HUKUM MENGHADIRI UNDANGAN MILENIAL ( WALIMATUL URS ) MELALUI WHATS APP
Assalamualaikum
Deskripsi masalah
Sudah lumrah terjadi dimasyarakat waqiiyah, apabila memasuki bulan Syawal dan Sya’ban banyak kegiatan yang namanya Walimah , terlebih Walimatul Urs. Dan Setiap orang memiliki keberagaman cara dalam mengundang yang diantaranya : menyampaikan undangan secara lisan ke lisan. Kemudian undangan berkembang selain dengan lisan ada dicetak ( kertas undangan secara tertulis resmi ) bahkan dengan cara undangan digital, berbentuk foto yang dikirim via Grup WhatsApp. Terkait undangan Walimah diatas muncullah berbagai Persepsi yang berbeda.
Pertanyaan:
A. Bagaimana hukum menghadiri undangan Walimah yang dikirim Via (melalui) WhatsApp
B. Jika undangan dikirim Via Grup, siapakah yang wajib hadir ke Walimah Tersebut?
Jawaban.No.1 1️⃣ Menghadiri undangan acara Walimatunnikah ( Walimatul urs ) pada hari pertama ketika akad menurut qaul aujah dikalangan mayoritas ulama’ madzhab syafi’ hukumnya wajib secara muthkak sedangkan lainnya walimatul urs hukumnya sunnah. Adapun trend undangan pernikahan dengan cara Via digital, berbentuk foto yang dikirim via Grup Whats App adalah merupakan alat yang dijadikan pelantara untuk mengumumkan sebuah pernikahan, hal ini juga bisa berlaku hukum. Sebagaimana disebutkan dalam kaidah:
الوسائل لها حكم المقاصد
Artinya “perantara atau media baginya berlaku pula hukum sebagaimana tujuannya.
Oleh karena itu selama tidak ada udzur orang yang diundang wajib menghadirinya , Karena bagaimanapun juga undangan secara via merupakan bentuk pengaplikasian hasil dari globalisasi dan kemajuan ilmu dan teknologi yang mampu menimalisir dampak dari undangan secara lisan, tertulis atau konvensional, sehingga tentunya tidak bijak jika undangan secara digital via ditolak begitu saja dalam kehidupan bermasyarakat, Karena bagaimanapun juga praktiknya tetap memelihara tradisi budaya, dan solidaritas dengan mengundang orang serta memiliki banyak kemaslahatan. Ini sesuai dengan prinsip bahwa Islam adalah agama yang hanif lagi penuh dengan toleransi, sebagaimana disebutkan di dalam sebuah hadis yang diriwayatkan melalui berbagai jalur bahwa Nabi SAW. pernah bersabda:
“بُعِثْتُ بِالْحَنِيفِيَّةِ السَّمْحَةِ”
Aku diutus dengan membawa agama Islam yang hanif lagi penuh dengan toleransi.Di dalam hadis sahih disebutkan:
Sesungguhnya agama ini mudah, semua syariatnya mudah, penuh dengan toleransi lagi sempurna. Ia mudah bagi orang yang dimudahkan oleh Allah dalam mengerjakannya.
Adapun yang terpenting dan yang perlu diperhatikan dalam tren undangan milenial via digital ini adalah tatacara demi tercapainya nilai kemaslahatan tersebut, baik yang mengundang maupun yang diundang, ” orang yang mengundang ” harus melihat situasi dan kondisi orang yang akan diundang, begitu pula ” orang yang diundang ” tidak sertamerta hadir melainkan harus melihat situasi dan kondisinya shohibul hajah. Misalkan jika ditempat tersebut terdapat kemungkaran, maka dipertimbangkan: Jika orang yang diundang hadir dan mampu menghindari dari kemungkaran, maka hukumnya wajib atau boleh hadir, dan jika tidak mampu maka tidak boleh hadir. Hal ini berdasarkan sebuah kaidah:
الحكم يدور مع علته وجودا وعداما
Hukum berputar bersama Ilatnya, ada dan tidaknya illat itu. Kaidah ini sebagai bukti bahwa hukum bisa berputar /berubah, sedangkan perubahan itu tergantung dengan perubahan zaman, tempat dan keadaan”.
JawabanNo.2
2️⃣ Jika dalam Aplikasi Whats App seseorang ( Admin) membuat grup khusus sebagai sarana media informasi yang mana didalamnya dibuat aturan- aturan yang telah menjadi kesepakatan bersama, maka yang wajib hadir adalah semua anggota grup, walaupun tanpa dengan menyebut nama dari perseorangan. Alasannya karena perantara atau media bagi grup berlaku pula hukum sebagaimana tujuanya sebagaimana kaidah tersebut diatas, selain itu seseorang muslim itu diajarkan agar menepati janji, terkait aturan dan peraturan yang telah disepakati bersama, hal ini sebagaimana tercantum dalam sebuah hadits:
“Muslim itu terikat dengan persyaratan (yang dibuat oleh) mereka. Mengadakan perjanjian adalah diperbolehkan antara sesama muslim”.(HR. Hakim).
Dengan demikian undangan walimah yang dishare dalam grup, maka berarti yang harus hadir dalam acara walimatul urs adalah anggota grup, karena grup dibentuk sebagai anggota khusus berbeda dengan umum seperti FB. Yang bersifat umum. Kecuali grup FB khusus dengan syarat-syarat sebagaimana berikut:
Sumber referensi:
مذاهب الأربعة ج ٢ ص ٣٨ /٤٣
. الشافعية – قالوا : يشترط لوجوب إجابة الدعوة فى وليمة النكاح وسنيتها فى غيرها شروط ؛ أولا :أن لايخص الداعى الأغنياء بدعوته بل يدعوهم والفقراء وليس الغرض من هذا أن يدعو الناس جميعا بل الغرض أن لا يقصر دعوته على الأغنياء ملقا ونفاقا ومفاخرة ورياء لأن هذه حالة لايقرها الدين فمن قامت به لايكون له حق على غيره، أما إذا دعى الأغنياء صدفة واتفاقا كأن كانوا جيرانا له أو أهل حرفته فإنه لايضر، ثانيا:أن تكون الدعوة فى اليوم الأول من أيام الوليمة فإن أولم ثلاثة أيام أو أكثر كسبعة لم تجب الإجابة إلا فى اليوم الأول وتكون مستحبة فى اليوم الثانى وتكره فيما بعد ذلك، ثالثا :أن يكون الداعى مسلما فإن كان كافرا فإن الإجابة لاتجب ولكن تسن إجابة الذمى سنة غير مؤكدة رابعا :أن يكون الداعى له مطلق التصرف فإن كان محجورا عليه تحرم الإجابة إن كانت الوليمة من ماله، أما إذا فعلها وليه من مال نفسه فإن الإجابة عليه تكون واجبة، خامسا :أن يعين الداعى من يدعوه بنفسه وبرسوله، سادسا : أن لايدعوه لخوف منه أو لطمع فى جاهه أو إعانته على باطل، سابعا : أن لايعتذر المدعو للداعى ويرضى بتخلفه عن طيب نفس لا عن حياء ويعرف ذلك بالقرائن، ثامنا :أن لايكون الداعى فاسقا أو شريرا أو مفاخرا، تاسعا : أن لايكون أكثر مال الداعى حراما فإن كان كذلك فإن إجابته تكره فلو علم أن عين الطعام الذى يأكل منه مال حرام يحرم أن يأكل منه لأن المال المحرم يحرم الأكل منه إلا إذا عم فإنه يجوز إستعمال مايحتاج إليه منه بدون أن يتوقف ذلك على ضرورة فإذا لم يكن أكثر مال الداعى حراما لكن فيه شبهة لم تجب الإجابة ولم تسن بل تكون مباحة، عاشرا: أن لايكون الداعى إمراءة أجنبية منه من غير حضور محرم لها أو للمدعى خشية من الخلوة المحرمة وإن لم تقع الخلوة بالفعل، الحادى عشر :أن تكون الدعوة فى وقت الوليمة وهى من حين العقدة كما تقدما، الثانى عشر : أن لايكون المدعو قاضيا أو ما فى معناه من طل ذى ولاية فإنه لاتجب عليه الدعوة فى محل ولايته خصوصا إذا كان الداعىله خصومة ينظر فيها فإن إجابته تحرم، الثالث عشر :أن لايكون المدعو معذورا بعذر يبيح له ترك الجماعة كمرض، الرابع عشر :أن لا يكون المدعو إمراءة أو غلاما أمرد يخشى منهما الفتنة أو الطعن على الداعى فىعرضه، الخامس عشر :أن لايتعدد الداعى فإن تعدد قدم الأسبق ثم الأقرب رحما ثم الأقرب دارا هذا عند المقارنة فى الدعوة وعند الإستواء يقرع بين الداعيين
Menurut madzhab Syafi’i, hukum menghadiri undangan pernikahan (walimah) dan undangan lainnya memiliki syarat-syarat tertentu agar menjadi wajib atau sunnah. Berikut ini syarat-syarat tersebut:
1. Tidak Mengkhususkan Orang Kaya: Syarat pertama adalah undangan tidak hanya ditujukan untuk orang-orang kaya saja. Tuan rumah harus mengundang baik orang kaya maupun orang miskin. Ini tidak berarti bahwa ia harus mengundang semua orang, tetapi agar ia tidak hanya mengundang orang kaya untuk tujuan pamer atau riya, karena agama tidak mendukung tindakan tersebut. Jika hanya kebetulan undangan dihadiri oleh orang kaya karena mereka adalah tetangga atau teman kerja, hal ini tidak masalah.
2. Dilaksanakan pada Hari Pertama: Walimah sebaiknya dihadiri pada hari pertama. Jika walimah diadakan hingga tiga hari atau lebih (misalnya tujuh hari), kewajiban menghadiri hanya berlaku pada hari pertama. Hari kedua bersifat sunnah, dan setelah itu makruh (tidak disukai).
3. Tuan Rumah Beragama Islam: Jika tuan rumah non-Muslim, menghadiri walimahnya tidak wajib, tetapi menghadiri undangan dari seorang dzimmi (non-Muslim yang hidup dalam naungan pemerintahan Islam) adalah sunnah yang tidak ditekankan.
4. Tuan Rumah Memiliki Hak Atas Hartanya: Jika tuan rumah dalam kondisi terhalang mengelola hartanya, haram menghadiri walimahnya jika menggunakan harta miliknya. Namun, jika walimah tersebut diadakan oleh wali dengan harta pribadinya, maka menghadiri walimahnya menjadi wajib.
5. Tuan Rumah Menentukan Tamu Secara Jelas: Tuan rumah harus menyampaikan undangan secara langsung atau melalui perantara yang ia utus.
6. Tidak Didasari Rasa Takut atau Pamrih: Kehadiran undangan sebaiknya tidak disebabkan oleh ketakutan atau untuk mendapatkan kedudukan, atau membantu dalam kebatilan.
7. Tidak Ada Permintaan Maaf dari Tuan Rumah: Jika undangan telah meminta maaf atas ketidakhadiran tamu dan ikhlas menerimanya, maka tidak wajib menghadirinya. Ini bisa diketahui dari tanda-tanda yang terlihat.
8. Tuan Rumah Bukan Orang Fasik atau Pamer: Tidak wajib menghadiri undangan dari tuan rumah yang dikenal fasik, jahat, atau suka pamer.
9. Sebagian Besar Harta Tuan Rumah Tidak Haram: Jika sebagian besar harta tuan rumah berasal dari sumber yang haram, maka makruh (tidak disukai) untuk menghadiri undangannya. Jika diketahui bahwa makanan yang disajikan berasal dari harta haram, haram memakannya. Jika sumber hartanya bercampur dengan harta yang syubhat (meragukan), menghadirinya tidak wajib dan tidak sunnah, hanya mubah (boleh).
10. Tuan Rumah Bukan Wanita Asing Tanpa Mahram: Jika tuan rumah adalah wanita yang bukan mahram dan tanpa kehadiran mahram, tidak wajib menghadirinya untuk menghindari khalwat (berduaan) yang haram, meskipun khalwat tersebut tidak terjadi.
11. Dilaksanakan pada Waktu Walimah: Waktu pelaksanaan walimah adalah setelah akad nikah, seperti yang telah dijelaskan sebelumnya.
12. Tamu Bukanlah Hakim atau Pejabat di Wilayahnya: Jika yang diundang adalah hakim atau orang yang memiliki otoritas di wilayah itu, maka ia tidak wajib menghadiri undangan, terutama jika tuan rumah memiliki perkara yang sedang diurus olehnya. Dalam kasus ini, menghadirinya bisa jadi haram.
13. Tidak Sedang Ada Udzur yang Membolehkan Meninggalkan Jamaah: Jika tamu yang diundang memiliki uzur, seperti sakit, yang membolehkannya meninggalkan shalat berjamaah, maka kehadirannya tidak wajib.
14. Tamu Bukan Wanita atau Pemuda yang Menimbulkan Fitnah: Jika tamu yang diundang adalah wanita atau pemuda yang berpotensi menimbulkan fitnah atau merusak reputasi tuan rumah, maka kehadirannya tidak wajib.
15. Tidak Ada Dua Undangan yang Bertabrakan: Jika ada dua undangan di waktu yang sama, maka yang didahulukan adalah undangan yang lebih awal, diikuti yang lebih dekat secara hubungan kerabat, dan kemudian yang lebih dekat jaraknya. Jika undangan terjadi pada waktu yang sama, maka diundi di antara dua undangan tersebut.
Resensi:
فقه السنة ج ٢ ص٢٠٢
أماالإجابة وليمة النكاح – فهى مستحبة واجبة عند الجمهور.وذهب بعض الشافعية إلى وجوب الإجابة مطلقا ، وزعم إبن حزم أنه قول الصحابة والتابعين ، لأن فى الأحاديث ماتشعر بالإجابة إلى كل دعوة أكانت دعوة الزواج أم غيره
Fiqh al-Sunnah jilid 2 halaman 202:
“Adapun menghadiri undangan pernikahan—maka hal ini disunnahkan dan diwajibkan menurut mayoritas ulama. Sebagian ulama Syafi’iyah berpendapat bahwa menghadiri undangan wajib secara mutlak. Ibn Hazm menyatakan bahwa pendapat tersebut juga dianut oleh para sahabat dan tabi’in, karena terdapat hadis-hadis yang mengisyaratkan untuk memenuhi setiap undangan, baik itu undangan pernikahan maupun lainnya.”
Hukum menghadiri acara walimatul urs atau jamuan pernikahan dan walimah lainnya adalah sebagai berikut:
Dalil pertama: dan kedua: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:
للأحاديث الصحيحة: ” إذا دعي أحدكم إلى وليمة عرس فليجب “. وفي لفظ: ” من دعي إلى وليمة فليأتها “. وفي رواية: ” من لم يجب الدعوة فقد عصى الله ورسوله ” رواه مسلم.
Artinya :” Jika salah seorang dari kamu diundang pada acara walimatul urs maka hadirilah. Dan dalam satu riwayat ” Barang siapa orang yang diundang pada acara walimah maka datangilah padanya.Dan dalam satu riwat orang yang tidak menghadiri undangan maka ia sungguh telah maksiat kepada Allah dan Rasulnya. HR. Muslim
Dua hadits diatas sebagai dalil yang serupa tapi tidak sama. Hadits yang pertama menunjukkan khusus seorang. Kemudian hadits yang kedua ada lah menunjukkan seorang atau sekelompok orang banyak karena kalimat ” من ” menunjukkan arti orang yang berakal yang mana jika ditinjau dari segi ilmu nahwu bisa dipakai mufrad dan jama’ muannas dan mufzakkar (Musyarakah / mustarok).
Dalil ketiga: kewajiban menghadiri undangan yang menunjukkan orang banyak: ( tertentu ).Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:
“Hadirilah undangan ini jika kalian diundang untuk menghadirinya!” (HR. Al-Bukhari: 4781, Muslim: 2581 dari Ibnu Umar radliyallahu anhuma). Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani (wafat tahun 852 H) rahimahullah berkata:
(أجيبوا هذه الدعوة) وهذه اللام يحتمل أن تكون للعهد والمراد وليمة العرس
“Huruf “Al” dalam sabda beliau (di atas,) adalah untuk “al-Ahdu” (mengulang penyebutan,). Sehingga yang dimaksud adalah walimah untuk pernikahan.” (Fathul Bari: 2/246).
Al-Imam Abul Hasan Ibnu Baththal al-Maliki (wafat tahun 449 H) rahimahullah menyatakan:
هذا الحديث حجة لمن أوجب إجابة الوليمة وغيرها فرضًا، وقد تقدم أن إجابة الدعوة فى غير العرس عند مالك والكوفيين مندوب إليها
“Hadits ini menjadi hujjah bagi orang-orang yang mewajibkan menghadiri undangan walimah (pesta pernikahan, ) dan lainnya secara fardlu. Dan telah terdahulu keterangan bahwa menghadiri undangan selain pernikahan menurut Imam Malik dan ulama Kufah hanyalah anjuran saja (tidak sampai wajib, ).” (Syarh Shahihil Bukhari li Ibni Bathal: 7/290). Al-Allamah Abdur Rauf al-Munawi asy-Syafi’i (wafat tahun 1031 H) rahimahullah juga menyatakan:
فالوليمة له سنة والإجابة إليها عند توفر الشروط واجبة أمّا غير العرس من الولائم العشرة المشهورة فإتيانها مندوب
“Mengadakah acara walimah untuk pernikahan adalah sunnah, sedangkan mendatanginya jika -persyaratan untuk mendatanginya terpenuhi- adalah wajib. Adapun jamuan makan selain pernikahan dari sepuluh macam acara jamuan makan yang terkenal, maka mendatanginya hanya dianjurkan (tidak diwajibkan, pen).” (At-Taisir Syarh al-Jami’ish Shaghir: 1/25).
“Sejelek-jelek acara jamuan makan adalah jamuan walimah (pernikahan, pen). Orang yang ingin menghadirinya (seperti fakir miskin, pen) dihalangi untuk hadir. Sedangkan orang yang tidak ingin menghadirinya (seperti orang kaya, pen) diundang. Barangsiapa yang tidak menghadiri undangan ini, maka ia telah berbuat maksiat kepada Allah dan rasul-Nya.” (HR. Muslim: 2586, Ibnu Majah: 1903, Ahmad: 7305 dari Abu Hurairah radliyallahu anhu). Al-Allamah Abul Hasan as-Sindi al-Hanafi (wafat tahun 1138 H) rahimahullah berkata:
“Di dalam sabda beliau “Barangsiapa yang tidak menghadiri undangan ini” terdapat isyarat bahwa menghadiri undangan walimah pernikahan hukumnya wajib, walaupun acara walimah sendiri termasuk sejelek-jelek jamuan makan dari sisi itu.” (Hasyiyah as-Sindi ala Ibni Majah: 4/166).
Referensi:
المكتبة الشاملة كتاب فص الخواتم فيما قيل في الولائم [ابن طولون] [إجابة الدعوة] في الإجابة على جميع هذه الولائم؛ فإن كانت وليمة العرس المتقدمة، فإن أوجبنا الوليمة وجبت الإجابة وجهاً واحداً. وإن لم نوجبها وهو الراجح كما تقدم وجبت الإجابة أيضاً على الراجح. ورجحه العراقيون للأحاديث الصحيحة: ” إذا دعي أحدكم إلى وليمة عرس فليجب “. وفي لفظ: ” من دعي إلى وليمة فليأتها “. وفي رواية: ” من لم يجب الدعوة فقد عصى الله ورسوله ” رواه مسلم. وحكى أبن عبد البر الإجماع فيه ولكن قال في الاستقصاء وحكي عن مالك وأحمد أنهما قالا: الإجابة إلى وليمة العرس مستحبة غير واجبة انتهى. وأما وليمة غير العرس من الولائم المتقدمة عبد من قال باستحبابها، فالإجابة إليها مستحبة وقال البلقيني ولا تجب الإجابة في غير وليمة العرس على ما صححوه. والأحاديث تقتضي الوجوب مطلقاً انتهى. وقال الزركشي: قولهم إن الإجابة إلى غيرها من الولائم لا يجب، وهو ما صححوه، لأن عثمان بن العاصي دعي إلى ختان فلم يجب وقال: لم يكن يدعى له على عهد رسول الله صلى الله عليه وسلم. رواه أحمد في مسنده. لكن الأحاديث تقتضي الوجوب مطلقاً. وفي الصحيحين: ” إذا دعي أحدكم إلى وليمة فليأتها، ومن لم يجب الدعوة فقد عصى الله ورسوله “. وفي أبي داود: ” فليجب عرساً كان أو غير عرس “. وبالوجوب أجاب الشيخ أبو حامد وأتباعه كالمحاملي. وقال صاحب البيان: إنه الأظهر انتهى. وأختار هذا الشيخ تقي الدين السبكي. ثم حيث أوجبت الإجابة فهي فرض عين على الراجح عند الجمهور من الشافعية، وقيل فرض كفاية لأن المقصود ظهور تميز النكاح عن السفاح، وذلك يحصل بحضور البعض، وصار كالابتداء بالسلام ورده. [شروط تلبية الدعوة] ثم حيث أوجبناها إلى وليمة العرس واستحببناها لبقية الأنواع إنما تجب أو تستحب بشروط: أحدها: أن لا يخص الأغنياء. بل يعم الداعي بدعوته جميع عشيرته أو جيرانه أو أهل حرفته أغنياءهم وفقرائهم، فإن وقع التخصيص فلا تجب الإجابة، لقوله صلى الله عليه وسلم: ” شر الطعام طعام الوليمة، يدعى لها الأغنياء ويترك الفقراء ” رواه مسلم. وفي رواية ” يمنعها من يأتيها، ويدعى إليها من يأباها “. قال البلقيني: كذا قالوه، والحديث السابق يقتضي خلافه انتهى. وقال بعض الشراح: وقوله ” يدعى إليها ” جملة حالية مقيدة بسببها، ويخرج عن التخصيص بأن يدعو جميع عشيرته كلهم أغنياء. أو كان فقيهاً فدعا الفقهاء وكلهم أغنياء، لم يكن ذلك من التخصيص المكروه انتهى. الشرطة الثاني: أن يخصه بالدعوة بنفسه أو يبعث إليه شخصاً. وصريحه أن يقول أسألك الحضور، وأجاب أن تحضر، وأن رأيت أن تجملني بالحضور. أما لو فتح باب داره وقال: ليحضر من أراد، وأن يبعث شخصاً ليحضر من أراد لم يجب، قاله الماوردي. فلو قال الشخص: أحضر وأحضر معك من شئت، فقال ذلك الشخص لغيره: أحضر، فلا يجب ولا يستحب، لأن الامتناع والحالة هذه لا يورث التأذي والوحشة، ولو قال: إن شئت فأحضر لم يلزمه، قال الشافعي: وما أحب أن يجيب والله أعلم
Referensi:
( مغني المحتاج ج٣ص ٢٨٠ ) والاجابة اليها فرض عين وقيل كفاية وقيل سنة
( اقناع ص ٤٢٧)
والإجابة إليها واجبة عينا لخبر الصحيحين : { إذا دعي أحدكم إلى الوليمة فليأتها } وخبر مسلم : { شر الطعام طعام الوليمة تدعى لها الأغنياء وتترك الفقراء ومن لم يجب الدعوة فقد عصى الله ورسوله } . قالوا : والمراد وليمة العرس ; لأنها المعهودة عندهم , ويؤيده ما في الصحيحين مرفوعا : { إذا دعي أحدكم إلى وليمة عرس فليجب } . وأما غيرها من الولائم فالإجابة إليها مستحبة , لما في مسند أحمد عن الحسن قال : { دعي عثمان بن أبي العاص إلى ختان فلم يجب وقال : لم يكن يدعى له على عهد رسول الله صلى الله عليه وسلم .
Keterangan : Menghadiri undangan walimatul urs (pernikahan) adalah fardu ain, ada yang mengatakan fardu kifayah dan sunnah. Sedangkan untuk selain walimatul urs adalah sunnah untuk mendatanginya.
Undangan tak mantap
الشرقاوى ج ٣ ص٢٧٧) ويشترط ايضا ان تكون الدعوى جازمة فلو قال له احضر ان شئت لم تجب الاجابة مالم تظهر قرينة على جريان ذلك على وجه التأدب او الاستعطاف مع ظهور رغبة في حضوره والا وجب
Keterangan : “Kalau bisa, nanti sampeyan datang diacara walimah saya” ini merupakan bentuk undangan yang tidak wajib dipenuhi. Namun kalau secara adat ucapan tersebut hanya sebagai bentuk adabiya saja (disamping tetap mengharap kehadirannya) maka hukumnya tetap wajib.
Undangan walimah disiang bulan Romadlon
( بجيرمي على الخطيب ج٣ ص ٤٥٩) فرع : لو دعاه في نهار رمضان للحضور نهارا لم تجب الإجابة , فإن أراد فليدعهم عند الغروب ; قاله البلقيني . وعبارة شرح م ر : واستثنى منه البلقيني ما لو دعاه في نهار رمضان والمدعوون كلهم مكلفون صائمون فلا تجب الإجابة إذ لا فائدة إلا مجرد نظر الطعام والجلوس من أول النهار إلى آخره مشق ا هـ
Keterangan : Undangan walimah disiang bulan Romadlon tidak wajib dipenuhi, karena tidak ada faedahnya kalau hanya memandang makanan saja. Kalaupun ingin mengundang hendaknya setelah magrib. Walimah sebelum akad nikah.
( بجيرمي على الخطيب ج ٣ ص ٤٥٣) قوله : ( بعد الدخول ) قال الدميري : والظاهر أنها تنتهي بمدة الزفاف للبكر سبعا وللثيب ثلاثا ا هـ , أي ففعلها بعد ذلك يقع قضاء فلو قدمها على العقد لم تكن وليمة عرس فلا تجب الإجابة
Keterangan : Waktu walimah dimulai ketika akad sampai 7 hari untuk perawan atau 3 hari untuk janda. Bila dilaksanakan setelah itu maka dikatakan qodlo namun bila dilaksanakan sebelum akad maka tidak dikatakan walimatul urs(tidak wajib menghadiri).
Hadir pada acara tanpa undangan
( قليوبي ج ٣ ص٢٩٩) والمراد بالضيف هنا من حضر طعام غيره , بدعوته ولو عموما أو يعلم رضاه وأصل الضيف النازل بغيره لطلب الإكرام سمي باسم ملك , يأتي برزقه لأهل المنزل قبل مجيئه بأربعين يوما , وينادي فيهم هذا رزق فلان كما ورد في الخبر مأخوذ من الضيافة وهي الإكرام وضده الطفيلي , مأخوذ من التطفل وهو حضور طعام الغير بغير دعوة , وبغير علم رضاه , فهو حرام فلو دعا عالما أو صوفيا فحضر بجماعته حرم حضور من لم يعلم رضا المالك به منهم
Hasyiyat al-Qalyubi jilid 3 halaman 299:
“Yang dimaksud dengan tamu di sini adalah seseorang yang menghadiri jamuan makanan milik orang lain dengan undangan, meskipun undangan tersebut bersifat umum, atau ia mengetahui kerelaan tuan rumah. Asal kata ‘tamu’ adalah orang yang datang kepada orang lain dengan tujuan untuk dihormati, dinamakan dengan nama ‘malaikat’ yang datang membawa rezeki bagi penghuni rumah sebelum kedatangannya, yaitu empat puluh hari sebelumnya. Malaikat itu mengumumkan di antara mereka bahwa ‘ini adalah rezeki bagi si fulan,’ sebagaimana disebutkan dalam hadis. Kata ‘tamu’ berasal dari kata ‘dhiyafah,’ yang berarti penghormatan. Lawan dari tamu adalah ‘tafil,’ diambil dari kata ‘tafful,’ yaitu orang yang hadir dalam jamuan makanan orang lain tanpa undangan dan tanpa mengetahui kerelaan pemiliknya. Maka hal ini hukumnya haram. Jika seseorang mengundang seorang ulama atau seorang sufi, lalu orang tersebut hadir bersama rombongannya, maka kehadiran siapa saja yang tidak diketahui kerelaan pemilik rumah adalah haram.”
Keterangan singkat : Menghadiri walimah tanpa undangan atau ridlonya sohibul hajat adalah harom.
Walimah khitan ( Sunat )
( حا شية الجمل ج٤ ص ٢٧١) قال الأذرعي إن محل الندب وليمة الختان في حق الذكور دون الإناث ; لأنه يخفى ويستحيا من إظهاره لكن الأوجه استحبابه فيما بينهن خاصة
Keterangan : Hukumnya sunnah mengadakan walimah khitan kalau memang laki-laki, sedangkan walimah khitan perempuan tetap sunnah bila yang diundang hanya perempuan saja.
Seorang wanita nifas selama 47 hari, lalu berhenti selama 13 hari. Setelah itu, keluar darah lagi hingga hari ke-60. Setelah 60 hari, darah berhenti, namun keluar lendir putih kekuningan kecoklatan.
Apakah lendir ini masih termasuk nifas, haid, atau istihadah?
Wajibkah mandi wajib setelah 60 hari meskipun masih keluar lendir?
Jawaban : Darah yang keluar setelah masa suci 13 hari dan masih dalam batas 60 hari nifas tetap dihukumi sebagai darah nifas. Namun, jika setelah 60 hari masih keluar lendir putih kekuningan atau kecoklatan, maka ini bukan lagi darah nifas. Lendir ini kemungkinan adalah istihadah (darah penyakit), terutama jika warnanya tidak seperti darah haid biasa. Kewajiban Mandi Wajib: Wanita tersebut wajib mandi wajib setelah genap 60 hari dari masa nifasnya, meskipun masih keluar lendir berwarna. Keluarnya lendir setelah 60 hari tidak menghalangi kewajiban mandi dan pelaksanaan sholat. Lendir tersebut dihukumi seperti keluarnya keputihan biasa bagi wanita yang tidak sedang haid atau nifas.
Kesimpulan.
Jika perempuan sedang nifas setelah 47 hari darahnya ampet dengan jedah waktu 13 hari kemudian keluar lagi maka darah yang keluar tersebut dinamakan darah nifas. Alasannya karena keluarnya darah setelahnya terputus masih berada dalam masa dibawah ya 60 hari .Akan tetapi jika seorang perempuan yang nifasnya sudah 60 Hari, Tapi ke esokan harinya masih keluar Lendir putih agak kekuningan kecoklatan,maka darah yang keluar yang melebihi 60 hari tersebut dinamakan darah Istihadloh selain itu dapat dilihat dari warna darahnya masuk dalam kategori lemah yang mana hal tersebut dinamakan darah penyakit. Dengan demikian maka ia wajib mandi wajib dan wajib melaksanakan sholat. ( Lihat kitab Minhaj al-Qawim.op.cit.h.29. al-Qulyubi dan Umairah, hasyiah, jilid I, (Lebanon: Dar al-Qutub al-Ilmoyah 2009, h.161 )
Hasyiyah Al-Bajuri I / 109 :
(والنفاس هو الدم الخارج عقب الولادة) فالخارج مع الولد أو قبله لا يسمى نفاساً.
Nifas adalah darah yang keluar setelah melahirkan. Darah yang keluar bersamaan dengan anak atau sebelum keluarnya anak tidak disebut nifas.
(قوله عقب الولادة)
أي بأن يكون قبل مضي خمسة عشر يوما منها ، فهذا ضابط العقبية وإلا كان حيضا ولا نفاس لها لكن لو نزل عليها الدم بعد عشرة أيام مثلا كانت تلك العشرة من النفاس عددا لا حكما ، فيجب عليها الصلاة ونحوها فيها كما قاله البلقيني واعتمده الرملي وكان الأولى أن يقول عقب فراغ الرحم من الحمل ليخرج ما بين التوأمين ومثل الولادة إلقاء علقة وهي الدم الغليظ المستحيل من المني سميت بذلك لأنها تعلق بما لاقته ، ومضغة وهي القطعة من اللحم المستحيلة من العلقة سميت بذلك لأنها بقدر ما يمضغ ـ اهـ الباجوري الجزء الأول ص ١٠٦
Dikatakan nifas dengan catatan keluarnya itu sebelum lewatnya 15 hari dari melahirkan, dan ini merupakan batas dari “setelah”, jika tidak demikian maka itu adalah haidl bukan nifas, akan tetapi jika darah turun atas perempuan setelah 10 hari dari melahirkan misalkan, maka 10 hari tersebut termasuk nifas dalam segi hitungan bukan hukum, maka wajib bagi perempuan untuk melaksanakan sholat dan semacamnya, sebagaimana yang dikatakan oleh Imam Al-Bulqiniy dan dibuat pedoman /dikuatkan oleh Imam Ar-Romliy. dan yang lebih utama adalah mengatakan “setelah kosongnya rahim dari kehamilan” agar mengeluarkan waktu yang berada di antara dua bayi gembar
At-Taqrirot Asy-Syadidah, Hal : 171
الأحكام العامة للمستحاضة تختلف المستحاضة عن الحائض والنفساء, فالمستحاضة يجب عليها أن تصلي, وصلاتها صحيحة ولا قضاء عليها, وإذا حل رمضان وجب يجب عليها الصوم, ويجوز لزوجها أن يأتيها ولو مع سيلان الدم الخطوات التي تتخذها المستحاضة إذا أرادت الصلاة يجب عليها أن تتطهر من النجاسة الدم وغيره يجب عليها الخشو في موضع خروج الدم بقطن أو نحوه, إلا غذا كانت تتأذى, أو كانت صائمة, لأن ذلك يفطرها, ويجب عليها التعصب إن لم يكف الحشو يجب عليها المبادرة بعد ذلك بالوضوء, وشرطه أن يكون بعد دخول الوقت, والموالة فيهيجب عليها المبادرة إلى الصلاة, فلا يجوز تأخيرها, إلا إذا كان التأخير لمصلحة الصلاة كإجابة مؤذن ونافلة قبلية وانتظار جماعة
التقريرات السديدة ج ١ ص ١٦٤-١٦٥: الطهر بين الحيض والنفاس: ١- إدا تقدم الحيض على النفاس: فلا يشترط وجود فاصل، فالدم الذي قبل الولادة يسمى دم حيض والدم الذي بعد الولادة يسمى دم نفاس ولو مع الاتصال ٢- إدا تقدم النفاس على الحيض فيه حالات
Fokus👇
ٓ إدا انقطع الدم و عاد الدم الثانى قبل مرور الستين يوما فننظر الى مدة الانقطاع فان كانت مدة الانقطاع ١٥ يوما فاكثر فالدم حيض و ان كا نت مدة الانقطاع اقل من ذلك فالدم نفاس ٓ اذا وجد الدم بعد ٦٠ يوما فننظر: – ادا انقطع الدم بعد تمام الستين ولو لحظة فالدم العائد دم الحيض – ادا لم ينقطع اي كان متصلا بما قبل الستين فحذه مستجاضة.
Jika darah nifas berhenti lalu kemudian keluar lagi, maka 1. Jika berhenti nya darah sampai 15 hari atau lebih dihukum HAID. 2. jika berhenti nya Darah tidak sampai 15 hari maka dihukum NIFAS. 3. Jika 60 hari darah berhenti walau sebentar maka darah yang keluar lagi dihukumi HAID. 4. Jika 60 darah tetap keluar maka darah yang keluar dihari 61 dst dihukumi istihadhoh.
PROBLEMATIKA PERBEDAAN DALAM MENENTUKAN AWAL RHOMADHAN, IDUL FITRI DAN IDUL ADHA
Assalamualaikum.
Deskripsi Masalah. Masalah hisab dan rukyat merupakan persoalan yang sangat penting khususnya bagi ummat Islam, karena bagaimapun juga hal tersebut sangat erat korelasinya dengan penentuan hari-hari besar Islam seperti Awal bulan Ramadhan, Idul fitri dan juga Idul Adha yang edintik dengan hari Raya Qurban.
Sebagaimana kita maklumi, bahwa setiap tahunnya energi ummat Islam khususnya diindonesia tercurah untuk menentukan hari-hari besar tersebut , karena dibulan tersebut terdapat waktu dan hari yang istijabah. Maka untuk menentukan awal bulan tersebut, sebagian mereka menggunakan metode hisab dan rukyat sedangkan sebagian yang lainnya menggunakan metode rukyat saja bahkan ada sebagian hanya mencukupkan dengan metode hisab hakiki. Dan sebagian kelompok menganggap bahwa metode rukyah bersifat Qoth’i ( penentu utama ) dan hisab bersifat dhonniy saja ( pendukung ) dan sebaliknya kelompok yang lain menganggap metode hisab adalah bersifat Qoth’i sedangkan rukyah bersifat dhanniy.Dari penggunaan metode yang berbeda tersebut terkadang dapat menghasilkan keputusan yang tidak seragam ( sama ), bahkan tidak jarang berbedaan tersebut menyebabkan kerenggangan ukhuwah diantara ummat Islam. Meski demikian kedua metode tersebut sama-sama dapat digunakan oleh umat Islam. Dari deskripsi diatas saya ( AHMAD ) Timbul pertanyaan.
Pertanyaannya. Mengapa ada perbedaan dalam menentukan awal Ramadhan, hari Idul fitri maupun Idul Adha? Berikan argumen atau penjelasan analisis korelasinya dari kajian usul fiqh ( metode istimbat/ penetapan hukumnya ).
Waalaikum salam.
Jawaban.
Jika melihat dan mencermati dari deskripsi, bahwa perbedaan pendapat dalam hal ; rukyat dan hisab adalah merupakan hal yang biasa terjadi, sehingga kita tidak perlu risau dalam menyikapinya. Karena bagaimanapun juga perbedaan itu adalah rahmat, hal ini, sesuai dengan sabda Nabi Muhammad SAW: ” إختلاف أمتى رحمة ” perbedaan ummatku itu adalah rahmat. Jika sama kenapa harus beda, jika beda kenapa tidak saling menghargai, begitu bunyi slogan memaknai perbedaan, tahun lalu idul fitri yang berbeda dan sekarang justru Idul Adha, idul Adha identik dengan sembelihan hewan kurban, sekalipun memaklumi perbedaan tetap saja masih menyisakan problema yang menyebabkan kerenggangan ukhuwah diantara ummat Islam, padahal keduanya sama ada dasarnya Yaitu al-Qur’an dan hadits .
Hisab artinya menghitung, yakni menentukan hitungan mulai hari puasa Ramadhan, hal ini hanya dapat dilakukan oleh orang-orang tertentu yang ahli dalam bidang ilmu falak. Penetapan awal bulan Ramadhan dengan perhitungan ahli hisab ini dengan Syarat :
Jika bulan tidak terlihat, maka bulan Syakban disempurnakan 30 hari
Yang bisa melakukan hisab ini adalah orang yang ahli dalam bidangnya
Adapun dasar ( dalil ) yang di pakai oleh ahli hisab untuk menggunakan hisab dalam menentukan awal bulan didasarkan pada petunjuk dalam al-Qur’an surat Yasin ayat 39-40:
Artinya: 39). Dan telah Kami tetapkan tempat peredaran bagi bulan, sehingga (setelah ia sampai ke tempat peredaran yang terakhir) kembalilah ia seperti bentuk tandan yang tua. 40). Tidaklah mungkin bagi matahari mengejar bulan dan malam pun tidak dapat mendahului siang. Masing-masing beredar pada garis edarnya. (QS. Yasin: 39-40)
Artinya: Dialah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan ditetapkan-Nya manzilah-manzilah (tempat-tempat) bagi perjalanan bulan itu, supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu). Allah tidak menciptakan yang demikian itu melainkan dengan hak. Dia menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya) kepada orang-orang yang mengetahui.
Kriteria awal bulan menurut ahli hisab yaitu ada tiga kriteria; pertama, harus sudah ada ijtimak (konjungsi), yaitu putaran bulan sudah penuh mengitari bumi; kedua, ijtimak tersebut terjadi sebelum terbenamnya matahari; ketiga, pada saat terbenamnya matahari piringan atas bulan berada di atas ufuk. Artinya, bulan belum terbenam ketika matahari terbenam. Adapun 3 kriteria tersebut harus terpenuhi semuanya dan ini berlaku untuk semua bulan bukan hanya Ramadan. “Kalau golongan ahli hisab tanggal 1 Ramadan itu adalah tanggal 1 yang ada di kalender. kalau rukyat bisa terjadi begini, di kalendernya tanggal 1 tapi karena tidak terlihatnya hilal, maka puasanya besoknya tanggal 2. Ini bisa terjadi, maka dikalangan ahli hisab tidak seperti itu, karena antara kalender dengan sistem peribadatan di bulan Ramadan itu sama, maka dengan melihat kalender yang terbit untuk 1 tahun sudah dapat ditentukan kapan puasa dan kapan lebaran.”
Rukyat artinya penglihatan, yakni melihat muliyanya /awal bulan Ramadhan setelah terbenamnya matahari pada tanggal dua puluh sembilan (akhir ) Syakban . Untuk melakukan rukyat inipun memerlukan persyaratan tertentu yakni harus ada fasilitas yang menunjangnya, sehingga tidak sembarang orang melakukannya.Penetapan mulai bulan Ramadhan dengan rukyat ini berdasarkan perintah Rasulullah SAW sebagaimana keterangan hadits riwayat Abu Hurairah bahwa Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda:
صوموا لرؤيته وأفطروا لرؤيته، فإن غبي عليكم فأكملوا عدة شعبان ثلاثين يوما “
Berpuasalah kamu ketika telah melihat hilal Ramadhan dan berhentilah kamu berpuasa ketika telah melihat hilal bulan Syawal. Jika hilal tertutup bagimu maka genapkanlah bulan syakban menjadi 30 hari,” (HR. al-Bukhari dan Muslim).
Dalam hadits yang lain Rasulullah SAW pernah bersabda mengenai perintah berpuasa jika melihat hilal:
عن إبن عمر : عن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال : إذا يْتُمُوهُ فَصُومُوا، وَإِذَا رَأَيْتُمُوهُ فَأَفْطِرُوا، فَإِنْ غُمَّ عَلَيْكُمْ فَاقْدُرُوا لَهُ
Artinya: Dari Ibnu Umar RA.Rasulullah SAW bersabda: ” Apabila kalian melihatnya (hilal Ramadan), maka berpuasalah, dan jika kalian melihatnya (hilal bulan baru), maka berbukalah. Tetapi jika mendung (tertutup awan) maka estimasikanlah (menjadi 30 hari). (HR. al-Bukhari dan Muslim).
Dalam hadits riwayat Ibnu Umar Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda:
لا تصوموا حتى تروا الهلال ولا تفطروا حتى تروه، فإن غم عليكم فاقدروا له “
Janganlah kamu berpuasa sehingga kamu melihat hilal ( Ramadhan ) dan janganlah kamu berhenti berpuasa sehingga kamu melihat hilal Syawal. Jika hilal tertutup bagimu maka… ” Bagi jumhur, sabda Nabi Muhammad SAW (فاقدروا له) merupakan interpretasi/penjelasan terhadap sabda Nabi pada hadits yang pertama, (فأكملواعدة) yang bermakna: sempurnakanlah bilangan menjadi 30 hari, oleh karena itu mayoritas ulama sampai saat ini berpedoman pada rukyat. Yang dimaksud adalah melihat bulan baru ( هلال ) dengan mata kepala (رؤية بصرية ), bukan penglihatan ilmiah ( رؤية علمية ) dengan menggunakan perhitungan ( حساب ). Bila penglihatan riil dengan mata kepala tidak terjadi meski karena terhalang awan, mereka mengestimasikan / menggenapkan bulan Sya’ban/Ramadhan menjadi 30 hari. Salah seorang imam besar dari kalangan ulama Syafi’iyah, Abu al-Abbas Ahmad bin Umar bin Suraij mengompromikan dua riwayat hadits di atas dengan menggunakan pendekatan yang dalam istilah sekarang disebut dengan teori multi-dimensi (نظرية تعدد الأبعاد), yaitu bahwa sabda Nabi ( فاقدرواله ) bermakna: “perkirakanlah hilal itu dengan menghitung posisi-posisi-nya.” Ini ditujukan kepada mereka yang oleh Allah subhanahu wa ta’ala dianugerahi pengetahuan tentang hisab, sedang sabda Nabi Muhammad SAW ( فاكملوا عدة) ditujukan kepada mereka yang awam di bidang ilmu itu (Fatawa al-Qardhawi).
Dengan kata lain merujuk pada hadis tersebut ada dua petunjuk untuk mengetahui kapan puasa Ramadan; dengan melihat hilal atau dengan mengestimasikan/menyempurnakan bilangan bulan menjadi 30 hari. Jikalau kita menggunakan rukyat, maka kita belum tahu kapan akan datangnya bulan Ramadan karena harus menunggu tanggal 29 Sya’ban terlebih dahulu, kemudian melakukan rukyatul hilal. Kalimat “Faqduru lahu” memiliki beberapa pemaknaan;
Pertama, sempurnakanlah bulan Sya’ban 30 hari;
Kedua, jika hilal belum terlihat maka perkirakanlah bahwa hilal ada dibalik mendungnya awan;
Ketiga dengan hisab (perhitungan)
Ada hadits lain yang menjelaskan mengapa di zaman Rasulullah menggunakan rukyat bukan hisab dalam menentukan awal bulan Ramadan:
Artinya: Sesungguhnya umatku ummiy, tidak dapat menulis dan juga berhitung. Adapun bulan ini (Sya’ban/Ramadan) seperti ini dan seperti itu, yakni terkadang 29 hari dan terkadang 30 hari. (HR. al-Bukhari dan Muslim)
Menurut pendapat Imam Taqyuddin al-Subki, yang diakui memiliki kapasitas sebagai mujtahid. Pendapat beliau dalam masalah ini antara lain dikemukakan oleh Sayyid Abu Bakar Syatha di dalam Hasyiyah I’anah al-Thalibin:
( فرع)
لو شهد برؤية الهلال واحد او اثنان واقتضى الحساب عدم امكان رؤيته ، قال السبكي: لا تقبل هذه الشهادة، لان الحساب قطعي والشهادة ظنية، والظن لا يعارض القطع “
Jika satu orang atau dua orang bersaksi bahwa dia atau mereka telah melihat hilal sementara secara hisab hilal tak mungkin terlihat, maka menurut al-Subki kesaksian itu tidak diterima, karena hisab besifat pasti sedangkan rukyat bersifat dugaan, tentu yang bersifat dugaan tidak bisa mengalahkan yang pasti. Substansi ( tujuan )dari pendapat ini ialah bahwa hisab menjadi dasar dalam rangka menafikan, tidak dalam rangka menetapkan.
الحساب حجة في النفي لا في الإثبات
Sayyid Abu Bakar Syatha mengomentari pendapat Imam al-Subki dengan mengatakan:
والمعتمد قبولها، إذ لا عبرة بقول الحسٌاب “
Menurut yang muktamad, kesaksian tersebut diterima, karena pendapat ahli hisab tidak mu’tabar (tidak masuk hitungan).” Alasan Imam al-Subki :
(لان الحساب قطعي والرؤية ظنية)
Untuk menolak rukyat ketika bertentangan dengan hisab perlu digarisbawahi kemudian ditarik ke kondisi saat ini di mana ilmu astronomi modern telah begitu maju dan akurasinya benar-benar meyakinkan (قطعي). Dengan ilmu ini, para ahli astronomi bisa memprediksi terjadinya gerhana beberapa ratus tahun sebelum terjadinya dengan sangat akurat menyangkut tahun, bulan, minggu, hari dan jam, bahkan menitnya. Dengan begitu akuratnya (قطعي) ilmu astronomi saat ini maka rukyat yang semula bersifat dugaan kuat (مظنونة), ketika bertentangan dengan hisab turun menjadi sesuatu yang diragukan (مشكوك فيها), bahkan hanya bersifat asumsi saja (موهومة). Pendapat Imam al-Subki ini merupakan jalan tengah (المنهج الوسطي), sekaligus menjadi ajang perdamaian antara yang fanatik rukyat dan yang fanatik hisab. Jika pemerintah berpegang pada pendapat ini maka tidak perlu menyiapkan tenaga dan biaya yang cukup besar yang dibutuhkan untuk melakukan pemantauan hilal (الترائي)، ketika seluruh ahli hisab/astronomi sepakat mengatakan bahwa hilal tidak mungkin dirukyat.
Berdasarkan beberapa hadis tersebut, maka dapat dipahami bahwasannya fungsi dari rukyat hilal adalah untuk memastikan apakah umur 1 bulan itu 29 hari atau 30 hari. Jika hilal tidak terlihat, maka bilangan bulan tersebut digenapkan menjadi 30 hari. Maka, hadis yang menyebutkan bahwasanya umat beliau saw itu ummiy menjadi alasan mengapa saat itu tidak menggunakan hisab, karena belum adanya pengetahuan terkait dengan hisab, akan tetapi pada zaman sekarang di mana ilmu astronomi modern telah begitu maju dan akurasinya benar-benar meyakinkan (قطعي). Oleh karena itu , para ahli astronomi dengan ilmunya bisa memprediksi terjadinya gerhana beberapa ratus tahun sebelum terjadinya dengan sangat akurat ( tepat sasaran ) baik yang menyangkut tahun, bulan, minggu, hari dan jam, bahkan menitannya. Hal ini sesuai dengan kaidah
الحكم يدور مع علته وجودا و عدما
Artinya: “Hukum itu berdasarkan ada tidaknya illat dan sebabnya.” Jika tidak bisa rukyat maka dengan hisab dan sebaliknya jika tidak bisa hisab maka dengan rukyat.
Adapun yang terpenting dari berbedaan tersebut adalah adanya kehati- hatian sebagaimana keterangan lengkap tentang bagaimana semestinya penentuan awal bulan yang boleh diikuti oleh masyarakat dan warga negara sebagaimana ibarah berikut:
Referensi:
كاشفة السجا على سفينة النجا فى باب وجوب الصيام :
واعلم أنه يثبت رمضان بشهادة العدل وإن دل الحساب القطعي على عدم إمكان رؤيته كما نقله ابن قاسم عن الرملي وهو المعتمد خلافاً لما نقله القليوبي فإنه ضعيف فليحف قال ذلك كله المدابغي
Dan ketahuilah sesungguhnya Ramadhan ditetapkan dengan kesaksian orang adil meskipun hisab qot’i (hitungan pasti) menunjukkan tidak mungkin terjadinya rukyah hilal, seperti keterangan yang dikutip oleh Ibnu Qosim dari Romli. Ini adalah pendapat yang mu’tamad yang bertolak belakang dengan keterangan yang dikutip oleh Qulyubi karena pendapatnya tersebut adalah yang dhoif, seperti yang dikatakan oleh Mudabighi
قال المرغني ودليل الاكتفاء في ثبوته بالعدل الواحد ما صح عن ابن عمر رضي اﷲعنهما أخبرت رسول اﷲ صلى اﷲ عليه وسلّم أني رأيت الهلال فصام وأمر الناس بصيامه اه قوله أخبرت رسول اﷲ صلى اﷲ عليه وسلّم أي بلفظ الشهادة ويكفي في الشهادة أشهد أني رأيت الهلال وإن لم يقل وإن غداً من رمضان
Murghini berkata, “Dalil dicukupkannya penetapan Ramadhan dengan satu orang adil adalah hadis yang shohih dari Ibnu Umar rodhiallahu ‘anhuma, “Aku memberitahu kepada Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallama bahwa aku melihat hilal (Ramadhan). Kemudian beliau berpuasa dan memerintahkan orang-orang untuk berpuasa.” Perkataan Ibnu Umar, Aku memberitahu kepada Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallama adalah dengan lafadz syahadah (kesaksian). Dalam bersyahadah atau bersaksi, cukup mengucapkan, “Aku bersaksi sesungguhnya aku telah melihat hilal,” meskipun tidak mengucapkan, “Sesungguhnya besok sudah masuk Ramadhan.
” والمعنى في ثبوته بالواحد الاحتياط للصوم ومثله سائر العبادات كالوقوف بالنسبة لهلال ذي الحِجة وهي شهادة حسبة بكسر الحاء أي لا مرجوٌ بها ثواب الدنيا فلا تحتاج إلى سبق دعوى
Dan adapun arti pokok ditetapkannya Ramadhan dengan satu orang adil adalah karena ihtiyat (berhati-hati) dalam berpuasa.Begitu juga, ibadah-ibadah lain, seperti; wukuf, dengan artian bahwa ditetapkannya Dzulhijah dengan rukyah hilal oleh satu orang adil. Adapun yang dimaksud syahadah disini adalah syahadah hisbah (kesaksian yang mencukupi yang lainnya), maksudnya, syahadah yang tidak diharapkan adanya pahala di dunia. Oleh karena itu, syahadah tersebut tidak perlu ada dakwaan terlebih dahulu.
قال المدابغي ولو رجع عن شهادته بعد شروعهم في الصوم أو بعد حكم الحاكم ولوقبل شروعهم لزمهم الصوم ويفطرون بإتمام العدة وإن لم يروا هلال شوال
Mudabighi berkata, “Apabila orang adil itu mencabut syahadah atau kesaksiannya tentang rukyah hilal, padahal orang-orang sudah mulai berpuasa atau apabila ia mencabut syahadah-nya setelah ditetapkan dan diputuskan oleh hakim (Menteri Agama) meskipun orang-orang belum mulai berpuasa, maka wajib atas mereka berpuasa dan mereka nantinya berbuka dengan menggenapkan Ramadhan menjadi 30 hari meskipun mereka melihat hilal Syawal.”
(ورابعها بإخبار عدل رواية موثوق به) قال الزيادي ومثله موثوق بزوجته وجاريته وصديقه (سواء وقع في القلب صِدقُه أم لا) قال الشرقاوي خلافاً لما ذكره في شرح المنهج وإن تبعه بعض الحواشي (أو غير موثوق به) كفاسق (إن وقع في القلب صدقه) ولذا قال المدابغي عند قول الخطيب ويجب الصوم أيضاً على من أخبره موثوق به بالرؤية إن اعتقد صدقه وإن لم يذكره عند القاضي قوله موثوق به ليس بقيد بل المدار علىاعتقاد الصدق ولو كان المُخبِر كافرًا أوفاسقاً أو رقيقاً أو صغيرًا ثم قال السويفي عندقول الخطيب ذلك أيضاً قوله إن اعتقد صدقه ليس بقيد فالمدار على أحد أمرين كون المخبر موثوقاً به أو اعتقاد صدقه اه قال الشرقاوي ولو رآه فاسق جهل الحاكم فسقه جاز له الإقدام على الشهادة بل وجب أن توقف ثبوت الصوم عليها
Dan adapun perkara yang keempat (Yang mewajibkan puasa Ramadhan) adalah sebab adanya berita riwayat yang terpercaya dengannya. Ziyadi menambahkan tentang terpercaya adalah orang yang dipercaya oleh Istrinya ‘tetangganya dan temannya budaknya,dzon) kebenarannya atau tidak.dan Syarqowi mengatakan bahwa keterangan yang disebutkan di dalam kitab Syarah al-Minhaj adalah disyaratkannya hati menyangka kebenaran berita orang adil riwayat tersebut, meskipun pendapat ini juga tertulis dalam sebagian hasyiah. Atau orang adil riwayat tersebut tidak terpercaya, semisal; ia adalah orang fasik, maka diwajibkan puasa sebab berita darinya, dengan catatan jika memang hati menyangka kebenaran beritanya itu. Oleh karena ini, Mudabighi berkata, “Menurut pendapat Khotib, diwajibkan juga berpuasa atas orang yang diberitahu tentang rukyah hilal oleh orang lain yang terpercaya jika memang orang tersebut meyakini kebenarannya,” meskipun pernyataan ini tidak disebutkan oleh al-Qodhi. Batasan “yang terpercaya” bukanlah patokan dalam kewajiban berpuasa, melainkan patokannya adalah keyakinan hati tentang kebenaran berita yang disampaikan meskipun pemberi berita tersebut adalah orang kafir, fasik, budak, atau anak kecil. Suwaifi berkata, “Menurut pendapat Khotib, keyakinan hati tentang berita rukyah hilal bukanlah batasan, melainkan patokannya adalah salah satu dari dua hal, yakni; orang yang menyampaikan berita itu adalah orang yang terpercaya atau keyakinan hati atas beritanya.” Syarqowi berkata, “Apabila orang fasik melihat hilal, sementara itu, hakim (Menteri Agama) tidak mengetahui kefasikannya, maka boleh bagi hakim tersebut menawarkannya untuk bersyahadah, bahkan wajib menetapkan puasa berdasarkan syahadah-nya itu.”
(وخامسها بظن دخول رمضان بالاجتهاد فيمن اشتبه عليه ذلك) بان كان أسيرًا أومحبوساً أو غيرهما قاله المدابغي قال الباجوري فلو اشتبه عليه رمضان بغيره لنحو حبسا جتهد فإن ظن دخوله بالاجتهاد صام فإن وقع فأداء وإلا فإن كان بعده فقضاء وإن كان قبله وقع له نفلاً وصامه في وقته إن أدركه وإلا فقضاء اه
Dan adapun perkara yang kelima (Yang mewajibkan puasa Ramadhon) adalah sebab menyangka masuknya bulan Ramadhan dengan cara berijtihad bagi orang yang ragu tentang masuknya, misalnya; ia sedang ditawan di tempat tersembunyi, atau dipenjara, atau yang lainnya, seperti yang dikatakan oleh Mudabighi. Bajuri berkata, “Apabila seseorang ragu tentang masuknya bulan Ramadhan sebab dipenjara, misal, maka ia berijtihad. Apabila ia menyangka masuknya Ramadhan dengan ijtihadnya tersebut maka ia berpuasa. Apabila puasanya tersebut ternyata jatuh pada tanggal 1 Ramadhan maka puasanya berstatus adak, dan apabila puasanya ternyata jatuh pada tanggal 2 Ramadhan maka puasanya berstatus qodho, dan apabila puasanya ternyata sebelum Ramadhan masuk maka puasanya tersebut berstatus sunah. Selama ia mendapat waktu Ramadhan maka ia berpuasa, jika tidak, maka mengqodho.”.
فتَلَخَّصَ أن سبب وجوب الصيام خمسة اثنان على سبيل العموم أي عموم الناس وهما استكمال شعبان ثلاثين يوماً وثبوت رؤية الهلال ليلة الثلاثين من شعبان عند حاكم وثلاثة على سبيل الخصوص أي خصوص الناس وهو الباقي من الخمسة
Maka dapat disimpulkan bahwa perkara-perkara yang mewajibkan puasa Ramadhan ada 5 (lima). 2 perkara darinya bersifat umum, artinya, kewajiban puasa dibebankan atas orang banyak. 2 perkara tersebut adalah menggenapkan bulan Syakban menjadi 30 hari dan tetapnya rukyah hilal pada malam ke-30 dari bulan Syakban oleh hakim. 3 perkara sisanya bersifat khusus, artinya, kewajiban puasa hanya dibebankan atas orang-orang tertentu.
تنبيه) لا يجب الصوم ولا يجوز بقول المنجم وهو من يعتقد أن أول الشهر طلوع النجم) الفلاني لكن يجب عليه أن يعمل بحسابه وكذلك من صدقه كالصلاة فإنه إذا اعتقد دخول وقت الصلاة فإنه يعمل بذلك ومثل المُنَجِّم الحاسب وهو من يعتمد أي يتَّكِلُ ويتمسك بمنازل القمر في تقدير سَيْرِه ولا عبرة بقول من قال أخبرني النبي صلى اﷲ عليه وسلّم في النوم بأن الليلة أول رمضان لفقد ضبط الرائي لا للشك في تحقق الرؤية إن تحقق الرؤية
[SATU PERINGATAN]: Tidak wajib berpuasa Ramadhan, bahkan tidak boleh, jika berdasarkan informasi dari munjim (ahli perbintangan). Munjim adalah orang yang meyakini bahwa awal bulan ditandai dengan munculnya bintang Falani. Akan tetapi, wajib atas munjim sendiri mengamalkan penghisabannya, begitu juga, orang yang membenarkannya, sebagaimana dalam masalah sholat, yakni apabila seseorang meyakini masuknya waktu sholat maka ia mengamalkan apa yang diyakininya itu. Sama dengan munjim adalah hasib, yaitu orang yang berpedoman dalam menentukan awal bulan dengan stasiun-stasiun bulan berdasarkan perkiraan rotasinya. Tidak ada pengaruh (ibroh) dalam kewajiban berpuasa jika berpedoman pada perkataan seseorang, “Aku diberitahu oleh Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallama dalam mimpi bahwa malam ini sudah termasuk awal bulan Ramadhan,” karena tidak adanya sifat dhobit dari pemimpi tersebut, bukan berarti meragukan kebenaran mimpinya .
(فرع) وإذا رؤي الهلال بمحلّ لزم حكمه محلاً قريباً منه ويحصل القرب باتحاد المطلَع بأن يكون غروب الشمس والكواكب وطلوعها في البلدين في وقت واحد هذا عند علماءالفلك والذي عليه الفقهاء أن لا تكون مسافة ما بين المحلّين أربعة وعشرين فرسخاً من أي جهة كانت
[ SATU CABANG ]:Ketika hilal terlihat di satu wilayah tertentu, maka hukum terlihatnya hilal juga berlaku atas wilayah yang berdekatan dengannya. Kedekatan antara dua wilayah tersebut ditandai dengan persamaan tempat terbit dan terbenam, sekiranya terbenam dan terbitnya matahari dan bintang di dua wilayah tersebut terjadi dalam waktu yang sama. Ini adalah menurut ulama ahli Falak. Adapun menurut ulama Fiqih, kedekatan antara dua wilayah tersebut ditandai dengan sekiranya jarak antara keduanya tidak sejauh 24 farsakh16 dari berbagai arah.
واعلم أنه متى حصلت الرؤية في البلد الشرقي لزم رؤيته في البلد الغربي دون عكسه ولوسافر من صام إلى محل بعيد من محل رؤيته وافق أهله في الصوم آخرًا فلو عيد قبل سفره ثم أدركهم بعده صائمين أمسك معهم وإن تم العدد ثلاثين لأنه صار منهم أو سافر من البعيد إلى محل الرؤية عيد معهم وقضى يوماً إن صام ثمانية وعشرين وإن صام تسعةوعشرين فلا قضاء وهذا الحكم لا يختص بالصوم بل يجري في غيره أيضاً حتى لو صلى المغرب بمحل وسافر إلى بلد فوجدها لم تغرب وجبت الإعادة.
16 1 Farsakh = ± 8 Km atau 3,5 Mil. Demikian ini menurut Kamus alMunawir, hal, 1045. Ketahuilah. Sesungguhnya ketika hilal terlihat di negara timur maka terlihat pula di negara barat, tidak sebaliknya. Apabila seseorang telah berpuasa, kemudian ia pergi ke wilayah Makkah yang jauh dari wilayah Indonesia dimana hilal Syawal telah terlihat di wilayah ” Makkah ” , lalu ia mandapati penduduk Indonesia masih berpuasa di hari terakhir Ramadhan, maka jika penduduk wilayah Makkah telah mengadakan hari raya Idul Fitri sebelum ia pergi ke wilayah Indonesia , lalu mendapati penduduk wilayah Indomesua berpuasa, maka ia wajib berpuasa bersama mereka meskipun puasanya telah genap 30 hari karena ia menjadi bagian dari mereka. Atau apabila ia pergi dari wilayah Indonesia ke wilayah Makkah dimana hilal Syawal telah terlihat di wilayah Makkah maka ia berhari raya bersama penduduk wilayah Makkah , dan ia mengqodho 1 hari jika puasanya baru mendapat 28 hari, dan tidak perlu mengqodho jika puasanya telah mendapat 29 hari. Hukum di atas berlaku tidak hanya dalam puasa, tetapi juga berlaku dalam ibadah selainnya, bahkan apabila seseorang telah sholat Maghrib di wilayah Indonesia , kemudian ia pergi ke wilayah Makkah dan ternyata di wilayah Makkah matahari belum terbenam, maka ia berkewajiban mengulangi sholat Maghribnya.
Demikianlah penjelasan mengenai ketentuan Awal bulan Ramadhan, Idul fitri dan Aidul Adha keabsahannya harus menunggu keputusan Mentri Agama . Wallahu A’lam bisshowab.
HUKUM MEMANFAATKAN UANG CAMPURAN YANG BERADA DIKOTAK PENSIL KARENA LAMA TERLUPAKAN
Assalamualaikum
Deskripsi Masalah
Uang memang bukanlah segalanya, namun walaupun demikian manusia pasti butuh uang. Suatu ketika Munif menemukan kotak pensil lamanya, terkadang kotak itu digunakannya untuk menyimpan uang miliknya ataupun uang milik teman-temannya yang kerap menitipkan uang mereka dikotak pensilnya. Namun saking lamanya kotak pensil itu tidak dipakai dan dibiarkan, hingga Munif lupa perihal uang yang ada dikotak pensil tersebut .Setelah Munif ingat adanya kotak pensil lalu dia buka ternyata ada beberapa lembaran uang, sementara Munif lupa milik siapa saja uang tersebut. Munif sambil berfikir panjang dan berusaha mencari pemilik uang yang telah lama berada didalam kotak pensilnya, akan tetapi setelah bertemu dengan teman-temannya dan mengabarkan kepada mereka semuanya tidak ingat perihal uang tersebut. Akhirnya Munif berinisiatif memilih untuk mensedekahkan uang tersebut diletakkan dikotak amal pondok ( disedekahkan kepondok ).
Pertanyaannya :
Bagaimana hukum hak kepemilikan uang tersebut ?
Bagaimana hukumnya Munif mensedekahkan uang tersebut sementara tidak ada kejelasan siapa pemiliknya.
Waalaikum salam.
Jawaban .No.1
Kalau melihat dan mencermati dari deskripsi masalah, maka hak milik uang yang ada dikotak tersebut adalah milik yang punya kotak pensil dan milik teman- temannya Munif yang kerap menitip uangnya dikotaknya tersebut, namun uang tersebut masuk dalam kategori subhat ( tidak jelas kehalalan dan keharamannya, di karenakan tidak ditemukan siapa temannya yang menitipkannya itu semua karena terlupakan, dan mengambilnya termasuk ghashob karena mengambil barang/ uang tanpa izin pemiliknya.Hal ini sesuai dengan hadits:
Segala Hal yang Haram dan yang Halal telah Jelas dan diantara keduanya subhat ( samar/tidak jilas)
Dari Abu ‘Abdillah Nu’man bin Basyir radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ”Sesungguhnya perkara yang halal itu telah jelas dan perkara yang haram itu telah jelas. Dan di antara keduanya terdapat perkara-perkara yang (samar), tidak diketahui oleh mayoritas manusia. Barang siapa yang menjaga diri dari perkara-perkara samar tersebut, maka dia telah menjaga kesucian agama dan kehormatannya. Barang siapa terjatuh ke dalam perkara syubhat, maka dia telah terjatuh kepada perkara haram, seperti seorang penggembala yang menggembalakan ternaknya di sekitar daerah larangan (hima), dikhawatirkan dia akan masuk ke dalamnya. Ketahuilah, bahwa setiap raja itu mempunyai hima, ketahuilah bahwa hima Allah subhanahu wa ta’ala adalah segala yang Allah subhanahu wa ta’ala haramkan. Ketahuilah bahwa dalam tubuh manusia terdapat sepotong daging. Apabila daging tersebut baik maka baik pula seluruh tubuhnya dan apabila daging tersebut rusak maka rusak pula seluruh tubuhnya. Ketahuilah segumpal daging tersebut adalah kalbu (hati). [HR. Al-Bukhari dan Muslim]
Mengambil tanpa idzin adalah Ghasab. hal ini sesuai dengan sebuah kaidah.
لا يجوز لأحد أن يتصرف في ملك الغير بلا إذن
“Tidak boleh seseorang memanfaatkan kepemilikian orang lain tanpa izinnya.”
SOLUSI Uang agar tidak termasuk syubhat dan ghoshob, maka Munif memaklumatkan kepada teman-temannya jika temannya tidak mengaku dan tidak merasa menyimpan/ Menitipkan karena lupa dan lamanya kotak dibiarkan begitu saja, maka Munif hendaknya bermusyawaroh dan minta idzin kerelaan teman- temannya ( minta saling ridho ) atau munif punya sangkaan kuat bahwa teman-temannya yang biasa menitipkannya rela atau ada indikasi kuat kerelaannya dengan mempertimbangkan segala aspek, yang meliputi bentuk barang, situasi dan kondisi, tempat dan pemiliknya, dengan demikian maka hukumnya halal mengambilnya. Namun bila disangka rela tapi kenyataannya si pemilik nitip uang tidak rela maka hukumnya tidak halal dan wajib menggantinya.
“Tidak halal harta seseorang kecuali dengan ridho pemiliknya” (HR. Ahmad 5: 72. Syaikh Syu’aib Al Arnauth berkata bahwa hadits tersebut shahih lighoirihi). Izin di sini boleh jadi: (1) Izin secara langsung
(2) Izin tidak langsung (izin dalalah)
Adapun izin tidak langsung yaitu misalnya secara ‘urf (kebiasaan), hal seperti itu sudah dimaklumi tanpa ada izin lisan atau sudah diketahui ridhonya si pemilik jika barangnya dimanfaatkan. Mengenai bentuk izin jenis kedua ini kita bisa berdalil dengan kisah Khidr yang menghancurkan perahu orang miskin yang nantinya akan dirampas oleh raja. Ia sengaja menghancurkannya karena ia tahu bahwa mereka (para pemilik) ridho akan perbuatan Khidr. Allah Ta’ala berfirman,
“Adapun bahtera itu adalah kepunyaan orang-orang miskin yang bekerja di laut, dan aku bertujuan merusakkan bahtera itu, karena di hadapan mereka ada seorang raja yang merampas tiap-tiap bahtera.” (QS. Al Kahfi: 79).
Oleh karenanya, mengenai izin jenis kedua ini, Ibnu Taimiyah memiliki kaedah,
وَالْإِذْنُ الْعُرْفِيُّ كَالْإِذْنِ اللَّفْظِيِّ
“Izin secara ‘urf (kebiasaan) teranggap sama dengan izin secara lisan” (Majmu’ Al Fatawa, 11: 427).
Di tempat lain, beliau rahimahullah mengatakan,
وَكُلُّ مَا دَلَّ عَلَى الْإِذْنِ فَهُوَ إذْنٌ
“Segala sesuatu yang bermakna izin maka dihukumi sebagai izin” (Majmu’ Al Fatawa, 28: 272).
Jawaban No 2.
Hukum memanfaatkan milik orang lain (bersedekah uang tersebut) tanpa diketahui pemiliknya hukumnya tidak boleh haram karena termasuk syubhat dan sedekahnya tidak diterima,kecuali ada izin sebagaimana dalil diatas, atau Munif punya sangkaan kuat bahwa teman-temannya rela, maka hukumnya halal, dan sebaliknya. Namun jika memang munif dan teman-temannya terlupakan tanpa adanya unsur kesengajaan maka Allah mengampuninya.
“Dari Mush’ab bin Sa’d beliau berkata; Abdullah bin Umar menjenguk ibnu ‘Amir yang sedang sakit. Maka Ibnu ‘Amir berkata; Tidakkah engkau mau mendoakan untukku wahai Ibnu Umar? Ibnu Umar menjawab; Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda; Shalat tidak diterima tanpa bersuci dan Shodaqoh juga tidak diterima dari hasil kecurangan” (H.R. Muslim) Hadits di atas merupakan dalil yang memuat atau mencakup beberapa materi fiqih yang kemudian di formulasikan kepada suatu kaidah, yang diantaranya adalah; Menggunakan Harta yang Bercampur antara Halal dan Haram.
Bila yang halal dan yang haram bercampur, maka yang dimenangkan adalah yang haram.
كتاب القواعد الفقهية بين الأصالة والتوجيه[محمد حسن عبد الغفار علوم الفقه والقواعد الفقهية.ص ١٦
[قاعدة ما يحرم أخذه يحرم إعطاؤه]
Sesuatu yang diharamkan mengambilnya maka haram juga memberikannya.
معنى قاعدة (ما يحرم أخذه يحرم إعطاؤه) أي: إذا حرم الشرع عليك أخذ شيء شرعاً فإنه لا يجوز لك من وجه أول أن تعطي هذا الشيء لغيرك. فإذا حرم عليك مالاً معيناً بطريقة معينة كالسرقة أو الغصب فلا يجوز أن تعطيه لغيرك, فإذا حرم عليك الأخذ, حرم عليك الإعطاء، وهذا الوجه الأول. أما الوجه الثاني: إذا حرم عليك الأخذ حرم عليك التصرف بجميع وجوهه كالإعطاء بهبة أو بصدقة أو بمضاربة أو بغير ذلك. ومثال ذلك: الرشوة: فيحرم لأي أحد أن يعطي رشوة لأحد, لقول النبي صلى الله عليه وسلم: (لعن الله الراشي والمرتشي والرائش بينهما) أي: الوسيط بين الراشي والمرتشي, فحرم عليك أن تعطي، وأن تسهل للناس أمراً فتأخذ عليه رشوة.
Dalil Anjuran bermusuawaroh fokus pada kalimat yang ditebalkan QS. Imran ayat 159
Artinya: “Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.”
Dalil tentang kekeliruan tanpa disengaja, lupa, dan terpaksa.yang Diampuni Allah.
Diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu ‘Anhuma, bahwasannya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Sungguh Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengampuni karena aku untuk umatku ketidaksengajaan, lupa, dan sesuatu yang terjadi karena mereka dipaksa.” (Hadits hasan, HR. Ibnu Majah, Al-Baihaqi, dan yang lain)
Referensi :
الفتاوى الفقهية الكبرى جـ ٣ صـ ١١٦ وسئل بما لفظه هل جواز الأخذ بعلم الرضا من كل شيء أم مخصوص بطعام الضيافة فأجاب بقوله الذي دل عليه كلامهم أنه غير مخصوص بذلك وصرحوا بأن غلبة الظن كالعلم في ذلك وحينئذ فمتى غلب على ظنه أن المالك يسمح له بأخذ شيء معين من ماله جاز له أخذه ثم إن بان خلاف ظنه لزمه ضمانه وإلا فلا اهـ
حاشية الباجوري على فتح القريب جـ ٢ صـ ٢٤٩
وعلم من ذلك أنه يجوز للانسان أن يأخذ من مال غيره ما يظن رضاه به من دراهم وغيرها ويختلف ذلك باختلاف الناس والأموال فقد يسمح لشخص دون آخر وبمال دون آخر اهـ
إعانة الطالبين جـ ٣ صـ ٣٦٨
ويجوز للإنسان أخذ من نحو طعام صديقه مع ظن رضا مالكه بذلك ويختلف بقدر المأخوذ وجنسه وبحال المضيف ( قوله ويجوز للإنسان أخذ من نحو صديقه ) أي يجوز له أن يأخذ من طعام صديقه وشرابه ويحمله إلى بيته قال في التحفة وإذا جوزنا له الأخذ فالذي يظهر أنه إن ظن الأخذ بالبدل كان قرضا ضمنيا أو بلابدل توقف المالك على ما ظنه اهـ ( قوله ويختلف ) أي ظن الرضا وعبارة غيره وتختلف قرائن الرضا في ذلك باختلاف الأحوال ومقادير الأموال اهـ
بداية المجتهد جـ ٢صـ ٣١٦
وأما الباب الثاني فهو في الطوارئ على المغصوب الباب الأول في الضمان (الركن الأول) وأما الموجب للضمان فهو إما المباشرة لأخذ المال المغصـوب أو لإتلافه وإما المباشرة للسبب المتلف وإما إثبات اليد عليه واختلفوا في السبب الذي يحصل بمباشرته الضمان إذا تناول التلف بواسطة سبب آخر هل يحصل به ضمان أم لا وذلك مثل أن يفتح قفصا فيه طائر فيطير بعد الفتح فقال مالك يضمنه هاجه على الطيران أو لم يهجه وقال أبو حنيفة لا يضمن على حال وفرق الشافعي بين أن يهيجه على الطيران أو لا يهيجه فقال يضمن إن هاجه ولا يضمن إن لم يهجه. ومن هذا من حفر بئرا فسقـط فيه شيء فهلك فمالك والشـافعي يقولان إن حفره بحيث أن يكون حفره تعديا ضمن ما تلف فيه وإلا لم يضمن ويجيء على أصل أبي حنيفة أنه لا يضمن في مسألة الطائر وهل يشترط في المباشرة العمد أو لا يشترط فالأشهر أن الأموال تضمن عمدا وخطأ وإن كانوا قد اختلفوا في مسائل جزئية من هذا الباب وهل يشترط فيه أن يكون مختارا فالمعلوم عند الشافعي أنه يشترط أن يكون مختارا ولذلك رأى على المكره الضمان أعني المكره على الإتلاف (الركن الثاني) وأمـا ما يجب فيه الضمان فهـو كل مال أتلفت عينه أو تلفت عند الغاصب عينه بأمر من السماء أو سلطت اليد عليه وتملك وذلك فيما ينقل ويحول باتفاق واختلفوا فيما لا ينقل ولا يحول مثل العـقار فقال الجمهور إنها تضمن بالـغصب أعني أنها إن انهدمت الدار ضمن قيمتها وقال أبو حنيفة لا يضمن. وسبب اختلافهم: هل كون يد الغاصب على العقار مثل كون يده على ما ينقل ويحول فمن جعل حكم ذلك واحدا قال بالضمان ومن لم يجعل حكم ذلك واحدا قال لا ضمان اه .والله أعلم بالصواب
Referensi Utama:
Al Mufasshol fil Qowa’idil Fiqhiyyah, Dr. Ya’qub ‘Abdul Wahab Al Bahisin, taqdim: Syaikh Prof. Dr. ‘Abdurrahman As Sudais (Imam Masjidil Haram), terbitan Dar At Tadmuriyah, cetakan kedua, tahun 1432 H, hal. 557-558.
Al Qowa’id wadh Dhowabith Al Fiqhiyyah lil Mu’amalat Al Maaliyah ‘inda Ibni Taimiyyah, ‘Abdussalam bin Ibrahim bin Muhammad Al Hushoin, terbitan Dar At Ta’shil, cetakan pertama, tahun 1422 H, 2: 117-125.
QS.QS.Al- Imron : 159
Hadits .( HR. Ibnu Majah Al-Baihaki dll.)
Fatwa fiqhi al-Qubro. Juz 3 .h.116
Hasyiah al-Bajuri Al fathil Qarib. Juz 2 H. 249
Ianatuttholibin .Juz.3.H.368
Bidayah al- Mujtahid.Juz.2 H .316
Hadits tentang halal dan haram dan syubhat :HR. Al-Bukhari dan Muslim]Diriwayatkan oleh Imam al Bukhari no. 52, 2051 dan Muslim no. 1599
Hadits tentang Shodaqoh dari hasil Ghulul (korupsi):(H.R. Muslim)[9]
Asybah wannadhair: Kaidah: Bercampurnya halal dan haram ( haram mengalahkan yang halal.
HUKUMNYA NIKAH MUHALLIL MENURUT MADZHAB YANG EMPAT
Deskripsi Masalah :
Pada awal pernikahan Fatimah binti Walid dan Arifin bin Suhaimi SAMAWA hingga mempunyai dua anak Entah atas sebab apa tiba tiba Arifin menjatuhkan talak 3 kepada Istrinya ( Fatimah) selang lima bulan terlintas dalam hati serta dalam benak Arifin mengingat masa- masa lalunya yang indah sehingga merasa rindu dan merasa kasihan terhadap kedua anaknya , akhirnya dia menyuruh Joko Samudra untuk menjadi muhallil dirinya , tapi setelah Joko Samudra menikah maka dia harus mentalak terhadap Istrinya ( Fatimah) .
Pertanyaannya.
Bagaimana hukum nikah muhallil sebagaimana deskripsi menurut madzhab yang empat ? Mohon penjelasannya berikut dengan dalilnya. Syukron Wassalamualaikum. Warwab.
Waalaikum salam.
Jawaban.
Nikah muhallil adalah nikah yang dilakukan dengan maksud dan tujuan untuk menghalalkan bekas istri yang telah ditalak tiga kali,untuk bisa kawin lagi. Artinya perempuan yang telah ditalak tiga, tidak boleh kawin dengan bekas suaminya yang telah mentalak tiga itu, kecuali dengan syarat diselengi dengan perkawinan laki-laki lain ( muhallil ) dan telah bercampur ( disetubuhi/ dijima’ ) yang dimaksudkan sebagai penghalal bagi bekas suaminya, dan terjadi perceraian juga telah habis masa iddahnya dengan laki-laki lain ( Muhallil ).
Muhallil : adalah laki-laki yang menikahi perempuan dengan maksud menghalalkan perempuan itu bagi bekas suaminya yang telah mentalak tiga, untuk kawin lagi. Muhallala lahu : ialah bekas suami yang telah mentalak tiga.
Hukum Nikah muhallil ulama’ berbeda pendapat:
Menurut Imam Malik dan Hambali bahwa nikah muhallil rusak dan batal, sehingga perkawinan selanjutnya oleh mantan suami pertama tidak sah, baik disyaratkan ataupun tanpa syarat.
Berdasarkan hadits
عن أبى مسعود رضي الله عنه قال لعن رسول الله صلى الله عليه وسلم المُحَلِّلَ والمُحَلَّلَ لَهُ ( رواه الترمذي والنسائي)
Artinya:” Dari Abiy Mas’ud RA. berkata : Telah mengutuki Rasulullah SAW terhadap orang laki-laki yang menghalalkan dan yang dihalalkan. ( HR.Tirmidzi dan An-Nasa’i )
Menurut Imam Abu Hanifah dan Imam Syafi’i bahwa nikah muhallil itu hukumnya sah namun makruh selama dalam ijab qabul pada saat akad nikah tidak disebutkan suatu persyaratan, meskipun adanya niatan untuk menghalalkan wanita itu menikah lagi dengan suami yang lama. Akan tetapi jika dalam akad nikah muhallil disyaratkan yang jelas dengan tujuannya untuk menghalalkan mantan Suami yang pertama, maka menurut mayoritas ulama’ hukum nikah muhallil adalah haram. ( rusak dan batal ). Alasannya karena tujuan nikahnya dengan syarat menghalalkan dengan arti Nikahnya ditentukan waktu ( ada jangka waktu / sama dengan nikah mut’ah ).
Menurut Imam Abu Hanifah : Nikah muhallil Makruh Tahrim, jika disebutkan dengan syarat.
Referensi:
كتاب النكاح والطلاق أو الزواج والفراق[أبو بكر الجزائري] << < ص: ١٢ > >> ٣. نكاح المحلل وهو أن تطلق المرأة ثلاثا فتحرم على زوجها فيتزوجها رجل آخر بقصد أن يحلها لزوجها، لقول ابن مسعود رضي الله عنه “لعن رسول الله صلى الله عليه وسلم المحلل والمحلل له” ٢.
Referensi:
الموسوعة الفقهية – 6175/31949
نكاحالمحلل: 6 – ذهب الفقهاء إلى أن من طلق زوجته طلقة رجعية أو طلقتين رجعيتين جاز له إرجاعها في العدة. وإذا كان الطلاق بائنا بينونة صغرى، فحكم ما دون الثلاث من الواحدة البائنة والثنتين البائنتين هو نقصان عدد الطلاق وزوال ملك الاستمتاع، حتى لا يجوز وطؤها إلا بنكاح جديد، ويجوز نكاحها من غير أن تتزوج بزوج آخر؛ لأن ما دون الثلاث – وإن كان بائنا – فإنه يوجب زوال ملك الاستمتاع، لا زوال حل المحلية.ما إذا طلق زوجته ثلاثا، فإن الحكم الأصلي للطلقات الثلاث هو زوال ملك الاستمتاع وزوال حل المحلية أيضا، حتى لا يجوز له نكاحها قبل التزوج بزوج آخر، لقوله تعالى: {فإن طلقها فلا تحل له من بعد حتى تنكح زوجا غيره} . (1) بعد قوله تعالى: {الطلاق مرتان } . وإنما تنتهي الحرمة وتحل للزوج الأول بشروط
أ – النكاح: 7 – أول شروط التحليل: النكاح، لقوله تعالى: {حتى تنكح زوجا غيره} فقد نفى حل المرأة لمطلقها ثلاثا، وحد النفي إلى غاية التزوج بزوج آخر. والحكم المحدود إلى غاية لا ينتهي قبل وجود الغاية، فلا تنتهي الحرمة قبل التزوج، فلا تحل للزوج الأول قبله ضرورة. وعلى هذا يخرج ما إذا وطئها إنسان بالزنى أو بشبهة أنها لا تحل لزوجها لعدم النكاح. (2)
صحة النكاح : 8 – يشترط في النكاح الثاني لكي تحل المرأة للأول: أن يكون صحيحا، ولا تحل للأول إذا كان النكاح فاسدا، حتى لو دخل بها؛ لأن النكاح الفاسد ليس بنكاح حقيقة، ومطلق النكاح ينصرف إلى ما هو نكاح حقيقة ولو كان النكاح الثاني مختلفا في فساده، ودخل بها، لا تحل للأول عند من يقول بفساده لما قلنا
فرع لو نكحها على أن النكاح ينتهي بالوطء بطل لأنه ضرب من نكاح المتعة وعليه حمل خبر لعن الله المحلل والمحلل له رواه الترمذي وقال حسن صحيح وكذا إن شرط طلاقها قبل الوطء أو بعده لأنه شرط يمنع دوام النكاح فأشبه التأقيت وتعبيره بما قاله أعم من قول أصله فإن شرط أنه إذا وطئها طلقها قال الزركشي ولو تزوجها على أن يحلها للأول ففي الاستذكار للدارمي فيه وجهان وجزم الماوردي بالصحة لأنه لم يشترط الفرقة بل شرط مقتضى العقد فلو تواطآ أي العاقدان على شيء من ذلك قبل العقد ثم عقدا بذلك القصد بلا شرط كره خروجا من خلاف من أبطله ولأن كل ما صرح به أبطل إذا أضمره كره ومثله لو تزوجها بلا شرط وفي عزمه أن يطلقها إذا وطئها وبه صرح الأصل وتصريح المصنف بالكراهة فيما قاله من زيادته وصرح بها الماوردي وغيره.
SYARAT MANTAN ISTRI BISAH MENIKAH
فإن طلقها ثلاثا لم تحل له إلا بعد وجود خمس شرائط انقضاء عدتها منه وتزويجها بغيره ودخوله بها وإصابتها وبينونتها منه وانقضاء عدتها منه
Artinya, “Jika sang suami telah menalaknya dengan talak tiga, maka tidak boleh baginya (rujuk/nikah) kecuali setelah ada lima syarat: (1) sang istri sudah habis masa iddahnya darinya, (2) sang istri harus dinikah lebih dulu oleh laki-laki lain (muhallil), (3) si istri pernah berjima’ dan muhallil benar-benar berjima’ kepadanya, (4) si istri sudah berstatus talak ba’in dari muhallil, (5) masa iddah si istri dari muhallil telah habis,” (Abu Syuja, al-Ghâyah wa al-Taqrîb, Terbitan: Alam al-Kutub, tanpa tahun, hal. 33).
Sementara itu, Syekh al-Zuhaili menyebutkan, ada tiga syarat jika seorang suami ingin menikah kembali dengan perempuan atau mantan istrinya yang telah ditalak tiga. Pertama, si perempuan telah dinikah oleh laki-laki yang lain. Kedua, pernikahan si perempuan dengan suami keduanya haruslah pernikahan yang sah. Karena, jika pernikahannya rusak, kemudian si suami kedua menggaulinya, maka tetap tidak halal bagi suami pertama. Pasalnya, pernikahan yang rusak pada hakikatnya bukan pernikahan. Ketiga, suami kedua harus menggaulinya dengan cara penetrasi pada kemaluan. Andai digauli pada selain itu, seperti pada anus, maka tetap tidak halal bagi suami pertama. Untuk itu, disyaratkan suami kedua mampu bersenggama, yakni penetrasi atau bertemunya kedua khitan, walaupun tidak sampai keluar sperma, menurut jumhur ulama. Tidak termasuk ke dalam syarat ini jika si perempuan bersenggama dengan cara berzina. Sebab, perzinaan bukan pernikahan dan laki-laki yang menyenggama bukan suaminya (lihat: al-Zuhaili, al-Fiqh al-Islâmî wa Adillatuhu, [Darul Fikr: Damaskus] jilid 9, hal. 7001).
Menurut Imam asy-Syafi’i, Abu Hanifah, ats-Tsauri, dan al-Auza‘i, senggama suami kedua (muhallil) dianggap sah walaupun dilakukan pada waktu-waktu yang tidak diperbolehkan, seperti sedang haid atau nifas. Juga tidak dipermasalahkan status suami yang menggaulinya: apakah ia sudah baligh dan berakal, anak yang hampir dewasa, atau orang tunagrahita.
Dari paparan ibarah diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa perempuan yang ditalak tiga oleh suaminya tidak boleh menikah dengan suaminya (mantan) atau suaminya tidak boleh menikah lagi dengan mantan istrinya kecuali mantan Istrinya menikah dengan orang lain ( Muhallil ) namun hukum pernikahan muhallil ini terdapat perbedaan pendapat dikalangan Ulama’ . Menurut Syafi’yah sah namun makruh dengan syarat perempuan boleh menikah harus memenuhi syarat-syarat berikut:
Mantan istri sudah habis masa iddahnya darinya
Mantan istri harus dinikah lebih dulu oleh laki-laki lain (muhallil), dengan tanpa menyebutkan syarat pada akad nikah
Mantan istri pernah berjima’ dan muhallil benar-benar berjima’ kepadanya, melalui farji’nya
Mantan Istri sudah berstatus talak ba’in dari muhallil,
Masa iddah Mantan istri dari muhallil telah habis.
Menurut Hanafiyah Nikah Muhallil jika disebut syaratnya ketika akad maka sah namun makruh tahrim.
Menurut mayoritas ulama’ tidak sah ( jika syarat disebutkan ketika akad ).
Menurut Malikiyah dan Hambali Nikah Muhallil rusak tidak sah ( haram ) baik dengan adanya syarat disebutkan ataupun tidak disebutkan ketika akad . Wallahu A’lam.
Dalam masyarakat, terkadang kita menemukan orang sakit karena kesurupan, baik adanya itu dimasyarakat pedesaan ataupun perkotaan bahkan terkadang hal tersebut terjadi didunia pendidikan, seperti sekolah atau kampus bahkan dipondok- pondok pesantren. Kesurupan adalah sebuah istilah yang dinisbatkan pada tingkah laku manusia yang nyelenih atau istilah populernya aneh, hal tersebut disebabkan adanya sesuatu yang mempengaruhi tubuhnya. Menurut para normal atau ahli rukiyah keanehan itu dikarenakan makhluk halus jin, syaitan yang masuk kedalam tubuhnya, dan sebagian orang mengatakan arwah orang- orang terdahulu yang masuk dan bersemayam dalam tubuhnya.
Pertanyaannya.
Apa sebenarnya istilah kesurupan dalam pandangan fiqih
Benarkah makhluk halus bisa diketahui kondisinya, sehingga dapat dicari, diserap, diusir bahkan dijadikan khaddam atau teman..?
Apakah orang yang kesurupan pengakuan-pengakuannya bisa bisa dijadikan pijakan hukum dalam penyidikan?
Benarkah ruh halus, ( jin, syaitan, dan roh orang mati) bisa memasuki tubuh orang yang hidup..?kalau benar mohon penjelasan dan referensinya
Waalaikum salam.
Jawaban. No.1
Dalam Islam Kesurupan merupakan fenomena masuknya jin atau syaitan kedalam tubuh manusia, sedangkan mulutnya sebagai pelantara untuk berbicara serta menggerakkan tubuh orang yang dimasukinya, maka kejadian yang sedemikian dalam pandangan fiqih disebut Shar’u, al-mashur, dan al-mamsuh.Para ulama menjelaskan asal muassal jin berdasarkan interpretasi firman Allah SWT. ( QS.Al-A’raf (07):12 )Sebagai berikut:
قال مامنعك ألا تسجد إذ أمرتك قال أنا خير منك خلقتني من نار وخليته من طين.
Artinya:” Allah berfirman Apakah yang menghalangimu untuk bersujud ( kepada Adam ) diwaktu aku memerintahkanmu? Iblis menjawab: Aku lebih baik dibandingkan dari Adam, Engkau ciptakan aku dari api sedangkan dia ( Adam ) Engkau ciptakan dari tanah.
Ulama menafsirkan ayat ini bahwa jin diciptakan dari hawa panas yang keluar dari api. Dengan demikian hakikat jin diciptakan dari benda yang tidak dapat ditangkap oleh indra penglihatan normal, sebagaimana udara, dan jin memiliki tubuh dalam bentuk yang halus ( tidak bisa ditangkap oleh penca indra bahkan perjalanan yang dapat ditempuh dengan secepat mungkin
Jawaban. No.2
Benar bahwa makhluk halus bisa diketahui kondisinya, Namun dengan cara tertentu yakni bagi orang yang punya keahlian dalam bidangnya atau khoriqul al-Adah ( kejadian diluar kebiasaan ) dan diketahuinya bukan dengan mata kepala normal.
Jawaban .No.3 Kemudian untuk status hukum orang yang kesurupan masih terdapat silang pendapat dikalangan ulama’. pendapat pertama , menyamakan dengan orang yang sedang terjangkit ighma’ ( epilepsi ). Sedang pendapa kedua , menyatakan dengan majnun ( orang gila ). Dari kedua perbedaan tersebut , mereka sepakat bahwa pengakuan orang yang epilepsi ataupun orang gila tidak bisa dijadikan sebagai pijakan untuk memutuskan hukum. Begitu pula diharamkan , bahkam bisa kufur apabila menyakini pemberitahuan dari orang kesurupan tentang kejadian kejadian yang akan datang , atau tentang ilmu ghoib yang hanya diketahui Alloh. Yang diperbolehkan hanyalah sebatas sebagai petunjuk ( isti’nas ) , seperti menunjukkan barang hilang , arah mata angin dll yang semakna dan tidak di larang oleh syara’.
Jawaban. No.4
Benar jin dan syaitan bisa masuk kedalam tubuh manusia yang masih hidup bahkan juga bisa masuk kepada barang yang tidak bergerak seperti patung/berhala sebagaimana berhalanya orang kafir dahulu ( berhalanya Ishom, Thoriq dan Walid ). Sedangkan ruh setelah keluar dari badannya tidak bisa masuk kepada jasad orang lain ( artinya tidak benar jika orang kesurupan dimasuki arwah orang yang terdahulu meninggal ). Adapun hakikat ruh tidak ada orang yang tahu karena ruh adalah urusan Allah oleh karenanya hanyalah Allah yang mengetahui. Meskipun hakikat ruh tidak ada yang tahu kecuali Allah akan tetapi dalam satu riwayat dikatakan tempat ruh sesudah dicabut adalah berada didalam suatu sangsakala yang memiliki lubang sejumlah binatang-binatang yang telah tercipta hingga hari kiamat, baik ruh yang menerima kenikmatan maupun yang menerima azab. Sedangkan ulama ahli Hikmah menjelaskan dimana arwah ditempatkan setelah dicabut dari jasadnya sesuai dengan klasifikasi atau tingkatannya yang mana ulama ahli Hikmah membagi kedalam lima kategori:
Arwah para Nabi bertempat disurga Adn
Arwah para Syuhada’ ditempatkan didalam burung berwarna hijau berputar-putan disurga
Arwah orang-orang mukmin bertempat ditaman surga
Arwah orang-orang mukmin yang durhaka bertempat dilapis udara yang berada diantara langit dan bumi
Arwahnya orang-orang kafir berda didalam tembolok perut burung yang berwana hitam yang berada dipenjara berada dilangit paling bawah .Roh mereka terhubung dengan jasadnya, sehingga ketika ruhnya disiksa maka jasadnya akan merasakan sakit yang sama, Untuk lebih jelasnya bisa dilihat dalam kitab Daqoiqul akbar berikut:
Referensi :
الرقية الشرعية ص ٣١
الصرع هو دخول جني في بدن انس فيتكلم علي لسانه ويوجه اعضائه حيثما شاء
شرح فتح المجيد شرح كتاب التوحيد للغنيمان ج ١٤١ ص.١٣
السوال فضيلة الشيخ يقال ان بعض الناس اعينهم كاشفة اي انهم يرون الجن والشياطين فهل هذا صحيح . الجواب ليس هذا صحيحا فهم لا يرونهم ولكن الجن والشياطين قد يتراءون ويظهرون لبعض الناس.. الخ
. سبعة كتب الكتب المفيدة ص ١٧٨
واما الجن فاجسام لطيفة هوائية تتشكل مختلفة ويظهر منها افعال عجيبة منهم المؤمن والكافر والطائع والعاصي والشياطين اجسام نارية شانها القاء الناس في الفساد والغواية بتذكير اسباب المعاصي واللذات وان شاء منافع الطاعات – الي ان قال … والملائة معانون علي اعمال يعجزون عنها بقوتهم كالغلبة علي الاعداء والطيران في الهواء والمشي علي الماء وغير ذالك والجن والشياطين يخالطون بعض الناس ويعاونوهم علي السحورات والظلمات وما اشبه ذالك ثم قيل تتشكل الملائكة والجن والشياطين تابع لارادتهم والفاعل هو الله تعالي بواسطة اسماء علمها لهم
[ابن حجر الهيتمي ,الفتاوى الحديثية لابن حجر الهيتمي , ٨٨]
وَالصَّوَاب أَن التَّقَرُّب إِلَى الروحانية وخدمة مُلُوك الجان من السحر، وَهُوَ الَّذِي أضَّل الْحَاكِم العبيد لَعنه الله حَتَّى ادّعى الألوهية ولعبت بِهِ الشَّيَاطِين حَتَّى طلب الْمحَال، وَهُوَ مجبول على النَّقْص وفَعَل أفاعيل مَنْ لم يُؤمن بِالآخِرَة. وَعَن ابْن أبي زيد أَيْضا: لَا يجوز الجُعْل على إِخْرَاج الجان من الْإِنْسَان لِأَنَّهُ لَا يعرف حَقِيقَته وَلَا يُوقف عَلَيْهِ، وَلَا يَنْبَغِي لأهل الْوَرع فعله وَلَا لغَيرهم وَكَذَا الجُعْل على حل المربوط والمسحور [ابن حجر الهيتمي ,الفتاوى الحديثية لابن حجر الهيتمي , ٨٨] ……………………
مجموعة الرسائل ابن عابدين. ج ٢ ص ٣٠٠
تنبيه : قد تحصل مما ذكرنا سابقا ولا حقا جواز رؤية الجن بعد التشكل لكل احد وكذا بدون تشكل لمن شاء الله تعالي من عباده فضلا عن حضورهم في مجالس الذكر وسماع اصواتهم.
Referensi:
أكام المرجان فى أحكام الجان للشبلي .ص ١٠٧
وقد تقرر أن المحدث يستحيل أن يفعل فى غيره فعلا ملكا كان أوشيطانا أو إنسيا بل ذلك من فعل المصروع بجريِ العادة فإن كان المصروع قادرا على ذلك الإضراب كان ذلك كسبا له وخلقا لله عز وجل وإن لم يكن قادرا عليه لم يكن مكتسباله بل هو مضطر إليه ولايمنع أن يكون الله تعالى قد أجرى العادة بأنه لايفعل ذلك الصرع والإضراب إلاعند سلوك الجن فيه أو عند مسه كما فى الأسباب المستعقبة للمسبِّبات وكذلك القول فيمايسمع من المصروع من الكلام فى تجويز كونه كسباله أو مضطرا إليه وإن كان هو المتكلم دون خالقه وتجويز كونه من كلام الشيطان قد سلكه أو مسه وأن يكون قائما بذات الشيطان دون ذات من هو سالك فيه أومماس له وأكثر الناس يعتقدون أنه كلام الجن ويضيفونه إليه ولادليل نقطع به على أن ماسمع منه كلام له أو للشيطان وإن كان كلاما له فإنه من كسبه أوضرورة فيه وإنما يصار إلى أحدهما بتوفيق مقطوع به ومتى كان كلاما للمصروع كانت إضافته إلى الشيطان مجازا ومعنى الكلام أنه كان منه وسلوكه وعلى الجملة أن المتكلم من قام به الكلام لامن فعل الكلام الذى يقوم بالبشر قد يكون من فعله وكسبه وقد يكون مضطرا إليه قد تقدم قول الإمام أحمد هو ذا يتكلم على لسانه يعنى لسان المصروع فقد جعل المتكلم هو الجن فكذلك الحركة والله سبحانه وتعالى أعلم.
حواشى الشروانى ( ج ٧ص٣٤٥)
باب الخيار فى النكاح والعفاف ونكاح العبد وغير ذلك ( قوله فى النكاح ) إلى قوله المتن ثبت فى النهاية إلا قوله إن قل على الأوجه وقوله سواء أدى إلى وكما يخير وقوله أو علمته إلى شُبِّه بعنانٍ وكذلك المغنى إلا قوله كذا قيل قال المتولي وإلا قوله أ مجنونا) والإصراع نوع من المجنون كما قاله بعض العلماء نهاية ومغنى أى فيثبت به الخيار ع ش عبارة سم ينبغى أن منه أو فى معناه الصرع ويُحتمل أن كون أحدهما مسحورا كذلك أى كالجنون ويحتمل أن يلحق بالإغماء إه ولعل الأقرب هو الإحتمال الأول
الزواجر عن القتراف الكبائر (ج ٢ ص ٥٠٠)
والكاهن هو الذى يخبر عن بعض المُضمرات فيصيب بعضَها فيخطئ أكثرَها ويزعم ان الجن تخبره بذلك وفسر بعضهم الكِهانة بمايرجع لذلك فقال هى تعاطى الإخبار عن المُغَيَّبات فى مستقبل الزمان وادِّعاء علم الغيب وزعم أن الجن تخبره بذلك العراف بفتح المهملة وتشديد الراء قيل الكاهن ويَرُدُّه الحديث السابق عرّافا أو كاهنا وقيل الساحر وقال البغوى هو الذى يَدَّعِى معرفرفة الأمور بمقدمات أسبابٍ يستدل بها على مواقعها كالمسروق من الذى سرقه ومعرفة مكان الضالة ونحو ذلك ومنهم من يُسمِّى المُنَجِّمَ كاهنا قال أبو داود والطرق أى بفتح فيكون الزجر أى زجر الطير ليَتَيَّمن أو يتشاءم بطيرانه فإن طار إلى جهة اليمين تيمّنَ أو إلى جهة الشمال تشاءم وقال إبن فارس الضّربُ بالحصى وهو نوع من التكهين والمَنْهِيُّ عنه من علم النجوم هو من يدَّعِيه أهلها من معرفة الحوادث الآتية فى مستقبل الزمان كمجيئ المطر ووقوع الثلج وهبوب الرياح وتغير الأسعار ونحو ذلك يزعمون أنهم يدركون ذلك بسير الكواكب لاقترانها وظهورها فى بعض الأزمان وهذا علم استأثر الله به لايعلمه أحد غيره فمن ادعى علمَه بذلك فهو فاسق بل ربمايؤدّدى به ذلك إلى الكفر أما من يقول إن الاقتران والإفتراق الذى هو كذا جعله الله علامة بمقتضى مااطَّردت به عادته الإلهية على وقوع كذا وقد يتخلف فإنه لاإثم عليه بذلك وكذ الإخبار عمايدرك بطريق المشاهدة من علم النجوم الذى يعرف بها الزوال وجهةُ القبلة وكم مضى وكم بقي من الوقت فإنه لاإثم فيه بل هو فرض كفاية
أخطاء المراة المتعلقة بالعقيدة (ج ١ ص ٢٦ )
عمل الزار لإخراج مس الجن مما لاشك فيه أن مس الجن للإنس وهو مايعرف بالصرع وهو ثابت ومشاهد ولايمارى فيه إلا مكابر معاند ويدل عليه قوله تعالى الذين يأكلون الربا لايقوم لايقومون إلا كمايقوم الذي يتخبطه الشيطان من المس ( سورة البقرة ٢٧٥) قال القرطبي فى تفسير هذه الآية (٣٥٥/٣) فى هذه الآية دليل على فساد من أنكر الصرع من جهة الجن وزعم أنه من فعل الطبائع وأن الشيطان لايسلك فى الإنسان ولايكون منه مسٌ أه ( ويراجع كذلك فى تفسير الطبرى وإبن كثير والأَلُوسي عند هذه الآية لتعلم حقيقة هذا القول ) – وثبت فى صحيح البخاري ومسلم عن عطاء بن أبي رباحِ قال قال لي ابنُ عباس ألا أُرِيْكَ امرأة من أهل الجنة قلتُ بلى قال هذه المرأة السوداء أتَتِ النبي صلى الله عليه وسلم فقالت إني أُصْرَعُ وإني أَتَكَشَّف فاع اللهَ لي قال إن شئتِ صبرتِ ولك الجنة وإن شئتِ دعوتُ الله أن يعافيك فقالت أصبرُ فقالت أَتَكَشَّفُ فادع اللهَ أن لاأتكشّفَ فدعالها. والله أعلم بالصواب
Berikut makhluk halus syaitan dan jin yang masuk kedalam berhala orang kafir pada zaman jahiliyah
Referensi:
شرح المواعظ العصفورية
ﺍﻟﺤﺪﻳﺚ ﺍﻟﺘﺎﺳﻊ ﻋﺸﺮ : ﺑﻌﺾ ﻣﺎ ﻛﺎﻧﺖ ﻋﻠﻴﻪ ﺃﻫﻞ ﺍﻟﺠﺎﻫﻠﻴﺔ
HADITS KE-19 : SEBAGIAN KEADAAN PADA ZAMAN JAHILIYAH
عن علي ابن أبي طالب كرم الله وجهه قال، بينما نحن مع رسول الله صلى الله تعالى عليه وسلم في أول الإسلام إذ ورد علينا رجل على ناقة وقد أثر السير فيه وفيها وبأن عليه عناء السفر فوقف علينا فقال أيكم محمد فأومينا إلى النبي عليه السلام فقال يا محمد أتعرض على ما أمرك به ربك أو أعرض عليك ما أمرني به صنمي، فقال له النبي عليه السلام بل أخبرك بما أمرني به ربي قال فعرض عليه النبي عليه السلام فقال بني الإسلام على خمس مع شرائطه ثم قال يامحمد أنا غسان بن مالك العامري وكان لنا صنم نذبح عنده في رجب عتيرتنا ونتقرب إليه بذبحنا فعتر عنده عتيرة رجل منا يقال له عصام فلما رفع يده من العتيرة سمع صوتا من جوف الصنم ياعصام جاء الإسلام وبطلت الأصنام وحفظت الدماء ووصلت الأرحام وظهرت الحقيقة والسلام ففرح عصام لذلك وخرج ويخبرنا ثم وقع إلينا خبرك يا رسول الله فلما كان بعد أيام عتر عنده رجل يقال له طارق فلما رفع يده عن العتيرة سمع صوتا يقول من جوفه ياطارق بعث النبي الصادق وجيء بوحي ناطق من العزيز الخالق فخرج يصيح في الناس بذلك فقويت أخبارك عندنا يا رسول الله فكنا بين المكذب والمصدق ولما كان منذ ثلاثة أيام عترت أنا عتيرة إلى ذلك الصنم فلما رفعت يدي منها سمعت صوتا عاليا من جوف الصنم يقول بلسان فصيح يا غسان بن مالك العامري جاء الحق نبيا هاشميا بتهامة لناصريه السلامة ولخاذليه الندامة هاديا وداعيا إلى يوم القيامة ثم ارتفع من الأرض وسقط على وجهه قال فكبر رسول الله وكبر أصحابه معه وقال غسان وقد قلت ثلاثة أبيات من الشعر أفتأذن لي يا رسول الله أن أنشدها فأذن رسول الله فقال : أسر سيرا في طلب بسهل 🔅 وحزن في بلاد من الرمل. لانصر خير الناس نصرا مؤزرا 🔅 وأعقد حبلا من حبالك في حبلي وأشهد أن الله حق موحدا 🔅 وهذا أدين به ما قلت قدمي نعلي قال وأول من أسلم بعد الوحي خديجة ثم أبو بكر ثم علي ثم زيد بن حارثة ثم قمرية جارية ثم حمزة ثم عثمان ثم زهير ثم أبو عبيدة بن الجراح ثم طلحة ثم الزبير رضوان الله تعالى عليهم أجمعين وأسلموا وكتموا إسلامهم من الكفار ثم نزل جبرائيل عليه السلام فقال يامحمد إن الله تعالى يقرؤك السلام ويأمرك بأن تدعو الناس إلى الإسلام فقام النبي عليه السلام فصعد على جبل أبي قبيس فنادى بأعلى صوته فقال قولوا لا إله إلاالله محمد رسول الله فلما سمع الناس نداءه اجتمعت الكفار في دار الندوة فتشاوروا فيما بينهم فقالوا إن محمدا يشتم آلهتنا ويدعونا إلى إله لانعلمه فكيف الحيلة يقول محمد لنا لاتعبدوا آلهتكم وهي ثلثمأئة وستون صنما إلا الله الواحد القهار ومنهم شيبة بن ربيعة ووليد بن الحارث وصفوان بن أمية وكعب بن الأشراف وأسود بن عبد يغوث وصخر بن الحارث وكنانة بن ربيع وهم كفار مكة وهؤلاء رؤساء الكفار قالوا يدعونا إلى إله لانعرفه ولم يشتم آلهتنا فقام واحد منهم وهو يقول يريد محمد في ذلك مالا فلم يلتفتوا إليه وقالوا هو ساحر كذاب ثم قالوا اللوليد ما تقول أنت قال ما أقول في هذا الأمر شيأ فنسبوه إليه فأخذه الغضب جدا فقال الوليد أمهلوني ثلاثة أيام وكان له صنمان متخذان من جواهر ومن ذهب وفضة وبأنواع اللؤلؤ موضوعان على الكرسي وألبس عليهما ألوان الثياب فعبدهما ثلاثة أيام ولياليهن متواليات وما أكل وما شرب وذهب إلى بيته وأولاده وتضرع إليهما وفي اليوم الثالث قال بحق ما عبدتكما ثلاثة ايام هذه العبادة أن تتكلما وتخبرانا من أمر محمد فدخل الشيطان في فم الصنم وتحرك وتكلم وقال إن محمدا ليس بنبي فلاتصدقوه ففرح الوليد وخرج وأخبر الكفار عن مقالة الصنم وكفار مكة اجتمعوا عند الوليد وقالوا ينبغي لنا أن نتكلم عند محمد فلما سمع النبي عليه الصلاة والسلام مقالتهم اغتم بذلك فنزل جبريل عليه السلام فقال يا محمد ويل لمن اصطنع هذه المقالة يعني الوليد فلما سمع الوليد هذه المقالة ضحك وقال لاأبالي فاجتمعوا فوضعوا بين أيديهم صنما يسمى هبلا فطرحوا عليه ألوان الثياب وسجدوا له فدعا النبي عليه الصلاة والسلام وجاء مع عبد الله بن مسعود فجلس عندهم فدخل الشيطان في بطن الصنم واسم الشيطان كان مسفرا فهجا النبي عليه الصلاة والسلام في بطن الصنم فلما سمع عبد الله بن مسعود رضي الله تعالى عنه تحير وقال يارسول الله ما يقول هذا الصنم فقال ياعبد الله لاتخف من هذا فإنه شيطان فانصرف النبي عليه الصلاة والسلام فاستقبله في الطريق فارس وعليه ثياب خضر فنزل عن فرسهفسلم على النبي عليه الصلاة والسلام فأجابه فقال من أنت ياراكب قد أعجبتني سلامك علي فقال له أنا من أبناء الجن قد أسلمت في زمن نوح عليه السلام لكن كنت غائبا عن وطني فلما قدمت فوجت أهلي باكية فسألت منها فقالت لي أما ترى إن مسفر أصنع ماصنع مع محمد عليه السلام فلما سمعت ذهبت على أثره فقتلته بين الصفا والمروة وهذا دمه على سيفي رأسه في المخلاة وبدنه مطروح بين الصفا والمروة وصورته مثل صورة الكلب مقطوع الرأس فسر النبي عليه الصلاة والسلام فدعا له بالخير ثم قال مااسمك قال اسمي مهير بن عبهر ومقامي على جبل طور سينا ثم قال أتأمرني يارسول الله أن أهجوا الكفار في فم أصنامهم كما هجاك مسفر فقال له النبي عليه الصلاة والسلام افعل ثم اجتمع الكفار في اليوم الثاني فدعوا النبي عليه الصلاة والسلام فوضعوا هبلا بين أيديهم وطرحوا عليه ألوان الثياب فسجدوا له وتضرعوا إليه كما فعلوا في اليوم الأول فقالوا يا هبل أقر اليوم أعيننا بهجاء محمد عليه السلام فقال هبل يا أهل مكة اعلموا أن هذا نبي حق ودينه حق ومحمد يدعوكم إلى الحق وأنتم وصنمكم باطل فإن لم تؤمنوا به ولم تصدقوا تكونوا في نار جهنم خالدين فيها أبدا فصدقوا محمدا وهو نبي الله وخير خلقه فقام أبو جهل عليه اللعنة وأخذ الصنم وضربه على الأرض وكسره وأحرقه بالنار فانصرف النبي عليه الصلاة والسلام إلى داره مسرورا ثم سماه عبد الله بن عبهر وأنشأ الشعر في قتل مسفر يقول : أناعبد الله بن عبهر 🔅 اني قتلت ذا الفجور مسفرا هممته بضرب سيفي منكرا 🔅 لدى الصفا والمروة طغى واستكبرا وخالف الحق وقال منكرا 🔅 بشتمه نبيه المطهرا والله لا أبرح حتى ينصرا 🔅 ويظهر الإسلام حتى يقرا أو يذل فيه كل من تكبرا 🔅 كل يهودي ومن تنصرا 🔅 جنود كسرى وملوك قيصرا 🔅
Dari sayyidaina ‘Aliy bin Abi Thalib karramallahu wajhah ia berkata; Suatu hari, katika aku sedang bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pada masa permulaan Islam tiba-tiba datang kepada kami seorang laki-laki yang menunggang unta, dan tanda-tanda perjalanannya serta jauhnya jarak yang dia tempuh benar-benar nampak bagi kami, lantas berhenti di hadapan kami dan berkata; Manakah di antara kalian yang bernama Muhmmad? Lalu aku memberi isyarah kepada Nabi ‘alaihishshalatu wassalam. Laki-laki itu berkata; Wahai Muhammad! Apakah engkau yang akan menjelaskan kepadaku tentang apa yang di perintahkan oleh Tuhan-mu? Ataukah aku yang akan menjelaskan kepadamu tentang apa yang di perintahkan oleh berhalaku? Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepadanya; Aku saja yang akan menjelaskan kepadamu tentang apa di perintahkan Tuhan-ku. Sayyidina ‘Aliy melanjutkan; kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjelaskan kepadanya; Islam di bangun di atas lima dasar beserta dengan syarat-syaratnya. Laki-laki itu berkata; Wahai Muhammad! Aku adalah Ghossan bin Malik Al ‘Amiriy, aku memiliki berhala, dan setiap bulan rajab aku menyembelih kambingku di sampingnya sebagai persembahan kepadanya, lalu seorang laki-laki dari golongan kami yang bernama ‘Ishom juga menyembelih kambingnya, ketika ‘Ishom mengangkat tangannya dari sembelihannya, tiba-tiba dia mendengar suara dari dalam berhala itu; Wahai ‘Ishom! Islam telah datang, semua sesembahan akan hancur lebur, setiap darah di lindungi, persaudaraan akan terjalin dan Agama yang haqiqi serta keselamatan akan nampak bagimu. Mendengar suara itu ‘Ishom sangat senang lalu pergi mengabarkan hal itu kepadaku, dan setelah itu aku mendengar kabar tentangmu wahai rasulallah. Beberapa hari kemudian, seorang laki-laki bernama Thariq menyembilih kambing di sampingnya, ketika mengangkat tangannya, dia mendengar suara dari dalam berhala itu berkata; Wahai Thariq! Telah di utus seorang Nabi yang terpercaya, yang di mandapatkan wahyu dan firman dari Dzat Yang Maha Mulia dan Maha Pencipta. Lantas Thariq keluar meneriakkan suara itu kepada orang-orang hingga kabar tentangmu semakin kuat di kalangan kami wahai rasulallah, namun kami masih berada di antara percaya dan tidak. Maka tiga hari kemudian, aku menyembelih kambing sebagai persembahan untuk berhala tersebut, ketika aku mengangkat tanganku, aku mendengar suara yang sangat keras dari dalam berhala itu dan berkata dengan fashih; Wahai Ghassan bin Malik Al ‘Amiriy! Telah datang seorang Nabi yang haq dari bani Hasyim yang berada di tanah Tihamah, barangsiapa yang menolongnya dia akan selamat dan barangsiapa yang meremehkannya dia akan menyesal, dialah Nabi yang memberikan petunjuk dan mengajak ke jalan kebenaran hingga hari kiamat. Kemudian berhala itu terbang dan jatuh tersungkur ke tanah. Sayyidana ‘Aliy menlanjutkan; Lantas Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bertakbir dan para shahabat yang bersama beliau ikut bertakbir. Ghassan berkata; Dan aku melantunkan tiga ba’it sya’ir, apakah engkau mengijiniku untuk menembangkannya wahai Rasulallah? Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memberinya ijin. Ghassan bersya’ir; Ku tinggalkan perjalanan untuk mencari Nabi di tanah datar 🔅Di tanah pegunungan di beberapa Negara dari padang pasir Untuk menolong manusia terbaik dengan pertolongan yang kuat 🔅 Dan aku ikatkan tali dari tali-talimu ke dalam taliku. Dan aku bersaksi bahwa Allah adalah Haq lagi Esa 🔅Dan aku akan menolong Agama ini selama kakiku masih memindah sandalku Sayyidina ‘Aliy berkata; Orang pertama yang masuk Islam setelah turunnya wahyu adalah sayyidah Khadijah kemudian Abu Bakar kemudian ‘Aliy kemudian Zaid bin Haritsah kemudian Qamariyah yaitu seorang budak wanita kemudian Hamzah kemudian ‘Utsman kemudian Zuhair kemudian Abu ‘Ubaidah bin Al Jarrah kemudian Thalhah kemudian Zubair ridlwanullahi Ta’ala ‘alaihim. Mereka semua masuk Islam dan menyembunyikan ke Islamannya dari orang-orang kafir. Lantas malaikat Jibril turun kepada Nabi ‘alaihishshalatu wassalam dan berkata; Wahai Muhammad! sesungguhnya Allah Ta’ala menyampaikan salam untukmu dan memerintahkanmu untuk mengajak manusia ke dalam Islam. Kemudian Nabi ‘alaihishshalatu wassalam pergi ke gunung Abi Qubais dan berseru dengan suara sangat keras; Katakanlah wahai manusia bahwa; Tidak ada Tuhan kecuali Allah dan Muhammad adalah utusan Allah. Ketika semua orang telah mendengar seruannya, maka orang-orang kafir berkumpul di Darun Nadwah dan merundingkan suatu masalah di antara mereka. Mereka berkata; Sesungguhnya Muhammad memaki-maki Tuhan kami dan mengajak kami untuk menyembah Tuhan yang tidak kami ketahui, bagaimana cara untuk mengatasi hal ini, Muhammad berkata kepada kami; Janganlah kalian menyembah Tuhan kalian yang berjumlah 360 berhala, kecuali kepada Allah yang Maha Yang Esa lagi Perkasa?. Di antara mereka ada Syaibah bin Rabi’ah, Walid bin Harits, Shafwan bin Umayyah, Ka’b bin Asyraf, Aswad bin Abdi Yaghuts Shakhr bin Al Harits, Kinanah bin Rabi’. Mereka adalah para pembesar orang-orang kafir Makkah, mereka berkata; Muhammad mengajak kita semua menyembah Tuhan yang tidak kita kenal, dan mengapa dia memaki-maki Tuhan kita?. Lantas salah seorang di antara mereka berdiri dan berkata; Muhammad bermaksud dengan ajakannya itu untuk mendapatkan harta, maka janganlah kita mempedulikannya. Mereka berkata; Muhammad tukang sihir dan penipu. Kemudian mereka berkata kepada Walid bin Harits; Apa komentarmu wahai Walid? Walid menjawab; Aku tidak bisa memberikan berkomentar apapun dalam masalah ini. Lalu mereka menganggap walid berpihak pada Nabi ‘alaihishshalat wassalam, sehingga mereka marah besar. Walid berkata; Berilah aku tenggang waktu selama tiga hari. Walid bin Harits memiliki dua berhala yang terbuat dari mutiara, emas, perak dan dari bermacam-macam intan yang diletakkan di atas kursi dan memberinya bermacam-macam pakaian. Kemudian Walid menyembahnya selama tiga hari tiga malam berturut-turut, tidak makan, tidak minum, tidak masuk ke rumahnya dan tidak menemui anak-anaknya, dia merendah dan mendekatkan diri pada ke dua berhala tersebut. Pada hari ketiga dia berkata; Dengan lantaran aku menyembah kalian berdua selama tiga hari tiga malam berturut-turut, berkatalah kalian berdua dan kabarkanlah kepadaku mengenai urusan Muhammad. Lantas syaithan masuk ke dalam mulut berhala tersebut lalu menggerakkannya dan berkata; Sesungguhnya Muhammad itu bukan Nabi, maka janganlah kalian percaya kepadanya. Walid sangat senang mendengarnya, kemudian dia pergi dan mengabarkan hal itu kepada orang-orang kafir, sedangkan orang-orang kafir Makkah berkumpul di samping Walid. Mereka berkata; Sepantasnya kita mengatakan hal ini kepada Muhammad. Ketika Nabi ‘alaihishshalatu wassalam mendengar perkataan mereka, beliau merasa perihatin karenanya. Lantas malaikat Jibril ‘alaihissalam turun dan berkata; Wahai Muhammad! Celakalah bagi orang yang mengada-ada perkataan ini maksudku Walid. Walid tertawa setelah mendengar perkataan itu dan berkata; Aku tidak peduli. Kemudian mereka berkumpul dan meletakkan berhala yang di beri nama Habila di hadapannya, mereka mengenakannya bermacam-macam pakaian dan mereka bersujud kepadanya, lantas Walid mengundang Nabi ‘alaihishshalatu wassalam dan beliau datang bersama dengan ‘Abdullah bin Mas’ud lalu duduk di sekitar mereka. Kemudian syaithan yang bermana Musfir masuk ke dalam perut berhala tersebut lalu menghujat dan mencaci maki Nabi ‘alaihishshalatu wassalam. Ketika mendengar suara itu, ‘Abdullah bin Mas’ud radliyallahu Ta’ala ‘anhu kebingungan dan berkata; Wahai Rasulallah! Apa yang di katakan berhala ini? Beliau bersabda; Wahai ‘Abdullah! Jangan takut terhadap berhala ini, karena sesungguhnya itu adalah suara syaithan. Lantas beliau pergi. Di tengah perjalanan, beliau berpapasan dengan seorang penunggang kuda berpakaian warna hijau lalu turun dari kudanya dan mengucapkan salam kepada Nabi ‘alaihishshalatu wassalam, maka beliau menjawab salamnya dan bersabda; Wahai penunggang kuda! Siapa kamu, ucapan salammu benar-benar mengagumkanku?. Dia menjawab; Aku adalah keturunan jin, aku telah masuk Islam sejak zaman Nabi Nuh ‘alaihissalam, namun aku mengembara dari tanah kelahiranku. Dan ketika aku pulang, aku menemukan isteriku sedang menangis, maka aku bertanya kepadanya, dan dia berkata kepadaku; Apakah kamu tidak tahu bahwasanya Musfir melakukan sesuatu yang di buat-buat terhadap Muhammad ‘alaihishshalatu wassalam? Setelah aku mendengarnya, aku langsung pergi melacak keberadaan Musfir lalu aku membunuhnya di antara Shafa dan Marwah, darah di pedangku ini adalah darahnya, kepalanya berada dalam kantong dan tangannya aku lemparkan di antara Shafa dan Marwah, adapun rupanya seperti anjing yang terpotong kepalanya. Nabi ‘alaihishshalatu wassalam merasa senang dan mendo’akannya dengan baik. Beliau bertanya; Siapa namamu? Dia menjawab; Namaku Muhair bin ‘Abhar dan tempat tinggalku di atas gunung Turisina. Muhair berkata; Wahai Rasulallah! Apakah engkau memerintahkanku untuk menghujat dan mencaci maki orang-orang kafir itu dari dalam mulut berhala-berhala mereka sebagaimana yang telah dilakukan oleh Musfir? Nabi ‘alaihishshalatu wassalam menjawab; Lakukanlah!. Pada hari ke dua orang-orang kafir bekumpul dan mengundang Nabi ‘alaihishshalatu wassalam lalu meletakkan berhala Habila di hadapannya dan mengenakannya bermacam-macam pakaian, lantas mereka bersujud dan merendahkan diri kepadanya seperti yang mereka lakukan pada hari yang pertama. Mereka berkata; Wahai habila! Tenangkanlah jiwa kami dengan menghujat dan mencaci maki Muhammad. Berhala Habila berkata; Wahai penduduk Makkah! Ketahuilah bahwasanya Muhammad adalah seorang Nabi yang haq, Agamanya haq dan Muhammad mengajak kalian ke jalan yang haq. Sedangkan kalian dan berhala-berhala kalian adalah bathil. Apabila kalian tidak beriman dan membenarkannya, maka kalian akan berada dalam nereka Jahannam selama-lamanya. Yakinlah! Muhammad adalah Nabi Allah dan sebaik-baik makhluq-Nya. Lantas Abu Jahal berdiri dan mengambil berhala itu lalu membantingnya ke tanah, menghancurkannya dan membakarnya. Akhirnya Nabi ‘alaihishshalatu wassalam pergi dan kembali ke kediamannya dengan senang, lantas beliau memberi nama kepada Muhair dengan nama ‘Abdullah bin ‘Abhar. Dan ‘Abdullah bin ‘Abhar melantunkan sya’ir dalam keberhasilannya membunuh Musfir, dia bersya’ir; Aku adalah ‘Abdullah bin ‘Abhar 🔅 Aku telah membunuh orang durhaka yaitu Musfir Aku ayunkan pedangku padanya demi menumpas kemunkaran 🔅 Di antara Shafa Dan Marwah ketika dia congkak dan sombong Menentang yang haq dan mengatakan kemunkaran Dengan menghujat Nabi yang di sucikan 🔅 Demi Allah! Aku takkan tinggal diam hingga menolongnya Hingga Islam tersebar luas dan di akui 🔅 Atau orang-orang yang sombong di hinakan Yaitu orang-orang Yahudi dan Nashrani 🔅 Pasukan raja Persia dan kerajaan Romawi 🔅
Berikut dalil ruh serta makna ruh yang berada didalam ayat al- Qur’an
Referensi
شرح دقائق الأخبار { الباب التاسع، عشر فى أن الروح بعد، الخروج يأتي إلى قبره ومنزله}
BAB XIX KUNJUNGAN RUH KEDALAM KUBURNYA DAN RUMAHNYA
Rasulullah SAW. bersabda, “Apabila ruh itu telah keluar dari jasad anak Adam selang tiga hari, maka berkatalah ruh tersebut, “Wahai Tuhanku, ijinkanlah aku untuk berjalan dan melihat yang telah aku tempati.” Allah SWT. mengijinkannya, dan datanglah dia ke kubur dengan melihatnya dari jarak yang dekat. Ternyata telah mengalir darah dari kedua lubang hidung dan mulut jasad tersebut, maka menangislah ruh tersebut berkepanjangan seraya berkata, “Aku sungguh kasihan jasadku, kekasihku. Tidaklah kamu ingat waktu hidupmu bahwa ini adalah tempat yang keras, tempat bencana, tempat kesusahan, tempat kesedihan dan tempat penyesalan. Lalu kembalilah ruh tersebut. Setelah selang lima hari ruh tersebut memohon kepada Allah SWT., “Wahai Tuhanku, ijinkanlah aku untuk menjenguk jasadku.” Maka Allah SWT. mengijinkannya. Datanglah dia ke kubur dan melihat ajsadnya dari jarak yang dekat. Ternyata telah mengalir darah dari kedua lubang hidungnya, mulut dan kedua telinga jasad itu. Darah itu bercampur nanah yang sangat kental. Lalu menangislah ruh tersebut, seraya berkata, “Aduh sangat kasihan wahai jasadku. Tidakkah kau ingat dikala hidupmu,, bahwa ini adalah tempat kesedihan, kesusahan dan cobaan serta ulat-ulat dan kalajengking. Daging-dagingmu termakan olehnya, kulit-kulitmu terobek-robek karenanya, begitu pula tubuhmu.” Lalu kembalilah ruh tersebut. Setelah selang tujuh hari ruh tersebut memohon kepada Allah SWT., “Wahai Tuhanku, ijinkanlah aku untuk mengunjungi jasadku.” Lalu Allah SWT. mengijinkannya dan datanglah dia ke kubur melihat dari jarak yang dekat. Ternyata jasad tersebut telah dipenuhi oleh ulat yang sangat banyak. Menagislah ruh tersebut, seraya berkata, “Wahai jasadku, tidakkah kau ingat dimasa-masa hidupmu? Dimana anak-anakmu, dimana sanak kerabatmu, dimana teman-temanmu, dimana istrimu, dimana sahabat-sahabat karibmu dan dimana tetangga-tetanggamu yang sama-sama rela atas tetanggamu yang lain pada hari ini mereka sama menganis aku dan engkau.”
Dan diriwayatkan dari Abi Hurairah ra., apabila telah mati seorang mukmin. Maka ruhnya mengitari sekitar rumah sebulan. Dia melihat apa yang telah ia tinggalkan, bagaimana cara membaginya, dan bagaimana cara melunasi hutang-hutangnya. Apabila telah genap sebulan kembalilah dia ketempatnya. Setelah tiu berputar kembali hingga genap waktu setahun, maka dia lihat siapa mendoakannya, dan siapa yang merasa susah karenanya. Apabila telah genap setahun maka diangkatlah ruh tersebut ke tempat berkumpulnya para ruh hingga tiba hari kiamat, yaitu pada hari ditiup suatu sangsakala.Allah SWT berfirman :Artinya:“Para Malaikat sama-sama turun, demikian juga ruh.” (QS. Al-Qadar : 4) Para Malaikat tersebut turun membawa ruh dan Roihan dikatakan pula bahwa ruh itu merupakan Malaikat yang agung turun untuk melayani orang-orang mukmin.Sebagaimana Firman Allah SWT. : Artinya:“Pada suatu hari ruh dan Malaikat-Malaikat berdiri berbaris dan tidak berkata sepatahpun kecuali atas jin Allah. Jika Allah mengijinkan maka berkatalah mereka dengan benar.” (QS. An-Naba’ : 30) Makna ruh dari ayat tadi yaitu ruhnya anak cucu Adam as., Adapula yang mengatakan ruhnya Jibril as. Adapula yang mengatakan ruh itu adalah ruhnya Nabi Muhammad SAW. di bawah arsy yang memohon ijin kepada Allah SWT. untuk turun di malam Lailatul Qadr untuk memberi salam pada kaum mukminin dan mukminat dan berlalulah ruh itu atas mereka. Dan dikatakan pula bahwa ruh itu adalah ruh-ruhnya ahli kubur yang mohon ijin kepada Allah SWT., “Wahai Tuhan kami ijinkanlah kami untuk berkunjung ke rumah kami menjenguk anak-anak dan keluarga kami.” Maka turunlah mereka di malam Lailatul Qadar.
“Telah berkata Ibnu Abbas ra. apabila datang hari ‘Aid, hari Jum’at pertama dari bulan Rajab, Malam Nisfu Sya’ban, lailatul Qadar dan malam Jum’at keluarlah ruh-ruh orang mati dari kubur mereka dan berhenti di pintu-pintu mereka dan berkata, “Kasihanilah kami pada malam yang penuh berkah ini dengan bersedekah atau memberi makan (orang yang memerlukan), karena kami ini sangat membutuhkan (pahala itu). Apabila kalian kikir untuk itu dan tak mampu memberikannya, maka ingatlah kami dengan membaca Al-Fatihah pada malam yang penuh berkah ini. Adakah orang yang mengingat pengembaraanku? Wahai penghuni rumahku, wahai orang yang menikahi istriku, wahai orang yang menempati gedung-gedungku. Kami sekarang dalam kesempitan kubur. Wahai orang yang membagi harta bendaku, yang orang menghina anak yatimku, adakah di antara kalian seseorang yang mengingat pengembaraan kami ini. Kitab-kitab amalku telah tertutup, sedangkan kitab amal-amal kalian masih berbuka. Tidak ada bagi mayat dalam kubur secarik kainpun, maka janganlah kalian lupakan kami dengan bersedekah sesuap makanan dan doa-doa kalian, karena kami membutuhkan selamanya.” Apabila mayat tersebut menemui shadaqah dan doa, maka kembalilah mereka dengan riang gembira. Dan apabila tidak, maka kembalilah dia dengan penuh kesedihan, penyesalah dan keputusasaan lantaran mereka.”
Dan sungguh telah dikatakan pula bahwa sesungguhnya ruh pada kumpulan hewan pada semua badan, akan tetapi pada anggota-anggota tertentu yang tidak pasti. Dengan dalil bahwa apabila suatu tubuh dilukai dengan luka yang banyak dan kadang-kadang tidak mati. Akan tetapi ada yang terluka di satu tempat saja tubuh tersebut jadi mati karena luka tersebut tepat mengenai tempat ruh.Firman Allah SWT. :Artinya:” Katakanlah : “Ia akan dihidupkan oleh Dzat yang telah mewujudkan pertama kali.” (QS. Yasin : 79) Dan apabila ditanya, apakah beda antara ruh dengan Rowan, maka kita menjawab bahwa keduanya adalah sama, tidak ada beda antara keduanya. Sebagaimana badan dengan tangan adalah satu. Akan tetapi tangan bebas bergerak kesana kemari, dan badan tidak bergerak. Demikian pula Rowan bisa bergerak kesana kemari, akan tetapi ruh tidak bergerak sedikitpun. Tempatnya ruh adalah didalam jasad tidaklah menentu, akan tetapi tempatnya Rowan yaitu di antara kedua alis. Apabila ruh yang hilang, maka tidaklah diragukan matilah hamba tersebut dan apabila Rowan yang hilang, maka tertidurlah hamba seperti air yang dituangkan dalam suatu wadah lalu diletakkan dalam rumah dan terkena panas cahaya dari suatu lubang, maka cahaya tersebut tetap di atas atap tanpa bergerak wadah tersebut dari tempatnya. Demikian halnya ruh tetap di dalam badan, sedangkan cahayanya berada di arsy yaitu Rowan. Maka terlihatlah suatu impian dalam tidur seorang hamba sedangkan Rowan berada di kerajaan .
Adapun tempat ruh sesudah dicabut adalah berada didalam suatu sangsakala yang memiliki lubang sejumlah binatang-binatang yang telah tercipta hingga hari kiamat, baik ruh yang menerima kenikmatan maupun yang menerima azab. Dan dikatakan bahwa ruhnya orang-orang mukmin berada dalam tembolok burung-burung hijau di Illiyyin, dan ruhnya orang-orang kafir berada dalam tembolok-tembolok burung hitam di dalam neraka. Dikatakan pula bahwa apabila telah dicabut ruhnya orang-orang mukmin, maka diangkatlah oleh Malaikat rahmat ke langit ke tujuh dengan dimuliakan. Maka berserulah Dzat yang berseru dari sisi Allah yang Maha pengasih “Wahai Malaikat, catatlah ruh itu dalam Iliyyin lalu kembalikan dia ke bumi.” Maka dikebalikan ruh tersebut ke jasadnya dan dibukakan bagi mukmin itu pintu ke surga, terlihatlah olehnya tempat di surga hingga tiba kiamat. Adapun ruh orang-orang kafir apabila telah dicabut, maka diangkatlah oleh Malaikat Azab ke langit dunia. Lantaran ruh tersebut, maka ditutuplah pintu-pintu langit dan diperintahkan kepada Malaikat Tersebut untuk mengembalikan ke jasadnya. Maka sempitlah kuburnya dan dibukakan bagi orang kafir tersebut pintu menuju ke neraka. Maka terlihatlah tempatnya dalam neraka hingga tiba hari kiamat. Hal ini sebutkan dalam sabda Rasulullah SAW. yang berbunyi :” Hingga sesungguhnya mereka itu benar-benar mendengar suara terompah kalian. Akan tetapi mereka dicegah untuk berbicara.”
Telah ditanyakan sebagian ulama ahli Hikmah tentang tempat-tempat ruh sesudah mati ia menjawab bahwa ruh-ruh pada Nabi as. dalam surga And. Adakalanya berada dalam liang lahat dengan menggembirakan kepada jasadnya, sedangkan jasad itu sendiri dalam keadaan sujud pada Tuhannya. Adapun ruhnya para syuhada’, yaitu dalam surga Firdaus di tengah-tengah surga dan berada di tembok burung-burung hijau yang terbang dengan leluasa dalam surga, lalu datang pada beberapa lampu yang tergantung di Arsy. Ruhnya anak-anak muslim berada pada tembolok burung-burung sejoli di surga. Ruhnya anak-anak musyrik berputar dalam surga dan tidak mempuyai tempat hingga waktu hari kiamat. Kemudian anak- anak tersebut melayani orang-orang mukmin. Ruhnya orang-orang mukmin yang mempunyai hutang dan penganiayaan terkatung-katung di udara tidak sampai ke surga dan ke langit hingga dibayar hutang-hutang dan penganiayaan tersebut. Ruhnya muslim yang berdosa disiksa dalam kubur beserta jasad-jasadnya. Ruhnya orang-orang kafir dan musyrik berada di Sijjin neraka Jahannam dan ditunjukkan neraka itu padanya di waktu pagi dan sore. Dan dikatakan bahwa ruh itu adalah jism yang lembut. Untuk itu tidak dapat dikatakan bahwa Allah Ta’ala mempunyai ruh, karena sesungguhnya DIA mustahil mempunya tempat sebagaimana jasad-jasad ini. Dikatakan pula bahwa ruh itu adalah sesuatu yang baru dan dikatakan terhidup dari udara. Dua perkataan inilah salah satu perkataan orang-orang yang ingkar terhadap siksa kubur.
Telah diriwayatkan bahwa ada seorang Yahudi yang datang kepada Nabi SAW. lalu bertanya tentang ruh, Ashaburraqiim (papan yang tertulis), dan Dil Qormain. Maka turunlah surat Al-Kahfi. Didalam kebenaran ruh itu turun pula firman Allah SWT. : Artinya:”Mereka hendak bertanya padamu (Wahai Muhammad) tentang ruh. Katakanlah bahwa ruh itu adalah urusan Tuhan.” (QS. Bani Israi : 85) Makna dari Amri Robbi di sini adalah pengetahuan Allah Swt. Dan tiada pengetahuan bagiku tentang ruh. Diucapkan bahwa ruh itu bukanlah makhluk. Karena dia adalah Amru Robbi dan Amru Robbi itu sendiri berupa kalam. Dan juga mempunyai makna bahwa ruh tersebut dari Allah SWT. dengan suatu kalimat Kun (Jadilah). Dan sesungguhnya Amr (perintah) tersebut ada dua segi : pertama yaitu Amr yang telah ditentukan seperti Amr Allah dalam masalah beribadah, misalnya : shalat, zakat, puasa, haji. Adapun Amr Takwiin yaitu Amr Kun (Jadilah). Firman Allah Ta’ala :Artinya:“Katakanlah, “Jadilah kalian semua bata atau besi atau makhluk.” (QS. Bani israil : 50) Dan seperti Firnan Allah SWT.Artinya:“Sesungguhnya perintah Allah itu jika berkehendak terhadap sesuatu hanya mengucap padanya “Kun” (Jadilah), maka jadilah dia.”(QS. Yasin : 82) Dan adapun Firman Allah SWT.: Artinya :“Telah turun pada Muhammad ruh yang bisa dipercaya.” Dan Firman Allah SWT: Artinya:”Pada hari berdiri ruh dan para Malaikat berbaris.” (QS. An-Naba : 38) Makna dari kata ruh di sini adalah ruhnya anak Adam atau para Malaikat yang agung yang sama berdiri dan berbaris.
Adapun firman Allah Ta’ala tentang Adam as. :Artinya:“Dan tatkala AKU ciptakan Adam dan AKU tiup padanya ruh Kami … “ (Al Ayah) Makna ruh di sini adalah jika telah tercipta Adam maka ditiupkanlah ruh kepadanya. Ini hanyalah sandaran pada Dzat yang menjadikan atau sandaran kemuliaan seperti kata-kata dalam Al-Quran : NAQOTULLOOHI, BAITULLOHI.
Sedangkan firman Allah SWT. Ta’ala yang artinya, “Maka telah Kami tiup ruh Kami ke dalamnya.” Adalah suatu sandaran memuliakan (Idlofatuttakrim) tentang sesuatu yang telah Allah SWT. jelaskan. Ada pula yang mengatakan bahwa makna dari ruh pada ayat tadi yaitu Malaikat Jibril as. Dan dikatakan pula “Arruh”adalah ruhnya Isa as. Karena Isa tercipta lantaran tiupan Jibril as. ditafsirkan pula bahwa makna ruh dalah rahmat. Firman Allah SWT. :Artinya:”Dan Allah kuatkan mereka dengan rahmat dari-Nya.”
HUKUMNYA SHALAT BERJAMAAH BEDUAAN DENGAN PEREMPUAN YANG BUKAN MAHROMNYA.
السلام عليكم و رحمة الله وبركاته
DESKRIPSI MASALAH
Shalat lima waktu yang dilakukan secara berjama’ah hukumnya adalah sunnah suatu hari Badriyah dan Baharun setelah pulang dari KAMPUSNYA mereka berdua melakukan sholat Dhuhur secara berjamaah di musholla yang berada dilingkungan KAMPUSNYA sementara mereka berdua merupakan teman sekelas mulai MI sampai tingkat SMA.dan Pergiruan tinggi Jurusan Ushuluddin
PERTANYAAN
Bagaimana hukum laki-laki dan perempuan melakukan sholat berjamaah hanya berdua saja sebagaimana deskripsi ?
Waalaikum salam
JAWABAN
Hukum sholatnya sah, namun makruh.Yang dimaksud dengan makruh disini adalah makruh tahrim ( berdosa) apabila sampai terjadi kholwat ( berduaan di antara laki-laki dan perempuan ) yang bukan mahromnya.Hal tersebut karena berdasarkan hadits: ” ”Jangan sampai seorang lelaki berdua-duaan dengan seorang perempuan. Jika terjadi makhluk ketiganya adalah setan.”
Artinya : Batasan yang dinamai khalwat adalah pertemuan ( berkumpul ) yang bisa mengarah ketidak amanan ( menjurus kearah zina ) secara kebiasaan, berbeda saat dipastikan tidak akan terjadi hal yang demikian secara kebiasaannya, maka tidak dinamai khalwat.
Adapun yang dinamakan makruh tahrim adalah perbuatan terlarang yang didasarkan pada dalil yang mengandung ta’wil. Sebagima Syekh Ibrahim Al-Baijuri menjelaskan perbedaan makruh tahrim dan makruh tanzih juga makruh tahrim dan haram dan contohnya sebagaimana berikut:
وإنما أثم هنا حتى على القول بأن الكراهة للتنزيه للتلبس بالعبادة الفاسدة
Artinya:“Hanya seseorang berdosa di sini–meskipun menurut salah satu pendapat ulama–karena makruh tanzih menyerupai ibadah yang rusak,” (Lihat Syekh Ibrahim Al-Baijuri, Hasyiyatul Baijuri ala Syarah Allamah ibni Qasim, [Beirut, Darul Fikr: tanpa catatan tahun], cetakan pertama, halaman 197).
Arti Makruh Tahrim
Adapun arti makruh Tahrim merupakan perbuatan terlarang yang ditetapkan oleh dalil yang mengandung multitafsir. Syekh Ibrahim Al-Baijuri menyebut, contoh makruh tahrim adalah salat sunnah mutlak usai salat Subuh dan salat Ashar.Al-Baijuri juga menyebut riwayat Imam Muslim yang menceritakan, Rasulullah SAW melarang sejumlah sahabatnya untuk salat di tiga waktu. Salah satunya yakni salat usai salat Subuh.
لما رواه مسلم عن عقبة بن عامر رضي الله عنه قال ثلاث ساعات كان رسول الله صلى الله عليه وسلم ينهانا أن نصلي فيهن أو نقبر فيهن موتانا حين تطلع الشمس بازغة حتى ترتفع وحين يقوم قائم الظهيرة حتى تميل الشمس وحين تضيف الشمس للغروب
Artinya:“Seperti diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Sahabat Uqbah bin Amir RA, ia berkata, ‘Terdapat tiga waktu di mana Rasulullah SAW melarang kami shalat atau memakamkan jenazah kami di dalamnya, yaitu ketika matahari terbit hingga naik, ketika unta berdiri (karena panas atau istiwa) hingga matahari sedikit miring, dan ketika matahari miring hingga terbenam,’” (Lihat Syekh Ibrahim Al-Baijuri, Hasyiyatul Baijuri ala Syarah Allamah ibni Qasim, [Beirut, Darul Fikr: tanpa catatan tahun], cetakan pertama, halaman 197).Jadi, salat sunnah mutlak itu yakni salat sunnah atau salat tanpa sebab tertentu usai salat Subuh atau salat Ashar. Hal ini masuk ke dalam kategori makruh tahrim seperti yang diriwayatkan oleh Imam Muslim. Pandangan ini juga dipegang oleh Madzhab Syafi’i.
Perbedaan Arti Makruh Tanzih dan Makruh Tahrim
Secara umum istilah tersebut merujuk pada perbuatan yang dilarang oleh Islam. Syekh Ibrahim Al-Baijuri menerangkan makruh tahrim, makruh tanzih, dan khilaful aula dimulai dari makruh tahrim dan makruh tanzih:
والفرق بين كراهة التحريم وكراهة التنزيه أن الأولى تقتضي الإثم والثانية لا تقتضيه
Artinya:“Perbedaan antara karahatut (makruh) tahrim dan karahatut (makruh) tanzih, adalah yang pertama perbuatan (makruh tahrim) meniscayakan dosa dan yang kedua (makruh tanzih) tidak meniscayakan dosa,” (Lihat Syekh Ibrahim Al-Baijuri, Hasyiyatul Baijuri ala Syarah Allamah ibni Qasim, [Beirut, Darul Fikr: tanpa catatan tahun], cetakan pertama, halaman 197).
Perbedaan Arti Makruh Tahrim dan Haram
Al-Baijuri lebih lanjut menjelaskan terkait perbedaan makruh tahrim dan haram. Saat menemukan kata “makruh tahrim” dan kata “haram”, maka kalian perlu mengingat jika orang yang melakukan perbuatan keduanya tetap akan mendapat dosa.
والفرق بين كراهة التحريم والحرام مع أن كلا يقتضي الإثم أن كراهة التحريم ما ثبتت بدليل يحتمل التأويل والحرام ما ثبت بدليل قطعي لا يحتمل التأويل من كتاب أو سنة أو إجماع أو قياس
Artinya:“Perbedaan antara makruh tahrim dan haram–sekalipun keduanya menuntut dosa–adalah makruh tahrim adalah perbuatan terlarang yang didasarkan pada dalil yang mengandung ta’wil. Sedangkan haram adalah perbuatan terlarang yang didasarkan pada dalil qath‘i yang tidak mengandung kemungkinan penakwilan baik dalil Al-Qur‘an, sunnah, ijmak, atau qiyas,” (Lihat Syekh Ibrahim Al-Baijuri, Hasyiyatul Baijuri ala Syarah Allamah ibni Qasim, [Beirut, Darul Fikr: tanpa catatan tahun], cetakan pertama, halaman 197). Dari penjelasan Al-Baijuri du atas, bisa ditarik kesimpulan jika perbedaan dari makruh tahrim dan haram terletak pada karakter sumber dalilnya. Apabila larangan sebuah perbuatan datang dari dalil yang memungkinkan takwil, maka hal terlarang tersebut masuk ke dalam makruh tahrim. Akan tetapi saat larangan sebuah perbuatan datang dari dalil qath’i yang tidak bisa ditakwil, maka hal terlarang itu termasuk haram.
Kesimpulan. Hukumnya shalat berjamaah pada dasarnya adalah sunnah mauakkad akan tetapi bisa menjadi makruh tahrim apabila dilakukan secara Kholwat ( berduaan dengan orang perempuan yang bukan mahromnya yang dapat menimbulkan ketidak amanan /mengarah kepada zina ).
Dalam masyarakat, kita terkadang menemukan orang yang tidak mendengar atau tuli, dalam kondisi yang sedemikian tumbuh dalam benak kita bahwa orang yang tuli adalah orang yang kurang pendengarannya, begitu juga orang yang buta orang yang tidak melihat tentunya dikarenakan banyak hal. Dalam ilmu kedokteran Tuli, disebut tunarungu atau gangguan kesehatan adalah kondisi fisik yang ditandai dengan penurunan atau ketidakmampuan seseorang untuk mendengarkan suara. kondisi ini bisa saja menimpa seseorang tanpa memandang usia, tua muda, laki laki perempuan dan juga kaya miskin.
Pertanyaannya .
Apabila ada orang yang buta sekaligus tuli,apakah orang tersebut wajib beriman dan juga sholat? mohon jawaban dan referensinya,terima kasih.
Jawaban: Jika seseorang diciptakan oleh Allah dalam keadaan buta,tuli,dan bisu, sejak lahir maka orang tersebut tidak terkena taklif(tidak terkena kewajiban melaksanakan syariat Islam ).seperti melaksanakan sholat, dll. Akan tetapi jika seseorang terkena buta dan tuli setelah tamyiz sedangkan ia tahu terhadap ajaran Islam maka dia terkena taklif ( artinya dia berkewajiban melaksanakan syariat Islam).
Dan demikian juga halnya orang yang tercipta dalam keadaan buta tuli, sungguh dia tidak tertuntut dengan apapun karena tidak ada solusi ( jalan keluar ) baginya untuk mengerti hal itu (dakwah Islam) meskipun dia bisa bicara. Karena bisa bicara saja itu bukanlah jalan untuk mengetahui hukum-hukum syari’at. Wallahu a’lam.
DAFTARISI ~ii MUKADDIMAHPENERJEMAH~6 MUKADDIMAH SYEH MUHAMMAD BIN ABU BAKR ~ 8 HADITS PERTAMA : Dorongan berkasih sayang kepada Sesama Makhluk~10 ADITS KEDUA: Larangan Putus Asa dari Rahmat~14
HADITS KETIGA: Anjuran kepada Orang yang Lanjut Usia Kembli Kepada Allah~20 HADITS KEEMPAT: Anjuran Menuntut Ilmu.~25 HADITS KELIMA: Hal Sesuatu yang dapat menjauhkan dari Neraka dan Mendekatkan dari Surga~31 HADITS KEENAM: Amalan-Amalan Yang Dapat Menghapus Sebagian Dosa~34 HADITS KETUJUH: Sesuatu Yang Dikutip dari Zabur Nabi Daud AS.~47 HADITS KEDELAPAN: Anjuran Bergegas Pagi-pagi pada hari jum’at ~51 HADITS KESEMBILAN: Anjuran Takut Kepada Allah ~56
HADITS KESEPULUH: Anjuran Mencari Surga Dan Menjauhi Neraka ~61 HADITS KESEBELAS: Anjuran Zuhud Terhadap Dunia ~70 HADITS KEDUA BELAS: Hal-Hal Yang Mewajibkan Mendapatkan Ampunan ~83 HADITS KETIGA BELAS: Anjuran Mencucikan Hati dari Sifat Dendam ~94 HADITS KEEMPAT BELAS: Larangan Banyak Bicara dan Anjuran Banyak Mengingat Kematian 102 HADITS KELIMA BELAS: Sebagian Orang Masuk Surga Tanpa Hisab ~104 HADITS KEENAM BELAS: Kegembiraan Orang Yang Mati Sebab Amal Baik Keluarga Mereka Yang Hidup Dan Sebaliknya Amal Yang Buruk~108 HADITS KETUJUH BELAS: Anjuran Membaca Surat Al-Ikhlas ( Qul Huwallahu Ahad )~116 HADITS KEDELAPAN BELAS: Orang Yang Sakit Ditulis Apa Yang Akan Dilakukan Saat Dia Sehat~ 122 HADITS KESEMBILAN BELAS:Sebagian Yang Ada Pada Zaman Jahiliyah ~123 HADITS KEDUAPULUH: Anjuran Malu Dan Takut Kepada Allah~134 HADITS KEDUAPULUH SATU: Anjuran Melakukan Hal-Hal Yang Membuat Gembira Orang Mukmin ~138 HADITS KEDUA PULUH DUA: Hal-Hal Yang Membuat Gembira Orang Mukmin~141 HADITS KEDUA PULUH TIGA: Anjuran Membaca Ayat Qursi ~145 HADITS KEDUA PULUH EMPAT:Anjuran Berbuat Ikhlas ~147 HADITS KEDUA PULUH LIMA: Anjuran Melawan Hawa Nafsu~148 HADITS KEDUA PULUH ENAM: Anjuran Murah Hati (Dermawan)~157 HADITS KEDUA PULUH TUJUH: Anjuran Bersabar Atas Kedholiman~162 HADITS KEDUA PULUH DELAPAN: Larangan Berandai-Andai Dan Melupakan Allah ~165 HADITS KEDUA PULUH SEMBILAN: Anjuran Memuji Orang Yang Meninggal ~170 HADITS KETIGAPULUH: Sesungguhnya Hamba Akan Diampuni Sebab Pujian Orang setelah Kematiannya ~171 HADITS KETIGA PULUH SATU: Tertolaknya Adzab Hamba disebabkan Orang Yang Sholih dari Mereka ~174 HADITS KETIGA PULUH DUA: Hal-Hal Tentang Ummat Yang Terpilih Dan Ummat Yang Buruk~178 HADITS KETI GAPULUH TIGA: Keutamaan Adus Hari Jum’at – 182 HADITS KETIGA PULUH EMPAT: Hal- Hal Yang Menyebabkan Sempurnanya Iman~187 HADITS KETIGA PULUH LIMA: Dzikir Ketika Tidur~189 HADITS KETIGA PULUH ENAM:Keutamaan Sebagian Ayat-Ayat Al-Quran ~191 HADITS KETIGA PULUH TUJUH : Hal Yang Sebaiknya Digunakan Diakhir Penutupan Setiap Majlis~198 HADITS KETIGA PULUH DELAPAN : Harapan Penghuni Neraka ~202 HADISKETIGAPULUHSEMBILAN: Keutamaan Mengumpulkan Hadits~207 HADISKEEMPATPULUH: Situasi Manusia Di Akhir Zaman ~213 PENUTUP~216
مقدمة المترجم بسم الله الرحمن الرحيم الحمد لله الذي وفقنا لخدمة العلم وأهله، والصلاة والسلام على سيدنا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين.
وبعد، فإن هذا الكتاب الذي بين أيديكم هو واحد من نفائس التراث الإسلامي، وقد وجدت فيه نفعاً عظيماً لكل طالب علم وباحث عن الحق. ولذا، رأيت من واجبي أن أعمل على ترجمته ليصل إلى أوسع نطاق من القراء، لعل الله ينفع به من شاء من عباده.
لقد بذلت جهدي في ترجمة هذا الكتاب من اللغة الأصلية وهي لغة العربية إلى لغة المترجم وهي اللغة الإندونيسة مع الحفاظ على أمانة النص وروحه ومعانيه
وأرجو من القارئ الكريم أن يتجاوز عن أي تقصير أو خطأ وقع مني في الترجمة، فإن الكمال لله وحده، والخطأ من طبيعة البشر.
وفي الختام، أسأل الله عز وجل أن يجعل هذا العمل خالصاً لوجهه الكريم، وأن ينفع به كل من قرأه أو عمل به.
كتبه المترجم يوم الجمعة، ٦ أكتوبر ٢٠٢٣ عبد الغني الجزائري
Pengantar Penerjemah Dengan menyebut Nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha penyayang
Segala puji bagi Allah yang telah memberikan taufik kepada kami untuk melayani ilmu dan para pemiliknya. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada junjungan kita, Nabi Muhammad, beserta keluarga dan seluruh sahabatnya.
Amma ba’du, buku yang ada di tangan Anda ini merupakan salah satu dari kekayaan warisan Islam yang sangat berharga. Saya menemukan manfaat besar di dalamnya bagi setiap penuntut ilmu dan pencari kebenaran. Oleh karena itu, saya merasa berkewajiban untuk menerjemahkannya agar dapat menjangkau khalayak pembaca yang lebih luas, semoga Allah memberikan manfaat darinya kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya.
Saya telah berusaha sebaik mungkin untuk menerjemahkan kitab ini dari bahasa yang asli , yaitu bahasa Arab, ke dalam bahasa Indonesia, dengan tetap menjaga amanah teks, ruh, dan maknanya.
Saya berharap kepada pembaca yang budiman untuk memaklumi apabila terdapat kekurangan atau kesalahan dalam terjemahan ini, karena kesempurnaan hanyalah milik Allah semata, sementara kesalahan adalah bagian dari sifat manusia.
Sebagai penutup, saya memohon kepada Allah Yang Maha Tinggi agar menjadikan karya ini ikhlas karena-Nya, serta memberikan manfaat bagi siapa saja yang membacanya atau mengamalkannya.
Ditulis oleh penerjemah, Jum’at Tanggal 6 Oktober 2023
Abd. Ghani Al-Jazairiy
ﺑﺴﻢ ﷲ ﺍﻟﺮﺣﻤﻦ ﺍﻟﺮﺣﻴﻢ الحمد لله رب العالمين🔅 والعاقبة للمتقين 🔅 ولا عدوان إلا على الظالمين والصلاة على خير خلقه محمد وآله أجمعين [ وبعد] فإن العبد المذنب محمد بن أبي بكر -رحمة الله عليه- بعد طول خوضه في بحر الذنوب والعصيان طلب رضا الرحمن 🔅 ومخالفة الشيطان والنجاة من النيران 🔅 والدخول في دار الجنان🔅 ولم تسمح له نفسه سلوك سبيل الأمان 🔅 غير أنه وجد في حيدث خير الإنسان صاحب المعجزات والبرهان 🔅 أنه قال من جمع أربعين حديثا فهو العفو والغفران 🔅 فجمع العبد أربعين حديثا بالأسانيد المتصلة إلى النبي عليه السلام عن المشايخ المختارين والأئمة الكبار 🔅 ويروي كل واحد عن بعض الصحابة الأبرار 🔅 وزاد العبد فيه ما يليق به من الموعظة والحكايات المسموعة من العلماء المذكورين في الأخبار والأثار 🔅عسى أن يأمن من سخط الملك الجبار 🔅 ويجد مناه في الآخرة من الحكيم الستار 🔅 ببركة ما جمع من الأحاديث والأخبار 🔅 وألتمس الدعاء من الناظرين فيه والواعظين منه فرحم الله من يذكره بالدعاء ولا ينساه
Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang 🔅Segala puji bagi Allah tuhan semesta alam🔅Dan pungkasan yang baik itu milik orang-orang yang bertakwa, 🔅 Dan tiada permusuhan kecuali kepada Orang-orang yang berbuat dzalim.[ Maka setelah Mushonnif Memulai dengan Bacaan Basmalah, Hamdalah dan Sholawat ], maka seorang hamba yang berdosa yaitu Muhamad ibn abi Bakar -semoga rahmat Allah untuknya- setelah lamanya tenggelmaya di lautan dosa dan kemaksiatan Ia mencari ridlo Allah dzat yang Maha penyayang 🔅Dan perbedaan syaitan dan selamat dari neraka dan masuk di rumah surga 🔅Dan dirinya tidak memurahkan ia menapaki jalan aman 🔅Hanya saja ia menemukan di hadits sebaik manusia pemilik mukjizat dan bukti kebenaran 🔅Bahwa beliau bersabda” Barang siapa mengumpulkan 40 hadits maka ia adalah mendapat maaf dan ampunan 🔅Maka hamba ini mengumpulkan 40 hadits dengan Sanad-sanad yang bersambung sampai kepada Nabi alaihi salam dari guru-guru yang terpilih dan imam-imam yang besar🔅Setiap dari mereka meriwayatkan dari sebagian sahabat yang baik 🔅 Dan hamba ini menambahkan didalam nya berupa nasihat dan cerita-cerita ( hikayat-hikayat ) yang layak yang didengar dari ulama ulama yang telah disebutkan didalam hadits dan ucapan sahabat🔅 Semoga ia aman dari murka Allah yang Maha memaksa 🔅 Dan menemukan(mendapati ) harapannya di akhirat dari yang Maha bijaksana juga Maha menutupi 🔅Karena keberkahan hadits dan khabar yang ia kumpulkan 🔅Dan saya meminta doa dari orang-orang yang melihat di kitab ini dan yang memberikan Nasihat darinya. 🔅 Dan semoga Allah merahmati orang yang mengigatkanya dengan doa dan tidak melupakannya. (*)
الراحمون يرحمهم الرحمن إرحموا من فى الأرض يرحمكم من فى السماء
Orang-orang yang pengasih akan dikasihi Allah ﷻ Sang Maha Pengasih, Kasihilah siapapun di bumi maka orang-orang yang berada dilangit akan mengasihimu.
عن عبد الله بن عمر رضي الله ﺗﻌﺎﻟﻰ ﻋﻨﻬﻤﺎ ﻗﺎﻝ : ﻗﺎﻝ ﺭﺳﻮﻝ ﷲ ﺻﻠﻰ ﷲﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ : ﺍﻟﺮﺍﺣﻤﻮﻥ ﻳﺮﺣﻤﻬﻢ ﺍﻟﺮﺣﻤﻦ، ﺍﺭﺣﻤﻮﺍ ﻣﻦ ﻓﻲ ﺍﻷﺭﺽ ﻳﺮﺣﻤﻜﻢ ﻣﻦ ﻓﻲ ﺍﻟﺴﻤﺎﺀ .
Dari Abdulloh bin Umar RA berkata, Rasululloh SAW bersabda: Orang-orang yang pengasih akan dikasihi Allah Sang Maha Pengasih, Kasihilah siapapun yang berada dibumi maka orang-orang yang berada dilangit akan mengasihimu
. الخبر بتمامه فى موافقة هذا الحديث حكاية عن عمر رضي الله تعالى عنه كان يمشي فى سَكَكِ المدينة فرأى صبيا كان في يده عصفورٌ وكان يلعب بهفرحم عمر ذلك العصفورَ فاشتراه من الصبي فأعتقه
Khabar dengan kesempurnakannya di sesuaikan dengan hadits ini adalah kisah tentang Umar RA, suatu ketika beliau berjalan kaki di jalanan pelosok kota, kemudian beliau melihat seorang anak kecil yang ditangannya ada seekor burung pipit, burung tersebut dibuat mainan oleh anak kecil itu, lantas Umar RA merasa kasihan terhadap burung tersebut dan dibelilah burung tersebut dari anak kecil itu lalu dilepaskan oleh beliau RA
فلما توفى عمر رضي الله ﺗﻌﺎﻟﻰ ﻋﻨﻪ ﺭﺁﻩ ﺍﻟﺠﻤﻬﻮﺭ ُ ﻓﻰ ﺍﻟﻤﻨﺎﻡ
ketika Umar RA telah wafat maka banyak orang ( Ulama’) yang melihat beliau dalam mimpinya dan mereka menanyakan tentang keadaan beliau,
ﻓﺴﺄﻟﻮﻩ ﻋﻦ ﺣﺎﻟﻪ ﻓﻘﺎﻟﻮﺍ ﻣﺎ ﻓﻌﻞ ﷲ ﺑﻚ
Maka mereka bertanya “apa yang telah Allah lakukan kepadamu?”
ﻗﺎﻝ ﻏﻔﺮ ﻟﻲ ﻭﺗﺠﺎﻭﺯ ﻋﻨﻲ
beliau menjawab “Allah telah mengampuniku dan memaafkanku”,
ﻗﺎﻟﻮﺍ ﺑﺄﻱ ﺷﻲﺀ ﺑﺠﻮﺩﻙ ﺃﻭﺑﻌﺪﻟﻚ ﺃﻭﺑﺰﻫﺪﻙ
mereka kembali bertanya “Dengan sesuatu amal apa? Apa dengan kedermawananmu atau dengan keadilanmu atau kezuhudannmu (tidak butuh lebih dari dunia) ?”
beliau menjawab “ Tatkala kalian meletakkanku di dalam kubur, dan memendamkanku dengan tanah dan kalian meninggalkanku sendirian (didalam kubur), maka datanglah kepadaku dua malaikat yang gagah hingga membuat akalku melayang ( tak bisa berfikir) dan persendian-persendianku menjadi gemetar karena kegagahannya, dan kedua malaikat itu membawaku, mendudukkanku dan hendak menanyaiku,
Maka saat itu aku mendengar panggilan “tinggalkan hamba-Ku dan jangan kalian menakutinya karena Aku menyayanginya dan memaafkannya karena dia telah menyayangi seekor burung pipit di dunia maka Aku menyayanginya di akhirat” .
(Kisah lain) Dahulu ada seorang ahli ibadah dari kalangan bani israil melewati gundukan pasir, saat itu bani israil sungguh sedang dilanda kelaparan, maka dia berangan-angan dalam dirinya bahwa andaikan ini (gundukan pasir) adalah gandum (tepung) pastilah akan mengenyangkan perut bani israil,
Maka kemudian Allah mewahyukan kepada salah satu Nabi dari para Nabi mereka, untuk mengatakan pada orang tersebut (Fulan) bahwasannya Allah Ta’ala telah memberi kewajiban pahala kepadamu yang andaikan adanya itu adalah gandum maka dia gunakan untuk bersedekah.
Barang siapa yang menyayangi terhadap hamba Allah maka Allah akan menyayanginya, karena sesungguhnya manakala hamba tersebut menyayangi kepada hamba-hamba Alloh dengan perkataannya “andaikata ini adalah gandum, pastilah akan mengenyangkan manusia ”, maka dia telah mendapat pahala sebagaimana dia telah melakukan hal tersebut.
Dari Ibnu Mas’ud RA berkata : Rasululloh SAW bersabda : Pelaku dosa yang mengharap rahmat Allah lebih dekat kepada Allah daripada ahli ibadah yang memutus rahmat.
Seseorang mengabarkan kepada kami dari Zaid bin Aslam dari Umar bahwasannya pada ummat terdahulu ada seseorang yang bersungguh- sungguh dalam beribadah, dan dia bersikeras dalam ibadah untuk dirinya sendiri namun dia memutus orang-orang dari rahmatnya Allah ta’ala kemudian dia meninggal,
lantas dia bertanya “Wahai Tuhan apa yang Engkau siapkan untukku dari-Mu?” Allah menjawab “Neraka”, dia bertanya “Wahai Tuhan, lantas dimana ibadahku dan kesungguhanku?”
Diriwayatkan dari Abu Hurairoh r.a dari Nabi SAW bahwasannya ada seseorang yang tidak berbuat kebaikan sama sekali kecuali hanya tauhid, maka tatkala maut mendatanginya dia berkata pada keluarganya: “Jika aku telah mati maka bakarlah aku dengan api hingga kalian mendo’akanku menjadi abu, kemudian lakukanlah dengan melayarkanku ( menaburkannku )di lautan pada hari yang banyak angin (angin kencang) ”
maka setelah keluarganya melaksanakannya tiba tiba dia berada dalam genggaman Allah Taala, Allah bertanya “Apa yang membuatmu melakukan apa yang telah kau lakukan?” dia menjawab “ karena takut kepada-Mu”, kemudian Allah mengampuninya sebab hal tersebut, padahal dia tidak melakukan suatu kebaikan apapun melainkan hanya bertauhid.
Tentang hal ini ada sebuah kisah bahwa ada seorang yang mati pada masa Nabi Musa AS, orang-orang tidak mau memandikannya dan tidak mau menguburkannya karena kefasikannya, maka mereka membawanya dengan berjalan kaki lalu membuangnya di tempat sampah,
Maka kemudian Allah taala mewahyukan kepada Nabi Musa AS dan berfirman “Wahai Musa ada seseorang yang mati di daerah fulan berada di tempat sampah, dia adalah seorang wali dari para wali-Ku, mereka belum memandikannya, belum mengkafaninya dan belum menguburkannya, maka pergilah/berangkalah kamu mandikannlah dan, bungkuslah, sholat kanlah, dan kuburkan dia” .
Kemudian Nabi Musa AS datang ke tempat tersebut dan menanyai mereka tentang mayit tersebut, mereka berkata kepada beliau “Telah mati seseorang dengan sifat begini dan begitu, dan sesungguhnya dia adalah seorang fasiq yang nyata”, kemudian Nabi Musa bertanya “Dimana tempatnya? karena sesungguhnya Allah Ta’ala telah mewahyukan kepadaku karena dia” .
Nabi Musa berkata “Beritahukan kepadaku tempatnya”, lantas mereka pergi. ketika Nabi Musa AS melihatnya dalam keadaan terbuang di tempat sampah dan orang-orang mengabarinya tentang kelakuannya yang buruk,
Nabi Musa bermunajat kepada Tuhannya, Nabi Musa berkata“ Wahai Tuhanku, Engkau menyuruhku menguburkan dan mensholatinya sedangkan kaumnya bersaksi atas keburukannya, maka Engkau lebih mengetahui dari pada mereka dengan segenap pujian dan celaan”,
maka Allah Ta’ala mewahyukan kepada beliau “Wahai Musa, kaumnya benar pada apayang telah mereka ceritakan tentang keburukan kelakuannya, hanya saja dia memohon pertolongan kepada-Ku saat kematiaannya dengan tiga hal yang andaikata ( tiga hal tersebut ) digunakan untuk memohon pertolongan kepada-Ku oleh seluruh orang-orang yang berdosa dari ciptaan-Ku pastilah Aku akan mengkabulkannya, maka bagaimana Aku tidak menyayanginya sedangkan dia telah memohon sendiri, dan Aku adalah Maha Penyayang dari para para penyayang.
Musa bertanya “Wahai Tuhan, apa tiga hal itu?” Allah Ta’ala menjawab “Ketika kematiannya dekat, dia berkata “ Wahai Tuhan,Engkau lebih mengetahui diriku bahwa sesungguhnya aku telah melakukan banyak maksiat sedangkan aku membenci maksiat tersebut dalam hatiku tetapi ada tiga hal yang membuat aku melakukan maksiat dengan membenci maksiat tersebut di dalam hatiku, pertama hawa nafsu, temanyang buruk dan iblis yang dilaknat Allah,
kedua dia berkata “Wahai Tuhan, sesungguhnya Engkau mengetahui bahwa aku telah melakukan banyak maksiat dan tempatku bersama orang- orang fasik namun aku suka berteman dengan orang sholih, kezuhudan mereka dan duduk bersama mereka lebih aku sukai dari pada bersama orang-orang fasik” .
ﻭﺍﻟﺜﺎﻟﺜﺔ ﻗﺎﻝ ﺇﻟﻬﻲ ﺍﻧﻚ ﺗﻌﻠﻢ ﻣﻨﻲ ﺍﻥ ﺍﻟﺼﺎﻟﺤﻴﻦ ﻛﺎﻧﻮﺍ ﺍﺣﺐ ﺇﻟﻲ ﻣﻦ ﺍﻟﻔﺎﺳﻘﻴن حتى لوا استقبلنى رجلان الصالح وطالح لقدت حاجة الصالح على الطالح
ketiga dia berkata “Wahai Tuhan sesungguhnya Engkau mengetahui diriku bahwasannya orang- orang sholih lebih aku sukai daripada orang-orang fasik, hingga andaikata aku dihadapkan dua orang; baik dan buruk pastilah aku mendahulukan kebutuhan orang yang baik dari pada orang yang buruk”
Dalam riwayat wahab bin munabbih dia berkata “Wahai Tuhanku andai kata Engkau memaafkan dan mengampuni dosa – dosaku maka bergembiralah para wali-Mu dan para Nabi-Mu, dan bersedihlah syaitan musuhku dan musuh-Mu, dan andai kata Engkau mengadzabku sebab dosaku maka syaitan dan teman-temannya akan bergembira, dan bersedihlah para Nabi dan para wali, dan sesungguhnya aku mengetahui bahwa kegembiraan para wali menurut-Mu lebih disukai daripada kegembiraan syaitan dan teman- temannya, maka ampunilah aku.
ﺍﻟﻠﻬﻢ ﺇﻧﻚ ﺗﻌﻠﻢ ﻣﻨﻲ ﻣﺎ ﺃﻗﻮﻝ ﻓﺎﺭﺣﻤﻨﻲ ﻭﺗﺠﺎﻭﺯ ﻋﻨﻲ
Wahai Allah sesungguhnya engkau lebih mengetahui dariku akan apa yang aku katakan maka sayangilah aku dan maafkan aku”,
Allah menjawab “Aku sayangi, Aku ampuni dan Aku maafkan karena sesungguhnya Aku Maha Pemurah lagi Maha Penyayang khususnya kepada orang yang mengakui dosa kepada-Ku dan orang ini mengakui dosa maka Aku mengampuninya dan memaafkannya, wahai Musa lakukan apa yang Aku peritahkan karena Aku mengampuni dengan kehormatannya untuk orang yang mensholati jenazahnya dan menghadiri pemakamannya” .
ﺍﻟﺤﺪﻳﺚ ﺍﻟﺜﺎﻟﺚ : ﺣﺚ ﻣﻦ ﻛﺒﺮ ﺳﻨﻪ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﺮﺟﻮﻉ ﺇﻟﻰ ﷲ HADITS KE- 3: ANJURAN KEPADA ORANG YANG LANJUD USIA KEMBALI KEPADA ALLAH.
إن الله ينظر إلى وجه الشيخ صباحا ومساء ويقول : ياعبدى قد كبر سنك ورقّ جلدُك ودقّ عظمك واقترب أجلك وحان قُدُومك إلىّ فاستح منّى فأنا أستحى من شيبتك أن أعذِّبك فى النار
Sesungguhnya Allah melihat wajah orang yang lanjud usia (orang tua) diwaktu pagi dan sore dan Allah berfirman: Wahai hambaku sungguh umurmu telah lanjud (lanjud usia) dan kulitmu telah kriput dan tulangmu telah rapuh dan sungguh ajalmu telah dekat dan tibalah kedatanganmu, maka malulah kamu kepadaku,maka sesungguhnya saya merasa malu pada ubanmu untuk menyiksamu dineraka
Dari Anas bin Malik RA berkata: Rasululloh SAW bersabda: “Sesungguhnya Allah memandang wajah orang yang tua renta di pagi dan sore seraya berfirman “Wahai hamba-Ku, usiamu telah tua, kulitmu telah keriput, tulangmu telah keropos, ajalmu telah dekat, dan tibalah waktu kedatanganmu kepada-Ku, maka malulah kepada- Ku karena Aku malu pada ubanmu untuk menyiksamu di neraka” .
Diceritakan bahwa Sayyidina Ali RA suatu ketika sedang bergegas pergi berjamaah untuk sholat subuh, kemudian di jalan beliau bertemu dengan orang tua renta sedang berjalan perlahan-lahan,.
Sayyidina Ali RA tidak mendahuluinya karena beliau memuliakan dan menghormati ubannya hingga mendekati waktu terbitnya matahari. Ketika orang tua renta tersebut mendekati pintu masjid dia tidak masuk masjid, Sayyidina Ali RA pun tahu bahwa dia seorang nasrani, maka Sayyidina Ali RA memasuki masjid dan mendapati Rasulullah SAW dalam keadaan ruku’,
Maka Nabi memanjangkan ruku’ seukuran dua kali ruku’ sampai Sayyidina Ali RA mendapati beliau SAW. Setelah usai sholat beliau bertanya “Wahai Rasululloh, mengapa engkau memanjangkan ruku’ di sholat ini? engkau belum pernah melakukan seperti ini” .
Maka Rasululloh SAW menjawab “Ketika Aku ruku’ dan mengucap subhanarobbial adzhim seperti biasanya, lalu Aku hendak mengangkat kepalaku (i’tidal), datanglah malaikat Jibril AS dan meletakkan sayapnya di atas punggungku, dia menahanku agak lama, ketika dia mengangkat sayapnya barulah aku mengangkat kepalaku (I’tidal)” .
ﻓﻘﺎﻟﻮﺍ ﻟﻢ ﻓﻌﻞ ﻫﻜﺬﺍ ﻓﻘﺎﻝ ﻣﺎﺳﺄﻟﺘﻪ ﻋﻦ ﺫﻟﻚ
Lantas para sahabat bertanya “Mengapa dia (Jibril) melakukan hal itu ?”,Nabi menjawab “ Aku belum menanyakan kepadanya ( Jibril ) hal tersebut”
kemudian Jibril AS mendatangi beliau SAW dan berkata “Wahai Muhammad, sesungguhnya Ali bergegas untuk berjamaah, kemudian di perjalanan dia bertemu dengan orang tua renta nasrani sedangkan Ali RA belum tahu kalau dia (orang tua renta) adalah orang nasrani, dia menghormatinya sebab ubannya dan tidak mendahuluinya serta menjaga haknya.
Allah menyuruhku untuk menahanmu dalam keadaan ruku’ hingga Ali RA mendapati sholat subuh, dan yang paling mengagumkan bahwasannya Allah Ta’ala menyuruh Mikail AS untuk menahan matahari dengan sayapnya hingga matahari tidak terbit agak lama karena Ali RA, derajat ini sebab hormat kepada orang tua renta walaupun dia seorang nasrani”
( Kisah lain) ketika telah dekat ajal guru Abu Manshur Al Maturidi semoga Allah merahmati beliau, ketika itu beliau berumur 80 tahun, kemudian sang guru sakit, lantas beliau memerintah Abu Manshur untuk mencari budak yang seumurannya untuk dibeli dan dimerdekakan, kemudian Abu Manshur mencari namun tidak menemukan budak seperti ini,
Kemudian orang-orang berkata “Bagaimana engkau akan menemukan budak berumur 80 tahun yang masih dalam keadaan budak dan belum dimerdekakan?” maka Abu Manshur kembali ke guru beliau dan memberi kabar tentang apa yang dikatakan orang-orang,
Ketika sang guru mendengar perkataan tersebut dia meletakkan kepalanya diatas tanah dan bermunajat kepada Tuhannya seraya berkata “Wahai Tuhanku, sesungguhnya makhluk tidaklah mulia jika budaknya telah mencapai umur 80 tahun dengan tetap memperbudak bahkan memerdekakannya, maka aku telah mencapai umur 80 tahun, lantas bagaimana Engkau tidak membebaskanku dari neraka sedangkan Engkau Maha Mulia Maha Pemurah Maha Agung Maha Pengampun Maha Bersyukur”, maka Allah membebaskannya dari neraka sebab kebaikan munajatnya .
قرآءة القرآن أعمال المَكْفِيّيْنَ والصلاة أعمال الأعاجز والصوم أعمال الفقرآءوالتسبيح أعمال الفقراء والتسبيح أعمال النساء والصدقة أعمال الأسخياءِوالتفكير أعمال الأبطال ؟ قال طلب العلم فإنه نور المؤمن فى الدنيا والآخرة
Membaca Al-Qur’an adalah pekerjaannya orang- orang yang cukup, dan shalat adalah pekerjaannya orang-orang yang lemah, dan puasa adalah pekerjaannya orang-orang fakir, dan bertasbih adalah pekerjaannya orang-orang yang fakir , dan bertasbih pekerjaannya orang-orang perempuan, dan sadekah adalah perbuatannya orang-orang yang dermawan, dan berfikir adalah perbuatannya orang-orang yang lemah, ingatlah akan aku tunjukkan kepada kalian perbuatan-perbuatan yang Abthol? Dikatan oleh sahabat: Wahai Rasulullah :Apakah perbuatan-perbuatan Abthol itu ? Rasulullah bersabda: Yaitu menuntut ilmu, maka sesungguhnya menuntut ilmu itu adalah cahayanya orang yang beriman didunia dan diakhirat
Dari Ibrahim, dari ‘Alqomah, dari Abdulloh bin Mas’ud RA berkata: Rasululloh SAW bersabda: “Barang siapa mempelajari satu bab dari ilmu yang bermanfaat bagi dunianya dan akhiratnya maka Allah memberinya yang lebih baik baginya dari tujuh ribu umur dunia yang siangnya digunakan berpuasa dan menghidupkan malamnya yang ibadah tersebut diterima dan tidak ditolak”
. Dari Ibrahim, dari ‘Alqomah’ dari Abdulloh RA berkata, Rasululloh SAW bersabda: “membaca al- quran adalah pekerjaan orang-orang yang berkecukupan, sholat adalah pekerjaan orang yang lemah, puasa adalah pekerjaan orang-orang fakir, bertasbih adalah pekerjaan para wanita, sedekah adalah pekerjaan para dermawan, berfikir adalah pekerjaan orang yang miskin, maukah aku tunjukkan pada kalian pekerjaan para pahlawan?”, “Wahai Rasululloh, apa pekerjaan para pahlawan?” Beliau menjawab: “Menuntut ilmu, karena ilmu adalah cahaya orang beriman di dunia dan akhirat”
وقال النبي صلى الله عليه وسلم أنامدينة العلم وعليّ بابه
Nabi SAW bersabda : “Aku adalah kota ( Gudangnya ) ilmu dan Ali adalah pintunya”
. فلما سمع الخوارج هذا الحديث حسدوا عليّا واجتمع عشرة نفرة من كبار هم ﻗﺎﻟﻮﺍ ﺇﻧﺎ ﻧﺴﺄﻝ ﻣﻨﻪ ﻣﺴﺌﻠﺔ ﻭﺍﺣﺪﺓ ﻭﻧﺮﻯ ﻛﻴﻒ ﻳﺠﻴﺐ ﻟﻨﺎ ﻓﻠﻮ ﺃﺟﺎﺏ ﻛﻞ ﻭﺍﺣﺪ ﻣﻨﺎ ﺟﻮﺍﺑﺎ ﺁﺧﺮ ﻧﻌﻠﻢ ﺃﻧﻪ ﻋﺎﻟﻢ ﻛﻤﺎ ﻗﺎﻝ ﺍﻟﻨﺒﻲ ﻋﻠﻴﻪ ﺍﻟﺴﻼﻡ
Ketika golongan kaum Khowarij ( Orang Yang keluar dari kelompoknya Sayyina Ali ) mendengar hadits ini, mereka iri terhadap Sayyidina Ali, kemudian sepuluh orang pembesar khowarij berkumpul, mereka berkata : “Sesungguhnya kita akan bertanya kepadanya satu pertanyaan dan kita akan melihat bagaimana dia akan menjawab bagi kami, andaikata dia menjawab kepada masing-masing kami dengan jawaban yang lain, maka kita akan tahu bahwa dia adalah orang yang berilmu sebagaimana telah disabdakan oleh Nabi SAW” .
Kemudian datanglah salah satu dari mereka dan bertanya “Wahai Ali, lebih utama ilmu atau harta?”, Sayyidina Ali RA menjawab “Ilmu lebih utama dari pada harta”, dia bertanya “Dengan bukti apa?”,beliau RA menjawab “Ilmu adalah warisan para Nabi sedangkan harta adalah warisan Qorun, Syaddad, Firaun dll.”, pergilah dia (orang pertama) dengan jawaban ini
Maka datanglah yang lain (orang kedua) kemudian bertanya seperti yang ditanyakan oleh orang yang pertama, lantas Sayyidina Ali RA menjawab “Ilmu lebih utama daripada harta”, dia bertanya “Dengan bukti apa?”, beliau RA menjawab “Ilmu menjagamu sedangkan harta, kamu menjaganya”, pergilah dia (orang kedua) dengan jawaban ini,
dan datanglah salah satu dari mereka (orang ketiga) kemudian bertanya seperti yang ditanyakan oleh orang yang pertama dan kedua, lantas Sayyidina Ali RA menjawab “Ilmu lebih utama dari pada harta”, dia bertanya “Dengan bukti apa?”, beliau RA menjawab “Pemilik harta memiliki banyak musuh sedangkan orang yang berilmu memiliki banyak teman”,pergilah dia (orang ketiga) dengan jawaban ini.
Dan datanglah yang lain (orang keempat) dia bertanya “Lebih utama ilmu atau harta?”, lantas beliau RA menjawab “Ilmu lebih utama”, dia bertanya “ Dengan bukti apa”, beliau RA menjawab “Jika engkau menggunakan harta maka harta tersebut akan berkurang sedangkan jika engkau menggunakan ilmu maka ilmu tersebut akan bertambah”, pergilah dia (orang keempat) dengan jawaban ini,
dan hadirlah yang lain (orang kelima) dan bertanya seperti pertanyaan mereka “Lebih utama ilmu atau harta?”, beliau RA menjawab “Ilmu lebih utama dari pada harta”, dia bertanya “Dengan bukti apa?”beliau RA menjawab “Pemilik harta dipanggil dengan julukan pelit dan cacian sedangkan orang yang berilmu dipanggil dengan julukan yang agung dan mulia” maka pergilah dia (orang kelima) dengan jawaban ini.
dan datanglah orang yang lain (orang keenam) kemudian bertanya tentang hal tersebut, dia bertanya “Lebih utama ilmu atau harta?”, beliau RA menjawab “Ilmu lebih utama”, dia bertanya “ Dengan bukti apa?”, beliau RA menjawab “Harta dijaga dari pencuri sedangkan ilmu tidak dijaga dari pencuri”, pergilah dia (orang keenam) dengan jawaban ini
dan datanglah yang lain ( orang ketujuh), dia bertanya kepada beliau “Dengan bukti apa?”, beliau RA menjawab “Pemilik harta dihisab pada hari kiamat sedangkan pemilik ilmu memberi syafaat pada hari kiamat”, maka pergilah dia (orang ketujuh) dengan jawaban ini
Dan datanglah yang lain (orang kedelapan), dia bertanya “Lebih utama ilmu atau harta?”, beliau RA menjawab “Ilmu lebih utama dari pada harta”, dia bertanya “Dengan bukti apa?”, beliau menjawab “Harta akan habis seiring berjalannya tempat dan waktu sedangkan ilmu tidak habis dan musnah” pergilah dia (orang kedelapan) dengan jawaban ini
dan datanglah yang lain (orang kesembilan), dia bertanya “Lebih utama ilmu atau harta?”, beliau RA menjawab “Ilmu lebih utama”, dia bertanya “ Dengan bukti apa?”, beliau RA menjawab “Harta mengeraskan hati sedangkan ilmu menyinari hati”, pergilah dia (orang kesembilan) dengan jawaban ini
Dan datanglah orang yang lain (orang kesepuluh) dia bertanya tentang hal tersebut “Lebih utama ilmu atau harta?”, beliau RA menjawab “Ilmu lebih utama dari pada harta”, dia bertanya “ Dengan bukti apa?”, beliau RA menjawab “Pemilik harta akan dipanggil Tuan sebab harta sedangkan pemilik ilmu akan dipanggil hamba”, maka andaikata kalian menanyaiku tentang hal ini pasti aku akan menjawab dengan jawab yang lain selama aku hidup, kemudian mereka datang dan masuk islam semuanya.
ﺍﻟﺤﺪﻳﺚ ﺍﻟﺨﺎﻣﺲ : ﻓﻴﻤﺎ ﻳﺒﺎﻋﺪ ﻣﻦ ﺍﻟﻨﺎﺭ ﻭﻳﻘﺮﺏ ﻣﻦ ﺍﻟﺠﻨﺔ HADITS KE-5 SESUATU YANG DAPAT MENJAUHKAN DARI NERAKA DAN SESUATU YANG DAPAT MENDEKATKAN DARI SURGA
عن أبى ذرّ قال: قلتُ : يارسول الله علِّمني عملا يقرِّبني من الجنة وُباعِدُني من النار،قال : إذا عملتَ سيِّئةً فاتّبعها حسنةً قلتُ أَمن الحسنة لاإله إلا الله ؟ قال هى أحسن الحسنات
Dari Abu Dzar Al Ghifari RA berkata : aku bertanya “Wahai Rasululloh, ajarilah aku amalan yang mendekatkanku ke surga dan menjauhkanku dari neraka”,
Beliau SAW menjawab “Jika engkau melakukan keburukan maka ikutilah dengan kebaikan”, aku bertanya “Apakah perkataan ( لاإله إلا الله ) termasuk kebaikan?”, Beliau SAW menjawab “Ya, dia ( لاإله إلا الله ) adalah termasuk kebaikan yang paling baik” .
Dan atas hal ini terdapat sebuah cerita, bahwasannya ada seorang lelaki sedang wukuf di Arofah, di tangannya terdapat tujuh batu, tujuh batu tersebut bersaksi terhadap lelaki tersebut kepada Tuhan bahwa lelaki tersebut bersaksi tiada Tuhan selain Allah dan Nabi Muhammad adalah utusan Allah,
maka kemudian lelaki tersebut tidur dan melihat dalam mimpi seakan-akan hari kiamat telah tiba, dia telah dihisab dan dia harus masuk neraka, maka malaikat membawanya, ketika mereka pergi dan sesampainya di pintu neraka tiba-tiba ada sebuah batu dari batu-batu tersebut dengan sendirinya terlempar ke pintu neraka,
maka Malaikat adzab kemudian berkumpul untuk mengangkatnya namun mereka tidak mampu mengangkat batu tersebut, lantas berjalanlah menuju pintu yang lain dan tiba-tiba di pintu tersebut ada sebuah batu yang lain dari tujuh batu tersebut dan malaikat tidak mampu mengangkatnya, hingga digiring tujuh pintu neraka dan pada tiap pintu terdapat sebuah batu dari batu- batu tersebut,
ﺛﻢ ﺳﻴﻖ ﺇﻟﻰ ﺗﺤﺖ ﺍﻟﻌﺮﺵ ﻓﻘﺎﻟﺖ ﺍﻟﻤﻼﺋﻜﺔ ﺭﺑﻨﺎ ﺃﻧﺖ ﺗﻌﻠﻢ ﺑﺄﻣﺮ ﻋﺒﺪﻙ وأنا لاتجد له سبيلا إلى النار فقال الرب تبارك وتعالى عبدى أشهدت الأحجار فلم تضيع حقك فكيف أضيع أنا حقك وانا شاهد بشهادتك
kemudian digiringlah malaikat hingga sampai dibawah Arsy maka malaikat bertanya “Wahai Tuhan kami, Engkau mengetahui terhadap urusan hamba-Mu, dan kami tidak menemukan jalan ke neraka baginya”, Allah Ta’ala menjawab “Wahai hamba-Ku, apakah engkau menyaksikan batu- batu, batu-batu tersebut tidak menyia-nyiakan hakmu, maka bagaimana Aku menyia-nyiakan hakmu sedangkan Aku menyaksikan persaksianmu”,
Allah berfirman “Masukkanlah dia ke surga!”, ketika dekat dari pintu surga tiba-tiba pintu-pintunya tertutup dan datanglah persaksian bahwasannya tiada Tuhan selain Allah, terbukalah seluruh pintu- pintu surga dan masuklah lelaki tersebut.
Dikisahkan bahwa al-Imam az-Zahid Sayyidi al- mufti semoga Allah merahmatinya, dari ayahnya,dia berkata: sesungguhnya Nabi Musa AS bermunajat kepada Tuhannya,
Maka beliau berkata “Wahai Tuhan, Engkau telah menciptakan makhluk, dan engkau telah merawatnya dengan nikmat-Mu serta rizki-Mu, kemudian Engkau menjadikan mereka di neraka Mu”. Maka Allah mewahyukan kepada beliau AS “Wahai Musa, menanamlah kamu dengan satu tanaman !”,
Kemudian Nabi Musa menanam, menyirami dan memeliharanya hingga memanennya, Allah SWT berfirman “Apa yang telah kamu lakukan pada tanamanmu wahai Musa?” beliau menjawab “Aku telah memanennya”,
Allah SWT berfirman “Tidakkah kau tinggalkan sedikit dari panenmu?”, Nabi Musa AS menjawab “Wahai Tuhan, aku tidak meninggalkan kecuali yang tidak baik” Allah berfirman “Wahai Musa, sesungguhnya Aku akan memasukkan orang yang tidak ada kebaikannya ke neraka”
Nabi Musa AS bertanya “Siapa dia?” Allah SWT menjawab “Orang yang enggan mengucap ( لاإله إلا الله محمد رسول الله) Laa Ilaaha Illalloh Muhammadur Rosululloh” .
ﺍﻟﺤﺪﻳﺚ ﺍﻟﺴﺎﺩﺱ : ﻓﻲ ﺍﻟﺄﻋﻤﺎﻝ ﺍﻟﺘﻲ ﺗﻜﻔﺮ ﺑﻌﺾ ﺍﻟﺬﻧﻮﺏ HADITS YANG KE-6 : AMALAN-AMALAN YANG DAPAT MENGHAPUS SEBAGIAN DOSA
Dari Abu Nashral Wasithy berkata, aku mendengar Abu Roja al Athoridy meriwayatkan hadits dari Abu Bakar ash Shiddiq RA, bahwasannya seorang badui datang kepada Nabi SAW, dia berkata “Telah sampai padaku darimu bahwa engkau bersabda : Dari jum’at ke jumatdan dari sholat ke sholat adalah tebusan dosa diantara keduanya bagi orang yang menghindari dosa-dosa besar”, Rasululloh SAW bersabda “Ya”,
kemudian beliau SAW bersabda “Mandi di hari Jumat adalah tebusan dosa, berjalan menuju sholat jum’at adalah tebusan dosa, setiap langkah dari menuju sholat jum’at seperti beramal dua puluh tahun, maka bila telah selesai sholat jum’at dia dibalas dengan semisal amalan dua ratus tahun”.
Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Bakar ash Shiddiq RA, disebutkan bahwa beliau adalah seorang pedagang pada masa jahiliyah, adapun sebab keislaman beliau adalah bahwa beliau melihat sebuah mimpi di Negri Syam,
Maka beliau bermimpi dalam tidurnya, beliau melihat matahari dan bulan dalam pangkuannya, kemudian beliau mengambil keduanya dengan tangan, didekap didadanya, dan memakaikan jubahnya kepada keduanya, ketika beliau RA terjaga beliau pergi ke rahib nasrani untuk menanyakan tentang mimpinya tersebut,
beliau datang dan mengatakan tentang mimpi tersebut serta meminta ta’bir darinya, Sang Rahib tersebut bertanya “Engkau darimana?”, beliau RA.menjawab “Dari Makkah”, dia bertanya “Dari kabilah apa?”, beliau RA menjawab “Dari Kabilah Tamim”, dia bertanya “Apa pekerjaanmu?”,
Beliau r.a menjawab “pedagang”, dia berkata “ Pada masamu akan keluar seorang lelaki dari Hasyimy namanya Muhammad al Amein, dia dari kabilah Hasyim dan dia akan menjadi Nabi akhir zaman,
jika bukan karena itu maka tidaklah Allah menciptakan langit dan bumi serta isi keduanya, dan tidaklah Allah menciptakan Adam, dan tidaklah Allah menciptakan para Nabi dan para Rasul, dia adalah baginda para Nabi dan para Rasul serta penutup para Nabi, dan engkau akan masuk dalam islamnya, engkau akan menjadi menterinya dan kholifah setelahnya, inilah ta’bir mimpimu”,
kemudian dia (rahib) berkata “Aku mendapati perangai dan sifatnya di Taurat, Injil dan Zabur, dan sesungguhnya aku telah masuk islam baginya dan aku menyembunyikan keislamanku karena takut dari orang-orang Nasrani”, ketika Abu Bakar ash Shiddiq telah mendengar dari rahib tersebut tentang sifat Nabi SAW, luluhlah hatinya dan dia RA rindu mengunjungi beliau Muhammad SAW,
Datanglah dia RA ke Makkah, dia RA mencari beliau Muhammad SAW dan menemukan beliau SAW, dia RA menyukai beliau SAW, dia RA tidak sabar walau sesaat tanpa memandang beliau SAW, setelah sekian lama pada suatu hari Rasululloh SAW bersabda “Wahai Abu Bakar, setiap hari engkau datang kepadaku dan duduk bersamaku, mengapa engkau tidak masuk islam?”
Abu Bakar RA menjawab “Andai kata engkau adalah seorang Nabi, maka engkau harus memiliki mukjizat”, Nabi bersabda “Tidakkah cukup bagimu mukjizat yang telah engkau lihat di Syam dan telah dita’birkan oleh rahib tersebut, dan dia telah mengabarimu tentang keislamannya ”,
maka ketika Abu Bakar RA mendengar itu, beliau RA berkata “Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan Selain Allah dan bahwa engkau adalah utusan Allah”, masuklah beliau kepada islam dan memperbagus keislamannya.
( Kisah lain)’: Dahulu ada dua orang majusi pada zaman Malik bin Dinar, salah satunya telah menyembah api selama 73 tahun dan yang lain 35 tahun, berkatalah adik kepada kakaknya “ Kemarilah, kita akan mencobanya , apakah dia (api) akan melindungi kita atau membakar kita sebagaimana dia (api) membakar orang yang tidak menyembahnya,
jika api melindungi kita maka kita akan menyembahnya, dan jika tidak maka kita tidak menyembahnya ”, kakak berkata “Ya” lantas keduanya menyalakan api dan adik berkata pada kakanya “Apakah kamu yang akan meletakkan tanganmu,atau aku yang akan meletakkannya ?”kakak menjawab “ Kamu yang akan meletakkan tangan ”, maka adik meletakkan tangannya diatas api dan terbakarlah jarinya,
Dia berkata “Ah/Aduu.!!”, dia menarik tangannya dari api dan berkata “Aku menyembahmu sejak 35 tahun kemudian engkau menyakitiku”, kemudian dia berkata “Wahai saudaraku kemarilah, kita akan menyembah satu Tuhan yang andaikata kita berdosa dan meninggalkan perintahnya selama 500 tahun Dia akan mengampuni dan memaafkan kita sebab ketaatan sesaat dan sekali minta ampun”,
maka kakak menurutinya dan berkata “Mari kita pergi kepada orang yang akan menunjukkan kita kepada jalan yang lurus dan akan mengajarkan kita agama islam”, maka keduanya berpendapat pergi ke Malik bin Dinar untuk masuk islam, keduanya menuju beliau dan mendatangi beliau, keduanya mendapati beliau sedang berada di sekumpulan orang Bashrah,
beliau duduk bersama orang umum dan memberi mereka nasihat, dan sungguh banyak orang yang berkumpul pada beliau, maka ketika keduanya melihat hal tersebut berkatalah kakak kepada adiknya “Tampaknya aku tidak masuk islam, karena umurku telah terlewat banyak dalam menyembah api, andaikata aku masuk islam dan aku kembali ke agama islam serta agama Muhammad SAW maka keluargaku dan tetanggaku akan menghinaku, dan api lebih aku sukai dari pada perubahan mereka”,
berkatalah adik “Jangan kau lakukan, karena hinaan mereka akan hilang sedangkan neraka selamanya, jangan kau berlalu”, maka kakak tidak mendengarnya dan berkata kepadanya “Kamu dan kebiasaanmu, kamu adalah seorang yang celaka dari anaknya orang yang celaka wahai pejuang dunia dan akhirat”, kembalilah sang kakak dan tidak masuk islam,
Dan kemudian datanglah sang adik bersama anak- anaknya yang kecil bersama istrinya, mereka masuk diantara orang-orang dalam majelis, mereka duduk hingga Malik selesai berbicara dan menasehati, kemudian pemuda tersebut datang kepadanya dan menceritakan kepada beliau kisah tersebut dan memintanya masuk islam beserta keluarganya, maka beliau menerima mereka dan mereka semua masuk islam, menangislah semua orang karena gembira,
kemudian pemuda itu hendak kembali dan beliau berkata kepadanya “Duduklah hingga aku mengumpulkan untukmu dari para sahabatku beberapa harta dunia”, dia menjawab “Aku tidak ingin menjual agama dengan dunia ”, kemudian dia kembali, kemudian dia masuk di tempat yang rusak, dia mendapati sebuah masjid dan dia singgah di dalamnya,
ketika pagi di hari esoknya, istrinya berkata padanya “Pergilah ke pasar dan carilah pekerjaan, belilah sesuatu untuk kita makan dengan upahmu”, kemudian dia pergi ke pasar namun tidak mendapati seseorang yang akan mengupahinya,dia berkata pada dirinya sendiri “Aku akan bekerja di dalamnya karena Allah Taala” maka dia masuk masjid yang ditinggalkan jamaahnya, dia sholat di dalamnya karena Allah hingga malam,
kemudian dia kembali ke rumahnya dengan tangan kosong, istrinya berkata “Tidakkah engkau menemukan sesuatu di hari ini?”, dia menjawab “Wahai istriku, aku telah bekerja di hari ini pada Raja, Dia belum memberiku sesuatu, semoga besok Dia akan memberiku”, maka mereka semua melewati malam hari dalam keadaan lapar, ketika pagi esok hari dia pergi ke pasar dan tidak mendapat pekerjaan, dia pergi masjid tersebut dan sholat di dalamnya karena Allah Taala hingga malam, kemudian dia kembali ke rumahnya dengan tangan kosong,
istrinya berkata kepadanya “Tidakkah engkau hari ini mendapat sesuatu juga?”, dia menjawab “Hari ini aku telah bekerja untuk Raja yang kemarin aku telah bekerja pada-Nya, aku berharap Dia akan memberiku besok pada hari jum’at”, maka mereka melewati malam hari itu juga dalam keadaan lapar, ketika pagi hari di esok yaitu hari jum’at dia pergi ke pasar dan dia tidak menemukan pekerjaan,
ﻓﺬﻫﺐ ﺇﻟﻰ ﺫﻟﻚ ﺍﻟﻤﺴﺠﺪ ﻓﺼﻠﻰ ﺭﻛﻌﺘﻴﻦ ﺛﻢ ﺭﻓﻊ ﻳﺪﻩ ﺇﻟﻰ ﺍﻟﺴﻤﺎﺀ ﻓﻘﺎﻝ ﺇﻟﻬﻲ وسيدى ومولاي لقد أكرمني بالإسلام وتوجي بتاج الإسلام وهديتني بتا الهدى وحرمة الدين الذي رزقتني وحرمة اليوم المبارك الشريف الذي قدرت عندك عظيم وهو يوم الجمعة اسئلك أن ترفع شغل نفقة عيالي عن قلبي وترزقني من حيث لا أحاسب فأنا والله أستحي من أهلي وعيالي وأخاف عليهم تغيير الحال لحداثة حالهم فى الإسلام قال ثم قال
pergilah dia ke masjid tersebut dan dia sholat dua rokaat kemudian dia mengangkat tangannya ke langit dan berkata “Tuhanku, Tuhanku, Bagindaku, sungguh Engkau telah memuliakanku dengan islam, Engkau mahkotai aku dengan mahkota islam, Engkau beriku petunjuk dengan mahkota petunjuk, maka dengan kehormatan agama yang telah Engkau rizkikan kepadaku dan dengan kehormatan hari berkah mulia yang disisi-Mu bernilai agung yaitu hari jum’at, aku memohon kepada-Mu untuk menghapus kesibukan nafkah keluargaku dari hatiku dan Engkau beriku rizki dari yang tidak aku duga, maka Demi Allah aku malu kepada keluargaku dan aku takut mereka berubah keadaan sebab barunya kondisi mereka dalam islam”,
kemudian dia sibuk berdoa dan sholat dua rokaat. ketika sampai dipenghujung siang pemuda ini pergi ke sholat jum’at dan anak-anaknya kelaparan, datanglah seseorang ke pintu rumahnya yang di dalamnya ada keluarganya, dia mengetuk pintu da.n keluarlah istrinya, dia mendapati seseorang yang wajahnya indah, di tangannya ada sebuah piring dari emas yang ditutup dengan sapu tangan emas,
dia berkata padanya “Ambillah piring ini, dan katakanlah pada suamimu ini adalah upah pekerjaanmu dalam dua hari, tambahlah dalam bekerja maka kami akan menambahmu dalam upah khususnya pada hari ini yakni hari jum’at, karena pekerjaan sedikit pada hari ini disisi Raja Yang Maha Perkasa adalah banyak”,
maka dia mengambil piring tersebut tiba tiba didalamnya ada 1000 dinar, dia mengambil satu dinar dan pergi ke tukang emas, tukang emas tersebut adalah seorang nasrani, dia menimbang dinar tersebut dan menambah dari satu menjadi dua, dia melihat ukirannya dan dia tahu bahwa itu adalah hadiah akhirat, dia berkata padanya “ Dari mana engkau mendapati ini ? ” kemudian dia menceritakan kepadanya,
tukang emas tersebut berkata “Tunjukkan Islam kepadaku”, maka dia masuk islam kemudia dia menmbayar kepada sang istri 1000 dirham, dia berkata “Nafkahkanlah, jika engkau kehilangan maka beritahu aku”, ketika pemuda telah sholat, dia berlalu ke rumahnya dengan tangan kosong, dia menggenggam sapu tangannya dan mengisinya dengan debu,
Dia berkata pada dirinya sendiri “Jika dia bertanya apa ini maka aku katakan padanya aku membawa gandum”, ketika dia masuk daerah yang rusak dia melihat rumahnya berkasur dan mendapati di dalamnya aroma makanan, dia letakkan sapu tangan dipintu supaya istrinya tidak tahu, kemudian dia menanyai istrinya tentang keadaan tersebut dan apa yang dia lihat di rumah, sang istri bercerita padanya kisah tersebut,
Maka diapun bersujud syukur pada Allah, kemudian istrinya bertanya padanya “Apa yang kau bawa di sapu tangan?” dia menjawab “Jangan kau tanyakan padaku” kemudian sang istri pergi dan membuka sapu tangan tersebut, tiba-tiba dia mendapati debu tersebut berubah menjadi gandum dengan izin Allah Taala, maka bersujud syukurlah pemuda tersebut, dan dia menyembah Allah hingga Allah mewafatkannya,
Al-Faqih berkata “Angkatlah tanganmu ke langit, katakanlah dengan kemuliaan Jum’at ampuni dosa- dosa kami, hilangkan kesusahan kami”, pemuda ini ketika berdoa pada Allah dan minta tolong pada- Nya dengan kebenaran hari jum’at hingga Allah mengabulkan hajatnya serta rizkinya dari yang tidak disangka, maka begitu pula kita bila berdoa pada hari jum’at, semoga Allah mengabulkan hajat- hajat kita karena Dia Maha Pemurah lagi Maha penyayang serta Tuhan yang mulia.
ﺍﻟﺴﺎﺑﻊ : ﻓﻴﻤﺎ ﻧﻘﻞ ﻋﻦ ﺯﺑﻮﺭ ﺩﺍﻭﺩ ﻋﻠﻴﻪ ﺍﻟﺴﻼﻡ HADITS KE-7 : TENTANG HAL YANG DIKUTIP DARI ZABUR NABI DAUD ALAISSALAM
Dari Abdushomad bin Mughoffal berkata: aku mendengar Wahab bin Munabbih RA berkata: aku membaca tiga puluh baris di akhir kitab Zabur Nabi Daud AS bahwa Allah SWT berfirman: “Wahai Daud, apakah engkau tahu mukmin mana yang lebih Aku cintai Kupanjangkan hidupnya?
beliau AS menjawab: “Tidak”, Allah SWT berfirman: “Yaitu orang yang jika mengucap Laa Ilaaha Illalloh maka kulitnya merinding dan persendiannya bergetar karena sesungguhnya Aku tidak menyukai/benci kematian baginya sebagaimana orang tua tidak menyukai ( kematian ) anaknya, tetapi dia harus mati, sesungguhnya Aku ingin membahagiakannya di tempat selain tempat ini, sebab nikmatnya ( dunia ) adalah bencana dan kemakmurannya ( dunia ) adalah kesulitan, di dalamnya (dunia) ada musuh yang tidak main-main merusakmu, dia berjalan pada kalian seperti aliran darah, oleh karena itu Aku menyegrakan kekasih- kekasihku kesurga , andai bukan karena hal tersebut pastilah Adam dan anaknya tidak mati hingga sangkakala ditiup” .
Pada sanad ini ada riwayat Anas bin Malik RA berkata, Rasululloh SAW bersabda “ Siapa mengucapkan (لاإله إلا الله ) Laa Ilaaha Illalloh dan memanjangkannya maka dihapus baginya empat ribu dosa dari dosa-dosa besar”, dikatakan oleh Sayyidina Ali RA.
Disebutkan dalam majelis tafsir al Quran Syekh Imam az Zahid Ya’qub al Kisa’i semoga Allah merahmati beliau, sesungguhnya Hazim bin Walid RA sakit, dia mendatangi dokter dan dokter tersebut mulai memeriksa denyut nadinya, dokter berkata “Tidak ada penyakit, tetapi kalian tanyalah kepada dia tentang keadaannya, karena seseorang terkadang lebih tahu keadaanya sendiri”, maka mereka bertanya kepadanya, dia menjawab “Sakit bukan pada diriku, sakitku adalah takut kepada Allah Yang Maha Mulia lagi Maha Penganugerah, takut disodorkan dan diperhitungkan, takut hilangnya iman hingga aku harus diadzab, beruntunglah orang yang keluar dari dunia ( meninggal dunia ) dengan iman dan tempat kembalinya ke surga” .
( Dikisahkan dari Abu Bakar bin Abdulloh al Muzni semoga Allah merahmati beliau ) berkata, sesungguhnya dahulu ada seorang raja dari beberapa raja yang menentang Allah Ta’ala, kemudian orang-orang Islam memeranginya, mereka menjadikannya sebagai tawanan, mereka berkata “Dengan apa kita akan membunuhnya sebab menentang Allah Ta’ala ?”, maka pendapat mereka berkumpul menjadi membuatnya pada bejana besar, mereka ikat kepalanya dan mereka nyalakan api dibawahnya, ketika dia mendapati api yang panas dia memanggil Tuhannya selain Allah yang telah ia sembah “Wahai Lata selamatkan aku, wahai Habil selamatkan aku, wahai Uzza selamatkan aku dari apa yang aku alami, wahai Habil aku usap kepalamu dan aku berkhidmat kepadamu sekian tahun”, maka tiap kali dia bersandar kepada mereka ( Lata, Habil, Uzza ) bertambahlah panasnya api,
Ketika dia tahu bahwa mereka ( Lata, Habil, Uzza ) tidak menghiraukannya, dia putus asa dari mereka ( Lata, Habil, Uzza ), kembalilah dia kepada Allah, dia memanggil dari dalam bejana “ لاإله إلا الله محمد رسول الله Tiada Tuhan yang Wajib disembah Kecuali Allah Muhammad Utusan Allah. ”, maka Allah mengutus penolong dari langit kepada api tersebut, dia padamkan api tersebut, dan Allah mengutus angin kemudian angin tersebut membawa bejana tersebut ke langit mengitari langit dan bumi sambil mengucapkan” Laa Ilaaha Illalloh Muhammadurrosululloh hingga hilang dari pandangan, kemudian angin tersebut menjatuhkannya pada suatu kaum yang tidak mengenal Allah, mereka mengambilnya, membukanya dan mengeluarkannya dari bejana tersebut, mereka bertanya padanya “Siapa kamu ? Dan bagaimana ceritamu?”dia menjawab “Aku adalah Raja di suatu tempat” kemudian dia menceritakan kisahnya dan kondisinya, kemudian mereka semua masuk islam.
ﺍﻟﺤﺪﻳﺚ ﺍﻟﺜﺎﻣﻦ : ﺍﻟﺤﺚ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﺘﺒﻜﻴﺮ ﻳﻮﻡ ﺍﻟﺠﻤﻌﺔ HADITS KE-8 : ANJURAN UNTUK BERGEGAS PADA HARI JUMAT
Diriwayatkandari Ali bin Abi Tholib karromallohu wajhahu berkata, Rasululloh SAW bersabda: “ Pada hari jum’at tujuh puluh malaikat duduk di setiap pintu masjid, mereka menulis nama-nama orang hingga orang terakhir ditulis yang datang pada saat imam telah duduk diatas mimbar, dia tidak menyakiti siapapun di tempat duduknya dan tidak berkata kecuali perkataan yang baik, maka itulah ahli hari jum’at yang paling rendah bagiannya, dan hal tersebut yang membuatnya diampuni atas apa yang telah ia perbuat dari keburukan diantara dua jum’ at” .
Kabar dengan kesempurnaanya, sebagaimana Allah berfirman: Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi”. Mereka berkata: “ Mengapa Engkau hendak menjadikan ( khalifah ) di bumi orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau maka Allah menyalahkan mereka dan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui”. Takutlah malaikat dan mereka berthowaf disekitar arsy tujuh kali, kemudian Allah memaafkan mereka dan memerintahkan kepada mereka, untuk membangun bait/rumah dimuka bumi, sehingga andaikata anak-anak cucu Adam berdosa kemudian mereka berthowaf di sekitar bait/ rumah tujuh kali, maka mereka akan dimaafkan sebagaimana malaikat dimaafkan, kemudian para malaikat turun dan membangun kabah di bumi, lalu Allah mengangkatnya ( kabah ) ke langit keempat saat bencana taufan,dan Allah menciptakan menara disisi bait / rumah ( kabah ) kemudian dinamakan baitul makmur, Allah memanjangkan menara hingga lima ratus tahun, bila tiba hari jum’at maka Jibril AS naik keatas menara dan mengkumandangkan adzan, Israfil naik keatas mimbar dan berkhutbah, Mikail mengimami malaikat, maka bila mereka telah usai sholat berkatalah Jibril AS “Pahala yang aku dapat dari adzan aku berikan kepada seluruh muadzin di muka bumi” , Israfil AS berkata “Pahala yang aku dapat dari berkhutbah aku berikan kepada seluruh khotib di muka bumi” , kemudian Mikail AS berkata “Pahala yang aku dapat dari mengimami aku berikan kepada orang yang menjadi imam hari jumat di muka bumi” kemudian para malaikat berkata “Pahala yang kami dapat dari berjamaah kamu berikan kepada seluruh orang yang sholat jumat dibelakang imam, dan Allah berfirman “Wahai para malaikat-Ku, Apakah kalian memuliakan hamba-hamba-Ku sedangkan Aku adalah Yang paling Mulia dari Yang Mulia, Wahai para malaikat-Ku, Aku bersaksi pada kalian, sesungguhnya Aku telah mengampuni mereka, dan ini semua dikhususkan untuk ummat ini, dan tidak ada bagian dari ini untuk seluruh umat terdahulu”
Syaikh imam alimul millah wa ddin az-Zandusty berkata, aku mendengar imam abu Muhammad bin Abdulloh bin al Fadhl bercerita pada pelajaran umum di Persia dari al AuzaI berkata, suatu hari Maisaroh bin Khonis lewat pekuburan, dia berkata “Semoga keselamatan atas kalian wahai ahli kubur, kalian mendahului kami dan kami dibelakang kalian, semoga Allah merahmati kami dan kalian, dan semoga Allah mengampuni kami dan kalian, memberkahi kami dan kalian dalam menyambutnya bila kami sampai kepada apa yang telah kalian sampai”, dia berkata “Allah telah memisah ruh dari jasad salah seorang dari mereka”, kemudian dia menjawab dengan ucapan yang fasih, “Beruntunglah kalian wahai penduduk dunia, kalian berhaji tiap bulan empat kali ”, maisaroh berkata “Kemana kami berhaji tiap bulan empat kali ? Semoga Allah merahmatimu” dia menjawab “Jum’at”, kemudian dia berkata “ Tidakkah kalian tahu bahwa jum’at adalah haji mabrur yang diterima ?”, dia ( Maisaroh) berkata “Kabarkan kepada kami tentang apa yang harus kami biasakan”, dia menjawab “Wahai penduduk dunia, istighfar adalah sesuatu yang paling bermanfaat di akhirat”, dia ( Maisaroh ) berkata “Lalu apa yang mencegahmu membalas salam kami?”, dia menjawab “ Salam adalah kebaikan, dan kebaikan terkadang dihapus bagi kami, maka tidak ada kebaikan bagi kami yang bertambah dan tidak ada keburukan bagi kami yang berkurang”, dia berkata “Sungguh kami telah merelakan kalian wahai penduduk dunia dengan ucapan kalian bagi kami semoga Alloh merahmati fulan yang telah wafat”.
Syaikh imamalimul millah wa din az-Zandusty berkata, aku mendengar Abu Manshur al Madzkur berkata “Allah memberikan hari sabtu untuk Musa dan untuk 50 Nabi serta Rasul bersamanya, Allah memberikan hari Ahad untuk Isa dan untuk 50 Nabi serta Rasul bersamanya, Allah memberikan hari senin untuk Muhammad dan untuk 63 Nabi serta Rasul bersamanya, karena para Nabi ada 124.000 dan para Rasul diantara mereka ada 313, maka yang paling utama adalah Muhammad ditambahkan bersamanya 13 Nabi dan Rasul, Allah memberikan hari selasa untuk Sulaiman dan untuk 50 Nabi serta Rasul bersamanya, Allah memberikan hari rabu untuk Yaqub dan untuk 50 Nabi serta Rasul bersamanya, Allah memberikan hari kamis untuk Adam dan untuk 50 Nabi serta Rasul bersamanya, sholawat Allah untuk mereka semua, maka tersisalah hari jum’at untuk Allah Taala, Nabi SAW bersabda “Wahai Tuhan, apa bagian untuk ummatku dari-Mu ?”, Allah berfirman “Wahai Muhammad, hari jum’at dan surga adalah milik-Ku, dan Aku telah memberikan jum’at dan surga untuk umatmu, serta keridhoan-Ku bersama jum’at dan surga sebagai hadiah untuk mereka”.
ﺍﻟﺤﺪﻳﺚ ﺍﻟﺘﺎﺳﻊ : ﺍﻟﺤﺚ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﺨﻮﻑ ﻣﻦ ﺍﻟله HADITS KE-9 : ANJURAN TAKUT KEPADA ALLAH
Dari Mu’adz bin Jabal ra. ia berkata, Rasulullah SAW. bersabda : Allah SWT. berfirman, “Hai anak Adam, malulah engkau jika durhaka kepada-Ku, niscaya Aku pun akan malu kepadamu pada hari kiamat nanti, sehingga Aku tidak akan menyiksamu.”
ﻳﺎ ﺍﺑﻦ ﺁﺩﻡ ﺗﺐ ﺇﻟﻲ ﺃﻛﺮﻣﻚ ﻛﺮﺍﻣﺔ ﺍﻷﻧﺒﻴﺎﺀ،
“Hai anak Adam, bertobatlah kepada-Ku niscaya Ku-muliakan engkau dengan kemuliaan para Nabi.”
“Hai anak Adam, andaikata engkau bertemu dengan-Ku pada hari kiam’at, sedangkan engkau memiliki kebaikan-kebaikan sebanyak penghuni bumi, tidak Kuterima amal-amalmu sampai engkau membenarkan janji dan ancaman-Ku.”
“Hai anak Adam, Aku Maha Pemberi rezeki dan kaulah yang diberi rezeki. Engkau mengetahui bahwa Aku mencukupi rezekimu, jangan kau tinggalkan ketaatan kepada-Ku dengan sebab rezeki. Jika kau tinggalkan ketaatan kepada-Ku dengan sebab rezekimu, maka kuwajibkan hukuman-Ku atas dirimu.”
Kabar dengan menyempurnakannya, (Sebuah kisah), Wahai saudara-saudaraku, janganlah kalian bersedih atas rizki, dan janganlah rizki kalian mencegah untuk taat, sebab Allah Ta’ala berfirman: “Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya” (Hud:6),
Sebagaimana telah datang sebuah kabar bahwa sesungguhnya Allah Ta’ala menciptakan seekor burung hijau di udara, dan Allah membuat ujung runcing ( tombak) di atas punggungnya dan ujung runcing di bawah perutnya, lalu Allah menciptakan ikan Paus di laut, dia (paus) makan ikan dan daging ikan tersebut masuk diantara gigi-giginya, daging ikan tersebut melukai dan menyakitinya, kemudian ikan paus mengeluarkan kepalanya dari air dan membuka mulutnya, lantas datanglah burung hijau tersebut, dia masuk ke mulut ikan paus dan memakan yang ada diantara gigi-giginya (daging ikan).
dua tombak tersebut seperti dua tiang di mulut ikan paus, sehingga dia (Ikan paus) tidak bisa mengunyah dan memakannya (burung), maka ketika telah habis daging diantara gigi-giginya, burung tersebut terbang ke udara, Allah telah membuat rizkinya ada diantara gigi-gigi ikan paus, dan kembalilah ikan paus ke tempatnya, dia istirahat sebab hal tersebut, masing-masing dari keduanya menjadi sebab bagi yang lain, Allah tidak meninggalkan burung tanpa rizki maka bagaimana Allah meninggalkan manusia tanpa rizki.
Dan diceritakan, bahwa Ibrahim bin Adham rahimahullah, yang menjadi sebab taubatnya, pada suatu hari keluar menuju tanah lapang, berhenti di suatu tempat dan membeber kain untuk makan di atasnya. Tatkala ia sedangan melakukan hal itu, datanglah seekor burung gagak dengan paruhnya mengambil sepotong roti dari alas makanan, lalu terbang ke udara.
Ia naik ke gunung untuk mencari burung itu, dilihatnya dari jauh. Ketika Ibrahim mendekat, terbanglah burung itu. Di tempat itu pula, Ibrahim melihat seorang laki-laki dalam keadaan terikat tali sambil berbaring.
Saati Ibrahim melihat orang itu, turunlah ia dari kuda dan melepaskan ikatan serta menanyakan keadaannya. Orang itu berkata, “Aku adalah pedagang. Datang perampok dan mengambil harta benda, dia mengikatku, serta meletakkanku di tempat ini.
Selama tujuh hari aku berada di sini, setiap hari datang seekor burung gagak sambil membawa roti duduk di atas dadaku terus mematahkan roti itu dengan paruhnya dan meletakkan dalam mulutku. Allah tidak membiarkanku kelaparan dalam beberapa hari.” Kemudian dengan mengendarai kuda, Ibrahim mengantarkan orang itu ke tempat tinggalnya.
Bertobatlah Ibrahim bin Ad-ham kepada Allah SWT. Ia tinggalkan pakaian yang mewah berganti kaum dan membebaskan hamba sahaya serta mewaqafkan rumah dan harta bendanya.
Dengan membawa tongkat, ia berjalan menuju Makah tanpa bekal kendaraan, bertakwalah kepada Allah. Dia Tidak susah oleh keadaan bekal dan tidak kelaparan hingga ia tiba di Kabah, bersyukur dan memuji kepada Allah SWT. Allah berfirman : ومن يتوكل على الله فهو حسبه “Barangsiapa bertawakal kepada Allah, maka Dia akan mencukupinya.” (QS. Ath-Thalaq : 3).
ﺍﻟﺤﺪﻳﺚ ﺍﻟﻌﺎﺷﺮ :ﺍﻟﺤﺚ ﻋﻠﻰ ﻃﻠﺐ ﺍﻟﺠﻨﺔ ﻭﺍﻟﻬﺮﺏ ﻣﻦ ﺍﻟﻨﺎﺭ HADITS KE-10 : ANJURAN MENCARI SURGA DAN MENJAUHI NERAKA
ﻋﻦ ﻛﻠﻴﺐ ﺑﻦ ﺣﺎﺯﻡ ﺭﺿﻲ ﷲ ﺗﻌﺎﻟﻰ ﻋﻨﻪ ﻗﺎﻝ، ﺳﻤﻌﺖ ﺭﺳﻮﻝ ﷲ ﺻﻠﻰ ﷲ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻳﻘﻮﻝ ﻳﺎﻗﻮﻡ أطلبواالجنة بجُهدِكم وأهربُوا من النار بجهدكم فإن الجنة لاينام طالبها وإن النار لاينام هاربوها وإن الجنة مَحْفُوقَةٌ بالمَكاره وإن النار محفوقة باللذات والشهوات فلاتُلْهِيَنّكم عن الآخرة
Dari Kulaib bin Hazim ra. ia berkata, Aku mendengar Rasulullah SAW. bersabda :“Hai orang- orang, Carilah ( capailah ) surga dengan jerih payahmu dan jauhilah neraka dengan jerih payahmu, karena tidaklah tidur siapa ( orang) yang menuntut surga dan tidaklah tidur siapa ( orang ) yang menjauhi neraka. Sesungguhnya surga itu dikelilingi oleh hal-hal yang tidak menyenangkan ( larangan-larangan ) dan neraka itu dikelilingi oleh kelezatan dan syahwat. Janganlah kalian dilalaikan dari menuntut akhirat ( surga ).
ﻭﺟﺎﺀ ﻓﻲ ﺣﺪﻳﺚ ﺁﺧﺮ ﻋﻦ ﺃﺑﻲ ﺳﻌﻴﺪ ﺍﻟﺨﺪﺭﻱ ﺭﺿﻲ ﷲ ﺗﻌﺎﻟﻰ ﻋﻨﻪ ﻋﻦ النبي صلى الله عليه وسلم أنه قال يمادى مناد إذا دخل أهل الجنة آنَ لكم تحيوا ولاتموتوا أبدا وآن لكم تصحّواولاتسقَمُوا أبدا وآن لكم أن تَشِبّوا ولاتهرموا أبدا وآن لكم أن تَنْعَمُوا ولاتَبْأسُوا أبدا
Dandatang dari hadits yang lain Dari Abiy Sa ’id Al- Khadriy RA Dari Nabi Muhammad SAW, dia bersabda: “Juru panggil berseru ketika penghuni surga masuk surga, “Sudah tiba waktunya kalian hidup terus tidak bisa mati, tiba waktunya kalian sehat serta tidak bisa sakit selamanya, tiba waktunya kalian menjadi muda serta tidak bisa tua selamanya, dan tiba waktunya kalian bersenang- senang serta tidak bisa sengsara selamanya.”
ونُودوا أن تلْكُمُ الجنّة أو رِثْتُمُواها بما كنتم تعلمون ﴿٣٤ ﴾
“Dan diserukan kepada mereka, “Itulah surga yang diberikan kepada kalian sebagai balasan perbuatan yang kalian lakukan.” (QS. Al-A’raaf : 43)
ﻭﻋﻦ ﺃﺑﻲ ﻫﺮﻳﺮﺓ ﺭﺿﻲ ﷲ ﺗﻌﺎﻟﻰ ﻋﻨﻪ ﻗﺎﻝ، ﻗﺎﻝ ﺭﺳﻮﻝ ﷲ ﺻﻠﻰ ﷲ ﻋﻠﻴﻪ وسلم قال الله تعالى أعتدتُ لعبادى الصالحين فى الجنة مالا عين رأت ولا أذنٌ سمعت ولاخطر على قلب بشر
Dari Abi Hurairah ra. ia berkata, Rasulullah SAW. bersabda :”Allah SWT. berfirman, “Di surga Kusediakan bagi hamba-hamba-Ku yang saleh segala yang belum pernah dilihat oleh mata, belum pernah didengar oleh telinga, dan tidak pernah terlintas pada hati manusia.” Allah SWT. berfirman :
لاتعلم نفسٌ ماأخفي لهم من قرة أعين جزآء بماكانوا يعملون( ١٧)
“Tidaklah manusia mengetahui apa yang dirahasiakan bagi mereka berupa kegembiraan sebagai balasan bagi apa yang mereka lakukan.”(QS.As-Sajdah:17)
Dari Abu Hurairah RA berkata, Rasululloh SAW bersabda “Allah berfirman, “Aku siapkan bagi hamba-hamba-Ku yang sholih di surga sesuatu yang tidak pernah dilihat, sesuatu yang tidak pernah didengar dan tidak terlintas di hati manusia, bacalah semau kalian firman-Nya “Dan naungan yang terbentang luas. Dan air yang tercurah. Dan buah-buahan yang banyak. Yang tidak berhenti ( berbuah ) dan tidak terlarang mengambilnya. Dan kasur-kasur yang teballagi empuk. Sesungguhnya Kami menciptakan mereka ( bidadari-bidadari ) dengan langsung” (Al-Waqiah : 30-35).
Diriwayatkan dari Mughirah bin Syu’ban, bahwa Nabi SAW. bersabda, “Musa berkata kepada Tuhannya, “Wahai Tuhanku, beritahulah aku tentang surga, berapa bagian yang diperolehnya dari surga?” Allah SWT. menjawab, “Hai Musa, tidaklah tinggal di neraka seorang muslim melainkan satu orang yang Ku-keluarkan dengan rahmat-Ku lalu ia berdiri di pintu surga dan Kukatakan, “Masuklah ke dalam surga.” Orang itu berkata, “Bagaimana kau bisa masuk surga sedangkan orang-orang telah menempati kedudukan-kedudukan dan mendapatkan derajat mereka sehingga aku tidak mendapatkan seseuatu apapun dan tidak mendapatkan tempat?” Aku bertanya, “Hai hamba-Ku, apakah kau rela mendapat tempat di surga sebesar kerajaan dari dua raja di dunia?” Orang itu menjawab, “Aku rela.” Kukatakan kepadanya, “Masuklah ke dalam surga dan engkau akan mendapat beberapa kali lipat dari itu.” Allah memberinya sebesar kerajaan dari empat raja didunia. Sifat surga terlalu banyak untuk bisadihitung, namun harus pula diceritakan tentang neraka.
Berkata Anas bin Malik, “Ketika turun ayat, {إن جهنم لموعدهم أجمعين { ٣٤ “Sesungguhnya neraka adalah tempat yang dijanjikan bagi mereka semua.” (QS. Al-Hijr : 43) Rasulullah SAW. menangis dan menangis pula sahabat-sahabaynya lantaran tangis itu. Mereka tidak tahu apa yang dibawa oleh Jibril serta tidak seorang pun yang mampu bertanya kepada beliau. Nabi SAW. apabila melihat Fatimah gembira, beliau pun merasa gembira. Maka pergilah Abdurrahmah bin Auf untuk menemui Fatimah di rumahnya seraya berkata, “ Assalamualaikum, wahai putri Rasulullah. Kurma di duna belas tempat.” Fatimah menjawab,“Waalaikumsalam.”Fatimah bertanya, “Siapakah engkau?” Andurrahman menjawab , “Abdurrahman bin Auf.” Fatimah bertanya, “Hai putra Auf, ada apa kau datang?” Abdurrahman menjawab, “Kutinggalkan Nabi SAW. sedang menganis dalam keadaan sedih dan aku tidak tahu apa yang dibawa oleh Jibril. Fatimah berkata, “Pergilah engkau , sebentar lagi akan menjumpai Nabi SAW. Barangkali memberitahu aku tentang apa yang dibawa Jibri,” Fatimah memakai baju using yang ditambal dengan pelepah daun kurma di dua belas tempat. Tatkala Umar melihat kedatangan Fatimah, ia memegang kepada seraya berkata, “Sungguh kasihan putri Rasulullah SAW. memakai baju katun yang sudah usiang serta bertambal daun kurma di dunia belas tempat.”Tatkala Fatimah menemui Rasulullah SAW beliau bertanya, “Ya Rasulullah SAW., tidaklah engkau lihat bahwa Umar merasa heran melihat pakaianku? Demi Allah telah mengutusmu dengan kemuliaan, aku dan Ali tidak mempunyai tempat tidur sejak lima tahun kecuali kulit kibas, yang di waktu siang untuk alas makanan unta kami, sedang diwaktu malam kami hamparkan, sementara bantal kami, terbuat dari kulit masak yang di dalamnya berisi daun kurma.“Apakah yang telah membuat Baginda menangis?” Nabi SAW. menjawab, “Bagaimana aku tidak menangis sedang Jibril telah datang membawa ayat ini.” (lihat ayat tersebut di atas).
Diceritakan dari Mansur bin Amar, ia berkata, “Aku berjalan di salah satu jalan di Kufah pada suatu malam yang gelap, untuk suatu keperluan. Di tengah malam, dari sebut rumah tiba-tiba kudengar suara : “ Tuhanku demi kegagahan dan keagungan- Mu aku tidak ingin menentang-Mu dengan maksiatku. Bukanlah akutidak mengenal-Mu ketika berbuat maksiat melainkan dosa yang menimpaku, takbir-Mu yang menutupiku dan kesengsaraan membuatku melakukan maksiat dengan kebodohanku.” Sekarang aku mengharap dari keutamaan-Mu agar menerima alasanku. Jika Engkau tidak memaafkan dan tidak kasihan padaku, alangkah lamanya kesedihanku dalam siksaa-Mu.”Saat ia terdiam dibacakan satu ayat dari Kitab Allah :
ياأيهاالذين أمنوا قوأنفسكم وأهليكم نارا وقودها الناس والحجارة عليها ملائكة غلاظ شداد لايعصون الله ماأمرهم ويزعلون مايؤمرون {٦}
“Hai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya berasal dari manusiadan batu, yang mengurusinya dalah malaikat-malaikat yang bengsi dan kertas tidak mendurhaka kepada Allah atas apa yang diperintahkan kepada mereka kerjakan apa yang diperintahkan kepada mereka.” (QS. At Tahrim : 6) Kudengar teriakan keras, keributan, serta gerakan. Kemudian tenanglah gerakan itu, sesudahnya tidak kudengar sesuatu apa pun. Usai menyelesaikan keperluan, aku kembali ke tempatku.Ketika tiba waktu pagi, aku kembali ke tempat tersebut, kudengar suara tangis dan kulihat orang-orang pada bertakziyah. Ternyata, seorang perempuan tua ibu si mayit sedang manangis, dan berkata, “Semoga Allah tidak memberi kebaikan kepada pembunuh anakku, dengan membaca ayat yang menyebutkan siksaan ketika sedang salat.” Mendengar ayat itu, berpengaruh pada hatina ia pun jatuh dan mati. Berkata Mansur bin Amar, “Pada malam it kulihat orang tersebut dalam mimpi dan kukatakan padanya, “Apakah yang dilakukan Allah terhadapmu?” Orang itu menjawab, “Allah memperlakukan aku sebagai syuhada.” Aku bertanya, “Bagaimana bisa terjadi demikian?” Orang itu menjawab, “Mereka terbunuh dengan pedang yang kafir, sedangkan aku terbunuh dengan pedang Allah Yang Maha Pengampun.”
ﺍﻟﺤﺪﻳﺚ ﺍﻟﺤﺎﺩﻱ ﻋﺸﺮ : ﺍﻟﺤﺚ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﺰﻫﺪ ﻓﻲ ﺍﻟﺪﻧﻴﺎ HADITS KE-11 ANJURAN ZUHUD TERHADAP DUNIA
Dari Ja’far bin Muhammad dari ayahnya dari kakeknya berkata, Ali telah mengabarkan kepadaku, ia berkata, Ali telah datang ke rumahnya dari sisi Nabi SAW, sehingga ia masuk kepada Fatimah binti Rasulillah SAW, Ali melihatnya sedang duduk, dan Salman Al-Farisi bersamanya, ia memberikan kepada Fatimah sebuah wol, Fatimah menenun wol tersebut
Lalu Ali berkata kepada Fatimah : Wahai wanita yang mulia, apakah engkau memiliki sesuatu untuk suamimu makan? Fatimah berkata : Demi Allah, aku tidak memiliki sesuatu apapun, tetapi ini 6 dirham yang Salman berikan kepadaku karena aku telah menenun kain wol, aku ingin membeli makanan untuk Hasan dan Husein ra
Lalu Ali berkata kepada Fatimah : Wahai wanita yang mulia, berikanlah kepadaku, lalu Fatimah meletakkan 6 dirham tersebut di tangan Ali, lalu Ali keluar untuk membelikannya makanan.
Ketika itu, ada seorang laki-laki berdiri dan berkata : Siapakah yang hendak menghutangi Allah sebagai penolong dan yang mencukupi? Lalu Ali mendekat dan memberikannya 6 dirham. Lalu Ali masuk ke rumah Fatimah dengan tangan kosong. Ketika Fatimah ra melihat kedua tangannya yang kosong, ia pun menangis.
Maka Ali berkata kepada Fatimah : Wahai wanita yang mulia, apa yang membuatmu menangis? Lalu Fatimah berkata : Wahai anak paman Rasulillah, tidak apa-apa, aku hanya melihatmu dalam keadaan tangan yang kosong. Ali berkata kepadanya : Wahai wanita yang mulia, aku telah menghutangi 6 dirham kepada Allah SWT. Fatimah berkata : Sungguh engkau telah diberi taufiq
Lantas Ali keluar hendak menemui Nabi SAW, ketika itu ia bertemu dengan seorang Arab Baduy dengan seekor unta yang ditungganginya, lalu ia mendekati Ali dan berkata : Wahai Abal Hasan, belilah unta ini dariku. Ali berkata : Aku tidak punya apa-apa. Arab Baduy tersebut berkata : Aku menjualnya kepadamu dengan tempo waktu. Ali berkata : Berapa harganya? Ia menjawab : 100 dirham. Ali berkata : Baiklah, aku beli
Kemudian Ali bertemu dengan Arab Baduy yang lainnya, ia mendatangi Ali dan berkata : Wahai Abal Hasan, apakah engkau menjual unta ini? Ali berkata : Iya. Arab Baduy tersebut berkata : Berapa harganya? Ali menjawab : 300 dirham. Lalu ia berkata : Baik aku membelinya. Lalu Arab Baduy tersebut membayar tunai kepada Ali sebesar 300 dirham, kemudian ia mengambil tali unta tersebut dan membawanya
Lalu Ali datang ke rumah Fatimah ra, ketika Fatimah melihat Ali, ia tersenyum lalu berkata : Apa ini wahai Abal Hasan? Ali menjawab : Wahai anak Rasulullah, aku telah membeli unta dengan tempo waktu sebesar 100 dirham, dan aku menjualnya sebesar 300 dirham dengan tunai. Fatimah berkata : Sungguh, engkau telah diberi taufiq
Kemudian Ali Karramallahu wajhahu keluar dari sisi Fatimah hendak menemui Nabi SAW. Ketika Ali masuk pintu masjid, ia melihat Nabi SAW, beliau tersenyum
Ketika Ali datang dan mengucapkan salam kepada Nabi SAW, beliau berkata : Wahai Abal Hasan, apakah engaku yang memberi kabar kepadaku ataukah aku yang memberi kabar kepadamu? Ali berkata : Engkau saja wahai Rasulullah. Maka Nabi berkata : Wahai Abal Hasan, apakah engkau tahu dengan Arab Baduy yang menjual untanya kepadamu, dan Arab Baduy yang membeli unta darimu?
Ali menjawab : Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui. Nabi SAW berkata : Sungguh beruntung engkau, beruntung, dan beruntung wahai Ali, engkau memberikan hutang karena Allah SWT sebanyak 6 dirham, maka Allah memberikanmu 300 dirham sebagai pengganti setiap dirham sebesar 50 dirham, Arab Baduy yang pertama adalah malaikat Jibril as dan yang kedua adalah malaikat Israfil as, dalam riwayat lain Arab Baduy yang pertama adalah malaikat Jibril as dan yang kedua adalah malaikat Mikail as.
Hadits lain yang didengar dari Ali bahwasanya ia berkata, Rasulullah SAW bersabda : Sedekah itu ketika keluar dari tangan orang yang bersedekah, maka engkau telah menjatuhkan di tangan Allah sebelum engkau masuk ke tangan orang yang meminta
Sedekah tersebut berkata dengan 5 kalimat : Yang pertama, aku adalah kecil lalu engkau besarkan aku, aku adalah sedikit lalu engkau banyakkan aku, aku adalah musuh lalu engkau mencintai aku, aku adalah musnah lalu engkau kekalkan aku, dan aku adalah penjaga diriku, kini aku telah menjadi penjagamu.
Dan diriwayatkan dari Makhul Asy-Syami ra berkata, ketika seorang mukmin bersedekah maka Allah ridha kepadanya, lalu neraka Jahannam menyeru : Wahai Tuhanku, izinkanlah aku bersujud sebagai ungkapan terima kasih kepada-Mu, sungguh Engkau telah memerdekakan seseorang dari Ummat Muhammad SAW dari adzabku, karena aku malu kepada Muhammad SAW untuk mengadzab seseorang dari ummatnya, dan aku harus taat kepada-Mu
" Lalu turunlah ayat ini tentang keutamaan sedekah : “Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat tersebut engkau membersihkan dan mensucikan mereka dan mendoalah untuk mereka, sesungguhnya doamu itu menjadi ketentraman jiwa bagi mereka, dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui” (At-Taubah : 103)
Yaitu doamu dan permintaan ampunmu menjadi ketentraman jiwa bagi mereka, sesungguhnya Allah SWT telah menerima mereka. Allah SWT berfirman : Tidakkah mereka mengetahui, bahwa Allah menerima taubat para hamba-Nya dan menerima zakatnya” (At-Taubah : 104) sebagaimana Rasulullah SAW telah mengambilnya dari mereka
" Dan diriwayatkan dari Abdullah bin Umar ra ketika turunnya ayat : “Maka barangsiapa yang mengerjakan suatu kebaikan seberat dzarrah, maka ia akan melihat balasannya” (Al-Zalzalah : 7), Aku (Nabi SAW) berkata : Wahai Tuhanku, ini sedikit dalam hak ummatku. Allah ‘Azza wa Jalla berkata jika engkau merasa sedikit, maka satu kebaikan ini menjadi dua kebaikan. Firman Allah SWT : “Mereka itu diberi pahala dua kali disebabkan kesabaran mereka” (Al-Qashash : 54)
Aku berkata : Wahai Tuhanku, ini sedikit dalam hak ummatku. Allah berkata, maka satu kebaikan menjadi 10 kebaikan. Firman Allah SWT : “ Barangsiapa yang membawa amal baik, maka baginya pahala 10 kali lipat pahalanya” (Al-An’am : 160)
Aku berkata : Wahai Tuhanku, ini juga sedikit dalam hak ummatku. Allah berkata, maka satu kebaikan menjadi 700. Firman Allah SWT : “Perumpamaan nafkah yang dikeluarkan oleh orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir yang di setiap bulir seratus biji, Allah melipat gandakan pahala bagi siapa saja yang Dia kehendaki, dan Allah Maha Luas lagi Maha Mengetahui” (Al-Baqarah : 261)
" Rasulullah SAW berkata : Wahai Tuhanku, tambahkanlah untuk ummatku. Maka turunlah ayat : “Siapakah yang mau memberikan pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik ( menafkahkan hartanya di jalan Allah ), maka Allah akan melipat gandakan pembayaran kepadanya dengan lipat ganda yang banyak” ( Al-Baqarah : 245 )
Rasulullah SAW berkata : Wahai Tuhanku, tambahkanlah untuk ummatku. Maka turunlah ayat : “Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas” ( Az-Zumar : 10 ). Sungguh terdapat dalam hadits : “Siapa saja yang bersedekah dengan sebuah kurma, maka ia akan mendapatkan pahalanya pada hari kiamat di mizan seperti sebuah gunung”
Ketahuilah bahwa di dalam sedekah itu terdapat 7 perkara. Yang pertama, bahwasanya sedekah itu melepaskan ikatanmu. Nabi SAW bersabda : “Sesungguhnya sedekah itu menolah 70 pintu bala”
Yang kelima, bahwasanya sedekah itu membuat persaudaraan menjadi lebih harmonis. Nabi SAW bersabda : “Sedekah itu adalah hadiah, maka hendaklah kalian saling memberi hadiah sehingga kalian saling mencintai”
Diceritakan dari Aisyah ra bahwasanya ada seorang wanita datang kepada Nabi SAW, tangan kanannya kaku, lalu ia berkata : Wahai Rasulullah, doakanlah kepada Allah sehingga tanganku menjadi baik dan kembali seperti keadaan semula.
Lalu Nabi SAW berkata kepadanya : “Apa yang menyebabkan tanganmu menjadi kaku?” Ia menjawab : Aku melihat di dalam mimpiku seakan- akan hari kiamat telah terjadi, dan neraka Jahim telah dinyalakan, surga telah didekatkan, dan neraka menjadi banyak lembah, lalu aku melihat ibuku di suatu lembah neraka Jahannam yang di tangannya ada sebongkah lemak daging (gajih) dan di tangannya yang lain terdapat sobekan kain yang kecil, ia berlindung dengannya dari api neraka
Aku berkata : Apa yang menyebabkan aku melihatmu wahai ibu di lembah neraka ini, padahal engkau adalah orang yang taat kepada Tuhanmu dan suamimu juga telah ridha kepadamu. Ibunya menjawab kepadaku : Wahai anakku , sesungguhnya dahulu aku adalah orang yang kikir di dunia, maka inilah tempat orang yang kikir. Aku berkata kepadanya : Lalu apa gajih dan sobekan kain ini yang aku lihat di tanganmu
Ibunya berkata : Ini adalah sedekah yang dahulu aku pernah sedekahkan di dunia, dan aku tidak pernah bersedekah lagi sepanjang hidupku kecuali dengan kain dan gajih ini, lalu aku berlindung dengan kedua ini dari api neraka dan adzab atas diriku
Aku berkata kepadanya : Dimana ayahku? Ia menjawab : Dia adalah orang yang dermawan, dan dia berada di tempat orang-orang yang dermawan di surga. Lalu aku datang ke surga. Ketika itu, ayahku berdiri di pinggir telagamu Wahai Rasulullah, ia memberi minum orang-orang yang dia ambil gelas tersebut dari Ali, Ali dari Utsman, Utsman dari Umar, Umar dari Abu Bakar, dan Abu Bakar darimu Wahai Rasulullah
Lalu aku berkata : Wahai ayahku, sesungguhnya ibuku adalah isterimu yang taat kepada Tuhannya, dan engkau telah ridha kepadanya, dan ia berada di lembah itu di dalam neraka Jahannam, sedangkan engkau memberi orang-orang minum dari telaga Nabi SAW, dia sangat haus, maka berikanlah ia seteguk air.
Lalu ia berkata : Wahai anakku, sesungguhnya ibumu berada di tempat orang-orang yang kikir, bermaksiat, dan berdosa. Sesungguhnya Allah SWT mengharamkan air dari telaga Nabi SAW ini atas orang-orang yang kikir, bermaksiat, dan berdosa.
Ia berkata : Laluaku mengambil segelas air dengan telapak tangan untuk ia minum, lalu aku memberi ibuku minum. Ketika ia minum, aku mendengar suara yang berkata : “Semoga Allah SWT menjadikan kaku tanganmu, engkau datang dan memberi minum orang yang bermaksiat dan kikir dari telaga Nabi SAW, lalu aku sadar bahwa tanganku telah kaku
Lalu Nabi SAW berkata kepadanya : Kekikiran ibumu telah menyiksamu di dunia, lalu bagaimana kelak di akhirat? Kemudian Aisyah ra berkata, bahwasanya Nabi SAW meletakkan tongkatnya di tangan wanita tersebut, lalu beliau berkata : Wahai Tuhanku, atas mimpi yang telah ia ceritakan, maka sembuhkanlah tangannya. Lalu sembuhlah tangannya pada saat itu juga dan kembali seperti semula.
ﺍﻟﺤﺪﻳﺚ ﺍﻟﺜﺎﻧﻲ ﻋﺸﺮ : ﺍﻟﺤﺚ ﻋﻠﻰ ﻧﻘﺎﺀ ﺍﻟﺼﺪﻭﺭ ﻣﻦ ﺍﻟﻐﻞ HADITS KE-12: ANJURAN MENSUCIKAN HATI DARI SIFAT DENDAM
Dari Ikrimah ra berkata, Ibnu Abbas ra ditanya tentang firman Allah SWT : “dan Kami lenyapkan segala rasa dendam yang ada di dalam hati mereka” (al-Hijr : 47). Nabi SAW bersabda : Ketika hari kiamat maka didatangkanlah sebuah ranjang dari Yaqut berwarna merah yang panjangnya 20 mil, yang tidak ada padanya retakan, dan tidak ada penghubung / sambungan karena kekuasaan Allah yang Maha Jabbar dan Maha Agung, lalu Abu Bakar as-Shiddiq ra duduk di atasnya
Kemudian didatangkan sebuah ranjang dari Yaqut berwarna kuning yang sifatnya seperti ranjang pertama tadi, lalu Umar bin Khattab ra duduk di atasnya. Kemudian didatangkan sebuah ranjang dari Yaqut berwarna hijau seperti sifat yang pertama, lalu Utsman bin Affan ra duduk di atasnya. Kemudian didatangkan ranjang berwarna putih seperti sifat pertama, lalu Ali bin Abi Thalib duduk di atasnya
Kemudian Allah SWT memerintahkan ranjang- ranjang tersebut untuk terbang di udara, lalu ia terbang ke bawah ‘Arsy Allah, lalu datang kepadanya sebuah kemah dari permata yang indah, seandainya penghuni tujuh lapis langit dan bumi dan seluruh makhluk Allah SWT dikumpulkan di dalamnya maka seluruhnya hanya hanya terdapat di sebuah sudut kemah tersebut.
Kemudian diberikan kepadanya 4 gelas, satu gelas untuk Abu Bakar, satu gelas untuk Umar, satu gelas untuk Utsman, dan satu gelas untuk Ali ra, lalu mereka memberikan minum untuk manusia. Demikianlah firman Allah SWT : “Dan Kami lenyapkan segala rasa dendam yang ada di dalam hati mereka, mereka merasa bersaudara, dan duduk berhadap-hadapan diatas ranjang”
Kemudian Allah SWT memerintahkan neraka Jahannam untuk mengeluarkan ombaknya, dan dicampakkan kepada kaum yang menolak syari’at dan kaum Kafir pada wajah mereka, lalu Allah membuka mata mereka pada waktu itu, lalu mereka melihat kedudukan para sahabat Nabi Muhammad SAW dan umatnya di surga, maka mereka berkata : Mereka adalah orang yang bahagia, dan kami adalah orang yang celaka, kemudian mereka dikembalikan ke neraka Jahannam. Kemudian Nabi SAW bersabda : Tidak akan tersisa didalam neraka orang yang di dalam hatinya terdapat sebiji keimanan, melainkan ia akan dikeluarkan dari neraka karena syafa’atku.
" As-Syaikhal-Imam ‘Alauddin az-Zandustiy berkata: Di dalam Raudhah al-Ulama berkata, aku mendengar al-Faqih az-Zahid Sa’ad bin Muhammad al- Astarusyani meriwayatkan dari al-Kalbi dari Abi Shalih dari Ibnu Abbas ra pada firman Allah SWT : “Orang kafir itu kadang-kadang (nanti di akhirat) menginginkan, sekiranya mereka dahulu (di dunia) menjadi orang Muslim” (al-Hijr : 2)
Dan diriwayatkan dari Abu Musa al-Asy’ari ra dari Nabi SAW bersabda : Apabila ahli neraka berkumpul di dalam neraka dan bersama mereka orang yang atas kehendak Allah dari ahli kiblat (muslim), orang-orang Kafir berkata : Mengapa di dalam neraka ada orang ahli kiblat, bukankah engkau seorang muslim? Mereka (muslim) menjawab : Iya. Mereka (kafir) berkata : apakah Islam kalian tidak menolongmu sehingga kalian bersama kami di neraka. Lalu mereka (muslim) berkata : Kami memiliki dosa maka kami dihukum karena dosa tersebut, lalu Allah SWT murka kepada mereka (kafir), dan karena karunia dan rahmat-Nya maka Allah mengampuni mereka (muslim) dan memerintahkan seluruh ahli kiblat yang terdapat di dalam neraka untuk keluar, maka pada saat itu orang-orang kafir berangan-angan seandainya mereka dahulu (di dunia) menjadi orang muslim.
Ibnu Abbas ra berkata, sekelompok dari umat ini dikumpulkan di atas Sirath, pada saat itu orang yang pertama masuk surga selain para Nabi adalah umat ini dan yang paling akhir orang yang masuk surga juga dari umat ini yang sebelumnya telah masuk neraka. Nabi SAW memandang pada hari kiamat dan beliau mengenali umatnya karena mereka terang bercahaya dari bekas air wudhunya, maka Nabi mengenali mereka. Lalu Nabi SAW berkata : Wahai Jibril, bagaimana keadaan umatku yang tertahan di atas Sirath, maka Allah SWT berkata singkirkanlah mereka jurang-jurang kiamat sehingga Nabi Muhammad SAW masuk ke dalam surga, ketika Rasulullah melihat kepada kiamat, beliau mengira bahwa umatnya telah digiring semuanya ke dalam surga.
Ketika Rasulullah telah masuk ke dalam surga, maka Allah SWT berkata kepada malaikat Zabaniyah : Giringlah mereka dan selamatkanlah mereka dari malaikat Malik, ketika malaikat Malik melihat mereka, maka malaikat Malik berkata : Wahai orang-orangyang celaka, siapa kalian? Dari umat siapa kalian? Aku mengira bahwa tidak ada seorang pun yang tersisa di dalam neraka, dan setiap umat akan datang dan mereka diikat, terbelenggu dengan rantai, dan bergandengan dengan syetan, mereka diseret atas wajah mereka, wajahnya hitam, matanya membiru, maka aku tidak melihat pada kaki kalian ada rantai, di tangan kalian ada belenggu, wajah kalian hitam, mata kalian membiru, kalian berjalan dengan kaki, dari umat siapa kalian? Mereka menjawab : Jangan tanyakan kami wahai malaikat Malik, karena kami malu untuk mengabarkan kepadamu, kami ini adalah orang- orangyang menghapalkan Alquran, kami berpuasa di bulan Ramadhan, kami haji dan perang, kami menunaikan zakat, kami memuliakan anak yatim, kami mandi janabah, kami shalat 5 waktu, maka malaikat Malik berkata : Wahai orang-orang yang celaka, apakah Alquran tidak mencegah kalian dari bermaksiat kepada Allah SWT sehingga engkau tidak terjerumus kepada perkara ini.
Mereka berkata : Wahai malaikat Malik, janganlah engkau mengejek kami, karena kami sekarang ingin selamat dari ejekan Allah SWT dan para malaikat-Nya, maka pada saat itu ada panggilan dari arah ‘arsy : Wahai malaikat Malik, masukkanlah mereka ke pintu tertinggi dari neraka, maka malaikat Malik berkata : Wahai orang-orang yang celaka, apakah kalian mendengar dan memahami perkataan tersebut? Mereka menjawab : Iya, akan tetapi wahai malaikat Malik, tangguhkanlah kepada kami sedikit waktu agar kami dapat meratapi diri kami. Maka malaikat Malik berkata : Tidak ada waktu untuk itu, maka datanglah seruan dari arah ‘arsy : Wahai malaikat Malik, tangguhkanlah mereka agar mereka dapat menangisi diri mereka dan mereka terpisah menjadi beberapa bagian, yaitu orang yang menghapalkan Alquran sendiri, orang yang haji sendiri, orang yang perang sendiri, para wanita sendiri, kemudian mereka meratapi diri mereka seraya berkata : Bagaimana kami dapat sabar atas neraka sedangkan kami tidak dapat sabar dari panasnya matahari, bagaimana kami dapat sabar atas pakaian timah sedangkan kami biasa memakai pakaian yang lembut, dan bagaimana kami dapat sabaruntuk memakan buahZaqqumdan meminum Hamim ( air panas ) sedangkan kami biasa makanan yang enak dan minuman yang dingin.
Ketika mereka sedang meratap datanglah kepada mereka seruan dari arah ‘arsy : Wahai malaikat Malik, masukkanlah mereka ke dalam pintu neraka yang paling tinggi, maka malaikat Malik berkata : Wahai orang- orang yang celaka, apakah kalian dengar dan paham perkataan tersebut? Mereka menjawab : Iya wahai malaikat Malik. Lalu malaikat Malik berkata : Kalian dari umat siapa? Mereka menjawab : Kami malu untuk menjawab, maka malaikat Malik menggiring mereka, orang yang tua di depan mereka, anak muda di belakang orang tua, dan perempuan di belakang anak muda, sehingga mereka sampai di tepi neraka Jahannam, lalu keluar malaikat yang kasar dan keras yang diciptakan tanpa hati dan tidak ada rasa kasih sayang, setiap manusia bergantung kepadanya seribu malaikat Zabaniyyah, lalumereka masuk ke dalam neraka.
Diantara mereka orang yang masuk neraka sampai kedua mata kaki, dan diantara mereka sampai lututnya, diantara mereka sampai pusatnya dan diatara mereka sampai dadanya, dan ketika neraka ingin membakar wajah dan hati mereka, maka datangnya seuran dari arah ‘arsy : Wahai malaikat Malik, jatuhkanlah api neraka dari wajah dan hati mereka, karena mereka telah lama membenarkanku dengan lisan mereka, dan mereka telah mengenaliku dengan hati mereka, dan mereka telah memperpanjang sujud kepadaku pada kehidupan di dunia dengan wajah mereka
Ketika mereka mendengar seruan, mereka mengangkat suara mereka semuanya : Wahai Muhammadku, Wahai Abu al-Qasim, Wahai Muhammad, Wahai orang yang berbuat baik kepada para janda dan anak yatim, Wahai orang yang mulia pada hari kiamat, Wahai pembuka umat, Wahai pembuka pintu surga, Wahai penutup pintu neraka dari umatmu, Wahai pemberi syafa’at kepada umat, kami adalah umatmu yang lemah, kami tidak sabar atas panasnya api neraka, tolonglah kami dengan syafa’atmu ke dalam surga
Diantara mereka ada yang meletakkan kedua tangannya pada telinga seperti seorang muadzin, lalu dia menyeru dengan suara yang keras, kami dari umat Muhammad. Maka malaikat Malik menghadap ke surga dan meletakkan mulutnya kepada Nabi Muhammad yang sedang mendapatkan kenikmatan di dalam surga. Malaikat Malik berkata : Wahai Muhammad, sesungguhnya engkau menikmati surga sedangkan umatmu yang lemah mereka meminta pertolongan kepadamu, maka tolonglah mereka karena mereka lemah, mereka tidak sabar atas siksa neraka
Ketika kabar tersebut telah selesai disampaikan kepada Nabi Muhammad SAW, maka beliau lompat dari ranjangnya dan langsung mengendarai Buraq, seraya berkata : Wahai Buraq, cepatlah, cepatlah, karena umatku yang lemah mereka tidak kuat dengan panasnya api neraka, lalu beliau mengangkat telapak tangannya dan meletakkannya di tepi neraka Jahannam. Ketika Nabi SAW mendengar suara mereka, Nabi SAW menangis, dan mereka pun juga menangis. Nabi berkata : Wahai malaikat Malik, keluarkanlah umatku dari neraka.
Malaikat Malik berkata : Wahai Muhammad, aku tidak memiliki jalan untuk mengeluarkan mereka selagi tidak ada perintah, lalu Nabi Muhammad SAW menghadap ke ‘arsy, dan turun dari Buraq, beliau tersungkur bersujud dan berkata : Wahai Allah inikah janjimu untuk tidak membakar umatku di dalam neraka. Allah SWT berkata : Wahai Muhammad, sungguh mereka telah melupakanmu, mereka telah meninggalkan syari’atmu di dunia, maka Aku pun melupakan mereka pada hari ini syafa’atmu kepada mereka, maka sekarang berikanlah syafa’at, maka Nabi Muhammad menerima syafa’at Allah dan beliau memberikan syafa’at kepada mereka semua, dan mengeluarkan mereka dari neraka dengan syafa’atnya. Sedangkan orang-orang Kafir kekal di dalam neraka. Pada saat itu mereka (orang-orang Kafir) berkata : Seandainya kami dahulu menjadi muslim, maka kami akan dikeluarkan seperti mereka dikeluarkan. Ibnu Abbas ra berkata : “Orang kafir itu kadang-kadang (nanti di akhirat) menginginkan, sekiranya mereka dahulu (didunia) menjadi orang.
الحديث الثالث عشر : النهي عن كثرة الكلام والحث على ذكر الموت
HADITS KE-13 : LARANGAN BANYAK BICARA DAN ANJURAN MENGINGAT KEMATIAN
عن أبي سعيد الخدري رضي الله عنه دخل رسول الله صلى الله عليه وسلم مصلاه فرأى أناسا يكثرون الكلام فقال أما انكم لو أكثرتم ذكرها ذم اللذات لشغلكم عما أرى فأكثر واذكرها ذم اللذات يعني الموت فإنه لم يأت على القبور يوم إلا وتتكلم بست كلمات فتقول أنا بيت الغربة وأنا بيت الوحدة وأنا بيت الوحشة وأنا بيت الظلمة وأنا بيت التراب وأنا بيت الدود فإذا دفن العبد المؤمن قال له القبر مرحبا وأهلا وسهلا أما إنك كنت لاحب من يمشي على ظهري إلي فإذا أوليتك اليوم وصرت إلي فستري صنعي بك فيوسع له القبر مد بصره ويفتح له باب الجنة وإذا دفن العبد الكافر قال له القبر لا مرحبا ولا أهلا ولاسهلا أما أنك كنت لا بغض من يمشي على ظهري إلي فإذا أوليتك اليوم وصرت إلي فستري صنعي بك فيلتئم القبر عليه حتى تختلف أضلاعه قال فأشار النبي عليه الصلاوة والسلام بأصابعه فادخل بعضها في بعض ثم قال فيقبض الله سبعين تنينا لو أن واحدا منها نفخ في الأرض ما أنبتت شيئا ما بقيت الدنيا فينهشه ويخدشه حتى يفضى به إلى الحساب قال رسول الله صلى الله تعالى عليه وسلم إنما القبر روضة من رياض الجنة أو حفرة من حفر النيران.
Dari Abu Sa’id Al Khudri ia berkata; Rasulullah Shallallahu ‘alahi wa Salam memasuki tempat shalat beliau lalu beliau melihat orang-orang, mereka banyak berbicara, beliau bersabda: “Ingatlah! Sesungguhnya bila kalian banyak-banyak mengingat pemutus segala kenikmatan niscaya kalian tidak sempat melakukan apa yang aku lihat, karena itu perbanyaklah mengingat pemutus segala kenikmatan yaitu kematian. Sesungguhnya tidaklah ada suatu hari berlalu bagi kubur melainkan ia berkata dengan enam kalimat; Aku adalah rumah keterasingan. Aku adalah rumah kesendirian. Aku adalah rumah kesedihan. Aku adalah rumah tanah. Aku adalah rumah ulat. Apaila seorang hamba mumin disemayamkan, kubur berkata kepadanya; Selamat datang, ingatlah bahwa sesungguhnya engkau adalah orang yang berjalan di atas punggungku yang paling aku sukai, karena saat ini aku diberi kuasa menanganimu dan engkau telah kembali kepadaku, engkau akan melihat apa yang akan aku lakukan kepadamu. Lalu kubur diluaskan baginya sejauh mata memandang dan dibukakan baginya pintu menuju surga. Dan apabila hamba keji atau kafir dikubur, kubur berkata padanya; Tidak ada selamat datang, ingatlah bahwa sesungguhnya engkau adalah orang yang melintas di atas punggungku yang paling aku benci, karena saat ini aku diberi kuasa menanganimu dan engkau telah kembali kepadaku, engkau akan melihat apa yang akan aku lakukan kepadamu. Lalu kubur menghimpitnya hingga tulang tulangnya melesat tidak karu-karuan”. Abu Sa’id berkata; Rasulullah memperagakan dengan memasukkan sebagian jari-jemarinya ke sebagian yang lain. kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda; “Allah menyiapkankan tujuhpuluh ular besar untuknya, seandainya satu diantaranya menghembus di bumi nicaya bumi tidak akan menumbuhkan suatu apapun selama dunia masih ada, lalu ular itu mengigit dan merobek-robeknya hingga ia di datangkan ke penghisaban”. Abu Sa’id berkata; Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda; “Sesungguhnya kubur adalah salah satu taman dari taman-taman surga atau salah satu jurang dari jurang-jurang neraka”.
{ حكي }
عن أبي بكر الاسماعيلي بإسناده عن عثمان بن عفان رضي الله تعالى عنه) انه كان إذا وصفت عنده النار لم يكن يبكي وإذا وصفت القيامة لم يكن يبكي وإذا وصف القبر كان يبكي فقيل له ما هذا يا أمير المؤمنين فقال إني إذا كنت فى النار كنت مع الناس وإذا كنت فى القيامة كنت مع الناس وإذا كنت فى القبر كنت واحدا لم يكن معي أحد فى القبر من الناس وإن مفتاح القبر مع إسرافيل عليه السلام وهو يفتحه يوم القيامة وكان يقول من كانت الدنيا سجنه كان القبر جنته ومن كانت الدنيا جنته كان القبر محبسه ومن كانت الحياة الدنيا قيده فإن الموت اطلاقه ومن ترك نصيبه فى الدنيا استوفاه فى العقبي وكان يقـول خـير النـاس من ترك الدنيا قبل أن تتركه وأرضى ربه قبل أن يلقاه وعمر قبره قبل أن يدخله.
HIKAYAT I Dari Abu Bakar Al Isma’iliy dengan sanadnya dari ‘Utsman bin ‘Affan radliyallahu ‘anhu; Apabila sampai kepada sayyidina ‘Utsman bin ‘Affan radliyallahu ‘anhu tentang shifat neraka dia tidak menangis, dan apabila sampai kepadanya tentang shifat hari kiamat dia juga tidak menangis, namun apabila sampai kepadanya tentang shifat kubur di akan menangis, lalu ditanyakan kepadanya; Apa maksudnya ini wahai Amirul Mu’minin? Dia menjawab; Sesungguhnya apabila aku berada dalam nereka, aku akan bersama dengan orang-orang dan apabila aku berada di hari kiamat, akupun akan bersama dengan orang-orang, namun apabila aku berada dalam kubur, aku akan sendirian, tidak seorangpun yang bersama denganku sementara kunci kubur ada pada malaikat Isrofil ‘alaihissalam dan dia akan membukanya kelak pada hari kiamat. Dan sayyidina ‘Utsman bin ‘Affan radliyallahu ‘anhu berkata; Barangsiapa yang menjadikan dunia sebagai penjara, maka kubur akan menjadi surga baginya. Barangsiapa yang menjadikan dunia sebagai surga, maka kubur akan menjadi penjara baginya. Barangsiapa yang menjadikan kehidupan dunia sebagai tali, maka kematian akan melepasnya. Barangsiapa yang meninggalkan bagiannya di dunia, maka ia akan menumukan bagiannya di akhirat. Dan sayyidina ‘Utsman bin ‘Affan radliyallahu ‘anhu berkata; Sebaik-baik manusia adalah orang yang meninggalkan dunia sebelum dunia meninggalkannya, ia ridla kepada Tuhannya sebelum bertemu dengan-Nya dan ia mema’murkan kuburnya sebelum memasukinya.
{ حكي عن حسن البصري }
أنه كان جالسا على باب داره إذ مرت به جنازة رجل وخلفها أناس وتحت الجنازة بنت صغيرة ساعية قد نقضت شعر رأسها وهي تبكي قال فقام الحسن وتبع الجنازة فقالت البنت ياابت لم يستقبلني يوم مثل يومي هذا في عمري قال الحسن للبنت لم يستقبل لابيك مثل هذا اليوم قال فصلى الحسن على الجنازة ورجع فلما كان من الغد وصلى الحسن بالغداوة وطلعت الشمس وجلس على باب داره اذهو رأى تلك البنت تبكي وتذهب إلى قبر أبيها زائرة له قال الحسن إن هذه البنت حكيمة أتبعها عسى أن تتكلم بكلمة تنفعني قال فتبعها الحسن فلما بلغت إلى قبر أبيها اختفى الحسن عن عينها تحت شوكه قال فعانقت البنت قبر أبيها ووضعت خدها على التراب وهي تقول يا أبت كيف بت في ظلمة القبر وحيدا بلا سراج ولا مؤنس يا أبت أسرجت لك ليلة أول أمس فمن أسرج لك البارحة يا أبت افترشت لك ليلة أول أمس فمن افترش لك البارحة يا أبت غمزت لك يديك ورجليك ليلة أول أمس فمن غمزك البارحة يا أبت سقيتك ليلة أول أمس فمن سقاك البارحة يا أبت قلبتك من جانب إلى جانب ليلة أول أمس فمن قلبك البارحة يا أبت سترت أعضاءك التي تجردت ليلة أول أمس فمن سترك البارحة يا أبت تأملت في وجهك ليلة أول أمس فمن تأمل في وجهك البارحة يا أبت ناديتنا ليلة أول امس فأحببناك فمن دعوت البارحة ومن أجابك يا أبت أطعمتك ليلة أول أمس حين اشتهيت الطعام فهل اشتهيت الطعام البارحة ومن اطعمك البارحة يا أبت كنت أطبخ لك ألوان الطعام فمن طبخ لك البارحة قال فبكى الحسن وأظهر نفسه عليها وتقربها وقال يابنية لاتقولي هذه الأشياء ولكن قولي وجهناك إلى قبلة أفبقيت كذلك أم حولت إلى غيرها يا أبت كفناك بأحسن الأكفان أفبقيت أم نزعت عنك يا أبت وضعناك فى القبر وأنت صحيح البدن أفبقيت كذلك أم أكلك الديدان وقولي يا أبت إن العلماء يقولون يسأل العبد عن الإيمان فمنهم من يجيب ومنهم من يحرم أأجبت أنت عن الإيمان أم حرمت من الجواب يا أبت إن العلماء يقولون يوسع القبر على بعضهم ويضيق على بعضهم أضاق عليك القبر أم وسع يا أبت إن العلماء يقولون يبدل بعضهم بأكفان من الجنة وبعضهم بأكفان من النار أبدلت لك من النار أم من الجنة يا أبت إن العلماء يقولون القبر روضة من رياض الجنة أوحفرة من النيران يا أبت إن العلماء يقولون القبر يعانق بعضهم كالوالدة الشفيقة ويبغض ويعصب بعضهم حتى تختلط أضلاعهم أعانقك القبر أم أبغضك يا أبت إن العلماء يقولون كل من وضع فى القبر يندم التقي إنه لم يكثر الحسنات والعاصي لم ارتكب السيئات فندمت أنت على سيئاتك أم على قلة حسناتك يا أبت كنت إذا ناديتك أجبتني وطالما أناديك على رأس قبرك فكيف لا أسمع صوتك يا أبت غبت غيبة لا تلقاني إلى يوم القيامة اللهم لاتحرمنا لقاءه يوم القيامة فقالت ياحسن ما أحسن ماتنوحت على أبي وما أحسن ما وعظتني ونبهتني عن نومة الغافلين ثم رجعت مع الحسن باكية.
HAKAYAT II Dari Hasan Al Bashri radliyallahu ‘anhu; Pada suatu hari ketika Hasan Al Bashri radliyallahu ‘anhu sedang duduk di depan rumahnya, tiba-tiba melintaslah janazah seorang laki-laki yang di iring oleh orang-orang dari belakang, sedangkan puterinya yang masih kecil berada di bawah janazah itu, berjalan, mengurai rambutnya dan menangis. Perawi berkata; Kemudian Hasan Al Bashri radliyallahu ‘anhu berdiri dan ikut mengiringi janazah tersebut. Lalu puterinya berkata; Oh.. Ayahku! Seumur hidupku belum pernah aku menghadapi hari seperti hariku ini. Hasan Al Bashri berkata lepadanya; Demikian pula, belum pernah ayahmu menghadapi hari seperti hari ini. Perawi berkata; Lalu Hasan Al Bashri radliyallahu ‘anhu menshalati janazah tersebut dan kembali pulang. Ke esokan harinya, setelah Hasan Al Bashri mengerjakan shalat shubuh dan ketika matahari telah terbit, seperti biasanya dia duduk di depan rumahnya, tiba-tiba dia melihat puteri itu sedang menangis dan pergi ke kuburan ayahnya. Hasan Al Bashri radliyallahu ‘anhu berfikir; Anak ini adalah anak yang pintar, aku akan membuntutinya, siapa tahu dia mengucapkan suatu kata yang bermanfa’at bagiku. Perawi berkata; Lalu Hasan Al Bashri membuntutinya. Setelah sampai di kuburan ayah anak itu, Hasan Al Bashri bersembunyi dari penglihatannya di balik pohon berduri. Lantas anak tersebut memeluk kuburan ayahnya dan meletakkan pipinya di tanah seraya berkata; Wahai ayahku! Bagaimana keadaanmu setelah bermalam dalam kubur yang gelap seorang diri tanpa lampu dan tanpa seorang pendamping? Wahai ayahku! Kemaren malam aku menghidupkan lampu untukmu, lalu siapakah yang menhidupkan lampu untukmu tadi malam? Wahai ayahku! Kemarin malam aku menghamparkan alas unutmu, lalu siapakah yang menghamparkan alas untukmu tadi malam? Wahai ayahku! Kemaren malam aku memijit-mijit tangan dan kakimu, lalu siapakah yang memijit-mijitmu tadi malam? Wahai ayahku! Kemarin malam aku memberimu minum, lalu siapakah yang memberimu minum tadi malam? Wahai ayahku! Kemarin malam aku membolak-balikmu dari satu arah kearah lainnya, lalu siapakah yang membolak-balikmu tadi malam? Wahai ayahku! Kemaren malam aku menutupi anggotamu yang telanjang, lalu siapakah yang menutup anggotamu tadi malam? Wahai ayahku! Kemaren malam aku memperhatikan wajahmu, lalu siapakah yang memperhatikan wajahmu tadi malam? Wahai ayahku! Kemaren malam engkau memanggilku dan aku menjawab panggilanmu, lalu siapakah yang engkau panggil dan siapakah yang menjawab panggilanmu tadi malam? Wahai ayahku! Kemaren malam aku memberimu makan ketika engkau menginginkannya, lalu apakah tadi malam engkau ingin makan? Siapakah yang memberimu makan tadi malam? Wahai ayahku! Kemarin malam aku memasak bermacam-macam makanan untukmu, lalu siapakah yang memasak makanan untukmu tadi malam? Perawai berkata; Lantas Hasan Al Bashri menangis dan menampakkan diri, lalu menghampiri anak tersebut dan berkata; Wahai anak peremuan kecil! Janganlah engkau berkata seperti itu, tapi katakanlah; Wahai ayahku! Aku menghadapkanmu ke arah kiblat, apakah kini engkau masih seperti itu, ataukah sudah berubah menghadap ke arah yang lain? Aku mengkafanimu dengan sebaik-baiknya kafan, apakah kini kafan itu masih utuh, ataukah sudah lepas darimu? Wahai ayahku! Aku meletakkanmu dalam kubur, sementara tubuhmu dalam keadaan utuh, apakah kini tubuhmu masih utuh ataukah tubuhmu kini telah di makan ulat? Dan katakan; Sesungguhnya para ‘Ulama’ berkata; Seorang hamba akan di tanya tentang iman. Sebagian dari mereka ada yang menjawab, dan sebagian lagi ada yang terhalang hingga tidak bisa menjawabnya. Apakah engkau dapat menjawab atau apakah engkau terhalang hingga tidak bisa menjawab tentang iman? Wahai ayahku! Para ‘Ulama’ berkata; Kubur akan diperluas untuk sebagian ahli kubur, dan untuk sebagian yang lain akan di persempitnya. Apakah kini kuburmu telah di persempit, atau apakah telah di perluas? Wahai ayahku! Para ‘Ulama’ berkata; Kafan sebagian ahli kubur akan diganti dengan kafan dari surga, dan sebagian yang lain akan di ganti dengan kafan dari neraka. Apakah kafanmu telah di ganti dengan kafan dari neraka, atau apakah telah diganti dengan kafan dari surga? Wahai ayahku! Para ‘Ulama’ berkata; Kubur adalah sebagian taman dari taman-taman surga atau sebagian jurang dari jurang-jurang neraka. Apakah kuburmu telah menjadi sebagian taman dari taman-taman surga, atau apakah telah menjadi sebagian jurang dari jurang-jurang neraka? Wahai ayahku! Para ‘Ulama’ berkata; Kubur akan memeluk sebagian ahli kubur dengan penuh kasih sayang seperti halnya orang tua yang memeluk anaknya, dan akan membenci serta menghimpit sebagian yang lain hingga tulang-tulangnya menjadi remuk. Apakah kubur memelukmu dengan penuh kasih sayang atau apakah kubur membenci dan menghimpitmu? Wahai ayahku! Para ‘Ulama’ berkata; Setiap orang yang di masukkan ke dalam kubur pasti akan menyesal, bagi orang yang taqwa akan menyesal; kenapa tidak memperbanyak ‘amal-‘amal kebaikan? Dan bagi orang yang durhaka akan menyesal; kenapa melakukan ‘amal-‘amal kejelekan. Apakah engkau menyesali atas kejelekanmu, atau atas sedikitnya kebaikanmu? Wahai ayahku! Apabila aku memanggilmu, engkau pasti menjawab panggilanku. Telah lama aku memanggilmu di atas kuburanmu namun kenapa aku tidak mendengar suaramu? Wahai ayahku! Engkau telah pergi dan tidak akan bertemu lagi denganku sampai hari kiamat. Ya Allah! Janganlah engkau menghalangiku kelak di hari kiamat untuk bertemu dengan ayahku. Anak itu berkata; Wahai Hasan! Betapa indahnya seruanmu terhadap ayahku, betapa indahnya nasehatmu kepadaku dan engkau telah menggugahku dari kelalaian. Kemudian anak itu pulang bersama dengan Hasan Al Bashri sambil menangis.
ﺍﻟﺤﺪﻳﺚ ﺍﻟﺮﺍﺑﻊ ﻋﺸﺮ : ﺑﻌﺾ ﻣﻦ ﻳﺪﺧﻞ ﺍﻟﺠﻨﺔ ﺑﻐﻴﺮ ﺣﺴﺎﺏ HADITS KE-14 : SEBAGIAN ORANG MASUK SURGA TANPA HISAB
Dari Anas bin Malik RA berkata, Rasulullah SAW bertemu dengan Jibril AS, beliau berkata : Apakah atas ummatku terdapat hisab? Maka Jibril berkata : Ya, atas mereka hisab kecuali Abu Bakar RA, baginya tiada hisab, dikatakan kepada Abu Bakar : Wahai Abu Bakar, masuklah engkau ke dalam surga. Abu Bakar berkata : Aku tidak akan masuk surga sehingga orang yang mencintaiku di dunia masuk surga bersamaku
Setelah beberapa saat, datanglah seseorang dari sahabat Nabi yang lain, betisnya juga terlihat bekas darah, lalu ia berkata : Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku berjalan melewati seekoranjing betina milik si Fulan yang munafik, lalu ia menggigitku. Lalu Rasulullah SAW bangkit dan berkata kepada para sahabatnya : Mari kita semua pergi ke anjing betina itu, kita bunuh dia. Lalu para sahabat bangun dan semuanya membawa pedangnya
Ketika mereka telah mendatanginya dan ingin membunuhnya dengan pedang mereka, lalu anjing tersebut berdiri di dekat Rasulullah SAW dan berkata dengan lisan yang fasih dan baik : Janganlah engkau membunuhku, karena aku beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Lalu beliau berkata : Apa yang menyebabkan engkau menggigit dua orang ini? Lalu ia berkata : Wahai Rasulullah, aku adalah seorang anjing betina yang diperintahkan untuk menggigit orang yang mencela Abu Bakar dan Umar RA. Nabi SAW berkata : Wahai engkau berdua, apakah engkau tidak mendengar apa yang dikatakan oleh anjing betina ini? Lalu mereka berkata : Wahai Rasulullah, kami bertaubat kepada Allah dan Rasul-Nya. Alhamdulillah.
Dari Sufyan dari seseorang yang mendengar dari Anas bin Malik RA berkata, Rasulullah SAW bersabda : Sesungguhnya amalan orang yang hidup akandiperlihatkan kepada keluarga dan ayah mereka yang sudah mati. Apabila amal tersebut baik, mereka memuji Allah SWT dan mereka bergembira. Apabila mereka melihat tidak baik, mereka berkata : Ya Allah, janganlah Engkau matikan mereka sampai Engkau memberikan mereka hidayah
Lalu Nabi SAW bersabda : Mayit itu menderita di dalam kuburnya seperti ia menderita di dalam hidupnya (di dunia). Rasulullah SAW ditanya : Apa yang membuat mayit menderita? Rasul SAW bersabda : Sesungguhnya mayit itu tidak melakukan dosa, tidak berdebat dan tidak bertengkar dengan seseorang, tidak menyakiti tetangganya kecuali ketika engkau bertentangan dengan seseorang, maka kedua orang tuamu pasti akan mengutukmu, mereka berdua menderita dalam keadaan burukmu itu, begitu pula mereka berdua akan senang dalam keadaan yang baikmu .
Sebagaimana yang telah datang dalam sebuah cerita Tsabit al-Banani RA, sesungguhnya ia berziarah ke kubur pada setiap malam Jumat, ia bermunajat kepada Tuhannya sampai waktu subuh, dalam munajatnya ia mengantuk dan melihat di dalam mimpinya bahwa seluruh ahli kubur keluar dari kuburnya dengan pakaian yang sangat bagus dan wajah yang sangat putih
Sedangkan mereka memiliki banyak anak, kerabat, dan keluarga yang selalu mengingat mereka dengan mendoakan, berbuat baik, dan bersedekah pada setiap malam Jumat yang mana kebaikan dan pahala sedekah (keluarganya) sampai kepada mereka. Aku adalah seorang haji, aku memiliki seorang Ibu, kami berniat untuk pergi haji
Ketika kami sampai di Mesir, terjadilah hukum Allah atasku (wafat), ibuku menguburkanku di kubur ini, lalu ia menikah dengan seorang laki-laki, ia lupa denganku, dan tidak mengingatku dalam doa dan sedekah, maka sepanjang waktu aku selalu sedih dan berputus asa.
Lalu Tsabit berkata : Wahai anak muda, kabarkanlah kepadaku dimana ibumu tinggal, akan kabarkan kepadanya tentangmu dan keadaanmu. Lalu ia berkata : Wahai Imam Muslimin, ia berada ditempat Ini dan di rumah ini, kabarkanlah kepadanya. Jika ia tidak mempercayaimu, maka katakanlah kepadanya : Sesungguhnya di kantong bajumu terdapat 100 mitsqal perak warisan dari ayahnya dan itu adalah haknya (pemuda). Maka ia akan mempercayaimu dengan tanda tersebut
Ketika Tsabit datang dan mencari ibunya, lalu ia menemukannya dan mengabarkan tentang anaknya dan tentang mitsqal yang ada di dalam kantongnya, lalu ia pun pingsan. Ketika ia sadar, ia memberikan 100 mitsqal ke tangan Tsabit al- Bananidan berkata : Aku wakilkan kepadamu untuk engkau sedekahkan dirham ini (dengan niat) untuk anakku yang asing itu. Lalu Tsabit mengambilnya dan mensedekahkan (dengan niat) untuk anak muda tersebut
Ketika malam Jum’at, Tsabit al-Banani pergi berziarah kepada saudara-saudaranya, lalu ia mengantuk, dan melihat ( di dalam mimpinya ) seperti yang ia lihat pada saat itu, pemuda itu mengenakan pakaian yang sangat bagus, wajahnya berseri-seri, dan hatinya gembira, ia berkata : Wahai Imam Muslimin, semoga Allah menyayangimu sebagaimana engkau menyayangiku. Maka jelaslah bahwa kedua orang tua akan menderita di dalam kubur ketika (melihat kita) dalam keadaan buruk dan mereka akan bahagia ketika melihat dalam keadaan baik
Dari sayyidina ‘Aliy bin Abi Thalib karramallahu wajhahu bahwasanya ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda; “Barangsiapa yang membaca ‘Qul Huwallaahu Ahad’ dan seterusnya setelah shalat shubuh sebanyak sepuluh kali, maka tidak akan sampai kepadanya suatu dosa pada hari itu walapun syaithan berupaya dengan sungguh-sungguh. Ia adalah surat Makkiyyah (termasuk surat-surat yang diturunkan di Makkah) yang terdiri dari empat ayat, lima belas kalimat dan 47 huruf” .
وعن أبى كعب رضى الله تعالى عنه عن النبي عليه السلام قال رسول الله صلى الله تعالى عليه السلام من قرء قل هو الله أحد مرة واحدة فكأنما قرأ ثلث القرآن ومن قرأ مرتين فكأنما قرأ ثلثي القرآن ومن قرأ ها ثلاث مرات فكأنما قرأ القرآن كله ومن قرأ ها إحدى عشرة مرة بنى الله تعالى له بيتا فى الجنة من يقوت حمراء
Dari Ubai bin Ka’b radliyallahu Ta’ala ‘anhu dari Nabi ‘alaihishshalatu wassalam beliau bersabda; “Barangsiapa yang membaca ‘Qul Huwallaahu Ahad’ satu kali, maka ia seperti membaca sepertiganya Al Qur’an, barangsiapa yang membacanya dua kali, maka ia seperti membaca dua pertiganya Al Qur’an, barangsiapa yang membacanya tiga kali, maka ia seperti membaca semua Al Qur’an dan barangsiapa yang membacanya sebanyak sebelas kali, maka Allah Ta’ala akan membangunkan rumah untuknya di surga yang terbuat dari yaqut merah” .
Adapun sebab-sebab di turunkannya ayat ini, Ubai bin Ka’b, Jabir bin ‘Abdullah, Abu Al ‘Aliyah, Syi’bi dan ‘Ikrimah radliyallahu ‘anhum berkata; Kaum kafir Makkah berkumpul dan menghadap Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,
di antara mereka adalah ‘Amir bin Thufail, Zaid bin Qais dan lain-lainnya, mereka berkata; Wahai Muhammad! jelaskan kepada kami shifat-shifat Tuhanmu, apakah dari emas, perak besi atau tembaga, jika Tuhan kami terbuat dari barang- barang tersebut ?
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda; Aku adalah utusan Allah dan tidak ada suatu apapun yang menyamai Allah dan aku tidak mengatakan-Nya berupa sesuatu dari pihak diriku sendiri. Kemudian Allah Ta’ala menurunkan surat ini. Allah Ta’ala berfirman; “Katakan (wahai Muhammad); Dia-lah Allah yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang semua makhluq bergantung kepada-Nya. Dia tiada beranak dan tidak pula di peranakkan. Dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia”. (Qs. Al Ikhlash 1-4).
Ibnu ‘Abbas radliyallahu ‘anhuma berkata; Ma’na “Ash Shamad” adalah; Dzat yang tidak memiliki perut, tidak makan dan tidak minum. Seandainya Allah Ta’ala memiliki perut, tentu Allah Ta’ala membutuhkan sesuatu, dan demikian itu adalah muhal (tidak mungkin). Allah Ta’ala tidak butuh pada suatu apapun bahkan seluruh makhluklah yang butuh kepada-Nya.
Dalam sebuah riwayat di sebutkan bahwa ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam hendak pergi ke Madinah, orang-orang kafir Makkah berkumpul di Darun Nadwah (yaitu tempat mereka berkumpul untuk merundingkan sesuatu) yang berada di kawasan pendopo Abu Jahal. Mereka berkata; Barangsiapa yang membawa Muhammad atau kepalanya kepada kami, kami akan memberinya seratus unta merah yang hitam bola matanya.
Lantas seorang laki-laki bernama SURAQAH bin Malik berdiri dan berkata; Akulah yang akan membawa Muhammad kepada kalian. Setelah mereka sepakat untuk menanggung seratus unta untuk Suraqah, lantas Suraqah pergi mengejar Nabi ‘Alaihishshsalatu wassalam. Begitu melihatnya, dia langsung menghunus pedangnya untuk membunuh Nabi ‘alaihishshsalatu wassalam. Kemudian Allah Ta’ala menundukkan bumi untuk ta’at kepada perintah Nabi ‘alaihishshsalatu wassalam, lalu beliau memerintahnya, dan bumi segera menahan serta menelan kaki kuda Suraqah hingga ke lututnya. Lantas Suraqah merengek- rengek
Dan berkata; Wahai Muhammad! Tolong, selamatkan aku, selamatkan aku. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berdo’a dan Allah Ta’ala mengabulkan do’a beliau dan menyelamatkan Suraqah hingga dia dapat berjalan, namun sesa’at kemudian Suraqah kembali menghunus pedangnya hendak membunuh beliau, tapi sayang bumi segera menelan kaki kudanya sampai ke pusarnya. Suraqah berkata; Tolong selamatkan aku, setelah itu aku tidak akan mengulanginya lagi.
Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berdo’a hingga Allah Ta’ala menyelamatkan Suraqah. Lantas Suraqah turundari kudanya, pergi menghampiri unta Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dari depan lalu duduk dan berkata; Wahai Muhammad! Siapakah Tuhanmu, sehingga Dia memiliki kekuasaan seperti ini? Apakah dari emas ? Rasulullah SAW menundukkan kepalanya dan diam sesaat.
Kemudian malaikat Jibril turun dan berkata; “Katakan wahai Muhammad! Dia-lah Allah yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan, yang semua makhluq bergantung kepada-Nya. Dia tiada beranak dan tidak pula di peranakkan dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia”. (Qs. Al Ikhlash 1-4
Katakan; “(Dia) Pencipta langit dan bumi. Dia menjadikan kamu dari jenis kamu sendiri berpasang-pasangan dan jenis binatang ternak berpasang-pasangan (pula), Dia menjadikan kamu berkembang biak dengan jalan itu. Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat”. (Qs. Asy Syura 11).
HIKAYAT Suatu ketika, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam duduk di depan pintu Madinah, tiba-tiba di datangkan janazah seorang laki-laki, lantas Nabi ‘alaihisshalatu wassalam bersabda; “Apakah dia memiiki hutang?” Para shahabat menjawab; Dia memiliki hutang empat Dirham. Beliau bersabda; “Shalatlah kalian atasnya, sesungguhnya aku tidak akan menshalati orangyang memiliki hutang empat dirham lalu mati dan hutangnya belum di bayar.
فنزل جبريل عليه السلام وقال يامحمد إن الله عزوجل يقرئك السلام ويقول بعثت جبرائيل بصورة آدمي وأدى دينه فقال قم فصل فإنه مغفور
Kemudian malaikat Jibril ‘alaihissalam turun dan berkata; ‘Wahai Muhammad! Sesungguhnya Allah Ta’ala menyampaikan salam untukmu dan berfirman; Aku telah mengutus Jibril dengan berupa anak Adam dan melunasi hutang orang tersebut, Dia berfirman; Berdirilah dan shalatilah dia, karena dia telah di ampuni,
dan Dia berfirman; Barangsiapa yang shalat atas janazah tersebut maka Allah Ta’ala akan mengampuninya’. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya; Wahai saudaraku! Wahai Jibril! Dari manakah dia mendapatkan karomah seperti ini? Malaikat Jibril ‘alaihissalam menjawab; Karena setiap harinya dia membaca surat; “Qul Huwallahu Ahad” sebanyak seratus kali, sebab di dalamnya menjelaskan tentang shifat-shifat Allah Ta’ala dan pujian kepada-Nya.
Rangkuman Diriwayatkan dari Abiy Ka’ab ra Dari Rasulullah SAW bersabda :
وعن أبى كعب رضى الله تعالى عنه عن النبي عليه السلام قال رسول الله صلى الله تعالى عليه السلام من قرء قل هو الله أحد مرة واحدة فكأنما قرأ ثلث القرآن ومن قرأ مرتين فكأنما قرأ ثلثي القرآن ومن قرأ ها ثلاث مرات فكأنما قرأ القرآن كله ومن قرأ ها إحدى عشرة مرة بنى الله تعالى له بيتا فى الجنة من يقوت حمراء
“Barangsiapa membaca Qulhuwallahu ahad sekali, seakan ia membaca sepertiga Al Quran, barangsiapa membacanya dua kali seakan ia membaca dua pertiga Al Quran, barangsiapa membacanya tiga kali seakan ia membacanya seluruh Al Quran, dan barangsiapa membacanya sebelas kali, Allah mendirikan baginya sebuah rumah di surga dari yaqut merah.” Adapun sebab turun surah ini adalah seperti yang dikatakan oleh Ubay bin Ka’ab, Jabir bin Abdillah, Abal Aliyah, Asy Sya’bi, dan Ikrimah semoga Allah meridhai mereka semua, bahwa pemuka-pemuka kaum kafir Quraisy seprti Amir bin Thufail dan Zaid bin Qais serta lainnya hadir dan berkata, “Hai Muhammad, ceritakanlah tentang Tuhanmu kepada kami,apakah terbuat dari emas, perak, besi atau tembaga, sesungguhnya tuhan-tuhan kami terbuat dari bahan-bahan itu.” Nabi SAW. bersabda, “Aku adalah Rasul Allah, sesungguhnya Allah tidak menyerupai sesuatu dan tidaklah aku mengatakan sesuatu tentang Zat-Nya dari hawa nafsuku.” Maka Allah SWT. menurunkan surah berikut :
قل هو الله أحد (١) الله الصمد (٢) لم يلد ولم يولد (٣) ولم يكن له كفوا أحد (٤)
“Katakanlah (hai Muhammad), Allah itu Esa. Allah itu tempat meminta, dia tidak beranak dan tidak diperanakkan. Dan tidak ada seorang pun yang bisa menandingi/menyamai-Nya.” (QS. Al-Ihklas : 1-4
ﺍﻟﺤﺪ ﻳﺚ ﺍﻟﺴﺎﺑﻊ ﻋﺸﺮ : ﺇﻥ ﺍﻟﻤﺮﻳﺾ ﻳﻜﺘﺐ ﻟﻪ ﻣﺎ ﻛﺎﻥ ﻳﻌﻤﻞ ﻓﻴﺼﺤﺘﻪ HADITS KE-17 : ORANG SAKIT DITULIS APA YANG DIA LAKUKAN SAAT DIA SEHAT
Dari Abu Umamah Al Bahiliy radliyallahu Ta’ala ‘anhu, bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda; “Apabila seoarang hamba yang mu’min sakit, maka Allah Ta’ala memberi perintah kepada malaikat (Kirom Al Katibin); Tulislah untuk hamba-Ku sebaik-baiknya ‘amal yang dia kerjakan di saat sehat dan lapangnya”. Dalam riawayat yang lain di sebutkan; Apabila seorang hamba yang mu’min atau mu’minat sakit, maka sebelum sakit Allah Ta’ala akan mengutus empat malaikat kepadanya dan Allah Ta’ala memerintahkan kepada malaikat pertama untuk mencabut tenaganya, lantas dia mencabutnya dengan perintah Allah Ta’ala hingga hamba tersebut menjadi lemah. Dan Allah Ta’ala memerintahkan kepada malaikat ke dua untuk mencabut selera makannya, Malaikat ke tiga di perintahkan untuk mencabut aura wajahnya hingga hamba tersebut menjadi pucat dan Allah Ta’ala memerintahkan kepada malaikat ke empat untuk mencabut semua dosa-dosanya hingga hamba tersebut menjadi suci dari dosa. Kemudian ketika Allah Ta’ala hendak menyembuhkan hamba-Nya, Dia memerintahkan kepada makaikat yang mencabut tenaganya untuk mengembalikan kepadanya, memerintahkan kepada makaikat yang mencabut selera makannya untuk mengembalikan kepadanya, memerintahkan kepada makaikat yang mencabut aura wajahnya untuk mengembalikan kepadanya dan Allah Ta’ala tidak memerintahkan kepada malaikat yang mencabut semua dosa-dosanya untuk mengembalikan kepadanya, lantas malaikat itu bersujud kepada Allah Ta’ala dan berkata; Wahai Tuhanku! Kami adalah salah satu dari ke empat malaikat yang telah melaksanakan perintah-Mu, mereka bertiga Engkau perintahkan untuk mengembalikan apa yang telah mereka cabut darinya, namun mengapa Engkau tidak memerintahkanku untuk mengembalikan kepadanya dosa-dosa yang telah aku cabut darinya? Allah ‘Azza wa Jalla berfirman; “Tidak baik bagi-Ku Dzat yang Maha Pemurah untuk mengembalikan dosa-dosa itu kepadanya setelah Aku membuatnya menderita karena sakit”. Malaikat ke empat berkata; Wahai Tuhanku! Apa yang harus aku perbuat dengan dosa-dosa ini? Allah ‘Azza wa Jalla berfirman; “Pergilah engkau dan buanglah dosa-dosa itu di tengah lautan”. Lantas malaikat ke empat pergi dan membuangnya ke tengah lautan. Lalu Allah Ta’ala menciptakan buaya dari dosa-dosa itu di tengah lautan. Dan seandainya hamba itu pergi ke akhirat, maka dia keluar dari dunia dalam keadaan suci dari dosa sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam; “Sakit panas sehari semalam dapat menghapus dosa setahun”.
HIKAYAT Diceritakan, bahwa pada Bani Israel terdapat lelaki fasik, tidak berhenti melakukan kejahatan, sedang penduduk negeri tidak mampu mencegah dari kefasikannya, mereka berdoa dengan khusyuk kepada Allah SWT. Lalu Allah SWT. mewahyukan kepada Musa as., bahwa pada Bani Israel ada seorang anak muda yang banyak berbuat kejahatan, usirlah ia dari negeri mereka supaya mereka tidak ditimpa api. Maka Musa as. pun mengusirnya dari desa, pergilah pemuda itu ke salah satu desa. Kemudian Allah SWT. meyuruh Musa mengusirnya dari desa itu, Musa mengusirnya sekali lagi dari desa itu sehingga pergilah pemuda itu ke padang luas dan ke suatu tempat yang di situ tidak terdapat manusia, burung, maupun binatang buas.Sang pemuda sakit di tempat itu dan tidak seorangpun yang menolongnya.Ia tergeletak di atas tanah seraya berkata dalam sakitnya itu, “Wahai Tuhanku, andaikata ibuku berada di dekat kepadaku niscaya ia akan menyanyangi dan menangisi atau kehinaanku.“Andaikata ayah berada di sisiku tentu dia akan menolong, memandikan, serta megafaniku. Andaikata istri berada di sisiku tentu ia menangis lantaran berpisah denganku.“ Andaikata anak-anakku berada di sisiku, tentulah mereka menangis di belakang jenazahku dan akan berkata, “Ya Allah, ampunilah ayah kami yang asing, lemah, durhaka serta berbuat kejahatan dan terusir dari satu kora ke kota lain, dari desa ke tanah lapang dan keluar dari dunia menuju akhirat dalam keadaan putus asa dari segala sesuatu kecuali dari rahmat Allah.”Pemuda itu berkata, “Ya Allah, jika engkau memutuskan hubunganku dengan ibuku, ayahku, anak-anakku, dan istriku, maka jangalkah Engkau putuskan aku dari rahmat-Mu dan Engkau telah membakar hatiku dengan perpisahan mereka dariku, janganlah Engkau bakar aku dengan api-Mu lantaran maksiatku.”Allah mengirim seorang bidadari yang merupakan ibunya, seorang bidadari yang merupakan istrinya, anak-anak yanag merupakan anaknya, dan seorang malaikat yang merupakan ayahnya.Mereka pun duduk di sisinya dan menangisi pemuda itu seakan mereka adalah anak-anak, istri, ibu dan ayahnya yang hadir di sisinya. Sehingga tenanglah hatinya seraya berkata, “Ya Allah, janganlah engkau putuskan aku dari rahmat-Mu, sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.”Pemuda itu pun berpulang ke rahmat Allah dalam keadaan suci dan terpenuh Maka Allah SWT. mewahyukan kepada Musa as. “Pergilah engkau ke tanah lapang begini dan tempat begini, di situ telah meninggal dunia salah seoang wali-Ku, mandikan, kafani dan sembahyangilah dia.”Tatkala Musa tiba di tempat itu, ia melihat pemuda yang diusirnya dari kota dengan perintah Allah SWT. serta melihat bidadari menangisinya. Musa berkata, “Wahai Tuhanku, bukanlah ia adalah pemuda fasik yang kuusir dari kota atas perintah-MU?” Allah SWT menjawab, “Benar, hai Musa, akan tetapi Aku kasihan dan memaafkannya lantaran ratapan dalam sakit dan keterasingannya darikampung halaman jauh dari kedua orang tua, anak-anak, serta istrinya. Kukirimkan bidadari dalam rupa ibunya dan malaikat dalam rupa ayahnya, alntaran kasihan atas kehinaan dalam kesendiriannya.” Apabila orang asing ( yang tidak bersanak keluarga) mati, penghuni langit dan bumi menangisinya lantaran kasihan kepadanya. Karena itu bagaimana aku tidak mengasihaninya, sedang Aku adalah Yang Maha Penyayang di antara para penyayang.”
ﺍﻟﺤﺪﻳﺚ ﺍﻟﺜﺎﻣﻦ ﻋﺸﺮ : ﺃﻋﺠﺐ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﺇﻳﻤﺎﻧﺎ HADITS KE-18 : MANUSIA YANG IMANNYA PALING MENGAGUMKAN
Dari Ibnu Abbas ra. diriwayatkan, bahwa Rasulullah Saw. bersabda, “Apakah kalian mengetahui, siapa yang paling mengagumkan imannya?” Para sahabat menjawab, “Imannya para malaikat, ya Rasulullah.” Beliau bersabda, “Bagaimana para malaikat tidak beriman sedang mereka itu menyaksiakan perkaranya.” Para sahabat berkata, “Para Nabi, ya Rasulullah.” Rasulullah SAW. Bersabda: “Bagaimana para nabi tidak beriman sedang malaikat datang dari langit membawa wahyu.” Para sahabat berkata,“ Sahabat- sahabatmu, ya Rasulullah.” Rasulullah SAW. bersabda, “Bagaimana para sahabatku tidak beriman sedang mereka menyaksikan mukjizat dariku dan aku memberitahu mereka tentang wahyu yang diturunkan kepadaku.”“Akan tetapi yang paling mengagumkan imannya ialah orang- orang yang datang sesudah wafatku dan beriman kepadaku sedang mereka tidak melihatku dan mereka membenarkanku, mereka itulah saudara- saudaraku.” Iman kepada Muhammad SAW. di akhir zaman adalah tingkatan yang paling utama, karena tetap dalam iman dan Islam tanpa menyaksikan Rasulullah SAW. dan mukjizat-mukjizatnya.
ﺍﻟﺤﺪﻳﺚ ﺍﻟﺘﺎﺳﻊ ﻋﺸﺮ : ﺑﻌﺾ ﻣﺎ ﻛﺎﻧﺖ ﻋﻠﻴﻪ ﺃﻫﻞ ﺍﻟﺠﺎﻫﻠﻴﺔ HADITS KE-19 : SEBAGIAN PADA ZAMAN JAHILIYAH
عن علي ابن أبي طالب كرم الله وجهه قال، بينما نحن مع رسول الله صلى الله تعالى عليه وسلم في أول الإسلام إذ ورد علينا رجل على ناقة وقد أثر السير فيه وفيها وبأن عليه عناء السفر فوقف علينا فقال أيكم محمد فأومينا إلى النبي عليه السلام فقال يا محمد أتعرض على ما أمرك به ربك أو أعرض عليك ما أمرني به صنمي، فقال له النبي عليه السلام بل أخبرك بما أمرني به ربي قال فعرض عليه النبي عليه السلام فقال بني الإسلام على خمس مع شرائطه ثم قال يامحمد أنا غسان بن مالك العامري وكان لنا صنم نذبح عنده في رجب عتيرتنا ونتقرب إليه بذبحنا فعتر عنده عتيرة رجل منا يقال له عصام فلما رفع يده من العتيرة سمع صوتا من جوف الصنم ياعصام جاء الإسلام وبطلت الأصنام وحفظت الدماء ووصلت الأرحام وظهرت الحقيقة والسلام ففرح عصام لذلك وخرج ويخبرنا ثم وقع إلينا خبرك يا رسول الله فلما كان بعد أيام عتر عنده رجل يقال له طارق فلما رفع يده عن العتيرة سمع صوتا يقول من جوفه ياطارق بعث النبي الصادق وجيء بوحي ناطق من العزيز الخالق فخرج يصيح في الناس بذلك فقويت أخبارك عندنا يا رسول الله فكنا بين المكذب والمصدق ولما كان منذ ثلاثة أيام عترت أنا عتيرة إلى ذلك الصنم فلما رفعت يدي منها سمعت صوتا عاليا من جوف الصنم يقول بلسان فصيح يا غسان بن مالك العامري جاء الحق نبيا هاشميا بتهامة لناصريه السلامة ولخاذليه الندامة هاديا وداعيا إلى يوم القيامة ثم ارتفع من الأرض وسقط على وجهه قال فكبر رسول الله وكبر أصحابه معه وقال غسان وقد قلت ثلاثة أبيات من الشعر أفتأذن لي يا رسول الله أن أنشدها فأذن رسول الله فقال : أسر سيرا في طلب بسهل 🔅 وحزن في بلاد من الرمل. لانصر خير الناس نصرا مؤزرا 🔅 وأعقد حبلا من حبالك في حبلي وأشهد أن الله حق موحدا 🔅 وهذا أدين به ما قلت قدمي نعلي قال وأول من أسلم بعد الوحي خديجة ثم أبو بكر ثم علي ثم زيد بن حارثة ثم قمرية جارية ثم حمزة ثم عثمان ثم زهير ثم أبو عبيدة بن الجراح ثم طلحة ثم الزبير رضوان الله تعالى عليهم أجمعين وأسلموا وكتموا إسلامهم من الكفار ثم نزل جبرائيل عليه السلام فقال يامحمد إن الله تعالى يقرؤك السلام ويأمرك بأن تدعو الناس إلى الإسلام فقام النبي عليه السلام فصعد على جبل أبي قبيس فنادى بأعلى صوته فقال قولوا لا إله إلاالله محمد رسول الله فلما سمع الناس نداءه اجتمعت الكفار في دار الندوة فتشاوروا فيما بينهم فقالوا إن محمدا يشتم آلهتنا ويدعونا إلى إله لانعلمه فكيف الحيلة يقول محمد لنا لاتعبدوا آلهتكم وهي ثلثمأئة وستون صنما إلا الله الواحد القهار ومنهم شيبة بن ربيعة ووليد بن الحارث وصفوان بن أمية وكعب بن الأشراف وأسود بن عبد يغوث وصخر بن الحارث وكنانة بن ربيع وهم كفار مكة وهؤلاء رؤساء الكفار قالوا يدعونا إلى إله لانعرفه ولم يشتم آلهتنا فقام واحد منهم وهو يقول يريد محمد في ذلك مالا فلم يلتفتوا إليه وقالوا هو ساحر كذاب ثم قالوا اللوليد ما تقول أنت قال ما أقول في هذا الأمر شيأ فنسبوه إليه فأخذه الغضب جدا فقال الوليد أمهلوني ثلاثة أيام وكان له صنمان متخذان من جواهر ومن ذهب وفضة وبأنواع اللؤلؤ موضوعان على الكرسي وألبس عليهما ألوان الثياب فعبدهما ثلاثة أيام ولياليهن متواليات وما أكل وما شرب وذهب إلى بيته وأولاده وتضرع إليهما وفي اليوم الثالث قال بحق ما عبدتكما ثلاثة ايام هذه العبادة أن تتكلما وتخبرانا من أمر محمد فدخل الشيطان في فم الصنم وتحرك وتكلم وقال إن محمدا ليس بنبي فلاتصدقوه ففرح الوليد وخرج وأخبر الكفار عن مقالة الصنم وكفار مكة اجتمعوا عند الوليد وقالوا ينبغي لنا أن نتكلم عند محمد فلما سمع النبي عليه الصلاة والسلام مقالتهم اغتم بذلك فنزل جبريل عليه السلام فقال يا محمد ويل لمن اصطنع هذه المقالة يعني الوليد فلما سمع الوليد هذه المقالة ضحك وقال لاأبالي فاجتمعوا فوضعوا بين أيديهم صنما يسمى هبلا فطرحوا عليه ألوان الثياب وسجدوا له فدعا النبي عليه الصلاة والسلام وجاء مع عبد الله بن مسعود فجلس عندهم فدخل الشيطان في بطن الصنم واسم الشيطان كان مسفرا فهجا النبي عليه الصلاة والسلام في بطن الصنم فلما سمع عبد الله بن مسعود رضي الله تعالى عنه تحير وقال يارسول الله ما يقول هذا الصنم فقال ياعبد الله لاتخف من هذا فإنه شيطان فانصرف النبي عليه الصلاة والسلام فاستقبله في الطريق فارس وعليه ثياب خضر فنزل عن فرسهفسلم على النبي عليه الصلاة والسلام فأجابه فقال من أنت ياراكب قد أعجبتني سلامك علي فقال له أنا من أبناء الجن قد أسلمت في زمن نوح عليه السلام لكن كنت غائبا عن وطني فلما قدمت فوجت أهلي باكية فسألت منها فقالت لي أما ترى إن مسفر أصنع ماصنع مع محمد عليه السلام فلما سمعت ذهبت على أثره فقتلته بين الصفا والمروة وهذا دمه على سيفي رأسه في المخلاة وبدنه مطروح بين الصفا والمروة وصورته مثل صورة الكلب مقطوع الرأس فسر النبي عليه الصلاة والسلام فدعا له بالخير ثم قال مااسمك قال اسمي مهير بن عبهر ومقامي على جبل طور سينا ثم قال أتأمرني يارسول الله أن أهجوا الكفار في فم أصنامهم كما هجاك مسفر فقال له النبي عليه الصلاة والسلام افعل ثم اجتمع الكفار في اليوم الثاني فدعوا النبي عليه الصلاة والسلام فوضعوا هبلا بين أيديهم وطرحوا عليه ألوان الثياب فسجدوا له وتضرعوا إليه كما فعلوا في اليوم الأول فقالوا يا هبل أقر اليوم أعيننا بهجاء محمد عليه السلام فقال هبل يا أهل مكة اعلموا أن هذا نبي حق ودينه حق ومحمد يدعوكم إلى الحق وأنتم وصنمكم باطل فإن لم تؤمنوا به ولم تصدقوا تكونوا في نار جهنم خالدين فيها أبدا فصدقوا محمدا وهو نبي الله وخير خلقه فقام أبو جهل عليه اللعنة وأخذ الصنم وضربه على الأرض وكسره وأحرقه بالنار فانصرف النبي عليه الصلاة والسلام إلى داره مسرورا ثم سماه عبد الله بن عبهر وأنشأ الشعر في قتل مسفر يقول :
أناعبد الله بن عبهر 🔅 اني قتلت ذا الفجور مسفرا هممته بضرب سيفي منكرا 🔅 لدى الصفا والمروة طغى واستكبرا وخالف الحق وقال منكرا 🔅 بشتمه نبيه المطهرا والله لا أبرح حتى ينصرا 🔅 ويظهر الإسلام حتى يقرا أو يذل فيه كل من تكبرا 🔅 كل يهودي ومن تنصرا 🔅 جنود كسرى وملوك قيصرا 🔅
Dari sayyidaina ‘Aliy bin Abi Thalib karramallahu wajhah ia berkata; Suatu hari, katika aku sedang bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pada masa permulaan Islam tiba-tiba datang kepada kami seorang laki-laki yang menunggang unta, dan tanda-tanda perjalanannya serta jauhnya jarak yang dia tempuh benar-benar nampak bagi kami, lantas berhenti di hadapan kami dan berkata; Manakah di antara kalian yang bernama Muhmmad? Lalu aku memberi isyarah kepada Nabi ‘alaihishshalatu wassalam. Laki-laki itu berkata; Wahai Muhammad! Apakah engkau yang akan menjelaskan kepadaku tentang apa yang di perintahkan oleh Tuhan-mu? Ataukah aku yang akan menjelaskan kepadamu tentang apa yang di perintahkan oleh berhalaku? Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepadanya; Aku saja yang akan menjelaskan kepadamu tentang apa di perintahkan Tuhan-ku. Sayyidina ‘Aliy melanjutkan; kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjelaskan kepadanya; Islam di bangun di atas lima dasar beserta dengan syarat-syaratnya. Laki-laki itu berkata; Wahai Muhammad! Aku adalah Ghossan bin Malik Al ‘Amiriy, aku memiliki berhala, dan setiap bulan rajab aku menyembelih kambingku di sampingnya sebagai persembahan kepadanya, lalu seorang laki-laki dari golongan kami yang bernama ‘Ishom juga menyembelih kambingnya, ketika ‘Ishom mengangkat tangannya dari sembelihannya, tiba-tiba dia mendengar suara dari dalam berhala itu; Wahai ‘Ishom! Islam telah datang, semua sesembahan akan hancur lebur, setiap darah di lindungi, persaudaraan akan terjalin dan Agama yang haqiqi serta keselamatan akan nampak bagimu. Mendengar suara itu ‘Ishom sangat senang lalu pergi mengabarkan hal itu kepadaku, dan setelah itu aku mendengar kabar tentangmu wahai rasulallah. Beberapa hari kemudian, seorang laki-laki bernama Thariq menyembilih kambing di sampingnya, ketika mengangkat tangannya, dia mendengar suara dari dalam berhala itu berkata; Wahai Thariq! Telah di utus seorang Nabi yang terpercaya, yang di mandapatkan wahyu dan firman dari Dzat Yang Maha Mulia dan Maha Pencipta. Lantas Thariq keluar meneriakkan suara itu kepada orang-orang hingga kabar tentangmu semakin kuat di kalangan kami wahai rasulallah, namun kami masih berada di antara percaya dan tidak. Maka tiga hari kemudian, aku menyembelih kambing sebagai persembahan untuk berhala tersebut, ketika aku mengangkat tanganku, aku mendengar suara yang sangat keras dari dalam berhala itu dan berkata dengan fashih; Wahai Ghassan bin Malik Al ‘Amiriy! Telah datang seorang Nabi yang haq dari bani Hasyim yang berada di tanah Tihamah, barangsiapa yang menolongnya dia akan selamat dan barangsiapa yang meremehkannya dia akan menyesal, dialah Nabi yang memberikan petunjuk dan mengajak ke jalan kebenaran hingga hari kiamat. Kemudian berhala itu terbang dan jatuh tersungkur ke tanah. Sayyidana ‘Aliy menlanjutkan; Lantas Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bertakbir dan para shahabat yang bersama beliau ikut bertakbir. Ghassan berkata; Dan aku melantunkan tiga ba’it sya’ir, apakah engkau mengijiniku untuk menembangkannya wahai Rasulallah? Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memberinya ijin. Ghassan bersya’ir; Ku tinggalkan perjalanan untuk mencari Nabi di tanah datar 🔅Di tanah pegunungan di beberapa Negara dari padang pasir Untuk menolong manusia terbaik dengan pertolongan yang kuat 🔅 Dan aku ikatkan tali dari tali-talimu ke dalam taliku. Dan aku bersaksi bahwa Allah adalah Haq lagi Esa 🔅Dan aku akan menolong Agama ini selama kakiku masih memindah sandalku Sayyidina ‘Aliy berkata; Orang pertama yang masuk Islam setelah turunnya wahyu adalah sayyidah Khadijah kemudian Abu Bakar kemudian ‘Aliy kemudian Zaid bin Haritsah kemudian Qamariyah yaitu seorang budak wanita kemudian Hamzah kemudian ‘Utsman kemudian Zuhair kemudian Abu ‘Ubaidah bin Al Jarrah kemudian Thalhah kemudian Zubair ridlwanullahi Ta’ala ‘alaihim. Mereka semua masuk Islam dan menyembunyikan ke Islamannya dari orang-orang kafir. Lantas malaikat Jibril turun kepada Nabi ‘alaihishshalatu wassalam dan berkata; Wahai Muhammad! sesungguhnya Allah Ta’ala menyampaikan salam untukmu dan memerintahkanmu untuk mengajak manusia ke dalam Islam. Kemudian Nabi ‘alaihishshalatu wassalam pergi ke gunung Abi Qubais dan berseru dengan suara sangat keras; Katakanlah wahai manusia bahwa; Tidak ada Tuhan kecuali Allah dan Muhammad adalah utusan Allah. Ketika semua orang telah mendengar seruannya, maka orang-orang kafir berkumpul di Darun Nadwah dan merundingkan suatu masalah di antara mereka. Mereka berkata; Sesungguhnya Muhammad memaki-maki Tuhan kami dan mengajak kami untuk menyembah Tuhan yang tidak kami ketahui, bagaimana cara untuk mengatasi hal ini, Muhammad berkata kepada kami; Janganlah kalian menyembah Tuhan kalian yang berjumlah 360 berhala, kecuali kepada Allah yang Maha Yang Esa lagi Perkasa?. Di antara mereka ada Syaibah bin Rabi’ah, Walid bin Harits, Shafwan bin Umayyah, Ka’b bin Asyraf, Aswad bin Abdi Yaghuts Shakhr bin Al Harits, Kinanah bin Rabi’. Mereka adalah para pembesar orang-orang kafir Makkah, mereka berkata; Muhammad mengajak kita semua menyembah Tuhan yang tidak kita kenal, dan mengapa dia memaki-maki Tuhan kita?. Lantas salah seorang di antara mereka berdiri dan berkata; Muhammad bermaksud dengan ajakannya itu untuk mendapatkan harta, maka janganlah kita mempedulikannya. Mereka berkata; Muhammad tukang sihir dan penipu. Kemudian mereka berkata kepada Walid bin Harits; Apa komentarmu wahai Walid? Walid menjawab; Aku tidak bisa memberikan berkomentar apapun dalam masalah ini. Lalu mereka menganggap walid berpihak pada Nabi ‘alaihishshalat wassalam, sehingga mereka marah besar. Walid berkata; Berilah aku tenggang waktu selama tiga hari. Walid bin Harits memiliki dua berhala yang terbuat dari mutiara, emas, perak dan dari bermacam-macam intan yang diletakkan di atas kursi dan memberinya bermacam-macam pakaian. Kemudian Walid menyembahnya selama tiga hari tiga malam berturut-turut, tidak makan, tidak minum, tidak masuk ke rumahnya dan tidak menemui anak-anaknya, dia merendah dan mendekatkan diri pada ke dua berhala tersebut. Pada hari ketiga dia berkata; Dengan lantaran aku menyembah kalian berdua selama tiga hari tiga malam berturut-turut, berkatalah kalian berdua dan kabarkanlah kepadaku mengenai urusan Muhammad. Lantas syaithan masuk ke dalam mulut berhala tersebut lalu menggerakkannya dan berkata; Sesungguhnya Muhammad itu bukan Nabi, maka janganlah kalian percaya kepadanya. Walid sangat senang mendengarnya, kemudian dia pergi dan mengabarkan hal itu kepada orang-orang kafir, sedangkan orang-orang kafir Makkah berkumpul di samping Walid. Mereka berkata; Sepantasnya kita mengatakan hal ini kepada Muhammad. Ketika Nabi ‘alaihishshalatu wassalam mendengar perkataan mereka, beliau merasa perihatin karenanya. Lantas malaikat Jibril ‘alaihissalam turun dan berkata; Wahai Muhammad! Celakalah bagi orang yang mengada-ada perkataan ini maksudku Walid. Walid tertawa setelah mendengar perkataan itu dan berkata; Aku tidak peduli. Kemudian mereka berkumpul dan meletakkan berhala yang di beri nama Habila di hadapannya, mereka mengenakannya bermacam-macam pakaian dan mereka bersujud kepadanya, lantas Walid mengundang Nabi ‘alaihishshalatu wassalam dan beliau datang bersama dengan ‘Abdullah bin Mas’ud lalu duduk di sekitar mereka. Kemudian syaithan yang bermana Musfir masuk ke dalam perut berhala tersebut lalu menghujat dan mencaci maki Nabi ‘alaihishshalatu wassalam. Ketika mendengar suara itu, ‘Abdullah bin Mas’ud radliyallahu Ta’ala ‘anhu kebingungan dan berkata; Wahai Rasulallah! Apa yang di katakan berhala ini? Beliau bersabda; Wahai ‘Abdullah! Jangan takut terhadap berhala ini, karena sesungguhnya itu adalah suara syaithan. Lantas beliau pergi. Di tengah perjalanan, beliau berpapasan dengan seorang penunggang kuda berpakaian warna hijau lalu turun dari kudanya dan mengucapkan salam kepada Nabi ‘alaihishshalatu wassalam, maka beliau menjawab salamnya dan bersabda; Wahai penunggang kuda! Siapa kamu, ucapan salammu benar-benar mengagumkanku?. Dia menjawab; Aku adalah keturunan jin, aku telah masuk Islam sejak zaman Nabi Nuh ‘alaihissalam, namun aku mengembara dari tanah kelahiranku. Dan ketika aku pulang, aku menemukan isteriku sedang menangis, maka aku bertanya kepadanya, dan dia berkata kepadaku; Apakah kamu tidak tahu bahwasanya Musfir melakukan sesuatu yang di buat-buat terhadap Muhammad ‘alaihishshalatu wassalam? Setelah aku mendengarnya, aku langsung pergi melacak keberadaan Musfir lalu aku membunuhnya di antara Shafa dan Marwah, darah di pedangku ini adalah darahnya, kepalanya berada dalam kantong dan tangannya aku lemparkan di antara Shafa dan Marwah, adapun rupanya seperti anjing yang terpotong kepalanya. Nabi ‘alaihishshalatu wassalam merasa senang dan mendo’akannya dengan baik. Beliau bertanya; Siapa namamu? Dia menjawab; Namaku Muhair bin ‘Abhar dan tempat tinggalku di atas gunung Turisina. Muhair berkata; Wahai Rasulallah! Apakah engkau memerintahkanku untuk menghujat dan mencaci maki orang-orang kafir itu dari dalam mulut berhala-berhala mereka sebagaimana yang telah dilakukan oleh Musfir? Nabi ‘alaihishshalatu wassalam menjawab; Lakukanlah!. Pada hari ke dua orang-orang kafir bekumpul dan mengundang Nabi ‘alaihishshalatu wassalam lalu meletakkan berhala Habila di hadapannya dan mengenakannya bermacam-macam pakaian, lantas mereka bersujud dan merendahkan diri kepadanya seperti yang mereka lakukan pada hari yang pertama. Mereka berkata; Wahai habila! Tenangkanlah jiwa kami dengan menghujat dan mencaci maki Muhammad. Berhala Habila berkata; Wahai penduduk Makkah! Ketahuilah bahwasanya Muhammad adalah seorang Nabi yang haq, Agamanya haq dan Muhammad mengajak kalian ke jalan yang haq. Sedangkan kalian dan berhala-berhala kalian adalah bathil. Apabila kalian tidak beriman dan membenarkannya, maka kalian akan berada dalam nereka Jahannam selama-lamanya. Yakinlah! Muhammad adalah Nabi Allah dan sebaik-baik makhluq-Nya. Lantas Abu Jahal berdiri dan mengambil berhala itu lalu membantingnya ke tanah, menghancurkannya dan membakarnya. Akhirnya Nabi ‘alaihishshalatu wassalam pergi dan kembali ke kediamannya dengan senang, lantas beliau memberi nama kepada Muhair dengan nama ‘Abdullah bin ‘Abhar. Dan ‘Abdullah bin ‘Abhar melantunkan sya’ir dalam keberhasilannya membunuh Musfir, dia bersya’ir; Aku adalah ‘Abdullah bin ‘Abhar 🔅 Aku telah membunuh orang durhaka yaitu Musfir Aku ayunkan pedangku padanya demi menumpas kemunkaran 🔅 Di antara Shafa Dan Marwah ketika dia congkak dan sombong Menentang yang haq dan mengatakan kemunkaran Dengan menghujat Nabi yang di sucikan 🔅 Demi Allah! Aku takkan tinggal diam hingga menolongnya Hingga Islam tersebar luas dan di akui 🔅 Atau orang-orang yang sombong di hinakan Yaitu orang-orang Yahudi dan Nashrani 🔅 Pasukan raja Persia dan kerajaan Romawi 🔅
الحديث العشرون : الحث على الحياء من الله والخوف من الله HADITS KE-20 : ANJURAN MALU DAN TAKUT KEPADA ALLAH
عن عبد الله بن مسعود رضي الله تعالى عنه أن النبي عليه الصلاة والسلام قال : استحيوا من الله حق الحياء، قال فقلنا يا نبي الله إنا نستحي قال ليس ذلك استحياء ولكن من استحيا من الله حق الحياء فليحفظ الرأس وما حوى والبطن وما عوى وليذكر الموت والبلا ومن أراد الآخرة ترك زينة الحياة الدنيا وآثر الآخرة على الاولى فمن فعل ذلك فقد استحيا من الله تعالى حق الحياء ثم قال النبي عليه الصلاة والسلام الحياء من الإيمان. كما جاءفى الحكاية أن امرأة أتت النبي عليه الصلاة والسلام وقالت يارسول الله إني أذنبت ذنبا عظيما فداوني فقال رسول الله صلى الله تعالى عليه وسلم توبي إلى الله تعالى فقالت إن الأرض قد عرفت ذنبي وأذنبت عليها وهي تشهد عليّ يوم القيامة فقال النبي عليه الصلاة والسلام فإنها لاتشهد عليك قال الله تعالى “يوم تبدل الأرض غير الأرض” فقالت إن السماء قد عرفت من فوقي وهي تشهد عليّ يوم القيامة فقال النبي عليه الصلاة والسلام إن الله تعالى يطوي السماء كما قال الله تعالى “يوم نطوى السماء كطي السجل للكتب” فقالت يارسول الله إن الكرام الكاتبين كتبوا ذنبي فى الكتاب فقال النبي عليه الصلاة والسلام قال الله تعالى “إن الحسنات يذهبن السيئات” ثم قال النبي عليه الصلاة والسلام : التائب من الذنب كمن لاذنب له، ثم قالت المرأة إن الملائكة وقفوا على أفعالي ويشهدون علي من سوء أفعالي قال النبي عليه الصلاة والسلام إن الله تعالى أنسى الحفظة يوم القيامة كما ذكر في كتاب ربيع الأبرار إن النبي عليه الصلاة والسلام قال إذا تاب العبد إلى الله فتاب الله تعالى عليه أنسى الحفظة ماعمل وقالت قال الله تعالى “يوم تشهد عليهم ألسنتهم وأيديهم وأرجلهم بما كانوا يعملون الآية” قال رسول الله يقول الله للأرض ولجوارحه اكتموا عليه مساويه ولاتظهروا عليه أبدا ثم قالت يارسول الله نعم أن هذا كله في حق التائب إلا أن الحجالة يوم القيامة والحياء من الله تعالى كيف يطيق العبد ذلك لأنك قلت يارسول الله إذا كان يوم القيامة يذكر المذنب ذنبه فيستحي من الله تعالى ويعرق استحياء من الله تعالى ويبلغ ماء عرق بعضهم إلى ركبته وبعضهم إلى سرته وبعضهم إلى حلقه ثم قال ياأيها المؤمنون اذكروا ذلك اليوم ولاتغفلوا عنه وتوبوا إلى الله وتضرعوا فإن الله تعالى هو التواب الرحيم.
Dari Abdullah bin Mas’ud ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda; “Malulah engkau kepada Allah ‘Azza wa Jalla dengan sebenar-benar malu”. Ibnu Mas’ud berkata; Kami bertanya; Wahai Rasulullah! Sesungguhnya kami malu, alhamdulillah. Beliau menjawab; “Bukan demikian, tetapi barangsiapa yang malu kepada Allah dengan sebenar-benar malu adalah, hendaklah ia menjaga kepala dan apa yang dikandungnya, menjaga perut dan apa yang ditampungnya, hendaklah ia mengingat kematian dan kebinasaan, barangsiapa yang menginginkan akhirat, hendaklah ia meninggalkan kemewahan dunia dan lebih mementingkan urusan akhirat. Barangsiapa yang melakukan itu semua, ia benar-benar malu kepada Allah ‘Azza wa Jalla dengan sebenar-benar malu”.
Kemudian Nabi ‘alaihishshalatu wassalm bersabda; “Malu adalah sebagian dari iman”.
HIKAYAT Seoarang wanita datang kepada Nabi ‘alaihishshalatu wassalm dan berkata; Wahai Rasulallah! Sesungguhnya aku telah melakukan dosa besar, semoga tuan mengobatiku. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda; “Bertaubatlah engkau kepada Allah Ta’ala”. Wanita itu berkata; Sesungguhnya bumi telah mengetahui dosaku, aku berbuat dosa di atas bumi dan bumi kelak akan menadi saksi di hari kiamat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda; “Sesungguhnya bumi tidak akan menjadi saksi atas dirimu”. Allah Ta’ala berfirman; “(Yaitu) pada hari (ketika) bumi diganti dengan bumi yang lain”.(Qs. Ibrahim 48). Wanita itu berkata; Sesungguhnya langit bemar-benar mengetahui dari atas diriku dan ia kelak akan menadi saksi di hari kiamat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda; “Sesungguhnya Allah Ta’ala akan menggulung langit sebagaimana Allah Ta’ala berfirman; “(Yaitu) pada hari Kami gulung sebagaimana menggulung kertas”.(Qs. Al Anbiya’ 104). Wanita itu berkata; Wahai Rasulallah! Sesungguhnya malaikat Kirom Al Katibin menulis dosaku dalam buku catatannya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda; “Allah Ta’ala berfirman; “Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapus (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk”.(Qs. Hud 114). Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda; “Orang yang bertaubat dari dosa, bagaikan orang yang tidak berdosa”. Lalu wanita itu berkata; Sesungguhnya para malaikat menyaksikan atas perbuatanku dan mereka akan menjadi saksi atas jeleknya perbuatanku. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda; “Sesungguhnya Allah Ta’ala akan melupakan malaikat Hafadzah (pencatat ‘amal) kelak pada hari kiamat”. Di dalam kitab Rabi’il Abrar di sebutkan bahwa Nabi ‘alaihishshalatu wassalam bersabda; “Apabila seorang hamba bertaubat kepada Allah Ta’ala, dan Allah Ta’ala telah menerima taubatnya maka Allah Ta’ala akan melupakan malaikat Hafadzah terhadap apa yang telah di lakukan oleh hamba itu”. Kemudian wanita itu berkata; Allah Ta’ala berfirman; “Pada hari (ketika) lidah, tangan dan kaki menjadi saksi atas mereka terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan”.(Qs. An Nur 24). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda; “Allah Ta’ala akan berifirman kepada bumi dan seluruh anggota tubuh seorang hamba; “Sembunyikanlah atas seorang hamba kejelekan-kejelekannya dan janganlah kalian menampakkan kepadanya selama-lamanya”. Wanita itu berkata; Wahai Rasulallah! Benar, bahwa semua itu adalah bagi orang yang bertaubat, namun kelak pada hari kiamat ia akan merasa malu kepada Allah Ta’ala, bagaimana mungkin seorang hamba akan mampu menanggung rasa malu itu, sebab engkau telah bersabda wahai Rasulallah’; Apabila hari kiamat telah terjadi maka seorang yang berdosa, dosanya akan di sebutkan dan ia akan berkeringat karena merasa malu kepada allah Ta’ala, sebagian dari mereka ada yang beringat hingga sampai ke lututnya, sebagian ada yang sampai ke pusarnya dan sebagian lagi ada yang beringat hingga sampai ke lehernya. Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda; Wahai orang-orang yang beriman! Ingat-ingatlah selalu hari itu dan janganlah kalian lupa darinya, bertaubatlah kepada Allah Ta’ala dan rendahkanlah diri kalian, karena sesungguhnya Allah Ta’ala Maha Penerima taubat.
الحديث الحادي والعشرون : الحث على ما يفرح المؤمن HADITS KE-21 : ANJURAN MELAKUKAN HAL -HAL YANG MEMBUAT GEMBIRA ORANG MUKMIN
عن ابن عباس رضي الله نعالى عنهما أنه قال، قال رسول الله صلى الله تعالى عليه وسلم من أدخل على قلب أخيه المسلم فرحا وسرورا في دار الدنيا خلق الله تعالى من ذلك ملكا يدفع عنه الآفات فإذا كان يوم القيامة جاء معه قرينا فإذا أمر به هول يفزعه قال لاتخف فيقول من أنت فيقول أنا الفرح والسرور الذي أدخلته على أخيك المسلم في دار الدنيا. وفي حديث آخر عن النبي عليه الصلاة والسلام ذكر لفظا آخر إدخال السرور في قلب مؤمن خير من عبادة ستين سنة.
Dari Ibnu ‘Abbas Radliyallahu ‘anhuma ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda; “Barangsiapa yang memberikan kebahagiaan dan kegembiraan di hati saudaranya yang muslim di dunia maka Allah Ta’ala akan menciptakannya malaikat yang bertugas menolak bala’ mushibah darinya, apabila hari kiamat telah terjadi, ia akan datang sebagai teman karibnya, hingga apabila terjadi sesuatu yang mengerikan, ia akan barkata; Jangan takut! Kemudian orang itu bertanya; Siapa kamu? Ia menjawab; Aku adalah kebahagiaan dan kegembiraan yang engkau berikan kepada saudaramu yang muslim dulu di dunia”.
Di dalam hadits yang lain dari Nabi ‘alaihishshalatu wassalam beliau bersabda; “Memberi kebahagiaan di hati seorang mu’min, lebih baik daripada ‘ibadah 60 tahun”.
{ وفي حكاية }
أن عبد الله بن المبارك رأى فرسا يباع فى السوق بأربعين درهما فقال ماأرخصه قيل فيه عيوب قال ما ذلك قال لايعدو خلف العدو ويقف حتى يدرك العدو ويصهل ويصيح في موضع يحتاج فيه إلى السكوت قال هذا هو غال فتركه فاشتراه تلميذ عبد الله بن المبارك فلما كان يوم الحرب بارز هذا وعمل الفرس عملا حسنا فقال عبد الله لتلميذه أجربت عيوبه فقال نعم هو كما كان فيما ذكروا ولكن لما اشتريته قلت في أذنه أيها الفرس إني تركت الذنب وتبت ورجعت إلى الله تعالى فاترك أنت أيضا ما فيك من العيوب فحرك رأسه ثلاث مرات وأجاب فرحا بأن تركت الذنب فعلمت أن العيوب من صاحب الفرس لا من الفرس لأن فرس الكفار يلعن صاحبه حتى ينزل عن ظهره والظالم كذلك لقوله تعالى “ألا لعنة الله على الظالمين” فإذا لعنة مولاه يلعنه كل شيء فكذلك يلعن الفرس صاحبه إذا كان كافرا أو ظالما أو منافقا أو متكبرا حتى ينزل عن ظهره فعلم أن الدآبة تفرح فتطيع لصاحبها بسبب ذلك الفرح يكون صورة يوم القيامة تجيء وتأخذ صاحبها وتقوده إلى الجنة.
HIKAYAT Pada suatu hari ‘Abdullah bin Al Mubarak melihat seekor kuda yang di jual di pasar dengan harga 40 Dirham. ‘Abdullah bin Al Mubarak berkata; Betapa murahnya harga kuda ini?. Dikatakan kepadanya; Kuda ini memiliki beberapa ‘aib. ‘Aibnya apa? tanya ‘Abdullah bin Al Mubarak. Pemilik kuda menjawab; Kuda ini tidak dapat berlari kencang di belakang musuh, jika di depan ia akan berhenti hingga musuh dapat mengejarnya dan banyak meringkik di tempat yang seharunya diam. ‘Abdullah bin Al Mubarak berkata; Ini adalah kuda yang mahal. Lantas dia pergi. Lalu kuda itu di beli oleh murid ‘Abdullah bin Al Mubarak. Ketika pertempuran terjadi, sang murid ikut tampil dan memacu kudanya dengan sangat bagus. Kemudian ‘Abdullah bin Al Mubarak bertanya kepada muridnya; Apakah engkau telah mencoba ‘aib kuda itu? Sang murid menjawab; Ya, keadaannya persis seperti yang di katakan oleh orang-orang, namun setelah aku membelinya, aku berkata di telinga kuda itu; Wahai kuda! Sesungguhnya aku telah meninggalkan perbuatan dosa, aku telah bertaubat dan kembali kepada Allah Ta’ala, maka hendaknya engkau juga meninggalkan ‘aib yang ada pada dirimu. Lantas kuda itu mengerakkan kapalanya sebanyak tiga kali, ia menjawab dengan rasa bahagia sebab aku telah meninggalkan perbuatan dosa, lalu aku mengerti bahwa ‘aib itu berasal dari pemilik kuda, bukan dari kuda itu sendiri, karena kuda orang-orang kafir akan mengutuk pemiliknya hingga dia turun dari atas punggungnya, begitu pula dengan orang dzalim, karena Allah Ta’ala berfirman; “Ingatlah! Kutukan Allah atas orang-orang yang dzalim”.(Qs. Hud 18). Ketika Sang Maha Kuasa mengutuknya, maka seluruh makhluq akan ikut mengutuknya, kudapun seperti itu, ia akan mengutuk pemiliknya jika dia adalah orang kafir, dzalim, munafiq atau orang yang sombong hingga dia turun dari atas punggungnya. Dengan demikian dapat di ketahui bahwa binatang akan merasa bahagia dan patuh terhadap pemiliknya sebab kebahagiaan tersebut, dan kebahagiaan itu sendiri kelak di hari kiamat akan datang dengan berupa jisim yang akan memegang dan menuntun pemiliknya ke surga.
ﺍﻟﺤﺪﻳﺚ ﺍﻟﺜﺎﻧﻲ ﻭﺍﻟﻌﺸﺮﻭﻥ : ﺍﻟﺨﺼﺎﻝ ﺍﻟﺘﻲ ﺗﻮﺟﺐ ﺍﻟﻤﻐﻔﺮﺓ HADITS KE-22: HAL- HAL YANG MEWAJIBKAN MEMPEROLEH AMPUNAN
Dari Said Ibnu Musayah, ia berkata, “Pada suatu hari Ali bin Abi Thalib ra. keluar dari rumah dan berjumpa dengan Salman Al-Farisi, Ali berkata kepadanya, “Bagaimana keadaanmu, hai Bapak Abdullah?” Salman menjawab, “Aku berada di antara empat kesusahan. Wahai Amirul Mukminin.” Ali berkata, “Apakah itu? Semoga Allah memberi rahmat kepadamu.” Salman menjawab “Kesusahan memikirkananak-anak yang minta roti, kesusahan memikirkan pencipta (Al-Khaliq) yang menyuruh aku taat kepadanya, kesusahan memikirkan setan yang menyuruhku berbuat maksiat, dan kesusahan malaikat maut yang menginginkan nyawaku.”Ali berkata, “Gembiralah, hai Bapak Abdullah, sesungguhnya dalam setiap perkara itu engkau mendapat satu derajat.” Pada suatu hari aku menemui Rasulullah SAW. Beliau bertanya, “Hai Ali, bagaimana keadaanmu?” Ali menjawab, “Aku berada dalam empat kesusahan, di rumah tidak ada makanan selain air, aku memikirkan keadaan anak-anakku, kesusahan memikirkan Allah dan hari kemudian serta kesusahan memikirkan malaikat maut.” Nabi SAW. bersabda, “Gembiralah, hai Ali, karena kesusahan memikirkan anak-anak bisa melindungi dari api neraka, kesusahan memikirkan ketaatan kepada Allah membuat aman dari siksaan, kesusahan memikirkan hari kemudian adalah jihad dan itu lebih baik daripada ibadah enam puluh tahun, sedangkan kesusahan memikirkan malaikat maut bisa menebus dosa-dosa seluruhnya. ”Ketahuilah hai Ali, rezeki pada manusia di tangan Allah. Sedangkan kesusahan tidak bisa menyebabkan melarat dan tidak bisa bermanfaat, hanya saja engkau mendapat pahala atas hal itu.“Jadilah engkau seorang yang bersyukur, taat, dan bertawakal, niscaya engkau menjadi teman Allah SWT.” Aku berkata, “Atas hal apa aku bersyukur kepada Allah?”Rasulullah SAW menjawab, “Atas agama Islam.”Aku bertanya, “Apakah yang harus kulakukan?” Katakanlah, “Tidak daya dan kekuatan melainkan dengan pertolongan Allah Yang Maha Tinggi dan Agung.”Aku bertanya, “Apa yang harus kutinggalkan?” Rasulullah SAW .menjawab “Kemarahan.”Karena meninggalkan kemarahan itu bisa memadamkan kemarahan Tuhan Yang Maha Muliadan memberatkan timbangan serta menuntun ke surga. Ali berkata, “Hai Salman, aku mendengar Rasulullah SAW. bersabda, “Siapa yang tidak memikirkan anak-anaknya, tidaklah ia masuk surga.” Salman Al-Farisi bertanya, “Bukankah Rasulullah SAW. bersabda, “Orang yang memiliki banyak anak tidak akan beruntung? ” Ali berkata, “Hai Salam, bukan begitu maksudnya, jika pencaharianmu halal engkau beruntung.”“Surga itu merindukan orang-orang yang diliputi pemikiran dan pencaharian lantaran mencari rezeki yang halal.”
HIKAYAT Diceritakan,bahwa seorang laki-laki datang kepada Nabi SAW. ia bertanya, “Ya Rasulullah, aku telah durhaka, sucikanlah aku.” Rasulullah SAW. bertanya, “Apa dosamu?” Orang itu menjawab, “Aku merasa malu mengatakan.”Rasulullah SAW. bertanya, “Apakah engkau malu memberitahu aku tentang dosamu dan tidak merasa malu kepada Allah SWT. sedangkan Dia melihatmu? Keluarlah dari tempatku supaya kami tidak ditimpa api.” Orang itu keluar dari tempat Rasulullah Saw. dengan tangan hampa dan putus asa sambil menangis. Kemudian datang Jibril dan berkata, “Hai Muhammad, mengapa kau membuat putus asa orang yang berdosa yang punya tebusam, walaupun banyak dosanya?” Rasulullah SAW. Tanya, “Apa tebusannya?” Jibril menjawab, “Ia punya seorang anak yang masih kecil. Apabila masuk ke rumah dia disambut anak kecil itu, di beri sedkit makanan sehingga anak itu gembira. Ketahuilah, kegembiraan anak-anakmu bisa menebus dosa-dosa dan menyelamatkan dari api neraka.”Sebagaimana Allah SWT. berfirman :
Dari Anas bin Malik radliyallahi ‘anhu ia berkata, Rasulallah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda; “Tidaklah seorang hamba dari ummatku apabila masuk waktu shubuh membaca ayat kursi sebanyak 12 kali lalu berwudlu’ dan mengerjakan shalat fajar, melainkan Allah Ta’ala akan melindunginya dari kejahatan syaithan, dia setara dengan orang yang membaca seluruh Al Qur’an tiga kali dan kelak di hari kiamat akan di beri mahkota dari cahaya yang menyinari seluruh penghuni dunia”. Aku bertanya; Wahai Rasulallah! Apakah setiap hari? Beliau menjawab; “Tidak, tapi pada setiap hari Jum’at dan itu sudah mencukupi masamu dalam sepekan sekali”. HIKAYAH Dalam hikayah ini terdapat kabar gembira bagi orang-orang mu’min. Ummat-ummat terdahulu adalah ummat yang tumpul mata hatinya dan lemah pemahamannya. Mereka tidak akan membenarkan kepada para utusannya kecuali dengan mu’jizat dan melihat dengan nyata sebagaimana kaum Nabi Musa ‘alaihissalam berkata; “Kami tidak akan beriman kepadamu sebelum kami melihat Allah dengan nyata”.(Qs. Al Baqarah 55). Karena itu mereka lalu di sambar halilintar (sebab permintaan semacam ini menunjukkan keingkaran dan ketakabburan mereka). Mereka bertanya kepada Nabi Musa ‘alaihissalam; Apakah Tuhan-mu tidur?. Dalam kitab Taurat termaktub; “Dia tidak mengantuk dan tidak tidur”, maka Nabi Musa ‘alaihissalam mengabarkan apa yang termkatub dalam kitab Taurat itu kepada mereka, lalu mereka berkata; Bagaimana mungkin Tuhanmu tidak tidur?. Lantas Allah Ta’ala memerintahnya untuk mengisi dua botol dengan air dan memegangnya dengan tangan. Maka Nabi Musa ‘alaihissalam mengisi dua botol dengan air dan memegangnya. Kemudian Allah Ta’ala menidurkannya hingga dua botol itu jatuh dan pecah. Allah Ta’ala berfirman; Wahai Musa! Katakan kepada ummatmu; “Seandainya Allah Ta’ala itu tidur, niscaya alam semesta akan hancur, buatlah kamu contoh seperti ini”. Sesungguhnya Allah Ta’ala memuji ummat ini dan Allah Ta’ala berfirman; “Kalian adalah ummat yang terbaik”. Karena ummat ini membenarkan Rasulallah shallallahu ‘alaihi wasallam tanpa mu’jizat dan tanpa perumpamaan setelah sekian tahun berlalu.
الحديث الرابع والعشرون : الحث على الإخلاص HADITS KE-24 : ANJURAN BERBUAT IKHLAS
عن أنس بن مالك رضي الله تعالى عنه عن النبي صلى الله عليه وسلم أنه قال إذا كان يوم القيامة نادى مناد أين المراؤون وأين المخلصون قوموا وهاتوا أعمالكم وخذوا أجوركم من سيدكم قال النبي عليه السلام لانصيب للمرائين من أعمالهم شيئا إلا حسرة وندامة وشقاوة ثم قال النبي عليه السلام يا ابن آدم الإخلاص الإخلاص وقال النبي عليه السلام إن أخوف ما أخاف على أمتي الشرك الأصغر قالوا يا رسول الله وما الشرك الأصغر قال النبي عليه السلام الرياء يقول الله تعالى لهم يوم يجازي العباد بأعمالهم اذهبوا إلى الذين كنتم تراؤن لهم هل تجدون فيهم خيرا.
Dari Anas bin Malik radliyallahi ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa beliau bersabda; “Apabila hari kiamat telah terjadi, sang penyeru menyerukan; Damanakah orang-orang yang Riya’ (pamer) dan dimanakah orang-orang yang ikhlash, berdirilah, tunjukkanlah ‘amal kalian dan terimah ganjaran kalian dari Tuan kalian”.
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda; “Tidak ada bagian bagi orang-orang yang Riya’ dari ‘amal-‘amal mereka sedikitpun melainkan kesedihan, penyesalan dan siksaan”.
Dan Rasulallah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda; “Sesungguhnya yang paling aku khawatirkan dari ummatku adalah syirik kecil”. Mereka bertanya: Apakah syirik kecil itu wahai Rasulallah? Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab; ” Yaitu Riya`, Allah ‘Azza wa Jalla berfirman kepada mereka pada hari saat orang-orang diberi balasan atas amal-amal mereka; ‘Pergilah kalian kepada orang-orang yang dulu kalian pamer-pamerkan di dunia lalu lihatlah apakah kalian menemukan balasan disisi mereka?
الحديث الخامس والعشرون : الحث على مخالفة الهوى HADITS KE-25 : ANJURAN MELAWAN HAWA NAFSU
عن عبد الصمد بن الجسن قال كنت عند سفيان الثوري رضي الله تعالى عنه أسمع منه الحديث فكنت في المسجد يوما فصليت المغرب معه فدخل البيت ثم خرج إلي وبيده رغيف وعليه زبيب بقدر الكف فاغتنمت خلوته فقلت رحمك الله لو انبسطت إلى الناس فيأتيك الشريف الوضيع والغني والفقير فيستمعون منك الحديث ويحملون عنك الحديث فقال لي سفيان أي الرجل عندك منصور قال قلت إمام ثقة مأمون قال فأي الرجل عندك إبراهيم النخعي قال قلت إمام من أئمة المسلمين قال فأي الرجل عندك علقمة وعبد الله بن مسعود قال قلت من أفاضل أصحاب رسول الله قال حدثنا منصور عن إبراهيم عن علقمة عن عبد الله بن مسعود قال قال رسول الله صلى الله تعالى عليه وسلم إن الله تعالى لما خلق الجنات عدن دعا جبرائيل عليه السلام فقال له انطلق فانظر إلى ما خلق لعبادي وأوليائي قال فذهب جبرائيل عليه السلام يطوف في تلك الجنان فاشرفت إليه جارية من حور العين من بعض تلك القصور فتبسمت إلى جبرائيل عليه السلام فضاءت جنات عدن من ضوء ثناياها فخر جبرائيل عليه السلام ساجدا فظن أنه من نور رب العزة فنادته يا أمين الله ارفع رأسك فنظر إليها فقال سبحانك الذي خلقك فقالت الجارية يا أمين الله أتدري لمن خلقت قال لا قالت إن الله تعالى خلقني لمن آثر رضا الله على هوى نفسه وسئل النبي عليه السلام عن بناء الجنة كيف بناؤها فقال لبنة من فضة ولبنة من ذهب وملاطها المسك الاذفر وترابها الزعفران وحصباؤها اللؤلؤ والياقوت قال جاء رجل من أهل الكتاب إلى النبي عليه السلام فقال يا أبا القاسم أتزعم أن أهل الجنة يأكلوت ويشربون قال النبي عليه السلام نعم قال والذي نفسي بيده ان أحدهم ليعطى قوة مائة رجل في الأكل والشرب والجماع والشهواة قال الذي يأكل ويشرب يكون له حاجة والجنة طيبة ليس فيها أذى قال النبي عليه السلام تكون حاجة أحدهم رشحا يفيض من جلده كرشح المسك قال إن اهل الجنة مائة وعشرين صفا ثمانون صفا من أمتي وأربعون صفا من سائر الأمم وقيل إن طول كل صف من المشرق إلى المغرب وعرض كل صف مثل عرض الدنيا قال رسول الله صلى الله تعالى عليه السلام إن الله تعالى يقول لأهل الجنة يا أهل الجنة فيقولون لبيك وسعديك فيقول الله تعالى هل رضيتم فيقولون ومالنا لانرضى وقد أعطيتنا مالمتعط أحدا من خلقك فيقول الله تعالى أنا اعطيتكم أفضل من ذلك فيقولون يارب أي شيء أفضل من ذلك قال الله تعالى أحل عليكم رضواني فلا أسخط بعده أبدا ثم قال النبي عليه الصلاة والسلام ينادي مناد إذا دخل أهل الجنة الجنة آن لكم أن تحيوا ولا تموتوا أبدا وأن تصحوا ولاتيقموا أبدا وإن تشبوا ولاتهرموا أبدا وأن تتنعموا ولا تبأسوا أبدا وذلك قوله تعالى “ونودوا أن تلكم الجنة أورثتموها بما كنتم تعملون” ثم قال النبي عليه الصلاة والسلام يقول الله تعالى أعددت لعبادي الصالحين ملاعين رأت ولاأذن سمعت ولاخطر على قلب بشر اقرؤوا قول الله تعالى “فلا تعلم نفس ما أخفى لهم من قرة أعين جزاء بما كانوا يعملون” وقال النبي عليه الصلاة والسلام لموضع سوط أحدكم في الجنة خير من الدنيا ومافيها اقرؤوا إن شئتم “فمن زحزح عن النار وأدخل الجنة فقد فاز وما الحياة الدنيا إلا متاع الغرور وإن في الجنة شجرة لو سار الراكب في ظلها مائة عام فما يقطعها اقرؤوا إن شئتم “وظل ممدود وماء مسكوب وفاكهة كثيرة لامقطوعة ولاممنوعة وفرش مرفوعة” وعن المغيرة بن شعبة رضي الله تعالى عنه عن النبي عليه الصلاة والسلام قال ناجي موى عليه السلام ربه فقال يارب اخبرني عن آخر من يدخل الجنة وكم يكون له من الجنة قال الله تعالى ياموسى لايبقى في النار مسلم إلا رجل واحد أخرجه من النار برحمتي فيقف على باب الجنة فأقول ادخل الجنة فيقول كيف أخل الجنة وقد أخذ الناس منازلهم ودرجاتهم ولم يبق لي شيء ولامكان فأقول عبدي أترضى في الجنة من المكان بمقدار مملكة ملكين في الدنيا قال فيقول قد رضيت فأقول له ادخل الجنة ولك أضعاف ذلك فأعطيه بقدر مملكة أربعة ملوك من ملوك الدنيا قال يكون مثل خرسان وعراق ويمن وشام قال موسى عليه السلام يارب أخبرني عن أول من يدخل الجنة كم مقدار مكانه منها قال ياموسى هيهات هيهات أولئك هم السابقون أعددت لهم فيها مالا عين رأت ولاأذن سمعت ولاخطر على قلب بشر قط قال يؤيد هذا الحديث ماروي أبو هريرة رضي الله تعالى عنه عن النبي عليه الصلاة والسلام قال قال رسول الله صلى الله تعالى عليه وسلم إن آخر من يدخل الجنة لو أضاف آدم عليه السلام مع ذريته أجمع لوسعه ذلك مكانا ورزقا.
Dari ‘Abdush Shamad bin Al Hissan ia berkata; Pada suatu hari aku berada di samping Sufyan Ats Tsauri radliyallahu Ta’ala ‘anhu mendengarkan hadits darinya. Dan ketika aku berada di masjid, setelah mengerjakan shalat maghrib bersama, dia masuk kerumahnya lalu kembali kepadaku dengan membawa roti sebesar telapak tangan yang di atasnya di taburi anggur kering, kemudia aku mengambilnya secara diam-diam dan aku berkata: Semoga Allah Ta’ala merahmatimu! Alangkah baiknya bila engkau melapangkan orang-orang, hingga orang mulia, hina, kaya dan miskin datang kepadamu, mendengarkan dan membawa hadits darimu. Sufyang berkata kepadaku; Apa pendapatmu tentang seorang laki-laki barnama; Manshur? Aku (‘Abdush Shamad) menjawab; Dia adalah imam yang ‘adil dan di percaya. Sufyan bertanya; Apa pendapatmu tentang seorang laki-laki barnama; Ibrahim An Nakha’i? aku menjawab; Dia adalah salah seorang imam dari para imam orang-orang Islam. Sufyan bertanya; Apa pendapatmu tentang orang yang barnama; ‘Alqamah dan Ibnu Mas’ud? Mereka termasuk shahabat Rasulallah shallallahu ‘alaihi wasallam yang paling utama. Sufyan berkata;
Telah bercerita kepadaku Manshur dari Ibrahim dari ‘Alqamah dari Ibnu Mas’ud ia berkata, Rasulallah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda; “ketika Allah Ta’ala telah menciptakan surga ‘Adn, Lantas Allah Ta’ala mengundang malaikat Jibril ‘alaihissalam dan berfirman kepadanya; Pergilah dan lihatlah apa Aku ciptakan bagi hamba-Ku dan para kekasih-Ku”. Rasulallah shallallahu ‘alaihi wasallam melanjutkan; “Kemudian malaikat Jibril ‘alaihissalam pergi dan berkeliling dalam surga tersebut, lalu seorang bidadari yang matanya berkaca-kaca menampakkan diri kepadanya dari salah satu istana dan tersenyum pada malaikat Jibril ‘alaihissalam, lantas surga ‘Adn menjadi terang benderang lantaran cahaya yang memancar dari gigi bidadari tersebut. Maka malaikat Jibril langsung bersujud karena mengira bahwa cahaya tersebut adalah cahaya Tuhan Yang Maha Mulia. Kemudian bidadari itu memanggil malaikat Jibril; Yaa Amiinallaah, irfa’ ro’saka! (Wahai malaikat yang di percaya Allah, angkatlah kepalamu). Lalu malaikat Jibril memandangnya dan berkata; Subhaana Man kholaqoki (Maha suci Dzat yang menciptakanmu). Bidadari bertanya; Wahai Amiinallaah! Tahukah engkau, untuk siapa aku diciptakan? Malaikat Jibril menjawab; ‘Tidak’. Bidadari berkata; Sesungguhnya Allah Ta’ala menciptakanku untuk orang yang lebih memilih ridla Allah Ta’ala daripada menuruti hawa nafsunya”. Nabi’ ‘alaihishshalatu wassalam di Tanya tentang bangunan surga. Beliau menjawab; “Bangunan surga terdiri dari susunan bata dari emas dan bata dari perak, plasternya dari misik Adfar (misik yang sangat wangi), tanahnya dari Za’faran, dan kerikilnya dari intan Lu’lu’ dan yaqut”. Perawi berkata; Seorang laki-laki dari Ahli Kitab datang kepada Nabi ‘alaihishshalatu wassalam dan berkata; Wahai Abul Qosim! Apakah engkau berkata bahwa penghuni surga itu makan dan minum? Nabi ‘alaihishshalatu wassalam menjawab; “Ya, demi Dzat yang jiwaku berada dalam kekuasaannya, sesungguhnya setiap orang dari mereka di beri kekuatan makan, minum dan syahwat sebanyak seratus kali lipat kekuatan seorang laki-laki”. Laki-laki itu berkata; Orang yang makan dan minum tentunya memiliki hajat, sedangkan surga itu bersih, di dalamnya tidak ada kotoran? Beliau menjawab; “Hajat mereka adalah keringat yang keluar dari kulitnya seperti perasan misik”. Beliau melanjutkan; “Penghuni surga terdiri dari seratus dua puluh shaf, yang delapan puluh shaf dari ummat ini dan yang empat puluh shaf dari seluruh ummat. Dikatakan bahwa panjang setiap shafnya sepanjang barat dan timur, lebarnya seperti lebar dunia.
Rasulallah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda; “Sesungguhnya Allah Ta’ala berfirman kepada penghuni surga; Wahai penghuni surga!”. Mereka menjawab; ‘Labbaika wa sa’daika (Baik, kami penuhi panggilan-Mu)’. Allah Ta’ala berfirman; “Apakah kalian ridla?”. Mereka menjawab; Mana mungkin kami tidak ridla sedangkan Engkau telah memberi kami apa yang belum pernah Engkau berikan pada seseorang dari makhluq-Mu. Allah Ta’ala berfirman; “Aku akan memberi kalian yang lebih baik dari itu”. Mereka berkata; Wahai Tuhan-kami! Apakah yang lebih baik dari ini? Allah Ta’ala berfirman; “Aku halalkan bagi kalian Ridla-Ku dan setelah itu Aku tidak akan murka kepadamu selama-lamanya”.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda; “Apabila penghuni surga telah masuk ke dalamnya, sang penyeru menyerukan; Telah tiba masanya bagi kalian untuk hidup dan tidak akan mati selama-lamanya, kalian akan sehat dan tidak akan sakit selama-lamanya, kalian akan kembali muda dan tidak akan tua selama-lamanya, kalian akan bersenang-senang dan tidak akan bersedih selama-lamanya. Itulah ma’na Firman Allah Ta’ala; “Dan di serukan kepada mereka; Itulah yang di waritskan kepadamu, di sebabkan apa yang dahulu kamu kerjakan”.(Qs. Al A’raf 43).
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda; Allah Ta’ala berfirman; “Aku telah menyiapkan bagi hamba-hamba-Ku yang shalih sesuatu yang belum pernah dilihat mata, belum pernah didengar telinga dan tidak pernah terlintas dibenak manusia. Jika kalian mau, bacalah ayat; ‘Tak seorangpun mengetahui berbagai nikmat yang menanti, yang indah dipandang sebagai balasan bagi mereka, atas apa yang mereka kerjakan’”.(As Sajdah 17).
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda; “Sesungguhnya tempat cambuk kalian di surga lebih baik dari dunia seisinya, jika kalian mau, bacalah; ‘Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan di masukkan ke dalam surga, maka ia benar-benar beruntung, dan kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan’”.(QS Ali Imran 185).
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda; “Sesungguhnya di dalam surga terdapat sebatang pohon, jika seorang pengendara menyusuri naungannya selama seratus tahun, niscaya ia tidak dapat mencapai ujungnya. Bacalah jika kalian mau; ‘Dan naungan yang terbentang luas, dan air yang tercurah, dan buah-buahan yang banyak, yang tidak berhenti (berbuah) dan tidak terlarang mengambilnya’”.(Qs. Al Waqi’ah 30-34). Di riwayatkan dari Mughirah bin Syu’bah radliyallahu ‘anhu, dari Nabi ‘alaihishshalatu wassalam beliau bersabda; Nabi Musa ‘alaihissalam bermunajat dan berkata; Wahai Tuhanku! Kabarkanlah kepadaku tentang orang terkhir yang masuk surga, dan seberapa banyakkah bagiannya dari surga? Allah Ta’ala berfirman; Wahai Musa! Tidaklah seorang muslimpun yang tinggal di dalam neraka kecuali seorang laki-laki yang Aku keluarkan dari neraka dengan rahmat-Ku dan dia berhenti di depan pintu surga. Lantas Aku perintahkan; Masuklah ke dalam surga!. Dia berkata; Bagaimana aku akan masuk ke dalam surga, sedangkan orang-orang telah mengambil tempat dan derajatnya masing-masing hingga tidak tersisa suatu tempatpun untukku. Aku (Allah Ta’ala) berfirman; Apakah engkau ridla di dalam surga mendapatkan bagian tempat seluas dua kerajaan raja di dunia? Nabi’ ‘alaihishshalatu wassalam melanjutkan sabdanya; Dia berkata; Sungguh aku ridla. Aku (Allah Ta’ala) berfirman; ‘Masuklah kedalam surga dan bagimu dua kali lipat dari itu. Lalu Aku (Allah Ta’ala) memberinya tempat seluas empat kerajaan raja di dunia’. Nabi’ ‘alaihishshalatu wassalam menjelaskan; Kira-kira luasnya seluas Khurasan, ‘Iraq, Yaman dan Syam. Nabi Musa ‘alaihissalam berkata; Wahai Tuhanku! Kabarkanlah kepadaku tentang orang pertama yang masuk surga dan berapa bagian tempatnya dari surga? Allah Ta’ala berfirman; Wahai Musa! Sangat jauh sekali, mereka adalah orang–orang yang terlebih dahulu berada dalam naungan-Ku, Aku telah menyiapkan bagi mereka di dalam surga sesuatu yang belum pernah dilihat mata, belum pernah didengar telinga dan tidak pernah terlintas dibenak manusia. Mughirah bin Syu’bah radliyallahu ‘anhu berkata; Yang menguatkan hadits ini adalah hadits yang di riwayatkan Abu Hurairah radliyallahu ‘anhu dari Nabi ‘alaihishshalatu wassalam dia berkata;
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda; “Sesungguhnya orang terakhir yang masuk sorga yaitu sekiranya Nabi Adam ‘alaihissalam beserta seluruh anak cucunya berkumpul niscaya tempat dan rizqinya akan mencukupinya”.
Dari sayyidah ‘A’isyah radliyallahu ‘anha ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda; “Orang dermawan itu dekat dengan Allah, dekat dengan manusia, dekat dengan surga, dan jauh dari neraka. Sedangkan orang pelit itu jauh dari Allah, jauh dari menusia, jauh dari surga, dan dekat dengan neraka. Sesungguhnya orang bodoh yang dermawan lebih Allah cintai dari pada seorang ‘alim yang pelit”.
Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda; “Dermawan merupakan salah satu pohon dari pepohonan surga yang cabangnya bergantungan di dunia, barangsiapa yang mengambil satu cabang darinya maka cabang itu akan menuntunnya ke surga. Dan pelit merupakan salah satu pohon dari pepohonan neraka yang cabangnya bergantungan di dunia, barangsiapa yang mengambil satu cabang darinya maka cabang itu akan menuntunnya ke neraka”.
HIKAYAH Tentang Bahram Al Majusi. ‘Abdullah bin Al Mubarak berkata; Pada suatu tahun aku menjalankan ‘ibadah hajji. Ketika barada di Hatim (Hijr Isma’il) aku tertidur dan bermimpi bertemu dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda; “Apabila engkau telah kembali ke Baghdad, pergilah ke kampung ini dan ini, carilah orang yang bernama Bahram Al Majusi, sampaikan salamku kepadanya dan katakan bahwa sesungguhnya Allah Ta’ala ridla kepadamu”. Lantas aku terbangun, aku berkata; Laa hawla wa laa quwwata illaa billaahil ‘aliyyil ‘adzim, ini adalah mimpi dari syaithan. Lalu aku berwudlu’, mengerajakan shalat dan berthawaf di Ka’bah sekehendak Allah Ta’ala, kemudian aku tertidur dan bermimpi seperti mimpi yang pertama, dan demikian itu terjadi hingga tiga kali. Ketika aku telah menyempurnakan hajjiku dan kembali ke Baghdad, lantas aku mencari kampung dan rumah yang telah di sebutkannya, lalu aku berjumpa dengan seorang laki-laki berusia lanjut, aku berkata; Apakah engkau yang bernama Bahram Al Majusi? Bahram menjawab; ‘Ya’. Aku betanya; Apakah engkau memiliki suatu kebaikan di sisi Allah? Bahram menjawab; Ya. Aku menghutangi orang-orang uang sepuluh Dirham dan meminta untuk mengembalikannya duabelas Dirham, menurutku ini adalah suatu kebaikan. Aku berkata; Ini haram. Apakah engkau memiliki yang lain selain itu? Bahram menjawab; Ya. Aku mempunyai empat anak perempuan dan empat anak laki-laki dan aku mengawinkan anak perempuanku dengan anak laki-lakiku. Aku berkata; Ini juga haram. Apakah ada yang lain selain itu? Bahram menjawab; Ya. Aku mengadakan pesta untuk orang-orang majusi pada saat perkawinan putera puteriku. Aku berkata; Ini juga haram. Apakah ada yang lainnya? Bahram menjawab; Aku memiliki seorang puteri yang paling cantik di antara para wanita dan aku tidak menemukan laki-laki yang sebanding dengannya, lalu aku mengawinkannya dengan diriku sendiri dan pada malam pertama aku menggaulinya, aku mengadakan pesta dan pada pesta itu aku mengundang orang-orang majusi lebih dari seribu orang. Aku berkata; Ini juga haram. Apakah ada yang lainnya? Bahram menjawab; Ya. Pada suatu malam, ketika aku menggauli puteriku, datanglah seorang wanita muslim dari salah seorang penganut agamamu, kemudian dia menyalakan salah satu lampu rumahku, lalu memadamkannya lantas pergi. Malam berikutnya dia datang lagi dan menyalakan salah satu lampu rumahku, lalu memadamkannya lantas pergi. Pada malam ke tiga dia datang kembali dan menyalakan salah satu lampu rumahku, lalu memadamkannya lantas pergi. Dalam hatiku aku berkata; Barangkali wanita ini adalah mata-mata pencuri, maka aku pergi membuntutinya hingga dia masuk ke dalam rumahnya menemui anak-anaknya, begitu sampai anak-anaknya berkata; Wahai ummah! Apakah engkau datang dengan membawa makanan untuk kami? Sungguh kami tidak memiliki tenaga lagi, dan kami tidak kuat lagi menahan rasa lapar. Lantas ibu itu meneteskan air mata dan berkata; Aku malu kepada Tuhanku untuk meminta-minta selain kepada-Nya, apalagi meminta-minta keada orang yang menjadi musuh Allah, dia adalah orang majusi (penyembah api). Bahram berkata; Ketika aku mendengar perkataannya, lalu aku pulang ke rumahku mengambil nampan yang aku penuhi dengan bermacam-macam makanan dan aku sendiri yang pergi mengantarkan kerumahnya. ‘Abdullah bin Al Mubarak berkata; Ini baru suatu kebaikan, aku membawa kabar gembira untukmu. Kemudian aku menyampaikan kabar gebira berupa mimpi bertemu dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan menceritakan kisah mimpiku kepadanya. Lalu dia mengucapkan dua kalimat syahadat; Asyhadu an laa ilaaha illallaah wa asyhadu anna Muhammadarrasuulullah lantas seketika dia jatuh tersungkur dan mati, dan aku tidak meninggalkannya sebelum aku memandikan, mengkafani, menshalati dan menguburnya. ‘Abdullah bin Al Mubarak berkata; Wahai para hamba Allah! Berbuatlah kebaikan dengan mengamalkan shifat dermawan terhadap makhluq Allah, karena shifat dermawan dapat merubah musuh menjadi kekasih.
الحديث السابع والعشرون : الحث على تحمل الظلم HADITS KE-27 : ANJURAN BERSABAR ATAS KEDZALIMAN
عن عكرمة مولى ابن عباس رضي الله تعالى عنهما قال قال رسول الله صلى الله تعالى عليه وسلم، إذا كان يوم القيامة ستر الله تعالى بين عبد وبين كل الناس فيدفع إليه كتاب حسناته فيقرؤه فيقول الله تعالى ماترى فيقول أرى حسنات كثيرة فيقول الله تعالى هل نقص منها شيء فيقول لائم يدفع إليه كتاب سيئاته فيقرؤه فيقول الله تعالى ماترى فيقول أرى سيئات كثيرة فيقول الله تعالى أتعرفها فيقول نعم فيقول الله تعالى هل زيد عليك شيء فيقول لائم يدفع إليه رقعة فيقرؤها فيقول الله تعالى ماترى فيقول أرى حسنات كثيرة فيقول الله تعالى أتعرفها فيقول لا فيقول الله تعالى له هذا مما ظلموك وآذوك وأخذوا مالك من غير علمك.
Dari ‘Ikrimah mantan budak Ibnu ‘Abbas radliyallahu ‘anhuma ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda; “Apabila hari kiamat telah terjadi, Allah Ta’ala akan menjadikan penghalang antara seorang hamba dan tiap-tiap manusia. Kemudian Allah Ta’ala memberikan kepadanya buku catatan amal kebaikannya lalu dia membacanya, lantas Allah Ta’ala bertanya; Apa yang kamu lihat? Dia menjawab; Aku melihat kebaikan yang sangat banyak. Allah Ta’ala bertanya; Apakah ada sesuatu yang kurang darinya? Dia menjawab; Tidak. Kemudian Allah Ta’ala memberikan kepadanya buku catatan amal kejelekannya lalu dia membacanya. Lantas Allah Ta’ala bertanya; Apa yang kamu lihat? Dia menjawab; Aku melihat kejelekan yang sangat banyak. Allah Ta’ala bertanya; Apakah kamu mengetahuinya? Ya, jawabnya. Apakah ada suatu tambahan? Dia menjawab; Tidak. Kemudian Allah Ta’ala memberikan kepadanya lembaran lalu dia membacanya. Lantas Allah Ta’ala bertanya; Apa yang kamu lihat? Dia menjawab; Aku melihat kebaikan yang sangat banyak. Allah Ta’ala bertanya; Apakah kamu mengetahuinya? Dia menjawab; Tidak. Allah Ta’ala berfirman; Itu adalah ke dzaliman orang-orang kepadamu, perlakuan orang-orang yang menyakitimu dan mengambil hartamu tanpa sepengetahuanmu”.
{ وعلى هذا حكاية }
إبراهيم بن أدهم كان له إثنان وسبعون عبدا فلما تاب ورجع إلى الله تعالى أعتق جميعهم ثم إن واحدا من هؤلاء العبيد شرب الخمر فلقى إبراهيم فقال يافلان دلنى على بيتى قال نعم فدله إلى مقبرة من المقابر فلما رأى السكران المقابر ضربه ضربا شديدا وقال قلت دلنى على بيتى وأنت تدلنى إلى مقبرة فقال يارثاغ وياقليل العقل هذا البيت حقيقة وسائرها مجاز فبدأ بالضرب وكان يضرب بالسوط وكلما يضرب بالسوط يقول إبراهيم غفر الله لك وبينما هما كذلك إذ جاء رجل آخر وقال يافلان ماتصنع تضرب مولاك الذى أعتقك وكان لايشعر الضارب إن هذا مولاه فقال من هذا قال الحاضر إن هذا مولاك المعتق إبراهيم بن أدهم فلما علم إن هذا معتقه نزل عن فرسه واعتذر إليه وقال إبراهيم قبلت وعفوت وتجاوزت عنك قال الضارب يامولاي كنت أضربك وأوذيك وأنت تدعوا بدعاء حسن وتقول بكل ضربة غفر الله لك فقال كيف لا أدعوك دعاء حسنا وأنت تكون سببا لي إلى دخول الجنة بضربك إياى وأذاك.
HIKAYAT Ibrahim bin Ad_ham mempunyai 72 budak. Ketika telah bertaubat dan kembali kepada Allah Ta’ala, dia memerdekakan semua budak-budaknya. kemudian salah seorang dari mantan budaknya minum khamer lalu bertemu dengan Ibrahim bin Ad_ham dan berkata; Wahai Fulan! Antarkan aku ke rumahku. Ibrahim bin Ad_ham menjawab; Baiklah. Lantas Ibrahim bin Ad_ham mengantarkannya ke sebuah kuburan. Setelah budak itu melihat kuburan, dia langsung memukul Ibrahim bin Ad_ham dengan keras dan berkata; Aku telah bilang; Antarkan aku kerumahku tapi mengapa engkau malah mengantarkanku ke kuburan?. Ibrahim bin Ad-ham berkata; Wahai orang yang tolol dan bodoh! Inilah rumah yang haqiqi, dan yang selainnya hanyalah fatamorgana. Lantas budak itu kembali memukul dan mencambuknya, namun setiap kali di cambuknya, Ibrahim bin Ad_ham berkata; Semoga Allah Ta’ala mengampunimu. Begitu kejadian ini terus berlangsung, tiba-tiba datanglah seorang laki-laki lain dan berkata; Wahai Fulan! Apa yang kamu lakukan, mengapa kamu memukul majikanmu yang telah memerdekakanmu? Pada saat itu budak tersebut tidak mengerti bahwa orang yang di pukulnya adalah majikannya, lalu bertanya; Siapakah orang ini? Laki-laki itu menjawab; Dia adalah Ibrahim bin Ad_ham yang telah memerdekakanmu. Ketika telah mengerti bahwa orang yang di pukulnya adalah orang yang telah memerdekakannya, dia lantas turun dari kudanya dan meminta ma’af kepada Ibrahim bin Ad_ham. Ibrahim bin Ad-ham berkata; Aku terima permohonan ma’afmu, aku telah mema’afkan dan mengampunimu. Budak itu berkata; Aku telah memukul dan menyakiti tuan, namun tuan senantiasa mendo’akanku dengan baik dan setiap pukulan tuan berdo’a; Semoga Allah Ta’ala mengampunimu? Ibrahim bin Ad_ham berkata; Bagaimana mungkin aku tidak akan mendo’akanmu dengan baik, sedangkan kamu adalah orang yang menjadi sebab bagiku untuk masuk surga lantaran pukulan dan penganiayaanmu kepadaku?.
الحديث الثامن والعشرون : النهي عن الاختيال ونسيان الله HADITS KE-28 : LARANGAN BERANDAI-ANDAI DAN MELUPAKAN ALLAH
عن أسماء بنت عميس الخثعمية رضي الله تعالى عنها قالت سمعت رسول الله صلى الله تعالى عليه وسلم يقول بئس العبد عبد تجبر واعتدى واختال ونسي الكبير المتعال بئس العبد عبد تجبر واعتدى ونسي الجبار الأعلى بئس العبد عبد سها ونسي المقابر والبلى بئس العبد عتا وطغى ونسي المبدأ والمنتهى بئس العبد عبد يختار الدنيا بالدين بئس العبد عبد يحتال الدنيا بالشبهات بئس العبد عبد ذو طمع يقوده إلى النار بئس العبد عبد هوى يضله بئس العبد عبد رغب بذله عن الحق.
Dari Asma` binti ‘Umais Al Khats’amiyah radliyallahu ‘anha ia berkata; Aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda; “Seburuk-buruk hamba adalah hamba yang sombong, berbangga diri dan lupa terhadap Dzat yang Maha Besar lagi Maha Tinggi, seburuk buruk hamba adalah hamba yang diktator dan kejam dan dia lupa terhadap Dzat yang Maha Perkasa lagi Maha Tinggi, seburuk buruk hamba adalah hamba yang lalai dan lupa akan kuburan dan ujian, seburuk buruk hamba adalah hamba yang melampaui batas dan berlebih-lebihan, lupa terhadap adanya permulaan dan kesudahan, seburuk buruk hamba adalah hamba yang mencari dunia dengan mengorbankan agama, seburuk buruk hamba adalah hamba yang mencari agama dengan hal-hal yang syub_hat, seburuk buruk hamba adalah hamba yang memiliki sifat tamak yang akan menuntunnya ke neraka, seburuk buruk hamba adalah hamba yang dikuasai oleh hawa nafsu yang menyesatkannya dan seburuk buruk hamba adalah hamba yang dikuasai sifat rakus yang menjadikannya hina”.
الخبر بتمامه { حكي } أن عمر بن عبد العزيز فى وقت خلا فته ارسل الصحابة إلى الروم لأجل الغزاة فانهزمت الصحابة وأسر عشرون نفرا من الصحابة وأمر قيصر الروم لو أحد منهم أن يدخل فى دينه ويعبد الصنم وقال إن دخلت فى ديني وسجدت للصنم أجعلك أميرا فى بلدة عظيمة وأعطيك العلم والخلع والكؤس والبوق وإن لم تدخل فى دينى أقتلك وأضرب عنقك فقال لاأبيع الدين بالدنيا فأمر بقتله فقتل فى الميدان وضرب عنقه بالسيف فدار رأسه فى الميدان ثلا ث مرات وكان يقرأ هذه الآية “ياأيتها النفس المطمئنة ارجعى إلى ربك راضية مرضية فادخلي فى عبادي وادخلي جنتي” فغضب قيصر وأخذ الثاني وقال ادخل فى دينى أجعلك أميرا فى مصر كذا وإلا أقطع عنقك كما قطعت عنق صاحبك فقال لاأبيع الدين بالدنيا فإن كان لك ولاية قطع عنقى فليس لك ولاية قطع الإيمان فأمر بقطع رأسه فقطع ودار كرأس صاحبه.ثلاث مرات وكان يقرأ الرأس “فهو فى عيشة راضية في جنة عالية قطوفها دانية” وسكت فوقع عند رأس الأول فغضب قيصر غضبا شديدا وأمر أن يؤخذ الثالث وقال ماتقول أنت هل تدخل فى ديني وأجعلك أميرا فأدركته الشقاوة وقال دخلت فى دينك واخترت الدنيا على الآخرة فقال قيصر لوزيره اكتب له مثالا واعطه خلعا وكؤسا وعلما فقال وزيره ياملك كيف أعطيه بغير تجربة فقال الوزير قل له إن كنت صادقا فى كلامك فاقتل رجلا من أصحابك وتصدق كلامك فأخذ الملعون المخذول واحدا من أصحابه فقتله فأمر الملك الوزير أن يكتب المثال فقال الوزير للملك هذا ليس من العقل والفطنة أن تصدق كلامه وما رعى حق أخيه الذى ولد معه ونشأ فكيف يرعى حقنا فأمر بقتله فقتلوه وقطعوا رأسه ودار فى الميدان ثلاث مرات وكان يقرأ الراس “فمن حق عليه كلمة العذاب أفأنت تنقذ من فى النار ” وسكن فى طرف الميدان وماحضر عند الرأسين فصار إلى غذاب الله تعا لى ونعوذ بالله.
Hadits dengan kessmpurnaannya. HIKAYAT Pada waktu ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz menjabat sebagai Khalifah, dia mengutus pasukan perang ke negeri Rum untuk berperang, namun kalah dan sepuluh orang dari mereka di tahan. Kemudian Kaisar Rum memerintahkan salah seorang dari mereka untuk masuk ke dalam agamanya dan menyembah berhala. Kaisar Rum berkata; Apabila engkau masuk ke dalam agamaku dan bersujud kepada berhala, maka aku akan menjadikanmu raja di sebuah negeri yang besar, aku akan memberimu bendera, pakaian kerajaan, gelas emas dan terompet, tapi apabila engkau menolak masuk ke dalam agamaku, aku akan membunuhmu dan akan memenggal lehermu. Orang itu berkata; Aku tidak akan menjual agama dengan dunia. Lalu Kaisar Rum memerintahkan untuk membunuhnya. Kemudian dia di bunuh dan di penggal lehernya di tengah alun-alun, lantas kepala orang itu berputar-putar di tengah alun-alun sebanyak tiga kali seraya membaca ayat;
“Wahai orang jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi di ridlai-Nya. Maka masuklah ke dalam jama’ah hamba-hamba-Ku”.(Qs. Al Hijr 27-30). Kaisar Rum marah besar Kemudian mendatangkan orang yang ke dua dan berkata; Masuklah engkau ke dalam agamaku, aku akan menjadikanmu raja di negeri itu, bila tidak aku akan memenggal lehermu seperti aku memenggal leher saudaramu. Orang ke dua berkata; Aku tidak akan menjual agama dengan dunia, boleh jadi engkau memiliki kuasa untuk memenggal leherku, namun tidak ada kuasa bagimu untuk memutus imanku. Kaisar Rum lalu memerintahkan untuk membunuhnya dan setelah di bunuh, lantas kepala orang kedua itu berputar-putar seperti kepala shahabatnya sebanyak tiga kali seraya membaca ayat;
“Maka orang itu berada dalam kehidupan yang di ridlai, dalam surga yang tinggi, buah-buahannya dekat”.(Qs. Al Haaqqah 21-23). Kemudian berhenti di samping kepala orang yang pertama. Kaisar Rum makin marah lalu memerintahkan untuk mendatangkan orang ketiga dan berkata; Apa yang engkau katakan? Apakah engkau akan masuk ke dalam agamaku dan aku akan menjadikanmu sebagai raja?. Celakalah orang ke tiga ini, dia berkata; Aku akan masuk ke dalam agamamu dan aku akan memilih dunia daripada akhirat. Kaisar Rum berkata kepada patihnya; Catat dia sebagai pahlawan, beri dia pakaian kerajaan, gelas emas dan bendera. Patih berkata; Wahai raja! Mana mungkin aku akan memberinya begitu saja tanpa membuktikan ucapannya terlebih dahulu. Patih melanjutkan; katakan kepadanya; Jika ucapanmu benar-benar dapat dipercaya, bunuhlah salah seorang dari shahabatmu hingga aku dapat mempercayaimu. Kemudian orang yang terla’nat dan hina mendatangkan salah seorang dari shahabatnya, lantas orang ke tiga membunuh shahabatnya sendiri. Lalu Kaisar Rum memerintahkan kepada patihnya untuk mencatatnya sebagai pahlawan. Patih berkata; Wahai raja! Sungguh ini tidak masuk ‘akal, dan sangat tidak bijak apabila tuan raja mempercayai ucapan orang yang tidak menjaga hak saudaranya yang selama ini lahir dan hidup bersama, sebab bagaimana mungkin dia akan menjaga hak kita? Kaisar Rum berakata; Bunuh dia! Kemudian dia di bunuh dan di penggal lehernya, lantas kepalanya menggelinding berputar-putar di tangah alun-alun sebanyak tiga kali seraya membaca ayat;
“Apakah (kamu hendak merobah nasib) orang-orang yang telah pasti ketentuan adzab atasnya? Apakah kamu akan menyelamatkan orang yang berada dalam api neraka?”.(Qs. Az Zumar 19). Lalu berhenti di pinggir alun-alun berpisah dengan kepala orang pertama dan ke dua dan akhirnya orang ke tiga itu berada dalam ‘adzab Allah ta’ala. Na’udzu billah.
ﺍﻟﺤﺪﻳﺚ ﺍﻟﺘﺎﺳﻊ ﻭﺍﻟﻌﺸﺮﻭﻥ : ﺍﻟﺤﺚ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﺜﻨﺎﺀ ﻋﻠﻰ ﺍﻷﻣﻮﺍﺕ HADITS KE-29 : ANJURAN MEMUJI ORANG-ORANG YANG MATI
Dari Abdil Aziz bin Suhaib dia berka: Saya mendengar Anas bin Malik ra. Berkata:Mereka berjalan bertemu dengan jenazah maka memujilah kalian pada jenazah dengan baik maka Nabi bersabda wajib memuji pada mayit,kemudian mereka berjalan bertemu dengan jenazah lalu merekan memujinya dengan kejelekan maka Nabi bersabda:Wajib memuji kejelekan pada mayit, berkata Umar bin Khattab :Apa yang mewajibkan ? Maka Nabi bersabda: inilah yang kamu puji dengan kebaikan maka wajib bagi mayit surga. Dan inilah yang kamu puji dengan buruk maka wajib baginya neraka, maka kamu sekalian sebagai saksi Allah dibuminya.
Dari Abi Aswad Ad-Daili dia berkata: Aku duduk disisinya Umar bin Khattab dia berkata: Rasulullah SAW bersabda:Tiada dari seseorang yang meninggal lalu disaksikan oleh tiga orang dengan persaksian meninggal dengal baik, kecuali surga wajib bagi mayit,maka saya bertanya (berkata) kalau hanya dua orang yang menjadi saksi? Maka rasulullah mejawab (bersabda) Ya walau hanyadua orang,dan kamitidak menanyakan pada Rasulullah SAW.tentang satu orang.
ﺍﻟﺤﺪﻳﺚ ﺍﻟﺜﻼﺛﻮﻥ : ﺇﻥ ﺍﻟﻌﺒﺪ ﻳﻐﻔﺮ ﻟﻪ ﺑﺜﻨﺎﺀ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﻋﻠﻴﻪ ﺑﻌﺪ ﻣﻮﺗﻪ HADITS KE-30 : SESUNGGUHNYA HAMBA AKAN DIAMPUNI SEBAB PUJIAN ORANG-ORANG KEPADANYA SETELAH KEMATIANNYA
Dari ‘Amir bin Rabi’ah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda; “Apabila seorang hamba telah mati dan Allah Ta’ala mengetahui keburukannya namun orang-orang mengatakan baik, Allah Ta’ala akan berfirman kepada para malaikat; Saksikanlah oleh kalian bahwa Aku benar-benar menerima kesaksian hamba-hamba-Ku dan mengampuni hamba-Ku dengan apa yang Aku ketahui”. HIKAYAT Pada zaman dahulu, hiduplah seorang laki-laki yang berprofesi sebagai penipu ulung hingga orang-orang menjuluki dan memanggilnya dengan nama Fulan Ath Tharrar (Fulan tukang sebrot). Pada suatu hari Tharrar masuk ke dalam pasar hendak menipu seseorang, dan dia mengincar salah seorang penduduk desa, lalu mengucapkan salam kepadanya, berjabatan tangan dan berkata; Kamu adalah teman dekat ayahku dan aku hendak menjamumu sebagai tamuku hari ini. orang itu berkata; Aku tidak kenal denganmu juga dengan ayahmu. Tharrar berkata; Kamu benar-benar teman dekat ayahku, mungkin kamu telah lupa namun aku tidak pernah lupa, aku akan menjamumu karena Allah Ta’ala. Kemudian Tharrar masuk ke sebuah warung makan yang menjual masakan kepala kambing, lalu dia memesannya dan mengambil roti beserta beberapa macam makanan. Umumnya di daerah itu pembeli tidak membayar kecuali setelah makan. Ketika semuanya telah di makan hingga tidak tersisa kecuali sesuap atau dua suap makanan, lantas Tharrar keluar dengan alasan buang air atau tipuan lainnya, dan ketika tamu itu hendak pergi, lalu si pemilik warung mencegah dan memintanya untuk membayar semua harga makanan yang telah di makannya. Tamu itu berkata; Aku adalah tamunya Fulan. Pemilik warung berkata; Aku tidak mau tahu mana yang tamu dan mana yang punya tamu, itu bukan urusannku, yang penting bagiku harga makanan itu di bayar habis perkara. adalah Tharrar penipu handal yang menghabiskan masa hidupnya dengan penuh tipuan hingga ketika sakit hendak mati dia menyewa dua orang laki-laki dan setiap orangnya di bayar satu Dinar, lalu Tharrar memberikan uang sewa dua Dinar kepada dua orang tersebut dan berkata; Apabila aku mati, katakan di belakang janazahku; Sebaik-baik lelaki adalah orang ini, dia adalah orang yang shalih yang senantiasa berbuat kebaikan, hingga orang-orang selesai mengubur dan pulang. Lalu ketika dua malaikat Munkar dan Nakir datang ke kuburnya untuk bertanya, lantas keduanya mendengar suara berkata; Tinggalkanlah hamba-Ku, sesungguhnya dia hidup dengan tipuan dan mati dengan tipuan pula. Akhirnya Tharrar .di ampuni lantaran dua orang saksi itu walaupun keduanya disewa.
ﺍﻟﺤﺪﻳﺚ ﺍﻟﺤﺎﺩﻱ ﻭﺍﻟﺜﻼﺛﻮﻥ : ﺩﻓﻊ ﺍﻟﻌﺬﺍﺏ ﻋﻦ ﺍﻟﻌﺒﺎﺩ ﺑﺼﺎﻟﺤﻴﻬﻢ HADITS KE-31 : TERTOLAKNYA ADZAB HAMBA DISEBABKAN ORANG YANG SHOLIH DARI MEREKA
Dari Ibnu Abbas ra. bahwa ia berkata, Rasulullah SAW. bersabda, “Allah SWT. menolak bencana dari umatku dengan orangyang shalat dari orang yang tidak shalat dan andaikata mereka berkumpul untuk meninggalkan shalat, Allah tidak memandang mereka sekejap mata pun.” Allah menolak bencana dari orang yang tidak mengeluarkan zakat dengan orang yang mengeluarkan zakat dan andaikata mereka berkumpul untuk meninggalkan zakat, Allah tidak memandang mereka sekejap mata pun. Allah menolak bencana dari umatku dari orang yang tidak berpuasa dengan orangyang berpuasa dan andaikata mereka berkumpul untuk meninggalkan puasa, Allah tidak akan memandang mereka sekejap mata pun. Allah menolak bencana dari ummatku dari orang yang tidak mengerjakan haji dengan orang yang mengerjakan haji dan andaikata mereka berkumpul untuk meninggalkan haji, Allah tidak akan memandang mereka sekejap mata pun. Allah menolak bencana dari orang yang tidak mengerjakan shalat Jumat dengan orang yang mengerjakan shalat Jumat dan andaikata mereka berkumpul untuk meninggalkan shalat Jumat, Allah tidak akan memandang mereka sekejap mata pun. Ini adalah makna firman Allah SWT:
ولولا دفع الله الناس بعضهم ببعض لفساتين الأرض ولكن الله ذو فضل على العالمين
“Kalau bukan karena Allah menolak bencana dari sebagian manusia dengan sebagian lainnya niscaya binasalah bumi ini.” (QS. Al-Baqarah : 251) Dengan ini, Allah menolak bencana dari orang yang tidak mengerjakan shalat pada ummatku dengan orang yang mengerjakan shalat.
HIKAYAT Diceritakan, bahwa Fudail bin Iyad rahimahullah adalah perampok dan merampok di banyak temapat. Pada suatu malam di suatu tempat ia membegal. Ia meletakkan kepada di pangkuan sahayanya ketika tiba-tiba nempak kafilah. Tatkala kafilah mendekat dan berhenti, berkatalah salah seorang dari mereka, “Sesungguhnya Fudail berada di sini bersama anak buahnya, apa yang harus kita perbuat?” Salah seorang dari tiga orang di antara kafilah berkata, “Kita lontarkan panah, jika kena sasaran kita teruskan perjalanan, jika meleset kita kembali.”Salah seorang dari mereka melepaskan anak panah seraya membaca :
ألم يأن للذين آمنوا أن تخشع قلوبهم لذكر الله
“Tidakkah sudah tiba waktunya bagi orang-orang beriman untuk tunduk hati mereka guna mengingat Allah.” (QS. Al-Hadid : 16) Fudail berteriak dan jatuh pingsan, sehingga sahayanya menyangka ia kena panah, ia cari di tubuh Fidail. Ketika sadar ia berkata, “Aku telah terkena panah Allah.” Orang itu melepaskan lagi panahnya sambil mambaca:
ففروا إلى الله إنى لكم منه نذير مبين
“Kembalilah kepada Allah, sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan yang nyata akan (kemarahan)Nya.” (QS. Adz-Dzariyat : 50) Berteriaklah Fudail untuk kedua kali. Sahayanya mencari anak panah di tubuhnya. Fudail berkata, “Hai sahaya, aku telah terkena panah Allah .”Kemudian orang itu melepaskan anak panah yang ketiga kali dan membaca :
وأنيتوا إلى ربكم ويسلموا له من قبل أن يأتيك العذاب ثم لاتنصرون {٤٥}
Tobatlah kepada Tuhanmu dan menyerahlah sebelum kalian ditimpa siksaan sehingga kalian tidak bisa tertolong. (QS. Az-Zumar : 54) Fudail berteriak lebih keras dari teriakannya yang pertama dan kedua, seraya berkata kepada sahaya dan anak buahnya, “Pulanglah kalian, aku dengan sombong menyesal atas keterlaluanku, rasa takut telah memasukan hatiku dan kutinggalkan segala kejahatanku.” Fudail berangkat menuju Makah. Begitu tiba dekat Nahrawan, disambut oleh Harun Al-Rasyid dan berkata kepadanya, “Hai Fudail, kulihat dalam mimpi seakan-akan ada surat berseru dengan keras, “Sesungguhnya Fudail takut kepada Allah dan memilih dan mengabdi kepada-Nya, sambutlah dia.” Fudail berteriak dan berkata, “WahaiTuhanku, dengan kemurahan dan kebesaran-Mu, Engkau mencintai hamba berdosa yang telah lari empat puluh tahun dari-Mu.”
ﺍﻟﺤﺪﻳﺚ ﺍﻟﺜﺎﻧﻲ ﻭﺍﻟﺜﻼﺛﻮﻥ : ﺧﺼﺎﻝ ﺧﻴﺎﺭ ﺍﻷﻣﺔ ﻭﺷﺮﺍﺭﻫﻢ HADITS KE-32 : HAL-HAL TENTANG UMAT YANG TERPILIH DAN UMAT YANG BURUK
Dari Abi Hurairah ra. Ia berkata Rasulullah SAW. bersabda, “Sebaik-baik umatku ialah siapa yang bersaksi tiada tuhan selain Allah dan Muhammad Rasul Allah. Apabila berbuat kebaikan, mereka gembira, apabila berbuat dosa meminta ampun, dan apabila bepergian memendekkan shalat serta berbuka puasa. Sejelek-jelek ummatku, ialah mereka yang dilahirkan dalam kenikmatan dan diberi makan dari yang haram, keinginan mereka berbagai macam makanan dan minuman, apabila berbicara tidak senonoh, dan apabila berjalan menyombongkan diri.”“Celakalah orang-orang yang suka menyeret ekor bajunya dengan sombong ketika berjalan, makan makanan riba serta mengucapkan syair (yang tidak senonoh).
Nabi SAW. memuji umatnya yang hidup dalam sifat demikian dan mencela yang selain itu. Seakan- akan beliau menyerukan umatnya untuk taat dan berjalan lurus di atas sifat-sifat itu. Pada suatu malam di bulan Rajab, Nabi SAW. bangun tengah malam untuk melihat masjid, apakah ada salah seorang sahabatnya yang bangun. Ketika beliau mendekati pintu masjid, terdengar suara Abu Bakar menangis dalam shalat sedangkan ia ingin mengkhatamkan Al-Quran dalam dua rakaat. Begitu sampai pada ayat : “Sesungguhnya Allah, membeli jiwa orang-orang berimana dan harta mereka dengan menyediakan surga bagi mereka itu.” Abu Bakar menangis keras dan memilukan. Berdirilah Rasulullah SAW. dipintu, air mata Abu Bakar menetes ditikar.Di pojok masjid terdengar suara Ali menangis dengan keras dan hendak mengkhatamkan Al-Quran dalam dua rakaat. Ketika sampai pada ayat “ Apakah nama orang- orang yang mengetahui dan yang tidak mengetahui , sesungguhna yang ingat adalah orang-orang yang berakal.”Air mata Ali menetes di atas tikar. Di sisi lain masih di dalam masjid, Mu’az bin Jabal menangis dengan suara keras, ia hendak mengkhatamkan Al-Quran dalam shalat, hanya saja ia membaca separuh atau sepertiga Al–Quran kemudian meninggalkannya dan mulai membaca surah lain dengan tertib, sambal menangis dalam shalat, air matanya menetes di atas tikar.Di pojok masjid Bilal shalat dan menangis. Menangislah Rasulullah SAW., hingga mereka selesai shalat. Nabi saw. pulang ke rumah dengan gembira, sementara mereka tidak mengetahui kehadiran Nabi SAW.Ketika tiba waktu pagi, mereka hadir di masjid dan shalat subuh di belakang Nabi SAW. Kemudian menghadap mereka seraya berkata dengan gembira, “Hai Abu Bakar, mengapa engkau menangis ketika samapi pada ayat :
إن الله اشترى من المؤمنين أنفسهم وأموالهم بأن لهم الجنة
“Sesungguhnya Allah membeli dari orang-orang mukmin jiwa dan harta mereka dengan menyediakan surga bagi mereka.” (QS. At-Taubah : 111) Abu Bakar menjawab, “Bagaimana aku tidak menangis, sedang Allah SWT. telah berfirman, “Aku telah membeli jiwa hamba-hamba-Ku. Apabila hamba mengandung aib, tentu Dia tidak membelinya. Apabila tampak aib setelah dibeli, pembeli akan mengembalikannya.“Jika aku mempunyai aib ketika dibeli atau tampak aib sesudah dibelidan Allah mengembalikan diriku, niscaya aku akan menjadi penghuni nereka. Karena itu aku menangis.” Kemudian Jibril datang dan berkata, “Hai Muhammad, katakana kepada Abu Bakar, apabila pembeli mengetahui aib hamba dan membeli dengan aib, ia tidak punya hak untuk mengembalikan. Allah SWT. mengetahui aib hamba sebelum menciptakannya. Meskipun ada aib dibeli juga dan tidak dikembalikannya, itu adalah aib sesudah dibeli.” Dalam suatu masalah, bahwa siapa yang membeli sepuluh sahaya dan salah seorang dari mereka tidak mengandung aib, sedang pembeli ingin mengembalikan yang mengandung aib dan mengambil selebihnya, syara’ tiak menyuruh demikian, bahkan menyuruh semuanya. Allah SWT. Membeli semua yang beriman, termasuk orang suci, para wali, para nabi dan rasul. Dengan kesepakatan, bahwa para nabi, orang-orang suci dan para rasul tidak ditolak, bisa diketahui yang mengandung aib tidak dikembalikan pula. Maka Rasulullah SAW. gembira, dan gembira pula para sahabat-Nya. Kemudian Rasulullah SAW. bersabda kepada Ali ra., “Hai Ali, mengapa engkau menangis ketika mambaca :
قل هل يستوى الذين يعلمون والذين لايعلمون)
“) Katakanlah (Hai Muhammad), apakah sama orang-orang yang mengetahui dan orang-orang yang tidak mengetahui?” (QS. Az-Zumar : 9) Ali menjawab, “Bagaimana aku tidak menangis, sedang Allah berfirman, “Katakanlah, Apakah sama orang-orang yang mengetahui dan yang tidak mengetahui”, sedangkan bapak kita Adam adalah orang yang paling pandai.“Allah SAW. berfirman, mengenai Adam, bahwa Allah mengajarkan semua nama kepada Adam. Sementara kami tidak mengetahui seperti dia, bagaimana kita bisa sama dengan dia?”Turunlah Jibri, seraya berkata, “Katakanlah kepada Ali : Bukanlah hai itu seperti yang engkau duga, tetapi tidaklah sama pada hari kiamat antara orang kafir dan orang-orang yang beriman.” Orang kafir tidak menyembah kecuali berhala dan tidak beriman kepada Allah serta hari akhir. Sedangkan orang mukmin menyembah Allah dan setiap waktu mengucapkan Tiada Tuhan selain Allah Muhammad Rasulullah. Apabila berbuat kebaikan mereka gembira, apabila berbuat dosa minta ampun dan apabila bepergian memendekkan shalat dan berbuka puasa. Tentulah tidak sama antara orang kafir dan orang mukmin, tempat orang kafir di neraka dan tempat orang mukmin di surga.
Dari Abdurrahman bin Zaid bin Aslam dari Makhul berkata, Ubadah bin as-Shamit ra berkata, Rasulullah SAW bersabda : Barangsiapa yang mandi pada hari Jumat dengan niat yang tulus, maka tidaklah mengalir air di atas rambut dari jasadnya melainkan terang bercahaya, dan semuanya akan bercahaya pada hari kiamat di padang Mahsyar, jasadnya bercahaya diantara para makhluk, kemudian Jumat datang dengan rupa seorang laki-laki yang di atas kepalanya ada sebuah mahkota dari surga seraya berkata : Salam sejahtera atasmu, lalu orang tersebut menjawab : Atasmu salam sejahtera, siapa engkau? Maka Jumat menjawab : Aku adalah Jum’at yang engkau mandi padaku, engkau shalat padaku, dan engkau memperbaiki/ membangunkan sholat karena Allah SWT, aku datang sehingga aku bersaksi Untukmu disisi Tuhankuu. Lalu Jumat tersebut bersaksi untuk orang tersebut pada Tuhannya, maka orang tersebut masuk surga
Barangsiapa mandi pada hari Jumat dan memakai pakaiannya, kemudian ia keluar dari pintu rumahnya berjalan untuk menunaikan shalat Jumat, maka Allah SWT menulis baginya di setiap langkah kakinya ibadah satu tahun dengan berpuasa dan qiyamul lail, apabila ia masuk masjid dan tidak lalai dan tidak berbicara kecuali yang baik, maka Allah SWT menulis baginya setiap kebaikan sejumlah orang yang shalat Jumat di masjid tersebut 25 shalat sampai akhir.
Barangsiapa pada hari Jumat membaca surat al- Kahfi pada 2 rakaat, maka tiang masjid tersebut yang ia shalat di dalamnya memancarkan cahaya sehingga tiang tersebut sampai ke masjid al-Haram di Mekah, tiang tersebut dipenuhi oleh para malaikat yang beristighfar untuknya sampai Jumat berikutnya. Apabila ia shalat Jumat di masjid al- Haram di Mekah, maka bersinarlah tiang-tiang masjid al-Haram sampai ke Bait al-Ma’mur di langit, tiang tersebut dipenuh oleh para malaikat yang beristighfar untuknya sampai Jumat berikutnya
Barangsiapa yang shalat pada hari Jumat sebanyak 4 rakaat sebelum Imam turun dari mimbar, di setiap rakaat ia membaca al-Fatihah satu kali dan al-Ikhlas 50 kali, sehingga bacaannya menjadi 200 kali pada 4 rakaat, maka sungguh ia telah menunaikan hak Jumat seperti para malaikat yang menunaikan Jumat, dan ia tidak akan keluar dari dunia ini sampai ia melihat tempatnya di surga. Ketika ia hendak keluar dari masjid setelah melaksanakan shalat, lalu ia berdoa : ? ?Ya Allah, sesungguhnya aku telah memenuhi panggilanmu, aku telah melaksanakan shalat wajibmu, dan aku telah bertebaran di muka bumi (untuk mencari Rizki) seperti yang Engkau perintahkan, maka berikanlah kepadaku rizki dari karunia-Mu yang luas, sesungguhnya engkau telah berfirman di dalam kitab-Mu : Apabila telah diseru untuk melaksanakan salat pada hari Jumat, maka segeralah kamu mengingat Allah, dan Engkau juga berfirman : Apabila salat telah dilaksanakan, maka bertebaranlah kamu di bumi” (al-Jumu’ah : 9-10). Maka ia diberi pahala dengan ibadah selama 200 tahun.
ﺍﻟﺤﺪﻳﺚ ﺍﻟﺮﺍﺑﻊ ﻭﺍﻟﺜﻼﺛﻮﻥ : ﺧﺼﺎﻝ ﻳﻜﻤﻞ ﺑﻬﺎ ﺍﻹﻳﻤﺎﻥ HADITS KE-34 HAL-HAL YANG MENYEBABKAN SEMPUNANYA IMAN
Dari Ali bin Husen dari kakeknya dari Rasulullah SAW bersabda : 4 hal jika terdapat pada diri seseorang maka sempurnalah imannya walaupun dari tanduk hingga kakinya (awal hingga akhir) banyak melakukan kesalahan, yaitu jujur, syukur, malu, dan akhlak yang baik
Diceritakan bahwa Ja’far at-Thayyar ra karena keberkahan dari kejujurannya dan tidak pernah berbohong sepanjang hidupnya, ketika ia dibunuh, maka Allah SWT memberikannya 2 sayap berwarna hijau yang terbuat dari permata dan Yaqut, ia terbang dengan sayapnya bersama dengan para malaikat, lalu Nabi SAW bertanya kepadanya : Wahai Ja’far at-Thayyar, wahai anak Abu Thalib, amalan apa yang engkau lakukan sehingga engkau mencapai kemuliaan ini? Ja’far menjawab : Aku tidak tahu, hanya saja aku menahan diriku atas tiga perkara, baik dalam keadaan kafir (dahulu) maupun Islam. Nabi SAW berkata : Apa itu? Ja’far menjawab : Aku tidak berbohong, tidak berzina, dan tidak mabuk dalam keadaan kafir maupun Islam. Nabi SAW berkata : Hal demikian diharamkan dalam Islam, lantas mengapa engkau menahannya dalam keadaan kafir? Ja’far menjawab : Aku berpikir tentang suatu pembicaraan bahwa orang yang berbohong dalam berbicara akan menjad orang yang dicurigai diantara manusia sehingga ia akan menjadi orang yang akan dipermalukan, maka aku menahan diriku untuk berbohong
Dan aku berpikir tentang zina bahwa orang yang berzina dengan isteriku, atau anakku, atau saudaraku akan menjadiaib untukku, sehingga aku tidak akan kuasa menahan beban tersebut, maka aku tidak mau membebani orang lain dengan perbuatan tersebut, dengan demikian aku menahan diri dari perbuatan zina. Adapun menahan mabuk, aku berpandangan bahwa setiap orang pasti ingin memiliki akal yang baik, sedangkan minum dan mabuk akan menghilangkan akal, menyebabkan halusinasi, dan mereka tertawa karena mabuk, maka aku menahan diriku untuk minum/mabuk. Maka datanglah malaikat Jibril as seraya berkata : Benarlah Ja’far, Allah telah memberikannya 2 sayap untuk menahan dari 3 perkara ini, perkiraan tersebut memang nyata dan benar terjadi .
الحديث الخامس والثلاثون : أذكار تقال عند النوم HADITS KE-35 : DZIKIR KETIKA AKAN TIDUR
عن أبي سعيد الخدري رضي الله تعالى عنه عن النبي صلى الله تعالى عليه وسلم قال، من قال حين يأوى إلى فراشه أستغفر الله العظيم الذي لا إله إلا هو الحي القيوم وأتوب إليه ثلاث مرات غفر الله له ذنوبه وإن كانت مثل زبد البحر وإن كانت مثل عدد ورق الأشجار وإن كانت مثل عدد رمل عالج وإن كانت مثل أيام الدنيا. قال محمد بن سعيد بن محمد سمعت أبا سهل المؤذن البخاري في مسجد بني معروف وكان رجلا صالحا قال رأيت النبي عليه السلام في المنام ورأيت إنسانا يقول هذا أبو بكر عن يمينه وعمر عن يساره فأتيت بين يدي رسول الله صلى الله تعالى عليه وسلم فصافحني النبي عليه السلام بيده ثم صافحني أبو بكر ثم صافحني عمر قلت يا رسول الله حدثنا أبو معاوية عن عبد الله بن الوليد عن عطية عن أبي سعيد الخدري رضي الله تعالى عنهم أجمعين قال، قال رسول الله صلى الله تعالى عليه وسلم، من قال حين يأوى إلى فراشه ثلاث مرات أستغفر الله العظيم الذي لا إله إلا هو الحي القيوم وأتوب إليه غفر الله ذنوبه ولو كانت مثل زبد البحر ولو كانت مثل رمل عالج ولو كانت بعدد ورق الأشجار ولو كانت مثل أيام الدنيا وظننت أنه قال مثل قطر السماء فقلت له هذا الحديث عنك يا رسول الله فأشار برأسه نعم.
Dari Abu Sa’id Al Khudri radliyallahu ‘anhu dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda; “Barangsiapa yang ketika akan tidur mengucapkan; “ASTAGHFIRULLAAHAL ’ADZIIM ALLADZI LAA ILAAHA ILLA HUWAL HAYYUL QAYYUUMU WA ATUUBU ILAIHI” (Aku memohon ampun kepada Allah yang Maha Agung yang tidak ada Tuhan yang patut di sembah selain Dia, Yang Maha Hidup dan Maha Benar, dan aku bertaubat kepada-Nya) sebanyak tiga kali, maka Allah akan mengampuni dosa-dosanya walaupun seperti buih di lautan, walaupun seperti jumlah daun pepohonan, walaupun seperti pasir gunung ‘Alij, walaupun seperti jumlah hari-hari di dunia”. Muhammad bin Sa’id bin Muhammad berkata; Aku mendengar Abu Sahal Al Bukhariy Mu’addzin Masjid Al Ma’ruf dan dia adalah seorang laki-laki yang shalih berkata; Aku melihat Nabi ‘alaihishalatu wassalam dalam mimpiku dan aku melihat orang-orang berkata; Orang yang berada di sebelah kanan beliau ini adalah Abu Bakar radliyallahu ‘anhu dan yang berada di sebalah kiri beliau ini adalah ‘Umar radliyallahu ‘anhu, kemudian aku menghadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam lantas Nabi ‘alaihishalatu wassalam menjabat tanganku lalu Abu Bakar lalu ‘Umar radliyallahu ‘anhuma. Aku berkata; Wahai Rasulallah! Abu Mu’awaiyah bercerita kepadaku dari ‘Abdullah bin Al Walid dari ‘Athiyah dari Abu Sa’id Al Khudri radliyallahu ‘anhum ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda; “Barangsiapa yang ketika akan tidur mengucapkan; “ASTAGHFIRULLAAHAL ’ADZIIM ALLADZI LAA ILAAHA ILLA HUWAL HAYYUL QAYYUUMU WA ATUUBU ILAIHI” (Aku memohon ampun kepada Allah yang Maha Agung yang tidak ada Tuhan yang patut di sembah selain Dia, Yang Maha Hidup dan Maha Benar, dan aku bertaubat kepada-Nya) sebanyak tiga kali, maka Allah akan mengampuni dosa-dosanya walaupun seperti buih di lautan, walaupun seperti jumlah daun pepohonan, walaupun seperti pasir gunung ‘Alij, walaupun seperti jumlah hari-hari di dunia”. Aku menduga bahwa beliau bersabda; “Walaupun seperti tetesan air hujan”, dan aku bertanya; Apakah hadits ini darimu wahai Rasulallah? Beliau memberi isyarah dengan menganggukkan kepalanya “Ya”.
Dari Ali bin Abi Thalib kw bahwasanya beliau berkata, Rasulullah SAW bersabda : Sesungguhnya al-Fatihah, Ayat Kursi, dan 2 ayat dari surat Ali Imran ( شهد الله أنه لا إله إلا هو) sampai dengan ayat ( إن الدين عند الله الإسلام) dan ayat (قل اللهم مالك الملك ) sampai dengan ayat ( بغير حساب ) ketika Allah SWT hendak menurunkannya, ayat-ayat tersebut bergantung di ‘arsy lalu berkata : Apakah Engkau akan menurunkan kami ke bumimu dan kepada orang yang mendurhakaimu? Allah SWT berfirman : Demi kemuliaan-Ku dan keagungan-Ku, tidaklah seseorang dari hamba-hamba-Ku membaca kalian di setiap akhir shalat melainkan Aku jadikan surga sebagai tempat tinggal dan kedudukannya, Aku tempatkan dia di tempat yang suci, Aku pandang ia 70 kali setiap hari, Aku tetapkan untuknya setiap hari 70 hajat ( keinginan).yang terendahnya adalah ampunan-Ku, Aku lindungi ia dari setiap musuh, dan Aku tolong ia
Diriwayatkan dari Wahab bin Munabbah ia berkata, bahwasanya seseorang dari Hawariyyin (pengikut Nabi Isa as) disebut juga dengan “Nawaf”, bertekad untuk pergi ke Raja Persia dan mengajaknya untuk beriman. Ketika ia sampaidi pintu kota Raja Persia, ia melihat anak-anak kecil yang sedang bermain Ka’ab, siapayang menang maka ia akan mendapat 40 dirham. Lalu Nawaf al-Hawari memperhatikan anak-anak tersebut, ia pun paham permainan mereka, lalu ia masuk ikut bermain bersama mereka, dan mengalahkan mereka semua, dan diantara mereka ada anak Menteri, anak itu berkata kepada Nawaf : Wahai syekh, ikutlah bersama kami ke rumah kami
Maka Nawaf al-Hawari berkata kepadanya : Pergilah kepada ayahmu, dan mintalah izin kepadanya. Maka anak itu pergi ke ayahnya dan berkata kepadanya : Wahai ayah, kami sedang bermain, lalu datang seorang syekh yang sudah tua, ia ikut bermain bersama kami dan mengalahkan kami semua, aku kagum dengan pengetahuannya, maka aku mengajaknya ke rumah ini tapi ia tidak mau, ia berkata kepadaku : Pergilah dan mintalah izin kepada ayahmu
Maka ayahnya berkata : Wahai anakku, pergilah dan ajaklah ia. Lalu anak itu kembali kepada syekh dan ia datang kepadanya. Ketika syekh tersebut masuk ke rumah, ia mengucap Bismillah, maka rumah tersebut kosong dari setan, mereka lari semuanya. Ketika shahibul bait menyajikan makanan untuk syekh tersebut, maka setan-setan tersebut semuanya datang kembali untuk ikut makan bersama mereka, lalu Ketika syekh memulai makan ia mengucap Bismillah, maka setan-setan lari semuanya dan keluar dari rumah tersebut
Ketika selesai makan, Menteri tersebut berkata kepada syekh, kabarkanlah kepadaku siapa engkau ? Sesungguhnya aku melihatmu banyak keajaiban yang aku belum pernah melihat seorang pun ketika masuk ke rumah ini setan-setan pergi, dan ketika makanan disajikan, kami tidak dapat makan bersama melainkan setan-setan itu ikut makan bersama kami dan setelah itu mereka pergi. Maka, aku tahu bahwa engkau memiliki sesuatu, kabarkanlah kepadaku, janganlah engkau menyembunyikannya dariku
Maka syekh tesebut berkata : Baik, aku akan kabarkan kepadamu, dan janganlah engkau kabarkan kepada orang lain tanpa seizinku, lalu Menteri itu pun setuju dan membuat perjanjian. Lalu syekh tersebut berkata : Sesungguhnya Ruhullah Isa as mengutusku kepada kalian dan kepada raja kalian untuk mengajak kalian kepada Allah SWT, kepada Islam, agar kalian menyembah Allah SWT dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun, dan jadikanlah berhala-berhala kalian inidi dalam api.
Menteri itu berkata padanya:Gambarkan padaku – Tuhanmu,itu ? Syekh berkata: Dia adalah Allah yang tiada Tuhan selain Dia, yang menciptakanmu, mam-berikanmu rizki menghidupkanmu, dan mematikan mu. Ia pun beriman kepadanya, membenarkan, dan menyembunyikan keimanannya. Pada suatu hari, Menteri tersebut hadir dihadapan raja dalam keadaan sedih dan bermuka masam. Maka syekh berkata : Wahai Menteri, aku melihatmu sedih dan bermuka masam, apa yang membuatmu sedih? Menteri berkata : Kuda raja mati, Raja selalu menungganginya, dan ia tidak menunggangi selainnya, ia sangat mencintainya dari semua hartanya, maka raja menjadi sedih
Syekh berkata : Pergilah kepada raja, dan kabarkanlah bahwa aku memiliki seorang tamu yang berkata : Jika raja taat dengan apa yang aku katakan, aku akan menghidupkan kudanya. Maka Menteri tersebut pergi kepada raja dalam keadaan senang, lalu berkata : Wahai Raja, bahwasanya aku memiliki tamu, sungguh aku melihat pada dirinya banyak keajaiban, dan aku mengabarkan dan memberitahukan kepadanya, dan ia berkata : Jika Raja taat dengan apa yang aku katakan, aku akan menghidupkan kudanya atas izin Allah SWT, maka Raja tersebut menerima tawaran tersebut. Lalu Menteri itu kembali kepada syekh dan berkata bahwasanya Raja akan taat kepadamu, dan ia memanggilmu
Ketika syekh sampai di pintu Raja dan hendak masuk ke rumah Raja, ia mengucap Bismillah, maka tidaklah tersisa setan-setan di rumah Raja tersebut. Ketika ia masuk, Raja berkata : Wahai syekh, Menteri telah menyampaikan kepadaku bahwa engkau akan menghidupkan sesuatu yang telah mati, maka hidupkanlah kudaku ini. Syekh berkata: Jika engkau taat dengan apa yang aku katakan, aku akan hidupkan kudamu atas izin Allah
Lalu Raja tersebut berkata : Aku dengar dan aku taat atas apa yang engkau kehendaki. Lalu syekh berkata : Apakah engkau memiliki anak? Raja menjawab : Aku memiliki ayah dan isteri, dan aku tidak memiliki selain keduanya. Lalu syekh berkata : Ajaklah mereka berdua untuk datang kesini, kemudian syekh berkata kepadanya : Ajaklah rakyat semuanya, dan kumpulkanlah mereka semua. Lalu syekh memegang salah satu dari 4 kakinya dan mengucapkan ( لاإله إلا الله ) maka kaki yang dipegang syekh bergerak. Lalu syekh berkata kepada raja, perintahkanlah kepada ayah dan isterimu untuk memegang setiap kaki. Mereka pun memegang ketiga kaki kuda tersebut. Lalu syekh berkata : Wahai raja, ucapkalah ,( لاإله إلا الله) maka ia mengucapkan :لاإله إلا الله
Maka bergeraklah kaki yang ia pegang. Lalu syekh berkata kepada ayahnya, ucapkanlah juga, ia pun mengucapkannya, maka bergeraklah kaki yang ia pegang. Kemudian syekh berkata kepada istrinya, ucapkanlah juga, lalu ia pun mengucapkannya, maka bergeraklah kaki yang ia pegang. Lalu tersisa badannya, maka syekh berkata : Perintahkanlah kaummu agar mereka mengucapkan ,ﷲ ﺇﻻ ﺇﻟﻪ ﻻ maka kuda tersebut berdiri atas izin Allah SWT, lalu bangkit dan mengibaskan rambutnya. Lalu mereka pun takjub melihat hal tersebut, dan mereka semua masuk Islam.
ﺍﻟﺤﺪﻳﺚ ﺍﻟسابع ﻭﺍﻟﺜﻼﺛﻮﻥ : ﻓﻴﻤﺎ ﻳﻨﺒﻐﻲ ﺃﻥ ﻳﺨﺘﻢ ﺑﻪ ﻛﻞ ﻣﺠﻠﺲ HADITS KE-37 : HAL YANG SEBAIKNYA DIGUNAKAN DIAKHIR PENUTUPAN SETIAP MAJLIS ( DO’A KAFFARATUL MAJLIS)
Dari Abu Hurairah ra berkata, Rasulullah SAW bersabda : Ketika seseorang diantara kamu duduk di suatu majelis, hendaklah ia tidak meninggalkan hingga membaca: ( سبحانك اللهم وبحمدك أشهد أن لا إله إلا أنت إغفرلي وتب علي ) sebanyak 3 kali .Jika ia di majelis itu baik maka ia seperti stempel (menjadi baik pula), jika di majelis ia lalai maka ia mendapatkafarat (ampunan dosa) selama ia berada di dalam majelis tersebut
Diceritakan bahwasanya Abu Yazid al-Bustomi ra pada suatu hari ia bermunajat kepada Tuhannya, hatinya senang dan lembut, pikirannya terbang ke ‘arsy, lalu iaberkata padadirinya, ini adalah maqam (kedudukan) Muhammad SAW pemimpin para Rasul, semoga aku menjadi tetangganya di surga.
Ketika Abu Yazid sadar, ia diseru dalam keadaan sirr yang berkata : Sesungguhnya hamba si fulan adalah seorang as-Syeikh al-Imam di Negara itu yang akan menjadi tetanggamu di dalam surga. Ketika Abu Yazid sadar, ia pergi untuk mencari hamba tersebut sampai ia dapat melihat wajahnya, ia berjalan sejauh 100 farsakh atau lebih. Ketika ia sampai ke Negara tersebut, dan bertanya tentang hamba as-Syekh tersebut, maka masyarakat berkata : Mengapa engkau bertanya tentang seorang fasik peminum khamr, sedangkan engkau adalah seseorang yang diwajahmu terdapat tanda- tanda orang yang shaleh? Ketika Abu Yazid mendengar perkataan tersebut, ia menyesal, merasa susah, dan berkata semoga seruan tersebut berasal dari setan
Maka ia hendak pulang ke Negaranya, kemudian ia berpikir dan berkata : Aku telah datang kesini dan aku belum melihat wajahnya dan aku akan pulang, lalu ia bertanya : Dimana rumahnya dan dimana tempatnya? Maka masyarakat mengabarkannya dan berkata : Sungguh pekerjaannya adalah mabuk di tempat itu. Lalu Abu Yazid pergi ke tempat tersebut dan melihat 40 orang berkumpul di tempat mabuk sedang meminum khamr, dan hamba tersebut sedang duduk diantara mereka. Ketika Abu Yazid melihat kondisi tersebut, ia kembali berputus asa
Lalu hamba tersebut memanggil dan berkata : Wahai Abu Yazid, Wahai Syekh al-Muslimin, mengapa engkau tidak masuk ke tempat ini ? Engkau telah datang kepada kami dari tempat yang jauh dengan lelah dan susah payah untuk mencari tetanggamu di surga, engkau telah menemukannya, tetapi engkau lekas pulang tanpa salam, tanpa bicara, dan tanpa bertemu. Abu Yazid pun merasa bingung, heran, dan berkata dalam dirinya : Ini bersifat sirr (rahasia), bagaimana ia dapat mengetahuinya. Lalu hamba tersebut berkata : Wahai Syekh, jangan engkau pikirkan dan jangan heran, yang mengutusmu kepadaku telah memberi tahuku akan kedatanganmu, masuklah wahai syekh, dan duduklah bersama kami sebentar saja
Lalu Abu Yazid masuk dan duduk di sampingnya, ia berkata : Wahai fulan, keadaan seperti apa ini? Maka hamba tersebut berkata : Bukanlah dari cita- cita orang ini masuk surga bersama-sama, sesungguhnya mereka ada 80 orang fasik, aku telah berusaha di dalam 40 orang, mereka bertaubat, sedangkan 40 orang lagi kembali menjadi fasik. Mereka yang bertaubat telah menjadi teman-temanku dan tetanggaku di surga. Kini mereka tersisa 40 orang, makawajib bagimu untuk berusaha mencegah mereka dari keadaan ini karena kedatanganmu. Ketika mereka (orang- orang fasik) mendengar perkataan ini, dan mereka mengetahui bahwa ini adalah Syeikh Abu Yazid al- Bustomi ra, mereka semuanya bertaubat, dan mereka menjadi 82 orang yang berteman dan bertetangga di surga.
Dari Sa’id bin Abi Burdah dari ayahnya dari Nabi SAW berkata, Rasulullah SAW bersabda : Ketika ahli neraka berkumpul dan bersama dengan mereka adalah orang-orangyang dikehendaki Allah SWT daripada ahli kiblat (muslim), orang-orang kafir berkata kepada orang-orang muslim : Bukankah kalian adalah orang-orang muslim? Mereka (muslim) menjawab : Benar. Mereka (kafir) berkata : Tidakkah keislaman kalian itu berguna sehingga kalian bersama kami di dalam neraka? Mereka (muslim) menjawab : Kami memiliki banyak dosa sehingga kami dihukum atas dosa-dosa tersebut.
Lalu Allah mendengar apa yang mereka katakan, lalu Allah memberikan perintah untuk mengeluarkan ahli kiblat (muslim), lalu mereka dikeluarkan. Ketika orang-orang kafir melihat hal tersebut, mereka berkata : Seandainya kami dahulu adalah orang-orang muslim, maka kami juga akan keluar seperti mereka dikeluarkan. Kemudian Rasulullah SAW membaca ayat : “Orang-orang kafir itu sering kali nanti di akhirat menginginkan, seandainya merekadahuludi dunia menjadi orang- orang muslim” (Al-Hijr : 2)
Nabi SAW bersabda pada hadits yang lain : Ketika hari kiamat, Jibril as berkeliling selama 4.000 tahun, laluia mendengar dineraka ada uaras eorang laki- lakidari ummatku yang berkata : “Wahai Dzat Yang Maha Kasih Sayang, Wahai Dzat Yang Maha Melimpahkan Karunia, Wahai Dzat Yang Memiliki Keagungan dan Kemuliaan”
Rasulullah SAW berkata : Maka Jibril as datang dan bersujuddi ‘arsy dan berkata : Wahai Tuhanku, aku mendengar di dalam neraka ada suara seorang laki-laki dari golongan muslimin yang berkata : Wahai Dzat Yang Maha Kasih Sayang, Wahai Dzat Yang Maha Melimpahkan Karunia selama 40.000 tahun, dan aku tahu sesungguhnya dia adalah bagian dari ummat Muhammad SAW, dan sesungguhnya Engkau tahu hubungan pertemanan antara aku dengan Muhammad SAW, dan sesungguhnya aku senang menjadikan di tempat Muhammad SAW itu kebaikan, dan sungguh seorang laki-laki dari ummatnya di dalam neraka, semoga aku diberi izin memberi syafa’at untuk orang tersebut
Lalu Allah Jalla Jalaluh berkata : Aku telah menerima permintaan syafa’atmu untuk orang tersebut, dan aku telah menganugerahkan kepadamu orang tersebut, maka pergilah kepada malaikat Malik penjaga neraka, dan katakanlah kepadanya untuk dia mengeluarkannya untukmu dan menyerahkannya kepadamu Maka Jibril as datang kepada malaikat Malik dan berkata : Sesungguhnya Allah SWT menganugerahkan kepadaku untuk si Fulan, maka keluarkanlah dia untukku dari neraka, dan serahkanlah kepadaku.
Rasulullah SAW bersabda : Lalu malaikat Malik masuk ke dalam neraka dan mencarinya selama 1.000 tahun, lalu ia tidak menemukannya, lalu malaikat Malik keluar dan berkata : Wahai Jibril, sesungguhnya neraka Jahannam itu berhembus, yaitu membelenggu dan ia menjadikan besi seperti batu, dan manusia seperti besi, sehingga aku tidak menemuinya.
Lalu Jibril as datang dan bersujud untuk yang kedua kalinyadiarsy dan berkata : Wahai Tuhanku, malaikat Malik tidak menemukannya, dimana dia? Maka Allah SWT berkata : Wahai Jibril, pergilah kepada malaikat Malik dan katakan kepadanya bahwasanya ia berada di lembah ini, di kedalaman ini, di pojok ini, dan di lubang ini. Lalu Jibril as datang dan mengabarkan malaikat Malik hal tesebut
Maka malaikat Malik pergi ke lembah neraka tersebut, lalu ia menemukan dia disana dalam keadaan terjungkal, ular-ular dan kelajengking bergelantungan padanya, dia dibelenggu dan dirantai. Lalu malaikat Malik mengambil anggota badan orang tersebut, ia telah menjadi seperti arang. lalu malaikat Malik menggerakkan dan menyentaknya, maka terlepaslah ular-ular dan kalajengking tersebut, kemudian malaikat Malik menggerakkan kembali orang tersebut, maka terlepaslah belenggu dan rantai tersebut
Lalu orang tersebut menghadap malaikat Malik dan berkata : Engkau datang kepadaku untuk menambah siksa ini atau untuk menyelamatkan aku? Maka malaikat Malik berkata : Aku tidak tahu itu, tetapi Jibril menunggumu. Lalu malaikat Malik mengambil dan menyerahkannya kepada Jibril, lalu Jibril mengambilnya dan datang ke kaki ‘arsy, dan tidaklah ada seseorang yang melewatinya kecuali ia berkata : Ini adalah fulan yang di neraka Jahannam selama 40.000 tahun
Lalu ia berdiri bersama dengan Jibril di ‘arsy, maka Allah SWT berkata kepada orang tersebut : Wahai hamba-Ku, tidakkah kalam-Ku itu melindungimu, tidakkah aku mengutus kepadamu seorang Rasul, tidakkah Rasul tersebut mengajakkepada kebaikan dan mencegah keumungkaran. Ia menjawab : BenarYa Tuhanku, tetapi aku zalim terhadap diriku sendiri, aku mengakui dosaku, maka ampunilah aku wahai Tuhanku dengan kebenaran apa yang telah aku katakan selama 4.000 tahun di dalam neraka : Wahai Dzat Yang Maha Kasih Sayang, Wahai Dzat Yang Maha Melimpahkan Karunia, maka aku berharap agar Engkau mengampuniku
Maka Allah SWT berkata : Aku telah mengampuni dan menganugerahkan kepadamu karena Jibril, dan Akutelah membebaskanmu darineraka karena syafa’at Jibril. Rasulullah SAW bersabda : Lalu Jibril pergi bersamanya ke surga, dan Jibril membersihkannya dengan Air al-Hayat dan Air al- Kautsar, maka hilanglah dari orang tersebut tanda ahli neraka, setelah itu Jibril memasukkannya ke dalam surga, lalu Jibril memberikan salam kepada Muhammad SAW dan berkata : Wahai Muhammad, aku jadikan orang inidi tempatmu. Maka Nabi SAW berkata : Iya
ﻭﻓﻲ ﺍﻟﺤﺪﻳﺚ ﺃﻥ ﺍﻟﺤﺴﻦ ﺍﻟﺒﺼﺮﻱ ﻗﺎﻝ ﺍﻟﻠﻬﻢ ﺍﺟﻌﻠﻨﻲ ﻣﻤﻦ ﻳﻨﺠﻮ ﻣﻨﻬﺎ ﺑﻌد أربعين ألف عام إن كان لابد لي من أدخلها بشؤم ذنب
Dalam hadits ini, Hasan Al-Basri berkata : Ya Allah, jadikanlah aku orang yang selamat darinya setelah 40.000 tahun, karena bisasaja aku termasuk orang yang masuk ke dalam neraka karena buruknya dosaku.
Diriwayatkan dari Mujahid dari Salman dari Nabi SAW., “Barangsiapa menjaga empat puluh perkara ini, ia masuk surga dan Allah membangkitkannya bersama para nabi serta ulama pada hari kiamat.”
ﻓﻘﻠﻨﺎ ﻳﺎﺭﺳﻮﻝ ﷲ ﺃﻱ ﺍﻷﺭﺑﻌﻴﻦ ﺣﺪﻳﺜﺎ،
Kami (para sahabat) bertanya, “Ya Rasulullah, empat puluh perkara yang mana?”
Rasulullah SAW. menjawab, “Engkau beriman kepada Allah, hari akhir, malaikat, kitab, para nabi, kebangkitan sesudah mati, takdir baik serta yang buruk dari Allah SWT. dan engkau bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah Rasul Allah. Mendirikan shalat dengan menyempurnakan wudhu, dengan kesempurnaan rukuk dan sujud, manunaikan zakat dan haknya, berpuasa pada bulan Ramadhan, menunaikan haji jika mampu melakukan.
Mengerjakan shalat (sunah rawatib) dua belas rakaat siang dan malam adalah sunahku, tiga rakaat witir jangan ditinggalkan, jangan menyekutukan sesuatu dengan Allah, jangan durhaka kepada kedua orang tua, jangan makan harta anak yatim, jangan makan riba, jangan minum arak, jangan bersumpah demi Allah secara dusta, jangan bersaksi dengan kesaksian palsu terhadap seseorang pun baik yang dekat maupun yang jauh, jangan berbuat sesuatu dengan mengikuti hawa nafsu, jangan mengumpat saudaramu, jangan mencaci dari belakang
jangan menuduh zina kepada perempuan yang terpelihara, jangan katakan tentang dirimu bahwa kamu mengharap pujian sehingga sia-sialah amalmu, jangan bermain-main dan berfoya-foya, jangan katakan kepada orang pendek “Hai pendek” dengan maksud menunjukkan aibnya, jangan mengejek seseorang, jangan merasa aman dari hukuman Allah,
jangan suka berjalan mengadu domba antara sesama saudara, bersyukurlah atas kenikmatan yang diberikan Allah kepadamu, hendaklah engkau sabar di waktu mengalami cobaan dan musibah, jangan putus asa akan rahmat Allah, hendaklah engkau ketahui bahwa sesuatu yang pasti menimpamu tidak akan meleset dan sesuatu yang tidak bakal menimpamu tidak akan meleset, jangan mencari kemarahan Tuhan karena mengharapkan keridhaan pun makhluk, jangan lebih mengutamakan dunia dari pada akhirat,
apabila saudaramu minta sesuatu darimu janganlah engkau kikir kepadanya, dalam urusan agama lihatlah kepada orang yang di atasmu, dalam urusan dunia lihatlah kepada yang di bawahmu, jangan berdusta, jangan bergaul dengan setan ( orang jahat ), tinggalkan kebatilan dan jangan mengerjakannya, apabila engkau mendengar kebenaran jangan menyembunyikannya.
didiklah istri dan anak-anakmu dengan segala yang bermanfaat bagi mereka di sisi Allah dan mendekatkan mereka kepada Allah, berbuatlah kebaikan terhadap tetangga-tetanggamu, jangan memutus hubungan dengan kerabat dan sanak familimu, peliharalah hubungan dengan mereka dan jangan mengutuk seorang pun dari makhluk Allah, perbanyaklah tasbih, tahlil, tahmid, dan takbir,
Dan jangan Tinggalkan membaca Al-Quran dalam segala keadaan kecuali dalam keadaan junub (berhadas besar), jangan tinggalkan shalat Jum”at, jamaah dan dua hari raya, perhatikan segala yang engkau tidak senang orang lain dikatakan kepadamu dan melakukannya terhadapmu dan jangan engkau senang hal itu terjadi pada seseorang dan jangan melakukannya terhadap orang lain.”
Salman berkata, “Aku bertanya, “Ya Rasulullah, apakah pahala dari keempat puluh perkara tersebut?” Rasulullah SAW. menjawab, “Demi Allah yang telah mengutusku dengan kebenaran sebagai nabi, sesungguhnya Allah SWT. akan membangkitkan pelakunya pada hari kiamat bersama para nabi dan ulama.
Barangsipa menjaga empat puluh perkara ini dan mengajarkannya kepada orang lain, hal itu lebih baik daripada ia diberi dunia beserta isinya. Demi Allah yang mengutusku dengan kebenaran sebagai Nabi barang siapa menjaga empat puluh perkara ini dan meminta sesuatu disisi Allah , maka Allah akan mengalungi dengan kalung berupa cahaya pada hari kiamat, sehingga kagumlah orang-orang terdahulu dan kemudian lantaran kebaikan, kebagusan, keindahan, dan kemuliaan yang diberikan Allah kepadanya.
Demi Allah yang mengutusku dengan kebenaran sebagai nabi, berangsipa menjaga empat puluh perkara ini, Allah akan memberi hak unruk memohonkan keringanan bagi empat puluh ribu orang yang sudah diputuskan masuk neraka dan memberi hak kepada masing-masing untuk memohon keringanan bagi empat puluh ribu orang yang lin sebanyak tiga kali.”
“Demi Allah yang telah mengutusku dengan kebenaran sebagai Nabi, barangsiapa menjaga empat puluh perkara ini dan mengajarkannya kepada orang alin, pada hari kiamat Allah akan memberi bagian pahala dari empat puluh orang wali Abdal dan akan memberi ganjaran dari setiap perkara itu seribu malaikat yang membangun istana-istana dan kota-kota serta menanamkan baginya pohon di surga.”
“Demi Allah yang mengutusku dengan kebenaran sebagai nabi, barangsiapa menjaga empat puluh perkara ini dan memanfaatkan orang banyak, Alah mengharamkan tubuhnya bagi api neraka. Pada hari kiamat ia akan berada di menara dari cahaya, ia telah aman dari ketakutan yang besar, dan Allah menyelamatkan dari perhitungan amal. Orang yang menjaga empat puluh perkara ini dan yang mempelajarinya, diberi oleh Allah derajat ulama dan duduk bersama mereka, Allah akan memberinya apa yang diberikan kepada mereka.”
Ini semua diriwayatkan dari Salman ra. : Berkata Asy-Syekh Al-Imam Najmuddin Al-Nasafi rahimahullah, “Kamitelah menetapkan empat puluh perkara (hadits), pahamilah hadits-hadits atau perkara-perkara itudan jangan menjadi orangyang nyaris tidak mengerti apa-apa.
ﺍﻟﺤﺪﻳﺚ ﺍﻷﺭﺑﻌﻮﻥ : ﺧﺼﺎﻝ ﻣﻦ ﻳﻜﻮﻧﻮﻥ ﻓﻲ ﺁﺧﺮ ﺍﻟﺰﻣﺎﻥ HADITS KE-40 : SITUASI MANUSIA DI AKHIR ZAMAN
Diriwayatkan dari Ibnu Abbas ra. ia berkata, Rasulullah Saw. bersabda, “Pada akhir zaman akan muncul golongan-golongan yang berwajah manusia, namun berhati setan.”
Mereka seperti serigala buas yang hatinya tidak memiliki belas kasihan sedikit pun. Suka menumpahkan darah dan tidak suka menjauhi yang buruk. Jika engkau mengikuti, mereka akan mendekatimu. Jika engkau menjauhi, mereka akan mengumpatmu. Jika engkau memberi amanat, mereka akan mengkhianatimu.”
“Pemuda-pemuda mereka ugal-ugalan dan para orang tuanya suka berbuat maksiat, tidak menyuruh berbuat kebaikan dan tidak melarang berbuat kemungkaran. Membanggakan mereka adalah suatu kehinaan dan meminta sesuatu dari mereka adalah kemiskinan.”
“Hukum di kalangan mereka adalah bid’ah dan kalangan mereka adalah sunah. Sehingga ketika Allah memberikan kuasa kepada orang- orang jahat dari mereka, kemudian orang-orang baik dari mereka berdoa, maka tidak diterima doanya.” Berkata Asy-Syekh Muslim Al-Abadani, “Shaleh Al-Muro, Abdul Wahid bin Zaid. Atabah Al- Ghulam, dan Salamah Al-Aswad datang kepada kami lalu pergi ke pantai.”
Pada suatu malam, kusiapkan makanan dan kuundang, mereka untuk datang. Ketika datang, dan kuletakkan makanan di hadapan mereka, tiba- tiba terdengar suara keras di tepi pantai, “Awaslah kalian, makanan dan kelezatan telah melalaikan kalian dari tempat yang kekal (akhirat) . Keduanya tidak berguna.” Berteriaklah Atabah terus jatuh pingsan dan menangislah orang-orang, lalu kami angkat makanan itu dan tidak kami makan sesuap pun.
ﻗﺎﻝ ﻣﻌﺎﺫ ﺑﻦ ﺟﺒﻞ ﺭﺿﻲ ﷲ ﺗﻌﺎﻟﻰ ﻋﻨﻪ ﻗﺎﻝ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟله ﺻﻠﻰ ﷲ ﺗﻌﺎﻟﻰ عليه وسلم سيأتي على الناس زمان يخلقون فيه سنتي ويحددو البدعة فمن اتبع سنتي يومئذ صارغريبا وبقى وحيدا ومن اتبع بدعة الناس وجد خمسين صاحبا أو أكثر قالت أصحاب رسول الله هل بعدنا أحد يكون أفضل منا قال نعم قالوا فهل يرونك قال النبي عليه الصلاة والسلام لا قالوا فهل ينزل عليهم الوحي قال لا قالوا كيف يكونون قال كالملح فى الماء تذوب قلوبهم كما يذوب الملح فى الماء فقالوا كيف يعيشون فى ذلك الزمان قال كالدود فى الخل قالوا يارسول الله كيف يحفظون دينهم قال كالقمر فى اليدين إن وضعته طفئ وإن أخذته فى اليد أخرق.
Mu`azbin Jabal berkata, Rasulullah SAW. bersabda, “Akan datang suatu zaman di mana orang akan menganggap sunahku sudah using dan memperbaharui bid’ah. “Barangsiapa mengikuti sunahku pada waktu itu, maka dia menjadi asing dan tinggal seorang diri. Barangsiapa mengikuti bid’ah ia akan mendapatkan lima puluh orang teman atau lebih.” Para sahabat bertanya, “Apakah ada sesudah kami orang yang lebih utama daripada kami?” Nabi SAW menjawab, “Ada Para sahabat bertanya, “ Apakah mereka melihatmu ? ” Nabi SAW. menjawab, “Tidak.”Para sahabat bertanya, “ Apakah turun wahyu kepada mereka.” Nabi SAW. menjawab “Tidak.”Para sahabat bertanya, “Bagaimana mereka itu?”Nabi SAW. menjawab, “Seperti garam di dalam air, hati mereka meleleh seperti garam didalam air.”Para sahabat bertanya, “Bagaimana mereka hidup di zaman itu?”Nabi SAW . menjawab, “Seperti ulat dalam cuka. ”Para sahabat bertanya, “Ya Rasulullah, bagaimana mereka menjaga agama?” Nabi SAW. menjawab, “Seperti bara api di tangan, jika engkau letakkan ia akan padam, jika engkau ambil dengan tangan ia akan membakar.
Penutup;
الحمد لله الذي بنعمته تتم الصالحات وبشكره تربو النحم وتكثر البركات والصلاة والسلام على سيدنا محمد خاتم النبيين المبعوث بتعريف جلاله والتخويف من عذابه المهين وعلى آله ذوي النفوس الطاهر وأسحابه الذين نقلوا الينا أحواله الباطنة والظاهرة (أما بعد) وقد تم بحمد ه وتوفيقه وعونه ترجمة شرح المواظ العصفورية المشتملة على الأربعين الأحاديث النبوية ومايناسبها من الأخبار والوعظية والحكايات المرفقة للقلوب الأبية وهو لحضرة الفاضل واللوذى الكاملا لشيخ محمد بن أبى بكر الشهير بعصفورى رحمه الله ورضاه وجعل الجنة مثواه
Segala puji bagi Allah Dzat yang dengan sebab ni’mat-Nya kebaikan-kebaikan akan sempurna, dengan sebab bersyukur kepada-Nya ni’mat akan bertambah dan barakah akan semakin banyak, shalat dan salam semoga senantiasa tercurahkan atas baginda kita Nabi Muhammad penutup Nabi-Nabi, yang di utus dengan mengajarkan tentang ke Agungan-Nya dan menakut-nakuti dari siksa-Nya yang menghinakan, atas para keluarganya yang memiliki jiwa yang suci dan atas shahabatnya yaitu orang-orang yang mengantarkan hal ahwal beliau kepada kita baik yang dzahir maupun yang bathin. Selanjutnya; Dengan memuji kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, berkat petunjuk dan pertolongan-Nya,terjemah kitab ‘USHFURIYAH Penyusun Syaikh yang Utama Muhammad Abiy Bakr yang masyhur dengan sebutan Usfuriy, dapat terselesaikan yang didalamnya Berisi ( mencakup )empat puluh Hadits kenabian dan berita-berita yang pantas, peringatan, dan kisah-kisah ( hikayat-hikayat )yang melekat di hati orang yang sombong. . Amin.
PENERJEMAH : ABD.GHANI, AL-JAZAIRIY. S.Pd.I
Giliraja Giligenting Sumenep Madura Jawa Timur 2023
Deskripsi: Ada sebuah botol diisi khomr. Botol tersebut kemasukan batu kerikil. Oleh karena khomr adalah najis, batu kerikil tersebut dihukumi muta najis sebab dikenainya. Dalam kondisi khomr bercampur batu tak lama kemudian khomir berubah menjadi cuka.
Pertanyaannya.
Sucikah cuka tersebut yang berasal dari khomr sementara dibotol tersebut terdapat kerikil sebagaman deskripsi ? Mohon jawaban beserta ibarahnya
Waalaikum salam.
Jawaban
Cuka tersebut dihukumi najis sebab terkena batu kerikil yang mutanajis.Sedangkan Cuka yang dihukumi suci yang berasal dari khomr, manakala Khomr berubah menjadi cuka dengan sendirinya bukan disertai dengan Pelantara benda lain yang suci.
Referensi:
كاشفة السجا
(فصل) في بيان الاستحالة والمطهر المحيل (الذي يطهر) هو من باب قتل وقرب أي ينفي ويبرأ (من النجاسات ثلاث)
[Fasal ini] menjelaskan tentang perubahan najis menjadi suci dan perkara mensucikan yang dapat merubah najis menjadi suci. [Najis-najis yang dapat menjadi suci ada 3 (tiga)]. Lafadz dari bab يطهر , (suci) termasuk bab lafadz ‘ قَـتََلَ يَـقْتُُلُ’ dan ‘ قَـرَُبَ يَـقْرُُبُ’, yang berarti ‘يَـنْـَفَى’ (meniadakan) dan ‘ يَـبْـَرَُأُ’ (bebas).
1.Khomr Menjadi Cuka
أحدها (الخمر) بغير تاء وهي كل مسكر ولو من نبيذ التمر أي من المتروك منها حتى يشتد أو القصب أو العسل أو غيرها محترمة كانت الخمر وهي التي عصرت بقصدالخلية أو لا بقصد شيء أو التي عصرها الكافر أم لا وهي التي عصرت بقصد الخمرية وكان العاصر مسلماً ويجب إراقتها حينئذ قبل التخلل
Maksudnya, termasuk najis yang dapat menjadi suci adalah khomr (‘الخَْمْر’ tanpa menggunakan huruf /ة/). Khomr adalah setiap cairan, yang memabukkan meskipun berasal dari sisa kurma yang telah berubah menjadi sangat keras rasanya, atau dari tebu, madu, atau selainnya. Khomr dibagi menjadi 2 (dua), yaitu:
Khomr muhtaromah (yang dimuliakan), seperti; khomr yang berasal dari perasan (semisal anggur) yang diperas dengan tujuan untuk dijadikan cuka, khomr yang diperas bukan untuk tujuan tertentu, dan khomr yang diperas oleh orang kafir.
Khomr ghoiru muhtaromah (yang tidak dimuliakan), seperti; khomr yang berasal dari perasan semisal anggur yang diperas dengan tujuan untuk dijadikan khomr sedangkan pemerasnya adalah orang muslim. Ketika khomr itu berupa khomr ghoiru muhtaromah maka diwajibkan dibuang sebelum khomr tersebut berubah menjadi cuka.
Masing-masing dari dua khomr di atas dihukumi najis dan bisa berubah menjadi suci ketika telah berubah menjadi cuka.
(إذا تخللت بنفسها) أي من غير مصاحبة عين فهي طاهرة لأن علة النجاسة الإسكاروقد زال ولأن العصير غالباً لا يتخلل إلا بعد التخمر، فلو لم نقل بالطهارة لتعذر اتخاذخل من الخمر وهو حلال إجماعاً
Khomr bisa menjadi suci ketika telah berubah menjadi cuka dengan sendirinya, maksudnya berubah menjadi cuka dengan sendirinya adalah berubahnya tanpa disertai perantara benda lain yang suci.
Alasan mengapa khomr yang telah berubah menjadi cuka dihukumi suci adalah karena kenajisan khomr disebabkan oleh sifat iskar atau memabukkan sedangkan sifat iskar ini hanya dapat dihilangkan ketika khomr itu telah berubah menjadi cuka, (oleh karena faktor yang menyebabkan kenajisan khomr telah hilang maka sifat najis itu pun juga hilang).
Selain itu, khomr yang telah menjadi cuka dihukumi suci karena pada umumnya cairan perasan tidak akan dapat berubah menjadi cuka kecuali cairan perasan tersebut harus menjadi khomr terlebih dahulu. Oleh karena itu, andaikan kita tidak mengatakan kalau khomr itu bisa suci maka kita akan kesulitan membuat cuka dari khomr, padahal cuka sendiri dihukumi halal menurut ijmak ulama.
ويطهر دنها معها وإن غلت بنفسها حتى ارتفعت وتنجس بها ما تلوث فوقها بغير غليا نها من د نها
Ketika khomr telah berubah menjadi cuka, botolnya pun bisa menjadi suci meskipun khomr (cuka) tersebut meluap naik dengan sendirinya, tetapi bagian botol di atas volume khomr (cuka) yang tidak dikenai oleh luapan naiknya dihukumi mutanajis karena telah terkena khomr terlebih dahulu saat khomr dituangkan ke dalam botol.
أما إذا تخللت بمصاحبة عين وإن لم تؤثر في التخليل كحصاة فلا تطهر لتنجسها بعد تخللها بالعين التي تنجست بها قبل التخلل
Adapun ketika khomr berubah menjadi cuka dengan disertai perantara benda lain meskipun benda lain tersebut sebenarnya tidak memberikan pengaruh sama sekali terhadap perubahan khomr menjadi cuka, seperti; kerikil, maka khomr tersebut tidak dihukumi suci karena khomr yang telah berubah menjadi cuka menjadi najis sebab terkena benda lain yang menjadi mutanajis karena terkena khomr terlebih dahulu saat sebelum berubah menjadi cuka.
(هى الخمر والنبيذ) أى كل مسكر أى شأن نوعه الإسكار وإن لم يسكر هو بالفعل كقطرة خمر والمسكر هو ذو الشدة المطربة ولا يكون إلا مائعا أصالة كالخمر كذا فى بشرى الكريم ص. ٤٠ ج. ١