Deskripsi Masalah : Ada seorang santri sebut saja nama nya Abdulloh. Ketika dibulan ramadhan,dia bertamassya atau melakukan perjalanan diluar kota kemudian berhenti di sebuah masjid untuk melaksanakan shalat tarawih. setelah salam ke empat, lantas imam tarawih langsung doa, kemudian lanjut shalat witir. dia pun bingung, kenapa imam tersebut hanya mengerjakan shalat tarawih 4 salam, padahal yang biasa saya lakukan tidak seperti itu yakni 20 rakaat
Pertanyaan :
Manakah shalat tarawih yang benar menurut fiqih Antara 20 rokaat apa 8 rokaat? atau 4 rokaat? adakah batasan minimalnya?
Waalaikum salam
jawaban:
Benar semua,bahkan dua rokaatpun juga sah dan mendapatkan fadhilah tarowih.Adapun yang tidak benar itu adalah orang yang tidak melakukan sholat tarowih..:),yang 20 rokaat jangan menyalahkan terhadap yang 8 rokaat ,sebaliknya yang 8 rokaat jangan menyalahkan terhadap yang 20 rokaat dst.dan memang tidak ada dalil khos(yang khusus) yang menyebutkan tentang berapa jumlah rokaat tarowih itu, karena memang masalah ini masalah yang masih diperselisihkan ulama’ ,Oleh sebab itu tasamuh(toleransi) itu lebih indah jangan saling menyalahkan.
“Tidak diingkari orang yang mengikuti salah satu pendapat para mujtahid dalam masalah yang memang diperselisihkan hukumnya (mukhtalaf fih) di kalangan mereka, melainkan yang diingkari adalah orang yang menyalahi para ulama’ mujtahid dalam masalah yang mereka sepakati hukumnya (mujma’ alayhi) ………..
شرح الياقوت النفيس :
Al Yaaquutun Nafiis: Paling sedikitnya tarawih adalah 2 rokaat.Dan paling sempurnanya tarawih adalah 20 rokaat. Imam Malik berkata:Sholat tarawih itu 36 rokaat.Dan hal itu adalah amalnya ahli madinah.
واقل التراويح ركعتان واكملها عشرون وقال مالك ستة وثلاثون وهو عمل اهل المدينة
………. pendukung
Busyo alkarim: Jika seseorang (Ahmad) mencukupkan atas sebagian dari 20 rokaat (misalnya Ahmad melakukan sholat tarawih 2 rokaat , atau 8 rokaat)maka sholat tarawihnya Ahmad itu sah.Dan Ahmad diberikan pahalanya sholat tarawih.
ولو إقتصر علي بعض العشرين صح واثيب عليه ثواب التراويح ………….
Al Fiqhul islami wa Adillatuhuu: Sholat sunnat tarawih itu tidak ditetapkan berapa rokaatnya. Alasannya ialah karena nabi Muhammad itu tidak menentukan terhadap berapa rokaatnya sholat tarawih.
MUSAFIR IFTHOR DENGAN JIMA’ DI SIANG HARI BULAN ROMADHON WAJIBKAH KAFFARAT?
Deskripsi Masalah
Sepasang suami istri sedang menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadan. Suaminya, Moh. Fauzan al-Ghifari, berencana melakukan perjalanan jauh (musafir) dengan jarak yang mencapai masafatul qashr. Saat hendak berangkat, istrinya, Yonya Naila, mengantarkannya ke pelabuhan kapal. Namun, keberangkatan kapal tertunda karena masih menunggu penuhnya jumlah penumpang.
Selama menunggu, Moh. Fauzan turun dari kapal dan beristirahat di sebuah kamar. Di tempat tersebut, ia melakukan jima’ dengan istrinya, dengan keyakinan bahwa sebagai musafir ia diperbolehkan untuk tidak berpuasa.
Pertanyaan Apakah Moh. Fauzan dan istrinya wajib membayar kaffarat karena melakukan jima’ di bulan Ramadan?
Jawaban
Seorang musafir yang berbuka puasa karena mengambil rukhsah (keringanan) diperbolehkan untuk tidak berpuasa. Jika ia melakukan jima’ dalam keadaan tidak berpuasa, maka menurut pendapat yang lebih shahih (ashoh), tidak ada kewajiban membayar kaffarat. Bahkan, meskipun jima’ dilakukan tanpa tujuan mengambil rukhsah, tetap tidak dikenakan kaffarat. Namun, wajib bagi keduanya mengganti (qadha) puasa yang ditinggalkan tersebut.
Ada 11 syarat seseorang melakukan jima’ di di siang bulan Romadon sehingga di wajibkan bayar kafarot
Kewajiban kafarah ‘uzhma dijatuhkan kepada orang yang sengaja menyenggama melalui kemaluan atau anus. Sedangkan kepada orang yang disenggama tidak dijatuhkan, baik laki-laki maupun perempuan.
Kafarat ini tidak dijatuhkan kecuali kepada orang yang merusak puasanya dengan senggama, dilakukannya secara sengaja, menyadari sedang berpuasa, tahu keharamannya, kendati dirinya tidak tahu kewajiban kafarat itu. Sehingga, jika ia merusak puasanya terlebih dahulu dengan yang lain, seperti makanan, kemudian bersenggama, maka tidak ada kafarat baginya.
Yang dirusak adalah ibadah puasa. Selain ibadah puasa, seperti ibadah shalat atau itikaf, tidak ada kewajiban kafarat.
Yang dirusak adalah puasa diri sendiri. Berbeda halnya jika yang dirusak adalah puasa orang lain, seperti seorang musafir atau orang sakit merusak puasa istrinya.
5.Senggama dilakukan di bulan Ramadhan, walaupun masuknya bulan Ramadhan karena hasil pengamatan diri sendiri terhadap hilal atau karena informasi orang yang dipercaya.
Kafarat dijatuhkan karena aktivitas senggama meskipun aktivitasnya berupa anal seks, baik dengan manusia, dengan mayat, maupun dengan hewan, walaupun tak sampai keluar sperma. Berbeda halnya dengan aktivitas seksual yang lain, seperti onani, masturbasi, dan oral seks walaupun hingga keluar sperma. Maka beberapa aktivitas seksual terakhir ini tidak mewajibkan kafarat. Tetapi jika sampai keluar sperma, puasanya batal dan wajib qadha.
Sang pelaku berdosa karena membatalkan puasanya dengan senggama. Berbeda halnya jika sang pelaku masih anak-anak (belum taklif), atau orang yang musafir dan orang sakit, lalu keduanya bersenggama karena merasa memiliki keringanan (rukhshah).
Dosa senggama pelaku hanya karena puasa.
Yang dirusak haruslah puasa sehari penuh dan pelakunya dikategorikan sebagai orang yang wajib berpuasa dalam sisa hari setelah senggamanya. Sehingga, orang yang pada suatu hari bersenggama tanpa ada alasan kemudian mengalami tunagrahita atau meninggal dunia pada sisa hari tersebut, berarti ia tidak dianggap merusak sehari penuh.
Waktu yang dipakai pelaku bersenggama tidak samar dan tidak diragukan. Berbeda halnya jika ia mengira waktu masih malam, waktu sudah masuk malam, atau meragukan salah satunya, namun ternyata waktu sudah siang atau masih siang. Begitu pula karena lupa, lantas mengira puasanya sudah batal, lalu bersenggama secara sengaja. Maka tidak ada kafarat.
Senggama yakin dilakukan di bulan Ramadhan. Berbeda halnya jika pelaku tidak yakin dirinya sudah memasuki bulan Ramadhan, kemudian ia berpuasa dengan hasil ijtihadnya dan membatalkan puasanya dengan senggama, namun ijtihadnya ternyata salah, maka tidak ada kewajiban kafarat baginya.
[الأنصاري، زكريا، أسنى المطالب في شرح روض الطالب، ٤٢٥/١]
Asna al-Matalib fi Syarh Raudh al-Talib oleh Zakariya al-Anshari:
“Barang siapa yang membatalkan puasanya selain dengan jima’”—seperti makan atau onani—”maka ia tidak wajib membayar kaffarat”, karena dalil yang menetapkan kewajiban kaffarat hanya berlaku untuk jima’, dan jima’ lebih berat hukumnya dibandingkan pembatal lainnya. Hal ini dikuatkan oleh perkataan dalam bagian berikutnya, “dan pendapat kami dalam masalah jima’”, hingga akhir pembahasan.
“Tidak wajib kaffarat bagi orang yang berjima’ karena lupa, tidak tahu hukumnya, atau dipaksa”, sebagaimana juga tidak wajib bagi orang yang berjima’ untuk kedua kalinya dalam satu hari setelah sebelumnya membatalkan puasanya, karena hal itu tidak lagi merusak puasa (karena puasanya sudah batal terlebih dahulu).
Jika seseorang berjima’ dalam keadaan fajar telah terbit sementara ia masih bersetubuh dan meneruskannya, maka tidak dianggap sebagai perusakan puasa karena status puasa belum sempurna sejak awal.
“Tidak wajib kaffarat bagi musafir yang berjima’”, karena tidak ada dosa baginya dalam hal ini. Meskipun kalimat ini tampaknya hanya membatasi hukum bagi musafir, namun hal itu dijelaskan lebih lanjut dalam pembahasan berikutnya.
“Jika seorang musafir atau orang sakit berjima’ dengan wanita yang sedang berpuasa, maka ia tidak wajib membayar kaffarat”, karena wanita tersebut pun tidak wajib kaffarat ketika membatalkan puasanya dengan jima’, maka lebih utama lagi jika orang lain yang merusak puasanya tidak wajib kaffarat.
“Kaffarat hanya diwajibkan bagi jima’ yang dilakukan pada hari Ramadan”, bukan pada puasa qadha, puasa nazar, atau lainnya, karena dalil yang menetapkan kaffarat hanya berlaku untuk jima’ dalam puasa Ramadan, yang memiliki keutamaan khusus yang tidak dimiliki oleh jenis puasa lainnya.
“Kaffarat hanya diwajibkan jika pembatalan puasa langsung disebabkan oleh jima’”, sehingga jika seseorang terlebih dahulu berbuka dengan cara lain—misalnya makan atau minum—lalu kemudian berjima’, maka tidak ada kewajiban kaffarat baginya.
“Jima’ yang sempurna” dianggap terjadi jika telah terjadi “pertemuan dua khitan” (penetrasi meskipun tanpa ejakulasi). Jika seorang istri membiarkan suaminya melakukan jima’, maka “kewajiban kaffarat hanya berlaku bagi suami, bukan istri”, karena dalam hadis Nabi hanya laki-laki yang diperintahkan untuk membayar kaffarat, meskipun ada kebutuhan untuk menjelaskan hal ini lebih lanjut.
Demikian pula, wanita memiliki kekurangan dalam kesempurnaan puasanya, karena puasanya bisa batal dengan datangnya haid atau keadaan lain. Oleh karena itu, kesucian puasanya tidak sempurna sehingga tidak sampai mewajibkan kaffarat baginya. Kaffarat juga merupakan hukuman materi yang terkait dengan jima’, sehingga khusus berlaku bagi laki-laki yang melakukan penetrasi, sebagaimana kewajiban mahar dalam pernikahan yang hanya berlaku bagi laki-laki yang menggauli istrinya. Oleh karena itu, kaffarat tidak wajib bagi wanita yang digauli atau bagi laki-laki yang dighauli (dalam hubungan homoseksual).
Jima’ yang sempurna terjadi “dengan bertemunya dua khitan”, sehingga jika seorang istri mengizinkan suaminya melakukan jima’, maka kaffarat hanya berlaku atas suami, bukan istri.
Jika seseorang berjima’ dengan keyakinan bahwa masih malam—padahal ternyata sudah siang—atau seorang anak kecil yang belum baligh berjima’, atau seorang musafir atau orang sakit yang berjima’ dengan niat mengambil rukhsah (keringanan), maka mereka “tidak wajib membayar kaffarat karena mereka tidak berdosa dalam perbuatannya”.
Namun, seseorang yang ragu apakah waktu malam sudah masuk atau belum, lalu berjima’, kemudian ternyata sudah siang, maka menurut aturan dasar yang telah disebutkan, “ia wajib membayar kaffarat”, karena ia tidak memiliki dasar yang kuat untuk berjima’.
Jika seseorang makan karena lupa, lalu mengira bahwa puasanya telah batal dan kemudian berjima’, maka puasanya batal seperti halnya orang yang berjima’ dengan keyakinan bahwa masih malam, padahal sudah siang. Namun, “ia tidak wajib membayar kaffarat”, karena ia melakukan jima’ dengan anggapan bahwa dirinya tidak sedang berpuasa.
Jika seorang musafir atau orang sakit melakukan zina atau berjima’ dengan istrinya tanpa niat mengambil rukhsah, maka ia tidak wajib membayar kaffarat, karena ia berdosa karena zinanya atau karena membatalkan puasanya tanpa niat rukhsah, bukan karena puasanya sendiri.
Dalam hal ini, zina tetap haram meskipun ia musafir, tetapi karena berbuka puasa itu sendiri diperbolehkan bagi musafir, maka ada unsur syubhat (keraguan) yang menghalangi kewajiban kaffarat.
“Hubungan homoseksual (liwath) dan hubungan dengan hewan memiliki hukum yang sama dengan jima’”, dalam hal merusak puasa dan mewajibkan kaffarat, karena keduanya merupakan bentuk hubungan seksual. Wallahu a’lam bish-shawab
DAFTAR HAJI DENGAN BIAYA HUTANG DULUAN ATAU DENGAN BIAYA CICILAN
Assalamualaikum.
Deskripsi Masalah
Mendengar berita diTV dan dari banyak orang yang telah mendaftar haji, bahwa jumlah orang yang ingin melaksanakan ibadah haji tiap tahun terus meningkat. Tak ayal, hal ini memunculkan problema tersendiri bagi Pemerintah baik Arab Saudi maupun Indonesia. Sebagai solusi, Pemerintah Arab Saudi menetapkan kuota jemaah haji bagi tiap negara. Pemerintah Indonesia pun juga menetapkan kuota bagi tiap-tiap daerah naungannya. Hal ini menyebabkan banyak sekali calon jemaah haji yang masuk waiting list (daftar tunggu). Bahkan di beberapa daerah bila seseorang mendaftar pada tahun ini , secara umum masa tunggu haji reguler di Indonesia adalah 11 tahun hingga paling lama 32 tahun. Artinya, jika seseorang mendaftar haji reguler pada tahun 2024, maka ia harus menunggu 11-32 tahun untuk berangkat. Maka dalam rangka untuk menunaikan ibadah haji sebagai rukun islam kelima dan lamanya antrian sebagaimana wakiiyah katakan nama samarannya Moh. FAUZAN seorang pemuda yang baru lulus sebagai guru PNS dan gajinya perbulan 5000000 dan Ahmad Ainul Yaqin PNS punya gaji 3500, 000 perbulan keduanya ingin mendaftar haji, namun uangnya belum mencukupi untuk daftar bersama istrinya maka solusinya dari masing-masing keduanya agar bisa daftar dan mendapatkan no.Porsi haji dia mengampra dibank yang menjadi jaminannya adalah gajinya diambil 10 bulan ( diambil duluan) walau yang sebenarnya gaji tersebut perbulan bisa cair.Namun karena untuk memenuhi uang pendaftaran maka dia mengampra duluan sehingga sampai pada nominal uang pendaftaran haji sebanyak 52 juta suami istri ( Fauzan dan Itrinya) untuk selanjutnya dia mencicilnya, sehingga setelah tepat pada waktu panggilan berangkat beserta pelunasannya Fauzan dan istrinya cukup biaya untuk berangkat. Sedangkan Ahmad Ainul Yaqin masih punya hutang Namun dia tetap berangkat.
Pertanyaan
Terhitung mulai kapankah istitho’ah seseorang ditinjau dari pendaftaran, jadwal pemberangkatan, dan pelaksanaan haji terkait deskripsi di atas ?
Apakah wajib mendaftar bagi orang yang memiliki biaya haji namun masih dengan cara hutang ketika mendaftar tapi terbayarkan (baik reguler atau plus), mengingat pemberangkatan masih menunggu beberapa tahun sebagaimana deskripsi ?
Lalu bagaimana jika misalkan dikemudian hari ( pada hari pemberangkatan) ternyata dia punya hutang apakah hajinya sah..?
Jawaban ditafsil
🅰️Isthitho’ah ( berkemampuan) untuk melakukan ibadah haji menurut imam ibn sholah adalah terhitung mulai semenjak orang yang menghendaki haji memiliki biaya haji,( mendaftar )
🅱️ Istithoah menurut pendapat mu’tamad/yang kuat (rofi’i & nawawi) adalah terhitung mulai dari pemberangkatan haji (إمكان السير) dan sudah memiliki biaya haji. Jadi kalau mengikuti pendapatnya Imam Rafi’i dan Nawawi Moh. FAUZAN DAN ISTRINYA termasuk Istithoah walaupun dengan cara hutang duluan asalkan ketika pas berangkat dia mampu biaya pelunasan dan tidak punya hutang, sebagaimana hal ini telah difatwakan oleh MUI IHRAM.CO.ID, JAKARTA — Salah satu fatwa yang dihasilkan pada Munas MUI pekan lalu adalah pembayaran setoran awal haji dengan utang dan pembiayaan. Juru Bicara Sidang Fatwa, KH Asrorun Niam Sholeh dalam keterangan tertulisnya menjelaskan soal fatwa itu. Menurutnya, ketentuan hukumnya yaitu pembayaran setoran awal haji dengan uang hasil utang hukumnya boleh (mubah) dengan syarat yaitu bukan utang ribawi dan orang yang berutang mempunyai kemampuan untuk melunasi utang, antara lain dibuktikan dengan kepemilikan aset yang cukup.
Pembayaran setoran awal haji dengan uang hasil pembiayaan dari lembaga keuangan, hukumnya boleh dengan syarat, menggunakan akad syariah, tidak dilakukan di Lembaga Keuangan Konvensional dan nasabah mampu untuk melunasi, antara lain dibuktikan dengan kepemilikan aset yang cukup.
Sedangkan Ahmad Ainul Yaqin tidak termasuk Istithoah karena masih punya hutang, walaupun demikian haji nya sah tapi makruh, kerena dia masuk dalam kategori tidak wajib haji disebabkan masih punya hutang
REFERENSI
المجموع شرح المهذب ج ٧ ص ٨٨ (الشرح) قال اصحابنا امكان السير بحيث يدرك الحج شرط لوجوبه فإذا وجد الزاد والراحلة وغيرهما من الشروط المعتبرة وتكاملت وبقي بعد تكاملها زمن يمكن فيه الحج وجب فان اخره عن تلك السنة جاز لانه على التراخي لكنه يستقر في ذمته فان لم يبق بعد استكمال الشرائط من يمكن فيه الحج لم يجب عليه ولا يستقر عليه هكذا قاله الاصحاب قالوا والمراد ان يبقى زمن يمكن فيه الحج إذا سار السير المعهود فإذا احتاج إلى ان يقطع في يوم أو بعض الايام كثر من مرحلة لم يجب الحج ولم يذكر الغزالي هذا الشرط وهو إمكان السير وانكر عليه الرافعي ذلك وقال هذا الامكان شرطه الائمة لوجوب الحج وأهمله الغزالي فانكر الشيخ أبو عمرو بن الصلاح على الرافعى اعتراضه هذا علي الغزالي وجعله امكان السير ركنا لوجوب الحج وانما هو شرط استقرار الحج ليجب قضاؤه من تركته لو مات قبل الحج وليس شرطا لاصل وجوب الحج بل متى وجدت الاستطاعة من مسلم مكلف حر لزمه الحج في الحال كالصلاة تجب بأول الوقت قبل مضي زمن يسعها ثم استقرارها في الذمة يتوقف علي مضي زمن التمكن من فعلها هذا اعتراضه والصواب ما قاله الرافعى وقد نص عليه المصنف والاصحاب كما نقل (وأما) انكار الشيخ ففاسد لان الله تعالى قال (ولله علي الناس حج البيت من استطاع إليه سبيلا) وهذا غير مستطيع فلا حج عليه وكيف يكون مستطيعا وهو عاجز حسا (وأما) الصلاة فأنها تجب باول الوقت لامكان تتميمها والله أعلم . هذا مذهبنا وحكى أصحابنا عن أحمد أن امكان السير وأمن الطريق ليسا بشرط في وجوب الحج * دليلنا أنه لا يكون مستطيعا بدونهما والله اعلم
Referensi:
حاشية البجيرمي على الخطيب ج ٧ ص ٩٧ (و) السابع (إمكان المسير) إلى مكة بأن يكون قد بقي من الوقت ما يتمكن فيه من السير المعتاد لأداء النسك . وهذا هو المعتمد كما نقله الرافعي عن الأئمة وإن اعترضه ابن الصلاح بأنه يشترط لاستقراره لا لوجوبه ، فقد صوب النووي ما قاله الرافعي.
وقال السبكي : إن نص الشافعي أيضا يشهد له ولا بد من وجود رفقة يخرج معهم في الوقت الذي جرت عادة أهل بلده بالخروج فيه، وأن يسيروا السير المعتاد ، فإن خرجوا قبله أو أخروا الخروج بحيث لا يصلون مكة إلا بأكثر من مرحلة في كل يوم ، أو كانوا يسيرون فوق العادة لم يلزمه الخروج هذا إن احتيج إلى الرفقة لدفع الخوف ، فإن أمن الطريق بحيث لا يخاف الواحد فيها لزمه ، ولا حاجة للرفقة ولا نظر إلى الوحشة بخلافها فيما مر في التيمم لأنه لا بد لما هنا بخلافه ثم . قوله : (وإن اعترضه ابن الصلاح بأنه ) أي إمكان المسير يشترط لاستقراره ، أي الحج في ذمته ليجب قضاؤه من تركته لو مات قبل الحج لا لوجوبه أي الحج ، أي ليس شرطا لأصل الوجوب . قال سم : وظاهر كلام ابن الصلاح أنه لا فرق في الوجوب إذا لم يبق زمن يمكن فيه السفر بين أن يقطع بعدم الوصول فيه أو لا ؛ لكن قال السبكي : وأوهمت عبارة ابن الصلاح أن من استطاع الحج قبل عرفة بيوم بينه وبين مكة شهر ومات تلك السنة وجب عليه الحج ثم سقط ، ولا يقوله أحد . ورد بأن السرخسي والسنجي قالاه . قوله : ( لاستقراره ) فإن لم يبق زمن يسع السير بعد وجود الاستطاعة بأن لم يستطع إلا بعد ذهاب الحاج فابن الصلاح يقول في هذه الحالة : إنه وجب عليه ، لكن لم يستقر وجوبه عليه ؛ بمعنى أنه إذا مات في هذه السنة لا يجب قضاؤه من تركته وإن كان يوصف بالإيجاب ويجوز الاستئجار عنه قطعا كما قال ح ل . وعلى كلام غير ابن الصلاح لم يجب الحج من أصله في هذه الحالة ، وعليه فلا يوصف بالوجوب ويجوز الاستئجار عنه على الأصح ؛ لأنه نفل أي والنفل في جواز الاستئجار عنه خلاف الأصح الجواز
Referensi
شرح الوجيز ج ٣ ص ٢٩٤ قال (ومهما تمت الاستطاعة وجب الحج على التراخي (م ح ز) وله أن يتخلف عن أول قافلة فان مات قبل حج الناس تبين عدم الاستطاعة وإن مات بعد الحح فلا وإن هلك ماله بعد الحج وقبل إياب الناس تبين ان لا استطاعة لان نفقة الاياب شرط في الحج فان دامت الاستطاعة إلى اياب الناس ثم مات أو طرا العضب لقى الله عاصيا على الاظهر وتضيق عليه الاستنابة إذا طرأ العضب بعد الوجوب فان امتنع ففي اجبار القاضي اياه على الاستنابة وجهان) ذكر في الوسيط أن المسائل المذكور إلى هذا الموضع كلام في أركان الاستطاعة ومن ههنا إلى رأس النوع الثاني كلام في أحكامها ولك أن تقول الاستطاعة احدى شرائط وجوب الحج كما مر وقد توجد الاستطاعة مسبوقة بسائر الشروط وقد يوجد غيرها مسبوقا بها
Referensi
البجيرمى على الخطيب الجزء الثانى ص : ٤٢٥ دار الفكر وقوله ” الاستطاعة ” ويعتبر فيها وجود شروطها فى حق كل إنسان من وقت خروج أهل حج بلده إلى عودهم إليه فمتى أعسر فى جزء من ذلك فلا استطاعة ق ل وهذا فى الحى أما من مات بعد الاستطاعة وبعد مضى أعمال الحج وإن لم يعش إلى عودهم إلى البلد فإنه يحج من تركته. وعبارة م ر : فمن مات غير مرتد وفى ذمته حج واجب مستقر ولو بنحو نذر بأن تمكن بعد قدرته على فعله بنفسه أو غيره وذلك بعد انتصاف ليلة النحر ومضى إمكان الرمى والطواف والسعى إن دخل الحاج بعد الوقوف ثم مات أثم ولو شابا وإن لم ترجع القافلة ووجب الإحجاج عنه من تركته اهـ
Referensi
فتاوى ابن حجر الهيثمى ج ١ ص ١٢٣
(وسئل)
رضي الله عنه عن قولهم وأهمل بعضهم شرطا خامسا للحج وهو سعة الوقت لتمكنه من السير ما المراد بهذا الوقت هل هو مدة السنة بأن يبقى منها قدر ما يصل به إلى مكة المشرفة فيشكل على من بينه وبين مكة فوق سنة أو فوق السنة فالوقت واسع بينوا لنا حقيقة ذلك وقال بعضهم أن يبقى م ن الزمان عند وجود الزاد والراحلة ما يمكن فيه السير بأن لا يحتاج أن يقطع في كل يوم أكثر من مرحلة ما المراد بهذا الزمان ولا يخفى الإشكال السابق أفتونا مأجورين؟ (فأجاب) بقوله المراد من هذا الشرط أنه يعتبر في لزوم الحج له لا في استقراره عليه أن يتمكن بأن يجد الزاد والراحلة وقد بقي زمن يسع الوصول فيه إلى مكة بالسير المعتاد غالبا بحيث لا يقطع في يوم أكثر من مرحلة . فلو كان بين بلده ومكة سنة مثلا اشترط أن يقدر على نحو الزاد والراحلة تلك السنة جميعها فمتى مضت له سنة بأن يمضي ما يمكن ذهاب الحجاج فيه ورجوعهم إلى بلده وهو قادر على ما مر بأن لزوم الحج له فإذا مات أو افتقر بعد ذلك فالحج باق في ذمته لأنه استطاعه وتركه ومتى مرض أو افتقر قبل وصولهم لمكة أو بعد وصولهم وقبل الحج بان أنه لم يلزمه حج وكذا لو افتقر بعد حجهم وقبل وصولهم لبلده فعلمنا أنه لا بد أن يمضي عليه وهو قادر مدة يمكن فيها الذهاب إلى مكة بالسير المعتاد وإدراك الحج فيها ووصوله إلى بلده بالنسبة للفقر دون الموت ; لأنه بان به أنه كان مستغنيا عن الرجوع فإذا مات بعد إمكان حج الناس وقبل رجوعهم بان أنه مات وهو مستطيع ومع هذا التقدير فلا إشكال فيما ذكروه فإنا لا نعتبر سنة ولا دونها ولا أكثر منها دائما وإنما المعتبر المدة التي يمكنه الوصول فيها إلى مكة والرجوع منها بالسير المعتاد على ما تقرر حتى لو كان بينه وبين مكة
أربعة أيام مثلا اعتبرت قدرته تلك الأربعة مع العود أيضا في غير الموت أو سنتان اعتبرت قدرته مدتهما مع العود كما ذكر . ولا بد أن يوجد نحو الزاد والراحلة في الوقت فمن بينه وبين مكة شهران مثلا لو استطاع شعبان ورمضان لم يؤثر ذلك في الوجوب عليه بل لا بد من استطاعته في أشهر الحج حتى لو استطاع الشهر من قبل أشهره ثم افتقر قبل أشهره لم يعتد بتلك الاستطاعة والله سبحانه وتعالى أعلم بالصواب
. Jawaban.No.2 Wajib mendaftar ibadah haji, Jika seseorang mempunyai biaya yang cukup baik untuk kebutuhan dirinya dan juga kebutuhan keluarganya yang wajib ia nafkahi, selama ia berangkat kemakkah hingga kembali ke tanah air.
REFERENSI
فتاوى ابن حجر الهيثمى ج ١ ص ١٢٣ (وسئل) رضي الله عنه عن قولهم وأهمل بعضهم شرطا خامسا للحج وهو سعة الوقت لتمكنه من السير ما المراد بهذا الوقت هل هو مدة السنة بأن يبقى منها قدر ما يصل به إلى مكة المشرفة فيشكل على من بينه وبين مكة فوق سنة أو فوق السنة فالوقت واسع بينوا لنا حقيقة ذلك وقال بعضهم أن يبقى م ن الزمان عند وجود الزاد والراحلة ما يمكن فيه السير بأن لا يحتاج أن يقطع في كل يوم أكثر من مرحلة ما المراد بهذا الزمان ولا يخفى الإشكال السابق أفتونا مأجورين؟ (فأجاب) بقوله المراد من هذا الشرط أنه يعتبر في لزوم الحج له لا في استقراره عليه أن يتمكن بأن يجد الزاد والراحلة وقد بقي زمن يسع الوصول فيه إلى مكة بالسير المعتاد غالبا بحيث لا يقطع في يوم أكثر من مرحلة . فلو كان بين بلده ومكة سنة مثلا اشترط أن يقدر على نحو الزاد والراحلة تلك السنة جميعها فمتى مضت له سنة بأن يمضي ما يمكن ذهاب الحجاج فيه ورجوعهم إلى بلده وهو قادر على ما مر بأن لزوم الحج له فإذا مات أو افتقر بعد ذلك فالحج باق في ذمته لأنه استطاعه وتركه ومتى مرض أو افتقر قبل وصولهم لمكة أو بعد وصولهم وقبل الحج بان أنه لم يلزمه حج وكذا لو افتقر بعد حجهم وقبل وصولهم لبلده فعلمنا أنه لا بد أن يمضي عليه وهو قادر مدة يمكن فيها الذهاب إلى مكة بالسير المعتاد وإدراك الحج فيها ووصوله إلى بلده بالنسبة للفقر دون الموت ; لأنه بان به أنه كان مستغنيا عن الرجوع فإذا مات بعد إمكان حج الناس وقبل رجوعهم بان أنه مات وهو مستطيع ومع هذا التقدير فلا إشكال فيما ذكروه فإنا لا نعتبر سنة ولا دونها ولا أكثر منها دائما وإنما المعتبر المدة التي يمكنه الوصول فيها إلى مكة والرجوع منها بالسير المعتاد على ما تقرر حتى لو كان بينه وبين مكة أربعة أيام مثلا اعتبرت قدرته تلك الأربعة مع العود أيضا في غير الموت أو سنتان اعتبرت قدرته مدتهما مع العود كما ذكر . ولا بد أن يوجد نحو الزاد والراحلة في الوقت فمن بينه وبين مكة شهران مثلا لو استطاع شعبان ورمضان لم يؤثر ذلك في الوجوب عليه بل لا بد من استطاعته في أشهر الحج حتى لو استطاع الشهر من قبل أشهره ثم افتقر قبل أشهره لم يعتد بتلك الاستطاعة والله سبحانه وتعالى أعلم بالصواب
Referensi;
البجيرمى على الخطيب الجزء الثانى ص : ٤٢٥ دار الفكر وقوله ” الاستطاعة ” ويعتبر فيها وجود شروطها فى حق كل إنسان من وقت خروج أهل حج بلده إلى عودهم إليه فمتى أعسر فى جزء من ذلك فلا استطاعة ق ل وهذا فى الحى أما من مات بعد الاستطاعة وبعد مضى أعمال الحج وإن لم يعش إلى عودهم إلى البلد فإنه يحج من تركته. وعبارة م ر : فمن مات غير مرتد وفى ذمته حج واجب مستقر ولو بنحو نذر بأن تمكن بعد قدرته على فعله بنفسه أو غيره وذلك بعد انتصاف ليلة النحر ومضى إمكان الرمى والطواف والسعى إن دخل الحاج بعد الوقوف ثم مات أثم ولو شابا وإن لم ترجع القافلة ووجب الإحجاج عنه من تركته اهـ
Referensi:
الأنوار الأردبيلى الجزء الأول ص : ١٧٥ – ١٧٦ المكتبة التجارية الكبرى ومتى حصلت الاستطاعة واجتمعت الشرائط فالحج على التراخى عندنا إلا أن يخشى العضب أو هلاك المال فيتضيق ويعصى بالتأخير وإذا تخلف المستطيع ومات قبل حج الناس أو هلك ماله قبل إيابهم أو إمكانه تبين عدم الوجوب وإن مات بعد حجهم أو إمكانه بأن مات بعد انتصاف ليلة النحر وإمكان المسير إلى منى والرمى بها والرجوع إلى مكة والطواف بها استقر الوجوب ولزم القضاء من التركة وإن لم يوص لأنه دين تعلق بها ويجوز للوارث والأجنبى قضاء الحج للميت ( قوله وإمكان المسير إلى منى والرمى بها ) واعلم أن المعتمد المنقول عن الأسنوى هو أن المضى إلى منى والرمى بها غلط إذ المشروط فى استقرار الفرض إنما هو مضى زمن يمكن فعل الأركان دون ما عداها من الواجبات كما لا يخفى.
Referensi:
غاية البيان شرح زبد ابن رسلان – (ج ١ / ص ١٦٥)
( ومن مركوب لاق به ) بأن يصلح لمثله ويثبت عليه ويكون شراؤه بثمن مثله أو استئجاره بأجرة مثله هذا إن كان بينه وبين مكة مرحلتان أو دونهما وضعف عن المشي وسواء أقدر الأول على المشي أم لا وركوبه أفضل من مشيه لكن يندب له الركوب على القتب والرحل دون المحمل والهودج فإن لحقه بالركوب مشقة شديدة اشترط وجود محمل وشريك يجلس في الشق الآخر فإن فقد الشريك لم يلزمه الحج وإن وجد مؤنة المحمل بتمامه ولو لحقه مشقة عظيمة في ركوب المحمل اعتبر في حقه الكنيسة أما المرأة فيعتبر في حقها المحمل مطلقا لأنه أستر لها وأما من بينه وبين مكة دون مرحلتين وهو قوي على المشي فيلزمه الحج ولا يعتبر في حقه وجود المركوب ولا بد فيما مر من كونه فاضلا عن دينه ومؤنة ممونه مدة ذهابه وإيابه وسواء أكان الدين حالا أم مؤجلا إذ وفاء الأول ناجز والحج على التراخي وأما الثاني فلأنه إذا صرف ما معه للحج فقد لا يجد ما يقتضيه منه بعد حلوله وقد تخترمه المنية فتبقى ذمته مرتهنة ولو كان ماله في ذمة إنسان فإن أمكنه تحصيله في الحال فكالحاصل وإلا فكالمعدو
Referensi:
. حاشية ابن حجر على الإيضاح ص : ١٠٧ – ١٠٨ دار حراء وأما إمكان السير فأن يجد هذه الأمور وتبقى زمنا يمكنه الذهاب فيه إلى الحج على السير المعتاد ( قوله السير المعتاد ) ظاهره أنه لو احتيج لقطع أكثر من مرحلتين واعتيد ذلك لزمه وفيه نظر لأن قولهم بعد أن اشترطوا السير المعتاد فلو احتيج لقطع أكثر من مرحلة ولو فى بعض الأيام فلا وجوب وهو يشمل ما إذا اعتيد ذلك وهو قريب وأفهم كلامه كغيره أن هذا شرط للوجوب لا للاستقرار فى الذمة حتى يجب قضاؤه من التركة وهو كذلك على المعتمد الذى صرح به الأئمة كما قاله الرافعى وصوبه المصنف فى مجموعه وحاصل عبارته إن وجد جميع ما مر وقد بقى زمن يمكنه فيه الحج وجب وله تأخيره
عن تلك السنة لكنه يستقر فى ذمته وإن لم يبق زمن كذلك لم يلزمه الحج ولا يستقر عليه وهكذا قاله الأصحاب ولم يذكر فيه الغزالى هذا الشرط وأنكر عليه الرافعى وقال هذا الإمكان شرطه الأئمة لوجوب الحج ورد عليه ابن الصلاح انتصارا للغزالى بأن هذا الإمكان إنما هو شرط استقرار الحج ليجب قضاؤه من تركته لو مات قبل الحج وليس شرطا لأصل وجوب الحج بل متى وجدت الاستطاعة من مسلم مكلف حر لزمه الحج فى الحال كالصلاة تجب بأول الوقت قبل مضى زمان يسعها ثم استقرارها فى الذمة يتوقف على مضى التمكن من فعلها والصواب ما قاله الرافعى وقد نص عليه صاحب المهذب والأصحاب وإنكار ابن الصلاح فاسد لقوله تعالى ( من استطاع إليه سبيلا ) وهذا غير مستطيع فلا حج عليه وكيف يكون مستطيعا وهو عاجز حسا وأماالصلاة فإنما تجب أول الوقت لإمكان تتميمها اهـ
Jawaban No.3
Kalau melihat dari deskripsi masalah, maka orang yang melakukan haji ( Ahmad Ainul Yaqin) itu sebenarnya masih belum memenuhi syarat wajibnya haji, Karena syarat- syarat wajibnya haji yang harus dipersiapkan dan disempurnakan oleh seseorang yang hendak melakukan ibadah haji menurut kesepakatan ulama’ yaitu ada lima:
1- Islam. 2- Berakal.
Baligh.
Merdeka.
Mampu, baik mampu biaya, mampu badan/sehat dan Amannya diperhalanan. Adapun seseorang yang terpaksa berangkat haji/ umroh sementara sebagian biaya uangnya diperoleh dengan cara berhutang. Maka dalam hal ini, hukum hajinya tetap sah , namun makruh, dan jika berhaji dengan uang subhad atau harta Ghasab, maka hukum hajinya juga sah, namun maksiat dan jika berangkat haji dengan biaya harta haram, juga hajinya sah, namun haram dan tidak masuk haji yang maqbul dan mabrur.
الموسوعة الفقهية – 10036/31949 شروط فرضية الحج:
– شروط الحج صفات يجب توفرها في الإنسان لكي يكون مطالبا بأداء الحج، مفروضا عليه، فمن فقد أحد هذه الشروط لا يجب عليه الحج ولا يكون مطالبا به، وهذه الشروط خمسة هي: الإسلام، والعقل، والبلوغ، والحرية، والاستطاعة، وهي متفق عليها بين العلماء، قال الإمام ابن قدامة في المغني: لا نعلم في هذا كله اختلافا ”
Referensi:
. (المهذب) وإن لم يكن له صنعة ويحتاج إلى مسألة الناس كره له أن يحج لأن المسألة مكروهة ولأن في المسألة تحمل مشقة شديدة فكره
…………… Jika seseorang hendak melaksanakan haji, sementara ia tidak punya pekerjaan ( uang untuk transportasi melaksanakan haji) dan ia masih membutukan untuk berutang kepada orang , maka dimakruhkan baginya melaksanakan ibadah haji. Alasannya , karena meminta utangan kepada orang , hukumnya dimakruhkan dan karena dalam berhutang itulah ia menanggung kesulitan yang sangat . Oleh karena itu hukum hajinya dimakruhkan .Dengan kata lain, jika seseorang berangkat haji namun biaya transportasinya diperoleh dengan cara meminta pinjaman (meminjam kepada orang ) maka ibadah hajinya hukumnya sah namun makruh , Kenapa makruh..? karena disebabkan uang ongkasnya meminjam yang mengakibatkan ia menanggung kesulitan yang sangat
. المكتبة الشاملة كتاب المهذب في فقه الإمام الشافعي – الشيرازي [أبو إسحاق الشيرازي] الرئيسية فصول الكتاب << < ج: ١ ص: > >> مسار الصفحة الحالية: فهرس الكتاب كتاب الحج مدخل
حتى يجد عمارية أو هودجاً وإن بذل له رجل راحلة من غير عرض لم يلزمه قبولها لأن عليه في قبول ذلك منة وفي تحمل المنة مشقة فلا يلزمه وإن وجد بأكثر من ثمن المثل ولو بأكثر من أجرة المثل لم يلزمه لما ذكرناه في الزاد وإن وجد الزاد والراحلة لذهابه ولم يجد لرجوعه نظرت فإن كان له أهل في بلده لم يلزمه وإن لم يكن له أهل ففيه وجهان: أحدهما يلزمه لأن البلاد كلها في حقه واحدة والثاني لا يلزمه لأنه يستوحش بالانقطاع عن الوطن والمقام في الغربة لم يلزمه وإن وجد ما يشتري به الزاد والراحلة وهو محتاج إليه لدين عليه لم يلزمه حالاً كان الدين أو مؤجلاً لأن الدين الحال على الفور والحج على التراخي فقدم عليه والمؤجل يحل عليه فإذا صرف ما معه في الحج لم يجد ما يقضي به الدين وإن كان محتاجاً إليه لنفقة من تلزمه نفقة لم يلزمه الحج لأن النفقة على الفور والحج على التراخي وإن احتاج إليه لمسكن لا بد له من مثله أو خادم يحتاج إلى خدمته لم يلزمه وإن احتاج إلى النكاح وهو يخاف العنت قدم النكاح لأن الحاجة إلى ذلك الفور والحج ليس على الفور وإن احتاج إليه في بضاعة يتجر فيهل ليحصل منها على ما يحتاج إليه للنفقة ففيه وجهان: قال أبو العباس بن سريج لا يلزمه الحج أنه محتاج إليه فهو كالمسكن والخادم ومن أصحابنا من قال يلزمه لأنه واجد للزاد والراحلة وإن لم يجد الزاد والراحلة وهو قادر على المشي وله صنعة يكتسب بها ما يكفيه لنفقته استحب له أن يحج لأنه يقدر على إسقاط الفرض بمشقة لا يكره تحملها فاستحب له إسقاط الفرض كالمسافر إذا قدر على الصوم في السفر
وإن لم يكن له صنعة ويحتاج إلى مسألة الناس كره له أن يحج لأن المسألة مكروهة ولأن في المسألة تحمل مشقة شديدة فكره ……………
وإن كان الطريق غير آمن لم يلزمه لحديث أبي أمامة ولأن في إيجاب الحج مع الخوف تغريراً بالنفس والمال وإن كان الطريق آمناً إلا أنه يحتاج فيه إلى خفارة لم يلزمه لأن ما يؤخذ في الخفارة بمنزلة ما زاد على ثمن المثل وأجرة المثل
PENGGUNAAN OBAT TETES MATA KORELASINYA DENGAN PUASA DIBULAN RAMADHAN
Assalamualaikum
Diskripsi masalah
Kelilipan atau mata merah adalah hal yang wajar dialami oleh sebagian orang. Sehingga solusinya biasanya dengan cara memberikan obat tetes agar mata kembali segar dan tidak merah lagi. Namun, apa jadinya jika sakit mata itu menyerang saat puasa, sebagaimana Kerap terjadi disuatu daerah katakanlah Daerah Sidodadi pada bulan puasa yang lalu terkena penyakit mata maka dalam upaya kesembuhan masyarakat tersebut memakai obat tetes mata ada sebagian suntik ada sebagian minum obat dimalam hari
Pertanyaannya
Apakah puasa seseorang yang memakai tetes mata disiang hari membatalkan puasa ?
Wsalaikum salam. Jawaban
Memasukkan obat tetes mata tidaklah membatalkan puasa, Karena lubang mata itu lubang yang tidak terbuka ( tertutup). sehingga menggunakan obat tetes mata atau celak di siang hari adalah tidak membatalkan puasa. Tetapi jika Memasukan obat tetes ke dalam telinga hukumnya membatalkan puasa. Keterangan tetes mata yang tidak membatalkan berikut kalimat yang ditebalkan;
فقه العبادة على مذهب الإمام الشافعى. ص.٥٣٢
رابعا – الإمساك عن وصول عين إلى ما يسمى جوفا هن منفذ مفتوح: فأما العين: فيدخل فيها دخان اللفائف (١) والتنباك (٢) ، فيفطران الصائم لأن لهما أثرا يشاهد في باطن العود، وكذلك ابتلاع ما لا يؤكل في العادة، كقطع النقد، والتراب، والحصاة، والحشيش، والحديد، والخيط. ويستثنى من العين المفطرة الريح والطعم، ولو وجد ذاك الطعم في الفم. كما يستثنى وصول ذباب أو بعوض أو غبار طريق، أو غربلة دقيق إلى الجوف لعسر التحرز منه، وكدا لو خرجت مقعدة المبسور فأعادها فلا يضر لعذره، وكذا لو بقي طعام بين أسنانه فجرى به ريقه حتى دخل جوفه من غير قصد لم يضر إن عجز عن تمييزه ومجه، أما النخامة فإذا خرجت إلى مخرج الخاء ثم ابتلعها فإنه يفطر. وكذا لا يضر وصول الريق الخالص الطاهر من معدنه (٣) إلى جوفه، بخلاف غير الخالص وغير الطاهر، كالمختلط بدم فإنه يفطر، إلا أنه يعفى عنه بحق من ابتلي بنزف اللثة، وبخلاف الخارج من غير معدنه، كما لو جمعه على شفتيه ثم بلعه، فهذا يضر، أما إذا خرج على لسانه ثم ابتلعه فلا يفطر. وكذا لو سبق ماء المضمضة أو الاستنشاق شريطة عدم المبالغة فيهما، أو سبق ماء غسل مطلوب – ولو مندوبا كغسل الجمعة – إلى الجوف فلا يضر لتولده من مأمور به، أما إذا سبق الماء إلى الجوف نتيجة المبالغة فإنه يفطر لأن المبالغة منهي عنها في الصوم، لما روى لقيط بن صبرة رضي الله عنه قال: “قلت يا رسول الله أخبرني عن الوضوء قال: (أسبغ الوضوء، وخلل بين الأصابع، وبالغ في الاستنشاق إلا أن تكون صائما) ” (٤) . وكذا ماء الغسلة الرابعة في الوضوء، وإن لم يبالغ فإنه مفطر إن سبق إلى الجوف، أما إذا سبق الماء إلى الجوف نتيجة المبالغة في غسل النجاسة (٥) فلا يفطر لأن إزالة النجاسة واجبة، وأما ماء الغسل غير المطلوب كغسل التبرد والنظافة فسبقه إلى الجوف مفطر، وأما الماء الذي يضعه الصائم على فمه للتبرد أو لدفع عطش فلا يضر سبقه لشدة الحاجة إليه، وكذا الأكل والشرب ناسيا للصوم لا يفطر لحديث أبي هريرة رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: (من نسي وهو صائم فأكل أو شرب فليتم صومه، فإنما أطعمه الله وسقاه) (٦) . ولا يضر الأكل والشرب مكرها، بل يبقى الصيام صحيحا، بخلاف ما لو فعل ذلك جاهلا كونه مفطرا فإنه يفطر، إلا إذا كان الجاهل معذورا، لما روى ابن عباس رضي الله عنهما عن النبي صلى الله عليه وسلم (إن الله وضع عن أمتي الخطأ والنسيان وما استكرهوا عليه) (٧) . وإن تبين للصائم يقينا طلوع الفجر وهو لم يزل يأكل وجب عليه إعادة صوم ذاك اليوم، ولو طلع الفجر وفي فمه طعام فليلفظه، فإن فعل صح صومه، وإن ابتلعه أفطر، فلو لفظه في الحال فسبق منه شيء إلى جوفه بغير اختياره فلا يفطر. وأما الجوف: فيشمل جوف الإنسان كله؛ فلو أدخلت المرأة إصبعها في فرجها أثناء الاستنجاء أو الغسل، ولو بقصد النظافة، ولو بمقدار رأس الإصبع فإنها تفطر. ومثله حك الأذن من داخلها بشيء صلب، أما بالإصبع فلا يفطر ما لم تصل إلى الصماخ. والقطرة في الأذن والأنف تفطر، أما في العين فلا، ولو وجد طعمها في حلقه، لأن العين ليس بمنفذ مفتوح. وكذا الحقنة والتحميلة فإنهما تفطران سواء كانتا في قبل أو دبر. أما لو أدخلت في الفرج قطعة قطن عليها دواء، أثناء الإفطار، بحيث تتجاوز ما يظهر أثناء قضاء الحاجة، فإذا بقيت إلى ما بعد الفجر فلا تفطر، ومثله موانع الحمل الآلية، لا تضر بالصوم ما وضعت في الإفطار. وأما المنفذ المفتوح: فإما أن يكون مفتوحا أصالة مثل الأذن والفم والأنف والشرج، أو مفتوحاً بواسطة جرح مثل المأمومة (٨) ، لذا لا يضر وصول الكحل من العين، أو الدهن أو ماء الغسل من تشرب مسام البشرة، وكذا الحقن العضلية والوريدية لا تفطر بكل أنواعها، ولو كانت للتغذية.
Referensi :
الفقه المنهجى على مذهب الإمام الشافعى ص ٨٤
٢ـ وصول عين إلى الجوف من منفذ مفتوح: والمقصود بالعين: أي شيء تراه العين. والجوف: هو الدماغ أو ما وراء الحلق إلى المعدة والأمعاء. والمنفذ المفتوح: هو الفم والأذن والقبل والدبر من الذكر والأنثى. فالقطرة من الأذن مفطرة، لأنها منفذ مفتوح. والقطرة في العين غير مفطرة، لأنه منفذ غير مفتوح. والحقنة الشرجية مفطرة، لأن الشرج منفذ مفتوح. والحقنة الوردية لا تفطر، لأن الوريد غير مفتوح. وهكذا. وهذا كله أيضا بشرط التعمد، فإن فعل شيئاً من ذلك ناسياً لم يضر قياساً على الطعام والشراب. ولو وصل جوفه ذباب أو بعوضة، أو غبار الطريق لم يفطر أيضاً، لما في الاحتراز عن ذلك من المشقة الشديدة
Maka tetesan ke dalam lubang dari telinga adalah membatalkan puasa, karena telinga itu adalah lubang yang terbuka. Dan tetesan ke dalam mata itu tidak membatalkan puasa, karena mata itu lubang yang tidak terbuka.
Referensi:
الشرقاوى على التحرير .ج.ص ٤٣٢
(فلا يضر الاكتحال ( اي لا يكره في نهار رمضان لأنه لم يرد فيه نهي نعم هو خلاف الاولى فالأولى تركه خروجا من خلاف مالك فإنه مفطر عنده) وان وجد به طعم الكحل في الحلق (خرج ما لو وجد عينه كأن ظهرت في نحو نخامة فإن ابتلعها ضر والا فلا.
(Maka tidaklah membahayakan bercelak) yakni tidak makruh di siang Ramadan karena ia tidak dilarang, iya tetapi khilaful aula, yakni yang lebih baik ditinggalkan, karena untuk keluar dari bertentangan dengan Imam Malik yang baginya hal itu membatalkan puasa). (Meskipun terdapat rasa celak itu di dalam tenggorokan) kecuali jika sesuatu yang terasa di dalam tenggorokan itu berupa benda yang jelas semisal lendir dahak, maka jika ia menelannya dapat membahayakan puasa, tetapi jika tidak ditelan, maka tidak membahayakan puasa. Hal ini juga telah difatwakan oleh KH. Ali Mustafa Ya’qub di dalam buku Ramadhan bersama Ali Mustafa Ya’qub (hal. 37, Jakarta: Pustaka Firdaus, 2011) ketika ditanya seputar obat tetes mata di siang hari saat berpuasa. Beliau menjawab bahwa obat tetes mata tidak sampai ke rongga perut. Cairan itu hanya sampai di kelopak mata saja. Jadi, orang yang memakai obat tetes tersebut tidak dikategorikan minum obat tetes mata. Sehingga puasanya tidak batal. Hukum tidak batalnya puasa orang yang memakai tetes mata juga telah difatwakan oleh Syekh Yusuf al Qaradhawi di dalam Fatawa al Mu’ashirah (juz 1, Kuwait: Darul Qalam, 2000, hal. 325-328). Pendapatnya ini juga mengikuti pendapatnya Imam Ibnu Taimiyah di dalam Maj’mu’ Fatawa-nya. Wallahu A’lam bisshowab
HUKUMNYA IMAM MENGKHUSUSKAN DO’A UNTUK DIRINYA KETIKA BERJAMAAH
Assalamualaikum warohmatullah Deskripsi masalah
Saya ( Moh .Amin ) pernah bermakmum shalat subuh disalah satu musholla kemudian ketika sampai pada do’a Qunut , maka do’a nya imam untuk dirinya sendiri ( اللهم اهدني) bukan ( اللهم اهدنا)
Setudi kasus yang serupa.
Ada seorang memimpin do’a disuatu majlis ( perkumpulan ) berdo’a untuk dirinya saja ( Memakai dhomir mutakallim saja )
MEMAKAI DHOMIR ; أنا
( أللهم إني أسئلك الهدى )
TIDAK MEMAKAI DHOMIR: نحن
( اللهم إنانسئلك الهدى )
_________________
( اللهم اجعلني )
BUKAN
( اللهم اجعلنا )
Pertanyaannya Bagaimana hukumnya mengkhususkan do’a untuk dirinya sendiri ketika menjadi Imam..?
Waalaikum salam.
Jawaban.
Hukum mengkhususkan do’a untuk dirinya ketika menjadi imam adalah makruh baik didalam do’a Qunut shalat subuh atau diluar sholat. Dengan demikian maka seyogyanya seorang Imam jika memimpin do’a maka harus mencakup diri dan pada makmumnya/kaumnya.
Referensi :
فتح المعين ص ١١٤ وكره لإمام تحصيص نفسه بدعاء أو دعاء القنوت للنهى عن تخصيص نفسه بالدعاء فيقول الإمام :إهدنا وما عطف عليه بلفظ الجمع وقضيته أن سائر الدعاء كذلك
الدعاء الذي يشترك فيه الإمام والمأمومون في صلاة الجماعة؛ يعني: أن الإمام يدعو، ويؤمن المأمومون، هو الذي يكره فيه للإمام أن يخص نفسه بالدعاء دون المأمومين،
Rosulullah bersabda: Ada tiga perkara yang tidak boleh dilakukan oleh seseorang: (1)Tidak boleh seseorang mengimami terhadap kaum,lalu imam itu mengkhususkan bagi dirinya didalam berdoa.Dan imam itu tidak mendoakan untuk kaumnya. (2) Seseorang itu tidak boleh melihat kepada bagian dalamnya rumah orang lain, sampai minta idzin terlebih dahulu. (3)Dan seseorang tidak boleh sholat,dalam keadaan orang itu menahan kencingnya(orang itu mau kencing tapi tidak kencing) dan menahan buang air besarnya(orang itu mau buang air besar tapi tidak buang air besar).(Hadits Riwayat Abu Dawud dan Tirmidzi).
وذلك لما جاء عَنْ ثَوْبَانَ رضي الله عنه قال: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: (ثَلَاثٌ لَا يَحِلُّ لِأَحَدٍ أَنْ يَفْعَلَهُنَّ: لَا يَؤُمُّ رَجُلٌ قَوْمًا فَيَخُصُّ نَفْسَهُ بِالدُّعَاءِ دُونَهُمْ، فَإِنْ فَعَلَ فَقَدْ خَانَهُمْ. وَلَا يَنْظُرُ فِي قَعْرِ بَيْتٍ قَبْلَ أَنْ يَسْتَأْذِنَ، فَإِنْ فَعَلَ فَقَدْ دَخَلَ. وَلَا يُصَلِّي وَهُوَ حَقِنٌ حَتَّى يَتَخَفَّفَ) . رواه أبو داود (رقم/٩٠) والترمذي (٣٥٧) وقال حديث ثوبان حديث حسن.
CARA MENGKHUSUSKAN ALMARHUM YANG MENINGGAL LAKI-LAKI ATAU PEREMPUAN
Assalamualaikum Deskripsi masalah Seorang perempuan hamil setelah diperiksa melalui dokter dan dicoba melalui komputer maka diperediksi perkiraan berumur 8-9 bulan dan anaknya perempuan dan laki-laki katakanlah kembar namun tidak sama-sama perempuan dan tidak sama laki-laki melainkan laki-laki dan perempuan, Namun sayangnya ketika Melahirkan dia meninggal bersama anaknya yang berada dalam kandungannya.
Studi kasus yang hampir sama.
Ada sepasang suami istri ( Julianto dan Juliana ) meninggal pada waktu dan hari yang sama disebabkan oleh wabah virus Corana.
Pertanyaannya. Bagaimana cara mengkhususkan fatihahnya, apakah jika laki-laki إلى روح sedangkan jika perempuan إلى روحة
Waalaikum salam Jawaban. Cara mengkhususkan fatihahnya bagi ruhnya orang yang meninggal laki-laki atau perempuan adalah sama, tetap sebagaimana biasanya semisal yang meninggal ibunya bernama Fatimah dan anaknya kembar lalu diberi nama Mahmudah dan Mahmud maka caranya yaitu
الفاتحة إلى روح فاطمة وفرعها محمودة ومحمود/ وابنها محمود وبنتها محمودة
Begitu juga halnya suami istri yang meninggal sebagaimana tersebut dalam deskripsi cara mengkhususkanya adalah ;
YANG BENAR 👇
الفاتحة إلى روح جولينطا
Atau disatukan
الفاتحة إلى روح جولينطا وزوجته جولينا
YANG SALAH 👇
الفاتحة إلى روحة جولينا
Artinya kalimat روح tidak perlu dibedakan antara laki-laki dan perempuan ( misalkan kalau laki-laki إلى روح dan jika perempuan إلى روحة maka dalam hal ini tidak benar menurut ilmu tata bahasa . Alasannya tidak perlu dibedakan karena kalimat روح adalah isim jenis yang sudah mencakup laki-laki dan perempuan. Adapun yang dinamakan isim Jinis (اسم الجنس) menurut istilah adalah Isim yang jenis mufradnya tidak menunjukan makna satu tetapi menunjukan makna umum, seperti روح, طالب، كتاب ; ruh yang mencakup semua jenis laki-laki dan perempuan.
الموسوعة النحو والصرف والإعراب.ص ٦٣-٦٤ إسم الجنس هو الذي لايختص بواحد دون غيره من أفراد جنسه ، نحو طالب ، كتاب ، هذا ، هو .ومنه الضمائر ، وأسماء الإشارة والأسماء الموصولة وأسماء الشرط وأسماء الاستفهام لأنها لاتختص بفرد دون غيره ويقابله العلم ( الذي يختص بفرد واحد) لا المعرفة، فالضمائر مثلا، وهى أسماء الأجناس.
إسم الجنس الإفرادي : هو مادل على الجنس لاعلى الإثنين ولاعلى أكثر من الإثنين ولاأكثر من الإثنين وإنماهو صالح للقليل والكثير نحو خلّ، زيت،تراب إسم الجنس الجمعي: هو ماتضمن بمعنى الجمع ودل على الجنس، وله مفرد من لفظه ومعناه مميز منه بالتاء أو بياء النسبة ، نحو( ثمر ) ومفره (ثمرة ) و (لوز) ومفره ( لوزة) و ( عرب) ومفرده (عربي) و (روم) ومفرده (روميّ)
وأهم الفوارق بين الجمع ، واسم الجمع أ- إن الجمع وضع للآحاد المجتمعة ليدل الجمع فوضع لمجموع الآحاد ليدل عليها دلالة الواحد على جملة أجزاء مسماة. وأما إسم الجنس الجمعي فوضع للحقيقة والماهية معتبرا، فى استعماله لاوضعه، ثلاثة أفراد فأكثر ب- إن الجمع له واحد من لفظه ومعناه مستعمل . وأماإسم الجمع فقديكون له مفرد من لفظه دون معناه ، أو معناه دون لفظه .لكنه فى جميع هذه الحالات ليس على وزن من أوزان الجموع .وامااسم الجنس الجمعي فله مفرد واحد من لفظه ومعناه متميز منه بزيادة تاء التأنيث أوياء النسب فى آخره ج- إن الجمع له أوزان خاصة به ، أمااسم الجمع واسم الجنس الجمعي،فلايأتيان على وزن من أوزان.
بغية المسترشدين ص٩٧
(مسألة )
الأولى بمن يقرء الفاتحة لشخص أن يقول إلى روح فلان إبن فلان كماعليه العمل ولعل اختيارهم ذلك لما أن فى ذكر العلم من الإشتراك بين الإسم والمسمى والمقصودهنا المسمى فقط لبقاء الأرواح وفناء الأجسام
Adapun yang lebih utama bagi orang mengkhususkan membaca fatihah untuk orang lain adalah dengan mengucapkan ila ruhi Fulan bin Fulan barangkali ulama memilih demikian dikarenakan dalam penyebutan nama sebetulnya masih memiliki nilai isytirak (persekutuan/persamaan ) antara nama dan pemilik nama tersebut padahal yang dikehendaki disini adalah pemilik nama saja dikarenakan ruh itu kekal sedangkan jasad adalah sirnah ( rusak)
التفسير المنير للزحيلي ٤٥١٠-٤٥١١
{وَيَسْئَلُونَكَ}
أي اليهود {عَنِ الرُّوحِ} أي عن ماهيتها وحقيقتها وهي ما يحيى به البدن، وهو اسم جنس على الظاهر {قُلِ} لهم {مِنْ أَمْرِ رَبِّي} أي من الإبداعات الكائنة بكن من غير مادة ولا تولد من أصل، وقيل: مما استأثره الله بعلمه، لما روي أن اليهود قالوا لقريش: سلوه عن أصحاب الكهف، وعن ذي القرنين، وعن الروح، فإن أجاب عنها أو سكت فليس بنبي، وإن أجاب عن بعض وسكت عن بعض، فهو نبي، فبين لهم القصتين، وأبهم أمر الروح، وهو مبهم في التوراة {وَما أُوتِيتُمْ مِنَ الْعِلْمِ إِلاّ قَلِيلاً} بالنسبة إلى علمه تعالى، وهو ما تستفيدونه بحواسكم.
الشرح المختصر السلم المنورق ص ٤١
كل أسماء الأجناس كلية اسم الجنس هذا كُلِّي لا يختص به واحد دون آخر بخلاف علم الجنس فهو جزئي، علم الجنس كأسامة هذا يختص به مثل زيد، زَيد من الناس نقول: هذا يختص به دون آخر فإذا قلت: جاء زيد. لا يدخل تحته فرد آخر وإنما يختص بفرد واحد وهو مشخص. حينئذٍ نقول: ما لا يمنع الاشتراك فهو كُلِّيٌّ كالأسد هذا يصدق على كل أسامة بأنه أسد فهو اسم جنس وهو كُلِّيٌّ، (وَعَكْسُهُ الجُزْئِِيُّ) عكس ماذا؟ ما لا يفهم اشتراكًا بل اختص به فرد دون آخر، (وَعَكْسُهُ)، أيْ: خلافه. (الجُزْئِِيُّ) فهو ما لا يفهم الاشتراك بين أفراده، يعني: ما يكون معناه مشخصًا لا يصدق على كثيرين كالأعلام نقول: هذه خاصة لا تقبل الاشتراك البتة كـ زيد، وخالد، وعمرو إلى آخره نقول هذه لا تقبل الاشتراك البتة، أو إن شئت قل: ما يمنع تعقل مدلوله من وقوع الشركة فيه عكس الكُلِّي فإذا تصوره وتعقله الإنسان في ذهنه حينئذٍ يمنع أن يدخل فرد آخر تحت مدلول هذا اللفظ،
Deskripsi masalah. Saya Ahmad Sayuthiy pernah menemukan keterangan dalam sebuah video atau gambar yang bertuliskan orang yang terkena musibah baik badan sakit atau susah dll.diminggu terakhir bulan ramadhon dapat menggugurkan dosa-dosa .
Pertanyaannya. Benarkah orang yang terkena musibah berupa sakit dapat mengukuhkan dosa ? Kalau benar dikitab apa, keterangannya, mohon jawabannya.
Waalaikum salam. Jawaban. Benar jika seseorang terkena musibah berupa sakit dan ia sabar maka Allah akan mengampuni dosa dosanya, illatnya karena sakitnya sebaliknya jika tidak sabar maka Allahpun murka terhadapnya. Oleh karenanya seseorang muslim harus yakin bahwa semua ujian dan cobaan atau musibah itu adalah bagian dari takdir Allah yang harus diterima dengan sabar, ridha dan syukur. Kewajiban menerima segala ujian dan cobaan yang Allah berikan dengan kepasrahan dan keridhaan dan larangan menghadapi ujian dengan menggerutu dan berkeluh kesah. Karena bagaimanapun juga Ujian dan cobaan atau musibah adalah sebagai penggugur dosa sebagaimana Allah mengugurkan daun-daun dari pohonya sekaligus sebagai ladang pahala baginya dengan syarat diterima dengan sabar. Dalam satu riwayat jika datang demam ( panas) pada diri seorang yang mukmin maka berserulah ruh didalam dirinya, lalu dia berkata Wahai demam ( sakit panas ) apa yang engkau inginkan dari diri ( jiwa )orang yang mukmin ini ? Maka Demam berkata :” Wahai Ruh yang baik sesungguhnya dirimu (jiwamu ) ini telah suci sedangkan kotorannya adalah banyak-banyak dosa dan kesalahan maka saya telah mensucikannya lalu ruh menjawabnya dengan kerendahan hati tiga kali bersihkanlah bersihkan bersihkanlah. …lihat keterangan ini dalam kitab Tanbihul Ghafilin. Dalam hadits disebutkan:
Diriwayatkan dari ‘Aisyah radhiyallahu ’anha berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidak ada sesuatu musibah pun yang menimpa seorang yang beriman sampaipun duri yang melukainya melainkan dengannya Allah akan mencatatnya sebagai satu kebaikan untuknya dan mengampuni dosa dosanya” [HR. Muslim, no. 4669] Dalam hadits yang lain Rasulullah SAW bersabda:
Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ’anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidaklah seorang muslim itu ditimpa musibah baik berupa rasa lelah, rasa sakit, rasa khawatir, rasa sedih, gangguan atau rasa gelisah sampaipun duri yang melukainya melainkan dengannya Allah akan mengampuni dosa-dosanya” (HR. Al-Bukhari, no. 5641 dan Muslim, no. 2573).
Luasnya rahmat dan kasih sayang Allah kepada hamba hamba-Nya yang beriman dengan menjadikan ujian dan musibah itu sebagai penebus dosa dan penambah pahala.
دقائق الأخبار
{ الباب الرابع عشر فى ذكر الصبر على المصيبة } روى عن إبن عباس رضي الله عنهما أنه قال عليه السلام أول ما كتب بالقلم فى اللوح المحفوظ بأمر الله تعالى اِنِّى انَا اللّهُ لآَاِلَهَ اِلَّا اَنَا مُحَمَّدٌ عَبْدِى وَرَ سُوْلِى وَخِيْرَتىِ مِنْ خَلْقِى مَنِ اسْتَلَمَ لِقَضَائىِ وَصَبَرَ عَلىَ بَلَائىِ وَشَكَرَ لِنَعْمَائىِ أَكْتُبُهُ صِدِّيْقًا وَأَبْعَثُهُ مَعَ الصِّدِّ يقِيْنَ يَوْمَ االقِيَامَةِ وَأَدْخِلُهُ الجَنةَ وَمَنْ لَمْ يَسْتَلِمْ لِقَضَائىِ وَلَمْ يَصبِرْعَلى بَلَائىِ وَلَمْ يَشْكُرْ عَلىَ نَعْمَائىِ فَالْيَخْرُجْ مِنْ تَحْتِ سَمَائىِ وَالْيَطْلُبْ رَبًّا سِوَائىِ. *قال الفقيه رحمه الله الصبر على البلاء وذكر الله عند المصيبة مما يجب على الإنسان لأنه اذا ذكر الله فى ذلك المكان كان رضامن بقضاء الله وترغيما للشيطان وقال علي بن أبي طالب ك رم الله وجهه الصبر على ثلاثة أوجه الأول الصبر على الطاعة والثاني الصبر على المعصية والثالث الصبر على المصيبة فمن صبر على الطاعة أعطاه الله تعالى مائة درجة كل درجة مابين ال سماء والأرض ومن صبر على المعصية أعطاه الله تعالى يوم القيامة ستمائة درجة كل درجة مابين السماء والأرض ومن صبر على المصيبة أعطاه الله تعالى أجره بغير حساب
Diriwayatkan oleh Ibnu Abbas ra., sesungguhnya Rasulullah SAW. bersabda, “Permulaan yang ditulis dengan kalam di Lauh Mahfudz atas perintah Allah SWT. adalah : “Sesungguhnya AKUlah Allah, tiada Tuhan selain AKU Muhammad adalah seorang hamba dan utusan-KU. Pilihan-KU adalah siapa saja yang pasrah atas ketentuan takdir-KU, bersabar atas balakKU dan bersyukur atas semua nikmat-KU. AKU tulis dia golongan orang-orang yang jujur dan AKU bangunkan dia bersama orang-orang yang jujur pada hari kiamat dan AKU masukkan dia ke surga. Dan barangsiapa tidak pasrah terhadap ketentuan takdir-KU dan tidak bersabar atas balakKU serta tidak bersyukur aras semua nikmat-KU, maka sebaiknya dia keluar dari bawah kolong langit lalu carilah Tuhan selain AKU.” Al Faqih Rahimahullah Ta’ala berkata : “Bersabar atas suatu musibah dan ingat kepada Allah ketika tertimpa kesulitan adalah sesuatu yang wajib atas semua manusia. Karena manusia itu apabila mengingat Allah tatkala tertimpa musibah berarti dia ridho atas ketentuan takdir Allah dan memutuskan harapan syetan.” Ali Ibnu Abi Thalib KaromAllahu Wajhah, berkata : “Sabar itu terdiri dari tiga unsur, yang pertama yaitu sabar atas ketaatan, kedua sabar atas kemaksiatan, dan ketiga sabar atas musibah. Barang siapa yang sabar atas ketaatan kepada Allah Ta’ala, maka Allah beri dia seratus derajat dan setiap derajat sama dengan apa yang ada di langit dan di bumi. Barang siapa yang bersabar dari berbuat maksiat, maka Allah beri dia itu enam ratus derajat pada hari kiamat dan setiap derajat sama dengan apa yang ada di antara langit dan bumi. Dan barang siapa yang sabar atas musibah Allah SWT. berikan dia itu pahalanya tanpa perhitungan sedikitpun.”
باب فضل المريض وعيادة المريض .ص ١٩١ ( قال الفقيه)
ابوالليث السمرقندى رحمه الله حدثنا أبو الحسن القاسم بن محمد بن روزبة حدثنا عيسى بن خشنام حدثنا سويد بن مالك عن زيد بن أسلم عن عطاء بن ياسر أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال إذا مرض العبد بعث الله ملكين فقال انظر ماذا يقول عبدي لعواده فإن هو جاؤه حمد الله رفع ذلك إلى الله عز وجل وهو أعلم فيقول الله قولا لعبدي ان أناتوفيه أدخله الجنة وإن شفيته بدلت له لحما خيرا من لحمه ودما خيرا من دمه وان أكفر عنه سيآته ( قال) حدثنا محمد بن الفضل حدثنا محمد بن جعفر حدثنا إبراهيم ابن يوسف حدثنا أبو معاوية عن الأعمش عن عمارة بن عمير عن سعيد ابن وهب قال دخلت مع سلمان الفارسي رضى الله تعالى عنه على صديق له فقال سلمان أن الله تعالى يبتلى عبده المؤمن بالبلاء ثم يعافيه فيكون كفارة لماماضى ومستعتبالما بقى وان الله ليبتلي عبده الفاجر بالبلاء ثم يعافيه فيكون كالبعير الذي عقله أهله ثم أطلقوه لايدري فيم عقلوه ولافيم أطلقوه ( وبهذا الاسناد) عن الأعمال عن إبراهيم ألتيمى عن الحرث بن سويد عن إبن مسعود رضى الله تعالى عنهم قال دخلت على النبي صلى الله عليه وسلم وهو يعوك وعكاشديدا فمسته فقلت إنك لتوعك وعكاشديدافقال أجل إني أوعك كمايوعك رجلان منكم فقلت أنك أجرين قال نعم والذي نفسي بيده ماعلى الأرض مسلم يصيبه مرض فماسواه إلا حط الله عنه خطاياه كماتخط الشجرة ورقها (قال) حدثنا أبو بلال الأشعري عن سليمان النهدي عن أبي عثمان النهدى عن سلمان الفارسي رضى الله تعالى عنه قال قال رسول الله صلى الله عليه إذا جاء الحمى للنفس المؤمنة فتنادى بها الروح من جوف النفس فتقول أيتها الحمى ماتريدين من هذا النفس المؤمنة فتجيبها الحمى فتقول أيتهاالروح الطيبة ان نفسك هذه كانت طاهرة فتقذرتها الذنوب والخطايا فأنا أطهر ها فتجيبها الروح أدنى ثلاث مرات فطهريها وعن جعفر بن برقان عن شيخ عن رجل من المهاجرين أنه عاد مريضا فقال بلغنى أن للمريض فى مرضه أربع خصال يرفع عنه القلم ويجرى له من الأجر مثل الذي كان يعمل وهو صحيح ويتبع كل خطيئة فى مفاصله فيستخرجها فإن مات مغفورا له وإن عاش مغفورا له …..
Dalam hadits lain yang diriwayatkan oleh Abu Umamah al-Bâhiliy, Rasulullah SAW bersabda:
Artinya: Jika ada hamba beriman yang sakit, Allah memberikan wahyu kepada malaikat-Nya ‘tulislah untuk hambaku pahala sebagaimana pahala atas amal yang ia kerjakan saat sehat sejahtera ketika aku membuat dia sibuk.’ Lalu malaikat kemudian mencatatnya. (At-Targhîb fî Fadlâilil A’mâl: 397)
Di hadits lain dikisahkan, ketika ada orang mukmin sakit, sebelum ia menderita atas sakit yang datang menimpa, Allah sudah menyuruh empat malaikat terlebih dahulu mendatangi hamba yang akan sakit tersebut.
Allah menugaskan satu malaikat untuk menyedot kekuatan tubuh seseorang sehingga ia berubah menjadi lemah. Malaikat kedua diperintah untuk menyedot perasaan lezat di mulut seseorang sehingga ia tiba-tiba menjadi tidak enak saat makan apapun.
Malaikat ketiga ditugaskan untuk mengambil cahaya wajah seseorang tersebut. Maka orang yang dicabut nur wajahnya, mukanya menjadi pucat pasi. Dan yang keempat, Allah mengutus malaikat yang satunya untuk mengambil dosa-dosa orang yang sakit sehingga ia tidak lagi memiliki dosa.
Pada saat Allah menghendaki seorang hamba yang sakit tersebut untuk kembali sehat, Allah menyuruh ketiga malaikat mengembalikan hal-hal yang sebelumnya ia ambil. Hanya saja, Allah tidak mengutus malaikat yang mengambil dosa untuk mengembalikannya.
Malaikat pengambil dosa kemudian bersujud seraya melapor kepada Allah: Ya Allah, Engkau telah mengutus empat malaikat. Engkau suruh mereka untuk mengembalikan atas apa yang sebelumnya mereka ambil. Namun mengapa Engkau tidak menyuruh hamba-Mu ini untuk turut serta mengembalikan?
Allah SWT kemudian menjawab: Atas kemurahan dan kemuliaan-Ku, Aku tidak mau mengembalikan dosa kepada ia setelah Aku membikin ia kepayahan.
Terus apa yang harus kami lakukan, Ya Allah? tanya malaikat.
Allah lalu memerintahkan: Pergilah kamu dan buanglah dosa-dosa dia ke lautan.
Malaikat pun menjalankan perintah Allah. Dan kesalahan-kesalahan itu berubah wujud menjadi aligator. Demikian Wallahu A’lam bisshowab
Sebagaimana yang kita maklumi, bahwa pohon jati merupakn pohon yang berkualitas dan sangat berbeda dengan pohon-pohon lainnya, sehingga lumrah diminati oleh banyak orang, terlebih para pembisnis Kayu dan Mibel, dll. Namun demikian menanam pohon diMasjid ulama tidak memperbolehkan, bahkan Imam Syafi’i memakruhkan, karena menanam pohon dimasjid itu bukanlah pekerjaan ulama’ salaf bahwa menurut pendapat yang shohih haram menanamya , jika sampai mengotori masjid, menyempitkan masjid, mana kala daun-daunnya jatuh begitu juga buah-bauhnya jatuh atau dijatuhkan oleh burung-burung lalu kenjing mengotori masjid, karena masjid dibangun untuk Zikir dan shalat juga untuk tempat membaca Al-Qur’an.
Sebut saja seseorang nama Samarannya Mahmud mewakafkan tanah dan pepohonannya untuk masjid sedangkan pohon itu adalah pohon jati yang separuh batangnya condong atau miring dijalan dan khawatir membahayakan orang yang lewat namakala roboh, selain itu khawatir mengutori masjid. Berangkat dari latar belakang tersebut diatas, maka seseorang atau Nadzir atau Imam menebangnya dan menjualnya namun hasil dari penjualan tersebut digunakan untuk kepentingan peribadi.
Pertanyaannya. Bagaimana hukum seseorang atau Nadzir/ Takmir menebang pohon jati tersebut karena dihawatirkan dapat membayakan orang yang lewat atau mengotori masjid kemudian dijual yang hasilnya digunakan untuk kepentingan peribadi?
Waalaikum salam
Jawaban
Menurut Imam Romli (Syafi’iyyah) tidak boleh,menebang pohon yang berada ditanah wakaf ( masjid) sedangkan menurut Jumhur ulama (Hanabilah) boleh dijual jika membahayakan dan uangnya dibelikan dengan pohon semisal.
Menurut Imam As-Subki tidak boleh Nadzir memanfaatkan barang wakaf ( memiliki barang wakaf untuk peribadi )
Ditanyakan : Ada pohon kurma yang diwaqofkan untuk mesjid atau untuk seseorang dan anak cucunya,dan pohon tersebut ada dijalan, dan separuh batangnya condong/miring ,dan di khawatirkan roboh dan menimpa haait, atau menimpa orang yang lewat,dengan demikian ada madhorat jika tidak ditebang. Apakah boleh seseorang menebang batang pohon yang miring tersebut atau mencabut/menebang seluruhnya , baik sipenebang itu hakim atau selainnya ?
Imam Romli menjawab : Bahwa sesungguhnya,tidak diperbolehkan bagi siapapun menebang pohon tersebut dan tidak juga mencabutnya.
Solusinya (madzhab Hanabilah) pohon tersebut di jual untuk di belikan pohon /di tukar untuk di waqofkan sebagai gantinya.
الإنصاف الجزء ٧ صحـ : ١٠٢ مكتبة دار إحياء التراث العربي (حنبلي)
الموسوعة الفقهية – ٢٣٩٩١/٣١٩٤٩ وقال ابن قدامة: لا يجوز أن يغرس في المسجد شجرة وإن كانت النخلة في أرض فجعلها صاحبها مسجدا والنخلة فيها فلا بأس ويجوز أن يبيعها من الجيران، وفي رواية: لا تباع وتجعل للمسلمين وأهل الدرب يأكلونها، وقيل: إن المسجد إذا احتاج إلى ثمن ثمرة الشجرة بيعت وصرف ثمنها في عمارته، أما إن قال صاحبها: هذه وقف على المسجد فينبغي أن يباع ثمرها ويصرف إليه (١) . والمالكية لا يجيزون ذلك في المسجد وإن وقع قلع (٢) . والشافعية قالوا بكراهة غرس الشجر والنخل وحفر الآبار في المساجد لما فيه من التضييق على المصلين، ولأنه ليس من فعل السلف، والصحيح تحريمه لما فيه من تحجير موضع الصلاة والتضييق وجلب النجاسات من ذرق الطيور، وقال الغزالي: لا يجوز الزرع فيه، وإن غرس غرسا يستظل به فهلك به إنسان فلا ضمان. وقال الرافعي في كتاب الوقف: ولا ينبغي أن يغرس في المسجد شجر لأنه يمنع المصلين، قال في الروضة في باب السجدات: فإن غرس قلعه الإمام، وقال القاضي حسين في تعليقه في الصلاة: لا يجوز الغرس في المسجد ولا الحفر فيه؛ لأن ذلك مما يشغل المصلي.وقال في آخر كتاب الوقف: سئل أبو علي عبد الله الحناطي عن رجل غرس شجرة في المسجد كيف يصنع بثمارها؟ فقال: إن جعلها للمسجد لم يجز أكلها من غير عوض، ويجب صرفها إلى مصالح المسجد، ولا ينبغي أن يغرس في المساجد الأشجار لأنها تمنع الصلاة، فإن غرسها مسبلة للأكل جاز أكلها بلا عوض وكذا إن جهلت نيته حيث جرت العادة به الفقه الإسلامي و أدلته – ٧٤٢٧/٧٧٢٢ هـ ـ لا يجوز نقل المسجد وإبداله وبيع ساحته، وجعلها سقاية وحوانيت إلا عند تعذر الانتفاع به. ولا يجوز أن يغرس في المسجد شجرة كالنخلة وغيرها بعد أن صار مسجدا، وقال أحمد: لا أحب الأكل منها، ولو قلعها الإمام لجاز؛ لأن المسجد لم يبن لهذا، وإنما بني لذكر الله والصلاة وقراءة القرآن؛ ولأن الشجرة تؤذي المسجد، وتمنع المصلين من الصلاة في موضعها، ويسقط ورقها في المسجد وثمرها، وتسقط عليها العصافير والطير، فتبول في المسجد، وربما رمى الصبيان ثمرها بالحجارة. أما إن كانت النخلة في أرض، فجعلها صاحبها مسجدا، والنخلة فيها، فلا بأس
Dizaman milineal sekarang ini sebenarnya tidaklah sulit untuk membuktikan bagaimana cara kita berbuka puasa dan mengetahui masuknya waktunya shalat, tentunya dengan melihat jadwal masuknya shalat pun juga tanda berbuka puasa melalui HP, namun demikian terkadang jam yang berada di HP dan jarumnya jam lambat sehingga diantara HP atau jam yang satu dengan yang lainnya berbeda-beda bahkan cara Adzanpun tidak sama ada yang adzan pas dengan terbenamnya matahari dan ada yang lambat .
Pertanyaannya. Jika Adzan magrib tidak bersamaan dibulan puasa apakah yang menjadi patokan berbuka puasa adanya adzan atau terbenamnya matahari.
Waalaikum salam.
Jawabannya
Pedoman buka puasa maupun masuknya waktu shalat disiang hari adalah matahari .Jika matahri terbenam maka Masuklah waktu ifthor,dan juga waktu shalat maghrib karena waktu ifthor adalah awal masuknya waktu maghrib akan tetapi adzanpun bisa menjadi tanda masuknya waktu ifthor dengan catatan adzan yang dikumandankan sesuai dengan terbenamnya matahari . Akan tetapi jika adanya adzan tidak sesuai dengan terbenamnya matahari maka tidaklah bisa dijadikan patokan berbuka karena disyariatkannya adzan ulama berbeda pandang khususnya dikalangan Syafiiyah ada yang mengatakan disyariatkannya adzan sebagai pemberitahuan tanda masuknya waktu, sedangkan sebagian yang lain berpendapat bahwa disyariatkannya adzan sebagai pemberitahuan pelaksanaan shalat fardhu Kenapa sebagian ulama berpendapat adzan sebagai tanda masuknya waktu shalat fardu ..? karena latar belakang dianjurkannya hukum dikumandangkan adzan adalah sebagai panggilan tanda masuknya waktu , namun tidak semua adzan yang dikumandangkan sebagai tanda masuknya waktu shalat karena adzan sebagai hak untuk shalat bukan untuk waktu sehingga adzan bisa digunakan atau dikumandankan ketika orang akan bepergian seperti pergi haji sunnah adzan, juga ketika anak lahir, dan juga ketika kebakaran dan banyak jin dan ketika mayit dikuburkan. Oleh karena itu penting terlebih dahulu seorang muadzzin harus melihat mata hari jika sudah terbenam berarti sudah masuk waktu shalat baru adzan, karena kata adzan (أذن), kata نادى di dalam berbagai macam bentuknya terulang sebanyak 53 kali di dalam Al-Quran. Dari pengulangan 53 kali tersebut, adzan selain memiliki arti panggilan ataupun seruan, kata tersebut juga berarti permohonan ataupun doa
Dalil bahwa terbenamnya matahari sebagai tanda masuk waktunya Ifthor sebagaimana sabda Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam-:
“Apabila waktu malam tiba dari arah sini, dan waktu siang berlalu dari sini dan matahari telah terbenam, seorang yang berpuasa boleh berbuka”. (HR. Bukhori: 1954, dan Muslim: 1100).
Maksud dari terbenam itu adalah tidak terlihatnya bola matahari, adapun warna kemerahan yang tersisa tidak jadi masalah, yang penting tidak terlihatnya bola matahari itu sudah masuk waktu iftho (berbuka). Banyak juga para muadzin belakangan ini berpedoman pada kalender atau jadwal shalat. Hal ini juga diperbolehkan. Namun diantara mereka ada juga yang tidak tepat waktu sebagaimana seharusnya. Apabila para muadzin berbeda, maka pilihlah adzan yang paling tepat waktu dan jadikanlah dia sebagai patokan puasa atau boleh juga berpedoman pada kalender atau jadwal imsakiyah yang betul-betul bisa dipertanggungjawabkan jawabkan atas kebenarannya.
Jika orang yang berpuasa memiliki kuat dugaan bahwa matahari sudah terbenam, maka diperbolehkan berbuka, tidak disyaratkan harus mendapatkan keyakinan, tapi cukup dengan perkiraan kuat. Ketika orang berpuasa dalam persangkaan kuat matahari telah terbenam, maka berbuka tidak apa-apa. Namun, tidak boleh dia berbuka selagi dia masih ragu dengan terbenamnya matahari. Jadi yang menjadi patokan adalah terbenam matahari bukan azan terutama waktu sekarang, karena orang-orang berpedoman pada kalender dan menjadikannya sebagai acuan dengan jamnya, sementara jamnya terkadang berubah lebih cepat atau lebih lambat. Jika matahari telah terbenam dan disaksikannya, sementara orang-orang belum azan, maka dibolehkan berbuka. Kalau mereka telah azan, sementara terlihat matahari belum terbenam, maka tidak diperbolehkan berbuka. Adanya sisa cahaya terang tidak berpengaruh. Sebagian orang mengatakan, “Kita tetap (menunggu) sampai bulatan (Matahari) tidak nampak dan hari mulai gelap. Hal ini tidak dijadikan patokan. Tapi lihatlah bulatan matahari itu, kapan dia terbenam bagian paling atas, maka matahari telah terbenam dan disunahkan berbuka. Dalil disunahkan bersegera adalah sabda Beliau sallallahu alaihi wa sallam:
لا يَزَالُ النَّاسُ بِخَيْرٍ مَا عَجَّلُوا الْفِطْرَ
“Orang-orang senantiasa dalam kebaikan selagi mensegerakan berbuka.” Dengan demikian dapat kita ketahui, bahwa orang yang mengakhirkan berbuka sampai terlihat bintang seperti Rofidhoh mereka tidak dalam kebaikan. Kalau ada orang mengatakan, “Apakah saya diperbolehkan berbuka dengan persangkaan kuat, dalam artian kalau dalam persangkaan kuatku bahwa matahari telah terbenam, apakah saya diperbolehkan berbuka? Maka jawabnya adalah ya, dalil akan hal itu adalah apa yang ada ketetapan dalam Shahih Bukhori dari Asma’ binti Abu Bakar radhiallahu anha berkata:
أفطرنا في يوم غيم على عهد النبي صلّى الله عليه وسلّم ، ثم طلعت الشمس
“Kami berbuka di hari mendung pada zaman Nabi sallallahu alaihi wa sallam, kemudian terbit (kelihatan) matahari.” Telah diketahui mereka tidak berbuka dengan keyakinan (ilmu), karena kalau mereka berbuka dengan keyakinan (ilmu), maka matahari tidak akan terlihat lagi. Akan tetapi mereka berbuka berdasarkan persangkaan kuat telah terbenam. Kemudian mendungnya tersingkap dan matahari terlihat.” (Asy-Syarhul Mumti’, 6/267).
كاشفة السجا على شرح سفينة النجا
والرابع على من أفطر ظاناً الغروب فبان خلافه أيضاً ) كما يقع الآن كثيرًاً بسبب) جهل الميقاتية قاله الشرقاوي
atas orang yang berbuka seraya menyangka telah tenggelamnya matahari, tetapi ternyata diketahui bahwa matahari belum terbenam, artinya, ia tetap wajib imsak atau menahan diri di waktu yang tersisa hingga matahari diketahui benar-benar telah tenggelam dan kelak ia wajib mengqodho. Demikian ini adalah seperti yang sering dilakukan oleh kebanyakan orang saat ini sebab kebodohan mereka tentang batas-batas waktu, seperti yang dikatakan oleh Syarqowi.
إعانة الطالبين .ج ١ص ٢٢٨ (فصل فى الآذان والإقامة ) أى فى بيان حكمهما وشروطها وسننهما ( قوله هما لغة الإعلام ) فيه أن الآذان فقط لغة الإعلام قال تعالى وأذن فى الناس بالحج أى أعلمهم به واماالإقامة فهى لغة مصدر أقام أى حصل القيام فهما مختلفان لغة كما فى التحفة والنهاية والمغنى فكان الأولى أن يزيد وتحصيل القيام ويكون على التوزيع الأول والثانى للثانى ثم رأيت فى فتح الجواد مثل ماذكره الشارح فلعله تبعه فى ذلك ولكن الايراد باق ويكون عليهما… ( قوله وشرعا) معطوف على لغة وقوله ماعرف به من الألفاظ المشهورة وهى الله أكبر الله أكبر الخ وهى كماقال القاضى عياض كلمات جامعة لعقيدة الإيمان مشتملة على نوعيه العقلية السمعية فأولها فيه إثبات ذاته تعالى وماتستحقه من الكمال بقوله الله أكبر أى أعظم من كل شيئ ثم الشهادة بالوحدانية له بقوله أشهد أن لاإله إلا الله وبالرسالة لسيدنامحمد صلى الله عليه وسلم بقوله وأشهد أن محمدا رسول الله ثم الدعاء إلى الصلاة بقوله حى على الصلاة أى أقبلوا عليها ولاتكسلوا عنها فحى إسم فعل أمر بمعنى أقبلوا ثم الدعاء إلى الفلاح بقوله حى على الفلاح أى أقبلوا على سبب الفلاح وهو الفوز والظفر بالمقصود وسببه هو الصلاة فهو تأكيد لما قبله بعد تأكيد وتكرير بعد تكرير وفيه إشعار بأمور الآخرة من البعث والجزاء لتضمن الفلاح لذلك ثم كرر التكبير لمافيه من التعظيم له تعالى وختم بكلمة التوحيد لأن مدار الأمر عليه جعلنا الله وأحييتنا عند الموت ناطقين بها عالمين بمعناها وقوله فيهما أى الآذان والإقامة 🔅واعلم أنه اختلف في الاذان هل شرع للاعلام بدخول الوقت؟ أو شرع للاعلام بالصلاة المكتوبة؟ على قولين للامام الشافعي رضي الله عنه، والراجح الثاني، وأما الأول فهو مرجوح، وينبني على القولين أنه لا يؤذن للفائتة على المرجوح لان وقتها قد فات، ويؤذن لها على الراجح لان الاذان حق للصلاة لا للوقت.(قوله: والأصل فيهما) أي الدليل على مشروعية الأذان والإقامة. وقوله: الاجماع إلخ هكذا في التحفة. والذي في النهاية والمغنى والأسنى الأصل فيهما قبل الاجماع، قوله تعالى: * (إذا نودي للصلاة من يوم الجمعة) * وقوله تعالى: * (وإذا ناديتم إلى الصلاة) * وما صح من قوله (ص): إذاأقيمت الصلاة فليؤذن لكم أحدكم. اه. وقوله: المسبوق صفة للاجماع. وقوله: برؤية عبد الله إلخ فإن قيل: رؤية المنام لا يثبت بها حكم. أجيب بأنه ليس مستندا لاذان الرؤيا فقط، بل وافقها نزول الوحي. فالحكم ثبت به لا بها. ويؤيده رواية عبد الرازق وأبي داود في المراسيل، من طريق عبيد بن عمير الليثي، أحد كبار التابعين، أن عمر لما رأى الاذان جاء ليخبر النبي (ص فوجد الوحي قد ورد بذلك، فما راعه إلا أذان بلال، فقال له النبي (ص): سبقك بذلك الوحي. (قوله: ليلة تشاوروا) الظرف متعلق برؤية، وواو الجماعة عائد على النبي (ص) ومن معه من الصحابة. وقوله: فيما يجمع الناس أي في الامر الذي يكون سببا لجمع الناس للصلاة. (قوله: وهي) أي رؤية الاذان من حيث هي، بقطع النظر عن كونها صدرت من عبد الله، وإلا لحصل ركة بقوله بعد عن عبد الله. (قوله: لما أمر النبي (ص)) أي بعد اتفاقهم عليه. وكتب ع ش ما نصه: قوله: لما أمر النبي (ص) إلخ. عبارة حجر تفيد عدم أمره (ص)، ويوافقه ما في سيرة الشامي حيث قال: اهتم (ص) كيف يجمع الناس للصلاة، فاستشار الناس فقيل: انصب راية. ولم يعجبه ذلك، فذكر له القنع – وهو البوق – فقال: هو من أمر اليهود. فذكر له الناقوس فقال: هو من أمر النصارى. فقالوا: لو رفعنا نارا؟. فقال: ذاك للمجوس. فقال عمر: أو لا تبعثون رجلا ينادي بالصلاة؟ فقال (ص): يا بلال قم فناد بالصلاة. قال النووي: هذا النداء دعاء إلى الصلاة غيرالأذان، كأن شرع قبل الاذان. قال الحافظ ابن حجر: وكان الذي ينادي به بلال: الصلاة جامعة. اه. وهو كما ترى مشتمل على النهي عن الناقوس والامر بالذكر. اه. (قوله: بالناقوس) قال في المصباح: هو خشبة طويلة يضربها النصارى إعلاما للدخول في صلاتهم. (قوله: يعمل) أي يصنع. (قوله: ليضرب به للناس) عبارة غيره: ليضرب به الناس، بحذف لام الجر. وعليها يكون الناس فاعل يضرب، وعلى عبارة شارحنا يكون الفعل مبنيا للمجهول، وبه نائب فاعل، وللناس متعلق بالفعل. وقوله: لجمع الصلاة أي لاجتماع الناس لها. فالإضافة لأدنى ملابسة. والجار والمجرور إما بدل من الجار والمجرور قبله أو متعلق بالفعل، وتجعل اللام للتعليل، وبه يندفع ما يقال إنه يلزم عليه تعلق حرفي جر بمعنى واحد بعامل واحد. وهو لا يصح. وحاصل الدفع أن الحرفين ليسا بمعنى واحد، لان الثاني للتعليل والأول للتعدية.(قوله: طاف إلخ) جواب لما. وقوله: وأنا نائم الجملة حالية، وهي معترضة بين الفعل وفاعله وهو رجل. (قوله:فقال) أي الرجل لعبد الله. وقوله: وما تصنع به أي بالناقوس. (قوله: ثم استأخر) أي الرجل. (قوله: فقال) أي النبي (ص). وقوله: إنها أي رؤيتك يا عبد الله. وقوله: حق أي صادقة. وهو بالرفع صفة لرؤيا أو بالجر على أنه مضاف إليه ما قبله، وهي من إضافة الموصوف للصفة. (قوله: فألق عليه ما رأيت) أي لقنه ما رأيته منامك. (قوله فليؤذن به) أي فليؤذن بلال بما رأيت. وفي ع ش ما نصه: ذكر بعضهم في مناسبة اختصاصه – أي بلال – بالاذان دون غيره، كونه لما عذب ليرجع عن الاسلام فلم يرجع وجعل يقول: أحد أحد. جوزي بولاية الاذان المشتمل على التوحيد في ابتدائه وانتهائه. اه حواشي المواهب لشيخنا الشوبري. (قوله: فإنه) أي بلالا. وقوله: أندى صوتا منك أي أرفع وأعلى. وقيل: أحسن وأعذب. وقيل: أبعد. (قوله: فقمت مع بلال) أي فامتثلت أمر النبي (ص) إلخ، وقمت مع بلال. وقوله: فجعلت ألقيه أي ما رأيته. وقوله: عليه أي على بلال. (قوله: فيؤذن) أي بلال.
Kitab I‘ânah Ath-Thâlibîn, Juz 1, Halaman 228
(Bab tentang Adzan dan Iqamah) – yaitu dalam penjelasan hukum, syarat, dan sunnah keduanya. (Perkataan: “keduanya secara bahasa berarti pemberitahuan”) — Di sini terdapat catatan bahwa secara bahasa, adzan saja yang berarti pemberitahuan. Allah Ta‘ala berfirman: “Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji” (QS. Al-Hajj: 27), yakni beritahukanlah kepada mereka. Adapun iqamah, secara bahasa adalah bentuk mashdar dari aqaama yang berarti menegakkan atau mendirikan. Maka keduanya berbeda secara bahasa, sebagaimana disebutkan dalam kitab Tuhfah, Nihayah, dan Mughni. Oleh karena itu, lebih baik ditambahkan kata “dan mendirikan shalat” untuk membedakan keduanya. Kemudian, aku menemukan dalam kitab Fathul Jawad penjelasan yang sama dengan yang disampaikan oleh penulis. Barangkali, ia hanya mengikutinya dalam hal ini, tetapi kritik tersebut tetap ada.
(Perkataan: “dan secara syara‘”) — Ini dihubungkan dengan “secara bahasa”. (Perkataan: “adalah lafaz-lafaz yang sudah masyhur”) — yaitu “Allahu Akbar, Allahu Akbar” dan seterusnya. Menurut Qadhi Iyadh, lafaz-lafaz ini mencakup pokok-pokok aqidah iman, baik yang bersifat rasional (aqliyah) maupun yang bersifat pendengaran (sam’iyyah). Awalnya terdapat penegasan akan keberadaan Allah Ta‘ala dan kesempurnaan-Nya dengan kalimat “Allahu Akbar”, yang berarti “Allah Maha Besar dari segala sesuatu”. Kemudian, terdapat kesaksian tentang keesaan Allah dengan kalimat “Asyhadu an laa ilaaha illallah”, dan kesaksian tentang kerasulan Nabi Muhammad ﷺ dengan kalimat “Asyhadu anna Muhammadan Rasulullah”.
Kemudian, terdapat seruan untuk melaksanakan shalat dengan kalimat “Hayya ‘ala ash-shalaah”, yang berarti “Marilah melaksanakan shalat, jangan malas!”. Kata “Hayya” adalah fi’il amar yang berarti “datangilah atau hadirilah!”. Selanjutnya, ada seruan untuk meraih keberuntungan dengan kalimat “Hayya ‘ala al-falaah”, yang berarti “Datangilah sebab keberuntungan”, yakni kemenangan dalam mencapai tujuan yang puncaknya adalah shalat. Pengulangan takbir di akhir mengandung pengagungan terhadap Allah Ta‘ala, sedangkan penutupan dengan kalimat tauhid (Laa ilaaha illallah) karena seluruh amalan berpangkal padanya. Semoga Allah menjadikan kita termasuk orang yang mengucapkannya di akhir hayat dengan penuh kesadaran akan maknanya.
(Perkataan: “Dalam keduanya”) — yaitu adzan dan iqamah. Ketahuilah bahwa terdapat perbedaan pendapat tentang tujuan disyariatkannya adzan. Apakah untuk memberitahukan masuknya waktu shalat atau untuk memberitahukan adanya kewajiban shalat? Imam Syafi‘i memiliki dua pendapat dalam hal ini. Pendapat yang lebih kuat adalah bahwa adzan disyariatkan untuk memberitahukan adanya kewajiban shalat, bukan sekadar masuk waktu. Konsekuensinya, menurut pendapat yang lemah, adzan tidak disyariatkan untuk shalat yang terlewatkan waktunya (shalat qadha), sedangkan menurut pendapat yang kuat, adzan tetap disyariatkan karena adzan adalah hak shalat, bukan hak waktu.
(Perkataan: “Dan dasar dari keduanya”) — yaitu dalil yang menunjukkan disyariatkannya adzan dan iqamah. (Perkataan: “Ijma‘”) — seperti yang disebutkan dalam kitab Tuhfah. Sedangkan dalam kitab Nihayah, Mughni, dan Asna, dasar keduanya sebelum ijma‘ adalah firman Allah Ta‘ala: “Apabila diserukan adzan untuk shalat pada hari Jumat” (QS. Al-Jumu‘ah: 9) dan firman Allah Ta‘ala: “Dan apabila kalian menyeru untuk shalat” (QS. Al-Ma’idah: 58). Selain itu, terdapat hadits sahih yang menyatakan: “Apabila iqamah sudah dikumandangkan, maka hendaknya salah seorang dari kalian mengumandangkan adzan”.
(Perkataan: “Mimpi Abdullah”) — Jika ada yang bertanya, bukankah hukum tidak dapat ditetapkan hanya berdasarkan mimpi? Maka jawabannya adalah bahwa hukum adzan tidak hanya berdasarkan mimpi tersebut, tetapi mimpi tersebut sesuai dengan wahyu yang turun. Hal ini diperkuat dengan riwayat dari ‘Abdurrazzaq dan Abu Dawud dalam kitab Marasil, dari ‘Ubaid bin Umair Al-Laitsi, salah seorang tabi’in senior, bahwa ketika Umar melihat adzan dalam mimpinya dan hendak memberitahukan Nabi ﷺ, ternyata wahyu sudah turun terlebih dahulu mengenai hal tersebut.
(Perkataan: “Malam ketika mereka bermusyawarah”) — keterangan waktu ini terkait dengan peristiwa mimpi tersebut. (Perkataan: “Mereka bermusyawarah tentang cara mengumpulkan manusia untuk shalat”) — Nabi ﷺ dan para sahabat bermusyawarah tentang cara memanggil orang untuk shalat. Mereka mengusulkan bendera, tetapi Nabi ﷺ tidak menyukainya. Kemudian mereka mengusulkan terompet seperti Yahudi, tetapi Nabi ﷺ menolaknya. Lalu diusulkan lonceng seperti Nasrani, Nabi ﷺ pun menolaknya. Setelah itu, Umar mengusulkan: “Mengapa tidak ada seseorang yang memanggil manusia untuk shalat?” Maka Nabi ﷺ bersabda kepada Bilal: “Wahai Bilal, bangkitlah dan serulah shalat!”
Menurut Imam Nawawi, seruan pertama tersebut bukanlah adzan yang kita kenal sekarang, tetapi seruan umum untuk shalat. Ibnu Hajar menambahkan bahwa seruan tersebut adalah dengan kalimat “As-Shalaatu Jaami‘ah” (“Shalat akan dilaksanakan secara berjamaah”).
(Perkataan: “Lonceng”) — Menurut kitab Al-Mishbah, lonceng adalah kayu panjang yang dipukul oleh orang Nasrani untuk memberi tahu waktu shalat mereka.
(Perkataan: “Kemudian seseorang datang dalam mimpi”) — Abdullah bin Zaid melihat seorang laki-laki dalam mimpinya, yang mengajarkannya lafaz adzan. Nabi ﷺ kemudian bersabda: “Mimpi itu benar.” Dan beliau memerintahkan agar Bilal yang mengumandangkan adzan karena suaranya lebih nyaring dan merdu.
Inilah ringkasan dari penjelasan terkait adzan dan iqamah dalam kitab I‘ânah Ath-Thâlibîn.
تقريب
الصلاة المفروضة خمس الظهر وأول وقتها زوال وقتها زوال الشمس وآخره إذا صار ظل كل شيء مثله بعد الزوال والعصر وأول وقتها الزيادة على ظل المثل وآخره في الاختيار إلى ظل المثلين وفي الجواز إلى غروب الشمس والمغرب ووقتها واحد وهو غروب الشمس وبمقدار ما يؤذن ويتوضأ ويستر العورة ويقيم الصلاة ويصلي خمس ركعات والعشاء أول وقتها إذا غاب الشفق الأحمر وآخره في الاختيار إلى ثلث الليل وفي الجواز إلى طلوع الفجر الثاني والصبح وأول وقتها طلوع الفجر الثاني وآخره في الاختيار إلى الأسفار وفي الجواز إلى طلوع الشمس
. Artinya: Shalat fardhu (wajib) ada 5 (lima) yaitu: (a) Shalat Dhuhur. Awal waktunya adalah condongnya matahari sedang akhir waktu dzuhur adalah apabila bayangan benda sama dengan ukuran bendanya. (b) Shalat Ashar. Awal waktunya adalah apabila bayangan sama dengan benda lebih sedikit. Akhir waktu Ashar dalam waktu ikhtiyar adalah apabila bayangan benda 2 (dua) kali panjang benda; akhir waktu jawaz adalah sampai terbenamnya matahari. (c) Shalat maghrib. Awal waktunya adalah terbenamnya matahari (sedang akhir waktunya) adalah setelah selesainya adzan, berwudhu, menutup aurat, mendirikan shalat dan shalat 5 (lima) raka’at. (d) Shalat Isya’. Awal waktunya adalah apabila terbenamnya sinar merah sedangkan akhirnya untuk waktu ikthiyar adalam sampai 1/3 (sepertiga) malam; untuk waktu jawaz adalah sampai terbitnya fajar yang kedua (shadiq). (e) Shalat Subuh. Awal waktunya adalah terbitnya fajar kedua (fajar shadiq) sedang akhirnya waktu ikhtiyar adalah sampai isfar (terangnya fajar); akhir waktu jawaz adalah sampai terbitnya matahari. KESIMPULAN Dari penjelasan diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa keduanya antara Matahari ( terbenamnya matahari ) dan adzan dapat dijadikan patokan masuknya waktu ifthor waktu shalat maghrib Namun tidak setiap adzan menjadi tanda masuknya waktu, karena adzan adalah hak bagi shalat dan bukan hak bagi waktu, sebagaimana keterangan dalam kitab Iaanatuttholibin tersebut. .Wallahu A’lam bisshowab.
Sebagaimana yang kita ketahui khususnya bagi TKI, bahwa paspor dibuat sebagai langkah awal bagi seseorang yang ingin melakukan perjalanan ke luar negeri. Namun, terdapat berbagai jenis paspor dengan warna yang berbeda, seperti paspor biasa/umum dan paspor kerja. Bagi calon Tenaga Kerja Indonesia (TKI) yang berdomisili atau berada di wilayah Indonesia, mereka yang ingin memiliki paspor dapat mengajukan permohonan kepada petugas di kantor imigrasi yang berada dalam provinsi yang sama dengan domisili mereka. Paspor tersebut merupakan dokumen resmi yang diterbitkan pemerintah untuk perjalanan ke luar negeri. Tujuan utama paspor adalah sebagai fasilitas untuk memenuhi persyaratan kerja di negara tertentu.
Misalnya, seseorang bernama Moh. Hamdan ingin bekerja di luar negeri (Malaysia), tentu dengan syarat harus memiliki paspor. Untuk memperoleh paspor dengan cepat, sering kali diperlukan pemberian pelicin, karena tanpa adanya pemberian tersebut, paspor tidak mungkin diperoleh dengan cepat. Oleh karena itu, Hamdan terpaksa memberikan pelicin agar dapat memperoleh paspor dan berangkat ke negara yang dituju dengan aman. Namun demikian, selain paspor, Hamdan juga perlu menyiapkan dokumen tambahan berupa visa kerja sebagai bukti izin kerja di negara tujuan.
—
Pertanyaan.
Apakah pemberian tersebut termasuk sogok atau Hadiah dengan maksud agar bisa mendapatkan Paspor untuk perjalanan sehingga dapat memasuki Negara yang dituju untuk bekerja sebagaimana deskripsi
Bagaimana status hasil dari perkejaan tersebut ?
Waalaikum salam
Jawaban disatukan
Ulama berbeda pandang dalam mendefinisikan “Risywah ” Walaupun sedikit berbeda tapi tujuannya adalah sama Yaitu Pemberian dengan tujuan untuk membatalkan perkara yang benar atau membenarkan perkara yang keliru atau menyalahkan perkara yang benar maka inilah yang disebut sogok ,
Syekh Nawawi Al-Bantani mendefinisikan sogok atau suap sebagai pemberian kepada qadhi (hakim) dengan motif agar menggagalkan sebuah kebenaran atau melegalkan kejahatan.
Sementara itu Ibnu Katsir dalam Mishbahul Munir menjelaskan bahwa praktik suap tidak hanya menyangkut pemberian terhadap hakim yang memiliki otoritas putusan hukum dalam suatu negara, akan tetapi lebih luas daripada itu.
Artinya, “Risywah -dengan harakat kasrah pada huruf ra’- adalah sesuatu yang diberikan seseorang kepada hakim atau lainnya agar menetapkan hukum yang memihak penyuap, atau agar menuruti apa yang diinginkan penyuap.”
Akan tetapi ada pemberian yang diperbolehkan selama ia bukan tujuan sogok tetapi memang layak untuk tujuan kebenaran dan keamanan serta keselamatan dirinya, selama dalam tempat bekerja maka dalam hal ini boleh memberinya akan tetapi bagi lainnya tidak boleh mengambilnya (boleh memberi dan haram orang yang menerima ) bahkan ada pemberian dan yang menerima sama-sama boleh dengan tujuan bukan semata sogok tetapi semata sukarela.
Ulama menjelaskan bahwa haram menerima suap yaitu sesuatu yang diberikan kepada qodhi/hakim supaya menghukumi dengan tanpa haq atau supaya memerdekakan dari hukum yang haq, karena sebuah hadist “ Alloh melalknati orang yang menyuap dan orang yang menerima suap di dalam menghukumi ”.
Adapun memberi sesuatu supaya menghukumi dengan haq maka bukan suap yang diharamkan, tetapi bolehnya ini dalam segi memberi (boleh menyuap) bukan orang yang bertahan (menerima suap tetap dilarang) disebabkan tidak diperbolehkanya mengambil sesuatu atas menghukumi, begitu juga memberikan sesuatu dari baitul mal atau tidak , kemudian seseorang yang mengambil sesuatu itu dari yang dihasilkan adalah haram hukumnya.
PERBEDAAN SOGOK DAN HADIAH
Berikut kutipan dalam kitab karya Imam An Nawawi yakni Roudhotut Tholibin juz 11 halaman 144
Cabang masalah: Sudah kami jelaskan bahwa suap haram secara mutlak sedangkan hadiah boleh dalam sebagian masalah. Maka perlu dikemukakan perbedaan secara haqiqi antara keduanya ketika pihak pemberi informasi baik dalam menyuap ataupun memberi hadiah. Perbedaannya ditinjau dari dua sisi.
Pertama , dikatakan oleh Ibnu Kajj, bahwa suap adalah pemberian yang disyaratkan dalam penerimaannya untuk menetapkan hukum yang tidak benar atau pemberi terbebas dari tuntutan hukum yang benar. Sedangkan hadiah adalah pemberian secara mutlak.
Kedua , Imam Ghozali mengatakan dalam kitab Ihya Ulumudin, suatu harta benda adakalanya diberikan untuk tujuan jangka panjang yakni tujuan ibadah dan shadaqah, dan adakalanya diberikan untuk tujuan jangka pendek, yakni
Adakalanya berupa harta, maka disebut hibah yang disertai persyaratan/pengharapan timbal balik, serta bisa juga berupa amal/jasa. Bila jasa itu berupa amaliyah haram atau wajib ‘ain maka disebut suap, bila amal mubah maka disebut ijarah atau ju’alah.
Adakalanya juga harta benda yang diberikan untuk mendekati atau meraih simpati dari orang yang diberi. Bila hal itu sebatas kedekatan pribadi maka disebut hadiah. Bila dimanfaatkan untuk tujuan tertentu melalui kedudukan orang yang diberi maka disebut hadiah pada orang yang mempunyai kedudukan karena ilmu atau nasabnya, serta disebut suap pada orang yang menyandang kedudukan hakim atau pejabat.
Imam Taqiyuddin As Subki berkata di dalam kitab Al Ittihaf syarah Ihya Ulumuddin juz 6 halaman 160
Imam Taqiyyudin As Subki berkata: hadiah tidak memiliki tujuan utama selain untuk mendapatkan simpati, sedang suap bertujuan mencapai ketetapan hukum tertentu dan tidak peduli akan mendapat simpati atau tidak .
Kemudian orang yang berakal berkata (membantah): Yang namanya mencari simpati itu disebabkan ada kepentingan (pamrih) tertentu, sedangkan murni mencari simpati tanpa ada kepentingan itu tidak logis/berakal.
Benar sekali, tetapi simpati yang dicari disebabkan oleh beberapa faktor. Di antaranya, bila faktor itu karena ada keperluan tertentu, misalnya kasus hukum, kemudian kita tahu bahwa yang menjadi motif utama adalah keperluan itu dan simpati hanya menjadi perantara saja bukan tujuan, sekira tujuan itu diketahui yang tidak tetap pada tujuan semula maka ini termasuk dalam bagian suap. Karena tujuan yang sekiranya orang mengetahui sebab kepentingan tujuan itu yang tidak tetap atas tujuanya maka ini termasuk kategori riswah/suap
Dan dalam kitab Is’adur Rofiq syarah matan Sulam Taufiq halaman 100 juga dijelaskan antara suap dan hadiah sebagai berikut:
إسعادالرفيق الجزء الثانى ص ١٠٠ مكتبة ” الهداية ” سورابيا فمن أعطى قاضيا أو حاكما أو أهدى إليه هدية فإن كان ليحكم له بباطل أو ليتوصل بها لنيل مالايستحقه أو لأذية مسلم ففسق الراشى والمهدى بالإعطاء والمرتشى والمهدى إليه بالأخذ والرائش بالسعي وإن لم يقع حكم منه بعد ذلك أو ليحكم له بحق أو لدفع ظلم أولينال ما يستحقه فسق الأخذ فقط ولم يأثم المعطى للضروره للتوصل لحق بأي طريق كان…
Artinya:” Barang siapa memberi suap pada hakim, atau memberikan hadiah kepadanya, maka jika dimaksudkan agar hakim memberikan putusan hukum yang menguntungkannya dengan cara yang tidak benar, ia jadikan sarana untuk mendapatkan sesuatu yang bukan menjadi haknya, atau ia maksudkan untuk menyakiti sesama muslim, maka sipenyuap dan sipemberi hadiah menjadi fasiq sebab pemberiannya itu, begitu pula penerima suap atau hadiah sebab mengambil suap atau hadiah itu, dan begitu pula dengan perantaranya sebab usahanya , walaupun setelah pemberian suap tersebut tidak terjadi putusan hukum. Atau (ia memberikan suap ) dimaksudkan agar hakim memberikan putusan hukum yang menguntungkannya secara benar, atau dimaksudkan mencegah kedhaliman atau dimaksudkan untuk memperoleh sesuatu yang menjadi haknya, maka yang menjadi fasiq hanya yang mengambil (suapnya) saja, sedangkan yang memberi tidaklah berdosa dikarenakan terpaksa agar bisa mendapatkan haknya ( bisa bekerja) dengan jalan apapun.”
Jadi apabila hukum di atas tidak terjadi, atau agar pemberi informasi mendapatkan hukum yang benar, atau untuk menolak kezhaliman, atau untuk mendapatkan haknya maka hukum fasiq hanya berlaku pada orang yang mengambil pemberian itu.Pemberian tidak berdosa karena dia terpaksa melakukan hal itu karena jalan memperoleh hal yang benar dengan segala cara.
Oleh karena itu Menurut Imam Al-Ghazali, secara umum istilah pemberian (hibah) dapat mencakup hadiah, sedekah, dan suap. Ketiganya sama-sama mengandung unsur kerelaan dari pemberi. Namun yang membedakan ketiganya terletak pada motif pemberian. Imam Al-Ghazali merinci motif pemberian sebagai berikut:
1️⃣Jika dilatari dengan motif ukhrawi seperti pahala, maka disebut sedekah. 2️⃣ Jika dengan motif memuliakan, maka disebut hadiah. 3️⃣Jika dilatarbelakangi dengan motif duniawi maka dapat dikategorikan hibbah bi tsawab (pemberian dengan adanya balasan), atau ijarah (upah dalam akad ijarah). 4️⃣Jika pemberian dilatarbelakangi dengan motif agar tujuan pemberi tercapai melalui perantara penerima, maka tergolong risywah atau suap. Berikut penjelasan Imam Al-Ghazali yang dikutip Syekh Zakariya Al-Anshori dalam Asnal Mathalib: Bahwa “Risywah haram” Al-Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ berkata: “Harta jika diberikan dengan tujuan mendatang (pahala akhirat) maka dinamakan sedekah. Jika diberikan untuk tujuan ‘ajal (imbalan dunia) berupa harta maka dinamakan hibah bisyartit tsawab. Jika pemberian harta itu atas perkara yang diharamkan atau kewajiban muaya’an maka dinamakan risywah. Jika untuk perkara yang mubah maka dinamakan dengan ijarah atau ja’alah. Jika pemberian harta karena murni tali kasih atau untuk berwasilah dengan derajat pangkatnya agar tercapai tujuan-tujuannya, itu dinamakan hadiah. Jika kedudukan dan derajatnya itu berupa ilmu atau nasab; namun jika berupa putusan hukum atau satu tindakan maka dinamakan risywah.”
Dengan kata lain suap/sogok adalah memberi pada seseorang (hakim), atau memberikan hadiah kepadanya, dengan tujuan agar orang lain ( hakim) memberikan putusan hukum yang menguntungkannya dengan cara yang tidak benar, ia jadikan sarana untuk mendapatkan sesuatu yang bukan menjadi haknya, atau ia maksudkan untuk menyakiti sesama muslim, maka sipenyuap dan sipemberi hadiah menjadi fasiq ( sama-sama berdosa ) sebab pemberiannya , begitu pula penerima suap atau hadiah sebab mengambil suap atau hadiah itu, dan begitu pula dengan perantaranya sebab usahanya , walaupun setelah pemberian suap tersebut tidak terjadi putusan hukum. Atau (ia memberikan suap ) dengan tujuan agar orang lain ( hakim ) memberikan putusan hukum yang menguntungkannya secara benar, atau dimaksudkan mencegah kedhaliman atau dimaksudkan untuk memperoleh yang sesuatu yang menjadi haknya, maka yang menjadi fasiq hanya yang mengambil (suapnya) saja, sedangkan yang memberi tidaklah berdosa dikarenakan terpaksa agar bisa mendapatkan haknya ( bisa bekerja) dengan jalan apapun.”
Dari beberapa definisi/pengertian dan penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa risywah/Sogok atau suap adalah pemberian yang memiliki motif supaya orang yang menerima suap bersedia melakukan hal-hal yang menyimpang. Penyuap, penerima suap dan perantara yang terlibat di dalamnya akan mendapatkan dosa. Dengan demikian jika tujuan pemberian untuk mendapatkan pembuatan paspor yang sebenarnya tidak memenuhi persyaratan maka hukumnya risywah tetapi jika membuatan paspor merupakan keharusan dan layak untuk dirinya dengan tujuan keselamatan dan keamanan selama berada diperantauan ( tempat bekerja ) maka hukumnya boleh memberi namun haram bagi yang menerima, dan apa bila dalam memberinya bukan tujuan apa-apa melainkan semata sukarela maka hukumnya memberi dan menerima adalah boleh karena hal yang diberikan termasuk sedekah begitu juga dengan hasil dari usaha kerja adalah halal walaupun dengan cara memberi karena itu satu-satu jalan untuk memperoleh haknya untuk bekerja. Wallahu A’lam bisshowab
Referensi :
نهاية الزين. ص.٣٧٩
وقبول الرشوة حرام وهي ما يبذل للقاضي ليحكم بغير الحق أو ليمتنع من الحكم بالحق وإعطائها كذلك لأنه إعانة على معصية
Referensi:
أسنى المطالب فى شرح روض الطالب . ص ١٨٤٨ المكتبة الشاملة
“Dan menerima suap adalah haram, yaitu apa yang diberikan kepada hakim agar ia memutuskan dengan tidak benar atau agar ia menahan diri dari memutuskan yang benar, dan memberikan suap itu juga haram karena merupakan bantuan terhadap dosa.”
Referensi
(أسنى المطالب في شرح روض الطالب, hal. 1848, Al-Maktabah Al-Shamilah):
“Bab yang mengharamkan suap: yaitu menerima suap, yaitu apa yang diberikan kepadanya agar ia memutuskan dengan tidak benar atau agar ia menahan diri dari memutuskan dengan yang benar, hal ini berdasarkan sabda Nabi: ‘Allah melaknat pemberi suap dan penerima suap dalam perkara hukum,’ yang diriwayatkan oleh Ibn Hibban dan selainnya serta disahihkan. Dan karena hukum yang diambil dengan suap, jika tidak sesuai dengan hak, maka menerima uang tersebut sebagai imbalannya adalah haram, atau jika sesuai dengan hak, maka tidak boleh menunda pelaksanaannya dengan alasan menerima uang tersebut jika hakim sudah mendapat gaji dari Baitul Mal (Kas Negara). Beda halnya dengan yang tidak mendapat gaji tetap dari Baitul Mal, dan pekerjaannya dapat diberi upah. Dalam hal ini, ia tidak diperbolehkan meminta upah atau gaji atas perbuatannya, berbeda dengan yang menerima dari Baitul Mal, karena Baitul Mal adalah tempat yang lebih luas dan hak untuk setiap Muslim. Tidak ada tuduhan jika mengambil gaji dari sana, berbeda dengan menerima uang dari pihak yang berperkara.”
“Dan pendapat pertama lebih dekat kebenarannya, dan yang kedua lebih berhati-hati. Seseorang yang memberikan suap kepada hakim berdosa, berdasarkan hadits tersebut. Seseorang yang memberi suap agar bisa memperoleh haknya, selama ia tidak dapat mencapainya tanpa suap, maka ia tidak berdosa, meskipun penerimaan suap tetap haram.”
“Dan begitu juga, memberikan hadiah kepada seseorang yang sedang menangani kasus yang bersangkutan, meskipun hadiah tersebut sudah diberikan sebelumnya sebelum kasus diputuskan, tetap haram, karena hadits Nabi: ‘Hadiah untuk pejabat adalah harta rampasan’ (Hadaya al-`Umala’ ghulul) yang diriwayatkan oleh Al-Baihaqi dengan sanad yang hasan.”