logo mubaa
Logo Ittihad

DEWAN PIMPINAN PUSAT
IKATAN ALUMNI BATA-BATA

DAMPAK PENGGUNAAN MINYAK GORENG YANG BERULANG KALI TERHADAP KESEHATAN BADAN

DAMPAK PENGGUNAAN MINYAK GORENG SECARA BERULANG KALI  TERHADAP KESEHATAN BADAN .

Assalamualaikum.
Deskripsi masalah.

Sebagian besar masyarakat Indonesia pastinya sudah tidak asing lagi dengan kudapan yang namanya gorengan, terkait dengan hal tersebut tentunya untuk pengolahannya menggunakan bahan baku yang utama yaitu tentunya minyak goreng.  Dimana minyak goreng merupakan bahan pangan yang sering digunakan masyarakat dalam kehidupan sehari-hari, minyak goreng bersifat menghantarkan panas, yang terbuat dari kelapa sawit dengan melalui proses perebusan selama 90 menit dan 3 kali penyaringan.
Masyarakat Indonesia memiliki tingkat ekonomi yang beda-beda, sebagian masyarakat yang menggunakan minyak goreng hanya untuk sekali pakai, namun ada juga masyarakat yang menggunakan minyak goreng yang lebih 2 kali pemakaian. Penggunaan minyak goreng tentunya tergantung dari kondisi ekonomi masyarakat itu sendiri.
Minyak goreng sangat sulit dipisahkan dari kehidupan masyarakat, tetapi terdapat satu permasalahan masyarakat yakni belum mengetahui kualitas fisis dari minyak goreng yang digunakan lebih dari 2 kali pemakaian. Minyak goreng lebih dari 2 kali pemakaian menurut pakar  kesehatan akan mempengaruhi perubahan viskositas dari minyak goreng tersebut, dari perubahan viskositas dari minyak goreng lebih dari 2 kali pemakaian warnanya berubah menjadi hitam hal ini sangat berbahaya bagi kesehatan tubuh khususnya untuk tekanan darah dan kolesterol, jika terpaksa minyak goreng sudah berkali-kali  tersebut maka efek  pada akhirnya bisa menjadi stroke yang sulit untuk ditasinya hingga  banyak memakan korban  misalnya.Sedangkan dalam waqiiyah  dimasyarakat   tidaklah sedikit  yang sering mengkonsumsi minyak lebih dari 2 kali karena beberapa faktor, di antaranya yakni faktor ekonomi, rasa sayang dan merasa rugi jika minyak goreng tersebut tidak digunakan karena harus dibuang, dan diganti dengan yang baru.
Katakanlah seseorang bernama Muqimin berasal dari Solo  penjual Sempol ayam goreng.

Adapun dalam praktek Muqimin adalah menggunakan minyak yang berkali-kali dipakai melebihi 2/3 kali sehingga jika sudah lama minyak dipakai maka warnanya berubah menjadi hitam sedangkan Muqimin menggunakan minyak dalam suhu yang tinggi dan apipun  dinyalakan terus-menerus mulai dari buka sampai tutup, selain itu  minyak goreng tersebut  ketika kena telor maka menjadi cepet hitam , sementara menurut pakar kesehatan menyarankan sebagai berikut:

✔️Minyak tidak boleh di gunakan lebih dari 2/3x alasannya karena  dapat membahayakan kesehatan, seperti:

  1. Menyebabkan toksisitas dalam tubuh dan meningkatkan kemungkinan gangguan jantung dan kognitif
  2. Ketika minyak yang sudah digunakan dipanaskan lagi, ia akan mengeluarkan konsentrasi yang lebih tinggi dari berbagai bahan kimia beracun seperti Aldehida yang terkait dengan berbagai gangguan kesehatan seperti penyakit yang berhubungan dengan jantung, masalah kognitif seperti demensia, Alzheimer dan penyakit Parkinson.
  3. Demikian juga zat beracun lain yang dilepaskan saat minyak dipanaskan kembali adalah 4-hydroxy-trans-2-nominal (HNE) yang bersifat racun dan cukup toksik bagi tubuh serta bisa menghambat fungsi DNA, RNA dan protein tubuh.
  4. Meningkatkan risiko peradangan dan kankerKarsinogen adalah zat yang berhubungan dengan pembentukan kanker dalam tubuh. Pemasan ulang minyak goreng meningkatkan zat berbahaya di dalamnya seperti hidrokarbon aromatik polisiklik (PAH) dan aldehida yang terkait dengan risiko tinggi kanker dan peradangan dalam tubuh.

Sementara Muqimin hanya sebatas  pedagang sempol ayam yang tidak memungkinkan hanya menggunakan minyak 3x goreng melainkan harus melebihi dari 3x goreng kalau tidak dengan cara yang demikian maka dapat dipastikan banyak menelan biaya yang besar.

Pertanyaannya.

Bagaimanakah hukum MUQIMIN menjual Sempol ayam halalkah  hasil dari penjualan dengan cara  tersebut  ? Kalau memang haram maka Muqimin siap akan tinggalkan walaupun dia menjadi orang yang pengangguran, tetapi sebaliknya jika halal maka dia akan menlanjutkan bisnisnya tersebut.  Mohon jawabannya. Beserta refrensinya pak ustad.

Waalaikum salam.

Jawaban.

Menjual makanan olahan  yang dimasak dengan minyak goreng yang berulang kali seperti Sempol ayam dll , hingga warna minyaknya berubah menjadi hitam , sedangkan menurut   medis setelah diadakan penelitian secara valid dan dapat dipertanggung jawabkan bahwa minyak goreng  yang digunakan berulang kali berbahaya bagi kesehatan  atau memicu penyakit tertentu , maka hukumnya ditafsil.

1.Haram dan tidak sah menjual barang yang dimasak dengan menggunakan minyak yang telah berkali-kali apabila sudah diadakan penelitian menurut   medis secara benar bahwa minyak goreng  dan hasil masakan dari minyak goreng tersebut berbahaya bagi  kesehatan dan juga telah dibuktikan oleh dirinya sendiri semisal beracun yang mematikan, maka kasus ini sama dengan menjual racun namun saja dikemas dengan model yang berbeda, begitu juga haram menjual makanan yang berformalin yang akhirnya membuat mudhorat/ bahaya walaupun tidak  harus sekaligus( sepontanitas).

Adapun alasan haram dan tidak sah, Karena keharaman mengikuti kepada kemudhoratan ( Lihat dalam kitab .Halal dan Haram Syaikh Yusuf al-Qardhawi: H. 34-35)

Berdasarkan hadits berikut:

رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا ضَرَرَ وَلَا ضِرَارَ

Artinya: Rasulullah Shalla Allahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tidak boleh membuat kemudharatan pada diri sendiri dan membuat kemudharatan pada orang lain.” Untuk lebih jelasnya keterangan hadits ini bisa dilihat dalam referensi kitab Majalisussaniyah.

2.Boleh dan halal, selama tidak ada keyakinan atau kepastian membahayakan begitu juga boleh jika  dalam penjualan sempol ayam tersebut ada manfaatnya dan juga ada mudhoratnya dengan catatan manfaatnya lebih banyak dari pada mudhoratnya, akan tetapi jika mudhoratnya lebih banyak maka haram dan tidak halal .

Maka solusinya adalah minyak harus dipakai tidak melebihi 2/3 kali pakai,dengan mengikuti Undang-undang dalam bidang kesehatan begitu seterusnya dengan demikian maka usahanya tetap halal dan sah .

Catatan
Pertimbangan
tetap melalui pembuktian secara medis dan pembuktian terhadap yang bersangkutan.

Referensi:

(المواهب السنية شرح الفرائد البهية مع حاشيته لمحمد ياسين الفاداني ص: ٢٤٦ – ٢٤٧ )
(لا ضَرَرَ) أَيْ لَا يُبَاحُ فِي الْإِسْلَامِ وَلَا ضِرارَ) وَفِي رِوَايَةٍ (وَلَا ضْرَارَ)وفي رواية ولا اضرار وَالْمَعْنَى لَا يُبَاحُ إِدْخَالُ الضَّرَرِ عَلَى إِنسَانٍ فِيمَا تَحْتَ يَدِهِ مِنْ مِلْكٍ أَوْ مَنْفَعَةٍ وَلَا يَجُوزُ لِأَحَدٍ أَنْ يُضر أَخَاهُ الْمُسْلِمَ (قَوْلُهُ وَلَا يَجُوزُ لِأَحَدٍ إِلخ) تَفْسِيرُ لِقَوْلِهِ وَلَا ضِرارَ أَي لا يُضِرُّ الرَّجُلُ أَخَاهُ فَيَنْتَقِصُ شَيْئًا مِنْ حَقِهِ وَيُجَازِيهِ عَلَى إِضْرَارِهِ بِإِدْخَالِ الضَّرَرِ عَلَيْهِ ، فَالضَّرَرُ فِعْل الْوَاحِدِ ، وَالضَّرَارُ فِعْلُ الاثْنَيْنِ.

Referensi:

(حاشية البجيرمي على المنهج الجزء الثاني ص: ٣٢٨)
وَيَحْرُمُ مَا يُضِرُّ الْبَدَنَ أَوِ الْعَقْلَ كَالحَجَرِ وَالتَّرَابِ وَالزُّجَاجِ وَالسُّمَ كَالْأَفِيُونِ وَهُوَ لَبَنُ الْخَشْخَاشِ لِأَنَّ ذَلِكَ مُضِرُّ وَرُبَّمَا يَقْتُلُ وَقَدْ قَالَ تَعَالَى ( وَلَا تُلْقُوا بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ) قَالَ الزَّرْكَشِيُّ فِي شَرْحِ التَّنْبِيهِ وَيَحْرُمُ أَكُلُ الشَّوَاءِ الْمَكْمُورِ وَهُوَ مَا يَكْفَأُء عَلَيْهِ غِطَاءُ بَعْدَ اسْتِوَائِهِ لِإِضْرَارِهِ بِالْبَدَنِ


Referensi:

(نهاية المحتاج مع حاشيته للشبراملسي الجزء الثالث ص: ١٤ طبعة دار الكتب العلمية )
ويحرم بيعُ السُّمَ إِنْ قَتَلَ كَثِيرُهُ وَقَلِيلُهُ فَإِنْ نَفَعَ قَلِيلُهُ وَقَتَلَ كَثِيرُهُ كَالْأَفيونِ جَازَ (قَوْلُهُ وَيحرُمُ) أَيْ وَلَا يَصِحُ بيع السمَ إِنْ قَتَلَ كَثِيرُهُ وَكَذَا إِنْ ضَرَّ كَثِيرُهُ وَقَلِيلُهُ (قَوْلُهُ فَإِنْ  نفَعَ قَلِيلُهُ) قَضِيَّتُهُ الْحَرْمَةُ فِيمَا لَوْ لَمْ يَنْفَعْ قلِيلُهُ وَضَرَّ كَثِيرُهُ ، وَالظَّاهِرُ أَنَّهَا غَيْرُ مُرَادَةٍ لأَنَّهُ لَا مَعْنى لِلْحُرِّمَةِ مَعَ انْتِفَاءِ الضَّرَرِ ، نَعَمْ قَدْ يُقَالُ بِفَسَادِ الْبَيْعِ وَبِالحَرْمَةِ لِعَدَمِ الانتفاع به كالخَشَرَاتِ وَحَبَّتى الحِنْطَةِ فَإِنَّ بَيْعَهَا بَاطِل لعدم النفْعِ وَإِنِ انْتَقَى الطَّرَرُ فَمَا هُنَا أَوْلَى لِوُجُودِ الضَّرَرِ فِيهِ ، وَهَلِ الْعِبْرَةُ بِالْمُتَعَاطِي لَهُ حَتَّى لَوْ كَانَ القَدْرُ الَّذِي يَتَناوَلُهُ لَا يَضُرُّ لِاعْتِيادِهِ عَلَيْهِ وَيَضُرُّ غَيْرَهُ لَمْ يَحْرُمُ ، أوِ الْعِبْرَةُ بِغَالِبِ النَّاسِ فَيَحْرُمُ ذَلِكَ عَلَيْهِ وَإِنْ لَمْ يَضُرُّهُ ، فِيهِ نَظَرُ وَالْأَقْرَبُ الثاني (قوله وَقَتَلَ كَثِيرُهُ) أَيْ أَوْ ضَرَّ.

Referensi :

(المجالس السنية،في الكلام على الحديث الاءربعين النبوية)
( عن الى سعيد سعد بن مالك بن سنان الخزرجي رضي الله عنه أن رسول الله قال لا ضرر ولا ضرار حدیث حسن رواه ابن ماجه والدارقطني وغيرهما مسندا ورواه مالك في الموطاءعن عمر و بن يحيى عن أبيه عن النبي مرسلا فأسقط أبا سعيد وله طرق يقوى بعضها بعضا )
اعلموا اخوانى وفقني الله واياكم لطاعته أن هذا الحديث حديث عظيم ( فقوله لا ضرر ولاضرار ) بكسر أوله من ضره وضار ره بمعنى و هو خلاف النفع كذا قاله الجوهري فالجمع بينهما للتأ كيد والمشهور أن بينهما فرقا قيل الأول الحاق مفسدة بالغير مطلقا والثاني الحاق مفسدة بالغير على وجه المقابلة أي كل منهما يقصد ضرر صاحبه من غير جهة الاعتداء بالمثل والانتصار بالحق وقال ابن حبيب الضرر عند أهل العربية الاسم والضرار الفعل فمعنى الأول لاتدخل على أخيك ضررا لم يدخله على نفسه و معنى الثاني لا يضار أحد بأحد وقيل الضرر أن على غيره ضررا بما ينتفع هو به والضرار أن يدخل على غيره ضررا بمالامنفعة له به كمن منع مالا يضره و يتضرر به الممنوع ورجح هـذا طائفة منهم ابن عبدالبر وابن الصلاح وقيل الاول مالك فيه منفعة وعلى جارك فيه مضرة والثاني مالا منفعة فيه لك وعلى جارك فيه مضرة وهو مجرد تحكم بلادليل وان قال غير واحد ان هذاوجه حسن المعنى في الحديث وفي رواية ولا اضرار من أضر به اضرارا اذا ألحق به ضررا قال ابن الصلاح هي على ألسنة كثير من الفقهاء والمحدثين ولاصحة لها ولذا أنكرها آخرون وخبر لا محذوف أي في ديننا أو في شر يعتنا وظاهر الحديث تحر يم سائر أنواع الضرر الا لدليل لان النكرة في سياق النفى نعم وفي الحديث بعثت بالحنيفية السمحة السهلة وقد صح حرم الله من المؤمن دمه وماله وعرضه وأن لا يظن به الا خيرا وصح ايضا  ان دماءكم واموالكم واعراضكم حرام عليكم.

. الحلال والحرام للشيخ يوسف القرضاوى ص٣٤-٣٥

التحريم يتبع الخبث والضرر

من حق الله تعالى ـ لكونه خالقا للناس ومنعمًا عليهم بنعم لا تحصى ـ أن يحل لهم ، وأن يحرم عليهم ما يشاء ، كما له أن يتعبدهم من التكاليف والشَّعائر بما يشاء وليس لهم أن يعترضوا أو يعصوا ، فهذا حق ربوبيته لهم ومقتضى عبوديتهم له
ـ ولكنه تعالى رحمة منه بعباده جعل التحليل والتحريم لعال معقولة ، راجعة لمصلحة البشر أنفسهم ، فلم يحل سبحانه إلا طيبا ، ولم يُحَر ِم الا خبيثا
صحيح أنه تعالى قد حَرَّم على أمة اليهود بعض أصناف من
الطيبات ، غير أن ذلك كان عقوبة لهم على بغيهم وانتهاكهم حرمات الله ، كما : قال تعالى وعلى الذين هادوا حرمنا كل ذي ظفر ومن البقر والغنم حرمنا عليهم شحومهما إلا ماحملت ظهورهما أو الحوايا أو مااختلط بعظم ، ذلك جزينهم ببغيهم وإنا لصادقون ( الأنعام : ٤١٦ ).:وقد بيَّن الله صورا من هذا البغي في سورة أخرى ، فقال تعالى .فبظلم من الذين هادوا حرمنا عليهم طيبات أحلت لهم وبصدهم عن سبيل الله كثيرا (*) وأخذهم الربا وقد نهوا عنه وأكلهم أموال الناس بالباطل ( النساء : ١٦٠ ، ١٦١).
فلما بعث الله خاتم رسله بالد ِين العام الخالد ، كان من رحمته تعالى بالبشرية بعد أن نضجت وبلغت رشدها أن يرفع عنها إصْر التحريم ـ بعد أن نضجت وبلغت رشدها الذي كان تأديبا ملقتا لشعب عات صلب الرقبةكما وصفته التوراة وكان عنوان الرسالة المحمديةعندأهل الكتاب كما ذكر القرآن أنهم( تجدونه مكتوبا عند هم فى التوراة والإنجيل يأمره بالمعروف وينهاهم عن
المنكر ويحل لهم الطيبات ويحرم عليهم الخبائث ويضع عنهم إصرهم والأغلال التى كانت عليهم ( الأعراف : ١٥٧ ).
وشرع الله لتكفير الخطيئة في الإسلام أمورا أخرى غير تحريم
الطيبات ، فهناك التوبة النصوح التي تمحو الذنب كما يمحو الماء الوسخ وهناك الحسنات التي يذهبن السيات
وهناك الصدقات التي تطفئ الخطيئة كما يطفئ الماء النار ، وهناك المحن والمصائب التي تتناثر بها الخطايا ، كما يتناثر ورق الشجر في الشتاء إذا يبس. وبذلك أصبح معروفا في الإسلام أن التحريم يتبع الخَبَث والضرر ، وبذلك فما كان خالصَالضَّرر فهو حرام ، وما كان خالص النفع فهو حلال ،وما كان ضرره أكبر من نفعه فهو حرام ، وما كان نفعه أكبر فهو حلال : ، وهذا ما صر به القرآن الكريم في شأن الخمر والميسر.
ويسألونك عن الخمر والميسر قل فيهما إثم كبير ومنافع للناس وإثمهما أكبر من نفعهما ( البقرة : ٢١٩ ) .، كما أصبح من الأجوبة الصريحة إذا سُئل عن الحلال في الإسلام أنه(. الطيبات )أي الأشياء التي تستطيبها
النفوس المعتدلة ، ويستحسنها الناس في مجموعهم استحسانا غير ناشئ من أثر العادة . قال تعالى : ويسألونك ماذا أحل لهم قل أحل لكم الطيبات ( المائدة : ٤).وقال : اليوم أحل أحل لكم الطيبات ( المائدة : ٥) .وليس من اللازم أن يكون المسلم على علم تفصيلي ، بالخبث أو الضرر الذي الذي حرم الله من أجله شيئا من الأشياء فقد يخفى عليه ما يظهر لغيره وقد لا ينكشف خبث الشيء في عصر ، ويتجلى في عصر لاحق ، وعلى المؤمن أن يقول دائما ( سمعنا وأطعنا)( البقرة: ٢٨٥ )

والله أعلم بالصواب.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

#TERKINI

#WARTA

#HUKUM