logo mubaa
Logo Ittihad

DEWAN PIMPINAN PUSAT
IKATAN ALUMNI BATA-BATA

Kategori
Uncategorized

M041. HUKUM PASANG SUSUK

PERTANYAAN :

Assalamualaikum Ustadz..

Bagaimana hukumnya seorang muslim memakai susuk dari emas? Mohon jawabannya.

JAWABAN :

Waalaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh..

Boleh memakai susuk dengan catatan :

1. Benar – Benar ada Tujuan yang benarkan oleh syara’, Seperti tujuan berobat dsb. ( Hal ini dimaksudkan agar tidak terjadi penyia nyiaan harta)

2. Tidak membahayakan tubuh atau akal ( Hal ini sudah maklum, dalam bab makanan ulamak mufakat bahwa apapun itu maka boleh dikonsumsi angsal tidak berdampak buruk pada badan/akal baik mendatangkan manfaat atau tidak, Seperti batu/krikil).

Referensi:

Hasyiyah al-Bujairomi ala al-Khathiib I/362

فَرْعٌ : وَقَعَ السُّؤَالُ عَنْ دَقِّ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَأَكْلِهِمَا مُفْرَدَيْنِ أَوْ مَعَ انْضِمَامِهِمَا لِغَيْرِهِمَا مِنْ الْأَدْوِيَةِ هَلْ يَجُوزُ ذَلِكَ كَغَيْرِهِ مِنْ سَائِرِ الْأَدْوِيَةِ أَمْ لَا يَجُوزُ لِمَا فِيهِ مِنْ إضَاعَةِ الْمَالِ ؟ فَأَجَبْت عَنْهُ بِقَوْلِي : إنَّ الظَّاهِرَ أَنْ يُقَالَ فِيهِ إنَّ الْجَوَازَ لَا شَكَّ فِيهِ حَيْثُ تَرَتَّبَ عَلَيْهِ نَفْعٌ ، بَلْ وَكَذَا إنْ لَمْ يَحْصُلْ مِنْهُ ذَلِكَ لِتَصْرِيحِهِمْ فِي الْأَطْعِمَةِ بِأَنَّ الْحِجَارَةَ وَنَحْوَهَا لَا يَحْرُمُ مِنْهَا إلَّا مَا أَضَرَّ بِالْبَدَنِ أَوْ الْعَقْلِ .

وَأَمَّا تَعْلِيلُ الْحُرْمَةِ بِإِضَاعَةِ الْمَالِ فَمَمْنُوعٌ لِأَنَّ الْإِضَاعَةَ إنَّمَا تَحْرُمُ حَيْثُ لَمْ تَكُنْ لِغَرَضٍ وَمَا هُنَا لِقَصْدِ التَّدَاوِي وَصَرَّحُوا بِجَوَازِ التَّدَاوِي بِاللُّؤْلُؤِ فِي الِاكْتِحَالِ وَغَيْرِهِ ، وَرُبَّمَا زَادَتْ قِيمَتُهُ عَلَى الذَّهَبِ ع ش عَلَى م ر .

CABANG

Ada pertanyaan tentang melebur emas atau perak dan memakannya secara langsung atau dengan benda lainnya dari obat-obatan, bolehkah perbuatan semacam ini sebagaimana diperbolehkan bentuk-bentuk pengobatan lainnya, ataukah tidak boleh karena didalamnya mengandung unsur ‘menyia-nyiakan harta’ ?

Jawabanku:
“secara zhahir hal ini semestinya dikatakan boleh karena didalamnya terdapat kemanfaatan, bahkan sekalipun tidak terjadi manfaatpun karena penjelasan ulama dalam bab makanan bahwa memakan batu dan sejenisnya tidak haram kecuali bila berdampak buruk pada tubuh atau akal.

Sedangkan menghukumi haram dengan alasan ‘menyia-nyiakan harta’ dilarang, sesungguhnya hal itu apabila tanpa ada tujuan, sedang dalam masalah ini terdapat tujuan untuk pengobatan, para ulama menjelaskan bolehnya berobat memakai mutiara yang dipakai buat celak, sedangkan keberadaan mutiara harganya melebihi emas (Hasyiyah al-Bujairomi ala al-Khathiib I/362).

Kemudian dalam kitab dibawah juga dijelaskan:

Memasangkan susuk pada anggota tubuh itu dalam uruf tidak tergolong kategori memakai (اللبس), sehingga jauh sekali jika dikatakan ini adalah bab Pemakaian hiasan, dengan konsekwensi hukum dalam bab pemakaian, sebab susuk berada didalam daging atau dibawahnya kulit, Juga tidak tergolong kategori bertato, sebab dalam hal ini ( susuk) tidak ada unsur darah yang nampak sebagaimana dalam praktek bertato.

مسئلة : هل يحرم لبس ابرة الذهب أو الفضة المغروزة تحت الجلد لأن بعض الناس لبسه للتزن وبعضهم للقوة وبعضهم للتداوى وبعضهم لغير ذلك؟

الجواب لا يحرم لأنه لا يعد لبسا عرفا ولأنها مستورة.

وأما التعليل بأنه للتزين أو غيره فلا يمنع جوازه لأنه باعتبار القصد فإن قصد به المعصية حرم من جهة المعصية لا من جهة اللبس ألا ترى أن الأكل إذا قصد منه المعصية صار حراما من جهتها لا من جهته

الكردي فى الكبرى التى فى هامش الترمس ج ١ ص ٢٠٧
فإن قلتم اليس هذا من الوشم لأن البرة تنجست بالدم قلنا ليس منه لعدم ظهور الدم .

وفرق بين الشوكة الوشم بأن الدم فى الوشم ظهر واختلط بأجنبي بخلافه فى الشوكة انتهى
.
ولا يخفى أن الشوكة إذا استتر جميعهما صارت فى حكم الباطن انتهى والله أعلم.

Faktor external dalam menggunakan susuk juga diperhitungkan, Sebab terkadang ada sebagian bertujuan mahabbah, atau berkeyakinan akan memperkuat tubuh ada pula penglaris dagangan maka hal yang demikian bisa, boleh boleh saja Apabila Pemakai susuk beri’tiqod bahwa المؤثر adalah Allah SWT, sementara Susuk bagian dari asbab.

تحفة المريد ص : 58
فمن اعتقد أن الأسباب العادية كالنار والسكين والأكل والشرب تؤثر فى مسبباتها الحرق والقطع والشبع والرى بطبعها وذاتها فهو كافر بالإجماع أو بقوة خلقها الله فيها ففى كفره قولان والأصح أنه ليس بكافر بل فاسق مبتدع ومثل القائلين بذلك المعتزلة القائلون بأن العبد يخلق أفعال نفسه الإختيارية بقدرة خلقها الله فيه فالأصح عدم كفرهم ومن اعتقد المؤثر هو الله لكن جعل بين الأسباب ومسبباتها تلازما عقليا بحيث لا يصح تخلفها فهو جاهل وربما جره ذلك إلى الكفر فإنه قد ينكر معجزات الأنبياء لكونها على خلاف العادة ومن اعتقد أن المؤثر هو الله وجعل بين الأسباب والمسببات تلازما عادي بحيث يصح تخلفها فهو المؤمن الناجى إن شاء الله إهـ

“Barangsiapa berkeyakinan segala sesuatu terkait dan tergantung pada sebab dan akibat seperti api menyebabkan membakar, pisau menyebabkan memotong, makanan menyebabkan kenyang, minuman menyebabkan segar dan lain sebagainya dengan sendirinya (tanpa ikut campur tangan Allah) hukumnya kafir dengan kesepakatan para ulama,
atau berkeyakinan terjadi sebab kekuatan (kelebihan) yang diberikan Allah didalamnya menurut pendapat yang paling shahih tidak sampai kufur tapi fasiq dan ahli bidah seperti pendapat kaum mu’tazilah yang berkeyakinan bahwa seorang hamba adalah pelaku perbuatannya sendiri dengan sifat kemampuan yang diberikan Allah pada dirirnya,
atau berkeyakinan yang menjadikan hanya Allah hanya saja segala sesuatu terkait sebab akibatnya secara rasio maka dihukumi orang bodoh
atau berkeyakinan yang menjadikan hanya Allah hanya saja segala sesuatu terkait sebab akibatnya secara kebiasaan maka dihukumi orang mukmin yang selamat, Insya Allah”. [ Tuhfah alMuriid 58 ].

Wallaahu A’lamu Bis Showaab..

Kategori
Uncategorized

HADITS KE 114 : KETENTUAN MENGUSAP PERBAN

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

BAB TENTANG TAYAMUM

HADITS KE 114 :

وَعَنْ عَلِيٍّ رضي الله عنه قَالَ: ( اِنْكَسَرَتْ إِحْدَى زَنْدَيَّ فَسَأَلَتْ رَسُولَ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم فَأَمَرَنِي أَنْ أَمْسَحَ عَلَى اَلْجَبَائِرِ ) رَوَاهُ اِبْنُ مَاجَه بِسَنَدٍ وَاهٍ جِدًّا

Ali Radliyallaahu ‘anhu berkata: Salah satu dari pergelanganku retak. Lalu aku tanyakan pada Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam dan beliau menyuruhku agar aku mengusap di atas pembalutnya. Diriwayatkan oleh Ibnu Majah dengan sanad yang amat lemah.

MAKNA HADITS :

Di antara kemudahan agama Islam ialah memberikan kemudahan kepada hamba-hamba Allah yang antara lain dalam masalah mengusap perban kerana diqiyaskan kepada khuff dan surban. Ia dianggap qiyas jali (qiyas yang bertujuan memperkuat nash). Diantara ulama ada yang berpendapat menggabungkan antara mengusap dan mandi serta tayammum.

FIQH HADITS :

Wajib mengusap perban. Dalam masalah ini ulama berbeda pendapat. Hal ini telah diuraikan secara terperinci dalam kitab-kitab fiqh.

1. Barang siapa mengalami luka, patah atau infeksi pada salah satu bagian tubuhnya lalu pada bagian tersebut dipasang perban dan dia merasa kawatir akan menimbulkan bahaya apabila dibuka, maka menurut Imam al-Syafi’i orang itu boleh mengusap perban tersebut dan bertayammum serta tidak perlu mengqadha’ (sholat yang telah dilakukan) mengikut pendapat yang paling kuat jika perban tersebut dipasang dalam keadaan suci dan diletakkan pada anggota tayammum.

2. Barang siapa pada salah satu anggota tubuhnya mengalami luka, patah atau infeksi, sedangkan sebagian yang lain sehat namun kadar anggota tubuh yang sehat lebih banyak, maka anggota tubuh yang sehat mesti dibasuh, sedangkan yang terluka diusap saja. Jika kadar anggota yang terluka lebih banyak daripada yang sehat, maka dia boleh bertayammum dan kewajiban mandi menjadi gugur. Ini adalah pendapat Imam Malik dan Imam Abu Hanifah sedangkan menurut Imam Ahmad, anggota tubuh yang sehat mesti dimandikan, sedangkan anggota yang terluka hendaklah ditayammumin.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

Kategori
Uncategorized

Z006. HUKUM MENINGGALKAN ZAKAT FITRAH KARENA DARURAT DAN CARA MENGKODHO’NYA

PERTANYAAN :

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Deskripsi masalah:

Ada dua orang berkasab di laut berbulan-bulan paling lama berkisar dua bulan yg disebut dengan mencari ikan (marawi) memasak makanan diperahu. Suatu ketika ia mau pulang kekampungnya diakhir bulan puasa ternyata tiba-tiba mesin perahu konslet/ mati sehingga ia tidak dapat mengeluarkan zakat fitrah.

Pertanyaannya :
1. Dosakah ia meninggalkan zakat fitrah dalam situasi tidak memungkinkan (kerena berada ditengah lautan)/ diwaktu malam hari raya?

2. Apakah zakat fitrah wajib qodlo’?

Mohon jawabannya..

JAWABAN :

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

Jawaban Soal pertama :

Tidak berdosa apabila ada udzur, Semisal ia mengeluarkannya di keesokan harinya yaitu hari sudah tenggelamnya matahari tanggal 1 Syawal jika memang ada udzur,
dicontohkan udzur ini dalam kitab seperti hartanya tidak ada di tempat tersebut atau menunggu orang yang berhak menerima zakat, maka hukumnya tidak haram. Sedangkan status dari zakat yang dikeluarkan setelah tenggelamnya matahari di tanggal 1 Syawwal tersebut adalah qodho’.

Mengakhirkan membayar zakat fitrah tanpa ada udzur setelah hari raya idhul fitri hukumnya berdosa menurut Mazdhab: Syafi’iyah, Malikiyah dan Hanabalah.

ibarot :

الموسوعة الفقهية

فمن أداها بعد يوم العيد بدون عذر كان آثما ، وهو مذهب المالكية والشافعية والحنابلة

Mufakat empat Madzhab bahwa kewajiban Zakat Fitrah tetap tidak gugur oleh sebab mengakhirkan atau keluar daripada waktunya, merupakan tanggungan yang harus diberikan kepada mustahiqnya. Zakat adalah seperti hutang yang harus ditunaikan merupakan Hak bagi sang Hamba. adapun mengenai Hak bagi Allah maka tidak boleh diakhirkan waktunya dan tidak bisa ditambal kecuali dengan Istighfar dan Penyesalan.

ibarot :

الموسوعة الفقهية.

واتفق جميع الفقهاء على أنها لا تسقط بخروج وقتها ؛ لأنها وجبت في ذمته لمن هي له ، وهم مستحقوها ، فهي دين لهم لا يسقط إلا بالأداء ؛ لأنها حق للعبد ،
أما حق الله في التأخير عن وقتها فلا يجبر إلا بالاستغفار والندامة

Dan Solusi jika memang tidak memungkinkan untuk kembali ke darat (jika termasuk udzur) untuk membayarknnya pada waktunya maka mari mentaqlid pada imam abu hanifah saja yang mengatakan tidak ada waktu bagi zakat fitrah.. Meski sesudah sholat id gak papa.. Sebab menurut beliau hanya afdhol saja jika dibayarkan di hari id, sebelum ia berangkat ke masjid.

الموسوعة الفقهية

وقت وجوب الأداء :

ذهب جمهور الحنفية إلى أن وقت وجوب أداء زكاة الفطر موسع ، لأن الأمر بأدائها غير مقيد بوقت ، كالزكاة ، فهي تجب في مطلق الوقت وإنما يتعين بتعينه ، ففي أي وقت أدى كان مؤديا لا قاضيا ، غير أن المستحب إخراجها قبل الذهاب إلى المصلى

Intinya:
Waktu penunaian zakat fitrah adalah luas, kapan dia mampu maka disitulah, sebab perintah penunaiannya tidak dibatasi dengan waktu, sama dengan zakat pada umumnya, namun yang Afdhol / Mustahab adalah mengeluarkannya sebelum ia berangkat ke Musholla untuk sholat id..

وأما ما كان وقته مطلقا كالزكاة والكفارات والنذور المطلقة فقد اختلف الفقهاء في وقت وجوب الأداء بناء على اختلافهم في الأمر به، هل هو على الفور أو على التراخي؟ والكلام فيه على مثال ما قيل فيما كان وقته موسعا في أنه يجب تعجيل الأداء في أول أوقات الإمكان، ويأثم بالتأخير بدون عزم على الفعل، أو أنه على التراخي ولا يجب التعجيل ولا يأثم بالتأخير عن أول أوقات الإمكان، لكن الجميع متفقون على أن وجوب الأداء يتضيق في آخر عمره في زمان يتمكن فيه من الأداء قبل موته بغالب ظنه، وأنه إن لم يؤد حتى مات أثم بتركه (1) . هذا بالنسبة للعبادات الواجبة سواء أكانت موقتة أم مطلقة.

Jawaban Soal kedua :

Pada kasus diatas maka orang tersebut
Wajib menqodho setelah hari raya idul fitri apabila pada saat waktu yang ditentuakan tidak bisa.

Waktu pengeluaran zakat Fitrah memang bisa digeser-geser. Kelonggaran ini patut disyukuri. Hanya saja kelonggaran tentu memiliki batas dimana pergeseran tidak bisa ditoleransi. Keterangan ini bisa didapat antara lain di kitab Tausyih ala Ibni Abi Qasim karya Syekh M Nawawi Banten.

ولزكاة الفطرة خمسة أوقات وقت جواز وهو من ابتداء رمضان, ولايجوز إخراجها قبله, ووقت وجوب وهو بإدراك جزء من رمضان وجزء من شوال ووقت ندب وهو من قبل صلاة العيد ووقت كراهة وهو بعدها ووقت حرمة وهو ما بعد يوم العيد وتكون قضاء

Waktu pelaksanaan untuk mengeluarkan zakat fitrah terbagi menjadi lima kelompok :

1. Waktu wajib : Yaitu, ketika mendapati bulan Ramadhan dan menemui sebagian awalnya bulan Syawal. Oleh sebab itu orang yang meninggal setelah maghribnya malam 1 Syawal, wajib dizakati. Sedangkan bayi yang lahir setelah maghribnya malam 1 Syawal tidak wajib dizakati.

2. Waktu jawaz : Yaitu, dimulai dari awalnya bulan Ramadhan sampai memasuki waktu wajib.

3. Waktu Fadhilah : Yaitu, setelah terbit fajar dan sebelum sholat hari raya.

4. Waktu makruh : Yaitu, setelah sholat hari raya sampai menjelang tenggelamnya matahari pada tanggal 1 Syawal kecuali jika ada udzur seperti menunggu kerabat atau ada orang yang lebih membutuhkan, maka hukumnya tidak makruh.

5. Waktu haram : Yaitu, setelah tenggelamnya matahari tanggal 1 Syawal kecuali jika ada udzur, Maka status zakat yang dikeluarkan menjadi qodho’ sebagaimana dijelaskan pada awal awal jawaban diatas.

Wallahu a’lamu bisshowab..

Kategori
Uncategorized

T027. HUKUM MUNTAH TERTELAN KEMBALI

PERTANYAAN :

Assalamualaikum Ustadz..

Diskripsi :
Ada seseorang yang makannya terlalu kenyang sehingga selang beberapa menit setelah makan orang tersebut makanan yang sudah dimakan barusan keluar lagi atau muntah namun makanan yang keluar dari perutnya tadi di telan.

Pertaxaannya :
Bagaimana hukumnya menelan makanan tersebut?

JAWABAN :

Waalaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh..

Hukumnya ditafshil :

a). Jika makanan tersebut sudah berubah dari bentuk aslinya maka hukum menelannya haram karena termasuk najis.

Referensi :

Imam Ibnu Qudamah rahimahullah berkata :

القيء نجس لأنه طعام استحال في الجوف إلى الفساد فأشبه الغائط

“Muntah hukumnya najis, karena perubahan makanan yang ada diperut menjadi rusak, sehingga disamakan dengan kotoran (manusia)” (Al-Kafi 1/153)

Imam Ibnu Hazam rahimahullah berkata :

وَالْقَيْءُ مِنْ كُلِّ مُسْلِمٍ أَوْ كَافِرٍ حَرَامٌ يَجِبُ اجْتِنَابُهُ ؛ لِقَوْلِ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم: الْعَائِدُ فِي هِبَتِهِ كَالْعَائِدِ فِي قَيْئِه

“Muntah baik dari orang muslim ataupun kafir adalah haram wajib dijauhi berdasarkan sabda Rasulullah shalallahu alaihi wasallam “oarng yang meminta kembali pemberiannya seperti orang yang memakan muntahnya” (Al-Muhalla 1/191). Maksud haram disini adalah najis.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata :

وَالْقَيْءُ نَجِسٌ ؛ لِأَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ (قَاءَ فَتَوَضَّأَ) وَسَوَاءٌ أُرِيدَ غَسْلُ يَدِهِ أَوِ الْوُضُوءُ الشَّرْعِيُّ ؛ لِأَنَّهُ لَا يَكُونُ إِلَّا عَنْ نَجَاسَةٍ

“Muntah hukumnya najis karena Nabi shalallahu alaihi wasallam pernah muntah lalu beliau berwudhu, baik wudhu bermakna cuci tangan ataupun wudhu bermakna wudhu syar’i (seperti wudhu mau shalat) menunjukan bahwa Beliau tidaklah melakukan itu kecuali karena najis” (Syarah Umdatul Fiqih 1/108, Majmul Fatawa 21/597)

Komite tetap dewan Fatwa Saudi Arabiya menyatakan didalam fatwanya :

القيء نجس سواء كان من صغير أو كبير لأنه طعام استحال في الجوف إلى الفساد أشبه الغائط والدم ، فإذا أصاب الثوب أو غيره وجب غسله بالماء مع الفرك والعصر حتى تذهب عين النجاسة وتزول أجزاؤها وينقى المحل

“Muntah hukumnya najis baik muntah orang dewasa ataupun anak kecil, karena ia adalah makanan yang berubah diperut menjadi sesuatu yang rusak sehingga disamakan hukumnya dengan tinja dan darah, maka apabila terkena pakaian atau yang lainya wajib dicuci dengan air sambil digosok serta diperas sampai hilang najisnya lenyap bekasnya dan bersih” (Fatwa Al-Lajnah Ad-Daaimah 4/193 no : 20902)

b). Dihukumi suci apabila masih berbentuk makanan murni.

Referensi :

Imam An-Nawawi rahimahullah berkata :

نجاسة القيء متفق عليها ، وسواء فيه قيء الآدمي وغيره من الحيوانات .. وسواء خرج القيء متغيراً أو غير متغير ، وقيل : إن خرج غير متغير فهو طاهر ، وهو مذهب مالك

“Najisnya muntah adalah perkara yang disepakati atasnya, baik muntah manusia ataupun muntahnya binatang…baik keluar dengan berubah ataupun tidak. Dan ada yang berpenpendapat bahwa kalau tidak berubah maka muntah itu suci dan ini madzhabnya Malik” (Al-Majmu’ 2/551)

Al-Qurrafi rahimahullah berkata :

الْقَيْءُ وَالْقَلْسُ طَاهِرَانِ إِنْ خَرَجَا عَلَى هَيْئَةِ طَعَامٍ

“Al-Qoi-u (muntah) dan qalas (sejenis muntah kalau dalam bahasa nenek moyang saya OLAB) keduanya adalah suci apabila keluar dalam keadaan dalam bentuk makanan” (Ad-Dzakhirah 1/185)

KESIMPULAN :

[a] Hukum muntah ada khilaf dikalangan para ulama antara yang menajiskan dan yang tidak menajiskan.

[b] Pendapat jumhur mayoritas menyatakan najis secara mutlak tanpa perincian.

[c] Diantara ulama ada yang merinci seperti Imam Malik, kalau muntah tersebut sudah berubah kondisinya dari makanan menjadi zat yang rusak dan berbau maka najis kalau tidak berubah maka suci. Dalam hal ini tidak dibedakan antara bayi atau dewasa.

Wallahu a’lamu bisshowab..

Kategori
Uncategorized

T026. CARA MENCUCI PAKAIAN & HUKUM BAU SABUN YANG MUTANAJJIS NEMPEL DI PAKAIAN

PERTANYAAN :

Assalamualaikum Ustadz..

Diskripsi Masalah :
Baju direndam dalam bak berisi air sabun. Lalu dikucek dipisahkan dari air sabun. Setelah itu air sabun dalam bak dibuang dan diganti dg air bersih. Baju yg telah dicuci dimasukkan ke dalam air dg tujuan membersihkan sisa air sabun. Setelah dirasa sisa sabun sdh habis, air dibuang. Setelah itu finising :
baju cucian dimasukkan bak kosong, lalu bak air diisi air sampai meluap.

Pertanyaanya :

1. Sucikah baju yang memakai cara tersebut?

2. Bagaimana hukum sisa bau sabun di baju yang awalnya tercampur dengan pakain mutanajjis dalam satu wadah air?

JAWABAN :

Waalaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh..

Jawaban untuk No.1 :

Cara seperti yang uraikan diatas sudah benar, jadi dengan cara seperti itu baju cucian yang di dalam ember sudah dihukumi suci.

Referensi:

روضة الطالبين الجزء الأول صـ 31

قال المتولي وغيره للماء قوة عند الورود على النجاسة فلا ينجس بملاقاتها بل يبقى مطهرا فلو صبه على موضع النجاسة من ثوب فانتشرت الرطوبة في الثوب لا يحكم بنجاسة موضع الرطوبة ولو صب الماء في إناء نجس ولم يتغير بالنجاسة فهو طهور فإذا أداره على جوانبه طهرت الجوانب كلها قال ولو غسل ثوب عن نجاسة فوقعت عليه نجاسة عقب عصره هل يجب غسل جميع الثوب أم يكفي غسل موضع النجاسة وجهان الصحيح الثاني والله أعلم.

Imam Mutawalli dan lainnya berkata tentang kekuatan air yang didatangkan atas najis, maka air tidak menjadi najis karena bertemu dengan sesuatu yang najis akan tetapi ia tetap suci dan mensucikan. umpama air disiramkan ke sesuatu bagian baju yang najis, lalu basahnya menyebar ke bagian baju yang lain, maka basah yang menyebar tersebut tidak dihukumi najis.

Jawaban untuk No.2 :

Adapun bau sabun yang melekat pada cucian, berikut pendapat para ulama :

a. Ada ulama’ yang menghukumi tidak apa-apa, artinya baju cucian suci apabila hanya tersisa baunya saja, ini pendapat Imam Thobalawie.

b. Imam Romli menyatakan sisa bau sabun masih dihukumi najis, kecuali sulit untuk menghilangkannya.

Referensi:

ﻫﺎﻣﺶ ﺑﻐﻴﺔ ﺍﻟﻤﺴﺘﺮﺷﺪﻳﻦ ﺻ 12

ﻭﻟﻮ ﺯﺍﻟﺖ ﺍﻟﻨﺠﺎﺳﺔ ﺑﺎﻻﺳﺘﻌﺎﻧﺔ ﺑﺎﻟﺼﺎﺑﻮﻥ ﻭﺑﻘﻰ ﺭﻳﺢ ﺍﻟﺼﺎﺑﻮﻥ ﻃﻬﺮ ﻗﺎﻟﻪ ﺍﻟﻄﺒﻼﻭﻯ ﻭﻗﺎﻝ ﻣ ﺭ ﻻﺗﻄﻬﺮ ﺣﺘﻰ ﺗﺼﻔﻮ ﺍﻟﻐﺴﺎﻟﺔ ﺍﻩـ

ﺑﺸﺮﻯ ﺍﻟﻜﺮﻳﻢ ﺻـ 144

ﺗﻨﺒﻴﻪ ﺁﺧﺮ : ﺇﺫﺍ ﻏﺴﻞ ﺛﻮﺑﺎً ﻣﺘﻨﺠﺴﺎً ﺑﻨﺤﻮ ﺻﺎﺑﻮﻥ ﺣﺘﻰ ﺯﺍﻟﺖ ﺍﻟﻨﺠﺎﺳﺔ .. ﻃﻬﺮ ﻭﺇﻥ ﺑﻘﻲ ﺭﻳﺢ ﺍﻟﺼﺎﺑﻮﻥ، ﻗﺎﻟﻪ ﺍﻟﻄﺒﻼﻭﻱ . ﻭﻗﺎﻝ ‏( ﻡ ﺭ ‏) : ﻻ ﻳﻄﻬﺮ ﺣﺘﻰ ﺗﺼﻔﻮ ﺍﻟﻐﺴﺎﻟﺔ ﻣﻦ ﺭﻳﺢ ﺍﻟﺼﺎﺑﻮﻥ، ﺃﻱ : ﻹﻣﻜﺎﻥ ﺍﺳﺘﺘﺎﺭ ﺭﻳﺢ ﺍﻟﻨﺠﺲ ﻓﻲ ﺭﻳﺤﻪ ﻭﻳﻌﻔﻰ ﻋﻤﺎ ﻳﺸﻖ ﺍﺳﺘﻘﺼﺎﺅﻩ

Apabila baju najis dicuci dengan bantuan sabun dan sejenisnya sampai bersih, maka baju tersebut suci, walaupun masih tersisa bau sabun, ini pendapat Imam Thobalawie.

Sedangkan Imam Romli berkata : Tidak suci sampai cucian bersih dari bau sabun, karena dimungkinkan bau najis tertutup oleh bau sabun, akan tetapi dima’fu jika sulit menghilangkannya.

Wallahu a’lamu bisshowab..

Kategori
Uncategorized

HADITS KE 113 : ORANG JUNUB BOLEH TAYAMMUM APABILA KAWATIR TERTIMPA MUDARAT

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

BAB TENTANG TAYAMUM

HADITS KE 113 :

وَعَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا فِي قَوْلِهِ تَعَالَى وَإِنْ كُنْتُمْ مَرْضَى أَوْ عَلَى سَفَرٍ، قَالَ: إِذَا كَانَتْ بِالرَّجُلِ اَلْجِرَاحَةُ فِي سَبِيلِ اَللَّهِ وَالْقُرُوحُ فَيُجْنِبُ فَيَخَافُ أَنْ يَمُوتَ إِنْ اِغْتَسَلَ: تَيَمَّمَ رَوَاهُ اَلدَّارَقُطْنِيُّ مَوْقُوفًا وَرَفَعَهُ اَلْبَزَّارُ وَصَحَّحَهُ اِبْنُ خُزَيْمَةَ وَالْحَاكِم

Dari Ibnu Abbas Radliyallaahu ‘anhu tentang firman Allah (Dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan) beliau mengatakan: “Apabila seseorang mengalami luka-luka di jalan Allah atau terserang penyakit kudis lalu ia junub tetapi dia takut akan mati jika dia mandi maka bolehlah baginya bertayammum.” Riwayat Daruquthni secara mauquf marfu’ menurut al-Bazzar dan shahih menurut Ibnu Khuzaimah dan Hakim.

MAKNA HADITS :

Agama Islam adalah agama yang mengamalkan prinsip bertolak angsur. Semua hukum yang ada di dalamnya selalu disertai oleh berbagai hikmah dan rahsia. Setiap sesuatu yang mengandung unsur mudarat pasti tidak diakui oleh Islam bahkan disediakan jalan keluar untuk menolaknya. Jika seorang lelaki merasa kawatir apabila berwuduk atau mandi dengan air akan mendatangkan mudarat bagi dirinya, maka syariat membolehkannya bertayammum untuk menolak mudharat tersebut sebagai rahmat (belas kasihan) agama kepada orang mukallaf, sebagaimana yang ditegaskan oleh keumuman makna yang terkandung di dalam firman-Nya: “Dan jika kamu sakit ….” (Surah al-Nisa‟: 43). Musafir pada umumnya mengalami kesulitan. Oleh sebab itu, syariat membolehkan tayammum bagi orang yang bepergian apabila air tidak dijumpai sebagai kemudahan dari Allah untuk hamba-Nya.

FIQH HADITS :

1. Orang yang junub boleh tayammum apabila kawatir akan ditimpa mudarat.
Ini merupakan pendapat Imam Malik, Imam Abu Hanifah dan Imam al-Syafi’i.

2. Orang yang junub tidak boleh tayammum kecuali apabila kawatir dirinya akan mati apabila mandi dengan air. Ini merupakan pendapat Imam Ahmad dan satu riwayat dari Imam al-Syafi’i.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

Kategori
Uncategorized

HADITS KE 112 : MENEMUKAN AIR SESUDAH TAYAMUM

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

BAB TENTANG TAYAMUM

HADITS KE 112 :

وَعَنْ أَبِي سَعِيدٍ اَلْخُدْرِيِّ رضي الله عنه قَالَ: ( خَرَجَ رَجُلَانِ فِي سَفَرٍ فَحَضَرَتْ اَلصَّلَاةَ -وَلَيْسَ مَعَهُمَا مَاءٌ- فَتَيَمَّمَا صَعِيدًا طَيِّبًا فَصَلَّيَا ثُمَّ وَجَدَا اَلْمَاءَ فِي اَلْوَقْتِ فَأَعَادَ أَحَدُهُمَا اَلصَّلَاةَ وَالْوُضُوءَ وَلَمْ يُعِدِ اَلْآخَرُ ثُمَّ أَتَيَا رَسُولَ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم فَذَكَرَا ذَلِكَ لَهُ فَقَالَ لِلَّذِي لَمْ يُعِدْ: أَصَبْتَ اَلسُّنَّةَ وَأَجْزَأَتْكَ صَلَاتُكَ وَقَالَ لِلْآخَرِ: لَكَ اَلْأَجْرُ مَرَّتَيْنِ ) رَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ و النَّسَائِيّ

Abu Said Al-Khudry Radliyallaahu ‘anhu berkata: Ada dua orang laki-laki keluar bepergian lalu datanglah waktu shalat sedangkan mereka tidak mempunyai air maka mereka bertayamum dengan tanah suci dan menunaikan shalat. Kemudian mereka menjumpai air pada waktu itu juga. Lalu salah seorang dari keduanya mengulangi shalat dan wudlu sedang yang lainnya tidak. Kemudian mereka menghadap Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam dan menceritakan hal itu kepadanya. Maka beliau bersabda kepada orang yang tidak mengulanginya: “Engkau telah melakukan sesuai sunnah dan shalatmu sudah sah bagimu.” Dan beliau bersabda kepada yang lainnya: “Engkau mendapatkan pahala dua kali.” Riwayat Abu Dawud dan Nasa’i.

MAKNA HADITS :

Cabang hukum yang memiliki banyak rincian serta beraneka ragam jenis dan
peristiwanya tidak mungkin disebutkan dengan secara terperinci jelas oleh al-Qur’an dan Sunnah. Dalam menganalisis perkara seperti itu diperlukan ijtihad dengan cara menyamakan suatu permasalahan yang mempunyai kemiripan dengan yang lain dan menyesuaikan cabang kepada pokoknya. Oleh itu, setiap sahabat melakukan ijtihad pada zaman Nabi (s.a.w) dan baginda mengakui perbuatan mereka dan menyetujuinya.

Antara contohnya ialah kisah dua orang lekaki yang sedang melakukan suatu
perjalanan lalu keduanya bertayammum dalam perjalanannya kerana persediaan air mereka tidak memadai untuk digunakan berwuduk. Kemudian salah seorang di antara keduanya mengulangi solatnya, sedangkan yang seorang lagi tidak, tetapi Nabi (s.a.w) menyetujui perbuatan kedua-dua orang sahabat itu. Baginda bersabda kepada orang yang mengulangi solatnya: “Engkau mendapat ganjaran pahala dua kali ganda” yakni pahala bersuci dengan debu dan bersuci dengan air. Dan kepada yang seorang lagi, yaitu orang yang tidak mengulangi solatnya, baginda bersabda: “Solatmu sudah memadai.” Dikatakan demikian kerana dia telah mengerjakan sesuai dengan apa yang diperintahkan kepadanya, yaitu bertayammum.

FIQH HADITS :

1. Menyegerakan sholat dengan mengerjakannya pada awal waktu.

2. Disyariatkan bertayammum ketika tidak ada air.

3. Boleh berijtihad pada zaman Nabi (s.a.w) ketika tidak berada di hadapan
baginda.

4. Setiap perkara penting hendaklah dirujuk kepada pemimpin.

5. Orang yang ditanya dituntut untuk menjawab persoalan si penanya dengan jawapan yang memuaskannya

6. Orang yang telah bersholat dengan tayammum, lalu dia menemukan air sesudah dia mengerjakan sholat tidak wajib mengulangi solatnya, meskipun waktu solat itu masih belum berakhir.

7. Tayammum menjadi batal dengan adanya air sebelum mengerjakan solat. Jika air ditemukan sesudah masuk dalam solat, maka seseorang tidak boleh membatalkannya.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

Kategori
Uncategorized

HADITS KE 111 : DEBU ADALAH PENGGANTI SEMENTARA APABILA TIDAK ADA AIR

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

BAB TENTANG TAYAMUM

HADITS KE 111 :

وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم ( اَلصَّعِيدُ وُضُوءُ اَلْمُسْلِمِ وَإِنْ لَمْ يَجِدِ اَلْمَاءَ عَشْرَ سِنِينَ فَإِذَا وَجَدَ اَلْمَاءَ فَلْيَتَّقِ اَللَّهَ وَلْيُمِسَّهُ بَشَرَتَهُ ) رَوَاهُ اَلْبَزَّارُ وَصَحَّحَهُ اِبْنُ اَلْقَطَّانِ و لَكِنْ صَوَّبَ اَلدَّارَقُطْنِيُّ إِرْسَالَه

وَلِلتِّرْمِذِيِّ: عَنْ أَبِي ذَرٍّ نَحْوُهُ وَصَحَّحَه

Dari Abu Hurairah Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Tanah itu merupakan alat berwudlu bagi orang Islam meskipun ia tidak menjumpai air hingga sepuluh tahun. Maka jika ia telah mendapatkan air hendaklah ia bertakwa kepada Allah dan menggunakan air itu untuk mengusap kulitnya.” Diriwayatkan oleh al-Bazzar. Shahih menurut Ibnul Qaththan dan mursal menurut Daruquthni.

Menurut riwayat Tirmidzi dari Abu Dzar ada hadits serupa dengan hadits tersebut. Hadits tersebut shahih menurutnya.

MAKNA HADITS :

Tayammum dengan debu merupakan salah satu keistimewaan umat Nabi
Muhammad (s.a.w), sebagaimana yang disebutkan dalam sabdanya:

وجعلت التراب ترابتها لنا طهورا، إذا لم نجد الماء

“Dan debunya dijadikan bagi kami dapat menyucikan apabila kami tidak menjumpai air.” Debu merupakan sarana bersuci orang muslim. Dengan debu tersebut dia dierbolehkan melakukan perkara-perkara yang dilarang kerana berhadas kecil dan berhadas besar (junub). Tetapi debu pada dasarnya tidak dapat menghilangkan hadas. Buktinya ialah apabila dijumpai air, maka seseorang diwajibkan berwuduk atau mandi junub. Hukum boleh bertayammum dibatasi dengan adanya air.

Oleh kerana tayammum merupakan cara yang masih belum dikenali oleh
masyarakat Arab dan belum pula oleh yang bangsa yang lain, maka syariat mengukuhkan perintahnya kepada mereka dan menamakannya sebagai sesuatu yang boleh menyucikan ketika air tidak ada. Hal ini dinyatakan dengan ungkapan mubalaghah melalui sabdanya: “Apabila tidak menemukan air, sekalipun selama sepuluh tahun.” Nabi (s.a.w) menamakannya sebagai pengganti air yang menyucikan.

Dalam keadaan di mana sukar dijumpai, tidak ada bedanya antara ketiadaan
yang hakiki atau ketiadaan hukmi seperti seseorang yang kehilangan alat untuk mengeluarkan air atau sedang sakit yang melarangnya menggunakan air kerana sakitnya dikawatiri bertambah terus atau malah lambat sembuh, atau akan mengakibatkan komplikasi penyakit lain yang diketahui secara pasti atau hanya berlandaskan prasangka melalui uji coba atau nasehat pakar seorang dokter muslim.

FIQH HADITS :

1. Tayammum juga disebut sebagai wudhu.

2. Tayammum menggantikan kedudukan air yang dapat menghilangkan junub untuk sementara waktu hingga air ditemukan.

3. Orang yang junub lalu bertayammum apabila dia menemukan air, maka dia wajib segera mandi junub.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

Kategori
Uncategorized

HADITS KE 110 : CARA MEMBASUH MUKA DAN TANGAN KETIKA TAYAMMUM

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

BAB TENTANG TAYAMUM

HADITS KE 110 :

وَعَنِ اِبْنِ عُمَرَ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم ( التَّيَمُّمُ ضَرْبَتَانِ ضَرْبَةٌ لِلْوَجْهِ وَضَرْبَةٌ لِلْيَدَيْنِ إِلَى اَلْمِرْفَقَيْنِ ) رَوَاهُ اَلدَّارَقُطْنِيُّ وَصَحَّحَ اَلْأَئِمَّةُ وَقْفَه

Ibnu Umar Radliyallaahu ‘anhu berkata bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Tayammum itu dengan dua tepukan. Tepukan untuk muka dan tepukan untuk kedua belah tangan hingga siku-siku.” Riwayat Daruquthni dan para Imam Hadits menganggapnya mauquf.

MAKNA HADITS :

Nabi (s.a.w) memberi petunjuk kepada umatnya dan menjelaskan kepada mereka tentang hukum. Kadang kala baginda menjelaskan perkara yang wajib secara komprehensif dan kadang pula menjelaskan apa yang dianjurkan secara lengkap. Baginda menjelaskan bahwa tayammum itu dilakukan dengan dua kali pukulan debu; sekali pukulan untuk mengusap wajah dan sekali pukulan lagi untuk mengusap kedua tangan.

Ada sebagian ulama fiqih yang menjadikan hadis ini sebagai batasan tayammum yang sempurna dan menjadikan perkara yang diwajibkan hanya dengan sekali pukulan. Ada yang menjadikan pengusapan terhadap kedua tangan hanya sampai batas kedua pergelangan tangan serta menjadikan pukulan yang kedua dan mengusap sampai batas kedua siku sebagai batas tayammum yang sempurna. Pendapat ini berlandaskan kepada usaha menggabungkan beberapa hadis dalam masalah ini. Ada juga di antara mereka yang menjadikan dua kali pukulan serta mengusap kedua tangan sampai batas kedua siku itu merupakan perkara yang diwajibkan dalam tayammum karena berdasarkan tarjih hadis-hadis yang menunjukkan demikian. Cara ini merupakan yang ditempuh melalui tarjih.

FIQH HADITS :

1. Menjelaskan cara bertayammum, iaitu dilakukan dengan dua kali pukulan. Ini menurut pendapat Imam al-Syafi’i, Imam Abu Hanifah dan satu riwayat dari Imam Malik. Tetapi pendapat yang paling masyhur di kalangan mazhab Maliki ialah pukulan pertama fardu, sedangkan pukulan kedua sunat. Imam Ahmad mengatakan bahwa apa yang diwajibkan ialah sekali pukulan kerana berlandaskan kepada hadis ‘Ammar ibn Yasir (r.a) yang menceritakan: “Aku pernah bertanya kepada Nabi (s.a.w) mengenai cara tayammum. Baginda memerintahkan kepadaku melakukan sekali pukulan untuk mengusap wajah dan kedua telapak tangan.”

2. Disyariatkan tertib (berurutan), yaitu dengan mendahulukan pengusapan wajah ke atas pengusapan kedua tangan. Ini adalah wajib menurut Imam al-Syafi’i. Sedangkan menurut pendapat Imam Abu Hanifah dan Imam Malik, berurutan bukanlah syarat dalam bertayammum, sebaliknya ia hanya disyaratkan ketika menyucikan diri dari hadas besar saja, bukannya untuk hadats kecil.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

Kategori
Uncategorized

T025. HUKUM AIR SEDIKIT YANG DITAMBAH DENGAN BARANG NAJIS MENJADI DUA KULLAH

PERTANYAAN :

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Deskripsi :
Ada air untuk mencapai ukuran dua qullah hanya kurang satu cangkir/gelas, kemudian air tersebut ditambah barang najis berupa air seni ukuran satu cangkir/gelas sehingga air tersebut menjadi sampai ukuran dua qullah.

Pertanyaan : Sucikah air yang pas dua qulla tersebut dengan dicampur air seni satu cangkir/gelas

JAWABAN :

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

Hukumnya tetap najis karena penambahannya dengan barang najis, bukan dengan sesama jenis air walaupun mutanajjis atau mustakmal.

فصل: وإذا كان الماء قلتين) ولو احتمالاً، وإن تيقنت قلّته قبل، بأن جمع شيئاً فشيئاً فبلغ قلتين لا ببول أو مائع، بل من خالص الماء ولو متنجساً أو مستعملاً أو متغيراً ( .. فلا ينجس بوقوع النجاسة فيه)؛ لخبر القلتين المتقدم (إلا إن تغير) من تلك النجاسة الواقعة فيه يقيناً (طعمه، أو لونه، أو ريحه، ولو تغيراً يسيراً) ولو بمعفو عنه، ولو بمجاور أو مخالط لم يستغن الماء عنه؛ لغلظ النجاسة.

(بشرى الكريم شرح المقدمة الحضرمية )

Apabila air belum sampai dua kullah, lalu ditambah dengan air murni menjadi dua kullah walaupun penambahan tersebut mutanajjis atau mustakmal atau air yang sudah berubah, (bukan dari barang najis seperti kencing dan benda cair sejenisnya), maka air tersebut tidak bisa najis kecuali berubah rasa, warna dan baunya walaupun perubahannya hanya sedikit.

ﻭﺃﻣﺎ ﻣﺎ ﻳﺨﺘﺮﻋﻪ ﺑﻌﺾ اﻟﺤﻨﻔﻴﺔ ﻭﻳﻘﻮﻝ ﺇﻥ ﻣﺬﻫﺐ اﻟﺸﺎﻓﻌﻲ ﺃﻧﻪ ﻟﻮ ﻛﺎﻥ ﻗﻠﺘﻴﻦ ﺇﻻ ﻛﻮﺯا ﻓﻜﻤﻠﻪ ﺑﺒﻮﻝ ﻃﻬﺮ ﻓﺒﻬﺘﺎﻥ ﻻ ﻳﻌﺮﻓﻪ ﺃﺣﺪ ﻣﻦ ﺃﺻﺤﺎﺑﻨﺎ: ﻗﺎﻝ اﻟﺸﻴﺦ ﺃﺑﻮ ﺣﺎﻣﺪ ﺷﻴﺦ اﻷﺻﺤﺎﺏ ﺇﺫا ﻛﻤﻠﻪ ﺑﺒﻮﻝ ﺃﻭ ﻧﺠﺎﺳﺔ ﺃﺧﺮﻯ ﻓﺎﻟﺠﻤﻴﻊ ﻧﺠﺲ ﺑﻼ ﺧﻼﻑ ﺑﻴﻦ اﻟﺸﺎﻓﻌﻴﻴﻦ: ﻭﻗﺎﻝ ﻭﺃﺻﺤﺎﺏ ﺃﺑﻲ ﺣﻨﻴﻔﺔ ﻳﺤﻜﻮﻥ ﻋﻨﺎ ﻣﺎ ﻟﻴﺲ ﻣﺬﻫﺒﺎ ﻟﻨﺎ ﻭاﻟﻠﻪ ﺃﻋﻠﻢ

(المجموع)

Lihat kitab Fath al-Mu’in :

والماء القليل إذا تنجس يطهر ببلوغه قلتين ولو بماء متنجس حيث لا تغير به

( قوله والماء القليل إذا تنجس ) أي بوقوع نجاسة فيه وقوله يطهر ببلوغه قلتين أي بانضمام ماء إليه لا بانضمام مائع فلا يطهر ولو استهلك فيه وقوله ولو بماء متنجس أي ولو كان بلوغه ما ذكر بانضمام ماء متنجس إليه أي أو بماء مستعمل أو متغير أو بثلج أو برد أذيب

Air sedikit bila menjadi najis bisa suci kembali dengan menjadikan ia dua qullah meskipun memakai air yang terkena najis asalkan tidak menjadikannya berubah.

(Keterangan Air sedikit bila menjadi najis) artinya menjadi najis sebab kejatuhan najis.

(Keterangan bisa suci kembali dengan menjadikan ia dua qullah) artinya dengan menambahkan air lain padanya tidak dengan menambahkan barang cair lainnya meskipun bisa melebur dengan air.

(Keterangan meskipun memakai air yang terkena najis) artinya meskipun penambahan untuk menjadikannya dua qullah tersebut memakai air lain yang terkena najis, atau menggunakan air musta’mal, atau air yang berubah, atau es atau embun yang telah meleleh. [ I’anah at-Thoolibiin I/34 ].

Wallahu a’lamu bisshowab..