logo mubaa
Logo Ittihad

DEWAN PIMPINAN PUSAT
IKATAN ALUMNI BATA-BATA

Kategori
Uncategorized

HUKUMNYA ISTRI DAN ANAK MEMAKAN DAGING KURBAN/AQIQOH NAZAR SUAMI

HUKUMNYA ISTRI DAN ANAK MEMAKAN DAGING KURBAN YANG TELAH DINAZARKAN OLEH SUAMI

Dalam hukum syariat orang yang bernadzar untuk berkurban atau kurban wajib diharamkan memakannya Namun dalam waqiiyah terkadang dimasyarakat anaknya dan istrinya makan karena menurutnya yang bernadzar adalah suaminya bukan dirinya

Pertanyaannya.
Bagaimana hukumnya Istri dan anak memakan daging qurban yang telah dinadzarkan oleh suaminya sebagaimana deskripsi.

Waalaikum salam.
Jawaban.
Istri dan anaknya orang yang bernadzar kurban tidak boleh memakannya sebagaimana diharamkan orang yang bernadzar ( suaminya ) Alasannya karena keluarga ( istri) dan anaknya termasuk orang yang wajib dinafkahinya selain itu barang yang dinadzakrkan sudah bukan hak miliknya melainkan hak orang fakir dan miskin.

Jadi dapat disimpulkan bahwa istri dan anaknya orang yang bernadzar kurban/aqiqoh haram memakan sebagaimana orang yang bernazar kurban/aqiqoh diharamkan memakannya, apalagi niatnya kurban untuk sekeluarga sebagaimana tidak diperbolehkan memberikan zakat kepada orang yang masih menjadi tanggung jawabnya memberikan nafkah kecuali orang yang bukan menjadi tanggung jawabnya untuk menafkahinya seperti anak yang sudah berkeluarga.

Berikut referensi.bahwa nadzar/barang yang telah dinadzarkan sudah bukan hak miliknya.

الياقوت النفيسة ص ٨٢٤
ويجب التصدق بلحم المنذورة كلها لأنها خرجت بالنذر من ملكه إلى ملك الفقراء

الباجورى ج.٢ص ٣٢٩
وَأرْكَانُهُ ثَلاَثَةٌ: نَاذِرٌ وَمَنْذُورٌ وَصِيْغَةٌ … وَفِى الصِّيغَةٍ كَونُهَا لَفْظًا يُشْعِرُ بِاللإلْتِزَامِ وَفِى مَعْنَاهُ مَا مَرَّ فِى الضَّمَانِ كَللَّهِ عَلَيَّ كَذَا وَعَلَيَّ كَذَا فَلاَ تَصِحُّ بِالنِيَّةِ كَسَائِرِ العُقُودِ وَلاَ بِمَا لاَيُشْعِرُ بِالإلْتِزَامِ كَأَفْعَلُ كَذَا.

Rukun-rukun nadzar ada tiga:

  1. orang-rang yang nadzar
  2. perkara yang dinadzari
  3. sighat (ucapan yang menunjukkan nadzar)’

Dalam masalah sighat, adalah adanya lafal (ucapan) yang menunjukkan adanya penetapan dan dalam pengertian penetapan (mewajibkan) ini adalah keterangan bab dlaman (tanggungan). Yaitu seperti kata ‘Demi Allah wajib atasku perkara seperti ini atau wajib atasku perkara seperti ini. Maka sighat tidak sah hanya sekedar niat (tanpa diucapkan), sebagaimana juga tidak sah semua aqad hanya dengan niat. Juga tidak sah sighat yang tidak menunjukkan penetapan (mewajibkan) seperti ucapan: ‘Saya melakukan seperti ini’.

التذهيب ص٢٥٤

… وَشَرْعًا الوَعْدُ بِالخَيْرِ خَاصَّةُ أو اِلْتِزَامُ قُرْبَةً لَمْ تَتَعَيَّنْ بِأصْلِ الشَّرْعِ… وَالثَّانِى أنْ يَكُونَ غَيْرَ مُعَلَّقٍ كَأنْ يَقُولَ للهِ عَلَيَّ صَوْمٌ أو حَجٌّ أو غَيْرُ ذَلِكَ.ٌ و َجٌّ و َيْرُ َلِكَ..


‘Pengertian nadzar secara syara’ berarti janji melakukan kebaikan tertentu atau menetapkan (mewajibkan dirinya) melakukan perkara yang digunakan untuk mendekatkan diri kepada Allah, yang perkara tersebut pada hukum asalnya tidak wajib’ Yang kedua: adanya nadzar tersebut tidak diambangkan/digantungkan pada sesuatu seperti ucapan: ‘Demi Allah, wajib bagiku puasa atau haji atau yang lainnya.

الباجورى ص ٣٠٠-٣٠١
قوله ولايؤكل ) أى لايجوز له الأكل فإن أكلها شيأ غرمه وقوله المضحى وكذا من تلزمه نفقته وقوله من الأضحية المنذورة أى معينة عما فى الذمة أو حكما كما لوا قال هذه أضحية فهذه واجبة بالجعل لكنها فى حكم المنذورة كما مر فاندفع إعتراض المحشي بقوله لو قال الواجبة لكان أولى والهدى المنذور ودم الجبران كالأضحية المنذورة فلايجوز الأكل من ذلك كذلك العقيقة المنذورة والطبخة المنذورة


Artinya:” Perkataan K.Mushannif dan tidak boleh memakannya maksudnya adalah orang yang bernadzar tidak boleh memakannya ( haram) maka jika dia memakannya maka wajib didenda .Dan adapun perkataan K.Mushonnif ” Orang yang berkurban demikian juga orang yang wajib dinafkahinya. Maksudnya orang yang berkurban dan orang menjadi kewajibannya untuk dinafkahinya tidak boleh memakannya.

[النووي، المجموع شرح المهذب، ٢٢٩/٦]

{ولا يجوز دفعها الي من تلزمه نفقته من الاقارب والزوجات من سهم الفقراء لان ذلك انما جعل للحاجة ولا حاجة بهم مع وجوب النفقة}

{الشَّرْحُ}

هَذَا الَّذِي ذَكَرَهُ مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ عِنْدَنَا وَقَدْ اخْتَصَرَ الْمُصَنِّفُ هَذِهِ الْمَسْأَلَةَ وَهِيَ مَبْسُوطَةٌ فِي كُتُبِ الْأَصْحَابِ أَكْمَلَ بَسْطٍ وَأَنَا أَنْقُلُ فِيهَا عُيُونَ مَا ذَكَرُوهُ إنْ شَاءَ اللَّهُ تَعَالَى.
قَالَ أَصْحَابُنَا لَا يَجُوزُ لِلْإِنْسَانِ أَنْ يَدْفَعَ إلَى وَلَدِهِ وَلَا وَالِدِهِ الَّذِي يَلْزَمُهُ نفقته من سهم الفقراء والمساكين لعلتين (احداهما) أَنَّهُ غَنِيٌّ بِنَفَقَتِهِ (وَالثَّانِيَةُ) أَنَّهُ بِالدَّفْعِ إلَيْهِ يَجْلِبُ إلَى نَفْسِهِ نَفْعًا وَهُوَ مَنْعُ وُجُوبِ النَّفَقَةِ عَلَيْهِ قَالَ أَصْحَابُنَا وَيَجُوزُ أَنْ يَدْفَعَ إلَى وَلَدِهِ وَوَالِدِهِ مِنْ سَهْمِ الْعَامِلِينَ وَالْمُكَاتَبِينَ وَالْغَارِمِينَ وَالْغُزَاةِ إذَا كَانَا بِهَذِهِ الصِّفَةِ وَلَا يَجُوزُ أَنْ يَدْفَعَ إلَيْهِ مِنْ سَهْمِ الْمُؤَلَّفَةِ ان كان ممن يَلْزَمُهُ نَفَقَتُهُ لِأَنَّ نَفْعَهُ يَعُودُ إلَيْهِ وَهُوَ إسْقَاطُ النَّفَقَةِ فَإِنْ كَانَ مِمَّنْ لَا يَلْزَمُهُ نَفَقَتُهُ جَازَ دَفْعُهُ إلَيْهِ (وَأَمَّا) سَهْمُ ابْنِ السَّبِيلِ فَالْمَذْهَبُ أَنَّهُ إذَا كَانَ مِنْ أَبْنَاءِ السييل أَعْطَاهُ مِنْ النَّفَقَةِ مَا يَزِيدُ عَلَى نَفَقَةِ الْحَضَرِ وَيُعْطِيهِ الْمَرْكُوبَ وَالْحَمُولَةَ لِأَنَّ هَذَا لَا يَلْزَمُ الْمُنْفِقَ وَلَا
يُعْطِيهِ قَدْرَ نَفَقَةِ الْحَضَرِ لِأَنَّهَا لَازِمَةٌ وَبِهَذَا قَطَعَ كَثِيرُونَ مِنْ الْأَصْحَابِ أَوْ أَكْثَرُهُمْ

بغية المسترشدين – (ص ١.٧)

مسألة: ب ك): يجوز دفع زكاته لولده المكلف بشرطه إذ لا تلزمه نفقته ولإتمامها على الراجح، وإن كان فقيراً ذا عيلة، وكان ينفق عليه تبرعاً، بخلاف من لا يستقل بنفسه كصبي وعاجز عن الكسب بمرض أو زمانة أو عمى لوجوب نفقته على الوالد، فلا يعطيه المنفق قطعاً ولا غيره على الراجح، حيث كفته نفقة المنفق، وإلا كأكول لم يكفه ما يعطاه فيجوز أخذ ما يحتاج إليه، ومثله في ذلك الزوجة، وكالزكاة كل واجب كالكفارة، زاد ب: نعم إن تعذر أخذها من المنفق بمنع أو إعسار أو غيبة ولم يترك منفقاً ولا مالاً يمكن التوصل إليه، وعجزت الزوجة عن الاقتراض أعطي كفايته أو تمامها، أما إذا لم تطالبه الزوجة بها مع قدرتها على التوصل منه كأن سامحته بلا موجب فلا تعطى لاستغنائها بها حينئذ ككسوب ترك اللائق به من غير عذر، وكناشزة لقدرتها عليها حالاً بالطاعة، وللزوجة إعطاء زوجها من زكاتها وعكسه بشرطه، ويجوز تخصيص نحو قريب بل يسن، إذ لا تجب التسوية بين آحاد الصنف بخلافها بين الأصناف.

Wallahu A’lam bisshowab

Kategori
Uncategorized

SOLUSI INGIN BAYAR HUTANG KEPADA ORANG YANG MAFQUD (HILANG KONTAK/TIDAK DIKETAHUI INDENTITASNYA)

SOLISI INGIN BAYAR HUTANG
KARENA PINDAH/MENINGGAL DUNIA
YANG TIDAK DIKETAHUI INDENTITASNYA

Assalamualaikum.

Deskripsi masalah.

Dalam menjalani kehidupan manusia tidak akan terlepas dari berbagai kebutuhan baik yang bersifat materiil maupun non materiil oleh karenanya maka dalam upaya manusia bisa memenuhi kebutuhan hidupnya mereka dituntut untuk berintraksi dan bermuamalah diantara yang satu dengan yang lainnya , Tak terkecuali katakanlah seorang Hanif ( Nama samarannya ) dalam kehidupannya kasabnya penghasilannya pas-pasan bahkan terkadang dengan kebutuhan yang mendesak dia harus pinjam atau berhutang kepada orang lain, ( Katakannlah Hosman ) seorang pedangang yang merantau datang dari daerah yang jauh, yang biasa keliling kedaerah-daerah lain. Namun sangat di sayangnya ketika Hanif ingin membayarnya hutangnya kepada Si Hosman dia tidak kunjung datang, yang akhirnya dikabarkan pindah yang tidak ditemukan tempatnya atau meninggal.

Bagaimana solusi cara Hanif membayar hutangnya agar dia terlepas dari beban tanggungannya.

Waalaikum salam

Jawaban

Hukum asal mengambil utang/ berhutang dalam Islam adalah BOLEH dengan tujuan untuk memenuhi kebutuhan yang mendesak . Apabila seseorang terpaksa berhutang maka ia wajib membayarnya dan Pahala kebaikan bagi keduanya bagi pemilik piutang dan bagi yang berhutang ketika membayarnya karena termasuk dalam kategori Tolong menolong dalam kebaikan. Kebolehan berhutang dengan catatan, ada niatan untuk membayarnya atau bertekad kuat mengembalikan utangnya pada waktu temponya. Akan tetapi Jika dia tidak berniat dan bertekad kuat untuk tidak melunasi utangnya di waktu temponya maka Allah menyulitkannya melunasi Utang dan jika dia meninggal dituntut diakhirat bahkan akan diambil amal baiknya lalu diberikannya kepada orang yang di aniaya ( pemilik piutang ) .

Dalam keterangan hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari, Nabi saw bersabda, 

من أخذ أموال الناس يريد أداءها أدى الله عنه، ومن أخذها يريد إتلافها أتلفه الله ( رواه البخارى).

Siapa yang meminjam uang manusia, kemudian bertekad untuk mengembalikannya niscaya Allah memudahkan pelunasannya. Tetapi sesiapa yang mengambil utang dan tidak bertekad untuk melunasinya di waktu temponya, maka Allah menyulitkan pelunasan Utangnya.

Lantas, bagaimana cara membayar hutang jika orang yang memberikan hutang pindah atau sudah meninggal dunia sementara tidak diketahui tempatnya . Apakah akan dituntut diakharat atau kah ada solusinya? Maka jawabannya tidak akan dituntut diakhirat jika memang betul-betul kesulitan dan ada niatan untuk membayarnya, namun jika dalam kondisi yang sedemikian yang diaharpakn bagi orang punya hutang harus mencarikan informasi kemudian bayarkan kepada wakilnya atau ahli warisya jika semuanya tidak ditemukan maka solusinya bertaubat dengan memperbanyak istighafar dan mengharap rahmat Allah agar dikembalikan kepada yang berhak.

Namun menurut Imam al-Ghazali ” Harta utang ditasharrufkan kepada kepentingan orang-orang Islam atau disedekahkan kepada fakir dan miskin dengan diniatkan sedekahnya orang yang punya piutang” .

(سنن اليبهقي،٦/١٨٧)

ما روي عن ابن مسعود رضی الله عنه انه اشترى جاريه فلم يظفر بما لكها ليعطيه ثمنها،فطلبه كثيرا فلم يظفر به فتصدق بثمنها،وقال اللهم هذا عنه ان رضي،والا فالاءجر لي.

المكتبة الشاملة
كتاب دروس للشيخ محمد المنجد
[محمد صالح المنجد]المكتبة الشاملة ص ١٣٤
فهرس الكتاب  ذم الدين وعاقبة الاستدانة  حكم من أخذ أموال الناس يريد أداءها

[حكم من أخذ أموال الناس يريد أداءها]
الحمد لله على إحسانه، والشكر له على توفيقه وامتنانه، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له تعظيماً لشانه، وأشهد أن محمداً عبده ورسوله الداعي إلى سبيله ورضوانه.
أما بعد: فيقول صلى الله عليه وسلم في الحديث الصحيح: (الدين دينان: فمن مات وهو ينوي قضاءه فأنا وليه، ومن مات وهو لا ينوي قضاءه فذاك الذي يؤخذ من حسناته يوم القيامة، ليس يومئذ دينار ولا درهم) وهو حديث صحيح بالحديث الآتي بعده، وهو: (من مات وعليه دين، فليس ثم دينار ولا درهم، ولكنها الحسنات والسيئات) وقال عليه السلام: (ما من أحد يدان ديناً يعلم الله منه أنه يريد قضاءه، إلا أداه الله عنه في الدنيا) وقال عليه السلام: (ما من عبد كانت له نية في أداء دينه، إلا كان له من الله عون) وقال عليه السلام: (من أخذ ديناً وهو يريد أن يؤديه أعانه الله) أحاديث صحيحة.
وقال صلى الله عليه وسلم: (إن الله تعالى مع الدائن حتى يقضي دينه، ما لم يكن دينه فيما يكره الله) ومما يكره الله ويبغضه هذا التبذير الذي يلجئ الكثيرين من ضعاف العقول اليوم إلى الاستدانة، وقال صلى الله عليه وسلم في الحديث الصحيح الآخر: (أيما رجل تدَّين ديناً وهو مجمع -أي عازم- ألا يوفيه لقي الله سارقاً) بعض الناس يستدينون وهو يعلم أنه لن يوفي الدين، فهذا سيلقى الله سارقاً.
وروى البخاري رحمه الله عن أبي هريرة رضي الله عنه: عن النبي صلى الله عليه وسلم وهو أعظم حديث في هذا الباب: (من أخذ أموال الناس يريد أداءها، أدى الله عنه، ومن أخذها يريد إتلافها أتلفه الله) رواه البخاري.
ورجح ابن حجر رحمه الله في تعليقه على هذا الحديث أن المدين إذا مات قبل الوفاء بغير تقصير منه، كأن يعسر مثلاً، أو يفاجئه الموت وله مال مخبوء وكانت نيته أن يؤدي الدين من هذا المال فإنه لا يعتبر مؤاخذاً عند الله يوم القيامة، ولا تبعة عليه في الآخرة، بحيث يؤخذ من حسناته لصاحب الدين، بل يتكفل الله عنه لصاحب الدين، والله عز وجل يوم القيامة يأتي الخصوم أمامه وكل واحد له عند أخيه مظلمة، فهذا عند أخيه أمانة، وهذا عنده دين ما أداه، فإن كان هذا المستدين معذرواً ورجل ملجأ استدان في مرضاة الله وتحرى الوفاء فما استطاع ومات، فهذا إذا شاء الله وتفضل فإن الله يتحمل عن صاحب الدَّيْن الدَّيْن، ويعطي ذلك الرجل المقرض حسنات من عنده عز وجل، دون أن ينقص من حسنات هذا شيئاً.
أما لو جاء مفرطاً مضيعاً لحقوق عباد الله، مبذراً للمال، لم ينو أداءه، فإنه يؤخذ من حسناته فتعطى لأخيه صاحب الدين، ولا تضيع حقوق الله عز وجل.

Referensi


إعانة الطالبين. ص ١٥٠٤
(قوله: فإن أعسر) أي فإن كان من عنده المظلمة معسرا.(قوله: عزم على الاداء) أي أداء الظلامة وإعطائها للمستحق لها.(وقوله: إذا أيسر) متعلق بالاداء.(قوله: فإن مات) أي المعسر.(وقوله: قبله) أي قبل الاداء.
(قوله: إنقطع الطلب عنه في الآخرة) أي لا يطالبه بها مستحقها في الآخرة.(قوله: فالمرجو الخ) معطوف على جملة إنقطع، والاولى التعبير بالواو، أي انقطع عنه الطلب، والذي يرجى من فضل الله أن يعوض المستحق في حقه.

Adapun yang diharapkan ketika seseorang ada niatan untuk membayar namun sulit membayarnya maka tiada tuntutan diakhirat hanya saja dia wajib bertaubat dan berdoa mengharap rahmat Allah agar bisa dikembalikan kepada yang berhak, sebagian memberikan cara sebagaimana dijelaskan dalam fatwa Al-Lajnah Ad-Daimah berikut,

فعليك أن تسأل وتحرص، حتى تعرف أماكنهم وعناوينهم، ثم ترسل لهم حقوقهم، ولا تعجل..، فإن أيست من ذلك، فتصدق بها عنهم بالنية عن أصحابها، ومتى حضروا تخيرهم، فإن قبلوا الصدقة فالأجر لهم، وإن لم يقبلوها، صار الأجر لك، وتعطيهم حقهم.

“Wajib bagi engkau bertanya dan bersungguh-sunggu sampai engkau tahu tempat dan alamatnya. Kemudian engkau kirimkan hak mereka (hutang), jangan terburu-buru (menyimpulkan tidak ketemu). Jika sudah benar-benar tidak ketemu maka bersedekah dengan niat pahala bagi mereka. Kapanpun engkau bertemu, maka mereka diberi pilihan. Jika mereka menerima sedekah itu, pahalanya untuk mereka dan jika tidak menerima, maka pahala sedekah untuk mu dan engkau tetap wajib membayar hutangmu.” [3]

Hal ini dikuatkan oleh riwayat dari Ibnu Mas’ud
radhiallahu ‘anhu bahwa beliau membeli budak dari seorang laki-laki. Kemudian beliau masuk (ke dalam rumah) untuk mengambil uang pembayaran. Akan tetapi tuan budak tadi malah pergi sampai Ibnu Mas’ud yakin lagi tuan budak tersebut tidak akan kembali. Akhirnya beliau bersedekah dengan uang tadi dan mengatakan,
“Ya Allah, uang ini adalah milik tuan budak tadi. Jika dia ridho, maka balasan untuknya. Namun jika dia enggan, maka balasan untukku dan baginya kebaikanku sesuai dengan kadarnya.

Jika orangnya sudah meninggal, maka kita berusaha mencari ahli warisnya. Demikianlah kaidah secara umum jika kita memegang harta orang lain.

Imam An-Nawawi berkata,

قَالَ الْغَزَالِيُّ إذَا كَانَ مَعَهُ مَالٌ حَرَامٌ وَأَرَادَ التَّوْبَةَ وَالْبَرَاءَةَ مِنْهُ فَإِنْ كَانَ لَهُ مَالِكٌ مُعَيَّنٌ وَجَبَ صَرْفُهُ إلَيْهِ أَوْ إلَى وَكِيلِهِ فَإِنْ كَانَ مَيِّتًا وَجَبَ دَفْعُهُ إلَى وَارِثِهِ وَإِنْ كَانَ لِمَالِكٍ لَا يَعْرِفُهُ وَيَئِسَ مِنْ مَعْرِفَتِهِ فَيَنْبَغِي أَنْ يَصْرِفَهُ فِي مَصَالِحِ الْمُسْلِمِينَ الْعَامَّةِ كَالْقَنَاطِرِ وَالرُّبُطِ وَالْمَسَاجِدِ وَمَصَالِحِ طَرِيقِ مَكَّةَ وَنَحْوِ ذَلِكَ مِمَّا يَشْتَرِكُ الْمُسْلِمُونَ فِيهِ وَإِلَّا فَيَتَصَدَّقُ بِهِ عَلَى فَقِيرٍ أَوْ فُقَرَاءَ

“Ghazali menyebutkan, barangsiapa yang menyimpan harta haram dan ia hendak bertaubat dan hendak berlepas diri dari harta haram tersebut. Jika ada pemiliknya maka dikembalikan padanya atau kepada wakilnya. Jika pemiliknya sudah meninggal, wajib menyerahkan kepada ahli warisnya. Namun jika pemilik dan ahli warisnya tidak diketahui juga dan sudah bersungguh-sungguh mencari, maka hendaknya harta tersebut disedekahkan untuk kemaslahatan kaum Muslimin, seperti o membangun jembatan, masjid, menjaga perbatasan negara Islam, dan sektor lain yang bermanfaat untuk segenap kaum Muslimin atau boleh juga ia sumbangkan kepada fakir miskin.

Kategori
Uncategorized

PERSEKOT/UANG MUKA TIDAK KEMBALI

PERSEKOT /UANG MUKA YANG TIDAK KEMBALI

Assalamualaikum.

Deskripsi masalah

Secara Waqiiyah sudah biasa di masyarakat kalau seseorang pesan sesuatu katakanlah misalnya benner. Benner adalah media promosi yang ditujukan kepada lebih dari satu orang atau kepada banyak orang atau non-personal. Pengertian banner adalah media promosi yang tujuan utamanya memengaruhi khalayak atau audiens agar mau membeli suatu produk atau mau menggunakan jasa yang ditawarkan melalui banner dll. Maka sebagai tanda jadi biasanya bayar DP namun di kemudian hari sebelum pesanan selesai ternyata sudah dibatalkan. Biasanya DP nya akan hangus.

Studi kasus yang serupa

Seseorang katakanlah nama samarannya JUMANTO ingin membeli sepeda motor dengan Syarat membayar uang muka 5 juta, jika jual beli jadi dilaksanakan maka uang tersebut menjadi bagian dari alat pembelian , Namun jika jual beli tidak jadi maka uang tersebut menjadi hak milik penjual artinya anggap uangnya JUMANTO hangus

Pertanyaannya.
Disebut akad apakah dalam transaksi diatas menurut fiqih /

Apakah penghangusan DP ini di perbolehkan oleh syariat. Mohon jawabannya 🙏🙏🙏.

Waalaikum salam

Jawaban

Istilah DP atau uang muka dalam transaksi dibab Muamalah disebut akad URBUN yang dikenal dengan sebutan BAIUL URBUN yang didalamnya ada dua syarat yaitu :

✔️Pertama; Hibah /pemberian
✔️ Kedua ; Pengembalian maka dalam kasus transaksi diatas hukumnya ditafsil

1️⃣Tidak sah, jika persyaratan uang DP/ panjer sebagaimana dimaksud dalam deskripsi masalah di sebutkan dalam transaksi jual beli dikarenakan ada unsur Gharor ( penipuan) yang dapat merugikan salah satu pihak, Oleh karenanya penghangusan uang DP karena rusaknya dua syarat tidaklah dibeperbolehkan.

2️⃣Sah, jika persyaratan panjer tidak disebutkan dalam akad sementara barang yang menjadi pesanan atau yang dibeli cocok sehingga sipembeli tinggal menambah sisa kekurangannya.

Contoh BAIUL URBUN yang sah dan yang tidak sah.

Contoh : A membeli sepeda pada si B seharga 10 juta. Si A membayar 5 juta pada si B. Dengan akad jika suatu saat sepeda dikembalikan pada si B maka uang 5 juta (DP) hangus, maka transaksi seperti ini tidak sah karena adanya hiyar yang tidak ditentukan majhul . Namun jika uang muka sebagai bukti tanda jadi dibeli maka hukumnya boleh sedangkan sipembeli harus melunasi dengan menambah 5 juta.

المحلى بهامش قليوبى وعميرة ج٢ص ١٨٦

(وَلَا يَصِحُّ بَيْعُ الْعُرْبُونِ) بِفَتْحِ الْعَيْنِ وَالرَّاءِ وَبِضَمِّ الْعَيْنِ وَإِسْكَانِ الرَّاءِ (بِأَنْ يَشْتَرِيَ وَيُعْطِيَهُ دَرَاهِمَ لِتَكُونَ مِنْ الثَّمَنِ إنْ رَضِيَ السِّلْعَةَ وَإِلَّا فَهِبَةً) بِالنَّصْبِ. رَوَى أَبُو دَاوُد وَغَيْرُهُ عَنْ عَمْرِو بْنِ شُعَيْبٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ جَدِّهِ أَنَّهُ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – «نَهَى عَنْ بَيْعِ الْعُرْبَانِ» أَيْ بِضَمِّ الْعَيْنِ وَسُكُونِ الرَّاءِ لُغَةٌ ثَالِثَةُ وَعَدَمُ صِحَّتِهِ لِاشْتِمَالِهِ عَلَى شَرْطِ الرَّدِّ وَالْهِبَةِ إنْ لَمْ يَرْضَ السِّلْعَةَ. وَقَدْ ذَكَرَهُ الرَّافِعِيُّ فِي الشَّرْحِ هُنَا، وَنَبَّهَ عَلَى أَنَّهُ مِنْ قِسْمِ الْمَنَاهِي الْأَوَّلِ وَقَدَّمَهُ فِي الرَّوْضَةِ إلَى مَحَلِّهِ، فَكَانَ يَنْبَغِي تَقْدِيمُهُ هُنَا أَيْضًا وَتَقْدِيمُ مَسْأَلَةِ التَّفْرِيقِ لِلْبُطْلَانِ فِيهَا.

مغنى المحتاج إلى معرفة ألفاظ المنهاج .ج٦ص٤٠٥
ثُمَّ شَرَعَ فِي الصُّورَةِ الثَّانِيَةِ، فَقَالَ (وَلَا يَصِحُّ بَيْعُ الْعُرْبُونِ) وَهُوَ (بِأَنْ يَشْتَرِيَ) سِلْعَةً (وَيُعْطِيَهُ دَرَاهِمَ) مَثَلًا (لِتَكُونَ مِنْ الثَّمَنِ إنْ رَضِيَ السِّلْعَةَ وَإِلَّا فَهِبَةً) بِالنَّصْبِ لِلنَّهْيِ عَنْهُ رَوَاهُ أَبُو دَاوُد وَغَيْرُهُ؛ وَلِأَنَّ فِيهِ شَرْطَيْنِ فَاسِدَيْنِ أَحَدُهُمَا: شَرْطُ الْهِبَةِ. وَالثَّانِي: شَرْطُ الرَّدِّ عَلَى تَقْدِيرِ أَنْ لَا يَرْضَى.
تَنْبِيهٌ فِي الْعُرْبُونِ سِتُّ لُغَاتٍ: فَتْحُ الْعَيْنِ وَالرَّاءِ: وَهِيَ الْفَصِيحَةُ، وَضَمُّ الْعَيْنِ وَإِسْكَانُ الرَّاءِ، وَعُرْبَانٌ بِالضَّمِّ وَالْإِسْكَانِ وَإِبْدَالِ الْعَيْنِ هَمْزَةً مَعَ الثَّلَاثَةِ وَهُوَ أَعْجَمِيٌّ مُعَرَّبٌ، وَأَصْلُهُ فِي اللُّغَةِ التَّسْلِيفُ وَالتَّقْدِيمُ

(حاشية الجمل على المنهج لشيخ الإسلام زكريا الأنصاري, ج ٥ / ص ٤٧٤)

قوله لاشتماله أي البيع بمعنى العقد بخلاف ما لو توافقا قبله على ذلك ثم تبايعا من غير ذكره في العقد فإنه صحيح قاله الإسنوي ا ه شوبري وقوله على شرط الرد أي للسلعة وقوله والهبة أي للعربون وقوله إن لم يرض السلعة راجع للرد والهبة وعبارة شرح م ر ولما فيه من شرطين مفسدين شرط الهبة وشرط رد المبيع بتقدير أن لا يرضى انتهت قوله وعن تفريق هلا قال وعن البيع ونحوه الحاصل به التفريق بين أمة وفرعها لأن الكلام إنما هو في البيوع المنهي عنها لا بيان المنهيات عنها ولو غير بيوع ا ه ح ل

فقه الإسلامى وأدلته للزحيلى المكتبة الشاملة ص ٣٣٢٤
وبيع العربون: هو أن يشتري الرجل شيئاً، فيدفع إلى البائع من ثمن المبيع درهماً، أو غيره مثلاً، على أنه إن نفذ البيع بينهما احتسب المدفوع من الثمن، وإن لم ينفذ، يجعل هبة من المشتري للبائع (١). فهو بيع يثبت فيه الخيار للمشتري: إن أمضى البيع كان العربون جزءاً من الثمن، وإن رد البيع فقد العربون، ومدة الخيار غير محددة بزمن، وأما البائع فإن البيع لازم له. قال بعض الحنابلة (٢): لابد أن تقيَّد فترة الانتظار بزمن محدد وإلا فإلى متى ينتظر البائع؟
واختلف فيه العلماء، فقال الجمهور: إنه بيع ممنوع غير صحيح، فاسد عند الحنفية، باطل عند غيرهم؛ لأن النبي صلّى الله عليه وسلم نهى عن بيع العربان (٣) ولأنه من بابالغرر والمخاطرة وأكل المال بغير عوض، ولأن فيه شرطين فاسدين:
أحدهما ـ شرط الهبة، والثاني ـ شرط الرد على تقدير ألا يرضى، ولأنه شرط للبائع شيئاً بغير عوض، فلم يصح، كما لو شرطه لأجنبي، ولأنه بمنزلة الخيار المجهول، فإنه اشترط أن يكون له رد المبيع من غير ذكر مدة، فلم يصح، كما لو قال: ولي الخيار متى شئت رددت السلعة ومعها درهماً. وهذا هو مقتضى القياس (١).وقال أحمد بن حنبل: لا بأس به ودليله ما أخرجه عبد الرزاق في مصنفه من حديث زيد بن أسلم أنه «سئل رسول الله صلّى الله عليه وسلم عن العربان في البيع فأحله» (٢) وما روي فيه عن نافع بن عبد الحارث: «أنه اشترى لعمر دار السجن من صفوان بن أمية بأربعة آلاف درهم، فإن رضي عمر، كان البيع نافذاً، وإن لم يرض فلصفوان أربع مئة درهم». وضعف أحمد الحديث المروي في بيع العربان، وقد أصبحت طريقة البيع بالعربون في عصرنا الحاضر أساساً للارتباط في التعامل التجاري الذي يتضمن التعهد بتعويض ضرر الغير عن التعطل والانتظار (٣).وفي تقديري أنه يصح ويحل بيع العربون وأخذه عملاً بالعرف؛ لأن الأحاديث الواردة في شأنه عند الفريقين لم تصح. وهذا هو قرار مجمع الفقه الإسلامي في دورته الثامنة في بروني في غرة المحرم ١٤١٤هـ.والله اعلم بالصواب

Kategori
Uncategorized

HUKUMNYA WUKUF DIARAFAH DIATAS/DIDALAM MOBIL

HUKUMNYA WUKUF DIARAFAH DIATAS/DIDALAM MOBIL

Assalamualaikum
Deskripsi masalah

Wukuf dipadang arafah merupakan bagian dari rukun ibadah haji yang harus dilakukan oleh setiap jamaah haji dalam batas yang telah ditentukan namun demikian dengan lamanya antrean haji sebagian masyarakat menempuh jalan melakukan ibadah haji dengan jalan pintas yaitu tidak dengan prosedur undang-undang yang rismi dari pemerintah setempat bahkan pemerintah Saudi misalkan dengan menggunakan visa ziarah atau visa ummal atau visa yang lainnya sehingga dalam pelaksanaan rukun haji wukuf diarafah dilaksanakan didalam mobil

Pertanyaannya
Apakah sah hajinya seseorang sementara ketika melaksanakan wukuf diarofah wukufnya dilakukan diatas mobil atau didalam mobil?

Waalikum salam.
Jawaban.

Orang yang melakukan rukun ibadah haji yaitu wukuf diarafah hukum wukufnya sah dengan syarat ketika memasuki arafah ( hari arafah) setelah tergelincirnya matahari yang pelaksanaannya wukufnya diarafah bukan diluar arafah

Dengan demikian menurut syariat hukum wukufnya diarafah dalam mobil sah selama mobil tersebut berada dalam kawasan arafah dan ketika memasuki hari arafah setelah tergelincirnya matahari, alasannya karena arafah semuanya adalah tempat untuk wukuf, Kecuali masuknya kearafah sesudah terkelincirnya mata hari maka wukufnya tidak sah walaupun berada di kawasan arafah begitu juga tidak sah wukuf yang dilakukan diluar batas arafah sehingga menjadi sebab pelaksanaan hajinya tidak sah

Kesimpulan wukuf diarafah walaupun didalam /diatas mobil karena sakit dll.sah menurut syariat selama memasuki hari arafah sesudah tergelincirnya matahari dan masih dalam batas arafah kawasan arafah. Akan tetapi jika wukuf dilakukan diluar batas- batas tertentu yang dibuat oleh pemerintah maka hukumnyanya tidak sah .Oleh karenanya untuk menjaga keamanan dan mematuhi pemerintah setempat lebih baik menggunakan visa khusus haji yang dikeluarkan oleh pemerintah Saudi dari pada menggunakan visa ziarah atau Ummal dll. Sehingga hajinya dianggap sah baik secara syariat atau pemerintah,dengan vasilitas yang aman dan terpercaya.

فقه الإسلامى وأدلته ص.٥٤١

وفي آية: {فَإِذا أَفَضْتُمْ مِنْ عَرَفاتٍ.}. دلالة على أن الوقوف بعرفة أمر واجب لا بدّ منه، لأن الإفاضة لا تكون إلا بعده، ولأنه قد رتب عليه الأمر بالذكر عند المشعر الحرام.
وقد أجمع العلماء على أن من وقف بعرفة يوم عرفة قبل الزوال (الظهر) ثم أفاض منها قبل الزوال أنه لا يعتد بوقوفه ذلك. وأجمعوا على تمام حجّ من وقف بعرفة بعد الزوال، وأفاض نهارا قبل الليل، إلا الإمام مالك، فإنه قال: لا بدّ أن يأخذ من الليل شيئا. ولا خلاف أيضا في أن من وقف بعرفة بالليل فحجّه تام. وحجة الجمهور: مطلق قوله تعالى: {فَإِذا أَفَضْتُمْ مِنْ عَرَفاتٍ} ولم يخصّ ليلا من نهار، وحديث عروة بن مضرّس قال: أتيت النّبي صلّى الله عليه وسلّم وهو في الموقف من جمع-مزدلفة-، فقلت: يا رسول الله، جئتك من جبلي طيء، أكللت مطيّتي، وأتعبت نفسي، والله إن تركت من جبل (١) إلا وقفت عليه، فهل لي من حجّ يا رسول الله؟ فقال رسول الله صلّى الله عليه وسلّم: «من صلّى معنا صلاة الغداة بجمع، وقد أتى عرفات قبل ذلك ليلا أو نهارا، فقد قضى تفثه (٢)، وتمّ حجّه» (٣).وحجة مالك: حديث جابر الطويل عند مسلم، وفيه: فلم يزل واقفا حتى غربت الشمس، وذهبت الصّفرة قليلا، حتى غاب القرص، وأفعاله عليه الصلاة والسلام على الوجوب، لا سيّما في الحج،
وقد قال: «خذوا عني مناسككم».
وهل على من وقف نهارا فقط‍ في عرفات شيء؟ أوجب الجمهور (غير الشافعية) الوقوف إلى غروب الشمس، ليجمع بين الليل والنهار في الوقوف بعرفة، اقتداء بفعل النّبي صلّى الله عليه وسلّم، فإن أفاض (دفع) قبل غروب الشمس، ولم يرجع، فحجّه صحيح تام، وعليه دم عند الحنفية والحنابلة، وقال مالك: عليه حجّ قابل، وهدي ينحره في حجّ قابل، وهو كمن فاته الحج. وذهب الشافعية: إلى أنه يسنّ الجمع بين الليل والنهار فقط‍، اتّباعا للسّنة، فإن أفاض قبل الغروب، فلا دم عليه، وإن لم يعد إلى عرفة ليلا، للخبر الصحيح: «من أتى عرفة قبل الفجر ليلا أو نهارا، فقد تمّ حجه».
والأفضل أن يقف بعرفة راكبا لمن قدر على الركوب، اقتداء برسول الله صلّى الله عليه وسلّم، ولأنه أعون على الدعاء، فإن لم يقدر على الركوب وقف قائما على رجليه داعيا، ما دام يقدر، ولا حرج عليه في الجلوس إذا لم يقدر على الوقوف. وفي الوقوف راكبا تعظيم للحج قال الله تعالى: {وَمَنْ يُعَظِّمْ شَعائِرَ اللهِ، فَإِنَّها مِنْ تَقْوَى الْقُلُوبِ} [الحج ٣٢/ ٢٢]. وظاهر عموم القرآن والسّنة الثابتة يدلّ على أن عرفة كلها موقف، قال صلّى الله عليه وسلّم: «ووقفت هاهنا، وعرفة كلها موقف».
ويوم عرفة فضله عظيم وثوابه جسيم، يكفر الله فيه الذنوب العظام، ويضاعف فيه الصالح من الأعمال،
قال صلّى الله عليه وسلّم في الصحيح: «صوم يوم عرفة يكفّر السنة الماضية والباقية»، وهذا سنّة لغير الحاج، وصام بعض أهل العلم بعرفة يوم عرفة، وقال أيضا: «أفضل الدعاء دعاء يوم عرفة، وأفضل ما قلتأنا والنبيّون من قبلي: لا إله إلا الله وحده لا شريك له»، وروى الدارقطني عن عائشة أن رسول الله صلّى الله عليه وسلّم قال: «ما من يوم أكثر أن يعتق الله فيه عددا من النار من يوم عرفة، وإنه ليدنو عزّ وجلّ، ثم يباهي بهم الملائكة، يقول: ما أراد هؤلاء».
ورغّبت الآيات في ذكر الله في مواضع كثيرة في الحج، عند المشعر الحرام، وفي أيام منى، وبعد الانتهاء من الحج، وذلك بالدعاء والتّلبية عند المشعر الحرام، وبالتهليل والتّكبير في منى، وبالاستغفار والدعاء في عرفات وبعد الإفاضة منها وبعد إنهاء أعمال الحج، لتقوى الصّلة والارتباط‍ بالله، ولتكون خشية الله في مرأى ومسمع وقلب المسلم إذا عبد الله أو تعامل مع الناس. روى أحمد ومسلم حديثا عن نبيشة الهذلي: «أيام التشريق أيام أكل وشرب وذكر».
وقيل: الأمر الأول: أمر بالذكر عند المشعر الحرام، والثاني: أمر بالذكر على حكم الإخلاص، والثالث المداومة على الذكر كذكر مفاخر الآباء والتغني بالأمجاد الذي كان في الجاهلية عقب الحج، بل كأشد ذكرا من ذكر الآباء. ومن أكمل الأذكار والدعاء في هذه الآيات: الصيغة الجامعة لخيري الدّنيا والآخرة، فهي من جوامع الدعاء التي يطلب من المؤمن الإكثار منها، وهي: {رَبَّنا آتِنا فِي الدُّنْيا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنا عَذابَ النّارِ}. جاء في الصحيحين عن أنس قال: «كان أكثر دعوة يدعو بها النّبي صلّى الله عليه وسلّم يقول: اللهمّ آتنا في الدّنيا حسنة وفي الآخرة حسنة وقنا عذاب النّار». وثبت أنّ رسول الله صلّى الله عليه وسلّم صلّى الظهر والعصر في يوم عرفة جمع تقديم مع خطبة كخطبة الجمعة، وصلّى المغرب والعشاء بالمزدلفة جمع تأخير، بأذان واحد وإقامتين، كما ثبت في الصحيح. وقال مالك: يصليهما بأذانين وإقامتين. وليس المبيت بالمزدلفة ركنا في الحج عند الجمهور، وقال مالك: الوقوف بهاواجب، ويكفي مقدار حطّ‍ الرّحال وجمع الصّلاتين، وتناول شيء من الطعام والشراب، والمبيت بها سنّة مؤكّدة، فمن لم يبت بها فعليه دم، ومن قام بها أكثر ليله، فلا شيء عليه. وقال الحنفية: يجب الوقوف بالمزدلفة ولو لحظة بعد الفجر، ولو مارّا كالوقوف بعرفة، ويسنّ المبيت فيها. وقال الشافعية: يكفي في المبيت بالمزدلفة الحصول بها لحظة بعد منتصف الليل. وقال الحنابلة: المبيت بمزدلفة واجب لما بعد منتصف الليل، من تركه فعليه دم. والواجب عند الكل من الفدية أو الدم هو شاة، ودليل وجوب الوقوف بالمزدلفةحديث عروة بن مضرّس المتقدم: «من صلّى معنا هذه الصلاة، ثم وقف معنا حتى نفيض، وقد أفاض قبل ذلك-من عرفات (١) -ليلا أو نهارا، فقد تمّ حجه، وقضى تفثه». ويقطع الحاج التلبية بأول حصاة يرميها من جمرة العقبة في رأي أكثر العلماء، والمشهور عن مالك قطعها عند زوال الشمس من يوم عرفة. ودليل الجمهور: ما رواه مسلم عن الفضل بن عباس: «لم يزل رسول الله صلّى الله عليه وسلّم يلبّي حتى رمى جمرة العقبة». ويحصل التحلل الأصغر للحاج برمي جمرة العقبة والحلق والذبح، لماروى الدارقطني عن عائشة أن رسول الله صلّى الله عليه وسلّم قال: «إذا رميتم وحلقتم وذبحتم، فقد حلّ لكم كلّ شيء إلا النساء، وحلّ لكم الثياب والطّيب».

فقه العبادات على مذهب الإمام الشافعى ص ٧٤٠

-٣ – الجمع بين الليل والنهار: يسن للحاج أن يبقى في عرفة من بعد الزوال إلى الغروب، لما روي عن علي بن أبي طالب رضي الله عنه قال: “وقف رسول الله صلى الله عليه وسلم بعرفة فقال: (هذه عرفة، وهذا هو الموقف، وعرفة كلها موقف ) ، ثم أفاض حين غربت الشمس” (١) . فلو فارقها قبل الغروب ولم يعد لها سن له دم لفوات الجمع، ولا تتحقق سنة الجمع بين الليل والنهار بالوقوف إلا في يوم عرفة بالذات، أما لو أتى الحاج إليها ليلة التاسع من ذي الحجة وبات فيها، ثم غادرها بعد زوال الشمس وقبل غروبها في اليوم التاسع، لم يحقق الجمع.
-٤ – الإِكثار من الدعاء، لحديث طلحة بن عبيد الله بن كَرِيْز أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: (أفضل الدعاء يوم عرفة، وأفضل ما قلت أنا والنبيون من قبلي: لا إله إلا الله وحده لا شريك له) (٢) ، ولحديث عن علي بن أبي طالب رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم (أكثر دعائي ودعاء الأنباء قبلي بعرفة: لا إله إلا الله وحده لا شريك له، له الملك وله الحمد وهو على كل شيء قدير، اللهم اجعل في قلبي نوراً وفي سمعي نوراً وفي بصري نوراً، اللهم اشرح لي صدري، ويسر لي أمري، وأعوذ بك من وسواس الصدر وشتات الأمر وفتنة القبر. اللهم إني أعوذ بك من شر ما يلج في الليل، وشر ما يلج في النهار، وشر ما تهب به الرياح ومن شر بوائق الدهر) (٣) . ويستحب أن ترفع الأيدي. ويستحب الإِكثار من التهليل والتكبير والتلبية والتسبيح والتلاوة، بقلب حاضر خاشع كل الخشوع لله تعالى، والصلاة على النبي صلى الله عليه وسلم، وإكثار البكاء، واستقبال القبلة لأن النبي صلى الله عليه وسلم استقبل القبلة (٤) . ولما روي عن أبي هريرة رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: (إن لكل شيء سيداً وإن سيد المجالس قبُالة القبلة) (٥) .
-٥ – يسن البروز للشمس إلا لعذر، كأن يتضرر منها، أو ينقص اجتهاده بالدعاء والأذكار، ولم ينقل عنه صلى الله عليه وسلم أنه استظل بعرفات، وإنما صح عنه أنه استظل بثوب وهو يرمي الجمرة، روى يحيى بن الحصين عن أم الحصين رضي الله عنها قالت: “حججت مع رسول الله صلى الله عليه وسلم حجة الوداع، فرأيت أسامة وبلال، وأحدهما آخذ بخطاة ناقة النبي صلى الله عليه وسلم، والآخر رافع ثوبه يستره من الحر حتى رمى جمرة العقبة ” (٦) .
-٦ – الوقوف عند الصخرات الكبار المفروشة في أسفل جبل الرحمة، لما ورد في رواية جابر رضي الله عنه أن رسول الله صلى الله عليه وسلم وقف عند الصخرات، وجعل بطن ناقته إلى الصخرات (٧) . أما النساء فحاشية الموقف أولى لهن.
-٧ – الوقوف راكباً، لما ورد عنه صلى الله عليه وسلم أنه وقف راكباً (٨) .
-٨ – أن يكون مفطراً، سواء أطاق الصوم أم لا، لأن الفطر أعون له على الدعاء، وقد يكون ورد في صحيح البخاري أن رسول الله صلى الله عليه وسلم وقف مفطراً (٩) .
-٩ – يسن لإِمام الحج أن يخطب خطبتين في عرفات يعلم فيهما الناس المناسك.
-١٠ – يسن للحاج المسافر جمع صلاة الظهر والعصر جمع تقديم بعرفة، ويسن الإِسرار بهما لا الجهر، وجمع المغرب والعشاء جمع تأخير بمزدلفة. وسبب الجمع هنا هو السفر لا النسك (١٠) ، لذا تسقط هذه السنة عمن أقام في مكة أربعة أيام فأكثر عدا يومي الدخول والخروج.
وإذا وافق يوم عرفة يوم الجمعة، لم يصلوا الجمعة، لأن من شروطها دار الإِقامة، ولم يصلي النبي صلى الله عليه وسلم الجمعة بعرفات مع أن يوم عرفة الذي وقف فيه النبي صلى الله عليه وسلم كان يوم جمعة.

Kategori
Uncategorized

HUKUMNYA MUSAFIR PADA HARI JUM’AT KORELASINYA DENGAN SHALAT JUM’AT/DIJAMAK DENGAN SHALAT ASHAR

HUKUM MUSAFIR PADA HARI JUM’AT KORELASINYA DENGAN SHALAT JUM’AT/ DIJAMAK DENGAN SHALAT  ASHAR

Assalamualaikum

Deskripsi masalah

Sebagaiman yang kita maklumi bahwa agama islam adalah agama yang moderat  mengizinkan terhadap  pemeluknya  untuk bepergian dimanapun dan kapan pun waktunya asalkan dengan tujuan yang baik karena didalam mufasafi terdapat banyak hikmah. Bepergian sebagaimana disabdakan Nabi merupakan bagian dari adzab, kepayahan. Sehingga musafir memiliki beberapa dispensasi dalam menjalankan ibadah, seperti rukhsah jama’ dan qashar. Namun, berkaitan dengan bepergian di malam atau hari Jumat, terdapat ketentuan hukum secara khusus yang harus dipahami oleh setiap muslim, karena bagaimanapun tidaklah  sedikit,  aktivitas seseorang pada waktu tertentu yang memaksanya untuk bepergian di hari atau malam Jumat.

PERTANYAAN

Bagaimana hukumnya? Bepergian di malam /hari Jumat ?

Waalaikum salam
Jawabannya.

Hukum bepergian pada malam hari jum’at  adalah makruh. Adapun yang dimaksud dengan malam hari di sini adalah rentang waktu mulai maghrib sampai terbitnya fajar di hari Jumat.
Dalam sebuah hadits dijelaskan bahwa seseorang yang bepergian di malam Jumat, dua malaikat mendoakan buruk kepadanya. Sebagaimana Syekh Syihabuddin al-Qalyubi menegaskan:

وَيُكْرَهُ السَّفَرُ لَيْلَتَهَا بِأَنْ يُجَاوِزَ السُّوْرَ قَبْلَ الْفَجْرِ قَالَ فِي الْإِحْيَاءِ لِأَنَّهُ وَرَدَ فِيْ حَدِيْثٍ ضَعِيْفٍ جِدًّا أَنَّ مَنْ سَافَرَ لَيْلَةَ الْجُمُعَةِ دَعَا عَلَيْهِ مَلَكَاهُ 

Artinya: “Makruh bepergian di malam Jumat, maksudnya ia melewati batas desa sebelum terbit fajar. Imam al-Ghazali dalam kitab al-Ihya’ memberi alasan, karena dinyatakan dalam hadits yang sangat dhaif, barang siapa bepergian di malam Jumat, kedua malaikatnya akan mendoakan buruk kepadanya”. (Syekh Syihabuddin al-Qalyubi, Hasyiyah al-Qalyubi ‘ala Kanz al-Raghibin, juz.1, hal.401, penerbit Dar al-Kutub al-Imlmiyyah-Lebanon, cetakan kelima tahun 2009). Hanya saja, menurut Syekh Ibnu Hajar al-Haitami dalam al-Fatawa al-Kubra, bila tidak ada tujuan menghindar dari kewajiban Jumat, maka tidak makruh. Dalam kitab al-Fatawa al-Kubra beliau menegaskan:

مُقْتَضَى قَوْلِ الْغَزَالِيِّ فِيْ الْخُلَاصَةِ مَنْ سَافَرَ لَيْلَتَهَا دَعَا عَلَيْهِ مَلَكَاهُ الْكَرَاهَةُ وَهُوَ مُتَّجِهٌ إِنْ قَصَدَ بِذَلِكَ الْفِرَارَ مِنَ الْجُمُعَةِ قِيَاسًا عَلَى بَيْعِ النِّصَابِ الزَّكَوِيِّ قَبْلَ الْحَوْلِ إِلَّا أَنْ يُفْرَقَ بِأَنَّ الْحَوْلَ ثَمَّ الَّذِيْ هُوَ سَبَبٌ لِلْوُجُوْبِ اِنْعَقَدَ فِيْ حَقِّهِ بِخِلَافِهِ هُنَا وَكَأَنَّ هَذَا هُوَ مُدْرَكُ قَوْلِ بَعْضِهِمْ لَمْ أَرَ لِأَحَدٍ مِنَ الْأَصْحَابِ مَا يَقْتَضِيْ الْكَرَاهَةَ

Artinya: “Indikasi statemen Imam al-Ghazali dalam kitab al-Khulashah, barangsiapa bepergian di malam Jumat, kedua malaikat mendoakan buruk kepadanya, menuntut hukum makruh bepergian di malam Jumat. Hal ini merupakan pendapat yang unggul bila ada tujuan menghindari kewajiban Jumat sebagaimana makruhnya menjual harta zakat yang telah mencapai satu nishab sebelum genap satu tahun. Meskipun terdapat perbedaan di antara dua permasalahan tersebut, sebab haul yang menjadi penyebab kewajiban zakat telah belangsung dalam tanggungan muzakki, berbeda dengan permasalahan Jumat (penyebab kewajiban Jumat mulai berlangsung sejak terbitnya fajar, bukan pada malam harinya).

Perbedaan inilah yang mungkin menjadi pola pikir sebagian ulama yang menegaskan tidak ada satu pun dari statemen penganut mazhab Syafi’i yang menunjukan kemakruhan bepergian di malam Jumat.” (Syekh Ibnu Hajar al-Haitami, al-Fatawi al-Fiqhiyyah al-Kubra, juz.1, hal.248, cetakan Dar al-Fikr -Lebanon, cetakan tahun 1983).

Sedangkan apabila bepergian dilakukan setelah terbitnya fajar, maka hukumnya haram, baik bepergian yang wajib atau sunah. Sebab setelah terbit fajar, seseorang sudah terikat kewajiban Jumat.

Hal ini ditegaskan dalam sebuah hadits :

مَنْ سَافَرَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ دَعَتْ عَلَيْهِ الْمَلَائِكَةُ أَنْ لَا يُصْحَبَ فِي سَفَرِهِ

Artinya: “Barangsiapa bepergian di hari Jumat, malaikat mendoakan buruk kepadanya agar tidak mendapatkan teman di perjalanan.” (HR. Al-Daruquthni).

Namun demikian bisa jadi hukum haram tersebut  hilang atau berubah apabila terdapat salah satu dari dua hal berikut:

✔️Pertama, ada dugaan dapat melaksanakan Jumat di tengah perjalanan atau tempat tujuan.
✔️Kedua, terdapat mudlarat bila tidak bepergian setelah subuhnya hari Jumat seperti tertinggal dari rekan rombongan. Syekh Zainuddin al-Malibari mengatakan:

(وَ) حَرُمَ عَلَى مَنْ تَلْزَمُهُ الْجُمُعَةُ وَإِنْ لَمْ تَنْعَقِدْ بِهِ (سَفَرٌ) تَفُوْتُ بِهِ الْجُمُعَةُ كَأَنْ ظَنَّ أَنَّهُ لَا يُدْرِكُهَا فِيْ طَرِيْقِهِ أَوْ مَقْصِدِهِ وَلَوْ كَانَ السَّفَرُ طَاعَةً مَنْدُوْبًا أَوْ وَاجِبًا (بَعْدَ فَجْرِهَا) أَيْ فَجْرِ يَوْمِ الْجُمُعَةِ إِلَّا خَشِيَ مِنْ عَدَمِ سَفَرِهِ ضَرَرًا كَانْقِطَاعِهِ عَنِ الرُّفْقَةِ فَلَا يَحْرُمُ إِنْ كَانَ غَيْرَ سَفَرِ مَعْصِيَّةٍ وَلَوْ بَعْدَ الزَّوَالِ

Artinya: “Haram bagi orang yang berkewajiban Jumat, meski ia tidak mengesahkannya, melakukan safar setelah terbitnya fajar hari Jumat yang menyebabkan ia meninggalkan Jumat, misalkan ia menduga tidak dapat melaksanakan Jumat di perjalanan atau tempat tujuan, baik bepergian yang wajib atau sunah, kecuali ia khawatir tertimpa mudlarat bila tidak bepergian seperti tertinggal dari rekan rombongan, maka tidak haram dalam kondisi tersebut, bahkan meski dilakukan setelah masuk waktu zhuhur selama bukan bepergian makshiat”. (Syekh Zainuddin al-Malibari, Fathul Mu’in Hamisy I’anah al-Thalibin, juz.2, hal.96, cetakan al-Haramain-Surabaya, tanpa tahun).

Syekh Abu Bakr bin Syatha mengommentari redaksi diatas  yaitu : )

قَوْلُهُ تَفُوْتُ بِهِ الْجُمُعَةُ) أَيْ بِحَسَبِ ظَنِّهِ وَخَرَجَ بِهِ مَا إِذَا لَمْ تَفُتْ بِهِ بِأَنْ غَلَبَ عَلَى ظَنِّهِ إِدْرَاكُهَا فِيْ مَقْصِدِهِ أَوْ طَرِيْقِهِ فَلَا يَحْرُمُ لِحُصُوْلِ الْمَقْصُوْدِ وَهُوَ إِدْرَاكُهَا

Artinya: “Ucapan Syekh Zainuddin; yang menyebabkan ia meninggalkan Jumat, maksudnya sesuai dengan dugaan musafir. Mengecualikan apabila Jumat tidak tertinggal disebabkan safar, dengan sekira musafir memiliki dugaan dapat menemui Jumat di tempat tujuan atau perjalanannya, maka tidak haram bepergian dalam kondisi tersebut karena tujuan syariat yang berupa menemui Jumatan telah tercapai”. (Syekh Abu Bakr bin Syatha, I’anah al-Thalibin, juz.2, hal.96, cetakan al-Haramain-Surabaya, tanpa tahun).

Khawatir tertinggal dari rombongan termasuk alasan yang memperbolehkan seseorang untuk bepergian setelah terbitnya fajar hari Jumat apabila bepergian tidak memungkinkan dilakukan selain pada waktu tersebut. Sehingga apabila masih memungkinkan dilakukan di waktu yang lain, maka bukan termasuk ‘udzur. Dalam titik ini, musafir berkewajiban menjalankan Jumat di tengah perjalanan atau tempat tujuannya. Syekh Abu Bakr bin Syatha mengutip Syekh Ali Syibramalisi mengatakan:

قَالَ ع ش: وَلَيْسَ مِنَ التَّضَرُّرِ مَا جَرَتْ بِهِ الْعَادَةُ مِنْ أَنَّ الْاِنْسَانَ قَدْ يَقْصِدُ السَّفَرَ فِيْ وَقْتٍ مَخْصُوْصٍ لِاَمْرٍ لَايَفُوْتُ بِفَوَاتِ ذَلِكَ الْوَقْتِ.انتهى قَالَ الْبُجَيْرِمِي كَالَّذِيْنَ يُرِيْدُوْنَ السَّفَرَ لِزِيَارَةِ سَيِّدِيْ أَحْمَدْ اَلْبَدَوِيِّ فِيْ أَيَّامِ مَوْلِدِهِ فِيْ يَوْمِ الْجُمُعَةِ مَعَ رُفْقَةٍ، وَكَانُوْا يَجِدُوْنَ رُفْقَةً أُخَرَ مُسَافِرِيْنَ فِيْ غَيْرِهِ.انتهى

Artinya: “Syekh Ali Syibramalisi mengatakan, tidak termasuk dlarar yaitu tradisi bepergian pada waktu tertentu karena tujuan yang tidak gagal dengan hilangnya waktu tersebut. Al-Bujairami mengatakan, seperti rombongan yang hendak bepergian untuk menziarahi maqbarah Syekh Ahmad al-Badawi pada hari kelahirannya di hari Jumat, padahal mereka menemukan rombongan lain yang bepergian di selain hari Jumat”. (Syekh Abu Bakr bin Syatha, I’anah al-Thalibin, juz.2, hal.96, cetakan al-Haramain-Surabaya, tanpa tahun).


(مغني المحتاج, ١/٢٧٨).

(وَقَبْلَ الزَّوَالِ) وَأَوَّلُهُ الفَجْرُ (كَبَعْدِهِ فِي) الحُرْمَةِ فِي (الجَدِيْدِ) فَإِنْ أَمْكَنَهُ الجُمْعَةُ فِي مَقْصِدِهِ أَوْ طَرِيْقِهِ أَوْ تَضَرَّرَ فِي تَخَلُّفِهِ عَنِ الرُّفْقَةِ جَازَ وَإِلاَّ فَلاَ وَالقَدِيْمُ وَنَصَّ عَلَيْهِ فِي رِوَايَةِ حَرْمَلَةَ مِنَ الجَدِيْدِ أَنَّهُ يَجُوْزُ لِأَنَّهُ لَمْ يَدْخُلْ وَقْتُ الوُجُوْبِ وَهُوَ الزَوَالُ اهـ

Kemudian  muncul persoalan  ketika seseorang bepergian saat hari Jumat, sementara ia berangkat safar setelah terbit fajar menurut keterangan diatas maka ia berkewajiban melaksanakan Jumat di tengah perjalanannya. Atau misalkan ia sudah berada di perjalanan sebelum hari Jumat, kemudian saat hari Jumat, ia masih berada di perjalanan .

Pertanyaannya

Apakah shalat Jumat boleh dijamak dengan shalat Ashar?

Para ulama menegaskan bahwa secara umum, Jumat memiliki kedudukan yang sama dengan shalat Zuhur. Ada banyak hukum-hukum yang berlaku di dalam shalat Zuhur, juga berlaku untuk shalat Jumat, termasuk di antaranya kebolehan mengumpulkannya dengan shalat Ashar  yang tentunya dengan teori jamak taqdim. 

Dalam praktik pelaksanaan menjamak taqdim Jumat dan Ashar, saat niat shalat Jumat, diniati pula mengumpulkannya dengan shalat Ashar dengan niat jamak taqdim. Berikut ini contoh niatnya:

أُصَلِّيْ فَرْضَ الْجُمُعَةِ رَكْعَتَيْنِ مَجْمُوْعًا بِالْعَصْرِ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ أَدَاءُ مَأْمُوْمًا لِلهِ تَعَالَى

Setelah selesai salam, disyaratkan untuk bergegas melanjutkan shalat Ashar, sebab dalam jamak taqdim wajib sambung menyambung antara shalat pertama dan kedua, tanpa ada pemisah yang lama. Dalam konteks ini, shalat ba’diyyah Jumat dilakukan setelah shalat Ashar. Untuk contoh niat shalat Ashar yang dijamak taqdim dengan Jumat adalah sebagai berikut:

أُصَلِّيْ فَرْضَ الْعَصْرِ أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ مَجْمُوْعًا إِلَيْهِ الْجُمُعَةُ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ أَدَاءً لِلهِ تَعَالَى

Bila shalat Asharnya diqashar, maka redaksi “arba’a raka’atin” diganti dengan “maqshuratan”. Bila shalat Ashar dilakukan berjamaah, maka ditambahkan kata “jama’atan/ ma’muman” sebelum redaksi “Lillahi Ta’ala”.

Sedangkan untuk jamak ta’khir, tidak diperbolehkan dilakukan dalam permasalahan ini. Teori jamak ta’khir tidak berlaku dalam kasus mengumpulkan shalat Jumat dan Ashar, sebab Jumat wajib dikerjakan di waktu Zuhur.

Berkaitan dengan kebolehan menjama’ taqdim shalat Jumat dan Ashar, Syekh Khathib al-Syarbini mengatakan:

قوله (ويجوز للمسافر) سفر قصر (أن يجمع بين) صلاتي (الظهر والعصر في وقت أيهما شاء) تقديما وتأخيرا (و) أن يجمع (بين) صلاتي (المغرب والعشاء في وقت أيهما شاء) تقديما وتأخيرا . والجمعة كالظهر في جمع التقديم

Artinya, “Boleh bagi musafir dalam jarak tempuh yang memperbolehkan qashar shalat, mengumpulkan di antara Shalat Zuhur dan Ashar di waktu yang ia kehendaki, baik jamak taqdim atau ta’khir. Dan diperbolehkan mengumpulkan di antara shalat Maghrib dan Isya’, di waktu yang ia kehendaki, baik jamak taqdim atau ta’khir. Shalat Jumat hukumnya sama dengan shalat Zuhur dalam masalah jamak taqdim,” (Lihat Syekh Khathib As-Syarbini, Al-Iqna’ ‘ala Matni Abi Syuja’, juz I, halaman 174-175).

Syekh Sulaiman Al-Bujairimi  mengomentari redaksi referensi diatas yaitu :

قوله (والجمعة كالظهر في جمع التقديم) أي كأن دخل المسافر قرية بطريقه يوم الجمعة فالأفضل في حقه الظهر، لكن لو صلى الجمعة معهم فيجوز له في هذه الحالة أن يجمع العصر معها تقديماً

Berdasarkan redaksi referensi  tersebut, bagi musafir yang sebelum hari Jumat sudah bepergian, saat hari Jumat tiba, yang lebih lebih utama baginya adalah shalat Zuhur, bukan shalat Jumat. Namun bila ia menghendaki shalat Jumat, maka ia tetap diperbolehkan menjamak taqdim dengan shalat Ashar. Wallahu A’lam bisshowab

Kategori
Uncategorized

HUKUMNYA ABORSI

Assalamu’alaikum

Deskripsi masalah

Terkadang ada seorang perempuan nikat berhubungan intim dengan lelaki diluar nikah sehingga hamil maka dalam rangka untuk menutupi aibnya dia Aborsi, sedangkan kehamilannya sudah mencapai 4 bulan yang masyhur dimasyarat jika kandungan sampai 4 bulan adalah masa ditiupkannya ruh kedalam rahim,

Studi kasus yang hampir sama

Ada pasangan suami istri terjadi talak dalam masa iddah ternyata dia hamil 4 bulan maka dia melakukan aborsi dalam rangka untuk bisa menikah lagi.

Pertanyaannya.
Bagaimana hukumnya menggugurkan anak ( aborsi) dalam masa indah dengan tujuan untuk bisa menikah.

Mohon pencerahan nya kiyai.

Waalaikum
Jawaban .

Aborsi adalah menggugurkan anak dalam kandungan .

Jika Islam memperbolehkan seseorang muslim mencegah kehamilan karena alasan-alasan yang mengharuskannya, namun ia tidak memperbolehkannya menganiaya kandungan itu, jika benar-benar telah terjadi. Para ahli fiqih sepakat bahwa menggugurkan kandungan setelah ditiupkannya ruh kedalamnya hukumnya adalah haram dan termasuk dosa. Seorang muslim tidak boleh melakukannya karena termasuk tindakan kriminal terhadap manusia yang telah sempurna dan jelas-jelas hidup .
Mereka mengatakan bahwa karena itu, pengguguran kandungan berkewajiban membayar diyat, jika terlahir dalam keadaan hidup kemudian mati.Jika terlahir dalam keadaan telah mati, dikenakan hukuman harta yang lebih ringan. Akan tetapi mereka juga mengatakan ” Bilamana dengan cara yang terpercaya dinyatakan bahwa keberadaan kandungan yang jelas-jelas hidup itu menyebabkan kematian ibunya tanpa bisa dihindari , syariat dengan kaidah-kaidah umumnya memerintahkan untuk melakukan tindakan yang risikonya lebih ringan.

Bila keberadaannya menyebabkan kematian dan tidak ada cara lain untuk menyelamatkan ibunya kecuali dengan menggugurkannya dalam hal ini menjadi wajib . Tidak boleh mengorbankan ibu untuk menyelamatkan jiwa si janin .Karena dialah pangkalnya, dan kehidupan telah berada dalam jiwanya. Ia memiliki hak hidup secara mandiri, Memiliki hak dan kewajiban , lebih dari itu adalah pilar keluarga .Karenanya tidak logis kalau demi membela janin yang belum tentu jelas kehidupan nya harus mengorbankan sang ibu , padahal janin itu belum mempunyai hak kewajiban sedikitpun.
Imam Ghazali membedakan antara mencegah kehamilan dan menggugurkannya .Hal ini ( mencegah kehamilan ) bukanlah aborsi dan bukan pula penguburan anak hidup-hidup . Karena penguguran hakikatnya adalah merupakan kejahatan terhadap makhluk yang telah benar-benar hidup .Keberadaan makhluk hidup memiliki beberapa tingkatan . Tingkatan pertama adalah ketika seperma ketika masuk kedalam rahim dan tercampur dengan ovum dan siap untuk hidup.Merusaknya adalah kejahatan . Kalau seperma sudah menjadi segumpal darah , tingkat kriminalnya lebih keji, Apalagi telah ditiupin ruh kedalamnya dan menjadi makhluk yang sempurna, nilai kriminalnya jauh lebih keji lagi. Dan yang paling keji kadar kriminalnya adalah jika pembunuhan dilakukan setelah terpisah ( lahir )sebagai makhluk hidup.

Dari penjelasan diatas dapat disimpulkan dari beberapa pendapat ulama ; Bahwa hukum Aborsi Haram Jika sudah mencapai 4 bulan dan sudah ditiupkan ruh kedalam rahim , begitu juga haram Jika belum ada ruhnya yakni berbentuk segumpal darah atau segumpal daging tapi menurut imam Romli boleh. Menurut ulama’ lain boleh dengan syarat dapat persetujuan dari suami-istri serta tidak akan terjadi bahaya terhadap ibunya (perempuan yang hamil) pendapat ulama’ lain.: sedangkan menurut Imam Ghozali : haram secara mutlak , menurut sebagian ulama boleh secara mutlak (baik setelah ada ruh atau tidak) ketika sudah tidak ada cara lain untuk menyelamatkan ibunya.

Referensi:

كتاب الحلال والحرام للشيخ دكتور يوسف القرضاوي .ص ٢٣٢-٣٣٣

● تسقاط الحمل :
وإذا كان الإسلام قد أباح للمسلم أن يمنع الحمل لضرورات تقتضي
ذلك ، فلم يُبح له أن يجني على هذا الحمل ، بعد أن يُوجد فعلا . ولو جاء هذا الحمل من طريق حرام ، فإن النبي * لم يقبل أن يقيم الحدَّ على امرأة حملت من زِنى حتى تض جنينها ، وتتم رضاعته ؛ إذ لا ذنب له
.واتفق الفقهاء على أن إسقاطه ، بعد نفخ الروح فيه حرام وجريمة ،
لا يحل للمسلم أن يفعله ؛ لأنه جناية على حيّ ، متكامل الخَلْق ، ظاهرالحياة ، قالوا : ولذلك وجبت في إسقاطه الدية إن نزل حيًّا ثم مات ، وعقوبة مالية أقل منها إن نزل ميتا .ولكنهم قالوا : إذا ثبت من طريق موثوق به أن بقاءه ـ بعد تحقق
حياته هكذا ـ يؤدي لا محالةَإلى موت الأم ، فإن الشريعة بقواعدها العامة ، تأمر بارتكاب أخف الضررين ، فإذا كان في بقائه موت الأم ، وكان لا منقذ لها سوى إسقاطه ، كان إسقاطه في تلك الحالة متعينًا ، ولايضحَّى بها في سبيل إنقاذه ؛ لأنها أصله ، وقد استقرت حياتها ، ولهاحظ مستقل في الحياة ، ولها حقوق وعليها حقوق ، وهي بعد هذا وذاك
عماد الأسرة . وليس من المعقول أن نضحي بها في سبيل الحياة لجنين لم تستقل حياته ، ولم يحصل على شيء من الحقوق والواجبات.ذلك إذا ثبت لنا بطريقة علمية مؤكدة ، أن الجنين سينزل مشوَّهًا ويعيش حياته في الأم وتعاسة ، له ولمن حوله ، فقواعد الشريعة لا تمنع من إسقاطه ، وحصر ذلك في المدة الأولى من الحمل ، أي قبل نهاية أربعة أشهر ـ قال الإمام الغزالي يفرق بين منع الحمل وإسقاطه ،( وليس هذا ) أى منع الحمل كالإجهاض والوأد ؛ لأن ذلك جناية على موجود حاصل ـ أي من الحمل وأول مراتب الوجود أن تقع النطفة في الرحم ، وتختلط بماء المرأة. وتستعد لقبول الحياة صارت نطفة فعلقة د له مراتب والوجو . وإفساد ذلك جناية ، فإن . وتستعد لقبول الحياة وإفساد ذلك جناية فإنوصارت نطفة فعلقة ، كانت الجناية أفحش ، وإن نفخ فيه الروح واستوت الخِلقة ، ازدادت الجناية تفاحشا ، ومنتهى التفاحش في الجناية ، بعد الانفصال حيا

ﺑﻐﻴﺔ اﻟﻤﺴﺘﺮﺷﺪﻳﻦ – (ص ٢٤٦)
(ﻣﺴﺄﻟﺔ ك) ﻳﺤﺮﻡ اﻟﺘﺴﺒﺐ ﻓﻲ ﺇﺳﻘﺎﻁ اﻟﺠﻨﻴﻦ ﺑﻌﺪ اﺳﺘﻘﺮاﺭﻩ ﻓﻲ اﻟﺮﺣﻢ، ﺑﺄﻥ ﺻﺎﺭ ﻋﻠﻘﺔ ﺃﻭ ﻣﻀﻐﺔ ﻭﻟﻮ ﻗﺒﻞ ﻧﻔﺦ اﻟﺮﻭﺡ ﻛﻤﺎ ﻓﻲ اﻟﺘﺤﻔﺔ، ﻭﻗﺎﻝ (ﻣ ﺭ) : ﻻ ﻳﺤﺮﻡ ﺇﻻ ﺑﻌﺪ اﻟﻨﻔﺦ، ﻭاﺧﺘﻠﻒ اﻟﻨﻘﻞ ﻋﻦ اﻟﺤﻨﻔﻴﺔ ﻓﻲ اﻟﺠﻮاﺯ ﻣﻄﻠﻘﺎ ﻭﻓﻲ ﻋﺪﻣﻪ ﺑﻌﺪ ﻧﻔﺦ اﻟﺮﻭﺡ، ﻭﻫﻞ ﻫﻮ ﻛﺒﻴﺮﺓ ؟ اﻷﺣﻮﻁ ﺃﻥ ﻳﻘﺎﻝ : ﺇﻥ ﻋﻠﻢ اﻟﺠﺎﻧﻲ ﺑﻮﺟﻮﺩ اﻟﺤﻤﻞ ﺑﻘﺮاﺋﻦ اﻷﺣﻮاﻝ ﻭﺗﻌﻤﺪ ﻓﻌﻞ ﻣﺎ ﻳﺠﻬﺾ ﻏﺎﻟﺒﺎ ﻭﻗﺪ ﻧﻔﺦ ﻓﻴﻪ اﻟﺮﻭﺡ ﻭﻟﻢ ﻳﻘﻠﺪ اﻟﻘﺎﺋﻞ ﺑﺎﻟﺤﻞ ﻓﻜﺒﻴﺮﺓ ﻭﺇﻻ ﻓﻼ.

اعانة الطالبين ج٤ ص١٤٧
فرع: اختلفوا في التسبب لاسقاط ما لم يصل لحد نفخ الروح فيه وهو مائة وعشرون يوما، والذي يتجه وفاقا لابن العماد وغيره الحرمة، ولا يشكل عليه جواز العزل لوضوح الفرق بينهما بأن المني حال نزوله محض جماد لم يتهيأ للحياة بوجه بخلافه بعد استقراره في الرحم وأخذه في مبادئ التخلق ويعرف ذلك بالامارات، وفي حديث مسلم أنه يكون بعد اثنتين وأربعين ليلة: أي ابتداؤه كما مر في الرجعة، ويحرم استعمال ما يقطع الحبل من أصله، كما صرح به كثيرون، وهو وظاهر. والذي رجحه م ر أنه بعد نفخ الروح يحرم مطلقا ويجوز قبله ونص عبارته في باب أمهات الاولاد بعد كلام. قال الدميري: لا يخفى أن المرأة قد تفعل ذلك بحمل زنا وغيره، ثم هي إما أمة فعلت ذلك بإذن مولاها الواطئ لها وهي مسألة الفراتي أو بإذنه وليس هو الواطئ وهو صورة لا تخفى، والنقل فيها عزيز، وفي مذهب أبي حنيفة شهير، ففي فتاوى قاضيخان وغيره أن ذلك يجوز، وقد تكلم الغزالي عليها في الاحياء بكلام متين غير أنه لم يصرح بالتحريم. والراجح تحريمه بعد نفخ الروح مطلقا وجوازه قبله.

الفقه الإسلامي ج٤ ص٢٦٤٨
٣ – مذهب الشافعية: يباح الإجهاض مع الكراهة إذا تم في فترة الأربعين يوماً (٤٠ أو ٤٢ أو ٤٥ يوماً) من بدء الحمل، بشرط كونه برضا الزوجين، وألا يترتب على ذلك ضرر بالحامل. وبعد فترة الأربعين يحرم الإسقاط مطلقاً.
ورجح الرملي جواز الإجهاض قبل نفخ الروح والتحريم بعد نفخ الروح مطلقاً، فيكون رأيه كالحنفية.
وحرم الغزالي الإجهاض مطلقاً، لأنه جناية على موجود حاصل.

ﺗﻮﺿﻴﺢ اﻷﺣﻜﺎﻡ اﻟﺠﺰء اﻟﺨﺎﻣﺲ ﺻ: ١٨٨-١٨٩
ﻻ ﻳﺠﻮﺯ ﺇﺳﻘﺎﻁ اﻟﺤﻤﻞ ﻓﻰ ﻣﺨﺘﻠﻒ ﻣﺮاﺣﻠﻪ ﺇﻻ ﻟﻤﺒﺮﺭ ﺷﺮﻋﻰ ﻭﻓﻰ ﺣﺪﻭﺩ ﺿﻴﻘﺔ ﺟﺪا. ﺇﺫا ﻛﺎﻥ اﻟﺤﻤﻞ ﻓﻰ اﻟﻄﻮﺭ اﻷﻭﻝ ﻭﻫﻰ ﻣﺪﺓ اﻷﺭﺑﻌﻴﻦ ﻭﻛﺎﻥ ﻓﻰ ﺇﺳﻘﺎﻃﻪ ﻣﺼﻠﺤﺔ ﺷﺮﻋﻴﺔ اﻭ ﺩﻓﻊ ﺿﺮﺭ ﻣﺘﻮﻗﻊ ﺟﺎﺯ ﺇﺳﻘﺎﻃﻪ ﺃﻣﺎ ﺇﺳﻘﺎﻃﻪ ﻓﻰ ﻫﺬﻩ اﻟﻤﺪﺓ ﺧﺸﻴﺔ اﻟﻤﺸﻘﺔ ﻓﻰ ﺗﺮﺑﻴﺔ اﻷﻭﻻﺩ ﺃﻭ ﺧﻮﻓﺎ ﻣﻦ اﻟﻌﺠﺰ ﻋﻦ ﺗﻜﺎﻟﻴﻒ ﻣﻌﻴﺸﺘﻬﻢ ﻭﺗﻌﻠﻴﻤﻬﻢ ﺃﻭ ﻣﻦ ﺃﺟﻞ ﻣﺴﺘﻘﺒﻠﻬﻢ ﺃﻭ ﺇﻛﺘﻔﺎء ﺑﻤﺎ ﻟﺬﻯ اﻟﺰﻭﺟﻴﻦ ﻣﻦ اﻷﻭﻻﺩ ﻓﻐﻴﺮ ﺟﺎﺋﺰ. ﻻ ﻳﺠﻮﺯ اﺳﻘﺎﻁ اﻟﺤﻤﻞ ﺇﺫا ﻛﺎﻥ ﻋﻠﻘﺔ ﺃﻭ ﻣﻀﻐﺔ ﺣﺘﻰ ﺗﻜﺮﺭ ﻟﺠﻨﺔ ﻃﺒﻴﺔ ﻣﻮﺛﻮﻗﺔ ﺇﻥ اﺳﺘﻤﺮاﺭﻩ ﺧﻄﺮ ﻋﻠﻰ ﺳﻼﻣﺔ ﺃﻣﻪ ﺑﺄﻥ ﻳﺨﺸﻰ ﻋﻠﻴﻬﺎ اﻟﻬﻼﻙ ﻣﻦ اﺳﺘﻤﺮاﺭﻩ ﻓﻴﺠﻮﺯ ﺇﺳﻘﺎﻃﻪ ﺑﻌﺪ اﺳﺘﻨﻔﺎﺩ ﻛﺎﻓﺔ اﻟﻮﺳﺎﺋﻞ ﻟﺘﻼﻗﻰ ﺗﻠﻚ اﻷﺧﻄﺎﺭ. ﺑﻌﺪ اﻟﻄﻮﺭ اﻟﺜﺎﻟﺚ ﻭﺑﻌﺪ ﺇﻛﻤﺎﻝ ﺃﺭﺑﻌﺔ ﺃﺷﻬﺮ ﻟﻠﺤﻤﻞ ﻻ ﻳﺤﻞ اﺳﻘﺎﻃﻪ ﺣﺘﻰ ﻳﻘﺮﺭ ﺟﻤﻊ ﻣﻦ اﻷﻃﺒﺎء اﻟﻤﺨﺘﺼﻴﻦ اﻟﻤﻮﺛﻮﻗﻴﻦ ﺃﻥ ﺑﻘﺎء اﻟﺠﻨﻴﻦ ﻓﻰ ﺑﻄﻦ ﺃﻣﻪ ﻳﺴﺒﺐ ﻣﻮﺗﻬﺎ ﻭﺑﺬﻟﻚ ﺑﻌﺪ اﺳﺘﻨﻔﺎﺩ اﻟﻮﺳﺎﺋﻞ ﻻﻧﻘﺎﺫ ﺣﻴﺎﺗﻪ ﻭﺇﻧﻤﺎ ﺭﺧﺺ اﻹﻗﺪاﻡ ﻋﻠﻰ اﺳﻘﺎﻃﻪ ﺑﻬﺬﻩ اﻟﺸﺮﻭﻁ ﺩﻓﻌﺎ ﻷﻋﻈﻢ اﻟﻀﺮﺭﻳﻦ ﻭﺟﻠﺒﺎ ﻟﻌﻈﻤﻰ اﻟﻤﺼﻠﺤﻴﻦ. ﻗﺒﻞ ﻣﺮﻭﺭ ﻣﺎﺋﺔ ﻭﻋﺸﺮﻳﻦ ﻳﻮﻣﺎ ﻋﻠﻰ اﻟﺤﻤﻞ ﺇﺫا ﺛﺒﺖ ﻭﺗﺄﻛﺪ ﺑﺘﻘﺮﻳﺮ ﻟﺠﻨﺔ ﻃﺒﻴﺔ ﻣﻦ اﻷﻃﺒﺎء اﻟﻤﺨﺘﺼﻴﻦ اﻟﺜﻘﺎﺕ ﻭﺑﻨﺎء ﻋﻠﻰ اﻟﻔﺤﻮﺹ اﻟﻔﻨﻴﺔ ﺑﺎﻷﺟﻬﺰﺓ ﻭاﻟﻮﺳﺎﺋﻞ اﻟﻤﻤﻜﻨﺔ ﺃﻥ اﻟﺠﻨﻴﻦ ﻣﺸﻮﻩ ﺗﺸﻮﻳﻬﺎ ﺧﻄﻴﺮا ﻏﻴﺮ ﻗﺒﻴﻞ ﻟﻠﻌﻼﺝ ﻭﺇﻧﻪ ﺇﺫا ﺑﻘﻰ ﻭﻭﻟﺪ ﻓﻰ ﻣﻮﻋﺪﻩ ﺳﺘﻜﻮﻥ ﺣﻴﺎﺗﻪ ﺳﻴﺌﺔ ﻭﺃﻻﻣﺎ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﻋﻠﻰ ﺃﻫﻠﻪ ﻓﻌﻨﺪﺋﺬ ﻳﺠﻮﺯ اﺳﻘﺎﻃﻪ ﺑﻨﺎء ﻋﻠﻰ ﻃﻼﺏ اﻟﻮاﻟﺪﻳﻦ ﻭاﻟﻤﺠﻠﺲ ﺇﺫ ﻳﻘﺮﺭ ﺫﻟﻚ ﻳﺴﻰء اﻷﻃﺒﺎء ﻭاﻟﻮاﻟﺪﻳﻦ ﺑﺘﻘﻮﻯ اﻟﻠﻪ ﻭاﻟﺘﺜﺒﺖ ﻓﻰ ﻫﺬا اﻷﻣﺮ

 

Kitab Al-Halal wal-Haram
Syekh Dr. Yusuf Al-Qaradawi, Halaman 232–233

Tentang Pengguguran Janin:
Jika Islam memperbolehkan seorang Muslim untuk mencegah kehamilan karena alasan-alasan tertentu yang mendesak, maka Islam tidak memperbolehkan seseorang untuk menghilangkan janin setelah ia benar-benar ada. Bahkan jika janin itu berasal dari hubungan haram, Nabi Muhammad ﷺ tidak menjatuhkan hukuman hudud kepada seorang wanita yang hamil karena zina sampai ia melahirkan anaknya dan selesai menyusui, karena anak tersebut tidak bersalah.

Para ulama sepakat bahwa menggugurkan janin setelah ruh ditiupkan adalah haram dan merupakan tindakan kriminal. Tidak diperbolehkan bagi seorang Muslim untuk melakukannya karena itu adalah kejahatan terhadap makhluk hidup yang sempurna bentuknya dan memiliki kehidupan yang nyata. Para ulama mengatakan bahwa jika janin dilahirkan dalam keadaan hidup lalu meninggal, maka diwajibkan membayar diyat (tebusan), sedangkan jika lahir dalam keadaan mati, maka diyatnya lebih ringan.

Namun, mereka juga menyatakan bahwa jika terbukti secara medis bahwa keberadaan janin setelah ruh ditiupkan akan menyebabkan kematian ibu tanpa keraguan, maka syariat berdasarkan kaidahnya memerintahkan untuk memilih kerugian yang lebih ringan. Jika keberadaan janin dapat menyebabkan kematian ibu, dan satu-satunya cara untuk menyelamatkan ibu adalah dengan menggugurkan janin tersebut, maka tindakan tersebut menjadi wajib. Nyawa ibu tidak boleh dikorbankan untuk menyelamatkan janin karena ibu adalah asal dari janin tersebut.

Kehidupan ibu telah mapan, ia memiliki hak dan kewajiban serta merupakan pilar utama keluarga. Tidaklah masuk akal untuk mengorbankannya demi janin yang belum memiliki kehidupan yang mandiri dan belum mendapatkan hak-hak penuh.

Jika terbukti secara ilmiah bahwa janin akan lahir cacat dan menjalani kehidupan yang penuh penderitaan bagi dirinya dan orang di sekitarnya, maka kaidah syariat tidak melarang menggugurkannya. Namun, tindakan ini hanya diperbolehkan pada tahap awal kehamilan, yaitu sebelum 120 hari. Imam Al-Ghazali membedakan antara mencegah kehamilan dan menggugurkan janin. Ia mengatakan bahwa mencegah kehamilan tidak sama dengan aborsi atau membunuh bayi, karena aborsi adalah kejahatan terhadap makhluk yang telah ada.

Ketika sperma bertemu dengan sel telur dalam rahim dan siap untuk menerima kehidupan, maka merusaknya dianggap sebagai kejahatan. Jika sudah berubah menjadi segumpal darah atau daging, kejahatannya semakin besar. Ketika ruh telah ditiupkan dan bentuknya sempurna, kejahatan tersebut menjadi lebih berat, dan tingkat kejahatan tertinggi adalah membunuh makhluk hidup setelah ia lahir dalam keadaan hidup.

Referensi dari Kitab Lain

Bughyatul Mustarsyidin (Halaman 246):
Dalam Bughyatul Mustarsyidin disebutkan bahwa haram hukumnya menyebabkan gugurnya janin setelah ia menetap di dalam rahim, baik dalam bentuk segumpal darah (ʿalaqah) atau segumpal daging (muḍghah), bahkan sebelum ruh ditiupkan, sebagaimana tercantum dalam kitab “At-Tuhfah.”

Namun, ada pendapat (dalam madzhab Syafi’i) yang menyatakan bahwa pengguguran tidak haram kecuali setelah ruh ditiupkan. Pendapat dalam madzhab Hanafi berbeda; sebagian membolehkan menggugurkan janin pada tahap awal, sementara sebagian lain mengharamkannya setelah ruh ditiupkan.

I’aanatuth Thalibin (Jilid 4, Halaman 147):
Para ulama berbeda pendapat mengenai hukum menggugurkan janin sebelum ruh ditiupkan (120 hari). Pendapat yang lebih kuat adalah bahwa hukumnya haram karena setelah janin menetap di rahim dan mulai terbentuk, statusnya berbeda dengan sperma yang masih berupa zat mati.

Al-Fiqh Al-Islami wa Adillatuh (Jilid 4, Halaman 2648):
Dalam madzhab Syafi’i, menggugurkan kandungan diperbolehkan dengan catatan makruh jika dilakukan dalam 40 hari pertama kehamilan, asalkan atas persetujuan suami-istri dan tidak membahayakan kesehatan ibu. Setelah 40 hari, pengguguran janin menjadi haram.

Tawdihul Ahkam (Jilid 5, Halaman 188–189):
Menggugurkan kandungan di berbagai tahap kehamilan tidak diperbolehkan kecuali ada alasan syar’i yang mendesak, dan itu pun dalam batasan yang sangat sempit.

Jika janin berusia kurang dari 40 hari dan ada alasan syar’i atau untuk menghindari bahaya tertentu, maka pengguguran diperbolehkan. Namun, alasan seperti khawatir tidak mampu mendidik anak, ketakutan terhadap biaya hidup, atau kecukupan jumlah anak tidak dapat dijadikan alasan syar’i untuk melakukan pengguguran.

Setelah janin mencapai usia 120 hari dan jika terbukti secara medis bahwa keberadaannya akan menyebabkan kematian ibu, maka pengguguran diperbolehkan dengan syarat telah dilakukan segala upaya untuk menyelamatkan nyawa janin.

 

Kategori
Uncategorized

MANFAAT DZIKIR DAN DO’A SETELAH SHALAT JUM’AT

DZIKIR DAN DO’A SETELAH SHALAT JUM’AT DAN FAIDAHNYA

Assalamualaikum.
Mohon maaf sebelumnya mau nanya
Deskripsi masalah.
Sebagaimana yang kita maklumi dimasyarakat Islam bahwa ketika selesai shalat jum’at dianjurkan membaca fatihah 7x al-Ikhlas 7x al-Falaq 7x an-Nas 7x dan diakhiri do’a dengan bentuk sya’ir ada yang membaca 3× dan ada yang membaca 5×

إلهى لست للفردوس أهلا # ولاأقوى على نار الجحيم # فهب لي توبة واغفر ذنوبي # فإنك غافر الذنب العظيم


Kalau dilihat dari segi makna bahwa seseorang yang membaca berseru kepada Allah bahwa dirinya tidak pantas memiliki surga firdaus dan dia tidak mampu menempati Neraka jahannam.

Pertanyaannya.

1.Bagaimana maksud dari ungkapan tidak pantas memasuki surga dan tidak kuat atas api neraka sebagaimana do’a tersebut
2. Apa hasiat/atau manfaatnya membaca amalan tersebut diatas dan dibaca berapa kali menurut hadits atau keterangan dalam kitab turos ?

Waalaikum salam.
Jawaban.

Kalau ditinjau dari segi makna seakan merepotkan dan membingungkan, karena dalam maknanya memasuki surga tidak pantas memasuki neraka tidak kuat .Menurut al-Fakir ar-Roji ila rahmatillah bahwa maksud dari pengakuan ungkapan dalam do’a” Saya tidak pantas memiliki/memasuki surga firdaus adalah dikarenakan amal saya masih belum pantas, sebagai jaminan untuk memiliki surga firdaus karena amal saya masih sedikit dan masih banyak dosa.
Sedangkan maksud dari ungkapan saya tidak kuat atas siksa api neraka Ya Allah seakan dia berkata dalam hatinya bagaimana saya akan dimasukkan keneraka sementara saya berbuat baik/ amal shaleh, walaupun saya pernah berbuat dosa, oleh karenanya terimalah taubat saya.

Jadi kesimpulan dari do’a tersebut permohonan taubat dan ampunan yang selanjudnya tawakkal dan dipasarahkan kepada Allah antara dimasukkan kesurga ataupun keneraka, yang terpenting tentunya dengan cara ikhtiyar/usaha terlebih dahulu selama hidupnya dengan ibadah dan bertakwa kepada Allah dan terus beramal sholeh, serta bertaubat atas maksiat yang pernah dilakukan dan tidak akan bermaksiat lagi.Itulah sebabnya seorang penyair dan ulama ternama Abu Nuwas tidak meminta surga karena diri merasa tak pantas ke surga dengan amal-amalnya. Ia hanya meminta ampunan Allah swt.

Adapun hasiatnya/manfaatnya dzikir dan do’a tersebut diantaranya dijaga dirinya dan keluarganya pun juga agamanya dari keburukan mulai hari jum’at sampai jum’at yang akan datang juga akan dicukupkan dalam kehidupannya serta dengan membaca do’a tersebut akan meninggal dengan membawa agama Islam tanpa diragukan dengan syarat tidak berubah tempat duduknya atau beralih dan bacaan surat-surat tersebut 7× persurat sedangkan do’a sya’irnya adalah 5× bukan 3x

Referensi

كاشفة السجا على شرح سفينة النجا. فى فصل صلاة الجمعة…الخ

[فائدة]

ورد في الخبر أن من قرأ عقب سلامه من الجمعة قبل أن يثني رجله الفاتحةوالإخلاص والمعوذتين سبعاً سبعاً غفر له ما تقدم من ذنبه وما تأخر وأعطي من الأجربعدد من آمن باﷲ ورسوله وفي رواية لابن السني بإسقاط الفاتحة وزيادة وأن ذلك بعد من السوء إلى الجمعة الأخرى وفي رواية بزيادة وقبل أن يتكلم حفظ له دينه ودنياه وأهله وولده وذكر ذلك ابن حجر

[SATU FAEDAH]

Disebutkan di dalam hadis bahwa barang siapa membaca Surat al-Fatihah, al-Ikhlas, al-Falaq, dan an-Naas sebanyak tujuh kali-tujuh kali setelah salam sholat Jumat dan sebelum memindah kaki (dari posisi tasyahud) maka dosanya yang lalu dan yang mendatang diampuni dan ia diberi pahala sebanyak makhluk yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya.
Riwayat Ibnu Sina tidak menyebutkan Surat al-Fatihah dan ditambahi pernyataan, “… dan ia dijauhkan dari keburukan sampai hari Jumat berikutnya.”
Dalam riwayat lain ditambahkan pernyataan, “… dan sebelum ia berbicara maka ia dijaga agamanya, dunianya, keluarganya, dan anaknya.” Demikian ini disebutkan oleh Ibnu Hajar.

ونقل عن الزيادي أن كيفية ذلك أن يبدأ بالفاتحة ثم قل هو اﷲ أحد ثم قل أعوذ بربالفلق ثم قل أعوذ برب الناس ونقل القليوبي عن شيخه أن ما ورد فيه أمر مخصوص يفوت بمخالفته فيفوت يثني رجله ولو بجعل يمينه للقوم

Dan dikutip dari Ziyadi bahwa cara melakukan bunyi hadis di atas adalah musholli mengawali membaca al-Fatihah, kemudian alIkhlas, kemudian al-Falaq, kemudian an-Naas.
Dikutip oleh Qulyubi dari gurunya bahwa hadits di atas mengandung perintah tertentu sehingga janji-janji yang dinyatakan dalam hadits tersebut tidak akan diperoleh sebab tidak melakukan aturan sesuai perintah yang ada. Oleh karena itu, apabila musholli telah memindah kaki kanannya menghadap ke orang lain maka ia telah kehilangan janji-janji yang disebutkan dalam hadis tersebut

وقوله قبل أن يثني رجله أي قبل أن يصرف رجله عن حالته التي هو عليها في التشهد وقوله ما تقدم من ذنبه وما تأخر أي من الصغائر إذا اجتمعت الكبائر نقله المناوي عن أبي الأسعد القشيري “قبل أن يثني رجله”

Bunyi hadits berarti sebelum musholli memindah kakinya dari posisi tasyahud. Bunyi hadis “ما تقدم من ذنبه وما تأخر” berarti bahwa dosa-dosa yang diampuni adalah dosa-dosa kecil yang telah terkumpul hingga menjadi dosa-dosa besar, seperti yang seperti yang dikutip oleh al-Manawi dari Abu As’ad Qusyairi.
Kemudian setelah itu musholli bacalah do’a ini sebanyak 4 kali:

ثم يقول يَا غنِيُّ يا حَميْدُ يا مُبْدِئُ يَامُعِيْدُ يَا رَحِيْمُ يَا وَدُوْدُ اَ غنِنِي بِحلَالِكَ عَنْ حَرَامِكَ وَبِطَاعَتِكَ عَنْ مَعْصِيَّتِكَ وَبِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ أربع مرات

Artinya:” Ya Allah dzat yang maha kaya, dzat yang maha terpuji, dzat yang maha memulai, dzat yang maha mengembalikan kehidupan, dzat yang maha penyayang, dan dzat yang maha mengasihi, kayakanlah aku dengan harta halalmu yang jauh dari harta haram, dengan taat kepadamu yang jauh dari ma’siat, anugerah darimu bukan selain engkau.

وروي أن من واظب عليه أغناه اﷲ ورزقه من حيث لا يحتسب ونقل الشرقاوي عن شيخنا الشيخ الحفني أن الدعاء المذكور وارد في حديث صحيح عن النبي صلى اﷲ عليه وسلّم

Dan diriwayatkan bahwa barang siapa senantiasa membaca doa tersebut maka Allah akan memberinya kecukupan dan rizki dari arah-arah yang ia tidak sangka-sangka.
Syarqowi mengutip dari Syaikhuna Syeh al-Hafani bahwa doa di atas disebutkan dalam hadis shohih yang diriwayatkan dari Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallama.

[فائدة]

عن القطب عبد الوهاب الشعراني نفعنا اﷲ به إن من واظب على قراءة هذين البيتين في كل يوم جمعة توفاه اﷲ تعالى على الإسلام من غير شك وهما

[SATU FAEDAH]

Diriwayatkan dari seorang wali qutub, Abdul Wahab Syakroni, semoga Allah memberi manfaat kepada kita dengan perantaranya, bahwa barang siapa senantiasa membaca dua bait berikut di setiap hari Jumat maka Allah pasti mencabut nyawanya dengan menetapi keislaman. Dua bait tersebut adalah:

إ لَهي لَسْتُ لِلْفِرْدَ وْسِ أَ هْلاً # وَلا أَقْوَى عَلَى نَارِالْجَحِيْمِ
فَـهَبْ لي تَوْبةً وَّاغْفِرْ ذُ نـُوْبي # فإنَّكَ غَافِرُالذَّنْبِ الْعَظِيْمِ .

ونقل عن بعضهم أما يقرآن خمس مرات بعد صلاة الجمعة

Artinya :”Wahai Tuhanku.!!Aku bukanlah orang pantas memiliki Surga firdaus Dan Aku tidak kuat diatas api Neraka Maka terimalah Taubatku dan ampunilah dosa-dosa Maka sesungguhnya kamu Dzat yang maha Pengampun.

Dan dikutip dari sebagian ulama bahwa dua bait tersebut dibaca sebanyak 5 (lima) kali setelah sholat Jumat.

إعانة الطالبين .ص ٤١٢

(قوله: الفاتحة إلخ)

مفعول يقرأ. (قوله: سبعا سبعا) حال من القراءة المأخوذة من يقرأ، أو نائب عن المفعول المطلق.
أي يقرأ ذلك حال كون قراءة كل واحدة من السور المذكورة مكررة سبعا سبعا، أو يقرأ ذلك قراءة سبعا سبعا. (قوله: لما ورد أن من قرأها) أي الفاتحة وما بعدها. وورد أيضا أن من قرأها حفظ الله له دينه ودنياه وأهله وولده. وورد أيضا (1) عن عائشة – رضي الله عنها – قالت: قال رسول الله (ص): من قرأ بعد صلاة الجمعة * (قل هو الله أحد) * و * (قل أعوذ برب الفلق) * و * (قل أعوذ برب الناس) * سبع مرات أعاذه الله بها من السوء إلى الجمعة الأخرى. وقال ابن مسعود – رضي الله عنه -: من قال بعد قراءة ما تقدم: اللهم يا غني يا حميد، يا مبدئ يا معيد، يا رحيم يا ودود، أغنني بفضلك عمن سواك، وبحلالك عن حرامك. أغناه الله، ورزقه من حيث لا يحتسب. وقال أنس – رضي الله عنه -: من قال يوم الجمعة سبعين مرة: اللهم أغنني بفضلك عمن سواك، وبحلالك عن حرامك. لم يمر عليه جمعتان حتى يغنيه الله تعالى.
(فوائد) الأولى: عن ابن عباس – رضي الله عنهما – عن النبي (ص) أنه قال: من قال بعدما تقضى الجمعة سبحان الله العظيم وبحمده. مائة مرة، غفر الله له مائة ألف ذنب، ولوالديه أربعة وعشرين ألف ذنب.
الثانية: عن سيدي عبد الوهاب الشعراني – نفعنا الله به – أن من واظب على قراءة هذين البيتين في كل يوم جمعة، توفاه الله على الاسلام من غير شك، وهما:
إلهي لست للفردوس أهلا * ولا أقوى على نار الجحيم فهب لي توبة، واغفر ذنوبي * فإنك غافر الذنب العظيم ونقل عن بعضهم أنها تقرأ خمس مرات بعد الجمعة.
. الثالثة: عن عراك بن مالك، أنه كان إذا صلى الجمعة انصرف فوقف على باب المسجد، وقال: اللهم أجبت دعوتك، وصليت فريضتك، وانتشرت كما أمرتني، فارزقني من فضلك وأنت خير الرازقين، وقد قلت وقولك الحق * (يا أيها الذين آمنوا إذا نودي للصلاة من يوم الجمعة فاسعوا إلى ذكر الله وذروا البيع، ذلكم خير لكم إن كنتم تعلمون.
فإذا قضيت الصلاة فانتشروا في الأرض وابتغوا من فضل الله، واذكروا الله كثيرا لعلكم تفلحون) *.

Kategori
Uncategorized

USAHA PETERNAK AYAM PETELUR KORELASINYA DENGAN ZAKAT

USAHA PETERNAK AYAM PETELUR KORELASINYA DENGAN ZAKAT.

Dalam upanya meningkatkan pendapatan usaha dalam rumah tangga. Mahfudh yang sehari-harinya bekerja sebagai guru Madrasah Diniyah dia mencoba mencari keberuntungan untuk menambah usaha baru yang menurutnya akan membawa pengaruh positif yang menguntungkan karena didairahnya sama sekali belum ada orang yang mencoba usaha ternak ayam petelur sehingga Hafidh memutuskan akan berternak ayam pedagang dan petelur. Dia ( Hafidh) melakukan pembelian ayam tidak tanggung-tanggung melainkan dengan jumlah banyak dan besar . Ternyata dalam realita apa yang dia usahakan tidaklah sia-sia . Berternak ayam yang merupakan usaha barunya yang dia rintis tersebut mendapatkan hasil yang cukup memuaskan, karena belum sampai satu tahun dalam mengelola peternakan Hafidh sudah mampu mendapatkan laba bersih sebesar 50 ini awal tahun perintisan namun setelah tahun ke3/4 karena laris ada saingannya sehingga rugi namun modal tetap diatas minimal satu nisab misalkan mudalnya 100 juta ketika dikelola mendapatkan kerugian yang mana jika ditaksir dengan uang menjadi 90 juta

Pertanyaannya.

  1. Apakah ternak ayam dalam jumlah yang besar sebagaimana deskripsi wajib zakat?
  2. Andaikan wajib zakat usaha peternak ayam, lalu bagaimana caranya untuk menghitung pengeluaran zakatnya.Kemudian timbul pertanyaan baru lagi yaitu:
  3. Jika awal modal melebihi batas minimal nisob kewajiban zakat tijaroh, lalu bagaimana jika rugi namun modal masih satu nisob( diatas batas minim) kewajiban zakat?

Waalaikum salam.
Jawaban.No.1
Pada dasarnya ayam yang diternakkan tidak termasuk pada kategori hewan yang wajib zakat dalam arti bukan zakat ain, akan tetapi jika pada awal membuka usaha peternak ayam diniatkan untuk ” Tijarah ” perdagangan maka Hafidh wajib mengeluarkan zakat atas nama zakat tijarah.

Jawaban No.2
Adapun cara untuk menghitung zakatnya adalah sebagai berikut:
1️⃣ Semua dagangan ( ayam yang diperdagangkan) ditaksir nilainya dengan harga tertinggi ( nilai uang) pada akhir tahun.
2️⃣Mahfudh harus mengetahui harganya emas sebesar 85 Gr ( batas minimal nisab zakat dagangan) karena zakat dagangan dikiyaskan dengan nisabnya emas, yang wajib dikeluarkan 2,5%
3️⃣ Hafidh harus membandingkan antara nilai hasil dari kalkulasi uang dari penjualan ayam dengan nilai harga satu nisab emas.
4️⃣ Jika pengkalkulasian uang dari penjual ayam ternak telah setara atau bahkan lebih besar dari nilai harga emas satu nisab maka wajib zakat, akan tetapi sebaliknya jika pengkalkulasian uang dari hasil penjualan ayam tersebut dibawah nilai harga emas maka hafidh tidak wajib mengeluarkan zakat.

Jawaban No 3
Jika modal awal yang diniati ” tijaroh ” melebihi nisab dagangan dengan jumlah 100 juta namun kemudian pada akhir tahun mengalami kerugian misalkan ayamnya terkena penyakit andaikan ditaksir jumlah uangnya barang dagangannya ( ayamnya) menjadi 90 juta,, dan masih mencukupi minimalnya nisab ,maka dalam hal ini tetap wajib dikeluarkan zakatnya.Alasannya ialah karena menurut syafiiyyah,barang dagangan yang wajib dikeluarkan zakatnya adalah:
(1)Barang dagangan itu dimiliki dengan cara diperjual belikan
(2)Orang itu harus meniatkan barang dagangannya untuk tijaroh(diperjual belikan).
(3)Hendaklah orang itu tidak meniatkan terhadap barangnya untuk disimpan untuk dirinya.
(4)Harus sampai satu tahun mulai dari membeli barang dagangan itu.
(5)Hendaklah orang itu tidak menjadikan semua barang dagangannya,menjadi uang.
(6)Hendaklah harganya barang dagangannya itu mencapai nishob pada akhir tahun dan seterusnya……………

Referensi:

حواشى المدينة (ج١ص٩٥)
وقد قررنا أن مالازكاة فى عينه يجب في زكاة التجارة من الجذوع والتبن والأرض إذ ليس فى هذه المذكرات زكاة عين ومالا ومالازكاة فى عينه يجب فيه زكاة التجارة.

تحفة المحتاج فى شرح النهاج حواشى شروانى .ج٣ ص ٢٩٥

ـ قَوْلُ الْمَتْنِ (إذَا اقْتَرَنَتْ نِيَّتُهَا إلَخْ) أَيْ نِيَّةُ التِّجَارَةِ بِهَذَا الْعَرْضِ بِكَسْبِ ذَلِكَ الْعَرْضِ وَتَمَلُّكِهِ بِمُعَاوَضَةٍ وَتَقَدَّمَ أَيْضًا أَنَّ التِّجَارَةَ تَقْلِيبُ الْمَالِ بِالتَّصَرُّفِ فِيهِ بِنَحْوِ الْبَيْعِ لِطَلَبِ النَّمَاءِ فَتَبَيَّنَ بِذَلِكَ أَنَّ الْبَزْرَ الْمُشْتَرَى بِنِيَّةِ أَنْ يُزْرَعَ ثُمَّ يُتَّجَرَ بِمَا يَنْبُتُ وَيَحْصُلُ مِنْهُ كَبَزْرِ الْبَقَّمِ لَا يَكُونُ عَرْضَ تِجَارَةٍ لَا هُوَ وَلَا مَا نَبَتَ مِنْهُ أَمَّا الْأَوَّلُ فَلِأَنَّ شِرَاءَهُ لَمْ يَقْتَرِنْ بِنِيَّةِ التِّجَارَةِ بِهِ نَفْسِهِ بَلْ بِمَا يَنْبُتُ مِنْهُ.
وَأَمَّا الثَّانِي فَلِأَنَّهُ لَمْ يُمْلَكْ بِمُعَاوَضَةٍ بَلْ بِزِرَاعَةِ بَزْرِ الْقِنْيَةِ وَلَا يُقَاسُ الْبَذْرُ الْمَذْكُورُ عَلَى نَحْوِ صِبْغٍ اُشْتُرِيَ لِيُصْبَغَ بِهِ لِلنَّاسِ بِعِوَضٍ؛ لِأَنَّ التِّجَارَةَ هُنَاكَ بِعَيْنِ الصِّبْغِ الْمُشْرَى لَا بِمَا يَنْشَأُ مِنْهُ بِخِلَافِ الْبَذْرِ الْمَذْكُورِ فَإِنَّهُ بِعَكْسِ ذَلِكَ وَلَا عَلَى نَحْوِ سِمْسِمٍ اُشْتُرِيَ لِيُعْصَرَ وَيُتَّجَرَ بِدُهْنِهِ؛ لِأَنَّ ذَلِكَ الدُّهْنَ مَوْجُودٌ فِيهِ بِالْفِعْلِ حِسًّا وَجُزْءٌ مِنْهُ حَقِيقَةً لَا نَاشِئٌ مِنْهُ فَالتِّجَارَةُ هُنَاكَ بِعَيْنِ الْمُشْرَى أَيْضًا وَلَا عَلَى نَحْوِ عَصِيرِ عِنَبٍ اُشْتُرِيَ لِيُتَّخَذَ خَلًّا وَيُتَّجَرَ بِهِ؛ لِأَنَّ الْعَصِيرَ لَا يَخْرُجُ بِصَيْرُورَتِهِ خَلًّا عَنْ حَقِيقَةٍ إلَى أُخْرَى بَلْ هُوَ بَاقٍ عَلَى حَقِيقَتِهِ الْأَصْلِيَّةِ وَإِنَّمَا الْمُتَغَيِّرُ صِفَتُهُ فَقَطْ فَالتِّجَارَةُ هُنَاكَ أَيْضًا بِعَيْنِ الْمُشْترَى لَا بِمَا هُوَ نَاشِئٌ مِنْهُ بِخِلَافِ الْبَذْرِ الْمَذْكُورِ فَإِنَّهُ بِعَكْسِ ذَلِكَ وَمَا يُتَوَهَّمُ مِنْ أَنَّ تَعْلِيلَهُمْ عَدَمَ صَيْرُورَةِ مِلْحٍ اُشْتُرِيَ لِيُعْجَنَ بِهِ لِلنَّاسِ بِعِوَضِ مَالِ تِجَارَةٍ بِاسْتِهْلَاكِ ذَلِكَ الْمِلْحِ وَعَدَمِ وُقُوعِهِ مُسْلَمًا لَهُمْ يُفِيدُ أَنَّ الْبَذْرَ الْمَذْكُورَ يَصِيرُ مَالَ تِجَارَةٍ؛ لِأَنَّهُ لَمْ يُسْتَهْلَكْ بِالزِّرَاعَةِ بَلْ انْبَثَّتْ أَجْزَاؤُهُ فِي نَبَاتِهِ كَسَرَيَانِ أَجْزَاءِ الدِّبَاغِ فِي الْجِلْدِ فَقَدْ تَقَدَّمَ مَا يَرُدُّهُ مِنْ الْفَرْقِ بَيْنَهُمَا وَلَوْ سُلِّمَ فَتَعْلِيلُهُمْ الْمَذْكُورُ مِنْ الِاسْتِدْلَالِ بِانْتِفَاءِ الشَّرْطِ عَلَى انْتِفَاءِ مَشْرُوطِهِ وَمَعْلُومٌ أَنَّ وُجُودَ الشَّرْطِ لَا يَسْتَلْزِمُ وُجُودَ الْمَشْرُوطِ ثُمَّ مَا ذُكِرَ كُلُّهُ فِيمَا إذَا كَانَتْ الْأَرْضُ الَّتِي زُرِعَ فِيهَا الْبَذْرُ الْمَذْكُورُ عَرْضَ تِجَارَةٍ وَإِلَّا فَسَيَأْتِي عَنْ الْعُبَابِ وَغَيْرِهِ مَا يُفِيدُ أَنَّ النَّابِتَ فِي أَرْضِ الْقِنْيَةِ لَا يَكُونُ مَالَ تِجَارَةٍ مُطْلَقًا.
نَعَمْ لَوْ كَانَ مِنْ الْبَذْرِ وَالْأَرْضِ الَّتِي زَرَعَ هُوَ فِيهَا عَرْضَ تِجَارَةٍ كَأَنْ اُشْتُرِيَ كُلٌّ مِنْهُمَا بِمَتَاعِ التِّجَارَةِ أَوْ بِنِيَّةِ التِّجَارَةِ فِي عَيْنِهِ كَانَ النَّابِتُ مِنْهُ مَالَ تِجَارَةٍ تَجِبُ فِيهِ الزَّكَاةُ بِشَرْطِهَا كَمَا يَأْتِي عَنْ الْعُبَابِ وَغَيْرِهِ لَكِنْ لِعَامِ إخْرَاجِ الْبَقَّمِ مِنْ تَحْتِ الْأَرْضِ كَالسَّنَةِ الرَّابِعَةِ مِنْ الزَّرْعِ لَا لِلْأَعْوَامِ الْمَاضِيَةِ إلَّا لِمَا عَلِمَ بُلُوغَهُ فِيهِ نِصَابًا بِأَنْ شَاهَدَهُ لِانْكِشَافِهِ بِنَحْوِ سَيْلٍ وَلَا يَكْفِي الظَّنُّ وَالتَّخْمِينُ أَخْذًا مِمَّا تَقَدَّمَ عَنْ سم وَالْبَصْرِيِّ فِي زَكَاةِ الْمَعْدِنِ وَأَمَّا إذَا كَانَ أَحَدُهُمَا لِلْقِنْيَةِ فَلَا يَكُونُ النَّابِتُ حِينَئِذٍ مَالَ تِجَارَةٍ لِقَوْلِ الْعُبَابِ مَعَ شَرْحِهِ وَالرَّوْضِ وَالْبَهْجَةِ مَعَ شُرُوحِهِمَا وَاللَّفْظُ لِلْأَوَّلِ وَإِنْ كَانَ الْمَمْلُوكُ بِمُعَاوَضَةٍ لِلتِّجَارَةِ نَخْلًا مُثْمِرَةً أَوْ غَيْرَ مُثْمِرَةٍ فَأَثْمَرَتْ أَوْ أَرْضًا مَزْرُوعَةً أَوْ غَيْرَ مَزْرُوعَةٍ فَزَرَعَهَا بِبَذْرِ التِّجَارَةِ وَبَلَغَ الْحَاصِلُ نِصَابًا وَجَبَتْ زَكَاةُ الْعَيْنِ لِقُوتِهَا فَفِي التَّمْرِ أَوْ الْحَبِّ الْعُشْرُ أَوْ نِصْفُهُ ثُمَّ بَعْدَ وُجُوبِ ذَلِكَ فِيهِمَا هُمَا مَالُ تِجَارَةٍ فَلَا تَسْقُطُ عَنْهُمَا زَكَاةٌ اهـ فَتَقْيِيدُهُمْ بِكَوْنِ كُلٍّ مِنْ الْبَذْرِ وَالْأَرْضِ لِلتِّجَارَةِ يُفِيدُ أَنَّهُ مَتَى كَانَ أَحَدُهُمَا لِلْقِنْيَةِ لَا يَكُونُ الْحَاصِلُ مَالَ
ــ
[حاشية ابن قاسم العبادي]
قَوْلُهُ وَالظَّاهِرُ أَنَّ مُرَادَهُ بِأَصَرَّ صَمَّمَ) قَدْ يُقَالُ لَا حَاجَةَ لِذَلِكَ بَلْ وَلَا لِزِيَادَةِ قَيْدِ الْإِصْرَارِ بَلْ الْعَزْمُ بِمَعْنَاهُ الْمُرَادِ لَهُمْ مَحَلُّ الْخِلَافِ وَمُوجِبٌ لِلْإِثْمِ عِنْدَ الْمُحَقِّقِينَ قَالَ الْكَمَالُ الْمَقْدِسِيَّ فِي حَاشِيَةِ جَمْعِ الْجَوَامِعِ وَشَيْخُهُ شَيْخُ الْإِسْلَامِ.
وَالْخَامِسَةُ أَنَّ مِنْ مَرَاتِبِ مَا يَجْرِي فِي النَّفْسِ الْعَزْمُ أَيْ الْجَزْمُ بِقَصْدِ الْفِعْلِ وَهُوَ مُؤَاخَذٌ بِهِ عِنْدَ الْمُحَقِّقِينَ اهـ

حشية قلي قليوبى وعميرة ج٢ص٣٤
. وَإِنْ اعْتَبَرْنَا النِّصَابَ فِي جَمِيعِ الْحَوْلِ أَوْ فِي طَرَفَيْهِ فَابْتِدَاءُ حَوْلِ الْجَمِيعِ مِنْ حِينِ بَاعَ وَنَضَّ فَإِذَا تَمَّ زَكَّى الْمِائَتَيْنِ (وَالْأَصَحُّ أَنَّ وَلَدَ الْعَرْضِ) مِنْ الْحَيَوَانِ غَيْرِ السَّائِمَةِ كَالْخَيْلِ وَالْجَوَارِي وَالْمَعْلُوفَةِ (وَثَمَرَهُ) مِنْ الْأَشْجَارِ (مَالُ تِجَارَةٍ) وَالثَّانِي يَقُولُ لَمْ يُحَصَّلَا بِالتِّجَارَةِ (وَ) الْأَصَحُّ عَلَى الْأَوَّلِ (أَنَّ حَوْلَهُ حَوْلُ الْأَصْلِ) وَالثَّانِي لَا بَلْ يُفْرَدُ بِحَوْلٍ مِنْ انْفِصَالِ الْوَلَدِ وَظُهُورِ الثَّمَرِ. وَإِذَا قُلْنَا: الْوَلَدُ لَيْسَ مَالَ تِجَارَةٍ وَنَقَصَتْ الْأُمُّ بِالْوِلَادَةِ جُبِرَ نَقْصُهَا مِنْ قِيمَتِهِ فَفِيمَا إذَا كَانَتْ قِيمَتُهَا أَلْفًا وَصَارَتْ بِالْوِلَادَةِ تِسْعَمِائَةٍ وَقِيمَةُ الْوَلَدِ مِائَتَيْنِ يُزَكِّي الْأَلْفَ وَسَيَأْتِي الْكَلَامُ فِي الْعَرْضِ السَّائِمَةِ

(وَوَاجِبُهَا) أَيْ التِّجَارَةِ (رُبْعُ عُشْرِ الْقِيمَةِ) وَهَذِهِ الْعِبَارَةُ أَخْصَرُ وَأَوْضَحُ مِنْ قَوْلِ الْمُحَرَّرِ. وَالْمُخْرِجُ لِلزَّكَاةِ مِنْ مَالِ التِّجَارَةِ الْقِيمَةَ أَيْ النَّقْدَ الَّذِي تُقَوَّمُ بِهِ وَتَقَدَّمَ أَنَّ وَاجِبَ النَّقْدِ رُبْعُ الْعُشْرِ، وَعِبَارَةُ الْوَجِيزِ: وَأَمَّا الْمُخْرَجُ فَهُوَ رُبْعُ عُشْرِ الْقِيمَةِ (فَإِنْ مَلَكَ) الْعَرْضَ (بِنَقْدٍ قُوِّمَ بِهِ إنْ مَلَكَ نِصَابَ) دَرَاهِمَ أَوْ دَنَانِيرَ وَإِنْ كَانَ غَيْرَ نَقْدِ الْبَلَدِ الْغَالِبِ (وَكَذَا دُونَهُ) أَيْ دُونَ النِّصَابِ (فِي الْأَصَحِّ) وَالثَّانِي يُقَوَّمُ بِغَالِبِ نَقْدِ الْبَلَدِ إنْ لَمْ يَكُنْ مَالِكًا لِبَقِيَّةِ النِّصَابِ مِنْ ذَلِكَ النَّقْدِ فَإِنْ كَانَ قُوِّمَ بِهِ لِبِنَاءِ حَوْلِ التِّجَارَةِ عَلَى حَوْلِهِ كَمَا فِي الْأَوَّلِ كَأَنْ اشْتَرَى عَرْضًا بِمِائَةِ دِرْهَمٍ وَهُوَ يَمْلِكُ مِائَةً أُخْرَى (أَوْ) مَلَكَ (بِعَرْضٍ) لِلْقِنْيَةِ (فَبِغَالِبِ نَقْدِ الْبَلَدِ) مِنْ الدَّرَاهِمِ أَوْ الدَّنَانِيرِ يُقَوَّمُ. وَكَذَا لَوْ مَلَكَ بِنِكَاحٍ أَوْ خُلْعٍ (فَإِنْ غَلَبَ نَقْدَانِ) عَلَى التَّسَاوِي (وَبَلَغَ بِأَحَدِهِمَا) دُونَ الْآخَرِ (نِصَابًا قُوِّمَ بِهِ فَإِنْ بَلَغَ) نِصَابًا (بِهِمَا قُوِّمَ بِالْأَنْفَعِ لِلْفُقَرَاءِ وَقِيلَ يَتَخَيَّرُ الْمَالِكُ) فَيُقَوَّمُ بِمَا شَاءَ مِنْهُمَا.
ــ
[حاشية قليوبي]
صَارَ الْكُلُّ نَاضًّا) فَلَوْ نَضَّ بَعْضُهُ فَلِكُلٍّ حُكْمُهُ. قَوْلُهُ: (إنْ ضَمَمْنَا) أَيْ عَلَى الْمَرْجُوحِ. قَوْلُهُ: (وَإِلَّا) بِأَنْ لَمْ نَضُمَّ عَلَى الرَّاجِحِ زَكَّى مِائَةَ الرِّبْحِ بَعْدَ سِتَّةِ أَشْهُرٍ، وَزَكَّى مِائَةَ الْأَصْلِ قَبْلَهَا عِنْدَ تَمَامِ حَوْلِ التِّجَارَةِ لِأَنَّ النَّضُوضَ لَا يَقْطَعُهُ لِكَوْنِهِ نِصَابًا كَمَا فِي شَرْحِ الرَّوْضِ وَغَيْرِهِ، وَلَوْ تَمَّ الْحَوْلُ وَقِيمَتُهُ دُونَ نِصَابٍ اُبْتُدِئَ حَوْلٌ مِنْ آخِرِهِ نَعَمْ إنْ كَانَ فِي مِلْكِهِ مِنْ أَوَّلِ الْحَوْلِ مَا يَتِمَّ بِهِ النِّصَابُ زَكَّاهُمَا آخِرَهُ. قَوْلُهُ: (أَنَّ وَلَدَ الْعَرْضِ مِنْ الْحَيَوَانِ مَالُ تِجَارَةٍ) سَوَاءٌ كَانَ مِنْ نَعَمٍ أَوْ خَيْلٍ أَوْ إمَاءٍ أَوْ غَيْرِهَا، وَيَظْهَرُ أَنَّ مِثْلَهُ فَرْخُ بَيْضٍ لِلتِّجَارَةِ، وَيُلْحَقُ بِوَلَدِهِ صُوفُهُ وَرِيشُهُ وَوَبَرُهُ وَشَعْرُهُ وَلَبَنُهُ وَسَمْنُهُ وَنَحْوُهَا، فَكُلُّهَا مَالُ تِجَارَةٍ. وَقَوْلُهُ: (وَثَمَرَهُ) أَيْ عَرْضَ التِّجَارَةِ مِنْ نَخْلٍ وَعِنَبٍ وَغَيْرِهِمَا مَالُ تِجَارَةٍ وَكَذَا تِبْنُهُ وَأَغْصَانُهُ وَأَوْرَاقُهُ وَيَظْهَرُ أَنَّ مِثْلَهُ نَبَاتُ بَذْرِهِ وَسَنَابِلُهُ.
تَنْبِيهٌ: يَظْهَرُ أَنَّهُ لَا يُمْنَعُ الْمَالِكُ مِنْ اسْتِعْمَالِ عُرُوضِ التِّجَارَةِ كَرُكُوبِ حَيَوَانِهَا وَسُكْنَى عَقَارِهَا وَلَا مِنْ الْأَكْلِ مِنْ حَيَوَانِهَا أَوْ ثِمَارِهَا أَوْ لَبَنِهَا وَلَا مِنْ اللُّبْسِ مِنْ نَحْوِ صُوفِهَا وَلَا مِنْ وَطْءِ إمَائِهَا، وَلَا مِنْ هِبَةِ شَيْءٍ مِنْ ذَلِكَ، وَلَا مِنْ التَّصَدُّقِ بِهِ عَلَى مَا يَأْتِي، وَلَا مِنْ إعَارَتِهِ، وَلَا إجَارَتِهِ، وَإِنَّ كُلَّ مَا خَرَجَ عَنْ مِلْكِهِ بِنَحْوِ الصَّدَقَةِ أَوْ اُسْتُهْلِكَ بِنَحْوِ الْأَكْلِ بَطَلَتْ فِيهِ التِّجَارَةُ وَلَا يَلْزَمُهُ بَدَلُهُ لَهَا لِأَنَّ ذَلِكَ كَنِيَّةِ الْقِنْيَةِ أَوْ أَقْوَى، وَأَنَّهُ لَا يَلْزَمُهُ أُجْرَةٌ فِي الِاسْتِعْمَالِ وَأَنَّ أُجْرَةَ مَا أَجَّرَهُ تَكُونُ لَهُ لَا مَالُ تِجَارَةٍ وَإِنْ كَسَبَ رَقِيقَ التِّجَارَةِ وَمَهْرَ إمَائِهَا لَيْسَ مَالَ تِجَارَةٍ أَيْضًا لِذَلِكَ، وَأَنَّهُ لَوْ وَلَدَتْ مِنْهُ الْأَمَةُ خَرَجَتْ كَوَلَدِهَا عَنْ مَالِ التِّجَارَةِ بِالْأَوْلَى مِمَّا مَرَّ لِامْتِنَاعِ بَيْعِهَا، وَإِنَّ مَا تَلِفَ مِنْ أَمْوَالِهَا بِشَيْءٍ مِنْ ذَلِكَ أَوْ بِغَيْرِهِ خَرَجَ عَنْ مَالِ التِّجَارَةِ أَيْضًا إلَّا إنْ أَتْلَفَهُ أَجْنَبِيٌّ ضَامِنٌ فَبَدَّلَهُ مَالُ التِّجَارَةِ كَمَا مَرَّ. هَذَا مَا ظَهَرَ فَلْيُرَاجَعْ مِنْ مَحَلِّهِ وَيَعْمَلُ بِمَا وَافَقَ مِنْهُ الْمَنْقُولَ وَاَللَّهُ أَعْلَمُ

حاشية إعانة الطالبين ج٢ص٣٨
(واعلم) أن لزكاة التجارة شروطا ستة – زيادة على ما مر في زكاة النقدين -.
أحدهما: أن يكون ملك ذلك المال بمعاوضة ولو غير محضة، وذلك لأن المعاوضة قسمان: محضة، وهي ما تفسد بفساد مقابلها، كالبيع والشراء.
وغير محضة، وهي ما لا تفسد بفساد مقابلها كالنكاح.
ثانيها: أن تقترن نية التجارة بحال المعاوضة في صلب العقد أو في مجلسه، وذلك لأن المملوك بالمعاوضة قد يقصد به التجارة، وقد يقصد به غيرها، فلا بد من نية مميزة، إن لم يجددها في كل تصرف بعد الشراء بجميع رأس المال.
ثالثها: أن لا يقصد بالمال القنية، وهي الإمساك للانتفاع.
رابعها: مضي حول من الملك.
خامسها: أن لا ينض جميعه، أي مال التجارة من الجنس، ناقصا عن النصاب في أثناء الحول، فإن نض كذلك ثم اشترى به سلعة للتجارة، فابتداء الحول يكون من الشراء.
سادسها: أن تبلغ قيمته آخر الحول نصابا، وكذا إن بلغته دون نصاب ومعه ما يكمل به، كما لو كان معه مائة درهم فابتاع بخمسين منها وبلغ مال التجارة آخر الحول مائة وخمسين – فيضم لما عنده، وتجب زكاة الجميع.
اه.
ملخصا من البجيرمي.
(وقوله: قيمة العرض) – بفتح العين، وسكون الراء – اسم لكل ما قابل النقدين من صنوف الأموال.
ويطلق أيضا على ما قابل الطول.
وبضم العين ما قابل النصل في السهام.
وبكسرها: محل الذم والمدح من الإنسان.
وبفتح العين والراء معا.
ما قابل الجوهر.
واحترز بقوله قيمة: عن نفس العرض، فلا يجوز إخراج زكاته منه.
(واعلم) أن مال التجارة يقوم آخر الحول بما ملك به إن ملك بنقد ولو في ذمته، فإن ملك بغير نقد – كعرض،
ونكاح، وخلع – فبغالب نقد البلد.
(وقوله: في مال تجارة) متعلق بيجب. ولا يخفى ما في عبارته من الركاكة. إذ العرض الذي يجب ربع عشر قيمته هو مال التجارة.
ولو حذف لفظ العرض ولفظة: في – لكان أولى وأخصر.
والتجارة: هي تقليب المال المملوك بالمعاوضة بالنية – كشراء – سواء كان بعرض أم نقد أم دين – حال، أم مؤجل -.وخرج بذلك ما ملك بغير معاوضة كإرث، فإذا ترك لورثته عروض تجارة لم تجب عليهم زكاتها، وكهبة بلا ثواب.

حاشية قليوبى ج ٢ص ٣٦-٣٧
(وَإِذَا مَلَكَهُ) أَيْ عَرْضَ التِّجَارَةِ (بِنَقْدِ نِصَابٍ) كَأَنْ اشْتَرَاهُ بِعِشْرِينَ دِينَارًا أَوْ بِمِائَتَيْ دِرْهَمٍ أَيْ بِعَيْنِ ذَلِكَ (فَحَوْلُهُ مِنْ حِينِ مَلَكَ) ذَلِكَ (النَّقْدَ) بِخِلَافِ مَا إذَا اشْتَرَاهُ بِنِصَابٍ فِي الذِّمَّةِ ثُمَّ نَقَدَهُ يَنْقَطِعُ حَوْلُ النَّقْدِ وَيُبْتَدَأُ حَوْلُ التِّجَارَةِ مِنْ حِينِ الشِّرَاءِ. وَفَرَّقَ بَيْنَ الْمَسْأَلَتَيْنِ بِأَنَّ النَّقْدَ لَمْ يَتَعَيَّنْ صَرْفُهُ لِلشِّرَاءِ فِي الثَّانِيَةِ بِخِلَافِ الْأُولَى (أَوْ دُونَهُ) أَيْ النِّصَابِ (أَوْ بِعَرْضِ قِنْيَةٍ) كَالْعَبِيدِ وَالْمَاشِيَةِ (فَمِنْ الشِّرَاءِ) حَوْلُهُ (وَقِيلَ إنْ مَلَكَهُ بِنِصَابِ سَائِمَةٍ بُنِيَ عَلَى حَوْلِهَا) كَمَا لَوْ مَلَكَهُ بِنِصَابِ نَقْدٍ، وَفَرَّقَ الْأَوَّلَ بِأَنَّ الْوَاجِبَ فِي الْمَقِيسِ مُخْتَلَفٌ عَلَى خِلَافِهِ فِي الْمَقِيسِ عَلَيْهِ (وَيُضَمُّ الرِّبْحُ إلَى الْأَصْلِ فِي الْحَوْلِ إنْ لَمْ يَنِضَّ) فَلَوْ اشْتَرَى عَرْضًا بِمِائَتَيْ دِرْهَمٍ فَصَارَتْ قِيمَتُهُ فِي الْحَوْلِ وَلَوْ قَبْلَ آخِرِهِ بِلَحْظَةٍ ثَلَاثَمِائَةٍ زَكَّاهَا آخِرَهُ (لَا إنْ نَضَّ) أَيْ صَارَ الْكُلُّ نَاضًّا دَرَاهِمَ أَوْ دَنَانِيرَ مِنْ جِنْسِ رَأْسِ الْمَالِ الَّذِي هُوَ نِصَابٌ وَأَمْسَكَهُ إلَى آخِرِ الْحَوْلِ أَوْ اشْتَرَى بِهِ عَرْضًا قَبْلَ تَمَامِهِ فَيُفْرِدُ الرِّبْحَ بِحَوْلِهِ (فِي الْأَظْهَرِ) قَالَ فِي الْمُحَرَّرِ: فَإِذَا اشْتَرَى عَرْضًا بِمِائَتَيْ دِرْهَمٍ وَبَاعَهُ بَعْدَ سِتَّةِ أَشْهُرٍ بِثَلَاثِمِائَةٍ وَأَمْسَكَهَا إلَى تَمَامِ الْحَوْلِ أَوْ اشْتَرَى بِهَا عَرْضًا وَهُوَ يُسَاوِي ثَلَاثَمِائَةٍ فِي آخِرِ الْحَوْلِ فَيُخْرِجُ الزَّكَاةَ عَنْ مِائَتَيْنِ، فَإِذَا مَضَتْ سِتَّةُ أَشْهُرٍ أَخْرَجَ عَنْ الْمِائَةِ. وَالثَّانِي يُزَكِّي الرِّبْحَ بِحَوْلِ الْأَصْلِ، وَلَوْ كَانَ النَّاضُّ الْمَبِيعُ بِهِ مِنْ غَيْرِ جِنْسِ رَأْسِ الْمَالِ فَهُوَ كَبَيْعِ عَرْضٍ بِعَرْضٍ فَيُضَمُّ الرِّبْحُ إلَى الْأَصْلِ. وَقِيلَ: عَلَى الْخِلَافِ فِيمَا هُوَ مِنْ الْجِنْسِ، وَلَوْ كَانَ رَأْسُ الْمَالِ دُونَ نِصَابٍ كَأَنْ اشْتَرَى عَرْضًا بِمِائَةِ دِرْهَمٍ وَبَاعَهُ بَعْدَ سِتَّةِ أَشْهُرٍ بِمِائَتَيْ دِرْهَمٍ وَأَمْسَكَهُمَا
ــ
[حاشية قليوبي]
فِي كَلَامِ السُّبْكِيّ لَا يَدُلُّ لَهُ كَمَا يُعْلَمُ بِمُرَاجَعَتِهِ.

قَوْلُهُ: (أَيْ بِعَيْنِ ذَلِكَ) فِي الْعَقْدِ لَا الْمَجْلِسِ وَفِيهِ مَا مَرَّ عَنْ شَيْخِنَا. قَوْلُهُ: (عَلَى خِلَافِهِ فِي الْمَقِيسِ عَلَيْهِ) أَيْ لِأَنَّ وَاجِبَ السَّائِمَةِ فِي عَيْنِهَا وَوَاجِبَ مَا اشْتَرَاهَا بِهِ فِي قِيمَتِهِ، وَهِيَ مِنْ النَّقْدِ وَوَاجِبَ الْمَقِيسِ عَلَيْهِ مِنْ النَّقْدِ فِيهِمَا. قَوْلُهُ: (زَكَّاهَا) أَيْ قِيمَتَهُ وَهِيَ الثَّلَاثُمِائَةِ، وَإِنْ بَاعَهُ بِدُونِهَا فَإِنْ بَاعَهُ بِأَكْثَرَ زَكَّى الْجَمِيعَ. قَوْلُهُ: (لَا إنْ نَضَّ) وَلَوْ بِقِيمَتِهِ فِي إتْلَافِ أَجْنَبِيٍّ قَالَ الْإِسْنَوِيُّ وَلَوْ تَأَخَّرَ دَفْعُ الْقِيمَةِ أَوْ بَاعَهُ بِزِيَادَةٍ إلَى أَجَلٍ فَالْقِيَاسُ عَدَمُ الضَّمِّ أَيْضًا. قَوْلُهُ:
ــ
[حاشية عميرة]
قَوْلُ الْمَتْنِ: (بِنَقْدِ نِصَابٍ) لَوْ كَانَ النَّقْدُ دَيْنًا لِلْمُشْتَرِي فِي ذِمَّةِ الْبَائِعِ، فَالْحُكْمُ كَذَلِكَ قَالَهُ فِي الْكِفَايَةِ. قَوْلُهُ: (أَيْ بِعَيْنِ ذَلِكَ) قَالَ فِي شَرْحِ الْإِرْشَادِ أَوْ فِي الذِّمَّةِ، وَعُيِّنَ فِي الْمَجْلِسِ فِي قَدْرِ الْوَاجِبِ، وَجِنْسُهُ وَالْمُرَادُ الذَّهَبُ وَالْفِضَّةُ، وَلَوْ غَيْرَ مَضْرُوبٍ وَعُلِّلَ أَيْضًا النَّمَاءُ، بِأَنَّ الزَّكَاةَ إنَّمَا وَجَبَتْ فِي النَّقْدِ، لِأَنَّهُ مَرْصَدٌ لِلنَّمَاءِ وَالنَّمَاءُ يَحْصُلُ بِالتِّجَارَةِ، فَلَمْ يَجُزْ أَنْ يَكُونَ السَّبَبُ فِي الْوُجُوبِ سَبَبًا فِي الْإِسْقَاطِ. قَوْلُهُ: (بِخِلَافِ مَا إذَا اشْتَرَاهُ بِنِصَابٍ فِي الذِّمَّةِ ثُمَّ نَقَدَهُ) الْمُرَادُ نَقَدَهُ بَعْدَ الْمَجْلِسِ، وَمِثْلُ هَذَا فِيمَا يَظْهَرُ مَا لَوْ اشْتَرَاهُ بِمَالِ التِّجَارَةِ فِي ذِمَّتِهِ، ثُمَّ نَقَدَهُ لَهُ بَعْدَ الْمَجْلِسِ مِنْ مَالِ التِّجَارَةِ، فَإِنَّ الْحَوْلَ يُبْتَدَأُ مِنْ الشِّرَاءِ، وَلَا يَنْبَنِي عَلَى عُرُوضِ التِّجَارَةِ الَّتِي عِنْدَهُ، لِأَنَّهُ مَلَكَهُ بِمَا فِي الذِّمَّةِ، وَلَا حَوْلَ لَهُ وَمَا نَقَدَهُ فِيهِ لَمْ يَتَعَيَّنْ صَرْفُهُ لَهُ، وَلَوْ نَوَاهُ حِينَ الشِّرَاءِ، وَقَوْلُ الْمِنْهَاجِ أَوْ دُونَهُ لَوْ كَانَ هَذَا الدُّونُ مِنْ مَالِ التِّجَارَةِ الَّذِي لَمْ يَنْقَطِعْ حَوْلُهُ، فَلَا إشْكَالَ فِي بَقَاءِ الْحَوْلِ كَمَا أَشَارَ إلَيْهِ بِقَوْلِهِ أَوْ بِعَرْضِ قِنْيَةٍ.
فَائِدَةٌ: قَالَ السُّبْكِيُّ – رَحِمَهُ اللَّهُ -: الثَّمَنُ الَّذِي مَلَكَ بِهِ الْعَرْضَ هُوَ الْمُعَيَّنُ فِي الْعَقْدِ، أَوْ الْمَجْلِسِ، أَمَّا الَّذِي نَقَدَهُ بَعْدَ ذَلِكَ فَلَا، وَاَلَّذِي مَلَكَهُ بِهِ هُوَ مَا فِي الذِّمَّةِ، وَلَا حَوْلَ لَهُ انْتَهَى، وَمِنْهُ تُعْلَمُ صِحَّةُ مَا قُلْنَاهُ أَوَّلًا، وَقَوْلُهُ: عَيَّنَ فِي الْمَجْلِسِ ظَاهِرَهُ، وَإِنْ لَمْ يُقْبَضْ وَهُوَ ظَاهِرٌ. قَوْلُهُ: (بِأَنَّ النَّقْدَ لَمْ يَتَعَيَّنْ صَرْفُهُ) الْمُرَادُ النَّقْدُ الَّذِي دَفَعَهُ بَعْدَ الْمَجْلِسِ. قَوْلُهُ: (عَلَى خِلَافِهِ) مُتَعَلِّقٌ مُخْتَلِفٌ. قَوْلُ الْمَتْنِ: (وَيُضَمُّ الرِّبْحُ إلَخْ) أَيْ قِيَاسًا عَلَى النِّتَاجِ بِالْأَوْلَى لِعُسْرِ مُرَاقَبَةِ الْقَيِّمِ ارْتِفَاعًا وَانْخِفَاضًا. قَوْلُ الْمَتْنِ: (لَا إنْ نَضَّ) أَيْ لِقَوْلِهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – «لَا زَكَاةَ فِي مَالٍ حَتَّى يَحُولَ عَلَيْهِ الْحَوْلُ» ، وَالْفَرْقُ بَيْنَهُ وَبَيْنَ النِّتَاجِ أَنَّ النِّتَاجَ مِنْ عَيْنِ الْأُمَّهَاتِ وَالرِّبْحُ، إنَّمَا هُوَ مُكْتَسَبٌ بِحُسْنِ التَّصَرُّفِ، وَلِهَذَا يَرُدُّ الْغَاصِبُ النِّتَاجَ دُونَ الرِّبْحِ، وَلَوْ صَارَ نَاضًّا بِإِتْلَافِ الْأَجْنَبِيِّ، فَكَمَا لَوْ نَضَّ بِالتِّجَارَةِ. قَالَ الْإِسْنَوِيُّ: وَلَوْ تَأَخَّرَ دَفْعُ الْقِيمَةِ، أَوْ بَاعَهُ بِزِيَادَةٍ إلَى أَجَلٍ فَالْقِيَاسُ عَدَمُ الضَّمِّ أَيْضًا، وَلَوْ نَضَّ الرِّبْحُ بَعْدَ الْحَوْلِ، بِأَنْ كَانَ ظَاهِرًا قَبْلَ الْحَوْلِ ضُمَّ وَإِلَّا فَلَا. وَقَوْلُ الشَّارِحِ: أَيْ صَارَ الْكُلُّ نَاضًّا احْتَرَزَ بِهِ عَمَّا لَوْ نَضَّ الْبَعْضُ، وَلَوْ كَانَ نَاقِصًا وَمِنْ جِنْسِ مَا يُقَوَّمُ بِهِ، فَالْحَوْلُ وَالضَّمُّ بَاقٍ فِي الْجَمِيعِ، وَإِنْ قَلَّ الْعِوَضُ، بَلْ قَضِيَّةُ إطْلَاقِهِ أَنَّهُ لَوْ كَانَ رَأْسُ الْمَالِ نِصَابًا ثُمَّ نَضَّ، وَنَضَّ مَعَهُ رِبْحٌ لَا يُفْرَدُ
إلَى تَمَامِ حَوْلِ الشِّرَاءِ وَاعْتَبَرْنَا النِّصَابَ آخِرَ الْحَوْلِ فَقَطْ زَكَّاهُمَا إنْ ضَمَمْنَا الرِّبْحَ إلَى الْأَصْلِ وَإِلَّا زَكَّى مِائَةَ الرِّبْحِ بَعْدَ سِتَّةِ أَشْهُرٍ أُخْرَى. وَإِنْ اعْتَبَرْنَا النِّصَابَ فِي جَمِيعِ الْحَوْلِ أَوْ فِي طَرَفَيْهِ فَابْتِدَاءُ حَوْلِ الْجَمِيعِ مِنْ حِينِ بَاعَ وَنَضَّ فَإِذَا تَمَّ زَكَّى الْمِائَتَيْنِ (وَالْأَصَحُّ أَنَّ وَلَدَ الْعَرْضِ) مِنْ الْحَيَوَانِ غَيْرِ السَّائِمَةِ كَالْخَيْلِ وَالْجَوَارِي وَالْمَعْلُوفَةِ (وَثَمَرَهُ) مِنْ الْأَشْجَارِ (مَالُ تِجَارَةٍ) وَالثَّانِي يَقُولُ لَمْ يُحَصَّلَا بِالتِّجَارَةِ (وَ) الْأَصَحُّ عَلَى الْأَوَّلِ (أَنَّ حَوْلَهُ حَوْلُ الْأَصْلِ) وَالثَّانِي لَا بَلْ يُفْرَدُ بِحَوْلٍ مِنْ انْفِصَالِ الْوَلَدِ وَظُهُورِ الثَّمَرِ. وَإِذَا قُلْنَا: الْوَلَدُ لَيْسَ مَالَ تِجَارَةٍ وَنَقَصَتْ الْأُمُّ بِالْوِلَادَةِ جُبِرَ نَقْصُهَا مِنْ قِيمَتِهِ فَفِيمَا إذَا كَانَتْ قِيمَتُهَا أَلْفًا وَصَارَتْ بِالْوِلَادَةِ تِسْعَمِائَةٍ وَقِيمَةُ الْوَلَدِ مِائَتَيْنِ يُزَكِّي الْأَلْفَ وَسَيَأْتِي الْكَلَامُ فِي الْعَرْضِ السَّائِمَةِ

غاية التلخيص ص١١٣
(مسئلة) أفتى البلقني بجواز إخراج الفلوس الجدد المسماة بالمناقير فى زكاة النقد والتجارة وقال إنه الذي أعتقده وبه أعمل وإن كان مخالفا لمذهب الشافعى والفلوس أنفع للمستحقين وأسهل وليس فيها عش كما فى الفضة المغشوشة ويتضرر المستحق إذا وردت عليه ولايجد بدلا. إنتهى. ويسع المقلد تقليده لأنه من أهل التخريج والترجيح لاسيما إذا راجت الفلوس وكثر رغبة الناس فيها وقد سلف البلقني فى ذلك البخاري وهو معدود من الشافعية فإنه قال فى صحيحه باب العروض فى الزكاة وقال طاووس قال معاذ لأهل اليمن ائتوني بعِرض ثياب خميص أو لبيس فى الصدقة مكان الشعير والذرة أهون عليكم وخيّر لأصحاب النبي صَلَّى الله عليه وسلم بالمدينة .إنتهى . قال شارحه ابن حجر باب العِرض أى جواز أخذ العرض بسكون الراء ماعدا النقدين ووافق البخاري فى هذه المسئلة الحنفية مع كثرة مخالفته لهم لكن ساقه إلى ذلك الدليل .إنتهى .ولاشك أن الفلوس إذا راجت رواج النقدين فهى أولى بالجواز من العرض لأنها أقرب إلى النقود فهى مترقيةعن العرض بل قضية كلام الشيخين وصريح كلام المحلى أنها من النقد وحينئذ فسبيل من أراد إخراجها تقليد من قال بجوازه ويسعه ذلك فيما بينه وبين الله تعالى ويبرأ عن والواجب وقد أرشد العلماء إلى التقليد عند الحاجة.

فقه الإسلامى وأدلته ص ١٣١
ملاحظة:
إن التقدير الذي اعتمدته هنا على الأصح: هو أن الدينار (٢٥،٤غم) والدرهم (٩٧٥،٢ غم) ونصاب الفضة في الزكاة (٥٩٥غم) ونصاب الذهب (٨٥غم) .

فقه الإسلامى وأدلته ص ١٨٠٠

وأما المحتكر أو غير المدير: فهو الذي يشتري السلع، وينتظر بها الغلاء. فلا زكاة عليه فيها حتى يبيعها، فإن باعها بعد حول أو أحوال، زكى الثمن لسنة واحدة.
والخلاصة: إن الجمهور غير المالكية قالوا: المدير وغير المدير لهما حكم واحد، وأن من اشترى عرضاً للتجارة فحال عليه الحول، قومه وزكاه، فلا يجب على المدير شيء عند الجمهور؛ لأن الحول إنما يشترط في عين المال، لا في نوعه. وأما مالك فأوجب على المدير الزكاة، وإن لم يحل الحول على عين المال، ويكفي حولانه على نوع المال، لئلا تسقط الزكاة رأساً عن المدير، وهذا أخذ بمبدأ المصالح المرسلة التي لا يشترط فيها عند مالك استنادها إلى أصول منصوص عليها.

٢ً – حولان الحول: أن يحول على الأموال (أي القيمة) الحول من وقت ملك العروض، لا على السلعة نفسها. والمعتبر في ذلك عند الحنفية، والمالكية (في غير المدير): طرفا الحول لا وسطه، أما في الابتداء فلتحقق الغنى، وأما في الانتهاء فللوجوب، فمن ملك في أول الحول نصاباً، ثم نقص في أثنائه، ثم كمل في آخره، وجبت فيه الزكاة، أما لو نقص في أوله أو في آخره فلا تجب فيه الزكاة.
والمعتبر عند الشافعية: بلوغ النصاب آخر الحول من البدء بالمتاجرة؛ لأنه وقت الوجوب، لا بطرفيه معاً أي أوله وآخره، وبناء عليه إذا كان مع تاجر في أول الحول ما يكمل به النصاب كمئة درهم اشترى بخمسين منها عرضاً للتجارة، فبلغت قيمته في آخر الحول مئة وخمسين، فإنه تلزمه زكاة الجميع آخر الحول.
والمعتبر عند الحنابلة: بلوغ النصاب في جميع الحول، ولا يضر النقص اليسير في أثنائه كنصف يوم مثلاً، أي أنه لا زكاة قبل اكتمال النصاب في البدء والأثناء والانتهاء.

٣ً – نية التجارة حال الشراء: أن ينوي المالك بالعروض التجارة حالة شرائها، أما إذا كانت النية بعد الملك، فلا بد من اقتران عمل التجارة بنية، ويشترط أيضاً عند الحنفية أن يكون الشيء المتجر فيه صالحاً لنية التجارة، فلو اشترى أرضاً خراجية للتجارة، ففيها الخراج لا الزكاة، ولو اشترى أرضاً عشرىة وزرعها، وجب في الزرع الناتج العشر، دون الزكاة.
واشترط الشافعية أن ينوي بالعروض التجارة حال المعاوضة في صلب العقد أو في مجلسه، فإن لم ينو على هذا الوجه فلا زكاة فيها. ويشترط تجديد نية التجارة عند كل معاوضة حتى يفرغ رأس المال.

٤ً – ملك العروض بمعاوضة: اشترط الجمهور غير الحنفية أن تملك العروض بمعاوضة كشراء وإجارة ومهر، فإن ملكت بغير معاوضة كإرث أو خلع أو هبة أو وصية أو صدقة مثلاً، كأن ترك شخص لورثته عروض تجارة، فلا زكاة فيها حتى يتصرفوا فيها بنية التجارة. وزاد المالكية أن يكون ثمن العروض ممتلكاً بمعاوضة مالية أيضاً، لا بنحو هبة أو إرث، ومن كان يبيع العروض بالعرض ولا ينض (يتحول نقداً) له من ثمن ذلك نقد، فلا زكاة عليه عند المالكية إلا أن يفعل ذلك فراراً من الزكاة فلا تسقط، وعليه الزكاة عند المذاهب الأخرى.
٥ ً – ألا يقصد بالمال القِنْية (أي إمساكه للانتفاع به وعدم الاتجار به): هذا شرط ذكره الشافعية والحنابلة والمالكية، فإن قصد ذلك انقطع الحول، وإذا أراد التجارة بعدئذ، احتاج لتجديد نية التجارة.
٦ ً – ألا يصير جميع مال التجارة في أثناء الحول نقداً وهو أقل من النصاب: هذا شرط آخر عند الشافعية، فإن صار جميع المال نقداً مع كونه أقل من نصاب، انقطع الحول. ولم يشترط غير الشافعية هذا الشرط.
٧ً – ألا تتعلق الزكاة بعين العرض: هذا شرط عند المالكية، فإن تعلقت الزكاة بعينه كحلي الذهب أو الفضة، وكالماشية (الإبل والبقر والغنم) والحرث (الزرع والثمر) وجبت زكاته إن بلغ نصاباً مثل زكاة النقدين والأنعام والحرث، فإن لم تتعلق الزكاة بعين المال كالثياب والكتب وجبت زكاة التجارة.
والخلاصة: إن الحنابلة اشترطوا لوجوب الزكاة في عروض التجارة شرطين (١):
الأول ـ أن يملكها بفعله كالشراء، وهو الشرط الرابع لدينا.
الثاني ـ أن ينوي التجارة حال التملك، وهو الشرط الثالث السابق.
والحنفية اشترطوا أربعة شروط:
الأول ـ بلوغ النصاب.والثاني ـ حولان الحول.
والثالث ـ نية التجارة مصحوبة بعمل التجارة فعلاً؛ لأن مجرد النية لا يكفي.
والرابع ـ أن تكون الأموال صالحة لنية التجارة.
والمالكية اشترطوا خمسة شروط:
الأول ـ ألا تتعلق الزكاة في عينه كالثياب والكتب.
الثاني ـ أن يملك العرض بمعاوضة أو مبادلة كشراء، لا بإرث وهبة ونحوهما.
الثالث ـ أن ينوي بالعرض التجارة حال شرائه.
الرابع ـ أن يكون ثمن الشراء الذي اشترى به العرض مملوكاً بمعاوضة مالية أي بشراء، لا بنحو إرث أو هبة مثلاً.
الخامس ـ أن يبيع المحتكر من ذلك العرض نصاباً فأكثر، أو بأي شيء ولو درهماً إذا كان مديراً.
والشافعية اشترطوا ستة شروط:
الأول ـ أن تملك العروض بمعاوضة كشراء، لا بإرث مثلاً.
الثاني ـ أن ينوي بالعروض التجارة في صلب عقد المعاوضة أو في مجلسه، وإلا احتاج لتجديد نية التجارة.
الثالث ـ ألا يقصد بالمال القنية.
الرابع ـ مضي الحول من وقت ملك العروض أي من الشراء.
الخامس ـ ألا يصير جميع مال التجارة نقوداً وكان أقل من نصاب، وعبر عنهالشافعية بقولهم: ألا ينضّ المال في الأظهر أي يصير الكل نقداً من نقود البلد ببيع أو إتلاف من شخص معتد.
السادس ـ أن تبلغ قيمة العروض آخر الحول نصاباً.

ثالثاً ـ تقويم العروض ومقدار الواجب في هذه الزكاة وطريقة التقويم: يقوِّم التاجر العروض أو البضائع التجارية في آخر كل عام بحسب سعرها في وقت إخراج الزكاة، لا بحسب سعر شرائها، ويخرج الزكاة المطلوبة، وتضم السلع التجارية بعضها إلى بعض عند التقويم ولو اختلفت أجناسها، كثياب وجلود ومواد تموينية، وتجب الزكاة بلا خلاف في قيمة العروض، لا في عينها؛ لأن النصاب معتبر بالقيمة، فكانت الزكاة منها، وواجب التجارة هو ربع عشر القيمة كالنقد باتفاق العلماء، قال ابن المنذر: أجمع أهل العلم على أن في العروض التي يراد بها التجارة: الزكاة إذا حال عليها الحول (١).
وأدلة وجوب زكاة التجارة ما يأتي (٢):
١ً – قوله تعالى: {يا أيها الذين آمنوا أنفقوا من طيبات ما كسبتم} [البقرة:٢٦٧/ ٢] قال مجاهد: نزلت في التجارة.
٢ً – وقوله صلّى الله عليه وسلم: «في الإبل صدقتها، وفي البقر صدقتها، وفي الغنم صدقتها، وفي البَزّ (٣) صدقته» (٤) وقال سمرة بن جندب: «كان رسول الله صلّى الله عليه وسلميأمرنا
أن نخرج الزكاة مما نعده للبيع» (١) وعن أبي عمرو بن حماس عن أبيه قال: «أمرني عمر، فقال: أدّ زكاة مالك، فقلت: ما لي مال إلا جعاب وأدم، فقال: قوّمها، ثم أدّ زكاتها» (٢) قال ابن قدامة صاحب المغني: وهذه قصة يشتهر مثلها، ولم تنكر، فيكون إجماعاً.
وأما ما حكي عن مالك وداود أنه لا زكاة في التجارة لحديث: «عفوت لكم عن صدقة الخيل والرقيق» فالمراد به زكاة العين فلا زكاة في عين الخيل، لازكاة القيمة، بدليل الأخبار التي ذكرتها، ثم إن هذا الخبر عام، والأخبار المذكورة خاصة، فيجب تقديمها. والمقرر عند المالكية هو وجوب زكاة التجارة.
وطريقة تقويم العروض (٣): هي عند الجمهور غير الشافعية أن تقوم السلع إذا حال الحول بالأحظ للمساكين من ذهب أو فضة احتياطاً لحق الفقراء، ولا تقوم بما اشتريت به. فإذا حال الحول على العروض، وقيمتها بالفضة نصاب، ولا تبلغ نصاباً بالذهب، قومناها بالفضة ليحصل للفقراء منها حظ، ولو كانت قيمتها بالفضة دون النصاب، وبالذهب تبلغ نصاباً قومناها بالذهب لتجب الزكاة فيها، ولا فرق بين أن يكون اشتراؤها بذهب أو فضة أو عروض.
وقال الشافعية: تقوم العروض بما اشتراها التاجر به من ذهب أو فضة؛ لأن نصاب العروض مبني على ما اشتراه به، فيجب أن تجب الزكاة فيه، وتعتبر به، كما لو لم يشتر به شيئاً. وعلى هذا إن ملك العرض بنقد قوِّم به إن ملك بنصاب أو دونه في الأصح، سواء أكان ذلك النقد هو الغالب أم لا، والله أعلم بالصواب

Kategori
Uncategorized

HUKUMNYA MINYAK GORENG YANG DIJATUHI BARANG NAJIS DAN CARA MENCUCIKANNYA

Assalamualaikum

Studi kasus:

Ada sebuah warung yg setiap harinya jualan gorengan dg menggunakan minyak goreng yg lebih dari 1 kg. Suatu hari minyaknya diceburi kakinya ayam yg najis. Dan Eman minyaknya itu dan bagus

Pertanyaan

1. Bagaimana hukum dan cara mensucikannya ?

Assalamualaikum

Jawaban
Ulama berbeda pandang terkait hukum minyak yang dijatuhi barang najis ada yang berpendapat  ( pendapat pertama) minyak ikut menjadi najis dan tidak bisa disucikan sedangkan menurut ( pendapat  kedua )  bisa suci dengan cara dibasuh.

Adapun pertimbangan sebagai solusi terbaik tanpa harus membuang minyak agar bisa suci   adalah mengikuti pendapat yang kedua yaitu  menuangkan air pada minyak itu, (menambahkannya), kemudian diaduk-aduk dengan kayu atau semisalnya, hingga sampai pada dugaan bahwa air itu sudah bercampur menjadi satu dengan minyak, kemudian didiamkan sesaat hingga air bergerak ke atas (dan minyak mengendap di bawah). Setelah itu, wadah tempat membasuh tadi dilubangi bagian bawahnya (sehingga minyak mengalir keluar). Begitu air yang semula di atas kemudian akan keluar dari lubang, maka lubang itu dibuntu”

Sebagaimana dalam  beberapa kitab berikut:

[الخطيب الشربيني، مغني المحتاج إلى معرفة معاني ألفاظ المنهاج، ٢٤٣/١]
وَلَوْ نَجُسَ مَائِعٌ) غَيْرُ الْمَاءِ وَلَوْ دُهْنًا (تَعَذَّرَ تَطْهِيرُهُ) إذْ لَا يَأْتِي الْمَاءُ عَلَى كُلِّهِ؛ لِأَنَّهُ بِطَبْعِهِ يَمْنَعُ إصَابَةَ الْمَاءِ (وَقِيلَ يَطْهُرُ الدُّهْنُ بِغَسْلِهِ) قِيَاسًا عَلَى الثَّوْبِ النَّجِسِ. وَكَيْفِيَّةُ تَطْهِيرِهِ كَمَا ذَكَرَهُ فِي الْمَجْمُوعِ أَنْ يَصُبَّ الْمَاءَ عَلَيْهِ وَيُكَاثِرَهُ ثُمَّ يُحَرِّكَهُ بِخَشَبَةٍ وَنَحْوِهَا بِحَيْثُ يَظُنُّ وُصُولَهُ لِجَمِيعِهِ ثُمَّ يُتْرَكَ لِيَعْلُوَ ثُمَّ يَثْقُبُ أَسْفَلَهُ، فَإِذَا خَرَجَ الْمَاءُ سُدَّ.

Referensi

الطَّبَرِيُّ قَالَ صَاحِبُ الحاوى وهو
[النووي، المجموع شرح المهذب، ٢٣٦/٩]

(الرَّابِعَةُ)

الدُّهْنُ النَّجِسُ ضَرْبَانِ ضَرْبٌ نَجِسُ الْعَيْنِ كَوَدَكِ الْمَيْتَةِ فَلَا يَجُوزُ بَيْعُهُ بِلَا خِلَافٍ وَلَا يَطْهُرُ بِالْغَسْلِ (والضرب الثاني) متنجس بالمجاورة كالزيت والسيرج وَالسَّمْنِ وَدُهْنِ الْحَيَوَانِ وَغَيْرِهِ فَهَذَا كُلُّهُ هَلْ يَطْهُرُ بِالْغَسْلِ فِيهِ وَجْهَانِ مَشْهُورَانِ
(أَحَدُهُمَا)
يَطْهُرُ كُلُّهُ (وَالثَّانِي) لَا يَطْهُرُ وَدَلِيلُهُمَا
فِي الْكِتَابِ وَفِي الْمَسْأَلَةِ وَجْهٌ ثَالِثٌ أَنَّهُ يَطْهُرُ الزَّيْتُ وَنَحْوُهُ وَلَا يَطْهُرُ السَّمْنُ وَمِمَّنْ ذَكَرَ هَذَا الْوَجْهَ الْقَاضِي أَبُو الطَّيِّبِ وَالرُّويَانِيُّ وَهُوَ شَاذٌّ والصحيح عند الاصحاب أنه لا يطهر شئ مِنْ الْأَدْهَانِ بِالْغَسْلِ وَهُوَ ظَاهِرُ نَصِّ الشَّافِعِيِّ وَبِهِ قَالَ أَبُو عَلِيّ مَذْهَبُ الشَّافِعِيِّ وَجُمْهُورِ أَصْحَابِهِ (وَالْوَجْهُ الثَّانِي) يَطْهُرُ الْجَمِيعُ بِالْغَسْلِ وَهُوَ قَوْلُ ابْنِ سُرَيْجٍ وَأَبِي اسحق الْمَرْوَزِيِّ وَاخْتَارَهُ الرُّويَانِيُّ

* قَالَ أَصْحَابُنَا (فَإِنْ قُلْنَا) لَا يَطْهُرُ بِالْغَسْلِ لَمْ يَجُزْ بَيْعُهُ وَجْهًا وَاحِدًا (وَإِنْ قُلْنَا) يَطْهُرُ بِالْغَسْلِ فَفِي صِحَّةِ بَيْعِهِ وَجْهَانِ (أَصَحُّهُمَا) بِاتِّفَاقِ الْأَصْحَابِ لَا يَجُوزُ بيعه وبه قال أبو إسحق الْمَرْوَزِيُّ وَمِمَّنْ صَحَّحَهُ الْقَاضِي أَبُو الطَّيِّبِ فِي تَعْلِيقِهِ وَالْمَاوَرْدِيُّ وَالْمُتَوَلِّي وَقَطَعَ بِهِ الْبَغَوِيّ وَهُوَ الْمَنْصُوصُ فِي مُخْتَصَرِ الْمُزَنِيِّ فِي أَوَّلِ الْبَابِ الثَّالِثِ مِنْ كِتَابِ الْأَطْعِمَةِ (وَالْوَجْهُ الثَّانِي) يَجُوزُ بَيْعُهُ وَهَذَا الْوَجْهُ خَرَّجَهُ ابْنُ سُرَيْجٍ مِنْ بَيْعِ الثَّوْبِ النَّجِسِ

* قَالَ الْقَاضِي أَبُو الطَّيِّبِ فِي تَعْلِيقِهِ هَذَا تَخْرِيجٌ بَاطِلٌ وَمُخَالِفٌ لِنَصِّ الشَّافِعِيِّ وَإِمَامِ الْحَرَمَيْنِ فِي النِّهَايَةِ (إنْ قُلْنَا) يطهر الدهن بالغسل جَازَ بَيْعُهُ قَبْلَ الْغَسْلِ وَجْهًا وَاحِدًا كَالثَّوْبِ (وَإِنْ قُلْنَا) لَا يُطَهِّرُ فَوَجْهَانِ وَهَذَا التَّرْتِيبُ غَلَطٌ عِنْدَ الْأَصْحَابِ وَمُخَالِفٌ لِلدَّلِيلِ وَلِنَصِّ الشَّافِعِيِّ ولم اتَّفَقَ عَلَيْهِ الْأَصْحَابُ وَإِمَامُ الْحَرَمَيْنِ وَالْغَزَالِيُّ مُنْفَرِدَانِ به فلا يعتد به ولا يغترن بالله وَاَللَّهُ تَعَالَى أَعْلَمُ

مغنى المحتاج إلى معرفةالفاظ المنهاج. ج.١ص٨٦

(وقيل يطهرالدهن بغسله) قياسا على الثوب النجس وكيفية تطهيره كما ذكره في المجموع أن يصب الماء عليه ويكاثره ثم يحركه بخشبة ونحوها بحيث يظن وصوله لجميعه ثم يترك ليعلو ثم يثقب أسفله فإذا خرج الماء سد إهـ   “

Kategori
Uncategorized

PERBEDAAN WALI HAKIM DAN WALI MUHAKKAN

PERBEDAAN ANTARA WALI HAKIM DAN WALI MUHAKKAN /TAHKIM

Assalamualaikum

Deskripsi masalah

Ada seorang janda yang sudah punya anak beralamatkan /Edintitasnya Jogjakarta dia telah lama ditinggal suaminya karena wafat , sementara ada seorang lelaki duda pun juga punya anak ber alamatkan di Pamekasan Mandura keduanya ingin menikah yang pada awalnya orang tuanya silelaki setuju,  Namun ketika pernihan akan dilangsungkan orang tuanya si laki-laki tidak setuju sedang siperempuan tidak punya wali kerena orang tuanya meninggal begitu juga kakeknya wal hasil dia tidak punya wali baik wali akrab ataupun wali ab’ad. Karena sudah terlanjur ada hubungan ikatan janji dengan kedau tersebut maka dia terpaksa lari kerumahnya silelaki yang berada dimaduara dan dia  ingin menikah dengan sirri dengan cara mengangkat wali muhakkam didaerah lain (Madura)  sementara menurut hukum kalau wali hakim tidak boleh mengakad nikah kecuali diwilayah sendiri.

Adapun latar belakang akan menikah dengan cara sirri mengangkat  muhakkam berawal karena orang tuanya yang laki-laki setuju namun setelah akan menikah ibunya silelaki tidak setuju, maka karena sudah terlanjur dipinang akhirnya nikah sirri sebagai alternatif  untuk menghalalkan keduanya yang selanjutnya tetap akan diperbaharui kembali melalui proses hakim secara rismi

Pertanyaannya.

Bagaimana hukumnya mengangkat wali hakim atau Muhakkam yang bukan dari daerah se wanita? Karena jelas si wanita tidak memiliki wali, yang tidak setuju keluarga si laki-laki.

Waalaikum salam.
Jawaban.

Jika wanita tidak punya wali maka alternatif untuk bisa menikahkan satu-satunya adalah wali Hakim. Karena wali hakim diangkat oleh pemerintah secara rismi yang diberi mandat atau wewenang untuk menikahkan wanita yang tidak punya wali nikah, namun dengan syarat wali hakim harus berada diwilahnya tempat dia bertugas, bukan didaerah lain.Artinya jika wanita dari jakarta kemudian kemadura daerah guluk maka wali hakimnya didaerah kecamatan Guluk- guluk bukan daerah lain ( Jakarta) maka tidak boleh.

Sesuai dengan hadits:

فَإِنَّ السُّلْطَانَ وَلِيُّ مَنْ لَا وَلِيَّ لَهُ

Artinya, “Sungguh penguasa adalah wali bagi perempuan yang tidak memiliki wali,” (HR. Ahmad).

Namun jika Wali hakim diwilayah setempat meminta bayaran untuk menikahkan maka boleh kedua pempelai mengangkat Wali muhakkam walaupun bukan diwilayahnya perempuan yang akan menikah.

Dengan demikian berbeda antara wali hakim dan walimuhakkan perbedaannya adalah:

Wali Hakim adalah orang yang diangkat oleh pemerintah secara rismi yang punya wewenang untuk menikahkan orang perempuan yang tidak punya wali dengan syarat harus menikahkan didaerahnya sendiri. Sehingga perempuan yang dinikahkan oleh wali hakim sah secara agama maupun pemerintah.

Sedangkan Muhakkam adalah orang  yang diangkat oleh kedua pempelai laki-laki dan perempuan dengan syarat harus mujtahid atau walaupun tidak mujtahid yang penting adil walaupun bukan didaerahnya perempuan.( berada diderah lain/tidak terikat dengan wilayah ).

Artinya jika wali hakim harus diwilayah setempat ( tempat bertugas ) yang bisa menikahkan. Sedangkan Wali muhakkam  boleh walaupun bukan diwilayahnya perempuan dan hukum  akad nikahnya  sah menurut agama namun tidak sah menurut pemerintah.

Referensi:

بغية المسترشدين ص ٢٠٧ – ٢٠٨

(مسألة: ب ش):

الحال في مسألة التحكيم أن تحكيم المجتهد في غير نحو عقوبة لله تعالى جائز مطلقاً، أي ولو مع وجود القاضي المجتهد، كتحكيم الفقيه غير المجتهد مع فقد القاضي المجتهد، وتحكيم العدل مع قد القاضي أصلاً أو طلبه مالاً وإن قل، لا مع وجوده ولو غير أهل بمسافة العدوى، وكذا فوقها إن شملت ولايته بلد المرأة، بناء على وجوب إحضار الخصم من ذلك الذي رجح الإمام الغزالي والمنهاج وأصله عدمه، ولا بد من لفظ من المحكمين كالزوجين في التحكيم كقول كل: حكمتك لتعقد لي أو في تزويجي، أو أذنت لك فيه، أو زوجني من فلانة أو فلان، وكذا وكلتك على الأصح في نظيره من الإذن للولي، بل يكفي سكوت البكر بعد قوله لها: حكميني أو حكمت فلاناً في تزويجك، ويشترط رضا الخصمين بالمحكم إلى صاحب الحكم لا فقد الولي الخاص، بل يجوز مع غيبته على المعتمد كما اختاره الأذرعي، *ولا كون المحكم من أهل بلد المرأة* *، فلو حكمت امرأة باليمن رجلاً بمكة فزوّجها هناك من خاطبها صح وإن لم تنتقل إليه* ، *نعم هو أولى لأن ولايته عليها ليست مقيدة بمحل، وبه فارق القاضي فإنه لا يزوج إلا من محل ولايته فقط* ، بل لو قالت: حكَّمتك تزوجني من فلان بمحل كذا لم يتعين إلا إن قالت: ولا تزوِّج في غيره

:(مسألة: ي)

غاب وليها مرحلتين ولم يكن ثم قاض صحيح الولاية بأن يكون عدلاً فقيهاً، أو ولاه ذو شوكة مع علمه بحاله بمسافة القصر حكَّمت هي والزوج عدلاً يقول كل منهما: حكمتك تزوجني من فلانة أو فلان، ولا بد من قبول المحكم على المعتمد ثم تأذن له في تزويجها، ويجوز تحكيم الفقيه العدل ولو مع وجود القاضي كغير الفقيه مع عدمه بمحل المرأة ولو مع وجود فقيه

Referensi:

الفتوى الشرعية.ص ١٨٣
عقد الزواج اذا ستوفى أركانه وشروطه تحل به المعاشرة بين الزوجين ، وليس من شرائطه الشرعية اثباته كتابة فى وثيقة رسمية ولاغير رسمية، وإنما التوثيق لدى المأذون أو الموظف المختص نظام اجابته اللواح والقوانين الخاصة بالمحاكم الشرعية خشية الجحود وحفظا للحقوق وحذرت من مخالفته لما له من النتائج الخطيرة عند الجحود. والله أعلم بالصواب

Wallohu A’lamu Bisshowabi.