logo mubaa
Logo Ittihad

DEWAN PIMPINAN PUSAT
IKATAN ALUMNI BATA-BATA

Kategori
Uncategorized

M050. HUKUM MENGGUNJING ORANG KAFIR DAN ORANG FASIK

PERTANYAAN :

Assalamualaikum Ustadz..

Kati ponapah hokommah oreng islam mencaci atau menggunjing atau semacamnya terhadap orang kafir, baik kafir asli maupun aridi (murtad) baik harbi maupun dzimmi ataupun terhadap orang fasiq baik yang menampakkan kefasikannya atau tidak?

Tampilakn beserta ibarotnya..

JAWABAN :

Waalaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh..

Orang islam boleh dan tidak berdosa jika orang islam itu meng-ghiibah (menggunjing, menyebutkan aibnya) orang kafir harbi/ orang kafir dzimmi/ orang yang menampakkan kefasikannya (perbuatan dosanya) dengan tujuan :

1. untuk mengubah kemunkaran (perkara yang tidak sesuai dengan syariat islam).

2. untuk mengembalikan orang yang berbuat dosa ke jalan yang baik yang diridhoi oleh Allah.

3. Memberi peringatan kepada seorang muslim supaya tidak ditulari oleh kefasikan orang yang fasik.

“Berghibah kepada orang yang terang terangan terhadap kefasikannya (kejahatannya) bukan termasuk ghibah.

(احياء علوم الدين,جز ٣,صحيفۃ ١٤٨-١٤٩)
(بيان الاءعذار المرخصۃ في الغيبۃ)

اعلم ان المرخص في ذكر مساوي الغير هو غرض صحيح في الشرع لا يمكن التوصل اليه الا به فيدفع ذلك اثم الغيبۃ وهي ستۃ امور:…….الی ان قال………الثاني الاءستعانۃ علی تغيير المنكر ورد المعاصي الی منهج الصلاح……….الرابع تحذير المسلم من الشر,فاءذا راءيت فقيها يتردد الی مبتدع او فاسق وخفت ان تتعدی اليه بدعته وفسقه ذلك ان تكشف له بدعته وفسقه……..اذ قال رسول ﷲ صلی ﷲ عليه وسلم (اترعون عن ذكر الفاجر اهتكوه-اي اكشفوا عيبه- حتی يعرفه الناس اذكروه بما فيه حتی يحذره الناس,رواه الطبراني وابن حبان) وكانوا يقولون ثلا ثۃ لا غيبۃ لهم:الاءمام الجاءر والمبتدع والمجاهر بفسقه

Wallahu a’lamu bisshowab..

Kategori
Uncategorized

HADITS KE 134 : PENJELASAN QODHO’ DAN ADA’ DALAM SHOLAT

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

_*BAB WAKTU SHALAT*_

HADITS KE 134 :

وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه أَنَّ رَسُولَ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ: ( مَنْ أَدْرَكَ مِنْ اَلصُّبْحِ رَكْعَةً قَبْلِ أَنْ تَطْلُعَ اَلشَّمْسُ فَقَدْ أَدْرَكَ اَلصُّبْحَ وَمَنْ أَدْرَكَ رَكْعَةً مِنْ اَلْعَصْرِ قَبْلَ أَنْ تَغْرُبَ اَلشَّمْسُ فَقَدْ أَدْرَكَ اَلْعَصْرَ ) مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

وَلِمُسْلِمٍ عَنْ عَائِشَةَ نَحْوَهُ وَقَالَ: “سَجْدَةً” بَدَلَ “رَكْعَةً”. ثُمَّ قَالَ: وَالسَّجْدَةُ إِنَّمَا هِيَ اَلرَّكْعَةُ

Dari Abu Hurairah Radliyallaahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Barangsiapa yang telah mengerjakan satu rakaat shalat Shubuh sebelum matahari terbit maka ia telah mendapatkan shalat Shubuh dan barangsiapa yang telah mengerjakan satu rakaat shalat Ashar sebelum matahari terbenam maka ia telah mendapatkan shalat Ashar.” Muttafaq Alaihi.

Menurut riwayat Muslim dari ‘Aisyah Radliyallaahu ‘anhu ada hadits serupa beliau bersabda: “Sekali sujud sebagai pengganti daripada satu rakaat.” Kemudian beliau bersabda: “Sekali sujud itu adalah satu rakaat.”

MAKNA HADITS :

Anugerah Allah kepada hamba-hamba-Nya amatlah besar dan pemberian-Nya mencakupi seluruh makhluk ciptaan-Nya. Allah (s.w.t) memberikan satu anugerah
kepada orang yang mengerjakan sholat bahwa barang siapa yang sempat mendapat satu rakaat sholat yang masih dalam waktunya, kemudian dia melanjutkan sholat itu di luar waktunya, maka sholat tersebut masih dikatagorikan sebagai ada’an (dilaksanakan di dalam waktunya) dan sisa rakaat lain yang dia kerjakan di luar waktunya tetap dimasukkan ke dalam satu rakaat yang dia sempat mendapatnya di dalam waktunya. Ini merupakan anugerah-Nya. Allah menjadikan bagian yang seseorang itu jumpai di dalam waktunya sebagai bagian yang hakiki kerana bagian tersebut memuatkan satu rakaat yang dilengkapi dengan rukuk dan sujud, sedangkan sisa rakaat yang lain dianggap sebagai pengulangan. Namun jika seseorang hanya sempat menjumpai sebagian satu rakaat, seperti satu kali sujud atau mengangkat kepala dari rukuk, maka bagian ini tidak memperoleh keutamaan tersebut.

FIQH HADITS :

1. Barang siapa yang menjumpai satu rakaat yang sempurna berikut sujudnya dari sholat Subuh sebelum matahari terbit, dan satu rakaat solat Asar sebelum matahari tenggelam, berarti orang itu masih sempat mengerjakan sholatnya secara ada’an (melaksanakan pada waktunya), dan dia mesti meneruskan baki
rakaat solatnya itu, sekalipun matahari telah terbit ataupun telah tenggelam.

2. Barang siapa yang tidak sempat menjumpai satu rakaat secara sempurna dalam waktu sholat seperti dia hanya menjumpai sebahagiannya saja, maka sholatnya itu dianggap sebagai qadha’an karena dia tidak sempat mengerjakannya di dalam waktunya.

3. Pengertian “menjumpai satu rakaat” ini dapat dilakukan setelah memperkirakan adanya masa yang memadai untuk bersuci atau mandi bagi wanita yang berhaid dan bernifas. Menurut satu pendapat yang lain, hadits ini bermaksud bahwa barang siapa yang halangan seperti ayan, haid atau nifas,
lalu dia sadar atau suci sebelum waktu sholat berakhir, misalnya masih ada waktu yang cukup untuk mengerjakan satu rakaat setelah memperkirakan adanya waktu yang memadai untuk bersuci secara sempurna, maka sholat tersebut tetap wujud di dalam tanggungan orang yang sudah tidak mempunyai halangan tersebut, baik sholatnya itu dia kerjakan masih dalam kategori ada’an ataupun qadha’an. Jika tidak ada waktu yang memadai untuk
mengerjakan satu rakaat secara sempurna sesudah memperkirakan waktu untuk bersuci, maka kewajipan sholat digugurkan ke atas orang yang mempunyai halangan-halangan tersebut.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

Kategori
Uncategorized

M049. POTONGAN 10% DALAM AKAD GADAI

PERTANYAAN :

Assalamualaikum Ustadz..

Mau tanya ustdz, Bagaimana hukum potongan dalam gadai, yang mana sekarang sudah menjadi kebiasaan, ketika orang butuh uang lalu menggadaikan suatu barang, semisal mobil, dan uang tersebut langsung dipotong 10% hal itu sudah ada kesepakatan antara kedua belah pihak, pertanyaanya bagaimana hukum uang potongan trsebut?
Mohon penjelasanya..

JAWABAN :

Waalaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh..

Seseorang yang membutuhkan uang lalu orang itu menggadaikan mobil. Lalu uang tersebut langsung dipotong 10%, hukumnya adalah haram. Alasannya ialah karena orang tersebut menghutangi yang bertujuan mengambil kemanfaatan. Dan alasan diharamkannya transaksi gadai tersebut adalah karena terdapat syarat (pemotongan 10% terhadap pemberian uang hutangan gadai itu) pada waktu aqad.

(اعانۃ الطالبين,جز ٣,صحيفۃ ٥٣)
وجاز لمقرض نفع يصل له من مقترض كرد الزائد قدرا او صفۃ والأجود للرديئ (بلا شرط) في العقد بل يسن ذلك لمقترض الی ان قال واما القرض بشرط جر نفع لمقترض ففاسد لخبر كل قرض جر منفعۃ فهو ربا (قوله ففاسد) قال ع ش : ومعلوم ان محل الفساد حيث وقع الشرط في صلب العقد, اما لو توافقا علی ذلك ولم يقع شرط في العقد فلا فساد.

Wallahu a’lamu bisshowab..

Kategori
Uncategorized

M048. HUKUM MENYAKITI TETANGGA DENGAN BAU MASAKAN

PERTANYAAN :

Assalamualaikum Ustadz..

Diskripsi masalah:
Dalam istilah orang madura apabila ada orang memamerkan kenikmatan berupa makanan dan yg melihat tidak diberi sama sekali maka orang madura mengatakan “awas andik otang matah”.

Pertanyaan:
Apakah dalam konteks tersebut ada ayat atau hadits yang menjelaskannya..?
Terima kasih..

JAWABAN :

Waalaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh..

Jawabn kami dibawah lebih kami larikan pada Literatur ilmu hukum fiqh, bagaimna fiqih menyikapi hal tersebut ?? Sebab marak sekali hal ini terjadi, lebih-lebih biasanya posisi dapur tempat masak satu tetangga dengan tetangga yang lainnya saling berdekatan, sehingga muncul lagi masalah mengenai batasan bau sedap masakan yang konsekswensinya nanti menyakiti orang lain sebab ikut mencium baunya namun tak kebagian nikmatnya.

Dalam pertanyaan penanya di atas
Baik yang dimaksudkan adalah adakah Hadits/Ayat yang menjelaskan hutang mata?
Atau penjelasan hadits yang menyinggung diskripsi diatas tersebut?

Begini, Mari kita kontekstual dalam menyikapi segala masalah, sebab sekecil apapun masalah itu maka pasti ada hukumnya.

Sebelum masuk pada fiqh

Pertama:
Dalam hadits nabi dijelaskan:

ان استقرضك اقرضته,وان استعانك اعنته,وان مرض عدته,وان احتاج اعطيته,وان افتقر عدت عليه,وان اصابه خير هنيته,وان اصابه مصيبۃ عزيته,واذا مات اتبعت جنازته,ولا تستطيل عليه بالبناء فتحجب عنه الريح الا باءذنه,

ولا توءذيه بريح قدرك الا ان تغرف له منها

,وان اشتريت فاكهۃ فاءهد له,وان لم تفعل فاءدخلها سرا,ولا تخرج بها ولدك ليغيظ بها ولده(رواه ابو الشيخ)

Dalam hadits di atas, artinya:

Janganlah kamu menyakiti tetanggamu dengan bau masakan kuah yang direbus di dalam periukmu, kecuali kamu memberi kuah kepada tetanggamu sekedarnya

Dalam fiqh hal ini masuk pada : Melakukan aktifitas dalam milik diri sendiri namun berdampak mudhorat Pada orang lain, mudharat dimaksud adalah menyakiti hati tetangga.

Di bawah dijelaskan sebagaimana anda dapat temukan dalam hasil keputusan pada Ikaba.net Seputar hukum menggali sumur ke samping sehingga berdampak mudharat pada milik tetangga. Baca :

Batasan menggunkan hak sendiri (bukan fasilitas umum) adalah dibatasi dengan tidak melampawi kebiasaan tradisi yang ada, dalam arti disini Perbuatan harus merupakan perbuatan yang dimaklumi oleh pandangan publik umum/setempat. Yaitu dikembalikan pada ‘uruf masyarakat, apakah hal itu dianggap berlebihan atau tidak. Jika sudah dianggap tidak berlebihan ( لا يخالف العادة) maka hal itu dapat dibenarkan meskipun nanti berdampak mudharat pada orang lain. Pendapat ini merupakan Pendapat imam syafi’i. Ulamak menambah harus tidak ada niat menyakiti/membuat kerusakan dari pengguna yang dalam hal ini adalah orang yang memasak makanan.
Tentu Qosdu atau niat darinya juga menentukan.

تحفة المحتاج في شرح المنهاج (6/ 209)

(وَاخْتَارَ جَمْعٌ الْمَنْعَ مِنْ كُلِّ مُؤْذٍ لَمْ يُعْتَدْ وَالرُّويَانِيُّ أَنَّهُ لَا يُمْنَعُ إلَّا إنْ ظَهَرَ مِنْهُ قَصْدُ التَّعَنُّتِ وَالْفَسَادِ وَأَجْرَى ذَلِكَ فِي نَحْوِ إطَالَةِ الْبِنَاء),ِ وَأَفْهَمَ الْمَتْنُ أَنَّهُ يُمْنَعُ مِمَّا الْغَالِبُ فِيهِ الْإِخْلَالُ بِنَحْوِ حَائِطِ الْجَارِ كَدَقٍّ عَنِيفٍ يُزْعِجُهَا وَحَبْسِ مَاءٍ بِمِلْكِهِ تَسْرِي نَدَاوَتُهُ إلَيْهَا قَالَ الزَّرْكَشِيُّ وَالْحَاصِلُ مَنْعُ مَا يَضُرُّ الْمِلْكَ دُونَ الْمَالِكِ اهـ. وَاعْتُرِضَ بِمَا مَرَّ فِي قَوْلِنَا وَلَا يُمْنَعُ مِنْ حَفْرِ بِئْرٍ بِمِلْكِهِ وَيُرَدُّ بِأَنَّ ذَاكَ فِي حَفْرٍ مُعْتَادٍ وَمَا هُنَا فِي تَصَرُّفٍ غَيْرِ مُعْتَادٍ فَتَأَمَّلْهُ، ثُمَّ
رَأَيْتُ بَعْضَهُمْ نَقَلَ ذَلِكَ عَنْ الْأَصْحَابِ فَقَالَ قَالَ أَئِمَّتُنَا وَكُلٌّ مِنْ الْمُلَّاكِ يَتَصَرَّفُ فِي مِلْكِهِ عَلَى الْعَادَةِ وَلَا ضَمَانَ إذَا أَفْضَى إلَى تَلَفٍ وَمَنْ قَالَ يُمْنَعُ مِمَّا يَضُرُّ الْمِلْكَ دُونَ الْمَالِكِ مَحَلُّهُ فِي تَصَرُّفٍ يُخَالِفُ فِيهِ الْعَادَةَ لِقَوْلِهِمْ لَوْ حَفَرَ بِمِلْكِهِ بَالُوعَةً أَفْسَدَتْ مَاءَ بِئْرِ جَارِهِ أَوْ بِئْرًا نَقَصَتْ مَاءَهَا لَمْ يَضْمَنْ مَا لَمْ يُخَالِفْ الْعَادَةَ فِي تَوْسِعَةِ الْبِئْرِ أَوْ تَقْرِيبِهَا مِنْ الْجِدَارِ أَوْ تَكُنْ الْأَرْضُ خَوَّارَةً تَنْهَارُ إذَا لَمْ تُطْوَ فَلَمْ يَطْوِهَا فَيَضْمَنُ فِي هَذِهِ كُلِّهَا وَيُمْنَعُ مِنْهَا لِتَقْصِيرِهِ

الموسوعة الفقهية الكويتية (16/ 222)

(وَذَهَبَ الشَّافِعِيَّةُ إِلَى أَنَّ كُل وَاحِدٍ مِنَ الْمُلاَّكِ لَهُ أَنْ يَتَصَرَّفَ فِي مِلْكِهِ عَلَى الْعَادَةِ فِي التَّصَرُّفِ، وَإِنْ تَضَرَّرَ بِهِ جَارُهُ أَوْ أَدَّى إِلَى إِتْلاَفِ مَالِه)، كَمَنْ حَفَرَ بِئْرَ مَاءٍ أَوْ حُشٍّ فَاخْتَل بِهِ جِدَارُ جَارِهِ أَوْ تَغَيَّرَ بِمَا فِي الْحُشِّ مَاءُ بِئْرِهِ؛ لأَِنَّ فِي مَنْعِ الْمَالِكِ مِنَ التَّصَرُّفِ فِي مِلْكِهِ مِمَّا يَضُرُّ جَارَهُ ضَرَرًا لاَ جَابِرَ لَهُ، (فَإِنْ تَعَدَّى بِأَنْ جَاوَزَ الْعَادَةَ فِي التَّصَرُّفِ ضَمِنَ مَا تَعَدَّى فِيهِ لاِفْتِيَاتِهِ).

KESIMPULAN JAWABAN :

Orang yang memasak makanan yang orang melihatnya bahkan turut mencium bau sedapnya namun sengaja tidak diberi oleh pengadon makanan?

Maka Ditafshil :

Pekerjaan yang seperti itu Boleh boleh saja apabila :

A. Dia tidak ada niat menyakiti dan seterusnya.

B. Perbuatannya sudah susuai dengan pemakluman ‘uruf setempat, Seperti satu dapur dengan tetangga sebelah atau dapurnya berhimpitan sehingga aroma sedap makanan selalu sampai dan seterusnya.

C. Haram apabila salah satu dua poin diatas tidak terpenuhi.

Contoh yang melanggar poin A
Semisal ada inisiatif menyakiti. Seperti dalam diskripsi masalah, yaitu ada unsur/ niatan kesengajaan memamerkan serta tidak akan memberinya.

Wallahu a’lamu bisshowab..

Kategori
Uncategorized

HADITS KE 133 : WAKTU FADHILAH SHOLAT SUBUH

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

_*BAB WAKTU SHALAT*_

HADITS KE 133 :

وَعَنْ رَافِعِ بْنِ خَدِيجٍ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم ( أَصْبِحُوا بِالصُّبْحِ فَإِنَّهُ أَعْظَمُ لِأُجُورِكُمْ ) رَوَاهُ اَلْخَمْسَةُ وَصَحَّحَهُ اَلتِّرْمِذِيُّ وَابْنُ حِبَّانَ

dari Rafi’ Ibnu Khadij Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Lakukanlah shalat Shubuh pada waktu masih benar-benar Shubuh karena ia lebih besar pahalanya bagimu.” Riwayat Imam Lima. Hadits shahih menurut Tirmidzi dan Ibnu Hibban.

MAKNA HADITS :

Kadangkala kemunculan fajar membingungkan sebagian pihak terlebih-lebih lagi pada waktu malam purnama namun ada pula sebagian pihak yang memandang remeh pelaksanaan sholat Subuh pada awal waktunya, kerana kebiasaan mereka yang tidur terlalu lelap. Melalui hadits ini, Nabi (s.a.w) memerintahkan agar sholat Subuh benar-benar diperhatikan. Pertama, memastikan fajar shadiq benar-benar telah terbit. Kedua, hendaklah sholat Subuh dikerjakan pada awal waktunya. Kemudian Nabi (s.a.w) menjelaskan bahwa mengerjakan sholat Subuh pada awal waktunya menjadikan ganjaran pahala seseorang yang melakukannya dilipatgandakan.

FIQH HADITS :

1. Dianjurkan berpagi-pagi buta dalam mengerjakan sholat Subuh setelah yakin fajar benar-benar telah terbit. Inilah pendapat jumhur ulama. Sedangkan mazhab Hanafi mengatakan bahwa hadits ini mensyariatkan al-isfar (lawan kata dari al-ishbah) yang artinya “apabila permulaan pagi kelihatan remang-remang” karena berlandaskan kepada makna dzahir hadits.

2. Dianjurkan bersegera mengerjakan sholat Subuh di awal waktunya bagi mendapatkan ganjaran pahala yang besar.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

Kategori
Uncategorized

D017. SEPUTAR ILMU KASYAF

ILMU KASYAF

Jin khodam adalah memberikan jasa, dan perlindungan. Jin khodam akan bekerja, baik diminta maupun tidak diminta.
Khadam ini memberikan kamuflase penjagaan seolah olah mereka ini jin baik yang menjaga manusia dan memberi perlindungan kepada manusia, padahal semua nya sangatlah semu.
Dan Bashirah adalah penglihatan batin atau mata batin.
Bashirah itu akan memancarkan ilmu yang disebut dengan “Firasat”. Ilmu tersebut akan terpancar di hati mukmin yang bersih dan jernih karena banyak berdzikir atau banyak berfikir. Ilmu itu disebut “Kasyaf” Dan juga terkadang disebut “Mukasyafah”, Pelakunya disebut “Mukasyaf” (orang yang hatinya dapat melihat hal yang ghaib).

Diskripsi Masalah :
Seperti yang kita ketahui, di zaman sekarang ini banyak alim ulama yang bisa membantu orang lain dengan berbagai macam cara, tidak menutup kemungkinan bersampul syari’at Islam. Tetapi kita tidak mengetahui dengan jelas hal itu bersanad pada khodam atau murni kasyaf?
Dan jin itu terbagi 2 Yaitu jin muslim dan jin kafir.

Pertanyaan :
Bagaimana cara membedakan ilmu yang menggunakan khodam ataupun kasyaf? Bagaimana ciri orang yang membantu melalui khodam/ kasyaf? Apakah di haramkan ketika seseorang yang bersanad pada ilmu kasyaf meminta bantuan pada jin muslim?
Apakah benar jin muslim bisa membantu dalam hal kebaikan secara ghoib?

JAWABAN :

Ilmu kasyaf adalah masuk dalam kategori ladunni dimana ilmu ladunni hanya diberikan oleh Allah kepada hambanya (wali/kekasihnya) yang dikehendakinya seperti al-khidir.

Sedangkan yang dimaksud dengan ilmu ladunni adalah ilmu ghaib yang langsung dari Allah, yang tentunya sangatlah berbeda dengan ilmu kasab (ilmu-ilmu syariat). Sebagaimana ibarah berikut:

Referensi :

قصص موس والخضر ص ٨٣
وأن المراد بعلمه اللدني هو علم الغيبي

والمراد بالعلم اللدني :علم الباطن إلهاما.

Yang dimaksud dengan ilmunya Khidir ladunniy adalah ilmu ghaib atau bathin secara ilham.

إعلم كل علم يعلمه الله تعالى عباه ويمكن للعباد أن يتعلموا ذلك من غير الله تعالى فإنع ليس من جملة العلم ،لأنه يمكن أن يتعلم من لدن غيره. يدل عليه قوله تعالي (وعلمناه صنعة لبوس) الأنبياء:٨٠ ، فلا يقال :إنه العلم اللدني لأنه يحتمل أن يتعلم من غير الله تعالى، فيكون من لدن ذلك الغير.وأيضا إن العلم اللدني مايتعلق بلدن الله تعالى، وهو علم معرفة ذاته وصفاته تعالي (روح تلبيان الجزء الثاني ص ٤٩٩)

Ketahuilah bahwa setiap imu yang Allah ajarkan kepada hambanya bisa terjadi (mungkin) dipelajari ilmu itu dari selain Allah.

Sebagaimana dalil firman Allah kepada Nabi Daud وعلمناه صنعة لبوس
Ilmu yang diajarkan Allah kepada Nabi Daud ini bukan ilmu ladunniy, karena ilmu itu bisa dipelajari kepada selain Allah . Sedangkan ilmu ladunni adalah ilmu yang langsung dari Allah.

Dengan demikian untuk mengetahui cara membedakan ilmu yang mengunakan khaddam jin dan ilmu kasyaf adalah sulit terkeculi orang yang sudah sampai kepada maqom wali atau maqom makrifah sebagaimana sebagian ulama sufi memberi batasan tingkatan ilmu. sebagaimana berikut.

Referensi :

البضاعة الغالية في أقوال الرجال الصوفية منقولة من شرح الحكم وفتوح الألهية ص ٤

فعلم اليقين لأهل الدليل
وعين اليقين لأهل الكشف والعيان وحق اليقين لأهل الشهود والعيان

“Ilmul-Yaqiin kepunyaannya orang ahli dalil. Ainul-Yaqiin adalah kepunyaanya orang ahli kasyaf yang dihijab hatinya menjadi terbuka. Sedangkan Haqqulyaqiin adalah adalah orang yang sudah sampai kepada maqam mausyahadah:

أو تقول ،شعاء البصيرة لأهل الفناء في الأعمال وعين البصيرة لأهل الفناء في الذات وحق البصيرة لأهل الفناء في الفناء.

Bagi orang yang sudah sampai pada maqomnya boleh menggunakan khoddam jin
Sebagaimana ibarah berikut.

Referensi :

تنوير القلوب : 

وبعد الفناء في الله كن كيفما شاء* فعلمك لاجهل وفعلك لاوزر

Dan setelah seseorang sampai pada maqom fana’ fillah maka jadilah sebagaimana ia kehendaki, maka ilmumu tidaklah bodoh dan perkerjaanmu tiada berdosa.

Demikian yang dapat kami jelaskan bagi penanya.

والله تعالى أعلم بالصواب

Kategori
Uncategorized

S046. HUKUM MENGULANG BACAAN FATIHAH DALAM SATU RAKAAT

PERTANYAAN :

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Bagaimana hukumya mengulang-ulang bacaan di dalam shalat seperti mengulang bacaan fatihah?

JAWABAN :

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

Mengulang baca Fatihah dalam satu rokaat, jika karena lupa maka tidak membahayakan sholatnya, jika sengaja mengulanginya maka ada dua pendapat :

1. pendapat yang shohih, yaitu tidak batal sholatnya.

2. batal sholatnya, sebab sama dengan mengulangi rukuk.

Referensi :

– kitab majmu’ (4/28) :

قال المصنف – رحمه الله تعالى – : ( وإن عمل في الصلاة عملا ليس منها نظرت فإن كان من جنس أفعالها بأن ركع أو سجد في غير موضعهما فإن كان عامدا بطلت صلاته ; لأنه متلاعب بالصلاة ، وإن كان ناسيا لم تبطل ; لأن النبي صلى الله عليه وسلم { صلى الظهر خمسا فسبحوا له وبنى على صلاته } ” فإن قرأ فاتحة الكتاب مرتين عامدا فالمنصوص أنه لا تبطل صلاته ; لأنه تكرار ذكر فهو كما لو قرأ السورة بعد الفاتحة مرتين ، ومن أصحابنا من قال : تبطل ; لأنه ركن زاده في الصلاة فهو كالركوع والسجود ) .

( الشرح ) هذا الحديث رواه البخاري ومسلم بمعناه من رواية عبد الله بن مسعود رضي الله عنه ، قال أصحابنا : إذا زاد فعلا من أركان الصلاة عمدا بطلت صلاته ، وإن كان سهوا لم تبطل بركن ولا أركان ولا ركعة ولا أكثر للحديث ولأنه لا يمكن الاحتراز منه فإن قرأ الفاتحة مرتين سهوا لم يضر ، وإن تعمد فوجهان الصحيح المنصوص لا تبطل ; لأنه لا يخل بصورة الصلاة ( والثاني ) : تبطل كتكرار الركوع ، وهذا الوجه حكاه إمام الحرمين عن أبي الوليد النيسابوري من متقدمي أصحابنا الكبار ، تفقه على ابن سريج وحكاه صاحب العدة عن أبي علي بن خيران وأبي يحيى البلخي، قال : وحكاه الشيخ أبو حامد عن القديم ، والمذهب : أنها لا تبطل ، وبه قال الأكثرون ، وكذا لو كرر التشهد الآخر والصلاة على رسول الله صلى الله عليه وسلم عمدا لا تبطل ; لما ذكرناه ، قال المتولي وغيره : وإذا كرر الفاتحة – وقلنا : لا تبطل صلاته – لا يجزيه عن السورة بعد الفاتحة .

Hukumnya mengulang-ulang bacaan dalam shalat ada yang yang dianjurkan dan ada yang tidak dianjurkan.

Adapun mengulang-ulang bacaan yang dianjurkan yaitu:

bacaan سبحان ربي العظيم وبحمده ketika rukuk menimal adalah 3x sedangkan maksimalnya adalah 11x.

dan juga bacaan
سبحان ربي الأعلى وبحمده
ketika sujud minimal 3x dan maksimalnnya adalah 11x.

Sedangkan mengulang bacaan fatihah tidak diperkenankan karena tidak ada hadits yang menjelaskan tentang adanya anjuran mengulang fatihah bahkan jika mengulanya berati telah berpaling dari sunnah
(خلاف ماورد في السنة)
Tetapi jika bacaan surat
setelah fatihah bagi shalat 4 rakaat , dirakaat yang pertama dan kedua dianjurkan bahkan hukumnya sunnah. Oleh karenanya kita melakukan shalat tidak semerta-merta melakukan shalat melainkan meniru Rasulullah SAW,
sebagaimana beliau telah memberikan contoh Rasulullah SAW, bersabda :
صلوا كما رأيتمواني أصلي
“Salatlah kamu sekalian sebagaimana kamu sekalian melihat aku melakukan salat”.

Anjuran bacaan surat dan yang tidak dianjurkannya mengulang-ulanlang fatihah sebagaimana ibarot berikut;

Referensi :

مغنى المحتاج :

(وَتُسَنُّ) لِلْإِمَامِ وَالْمُنْفَرِدِ (سُورَةٌ) يَقْرَؤُهَا فِي الصَّلَاةِ (بَعْدَ الْفَاتِحَةِ) وَلَوْ كَانَتْ الصَّلَاةُ سِرِّيَّةً (إلَّا فِي الثَّالِثَةِ) مِنْ الْمَغْرِبِ وَغَيْرِهَا (وَالرَّابِعَةِ) مِنْ الرُّبَاعِيَّةِ (فِي الْأَظْهَرِ) لِلِاتِّبَاعِ فِي الشِّقَّيْنِ رَوَاهُ الشَّيْخَانِ، وَمُقَابِلُ الْأَظْهَرِ دَلِيلُهُ الِاتِّبَاعُ فِي حَدِيثِ مُسْلِمٍ، وَالِاتِّبَاعَانِ فِي الظُّهْرِ وَالْعَصْرِ، وَيُقَاسُ عَلَيْهِمَا غَيْرُهُمَا، وَالسُّورَةُ عَلَى الثَّانِي أَقْصَرُ كَمَا اشْتَمَلَ عَلَيْهِ الْحَدِيثُ، وَسَيَأْتِي آخِرَ الْبَابِ سُنَّ تَطْوِيلُ قِرَاءَةِ الْأُولَى عَلَى الثَّانِيَةِ فِي الْأَصَحِّ، وَكَذَا الثَّالِثَةُ عَلَى الرَّابِعَةِ عَلَى الثَّانِي.
قَالَ الشَّارِحُ: ثُمَّ فِي تَرْجِيحِهِمْ الْأَوَّلَ تَقْدِيمٌ لِدَلِيلِهِ النَّافِي عَلَى دَلِيلِ الثَّانِي الْمُثْبِتُ عَكْسَ الرَّاجِحِ فِي الْأُصُولِ لِمَا قَامَ عِنْدَهُمْ فِي ذَلِكَ .
وَيَظْهَرُ أَنَّهُمْ إنَّمَا قَدَّمُوهُ لِتَقْوِيَتِهِ بِحَدِيثِ الصَّحِيحَيْنِ عَنْ أَبِي قَتَادَةَ – رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهُ – «كَانَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – يَقْرَأُ فِي الظُّهْرِ بِالْأُولَيَيْنِ بِأُمِّ الْكِتَابِ وَسُورَتَيْن, وفي رَكْعَتَيْنِ الْأَخِيْرَتَيْنِ، بِأُمِّ الْكِتَاب وَيُسْمِعُنَا الأية أَحْيَانًا، وَيُطَوّلُ فِي الرَّكْعَةِ الْأولٰى مَا لاَيُطوّلُ فِيِ الثَّانيةِ وَكذَا في العصر ،وهكذا فِي الصُّبْحِ>> وَإِنَّما لَمْ تَجِبْ السّورة لحديثٍ << أُمُّ القرآنِ عوضٌ مِن غَيْرها وَليسَ غيرها عوَضاً مِنْهاَ رواه الحاكم. وقال :إنه على شرطهماِ.

Wallahu a’lamu bisshowab..

Kategori
Uncategorized

T029. HUKUM MINUM KOPI LUWAK

PERTANYAAN :

Assalamualaikum Ustadz..

Bagaimana hukum kopi luwak yang diambil dari sisa kotoran musang?

JAWABAN :

waalaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh..

Hukumnya boleh dimakan apabila masih berupa biji kopi asli (tidak hancur) seandainya ditanam bisa tumbuh lagi. dengan catatan wajib dicuci terlebih dahulu karena kopi tersebut mutanajjis.

Referensi :

1. Dalam kitab Majmu’ Syarah al-Muhazzab karya Imam al-Nawawi disebtukan :

ﻗﺎﻝ ﺃﺻﺤﺎﺑﻨﺎ ﺭﺣﻤﻪ ﺍﻟﻠﻪ ﺇﺫﺍ ﺃﻛﻠﺖ ﺍﻟﺒﻬﻤﻴﺔ ﺣﺒﺎ ﻭﺧﺮﺝ ﻣﻦ ﺑﻄﻨﻬﺎ ﺻﺤﻴﺤﺎ ﻓﺈﻥ ﻛﺎﻧﺖ ﺻﻼﺑﺘﻬﺎ ﺑﺎﻗﻴﺔ ﺑﺤﻴﺚ ﻟﻮ ﺯﺭﻉ ﻧﺒﺖ ﻓﻌﻴﻨﻪ ﻃﺎﻫﺮﺓ ﻟﻜﻦ ﻳﺠﺐ ﻏﺴﻞ ﻇﺎﻫﺮﻩ ﻟﻤﻼﻗﺎﺓ ﺍﻟﻨﺠﺎﺳﺔ ﻻﻧﻪ ﻭﺍﻥ ﺻﺎﺭ ﻏﺬﺍﺀ ﻟﻬﺎ ﻓﻤﺎ ﺗﻐﻴﺮ ﺍﻟﻰ ﺍﻟﻔﺴﺎﺩ ﻓﺼﺎﺭ ﻛﻤﺎ ﻟﻮ ﺍﺑﺘﻠﻊ ﻧﻮﺍﺓ ﻭﺧﺮﺟﺖ ﻓﺄﻥ ﺑﺎﻃﻨﻬﺎ ﻃﺎﻫﺮ ﻭﻳﻄﻬﺮ ﻗﺸﺮﻫﺎ ﺑﺎﻟﻐﺴﻞ ﻭﺇﻥ ﻛﺎﻧﺖ ﺻﻼﺑﺘﻬﺎ ﻗﺪ ﺯﺍﻟﺖ ﺑﺤﻴﺚ ﻟﻮ ﺯﺭﻉ ﻟﻢ ﻳﻨﺒﺖ ﻓﻬﻮ ﻧﺠﺲ ﺫﻛﺮ ﻫﺬﺍ ﺍﻟﺘﻔﺼﻴﻞ ﻫﻜﺬﺍ ﺍﻟﻘﺎﺿﻰ ﺣﺴﻴﻦ ﻭﺍﻟﻤﺘﻮﻟﻰ ﻭﺍﻟﺒﻐﻮﻯ ﻭﻏﻴﺮﻫﻢ

“ Sahabat kami r.a. berkata, ‘Ketika binatang menelan sebuah biji, lalu keluar dari perutnya dalam keadaan utuh, maka harus dilihat dari kerasnya biji itu. Kalau kerasnya biji itu tetap dalam arti ketika biji itu ditanam lantas tumbuh, maka hukum biji itu suci. Tetapi wajib dicuci permukaan biji itu karena bersentuhan dengan najis. Karena, meskipun biji itu merupakan makanan binatang itu, tetapi biji tersebut tidak menjadi rusak. Ini sama halnya dengan biji yang ditelan binatang, lalu keluar dari duburnya, maka bagian dalam bijinya adalah suci dan suci kulit bijinya dengan dibasuh. Tetapi jika kekerasan biji itu hilang artinya ketika biji ditanam tidak tumbuh, maka hukum biji itu najis.’ Demikian disebutkan secara rinci. Begitulah dikatakan Qadhi Husein, al-Mutawalli, al-Baghawi, dan ulama lain.”

2. Dalam kitab Nihayatul Muhtaj karya Imam al-Ramli disebutkan :.

ﻧَﻌَﻢْ ﻟَﻮْ ﺭَﺟَﻊَ ﻣِﻨْﻪُ ﺣَﺐٌّ ﺻَﺤِﻴﺢٌ ﺻَﻠَﺎﺑَﺘُﻪُ ﺑَﺎﻗِﻴَﺔٌ ﺑِﺤَﻴْﺚُ ﻟَﻮْ ﺯُﺭِﻉَ ﻧَﺒَﺖَ ﻛَﺎﻥَ ﻣُﺘَﻨَﺠِّﺴًﺎ ﻟَﺎ ﻧَﺠِﺴًﺎ ، ﻭَﻳُﺤْﻤَﻞُ ﻛَﻠَﺎﻡُ ﻣَﻦْ ﺃَﻃْﻠَﻖَ ﻧَﺠَﺎﺳَﺘَﻪُ ﻋَﻠَﻰ ﻣَﺎ ﺇﺫَﺍ ﻟَﻢْ ﻳَﺒْﻖَ ﻓِﻴﻪِ ﺗِﻠْﻚَ ﺍﻟْﻘُﻮَّﺓِ . ﻭَﻣَﻦْ ﺃَﻃْﻠَﻖَ ﻛَﻮْﻧَﻪُ ﻣُﺘَﻨَﺠِّﺴًﺎ ﻋَﻠَﻰ ﺑَﻘَﺎﺋِﻬَﺎ ﻓِﻴﻪِ ﻛَﻤَﺎ ﻓِﻲ ﻧَﻈِﻴﺮِﻩِ ﻣِﻦْ ﺍﻟﺮَّﻭْﺙِ ، ﻭَﻗِﻴَﺎﺳُﻪُ ﻓِﻲ ﺍﻟْﺒَﻴْﺾِ ﻟَﻮْ ﺧَﺮَﺝَ ﻣِﻨْﻪُ ﺻَﺤِﻴﺤًﺎ ﺑَﻌْﺪَ ﺍﺑْﺘِﻠَﺎﻋِﻪِ ﺑِﺤَﻴْﺚُ ﺗَﻜُﻮﻥُ ﻓِﻴﻪِ ﻗُﻮَّﺓُ ﺧُﺮُﻭﺝِ ﺍﻟْﻔَﺮْﺥِ ﺃَﻥْ ﻳَﻜُﻮﻥَ ﻣُﺘَﻨَﺠِّﺴًﺎ ﻟَﺎ ﻧَﺠِﺴًﺎ .

“Namun demikian, jika biji tersebut kembali dalam kondisi semula sekira ditanam dapat tumbuh maka hukumnya adalah mutanajjis, bukan najis. Karena itu, dapat difahami bahwa pendapat yang menyebutkan kenajisannya secara mutlaq kemungkinan jika tidak dalam kondisi kuat. Sementara itu, pendapat yang menyebut secara mutlaq sebagai mutanajjis kemungkinan dalam kondisi tetap, sebagaimana barang yang terkena kotoran lain. Yang serupa dengan biji-bijian adalah pada telur, maka jika keluar dalam kondisi utuh setelah ditelan dengan sekira ada kekuatan untuk dapat menetas, maka hukumnya mutanajjis bukan najis.”

3. Dalam Fathul Mu`in karya Zainuddin al-Malibari disebutkan :

ﻭﻟﻮ ﺭﺍﺛﺖ ﺃﻭ ﻗﺎﺀﺕ ﺑﻬﻴﻤﺔ ﺣﺒﺎ، ﻓﺈﻥ ﻛﺎﻥ ﺻﻠﺒﺎ ﺑﺤﻴﺚ ﻟﻮ ﺯﺭﻉ ﻧﺒﺖ، ﻓﻤﺘﻨﺠﺲ ﻳﻐﺴﻞ ﻭﻳﺆﻛﻞ، ﻭﺇﻻ ﻓﻨﺠﺲ

“Seandainya seekor binatang mengeluarkan kotoran atau memuntahkan biji-bijian, jika biji itu tersebut masih keras sekira kalau ditanam masih tumbuh, maka hukumnya adalah mutanajjis yang dapat dibasuh dan kemudian dimakan, tetapi jika tidak keras lagi, maka najis.

Wallahu a’lamu bisshowab..

Kategori
Uncategorized

H006. AQIQAH UNTUK ORANG YANG TELAH MENINGGAL DUNIA

PERTANYAAN :

Assalamualaikum Ustadz..

Bolehkah aqiqah untuk orang yang sudah meninggal dunia?

JAWABAN :

waalaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh..

Bila kita ilhaqkan (samakan) dengan kurban untuk orang yang telah meninggal maka terdapat pendapat yang memperbolehkan aqiqah pada anak dewasa yang telah meninggal karena aqiqah juga merupakan bagian daripada shadaqah dan shadaqah atas nama mayit adalah sah dan dapat memberi manfaat.

ولا) تضحية (عن ميت لم يوص بها) لقوله تعالى “وان ليس للانسان الا ما سعي ” فان اوصى بها جاز الى ان قال وقيل تصح التضحية عن الميت وان لم يوص بها لانها ضرب من الصدقة وهى تصح عن الميت وتنفعه اهـ

Tidak sah berkorban atas nama mayit yang tidak mewasiatkannya, karena firman Allah swt (artinya) :”Dan sesungguhnya bagi manusia hanyalah apa yang ia usahakan”. Jadi jika ia mewasiatkannya maka boleh sampai ungkapan Dikatakan : sah berkorban atas nama mayit walaupun dia tidak mewasiatkannya, karena berkurban merupakan bagian daripada shadaqah dan shadaqah atas nama mayit adalah sah dan dapat memberi manfaat. [ Mughni al-Muhtaaj IV/292-293 ].

Wallaahu A’lamu Bis showaab..

Kategori
Uncategorized

H005. SEPUTAR AQIQAH

A.Q.I.Q.A.H

Sekapur Sirih.

الحمد لله وكفى وسلام على عباده الذين اصطفى

وعلى آله وصحبه أهل التقى والوفا

Segala puja dan puji hanya milik Allah Swt, shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah ke hadirat junjungan semesta alam, Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa Sallam.

Aqiqah adalah salah satu dari sekian banyak amalan Sunnah Rasulullah Saw yang harus terus dilaksanakan dan diwariskan ummat Islam kepada generasi selanjutnya. Namun dalam pelaksanaannya banyak hal yang tidak sesuai syariat Islam, karena kelalaian dan kekurangan ummatnya. Semoga buku saku yang singkat ini dapat menjadi pengingat yang terlupa tentang hukum-hukum yang berkaitan dengan Aqiqah.

Akhirnya, kesempurnaan hanya milik Allah. Semoga ini menjadi amal jariyah yang terus mengalir, bagian dari ilmu yang bermanfaat, amin ya Robbal’alamin.

Definisi Aqiqah.

Aqiqah menurut bahasa adalah: rambut yang dibawa janin ketika lahir. Saat rambut tersebut akan dicukur, maka disembelihkan kambing, maka kambing yang disembelih saat mencukur rambut tersebut disebut dengan Aqiqah.

Aqiqah menurut istilah adalah:

الذبيحة التي تذبح عن المولود.

Sembelihan yang disembelih untuk anak yang dilahirkan. (Fiqh Sunnah, Sayyid Sabiq: 3/326).

Dasar Aqiqah.

Aqiqah berdasarkan hadits Rasulullah Saw:

عَنْ سَمُرَةَ بْنِ جُنْدُبٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « كُلُّ غُلاَمٍ رَهِينَةٌ بِعَقِيقَتِهِ تُذْبَحُ عَنْهُ يَوْمَ سَابِعِهِ وَيُحْلَقُ وَيُسَمَّى ».

Dari Samurah bin Jundub, sesungguhnya Rasulullah Saw bersabda: “Setiap anak tergadai dengan Aqiqahnya, maka disembelihkan untuknya pada hari ke-tujuh, dicukur rambutnya dan diberi nama”. (HR. Abu Daud).

Hukum Aqiqah.

والعقيقة سنة مؤكدة ولو كان الاب معسرا، فعلها الرسول، صلى الله عليه وسلم، وفعلها أصحابه، روى أصحاب السنن أن النبي، صلى الله عليه وسلم، عق عن الحسن والحسين كبشا كبشا، ويرى وجوبها الليث وداود الظاهري.

Hukum Aqiqah itu Sunnat Mu’akkadah, meskipun seorang ayah dalam kesulitan (ekonomi).

Aqiqah dilaksanakan Rasulullah Saw dan para shahabat. Diriwayatkan oleh para penyusun kitab as-Sunan bahwa Rasulullah Saw meng-aqiqah-kan Hasan dan Husein masing-masing satu ekor kambing. Menurut Imam al-Laits dan Imam Daud azh-Zhahiri hukum Aqiqah itu wajib. (Fiqh Sunnah, Sayyid Sabiq: 3/326).

Hikmah Aqiqah.

Dalam kitab al-Fiqh al-Islamy wa Adillatuhu: 4/285 disebutkan tentang hikmah Aqiqah adalah:

شكر نعمة الله تعالى برزق الولد، وتنمية فضيلة الجود والسخاء وتطييب قلوب الأهل والأقارب والأصدقاء بجمعهم على الطعام، فتشيع المحبة والمودة والألفة.

Ungkapan syukur kepada Allah Swt atas diberi rezeki seorang anak. Menumbuhkan keutamaan berbagi dan sifat kedermawanan. Melembutkan hati keluarga, kerabat dan para sahabat dengan mengumpulkan mereka dengan makan bersama. Menebarkan kasih sayang, cinta kasih dan kebersamaan.

Jumlah Kambing Yang Disembelih.

Mazhab Maliki:

Satu ekor kambing untuk anak laki-laki dan satu ekor kambing untuk anak perempuan, berdasarkan hadits riwayat Ibnu Abbas:

عق عن الحسن شاة، وعن الحسين شاة

Rasulullah Saw meng-aqiqah-kan Hasan satu ekor kambing dan Husein satu ekor kambing.

Mazhab Syafi’i dan Hanbali:

Dua ekor kambing untuk anak laki-laki dan satu ekor kambing untuk anak perempuan, berdasarkan hadits riwayat Aisyah:

عن الغلام شاتان مكافئتان، وعن الجارية شاة

“Untuk anak laki-laki dua ekor kambing yang sama dan untuk satu orang anak perempuan satu ekor kambing”. (HR. Ahmad dan at-Tirmidzi).

Berdasarkan dua hadits diatas, jika disembelihkan satu ekor kambing untuk anak laki-laki, maka hukumnya sah. Jika disembelihkan dua ekor untuk anak laki-laki, maka afdhal. Karena hadits riwayat Ibnu Abbas mengandung makna boleh.

Hewan Selain Kambing.

Adapun menyembelih hewan selain kambing, maka pendapat ulama Fiqh:

فلو ذبح بدنة أو بقرة عن سبعة أولاد، جاز.

Jika disembelihkan satu ekor unta atau satu ekor lembu untuk tujuh orang anak, maka hukumnya boleh. (al-Fiqh al-Islamy wa Adillatuhu: 4/286).

Waktu Penyembelihan.

Apakah hari ketujuh menjadi batasan, sehingga kurang atau lebih dari itu Aqiqah menjadi tidak sah? Ulama Fiqh menjelaskan:

والذبح يكون يوم السابع بعد الولادة إن تيسر، وإلا ففي اليوم الرابع عشر وإلا ففي اليوم الواحد والعشرين من يوم ولادته، فإن لم يتيسر ففي أي يوم من الايام.

ففي حديث البيهقي: تذبح لسبع، ولاربع عشر، ولاحدي وعشرين.

Penyembelihan Aqiqah itu pada hari ke-tujuh setelah kelahirkan, jika memungkinkan. Jika tidak, maka pada hari ke-14. Jika tidak memungkinkan, maka pada hari ke-21 sejak kelahirannya. Jika tidak memungkinkan, maka kapan saja pada hari-hari berikutnya. Dalam hadits riwayat al-Baihaqi disebutkan: “Disembelihkan pada hari ke-7, ke-14 dan ke-21”. (Fiqh Sunnah, Sayyid Sabiq: 3/328).

وصرح الشافعية والحنابلة: أنه لو ذبح قبل السابع أو بعده، أجزأه.

Mazhab Syafi’i dan Hanbali menyatakan: jika disembelihkan Aqiqah sebelum hari ketujuh atau setelah hari ketujuh, maka tetap sah. (al-Fiqh al-Islamy wa Adillatuhu: 4/286).

Aqiqah, Tanggung Jawab Siapa Terhadap Siapa?

Apakah Aqiqah itu tanggung jawab seorang Ayah terhadap anaknya saja? Atau seseorang dapat meng-aqiqah-kan dirinya sendiri setelah ia dewasa?

وأضاف الحنابلة والمالكية: لا يعق غير الأب، ولا يعق المولود عن نفسه إذا كبر، لأنها مشروعة في حق الأب، فلا يفعلها غيره. واختار جماعة من الحنابلة: أن للشخص أن يعق عن نفسه استحباباً. ولا تختص العقيقة بالصغر، فيعق الأب عن المولود، ولو بعد بلوغه؛ لأنه لا آخر لوقتها.

Menurut Mazhab Hanbali dan Maliki: yang meng-aqiqah-kan hanya ayah saja (terhadap anaknya). Seorang anak tidak meng-aqiqah-kan dirinya sendiri setelah ia dewasa. Karena pensyariatan aqiqah itu terhadap ayah, tidak dapat dilaksanakan orang lain.

Sekelompok ulama Mazhab Hanbali berpendapat: seseorang boleh meng-aqiqah-kan dirinya sendiri, jika ia ingin melakukannya.

Aqiqah tidak hanya dilakukan saat masih kecil. Seorang ayah dapat meng-aqiqah-kan anaknya setelah aqil baligh, karena tidak ada batasan akhir waktu untuk aqiqah. (al-Fiqh al-Islamy wa Adillatuhu: 4/286).

Ucapan Saat Menyembelih Aqiqah.

اَللَّهُمَّ مِنْكَ وَإِلَيْكَ عَقِيْقَة فُلاَن

“Ya Allah, dari-Mu dan kepada-Mu Aqiqah si fulan”.

Berdasarkan riwayat al-Baihaqi dengan Sanad yang Hasan.

أن النبي صلّى الله عليه وسلم عق عن الحسن والحسين،

وقال: «قولوا: بسم الله ، اللهم لك وإليك عقيقة فلان» .

Diriwayatkan Aisyah bahwa Rasulullah Saw meng-aqiqah-kan Hasan dan Husein dan berkata: “Ucapkanlah: dengan nama Allah, ya Allah, untuk-Mu dan kepada-Mu Aqiqah si fulan”.

Hukum Daging dan Kulit Aqiqah.

حكم اللحم كالضحايا، يؤكل من لحمها، ويتصدق منه، ولا يباع شيء منها. ويسن طبخها، ويأكل منها أهل البيت وغيرهم في بيوتهم

Hukum daging Aqiqah sama seperti daging kurban. Dagingnya dimakan, disedekahkan, tidak boleh dijual meskipun sedikit. Disunnatkan agar dimasak, dimakan bersama keluarga dan orang lain di rumah.

وأجاز الإمام أحمد في رواية عنه بيع الجلد والرأس والتصدق به.

Imam Ahmad bin Hanbal -dalam satu riwayat- memperbolehkan menjual kulit dan kepala Aqiqah kemudian mensedekahkan hasil penjualannya. (al-Fiqh al-Islamy wa Adillatuhu: 4/287).

Memberi Nama dan Mencukur Rambut.

ومن السنة أن يختار للمولود اسم حسن ويحلق شعره ويتصدق بوزنه فضة إن تيسر ذلك، لما رواه أحمد والترمذي عن ابن عباس، أن النبي، صلى الله عليه وسلم، عق عن الحسن بشاة، وقال: يا فاطمة، احلقي رأسه وتصدقي بوزنه فضة على المساكين، فوزناه فكان وزنه درهما أو بعض درهم.

Termasuk amalan Sunnah memilihkan nama yang baik untuk anak, mencukur rambutnya dan bersedekah seberat perak dari berat rambut tersebut, jika memungkinkan. Berdasarkan riwayat Imam Ahmad dan at-Tirmidzi dari Ibnu Abbas, sesungguhnya Rasulullah Saw meng-aqiqah-kan Hasan satu ekor kambing, beliau berkata: “Wahai Fathimah, cukurlah rambutnya dan bersedekahlah seberat perak dari rambut itu, sedekahkan kepada orang-orang miskin”. Maka kami pun menimbang rambutnya, beratnya satu Dirham (uang perak), atau sebagian Dirham. (Fiqh Sunnah, Sayyid Sabiq: 3/328).

Aqiqah dan Kurban.

Tidak ada kaitan antara Aqiqah dan Kurban. Oleh sebab itu orang yang belum Aqiqah tetap boleh berkurban.

Akan tetapi jika bertepatan antara hari Aqiqah dan Kurban, maka menurut Mazhab Hanbali:

قالت الحنابلة: وإذا اجتمع يوم النحر مع يوم العقيقة فإنه يمكن الاكتفاء بذبيحة واحدة عنهما، كما إذا اجتمع يوم عيد ويوم جمعة واغتسل لاحدهما.

Mazhab Hanbali berpendapat: jika bertepatan antara hari Kurban dengan Aqiqah, maka cukup menyembelih satu ekor sembelihan saja. Sama seperti bertepatan antara hari raya dengan hari Jum’at, maka cukup satu mandi saja. (Fiqh Sunnah, Sayyid Sabiq: 3/328).

Wallahu a’lamu bisshowab