logo mubaa
Logo Ittihad

DEWAN PIMPINAN PUSAT
IKATAN ALUMNI BATA-BATA

Kategori
Uncategorized

BATASAN PANJANGNYA LAFDHUL JALALAH KETIKA DIBACA DALAM TAKBIRATUL IHRAM

Assalamualaikum
Deskripsi masalah.
Ketika saya shalat berjamaah terkadang imamnya was-was mengucapkan takbir lafdhul jalalahnya berulang-ulang bahkan terkadang saya dengar kalimat Lafdhul Jalalahnya الله أكبر dibaca satu Alif dan terkadang sedang bahkan terkadang melebihi satu Alif .

Pertanyaannya.
Bagaimana hukumnya membaca lafdhul jalalah pada kalimat takbiratul ihram dalam sholat melebihi batas satu Alif dua harkat kaitannya dengan sahnya sebagaimana dalam kasus diatas.

Walaikum salam.
Jawaban kalau dalam kaidah ilmu tajwid hukumnya dibaca mad yang panjangnya adalah satu Alif dua harkat, maka ketika menambah panjangnya Alif dapat memodloratkan namun demikian jika menambah panjangnya satu Alif yang ada diantaranya huruf lam dan ha’ sampai melebihi batas tidak ada satupun para ulama’ ahli Qurro’ yang mengatakan. Akan tetapi Ali Syiramalisy: ( ع ش)14 Nûr ad-Dîn Abû Dliyâ’‘Ali bin ‘Ali ( 997 – 1087 .H. Memberikan batasan perkiraan puncak panjangnya yang mengutip dari ulama’ sebagai mana Ibnu Hajar telah menukil yaitu 7 Alif dan dikira-kira setiap satu Alif adalah dua harokat taqriban. Artinya jika mengikuti apa yang dikutip oleh ibnu Hajar boleh membaca satu Alif dua harokat sampai batas tujuh alif.Akan tetapi jika sampai melebihi batas 7 tujuh alif dengan unsur kesengajaan maka shalatnya batal ( lihat keterangan berikut dalam kitab Kasyifatussaja)

[البكري الدمياطي ,إعانة الطالبين على حل ألفاظ فتح المعين ,١/١٥٦]

(قوله: وكذا زيادة مد الخ)

أي وكذا يضر زيادة مد الألف الكائنة بين اللام والهاء إلى حد لا يقول به أحد من القراء.
قال ع ش: وغاية مقدار ما نقل عنهم – على ما نقله ابن حجر – سبع ألفات، وتقدر كل ألف بحركتين، وهو على التقريب. اه

كاشفة السجا على شرح سفينة النجا فى فصل شروط التحرم

( فرع )

قال الباجوري ويسن أن لا يقصر التكبير بحيث لا يفهم ولا يمططه بأن يبالغ في] مده بل يتوسط
وقال الشبراملسي ويستحب أن يمد التكبير ويشترط أن لا يمد فوق سبع ألفات وإلابطلت إن علم وتعمد وتقدر كل ألف بحركتين وهو على التقريب ويعتبر ذلك بتحريك الأصابع متوالية مقارنة للنطق بالمد

[SATU CABANG]
Al-Bajuri mengatakan, “Disunahkan tidak terlalu membaca qoshor (pendek) takbiratul ihram sekiranya sampai tidak bisa dipahami, dan tidak terlalu membaca mad (panjang). Melainkan sebaiknya dibaca sedang.”

Syibromalisi berkata, “Disunahkan membaca mad (panjang ) pada takbiratul ihram. Disyaratkan panjang mad dalam takbiratul ihram tidak melebihi dari 7 alif. Jika sampai melebihinya maka sholatnya batal jika memang musholli tahu dan sengaja. Satu alif dikira-kirakan sepanjang dua harakat. Sedangkan dua harokat ini dikira-kirakan sepanjang menggerakkan dua jari-jari secara berturut-turut disertai dengan mengucapkan .

Kesimpulannya bahwa batasan minimalnya panjangnya membaca lafdhul jalalah ketika membuka sholat dengan takbiratul ihrom adalah satu Alif dua harakat taqriban sedangkan maksimalnya adalah tujuh alif menurut Syiromulisy.Akan tetapi jika sampai melebihi 7 Alif maka shalatnya batal. Oleh karenanya sunnah sedang-sedang saja karena sebaik-baik perkara adalah tengah-tengah antara 1 Alif dan 7 Alif

والله أعلم بالصواب

Kategori
Uncategorized

HUKUMNYA DAGING YANG LANGSUNG DIGILING TANPA DISUCIKAN TERLEBIH DAHULU

Assalamualaikum pak kyai.

Deskripsi masalah.

Saya dengan Dwi di Banten dan saya dapat nomer dari YouTube sebelum saya mau memberi tau kalo saya juga pengidap was was

Kornologinya begini, saya seorang pedagang bakso dan menggiling bakso di tempat penggilingan umum, sementara daging yang saya giling tidak di sucikan terlebih dahulu, sedangkan daging tersebut terkadang kena air es dikarenakan daging itu terkadang di taro di frezer trus mencair sehingga mencairnya sampai warna airnya jadi merah itu mungkin dikarenakan adanya darah yg masih nempel di daging atau ditulang, dan saya yakin 100% bahwa ditempat penggilingan yg biasa saya giling tidak ada daging yg haram seperti babi.
Adapun Yg saya was was kan adalah takut najis bakso saya.
Dan juga kadang tukang gilingnya ngawur kadang potongan daging jatuh ke lantai langsung di ambil gak di cuci tapi lantainya sepertinya gak ada najis juga sih pak

Pertanyaannya.

Bagaimana hukum daging yang saya giling najiskah atau cuci ? karena daging tersebut tidak di cucikan terlebih dahulu langsung di giling dan kadang daging kena air es karena di taro di frezer trus mencair sehingga cairannya merah atau mungkin ada darah yg masih nempel di daging sebagaimana deskripsi

Tolong beri saya jawaban pak kalo ini najis dan haram bila ada pendapat lain dari ulama yg bisa memudahkan saya biar halal mohon solusinya ustad

Waalaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh..

JAWABAN :

Selama daging hewan yang disembelih setelah dipecah-pesah bersama tulangnya belum menyentuh air maka hukumnya najis yang dima’fu dan halal boleh memakannya karena darah yg melekat di daging dan tulang di ma’fu akan tetapi jika sudah terkena air ataupun es maka hukumnya najis Artinya sudah tidak dimakfu lagi .
Adapun solusinya harus disucikan dengan air sebagaimana biasanya atau mengikuti pendapat Imam Nawawi dan as-Subki yang menyatakan suci.

كاشفة السجا على سفينة النجا..ص..٤٣
أَنَّهُ يُعْفٰى عَنِ الدَّمِ الَّذِى عَلَى اللَّحْمِ إِذَا لَمْ يَخْتَلِطْ بِمَاءٍ وَإِلاَّ فَلاَ يُعْفٰى عَنْه وإلا فلا يعفى..اى وإذا كان اللحم يختلط بماء فلا يعفى

Kalau kenyataannya daging tidak bercampur dengan air maka menurut pemahaman ibarat diatas hukumnya najis yang dima’fu . Akan tetapi sebaliknya jika kenyataannya daging yang ada darahnya tersebut telah bercampur air maka dihukumi najis yang tidak di ma’fu (tidak diampuni), namun dikatakan dalam sebagian ulama yaitu menurut Imam an-Nawaawi serta as-Subky dihukumi SUCI.

وأما الدم الباقي على اللحم وعظامه وعروقه من المذكاة فنجس معفو عنه وذلك إذا لم يختلط بشيء كما لو ذبحت شاة وقطع لحمها فبقي عليه أثر من الدم وإن تلون المرق بلونه بخلاف ما لو اختلط بغيره كالماء كما يفعل في البقر الذي تذبح في المحل المعد لذبحها من صب الماء عليها لإزالة الدم عنها فإن الباقي من الدم على اللحم بعد صب الماء عليه لا يعفى عنه وإن قل لاختلاطه بأجنبي ولو شك في الاختلاط وعدمه لم يضر لأن الأصل الطهارة


Sedang darah yang terdapat pada daging, tulang, urat dari hewan yang disembelih maka hukumnya najis yang dima’fu bila tidak tercampuri sesuatu, seperti bila seekor kambing disembelih, dagingnya dipotong-potong dan ternyata masih tersisa bekas darahnya meskipun air kuah masih berwarna merah karenanya. Oleh karenanya berbeda saat tercampuri perkara lainnya seperti air seperti seekor sapi yang disembelih ditempat yang telah dipersiapkan yang disirami air agar menghilangkan darahnya, maka bila masih tersisa darah pada daging setelah penyiraman air tersebut darahnya tidak dima’fu (harus dicucikan sebelum memasaknya) meskipun hanya sedikit karena telah bercampur dengan hal lain. Adapun bila diragukan tercampur dengan hal lain dan tidaknya maka tidak bahaya karena kaidah asalnya adalah suci. [ Nihaayah az-Zain I/40 ].


( قوله حتى ما بقي على نحو عظم ) أي حتى الدم الباقي على نحو عظم فإنه نجس وقيل إنه طاهر وهو قضية كلام النووي في المجموع وجرى عليه السبكي


(Hingga darah yang tersisa pada semacam tulang) artinya darah yang tersisa pada semacam tulang hewan yang disembelih dihukumi najis, namun dikatakan menurut pendapat ulama “sesungguhnya ia suci” dan inilah keputusan pernyataan an-Nawawy dalam kitab al-Majmu’ dan yang dijalani oleh as-Subky. [ I’aanah at-Thoolibiin I/83 ].
Pertanyaannya, apa alasannya darah tadi kok di-ma’fu ?? dan istinbatnya apa ? Jawabnya baca ibaroh berikut :


ويدل له من السنة قول عائشة رضي الله عنها كنا نطبخ البرمة على عهد رسول الله صلى الله عليه وسلم تعلوها الصفرة من الدم فيأكل ولا ينكره والمعتمد الأول لأنه دم مسفوح ولا ينافيه ما تقدم من السنة لأنه محمول على العفو عنه ومعلوم أن العفو لا ينافي النجاسة.

Kesimpulan Daging hewan yang halal dimakan setelah disembelih dan dipecah-pecah selama dagingnya tidak menyentuh air atau pun air es ataupun ragu apakah daging itu telah bercampur air ataupun tidak maka hukumnya najis namun dima’fu boleh dimakan dan halal selama tempat yang ditempati daging suci atau tidak nampak bahwa tempat tersebut ada najisnya tetapi jika Tempat tersebut nampak ada najis maka dagingpun menjadi najis, karena barang yang najis yang disentuh dalam keadaan basah maka barang yang suci akan ikut najis kecuali sama- sana kering maka suci.

Akan tetapi menurut Nawawi dan as-Subki Hukumnya suci walaupun telah bercampur dengan air selama ditempat tersebut suci namun jika yang ditempati nampanya ada najis maka dagingpun menjadi najis disebabkan menyentuh barang yang najis, berbeda jika Tempat tersebut kotor karena antara kotor dan najis sedikit berbeda , jika Tempat itu najis pasti kotor tetapi jika hanya kotor belum tentu najis seperti halnya pakaian dan lantai yang terkena debu, itu bisa dikatakan kotor tetapi hukumnya suci manakala tidak nampak barang yang najis

كتاب التخبير شرح التحرير المكتبة الشامة ص٣٧٩١

  نحن نحكم بالظواهر والله يتولى السرائر 

 “Kami menghukumi dengan sesuatu yang dhahir (lahiriah), dan Allah yang menangani seluruh yang tersembunyi (samar).”

Najis yang didapat baik dengan sengaja maupun tidak, pada akhirnya tetap harus dihilangkan. Najis adalah suatu hal yang sangat harus dihindari. Setidaknya karena dua alasan: makanan dan shalat. Makanan yang terkena najis menjadi haram dikonsumsi, dan shalat tidak sah jika terdapat najis pada badan, pakaian, atau tempat shalat.     Syekh Zainuddin Al-Malibari dalam Fathul Mu’in menjelaskan hukum menghindari najis, beliau menyampaikan:

  ولا يجب اجتناب النجس في غير الصلاة، ومحله في غير التضمخ به في بدن أو ثوب فهو حرام بلا حاجة

  Artinya, “Tidak wajib menghindari najis pada selain shalat. Kecuali sengaja menyentuhkan badan atau pakaian dengan najis, maka haram jika dilakukan tanpa ada tujuan yang dilegalkan syariat” (Zainuddin al-Malibari, Fathul Mu’in, [Beirut: Dar Ibn Hazm], halaman 79). Namun najis yang didapat baik dengan sengaja maupun tidak sengaja pada akhirnya tetap harus dihilangkan. Karena itulah seorang muslim lebih memilih menghindarinya. Sesuatu yang terkena najis statusnya dalam fiqih disebut mutanajjis, atau barang yang terdampak najis—secara umum di masyarakat tetap dise​but dengan istilah najis saja​​​​​​—. Misalnya pakaian yang terkena darah, pakaian tersebut menjadi mutanajjis sebab dihinggapi najis berupa darah.    Namun, tidak semua persentuhan dengan najis dapat mengakibatkan sesuatu menjadi mutanajjis. Imam As-Suyuthi dalam Al-Asybah wan Nazha’ir mengutip kaidah dari Imam al-Qamuli sebagai berikut:

    النجس إذا لاقى شيئا طاهرا وهما جافان لا ينجسه  


  Artinya, “Ketika najis bertemu dengan sesuatu yang suci dalam keadaan keduanya kering, maka najis tersebut tidak memberi dampak pada sesuatu yang terkena olehnya.” (As-Suyuthi, Al-Asybah wan Nazha’ir, [Beirut Darul kutub Al-‘Ilmiyyah: 1990], 432).

Berdasarkan kaidah di atas dapat diketahui bahwa jika najis dan sesuatu yang bersentuhan dengannya sama-sama dalam keadaan kering, maka sesuatu tersebut tidak menjadi mutanajjis, akan tetapi sebaliknya jika salah satu diantara keduanya basah maka akan menjadi najis.Oleh karena jika daging yang menyentuh lantai yang diyakini najis maka dagingngpun ikut najis kecuali tidak diyakini najis maka hukumnya suci sebagaimana Kaidah tersebut diatas. Wallahu A’lam bisshowab .

Kategori
Uncategorized

MENJAMAK SHALAT KARENA ADA HAJAT ( KEPERLUAN)

MENJAMAK SHALAT KARENA ADA HAJAT(KEPERLUAN)

Assalamualaikum warahmatullahi wa barakaatuh…

Izin bertanya:
Deskripsi masalah:

Ditempat saya sekarang sudah musim padi mulai tumbuh atau nampak (bahasa Kalsel: meuray) buahnya. Karena sudah nampak buahnya -padahal belum matang/siap dipanen- maka burung Manyar (mirip Pipit) siap memakan padinya, terpaksa ditunggu dan dipasang alat untuk memburu atau menjaga padinya.

Dan karena sibuk mengurus itu lalu terlewatkan waktu sholat pun bisa terlewati, karena bila lengah sedikit saja sudah habis padinya, belum matang saja sudah di makannya, jangan harap memanennya kalau tidak dirawat dan di jaga.

Kalau hari Jum’at yang agak susah, terpaksa tenaga isteri atau perempuan yang membantu menjaga nya juga untuk bergantian. Tapi tidak semua sehat para isteri untuk membantu, bahkan ada yg hidup sendiri misalnya, terpaksa mungkin bisa ketinggalan Jum’at.

Yang jam istirahat burungnya cuma malam saja, bahkan subuh sudah ada burungnya.

Lalu yang jadi pertanyaan:

1. Boleh kah shalat yang lima waktu  keculi subuh di jamak baik takdim atau ta’khir…?

2. Apakah boleh diganti sholat Jum’at dgn Zuhur dan jamak dengan ashar…?

Note: yang mengganti Jumat dgn Zuhur untuk para petani maksudnya.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wa barakaatuh

Waalaikum salam.

Jawaban.No.1
Shalat adalah kewajiban bagi setiap orang muslim, kapanpun dan dimanapun. Artinya kewajiban shalat tidak tergoyahkan oleh ruang dan waktu. Namun, dalam realita kehidupan manusia, seringkali keadaan berbicara lain.

Bisa saja kondisi tidak mengizinkan seseorang menjalankan shalat secara sempurna, misalkan karena orang tersebut di dalam perjalanan, atau di atas perahu atau di ruang angkasa berjam-jam.

Oleh karena itulah dalam fiqih mengajarkan jamak shalat. Yaitu melaksanakan dua macam shalat yang berbeda dalam satu waktu, karena adanya satu alasan tertentu. Meski demikian para ulama fiqih berbeda pendapat mengenai alasan diperbolehkannya jamak shalat.

Sebagian ulama fiqih hanya membolehkan jamak shalat ketika seseorang dalam keadaan bepergian jauh (musafir).

Namun sebagian ulama yang lain seperti Ibnu Sirrin, al-Qaffal dan Abu Ishaq al-Marwazy membolehkan menjamak shalat walaupun ada di rumah dikarenakan keadaan yang amat sangat sibuknya dan jamak ini tidak menjadi kebiasaan. Artinya tidak di lakukan terus menerus, hanya sesekali saja
Misalnya jamak shalat bagi pengantin baru yang sedang  menjalani walimatul arusy dan selalu menerima tamu. Begitu diterangkan dalam Syarah Muslim lin Nawawi.

[النووي، شرح النووي على مسلم، ٢١٩/٥]

وَذَهَبَ جَمَاعَةٌ مِنَ الْأَئِمَّةِ إِلَى جَوَازِ الْجَمْعِ فِي الْحَضَرِ لِلْحَاجَةِ لِمَنْ لا يتخذه عادة وهو قول بن سِيرِينَ وَأَشْهَبَ مِنْ أَصْحَابِ مَالِكٍ وَحَكَاهُ الْخَطَّابِيُّ عَنِ الْقَفَّالِ وَالشَّاشِيُّ الْكَبِيرُ مِنْ أَصْحَابِ الشَّافِعِيِّ عَنْ أَبِي إِسْحَاقَ الْمَرْوَزِيِّ عَنْ جَمَاعَةٍ مِنْ أصحاب الحديث واختاره بن المنذر

حاشية الشربيني على الغرر البهية

وذهب جماعة من الأئمة إلى جواز الجمع في الحضر للحاجة لمن لا يتخذه عادة، وهو قول ابن سيرين وأشهب من أصحاب مالك وحكاه الخطابي عن القفال والشاشي الكبير من أصحاب الشافعي عن أبي إسحاق المروزي عن جماعة من أصحاب الحديث، واختاره ابن المنذر ويؤيده قول ابن عباس حين سئل أراد أن لا يحرج أمته فلم يعلله بمرض ولا غيره اهـ. وسواء في هذا الجمع التقديم والتأخير كما هو ظاهر الإطلاق فليحرر.

Sejumlah imam berpendapat tentang diperbolehkannya menjamak shalat di rumah karena ada keperluan bagi orang yang tidak menjadikannya sebagai kebiasaan. Ini pendapat Ibnu Sirrin, Asyhab pengikut Imam Malik, al-Qaffal. As-Syasyi al-Kabir dari kalangan as-Syafi’I dan Abu Ishaq al-Marwazi dari kalangan ahlul hadits. Sebagaimana dipilih oleh Ibnu Mundzir.

Menurut Madzhab Syafii, Hanafi, Maliki dan Hambali serta Jumhur (mayoritas) Ulama’ menyatakan bahwa menjama’ sholat karena ada hajat (keperluan ) tidak diperbolehkan.

Sedengkan menurut riwayat Imam Ibnu Mundzir, Imam Ibnu Sirin dan Imam Abu Ishaq Al-Marwazi memperbolehkan menjama’ sholat (baik jama’ taqdim atau ta’khir) karena ada hajat (keperluan) dengan catatan selagi hal itu tidak dijadikan sebagai kebiasaan.

Referensi :

( بغية المستر شدين ص.٧٧
فائدة) لنا قول بجواز الجمع فى السفر القصير اختاره البندنيجى وظاهر الحديث جوازه ولو فى الحضر كما فى شرح مسلم وقال الخطابى عن ابى اسحق جوازه فى الحضر للحاجة وان لم يكن خوف ولا مطر ولامرض وبه قال ابن منذر.

(النفحات ص.١٢ )
قال فى الفوائد وكذا يجوز الاخذ والعمل لنفسه بالاقوال والطرق والوجوه الضعيفة الا بمقابل الصحيح فان الغالب فيه انه فاسد ويجوز الافتاء به للغير بمعنى الارشاد به.

المجموع شرح المهذب الجزء الرابع ص: ٢٢٨

(فرع)

في مذاهب العلماء ذكرنا أن مذهبنا أنه إذا فارق بنيان البلد قصر ولا يقصر قبل مفارقتها وإن فارق منزله وبهذا قال مالك وأبو حنيفة وأحمد وجماهير العلماء وحكى ابن المنذر عن الحارث بن أبي ربيعة أنه أراد سفرا فصلى بهم ركعتين في منزله وفيه الأسود بن يزيد وغير واحد من أصحاب ابن مسعود قال وروينا معناه عن عطاء وسليمان بن موسى قال وقال مجاهد لا يقصر المسافر نهارا حتى يدخل الليل قال ابن المنذر لا نعلم أحدا وافقه.

المجموع ج ٤ ص ٣٨٢
( فرع )

فى مذاهبهم فى الجمع فى الحضر بلا خوف ولا سفر ولا مطر ولا مرض : مذهبنا ومذهب ابو حنيفة ومالك وأحمد والجمهور أنه لا يجوز وحكى ابن المنذر عن طائفة جوازه بلا سبب قال وجوزه ابن سيرين لحاجة أو مالم يتخذه عادة إهـ


-كفاية الأخيار.ج١ص١٤٥
قال الاسنائي وما اختاره النووي نص عليه الشافعي في مختصر المزني ويؤيده المعنى ايضا فان المرض يجوز الفطر كالسفر فالجمع اولى بل ذهب جماعة من العلماء الى جواز الجمع في الحضر للحاجة لمن لا يتخذه عادة وبه قال ابو اسحاق المروزي.

ترشح المستفدين ص١٣٤-١٣٥
قال السيد يوسف البطاخ في تشنيف السمع: ومن الشافعية وغيرهم من ذهب الى جواز الجمع تقديما مطلقا لغير سفر ولا مرض ولا غيرهما من الاعذار

Lalu bagaimana dgn solat jum’at

Jawaban .No.2

Jumat merupakan kewajiban bagi setiap Muslim yang memenuhi kriteria wajib Jumat. Tidak ada toleransi, bagi siapa pun yang meninggalkannya tanpa ada uzur, ia mendapat ancaman dosa yang berat berdasarkan petunjuk hadits Nabi.

Namun Islam adalah agama yang mudah. Tidak membebani pemeluknya di luar batas kemampuannya. Tidak pula memberikan beban yang berat kepada umatnya.

Al imam nawawi menjelaskan dalam kitabnya

[النووي، روضة الطالبين وعمدة المفتين، ٣٤٥/١]

وَمِنْهَا: أَنْ يَخَافَ عَلَى نَفْسِهِ، أَوْ مَالِهِ، أَوْ عَلَى مَنْ يَلْزَمُهُ الذَّبُّ عَنْهُ مِنْ سُلْطَانٍ، أَوْ غَيْرِهِ، مِمَّنْ يَظْلِمُهُ

“Di antara uzur-uzur (Jumat dan shalat jamaah) adalah adanya kekhawatiran atas nyawa atau harta, baik bagi dirinya sendiri atau pihak-pihak yang wajib dilindungi nyawanya baik dari pemerintah atau lainnya, dari orang zalim.” (al-Imam al-Nawawi, Raudlatut Thalibin, juz.1, halaman 345)

Dalam perspektif mazhab Hanbali ditegaskan, termasuk uzur Jumat adalah kekhawatiran adanya kerugian dalam pekerjaan yang dibutuhkan untuk menghidupi keluarga atau dirampasnya harta yang ia disewa untuk menjaganya.

Syekh Abu al-Hasan Ali bin Sulaiman al-Mardawi mengatakan:


ومما يعذر به في ترك الجمعة والجماعة خوف الضرر في معيشة يحتاجها أو مال استؤجر على حفظه


“Termasuk uzur dalam meninggalkan Jumat dan jamaah shalat adalah kekhawatiran kerugian dalam pekerjaan yang ia butuhkan, atau harta yang ia disewa untuk menjaganya.” (Syekh Abu al-Hasan Ali bin Sulaiman al-Mardawi, al-Inshaf, juz 2, halaman 212).

Hanya saja, apabila memiliki kesempatan waktu melaksanakan Jumat, maka ia tetap berkewajiban menjalankan Jumat,

Kondisi tersebut juga berlaku untuk profesi lain yang berkenaan dengan tugas keamanan seperti polisi atau tentara, selama kekhawatiran akan bahaya nyawa dan harta muncul ketika ia melaksanakan shalat Jumat atau jamaah.

Kesimpulan; Boleh bagi seseorang menjamak shalat dalam kondisi ada keperluan seperti dalam kondisi musafir bahkan boleh dilakukan ditempat dalam kondisi sangat sibuk atau karena adanya hujan yang sangat lebat , namun demikian sebagian ulama berbeda pandang shalat ditempat (dirumah) dengan catatan tidak dilakukan secara terus menerus atau dijadikan sebagai kebiasaan. Berbeda dengan udzurnya shalat jum’at karena sibuk demi menjaga jiwa dan harta maka boleh meninggalkan shalat juma’at diganti dengan shalat dhuhur lalu bolehkah shalat dhur tersebut dijamak maka jawabannya boleh dengan catatan tidak dilakukan secara terus-menerus Artinya dilakukan sewaktu-waktu akan tetapi jika dilakukan secara terus menerus atau dijakan sebagai kebiasaan maka menurut sebagian ulama tidak boleh. sedangkam shalat yang lima waktu boleh dijama’ dan diqoshor selain subuh dan boleh dilakukan secara sendiri atau berjamaah. Sedangkan bagi musafir tidak diwajibkan shalat jum’at melainkan boleh shalat dhuhur baik dengan cara dijama’ atau diqoshor dengan syarat niat ketika ingin bebergian sebelum masuk waktu fajar. Oleh karenanya solusi bagi pekerja berat seperti petani sebagaimana dalam kasus diatas bisa membuat pos ditempat bercocok tanam untuk bisa melakukan shalat baik dengan cara dijamak atau dilakukan shalat yang biasa (sempurna) hal tersebut sebagai solusi untuk tidak terbiasa melakukan shalat jama’ secara terbiasa walaupun dapat dilakukan dipos tersebut. Wallahu a’lam bisshowab.

Kategori
Uncategorized

MEWAKILKAN WALI NIKAH SEBELUM MENINGGAL KAITANNYA DENGAN HUKUM PELAKSANAANYA WAKIL

MEWAKILKAN WALI NIKAH SEBELUM MENINGGAL KAITANNYA DENGAN HUKUM PELAKSANAANYA WAKIL WALI

Assalamualaikum

Deskripsi masalah

Ada seorang bapak punya anak perempuan ( Fatimah ) yang akan dinikahkan  dengan lelaki bernama Ahmad menjelang akad nikah akan dilangsungkan sekitar 3 bulan lagi  bapaknya Fatimah sakit parah kehawatiran telah ada sehingga bapak Fatimah mewakilkan kewaliannya  kepada saudaranya ( seayah seibu)selang antara 2 /7 hari bapaknya Fatimah meninggal .

Pertanyaannya.
Bolehkah saudara bapak yang menerima pemasrahan menjadi wakil wali menikahkan  fatimah setelah  Muwakkil  meninggal sebagaimana deskripsi..?

Waalaikum salam.
Jawaban.
Wali nikah ( Bapak Fatimah) mewakilkan kewaliannya (wali nikah ) kepada siapapun yang penting memenuhi syarat hukumnya boleh, dengan waktu yang telah ditentukan yaitu berlaku wakil nikah/ mulai pelaksanaan dan berakhir apabila:

  1. Sempurnanya pekerjaan yang dilakukannya
  2. Mewakilkan pelaksanaan pekerjaannya kepada orang lain
  3. Meninggalnya salah satu diantara muwakkil dan wakil . Artinya jika muwakkil meninggal sebelum wakil melaksanakan apa yang menjadi tugas pekerjaannya maka disitulah berakhirnya wakil
  4. Mengundurkan diri menjadi wakil atau dipecat maka disininah berakhirnya wakil.

Dengan demikian maka jika Muwakkil meninggal sebelum wakil melaksanakan tugas pekerkajaanya ( mengakad nikahnya Fatimah ) dengan waktu yang telah ditentukan maka hukum akad wakalahnya batal/rusak dan dianggap berakhir dengan sendirinya walaupun tanpa dibatalkan oleh salah salah satu diantara keduanya .Artinya saudaranya bapak fatimah tidak sah menikahkan fatimah sebagai wakil wali nikah dikarenakan muwakkil meninggal dunia yang mana akad perwakilannya rusak secara hukum ( rusak dengan sendirinya ) ini menurut mayoritas ulama’ .Akan tetapi menurut Malikiyah tidak batal /tidak rusak selama orang yang mewakilkan betul-betul meninggal dan diketahui dengan secara kasat mata.

Solusinya maka Fatimah harus dinikahkan oleh kakeknya sebagai wali nikah setelah meninggalnya bapaknya Fatimah  .

Adapun jika kakeknya tidak memenuhi syarat kerena adanya udzur  semisal sakit  atau pikun hilang akal atau bisu atau struke dan tidak bisa untuk menikahkan sendiri maka boleh mewakilkan kewaliannya kepada orang lain walau dengan cara tulisan atapun dengam isyarah yang bisa dimengerti, Kecuali tidak bisa mewakilkan karena  tidak bisa memberikan  tulisan atau tidak bisa memberikan isyarah yang dapat dimengerti ,maka kewalian pindah kepada  Wali ab’ad yaitu saudaranya fatimah ( saudara laki-laki seayah seibu ) bukan mengatasnamakan wakil wali tetapi  memang hak wali untuk menikahkan kerena wali aqrob telah tiada atau ada namun tidak memenuhi syarat . Dengan catatan saudaranya Fatimah sudah baligh, dan boleh saudaranya fatimah jika ada udzur untuk menikahkan sendiri mewakilkan kepada orang lain sebagaimana keterangan diatas, namun jika  saudaranya sudah tidak ada atau ada namun tidak bisa untuk menikahkan karena sebab udzur semisal sakit setroke dan tidak bisa memberikan tulisan untuk mewakilkan atau isyarah  sebagaimana kasus kakek diatas, maka kewaliannya pindah kepada pamannya ( saudara bapaknya Fatimah yang seayah seibu ).

Catatan

Paman dari saudara ayah yang seayah seibu tidak boleh menikahkan Fatimah selama masih ada saudaranya fatimah yang baligh kecuali  ada idzin maka boleh dengan mengatas namakan wakil wali dari saudaranya Fatimah, kecuali saudaranya fatimah tidak baligh maka boleh pamannya Fatimah menjadi wali nikah, bukan sebagai wakil wali melainkan memang haknya untuk menjadi wali.

Referensi :

الموسوعة الفقهية – ٥٨٦/٣١٩٤٩

أضاف عقد الوكالة إلى زمن مستقبل، وقد صرح جمهور الفقهاء بصحة ذلك (١) .
ومثال الثاني: ما جاء في السلم، من إضافة العين المسلم فيها إلى زمن معلوم لقوله صلى الله عليه وسلم: من أسلف في شيء فليسلف في كيل معلوم أو وزن معلوم إلى أجل معلوم(٢)
وَمِثَال الثَّالِثِ: مَا إِذَا بَاعَ بِثَمَنٍ مُؤَجَّلٍ فَإِنَّهُ يَصِحُّ؛ لِقَوْلِهِ تَعَالَى: {يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا تَدَايَنْتُمْ بِدَيْنٍ إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى فَاكْتُبُوهُ} . (٣))
*التَّوْقِيتِ* :
– وَهِيَ الْمُدَّةُ الْمُسْتَقْبَلَةُ الَّتِي يَسْتَمِرُّ فِيهَا تَنْفِيذُ الاِلْتِزَامِ حَتَّى انْقِضَائِهَا، وَذَلِكَ كَمَا فِي الْعُقُودِ الْمُؤَقَّتَةِ، كَمَا فِي الإِْجَارَةِ، فَإِنَّهَا لاَ تَصِحُّ إِلاَّ عَلَى مُدَّةٍ مَعْلُومَةٍ، أَوْ عَلَى عَمَلٍ مُعَيَّنٍ يَتِمُّ فِي زَمَنٍ، وَبِانْتِهَائِهَا يَنْتَهِي عَقْدُ الإِْجَارَةِ (4) وَمُدَّةُ عَقْدِ الإِْجَارَةِ تُعْتَبَرُ أَجَلاً. مِصْدَاقَ ذَلِكَ قَوْله تَعَالَى {قَال إِنِّي أُرِيدُ أَنْ أُنْكِحَكَ إِحْدَى ابْنَتَيَّ هَاتَيْنِ عَلَى أَنْ تَأْجُرَنِي ثَمَانِيَ حِجَجٍ فَإِنْ أَتْمَمْتَ عَشْرًا فَمِنْ عِنْدِكَ وَمَا أُرِيدُ أَنْ أَشُقَّ عَلَيْكَ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّالِحِينَ قَال ذَلِكَ بَيْنِي وَبَيْنَكَ أَيُّمَا الأَْجَلَيْنِ قَضَيْتُ فَلاَ عُدْوَانَ عَلَيَّ وَاللَّهُ عَلَى مَا نَقُول وَكِيلٌ} كَمَا أَنَّ اللُّغَةَ الْعَرَبِيَّةَ تَجْعَل ” التَّأْجِيل تَحْدِيدَ الْوَقْتِ ” ” وَالتَّوْقِيتَ تَحْدِيدَ الأَْوْقَاتِ، يُقَال: وَقَّتَهُ لِيَوْمِ كَذَا تَوْقِيتًا مِثْل أَجَّل “. (١)

Referensi:

فقه الإسلامى وأدلته.ص١٢٧

انتهاء الوكالة:
تنتهي الوكالة بأحد الأمور التالية (١):
١ – انتهاء الغرض من الوكالة: بأن يتم تنفيذ التصرف الذي وكل فيه الوكيل، إذ يصبح العقد غير ذي موضوع.
٢ – قيام الموكل بالعمل الذي وكل فيه غيره: كأن يبرم البيع الذي وكل فيه غيره.
٣ – خروج الموكل أو الوكيل عن الأهلية: بموت، أو جنون استمر شهراً، أوحجر لسفه؛ لأن الوكالة تتطلب استمرار الأهلية للتصرفات، فإذا زالت الأهلية بطلت الوكالة. والوكيل يستمد ولايته من الموكل.
ولا يشترط عند الحنفية والشافعية والحنابلة أن يعلم العاقد بخروج الطرف الآخرعن الأهلية بهذه العوارض. وقال المالكية: الأرجح أن الوكيل لا ينعزل بموت الموكل حتى يعلم به.
٤ – استقالة الوكيل: إذا تنازل الوكيل عن الوكالة أو استقال، أو رفض الاستمرار في العمل، انتهت الوكالة؛ لأن الوكالة بغير أجر كما تقدم عقد غير لازم، يجوز للوكيل أن يتنازل عنها في أي وقت. لكن يشترط عند الحنفية في هذه الحالة أن يعلم الموكل بهذا التنازل، حتى لا يتضرر بما فعل الوكيل، ولم يشترط الشافعي علم الموكل بعزل الوكيل نفسه.


(١) انظر عند الحنفية: البدائع: ٣٧/ ٦ ومابعدها، تكملة فتح القدير: ١٢٣/ ٦ ومابعدها، الدر المختار: ٤٣٤/ ٤، تبيين الحقائق: ٢٨٦/ ٤ ومابعدها، وعند المالكية: بداية المجتهد: ٢٩٨/ ٢، الشرح الكبير: ٣٩٦/ ٣، وعند الشافعية: مغني المحتاج: ٢٣٢/ ٢، المهذب: ١/ ٣٥٧، وعند الحنابلة: المغني: ١١٣/ ٥، غاية المنتهى: ١٥٤/ ٢ ومابعدها.

Referensi:

(الإقناع فِي حل أَلْفَاظ أبي شُجَاع)
القَوْل فِي الْوكَالَة عقد جَائِز
القَوْل فِي الْوكَالَة عقد جَائِز (و) الْوكَالَة وَلَو بِجعْل غير لَازِمَة من جَانب الْمُوكل وَالْوَكِيل فَيجوز (لكل وَاحِد مِنْهُمَا فَسخهَا مَتى شَاءَ) وَلَو بعد التَّصَرُّف سَوَاء تعلق بهَا حق ثَالِث كَبيع الْمَرْهُون أم لَا (وتنفسخ) حكما (بِمَوْت أَحدهمَا) وبجنونه وبإغمائه وَشرعا بعزل أَحدهمَا بِأَن يعْزل الْوَكِيل نَفسه أَو يعزله الْمُوكل سَوَاء أَكَانَ بِلَفْظ الْعَزْل أم لَا كفسخت الْوكَالَة أَو أبطلتها أَو رفعتها وبتعمده إنكارها بِلَا غَرَض لَهُ فِيهِ بِخِلَاف إِنْكَاره لَهَا نِسْيَانا أَو لغَرَض كإخفائها من ظَالِم وبطرو رق وَحجر كحجر سفه أَو فلس عَمَّا لَا ينفذ مِمَّن اتّصف بهَا وبفسقه فِيمَا فِيهِ الْعَدَالَة شَرط كوكالة النِّكَاح والوصايا وبزوال ملك مُوكل عَن مَحل التَّصَرُّف أَو منفعَته كَبيع ووقف لزوَال الْولَايَة وإيجار مَا وكل فِي بَيْعه وَمثله تَزْوِيجه وَرَهنه مَعَ قبض لإشعارها بالندم عَن التَّصَرُّف بِخِلَاف نَحْو الْعرض على البيع

Referensi

الإقناع الجزء الثانى ص:١٢٤
{تنبيه} 

مماتركه المصنف من شروط الولى أن لايكون مختل النظر بهرم أو خبل وأن لايكون محجورا عليه بسفه متى كان الأقرب ببعض هذه الصفات المانعة للولاية فالولاية للأبعد

“(Satu peringatan)” Diantara perkara yang ditinggalkan oleh Kyai Mushonnif adalah diantara beberapa syarat menjadi wali diantaranya adalah:
1.Harus memiliki fikiran atau akal yang sempurna artinya tidak cukup syarat bilamana fikirannya dan akalnya rusak karena disebabkan pikun.
2.Tidak menjadi “Mahhjur alaih” dengan sebab kebodohannya.
Kapan wali nikah yang “aqrab”(lebih dekat) tidak memenuhi syarat yang ada diantara sebagian sifat tersebut yang mencegah ( adanya maani’) atas kewalian maka wali nikah nya adalah beralih kepada wali ab-ad  ( lebih jauh) yakni Saudar-Nya yang seayah seibu dan seterusnya.

Referensi :

الإقناع الجزء الثانى ص:١٢٥
{فرع}

الأحرس إن كان وليا وله إشارة يفهمها كل واحد عقد بها وإن فهمها الفطن أوكان له كتابة وأمكن التوكيل بهما وكل وإلا زوج الآبعد، وأما إن كان زوجا فإن كانت إشارته صريحة عقدبها وإن كانت كناية أوكانت له كتابة فإن أمكنه التوكيل وكل وإلا عقد للضرورة وتعرف نيته بإشارة أخرى أو كتابة وقيل يكون كالمجنون فزوج الحاكم عند فقد الأب والجد.

(“Satu cabang”) Orang yang bisu (tidak bisa bicara) manakala dia bersetatus wali nikah sedangkan dia bisa memberikan isyarah dan bisa difahami oleh setiap seorang dan atau bisa difahami oleh orang yang cerdas maka dia boleh mengakadnya atau sibisu bisa menulis dan memungkinkan mewakilkan maka wakilkan. Akan tetapi jika hal tersebut tidak memungkinkan mengakad dan mewakilkan, maka yang menikahkannya (menjadi wali nikah) adalah wali ab’ad (lebih jauh) yakni misalkan Yusuf saudaranya Sitti Maisarah dan serusnya.
Dan adapun jika si bisu punya istri dan sedangkan isyarah sharikh (jelas) baik dalam bentuk kinayah atau tulisan maka dia mengakadnya dan jika bisa mewakilkan dengan tulisan maka wakilkan dengan tulisan jika tidak bisa maka akadlah (wali ab’ad) dengan kondisi dlorurah. Dan niatnya dapat dikenal/diketahui disisi yang lain.
Dikatakan oleh sebagian ulama, dia diibaratkan orang gila maka hakim yang menikahkan (menjadi wali) diwaktu tidak adanya ayah dan kakek.

Urutan wali nikah : ayah, kakek (dari sisi ayah), saudara laki-laki sekandung, saudara laki-laki seayah, anak laki-laki dari saudara laki-laki sekandung, anak laki-laki dari saudara laki-laki seayah, paman (saudara ayah sekandung), paman (saudara ayah seayah), anak laki-laki paman sekandung lalu anak laki-laki paman seayah.Kamudian pamannya kakek.Kemudian anak laki-laki nya pamannya kakek.Terus kebawah.Kemudian pamannya bapaknya kakek.Kemudian anak laki-laki nya pamannya bapaknya kakek.Terus kebawah.Kemudian wali hakim(Kepala Kantor Urusan Agama Kecamatan).

[1] المفتاح في النكاح /16-

(الولي في النكاح واحق الأولياء بالتزويج)اولى اللأولياء واحقهم بالتزويج الأب ثم الجد ابو الأب وان علا ثم الأخ الشقيق ثم ثم الأخ لأب ثم ابن الأخ الشقيق ثم ابن الأخ لأب وان سفل ثم العم الشقيق ثم العم لأب ثم ابن العم الشقيق ثم ابن العم لأب وان سفل ثم عم الأب ثم ابنه وان سفل ثم عم الجد ثم ابنه وان سفل ثم عم ابي الجد ثم ابنه وان سفلوهكذا على هذه الترتيب في سائر العصبات، ويقد الشقيق منهم على من كان لأب، فاذا لم يوجد احد من عصبات النسب فالمعتق فعصبته ثم معتق المعتق ثم عصبته ثم الحاكم او نائبه

Kategori
Uncategorized

TAKDIR ALLAH KORELASINYA DENGAN KERIDHO’AN KEDUA ORANG TUA

TAKDIR ALLAH KORELASINYA DENGAN RIDHONYA KEDUA ORANG TUA

Assalamualaikum ustad
Deskripsi masalah

Ada sepasang dua insan yang telah lama menjalin hubungan yaitu Fulanah dan Fulan hingga keduanya mau menikah, namun sangat disayangkan karena orang tuanya Fulan tidak merestuinya, jika garis takdir Fulanah adalah Fulan meski orang tuanya Fulan tidak merestuinya namun antara Fulanah dan Fulan tetap melangsungkan pernikahan walaupun dengan cara kawin lari sehingga keduanya menyatu dikarenakan jodohnya sudah ada nama yang tertera dilauhil Mahfudz.

Pertanyaannya.

Bagaimana cara menyikapi hubungan antara takdir Allah dan ridhoNya kedua orang tua karena menurut keterangan hadits keridho’an Allah bergantung kepada keridho’an kedua orang tua Kalau memang ridlo Allah bergantung kepada ridlonya orang tua, lalu kenapa kok Allah men takdir jadi pasangan hidup (suami istri) pada kasus diatas. Mohon penjelasanya Wahai Kiyai?

Waalaikum salam.
Jawaban.

Pada dasarnya tidak satu pun manusia yang dapat mengetahui takdir Allah, karena takdir adalah rahasia Allah yang hanya bisa diketahui setelah terjadi, oleh karenanya kita sebagai makhluk Allah dalam menjalani hidup dan kehidupan tidak terlepas dari ketentuan Allah artinya kita hidup hanya menjalani takdir bahkan tidak hanya manusia melaikan setiap sesuatu akan dapat berjalan sesuai dengan qodho’ dan Qodarnya “كل شيئ يجرى بقضائه وقدره”

Dalam agama Islam, takdir ini akan berhubungan dengan takdir muallaq dan takdir mubram, dimana seseorang tidak akan dapat mengetahui takdir sesebagaiman tersebut, kecuali setelah mengalami dan berjuang mengubah hidup sebagaimana takdir mullaq yang bisa jadi berubah dengan usaha dan do’a, karena Allah SWT berfirman Al-Qur’an

 
إِنَّ اللهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ

Artinya: “Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.”
 
Ayat ini sebagai dasar untuk digunakan sebagai ayat motivasi bahwa Allah tidak akan mengubah nasib seseorang menjadi lebih baik kecuali dengan usaha dan jerih payahnya sendiri.

Tafsiran seperti ini bertentangan dengan realitas lapangan. Berapa banyak orang yang berusaha mengubah nasib mereka dengan membanting tulang, kaki di kepala dan kepala di kaki, demi ingin mengubah nasibnya menjadi lebih baik, tapi berapa persen dari mereka yang berhasil?

Ayat Al-Qur’an merupakan sebuah kepastian. Jika diartikan bahwa perubahan nasib menjadi lebih baik di tangan seseorang, tentu tidak akan ada orang gagal dari usahanya. Buktinya tidak demikian. Selain itu, keyakinan bahwa semua kesuksesan dikembalikan kepada pribadi seseorang—baru Allah mengikutinya—merupakan bagian dari doktrin Mu’tazilah. Dalam paham ini, perilaku hamba menentukan segalanya. Tapi berbeda dengan faham kita sebagai penganut Ahli sunnah waljamaah, yang berkewajiban untuk usaha, sedangkan yang mentukan hasil dan tidak itu dilembalikan kepada zat yang mengatur segala sesuatu yaitu Allah. Oleh sebab itu Syaikh Prof. Wahbah az-Zuhaili, pakar fiqih dan tafsir negeri Suriah beliau menafsiarkan ; Bahwa  bagi setiap manusia itu ada malaikat-malaikat yang mengikutinya untuk menjaga dan memeliharanya. Mereka adalah para malaikat penjaga yang menjaga manusia dengan perintah dan pertolongan Allah, bukan untuk menolak perintahNya. Dan jika terjadi suatu takdir, maka mereka akan lepas darinya. Mereka menghitung amal perbuatannya yang baik dan buruk. Sesungguhnya Allah tidak mengubah kenikmatan atau kesehatan suatu umat, sampai mereka mengubah ketaatan dan kebaikannya sendiri menjadi kemaksiatan dan keburukan. Jika Allah menghendaki suatu azab dan kehancuran bagi suatu umat, maka itu tidak akan bisa ditolak. Dan tidak ada bagi mereka selain Allah seorang penolong yang membantu urusan mereka, yang membimbing mereka menuju kebaikan dan melindungi mereka dari keburukan. Karena itu kita wajib memantapkan keimanan kita terhadap ;Takdir Baik dan Takdir Buruk, bahwa semua yang terjadi itu adalah adalah takdir.

Adapun yang menjadi pertanyaan Mengapa Allah menakdirkan keburukan?

Karena bisa Jadi yang Jelek itu Baik untuk kita

Allah Ta’ala berfirman,

كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِتَالُ وَهُوَ كُرْهٌ لَكُمْ وَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ وَعَسَى أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 216)
Allah yang lebih mengetahui akibat terbaik setiap perkara. Allah yang Mahatahu yang paling maslahat untuk urusan dunia dan akhirat kita. Sedangkan kita sendiri tidak mengetahui yang terbaik dan yang jelek untuk kita. (Tafsir Az-Zahrawain, hlm. 348-349).

Anjurkan untuk berdo’a Agar Semua Takdir Kita itu Baik karena tidak ada yang bisa menolak takdir kecuali dengan do’a berikut firman Allah dalam Al-Quran. QS. Al Mu’min (40) ayat 60

وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ ۚ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ۝

Dan Tuhanmu berfirman: “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina”.

شرح تعليم المتعلم :ص :٣ ٤ .

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم لايرد القدر ) وهو تحديد كل مخلوق بحده الذي يوجد من الحسن والقبيح والنفع والضرر ومايحويه من زمان ومكان ومايترتب عليه من ثواب وعقاب إلى غير ذلك ( إلا الدعاءولايزيد فى العمر إلا بالبر ) أى الإحسان فإن قيل الآجل والأرزاق مقدرة لا تزيد ولاتنقض بالنصوص الدالة عليها فماوجه الحديث أجيب بأن الأشياء قد تكتب فى اللوح المحفوظ متوفقة على الشروط كما إن أحسن فلان فعمره ثلاثون سنة وإلا فخمسون وهو المعنى من قوله تعالى يمحو الله مايشاء ويثبت لكن هذا بالنسبة إلى مايظهر للملائكة فى اللوح المحفوظ لابالنسبة إلى علم الله الأزلى إذ لامحو فيه (فإن الرجل ليُحرم الرزق بالذنب يصيه. ) أى بسب ذنب يرتكبه

Rasulullah SAW. Bersabda: Tidak ada yang dapat mencegah takdir kecuali dengan do’a dan tidak ada yang dapat menambah umur kecuali dengan kebaikan, maka seseorang disempitkan rizkinya disebabkan perbuatan dosa yang menimpanya.

شرح تعليم المتعلم .

فينبغى للإنسان أن لايغفل عن نفسه وما ينفعها ومايضرها فى اولاها وأخراها .فيستجلب مايضرها كيلا يكون عقله وعلمه حجة عليه فيزداد عقوبة نعوذ بالله من سخطه وعقابه وقد ورد فى مناقب العلم وفضائله آيات وأخبار صحيحة مشهورة لم نستغل بذكرها كيلا يطول الكتاب

Artinya;” Maka setiap manusia janganlah sampai lupa dan lengah memikirkan dirinya , mana yang baik dan yang bermanfaat serta yang tidak baik dan mencelakakan bagi dirinya selama hidup didunia, apalagi sampai melupakan kehidupan diakhirat nanti. Untuk itu pandai-pandailah mencari sesuatu yang dapat berguna serta dapat menyelamatkan mu .Cepat-cepalah menghindar dan menjauhi dari sesuatu yang dapat mencelakakan dan merusak dirimu .Agar akal dan ilmunya itu tidak menjadi pedoman yang merusak bagi kepentingan dirinya.Sebab semua itu akan menambah siksa.Semoga kita terjaga dari murka dan siksa Allah SWT.

Dari Ummul Mukminin ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan doa berikut ini,

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ مِنَ الخَيْرِ كُلِّهِ عَاجِلِهِ وَآجِلِهِ ، مَا عَلِمْتُ مِنْهُ وَمَا لَمْ أَعْلَمْ ، وَأَعُوْذُ بِكَ مِنَ الشَّرِّ كُلِّهِ عَاجِلِهِ وَآجِلِهِ ، مَا عَلِمْتُ مِنْهُ وَمَا لَمْ أَعْلَمْ ، اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ مِنْ خَيْرِ مَا سَأَلَكَ عَبْدُكَ وَنَبِيُّكَ ، وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا عَاذَ بِهِ عَبْدُكَ وَنَبِيُّكَ ، اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الجَنَّةَ وَمَا قرَّبَ إِلَيْهَا مِنْ قَولٍ أَوْ عَمَلٍ ، وَأَعُوْذُ بِكَ مَنَ النَّارِ وَمَا قَرَّبَ إِلَيْهَا مِنْ قَوْلٍ أَوْ عَمَلٍ ، وَأَسْأَلُكَ أَنْ تَجْعَلَ كُلَّ قَضَاءٍ قَضَيْتَهُ لِي خَيْرًا

Artinya: Ya Allah, aku memohon kepada-Mu semua kebaikan yang disegerakan maupun yang ditunda, apa yang aku ketahui maupun tidak aku ketahui. Aku berlindung kepada-Mu dari semua keburukan, baik yang disegerakan maupun yang ditunda, yang aku ketahui maupun yang tidak aku ketahui. Ya Allah, sungguh aku memohon kepada-Mu dari kebaikan apa yang diminta oleh hamba dan Nabi-Mu Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada-Mu dan aku berlindung kepada-Mu dari apa yang diminta perlindungan oleh hamba dan nabi-Mu. Ya Allah, aku memohon kepada-Mu surga dan apa yang mendekatkan kepadanya baik berupa ucapan maupun perbuatan. Dan aku berlindung kepada-Mu dari neraka dan apa yang mendekatkan kepadanya baik berupa ucapan atau perbuatan. Dan aku memohon kepada-Mu semua takdir yang Engkau tentukan baik untukku. (HR. Ibnu Majah, no. 3846 dan Ahmad, 6:133. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini sahih).

Dzikir dan do’a Rasulullah Hadits Nasai Nomor 1325

أَخْبَرَنِي مُحَمَّدُ بْنُ قُدَامَةَ قَالَ حَدَّثَنَا جَرِيرٌ عَنْ مَنْصُورٍ عَنْ الْمُسَيَّبِ أَبِي الْعَلَاءِ عَنْ وَرَّادٍ قَالَ كَتَبَ الْمُغِيرَةُ بْنُ شُعْبَةَ إِلَى مُعَاوِيَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَقُولُ دُبُرَ الصَّلَاةِ إِذَا سَلَّمَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ اللَّهُمَّ لَا مَانِعَ لِمَا أَعْطَيْتَ وَلَا مُعْطِيَ لِمَا مَنَعْتَ وَلَا يَنْفَعُ ذَا الْجَدِّ مِنْكَ الْجَدُّ

[Nasai]

Dalam riwayat lain

اللَّهُمَّ لأَمَانِعَ لِمَا أَعْطَيْتَ وَلَا مُعْطِيَ لِمَا مَنَعْتَ وَلَا رَادَّ لِمَا قَضَيْتَ وَلَا يَنْفَعُ ذَى ی الجدّمِنْكَ الجّد

Artinya: “Ya Allah tidak ada yang mencegah apa yang Engkau berikan dan tidak ada yang bisa memberi apa yang Engkau cegah, dan tidak ada yang bisa menolak ketetapan Mu. Tidak berguna kekayaan dan kemulian itu bagi pemiliknya. Hanya dari-Mu kekayaan dan kemulian

Hadits Jibril yang membicarakan tentang rukun iman yaitu Takdir Baik dan Takdir Buruk menyebutkan,

وَتُؤْمِنَ بِالقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ

Dan engkau beriman kepada takdir yang baik maupun yang buruk.” (HR. Muslim, no. 8).

Menurut sebagian ulama menginterpretasikan bahwa “Takdir itu tidak ada yang buruk. Yang buruk hanya pada yang ditakdirkan (al–maqdur, artinya manusia atau makhluk yang merasakan jelek). Takdir jika dilihat dari perbuatan Allah, semua takdir itu baik. Sebagaimana disebutkan dalam hadits, ‘Kejelekan tidak disandarkan kepada-Mu.’ Jadi, takdir Allah itu selamanya tidak ada yang jelek. Karena ketetapan takdir itu ada karena rahmat dan hikmah. Kejelekan murni itu hanya muncul dari pelaku kejelekan. Sedangkan Allah itu hanya berbuat baik saja selama-lamanya.” (Syarh Al-Arba’in An-Nawawiyyah, hlm. 88).

Dalam salah satu doa iftitah yang terdapat dalam hadits ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu disebutkan,

وَالْخَيْرُ كُلُّهُ فِى يَدَيْكَ وَالشَّرُّ لَيْسَ إِلَيْكَ.

“Kebaikan itu seluruhnya pada kedua tangan-Mu dan kejelekan tidak disandarkan kepada-Mu.” (HR. Muslim, no. 771).

Adapun yang menjadi Musykil bagi penanya Bagaimana cara menyikapi hubungan antara takdir Allah dan ridhoNya kedua orang tua karena menurut keterangan hadits keridho’an Allah bergantung kepada keridho’an kedua orang tua.( Kalau memang ridlo Allah bergantung kepada ridlo orang tua, lalu kenapa kok Allah men takdirkan kepada seseorang jadi pasangan hidup (suami istri) ..?

Saya coba jawab dari sudut pandang saya bahwa ada beberapa hal yang bisa kita tentukan sendiri dan ada juga berapa hal yang tidak bisa kita tentukan, yang biasa kita sebut sebagai takdir. seperti kita lahir sebagai pria atau wanita atau si Fulan lahir dari keluarga yang bukan keturunan Kiyai ataupun sultan, dll. Walaupun dia ( Fulan) tidak menginginkan menjadi kiyai atau nyai sedangkan orang tuanya tidak menyetujui untuk menjadi kiyai atupun Nyai tetapi Allah mentakdirkan menjadi kiyai ataupun ibu nyai tentu hal itu pasti terjadi itulah yang disebut dengan Nasib atau bagian dari takdir yang tentunya masing-masing dari individu tidak sama kecuali apa yang telah ditakdirkan oleh Allah. Begitu juga halnya Allah mentakdirkan kepada seseorang menjadi pasangan hidup (suami istri) walaupun orang tuanya tidak meridhoinya itupun pasti terjadi kok bisa ? Katanya keridha’an Allah berada pada keridho’an kedua orang tua, saya jawab Karena sesungguhnya sesuatu yang tertulis berada dilauh mahfudh terkadang ditangguhkan menunggu adanya beberapa syarat, misalkan kehendak orang tuanya bisa tercapai ( tidak meridhoinya) dengan syarat bilamana bersamaan dengan kehendak Allah atau do’a atau dengan syarat lainnya yang tidak kita ketahui, dan sebaliknya jika tidak ridho’nya orang tua bersamaan dengan tidak adanya ridho nya Allah maka pernikahan itu tidak akan terjadi . Begitu juga halnya seseorang yang punya cita-cita ingin memeluk gunung apa daya tangan tak sampai maka itupun tidaklah mungkin bisa tercapai , oleh karena itu Hadapilah masalah dengan kepala dingin, jangan takut, jangan gelisah, jangan pula bersedih karena masalah itu terjadi atas rencana dan takdir Allah. Sebagaimana Orang bijak mengatakan :

أنت تريد وأنا أريد ولكن الله فعال لمايريد

Kau punya rencana dan akupun punya rencana namun Allah merealisasikan rencana-Nya.

Yakinlah bahwa rencana Allah adalah yang terbaik untuk kita karena Allah yang Maha mengetahui hakikat dari kejadian yang menimpa kita yang sudah tertera dan nampak bagi malaikat didalam Lauh mahfudh inilah makna dari firman Allah

.وهو المعنى من قوله تعالى يمحو الله مايشاء ويثبت لكن هذا بالنسبة إلى مايظهر للملائكة فى اللوح المحفوظ لابالنسبة إلى علم الله الأزلى إذ لامحو فيه

Artinya:” Inilah makna firman Allah Yang Maha Kuasa: Allah menghapuskan dan menetapkan apa saja yang dikehendaki-Nya, tetapi ini dengan dinisbatkan berkaitan dengan apa yang tampak pada para malaikat dalam Lauh Mahfudh bukan Yang dinisbarkan atau yang berkaitan dengan ilmu Allah yang Azali/abadi , karena tidak terhapus di dalamnya

Akan tetapi jika Allah menghedaki takdirnya kepada pasangan suami istri pasti pernikahan itu terjadi walaupun orang tuanya tidak menyetujuinya ini jika dinisbatkan kepada ilmu Allah dizaman Azali yang tidak bisa dirubah atau dihapus. Karena ketidak setujuannya orang tua itu juga bagian takdir begitu juga terjadinya akad nikah juga bagian dari takdir. Karena bagaimapun juga setiap sesuatu itu berjalan bersamaan dengan qodho’ dan qodarnya Allah.( Lihat syarah Taklimul mutaallim : 34 )

Dengan kata lain kehendak orang tua bisa tercapai bila mana bersamaan dengan kehendak Allah. Dalam arti tidaklah akan tercapai kehendak orang tua kecuali dengan kehendak Allah

Bukti tidaklah sedikit orang menikah tidak disetujui oleh orang tua akan tetapi jika Allah sudah mentakdir pasti itu terjadi begitu juga orang tua meridhoinya untuk menikahkan seseorang anaknya tapi bukan jodohnya maka pasti berpisah itu adalah takdir ( kehendak Allah yang ditakdirkan bagi seseorang untuk berpisah atau Allah mentakdirkan kepada seseorang menjadi jodoh) oleh karenanya jika Allah berkehendak pasti ada tetapi jika tidak berkehendak pastilah tidak akan ada hal ini sesuai dengan sabda Rasulullah SAW. sebagaimana ibaroh yang ditebalkan.

التفسير المنير للزحيلى ص ٤٤٤٦
{وَقَضى رَبُّكَ أَلاّ تَعْبُدُوا إِلاّ إِيّاهُ} إلى هنا، كان سيئه أي قبيحه مكروها عند ربك، أي مبغوضا عنده، ومنهيا عنه، ومعاقبا عليه، وإن كان مرادا له تعالى بالإرادة التكوينية التي لا تستدعي الرضا منه سبحانه، كما
قال صلّى الله عليه وآله وسلّم : «ما شاء الله كان، وما لم يشأ لم يكن».
وكلمة {ذلِكَ} تصلح للواحد والجمع والمؤنث

Sebagaimana firman Allah dalam surat At-Takwir

وَمَا تَشَاءُونَ إِلَّا أَن يَشَاءَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ (29)

Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allah, Tuhan seluruh alam.

التفسير ابن كثير

( وما تشاءون إلا أن يشاء الله رب العالمين ) أي ليست المشيئة موكولة إليكم فمن شاء اهتدى ومن شاء ضل بل ذلك كله تابع لمشيئة الله عز وجل رب العالمين
قال سفيان الثوري عن سعيد بن عبد العزيز عن سليمان بن موسى لما نزلت هذه الآية ( لمن شاء منكم أن يستقيم ) قال أبو جهل الأمر إلينا إن شئنا استقمنا وإن شئنا لم نستقم فأنزل الله ( وما تشاءون إلا أن يشاء الله رب العالمين ) .
آخر تفسير سورة التكوير ولله الحمد

تفسير المنير للزحيلي١١٠٢

وإن أصاب المسلمين شر كجدب أو تغلب الأعداء عليهم-لحكمة إلهية في ذلك كما جرى يوم أحد-فرح المنافقون بذلك. ويلاحظ‍ فرق التعبير البلاغي في القرآن بين جملتي: مس الحسنة وإصابة السيئة، فهم يستاءون عند أدنى مس للحسنة، ولا يفرحون حتى تتمكن الإصابة بالسيئة.
ولكن الله تعالى ذكر للمؤمنين العلاج الناجع، وأرشدهم إلى السلامة من شر الأشرار، وكيد الفجار، وهو استعمال الصبر، والتقوى، والتوكل على الله الذي هو محيط‍ بأعدائهم، فلا حول ولا قوة لهم إلا به، وهو الذي ما شاء كان، وما لم يشأ لم يكن، ولا يقع في الوجود شيء إلا بتقديره ومشيئته، ومن توكل عليه كفاه.

تفسير المنير للزحيلي٥٥٨٩-٥٥٩٠

٤ – {وَخَلَقَ كُلَّ شَيْءٍ فَقَدَّرَهُ تَقْدِيراً} أي أوجد كل شيء مما سواه، وأحدثه إحداثا راعى فيه التقدير بقدر معين والتسوية بشكل محدد، وهيأه لما يصلح له من الخصائص والأفعال اللائقة به، فالإنسان مثلا خلقه الله بشكل مقدر مسوّى في أحسن تقويم، وأوجد فيه من الحواس والطاقات والإمكانات للإدراك والفهم، والنظر والتدبير، واستنباط‍ الصنائع، ومزاولة الأعمال المختلفة، وكذلك الحيوان والجماد جاء به على خلقة مستوية مقدرة، مطابقة لما يراه من الحكمة والمصلحة والتدبير، ولما قدر له غير منافر أو متجاف عنه. والخلاصة: أنه قدر كل شيء مما خلق بحكمته على ما أراد.
وفسّر ابن كثير الجملة الأخيرة بأن كل شيء مخلوق مربوب لله، والله هو خالق كل شيء وربه ومليكه وإلهه، وكل شيء تحت قهره وتدبيره وتسخيره وتقديره.
وبعد أن وصف الله تعالى نفسه بصفات الجلال والعزة والعلو، أردف ذلك بتزييف مزاعم عبدة الأوثان فقال:
{وَاتَّخَذُوا مِنْ دُونِهِ آلِهَةً.}. إلى قوله: {وَلا نُشُوراً} والمعنى أن تلك الآلهة المزعومة لا تستحق الألوهية لنقصانها من وجوه أربعة هي.

أ-أنها لا تخلق شيئا، والإله يجب أن يكون قادرا على الخلق والإيجاد.
ب-أنها مخلوقة، والمخلوق محتاج، والإله يجب أن يكون غنيا عن غيره.
ولما اعتقد المشركون في أصنامهم أنها تضرّ وتنفع عبّر عنها بقوله: {وَهُمْ يُخْلَقُونَ} كما يعبر عن العقلاء.
ج‍ -أنها لا تملك لأنفسها ضرا ولا نفعا، أي لا دفع ضرر ولا جلب نفع، فلا تملك ذلك لغيرها، ومن لا يملك لنفسه ولا لغيره النفع ودفع الضرر لا فائدة في عبادته.
د-أنها لا تملك موتا ولا حياة ولا نشورا، أي لا تقدر على الإماتة والإحياء المبتدأ والمعاد في زماني التكليف والجزاء، ومن كان كذلك كيف يسمى إلها؟ بل ذلك كله مرجعه إلى الله عزّ وجلّ الذي هو يحيي ويميت، وهو الذي يعيد الخلائق يوم القيامة، كما قال سبحانه: {ما خَلْقُكُمْ وَلا بَعْثُكُمْ إِلاّ كَنَفْسٍ واحِدَةٍ} [لقمان ٢٨/ ٣١].
والخلاصة: أن الله هو الأحد الصمد الذي لم يلد ولم يولد، ولم يكن له كفوا أحد، لا إله غيره، ولا ربّ سواه، ولا تنبغي العبادة إلا له، لأنه ما شاء كان، وما لم يشأ لم يكن. وأما عبدة الأصنام والمشركون فقد عبدوا غير الخالق، الذي لا يملك لنفسه ولا لغيره ضرا ولا نفعا، ولا يقبل بهذا عاقل متزن، أو عالم متأمل.

Dari keterangan diatas yaitu tentang takdir dapat disimpulkan baik melalui hadits maupun Ayat-ayat Al-Quran bahwa semua takdir itu baik karena didalamnya ada hikmah di balik itu. Hanya Yang merasakan jelek adalah kita. Sedangkan Allah itu sama sekali tidak berbuat jelek karena takdir Allah tidak kejam, bukti bahwa takdir Allah itu baik sebagaimana hadits berikut:
 
Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

عَجِبْتُ لِلْمُؤْمِنِ، إِنَّ اللهَ لاَ يَقْضِي لِلْمُؤْمِنِ قَضَاءً إِلَّا كَانَ خَيْرًا لَهُ.

Artinya: “Aku begitu takjub pada seorang mukmin. Sesungguhnya Allah tidaklah menakdirkan sesuatu untuk seorang mukmin melainkan pasti itulah yang terbaik untuknya.” (HR. Ahmad, 3:117. Syaikh Syuaib Al-Arnauth mengatakan bahwa hadits ini sahih).Wallahu A’lam bisshowab

Kategori
Uncategorized

HUKUM MENGGUNAKAN PIPA TULANG GADING GAJAH KETIKA MEROKOK

Assalamualaikum.

Deskripsi Masalah

Bagi pecandu rokok tidak asing lagi sebagian masyarakat baik para pemuda atau yang suda tua terlebih bagi pengusaha besar agar terlihat lebih menarik pun juga lebih enak ketika merokok terlebih batang rokok yang tanpa filter sebagian mereka memakai Pipa rokok yang terbuat dari tulang bangkai Gading gajah, bahkan terkadang tulang Gading tersebut dibawa shalat.

Pertanyaannya.
1.Bagaimana hukumnya menggunakan pipa rokok dari Gading sebagaimana deskripsi
2.Bagaimana hukumnya shalat ketika membawa Pipa bangkai tulang Gading tersebut..?

Waalaikum salam.

Jawaban. No.1

Menggunakan pipa saluran rokok yang dibuat dari bangkai tulang Gading gajah atau digunakan sebagai sisir rambut/soroi red hukumnya adalah makruh dan tidak haram baik dipakai dalam kondisi kering ataupun dalam kondisi basah namun ketika pipa tulang Gading mengenai barang yang basah seperti ketika menghisab rokok sementara mulutnya basah maka mulutnya menjadi najis begitu juga rambut yang basah kecuali mulunya ( bibirnya )kering atau ada penghalang seperti hal nya ujungnya dibalut dengan besi sehingga tidak menyentuh secara langsung maka tidak najis, begitu juga najis tulang gading gajah setelah disembelih menurut Madzhab Hanabilah dan Syafiiyah dan sebagian dikalangn Madzhab Hafi maka hukumnya najis, alasannya karena gajah termasuk hewan yang tidak halal untuk dimakan .Sedangkan Menurut Malikiyah Najis jika tidak disembelih tetapi jika disembelih maka hukumnya suci sebagaimana tulangnya hewan yang halal dimakan dan disembelih secara syar’i maka tidaklah najis. Sedangkan menurut madzhab Hanafi maka hukumnya tulang bagkai adalah suci kecuali tulangnya anjing dan babi.

Jawaban No. 2

Hukum shalatnya orang yang membawa tulang bangkai Gading gajah adalah batal karena najis, sebagaimana keterangan dalam ibarat yang ditebalkan, kecuali taqlid kepada madzhab Hanafi yang menghukumi tulangnya bangkai selain anjing dan babi adalah suci.

المجموع شرح المهذب المكتبة الشاملة ص ٢٤١-٢٤٢
(فرع)
العاج المتخذ من عظم الفيل نَجِسٌ عِنْدَنَا كَنَجَاسَةِ غَيْرِهِ مِنْ الْعِظَامِ لَا يجوز استعماله في شئ رَطْبٍ فَإِنْ اُسْتُعْمِلَ فِيهِ نَجَّسَهُ: قَالَ أَصْحَابُنَا وَيُكْرَهُ اسْتِعْمَالُهُ فِي الْأَشْيَاءِ الْيَابِسَةِ لِمُبَاشَرَةِ النَّجَاسَةِ وَلَا يَحْرُمُ لِأَنَّهُ لَا يَتَنَجَّسُ بِهِ وَلَوْ اتَّخَذَ مُشْطًا مِنْ عَظْمِ
الْفِيلِ فَاسْتَعْمَلَهُ فِي رَأْسِهِ أَوْ لِحْيَتِهِ فَإِنْ كَانَتْ رُطُوبَةً مِنْ أَحَدِ الْجَانِبَيْنِ تَنَجَّسَ شَعْرُهُ وَإِلَّا فَلَا: وَلَكِنَّهُ يُكْرَهُ وَلَا يَحْرُمُ (١) هَذَا هُوَ الْمَشْهُورُ لِلْأَصْحَابِ وَرَأَيْت فِي نُسْخَةٍ مِنْ تَعْلِيقِ الشَّيْخِ أَبِي حَامِدٍ أَنَّهُ قَالَ يَنْبَغِي أَنْ يَحْرُمَ وَهَذَا غَرِيبٌ ضَعِيفٌ قُلْت وَيَنْبَغِي أَنْ يَكُونَ الْحُكْمُ هَكَذَا فِي اسْتِعْمَالِ مَا يُصْنَعُ بِبَعْضِ بِلَادِ حواران من أحشاء الغنم عَلَى هَيْئَةِ الْأَقْدَاحِ وَالْقِصَاعِ وَنَحْوِهَا لَا يَجُوزُ اسْتِعْمَالُهُ فِي رَطْبٍ وَيَجُوزُ فِي يَابِسٍ مَعَ الْكَرَاهَةِ قَالَ الرُّويَانِيُّ وَلَوْ جُعِلَ الدُّهْنُ فِي عَظْمِ الْفِيلِ لِلِاسْتِصْبَاحِ أَوْ غَيْرِهِ مِنْ الِاسْتِعْمَالِ فِي غَيْرِ الْبَدَنِ فَالصَّحِيحُ جَوَازُهُ وَهَذَا هُوَ الْخِلَافُ فِي جَوَازِ الِاسْتِصْبَاحِ بِزَيْتٍ نَجِسٍ لِأَنَّهُ ينجس بوضعه في العظم هدا تَفْصِيلُ مَذْهَبِنَا فِي عَظْمِ الْفِيلِ: وَإِنَّمَا أَفْرَدْته عَنْ الْعِظَامِ كَمَا أَفْرَدَهُ الشَّافِعِيُّ: ثُمَّ الْأَصْحَابُ قَالُوا وَإِنَّمَا أَفْرَدَهُ لِكَثْرَةِ اسْتِعْمَالِ النَّاسِ لَهُ وَلِاخْتِلَافِ الْعُلَمَاءِ فِيهِ فَإِنَّ أَبَا حَنِيفَةَ قَالَ بطهارته بناء عل أَصْلِهِ فِي كُلِّ الْعِظَامِ وَقَالَ مَالِكٌ فِي رِوَايَةٍ إنْ ذُكِّيَ فَطَاهِرٌ وَإِلَّا فَنَجِسٌ بِنَاءً على رواية له ان الفيل مأكول: وقال إبْرَاهِيمُ النَّخَعِيُّ إنَّهُ نَجِسٌ لَكِنْ يَطْهُرُ بِخَرْطِهِ وَقَدْ قَدَّمْنَا دَلِيلَ نَجَاسَةِ جَمِيعِ الْعِظَامِ وَهَذَا مِنْهَا وَمَذْهَبُ النَّخَعِيِّ ضَعِيفٌ بَيِّنُ الضَّعْفِ وَاَللَّهُ أَعْلَمُ (فَرْعٌ)
قَالَ صَاحِبُ الشَّامِلِ وَغَيْرُهُ مِنْ أَصْحَابِنَا فِي هَذَا الْمَوْضِعِ سُئِلَ فَقِيهُ الْعَرَبِ عَنْ الْوُضُوءِ مِنْ الْإِنَاءِ الْمُعَوَّجِ فَقَالَ إنْ أَصَابَ الْمَاءُ تَعْوِيجَهُ لَمْ يَجُزْ وَإِلَّا فَيَجُوزُ والاناء المعوج هو المضبب بقطعة من من عظم الفيل وهذا صحيح والصورة فيماء دُونَ الْقُلَّتَيْنِ وَفَقِيهُ الْعَرَبِ لَيْسَ شَخْصًا بِعَيْنِهِ وَإِنَّمَا الْعُلَمَاءُ يَذْكُرُونَ مَسَائِلَ فِيهَا أَلْغَازٌ وَمُلَحٌ يَنْسِبُونَهَا إلَى فُتْيَا فَقِيهِ الْعَرَبِ وَصَنَّفَ الْإِمَامُ أَبُو الْحُسَيْنِ بْنُ فَارِسٍ كِتَابًا سَمَّاهُ فُتْيَا فَقِيهِ الْعَرَبِ ذَكَرَ فِيهِ هَذِهِ الْمَسْأَلَةَ وَأَشَدُّ ألغازا منها (فرع)
يجوز إيقَادُ عِظَامِ الْمَيْتَةِ غَيْرَ الْآدَمِيِّ تَحْتَ الْقُدُورِ وَفِي التَّنَانِيرِ وَغَيْرِهَا صَرَّحَ بِهِ صَاحِبُ الْحَاوِي وَالْجُرْجَانِيُّ فِي كِتَابَيْهِ التَّحْرِيرِ وَالْبُلْغَةِ وَالرُّويَانِيُّ وَغَيْرُهُمْ قال المصنف رحمه الله (وأما اللبن في ضرع الشاة الميتة فهو نجس لانه ملاق للنجاسة فهو كاللبن في اناء نجس وأما البيض في جوف الدجاجة الميتة فان لم يتصلب قشره فهو كاللبن وان تصلب قشره لم ينجس كما لووقعت بيضة في شئ نجس)

Referensi

وذهب الحنفية إلى أن عظام الميتة طاهرة، قال البابرتي رحمه الله –من علماء الحنفية-: “ولا بأس ببيع عظام الميتة وعصبها وصوفها وقرنها وشعرها ووبرها والانتفاع بذلك كله؛ لأنها طاهرة لا يحلها الموت؛ لعدم الحياة” [العناية شرح الهداية ٦ /٤٢٧]، وجاء في [المحيط البرهاني ٦/ ٣٤٩]: “لا بأس ببيع عظام الفيل وغيره من الميتة؛ لأن الموت لا يحل العظام ولا دم فيه، فلا يتنجس، فيجوز بيعه إلا عظم الأدمي والخنزير، فإنَّ بيعها لا

يجوز، وهذا إذا لم يكن على عظم الفيل وأشباهه دسومة، فأم إذا كان فهو نجس، فلا يجوز بيعه”.

Referensi:

[البجيرمي، حاشية البجيرمي على الخطيب = تحفة الحبيب على شرح الخطيب، ٢٦٢/٢]

وَيَحِلُّ مَعَ الْكَرَاهَةِ اسْتِعْمَالُ الْمِشْطِ مِنْ الْعَاجِ فِي الرَّأْسِ وَاللِّحْيَةِ حَيْ.ثُ لَا رُطُوبَةَ لِشِدَّةِ جَفَافِهِ مَعَ ظُهُورِ رَوْنَقِهِ كَمَا ذَكَرَ.هُ أج.


Referensi:

[مجموعة من المؤلفين، الموسوعة الفقهية الكويتية، ٢١٢/٢٩-٢١٣].

اخْتَلَفَتْ أَقْوَال الْفُقَهَاءِ فِي طَهَارَةِ الْعَاجِ أَوْ نَجَاسَتِهِ عَلَى ثَلاَثَةِ أَقْوَالٍ:
الأول: أنه نجس
٤ – الأَْوَّل: أَنَّهُ نَجِسٌ، وَهُوَ الْمَذْهَبُ عِنْدَ الْحَنَابِلَةِ، وَالصَّحِيحُ عِنْدَ الشَّافِعِيَّةِ، وَقَوْل مُحَمَّدِ بْنِ الْحَسَنِ مِنَ الْحَنَفِيَّةِ، قَالُوا: إِنَّ الْعَاجَ الْمُتَّخَذَ مِنْ عَظْمِ الْفِيل نَجِسٌ لأَِنَّ عَظْمَهُ نَجِسٌ، وَسَوَاءٌ أُخِذَ الْعَظْمُ مِنَ الْفِيل وَهُوَ حَيٌّ أَوْ وَهُوَ مَيِّتٌ، لأَِنَّ مَا أُبِينَ مِنْ حَيٍّ فَهُوَ مَيِّتٌ، وَسَوَاءٌ أُخِذَ مِنْهُ بَعْدَ ذَكَاتِهِ أَوْ بَعْدَ مَوْتِهِ.
وَاسْتَدَلُّوا عَلَى نَجَاسَتِهِ بِقَوْل اللَّهِ تَعَالَى: {حُرِّمَتْ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةُ (١) } وَالْعَظْمُ مِنْ جُمْلَتِهَا فَيَكُونُ مُحَرَّمًا وَالْفِيل لاَ يُؤْكَل لَحْمُهُ، فَهُوَ نَجِسٌ عَلَى كُل حَالٍ.
وَاحْتَجَّ الشَّافِعِيُّ كَذَلِكَ بِمَا رَوَى عَمْرُو بْنُ دِينَارٍ عَنِ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهُمَا أَنَّهُ كَرِهَ أَنْ يُدْهِنَ فِي عَظْمِ فِيلٍ، لأَِنَّهُ مَيْتَةٌ، وَالسَّلَفُ يُطْلِقُونَ الْكَرَاهَةَ وَيُرِيدُونَ بِهَا التَّحْرِيمَ، وَلأَِنَّهُ جُزْءٌ مُتَّصِلٌ بِالْحَيَوَانِ اتِّصَال خِلْقَةٍ فَأَشْبَهَ الأَْعْضَاءَ.وَأَمَّا مَا رُوِيَ مِنْ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ امْتَشَطَ بِمُشْطٍ مِنْ عَاجٍ (١) ، وَمَا رُوِيَ مِنْ أَنَّهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ طَلَبَ مِنْ ثَوْبَانَ أَنْ يَشْتَرِيَ لِفَاطِمَةَ رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهَا قِلاَدَةً مِنْ عَصَبٍ وَسِوَارَيْنِ مِنْ عَاجٍ (٢) ، فَلاَ دَلِيل فِي ذَلِكَ عَلَى الطَّهَارَةِ، لأَِنَّ الْعَاجَ هُوَ الذَّبْل وَهُوَ عَظْمُ ظَهْرِ السُّلَحْفَاةِ الْبَحْرِيَّةِ، كَذَا قَالَهُ الأَْصْمَعِيُّ وَابْنُ قُتَيْبَةَ وَغَيْرُهُمَا مِنْ أَهْل اللُّغَةِ، وَقَال أَبُو عَلِيٍّ الْبَغْدَادِيُّ: الْعَرَبُ تُسَمِّي كُل عَظْمٍ عَاجًا (٣) .
القول الثاني: أنه طاهر
٥ – الْقَوْل الثَّانِي: أَنَّهُ طَاهِرٌ، قَال بِذَلِكَ الْحَنَفِيَّةُ – غَيْرُ مُحَمَّدِ بْنِ الْحَسَنِ – وَهُوَ طَرِيقٌ عِنْدَ الشَّافِعِيَّةِ، وَهُوَ رِوَايَةٌ عَنْ أَحْمَدَ، ذَكَرَهَا صَاحِبُ الْفُرُوعِ، وَخَرَّجَ أَبُو الْخَطَّابِ مِنَ الْحَنَابِلَةِ أَيْضًا الطَّهَارَةَ، قَال فِي الْفَائِقِ وَاخْتَارَهُ الشَّيْخُ تَقِيُّ الدِّينِ بْنُ تَيْمِيَّةَ، قَال ابْنُ تَيْمِيَّةَ: الْقَوْل بِالطَّهَارَةِ هُوَ الصَّوَابُ.
وَهُوَ قَوْل ابْنِ وَهْبٍ مِنَ الْمَالِكِيَّةِ.
وَاسْتَدَلُّوا بِأَنَّ الْعَظْمَ لَيْسَ بِمَيِّتٍ؛ لأَِنَّ
الْمَيْتَةَ مِنَ الْحَيَوَانِ فِي عُرْفِ الشَّرْعِ اسْمٌ لِمَا زَالَتْ حَيَاتُهُ لاَ بِصُنْعِ أَحَدٍ مِنَ الْعِبَادِ، أَوْ بِصُنْعٍ غَيْرِ مَشْرُوعٍ وَلاَ حَيَاةَ فِي الْعَظْمِ فَلاَ يَكُونُ مَيْتَةً، كَمَا أَنَّ نَجَاسَةَ الْمَيْتَاتِ لَيْسَتْ لأَِعْيَانِهَا، بَل لِمَا فِيهَا مِنَ الدِّمَاءِ السَّائِلَةِ وَالرُّطُوبَاتِ النَّجِسَةِ، وَلَمْ تُوجَدْ فِي الْعَظْمِ (١) .
وَاسْتَدَلُّوا مِنَ السُّنَّةِ بِمَا رَوَاهُ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عَبَّاسٍ قَال: سَمِعْتُ رَسُول اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَال: {قُل لاَ أَجِدُ فِيمَا أُوحِيَ إِلَيَّ مُحَرَّمًا عَلَى طَاعِمٍ يَطْعَمُهُ} ، أَلاَ كُل شَيْءٍ مِنَ الْمَيْتَةِ حَلاَلٌ إِلاَّ مَا أُكِل مِنْهَا (٢) وَبِمَا رُوِيَ عَنْ أَنَسٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَمْتَشِطُ بِمُشْطٍ مِنْ عَاجٍ (٣) .
القول الثالث:
٦ – الْقَوْل الثَّالِثُ: وَهُوَ التَّفْصِيل بَيْنَ ذَكَاةِ الْحَيَوَانِ الْمَأْخُوذِ مِنْهُ الْعَاجُ – وَهُوَ الْفِيل – أَوْ عَدَمِ ذَكَاتِهِ، وَهُوَ مَا ذَهَبَ إِلَيْهِ الْمَالِكِيَّةُ فِي الْمَشْهُورِ عِنْدَهُمْ، جَاءَ فِي الدَّرْدِيرِ وَحَاشِيَةِ الدُّسُوقِيِّ: الظَّاهِرُ مَا ذُكِّيَ مِنَ الْحَيَوَانِ ذَكَاةً شَرْعِيَّةً،
وَكَذَلِكَ جُزْؤُهُ مِنْ عَظْمِ لَحْمٍ وَظُفْرٍ وَسِنٍّ وَجِلْدٍ إِلاَّ مُحَرَّمُ الأَْكْل كَالْخَيْل وَالْبِغَال وَالْحَمِيرِ وَالْخِنْزِيرِ، فَإِنَّ الذَّكَاةَ لاَ تَنْفَعُ فِيهَا (١) ، وَالنَّجِسُ مَا أُبِينَ مِنْ حَيَوَانٍ نَجِسِ الْمَيْتَةِ حَيًّا أَوْ مَيِّتًا مِنْ قَرْنٍ وَعَظْمٍ وَظِلْفٍ وَظُفْرٍ وَعَاجٍ أَيْ سِنِّ فِيلٍ (٢) .
وَفِي الْمَوَّاقِ: قَال ابْنُ شَاسٍ: كُل حَيَوَانٍ غَيْرِ الْخِنْزِيرِ يَطْهُرُ بِذَكَاتِهِ كُل أَجْزَائِهِ مِنْ لَحْمٍ وَعَظْمٍ وَجِلْدٍ (٣) .
وَعَلَى ذَلِكَ فَإِذَا أُخِذَ الْعَاجُ مِنْ عِظَامِ الْفِيل وَهُوَ حَيٌّ، أَوْ وَهُوَ مَيِّتٌ لَمْ يُذَكَّ فَهُوَ نَجِسٌ، وَإِذَا أُخِذَ بَعْدَ ذَكَاتِهِ فَهُوَ طَاهِرٌ هَذَا هُوَ الْمَشْهُورُ عِنْدَ الْمَالِكِيَّةِ.
وَهُوَ وَجْهٌ شَاذٌّ عِنْدَ الشَّافِعِيَّةِ.
قَال النَّوَوِيُّ: فِي بَابِ الأَْطْعِمَةِ: وَجْهٌ شَاذٌّ أَنَّ الْفِيل يُؤْكَل لَحْمُهُ، فَعَلَى هَذَا إِذَا ذُكِّيَ كَانَ عَظْمُهُ طَاهِرًا (٤

Referensi;

المجموع شرح المهذب. المكتبة الشاملة ص.١٢٨١

(فَرْعٌ)
لَوْ حَمَلَ الْمُصَلِّي مُسْتَجْمِرًا بِالْأَحْجَارِ لَمْ تَصِحَّ صَلَاتُهُ فِي أَصَحِّ الْوَجْهَيْنِ لِأَنَّهُ غَيْرُ مُحْتَاجٍ إلَيْهِ وَحَدِيثُ أُمَامَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا مَحْمُولٌ عَلَى أَنَّهَا كَانَتْ قَدْ نَجَيَتْ بِالْمَاءِ وَلَوْ حَمَلَ مَنْ عَلَيْهِ نَجَاسَةٌ مَعْفُوٌّ عَنْهَا فَفِيهِ الْوَجْهَانِ لِمَا ذَكَرْنَاهُ وَيَقْرُبُ مِنْهُ مَنْ اسْتَنْجَى بِالْأَحْجَارِ وَعَرِقَ مَوْضِعُ النَّجْوِ فَتَلَوَّثَ به غيره ففى صحة صلاته وجهان لكن الْأَصَحَّ هُنَا الصِّحَّةُ لِعُسْرِ الِاحْتِرَازِ مِنْهُ بِخِلَافِ حمل غَيْرِهِ والله أعلم

Kategori
Uncategorized

KHUTBAH AKAD NIKAH IJAB DAN QOBUL

KHUTBAH AKAD NIKAH IJAB DAN QOBUL.

Assalamualaikum.
Deskripsi masalah.
Ada seseorang akan melangsungkan akad nikah sedangkan Tunangannnya yang akan diakad minta mahar seperangkat alat-alat shalat.

Pertanyaan:

Apakah seperangkat alat-alat sholat itu meliputi rumah, masjid, ruku, sajadah dll.

Waalaikum salam.
Jawaban.

Maskawin Seperangkat alat shalat yang dimaksud adalah kerudung / ikat kepala dan leher, pakaian dan mukenna/ruku ketiga tersebut adalah minimalnya sedangkan maksimalnya dikondisikan bisa sajadah dll, maka ketika ijab harus menyertakan lafadh بمهر أدوات/آلات الصلاة أعني بها خمارٌ ودِرعٌ وِمِلحَفَةٌ صفِيقَةٌ sedangkan menyebutkan alat-alat tersebut hukumnya sunnah untuk menjadi taukid . Walaupun tidak disebutkan satu persatu jika sudah diketahui tidak apa-apa misalkan hanya menyebutkan

بمهر أدوات الصلاة

karena syaratnya mahar itu harus diketahui kalau sudah diketahui walaupun tidak menyebutkan maskawin dalam akad tetap sah.
Namun demikian termasuk salah cara melafadhkan walaupun nikahkanya tetap sah jika seperangkat alat shalat cuma ruku saja, mengatakan بمهر أدوات /آلات الصلاة maka yang benar dalam ijab mengatakan بمهر آلة الصلاة lalu sebutkan jenis dan sifatnya yaitu Mukena/ ruku

Begitu juga tidak benar dan tidak sah jika dalam ijab mengatakan sebagian dari seperangkat alat shalat karena tidak lengkap sementara jenis dan sifatnya tidak disebutkan namanya ini termasuk majhul semisal:

بمهر مجموعة من أدوات الصلاة

Artinya seperangkat dari sebagian alat-alat shalat maka dalalm hal ini termasuk majhul sehingga penyebutan tersebut tidak sah maka yang wajib diberikan adalah mahar mistli ( mahar yang umum), namun dengan demikian agar tidak majhul harus menyebutkan jenis dan sifatnya dari sebagian seperangkat alat-alat shalat yaitu.

بمهر مجموعة من أدوات الصلاة أعني بهاموكنا/روكو /قميص الصلاة حالا

Artinya dengan maskawin sebagian dari seperangkat alat shalat yakni mukenna/ruku ( Pakaian)

Keterangan, dan contoh seperangkat alat-alat shalat dan KHUTBAH NIKAH ijab dan Qobulnya sebagaimana berikut :

الفقه على المذاهب الأربعة – (٤ / ٥٨)
وَشُرِطَ فِي الْمَهْرِ أُمُوْرٌ . أَحَدُهَا : أَنْ يَكُوْنَ مَالًا مُتَقَوَّمًا لَهُ قِيْمَةٌ ثَانِيْهَا : أَنْ يَكُوْنَ طَاهِرًا يَصِحُّ الْاِنْتِفَاعُ بِهِ ثَالثُهَا : أَنْ لَا يَكُوْنَ الصَّدَاقُ مَغْصُوْبًا رَابِعُهَا : أَنْ لَا يَكُوْنَ مَجْهُوْلًا وَفِيْهِ تَفْصِيْلٌ … إلى أن قال … الحنفية – قَالُوْا : إِذَا تَزَوَّجَهَا عَلَى صَدَاقٍ مَجْهُوْلٍ . فَلَا يَخْلُوْ إِمَّا أَنْ يَذْكُرَ جِنْسَهُ بِدُوْنِ تَقْيِيْدٍ بِنَوْعٍ أَوْ يَذْكُرَ جِنْسَهُ مُقَيَّدًا بِنَوْعٍ وَلَكِنْ لَمْ يَصِفْهُ بِصِفَةٍ تُمَيِّزُهُ عَنْ غَيْرِهِ
مِثَالُ الْأَوَّلِ : أَنْ يَتَزَوَّجَهَا عَلَى ثَوْبٍ أَوْ دَابَّةٍ أَوْ حَيَوَانٍ … إلى أن قال … فَإِذَا قَيَّدَهُ بِنَوْعِهِ وَلَكِنْ لَمْ يَصِفْهُ بِصِفَتِهِ الْمُمَيِّزَةِ لَهُ عَنْ غَيْرِهِ كَمَا إِذَا قَالَ لَهَا : تَزَوَّجْتُكَ بِثَوْبٍ مِنَ الْكَتَّانِ . أَوِ الْقُطْنِ أَوِ الْحَرِيْرِ أَوْ قَاَل لَهَا : تَزَوَّجْتُكَ بِفَرَسٍ أَوْ بَغْلٍ أَوْ حِمَارْ فَفِيْ هَذِهِ الْحَالَةِ تَصِحُّ التَّسْمِيَةُ وَيَكُوْنُ لَهَا الْوَسَطُ مِنْ ذَلِكَ فَتَأْخُذُ الثَّوْبَ الَّذِيْ ذُكِرَ نَوْعُهُ مِنَ الْوَسَطِ وَهَلُمَّ جَرَّا عَلَى أَنْ يَكُوْنَ لِلزَّوْجِ الْخِيَارُ بَيْنَ أَنْ يُسَلِّمَ النَّوْعَ الْوَسَطَ أَوْ قِيْمَتَهُ ويعتبر الوسط بغلاء السعر ورخصه على المعتمد فلا يشتري لها غاليا ولا رخيصا بل يشتري لها الوسط أَمَّا إِذَا ذَكَرَ لَهَا الْجِنْسَ مُقَيِّدًا بِنَوْعِهِ ثُمَّ وَصَفَهُ بِصِفَتِهِ الْمُمَيِّزَةِ لَهُ كَمَا إِذَا تَزَوَّجَهَا عَلَى ثَوْبٍ مِنَ الْحَرِيْرِ الْبَلَدِيِّ الْجَيِّدِ كَانَ لَهَا الْمُسَمَّى فَإِذَا لَمْ يَذْكُرْ الْجَيِّدَ كَانَ لَهَا الْوَسَطُ كَالْأَوَّلِ … إلى أن قال … وَإِذَا تَزَوَّجَهَا عَلَى جِهَازِ بَيْتٍ كَانَ لَهَا وَسَطُ مَا يَجْهِزُ بهِ النِّسَاءُ عَادَةً

الشافعية – قَالُوْا : إِذَا سَمَّى لَهَا صَدَاقًا مَجْهُوْلًا فِي الْجِنْسِ . أَوِ الْوَصْفِ كَمَا إِذَا قَالَ لَهَا : تَزَوَّجْتُكَ عَلَى أَحَدِ هَذَيْنِ الثَّوْبَيْنِ . أَوِ الْفَرْسَيْنِ أَوْ قَالَ لَهَا : تَزَوَّجْتُكَ عَلَى جَمَلٍ مِنْ جَمَالِيْ فَإِنَّ التَّسْمِيَةَ لَا تَصِحُّ وَيَكُوْنُ لَهَا مَهْرُ الْمِثْلِ )

Dan  Syarat-syarat sesuatu yang bisa dijadikan mahar adalah :

  1. Benda berharga
  2. Barang suci yang bisa dimanfaatkan
  3. Bukan barang ghosoban
  4. Tidak majhul (tidak diketahui/samar)

Adapun menurut ulama Hanafiyah mahar majhul (tidak diketahui ) yaitu ada dua:

Mahar yang disebutkan jenisnya tanpa menyebutkan macamnya seperti: “laki-laki menikahi perempuan dengan mahar pakaian, kendaraan, atau hewan”, maka yang diberikan adalah mahar mitsil (mahar umum keluarganya),

Mahar yang disebutkan jenisnya beserta macamnya akan tetapi tidak disebutkan sifat yang membedakan dengan macam lainnya. Contoh “saya nikahkan kamu dengan mahar pakaian yang terbuat dari kain katun, atau terbuat dari kapas, atau terbuat dari sutra”, maka yang diberikan adalah pakaian yang tersebut dengan kualitas sedang.

Dan jika menikah dengan mahar perabot rumah, maka yang diberikan adalah sesuatu yang berkualitas sedang, yang disediakan untuk perempuan secara adat kebiasaan.

Menurut ulama Syafi’iyah, jika mahar itu majhul (tidak diketahui/samar) dalam jenisnya atau sifatnya, seperti “saya nikahkan kamu dengan mahar salah satu dari dua baju, atau dari dua kuda” atau “saya nikahkan kamu dengan mahar satu unta sebagian dari beberapa unta saya”, maka penyebutan maharnya tidak sah dan yang wajib diberikan adalah mahar mitsil (mahar umum keluarganya), alasan tidak sah karena menyebutkan sebagian dari banyak unta sementara sifatnya tidak disebutkan.

CONTOH SEPERANGKAT ALAT-ALAT SHALAT 👇

المهذب في فقه الإمام الشافعي للشيرازي ( ١/ ١٢٥)
فصل: وَالْمُسْتَحَبُّ لِلْمَرْأَةِ أَنْ تُصَلِّيَ فيْ ثَلَاثَةِ أَثْوَابٍ : خِمَارٍ تُغَطِّيْ بِهِ الرَّأْسَ وَالْعُنُقَ وَدِرْعٍ تُغَطِّي بِهِ الْبَدَنَ
وَالرِّجْلَيْنِ وَمِلْحَفَةٍ صَفِيْقَةٍ تَسْتُرُ بِهَا الثِّيَابَ


Ibarat ini sudah jelas walaupun bisa dikatakan minimalnya alat shalat yaitu tiga Kerudung atau ikat kepala dan leher, baju, dan mukenah /ruku sedangkan maksimalnya dikondisikan kan walaupun tidak menyebutkan sajadah dll, oleh karenanya ulama sepakat bahwa tiga seperangkat shalat tersebut diatas adalah minimalnya walau ada lagi paling sedikitnya yaitu satu mukenah yang penting menutupi aurat , tetapi jika tidak bisa menutupi aurat hanya dengan kaus kaki dll maka tidaklah termasuk dari alat shalat Sesuai dengan definisi alat shalat.

تعريف و معنى تتم به الصلاة في معجم المعاني الجامع – معجم عربي عربي

تتم به الصلاة: (مصطلحات)

الثوب الذي تتم به الصلاة هو كل ثوب كاف لستر العورة الواجب سترها في الصلاة ولو لم يستر به فعلا، وما لا تتم به الصلاة هو ما لا يكفي لستر العورة لوحده كالجورب (الكلسات)، والحزام، والقبعة ونحو ذلك، وهذا معفي عن نجاسته في الصلاة. (فقهية)

Artinya: Pakaian yang bisa menyempurnakan shalat adalah setiap pakaian yang mencukupi untuk menutup aurat yang wajib ditutup ketika sholat walaupun pada secara kasat mata tidak tertutupi………………..

Raudhatuth Thalibin juz V halaman 588, maktabah syamilah, (6/250, cet. Daar Al-Fikr tahun 1425 H) :

فَرْعٌ أَصْدَقَهَا عَبْدًا أَوْ ثَوْبًا غَيْرَ مَوْصُوْفٍ، فَالتَّسْمِيَةُ فَاسِدَةٌ، وَيَجِبُ مَهْرُ الْمِثْلِ قَطْعًا. وَإِنْ وَصَفَ الْعَبْدَ وَالثَّوْبَ، وَجَبَ الْمُسَمَّى،

Asnal Mathaalib juz III halaman 204, maktabah syamilah

اَلْبَابُ الثَّانِيْ فِيْ حُكْمِ الصَّدَاقِ الْفَاسِدِ وَلِفَسَادِهِ أَسْبَابٌ سِتَّةٌ اَلْأَوَّلُ ضَرْبَانِ أَحَدُهُمَا عَدَمُ الْمَالِيَّةِ فِيْهِ مُطْلَقًا أَوْ لِلزَّوْجِ كَخَمْرٍ وَمَغْصُوْبٍ وَقَدْ سَبَقَ حُكْمُه إلى أن قال:   وَثَانِيْهِمَا اَلْجَهَالَةُ كَأَنْ أَصْدَقَهَا عَبْدًا أَوْ ثَوْبًا غَيْرَ مَوْصُوْفٍ فَيَجِبُ مَهْرُ الْمِثْلِ لِفَسَادِ التَّسْمِيَةِ

Al-Fiqh Al-Islami wa Adillatuhuu juz IX halaman 245-248, maktabah syamilah, (7/ 254-255, Cet. Daar Al-Fikr, tahun 1431 / 2010) :

يُشْتَرَطُ فِي الصَّدَاقِ شُرُوْطٌ ثَلَاثَةٌ: 
إلى أن قال:  اَلثَّانِيْ ـ أَنْ يَكُوْنَ مَعْلُوْمًا

1)• Menurut Madzhab Imam Ahmad Bin Hanbal
Akad Nikah Sempurna tanpa menyebutkan mahar (maskawin) nya


قال ابن قدامة رحمه الله في “المغني” (٧/١٨٢) :
“وَجُمْلَتُهُ أَنَّ النِّكَاحَ يَصِحُّ مِنْ غَيْرِ تَسْمِيَةِ صَدَاقٍ , فِي قَوْلِ عَامَّةِ أَهْلِ الْعِلْمِ , في قول عامة أهل العلم . وقد دل على هذا قول الله تعالى : (لَا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ إِنْ طَلَّقْتُمْ النِّسَاءَ مَا لَمْ تَمَسُّوهُنَّ أَوْ تَفْرِضُوا لَهُنَّ فَرِيضَةً) البقرة/236 ، وروي أن ابن مسعود سئل عن رجل تزوج امرأة , ولم يفرض لها صداقا , ولم يدخل بها حتى مات , فقال ابن مسعود : لها صداق نسائها , لا وكس ولا شطط , وعليها العدة , ولها الميراث . فقام معقل بن سنان الأشجعي , فقال : (قضى رسول الله صلى الله عليه وسلم في بروع بنت واشق , امرأة منا مثل ما قضيت) أخرجه أبو داود والترمذي , وقال : حديث حسن صحيح ” انتهى .


Ibnu Qudamah Al Maqdisiy Al Hanbaliy dalam kitab Al-Mughni menyebutkan bahwa akad nikah tetap sah meski tanpa menyebutan mahar (maskawin):
Dan simplenya bahwa akad nikah itu sah meski tanpa menyebutkan mahar (maskawin), sebagaimana pendapat kebanyakan ahli ilmu.
Imam Ibnu Qudamah Al Maqdisiy Al Hanbaliy rahimahullahu ta’ala mengatakan dalam kitabnya Al Mughniy :


ويستحب أن لا يعرى النكاح عن تسمية الصداق؛ لأن النبي – صلى الله عليه وسلم – كان يزوج بناته وغيرهن ويتزوج، فلم يكن يخلي ذلك من صداق…. ولأنه أقطع للنزاع وللخلاف فيه، وليس ذكره شرطا


Dianjurkan agar ketika akad nikah tidak lepas dari penyebutan mahar (maskawin ). Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menikahkan putri-putrinya dan wanita lainnya, serta ketika beliau sendiri menikah, semuanya tidak lepas dari penyebutan mahar (maskawin)….. disamping itu, penyebutan mahar (maskawin ) akan memangkas terjadinya perselisihan dalam keluarga, meskipun itu bukan syarat.
(Lihat Kitab al-Mughni, 7/210).
Oleh karena itu, mahar (maskawin ) ketika akad nikah statusnya lebih longgar. Mahar (maskawin ) boleh tidak disebutkan, atau mahar (maskawin) tidak harus disebutkan secara detail. Salah menyebut mahar ( maskawin ) tidak mempengaruhi keabsahan akad nikah. Yang penting, nikah harus ada mahar (maskawin) nya.
2)• Menurut Pengikut Madzhab Imam Asy Syafi’iy
Walaupun mahar (maskawin)wajib hukumnya namun hanya Sunnah menyebutkan mahar (maskawin) ketika akad nikah berlangsung
Al-Imam An-Nawawiy Asy Syafi’iy rahimahullah dalam kitab Rasudhatu Ath-Thalibin menyebutkan :


قَالَ الأَصْحَابُ : لَيْسَ الْمَهْرُ رُكْنًا فِي النِّكَاحِ بِخِلافِ الْمَبِيعِ وَالثَّمَنِ فِي الْبَيْعِ


Al-Ashab (Syafi’iyyah) berkata : Mahar (maskawin ) itu bukan rukun dalam nikah, berbeda dengan barang yang diperjual-belikan dan uang dalam jual-beli.
Apakah mahar (maskawin ) ini perlu disebutkan dalam akad nikah atau tidak, Syaikh Muhammad bin Qasim dalam Fathul Qarib (Surabaya: Kharisma, 2000), hal. 234 menjelaskan :


[ويستحب تسمية المهر في] عقد [النكاح] … [فإن لم يُسَمَّ] في عقد النكاح مهرٌ [صح العقد]


“DISUNNAHKAN menyebutkan mahar (maskawin )dalam akad nikah… meskipun jika mahar ( maskawin) tidak disebutkan dalam akad, akad nikahnya tetap sah.”
Hal yang sama juga disampaikan oleh Imam An-Nawawiy Asy Syafi’iy rahimahullahu ta’ala dalam kitabnya Al Majmu’ Syarhu Al Muhadzab,


ويجوز من غير صداق، لقوله تعالى (لا جناح عليكم إن طلقتم النساء ما لم تمسوهن أو تفرضوا لهن فريضة) فأثبت الطلاق مع عدم الفرض


”Boleh akad nikah tanpa menyebut mahar (maskawin), berdasarkan firman Allah (yang artinya), Tidak ada dosa bagi kamu, jika kamu menceraikan isteri-isteri kamu sebelum kamu bercampur (betjima’) dengan istri-istri kamu dan sebelum kamu menentukan mahar (maskawin)nya. Allah menilai sah talak tanpa menentukan mahar.”
(Lihat Kitab al-Majmu’, 16/322)
Dan didalam kitab Fathul Mu’in disebutkan:


وينعقد النكاح بلاذكرمهر في العقد بل يسن ذكره فيه وكره اخلأه عنه


“Sah akad nikah yang tidak menyebutkan mahar (maskawin), tetapi disunnahkan menyebutkan mahar(maskawin ) dalam akad nikah dan makruh meninggalkan menyebutkan mahar (maskawin ) dalam akad nikah .”


وجاء في الموسوعة الفقهية:
والمهر ليس شرطًا في عقد الزواج ولا ركنا عند جمهور الفقهاء، وإنما هو أثر من آثاره المترتبة عليه، فإذا تم العقد بدون ذكر مهر صح باتفاق الجمهور،


أسنى المطالب
(اﻟﺒﺎﺏ اﻟﺜﺎﻧﻲ ﻓﻲ) ﺣﻜﻢ (اﻟﺼﺪاﻕ اﻟﻔﺎﺳﺪ ﻭﻟﻔﺴﺎﺩﻩ ﺃﺳﺒﺎﺏ) ﺳﺘﺔ (اﻷﻭﻝ) ﺿﺮﺑﺎﻥ ﺃﺣﺪﻫﻤﺎ (ﻋﺪﻡ اﻟﻤﺎﻟﻴﺔ) ﻓﻴﻪ ﻣﻄﻠﻘﺎ ﺃﻭ ﻟﻠﺰﻭﺝ ﻛﺨﻤﺮ ﻭﻣﻐﺼﻮﺏ (ﻭﻗﺪ ﺳﺒﻖ) ﺣﻜﻤﻪ ﻭﻟﻮ ﺃﺻﺪﻗﻬﺎ ﻋﺒﺪﻳﻦ ﻓﺨﺮﺝ ﺃﺣﺪﻫﻤﺎ ﺣﺮا ﺃﻭ ﻣﻐﺼﻮﺑﺎ ﺑﻄﻞ اﻟﺼﺪاﻕ ﻓﻴﻪ ﻭﺻﺢ ﻓﻲ اﻵﺧﺮ ﺗﻔﺮﻳﻘﺎ ﻟﻠﺼﻔﻘﺔ ﻭﺗﺨﻴﺮﺕ ﻓﺈﻥ ﻓﺴﺨﺖ ﻓﻠﻬﺎ ﻣﻬﺮ اﻟﻤﺜﻞ ﻭﺇﻥ ﺃﺟﺎﺯﺕ ﻓﻠﻬﺎ ﻣﻊ اﻵﺧﺮ ﺣﺼﺔ اﻟﻤﻐﺼﻮﺏ ﻣﻦ ﻣﻬﺮ اﻟﻤﺜﻞ ﺑﺤﺴﺐ ﻗﻴﻤﺘﻬﻤﺎ (ﻭ) ﺛﺎﻧﻴﻬﻤﺎ (اﻟﺠﻬﺎﻟﺔ) ﻛﺄﻥ ﺃﺻﺪﻗﻬﺎ ﻋﺒﺪا ﺃﻭ ﺛﻮﺑﺎ ﻏﻴﺮ ﻣﻮﺻﻮﻑ ﻓﻴﺠﺐ ﻣﻬﺮ اﻟﻤﺜﻞ ﻟﻔﺴﺎﺩ اﻟﺘﺴﻤﻴﺔ

Karena syarat dari pada mahar itu sama seperti syarat maqud alaih, yg dimana kalau perhiasan tersebut sudah dilihat maka itu menjadi maklum
Coba antum lihat di dobit (definisi )sodaq (definisi mahar/maskawin) di Al Yaquutun Nafis :


كل ما صح كونه مبيعا عوضا أو معوضا صح كونه صداقا


Mahar (maskawin) adalah semua barang yang sah dijadikan barang dagangan, maka barang itu juga dianggap sah sebagai maskawin.

Contoh Khubah akad nikah

الحمد لله الذي خلق الماء بشرا فجعله نسبا وصِهرا خلق آدم ثم خلق زوجه حواء من ضلع من أضلاعه اليسرى فلمّاسكن إليها قالت الملائكة ياآدم حتى تؤدي لها مهرا قال ومامهرها قالوا أن تصلي على محمد خاتم النبيين وإمام المرسلين فوفّى المهر وخطب الأمين جبريل عليه السلام وشهد إسرافيل وبعض المقربين بدار السلام فصارت ذلك سنّةَأولاده على تعاقب السنين أحمده أن خلق لكم من أنفسكم أزواجا لتسكنوا إليها وجعل بينكم مودة ورحمة وأشكره أن جعلكم شعوبا وقبائل بالتناسُل الذي هو أصل كل نعمة وأشهد أن لاإله إلا الله مُبْدِعُ نظام العالَم على أكمل حكمة لاإله إلا هو تبارك الله رب العالمين وأشهد أن محمدا رسول الله صلى الله عليه وسلم حبيب الرحمن ومُجتباه القائل : حُبّبَ إليّ من دنياكم النساء والطيب وجُعلت قرة عيني فى الصلاة وقال صلى الله عليه وسلم يامعشر الشباب من استطاع منكم الباءة فليتزوج فطوبى لمن أقرّ بذلك عين رسول الله صلى الله عليه وعلى آله وصحبه والتابعين . امابعد :
فإن النكاح من سنن المرغوبة التى عليها مِدارُ الاستقامة إذ من تزوج فقد كمل نصف دينه كما أخبر بذلك الحبيب المبعوث من تِهامة وقال تناكحوا تناسلوا فإني مباه بكم الأمم يوم القيامة وقد حثّ عليه المنان بقوله : وأنكحوا الايامى منكم والصالحين من عبادكم وإمائكم إن يكونوا فقراء يغنهم الله من فضله والله سميع عليم .وهذا عقد مبارك مَيْمُونٌ واجتماع على حصول خير يكون إن شاء الله الذي إذا أراد شيأ أن يقول له كن فيكون أقول قولي هذا واستغفر الله العظيم لي ولكم ولوالدي ووالديكم ولمشايخكم ولسائر المسلمين والمسلمات والمؤمنين والمؤمنات فاستغفروه إنه هو الغفور الرحيم .
إستغفر الله العظيم ٣ × /إستغفر الله العظيم الذي لاإله إلا هو الحي القيوم وأتوب إليه .٣× أشهد أن لا إله إلا الله وأشهد أن محمدا رسول الله ٣×

إيجاب قبول عقد نكاح

الحمدلله رب العالمين والصلاة والسلام على سيد المرسلين وعلى آله وصحبه آجمعين أما بعد .
أخي ……..بن …… أزوجك على ماأمر الله به من إمساك بمعروف أو تسريح بإحسان

Contoh jika diakad oleh walinya sendiri dengan mahar seperangkat alat-alat shalat kontan

IJAB

ياأحمد بن محمد أنكحتك وزوجتك بنتي بمهر أدوات/آلات الصلاة أعني بها خمارٌ ودِعٌ ومِلْحَفَة صَفِيْقَةٌ حالا

ياأحمد بن محمد أنكحتك وزوجتك بنتي بمهر ………………….. حالا.

Artinya saya nikahkan Kamu dan saya kawinkan kamu dengan Fatimah anakku dengan maskawin seperangkat alat-alat shalat ( harus lengkap Ruku, , ikat kepala dan pakaian ) secara kontan

Contoh jika diakad oleh walinya sendiri dengan sebagian dari alat shalat ( mahar cuma alat shalat Mukenna/pakaian) kontan

ياأحمد بن محمد أنكحتك وزوجتك بنتي بمهر مجموعة من آدوات الصلاة موكنا /الثوب / بمهر آلة الصلاة موكينا حالا

ياأحمد بن محمد أنكحتك وزوجتك بنتي بمهر مجموعة من آدوات الصلاة اعني بها قميص الصلاة / بمهر آلة الصلاة اعني بها قميص الصلاة حالا

Artinya saya nikahkan Kamu dan saya kawinkan kamu dengan Fatimah anakku dengan maskawin sebagian dari alat-alat shalat yakni mukena/ruku kontan

ياأحمد بن محمد أنكحتك وزوجتك بنتي بمهر ………………….. حالا.

QOBUL

قبلت نكاحها وتزويجها بالمهر المذكور حالا.

Contoh jika diakad oleh
Wakil wali artinya orang yang dipasrahkan mejadi wakil Wali nikah sedangkan Muwakkil ( Orang yang mewakilkan yaitu Bapaknya / Saudaranya yang sebapak seibu/ atau pamannya ) Yakni mewakilkan kepada orang lain baik diwakilkan kepada penghulu/Modin /Kiyai dll, dengan mahar emas 2 gr kontan/ tidak kontan maka sighatnya adalah sebagai berikut:

IJAB

ياأحمد بن محمد أنكحتك وزوجتك محطوبتك فاطمة بنتَ عبد الحميد مَوْ لِيَةَ أبيها /أخيها الشقيق / عَمّها موكلي بمهر غرامين من الذهب حالا./مؤجلا

Wahai Ahmad putra Muhammad Saya nikahkan Kamu dan saya kawinkan kamu dengan tunagannmu Yaitu Fatimah putri Abdul Hamid yang mewalikan bapaknya diwakilkan kepada saya dengan maskawin emas dua garam kontan.

Atau memakai shighat berikut

ياأحمد بن محمد أنكحتك وزوجتك فاطمة بنتَ عبد الحميد موكلي أبوها /أخوها الشقيق / عَمّها بمهر غرامين من الذهب حالا./مؤجلا

Atau

ياأحمد بن محمد أنكحتك وزوجتك محطوبتك فاطمة بنتَ عبد الحميد الذي وكلّني أبوها /أخوها الشقيق / عَمّها بمهر غرامين من الذهب حالا.

QOBUL


قبلت نكاحها وتزويجها بالمهر المذكور حالا.


Atau

قبلت نكاحها وتزويجها لنفسي بالمهر المذكور حالا.

Dikutip dari kitab Tukhfatus-Saniyah

تحفة السنية فى الحطب الوعيظ

KHUTBAH IDOLA SEPANJANG ZAMAN.

Kategori
Uncategorized

HUKUM MENGANTARKAN JENAZAH DIIRINGI DENGAN PUKULAN HADRAH/REBANA

HUKUM MENGANTARKAN JENAZAH DENGAN DIIRINGI PUKULAN HADRAH(REBANA)

Pada tahun lalu ada fenomena yang langka yaitu seorang tokoh konun dia adalah seorang ahli seni dalam bidang sya’ir dan pukulan hadrah lalu dia,  meninggal, karena banyak masyarakat sekitarnya yang sukses mempelajari dari hasil karyanya lalu  disaat mereka mengantarkan jenazahnya menuju kuburan,untuk dikebumikan (dikuburkan) diiringi dengan  bacaan shalawat dan dzikir yang disertai pukulan  Hadrah.

Bagaimana pendapat Ulama tentang fenomena tersebut?

Jawaban :

■ Mengantarkan jenazah yang diiringi dengan pukulan hadrah tidaklah sesuai dengan sunnah yang ada, karena pukulan hadrah ( menabuh rebana) adalah identik dengan kejadian sukacita (kebahagiaan , kesenangan)dan bukan dukacita (kesusahan), maka jika seseorang meninggal lalu ketika dihantarkan menuju liang Lahat diiringi dengan pukulan hadrah maka hukumnya makruh apalagi diiringi oleh para wanita hukumnya makruh tanzih kecuali anaknya ( wanita mengiringi jenazah hukumnya makkruh tanzih) . Oleh karenanya sepantasnya bagi penghantar/pengiring janazah untuk diam merenung seraya berdzikir walau secara sir .

📚 Referensi :

📚 *مجموعة رسائل الإمام الغزالي – ج ١ – ص ٤٠٩*
آداب المشي في الجنازة: دوام الخشوع وغض البصر وترك الحديث وملاحظة الميت بالاعتبار والتفكر فيما يجيب به من السؤال والعزم على المبادرة فيما يخاف به من المطالبة وخوف حسرة الفوت عند هجوم الموت

📚 نهاية الزين ص ١٥٣
وَيكرهُ اللَّغط فِي الْجِنَازَة بل الْمُسْتَحبّ التفكر فِي الْمَوْت وَمَا بعده
قَالَ القليوبي وَيكرهُ رفع الصَّوْت بِالْقُرْآنِ وَالذكر وَالصَّلَاة على النَّبِي ﷺ
قَالَ المدابغي وَهَذَا بِاعْتِبَار مَا كَانَ فِي الصَّدْر الأول
وَأما الْآن فَلَا بَأْس بذلك لِأَنَّهُ شعار للْمَيت وَتَركه مزرأة وَلَو قيل بِوُجُوبِهِ لم يبعد.

📚 حاشية الشرواني على التحفة ص ١٨٧ ج ٣
(قَوْلُهُ كَرِهُوهُ حِينَئِذٍ) عِبَارَةُ النِّهَايَةِ وَالْمُغْنِي كَرِهُوا رَفْعَ الصَّوْتِ عِنْدَ الْجَنَائِزِ وَالْقِتَالِ وَالذِّكْرِ وَالْمُخْتَارِ وَالصَّوَابُ كَمَا فِي الْمَجْمُوعِ مَا كَانَ عَلَيْهِ السَّلَفُ مِنْ السُّكُوتِ فِي حَالِ السَّيْرِ مَعَ الْجِنَازَةِ اهـ قَالَ ع ش وَلَوْ قِيلَ بِنَدْبِ مَا يَفْعَلُ الْآنَ أَمَامَ الْجِنَازَةِ مِنْ الْيَمَانِيَةِ وَغَيْرِهِمْ لَمْ يَبْعُدْ لِأَنَّ فِي تَرْكِهِ إزْرَاءً بِالْمَيِّتِ وَتَعَرُّضًا لِلتَّكَلُّمِ فِيهِ وَفِي وَرَثَتِهِ فَلْيُرَاجَعْ.

📚 *تنوير القلوب – ص ٢١٣*
وَيُسَنُّ الْمَشْيُ اَمَامَهَا وَقُرْبَهَا وَاْلاِسْرَاعُ بِهَا وَالتَّفَكُّرُ فِى الْمَوْتِ وَماَبَعْدَهُ . وَكُرِهَ اللُّغَطُ وَالْحَدِيْثُ فِيْ اُمُوْرِ الدُّنْيَا *وَرَفْعِ الصَّوْتِ اِلاَّ بِالْقُرْأَنِ وَالذِّكْرِ وَالصَّلاَتِ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلاَ بَأْْسَ بِهِ اْلاَنَ لِأَنَّهُ شِعَارٌ لِلْمَيِّتِ*

📚 *حاشية الشرواني  ج ٣ ص ١٨٧*
*(‍ﻭ‍ﻳ‍‍ﻜ‍‍ﺮ‍ﻩ‍ ‍ﺍ‍ﻟ‍‍ﻠ‍‍ﻐ‍‍ﻂ‍) ‍ﻭ‍ﻫ‍‍ﻮ ‍ﺭ‍ﻓ‍‍ﻊ‍ ‍ﺍ‍ﻟ‍‍ﺼ‍‍ﻮ‍ﺕ‍ ‍ﻭ‍ﻟ‍‍ﻮ ‍ﺑ‍‍ﺎ‍ﻟ‍‍ﺬ‍ﻛ‍‍ﺮ ‍ﻭ‍ﺍ‍ﻟ‍‍ﻘ‍‍ﺮ‍ﺍﺀ‍ﺓ (‍ﻓ‍‍ﻲ‍) ‍ﺍ‍ﻟ‍‍ﻤ‍‍ﺸ‍‍ﻲ‍ ‍ﻣ‍‍ﻊ‍ (‍ﺍ‍ﻟ‍‍ﺠ‍‍ﻨ‍‍ﺎ‍ﺯ‍ﺓ) ‍ﻟ‍‍ﺄ‍ﻥ‍ ‍ﺍ‍ﻟ‍‍ﺼ‍‍ﺤ‍‍ﺎ‍ﺑ‍‍ﺔ – ‍ﺭ‍ﺿ‍‍ﻲ‍ ‍ﺍ‍ﻟ‍‍ﻠ‍‍ﻪ‍ ‍ﻋ‍‍ﻨ‍‍ﻬ‍‍ﻢ‍ – ‍ﻛ‍‍ﺮ‍ﻫ‍‍ﻮ‍ﻩ‍ ‍ﺣ‍‍ﻴ‍‍ﻨ‍‍ﺌ‍‍ﺬ ‍ﺭ‍ﻭ‍ﺍ‍ﻩ‍ ‍ﺍ‍ﻟ‍‍ﺒ‍‍ﻴ‍‍ﻬ‍‍ﻘ‍‍ﻲ‍ ‍ﻭ‍ﻛ‍‍ﺮ‍ﻩ‍ ‍ﺍ‍ﻟ‍‍ﺤ‍‍ﺴ‍‍ﻦ‍ ‍ﻭ‍ﻏ‍‍ﻴ‍‍ﺮ‍ﻩ‍ ‍ﺍ‍ﺳ‍‍ﺘ‍‍ﻐ‍‍ﻔ‍‍ﺮ‍ﻭ‍ﺍ ‍ﻟ‍‍ﺄ‍ﺧ‍‍ﻴ‍‍ﻜ‍‍ﻢ‍ ‍ﻭ‍ﻣ‍‍ﻦ‍ ‍ﺛ‍‍ﻢ‍ ‍ﻗ‍‍ﺎ‍ﻝ‍ ‍ﺍ‍ﺑ‍‍ﻦ‍ ‍ﻋ‍‍ﻤ‍‍ﺮ ‍ﻟ‍‍ﻘ‍‍ﺎ‍ﺋ‍‍ﻠ‍‍ﻪ‍ ‍ﻟ‍‍ﺎ ‍ﻏ‍‍ﻔ‍‍ﺮ ‍ﺍ‍ﻟ‍‍ﻠ‍‍ﻪ‍ ‍ﻟ‍‍ﻚ‍ ‍ﺑ‍‍ﻞ‍ ‍ﻳ‍‍ﺴ‍‍ﻜ‍‍ﺖ‍ ‍ﻣ‍‍ﺘ‍‍ﻔ‍‍ﻜ‍‍ﺮ‍ﺍ ‍ﻓ‍‍ﻲ‍ ‍ﺍ‍ﻟ‍‍ﻤ‍‍ﻮ‍ﺕ‍ ‍ﻭ‍ﻣ‍‍ﺎ ‍ﻳ‍‍ﺘ‍‍ﻌ‍‍ﻠ‍‍ﻖ‍ ‍ﺑ‍‍ﻪ‍ ‍ﻭ‍ﻓ‍‍ﻨ‍‍ﺎﺀ ‍ﺍ‍ﻟ‍‍ﺪ‍ﻧ‍‍ﻴ‍‍ﺎ ‍ﺫ‍ﺍ‍ﻛ‍‍ﺮ‍ﺍ ‍ﺑ‍‍ﻠ‍‍ﺴ‍‍ﺎ‍ﻧ‍‍ﻪ‍ ‍ﺳ‍‍ﺮ‍ﺍ ‍ﻟ‍‍ﺎ ‍ﺟ‍‍ﻬ‍‍ﺮ‍ﺍ ‍ﻟ‍‍ﺄ‍ﻧ‍‍ﻪ‍ ‍ﺑ‍‍ﺪ‍ﻋ‍‍ﺔ ‍ﻗ‍‍ﺒ‍‍ﻴ‍‍ﺤ‍‍ﺔ*
(‍ﻗ‍‍ﻮ‍ﻟ‍‍ﻪ‍ ‍ﻭ‍ﻟ‍‍ﻮ ‍ﺑ‍‍ﺎ‍ﻟ‍‍ﺬ‍ﻛ‍‍ﺮ ‍ﺇ‍ﻟ‍‍ﺦ‍) ‍ﻓ‍‍ﺮ‍ﺿ‍‍ﻮ‍ﺍ ‍ﻛ‍‍ﺮ‍ﺍ‍ﻫ‍‍ﺔ ‍ﺭ‍ﻓ‍‍ﻊ‍ ‍ﺍ‍ﻟ‍‍ﺼ‍‍ﻮ‍ﺕ‍ ‍ﺑ‍‍ﻬ‍‍ﻤ‍‍ﺎ ‍ﻓ‍‍ﻲ‍ ‍ﺣ‍‍ﺎ‍ﻝ‍ ‍ﺍ‍ﻟ‍‍ﺴ‍‍ﻴ‍‍ﺮ ‍ *ﻭ‍ﺳ‍‍ﻜ‍‍ﺘ‍‍ﻮ‍ﺍ ‍ﻋ‍‍ﻦ‍ ‍ﺫ‍ﻟ‍‍ﻚ‍ ‍ﻓ‍‍ﻲ‍ ‍ﺍ‍ﻟ‍‍ﺤ‍‍ﻀ‍‍ﻮ‍ﺭ ‍ﻋ‍‍ﻨ‍‍ﺪ ‍ﻏ‍‍ﺴ‍‍ﻠ‍‍ﻪ‍ ‍ﻭ‍ﺗ‍‍ﻜ‍‍ﻔ‍‍ﻴ‍‍ﻨ‍‍ﻪ‍ ‍ﻭ‍ﻭ‍ﺿ‍‍ﻌ‍‍ﻪ‍ ‍ﻓ‍‍ﻲ‍ ‍ﺍ‍ﻟ‍‍ﻨ‍‍ﻌ‍‍ﺶ‍ ‍ﻭ‍ﺑ‍‍ﻌ‍‍ﺪ ‍ﺍ‍ﻟ‍‍ﻮ‍ﺻ‍‍ﻮ‍ﻝ‍ ‍ﺇ‍ﻟ‍‍ﻰ ‍ﺍ‍ﻟ‍‍ﻤ‍‍ﻘ‍‍ﺒ‍‍ﺮ‍ﺓ ‍ﺇ‍ﻟ‍‍ﻰ ‍ﺩ‍ﻓ‍‍ﻨ‍‍ﻪ‍ ‍ﻭ‍ﻟ‍‍ﺎ ‍ﻳ‍‍ﺒ‍‍ﻌ‍‍ﺪ ‍ﺃ‍ﻥ‍ ‍ﺍ‍ﻟ‍‍ﺤ‍‍ﻜ‍‍ﻢ‍ ‍ﻛ‍‍ﺬ‍ﻟ‍‍ﻚ‍ ‍ﻓ‍‍ﻠ‍‍ﻴ‍‍ﺮ‍ﺍ‍ﺟ‍‍ﻊ‍ ‍ﺳ‍‍ﻢ‍ ‍ﻋ‍‍ﻠ‍‍ﻰ ‍ﺣ‍‍ﺞ‍ ‍ﺍ‍ﻩ‍ ‍ﻉ‍ ‍ﺵ‍*

📚 *إعانة الطالبين – (ج ٣ / ص ٣١٦)*
وقال في شرحه: قوله أعلنوا هذا النكاح، أي أظهروه إظهار السرور. وفرقا بينه وبين غيره واجعلوه في المساجد مبالغة في إظهاره واشتهاره، فإنه أعظم محافل الخير والفضل. وقوله واضربوا عليه بالدفوف: جمع دف، بالضم، ويفتح، ما يضرب به لحادث سرور. (فإن قلت) المسجد يصان عن ضرب الدف: فكيف أمر به؟ (قلت) ليس المراد أنه يضرب فيه، بل خارجه، والامر فيه إنما هو في مجرد العقد.

📚 *المنن الكبرى ص ١٧٦*
وقد درج السلف الصالح كلهم رضي الله تعالى عنهم على الخوف حتى ماتوا، حتى إن بعض رجال رسالة القشيري أوصى أهله وقال: إذا خرجت من هذه الدار على دين الإسلام ومت، فشيعوا جنازتي بالدف والمزمار أي الحلال، فلما مات فعلوا معه ذلك، ولا اعتراض على مثل ذلك، فإن الموت على الإسلام أعظم سروراً عند العاقل من تزويج ولد أو ختانه، وقد رأينا بعض العلماء والصالحين يعطون الزامر وغيره في الدعوات الفلوس على ذلك

و اختلاف الأئمة رحمة، وبالجملة فكل شيء دخل به المجرمون بيت الوالي جائز وقوعه من سيدي الشيخ، فليكن على حذر

📚 *الفتوحات الربانية على اذكر النواوية ج ٤ ص ١٨٣*
وَقَدْ جَرَّتْ اَلْعَادَةُ فِىْ بَلَدِناَ زَبِيْدٍ بِالْجَهْرِ باِلذِّكْرِ اَماَمَ الْجَناَزَةِ بِمَحْضَرٍ مِنَ اْلعُلَمَاءِ وَاْلفُقَهَاءِ وَالصُّلَحَاءِ *وَقَدْ عَمَّتْ اَلْبَلْوَى بِمَا شَاهِدْناَهُ مِنْ اِشْتِغَالٍ غاَلِبٍ الْمُشَيِّعِيْنَ بِالْحَدِيْثِ اَلدُّنْيَوِيِّ وَرُبَّمَا اَدَاهُمْ ذَلِكَ اِلَى الْغِيْبَةِ اَوْ غَيْرِهَا مِنَ اْلكَلاَمِ اَلْمُحَرَّمَةِ فَالَّذِيْ اِخْتَارَهُ اِنَّ شُغْلَ اِسْمَاعِهِمْ بِالذِّكْرِ اَلْمُؤَدِّيْ اِلَى تَرْكِ اْلكَلاَمِ وَتَقْلِيْلِهِ اَوْلَى مِنِ اسْتِرْسَالِهِمْ فِى اْلكَلاَمِ الدُّنْيَوِيِّ اِرْتِكَاباً بِأَخَّفِ الْمَفْسَدَتَيْنِ .* كَماَ هُوَ الْقَاعِدَةُ الشَّرْعِيَّةُ وَسَوَاءٌ اَلذِّكْرُ وَالتَّهْلِيْلُ وَغَيْرُهَا مِنْ اَنْوَاعِ الذِّكْرِ وَاللهُ اَعْلَمُ.

📚 *الأذكار النووية – يحيى بن شرف النووي – الصفحة ١٦٠*
(باب ما يقوله الماشي مع الجنازة) يستحب له أن يكون مشتغلا بذكر الله تعالى، والفكر فيما يلقاه الميت، وما يكون مصيره، وحاصل ما كان فيه، وأن هذا آخر الدنيا ومصير أهلها، *وليحذر كل الحذر من الحديث بما لا فائدة فيه، فإن هذا وقت فكر وذكر تقبح فيه الغفلة واللهو والاشتغال بالحديث الفارغ، فإن الكلام بما لا فائدة فيه منهي عنه في جميع الأحوال، فكيف هذا الحال.*
*واعلم أن الصواب المختار ما كان عليه السلف رضي الله عنهم: السكوت في حال السير مع الجنازة، فلا يرفع صوتا بقراءة، ولا ذكر، ولا غير ذلك، والحكمة فيه ظاهرة، وهي أنه أسكن لخاطره، وأجمع لفكره فيما يتعلق بالجنازة، وهو المطلوب في هذا الحال، فهذا هو الحق، ولا تغترن بكثرة من يخالفه*، فقد قال أبو علي الفضيل بن عياض رضي الله عنه ما معناه: ألزم طرق الهدى، ولا يضرك قلة السالكين، وإياك وطرق الضلالة، ولا تغتر بكثرة الهالكين.
وقد روينا في “سنن البيهقي” ما يقتضي ما قلته. وأما ما يفعله الجهلة من القراءة على الجنازة بدمشق وغيرها من القراءة بالتمطيط، وإخراج الكلام عن موضوعه، فحرام بإجماع العلماء، وقد أوضحت قبحه، وغلظ تحريمه، وفسق من تمكن من إنكاره، فلم ينكره في كتاب ” آداب القراء ” والله المستعان، وبه التوفيق

المجموع شرح المهذب. ص٢٥٩٠

وَأَمَّا النِّسَاءُ فَيُكْرَهُ لَهُنَّ اتِّبَاعُهَا وَلَا يَحْرُمُ هَذَا هُوَ الصَّوَابُ وَهُوَ الَّذِي قَالَهُ أَصْحَابُنَا وَأَمَّا قَوْلُ الشَّيْخِ نَصْرٌ الْمَقْدِسِيُّ رَحِمَهُ اللَّهُ لَا يَجُوزُ لِلنِّسَاءِ اتِّبَاعُ الْجِنَازَةِ فَمَحْمُولٌ عَلَى كَرَاهَةِ التَّنْزِيهِ فَإِنْ أَرَادَ بِهِ التَّحْرِيمَ فَهُوَ مَرْدُودٌ مُخَالِفٌ لِقَوْلِ الْأَصْحَابِ بَلْ لِلْحَدِيثِ الصَّحِيحِ قَالَتْ أُمُّ عَطِيَّةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا ” نُهِينَا عَنْ اتِّبَاعِ الْجَنَائِزِ وَلَمْ يُعْزَمْ عَلَيْنَا ” رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ وَمُسْلِمٌ وَهَذَا الْحَدِيثُ مَرْفُوعٌ فَهَذِهِ الصِّيغَةُ مَعْنَاهَا رَفْعُهُ إلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَمَا تَقَرَّرَ فِي كُتُبِ الْحَدِيثِ وَالْأُصُولِ وَقَوْلُهَا وَلَمْ يُعْزَمْ عَلَيْنَا مَعْنَاهُ نُهِينَا نَهْيًا شَدِيدًا غَيْرَ مُحَتَّمٍ وَمَعْنَاهُ كَرَاهَةُ تَنْزِيهٍ لَيْسَ بِحَرَامٍ وَأَمَّا الْحَدِيثُ الْمَرْوِيُّ عَنْ عَلِيٍّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ ” خَرَجَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَإِذَا نِسْوَةٌ جُلُوسٌ قَالَ مَا تَجْلِسْنَ قُلْنَ نَنْتَظِرُ الْجِنَازَةَ قَالَ هَلْ تُغَسِّلْنَ قُلْنَ لَا قَالَ هَلْ تَحْمِلْنَ قُلْنَ لَا قَالَ هَلْ تُدْلِينَ فِيمَنْ يُدْلِي قُلْنَ لَا قَالَ فَارْجِعْنَ مَأْزُورَاتٍ غَيْرَ مَأْجُورَاتٍ ” رَوَاهُ ابْنُ مَاجَهْ بِإِسْنَادٍ ضَعِيفٍ مِنْ رِوَايَةِ إسْمَاعِيلَ بْنِ سُلَيْمَانَ الْأَزْرَقِ وَنَقَلَ ابْنُ أَبِي حَاتِمٍ تَضْعِيفَهُ عَنْ أَعْلَامِ هَذَا الْفَنِّ (وَأَمَّا) حَدِيثُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ ” لَفَاطِمَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا مَا أَخْرَجَك مِنْ بَيْتِك قَالَتْ أَتَيْت أَهْلَ هَذَا الْبَيْتِ فَرَحَّمْتُ إلَيْهِمْ مَيِّتَهُمْ قَالَ لَعَلَّك بَلَغْت مَعَهُمْ الْكُدَى قَالَتْ مَعَاذَ اللَّهِ أَنْ أَكُونَ بَلَغْتهَا وقد سمعتك

تَذْكُرُ فِي ذَلِكَ مَا تَذْكُرُ فَقَالَ لَوْ بَلَغْتِهَا مَعَهُمْ مَا رَأَيْت الْجَنَّةَ حَتَّى يَرَاهَا جَدُّ أَبِيك ” فَرَوَاهُ أَحْمَدُ بْنُ حَنْبَلٍ وَأَبُو دَاوُد وَالنَّسَائِيُّ بِإِسْنَادٍ ضَعِيفٍ هَذَا الَّذِي ذَكَرْنَاهُ مِنْ كَرَاهَةِ اتِّبَاعِ النِّسَاءِ الْجِنَازَةَ هُوَ مَذْهَبُنَا وَمَذْهَبُ جَمَاهِيرِ الْعُلَمَاءِ حَكَاهُ ابْنُ الْمُنْذِرِ عَنْ ابْنِ مَسْعُودٍ وَابْنِ عُمَرَ وَأَبِي أُمَامَةَ وَعَائِشَةَ ومسروق والحسن والنخعي والاوزاعي وأحمد وإسحق وَبِهِ قَالَ الثَّوْرِيُّ وَعَنْ أَبِي الدَّرْدَاءِ وَالزُّهْرِيِّ وَرَبِيعَةَ أَنَّهُمْ لَمْ يُنْكِرُوا ذَلِكَ وَلَمْ يَكْرَهْهُ مَالِكٌ إلَّا لِلشَّابَّةِ وَحَكَى الْعَبْدَرِيُّ عَنْ مَالِكٍ أَنَّهُ يُكْرَهُ إلَّا أَنْ يَكُونَ الْمَيِّتُ وَلَدَهَا أَوْ وَالِدَهَا أَوْ زَوْجَهَا وَكَانَتْ مِمَّنْ يَخْرُجُ مثلها دَلِيلُنَا حَدِيثُ أُمِّ عَطِيَّةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا
*واللّه اعلم بالصواب*

Kategori
Uncategorized

HUKUM PEREMPUAN MINUM OBAT PENUNDA HAID GUNA UNTUK MENYEMPURNAKAN PELAKSAAN IBADAH PUASA DAN HAJI

HUKUM PEREMPUAN MINUM OBAT PENUNDA HAID GUNA UNTUK MENYEMPURNAKAN PELAKSANAAN IBADAH PUASA DAN HAJI

Perkembangan dunia medis bukanlah rahasia lagi. Yang mana dahulu dianggap mustahil, maka di era sekarang dengan perkembangan ilmu dan teknologi bisa terealisasi, yang diantaranya adalah keajaiban dunia medis berupa penemuaan obat penunda dan pengatur haid.

Studi Kasus Maimunah sudah terbiasa setiap bulannya datang haid ketika memasuki bulan Ramadhan bahkan dipertengahan bulan puasa ramadhan dia minum obat penunda haid dengan tujuan agar dia bisa melakukan dan menyempunakan ibadah puasa secara penuh satu bulan . Begitu juga halnya dengan Fatimah dia Ingin melakukan Ibada haji dan Umroh namun ketika akan berangkat dia minum obat penunda haid padahal seharusnya waktu itu sudah biasa haid atau sudah terbiasa setiap bulannya datang haid.

Pertanyaannya
Bolehkah wanita minum obat penunda haid dengan tujuan untuk menyempurnakan pelaksanaan ibadah puasa dan haji ?

Waalaikum salam.
Jawaban
Boleh bagi wanita yang biasa haid mengkonsumsi Obat penunda haid dengan tujuan untuk bisa mengatur siklus datang haid , sebagai solusi untuk menyempurnakan pelaksanaan ibadah puasa satu bulan penuh dan juga untuk kesempurnaan pelaksanaan ibadah haji, dengan catatan obat yang diminum tidak membahayakan terhadap dirinya, dan sepantasnya ia meminta saran dokter. Selanjutnya puasanya tetap dikatakan sah dan diterima oleh Allah SWT.
Sebagaimana Fatwa al-Qimath dan Syaikh Yusuf al-Qardhawi berikut:

Referensi:

غاية تلخيص المراد .ص.٢٤٧
وفى فتوى القماط حاصله جواز استعمال الدواء لمنع الحيض.

Dan kesimpulan dalam fatwa al-Qimath adalah boleh menggunakan obat-obatan untuk mencegah haid.

Dr. Yusuf al-Qardhawi dalam kitabnya Fatawa Mua’shirah Juz 1 halaman 129 mengatakan perempuan yang mengkonsumsi obat penunda haid dengan tujuan agar puasanya sempurna dibulan Ramadhan diperbolehkan.
Selanjutnya Yusuf Qardhawi berkata: “Pada dasarnya, saya pribadi tetap mengutamakan sesuatu berjalan sesuai dengan kodrat dan fitrahnya. Begitu juga dengan haid atau datang bulan, yang seharusnya tetap didasarkan pada sebuah kebiasaan yang sudah menjadi kodrat dan fitrah kaum perempuan yang dititipkan oleh Allah SWT. Mulai masa baligh hingga masa monopusnya ( masa tidak haid karena umur antara 45-50 ) Akan tetapi, seiring dengan perkembangan, diproduksilah sebuah pil atau obat yang mana ketika dikonsumsi dapat menunda dan mengatur siklus haid bagi perempuan serta juga dapat menunda kehamilan. Maka menurut saya, perempuan yang mengkonsumsi obat ini dengan tujuan agar puasanya sempurna dibulan Ramadhan diperbolehkan dengan catatan obat yang dikonsumsi tidak membahayakan menurut saran dokter. Selanjutnya hukum puasanya tetap dikatakan sah dan diterima oleh Allah SWT.”Insyaa Allah.

Penjelasan Dr. Yusuf al-Qardhawi di atas mengindikasikan kebolehan meminum pil penunda haid, tetapi dengan catatan tidak membahayakan tubuh yang meminumnya.

فتاوى معاصرة للشيخ يوسف القرضاوى.ج١ ص ١٢٩

س: نحن نعلم أن صيام رمضان خير وبركة في جميع أيامه، ولا نحب أن نحرم من بعض هذه الأيام صومًا ولا صلاة، فهل يجوز لنااستعمال حبوب منع الحيض مع العلم بأن البعض قد جربه ولم يضر ؟ نسوة مسلمات.

ج: أجمع المسلمون على أن المسلمة التي تأتيها العادة الشهرية في رمضان المبارك لا صيام عليها، أي لا صيام عليها في الشهر وإنما يجب عليها القضاء، وذلك تخفيف من الله ورحمة بالمرأة الحائض حيث يكون جسمها متعبًا وأعصابها متوترة، فأوجب عليها الإفطار إيجابًا وليس إباحة .. فإذا صامت لا يقبل منها الصيام ولا يجزئها، لابد أن تقضي أيامًا بدل هذه الأيام، وهكذا كان يفعل النساء المسلمات منذ عهد أمهات المؤمنين والصحابيات رضي الله عنهن ومن تبعهن بإحسان – ولا حرج إذن على المرأة المسلمة إذا وافتها هذه العادة الشهريةأن تفطر في رمضان، وأن تقضي بعد ذلك كما جاء عن عائشة: كنا نؤمر بقضاء الصوم، ولا نؤمر بقضاء الصلاة. (رواه البخاري)
وأنا أفضل شخصيًا أن تسير الأمور على الطبيعة وعلى الفطرة . فما دام هذا الحيض أمرًا طبيعيًا فطريًا فليبق كما هو على الطبيعة التي جعلها الله عز وجل، ولـكن إذا كان هناك نوع من الحبوب والأدوية ٺتعاطاها بعض النساء، لتأجيل الحيض كما هو
معروف من حبوب منع الحمل، وأرادت بعض النساء أن يتناولن هذه الحبوب لتأخير العادة عن موعدها حتى لا تفطر بعض أيام رمضان، فهذا لا بأس به بشرط أن ٺتأكد من عدم إضراره بها . وذلك باستشارة أهل الذكر، أهل الخـبرة . باستشارة طبيب حتى لا ٺتضرر من تناول هذه الحبوب . فإذا تأكد لها ذلك وتناولت هذه الحبوب وتأخرت العادة صامت، فإن صيامها مقبول إن شاء الله . والله أعلم بالصواب

Kategori
Uncategorized

DAMPAK PENGGUNAAN MINYAK GORENG YANG BERULANG KALI TERHADAP KESEHATAN BADAN

DAMPAK PENGGUNAAN MINYAK GORENG SECARA BERULANG KALI  TERHADAP KESEHATAN BADAN .

Assalamualaikum.
Deskripsi masalah.

Sebagian besar masyarakat Indonesia pastinya sudah tidak asing lagi dengan kudapan yang namanya gorengan, terkait dengan hal tersebut tentunya untuk pengolahannya menggunakan bahan baku yang utama yaitu tentunya minyak goreng.  Dimana minyak goreng merupakan bahan pangan yang sering digunakan masyarakat dalam kehidupan sehari-hari, minyak goreng bersifat menghantarkan panas, yang terbuat dari kelapa sawit dengan melalui proses perebusan selama 90 menit dan 3 kali penyaringan.
Masyarakat Indonesia memiliki tingkat ekonomi yang beda-beda, sebagian masyarakat yang menggunakan minyak goreng hanya untuk sekali pakai, namun ada juga masyarakat yang menggunakan minyak goreng yang lebih 2 kali pemakaian. Penggunaan minyak goreng tentunya tergantung dari kondisi ekonomi masyarakat itu sendiri.
Minyak goreng sangat sulit dipisahkan dari kehidupan masyarakat, tetapi terdapat satu permasalahan masyarakat yakni belum mengetahui kualitas fisis dari minyak goreng yang digunakan lebih dari 2 kali pemakaian. Minyak goreng lebih dari 2 kali pemakaian menurut pakar  kesehatan akan mempengaruhi perubahan viskositas dari minyak goreng tersebut, dari perubahan viskositas dari minyak goreng lebih dari 2 kali pemakaian warnanya berubah menjadi hitam hal ini sangat berbahaya bagi kesehatan tubuh khususnya untuk tekanan darah dan kolesterol, jika terpaksa minyak goreng sudah berkali-kali  tersebut maka efek  pada akhirnya bisa menjadi stroke yang sulit untuk ditasinya hingga  banyak memakan korban  misalnya.Sedangkan dalam waqiiyah  dimasyarakat   tidaklah sedikit  yang sering mengkonsumsi minyak lebih dari 2 kali karena beberapa faktor, di antaranya yakni faktor ekonomi, rasa sayang dan merasa rugi jika minyak goreng tersebut tidak digunakan karena harus dibuang, dan diganti dengan yang baru.
Katakanlah seseorang bernama Muqimin berasal dari Solo  penjual Sempol ayam goreng.

Adapun dalam praktek Muqimin adalah menggunakan minyak yang berkali-kali dipakai melebihi 2/3 kali sehingga jika sudah lama minyak dipakai maka warnanya berubah menjadi hitam sedangkan Muqimin menggunakan minyak dalam suhu yang tinggi dan apipun  dinyalakan terus-menerus mulai dari buka sampai tutup, selain itu  minyak goreng tersebut  ketika kena telor maka menjadi cepet hitam , sementara menurut pakar kesehatan menyarankan sebagai berikut:

✔️Minyak tidak boleh di gunakan lebih dari 2/3x alasannya karena  dapat membahayakan kesehatan, seperti:

  1. Menyebabkan toksisitas dalam tubuh dan meningkatkan kemungkinan gangguan jantung dan kognitif
  2. Ketika minyak yang sudah digunakan dipanaskan lagi, ia akan mengeluarkan konsentrasi yang lebih tinggi dari berbagai bahan kimia beracun seperti Aldehida yang terkait dengan berbagai gangguan kesehatan seperti penyakit yang berhubungan dengan jantung, masalah kognitif seperti demensia, Alzheimer dan penyakit Parkinson.
  3. Demikian juga zat beracun lain yang dilepaskan saat minyak dipanaskan kembali adalah 4-hydroxy-trans-2-nominal (HNE) yang bersifat racun dan cukup toksik bagi tubuh serta bisa menghambat fungsi DNA, RNA dan protein tubuh.
  4. Meningkatkan risiko peradangan dan kankerKarsinogen adalah zat yang berhubungan dengan pembentukan kanker dalam tubuh. Pemasan ulang minyak goreng meningkatkan zat berbahaya di dalamnya seperti hidrokarbon aromatik polisiklik (PAH) dan aldehida yang terkait dengan risiko tinggi kanker dan peradangan dalam tubuh.

Sementara Muqimin hanya sebatas  pedagang sempol ayam yang tidak memungkinkan hanya menggunakan minyak 3x goreng melainkan harus melebihi dari 3x goreng kalau tidak dengan cara yang demikian maka dapat dipastikan banyak menelan biaya yang besar.

Pertanyaannya.

Bagaimanakah hukum MUQIMIN menjual Sempol ayam halalkah  hasil dari penjualan dengan cara  tersebut  ? Kalau memang haram maka Muqimin siap akan tinggalkan walaupun dia menjadi orang yang pengangguran, tetapi sebaliknya jika halal maka dia akan menlanjutkan bisnisnya tersebut.  Mohon jawabannya. Beserta refrensinya pak ustad.

Waalaikum salam.

Jawaban.

Menjual makanan olahan  yang dimasak dengan minyak goreng yang berulang kali seperti Sempol ayam dll , hingga warna minyaknya berubah menjadi hitam , sedangkan menurut   medis setelah diadakan penelitian secara valid dan dapat dipertanggung jawabkan bahwa minyak goreng  yang digunakan berulang kali berbahaya bagi kesehatan  atau memicu penyakit tertentu , maka hukumnya ditafsil.

1.Haram dan tidak sah menjual barang yang dimasak dengan menggunakan minyak yang telah berkali-kali apabila sudah diadakan penelitian menurut   medis secara benar bahwa minyak goreng  dan hasil masakan dari minyak goreng tersebut berbahaya bagi  kesehatan dan juga telah dibuktikan oleh dirinya sendiri semisal beracun yang mematikan, maka kasus ini sama dengan menjual racun namun saja dikemas dengan model yang berbeda, begitu juga haram menjual makanan yang berformalin yang akhirnya membuat mudhorat/ bahaya walaupun tidak  harus sekaligus( sepontanitas).

Adapun alasan haram dan tidak sah, Karena keharaman mengikuti kepada kemudhoratan ( Lihat dalam kitab .Halal dan Haram Syaikh Yusuf al-Qardhawi: H. 34-35)

Berdasarkan hadits berikut:

رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا ضَرَرَ وَلَا ضِرَارَ

Artinya: Rasulullah Shalla Allahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tidak boleh membuat kemudharatan pada diri sendiri dan membuat kemudharatan pada orang lain.” Untuk lebih jelasnya keterangan hadits ini bisa dilihat dalam referensi kitab Majalisussaniyah.

2.Boleh dan halal, selama tidak ada keyakinan atau kepastian membahayakan begitu juga boleh jika  dalam penjualan sempol ayam tersebut ada manfaatnya dan juga ada mudhoratnya dengan catatan manfaatnya lebih banyak dari pada mudhoratnya, akan tetapi jika mudhoratnya lebih banyak maka haram dan tidak halal .

Maka solusinya adalah minyak harus dipakai tidak melebihi 2/3 kali pakai,dengan mengikuti Undang-undang dalam bidang kesehatan begitu seterusnya dengan demikian maka usahanya tetap halal dan sah .

Catatan
Pertimbangan
tetap melalui pembuktian secara medis dan pembuktian terhadap yang bersangkutan.

Referensi:

(المواهب السنية شرح الفرائد البهية مع حاشيته لمحمد ياسين الفاداني ص: ٢٤٦ – ٢٤٧ )
(لا ضَرَرَ) أَيْ لَا يُبَاحُ فِي الْإِسْلَامِ وَلَا ضِرارَ) وَفِي رِوَايَةٍ (وَلَا ضْرَارَ)وفي رواية ولا اضرار وَالْمَعْنَى لَا يُبَاحُ إِدْخَالُ الضَّرَرِ عَلَى إِنسَانٍ فِيمَا تَحْتَ يَدِهِ مِنْ مِلْكٍ أَوْ مَنْفَعَةٍ وَلَا يَجُوزُ لِأَحَدٍ أَنْ يُضر أَخَاهُ الْمُسْلِمَ (قَوْلُهُ وَلَا يَجُوزُ لِأَحَدٍ إِلخ) تَفْسِيرُ لِقَوْلِهِ وَلَا ضِرارَ أَي لا يُضِرُّ الرَّجُلُ أَخَاهُ فَيَنْتَقِصُ شَيْئًا مِنْ حَقِهِ وَيُجَازِيهِ عَلَى إِضْرَارِهِ بِإِدْخَالِ الضَّرَرِ عَلَيْهِ ، فَالضَّرَرُ فِعْل الْوَاحِدِ ، وَالضَّرَارُ فِعْلُ الاثْنَيْنِ.

Referensi:

(حاشية البجيرمي على المنهج الجزء الثاني ص: ٣٢٨)
وَيَحْرُمُ مَا يُضِرُّ الْبَدَنَ أَوِ الْعَقْلَ كَالحَجَرِ وَالتَّرَابِ وَالزُّجَاجِ وَالسُّمَ كَالْأَفِيُونِ وَهُوَ لَبَنُ الْخَشْخَاشِ لِأَنَّ ذَلِكَ مُضِرُّ وَرُبَّمَا يَقْتُلُ وَقَدْ قَالَ تَعَالَى ( وَلَا تُلْقُوا بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ) قَالَ الزَّرْكَشِيُّ فِي شَرْحِ التَّنْبِيهِ وَيَحْرُمُ أَكُلُ الشَّوَاءِ الْمَكْمُورِ وَهُوَ مَا يَكْفَأُء عَلَيْهِ غِطَاءُ بَعْدَ اسْتِوَائِهِ لِإِضْرَارِهِ بِالْبَدَنِ


Referensi:

(نهاية المحتاج مع حاشيته للشبراملسي الجزء الثالث ص: ١٤ طبعة دار الكتب العلمية )
ويحرم بيعُ السُّمَ إِنْ قَتَلَ كَثِيرُهُ وَقَلِيلُهُ فَإِنْ نَفَعَ قَلِيلُهُ وَقَتَلَ كَثِيرُهُ كَالْأَفيونِ جَازَ (قَوْلُهُ وَيحرُمُ) أَيْ وَلَا يَصِحُ بيع السمَ إِنْ قَتَلَ كَثِيرُهُ وَكَذَا إِنْ ضَرَّ كَثِيرُهُ وَقَلِيلُهُ (قَوْلُهُ فَإِنْ  نفَعَ قَلِيلُهُ) قَضِيَّتُهُ الْحَرْمَةُ فِيمَا لَوْ لَمْ يَنْفَعْ قلِيلُهُ وَضَرَّ كَثِيرُهُ ، وَالظَّاهِرُ أَنَّهَا غَيْرُ مُرَادَةٍ لأَنَّهُ لَا مَعْنى لِلْحُرِّمَةِ مَعَ انْتِفَاءِ الضَّرَرِ ، نَعَمْ قَدْ يُقَالُ بِفَسَادِ الْبَيْعِ وَبِالحَرْمَةِ لِعَدَمِ الانتفاع به كالخَشَرَاتِ وَحَبَّتى الحِنْطَةِ فَإِنَّ بَيْعَهَا بَاطِل لعدم النفْعِ وَإِنِ انْتَقَى الطَّرَرُ فَمَا هُنَا أَوْلَى لِوُجُودِ الضَّرَرِ فِيهِ ، وَهَلِ الْعِبْرَةُ بِالْمُتَعَاطِي لَهُ حَتَّى لَوْ كَانَ القَدْرُ الَّذِي يَتَناوَلُهُ لَا يَضُرُّ لِاعْتِيادِهِ عَلَيْهِ وَيَضُرُّ غَيْرَهُ لَمْ يَحْرُمُ ، أوِ الْعِبْرَةُ بِغَالِبِ النَّاسِ فَيَحْرُمُ ذَلِكَ عَلَيْهِ وَإِنْ لَمْ يَضُرُّهُ ، فِيهِ نَظَرُ وَالْأَقْرَبُ الثاني (قوله وَقَتَلَ كَثِيرُهُ) أَيْ أَوْ ضَرَّ.

Referensi :

(المجالس السنية،في الكلام على الحديث الاءربعين النبوية)
( عن الى سعيد سعد بن مالك بن سنان الخزرجي رضي الله عنه أن رسول الله قال لا ضرر ولا ضرار حدیث حسن رواه ابن ماجه والدارقطني وغيرهما مسندا ورواه مالك في الموطاءعن عمر و بن يحيى عن أبيه عن النبي مرسلا فأسقط أبا سعيد وله طرق يقوى بعضها بعضا )
اعلموا اخوانى وفقني الله واياكم لطاعته أن هذا الحديث حديث عظيم ( فقوله لا ضرر ولاضرار ) بكسر أوله من ضره وضار ره بمعنى و هو خلاف النفع كذا قاله الجوهري فالجمع بينهما للتأ كيد والمشهور أن بينهما فرقا قيل الأول الحاق مفسدة بالغير مطلقا والثاني الحاق مفسدة بالغير على وجه المقابلة أي كل منهما يقصد ضرر صاحبه من غير جهة الاعتداء بالمثل والانتصار بالحق وقال ابن حبيب الضرر عند أهل العربية الاسم والضرار الفعل فمعنى الأول لاتدخل على أخيك ضررا لم يدخله على نفسه و معنى الثاني لا يضار أحد بأحد وقيل الضرر أن على غيره ضررا بما ينتفع هو به والضرار أن يدخل على غيره ضررا بمالامنفعة له به كمن منع مالا يضره و يتضرر به الممنوع ورجح هـذا طائفة منهم ابن عبدالبر وابن الصلاح وقيل الاول مالك فيه منفعة وعلى جارك فيه مضرة والثاني مالا منفعة فيه لك وعلى جارك فيه مضرة وهو مجرد تحكم بلادليل وان قال غير واحد ان هذاوجه حسن المعنى في الحديث وفي رواية ولا اضرار من أضر به اضرارا اذا ألحق به ضررا قال ابن الصلاح هي على ألسنة كثير من الفقهاء والمحدثين ولاصحة لها ولذا أنكرها آخرون وخبر لا محذوف أي في ديننا أو في شر يعتنا وظاهر الحديث تحر يم سائر أنواع الضرر الا لدليل لان النكرة في سياق النفى نعم وفي الحديث بعثت بالحنيفية السمحة السهلة وقد صح حرم الله من المؤمن دمه وماله وعرضه وأن لا يظن به الا خيرا وصح ايضا  ان دماءكم واموالكم واعراضكم حرام عليكم.

. الحلال والحرام للشيخ يوسف القرضاوى ص٣٤-٣٥

التحريم يتبع الخبث والضرر

من حق الله تعالى ـ لكونه خالقا للناس ومنعمًا عليهم بنعم لا تحصى ـ أن يحل لهم ، وأن يحرم عليهم ما يشاء ، كما له أن يتعبدهم من التكاليف والشَّعائر بما يشاء وليس لهم أن يعترضوا أو يعصوا ، فهذا حق ربوبيته لهم ومقتضى عبوديتهم له
ـ ولكنه تعالى رحمة منه بعباده جعل التحليل والتحريم لعال معقولة ، راجعة لمصلحة البشر أنفسهم ، فلم يحل سبحانه إلا طيبا ، ولم يُحَر ِم الا خبيثا
صحيح أنه تعالى قد حَرَّم على أمة اليهود بعض أصناف من
الطيبات ، غير أن ذلك كان عقوبة لهم على بغيهم وانتهاكهم حرمات الله ، كما : قال تعالى وعلى الذين هادوا حرمنا كل ذي ظفر ومن البقر والغنم حرمنا عليهم شحومهما إلا ماحملت ظهورهما أو الحوايا أو مااختلط بعظم ، ذلك جزينهم ببغيهم وإنا لصادقون ( الأنعام : ٤١٦ ).:وقد بيَّن الله صورا من هذا البغي في سورة أخرى ، فقال تعالى .فبظلم من الذين هادوا حرمنا عليهم طيبات أحلت لهم وبصدهم عن سبيل الله كثيرا (*) وأخذهم الربا وقد نهوا عنه وأكلهم أموال الناس بالباطل ( النساء : ١٦٠ ، ١٦١).
فلما بعث الله خاتم رسله بالد ِين العام الخالد ، كان من رحمته تعالى بالبشرية بعد أن نضجت وبلغت رشدها أن يرفع عنها إصْر التحريم ـ بعد أن نضجت وبلغت رشدها الذي كان تأديبا ملقتا لشعب عات صلب الرقبةكما وصفته التوراة وكان عنوان الرسالة المحمديةعندأهل الكتاب كما ذكر القرآن أنهم( تجدونه مكتوبا عند هم فى التوراة والإنجيل يأمره بالمعروف وينهاهم عن
المنكر ويحل لهم الطيبات ويحرم عليهم الخبائث ويضع عنهم إصرهم والأغلال التى كانت عليهم ( الأعراف : ١٥٧ ).
وشرع الله لتكفير الخطيئة في الإسلام أمورا أخرى غير تحريم
الطيبات ، فهناك التوبة النصوح التي تمحو الذنب كما يمحو الماء الوسخ وهناك الحسنات التي يذهبن السيات
وهناك الصدقات التي تطفئ الخطيئة كما يطفئ الماء النار ، وهناك المحن والمصائب التي تتناثر بها الخطايا ، كما يتناثر ورق الشجر في الشتاء إذا يبس. وبذلك أصبح معروفا في الإسلام أن التحريم يتبع الخَبَث والضرر ، وبذلك فما كان خالصَالضَّرر فهو حرام ، وما كان خالص النفع فهو حلال ،وما كان ضرره أكبر من نفعه فهو حرام ، وما كان نفعه أكبر فهو حلال : ، وهذا ما صر به القرآن الكريم في شأن الخمر والميسر.
ويسألونك عن الخمر والميسر قل فيهما إثم كبير ومنافع للناس وإثمهما أكبر من نفعهما ( البقرة : ٢١٩ ) .، كما أصبح من الأجوبة الصريحة إذا سُئل عن الحلال في الإسلام أنه(. الطيبات )أي الأشياء التي تستطيبها
النفوس المعتدلة ، ويستحسنها الناس في مجموعهم استحسانا غير ناشئ من أثر العادة . قال تعالى : ويسألونك ماذا أحل لهم قل أحل لكم الطيبات ( المائدة : ٤).وقال : اليوم أحل أحل لكم الطيبات ( المائدة : ٥) .وليس من اللازم أن يكون المسلم على علم تفصيلي ، بالخبث أو الضرر الذي الذي حرم الله من أجله شيئا من الأشياء فقد يخفى عليه ما يظهر لغيره وقد لا ينكشف خبث الشيء في عصر ، ويتجلى في عصر لاحق ، وعلى المؤمن أن يقول دائما ( سمعنا وأطعنا)( البقرة: ٢٨٥ )

والله أعلم بالصواب.