HUKUMNYA SHALAT SAMBIL MENGAMBIL AL-QUR’AN YANG JATUH DILANTAI
Assalamualaikum Deskripsi masalah.
Ketika Shalihun dalam kondisi membaca fatihah didalam shalat anaknya main-main al-Qur’an dan jatuh al-Qur’annya dilantai dan tepat disampingnya shalihun, hingga setelah shalihun selesai membaca Fatihah dia bermaksud mengambilnya dan sekalian ruku’ .
Pertanyaannya Sahkah shalat shalihun tersebut.
Waalaikum. Jawaban Shalatnya Shalihun batal, karena turunnya Shalihun dari berdiri ada tujuan selain ruku’ seperti tujuan untuk mengambil sesuatu ( al-Qur’an ) atau meletakkan sesuatu ( Al-Qur’an) atau memperbaikinya. Jadi shalatnya Shalihun batal karena ada tujuan lain selain rukun sehingga menambah pekerjaan yang sejenis dengan shalat. Akan tetapi berbeda dengan membaca mushaf Al-Qur’an ketika shalat maka hukum shalatnya tidak batal. Wallahu A’lam bisshowab.
مرقاد صعود التصديق فى شرح سلم التوفيق.ص٣٠ ورابعها أن لايقصد بِهُوِيِّه من قيامه غير الركوع فإن قصد بِهُوِيِّه غيره كأن هوى لأخذ شيء أو وضعه أوإصلاحه بطلت صلاته لزيارته فعلا من جنس أفعالها.
Artinya:” Yang keempat dari fardlu nya ruku’ adalah waktu menurunkan badan dari berdiri tidak adanya tujuan selain ruku’ . Apabila Musholliy turun ( dari berdiri) ada tujuan lain selain ruku’ , seperti mempunyai tujuan untuk’ mengambil sesuatu atau meletakkan sesuatu atau memperbaikinya, maka dalam kondisi yang seperti ini shalatnya batal. Alasannya karena menambah pekerjaan yang sejenis dengan shalat.
Kafir dzimmi ( Non Muslim ) adalah golongan kaum kafir yang hidup berdampingan dengan umat Muslim. Mereka termasuk dalam kelompol kafir kitabi, sehingga kehadirannya tidak membahayakan serta mengancam akidah Islam, Karena kafir dzimmi ( Non Muslim ) diikat dengan perjanjian kewajiban membayar jizyah (pajak) kepada pemerintah setempat sebagaimana disebutkan dalam beberapa nash diantaranya, Q.S.At-Taubah · Ayat 29
Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan hari akhir, tidak mengharamkan (menjauhi) apa yang telah diharamkan (oleh) Allah dan Rasul-Nya, dan tidak mengikuti agama yang hak (Islam), yaitu orang-orang yang telah diberikan Kitab (Yahudi dan Nasrani) hingga mereka membayar jizyah dengan patuh dan mereka tunduk.
Kafir dzimmi ( Non Muslim ) sebagaimana ayat diatas adalah berasal dari kaum ahli kitab, yakni umat Yahudi dan Nasrani. Menurut ketentuannya, mereka diwajibkan membayar jizyah dan menaati peraturan yang berlaku di wilayah setempat, sehingga kafir dzimmi berhak hidup aman dan nyaman di wilayah kekuasaan Islam. Mereka juga memiliki hak-hak dan kewajiban yang hampir sama dengan kaum Muslimin lainnya. Oleh karenanya kafir dzimmi harus dilindungi jiwa dan hartanya, jika sakit Mereka berhak mendapatkan bantuan pengobatan dan diperlakukan baik serta mendapatkan sedekah dari umat Muslim. Sehubungan dengan hal tersebut orang Non Muslim bernama Luincing ia berteman Akrab dengan Mahmud ( orang Islam ) suatu ketika Luincing sakit dan Mahmud menjenggoknya kerumahnya hingga kerumah Sakit, bahkan Mahmud sempat mendoakan mudah-mudahan Allah menyembuhkan kamu Luincing.
Pertanyaannya. Bagaimanakah hukumnya orang Islam mendoakan kesembuhan Non Muslim yang sedang sakit sebagaimana deskripsi. ?
Waalaikum salam . Jawaban.
Mendo’kan orang sakit dengan do’a kesehatan dan kesembuhan hukumnya boleh bahkan dianjurkan, meskipun yang sakit adalah orang kafir /fasik , selama dia bukan orang yang menyusahkan masyarakat, dan juga mendoakan pengampunan,rahmat dan hidayah kecuali do’ maufiroh atas kekafirannya setelah mati, maka hukumnya tidak boleh.
Referensi:
(الجمل على شرح المنهج الجزء الثانى ص ١٣٤)
وقوله وأن يدعو له بالشفاء أي ولو كافرا أو فاسقا ولو كان مرضه رمدا وينبغي أن محله ما لم يكن في حياته ضرر للمسلمين وإلا فلا يطلب الدعاء له بل لو قيل بطلب الدعاء عليه لما فيه من المصلحة لم يبعد
“orang-orang Muslim boleh menjawab doanya orang-orang non-Muslim (kafir), dan boleh mendoakannya, walaupun doa memohon ampunan (maghfirah) dan kasih sayang (rahmat). Berbeda dengan keterangan dalam kitab al-Adzkaar kecuali mendoakan orang kafir dalam memintakan ampunan atas kekafirannya, sedangkan orang yang didoakan sudah mati dalam keadaan kafir, maka tidak diperbolehkan”.
DALAM ANJURAN MENDOAKAN ORANG NON MUSLIM TERJADI PERBEDAAN PENDAPAT ULAMA Ar-Ramli as-Shaghiir memilih diperbolehkannya “Tidak haram mendoakan non muslim dengan mendapatkan ampunan kecuali mendoakan orang kafir dalam memintakan ampunan atas kekafirannya, sedangkan orang yang didoakan sudah mati dalam keadaan kafir, maka tidak diperbolehkan ”Bila yang dikehendaki “Ya Allah ampunilah ia bila masuk islam atau bila dikehendaki agar ia islam saat didoakan ampunan maka boleh”Hanya saja menurt alQasiim bila yang demikian tidak menimbulakan pengagungan terhadap mereka, bila menimbulkan maka dilarang terlebih bila disertai tanda kuat akan pengagungan terhadap mereka dan melecehkan terhadap lainnya seperti selepas mereka menjalani suatu pekerjaan dan tidak terdapati selainnya yang mampu mengerjakannya maka doanya pertanda mengagungkan mereka dan melecehkan selainnya”. [ Hasyiyah as-Syibra malisy VI/1 ].
[ابن حجر الهيتمي، تحفة المحتاج في شرح المنهاج وحواشي الشرواني والعبادي، ٨٨/٢] الدُّعَاءُ لِلْكَافِرِ بِنَحْوِ صِحَّةِ الْبَدَنِ وَالْهِدَايَةِ وَاخْتَلَفُوا فِيجَوَازِ التَّأْمِينِ عَلَى دُعَائِه .والله أعلم بالصواب
“Dan diperbolehkan mendoakan semacam kesehatan badan dan ulama berbeda pendapat tentang diperbolehkannya mengamini doa mereka”.
HUKUM MEYAKINI DAN MENCERITAKAN “DINDEDIN/JAILANGKONG( JELMAAN ORANG YANG MENINGGAL DUNIA)
Assalamualaikum. Dimasyarakat sejak dahulu hingga sekarang jika orang yang maksiat meninggal, maka sebagian masyarakat merasakan rasa takut, apalagi orang yang meninggal dikuburkan didekat rumahnya, menurut mereka ketemu dengan din dadin (Jailangkong) artinya dindadinnya orang yang meninggal, ( orang yang meninggal jadi jailangkong ) padahal jika orang meninggal tidak akan hidup lagi kecuali pada hari ba’ats ( hari kebangkitan semua manusia dari kubur ) dihari kiamat..
Pertanyaannya
1.Benarkah DINDEDIN ( JAILANGKONG)..? Sebagai jelmaan orang yang meninggal dalam keadaan maksiat..?
2.Bagaimana hukum menceritakan dan menyakini hal tersebut..?
Waalaikum salam.
Jawaban.
Tidak benar Istilah jailangkong /din dedin adalah jelmaan orang yang sudah mati dari ahli ma’siat yang seakan akan bangkit dari kuburnya dengan menyerupai bentuk yang bemacam-macam dan menakutkan serta sering mengganggu masyarakat .Dalam hal ini tidak boleh meyakini bahkan berdosa menceritakan bahwa yang keluar dari kubur adalah ruhnya mayit, atau syetan yang mengganggu manusia atau amalnya mayit yang jelek dan diserupakan oleh Allah dalam bentuk “Dindedin/ jailangkong ” dan lain sebagainya.
Dengan demikian tidak boleh seseorang meyakini bahwa orang yang telah meninggal keluar dari kuburnya menjelma didedin/Jailangkong dan semacamnya,serta berdosa menceritakan hal yang tidak masuk akal dan kebohongan, karena manusia yang meninggal hanya akan dibangkitkan dihari kiamat, sebagaimana firman Allah . وَأَنَّ السَّاعَةَ آتِيَةٌ لَّا رَيْبَ فِيهَا وَأَنَّ اللَّهَ يَبْعَثُ مَن فِي الْقُبُورِ
Referensi
(قرة العين بفتاوى أسماعيل الزين ص : ٢٠)
خروج شبح الشخص الميت بعد موته سؤال : وقع في بلدنا منذ زمن قديم ما يسمونه بجراغكوغ . وتوضيح المسألة أن من مات من أهل الفجور يخرج من قبره خلق يشبه حيوانا ذو صورة مخوفة . كان يخرج من قبر ذلك الميت فيذهب إلى بيوت الناس يخوفهم بشتى أنواع المخوفات يخوفهم بصورته وصوته وشكله وغير ذلك . وهو يتشكل بصور مختلفة عجيبة وربما يسمع صوته ولا يرى شخصه. وكثيرا ما يتشكل بصورة ذلك الميت تماما . ويكون خروج ذلك الشيء الخبيث بعد الغروب إلى أن طلع الفجر هذا ما سمعنا من بعض الناس . ثم إنهم يختلفون في ذلك . فمنهم من قال إنه روح ذلك الميت أخرجه الله إلى هذه الدنيا إعلاما منه سبحانه أن صاحبه كان من أهل الفجور . ومنهم من قال أنه شيطان يفتن الناس . ومنهم من قال إنه عمل الميت السيء خلقه الله وجسمه. فنرجو منكم توضيح الجواب والله يجزيكم بالأجر والثواب. الجواب : والله الموفق للصواب :أنه لا ينبغي أن يقول الإنسان كل ما سمع , وفي الحديث ” كفي بالمرء كذبا أن يحدث بكل ما سمع ” ولا ينبغي أن يعتقد مثل هذا. فقد جاء الشرع الحكيم بالنهي عن مثل هذا الإعتقاد . قال صلى الله عليه وسلم ” لَا عَدْوَى وَلَا طِيَرَةَ وَلَا هَامَةَ وَلَا صَفَرَ ” رواه البخاري ومسلم. والهامة هي نوع من الطيور كان أهل الجاهلية يعتقدون أن روح الميت تتجسم فيها وأنها تدور حول بيته وتأتي ليلا إلى أهله فنهى رسول الله صلى الله عليه وسلم عن ذلك وأكد النهي بصيغة النفي إشارة إلى أن هذا غير واقع. وما في صورة السؤال من هذا النوع فينبغي أن لا يعتقد ذلك ولا يصدقه المؤمنون العقلاء . وقدرة الله سبحانه وتعالى صالحة لكل شيء لكنه من رحمته لعباده ولا سيما هذه الأمة المحمدية جعل بعض الأمور مستورة ومخفية وبعض الأمور موكولة إليه لا يعلم حقيقة مصيرها إلا هو.
Referensi :
غاية تلخيص المراد من فتاوى ابن زياد – (ص ٢٠٦) قال حسين الأهدل: وما يوجد من التعاليق في الكتب من ذلك فمن خرافات بعض المنجمين والمتحذلقين وترّهاتهم لا يحل اعتقاد ذلك، وهو من الاستقسام بالأزلام، ومن جملة الطيرة المنهيّ عنها، وقد نهى عنه عليّ وابن عباس رضي الله عنهما.
Referensi
شرح النووي على مسلم – (ج ١٤ / ص ٢٢٥) قوله صلى الله عليه وسلم: ( ولاهامة ) فيه تأويلان: أحدهما أن العرب كانت تتشاءم باطامة وهى الطائر المعروف من طير الليل وقيل هي البومة قالوا كانت اذا سقطت على دار أحدهم رآها ناعية له نفسه أوبعض أهله وهذا تفسير مالك بن أنس والثانى أن العرب كانت تعتقد أن عظام الميت وقيل روحه تنقلب هامة تطير وهذا تفسير أكثر العلماء وهو المشهور ويجوز أن يكون المراد النوعين فانهما جميعا باطلان فبين النبى صلى الله عليه و سلم ابطال ذلك وضلالة الجاهلية فيما تعتقده من ذلك والهامة بتخفيف الميم على المشهور الذى لم يذكر الجمهور غيره وقيل بتشديدها قاله جماعة وحكاه القاضي عن أبى زيد الأنصارى الامام فى اللغة.
الحاوي للفتاوي للسيوطي – (ج ٢ / ص ٥٠) مسألة – ما الجواب عن قوله عليه السلام “لا عدوى ولا طيرة ولا هامة الحديث” وعن قوله في تعويذة الحسن والحسين “أعيذكما بكلمات الله التامة من شر كل هام وهامة” الحديث فإن الأول يدل على نفي الهام والثاني على وجوده فما التوفيق؟ الجواب – الحديث الثاني لفظه من كل شيطان وهامة والهامة بالتشديد واحدة الهوام وهي الحيات والعقارب وما شاكلها وأما الهامة المنفية في الحديث الأول فهي بالتخفيف شيء كانت العرب تزعمه لا وجود له في الخارج كانوا يقولون إن القتيل إذا قتل يخرج له طائر يسمى الهامة فيقول اسقوني اسقوني حتى يؤخذ بثأره ومنه قول الشاعر: يا عمرو إلا تدع شتمي ومنقصتي * أضربك حتى تقول الهامة اسقوني
HUKUMNYA SHALAT IMAM DAN SIKAP MAKMUM KETIKA MELIHAT IMAM AURATNYA TERBUKA
Assalamualaikum ustadz ustadzah? Deskripsi masalah Ketika para muslimat shalat berjamaah , makmum melihat Imamnya tersingkap auratnya (telapak kakinya) atau tangannya terbuka sedangkan terbukanya aurat tersebut bukanlah unsur kesengajaan.
Studi kasus yang hampir serupa. Ahmad baru pulang dari kantornya tepat pada waktu dhuhur ketika sampai dirumahnya istrinya sedang sholat disuraunya, dan terlihat auratnya terbuka ( telapak kakinya ) ketika sujud, kemungkinan terbukannya tersebut bukanlah unsur kesengajaan.
Pertanyaannya. Bagaimanakah hukumnya shalat imam serta sikap makmum yang melihat Imamnya ketika shalat auratnya terbuka? Kalau harus memberi tahu bagaimana caranya ?begitu juga sikap Ahmad ketika melihat istrinya terbuka auratnya ketika shalat?
Waalaikum salam. Jawaban
Sebagaimana yang kita maklumi, bahwa menutup aurat ketika shalat merupakan bagian dari salah satu syarat sahnya shalat. Maka terbukanya aurat saat shalat akan menjadi benyebab batalnya shalat, jika kondisi tersebut (Terbukanya aurat), dibuka secara sengaja, meskipun langsung ditutup kembali. Namun demikian, dalam kondisi tertentu, syariat Islam memberikan toleransi terbukanya aurat yaitu apabila terbuka oleh angin, kemudian langsung ditutupi seketika, maka shalatnya tidak batal. Demikian juga halnya musholliy, apabila sarungnya atau bajunya terbelit dan tersingkap kemudian dia segera menutupnya kembali, maka shalatnya tidak batal
كفاية الأخيار .ص ٣٦ وأما انكشاف العورة فإن كشفها عمدا بطلت صلاته وإن أعادها في الحال … وإن كشفها الريح فاستتر في الحال فلا تبطل وكذا لو انحل الإزار أو تكة اللباس فأعاده عن قرب فلا تبطل
Inti dari penjelasan ibarah di atas adalah bahwa ketika terbukanya aurat terjadi secara tidak sengaja atau karena tiupan angin dan segera ditutupi lagi, maka shalatnya tidak batal, karena menutupi aurat selama dalam kondisi shalat hukumnya wajib. Menurut Imam Malik, apabila yang terbuka qubul atau dubur, yang dibahasakan sebagai aurat mughalladlah, jika terbukanya disengaja ataupun tidak, maka tetap membatalkan shalat.
Referensi:
مذاهب الأربعة ج١ص١٩٦
ولا بد من دوام ستر العورة …المالكية قالوا : إن انكشاف العورة المغلظة في الصلاة مبطل لها مطلقا
“Harus melanggengkan menutup aurat… Madzhab Malikiyyah berpendapat: ‘Apabila yang terbuka adalah aurat mughalladloh maka batal secara mutlak”.”
Lalu bagaimana sikapnya makmum ketika melihat imam auratmya terbuka…? Maka makmumnya wajib memberi tahu dengan cara bertasbih atau dengan isyarat , begitu juga Ahmad ketika melihat Istrinya terbuka auratnya maka ia wajib memberitahu dengan kata-kata yang bisa dimengerti oleh Istrinya, sebagaimana keterangan hadits, jika imam lupa, maka makmum harus mengingatkan imam, dengan ucapan subhanallah, dan dalam hadits sifatnya umum tidak menyebutkan imamnya orang yang mendengar ataupun orang tuli, bahkan boleh makmum mengucapkan subhanallah ketika mengingatkan orang yang buta hampir memasuki sumur artinya makmum tetap punya hak untuk mengingatkan, jika makmum sudah mengingatkan tapi imam tidak menghiraukan ( ini dapat difahami tidak menghiraukannya imam kepada peringatan makmum karena tidak mendengar, ini sama dengan orang tuli, karena yang tahu gerak giriknya imam adalah makmum, maka dalam kondisi yang sedemikian makmum tidak boleh mengikuti imam, akan tetapi mufaroqoh atau menunggu imam menurut qoul mu’tamad, begitu juga hal orang melihat orang yang shalat terdapat najis dipakainya atau badannya maka ia wajib memberitahu.
Referensi:
موسوعة الحديث النبوية عن أبي هريرة رضي الله عنه مرفوعًا: «التَّسْبِيحُ للرجال، والتَّصْفِيق للنساء». [صحيح] – [متفق عليه] الشرح معنى الحديث: “التَّسْبِيحُ للرجال، والتَّصْفِيق للنساء”، وفي رواية لمسلم: (في الصلاة ) والمعنى: أن مَن نَابه شيء في الصلاة، يقتضي إعلامَ غيره بشيء، مِن تنبيه إمامه على خَلَلٍ في الصَّلاة، أو رؤية أعمى يقع في بئر، أو استئذان داخل، أو كون المصلِّي يريد إعلامَ غيره بأمر -فإنَّهُ في هذه الأحوال وأمثالها يسبح، فيقول : “سبحان الله”؛ لإفهام ما يُريد التنبيهَ عليه، وهذا في حق الرَّجل، أما المرأة إذا نَابها شيء في صلاتها، فإنها تُصَفِّق، وكيفيته: أن تَضرب إحدى يديها بالأخرى بأي طريقة، وكل هذا إبعاد للصَّلاة عمَّا ليس منها مِنَ الأقوال؛ لأنَّهَا موضعُ مُنَاجَاة مع الله سبحانه وتعالى ، فلمَّا دَعت الحاجةُ إلى الكلام، شُرِعَ ما هو مِن جِنْسِ أقوال الصلاة، وهو التَّسبيح
Referensi:
(فقه العبادات على مذهب الإمام الشافعي)
وإذا صلى المرء وعلى ثوبه أو بدنه نجاسة دون أن يعلمها، أو علمها ثم نسيها لم تصح صلاته، وعليه إعادة الصلاة إذا تذكر ذلك، ويعيد كل صلاة تيقن فعلها مع النجاسة. ولو سلم من صلاته ثم رأى عليه نجاسة يجوز أنها كانت في الصلاة ويجوز أنها حدثت بعدها فصلاته صحيحة، وتستحب إعادتها.
Referensi:
اَلْمَجْمُوْعُ شَرْحُ الْمُهَذَّبِ (4/ 238) وَاِنْ سَهَا الْاِمَامُ فيِ صَلَاتِهِ فان كان في قراءة فتح عليه المأموم لما روى أنس قال ” كان أصحاب رسول الله صلى الله عليه وسلم يلقن بعضهم بعضا في الصلاة ” وإن كان في ذكر غيره جهر به المأموم ليسمعه فيقوله وَإِنْ سَهَا فِيْ فِعْلٍ سَبَّحَ بِهِ لِيُعْلِمَهُ فان لم يقع للامام أنه سها لم يعمل بقول المأموم لان من شك في فعل نفسه لم يرجع فيه الي قول غيره كالحاكم إذا نسى حكما حكم به فشهد شاهدان أنه حكم به وهو لا يذكره وَأَمَّا الْمَأْمُوْمُ فَيُنْظَرُ فِيْهِ فَاِنْ كَانَ سَهْوُ اْلِامَامِ فِيْ تَرْكِ فَرْضٍ مِثْلُ أَنْ يَقْعُدَ وَفَرْضُهُ أَنْ يَقُوْمَ أَوْ يَقُوْمَ وَفَرْضُهُ أَنْ يَقْعُدُ لَمْ يُتَابِعْهُ لِاَنَّهُ اِنَّمَا يَلْزَمُهُ مُتَابَعَتُهُ فِيْ أَفْعَالِ الصَّلَاةِ وَمَا يَأْتِي بِهِ لَيْسَ مِنْ أَفْعَالِ الصَّلاَةِ
Artinya: Jika Imam lupa di dalam bacaan shalat, maka makmum mengingatkannya ,dan jika lupa dalam gerakan maka makmum mengingatkannya dengan membaca tasbih, dan bagi makmum yang imamnya lupa dalam gerakan fardhunya, maka harus mufaroqoh (tidak boleh mengikuti imam).
Artinya: Ketika imam menambah satu rakaat maka makmum tidak boleh mengikutinya walaupun makmum masbuq atau ragu dalam hitungan rakaat akan tetapi harus mufaroqoh dan salam atau menunggunya menurut qoul mu’tamad. Sebaiknya makmum mengingatkan imam, jika imam tidak menghiraukan maka makmum tidak boleh mengikuti Imam akan tetapi mufaroqoh atau menunggu Imam dalam posisi berdiri.
Referensi:
بُغْيَةُ الْمُسْتَرْشِدِيْنِ :ص:٥٧ ( مسألة : ك) :
قام الإمام بعد السجدة الأولى انتظره المأموم في السجود لعله يتذكر ، لا في الجلوس بين السجدتين لأنه ركن قصير أو فارقه وهو أولى هنا ، ولا تجوز متابعته ، وَلَوْ تَشَهَّدَ الْإمَامُ فِيْ ثَالِثَةِ الرُّبَاعِيَّةِ سَاهِياً فَارَقَهُ الْمَأْمُوْمُ أَوِ انْتَظَرَهُ فِي الْقِيَامِ ، وأفتى الشهاب الرملي بوجوب المفارقة مطلقاً ، وجوّز سم انتظاره قائماً ، وجوز ابن حجر في الفتاوى متابعته إن لم يعلم خطأه بتيقنه أنها ثالثة
Artinya: Ketika imam melakukan tasyahud dalam keadaan lupa pada rakaat ketiga di dalam shalat yang jumlah rakaatnya empat, maka makmum harus memisahkan diri atau menunggunya dengan cara berdiri. Wallahu A’lam bisshowab
Sebagaimana kita ketahui, Islam adalah wahyu terakhir dari Allah yang menutup risalah-risalah sebelumnya. Oleh karena itu, Islam membawa syariat yang universal dan abadi, mencakup seluruh umat manusia di berbagai tempat dan zaman. Syariat Islam tidak hanya diperuntukkan bagi penduduk kota dengan mengabaikan masyarakat desa, tidak pula hanya bagi mereka yang hidup di daerah beriklim dingin tanpa memperhatikan masyarakat di wilayah tropis, serta tidak hanya berlaku untuk satu generasi dengan melupakan generasi lainnya. Islam telah mengakomodasi kebutuhan individu maupun masyarakat, dengan mempertimbangkan kepentingan dan kemaslahatan semua pihak.
Di antara manusia, ada yang bersabar dalam menanti keturunan, namun diberi ujian dengan seorang istri yang mandul, menderita penyakit, atau memiliki kendala lain yang menyebabkan ia tidak dapat melahirkan anak. Dalam kondisi seperti ini, bukankah lebih baik bagi suami untuk tetap mempertahankan istrinya, memenuhi hak-haknya, sekaligus menikahi perempuan lain yang dapat mewujudkan harapannya untuk memiliki keturunan?
Demikian pula, ada lelaki yang memiliki gairah seksual yang tinggi, tetapi diberikan istri yang kurang memiliki hasrat terhadap suaminya, mengidap penyakit tertentu, mengalami masa haid yang panjang, atau menghadapi faktor lain yang memengaruhi hubungan suami istri. Dalam kondisi seperti ini, jika suami tidak mampu bersabar atau merasa malu serta takut untuk menjalankan poligami, bisa jadi ia justru tergoda untuk berselingkuh dengan wanita lain secara tidak halal.
Sebagai contoh, Ahmad adalah seorang pria yang telah menikah dengan Sutiana. Namun, secara diam-diam, Ahmad menjalin hubungan terlarang dengan Maryam. Sesuai pepatah yang mengatakan, “Sebusuk-busuknya bangkai yang dipendam, pada akhirnya baunya akan tercium juga,” akhirnya Maryam mengetahui bahwa Ahmad sebenarnya telah memiliki istri. Setelah mengetahui hal tersebut, Maryam menolak untuk melanjutkan hubungan karena takut terhadap Sutiana.
Menanggapi hal ini, Ahmad berusaha meyakinkan Maryam dengan mengatakan, “Istriku sudah kuceraikan sejak sebulan yang lalu.” Namun, kenyataannya, Ahmad belum pernah menjatuhkan talak kepada Sutiana.
Kasus ini menggambarkan bagaimana kebohongan dapat digunakan untuk membenarkan hubungan yang tidak sah, serta pentingnya memahami hukum Islam dalam pernikahan dan poligami agar seseorang tidak terjerumus dalam kesalahan yang lebih besar.
Pertanyaanya.
Apakah perkataan Ahmad kepada maryam, ” Istri saya ( Sutiana) telah ditalak satu bulan yang lalu termasuk talak…? Padahal kenyataannya belum ditalak.
Waalaikum salam. Jawaban. Ungkapan Ahmad kepada Maryam dengan mengabarkan bahwa istrinya telah ditalak satu bulan yang lalu baik dengan cara bercanda atau bohong atau hanya main-main saja , maka dalam hukum islam jatuhlah talak. Hal ini berdasarkan hadits Nabi Muhammad SAW
Referensi:
الموسوعة الحديث النبوية
عن أبي هريرة أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: “ثلاث جِدُّهُنَّ جِدٌّ، وهَزْلُهُنَّ جِدٌّ: النكاح، والطلاق، والرَّجْعَةُ”. [حسن] – [رواه أبو داود والترمذي وابن ماجه]
Dari Abu Hurairah RA. Bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Ada tiga perkara yang seriusnya dianggap serius dan bercandanya juga dianggap serius, yakni nikah, talak, dan rujuk,” (HR. ath-Thabrani).
الشرح يدل الحديث على أنَّ من تلفظ هازلاً بلفظ نكاح أو طلاق أو رجعة وقع منه ذلك، فالقصد والجد والمزح حكمهم واحد في هذه الأحكام، فمن عقد لموليَّته، أو طلَّق زوجته، أو أرجَعَها؛ نفذ ذلك من حين تلفظه بذلك، سواء كان جادًّا، أو هازلاً، أو لاعبًا؛ حيث إنه ليس لهذه العقود خيار مجلس ولا خيار شرط. وهذه الأحكام الثلاثة عظيمة المنزلة في الشريعة، ولهذا لا يجوز اللعب بها ولا المزح، فمن تلفظ بشيء من أحكامها لزمته.
Referensi:
[البكري الدمياطي، إعانة الطالبين على حل ألفاظ فتح المعين، ٨/٤]
قوله: ويقع طلاق الهازل) أي ظاهرا وباطنا إجماعا، وللخبر الصحيح: ثلاث جدهن جد، وهزلهن جد: الطلاق، والنكاح، والرجعة. ..
[النووي، المجموع شرح المهذب، ٦٨/١٧]
(فرع) ويقع الطلاق في حال الرضى والغضب والجد والهزل، لِمَا رَوَى أَبُو هُرَيْرَةَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قال ” ثلاث جدهن جد، وهزلهن جد النكاح والطلاق والرجعة ” رواه أصحاب السنن.
HUKUM WANITA JANDA MENGANGKAT WALI MUHAKKAM SEDANGKAN WALI AB’AD MASIH ADA
Assalamualaikum.
Seorang wanita janda ingin menikah wali Nasabnya ada namun dalam kondisi bepergian jauh 2 marhalah bahkan lebih misalkan sedang melaksanakan haji ( sekeluarga mulai dari bapak kakek dan seterusnya) hanya yang ada wali ab’ad .
Pertanyaannya.
Apakah sah jika pasangan laki-laki dan perempuan mengangkat Wali Muhakkam? Walaupun tanpa idzin dan sepengetahuan Wali Nasab.? Sedangkan wali ab’ad masih ada sebagaimana deskripsi.?
Waalaikum salasam. Jawaban. Boleh wanita janda menikah ,Walaupun tanpa idzin wali dengan mengacu kepada hadits Rasulullah saw.
الثَّيِّبُ أَحَقُّ بِنَفْسِهَا مِنْ وَلِيِّهَا
Artinya, “Janda itu lebih berhak atas dirinya,” (HR. Malik). Namun demikian seorang janda tidak boleh mengangkat wali Muhakam kalau masih ada urutan Wali hingga wali hakim kecuali Wali hakim meminta bayaran maka boleh kedua pembelai mengangkat wali muhakkam dengan syarat wali muhakkam adil dan Mujtahid bahkan sebagian ulama’ memperbolehkan walau tidak sampai pada derajad Mujtahid karena Wali Muhakkam sama dengan hakim, walaupun masih ada Wali Ab’ad dengan syarat wali nasab yang ada dalam kondisi Musafir seukuran 2 marhalah ( boleh qoshor shalat) sebagaimana deskripsi, Namun yang utama meminta idzin kepada wali ab’ad sebagai solusi dari khilaf ulama’ yang mewajibkan pensyaratan meminta izin.
Untuk lebih jelasnya maka kami jelaskan tentang Wali Muhakam sebagaimana berikut: Secara etemologi (bahasa), wali muhakkam merupakan kata majemuk yang terdiri dari dua kata, yaitu wali dan muhakkam. Dalam Lisan al-Arab (juz 15, hal. 405), kata wali satu akar dengan kata wilayah yang menurut Ibnu Atsir berarti mengatur dan menguasai. Menurut Sibawaih, wilayah juga berarti memerintah (imarah) dan mempersatukan (niqabah). Sedangkan menurut Ibnu as-Sakiit, kata wilayah berarti kekuasaan. Kata wali juga seakar dengan kata walayah, yang menurut Ibnu as-Sakiit berarti menolong (nushrah). Kata muhakkam merupakan kata benda pasif (isim maf’ul) yang berasal dari kata hakkama-yuhakkimu-tahkiman, yang berarti mengangkat seseorang menjadi hakim dan menyerahkan persoalan hukum kepadanya. Kata muhakkam berarti seseorang yang diangkat sebagai hakim. (Al-Mau’su’at al-Fiqhiyyah al-Kuwaitiyyah, juz 10, hal. 233). Dalam hal pernikahan, wali muhakkam adalah orang biasa, bukan pejabat hakim resmi, yang ditunjuk oleh seorang perempuan untuk menjadi wali dan menikahkan dirinya dengan seorang lelaki yang telah melamarnya. (Al-Hawi al-Kabir, juz 16, hal. 648). Pada prinsipnya, diperbolehkan menunjuk seseorang sebagai hakim (tahkim) guna menengahi dua orang atau lebih yang bertikai. Al-Qur’an sendiri menyuruh kita mendamaikan jika terjadi pertikaian di antara sesama mukmin (QS. al-Hujurat: 9-10). Al-Qur’an juga menganjurkan mengangkat penengah (hakam) dari kedua belah pihak, suami dan istri yang sedang bertikai (QS. an-Nisa: 35). Regulasi Perkawinan Dalam Undang-undang Perkawinan Nomor 1 Tahun 1974, sama sekali tidak dibahas secara detail tentang siapa dan bagaimana wali nikah. Namun, yang dibahas adalah masalah perwalian dalam konteks pengasuhan anak. Sedangkan, dalam Kompilasi Hukum Islam (KHI), dibahas tentang wali pernikahan. Menurut Pasal 20 ayat 2 KHI, hanya dikenal dua jenis wali pernikahan, yaitu wali nasab dan wali hakim. Sementara, menurut Pasal 1 poin b, wali hakim jelas adalah petugas resmi yang memang ditunjuk oleh Menteri Agama atau orang yang ditunjuk olehnya. Begitu pula berdasarkan Peraturan Menteri Agama Nomor 2 Tahun 1987 tentang Wali Hakim, dalam Pasal 1 poin b, disebutkan bahwa wali hakim adalah adalah pejabat yang ditunjuk oleh Menteri Agama atau pejabat yang ditunjuk olehnya untuk bertindak sebagai wali nikah bagi calon mempelai wanita yang tidak mempunyai wali. Dalam Peraturan Menteri Agama Nomor 11 Tahun 2007 pasal 18 ayat 4, lebih spesifik disebutkan bahwa Kepala KUA kecamatan adalah wali hakim apabila calon istri tidak mempunyai wali nasab, wali nasabnya tidak memenuhi syarat, berhalangan atau adhal. Pembahasan tentang wali muhakkam hanya terdapat dalam buku Pedoman Pegawai Pencatat Nikah (1997: 30). Sekilas dijelaskan bahwa wali muhakkam ialah seorang yang diangkat oleh kedua calon suami istri untuk bertindak sebagai wali dalam akad nikah. Apabila pernikahan yang harus dilaksanakan dengan wali hakim, padahal tidak ada wali hakimnya, maka pernikahan dilangsungkan dengan wali muhakkam. Jadi Yang dimaksud wali muhakam adalah orang yang diangkat oleh kedua calon mempelai untuk bertindak sebagai wali dalam akad nikah mereka. Apabila suatu pernikahan yang seharusnya dilaksanakan dengan wali hakim, padahal di tempat itu tidak ada wali hakim, atau ada namun masih meminta bayaran, maka pernikahan dilangsungkan dengan cara kedua calon suami Istri mengangkat wali muhakam. Akan tetapi jika masih ada Wali aqrob maupun atau wali Hakim maka tidak boleh mengangkat wali Muhakkam. Alasannya ialah karena didalam Kewalian nikah ada urutannya, atau masih ada Wali hakim tapi dia minta/ mengabil bayaran untuk menikahkan kepada yang bersangkutan maka dalam hal ini boleh kedua mempelai/ Calon pengantin mengangkat Wali Muhakkam dengan Syarat Wali muhakkam yang diangkatnya adalah orang yang merdeka serta adil , sedangkan adil yang dimaksudkan adalah meletakkan sesuatu sesuai tempatnya dan Alim terhadap hukum agama. Adapun bentuk shighat ( Ijab ) manakala seorang calon pengantin perempuan tidak ada wali nikah sama sekali maka keduanya (CALON PENGANTIN laki-laki dan perempuan) mengangkat Wali Muhakkam, dengan mengatakan :
حكمناك لتعقد لنا النكاح ورضينا بحكمك
(Kami mengangkat kamu sebagai muhakkam untuk meng akad nikah kepada kami , dan kami ridho terhadap keputusanmu).
يامحمود إبن أحمد أنكحتك وزوجتك محطوبتك المحبوبة فاطمة بنت المرحوم فوزان مولتي محكما بمهر أدوات الصلاة حالا
Wahai Mahmud putra Ahmad Saya nikahkan kamu dan saya kawinkan kamu dengan tunaganmu yang kamu cintai yang mewalikan saya sebagai Muhakkam dengan maskawin seperangkat alat shalat. Qabul .
قبلت نكاحها وتزويجها بالمهر المذكور حالا
Saya terima nikahnya Fatimah dan Kawinnya Fatimah dengan maskawin yang telah disebutkan dengan dibayar kontan.
Apabila wali mempelai perempuan yang terdekat sedang pergi pada ukuran dua marhalah (80 Km) atau lebih, sedang ia belum meninggal dunia atau tidak menyerahkan pernikahan puterinya yang telah dilamar kepada orang lain, maka hakim boleh menikahkanya. Sedangkan wali yang jauh (ab’ad) maka tidak diperbolehkan mengawinkannya, meskipun wali aqrob (yang terdekat) berada di tempat yang sangat jauh dan tidak diketahui tempat tinggalnya dan apakah ia masih hidup atau tidak. Demikian, karena yang berhak menikahkan adalah hakim (pihak KUA) dan hak bagi wali aqrob masih belum hilang. Namun demikian, yang lebih utama hendaklah hakim meminta izin (konfirmasi) kepada wali ab’ad sebagai solusi dari khilaf ulama’ yang mewajibkan pensyaratan meminta izin.
Artinya :” Maka apabila di tempat tersebut tidak ada Qadi ( wali hakim, Kepala Kantor Urusan Agama Kecamatan ) yang sah kekuasaannya, atau ada wali hakim , akan tetapi masih meminta uang kepadanya, maka hukumnya boleh keduanya mengangkat orang yang merdeka serta adil untuk mengakad menjadi wali muhakkam .
Referensi
الباجورى على ابن قاسم .الجزء الثانى .ص. ١٠٦
( قوله ثم الحاكم ) عاما كان أو خاصا كالقاضى والمتولى لعقود الأنكحة أو لهذا العقد بخصوصه فإن فقد الحاكم أو كان يأخذ الدراهيم لها وقع جار للزوجين أن يحكما حرا عدلا ليعقد لهما وإن لم يكن مجتهدا ولو مع وجود المجتهد على ماهو ظاهر إطلاقهم بخلافه مع وجود الحاكم ولو حاكم ضرورة ولم يأخذ الدراهم المذكورة فإنه لايجوز أن يحكما إلا مجتهدا وصيغة التحكيم أن يقولا حكمناك لتعقد لنا النكاح ورضينا بحكمك التحكيم والتولية (مسألة: ب ش): الحال في مسألة التحكيم أن تحكيم المجتهد في غير نحو عقوبة لله تعالى جائز مطلقاً، أي ولو مع وجود القاضي المجتهد، كتحكيم الفقيه غير المجتهد مع فقد القاضي المجتهد، وتحكيم العدل مع قد القاضي أصلاً أو طلبه مالاً وإن قل، لا مع وجوده ولو غير أهل بمسافة العدوى، وكذا فوقها إن شملت ولايته بلد المرأة، بناء على وجوب إحضار الخصم من ذلك الذي رجح الإمام الغزالي والمنهاج وأصله عدمه، ولا بد من لفظ من المحكمين كالزوجين في التحكيم كقول كل: حكمتك لتعقد لي أو في تزويجي، أو أذنت لك فيه، أو زوجني من فلانة أو فلان، وكذا وكلتك على الأصح في نظيره من الإذن للولي، بل يكفي سكوت البكر بعد قوله لها: حكميني أو حكمت فلاناً في تزويجك، ويشترط رضا الخصمين بالمحكم إلى صاحب الحكم لا فقد الولي الخاص، بل يجوز مع غيبته على المعتمد كما اختاره الأذرعي، ولا كون المحكم من أهل بلد المرأة، فلو حكمت امرأة باليمن رجلاً بمكة فزوّجها هناك من خاطبها صح وإن لم تنتقل إليه، نعم هو أولى لأن ولايته عليها ليست مقيدة بمحل، وبه فارق القاضي فإنه لا يزوج إلا من محل ولايته فقط، بل لو قالت: حكَّمتك تزوجني من فلان بمحل كذا لم يتعين إلا إن قالت: ولا تزوِّج في غيره :(مسألة: ي) غاب وليها مرحلتين ولم يكن ثم قاض صحيح الولاية بأن يكون عدلاً فقيهاً، أو ولاه ذو شوكة مع علمه بحاله بمسافة القصر حكَّمت هي والزوج عدلاً يقول كل منهما: حكمتك تزوجني من فلانة أو فلان، ولا بد من قبول المحكم على المعتمد ثم تأذن له في تزويجها، ويجوز تحكيم الفقيه العدل ولو مع وجود القاضي كغير الفقيه مع عدمه بمحل المرأة ولو مع وجود فقيه بغية المسترشدين ص ٢٠٧ – ٢٠٨
Referensi:
الفتوى الشرعية.ص ١٨٣ عقد الزواج اذا ستوفى أركانه وشروطه تحل به المعاشرة بين الزوجين ، وليس من شرائطه الشرعية اثباته كتابة فى وثيقة رسمية ولاغير رسمية، وإنما التوثيق لدى المأذون أو الموظف المختص نظام اجابته اللواح والقوانين الخاصة بالمحاكم الشرعية خشية الجحود وحفظا للحقوق وحذرت من مخالفته لما له من النتائج الخطيرة عند الجحود. والله أعلم بالصواب
Referensi:
كفاية الأخيار.ص ٣٤٦ (فرع)
روى يُونُس بن عبد الْأَعْلَى أَن الشَّافِعِي رَضِي الله عَنهُ قَالَ إِذا كَانَ فِي الرّفْقَة امْرَأَة لَا ولي لَهَا فَوَلَّتْ أمرهَا رجلا حَتَّى زَوجهَا جَازَ لِأَن هَذَا من قبيل التَّحْكِيم والمحكم يقوم مقَام الْحَاكِم قَالَ النَّوَوِيّ ذكر الْمَاوَرْدِيّ فِيمَا إِذا كَانَت امْرَأَة فِي مَوضِع لَيْسَ فِيهِ ولي وَلَا حَاكم ثَلَاثَة أوجه أَحدهَا لَا تزوج الثَّانِي تزوج نَفسهَا للضَّرُورَة وَالثَّالِث تولي أمرهَا رجلا يُزَوّجهَا وَحكى الشَّاشِي أَن صَاحب الْمُهَذّب كَانَ يَقُول فِي هَذَا تحكم فَقِيها مُجْتَهدا وَهَذَا الَّذِي ذكره فِي التَّحْكِيم صَحِيح بِنَاء على الْأَظْهر فِي جَوَازه فِي النِّكَاح وَلَكِن شَرط الْمُحكم أَن يكون صَالحا للْقَضَاء وَهَذَا يعسر فِي مثل هَذِه الْحَال وَالَّذِي نختاره صِحَة النِّكَاح إِذا ولت أمرهَا عدلا وَإِن لم يكن مُجْتَهدا وَهُوَ ظَاهر نَصه الَّذِي نَقله يُونُس وَهُوَ ثِقَة وَالله أعلم قَالَ (الْإِسْلَام وَالْبُلُوغ وَالْعقل وَالْحريَّة والذكورة وَالْعَدَالَة إِلَّا أَنه لَا يفْتَقر نِكَاح الذِّمِّيَّة إِلَى إِسْلَام الْوَلِيّ وَلَا نِكَاح الْأمة إِلَى عَدَالَة السَّيِّد) لَا يجوز أَن يكون ولي الْمسلمَة كَافِرًا قَالَ الله تَعَالَى {وَالْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ
[البكري الدمياطي، إعانة الطالبين على حل ألفاظ فتح المعين، ٣٦٤/٣- ٣٦٥ ]
(ثم)
إن لم يوجد ولي ممن مر فيزوجها (محكم عدل) حر ولته مع خاطبها أمرها ليزوجها منه وإن لم يكن مجتهدا إذا لم يكن ثم قاض ولو غير أهل، وإلا فيشترط كون المحكم مجتهدا……
(والحاصل)
يجوز تحكيم المجتهد مطلقا سواء وجد حاكم ولو مجتهدا أم لا، وتحكيم العدل غير المجتهد بشرط أن لا يكون هناك قاض ولو غير أهل: سواء وجد مجتهد أم لا (قوله: وإلا) أي بأن كان ثم قاض ولو غير أهل. والله أعلم بالصواب
KULUAR KREMI /ULAT DARI SALAH SATU JALAN YANG DUA KETIKA SHALAT
Assalamualaikum
Deskripsi masalh
Seseorang ketika sedang shalat keluar dari duburnya kremi (bier: red /cacing_ulat putih kecil sebagaimana yang terjadi pada anak bayi), sedangkan keluarnya bier/tersebut tanpa unsur kesengajaan, biasanya hal tersebut terjadi dikarenakan Infeksi oleh cacing Enterobius vermicularis. Cacing ini berukuran sangat kecil, yaitu sekitar 0,6–1,3 cm..
Pertanyaannya
Bagaimana hukum sholat seeorang yang mana dari salah satu ( qubul dan duburnya )keluar Kremi (bier :red /ulat) sebagaimana deskripsi
Waalaikum salam
Jawaban. Hukum shalatnya batal karena jika seseorang ketika shalat dari salah satu jalan yang dua keluar ulat ( terpisah) baik keluarnya dari qubul maupun dubur maka wudhu’nya batal, jika wudhu’nya batal maka otomatis shalatnya batal. Tetapi jika keluarnya ulat terbitnya (keluarnya) hanya kepalanya saja lalu kembali lagi maka ada dua pendapat:
Pendapat pertama : Yang paling benar wudhu’nya batal karena sesuatu yang terbit dari jalan yang dua ( Qubul dan dubur ) maka dianggap barang yang keluar.
Pendapat kedua tidak batal alasannya karena yang keluar masih tidak lepas/terpisah.
Referensi.
المجموع شرح المهذب ص٥٣٨
(فَرْعٌ لَوْ أَخْرَجَتْ دُودَةٌ رَأْسَهَا مِنْ أَحَدِ السَّبِيلَيْنِ ثُمَّ رَجَعَتْ قَبْلَ انْفِصَالِهَا فَفِي انْتِقَاضِ الْوُضُوءِ وَجْهَانِ حَكَاهُمَا الْمَاوَرْدِيُّ وَالرُّويَانِيُّ وَالشَّاشِيُّ وَغَيْرُهُمْ أَصَحُّهُمَا يَنْتَقِضُ لِلْخُرُوجِ وَالثَّانِي لَا لِعَدَمِ الِانْفِصَالِ وَاَللَّهُ اعلم * قال المصنف رحمه الله [وان ادخل في احليله مسبارا وأخرجه أو زرق فيه شيئا وخرج منه انتقض وضوءه]
Dengan tersedianya sarana yang memadai dan status ekonomi yang makin membaik, jumlah orang yang ingin melaksanakan ibadah haji tiap tahun terus meningkat. Tak ayal, hal ini memunculkan problema tersendiri bagi Pemerintah baik Arab Saudi maupun Indonesia.
Sebagai solusi, Pemerintah Arab Saudi menetapkan kuota jemaah haji bagi tiap negara. Pemerintah Indonesia pun juga menetapkan kuota bagi tiap-tiap daerah naungannya. Hal ini menyebabkan banyak sekali calon jemaah haji yang masuk waiting list (daftar tunggu). Bahkan di beberapa daerah bila seseorang mendaftar pada tahun ini , secara umum masa tunggu haji reguler di Indonesia adalah 11 tahun hingga paling lama 32 tahun. Artinya, jika seseorang mendaftar haji reguler pada tahun 2024, maka ia harus menunggu 11-32 tahun untuk berangkat. Di sisi lain, terkadang ada yang telah mampu mendaftarakan diri haji Plus namun diundur hingga tahun selanjutnya. Naasnya, ajal lebih dahulu menjemput sebelum pemberangkatan yang mestinya telah terlaksana seandainya pendaftaran hajinya tidak diundur.
Pertanyaan
Terhitung mulai kapankah istitho’ah seseorang ditinjau dari pendaftaran, jadwal pemberangkatan, dan pelaksanaan haji terkait deskripsi di atas ?
Apakah wajib mendaftar bagi orang yang telah memiliki biaya haji (baik reguler atau plus), mengingat pemberangkatan masih menunggu beberapa tahun sebagaimana deskripsi ?
Apakah hajinya wajib diqodho’i bagi orang yang mengusahakan haji plus sementara dia meninggal sebelum berangkat/ melaksanakan ibadah haji?
Waalaikum salam.
Jawaban
Isthitho’ah ( berkemampuan) untuk melakukan ibadah haji menurut imam ibn sholah adalah terhitung mulai semenjak orang yang menghendaki haji memiliki biaya haji, sedangkan menurut pendapat mu’tamad/yang kuat (rofi’I & nawawi) adalah terhitung mulai dari pemberangkatan haji (إمكان السير) dan sudah memiliki biaya haji.
REFERENSI
المجموع شرح المهذب ج ٧ ص ٨٨
(الشرح) قال اصحابنا امكان السير بحيث يدرك الحج شرط لوجوبه فإذا وجد الزاد والراحلة وغيرهما من الشروط المعتبرة وتكاملت وبقي بعد تكاملها زمن يمكن فيه الحج وجب فان اخره عن تلك السنة جاز لانه على التراخي لكنه يستقر في ذمته فان لم يبق بعد استكمال الشرائط من يمكن فيه الحج لم يجب عليه ولا يستقر عليه هكذا قاله الاصحاب قالوا والمراد ان يبقى زمن يمكن فيه الحج إذا سار السير المعهود فإذا احتاج إلى ان يقطع في يوم أو بعض الايام كثر من مرحلة لم يجب الحج ولم يذكر الغزالي هذا الشرط وهو إمكان السير وانكر عليه الرافعي ذلك وقال هذا الامكان شرطه الائمة لوجوب الحج وأهمله الغزالي فانكر الشيخ أبو عمرو بن الصلاح على الرافعى اعتراضه هذا علي الغزالي وجعله امكان السير ركنا لوجوب الحج وانما هو شرط استقرار الحج ليجب قضاؤه من تركته لو مات قبل الحج وليس شرطا لاصل وجوب الحج بل متى وجدت الاستطاعة من مسلم مكلف حر لزمه الحج في الحال كالصلاة تجب بأول الوقت قبل مضي زمن يسعها ثم استقرارها في الذمة يتوقف علي مضي زمن التمكن من فعلها هذا اعتراضه والصواب ما قاله الرافعى وقد نص عليه المصنف والاصحاب كما نقل (وأما) انكار الشيخ ففاسد لان الله تعالى قال (ولله علي الناس حج البيت من استطاع إليه سبيلا) وهذا غير مستطيع فلا حج عليه وكيف يكون مستطيعا وهو عاجز حسا (وأما) الصلاة فأنها تجب باول الوقت لامكان تتميمها والله أعلم . هذا مذهبنا وحكى أصحابنا عن أحمد أن امكان السير وأمن الطريق ليسا بشرط في وجوب الحج * دليلنا أنه لا يكون مستطيعا بدونهما والله اعلم
Referensi:
حاشية البجيرمي على الخطيب ج ٧ ص ٩٧
(و) السابع (إمكان المسير) إلى مكة بأن يكون قد بقي من الوقت ما يتمكن فيه من السير المعتاد لأداء النسك . وهذا هو المعتمد كما نقله الرافعي عن الأئمة وإن اعترضه ابن الصلاح بأنه يشترط لاستقراره لا لوجوبه ، فقد صوب النووي ما قاله الرافعي. وقال السبكي : إن نص الشافعي أيضا يشهد له ولا بد من وجود رفقة يخرج معهم في الوقت الذي جرت عادة أهل بلده بالخروج فيه، وأن يسيروا السير المعتاد ، فإن خرجوا قبله أو أخروا الخروج بحيث لا يصلون مكة إلا بأكثر من مرحلة في كل يوم ، أو كانوا يسيرون فوق العادة لم يلزمه الخروج هذا إن احتيج إلى الرفقة لدفع الخوف ، فإن أمن الطريق بحيث لا يخاف الواحد فيها لزمه ، ولا حاجة للرفقة ولا نظر إلى الوحشة بخلافها فيما مر في التيمم لأنه لا بد لما هنا بخلافه ثم . قوله : (وإن اعترضه ابن الصلاح بأنه ) أي إمكان المسير يشترط لاستقراره ، أي الحج في ذمته ليجب قضاؤه من تركته لو مات قبل الحج لا لوجوبه أي الحج ، أي ليس شرطا لأصل الوجوب . قال سم : وظاهر كلام ابن الصلاح أنه لا فرق في الوجوب إذا لم يبق زمن يمكن فيه السفر بين أن يقطع بعدم الوصول فيه أو لا ؛ لكن قال السبكي : وأوهمت عبارة ابن الصلاح أن من استطاع الحج قبل عرفة بيوم بينه وبين مكة شهر ومات تلك السنة وجب عليه الحج ثم سقط ، ولا يقوله أحد . ورد بأن السرخسي والسنجي قالاه . قوله : ( لاستقراره ) فإن لم يبق زمن يسع السير بعد وجود الاستطاعة بأن لم يستطع إلا بعد ذهاب الحاج فابن الصلاح يقول في هذه الحالة : إنه وجب عليه ، لكن لم يستقر وجوبه عليه ؛ بمعنى أنه إذا مات في هذه السنة لا يجب قضاؤه من تركته وإن كان يوصف بالإيجاب ويجوز الاستئجار عنه قطعا كما قال ح ل . وعلى كلام غير ابن الصلاح لم يجب الحج من أصله في هذه الحالة ، وعليه فلا يوصف بالوجوب ويجوز الاستئجار عنه على الأصح ؛ لأنه نفل أي والنفل في جواز الاستئجار عنه خلاف الأصح الجواز .
Referensi
شرح الوجيز ج ٣ ص ٢٩٤
قال (ومهما تمت الاستطاعة وجب الحج على التراخي (م ح ز) وله أن يتخلف عن أول قافلة فان مات قبل حج الناس تبين عدم الاستطاعة وإن مات بعد الحح فلا وإن هلك ماله بعد الحج وقبل إياب الناس تبين ان لا استطاعة لان نفقة الاياب شرط في الحج فان دامت الاستطاعة إلى اياب الناس ثم مات أو طرا العضب لقى الله عاصيا على الاظهر وتضيق عليه الاستنابة إذا طرأ العضب بعد الوجوب فان امتنع ففي اجبار القاضي اياه على الاستنابة وجهان) ذكر في الوسيط أن المسائل المذكور إلى هذا الموضع كلام في أركان الاستطاعة ومن ههنا إلى رأس النوع الثاني كلام في أحكامها ولك أن تقول الاستطاعة احدى شرائط وجوب الحج كما مر وقد توجد الاستطاعة مسبوقة بسائر الشروط وقد يوجد غيرها مسبوقا بها
Referensi
البجيرمى على الخطيب الجزء الثانى ص : ٤٢٥ دار الفكر
وقوله ” الاستطاعة ” ويعتبر فيها وجود شروطها فى حق كل إنسان من وقت خروج أهل حج بلده إلى عودهم إليه فمتى أعسر فى جزء من ذلك فلا استطاعة ق ل وهذا فى الحى أما من مات بعد الاستطاعة وبعد مضى أعمال الحج وإن لم يعش إلى عودهم إلى البلد فإنه يحج من تركته. وعبارة م ر : فمن مات غير مرتد وفى ذمته حج واجب مستقر ولو بنحو نذر بأن تمكن بعد قدرته على فعله بنفسه أو غيره وذلك بعد انتصاف ليلة النحر ومضى إمكان الرمى والطواف والسعى إن دخل الحاج بعد الوقوف ثم مات أثم ولو شابا وإن لم ترجع القافلة ووجب الإحجاج عنه من تركته اهـ
Referensi
فتاوى ابن حجر الهيثمى ج ١ ص ١٢٣ (وسئل) رضي الله عنه عن قولهم وأهمل بعضهم شرطا خامسا للحج وهو سعة الوقت لتمكنه من السير ما المراد بهذا الوقت هل هو مدة السنة بأن يبقى منها قدر ما يصل به إلى مكة المشرفة فيشكل على من بينه وبين مكة فوق سنة أو فوق السنة فالوقت واسع بينوا لنا حقيقة ذلك وقال بعضهم أن يبقى م ن الزمان عند وجود الزاد والراحلة ما يمكن فيه السير بأن لا يحتاج أن يقطع في كل يوم أكثر من مرحلة ما المراد بهذا الزمان ولا يخفى الإشكال السابق أفتونا مأجورين؟ (فأجاب) بقوله المراد من هذا الشرط أنه يعتبر في لزوم الحج له لا في استقراره عليه أن يتمكن بأن يجد الزاد والراحلة وقد بقي زمن يسع الوصول فيه إلى مكة بالسير المعتاد غالبا بحيث لا يقطع في يوم أكثر من مرحلة . فلو كان بين بلده ومكة سنة مثلا اشترط أن يقدر على نحو الزاد والراحلة تلك السنة جميعها فمتى مضت له سنة بأن يمضي ما يمكن ذهاب الحجاج فيه ورجوعهم إلى بلده وهو قادر على ما مر بأن لزوم الحج له فإذا مات أو افتقر بعد ذلك فالحج باق في ذمته لأنه استطاعه وتركه ومتى مرض أو افتقر قبل وصولهم لمكة أو بعد وصولهم وقبل الحج بان أنه لم يلزمه حج وكذا لو افتقر بعد حجهم وقبل وصولهم لبلده فعلمنا أنه لا بد أن يمضي عليه وهو قادر مدة يمكن فيها الذهاب إلى مكة بالسير المعتاد وإدراك الحج فيها ووصوله إلى بلده بالنسبة للفقر دون الموت ; لأنه بان به أنه كان مستغنيا عن الرجوع فإذا مات بعد إمكان حج الناس وقبل رجوعهم بان أنه مات وهو مستطيع ومع هذا التقدير فلا إشكال فيما ذكروه فإنا لا نعتبر سنة ولا دونها ولا أكثر منها دائما وإنما المعتبر المدة التي يمكنه الوصول فيها إلى مكة والرجوع منها بالسير المعتاد على ما تقرر حتى لو كان بينه وبين مكة أربعة أيام مثلا اعتبرت قدرته تلك الأربعة مع العود أيضا في غير الموت أو سنتان اعتبرت قدرته مدتهما مع العود كما ذكر . ولا بد أن يوجد نحو الزاد والراحلة في الوقت فمن بينه وبين مكة شهران مثلا لو استطاع شعبان ورمضان لم يؤثر ذلك في الوجوب عليه بل لا بد من استطاعته في أشهر الحج حتى لو استطاع الشهر من قبل أشهره ثم افتقر قبل أشهره لم يعتد بتلك الاستطاعة والله سبحانه وتعالى أعلم بالصواب .
Jawaban.No.2
Wajib mendaftar ibadah haji, Jika seseorang mempunyai biaya yang cukup baik untuk kebutuhan dirinya dan juga kebutuhan keluarganya yang wajib ia nafkahi, selama ia berangkat kemakkah hingga kembali ke tanah air.
REFERENSI
فتاوى ابن حجر الهيثمى ج ١ ص ١٢٣ (وسئل) رضي الله عنه عن قولهم وأهمل بعضهم شرطا خامسا للحج وهو سعة الوقت لتمكنه من السير ما المراد بهذا الوقت هل هو مدة السنة بأن يبقى منها قدر ما يصل به إلى مكة المشرفة فيشكل على من بينه وبين مكة فوق سنة أو فوق السنة فالوقت واسع بينوا لنا حقيقة ذلك وقال بعضهم أن يبقى م ن الزمان عند وجود الزاد والراحلة ما يمكن فيه السير بأن لا يحتاج أن يقطع في كل يوم أكثر من مرحلة ما المراد بهذا الزمان ولا يخفى الإشكال السابق أفتونا مأجورين؟ (فأجاب) بقوله المراد من هذا الشرط أنه يعتبر في لزوم الحج له لا في استقراره عليه أن يتمكن بأن يجد الزاد والراحلة وقد بقي زمن يسع الوصول فيه إلى مكة بالسير المعتاد غالبا بحيث لا يقطع في يوم أكثر من مرحلة . فلو كان بين بلده ومكة سنة مثلا اشترط أن يقدر على نحو الزاد والراحلة تلك السنة جميعها فمتى مضت له سنة بأن يمضي ما يمكن ذهاب الحجاج فيه ورجوعهم إلى بلده وهو قادر على ما مر بأن لزوم الحج له فإذا مات أو افتقر بعد ذلك فالحج باق في ذمته لأنه استطاعه وتركه ومتى مرض أو افتقر قبل وصولهم لمكة أو بعد وصولهم وقبل الحج بان أنه لم يلزمه حج وكذا لو افتقر بعد حجهم وقبل وصولهم لبلده فعلمنا أنه لا بد أن يمضي عليه وهو قادر مدة يمكن فيها الذهاب إلى مكة بالسير المعتاد وإدراك الحج فيها ووصوله إلى بلده بالنسبة للفقر دون الموت ; لأنه بان به أنه كان مستغنيا عن الرجوع فإذا مات بعد إمكان حج الناس وقبل رجوعهم بان أنه مات وهو مستطيع ومع هذا التقدير فلا إشكال فيما ذكروه فإنا لا نعتبر سنة ولا دونها ولا أكثر منها دائما وإنما المعتبر المدة التي يمكنه الوصول فيها إلى مكة والرجوع منها بالسير المعتاد على ما تقرر حتى لو كان بينه وبين مكة أربعة أيام مثلا اعتبرت قدرته تلك الأربعة مع العود أيضا في غير الموت أو سنتان اعتبرت قدرته مدتهما مع العود كما ذكر . ولا بد أن يوجد نحو الزاد والراحلة في الوقت فمن بينه وبين مكة شهران مثلا لو استطاع شعبان ورمضان لم يؤثر ذلك في الوجوب عليه بل لا بد من استطاعته في أشهر الحج حتى لو استطاع الشهر من قبل أشهره ثم افتقر قبل أشهره لم يعتد بتلك الاستطاعة والله سبحانه وتعالى أعلم بالصواب
Referensi;
البجيرمى على الخطيب الجزء الثانى ص : ٤٢٥ دار الفكر وقوله ” الاستطاعة ” ويعتبر فيها وجود شروطها فى حق كل إنسان من وقت خروج أهل حج بلده إلى عودهم إليه فمتى أعسر فى جزء من ذلك فلا استطاعة ق ل وهذا فى الحى أما من مات بعد الاستطاعة وبعد مضى أعمال الحج وإن لم يعش إلى عودهم إلى البلد فإنه يحج من تركته. وعبارة م ر : فمن مات غير مرتد وفى ذمته حج واجب مستقر ولو بنحو نذر بأن تمكن بعد قدرته على فعله بنفسه أو غيره وذلك بعد انتصاف ليلة النحر ومضى إمكان الرمى والطواف والسعى إن دخل الحاج بعد الوقوف ثم مات أثم ولو شابا وإن لم ترجع القافلة ووجب الإحجاج عنه من تركته اهـ
Referensi:
الأنوار الأردبيلى الجزء الأول ص : ١٧٥ – ١٧٦ المكتبة التجارية الكبرى ومتى حصلت الاستطاعة واجتمعت الشرائط فالحج على التراخى عندنا إلا أن يخشى العضب أو هلاك المال فيتضيق ويعصى بالتأخير وإذا تخلف المستطيع ومات قبل حج الناس أو هلك ماله قبل إيابهم أو إمكانه تبين عدم الوجوب وإن مات بعد حجهم أو إمكانه بأن مات بعد انتصاف ليلة النحر وإمكان المسير إلى منى والرمى بها والرجوع إلى مكة والطواف بها استقر الوجوب ولزم القضاء من التركة وإن لم يوص لأنه دين تعلق بها ويجوز للوارث والأجنبى قضاء الحج للميت ( قوله وإمكان المسير إلى منى والرمى بها ) واعلم أن المعتمد المنقول عن الأسنوى هو أن المضى إلى منى والرمى بها غلط إذ المشروط فى استقرار الفرض إنما هو مضى زمن يمكن فعل الأركان دون ما عداها من الواجبات كما لا يخفى.
Referensi:
غاية البيان شرح زبد ابن رسلان – (ج ١ / ص ١٦٥) ( ومن مركوب لاق به ) بأن يصلح لمثله ويثبت عليه ويكون شراؤه بثمن مثله أو استئجاره بأجرة مثله هذا إن كان بينه وبين مكة مرحلتان أو دونهما وضعف عن المشي وسواء أقدر الأول على المشي أم لا وركوبه أفضل من مشيه لكن يندب له الركوب على القتب والرحل دون المحمل والهودج فإن لحقه بالركوب مشقة شديدة اشترط وجود محمل وشريك يجلس في الشق الآخر فإن فقد الشريك لم يلزمه الحج وإن وجد مؤنة المحمل بتمامه ولو لحقه مشقة عظيمة في ركوب المحمل اعتبر في حقه الكنيسة أما المرأة فيعتبر في حقها المحمل مطلقا لأنه أستر لها وأما من بينه وبين مكة دون مرحلتين وهو قوي على المشي فيلزمه الحج ولا يعتبر في حقه وجود المركوب ولا بد فيما مر من كونه فاضلا عن دينه ومؤنة ممونه مدة ذهابه وإيابه وسواء أكان الدين حالا أم مؤجلا إذ وفاء الأول ناجز والحج على التراخي وأما الثاني فلأنه إذا صرف ما معه للحج فقد لا يجد ما يقتضيه منه بعد حلوله وقد تخترمه المنية فتبقى ذمته مرتهنة ولو كان ماله في ذمة إنسان فإن أمكنه تحصيله في الحال فكالحاصل وإلا فكالمعدوم
Referensi:
أسنى المطالب في شرح روض الطالب – (ج ١ / ص ٤٦٦) وَيُسْتَحَبُّ له الْإِحْرَامُ بِالْحَجِّ قبل السَّادِسِ من ذِي الْحِجَّةِ لِيُتِمَّهُ أَيْ صَوْمَ الثَّلَاثَةِ قبل يَوْمِ عَرَفَةَ لِأَنَّهُ يُسْتَحَبُّ لِلْحَاجِّ فِطْرُهُ كما مَرَّ في صَوْمِ التَّطَوُّعِ وَلَا يَجِبُ عليه تَقْدِيمُ الْإِحْرَامِ بِزَمَنٍ يَتَمَكَّنُ من صَوْمِ الثَّلَاثَةِ فيه قبل يَوْمِ النَّحْرِ إذْ لَا يَجِبُ تَحْصِيلُ سَبَبِ الْوُجُوبِ
Jawaban.No.3
Haji wajib di qodlo’ ketika dalam keadaan: ketika orang yang punya kewajiban haji itu mati sebelum dia melaksanakan haji dan dia sudah ada kesempatan untuk melaksanakan ibadah haji, begitu juga meninggal di perjalanan, maka sudah gugur kewajibannya. Sebagimana tertera dalam kitab “AL-MAJAALISU AS-SANIYYAH” FIL KALAAMI ‘ALA AR-BA’IINA AN-NAWAWIYYAH dalam kitab tersebut,pada halaman 16, di sana tertera sebuah hadits Rosulullooh S.A.W yang berkaitan dengan masalah Haji. Semoga menjadi bahan renungan bersama.
Nb. Sedangkan pelaksanaan qodlo’ secara fauron (harus segera dilakukan) itu sesuai dengan kadar kemampuan mengqodlo’i.
REFERENSI
قوله صلى الله عليه وسلم من خرج من بيته حاجا أو معتمرا ومات أجرى الله له أجر الحاج والمعتمر الى يوم القيامة
Artinya:” Rosulullah bersabda: Barangsiapa yang keluar dari rumahnya untuk melakukan haji,atau untuk melakukan umroh,lalu orang itu mati(di perjalanan).Maka Allah memberikan kepada orang itu-terhadap pahalanya orang yang melakukan haji dan orang yang melakukan umroh, sampai hari kiamat.
Referensi:
روضة الطالبين ج٣ص٣٣ وإذا تأخر بعد الوجوب فمات قبل حج الناس، تبين عدم الوجوب لتبين عدم الإمكان، وإن مات بعد حج الناس، استقر الوجوب ولزم الإحجاج من تركته.
Referensi:
الميزان الكبرى.٢٩ واتفقوا علي من لزمه الحج فلم يحج ومات قبل التمكن من أدائه سقط عنه الفرض
Referensi:
المجموع الجزء السابع ص : ١٠٩ المكتبة السلفية قال المصنف رحمه الله تعالى ( ومن وجب عليه الحج فلم يحج حتى مات نظرت فإن مات قبل أن يتمكن من الأداء سقط فرضه، ولم يجب القضاء، وقال أبو يحيى البلخى يجب القضاء، وأخرج إليه أبو إسحاق نص الشافعى رحمه الله فرجع عنه، والدليل على أنه يسقط أنه هلك ما تعلق به الفرض قبل التمكن من الأداء فسقط الفرض، كما لو هلك النصاب قبل أن يتمكن من إخراج الزكاة، وإن مات بعد التمكن من الأداء لم يسقط الفرض ويجب قضاؤه من تركته، لما روى بريدة قال ” أتت النبى صلى الله عليه وسلم امرأة فقالت يا رسول الله إن أمى ماتت ولم تحج قال حجى عن أمك ” ولأنه حق تدخله النيابة لزمه فى حال الحياة، فلم يسقط بالموت، كدين الآدمى، ويجب قضاؤه عنه من الميقات، لأن الحج يجب من الميقات، ويجب من رأس المال لأنه دين واجب فكان من رأس المال كدين الآدمى وإن اجتمع الحج ودين الآدمى والتركة لا تتسع لهما ففيه الأقوال الثلاثة التى ذكرناها فى آخر الزكاة )
Referensi:
. حاشية ابن حجر على الإيضاح ص : ١٠٧ – ١٠٨ دار حراء وأما إمكان السير فأن يجد هذه الأمور وتبقى زمنا يمكنه الذهاب فيه إلى الحج على السير المعتاد ( قوله السير المعتاد ) ظاهره أنه لو احتيج لقطع أكثر من مرحلتين واعتيد ذلك لزمه وفيه نظر لأن قولهم بعد أن اشترطوا السير المعتاد فلو احتيج لقطع أكثر من مرحلة ولو فى بعض الأيام فلا وجوب وهو يشمل ما إذا اعتيد ذلك وهو قريب وأفهم كلامه كغيره أن هذا شرط للوجوب لا للاستقرار فى الذمة حتى يجب قضاؤه من التركة وهو كذلك على المعتمد الذى صرح به الأئمة كما قاله الرافعى وصوبه المصنف فى مجموعه وحاصل عبارته إن وجد جميع ما مر وقد بقى زمن يمكنه فيه الحج وجب وله تأخيره عن تلك السنة لكنه يستقر فى ذمته وإن لم يبق زمن كذلك لم يلزمه الحج ولا يستقر عليه وهكذا قاله الأصحاب ولم يذكر فيه الغزالى هذا الشرط وأنكر عليه الرافعى وقال هذا الإمكان شرطه الأئمة لوجوب الحج ورد عليه ابن الصلاح انتصارا للغزالى بأن هذا الإمكان إنما هو شرط استقرار الحج ليجب قضاؤه من تركته لو مات قبل الحج وليس شرطا لأصل وجوب الحج بل متى وجدت الاستطاعة من مسلم مكلف حر لزمه الحج فى الحال كالصلاة تجب بأول الوقت قبل مضى زمان يسعها ثم استقرارها فى الذمة يتوقف على مضى التمكن من فعلها والصواب ما قاله الرافعى وقد نص عليه صاحب المهذب والأصحاب وإنكار ابن الصلاح فاسد لقوله تعالى ( من استطاع إليه سبيلا ) وهذا غير مستطيع فلا حج عليه وكيف يكون مستطيعا وهو عاجز حسا وأماالصلاة فإنما تجب أول الوقت لإمكان تتميمها اهـ
Referensi :
أنوار المسالك ص ١٣٨ (ويندب المبادرة به) اي الحج عند الإستطاعة (وله التأخير)
Referensi:
الباجورى ص ٣٢٩ والمراد بالقضاء القضاء اللغوي لا الشرعي إذ لا أخر لوقت الحج و القضاء الشرعي فعل العبادة خارج الوقت والحج إنما يفعل فى الوقت
Referensi:
المهذب – (ج ١ / ص ٣٦١) فصل فيمن مات وعليه حج ومن وجب عليه الحج فلم يحج حتى مات نظرت فإن مات قبل أن يتمكن من الأداء سقط فرضه ولم يجب القضاء وقال أبو يحيى البلخي يجب القضاء وأخرج إليه أبو إسحاق نص الشافعي رحمه الله فرجع عنه والدليل على أنه يسقط أنه هلك ما تعلق به الفرض قبل التمكن من الأداء فسقط الفرض كما لو هلك النصاب قبل أن يتمكن من إخراج الزكاة وإن مات بعد التمكن من الأداء لم يسقط الفرض ويجب قضاؤه من تركته لما روى بريدة قال أتت النبي صلى الله عليه وسلم امرأة فقالت يا رسول الله أمي ماتت ولم تحج قال حجي عن أمك ولانه حق تدخله النيابة لزمه في حال الحياة فلم يسقط بالموت كدين الآدمي ويجب قضاؤه عنه من الميقات لان الحج يجب من الميقات ويجب من رأس المال لانه دين واجب فكان من رأس المال كدين الآدمي وإن اجتمع الحج ودين الآدمي والتركة لا تتسع لهما ففيه الأقوال الثلاثة التي ذكرناها في آخر الزكاة
Referensi:
المجموع شرح المهذب – (ج ٧ / ص ٣٨٩) (فرع) يجب مفسد الحج أو العمرة القضاء بلا خلاف سواء كان الحج أو العمرة فرضا أو نفلا لان النفل منهما يصير فرضا بالشروع فيه بخلاف باقى العبادات ويقع القضاء عن المفسد فان كان فرضا وقع عنه وإن كان نفلا فعنه ولو احرم بالقضاء فأفسده بالجماع لزمه الكفارة ولزمه قضاء واحد حتى لو احرم بالقضاء مائة مرة ففسد كل مرة منهن يلزمه قضاء واحد ويقع عن الاول قال اصحابنا ويتصور القضاء في عام الافساد بأن يحصر بعد الافساد ويتعذر عليه المضى في الفاسد فيتحلل ثم يزول الحصر والوقت باق فيحرم بالقضاء ويفعله ويجزئه في سنته قالوا ولا يتصور القضاء في سنة الافساد إلا في هذه الصورة (وأما) وقت وجوب القضاء ففيه وجهان مشهوران ذكرهما المصنف بدليلهما (اصحهما) عند المصنف والاصحاب يجب على الفور وهو ظاهر النص (والثانى) علي التراخي (فان قلنا) على الفور وجب في السنة المستقبلة ولا يجوز تأخيره عنها فان اخره عنها بلا عذر اثم ولم يسقط عنه القضاء بل تجب المبادرة في السنة التي تليها وهكذا ابدا . والله أعلم بالصواب
Menjelang pelaksanaan akad nikah si Fulan dan Fulanah satu hari atau seminggu sebelumnya sudah dilaksanakan walimah terlebih dahulu dengan spanduk atau benner yang ditempelkan didinding rumahnya dengan bertuliskan ” Memohon do’a restu semoga si Fulan dan Fulanah menjadi keluarga yang sakinah mawaddah warohmah “. Padahal yang lumrah dimasyarakat walimatul Urs itu biasa dilaksanakan ketika akad nikah atau setelah akad nikah,
Pertanyaannya.
Apakah hukumnya dinamakan walimah urus jika dilaksanakan sebelum akad nikah dilaksanakan
Bagaimana hukumnya menghadiri undangan walimah sebelum akad nikah sebagaimana deskripsi.
Waalaikum salam.
Jawaban disatukan.
Tidak dinamakan Walimatul urs jika dilaksanakan sebelum akad nikah, maka karena tidak dinamakan walimatul urs, hukum menghadiri undangan tidaklah wajib , akan tetapi sunnah . Karena yang dinamakan walimah Waktunya adalah dimulai ketika akad sampai 7 hari untuk perawan atau 3 hari untuk janda. Bila dilaksanakan setelah itu maka dikatakan qodlo. Adapun hukum menghadiri walimah ketika akad ( dihari petama) adalah wajib sedangkan dihari kedua adalah sunnah dan pada hari ketiga adalah makruh dan seterusnya, kenapa dimakruhkan karena didalamnya terdapat riya’ dan sum’ah. Wallahu A’lam bisshowab.
( بجيرمي على الخطيب ج٣ ص ٤٥٣) قوله : ( بعد الدخول ) قال الدميري : والظاهر أنها تنتهي بمدة الزفاف للبكر سبعا وللثيب ثلاثا ا هـ , أي ففعلها بعد ذلك يقع قضاء فلو قدمها على العقد لم تكن وليمة عرس فلا تجب الإجابة.
[مجموعة من المؤلفين، الفقه المنهجي على مذهب الإمام الشافعي، ٩٧/٤]
وقت الوليمة: ووقت وليمة العرس موسّع من حين العقد إلى ما بعد الدخول، وإن كان الأفضل فعلها بعد الدخول، لأن النبي – صلى الله عليه وسلم – لم يوِلْم على نسائه إلا بعد الدخول، فقد جاء في أحاديث زواجه – صلى الله عليه وسلم -: أصبح النبي – صلى الله عليه وسلم – بها عروساً، فدعا القوم .. وهكذا. انظر البخاري
[الجمل، حاشية الجمل على شرح المنهج = فتوحات الوهاب بتوضيح شرح منهج الطلاب، ٢٧٣/٤]
HUKUMNYA SHALAT DENGAN MEMAKAI KAOS KAKI DAN KAOS TANGAN
Assalamualaikum.
Deskripsi masalah
Seiring dengan perkembangan zaman tidak sedikit kita menemukan seseorang diperkotaan manakala tiba shalat jum’at para pegawai baik laki-laki dan perempuan, para Maha siswa melakukan shalat jum’at tanpa melepaskan Kaos kakinya dan sebagian pakai kaus tangan, sementara dalam shalat ada rukun yang harus dipenuhi yang diantaranya sujud ,dalam sujud musholliy disyaratkan dengan tujuh anggota badan yaitu dahi beserta hidung, kedua telapak tangan, kedua lutut dan kedua kaki menyentuh sajadah.
Pertanyaannya. Bagaimana hukumnya shalat seseorang yang memakai kaos kaki sebagaimana deskripsi?
Waalaikum salam.
Jawaban. Hukum shalat seseorang dengan memakai kaos kaki ataupun kaos tangan adalah sah, namun makruh, karena membuka kedua telapak tangan dan juga kedua kaki didalam shalat bukanlah kewajiban melainkan sunnah. Andaikan orang shalat memakai kaos kaki membatal kan shalat tentu Nabi memecat Khuf ketika shalat. Khuf atau muza adalah kaus kaki yang terbuat dari kulit tipis atau semacamnya. Khuf syar’i harus menutupi mata kaki atau lebih. Sama dengan kaus kaki biasa. Hanya saja kaus kaki tidak terbuat dari kulit. Umumnya, khuf (moza) dipakai di kala musim dingin agar kaki terasa hangat. Islam membolehkan memakai khuf bahkan memberi dispensasi (rukhsoh) khusus yaitu bagi yang tinggal di rumah boleh tidak melepasnya selama 24 jam dan bagi musafir boleh tidak melepasnya selama tiga hari tiga malam dengan syarat asal tidak junub (hadas besar). Selama memakai khuf, orang yang berwudhu cukup mengusap bagian atas atau punggung kaki saja. Mengusap (masah) artinya mengusapkan tangan yang basah ke punggung kaki tanpa harus mengalirkan air ke khuf tersebut. Jadi orang yang memakai kaos kaki ataupun kaos tangan ketika shalat tidaklah memengaruhi terhadap ketidak sahan shalat, artinya shalatnya tetap sah. Sebagaimana Ibnu Daqiq Al-Ied (yang juga bermadzhab Syafi‘i) mengatakan, ‘Ulama sepakat bahwa keterbukaan kedua lutut (ketika sujud) tidak wajib karena dikhawatirkan tersingkap aurat. Sedangkan ketidakwajiban terbukanya kedua kaki didukung sebuah dalil halus di mana Nabi Muhammad SAW pada suatu ketika mengusap khuf (sejenis kaos kaki rapat dari kulit) tetap mengenakannya dalam shalat. Seandainya keterbukaan kedua kaki itu wajib, niscaya pencopotan khuf juga wajib yang menuntut pembatalan kesucian lalu membatalkan shalat,’”.
Referensi:
[تحفة الحبيب على شرح الخطيب ١٧٩/٢] ويسنّ كشف اليدين والرجلين أي في حق الرجل إذ المرأة يجب عليها ستر قدميها ، ويكره كشف كفيها كما يؤخذ من علة كشف الركبتين ق ل
Referensi ;
[الباجوري ١٥٣/١]
.قوله مباشرة الخ فيجب كشف الجبهة و يسن كشف اليدين والرجلين و يكره كشف الركبتين ما عدا ما يجب ستره منهما مع العورة.
Referensi
[الشرقاوي ١ / ١٨٩ – ١٩٠]
: و ثامنها سجود للأمر به في الكتاب والخبر السابق بوضع الجبهة مكشوفة و وضع اليدين والركبتين و أطراف القدمين ولو مستورة لخبر الصحيحين أمرت أن أسجد على سبعة أعظم الجبهة واليدين والركبتين و أطراف القدمين و يكفي وضع جزء من كل واحد منها والإعتبار في اليد بباطن الكف سواء الأصابع والراحة و في الرجل ببطون الأصابع و يسن كشف اليدين والرجلين و يكره كشف الركبتين.
Referensi
فقه الإسلامى وأدلته ص.٨٠٤
١). ولا خلاف في عدم وجوب كشف الركبتين، لئلا يفضي إلى كشف العورة، كما لا يجب كشف القدمين واليدين، لكن يسن كشفها، خروجاً من الخلاف. ودليل جواز ترك كشف اليدين: حديث عبد الله بن عبد الرحمن قال: «جاءنا النبي صلّى الله عليه وسلم، فصلى بنا في مسجد بني الأشهل، فرأيته واضعاً يديه في ثوبه إذا سجد» (٢).وقال الشافعية: إن سجد على متصل به كطرف كمّه الطويل أو عمامته، جاز إن لم يتحرك بحركته؛ لأنه في حكم المنفصل عنه. فإن تحرك بحركته في قيام أو قعود أو غيرهما كمنديل على عاتقه، لم يجز. وإن كان متعمداً عالماً، بطلت صلاته، وإن كان ناسياً أوجاهلاً، لم تبطل، وأعاد السجود. وتصح صلاته فيما إذا سجد على طرف ملبوسه ولم يتحرك بحركته. وضعف الشافعية الأحاديث الواردة في السجود على كور العمامة، أو أنها محمولة على حالة العذر (٣).والشافعية والحنابلة متفقون على وجوب السجود على جميع الأعضاء السبعة المذكورة في الحديث السابق، ويستحب وضع الأنف مع الجبهة عند الشافعية، لكن يجب عند الحنابلة وضع جزء من الأنف. واشترط الشافعية أن يكون السجود على بطون الكفين وبطون أصابع القدمين، أي أنه يكفي وضع جزء من كل واحد من هذه الأعضاء السبعة كالجبهة، والعبرة في اليدين ببطن الكف، سواء الأصابع والراحة، وفي الرجلين ببطن الأصابع، فلا يجزئ الظهر منها ولا الحرف.
Referensi:
نيل الأوطار .ج ٢ ص٢٨٩ قال ابن دقيق العيد : ولم يختلف في أن كشف الركبتين غير واجب لما يحذر فيه من كشف العورة وأما عدم وجوب كشف القدمين فلدليل لطيف وهو أن الشارع وقت المسح على الخف بمدة يقع فيها الصلاة بالخف فلو وجب كشف القدمين لوجب نزع الخف المقتضي لنقض الطهارة فتبطل الصلاة اه
Referensi:
إعانة الطالبين .ص ٦٠ قال في المغنى: ودليل الجديد ما روي: أنه – صلى الله عليه وسلم – توضأ في السوق فغسل وجهه ويديه ومسح رأسه، فدعي إلى جنازة فأتى المسجد فمسح خفيه وصلى عليها.
Hadits ke-64 Dari Umar Radliyallaahu ‘anhu secara mauquf dan dari Anas Radliyallaahu ‘anhu secara marfu’: “Apabila seseorang di antara kamu berwudlu sedang dia bersepatu maka hendaknya ia mengusap bagian atas keduanya dan sholat dengan mengenakannya tanpa melepasnya jika ia menghendaki kecuali karena jinabat.” Diriwayatkan oleh Daruquthni dan Hakim. Hadits shahih menurut Hakim. Wallahu A’lam bisshowab.