logo mubaa
Logo Ittihad

DEWAN PIMPINAN PUSAT
IKATAN ALUMNI BATA-BATA

Kategori
Uncategorized

HUKUM MEMAJANGKAN/MENAMPAKKAN ANAK YATIM DIMUKA UMUM PADA ACARA SANTUNAN DALAM TINJAUAN MAQOSID AS-SYARIAH

HUKUM MEMAJANGKAN /MENAMPAKKAN ANAK YATIM DIMUKA UMUM PADA ACARA SANTUNAN DALAM TINJAUAN MAQOSID AS-SYARIAH

Assalamualaikum
Deskripsi masalah

Pada masa dahulu baik dikalangan sahabat dan setelahnya jika ingin menyantuni anak yatim dan orang yang miskin sebagian mereka mendatangi kerumah anak yatim dan sebagian mengajak/ mengundang kerumahnya untuk berkumpul baik santunan berupa makanan ataupun lainnya, maka seiring dengan perkembangan zaman dalam waqiiyah sekarang ini sedikit berbeda disebagian masyarakat yang diantaranya:

  • Untuk menyantuni anak yatim dibentuk kepanitian dalam sebuah organisasi disekolah-sekolah atau pondok atau Masjid atau musholla yaitu berupa acara santunan anak Yatim dengan cara mengundang atau menghadirkan mereka lalu ditampilkan atau diperlihatkan dimuka umum.ketika serah terima santuanan.
  • Mengundang kerumahnya tanpa harus memajangnya dan sebagian santunannya diantarkan kerumah masing-masing anak yatim

Adapun tujuan dari tersebut adalah untuk membantu mereka dengan sedekah sebagai bentuk kepedulian walaupun dengan cara dinampakkan atau dipajang dimuka umum, namun yang menjadi pertimbangan apa yang dikatakan Imam Al-Ghazali apa dengan menampakkan menjadikan tindakan yang menyakitkan atau mengganggu sebagai tolok ukur atas kebolehan amal saleh dan amal ibadah yang dilakukan secara tersembunyi atau dilakukan secara terang-terangan.

وأما ما يمكن إسراره كالصدقة والصلاة فإن كان إظهار الصدقة يؤذي المتصدق عليه ويرغب الناس في الصدقة فالسر أفضل لأن الإيذاء حرام

Artinya, “Adapun amal ibadah yang dapat dilakukan secara sembunyi seperti sedekah dan shalat, jika sedekah terang-terangan (di muka umum) menyakiti orang yang menerima sedekah dan itu dapat memotivasi orang lain untuk sedekah, maka amal secara sembunyi lebih utama karena tindakan menyakitkan (meski dengan niat baik) diharamkan,” (Imam Al-Ghazali, Ihya Ulumiddin, [Beirut, Darul Fikr: 2018 M/1439-1440 H], juz III, halaman 325).

Pertanyaan
Apakah dibenarkan/boleh secara hukum menyantuni anak yatim dengan cara mengundang lalu ditampilkan dimuka umum ? atau dengan menampakkan apa menjadikan sebuah Aib dan tindakan yang menyakitkan ?

Jawaban.
Selama tidak ada dalil yang mengharamkan, maka hukumnya boleh.Karena kenyataannya tidak ada dalil baik dari al-Qur’an maupun hadits dan pendapat ulama yang mengharamkan hal memajangkan atau memperlihatkan anak yatim dimuka umum pada acara santunan anak yatim, dan hal tersebut sudah menjadi tradisi dikalangan umat islam dalam dunia pendidikan baik disekolah pondok pesantren maupun mushollah atau Masjid. Karena tradisi termasuk bagian dari hukum juga selama tidak menyalahi aturan syariat:

العادة محكمة مالم تخالف الشرع

Tradisi menjadi hukum selama tidak menyalahi aturan syariat.

Dalam sebuah kaidah yang lain disebutkan.

اَلْأَصْلُ فِي الْأَشْيَاءِ اَلْإِبَاحَةُ حتي يدل الدليل علي التحريم

Kaidah ini menjelaskan bahwa Hukum asal sesuatu adalah boleh, hingga ada dalil yang menunjukkan keharamannya.

Penerapan kaidah tersebut contohnya adalah sebagaimana deskripsi yaitu mengundang lalu dipajangkan/diperlihatkan dimuka umum pada acara santunan anak Yatim hal tersebut sulit ditentukan keharamannya, karena tidak ditemukan sifat-sifat dan ciri-ciri yang dapat dikategorikan haram baik ditinjau dari memajangkannya ketika dilihat bukan menimbulkan syahwat karena anak yang dipajangkan masih kecil , ditinjau dari muru’ah bukanlah aib, dan bukan merendahkan atau menghina melainkan memuliakan atau menghormati, mengasihi mereka.

Mungkin saja jika ditinjau dari sudut pandang memberi dan menerimanya yang menimbulkan tersakiti yang menjadi haram dalam arti disatu sisi menyakitkan pada yang menerima karena dianggap meremehkan karena dia ( yatim) termasuk orang yang kaya.
Apakah hal ini dibenarkan dalam agama? maka jawabannya dibenarkan dalam sisi kekayaannya karena tidak boleh bersedekah ( zakat) kepada orang yang kaya walaupun itu yatim . Lalu bagaimana solusinya? Maka solusinya adalah diberikan kepada yatim yang miskin,

كفاية الأخيار ج ١ص ١٩٨
قلت أمر الغنيمة فى زمننا هذا قد تعطل فى بعض النواحى لجواز الحكام فينبغى القطع بجواز إعطاء اليتيم إلا أن يكون شريفا

Namun disisi lain bisa tersakiti pada orang yang bersedekah jika pemberiannya ditolak lalu bagaimana solusinya agar tidak menyakiti orang yang bersedekah? Jawabannya adalah tetap diterima selama bukan sedekah ( zakat wajib ) baik anak yatim itu kaya terlebih anak yatim miskin, namun jika anak yatim itu kaya maka setelah santunan diterima berikanlah kepada yang lainnya diluar acara, karena itu adalah rizki dari Allah namun lewat manusia. Karena jika menolak berarti menolak pemberian Allah.SWT.

رسالة المعاونة
(وَاِيَّاكَ)
أَنْ تُكَسِّرَ قَلْبَ مُسْلِمٍ بِرَدِّ صَنِيْعَتِهِ عَلَيْهِ، وَاَنْتَ تَعْلَمُ أَنَّ الوَاصِلَ إِلَيْكَ عَلَى يَدِهِ إِنَّمَا هُوَ مِنَ اللهِ حَقِيْقَةً وَإِنَّمَا هُوَ وَاسِطَةٌ مُسَخّرٌ مَقْهُوْرٌ وَفِي اْلحَدِيْثِ: “مَنْ اَتَاهُ شَيْئٌ مِنْ غَيْرِ مَسْأَلَةٍ وَلَااسْتِشْرَافِ نَفْسٍ فَرَدَّهُ فَإِنَّمَا يَرُدُّهُ عَلىَ اللهِ.”


Artinya, “Janganlah engkau memecahkan hati orang islam (menyinggung perasaan seorang Muslim ) dengan menolak pemberian (hadiah) darinya, padahal engkau mengetahui bahwa sesuatu yang sampai ke tanganmu sejatinya berasal dari Allah subhanahu wa ta’ala, dan sesungguhnya orang yang menyampaikannnya kepadamu hanyalah perantara yang dikendalikan dan dipaksa (oleh Allah subhanahu wa ta’ala). Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda: ‘Barangsiapa datang kepadanya suatu pemberian tanpa ia memintanya atau menunjukkan keinginan untuk memperolehnya, lalu ia menolaknya, sesungguhnya ia menolak pemberian Allah subhanahu wa ta’ala.’”
 
Dari ibaroh diatas jelas yang merasa tersakiti adalah orang yang memberi jika ditolak sedangkan orang menerima semestinya adalah bersyukur bahwa pemberian itu adalah dari Allah namun lewat manusia.

Namun yang terpenting dari persoalan deskripsi diatas adalah pemahaman bahwa hukum Islam bersifat universal untuk segala waktu, tempat kondisi, niat dan kultur. Ia diturunkan sebagai rahmat dan petunjuk bagi umat manusia yang sifatnya serba mencakup .Ini diyakini dapat memberikan pemecahan terhadap problem-problem baru yang dihadapi masyarakat . Jadi perubahan sosial merupakan sebab langsung terhadap perkembangan hukum Islam.
Sejatinya , hukum akan selalu berubah sesuai dengan stuasi dan kondisi sosio antropologi serta kultur tertentu .Dijelaskan dalam prinsip Islam, bahwa al-Islam sholihun likulli zaman wa makan .Artinya Hukum Islam mampu menerapkan dan menyikapi segala lini kehidupan. Kemudian dalam kaidah fiqiyyah, perubahan dalam hukum fiqh dibenarkan bahkan menjadi suatu keharusan jika kondisi sosiologis masyarakat berubah . Sebuah kaidah tentang perubahan hukum yang dinisbatkan kepada Ibnu Qoyyim al-Jauziyah sebagaimana berikut:

تغير الأحكام واختلافها بتغير الأمكنة والأزمنة والأحوال والنيات


Perubahan dan perbedaan hukum adalah disebabkan perbedaan tempat, masa kondisi, motivasi dan budaya.( Ibnu Qoyyim Al-Jauziyyah 691-751 H.)

Dalam redaksi lain disebutkan

تغير الأحكام بتغير الأزمنة الأمكنة والأحوال.


Perbedaan hukum tergantung pada perubahan zaman, tempat, dan keadaan.
Kaidah tersebut tidak hanya disebutkan oleh Ibnu Qoyyim tetapi oleh ulama yang lain . Seperti kaidah yang berbunyi berikit:

لاينكر تغير الأحكام بتغير الأزمان

Tidak diingkari perubahan hukum disebabkan perubahan masa.

Dalam redaksi lain disebutkan sebagai berikut:


لاينكر تغير الفتوى واختلافها بحسب تغير الأزمنة والأمكنة والأحوال والنيات والعوائد

Tidak dapat dipungkiri adanya perbedaan kondisi, stuasi, motivasi, dan tujuan .
Secara de facto, suatu maslahah tidaklah konstan, tetapi sering berubah zaman, tempat, dan orang. Sebagaimana menurut Mahmud Saltut berikut:


تختلف المصلحة فيه بتغير الأزمنة والامكنة والأشخاص ومن هنا وجد الاجتهاد


Maslahah itu sering berubah-rubah seiring perubahan zaman, tempat, dan orang. Oleh karena itu maka diperlukan ijtihad.
Yang ditegakkan hukum dimana ada illat maka disitu ada hukum. Sebaliknya tidak adanya illat penyebab maka tidak adanya hukum. Sebagaimana dijelaskan dalam sebuah kaidah.

الحكم يدور مع علته وجودا وعداما

Hukum itu berputar bersama illatnya baik adanya hukum atau tidak adanya hukum.
Ellat secara etimologi berarti alasan atau sebab sesuai yang menyebabkan perubahannya keadaan sesuatu yang lain dengan keberadaannya.
Adapun secara terminologi terdapat beberapa definisi yang dikemukakan ulama usul fiqh antara lain sebagai berikut:


العلة هى الوصف الظاهر المنضبط الذي جعل مناط الحكم يناسبه

Illat adalah suatu sifat yang nyata yang terang tidak bergeser-geser yang dijadikan pergantungan suatu hukum yang ada minasabah antaranya dengan hukum itu.

Assyathibiy menuliskan difinisi illat sebagai berikut:


العلة هى المصلحة أو المفسدة التي راعاها الشارع فى الطلب كفّا أو فعلا

Illat adalah kemaslahan atau kemanfaatan atau kerusakan yang dipelihara atau diperlihatkan syara’ didalam menyuruh sesuatu pekerjaan atau atau meninggal kannya.

Imam Assyathibiy berkata sebagai berikut:


العلة هى المصالح الشرعية التي تعلقت بها الأوامر والمفاسد التى تعلقت بها النواهى


Illat adalah segala kemaslahatan syara’ yang bergantung ( berhubungan ) dengan segala perintah dan segala kerusakan yang bergantung dengannya segala larangan.
Mayoritas ulama Hanafiyah dan sebagian ulama Hanabilah dan Imam Baidhowi ( Tokoh ulama fiqh Syafiiyah) merumuskan definisi illat dengan pengertian sebagai berikut:


الوصف المُعَرِّف للحكم

Suatu sifat ( yang berfungsi ) sebagai pengenal bagi suatu hukum.

Referensi:Maqosid Assyariah H.55-56

Adapun cara kita memberikan santunan baik berupa makanan araupun yang lainya kepada orang miskin dan anak yatim dalam ajaran Islam itu memberikan kebebasan terserah kita baik dengan cara kita mendatangi orang miskin dan anak yatim, atau dengan cara anak yatim itu kita undang ke rumah kita , yang terpenting semata didasarkan atas niatan ihlas semata untuk memperoleh ridho Allah SWT. Mengajak ( mengundang )anak yatim dalam acara makan berikut penjelasannya:


عَنِ الْحَسَنِ، أَنَّ يَتِيمًا كَانَ يَحْضُرُ طَعَامَ ابْنِ عُمَرَ، فَدَعَا بِطَعَامٍ ذَاتَ يَوْمٍ، فَطَلَبَ يَتِيمَهُ فَلَمْ يَجِدْهُ، فَجَاءَ بَعْدَ مَا فَرَغَ ابْنُ عُمَرَ، فَدَعَا لَهُ ابْنُ عُمَرَ بِطَعَامٍ، لَمْ يَكُنْ عِنْدَهُمْ، فَجَاءَه بِسَوِيقٍ وَعَسَلٍ، فَقَالَ‏:‏ دُونَكَ هَذَا، فَوَاللَّهِ مَا غُبِنْتَ يَقُولُ الْحَسَنُ‏:‏ وَابْنُ عُمَرَ وَاللَّهِ مَا غُبِنَ‏.‏

Dari Al-Hasan Al Bashri bahwasanya seorang yatim piatu biasa hadir makan bersama Ibnu ‘Umar. Suatu hari dia meminta makanan dan dia mencari anak yatim ini tetapi tidak dapat menemukannya. Dia tiba setelah Ibnu ‘Umar selesai. Ibnu ‘Umar meminta lebih banyak makanan untuk dibawakan kepadanya tetapi mereka tidak memilikinya. Maka ia dibawakan sawiq dan madu. Dia berkata, “Ini, ambil ini! Demi Allah, kamu tidak tertipu!” Al-Hasan berkata, “Demi Allah, Ibnu ‘Umar tidak tertipu!”. (HR. Ahmad dalam kitab Az-zuhdu no. 1051 dan Bukhari di kitab Adabul Mufrad no. 134)


Riwayat ini memberikan faedah bahwa Ibnu Umar selalu bersemangat di dalam menghadirkan anak yatim pada waktu beliau makan. Jika sudah waktunya maka maka beliau mencarinya, sebagaimana faidah ini di dapat pada ucapan beliau (Al Hasan) :
“… dia mencari anak yatim ini tetapi tidak dapat menemukannya”.
Si yatim ini pun datang setelah Ibnu Umar selesai dari makannya. Dan Ibnu Umar meminta makan yang lain buatnya namun sudah tidak ada. Makanan yang tadi dihidangkan sudah habis dan akhirnya beliau membawa sawiq dan ‘asal (madu) dan memberikannya kepada si yatim.
Dan beliau berkata : “Ini, ambil ini! Demi Allah, kamu tidak tertipu!” Maksudnya adalah kamu tidak rugi dengan tidak makan bersama kami, bahkan makanan yang ini adalah makanan yang baik.
Perkataan Al-Hasan Al Bashri, “Demi Allah, Ibnu ‘Umar tidak tertipu!” Artinya beliau mendapatkan keuntungan yang besar karena telah berbuat baik kepada si yatim ini. Dan ini adalah kebiasaan Ibnu Umar yang mana beliau tidak makan kecuali menghadirkan anak yatim dalam makan beliau.

عَنْ أَبِيْ بَكْرِ بْنُ حَفْصٍ، أَنَّ عَبْدَ اللهِ كَانَ لاَ يَأْكُلُ طَعَامًا إِلاَّ وَعَلَى خِوَانِهِ يَتِيمٌ‏.‏ رواه البخاري في الأدب المفرد وصحَّحه الألباني.

Dari Abu Bakar bin Hafsh : Bahwasanya Abdullah bin Umar dahulu tidaklah beliau makan kecuali di atas mejanya makan beliau ada seorang anak yatim”. (HR. Bukhari di kitab Adabul Mufrad no. 136 dan dishahihkan oleh Syaikh Al Albani rahimahullahu ta’ala).
Al kharaaithiyyu meriwayatkan dalam kitab makarimul akhlak dari Naafi’, beliau berkata :

كَانَ ابْنُ عُمَرَ رَضِيَ اللّٰهُ عَنْهُمَا لَا يَأْكُلُ طَعَامًا إِلَّا وَعَلَى خِوَانِهِ أَيْتَامٌ.

“Dahulu Ibnu Umar tidaklah makan suatu makanan kecuali dimeja makan beliau ada beberapa anak yatim”. (Dikeluarkan oleh Al kharaaithiyyu dalam kitab makarimul akhlak no. 652)
Riwayat ini menunjukkan akan kesungguhan beliau dalam berbuat baik kepada anak-anak yatim dimana beliau tidaklah makan suatu makanan kecuali disitu ada mereka. Dan Allah berfirman :

وَيُطْعِمُونَ ٱلطَّعَامَ عَلَىٰ حُبِّهِۦ مِسْكِيْنًا وَيَتِيْمًا وَأَسِيْرًا

“Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim dan orang yang ditawan”. (Al-Insan : 8)
Dalam suatu kesempatan, mereka menyukai harta dan makanan namun disisi lain mereka mendahulukan hal itu kepada kecintaan Allah dari pada kecintaan diri-diri mereka sendiri dengan memberikan kepada orang-orang yang paling membutuhkan dari kalangan orang miskin, yatim dan tawanan. Mereka meniatkan wajah Allah dalam hal itu dengan memberikan infaq dan makanan kepada mereka. Bahkan mereka tidak sedikit menginginkan balasan mereka dan ucapan terima kasihnya mereka.
Anggaplah anak yatim sebagaimana keluarga sendiri


عَنْ حَمْزَةَ بْنِ نَجِيحٍ أَبِي عُمَارَةَ قَالَ‏:‏ سَمِعْتُ الْحَسَنَ يَقُولُ‏:‏ لَقَدْ عَهِدْتُ الْمُسْلِمِينَ، وَإِنَّ الرَّجُلَ مِنْهُمْ لَيُصْبِحُ فَيَقُولُ‏:‏ يَا أَهْلِيَهْ، يَا أَهْلِيَهْ، يَتِيمَكُمْ يَتِيمَكُمْ، يَا أَهْلِيَهْ، يَا أَهْلِيَهْ، مِسْكِينَكُمْ مِسْكِينَكُمْ، يَا أَهْلِيَهْ، يَا أَهْلِيَهْ، جَارَكُمْ جَارَكُمْ، وَأُسْرِعَ بِخِيَارِكُمْ وَأَنْتُمْ كُلَّ يَوْمٍ تَرْذُلُونَ‏.‏

Dari Hamzah bin Najih Abu Umaroh beliau berkata : Aku mendengar Al Hasan Al Bashri rahimahullahu ta’ala berkata : “Aku ingat suatu saat di antara kaum Muslimin ketika laki-laki mereka berteriak (untuk mengingatkan keluarga mereka), ‘Hai keluarga! Wahai keluarga! (Jagalah) anak yatim kalian! Yatim piatu kalian! Wahai keluarga! Setelah anak yatim kalian! Orang miskin kalian! Orang miskin kalian! Wahai keluarga! Wahai keluarga! (Jagalah) tetangga kalian! Waktu telah berlalu dengan cepat dalam mengambil yang terbaik dari kalian, sementara setiap hari kalian menjadi orang yang lebih rendah.” (HR. Bukhari di kitab Adabul Mufrad no. 139)
Yaitu seseorang memanggil keluarganya : Wahai keluarga! (Jagalah) anak yatim kalian! Yatim piatu kalian! Wahai keluarga!”. Berbuat baiklah kepada mereka, muliakanlah mereka dan berikan perhatian kalian kepada mereka. Dan ini adalah komando kepada siapapun yang dia jumpai. Mereka saling berwasiat agar memperhatikan anak-anak yatim, orang-orang miskin dan hak-hak para tetangga.
Di zaman para sahabat dahulu terdapat penerang dan pelita dalam hal kebaikan ini dan juga ada saling memerintah agar memiliki perhatian yang besar terhadap anak-anak yatim. Telah tetap beberapa sahabat dan shohabiat yang mereka menjadi penanggung jawab anak-anak yatim baik yang laki-laki maupun perempuan. Mereka mengumpulkan anak-anak yatim itu di rumah-rumah mereka, memiliki perhatian besar terhadap mereka, berbuat baik kepada mereka dan mereka (para sahabat dan shohabiat) menjadi tempat berlindungnya anak-anak yatim bahkan tempat terakhir dalam kebaikan. Demikian pula hal ini terjadi di kalangan para tabi’in dan pengikut mereka setelahnya. Wallahu a’lam bish-shawab.
Referensi :
Kitab Ahaditsul Akhlaq karya Syaikh Abdurrazzaq bin Abdil Muhsin Al Badr hafidzahullahu ta’ala, halaman 112-116.

Dari penjelasan diatas dapat disimpulkan terkait hukum menyantuni anak yatim dengan mengundang atau mengantarkan dan memajangkan atau menampakkan santunan anak Yatim dimuka umum jika ditinjau dari maqoshid assyariah adalah bergantung pada zaman, orangnya (anak yatim atau orang yang menyantuni ) situasi dan kondisi, motivasi dan tujuan. Artinya jika termotivasi (mendorong) orang lebih giat dalam menyantuni anak yatim maka hukumnya boleh dan tidak dilarang bahkan bisa menjadikan sebuah keharusan untuk syi’ar agar diikuti oleh orang lain agar gemar bersedekah, membesarkan hati mereka ( anak-anak yatim) bahwa penyantun menganggap sebagai anaknya sendiri. Begitu juga hal dengan menyantuni anak yatim dengan cara rahasia( diantar kan kerumah mereka ( anak yatim itupun juga boleh jika hawatir bisa mengakibatkan riya’ dll. Wal hasil kebolehan dan keutamaan menampakkan dan merahasiakan santunan ( sedekah ) kepada anak yatim ataupun kepada fakir miskin ditinjau dari maqoshid assyariah adalah bergantung pada zaman, orangnya (anak yatim atau orang yang menyantuni ) situasi dan kondisi, motivasi dan tujuan .Sebagaimana Firman Allah Ta’ala:


{إِنْ تُبْدُوا الصَّدَقَاتِ فَنِعِمَّا هِيَ وَإِنْ تُخْفُوهَا وَتُؤْتُوهَا الْفُقَرَاءَ فَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ وَيُكَفِّرُ عَنْكُمْ مِنْ سَيِّئَاتِكُمْ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ } [البقرة: 271]


“Jika kamu menampakkan sedekah(mu), maka itu adalah baik sekali. Dan jika kamu menyembunyikannya dan kamu berikan kepada orang-orang fakir, maka menyembunyikan itu lebih baik bagimu. Dan Allah akan menghapuskan dari kamu sebagian kesalahan-kesalahanmu; dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” QS. Al Baqarah: 271.

Al Khathib berkata terkait keutamaan antara sedekah terang-terangan dan sedekah secara tersembunyi:

: إِنْ كَانَ الْمُتَصَدِّقُ مِمَّنْ يُقْتَدَى بِهِ ، وَأَظْهَرَهَا لِيُقْتَدَى بِهِ مِنْ غَيْرِ رِيَاءٍ وَلاَ سُمْعَةٍ ، فَهُوَ أَفْضَل


Jika seorang yang bersedekah termasuk dari seorang yang dipanuti lalu ia memperlihatkannya agar diikuti tanpa ada perasaan riya’ dan sum’ah, maka ini lebih utama.” Lihat kitab Mughni Al Muhtaj, 3/121.

Allah Swt. berfirman bahwa demikianlah,

{وَمَنْ يُعَظِّمْ شَعَائِرَ اللَّهِ}

Dan barang siapa mengagungkan syiar-syiar Allah. (Al-Hajj: 32) Yakni perintah-perintah-Nya:

{فَإِنَّهَا مِنْ تَقْوَى الْقُلُوبِ}

maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati. (Al-Hajj: 32) . Wallahu A’lam bisshowab.

Kategori
Uncategorized

PERBEDAAN MENGHORMATI DAN AIB DALAM MENYANTUNI ANAK YATIM DAN FAKIR MISKIN

PERBEDAAN MENGHORMATI DAN AIB DALAM MENYANTUNI ANAK YATIM DAN FAKIR MISKIN

Assalamualaikum.

Sebelumnya mohon maaf kepada Kiyai dan Ust.

Langsung saja Saya bertanya

Apakah mendatangkan ( mengundang )orang fakir dan yatim sebuah aib atau menghormati dalam bersedekah?

Walaikum salam.

Jawaban
Mendatangkan ( mengundang ) anak-anak Yatim itu adalah merupakan penghormatan dan mengagungkan sebagai bentuk kepedulian terhadap mereka karena tanpa ada tujuan untuk menghormati tidaklah mungkin orang mengundangnya baik itu acara santunan ataupun yang lainnya, dan bukan untuk menampakkan aib. Maka sepantasnya jika seseorang dihormati maka seharusnya dia menghormati.( َمن عَظّمَ عُظّم )

Sedangkan aib sendiri dapat diartikan sebuah cela atau kondisi seseorang dilihat dari sisi keburukannya, atau hal yang tidak baik tentangnya.

الموسوعة الفقهية ص ٦٩٦٤
ب – التَّعْظِيمُ:
٣ – التَّعْظِيمُ: مَصْدَرُ عَظَّمَ، يُقَال: عَظَّمَهُ تَعْظِيمًا أَيْ: كَبَّرَهُ وَفَخَّمَهُ. وَالتَّعْظِيمُ يَكُونُ بِاعْتِبَارِ الْوَصْفِ وَالْكَيْفِيَّةِ، وَيُقَابِلُهُ التَّحْقِيرُ فِيهِمَا بِحَسَبِ الْمَنْزِلَةِ وَالرُّتْبَةِ

الموسوعة الفقهية ص ١٩٥٦٦
التَّعْرِيفُ:
١ – الْعَيْبُ لُغَةً: الْوَصْمَةُ وَالنَّقِيصَةُ، وَالْجَمْعُ أَعْيَابٌ وَعُيُوبٌ، وَرَجُلٌ عَيَّابٌ وَعَيَّابَةٌ وَعَيْبٌ: كَثِيرُ الْعَيْبِ، يُقَال: عَيَّبَ الشَّيْءَ فَعَابَ: إِذَا صَارَ ذَا عَيْبٍ فَهُوَ مَعِيبٌ، أَوْ هُوَ: مَا يَخْلُو عَنْهُ أَصْل الْفِطْرَةِ السَّلِيمَةِ. (١)
وَاصْطِلاَحًا يَخْتَلِفُ تَعْرِيفُ الْعَيْبِ بِاخْتِلاَفِ أَقْسَامِهِ، قَال النَّوَوِيُّ: حُدُودُهَا مُخْتَلِفَةٌ، فَالْعَيْبُ الْمُؤَثِّرُ فِي الْبَيْعِ الَّذِي يَثْبُتُ بِسَبَبِهِ الْخِيَارُ: هُوَ مَا نَقَصَتْ بِهِ الْمِلْكِيَّةُ أَوِ الرَّغْبَةُ أَوِ الْغَبْنُ، وَالْعَيْبُ فِي الْكَفَّارَةِ: مَا أَضَرَّ بِالْعَمَل ضَرَرًا بَيِّنًا، وَالْعَيْبُ فِي الأُْضْحِيَّةِ: هُوَ مَا نَقَصَ بِهِ اللَّحْمُ، وَالْعَيْبُ فِي النِّكَاحِ: مَا يُنَفِّرُ عَنِ الْوَطْءِ وَيَكْسِرُ ثَوْرَةَ التَّوَاقِ، وَالْعَيْبُ فِي الإِْجَارَةِ: مَا يُؤَثِّرُ فِي الْمَنْفَعَةِ تَأْثِيرًا يَظْهَرُ بِهِ تَفَاوُتُ الأُْجْرَةِ


Jadi sangat berbeda antara menghormati dan aib, karena aib berarti cela atau kondisi seseorang dilihat dari sisi keburukannya, sedangkan menghormati berarti mengagungkan memuliakan karena sebab adanya kelebihan atau kebaikan bukti bahwa anak yatim punya kelebihan dan keistimewaan dibandingkan dari yang lainnya disebutkan dalam sebuah hadits berikut yang berasal dari Musnad Ahmad, 7/36 berikut:

عَنْ أَبِي أُمَامَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ مَسَحَ رَأْسَ يَتِيمٍ لَمْ يَمْسَحْهُ إِلَّا لِلَّهِ كَانَ لَهُ بِكُلِّ شَعْرَةٍ مَرَّتْ عَلَيْهَا يَدُهُ حَسَنَاتٌ وَمَنْ أَحْسَنَ إِلَى يَتِيمَةٍ أَوْ يَتِيمٍ عِنْدَهُ كُنْتُ أَنَا وَهُوَ فِي الْجَنَّةِ كَهَاتَيْنِ وَفَرَّقَ بَيْنَ أُصْبُعَيْهِ السَّبَّابَةِ وَالْوُسْطَى

Artinya: Diriwayatkan dari Umamah, sesungguhnya Nabi bersabda: Barang siapa mengusap kepala yatim semata-mata karena Allah, maka setiap rambut yang ia usap memperoleh satu kebaikan. Barang siapa berbuat baik kepada yatim di sekitarnya, maka ia denganku ketika di surga seperti dua jari ini. Nabi menunjukkan dua jarinya; jari telunjuk dan jari tengahnya.

Secara tekstual hadits ini tidak menyebutkan secara spesifik harus diselenggarakan pada 10 Muharram, namun mengusap kepala yatim tetap dianjurkan kapan pun. Pertanyaannya mengapa yang dianjurkan adalah mengusap kepala anak yatim? Apa hikmahnya?

Dalam Kitab Majma’ Zawaid dijelaskan seperti ini:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَجُلًا شَكَا إِلَى رَسُولِ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – قَسْوَةَ قَلْبِهِ فَقَالَ: امْسَحْ رَأْسَ الْيَتِيمِ وَأَطْعِمِ الْمِسْكِينَ». رَوَاهُ أَحْمَدُ، وَرِجَالُهُ رِجَالُ الصَّحِيحِ.

Artinya: Diriwayatkan dari Abi Hurairah, sesungguhnya seseorang melaporkan kekerasan hatinya kepada Nabi Muhammad, lalu Nabi berpesan: Usaplah kepala yatim dan berilah makanan orang miskin (HR Ahmad, para perawinya sahih)

Dalam salah satu riwayat Thabrani dari Abu Darda’ memiliki pesan senada:

وَعَنْ أَبِي الدَّرْدَاءِ قَالَ: «أَتَى النَّبِيَّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – رَجُلٌ يَشْكُو قَسْوَةَ قَلْبِهِ، قَالَ: ” أَتُحِبُّ أَنْ يَلِينَ قَلْبُكَ وَتُدْرَكَ حَاجَتُكَ؟ ارْحَمِ الْيَتِيمَ، وَامْسَحْ رَأْسَهُ، وَأَطْعِمْهُ مِنْ طَعَامِكَ، يَلِنْ قَلْبُكَ وَتُدْرِكْ حَاجَتَكَ». رَوَاهُ الطَّبَرَانِيُّ وَفِي إِسْنَادِهِ مَنْ لَمْ يُسَمَّ، وَبَقِيَّةُ: مُدَلِّسٌ

Artinya: Diriwayatkan dari Abi Darda’, ia berkata: Seorang laki-laki sowan Rasulullah mengeluhkan kekerasan hatinya, lalu Rasulullah berpesan: Apakah kamu ingin hatimu lembut dan hajatmu terkabul? Sayangilah yatim, usaplah kepalanya, berilah ia makan dari makananmu, maka hatimu akan lembut dan hajatmu akan terkabul (HR Thabrani, sanadnya ada yang tidak disebutkan dan sebagian mudallis).

Kemudian dalam kitab Tanbihul Ghafilin bi-Ahaditsi Sayyidil Anbiya wal Mursalin karya Abullaits Assamarqandi (w. 373 H) menyebutkan besarnya pahala mengusap kepala yatim:

مَنْ صَامَ يَوْمَ عَاشُورَاءَ مِنَ الْمُحَرَّمِ أَعْطَاهُ اللَّهُ تَعَالَى ثَوَابَ عَشْرَةِ آلافِ مَلَكٍ ، وَمَنْ صَامَ يَوْمَ عَاشُورَاءَ مِنَ الْمُحَرَّمِ أُعْطِيَ ثَوَابَ عَشْرَةِ آلَافِ حَاجٍّ وَمُعْتَمِرٍ وَعَشْرَةِ آلافِ شَهِيدٍ ، وَمَنْ مَسَحَ يَدَهُ عَلَى رَأْسِ يَتِيمٍ يَوْمَ عَاشُورَاءَ رَفَعَ اللَّهُ تَعَالَى لَهُ بِكُلِّ شَعْرَةٍ دَرَجَةً

Artinya: Barang siapa berpuasa para hari Asyura (tanggal 10) Muharram, niscaya Allah akan memberikan seribu pahala malaikat dan pahala 10.000 pahala syuhada’. Dan barang siapa mengusap kepala yatim pada hari Asyura, niscaya Allah mengangkat derajatnya pada setiap rambut yang diusapnya.

Dari beberapa redaksi Hadits di atas, yang juga terdapat dalam kitab ulama, dapat disimpulkan bahwa hikmah mengusap kepala yatim adalah membentuk kasih sayang dan kepedulian kepada mereka. Di sisi lain, yatim merindukan belaian kasih sayang ayahnya. Sehingga dari pertemuan itu akan mengubah hati yang keras menjadi lembut dan doa terkabulkan.

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم من مسح رأس اليتيم رحمة كتب الله له بكل شعرة مرت عليها يده حسنة ومحا عنه بكل شعرة سيئة ورفع له بكل شعرة درجة .

Barang siapa yang mengusap kepala anak yatim karena belas kasihan maka setiap sehelai rambut yang berjan tangannya diatas kepalanya ( yang diusap) adalah satu kebaikan dan Allah menghapus satu kejelekan dan Allah mengangkat setiap satu helai rambut satu derajat ( Alhadits )

Dengan demikian tujuan mengundang anak-anak yatim bukan untuk menampakkan aib, atau menjadi Aib yang berarti menampakkan cela keburukan, melainkan tujuannya adalah menghormati, memuliakan sebagai bentuk kepedulian terhadap mereka agar tidak menjadi aib sedangkan agama memberi kebebasan dalam bersedekah baik dengan cara mendatangkan atau mendatangi.

Jadi, cara kita memberikan makanan kepada orang miskin dan anak yatim itu bebas, terserah kita baik dengan cara kita mendatangi orang miskin dan anak yatim, atau dengan cara anak yatim itu kita undang ke rumah kita , yang terpenting semata didasarkan atas niatan ihlas semata untuk memperoleh ridho Allah SWT.

Mengajak ( mengundang )anak yatim dalam acara makan berikut penjelasannya:

عَنِ الْحَسَنِ، أَنَّ يَتِيمًا كَانَ يَحْضُرُ طَعَامَ ابْنِ عُمَرَ، فَدَعَا بِطَعَامٍ ذَاتَ يَوْمٍ، فَطَلَبَ يَتِيمَهُ فَلَمْ يَجِدْهُ، فَجَاءَ بَعْدَ مَا فَرَغَ ابْنُ عُمَرَ، فَدَعَا لَهُ ابْنُ عُمَرَ بِطَعَامٍ، لَمْ يَكُنْ عِنْدَهُمْ، فَجَاءَه بِسَوِيقٍ وَعَسَلٍ، فَقَالَ‏:‏ دُونَكَ هَذَا، فَوَاللَّهِ مَا غُبِنْتَ يَقُولُ الْحَسَنُ‏:‏ وَابْنُ عُمَرَ وَاللَّهِ مَا غُبِنَ‏.‏


Dari Al-Hasan Al Bashri bahwasanya seorang yatim piatu biasa hadir makan bersama Ibnu ‘Umar. Suatu hari dia meminta makanan dan dia mencari anak yatim ini tetapi tidak dapat menemukannya. Dia tiba setelah Ibnu ‘Umar selesai. Ibnu ‘Umar meminta lebih banyak makanan untuk dibawakan kepadanya tetapi mereka tidak memilikinya. Maka ia dibawakan sawiq dan madu. Dia berkata, “Ini, ambil ini! Demi Allah, kamu tidak tertipu!” Al-Hasan berkata, “Demi Allah, Ibnu ‘Umar tidak tertipu!”. (HR. Ahmad dalam kitab Az-zuhdu no. 1051 dan Bukhari di kitab Adabul Mufrad no. 134)
Riwayat ini memberikan faedah bahwa Ibnu Umar selalu bersemangat di dalam menghadirkan anak yatim pada waktu beliau makan. Jika sudah waktunya maka maka beliau mencarinya, sebagaimana faidah ini di dapat pada ucapan beliau (Al Hasan) :
“… dia mencari anak yatim ini tetapi tidak dapat menemukannya”.
Si yatim ini pun datang setelah Ibnu Umar selesai dari makannya. Dan Ibnu Umar meminta makan yang lain buatnya namun sudah tidak ada. Makanan yang tadi dihidangkan sudah habis dan akhirnya beliau membawa sawiq dan ‘asal (madu) dan memberikannya kepada si yatim.
Dan beliau berkata : “Ini, ambil ini! Demi Allah, kamu tidak tertipu!” Maksudnya adalah kamu tidak rugi dengan tidak makan bersama kami, bahkan makanan yang ini adalah makanan yang baik.
Perkataan Al-Hasan Al Bashri, “Demi Allah, Ibnu ‘Umar tidak tertipu!” Artinya beliau mendapatkan keuntungan yang besar karena telah berbuat baik kepada si yatim ini. Dan ini adalah kebiasaan Ibnu Umar yang mana beliau tidak makan kecuali menghadirkan anak yatim dalam makan beliau.


عَنْ أَبِيْ بَكْرِ بْنُ حَفْصٍ، أَنَّ عَبْدَ اللهِ كَانَ لاَ يَأْكُلُ طَعَامًا إِلاَّ وَعَلَى خِوَانِهِ يَتِيمٌ‏.‏ رواه البخاري في الأدب المفرد وصحَّحه الألباني.


Dari Abu Bakar bin Hafsh : Bahwasanya Abdullah bin Umar dahulu tidaklah beliau makan kecuali di atas mejanya makan beliau ada seorang anak yatim”. (HR. Bukhari di kitab Adabul Mufrad no. 136 dan dishahihkan oleh Syaikh Al Albani rahimahullahu ta’ala).
Al kharaaithiyyu meriwayatkan dalam kitab makarimul akhlak dari Naafi’, beliau berkata :


كَانَ ابْنُ عُمَرَ رَضِيَ اللّٰهُ عَنْهُمَا لَا يَأْكُلُ طَعَامًا إِلَّا وَعَلَى خِوَانِهِ أَيْتَامٌ.


“Dahulu Ibnu Umar tidaklah makan suatu makanan kecuali dimeja makan beliau ada beberapa anak yatim”. (Dikeluarkan oleh Al kharaaithiyyu dalam kitab makarimul akhlak no. 652)
Riwayat ini menunjukkan akan kesungguhan beliau dalam berbuat baik kepada anak-anak yatim dimana beliau tidaklah makan suatu makanan kecuali disitu ada mereka. Dan Allah berfirman :


وَيُطْعِمُونَ ٱلطَّعَامَ عَلَىٰ حُبِّهِۦ مِسْكِيْنًا وَيَتِيْمًا وَأَسِيْرًا


“Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim dan orang yang ditawan”. (Al-Insan : 8)
Dalam suatu kesempatan, mereka menyukai harta dan makanan namun disisi lain mereka mendahulukan hal itu kepada kecintaan Allah dari pada kecintaan diri-diri mereka sendiri dengan memberikan kepada orang-orang yang paling membutuhkan dari kalangan orang miskin, yatim dan tawanan. Mereka meniatkan wajah Allah dalam hal itu dengan memberikan infaq dan makanan kepada mereka. Bahkan mereka tidak sedikit menginginkan balasan mereka dan ucapan terima kasihnya mereka.

Anggaplah anak yatim sebagaimana keluarga sendiri

عَنْ حَمْزَةَ بْنِ نَجِيحٍ أَبِي عُمَارَةَ قَالَ‏:‏ سَمِعْتُ الْحَسَنَ يَقُولُ‏:‏ لَقَدْ عَهِدْتُ الْمُسْلِمِينَ، وَإِنَّ الرَّجُلَ مِنْهُمْ لَيُصْبِحُ فَيَقُولُ‏:‏ يَا أَهْلِيَهْ، يَا أَهْلِيَهْ، يَتِيمَكُمْ يَتِيمَكُمْ، يَا أَهْلِيَهْ، يَا أَهْلِيَهْ، مِسْكِينَكُمْ مِسْكِينَكُمْ، يَا أَهْلِيَهْ، يَا أَهْلِيَهْ، جَارَكُمْ جَارَكُمْ، وَأُسْرِعَ بِخِيَارِكُمْ وَأَنْتُمْ كُلَّ يَوْمٍ تَرْذُلُونَ‏.‏


Dari Hamzah bin Najih Abu Umaroh beliau berkata :
Aku mendengar Al Hasan Al Bashri rahimahullahu ta’ala berkata : “Aku ingat suatu saat di antara kaum Muslimin ketika laki-laki mereka berteriak (untuk mengingatkan keluarga mereka), ‘Hai keluarga! Wahai keluarga! (Jagalah) anak yatim kalian! Yatim piatu kalian! Wahai keluarga! Setelah anak yatim kalian! Orang miskin kalian! Orang miskin kalian! Wahai keluarga! Wahai keluarga! (Jagalah) tetangga kalian! Waktu telah berlalu dengan cepat dalam mengambil yang terbaik dari kalian, sementara setiap hari kalian menjadi orang yang lebih rendah.” (HR. Bukhari di kitab Adabul Mufrad no. 139)
Yaitu seseorang memanggil keluarganya : Wahai keluarga! (Jagalah) anak yatim kalian! Yatim piatu kalian! Wahai keluarga!”. Berbuat baiklah kepada mereka, muliakanlah mereka dan berikan perhatian kalian kepada mereka. Dan ini adalah komando kepada siapapun yang dia jumpai. Mereka saling berwasiat agar memperhatikan anak-anak yatim, orang-orang miskin dan hak-hak para tetangga.
Di zaman para sahabat dahulu terdapat penerang dan pelita dalam hal kebaikan ini dan juga ada saling memerintah agar memiliki perhatian yang besar terhadap anak-anak yatim. Telah tetap beberapa sahabat dan shohabiat yang mereka menjadi penanggung jawab anak-anak yatim baik yang laki-laki maupun perempuan. Mereka mengumpulkan anak-anak yatim itu di rumah-rumah mereka, memiliki perhatian besar terhadap mereka, berbuat baik kepada mereka dan mereka (para sahabat dan shohabiat) menjadi tempat berlindungnya anak-anak yatim bahkan tempat terakhir dalam kebaikan. Demikian pula hal ini terjadi di kalangan para tabi’in dan pengikut mereka setelahnya.

Referensi :
Kitab Ahaditsul Akhlaq karya Syaikh Abdurrazzaq bin Abdil Muhsin Al Badr hafidzahullahu ta’ala, halaman 112-116.


تفسير الجلالين : معنى و تأويل الآية ٨

{ وَيُطْعِمُونَ الطَّعَامَ عَلَىٰ حُبِّهِ مِسْكِينًا وَيَتِيمًا وَأَسِيرًا}
[ سورة الإنسان: ٨]
 الآية السابقة
آية رقم ٨ 

«ويطعمون الطعام على حبه» أي الطعام وشهوتهم له «مسكينا» فقيرا «ويتيما» لا أب له «وأسيرا» يعني المحبوس بحق.
تفسير السعدي : ويطعمون الطعام على حبه مسكينا ويتيما وأسيرا

{ وَيُطْعِمُونَ الطَّعَامَ عَلَى حُبِّهِ }- أي: وهم في حال يحبون فيها المال والطعام، لكنهم قدموا محبة الله على محبة نفوسهم، ويتحرون في إطعامهم أولى الناس وأحوجهم { مِسْكِينًا وَيَتِيمًا وَأَسِيرًا } .
تفسير البغوي : مضمون الآية 8 من سورة الإنسان

“ويطعمون الطعام على حبه”، أي على حب الطعام وقلته وشهوتهم له وحاجتهم إليه.
وقيل: على حب الله عز وجل، “مسكيناً”، فقيراً لا مال له، “ويتيماً”، صغيراً لا أب له “وأسيراً”، قال مجاهد وسعيد بن جبير وعطاء: هو المسجون من أهل القبلة.
وقال قتادة: أمر الله بالأسراء أن يحسن إليهم، وإن أسراهم يومئذ لأهل الشرك.
وقيل: الأسير المملوك.
وقيل: المرأة، لقول النبي صلى الله عليه وسلم: “اتقوا الله في النساء فإنهن عندكم عوان” أي أسراء.
واختلفوا في سبب نزول هذه الآية، قال مقاتل: نزلت في رجل من الأنصار أطعم في يوم واحد مسكيناً ويتيماً وأسيراً.
وروى مجاهد وعطاء عن ابن عباس: أنها نزلت في علي بن أبي طالب رضي الله عنه، وذلك أنه عمل ليهودي بشيء من شعير، فقبض الشعير فطحن ثلثه فجعلوا منه شيئاً ليأكلوه، فلما تم إنضاجه أتى مسكين فسأل فأخرجوا إليه الطعام، ثم عمل الثلث الثاني فلما تم إنضاجه أتى يتيم فسأل فأطعموه، ثم عمل الثلث الباقي فلما تم إنضاجه أتى أسير من المشركين، فسأل فأطعموه، وطووا يومهم ذلك: وهذا قول الحسن وقتادة، أن الأسير كان من أهل الشرك، وفيه دليل على أن إطعام الأسارى، وإن كانوا من أهل الشرك، حسن يرجى ثوابه.
التفسير الوسيط : ويستفاد من هذه الآية

ثم وصفهم- سبحانه – بصفات أخرى فقال: وَيُطْعِمُونَ الطَّعامَ عَلى حُبِّهِ مِسْكِيناً وَيَتِيماً وَأَسِيراً.
أى: أن هؤلاء الأبرار من صفاتهم- أيضا أنهم يطعمون الطعام مع حب هذا الطعام لديهم، ومع حاجتهم إليه واشتهائهم له.

ومع كل ذلك فهم يقدمونه للمسكين، وهو المحتاج إلى غيره لفقره وسكونه عن الحركة..ولليتيم: وهو من فقد أباه وهو صغير، وللأسير: وهو من أصبح أمره بيد غيره.
وخص الإطعام بالذكر: لما في تقديمه من كرم وسخاء وإيثار، لا سيما مع الحاجة إليه، كما يشعر به قوله-تبارك وتعالى- عَلى حُبِّهِ أى: على حبهم لذلك الطعام، وقيل الضمير في قوله عَلى حُبِّهِ يعود إلى الله- عز وجل – أى: يطعمون الطعام على حبهم له-تبارك وتعالى-.

Dalil Aib dalam al-Qur’an

Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an surat An-Nur ayat 19 tentang perintah menutup aib sesama:

إِنَّ ٱلَّذِينَ يُحِبُّونَ أَن تَشِيعَ ٱلْفَٰحِشَةُ فِى ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ فِى ٱلدُّنْيَا وَٱلْءَاخِرَةِ ۚ وَٱللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

Artinya: Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar (berita) perbuatan yang amat keji itu tersiar di kalangan orang-orang yang beriman, bagi mereka azab yang pedih di dunia dan di akhirat. Dan Allah mengetahui, sedang, kamu tidak mengetahui.

Namun jika ditinjau dari sudut padang keutamaannya mungkin berbeda antara mendatangkan dan mendatangi  menarik untuk dicermati. Kita harus mengakui perubahan norma sosial yang terjadi di masyarakat. Kalau dulu masyarakat hampir tidak mempermasalahkan pemberian santunan yatim di muka umum, hari ini nilai sosial itu bergeser. Masyarakat–meski tidak semua–mempersoalkan pemberian santunan yatim dan dhuafa di muka umum.

Dalam Islam, masalah ini juga pernah didiskusikan oleh ulama. Masalah ini diangkat dalam kaitannya dengan keutamaan amal ibadah atau amal saleh yang dilakukan secara terbuka atau dilakukan secara tersembunyi.

Imam Al-Ghazali menjadikan tindakan yang menyakitkan atau mengganggu sebagai tolok ukur atas kebolehan amal saleh dan amal ibadah yang dilakukan secara tersembunyi atau dilakukan secara terang-terangan. Sejauh tidak menyakiti penerima santunan, pemberian santunan dapat dilakukan secara terbuka atau terang-terangan.

وأما ما يمكن إسراره كالصدقة والصلاة فإن كان إظهار الصدقة يؤذي المتصدق عليه ويرغب الناس في الصدقة فالسر أفضل لأن الإيذاء حرام


Artinya, “Adapun amal ibadah yang dapat dilakukan secara sembunyi seperti sedekah dan shalat, jika sedekah terang-terangan (di muka umum) menyakiti orang yang menerima sedekah dan itu dapat memotivasi orang lain untuk sedekah, maka amal secara sembunyi lebih utama karena tindakan menyakitkan (meski dengan niat baik) diharamkan,” (Imam Al-Ghazali, Ihya Ulumiddin, [Beirut, Darul Fikr: 2018 M/1439-1440 H], juz III, halaman 325).

Imam Al-Ghazali sangat memperhatikan sejauh mana dampak mafsadat suatu perbuatan. Sedekah atau amal saleh lainnya–meski dilakukan dengan niat baik–dapat diharamkan jika berdampak pada kezaliman atau berdampak pada adanya orang yang tersakiti atau terganggu.

Imam Al-Ghazali juga mengutip hadits riwayat berikut ini sebagai keutamaan amal ibadah yang dilakukan secara tersembunyi.


وقد روي في الحديث إِنَّ عَمَلَ السِّرِّ يُضَاعَفُ عَلَى عَمَل ِالعَلَانِيَةِ سَبْعِيْنَ ضِعْفًا وَيُضَاعَفُ عَمَلُ العَلَانِيَةِ إِذَا اسْتُنَّ بِعَامِلِهِ عَلَى عَمَلِ السِّرِّ سَبْعِيْنَ ضِعْفًا

Artinya, “Dalam hadits diriwayatkan, Rasulullah saw bersabda, ‘Amal ibadah secara sembunyi dilipatgandakan 70 kali lipat dibanding amal ibadah terang-terangan. Sedangkan amal ibadah secara terang-terangan yang dijadikan teladan dilipatgandakan 70 kali lipat dibanding amal ibadah secara sembunyi,’” (HR Al-Baihaqi).

Disebutkan Dalam sebuah hadits dari Jabir bin Abdillah radhiyallahu anhuma.Beliau berkata:

أَمْرَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ كُلِّ جَادٍّ بِعَشَرَةِ أَوْسُقٍ مِنْ تَمْرٍ، ‌بِقِنْوٍ ‌يُعَلَّقُ فِي الْمَسْجِدِ لِلْمَسَاكِينِ

“Nabi shallallahu‘alaihi wasallam memerintahkan dari setiap buah yang berjumlah sepuluh wasaq kurma (hasil panen) diambil satu tandan dan digantungkan di masjid untuk orang-orang miskin.”
(HR. Ahmad: 14867, Abu Dawud: 1662 dan Musnad Abi Ya’la: 2038 (4/34). Isnad-nya di-jayyid-kan oleh Ibnu Katsir dalam Tafsirnya: 3/348. Di-shahih-kan oleh al-Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud: 1465).
Al-Bara’ bin Azib radhiyallahu anhu berkata:

كُنَّا أَصْحَابَ نَخْلٍ فَكَانَ الرَّجُلُ يَأْتِي مِنْ نَخْلِهِ عَلَى قَدْرِ كَثْرَتِهِ وَقِلَّتِهِ، وَكَانَ الرَّجُلُ يَأْتِي بِالقِنْوِ وَالقِنْوَيْنِ فَيُعَلِّقُهُ فِي المَسْجِدِ، ‌وَكَانَ ‌أَهْلُ ‌الصُّفَّةِ ‌لَيْسَ ‌لَهُمْ ‌طَعَامٌ، فَكَانَ أَحَدُهُمْ إِذَا جَاعَ أَتَى القِنْوَ فَضَرَبَهُ بِعَصَاهُ فَيَسْقُطُ مِنَ البُسْرِ وَالتَّمْرِ فَيَأْكُلُ، وَكَانَ نَاسٌ مِمَّنْ لَا يَرْغَبُ فِي الخَيْرِ يَأْتِي الرَّجُلُ بِالقِنْوِ فِيهِ الشِّيصُ وَالحَشَفُ وَبِالقِنْوِ قَدْ انْكَسَرَ فَيُعَلِّقُهُ»، فَأَنْزَلَ اللَّهُ تَبَارَكَ تَعَالَى: {يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَنْفِقُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا كَسَبْتُمْ وَمِمَّا أَخْرَجْنَا لَكُمْ مِنَ الأَرْضِ وَلَا تَيَمَّمُوا الخَبِيثَ مِنْهُ تُنْفِقُونَ وَلَسْتُمْ بِآخِذِيهِ إِلَّا أَنْ تُغْمِضُوا فِيهِ} [البقرة: ٢٦٧]

“Kami adalah petani kurma, setiap orang datang membawa hasil kurmanya sesuai banyak sedikitnya, seseorang datang membawa setangkai atau dua tangkai lalu menggantungkannya di masjid, sementara penghuni halaman masjid (ahlush shuffah) tidak memiliki makanan, jika salah seorang dari mereka merasa lapar, mereka datang ke tangkai-tangkai kurma dan memukulnya dengan tongkat hingga busr (kurma muda) dan kurma berjatuhan, lalu mereka memakannya, sedangkan orang-orang yang tidak menghendaki kebaikan, datang dengan membawa satu tangkai kurma yang keras lagi jelek dan satu tangkai yang sudah rusak, kemudian digantungkan di masjid, maka Allah Tabaraka wa Ta’ala menurunkan ayat: “Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (di jalan Allah) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang kami keluarkan dari bumi untuk kamu. dan janganlah kamu memilih yang buruk-buruk lalu kamu menafkahkan daripadanya, padahal kamu sendiri tidak mau mengambilnya melainkan dengan memincingkan mata terhadapnya.” (QS.Al-Baqarah: 267).” (HR. At-Tirmidzi: 2987 dan ia berkata hasan shahih dan Ibnu Abi Syaibah dalam al-Mushannaf: 11099 (6/419). Di-hasan-kan pula oleh Muqbil dalam ash-Shahih al-Musnad: 138 (1/119)).
Al-Imam Ibnu Rajab al-Hanbali (wafat tahun 795 H) rahimahullah berkata:

والظاهر من أهل الصفة: أنهم كانوا يأكلون في المسجد، وقد سبق حديث البراء بن عازب أنهم كانوا إذا جاعوا ضربوا ‌القنو المعلق في المسجد للصدقة فأكلوا منه

“Yang jelas dari Ahlus Shuffah adalah bahwa mereka makan di masjid. Dan telah berlalu hadits al-Bara’ bin Azib radhiyallahu anhu bahwa mereka jika lapar memukul tandan kurma sedekah yang tergantung di masjid, lalu mereka memakannya.” (Fathul Bari li Ibni Rajab: 3/163).


. بغية المسترشدين ص : ٦٥ دار الفكر
(مسئلة ب) يجوز للقيم شراء عبد للمسجد ينتفع به لنحو نزح إن تعينت المصلحة فى ذلك.
إذ المدار كله من سائر الأولياء عليها نعم لا نرى للقيم وجها فى تزويج العبد المذكور كولى اليتيم إلا أن يبعه بالمصلحة فيزوجه مشتريه ثم يرد للمسجد بنحو بيع مراعيا فى ذلك المصلحة ويجوز بل يندب للقيم أن يفعل ما يعتاد فى المسجد من قهوة ودخون ونحوهما مما يرغب نحو المصلين وإن لم يعتد قبل إذا زاد على عمارته
. فتح الاله المنان للشيخ سالم بن سعيد بكير باغيثان الشافعي ص : ١٥٠
سئل رحمه الله تعالى عن رجل وقف اموالا كثيرة على مصالح المسجد الفلاني وهو الان معمور وفي خزنة المسجد من هذا الوقف الشئ الكثير فهل يجوز اخراج شئ من هذا الوقف لاقامة وليمة مثلا يوم الزينة ترغيبا للمصلين المواظبين ؟ فا جاب الحمد لله والله الموافق للصواب الموقوف على مصالح المساجد كما في مسئلة السؤال يجوز الصرف فيه البناء والتجصيص المحكم و في أجرة القيم والمعلم والامام والحصر والدهن وكذا فيما يرغب المصلين من نحو قهوة وبخور يقدم من ذلك الاهم فالاهم وعليه فيجوز الصرف في مسئلة السؤال لما ذكره السائل اذافضل عن عمارته ولم يكن ثم ما هو اهم منه من المصالح اهـ
المساجد بيوت الله ص ١١٠-١١١
(باب: القسمة وتعليق القنو في المسجد)
ثم ذكر حديث أنس -رضي الله عنه -قال: «أتي النبي- صلى الله عليه وسلم -بمال من البحرين، فقال: (انثروه في المسجد) وكان أكثر مال أُتِيَ به رسول الله -صلى الله عليه وسلم- فخرج رسول الله- صلى الله عليه وسلم -ولم يلتفت إليه، فلما قضى الصلاة جاء فجلس إليه، فما كان يرى أحدًا إلا أعطاه، فما قام رسول الله – صلى الله عليه وسلم – وثم منه درهم» (٢)
ففي هذا الحديث جواز تفريق المال في المسجد، بشرط ألاَّ يشغل المصلِّين، ولا يحصل فيه ازدحام وهيشات أصوات، فإن تيسَّر تفريقه في غير المسجد فهو أولى، ومثله تفريق الزكوات وصدقة الفطر، يجوز في المساجد عند الحاجة. (٣)
قال الخطابي: كره بعض السلف المسألة في المسجد، وكان بعضهم لا يرى أن يتصدق أحد على السائل المعترض في المسجد. ا. هـ (٢)
بل يقال: إذا مُنع الرجل أن ينشد ضالته في المسجد ,رغم كونه يبحث عن شيء هو يملكه؛ لئلا يشوِّش على المصلِّين، فإنه يُمنع من المسألة في المسجد؛ لأنها مثله وأولى. (٣)
وممَّا يتعلق بهذه الفائدة:
سؤال الصدقات وقت خطبة الجمعة: حيث ترى خادم المسجد يمر بالصندوق وقت الخطبة على الناس ليتصدقوا , وهذا بلا شك يشوِّش على الناس حال سماع الخطبة، كما أنه يتسبب في إبطال جمعة من يمر بهذا الصندوق، فقد قال النبي – صلى الله عليه وسلم-: “مَنْ مَسَّ الْحَصَى فَقَدْ لَغَا”. (٤)، وقال النبي – صلى الله عليه وسلم – “وَمَنْ لَغَا وَتَخَطَّى رِقَابَ النَّاسِ كَانَتْ لَهُ ظُهْرًا” (٥)
(١) أخرجه مسلم في الصحيح (١٠٢٨)، دون قول أبي بكر – رضي الله عنه – دخلت المسجد ….. ، وهي زيادة ضعيفة، في سندها مبارك بن فضالة، وهو مدلس وقد عنعنه.
(٢) ذكره البخاري (٤٢١) معلقاً بصيغة الجزم ووصله ابن حجر في التغليق (٢/ ٢٢٧)
(٣) انظر المجموع (٢/ ١٧٦) وفصول ومسائل تتعلق بالمساجد لابن جبرين (ص/٤٤)

Kategori
Uncategorized

APAKAH MINIMALNYA SUCI 15 HARI DIANTARA DUA KALI HAID DIHITUNG HARINYA SAJA ATAUKAH DENGAN JAMNYA ?

APAKAH MINIMALNYA SUCI 15 HARI DIANTARA DUA HAID HANYA DIHITUNG HARI ATAUKAH HARUS DENGAN JAM , ( SEHARI 24 jm x 15 =360 )

Assalamualaikum

Deskripsi masalah

Dalam satu bulan perempuan yang normal itu mesti tidak terlepas dari suci dan haid. Namun demikian terkadang terjadi bagi perempuan suci dari dua haid artinya dalam satu bulan haid dua kali

Contoh: Tgl 1,2,3,4,5,6,7 haid kemudian tgl 8,9,10,11,12,13,14,15, 16,17, 19,20, 21, 22, suci nah tgl 23 keluar sampai tgl 28 .baru sucinya tgl 29.30.

Catatan
-Tgl 1-7 haid yang pertama dalam satu bulan.
-tgl 23- 28 adalah haid yang kedua dalam satu bulan.
Yang menjadi persoalan ketika tgl 8 sucinya mulai jm 3 sedangkan tgl 23 baru keluar lagi. Artinya masa suci dari tgl 8 jika di hitung sampai tgl 22 menjadi 15 hari 15 mlm X 24 jam = 360 jam.

Pertanyaannya

Apakah minimalnya suci 15 hari diantara dua kali haid dihitung harinya saja ataukah dengan jamnya? Semisal tgl 1-7 haid sedangkan tgl 8 jm 3 suci kemudian keluar darah lagi pada tgl 23 apa darah itu dihukumi haid ataukah dinamakan istihadlah karena tgl 8 jam 3 sore suci hingga tanggal22 . Sementara Tgl 23 jam 10 pagi keluar darah masih 355 jam blm sampai 360 jam ?

Waalikum salam.
Jawaban

Dalam sehari semalam terdapat 24 jam, dan Sistem 24-jam itu adalah standar waktu di mana hari dimulai dari tengah malam hingga tengah malam dan dibagi menjadi 24 jam, ditunjukkan oleh jam yang berlalu sejak tengah malam, dari 0 hingga 23. Maka sehari semalam itulah 24 jam paling sedikitnya satu kali haid sedangkan paling sedikitnya suci diantara dua haid adalah 15 hari sedangkan maksimalnya tidak ada batasan melainkan melainkan dikondisikan maka berbeda dengan satu haid yaitu hanya 15 hari maka andaikan dihitung dengan jam 15 hari dan malam itu berarti 360 jam.
Sedangkan dalam kasus diatas adalah lebih mengingat tgl 8 itu dimulai jm 12 malam yang mana masih berdarah dari jm 12 sampai jm 2 lewat siang.
Dengan demikian jm 12 malam sampai jm 2 lebih siang itu adalah istihadhih.

Sementara permulaan dari suci adalah dihitung dari jam 3 siang tgl 8 suci sampai tgl 22, maka jika dijumlah menjadi 355 jm masih kurang 5 jam lagi, maka tgl 23 itu adalah istihadhoh karena untuk mencapai 360 jm, harus dikmalkan 5 jam menjadi lima 15 hari . Dalam arti walaupun sampai 15 hari akan tetapi harus tetap disesuaikan dengan 24 jam satu hari satu malam dari permulaannya haid, sehingga untuk mencapai 360 jm 15 harus dikmalkan .

Dengan kata lain walaupun jumlah harinya yang diatas telah sampai 15 hari namun belum memenuhi ukuran jumlah 360 jm, maka sehingga harus ( diikmalkan ) ditambah kan jamnya.

Dengan demikian dapat disimpulkan tgl 23 keluarnya darah itu bukan darah haid melainkan darah Istihadhoh, karena keluarnya darah keluar dalam masa suci yang dikmalkan hitungan tgl 8 jm 3 hingga hitungan 15 masuk pada tgl 23 masa suci, sedangkan hitungan 15 hari harus dilihat dari sudut pandang jam permulaannya dalam masalah haid bukan hanya dilihat dari segi hitungan harinya saja.Wallahu A’lam bish-shawab.

حاشية الجمل على شرح المنهاج ص٢٣٦

(وَأَقَلُّهُ)

زَمَنًا (يَوْمٌ وَلَيْلَةٌ) أَيْ قَدْرُهُمَا مُتَّصِلًا وَهُوَ أَرْبَعٌ وَعِشْرُونَ سَاعَةً (وَأَكْثَرُهُ) زَمَنًا (خَمْسَةَ عَشَرَ يَوْمًا بِلَيَالِيِهَا) وَإِنْ لَمْ تَتَّصِلْ وَغَالِبُهُ سِتَّةٌ أَوْ سَبْعَةٌ كُلُّ ذَلِكَ بِالِاسْتِقْرَاءِ مِنْ الْإِمَامِ الشَّافِعِيِّ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – (كَأَقَلَّ) زَمَنِ (طُهْرٍ بَيْنَ) زَمَنَيْ (حَيْضَتَيْنِ) فَإِنَّهُ خَمْسَةَ عَشَرَ بِلَيَالِيِهَا لِأَنَّ الشَّهْرَ لَا يَخْلُو غَالِبًا عَنْ حَيْضٍ وَطُهْرٍ وَإِذَا كَانَ أَكْثَرُ الْحَيْضِ خَمْسَةَ عَشَرَ لَزِمَ أَنْ يَكُونَ أَقَلُّ الطُّهْرِ كَذَلِكَ وَخَرَجَ بِبَيْنَ الْحَيْضَتَيْنِ الطُّهْرُ بَيْنَ حَيْضٍ وَنِفَاسٍ فَإِنَّهُ يَجُوزُ أَنْ يَكُونَ أَقَلَّ مِنْ ذَلِكَ تَقَدَّمَ أَوْ تَأَخَّرَ كَمَا سَيَأْتِي (وَلَا حَدَّ لِأَكْثَرِهِ) أَيْ الطُّهْرِ بِالْإِجْمَاعِ وَغَالِبُهُ بَقِيَّةُ الشَّهْرِ بَعْدَ غَالِبِ الْحَيْضِ.

contoh dalam ibaroh berikut:

بغية المسترشدين في تلخيص فتاوى بعض الأئمة من العلماء المتأخرين – (ص ٣١)


(مسألة ي)

رأت دما يصلح حيضا بأن زاد على يوم وليلة ونقص عن خمسة عشر ونقاء دون خمسة عشر لكن لو اجتمع مع الدم زاد عليها ثم دما، فالأول حيض وما يكمل الطهر من العائد دم فساد والزائد حيض بشرطه ما لم يجاوز أكثره والا فتأخذ المبتدأة غير مميزة من أول الزائد يوما وليلة وتطهر تسعة وعشرين، والمعتادة عادتها حيضا وطهرا.

الابانة والافاضة – (ص ٣٥-٣٦)
فحكم بأنه حيض إذا أتاها بعد طهر خمسة عشر فأكثر، وإلا بأن أتى قبله فيعد هذا الدم دم فساد فكمل أقل الطهر وما زاد فهو حيض جديد.
فتح القريب المجيب – (ج ١ /ص ٦١)
(ﻭﺃﻗﻞ اﻟﺤﻴﺾ) ﺯﻣﻨﺎ (ﻳﻮﻡ ﻭﻟﻴﻠﺔ)، ﺃﻱ ﻣﻘﺪاﺭ ﺫﻟﻚ، ﻭﻫﻮ ﺃﺭﺑﻌﺔ ﻭﻋﺸﺮﻭﻥ ﺳﺎﻋﺔ ﻋﻠﻰ اﻻﺗﺼﺎﻝ اﻟﻤﻌﺘﺎﺩ ﻓﻲ اﻟﺤﻴﺾ. (ﻭﺃﻛﺜﺮﻩ ﺧﻤﺴﺔ ﻋﺸﺮ ﻳﻮﻡا) ﺑﻠﻴﺎﻟﻬﺎ.

Kategori
Uncategorized

HUKUMNYA ORANG TUA MENGGUNAKAN/MEMAKAN HARTA ANAK YATIM

HUKUM ORANG TUA MENGGUNAKAN BAHKAN MEMAKAN HARTA ANAK YATIM YANG DIPEROLEH DARI HASIL SANTUNAN

Assalamualaikum.

Deskripsi masalah
Sudah menjadi kebiasaan bagi umat Islam ketika tiba tahun baru hijriyah dan bertepatan pada tanggal 10 muharram umat Islam yang sudah memahami terhadap fadhilah amalan-amalan di 10 Asyura’ yang diantaranya adanya anjuran menyantuni anak yatim mereka berbondong-bondong menghadiri pada acara santunan kepada mereka ( anak yatim ) semua itu karena didasarkan pada anjuran Al-Qur’an maupun hadits agar belas kasihan dan memberi santunan kepada mereka baik berupa uang beras pakaian maupun yang lainnya, semata untuk memperoleh ridho Allah dan syarafaat Nabi Muhammad dan kebaikan dari anak yatim. Namun karena sebagian anak yatim masih kecil sehingga apa yang diperoleh dari santunan dipegang ( dipelihara) oleh orang tuanya.

Pertanyaannya.
Bolehkah orang tuanya menggunakan bahkan memakan harta anaknya yang yatim yang diperoleh dari santunan tersebut? Mohon jawaban beserta dalilnya.

Waalikum salam.

Jawaban
Yatim adalah anak yang ditinggal mati oleh bapaknya sebelum baligh. Sedangkan batasannya Yatim adalah sampai baligh, yang mana tanda kebalighannya ulama berbeda pandang ada yang mengatakan pernah itilam/bermimpi keluar mani laki-laki atau perempuan dan pernah haid bagi perempuan dan ada yang mengatakan tumbuhnya rambutnya anah , namun yang mashur adalah ihtilam dan haid, walaupun ada sebagian yang berpendapat tumbuhnya bulu anah ( kemaluan ) adalah tanda baligh.
Adapun harta yang diperoleh dari santunan boleh digunakan oleh orang tuanya bahkan boleh memakannya dalam kondisi sangat membutuhkan atau dalam kondisi fakir namun dengan cara yang makruf dan tidak berlebihan, karena bagaimanapun dialah ( orang tuanya ) yang berhak dan berkewajiban untuk memelihara dan menjaga harta-hartanya, namun ketika sudah baligh dan masuk dalam kategori rusy ( pintar dan mampu memelihara agama dan hartanya) maka harta yang dipelihara wajib diserahkan kepadanya. Sebagaimana firman Allah surat an-Nisa’ dan penafsirannya oleh Ibnu Katsir dalam kitab tafsirnya:

تفسير إبن كثير

وَابْتَلُوا الْيَتَامَىٰ حَتَّىٰ إِذَا بَلَغُوا النِّكَاحَ فَإِنْ آنَسْتُم مِّنْهُمْ رُشْدًا فَادْفَعُوا إِلَيْهِمْ أَمْوَالَهُمْ ۖ وَلَا تَأْكُلُوهَا إِسْرَافًا وَبِدَارًا أَن يَكْبَرُوا ۚ وَمَن كَانَ غَنِيًّا فَلْيَسْتَعْفِفْ ۖ وَمَن كَانَ فَقِيرًا فَلْيَأْكُلْ بِالْمَعْرُوفِ ۚ فَإِذَا دَفَعْتُمْ إِلَيْهِمْ أَمْوَالَهُمْ فَأَشْهِدُوا عَلَيْهِمْ ۚ وَكَفَىٰ بِاللَّهِ حَسِيبًا (6)

وقوله تعالى : ( وابتلوا اليتامى ) قال ابن عباس ، ومجاهد ، والحسن ، والسدي ، ومقاتل بن حيان : أي اختبروهم ( حتى إذا بلغوا النكاح ) قال مجاهد : يعني : الحلم . قال الجمهور من العلماء : البلوغ في الغلام تارة يكون بالحلم ، وهو أن يرى في منامه ما ينزل به الماء الدافق الذي يكون منه الولد . وقد روى أبو داود في سننه عن أمير المؤمنين علي بن أبي طالب ، رضي الله عنه ، قال : حفظت من رسول الله صلى الله عليه وسلم : ” لا يتم بعد احتلام ولا صمات يوم إلى الليل ” .
وفي الحديث الآخر عن عائشة وغيرها من الصحابة ، رضي الله عنهم ، عن النبي صلى الله عليه وسلم قال : ” رفع القلم عن ثلاثة : عن الصبي حتى يحتلم ، وعن النائم حتى يستيقظ ، وعن المجنون حتى يفيق ” أو يستكمل خمس عشرة سنة ، وأخذوا ذلك من الحديث الثابت في الصحيحين عن عبد الله بن عمر قال : عرضت على النبي صلى الله عليه وسلم يوم أحد وأنا ابن أربع عشرة ، فلم يجزني ، وعرضت عليه يوم الخندق وأنا ابن خمس عشرة فأجازني ، فقال أمير المؤمنين عمر بن عبد العزيز – لما بلغه هذا الحديث – إن هذا الفرق بين الصغير والكبير .
واختلفوا في إنبات الشعر الخشن حول الفرج ، وهو الشعرة ، هل تدل على بلوغ أم لا ؟ على ثلاثة أقوال ، يفرق في الثالث بين صبيان المسلمين ، فلا يدل على ذلك لاحتمال المعالجة ، وبين صبيان أهل الذمة فيكون بلوغا في حقهم ; لأنه لا يتعجل بها إلا ضرب الجزية عليه ، فلا يعالجها . والصحيح أنها بلوغ في حق الجميع لأن هذا أمر جبلي يستوي فيه الناس ، واحتمال المعالجة بعيد ، ثم قد دلت السنة على ذلك في الحديث الذي رواه الإمام أحمد ، عن عطية القرظي ، رضي الله عنه قال : عرضنا على رسول الله صلى الله عليه وسلم يوم قريظة فكان من أنبت قتل ، ومن لم ينبت خلي سبيله ، فكنت فيمن لم ينبت ، فخلى سبيلي .
وقد أخرجه أهل السنن الأربعة بنحوه وقال الترمذي : حسن صحيح . وإنما كان كذلك; لأن سعد بن معاذ ، رضي الله عنه ، كان قد حكم فيهم بقتل المقاتلة وسبي الذرية .
وقال الإمام أبو عبيد القاسم بن سلام في كتاب ” الغريب ” : حدثنا ابن علية ، عن إسماعيل بن أمية ، عن محمد بن يحيى بن حيان ، عن عمر : أن غلاما ابتهر جارية في شعره ، فقال عمر ، رضي الله عنه : انظروا إليه . فلم يوجد أنبت ، فدرأ عنه الحد . قال أبو عبيد : ابتهرها : أي قذفها ، والابتهار أن يقول : فعلت بها وهو كاذب فإن كان صادقا فهو الابتيار ، قال الكميت في شعره .
قبيح بمثلي نعت الفتاة إما ابتهارا وإما ابتيارا وقوله : ( فإن آنستم منهم رشدا فادفعوا إليهم أموالهم ) قال سعيد بن جبير : يعني : صلاحا في دينهم وحفظا لأموالهم . وكذا روي عن ابن عباس ، والحسن البصري ، وغير واحد من الأئمة . وهكذا قال الفقهاء متى بلغ الغلام مصلحا لدينه وماله ، انفك الحجر عنه ، فيسلم إليه ماله الذي تحت يد وليه بطريقه . وقوله : ( ولا تأكلوها إسرافا وبدارا أن يكبروا ) 
ينهى تعالى عن أكل أموال اليتامى من غير حاجة ضرورية إسرافا ومبادرة قبل بلوغهم .ثم قال تعالى : ( ومن كان غنيا فليستعفف )
 [ أي ] من كان في غنية عن مال اليتيم فليستعفف عنه ، ولا يأكل منه شيئا . قال الشعبي : هو عليه كالميتة والدم . ( ومن كان فقيرا فليأكل بالمعروف ) قال ابن أبي حاتم : حدثنا الأشج ، حدثنا عبد الله بن سليمان ، حدثنا هشام ، عن أبيه ، عن عائشة : ( ومن كان غنيا فليستعفف ) نزلت في مال اليتيم .
وحدثنا الأشج وهارون بن إسحاق قالا حدثنا عبدة بن سليمان ، عن هشام ، عن أبيه ، عن . . ، قالت : نزلت في والي اليتيم الذي يقوم عليه ويصلحه إذا كان محتاجا أن يأكل منه . وحدثنا أبي ، حدثنا محمد بن سعيد الأصبهاني ، حدثنا علي بن مسهر ، عن هشام ، عن أبيه ، عن عائشة قالت : أنزلت هذه الآية في والي اليتيم ( ومن كان غنيا فليستعفف ومن كان فقيرا فليأكل بالمعروف ) بقدر قيامه عليه .
ورواه البخاري عن إسحاق عن عبد الله بن نمير ، عن هشام ، به .
قال الفقهاء : له أن يأكل أقل الأمرين : أجرة مثله أو قدر حاجته . واختلفوا : هل يرد إذا أيسر ، على قولين : أحدهما : لا; لأنه أكل بأجرة عمله وكان فقيرا . وهذا هو الصحيح عند أصحاب الشافعي; لأن الآية أباحت الأكل من غير بدل . وقد قال الإمام أحمد : حدثنا عبد الوهاب ، حدثنا حسين ، عن عمرو بن شعيب ، عن أبيه ، عن جده : أن رجلا سأل رسول الله صلى الله عليه وسلم فقال : ليس لي مال ، ولي يتيم ؟ فقال : ” كل من مال يتيمك غير مسرف ولا مبذر ولا متأثل مالا ومن غير أن تقي مالك – أو قال : تفدي مالك – بماله ” شك حسين .وقال ابن أبي حاتم : حدثنا أبو سعيد الأشج ، حدثنا أبو خالد الأحمر ، حدثنا حسين المكتب ، عن عمرو بن شعيب ، عن أبيه ، عن جده قال : جاء رجل إلى النبي صلى الله عليه وسلم فقال : إن عندي يتيما عنده مال – وليس عنده شيء ما – آكل من ماله ؟ قال : ” بالمعروف غير مسرف
ورواه أبو داود ، والنسائي ، وابن ماجه من حديث حسين المعلم به .
وروى أبو حاتم ابن حبان في صحيحه ، وابن مردويه في تفسيره من حديث يعلى بن مهدي ، عن جعفر بن سليمان ، عن أبي عامر الخزاز ، عن عمرو بن دينار ، عن جابر : أن رجلا قال : يا رسول الله ، فيم أضرب يتيمي ؟ قال : ما كنت ضاربا منه ولدك ، غير واق مالك بماله ، ولا متأثل منه مالا . وقال ابن جرير : حدثنا الحسن بن يحيى ، أخبرنا عبد الرزاق ، أخبرنا الثوري ، عن يحيى بن سعيد ، عن القاسم بن محمد قال : جاء أعرابي إلى ابن عباس فقال : إن في حجري أيتاما ، وإن لهم إبلا ولي إبل ، وأنا أمنح في إبلي وأفقر ، فماذا يحل لي من ألبانها ؟ فقال : إن كنت تبغي ضالتها وتهنأ جرباها ، وتلوط حوضها ، وتسقي عليها ، فاشرب غير مضر بنسل ، ولا ناهك في الحلب .
ورواه مالك في موطئه ، عن يحيى بن سعيد به . وبهذا القول – وهو عدم أداء البدل – يقول عطاء بن أبي رباح ، وعكرمة ، وإبراهيم النخعي ، وعطية العوفي ، والحسن البصري .
والثاني : نعم; لأن مال اليتيم على الحظر ، وإنما أبيح للحاجة ، فيرد بدله كأكل مال الغير للمضطر عند الحاجة . وقد قال أبو بكر ابن أبي الدنيا : حدثنا ابن خيثمة ، حدثنا وكيع ، عن سفيان وإسرائيل ، عن أبي إسحاق ، عن حارثة بن مضرب قال : قال عمر [ بن الخطاب ] رضي الله عنه : إنى أنزلت نفسي من هذا المال بمنزلة والي اليتيم ، إن استغنيت استعففت ، وإن احتجت استقرضت ، فإذا أيسرت قضيت . طريق أخرى : قال سعيد بن منصور : حدثنا أبو الأحوص ، عن أبي إسحاق ، عن البراء قال : قال لي عمر ، رضي الله عنه : إني أنزلت نفسي من مال الله بمنزلة والي اليتيم ، إن احتجت أخذت منه ، فإذا أيسرت رددته ، وإن استغنيت استعففت . إسناد صحيح وروى البيهقي عن ابن عباس نحو ذلك . وهكذا رواه ابن أبي حاتم من طريق علي بن أبي طلحة ، عن ابن عباس في قوله : ( ومن كان فقيرا فليأكل بالمعروف ) يعني : القرض . قال : وروي عن عبيدة ، وأبي العالية ، وأبي وائل ، وسعيد بن جبير – في إحدى الروايات – ومجاهد ، والضحاك ، والسدي نحو ذلك . وروي من طريق السدي ، عن عكرمة ، عن ابن عباس في قوله : ( فليأكل بالمعروف ) قال : يأكل بثلاث أصابع .ثم قال : حدثنا أحمد بن سنان ، حدثنا ابن مهدي ، حدثنا سفيان ، عن الحكم ، عن مقسم ، عن ابن عباس : ( ومن كان فقيرا فليأكل بالمعروف ) قال : يأكل من ماله ، يقوت على يتيمه حتى لا يحتاج إلى مال اليتيم . قال : وروي عن مجاهد وميمون بن مهران في إحدى الروايات والحكم نحو ذلك .
وقال عامر الشعبي : لا يأكل منه إلا أن يضطر إليه ، كما يضطر إلى
 [ أكل ] الميتة ، فإن أكل منه قضاه . رواه ابن أبي حاتم .وقال ابن وهب : حدثني نافع بن أبي نعيم القارئ قال : سألت يحيى بن سعيد الأنصاري وربيعة عن قول الله :
 ( فليأكل بالمعروف ) فقالا ذلك في اليتيم ، إن كان فقيرا أنفق عليه بقدر فقره ، ولم يكن للولي منه شيء .
وهذا بعيد من السياق; لأنه قال :
 ( ومن كان غنيا فليستعفف )
 يعني : من الأولياء ( ومن كان فقيرا فليأكل بالمعروف ) أي : منهم
 ( فليأكل بالمعروف ) أي : بالتي هي أحسن ، كما قال في الآية الأخرى :
 ( ولا تقربوا مال اليتيم إلا بالتي هي أحسن حتى يبلغ أشده ) [ الإسراء : 34 ] أي : لا تقربوه إلا مصلحين له ، وإن احتجتم إليه أكلتم منه بالمعروف .وقوله : ( فإذا دفعتم إليهم أموالهم ) يعني : بعد بلوغهم الحلم وإيناس الرشد [ منهم ] فحينئذ سلموهم أموالهم ، فإذا دفعتم إليهم أموالهم ( فأشهدوا عليهم ) وهذا أمر الله تعالى للأولياء أن يشهدوا على الأيتام إذا بلغوا الحلم وسلموا إليهم أموالهم; لئلا يقع من بعضهم جحود وإنكار لما قبضه وتسلمه .ثم قال
: ( وكفى بالله حسيبا ) أي : وكفى بالله محاسبا وشهيدا ورقيبا على الأولياء في حال نظرهم للأيتام ، وحال تسليمهم للأموال : هل هي كاملة موفرة ، أو منقوصة مبخوسة مدخلة مروج حسابها مدلس أمورها ؟ الله عالم بذلك كله . ولهذا ثبت في صحيح مسلم أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال : ” يا أبا ذر ، إني أراك ضعيفا ، وإني أحب لك ما أحب لنفسي ، لا تأمرن على اثنين ، ولا تلين مال يتيم ” 


{وَابْتَلُوا الْيَتَامَى}

Dan ujilah anak yatim itu. (An-Nisa: 6)
Ibnu Abbas, Mujahid, Al-Hasan, As-Saddi. dan Muqatil mengatakan bahwa makna yang dimaksud ialah perintah untuk melakukan ujian terhadap anak-anak yatim (oleh para walinya).

{حَتَّى إِذَا بَلَغُوا النِّكَاحَ}

sampai mereka cukup umur untuk kawin. (An-Nisa: 6)
Menurut Mujahid, yang dimaksud dengan nikah dalam ayat ini ialah mencapai usia balig.
Jumhur ulama mengatakan bahwa alamat usia balig pada anak remaja adakalanya dengan mengeluarkan air mani, yaitu dia bermimpi dalam tidurnya  melihat sesuatu atau mengalami sesuatu yang membuatnya mengeluarkan air mani. Air mani ialah air yang memancar yang merupakan cikal bakal terjadinya anak.
Di dalam kitab Sunan Abu Daud disebutkan dari Ali yang mengatakan bahwa ia selalu ingat akan sabda Rasulullah Saw. yang mengatakan:

«لَا يُتْمَ بَعْدَ احْتِلَامٍ وَلَا صُمَاتَ يَوْمٍ إِلَى اللَّيْلِ»

Tidak ada yatim sesudah balig dan tidak ada puasa siang sampai malam hari.
Di dalam hadis yang lain dari Siti Aisyah dan sahabat lainnya dari Nabi Saw. disebutkan:

«رُفِعَ الْقَلَمُ عَنْ ثَلَاثَةٍ، عَنِ الصَّبِيِّ حَتَّى يَحْتَلِمَ، وَعَنِ النَّائِمِ حَتَّى يَسْتَيْقِظَ، وَعَنِ الْمَجْنُونِ حَتَّى يُفِيقَ»

Qalam diangkat dari tiga macam orang, yaitu dari anak kecil hingga usia balig atau genap berusia lima belas tahun, dari orang yang tidur sampai terbangun, dan dari orang gila sampai sadar.
Mereka mengambil kesimpulan akan hal tersebut dari hadis yang telah disebutkan di dalam kitab Sahihain melalui Ibnu Umar r.a. yang mengatakan:

عُرِضْت عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وسلم يوم أحد وَأَنَا ابْنُ أَرْبَعَ عَشَرَةَ، فَلَمْ يُجِزْنِي، وَعُرِضْتُ عَلَيْهِ يَوْمَ الخَنْدَق وَأَنَا ابْنُ خَمْسَ عَشَرَةَ فَأَجَازَنِي، فَقَالَ أَمِيرُ الْمُؤْمِنِينَ عُمَرُ بْنُ عَبْدِ الْعَزِيزِ -لَمَّا بَلَغَهُ هَذَا الْحَدِيثُ -إِنَّ هَذَا الْفَرْقَ بَيْنَ الصَّغِيرِ وَالْكَبِيرِ

Diriku ditampilkan kepada Nabi Saw. dalam Perang Uhud, sedangkan saat itu usiaku baru empat belas tahun; maka beliau tidak membolehkan diriku (ikut perang). Dan diriku ditampilkan kepadanya dalam Perang Khandaq. Sedangkan saat itu  berusia lima belas tahun maka aku diperbolehkan ikut perang. Umar ibnu Abdul Aziz —ketika sampai kepadanya hadis ini— mengatakan bahwa sesungguhnya hadis inilah yang membedakan antara anak kecil dan orang yang sudah dewasa.
Para ulama berbeda pendapat mengenai tumbuhnya rambut yang keras di sekitar kemaluan, apakah hal ini merupakan alamat balig atau tidak? Ada tiga pendapat mengenainya. Menurut pendapat yang ketiga, dalam hal ini dibedakan antara anak-anak kaum muslim dengan anak-anak kafir zimmi. Pada anak-anak kaum muslim hal tersebut tidak menunjukkan usia balig, mengingat adanya kemungkinan faktor pengobatan. Lain halnya pada anak-anak kafir zimmi maka tumbuhnya rambut keras pada kemaluan merupakan pertanda usia balig bagi mereka; karena barang siapa yang telah tumbuh rambut kemaluannya, maka dibebankan kepadanya membayar jizyah, untuk itulah mereka tidak mau mengobatinya.
Menurut pendapat yang sahih, tumbuhnya rambut yang keras di sekitar kemaluan merupakan pertanda usia balig, mengingat hal ini merupakan sesuatu yang alami; semua orang tidak ada bedanya dalam hal tersebut, dan mengenai faktor pengobatan jauh dari kemungkinan.
Kemudian sunnah menunjukkan ke arah itu melalui sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad melalui Atiyyah Al-Qurazi yang menceritakan:

عُرضنا عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ قُرَيْظة فَكَانَ مَنْ أنْبَتَ قُتل، وَمَنْ لَمْ يُنْبت خَلّي سَبِيلَهُ، فَكُنْتُ فِيمَنْ لَمْ يُنْبِت، فَخَلَّى سَبِيلِي.

Mereka (orang-orang Bani Quraizah) ditampilkan di hadapan Nabi Saw. seusai Perang Quraizah. Maka Nabi Saw. memerintahkan kepada seseorang untuk memeriksa siapa di antara mereka yang telah tumbuh rambut kemaluannya. Maka orang yang telah tumbuh rambut kemaluannya dikenai hukuman mati, dan orang yang masih belum tumbuh rambut kemaluannya dibebaskan. Maka aku (Atiyyah Al-Qurazi) termasuk salah seorang yang masih belum tumbuh rambut kemaluannya. Akhirnya aku dibebaskan.”
Ahlu sunan mengetengahkan hadis yang semisal, yakni ahlus sunan yang empat orang (yang dikenai dengan sebutan Arba’ah). Imam Turmuzi mengatakan bahwa hadis ini hasan sahih.
Sesungguhnya keputusan tersebut tetap berlaku; sebagai buktinya ialah di saat Sa’d ibnu Mu’az menjatuhkan keputusan hukumnya di antara mereka (para tawanan), ia memutuskan menghukum mati orang-orang (dari kalangan musuh) yang ikut berperang dan menahan anak-anak mereka.
Abu Ubaid di dalam kitab Al-Garib mengatakan. telah menceritakan kepada kami Ibnu Ulayyah. dari Ismail ibnu Umayyah ibnu Yahya ibnu Hibban dari Umar, bahwa pernah ada seorang anak remaja menuduh berzina -seorang wanita muda dalam syairnya. Maka Khalifah Umar berkata “Periksalah dirinya.” Ternyata diketahui bahwa anak tersebut masih belum tumbuh rambut kemaluannya. Akhirnya hukuman had (menuduh berzina) tidak dikenakan terhadap dirinya.
Abu Ubaid mengatakan. ibtaharaha artinya menuduh (si wanita) berbuat zina; al-ibtihar ialah bila seseorang mengatakan.”Aku telah mengerjainya,” padahal ia dusta dalam pengakuannya itu. Jika pengakuan tersebut benar, maka istilahnya disebut ibtiyar. Seperti pengertian yang ada dalam perkataan Al-Kumait melalui salah satu bait syairnya:

قَبِيحٌ بِمِثْلِي نَعْتُ الفَتَاةِ … إِمَّا ابْتِهَارًا وَإِمَّا ابتيارا

Amatlah buruk bagi orang semisalku bila menuduh seorang wanita berbuat zina, bait dengan tuduhan dusta ataupun tuduhan yang sebenarnya.


Firman Allah:

{فَإِنْ آنَسْتُمْ مِنْهُمْ رُشْدًا فَادْفَعُوا إِلَيْهِمْ أَمْوَالَهُمْ}

Kemudian jika menurut pendapat kalian mereka telah cerdas (pandai memelihara harta) maka serahkanlah kepada mereka harta-hartanya. (An-Nisa: 6)
Sa’id ibnu Jubair mengatakan yang dimaksud rusydan ialah kelayakan dalam agamanya dan dapat memelihara hartanya. Hal yang sama dikatakan pula oleh Ibnu Abbas, Al-Hasan Al-Basri, dan bukan hanya seorang dari kalangan para Imam berdasarkan riwayat yang bersumber dari mereka.
Ulama fiqih mengatakan hal yang sama yaitu: Apabila seorang anak yatim telah mencapai usia yang membuat dirinya berlaku layak dalam agama dan hartanya, maka ia dibebaskan dari hijr (larangan menggunakan harta bendanya). Untuk itu, maka semua harta yang berada di tangan walinya diserahkan kepadanya.


Firman Allah Swt.

{وَلا تَأْكُلُوهَا إِسْرَافًا وَبِدَارًا أَنْ يَكْبَرُوا}

Dan janganlah kalian makan harta anak yatim lebih dari batas kepatutan dan (janganlah kalian) tergesa-gesa (membelanjakannya) sebelum mereka dewasa. (An-Nisa: 6)
Allah Swt. melarang memakan harta anak yatim tanpa adanya keperluan yang mendesak.
Yang dimaksud dengan istilah israfan wa bidaran ialah tergesa-gesa membelanjakannya sebelum anak-anak yatim itu dewasa.
Kemudian Allah Swt. berfirman:

{وَمَنْ كَانَ غَنِيًّا فَلْيَسْتَعْفِفْ}

Barang siapa (di antara para pemelihara itu) mampu maka hendaklah ia menahan diri (dari memakan harta anak yatim itu). (An-Nisa: 6)
Yang dimaksud dengan falyasta’fif ialah memelihara diri dari harta anak yatim dan janganlah memakannya barang sedikit pun.
Asy-Sya’bi mengatakan bahwa harta anak yatim baginya (orang yang mampu) sama halnya dengan bangkai dan darah (yakni haram dimakan).

{وَمَنْ كَانَ فَقِيرًا فَلْيَأْكُلْ بِالْمَعْرُوفِ}

Dan barang siapa yang miskin, maka bolehlah ia makan harta itu menurut yang patut (An-Nisa: 6)
Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Al-Asyaj, telah menceritakan kepada kami Abdullah ibnu Sulaiman, telah menceritakan kepada kami Hisyam, dari ayahnya, dari Siti Aisyah sehubungan dengan firman-Nya: Barang siapa (di antara para pemelihara itu) mampu, maka hendaklah ia menahan diri (dari memakan harta anak yatim itu). (An-Nisa: 6) Bahwa ayat ini diturunkan berkenaan dengan harta anak yatim.
Telah menceritakan kepada kami Al-Asyaj serta Harun ibnu Ishaq. Keduanya mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abdah ibnu Sulaiman, dari Hisyam, dari ayahnya, dari Siti Aisyah sehubungan dengan firman-Nya: dan barang siapa yang miskin, maka bolehlah ia makan harta itu menurut yang patut. (An-Nisa: 6) Ayat ini diturunkan berkenaan dengan wali anak yatim yang memeliharanya dan berbuat kemaslahatan untuknya, bilamana keperluan mendesak memakan sebagian dari harta anak yatim yang ada dalam pemeliharaanya.
Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami ayahku. telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Sa’id Al-Asbahani. telah menceritakan kepada kami ali ibnu Mishar, dari Hisyam. dari ayahnya. dari Siti Aisyah yang menceritakan bahwa ayat berikut diturunkan berkenaan dengan wali anak yatim, yaitu firman-Nya: Barang siapa (di antara para pemelihara itu) mampu. Maka hendaklah ia menahan diri (dari memakan harta anak yatim); dan barang siapa yang miskin, maka bolehlah ia makan harta itu menurut yang patut. (An-Nisa: 6) Yang dimaksud dengan cara yang patut ialah sesuai dengan jerih payahnya terhadap anak yatim yang ada dalam pemeliharaannya.
Imam Bukhari meriwayatkan dari Ishaq Ibnu Abdullah ibnu Numair, dari Hisyam dengan lafaz yang sama.
Ulama fiqih mengatakan, wali yang miskin diperbolehkan memakan sebagian dari harta anak yatim yang ada dalam pemeliharaannya dalam jumlah yang paling minim di antara kedua alternatif. yaitu upah misil-nya (standarnya) atau menurut keperluannya.
Ulama fiqih berselisih pendapat mengenai masalah bila wali anak yatim menjadi orang kaya setelah miskinnya, apakah ia diharuskan mengembalikan harta anak yatim yang telah dimakannya, atau tidak? Ada dua pendapat mengenainya.
Pendapat pertama, mengatakan “‘tidak” karena ia hanya memakan sekadar imbalan jerih payahnya dan lagi dia dalam keadaan miskin. Pendapat inilah yang sahih di kalangan murid-murid Imam Syafii, karena makna ayat jelas membolehkan memakan sebagian harta anak yatim tanpa menggantinya.
Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abdul Wahhab, telah menceritakan kepada kami Husain, dari Amr ibnu Syu’aib, dari ayahnya, dari kakeknya, bahwa ada seorang lelaki bertanya kepada Rasulullah Saw. Dia mengatakan, “Aku tidak berharta, sedangkan aku mempunyai anak yatim.”‘ Maka Rasulullah Saw. bersabda:

«كُلْ مِنْ مَالِ يَتِيمِكَ غَيْرَ مُسْرِفٍ وَلَا مُبَذِّرٍ وَلَا مُتَأَثِّلٍ  مَالَا وَمِنْ غَيْرِ أَنْ تَقِيَ مَالَكَ- أَوْ قَالَ- تَفْدِيَ مَالَكَ بِمَالِهِ»

Makanlah dari sebagian harta anak yatimmu dengan tidak berlebih-lebihan, tidak menghambur-hamburkannya, dan tidak menghimpunkannya sebagai harta(mu). Dan juga tanpa mengekang hartamu —atau— tanpa mengganti hartanya dengan hartamu.
Kata   ‘atau’ merupakan ragu dari pihak Husain.
Ibnu Abu Hatim mengatakan. telah menceritakan kepada kami Abu Said Al-Asyaj, telah menceritakan kepada kami Abu Khalid Al-Ahmar, telah menceritakan kepada kami Husain Al-Mukattab, dari Amr ibnu Syu’aib, dari ayahnya, dari kakeknya yang telah menceritakan bahwa ada seorang lelaki datang kepada Nabi Saw., lalu lelaki itu berkata, “Sesungguhnya aku mempunyai seorang anak yatim yang mempunyai harta, sedangkan aku sendiri tidak berharta, bolehkah aku ikut makan dari sebagian hartanya?” Rasulullah Saw. menjawab:

«بِالْمَعْرُوفِ غَيْرَ مُسْرِفٍ»

Makanlah dengan cara yang makruf tanpa berlebih-lebihan!
Imam Abu Daud, Imam Nasai, dan Imam Ibnu Majah meriwayatkannya melalui hadis Husain Al-Mu’allim.
Ibnu Hibban meriwayatkan di dalam kitab sahihnya dan Ibnu Murdawaih di dalam kitab tafsirnya melalui hadis Ya’la ibnu Mahdi, dari Ja’far ibnu Sulaiman, dari Abu Amir Al-Khazzaz, dari Amr ibnu Dinar, dari Jabir, bahwa ada seorang lelaki bertanya, “Wahai Rasulullah, berapakah yang boleh aku ambil dari anak yatimku?” Nabi Saw. menjawab:

«مَا كُنْتَ ضَارِبًا مِنْهُ وَلَدَكَ غَيْرَ وَاقٍ مَالَكَ بِمَالِهِ وَلَا مُتَأَثِّلٍ مِنْهُ مَالًا»

Sejumlah apa yang biasa kamu ambil dari anakmu, tanpa mengekang hartamu terhadap hartanya dan tanpa menghimpunkan dari hartanya sebagai harta(mu).
Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Al-Hasan ibnu Yahya. telah menceritakan kepada kami Abdur Razzaq, telah menceritakan kepada kami As-Sauri, dari Yahya ibnu Sa’id, dari Al-Qasim ibnu Muhammad yang menceritakan bahwa ada seorang Badui datang kepada Ibnu Abbas lalu orang Badui itu berkata.”sesungguhnya di dalam pemeliharaanku terdapat banyak anak yatim, dan mereka mempunyai ternak unta; aku pun mempunyai ternak unta pula, tetapi aku berikan sebagian dari ternak untaku kepada orang-orang miskin. Maka sebatas apakah yang dihalalkan bagiku terhadap air susunya?” Ibnu Abbas menjawab, “Jika engkau bekerja mencari ternak untanya yang hilang, mengobati yang sakit, menggiringnya ke tempat air minumnya. Menggembalakannya maka minumlah (air susunya) tanpa membahayakan terhadap anaknya. dan tidak ada larangan bagimu dalam memerah air susunya”.’
Imam Malik meriwayatkannya di dalam kitab Al-Muwatha dari Yahya ibnu Sa’id dengan lafaz yang sama.
Pendapat inilah —yakni tidak wajib mengganti— yang dikatakan oleh Ata ibnu Abu Rabah, Ikrimah, Ibrahim An-Nakha’i, Atiyyah Al-Aufi, dan Al-Hasan Al-Basri.
Pendapat yang kedua, mengatakan “wajib mengganti” karena harta anak yatim adalah harta yang ada dalam larangan; kecuali bila diperlukan, maka baru diperbolehkan, tetapi diharuskan menggantinya. Perihalnya sama dengan makan harta orang lain bagi orang yang dalam keadaan terpaksa di saat ia memerlukannya.
Ibnu Abud Dunia mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ibnu Khaisamah, telah menceritakan kepada kami Waki’, dari Sufyan dan Israil, dari Abu Ishaq, dari Harisah ibnu Mudarrib yang mengatakan bahwa Khalifah Umar r.a. pernah berkata, “Sesungguhnya aku menempatkan diriku terhadap harta ini dalam kedudukan sebagai wali anak yatim. Jika aku mampu, maka aku menahan diri: dan jika aku perlu, maka aku berutang; dan apabila aku dalam keadaan mudah, maka aku melunasinya.”
Jalur lain diriwayatkan oleh Sa’id ibnu Mansur, telah menceritakan kepada kami Abul Ahwas, dari Abu Ishaq, dari Al-Bana yang mengatakan bahwa Khalifah Umar r.a. pernah berkata kepadanya: Sesungguhnya aku menempatkan diriku terhadap harta Allah ini dalam kedudukan sebagai wali anak yatim. Jika aku memerlukannya, maka aku mengambil sebagian darinya; dan jika aku dalam keadaan mudah, maka aku kembalikan; dan jika aku dalam keadaan mampu, maka aku menahan diri (tidak menggunakannya).
Sanad asar ini sahih. Imam Baihaqi meriwayatkan hal yang semisal dari sahabat ibnu Abbas.
Hal yang sama diriwayatkan oleh Ibnu Abu Hatim melalui jalur Ali ibnu Abu Talhah, dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna firman-Nya: dan barang siapa yang miskin, maka bolehlah ia makan harta itu menurut yang patut. (An-Nisa: 6) Yang dimaksud dengan cara yang makruf ialah dengan utang.
Imam Baihaqi mengatakan, telah diriwayatkan dari Ubaidah, Abul Aliyah, Abu Wail, dan Sa’id ibnu Jubair dalam salah satu riwayatnya, Mujahid, Ad-Dahak, dan As-Saddi hal yang semisal.
Telah diriwayatkan melalui jalur As-Saddi, dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas sehubungan dengan firman-Nya: maka bolehlah ia makan harta itu menurut yang patut. (An-Nisa-6) Menurut Ibnu Abbas, hendaknya orang yang bersangkutan memakan dengan memakai tiga buah jari.
Imam Baihaqi mengatakan pula, telah menceritakan kepada kami Ahmad ibnu Sinan. telah menceritakan kepada kami Ibnu Mahdi, dari Sufyan, dari Al-Hakam, dari Miqsam, dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna firman-Nya: dan barang siapa yang miskin, maka bolehlah makan harta itu menurut yang patut. (An-Nisa: 6) Makna yang dimaksud ialah hendaknya orang yang bersangkutan hanya makan sebagian dari harta anak yatim dalam batasan cukup untuk makan dirinya hingga ia tidak memerlukan harta anak yatim lagi.
Hal yang semisal telah diriwayatkan dari Mujahid dan Maimun ibnu Mihran dalam salah satu riwayatnya, serta Imam Hakim.
Amir Asy-Sya’bi mengatakan bahwa seseorang tidak boleh memakan harta anak yatim kecuali bila ia dalam keadaan terpaksa. sebagaimana seseorang terpaksa memakan bangkai. Jika ia memakan sebagian darinya, maka ia harus menggantinya. Demikianlah menurut apa yang diriwayatkan oleh Ibnu Abu Hatim.
Ibnu Wahb mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ibnu Wahb, telah menceritakan kepada kami Nafi’ ibnu Abu Na’im Al-Qari’ yang mengatakan bahwa ia pernah bertanya kepada Yahya ibnu Sa’id Al-Ansari dan Rabi’ah tentang makna firman Allah Swt. yang mengatakan: dan barang siapa yang miskin, maka bolehlah ia makan harta itu menurut yang patut. (An-Nisa: 6) hingga akhir ayat. Hal tersebut berkenaan dengan anak yatim, yakni: Jika si wali adalah orang yang miskin, maka anak yatim itu diberi nafkah sesuai dengan kemiskinannya, dan tidak ada hak bagi wali terhadap harta anak yatim barang sedikit pun.
Akan tetapi, pendapat tersebut menyimpang dari konteks ayat, mengingat dalam firman-Nya disebutkan: Barang siapa (di antara pemelihara itu) mampu, maka hendaklah ia menahan diri (dari memakan harta anak yatim itu). (An-Nisa: 6) Yakni hendaklah para pemelihara itu menahan dirinya. jangan memakan harta anak yatimnya. dan barang siapa yang miskin, maka bolehlah ia makan harta itu menurut yang patut. (An-Nisa: 6) Bagi para wali yang miskin. diperbolehkan memakan harta anak yatimnya dengan cara yang baik. Seperti pengertian yang disebutkan di dalam ayat lainnya. yaitu firman-Nya:

وَلا تَقْرَبُوا مالَ الْيَتِيمِ إِلَّا بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ حَتَّى يَبْلُغَ أَشُدَّهُ

Dan janganlah kalian dekati harta anak yatim, kecuali dengan cara yang lebih bermanfaat, hingga ia dewasa. (Al-An’am: 152 dan Al-Isra’: 34)
Dengan kata lain, janganlah kalian mendekati harta anak yatim kecuali dengan maksud untuk berbuat yang bermanfaat terhadapnya; jika kalian memerlukannya, kalian boleh memakan sebagian darinya menurut cara yang patut.


Firman Allah Swt.:

{فَإِذَا دَفَعْتُمْ إِلَيْهِمْ أَمْوَالَهُمْ}

Kemudian apabila kalian menyerahkan harta kepada mereka. (An-Nisa: 6)
Sesudah mereka mencapai usia balig dan dewasa, menurut pendapat kalian mereka telah cerdas dan pandai memelihara harta, maka saat itulah kalian harus menyerahkan kepada mereka harta mereka yang ada di tangan kalian. Apabila kalian menyerahkan harta kepada mereka:

{فَأَشْهِدُوا عَلَيْهِمْ}

maka hendaklah kalian adakan saksi-saksi (tentang penyerahan itu) bagi mereka. (An-Nisa: 6)
Hal ini merupakan perintah dari Allah Swt.. ditujukan kepada para wali anak-anak yatim. Perintah ini menyatakan bahwa hendaknya mereka mengadakan saksi-saksi sehubungan dengan anak-anak yatim mereka, bila anak-anak yatim mereka telah mencapai usia dewasa dan harta mereka diserahkan kepadanya. Dimaksudkan agar tidak terjadi sebagian dari mereka adanya pengingkaran dan bantahan terhadap apa yang telah diserahterimakannya. Kemudian Allah Swt. berfirman:

{وَكَفَى بِاللَّهِ حَسِيبًا}

Dan cukuplah Allah sebagai Pengawas  (atas  persaksian  itu). (An-Nisa: 6)
Yakni cukuplah Allah sebagai Penghitung, Saksi, dan Pengawas terhadap para wali sehubungan penilaian mereka terhadap anak yatimnya dan di saat mereka menyerahkan harta kepada anak-anak yatim. Dengan kata lain, apakah harta itu dalam keadaan lengkap lagi utuh, ataukah kurang perhitungannya serta perkaranya dipalsukan, semuanya Allah mengetahui dan mengawasi akan hal tersebut. Karena itulah maka disebutkan di dalam kitab Sahih Muslim bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda:

“يَا أَبَا ذَرٍّ، إِنِّي أَرَاكَ ضَعِيفًا، وَإِنِّي أُحِبُّ لَكَ مَا أُحِبُّ لِنَفْسِي، لَا تَأَمَّرَن على اثنين، ولا تَلِيَنَّ مال يتيم”

Hai Abu Zar, sesungguhnya aku melihatmu orang yang lemah, den sesungguhnya aku menyukai bagimu sebagaimana aku menyukai buat diriku sendiri. Jangan sekali-kali kamu memerintah atas dua orang, dan jangan sekali-kali kamu menjadi wali harta anak yatim. Wallahu a’lam bish-shawab

Kategori
Uncategorized

HUKUMNYA KEDUA KAKI MENYENTUH LANTAI KAMAR MANDI KORELASINYA DENGAN KESUCIAN KAKI DAN SOLUSINYA

HUKUMNYA KEDUA KAKI MENYENTUH LANTAI KAMAR MANDI KORELASINYA DENGAN KESUCIAN KAKI DAN SOLUSINYA

Assalamualaikum
Deskripsi masalah :
Dalam waqiiyah dimasyarat sebut saja joni, di dalam rumah-Nya ada kamar mandi, dan WC yang mana tempat itu merupakan tempat khusus yang dipergunakan Joni atau keluarganya untuk membersihkan diri dari kotoran. Sehingga kamar mandi dan sejenisnya selalu identik dengan najis, sebagaimana saat joni telah buang air kecil, maupun buang air besar tidak luput dari percikan najis.

Sebelum berwudhu si Joni membasuh kemaluannya dan tempat sekitarnya bahkan kedua kakinya lalu ia wudhu’ dan keluar kamar dengan tanpa alas kaki atau sandal. Namun demikian setiap si Joni selesai wudhu sering dihantui keragu-ramuan bahkan tidak hanya Joni seseorang yang serupa dengan joni dirumahnya terdapat kamar mandi yang menyatu dengan WC, merasa ragu yang bersumber dari telapak kaki sebagai anggota badan yang langsung bersentuhan dengan lantai kamar mandi. Sehingga seringkali Joni berjalan dengan berjinjit sangat hati-hati. Merasa seolah lantai kamar mandi itu tidak bebas dari najis, padahal lantai kamar mandi telah disiram berulang-ulang dengan air yang suci.

Pertanyaan :
Bagaimana hukum kaki si Joni, jika memandang  dari situasi dan kondisinya selalu terkena najis sebagaimana dalam deskripsi sucikah ataukah tidak ? Kalau tidak suci adakah solusinya ?

Waalikum salam.

Untuk menghukumi najis dan tidaknya kaki Joni adalah dikondisikan pada tempat yang ia pijak artinya jika lantai sudah dianggap suci setelah disirami air maka suci tetapi jika hanya bersih belum tentu suci karena untuk menghukum cuci dan tidaknya harus dilihat dari sudut pandang cara mencucikannya ( barang yang terkena najis).
Dalam konteks bisa suci yaitu harus menghilangkan sifatnya rasanya dan baunya jika ketiga tersebut sudah hilang maka tempat tersebut dianggap suci akan tetapi jika masih salah satu dari yang tiga ada misalkan berbau maka tentu masih blm dikatakan suci, kecuali apabila warna atau bau najis sulit dihilangkan maka tidak wajib menghilangkannya, bahkan tempat yang dikenainya telah nyata suci. Berbeda apabila warna dan bau secara bersamaan masih ada di satu tempat yang dikenai satu najis maka tempat tersebut belum dihukumi suci karena kuatnya warna dan bau secara bersamaan dalam menunjukkan tetapnya dzat najis.
Begitu juga berbeda apabila rasa najis masih ada maka tempat yang dikenainya belum suci dan karena pada umumnya masih mudah untuk menghilangkan rasa najis tersebut.
Lalu bagaimana cara menghilangkan diantara sifat yang masih ada semisal warna dan bau ?

Adapun cara untuk menghilangkan (sifat-sifat) najis ainiah adalah mengerok dan menggosok sebanyak tiga kali. Disebutkan dalam kitab al-Misbah, “Azhari berkata, ‘Lafadz ( الحت) (mengerok berarti kamu mengerok dengan sisi batu atau kayu. Lafadz القَرْص (menggosok) berarti kamu menggosok dengan ujung jari-jari dengan cara menggosok secara kuat. Kemudian kamu menuangkan air pada tempat yang dikenai najis sampai dzat najis dan bekasnya hilang.’”

Apabila najis ainiah telah dikerok, digosok, dan dituangi air, ternyata masih ada warnanya atau baunya maka dihukumi sulit dan tempat yang dikenainya pun telah dihukumi suci. Tidak wajib menggunakan alat bantu semisal sabun dan tumbuhan asynan. Akan tetapi apabila warna dan bau secara bersamaan masih ada maka wajib menggunakan alat bantu tersebut hingga mencapai batas ta’adzur (sulit menghilangkan). Batasan ta’adzur adalah sekiranya warna dan bau najis tersebut tidak dapat dihilangkan kecuali dengan cara memotong tempat yang dikenai najis. Ketika telah dihukumi ta’adzur maka tempat yang dikenai najis dihukumi ma’fu. Kemudian apabila setelah dihukumi ma’fu, ternyata selang beberapa waktu, warna dan bau najis tersebut bisa dihilangkan maka wajib menghilangkannya. Namun, apabila sebelumnya seseorang telah melakukan sholat di tempat yang ma’fu tersebut maka ia tidak wajib mengulangi sholatnya setelah mampu dihilangkan. Jika tidak, maka tidak perlu dihukumi ma’fu.
Jadi inlah caranya menentukan suci dan tidaknya tempat dan kakinya Joni . Karena Syariah hanya Menghukumi Zhahirnya saja sedangkan masalah yang samar ( Batin ) adalah Urusan Allah yang penting usaha sudah dilakukan.

كتاب التحبير شرح التحرير المكتبة الشاملة ص ٣٧٩٢
وَرُبمَا اسْتدلَّ على ذَلِك بِمَا رُوِيَ عَن النَّبِي – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – أَنه قَالَ: ” نَحن نحكم بِالظَّاهِرِ، وَالله يتَوَلَّى السرائر “، كَمَا اسْتدلَّ بِهِ الْبَيْضَاوِيّ وَغَيره.لكنه حَدِيث لَا يعرف، لَكِن رَوَاهُ الْحَافِظ أَبُو طَاهِر إِسْمَاعِيل بن عَليّ بن إِبْرَاهِيم بن أبي الْقَاسِم الجنزوي فِي كِتَابه: ” إدارة الْأَحْكَام ” فِي قصَّة الْكِنْدِيّ والحضرمي الَّذين اخْتَصمَا إِلَى النَّبِي – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ -، وأصل حَدِيثهمَا فِي ” الصَّحِيحَيْنِ ” فَقَالَ الْمقْضِي عَلَيْهِ: قضيت عَليّ وَالْحق لي، فَقَالَ رَسُول الله – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ -: ” إِنَّمَا نقضي بِالظَّاهِرِ وَالله يتَوَلَّى السرائر ” وَله شَوَاهِد.
والله أعلم بالصواب

Berikut cara mencucikan najis Mutawassithoh dijelaskan dalam kitab Kasyifat al-Saja Syarah Safinat al-Naja (كاشفة السجا شرح سفينة النجا)
Pengarang: Syeikh Muhammad Nawawi Al-Bantani Al-Jawi Nama yang dikenal di Arab:
محمد بن عمر بن عربي بن علي نووي الجاوي أبو عبد المعطي

Kelahiran: 1813 M, Kecamatan Tanara, Banten
Meninggal: 1897 M, Mekkah, Arab Saudi

والمتوسطة تنقسم على قسمين عينية) وهي التي تشاهد بالعين (وحكمية) أي وهي التي حكمنا على المحل بنجاسته من غير أن ترى عين النجاسة

Najis mutawasitoh dibagi menjadi dua macam, yaitu ainiah (yaitu najis yang terlihat oleh mata) dan hukmiah (yaitu najis yang tempat yang dikenainya itu kita hukumi sebagai najis tanpa terlihat dzat najisnya).

Ainiah

العينية) ضابطها هي (التي لها لون) من البياض والسواد والحمرة وغير ذلك (وريح) وهي بمعنى الرائحة عرض يدرك بحاسة الشم (وطعم) بفتح الطاء وهو ما يؤديه الذوق من الكيفية كالحلاوة وضدها

Pengertian najis mutawasitoh [ ainiah adalah najis yang masih memiliki warna], seperti; putih, hitam, merah, dan lain-lain, [dan bau], yakni sesuatu yang dapat diketahui dengan indra pencium, [dan rasa], yakni sesuatu yang dapat diketahui dengan indra pengicip, seperti; manis, pahit (dan lain-lain).

فلا بد من إزالة لو ا وريحها وطعمها) إلا ما عسر زواله من لون أو ريح فلا تجب إزالته بل يطهر محله حقيقة بخلاف ما لو اجتمعنا في محل واحد من نجاسة واحدة لقوة دلالتهما على بقاء عين النجاسة وبخلاف ما لو بقي الطعم لذلك أيضا ولسهولة إزالته غالبا


Cara mensucikan tempat yang dikenai najis ainiah [diwajibkan menghilangkan warna najis, baunya, dan rasanya] kecuali apabila warna atau bau najis sulit dihilangkan maka tidak wajib menghilangkannya, bahkan tempat yang dikenainya telah nyata suci. 
Berbeda apabila warna dan bau secara bersamaan masih ada di satu tempat yang dikenai satu najis maka tempat tersebut belum dihukumi suci karena kuatnya warna dan bau secara bersamaan dalam menunjukkan tetapnya dzat najis.
Begitu juga berbeda apabila rasa najis masih ada maka tempat yang dikenainya belum suci dan karena pada umumnya masih mudah untuk menghilangkan rasa najis tersebut.

فالواجب في إزالة النجاسة الحت والقرص ثلاث مرات وفي المصباح قال الأزهري الحت أن تحك بطرف حجر أو عود والقرص أن تدلك بأطراف الأصابع دلكا شديدا وتصب عليه الماء حتى تزول عينه وأثره انتهى

Perkara yang diwajibkan dalam menghilangkan (sifat-sifat) najis ainiah adalah mengerok dan menggosok sebanyak tiga kali.
Disebutkan dalam kitab al-Misbah, “Azhari berkata, ‘Lafadz ( الحت) (mengerok) berarti kamu mengerok dengan sisi batu atau kayu.
Lafadz القَرْص (menggosok) berarti kamu menggosok dengan ujung jari-jari dengan cara menggosok secara kuat. Kemudian kamu menuangkan air pada tempat yang dikenai najis sampai dzat najis dan bekasnya hilang.’”

فإذا بقي بعد ذلك اللون أو الريح حكم بالتعسر وطهارة المحل ولا تجب الاستعانة بالصابون والاشنان وإن بقيا معا أو الطعم وحده تعينت الاستعانة بما ذكر إلى التعذر وضابطه أن لا يزول إلا بالقطع فإذا تعذر زوال ما ذكر حكم بالعفو فإذا قدر على الإزالة بعد ذلك وجبت ولا تجب إعادة ما صلاه به أولا وإلا فلا معنى للعفو،

Apabila najis ainiah telah dikerok, digosok, dan dituangi air, ternyata masih ada warnanya atau baunya maka dihukumi sulit dan tempat yang dikenainya pun telah dihukumi suci. Tidak wajib menggunakan alat bantu semisal sabun dan tumbuhan asynan. Akan tetapi apabila warna dan bau secara bersamaan masih ada maka wajib menggunakan alat bantu tersebut hingga mencapai batas ta’adzur (sulit menghilangkan). Batasan ta’adzur adalah sekiranya warna dan bau najis tersebut tidak dapat dihilangkan kecuali dengan cara memotong tempat yang dikenai najis. Ketika telah dihukumi ta’adzur maka tempat yang dikenai najis dihukumi ma’fu. Kemudian apabila setelah dihukumi ma’fu, ternyata selang beberapa waktu, warna dan bau najis tersebut bisa dihilangkan maka wajib menghilangkannya. Namun, apabila sebelumnya seseorang telah melakukan sholat di tempat yang ma’fu tersebut maka ia tidak wajib mengulangi sholatnya setelah mampu dihilangkan. Jika tidak, maka tidak perlu dihukumi ma’fu.

ويعتبر لوجوب نحو الصابون أن يفضل ثمنه عما يفضل عنه ثمن الماء في التيمم فإن لم يقدر عليه صلى عاريا وإن لم يقدر على الحت ونحوه لزمه أن يستأجر عليه بأجرة مثله إذا وجدها فاضلة عن ذلك أيضا ذكره الشرقاوى

Kewajiban menggunakan alat bantu semisal sabun harus mempertimbangkan bahwa biaya harga alat bantu tersebut lebihan atas biaya harga air dalam tayamum. Apabila seseorang yang pakaiannya terkena najis dan ia tidak memiliki biaya untuk mendapatkan alat bantu tersebut maka ia sholat dalam keadaan telanjang. Apabila ia tidak mampu mengerok dan menggosok najis dan ia memiliki biaya yang lebihan atas biaya air maka wajib atasnya menyewa orang lain untuk mengerokkan dan menggosokkan najis dengan upah dari biaya lebihan yang ia miliki itu, seperti yang telah disebutkan oleh Syarqowi.

Lalu bagaimana jika hal tersebut ( kamar mandi ) terjadi pada orang-orang besar yang berpangkat sementara dia menginap dihotel yang mana kamarnya terdapat kamarmandi sebagaimana tersebut diatas?
Maka jawabannya hukum Islam tidak memandang orang besar dan orang kecil artinya setiap muslim wajib mengetahui hal yang wajib diketahui dan diyakini secara muthlak baik waktu sholat maupun diluar sholat. ( lihat dalam kitab Syarah sullamuttaufiq ).

Artinya si Joni baik berpangkakat /orang besar ataupun tidak jika dia memandang  kakinya ada di tempat yang selalu terkena najis, dan menyakini bahwa tempat yang dipijak oleh kakinya Joni setelah dibasuh dengan cara tersebut diatas masih menyakini najis ,Maka hukumnya kakinya Joni itu adalah najis.Dan sebaliknya. Namun jika setiap melakukan wudhu’ meragukan maka solusinya sebagai bentuk kehati-kehatian adalah memakai sandalal khusus ( letakkan didekat luar pintu kamar mandi) setelah mengakat salah satu kakinya ( yang kanan) basuhlah lalu pakaian sandalnya lalu basuh kaki yang kiri dan masukkan kedalam sandal yang kiri, atau dengan cara membuat seperti tangga loncatan diluar kamar mandi dll.

Dalam sebuah qoidah disebutkan,

اليقين لا يزال بالشك


Artinya: Keyakinan(bahwa tempat yang dipijak oleh kakinya kakinya) itu najis,itu tidak bisa dihilangkan oleh keraguan (bahwa tempat yang dipijak oleh kakinya kakinya itu suci).
Adapun najis yang dima’fu (yang diampuni) adalah najis yang tidak bisa disaksikan dengan mata, karena sedikitnya najis itu , seperti najis yang tidak bisa disaksikan dengan penglihatan mata,seperti setitik darah,dan setitik khomer,dan najis yang tergantung pada kaki lalat. Alasannya ialah karena sulitnya menjaga terhadap najis itu.

Referensi:

(الاءقناع في حل الفاظ ابي شجاع)
(القَوْل فِي النَّجَاسَة المعفو عَنْهَا) وَيسْتَثْنى أَيْضا نجس لَا يُشَاهد بالبصر لقلته كنقطة بَوْل وخمر وَمَا يعلق بِنَحْوِ رجل ذُبَاب لعسر الِاحْتِرَاز عَنهُ فَأشبه دم البراغيث
قَالَ الزَّرْكَشِيّ وَقِيَاس اسْتثِْنَاء دم الْكَلْب من يسير الدَّم المعفو عَنهُ أَن يكون هُنَا مثله وَقد يفرق بَينهمَا بالمشقة وَالْفرق أوجه ويعفى أَيْضا عَن رَوْث سمك لم يُغير المَاء وَعَن الْيَسِير عرفا من شعر نجس من غير نَحْو كلب وَعَن كَثِيره من مركوب وَعَن قَلِيل دُخان نجس وغبار سرجين وَنَحْوه مِمَّا تحمله الرّيح كالذر وَعَن حَيَوَان مُتَنَجّس المنفذ إِذا وَقع فِي المَاء للْمَشَقَّة فِي صونه وَلِهَذَا لَا يُعْفَى عَن آدَمِيّ مستجمر وَعَن الدَّم الْبَاقِي على اللَّحْم والعظم فَإِنَّهُ يُعْفَى عَنهُ وَلَو تنجس حَيَوَان طَاهِر من هرة أَو غَيرهَا ثمَّ غَابَ وَأمكن وُرُوده مَاء كثيرا ثمَّ ولغَ فِي طَاهِر لم يُنجسهُ مَعَ حكمنَا بِنَجَاسَة فَمه لِأَن الأَصْل نَجَاسَته وطهارة المَاء وَقد اعتضد أصل طَهَارَة المَاء بِاحْتِمَال ولوغه فِي مَاء كثير فِي الْغَيْبَة فرجح

Mengenai hal kehati-hatian Imam Nawawi menjelaskan dalam Kitab Al-Majmu’ Syarhul Muhaddzab pernah menjelaskan,

 
اسْتِحْبَابُ الِاحْتِيَاطِ فِي الْعِبَادَاتِ وَغَيْرِهَا بِحَيْثُ لَا يَنْتَهِي إلَى الْوَسْوَسَة

Diperbolehkan berihthiyath (berhati-hati) dalam masalah ibadah dan yang lain sehingga tidak mengakibatkan waswas.

Penekanan Ihthiyath (kehati-hatian) lebih diutamakan pada masalah ini, dikarenakan bersuci dari najis adalah salah satu syarat sahnya shalat, jika saja ada najis yang mengenai pakaian seseorang, maka akan menjulur pada keabsahan shalat itu sendiri.

Sedangkan maksud dan tujuan dari memakai sandal sendiri adalah untuk menghindari keragu-raguan, najis dan kotoran itu sendiri. Maka jika terpenuhinya maksud tersebut adalah dengan memakai sandal, maka hal itu dianjurkan sebagai sarana terwujudnya maksud dan tujuan. Wallahu A’lam

Kategori
Uncategorized

BOLEHKAH ZAKAT DIBERIKAN DILUAR TEMPAT DOMISILI ?

BOLEHKAH MEMBAYAR ZAKAT DILUAR DOMISILI MUZAKKI ?

Assalamualaikum

Deskripsi masalah

Ada seorang asal Indonesi punya usaha diluar negri diantara usahanya adalah ternak sapi  dengan di gembalakan artinya tidak dengan diusahakan makanan oleh pemiliknya, melainkan hewan ( sapi ) tersebut mencari makan sendiri  lama- lama kemudian sapi tersebut banyak berkisar 40- keatas

Pertanyaannya

1. Apakah boleh zakat sapi tersebut perupa daging sapi atau diuangkan seharga satu sapi ? Mengingat sapinya berada diluar negeri

2.Bolehkah  zakat tersebut diberikan oleh muzakki diluar batas tempat domisili ( kepada  mustahik zakat   diluar negeri ) ?

Waalikum salam.

Jawaban.1

Harta yang telah dimiliki oleh seseorang secara sempurna ( hak milik penuh ) dan sampai batasan nisab dan haul maka wajib dikeluarkan kecuali harta tambang dan tanaman (maka tidak perlu syarat haul).”

Sedangkan jika hartanya berupa binatang ternak semisal sapi maka zakatnya harus berupa sapi bukan dengan cara disembelih berupa dagingnya  ataupun berupa uang, alasannya karena sudah diatur didalam syariat bahwa zakatnya sapi harus dikeluarkan berupa sapi dan  harus diberikan kepada orang yang berhak menerima zakat.  Berikut rincian nisabnya sapi adalah :

1. 30 ekor  maka wajib dikeluarkan  zakatnya 1 ekor sapi umur 1 tahun

2. 40 ekor 1 ekor sapi umur 2 tahun   Setelah aset mencapai 60 ekor, maka setiap kelipatan 30, zakatnya 1 ekor sapi umur 1 tahun, dan setiap kelipatan 40, zakatnya 1 ekor sapi umur 2 tahun.

Contoh:

1. Aset 60 ekor sapi, zakatnya adalah 2 ekor sapi umur 1 tahun, sebab, 60 ekor terdiri dari 30 ekor x2.

2. 2.Aset 70 ekor sapi, zakatnya adalah 1 ekor sapi umur 1 tahun dan 1 ekor sapi umur 2 tahun. Sebab, 70 ekor sapi terdiri dari 30 ekor dan 40 ekor sapi.

3. Aset 120 ekor sapi, zakatnya adalah 4 ekor sapi umur 1 tahun atau 3 ekor sapi umur 2 tahun. Sebab, 120 ekor terdiri dari 30 ekor x 4 atau 40 ekor x 3. (Lihat Muhammad Nawawi ibn Umar, Qut al-Habib al-Gharib, Surabaya, al-Hidayah, halaman 103-104)

Dalil:

عَنْ مُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ قَالَ بَعَثَنِي النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَى الْيَمَنِ فَأَمَرَنِي أَنْ آخُذَ مِنْ كُلِّ ثَلَاثِينَ بَقَرَةً تَبِيعًا أَوْ تَبِيعَةً وَمِنْ كُلِّ أَرْبَعِينَ مُسِنَّةً

“Dari Mu’adz ibn Jabal, ia berkata, ‘Baginda Nabi shallallahu ‘alaihi wassallam mengutusku ke Yaman, kemudian beliau memerintahku untuk mengambil zakat dari setiap tiga puluh ekor sapi, seekor sapi berusia setahun, menginjak usia tahun keduanya, jantan atau betina, dan dari setiap empat puluh ekor sapi, seekor sapi berusia dua tahun,menginjak usia ketiga’.” (HR. At-Tirmidzi)

Dalam hadits yang lain Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassallam bersabda:

وَلَيْسَ فِي مَالٍ زَكَاةٌ حَتَّى يَحُولَ عَلَيْهِ الْحَوْلُ

“Suatu harta tidak wajib dizakati kecuali telah melewati masa setahun.” (HR. Abu Dawud)

فقه الإسلامى وادلته ج ٣ ص ١٧٨٨

إخراج جزء مخصوص من مال بلغ نصاباً، لمستحقه، إن تم الملك، وحول، غير معدن وحرث


 Artinya: “Keharusan mengeluarkan bagian tertentu dari suatu harta ketika telah mencapai nishab (jumlah minimum wajib zakat) kepada penerima zakat, dengan catatan jika harta tersebut merupakan milik sempurna dan mencapai haul, kecuali harta tambang dan tanaman (maka tidak perlu syarat haul).” (Al-Fiqhu al-Islamy wa Adillatuhu, III/1788).

ولان العوامل والمعلوفة لا تقتنى للنماء فلم تجب فيها الزكاة كثياب البدن وأثاث الدار

“Karena sesungguhnya binatang ternak yang dipekerjakan dan binatang yang diberi makan dengan cara dicarikan rumput tidak semata-mata untuk dikembang-biakan, sehingga tidak wajib dizakati sebagaimana pakaian dan perabot rumah.” (An-Nawawi, al-Majmu’ Syarh al-Muhadzdzab, Mesir, al-Muniriyah, jilid V, halaman: 323).
Dari penjelas diatas dapat disimpulkan bahwa sapi yang wajib dizakati adalah.

1. Sampai minimal satu nisab

2. harus haul sampai satu tahun

3. Milik sempurna

4. Harus digembalakan ( mencari makan sendiri ) .

Jawaban .No 2

Batasan memindah zakat, ( diluar tempat domisili ) Para pakar fiqh masih silang pendapat tentang batasan jarak tidak diperbolehkanya memindah zakat, namun menurut sumber, yang lebih kuat adalah pendapat yang membatasi sampai tempat mulai diperkenankannya mengqosor dan menjama’ sholat.

(حاشية الجمل ج.٤ ص ١٠٨ )
(فرع) ما حد المسافة التى يمتنع نقل الزكاة اليها فيه تردد والمتجه منه ان ضابطها فى البلد ونحوه ما يجوز الترخص ببلوغه ثم رأيت حج مشى على ذلك فى فتاويه فحاصله انه يمتنع نقلها الى مكان يجوز فيه القصر وتجوز الى ما لا يجوز فيه القصر اهـ سم على حج.

Menurut qoul adzhar tidak boleh memindah zakat dari tempat diwajibkannya mengeluarkan zakat seraya wujudnya orang-orang yang berhak menerima zakat, dipindah ke daerah lain yang juga ada orang-orang yang berhak menerimanya. Semisal, zakat tersebut diberikan kepada mereka (mustahiq zakat yang berada didaerah lain), maka hukumnya diharamkan dan tidak mencukupi, karena berdasarkan hadits Bukhorî dan Muslim. “Shodaqoh (Zakat) itu diambilkan dari orang-orang yang kaya, kemudian zakat tersebut dikembalikan (diberikan) kepada orang-orang faqir dari golongan mereka”.
Sedangkan menurut pendapat yang kedua “Boleh memindah zakat dan sudah dianggap mencukupi karena berdasarkan kemutlakan firman Allah”. Dan apabila disebuah daerah tidak ditemukan ashnâf yang menerima zakat, maka zakat wajib pindah kedaerah yang paling terdekat.

Pendapat yang ke-dua ini telah dipilih oleh segolongan ulama’ dari ashâb imam Syafi’I, seperti Ibnu Sholah, Ibnu Al-Farkâh dan ulama’ yang lainnya. Syaikhunâ (Zakaria Al-Anshôrî) berkata dengan mengikuti terhadap pendapat guru kami imam Ar-Romlî, diperbolehkan bagi seseorang mengamalkan pendapat tersebut untuk dirinya sendiri, begitu pula mengamalkan semua hukum-hukum dengan berpijak terhadap pendapat ulama’ yang dapat dipercaya dari beberapa ulama’. Seperti imam Al-Adzrô’I, Al-Subukî dan imam Al-Isnâwî menurut qoul mu’tamad “.

حاشيتا قليوبي وعميرة الجزء ٣ صحيفة :٢٠٤ مكتبة دار إحياء الكتب العربية

( وَالْأَظْهَرُ مَنْعُ نَقْلِ الزَّكَاةِ ) مِنْ بَلَدِ الْوُجُوبِ مَعَ وُجُودِ الْمُسْتَحِقِّينَ فِيهِ إلَى بَلَدٍ آخَرَ فِيهِ الْمُسْتَحِقُّونَ ، بِأَنْ تُصْرَفَ إلَيْهِمْ أَيْ يَحْرُمُ ، وَلَا يُجْزِئُ لِمَا فِي حَدِيثِ الشَّيْخَيْنِ { صَدَقَةٌ تُؤْخَذُ مِنْ أَغْنِيَائِهِمْ ، فَتُرَدُّ عَلَى فُقَرَائِهِمْ } ، وَالثَّانِي : يَجُوزُ النَّقْلُ وَيُجْزِئُ لِلْإِطْلَاقِ فِي الْآيَةِ ، ( وَلَوْ عُدِمَ الْأَصْنَافُ فِي الْبَلَدِ وَوَجَبَ النَّقْلُ ) إلَى أَقْرَبِ الْبِلَادِ إلَيْهِ – إلى أن قال – قَوْلُهُ : ( وَالثَّانِي يَجُوزُ النَّقْلُ وَتُجْزِئُ ) وَاخْتَارَهُ جَمَاعَةٌ مِنْ أَصْحَابِ الشَّافِعِيِّ كَابْنِ الصَّلَاحِ وَابْنِ الْفِرْكَاحِ وَغَيْرِهِمْ ، قَالَ شَيْخُنَا تَبَعًا لِشَيْخِنَا الرَّمْلِيِّ : وَيَجُوزُ لِلشَّخْصِ الْعَمَلُ بِهِ فِي حَقِّ نَفْسِهِ ، وَكَذَا يَجُوزُ الْعَمَلُ فِي جَمِيعِ الْأَحْكَامِ بِقَوْلِ مَنْ يَثِقُ بِهِ مِنْ الْأَئِمَّةِ ، كَالْأَذْرَعِيِّ وَالسُّبْكِيِّ وَالْإِسْنَوِيِّ عَلَى الْمُعْتَمَدِ .

حاشية إعانة الطالبين الجزء ٢ صحيفة : ٢١٢ مكتبة دار الفكر

(إِعْلَمْ)

رَحِمَكَ اللهُ إِنَّ مَسْأَلَةَ نَقْلِ الزَّكَاةِ فِيْهَا اخْتِلاَفٌ كَثِيْرٌ بَيْنَ الْعُلَمَاءِ، وَالْمَشْهُوْرُ فِيْ مَذْهَبِ الشَّافِعِيِّ امْتِنَاعُ نَقْلِهَا إِذَا وُجِدَ الْمُسْتَحِقُّوْنَ لَهَا فِيْ بَلَدِهَا. وَمُقَابِلُ الْمَشْهُوْرُ جَوَازُ النَّقْلِ، وَهُوَ مَذْهَبَ الْاِمَامِ أَبِىْ حَنِيْفَةَ رَضِىَ اللهُ عَنْهُ وَكَثِيْرٌ مِنَ الْمُجْتَهِدِيْنَ، مِنْهُمُ اْلاِمَامُ الْبُخَارِيُّ – إِلَى أَنْ قَالَ – قَالَ شَارِحُهُ الْقَسْطَلاَنِىُّ: ظَاهِرُهُ أَنَّ الْمُؤَلِّفُ يَخْتَارُ جَوَازَ نَقْلِ الزَّكَاةِ مِنْ بَلَدِ الْمَالِ. وَهُوَ أَيْضًا مَذْهَبُ الْحَنَفِيَّةِ وَالْاَصَحُّ عِنْدَ الشَّافِعِيَّةِ وَالْمَالِكِيَّةِ عَدَمُ الْجَوَازِ: اِنْتَهَى.اهــ

Ketahuilah, Semoga Allah memberkatimu “Sesungguhnya masalah memindah zakat terdapat khilafiyah diantara ulama’. Menurut Pendapat yang masyhûr dalam madzhab syâfi’i adalah melarang memindah zakat pada daerah lain, apabila pada daerah tersebut ditemukan orang-orang yang berhak menerima zakat.

Sedangkan menurut muqôbil masyhûr yang memperbolehkan memindah zakat, itu adalah madzhab imam Abu Hanifah ra, dan segolongan ulama’ dari para mujtahid, diantara mereka adalah imam Al-Bukhôrî.
Menurut pengarang syârih (Al-Qostholânî), menurut dzohirnya ibarat diatas, bahwa pengarang “Î’anah Al-tholibîn” memilih memperbolehkan memindah zakat dari daerah harta zakat, itu adalah juga pendapat madzhab Hanifiah. Sedangkan menurut pendapat yang ashoh madzhab Syâfi’î dan Malikiyyah tidak memperbolehkannya”.

• بغية المسترشدين ١٠٥-١٠٦ في باب الزكات مكتبة دار الفكر
اَلرَّاجِحُ فِى الْمَذْهَبِ عَدَمُ جَوَازِ نَقْلِ الزَّكاَتِ وَاخْتَارَ جَمْعُ الْجَوَازَ كَابْنِ عُجَيْلٍ وَابْنِ الصَّلاَحِ وَغَيْرِ هِمَا قَالَ أَبُو مَخْرَمَةَ وَهُوَ الْمُخْتاَرُ إِذاَ كاَنَ لِنَحْوِ قَرِيْبٍ وَاخْتَارَهُ الرَّوْياَنِى وَنَقَلَهُ الْخَطَّابِى عَنْ أَكْثَرِ الْعُلَماَءِ وَبِهِ قَالَ ابْنُ عَتِيْق فَيَجُوْزُ تَقْلِيْدُ هَؤُلاَءِ (مَسْأَلَةٌ ي ك) لاَيَجُوْزُ نَقْلُ الزَّكاَتِ وَالْفِطْرَةِ عَلىَ اْلأَظْهَرِ مِنْ أَقْوَالِ الشَّافِعِى نَعَمْ أُسْتُثْنِيَ فِى التُّحْفَةِ وَالنِّهَاَيَةِ مَا يَقْرُبُ مِنَ الْمَوْضِعِ وَيُعَدُّ مَعَهُ وَاحِدًا وَإِنْ خَرَجَ عَنِ السُّوْرِ. زَادَ ك وح. قَالَ فَالْمَوْضِعُ الَّذِى حَالَ الْحَوْلِ وَالْمَالُ فِيْهِ هُوَ مَحَلُّ إِخْرَاجِ زَكاَتِهِ هَذَا إِنْ كَانَ قَارًّا بِبَلَدٍ وَإِنْ كَانَ سَائِرًا وَلَمْ يَكُنْ نَحْوُ الْمَالِكِ مَعَهُ جَازَ تَأْخِيْرُهَا حَتَّى يَصِلَ إِلَيْهِ وَالْمَوْضِعُ الَّذِى غَرَبَتِ الشَّمْسُ وَالشَّخْصُ بِهِ هُوَ مَحَلُّ إِخْرَاجِ فِطْرِهِ. اهــ

Pendapat madzhab (syafi’i) yang paling unggul tidak memperbolehkan pemindahan zakat ke (daerah lain). Sekelompok ulama memilih di perbolehkan pemindahan zakat, seperti pendapat Ibnu ‘Ujail dan Ibnu Shalah. Yang lebih baik menurut Ibnu Makhromah adalah (kebolehan memindah zakat) untuk daerah yang dekat. Pendapat ini juga di anut oleh Imam Al-Rauyani, Al-khathabi, Ibnu ‘Atiq dan sebagian besar ulama, maka boleh mengikuti mereka itu.

Menurut salah satu pendapat Imam Syafi’i yang lebih shahih, tidak diperkenankan memindahkan zakat (maal) dan (fitrah). Dalam karya Tuhfah dan Nihayah terdapat pengecualian untuk tempat yang berdekatan dan masih dianggap satu walaupun berada di luar perbatasan.
Daerah tempat perputaran harta merupakan tempat pengeluaran zakatnya. Hal ini jika menempati di suatu tempat, sedangkan kalau bepergian, maka boleh mengakhirkan zakat sehingga sampai ke tempat yang dituju. Dan daerah tempat terbenamnya matahari dan orang yang berada di sana merupakan tempat pengeluaran zakat fitrahnya “. Wallohu a’lam.

Kategori
Uncategorized

SAHKAH RUJUK LEWAT TELPON TANPA QOBUL DAN SAKSI?

SAHKAH RUJUK LEWAT TELPON DENGAN TANPA QOBUL DAN SAKSI DALAM IDDAH ?

Assalamualaikum

Deskripsi masalah

Dalam waqiiyah ada sepasang suami Istri pada awalnya mereka itu SAMAWA hingga dikaruniai dua anak entah kenapa pada suatu hari terjadi ungkapan talak setelah terjadi talak Istripun menjalani iddah dan mutholliq (suaminya) lalu berangkat ke Malasia namun ketika sampai dimalasia dia merasa ingin kembali (rujuk ) mengingat masa-masa terindah dimasa lalunya dan kasihan terhadap anak-anaknya lalu dia telpon istrinya yang telah ditalak melalui telpon.
Dengan ucapan saya rujuk kepadamu sayang? Sedang siistri tidak qobul hanya diam saja tapi ketika ditelpon nyambung( bercakap – cakap )
 
PERTANYAAN :

  1. Sahkah rujuk lewat telepon ? Walaupun tanpa qabul dan saksi sebagaimana deskripsi

JAWABAN :

Rujuk itu sah walaupun tanpa qobul (ungkapan menerima) dari istri, sebab qabul tidak menjadi syarat ruju’.Dan Rujuk sah dilakukan lewat telepon, mengambil mafhum dari penjelasan rukun ruju’ yang tidak mensyaratkan khudhur, berbeda halnya dengan ketentuan akad nikah yang harus khudhur (hadir dalam majelis, saling berhadapan) Dengan catatan harus memenuhi syarat berikut.

  1. Bukan ruju’ dari talak 3
  2. .Tholaq yang dilakukan setelah dukhul / istri pernah di-dukhul. Jika istri belum sempat di-dukhul sudah di-thalak maka tidak boleh diruju’ karena langsung jadi thalak ba’in.
  3. Bukan talak yang memakai ‘iwadh / uang tebusan ( bukan tholaq dari sebab zhihar ).
  4. Ruju’ dilakukan sebelum habis masa iddahnya.
  5. Wanita yang mau diruju’ masih dalam satu agama yakni islam.
  6. Jelas wanitanya.

Dari syarat syarat di atas tidak disebutkan syarat qobul dari istri, jadi rujuk itu sah walaupun tanpa qobul (ungkapan menerima) dari istri.Wallahu A’lam bisshowab.

وأركانها ثلاثة محل ومرتجع وصيغة  الكتاب: نهاية الزين ص٣٢٦
ولا يشترط لصحة الرجعة الإشهاد عليها لأنها في حكم استدامة النكاح ومن ثم لم يحتج لولي ولا لرضاء المرأة بل يندب الإشهاد  الكتاب: نهاية الزين .ص٣٢٦
الرَّجْعَةُ حَقٌّ مِنْ حُقُوقِ الزَّوْجِ وَهِيَ لاَ تَحْتَاجُ لِقَبُول الْمَرْأَةِ ، لِذَلِكَ لاَ تُشْتَرَطُ الشَّهَادَةُ لِصِحَّتِهَا  الكتاب : الموسوعة الفقهية الكويتية ج٢٢ ص١١٢

بجيرمى على الخطيب

(وَشُرُوطُ) صِحَّةِ (الرَّجْعَةِ أَرْبَعَةٌ) وَتَرَكَ خَامِسًا وَسَادِسًا كَمَا سَتَعْرِفُهُ: الْأَوَّلُ (أَنْ يَكُونَ الطَّلَاقُ دُونَ الثَّلَاثِ) فِي الْحُرِّ وَدُونَ اثْنَيْنِ فِي الرَّقِيقِ, وَلَوْ قَالَ كَمَا فِي الْمِنْهَاجِ لَمْ يَسْتَوْفِ عَدَدَ الطَّلَاقِ لَشَمِلَ ذَلِكَ أَمَّا إذَا اسْتَوْفَى ذَلِكَ فَإِنَّهُ لَا سُلْطَةَ لَهُ عَلَيْهَا. (وَ) الثَّانِي (أَنْ يَكُونَ) الطَّلَاقُ (بَعْدَ الدُّخُولِ بِهَا) فَإِنْ كَانَ قَبْلَهُ فَلَا رَجْعَةَ لَهُ لِبَيْنُونَتِهَا وَكَالْوَطْءِ اسْتِدْخَالُ الْمَنِيِّ الْمُحْتَرَمِ. (وَ) الثَّالِثُ (أَنْ لَا يَكُونَ الطَّلَاقُ بِعِوَضٍ) مِنْهَا أَوْ مِنْ غَيْرِهَا فَإِنْ كَانَ عَلَى عِوَضٍ فَلَا رَجْعَةَ كَمَا تَقَدَّمَ تَوْجِيهُهُ فِي الْخُلْعِ. (وَ) الرَّابِعُ (أَنْ تَكُونَ) الرَّجْعَةُ (قَبْلَ انْقِضَاءِ الْعِدَّةِ) فَإِذَا انْقَضَتْ فَسَيَأْتِي فِي كَلَامِ الْمُصَنِّفِ فِي الْفَصْلِ بَعْدَهُ مَعَ أَنَّ هَذَا الْفَصْلَ سَاقِطٌ مِنْ بَعْضِ النُّسَخِ. وَالْخَامِسُ: كَوْنُ الْمُطَلَّقَةِ قَابِلَةً لِلْحِلِّ لِلْمَرَاجِعِ فَلَوْ أَسْلَمَتْ الْكَافِرَةُ وَاسْتَمَرَّ زَوْجُهَا وَرَاجَعَهَا فِي كُفْرِهِ لَمْ يَصِحَّ أَوْ ارْتَدَّتْ الْمُسْلِمَةُ لَمْ تَصِحَّ مُرَاجَعَتُهَا فِي حَالِ رِدَّتِهَا ; لِأَنَّ مَقْصُودَ الرَّجْعَةِ الْحِلُّ وَالرِّدَّةُ تُنَافِيه, وَكَذَا لَوْ ارْتَدَّ الزَّوْجُ أَوْ ارْتَدَّا مَعًا. وَضَابِطُ ذَلِكَ انْتِقَالُ أَحَدِ الزَّوْجَيْنِ إلَى دِينٍ يَمْنَعُ دَوَامَ النِّكَاحِ. وَالسَّادِسُ: كَوْنُهَا مُعَيَّنَةً, فَلَوْ طَلَّقَ إحْدَى زَوْجَتَيْهِ وَأَبْهَمَ ثُمَّ رَاجَعَ أَوْ طَلَّقَهُمَا جَمِيعًا ثُمَّ رَاجَعَ إحْدَاهُمَا لَمْ تَصِحَّ الرَّجْعَةُ إذْ لَيْسَتْ الرَّجْعَةُ فِي احْتِمَالِ الْإِبْهَامِ كَالطَّلَاقِ لِشَبَهِهَا بِالنِّكَاحِ لَا يَصِحُّ مَعَ الْإِبْهَامِ, وَلَوْ تَعَيَّنَتْ وَنَسِيَتْ لَمْ تَصِحَّ رَجْعَتُهَا أَيْضًا فِي الْأَصَحِّ. تَتِمَّةٌ: لَوْ عَلَّقَ طَلَاقَهَا عَلَى شَيْءٍ وَشَكَّ فِي حُصُولِهِ فَرَاجَعَ ثُمَّ عَلِمَ أَنَّهُ كَانَ حَاصِلًا فَفِي صِحَّةِ الرَّجْعَةِ وَجْهَانِ, أَصَحُّهُمَا كَمَا قَالَهُ شَيْخُ النَّوَوِيِّ الْكَمَالُ سَلارٌ فِي مُخْتَصَرِ الْبَحْرِ إنَّهَا تَصِحُّ.

Kategori
Uncategorized

HUKUM MENAHAN DANA SUMBANGAN UNTUK ANAK YATIM DITINJAU DARI MAQOSID AS-SYARIAH

HUKUM MENAHAN DANA SUMBANGAN UNTUK ANAK YATIM DITINJAU DARI MAQOSID AS-SYARIAH

Assalamualakum. Wr. Wb.
Mohon ma’af sebelumnya kepada para kiai dan para ustsdz.
Deskripsi masalah

“Dalam waqiiyah disebuah Daerah ada salah satu Masjid mengadakan Peringatan tahun baru Islam atau Peringatan bulan Muharram ( 10 Asyuro’ ) kegiatan tersebut sudah menjadi kegiatan rutinilitas di setiap tahun yang digelar oleh pengurus takmir dimana dalam acara peringatan 10 Asyura’ tersebut didalamnya dikemas dengan acara santunan anak Yatim yang mana biaya dari kegiatan peringatan 10 Muharrom tersebut sekaligus santunan anak yatim diperoleh dari hasil sumbangsih atau menggalang dana dari sumbangan masyarakat sedangkan hasil komolatif dari penggalangan dana tersebut kemudian dipilah-pilah, misalkan untuk sonsistem, konsumsi, dan juga untuk santunanan anak Yatim dll.
Sehubungan dengan adanya dana yang dialokasikan Untuk anak Yatim sangatlah banyak, dan untuk tidak mengkosongkan acara ditahun mendatang, maka panitia membuat aturan kesepakatan bersama, bahwa dana yang akan dialokasikan untuk santunan anak yatim agar diberikan separuh ( tidak dibagikan secara keseluruhan ) artinya sebagian dana tersebut disimpan untuk diberikan atau disantunkan kepada anak Yatim di tahun berikutnya ( yang akan datang ) dan itu terjadi tiap tahun”.

Pertanyaan
Bagaimana hukum menahan dana uang sumbangan santunan anak yatim dengan tujuan akan diberikan pada tahun berikutnya?. Terimakasih sebelumnya atas jawaban. Wassalam. 🙏🙏🙏


Waalikum salam.
Jawaban.
Hukumnya pengurus takmir atau bendara Masjid meyimpan  dana atau menahan uang  yang diperuntukkan untuk santunanan anak yatim tidaklah bertentangan dengan maqoshid al-Syari’ah, karena tujuan syariah adalah kemaslahatan kebaikan bukan untuk diselewengkan hanya saja  waktunya ditunda akan diberikan ditahun mendatang atau karena tujuan agar ditahun mendatang lebih banyak untuk digabungkan dengan partisipasi pengumpulan dana yang baru, maka hukumnya boleh.

Ini adalah maslahah, bukan mafsadah. Dengan catatan kegiatan tersebut sudah menjadi kesepakatan bersama pengurus, namun  yang terpenting adalah amanah dan bertanggung jawab. Ini berdasarkan  kaidah:

الْمُسْلِمُوْنَ عَلَى شُرُوْطِهِمْ

“Kaum muslimin tergantung pada syarat-syarat yang dibuat oleh mereka.”
Ketika mereka sudah sepakat dengan suatu syarat, maka mereka harus menjalankan apa yang mereka sepakati. Ini adalah kaidah yang sangat agung. Dan kaidah ini bisa menjaga hak-hak kaum Muslimin.
Kaidah ini berasal dari sebuah hadits. Hadits tersebut diriwayatkan dari Katsir bin Abdullah bin Amr bin Auf Al-Muzani bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pernah bersabda:


الصُّلْحُ جَائِزٌ بَيْنَ الْمُسْلِمِيْنَ إِلاَّ صُلْحًا حَرَّّمَ حَلاَلاً أَوْ أَحَلَّ حَرَامًا وَالْمُسْلِمُوْنَ عَلَى شُُرُوْطِهِمْ إِلاَّ شَرْطًا حَرَّمَ حَلاَلاً أَوْ أَحَلَّ حَرَامًا


Berdamai dengan sesama muslimin itu diperbolehkan kecuali perdamaian yang menghalalkan suatu yang haram atau mengharamkan suatu yang halal. Dan kaum Muslimin harus memenuhi syarat-syarat yang telah mereka sepakati kecuali syarat yang mengharamkan suatu yang halal atau menghalalkan suatu yang haram. (HR. Bukhari).

مقاصد الشريعة الإسلامية ومكارمها
للشيخ وهبة الزحيلي ج ٢ ص ١٠١٧

ﻣﻘﺎﺻﺪ ﺍﻟﺸ ﺮﻳﻌﺔ ﻫﻲ ﺍﳌﻌﺎﱐ ﻭﺍﻷﻫﺪﺍﻑ ﺍﳌﻠﺤﻮﻇﺔ ﻟﻠﺸﺮﻉ ﰲ ﲨﻴﻊ ﺃﺣﻜﺎﻣﻬﺎ ﺃﻭ ﻣﻌﻈﻤﻬﺎ . ﺃﻭ ﻫﻲ ﺍﻟﻐﺎﻳﺔ ﻣﻦ ﺍﻟﺸﺮﻳﻌﺔ ﻭﺍﻷﺳﺮﺍﺭ ﺍﻟﱵ ﻭﺿﻌﻬﺎ ﺍﻟﺸﺎﺭﻉ ﻋﻨﺪ ﻛﻞ ﺣﻜﻢ ﻣﻦ ﺃﺣﻜﺎﻣﻬﺎ

Maqoshid al-Syari’ah adalah makna-makna dan tujuan yang dapat difahami/dicatat pada setiap hukum dan untuk mengagungkan hukum itu sendiri atau bisa juga difinisikan dengan tujuan akhir dari syariat Islam dan rahasia-rahasia yang ditetapkan oleh as-Syar’iy pada setiap hukum yang ditetapkannya. ( Dikutip dari kitab Alal al-Fasi al-Maqosid as-syari’ah al-Islamiyah Wamakarimuha cet.ke- 5 Dar- al-Gharb al-Islamiy .1993 h.7 Riyadh manshur al-Khalifi al-Maqosid….h.8 Wahbah az-Zuhailiy Usul al-Fiqh al-Islami juz ke-2 cet.1 ( Damasqus Dar al-Fikr (1986 ) h. 1017 )

مقاصد الشريعة الإسلامية للأستاذ الدكتور محمد وهبة بن مصطفى الزحيلي: ص ٧-٨

تعريف المقاصد:
المقاصد لغة جمع مقصد، من قصد الشيء وقصد له وقصد إليه قصدًا من باب ضرب، بمعنى طلبه وأتى إليه واكتنزه وأثبته، والقصد والمقصد هو طلب الشيء أو إثبات الشيء، أو الاكتناز في الشيء أو العدل فيه(١).
ومقاصد الشريعة في اصطلاح العلماء هي الغايات والأهداف والنتائج والمعاني التي أتت بها الشريعة، وأثبتتها في الأحكام، وسعت إلى تحقيقها وإيجادها والوصول إليها في كل زمان ومكان(٢).

Maqāsid menurut bahasa adalah jamak dari kata Maqshid yang berarti tujuan, artinya orang yang berhasrat/bertujuan terhadap sesuatu hal, kepadanya qoshada dari bab Dhoraba artinya dia mencarinya, mendatanginya, menyimpanya, dan membuktikannya mencari sesuatu atau membuktikan sesuatu, atau menyimpan sesuatu atau berlaku adil terhadapnya.

Adapun Maqosid menurut hukum syariah menurut terminologi para ulama adalah maksud, tujuan, hasil, dan makna yang dibawa oleh hukum syariah, yang ditetapkan dalam peraturan, dan diupayakan untuk dicapai, diciptakan, dan dicapai pada setiap waktu dan tempat


(١) انظر: القاموس المحيط ٢/٣٢٧، معجم مقاييس اللغة ٥/٩٥، المصباح المنير ٢/٦٩٢، مختار الصحاح ص. ٥٣٦، تهذيب الأسماء اللغات ٢/٩٢.
(٢) انظر: مقاصد الشريعة الإسلامية ص.١٣، الأصول العامة لوحدة الدين الحق ص.٦١

تحديد مقاصد الشريعة:
إن الله سبحانه وتعالى خلق الإنسان على أحسن تقويم، وكرم بني آدم في غاية التكريم، وفضلهم على سائر المخلوقات، وسخر لهم ما في الأرض وما في السموات، وجعلهم خلفاءه في الأرض، وفوق كل ذلك فن الله تعالى لم يخلق الإنسان عبثًا، ولم يتركه سدًى، وإنما أرسل له الرسل والأنبياء، وأنزل عليهم الكتب والشرائع، إلى أن ختم الله الرسل والأنبياء بسيدنا محمد عليه أفضل الصلاة والسلام، وختم الكتب والشرائع بالقرآن العظيم وشريعة الإسلام، وتهدف هذه الشريعة إلى تحقيق السعادة للإنسان في هذه الدنيا لتحقيق خلافة الله في أرضه، فجاءت الشريعة لتأمين مصالح الإنسان، وهي جلب المنافع له، ودفع المضار عنه فترشده إلى الخير، وتهديه سواء السبيل، وتدله على البر، وتأخذ بيده إلى الهدى القويم، وتكشف له المصالح الحقيقية، ثم وضعت له الأحكام الشرعية لتكون له هاديًا ودليلاً لتحقيق هذه المقاصد والغايات، وأنزلت عليه الأصول والفروع لإيجاد هذه الأهداف، ثم لحفظها وصيانتها وتأمينها وعدم الاعتداء عليها.
وحدد العلماء مقاصد الشريعة بأنها تحقيق مصالح الناس في الدنيا والآخرة، في العاجل والآجل، ومصالح الناس في الدنيا هي كل ما فيه نفعهم وفائدتهم وصلاحهم وسعادتهم وراحتهم، وكل ما يساعدهم على تجنب الأذى والضرر ودفع الفساد، إن عاجلاً أو آجلاً، ومصالح الناس في الآخرة هي الفوز برضاء الله تعالى في الجنة، والنجاة من عدابه وغضبه في النار، وقد وردت الأحكام الشرعية لجلب المصالح للناس، ودفع المفاسد عنهم. هذا وإن كل حكم شرعي إنما نزل لتأمين أحد المصالح أو دفع أحد المفاسد، أو لتحقيق الأمرين معًا، وما من مصلحة في الدنيا والآخرة إلا وقد رعاها المشرع، وأوجد لها الأحكام التي تكفل إيجادها والحفاظ عليها، ويجب التنويه إلى أن المشرع الحكيم لم يترك مفسدة في الدنيا والآخرة، في العاجل والآجل إلا بيَّنها للناس وحذرهم منها، وأرشدهم إلى اجتنابها والبعد عنها.
والدليل على ذلك الاستقراء الكامل للنصوص الشرعية من جهة، ولمصالح الناس من جهة ثانية، وأن الله تعالى لا يفعل الأشياء عبثًا في الخلق والإيجاد والتهذيب والتشريع، وأن النصوص الشرعية في العقائد والعبادات والأخلاق والمعاملات المالية والعقوبات وغيرها جاءت معللة بأنها لتحقيق المصالح ودفع المفاسد(١).
ـ فالعقيدة بمختلف أصولها وفروعها إنما جاءت لرعاية مصالح الإنسان في هدايته إلى الدين الحق، والإيمان الصحيح، مع تكريمه والسمو به عن مزالق الضلال والانحراف، وإنقاذه من العائد الباطلة والأهواء المختلفة والشهوات الحيوانية، فجاءت أحكام العقيدة لترسيخ الإيمان بالله تعالى واجتناب الطاغوت، ليسمو الإنسان بعقيدته وإيمانه، وينجو من الوقوع في شرك الوثنية، وتأليه المخلوقات من بقر وقرود، وشمس وقمر، ونجوم وشياطين، وغير ذلك.
قال تعالى: (فمن يكفر بالطاغوت ويؤمن بالله فقد استمسك بالعروة الوثقى لا انفصام لها( [البقرة: ٢٥٦]
وقال تعالى: (والذين اجتنبوا الطاغوت أن يعبدوها وأنابوا إلى الله لهم البشرى، فبشر عباد الذين يستمعون القول فيتبعون أحسنه، أولئك الذين هداهم الله، وأولئك هم أولوا الألباب( [الزمر: ١٧ ـ ١٨]
وقال تعالى مبينًا الحكمة والغاية من خلق الإنسان: (وهو الذي خلق السموات والأرض في ستة أيام، وكان عرشه على الماء ليبلوكم أحسن عملاً( [هود: ٧]
وقال تعالى (وما خلقت الجن والإنس إلا ليعبدون، ما أريد منهم من رزق وما أريد أن يطعمون [ الذاريات .ص ٥٦-٥٧]


() اختلف علماء الأصول في اعتبار الأحكام معللة أم لا، على قولين: فذهب الجمهور إلى أن جميع الأحكام الشرعية معللة بمصالح العباد، ولكن معظمها معلل بعلة ظاهرة، وبعضها معلل بعلة غير ظاهرة، وهي التي يسمونها (الأحكام التعبدية) أي الأحكام التي تعبّدنا الله تعالى بها، لتنفيذها وإرضاء الله تعالى بها، ولو لم تعرف لها علة وحكمة وسببًا، كأوقات الصلاة، وأعداد الركعات، ونصاب الزكاة، وقال بعض العلماء: إن الأحكام الشرعية كلها غير معللة، قال الشيخ تقي الدين ابن تيمية: “لأهل السنة في تعليل أفعال الله تعالى وأحكامه قولان، والأكثرون على التعليل” [منهاج السنة النبوية ٢/٢٣٩ مطبعة المدني] وانظر تحقيق هذا الموضوع مع مراجعه وأدلته في [شرح الكوكب المنير ١/٣١٢ وما بعدها، الموافقات ٢/٣، الأحكام للآمدي ٢/٢٥٢، ٢٧١، مقاصد الشريعة الإسلامية ١٣، ٢٠، قواعد الأحكام للعز بن عبد السلام ٢/٥].

Kategori
Uncategorized

HUKUM MENAMBAH WAROH MATULLAH WABAROKATUH DALAM MENGUCAPKAN SALAM DIDALAM SHALAT

HUKUM MENAMBAH KALIMAT WARAHMATULLAHI WABARO KATUH DALAM MENGUCAPKAN SALAM DIDALAM SALAT

Assalamu alaikum wr wb

Yth para masyayikh dan para asatidz dan saudara ” ku yang di rahmati oleh Alloh SWT.

Deskripsi masalah

Sebagaimana yang kita maklumi bahwa pengertian shalat menurut bahasa adalah zikir dan doa, sedangkan menurut istilah syara’ shalat adalah suatu perbuatan serta perkataan yang dimulai dengan takbir dan diakhiri dengan salam sesuai dengan syarat-syarat tertentu.Takbiratul ihrom termasuk rukun begitu juga halnya salam, Namun demikian ketika saya melakukan shalat secara berjamaah seorang imam cara mengucapkan salam berbeda-beda. Ada yang hanya mengucapkan Assalamualaikum dan ada yang menambah dengan ucapan warohmatullah begitu juga halnya dalam shalat jenazah ada menambah warohmatullah wabarokatuh

Pertanyaannya.

  1. Adakah landasan hukum hadits atau penjelasan ulama’ tentang hukum menambah salam dalam shalat dengan ucapan warohmatullah Wabarokatuh
  2. Apakah wajib seorang makmum menjawab salamnya imam dalam sholat mengingat salam dalam shalat hukumnya Sunnah diniatkan mengucapkan salam kepada orang yang berada disisinya imam yakni makmum, malaikat, atau jin dll.)

Tolong minta penjelasan tentang bab salam

Untuk imam mengucapkan السلام عليكم ورحمة الله
Tapi makmum kok tidak mengucapkan
عليكم السلام ورحمة الله
Terima kasih banyak.
Wassalamu alaikum wr wb.

Waalaikum salam
Jawaban. Disatukan.

Mengucapkan salam dalam shalat ada dasarnya baik hadits maupun pendapat ulama’ sebagaimana berikut:

إبانة الأحكام الجزء الأول ص ٤٤٧-٤٤٨
عن وائل بن حجر رضي الله عنه قال صليت مع النبي صلى الله عليه وسلم فكان يسلم عن يمينه ( السلام عليكم ورحمة الله وبركاته) وعن يمينه ( السلام عليكم ورحمةالله وبركاته) رواه أبودود بإسناد صحيح

Artinya:” Dari Wail bin Hujr Ra. dia berkata: Saya melakukan shalat bersama Rasulullah dan beliau mengucapkan salam kekanan / menoleh kekanan ( السلام عليكم ورحمةالله وبركاته ) dan mengucapkan salam kekiri/ menoleh Kediri ( السلام عليكم ورحمةالله وبركاته ) .HR. Abu Daud. dengan sanad yang shahih.

Adapun hal tentang hukum mengucapkan salam ulama sepakat bahwa hukum salam yang pertama adalah wajib sedangkan salam yang kedua adalah sunnah baik shalat yang dilakukan secara berjemaah ( imam makmum) ataupun shalat sendirian. Namun menurut Madzhab Imam Ahmad berbeda pandang tentang salam yang kedua hukumnya adalah wajib.
Adapun paling sedikitnya salam adalah السلام عليكم sedangkan sempurnanya adalah السلام عليكم ورحمة الله dan hukumnya Sunnah menurut Syafiiyah, ada sebagian mengatakan sunnah menambah wabarokatuh, namun menurut Imam Nawawi dalam Kitab majmu’ tidak Sunnah, dan sebagian ulama membatalkan terhadap orang yang mengatakan menambah itu adalah bid’ah, oleh karenanya menurut Imam Malik cukup dengan mengucapkan السلام عليكم dengan alasan kalimat tersebut merupakan kebiasannya orang-orang ahli Madinah, sedangkan menurut mereka ( ahli Madina ) tidak ada ketetapan menambah ورحمة الله وبركاته

Selain itu menurut Madzhab Malikiyah Sunnah mengucapkan salam tiga kali dengan tatacara pertama kearah kanan, kedua kekiri dan ketiga kearah depan jika shalat dilakukan secara berjemaah hanya saja kesunnahan itu hanya bagi makmum, dalam rangka salam yang ketiga sebagai salam jawaban ( menjawab ) salamnya Imam , tetapi menurut madzab Syafiyah tidaklah wajib untuk menjawab salamnya imam dalam shalat berjamaah dan juga tidak Sunnah, Akan tetapi hanya disunnatkan menjawab salamnya Imam bagi orang yang tidak melakukan shalat.

Berbeda dengan salam dalam shalat jenazah menurut sebagian ulama Sunnah menambah kalimat Wabarokatuh.

Dari penjelasan diatas dapat disimpulkan bawa paling sedikitnya salam adalah السلام عليكم sedangkan menambah ورحمة الله adalah sunnah sedangkan menambah وبركاته ada yang mengatakan bid’ah selain dalam shalat jenazah.
Adapun Hukumnya makmum menjawab salamnya imam adalah sunnah salam yang ketiga menurut madzhab Maliki, dan tidak Sunnah bahkan tidak wajib menurut madzhab Syafi’i makmum menjawab salamnya Imam . Namun disunnahkan bagi orang yang tidak melakukan shalat menjawab salamnya Imam, karena berpalingnya dari tidak adanya kewajiban menjawab salam dengan menoleh kekanan dan kekiri untuk menghalalkan sesuatu yang haram dalam shalat dalam arti sudah halal setelah salam berbicara diluar shalat dll.Oleh karena itu sunnah ketika salam niat keluar dari shalat.


المعنى الإجمالي
السلام ركن من أركان الصلاة يقع به التحلل منها ففى الحديث الآخر : تحريمها التكبير وتحليلها التسليم . وصيغته المجزئة السلام عليكم .وصيغته الكاملة السلام عليكم ورحمةالله وبركاته بزيادة الرحمة وبركاته وقد كان الصحابة الكرام أحرص الناس على ضبط أقواله وأفعاله صلى الله عليه وسلم للإقتداءه ولذا حرص وائل بن حجر على نقل ذلك .

التحليل اللفظي
السلام عليكم : السلام هو الأمان
ورحمةالله: الرحمة صفة لله تقتضى الإحسان.
وبركاته: البركة فيض إلهى من الله سبحانه وتعالى.

فقه الحديث
١.مشروعية التسلمتين للمصلي كان إماما او مأموما او منفردا وقد اتفق الأئمة رحمهم الله على وجوب التسليمة الأولى واختلفوا فى الثانية قال أحمد بوجوبها والجمهور على أنها سنة.
٢- إستحباب زيادة ( وبركاته) فى التسليم وبطلان ماقاله بعضهم من أن زيادتها بدعة وقال مالك بالإقتصار على قوله السلام عليكم لأنه عمل أهل المدينة فلم يثبت زيادة الرحمة والبركة

إعانة الطالبين المكتبة الشاملة ص ٢٠٠-٢٠١

(وسن)

تسليمة (ثانية) وإن تركها إمامه، وتحرم إن عرض بعد الاولى مناف، كحدث وخروج وقت جمعة ووجود عار سترة.(و) يسن أن يقرن كلا من التسليمتين (برحمة الله) أي معها، دون: وبركاته، على المنقول في غير الجنازة. لكن اختير ندبها لثبوتها من عدة طرق.(و) مع (التفات فيهما) حتى يرى خده الايمن في الاولى والايسر في الثانية.
(تنبيه) يسن لكل من الامام والمأموم والمنفرد أن ينوي السلام على من التفت هو إليه ممن عن يمينه
ــ
ويجوز: والسلام عليكم، بالواو، لأنه سبقه ما يصلح للعطف عليه، بخلاف التكبير.ويجزئ: عليكم السلام، مع الكراهة.كما نقله في المجموع عن النص، فلا يشترط ترتيب كلمتيه لتأدية المعنى ولو من غير ترتيب، وهو: الأمان عليكم.(قوله: للاتباع) دليل وجوب التسليمة الأولى.
(قوله: ويكره: عليكم السلام) أي بتقديم الخبر، ومع الكراهة هو مجزئ لأنه بمعنى ما ورد.(قوله: ولا يجزئ سلام عليكم) أي لعدم وروده، بخلافه في قوله: سلام عليك أيها النبي، وقوله: سلام علينا، لوروده فيه.(قوله: ولا سلام الله أو سلامي عليكم) أي ولا يجزئ ذلك.
(قوله: بل تبطل الصلاة) أي به، وهو اضراب انتقالي راجع للصيغ الثلاثة قبله.(قوله: كما في شرح الإرشاد لشيخنا) عبارته: لا سلام عليكم، بالتنكير، فلا يجزئ بل تبطل به الصلاة، وأجزأ في التشهد لوروده فيه.والتنوين لا يقوم مقام أل في العموم والتعريف وغيره.
ومثله السلام عليكم – بكسر السين – لأنه يأتي بمعنى الصلح.
نعم، إن نوى به السلام لم يبعد إجزاؤه، ولأنه يأتي بمعناه.
ويبطل أيضا تعمد: سلام، أو سلام الله عليكم، أو عليك، أو عليكما، لأنه خطاب.
اه.
(قوله: وسن تسليمة ثانية) أي للاتباع.رواه مسلم.
قال ق ل: وهي من ملحقات الصلاة، لا من الصلاة على المعتمد.
اه. (قوله: وإن تركها إمامه) أي فتسن للمأموم.(قوله: وتحرم إن عرض الخ) أي ولا تبطل صلاته لفراغها بالأولى، وإنما حرمت الثانية حينئذ لأنه انتقل إلى حالة لا تقبل فيها الصلاة فلا تقبل فيها توابعها.(قوله: كحدث إلخ) تمثيل للمنافي.(قوله: وخروج وقت جمعة) أي بخلاف وقت غيرها من بقية الصلوات، فلا تحرم لو خرج الوقت.والفرق أن الجمعة يشترط فيها بقاء الوقت من أولها إلى آخرها، بخلاف غيرها.(قوله: ووجود عار سترة) فيه نظر، لأنه لو استتر أتى بالمطلوب، ولا تحرم إلا أن يقال المراد: وجد سترة ولم يستتر بها فتحريمها حينئذ واضح، كما في سم.
(قوله: ويسن أن يقرن الخ) هذا بيان لأكمل السلام، فهو مقابل قوله: وأقلها السلام عليكم.(قوله: كلا من التسليمتين) أي المتقدمتين، وهي الأولى والثانية.(قوله: برحمة الله) متعلق بيقرن.(وقوله: أي معها) بيان لمعنى الباء بالنظر للمتن وبالنظر للفعل الذي دخل به وهو يقرن، فالباء على معناها إذ هو يتعدى بها.
(قوله: دون وبركاته) أي فلا يقر كلا من التسليمتين بها.وقوله: على المنقول في غير الجنازة أي أما فيها فتسن زيادته.وكتب سم ما نصه: قوله إلا في الجنازة، كذا قيل.
ويؤخذ من قول المصنف في الجنائز كغيرها عدم زيادة وبركاته فيها أيضا.
اه. (قوله: لكن اختير ندبها) أي لكن اختار بعضهم ندب وبركاته في غير الجنازة أيضا.وهو استدراك دفع به ما يتوهم من قوله: على المنقول، أنه متفق عليه.وحكى السبكي فيها ثلاثة أوجه، أشهرها: لا تسن ثانيها تسن ثالثها، تسن في الأولى دون الثانية.
(قوله: لثبوتها) أي لفظة وبركاته.
وهو علة الاختيار.وقوله: من عدة طرق أي من طرق عديدة.
(قوله: ومع التفات) معطوف على برحمة الله.والأولى التعبير بالباء كما مر في نظيره.وقوله: فيهما أي في التسليمتين.(قوله: حتى يرى) بالبناء للمجهول، وهو غاية للالتفات.
وقوله: خده الأيمن أي فقط، ولا يشترط رؤية خديه.وعبارة شرح مسلم: ويلتفت في كل تسليمة حتى يرى من عن جانبه خده.وهذا هو الصحيح.وقال بعض أصحابنا: حتى يرى خديه من عن جانبه.اه.
(وقوله: في الأولى) أي التسليمة الأولى: وهو متعلق بيرى.
وقوله: والأيسر في الثانية أي وحتى يرى خده الأيسر في التسليمة الثانية.(قوله: يسن لكل من الإمام الخ) أي لخبر علي رضي الله عنه: كان النبي – صلى الله عليه وسلم – يصلي قبل العصر أربع بالتسليمة الاولى، وعن يساره بالتسليمة الثانية، من ملائكة ومؤمني إنس وجن، وبأيتهما شاء على من خلفه وأمامه وبالاولى أفضل.وللمأموم أن ينوي الرد على الامام بأي سلاميه شاء إن كان خلفه، وبالثانية إن كان عن يمينه، وبالاولى إن كان عن يساره.
ويسن أن ينوي بعض المأمومين الرد على بعض، فينويه من على يمين المسلم بالتسليمة الثانية ومن على يساره بالاولى، ومن خلفه وأمامه بأيتهما شاء، وبالاولى أولى

(فروع)

يسن نية الخروج من الصلاة بالتسليمة الاولى خروجا من الخلاف في وجوبها، وأن يدرج ركعات يفصل بينهن بالتسليم على الملائكة المقربين ومن معهم من المسلمين والمؤمنين وخبر سمرة: أمرنا رسول الله – صلى الله عليه وسلم – أن نرد على الإمام، وأن نتحاب، وأن يسلم بعضنا على بعض.رواه أبو داود وغيره.(قوله: أن ينوي السلام) أي ابتداءه.وأما نية الرد فقط فقد ذكرها بقوله: وللمأموم أن ينوي الرد، الخ.
(قوله: على من التفت هو) أي على شخص التفت هو.أي كل ممن ذكر إليه – أي إلى ذلك الشخص – ولو غير مصل.ومع ذلك لا يجب على غير المصلي الرد عليه وإن علم أنه قصده بالسلام، كما في ع ش.وقوله: ممن إلخ بيان لمن، أو بدل منه بدل بعض من كل.وقوله: عن يمينه أي يمين كل ممن ذكر.وقوله: بالتسليمة الأولى متعلق بينوي المذكور.أو بعامل البدل على جعل الجار والمجرور بدلا.
(قوله: وعن يساره بالتسليمة الثانية) أي ويسن أن ينوي السلام على من التفت إليه ممن عن يساره بالتسليمة الثانية. وقوله: من ملائكة إلخ بيان لمن الثانية أو الأولى.(وقوله: وبأيتهما شاء إلخ) أي وينوي السلام بما شاءه من التسليمة الأولى أو الثانية على من كان خلفه أو كان أمامه.وأي هنا وفيما بعده موصولة، صلتها الفعل بعدها، وعائدها محذوف.(قوله: وبالأولى أفضل) أي ونية السلام على من ذكر بالتسليمة الأولى أفضل من الثانية.(قوله: وللمأموم الخ) أي ويسن للمأموم الخ، معطوف على لكل.(قوله: بأي سلاميه) متعلق بينوي، والضمير يعود على المأموم.وقوله: شاء صلة، أي والعائد إليها محذوف، أي بالذي شاءه من السلامين.(قوله: إن كان) أي المأموم.وقوله: خلفه أي الإمام.
(قوله: وبالثانية إن كان عن يمينه) أي وينوي الرد على الإمام بالتسليمة الثانية إن كان المأموم عن يمين الإمام.(قوله: وبالأولى إلخ) أي وينوي الرد عليه بالتسليمة الأولى إن كان المأموم عن يساره. قال في المغنى: فإن قيل: كيف ينوي من على يسار الإمام الرد عليه بالأولى؟ مع أن الرد إنما يكون بعد السلام، والإمام إنما ينوي السلام على من عن يساره بالثانية، فكيف يرد عليه؟ أجيب بأن هذا مبني على أن المأموم إنما يسلم الأولى بعد فراغ الإمام من التسليمتين، كما سيأتي.اه.
قوله: ويسن أن ينوي الخ) ذكره أولا مجملا ثم فصله بقوله: فينويه إلخ ليكون أوقع في النفس.(قوله: فينويه) أي الرد.وقوله: من على إلخ فاعل ينوي.وقوله: المسلم بكسر اللام، أي على الراد.وقوله: بالتسليمة الثانية متعلق بينوي أي تسليمة الراد الثانية.وذلك لأن المسلم ينوي ابتداء السلام بالأولى فيكون الرد بالثانية.
(قوله: ومن علي يساره بالأولى) أي وينوي الرد من على يسار المسلم بالأولى.(قوله: ومن خلفه وأمامه إلخ) أي وينوي الرد من كان خلف المسلم أو أمامه، بأيهما شاء.
ومحله: إذا تقدم سلام المسلم على من كان خلفه أو أمامه، وإلا فلا ينوي الرد عليه.كما في البجيرمي.
(قوله: وبالأولى أولى) أي ونية الرد ممن كان خلف أو أمام تكون بالأولى أولى.
(تنبيه) قال سم: هل يشترط مع نية السلام أو الرد فيما ذكر على من ذكر نية سلام الصلاة؟ حتى لو نوى مجرد السلام أو الرد ضر للصارف. وقد قالوا: يشترط فقد الصارف أو لا يشترط، فيكون هذا مستثنى من اشتراط قصد الصارف لوروده.
فيه نظر، ولعل الأوجه الأول، ولا يقال هذا مأمور به فلا يحتاج لفقد الصارف لأن نحو التسبيح لمن نابه شئ والفتح على الإمام مأمور به، مع أنه لو قصد فيه مجرد التفهيم ضر وبطلت صلاته.اه.(قوله: فروع) أي خمسة.(قوله: يسن نية الخروج من الصلاة بالتسليمة الأولى) أي عند ابتدائها.فإن نوى قبلها بطلت صلاته، أو مع الثانية، أو أثناء الأولى فاتته الثانية.اه.نهاية.(قوله: خروجا من الخلاف في وجوبها) أي نية

.

شرح بداية الهداية .ص ٥٠-٥١
ويسن الرد من غير المصلى ولا يجب الرد لانصراف السلام للتحلل

الكوكب الدرى على جامع الترمذي ص ٢٩٠-٢٩١

(٢) أعلم أولاً أن الفقهاء مختلفة في التسليم في الموضعين في الأوجز الأول في الواجب منه فعن الإمام أحمد روايتان إحداهما ركنية السلامين معًا والثانية ركنية إحداهما وكذا اختلف عند الحنفية فقيل الثاني واجب وقيل سنة وعند باقي الأئمة الواجب واحد حتى حكى النووي وابن المنذر إجماع العلماء على ذلك، وأما الاختلاف الثاني ففي المسنون منه فقالت الأئمة الثلاثة السنة اثنان خلافًا لمالك رضي الله عنه وبعض السلف فقالوا يسلم المأموم ثلاثًا وهو مشهور قول مالك والثالث للرد على الإمام، وأما غير المأموم فيسلم واحدًا تلقاء وجهه، ملخص من الأوجز وإذا عرفت ذلك فحديث الباب حجة لمن قال بوحدة السلام وحاول الشيخ توجيهه إلى قول الجمهور، وحاصل ما أفاده أن الحديث ليس بمسوق لبيان العدد بل لبيان ابتداء السلام بأن كان دأبه صلى الله عليه وسلم أن يبتدئ من تلقاء وجهه ويختمه إلى اليمين واليسار، والأوجه عندي أن الحديث حجة للجمهور في المسألة الأولى وهي فرض التسليمة الواحدة فإن النبي صلى الله عليه وسلم قد يكتفي على التسليمة الواحدة بيانًا للجواز.
إذا مال وجهه إلى اليمين وكذا الحكم في تسليم اليسار لكنهما اكتفت بذكر تسليمة لما أن مقصودها بالذكر إنما هو بيان التسليمة من أين تبتدئ وبيان كيفيتها كيف هي وما قيل من أنها لم تبلغها التسليمة الثانية لما أن التسليمة الأولى من النبي صلى الله عليه وسلم كانت فوق صوت التسليمة الثانية فلم تسمع عائشة غيرها فبعيد جدًا فإن التسليمة الثانية كانت إلى جهة حجرتها فهي تتمكن من سماعها فوق تمكنها من سماع التسليمة الأولى ولم يك لإخفاء النبي صلى الله عليه وسلم إياها معنى حتى يقال ما قيل وإنما الثابت أنه لم يكن يرفعها كرفع الأولى.

[النووي، الأذكار للنووي ت الأرنؤوط، صفحة ٦٩]
اعلم أن السلام للتحلّل من الصلاة ركنٌ من أركان وفرضٌ من فروضها لا تصحُّ إلا به، هذا مذهب الشافعي، ومالك، وأحمد، وجماهيرِ السلف والخلف، والأحاديثُ الصحيحةُ المشهورة مُصرّحة بذلك.
178 – واعلم أن الأكمل في السلام أن يقول عن يمينه: ” السَّلامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ ” وَعَنْ يَسارِهِ: ” السَّلامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ ” ولا يُستحبّ أن يقول معه – أن مع السلام عن التحلّل من الصلاة – وبركاته، لأنه خلاف المشهور عن رسوله الله صلى الله عليه وسلم، وإن كان قد جاء في رواية لأبي داود، وقد قال به جماعة من أصحابنا منهم إمام الحرمين، وزاهر السرخسي

[الخطيب الشربيني، مغني المحتاج إلى معرفة معاني ألفاظ المنهاج، ٣٨٥/١]

وَأَقَلُّهُ السَّلَامُ عَلَيْكُمْ) مَرَّةً، فَلَا يُجْزِئُ السَّلَامُ عَلَيْهِمْ وَلَا تَبْطُلُ بِهِ صَلَاتُهُ؛ لِأَنَّهُ دُعَاءٌ لِغَائِبٍ، وَلَا عَلَيْكَ، وَلَا عَلَيْكُمَا، وَلَا سَلَامِي عَلَيْكُمْ، وَلَا سَلَامُ اللَّهِ عَلَيْكُمْ، فَإِنْ تَعَمَّدَ ذَلِكَ مَعَ عِلْمِهِ بِالتَّحْرِيمِ بَطَلَتْ صَلَاتُهُ، وَيُجْزِئُ عَلَيْكُمْ السَّلَامُ مَعَ الْكَرَاهَةِ كَمَا نَقَلَهُ فِي الْمَجْمُوعِ عَنْ النَّصِّ (وَالْأَصَحُّ جَوَازُ سَلَامٌ عَلَيْكُمْ) بِالتَّنْوِينِ كَمَا فِي التَّشَهُّدِ؛ لِأَنَّ التَّنْوِينَ يَقُومُ مَقَامَ الْأَلِفِ وَاللَّامِ .

[الخطيب الشربيني، مغني المحتاج إلى معرفة معاني ألفاظ المنهاج، ٣٨٥/١]
وَأَكْمَلُهُ: السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ) ؛ لِأَنَّهُ الْمَأْثُورُ، وَلَا تُسَنُّ زِيَادَةُ وَبَرَكَاتُهُ كَمَا صَحَّحَهُ فِي الْمَجْمُوعِ وَصَوَّبَهُ

[النووي، المجموع شرح المهذب، ٤٧٣/٣]

ثُمَّ يُسَلِّمُ وَهُوَ فَرْضٌ فِي الصَّلَاةِ لِقَوْلِهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ” مِفْتَاحُ الصَّلَاةِ الطَّهُورُ وَتَحْرِيمُهَا التَّكْبِيرُ وَتَحْلِيلُهَا التَّسْلِيمُ ” وَلِأَنَّهُ أَحَدُ طَرَفَيْ الصَّلَاةِ فَوَجَبَ فِيهِ نُطْقٌ كَالطَّرَفِ الْأَوَّلِ وَالسُّنَّةُ أَنْ يُسَلِّمَ تَسْلِيمَتَيْنِ إحْدَاهُمَا عَنْ يَمِينِهِ وَالْأُخْرَى عَنْ يَسَارِهِ وَالسَّلَامُ أَنْ يَقُولَ السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ لِمَا رَوَى عَبْدُ اللَّهِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُسَلِّمُ عَنْ يَمِينِهِ السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَعَنْ يَسَارِهِ السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ الله حتى يرى بياض خده من ههنا ومن ههنا

Kategori
Uncategorized

UPAYA MEMPERCEPAT NAIK HAJI DENGAN MENEMPATI POSISI GILIRAN ORANG LAIN DENGAN TANPA IZIN

UPAYA MEMPERCEPAT NAIK HAJI DENGAN CARA MENEMPATI POSESI GILIRAN ORANG LAIN

Assalamualaikum.
Deskripsi Masalah
Dengan tersedianya sarana yang memadai dan status ekonomi yang makin membaik, jumlah orang yang ingin melaksanakan ibadah haji tiap tahun terus meningkat. Tak ayal, hal ini memunculkan problema tersendiri bagi Pemerintah baik Arab Saudi maupun Indonesia.
Sebagai solusi, Pemerintah Arab Saudi menetapkan kuota jemaah haji bagi tiap negara. Pemerintah Indonesia pun juga menetapkan kuota bagi tiap-tiap daerah naungannya. Hal ini menyebabkan banyak sekali calon jemaah haji yang masuk waiting list (daftar tunggu). Bahkan di beberapa daerah bila seseorang mendaftar pada tahun ini , secara umum masa tunggu haji reguler di Indonesia adalah 11 tahun hingga paling lama 32 tahun. Artinya, jika seseorang mendaftar haji reguler pada tahun 2024, maka ia harus menunggu 11-32 tahun untuk berangkat. Namun demikian ada sebagian jemaah katakan nama samarannya ( Aziz ) yang biasanya menunggu 10 th. ( 2034 ) tahun lagi ia bisa berangkat, namun apa boleh buat karena antrian masih jauh seorang Aziz berupaya untuk berangkat lebih awal dengan cara melunasi ONH terlebih dahulu guna menduduki posisi giliran orang lain ( sebagai persiapan cadangan) dalam arti menjaga adanya udzur bagi jamaah yang telah terpanggil ( Th 2024 )misalnya sakit parah, hamil, meninggal dll.

Pertanyaan :

1.Bagaimana hukum upaya mempercepat pemberangkatan haji dengan cara melunasi terlebih dahulu menempati posisi giliran orang lain dengan tanpa izin?

Waalaikum salam.

Jawaban :

Jika melalui cara yang benar hukumnya boleh semisal Nama samarannya Ahmad setelah daftar haji ( antrian) bertahun-tahun kemudian dipanggil naik haji pada tahun 2024 sementara giliran pada tahun berikutnya 2025 yaitu Mahmud . Namun sayangnya Ahmad sakit parah atau meninggal maka boleh Mahmud sebagai cadangan menduduki Posisinya Ahmad karena dalam kondisi uzur/Doruroh . Akan tetapi tidak boleh seorang Aziz yang baru mendaftar dalam antrian 10 tahun yang biasanya berangkat th.2034 lalu menggantikan posinya Ahmad maka hukumnya haram alasannya karena ada giliran orang yang layak dan tepat untuk menggantikan posisinya Ahmad yaitu Mahmud. Apalagi dengan cara berangkat tidak melalui prosedur aturan pemerintah yang resmi ( ilegal). Alasannya karena menyalahi peraturan pemerintah, dengan penyuapan, dan mengambil hak orang lain tanpa izin. Namun hajinya tetap dihukumi sah apabila telah memenuhi syarat dan rukunnya .
Melihat kenyataan yang ada, maka lebih utama bersedekah pada fakir miskin, yatim piatu, dan membantu pembangunan sarana peribadatan yang kekurangan dana dari pada menempati hak giliran orang lain.

Referensi :

إسعاد الرفيق ج ٢، ١٤١-١٤٢)

وَمِنْهَا (أخْذُ) الشَّخْصِ نَحْوَ (مَجْلِسِ غَيْرِهِ) وَلَوْ ذِمِّيًّا إذَا سَبَقَ إلَيْهِ سَوَاءٌ كَانَ مِنْ شَارِعٍ أوْ مَسْجِدٍ ;إِلَى أَنْ قَالَ; (أوْ أخْذُ نَوْبَتِهِ) ;إِلَى أَنْ قَالَ فَلاَ يَجُوْزُ ِلأَحَدٍ اْلإسْتِيْلاَءُ عَلَى نَوْبَةِ ذِي النَّوْبَةِ ِلأنَّهُ مِنَ الظُّلْمِ وَأكْلِ حَقِّ الْغَيْرِ بِاْلبَاطِلِ.(بغية المشترشدين، ٩١)

( (مَسْئَلَةٌ ك) يَجِبُ إمْتِثَالُ أَمْرِ الْاِمَامِ فِي كُلِّ مَالَهُ وِلَايَةٌ كَدَفْعِ زَكَاةِ الْمَالِ الظَّاهِرِ، فَإنْ لَمْ تَكُنْ فِيْهِ وِلَايَةٌ وَهُوَ مِنَ الْحُقُوْقِ الْوَاجِبَةِ اَوِ الْمَنْدُوْبَةِ جَازَ الدَّفْعُ إلَيْهِ وَالْاِسْتِقْلَالُ بِصَرْفِهِ فِي مَصَارِفِهِ;إلَى أَنْ قَالَ; قُلْتُ قَالَ ش ق الْحَاصِلُ أَنَّهُ تَجِبُ طَاعَةُ الْاِمَامِ فِي كُلِّ مَاأَمَرَ بِهِ ظَاهِرًا وَبَاطِنًا مِمَّالَيْسَ بِمُحَرَّمٍ اَوْ مَكْرُوْهٍ فَالْوَاجِبُ يَتَأَكَّدُ وَالْمَنْدُوْبُ يَجِبُ وَكَذَا الْمُبَاحَةُ إنْ كَانَ فِيْهِ مَصْلَحَةٌٌ.

(الأحكام السلطانية، ١ /١٩٣)

الْوِلَايَةُ عَلَى الْحَجِّ ضَرْبَانِ: أَحَدُهُمَا أَنْ تَكُونَ عَلَى تَسْيِيرِ الْحَجِيجِ. وَالثَّانِي: عَلَى إقَامَةِ الْحَجِّ، فَأَمَّا تَسْيِيرُ الْحَجِيجِ فَهُوَ وِلَايَةُ سِيَاسَةٍ وَزَعَامَةٍ وَتَدْبِيرٍ. وَالشُّرُوطُ الْمُعْتَبَرَةُ فِي الْمُوَلَّى: أَنْ يَكُونَ مُطَاعًا ذَا رَأْيٍ وَشَجَاعَةٍ وَهَيْبَةٍ وَهِدَايَةٍ. وَاَلَّذِي عَلَيْهِ فِي حُقُوقِ هَذِهِ الْوِلَايَةِ عَشَرَةُ أَشْيَاءَ: أَحَدُهَا جَمْعُ النَّاسِ فِي مَسِيرِهِمْ وَنُزُولِهِمْ حَتَّى لَا يَتَفَرَّقُوا فَيَخَافُ النَّوَى وَالتَّغْرِيرَ. وَالثَّانِي: تَرْتِيبُهُمْ فِي الْمَسِيرِ وَالنُّزُولِ بِإِعْطَاءِ كُلِّ طَائِفَةٍ مِنْهُمْ مُقَادًا حَتَّى يَعْرِفَ كُلُّ فَرِيقٍ مِنْهُمْ مُقَادَهُ إذَا سَارَ وَيَأْلَفَ مَكَانَهُ إذَا نَزَلَ، فَلَا يَتَنَازَعُونَ فِيهِ وَلَا يَضِلُّونَ عَنْهُ. وَالثَّالِثُ: يَرْفُقُ بِهِمْ فِي السَّيْرِ حَتَّى لَا يَعْجِزَ عَنْهُ ضَعِيفُهُمْ وَلَا يَضِلَّ عَنْهُ مُنْقَطِعُهُمْ، وَرُوِيَ عَنْ النَّبِيِّ أَنَّهُ قَالَ: الضَّعِيفُ أَمِيرُ الرُّفْقَةِ يُرِيدُ أَنَّ مَنْ ضَعُفَتْ دَوَابُّهُ كَانَ عَلَى الْقَوْمِ أَنْ يَسِيرُوا بِسَيْرِهِ. الرَّابِعُ: أَنْ يَسْلُكَ بِهِمْ أَوْضَحَ الطُّرُقِ وَأَخْصَبَهَا، وَيَتَجَنَّبَ أَجَدْبَهَا وَأَوْعَرَهَا. وَالْخَامِسُ: أَنْ يَرْتَادَ لَهُمْ الْمِيَاهَ إذَا انْقَطَعَتْ وَالْمَرَاعِيَ إذَا قَلَّتْ. وَالسَّادِسُ: أَنْ يَحْرُسَهُمْ إذَا نَزَلُوا وَيَحُوطَهُمْ إذَا رَحَلُوا حَتَّى لَا يَتَخَطَّفَهُمْ دَاعِرٌ وَلَا يَطْمَعَ فِيهِمْ مُتَلَصِّصٌ. وَالسَّابِعُ: أَنْ يَمْنَعَ عَنْهُمْ مَنْ يَصُدُّهُمْ عَنْ الْمَسِيرِ وَيَدْفَعَ عَنْهُمْ مَنْ يَحْصُرُهُمْ عَنْ الْحَجِّ بِقِتَالٍ إنْ قَدَرَ عَلَيْهِ أَوْ بِبَذْلِ مَالٍ إنْ أَجَابَ الْحَجِيجُ إلَيْهِ وَلَا يَسَعُهُ أَنْ يُجْبِرَ أَحَدًا عَلَى بَذْلِ الْخَفَارَةِ إنْ امْتَنَعَ مِنْهَا حَتَّى يَكُونَ بَاذِلًا لَهَا عَفْوًا وَمُجِيبًا إلَيْهَا طَوْعًا، فَإِنْ بَذَلَ الْمَالَ عَلَى التَّمْكِينِ مِنْ الْحَجِّ لَا يَجِبُ.

(حاشية إبن حجر الهيتمي على الإيضاح، ٨)

وَمِنْ ثَمَّ وَجَّهُوْا قَوْلَ الشَّافِعِيِّ، اْلإشْتِغَالُ بِاْلعِلْمِ أفْضَلُ مِنَ الصَّلاَةِ النَّافِلَةِ، بِأنَّ اْلإشْتِغَالَ بِالْعِلْمِ فَرْضُ كِفَايَةٍ وَهُوَ أفْضَلُ مِنَ النَّفْلِ. وَيَأْتِيْ مَا ذَكَرْتُهُ بِنَاءً عَلَى أنَّ فَرْضَ

الَضقَةِ أفْضَلُ مِنْ فَرْضِ الْحَجِّ وَنَفْلُهَا أفْضَلُ مِنْ نَفْلِهِ، وَهُوَ مَا يَدُلُّ عَلَيْهِ كَثِيْرٌ مِنَ الْعِبَارَاتِ فِيْمَا فَهِمَ مِنْهَا كَلاَمُ الْعُبَادِيِّ فِيْ زِيَادَاتِهِ مِنْ أنَّ حَجَّ التَطَوُّعِ أفْضَلُ مِنْ صَدَقَةِ التَّطَوُّعِ.

(بغية المسترشدين، ص ٥٣٩)

(مَسألة: ك) مِنَ الْحُقُوْقِ الْوَاجِبَةِ شَرْعاً عَلَى كُلِّ غَنِيٍّ وَحْدَهُ مَنْ مَلِكَ زِيَادَةً عَلَى كِفَايَةِ سَنَةٍ لَهُ وَلِمَمُوْنِهِ سَتْرُ عَوْرَةِ اْلعَارِيْ وَمَا يَقِِيْ بَدَنَهُ مِنْ مُبِيْحِ تَيَمُّمٍ، وَإطْعَامُ الْجَائِعِ، وَفَكُّ أسِيْرٍ مُسْلِمٍ، وَكَذَا ذِمِّيٍّ بتَِفْصِيْلِهِ، وَعِمَارَةُ سُوْرِ بَلَدٍ، وَكِفَايَةُ الْقَائِمِيْنَ بِحِفْظِهَا، وَالْقِيَامُ بِشَأْنِ نَازِلَةٍ نَزَلَتْ بِاْلمُسْلِمِيْنَ وَغَيْرُ ذَلِكَ، إنْ لَمْ تَنْدَفِعْ بِنَحْوِ زَكَاةٍ وَنَذَرٍ وَكَفَارَةٍ وَوَقْفٍ وَوَصِيَةٍ وَسَهْمِ الْمَصَالِحِ مِنْ بَيْتِ الْمَالِ لِعَدَمِ شَيْءٍ فِيْهِ أوْ مَنْعِ مُتَوَلِّيْهِ وَلَوْ ظُلْماً، فَإذَا قَصَرَ اْلأغْنِيَاءُ عَنْ تِلْكَ الْحُقُوْقِ بِهَذِهِ الْقُيُوْدِ جَازَ لِلسُّلْطَانِ اْلأخْذُ مِنْهُمْ عِنْدَ وُجُوْدِ الْمُقْتَضِى وَصَرْفُهُ فِيْ مَصَارِفِهِ . والله أعلم بالصواب.

RUKUN-RUKUN Haji Syekh Said bin Muhammad Ba’asyin dalam Kitab Buysral Karim menyebutkan sebagai berikut:

فصل في أركان الحج أي أجزاء الحج والعمرة وهي التي يتوقف صحتهما عليها ولا تجبر بدم وغيره  

Dilansir dari NU Online, Abu Syuja dalam Taqrib, karyanya yang terkenal, menyebut secara rinci rukun haji. Menurutnya, rukun haji terdiri atas empat hal. Sementara wajib haji terdiri atas tiga hal.

وأركان الحج أربعة الإحرام مع النية و الوقوف بعرفة والطواف و السعي بين الصفا والمروة…وواجبات الحج غير الأركان ثلاثة أشياء الإحرام من الميقات ورمي الجمار الثلاث والحلق  

Artinya: Rukun haji ada empat, yaitu ihram beserta niat, wukuf di Arafah, tawaf, dan sa’i antara Shafa dan Marwa. Wajib haji di luar rukun haji ada tiga, yaitu ihram dari miqat, lempar tiga jumrah, dan cukur.

Abu Syuja menempatkan cukur ke dalam wajib haji, bukan rukun haji. Syekh Said bin Muhammad Ba’asyin dalam Buysral Karim berbeda dari Abu Syuja. Menurutnya, rukun haji terdiri atas lima hal. Salah satunya adalah cukur.

وأركان الحج خمسة الإحرام و الوقوف بعرفة والطواف والسعي والحلق  

Artinya: Rukun haji ada lima, yaitu ihram, wukuf di Arafah, tawaf, sa’i, dan cukur (Syekh Bafadhal Al-Hadhrami, dalam Al-Muqaddimah Al-Hadhramiyyah pada Hamisy Buysral Karim).

Perbedaan keduanya dalam penyebutan rukun haji disinggung oleh KH Afifuddin Muhajir dalam karyanya Fathul Mujibil Qarib berikut ini.

ويشترط لصحته ثلاثة أمور الأول كونه سبع مرات والثانى أن يبدأ بالصفا ويختم بالمروة والثالثة أن يكون بعد طواف ركن أو قدوم، وبقي من أركان الحج الحلق والتقصير والمصنف عده من الواجبات لا من الأركان، ويجب أن يكون الإحرام متقدما غلى جميع الأركان السابقة

Artinya: Syarat keabsahan sa’i ada tiga. Pertama, sa’i itu tujuh kali. Kedua, titik mula di bukit Shafa dan titik akhir di bukit Marwah. Ketiga, sa’i dilakukan setelah tawaf rukun atau tawaf qudum. Rukun haji lainnya adalah cukur atau memendekkan rambut. Tetapi penulis Taqrib menganggapnya sebagai wajib haji, bukan rukun haji. Ihram wajib didahulukan dibandingkan rukun-rukun yang lain (KH Afifuddin Muhajir dalam Kitab Fathul Mujibil Qarib).

Bila mengikuti kategori yang dibuat oleh Syekh Ba’asyin, maka rukun haji ada lima, yaitu

Ihram, Wukuf di Arafah, Tawaf, Sa’i, Cukur rambut.  

Wajib Haji
Lain halnya dengan wajib haji. Kalau salah satu wajib haji ditinggalkan, orang yang meninggalkannya dapat menggantinya dengan dam (denda). Sementara hajinya tetap sah. Pelaksanaan dam dan besarannya berbeda-beda yang telah dijelaskan dalam artikel 4 Kategori Dam Haji beserta Penjelasan Jenis Pelanggarannya.

فصل واجبات الحج وهي ما يصح بدونها وكذا الاثم إن لم يعذر  

Artinya: Pasal mengenai wajib haji. Wajib haji adalah sejumlah hal yang mana haji itu tetap sah tanpanya, tetapi dosa bila wajib haji ditinggalkan tanpa uzur (Syekh Said bin Muhammad Ba’asyin dalam Buysral Karim).  

Syekh Said Ba’asyin menyebutkan enam wajib haji sebagai berikut:

Mabit di Muzdalifah.

Lempar jumrah aqabah tujuh kali.

Lempar tiga jumrah di hari tasyriq (11, 12, dan 13 Dzulhijjah).
Mabit pada malam tasyriq.
Ihram dari miqat.
Tawaf wada.  
Sunnah Haji
Sunnah dalam ibadah haji baik dilakukan agar ibadah makin sempurna, selain melaksanakan rukun dan wajib haji. Dilansir dari NU Online, sunnah-sunnah haji menurut pendapat ulama Syafi’iyah yang muktamad adalah sebagai berikut:
Ifrad, yaitu mendahulukan haji dibandingkan umrah.
Talbiyah.​​​​​​​
Thawaf qudum.
Shalat sunnah thawaf sebanyak dua rakaat.
Adapun shalat sunnah thawaf sebanyak dua rakaat dilakukan setelah thawaf. Shalat sunnah thawaf dapat dilakukan di mana saja di tanah haram. Tetapi sedapat mungkin shalat sunnah thawaf ini dilakukan di belakang maqam Ibrahim. 

(و) الخامسة (ركعتا الطواف) أي ركعتان بعد الفراغ من الطواف ويصليهما خلف المقام، فإن لم يتيسر ففي الحجر فإن لم يتيسر ففي المسجد فإن لم يتيسر فحيث شاء من الحرم

Artinya: Kelima (shalat dua rakaat thawaf), yaitu dua rakaat setelah selesai thawaf. Shalat sunnah thawaf dilakukan di belakang maqam Ibrahim. Kalau tidak mungkin, maka shalat sunnah thawaf dilakukan di Hijir Ismail. Kalau tidak mungkin, shalat sunnah thawaf dilakukan di masjid. Kalau tidak mungkin, maka shalat sunnah thawaf dilakukan di mana saja di tanah haram.Wallahu A’lam bisshowab.