logo mubaa
Logo Ittihad

DEWAN PIMPINAN PUSAT
IKATAN ALUMNI BATA-BATA

Kategori
Uncategorized

MEMPERBAHARUI/MENGULANGI AKAD NIKAH DAN SHIGHAT IJAB QOBULNYA

MEMPERBAHARUI/MENGULANGI AKAD NIKAH DAN SHIGHAT IJAB QOBULNYA

Disebagian masyarakat yang ingin bekerkerja ( berkasab) untuk mencari penghasilan ekonomi atau setelah datang berbulan- bulan mereka Membaharui ( Mengulangi akad nikahnya) padahal akad nikah yang mereka jalani selama hidup berumah tangga sudah resmi, bahkan tidak jarang ketika memperbaharuinya akad nikah nama dari salah satu pasangan suami itu dirubah .

Studi kasus yang serupa tapi tidak sama .

Dalam Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974 mengamanatkan bahwa dalam perkawinan yang terjadi dimasyarakat agar dicatatkan. Bagi masyarakat yang beragama Islam mencatatkan perkawinannya di Kantor Urusan Agama Kecamatan setempat sedangkan bagi mereka yang Non Muslim mencatatkan perkawinannya di Kantor Pencatatan Sipil. Bagi warga negara yang beragama Islam khususnya dalam praktik pencatatan perkawinannya tidak jarang ditemukan permasalahan administratif yang dirasa berseberangan dengan hukum fiqih yang mereka pahami dan yakini kebenarannya. Sebagai contoh adalah Sifulan dan Fulanah telah lama bahkan bertahun-tahun menikah Namun tidak punya buku nikah hal itu ditemukan karena ingin daftar haji dengan syarat diantaranya bagi yang berkeluarga harus mempunyai buku nikah, maka agar dapat buku nikah dia memperbaharui akad nikahnya selanjutnya dengan cara isbat buku nikah . Selain kasus diatas, ada juga Sepasang calon pengantin telah mendaftarkan diri di KUA untuk melaksanakan perkawinan pada hari dan tanggal serta waktu yang telah ditentukan. Ketika diadakan pemeriksaan calon pengantin bersama pegawai KUA disepakati akad nikah akan dilaksanakan sebagaimana hari, tanggal, dan jam sesuai kesepakatan. Maka pada waktu tersebut penghulu yang bertugas datang ke rumah pengantin perempuan untuk menyaksikan dan mencatat perkawinan tersebut. Namun sebelum pelaksanaan ijab qabul pihak keluarga memberitahu penghulu bahwa sesungguhnya kedua mempelai telah melaksanakan akad nikah sejak dua bulan yang lalu dan meminta untuk tidak dinikahkan lagi. Mereka beranggapan bahwa bila dinikahkan lagi maka itu berarti menganggap akad yang pertama tidak sah dan berarti pula hubungan biologis suami istri yang selama dua bulan dilakukan adalah hubungan yang haram. Anggapan ini bukannya tanpa dasar. Menurut pengakuannya apa yang mereka yakini adalah hasil berkonsultasi kepada salah satu tokoh ditempat tersebut , oleh karenanya mereka hanya meminta untuk diberi buku nikah saja tanpa ada proses ijab kabul ulang ( tajdidunnikah). Sementara itu penghulu yang bertugas memaksa agar diakad dan menyaksikan proses akad nikah kembali lagi agar bisa diberikannya buku nikah dari petugas KUA

Pertanyaannya:

1.Bagaimanakah pandangan hukum fiqih terhadap kasus di atas? Apakah mengakad kembali sebuah perkawinan ( memperbaharui akad nikah) bisa membatalkan akad yang telah terjadi sebelumnya?.

2.Apakah sama Shighat memperbaharui akad nikah dengan yang pertama..?

Waalaikum salam.

Jawaban. No.1

Masalah tajdidun ( Memperbaharui akad nikah / mengulangi akad nikah) dalam kajian fiqh ulama berbeda pandang:

1️⃣ Menurut Pendapat yang Shahih bahwa mengulangi atau memperbarui akad nikah hukumnya boleh, dengan maksud dan tujuan sekadar tajammul (keindahan atau pura-pura), seperti orang yang dinikahkan sah menurut agama Islam, lengkap dengan syarat dan rukunnya, namun tidak didaftarkan di KUA, setelah didaftarkan di KUA dinikahkan lagi sebagai persyaratan yang harus disaksikan oleh petugas KUA, maka dalam hal ini menurut Syaikh Ibnu Hajar dan jumhur ulama Syafi’iyah tidak membatalkan nikah yang pertama, asalkan pengantin laki-laki atau orang yang tidak punya buku nikah sebagaimana kasus diatas tetap meyakini bahwa nikah yang pertama tidak rusak.
Pendapat ini adalah yang shahih (kuat/benar). Alasannya karena dalam mengulangi atau memperbarui akad nikah tersebut terdapat kepentingan yang diantaranya adanya unsur tajammul (memperindah) dan ihtiyath (kehati-hatian dari sepasang suami-istri). Sebab bisa saja terjadi sesuatu yang bisa merusak nikah tanpa mereka sadari, sehingga memperbarui nikah guna menetralisir kemungkinan tersebut.

(Tuhfat al-Muhtaj juz 7 halaman 391, Hasyiyat al-Jamal ‘ala al-Manhaj juz 4 halaman 245 dan Syarh al-Manhaj li Syihab Ibn Hajar juz 4 halaman 391).

أَنَّ مُجَرَّدَ مُوَافَقَةِ الزَّوْجِ عَلَى صُورَةِ عَقْدٍ ثَانٍ مَثَلاً لاَ يَكُونُ اعْتِرَافًا بِانْقِضَاءِ الْعِصْمَةِ اْلأُولَى بَلْ وَلاَ كِنَايَةَ فِيهِ وَهُوَ ظَاهِرٌ إِلَى أَنْ قَالَ وَمَا هُنَا فِي مُجَرَّدِ طَلَبٍ مِنْ الزَّوْجِ لِتَجَمُّلٍ أَوْ احْتِيَاطٍ فَتَأَمَّلْهُ.

“Sesungguhnya persetujuan murni suami atas aqad nikah yang kedua (memperbarui nikah) bukan merupakan pengakuan habisnya tanggung jawab atas nikah yang pertama, dan juga bukan merupakan kinayah dari pengakuan tadi. Dan itu jelas. Sedangkan apa yang dilakukan suami di sini (dalam memperbarui nikah) semata-mata untuk memperindah atau berhati-hati.” (Tuhfat al-Muhtaj juz 7 halaman 391).

وعبارته: لأن الثاني لايقال له عقد حقيقة بل هو صورة عقد خلافا لظاهر ما في الأنوار ومما يستدل به على مسئلتنا هذه ما في فتح الباري في قول البخاري إلي أن قال قال ابن المنير يستفاد من هذا الحديث ان إعادة لفظ العقد في النكاح وغيره ليس فسخا للعقد الأول خلافا لمن زعم ذلك من الشافعية قلت الصحيح عندهم انه لايكون فسخا كما قاله الجمهور إهـ

(Hasyiyat al-Jamal ‘ala al-Manhaj juz 4 halaman 245).

إن مجرد موافقة الزوج على صورة عقد ثان مثلا لا يكون إعترافا بانقضاء العصمة الأولى بل ولاكناية فيه وهو ظاهر لأنه مجرد تجديد طلب من الزوج لتجمل أو إحتياط فتأمل.


(Syarh al-Minhaj li Syihab Ibn Hajr juz 4 halaman 391).

Imam al-Bukhari di dalam kitab shahihnya meriwayatkan sebuah hadits: Fathul Bari Li Ibnu Hajar, Juz : 13 Hal : 199

  حَدَّثَنا أَبُو عَاصِمٍ، عَنْ يَزِيدَ بْنِ أَبِي عُبَيْدٍ، عَنْ سَلَمَةَ، قَالَ: بَايَعْنَا النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَحْتَ الشَّجَرَةِ، فَقَالَ لِي: «يَا سَلَمَةُ أَلاَ تُبَايِعُ؟»، قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، قَدْ بَايَعْتُ فِي الأَوَّلِ، قَالَ: وَفِي الثَّانِي “

Abu ‘Ashim bercerita kepada kami dari Yazid bin Abu Ubaid dari Salamah ia berkata, “Nabi membaiat kami di bawah sebuah pohon. Beliau berkata kepada, “Ya, Salamah, tidakkah engkau ikut berbaiat?” Aku menjawab, “Aku telah berbaiat di yang pertama ya Rasulullah.” Beliau bersabda, “Yang kedua.” Dalam menjelaskan hadits tersebut Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam kitab Fathul Bari mengutip perkataan Ibnul Munir yang menyatakan bahwa dari hadits tersebut dapat diambil satu kesimpulan bahwa mengulangi akad dalam pernikahan dan perkara lainnya tidaklah merusak akad yang pertama, berbeda dengan pendapat ulama yang berpendapat sebaliknya dari golongan Syafi’iyah. Imam Ibnu Hajar menyatakan bahwa yang shahih di kalangan Syafi’iyah adalah pengulangan akad itu tidak merusak sebagaimana yang dikatakan oleh jumhur ulama. Dari keterangan di atas maka jelaslah bahwa pengulangan akad nikah untuk kepentingan tertentu tidak merusak keabsahan akad nikah yang telah dilakukan sebelumnya sebagaimana dipersoalkan pada contoh kasus di atas.

وقال بن المنير : يستفاد من هذا الحديث أن إعادة لفظ العقد في النكاح وغيره ليس فسخا للعقد الأول خلافا لمن زعم ذلك من الشافعية قلت الصحيح عندهم أنه لا يكون فسخا كما قال الجمهور

Qurrotul ‘Ain Bi Fatawi Isma’il Az-Zen, Hal :148

حكم التجديد النكاح
سؤال : ما حكم تجديد النكاح ؟
الجواب: أنه إذا قصد به التأكيد فلا بأس به لكن الأولى تركه والله أعلم
تجديد عقد النكاح لا يوجب مهرا جديدا
سؤال : ماقولكم فيمن جدد نكاحه فهل يجب عليه أو يسن أن يعطيها الصداق مرة ثانية لذكره في العقد الجديد أولا سواء طلقها الزوج بعد ذلك أو لا ؟الجواب : لايجب عليه أن يجدد صداقا وتجديد صيغة عقد النكاح فإنما هي للتأكيد والأولى
والله سبحانه وتعالى أعلم

Jadi Menurut pendapat mayoritas ulama’, akad nikah kedua tidak merusak akad pertama, sebab akad yang kedua hanyalah akad nikah yang dalam bentuknya saja, dan hal tersebut bukan berarti merusak akad yang pertama. Pendapat ini merupakan pendapat yang Shohih dalam madzhab Syafi’i, sebagaimana dijelaskan oleh Imam Ibnu Hajar dalam Fathul Bari tersebut.

2️⃣ Memperbaharui akad nikah menurut pendapat yang Dloif / lemah hukumnya tidak boleh jika dimaksudkan untuk membatalkan yang pertama karena menganggap hari pernikahan pertama kurang baik atau menganggap setelah sekian lama menikah karena khawatir pernah mengucapkan thalaq. Maka menurut sebagaian ulama Syafi’iyah nikah yang pertama dianggap batal.
Pendapat kedua ini adalah pendapat yang lemah, yang berarti tidak memperkenankan tajdidunnikah. Dengan alasan karena dapat merusak akad nikah yang pertama. (Hasyiyat al-Jamal ‘ala al-Manhaj juz 4 halaman 245 dan al-Anwar li A’mal al-Abrar juz 2 halaman 156 dan juz 7 halaman 88).

وَلَوْ جَدَّدَ رَجُلٌ نِكَاحَ زَوْجَتِهِ لَزِمَهُ مَهْرٌ آخَرُ ِلأَنَّهُ إِقْرَارٌ بِالْفُرْقَةِ وَيَنْتَقِضُ بِهِ الطَّلاَقُ وَيَحْتَاجُ إِلَى التَّحْلِيْلِ فِى الْمَرَّةِ الثَّالِثَةِ.

Jawaban. No.2
Shighat Ijab qobul pada pelaksanaan pengulangan akad nikah ( Tajdidunnikah/Membaharui) tidaklah ada perubahan namun demikian tidaklah wajib menyertakan mahar menurut mayoritas ualama’.

Referensi:

Al Anwar Li A’malil Abror, Juz : 2 Hal : 88

ولو عقد بالسر بألف وفى العلانية بألفين وهما متفقان على بقاء العقد الاول فالمهر الف–الى ان قال– ولو جدد رجل نكاح زوجته لزمه مهر اخر لانه اقرار بالفرقة وينتقص به الطلاق ويحتاج الى التحليل فى امرأة الثالثة اهـ

Jika seorang suami melangsungkan akad nikah , dalam keadaan sirri dengan maskawin 1000 dan ketika diakad secara terang-terangan dengan maskawin 2000 sedangkan keduanya sama-sama cocok atas tetapanya akad yang pertama, maka dalam hal ini yang dihitung tetap mahar yang pertama – sampai pada perkataan , dan jika seorang laki-laki memperbaharui akad nikah kepada istrinya maka ia wajib memberi mahar (mas kawin) karena ia mengakui perceraian sedangkan memperbaharui nikah termasuk mengurangi (hitungan) cerai/talaq. Kalau dilakukan sampai tiga kali, maka diperlukan muhallil”.

Maksud dan inti dari ibaroh atau teks redaksi diatas ketika seseorang memperbarui akad nikah sedangkan akad nikahnya yang pertama tetap ( Artinya tidak batal ) maka akad nikah yang kedua tidak wajib menggunakan mahar karena memperbaharui akad kedua tersebut tidak mengurangi hitungan nikah . Akan tetapi jika akad yang pertama jelas-jelas batal dengan pengakuan cerai maka wajib adanya mahar karena memperbaharui akad nikah setelah iddah termasuk mengurangi ( cerai ) talak.Kalau dilakukan tiga kali maka diperlukan nikah mahallil.

Contoh Shighat Ijab dan Qobul Tajdidunnikah.
Jika diakad oleh Walinya sendiri adalah sebagai berikut:

IJAB

يافلان بن ….. أنكحتك وزوجتك محطوبتك المصونة فاطمة بنتي

Jika walinya diwakilkan maka shighatnya adalah:

يافلان بن ….أنكحتك وزوجتك محطوبتك المصونة فاطمة بنتَ……مولية أبيها موكلي / الذي وكلني

QOBUL

قبلت نكاحها وتزويجها

Kesimpulannya :

Akad nikah yang dilakukan oleh petugas KUA itu diperbolehkan, apalagi hal ini menyangkut legalitas akad nikah, dan menurut pendapat mayoritas ulama’ akad nikah yang kedua tidak wajib menggunakan mahar dan akad kedua tersebut tidak mengurangi hitungan nikah suami. Akan tetapi jika memperbaharui akad nikah dalam artian adanya pengakuan cerai maka ia wajib adanya mahar. Wallohu a’lam bisshowab.

Kategori
Uncategorized

FIDYAH DAN KAFFARAT

FIDYAH DAN KAFFARAT

Assalamualaikum.

Saya bertanya.

  1. Apakah perbedaan fidyah dan kaffarah.
  2. Bolehkah fidyah satu mud dibayar berupa uang kepada amil zakat oleh orang yang tidak mampu berpuasa yang kemudian oleh amil zakat dibelikan beras dan diberikan kepada fakir miskin atau diberikan uangnya langsung???

Waalaikum salam.

Jawaban.

Perbedaan tentang Fidyah dan kaffarah

Pengertian Fidyah : Fidyah merupakan bahasa Arab bentuk masdar berasal dari kata dasar fadaa ( Fi’il madli) Fadaa memiliki arti “sesuatu yang diberikan dalam bentuk harta sebagai pengganti atau tebusan.”
Sedangkan pengertian secara istilah ( terminologi) fidyah adalah tebusan berupa denda yang diberikan kepada seseorang karena ia telah meninggalkan kewajiban dalam beribadah, sebagai kafarat atas kelalaian dalam ibadah tersebut. Contoh dari kafarat ibadah puasa, bercukur, atau mengenakan pakaian yang dijahit saat ihram. Lihat Ahmad Mukhtar Abdul Hamid, Mu‘jamul Lughah Al-‘Arabiyyah Al-Mu‘ashirah, [Kairo, ‘Alamu Kutub: 2008 M], cetakan pertama, jilid II, halaman 1682).

Secara umum, fidyah terbagi atas dua, ada yang berupa takaran mud dan ada yang berupa dam. Fidyah yang berupa mud di antaranya adalah fidyah puasa orang tua, fidyah karena mengakhirkan qadha, mencabut satu helai rambut saat ihram, memotong satu kuku. Sedangkan fidyah yang berupa dam antara lain karena berburu hewan Tanah Haram, karena bersenggama saat ihram, mencukur rambut, mengenakan wewangian, memakai pakaian dijahit, memotong kuku, meninggalkan ihram dari miqat, menebang pohon Tanah Haram, meninggalkan thawaf qudum dan thawaf wada‘, dam tamattu dan qiran.

Dengan kata lain fidyah adalah memberi makan orang miskin.Selain itu, fidyah juga dapat berarti pemberian satu mud bahan makanan pokok atau makanan siap saji kepada orang fakir dan miskin,setiap hari sebagai kafarat  yang ukurannya sama dengan 675 gr.

التفسير المنير للزحيلى.ص ٤٥٠

{فِدْيَةٌ}

الفدية: هي إطعام مسكين عن كل يوم، من أوسط‍ ما يطعم أهله في يومه، أكلة واحدة، وهو مدّ من غالب قوت البلد، وهو يساوي (٦٧٥ غ).

Sedangkan Kaffaarah Secara bahasa, kaffârah (Arab) yang diambil berasal dari kata kafara yang berarti ‘menutupi’. Maksud ‘menutupi’ disini adalah menutupi dosa.
Makna itu kemudian dipergunakan atau dihasilkan karena disebabkan melanggar sumpah, jima’ disiang hari bulan Ramadhan pembunuhan,dan dhihar .

Istilah kaffarah atau kafarat yang lebih dikenal ( populer) adalah sebagai penebus kesalahan, sanksi, atau denda atas pelanggaran yang dilakukan. (Lihat A Warson Al-Munawwir, Kamus Al-Munawwir, [Surabaya, Pustaka Progresif: 2002 M], cetakan ke-25, halaman 1218). Kemudian, jika dilihat dari hakikatnya, kafarat hanya berhubungan dengan hak Allah sehingga harus dibedakan dengan diyat yang merupakan hak sesama makhluk, antara lain hak keluarga korban pembunuhan.
Dengan demikian, Perbedaan utama antara kafarat dan fidyah terletak pada tujuan dan konteks pelaksanaannya. Kafarat diberlakukan sebagai bentuk penebusan atas dosa atau kesalahan yang telah dilakukan, sedangkan fidyah diberikan sebagai tindakan pengganti atau kompensasi dalam situasi yang menghalangi seseorang untuk menjalankan kewajiban agama.

Selanjutnya, Syekh Wahbah As-Zuhaliy menjelaskan dalam kitabnya Fiqhihul Islami Wadillatuhu pengertian Kaffaat dan pembagiannya sebagai berikut:
Secara umum kafarat ada empat: (1) kafarat zhihar, (2) kafarat hubungan badan di bulan Ramadhan, (3) kafarat pembunuhan, dan (4) kifarat yamin. 

فقه الإسلامى وأدلته. المكتبة الشاملة. ص ٢٤٩٧-٢٥٠١

الفَصْلُ الثَّالث: الكفَّارات أنواع الكفارات: الكفارات أربعة أنواع: كفارة ظهار، وكفارة قتل خطأ (ويقاس عليه القتل العمد عند الشافعية) وكفارة جماع نهار رمضان عمداً (ويقاس عليه الأكل والشرب عمداً عند الحنفية والمالكية) (١) وكفارة يمين. والخصال الواجبة للكفارة في الأنواع الثلاثة الأولى مرتبة: (وهي إعتاق رقبة، فإن عجز عن الرقبة وجب صوم شهرين متتابعين، فإن عجز عن الصوم وجب إطعام ستين مسكيناً إلا القتل فلا إطعام فيه اقتصاراً على الوارد فيه النص). لكن كفارة إفساد الصوم بالجماع في نهار رمضان مخيرة الخصال عند المالكية، والإطعام أفضل الخصال عندهم. وأما خصال كفارة اليمين فهي مرتبة مخيرة: (وهي كما سنعلم إطعام عشرة مساكين، أو كسوتهم، أو تحرير رقبة مؤمنة، فإن عجز عن ذلك وجب صوم ثلاثة أيام) (٢) وسأفصل موضوع الكفارة الأخيرة محل البحث.وقد بينت في بحث الصيام أحكام أربع كفارات: كفارة إفساد صوم رمضان، وكفارة المسافر والمريض إذا لم يقضيا الصوم في عامهما، وكفارة الكبير العاجز عن الصوم، وكفارة الحامل والمرضع عند الشافعية إذا أفطرتا خوفاً على طفلهما. وأوضحت أيضاً في بحث الحج كفارات الحج. وذكرت في النذر كفارة نذر اللجاج وهي كفارة اليمين. وسأذكر في بحث الظهار والقتل كفارتيهما. وإقامة الحد عند الجمهور غير الحنفية كفارة للقتل، كما سيتضح في بحث الحدود.
كفارة اليمين خطة الموضوع:
الكلام في هذه الكفارة عن الأصل في مشروعيتها، وسبب وجوبها، ونوع الواجب فيها، والخصال الواجبه فيها.
مشروعية الكفارة: الكفارة مشتقة من الكفر بفتح الكاف أي الستر، فهي ستارة للذنب الحاصل بسبب الحنث في اليمين،

فاليمين سبب للكفارة
والأصل في كفارة اليمين: الكتاب والسنة والإجماع:
أما الكتاب: فقول الله تعالى: {لا يؤاخذكم الله باللغو في أيمانكم، ولكن يؤاخذكم بما عقَّدتم الأيمان، فكفارته إطعام عشرة مساكين من أوسط ما تطعمون أهليكم، أو كسوتهم أو تحرير رقبة، فمن لم يجد فصيام ثلاثة أيام، ذلك كفارة أيمانكم إذا حلفتم، واحفظوا أيمانكم، كذلك يبين الله لكم آياته لعلكم تشكرون} [المائدة:٨٩/ ٥].
وأما السنة: فقول النبي صلّى الله عليه وسلم: «إذا حلفت على يمين فرأيت غيرها خيراً منها، فائت الذي هو خير، وكفر عن يمينك» (١).
وأجمع المسلمون على مشروعية الكفارة في اليمين بالله تعالى (٢).
سبب وجوبها: تجب الكفارة بالحنث في اليمين، سواء أكانت في طاعة أم فيمعصية أم مباح، ولا يجوز التكفير قبل اليمين باتفاق العلماء؛ لأنه تقديم للحكم قبل سببه، فلم يجز كتقديم الزكاة قبل ملك النصاب.
تقديم الكفارة على الحنث: وهل الكفارة قبل الحنث أفضل أو بعده؟ قال الحنابلة: الكفارة قبل الحنث وبعده سواء في الفضيلة. وقال مالك والشافعية: الكفارة بعد الحنث أفضل لما فيه من الخروج من الخلاف، وحصول اليقين ببراءة الذمة، فيجوز تقديم الكفارة المالية للصوم.
وقال أبو حنيفة: لا يجوز تقديم الكفارة على الحنث مطلقاً، إنما تجزئ إذا أخرجها بعد الحنث (١). وهذا أولى الآراء؛ لأن المسبب يكون عادة بعد السبب.
نوع الواجب في الكفارة: الكفارة واجب مطلق، أي ليس له وقت محدد لأدائه، فيجوز القيام به بعد الحنث مباشرة أو بعده في أثناء العمر.
ثم إن الواجب في الكفارة واجب مخير حالة اليسار: (توفر المقدرة المالية) يعني أن الموسر مخير بين أحد أمور ثلاثة: إطعام عشرة مساكين، أو كسوتهم، أو إعتاق رقبة. وهذا بإجماع العلماء المستند إلى صريح الآية القرآنية السابق ذكرها: {فكفارته إطعام عشرة مساكين من أوسط ما تطعمون أهليكم أو كسوتهم أو تحرير رقبة} [المائدة:٨٩/ ٥] لأن الله تعالى عطف بعض هذه الخصال على بعض بحرف (أو) وهو للتخيير (٢). فإذا عجز الإنسان عن كل واحد من الخصال الثلاثة المذكورة، لزمه صوم ثلاثة أيام، للآية السابقة: {فمن لم يجد فصيام ثلاثة أيام} [المائدة:٨٩/ ٥] والمراد بالعجز: ألا يقدر على المال الذي يصرفه في الكفارة، كمن يجد كفايته في يومه وليلته وكفاية من تلزمه نفقته فقط، ولا يجد ما يفضل عنها (١).
وينظر إلى العجز وقت الأداء، أي أداء الكفارة عند الحنفية والمالكية والشافعية، فلو حنث الحالف، وكان موسراً وقت الحنث، ثم أعسر، جاز له الصوم عندهم؛ لأن الكفارة عبادة لها بدل، فينظر فيها إلى وقت الأداء، لا وقت الوجوب كالصلاة إذا فاتت في حال الصحة، فقضاها قاعداً أو بالإيماء حال المرض فإنه يجوز.
ويشترط عند الحنفية استمرار العجز إلى الفراغ من الصوم، فلو شرع في الصوم ثم قدر على الإطعام أو الكسوة أو العتق، ولو قبل فراغه من صوم اليوم الثالث بساعة مثلاً: لا يجوز له الصوم، ويرجع إلى التكفير بالمال (٢).كذلك ينظر عند المالكية والشافعية إلى العجز وقت إرادة التكفير. أما إذا شرع في الصوم، ثم قدر على المال فلا يلزمه عند هؤلاء الرجوع عن الصوم إلى الكفارة المالية؛ لأن الصوم بدل عن غيره، فلا يبطل بالقدرة على المبدل عنه، ولو وجبت الكفارة على موسر ثم أعسر لم يجزئه الصوم عند هؤلاء (٣)، بعكس الحنفية في المسألتين.

والمعتبر عند الحنابلة وقت الوجوب أي حالة الحنث.

خصال الكفارة: عرفنا أن كفارة اليمين هي إما الإطعام أو الكسوة أو العتق، فإن عجز عن أحد هذه الخصال صام ثلاثة أيام. فما هو الواجب في كل حالة؟
١ – ما مقدار الإطعام وما المقصود به؟ قال الحنفية: إن المقصود من الإطعام هو مجرد الإباحة لا التمليك؛ لأن النص القرآني ورد بلفظ الإطعام: {فكفارته إطعام عشرة مساكين} [المائدة:٨٩/ ٥] والإطعام في متعارف اللغة: هو التمكين من المطعم أي (الآكل) لا التمليك، وكذا إشارة النص دليل على قولهم، لأن الله تعالى: {إطعام عشرة مساكين} [المائدة:٨٩/ ٥] والمسكنة: هي الحاجة، وهو محتاج إلى أكل الطعام دون تملكه، فكان في إضافة الإطعام إلى المساكين إشارة إلى أن الإطعام هو الفعل الذي يصير المسكين به متمكناً من الطعام لا التمليك، بخلاف الزكاة وصدقة
الفطر والعشر الواجب على الزروع البعلية، لا بد فيها من التمليك؛ لأن النص ورد فيها بلفظ الإيتاء لا بلفظ الإطعام (١).
وقال الجمهور: لا بد من تمليك الطعام للفقراء ككل الواجبات المالية؛ لأن الواجب المالي لا بد من أن يكون معلوم القدر ليتمكن المكلف من الإتيان به، والطعام المباح للغير ليس له قدر معلوم، لا سيما وأن كل مسكين يختلف عن الآخر صغراً وكبراً، جوعاً وشبعاً (٢).
والخلاصة: إن التمليك عند الحنفية ليس بشرط لجواز الإطعام، بل الشرط هو التمكين، فيكفي دعوة المساكين إلى قوت يوم: وهو غداء وعشاء، فإذا حضرواوتغدوا وتعشوا كان ذلك جائزاً. وعند غير الحنفية: لا بد من التمليك بالفعل أخذاً.
ويجب أن يكون المخرج سالماً من العيب، فلا يكون الحب مسوساً، ولا متغيراً طعمه ولا فيه زوان أو تراب يحتاج إلى تنقية، وكذلك دقيقه وخبزه؛ لأنه مخرج في حق الله تعالى عما وجب في الذمة، فلم يجز أن يكون معيباً كالشاة في الزكاة.
وأما مقدار الإطعام: فاختلف العلماء فيه بسبب اختلافهم في تأويل قوله تعالى: {من أوسط ما تطعمون أهليكم} [المائدة:٨٩/ ٥] فمن قال: المراد أكلة واحدة قال: المد وسط في الشبع، ومن قال: المراد قوت اليوم وهو غداء وعشاء قال: الواجب نصف صاع أي مدان (١).
وبناء عليه قال الجمهور من المالكية والشافعية والحنابلة: يعطى لكل مسكين مد من الحنطة كصدقة الفطر إلا أن الإمام مالك قال: المد خاص بأهل المدينة فقط لضيق معايشهم، وأما سائر المدن فيعطون الوسط من نفقتهم. وقال ابن القاسم: يجزئ المد في كل مدينة (٢).
ويجوز عند الشافعية: مدّ حب من غالب قوت بلد الحانث. والأفضل بالاتفاق إخراج الحب؛ لأن فيه خروجاً من الخلاف. ولا يجوز عند الجمهور إخراج قيمة الطعام والكسوة، عملاً بنص الآية: {فكفارته إطعام عشرة مساكين … } [المائدة:٨٩/ ٥].

كتاب الكفارات.ص ١٨
المطلب الرابع
الفرق بين الكفارة والفدية
الفدية: البدل الذي يتخلص به المكلف عن مكروه توجه إليه (١).
والفدية: ما يقوم مقام الشيء دفعًا للمكروه عنه، وهي أنواع:
١ ـ فدية الأسير هي: ما يدفع لاستنقاذه من الأسر.
٢ ـ فدية الصوم عمن أفطر لعلة لا يرجى زوالها، أو للحامل والمرضع إذا أفطرتا لمصلحة الجنين أو الرضيع عند البعض هي: إطعام مسكين عن كل يوم.
٣ ـ فدية حلق رأس المحرم لأذى أصابه به: صيام أو صدقة، أو ذبح شاة (٢).
وذكر الإمام بدر الدين الزركشي في كتابه المنثور في القواعد الفرق بين الفدية والكفارة قائلاً: “والفدية تفارق الكفارة في أن الكفارة لا تجب إلا عن ذنب تقدم بخلافه الفدية” (٣). انتهى.
فالكفارة ناشئة عن ارتكاب ممنوع سواء على سبيل القصد في سائر الكفارات، أو على سبيل الخطأ في قتل الخطأ؛ تعظيماً لشأن النفس الإنسانية، وعادة ما تكون الكفارة تالية لوقوع التصرف الممنوع، بخلاف الفدية فهي شرعت مقابل الإعفاء عن مطلوب شرعاً بحيث يُقبِل المكلف على البدل وفق إذن مسبق من الشارع، ليكون الفعل مشروعاً من أساسه.

Jawaban No.2

Merujuk pada definisi Fidyah diatas menurut pendapat mayoritas ulama’ ini harus ditunaikan dalam bentuk makanan pokok daerah setempat, semisal beras, jagung dll. Pendapat ini berlandaskan pada nash-nash syariat yang secara tegas memang memerintahkan untuk memberi makan fakir miskin, bukan fidyah berbentuk uang (memberi uang). Artinya memberikan fidyah berupa uang langsung bagi orang yang meninggalkan puasa menurut mayoritas ulama’ hukumnya tidak boleh. Begitulah membayar kaffat karena melanggar sumpah atau jima’ disiang hari bulan puasa.Akan tetapi menurut Madzhab Hanafi boleh fidyah berupa uang. Sebagaimana Syekh Wahbah az-Zuhaili dalam kitabnya  Al-Fiqhul Islami wa Adillatuh (9/7156) : 

Solusi

  1. Untuk bisa membayar fidyah dengan uang adalah taqlid kepada madzhab Hanafiyah
  1. Bawalah uang seharga per satu Mud 675 gr kemudian belikan beras atau jagung sebagai makanan pokok kepada Amil atau kepada Mustahik zakat diantara yang delapan golongan kemudian berikan beras/jagung sesuai dengan jumlah tebusan puasa yang ditinggalkan.

فقه الإسلامى وأدلته المكتبة الشاملة .ص ١٦٧٩-١٦٨١

المطلب الثالث ـ الفدية:
أما الفدية: فالكلام في حكمها، وسببها، وتكررها بتكرر السنين (١):

فحكم الفدية: الوجوب، لقوله تعالى: {وعلى الذين يطيقونه فدية طعام مسكين} [البقرة:١٨٤/ ٢] أي على الذين يتحملون الصوم بمشقة شديدة الفدية. والفدية عند الحنفية: نصف صاع من بُرّ، أي قيمته، بشرط دوام عجز الفاني والفانية إلىالموت. ومد من الطعام من غالب قوت البلد عن كل يوم عند الجمهور، بقدر ما فاته من الأيام. ومصارف الفدية والنذور المطلقة والكفارات والصدقات الواجبة: هي مصارف الزكاة.

وسببها:
١ – العجز عن الصيام، فتجب باتفاق الفقهاء على من لا يقدر على الصوم بحال، وهو الشيخ الكبير والعجوز، إذا كان يجهدهما الصوم ويشق عليهما مشقة شديدة، فلهما أن يفطرا ويطعما لكل يوم مسكيناً، للآية السابقة: {وعلى الذين يطيقونه فدية طعام مسكين} [البقرة:١٨٤/ ٢] وقول ابن عباس: «نزلت رخصة للشيخ الكبير» ولأن الأداء صوم واجب، فجاز أن يسقط إلى الكفارة كالقضاء. والشيخ الهمّ (١) له ذمة صحيحة، فإن كان عاجزاً عن الإطعام أيضاً فلا شيء عليه، و {لا يكلف الله نفساً إلا وسعها} [البقرة:٢٨٦/ ٢] وقال الحنفية: يستغفر الله سبحانه، ويستقبله أي يطلب منه العفو عن تقصيره في حقه.
وأما المريض إذا مات فلا يجب الإطعام عنه؛ لأن ذلك يؤدي إلى أن يجب على الميت ابتداء، بخلاف ما إذا أمكنه الصوم فلم يفعل، حتى مات؛ لأن وجوب الإطعام يستند إلى حال الحياة.
٢ – وتجب الفدية أيضاً بالاتفاق على المريض الذي لا يرجى برؤه، لعدم وجوب الصوم عليه، كما تقدم، لقوله عز وجل: {وما جعل عليكم في الدين من حرج} [الحج:٧٨/ ٢٢].
٣ – وتجب الفدية كذلك عند الجمهور (غير الحنفية) مع القضاء على الحاملوالمرضع إذا خافتا على ولدهما، أما إن خافتا على أنفسهما، فلهما الفطر، وعليهما القضاء فقط، بالاتفاق. ودليله الآية السابقة: {وعلى الذين يطيقونه فدية .. } [البقرة:١٨٤/ ٢] وهما داخلتان في عموم الآية، قال ابن عباس: «كانت رخصة الشيخ الكبير والمرأة الكبيرة، وهما يطيقان الصيام أن يفطرا، ويطعما مكان كل يوم مسكيناً، والحبلى والمرضع إذا خافتا على أولادهما أفطرتا وأطعمتا» (١)، ولأنه فطر بسبب نفس عاجزة من طريق الخلقة، فوجبت به الكفارة كالشيخ الهرم.
ولا تجب عليهما الفدية مطلقاً عند الحنفية، لحديث أنس بن مالك الكعبي: «إن الله وضع عن المسافر شطر الصلاة، وعن الحامل والمرضع الصوم ـ أو الصيام ـ والله لقد قالها رسول الله صلّى الله عليه وسلم، أحدهما أو كليهما» (٢) فلم يأمر بكفارة، ولأنه فطر أبيح لعذر، فلم يجب به كفارة كالفطر للمرضى.
ورأي الجمهور أقوى وأصح لدي؛ لأنه نص في المطلوب، وحديث أنس مطلق لم يتعرض للكفارة.
٤ – وتجب الفدية أيضاً مع القضاء عند الجمهور (غير الحنفية) على من فرط في قضاء رمضان، فأخره حتى جاء رمضان آخر مثله بقدر ما فاته من الأيام، قياساً على من أفطر متعمداً؛ لأن كليهما مستهين بحرمة الصوم، ولا تجب على من اتصل عذره من مرض أو سفر أو جنون أو حيض أو نفاس.

تكرر الفدية: ولا تتكرر الفدية عند المالكية والحنابلة بتكرر الأعوام وإنما تتداخل كالحدود، والأصح في رأي الشافعية: أنها تتكرر بتكرر السنين؛ لأن الحقوق المالية لا تتداخل (١). وقال الحنفية: لا فدية بالتأخير إلى رمضان آخر، لإطلاق النص القرآني. {فمن كان منكم مريضاً أو على سفر فعدة من أيام أخر} [البقرة:١٨٤/ ٢ – ١٨٥] فكان وجوب القضاء على التراخي، حتى كان له أن يتطوع، فلا يلزمه بالتأخير شيء ولأنه القياس في الكفارات، غير أنه تارك للأولِى من المسارعة في القضاء.
والفدية والكفارة والنذر وقتها العمر كله، والأولى التعجيل بقدر الإمكان وأن تكون الفدية في رمضان، لأن الثواب فيه أكثر. ويرى الحنابلة أن النذر والكفارة واجبان على الفور؛ لأنه مقتضى الأمر.

باقي لوازم الإفطار: أما إمساك بقية اليوم وعقوبة منتهك حرمة صوم رمضان فقد سبق الكلام عليهما.
وأما قطع التتابع: فهو عند المالكية لمن أفطر متعمداً في صيام النذر والكفارات المتتابعات كالقتل والظهار، فيستأنف، بخلاف من قطع الصوم ناسياً أو لعذر، أو لغلط في العدة، فإنه يبني على ما كان معه. وقد عرفنا رأي بقية المذاهب الأخرى.

وأما قطع النية: فإنها تنقطع بإفساد الصوم أو تركه مطلقاً لعذر أو لغير عذر، ولزوال تحتم الصوم كالسفر، وإن صام فيه، وإنما ينقطع استصحابها حكماً. وهذا عند المالكية الذين يكتفون بنية واحدة أول شهر رمضان.
Kategori
Uncategorized

KEUTAMAAN ANTARA SHALAT TARAWIH DIMASJID SECARA BERJAMAAH DAN SHALAT TARAWIH DIRUMAH

KEUTAMAAN ANTARA SHALAT TARAWIH DI MASJID SECARA BERJAMAAH DAN SHALAT TARAWIH DIRUMAH

Assalamualaikum. .

Deskripsi masalah.
Seseorang ingin melakukan shalat tarawih dimasjid/dimusholla namun setelah sampai dimasjid shalat tarawih sudah dimulai hingga separuh raakaat, andaikan shalat tarawih dilakukan dirumahnya maka rakaatnya shalat tarawih sempurna.

Pertanyaannya.

1 – Lebih utama yang mana antara sholat tarawih yang dilakukan sendirian dirumah dengan bilangan raka’at yang sempurna, dari pada shalat tarawih berjemaah dimasjid tapi tidak lengkap/tidak sempurna raka’atnya disebabkan mendapati imam telah melakukan separuh rakaat,( misalnya).

2- Lebih utama yang mana shalat tarawih yang dilakukan dirumah dengan Keluarga (Istri), dari pada shalat tarawih diMasjid/ Musholla.. .
Wassalamu’alaikum.

Waalaikum salam.

Jawaban No.1

Orang yang melakukan shalat tarawih sendirian dengan rakaat yang sempurna dibandingkan dengan berjamaah dimasjid walaupun mendapati imam telah mencapai separuh dari bilangan rakaat shalat tarawih maka tetap lebih utama berjamaah dari pada shalat sendirian.

Solusi kekurangan dari rakaat bersama Imam bisa dilakukan dengan shalat sendirian baik dimasjid ataupun dirumahnya.

Jawaban No.2

Lebih utama shalat tarawih berjamaah dimasjid dari pada shalat tarawih dirumah walaupun dengan cara berjamaah dengan keluarga ( isrtri) apalagi dilakukan secara sendiri kecuali karena hafal al-Qur’an maka boleh dan lebih utama dilakukan secara munfarid ( sholat sendirian) dirumahnya. Kenapa lebih utama shalat dimasjid bagi yang tidak hafal al-Qur’an? karena lebih banyak jamaahnya dalam berjamaah maka lebih utama pula keutamaannya dari pada shalat dirumahnya walaupun dengan cara berjamaah namun jamaahnya lebih sedikit jumlahnya dibandingkan dengan sholat berjamaah dimasjid.

Imam An-Nawawi dalam kitab Al-Majmu’ menjelaskan, hukum shalat Tarawih adalah sunah muakkad, artinya sangat dianjurkan untuk dikerjakan. Baik laki-laki maupun perempuan disunahkan untuk melaksanakan shalat tarawih, baik secara sendiri maupun berjamaah.  

 أما حكم المسألة فصلاة التراويح سنة بإجماع العلماء. ومذهبنا أنها عشرون ركعة بعشر تسليمات وتجوز منفردا وجماعة ، وأيهما أفضل ؟ فيه وجهان مشهوران كما ذكر المصنف ، وحكاهما جماعة قولين ( الصحيح ) باتفاق الأصحاب أن الجماعة أفضل ، وهو المنصوص في البويطي ، وبه قال أكثر أصحابنا المتقدمين

  Artinya, “[Tentang hukum masalah ini]: Shalat Tarawih adalah sunah menurut ijma’ ulama. Mazhab kami (Syafi’i) berpendapat, shalat Tarawih terdiri dari 20 rakaat dengan 10 salam. Shalat Tarawih boleh dikerjakan secara sendirian maupun berjamaah.   Lalu, mana yang lebih baik? Terdapat dua pendapat masyhur tentang hal ini, sebagaimana disebutkan oleh Penulis Al-Muhaddzab dan diriwayatkan oleh sekelompok ulama sebagai dua pendapat:   Pendapat yang sahih, menurut kesepakatan ulama Syafi’iyah, shalat Tarawih berjamaah lebih baik. Ini adalah pendapat yang disebutkan dalam kitab Al-Buwaiti dan diamini oleh mayoritas ulama terdahulu dari mazhab kami.   Pendapat kedua, shalat Tarawih secara individu lebih baik. Pendapat ini dinisbatkan kepada Imam As-Syafi’i dalam salah satu riwayat dan dipilih oleh beberapa ulama terkemuka dari mazhab kami.” (Imam Nawawi, Al-Majmu’ Syarhu Muhaddzab, [Beirut:, Darul Kutub Ilmiyah: 1971], jilid III, halaman 525). Sementara Imam Al-Baihaqi berkata dalam kitab Fadhailul Auqat, mengerjakan shalat Tarawih berjamaah lebih baik bagi orang yang tidak hafal Al-Quran. Adapun orang yang hafal Al-Quran, Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma berpendapat bahwa mengerjakannya secara sendiri lebih utama

.   أن فعل صلاة التراويح بالجماعة أفضل لمن لا يكون حافظًا للقرآن، فأما من كان حافظًا فقد ذهب ابن عمر رضي الله عنهما أن فعلها بالانفراد أولى  

Artinya; Sungguh shalat Tarawih berjamaah lebih utama bagi mereka yang tidak hafal Al-Quran. Sedangkan bagi yang hafal Al-Quran, Ibnu Umar ra berpendapat bahwa shalat Tarawih sendiri lebih utama.” (Al-Baihaqi, Fadhailul Auqat, [Beirut, Darul Kutub Al-Ilmiyah: 1997], halaman 268).   Terkait hukum shalat Tarawih di rumah, Imam As-Syaukani dalam kitab Nailul Authar mengatakan

 قال النووي: اتفق العلماء على استحبابها. قال: واختلفوا في أن الأفضل صلاتها في بيته منفردا أم في جماعة في المسجد؟ فقال الشافعي وجمهور أصحابه وأبو حنيفة وأحمد وبعض المالكية وغيرهم: الأفضل صلاتها جماعة، كما فعله عمر بن الخطاب والصحابة رضي الله عنهم واستمر عمل المسلمين عليه، لأنه من الشعائر الظاهرة، فأشبه صلاة العيد  

Artinya, Imam Nawawi berkata, “Ulama sepakat bahwa shalat Tarawih hukumnya sunah.” Kemudian beliau berkata, “Ulama berbeda pendapat tentang apakah shalat Tarawih lebih baik dikerjakan di rumah secara sendiri-sendiri atau di masjid secara berjamaah?”   Imam As-Syafi’i, mayoritas pengikutnya, Abu Hanifah, Ahmad, sebagian ulama Maliki, dan lainnya berpendapat, shalat Tarawih lebih baik dikerjakan secara berjamaah. Hal ini sebagaimana yang dilakukan oleh Umar bin Khattab dan para sahabat Nabi saw, dan telah menjadi kebiasaan umat Islam. Karena shalat Tarawih termasuk dalam kategori syiar agama yang tampak, sehingga menyerupai shalat Idul Fitri.” (As-Syaukani, Nailul Authar,[Beirut, Darul Kutub Ilmiyah: 1971], jilid III, halaman 5]  

Jadi shalat tarawih termasuk dalam kategori Syiar agama yang tampak sehingga menyerupai shalat Aid , oleh karenanya syi”ar akan diperoleh jika dilakukan di tempat umum yang setiap orang bisa mengaksesnya, tidak seperti dalam kamar atau musholla pribadi. Dan tidak cukup dalam satu wilayah yang luas jika hanya ada satu jamaah saja, karena kewajiban syiar itu melingkupi seluruh wilayah sehingga jumlah jamaah harus disesuaikan dengan luasnya wilayah.

وتسن للنساء وللمسافرين وللمقضية خلف مثلها

Shalat jamaah sunnah bagi wanita, musafir dan orang yang qadla’ shalat di belakang qadla’ yang sama.

– Mughnil Muhtaj 1/229 :

نعم لو كان إذا ذهب إلى المسجد وترك أهل بيته لصلوا فرادى أو لتهاونوا أو بعضهم في الصلاة أو لو صلى في بيته لصلى جماعة وإذا صلى في المسجد صلى وحده فصلاته في بيته أفضل

Cuman perlu kita pilah-pilah dulu karena banyak kemungkinan yang terjadi terkait shalatnya perempuan di masjid atau di rumah.

وجماعة المرأة والخنثى في البيت أفضل منها في المسجد

Jamaah wanita dan khuntsa di rumah lebih baik dari jamaah di masjid. (Mughnil Muhtaj).

ويكره لذوات الهيئات حضور المسجد

Makruh bagi wanita yang “menarik” hadir di masjid. (Mughnil Muhtaj)

واصحهما … لا تتأكد في حقهن كتأكدها في حق الرجال فلا يكره لهن تركها.

Pendapat yang lebih shahih terkait kesunnahan jamaah bagi wanita, tidak dikuatkan kesunnahan jamaah bagi wanita seperti dikuatkannya bagi lelaki, maka tidak makruh bagi wanita meninggalkan jamaah. (AlMajmu’).

Dengan pertimbangan di atas, maka :
1.Shalat wanita di rumah secara berjamaah lebih baik dari shalat di masjid meski berjamaah, ini berlaku bagi setiap jenis wanita (tua/muda/dsb)
2.Shalat wanita muda di rumah lebih utama dari di masjid meski di rumah sendirian dan di masjid jamaah, karena makruh hadirnya wanita muda di masjid sedang ia tidak makruh meninggalkan jamaah.
3.Shalat wanita tua di masjid berjamaah lebih utama dari shalat sendiri di rumah karena ia tidak makruh hadir di masjid dan sunnah jamaah.
Lantas bagaimana menyiasati shalat wanita muda di rumah agar dapet jamaah, sementara suami tetap dapet keutamaan jamaah di masjid ? Pilihan yang diungkapkan dalam Mughnil Muhtaj bahwa jika ahli rumah akan shalat sendirian jika suami pergi ke masjid maka lebih utama lelaki shalat di rumah, tampaknya melihat jumlah karena yang dipakai untuk menyebut ahli rumah adalah shighat jama’. Apakah kalau cuman istri seorang akan tetap mengorbankan shalat berjamaahnya lelaki di masjid?


قال الشافعي والأصحاب ويؤمر الصبي بحضور المساجد وجماعات الصلاة ليعتادها


As-Syafi’i dan ashhab berkata : Anak lelaki diperintahkan hadir di masjid dan berjamaah shalat agar terbiasa. (Al-Majmu’).
Pernyataan itu mengisyaratkan bahwa lelaki tetap condong diutamakan di masjid meninggalkan sang istri shalat sendirian atau berjamaah dengan anak perempuan di rumah karena suami dan anak lelakinya ke masjid. Untuk menyiasatinya, bisa setelah shalat di masjid, suami i’aadah di rumah berjamaah dengan istri. Atau cukup istri berjamaah dengan anak perempuan atau pembantunya. Jadi semua dapat nilai optimal dari jamaahnya.

كفاية الاخيار ( باب صلاة الجماعة ) ( فصل) وصلاة الجماعة مؤكدة وعلى المأموم أن ينوي الجماعة دون الإمام )
الأصل في مشروعية الجماعة الكتاب والسنة وإجماع الأمة قال تعالى { وإذا كنت فيهم فأقمت لهم الصلاة فلتقم طائفة منهم معك } الآية أمر بالجماعة في قوله فلتقم فعند الأمن أولى وهي فرض عين في الجمعة وأما في غيرها ففيه خلاف الصحيح عند الرافعي أنها سنة وقيل فرض كفاية وصححه النووي وقيل فرض عين وصححه ابن المنذر وابن خزيمة وحجة من قال انها سنة قوله صلى الله عليه وسلم( صلاة الجماعة أفضل من صلاة الفذ بسبع وعشرين درجة ) وروى البخاري بخمس وعشرين درجة من رواية أبي سعيد فقوله صلى الله عليه وسلم أفضل يقتضي جواز الأمرين إذ المفاضلة تقتضي ذلك فلو كان أحد الأمرين ممنوعا لما جاءت هذه الصيغة وحجة من قال بفرض الكفاية قوله صلى الله عليه وسلم( ما من ثلاثة في قرية أو بدو لا تقام فيهم الصلاة إلا استحوذ عليهم الشيطان فعليكم بالجماعة فإنما يأكل الذئب من الغنم القاصية ) وحجة من قال إنها فرض عين أحاديث منهما قوله صلى الله عليه وسلم( لقد هممت أن آمر بالصلاة فتقام ثم آمر رجلا فيصلي بالناس ثم أنطلق مع رجال معهم حزم من حطب إلى قوم لا يشهدون الصلاة فأحرق عليهم بيوتهم بالنار ) وجوابه أنه لم يحرق وأن هذا كان في المنافقين واعلم أن الجماعة تحصل بصلاة الرجل في بيته مع زوجته وغيرها لكنها في المسجد أفضل وحيث كان الجمع من المساجد أكثر فهو أفضل فلو كان بقربه مسجد قليل الجمع وبالبعيد مسجد كثير الجمع فالبعيد أفضل إلا في حالتين الصحيح عند الرافعي أنها سنة واعلم أن الجماعة تحصل بصلاة الرجل في بيته مع زوجته وغيرها لكنها في المسجد أفضل.

إعانة الطالبين ص ٣١٧-٣١٩

وقوله: أفضل أي للمصلي، سواء كان في المساجد أو غيرها، فالصلاة مع الجمع الكثير في المساجد أفضل منها مع الجمع القليل فيها، وكذا الصلاة في البيوت مع الجمع الكثير أفضل منها مع الجمع القليل. نعم، الجماعة في المساجد الثلاثة أفضل مطلقا – كما تقدم – وقوله: منها أي من الصلاة نفسها. (قوله: للخبر الصحيح) دليل الأفضلية. (قوله: وما كان الخ) هذا عجز الحديث، وقد تقدم ذكره بتمامه، وما: موصوله، مبتدأ، وهي واقعة على جمع. وجملة فهو أحب إلى الله، خبر المبتدأ، أي والجمع الكثير أحب إلى الله من الجمع القليل.

Dalam sumber lain, Imam As-Shawi dalam kitab Hasiyatus Shawi mengatakan, boleh melaksanakan shalat Tarawih di rumah dengan tiga syarat, yakni tidak membuat masjid kosong, terdapat semangat untuk melakukannya di rumahnya, bukan orang yang bermukim di dua tanah suci (Makkah dan Madinah), karena bagi mereka, dianjurkan untuk melakukan shalat Tarawih tersebut di Masjidil Haram dan Masjid Nabawi.

    قوله: [وندب الانفراد بها] إلخ: حاصله أن ندب فعلها في البيوت مشروط بشروط ثلاثة: أن لا تعطل المساجد، وأن ينشط لفعلها في بيته، وأن يكون غير آفاقي بالحرمين، فإن تخلف منها شرط كان فعلها في المسجد أفضل  

Artinya, “Ungkapan Penulis: “Dianjurkan untuk melakukannya secara sendirian …”, Kesimpulannya, disunahkan melakukan shalat Tarawih di rumah dengan tiga syarat: Pertama, tidak menyebabkan masjid menjadi kosong. Kedua, orang yang shalat Tarawih di rumah benar-benar bersemangat untuk melakukannya. Ketiga, orang tersebut bukan penduduk Makkah atau Madinah.   Jika salah satu syarat tersebut tidak terpenuhi, maka lebih baik melakukan shalat Tarawih di masjid.” [Ahmad As-Shawi, Hasiyatus Shawi ‘ala Syarhis Shagir, [Mesir, Maktabah Musthafa Al-babil Halaby: 1952], jilid I, halaman 146).

Dalam keterangan yang lain ( Kitab Busyro Al Karim) Bahwa bila seseorang shalat berjama’ah di masjid menyebabkan istrinya shalat sendirian dirumah/tidak berjama’ah maka lebìh afdlol berjama’ah dirumah bersama istri dengan catatan dengan tidak hadirnya dia kemasjid tidak menyebabkan kekosongan jama’ah dimasjid/dengan tidak hadirnya dia ke masjid tetap ada jama’ah di masjid :

بشرى كريم ج١ص١١٩

..نعم إن كان يصليها بأهله جماعة وذهابه الى المسجد يفوتها وقام الشعار بغيره ولم يتعطل مسجد بغيبته فهو أفضل. بشرى الكريم

الباجورى ج١ص١٩٣

وتحصل فضيلة الجماعة بصلاته بزوجته أو نحوها بل تحصيله الجماعة لأهل بيته أفضل. الباجوري

KESIMPULAN :
Kalau cuman seorang, semisal cuman istri, maka akan mudah mengontrolnya untuk shalatnya menunggu suami pulang dari masjid dan i’adah. Ibarot-ibarot tampaknya condong untuk bahkan membiarkan istri shalat sendiri daripada suami tidak ke masjid. Dan secara logika, kalau semua suami mengambil kebijakan shalat dengan istri di rumah karena kalau istri ke masjid makruh misalnya, maka masjid akan cenderung kosong. Namun kalau ahli rumahnya banyak seperti diungkap dalam ibarot mughnil muhtaj di atas, maka akan sulit mengontrol untuk menunggu suami pulang karenanya langsung dikatakan lebih afdhol jamaah di rumah.

Kategori
Uncategorized

MUNTAH DISIANG HARI KORELASINYA DENGAN PUASA RAMADHAN

Assalamualaikum
Deskripsi masalah.
Para Siswa dan Siswi Tingkat SMA Manarul Huda memasuki bulan puasa ramadhan Libur dan masuk aktif setelah hari raya Idul Fitri oleh karenanya. Pada saat liburan para siswa dan siswi mengadakan Rekreasi yang diantara mereka mengunjungi WISATA PANTAI LOMBANG Kecamatan Batu Putih Kabupaten Sumenep ,setelah itu langsung menuju PANTAI SEMBILAN yang berada dipulau Giligenting , Namun ketika menaiki BUS sebagian Siswa dan Sisi Muntah itu semua terjadi akibat masuk Angin atau karena adanya asap dijalan, dan tidak hanya ketika berada BUS melaikan ketika menaiki Perahu menuju PANTAI SEMBILAN Giligenting sebagian mabuk/muntah.

Pertanyaannya.
Apakah muntah sebagaimana deskripsi dapat membatalkan puasa?

Waalaikum salam.
Jawaban
Diantara hal yang membatalkan puasa adalah muntah, namun muntah yang disengaja, kalau muntah tidak adanya unsur kesengajaan misalkan karena masuk angin, karena adanya bau asap yang berbau hingga muntah maka puasanya tidak batal.

الفقه الفقه المنهجى على مذهب الإمام الشافعي. ص ٣٤٤

٣ـ القيء المتعمد فيه:
فهو مفطر، وإن تأكد الصائم أن شيئا لم يعد ثانية إلى جوفه، ولكن إذا غلبه القئ لم يضر، ولو علم أن بعضاً مما خرج قد عاد إلى جوفه بدون قصد منه. ودليل ذلك ما رواه أبو هريرة – رضي الله عنه – قال: قال رسول الله – صلى الله عليه وسلم -: ” من ذرعه قئ ـ وهو صائم فليس عليه قضاء، وإن استقاء فليقض” أخرجه أبو داود (٢٣٨٠) والترمذي (٧٢٠) وغيرهما. ومعنى ذرعه: غلبه.

إعانة الطالبين .٥٦٠

(قوله: ويفطر عامدا الخ) شروع فيما يبطل به الصوم.
وقد نظم بعضهم جميع المبطلات فقال: عشرة مفطرات الصوم * * فهاكها: إغماء كل اليوم إنزاله مباشرا والردة * * والوطئ والقئ إذا تعمده ثم الجنون، الحيض، مع نفاس * * وصول عين، بطنه مع راس وذكر المصنف – رحمه الله تعالى – منها أربعة، وهي: الجماع، والاستمناء، والاستقاءة، ودخول عين جوفا، وترك الباقي لفهمه من قيدي التكليف والإطاقة.
(وقوله: عامدا إلخ) ذكر قيود ثلاثة في بطلان الصوم بما ذكر من الجماع وما عطف عليه، وهي: العمد، والعلم، والاختيار.(قوله: لا ناس للصوم) مفهوم عامد.وإنما لم يفطر الناسي، لخبر: من نسي وهو صائم فأكل أو شرب،فليتم صومه، فإنما أطعمه الله وسقاه.وفي رواية صححها ابن حبان وغيره: ولا قضاء عليه.نص على الأكل والشرب، فعلم غيرهما بالأولى.
(قوله: وإن كثر الخ) أي فإنه لا يفطر مع النسيان، لعموم الخبر المار آنفا.
وفارق الصلاة حيث إن الأكل الكثير نسيانا يبطلها، بأن لها هيئة تذكر المصلي أنه فيها فيندر ذلك فيها، بخلاف الصوم.والغاية المذكورة للرد على القائل إن الكثير يفطر به: وعبارة المنهاج: وإن أكل ناسيا لم يفطر، إلا أن يكثر في الأصح.قلت: الأصح لا يفطر، والله أعلم.

Kategori
Uncategorized

SUJUD SAHWI KARENA LUPA QUNUT DALAM SHALAT WITIR

Assalamualaikum.
Deskripsi masalah.
Ketika pertengahan bulan ramadhan tanggal (15)  dianjurkan bagi orang yang melaksanakan shalat witir agar membaca qunut, namun demikian misalkan ada seseorang atau imam LUPA  lalu setelah sujud ia ingat bahwa dirinya LUPA tidak membaca do’a qunut.

Pertanyaannya

Apakah seseorang yang lupa Qunut dalam shalat witir masih disunnatkan sujud sahwi..?

Waalaikum salam.
Jawaban.

Menurut satu pendapat ( Madzhab ) bahwa sesungguhnya  membaca doa qunut di rakaat terakhir shalat witir sejak pertengahan akhir bulan Ramadhan hukumnya  disunnahkan  Ini adalah pendapat yang masyhur dalam madzhab Syafii dan ditegaskan oleh Imam Syafii.Karena disunnahkan dan dianjurkan, maka jika seseorang meninggalkannya, baik karena lupa atau sengaja, maka  dianjurkan untuk melakukan sujud sahwi, sebagaimana halnya   lupa tidak qunut dalam shalat Shubuh. Sebagaimana keterangan Dalam kitab Al-Majmu, berikut;

وَالْمَذْهَبُ أَنَّ السُّنَّةَ أَنْ يَقْنُتَ فِي الرَّكْعَةِ الْآخِرَةِ مِنْ صَلَاةِ الْوِتْرِ فِي النِّصْفِ الْأَخِيرِ مِنْ شَهْرِ رَمَضَانَ هَذَا هُوَ الْمَشْهُورُ فِي الْمَذْهَبِ وَنَصَّ عَلَيْهِ الشَّافِعِيُّ رَحِمَهُ اللَّهُ

Menurut pendapat madzhab, bahwa sesungguhnya disunnahkan membaca doa qunut di rakaat terakhir shalat witir sejak pertengahan akhir bulan Ramadhan. Ini adalah pendapat yang masyhur dalam madzhab Syafii dan ditegaskan oleh Imam Syafii.Karena disunnahkan dan dianjurkan, maka jika kita meninggalkannya, baik karena lupa atau sengaja, maka kita dianjurkan melakukan sujud sahwi, seperti halnya ketika kita lupa tidak qunut dalam shalat Shubuh. Dalam kitab Al-Majmu, Imam Nawawi berkata;

قَالَ وَلَوْ تَرَكَ الْقُنُوتَ فِي مَوْضِعٍ اسْتَحَبَّهُ سَجَدَ لِلسَّهْوِ

Imam Syafii berkata; Jika seseorang meninggalkan qunut di tempat yang disunnahkan melakukan qunut, maka dia hendaknya sujud sahwi.Wallahu A’lam bisshowab.

Kategori
Uncategorized

SHALAT FARDHU BERMAKMUM KEPADA ORANG YANG MELAKUKAN SHALAT SUNNAH

SHALAT FARDHU BERMAKMUM KEPADA ORANG YANG MELAKUKAN SHALAT SUNNAH

Assalamualaikum

Deskripsi masalah

Sebagaimana yang kita maklumi dalam masyarakat secara wakiiyah bahwa ketika shalat tarawih ataupun lainnya terkadang ada jamaah yang terlambat melakukan sholat isya’ secara berjamaah dengan imam, itu di karenakan banyaknya faktor kesibukan atau lambatnya perjalanan menuju masjid atau mushollah sehingga imam sudah selesai melakukan sholat berjamaah dan memulainya sholat sunnah ba’dal isya’ atau sholat tarawih , maka dalam kondisi yang sedemikian orang yang terlambat sholat isya’ secara berjamaah akhirnya bermakmun kepada imam yang sedang sholat sunnah.

Pertanyaan

Apakah sah shalat berjamaah( shalat fardu bermakmum kepada orang yang sedang shalat sunnah ) ?
🙏🙏🙏

Jawaban
Wa’alaikum salam wr.wb.

Menurut Mazhab Syafiiyah boleh shalat fardhu dengan bermakmum kepada orang yang shalat sunnah begitu juga halnya orang yang melakukan shalat fardhu lainnya seperti shalat dhuhur bemakmum kepada orang yang sholat fardu ashar .Namun demikian ada beberapa hal yang penting diperhatikan dalam shalat berjamaah agar dapat keutamaan yaitu

Pertama: Memantapkan diri bahwa shalat yang sedemikian adalah sah.

[القليوبي، حاشيتا قليوبي وعميرة، ٢٨٣/١]

وَتَصِحُّ قُدْوَةُ الْمُؤَدِّي بِالْقَاضِي وَالْمُفْتَرِضِ بِالْمُتَنَفِّلِ، وَفِي الظُّهْرِ بِالْعَصْرِ وَبِالْعُكُوسِ) أَيْ الْقَاضِي بِالْمُؤَدِّي وَالْمُتَنَفِّلِ بِالْمُفْتَرِضِ وَفِي الْعَصْرِ بِالظُّهْرِ، وَلَا يَضُرُّ اخْتِلَافُ نِيَّةِ الْإِمَامِ وَالْمَأْمُومِ (وَكَذَا الظُّهْرُ بِالصُّبْحِ وَالْمَغْرِبِ وَهُوَ) أَيْ الْمُقْتَدِي فِي ذَلِكَ. (كَالْمَسْبُوقِ) يُتِمُّ صَلَاتَهُ بَعْدَ سَلَامِ إمَامِهِ.
(وَلَا تَضُرُّ مُتَابَعَةُ الْإِمَامِ فِي الْقُنُوتِ) فِي الصُّبْحِ. (وَالْجُلُوسِ الْأَخِيرِ فِي الْمَغْرِبِ وَلَهُ فِرَاقُهُ إذَا اشْتَغَلَ بِهِمَا) بِالنِّيَّةِ وَاسْتِمْرَارُهُ أَفْضَلُ. ذَكَرَهُ فِي شَرْحِ الْمُهَذَّبِ.
(وَتَجُوزُ الصُّبْحُ خَلْفَ الظُّهْرِ فِي الْأَظْهَرِ) وَقَطَعَ بِهِ كَعَكْسِهِ بِجَامِعِ أَنَّهُمَا صَلَاتَانِ مُتَّفِقَتَانِ فِي النَّظْمِ، وَالثَّانِي يَنْظُرُ إلَى فَرَاغِ صَلَاةِ الْمَأْمُومِ قَبْلَ الْإِمَامِ (فَإِذَا قَامَ) الْإِمَامُ (لِلثَّالِثَةِ فَإِنْ شَاءَ) الْمَأْمُومُ. (فَارَقَهُ) بِالنِّيَّةِ (وَسَلَّمَ وَإِنْ شَاءَ انْتَظَرَهُ لِيُسَلِّمَ مَعَهُ قُلْتُ انْتِظَارُهُ أَفْضَلُ وَاَللَّهُ أَعْلَمُ. وَإِنْ أَمْكَنَهُ الْقُنُوتُ فِي الثَّانِيَةِ) بِأَنْ وَقَفَ الْإِمَامُ يَسِيرًا. (قَنَتَ وَإِلَّا تَرَكَهُ) .

Berikut penjelasan orang yang melakukan shalat fardhu isya’ bermakmum pada orang yang melakukan shalat sunnah tarawih.


إِذَا دَخَلَ الْمَسْجِدَ فِي رَمَضَانَ لِصَلاَةِ الْعِشَاءِ وَلَمْ يَجِدْ جَمَاعَةً عَلَيْهِ أَنْ يَدْخُلَ فِي جَمَاعَةِ التَّرَاوِيْحِ بِنِيَةِ الْعِشَاءِ، فَاِذَا سَلَّمَ الْاِمَامُ قَامَ لِاِتْمَامِ مَا عَلَيْهِ، فَهَلْ هَذَا جَائِزٌ؟ الجواب: نَعَمْ إِنَّ هَذَا جَائِزٌ فِي مَذْهَبِنَا وَمَذْهَبِ أَحْمَدَ

Artinya, “Jika seseorang masuk ke dalam masjid di bulan Ramadhan untuk mengerjakan shalat Isya, namun di dalamnya tidak ada jamaah Isya, kemudian ia berjamaah dengan jamaah shalat Tarawih dengan dengan niat shalat Isya. Ketika imam salam, ia berdiri untuk menyempurnakan (rakaat) yang tersisa. Apakah praktik ini diperbolehkan? Sayyid Abdulah manjawab: ‘Iya, praktik ini diperbolehkan (sah) dalam mazhab Syafi’i dan mazhab Imam Ahmad bin Hanbal’.” (Abdullah, Al-Wajiz fi Ahkamis Shiyam wa Ma’ahu Fatawa Ramadhan, [Daru Hadramaut: 2011], halaman 109).

المجموع شرح المهذب ج٤ص١٦٧

وَيَجُوْزُ أَنْ يَأْتَمَّ الْمُفْتَرِضُ بِالْمُتَنَفِّلِ، وَالْمُفْتَرِضُ بِمُفْتَرِضٍ فِيْ صَلَاةٍ أُخْرَى؛}  لِمَا رَوَى جَابِرُ بْنِ عَبْدِ اللهِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا أَنَّ مُعَاذًا رَضِيَ اللهُ عَنْهُ كَانَ يُصَلِّيْ مَعَ رَسُوْلِ اللهِ ﷺ اَلْعِشَاءَ الْأَخِرَةَ ثُمَّ يَأْتِيْ قَوْمَهُ فِيْ بَنِيْ سَلِمَةَ فَيُصَلِّيْ بِهِمْ هِيَ لَهُ تَطَوُّعٌ وَلَهُمْ فَرِيْضَةُ الْعِشَاءِ {وَلِأَنَّ اْلِاقْتِدَاءَ يَقَعُ فِي الْأَفْعَالِ الظَّاهِرَةِ، وَذَلِكَ يَكُوْنُ مَعَ اخْتِلَافِ النِّيَّةِ…

Artinya, “Boleh seorang yang shalat fardhu bermakmum kepada orang yang shalat sunnah, dan orang yang shalat fardhu bermakmum kepada  orang yang shalat fardhu dalam shalat yang lain berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Jabir bin Abdullah RA bahwa Mu’adz RA melakukan shalat Isya’ di waktu akhir bersama Rasulullah SAW, kemudian ia mendatangi kaumnya di Bani Salimah lantas menjadi imam shalat bersama mereka, shalat itu baginya (hukumnya) merupakan shalat sunnah, sementara bagi mereka merupakan shalat Isya’ fardhu; di samping itu karena bermakmum tersebut terjadi dalam perbuatan-perbuatan yang zahir, padahal perkara itu berbeda niatnya…

مرقاة صعود التصديق فى شرح سلم التوفيق ٣٦

وخرج بالأفعال الإختلاف فى الصفات فلايضركالإقتداء المفترض بالمتنفل والمؤدى بالقاضى وفى طويلة بقصيرة ومع العكوس

” Dikecualikan dari berbeda dalam pekerjaan adalah berbeda pada beberapa sifat, maka tetap sah shalatnya. Seperti bermakmumnya orang yang shalat fardlu pada imam yang shalat sunnah . Bermakmumnya orang yang shalat Ada’ dengan Imam yang shalat qodlo’ , makmum shalat secara sempurna imamnya shalat qoshor atau sebaliknya

Kedua: Niat imamah, yakni niat menjadi imam dalam shalat ini agar mendapatkan fadhilah shalat jamaah. Niat imamah dalam shalat berjamaah hukumnya sunnah, kecuali :

1️⃣Sholat jum’at
2️⃣Shalat Muadah ( shalat yang diulang)
3️⃣Shalat yang dinadzarkan berjamaah
4️⃣Shalat shalat yang dilakukan secara jama’ taqdim karena hujan, yang 4 tersebut wajib hukumnya niat menjadi imam.

سفينة النجا ص ٨١

الذي يلزم فيه نية الإمامة أربع الجمعة والمعادة والمنذورة جماعة والمتقدمة في المطر

Artinya: “Ada 4 (empat) shalat yang mewajibkan berniat sebagai imam: shalat Jumat, shalat yang diulang, shalat jama’ah yang dinadzarkan, dan shalat jama’ taqdim karena hujan.”
Adapun detail nya dari ibaroh diatas sebagaima Syekh Muhammad Nawawi Banten menjelaskan dalam kitabnya Kâsyifatus Sajâ sebagai berikut:

Pertama, shalat Jumat.

Seorang yang menjadi imam shalat Jumat baginya wajib berniat untuk menjadi imam. Bila ia tidak berniat demikian pada saat takbiratul ihram maka tidak sah niatnya yang juga berarti tidak sah pula shalat Jumatnya. Ini dikarenakan shalat Jumat harus dilakukan secara berjamaah. Bila imam di dalam niatnya tidak menyebutkan kata imâman maka ia dianggap shalat sendirian, tidak berjamaah.

Kedua, shalat mu’âdah atau shalat yang diulang.

Shalat yang diulang adalah shalat wajib yang telah dilakukan atau shalat sunah yang disunahkan dilakukan secara berjamaah yang untuk kedua kalinya dilakukan kembali secara berjamaah pada waktunya karena berharap pahala.

Alasan seseorang mengulang shalatnya secara berjamaah adalah karena shalat yang kedua dianggap lebih utama dari pada shalat yang pertama. Seperti ketika seseorang yang mengulang shalat secara berjamaah karena sebelumnya ia telah melakukan shalat tersebut namun sendirian, tidak berjamaah. Atau pada saat shalat yang pertama ia telah melakukannya secara berjamaah namun mengulangnya kembali secara berjamaah karena melihat shalat jamaah yang kedua ini lebih utama dibanding shalat jamaah yang pertama yang telah ia lakukan. Ini bisa karena pada shalat jamaah yang kedua jumlah jamaahnya lebih banyak, imamnya lebih alim atau wara’, tempatnya lebih mulia dan alasan lainnya Bila pada shalat yang diulang ini yang pelaku/ berposisi sebagai imam maka ia wajib berniat imâman dalam niatnya bersamaan dengan pengucapan takbiratul ihram.

Ketiga, shalat yang dinadzarkan secara berjama’ah.

Seseorang bernadzar bahwa bila ia mendapatkan apa yang dicita-citakan maka ia akan shalat subuh berjamaah, misalnya. Ketika apa yang ia citakan tercapai dan kemudian ia shalat berjamaah subuh untuk memenuhi nadzarnya, bila dalam shalat berjamaah itu ia berposisi sebagai imam maka ia mesti menambahkan kata imâman di dalam niatnya bersamaan dengan pengucapan takbiratul ihram. Bila tidak demikian maka ia dianggap shalat sendirian, tidak berjamaah, dan karenanya dianggap melakukan perbuatan dosa karena tidak memenuhi nadzarnya.

Keempat, shalat yang dilakukan secara jama’ taqdim karena hujan.

Sebagaimana diketahui bahwa pada waktu hujan yang sangat deras diperbolehkan menjama’ shalat secara jama’ taqdim di mana shalat yang kedua dilakukan pada waktu shalat yang pertama; shalat isya dilakukan pada waktu shalat madghrib dan shalat ashar dilakukan pada waktu shalat dhuhur.

Shalat jama’ taqdim karena hujan deras ini diperbolehkan bagi orang yang shalat berjamaah di masjid dan cukup jauh jarak antara masjid dan rumahnya, sehingga akan mendatangkan mudarat bila ia mesti berjalan bolak-balik ke masjid untuk melakukan shalat berjamaah. Bagi orang yang shalatnya tidak berjamaah, atau berjamaah namun tidak di masjid, atau berjamaah di masjid namun rumahnya tidak jauh tidak diperbolehkan melakukan jama’ taqdim ini

Contoh Sebagai gambaran, ketika sesorang sedang melakukan shalat madhrib berjamaah di masjid datang hujan yang sangat deras yang diduga kuat belum berhenti sampai dengan waktunya shalat isya. Karena rumah orang tersebut cukup jauh dari masjid maka akan sangat merepotkan bila setelah shalat maghrib seseorang itu pulang ke rumahnya lalu pergi lagi ke masjid untuk shalat isya berjamaah. Dalam kondisi sedemikian seorang yang telah shalat maghrib diperbolehkan melakukan shalat isya secara jama’ taqdim.

Dalam keadaan seperti ini bila sesorang berposisi sebagai imam maka wajib berniat imâman di dalam niat berbarengan dengan takbiratul ihram untuk shalat isya-nya. Bila tidak maka shalat isya tidaklah dianggap dalam artian tidak dianggap belum shalat isya, baik secara berjamaah maupun sendirian. Ini dikarenakan kebolehan menjama’ taqdim di waktu hujan lebat harus dengan berjamaah. Maka bila sang imam tidak berniat sebagai imam itu berarti ia tidak shalat secara berjamaah

المجموع شرح المهذب ج ٤ص٩٨

يَنْبَغِي لِلْإِمَامِ أَنْ يَنْوِيَ الْإِمَامَةَ فَإِنْ لَمْ يَنْوِهَا صَحَّتْ صَلَاتُهُ وَصَلَاةُ الْمَأْمُومِينَ وَالصَّوَابُ : أَنَّ نِيَّةَ الْإِمَامَةِ لَا تَجِبُ، وَلَا تُشْتَرَطُ لِصِحَّةِ الِاقْتِدَاءِ وَبِهِ قَطَعَ جَمَاهِيْرُ أَصْحَابِنَا، وَسَوَاءٌ اقْتَدَى بِهِ رِجَالٌ أَمْ نِسَاءٌ ، لَكِنْ يَحْصُلُ فَضِيلَةُ الْجَمَاعَةِ لِلْمَأْمُوْمَيْنِ، وَفِيْ حُصُوْلِهَا لِلْإِمَامِ ثَلَاثَةُ أَوْجُهٍ

Artinya, “Seyogianya imam niat menjadi imam, jika ia tidak niat menjadi imam, maka sah shalatnya dan shalatnya makmum. Yang benar adalah bahwa niat imamah tidaklah wajib, dan niat imamah tidaklah disyaratkan untuk keabsahan bermakmum, pendapat ini telah ditetapkan oleh Jumhur madzhab Syafiiyah, tidak disyaratkan niat imamah tersebut, baik makmumnya para pria, maupun makmumnya para wanita, meskipun demikian mereka tetap mendapatkan fadhilah berjamaah. Tetapi mengenai imam mendapatkan fadhilah jamaahnya atau tidak, ada tiga pendapat, (tidak mendapat fadhilah jamaah, mendapat fadhilah jamaah, mendapat fadhilah jamaah jika tahu dan lalu pasang niat imamah),

Ketiga : Memperhatikan bacaan shalatnya seperti ketentuan mengenai bacaan surat Al-Fatihah dan surat setelahnya dibaca jahar (keras, nyaring) atau sirr (tidak keras, tidak nyaring), sebagai berikut:

المجموع شرح المهذب ج٣ ص ٣٥٧

وَأَمَّا نَوَافِلُ النَّهَارِ فَيُسَنُّ فِيْهَا الْإِسْرَارُ بِلَا خِلَافٍ، وَأَمَّا نَوَافِلُ اللَّيْلِ غَيْرَ التَّرَاوِيْحِ فَقَالَ صَاحِبُ التَّتِمَّةِ: يُجْهَرُ فِيْهَا، وَقَالَ الْقَاضِيْ حُسَيْنٌ وَصَاحِبُ التَّهْذِيْبِ: يُتَوَسَّطُ بَيْنَ الْجَهْرِ وَالْإِسْرَارِ، وَأَمَّا السُّنَنُ الرَّاتِبَةُ مَعَ الْفَرَائِضِ : فَيُسَرُّ بِهَا كُلِّهَا بِاتِّفَاقِ أَصْحَابِنَا . وَنَقَلَ الْقَاضِيْ عِيَاضٌ فِي شَرْحِ مُسْلِمٍ عَنْ بَعْضِ السَّلَفِ الْجَهْرَ فِي سُنَّةِ الصُّبْحِ، وَعَنِ الْجُمْهُوْرِ الْإِسْرَارَ كَمَذْهَبِنَا

Artinya, “Adapun dalam shalat sunnah siang hari, maka disunnahkan dibaca sirr tanpa ada khilaf (perbedaan pendapat). Adapun shalat sunnah malam hari selain shalat Tarawih, maka penulis kitab at-Tatimmah mengatakan: dibaca jahar (keras, nyaring); tetapi Al-Qadhi Husain dan penulis Kitab At-Tahdzib berkata bahwa bacaan dilakukan secara sedang antara jahar (keras, nyaring) dan sirr (tidak keras, tidak nyaring). Sementara shalat-shalat sunnah rawatib yang mengiringi shalat fardhu: maka dilakukan dengan bacaan sirr, berdasarkan kesepakatan para kolega kami (madzhab Syafiiyah). Al-Qadhi ‘Iyadh dalam Syarah Shahih Muslim mengutip pendapat sebagian ulama salaf mengenai menjaharkan bacaan dalam shalat sunnah rawatib subuh, dan pendapat mayoritas ulama bahwa bacaan dalam shalat sunnah subuh tetap sirr (tidak nyaring), sama seperti pendapat madzhab kami (Syafiiyah),”.

[ابن حجر الهيتمي، تحفة المحتاج في شرح المنهاج وحواشي الشرواني والعبادي، ٣٣٢/٢]

وَ) مِنْ شُرُوطِ الْقُدْوَةِ تَوَافُقُ نَظْمِ صَلَاتَيْهِمَا فِي الْأَفْعَالِ الظَّاهِرَةِ فَحِينَئِذٍ (تَصِحُّ قُدْوَةُ الْمُؤَدِّي بِالْقَاضِي، وَالْمُفْتَرِضِ بِالْمُنْتَفِلِ وَفِي الظُّهْرِ بِالْعَصْرِ وَبِالْعُكُوسِ) أَيْ بِعَكْسِ كُلٍّ مِمَّا ذُكِرَ نَظَرًا لِاتِّفَاقِ الْفِعْلِ فِي الصَّلَاتَيْنِ، وَإِنْ تَخَالَفَتْ النِّيَّةُ، والله أعلم بالصواب

Kategori
Uncategorized

HUKUMNYA KAKAK IPAR MENGELUARKAN ZAKAT FITRA UNTUK ADIK IPARNYA


HUKUMNYA KAKAK IPAR MEGELUARKAN ZAKAT FITRA UNTUK ADIK IPARNYA

Diskripsi
Amin adalah manten baru yang hidup bersama mertuanya. Namun satu tahun kemudian, kedua mertuanya meninggal. Secara otomatis yang menggantikan posisi kedua mertuanya Amin adalah kakak iparnya Amin. Selama Amin hidup bersama kakak iparnya itu, dia tidak lagi berpenghasilan tetap. Lebih tepatnya, Amin lebih menggantungkan hidupnya kepada kakak iparnya karna berbagai faktor. Pernah di suatu kesempatan, sempat kakak iparnya amin yang membayarkan zakat fitrahnya amin dan istrinya amin.

Pertanyaan:

  1. Sebagai kepala keluarga (suami dari istrinya) wajibkah amin memgeluarkan zakat fitrah sendiri?
  2. Benarkah tindakan iparnya amin secara hukum?

Waalaikum salam.
Jawaban.

Amin tidak wajib mengeluarkan zakat walaupun sebagai kepala rumah tangga sedangkan Tindakan kakak iparnya Amin tidaklah dibenarkan dan zakatnya tidak sah kecuali dengan seindzinya, kenapa Amin tidak wajib zakat , dan tindakan kakaknya tidak dibenarkan karena Amin bukanlah orang yang wajib membayar zakat karena masuk orang yang tidak mampu ( miskin ),dan juga Amin bukanlah hak kewajiban kakak iparnya dalam menafkahi kebutuhan hidupnya, hal ini dikiyaskan dengan orang tua yang mengeluarkan zakat untuk anaknya dengan tanpa seidzinnya sedangkan anaknya sudah baligh dan sehat serta mampu berkasab. Sedangkan ketentuan kewajiban membayar zakat fitrah hanya bagi orang yang mampu menunaikan zakat fitrah. Mampu di sini ialah orang yang pada saat malam hari raya Id dan hari raya Id memiliki harta yang mencukupi untuk kebutuhan hidupnya dan orang-orang yang wajib ia nafkahi. 

“Kebutuhan tersebut meliputi makanan pokok, pakaian, rumah, dan terbebas dari utang yang melilitnya. Jika harta yang ia miliki tidak mencukupi untuk memenuhi salah satu dari kebutuhan tersebut pada saat malam hari raya Id, maka menunaikan zakat fitrah baginya adalah hal yang tidak wajib,”  

Solusinya yang lebih pantas kakak Ipararnya harus mengeluarkan zakat dirinya lalu diberikan kepada Amin .Alasannya Amin termasuk orang yang fakir yang berhak menerima zakat sedangkan hasil dari pemungutan zakat dari kakak iparnya dikeluarkan oleh Amin.

Referensi

فتح الوهاب بشرح المنهاج الطلاب.ج١ص ٢٠٠

ـ (ولا فطرة على معسروهو من لم يفضل عن قوته وقوت ممونه يومه وليلته و) عن (ما يليق بهما من ملبس ومسكن وخادم يحتاجها ابتداءا وعن دينه ما يخرجه) في الفطرة، بخلاف من فضل عنه ذلك

Tidak wajib zakat fitrah bagi orang yang tidak mampu, yakni orang yang tidak memiliki harta yang lebih untuk memenuhi kebutuhan makanan pokok dirinya dan orang yang wajib ia nafkahi pada saat malam id dan hari raya id, dan untuk memiliki pakaian dan rumah yang layak untuknya serta pelayan yang ia butuhkan dan (melunasi) hutang yang ia miliki, (tidak memiliki harta yang lebih) untuk mengeluarkan zakat fitrah. Berbeda ketika orang tersebut memiliki harta yang lebih untuk zakat fitrah setelah tercukupi kebutuhan di atas (maka wajib baginya zakat fitrah)” 

فقه المنهاجى على مذهب الإمام الشافعى.ج.١ص ٢٢٩

فلا يجب أن يخرجها عن ولده البالغ القادر على الاكتساب، ولا عن قريبه الذي لا يكلف بالإنفاق عليه، بل لا يصح أن يخرجها عنه إلا بأذنه


Artinya:” Maka tidak wajib mengeluarkan zakat fitrah bagi anaknya yang telah baligh yang mampu bekerja, juga kerabatnya yang ia tanggung nafkahnya. Akan tetapi, tidak sah jika mengeluarkan zakat fitrah baginya tanpa izin darinya.

[تقي الدين الحصني، كفاية الأخيار في حل غاية الاختصار، صفحة ١٨٧]

وَوُجُود الْفضل عَن قوته وقوت عِيَاله فِي ذَلِك الْيَوْم ويزكي عَن نَفسه وَعَمن تلْزمهُ نَفَقَته من السلمين)
هَذَا هُوَ السَّبَب الثَّالِث لوُجُوب زَكَاة الْفطر وَهُوَ الْيَسَار فالمعسر لَا زَكَاة عَلَيْهِ قَالَ ابْن الْمُنْذر بِالْإِجْمَاع وَلَا بُد من معرفَة الْمُعسر وَهُوَ كل من لم يفضل عَن قوته وقوت من تلْزمهُ نَفَقَته آدَمِيًّا كَانَ أَو غَيره لَيْلَة الْعِيد ويومه مَا يُخرجهُ فِي الْفطْرَة فَهُوَ مُعسر

[القليوبي، حاشيتا قليوبي وعميرة، ٤٢/٢]
(وَلَا) فِطْرَةَ عَلَى (مُعْسِرٍ) وَإِنْ أَيْسَرَ بَعْدَ وَقْتِ الْوُجُوبِ (فَمَنْ لَمْ يَفْضُلْ عَنْ قُوتِهِ وَقُوتِ مَنْ فِي نَفَقَتِهِ لَيْلَةَ الْعِيدِ وَيَوْمِهِ شَيْءٌ) يُخْرِجُهُ فِي الْفِطْرَةِ (فَمُعْسِرٌ) بِخِلَافِ مَنْ فَضَلَ عَنْهُ مَا يُخْرِجُهُ فِيهَا مِنْ أَيِّ جِنْسٍ كَانَ مِنْ الْمَالِ فَهُوَ مُوسِرٌ لَكِنْ بِالشَّرْطِ الْمَذْكُورِ بِقَوْلِهِ: (وَيُشْتَرَطُ كَوْنُهُ) أَيْ الْفَاضِلِ عَمَّا ذُكِرَ (فَاضِلًا عَنْ مَسْكَنٍ) يَحْتَاجُ إلَيْهِ (وَخَادِمٍ يَحْتَاجُ إلَيْهِ فِي الْأَصَحِّ) وَهَذَا فِي الِابْتِدَاءِ فَلَوْ ثَبَتَتْ الْفِطْرَةُ فِي ذِمَّةِ إنْسَانٍ بِعْنَا خَادِمَهُ وَمَسْكَنَهُ فِيهَا لِأَنَّهَا بَعْدَ الثُّبُوتِ

القرآن الكريم .تفسير الطبري سورة التوبة .آية .٦٠

إِنَّمَا الصَّدَقَاتُ لِلْفُقَرَاءِ وَالْمَسَاكِينِ وَالْعَامِلِينَ عَلَيْهَا وَالْمُؤَلَّفَةِ قُلُوبُهُمْ وَفِي الرِّقَابِ وَالْغَارِمِينَ وَفِي سَبِيلِ اللَّهِ وَابْنِ السَّبِيلِ ۖ فَرِيضَةً مِّنَ اللَّهِ ۗ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ (60)


القول في تأويل قوله : إِنَّمَا الصَّدَقَاتُ لِلْفُقَرَاءِ وَالْمَسَاكِينِ وَالْعَامِلِينَ عَلَيْهَا وَالْمُؤَلَّفَةِ قُلُوبُهُمْ وَفِي الرِّقَابِ وَالْغَارِمِينَ وَفِي سَبِيلِ اللَّهِ وَاِبْنِ السَّبِيلِ فَرِيضَةً مِنَ اللَّهِ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ (60)
قال أبو جعفر: يقول تعالى ذكره: ما الصدقات إلا للفقراء والمساكين، (24) ومن سماهم الله جل ثناؤه.
* * *
ثم اختلف أهل التأويل في صفة ” الفقير ” و ” المسكين “.
فقال بعضهم: ” الفقير “، المحتاج المتعفف عن المسألة، و ” المسكين “، المحتاج السائل. (25)
* ذكر من قال ذلك:
16818- حدثنا ابن وكيع قال، حدثنا جرير, عن أشعث, عن الحسن: (إنما الصدقات للفقراء والمساكين)، قال: ” الفقير “، الجالس في بيته = ” والمسكين “، الذي يسعى.
16819- حدثني المثنى قال، حدثنا عبد الله قال، حدثنا معاوية, عن علي, عن ابن عباس قوله: (إنما الصدقات للفقراء والمساكين)، = قال: ” المساكين “، الطوافون, و ” الفقراء “، فقراء المسلمين.
16820- حدثنا ابن وكيع قال، حدثنا أبو أسامة, عن جرير بن حازم قال، حدثني رجل, عن جابر بن زيد: أنه سئل عن ” الفقراء “, قال: ” الفقراء “، المتعففون, و ” المساكين “، الذين يسألون.
16821- حدثنا أحمد بن إسحاق قال، حدثنا أبو أحمد قال، حدثنا معقل بن عبيد الله الجزريّ قال: سألت الزهري عن قوله: (إنما الصدقات للفقراء)، قال: الذين في بيوتهم لا يسألون, و ” المساكين “، الذين يخرجون فيسألون. (26)
16822- حدثنا الحارث قال، حدثنا القاسم قال، حدثنا يحيى بن سعيد, عن عبد الوارث بن سعيد, عن ابن أبي نجيح, عن مجاهد قال: ” الفقير ” الذي لا يسأل, و ” المسكين “، الذي يسأل.
16823- حدثنا يونس قال، أخبرنا ابن وهب, قال، قال ابن زيد في قوله: (إنما الصدقات للفقراء والمساكين)، قال: ” الفقراء “، الذين لا يسألون الناس، أهلُ حاجة (27) = و ” المساكين “، الذين يسألون الناس.
16824- حدثنا الحارث قال، حدثني عبد العزيز قال، حدثنا عبد الوارث, عن ابن أبي نجيح, عن مجاهد قال: ” الفقراء “، الذين لا يسألون, و ” المساكين ” الذين يسألون.
* * *
وقال آخرون: ” الفقير “، هو ذو الزمانة من أهل الحاجة، و ” المسكين “، هو الصحيح الجسم منهم. (28)
* ذكر من قال ذلك:
16825- حدثنا محمد بن عبد الأعلى قال، حدثنا محمد بن ثور, عن معمر, عن قتادة: (إنما الصدقات للفقراء والمساكين)، قال: ” الفقير “، من به زَمانة = و ” المسكين “، الصحيح المحتاج.
16826- حدثنا بشر قال، حدثنا يزيد قال، حدثنا سعيد, عن قتادة قوله: (إنما الصدقات للفقراء والمساكين)، أما ” الفقير “، فالزَّمِن الذي به زَمانة, وأما ” المسكين “، فهو الذي ليست به زمانة.
* * *
وقال آخرون: ” الفقراء “، فقراء المهاجرين، و ” المساكين “، من لم يهاجر من المسلمين، وهو محتاج.
* ذكر من قال ذلك:
16827- حدثنا الحارث قال، حدثنا عبد العزيز قال، حدثنا جرير بن حازم, عن علي بن الحكم, عن الضحاك بن مزاحم: (إنما الصدقات للفقراء)، قال: فقراء المهاجرين = و ” المساكين “، الذين لم يهاجروا. (29)

Kategori
Uncategorized

HUKUMNYA ORANG TUA MENGELUARKAN ZAKAT FITRA UNTUK ANAKNYA YANG SUDAH BALIGH ATAU TELAH MENIKAH

HUKUM ORANG TUA MENGELUARKAN ZAKAT FITRAH UNTUK ANAKNYA YANG SUDAH BALIGH DAN MENIKAH

Assalamualaikum
Deskripsi masalah
Pasutri dikaruniai tiga anak yang pertama telah dewasa dan telah melangsungkan ikatan Nikah namun kondisi kasabnya dalam kehidupan-sehari-harinya pas-pasan hanya cukup untuk makan, Artinya untuk makan sehari harus bekerja dalam keseharian,baik untuk dirinya, istrinya anaknya, Namun demikian orang tuanya termasuk orang yang mampu karena sebelum menikahkan anaknya semua anaknya dipemondokkan dipondok pesantren termasuk anak yang kedua dan baligh masih dipondok sehingga belum bisa dikatakan mampu mencari penghasilan dengan alasan karena masih terikat dengan sekolah dipondoknya, sedangkan anak yang perempuan sudah dewasa dan baligh namun masih perawan tua karena belum pernah menikah .

Pertanyaannya.

Apakah orang tua berkewajiban membayarkan zakat fitrah terhadap anak-anaknya baik yang sudah berkeluarga atau tidak namun anak tersebut sudah baligh.

Waalaikum salam.

Jawaban ditafsil

🅰️Orang tua tidak wajib mengeluarkan zakat fitrah kepada anaknya yang masuk dalam kategori sebagai berikut:

  1. Anak sudah Dewasa ( baligh )dan sehat serta mampu berkasab ( mencari pengasilan)
  2. Anak yang sudah baligh dan berkeluarga, dengan alasan karena orang tua telah lepas dari tanggung jawabnya kewajiban-kewajiban terhadap anaknya, jika terpaksa mengeluarkan zakat untuk anaknya yang sudah baligh dan berkeluarga serta sehat dan mampu untuk bekerja maka zakatnya tidak sah kecuali dengan seidzinnya.

🅱️ Wajib orang tua mengeluarkan zakat untuk anak-anaknya baik laki-laki dan perempuan yang masuk dalam kategori:

  1. Anak yang belum baligh, sampai kepada cucu-cucuni ( jika orang tua cucu tidak mampu)
  2. .Anak sudah baligh namun nafkah masih dalam tanggungannya dan belum punya penghasilan ( karena mencari ilmu /mondok ) baik anaknya laki-laki maupun perempuan yang masih belum menikah.Akan tetapi jika anak perempuannya sudah pernah menikah maka tidaklah wajib.

Disebutkan dalam kitab Fiqhi Manhaji ‘ala Mażhabi al-Imāmi asy-Syāfi’ī, sebagai berikut:

يجب على من توفرت لديه هذه الشرائط الثلاثة، أن يخرج زكاة الفطر عن نفسه، وعمن تلزمه نفقتهم، كأصوله وفروعه، وزوجته. فلا يجب أن يخرجها عن ولده البالغ القادر على الاكتساب

Artinya:
Mereka yang memenuhi tiga syarat ini wajib membayar zakat fitrah untuk dirinya sendiri, orang-orang yang wajib ia nafkahi, seperti jalur keturunan ke atas maupun ke bawah, dan istrinya. Maka tidak wajib mengeluarkan zakat untuk anak laki-lakinya yang telah baligh yang telah mampu bekerja. [Fiqhi Manhaji ‘ala Mażhabi al-Imāmi asy-Syāfi’ī Juz I (Damaskus: Dār al-Qalam, 1996), hlm. 229]

أن يكونوا كبارا أصحاء لا يعجزون عن منافع أنفسهم فمذهب الشافعي، أنه لا تجب على الوالد نفقاتهم ولا زكاة فطرهم


Artinya: ” Jika seorang anak itu sudah besar yang memiliki kondisi fisik sehat, namun belum mampu mencukupi dirinya sendiri (belum bekerja), maka dalam madzhab Syafi’i, walinya tidak wajib menafkahinya, begitu pula zakat fitrah-nya. [al-Ḥāwī al-Kabīr fī Fiqhi Mażhabi al-Imām asy-Syāfi’ī Juz III (Beirut: Dar al-Kotob al-Ilmiah, 1999), hlm. 353]

Jika telah memenuhi syarat wajib zakat fitrah seperti: 1) Islam; 2) masih hidup hingga terbenamnya matahari pada akhir bulan Ramadan; dan 3) memiliki kecukupan bahan makanan bagi dirinya sendiri dan keluarga dalam waktu 24 jam terhitung sejak hari pertama bulan Syawal, maka diwajibkan baginya membayar zakat untuk dirinya sendiri, dan orang-orang yang berada dalam tanggungan nafkahnya seperti uṣūl, furū’, dan istrinya. Dalam mazhab Syafi’i, istilah uṣūl merupakan jalur keturunan ke atas, seperti: bapak, ibu, kakek, nenek, dan seterusnya. Sementara furū’ merupakan jalur keturunan ke bawah, seperti: anak, cucu, dan seterusnya.

Berikut batasan orang tua wajib menafkahi anak atau keturunannya sekaligus mengeluarkan zakat fitrahnya dengan Mengutip ungkapan Abu Hanifah dalam kitab Ḥilyah al-Ulamā’fī Ma’rifati Mażāhib al-Fuqahā’ beikut.

وقال أبو حنيفة: نفقة الأنثى لا تسقط حتى تتزوج

Artinya: Abu Hanifah berkata: Nafkah bagi anak perempuan tidak berhenti sampai ia menikah.

Begitu pula Husain bin Muhammad al-La’iy dalam kitabnya, Badru at-Tamām Syaraḥ Bulughul Marām Juz 8 halaman 323, mengungkapkan hal yang sama sebagai berikut.

وذهب الجمهور إلى أن الواجب أن ينفق عليهم حتَّى يبلغ الذكر أو تتزوج الأنثى

Artinya:
Mayoritas ulama berpendapat bahwa wajib menafkahi anak laki-laki hingga menginjak baligh, atau hingga menikah bagi anak perempuan

Meskipun anak laki-laki sudah tergolong tidak wajib dinafkahi, sehingga pengeluaran zakat tentunya juga sudah tidak wajib dibayarkan oleh bapak atau wali, seperti memiliki kemampuan fisik untuk bekerja dan telah baligh, bukan berarti jika masih tetap dibayar zakatnya oleh bapaknya itu tidak sah. Namun, dapat menjadi tidak sah jika wali atau bapak membayarkan zakatnya tanpa seizinnya.

فلا يجب أن يخرجها عن ولده البالغ القادر على الاكتساب، ولا عن قريبه الذي لا يكلف بالإنفاق عليه، بل لا يصح أن يخرجها عنه إلا بأذنه

Artinya:
Maka tidak wajib mengeluarkan zakat fitrah bagi anaknya yang telah baligh yang mampu bekerja, juga kerabatnya yang ia tanggung nafkahnya. Akan tetapi, tidak sah jika mengeluarkan zakat fitrah baginya tanpa izin darinya. [Fiqhi Manhaji ‘ala Mażhabi al-Imāmi asy-Syāfi’ī Juz I (Damaskus: Dār al-Qalam, 1996), hlm. 229]

Selain pengecualian bagi anak telah baligh yang tidak memiliki fisik yang sehat, juga berlaku bagi anak telah baligh yang sedang menuntut ilmu.

فإن عاقه عن الاكتساب اشتغال بالعلم مثلاُ، فإنه ينظر فإن كان العلم متعلقاً بواجباته الشخصية: كأمور العقيدة، والعبادة، فذلك يُعدّ عجزاً عن الكسب، وتجب نفقته على أبيه

Artinya:
Jika dia (الولد صحيحاً بالغاً) terhalang bekerja karena disibukkan dengan (mencari) ilmu, atau semisalnya, maka hendaknya dia mempertimbangkan: Bahwa jika ilmu itu terkait dengan kewajiban yang dibutuhkan untuk dirinya sendiri, seperti ilmu aqidah dan ibadah, maka kondisi ini dianggap sebagai ketidakmampuan mencari nafkah. Wajib bagi ayahnya untuk menafkahi dirinya. [Fiqhi Manhaji ‘ala Mażhabi al-Imāmi asy-Syāfi’ī Juz IV (Damaskus: Dār al-Qalam, 1996), hlm. 124]

Dengan demikian, anak dengan kategori masih dalam tanggungan wajib nafkah seorang wali, maka pengeluaran zakat fitrah pun juga demikian. Anak laki-laki yang telah mencapai usia baligh dan telah mampu bekerja, tidak wajib bagi wali untuk membayar zakat fitrahnya, namun tetap sah jika wali membayarkannya asal atas seizin anak tersebut. Namun kategori ini dapat dikatakan masih wajib dinafkahi dan dibayarkan zakat fitrahnya jika masih menuntut ilmu (ilmu ḥāl).

Adapun anak yang memiliki keterbatasan fisik, meskipun telah mencapai usia baligh, maka wajib bagi wali untuk menafkahinya dan pembayaran zakat fitrah wajib dibayarkan oleh wali. Selain itu, kewajiban menafkahi anak perempuan ialah hingga ia menikah. Sehingga kewajiban wali membayar zakat fitrah-nya ialah juga sampai ia menikah. Wallahu A’lam.

Kategori
Uncategorized

CARA MELAFADHKAN NIAT SHALAT WITIR

CARA MELAFADHKAN NIAT SHALAT WITIR YANG DISAMBUNG 3 RAKAAT MENJADI SATU SALAM DAN DIPISAH 3 RAKAAT DIJADIKAN DUA SALAM

Shalat witir bisa dikerjakan dalam jumlah rakaat ganjil, maksimal 11 rakaat baik dilakukan Setiap malam setelah shalat isya’ atau setelah shalat tahajjud ataupun setelah shalat tarawih dibulan Ramadan, banyak umat muslim mengerjakan shalat witir sebanyak tiga rakaat, terutama yang berjemaah di masjid atau musholla dibulan Ramadhan. Namun, ada juga yang mengerjakan shalat witir secara sendirian.
Pernah saya menjumpai orang shalat witir 3 Rakaat disambung menjadi satu salam dan ada yang dipisahkan menjadi dua salam. Dengan kata lain.
Pertama, shalat witir tiga rakaat dikerjakan dengan dua kali salam.
Kedua, salat witir dikerjakan 3 rakaat tersambung sekaligus dengan satu salam.

Pertanyaannya.
Bagaimana cara melafadh kan niat dari keduanya ( antara yang disambung 3 rakaat menjadi satu salam dan yang dipisah menjadi dua salam) ?

Waalaikum salam.

Jawaban.
Jika shalat sunnah witir 3 raat disambung menjadi satu salam maka cara melafadhkan niatnya jika baik dilakukan secara sendirian atau berjamaah sebagaimana berikut:

JIKA DILAKUKAN MUNFARID/SENDIRIAN👇

أصلى سنة الوتر ثلاث ركعات ادآء مستقبل القبلة لله تعالى

JIKA DILAKUKAN SECARA BERJAMAAH 👇

أصلى سنة الوتر ثلاث ركعات ادآء مستقبل القبلة مأموما لله تعالى

Adapun jika shalat witir 3 rakaat dilakukan dengan cara dipisah menjadi dua salam. Maka jika dilakukan dua rakaat yang pertama tidak berlu menyertakan huruf من yang berarti Tab’idiyah yang berati sebagian seperti contoh

أصلى سنة ركعتين من الوتر / أصلى ركعتين من الوتر سنة لله تعالى

Artinya cukup melafadhkan sebagaimana berikut:

JIKA DILAKUKAN SECARA MUNFARID👇

أصلى سنة الوتر ركعتين ادآء مستقبل القبلة لله تعالى

JIKA DILAKUKAN SECARA BERJAMAAH 👇

أصلى سنة الوتر ركعتين ادآء مستقبل القبلة مأموما/إماما لله تعالى

المجموع شرح المهذب

(الرَّابِعُ)

حَدِيثُ ابْنُ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَفْصِلُ بَيْنَ الشَّفْعِ وَالْوَتْرِ بِتَسْلِيمَةٍ يُسْمِعُنَاهَا رَوَاهُ أَحْمَدُ بْنُ حَنْبَلٍ فِي مُسْنَدِهِ بِهَذَا اللفظ (الخامس) قيل فان كَانَ يَعْلَمُ حَدِيثَ عَائِشَةُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم لا يسلم في ركعتي الوتر رواه النسائي بِإِسْنَادٍ حَسَنٍ وَرَوَاهُ الْبَيْهَقِيُّ فِي السُّنَنِ الْكَبِيرَةِ

Dalam kitab majmu’ dijelaskan Hadits dari Umar ra. dia berkata bahwa Nabi Muhammd SAW pernah memisahkan antara shalat yang “Asyyaf’i Genap ( dua rakaat sebagian dari witir) dan satu witir ( artinya witir tiga rakaat )namun dipisah, berarti dua rakaat ( assaf’i/Genap ) adalah bagian dari witir .Maka kalau mengikuti ibaroh dalam kitab majmu’ cara melafadhkan niat dua rakaat sebagian dari witir adalah sebagai berikut:

أصلى سنةً ركعتى الوتر أداءً مستقبلة القبلة لله تعالى.أى ركعتين من الوتر


Atau

أصلى سنة الوتر ركعتين أى من الوتر ركعتين أداءً مستقبل القبلة مأموما لله تعالى

artinya:”Saya niat shalat sunnah sebagian dari witir dua rakaat menghadap kiblat seraya menjadi makmum karena Allah Ta’ala

Penjelasan
Kedua contoh diatas adalah Susunan idhofah yang menyimpan Huruf jar contoh idhofah سنة الوتر أى من الوتر

Maka andaikan dinampakkan huruf jarnya lafadhnya menjadi:

أصلي سنة من الوتر ركعتين أداء مستقبل القبلة مأموما لله تعالى

artinya:”Saya niat shalat sunnah sebagian dari witir dua rakaat menghadap kiblat seraya menjadi makmum karena Allah Ta’a

Sebagaimana penjelasan Ibnu Malik dalam kitabnya Alfiyah berikut:

وَالثَانِى اجْرُرْ وَانوِ أَوْفِى إذَا # لَمْ يَصْلُحْ إِلاَّ ذاكَ وَاللاَّمَ خُدَا

لِمَا سِوَى ذَيْنِكَ وَاخْصُصْ اَوَّلاَ # اَو أَعْطِه التَّعْرِيْفَ بالَّذِى تَلاَ

Bacalah jar pada isim yang kedua ( mudhof ilaih ), dan kira-kirakanlah maknanya من  atau  فى apabila tidak pantas kecuali dengan maknanya huruf tersebut, dan kira-kirakanlah maknanya lam.

 Untuk selainnya yang pantas menyimpan maknanyaفى  atau من  dan takhsislah isim yang awal (mudhof) atau ma’rifatkanlah dengan isim yang kedua ( mudhof ilaih ).

بعض وبين وابتدء فى الأمكنة # بمن وقد تأتي لبدء الأزمنة

Jadi lafadh niat yang benar adalah:


أصلى سنة الوتر ركعتين أداء مستقبل القبلة مأموما/إماما لله تعالى


Kenapa tidak perlu mengucapkan من الوتر

( أصلي سنة من الوتر ركعتين)

Susunan idhafah sudah mentaqdir huruf من. Oleh karenanya dlm kitab Bughiyah disebutkan tidak perlu mengungkap kan من ” للتبعيضية

Tidak harus menyebutkan من۔ yang berarti sebagian dalam niat witir

. (بغية المسترشدين : ص ٤٠)

(مسألة: ي)

لا يلزم الناوي لركعتين من نحو التراويح والوتر استحضار من التبعيضية عند ابن حجر و ع ش، ورجح في شرح المنهج والنهاية وغيرهما لزومها

Artinya;” Tidalah wajib bagi orang berniat dua rakaat misalnya dalam shalat tarawih atau shalat witir menghadirkan من yang berarti sebagian dari…..Menurut Ibnu Hajar yang diperkuat dalam kitab Syarah minhaj dan Nihayah dan yang lainnya.

Artinya merujuk pada referensi diatas sebenarnya melafadhkan niat yang biasa sudah benar yakni

( أصلى سنة الوتر ركعتين آداء مستقبل القبلة ماءموما/إماما لله تعالى).

atau

أصلى سنةً ركعتى الوتر أداءً مستقبلة القبلة لله تعالى.أى ركعتين من الوتر

Kenapa tidak perlu menyertakan من yang berarti sebagian ? Karena dalam lafadh سنة الوتر menurut ilmu tata bahasa disebut Susunan ” Idhofah” yang didalamnya menyimpan/mentaqdir Huruf jar berupa من yakni سنة الوتر أى سنة من الوتر

Sedang bilamana dilakukan satu rakaat maka cara melafadhkannya adalah

أصلى سنة الوتر ركعة ادآء مستقبل القبلة مأموما/إماما لله تعالى

Atau

أصلى سنةً ركعةَ الوتر ادآء مستقبل القبلة مأموما/إماما لله تعالى /

التقريرات السديدة ص ٢٨١-٢٨٢

شرح بعض النوافل :
الأولى : صلاة الوتر، وهي واجبة عند أبي حنيفة
فضلها : ورد فيها الكثيرُ منَ الأحاديث، منها: «إِنَّ اللهَ وِتْرٌ يُحِبُّ
الوتر (۱)، «أوتروا يا أهل القرآن» (۲) ، «مَنْ لم يُوتِرُ فليس منا » (۳) ، «إِنَّ الله قد
أَمَدَّكُمْ بِصَلَاةٍ هِيَ خيرٌ لَكُمْ مِن حُمْرِ النَّعَم » (٤) .

وقتها : من فعل العِشاء إلى طلوع الفجر، والأفضل تأخيرها إلى آخر
الليل إذا كانَ يغلِبُ على ظنّهِ الاستيقاظ قبل الفجر، وإلا فالأفضل تقديمها
بعد العشاء .
عدد ركعاتها :
أقلها : ركعة، وتكره المداومة عليها لغير عُذر .

(١) أخرجه أحمد (۲: ۱۰۹) .
(٢) أخرجه أحمد ( ١ : ١٤٨ ) .
(۳) أخرجه أحمد (٤٤٣:٢ ) .
(٤) أخرجه أبو داود (١٤١٨) ، وابن ماجه (١١٦٨)، والترمذي (٤٥٢) .

وأدنى الكمال : ثلاث ركعات .
وأكمل الكمال : إحدى عشرة ركعة (١) .
كيفيتها : لها كيفيتان : وَصْلٌ وفَضْل :
(١) الوصل : أن يصل الركعة الأخيرة بما قبلها، كما في صلاة المغرب .
ويجوز فيه الاقتصار على تشهد في الأخيرة، أو تشهدين في الأخيرة وما
قَبْلَها (٢) .
(٢) الفصل : أن يفْصِلَ الرَّكعة الأخيرة عما قبلها، وهي أفضل، لما ورد من كراهية تشبيه صلاة الوتر بصلاة المغرب .
ويُسَنُ أن يقرأ – في الثلاثِ الرَّكْعاتِ الأخيرة : في الأولى: سورة الأعلى، وفي الثانية : الكافرون، وفي الثالثة الإخلاص والمعوذتين (۳) ..

(١) ولو نوى الوتر وأطلق حمل على ما يريد عند ابن حجر، وعلى الثلاث عند الرملي، ولو نذر الوتر لزمه الثلاث بالاتفاق.
(۲) فلا يجوز فيه أكثر من تشهدين أو أن يتشهد في غير الأخيرتين لأنها وصل، وأما إذا صلاها فَضْلاً : بأن فصل الركعة الأخيرة عما قبلها فيجوز أن يصلي الست بإحرام أو
أكثر وبتشهد أو أكثر .
(۳) ويأتي بعده بالدعاء المأثور وهو : سبحانَ الملك القدوس ثلاثاً، سُبُّوحٌ قُدُّوسٌ رب الملائكة والروح، جلّلت السماوات والأرض بالعظمة والجبروت، وتعززت بالقدرة، وقهرت العباد بالموت. اللهم إني أعوذ برضاك من سخطك، وبمعافاتك من عقوبتك، وبك منك، لا تحصي ثناء عليك أنت كما أثنيت على نفسك . أعود بالله من الشيطان الرجيم بسم الله الرحمن الرحيم : ﴿ وَذَا النُّونِ إِذ ذَهَبَ مُغَاضِبًا فَظَنَّ أَن لَّن نَّقْدِرَ عَلَيْهِ فَنَادَى فِي الظُّلُمَاتِ أَن لَّا إِلَهَ إِلَّا أَنتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنتُ مِنَ الظَّالِمِينَ يا حي يا قيوم لا إله إلا أنت سبحانك إني كنت من الظالمين (أربعين مرة) ، تمامها : ﴿ فَاسْتَجَبْنَا لَهُ وَنَجَيْنَهُ مِنَ الْغَمِّ وَكَذَلِكَ نُجِى الْمُؤْمِنِينَ ) .

Penjelasan Beberapa Salat Sunnah

Pertama: Salat Witir
Salat witir adalah salat yang wajib menurut Abu Hanifah.

Keutamaannya

Banyak hadis yang menyebutkan keutamaan salat witir, di antaranya:

“Sesungguhnya Allah itu witir (Maha Esa) dan menyukai witir.” (HR. Ahmad, 2:109) “Lakukanlah witir, wahai para ahli Al-Qur’an.” (HR. Ahmad, 1:148) “Barang siapa yang tidak melaksanakan witir, maka dia bukan bagian dari kami.” (HR. Ahmad, 2:443) “Sesungguhnya Allah telah memberi kalian salat yang lebih baik dari unta merah (harta yang paling berharga).” (HR. Abu Dawud, 1418; Ibnu Majah, 1168; Tirmidzi, 452) Waktu Pelaksanaan

Salat witir dapat dilakukan sejak selesai salat Isya hingga terbitnya fajar. Yang lebih utama adalah menundanya hingga akhir malam jika seseorang yakin bisa bangun sebelum fajar. Namun, jika tidak yakin bisa bangun, maka lebih baik dikerjakan langsung setelah salat Isya.

Jumlah Rakaatnya Minimal: 1 rakaat, tetapi dimakruhkan terus-menerus hanya melakukannya 1 rakaat tanpa uzur. Tingkat kesempurnaan yang paling rendah: 3 rakaat. Tingkat kesempurnaan yang paling utama: 11 rakaat. Tata Cara Pelaksanaan

Salat witir dapat dilakukan dengan dua cara:

Shalat Witir dengan “Sambungan” (Waṣl)
Yaitu menyambung rakaat terakhir dengan rakaat sebelumnya, seperti salat Magrib. Dalam cara ini, seseorang boleh memilih antara:

Hanya satu tasyahhud di rakaat terakhir, atau Dua tasyahhud, satu di rakaat terakhir dan satu lagi di rakaat sebelumnya.

Shalat Witir dengan “Pemisahan” (Faṣl)
Yaitu memisahkan satu rakaat terakhir dari rakaat sebelumnya. Cara ini lebih utama, karena ada riwayat yang menyebutkan larangan menyerupakan salat witir dengan salat Magrib.

Bacaan dalam Salat Witir Rakaat pertama: Surah Al-A’la. Rakaat kedua: Surah Al-Kafirun. Rakaat ketiga: Surah Al-Ikhlas, Al-Falaq, dan An-Nas. Doa Setelah Witir

Setelah salat witir, disunnahkan membaca doa berikut:

“Subḥāna al-malik al-quddūs” (tiga kali). “Subbūḥun quddūs, rabbul-malāikati war-rūḥ. Jallaaltas-samāwāti wal-arḍa bil-‘aẓamati wal-jabarūt, wa ta’azzazta bil-qudrah, wa qaharta al-‘ibāda bil-mawt.” “Allāhumma innī a’ūdzu biridāka min sakhatika, wa bimu’āfātika min ‘uqūbatika, wa bika minka. Lā uḥṣī tsanā’an ‘alayka, anta kamā atsnayta ‘alā nafsik.” Membaca ayat: “Wa dzan-nūni idz dzahaba mughaḍiban faẓanna an lan naqdir ‘alayhi, fanādā fiẓ-ẓulumāti an lā ilāha illā anta subḥānaka innī kuntu minaẓ-ẓālimīn.” Mengulang: “Yā Ḥayyu yā Qayyūm, lā ilāha illā anta subḥānaka innī kuntu minaẓ-ẓālimīn” sebanyak 40 kali. Menutup dengan ayat: “Fastajabnā lahu wa najjaynāhu minal-ghammi, wa kadzālika nunjil-mu’minīn.”

Kategori
Uncategorized

WAFAT DIBULAN PUASA RAMADHAN APAKAH WAJIB ZAKAT

Assalamualaikum
Deskripsi masalah
Kematian merupakan sunnatullah yang mana pasti terjadi kepada setiap makhluk tak terkecuali manusia, dan jika Allah telah menetapkan ketentuan ajal berupa kematian maka ketika telah datang tidaklah akan maju dan mundur satu saat maka pasti akan mati sesuai dengan apa Yang Allah tentukan. Dalam waqiiyah seorang bernama Moh.Fadl lan ( bapak tikno) tepat pada Awal bulan puasa begitu juga seorang bernama Eko meningga diakhir bulan puasa dan Fatimahpun melahirkan anaknya dibulan puasa.

Pertanyaannya.

Apakah orang yang wafat/meninggal dan Fatimah yang melahirkan anaknya dibulan puasa wajib mengeluarkan zakat fitrah ?

Waalaikum salam.
Jawaban.
Orang yang meninggal dibulan ramadhan ataupun lahir dibulan ramadhan dan masih masuk 1 syawal maka wajib membayar zakat fitrah karena zakat tidaklah gugur karena sebab kematian begitu halnya dengan zakat mal, jika sudah sampai satu nisab.’

فقه المنهجى على مذهب الإمام الشافعى .ص١٥٠
الثاني- غروب شمس آخر يوم من رمضان: فمن مات بعد غروب ذلك اليوم، وجبت زكاة الفطر عنه، سواء مات بعد أن تمكن من إخراجها، أم مات قبله، بخلاف من ولد بعده. ومن مات قبل غروب شمسه لم تجب في حقه، بخلاف من ولد قبله

“Syarat kedua adalah terbenamnya matahari di akhir hari dari Ramadhan. Maka orang yang meninggal setelah terbenamnya matahari pada hari tersebut, maka wajib zakat fitrah atas dirinya. Baik ia meninggal setelah mampu untuk mengeluarkan zakat atau sebelum mampu. Berbeda hukumnya bagi bayi yang lahir setelah terbenamnya matahari. Sedangkan orang yang meninggal sebelum terbenamnya matahari (di hari akhir Ramadhan) maka tidak wajib zakat bagi dirinya, berbeda hukumnya bagi bayi yang lahir sebelum terbenamnya matahari”

نهاية الزين .ص١٧٤

الثاني: أن يدرك وقت وجوبها الذي هو آخر جزء من رمضان وأوّل جزء من شوال، فتخرج عمن مات بعد الغروب وعمن ولد قبله ولو بلحظة دون من مات قبله ودون من ولد بعده

“Syarat kedua, menemukan waktu wajibnya zakat fitrah, yakni akhir bagian dari Ramadhan dan awal bagian dari Syawal. Maka wajib dikeluarkan zakat atas orang yang meninggal setelah terbenamnya matahari (di hari akhir Ramadhan) dan atas bayi yang lahir sebelum terbenamnya matahari, meskipun dengan jarak yang sebentar. Tidak dikeluarkan zakat bagi orang yang mati sebelum terbenamnya matahari (di hari akhir Ramadhan) dan bayi yang lahir setelah terbenamnya matahari”
Maka bagi orang yang tidak menemui salah satu dari dua masa tersebut, misalnya seperti orang yang meninggal di bulan Ramadhan, atau bayi yang lahir pada malam takbir (malam Idul Fitri) maka tidak wajib bagi mereka zakat fitrah.

[النووي، المجموع شرح المهذب، ٢٣١/٦]
وَمَنْ وَجَبَتْ عليه الزكاة وتمكن من ادائها فلم يفعل حتي مات وجب قضاء ذلك من تركته لانه حق مال لزمه في حال الحياة فلم يسقط بالموت كدين الآدمى فان اجتمع الزكاة ودين الآدمى ولم يتسع المال للجميع ففيه ثلاثة أقوال (احدها) يقدم دين الآدمى لان مبناه علي التشديد والتأكيد وحق الله تعالى مبني علي التخفيف ولهذا لو وجب عليه قتل قصاص وقتل ردة قدم قتل القصاص
(والثانى)
تقدم الزكاة لقوله صلي الله عليه وسلم في الحج ” فدين الله احق ان يقضي ” (والثالث) يقسم بينهما لانهما تساويا في الوجوب فتساويا في القضاء}

فقه الزكاة للشيخ الدكتور يوسف القرضاوي. الجزء الثاني

هل تسقط الزكاة بالموت؟
ذهب جمهور الفقهاء إلى أن الزكاة لا تسقط بموت رب المال، بل تخرج من تركته، وإن لم يوص بها. هذا قول عطاء والحسن والزهري وقتادة ومالك (في كتب المالكية: أن الزكاة: تارة تخرج من رأس المال، وتارة تخرج من الثلث، أي من تركة الميت، فإن أوصى بها فمن الثلث، وإن اعترف بحلولها وأوصى بإخراجها فمن رأس المال. (حاشية الدسوقي: 1/502)، وفي شرح الرسالة لزروق: 2/172 في زكاة عامة يموت قبل التمكن من إخراجها فإنها من رأس ماله لتعينها، وانظر بداية المجتهد: 1/241- طبع الاستقامة)، والشافعي (قال النووي: إذا وجبت الزكاة وتمكن من أدائها ثم مات لم تسقط بموته عندنا، بل يجب إخراجها من ماله عندنا. انظر المجموع: 5/335).
وأحمد وإسحاق وأبي ثور وابن المنذر (المغني: 2/683-684)، وهو مذهب الزيدية (الأزهار وشرحه: 1/463، والبحر: 2/144).
وقال الأوزاعي والليث: تؤخذ من الثلث مقدمة على الوصايا، ولا يجاوز الثلث.
وقال ابن سيرين والشعبي والنخغي وحماد بن سليمان والثوري وغيرهم: لا تخرج إلا أن يكون أوصى بها، وكذلك قال أبو حنيفة وأصحابه: أنها تسقط بموت المكلف، إلا أن يوصي بها، وتخرج من الثلث، ويزاحم بها أصحاب الوصايا، وإذا لم يوص بها سقطت، ولا يلزم الورثة إخراجها، وإن أخرجوها فصدقة تطوع؛ لأنها عبادة من شرطها النية، فسقطت بموت من هي عليه كالصلاة والصوم (هذا قول أبي حنيفة في زكاة الذهب والفضة. أما الزرع والماشية فقد اختلفت عنه الرواية فيهما: أتسقط أم تؤخذ بعد موته؟ انظر المحلي: 6/88-89، والمجموع: 5/335-336).
ومعنى هذا: أن الحنفية يقولون: مات آثمًا بترك هذه الفريضة، ولا سبيل إلى إسقاطها عنه بعد موته كتارك الصلاة والصيام، ولهذا قال بعض الحنفية: إذا أخَّر الزكاة حتى مرض يؤدي سرًا من الورثة (ذكره في رد المحتار: ٢/١٤ نقلاً عن الفتح )
والصحيح هو القول الأول، فإن الزكاة -كما قال ابن قدامة- حق واجب تصح الوصية به، فلم تسقط بالموت كدين الآدمي، ولأنها حق مالي واجب، فلم يسقط بموت من هو عليه كالدين، وتفارق الصوم والصلاة، فإنهما عبادتان بدنيتان، لا تصح الوصية بهما، ولا النيابة فيهما (المغني لابن قدامة: 2/683-684، والمجموع: 5/336).
على أنه قد ورد في الصحيح: (من مات وعليه صيام صام عنه وليه) مع أن الصيام عبادة بدنية شخصية، وجازت فيه النيابة بعد الموت، فضلاً من الله ورحمة، فأولى بذلك الزكاة، وهي حق مالي كما قدمنا.
منزلة دين الزكاة من سائر الديون
قال صاحب “المهذب” من الشافعية (المجموع: 6/231)، ومن وجبت عليه الزكاة، وتمكن من أدائها فلم يفعل حتى مات، وجب قضاء ذلك من تركته؛ لأنه حق مالي لزمه في حال الحياة، فلم يسقط بالموت كدين الآدمي، فإن اجتمعت الزكاة ودين الآدمي ولم يتسع المال للجميع، ففيه ثلاثة أقوال:
أحدهما: يُقدم دين الآدمي؛ لأن مبناه على التشديد والتأكيد، وحق الله تعالى مبني على التخفيف.
والثاني: تُقدم الزكاة؛ لقوله -صلى الله عليه وسلم- في الحج: (فدين الله أحق أن يُقضى) (الحديث في الصحيحين من رواية ابن عباس -رضي الله عنهما- في الصوم. المصدر السابق).
الثالث: يقسم بينهما؛ لأنهما تساويا في الوجوب فتساويا في القضاء.
والقول بتقديم الزكاة على غيرها من ديون العباد هو قول الظاهرية، وقد نصره أبو محمد ابن حزم، وعضده بالأدلة من الكتاب والسنة الصحيحة، قال: فلو مات الذي وجبت عليه الزكاة سنة أو سنتين، فإنها من رأس ماله، أقرّبها، أو قامت عليه بينة، ورثه ولده أو كلالة (الكلالة: من ورثه غير ولده ووالده). لا حق للغرماء ولا للوصية ولا للورثة، حتى تستوفي (يعني الزكاة) كلها سواء في ذلك: العين والماشية والزرع..
وناقش ابن حزم الحنفية وغيرهم ممن أسقطوا الزكاة بموت رب المال، ونسب إليهم غاية الخطأ؛ لأنهم أسقطوا – بموت المرء – دينًا لله تعالى وجب عليه في حياته، بلا برهان أكثر من أن قالوا: لو كان ذلك لما شاء إنسان أن لا يورث ورثته شيئًا إلا أمكنه.قال: فما تقولون في إنسان أكثر من إتلاف أموال الناس ليكون ذلك دينًا عليه ولا يرث ورثته شيئًا، ولو أنها ديون يهودي أو نصراني في خمور أهرقها لهم؟ فمن قولهم: أنها كلها من رأس ماله سواء ورث ورثته أم لم يرثوا، فنقضوا علتهم بأوحش نقض، وأسقطوا حق الله -تعالى- الذي جعله للفقراء والمساكين من المسلمين والغارمين منهم، وفي الرقاب منهم، وفي سبيله تعالى، وابن السبيل فريضة من الله تعالى – وأوجبوا ديون الآدميين، وأطعموا الورثة الحرام.والعجب كله من إيجابهم الصلاة بعد خروج وقتها على العامد لتركها، وإسقاطهم الزكاة -ووقتها قائم- عن المتعمد لتركها !!
قال أبو محمد: ويبين صحة قولنا وبطلان قول المخالفين قول الله -عزَّ وجلَّ- في المواريث: (من بعدِ وصيَّةٍ يُوصى بها أو دين) (النساء: 11)، فعم -عز وجل- الديون كلها، والزكاة دين قائم لله -تعالى-، وللمساكين والفقراء والغارمين، وسائر من فرضها تعالى لهم في نص القرآن.
ثم روى ابن حزم بإسناده الحديث الذي أخرجه مسلم في صحيحه ورواه سعيد بن جبير ومجاهد وعطاء عن ابن عباس قال: جاء رجل إلى النبي -صلى الله عليه وسلم- فقال: إن أمي ماتت وعليها صوم شهر، أفأقضيه عنها؟ فقال: (لو كان على أمك دين، أكنت قاضيه عنها)؟ قال: نعم. قال: (فدين الله أحق أن يُقضى).
وفي رواية عن ابن عباس – من طريق ابن جبير – أنه -عليه السلام- قال: (فاقضوا الله فهو أحق بالوفاء).
قال: فهؤلاء عطاء وسعيد بن جبير ومجاهد يروونه عن ابن عباس، فقال هؤلاء بآرائهم: بل دين الله -تعالى- ساقط، ودين الناس أحق أن يُقضى! والناس أحق بالوفاء”!! اهـ (المحلي: 6/89-91).وإذا غضضنا الطرف عن عنف ابن حزم في الهجوم، وأسلوبه في مناقشة الخصوم (بعض الناس يرى إسقاط الاستفادة من ابن حزم نهائيًا من أجل عنفه وطريقته في مهاجمة المذاهب وأتباعها، ونحن – وإن كنا ننكر ذلك على ابن حزم – نرى الانتفاع بما يورده من أفكار واعتبارات، فلنا فقهه، وعليه عنفه، ولكل امرئ ما نوى، وحسابه على الله، وكل واحد يؤخذ من كلامه ويُترك إلا النبي صلى الله عليه وسلم)، والتفتنا فقط إلى ما استدل به من القرآن والحديث، فالذي يتأكد لنا أن الزكاة حق أصيل ثابت، لا يسقطه تقادم ولا موت، وأنها تؤخذ من التركة وتُقدَّم على كل حق وكل دين سواها، وبذلك يكون الإسلام قد سبق التشريعات المالية الحديثة التي قررت للحكومة حق امتياز على أموال المدينين بالضريبة، تسبق به غيرها من دائني الممول المتأخر عن السداد (مبادئ النظرية العامة للضريبة للدكتور عبد الحكيم الرفاعي، وحسين خلاف ص143).

Apakah zakat gugur karena sebab kematian?
Mayoritas ulama fiqh berpendapat bahwa zakat tidak gugur dengan sebab kematian pemilik hartanya, melainkan harus dkeluarkan dari hartanya, meskipun tidak ada wasiat . Inilah perkataan Ataa, al-Hasan, al-Zuhri, Qatadah dan Malik (dalam kitab-kitab Maliki: bahwa zakat: terkadang dikeluarkan dari Ra’sul maal,( mudal harta) dan terkadang dikeluarkan sepertiga, yaitu dari harta òrang yang mati. 1/502), Dan jika diketahui dengan kehalalannya dan berwasiat dengan mengeluarkannya maka dari modalnya harta .( Hasyiah ad-Dasuki : 2/172)
Dan disebutkan dalam kitab Syarah ar-Risalah LiZaruuq Dalam zakat umum, dia meninggal sebelum mampu /memungkinkan untuk membayarnya, yang berasal dari modalnya karena menentukantunya, dan lihat kitab ( Bidayatul mujtahid: 1 /241 – pencetakan istiqoomah), dan Al-Shafi’i (Menurut Al-Nawawi dia berkata: Jika seseorang memungkinkan untuk mengeluarkan zakat kemudian meninggal maka zakat wajib baginya dan menurut kami zakat tidaklah gugur dengan sebab kematian( meninggal) bahkan wajib dikeluarkan dari harta peninggalannya ( Al-Majmu’: 5/335).
Dan Ahmad, Ishaq, Abu Thawr, dan Ibn Al-Mundhir (Al-Mughni: 2/683-684), yang merupakan mazhab Zaidi (Al-Azhar dan penjelasannya: 1/463, Al-Bahr: 2/ 144).
Al-Awza’i dan Al-Layth berkata: Harta yang wajib dikeluarkan Itu diambil dari sepertiga dari wasiat, dan tidak melebihi sepertiga.
Ibnu Sirin, Al-Sha’bi, Al-Nakhghi, Hammad bin Sulaiman, Al-Thawri dan lain-lain berkata: Jangan dikeluarkan kecuali dia mewasiatkannya, dan demikian pula Abu Hanifah dan para sahabatnya berkata: zakat itu gugur dengan kematian, kecuali berwasiat dan dikeluarkan dari se⅓, dan sedangkan pemilik wasiat bersaing dengannya, dan jika tidak ada wasiat, maka gugurlah zakat dan ahli warisnya tidak wajib mengeluarkannya/membayarnya, dan jika mereka terpaksa mengeluarkan zakat (memberikannya) maka itu adalah sedekah sunnat. Karena itu adalah ibadah yang disyaratkannya adanya niat, dan gugur dengan sebab kematian orang yang mewajibkannya ( menqodho’nya),adalah seperti shalat dan puasa (inilah yang dikatakan Abu Hanifah tentang zakat emas dan perak. Adapun tanaman dan ternak, riwayatnya berbeda diantara keduanya: Apakah itu gugur atau diambil setelah kematiannya? Lihat al-Mahalliy: 6/88-89, dan al-Majmu’: 5 /335-336).Adapun pengertian ini adalah Bahwa madzhab Hanafiyah berkata: Dia mati sebagai orang berdosa karena meninggalkan kewajiban ini, dan tidak ada cara untuk meninggalkannya setelah kematiannya seperti orang yang meninggalkan shalat dan puasa, dan karena itu sebagian Hanafi berkata: Jika dia menunda zakat sampai dia sakit, dia melakukannya secara sembunyi-sembunyi dari ahli waris (disebutkan olehnya dalam Radd Al-Muhtar: 2/14, mengutip Al-Fath)
Adapun pendapat yang benar adalah pendapat yang pertama, karena zakat – sebagaimana dikatakan oleh Ibn Qudamah –bahwa zakat adalah hak yang wajib dengannya wasiat itu sah, dan tidaklah gugur zakat dengan sebab kematian sebagaimana hutangnya anak Cucu Adam, alasannya karena itu adalah hak yang bersifat harta yang wajib maka tidaklah gugur dengan kematian orang yang wajib membayar hutangnya, berbeda dengan puasa dan shalat sesungguhnya keduanya adalah ibadah badaniyah oleh karenanya tidak sah wasiat dengan keduanya (Al-Mughni oleh Ibn Qudamah: 2/683-684, dan al-Majmu’: 5/336).
Namun, telah disebutkan dalam hadits Sahih: Barangsiapa meninggal dan berutang puasa,maka wajib atas walinya menqodho’nya (berpuasa atas namanya), meskipun puasa adalah ibadah yang bangsa tubuh pribadi, dan diperbolehkan mengambil bagian di dalamnya setelah kematian,karena semata pemberian dari Allah dan rahmat, maka adapun yang utama dia harus membayar zakat atasnya, dan itu adalah hak harta seperti yang telah kami sajikan.
Status hutang zakat dari semua hutang lainnya
Penulis “Al-Muhadhd” dari Syafi’i mengatakan (Al-Majmu’: 6/231), dan barang siapa yang wajib membayar zakat, dan dia mampu untuk membayarnya sementara dia tidak melakukannya sampai dia meninggal, maka ia harus dikeluarkan dari harta miliknya; Karena itu adalah hak finansial yang wajib dalam keadaan hidup, dan tidak gugur dengan sebab kematian, seperti hutang kepada manusia .
Adapun jika zakat dan hutang kepada manusia berkumpul sementara hartanya tidak meluas/mencukupi untuk semuanya, maka dalam hal ini ada tiga pendapat:
1️⃣ Wajib didahulukan hutang kepada manusia alasannya Karena hal itu didasarkan pada kekuatan dan penekanan sedangkan hak Allah adalah didasarkan pada keringanan.
2️⃣: Zakat harus didahulukan berdasarkan hadits sabdanya – ﷺ shallallahu alaihi wasallam didalam haji: (Hutang Allah lebih berhak untuk dilunasi) (hadits dalam dua Shahihaini dari riwayat Ibnu Abbas -ra – tentang puasa .Sumber sebelumnya).
3️⃣: membagi di antara keduanya; Karena keduanya sama -sama wajib di adili/diputuskan.

Adapun satu pendapat bahwa zakat harus didahulukan daripada hutang hamba ini adalah perkataan yang nyata, dan Abu Muhammad bin Hazm mendukungnya, dengan dalil-dalil dari Al-Qur’an dan Sunnah yang shahih dia berkata: barang siapa yang meninggal sementara dia punya kewajiban zakat untuk dibayarnya maka haruslah dikeluarkan dari modal hartanya atau yang lebih dekat menegakkan adalah putranya dan ayahnya). Tidak ada hak bagi yang berhutang, memiliki wasiat, atau bagi ahli waris, sampai mereka membayar (maksudnya zakat) semuanya sama saja dalam hal itu berupa zakat ain, ternak, dan tanaman.
Ibn Hazm membahas mazhab Hanafi dan lainnya dari sebagian orang yang mengugurkan zakat dengan sebab kematian pemilik harta dan menghubungkan mereka dengan kesalahan yang paling besar; Karena mereka gugur – dengan kematian seseorang yang punya- hutang kepada Allah Yang Maha Tinggi yang wajib atas dirinya selama hidupnya, dengan tidak ada bukti lebih dari mereka berkata: Jika itu terjadi, seseorang tidak ingin ahli warisnya tidak mewariskan sesuatu kepada ahli warisnya kecuali ia mampu.
Dia berkata: Jadi apa yang kamu katakan tentang seseorang lebih dari membuang-buang harta orang sehingga menjadi hutang padanya dan ahli warisnya tidak mewarisi apa-apa, bahkan jika itu adalah hutang seorang Yahudi atau Nasrani dalam anggur yang dia tumpahkan untuknya mereka? Dari perkataan mereka: Itu semua dari modalnya, baik ahli warisnya mewarisi atau tidak, maka mereka mencabut perjuangan mereka dengan pembalikan yang paling ditakutkan dan mereka menggunakan hak Allah Yang Maha Tinggi yang kemudian menjadikannya untuk fakir miskin dan orang-orang yang membutuhkan. Kaum Muslimin dan orang-orang yang berhutang di antara mereka, dan di budak mereka, dan demi mereka, dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan adalah kewajiban dari Allah SWT – Dan mereka mewajibkan hutang kepada manusia, dan mereka memberi makan ahli waris yang terlarang.
Adapun yang aneh adalah semuanya dari kewajiban mereka sebagaimana shalat wajib pada mereka setelah waktunya berakhir bagi orang yang berniat meninggalkannya, atas unsur kesengajaan dan mereka mengugurkan zakat – sedangka waktunya zakat untuk dilaksanakan sedang dia meninggalkannya dengan sengaja.

Abu Muhammad berkata: menjelaskan kebenaran ucapan kami dan ketidakabsahan ucapan para pembeda, firman Allah – Yang Maha Agung – tentang warisan: “Setelah wasiat atau hutang” (An-Nisa’: 11) , maka semua hutang, dan zakat adalah hutang yang ditegakkan karena Allah SWT. Dan untuk orang-orang yang fakir miskin, debitur, dan selebihnya yang telah diwajibkan oleh Allah Yang Maha Tinggi atas mereka dalam teks Al-Qur’an.
Kemudian Ibn Hazm meriwayatkan dengan rantai transmisinya hadits yang diriwayatkan Muslim termasuk dalam Sahihnya dan diriwayatkan oleh Said bin Jubayr, Mujahid dan Ataa dari Ibn Abbas, dia berkata: Seorang pria datang kepada Nabi ﷺ shallallahu alaihi wasallam – dan berkata: Ibuku meninggal dan dia berutang satu bulan, jadi haruskah saya menggantinya atas namanya? Dia berkata: (Jika ibumu berutang, apakah kamu akan menghakiminya atas namanya)? Dia berkata: Ya. Dia berkata: (Hutang Allah lebih layak dilunasi).
Dan dalam sebuah riwayat dari Ibnu Abbas – melalui Ibnu Jubayr – bahwa dia -Rasulullah ﷺ shallallahu alaihi wasallam sersabda : (Maka Penuhilah hak kepada Allah, karena Dia lebih berhak untuk dipenuhi).
Dia berkata: Ini adalah Ataa, Said bin Jubayr dan Mujahid yang meriwayatkan dari Ibn Abbas, sehingga mereka berkata dengan pendapat mereka: Sebaliknya, Hutang Allah Yang Maha Tinggi telah menjadi gugur, sedangkan hutang kepada manusia lebih banyak dan layak untuk diselesaikan/ dilunasi! Karena manusia lebih berhak untuk dipenuhi!!” (Al-Mahali: 6/89-91).