Dieraglobalisasi remaja/pemuda dan pemudi sekarang ini cenderung meniru kebudayaan barat yang mana kebudayaan barat tidaklah keseluruhan di dalamnya berdampak positif baik dalam bidang ilmu pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, maupun adat istiadat melainkan bisa jadi berdampak negatif sehingga perlu adanya filter untuk tidak terpengaruh dari berbagai budaya mereka yang telah masuk ke Indonesia melalui teknologi ,dan sosial (dari kebiasaan-kebiasaan).
Seiring dengan perjalanan waktu dan berkembangnya ilmu dan teknologi diera globalisasi saat ini maka semakin menekan proses akulturasi budaya barat yang kehadirannya seakan mendominasi dan selalu menjadi trend-centre masyarakat yang diantaranya tren menindik hidung sebagaimana orang India. Kebudayaan barat yang masuk ke Indonesia sebenarnya memiliki dampak positif dan negatif bagi masyarakat Indonesia. Dampak positif misalnya, kreatifitas, inovasi pengembangan ilmu pengetahuan, dan dijadikan bisnis online. Dampak negatifnya kebudayaan asing atau barat terhadap masyarakat Indonesia khususnya kalangan remaja sudah sampai tahap memprihatinkan karena ada kecenderungan para remaja sudah melupakan kebudayaan bangsanya sendiri dan kebiasaan para leluhur terdahulu. Budaya ikut-ikutan atau latah terhadap cara berpenampilan, mengikuti trend menindik hidung mereka dll.Karena bagi para remaja tidak ingin dikatakan kuno, kampungan kalau tidak mengikuti cara berpakaian ala barat karena menurut mereka dinilai modern, tren dan mengikuti perkembangan zaman.
Pertanyaannya. Bagaimana sebenarnya menindik hidung ditinjau dari perspektif hukum fiqih?
Waalaikum salam. Jawaban.
Menindik anggota tubuh seperti hidung, lidah, pusar dan kelopak mata semua itu dihukumi haram secara mutlak, selain telinga, kenapa diharamkan, karena melubagi hidung termasuk tindakan ekstream yang dianggap tidak sebagai berhias yang di tolelir kecuali oleh segelintir kalangan saja. Beda halnya dengan apa yang dilakukan pada telinga, menggantungkan perhiasan di telinga merupakan perhiasan wanita. Dengan demikian hukum menindik hidung hukumnya haram kerena termasuk dalam kategori merubah ciptaan Allah, berbeda dengan dengan telinga bagi perempuan untuk hiasan maka hukumnya boleh sebagaimana Thahir bin ‘Asyur mengatakan:
Artinya, “Tindakan pada ciptaan Allah yang diizinkan juga yang bukan ditujukan untuk mempercantik tidak termasuk dalam kategori mengubah ciptaan Allah. Praktik sunat merupakan pengubahan terhadap ciptaan Allah, namun membawa manfaat bagi kesehatan, begitu pula mencukur rambut untuk kepentingan menangkal penyakit, memotong kuku untuk kepentingan memperlancar pekerjaan yang melibatkan tangan, dan juga tindik telinga perempuan untuk dipakaikan anting dan berhias” (Muhammad Thahir bin ‘Asyur, At-Tahrir wa at-Tanwir, [Tunis, al-Dar al-Tunisiyah lil Nasyr, 1984]. Jilid V, halaman 205).
نهاية الزين ص ٣٨٥ وحرم تثقيب أذن ) قال الزيادي والأوجه أن ثقب أذن الصغيرة لتعليق الحلق حرام لأنه لم تدع إليه حاجة وغرض الزينة لا يجوز بمثل هذا التعذيب هذا ما قاله الغزالي في الإحياء وأفتى بذلك الشيخ الرملي ورجح في موضع آخر الجواز وهو المعتمد كذا في تحفة الحبيب أما خرم أذن الصبي فحرم قطعا كما يحرم خرم الأنف ليجعل فيه حلقة من ذهب أو نحوه ولا فرق في ذلك بين الذكر والأنثى ولا عبرة باعتياد ذلك لبعض الناس في نسائهم
حاشية بجيرمى على الخطيب ج ٢ ص ٢٦٠ قال الشريف الرحماني : وخرق الأنف لما يجعل فيه من نحو حلقة نقد حرام مطلقا ، ولا عبرة باعتياد ذلك لبعض الناس في نسائهم وأذن الصبي كذلك ، ولا نظر لزينته بذلك دون الأنثى ، فيجوز خرق أذنها على المعتمد من إفتاءين للرملي متناقضين . وعبارة الرملي في شرح الزبد : وأما تثقيب آذان الصبية لتعليق الحلق فحرام لأنه جرح لم تدع إليه حاجة صرح به الغزالي في الإحياء وبالغ فيه مبالغة شديدة ، قال : إلا أن ثبت فيه من جهة النقل رخصة ولم يبلغنا . وقوله : فحرام ضعيف ، وفي الرعاية في مذهب الإمام أحمد : يجوز تثقيب آذانالصبية للتزيين ويكره ثقب أذن الصبي اه بحروفه. والله أعلم بالصواب
HUKUM PASANG GIGI PALSU ANTARA MENJAGA KESEHATAN DAN KECANTIKAN
Setiap manusia dikaruniai gigi untuk alat menggigit makanan dan menggoyahnya, hanya saja tidak semua orang memiliki gigi yang kuat sehingga manakala lanjut usia terkadang gigipun kropos sehingga dalam rangka untuk bisa kembali asal dan menjaga penampilan gigi tetap rapi, sebagian orang berupaya memasang gigi palu.
Pertanyaannya Bagaimana hukum memakai gigi palsu dengan tujuan memelihara kesehatan atau mempercantik diri ?
Waalaikum salam.
Jawaban. Dalam dunia medis ada istilah Veneer dan crown. Veneer gigi adalah prosedur medis yang dilakukan dengan menempelkan veneer di bagian depan gigi, sedangkan crown adalah metode pemasangan selubung gigi palsu di atas gigi yang rusak atau patah. Kedua model perawatan gigi di atas memiliki beragam tujuan, misalnya tujuan medis untuk memelihara gigi dari kerusakan yang lebih parah, atau menghindari gigi yang keropos supaya tidak mudah patah, atau memperbaiki rongga gigi yang tidak seragam, keruncingan gigi yang tidak wajar, hingga warna gigi yang berubah drastis. Lantas bagaimana pandangan Islam terhadap veneer dan crown gigi, apakah kedua jenis upaya medis ini termasuk ke dalam mengubah ciptaan Allah? Sementara Nabi saw pernah bersabda:
Artinya, “Allah melaknat wanita-wanita yang membuat tato, meminta ditato, mencabuti alis dan memperbaiki susunan giginya untuk mempercantik diri, yang telah merubah ciptaan Allah.” (HR Al-Bukhari).
Hadits di atas secara jelas menuturkan perbaikan susunan gigi dalam rangka mempercantik dan mengubah ciptaan Allah adalah bagian sesuatu yang haram, namun apakah lantas hadits tersebut dapat kita pahami secara tekstual, atau ada makna lain? Badruddin Al-‘Aini dalam ‘Umdatul Qari menjelaskan makna mengubah gigi pada hadits tersebut, yaitu yang berlebihan dalam melakukannya. Ia berkata:
والمعنى هنا المتفلجة هي التي تتكلف بأن تفرق بين الأسنان لأجل الحسن ولا يتيسر ذلك إلا بالمبرد ونحوه
Artinya, “Makna di sini ‘al-mutafallijah’ yaitu orang memaksakan diri merenggangkan giginya demi kecantikan, dan hal itu tidak mungkin dilakukan kecuali dengan proses mengikir atau sejenisnya.” (Badruddin al-‘Aini, ‘Umdatul Qari, jilid XXII, halaman 62).
Ibnu Hajar Al-‘Asqallani dalam Fathul Bari menjelaskan, jika tujuan semata untuk kecantikan saja, maka itulah yang dianggap tidak baik. Sedangkan kalau tujuannya untuk kesehatan, maka boleh.
والمتفلجات للحسن” يفهم منه أن المذمومة من فعلت ذلك لأجل الحسن، فلو احتاجت إلى ذلك لمداواة مثلا جاز
Artinya, “’Orang-orang yang memperbaiki susunan giginya’, maksudnya itu adalah perbuatan tercela apabila semata-mata dimaksudnya untuk mempercantik, sedangkan apabila untuk kebutuhan semisal pengobatan maka boleh.” (Ibnu Hajar al-‘Asqallani, Fathul Bari, [Beirut: Darul Fikr, t.t.], jilid X, hal. 373).
Senada dengan hal tersebut, An-Nawawi menjelaskan kalau upaya pada gigi untuk tujuan medis seperta pengobatan, mencegah kerusakan, menutupi kecacatan dan kejelekan pada gigi, maka tidak apa-apa. Hanya saja yang tidak boleh, jika giginya sudah bagus, namun ia tetap merenggangkan giginya demi kecantikan semata. Beliau berkata:
وفيه اشارة إلى أن الحرام هو المفعول لطلب الحسن أما لواحتاجت إليه لعلاج أو عيب فى السن ونحوه فلابأس
Artinya, “Dalam hadits tersebut ada isyarat bahwa yang diharamkan adalah [merenggangkan gigi] dengan tujuan mempercantik, namun bila ia merenggangkan gigi sebab kebutuhan pengobatan, pencegahan atau aib dan sejenisnya, maka tidak apa-apa.” (An-Nawawi, Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim ibn Al-Hajjaj, [Beirut: Dar Ihya at-Turats, 1392], jilid XIV, halaman 107). Dari beberapa penjelasan hadits tersebut, kita mendapati bahwa proses veneer dan crown gigi diperbolehkan dengan tujuan medis seperti yang telah disebutkan pada uraian-uraian di atas. Thahir bin ‘Asyur mengatakan:
Artinya, “Tindakan pada ciptaan Allah yang diizinkan juga yang bukan ditujukan untuk mempercantik tidak termasuk dalam kategori mengubah ciptaan Allah. Praktik sunat merupakan pengubahan terhadap ciptaan Allah, namun membawa manfaat bagi kesehatan, begitu pula mencukur rambut untuk kepentingan menangkal penyakit, memotong kuku untuk kepentingan memperlancar pekerjaan yang melibatkan tangan, dan juga tindik telinga perempuan untuk dipakaikan anting dan berhias” (Muhammad Thahir bin ‘Asyur, At-Tahrir wa at-Tanwir, [Tunis, al-Dar al-Tunisiyah lil Nasyr, 1984]. Jilid V, halaman 205). Bahkan boleh pasang gigi dan menambalnya sekalipun dari emas dengan syarat ada tujuan untuk kemaslahatan seperti untuk menghaluskan makanan atau agar berbicara tepat dan bacaan benar .
Referensi :
التقريرات السديدة ج ١ ص ٣٥٧. حالات جواز لبس الذهب : ١. السن أي إذا قلعت إحدى أسنانه أو فسدت بحيث لا ينتفع يها فيجوز أن يضع مكانها سنا من ذهب.
Hal hal yang diperbolehkan menggunakan emas, salah satu diantaranya adalah untuk menambal gigi / sebagai gigi palsu, artinya apabila ada gigi yang tanggal atau rusak sekira tidak bisa dipakai maka diperbolehkan menambalnya / menggantinya dengan gigi dari emas. [Taqrirotus Sadidah I / 357].
Jadi memasang gigi palsu dalam Islam, menyimpulkan apa yg dipaparkan dalam keterangan diatas dan Syeh Qorthowi, hal ini diperjelas lagi oleh Syekh Shaleh Munajid Berkata: “Memasang gigi buatan ditempat gigi yang dicabut karena sakit atau rusak itu adalah perkara yang mubah (diperbolehkan). Tidak ada dosa di dalam melakukannya. Kami tidak mengetahui satupun dari ahli ilmu (Ulama) yang mencegahnya (memasang gigi palsu). Tidak ada perbedaan (hukum) antara dipasang secara permanen ataupun tidak.”begitu juga veneer dan crown gigi hukumnya boleh jika dimaksudkan untuk tujuan kesehatan menurut medis. Kedua prosedur medis tersebut bukan bagian dari mengubah ciptaan Allah, akan tetapi hanya untuk memperbaiki dan mencegah bagian gigi yang keropos supaya tidak patah.Akan tetapi jika untuk mempercantik hukumnya tidak boleh ( haram.) Wallahu a’lam
Deskripsi masalah. Seiring dengan berjalannya waktu dan berkembangnya ilmu dan tehnologi canggih yang semakin maju, dimana tidak sedikit alat-alat itu telah dipakai oleh sebagian masyarakat yang diantaranya menyembelih hewan dengan alat mesin listrik, ini adalah penemuan baru yang tidak ada pada masa lalu yang biasa menyembelih hewan dengan menggunakan alat yang tajam seperti pisau pedang dll.
Pertanyaan.
Bagaimana hukumnya menyembelih hewan dengan alat listrik, halalkah hewan tersebut?
Waalaikum salam. Hukum sembelihan dengan alat mesin menurut sebagian madzhab Maliki adalah boleh dan halal, karena menurut mereka syarat menyembelih tidaklah harus dengan benda tajam yang terpenting adalah niat tujuanya untuk menyembelih untuk dimakan dan terputusnya ruh, dengan demikian boleh hewan disembelih dengan alat listrik namun hukumnya makruh.
Dalam kitab halal dan Haram Dr.Yusuf al-Qardhowi menjelaskan. Apakah hewan yang disembelih dengan sengatan listrik dan sejenisnya dihalalkan itu, disyaratkan seperti penyembelihan dalam ajaran agama kita, yakni dengan benda tajam dileher? Karena kebanyakan ulama mensyaratkan hal itu, sedangkan sebagian kelompok dikalangan madzhab Imam Malik memfatwakan tidak disyaratkan.( Wafwa ini termasuk dalil yang sangat jelas atas dasar ilmu agama, dan kehati-hatian Imam Malik beliu tidak terlalu gegabah mengatakan haram sebagaimana dilakukan oleh sebagian ulama sekarang , beliau cukup mengatakan dengan hukum makruh karena ada dua dalil ( dasar )umum yang kontradiktif, yaitu dalil umum hewan yang disembelih atas nama selain Allah dan makanan ahli kitab pada umumnya. Beliau telah memadukan antara kebudayaan sebagaimana kami sebekan )
Tentang Tafsir ayat Al-Maidah tersebut, Al-Qadi Ibnu Arabi mengatan, ini merupakan dalil yang qath’i bahwa buruan dan makanan ahli kitab termasuk makanan baik-baik yang dibolehkan Allah ia adalah halal secara mutlak. Allah SWT mengulang-mengulangnya tidak lain dalam rangka menghilangkan keraguan dan praduga-praduga (kewatiran) yang tidak benar yang kadang melintas, yang hanya menimbulkan pertentangan pendapat yang kepanjangan. Saya bernah ditanya tentang seorang nasrani yang membunuh ayam dengan memilin lehernya, lalu memasaknya, apakah ia boleh dimakan ? Saya katakan boleh. Karena ia adalah makanan dan makanan para pendeta serta rahib-rahibnya, meskipun praktek itu bukan termasuk penyembelihan yang menurut kita. Akan tetapi Allah menghalalkan untuk kita makanan mereka secara mutlak, sesuai dengan pandangan agama yang mereka anut. Semua halal bagi kita, kecuali apa yang Allah dustakan.Para ulama mengatakan, mereka memberikan kepada kita wanita-wanitanya sebagai istri, halal bagi kita mencampurinya, lalu bagaimana mungkin tidak boleh memakannya dibandingkan pernikahan, dalam hal halal dan haram? Itulah ditegaskan Ibnu Arabi. Ditempat lain mengatakan, apa yang mereka makan bukan dengan cara menyembelih seperti mencekik dan memukul kepala, adalah bangkai yang diharamkan . Kedua itu tidak bertentangan. Karena maksud pernyataan itu adalah apa yang mereka pandangan sebagai penyembelihan yang sah menurut agama kita. Sebaliknya, apa yang mereka tidak mereka anggap sebagai penyembelihan menurut agama mereka tidaklah halal bagi kita. Cara pandang yang sama-sama kita akui tentang penyembelihan adalah kesengajaan untuk menghilangkan nyawa binatang dengan niat menghalalkannya untuk dimakan. Itulah madzhab sebagai kelompok maliki. Berdasarkan perspektif ini tahulah kita hukum daging impor dari negeri ahli kitab, seperti dagingnya ayam daging sapi kalengan, yang boleh jadi penyembelihannya dengan cara sengatan listrik dan sejenisnya. Selama mereka menganggapnya sebagai sembelihan yang halal maka ia halal bagi kita sesuai dengan umumnya makna ayat. Adapun daging yang diimpor dari negeri-negeri komunitas maka tidak boleh kita mengkonsumsinya, karena kerena membangkan kepada Allah dan semua risahnya. WALLAHU A’LAM BISH-SHAWAB.
كتاب الحلال والحرام للشيخ الدكتور يوسف القرضاوى ص ٧٥-
ما ذكوه بطريق الصعق الكهربائي ونحوه
هل يشترط أن تكون تذكيتهم مثل تذكيتنا ، بمُحدَّد في الحلق
:المسألة الثا نية
إشترط ذلك أكثر العلماء ، والذي أفتى به جماعة من المالكية أن ذلك ليس بشرط قال القاضي ابن العربي في تفسير آية المائدة= هذا دليل قاطع على أن الصيد وطعام الذين أوتوا الكتاب ، من الطيبات التي أباحها الله وهو الحلال المطلق وإنما كرره الله تعالى ليرف به الشكوك ويزيل الإعتراضات عن الخواطر الفاسدة ، التي توجب الإعتراضات وتحوج إلى تطويل القول. ولقد سُئلت عن النصراني يفتل عنق الدجاجة ثم يطبخها هل تؤكل لأنها طعامه وطعام أحباره ورهبانه وإن لم تكن هذه ذكاة عندناولكن أباح الله لنا طعامهم مطلقا ، وكل ما يرونه حلالا في دينهم فإنه حلال لنا إلا ماكتب الله. هذه الفتوى من أظهر الأدلة على فقه الإمام مالك ودينه وورعه رضي الله عنه إذ لم يسارع إلى التحريم كمايفعل بعضهم اليوم واكتفى بالكراهة ، حيث وجدعمومين متعارضين عموم ما أهل لغير الله به وعموم طعام أهل الكتاب وقد جمع بينهما بما ذكرناه فيه . ولقد قال علماؤنا : إنهم يعطوننا نساءهم أزواجا ، فيحل لنا وطؤهن ، فكيف لا نأكل ذبائحهم ، والأكل دون الوطء في الحل(١ )هذا ماقرره ابن العربي .والحرمة؟+وقال هذا في موضع ثانٍ : = ما أكلوه على غير وجه الذكاة كالخنق وحطم (²)ولا تنافي بين القولين ، فإن المراد : أن ما يرونه مذكًى عندهم حلَّ لناوإن لم تكن ذكاتُه عندنا ذكاةًصحيحة وما لا يرونه مُذكًى عندهم لا يحل لنا . والمفهوم المشترك للذكاة : هو القصد إلى إزهاق روح الحيوان بنية تحليل أكله .وهذا هو مذهب جماعة المالكية . وعلى ضوء ما ذكرنا نعرف الحكم في اللحوم المستوردة ، من عند أهل الكتاب كالدجاج ولحوم البقر المحفوظة ، مما قد تكون تذكيته بالصعق الكهربائي ونحوه . فما داموا يعتبرون هذا حلال مذكًّى فهو حِلٌّ لنا وَفق عموم الآية. أما اللحوم المستوردة من بلاد شيوعية : فلا يجوز تناولها بحال، لأنهم ليسوا أهل كتاب ، وهم يكفرون بالأديان كلها ، ويجحدون بالله ورساالته جميعا .والله أعلم بالصواب
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa hukum memotong hewan dengan mesin adalah halal, selama mesin dan cara memotongnya memenuhi syarat-syarat sebagai berikut:
Pemotongnya seorang muslim/ahlu kitab yang asli
Alat mesin yang dipergunakan, merupakan benda tajam yang bukan dari tulang atau kuku , Sengaja menyembelih hewan tersebut
بجيرمى ج ٦ص٢٨٦ وشرط فى الذبح قصد اى قصد العين أو الجنس بالفعل (قوله قصد العين) وإن أخطأفى ظنه، أو الجنس فى الإصابة – ح ل – والمرد بقصد العين أو بالجنس بالفعل أى قصد إيقاع الفعل على العين أو على واحد من الجنس وإن لم يقصد الذبح.
Syarat dalam memotong hewan: menyengaja terhadap hewannya atau jenisnya dengan perbuatan (kata-kata menyengaja pada hewan), meskipun keliru dalam persangkaannya atau jenisnya dalam kenyataannya … artinya menyengaja ialah: sengaja terhadap hewan itu atau jenisnya walupun tidak sengaja menyembelih.
الجمل ج ٥ ص ٢٤١-٢٤٢ وشرط في الآلة كونها محددة بفتح الدال المشددة أى ذات حدة تجرح كحديد أى كمحدد حديد وقصب وحجر ورصاص وذهب وفضة إلا عظما كسن وظفر لخبر الشيخين: ما أنهر الدم وذكر اسم الله عليه فكلوه ليس السنّ والظفر وألحق بهما باقي العظام
Syarat alat untuk menyembelih harus tajam yang bisa melukai seperti pisau besi, bambu, batu, timah, emas, perak, kecuali (tidak boleh) dengan tulang dan kuku. Dengan dasar hadits shohih bukhori dan muslim: sesuatu yang dapat mengalirkan darah dengan menyebut nama Allah maka makanlah selama bukan dengan tulang dan kuku. dan disamakan dengan keduanya semua jenis tulang.
يعلم من قوله الآتى أو كونها جارية سباع او طير الخ … حيث أطلق فيه ولم يشترط أن تقتله بوجه مخصوص. فيسفاد من الإطلاق أنه يحل مقتولها بسائر أنواع القتل.
Telah diketahui dari kata-kata yang akan datang adanya alat memotong hewan, dapat melukainya binatang atau burung dst. Sekira dimutlakkan dan tidak disyaratkan, cara membunuh dengan cara yang khusus, maka dapat diambil pengertian halal apa yang di bunuh binatang dengan segala cara membunuh. Wallahu A’lam bish-shawab
Di era digital yang sudah sangat liar ini tentu para aktivis media sosial berlomba- lomba mengikuti trend agar terlihat badas dan aesthetic. Katakanlah seorang nama samarannya Devi tidak mau ketinggalan trend ketika libur sekolah tiba, trend yang Devi tiru adalah trend SHADOW PHOTO dimana shadow photo ini adalah sebuah foto yang hanya menampakkan bayangan nya saja, dan Devipun memposting beberapa shadow photo yang tidak mengenakan hijab.
Pertanyaan:
➤ Bagaimana hukum memposting shadow photo seperti foto Devi tersebut?
➤ Bagaimana hukum melihat shadow photo yang diposting oleh Devi ?
Waalaikum salam.
Tanggapan sekaligus sebagai jawaban.
Sebelum menjawab dari pertanyaan penting kami jelaskan secara detail terlebih dahulu tentang Shadow photography.
Shadow photography adalah teknik fotografi yang memotret subjek bersama bayangannya untuk memperkuat visual yang lebih dramatik dan mengikat emosi orang lain lewat foto. Dalam beberapa kasus, fotografer sengaja menonjolkan bayangan di dalam foto sebagai detail agar hasil akhirnya terlihat lebih memukau. Meskipun bayangan tidak dijadikan sebagai titik fokus foto, tetapi penggunaan bayangan dirasa mampu untuk mendukung estetika subjek utama yang berdimensi. Selain itu, fotografer juga kerap sengaja bereksperimen dengan efek bayangan yang ada pada subjek. Adapun Caranya adalah menyorotkan cahaya langsung ke subjek guna mendapatkan hasil bayangan yang mereka inginkan. Efek bayangan dirasa mampu memberikan tekstur, pola, dan bahkan emosi kepada orang lain. Semua ini membuktikan bahwa peran bayangan pada shadow photography dibuat secara sengaja oleh fotografer guna mempercantik visual.
Lalu bagaimana hukum memposting shadow foto sebagaimana deskripsi ?
Jawaban disatukan karena serupa. Hukum memposting shadow foto adalah boleh selama tidak mengandung hal yang dapat menimbulkan syahwat bagi penonton akan tetapi jika sampai menimbulkan syahwat dan fitnah maka hukumnya haram begitu juga hukum menontonnya, sebagaimana seseorang memfosting video forno.
الوسائل لها حكم المقاصد
Dalam hal tersebut diatas sama saja hukumnya dengan fotografi yang mana merupakan hal yang baru yang baru muncul dan belum ada pada masa silam. Disini kita dapat kejelasan pada apa yang difatwakan oleh syaikh Bakhit, seorang ahli fatwa Mesir; Bahwa pengambilan gambar dengan hasil fotografi yang pada hakikatnya adalah proses menangkap bayangan dengan suatu alat tertentu sama sekali bukan kategori menggambar yang dilarang. Karena pembuatan gambar yang dilarang adalah mencipta gambar yang belum ada dan belum ada sebelumnya.Dengan begitu dia membandingi ciptaan Allah SWT. Hal semacam ini tidak terjadi pada pengambilan gambar dengan menggunakan alat gambar fotografi. Begitulah adanya, walaupun ada sebagian ulama berpendapat dengan keras melarang gambar dengan semua jenisnya termasuk juga fotografi. Hanya saja tidak diragukan lagi bahwa ada rukhshoh ( despensasi ) dalam hal-hal darurat atau untuk kemaslahatan. Misalnya foto untuk membuat KTP, foto paspor, foto orang bermasalah , dan foto /gambar yang dipakai media penjelasan dan sebagainya. Semua ini tidak memungkinkan ada niat mengagungkan atau sikap lain yang membahayakan akidah . Kebutuhan memakai gambar-gambar tersebut lebih penting, artinya dibandikan memakai gambar lukisan dalam kain yang dikecualikan Nabi SAW. Objek gambar Adalah sama-sama disepakati bahwa objek gambar , mempengaruhi hukumnya haram atau tidak, tak seorang muslim pun yang tidak sependapat akan keharamannya gambar yang objeknya tidak sesuai dengan akidah, dan adab Islam. Misalnya foto wanita telanjang, setengah telanjang, yang membangkitkan hawa nafsu, melukis atau memfoto mereka dalam berbagai fose merangsang birahi dan membangkitkan gairah nafsu, sebagaimana yang kita saksikan dalam sebagian majalah, koran dan sebagian bioskop-bioskop semua itu tidak lah diragukan hukum keharamannya.maka haram menggambarnya dan membublikasikan dimasyarakat. Wallahu a’lam bish-shawab
Referensi:
كتاب الحلال والحرام للشيخ الدكتور يوسف القرضاوي ص.١٣٧-١٣٨
الفوتوغرافية الصور :
ومما لا خفاء فيه أن كل ما ورد في التصوير والصور ، إنما يعني . الصور التي تُنحت ، أو تُرسم على حسب ما ذكرناـ أما الصور الشمسية ( الفوتوغرافية ) التي تُلخذ بآلة الفوتوغرافيا ـ فهي شيء مستحدث ، لم يكن في عصر الرسول ، ولا سلف المسلمين . فهل ينطبق عليه ما ورد في التصوير والمصورين؟ ـ أما الذين يقصرون التحريم على التماثيل ( المجسمة ) فلا يرون شيئا . في هذه الصور ، وخصوصا إذا لم تكن كاملة.وأما على رأي الآخرين فهل تُقاس هذه الصور الشمسية على تلك التي تبدعها ريشة الرسام ؟ أم أن العلة التي نصت عليها بعض الأحاديث فى عذاب المصورين ـ وهي أنهم يضاهون خلق الله ـ لاتتحقق، هنا في الصور الفوتوغرافية وحيث عدمت العلة عدم المعلول ، كما يقول الأصولين إن الواضح هنا ما أفتى به له الغفور الشيخ محمد بخيت مفتي مصر.أن أخذ الصورة بالفوتوغرافيا بالوسائط المعلومة لأرباب هذه الصناعة ـ ليس من التصوير المنهي عنه في شيء ؛ لأن التصوير المنهي عنه هو إيجاد صورة ، وصنع صورة لم تكن موجودة ولا مصنوعة من قبل ، يضاهي بها حيوانا خلقه الله تعالى ، وليس هذا المعنى موجودًا في أخذ الصورة بتلك الآلة. هذا وإن كان هناك من يجنح إلى التشدد في الصور كلها ، وكراهيتها بكل أنواعها ، حتى الفوتوغرافية منها ، فـلا شـك أنـه يرخ فيـمـا توجـبـه الضرورة أو تقتضيه الحاجة والمصلحة منها ، كصور البطاقات الشخصية ، وجوازات السفر ، وصور المشبوهين ، والصور التي تتخذ وسيلة لإليضاح ونحوها ، مما لا تتحقق فيه شبهة القصد إلى التعظيم ، أو الخوف على العقيدة . فإن الحاجة إلى اتخاذ هذه الصور أشد وأهم ، من الحاجة إلى اتخاذ (النقش) في الثياب الذي استثناه النبي *
موضوع الصورة :
هذا ، ومن المقرر أن لموضوع الصورة أثرًا في الحكم بالحـرمـة أوغيرها . ولا يخالف مسلم في تحريم الصورة ، إذا كان موضوعهامخالفا لعقائد الإسلام ، أو شرائعه وآدابه ، فتصوير النساء عاريات ، أو شبه عاريات ، وإبراز مواضع الأنوثة والفتنة منهن ، ورسمهن أو تصويرهن في أوضاع مثيرة للشهوات ، موقظة للغرائز الدنيا ، كما نرى ذلك واضحا في بعض المجلات والصحف ، ودور (السينما) كل ذلك مما لا شك في حرمته وحرمة تصويره ، وحرمة نشره على الناس ، وحرمة اقتنائه واتخاذه في البيوت أو المكاتب والمحلات ، وتعليقه على الجدران ، وحرمة القصد إلى رؤيته ومشاهدته .
الفقه الإسلامي وأدلته – (ج ٤ / ص ٢٢٤) أما التصوير الشمسي أو الخيالي فهذا جائز، ولا مانع من تعليق الصور الخيالية في المنازل وغيرها، إذا لم تكن داعية للفتنة كصور النساء التي يظهر فيها شيء من جسدها غير الوجه والكفين، كالسواعد والسيقان والشعور، وهذا ينطبق أيضاً على صور التلفاز وما يعرض فيه من رقص وتمثيل وغناء مغنيات، كل ذلك حرام في رأيي. وأما أعمال النحت والرسم للنساء العاريات التي يقوم بها طلاب كليات الفنون الجميلة فهي من أشد المحرمات والكبائر، ولا يصح قياس الرسم على تشريح الجثث في كليات الطب، لأن التشريح ضرورة علمية تحقق فائدة الحفاظ على حياة الإنسان، بعكس الرسم الذي هو مجرد عمل ترفيهي كمالي، كما أن التشريح يحدث بعد الموت، والرسم يتم في حال الحياة. والسبب في إباحة الصور الخيالية: أن تصويرها لا يسمى تصويراً لغة ولا شرعاً، لما تقدم من بيان معنى التصوير في عهد النبوة، ولأن هذا التصوير يعد حبساً للظل أو الصورة، مثل الصورة في المرآة والصورة في الماء، كل مافي الأمر أن صورة المرآة أو الماء متحركة غير ثابتة، والصور الخيالية تثبَّت بالأحماض الكيمياوية ونحوها، وهذا لا يسمى تصويراً في الحقيقة، فإن الحمض هو المانع من الانتقال والتحرك
حاشية الباجورى – (ج ٢ / ص ٩٦) ومثل الشهوة خوف الفتنة فلو انتفت الشهوة وخيفت الفتنة حرم النظر ايضا وليس المراد بخوف الفتنة غلبة الظن بوقوعها بل يكفي أن لايكون ذلك نادرا وان كانت بغير شهوة وبلا خوف فتنة فهو حرام عند النوووى حيث لا محرمية ولا ملك والأكثرون على خلافه
تحفة المحتاج – (ج ٧ / ص ١٩٢) خرج مثالها فلا يحرم نظره في نحو مرآة كما أفتى به غير واحد ويؤيده قولهم لو علق الطلاق برؤيتها لم يحنث برؤية خيالها في نحو مرآة؛ لأنه لم يرها ومحل ذلك كما هو ظاهر حيث لم يخش فتنة ولا شهوة.
اعانةالطالبين – (ج ٣ / ص ٣٠١) مهمة [في بيان النظر المحرم والجائز وغير ذلك] يحرم على الرجل ولو شيخا هما تعمد نظر شيء من بدن أجنبية حرة أو أمة بلغت حدا تشتهى فيه ولو شوهاء أو عجوزا وعكسه خلافا للحاوي كالرافعي وإن نظر بغير شهوة أو مع أمن الفتنة على المعتمد لا في نحو مرآة (قوله: لا في نحو مرآة) أي لا يحرم نظره لها في نحو مرآة كماء وذلك لانه لم يرها فيها وإنما رأى مثالها. ويؤيده قولهم لو علق طلاقها برؤيتها لم يحنث برؤية خيالها والمرأة مثله فلا يحرم نظرها له في ذلك.
حاشية الجمل – (ج ٨ / ص ٧٥) قال ع ش عليه وعمومه يشمل الجمادات فيحرم النظر إليها بشهوة اهـ
مرقاة الصعود التصديق – (ص ٦٧) و حل مع المحرمية او الجنسية او الصغير و لو من غير الجنسية الذي لا يشتهي نظر ما عدا ما بين السرة و الركبة اذا كان اي النظر بغير شهوة فان كان بشهوة فهو حرام باجماع بل يحرم النظر لكل ما يجوز الاستمتاع به و لو جمادا كان ينظر الي العمود بشهوة و ضابط الشهوة هي ان ينظر فيلتذ كما افاده الباجوري. توشيح على ابن قاسم – (ص ١٩٧ الفتنة هي ميل النفس ودعاؤها إلى الجماع أو مقدماته والشهوة هو أن يلتذ بالنظر
حاشية البجيرمي على الخطيب – (ج ٤ / ص ٦٧) والحاصل أنه يحرم رؤية شيء من بدنها ـــــ إلى أن قال ـــــ وخرج به رؤية الصورة في نحو المرآة ومنه الماء فلا يحرم ولو مع شهوة
شرح الياقوت النفيس ـ (ج ١ / ص ١١٩) والفقهاء قد تكون لهم أقوال قد لاتقبل، مثل قولهم لونظر انسان إلى صورة امرأة في مرأّة قالوا: يجوز ذلك له لأنها ليست هي المرأة الحقيقية. بل بالغوا وقالوا: حتى لوكانت عارية فهل تقبل منهم هذ الكلام ؟! طبعا لا.
Di antara hal yang diatur dengan jelas dalam syariat Islam ialah menetapkan beberapa kriteria syar’i pergaulan antara laki-laki dan perempuan yang bukan mahram semata untuk menjaga kehormatan, melindungi harga diri dan kemurnian. Kriteria syar’i juga berfungsi untuk mencegah kerusakan dan terjadinya mafsadat. Dalam waqiiyah dimasyarakat ipar dianggap sebagai keluarga besar suami setelah melangsungkan akad pernikahan, sehingga dalam pergaulan dianggap sebagai kakaknya sendiri pergaulanpun menjadikan bebas padahal dia adalah mahram sebab pernikahan artinya andaikan suaminya meninggal boleh iparnya mengawininya ( mengganti posisi suaminya) sehingga saya pernah mendengar ipar adalah maut. Oleh karenanya pergaulan antara laki-laki dan perempuan diatur karena fitnah bagi laki-laki adalah perempuan, bahkan sebagaimana fitnah terbesar perempuan adalah lawan jenisnya.
Pertanyaannya Apakah benar ipar itu adalah maut yang mana jika ditinjau dari maqosid as-syar’i adalah mati ? Lalu apa maksud ipar itu adalah maut mohon penjelasannya
Waalaikum salam
Jawaban
Benar ipar itu adalah maut karena disebutkan dalam sebuah hadits yang didalamnya menyebutkan bahwa ipar itu maut. Haditsnya adalah shahih, berikut redaksi haditsnya. Dari ‘Uqbah bin ‘Amir radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Berhati-hatilah kalian masuk menemui wanita.” Lalu seorang laki-laki Anshar berkata, “Wahai Rasulullah, bagaimana pendapatmu mengenai ipar?” Beliau menjawab, “Hamwu (ipar) adalah maut.” (HR. Bukhari no. 5232 dan Muslim no. 2172)
Adapun yang dimaksud dengan hamwu ditijau dari maqoshid as-Syar’iyah maut dalam arti tidak bernafas melainkan Hamwu yang dimaksud kan dalam hadis adalah bukan hanya ipar saja namun setiap kerabat dekat istri yang bukan mahram. Yang masih mahram bagi suami dari keluarga istri adalah seperti ayah dan anaknya.
Al Laits berkata bahwa al hamwu adalah ipar (saudara laki-laki dari suami) dan keluarga dekat suami. Sehingga apa yang dikatakan oleh Al Laits menunjukkan bahwa ipar itu bukan mahram bagi istri. Yang dimaksud dengan maut di sini dalam Maqosid as-Syar’iy yaitu berhubungan dengan keluarga dekat istri yang bukan mahram, yang mana dalam hal ini perlu ekstra ke hati-hatian dibanding dengan yang lain. Karena tidaklah menutup kemungkinan mereka seringkali bertemu dan tidak ada yang bisa menyangka bahwa perbuatan yang mengantarkan pada zina seperti pandangan dengan disertai sayahwat yang mana sebagian ulama mengatan bagian dari zina dalam arti zinanya mata atau zina yang keji itu sendiri bisa terjadi. Kita pun pernah mendapatkan berita-berita semacam itu. Hadis di atas juga mengajarkan larangan berdua-duaan dengan wanita yang bukan mahram. Karena dalam hadis sudah disebutkan pula,
“Janganlah salah seorang di antara kalian berdua-duaan dengan seorang wanita (yang bukan mahramnya) karena setan adalah orang ketiganya.” (HR. Ahmad 1: 18. Syekh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa sanad hadis ini sahih, para perawinya tsiqah sesuai syarat Bukhari-Muslim).
Namun demikian ada sebuah solusi jika tidak boleh tidak harus bersamaan dengan wanita yang bukan mahram yaitu wanita yang bukan mahram itu hendanya ada wanita lain atau terdapat mahramnya, maka jadilah hilang maksud yang dilarang. Ini berlaku untuk pergaulan dengan yang bukan mahram. Wallahu a’lam bish-shawab
HUKUM AKIBAT SALING TIDAK MENYAPA ( SOKERAN ) SESAMA MUSLIM MELEBIHI TIGA HARI/1.TH.
Assalaamu alaikum .
Deskripsi masalah. Dalam menjalani kehidupan bermasyarakat tidaklah terlepas dari saling komunikasi baik diantara teman tetangga dan dll, karena kalam ( ucapan) merupakan bagian dari metode atau alat guna untuk melestarikan terhadap apa yang dituju, Walaupun demikian agama mengatur tatacara berbicara, jika pembicaaraan baik dan dianggap bermanfaat maka sangatlah dianjurkan, akan tetapi jika tidak mendatangkan maslahah dan manfaat dilarang, tapi ada kasus yang tidak sebagaimana biasanya yakni katakan seorang Abdul karim ( nama samarannya) orang yang kaya sementara tetangganya bernama Hayono orang yang miskin dia mau pinjam uang kepada Abdul karim lalu ia tidak memberinya sampai terjadi percekcokan hingga keduanya saling tidak menyapa ketika bertemu sampai melebihi tiga hari bahkan sampai 1 tahun.
Pertanyaan: Bagaimana hukumnya Abdul karim dan Hayono saling tidak menyapa ( sokeran) sebagaimana kasus diatas?
Waalaikum salam.
Jawaban Hukumnya seseorang muslim yang tidak berbicara/ tidak menyapa ( sokerran:red) kepada saudaranya yang seagama ( sama-sama muslim ) sampai melebihi tiga hari maka hukumnya tidaklah halal dalam arti haram bahkan jika lebih dari tiga hari sampai satu tahun maka hukumnya bagaikan orang yang mengalirkan darah,dalam arti seperti orang membunuh dan jika belum juga berbicara atau damai sampai ia meninggal maka ia masuk neraka.
Maka adapun solusinya agar tidak jatuh pada perbuatan yang dilarang ( haram ) maka tidak boleh melebihi dari tiga hari dan jika sampai melebihi tiga hari maka diantara keduanya jika bertemu maka hendaklah berbicara dengan mengucapkan salam, dengan demikian lepaskan sifat saling tidak menyapa disaat itu juga.
Referensi:
كتاب الأدب، باب فيمن يهجر أخاه المسلم، برقم ٤٩١٣، شرح النووي على صحيح مسلم، (١٦/ ٣٥٣)، وفتح الباري لابن حجر (١٠/ ٤٩٢).
من هجر أخاه المسلم فوق ثلاثة أيام فمات قبل أن يعود دخل النار؛ لحديث أبي هريرة رضي الله عنه قال: قال رسول الله – صلى الله عليه وسلم -: ((لا يحل لمسلم أن يهجر أخاه فوق ثلاث، فمن هجر فوق ثلاث فمات دخل النار)) (٢). ٥ – من هجر أخاه المسلم سنة فهو كسفك دمه؛ لحديث أبي خراش السلمي رضي الله عنه، أنه سمع رسول الله – صلى الله عليه وسلم – يقول: ((من هجر أخاه سنة فهو كسفك دمه)) (٣).
Dalam hadits yang disebutkan
إذا سلم أحدهما على الآخر فرد عليه فقد اشتركا في الأجر، وإن لم يرد عليه فقد باء بالإثم, وخرج المسلِّمُ من الهجر؛ لحديث أبي هريرة رضي الله عنه، أن النبي – صلى الله عليه وسلم – قال: ((لا يحلُّ لمؤمن أن يهجر مؤمناً فوق ثلاثٍ، فإن مرت به ثلاث فلقيه فليسلِّم عليه، فإن ردَّ عليه السلام اشتركا في الأجر، وإن لم يردَّ عليه فقد باء بالإثم وخرج المُسلِّمُ من الهجرة)) (٢). وعن عائشة رضي الله عنها أن رسول الله – صلى الله عليه وسلم – قال: ((لا يكون لمسلم أن يهجر مسلماً فوق ثلاثٍ، فإذا لقيه سلَّم عليه ثلاث مرار, كل ذلك لا يردُّ عليه فقد باء بإثمه).
Riba merupakan salah satu larangan syariat Islam. Karena pada dasarnya, riba merugikan salah satu pihak yang saling bertransaksi. Model riba begitu banyak, mulai dari riba hutang (riba qardlu), dan riba yang ada dalam praktek jual beli, seperti riba al-yad, riba al-fadl, dan riba an-nasiah. Sebagian besar umat muslim telah mengetahui hukum-hukum riba tersebut. Dengan berdalih alasan tertentu, misalkan menyebutkan adanya persyaratan dalam akad namun demikian mereka merekayasa (mensiasati) riba agar tidak terjebak dalam ranah riba dalam bermuamalah contoh Tidak menyaratkan adanya bunga dalam akad melainkan mensyaratkan bungan di luar majlis akad atau tidak menyebutkannya di dalam akad, melainkan diluar akad, maka dalam hal ini ulama’ madzhab yang empat berbeda pandang Menurut imam Malik dan Imam Ahmad bin Hambal merekayasa riba hukumya harom . Akan tetapi imam Abi Hanifah dan imam Syafi’i memperbolehkannya, sebagai ulama’ mengatakan rekayasa riba termasuk bagian dari riba.
Pertanyaannya Bagaimana solusinya agar terbebas ( selamat ) dari riba?
Waalaikum salam. Jawaban. Perbedaan pendapat dikalangan ulama merupakan rahmat. Masalah khilafiyah (perbedaan pendapat) bukanlah sebab terjadinya perpecahan. Yang menjadi masalah adalah cara pandang yang keliru terhadap khilafiyah dan tidak ditirunya akhlak mulia para ulama dalam berbeda pendapat. Khilafiyah fiqhiyah dalam masalah furu’ (cabang) bukanlah sebab perpecahan dalam agama, dan tidak boleh menyebabkan permusuhan dan kebencian. Setiap mujtahid mendapatkan pahala ijtihadnya. Tidaklah tabu mengkaji masalah khilafiyah secara ilmiyah dan murni, dalam naungan cinta karena Allah dan tolong menolong untuk mencapai hakikat, tanpa harus terseret kepada debat kusir yang tercela dan fanatisme. Sudah menjadi prinsip dasar, bahwa setiap terjadi perbedaan pendapat, kita harus merujuk kepada kitab Al-Quran dan hadits nabi. Orang awam pun sudah mengetahui hal ini, apalagi para ulama. Maka dari itu, ketika para ulama berijtihad dengan merujuk kepada kedua sumber di atas, lalu kesimpulannya berbeda satu sama lain, dan kita mengikuti salah seorang dari mereka, janganlah kita mudah menyalahkan bahkan mengatakan bahwa ulama lainnya tidak merujuk kepada Al-Qur’an dan hadits hanya karena berbeda pemahaman dengan kita. Kita perlu mengedepankan sikap saling menghargai ketika kesimpulan dari merujuk kepada kedua sumber di atas tidak sama. Betapa pun demikian, hal ini tidak menghalangi kita untuk mengikuti pendapat yang lebih kuat apabila kita mampu memahami istidlalnya (cara menyimpulkan hukum dari dalil). Bila tidak mampu, maka kita boleh atau bahkan harus bertaklid dengan para ulama, agar tidak menyimpulkan hukum secara serampangan sehingga tersesat dan menyesatkan.
Sebagaimana yang telah kami jelaskan diatas bahwa bagi penganut dalam bermadzhab dimana seseorang wajib bertaqlid kepada salah satu imam yang empat .
Contoh perbedaan pendapat tentang rekayasa riba Dalam pandangan imam Malik dan Imam Ahmad bin Hambal merekayasa riba hukumya harom. Akan tetapi imam Abi Hanifah dan imam Syafi’i memperbolehkannya.
Namun demikian keluar dari perbedaan pendapat adalah sunnah ( dianjurkan ) sebagaimana disebutkan dalam sebuah kaidah.
اَلْخُرُوْجُ مِنَ الْخِلَافِ مُسْتَحَبٌّ
Keluar dari perbedaan pendapat (khilafiyah) itu disunnatkan (dianjurkan”). Yaitu dengan cara melakukan sesuatu yang menurut para ulama yang berbeda pendapat itu sah.
Lalu bagaimana cara kita keluar dari perbedaan pendapat tentang rekayasa riba tersebut dalam deskripsi agar tidak termasuk riba ? Maka agar terbebas dari rekayasa riba solusi nya adalah diniatkan nadzar sebagaimana Habib Abdillah bin Haddad berpendapat bahwa rekayasa riba tidak bisa membebaskan seseorang dari dosa bahkan beliau menyatakan bahwa rekayasa riba termasuk riba dalam arti sama hukumnya. Maka solusi agar seseorang dalam bertransaksi bebas dari riba ( selamat dari riba ) adalah harus dengan cara diniatkan nadzar, hibah, atau sedekah.
Referensi:
( إسعاد الرفيق ج ٢ ص١٣٣
وتحرم أيضا حيلته أي الربا أي الحيلة فيه عند الإمام مالك وأحمد رحمهما الله تعالى وقال الشافعي وأبوحنيفة بجوازها اهـ.
Referensi:
(اعانة الطالبين ٣ ٢٧) وقال سيدنا الحبيب عبد الله بن علوى الحداد إياكم وما يتعاطاه بعض الجهال الأغبياء المغرورين الحمقاء من استحلالهم الربا في زعمهم بحيل أو مخادعات ومناذرات يتعاطونها بينهم ويتوهمون أنهم يسلمون بها من إثم الربا ويتخلصون بسببها من عاره في الدنيا وناره في العقبى وهيهات هيهات إن الحيلة في الربا من الربا وإن النذر شيء يتبرر به العبد ويتبرع ويتقرب به إلى ربه لا يصح النذر إلا كذلك وقرائن أحوال هؤلاء تدل على خلاف ذلك
Berikut Referensi tentang riba:
فتح المعين – (ص ٧٣) وأما القرض بشرط جر نفع لمقرض ففاسد، لخبر كل قرض جر منفعة، فهو ربا وجبر ضعفه: مجئ معناه عن جمع من الصحابة
Referensi.
الأشباه والنظائر – شافعي – (ج ١ / ص ٤٨١)
القاعدة الخامسة : تعاطي العقود الفاسدة حرام كما يؤخذ من كلام الأصحاب في عدة مواضع قال الأسنوي و خرج عن ذلك صورة وهي : المضطر إذا لم يجد الطعام إلا بزيادة على ثمن المثل فقد قال الأصحاب : ينبغي أن يحتال في أخذ الطعام من صاحبه ببيع فاسد ليكون الواجب عليه القيمة كذا نقله الرافعي.
محترز قوله بلا شرط في العقد. (قوله: جر نفع لمقرض) أي وحده، أو مع مقترض – كما في النهاية – (قوله: ففاسد) قال ع ش: ومعلوم أن محل الفساد حيث وقع الشرط في صلب العقد.أما لو توافقا على ذلك ولم يقع شرط في العقد، فلا فساد.اهـ والحكمة في الفساد أن موضوع القرض: الارفاق، فإذا شرط فيه لنفسه حقا: خرج عن موضوعه فمنع صحته. (قوله: جر منفعة) أي شرط فيه جر منفعة. (قوله: فهو ربا) أي ربا القرض، وهو حرام.
Referensi:
إعانة الطالبين – (ج٣ / ص٥٣)
( و )
جاز لمقرض ( نفع ) يصل له من مقترض كرد الزائد قدرا أو صفة والأجود في الرديء ( بلا شرط ) في العقد بل يسن ذلك لمقترض لقوله صلى الله عليه وسلم إن خياركم أحسنكم قضاء ولا يكره للمقرض أخذه كقبول هديته ولو في الربوي والأوجه أن المقرض يملك الزائد من غير لفظ لأنه وقع تبعا وأيضا فهو يشبه الهدية وأن المقترض إذا دفع أكثر مما عليه وادعى أنه إنما دفع ذلك ظنا أنه الذي عليه حلف ورجع فيه. ( قوله ولو في الربوي ) غاية لعدم الكراهة أي لا يكره أخذ الزائد ولو وقع القرض في الربوي كالنقد ( قوله والأوجه أن المقرض يملك الزائد إلخ ) أي ولو كان متميزا كأن اقترض دراهم فردها ومعها نحو سمن ( قوله من غير لفظ ) أي إيجاب وقبول ( قوله لأنه وقع تبعا ) علة لكون الزائد يملك من غير لفظ أي وإنما يملك كذلك لأنه تابع للشيء المقترض ( قوله وأيضا فهو ) أي الزائد ( وقوله يشبه الهدية ) أي وهي تملك من غير لفظ.
Referensi:
تحفة المحتاج في شرح المنهاج – (ج ١٧ / ص ٢٥-٣٣) ( تَنْبِيهٌ )
غاية تلخيص المراد من فتاوى ابن زياد – (ص ٦١) (مسألة):
عمت البلوى أن أهل الثروة لا يقرضون أحداً إلاّ بزيادة، إما من نوع المستقرض أو غيره بصيغة النذر، أو يتأجر المقرض من المقترض أرضاً بمال يسير يستغلها مدة بقاء الدين المذكور، أو يردها على المستقرض بأجرة تقابل تلك الزيادة، فالعقود المذكورة صحيحة إذا توفرت شروطها، ولا يدخل ذلك في أبواب الربا.
إعطاء الربا عند الاقتراض ولو للضرورة بحيث إنه إن لم يعطه لم يقرضه لا يدفع الإثم، إذ له طريق إلى حل إعطاء الزائد بطريق النذر أو غيره من الأسباب المملكة، لا سيما إذا قلنا بالمعتمد إن النذر لا يحتاج إلى القبول لفظاً.
Berikut tanbahan Referensi riba dan solusinya :
إعانة الطالبين – (ج ٣ / ص ٢١) (وحرم ربا)
مر بيانه قربيا، وهو أنواع: ربا فضل، بأن يزيد أحد العوضين، ومنه ربا القرض: بأن يشترط فيه ما فيه نفع للمقرض، وربا يد: بأن يفارق أحدهما مجلس العقد قبل التقابض، وربا نساء: بأن يشترط أجل في أحد العوضين، وكلها مجمع عليها، ثم العوضان أن اتفقا جنسا: اشترط ثلاثة شروط، تقدمت، أو علة: وهي الطعم والنقدية، اشترط شرطان، تقدما. قال شيخنا ابن زياد: لا يندفع إثم إعطاء الربا عند الاقتراض للضرورة، بحيث أنه إن لم يعط الربا لا يحصل له القرض. إذ له طريق إلى إعطاء الزائد بطريق النذر أو التمليك، لاسيما إذا قلنا النذر لا يحتاج إلى قبول لفظا على المعتمد. وقال شيخنا: يندفع الاثم للضرورة. (قوله: إذ له إلخ) تعليل لعدم اندفاع إثم الاعطاء عند ذلك، أي لا يندفع ذلك، لان له طريقا في إيصال الزائد للمقرض بنذر، أو هبة، أو نحوهما. (وقوله: أو التمليك) أي بهبة، أو هدية، أو صدقة. (وقوله: للضرورة) أي لاجل ضرورة الاقتراض (قوله: وطريق الخلاص من عقد إلخ) أي الحيلة في التخلص من عقد الربا في بيع الربوي بجنسه مع التفاضل ما ذكره. وهي مكروهة بسائر أنواعه – خلافا لمن حصر الكراهة في التخلص من ربا الفضل – ومحرمة عند الائمة الثلاثة. وقال سيدنا الحبيب عبد الله بن الحداد: إياكم وما يتعاطاه بعض الجهال الاغبياء المغرورين الحمقاء من استحلالهم الربا في زعمهم بحيل أو مخادعات ومناذرات يتعاطونها بينهم، ويتوهمون أنهم يسلمون بها من إثم الربا، ويتخلصون بسببها من عاره في الدنيا، وناره في العقبى، وهيهات هيهات، إن الحيلة في الربا من الربا، وإن النذر شئ يتبرر به العبد، ويتبرع ويتقرب به إلى ربه، لا يصح النذر إلا كذلك، وقرائن أحوال هؤلاء تدل على خلاف ذلك، وقد قال عليه الصلاة والسلام: لا نذر إلا فيما ابتغى به وجه الله. وبتقدير أن هذه المناذرات – على قول بعض علماء الظاهر – تؤثر شيئا، فهو بالنسبة إلى أحكام الدنيا وظواهرها لا غير. فأما بالنسبة إلى أحكام الباطن، وأمور الآخرة فلا. وأنشد رضي الله عنه: ليس دين الله بالحيل فانتبه يا راقد المقل.والله اعلم بالصواب
Asslamualaikum.. Deskripsi masalah Ada seseorang pedagang sedangkan profinya sebagai buruh atau PNS dengan bukti SK ia ingin usaha dagangnya cepat berkembang, maka dalam upaya mendapatkan modal lalu SK dan Slip gajinya digadaikan dibank.
Pertanyaannya.
Bagaimanakah hukum menggadaikan SK dan slip gaji dibank sebagaimana diskripsi?
Menggadaikan SK PNS dan slip gaji sebagai tanda bukti adanya “penghasilan” bagi jaminan pemenuhan utang gadai adalah tidak boleh dan tidak sah dalam syariat. Sebab barang yang menduduki maqam objek adalah terdiri atas slip dan SK yang keduanya hanya merupakan fisik kertas yang sama sekali bukan aset berharga karena tanpa keberadaan aset penjamin (dlaman al-dain, dlaman al-ain, dlaman al-fi’li) selain itu karena keduanya ( SK dan slip gaji ) tidak bisa dijualbelikan, apalagi disewakan. Ini merujuk pada definisi “Gadai” adalah menjadikan zat/harta sebagai bukti kepercayaan jaminan untuk membayar hutang, yang andaikan tidak bisa membayar maka barang tersebut bisa disita. Sedang sebagian ulama yang lain mendeskripsikan gadai secara bahasa adalah penetapan.Sedang menurut istilah syara’ adalah zatnya harta yang dapat dijadikan bukti kepercayaan untuk membayar utang, yang andaikan ada udzur tidak bisa bayar maka barang tersebut yang jadi jaminan (bisa disita). Sedangkan sebagian yang lain juga mendefinisikan gadai adalah menjadikan sesuatu barang sebagai jaminan yang mana barang yang dijadikan jaminan bisa perjual belikan, artinya selama barang yang di objek bisa diperjual belikan maka boleh maka boleh untuk dijadikan jaminan atau digadaikan. Oleh karenanya tidak sah SK slip digadaikan karena objek ( SK ) tidak bisa diperjual belikan, maka beda dengan sertifikat tanah atau PBKP sepeda motor, sebagai bukti keperjayaan karena yang menjadi objek adalah tanah dan sepeda motor yang bisa diperjual belikan, seandainya orang yang hutang tidak bisa bayar/udzur maka tanah/ sawah atau motor bisa diambil atau disita. Maka solusinya adalah pinjam sebagaimana biasanya dengan tanpa ada unsur riba sedang SK boleh dijadikan bukti kepercayaan bahwa seseorang yang berhutang betul-betul punya pekerjaan dan gaji tetap untuk membayar hutang walau gaji dalam perbulannya langsung dipotong ( diambil oleh pihak bank ).Wallahu a’lam bish-shawab.
مغني المحتاج وشرعا جعل عين مال وثيقة بدين يستوفى منها عند تعذر وفائه .
تحفة المحتاج وشرعا جعل عين مال وثيقة بدين يستوفى منها عند تعذر وفائه .
اعانة الطالبين والرهن لغة: الثبوت، وشرعا: جعل عين مال وثيقة بدين يستوفى منها عند تعذر وفائه.
كفاية الأخيار ومقتضاه أنه لا يجوز رهن ما لا يجوز بيعه، وذلك كرهن الموقوف ورهن أم الولد، وما أشبه ذلك، فلا يصح رهنه وهو كذلك لفوات المقصود منه،
الحاوي الكبير وما جاز بيعه جاز رهنه يعني : أن كل شيء كان بيعه جائزا كان رهنه جائزا وكل شيء لم يجز بيعه لم يجز رهنه من الأجناش أو الأنجاش وأمهات الأولاد .
تفسير القرطبي الخامسة – معنى الرهن: احتباس العين وثيقة بالحق ليستوفى الحق من ثمنها أو من ثمن منافعها عند تعذر أخذه من الغريم، وهكذا حده العلماء،
نهاية المحتاج الخامسة – معنى الرهن: احتباس العين وثيقة بالحق ليستوفى الحق من ثمنها أو من ثمن منافعها عند تعذر أخذه من الغريم، وهكذا حده العلماء،
تحفة المحتاج الخامسة – معنى الرهن: احتباس العين وثيقة بالحق ليستوفى الحق من ثمنها أو من ثمن منافعها عند تعذر أخذه من الغريم، وهكذا حده العلماء .والله أعلم بالصواب
PERBEDAAN ORANG KAYA DAN ORANG MISKIN RELASINYA DENGAN PENGGUNAAN DAGING QURBAN.
Assalamualaikum.
Deskripsi masalah.
Ketika memasuki tanggal 10 Dzulhijjah tibalah saat musim kurban, dimana seluruh elemen masyarakat Muslim bersama-sama menikmati “hidangan” Nikmat Tuhan dengan penuh suka cita melalui pendistribusian daging kurban oleh Mudho’hiy ( orang yang berqurban ) atau yang mewakilinya.
Pendistribusian daging qurban oleh Mudha’hiy tidak hanya kepada orang orang miskin, akan tetapi orang kaya juga turut serta menerimanya, Namun demikian menurut tokoh dan Panitia qurban ternyata ada perbedaan hak penerimaan antara kurban yang diterima orang kaya dan miskin
Pertanyaan.
Apa perbedaan antara orang kaya dan orang fakir relasinya dengan setatus daging kurban ? Mohon penjelasannya kiyai ..
Waalaikum salam. Jawaban.
Perbedaannya antara orang kaya dan orang fakir terkait dengan setatus daging qurban adalah orang kaya sebagai intifa’ sedangkan orang fakir sebagai tamlik setelah daging kurban sampai ditangan mereka. Adapun maksud dari orang kaya sebagai intifa’ dari daging kurban adalah jika orang yang berqurban menghadiyahkan daging kubarnya kepada orang yang kaya, maka orang yang kaya boleh menhadiyahkan lagi kepada orang lain, sebagaimana dia boleh menerima pemberian dari orang yang berqurban, alasannya karena orang yang kaya hanya punya hak pakai ( dalam arti memanfaatkan untuk dimakan atau menghadiagkan saja ) setelah daging sampai ditangannya, sehingga tidak punya kebebasan dalam memanfaatkannya untuk dijual karena daging yang diterima bukan bersetarus sebagai hak milik. Sedangkan orang fakir adalah orang yang punya hak ( kewajiban ) untuk menerima dan ketika sudah menerima dan sampai ditangannya berarti sudah menjadi hak milik sehingga punya kebebasan untuk menggunakannya sesuka hatinya, baik untuk dimakan disedekahkan bahkan boleh dijual dll sebagaimana ia berhak menerima zakat. Oleh karenanya bagi orang fakir boleh memanfaatkan qurban yang diambil (secara bebas) meski dengan semisal menjualnya kepada orang Islam, sebab ia memilikinya. Berbeda dari orang kaya, ia tidak diperkenankan menjualnya, tetapi ia hanya diperbolehkan mengalokasikan kurban yang diberikan kepadanya dengan semisal makan, sedekah, dan menghidangkan meski kepada orang kaya, sebab puncak dari tujuannya ia seperti orang yang berkurban itu sendiri.
Apabila seseorang yang berkurban memberikan sebagian daging kurbannya kepada orang kaya, apakah orang kaya tersebut boleh menghadiahkan daging itu kepada orang lain? Jika diperbolehkan, apa makna dari pernyataan Imam Al-Rafi’i bahwa tidak diperkenankan bagi yang berkurban untuk “mentamlikkan” (memberikan hak kepemilikan penuh) daging kurban kepada orang kaya?
(Jawaban)
Imam besar – semoga Allah merahmatinya – menjelaskan: Dasar yang patut dijadikan pedoman dalam hal ini, yang meskipun saya tidak menemukannya secara eksplisit dalam referensi, namun telah saya tetapkan berdasarkan analisis hukum (tafaqquh) karena berbagai masalah dalam topik ini tidak dapat dipahami kecuali dengan dasar tersebut. Kaidah-kaidah dan dalil-dalil juga mendukungnya, yaitu:
Daging kurban yang bersifat sunnah menjadi milik Allah Ta’ala setelah disembelih. Pembagian manfaatnya terbagi menjadi dua bentuk:
1. Fakir miskin (tamlik): Daging kurban diberikan kepada mereka sebagai kepemilikan penuh sehingga mereka dapat memanfaatkannya, termasuk menjualnya.
2. Orang kaya (pemanfaatan): Mereka hanya diberi manfaat dari daging kurban tersebut tanpa kepemilikan penuh.
Orang yang berkurban juga termasuk dalam kategori yang diizinkan memanfaatkannya, dengan hak untuk membagi dan mendistribusikan daging tersebut. Ketika seseorang yang berkurban menyembelih hewan kurbannya, maka ia mendekatkan diri kepada Allah dengan sembelihan tersebut. Dengan demikian, kepemilikannya beralih kepada Allah Ta’ala. Namun, ia diizinkan memakan sebagian darinya karena ada izin dari Allah.
Jika daging tersebut diberikan kepada fakir miskin, pemberian itu bersifat tamlik (kepemilikan penuh), sehingga mereka bebas memanfaatkannya, termasuk menjualnya. Hal ini karena fakir miskin adalah tujuan utama dari pelaksanaan kurban. Untuk merealisasikan manfaat ini, diperlukan tamlik sepenuhnya.
Adapun jika daging diberikan kepada orang kaya, maka pemberian itu tidak untuk tamlik. Artinya, orang kaya hanya diberi izin untuk memanfaatkannya (seperti makan, menyedekahkan, atau menjamu tamu), tetapi tidak diizinkan menjualnya. Ini berbeda dengan fakir miskin yang menjadi tujuan utama kurban. Oleh karena itu, tujuan kurban adalah tamlik bagi fakir miskin, sedangkan bagi orang kaya dan yang berkurban hanya diberikan hak pemanfaatan (ibahah).
Referensi Tambahan
1. “Tuhfatul Muhtaj” dan “Nihayatul Muhtaj”:
وللفقير التصرف في المأخوذ ولو بنحو بيع المسلم لملكه ما يعطاه ، بخلاف الغني فليس له نحو البيع بل له التصرف في المهدي له بنحو أكل وتصدق وضيافة ولو لغني ، لأن غايته أنه كالمضحي نفسه ، قاله في التحفة والنهاية
Fakir miskin dapat memanfaatkan daging yang diterimanya secara penuh, termasuk menjualnya karena menjadi miliknya. Sedangkan bagi orang kaya, mereka tidak boleh menjual daging tersebut. Namun, mereka boleh memanfaatkannya, seperti memakan, menyedekahkan, atau menjamu tamu, baik kepada orang kaya maupun fakir. Hal ini karena mereka hanya disamakan kedudukannya dengan yang berkurban itu sendiri.
Referensi
إعانة الطالبين ج٢ ص ٣٧٩
(قوله: لا تمليكهم) أي لا يجوز تمليك الأغنياء منها شيئا. ومحله إن كان ملكهم ذلك ليتصرفوا فيه بالبيع ونحوه كأن قال لهم ملكتكم هذا لتتصرفوا في بما شئتم أما إذا ملكهم إياه لا لذلك بل للأكل وحده فيجوز، ويكون هدية لهم وهم يتصرفون فيه بنحو أكل وتصدق وضيافة لغني أو فقير لا ببيع وهبة وهذا بخلاف الفقراء، فيجوز تمليكهم اللحم ليتصرفوا فيه بما شاؤا ببيع أو غيره.
2. “I’anah Al-Thalibin”, Juz 2 Halaman 379:
Tidak diperkenankan memberikan daging kurban kepada orang kaya dengan cara tamlik untuk tujuan seperti menjualnya. Namun, jika pemberian itu hanya untuk dimakan atau dimanfaatkan (tanpa hak kepemilikan penuh), maka diperbolehkan. Dalam hal ini, pemberian tersebut dianggap sebagai hadiah, sehingga orang kaya dapat memanfaatkannya dengan memakan, menyedekahkan, atau menjamu tamu, tetapi tidak menjualnya. Sebaliknya, fakir miskin boleh menerima daging dengan tamlik penuh, sehingga mereka bebas memanfaatkannya, sesuka hatinya termasuk menjualnya.
CATATAN
HUKUM QURBAN INI SAMA DENGANGAN AQIQOH ,Artinya aqiqoh demikian juga adanya namun yang utama diberikan masaknya” Wallahu a’lam bish-shawab
Kemiskinan adalah salah satu keadaan yang dipandang sebagai ketidakmampuan dari sisi ekonomi, dalam memenuhi kebutuhan dasar manusia. Hal ini mencakup pangan dari aspek pemasukan untuk membeli makanan, dan bukan dari aspek pengeluaran. Kemiskinan juga memiliki kaitan erat dengan tingkat pendapatan, sehingga seseorang berada dalam fase kehilangan pendapatan dan aksesibilitas terhadap sumber daya pemenuh kebutuhan hidup, baik berupa pangan, sandang, papan, serta layanan hidup lainnya. Doktor Syaikh Yusuf al-Qordhowi Rahimahullah, menjelaskan dalam kitabnya fiqih zakat bahwa orang Faqir: “ adalah orang yang tidak memiliki harta atau penghasilan yang halal yang layak untuknya, jatuh dalam posisi ketidak cukupan, seperti makanan, pakaian, perumahan dan semua hal penting lainnya, baik untuk dirinya sendiri dan untuk orang menjadi beban tanggung jawabnya untuk membelanjakan, tanpa adanya pemborosan atau kekikiran, seperti seseorang yang membutuhkan sepuluh dirham setiap hari dan hanya menemukan empat atau tiga atau dua. Sedangkan Miskin: “adalah orang yang mampu memperoleh uang atau memperoleh penghasilan yang layak secara halal yang termasuk dalam kecukupannya dan kecukupan tanggungannya. Tetapi itu tidak dilakukan dengan cukup, seperti seseorang yang membutuhkan sepuluh dan menemukan tujuh atau delapan, maka dalam upaya untuk menanggulangi kemiskinan”Takmir masjid selama ini bingung masalah fiqih terkait sah/ boleh apa tidak menggunakan uang kas masjid untuk bantuan bencana atau janda miskin yang rumahnya hampir roboh,”
Pertanyaan.
Bolehkah dalam upaya menanggulangi kemiskinan memanfaatkan sebagian dana masjid digunakan atau ditashorrufkan untuk fakir miskin ?
Waalaikum salam
Jawaban
Jika dana masjid telah mencukupi untuk kebutuhan pembangunan, maka boleh dimanfaatkan untuk fakir miskin yang mana fakir dan miskin termasuk dari bagian jamaah masjid bahkan termasuk dari ahli qoryah, alasannya karena masjid itu bagaikan orang yang merdeka yang bisa memiliki sesuatu oleh karenanya tidak dibolehkan menggunakan barang masjid kecuali ada maslahat yang kembali kepada masjid atau untuk kepentingan orang-orang muslim, kepentingan umum mencakup antara orang fakir atau miskin, bahkan disunnahkan bagi takmir melakukan sesuatu yang biasa dilakukan di masjid, seperti menyediakan kopi, rokok dan sesuatu yang disukai para jama’ah, walaupun hal ini tidak dibiasakan sebelumnya, apabila uang kas ini sudah melebihi untuk pembangunan masjid”. Pernah syaik Salim bin Sa’id Baggitsan As-Syafi’i di tanya tentang seseorang yg mewakafkan hartanya yg sangat banyak untuk kemaslahatan masjid dan sekarang masjid tersebut telah makmur (banyak yg ibadah disana) dan ada di kas masjid harta wakaf orang tersebut masih lebih karena sangat banyaknya, maka apakah boleh mengeluarkan sebagian harta wakof ini untuk suatu acara agar orang orang yg solat lebih giat lagi ? Maka beliau menjawab : Segala puji bagi allah dan allah jua lah yg memberikan jalan kepada kebenaran. Harta harta yg di wakofkan untuk kemaslahatan masjid , sebagaimana pada soal tsb ,Boleh mentasarufkan harta wakof tsb untuk pembangunan , pengecatan , gaji marbot , asatidz , imam , begitu pula boleh untuk membuat lebih giat lagi orang yg solat seperti menyajikan kopi , bukhur(asap yg wangi untuk mewangikan masjid) akan tetapi semua harta wakaf itu harus di utamakan mana yg lebih penting.
الفتاوى الفقهية الكبرى (٣/ ١٥٥) وَأَنَّ الْمَسْجِدَ حُرٌّ يَمْلِك فَلَا يَجُوزُ التَّصَرُّفُ فيه إلَّا بِمَا فيه مَصْلَحَةٌ تَعُودُ عليه أو على عُمُومِ الْمُسْلِمِينَ
Fatwa Al-Fiqhiyyah Al-Kubra (3/155): “Sesungguhnya masjid itu bebas dimiliki, sehingga tidak boleh digunakan kecuali untuk sesuatu yang mengandung kemaslahatan yang kembali kepada masjid itu sendiri atau kepada kaum muslimin secara umum
فتوى إبن صالح ص ٣٩٠ وَإِذا ضَاقَ الْأَمر اتَّسع وَمن نَظَائِر ذَلِك مَا ذكره غير وَاحِد من أَصْحَابنَا *من أَن وقُوف الْمَسَاجِد فِي الْقرى يصرفهَا صلحا أهل الْقرْيَة فِي عمَارَة الْمَسْجِد ومصالحه لعدم من إِلَيْهِ النّظر
Fatwa Ibnu Shalih, hlm. 390: “Jika suatu perkara menjadi sempit, maka diberikan keluasan.” Di antara contoh kaidah ini adalah apa yang disebutkan oleh beberapa ulama mazhab kami, yaitu bahwa wakaf masjid di desa-desa dapat digunakan oleh penduduk desa tersebut untuk pembangunan dan kepentingan masjid karena tidak ada pihak yang bertanggung jawab mengelolanya.”
Fatwa Ar-Ramli, hlm. 634:(Pertanyaan):Terkait jawaban As-Subki bahwa seorang nadzir (pengelola wakaf) boleh berdagang menggunakan harta masjid karena masjid itu seperti harta bebas dimiliki, tidak seperti wakaf lainnya, apakah pendapat ini yang dijadikan pegangan atau tidak? Apa perbedaan antara masjid dengan selainnya?
(Jawaban):Pendapat tersebut adalah yang dipegang. Perbedaannya dengan wakaf lain adalah sebagaimana disebutkan, bahwa masjid itu seperti harta bebas yang dapat dimiliki melalui jual beli, hibah, wasiat, syuf’ah, dan sejenisnya, berbeda dengan wakaf lainnya.”
Fatwa Ar-Ramli, hlm. 638: (Pertanyaan): Jika sebuah masjid tidak lagi digunakan karena kehancuran kota, runtuh, atau sebab lainnya, apakah hasil wakafnya disalurkan kepada fakir miskin sebagaimana pendapat Al-Mawardi yang ditegaskan oleh Ar-Ruyani dalam kitab Al-Bahr? Ataukah disalurkan kepada kerabat terdekat dari pewakaf seperti dalam kasus pewakaf yang tidak memiliki ahli waris sebagaimana pendapat Ar-Ruyani dalam sumber lain dan disebutkan oleh Al-Hannathi dalam fatwanya? Ataukah digunakan untuk pembangunan masjid lain dan kepentingannya, di mana masjid terdekatlah yang lebih berhak mendapatkannya sebagaimana dinukil dari Al-Mutawalli? Ataukah dana wakaf tersebut disimpan untuk kemungkinan masjid itu dapat dibangun kembali sebagaimana pendapat Imam yang membahas hal serupa dalam wakaf benteng perbatasan?”
(Jawaban): Pendapat yang paling kuat dalam masalah ini adalah: Dalam hal ini, tidak ada perbedaan pendapat dalam masalah ini.” Jika ada kemungkinan masjid itu dibangun kembali, maka hasil wakafnya harus disimpan sebagaimana pendapat Imam. Jika tidak mungkin dibangun kembali, maka harus dialihkan ke masjid lain yang masih ada, sebagaimana pendapat Al-Mutawalli yang juga ditegaskan dalam kitab Al-Anwar. Jika tidak memungkinkan, maka dana tersebut diberikan kepada kerabat terdekat dari pewakaf, sebagaimana pendapat Ar-Ruyani dalam sumber lain yang juga disebutkan oleh Al-Hannathi. Jika tidak ditemukan kerabat pewakaf, maka hasil wakaf disalurkan kepada fakir miskin atau kemaslahatan kaum muslimin, sebagaimana pendapat Al-Mawardi yang ditegaskan oleh Ar-Ruyani dalam Al-Bahr
Disebutkan Dalam sebuah hadits dari Jabir bin Abdillah radhiyallahu anhuma.Beliau berkata:
“Nabi shallallahu‘alaihi wasallam memerintahkan dari setiap buah yang berjumlah sepuluh wasaq kurma (hasil panen) diambil satu tandan dan digantungkan di masjid untuk orang-orang miskin.” (HR. Ahmad: 14867, Abu Dawud: 1662 dan Musnad Abi Ya’la: 2038 (4/34). Isnad-nya di-jayyid-kan oleh Ibnu Katsir dalam Tafsirnya: 3/348. Di-shahih-kan oleh al-Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud: 1465). Al-Bara’ bin Azib radhiyallahu anhu berkata:
“Kami adalah petani kurma, setiap orang datang membawa hasil kurmanya sesuai banyak sedikitnya, seseorang datang membawa setangkai atau dua tangkai lalu menggantungkannya di masjid, sementara penghuni halaman masjid (ahlush shuffah) tidak memiliki makanan, jika salah seorang dari mereka merasa lapar, mereka datang ke tangkai-tangkai kurma dan memukulnya dengan tongkat hingga busr (kurma muda) dan kurma berjatuhan, lalu mereka memakannya, sedangkan orang-orang yang tidak menghendaki kebaikan, datang dengan membawa satu tangkai kurma yang keras lagi jelek dan satu tangkai yang sudah rusak, kemudian digantungkan di masjid, maka Allah Tabaraka wa Ta’ala menurunkan ayat: “Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (di jalan Allah) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang kami keluarkan dari bumi untuk kamu. dan janganlah kamu memilih yang buruk-buruk lalu kamu menafkahkan daripadanya, padahal kamu sendiri tidak mau mengambilnya melainkan dengan memincingkan mata terhadapnya.” (QS.Al-Baqarah: 267).” (HR. At-Tirmidzi: 2987 dan ia berkata hasan shahih dan Ibnu Abi Syaibah dalam al-Mushannaf: 11099 (6/419). Di-hasan-kan pula oleh Muqbil dalam ash-Shahih al-Musnad: 138 (1/119)). Al-Imam Ibnu Rajab al-Hanbali (wafat tahun 795 H) rahimahullah berkata:
والظاهر من أهل الصفة: أنهم كانوا يأكلون في المسجد، وقد سبق حديث البراء بن عازب أنهم كانوا إذا جاعوا ضربوا القنو المعلق في المسجد للصدقة فأكلوا منه
المساجد بيوت الله ص ١١٠-١١١ (باب: القسمة وتعليق القنو في المسجد) ثم ذكر حديث أنس -رضي الله عنه -قال: «أتي النبي- صلى الله عليه وسلم -بمال من البحرين، فقال: (انثروه في المسجد) وكان أكثر مال أُتِيَ به رسول الله -صلى الله عليه وسلم- فخرج رسول الله- صلى الله عليه وسلم -ولم يلتفت إليه، فلما قضى الصلاة جاء فجلس إليه، فما كان يرى أحدًا إلا أعطاه، فما قام رسول الله – صلى الله عليه وسلم – وثم منه درهم» (٢) ففي هذا الحديث جواز تفريق المال في المسجد، بشرط ألاَّ يشغل المصلِّين، ولا يحصل فيه ازدحام وهيشات أصوات، فإن تيسَّر تفريقه في غير المسجد فهو أولى، ومثله تفريق الزكوات وصدقة الفطر، يجوز في المساجد عند الحاجة. (٣)
Dan tampak dari Ahlu Shuffah bahwa mereka biasa makan di dalam masjid. Telah disebutkan dalam hadis al-Barra’ bin ‘Azib bahwa ketika mereka merasa lapar, mereka memukul tandan kurma yang tergantung di masjid sebagai sedekah, lalu mereka memakannya.
(Kitab Al-Masajid Buyutullah, hlm. 110-111, Bab: Pembagian dan Menggantung Tandan Kurma di Masjid)
Kemudian disebutkan hadis dari Anas radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: “Rasulullah ﷺ didatangi dengan harta dari Bahrain, lalu beliau bersabda: ‘Sebarkanlah harta itu di dalam masjid.’ Itu adalah harta terbanyak yang pernah diberikan kepada Rasulullah ﷺ. Kemudian beliau keluar dan tidak menoleh kepadanya. Setelah selesai salat, beliau datang dan duduk di dekatnya. Setiap orang yang beliau lihat, beliau memberinya harta tersebut, hingga akhirnya tidak tersisa satu dirham pun ketika beliau berdiri.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)
Hadis ini menunjukkan bolehnya membagikan harta di dalam masjid, dengan syarat tidak mengganggu jamaah yang sedang salat dan tidak menyebabkan keributan atau kebisingan. Namun, jika memungkinkan untuk membagikannya di luar masjid, itu lebih utama. Demikian pula dalam pembagian zakat dan sedekah fitrah, hukumnya diperbolehkan dilakukan di dalam masjid.
Catatan : Bukan berarti masjid menerima zakat , melainkan sebagai sarana mendistribusikan sedekah fitrah
(١) أخرجه مسلم في الصحيح (١٠٢٨)، دون قول أبي بكر – رضي الله عنه – دخلت المسجد ….. ، وهي زيادة ضعيفة، في سندها مبارك بن فضالة، وهو مدلس وقد عنعنه. (٢) ذكره البخاري (٤٢١) معلقاً بصيغة الجزم ووصله ابن حجر في التغليق (٢/ ٢٢٧) (٣) انظر المجموع (٢/ ١٧٦) وفصول ومسائل تتعلق بالمساجد لابن جبرين (ص/٤٤)