logo mubaa
Logo Ittihad

DEWAN PIMPINAN PUSAT
IKATAN ALUMNI BATA-BATA

Kategori
Uncategorized

HADITS KE 226 : BASMALAH SEBAGIAN AYAT DARI SURAH AL-FATIHAH

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

BAB TATACARA PELAKSANAAN SHOLAT

HADITS KE 226 :

وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ : قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم ( إِذَا قَرَأْتُمْ اَلْفَاتِحَةِ فَاقْرَءُوا : ( بِسْمِ اَللَّهِ اَلرَّحْمَنِ اَلرَّحِيمِ ) فَإِنَّهَا إِحْدَى آيَاتِهَا ) رَوَاهُ اَلدَّارَقُطْنِيُّ وَصَوَّبَ وَقْفَهُ

Dari Abu Hurairah Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Apabila kamu membaca al-fatihah maka bacalah bismillaahirrahmaanirrahiim karena ia termasuk salah satu dari ayatnya.” Riwayat Daruquthni yang menggolongkannya hadits mauquf.

MAKNA HADITS :

Hadis ini menunjukkan bahwa basmalah merupakan sebagian ayat dari Surah al-Fatihah, namun hadis ini mawquf.

FIQH HADITS :

Basmalah dalam solat dibaca dengan suara keras dan basmalah merupakan salah satu ayat dari Surah al-Fatihah.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

Kategori
Uncategorized

HADITS KE 225 : BASMALAH DALAM SUROH AL FATIHAH

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

BAB TATACARA PELAKSANAAN SHOLAT

HADITS KE 225 :

وَعَنْ نُعَيْمٍ اَلْمُجَمِّرِ رضي الله عنه قَالَ : ( صَلَّيْتُ وَرَاءَ أَبِي هُرَيْرَةَ فَقَرَأَ : (بِسْمِ اَللَّهِ اَلرَّحْمَنِ اَلرَّحِيمِ) . ثُمَّ قَرَأَ بِأُمِّ اَلْقُرْآنِ حَتَّى إِذَا بَلَغَ : (وَلَا اَلضَّالِّينَ) قَالَ : “آمِينَ” وَيَقُولُ كُلَّمَا سَجَدَ وَإِذَا قَامَ مِنْ اَلْجُلُوسِ : اَللَّهُ أَكْبَرُ . ثُمَّ يَقُولُ إِذَا سَلَّمَ : وَاَلَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ إِنِّي لَأَشْبَهُكُمْ صَلَاةً بِرَسُولِ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم ) رَوَاهُ النَّسَائِيُّ وَابْنُ خُزَيْمَةَ

Nu’aim al-Mujmir berkata: Aku pernah sembahyang di belakang Abu Hurairah r.a. Dia membaca (bismillaahirrahmaanirrahiim) kemudian membaca al-fatihah sehingga setelah membaca (waladldlolliin) dia membaca: Amin. Setiap sujud dan ketika bangun dari duduk selalu membaca Allaahu Akbar. Setelah salam dia mengatakan: Demi jiwaku yang ada di tangan-Nya sungguh aku adalah orang yang paling mirip sholatnya dengan Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam Riwayat Nasa’i dan Ibnu Khuzaimah.

MAKNA HADITS :

Rasulullah (s.a.w) adakalanya membaca basmalah ketika dalam sholat dengan suara keras dan adakalanya pula dengan suara tidak keras. Dalam solat jahriyyah, baginda membacanya dengan suara keras, sedangkan dalam solat sirriyyah, baginda membacanya dengan tidak keras. Tetapi adakalanya baginda membacanya dengan suara tidak keras dalam solat jahriyyah untuk menjelaskan bahwa itu boleh dilakukan. Dengan ini, riwayat yang meniadakan bacaan basmalah dan riwayat yang menyuruh membacanya dapat digabungkan.

Antara Sunnah Nabi (s.a.w) adalah membaca amin dalam solat jahriyyah ketika selesai membaca Surah al-Fatihah dan membaca takbir dalam setiap perpindahan satu rukun ke rukun yang lain kecuali ketika mengangkat kepala dari rukuk. Bacaan ketika bangkit daripada rukuk adalah “سمع الله لمن حمده”

FIQH HADITS :

Disyariatkan bagi imam membaca amin dengan suara keras. Inilah pendapat Imam al-Syafi’i dan Imam Ahmad. Sedangkan menurut Imam Abu Hanifah, imam membaca amin dengan suara tidak keras, karena bacaan amin tidak lain kecuali sebagai tambahan do’a dan oleh karenanya, inti do’a lebih utama dari itu. Tetapi riwayat Imam Malik mengenai membaca amin dalam solat jahriyyah masih ada perselisihan pendapat. Ulama Mesir meriwayatkan dari Imam Malik, tidak ada bacaan amin dalam solat jahriyyah, karena imam adalah orang yang berdo’a sedangkan membaca amin hanya disunatkan kepada orang yang tidak membaca do’a. Tetapi diriwayatkan pula dari Imam Malik bahwa hendaklah imam membaca amin dengan suara tidak kuat.

Meskipun begitu, mereka tidak berselisih pendapat dalam solat sirriyyah dimana imam dikehendaki membaca amin dengan suara tidak keras. Makmum juga hendaklah menngeraskan suara bacaan amin dalam solat jahriyyah dan tidak
menguatkan suara dalam solat sirriyyah. Inilah pendapat Imam al-Syafi’i dan Imam Ahmad. Imam Malik mengatakan bahwa makmum membaca amin dengan suara tidak kuat dalam keadaan apapun, baik dalam solat jahriyyah maupun dalam solat sirriyah. Orang yang solat sendirian juga sama hukumnya dengan makmum dalam masalah ini. Imam Abu Hanifah mengatakan bahwa makmum hendaklah membaca amin dengan suara tidak keras, begitu juga dengan orang yang solat bersendirian.

2. Disyariatkan mengucapkan takbiratul intiqal ketika sujud, ketika bangkit dari kedua sujud, dan ketika bangkit dari tasyahhud pertama.

3. Boleh bersumpah tanpa disertai permintaan untuk mengukuhkan perkara.

4. Ulama berbeda pendapat mengenai hukum membaca basmalah dengan suara kuat. Disini ada beberapa pendapat :

Imam al-Syafi’i mengatakan bahwa disunatkan membaca basmalah dengan suara yang keras dalam solat jahriyyah, dan dengan suara tidak keras dalam solat sirriyyah. Beliau mengatakan bahwa basmalah merupakan salah satu dari Surah al-Fatihah. Seluruh ulama bersepakat bahwa basmalah di dalam Surah al-Naml merupakan sebagian daripadanya, tanpa ada ulama yang memperselisihkannya, meskipun mereka berselisih pendapat dalam surah yang lain. Pendapat yang paling sahih menurut Imam al-Syafi’i adalah basmalah merupakan sebagian dari setiap surah. Beliau menguatkan pendapatnya dengan hadis yang diriwayatkan oleh ibnu huzaimah melalui Ummu Salamah (r.a) bahwa Nabi (s.a.w) membaca
ِ“ بسم الله الرحمن الرحيم”
ketika dalam solat dan baginda mengganggapnya sebagai satu ayat (dari al-Fatihah). Para sahabat telah bersepakat untuk menetapkannya dalam mushaf pada setiap permulaan surah kecuali pada permulaan Surah al-Baraah, yakni Surah al-Taubah.

Imam Malik mengatakan bahwa basmalah tidak perlu dibaca dalam solat fardu baik solat sirriyyah maupun solat jahriyyah, karena basmalah tidak termasuk salah satu ayat dari al-Qur’an, baik pada permulaan Surah al-Fatihah mahupun pada permulaan surah yang lainnya kecuali Surah al-Naml, karena di dalam Surah al-Naml basmalah merupakan salah satu dari ayatnya. Di dalam solat sunat, seseorang dibolehkan memilih baik membacanya atau sebaliknya.

Imam Abu Hanifah dan Imam Ahmad mengatakan bahwa disunatkan membaca basmalah dengan suara tidak kuat, bukan dengan suara kuat dalam solat sirriyyah dan jahriyyah. Imam Abu Hanifah dan Imam Ahmad mengatakan bahwa basmalah merupakan ayat tersendiri dari al-Qur’an. Ia diturunkan untuk memohon keberkatan dan sebagai pemisah di antara satu surah dengan surah yang lain, tetapi ia tidak termasuk salah satu daripada ayat Surah al-Fatihah dan juga surah-surah yang lain. Pada awalnya Rasulullah (s.a.w) tidak tahu apa yang patut dijadikan pemisah di antara satu surah dengan surah yang sebelum diturunkan kepadanya. Basmalah: “بسم الله الرحمن الرحيم ” Ini merupakan ketetapan yang menegaskan bahwa basmalah diturunkan untuk memisahkan
antara satu surah dengan yang lain, dan basmalah tidak termasuk sebagai ayat permulaan bagi setiap surah. Kedua ulama ini menguatkan pendapatnya dengan hadis yang diriwayatkan oleh Muslim melalui Anas (r.a):

أن النبي صلى الله عليه وسلم وأبا بكر وعمر كانوا يفتتحون الصلاة ب ” الحمد لله رب العالمين” لا يذكرون “بسم الله الرحمن الرحيم” في أول قرأة ولا في أخرها

“Nabi (s.a.w) dan Abu Bakar serta Umar memulai solat dengan bacaan “الحمد لله رب العالمين”
Mereka tidak membaca “بسم الله الرحمن الرحيم ” baik pada permulaan bacaan maupun di akhir bacaan.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

Kategori
Uncategorized

HADITS KE 224 : HUKUM BASMALAH DALAM SHALAT

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

BAB TATACARA PELAKSANAAN SHOLAT

HADITS KE 224 :

وَعَنْ أَنَسٍ رضي الله عنه ( أَنَّ اَلنَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم وَأَبَا بَكْرٍ وَعُمَرَ كَانُوا يَفْتَتِحُونَ اَلصَّلَاةِ بِـ (اَلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ اَلْعَالَمِينَ ) ) مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

زَادَ مُسْلِمٌ: ( لَا يَذْكُرُونَ : (بِسْمِ اَللَّهِ اَلرَّحْمَنِ اَلرَّحِيمِ ) فِي أَوَّلِ قِرَاءَةٍ وَلَا فِي آخِرِهَا )

وَفِي رِوَايَةٍ لِأَحْمَدَ وَالنَّسَائِيِّ وَابْنِ خُزَيْمَةَ : ( لَا يَجْهَرُونَ ‏بِبِسْمِ اَللَّهِ اَلرَّحْمَنِ اَلرَّحِيم ِ )

وَفِي أُخْرَى لِابْنِ خُزَيْمَةَ : ( كَانُوا يُسِرُّونَ ). وَعَلَى هَذَا يُحْمَلُ اَلنَّفْيُ فِي رِوَايَةِ مُسْلِمٍ خِلَافًا لِمَنْ أَعَلَّهَا

Dari Anas Radliyallaahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam Abu Bakar dan Umar memulai sholat dengan (membaca) alhamdulillaahi rabbil ‘alamiin. Muttafaq Alaihi.

Muslim menambahkan: Mereka tidak membaca bismillaahirrahmaanirrahiim baik pada awal bacaan maupun akhirnya.

Dalam suatu riwayat Ahmad Nasa’i dan Ibnu Khuzaimah disebutkan: Mereka tidak membaca bismillaahirrahmaanirrahiim dengan suara keras.

Dalam suatu hadits lain riwayat Ibnu Khuzaimah: Mereka membaca dan amat pelan. (Pengertian ini membaca dengan amat pelan diarahkan pada pengertian tidak membacanya seperti pada hadits riwayat Muslim yang tentunya berbeda dengan yang menyatakan bahwa hadits ini ma’lul).

MAKNA HADITS :

Basmalah adalah sebagian dari ayat al-Qur’an di dalam Surah al-Naml, menurut ijmak ulama. Tetapi mereka berselisih pendapat mengenai basmalah pada permulaan Surah al-Fatihah baik ia termasuk salah satu ayat darinya karena ia ditulis dalam mushaf dan mereka tidaklah menulis basmalah di dalam mushaf melainkan ia termasuk sebagian dari al-Qur’an ataupun basmalah tidak termasuk sebagian ayat dari al-Fatihah, karena disebutkan pada permulaannya hanya semata-mata untuk ber-tabarruk, sebagaimana ia disebutkan pada setiap permulaan surah untuk memisahkan antara satu surah dengan surah yang lain.

Hadis Anas (r.a) menegaskan bahwa apa yang mereka maksudkan ialah tidak membaca basmalah dengan suara kuat atau meniadakan bacaan basmalah lantaran bacaan itu tidak termasuk dari salah satu dari ayat Surah al-Fatihah. Apapun, hadis Anas (r.a) ini dinilai mudhtharib. Buktinya, Nabi (s.a.w) ada kalanya ketika di dalam sholat membaca basmalah dengan suara kuat dan ada kalanya pula dengan suara tidak kuat. Baginda membacanya dengan suara kuat dalam sholat jahriyyah dan membaca dengan suara tidak kuat dalam sholat sirriyyah. Tetapi adakalanya baginda membacanya dengan tidak kuat dalam sholat jahriyyah untuk menjelaskan bahwa itu boleh dilakukan.

Dengan cara demikian, hadis-hadis dalam masalah ini yang seakan berselisih antara satu sama lain dapat digabungkan pemahamannya. Ulama membahas masalah ini dengan panjang lebar, malah ada pula diantara mereka yang menulis secara khusus masalah ini.

FIQH HADITS :

Basmalah dalam sholat tidak dibaca dengan suara kuat. Inilah pendapat Imam Ahmad dan Imam Abu Hanifah. Tetapi Imam al-Syafi’i mengkhususkan hanya dalam sholat-sholat fardu yang dikerjakan pada waktu siang hari, kerana sholat fardu siang hari adalah sholat sirriyyah.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

Kategori
Uncategorized

S060. HUKUM BERSALAMAN SETELAH SHALAT

PERTANYAAN :

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Langsung saja saya mau nanya;

Sering sekali saya melihat ketika selesai shalat orang-orang bersalaman.

Pertanyaannya:
Bagaimana hukumnya bersalaman setelah shalat?

JAWABAN :

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

Hukumnya mubah.

Memang benar, dalam kitab-kitab fikih Syaifiiyah tidak ada kesunahan tersebut. Namun, apa yang telah banyak dilakukan oleh umat Islam tersebut berdasarkan sebuah hadis:

وَعَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ أَنَّ النَّبِيَّ كَانَ إِذَا صَلَّى وَفَرَغَ مِنْ صَلاَتِهِ مَسَحَ بِيَمِيْنِهِ عَلَى رَأْسِهِ وَقَالَ بِسْمِ اللهِ الِّذِي لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ الرَّحْمَنُ الرَّحِيْمُ اللَّهُمَّ أَذْهِبْ عَنِّي الْهَمَّ وَالْحَزَنَ وَفِي رِوَايَةٍ: مَسَحَ جَبْهَتَهُ بِيَدِهِ الْيُمْنَى وَقَالَ فِيْهَا “اللَّهُمَّ أَذْهِبْ عَنِّي الْهَمَّ وَالْحَزَنَ” (رواه الطبراني في الأوسط والبزار بنحوه بأسانيد وفيه زيد العمى وقد وثقه غير واحد وضعفه الجمهور وبقية رجال أحد إسنادي الطبراني ثقات وفي بعضهم خلاف مجمع الزوائد 10/ 145)

“Diriwayatkan dari Anas bin Malik bahwa Rasulullah Saw jika selesai dari salatnya, beliau mengusap kepalanya (dalam riwayat lain keningnya/jabhat) dengan tangan kanannya dan berdoa ‘Bismillahi alladzi Laa ilaaha illaa huwa ar-Rahmaanu ar-Rahiimu. Allahumma adzhib ‘anni al-hamma wa al-hazana (Dengan nama Allah yang maha pengasih lagi maha penyayang. Ya Allah hilangkan dari saya kesedihan dan kesusahan)”

Al-Hafidz al-Haitsami berkata: HR ath-Thabrani dalam al-Ausath dan al-Bazzar. Sebagian perawinya dinilai terpercaya dan dlaif, perawi lainnya terpercaya. Seandainya pun hadis ini dlaif, maka sesuai kesepakatan ulama ahli hadis bahwa hadis dlaif boleh diamalkan dalam keutamaan amal.

Sedangkan bersalaman setelah salat berdasarkan hadis:

وَعَنْ أَبِي جُحَيْفَةَ قَالَ خَرَجَ رَسُولُ اللهِ g بِالْهَاجِرَةِ إِلَى الْبَطْحَاءِ فَتَوَضَّأَ ثُمَّ صَلَّى الظُّهْرَ رَكْعَتَيْنِ، وَالْعَصْرَ رَكْعَتَيْنِ، وَبَيْنَ يَدَيْهِ عَنَزَةٌ … وَقَامَ النَّاسُ فَجَعَلُوا يَأْخُذُونَ يَدَيْهِ ، فَيَمْسَحُونَ بِهَا وُجُوهَهُمْ، قَالَ فَأَخَذْتُ بِيَدِهِ، فَوَضَعْتُهَا عَلَى وَجْهِى، فَإِذَا هِىَ أَبْرَدُ مِنَ الثَّلْجِ، وَأَطْيَبُ رَائِحَةً مِنَ الْمِسْكِ (رواه أحمد والبخاري)

“Diriwayatkan dari Abu Juhaifah bahwa Rasulullah Saw keluar dari pada siang hari yang sangat panas menuju Bathha’, kemudian berwudlu’, salat Dzuhur 2 rakaat dan Ashar 2 rakaat dan dihadapan beliau ada tongkat (sebagai sutrah/pembatas). Kemudian Rasulullah Saw berdiri, dan orang-orang memegang tangan beliau (bersalaman) dan meletakkan tangan beliau ke wajah mereka. Saya (Abu Juhaifah) juga melakukannya. Ternyata tangan beliau lebih sejuk daripada salju dan lebih harum daripada minyak misik” (HR al-Bukhari No 3289 dan Ahmad No 18789. Dalam riwayat lain para sahabat bersalaman dengan Rasulullah Saw setelah salat Subuh, HR Ahmad No 17513 dari Yazid bin Aswad)

Al-Hafidz Ibnu Hajar mengutip pendapat para ulama:

قَالَ النَّوَوِيّ: وَأَمَّا تَخْصِيصُ الْمُصَافَحَةِ بِمَا بَعْد صَلَاتَيْ الصُّبْحِ وَالْعَصْرِ فَقَدْ مَثَّلَ اِبْنُ عَبْدِ السَّلَامِ فِي “الْقَوَاعِدِ” الْبِدْعَةَ الْمُبَاحَةَ مِنْهَا. قَالَ النَّوَوِيّ: وَأَصْلُ الْمُصَافَحَة سُنَّةٌ، وَكَوْنُهمْ حَافَظُوا عَلَيْهَا فِي بَعْضِ الْأَحْوَال لَا يُخْرِجُ ذَلِكَ عَنْ أَصْلِ السُّنَّةِ (فتح الباري لابن حجر – ج 17 / ص 498)

“An-Nawawi berkata: Penentuan bersalaman setelah salat Subuh dan Ashar digolongkan oleh Ibnu Abdissalam seabagai bid’ah yang diperbolehkan. An-Nawawi berkata: Pada dasarnya bersalaman adalah sunah. Mereka melakukan salaman pada waktu-waktu tertentu

tidaklah sampai menyimpang dari sunah” (Fath al-Baari 17/498)

PENDAPAT PARA ULAMA :

1. Imam al-Thahawi.

تُطْلَبُ اْلمُصَافحَة فَهِيَ سُنَّة عَقِبَ الصَّلاةِ كُلّهَا وَعِندَ كلِّ لَقِيٍّ

Artinya: Bahwa bersalaman setelah shalat adalah sunah dan begitu juga setiap berjumpa dengan sesama Muslim.

2. Imam Izzuddin bin Abdissalam

Beliau berkata :

اَنَّهَا مِنَ اْلبِدَعِ المُبَاحَةِ

Artinya : (Mushafahah setelah shalat) adalah masuk dalam kategori bid’ah yang diperbolehkan.

3. Syeikh Abdul Ghani an-Nabilisi

Beliau berkata :

انَّهَا دَاخِلَة تحْت عُمُوْمِ سُنّةِ اْلمُصَافحَةِ مُطْلقا

Artinya : Mushafahah setelah shalat masuk dalam keumuman hadits tentang mushafahah secara mutlak.

4. Imam Muhyidin an-Nawawi

Beliau berkata :

اَنَّ اْلمُصَا فحَة بَعْدَ الصَّلاة وَدُعَاء المُسْلِمِ لآخِيْهِ اْلمُسْلِمِ بِأنْ يَّتقبَلَ الله مِنهُ صَلاتهُ بِقوْلِهِ (تقبَّلَ الله) لاَ يَخفى مَا فِيْهِمَا مِنْ خَيْرٍ كَبِيْرٍ وَزِيَادَةِ تَعَارُفٍ وَتألُفٍ وَسَبَب لِرِبَطِ القلوْبِ وَاِظهَار للْوَحْدَةِ وَالترَابُطِ بَيْنَ اْلمُسْلِمِينْ.

Artinya : Sesungguhnya mushafahah setelah shalat dan mendo’akan saudara muslim supaya shalatnya diterima oleh Allah, dengan ungkapan (semoga Allah menerima shalat anda), adalah di dalamnya terdapat kebaikan yang besar dan menambah kedekatan (antar sesama) dan menjadi sabab eratnya hati dan menampakkan kesatuan antar sesama umat Islam.]

(Disarikan dari buku Tradisi Amaliah NU dan Dalil-Dalilnya, LTM-PBNU)

والله أعلم بالصواب

Kategori
Uncategorized

S059. HUKUM SHOLAT MEMAKAI BARANG GHASAB (BARANG CURIAN)

PERTANYAAN :

Assalamualaikum Ustadz..

Deskripsi masalah:
Termasuk dari rukun iman yang ke enam adalah percaya pada qodlo’ dan qodar Allah (baik dan buruknya ketentuan itu adalah dari Allah).Ada salah seorang yang nakal kadang kala ia mencuri, dari hasil curiannya sebagian ia belikan baju dan sarung, pada suatu saat dengan hidayah Allah ia sadar lalu ia tobat dan melakukan shalat namun pakaian dan sarung yang ia pakai masih hasil dari uang haram/curian.

Pertanyaannya :

1-Shahkah shalat seseorang dengan pakaian atau sarung dengan hasil uang haram/curian atupun ghasab.?

2-Apakah shalatnya diterima sementara pakaian/sarung yang ia pakai masih diperoleh dari uang haram(curian)..?
Mohon jawaban..

JAWABAN :

Waalaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh..

1. Menurut pendapat ulama Hanafi, shalat dengan menggunakan pakaian yang haram (hasil curian,korupsi) itu tetap sah, tetapi menggunakan pakaian itu dihukumi makruh tahrim. Sebab, menggunakan pakaian yang tidak boleh dipakai sama halnya memakai sutra bagi laki-laki, dan orang tersebut juga berdosa seperti hukum shalat di atas tanah ghashab (rampasan) tanpa ada alasan yang dibenarkan oleh syara’.

Sedangkan menurut pendapat ulama Hambali, tidak sah shalat dengan menggunakan benda yang haram, seperti memakai pakaian yang dibuat dari sutra, atau shalat di atas tanah ghashab sekalipun yang di-ghashab hanya faedahnya atau sebagian darinya saja. Atau, shalat menggunakan pakaian yang dibeli dengan uang haram, ataupun shalat dengan menggunakan cincin emas. Ini semua jika ia mengetahui tentang keharaman memakai pakaian itu dan tidak dalam keadaan lupa. Pendapat ini berdasarkan apa yang diriwayatkan oleh imam Amad dari Ibnu Umar, “Siapa yang membeli pakaian dengan harga sepuluh dirham, sedangkan satu dirham darinya adalah uang haram, niscaya Allah ta’ala tidak menerima shalatnya selama pakain itu dipakainya.” Kemudian Ibnu Umar memasukkan dua jarinya ke dalam dua lubang telinganya dan berkata, “ Tulilah kedua telinga ini jika Nabi Muhammad tidak berkata yang demikian.”

Juga, berdasarkan hadits riwayat Aisyah radhiyallahu ‘anha, “Barangsiapa melakukan suatu pekerjaan yang tidak kami perintahkan, maka ia ditolak.”

Jika seorang tidak mengetahui atau lupa bahwa pakaian yang ia pakai adalah terbuat dari sutra atau hasil ghashab, atau dikurung di tempat hasil ghashab atau tempat bernajis, maka shalat dalam keadaan tersebut dianggap sah, karena itu tidak termasuk berdosa.[1]

[1] Fiqh al Islami wa Adillatuhu (1/635 ), Al Mughni (1/587).

(الفقه الاءسلامي وادلته,جز ١,صحيفۃ ٣٩٥)
,الصلاۃ في الاءرض المغصوبۃ حرام بالاءجماع,لاءن اللبث فيها يحرم في غير الصلاۃ,فلاءن يحرم في الصلاۃ اولی,وهل تصح الصلاۃ في المكان المغصوب؟
قال الجمهور غير الحنابلۃ:الصلاۃ صحيحۃ,لاءن النهي لايعود الی الصلاۃ,فلم يمنع صحتها,كما لو صلی وهو يری غريقا يمكنه انقاذه,فلم ينقذه,او حريقا يقدر علی اطفاءه فلم يطفءه,او مطل غريمه الذي يمكن ايفاءه وصلی,ويسقط بها الفرض مع الاءثم,ويحصل بها الثواب,فيكون مثابا علی فعله,عاصيا بمقامه,واثمه اذن للمكث في مكان مغصوب.
وقال الحنابلۃ في الاءرجح عندهم:لا تصح الصلاۃ في الموضع المغصوب,ولو كان جزءا مشاعا,او في ادعاءه الملكيۃ,او في المنفعۃ المغصوبۃ من ارض او حيوان او بادعاء اجارتها ظالما,او وضع يده عليها بدون حق.لاءنها عبادۃ اتي بها علی الوجه المنهي عنه,فلم تصح,كصلاۃ الحاءض وصومها,وذلك لاءن النهي يقتضي تحريم الفعل واجتنابه والتاءثيم بغعله,فكيف يكون مطيعا بما هو عاص به,ممتثلا بما هو محرم عليه,متقربا بما يبعد به؟فاءن حركاته ۃسكناته من القيام والركوع والسجود افعال اختيایيۃ,هو عاص بها منهي عنها.ويختلف الاءمر عن انقاذ الغربق واطفاء الحريق,لاءن افعال الصلاۃ في نفسها منهي عنها.

2. Shalat menggunakan pakaian hasil ghosob sah namun tidak diterima karena Allah tidak menerima amal kecuali yang thoyyib , namun walaupun begitu secara aqliy Allah berhak menerima dan memberi pahala sebagai fadlol/anugerah kepada hambanya.

Syarah arba’in NAwawi Ibnu Daqiq al-‘Id :

عن أبي هريرة رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: “إن الله تعالى طيب 1 لا يقبل إلا طيباً، وإن الله أمر المؤمنين بما أمر به المرسلين، فقال تعالى: {يَا أَيُّهَا الرُّسُلُ كُلُوا مِنَ الطَّيِّبَاتِ} . فقال تعالى: {يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ} . ثم ذكر: “الرجل يطيل السفر أشعث أغبر يمد يديه إلى السماء: يا رب يا رب ومطعمه حرام وملبسه حرام وغذي بالحرام فأنى يستجاب له” رواه مسلم.
وهذا الحديث أحد الأحاديث التي عليها قواعد الإسلام ومباني الأحكام، وفيه الحث على الإنفاق من الحلال والنهى عن الإنفاق من غيره وأن المأكول والمشروب والملبوس ونحوها ينبغي أن يكون حلالاً خالصاً لا شبهة فيه وأن من أراد الدعاء كان أولى بالاعتناء بذلك من غيره، وفيه أن العبد إذا أنفق نفقة طيبة فهي التي تزكو وتنمو وأن الطعام اللذيذ غير المباح يكون وبالاً على آكله ولا يقبل الله عمله. 1 قيل: “الطيب” في صفات الله بمعنى المنزه عن النقائص.

وقوله: ثم ذكر “الرجل يطيل السفر أشعث أغبر” إلى آخره: معناه – والله أعلم – يطيل السفر في وجوه الطاعات: الحج وجهاد وغير ذلك من وجوه البر ومع هذا فلا يستجاب له لكون مطعمه ومشربه وملبسه حراماً فكيف هو بمن هو منهمك في الدنيا أو في مظالم العباد أو من الغافلين عن أنواع العبادات والخير.وقوله: “يمد يديه” أي يرفعهما بالدعاء لله مع مخالفته وعصيانه، قوله: “وغُذي بالحرام” هو بضم الغين المعجمة وتخفيف الذال المكسورة. وقوله: “فأنى يستجاب له؟ ” وفي رواية: “فأنى يستجاب لذلك؟ ” يعني من أين يستجاب لمن هذه صفته، فإنه ليس أهلاً للإجابة، لكن يجوز أن يستجيب الله تعالى له تفضلا ولطفاً وكرماً والله أعلم.

Dalam ibarah yang lain dijelaskan bahwa melalsanakan dengan pakaian yang haram(ghasab) huknya sah namun tidak mendapatkan pahala.

Referensi:

إعانة الطالبين الجزء الأول.ص ٢٢٧
وفى الأرض المغصوبة بل تصح الصلاة بلاثواب،كمافى ثوب مغصوب.

“Dan shalat ditanah ghasaban shalatnya sah dengan tidak berpahala, seperti halanya shalat dengan pakaian hasil curian(ghasab).
Selanjudnya,shalatnya orang dengan memakai pakaian hasil curian atau barang haram maka tidak diterima.

Refensi:

إسعاد الرفيق الجزء الأول ص ٨٧
قال صلى الله عليه وسلم ” من اشترى ثوبا بعشرة دراهم فيه درهم حرام لم يقبل الله منه صلاة مادام عليه.

“Rasulullah saw.bersabda:” Barang siapa mbeli baju seharga sepuluh dirham, satu dirham diantaranya adalah uang haram,maka Allah tidak akan menerima shalatnya selama ia memakai pakaian tersebut.

Shalat dengan pakaian ghasab hukumnya harom, dan shalatnya tetap sah tapi tidak berpahala. :

وتحرم الصلاة لقبر نبي أو نحو ولي تبركا أو إعظاما_وفي أرض مغصوبة وتصح بلا ثواب كما في ثوب مغصوب أى فإنها تحرم فيه مع صحتها بلا ثواب. إعانة الطالبين ١/١٩٥

النهي إن عاد إلى الذات أو شرط الصحة دل على الفساد وإن عاد إلى أمر خارج فلا أن يكون النهي عائدًا إلى أمر خارج عن الذات والشرط فإنه لا يدل على فساد المنهي عنه وإنما يدل على نقصان الأجر لكن الفعل صحيح

Larangan, apabila menyangkut obyek/dzat kasus atau syarat sahnya maka berkonsekwensi pada keTIDAK SAHannya. apabila larangan menyangkut hal di luar itu maka tidak mengganggu keabsahannya, hanya saja mengurangi nilai pahala. [ talqihul ifham al’aliyyah 1/37 ].

Masalah haramnya shalat memakai barang ghoshob ulama’ sepakat. Dan sah atau tidak sholatnya ulama’ khilaf. Dan al jumhur menyataKan sah.

المجموع شرح المهذب juz 3/169 :
( الشرح ) الصلاة في الأرض المغصوبة حرام بالإجماع ، وصحيحة عندنا وعند الجمهور من الفقهاء وأصحاب الأصول . وقال أحمد بن حنبل والجبائي وغيره من المعتزلة : باطلة ، واستدل عليهم الأصوليون بإجماع من قبلهم . قال الغزالي في المستصفى : هذه المسألة قطعية ليست اجتهادية ، والمصيب فيها واحد ; لأن من صحح الصلاة أخذه من الإجماع وهو قطعي ومن أبطلها أخذه من التضاد الذي بين القربة والمعصية ، ويدعي كون ذلك محالا بالعقل ، فالمسألة قطعية ، ومن صححها يقول هو عاص من وجه متقرب من وجه ، ولا استحالة في ذلك ، إنما الاستحالة في أن يكون متقربا من الوجه الذي هو عاص به وقال القاضي أبو بكر الباقلاني يسقط الفرض عند هذه لا بها ، بدليل الإجماع على سقوط الفرض إذا صلى ، واختلف أصحابنا هل في هذه الصلاة ثواب أم لا ؟ ففي الفتاوى التي نقلها القاضي أبو منصور أحمد بن محمد بن محمد بن عبد الواحد عن عمه أبي نصر بن الصباغ صاحب الشامل رحمه الله قال : ” المحفوظ من كلام أصحابنا بالعراق أن الصلاة في الدار المغصوبة صحيحة يسقط بها الفرض ولا ثواب فيها ” . قال القاضي أبو منصور : ورأيت أصحابنا بخراسان اختلفوا ، منهم من قال : لا تصح صلاته قال : وذكر شيخنا يعني ابن الصباغ في كتابه الكامل : إنا إذا قلنا بصحة الصلاة ينبغي أن يحصل الثواب ، فيكون مثابا على فعله عاصيا بمقامه . قال القاضي وهذا c5هو القياس إذا صححناها.

Wallahu a’lamu bisshowab..

Kategori
Uncategorized

HADITS KE 223 : SUROH AL-FATIHAH MERUPAKAN SALAH SATU RUKUN SHOLAT

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

BAB TATACARA PELAKSANAAN SHOLAT

HADITS KE 223 :

وَعَنْ عُبَادَةَ بْنِ اَلصَّامِتِ رضي الله عنه قَالَ : قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم ( لَا صَلَاةَ لِمَنْ لَمْ يَقْرَأْ بِأُمِّ اَلْقُرْآنِ ) مُتَّفَقٌ عَلَيْه

وَفِي رِوَايَةٍ لِابْنِ حِبَّانَ وَاَلدَّارَقُطْنِيِّ : ( لَا تَجْزِي صَلَاةٌ لَا يُقْرَأُ فِيهَا بِفَاتِحَةِ اَلْكِتَابِ )

وَفِي أُخْرَى لِأَحْمَدَ وَأَبِي دَاوُدَ وَاَلتِّرْمِذِيِّ وَابْنِ حِبَّانَ : ( لَعَلَّكُمْ تَقْرَءُونَ خَلْفَ إِمَامِكُمْ ? ” قُلْنَا : نِعْمَ . قَالَ : “لَا تَفْعَلُوا إِلَّا بِفَاتِحَةِ اَلْكِتَابِ فَإِنَّهُ لَا صَلَاةِ لِمَنْ لَمْ يَقْرَأْ بِهَا )

Dari Ubadah Ibnu al-Shomit bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Tidak sah sholat bagi orang yang tidak membaca Ummul Qur’an (al-fatihah).” Muttafaq Alaihi.

Dalam suatu riwayat Ibnu Hibban dan Daruquthni: “Tidak sah sholat yang tidak dibacakan al-fatihah di dalamnya.”

Dalam hadits lain riwayat Ahmad Abu Dawud Tirmidzi dan Ibnu Hibban: “Barangkali engkau semua membaca di belakang imammu?” Kami menjawab: Ya. Beliau bersabda: “Jangan engkau lakukan kecuali membaca al-fatihah karena sungguh tidak sah sholat seseorang tanpa membacanya.”

MAKNA HADITS :

Membaca Surah al-Fatihah di dalam sholat, baik dalam sholat sirriyah ataupun sholat jahriyyah, sholat fardu mahupun sholat sunat, merupakan salah satu rukun sholat sebagaimana yang telah ditegaskan oleh beberapa hadis yang jumlah teramat banyak. Inilah pendapat Imam Malik, Imam al-Syafi’i dan Imam Ahmad berkenaan dengan sholat seseorang yang bersendirian dan bagi imam. Ini ditegaskan hadis yang diriwayatkan oleh Ibn Hibban dan al-Daruquthni yang menunjukkan ketiadaan sholat, kerana sholat yang sudah dinafikan kesahihannya tidak termasuk
sholat yang disyariatkan. Disamping itu, Nabi (s.a.w) ketika mengetahui Khallad ibn Rafi’ yang melakukan sholat tidak sempurna, baginda segera menyuruhnya membaca Ummu al-Kitab dan bersabda kepadanya: “Kemudian lakukanlah hal yang serupa dalam semua sholatmu itu.” Nabi (s.a.w) membaca Surah al-Fatihah dalam setiap rakaat dan baginda bersabda:

صلوا كما رأيتموني أصلي

“Sholatlah kamu sebagaimana kamu melihat aku sholat!”

Nabi (s.a.w) melarang makmum membaca selain Fatihah al-Kitab. Ini merupakan ikatan yang mentakhsis makna umum yang terdapat di dalam perintah supaya berdiam bagi makmum.

FIQH HADITS :

Wajib membaca Surah al-Fatihah. Surah al-Fatihah merupakan salah satu rukun sholat. Demikian menurut pendapat jumhur ulama, sedangkan Imam Abu Hanifah mengatakan bahwa Surah al-Fatihah tidak termasuk salah satu rukun sholat, sebaliknya rukun berkaitan bacaan disini ialah membaca al-Qur’an secara mutlak dan ini sudah mencukupi.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

Kategori
Uncategorized

HADITS KE 222 : POSISI TANGAN DALAM SHOLAT

kajian hadist ikaba 20180309_021614751599031..jpg

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

BAB TATACARA PELAKSANAAN SHOLAT

HADITS KE 222 :

وَعَنْ وَائِلِ بْنِ حُجْرٍ رضي الله عنه قَالَ : ( صَلَّيْتُ مَعَ اَلنَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم فَوَضَعَ يَدَهُ اَلْيُمْنَى عَلَى يَدِهِ اَلْيُسْرَى عَلَى صَدْرِهِ ) أَخْرَجَهُ اِبْنُ خُزَيْمَةَ

Wail Ibnu Hujr berkata: Aku pernah sholat bersama Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam beliau meletakkan tangannya yang kanan di atas tangannya yang kiri pada dadanya. Dikeluarkan oleh Ibnu Khuzaimah.

MAKNA HADITS :

Meletakkan tangan kanan di atas tangan kiri dalam sholat telah ditetapkan oleh banyak hadis sahih, tetapi atsar dan riwayat saling berselisih antara satu sama lain berkaitan tempat meletakkan keduanya itu. Ada yang mengatakan mesti diletakkan di atas pusat, ada yang mengatakan di bawah pusar dan ada pula yang mengatakan di atas dada. Pembahasan masalah ini luas. Hikmah berbuat demikian adalah cara ini mampu menyelamatkan seseorang yang sholat dari melakukan perbuatan sia-sia sekaligus bisa membantunya untuk meningkatkan khusyuk karena cara ini merupakan keadaan orang yang meminta-minta dengan penuh rasa rendah diri di hadapan Allah.

FIQH HADITS :

1. Disyariatkan meletakkan tangan kanan di atas tangan kiri pada dada ketika berdiri dalam sholat. Inilah pendapat jumhur ulama. Sedangkan menurut Imam Malik, disyariatkan melepaskan kedua tangan berjuntai ke bawah. Ini merupakan pendapat masyhur di kalangan Mazhab Maliki dari Ibn al-Qasim.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

Kategori
Uncategorized

M077. HUKUM JUAL BELI PROYEK DALAM ISLAM

PERTANYAAN :

Assalamualaikum Ustadz

Deskripsi Masalah :
Fee atau uang komisi adalah sejumlah uang yang diterima pihak tertentu (seringkali oknum DPR) setiap kali ada proyek pemerintah, baik melalui anggaran APBN maupun APBD. Fee yang diterima pun bervariasi, tergantung besar kecilnya proyek, mulai dari 5% hingga 20% bahkan ada yang lebih dari 40%. Para pemburu uang komisi ini hari demi hari semakin pandai mencari pembenaran. Salah satunya memasukkan fee ke dalam akad jual beli proyek.

Misalnya si Rafiuddin (nama samaran) adalah seorang anggota dewan yang sedang mendapatkan jatah 2 proyek pembangunan jembatan didaerahnya dengan nilai anggaran 100.000.000,- (seratus juta). Selanjutnya dia “menjual” 2 proyek tersebut kepada 2 tokoh masyarakat didaerahnya;
Kepada Bpk. Kamil dengan harga 30 juta kemudian Bpk. Kamil mengerjakan proyek tersebut dengan menghabiskan biaya 40 juta sehingga Bpk. Kamil mendapatkan sisa anggaran proyek tersebut 60 juta, dipotong setoran fee ( pembelian proyek). Kepada Bpk. Rahmat dengan harga 30 juta kemudian Bpl. Tahmat mengerjakan proyek tersebut dengan menghabiskan biaya 70 juta, karena 30 jutanya diberikan untuk membayar fee.

Disisi lain jika tidak membayar fee maka tidak mendapatkan proyek tersebut, padahal sangat dibutuhkan. Bisa dialihkan ke instansi lain yang lebih loyal bahkan diambil alih oleh pihak-pihak yang tujuan bukan maslahah ummat islam.

Dari masalah diatas tentu masalah komisi proyek dan fee yang berlebihan akan membebani perusahaan yang mengerjakan setiap pekerjaan yang pada akhirnya hasil pekerjaan atau output dari pekerjaan tidak sesuai dengan aspek yang sudah di sepakati. Yang di rugikan tentu saja pemerintah dan masyarakat umum secara langsung.

Bagaimana fiqih menyikapi praktek sebagaimana dalam deskripsi di atas?

JAWABAN :

Waalaikumussalaam Warohmatulloohi Wabarokaatuh

Hukumnya haram karena ada risywah, merugikan sepihak dan berdampak pada rendahnya kwalitas pembangunan.

Dalam Undang-Undang, Anggota DPR tidak berhak untuk mendapatkan proyek kecuali yang berupa Jasmas (Jaring Aspirasi Masyarakat). Dalam Undang-Undang pula, orang yang berhak mendapatkan proyek dan sudah mendapatkan proyek tidak boleh menjual kepada pihak lain. Oleh karena itu, secara syar’i penjualan proyek itu tidak boleh bukan hanya karena melanggar Undang Undang, tetapi juga karena penjualan proyek dapat berdampak kepada rendahnya kualitas pembangunan.

Referensi :

Faidul Qadir, juz. IV, h. 57.
Al-Hāwiy al-Kabīr, juz. 15, h. 563
Nihāyah al-Muhtāj, juz. 28, h. 138

فيض القدير (4/ 57)
(الراشي والمرتشي) أي آخذ الرشوة ومعطيها (في النار) قال الخطابي : إنما تلحقهم العقوبة إذا استويا في القصد فرشي المعطي لينال باطلا فلو أعطى ليتوصل به لحق أو دفع باطل فلا حرج وقال ابن القيم : الفرق بين الرشوة والهدية أن الراشي يقصد بها التوصل إلى إبطال حق أو تحقيق باطل وهو الملعون في الخبر فإن رشى لدفع ظلم اختص المرتشي وحده باللعنة والمهدي يقصد استجلاب المودة ومن كلامهم البراطيل تنصر الأباطيل.
ا

الحاوى الكبير ـ الماوردى (16/ 563)
وَأَمَّا هَدَايَا دَارُ الْإِسْلَامِ فَتُقَسَّمُ عَلَى ثَلَاثَةِ أَقْسَامٍ : أَحَدُهَا : أَنْ يُهْدِيَ إِلَيْهِ مَنْ يَسْتَعِينُ بِهِ إِمَّا عَلَى حَقٍّ يَسْتَوْفِيهِ ، وَإِمَّا عَلَى ظُلْمٍ يَدْفَعُهُ عَنْهُ ، وَإِمَّا عَلَى بَاطِلٍ يُعِينُهُ عَلَيْهِ ، فَهَذِهِ هِيَ الرِّشْوَةُ الْمُحَرَّمَةُ. رَوَى أَنَسُ بْنُ مَالِكٍ أَنَّ النَّبِيَّ {صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ} قَالَ : ” لُعِنَ الرَّاشِي وَالْمُرْتَشِي وَالرَّائِشُ ” فَالرَّاشِي : بَاذِلُ الرِّشْوَةِ ، وَالْمُرْتَشِي : قَابِلُ الرِّشْوَةِ ، وَالرَّائِشُ : الْمُتَوَسِّطُ بَيْنَهُمَا. وَلِأَنَّ الْهَدِيَّةَ إِنْ كَانَتْ عَلَى حَقٍّ يَقُومُ بِهِ فَهُوَ مِنْ لَوَازِمِ نَظَرِهِ وَلَا يَجُوزُ لِمَنْ لَزِمَهُ الْقِيَامُ بِحَقٍّ أَنْ يَسْتَعْجِلَ عَلَيْهِ كَمَا لَا يَجُوزُ أَنْ يَسْتَعْجِلَ عَلَى صَلَاتِهِ وَصِيَامِهِ. وَإِنْ كَانَ عَلَى بَاطِلٍ يُعِينُ عَلَيْهِ ، كَانَ الِاسْتِعْجَالُ أَعْظَمُ تَحْرِيمًا ، وَأَغْلَظُ مَأْثَمًا.

نهاية المحتاج إلى شرح المنهاج (28/ 137)

( فَإِنْ أَهْدَى إلَيْهِ ) أَوْ وَهَبَهُ أَوْ ضَيَّفَهُ أَوْ تَصَدَّقَ عَلَيْهِ فَرْضًا أَوْ نَفْلًا ( مَنْ لَهُ خُصُومَةٌ ) أَوْ مَنْ غَلَبَ عَلَى ظَنِّهِ بِأَنَّهُ سَيُخَاصِمُ وَلَوْ بَعْضًا لَهُ فِيمَا يَظْهَرُ لِئَلَّا يَمْتَنِعَ مِنْ الْحُكْمِ عَلَيْهِ أَوْ كَانَ يُهْدِي إلَيْهِ قَبْلَ الْوِلَايَةِ ( أَوْ ) مَنْ لَا خُصُومَةَ لَهُ وَ ( لَمْ يُهْدِ ) إلَيْهِ شَيْئًا ( قَبْلَ وِلَايَتِهِ ) أَوْ لَهُ عَادَةٌ بِالْإِهْدَاءِ لَهُ وَزَادَ عَلَيْهَا قَدْرًا يُحَالُ عَلَى الْوِلَايَةِ غَيْرَ مُتَمَيِّزٍ أَوْ صِفَةً فِي مَحَلِّ وِلَايَتِهِ ( حَرُمَ ) عَلَيْهِ ( قَبُولُهَا ) وَلَا يَمْلِكُهَا لِأَنَّهَا تُوجِبُ الْمَيْلَ إلَيْهِ فِي الْأُولَى وَيُحَالُ سَبَبُهَا عَلَى الْوِلَايَةِ فِي الثَّانِيَةِ ، وَقَدْ وَرَدَ فِي الْأَخْبَارِ الصَّحِيحَةِ { هَدَايَا الْعُمَّالِ سُحْتٌ } وَإِنَّمَا حَلَّتْ لَهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْهَدَايَا لِعِصْمَتِهِ ، وَفِي الْخَبَرِ أَنَّهُ أَحَلَّهَا لِمُعَاذٍ ، فَإِنْ صَحَّ فَهُوَ مِنْ خُصُوصِيَّاتِهِ أَيْضًا ، وَسَوَاءٌ كَانَ الْمُهْدِي مِنْ أَهْلِ عَمَلِهِ أَوْ مِنْ غَيْرِهِ وَقَدْ حَمَلَهَا إلَيْهِ لِأَنَّهُ صَارَ فِي عَمَلِهِ ، فَلَوْ جَهَّزَهَا لَهُ مَعَ رَسُولٍ وَلَا خُصُومَةَ لَهُ فَفِيهِ وَجْهَانِ أَوْجَهُهُمَا الْحُرْمَةُ ، وَلَا يَحْرُمُ عَلَيْهِ قَبُولُهَا فِي غَيْرِ عَمَلِهِ وَإِنْ كَانَ الْمُهْدِي مِنْ أَهْلِ عَمَلِهِ مَا لَمْ يَسْتَشْعِرْ بِأَنَّهَا مُقَدَّمَةٌ لِخُصُومَةٍ ، وَمَتَى بُذِلَ لَهُ مَالٌ لِيَحْكُمَ بِغَيْرِ الْحَقِّ أَوْ امْتَنَعَ مِنْ حُكْمٍ بِحَقٍّ فَهُوَ الرِّشْوَةُ الْمُحَرَّمَةُ بِالْإِجْمَاعِ ، وَمِثْلُهُ مَا لَوْ امْتَنَعَ مِنْ الْحُكْمِ بِالْحَقِّ إلَّا بِمَالٍ لَكِنَّهُ أَقَلُّ إثْمًا ، { وَقَدْ لَعَنْ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الرَّاشِيَ وَالْمُرْتَشِيَ فِي الْحُكْمِ } وَفِي رِوَايَةٍ : { وَالرَّائِشَ ، وَهُوَ الْمَاشِي بَيْنَهُمَا }. وَمَحَلُّهُ فِي رَاشٍ لِبَاطِلٍ .

Wallahu a’lamu bisshowab..

Kategori
Uncategorized

HADITS KE 221 : RINCIAN MENGANGKAT KEDUA TANGAN DALAM SHOLAT

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

BAB TATACARA PELAKSANAAN SHOLAT

HADITS KE 221 :

وَعَنْ اِبْنِ عُمَرَ -رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا- ( أَنَّ اَلنَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم كَانَ يَرْفَعُ يَدَيْهِ حَذْوَ مَنْكِبَيْهِ إِذَا اِفْتَتَحَ اَلصَّلَاةَ وَإِذَا كَبَّرَ لِلرُّكُوعِ وَإِذَا رَفَعَ رَأْسَهُ مِنْ اَلرُّكُوعِ ) مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

وَفِي حَدِيثِ أَبِي حُمَيْدٍ عِنْدَ أَبِي دَاوُدَ : ( يَرْفَعُ يَدَيْهِ حَتَّى يُحَاذِيَ بِهِمَا مَنْكِبَيْهِ ثُمَّ يُكَبِّرَ )

وَلِمُسْلِمٍ عَنْ مَالِكِ بْنِ الْحُوَيْرِثِ رضي الله عنه نَحْوُ حَدِيثِ اِبْنِ عُمَرَ وَلَكِنْ قَالَ : ( حَتَّى يُحَاذِيَ بِهِمَا فُرُوعَ أُذُنَيْهِ )

Dari Ibnu Umar Radliyallaahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam mengangkat kedua tangannya lurus dengan kedua bahunya ketika beliau memulai shalat ketika bertakbir untuk ruku’ dan ketika mengangkat kepalanya dari ruku’. Muttafaq Alaihi.

Dalam hadits Abu Humaid menurut riwayat Abu Dawud: Beliau mengangkat kedua tangannya sampai lurus dengan kedua bahunya kemudian beliau bertakbir.

Dalam riwayat Muslim dari Malik Ibnu al-Huwairits ada hadits serupa dengan hadits Ibnu Umar tetapi dia berkata: sampai lurus dengan ujung-ujung kedua telinganya.

MAKNA HADITS :

Mengangkat kedua tangan ketika takbiratul ihram di dalam sholat adalah disyariatkan berdasarkan ijmak ulama. Akan tetapi dilarang dilakukan ketika mengucapkan salam, sedangkan apabila dilakukan ketika berpindah untuk rukuk dan mengangkat kepala dari rukuk, serta ketika berdiri dari tasyahhud pertama untuk rakaat yang ketiga masih diperselisihkan. Hadis yang menceritakan hal tersebut cukup banyak. Pendapat inilah yang dianut oleh Imam al-Syafi’i dan Imam Ahmad, dan ini merupakan salah satu dari riwayat Imam Malik. Ulama Kufah tidak menganut pendapat ini dan ini merupakan pendapat masyhur di kalangan mazhab Imam Malik.

FIQH HADITS :

1. Disyariatkan mengangkat kedua tangan ketika melakukan takbiratul ihram, rukuk, mengangkat kepala dari rukuk dan berdiri dari tasyahhud pertama sebagaimana yang telah ditetapkan oleh hadis Ibn Umar menurut riwayat al-Bukhari disertai dengan tambahan yang disebutkan pada riwayat yang lain yaitu bacaan: “سمع الله لمن حمده“ ketika mengangkat kepala dari rukuk. Imam Malik, Imam al-Syafi’i dan Imam Ahmad berkata: “Batasan mengangkat kedua tangan adalah sejajar dengan kedua bahu.” Sedangkan Imam Abu Hanifah berkata: “Batasan mengangkat kedua tangan sampai sejajar dengan kedua telinga.”

2. Menjauhkan kedua siku dari kedua sisi lambung ketika sedang sujud.

3. Disyariatkan meratakan kepala dengan tulang belakang ketika melakukan rukuk.

4. Disunatkan duduk di antara dua sujud dengan cara duduk iftirasy dan duduk dalam tasyahhud akhir dengan cara duduk tawarruk. Apa yang disunatkan ialah cara duduk, bukan duduknya itu sendiri, karena perbuatan duduk itu sendiri merupakan rukun sholat.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

Kategori
Uncategorized

M076. HUKUM PENGOBATAN LAIN JENIS

PERTANYAAN :

Assalamualaikum Ustadz

Bagaimana hukumnya dokter yang memeriksa pasien lawan jenis.

JAWABAN :

Waalaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh..

Dalam pandangan literasi fikih diperbolehkan untuk menangani/memeriksa pasien wanita dengan memenuhi syarat sebagai berikut:

1. Pemeriksaan dilakukan menghadirkan mahram baik suami, paman atau orang yang terpercaya (tsiqqoh).

2. Melihat anggota tubuh sesuai kebutuhan dalam pemeriksaan (tidak melihat anggota tubuh yang tidak dibutuhkan)
3. Tidak ada dokter ahli lain yang sejenis

4. Aman dari fitnah.

Berikut Ibaratnya dalam kitab Fatawa al Azhar juz 10 halaman 57:

فتاوى الأزهر (10/ 57
هل يجوز أن يتولى علاج المرأة وتوليدها رجل أجنبى؟
من القواعد الفقهية أن الضرورات تبيح المحظورات ، ومعلوم أن المرأة لا يجوز لها أن تكشف عن شىء من جسمها لرجل أجنبى-فيما عدا الوجه والكفين على تفصيل فى ذلك – وبالتالى لا يجوز اللمس بدون حائل ، أما عند الضرورة المصورة بعدم وجود زوج أو محرم أو امرأة مسلمة تقوم بذلك فلا مانع من النظر واللمس ، مع مراعاة القاعدة الفقهية الأخرى وهى: أن الضرورة تقدر بقدرها.
ولهذا الاستثناء احتياطات وآداب نورد فيها بعض ما قاله العلماء .

جاء فى كتاب “الإقناع فى شرح متن أبى شجاع” للشيخ الخطيب فى فقه الشافعية “ج 2 ص 120” أن النظر للمداواة يجوز إلى المواضع التى يحتاج إليها فقط ، لأن فى التحريم حينئذ حرجا ، فللرجل مداواه المرأة وعكسه ، وليكن ذلك بحضرة محرم أو زوج أو امرأة ثقة إن جوزنا خلوة أجنبى بامرأتين وهو الراجح ، ويشترط عدم امرأة يمكنها تعاطى ذلك من امرأة ، وعكسه كما صححه كما فى زيادة “الروضة” وألا يكون ذميًا مع وجود مسلم ، وقياسه -كما قال الأذرعى- ألا تكون كافرة أجنبية مع وجود مسلمة على الأصح ، ولو لم نجد لعلاج المرأة إلا كافرة ومسلما فالظاهر أن الكافرة تقدم ، لأن نظرها ومسها أخف من الرجل ، بل الأشبه عند الشيخين أنها تنظر منها ما يبدو عند المهنة، بخلاف الرجل. وقيد -فى الكافى- الطبيب بالأمين ، فلا يعدل إلى غيره مع وجوده ، ثم قال :
وشرط الماوردى أن يأمن الافتتان ولا يكشف إلا قدر الحاجة ، وفى معنى ما ذكر نظر الخاتن إلى فرج من يختنه ، ونظر القابلة إلى فرج التى تولدها . ويعتبر فى النظر إلى الوجه والكفين مطلق الحاجة، وفى غيرهما -ما عدا السوأتين- تأكدها ، بأن يكون مما يبيح التيمم كشدة الضنا ، وفى السوأتين مزيد تأكدها ، بألا يعد التكشف بسببها هتكا للمروءة

Apakah seorang lelaki ajnabi boleh melakukan pengobatan terhadap perempuan dan proses melahirkan (persalinan)?

Adapun jawaban sebagai berikut:
Dari sebagian kaidah-kaidah fikih yaitu kaidah bahwa darurat bisa memperbolehkan pekara-perkara yang dilarang. Telah diketahui bahwa seorang perempuan tidak boleh baginya membuka bagian dari tubuhnya dari lelaki ajnabi kecuali wajah dan kedua telapak tangan dengan perincian pada hukum tersebut. Selain itu juga tidak boleh bagi lelaki ajnabi menyentuh tanpa adanya penghalang.

Adapun ketika dalam keadaan darurat yang digambarkan dengan tidak adanya suami atau laki-laki mahram atau wanita muslimah yang melakukannya (dalam artian pengobatan), maka tidak ada penghalang untuk melihat dan menyentuh dengan menjaga kaidah bahwa darurat itu dikira-kirakan sesuai kadarnya.

Sebaiknya dalam pengobatan itu menghadirkan mahram, suami atau wanita yang terpercaya, ketika kita mengikuti pendapat ulama’ yang memperbolehkan khalwat seorang lelaki dengan dua orang perempuan. Selain itu, disyaratkan pula, pada keadaan itu tidak ada dokter perempuan yang ahli atau sebaliknya. Ada keterangan tambahan dalam kitab ar Raudhoh, bahwa dokternya bukan termasuk golongan dzimmi selama ada seorang muslim, dan persyaratan yang lainnya.

Dalam kitab fatawa al Azhar tersebut berdasarkan keterangan di kitab Iqna’ Syarh Matan Abi Syuja’ juz 2 halaman 120 karya Syaikh Khatib, yaitu memperbolehkan melihat anggota badan perempuan sesuai kebutuhan saja dalam konteks pengobatan baik itu lelaki kepada perempuan atau sebaliknya, karena ketika keadaan tersebut diharamkan akan menyebabkan akibat yang lebih luas.

تحفة المحتاج في شرح المنهاج 29/ 262
( وَيُبَاحَانِ ) أَيْ النَّظَرُ وَالْمَسُّ ( لِفَصْدٍ وَحِجَامَةٍ وَعِلَاجٍ ) لِلْحَاجَةِ لَكِنْ بِحَضْرَةِ مَانِعِ خَلْوَةٍ كَمَحْرَمٍ ، أَوْ زَوْجٍ أَوْ امْرَأَةٍ ثِقَةٍ لِحِلِّ خَلْوَةِ رَجُلٍ بِامْرَأَتَيْنِ ثِقَتَيْنِ يَحْتَشِمُهُمَا وَلَيْسَ الْأَمْرَدَانِ كَالْمَرْأَتَيْنِ خِلَافًا لِمَنْ بَحَثَهُ ؛ لِأَنَّ مَا عَلَّلُوا بِهِ فِيهِمَا مِنْ اسْتِحْيَاءِ كُلٍّ بِحَضْرَةِ الْأُخْرَى لَا يَأْتِي فِي الْأَمْرَدَيْنِ كَمَا صَرَّحُوا بِهِ فِي الرَّجُلَيْنِ وَبِشَرْطِ عَدَمِ امْرَأَةٍ تُحْسِنُ ذَلِكَ كَعَكْسِهِ ، وَأَنْ لَا يَكُونَ غَيْرَ أَمِينٍ مَعَ وُجُودِ أَمِينٍ وَلَا ذِمِّيًّا مَعَ وُجُودِ مُسْلِمٍ ، أَوْ ذِمِّيَّةٍ مَعَ وُجُودِ مُسْلِمَةٍ وَبَحَثَ الْبُلْقِينِيُّ أَنَّهُ يُقَدَّمُ فِي الْمَرْأَةِ مُسْلِمَةٌ فَصَبِيٌّ مُسْلِمٌ غَيْرُ مُرَاهِقٍ فَمُرَاهِقٌ فَكَافِرٌ غَيْرُ مُرَاهِقٍ فَمُرَاهِقٌ فَامْرَأَةٌ كَافِرَةٌ فَمَحْرَمٌ مُسْلِمٌ فَمَحْرَمٌ كَافِرٌ فَأَجْنَبِيٌّ مُسْلِمٌ فَكَافِرٌ ا هـ

Dalam keterangan ibarat di atas, yaitu dalam kita Tuhfah al Muhtaj fi Syarhi al Manhaj juz 29 halaman 262, bahwa diperbolehkan laki-laki dan perempuan melihat dan memegang jika hal itu masuk dalam lingkup bekam, cantuk dan berobat karena dikategorikan kebutuhan, akan tetapi dengan syarat menghadirkan pencegah terjadinya khalwat seperti mahram, suami, dan perempuan yang terpercaya untuk mengindentifikasi hal-hal yang diharamkan antara dokter dan pasien.

Dari keterangan di atas, intinya adalah sesuai dengan kadar kebutuhan. Dokter harus professional dengan porsi sesuai dengan kode etik profesi dibarengi dengan pengetahuan hukum tentang mahram agar sadar batas.

Wallahu a’lamu bisshowab..