logo mubaa
Logo Ittihad

DEWAN PIMPINAN PUSAT
IKATAN ALUMNI BATA-BATA

Kategori
Uncategorized

HADITS KE 229 : ANJURAN MEMPERPANJANG BACAAN DI DUA RAKAAT PERTAMA

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

BAB TATACARA PELAKSANAAN SHOLAT

HADITS KE 229 :

وَعَنْ أَبِي قَتَادَةَ رضي الله عنه قَالَ : ( كَانَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم يُصَلِّي بِنَا فَيَقْرَأُ فِي اَلظُّهْرِ وَالْعَصْرِ – فِي اَلرَّكْعَتَيْنِ اَلْأُولَيَيْنِ – بِفَاتِحَةِ اَلْكِتَابِ وَسُورَتَيْنِ وَيُسْمِعُنَا اَلْآيَةَ أَحْيَانًا وَيُطَوِّلُ اَلرَّكْعَةَ اَلْأُولَى وَيَقْرَأُ فِي اَلْأُخْرَيَيْنِ بِفَاتِحَةِ اَلْكِتَابِ. ) مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

Abu Qotadah Radliyallaahu ‘anhu berkata: Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam selalu sholat bersama kami pada dua rakaat pertama dalam sholat Dhuhur dan Ashar beliau membaca al-Fatihah dan dua surat dan kadangkala memperdengarkan kepada kami bacaan ayatnya beliau memperpanjang rakaat pertama dan hanya membaca al-fatihah dalam dua rakaat terakhir

MAKNA HADITS :

Rasulullah (s.a.w) memperpanjang waktu bacaan pada dua rakaat pertama dan rakaat pertama lebih panjang daripada rakaat kedua supaya semua orang sempat berjamaah shalat, karena semangat dalam rakaat pertama lebih kuat daripada rakaat sesudahnya dan begitu pula dengan khusyuk pada rakaat pertama. Baginda senantiasa meringankan pelaksanaan shalat selain dua rakaat pertama karena dikawatiri menyebabkan makmum merasa bosan dan jemu.

Antara Sunnah Nabi (s.a.w) ialah baginda mengkhususkan dua rakaat pertama dengan membaca surah selain dari Surah al-Fatihah, sedangkan dua rakaat yang berikutnya tidak demikian. Rasulullah (s.a.w) ada kalanya
memperdengarkan satu atau dua ayat diwaktu mengerjakan shalat sirriyyah kepada mereka untuk menjelaskan berapa kadar ayat yang dibacanya. Membaca surah dengan suara yang tidak kuat dalam shalat sirriyyah bukanlah satu perkara yang wajib, malahan jika itu dilakukan, tidak menuntut seseorang supaya sujud sahwi dilakukan.

FIQH HADITS :

1. Diwajibkan membaca Surah al-Fatihah ketika dalam shalat.

2. Disyariatkan membaca surah sesudah membaca Surah al-Fatihah dalam dua rakaat pertama.

3. Disyariatkan memanjangkan bacaan surah dalam rakaat pertama yang kadarnya jauh lebih panjang daripada rakaat kedua.

4. Disyariatkan membaca Surah al-Fatihah dalam dua rakaat terakhir tanpa membaca surah yang lain.

5. Boleh menguatkan suara bacaan sebagian ayat dalam shalat sirriyyah.

6. Boleh mengutamakan dzahir suatu keadaan dalam menyampaikan berita tanpa bergantung kepada keyakinan, sebab jalan untuk mengetahui bacaan surah dalam shalat sirriyyah tidak lain mesti ditempuh dengan cara mendengarkan secara keseluruhan. Suara bacaan itu dapat diketahui dengan yakin apabila dilakukan diwaktu mengerjakan shalat jahriyyah. Jadi, pemberitaan ini seakan-akan diambil setelah mendengarkan sebagian bacaan yang dengannya dapat disimpulkan bacaan lain karena ada tanda-tandanya.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

Kategori
Uncategorized

KAJIAN KITAB AL-HIKAM BERSAMA R.KH. TOHIR ZAIN ABDUL HAMID, HAL. 43

ما قل وكفى خير مما كثر وألهى

Kategori
Uncategorized

D021. HUKUM BAKAR DUPA/ KEMENYAN DALAM ACARA ISLAMI

PERTANYAAN :

Assalamualaikum Ustadz..

Bagaimanakah hukum membakar kemenyan/dupa pada malam Jum’at atau acara-acara tertentu?

JAWABAN :

Waalaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh..

Dalam sebuah majelis dzikir ataupun majelis Maulid terkadang ada tradisi pembakaran dupa (bukhur). Tradisi semacam itu bukan sesuatu yang tanpa dasar, berikut penjelasannya :

ﻛﺎﻥ اﺑﻦ ﻋﻤﺮ ﺇﺫﺍ ﺍﺳﺘﺠﻤﺮ ﺍﺳﺘﺠﻤﺮ ﺑﺎﻟﻮﺓ ﻏﻴﺮ ﻣﻄﺮﺍﺓ ﺃﻭ ﺑﻜﺄﻓﻮﺭ ﻳﻄﺮﺣﻪ ﻣﻊ ﺍﻷﻟﻮﺓ ﺛﻢ ﻗﺎﻝ ﻫﻜﺬﺍ ﻛﺎﻥ ﻳﺴﺘﺠﻤﺮ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ

Apabila Ibnu Umar beristijmar (membakar dupa) maka beliau beristijmar dengan uluwah yang tidak ada campurannya, dan dengan kafur yang di campur dengan uluwah, kemudian beliau berkata; “Seperti inilah Rasululloh SAW, beristijmar”. (HR. Nasa’i No seri Hadits: 5152)

Imam Nawawi mensyarahi hadits ini sebagai berikut:

ﺍﻻﺳﺘﺠﻤﺎﺭ ﻫﻨﺎ ﺍﺳﺘﻌﻤﺎﻝ ﺍﻟﻄﻴﺐ ﻭﺍﻟﺘﺒﺨﺮ ﺑﻪ ﻭﻫﻮ ﻣﺄﺧﻮﺫ ﻣﻦ ﺍﻟﻤﺠﻤﺮ ﻭﻫﻮ ﺍﻟﺒﺨﻮﺭ ﻭﺃﻣﺎ ﺍﻷﻟﻮﺓ ﻓﻘﺎﻝ ﺍﻻﺻﻤﻌﻲ ﻭﺃﺑﻮ ﻋﺒﻴﺪ ﻭﺳﺎﺋﺮ ﺃﻫﻞ ﺍﻟﻠﻐﺔ ﻭﺍﻟﻐﺮﻳﺐ ﻫﻲ ﺍﻟﻌﻮﺩ ﻳﺘﺒﺨﺮ ﺑﻪ

Yang di maksud dengan istijmar di sini ialah memakai wewangian dan berbukhur “berdupa” dengannya. Lafadz istijmar itu di ambil dari kalimat Al majmar yang bermakna al bukhur “dupa” adapun Uluwah itu menurut Al Ashmu’i dan Abu Ubaid dan seluruh pakar bahasa arab bermakna kayu dupa yang di buat dupa. (Syarh Nawawi ala Muslim: 15/10. )

Di tambah komentar Imam Nawawi pensyarah hadits ulung tentang hadits ini:

ﻭﻳﺘﺎﻛﺪ ﺍﺳﺘﺤﺒﺎﺑﻪ ﻟﻠﺮﺟﺎﻝ ﻳﻮﻡ ﺍﻟﺠﻤﻌﺔ ﻭﺍﻟﻌﻴﺪ ﻭﻋﻨﺪ ﺣﻀﻮﺭ ﻣﺠﺎﻣﻊ ﺍﻟﻤﺴﻠﻤﻴﻦ ﻭﻣﺠﺎﻟﺲ ﺃﻟﺬﻛﺮ ﻭﺍﻟﻌﻠﻢ

Dan sangat kuat kesunahan memakai wewangian (termsuk istijmar) bagi laki laki pada hari jumat dan hari raya, dan saat menghadiri perkumpulan kaum muslimin dan majlis dzikir juga majlis ilmu. (Syarah Nawawi ala Muslim: 15/10)

Didalam sebuah literatur (Bulghah al Thullab) dijelaskan bahwa membakar kemenyan/dupa ketika berdzikir dan lain sebagainya, seperti membaca al Qur’an, dan manjelis ilmu adalah mendapatkan legitimasi dari hadits Nabi yang menyatakan bahwa beliau mencintai aroma wangi dan wewangian, dan beliau sering memakainya, beliau juga bersabda “Yang aku suka dari dunia kalian adalah wanita dan wewangian, dan aku menjadikannya sebagai penenang dan penyejuk di dalam shalat”.

Dari pemaparan tersebut di atas, dapat diketahui bahwa hukum membakar kemenyan/dupa pada malam Jum’at atau pada event-event tertentu seperti majelis dzikir dan lain sebagainya adalah boleh bahkan dianjurkan.

Imam Abu Zakariya Muhyiddin Yahya bin Syaraf al-Nawawi di dalam kitabnya (Syarh al Nawawi ‘Ala al Muslim) menyebutkan sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim yang menyatakan bahwa Ibnu Umar “beristijmar” dengan kayu garu tanpa campuran, atau dengan kafur yang dicampur dengan kayu garu, kemudian beliau berkata “Demikian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ‘beristijmar’”. al Nawawi menjelaskan bahwa “istijmar” adalah menggunakan wewangian dengan melakukan penguapan (dengan cara dibakar) dan seterusnya. Beliau juga menyatakan bahwa hadits tersebut mengindikasikan anjuran memakai wewangian bagi laki-laki sebagaimana dianjurkan bagi perempuan, namun anjuran bagi lak-laki untuk memakainnya adalah sesuatu yang dapat memunculkan aroma dan tidak menampakkan warna. Sedang ketika perempuan hendak keluar menuju Masjid atau yang lain, maka makruh baginya memakai setiap wewangian. Anjuran lebih ditekankan bagi laki-laki untuk memakainya pada hari Jum’at dan hari raya ketika hendak menghadiri perkumpulan orang-orang muslim, majelis dzikir, (majelis) ilmu, dan ketika hendak bersama istri.

Dasar pengambilan (1) oleh al-Ustadz Preman Berr Tasbih:

( كان بن عمر اذا استجمر استجمر بألوة غير مطراة أو بكافور يطرحه مع الألوة ثم قال هكذا كان يستجمر رسول الله صلى الله عليه و سلم ) الاستجمار هنا استعمال الطيب والتبخر به ……… الى ان قال ففي هذا الحديث استحباب الطيب للرجال كما هو مستحب للنساء لكن يستحب للرجال من الطيب ما ظهر ريحه وخفي لونه وأما المرأة فاذا أرادت الخروج إلى المسجد أو غيره كره لها كل طيب له ريح ويتأكد استحبابه للرجال يوم الجمعة والعيد عند حضور مجامع المسلمين ومجالس الذكر والعلم وعند ارادتة معاشرة زوجته ونحو ذلك والله أعلم
شرح النووي على مسلم – (ج 15 / ص 10)

Dasar pengambilan (2) oleh al-Ustadz Tamam Reyadi:

مسألة ج : إخراق البخور عند ذكر الله تعالى ونحوه كقراءة القرأن ومجلس العلم له أصل في السنة من حيث أن النبي صلى الله عليه وسلم يحب الريح الطيب الحسن ويحب الطيب ويستعملها كثيرا ويخض عليهما ويقول أحب إلي من دنياكم النساء والطيب وجعلت قرة عين في الصلاة. إهـ . بلغة الطلاب 53- 54

Daftar Pustaka:
1. Syarh al Nawawi ‘Ala al Muslim. XV/ 10
2. Bulghah al Thullab. LIII/ 53-54

Wallahu a’lamu bisshowab..

Kategori
Uncategorized

H015. WAJIBKAH TA’YIN DALAM ‘AQIKAH & KURBAN?

PERTANYAAN :

Assalamualaikum Ustadz

Deskripsi masalah:
Dikalangan masyarakat sudah mentradisi (terbiasa) dalam pelasanaan aqiqoh mereka sering menyajikan dikemas dengan cara mengundang para tetangga dan sanak famili, sehingga dikawatirkan sisa dari makanan daging aqiqoh tersebut dimakan oleh tuan rumah (orang yang beraqiqoh).

Pertanyaannya:
1. Wajibkah ta’yin (menentukan) dalam aqiqoh?

2. Kalau wajib ta’yin bagaimana solusinya menghindari ta’yin tersebut?

3. Apakah dalam kasus hukum ini berlaku juga pada daging kurban?

Mohon tanggapan/jawaban…

JAWABAN :

Waalaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh..

Tanggapan :
Pada dasarnya hukum aqiqoh adalah sunnah muakkat (sunnah yang dikokohkan), namun adakalanya hukum aqiqoh sunnah bisa berubah menjadi wajib (aqiqoh wajib) yaitu manakala seseorang terlanjur mengungkapkan kata yang bisa menibulkan arti wajib atau bernadzar, sebagaimana diungkapkan dalam kaidah fiqhih

الحكم يدور مع علته وجودا وعداما.

“Keberadaan hukum dapat berputar( berubah)beserta illatnya.

Jawaban:

1- Dalam rangka untuk membedakan antara hukum aqiqoh wajib dan sunnah maka diperlukan adanya syarat wajib ta’yin, dengan tujuan agar jelas boleh dan tidaknya tuan rumah makan daging yang tersisa dari para undangan. karena jika tanpa adanya ta’yin maka aqiqoh tersebut menjadi hukum wajib sehingga haram bagi tuan rumah makan sisa daging tersebut.

Adapun contoh lafadh/perkataan yang mengandung arti wajib /ta’yin baik secara hakikat atau secara hukum sebagai berikut:

Petama (secara hakikat/keyataan):

لله علىّ عقيقة عن ولدى

Kemudian kata tersebut ditentukan dengan perkataan

لله علي أن أعق بهذه الشاة عن ولدى

“Karena Allah wajib atas saya ber ‘aqiqoh dengan kambing ini dari anakku.

Kedua (secara hukum):

جعلتُ هذه عقيقة عن ولدى

“Saya jadikan ini aqiqoh dari anakku.

Maka kedua contoh ini adalah jatuh pada aqiqoh wajib, maka secara otomatis haram memakannya, walaupun ia berkehendak aqiqoh sunnah. Berbeda dengan sebagian pendapat ulama, Assyibramallisiy berkata kasus tersebut mendekati terjadi dikalangan orang awam, tetapi Syaikhana (Syaih al-Islam Abu Yahya Muhammad bin Ahmad Zakariya al-Anshari), melemahkannya. Maka jawaban yang murni dari itu hendaknya yang bertanya (beraqiqoh) berkata:

نريد أن نذبحها أو نأكلها

“Saya ingin menyembelihnya dan makamnya”. Artinya tidak wajib mengatakan ketika menyembelih :

اللهم هذه عقيقتي

“Ini adalah qurbanku”

Tetapi cukup orang yang berqurban niat mewakilkan qurban.

Ada yang tidak disyaratkan niat didalam barang yaitu ditentukan karena awalnya dengan nadzar, karena tempatnya niat adalah didalam hati. Artinya kalau awalnya seorang bernadzar maka tidak perlu niat, karena hakikat niat adalah didalam hati, berbeda dengan mutathowwu’ (aqiqoh yang disunnatkan).

Adapun aqiqoh wajib dapat terjadi dengan kata جعل(menjadikan) atau بالتعيين (menentukan).

Lalu bagaimana solusinya agar bisa keluar dari muayyan?

2- Agar selamat dari mu’ayyan maka sunnah melafalkan Niat dengan lisan. Dengan kata lain agar jelas aqiqoh sunnah dan wajib maka lafalkalah lafadh niat dalam lisan. Contoh Niat aqiqoh sunnah seperti niatnya qurban karena hukum nya sama dengan niatnya qurban

هذه النية قياسا على نية لأن حكم العقيقة كحكم الآضحية :

نويتُ العقيقة المسنونة/نويتُ أداء سنة العقيقة

Contoh Niat aqiqoh wajib :

نويتُ العقيقة الواجبة/ نويتُ أداء واجبة العقيقة.

Contoh lafadh yang tanpa kalimat المسنونة atau الواجبة tetapi menjadi arti wajib walau pun seseorang bermaksud/berkehendak ‘aqiqoh sunnah yaitu:
نويتُ هذه العقيقة
“Saya niat aqiqoh”

Niat seperti ini berarti menjadi aqiqoh wajib) maka haram bagi yang berqurban memakannya.

3. Hukumnya ‘aqiqoh dengan qurban serupa tetapi tidak sama :

a-Kesamaannya Aqiqoh dengan qurban adalah sama-sama hukum sunnah dan bisa berubah menjadi wajib dengan niat wajib/nadzar.

b- Diberikan kepada fakir miskin
Adapun ketidak samaan “Aqiqoh dengan qurban” adalah:

-Kalau qurban watunya tertentu yaitu dibulan Haji (Dzulhijjah) sedangkan waktu aqiqoh kapan saja bulan dan watunya namun yang utama ketika anak yang lahir baru berumur 7tahun.

– Daging qurban yang utama diberikan matangnya, sedangkan aqiqoh diberikan masaknya.

Referensi :

١-الباجوري على ابن قاسم الجزء الثاني ص: ٣٠٤
{ قوله والأكل منها } فلايأكل من العقيقة المنذورة ويأكل من العقيقة المطوع بها، {والتصدق ببعضها} لكن لايجب التصدق ببعض منها نيأ {قوله وامتناع بيعها} فلا يبع منها شيأ ولو كانت تطوعا {وقوله وتعيينها بالنذر} أى حقيقة أوحكما فلأول كقوله لله علىّ عقيقة ولدى ثم يعين بعد ذلك وكقوله لله على أن أعق بهذه الشاة عن ولدى .والثانى كقوله جعلتُ هذه عقيقة عن ولدى فتعين ذلك كله ولايجوز الأكل منها حينئذ كما مر {وقوله حكمه } أى المذكور من السن وماعطف عليه ،وقوله ماسبق فى أضحية قد بيناه فتدبر.

١-الشرقاوى على التحرير الجزء الثانى ص:٤٧٠
{ وقوله وتسن العقيقة } أى لأخبار وردت فيها كحبر الغلام مرتهن بعقيقته تذبح عنه يوم السابع ويحلق رأسه ويسمى رواه الترمذي …..ً…………وإنما لم تجب لأنها كلأضحية بجامع أن كلا منهما إرقة دم بغير جناية ،ولخبر أبي داود من أحب أن ينسك عن ولده فليفعل ولذا قال الشافعي أفرط فى العقيقة رجلان رجل قال إنها بدعة ورجل قال هي واجبة يعنى الحسن البصرى والليث………………. ……..{قوله كلأضحية}خبر لمحذوف أى وهي كلأضحية فى جميع أحكامها من جنسها وسنها وسلامتها ونبتها ووجوبها بالنذر أو بقوله عند السؤال عنها مثلا هذه عقيقة وامتنع الآكل من الواجب والتصدق وحصول السنة بشاة ولو عن ذكر وعدم صحة بيعها ولو الجلد نعم………..
وأما العبارة عن الأضحية كما سيأتى الأتية:
الشرقاوى على التحرير الجزء الثانى ص ٤٦٥
ويشترط أيضا لها نية عند الذبح أو قبله عند تعيين لما يضحى به سواء كانت تطوعا أو واجبة بنحو جعلتها أضحية أو بتعينها له عن نذر لا فيما عين لها بنذر ابتداء فلايشترط لها نية ومعلوم أن النية بالقلب وتسن باللسان فيقول نويتُ الأضحية المسنونة أو أداء سنة التضحية فى المسنونة أو الواجبة فإن اقتصر على نحو الأضحية صارت واجبة يحرم الأكل منها ولو من جاهل قال م ر وحينئذ فما وقع فى ألسنة العوام كثيرا من شرائهم مايريدون التضحية به من أوائل السنة وكل من سألهم عنهايقولون له هذه أضحية مع جهلهم بما يترتب على ذلك من الأحكام يصير به أضحية واجبة يمتنع عليه أكله منها ولا يقبل قوله أردت أنى أتطوع بها خلافا لبعضهم ،اهى
قال ع ش ولا بعد فى اغتفار ذلك للعوام .انتهى…

Wallahu a’lamu bisshowab..

Kategori
Uncategorized

HADITS KE 228 : BACAAN PENGGANTI SURAH AL-FATIHAH DALAM SHALAT BAGI MUALLAF

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

BAB TATACARA PELAKSANAAN SHOLAT

HADITS KE 228 :

وَعَنْ عَبْدِ اَللَّهِ بْنِ أَبِي أَوْفَى -رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا- قَالَ : ( جَاءَ رَجُلٌ إِلَى اَلنَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم فَقَالَ : إِنِّي لَا أَسْتَطِيعُ أَنْ آخُذَ مِنْ اَلْقُرْآنِ شَيْئًا فَعَلِّمْنِي مَا يُجْزِئُنِيٌ]مِنْهُ] . قَالَ : “سُبْحَانَ اَللَّهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَلَا إِلَهَ إِلَّا اَللَّهُ وَاَللَّهُ أَكْبَرُ وَلَا حَوْلٌ وَلَا قُوَّةً إِلَّا بِاَللَّهِ اَلْعَلِيِّ اَلْعَظِيمِ . . . ) اَلْحَدِيثَ . رَوَاهُ أَحْمَدُ وَأَبُو دَاوُدَ وَالنَّسَائِيُّ وَصَحَّحَهُ اِبْنُ حِبَّانَ وَاَلدَّارَقُطْنِيُّ وَالْحَاكِمُ

Abdullah Ibnu Aufa Radliyallaahu ‘anhu berkata: Ada seorang laki-laki datang menghadap Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam seraya berkata: Sungguh aku ini tidak bisa menghafal satu ayat pun dari al-Qur’an maka ajarilah diriku sesuatu yang cukup bagiku tanpa harus menghapal al-Qur’an. Beliau bersabda: “Bacalah subhanallaah walhamdulillah walaa ilaaha illallaah wallaahu akbar walaa haula walaa quwwata illa billaahil ‘aliyyil ‘adziim (artinya= Maha Suci Allah segala puji hanya bagi Allah tidak ada Tuhan kecuali Allah dan Allah Maha Besar tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan Allah yang Maha Tinggi lagiMaha Agung).” Hadits riwayat Ahmad Abu Dawud dan Nasa’i. Hadits shahih menurut Ibnu Hibban Daruquthni dan Hakim.

MAKNA HADITS :

Membaca Surah al-Fatihah merupakan salah satu rukun shalat yang wajib dipelajari bagi setiap orang yang baru masuk Islam supaya dia dapat membacanya ketika dalam shalat. Barang siapa yang masuk Islam lalu dia tidak menemukan seseorang pun yang mengajarkannya membaca Surah al-Fatihah atau waktunya terllalu ssempit hingga tidak sempat belajar Surah al-Fatihah, maka Surah al-Fatihah boleh digantikan dengan membaca zikir, tasbih, tahmid dan tahlil agar membolehkannya mengerjakan shalat tepat pada waktunya. Setelah itu, dia mesti belajar membaca al-Fatihah untuk shalat-shalat yang akan datang, sekalipun dia terpaksa bermusafir ke negeri lain jika dia mempunyai biaya.

FIQH HADITS :

Barang siapa yang tidak mampu membaca al-Fatihah ketika dalam shalat, karena waktu yang terlalu sempit atau tidak ada orang lain yang mau mengajarkannya, maka dia boleh membaca penggantinya berupa zikir sebagaimana yang telah disebutkan di dalam hadis ini.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

Kategori
Uncategorized

T034. HUKUM KEPUTIHAN PADA WANITA

PERTANYAAN :

Assalamualaikum Ustadz..

Bagaimana hukum keputihan yang terjadi pada perempuan apakah termasuk najis?

JAWABAN :

Waalaikumussalaam Warohmatullahi Wabarokaatuh..

Keputihan adalah getah atau cairan yang keluar dari vagina, yang ditimbulkan oleh jamur. Dalam ilmu Kedokteran disebut jamur candida. Kelembaban dan kehangatan vagina, merupakan lingkungan yang ideal untuk pertumbuhan dan berkembang biaknya jamur. Getah atau cairan yang ditimbulkan keputihan berwarna putih, kental, keruh dan kekuning-kuningan. Biasanya rasanya gatal, membuat vagina meradang dan luka.

Penyebab timbulnya keputihan diantaranya :

– Menopause, yaitu masa yang sudah tidak keluar haidl, sebab dengan aktif keluar haidl, ada cairan yang selalu membasahi dinding vagina dan mempertahankan vagina tetap segar dan sehat.

– Pil penghambat atau penyubur kehamilan. Hal ini disebabkan, pil tersebut mempunyai efek mengurangi ketahanan pelindung vagina dari infeksi jamur.

– Efek dari kontrasepsi dari rahim.
Stres.

– Celana yang terbuat dari nilon.
Celana ketat.

– Sabun bubuk pembersih.

Dari penjelasan diatas dapat diketahui bahwa keputihan dalam fiqih dikategorikan sebagai “ruthubatul farji” (cairan basah vagina). Sedangkan hukum dari keputihan diperinci sebagai berikut :

Apabila cairan tersebut keluar dari luar farji (bagian vagina yang nampak ketika jongkok), maka hukumnya suci.

Apabila cairan tersebut keluar dari farji (bagian vagiana yang tidak wajib dibasuh ketika istinja’ (cebok) dan terjangkau penis saat bersenggama), maka hukumnya suci menurut pendapat yang ashoh.

Dari penjelasan diatas dapat diketahui bahwa keputihan dalam fiqih dikategorikan sebagai “ruthubatul farji” (cairan basah vagina).

Sedangkan hukum dari keputihan diperinci sebagai berikut :

1. Apabila cairan tersebut keluar dari luar farji (bagian vagina yang nampak ketika jongkok), maka hukumnya suci.

2. Apabila cairan tersebut keluar dari farji (bagian vagiana yang tidak wajib dibasuh ketika istinja’ (cebok) dan terjangkau penis saat bersenggama), maka hukumnya suci menurut pendapat yang ashoh.

3. Apabila cairan tersebut keluar dari balik farji (vagina bagian dalam yang tidak terjangkau penis saat bersenggama), maka hukumnya najis dan menyebabkan batalnya wudlu.

Sedangkan apabila cairan yang keluar termasuk dalam kategori cairan yang najis (No. 3) maka hukum-hukum yang berlaku bagi wanita tersebut adalah hukum-hukum yang berlaku bagi wanita yang mengeluarkan darah istihadhoh. Dan langkah-langkah yang harus dilakukan sebelum sholat adalah sebagai berikut:

Karena cairan keputihan bukanlah termasuk darah haidh atau nifas, maka wanita yag sedang mengalami keputihan tidak diwajibkan melakukan mandi besar, dan tidak diberlakukan hukum wanita haidh dan nifas baginya. Dan dihukumi seperti wanita yang suci apabila cairan yang keluar masuk dalam kategori suci (No.1 & 2).
Menaruh semisal kapas pada tempat keluarnya darah untuk menyumbat darahnya agar tidak keluar. Namun menaruh kapas pada tempat keluarnya cairan itu tidak boleh dilakukan orang yang sedang puasa, karena dapat membatalkan puasanya, begitu juga hal tersebut tidak wajib dilakukan bagi wanita yang merasa sakit apabila menaruh kapas pada tempat keluarnya cairan. Apabila kapas itu tidak cukup bisa mencegah darah keluar maka wajib menambahkan kain atau pembalut.

Setelah itu, jika waktu sholat sudah masuk, diwajibkan segera berwudhu, dan wudhunya harus dilakukan setelah waktu sholat masuk, tidak boleh dilakukan sebelum masuknya waktu sholat.

Ada dua hal yang membedakan antara wudhu wanita istihadlah dengan wudhu wanita pada umumnya, yaitu :

Niat wudhunya tidak seperti wudhu pada umumnya yang menggunakan niat “lirof’il hadatsi” (untuk menghilangkan hadats), karena wudhunya wanita yang sedang mengeluarkan darah istihadhoh tidak menghilangkan maka niat wudhunya sebelum melakukan sholat adalah :

نويت الوضوء لاستباحة الصلاة لله تعالى

NAWAITUL WUDHU’A LISTIBAHATIS SHOLATI FARDHON LILLAHI TA’ALA.

Saya niat wudhu agar diperbolehkan melakukan sholat…”

Atau bisa juga dengan niat secara umum, maksudnya entah itu mau sholat atau melakukan hal-hal lain yang diharuskan wudhu dahulu, yaitu:

نويت الوضوء لاستباحة مفتقر الى وضوء فرضا لله تعالى

“NAWAITUL WUDHU’A LISTIBAHATI MUFTAQIRIN ILA WUDHU’IN FARDHON LILLAHI TA’ALA”

Saya niat wudhu agar diperbolehkan melakukan perkara yang membutuhkan wudhu’…

Ketika wudhu, diwajibkan untuk muwalah (terus menerus) dalam membasuh dan mengusap anggota badannya. Maksud dari muwalah adalah pembasuhan atau pengusapan anggota badan dilakukan sebelum anggota badan yang dibasuh atau diusap sebelumnya kering.

Setelah wudhu, diwajibkan untuk segera melakukan sholat dan tidak boleh mengakhirkannya kecuali apabila mengakhirkannya karena melakukan hal-hal yang berkaitan dengan sholat, seperti menjawab adzan, melakukan sholat sunat qobliyah atau menunggu dimulainya sholat jama’ah.

Semua hal diatas dilakukan setiap kali akan melakukan sholat fardhu, termasuk mengganti kapas dan pembalutnya, atau mencuci kain yang dipakai sebagai pembalut sebelumnya.Dan bila semua hal diatas sudah dilakukan, maka sholat yang dikerjakan sah dan tidak usah mengqodho’
(mengulaingi) nya lagi.

Ibarot :

Hasyiyah Al-Jamal Ala Syarah Al-Manhaj, Juz : 1 Hal : 179

قوله ورطوبة فرج) هي ماء أبيض متردد بين المذي والعرق ومحل ذلك إذا خرجت من محل يجب غسله، فإن خرجت من محل لا يجب غسله فهي نجسة؛ لأنها رطوبة جوفية وهي إذا خرجت إلى الظاهر يحكم بنجاستها وإذا لاقاها شيء من الطاهر تنجس وحينئذ يشكل قولهم بعدم تنجيس ذكر المجامع مع أنه يجاوز في الدخول ما يجب غسله إلا أن يقال عفي عن ذلك كما عفي عن الولد الخارج من الباطن

At-Taqrirot Asy-Syadidah, Hal : 171

الأحكام العامة للمستحاضة :
تختلف المستحاضة عن الحائض والنفساء, فالمستحاضة يجب عليها أن تصلي, وصلاتها صحيحة ولا قضاء عليها, وإذا حل رمضان وجب يجب عليها الصوم, ويجوز لزوجها أن يأتيها ولو مع سيلان الدم الخطوات التي تتخذها المستحاضة إذا أرادت الصلاة يجب عليها أن تتطهر من النجاسة الدم وغيره يجب عليها الخشو في موضع خروج الدم بقطن أو نحوه, إلا غذا كانت تتأذى, أو كانت صائمة, لأن ذلك يفطرها, ويجب عليها التعصب إن لم يكف الحشو يجب عليها المبادرة بعد ذلك بالوضوء, وشرطه أن يكون بعد دخول الوقت, والموالة فيهيجب عليها المبادرة إلى الصلاة, فلا يجوز تأخيرها, إلا إذا كان التأخير لمصلحة الصلاة كإجابة مؤذن ونافلة قبلية وانتظار جماعة

Hasyiyah I’anatut Tholibin, Juz : 1 Hal : 104

قوله: وهي) أي رطوبة الفرج الطاهرة على الاصح. (قوله: متردد بين المذي والعرق) أي ليس مذيا محضا ولا عرقا كذلك. (قوله: الذي لا يجب غسله) خالف في ذلك الجمال الرملي، وقال: إنها إن خرجت من محل لا يجب غسله فهي نجسة، لانها حينئذ رطوبة جوفية وحاصل ما ذكره الشارح فيها أنها ثلاثة أقسام طاهرة قطعا، وهي ما تخرج مما يجب غسله في الاستنجاء، وهو ما يظهر عند جلوسها ونجسة قطعا، وهي ما تخرج من وراء باطن الفرج، وهو ما لا يصله ذكر المجامع وطاهرة على الاصح، وهي ما تخرج مما لا يجب غسله ويصله ذكر المجامع

Wallahu a’lamu bisshowab..

Kategori
Uncategorized

T033. HUKUM MEMAKAI SIWAK SELAIN KAYU ‘ARAK

PERTANYAAN :

Assalamualaikum Ustadz..

Mau tanya ustad bagaimana tanggapan pandangan islam dalam menyikapi kepada orang yang bersiwak menggunakan lengan bajunya. Karena Melihat Begitu sangat di anjurkan nya bersiwak. Terimakasih. Mohon penjelasannya.

JAWABAN :

Waalaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh..

Boleh manakala tidak punya siwak yang asli bahkan pakai pasta gigi dan yang lain-Nya dengan syarat barang yang dijadikan siwak tidak tersambung dengan badan seperti halya jari-jari tangan itu tidak boleh. karena bersambung dengan badan.

Referensi :

رياض الباديعة فى أصول الدين وبعض فروع الشريعة) ص٢٣
{وتحصل السنة فيه بكل طاهر } خلافا لإبن حجر إلا أصبعه المتصلة {يزيل صفوة الأسنان ولو خرقة} لحصول المقصود بها {وأفضله الأراك اليابس المبلول بالماء } ويدعو بعد ذلك كأن يقول اللهم طيب نكهتي ونور قلبي وطهر أعضائي ومحص ذنوبي وأدخلني برحمتك فى عبادك الصالحين وارزقني جنتك يارب العالمين. هاكذا

Boleh dan mendapat kesunnatan bersiwak dengan memakai setiap barang yang suci, dan terpisah (tidak bersambung seperti bebera jari-jari tangan) barang yang terpisah seperti halnya kayu yang kasar dan kain (baju), namun yang paling utama adalah memakai kayu ‘Arak yang kering yang dibasahi dengan air (siwak yang basah).

(بجيرمي علی الخطيب,جز ١,صحيفۃ ١٧٨)
(القول في الۃ السواك) ويحصل بكل خشن يزيل القلح كعود من اراك اوغيره اوخرقة او اشنان لحصول المقصود بذلك, لكن العود اولی من غيره والأراك اولی (قوله بكل خشن) اي طاهر وفاقا للرملي وخلافا لابن حجر حيث قال: يكفي النجس ولو من مغلظ, ورد بقوله عليه الصلاۃ والسلام (,السواك مطهرۃ للفم) وهذا منجسة ,لكنه اجاب بأن المراد الطهارۃ اللغوية, وحشن بكسرتين كما قاله الأشموني في شرح قول المتن:
وفعل اولی وفعيل بفعل.
لكن جوز القاموس فيه فتح الخاء وكسر الشين, (قوله يزيل القلخ) هو ما يتراكم علی الأسنان من الوسخ ق ل.

Boleh bersiwak menggunakan lengan bajunya. Alasannya ialah Alat-alat siwak itu bisa terjadi dengan setiap benda kasar yang bisa menghilangkan kotoran gigi, seperti kayu yang harum yaitu kayu ‘arak atau kayu lainnya, atau kain, atau sikat gigi. Tapi kayu arak itu lebih utama dari lainnya, Disebabkan karena diperolehnya sesuatu yang dituju (yaitu bersihnya gigi) dengan kayu arak, kain dan sikat gigi.

Wallahu a’lamu bisshowab..

Kategori
Uncategorized

HADITS KE 227 : DISUNNAHKAN MEMBACA “AAMIIN” BERSAMAAN DENGAN AAMIIN-NYA IMAM

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

BAB TATACARA PELAKSANAAN SHOLAT

HADITS KE 227 :

وَعَنْهُ قَالَ : ( كَانَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم إِذَا فَرَغَ مِنْ قِرَاءَةِ أُمِّ اَلْقُرْآنِ رَفَعَ صَوْتَهُ وَقَالَ : “آمِينَ”. ) رَوَاهُ اَلدَّارَقُطْنِيُّ وَحَسَّنَهُ وَالْحَاكِمُ وَصَحَّحَهُ

وَلِأَبِي دَاوُدَ وَاَلتِّرْمِذِيِّ مِنْ حَدِيثِ وَائِلِ بْنِ حُجْرٍ نَحْوُهُ

Abu Hurairah Radliyallaahu ‘anhu berkata: Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bila selesai membaca Ummul Qur’an (al-fatihah) beliau mengangkat suaranya dan membaca: “Amin.” Hadits hasan diriwayatkan oleh Daruquthni. Hadits shahih menurut Hakim.

Ada pula hadits serupa dalam riwayat Abu Dawud dan Tirmidzi daari hadits Wail Ibnu Hujr.

MAKNA HADITS :

Rasulullah (s.a.w) menegaskan bahwa Surah al-Fatihah memiliki penutup yang dengannya baginda bertadharru‟ memohon kepada Allah seraya mengagungkan-Nya, yaitu dengan membaca lafaz “Amin”. Lafaz “Amin” merupakan isim fi’il amar yang dimabnikan. Maksudnya adalah: “Ya Allah, perkenankan do’a kami.” Antara keistimewaan membaca “Amin” adalah barang siapa yang bacaan aminnya bertepatan dengan bacaan amin para malaikat, maka diampuni dosa-dosanya yang terdahulu.

FIQH HADITS :

Imam shalat disyariatkan membaca amin. Penjelasan mengenainya telah disebutkan sebelum ini di fiqh hadis no. 225.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

Kategori
Uncategorized

D020. HUKUM LUPA TERHADAP HAFALAN AL-QUR’AN

PERTANYAAN :

Assalamualaikum Ustadz..

Bagaimana hukumnya orang yang lupa terhadap hafalan Al Qur’nnya?

JAWABAN :

Waalaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh..

Lupa hafalan, mungkin kenyataan paling pahit untuk para penghafal quran. Terlebih setelah berjuang keras menjaga hafalan. Kalau saja hafal qur’an dan dapat terjaga kuat di memori otak, itu bisa dibeli, niscaya mereka mau membeli semahal apapun.

Lantas bila kenyataan itu memang terjadi pada anda wahai para penghafal Al Qur’an, apakah anda berdosa? Ini yang akan kita ulas.

Beberapa riwayat menerangkan ancaman yang keras untuk mereka yang melupakan hafalan Qurannya. Diantaranya hadis berikut :

Hadis Anas bin Malik radhiyallahuanhu

عُرِضَتْ عَلَيَّ أُجُورُ أُمَّتِي حَتَّى الْقَذَاةُ يُخْرِجُهُ الرَّجُلُ مِنَ الْمَسْجِدِ ، وَعُرِضَتْ عَلَيَّ ذُنُوبُ أُمَّتِي فَلَمْ أَرَ ذَنْبًا أَعْظَمَ مِنْ سُورَةٍ مِنَ الْقُرْآنِ أَوْ آيَةٍ أُوتِيهَا رَجُلٌ ثُمَّ نَسِيَهُ

“Diperlihatkan padaku pahala umatku, termasuk (pahala) sampah yang dikeluarkan seseorang dari masjid. Dan ditampakkan kepadaku dosa umatku. Saya tidak melihat dosa yang lebih besar dibandingkan seseorang yang telah diberi (hafalan) surat Al-Qur’an atau ayat kemudian dia melupakannya.” (HR. Tirmidzi).

Dan hadis Sa’ad bin Ubadah radhiyallahuanhu :

مَا مِنْ امْرِئٍ يَقْرَأُ الْقُرْآنَ ثُمَّ يَنْسَاهُ إِلَّا لَقِيَ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَجْذَمَ

Tidak seorang mampu membaca alqu’ran kemudian dia melupakan hafalannya, melainkan kelak dia akan bertemu dengan Allah dalam kondisi menderita sakit lepra. (HR. Abu Dawud)

Jadi jika ada orang yang hafal seluruh ayat-ayat Al Qur’an atau hafal sebagian ayat-ayat Al Qur’an, lalu orang itu lupa terhadap ayat-ayat Al Qur’an yang telah dihafalnya, dan orang itu tidak berusaha menghafalkan lagi ayat-ayat Al Qur’an yang telah dilupakannya, maka hukumnya orang itu berdosa.

Hukumnya lupa terhadap Al Qur’an yang telah dihafal, itu ada perbedaan pendapat. Menurut madhab Maliki makruh, sedangkan menurut madhab syafi’i haram.

(حاشيۃ الصاوي,جز ٣,صحيفۃ ٦٨)
فمذهب مالك رضي الله عنه حفظ الزاءد عما تصح به الصلاۃ من القراءن مستحب اكد ابتداء ودواما فنسيانه مكروه,ومذهب الشافعي نسيان كل حرف منه كبيرۃ تكفر بالتوبۃ والرجوع لحفظه,انتهی,

(اسعاد الرفيق,جز ٢,صحيفۃ ٩٥)
(و )منها(نسيان)شيء من (القراءن)ولو حرفا واحدا بعد ان حفظه,قال رسول الله صلی الله عليه وسلم:(,عرضت علي اجور امتي حتی القذاۃ يخرجها الرجل من المسجد,وعرضت علي ذنوب امتي فلم ار ذنبا اعظم من سورۃ من القراءن او ايۃ اوتيها رجل ثم نسيها),قال رسول الله صلی الله عليه وسلم(ما من امریء يقراء القراءن ثم ينساه الا لقي الله اجذم)اي مقطوع اليد,وقيل معناه انه لا خير فيه ولا حجۃ له,وقد عده الرافعي من الكباءر,فلا يجوز لمن نسيه ان يشتغل بغيره,قال في الزواجر:ويوءخذ من قولهم نسيان ايۃ منه كبيرۃ انه يجب علی من حفظه بصفۃ من اتقان او توسط او نحوهما كاءن كان يتوقف فيه او يكثر غلطه فيه ان يستمر علی تلك الصفۃ التي حفظه عليها فلا يحرم الا نقصها من حافظته,اما زيادتها وان كانت موءكدۃ ينبغي الاءعتناء بها الا ان تركها لا يوجب اثما,وحمل ابو شامۃ وابن الصلاح النسيان الوارد في الحديث علی ترك العمل به قال:ولا يبعدان يكون من تهاون به حتی نسي تلاوته كذلك,انتهی,وهذا هو المتبادر من الاءحاديث,قال القرطبي:,لا يقال حفظ القراءن غير واجب عينا فكيف ذم من نسيه,لاءنا نقول من جمعه فقد علت رتبته وشرف في قومه,وكيف لا وقد ادرجت(ادخلت)النبوۃ بين جنبيه وصار ممن يقال فيه انه من اهل الله وخاصته,فحينءذ المناسب ان تغلظ العقوبۃعلی من اخل لمرتبته الدينيۃ وموءاخذته بما لا يوءاخذ به غيره,وترك معاهدۃ القراءن يوءدي الی الجهالۃ

Dalam ibarah yang lain dijelaskan bahwa bagi penghafal al-Qur’an yang lupa termasuk sebagian dari أعظم الذنوب (besarnya dosa).

Referensi:

النصائح الدينية:ص ١٢٢
وليحذر من هجران التلاوة،وترك تعهد القرآن فيتعرض بذلك لنسيانه الذي هو من أعظم الذنوب
..كما في الحديث المذكور فى إسعاد الرفيق…………وقد أمر عليه الصلاة والسلام صاحب القرآن بتعهده، وأخبر أن القرآن أسرع تفلّتا من صدور الرجال من الإبل فى عقولها………

Sesungguhnya lupa terhadap Al Qur’an, atau lupa terhadap sedikit dari ayat Al Qur’an, walaupun lupanya itu hanyalah lupa terhadap satu huruf dari Al Qur’an, sesudah balighnya orang tersebut, sesudah sangat hafalnya orang itu terhadap Al Qur’an, maka dosa besar. Tapi dengan syarat jika lupanya orang tersebut karena tidak ada udzur (alasan syar’ie) seperti lamanya menderita sakit atau hilangnya aqal yang berat. Maka orang itu tidak berdosa jika orang itu lupa terhadap Al Qur’an jika lupanya terhadap Al Qur’an karena lamanya menderita sakit atau hilangnya aqal yang berat.

(الفتوحات الربانيۃ شرح الاءذكار النوويۃ,جز ٣,صحيفۃ ٢٥١-٢٥٥)
وروينا في كتاب ابي داود والترمذي عن انس رضي الله عنه قال:قال رسول الله صلی الله عليه وسلم (عرضت علي اجور امتي حتی القذاۃ يخرجها الرجل من المسجد,وعرضت علي ذنوب امتي فلم ار ذنبا اعظم من سورۃ من القراءن او ايۃ اوتيها رجل ثم نسيها) تكلم الترمذي فيه, وحديث ابي داود الاءتي,ان نسيان القراءن اوشيء منه ولو حرفا واحدا بعد البلوغ بعد حفظه عن ظهر القلب اذا كان بغير عذر من نحو طول المرص او غيبۃ عقل كبيرۃ,

ويحرم نسيان القرأن اذالم يتيسر حفظه ثاني مرة الابتكرار كأول مرة.

الفتوحات الربانية هامش نصائح العباد.ص ٢٦

Wallahu a’lamu bisshowab..

Kategori
Uncategorized

HJ008. HUKUM MENUNAIKAN HAJI TANPA IDZIN/ TASHRIH

PERTANYAAN :

Assalamualaikum Ustadz..

Bagaimana setatus haji seseorang yang berangkatnya tidak memenuhi aturan2 yang sudah ditentukan pemerintah Arab Saudi
katanlah tidak punya tashrih/izin?

JAWABAN :

Wa alaikumussalaam Warohmatulloohi Wabarokaatuh.

Hajinya orang yang tidak memiliki idin untuk haji tersebut hukumnya sah bila memenuhi syarat dan rukunnya haji dan tidak wajib mengulangi hajinya karena haji tersebut sudah menggugurkan kewajiban. Akan tetapi haji tersebut dihukumi haram bila khawatir timbul bahaya seperti akan dipenjara ketika tertangkap sebab dianggap illegal misalnya. Wallohu a’lam.

البجيرمي على الخطيب ٢/٣٧٠ :
. : .ولكن الفقهاء قالوا إن الإنسان إذا أدى الحج واستوفى أركانه وشروطه فإن الحج يصح منه و يسقط عنه فريضته سواء أداه بمال حلال أو حرام. يسئلونك في الدين والحياة ٢/١٥٤ : والشرط السادس للوجوب تخلية الطريق أى أمنه ولو ظنا في كل مكان بحسب ما يليق به فلو خاف في طريقه علي نفسه أو عضوه أو نفس محترمة منه أو عضوها أو ماله ولو يسيرا سبعا أو عدوا أو رصديا ولا طريق له سواه لم يجب عليه لحصول الضرر ____بل ولا يستحب بل ربما حرم إذا غلب على ظنه الضرر

الباجوري ١/٣٠٩
والرابعة الوقوع عن فرض الإسلام وشرطها مع الإسلام والتمييز والبلوغ الحرية وإن لم يكن مستطيعا فيقع حج الفقير عن حجة الإسلام وإن حرم عليه السفر له إذا حصل له منه ضرر لكمال حاله.

Wallahu a’lamu bisshowab..