saat itu ia telah melaksanakan ibadah yang rusak (tidak sah). Azan tetap diperbolehkan selama waktu salat masih ada, tetapi kemasru’annya (disyariatkan) berakhir dengan dilaksanakannya salat bagi orang yang telah menunaikannya, (kecuali) azan (subuh… maka diperbolehkan setelah tengah malam), sebagaimana diperbolehkan bertolak dari Muzdalifah setelah tengah malam. Hal ini karena bangsa Arab pada waktu itu biasa mengatakan, “An‘im shabāḥan” (selamat pagi). Hal ini berdasarkan hadis: “Sesungguhnya Bilal azan di malam hari, maka makan dan minumlah hingga azan Ibnu Ummi Maktum.

Catatan penting!!!!!

Untuk menjaga kehati-hatian maka sediakan jadwal waktu sholat lalu cocokkan dengan adzan  ( jika masuk sesuai waktu setempat maka adzan)

 Wallahu A’lam Bisshawab

Kategori
Uncategorized

HUKUM MENGGAMBAR ILUSTRASI ANIME DIGITAL DAN STATUS PENGHASILANNYA DALAM ISLAM

Hukum Menggambar Ilustrasi Anime digital dan Status Penghasilannya dalam Islam

Assalamualaikum, Mas.

Deskripsi masalah

Salah satu teman saya bekerja sebagai digital illustrator. Gambar yang dibuatnya berupa ilustrasi bergaya anime. Teman saya sebenarnya bertugas di bagian finishing, seperti pewarnaan dan penyempurnaan gambar lainnya.

Dalam ilustrasi tersebut, ada karakter wanita, tetapi aurat yang terlihat hanya bagian rambut saja, sedangkan bagian tubuh lainnya tertutup dengan pakaian yang sopan.

Pertanyaannya:
a).Bagaimana hukum membuat gambar seperti itu?

b). Dan bagaimana status penghasilannya sebagai digital illustrator?

Terima kasih banyak, Mas. 🙏

Waalaikum salam

Jawaban. sub A

Hukum menggambar Ilustrasi Digital Anime

Dalam Islam, hukum menggambar makhluk hidup, termasuk ilustrasi digital bergaya anime, memiliki perbedaan pendapat di kalangan ulama:

1. Pendapat yang Mengharamkan Secara Mutlak:

Sebagian ulama berpendapat bahwa menggambar makhluk bernyawa secara utuh adalah haram, berdasarkan hadits Rasulullah ﷺ:

إِنَّ أَشَدَّ النَّاسِ عَذَابًا عِندَ اللَّهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ الْمُصَوِّرُونَ

“Sesungguhnya orang yang paling keras siksaannya di hari kiamat adalah para pembuat gambar.” (HR. Bukhari dan Muslim).

2. Pendapat yang Membolehkan dengan Syarat:

Pendapat lainnya membolehkan menggambar makhluk bernyawa dengan bentuk yang tidak sempurna jika:

Tidak dimaksudkan untuk disembah atau diagungkan.

Tidak menggambarkan sesuatu yang bertentangan dengan syariat, seperti aurat yang terbuka, pose sensual, atau hal yang mendorong maksiat.
Digunakan untuk tujuan positif, seperti pendidikan, hiburan yang bermanfaat, atau media dakwah.

Hukum Ilustrasi Digital Temanmu

Jika karakter yang digambar oleh temanmu utuh seluruh badan baik gambar berbentuk manusia walalupun yang ditampilkan hanya rambut sedangkan tubuhnya yang lain ditutup dengan rapi dan sopan maka tetap haram apalagi mengandung syahwat . Akan tetapi jika gambar  hanya bagian tubuh yang tidak sempurna dan hanya menampilkan bagian rambutnya atau lainnya serta tidak dimaksudkan untuk tujuan yang diharamkan, maka hukumnya cenderung diperbolehkan ( tidak diharmakan/halal).

Jawaban.Sub .b

Status Penghasilan sebagai Digital Illustrator

Selama pekerjaan tersebut dilakukan dalam koridor syariat, tidak melibatkan hal yang diharamkan, dan penghasilannya berasal dari pekerjaan yang halal, maka pendapat yang kuat menyatakan bahwa penghasilan tersebut halal.Akan tetapi sebaliknya. Jika pekerjaan tersebut melanggar hukum syariat seperti gambar yang utuh maka hasil pekerjaan juga haram. Alasannya gambar yang diharamkan sebagai wasilah untuk mendapatkan penghasilan
Jadi penghasilan mengikuti hukum asal gambar. Sebagaimana dijelaskan dalam sebuah kaidah.

الوسائل حكم المقاصد

Namun, akan lebih baik jika pekerjaan tersebut dijadikan sarana untuk menyebarkan nilai-nilai positif dan tidak mendekati hal yang meragukan (syubhat).

Wallahu a’lam bish-shawab.

Referensi

الحلال والحرام فى الإسلام للشيخ الدكتور يوسف القرضاوى ص:١٢٦-١٤١

صور الجوارح والحيوان والأشجار (أي الصور المجسمة):
ذلك هو موقف الإسلام من الصور المجسمة التي نطلق عليها عرفًا (التماثيل).
ولكن ما الحكم في الصور واللوحات الفنية، التي ترسم على المسطحات، كـ الورق والثياب، والستور والجدران، والبسط والنقود ونحوها؟
والجواب: إن حكمها لا يتبين إلا إذا نظرنا في الصورة نفسها، لأي شيء هي؟ وفي وضعها، أين توضع؟ وكيف تستعمل؟ وفي قصد مصورها، ماذا قصد من تصويرها؟
فإن كانت الصورة الفنية لما يُعبد من دون الله – كالمسيح عند النصارى، والبقرة عند الهندوس – وما شابه ذلك، فإن من صورها لهذا الغرض وبهذا القصد لا يكون إلا كافرًا، ناشرًا للكفر والضلال.
وفي مثله جاء الوعيد الشديد عن رسول الله صلى الله عليه وسلم: إن أشد الناس عذابًا يوم القيامة المصورون (١).
قال الطبري: إن المراد هنا من يصور ما يُعبد من دون الله، وهو عارف بذلك، قاصد له؛ فإنه يكفر بذلك، وأما من لا يقصد ذلك، فإنه يكون عاصيًا بتصويره فقط (٢).
” ومثل ذلك من صور ما لا يعبد، قاصدا بتصويره مضاهاة خلق الله، أي مدعيا أنه يخلق ويبدع كما يخلق الله جل وعلا، فهو بهذا القصد يخرج من دين التوحيد، وفي مثل هذا جاء الحديث: إن أشد الناس عذابا الذين يضاهون بخلق الله (٣). وهذا أمر يتعلق بنية المصور وحده.
ولعل مما يؤيد هذا: الحديث عن الله تعالى: ومن أظلم ممن ذهب يخلق كخلقي، فليخلقوا حبة أو ذرة (٤). فالتعبير بقوله: ذهب يخلق كخلقي يدل على القصد إلى المضاهاة، ومنازعة الألوهية خصائصها من الخلق والإبداع، وتحدي الله تعالى لهم أن يخلقوا حبة أو ذرة – أي غلة – يشير إلى أنهم في فعلهم قصدوا هذا المعنى.
ولهذا يجزيهم على رؤوس الأشهاد يوم القيامة حين يقال لهم: أحيوا ما خلقتم. وتكليف المصور منهم أن ينفخ الروح في صورته، وليس بنافخ فيها أبدا.
ومما يحرم تصويره واقتناؤه: الصور التي يُقدس أصحابها تقديسا دينيا، أو يعظمون تعظيما دنيويا، فالأولى كصور الأنبياء والملائكة والصالحين، مثل إبراهيم وإسحاق، وموسى ومريم وجبريل وغيرهم، وهذه تروج عند النصارى، وقد قلدهم بعض المبتدعة من المسلمين، فصوروا عليا وفاطمة وغيرهما.
والثانية كصور الملوك والزعماء والفنانين في عصرنا، وهذه أقل إثماً من تلك، ولكن يتأكد الإثم فيها إذا كان أصحابها من الكفرة أو الظلمة أو الفساق، كالحكام الذين يحكمون بغير ما أنزل الله، والزعماء الذين يدعون إلى غير رسالة الله، والفنانين الذين يمجدون الباطل، ويشيعون الفاحشة والميوعة في الأمة.
ويبدو أن كثيراً من الصور في عصر النبوة وما بعده كانت من النوع الذي يُقدَّس ويُعظَّم، إذ كانت في الغالب من صنع الروم والفرس -أي النصارى والمجوس- فلم تكن تخلو من تأثير عقيدتهم وتقديسهم لرؤساء دينهم أو دولتهم.
وقد روى مسلم عن أبي الضحى قال: كنت مع مسروق في بيت فيه تماثيل، فقال لي مسروق: هذه تماثيل كسرى؟ فقلت: لا، هذه تماثيل مريم. وكان مسروقاً ظن أن التصوير من مجوسي، وكانوا يصورون صور ملوكهم حتى في الأواني، فظهر أن التصوير كان من نصراني.
وفي هذه القصة قال مسروق: سمعت عبد الله -يعني ابن مسعود- يقول: سمعت النبي صلى الله عليه وسلم يقول: إن أشد الناس عذاباً عند الله المصورون. ٥
وأما ما عدا ذلك من الصور واللوحات، فإن كانت لغير ذي روح، كصور النبات والشجر، والبحار والسفن والجبال، والشمس والقمر والكواكب، ونحوها من المناظر الطبيعية -لنبات أو جماد- فلا جناح على من صورها أو اقتناها، وهذا لا جدال فيه.
“وإن كانت الصورة لذي روح، وليس فيها ما تقدم من المحظورات: أي لم تكن مما يقدس ويعظم، ولم يقصد فيها مضاهاة خلق الله، فالذي أراه، أنها لا تحرم أيضاً. وفي ذلك جاءت جملة الأحاديث الصحيحة.
ففي الصحيحين، عن بسر بن سعيد، عن زيد بن خالد، عن أبي طلحة صاحب رسول الله صلى الله عليه وسلم، أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: “إن الملائكة لا تدخل بيتاً فيه صورة”، قال بسر: “ثم اشتكى زيد بعد، فعدناه، فإذا على بابه ستر فيه صورة، قال: فقلت لعبيد الله الخولاني – ربيب ميمونة زوج النبي صلى الله عليه وسلم – وكان معه: ألم يخبرنا زيد عن الصور يوم الأول؟ فقال عبيد الله: ألم تسمعه حين قال: “إلا رقماً في ثوب”؟ (٦)
وروى الترمذي بسنده عن عتبة، أنه دخل على أبي طلحة الأنصاري يعوده، فوجد عنده سهل بن حنيف صحابياً آخر، قال: فدعا أبو طلحة إنساناً ينزع نمطاً (٧) تحته، فقال له سهل: لم تنزعه؟ قال: لأن فيه صور، وقال فيه النبي صلى الله عليه وسلم ما قد علمت، قال سهل: أو لم يقل: “إلا ما كان رقماً في ثوب”؟ فقال أبو طلحة: بلى، ولكنه أطيب لنفسي (٨).
ألا يدل هذان الحديثان على أن الصور المحرمة إنما هي المجسمة، التي نطلق عليها (التماثيل)؟!”
“أما الصور التي ترسم في لوحات، أو تنقش على الثياب والبسط والجدران ونحوها، فليس هناك نص صحيح صريح، سليم من المعارضة يدل على حرمتها.
نعم هناك أحاديث صحيحة، أظهر فيها النبي ﷺ كراهيته فقط لهذا النوع من التصاوير؛ لما فيه من مشابهة المترفين وعشاق المتاع الأدنى.
روى مسلم، عن زيد بن خالد الجهني، عن أبي طلحة الأنصاري قال: سمعت رسول الله ﷺ يقول: لا تدخل الملائكة بيتا فيه كلب ولا تماثيل. قال: فأتيت عائشة فقلت: إن هذا يخبرني أن النبي ﷺ قال: لا تدخل الملائكة بيتا فيه كلب ولا تماثيل. فهل سمعت رسول الله ﷺ ذكر ذلك؟ فقالت: لا ولكن سأحدثكم ما رأيته فعل، رأيته خرج في غزاته، فأخذت نمطا فسترته على الباب، فلما قدم فرأى النمط عرفت الكراهية في وجهه، فجذبه [النمط] حتى هتكه – أو قطعه – وقال: إن الله لم يأمرنا أن نكسو الحجارة والطين. قالت: فقطعنا منه وسادتين، وحشوتهما ليفا، فلم يعب ذلك علي (٩).
ولا يؤخذ من الحديث أكثر من الكراهة التنزيهية لكسوة الحيطان ونحوها بالستائر ذات التصاوير.
قال النووي: وليس في الحديث ما يقتضي التحريم؛ لأن حقيقة اللفظ: إن الله لم يأمرنا بذلك. وهذا يقتضي أنه ليس بواجب ولا مندوب، ولا يقتضي التحريم ١٠
“مثل هذا ما رواه مسلم أيضا عن عائشة ، قالت : كان لنا ستر فيه تمثال طائر ، وكان الداخل إذا دخل استقبله ، فقال لي رسول الله صلى الله عليه وسلم : حولي هذا ، فإني كلما دخلت فرأيته ذكرت الدنيا (١١).
فلم يأمرها عليه الصلاة والسلام بقطعه ، وإنما أمرها بتحويله من مكانه في مواجهة الداخل إلى البيت ، وذلك كراهية منه صلى الله عليه وسلم أن يرى في مواجهته هذه الأشياء ، التي تذكره عادة بالدنيا وزخارفها . ولا سيما أنه كان يصلي السنن والنوافل كلها في البيت ، ومثل هذه الأنماط والأستار ذات التصاوير والتماثيل ، من شأنها أن تشغل القلب عن التزام الخشوع ، والإقبال الكامل على مناجاة الله سبحانه.
وقد روى البخاري عن أنس قال : كان قرام ستر] لعائشة ، سترت تصاويره تعرض لي في صلاتي + (١٢). به جانب بيتها ، فقال لها النبي صلى الله عليه وسلم : أميطيه عني ، فإنه لا تزال وبهذا يتبين أن رسول الله صلى الله عليه وسلم ، أقر في بيته وجود ستر فيه تمثال طائر ، ووجود قرام فيه تصاوير.
ومن أجل هذه الأحاديث وأمثالها قال بعض السلف : = إنما ينهى عما كان له ظل أي المجسم) ولا بأس بالصور التي ليس لها ظل (١٣).

ومما يؤيد هذا الرأي ما جاء في الحديث عن الله تعالى: “ومن أظلم ممن ذهب يخلق كخلقي، فليخلقوا ذرة فليخلقوا شعيرة”. فإن خلق الله تعالى -كما هو مشاهد- ليس رسماً على سطح، بل هو خلق صور مجسمة ذات جرم، كما قال تعالى: “هو الذي يُصوركم في الأرحام كيف يشاء” (آل عمران: ٦).
ولا يعكر على هذا المذهب إلا حديث عائشة في إحدى روايات الشيخين أنها اشترت نمروقة وسادة فيها تصاوير، فلما رآها رسول الله صلى الله عليه وسلم قام على الباب، فلم يدخل، فعرفت في وجهه الكراهية، فقالت: يا رسول الله، أتوب إلى الله وإلى رسوله، ماذا أذنبت؟ فقال: ما بال هذه النمرقة؟ فقالت: اشتريتها لك: تقعد عليها وتتوسدها، فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم: “إن أصحاب هذه الصور يعذبون، ويقال لهم: أحيوا ما خلقتم”. ثم قال: “إن البيت الذي فيه الصور لا تدخله الملائكة”. وزاد مسلم في رواية، عن عائشة قالت: فأخذته، فجعلته مرفقتين، فكان يرتفق بهما في البيت -تعني أنها شقت النمرقة فجعلتها مرفقتين-.
ولكن هذا الحديث يعارضه جملة أمور:
شكل الحيوان لا يوجد صورة الحيوان بل إنما يرسم شكله وصورته، والصورة التي على هذا الوجه قد فقدت أعضاء كثيرة لا تعيش بدونها بل هي فاقدة للجرم، فليست هي صورة الحيوان التي يكلف مصورها يوم القيامة نفخ الروح فيها، وليس بنافخ؛ لأن الظاهر أن الصورة التي يقال فيها ما ذكر، هي الصورة المجسمة، ذات الظل، التي لم تفقد عضوا لا تعيش بدونه، حتى تكون قابلة بذاتها لنفخ الروح فيها، فيكون عجز المصور عن النفخ راجعا إليه، لا لعدم قابلية الصورة للحياة.

١- أنه قد روي بروايات مختلفة ظاهرة التعارض، بعضها يدل على أنه استعمل الستر الذي فيه الصورة، بعد أن قطع، وعملت منه الوسادة، وبعضها يدل على أنه لم يستعمله أصلاً.
٢- أن بعض رواياته يدل على الكراهة فقط، وأن الكراهة إنما هي لستر الجدران بالصور، وذلك نوع ترف لا يرضاه. ولهذا قال في رواية مسلم التي ذكرناها من قبل: “إن الله لم يأمرنا أن نكسو الحجارة والطين”.
٣- حديث مسلم عن عائشة نفسها، في الستر الذي فيه تمثال طائر وقول النبي ﷺ لها: حولي هذا، فإني كلما رأيته ذكرت الدنيا لا يدل على الحرمة مطلقاً.
٤- أنه معارض بحديث القرام، الذي كان في بيت عائشة أيضاً، وأمر الرسول ﷺ بإماطته عنه؛ لأن تصاويره تعرض له في صلاته، قال الحافظ: وقد استشكل الجمع بين هذا الحديث وبين حديث عائشة في النمرقة، فهذا يدل على أنه أقره وصلى وهو منصوب، إلى أن أمر بنزعه، من أجل ما ذكر من رؤيته لصورته حالة الصلاة، ولم يتعرض الخصوص كونها صورة.
وجمع الحافظ بينهما بأن الأول كانت تصاويره من ذات الأرواح، وهذا كانت تصاويره من غير الحيوان (١٤). ولكن يعكر على هذا الجمع حديث القرام الذي كان فيه تمثال طائر.
٥- أنه معارض بحديث أبي طلحة الأنصاري الذي استثنى ما كان رقماً في ثوب، وقد قال القرطبي: يجمع بينها بأن يحمل حديث عائشة
على الكراهة، وحديث أبي طلحة على مطلق الجواز، وهو لا ينافي الكراهة (١٥). واستحسنه الحافظ ابن حجر (١٦).
٦- أن راوي حديث النمرقة عن عائشة – وهو ابن أخيها: القاسم بن محمد ابن أبي بكر – كان يجيز اتخاذ الصور التي لا ظل لها.
فعن ابن عون قال: دخلت على القاسم وهو بأعلى مكة في بيته، فرأيت في بيته حجلة فيها تصاوير القندس والعنقاء ١٧).
قال الحافظ: يحتمل أنه تمسك بعموم قوله: إلا رقماً في ثوب، وكأنه جعل إنكار النبي ﷺ على عائشة تعليق الستر المذكور، مركباً من كونه مصوراً، ومن كونه ساتراً للجدار. ويؤيده رواية: إن الله لم يأمرنا أن نكسو الحجارة والطين.
والقاسم بن محمد أحد الفقهاء السبعة بالمدينة، وكان من أفضل أهل زمانه، وهو راوي حديث النمرقة، فلولا أنه فهم الرخصة في مثل الحجلة ما استجاز استعمالها ١٨).
ولكن هناك احتمال، قد يبدو من هذه الأحاديث الواردة في شأن الصور والمصورين، هو أن الرسول ﷺ شدد في أمرها أول الأمر، لقرب عهدهم بالشرك وعبادة الأوثان، وتقديس الصور والتماثيل، فلما استقرت عقيدة التوحيد في النفوس، ورسخت جذورها في القلوب والعقول، رخص في الصور التي لا جسم لها، وإنما هي نقوش ورسوم، وإلا لم يرض بوجود ستر أو قرام في بيته فيه صورة أو تمثال. ولم يستثن التصاوير التي تُرقم وتنقش في الثياب، ومثل الثياب الورق والجدران وغيرها.
قال الطحاوي من أئمة الحنفية: إنما نهى الشارع أولا عن الصور كلها، وإن كانت رقما؛ لأنهم كانوا حديثي عهد بعبادة الصور، فنهى عن ذلك جملة، ثم لما تقرر نهيه عن ذلك، أباح ما كان رقما في ثوب، للضرورة إلى اتخاذ الثياب، وأباح ما يمتهن؛ لأنه يأمن على الجاهل تعظيم ما يمتهن، وبقي النهي فيما لا يمتهن ١٩).

*امتهان الصورة يجعلها حلالا* :
هذا، وكل تغيير في الصورة، يجعلها أبعد عن التعظيم وأدنى إلى الامتهان، ينقلها من دائرة الكراهة إلى دائرة الإباحة. وقد جاء في الحديث أن جبريل عليه السلام استأذن على النبي ﷺ فقال: ادخل، فقال: كيف أدخل وفي بيتك ستر فيه تصاوير؟ فإن كنت لابد فاعلا، فاقطع رأسها أو اقطعها وسائد أو اجعلها بسطا ٢٠).
ولهذا حين رأت عائشة في وجه النبي ﷺ الكراهة للنمرقة ذات التصاوير جعلتها مرفقتين، لما في ذلك من امتهانهما، والبعد بهما عن أدنى شبهة لتعظيم الصورة.
وقد جاء عن السلف استعمال الصورة الممتهنة، ولم يروا فيها حرجا، فعن عروة: أنه كان يتكئ على المرفق فيها التماثيل: الطير والرجال (٢١).
وقال عكرمة: كانوا يكرهون ما نصب من التماثيل نصبا، ولا يرون بأسا بما وطئته الأقدام (٢٢)، وكانوا يقولون: في التصاوير في البسط والوسادة التي توطأ ذل لها (٢٣).
الصور الفوتوغرافية:
ومما لا خفاء فيه أن كل ما ورد في التصوير والصور، إنما يعني الصور التي تنحت، أو تُرسم على حسب ما ذكرنا.
أما الصور الشمسية (الفوتوغرافية) – التي تُؤخذ بآلة الفوتوغرافيا – فهي شيء مستحدث، لم يكن في عصر الرسول، ولا سلف المسلمين، فهل ينطبق عليه ما ورد في التصوير والمصورين؟
أما الذين يقصرون التحريم على التماثيل المجسمة فلا يرون شيئا في هذه الصور، وخصوصا إذا لم تكن كاملة.
وأما على رأي الآخرين فهل تقاس هذه الصور الشمسية على تلك التي تبدعها ريشة الرسام؟ أم أن العلة التي نصت عليها بعض الأحاديث في عذاب المصورين – وهي أنهم يضاهون خلق الله – لا تتحقق هنا في الصور الفوتوغرافية؟ وحيث عدمت العلة عدم المعلول، كما يقول الأصوليون.
إن الواضح هنا، ما أفتى به المغفور له الشيخ محمد بخيت – مفتي مصر – أن أخذ الصورة بالفوتوغرافيا – الذي هو عبارة عن حبس الظل
بالوسائط المعلومة لأرباب هذه الصناعة – ليس من التصوير المنهي عنه في شيء؛ لأن التصوير المنهي عنه هو إيجاد صورة، وصنع صورة لم تكن موجودة ولا مصنوعة من قبل، يضاهي بها حيوانًا خلقه الله تعالى، وليس هذا المعنى موجودًا في أخذ الصورة بتلك الآلة ٢٤).
هذا وإن كان هناك من يجنح إلى التشدد في الصور كلها، وكراهيتها بكل أنواعها، حتى الفوتوغرافية منها، فلا شك أنه يرخص فيما توجبه الضرورة أو تقتضيه الحاجة والمصلحة منها، كصور البطاقات الشخصية، وجوازات السفر، وصور المشبوهين، والصور التي تتخذ وسيلة للإيضاح ونحوها، مما لا تتحقق فيه شبهة القصد إلى التعظيم، أو الخوف على العقيدة. فإن الحاجة إلى اتخاذ هذه الصور أشد وأهم، من الحاجة إلى اتخاذ (النقش) في الثياب الذي استثناه النبي ﷺ.
*موضوع الصورة* :
هذا، ومن المقرر أن لموضوع الصورة أثرًا في الحكم بالحرمة أو غيرها. ولا يخالف مسلم في تحريم الصورة، إذا كان موضوعها مخالفا لعقائد الإسلام، أو شرائعه وآدابه، فتصوير النساء عاريات، أو شبه عاريات، وإبراز مواضع الأنوثة والفتنة منهن، ورسمهن أو تصويرهن في أوضاع مثيرة للشهوات، موقظة للغرائز الدنيا، كما نرى ذلك واضحا في بعض المجلات والصحف، ودور (السينما) كل ذلك مما لا شك في حرمته وحرمة تصويره، وحرمة نشره على الناس، وحرمة اقتنائه واتخاذه في البيوت أو المكاتب والمحلات، وتعليقه على الجدران، وحرمة القصد إلى رؤيته ومشاهدته.
ومثل هذا صور الكفار والظلمة والفساق، الذين يجب على المسلم أن يعاديهم الله ويبغضهم في الله، فلا يحل لمسلم أن يصور أو يقتني صورة لزعيم ملحد، ينكر وجود الله، أو وثني يشرك مع الله البقر أو النار أو غيرها أو يهودي أو نصراني يجحد بقوة محمد صلى الله عليه وسلم أو مدعي الإسلام وهو يحكم بغير ما أنزل الله أو يشيع الفاحشة والفساد فى المجتمع كالممثلين والممثلات والمطربين والمطربات

ومثل هذا، الصور التي تعبر عن الوثنية أو شعائر بعض الأديان التي لا يرضاها الإسلام، كالأصنام والصلبان وما شابهها. ولعل كثيرا من البسط والستور والنمارق، التي كانت في عصر النبي ﷺ، كانت مشتملة على هذا النوع من التصاوير والتهاويل. وقد روى البخاري، أن النبي ﷺ لم يكن يترك في بيته شيئا فيه تصاليب إلا نقضه (٢٥).
والصلبان: صور الصليب.
وروى ابن عباس أن الرسول ﷺ في عام الفتح، لما رأى الصور التي في البيت الحرام، لم يدخل حتى أمر بها فمحيت (٢٦). ولا شك أنها كانت صورا تعبر عن وثنية مشركي مكة، وضلالهم القديم.
وكان الأمر النبوي بطمس هذه التماثيل كما جاء عن أبي الهياج: قال لي علي: ألا أبعثك على ما بعثني عليه رسول الله: ألا تدع تمثالا إلا طمسته، ولا قبرا مشرفا إلا سويته (٢٧).
فماذا عسى أن تكون هذه الصورة التي أمر الرسول بتلطيخها وطمسها إلا أن تكون مظهرا من مظاهر الوثنية الجاهلية، التي حرص الرسول على تنظيف المدينة من آثارها. ولهذا جعل العودة إلى شيء منها كفرا بما أنزل الله!!
خلاصة لأحكام الصور والمصورين:
ونستطيع أن نجمل أحكام الصور والمصورين في الخلاصة التالية:

(ز) أما صور غير ذي الروح، من الشجر والنخيل، والبحار والسفن، والجبال ونحوها من المناظر الطبيعية، فلا جناح على من صورها أو اقتناها، ما لم تشغل عن طاعة، أو تؤدّ إلى ترف أو سرف، فتكره، أو تحرم.
(ح) وأما الصور الشمسية (الفوتوغرافية) فالأصل فيها الإباحة، ما لم يشتمل موضوع الصورة على محرم، كتقديس صاحبها تقديسا دينيا، أو تعظيمه تعظيما دنيويا، وخاصة إذا كان المعظم من أهل الكفر والفسوق، كالوثنيين والشيوعيين، والفنانين المنحرفين
(ط) وأخيرا، إن التماثيل والصور المحرمة إذا شوهت أو امتهنت، انتقلت من دائرة الحرمة إلى دائرة الحل، كصور البسط التي تدوسها الأقدام والنعال ونحوها.
(أ) أشد أنواع الصور في الحرمة والإثم صور ما يعبد من دون الله – كالمسيح عند النصارى – فهذه تؤدي بمصورها إلى الكفر، إن كان عارفًا بذلك، قاصدًا له.
(ب) ويليه في الإثم من صور ما لا يعبد، ولكنه قصد مضاهاة خلق الله، أي: ادعى أنه يبدع ويخلق كما يخلق الله، فهو بهذا يقارب الكفر. وهذا أمر يتعلق بنية المصور وحده.
(ج) ودون ذلك الصور المجسمة لما لا يعبد، ولكنها مما يُعظم، كصور الملوك والقادة والزعماء وغيرهم، ممن يزعمون تخليدهم بإقامة التماثيل لهم، ونصبها في الميادين ونحوها. ويستوي في ذلك أن يكون التمثال كاملاً أو نصفياً.
(د) ودونها الصور المجسمة لكل ذي روح، مما لا يُقدَّس ولا يُعظم، فإنه متفق على حرمته، يستثنى من ذلك ما يمتهن، كلعب الأطفال، ومثلها ما يؤكل من تماثيل الحلوى.
(هـ) وبعدها الصور غير المجسمة – اللوحات الفنية – التي يُعظم أصحابها، كصور الحكام والزعماء وغيرهم، وخاصة إذا نصبت وعُلقت. وتتأكد الحرمة إذا كان هؤلاء من الظلمة والفسقة والملحدين، فإن تعظيمهم هدم للإسلام.
(و) ودون ذلك أن تكون الصورة غير المجسمة لذي روح لا يُعظم، ولكن تعد من مظاهر الترف والتنعم، كان تُستر بها الجدران ونحوها، فهذا من المكروهات فحسب.
(ز) أما صور غير ذي الروح، من الشجر والنخيل، والبحار والسفن، والجبال ونحوها من المناظر الطبيعية، فلا جناح على من صورها أو اقتناها، ما لم تشغل عن طاعة، أو تؤدّ إلى ترف أو سرف، فتكره، أو تحرم.
(ح) وأما الصور الشمسية (الفوتوغرافية) فالأصل فيها الإباحة، ما لم يشتمل موضوع الصورة على محرم، كتقديس صاحبها تقديسا دينيا، أو تعظيمه تعظيما دنيويا، وخاصة إذا كان المعظم من أهل الكفر والفسوق، كالوثنيين والشيوعيين، والفنانين المنحرفين
(ط) وأخيرا، إن التماثيل والصور المحرمة إذا شوهت أو امتهنت، انتقلت من دائرة الحرمة إلى دائرة الحل، كصور البسط التي تدوسها الأقدام والنعال ونحوها. والله أعلم بالصواب
———
(١) متفق عليه: رواه البخاري في اللباس (٥٩٥٠)، ومسلم في اللباس والزينة (٢١٠٩)، عن ابن مسعود.
(٢) فتح الباري (٣٨٣/١٠).
(٣) متفق عليه: رواه البخاري في اللباس (٥٩٥٤)، ومسلم في اللباس والزينة (٢١٠٧)، عن عائشة.
(٤) متفق عليه: رواه البخاري في التوحيد (٧٥٥٩)، ومسلم في اللباس والزينة (٢١١١)، عن أبي هريرة.”
(٥) متفق عليه: رواه البخاري في اللباس (٥٩٥٠)، ومسلم في اللباس والزينة (٢١٠٩). ص ١٢٩
(٦) متفق عليه: رواه البخاري في اللباس (٥٩٥٨)، ومسلم في اللباس والزينة (٢١٠٦)
(٧) النمط: ثوب أو بساط فيه نقوش وصور
(٨) رواه الترمذي في اللباس (١٧٥٠) قال الترمذي: هذا حديث حسن صحيح. والنسائي في الزينة (٥٣٤٩)، وصححه الألباني في غاية المرام (١٣٤)
(٩) رواه مسلم في اللباس والزينة (٣١٠٧)
( ١٠) شرح النووي على مسلم(٨٦،٨٧/١٤)
(١١) رواه مسلم في اللباس والزينة (٢١٠٧).
(١٢) رواه البخاري في اللباس (٥٩٥٩).
(١٣) ذكره النووي في شرح مسلم (٨٢/١٤) ، ورد عليه وقال : إنه مذهب باطل وتعقبه الحافظ في الفتح بأنه مروي بسند صحيح ، عن القاسم بن محمد : أحد فقهاء المدينة ، ومن أفضل أهل زمانه . (٣٨٨/١٠) ونقل الشيخ بخيت عن الخطابي قوله : الذي يصور أشكال الحيوان ، والنقاش الذي ينقش أشكال الشجر ونحوها ، فإني أرجو ألا يدخلا في ذلك الوعيد ، وإنما كان جملة هذا الباب مكروها ، وداخلا فيما يشغل القلب بما لا يغني . كما في عمدة القاري (٧٤/٢٢) وقد علق الشيخ بخيت على هذا بقوله : وما ذلك إلا لأن مصور”
(١٤) متفق عليه: رواه البخاري في التوحيد (٧٥٥٩)، ومسلم في اللباس والزينة (٢١١١)، عن أبي هريرة.
(١٥) متفق عليه: رواه البخاري في التوحيد (٧٥٥٩)، ومسلم في اللباس والزينة (٢١١١)، عن أبي هريرة.
١٦١) فتح الباري (٣٩١/١٠)
١٧١) فتح الباري (٣٩٢/١٠)
(١٨) المصدر السابق
(١٩) رواه ابن أبي شيبة في المصنف (٢٥٨١٠). والحجلة: مثل القبة. وحجلة العروس معروفة، وهي بيت يزين بالثياب والأسرة والستور. لسان العرب مادة: (حجل)
(٢٠) راجع في موضوع الصور والمصورين فتح الباري شرح باب التصاوير وما بعده من صحيح البخاري، كتاب اللباس (١٢) ٥٠٣-٥١٨) من الفتح طبعة مصطفى الحلبي.
(٢١) عمدة القاري (٧٤/٢٢)
(٢٢) رواه النسائي في الزينة (٥٣٦٥)، وابن حبان في الحظر والإباحة (٥٨٥٣)، وقال شعيب الأرناؤوط: حديث صحيح، وصححه الألباني في غاية المرام (١٤١)، عن أبي هريرة
(٢٣) رواه ابن أبي شيبة في المصنف (٢٥٧٩٧)
(٢٤) رواه ابن أبي شيبة في المصنف (٢٥٨٠٠) ، والبيهقي في الكبرى (١٤٩٧٥)
(٢٥) رواه ابن أبي شيبة في المصنف (٢٥٧٩٩)
(١) رسالة الجواب الكافي في إباحة التصوير الفوتوغرافي ص (٢٣)
(٢٦) متفق عليه: رواه البخاري في اللباس (٥٩٥٠)، ومسلم في اللباس والزينة (٢١٠٩)
(٢٧) متفق عليه: رواه البخاري في اللباس (٥٩٥٨)، ومسلم في اللباس والزينة (٢١٠٧)
(٢٨) النمط: ثوب أو بساط فيه نقوش وصور
(٢٩) رواه الترمذي في اللباس (١٧٥٠) قال الترمذي: هذا حديث حسن صحيح. والنسائي في الزينة (٥٣٤٩)، وصححه الألباني في غاية المرام (١٣٤).

Referensi:
Kitab Halal dan Haram dalam Islam oleh Dr. Yusuf al-Qaradawi, halaman 126-141

Gambar Makhluk Hidup, Hewan, dan Pohon (yaitu gambar tiga dimensi):

Inilah posisi Islam terhadap gambar tiga dimensi yang dikenal dalam istilah umum sebagai “patung”.

Namun, bagaimana dengan gambar dan lukisan artistik yang digambar pada permukaan seperti kertas, kain, tirai, dinding, karpet, uang, dan sebagainya?

Jawabannya: Hukum gambar tersebut tidak bisa dipahami kecuali jika kita melihat gambar itu sendiri, untuk apa gambar itu? Di mana gambar tersebut ditempatkan? Bagaimana gambar itu digunakan? Dan apa tujuan dari pembuat gambar itu, apa niatnya dalam menggambar?

Jika gambar artistik tersebut menggambarkan sesuatu yang disembah selain Allah, seperti gambar Yesus bagi umat Nasrani, sapi bagi umat Hindu, dan yang serupa dengannya, maka orang yang menggambarnya dengan tujuan tersebut tidak lebih dari seorang kafir, penyebar kekufuran dan kesesatan.

Terkait hal ini, Rasulullah ﷺ mengingatkan dengan ancaman keras: “Orang yang paling berat siksanya pada Hari Kiamat adalah para pembuat gambar”

Menurut Al-Tabari, yang dimaksud dengan ini adalah orang yang menggambar sesuatu yang disembah selain Allah, dengan niat yang sadar dan dengan tujuan tersebut; karena ia telah kafir dengan perbuatannya. Namun, bagi mereka yang tidak memiliki tujuan itu, maka ia hanya berdosa karena menggambar itu saja

أن أشد الناس عذابا يوم القيامة اللمصورون

“Sesungguhnya oran paling berat adzapelukis.”
Imam Thabari mengatakan, “Yakni, orang yang melukis sesuatu yang disembah selain Allah, sementara ia sendiri mengetahui dan menyengaja, dikafirkan dengan perbuatan itu. Sedangkan yang melukisnya bukan dengan maksud tersebut, ia berbuat maksiat. Demikian pula orang yang memasang lukisan tersebut dalam rangka mengkultuskannya. Yang demikian itu tidak mungkin dilakukan seorang muslim, kecuali bila ia telah mencampakkan Islam dari pundaknya.”

<span;>> Mendekati hukum ini adalah orang yang melukis sesuatu yang tidak disembah, akan tetapi dimaksudkan untuk menandingi ciptaan Allah swt. Artinya, ia mengaku bahwa dirinya mencipta sebagaimana Allah menciptakan sesuatu yang tadinya tidak ada. Dengan maksud itu, ia telah keluar dari agama tauhid. Terhadap orang semacam ini, Rasulullah saw. juga mengancam.

Hadits:

إِنَّ أَشَدَّ النَّاسِ عَذَابًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ الَّذِينَ يُضَاهُونَ بِخَلْقِ اللَّهِ

“Sesungguhnya siksaan yang paling berat adalah siksaan orang-orang yang menandingi ciptaan Allah.” Hadits ini menunjukkan sebuah peringatan keras terkait kesombongan manusia yang berani menyaingi karya Sang Pencipta.
Hadits qudsi yang terkait erat dengan pernyataan di atas berbunyi,

وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنْ ذَهَبَ يَخْلُقُ كَخَلْقِي فَلْيَخْلُقُوا حَبَّةً أَوْ ذَرَّةً

“Dan siapakah yang lebih zalim dibanding dengan orang yang sengaja menciptakan seperti ciptaanku? Karena itu hendaklah ia menciptakan biji atau atom.” Kalimat “sengaja menciptakan seperti ciptaanku” menunjukkan kesengajaan untuk menandingi sifat ketuhanan, yaitu menciptakan. Allah SWT menantang mereka untuk menciptakan biji atau atom. Ini menunjukkan bahwa mereka memang bermaksud seperti itu.
Karena itulah, Allah SWT menghinakan mereka di hadapan para saksi di hari kiamat dengan perintah, “Hidupkan apa yang telah kalian ciptakan.” Pelukis semacam itu dibebani tanggung jawab meniupkan ruh ke dalam lukisannya, padahal ia tidak akan pernah bisa melakukannya.
Di antara lukisan yang membuat dan memilikinya diharamkan adalah lukisan yang dikultuskan secara agama oleh para pemiliknya, atau diagungkan secara duniawi. Jenis yang pertama seperti lukisan nabi-nabi, malaikat, dan orang-orang saleh. Misalnya Nabi Ibrahim, Ishaq, Musa, Maryam, Jibril, dan sebagainya. Lukisan semacam itu banyak dijumpai di kalangan Nasrani. Sebagian ahli bid’ah di kalangan kaum muslimin juga mengikuti cara-cara mereka itu. Mereka melukis Ali, Fatimah, dan lain-lain.
*Jenis kedua* seperti lukisan para raja, tokoh, dan artis di zaman sekarang ini. Jenis kedua ini lebih ringan dosanya dibanding yang pertama. Akan tetapi, dosanya lebih serius jika pemiliknya adalah orang-orang kafir, zalim, atau fasik. Misalnya para birokrat yang berhukum dengan selain hukum Allah, para pemimpin yang menyeru kepada selain risalah Allah, dan para artis yang menayangkan keangkuhan kebatilan, menyebarkan kekejian dan pornografi di tengah masyarakat.
Tampaknya, kebanyakan lukisan di masa Nabi dan masa-masa sesudahnya adalah jenis yang disucikan dan diagungkan. Karena kebanyakan dipengaruhi oleh aqidah dan kultus mereka kepada para pemimpin agama dan negara mereka. Imam Muslim meriwayatkan dari Abi Ad-Dhuha, ia berkata, “Sekali waktu saya bersama Masruq dalam sebuah rumah yang banyak patungnya. Berkatalah Masruq kepada saya, ‘Ini patung-patung Kisra (Raja Persia).’ Saya menjawab, ‘Bukan. Ini adalah patung Maryam.'”
Mereka menyangka bahwa lukisan itu dari majusi. Mereka melukis raja-raja mereka di bejana-bejana. Ternyata lukisan itu dari kalangan Nasrani. Dalam kisah ini, Masruq berkata: Saya mendengar Abdullah (bin Mas’ud) berkata: “Saya mendengar Nabi saw. bersabda, ‘Sesungguhnya orang yang paling berat siksaannya di sisi Allah adalah para pelukis.'”
Adapun lukisan selain itu, yakni lukisan benda-benda tak bernyawa semisal pohon, pemandangan laut, perahu, matahari, bulan, bintang, dan sejenisnya, baik berupa benda mati maupun tumbuhan, tidak ada masalah bagi yang melukis maupun yang memilikinya. Tidak ada perbedaan pendapat dalam masalah ini.
Kalau gambar atau lukisan itu berupa benda bernyawa tetapi tidak mengandung hal-hal seperti di atas, yaitu tidak dikultuskan atau diagungkan, dan tidak dimaksudkan untuk menandingi ciptaan Allah, menurut pendapat saya, juga tidak diharamkan. Berkenaan dengan itu ada beberapa hadits.
Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Thalhah, sahabat Rasulullah saw., bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya malaikat tidak masuk ke rumah yang ada patungnya.”
Bisir berkata, “Setelah itu Zaid sakit. Kami pun menjenguknya. Ternyata di pintu rumahnya ada gorden yang bergambar.” Kata Bisir selanjutnya, “Maka saya bertanya kepada Ubaidillah Al-Khaulani, anak asuh Maimunah istri Nabi saw. yang hidup bersama beliau, ‘Bukankah Zaid telah memberitahu kita tentang lukisan pada hari pertama?’ Ubaidillah menjawab, ‘Tidakkah kau dengar ketika beliau saw. berkata, Kecuali cap di pakaian?'”
Imam Turmudzi meriwayatkan dengan sanadnya dari Utbah, bahwa ia menemui Abu Thalhah Al-Anshari untuk menjenguknya. Didapatinya di sana Sahl bin Hanif (sahabat yang lain). Ia (Utbah) berkata, “Abu Thalhah memanggil seseorang yang menarik kain bergambar di bawahnya.” Sahl bertanya, “Mengapa kau tarik?” “Karena banyak gambarnya, padahal Nabi saw. telah mengatakan hal yang telah kamu ketahui,” jawab orang itu. Sahl berkata, “Bukankah beliau bersabda, ‘Kecuali cap di pakaian?'” Abu Thalhah berkata, “Ya, akan tetapi ia lebih baik bagi diriku.” Imam Turmudzi mengatakan, “Ini adalah hadits hasan lagi shahih.”
Tidakkah kedua hadits ini menunjukkan bahwa gambar-gambar yang diharamkan tidak lain adalah gambar-gambar yang kita kenal sebagai patung? Akan halnya gambar-gambar yang dilukiskan di atas papan, kain, karpet, tembok, dan sejenisnya, maka tidak ada nash yang shahih (benar) dan sharih (jelas) yang benar-benar menunjukkan keharamannya.
Bekas ketidaksukaannya saja kepada jenis lukisan ini. Karena ia menyerupai cara hidup orang-orang mewah dan melalaikan orang dengan perhiasan yang rendah nilainya.
Imam Muslim meriwayatkan dari Zaid bin Khalid Al-Juhani dari Abu Thalhah Al-Anshari yang berkata, “Saya mendengar Nabi saw. bersabda, ‘Malaikat tidak masuk rumah yang ada anjing dan atau patung-patung’.” Zaid berkata, “Saya datangi Aisyah dan bertanya kepadanya, ‘Orang ini (Abu Thalhah) menceritakan bahwa Nabi saw. bersabda, “Tidak dimasuki malaikat rumah yang ada anjing dan patung-patung.” Apakah kamu mendengar bahwa Nabi saw. bersabda, “Tidak dimasuki malaikat rumah yang ada patung saja, akan dikatakan demikian?” Aisyah menjawab, “Tidak. Rasulullah saw. mengatakan kepada kalian apa yang saya lihat beliau lakukan. Saya melihat beliau keluar menemui tentaranya, lalu saya mengambil kain bergambar dan saya tutupkan di pintu. Ketika beliau datang dan melihat kain itu, saya lihat di wajahnya ada ketidaksukaan. Beliau menariknya dengan keras hingga sobek, seraya bersabda, ‘Sesungguhnya Allah tidak memerintahkan kita untuk membusai batu dan tanah’. Selanjutnya Aisyah mengatakan, ‘Maka kami potong kain itu untuk dua bantal dan saya isi dengan sabut. Beliau tidak mencelaku tentang hal itu’.”
Dari hadits ini, hukum tidak diambil lebih dari sekedar makruh dengan-karahah tanziihiyah (tidak patut), menutupi tembok dan sejenisnya dengan kain-kain gorden yang bergambar. Imam Nawawi mengatakan, “Dalam hadits tersebut tidak ada sesuatu yang disimpulkan haram. Karena hakikat kata itu mengatakan bahwa Allah swt. tidak memerintahkan kita untuk berbuat itu. Ini menunjukkan bahwa ia bukanlah wajib, bukan mandub (dianjurkan), dan tidak pula haram.” Hadits semacam itu juga diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Aisyah ra. Beliau mengatakan,
“Dahulu, kami memiliki gorden bergambar burung. Setiap orang yang masuk akan memandangnya. Maka Rasulullah saw. mengatakan kepadaku,

حَوْلِي هَذَا ، فَإِنِّي كُلَّمَا دَخَلْتُ فَرَأَيْتُهُ ذَكَرْتُ الدُّنْيَا

“Pindahkanlah ini, karena setiap saya masuk dan melihatnya, saya jadi ingat dunia.”
Beliau saw. tidak memerintahkan agar kain itu dipotong. Beliau hanya memerintahkan agar memindahkannya dari tempat yang menghadap kepada setiap orang yang masuk. Beliau tidak suka bila setiap kali berhadapan dan melihatnya, ada hal-hal yang biasanya mengingatkan kepada dunia dan perhiasan-perhiasannya. Terlebih lagi karena beliau saw. melakukan semua shalat sunnah di rumah. Kain dan gorden-gorden bergambar semacam ini sering menggoda hati, sehingga yang shalat tidak bisa khusyu’ dan menghadap dengan sempurna, saat bermunajat kepada Allah swt. Imam Bukhari meriwayatkan dari Anas, ia berkata, Dahulu, kain Aisyah digunakannya untuk menutup samping rumahnya. Maka Nabi saw. mengatakan kepadanya,
Hadits:

 “أَمِيطِيْهِ عَنِّي فَإِنَّهُ لَا تَزَالُ تَصَاوِيْرُهُ تَعْرِضُ لِي فِي صَلَاتِي .”

Jauhkanlah itu dariku, karena gambar-gambarnya selalu melintas di depanku ketika shalat.
Syekh Bakhit mengajukan pertanyaan menarik: “Orang yang menggambar berbagai rupa binatang dan pemahat yang mengukir bentuk pohon dan sejenisnya, saya beranggapan tidak termasuk dalam ancaman ini, meskipun hal ini pada umumnya makruh dan tercela.” Syekh Bakhit memberi catatan kaki atas masalah ini dengan menyatakan, “Yang demikian itu karena ketika sesuatu yang tidak bernyawa melukis bentuk yang demikian itu bentuk pelukis gambar hanyalah menirukan, dan tidak mewujudkan bentuk binatang. Gambar binatang sebenarnya tidak memiliki jiwa. Gambar semacam ini telah kehilangan banyak bagian yang tanpa sekali-kali dibayangkan dapat hidup, bahkan tidak berujud sama sekali. Karenanya, ia tidak termasuk gambar binatang yang pada hari kiamat nanti, sedangkan memasuki ruh ke dalamnya yang perlu dijelaskan di sini untuk dimaksud adalah melukisnya. Secara tekstual, gambar yang tidak mampu melahirkan tiga dimensi, yang tidak kehilangan bagian anggota tubuh yang menjadikan ruh ke dalamnya jadi, kembalinya kepada sang pelukis menunjukan ruhyanya. Jadi, ketidakmampuan menunjuk ditujukan ke dalam dirinya, dapat menerima kehidupan, kepada ketidakmampuan gambar tersebut menerima kehidupan.”
Di antara dalil yang menguatkan pendapat ini adalah hadits qudsi, “Dan siapakah yang lebih zhalim dibanding orang yang dengan sengaja menciptakan seperti ciptaan-Ku? Karena itu hendaklah mereka menciptakan atom, hendaklah mereka menciptakan sehelai rambut.”
Karena ciptaan Allah swt. seperti yang kita saksikan bukanlah gambar di atas hamparan tipis seperti kertas dan sejenisnya. Dia menciptakan bentuk-bentuk tiga dimensi yang mempunyai ujud fisik, sebagaimana Allah swt. Ayat Al-Qur’an:

“هُوَ الَّذِي يُصَوِّرُكُمْ فِي الْأَرْحَامِ كَيْفَ يَشَاءُ” ( العمران :٦)

“Dia-lah yang telah membentuk kalian di dalam rahim sebagaimana yang Ia kehendaki.” (Ali Imran: 6)
Dalil: HR. Bukhari dan Muslim dan lainnya.
Penjelasan Singkat:
Syekh Bakhit berpendapat bahwa menggambar binatang dan memahat pohon tidak termasuk dalam ancaman karena gambar tersebut hanya tiruan dan tidak memiliki jiwa. Dalil hadits qudsi menunjukkan kezaliman menciptakan sesuatu yang menyerupai ciptaan Allah. Ciptaan Allah memiliki bentuk tiga dimensi dan jiwa, sedangkan gambar tidak.
Tidak ada yang melemahkan madzhab ini kecuali hadits Aisyah yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, bahwa suatu ketika Rasulullah saw. melihat bantal bergambar. Ketika di depan pintu beliau membeli sebuah bantal, beliau hanya berdiri dan tidak mau masuk rumah. Aisyah menangkap ketidakridhaan beliau saw. dan bertanya, “Wahai Rasulullah, saya bertaubat kepada Allah dan Rasul-Nya, apakah dosa saya?” Beliau balik bertanya, “Mengapa ada bantal di sini?” “Saya membelinya untukmu. Engkau dapat menggunakannya untuk duduk atau tidur,” jawab Aisyah hati-hati. Rasulullah saw. bersabda,

إِنَّ أَصْحَابَ هَذِهِ الصُّوَرِ يُعَذِّبُونَ وَيُقَالُ لَهُمْ : أَحْبُوا مَا خَلَقْتُمْ ! وَقَالَ : إِنَّ الْبَيْتَ الَّذِي فِيهِ الصُّوَرُ لَا تَدْخُلُهُ الْمَلَائِكَةُ ، وَزَادَ مُسْلِمٌ فِي رِوَايتِهِ عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ : فَأَخَذْتُهُ فَجَعَلْتُهُ مِرْفَقَتَيْنِ بِهِمَا فِي الْبَيْتِ . تَعْنِي أَنَّهَا شَقَّتْ النَّمْرَقَة فَجَعَلْتْهَا مِرْفَقَتَيْنِ

.
“Sungguh, pelukis gambar-gambar ini bakal disiksa dan dikatakan kepada mereka, ‘Hidupkan apa yang telah kalian ciptakan.’ Kemudian beliau bersabda, ‘Sesungguhnya rumah yang di dalamnya ada gambar tidak dimasuki malaikat.'”
Imam Muslim menambahkan dalam riwayat Aisyah bahwa beliau saw. bersandar dengan bantal itu pun di rumahnya.
Hanya saja, hadits ini bertentangan dengan sejumlah hal:

*Pertama* , ia diriwayatkan dengan banyak riwayat yang kontradiktif. Sebagian menunjukkan bahwa beliau saw. menggunakan tirai bergambar setelah dipotong dan dijadikan sebagai bantal, sementara riwayat lain menyebutkan bahwa beliau tidak menggunakannya sama sekali.
*Kedua* , sebagian riwayat hanya menunjukkan karahah (kebencian) saja. Dan kebencian itu hanya dalam penggunaan tirai tembok dengan gambar, karena ia adalah bentuk kemewahan yang tidak diridhai. Karena itulah, dalam riwayat Muslim di atas, beliau saw. bersabda, “Sesungguhnya Allah tidak memerintahkan kita untuk mengenakan pakaian kepada batu dan tanah.”
*Ketiga* , hadits Muslim dari Aisyah sendiri yang memuat tentang tirai bergambar burung berikut sabda Nabi saw. kepadanya, “Pindahkan ini, karena setiap kali saya melihatnya, saya jadi ingat dunia,” dan hadits ini tidak menunjukkan kepada keharamannya secara mutlak.
*Keempat* , ia bertentangan dengan hadits qiram (kain tipis) yang ada di rumah Aisyah ra. dan perintah Nabi saw. untuk menyingkirkannya, karena gambar-gambarnya melintas saat shalat. Imam Al-Hafizh mengatakan, “Sulit mengkompromikan antara hadits ini dengan hadits Aisyah tentang bantal. Hadits pertama menunjukkan bahwa beliau saw. mengakuinya dan melakukan shalat, sementara tirai itu terpasang hingga memerintahkan untuk mencabutnya karena gambarnya terlintas di dalam shalat. Beliau saw. tidak menyinggung secara khusus keberadaannya sebagai gambar. Imam Al-Hafizh mengkompromikan keduanya, bahwa gambar-gambar pada hadits pertama adalah gambar benda-benda bernyawa, sedangkan hadits kedua adalah gambar benda tidak bernyawa. Akan tetapi kompromi antara dua hadits ini dimentahkan oleh hadits qiram yang memuat tentang gambar burung.”
*Kelima* , ia bertentangan dengan hadits Abu Thalhah Al-Anshari yang mengecualikan cap pada kain. Imam Qurtubi mengatakan, “Hadits-hadits ini bisa dipertemukan karena hadits Aisyah menunjukkan kepada hukum makruh, hadits Abu Thalhah menunjukkan kepada hukum boleh, yang sudah tentu tidak bertentangan secara diametral dengan makruh. Pendapat ini dianggap baik oleh Al-Hafizh Ibnu Hajar.”
*Keenam* , Rawi hadits bantal dari Aisyah, yakni keponakannya: Qasim bin Muhammad bin Abu Bakar, yakni kemenakan Aisyah sendiri membolehkan memakaikan gambar dua dimensi. Dari Ibnu Aun, ia berkata, “Saya menemui Al-Qasim di atas Makkah, di rumahnya. Saya melihat di rumahnya ada hajlah¹⁵¹ bergambar berang-berang dan binatang khayalan bertubuh singa, kepala, dan sayap elang.
Imam Al-Hafizh mengatakan, “Kemungkinan beliau berpegang pada keumuman sabdanya, ‘Kecuali cap di kain’, seakan-akan beliau menjumukan tidak setujunya Nabi saw. terhadap pemasangan tirai tersebut mengandung dua hal, yaitu karena bergambar dan karena menutup tembok. Pernyataan ini didukung riwayat yang mengatakan, ‘Sesungguhnya Allah tidak memerintahkan kita untuk mengenakan pakaian kepada batu dan tanah’.”
Al-Qasim bin Muhammad adalah satu di antara tujuh ahli fiqih Madinah, dan termasuk yang paling dikenal di masanya. Beliau yang meriwayatkan hadits bantal. Kalau sekiranya beliau tidak memahaminya sebagai rukhsah (dispensasi) dalam masalah hajlah dan sejenisnya, tentu tidak membolehkan penggunaannya.
Akan tetapi ada kemungkinan lain yang muncul dari hadits-hadits terkait dengan masalah gambar dan pelukis. Yakni bahwa pada awalnya Rasulullah saw. bersikap sangat keras tentang masalah itu. Yang demikian itu karena mereka masih dekat dengan zaman kemusyrikan dan penyembahan berhala, serta pengkultusan terhadap gambar dan patung-patung. Ketika kemudian aqidah tauhid sudah tertanam kuat di dalam hati dan akal, beliau memberikan keringanan hukum pada gambar dua dimensi (bukan patung). Karena ia hanyalah gambar. Kalau tidak demikian, tentu beliau tidak rela dengan adanya tirai atau kain tipis bergambar di rumahnya, tidak mengecualikan gambar-gambar yang dicap atau dilukis di kain. Yang semisal dengan kain adalah kertas, tembok, dan lain-lain.
Imam Thahawi dari kalangan Hanafiyah (madzhab Hanafi) mengatakan, “As-Syari’ (Allah dan Rasul-Nya -pen.) pada awalnya melarang gambar secara keseluruhan, termasuk cap, karena umat manusia belum lama meninggalkan masa peribadatan gambar dan patung-patung. Karena itu, dilaranglah hal itu secara keseluruhan. Setelah larangan itu mapan, dibolehkanlah yang berupa cap di kain karena kebutuhan untuk pakaian. Dibolehkan pula patung yang mudah rusak (seperti mainan), karena pengagungan terhadap sesuatu yang mudah rusak tidak terjadi pada orang jahil sekalipun. Sedangkan larangannya tetap berlaku pada patung yang tidak mudah rusak (permanen untuk dipajang).”
Rusaknya Gambar, Menjadikanny Halal
Demikianlah, setiap perubahan yang terjadi pada gambar atau patung, menjadikannya semakin jauh dari kemungkinan diagungkan, dan semakin dekat kepada kerusakan. Secara hukum juga berarti memindahkannya dari hukum makruh kepada mubah (boleh). Diriwayatkan dalam hadits bahwa Jibril alaihis salam minta izin masuk kepada Nabi saw. Beliau saw. mengatakan,

“ادْخُلْ ! قَالَ : كَيْفَ أَدْخُلُ وَفِي بَيْتِكَ سِتْرٌ فِيْهِ تَصَاوِيْرُ ؟ فَإِنْ كُنْتَ لَا بُدَّ فَاعِلاً فَاقْطَعْ رَأْسَهَا أَوِ اقْطَعْهَا وَسَائِدَ أَوِ اجْعَلْهَا بَسْطاً .

“Masuklah!” Jibril menjawab, “Bagaimana mungkin saya masuk, sementara di rumahmu ada tirai bergambar? Kalau tidak mungkin membuangnya, maka potonglah kepalanya, atau potong dan jadikan dia sebagai bantal, atau potong sebagai tikar.”
Karena itulah, ketika Aisyah ra. melihat di wajah Nabi saw. ada ketidaksukaan kepada bantal bergambar, dijadikannyalah sandaran, karena dengan begitu akan mudah rusak dan menjauhkannya dari kemungkinan diagungkan.
Diriwayatkan bahwa sebagian salafus shalih menggunakan gambar yang mudah rusak dan usang, dan mereka tidak keberatan. Diriwayatkan dari Urwah bahwa beliau bertelekan di atas sandaran yang bergambar burung dan manusia. Ikrimah mengatakan, “Mereka dahulu menganggap makruh gambar-gambar yang dipasang berdiri, akan tetapi mereka memandang tidak mengapa pada gambar yang diinjak kaki. Berkaitan dengan gambar yang diinjak pada alas berupa tikar atau bantal, mereka menganggap sebagai penghinaan kepada gambar tersebut.”
Gambar Fotografi
Tidak diragukan lagi bahwa berbagai riwayat yang berkaitan dengan gambar dan lukisan, sebagaimana disebut di muka, maka yang dimaksud adalah gambar yang dilukis atau dipahat. Adapun gambar dari hasil alat fotografi, adalah sesuatu yang baru, tidak ada di zaman Rasul saw. dan tidak ada pula di zaman salafus shalih. Apatah lagi riwayat dan hukum yang berkaitan dengan lukisan dan patung relevan untuk menentukan hukum gambar fotografi ini?
Mereka yang membatasi bahwa yang haram hanyalah gambar tiga dimensi (patung) saja, berarti tidak ada masalah dengan fotografi ini, terlebih lagi jika tidak utuh.
Lalu atas dasar pendapat ulama yang lain, apakah foto ini dapat dianalogikan kepada gambar yang diciptakan para pelukis? Atau apakah alasan yang disebutkan dalam hadits-hadits tentang adzab para pelukis, yaitu karena mereka menandingi ciptaan Allah, tidak ada pada gambar fotografi? Tiadanya alasan (illat) menjadikan tidak adanya akibat (ma’lul). Demikian dikatakan oleh para ahli ushul.
Di sini kita mendapatkan kejelasan pada apa yang difatwakan oleh Syaikh Bakhit,seorang ahli fatwa Mesir, bahwa pengambilan gambar dengan fotografi, yang pada hakikatnya adalah proses menangkap bayangan dengan suatu alat tertentu, sama sekali bukan termasuk kegiatan menggambar yang dilarang. Karena pembuatan gambar yang dilarang adalah menciptakan gambar.
Yang belum ada dan belum dicipta sebelumnya. Dengan begitu, dia menandingi ciptaan Allah SWT. Hal semacam ini tidak terjadi pada pengambilan gambar dengan menggunakan alat fotografi.
Begitulah adanya, meskipun ada pula ulama yang dengan keras melarang gambar dalam semua jenisnya, termasuk juga fotografi. Hanya saja tentu tidak diragukan lagi bahwa ada rukhsah (dispensasi) dalam hal-hal darurat atau untuk suatu mashlahat, misalnya membuat foto KTP, paspor, foto orang bermasalah, dan gambar yang dipakai untuk media penjelasan dan sebagainya. Semua ini tidak memungkinkan adanya niat pengagungan atau sikap lain yang membahayakan aqidah. Kebutuhan memakai gambar-gambar tersebut lebih besar dan lebih penting artinya dibanding pemakaian lukisan dalam kain yang dikecualikan Nabi SAW..
*Objek Gambar*
Adalah sama-sama disepakati bahwa objek gambar mempengaruhi hukumnya, haram atau tidak. Tak seorang muslim pun yang tidak sependapat akan haramnya gambar yang objeknya tidak sesuai dengan aqidah, syariat, dan adab Islam. Misalnya gambar wanita telanjang, setengah telanjang, menonjolkan bagian-bagian yang membangkitkan nafsu, melukis atau memfoto mereka dalam berbagai pose yang merangsang birahi dan membangkitkan gairah nafsu. Sebagaimana yang kita saksikan dengan jelas pada sebagian majalah, koran, juga bioskop-bioskop. Semua itu tidak diragukan lagi akan keharamannya; haram menggambarnya, mempublikasikannya di masyarakat, memilikinya, memasangnya di rumah-rumah, kantor, tembok-tembok, dan tempat-tempat lainnya, haram juga melihat atau menontonnya dengan sengaja.
Termasuk di antaranya adalah gambar orang-orang kafir, zhalim, dan fasiq, yang harus dimusuhi dan dibenci karena Allah SWT. Karenanya, tidak halal bagi seorang muslim menggambar atau memiliki gambar tokoh atheis yang mengingkari adanya Allah, atau penyembah berhala yang menyekutukan Allah dengan sapi, api, dan sebagainya, atau Yahudi, Nasrani yang mengingkari kenabian Nabi Muhammad SAW, atau orang yang mengaku Islam tapi penyembahannya berhala yang menyekutukan Allah dengan Allah, api, dan sebagainya, atau Yahudi, Nasrani yang mengingkari kenabian Nabi Muhammad SAW, atau orang yang mengaku Islam tetapi tidak orang yang menyekutukan Allah, atau orang-orang yang menyebarkan kekejian, pornografis, dan menebarkan kerusakan di tengah masyarakat, seperti artis-artis dan biduanita-biduanita.
Demikian pula hukumnya gambar-gambar yang mengekspresikan paganisme dan simbol-simbol agama yang tidak diridhai Islam. Misalnya patung, salib, dan sejenisnya. Barangkali kebanyakan karpet, tirai, gorden, dan bantal-bantal yang ada di masa Nabi saw. bergambar lukisan dan ukiran semacam itu. Imam Bukhari meriwayatkan bahwa Nabi saw. tidak pernah membiarkan gambar-gambar salib di rumahnya, kecuali pasti dirusaknya.
Ibnu Abbas meriwayatkan bahwa saat Fathu Makkah, beliau tidak mau masuk hingga memerintahkan untuk dihilangkan patung-patung di Ka’bah. Beliau tidak diragukan lagi bahwa patung-patung itu adalah ekspresi paganisme dan kesesatan kaum musyrikin Makkah.

Dari Ali bin Abi Thalib ra., ia berkata

كان رسول الله صلى الله عليه وسلم في جنازة فقال: أيُّكم ينطلق إلى المدينة فلا يَدَعْ بِها وَتَنَا إِلَّا كَسَرَهُ وَلَا قَبْرًا إِلَّا سَوَّاهُ وَلَا صُورَةً إِلَّا لَطْحَهَا؟ فقال رجل: أنا يا رسول الله. قال: فهَابَ أَهْلُ المدينة. فانطلق الرجل فرجع فقال: يا رسول الله لم أَدَعْ بِها وَتَنَا إِلَّا كَسَرْتُهُ وَلَا قَبْرًا إِلَّا سَوَّيْتُهُ وَلَا صُورَةً إِلَّا لَطَّحْتُهَا. ثم قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: من عاد لِصَنْعَةِ شيءٍ من هذا فقد كَفَرَ بِمَا أُنْزِلَ عَلَى مُحَمَّدٍ صلى الله عليه وسلم.

Dari Ali bin Abi Thalib ra., ia berkata,
“Waktu itu Rasulullah saw. tengah mengurus jenazah. Beliau bersabda, ‘Siapakah di antara kalian yang pergi ke Madinah lalu tidak
“Membiarkan, patung kecuali dipatahkannya, tidak pula kuburan kecuali diratakannya, dan tidak pula gambar kecuali dihapuskannya?” Seorang menjawab, “Saya berangkat ke sana, lalu kembali dan mengabarkan, ‘Wahai Rasul, saya tidak menemukan patung kecuali kupatahkan, tidak ada kuburan kecuali kuratakan, dan tidak pula lukisan kecuali kucoreng-corenk’.” Kemudian Rasulullah saw. bersabda, “Barangsiapa kembali kepada sesuatu di antara itu semua, berarti ia kafir terhadap apa yang telah Allah turunkan kepada Muhammad.” [159]
Gambar-gambar itu diperintahkan Rasulullah saw. untuk dinodai dan dihapuskan karena ia merupakan simbol dan fenomena keberhalaan jahiliyah. Rasulullah saw. sangat serius dalam usaha membersihkan Madinah dari pengaruh jahiliyah ini. Karena itulah, beliau saw. menjadikan sikap kembali kepada salah satu di antaranya sebagai perilaku kufur kepada apa yang telah Allah swt. turunkan.
Kesimpulan Hukum Gambar dan Pembuatnya
Secara global, kita bisa menyimpulkan hukum gambar dan pembuatnya sebagai berikut:
a. Jenis gambar yang paling berat hukum haramnya adalah gambar sesuatu yang disembah selain Allah. Misalnya Yesus di kalangan umat Kristiani. Ini membuat pelukisnya dihukumi kafir jika ia tahu dan sengaja melakukannya. Terlebih lagi jika gambar Yesus itu dalam bentuk tiga dimensi (patung). Semua yang menyebarkan atau mengagungkannya dengan cara apa pun ikut berdosa sesuai tingkat partisipasinya.
b. Dosa yang lebih ringan adalah mereka yang melukis sesuatu yang tidak disembah, akan tetapi ia bermaksud menandingi ciptaan Allah. Ia bermaksud mengadakan dan menciptakan sebagaimana ia mengadakan dan menciptakan sebagaimana Allah.
HR. Ahmad. Al-Mundziri mengatakan, “Sanadnya baik insya Allah.” Muslim meriwayatkan dari Hayyan bin Husein, bahwa ia mengatakan, “Ali ra. mengatakan kepadanya, ‘Maukah kau kuutus dengan sesuatu yang Rasulullah saw. mengutusku dengannya; yakni agar kau tidak membiarkan gambar kecuali kau hapus, dan tidak ada kuburan yang dimuliakan kecuali kauratakan’.”
Allah mencipta. Dengan itu ia dikafirkan. Hukum ini terkait dengan niat pelukis itu sendiri.

 c. Di bawahnya lagi adalah gambar-gambar tiga dimensi yang tidak disembah, akan tetapi termasuk yang diagungkan. Misalnya patung raja-raja, tokoh, dan siapa saja yang menurut anggapan mereka perlu diabadikan dengan mendirikan patung mereka di lapangan atau tempat sejenisnya. Sama saja, apakah patung itu utuh ataupun setengah badan.

 d. Di bawahnya lagi adalah gambar tiga dimensi benda bernyawa yang tidak disucikan ataupun diagungkan. Telah disepakati para ulama bahwa ia adalah haram, kecuali yang mudah rusak, seperti mainan anak-anak. Demikian pula yang dimakan misalnya patung-patung kue.

 e. Setelah itu adalah gambar dua dimensi di kanvas yang dihormati (diagungkan). Misalnya gambar penguasa, pemimpin, dan sejenisnya. Terlebih lagi jika dipajang atau digantung. Lebih haram lagi jika mereka adalah orang-orang zalim, fasik, dan atheis, karena pengagungan kepada mereka berarti merobohkan Islam.

 f. Lebih rendah lagi adalah gambar dua dimensi benda bernyawa yang tidak diagungkan, tetapi termasuk simbol kemewahan dan kesenangan. Misalnya lukisan untuk penutup tembok dan sejenisnya. Yang seperti ini termasuk makruh.

 g. Sedangkan gambar benda-benda tak bernyawa berupa pohon, laut, perahu, gunung, dan sejenis pemandangan alam lainnya, tidak mengapa bagi yang melukis atau memilikinya. Dengan catatan tidak menyibukkannya dari taat kepada Allah swt. dan tidak pula menjadikannya bermewah-mewahan dengannya. Kalau sampai demikian maka makruh pula hukumnya.

 h. Sedangkan gambar fotografi, asalnya adalah mubah (boleh) selama objeknya bukan yang diharamkan. Misalnya objek yang dikultuskan secara agama atau diagungkan secara materi. Terutama sekali jika ia adalah orang yang diagungkan di kalangan orang kafir dan fasiq. Misalnya penyembah berhala, tokoh komunis, sosialis, dan artis-artis yang tidak bermoral.

i. Terakhir, patung dan gambar-gambar yang lalu dirusak atau dikaburkan bentuknya. Maka hukumnya berganti dari haram menjadi halal. Misalnya gambar-gambar pada karpet yang diinjak-injak kaki, sandal, dan sejenisnya.” Wallahu a‘lam bish-shawab

Kategori
Uncategorized

Hukum Membayar Makanan Setelah Dikonsumsi dalam Perspektif Islam

Hukum Membayar Makanan Setelah Dikonsumsi dalam Perspektif Islam

Latar Belakang:

Dalam transaksi jual beli, salah satu prinsip dasar yang diatur dalam Islam adalah akad (kesepakatan) yang jelas antara penjual dan pembeli. Akad ini mencakup serah terima barang dan pembayaran yang dilakukan sesuai dengan kesepakatan yang tidak menimbulkan kerugian bagi salah satu pihak. Dalam beberapa kondisi, seperti membeli makanan di warung atau pedagang kaki lima, ada kebiasaan yang berkembang di masyarakat, yaitu pembeli mengonsumsi makanan terlebih dahulu, kemudian baru membayarnya setelah selesai.

Kondisi ini dapat menimbulkan pertanyaan dari sudut pandang fiqih, yaitu:

1. Apakah cara ini sesuai dengan prinsip syariat Islam, mengingat pembayaran dilakukan setelah barang (makanan) dikonsumsi?

Catatan :Pertanyaan ini penting untuk dijelaskan agar umat Muslim dapat menjalankan transaksi yang sesuai dengan aturan syariat dan terhindar dari keraguan (syubhat).

Jawaban:

Ditafsil

1. Dalam Islam, prinsip utama dalam jual beli adalah terpenuhinya akad (ijab qabul) secara sah dan saling ridha antara penjual dan pembeli. . Hal ini karena dalam akad jual beli, salah satu syarat sahnya adalah adanya keridhaan kedua belah pihak (رِضَا الطَّرَفَيْنِ).

Jika penjual mengizinkan pembeli untuk mengonsumsi barangnya terlebih dahulu, maka akad tersebut sah, sebab izin dari penjual tersebut menunjukkan kerelaannya. Hal ini sesuai dengan kaidah dalam fiqih:

“الأمر بالتصرف إذنٌ فيه.”

Artinya: “Perintah untuk melakukan suatu tindakan menunjukkan adanya izin di dalamnya.” Semisal ada Maklumat   bacaan menu makanan dengan harga ”  makan wajib bayar “

2.Jika sipenjual tidak ada kerelaan barang jualannya dimakan terlebih dahulu dengan tanpa izin makan dalam hal ini hukumnya haram dan tidak termasuk akad jual beli yang sah, walaupun demikian ia wajib membayar ganti rugi apa yang telah dimakan( dirusak).

Dalil yang mendasari hal ini adalah firman Allah dalam Al-Qur’an:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ إِلَّا أَنْ تَكُونَ تِجَارَةً عَنْ تَرَاضٍ مِنْكُمْ

(QS. An-Nisa: 29)

Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan saling ridha di antara kamu.”

Dalam kitab “Al-Majmu'” karya Imam An-Nawawi, disebutkan:

وَالشُّرُوطُ فِي الْبَيْعِ أَنْ يَكُونَ عَنْ تَرَاضٍ وَأَنْ يَكُونَ الْمَبِيعُ مَمْلُوكًا لِلْبَائِعِ وَمَعْلُومًا لِلْمُشْتَرِي.

Artinya: “Di antara syarat sah jual beli adalah harus terjadi dengan keridhaan (antara penjual dan pembeli), barang yang dijual adalah milik penjual, dan diketahui oleh pembeli.”

Dalam kasus ini, jika penjual rela dengan konsumsi terlebih dahulu dan pembayaran dilakukan setelah itu, maka transaksi tersebut sah, dan tidak ada larangan dalam syariat.

Kesimpulan

Dalam kasus pembeli memakan makanan terlebih dahulu sebelum membayar, hukumnya adalah boleh, selama memenuhi syarat berikut:

1. Adanya keridhaan kedua belah pihak

Jika penjual mengizinkan pembeli memakan makanan terlebih dahulu dan pembeli berkomitmen untuk membayar setelah selesai, maka transaksi tersebut sah. Dalam hal ini, ridha dari penjual menjadi syarat utama.

2. Tidak ada unsur penipuan atau gharar

Pembeli harus jujur dalam niat untuk membayar setelah selesai makan, dan tidak ada keraguan dari pihak penjual terkait pembayaran. Jika pembayaran dilakukan dengan sengaja ditunda atau ada kemungkinan tidak dibayar, maka ini bisa menjadi haram karena mengandung unsur gharar.

3. Tidak melanggar kesepakatan

Apabila penjual menetapkan aturan bahwa pembayaran dilakukan sebelum makanan dimakan, tetapi pembeli tetap makan tanpa izin, maka hal ini tidak diperbolehkan karena melanggar akad awal.

Kesimpulan Akhir

Makan makanan ( barang jualan) terlebih dahulu lalu membayar setelah selesai hukumnya boleh, dengan syarat:

1. Penjual ridha dan mengizinkan.

2. Pembeli berniat jujur dan tidak menunda pembayaran tanpa alasan.

3. Tidak ada kesepakatan sebelumnya yang dilanggar.

Transaksi ini termasuk dalam kategori jual beli dengan kepercayaan, yang umum terjadi di masyarakat. Selama semua pihak saling ridha dan tidak ada unsur yang melanggar syariat, hal ini diperbolehkan. Tetapi sebaliknya jika tanpa adanya kerelaan dari penjual dan tanpa izin maka termasuk ghasab yang diharamkan dan wajib membayar ganti rugi. Wallahu a’lam.

Tambahan Referensi

المجموع شرح المهذب. ج٩ص١٦٤

`فَأَمَّا إذَا أَخَذَ مِنْهُ شَيْئًا وَلَمْ يُعْطِهِ شَيْئًا وَلَمْ يَتَلَفَّظَا بِبَيْعٍ بَلْ نَوَيَا أَخْذَهُ بِثَمَنِهِ الْمُعْتَادِ كَمَا يَفْعَلُهُ كَثِيرٌ مِنْ الناس فَهَذَا بَاطِلٌ بِلَا خِلَافٍ` لِأَنَّهُ لَيْسَ بِبَيْعٍ لَفْظِيٍّ وَلَا مُعَاطَاةٍ وَلَا يُعَدُّ بَيْعًا فَهُوَ بَاطِلٌ وَلْنَعْلَمْ هَذَا وَلْنَحْتَرِزْ مِنْهُ وَلَا نَغْتَرُّ بِكَثْرَةِ مَنْ يَفْعَلُهُ فَإِنَّ كَثِيرًا مِنْ النَّاسِ يَأْخُذُ الْحَوَائِجَ مِنْ الْبَيَّاعِ مَرَّةً بَعْدَ مَرَّةٍ مِنْ غَيْرِ مُبَايَعَةٍ وَلَا مُعَاطَاةٍ ثُمَّ بَعْدَ مُدَّةٍ يُحَاسِبُهُ وَيُعْطِيهِ الْعِوَضَ وَهَذَا بَاطِلٌ بِلَا خِلَافٍ لِمَا ذَكَرْنَاهُ وَاَللَّهُ أَعْلَمُ

Al-Majmu’ Syarh Al-Muhadzdzab oleh Imam An-Nawawi, Juz 9 Halaman 164:

“Adapun jika seseorang mengambil sesuatu dari penjual tanpa memberikan sesuatu kepadanya (sebagai ganti), tanpa adanya ucapan jual-beli, tetapi hanya berniat untuk mengambil barang tersebut dengan harga yang biasa berlaku sebagaimana yang dilakukan banyak orang, maka hal ini batil tanpa ada khilaf. Sebab, hal tersebut bukan termasuk akad jual-beli yang sah secara lafadz maupun mu’athah (serah-terima). Hal ini tidak dianggap sebagai jual-beli, sehingga hukumnya batil. Maka, ketahuilah hal ini dan berhati-hatilah darinya. Jangan sampai terpedaya oleh banyaknya orang yang melakukannya. Sesungguhnya banyak orang mengambil barang-barang dari penjual berulang kali tanpa adanya akad jual-beli maupun serah-terima, kemudian setelah beberapa waktu mereka melakukan perhitungan dan memberikan harga sebagai pengganti. Hal ini hukumnya batil tanpa ada khilaf, sebagaimana yang telah dijelaskan.

[الجمل، حاشية الجمل على شرح المنهج = فتوحات الوهاب بتوضيح شرح منهج الطلاب، ٤٨١/٣]

(وَيُضْمَنُ مُتَقَوِّمٌ أُتْلِفَ بِلَا غَصْبٍ بِقِيمَتِهِ وَقْتَ تَلَفٍ)

 لِأَنَّهُ بَعْدَهُ مَعْدُومٌ وَضَمَانُ الزَّائِدِ فِي الْمَغْصُوبِ إنَّمَا كَانَ بِالْغَصْبِ، وَلَمْ يُوجَدْ هُنَا وَلَوْ أَتْلَفَ عَبْدًا مُغَنِّيًا لَزِمَهُ تَمَامُ قِيمَتِهِ أَوْ أَمَةً مُغَنِّيَةً لَمْ يَلْزَمْهُ مَا زَادَ عَلَى قِيمَتِهَا بِسَبَبِ الْغِنَاءِ عَلَى النَّصِّ الْمُخْتَارِ فِي الرَّوْضَةِ؛ لِأَنَّ اسْتِمَاعَهُ مِنْهَا مُحَرَّمٌ عِنْدَ خَوْفِ الْفِتْنَةِ وَقَضِيَّتُهُ أَنَّ الْعَبْدَ الْأَمْرَدَ كَذَلِكَ (فَإِنْ تَلِفَ بِسِرَايَةِ جِنَايَةٍ فَبِالْأَقْصَى) مِنْ الْجِنَايَةِ إلَى التَّلَفِ يَضْمَنُ لِأَنَّا إذَا اعْتَبَرْنَا الْأَقْصَى فِي الْغَصْبِ فَفِي نَفْسِ الْإِتْلَافِ أَوْلَى

[Referensi: Al-Jamal, Hasyiyah al-Jamal ‘ala Syarh al-Minhaj (Futuhat al-Wahhab bi-Tawdih Syarh Minhaj at-Thullab), jilid 3, halaman 481.]

(“Dan sesuatu yang bernilai yang dirusakkan tanpa melalui tindakan perampasan, maka wajib diganti berdasarkan nilainya pada waktu kerusakan terjadi.”) Hal ini karena setelah rusak, barang tersebut dianggap tidak ada, dan kewajiban mengganti lebih pada barang yang dirampas hanya disebabkan oleh tindakan perampasan, yang dalam kasus ini tidak terjadi. Jika seseorang merusakkan seorang budak laki-laki yang bisa bernyanyi, maka wajib baginya mengganti nilai penuhnya. Namun, jika yang dirusakkan adalah seorang budak perempuan yang bisa bernyanyi, maka tidak wajib baginya mengganti nilai lebih yang disebabkan oleh kemampuan bernyanyinya, sesuai teks yang dipilih dalam kitab ar-Raudhah. Sebab, mendengar nyanyian darinya hukumnya haram jika dikhawatirkan menimbulkan fitnah. Konsekuensinya adalah budak laki-laki yang berwajah tampan juga diperlakukan sama.

(“Jika barang tersebut rusak akibat menyebarnya dampak suatu tindak pidana, maka wajib diganti berdasarkan nilai tertinggi dari awal terjadinya tindak pidana hingga kerusakan terjadi.”) Hal ini karena jika kita menetapkan nilai tertinggi dalam kasus perampasan, maka lebih utama lagi untuk menetapkannya dalam kasus perusakan langsung.

Wallahu A’lam Bisshawab

Kategori
Uncategorized

HUKUM PELAKSANAAN WASIAT TERKAIT TEMPAT PENGUBURAN

Hukum Pelaksanaan Wasiat Terkait Tempat Penguburan

Assalamualaikum

Latar Belakang

Wasiat tentang Tempat Penguburan
Wasiat adalah pesan yang disampaikan seseorang sebelum meninggal dunia agar dilaksanakan oleh ahli waris atau orang yang diberi amanah. Dalam Islam, wasiat memiliki kedudukan penting, terutama jika berkaitan dengan ibadah atau kepentingan duniawi yang sesuai syariat. Salah satu bentuk wasiat yang sering terjadi adalah permintaan terkait tempat penguburan.

Namun, pelaksanaan wasiat tersebut sering kali menghadapi kendala, seperti ketidaktersediaan lokasi pemakaman yang dimaksud, perubahan situasi setelah wasiat disampaikan, atau adanya faktor lain yang menghalangi pelaksanaan wasiat. Oleh karena itu, penting untuk mengetahui batasan syar’i terkait kewajiban ahli waris dalam melaksanakan wasiat tersebut.

Pertanyaan

Wajibkah ahli waris melaksanakan wasiat tentang tempat penguburan tersebut?

Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh.

Jawaban

1. Hukum Wasiat tentang Tempat Penguburan:

Wasiat untuk dikuburkan di tempat tertentu termasuk wasiat duniawi. Pelaksanaan wasiat ini bersifat wajib selama:

Tidak bertentangan dengan syariat, tidak menyebabkan kesulitan atau mudarat bagi ahli waris, daTempat yang diminta memungkinkan untuk penguburan.

2. Kondisi Tidak Ada Kuburan di Lokasi yang Dimaksud:

Jika lokasi yang dimaksud tidak memiliki tempat pemakaman atau tidak memungkinkan untuk dikuburkan, maka ahli waris tidak wajib melaksanakan wasiat tersebut karena adanya uzur syar’i (halangan). Dalam hal ini, jenazah harus dikuburkan di tempat yang memungkinkan dan sesuai dengan adab syar’i, termasuk dikuburkan ditempat penguburan orang-orang Islam dan sunnah dikuburkan ditempat kuburan orang-orang soleh.

Dalil:

المكتبة الشاملة

كتاب شرح زاد المستقنع – الشنقيطي [محمد بن محمد المختار الشنقيطي] الفقه الحنبلي
ص:   ٨٨
الكتاب  الأسئلة  حكم الوصية فيما لا يملك

[حكم الوصية فيما لا يملك]
السؤال
لقد توفي في بلدنا رجل وأوصى قبل موته بأن يدفن في الأرض التي ورثها هو وإخوانه من أبيه، وتصبح تلك الأرض مقبرة للمسلمين دون موافقة إخوانه؛ لأنهم لم يكونوا معه، فما حكم تلك الوصية أثابكم الله؟
الجواب
إن كانت هذه الأرض ملكاً له فإنه يجوز أن يُدفن فيها، وإذا امتنع الورثة نظر إلى قدر ما يدفن فيه من الثلث، فإن كان قد أوصى بثلثه فإنه تكون وصيته بعد الموت قد خرجت عن حد الثلث راجعةً إلى رضا الورثة، فمن برهم له أن يرضوا، وإن شاءوا صرفوه إلى المقابر العامة، فهذا من حقهم؛ لكنه يفوتهم البر.
وأما إذا أوصى بأرضٍ هي ملكٌ لغيره فإن وصيته موقوفةٌ على حكم الغير؛ لأن عمر بن الخطاب رضي الله عنه لم يستبح مكانه من حجرة أم المؤمنين رضي الله عنها إلا بعد أن استأذنها، وخشي أن تكون أذنت له في حياته حياءً وخجلاً منه رضي الله عنه وأرضاه، فأمر ابنه عبد الله أن يستأذن بعد موته، وبعد أن يصلى عليه يقف على الباب ويستأذنها حتى يزول ما يكون في حال حياته من هيبته وخشيته، فقال: إن أذنت لك فادفني مع صاحبي، وإن لم تأذن فاصرفني إلى البقيع.
فدّل هذا على أن من أوصى أن يُدفن في أرضٍ هي ملكٌ للغير استأذن الغير؛ فإن أذن له فبها ونعمت، وإن لم يأذن له فإنه يصرف إلى مقابر المسلمين والله تعالى أعلم.

Hukum Wasiat atas Sesuatu yang Tidak Dimiliki

Pertanyaan
Seorang lelaki telah wafat di negeri kami, dan sebelum wafat dia berwasiat agar dirinya dikuburkan di tanah yang diwarisi bersama saudara-saudaranya dari ayah mereka, serta agar tanah tersebut dijadikan sebagai pemakaman kaum muslimin tanpa persetujuan saudara-saudaranya, karena mereka tidak bersamanya. Apa hukum wasiat ini? Semoga Allah memberikan pahala kepada Anda.

Jawaban
Jika tanah tersebut adalah miliknya, maka dia boleh dikuburkan di sana. Jika para ahli waris menolak, maka dilihat berapa bagian tanah yang akan digunakan untuk penguburan, apakah masih dalam batas sepertiga. Jika dia berwasiat menggunakan sepertiganya, maka wasiatnya setelah wafat telah keluar dari batas sepertiga, sehingga bergantung pada keridhaan para ahli waris. Sebagai bentuk bakti kepada almarhum, mereka dapat merelakannya. Namun, jika mereka menghendaki, tanah tersebut dapat dialihkan ke pemakaman umum. Itu adalah hak mereka, meskipun mereka akan kehilangan kesempatan untuk berbakti kepada almarhum.

Adapun jika dia berwasiat untuk menggunakan tanah yang bukan miliknya, maka wasiatnya bergantung pada persetujuan pemilik tanah. Sebagaimana Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu tidak menggunakan tempatnya di kamar Ummul Mukminin radhiyallahu ‘anha kecuali setelah meminta izin darinya. Umar bahkan khawatir Ummul Mukminin memberikan izin kepadanya semasa hidupnya karena rasa segan dan malu. Oleh karena itu, Umar memerintahkan putranya, Abdullah, untuk meminta izin lagi setelah wafatnya. Setelah Umar dishalatkan, Abdullah diminta berdiri di depan pintu kamar dan meminta izin kepada Aisyah, sehingga rasa segan yang mungkin ada semasa hidup Umar dapat hilang. Umar berpesan: “Jika dia mengizinkanmu, maka kuburkanlah aku bersama dua sahabatku. Jika tidak mengizinkanmu, maka kuburkanlah aku di Baqi’.”

Kisah ini menunjukkan bahwa seseorang yang berwasiat agar dikuburkan di tanah milik orang lain harus meminta izin dari pemiliknya. Jika pemilik tanah memberikan izin, maka wasiat tersebut dapat dilaksanakan. Namun, jika pemilik tanah tidak mengizinkan, jenazahnya dipindahkan ke pemakaman umum kaum muslimin. Allah Ta’ala lebih mengetahui.
Dengan demikian dapat fahami  dari ibarat tersebut jika tanah milih pribadi maka hukumnya boleh namun yang utama dikuburkan ditempat penguburan kaum muslimin terlebih dikuburkan didekat kuburan orang-orang yang soleh.
Dengan demikian hukum Wasiat untuk dikuburkan ditanahnya sendiri wajib selama tidak bertentangan dengan syariat dan tidak memudharatkan baik bagi dirinya maupun orang lain, namun yang utama bahkan sunnah diletakkan ditempat kuburan orang-orang muslim yang soleh.

Nabi SAW bersabda:

لَا ضَرَرَ وَلَا ضِرَارَ

“Tidak boleh ada mudarat dan tidak boleh memudaratkan.” (HR. Ahmad dan Ibnu Majah)

3. Pendapat Ulama:

Imam Nawawi menjelaskan
Memakamkan jenazah di tanah pribadi pun juga diperbolehkan yang sunnah memakamkan jenazah di pemakaman umum bersama kaum muslimin lainnya. Imam Nawawi berkata : Dalam Majmu’ Syarah Muhadzdzab : 5/245).

المجموع شرح المهذب. ج٥ص٢٤٥

يجوز الدفن في البيت وفي المقبرة ، والمقبرة أفضل بالاتفاق

“Boleh hukumnya memakamkan jenazah di rumah boleh juga di kuburan akan tetapi memakamkan jenazah di kuburan lebih utama dengan kesepakatan para ulama.”

Begitu juga syaikh Wahbah Az-Zuhaili menjelaskan dalam kitab Fiqhul Islam Waadillatuhu boleh menguburkan jenazah dirumah dan tidak haram namun makruh karena menguburkan jenazah dirumah hanya khusus bagi Nabi Muhammad SAW berikut: ibaratnya:

فقه الإسلامي وأدلته للزحيلي ج.٢ ص١٥٤٨
الدفن في البيوت: يجوز ولا يحرم الدفن في البيت؛ لأن النبي صلّى الله عليه وسلم دفن في حجرة عائشة رضي الله عنها (١).
لكن الدفن في البيوت لغير النبي ولو للسقط مكروه، لاختصاصه بالأنبياء عليهم الصلاة والسلام.
ويكره الدفن في القباب ونحوها من البيوت المعقودة لجماعة، لمخالفته السنة.
الدفن في البقاع الشريفة: يستحب الدفن في أفضل مقبرة: وهي التي يكثر فيها الصالحون والشهداء لتناله بركتهم، وكذلك في البقاع الشريفة، روى البخاري ومسلم أن موسى عليه السلام لما حضره الموت، سأل الله تعالى أن يدنيه إلى الأرض المقدسة رمية بحجر، قال النبي صلّى الله عليه وسلم: «لو كنتم ثَمَّ لأريتكم قبره عند الكثيب الأحمر»، ولأن عمر رضي الله عنه استأذن عائشة رضي الله عنها أن يدفن مع صاحبيه (٢): أي النبي صلّى الله عليه وسلم وأبي بكر.
جمع الأقارب في موضع واحد: يستحب أن يجمع الأقارب في موضع واحد، لأن النبي صلّى الله عليه وسلم «ترك عند رأس عثمان بن مظعون صخرة، وقال: أتعلم بها قبر أخي، وأدفن إليه من مات من أهلي» (٣)، ولأن ذلك أسهل لزيارتهم، وأكثر للترحم عليهم.

Hukum Penguburan dalam Rumah
Diperbolehkan dan tidak haram mengubur jenazah di dalam rumah, karena Nabi Muhammad ﷺ dimakamkan di kamar Aisyah radhiyallahu ‘anha (1). Namun, penguburan di dalam rumah untuk selain Nabi, bahkan untuk janin yang gugur sekalipun, hukumnya makruh, karena penguburan di rumah adalah keistimewaan khusus bagi para nabi.

Penguburan di dalam bangunan seperti kubah atau sejenisnya
Makruh hukumnya mengubur jenazah di dalam bangunan seperti kubah atau rumah yang dibangun untuk kelompok tertentu, karena hal ini bertentangan dengan sunnah.

Penguburan di tempat-tempat yang mulia
Dianjurkan mengubur jenazah di pemakaman terbaik, yaitu pemakaman yang banyak terdapat orang-orang saleh dan syuhada, agar keberkahan mereka meliputi jenazah tersebut. Demikian juga dianjurkan mengubur di tempat-tempat yang mulia. Imam al-Bukhari dan Muslim meriwayatkan bahwa ketika Nabi Musa ‘alaihis salam menghadapi ajalnya, ia memohon kepada Allah agar mendekatkan dirinya ke tanah suci sejauh lemparan batu. Nabi Muhammad ﷺ bersabda, “Jika kalian berada di sana, aku akan tunjukkan kepada kalian makamnya di dekat bukit pasir merah.” Selain itu, Umar radhiyallahu ‘anhu meminta izin kepada Aisyah radhiyallahu ‘anha untuk dimakamkan bersama dua sahabatnya (2), yakni Nabi Muhammad ﷺ dan Abu Bakar.

Mengumpulkan keluarga di satu tempat pemakaman
Dianjurkan mengumpulkan jenazah keluarga di satu tempat pemakaman, karena Nabi Muhammad ﷺ meninggalkan tanda berupa batu di kepala makam Utsman bin Mazh’un dan bersabda, “Aku meletakkan tanda ini untuk mengenal makam saudaraku, dan aku akan mengubur di sini siapa saja dari keluargaku yang meninggal.” (3). Hal ini juga memudahkan ziarah kubur dan memperbanyak doa untuk mereka.

Syekh Muhammad al-Ramli menyebutkan:

نهاية المحتاج .ج٣ص٣٨
قال الزركشي وغيره: “ولا ينبغي التخصيص بالثلاثة، لو كان بقرب مقابر أهل الصلاح والخير فالحكم كذلك، لأن الشخص يقصد الجار الحسن”

(Nihayah al-Muhtaj, juz 3, hal. 38)

“Al-Imam al-Zarkasyi dan lainnya mengatakan, tidak seharusnya hanya dikhususkan pada tiga tempat (Makkah, Madinah, dan Baitul Maqdis). Jika lokasi pemakaman dipindahkan ke dekat makam orang-orang saleh, maka hukumnya tetap sunnah karena seseorang menghendaki tetangga yang baik.”

إعانة الطالبين على حل ألفاظ فتح المعين للشيخ البكري
الدمياطي ج ٣ص٢٥٥

ويشترط في الموصى فيه كونه تصرفا ماليا
مباحا، فلا يصح الإيصاء في تزويج نحو بنته أو ابنه، لأن هذا لا يسمى تصرفا ماليا، وأيضا غير الأب والجد لا يزوح الصغيرة والصغير، ولا في معصية، كبناء كنيسة للتعبد، لكون الإيصاء قربة، وهو تنافي المعصية

[Al-Bakri Ad-Dimyathi, I’anatuth Thalibin ‘ala Hilli Alfaz Fathil Mu’in, jilid 3, halaman 255].

“Disyaratkan dalam hal yang diwasiatkan (agar sah wasiat tersebut) adalah sesuatu yang termasuk dalam kategori tindakan finansial yang diperbolehkan. Maka tidak sah wasiat untuk menikahkan, misalnya, putrinya atau putranya, karena hal ini tidak disebut sebagai tindakan finansial. Selain itu, selain ayah dan kakek tidak boleh menikahkan anak kecil perempuan atau laki-laki. (Wasiat juga tidak sah) untuk perkara maksiat, seperti membangun gereja untuk beribadah, karena wasiat itu merupakan ibadah (yang mendekatkan diri kepada Allah), sehingga tidak sesuai dengan maksiat.”

الكتاب  كتاب أذكار المرض والموت وما يتعلق بهما  باب ما ينفع الميت من قول غيره

ثم أقيموا حول قبري قدر ما تنحر جزور، ويقسم لحمها أستأنس بكم، وأنظر ماذا أراجع به رسل ربي.

قلت: قوله: شنوا، روي بالسين المهملة وبالمعجمة، ومعناه: صبّوه قليلاً قليلاً.

وروينا في هذا المعنى حديث حذيفة المتقدم في ” باب إعلام أصحاب الميت بموته “، وغير ذلك من الأحاديث، وفيما ذكرناه كفاية وبالله التوفيق.

قلت: وينبغي أن لا يقلد الميتُ ويتابع في كلّ ما وصَّى به، بل يُعرض ذلك على أهل العلم، فما أباحوه فعل، وما لا فلا.

وأنا أذكر من ذلك أمثلة، فإذا أوصى بأن يدفن في موضع من مقابر بلدته، وذلك الموضع معدن الأخيار، فينبغي أن يُحافظ على وصيته، وإذا أوصى بأن يُصلِّي عليه أجنبي، فهل يُقَدَّم في الصلاة على أقارب الميت؟ فيه خلاف للعلماء، والصحيح في مذهبنا: أن القريب أولى، لكن إن كان الموصَى له ممّن يُنسب إلى الصلاح أو البراعة في العلم مع الصيانة والذكر الحسن، استحبّ للقريب الذي ليس هو في مثل حاله إيثار رعاية لحقّ الميت، وإذا أوصى بأن يُدفن في تابوت، لم تنفذ

وصيته إلا أن تكون الأرض رخوة أو نديّة يحتاج فيها إليه، فتُنفذ وصيّته فيه، ويكون من رأس المال كالكفن.

وإذا أوصى بأن يُنقل إلى بلد آخر، لا تنفّذ وصيّته، فإن النقلّ حرامٌ على المذهب الصحيح المختار الذي قاله الأكثرون، وصرّح به المحققون، وقيل: مكروه.

قال الشافعي رحمه الله: إلا أن يكون بقرب مكة، أو المدينة، أو بيت المقدس، فيُنقل إليها لبركتها.

وإذا أوصى بأن يُدفَن تحته مِضربة، أو مخدة تحتَ رأسه، أو نحو ذلك، لم تُنفذ وصيّته.

وكذا إذا أوصى بأن يُكفَّن في حرير، فإن تكفينَ الرجال في الحرير حرام، وتكفينُ النساء فيه مكروهٌ، وليس بحرام، والخنثى في هذا كالرجل.

ولو أوصى بأن يُكَفَّن فيما زاد على عدد الكفن المشروع، أو في ثوب لا يَستر البدن لا تنفذ وصيّته.

ولو أوصى بأن يُقرأ عند قبره، أو يُتصدّق عنه، وغير ذلك من أنواع القرب، نفذت وصية إلا أن يقترن بها ما يمنع الشرع منها بسببه.

ولو أوصى بأن تُؤَخَّرَ جنازته زائداً على المشروع، لم تنفذ.

ولو أوصى بأن يُبنى عليه في مقبرة مسبَّلة للمسلمين، لم تنفّذ وصيته، بل ذلك حرام.

Kitab Adzkar al-Maradh wa al-Maut wa Ma Yata‘allaqu Bihima – Bab: Apa yang Bermanfaat bagi Mayit dari Ucapan Orang Lain

Kemudian, berdirilah di sekitar kuburku selama waktu yang diperlukan untuk menyembelih seekor unta dan membagi dagingnya. Aku merasa terhibur dengan keberadaan kalian dan akan melihat apa yang dapat aku persiapkan untuk menghadapi utusan Tuhanku.

Aku berkata: Ucapannya “shanwu” diriwayatkan dengan sin muhmalah dan sin mu‘jamah (huruf sin tanpa titik dan huruf shin bertitik). Maknanya adalah menuangkan sedikit demi sedikit.

Kami juga meriwayatkan dalam makna ini hadis Hudzaifah yang disebutkan sebelumnya dalam “Bab: Mengabarkan Kematian kepada Kerabat Si Mayit,” dan hadis-hadis lainnya. Dalam apa yang telah kami sebutkan terdapat kecukupan. Hanya kepada Allah kami memohon taufik.

Aku berkata: Seharusnya tidak semua wasiat mayit ditaati dan diikuti begitu saja. Sebaliknya, wasiat tersebut harus ditinjau oleh para ulama. Apa yang mereka perbolehkan, maka dilaksanakan, dan apa yang tidak, maka tidak dilaksanakan.

Aku akan menyebutkan beberapa contohnya: Jika seseorang berwasiat untuk dikuburkan di suatu tempat di pemakaman desanya, dan tempat tersebut adalah kawasan orang-orang saleh, maka wasiat tersebut sebaiknya dipertahankan. Jika ia berwasiat agar dishalati oleh orang asing, apakah ia lebih diutamakan daripada kerabat si mayit? Dalam hal ini terdapat perbedaan pendapat di kalangan ulama. Pendapat yang sahih menurut mazhab kami adalah bahwa kerabat lebih berhak. Namun, jika orang yang diwasiati adalah seorang yang dikenal saleh, ahli ilmu dengan sifat yang terjaga, dan memiliki reputasi baik, maka disunnahkan bagi kerabat yang tidak memiliki kualitas serupa untuk mengutamakan hak si mayit dengan melaksanakan wasiatnya.

Jika ia berwasiat untuk dikubur dalam peti, wasiatnya tidak dilaksanakan kecuali tanah tersebut lunak atau lembap sehingga memerlukannya. Maka, wasiatnya dilaksanakan dan biayanya diambil dari harta mayit sebagaimana kain kafan.

Jika ia berwasiat agar dipindahkan ke negeri lain, wasiatnya tidak dilaksanakan. Pemindahan jenazah adalah haram menurut pendapat sahih yang dipilih oleh mayoritas ulama dan dinyatakan tegas oleh para peneliti. Sebagian mengatakan makruh.

Imam Syafi‘i rahimahullah berkata: Kecuali jika berada di dekat Makkah, Madinah, atau Baitul Maqdis, maka jenazah dipindahkan ke tempat tersebut karena keberkahannya.

Jika ia berwasiat untuk dikubur dengan alas atau bantal di bawah kepalanya, atau sejenisnya, wasiatnya tidak dilaksanakan.

Demikian pula, jika ia berwasiat untuk dikafani dengan kain sutra, maka wasiatnya tidak dilaksanakan. Mengafani laki-laki dengan sutra adalah haram, sedangkan bagi wanita hukumnya makruh, tetapi tidak haram. Untuk khuntsa (berjenis kelamin ambigu), hukumnya seperti laki-laki.

Jika ia berwasiat untuk dikafani dengan kain yang melebihi jumlah kafan yang disyariatkan, atau dengan kain yang tidak dapat menutupi tubuh, wasiatnya tidak dilaksanakan.

Jika ia berwasiat agar dibacakan Al-Qur’an di kuburnya, disedekahkan atas namanya, atau amalan lain dari jenis ibadah, maka wasiatnya dilaksanakan kecuali jika ada hal yang menyebabkan syariat melarangnya.

Jika ia berwasiat agar pemakamannya ditunda lebih lama dari waktu yang disyariatkan, wasiatnya tidak dilaksanakan.

Jika ia berwasiat agar dibangun sesuatu di atas kuburnya di pekuburan umum milik kaum muslimin, wasiatnya tidak dilaksanakan. Bahkan, hal itu haram.

كتاب المذهب في فقه الإمام الشافعي الشيرازي ص٢٥٣
فصل: دفن الميت فرض على الكفاية لأن في تركه على وجه الأرض هتكاً لحرمته ويتأذى الناس برائحته والدفن في المقبرة أفضل لأن النبي صلى الله عليه وسلم كان يدفن الموتى بالبقيع ولأنه يكثر الدعاء له ممن يزوره ويجوز الدفن في البيت لأن النبي صلى الله عليه وسلم دفن في حجرة عائشة رضي الله عنها فإن قال بعض الورثة يدفن في المقبرة وقال بعضهم يدفن في البيت دفن في المقبرة لأن له حقاً في البيت فلا يجوز إسقاطه ويستحب أن يدفن في أفضل مقبرة لأن عمر رضي الله عنه استأذن عائشة رضي الله عنها أن يدفن مع صاحبيه ويستحب أن تجمع الأقارب في موضع واحد لما روي أن النبي صلى الله عليه وسلم ترك عند رأس عثمان بن مظعون صخرة وقال أعلم بها على قبر أخي لأدفن إليه من مات وإن تشاح اثنان في مقبرة مسبلة قدم السابق منهما لقوله صلى الله عليه وسلم: “مني مناخ من سبق”

Fasal:

Menguburkan jenazah adalah fardhu kifayah, karena membiarkannya di atas permukaan bumi dapat merusak kehormatannya, dan orang-orang akan terganggu oleh baunya.

Mengubur di pemakaman umum lebih utama karena Nabi ﷺ menguburkan para jenazah di Baqi’. Selain itu, banyak orang yang berziarah ke pemakaman umum, sehingga lebih banyak doa yang dipanjatkan untuknya.

Namun, diperbolehkan menguburkan jenazah di dalam rumah, karena Nabi ﷺ sendiri dimakamkan di kamar Aisyah رضي الله عنها. Jika sebagian ahli waris menghendaki jenazah dimakamkan di pemakaman umum, sedangkan sebagian lainnya ingin jenazah dimakamkan di rumah, maka jenazah dimakamkan di pemakaman umum. Hal ini karena rumah adalah hak bersama ahli waris, sehingga tidak boleh mengabaikan hak mereka.

Disunnahkan untuk menguburkan jenazah di pemakaman terbaik, seperti saat Umar رضي الله عنه meminta izin kepada Aisyah رضي الله عنها agar dapat dimakamkan bersama kedua sahabatnya (Rasulullah ﷺ dan Abu Bakar رضي الله عنه).

Disunnahkan juga mengumpulkan jenazah keluarga di tempat yang sama, sebagaimana diriwayatkan bahwa Nabi ﷺ meletakkan sebuah batu di dekat kepala Utsman bin Mazh’un رضي الله عنه, seraya bersabda: “Tandailah dengan ini kubur saudaraku, agar aku dapat menguburkan di dekatnya orang yang wafat setelahnya.”

Jika dua orang berselisih mengenai tempat di pemakaman umum yang diwakafkan, maka yang berhak adalah yang lebih dahulu tiba, berdasarkan sabda Nabi ﷺ: “Siapa yang lebih dahulu tiba, maka tempat itu menjadi miliknya.”

حاشية إعانة الطالبين – (٣ /٢٥٥)
(تتمة) تعرض للوصية ولم يتعرض للايصاء وقد ترجم له الفقهاء بفصل مستقل ولا بد من التعرض له تكميلاً للفائدة – فأقول حاصل الكلام عليه أن الإيصاء لغة الإيصال كالوصية وشرعاً إثبات تصرف مضاف لما بعد الموت ولو تقديراً وإن لم يكن فيه تبرع كالايصاء بالقيام على أمر أطفاله ورد ودائعه وقضاء ديونه فإنه لا تبرع في شيء من ذلك بخلاف الوصية فإنه لا بد فيها من التبرع وأركانه أربعة موصي ووصي وموصى فيه وصيغة وشرط في الموصي بقضاء الحقوق التي عليه وتنفيذ الوصايا ورد الودائع ونحوها ما تقدم في الموصي بمال من كونه مالكا بالغاً عاقلاً حراً مختاراً. وشرط في الموصي بنحو أمر طفل ومجنون ومحجور عليه بسفه مع ما مر من الشروط أن يكون له ولاية عليه ابتداء من الشرع لا بتفويض فلا يصح الإيصاء من صبي ومجنون ورقيق ومكره ولا من أم وعم لعدم الولاية عليهما ولا من الوصي لأن ولايته ليست شرعية ابتداء بل جعلية بتفويض الأب أو الجد إليه إلا إن أذن له فيه كأن قال أوص عني فأوصى عن الولي لا عن نفسه ولا يصح الإيصاء من أب على ولده والجد بصفة الولاية لأن ولايته ثابتة شرعاً ابتداء بخلاف الوصي كما علمت وشرط في الوصي الإسلام والبلوغ والعقل والحرية والعدالة والاهتداء إلى التصرف وعدم عداوة منه للمولى عليه وعدم جهالة فلا يصح الإيصاء إلى من فقد شيئاً من ذلك كصبي ومجنون وفاسق ومن به رق أو عداوة وكافر على مسلم ومن لا يكفي في التصرف لهرم أو سفه. وتعتبر الشروط المذكورة عند الموت، لا عند الإيصاء ولا بينهما لأنه وقت التسلط على القبول حتى لو أوصى لمن خلا عن الشروط أو بعضها كصبي ورقيق ثم استكملها عند الموت صح ولا يضر عمى لأن الأعمى متمكن من التوكيل فيما لا يتمكن منه ولا أنوثة لما في سنن أبي داود أن عمر رضي الله عنه أوصى إلى حفصة رضي الله عنها وإذا جمعت أم الطفل الشروط المذكورة فهي أولى من غيرها، لوفور شفقتها واستجماعها للشروط معتبر عند الإيصاء. قال في التحفة وقول غير واحد عند الموت عجيب لأن الأولوية إنما تخاطب بها الموصي، وهو لا علم بما عند الموت. اهـ.
ويشترط في الموصى فيه كونه تصرفاً مالياً مباحاً، فلا يصح الإيصاء في تزويج نحو بنته أو ابنه لأن هذا لا يسمى تصرفاً مالياً وأيضاً غير الأب والجد لا يزوج الصغيرة والصغير ولا في معصية كبناء كنيسة للعبادة لكون الإيصاء قربة وهو تنافي المعصية

(Hasyiah I’anah al-Talibin – Jilid 3, halaman 255)
(Lanjutan) Telah dibahas tentang wasiat, namun belum dibahas tentang wasiat khusus (iṣā’). Para ulama telah membahasnya dalam bab tersendiri, dan perlu kita bahas juga untuk melengkapi pembahasan.
Intinya, wasiat secara bahasa berarti menyampaikan sesuatu, sama seperti wasiat. Secara syariat, wasiat adalah penetapan suatu tindakan yang berlaku setelah kematian, meskipun tidak ada unsur pemberian (hibah). Contohnya, wasiat untuk mengurus anak-anak, mengembalikan titipan, atau melunasi utang, tidak mengandung unsur pemberian. Berbeda dengan wasiat, yang harus mengandung unsur pemberian. Rukun wasiat ada empat: orang yang berwasiat, orang yang diwasiati, objek wasiat, dan kalimat wasiat. Syarat bagi orang yang berwasiat adalah telah melunasi semua hak orang lain, melaksanakan wasiat sebelumnya, dan mengembalikan titipan, seperti yang telah disebutkan sebelumnya untuk orang yang berwasiat dengan harta. Syarat bagi orang yang diwasiati untuk urusan seperti mengurus anak atau orang gila adalah memiliki wewenang secara syariat sejak awal, bukan karena pemberian wewenang. Oleh karena itu, wasiat tidak sah dari anak kecil, orang gila, budak, orang yang dipaksa, ibu, paman, atau dari wali karena wewenang wali bukan dari syariat sejak awal, melainkan karena pemberian wewenang dari ayah atau kakek, kecuali jika diizinkan oleh mereka. Wasiat dari ayah kepada anak dan kakek dengan status sebagai wali juga tidak sah karena wewenangnya sudah ada sejak awal secara syariat, berbeda dengan wali. Syarat bagi orang yang diwasiati adalah seorang muslim, baligh, berakal sehat, merdeka, adil, mampu bertindak, tidak bermusuhan dengan orang yang diwasiati, dan tidak bodoh. Oleh karena itu, wasiat tidak sah kepada orang yang tidak memenuhi salah satu syarat tersebut, seperti anak kecil, orang gila, fasik, budak, orang yang bermusuhan, kafir terhadap seorang muslim, atau orang yang tidak mampu bertindak karena tua atau bodoh. Syarat-syarat tersebut berlaku pada saat kematian, bukan pada saat membuat wasiat atau di antaranya, karena saat kematian adalah saat seseorang memiliki kekuasaan penuh untuk menerima atau menolak. Bahkan jika seseorang berwasiat kepada orang yang tidak memenuhi syarat atau sebagian syarat, kemudian orang tersebut memenuhi syarat saat kematian, maka wasiatnya tetap sah. Kebutaan tidak menjadi masalah karena orang buta bisa menunjuk wakil untuk melakukan apa yang tidak bisa dia lakukan sendiri. Begitu pula dengan perempuan, karena dalam Sunan Abi Dawud disebutkan bahwa Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu berwasiat kepada Hafsah radhiyallahu ‘anha. Jika seorang ibu memenuhi semua syarat yang disebutkan, maka dia lebih berhak daripada orang lain karena kasih sayangnya dan karena dia telah memenuhi semua syarat yang diperlukan untuk menjadi seorang wasi. Dalam kitab at-Tahfīh disebutkan, “Aneh jika ada yang mengatakan bahwa syarat berlaku pada saat kematian.” Hal ini karena syarat utama ditujukan kepada orang yang berwasiat, dan dia tidak mengetahui apa yang akan terjadi saat kematian.
Syarat-syarat objek wasiat:
Objek wasiat haruslah sesuatu yang bersifat materi dan halal. Oleh karena itu, wasiat untuk menikahkan anak perempuan atau anak laki-laki tidak sah karena bukan termasuk tindakan materi, dan juga tidak sah bagi selain ayah atau kakek untuk menikahkan anak perempuan atau anak laki-laki yang masih kecil. Demikian pula, wasiat untuk melakukan perbuatan maksiat seperti membangun gereja juga tidak sah karena wasiat adalah ibadah dan bertentangan dengan perbuatan maksiat.

Wallahu a‘lam bish-shawab