logo mubaa
Logo Ittihad

DEWAN PIMPINAN PUSAT
IKATAN ALUMNI BATA-BATA

Kategori
Uncategorized

HADITS KE 140 : PEMBAGIAN WAKTU UTAMA DALAM PELAKSANAKAN SHALAT

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

BAB WAKTU SHALAT

HADITS KE 140 :

وَعَنْ أَبِي مَحْذُورَةَ رضي الله عنه أَنَّ اَلنَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم قَالَ: ( أَوَّلُ اَلْوَقْتِ رِضْوَانُ اَللَّهُ وَأَوْسَطُهُ رَحْمَةُ اَللَّهِ; وَآخِرُهُ عَفْوُ اَللَّهِ ) أَخْرَجَهُ اَلدَّارَقُطْنِيُّ بِسَنَدٍ ضَعِيفٍ جِدًّا

وَلِلتِّرْمِذِيِّ مِنْ حَدِيثِ اِبْنِ عُمَرَ نَحْوُهُ دُونَ اَلْأَوْسَطِ وَهُوَ ضَعِيفٌ أَيْضًا

Dari Abu Mahdzurah bahwa Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Permulaan waktu adalah ridlo Allah pertengahannya adalah rahmat Allah dan akhir waktunya ampunan Allah.” Dikeluarkan oleh Daruquthni dengan sanad yang lemah.

Menurut Riwayat Tirmidzi dari hadits Ibnu Umar ada hadits serupa tanpa menyebutkan waktu pertengahan. Ia juga hadits lemah.

MAKNA HADITS :

Ketetapan Rasulullah (s.a.w) tentang waktu tertentu untuk ibadah menunjukkan betapa baginda amat mengambil berat soal ibadah malah baginda mementingkannya di atas segala-galanya. Oleh itu, seorang mukallaf yang bersegera mengerjakan ibadah pada permulaan waktunya berhak untuk mendapat redha Allah dan redha Allah merupakan anugerah yang paling tinggi, sebagaimana yang ditegaskan di dalam firman-Nya:

.…ورضوان من الله اكبر. ذلك هو الفوز العظيم (التوبة ٧٢)

“… Dan keredhaan Allah adalah lebih besar; itu adalah keberuntungan yang besar.” (Surah al-Taubah: 72)

Jika seseorang mengerjakannya pada pertengahan waktu, maka dia berhak untuk mendapat rahmat Allah dan orang yang mengerjakannya pada akhir waktu hingga menjelang lewat waktunya berhak mendapat ampunan Allah dan ampunan ini pasti berkaitan dengan dosa.

FIQH HADITS :

Membuktikan adanya al-mufadhalah (perbedaan keutamaan) dalam bagian-bahagian waktu sholat. Permulaan waktu merupakan yang paling utama karena seseorang yang mengerjakannya berhak memperoleh ridha Allah, dan waktu pertengahan pula ialah mengandungi rahmat Allah, sedangkan waktu paling akhir
pula mengandungi ampunan Allah; ampunan ini tidak lain disebabkan adanya dosa.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

Kategori
Uncategorized

HADITS KE 139 : KEUTAMAAN SHALAT DI AWAL WAKTU

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

BAB WAKTU SHALAT

HADITS KE 139 :

وَعَنْ اِبْنِ مَسْعُودٍ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم ( أَفْضَلُ اَلْأَعْمَالِ اَلصَّلَاةُ فِي أَوَّلِ وَقْتِهَا ) رَوَاهُ اَلتِّرْمِذِيُّ وَالْحَاكِمُ. وَصَحَّحَاهُ. وَأَصْلُهُ فِي “اَلصَّحِيحَيْنِ

Dari Ibnu Mas’ud Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Perbuatan yang paling mulia ialah shalat pada awal waktunya.” Hadits riwayat dan shahih menurut Tirmidzi dan Hakim. Asalnya Bukhari-Muslim.

MAKNA HADITS :

Ibn Mas’ud (r.a) pernah bertanya kepada Rasulullah (s.a.w) mengenai amal perbuatan yang paling disukai oleh Allah dengan tujuan beliau ingin segera mengerjakannya dengan harapan kelak memperoleh bagian kurnia Allah dan keridhaan-Nya. Maka Rasulullah (s.a.w) bersabda kepadanya: “Amal perbuatan yang paling disukai oleh Allah ialah mengerjakan sholat tepat pada waktunya.”

Ibn Mas’ud ingin mengetahui amalan selanjutnya yang juga termasuk amal yang diutamakan, kerana beliau ingin mengerjakannya. Beliau bertanya,
“Kemudian apa lagi?” Rasulullah (s.a.w) menjawab: “Berbakti kepada kedua ibu bapak dan berbuat baik kepada keduanya.”

Ibn Mas’ud (r.a) mengemukakan soalan ketiga, lalu Rasulullah (s.a.w) menjawabnya: “Berjihad di jalan Allah.” Keinginan Ibn Mas’ud untuk menambahkan amal kebaikan telah mendorongnya untuk mengemukakan persoalan berikutnya, tetapi beliau kawaatir Rasulullah (s.a.w) bosan dan jemu dengan peetanyaan yang bakal diajukannya, lalu beliau berdiam diri dan tidak mengajukan persoalan lain setelah itu. Seandainya Ibn Mas’ud terus bertanya, nescaya Rasulullah (s.a.w) pasti menjawabnya, kerana baginda adalah seorang yang bersifat santun, ihsan, memiliki hikmah dan diberi kemampuan menjawab berbagai persoalan.

FIQH HADITS :

1. Amal kebajikan mempunyai keutamaan masing-masing ke atas amal kebajikan lain di sisi Allah.

2. Anjuran untuk memelihara solat lima waktu dengan mengerjakannya pada awal waktunya.

3. Menghormati kedua ibu bapak sekaligus menjelaskan keutamaan berbakti kepada kedua ibu bapak.

4. Keutamaan berjihad di jalan Allah.

5. Perhatian para sahabat untuk senantiasa taat dan memperoleh ridha Allah (s.w.t). Mereka berlomba-lomba untuk meraih ganjaran pahala Allah. Oleh karena itu, mereka menanyakan amal perbuatan yang paling utama.

6. Disyariatkan bertanya kepada orang alim tentang berbagai macam masalah dalam waktu yang bersamaan karena ingin memperoleh faidah, dandibolehkan mengulang-ulang persoalan.

7. Berbelas kasihan kepada orang alim dengan tidak mengemukakan persoalan yang banyak dan berjela-jela kepadanya kerana dikawatiri dia bosan untuk menjawabnya.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

Kategori
Uncategorized

HADITS KE 138 : PERBEDAAN FAJAR SHODIQ DAN FAJAR KADZIB

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

BAB WAKTU SHALAT

HADITS KE 138 :

وَعَنْ اِبْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم ( اَلْفَجْرُ فَجْرَانِ: فَجْرٌ يُحَرِّمُ اَلطَّعَامَ وَتَحِلُّ فِيهِ اَلصَّلَاةُ وَفَجْرٌ تَحْرُمُ فِيهِ اَلصَّلَاةُ – أَيْ: صَلَاةُ اَلصُّبْحِ – وَيَحِلَّ فِيهِ اَلطَّعَامُ ) رَوَاهُ اِبْنُ خُزَيْمَةَ وَالْحَاكِمُ وَصَحَّحَاهُ

وَلِلْحَاكِمِ فِي حَدِيثِ جَابِرٍ رضي الله عنه نَحْوُهُ وَزَادَ فِي اَلَّذِي يُحَرِّمُ اَلطَّعَامَ: ( إِنَّهُ يَذْهَبُ مُسْتَطِيلاً فِي اَلْأُفُقِ ) وَفِي اَلْآخَرِ: (إِنَّهُ كَذَنَبِ اَلسِّرْحَان )

Dari Ibnu Abbas Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Fajar itu ada dua macam yaitu fajar yang diharamkan memakan makanan dan diperbolehkan melakukan shalat dan fajar yang diharamkan melakukan shalat yakni shalat Shubuh dan diperbolehkan makan makanan.” Riwayat Ibnu Khuzaimah dan Hakim hadits shahih menurut keduanya.

Menurut riwayat Hakim dari hadits Jabir ada hadits serupa dengan tambahan tentang fajar yang mengharamkan memakan makanan: “Fajar yang memanjang di ufuk.” Dalam riwayat lain disebutkan: “Dia seperti ekor serigala.”

MAKNA HADITS :

Rasulullah (s.a.w) telah membuat istilah khusus dengan menggunakan beberapa lafaz untuk menunjukkan pengertian-pengertian yang berkaitan dengan hukum syariat secara khusus sesuai dengan istilah yang digunakannya itu sehingga dengannya dapat diambil beberapa kesimpulan hukum di samping mengingatkan umat Islam supaya mengambil berat terhadapnya. Antaranya adalah lafaz al-fajr. Makna fajar menurut bahasa ialah munculnya cahaya yang memanjang seperti ekor serigala di tengah langit. Fajar seperti ini tidak mengharamkan makan bagi orang yang hendak berpuasa dan waktu sholat Subuh masih belum tiba, dan dikenali dengan istilah fajar kadzib. Inilah istilah yang pertama. Istilah yang kedua ialah fajar shadiq, yaitu fajar yang sinarnya menyebar yang apabila ia muncul, maka haram makan bagi orang yang hendak berpuasa dan halal mengerjakan sholat, yakni waktu sholat Subuh sudah tiba.

FIQH HADITS :

Fajar menurut bahasa ialah suatu lafaz yang memiliki dua pengertian waktu. Tanda fajar pertama adalah munculnya seberkas cahaya yang bentuknya seperti ekor serigala dan melintang tinggi di atas langit persis seperti tiang. Ketika itu makan (sahur) masih (bagi seseorang yang hendak berpuasa) dibolehkan dan waktu sholat Subuh masih belum tiba.

Tanda fajar kedua ialah munculnya sinar yang memanjang di ufuk. Itu
merupakan tanda haram makan bagi orang yang hendak berpuasa dan waktu Subuh sudah pun tiba.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

Kategori
Uncategorized

HADITS KE 137 : WAKTU SHALAT MAGHRIB

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

BAB WAKTU SHALAT

HADITS KE 137 :

وَعَنْ اِبْنِ عُمَرَ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا; عَنْ اَلنَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم قَالَ: ( اَلشَّفَقُ اَلْحُمْرَةُ) رَوَاهُ اَلدَّارَقُطْنِيُّ وَصَحَّحَ اِبْنُ خُزَيْمَةَ وَغَيْرُهُ وَقْفَهُ على ابن عمر

Dari Ibnu Umar Radliyallaahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Syafaq ialah awan merah.” Riwayat Daruquthni. Shahih menurut Ibnu Khuzaimah selain menyatakannya mauquf pada Ibnu Umar.

MAKNA HADITS :

Malaikat Jibril turun, lalu mengajarkan kepada Nabi (s.a.w) waktu-waktu sholat melalui praktik secara langsung bagi memastikan pengaruhnya lebih berkesan.
Nabi (s.a.w) mengerjakan sholat bersamanya pada hari pertama sebaik waktu tiba, sedangkan pada hari kedua pada akhir waktu, lalu Jibril (a.s) mengatakan kepadanya bahwa di antara kedua-duanya itu adalah waktu sholat yang di dalamnya ia mesti dikerjakan.
Malaikat Jibril mengerjakan sholat Maghrib selama dua hari itu pada waktu yang sama. Oleh itu, Imam al-Syafi’i dalam qaul jadid-nya mengatakan bahwa waktu sholat Maghrib itu tidak lama, sedangkan ulama yang lain pula mengatakan
bahwa waktu sholat Maghrib panjang hingga tenggelamnya mega merah. Pendapat yang kedua inilah yang lebih kuat untuk memberikan kemudahan kepada hamba-hamba Allah di samping ia selaras dengan makna dzahir hadits ini.

FIQH HADITS :

Permulaan waktu sholat Maghrib adalah tenggelamnya matahari, sedangkan akhir waktunya berpanjangan hingga tenggelamnya mega/awan merah di ufuk barat.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

Kategori
Uncategorized

N051. PERBEDAAN PERNIKAHAN DAN PERKAWINAN

PERTANYAAN :

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Deskripsi masalah:
Dalam tradisi masyarakat islam tak asing lagi sering kita jumpai dan kita dengar kata-kata walimatul’ Ursyi dan pernikahan pun juga perkawinan, bahkan terkadang kita menyaksikan sendiri manakala akad berlangsung kata-kata tersebut diungkapkan MC bahkan oleh wali nikah sendiri/ bapak penghulu
(أنكحتك وزوجتك…………..
Saya nikahkan kamu dan saya kawinkan kamu dengan…….).

Pertanyaanya:
1-Adakah/ apa perbedaan antara pernikahan dan perkawinan?

2-Sahkah dalam akad jika Wali nikah hanya mengatakan
أنكحتك tanpa وزوجتك..؟

Mohon pencerahan/ jawaban secara detail berikut referensinya…syukron..

JAWABAN :

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

Antara التزويج perkawinan dan النكاح pernikahan adalah bersifat sinonim atau muradif serupa tapi tidak sama, surupa dalam pengertian beda dalam lafadh dengan bahasan sebagai berikut:

Kesamaannya perkawinan adalah adalah hubungan antara lain jenis yaitu jenis laki-laki dan perempun yang mencakup semua makhluk selain malaikat, yang bersifat umum, baik makhluk itu berupa manusia, hewan bahkan juga tumbuh tembuhan, oleh karena itu dalam Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) ada istilah perkawinan langsung dan ada perkwinan yang tidak langsung. Pekawinan langsung adalah perkawinan yang tanpa adanya alat bantu, sedangkan perkawinan tidak langsung adalah sebaliknya yaitu perkawinan yang perlu adanya alat bantu, seperti halnya tumbuh-tumbuhan yang baru berkembang dengan melalui alat bantu anging dan tumbuhan yang lainya seperti pohon salak perlu alat bantu maka tentu tidak berbuah hal tersebut manakala tidak dibantu (dikawinkannya) maka tidak mungkin dapat manghasilkan buah.

Sedangkangkan Nikah lebih khusus kepada manusia yang mana pengertian nikah sebagai berikut:
Perkataan nikah dalam bahasa arab diambil dari kata
نكح، ينكح، نكحا، نكاحا
Yang mempunyai arti menggabungkan, watha’ atau perjanjian.

Sedangkan penhertian pengertian Nikah menurut syara’: Adalah suatu perjanjian (ijab -Qabul) antara seorang laki-laki dan perempuan untuk menghalalkan hubungan badaniyah sebagai suami istri yang mengandung syarat-syarat dan rukun-rukun yang telah ditentukan syariat Islam.

Dalil tentang nikah dengan arti kawin:

فانكحوا ماطاب لكم من النساء مثنى وثلاث ورباع فإن خفتم الا تعدلوا فواحدة(النساء ٣)

“Maka kawinilah wanita- wanita(lain)yang kamu senangi, dua, tiga ataupun empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil maka kawinilalah seorang saja.

Allah berfiman dalam ayat yang lain:

وأنكحوا الايامى منكم والصالحين من عبادكم وإمائكم إن يكونوافقرآء يغنيهم الله من فضله والله واسع عليم (النور ٣٢)

“Dan kawinilah orang yang sendirian diantara kamu, orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan karunianya. Dan Allah maha luas pemberianya lagi maha mengetahui.

Sedangkan dalil at-tazwij dengan ma’na kawin adalah sebagai berikut:

عن عبد الله بن مسعود رضي الله عنه قال:قال لنا رسول الله صلى الله عليه وسلم :يامعشر الشباب من استطاع منكم الباءة “فليتزوح” فإنه أغض للبصر واحصن للفرج ومن لم يستطع فعليه بالصوم فإنه له وجاء(متفق عليه)

“Dari Abdillah bin Mas’ud ra.ia berkata Rasullah saw, bersabda kepada kita: “Wahai para kaula muda (pemuda) barang siapa yang mampu dari kamu sekalian suatu biaya, maka hendaklah kawin. Karena sesungguhnya kawin itu adalah dapat menjaga pandangan mata, dan menjaga farji. Dan barang siapa tidak berkemampuan kawin maka hendaklah ia berpuasa, maka sesungguhnya puasa itu baginya sebagai obat.”

Dari pengertia berikut dalil diatas dapat ditarik kesimpulam bahwa التزويج والنكاح adalah serupa tapi tidak sama yakni serupa dalam arti dan beda dalam lafadh.
Dengan kata lain kalau nikah khusyushiyah kepada manusia sedangkan kawin adalah umum mencakup semua makhluk selain malaikat.

Sahkah jika dalam akad nikah wali hanya mengucapkan أنكحتك tanpa وزوجتك?

Jawabannya : sah karena dalam arti mengawinkan tetapi lebih utama menambah وزوجتك untuk taukid/ mengokohkan.

Demikian penjelasan atara perkawina dan pernikahan

والله تعالى أعلم بالصواب

Kategori
Uncategorized

N050. ISTRI LEBIH TAAT PADA SUAMI KETIMBANG ORANG TUA

PERTANYAAN :

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Santun bittakdzim buat sahabat mahabbah fillah..
Saya punya pertanyaan nie..
Kenapa istri harus lebih taat pada suami daripada taat pada orang tua, jika meninggal suaminya tidak ridho, maka pintu surga belum dibuka sebelum suami ridho.

Mohon penjelasaanya ustdz..

JAWABAN :

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

Bagi seorang wanita yang belum menikah maka orang tua lebih berhak untuk ditaati. Namun ketika ia telah menikah maka taat kepada suami merupakan kewajiban yang lebih diutamakan melebihi orang tuanya. Ketaatan yang dimaksud di sini tentu saja bukan hal yang berhubungan dengan perkara maksiat. Sebagaimana sabda Nabi:

لا طاعة لمخلوق في معصية الخالق

“Tidak ada kewajiban taat kepada makhluk dalam bermaksiat kepada Al Khaliq (Maha Pencipta). (HR. Bukhari no. 6830, Muslim no. 1840 dan Nasai no. 4205).

Apabila ketaatakan kepada suami berseberangan dengan ketaatan kepada orang tua, maka bagi seorang wanita (istri) muslimah wajib mendahulukan ketaatan kepada suaminya. Imam Ahmad berkata tentang wanita yang memiliki suami dan seorang ibu yang sedang sakit: “Ketaatan kepada suaminya lebih wajib atas dirinya daripada mengurusi ibunya, kecuali jika suaminya mengizinkannya”.

Seorang wanita tidak boleh mentaati kedua orang tuanya untuk berpisah dengan suaminya, tidak pula mengunjunginya dan semisalnya. Bahkan ketaatan kepada suaminya lebih wajib.

Kewajiban seorang istri untuk mentaati suaminya sangat tegas dinyatakan dalam agama Islam. Hal ini tertuang dalam sabda Rasulullah shallallahu alaihi wasallam:

عن أبي هريرة، عن النبي صلى الله عليه وسلم قال: لو كنت آمرا أحدا أن يسجد لأحد لأمرت المرأة أن تسجد لزوجها

Dari Abu Hurairah, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda: “Andai boleh kuperintahkan seseorang untuk bersujud kepada yang lain tentu kuperintahkan seorang istri untuk bersujud kepada suaminya”. (HR. Tirmidzi no. 1159).

Referensi:

1. Syarh Muntaha al Iradat juz 3 hal. 47

و) للزوج (منع كل منهن) أي: من زوجاته (من الخروج) من منزله إلى ما لها منه بد ولو لزيارة والديها أو عيادتهما، أو شهود جنازة أحدهما قال أحمد في امرأة لها زوج وأم مريضة: طاعة زوجها أوجب عليها من أمها إلا أن يأذن لها (ويحرم) خروج زوجة (بلا إذن أو) بلا (ضرورة) كإتيان بنحو مأكل لعدم من يأتيها به لحديث أنس: ” «أن رجلا سافر، ومنع زوجته الخروج فمرض أبوها فاستأذنت رسول الله صلى الله عليه وسلم في حضور جنازته فقال لها: اتقي الله ولا تخالفي زوجك. فأوحى الله إلى النبي صلى الله عليه وسلم إني قد غفرت له بطاعتها زوجها» ” رواه ابن بطة في أحكام النساء، وحيث خرجت بلا إذنه بلا ضرورة (فلا نفقة) لها ما دامت خارجة عن منزله إن لم تكن حاملا لنشوزها (، وسن إذنه) أي: الزوج لزوجته في خروج (إذا مرض محرم لها) لتعوده (أو مات) محرمها لتشهده لما فيه من صلة الرحم وعدم إذنه يحمل الزوجة على مخالفته وقد أمره الله تعالى بالمعاشرة بالمعروف وليس هذا منها

1. Al Inshaf juz 8 hal. 362

لا يلزمها طاعة أبويها في فراق زوجها، ولا زيارة ونحوها. بل طاعة زوجها أحق

3. Tuhfah al Ahwadziy juz 4 hal. 271

لَوْ كُنْتُ آمِرًا أَحَدًا أَنْ يَسْجُدَ لِأَحَدٍ لَأَمَرْتُ المَرْأَةَ أَنْ تَسْجُدَ لِزَوْجِهَا
………………………………………………………..

قوله (لأمرت المرأة أن تسجد لزوجها) أي لكثرة حقوقه عليها وعجزها عن القيام بشكرها وفي هذا غاية المبالغة لوجوب إطاعة المرأة في حق زوجها فإن السجدة لا تحل لغير الله

4. Fathul Bari li Ibni Hajar juz 10 hal. 401

وأشار بن بطال إلى أن الترتيب حيث لا يمكن إيصال البر دفعة واحدة وهو واضح وجاء ما يدل على تقديم الأم في البر مطلقا وهو ما أخرجه أحمد والنسائي وصححه الحاكم من حديث عائشة سألت النبي صلى الله عليه وسلم أي الناس أعظم حقا على المرأة قال زوجها قلت فعلى الرجل قال أمه ويؤيد تقديم الأم حديث عمرو بن شعيب عن أبيه عن جده أن امرأة قالت يا رسول الله إن ابني هذا كان بطني له وعاء وثديي له سقاء وحجري له حواء وإن أباه طلقني وأراد أن ينزعه مني فقال أنت أحق به ما لم تنكحي كذا أخرجه الحاكم وأبو داود

5. Al Mausu’ah al Fiqhiyyah juz 19 hal. 109-110

وللزوج منع زوجته من الخروج من منزله إلى ما لها منه بد، سواء أرادت زيارة والديها أو عيادتهما أو حضور جنازة أحدهما. قال أحمد في امرأة لها زوج وأم مريضة: طاعة زوجها أوجب عليها من أمها إلا أن يأذن لها، وقد روى ابن بطة في أحكام النساء عن أنس أن رجلا سافر ومنع زوجته من الخروج فمرض أبوها، فاستأذنت رسول الله صلى الله عليه وسلم في عيادة أبيها فقال لها رسول الله صلى الله عليه وسلم اتقي الله ولا تخالفي زوجك فأوحى الله إلى النبي صلى الله عليه وسلم: إني قد غفرت لها بطاعة زوجها ولأن طاعة الزوج واجبة، والعيادة غير واجبة فلا يجوز ترك الواجب لما ليس بواجب. ولا ينبغي للزوج منع زوجته من عيادة والديها، وزيارتهما لأن في منعها من ذلك قطيعة لهما، وحملا لزوجته على مخالفته، وقد أمر الله تعالى بالمعاشرة بالمعروف، وليس هذا من المعاشرة بالمعروف

والله أعلم بالصواب

Kategori
Uncategorized

M051. HUKUM MENGGUSUR MASJID UNTUK PEMBANGUNAN JALAN TOL

PERTANYAAN :

Assalamualaikum Ustadz..

Apa hukumnya menggusur masjid untuk pembangunan jalan tol ?

JAWABAN :

Waalaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh..

Hukumnya menggusur masjid untuk pembangunan jalan tol itu haram. Alasannya ialah tidak boleh mengubah benda waqof jika sampai mengubah nama benda waqof dari asalnya bernama masjid lalu diubah menjadi bernama jalan raya (jalan tol).

(حاشيۃ قليوبي وعميرۃ,جز ٣,صحيفۃ ١۰٨)
تنبيه:لا يجوز تغيير شيء من عين الوقف,ولو لأرفع منها ,فإن شرط الواقف العمل بالمصلحۃ اتبع شرطه ,وقال السبكي: يجوز تغيير الوقف بشروط ثلاثۃ ان لا يغير مسماه ,وان يكون مصلحۃ له كزيادۃ ريعه, وان لا تزال عينه فلا يضر نقلها من جانب الی اخر, نعم يجوز في وقف قريۃ علی قوم احداث مسجد ومقبرۃ وسقايۃ فيها,

( ولا يجوز بيعه ) اي المسجد( الا ان تتعطل منافعه بالكلية فيباع ويشترى به يقوم مقامه ) لما روي ان عمر ابن الخطاب كتب الى سعد لما بلغه انه نقب بيت المال بالكوفة ” أن انقل المسجد الذي بالتمارين واجعل بيت المال في قبلة المسجد فإنه لن يزال في المسجد مصل ” وكان هذا بمشهد من الصحابة ولم يظهر خلافه ووجه الحجة منه أنه أمره بنقله من مكانه فدل على جواز نقل الوقف من مكانه وابداله بمكان اخر وهذا معنى البيع
( العدة شرح العمدة ص 239 )

مسئلة : ( والمسجد اذا لم ينتفع به في مكانه بيع ونقل الى مكان ينتفع به ) لحديث عمر رضي الله عنه ( الفقه الإسلامي ج 8 ص )

ولايجوز استبدال الموقوف عندنا وان خرب خلافا للحنفية وصورته عندهم ان يكون المحل قد آل الى السقوط فيبدله بمحل اخر أحسن منه بعد حكم حاكم يرى صحته الى السقوط
( نهاية الزين ص 272)

Pendapat lain dalam madzhab Hanafi :

اذا بيع المسجد واشترى به مكانا يجعل مسجدا فالحكم للمسجد الثاني ويبطل حكم الأول

( الإنصاف ج 7 ص 109 – 110

Boleh menjual masjid dan membeli tempat lain untuk dijadikan masjid

Wallahu a’lamu bisshowab

Kategori
Uncategorized

HADITS KE 136 : BOLEHNYA TOWAF DAN SHOLAT DI MASJIDIL HAROM KAPAN SAJA

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

BAB WAKTU SHALAT

HADITS KE 136 :

وَعَنْ جُبَيْرِ بْنِ مُطْعِمٍ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم ( يَا بَنِي عَبْدِ مَنَافٍ لَا تَمْنَعُوا أَحَدًا طَافَ بِهَذَا اَلْبَيْتِ وَصَلَّى أَيَّةَ سَاعَةٍ شَاءَ مِنْ لَيْلٍ]أَ] وْنَهَارٍ ) رَوَاهُ اَلْخَمْسَةُ وَصَحَّحَهُ اَلتِّرْمِذِيُّ وَابْنُ حِبَّانَ

Dari Jubair Ibnu Muth’im bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Wahai Bani Abdu Manaf janganlah engkau melarang seseorang melakukan thawaf di Baitullah ini dan melakukan shalat pada waktu kapan saja baik malam maupun siang.” Riwayat Imam Lima dan shahih menurut Tirmidzi dan Ibnu Hibban.

MAKNA HADITS :

Tanah suci Makkah adalah tempat turunnya rahmat dan merupakan tempat paling suci untuk beribadah kepada Allah (s.w.t). Didalamnya Allah telah menjadikan Baitul Haram (Ka’bah) sebagai tempat manusia berhimpun dan tempat yang aman.

Allah telah mensyari’atkan ibadah tawaf di dalamnya dan menjadikannya sebagai kiblat sholat serta pusat kegiatan amal ibadah. Maka di tempat itu tidak pernah kosong sedetikpun, baik pada waktu malam ataupun pada waktu siang hari, melainkan di dalamnya terdapat hamba-hamba Allah yang sedang memohon perlindungan kepada Allah dan bertawaf di sekelilingnya serta mengerjakan sholat di sisinya. Oleh sebab itu, Islam membolehkan tawaf dan sholat di dalamnya pada kapan saja. Kemudian Rasulullah (s.a.w) menyuruh Bani Abd Manaf dan Bani al-Mutthallib memandangkan mereka yang bertanggung jawab memelihara Ka’bah. Baginda menyeru mereka untuk tidak melarang siapapun yang hendak melakukan tawaf di Baitullah atau mengerjakan sholat di sisinya.

FIQH HADITS :

Tidak dimakruhkan mengerjakan tawaf dan sholat di Baitullah pada waktu apa saja, baik malam ataupun siang hari. Ini tidak hanya khusus untuk mengerjakan dua rakaat tawaf, melainkan mencakupi seluruh sholat sunat menurut pendapat Imam al-Syafi’i. Namun Jumhur ulama membantah pendapatnya ini dengan mengemukakan hadits-hadits yang melarang mengerjakan sholat sunat pada waktu yang terlarang sebagaimana yang telah dijelaskan sebelum ini, karena mereka lebih mengutamakan hadits-hadits yang melarangnya. Sedangkan mazhab
Hanbali pula membolehkan sholat dua rakaat tawaf secara mutlak, kerana berlandaskan kepada makna zahir hadits ini, tetapi mereka melarang mengerjakan sholat sunat pada waktu-waktu yang terlarang selain sholat sunat tersebut.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

Kategori
Uncategorized

P004. TIDAK BISA MENGKODHO’ PUASA DISEBABKAN UDZUR SYAR’I SAMPAI BULAN RAMADHAN BERIKUTNYA

PERTANYAAN :

Assalamu’alaikum ustadz..

Diskripsi masalah :
Ada seorang pemuda sakit ketika bulan puasa Ramadhon sehingga tidak bisa menunaikan Ibadah puasanya, sehabis puasa sembuh dan dia berusaha untu mengkodho’ puasanya tetapi tidak mampu dikarenakan efek sakitnya tadi, mencoba terus mencoba tpi tidak bisa sampai² datang bulan Ramadhon lagi.

Pertanyaannya:
Bagaimana cara untuk mengkodhoi puasa bagi orang tersebut???

diharap Ibarohnya.
Sekian terima kasih

JAWABAN :

Waalaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh..

Kalau mimang betul-betul tidak bisa mengkodho’ sampai bulan ramadhan berikutnya disebabkan sakit yang berkepanjangan maka tidak wajib membayar fidyah.

Referensi :

قال في المجموع ويلزمه المد بدخول رمضان أما من لم يمكنه القضاء لاستمرار عذره حتى دخل رمضان فلا فدية عليه بهذا التأخير

Imam Nawawy berkata dalam kitab ‘alMajmu’ : Dan wajib baginya satu Mud sebab mengakhirkannya hingga masuk ramadhan berikutnya, sedang bagi yang tidak berkesempatan mengkadhainya karena udzurnya yang terus berlangsung hingga memasuki ramadhan berikutnya maka tidak berkewajiban membayar fidyah (sehari satu mud) sebab pengakhiran qadha’nya.

إعانة الطالبين الجزء الثاني 24
ويجب على مؤخر قضاء لشيئ من رمضان حتى دخل رمضان آخر بلا عذر في التأخير بأن خلا عن السفر والمرض قدر ما عليه مد لكل سنة فيتكرر بتكرر السنين على المعتمد,
وخرج بقولي بلا عذر ما اذا كان التأخير بعذر كأن استمر سفره أو مرضه أو ارضاعها الى قابل فلا شيئ عليه ما بقي العذر وان استمر سنين.

قوله لكل سنة أى يجب مد لصوم كل يوم من رمضان كل سنة وقوله على المعتمد مقابله لا يتكرر كالحد فيكفي المد عن كل السنين.

_______________________________________

Cara membayar mud yang biasa adalah setiap hari bukan dikumpulkan satu kali. Sebagaimana orang yang sudah lanjud usia baik itu laki-laki ataupun perempuan dan tidak berkemanpuan untuk berpuasa maka ia tidak wajib puasa dan tidak wajib qodlo’, begitu juga orang yang sakit yang tidak mungkin sembuh, dan orang perempuan yang sedang menyusui kerena takut/hawatir terhadap anaknya, tapi ia wajib membaya fidyah, yakni satu mud perhari. Ibaratnya berikut :

Referensi :

فقه السنة
قال ابن عباس: رخص للشيخ الكبير أن يفطر: ويطعم عن كل يوم مسكينا ولا قضاء عليه.
رواه الدارقطني والحاكم وصححاه.
وروى البخاري عن عطاء: أنه سمع ابن عباس رضي الله عنهما يقرأ: ” وعلى الذين يطيقونه فدية طعام مسكين ” قال ابن عباس ليست بمنسوخة، هي للشيخ الكبير، والمرأة الكبيرة، لا يتسطيعان أن يصوما، فيطعمان (1) مكان كل يوم مسكينا.
والمريض الذي لا يرجى برؤه، ويجهده الصوم، مثل الشيخ الكبير، ولافرق.
وكذلك العمال الذين يضطلعون بمشاق الاعمال.
قال الشيخ محمد عبده: فالمراد بمن ” يطيقونه ” في الآية، الشيوخ الضعفاء والزمني (2) ونحوهم كالفعلة الذين جعل الله معاشهم الدائم بالاشغال الشاقة كاستخراج الفحم الحجري من مناجمه.
ومنهم المجرمون الذين يحكم عليهم بالاشغال الشاقة المؤبدة إذا شق الصيام عليهم، بالفعل، وكانوا يملكون الفدية.
والحبلى، والمرضع – إذا خافتا على أنفسهما، أو أولادهما (3) أفطرتا – وعليهما الفدية، ولاقضاء عليهما، عند ابن عمر، وابن عباس.
روى أبو داود عن عكرمة، أن ابن عباس قال، في قوله تعالى: (وعلى الذين يطيقونه) ، كانت رخصة للشيخ الكبير، والمرأة الكبيرة، وهما يطيقان الصيام، أن يفطرا، ويطعما مكان كل يوم مسكينا، والحبلى، والمرضع – إذا خافتا (يعني على أولادهما) – أفطرتا، وأطعمتا. رواه البزار، وزاد في آخره: وكان ابن عباس يقول لام ولد له حبلى: أنت بمنزلة
الذي لا يطيقه، فعليك الفداء، ولاقضاء عليك. وصحح الدارقطني إسناده.
وعن نافع أن ابن عمر سئل عن المرأة الحامل إذا خافت على ولدها فقال: تفطر، وتطعم مكان كل يوم مسكينا مدا (4) من حنطة.
رواه مالك، والبيهقي.
(1) مذهب مالك وابن حزم أنه لاقضاء ولا فدية.
(2) المرضى مرضا مزمنا لايبرأ.
(3) معرفة ذلك بالتجربة أو بإخبار الطبيب الثقة أو بغلبة الظن.
(4) ” المد ” ربع قدح من قمح.
والله تعالى أعلم بالصواب

Al-Majmuu’ alaa Syarh alMuhaddzab VI/366 :

{ ﻓﺮﻉ { ﻓﻲ ﻣﺬﺍﻫﺐ ﺍﻟﻌﻠﻤﺎﺀ ﻓﻲ ﻣﻦ ﺃﺧﺮ ﻗﻀﺎﺀ ﺭﻣﻀﺎﻥ ﺑﻐﻴﺮ ﻋﺬﺭ ﺣﺘﻰ ﺩﺧﻞ ﺭﻣﻀﺎﻥ ﺁﺧﺮ ﻗﺪ ﺫﻛﺮﻧﺎ ﺍﻥ ﻣﺬﻫﺒﻨﺎ ﺍﻧﻪ ﻳﻠﺰﻣﻪ ﺻﻮﻡ ﺭﻣﻀﺎﻥ ﺍﻟﺤﺎﺿﺮ ﺛﻢ ﻳﻘﻀﻰ ﺍﻻﻭﻝ ﻭﻳﻠﺰﻣﻪ ﻋﻦ ﻛﻞ ﻳﻮﻡ ﻓﺪﻳﺔ ﻭﻫﻰ ﻣﺪ ﻣﻦ ﻃﻌﺎﻡ ﻭﺑﻬﺬﺍ ﻗﺎﻝ ﺍﺑﻦ ﻋﺒﺎﺱ ﻭﺍﺑﻮ ﻫﺮﻳﺮﺓ ﻭﻋﻄﺎﺀ ﺑﻦ ﺃﺑﻲ ﺭﺑﺎﺡ ﻭﺍﻟﻘﺎﺳﻢ ﺑﻦ ﻣﺤﻤﺪ ﻭﺍﻟﺰﻫﺮﻯ ﻭﺍﻻﻭﺯﺍﻋﻲ ﻭﻣﺎﻟﻚ ﻭﺍﻟﺜﻮﺭﻱ ﻭﺍﺣﻤﺪ ﻭﺍﺳﺤﻖ ﺍﻻ ﺍﻥ ﺍﻟﺜﻮﺭﻱ ﻗﺎﻝ ﺍﻟﻔﺪﻳﺔ ﻣﺪﺍﻥ ﻋﻦ ﻛﻞ ﻳﻮﻡ ﻭﻗﺎﻝ ﺍﻟﺤﺴﻦ ﺍﻟﺒﺼﺮﻱ ﻭﺍﺑﺮﺍﻫﻴﻢ ﺍﻟﻨﺨﻌﻲ ﻭﺍﺑﻮ ﺣﻨﻴﻔﺔ ﻭﺍﻟﻤﺰﻧﻲ ﻭﺩﺍﻭﺩ ﻳﻘﻀﻴﻪ ﻭﻻ ﻓﺪﻳﺔ ﻋﻠﻴﻪ ﺃﻣﺎ ﺇﺫﺍ ﺩﺍﻡ ﺳﻔﺮﻩ ﻭﻣﺮﺿﻪ ﻭﻧﺤﻮﻫﻤﺎ ﻣﻦ ﺍﻻﻋﺬﺍﺭ ﺣﺘﻰ ﺩﺧﻞ ﺭﻣﻀﺎﻥ ﺍﻟﺜﺎﻧﻲ ﻓﻤﺬﻫﺒﻨﺎ ﺍﻧﻪ ﻳﺼﻮﻡ ﺭﻣﻀﺎﻥ ﺍﻟﺤﺎﺿﺮ ﺛﻢ ﻳﻘﻀﻰ ﺍﻻﻭﻝ ﻭﻻ ﻓﺪﻳﺔ ﻋﻠﻴﻪ ﻻﻧﻪ ﻣﻌﺬﻭﺭ ﻭﺣﻜﺎﻩ ﺍﺑﻦ ﺍﻟﻤﻨﺬﺭ ﻋﻦ ﻃﺎﻭﺱ ﻭﺍﻟﺤﺴﻦ ﺍﻟﺒﺼﺮﻱ ﻭﺍﻟﻨﺨﻌﻲ ﻭﺣﻤﺎﺩ ﺑﻦ ﺍﺑﻰ ﺳﻠﻴﻤﺎﻥ ﻭﺍﻻﻭﺯﺍﻋﻲ ﻭﻣﺎﻟﻚ ﻭﺍﺣﻤﺪ ﻭﺍﺳﺤﻖ ﻭﻫﻮ ﻣﺬﻫﺐ ﺍﺑﻰ ﺣﻨﻴﻔﻪ ﻭﺍﻟﻤﺰﻧﻰ ﻭﺩﺍﻭﺩ ﻗﺎﻝ ﺍﺑﻦ ﺍﻟﻤﻨﺬﺭ ﻭﻗﺎﻝ ﺍﺑﻦ ﻋﺒﺎﺱ ﻭﺍﺑﻦ ﻋﻤﺮ ﻭﺳﻌﻴﺪ ﺑﻦ ﺟﺒﻴﺮ ﻭﻗﺘﺎﺩﺓ ﻳﺼﻮﻡ ﺭﻣﻀﺎﻥ ﺍﻟﺤﺎﺿﺮ ﻋﻦ ﺍﻟﺤﺎﺿﺮ ﻭﻳﻔﺪﻯ ﻋﻦ ﺍﻟﻐﺎﺋﺐ ﻭﻻ ﻗﻀﺎﺀ ﻋﻠﻴﻪ

Wallahu a’lamu bisshowab..

Kategori
Uncategorized

HADITS KE 135 : LARANGAN SHALAT DAN MENGUBURKAN JANAZAH PADA WAKTU-WAKTU TERTENTU

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

_*BAB WAKTU SHALAT*_

HADITS KE 135 :

وَلَهُ عَنْ عُقْبَةَ بْنِ عَامِرٍ: ( ثَلَاثُ سَاعَاتٍ كَانَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم يَنْهَانَا أَنْ نُصَلِّي فِيهِنَّ وَأَنْ نَقْبُرَ فِيهِنَّ مَوْتَانَا: حِينَ تَطْلُعُ اَلشَّمْسُ بَازِغَةً حَتَّى تَرْتَفِعَ وَحِينَ يَقُومُ قَائِمُ اَلظَّهِيرَةِ حَتَّى تَزُولَ اَلشَّمْسُ وَحِينَ تَتَضَيَّفُ اَلشَّمْسُ لِلْغُرُوبِ)

وَالْحُكْمُ اَلثَّانِي عِنْدَ “اَلشَّافِعِيِّ” مِنْ: حَدِيثِ أَبِي هُرَيْرَةَ بِسَنَدٍ ضَعِيفٍ. وَزَادَ: ( إِلَّا يَوْمَ اَلْجُمْعَةِ )

وَكَذَا لِأَبِي دَاوُدَ: عَنْ أَبِي قَتَادَةَ نَحْوُهُ

Dalam riwayat Muslim dari Uqbah Ibnu Amir: Tiga waktu dimana Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam melarang kami melakukan shalat dan menguburkan mayit yaitu: ketika matahari terbit hingga meninggi ketika tengah hari hingga matahari condong ke barat dan ketika matahari hampir terbenam.

Dan hukum kedua menurut Imam Syafi’i dari hadits Abu Hurairah dengan sanad yang lemah ada tambahan: Kecuali hari Jum’at.

Begitu juga menurut riwayat Abu Dawud dari Abu Qotadah terdapat hadits yang serupa.

MAKNA HADITS :

Syariat Islam melarang kita menyerupai orang kafir dalam ibadah mereka dan memelihara waktu-waktu mereka ketika beribadah. Oleh itu, Islam melarang kita mengerjakan sholat sunat ketika matahari sedang terbit dan juga ketika matahari
menjelang tenggelam. Ini kerana matahari terbit dan tenggelam diantara kedua-dua tanduk syaitan. Dengan arti kata lain, pada saat itu orang kafir menyembah matahari dan syaitanpun ada di situ.

Syariat Islam melarang kita melakukan sholat dan bertadharru’ serta berdo’a ketika Allah murka. Untuk itu, syariat Islam melarang melakukan sholat sunat ketika matahari berada di tengah-tengah langit. Syariat Islam menjelaskan kepada kita tentang penyebabnya bahwa itu merupakan waktu neraka Jahanam dinyalakan. Oleh kerana waktu zawal hari Jum’at merupakan hari perayaan Islam, maka neraka Jahanam tidak dinyalakan pada hari itu. Oleh yang demikian, syariat Islam membolehkan kita untuk mengerjakan sholat sunat pada waktu itu. Disamakan dengan hukum mengerjakan sholat sunat adalah mengebumikan jenazah pada waktu-waktu tersebut. Untuk itu, dianjurkan mengebumikan jenazah pada saat turunnya rahmat Allah dan dianjurkan pula mendoakan jenazahpun pada waktu-waktu yang mengandung rahmat dan keredhaan-Nya. Oleh kerana sholat fardu merupakan ibadah yang mempunyai waktu tertentu dan perhatian syari’at sangat besar terhadapnya, maka ia menganjurkan supaya sholat fardu dikerjakan dalam waktu kapan saja.

FIQH HADITS :

1. Dilarang melakukan sholat sunat ketika matahari sedang terbit dan juga ketika matahari berada di tengah langit, serta ketika matahari sedang tenggelam.

2. Dilarang mengkebumikan jenazah ketika matahari sedang terbit, ketika matahari sedang berada di tengah-tengah langit, dan ketika matahari sedang tenggelam. Larangan ini sekaligus mengandung anjuran untuk memelihara waktu yang diberkati untuk mengerjakan sholat dan menguburkan jenazah.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..