logo mubaa
Logo Ittihad

DEWAN PIMPINAN PUSAT
IKATAN ALUMNI BATA-BATA

Kategori
Uncategorized

HADITS KE 233 : SURAH YANG DIBACA KETIKA SHALAT SUBUH PADA HARI JUM’AT

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

BAB TATACARA PELAKSANAAN SHOLAT

HADITS KE 233 :

وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ : ( كَانَ رَسُولُ اَلله صلى الله عليه وسلم يَقْرَأُ فِي صَلَاةِ الْفَجْرِ يَوْمَ الْجُمْعَةِ : (الم تَنْزِيلُ ) اَلسَّجدَةَ و (هَلْ أَتَى عَلَى اَلْإِنْسَانِ) ) مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

وَلِلطَّبَرَانِيِّ مِنْ حَدِيثِ اِبْنِ مَسْعُودٍ : ( يُدِيمُ ذَلِكَ)

Abu Hurairah Radliyallaahu ‘anhu berkata: Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam dalam sholat Shubuh pada hari jum’at biasanya membaca (Alif Laam Mim Tanziil) Al-Sajadah dan (Hal ataa ‘alal insaani). Muttafaq Alaihi.

Menurut riwayat Thabrani dari hadits Ibnu Mas’ud: Beliau selalu membaca surat tersebut.

MAKNA HADITS :

Surah-surah al-Qur’an banyak mengandung pengajaran dan peringatan yang tidak samar lagi bagi orang yang berakal. Rasulullah (s.a.w) istiqamah membaca dua surah ketika mengerjakan sholat Subuh hari Jum’at, yaitu Surah al-Sajdah dan Surah al-Dahr. Kedua surah ini mengandung berita yang telah terjadi dan berita yang bakal terjadi pada hari Jum’at. Di dalamnya mengandung berita tentang penciptaan Adam (a.s), perhimpunan semua hamba Allah, dan kisah yang bakal terjadi di akhirat. Dengan membaca kedua surah ini berarti kita telah mengingatkan diri kita tentang hari kiamat dan sebagaimana disebutkan dalam satu riwayat bahwa hari kiamat kelak terjadi pada hari Jum’at.

FIQH HADITS :

1. Menguatkan suara bacaan al-Qur’an ketika mengerjakan sholat Subuh.

2. Disunatkan membaca Surah al-Sajadah dan Surah al-Insan ketika mengerjakan sholat Subuh pada hari Jum’at. Inilah pendapat Imam al-Syafi0’i dan Imam Ahmad. Namun Imam Ahmad mengatakan makruh apabila ia dijadikan satu kebiasaan. Imam Abu Hanifah mengatakan, membaca kedua-dua surah tersebut dalam sholat Subuh hari Jum’at hukumnya sunat apabila berniat mengikuti Sunnah Nabi (s.a.w). Jika seseorang membaca suatu ayat al-Qur’an secara khusus), maka hukumnya makruh, karena itu bererti mengenyampingkan yang lain dan cenderung mengutamakan ayat al-Qur’an tertentu ke atas yang

lain. Imam Malik mengatakan, makruh apabila sengaja membaca surah tertentu yang di dalamnya terdapat ayat al-Sajadah ketika mengerjakan solat fardu, tetapi beliau membolehkannya apabila di belakang imam hanya terdapat sedikit makmum, karena itu tidak dikawatiri akan membuat mereka bingung. Ibn Hubaib merincikan pendapat Imam Malik dengan mengatakan boleh membaca surah yang di dalamnya terdapat ayat al-Sajadah dalam solat jahriyyah, bukan dalam sholat sirriyyah, sebab ketika membacanya dalam sholat jahriyyah maka itu tidak akan membuat makmum menjadi bingung. Ibn Basyir mengatakan bahwa pendapat yang sahih ialah boleh membacanya meskipun dalam sholat sirriyah karena Rasulullah (s.a.w) membiasakan membaca surah yang di dalamnya terdapat ayat al-Sajadah.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

Kategori
Uncategorized

N069. BOLEHKAH WALI AQROB PINDAH KE WALI AB’AD KARENA BISU?

PERTANYAAN :

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Deskripsi masalah:
Ahmadi dan Sitti Maisarah dua insan yang telah lama menjalin hubungan “pertunangan” sedangkan ayah Sitti Maisarah telah meninggal seminjak dia masih kecil,namun untungnya Sitti Maisarah masih masih punya kakek dan saudara laki-laki seayah seibu bernama Yusuf.
Selang beberapa minggu hubungan Ahmadi dan Sitti Aisyah semakin dekat sehingga tumbuh hasrat (keinginan) dalam hatinya untuk segera melangsungkan pernikahan. Akan tetapi sangat disayangkan manakala pernihan akan segera dilangsungkan kekak kesayangannya jatuh sakit (struk) sehingga mengakibatkan bisu, tidak bisa berjalan, tidak mendengar (tuli) bahkan fikiran dan akalnya menjadi tidak normal.

Pertanyaannya:
Bolehkah Yusuf saudara Sitti Maisarah menikahkan adiknya (menjadi wali nikah) dikala situasi kakeknya sakit srtuk (bisu, fikiran dan akalnya tidak normal)?

JAWABAN :

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

Boleh Yusuf saudara Sitti Maisarah yang seayah seibu menikahkan dan mengawinkan Sitti Maisarah (menjadi wali nikah) manakala kakekya dalam situasi sakit struk yang mengakibatkan bisu dan tidak normalnya akal dan fikirannya sehingga tidak memungkinkan menikahkan sendiri dan mewakilkan baik secara isyarah ataupun tulisan. Dengan alasan karena adanya kakek telah dianggap tidak memenuhi persyaratan wali nikah.

Referensi :

الإقناع الجزء الثانى ص:١٢٤
{تنبيه}مماتركه المصنف من شروط الولى أن لايكون مختل النظر بهرم أو خبل وأن لايكون محجورا عليه بسفه متى كان الأقرب ببعض هذه الصفات المانعة للولاية فالولاية للأبعد

“(Satu peringatan)” Diantara perkara yang ditinggalkan oleh Kyai Mushonnif adalah diantara bebera syarat menjadi wali diantaranya adalah:

1. Harus memiliki fikiran atau akal yang sempurna artinya tidak cukup syarat bilamana fikirannya dan akalnya rusak karena disebabkan pikun.

2. Tidak menjadi “Mahhjur alaih” dengan sebab kebodohannya.
Kapan walinikah yang “aqrab”(lebih dekat) tidak memenuhi syarat yang ada diantara sebagian sifat tersebut yang mencegah(adanya maani’) atas kewalian maka wali nikah nya adalah beralih kepada wali ab-ad(lebih jauh) yakni Saudar-Nya yang seayah seibu dan seterusnya.

Referensi :

الإقناع الجزء الثانى ص:١٢٥
{فرع} الأحرس إن كان وليا وله إشارة يفهمها كل واحد عقد بها وإن فهمها الفطن أوكان له كتابة وأمكن التوكيل بهما وكل وإلا زوج الآبعد، وأما إن كان زوجا فإن كانت إشارته صريحة عقدبها وإن كانت كناية أوكانت له كتابة فإن أمكنه التوكيل وكل وإلا عقد للضرورة وتعرف نيته بإشارة أخرى أو كتابة وقيل يكون كالمجنون فزوج الحاكم عند فقد الأب والجد.

(“Satu cabang”) Orang yang bisu (tidak bisa bicara) manakala dia bersetatus wali nikah sedangkan dia bisa memberikan isyarah dan bisa difahami oleh setiap seorang dan atau bisa difahami oleh orang yang cerdas maka dia boleh mengakadnya atau sibisu bisa menulis dan memungkinkan mewakilkan maka wakilkan. Akan tetapi jika hal tersebut tidak memungkinkan mengakad dan mewakilkan, maka yang menikahkannya (menjadi wali nikah) adalah wali ab’ad (lebih jauh) yakni Yusuf saudaranya Sitti Maisarah dan serusnya.
Dan adapun jika si bisu punya istri dan sedangkan isyarah sharikh (jelas) baik dalam bentuk kinayah atau tulisan maka dia mengakadnya dan jika bisa mewakilkan dengan tulisan maka wakilkan dengan tulisan jika tidak bisa maka akadlah (wali ab’ad) dengan kondisi dlorurah. Dan niatnya dapat dikenal/diketahui disisi yang lain.

Dikatakan oleh sebagian ulama, dia diibaratkan orang gila
maka hakim yang menikahkan (menjadi wali) diwaktu tidak adanya ayah dan kakek.

CATATAN:

Jika ada ungkapan kata “قيل” (dikatakan) adalah:

a. Menunjukkan adanya khilaf (perbedaan pendapat) pada wajah-wajah ashhab.

b. Menunjukkan pendapat yang lemah.

لايقال قيل إلا ضعيف

Tidak dikatakan suatu perkatan “قيل” terkecuali lemah.

Adapun yang dimaksud wali aqrab (dekat) diatas adalah “Ayah” karena wali yang lebih dekat dengan perempuan untuk menikahkan.

Sedangka yang dimaksud dengan wali ab’ad (jauh) adalah Kakek/Saudara se ayah se ibu. Sebagaiman rincian wali nikah sebagai berikut :

Derajat (tingkatan) wali nikah (Wali yang mengakad nikah) pada dasarnya ada dua macam:

1- Wali nasab

Wali nasab adalah wali yang ada hubungan darah dengan perenpuan yang akan mereka kawini adalah :
a.) Ayah kandung
b.) Kakek dari ayah
c.) Saudara laki-laki seayah seibu
d.) Saudara laki-laki seayah
e.) Anak laki-laki dari saudara laki-laki seibu seayah
f.) Anak laki-laki dari saudara laki-laki seayah
g.) Saudara laki-laki seayah dari ayah
h.) Saudara laki-laki seayah dari ayah
i.) Anak laki-laki dari saudara laki laki seeibu seayah dari ayah
j.) Anak laki-laki dari saudara laki-laki seayah dari ayah
Wali kolom a.) di atas disebut
“Wali yang paling dekat” kepada perempuan yang hendak dinikahkan. Dalam bahasa Arab disebut “ألولى الأقرب”.
Wali yang dibelakangnya disebut (dinamakan) “Wali yang lebih jauh”. Dalam bahasa Arab disebut “الولى الآبعد”.

Jika wali kolom 1/ a.) tidak ada karena berhalangan tetap (meninggal) atau berhalangan tidak tetap karena ada perjalanan sampai dua marhalah maka yang mengakatnya wali kolom 2/ b.) yang lebih dekat dan jika wali kolom b.) tidak ada maka yang menjadi wali adalah kolom 3/c.) dan seterudnya.

2- Wali hakim.
Yang dimaksud ” Wali Hakim” ialah kepala negara yang beragama Islam, dan dalam hal ini biasanya Pengadilan Agama, ia dapat mengangkat orang lain menjadi Hakim (biasanya yang diangkat KUA (Kepala Kantor Urusan Agama) Kecamatan untuk mengakatkan nikah perempuan yang berwali Hakim.

Sebagaimana Sabda Rasulullah (S.a.w) :

عن عائشة رضى الله عنها قالت:قال رسول الله صلى الله عليه وسلم :أيما امرأة نكحت بغير إذن وليها فنكاحها باطل، فإن دخل بها فلها المهر بمااستحلّ من فرجها،فإن اشتجروا فالسلطان ولىّ من لا ولى له (أخرجه الأربعة إلا النسائي وصححه أبو عوانة وابن حبان والحاكم)

الباجورى الجزء الثانى ص: ١٠٥
(وأولى الولاية )
أى أحق الآولياء بالتزويج (الأب ثم الجد أبو الأب) ثم أبوه وهكذا ويقدم الأقرب من الأجداد على الأبعد (ثم الأخ للآب والأم) ولو عبر بالشقيق لكان أخصر (ثم الأخ للأب ثم ابن الآخ للأب والأم وإن سفل(ثم إبن الأخ للأب) وإن سفل………الخ
{قوله الأب ثم الجد} إنمالم يقل الأب وإن علا وإنه أخصر لضرورة أفادة الترتيب بين الأب والجد فإنه لو قال ماذكر لم يفد الترتيب بينهما فاندفع بذلك قول المحشى تبعا للقليوبى لو قال الأب وان علا لكان أولى وأخصر وقوله أبو الأب إحتراز من الجد أبى الأم فلا ولاية له كمالايخفى {قوله ثم أبوه} أى أبو الجد وقوله وهكذا أى ثم ابو أبيه ثم أبو ابي أبيه قوله ويقدم الأقرب من الأجداد على الأبعد وهو مستفاد من قوله ثم أبوه وهكذا وهو تصريح بما علم أتى به توضيحا {قوله ثم الآخ للأب والأم } أى لادلائه بالأب فهو أقرب من ابن الأخ……… الخ

والله أعلم بالصواب

Kategori
Uncategorized

HADITS KE 232 : SURAH YANG DIBACA DALAM SHALAT MAGHRIB

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

BAB TATACARA PELAKSANAAN SHOLAT

HADITS KE 232 :

وَعَنْ جُبَيْرِ بْنِ مُطْعِمٍ رضي الله عنه قَالَ : ( سَمِعْت رَسُولَ الله صلى الله عليه وسلم يَقْرَأُ فِي الْمَغْرِبِ بِالطُّورِ ) مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

Jubair Ibnu Muth’im Radliyallaahu ‘anhu berkata: Aku mendengar Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam membaca surat At-Thur dalam sholat maghrib. Muttafaq Alaihi.

MAKNA HADITS :

Rasulullah (s.a.w) mengalami berbagai keadaan dimana baginda mesti menitik beratkan keadaan makmum dalam sholat. Ketika mengerjakan sholat Maghrib ada
kalanya baginda membaca surah mufassal yang pendek dan ini merupakan kebiasaan yang kerap dilakukannya sebagaimana yang disebutkan dalam hadis Sulaiman ibn Yasar sebelum ini. Ada kalanya pula baginda membaca surah mufasshal yang panjang ketika mengerjakan sholat Maghrib, seperti membaca Surah al-Thur, dan ada kalanya baginda membaca surah seperti al-A’raf dan al-An’am.

FIQH HADITS :

1. Disunatkan membaca surah mufasshal yang panjang dalam sholat Maghrib.

2. Menguatkan suara bacaan dalam sholat Maghrib.

3. Diperbolehkan menerima riwayat Jubair dalam kisah ini, meskipun ketika beliau mendengarnya masih belum masuk Islam, karena yang penting ialah kisah itu sendiri, bukan keadaan atau status orang yang menceritakannya.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

Kategori
Uncategorized

D023. SEJARAH HIJRIYAH & ANJURAN-ANJURAN PADA BULAN MUHARRAM

SEJARAH HIJRIYAH

Diriwayatkan dari Abdul Aziz dari Ayahnya dari Sahl bin Sa’d, ia berkata :

مَا عَدُّوا مِنْ مَبْعَثِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَلَا مِنْ وَفَاتِهِ مَا عَدُّوا إِلَّا مِنْ مَقْدَمِهِ الْمَدِينَةَ

Para sahabat tidak menetapkan perhitungan kalender dari tahun diutusnya Nabi SAW, tidak juga dari wafatnya beliau akan tetapi para sahabat menetapkan perhitungan kalender dari masa kedatangan beliau ke madinah [HR Bukhari]

Catatan

Kalender hijriyah yang merupakan sistem penanggalan islam dimulai sejak 14 abad silam. Adakah terbesit dalam hati, mengapa demikian? Apa yang melatar belakangi penetapan kalender islam ini dan apakah yang menjadi acuannya?

Orang Arab sebelum datangnya Islam telah mengenal kalender qamariyah (kalender berdasarkan peredaran bulan). Mereka menandai awal bulan atau tanggal 1 disetiap bulannya dengan kehadiran hilal. Mereka juga mengenal nama-nama bulan muharram, shafar dst, dan mereka juga mengenal bulan-bulan mulia (haram) meskipun mereka tidak konsisten dan suka memindah-mindah bulan haram sesuai kepentingan mereka. Hal inilah yang disebut nasi’ oleh Allah SWT dalam firman-Nya:

إِنَّمَا النَّسِيءُ زِيَادَةٌ فِي الْكُفْرِ يُضَلُّ بِهِ الَّذِينَ كَفَرُوا يُحِلُّونَهُ عَامًا وَيُحَرِّمُونَهُ عَامًا لِيُوَاطِئُوا عِدَّةَ مَا حَرَّمَ اللَّهُ فَيُحِلُّوا مَا حَرَّمَ اللَّهُ

Sesungguhnya Nasi’ (mengundur-undurkan bulan haram itu) adalah menambah kekafiran. Disesatkan orang-orang yang kafir dengan mengundur-undurkan itu, mereka menghalalkannya pada suatu tahun dan mengharamkannya pada tahun yang lain, agar mereka dapat mempersesuaikan dengan bilangan yang Allah mengharamkannya, maka mereka menghalalkan apa yang diharamkan Allah… [QS At-Taubah : 37]

Pada empat bulan haram yang mulia (Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram dan Rajab) tidak boleh diadakan peperangan. Peraturan ini dilanggar oleh orang-orang jahiliyah dengan mengadakan peperangan di bulan Muharram (bulan 1) dan sebagai gantinya mereka menjadikan bulan Shafar (bulan 2) sebagai bulan mulia. Yang disisakan oleh mereka dari bulan haram hanya jumlahnya saja yaitu empat bulan.

Kendati telah lazim menggunakan nama-nama bulan qamariyah namuan masyarakat Arab saat itu belum memiliki angka tahun sehingga mereka tahu tanggal dan bulan, tapi tidak ada tahunnya. Sebagai pembeda antar tahun, mereka menggunakan peristiwa besar yang terjadi seperti tahun gajah, karena pada saat itu terjadi peristiwa besar yaitu serangan pasukan gajah yang dipimpin oleh raja Abrahah dari Yaman. Tahun Fijar, karena ketika itu terjadi Harbul Fijar (perang Fijar yang terjadi antara suku kinanah dan qais) ketika baginda berusia 14-15 tahun. Tahun renovasi Ka’bah, karena ketika itu Ka’bah rusak akibat banjir dan di renovasi. Terkadang mereka juga menggunakan tahun kematian pemuka masyarakat sebagai acuan seperti lima tahun setelah meninggalnya Ka’ab bin Luai dll.
Kondisi seperti ini terus berlangsung hingga di zaman Nabi SAW sekalipun bahkan berlanjut di zaman Khalifah Abu Bakr RA, Hingga saat itu belum ada penetapan hitungan tahun qamariyah. Barulah hitungan tahun qamariyah ditetapkan pada zaman Umar bin Khattab RA, tepatnya di tahun ketiga beliau menjabat sebagai khalifah. Diceritakan dari Maimun bin mahran bahwa seseorang melaporkan kepada Khalifah sebuah cek (Shakk, bukti kepemilikan) dengan tertera tempo bulan sya’ban. Yang menjadi permasalaha adalah sya’ban tersebut tahun kapan? Apakah tahun mendatang, tahun ini ataukah tahun lalu?

Menanggapi masalah tersebut, Khalifah Umar RA mengumpulkan para sahabat dan mengajukan permasalahan ini kepada mereka, Khalifah berkata:

ضعوا للناس شيئا يعرفونه من التاريخ

“Jadikanlah sesuatu untuk masyarakat yang bisa mereka jadikan acuan untuk mengetahui tahun.”

Ada yang usul untuk menggunakan acuan tahun bangsa Romawi. Namun usulan ini dibantah, karena tahun Romawi sudah terlalu tua karena perhitungan tahun Romawi sudah dibuat sejak zaman Dzul Qornain, Ada usulan lain untuk menggunakan acuan tahun bangsa persia namun usulan ini disanggah dengan pertimbangan bahwa kebiasaan raja persia adalah setiap ada raja yang baru maka ia membuang perihal raja sebelumnya (tahunnya silih berganti) sehingga tidak bisa dibuat acuan.

فأجمع رأيهم على أن الهجرة كانت عشر سنين ، فكتبوا التاريخ من هجرة النبى – صلى الله عليه وسلم

Para sahabat sepakat bahwa hijrah berlangsung selama 10 tahun dan pada akhirnya mereka perhitungan tahun qamariyah berawal dari hijrahnya Nabi SAW. [Kanzul Ummal dan Tarikh At-Thabari]

Pertimbangan lain disebutkan oleh al-Hafidz Ibnu Hajar sebagai berikut:

كَانَتْ الْقَضَايَا الَّتِي اُتُّفِقَتْ لَهُ وَيُمْكِن أَنْ يُؤَرَّخ بِهَا أَرْبَعَة : مَوْلِده وَمَبْعَثه وَهِجْرَته وَوَفَاته ، فَرَجَحَ عِنْدهمْ جَعْلهَا مِنْ الْهِجْرَة لِأَنَّ الْمَوْلِد وَالْمَبْعَث لَا يَخْلُو وَاحِد مِنْهُمَا مِنْ النِّزَاع فِي تَعْيِين السَّنَة ، وَأَمَّا وَقْت الْوَفَاة فَأَعْرَضُوا عَنْهُ لِمَا تُوُقِّعَ بِذِكْرِهِ مِنْ الْأَسَف عَلَيْهِ ، فَانْحَصَرَ فِي الْهِجْرَة

Permasalahan yang disepakati dan bisa dijadikan acuan tahun dalam kalender ada empat: tahun kelahiran Nabi SAW, tahun ketika diutus sebagai rasul, tahun ketika hijrah, dan tahun ketika beliau wafat. Dan hijrah dipilih oleh para sahabat mengingat bahwa tahun kelahiran Nabi SAW dan tahun ketika beliau diutus, tidak lepas dari perdebatan dalam penentuan tahun peristiwa itu. Mereka juga menolak jika tahun kematian sebagai acuannya, karena ini akan menimbulkan kesedihan bagi kaum muslimin. Sehingga yang tersisa adalah tahun hijrah beliau [Fathul Bari]

Ibnu hajar juga menyebutkan beberapa versi diantaranya kisah gubernur yaman, abu musa al-Asy’ari yang menerima beberapa surat dari khalifah umar namun kebingungan karena tidak adanya keterangan tahun. Ada juga versi orang yang datang kepada khalifah dan menceritakan kalender versi orang-orang yaman yang mencantumkan hitungan tahun. Kejadian tersebut terjadi pada tahun 17atau 16 H. Dan pengusul muharram sebagai awal bulan dari tahun hijriyah adalah Umar, Ustsman, Ali RA. [Fathul Bari]

Demikianlah sehingga dalam hadits utama (atsar) di atas disebutkan bahwa para sahabat tidak menetapkan perhitungan kalender dari tahun diutusnya Nabi SAW, tidak juga dari wafatnya beliau akan tetapi para sahabat menetapkan perhitungan kalender dari masa kedatangan beliau ke madinah. [HR Bukhari]

Masalah perhitungan kalender tidaklah berhenti sampai di sini. Masalah selanjutnya adalah kapan atau bulan apa yang akan Setelah melewati musyawarah para sahabat sepakat untuk memilih bulan muharram dijadikan sebagai bulan pertama dalam kalender hijriyah ini. Ibnu Hajar mengemukakan beberapa alasannya :

أَخَّرُوهُ مِنْ رَبِيع الْأَوَّل إِلَى الْمُحَرَّم لِأَنَّ اِبْتِدَاء الْعَزْم عَلَى الْهِجْرَة كَانَ فِي الْمُحَرَّم ، إِذْ الْبَيْعَة وَقَعَتْ فِي أَثْنَاء ذِي الْحِجَّة وَهِيَ مُقَدِّمَة الْهِجْرَة ، فَكَانَ أَوَّل هِلَال اِسْتَهَلَّ بَعْد الْبَيْعَة وَالْعَزْم عَلَى الْهِجْرَة هِلَال الْمُحَرَّم فَنَاسَبَ أَنْ يُجْعَل مُبْتَدَأ ، وَهَذَا أَقْوَى مَا وَفَقْت عَلَيْهِ مِنْ مُنَاسَبَة الِابْتِدَاء بِالْمُحَرَّمِ .

Para sahabat mengakhirkan (permulaan tahun hijriyah) dari bulan Rabi’ul Awwal (bulan Nabi tiba di madinah) ke Muharram mengingat bahwa permulaan tekat / rencana hijrah terjadi pada bulan muharram dan sebelumnya bai’at terjadi pada pertengahan bulan Dzulhijjah dan bai’at tersebut adalah permulaan (penyebab) hijrah. Maka awal tanggal setelah bai’at dan rencana hijrah adalah tanggal hijrah sehingga relevan untuk dijadikan (bulan) pertama. Ini adalah pendapat terkuat yang relevan . [Fathul Bari]

Demikianlah sehingga muharram dan hijrah menjadi awal perhitungan tahun islam saat itu. Dengan demikian jelas bahwa di zaman rasul belum ada istilah tahun baru sehingga kalau ada keterangan yang dikatakan sebagai hadits mengenai keutamaan tahun baru maka ini merupakan suatu kekeliruan. Namun demikian tidak ada larangan untuk berdoa awal dan akhir tahun karena berdoa itu boleh saja, kapanpun dan dimanapun kecuali jika ada larangan secara khusus. Adapun redaksi doa yang populer sebagai doa awal dan akhir tahun bukanlah dari Nabi, dan sebagaimana kita ketahui bahwa berdoa tidaklah harus memakai redaksi dari Nabi, kita boleh berdoa dengan redaksi sendiri bahkan bahasa sendiri yang tidak pernah dilafadzkan oleh Nabi.

Dengan ditetapkannya kalender islam oleh Khalfiah Umar RA, maka mulai saat itu kaum muslimin memiliki kalender resmi, dengan bulan Muharam sebagai bulan pertama dan hijrah sebagai acuannya. Dan oleh karena hitungan tahun dalam kalender Islam mengacu kepada hijrah maka kalender ini dinamakan kemudian dikenal dengan sebutan kalender hijriyah.

Wallahu A’lam. Semoga Allah al-Bari membuka hati dan fikiran kita untuk mengetahui sejarah dan asal usul segala sesuatu dari apa yang akan kerjakan dan alami.

DO’A AKHIR TAHUN DAN DO’A AWAL TAHUN

Syekh Ibnu Qudamah Al-Maqdisy, salah seorang ulama besar yang ikut meriwayatkan “doa awal tahun” menuturkan, “Guru-guruku tidak pernah luput berwasiat untuk selalu membaca doa tersebut. Dan aku belum pernah melewatkan doa itu sepanjang hidupku.”

Bacaan Do’a Akhir Tahun, 3 kali :

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ.
وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ. اَللَّهُمَّ مَا عَمِلْتُ مِنْ عَمَلٍ فِي السَّنَةِ الْمَاضِيَةِ وَلَمْ تَرْضَهُ ، وَنَسِيْتُهُ وَلَمْ تَنْسَهُ ، وَحَلُمْتَ عَنِّيْ مَعَ قُدْرَتِكَ عَلَى عُقُوْبَتِيْ ، وَدَعَوْتَنِيْ إِلَى التَّوْبَةِ بَعْدَ جَرَاءَتِيْ عَلَيْكَ. اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْتَغْفِرُكَ مِنْهُ فَاغْفِرْ لِيْ اَللَّهُمَّ وَمَا عَمِلْتُ مِنْ عَمَلٍ تَرْضَاهُ وَوَعَدْتَنِيْ عَلَيْهِ الثَّوَابَ وَالْغُفْرَانَ فَتَقَبَّلْهُ مِنِّيْ ، وَلَا تَقْطَعْ رَجَائِيْ مِنْكَ يَا كَرِيْمُ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَز
وَصَلَّى اللهُ تَعَالَى عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ .

Bacaan Do’a Awal Tahun :

Sebelum membaca doa awal tahun, sebaiknya membaca ayat kursi sebanyak 360/121/100/77/ 41/21/11 kali (semampunya) dengan basmalah di setiap permulaannya. Kemudian membaca doa berikut sebanyak salah satu angka tersebut semampunya :

اللّهُمَّ يَا مُحَوِّلَ الأَحْوَالِ حَوِّلْ حَالِيْ إِلَى أَحْسَنِ الأَحْوَالِ بِحَوْلِكَ وَقُوَّتِكَ يَا عَزِيْزُ يَا مُتَعَال، وَصَلَّى اللهُ تَعَالَى عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّم .

Dan dilanjutkan dengan do’a awal tahun, 3X :

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
اَلْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَاةً تَمْلَأُ خَزَائِنَ اللهِ نُوْرًا ، وَتَكُوْنُ لَنَا وَلِلْمُؤْمِنِيْنَ فَرَجًا وَفَرْحًا وَسُرُوْرًا ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا. اَللَّهُمَّ أَنْتَ الْأَبَدِيُّ الْقَدِيْمُ الْأَوَّلُ ، وَعَلَى فَضْلِكَ الْعَظِيْمِ وَكَرِيْمِ جُوْدِكَ الْعَمِيْمِ الْمُعَوَّلِ ، وَهَذَا عَامٌ جَدِيْدٌ قَدْ أَقْبَلَ ، أَسْأَلُكَ الْعِصْمَةَ فِيْهِ مِنَ الشَّيْطَانِ وَأَوْلِيَائِهِ ، وَالْعَوْنَ عَلَى هَذِهِ النَّفْسِ الْأَمَّارَةِ بِالسُّوْءِ ، وَالْاِشْتِغَالَ بِمَا يُقَرِّبُنِيْ إِلَيْكَ زُلْفَى ، يَا ذَا الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ
وَصَلَّى اللهُ تَعَالَى عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ

Maka setan akan berkata, “Orang yang membaca do’a ini telah meminta perlindungan kepada Allah sepanjang sisa umurnya. Dan dua malaikat telah dipercaya untuk menjaganya dari aku dan para pengikutku.”

Kami sertakan do’a awal tahun berbentuk PDF dari Alhabib Ali Bin Muhammad Al Habsyi, RA. :

KEUTAMAAN AMALAN PUASA BULAN MUHARRAM :

Oleh : Buya Yahya
Pengasuh LPD Al-Bahjah

Bulan Muharrom adalah salah satu dari empat bulan mulia yang disebutkan dalam Al-Quran. Amalan yang di anjurkan adalah semua amalan yang di anjurkan di bulan lain sangat di anjurkan di bulan ini, hanya saja ada amalan yang sangat dianjurkan secara khusus di bulan ini yaitu :

1. Puasa tanggal 10 yang disebut dengan puasa ‘Asyuro, seperti yang telah disebutkan dalam hadits :

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : ( هَذَا يَوْمُ عَاشُورَاءَ وَلَمْ يَكْتُبْ اللَّهُ عَلَيْكُمْ صِيَامَهُ وَأَنَا صَائِمٌ فَمَنْ شَاءَ فَلْيَصُمْ وَمَنْ شَاءَ فَلْيُفْطِرْ )

Rosulullah SAW bersabda : “Ini (10 Muharrom) adalah hari ‘Asyuro dan Allah tidak mewajibkan puasa atas kalian dan sekarang aku berpuasa, maka siapa yang mau silahkan berpuasa dan siapa yang tidak mau silahkan berbuka (tidak berpuasa) “ (Bukhori :1899 dan Muslim : 2653)

2. Dengan pahala akan diampuni dosa tahun yang lalu :

صِيَامُ يَوْمِ عَاشُورَاء، أَحْتَسِبُ عَلَى اللهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِي قَبْلَهُ

Dari Abu Qatadah -radhiyallahu ‘anhu-, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ditanya tentang puasa hari ‘Asyura. Beliau menjawab, “(Puasa tersebut) Menghapuskan dosa satu tahun yang lalu “. (Muslim : 2746).

3. Sangat dianjurkan untuk ditambah agar bisa berpuasa di hari yang ke-Sembilan, seperti yang telah disebutkan dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim :

عَنْ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا يَقُوْلُ حِيْنَ صَامَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ عَاشُورَاءَ وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّهُ يَوْمٌ تُعَظِّمُهُ الْيَهُودُ وَالنَّصَارَى فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَإِذَا كَانَ الْعَامُ الْمُقْبِلُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ صُمْنَا الْيَوْمَ التَّاسِعَ قَالَ فَلَمْ يَأْتِ الْعَامُ الْمُقْبِلُ حَتَّى تُوُفِّيَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Diriwayatkan dari Abdullah bin ‘Abbas radhiallahu ‘anhuma bahwasanya dia berkata, “Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika berpuasa di hari ‘Asyura’ dan memerintahkan (perintah sunnah) manusia untuk berpuasa, para sahabat pun berkata, ‘Ya Rasulullah! Sesungguhnya hari ini adalah hari yang diagungkan oleh orang-orang Yahudi dan Nasrani.’ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun berkata, ‘Apabila datang tahun depan Insya Allah kami akan berpuasa pada tanggal 9 (Muharram). Berkata Abdullah bin Abbas “ Belum sempat tahun depan tersebut datang, ternyata Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah wafat.” ( Muslim : 1134/2666)

4. Lebih bagus lagi jika ditambah hari yang ke-Sebelas seperti disebutkan dalan sebuah riwayat dari sahabat Abdullah ibn Abbas :

صُومُوا يَوْمَ عَاشُورَاء، وَخَالِفُوا اليَهُودَ، صُومُوا قَبْلَهُ يَوْمًا أَوْ بَعْدَهُ يَوْمًا

Berpuasalah kalian pada hari ‘Asyuro` dan berbedalah dengan orang Yahudi, (yaitu) berpuasalah kalian sehari sebelumnya atau sehari setelahnya” (Ibnu Khuzaimah: 2095).

5. Lebih dari itu berpuasa disepanjang bulan Muharom adalah sebaik baik bulan untuk puasa seperti disebutkan oleh Rasulullah dalam hadits yang disebutkan Imam Muslim :

أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللهِ اْلمُحَرَّمِ، وَأَفْضَلُ الصَّلاَةِ بَعْدَ الفَرِيضَةِ صَلاَةُ اللَّيْلِ

Sebaik baik puasa setelah bulan Ramadhan adalah puasa di bulan Muharom, dan sebaik-baiknya sholat setelah sholat fardhu adalah Sholat malam” (Muslim No: 2755).

Kesimpulannya :
1) Bahwa puasa sepanjang bulan Muharrom adalah puasa yang sangat dianjurkan seperti disebutkan dalam Hadits tersebut di atas.

2) Sebaik-baik hari dari bulan Muharom tersebut adalah tanggal 10 Muharrom.

3) Dan setelah 10 Muharrom akan menjadi lebih baik lagi jika ditambah dengan tanggal 9 (sembilan) seperti yang disebutkan dalam hadits tersebut di atas.

4) Dan akan lebih baik lagi jika ditambah dengan sehari di tanggal 11 untuk berbeda dengan orang Yahudi dan Nasrani.

5) Dan untuk lebih baiknya lagi adalah menambah hari di sepanjang bulan Muharrom hingga sempurna.

Catatan Penting :
Berpuasa penuh sepanjang bulan Muharrom adalah
sunnah, seperti disebutkan dengan sangat jelas dalam hadits Nabi SAW tersebut di atas.

Wallohu a’lam bishshowab..

DALIL LAIN TENTANG FADILAH BULAN MUHARRAM :

ذكر الحافظ إبن حجر رحمه الله تعالى : أنه روي عن حفصة رضي الله تعالى عنها، عن النبي صلى الله عليه وسلم أنه قال :

Al-Hafidz Ibnu Hajar rohimahulloh menyebutkan : bahwa diriwayatkan oleh Sayyidah Hafsoh rodliyallohu anha, dari Nabi shollallahu alaihi wa sallam beliau bersabda :

من صام آخر يوم من ذي الحجة وأول يوم من المحرم جعله الله تعالى له كفارة خمسين سنة، وصوم يوم من المحرم بصوم ثلاثين يوما.

Siapa yang puasa di hari terakhir bulan Dzul hijjah dan hari pertama bulan Muharrom maka ALLAH akan menjadikan puasa tersebut sebagai pelebur dosanya 50 tahun, dan puasa sehari di bulan Muharrom seperti puasa 30 hari.

أن من كتب البسملة فى أول المحرم مائة وثلاث عشرة مرة لم ينل حاملها مكروه فيه ولا فى أهل بيته مدة عمره، وإذا لقيه حاكم ظالم أمن من شره.

Sesungguhnya siapa yang menulis Basmalah di hari pertama bulan Muharrom 113 kali maka orang yang membawanya tidak akan mendapatkan sesuatu yang tidak ia senangi bahkan keluarganya seumur hidupnya, dan bila hakim yang dzolim menemuinya dia akan aman dari kejelekan hakim tersebut.

ومن خواص قوله تعالى ( أفأمن أهل القرى أن يأتيهم بأسنا بياتا وهم نائمون ¤ أوأمن أهل القرى أن يأتيهم بأسنا ضحى وهم يلعبون ¤ أفأمنوا مكر الله فلا يأمن مكر الله إلا القوم الخاسرون ) أنها لطرد الهوام المؤذية من المنزل، وإذا أردت ذلك فاكتبها أول يوم من المحرم فى قرطاس واغسله بالماء، ورشه فى زوايا البيت أو الدار؛ فإنك تأمن جميع ذلك بإذن الله تعالى.

Diantara khasiat firman ALLAH ta’alaa :

( أفأمن أهل القرى أن يأتيهم بأسنا بياتا وهم نائمون ¤ أوأمن أهل القرى أن يأتيهم بأسنا ضحى وهم يلعبون ¤ أفأمنوا مكر الله فلا يأمن مكر الله إلا القوم الخاسرون )

Adalah untuk mengusir serangga yang mengganggu dari rumah, bila kamu ingin hal tersebut maka tulislah ayat tersebut di hari pertama bulan Muharrom di kertas kemudian siramlah kertas tersebut dengan air dan percikkan di ruangan-ruangan yang ada di rumah, maka kamu akan aman dari semua itu dengan izin ALLAH ta’alaa.

MENGUSAP KEPALA ANAK YATIM DI BULAN MUHARRAM

عن ابن عباس رضي الله عنهما قال قال رسول الله صلي الله عليه وسلم من صام يوم عاشوراء من المحرم اعطاه الله تعالي ثواب عشرة الاف مللك ومن صام يوم عاشوراء من المحرم اعطي ثواب عشر شهيد ومن مسح يده علي راس يتيم يوم عاشوراء رفع الله تعالي له بكل شعرة درجة

Diriwayatkan dari Ibn Abbas ra. Ia berkata : Rosulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

“Barang siapa puasa pada hari ‘asyura( tanggal10) muharram, Allah memberikan10.000 pahala malaikat

Barang siapa puasa pada hari ‘asyura( tanggal10) muharram, Allah memberikan pahala 10.000 para syuhada’

Dan barang siapa mengusap kepala anak yatim pad tgl 10 muharram, Allah mengangkatderajatnya dengan setiap rambut yg diusap”

Manaahiij al-Imdaad I/521

وورد في فضل مسح رأس اليتيم حديث أخرجه احمد والطبراني عن أبي امامة بلفظ من مسح رأس يتيم لا يمسحه الا لله كان له بكل شعرة تمر يده عليها حسنة وسنده ضعيف ولأحمد من حديث أبي هريرة ان رجلا شكى إلى النبي صلى الله عليه و سلم قسوة قلبه فقال اطعم المسكين وامسح رأس اليتيم وسنده حسن

Dan telah datang penjelasan hadits-hadits mengenai keutamaan mengusap kepala anak yatim yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan At-Thabraany dari riwayat Abu Umamah dengan pernyataan “Barangsiapa mengusap kepala anak yatim yang semata-mata karena Allah disetiap rambut yang ia usap, Allah berikan kebaikan” (sanadnya dho’if)

Juga hadits dari riwayat Abu Hurairah “Sesungguhnya seorang lelaki mengadu pada Nabi shallallaahu alaihi wasallam tentang kerasnya hatinya, Nabi bersabda ‘Berikan makanan orang miskin dan usaplah kepala anak yatim” (HR. Ahmad, sanadnya Hasan)

Fath al-Baari XI/151

PENGERTIAN MENGUSAP KEPALA ANAK YATIM

Menurut Ibn Hajar al-Haytamy maksud mashu ro’si yatiim (mengusap kepala anak yatim) diatas adalah makna hakiki (arti sebenarnya)

والمراد من المسح في الحديث الثاني حقيقته كما بينه آخر الحديث وهو ( من مسح رأس يتيم لم يمسحه إلا لله كان له بكل شعرة تمر عليها يده عشر حسنات ومن أحسن إلى يتيمة أو يتيم عنده كنت أنا وهو في الجنة كهاتين وقرن بين أصبعيه ) .

وخص الرأس بذلك لأن في المسح عليه تعظيماً لصاحبه وشفقة عليه ومحبة له وجبراً لخاطره ، وهذه كلها مع اليتيم تقتضي هذا الثوب الجزيل ، وأما جعل ذلك كناية عن الإحسان فهو غير محتاج إليه لأن ثواب الإحسان الذي هو أعلى وأجلّ قد ذكر بعده وأين القرب منه ( صلى الله عليه وسلم ) في الجنة حتى يكونا كالأصبعين من إعطاء حسنات بعدد شعر الرأس ، فشتان ما بينهما إذ الأول أكمل وأعظم وعلى التنزل وأنه أريد بذلك الكناية المذكورة فيكون قوله ( كان له ) إلخ كناية عن عظيم الجزاء ، وأنه لعظمته لو وجد في الخارج لكان أكثر من عدد شعر الرأس بكثير ، فيكون التجوّز والكناية في الطرفين طرف الفعل وطرف الجزاء عليه والكناية وإن كانت أبلغ من الحقيقة إلا أن محل الحمل عليها حيث لم يمنع منها مانع ، وقد علمت أن آخر الحديث يعين الحمل على الحقيقة لإفادته أن ما بعده يكون تأسيساً ، وهو خير من التأكيد اللازم للحمل على الكناية فافهم ذلك وتأمله . ثم رأيت أحاديث صريحة بأن المراد بالمسح حقيقته .

Yang dimaksud dengan mengusap dalam hadits kedua diatas adalah arti sebenarnya seperti dijelaskan pada hadits lain “Barangsiapa mengusap kepala anak yatim yang semata-mata karena Allah disetiap rambut yang ia usap, Allah berikan sepuluh kebaikan, dan barangsiapa memperbaiki anak yatim perempuan atau laki-laki yang ada didekatnya niscaya aku dan dia disurga bersanding seperti ini (Dan Nabi menggandengkan antara jemarinya)”

Kepala menjadi hal yang istimewa untuk disebutkan dalam hadits-hadits diatas karena mengusap kepala mengandung pengertianadanya kasih saying, rasa cinta dan mengayomi akan kebutuhan yang diusap, dan kesemuanyabila dilakukan pada anak yatim berhak mendapatkan pahala yang agung.

Sedang mengartikan ‘mengusap’ dalam hadits diatas dengan arti kinayah (sindiran-bukan sebenarnya) dalam pengertian ‘berbuat baik’ tidaklah dibutuhkan…. dst

Al-Fataawaa al-Haditsiyyah Li Ibni Hajar I/43

الملا علي القاري

Namun menurut imam at toyyi dalam kitab Marqaah al-Mafaatiih Imam al-Malaa Ali al-Qaariy al-Hanafy yang dimaksud kata ‘mengusap’ pada hadits diatas adalah arti kinayah dari memberikan kasih sayang serta berbuat penuh kelembutan dan cinta kasih pada mereka .

وعن أبي أمامة أي الباهلي قال قال رسول الله من مسح رأس يتيم وكذا حكم اليتيمة بل هي الأولى بالحنية لضعفها ثم التنكير يفيد العموم فيشمل القريب والأجنبي يكون عنده أو عند غيره لم يمسحه حال من فاعل مسح أي والحال أنه لم يمسح رأس اليتيم إلا لله أي لا لغرض سواه كان له أي للماسح بكل شعرة بسكون العين ويفتح أي بكل واحدة من شعر رأسه يمر بالتذكير ويؤنث من المرور أي يأتي عليها وكذا حكم محاذيها يده وفي نسخة من الإمرار ففاعله ضمير الماسح ويده مفعوله حسنات بالرفع على اسم كان والظاهر أن الحسنات مختلفة كمية وكيفية باعتبار تحسين النيات قال الطيبي مسح رأس اليتيم كناية عن الشفقة والتلطف إليه ولما لم تكن الكناية منافية لإرادة الحقيقة لإمكان الجمع بينهما كما تقول فلان طويل النجاد وتريد طول قامته مع طول علاقة سيفه رتب عليه قوله بكل شعرة يمر عليه يده ومن أحسن إلى يتيمة أو يتيم قيل أو للتنويع وقدم اليتيمة لأنها أحوج والظاهر أنه شك من أحد الرواة وقع في غير محله لأن حكم اليتيم قد علم مما سبق ففي هذه الفقرة جير اليتيمة باللطف اللهم إلا أن يخص الإحسان بالأنعام والإنفاق ونحوهما مما يغاير معنى مطلق الإحسان الشامل للمسح

Marqaah al-Mafaatiih Syarh Misykaah al-Mashaabiih XIV/263

SEMOGA BERMANFAAT..!!!

Wallahu a’lamu bisshowab..

Kategori
Uncategorized

M079. HUKUM PRAKTEK JUAL BELI TANPA AKAD (BAI’ MU’ATHOH)

PERTANYAAN :

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Deskripsi masalah:
Dalam dunia bisnis telah mentaradisi di toko-toko kecil seperti menjual rokok dan lainya sedangkan di barang tersebut sudah tertera bandrul harga, namun kadangkala cocok dengan harga yang sudah tertera ada kalanya setelah dibeli lebih dan ada kalanya kurang, ada juga warung yang jualan kopi, hal ini tidak sedikit orang mengatakan rokok surya/Djisamso atau kopi buk..!!/pak..!! Tanpa ada ijab dan qobul.

Pertanyaannya:
Sahkah menurut hukum agama tentang jual beli dalam kasus tersebut dengan tanpa taransaksi ijab dan qobul?

Mohon jawabannya berikut referensinya soalnya sudah lumrah di masyarakat. Terimakasih..

JAWABAN :

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

Jual beli “Mu’athoh” adalah jual beli tanpa adanya sighot dari kedua pihak atau dari salah satunya, sedangkan harga barangnya sudah dianggap cocok oleh keduanya yaitu sebagaimana biasanya yang telah terjadi/berjalan dimasyarakat, karena harganya sudah cocok maka pembeli menyerahkan barangnya dan pembeli menerimanya. Maka dalam hal ini hukumnya terdapat perbedaan dikalangan ulama, yakni ada yang memperbolehkan dan ada yang tidak memperbolehkan.

الشافعية ــــ قالوا: لاينعقد البيع إلا بالصيغة الكلامية أو مايقوم مقامها من الكتاب والرسول، وإشارة الأخرس المعلومة، أما المعاطاة فإن البيع لاينعقد بها، وقد مال صاحب الإحياء إلى جواز البيع في الأشياء اليسيرة بالمعاطاة لأن الإيجاب والقبول يشق في مثلـها عادة
Madzhab syafi’i berkata: Tidak sah jual beli kecuali dengan shighat yang sempurna baik dengan tulisan, isyarat yang jelas bagi orang bisu. Adapun jual beli tanpa shighot tidak sah. Dan Imam Ghazali dalam kitab Ihya’ condong kepada bolehnnya jual beli secara mu’athoh (tanpa akad) namun berlaku untuk hal2 yang remeh. Karena ijab dan qabul untuk dianggap sulit. (Fiqih Madzahibul Arba’ah, 2/155). Ini dari kitab Syarah Muhadzab :
فرع: صورة المعاطاة التي فيها الخلاف السابق: أن يعطيه درهماً أو غيره ويأخذ منه شيئاً في مقابلته، ولا يوجد لفظ أو يوجد لفظ من أحدهما دون الآخر، فإذا ظهر ـــ والقرينة وجود الرضى من الجانبين ـــ حصلت المعاطاة، وجرى فيها الخلاف
Contoh dari jual beli secara mu’athoh yang terjadi perbedaan pendapat di atas ialah : semisal jika orang itu memberikan uang dan ia mengambil barang sedagai gantinya. Dan tidak ada kalimat yang menayatkan ijab qobul. Maka jika secara dhohir ada kerelaan diantara keduanya (pembeli dan penjual) maka itulah yang dinamakan jual beli secara mu’athoh yang mana keabsahannya terjadi khilaf. (Majmu’ Syarah Muhadzab, 9/163-164).

Adapun penjelasan yang tidak memperbolehkan adalah sebagai berikut:

Refensi :

المهذب الجزء الأول ص: ٢٥٧
ولاينعقد البيع إلا بالإيجاب والقبول فأماالمعاطة فلاينعقد بها البيع لأن اسم البيع لايقع عليه والإيجاب أن يقول بعتك أو ملكتك أو ماأشبههما والقبول أن يقول قبلت أو أبتعت أو ماأشبههما.
وعبارة المجموع:وأحسن من هذه المسألة وأوضحها المتولى فقال المعاطة التى جرة بها العادة بان يزن النقد ويأخذ المتاع من غير إيجاب ولاقبول ليست بيعا على المشهور من مذهب الشافعى وقال إبن سريج كل ماجرت العادة فيه بالمعاطة وعده بيعا فهو بيع ومالم تجر فيه العادة كالجوارى والدواب والعقار لايكون بيعا قال وهذا وهو المختار للفتوى- الى ان قال- (فرع) صورة المعاطة التى فيها الخلاف السابق أن يعطيه درهما أوغيره ويأخذ منه شيئا فى مقابلته ولايوجد لفظ أويوجد لفظ من أحد هما دون الأخر-الى ان قال-فأما إذا أخذ منه شيئا ولم يعطه شيئا ولم يتلفظابيع بل نويا أخذه بثمنه المعتاد كمايفعله كثير من الناس فهذا باطل بلا خلاف لانه ليس بيع لفظي ولامعاطة ولايعد بيعا فهو باطل.

Sedangkan penjelasan yang tidak memperbolehkan adalah sebagai berikut:

Referensi :

هامش إعانة الطالبين الجزء الثانى ص:٤

{كاشتريت} هذا بكذا {وقبلت} أو رضيت أو أخذت أو تملكت {هذا بكذا} وذلك لتتم الصيغة الدال على اشتراطها قوله صلى الله عليه وسلم إنمالبيع عن تراض والرضا خفي،فاعتبر مايدل عليه من اللفظ فلاينعقد بالمعاطاة لكن اختير الإنعقاد بكل مايتعارف البيع بهافيه كالخبز واللحم دون نحو الدواب والاراضى.فعلى الأول المقبوض بها كالمقبوض بالبيع الفاسد أى فى أحكام الدنيا، أمافى الآخرة فلا مطالبة بها ويجري خلافها فى سائر العقود.وصورتها أن يتفقا على ثمن ومثمن وإن لم يوجد لفظ من واحد.
إعانة الطالبين الجزء الثالث ص:٤

Jual beli mu’athah adalah kesepakatan kedua belah pihak atas harga (tsaman) dan barang yang dijual (mutsaman), dan keduanya saling memberi tanpa ijab qabul, dan kadang-kadang ada lafadz (perkataan) dari salah satu pihak.

Namun para fuqaha berbeda pendapat mengenai keabsahan jual beli mu’athah. Berikut adalah beberapa pendapat para fuqaha mengenai jual beli mu’athah:

Menurut Hanafiah, Malikiyah, dan Hanabilah dalam qaul yang paling rajah, hukum jual beli mu’athah adalah sah apabila sudah menjadi adat kebiasaan yang menunjukkan kepada kerelaan, dan perbuatan tersebut menggambarkan kesempurnaan kehendak dan keinginan masing-masing pihak.

Menurut Syafi’iyah, semua akad termasuk jual beli harus menggunakan lafadz yang sharih atau kinayah, dengan ijab qabul. Oleh karena itu, jual beli mu’athah hukumnya tidak sah, baik barang yang dijual berharga mahal atau murah. Alasannya adalah bahwa unsur utama dalam jual beli adalah kerelaan kedua belah pihak.

Unsur kerelaan berada dan tersembunyi di dalam hati. Oleh karena itu, kerelaan perlu diungkapkan dengan ijab dan qabul. Apalagi persengketaan jual beli bisa berlanjut ke pengadilan.

Hal ini didasarkan pada hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah dari Abi Sa’id Al-Khudri bahwa Rasulullah bersabda:

انما البيع عن تراض

Artinya:
“Sesungguhnya jual beli itu harus atas dasar suka sama suka”

Akan tetapi, beberapa ulama Syafi’iyyah seperti An-Nawawi dan Al-Mutawalli membolehkan jual beli mu’athah di dalam setiap sesuatu yang dianggap sebagai jual beli. Sebagian dari ulama Syafi’iyyah seperti Ibnu Suraij dan Imam Ar-ruyani membolehkan jual beli mu’athah khusus dalam barang-barang yang murah, seperti roti, sayuran, dan lain-lain.

Imam Hanafi mengatakan hal serupa dalam suatu riwayatnya dengan mensyaratkan ijab dan kabul untuk jual beli barang yang besar, sedangkan barang kecil-kecilan tidak diperlukan.

Jual Beli Muathah Sekarang
Dengan berkembangnya teknologi, dunia perdagangan semakin mengalami corak-corak tersendiri, hingga kepada hal yang semakin praktis. Teknis pelaksanaannya tidak lagi menggunakan “ijab dan qabul”.

Dan yang tidak menggunakan ijab qabul inilah dalam bahasa fiqh yang disebut “jual beli mu’athah” (saling memberi dan menerima), karena adanya perbuatan dari pihak-pihak yang telah saling memahami perbuatan transaksi tersebut dengan segala akibat hukumnya.

Kegiatan seperti ini sering terjadi di supermarket-supermarket, swalayan-swalayan dan barang-barang kecil yang tidak ada proses tawar menawar di dalamnya. Barang kecil yang dimaksud adalah seperti menjual dan membeli sepotong roti atau sejenisnya sebagai makanan ringan.

Berdasarkan pemaparan masalah tersebut, jual beli swalayan dilakukan melalui transaksi perbuatan. Hal ini dapat disebut dengan ta’ati atau mu’athah. Pihak pembeli telah mengetahui harga barang yang secara tertulis dicantumkan pada barang tersebut. Pada saat pembeli datang ke meja kasir menunjukkan bahwa di antara mereka akan melakukan transaksi jual beli. Maka dari itu hukum jual beli di supermarket adalah sah.

Adapun pengertian akad adalah:

الربط وهو جمع الطرفي حبلين ويشد أحدهما بالآخر حتى يتصلا فيصبحا كقطعة واحدة

Artinya:
“Ikatan, yakni mengumpulkan dua tepi dan mengikat salah satunya dengan lainnya hingga tergabung dan menjadilah ia seperti sepotong benda”.

Sedangkan akad mu’athah adalah:

المعاطة هي الأحذ والاعطاء بدون الكلام

Artinya:
“Al-mu’athah adalah (suatu akad jual beli dengan cara) mengambil dan memberikan sesuatu tanpa harus berbicara”.

Dari pengertian di atas, dapat kita ketahui bahwa jual beli mu’athah adalah jual beli dengan cara memberikan barang dan menerima pembayaran tanpa ijab dan kabul oleh pihak penjual dan pembeli, sebagaimana yang berlaku dalam masyarakat sekarang, dimana transaksi dilakukan dengan cara yang dapat memudahkan kedua belah pihak.

Hal ini dikarenakan hukum Islam pada dasarnya membolehkan segala praktik bisnis yang dapat memberikan manfaat, tiga prinsip dasarnya:

الاصل فى الأشياء الإبحة حتي يدل دليل على تحر يمها

Kaidah hukum islam yang berbunyi “dasar pada setiap sesuatu pekerjaan adalah boleh sampai ada dalil yang mengharamkannya”.

Hadits Rasulullah Saw. yang berbunyi “kaum muslimin bertransaksi sesuai dengan syarat-syaratnya selama tidak menghalalkan yang haram atau mengharamkan yang halal”.

Kaidah hukum Islam yang menyatakan bahwa:

العادة محكمة
Artinya:
“Kebiasaan adalah bagian dari hukum”.

والله أعلم بالصواب

Kategori
Uncategorized

HADITS KE 231 : RINCIAN BACAAN SURAH MUFASSAL DALAM SHALAT LIMA WAKTU

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

BAB TATACARA PELAKSANAAN SHOLAT

HADITS KE 231 :

وعن سليمان بن يسار رضي الله عنه قال: كان فلان يطيل الأوليين من الظهر ويخفف العصر، ويقرأ في المغرب بقصار المفصل، وفي العشاء بوسطه، وفي الصبح بطواله، فقال أبو هريرة : ما صليت وراء أحد أشبه صلاة برسول الله صلى الله عليه وسلم من هذا . أخرجه النسائي بإسناد صحيح

Dari Sulaiman ibn Yasar (r.a), beliau berkata: “Si fulan selalu
memperpanjang bacaannya pada dua rakaat pertama sholat dzuhur dan meringankan (mempersingkat bacaan ketika mengerjakan) sholat Asar. Dalam sholat Maghrib, dia
membaca surah-surah yang pendek, sedangkan ketika mengerjakan sholat Isyak, membaca surah-surah yang pertengahan dan dalam sholat Subuh membaca surah-surah yang panjang. Mendengar itu, Abu Hurairah berkata: “Aku belum pernah sholat di belakang seorang pun yang sholatnya mirip dengan sholat Rasulullah (s.a.w)
selain dari orang ini (maksudnya si fulan tersebut).” (Diriwayatkan oleh al-Nasa’i dengan sanad yang sahih)

MAKNA HADITS :

Subuh dan Dzuhur merupakan waktu istirahat dan oleh kerananya, disyariatkan memperpanjang bacaan pada kedua sholat tersebut supaya orang-orang yang terlambat sempat mengerjakan sholat berjamaah. Waktu Isyak adalah waktu orang mulai merasa mengantuk sedangkan waktu Asar adalah waktu istirahat setelah bekerja sepanjang siang hari sehingga tubuh mereka lelah di kala itu dan oleh karenanya, disyariatkan mempersingkat bacaan sholat pada kedua waktu tersebut, yakni lebih singkat daripada sholat dzuhur dan sholat Asar. Adapun sholat Maghrib
memiliki waktu singkat di samping orang amat sibuk untuk menyediakan makan malam atau berbuka puasa bagi orang yang berpuasa dan untuk para tamu mereka dan oleh kerananya, maka sholat Maghrib pun mesti disingkatkan.

FIQH HADITS :

1. Disyariatkan membaca surah mufassal yang panjang ketika mengerjakan sholat Subuh dan sholat Dzuhur agar orang-orang sempat mengikuti sholat berjamaah, sebab ketika itu banyak orang yang terlambat karena baru bangun tidur atau baru beristirahat.

2. Disyariatkan membaca pertengahan surah mufassal ketika mengerjakan sholat Isyak dan sholat Asar kerana waktu Isyak adalah waktu orang-orang sudah mulai mengantuk, dan waktu Asar adalah waktu istirahat dari kepenatan bekerja sepanjang siang hari.

3. Disyariatkan membaca surah mufassal yang pendek ketika mengerjakan sholat Maghrib memandang waktu Maghrib singkat dan waktu yang sibuk untuk menyediakan makan malam bagi tamu dan hidangan untuk berbuka bagi orang yang puasa.

Surah Mufassal : Surah-surah ini dinamakan mufassal karena banyaknya fasl (pemisah) di antara surah-surahnya dengan “basmalah”.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

Kategori
Uncategorized

J022. APAKAH RUH BISA MELIHAT ORANG YANG MASIH HIDUP?

PERTANYAAN :

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Apakah ruh orang yang sudah meninggal dunia bisa melihat orang yang menziarahinya?

JAWABAN :

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

1- Ruh adalah jiwa yakni jiwa adalah ruh yang halus yang diciptakan oleh Allah sebelum jasad. Setelah ruh berhubungan dengan jasad maka ruh itu dapat mengenal/mengetahui kepada yang lain dan terhijab dari Allah dengan sebab kesibukannya dari Allah. Maka dari itu ruh (jiwa) butuh kepada peringatan.

Allah berfirman :

فذكر فإن الذكر تنفع المؤمنين

“Maka berilah peringatan sesungguhnya peringan itu berguna terhadap orang-orang yang beriman”

Jiwa (ruh) berupa mutiara yang bersinar di badan, maka jika ia bersinar di luarnya badan dan di dalamnya maka ia akan menghasilkan bangun, dan jika hanya menyinarinya di dalam badan maka ia akan menghasilkan tidur, dan jika sinarnya semua terputus (diluar badan dan didalam badan) maka akan menghasilkan mati. Ruh adalah halus yang bangsa robbaniy dari halusnya hingga ia tidak dapat terlihat. Oleh karenanya jika bertanya tentang hakikat ruh, maka ruh itu adalah urusan Allah.

Dalam hal ini Allah berfirman dalam al-Qur’an surat al-Anfal :

ويسئلونك عن الروح قل الروح من أمر ربي

“Dan mereka bertanya kepadamu (Muhammad) tentang ruh katakanlah bahwa ruh adalah urusan Tuhanku”

2- Ruh jika sudah terpisah dari badan maka ketika dia ada di alam barzah dia hidup secara barzahiyyah ia mengenal atau mengetahui tehadap orang yang hidup yakni orang yang datang berziarah ke kuburannya.

Bahkan dia menjawab ucapan salamnya orang yang berziarah:

Dalil hadits :

مامن أحد يمر على قبر أخيه المؤمن كان يعرفه فى الدنيا فسلم عليه إلا عرفه ورد عليه السلام {رواه إبن أبى الدنيا والبيهقى}

“Tiada seorang yang yang berjalan diatas kuburan saudaranya yang mu’min sedangkan dia (ahli kubur) mengenalinya di dunia lalu dia (yang berjalan/zaair) mengucapkan salam, maka dia (ahli kubur) menjawab tehadap salamnya. {HR. Ibnu dunya dan Baihaqi}.

المراجع : تنوير القلوب ص: ٢١٦-٢١٧

Referensi :
تنوير القلوب ص: ٤٦٥
ثم اعلم أن النفس لطيفة ربانية وهى الروح قبل تعلقها بالأجساد،وقد خلق الله الروح قبل الأجساد،فكانت حينئذ فى جوار الحق وقربه، فلما أمرها الحق ان تعلق بالأجساد عرفت الغير فحجبت عن حضرة الحق بسب شغلها عنه تعالى فلذلك احتاجت الى مذكر قال الله تعالى( فذكر فإن الذكر تنفع المؤمنين) وهى جوهر مشرق على البدن ، فإن أشرق على ظاهر البدن وباطنه حصلت اليقظة، وإن أشرق على باطن البدن دون ظاهره حصل النوم ، وإن انقطع إشرافه بالكلية حصل الموت

Dalil dari hadits lain :

عَنْ سُفْيَانَ عَمَّنْ سَمِعَ مِنْ اَنَسِ ابْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللهُ تَعَالَى عَنْهُ يَقُوْلُ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ الْأَعْمَالَ الْأَحْيَاءِ تُعْرَضُ عَلَى عَشَآئِرِهِمْ وَعَلَى آبَآئِهِمْ مِنَ الْأَمْوَاتِ فَإِنْ كَانَ خَيْرًا حَمِدُوا اللهَ تَعَالَى وَاسْتَبْشِرُوْا وَإِنْ يَرَوْا غَيْرَ ذٰلِكَ قَالُوْا : اَللهم لَا تَمُتُّهُمْ حَتَّى تَهْدِيْهِمْ هِدَايَةً فَقَالَ عَلَيْهِ السَّلَامَ يُؤْذِى الْمَيِّتِ فِى قَبْرِهِ كَمَا يُؤْذِى فِى حَيَاتِهِ قِيْلَ مَا اِيْذَاءُ الْمَيِّتِ قَالَ عَلَيْهِ السَّلَامَ اِنَّ الْمَيِّتَ لَايَذْنَبُ وَلَايَتَنَازَعُ وَلَايَخَاصَمُ أَحَدًا وَلَايُؤْذِى جَارًا إِلَّا أَنَّكَ اِنْ نَازَعْتَ أَحَدًا لَابُدَ اَنْ يَسْتَمَكَ وَوَالِدَيْكَ فَيُؤْذِيَانِ عِنْدَ الْاُسَاةِ وَكَذٰالِكَ يَفْرَحَانِ عِنْدَ اْلإِحْسَانِ فِى حَقِّهِمَا.

Dari Sufyan, dia dari seseorang yang pernah mendengar dari Anas bin Malik ra. dia berkata, Rasulullah saw. bersabda : “Sesungguhnya amal-amal (perbuatan) mereka yang masih hidup itu bisa diperlihatkan kepada keluarga dan ayah-ayahnya yang sudah meninggal dunia. Jika amal tersebut baik maka mereka merasa gembira dan memuji Allah swt. akan tetapi jika amal tersebut buruk, maka mereka (para mayit) berdo’a ‘Ya Allah, janganlah Engkau tutup usianya sebelum Engkau memberi petunjuk kepada mereka’ “. Kemudian, Rasulullah saw. bersabda : “Mayit yang ada di dalam kubur itu juga bisa merasakan sakit, apabila dia disakiti sebagaimana halnya saat dia masih hidup ”. ‘Apa yang dapat menyakiti si mayit?’ demikian beliau ditanya. Rasulullah saw. menjawab, “ Jika engkau bersengketa dengan seseorang, kemudian orang tersebut mencacimu dan mencaci kedua orang tuamu (yang sudah meninggal). Maka, si mayit yang sama sekali tidak merasa berdosa, bersengketa dan bersitegang (bermusuhan) kepada orang itu serta tidak merasa menyakiti hati tetangga, akan turut juga terkena cacian dari orang tersebut. Jadi, si mayit akan merasa disakiti hatinya jika dijelek-jelekkan (di caci-maki). Begitu juga sebaliknya, si mayit akan merasa senang hatinya jika dibagus-baguskan (di puji).”

(Dinukil dari Kitab ‘Ushfuriyyah)

Dalam salah satu kitab yang membahas tentang hal ini, yaitu kitab yang berjudul “Ar-Ruh” karya Ibnu Qayyim al-Jauziyyah menjelaskan banyak dalil bahwa orang yang telah meninggal dunia mengetahui jika diziarahi dan menjawab salam jika disalami. Sebuah hadits dari Nabi saw. menjelaskan : “Jika seseorang berziarah kepada makam saudaranya, dan duduk dekat pusara saudaranya itu, maka saudaranya yang telah meninggal dunia itu akan merasa tenang dan menjawab salamnya, sampai orang tadi berdiri pergi meninggalkan pemakaman”.

Bahkan, di halaman-halaman berikutnya Ibnu Qayyim menjelaskan banyak pendapat sekaligus dalil bahwa perbuatan dan tindakan orang-orang yang masih hidup disiarkan secara langsung kepada kerabatnya yang telah meninggal dunia; jika mereka melihat amal keluarganya itu baik, maka mereka akan gembira dan bahagia. Namun, jika mereka melihat amal keluarganya jelek, maka mereka berusaha mendo’akannya agar Allah memberi petunjuk kepada keluarganya.

Ibnu Qayyim membagi ruh menjadi dua :

– Ruh yang disiksa

– Ruh yang bergelimang nikmat

Ruh-ruh yang disiksa, disibukkan oleh siksaan yang dialaminya sehingga tidak sempat saling bertemu atau berkunjung. Sedangkan ruh yang mendapat nikmat, dalam keadaan bebas tidak ditahan sehingga bisa ke mana saja untuk saling berkunjung, bahkan memperbincangkan masa lalu mereka saat hidup di dunia.

Lalu, apakah ruh-ruh orang yang meninggal dunia bisa bertemu dengan orang yang masih hidup?

Ibnu Qayyim berkata, bisa, yaitu melalui mediasi dunia mimpi saat orang yang masih hidup sedang tidur, saling bicara, ngobrol tentang apa saja, bahkan tentang yang terjadi di dunia, dan cerita soal ini sangat banyak sekali kita dengar. Salah satunya terjadi di zaman Nabi saw.,yaitu yang dialami oleh sahabat-sahabat beliau.

Diriwayatkan, bahwa ada dua sahabat Nabi saw. yang saling berteman karib (akrab), yaitu Auf bin Malik dan Sha’b bin Jutsamah, keduanya membuat sebuah kesepakatan, jika salah satu dari keduanya meninggal dunia lebih dulu, maka jika bisa, yang meninggal dunia lebih dulu harus datang di mimpi yang masih hidup.

Beberapa waktu kemudian Sha’b meninggal dunia, dan dia datang ke mimpi Auf, Auf pun melihatnya di mimpi dan keduanya mulai berbincang.

“Apa yang kau alami di sana?” tanya Auf.

“Alhamdulillah, Allah mengampuni dosa-dosaku” jawab Sha’b. Hanya saja Auf melihat bercak hitam di leher Sha’b.

“Apa ini?” tanya Auf.

“Oh, ini sebab hutangku pada seorang Yahudi, 10 Dinar, belum aku bayar, tolong bayarkan hutangku, uangnya ada di kotak di rumahku, tempatnya di sudut.” kata Sha’b.

“Auf, aku beri tahu kamu, bahwa semua kabar keluargaku sepeninggalku, seluruhnya sampai kepadaku, bahkan kucing kami yang barusan mati beberapa hari lalu,” lanjut Sha’b menutup pertemuan itu.

Setelah itu, Auf terbangun dengan penuh keheranan, dan langsung bergegas ke rumah sahabatnya itu untuk membuktikan apakah mimpi itu benar. Setelah sampai di rumah sang sahabat, ternyata apa yang dikatakan di mimpi tadi memang benar. Uang 10 Dinar juga ditemukan di sebuah kotak di sudut rumah, dan oleh Auf diambil untuk dibayarkan pada Yahudi tadi.

Namun, Auf bertanya pada Yahudi tadi apa benar Sha’b berhutang padanya 10 Dinar dan belum sempat dibayar? Yahudi tadi membenarkan jika Sha’b berhutang padanya.

Lalu, Auf kembali ke rumah Sha’b, dan bertanya pada Istri Sha’b, apakah terjadi sesuatu di rumah ini? Istri Sha’b menjawab, tidak terjadi apa-apa, kecuali kucing yang mati beberapa hari lalu.

عَنِ ابْنِ مَسْعُودٍ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ كُنْتُ نَهَيْتُكُمْ عَنْ زِيَارَةِ الْقُبُوْرِ فَزُوْرُوْهَا فَإِنَّهَا تُزَهِّدُ فِي الدُّنْيَا وَتُذَكِّرُ الْآخِرَةَ

Dari Ibnu Mas’ud bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Aku telah melarang kalian untuk berziarah kubur, sekarang berziarahlah. Karena ia dapat menjadikan zuhud di dunia dan mengingatkan dengan akhirat.” (HR. Ibnu Majah)

Dari keterangan hadits-hadits di atas dan riwayat dari sahabat Nabi saw. tersebut menjadikan bukti kuat bahwa orang yang telah meninggal dunia bisa mengetahui keadaan orang yang masih hidup terutama keluarganya. Bahkan, perintah Nabi saw. kepada umatnya untuk mengirim doa, bacaan Al-Qur’an dan ziarah kubur serta membaca salam kepada ahli kubur ketika masuk pemakaman menjadi bagian bukti kuat bahwa orang yang sudah meninggal dunia sangat mengharap do’a dan bisa menjawab salam orang yang masih hidup.

والله أعلم بالصواب

Kategori
Uncategorized

M078. HUKUM MELAMAR PEKERJAAN DENGAN IJAZAH PALSU

PERTANYAAN :

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Deskripsi masalah:

Dalam dunia bisnis atau perusahaan sekarang ini sudah banyak yang resmi dan mendapatkan surat idzin pemerintah.

Studi kasus: Ada seseorang yang mendaftar/melamar pekejaraan yang diantara persyaratannya adalah harus berijazah, dan dia diterima namun ijazahnya palsu.

Pertanyaannya:
1-Bagaimana hukum agama menyinggapi kasus tersebut.Halalkah hasil usaha/pekerjaan sementara waktu mendaftar ijazahnya palsu?

JAWABAN :

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

Tanggapan:

Agama Islam adalah agama yang benar dan melarang terhadap penganutnya melakukan hal yang tidak benar, seperti halnya menipu, berbohong dan lain sebagainya, bahkan agama melarang mendekati (berbuat) perkara yang subhat.

Jawaban:

Hukumnya mendaftar pekerjaan dengan persyaratan berkas yang palsu (Ijazah palsu) hukumnya adalah tidak sah, karena tidak sah maka hukum gajinya syubhat yaitu tidak jelas halal dan haramnya.

Untuk lebih jelasnya syubhat diklasifikasikan menjadi tiga tingkatan :

Pertama:

Diyakini haramnya dan diragukan halalnya, syubhat ini berhukum haram.

Kedua:

Diyakini halalnya dan diragukan haramnya. Termasuk kategori wara’ bilamana kita mampu meninggalkannya.

Ketiga:

Syubhat yang berada diantara kedua syubhat diatas, yakni adanya keragu-raguan antara halal dan haram.

Oleh karena itu bagi seorang yang bekerja dengan persyaratan yang tidak semestinya yang seandainya ditemukan berkas itu palsu maka jelasnya tidak diterima, maka dari itu hasil dari usahanya adalah syubhat (diragukan antara halal dan haramnya) dalam hal ini Rasul bersabda melarang melakukannya, dan memerintahkan agar meninggalkannya.

Dalil hadits yang pertama:

دع مايريبك إلى مالايريبك {رواه أحمد}

Tinggalkan sesuatu yang meragukanmu kepada sesuatu yang tidak meragukannmu.(HR.Ahmad).

Hadits yang kedua:

من اتقى الشبهات فقداستبرأ لدينه وعرضه ومن وقع فى الشبهات وقع فى الحرام. الحديث

” Barang siapa menghindari perkara syubhat maka ia telah memurnikan agamanya dan kehormatannya. Dan barang siapa yang jatuh pada perkara syubhat maka ia telah jatuh didalam keharaman.

Referensi :

رسالة المعاونة فى باب الورع

رسالة المعاونة:٢٤

{وعليك} بالورع عن المحرمات والشبهات فإن الورع ملاك الدين والذى عليه المدار عند العلماء العاملين وقد قال رسول الله صلى الله عليه وسلم :” كل لحم نبت من سحت من الحرام فالنار أولى به، ةقال عليه الصلاة والسلام :من اتقى الشبهات فقد استبرأ لدينه وعرضه ومن وقع فى الشبهات فقد وقع فى الحرام. {واعلم} أن الذى يتناول الحرام والشبهات قل أن يوفق لفعل العمل الصالح وان وفق له ظاهرا فلا بد أن يعرض من الأفات الباطنة مايفسده عليه……………………..وأما الشبهات فهى درجات فمنها ماتيقن تحريمه وشك فى حله وهذه الشبه حكمها حكم الحرام ،ومنها ماتبقن حله وشك فى تحريمه وهذا الشبه تركها من الورع،ومنها ماهو بين ذلك كالذى يحتمل أن يكون حلالا ويحتمل أن يكون حراما، وقد قال عليه الصلاة والسلام دع مايريبك الى مايريبك وإنما يستدل على ورع الرجل باحجامه عن الآمر المشكل حتى يتضح ولا يكون العبد من المتقين حتى يترك الحلال المحض الذى يخشى عند تناوله والوقوع فيما وراءه من الشبهات والحرام ،وقال عليه السلام :لايبلغ العبد درجة المتقين حتى يترك مالابأس به حذرا ممابه بأس

والله أعلم بالصواب

Kategori
Uncategorized

HADITS KE 230 : ANJURAN MEMPERPANJANG BACAAN AYAT DALAM SHALAT DZUHUR

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

BAB TATACARA PELAKSANAAN SHOLAT

HADITS KE 230 :

وَعَنْ أَبِي سَعِيدٍ اَلْخُدْرِيِّ رضي الله عنه قَالَ : ( كُنَّا نَحْزُرُ قِيَامَ رَسُولِ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم فِي اَلظُّهْرِ وَالْعَصْرِ فَحَزَرْنَا قِيَامَهُ فِي اَلرَّكْعَتَيْنِ اَلْأُولَيَيْنِ مِنْ اَلظُّهْرِ قَدْرَ : (الم تَنْزِيلُ) اَلسَّجْدَةِ . وَفِي اَلْأُخْرَيَيْنِ قَدْرَ اَلنِّصْفِ مِنْ ذَلِكَ . وَفِي اَلْأُولَيَيْنِ مِنْ اَلْعَصْرِ عَلَى قَدْرِ اَلْأُخْرَيَيْنِ مِنْ اَلظُّهْرِ وَالْأُخْرَيَيْنِ مِنْ اَلظُّهْرِ ) رَوَاهُ مُسْلِمٌ

Abu Said Al-Khudry Radliyallaahu ‘anhu berkata: Kami pernah mengukur lama berdirinya Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam dalam sholat Dhuhur dan Ashar. Setelah kami ukur bahwa lama berdirinya dalam dua rakaat pertama sholat Dhuhur sekitar lamanya membaca (Alif Laam Mim. Tanziil) al-Sajadah. Dan dalam dua rakaat terakhir sekitar setengahnya dalam dua rakaat pertama sholat Ashar seperti dua rakaat terakhir sholat Dhuhur dan dua rakaat terakhir setengahnya. Diriwayatkan oleh Muslim.

MAKNA HADITS :

Para sahabat adalah orang yang senantiasa bersemangat untuk menghafal Sunnah, menukil dan memastikannya untuk kemudian disampaikan kepada kaum muslimin yang lain. Oleh itu, mereka selalu meneliti semua perbuatan dan perkataan Rasulullah (s.a.w). Mereka berjumlah tiga puluh orang, antara lain ialah Abu Sa’id al-Khudri. Beliau memperkirakan waktu sholat Rasulullah (s.a.w), lalu mereka menerangkan kadar lama berdiri Nabi (s.a.w) dalam setiap rakaat, begitu pula mengenai disiplin baginda diwaktu mengerjakan sholat.

Memandang waktu dzuhur adalah waktu istirahat pada waktu siang hari, maka Rasulullah (s.a.w) memperpanjang bacaannya dalam sholat tersebut dengan bacaan yang lebih panjang daripada sholat Asar, supaya orang yang terlambat sempat berjemaah sholat dengan baginda. Ketika mengerjakan sholat Asar, baginda mempercepat karena sholat Asar dikerjakan ketika orang sedang bekerja.

Apa yang dikerjakan oleh Rasulullah (s.a.w) itu adalah menjadikan sholat-sholat yang dikerjakannya sebagai rahmat ke atasnya. Nabi (s.a.w) adalah seorang yang pengasih lagi penyayang. Baginda memperpanjang bacaan sholatnya pada rakaat pertama dan mempercepat pada rakaat kedua memandang keadaan yang paling bersemangat bagi orang yang sedang sholat ialah pada permulaan sholat. Keadaan ini sentiasa dilakukan dalam setiap sholat.

FIQH HADITS :

1. Disunatkan memperpanjang bacaan pada dua rakaat pertama sholat dzuhur dan Rasulullah (s.a.w) kadang membaca ayat yang lain selain al-Fatihah pada dua rakaat yang berikutnya.

2. Disunatkan mempersingkat bacaan dalam sholat Asar, dan menjadikan kadarnya separuh dari bacaan sholat Dzuhur.

3. Diperbolehkan berpegang dengan prasangka dalam menyampaikan berita.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

Kategori
Uncategorized

D022. HUKUM MERUBAH DHOMIR DALAM DO’A YANG MA’TSUR DARI AL-QUR’AN DAN HADITS

PERTANYAAN :

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Deskripsi masalah:
Sudah menjadi tradisi khusus-Nya di dairah kami ummat Islam madura dan juga jawa pada umumnya, jika seseorang hendak berangkat haji kemekah al-Mukarramah maka diadakan acara selamatan tasyakkur bahkan istighasah (pernyo’onan: red)dengan bermacam-macam amalan dan bacaan setiap malam, seperti shalawat sir, ayat kursi, shalawat nariyah dll, mulai berangkat sampai datang dari mekah, setelah selasai mengamalkan amalan atau bacaan biasanya lalu ditutup dengan do’a oleh sang Kyai. Studi kasus kami pernah ikut istighasah (apernyo’onan haji) sedang yang haji dua orang/ suami istri (Fulan dan Fulanah), setelah selesai berdzikir/ shalawat sang Kyai berdo’a begini:

اللهم اجعلهما حجا مبرورا وسعيا لهما سعيا مشكورا وذنبا لهما ذنبا مغفورا وعملا لهما عملا صالحا وتجارة لهما تجارة لن تبور.

Pertanyaannya:
1-Bolehkah merubah kalimat dan dlomir dalam do’a yang warid dari Nabi saw,?

2-Kalau boleh merubah kata dari mufrad ke tatsniyah atau jama’ atau merubah dlomir dengan merujuk pada kata sebelumnya menurut ilmu tata bahasa (ilmu nahwu) benarkah dalam setudi kasus susunan kalimat do’a tersebut diatas?

3-Jika misalkan kalimat/dan dlomirnya salah apakah bisa diterima sementara ma’nanya sudah tidak sesuai (keliru)?

Mohon jawaban para mujawwib /Kyai dan ust.. Syukron..

JAWABAN :

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

Jawaban No.1 :

Boleh merubah do’a yang warid atau yang ma’tzurah yakni dari dlomir mutakallim wahdah menjadi dlomir mutakallim maal ghair dengan mengkodisikan (menyesuaikan dengan keadaan) dan si pembaca tidak dihukumi kafir dengan niat iqtibas karena yang namanya iqtibas pasti berubah dari kata asalnya begitu juga ma’nanya walau tidak terlalu jauh. Oleh karenanya sebagai tokoh agama yang memimpin do’a harus menguasi medan atau keadaan yang paling terpenting adalah ilmu tata bahasa, dengan tujuan agar terkesan baik oleh jamaah yang dapat memahaminya.

Referensi :

جواهر البلاغة ص.٣٣٨-٣٣٩
الإقتباس هو أن يضمن المتكلم
منثورة، أو منظومه، شيأ من القرآن او الحديث ، على وجه لايشعر بأنه منهما فمثاله من {النثر} {فلم يكن إلا كلمح البصر أو هو أقرب} حتى أنشد فأغرب، ونحو قول الحريرى، أنا أنبئكم بتأويله،-إلى أن قال من الحديث فى {النثر} قول الحرير ،شاهت الوجوه ،وقبح الله ومن يرجوه،وكقوله الحريرى أيضا وكتمان الفقر زهاده، وانتشار الفرج عباده

Dalam ibarah yang lain dijelaskan sebagai berikut:

زهر الحكم فى الأمثال والحكام الجزء الثانى ٢٦
وهذا من الإقتباس وهو أن يؤتى فى الكلام المنثور او المنظوم بلفظ يشبه لفظ القرآن او الحديث غير منوى إنه قرآن او حديث، ولابد من هذاالقيد الآخر:ولذلك ساغ سوق اللفظ مع تغيير فيه أوفي معناه ولايلزم فيه كفر تبديل القرآن ولا خلاف نقل الحديث بالمعنى

Begitu juga diperkuat dalam ibarah yang lain :

الإتقان الجزء الأول ص٣٨٦-٣٨٧
الإقتباس تضمين الشعر أوالنثر بعض القرآن لا على أنه منه بأن لا يقال قال الله تعالى ونحوه فإن ذلك حينئذ لا يكون إقتباسا،وقد استشهر عن المالكية بتحريمه وتشديد النكير على فاعله وأما أهل مذهبنا فلم يتعرض له المتقدمون ولا أكثر المتأخرين مع شيوع الإقتباس فى أعصارهم واستعمال الشعراء له قديما وحديثا. وقد تعرض له جماعة من المتأخرين فسئل عنه الشيخ عز الدين إبن عبد السلام فأجازه واستدل له بما ورد عنه صلى الله عليه وسلم من قوله فى الصلاة وغيرها “وجهت وجهى” الخ ..وقوله: ” اللهم فالق الإصباح وجعل اليل سكنا والشمس والقمر حسبانا إقض عني الدين وأغننى من الفقر ….إلى أن قال- فى شرخ بديعية إبن حجة:ألإقتباس ثلاثة أقسام : مقبول ،ومباح، ومردود، {فلأول} ماكان فى الخطب والمواعظ والعهود .{والثانى} ماكان فى القول والرسائل والقصص {والثالث} على ضربين أحدهما مانسبه الله الى نفسه ، ونعوذ بالله ممن ينقله الى نفسه كما قيل عن أحد بنى مروان أنه وقع على مطالعة فيها شكاية عماله : {إن علينا إيابهم ثم علينا حسابهم } والآخر تضمين آية فى معنى هزل ونعوذ بالله من ذلك ، كقوله: أوحى إلى عشاقه طرفه هيهات هيهات لما توعدون ،وردفه ينطق من خلفه ،لمثل ذا فليعمل العاملون ،وهذاالقسم حسن جدا وبه أقول .
وكذلك يذ كر أيضا عن الإقتباس فى حاشية إعانة الطالبين الجزء الأول ص:١٨
وما ذكر إقتباس من القرآن ،وهو أن يضمن المتكلم كلامه شيأ من القرآن او الحديث، لا على أنه منه ،ولايضر فيه التغيير لفظا ومعنى لأن الإشارة فى القرآن للنعيم ،وهنا للتأليف

Kemudian yang penjelasan terahir makruh bagi pinpinan (Imam) mengkhususkan do’a dalam qunut. Dengan alasan karena adanya larangan mengkhususkan do’a untuk dirinya.

Referensi :
فتح المعين ص ١١٤
وكره لإمام تحصيص نفسه بدعاء أو دعاء القنوت للنهى عن تخصيص نفسه بالدعاء فيقول الإمام :إهدنا وما عطف عليه بلفظ الجمع وقضيته أن سائر الدعاء كذلك

Jawaban No.2 :
Dalam dlomir هما itu adalah menunjukkan dua yang artinya merujuk kalimat sebelumnya jika memang dua orang maka tentu benar.

Untuk lafadz itu maka lebih pas dibiarkan saja sebagimana adanya.
Kalau seperti itu berarti di mufrodkan. Sebab “lafadz hajjan, sa’yan dan dzanban” yang dimksudkan pada kandungan dalam ketiga kalimat tersebut adalah jenis. Yaitu jenis haji yang mabrur. Jenis sa’i yang masykur dan jenis dosa yang terampuni.

Jika yang dimksudkan dalam seuatu kalimat adalah jenisnya maka kalimat terkait tidak bisa dihukumi mufrod, Tasniyyah maupun jamak.

Jawaban No.3 :
Diterima dan tidaknya suatu do’a
seseorang bergantung pada sang Khaliq.

Jelasnya Allah tidak akan menerima terhadap do’a hamba yang tidak yakin dan hatinya adalah kosong (lupa) sebagaimana dijelaskan dalam hadits :

أدعوا الله وأنتم موقنون بالإجابة. واعلموا أن الله لايستجيب الدعاء من قلب غافل لاه. رواه الترمذى والحاكم

“Berdo’alah kepada Allah dengan keyakinan bahwa do’amu akan diterima (dikabulkan Allah). Dan ketahuilah bahwa Allah tidak akan mengabulkan do’a yang timbul dari hati yang hampa dan tidak sungguh-sungguh (main-main).

والله تعالى أعلم بالصواب