logo mubaa
Logo Ittihad

DEWAN PIMPINAN PUSAT
IKATAN ALUMNI BATA-BATA

Kategori
Uncategorized

Z007. KATAGORI FAQIR YANG BERHAK MENERIMA ZAKAT

PERTANYAAN :

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Diskripsi masalah:
Di suatu daerah ada orang yang hartanya dan hasil pekerjannya hanya memenuhu kebutuhan hidupnya kurang lebih 20%. Namun demikian ia mpunyai pakaian melebihi dari kecukupan.

Pertanyaannya :
Apakah orang tersebut berhak menerima zakat atas nama fakir?ataukah ia harus menjual pakaiannya untuk memenuhi kebutuhan?

JAWABAN :

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

Orang tersebut masih tetap berhak menerima zakat karena masih tergolong faqir.

Referensi :

مرقاة صعود التصديق في شرح سلم التوفيق ص ٤٢

(الفقير ) وهو من لا مال ولا كسب يقع موقعا من كفايته كمن يحتاج الى عشرة ولايجد نحو درهمين ولايمنع مسكنه وخادمه وملبسه للتجمل وإن تعدد أفاد ذلك الرملى في شرح هداية الناصح.

“Faqir adalah orang yang tidak memiliki harta dan tidak memiliki pekerjaan yang dapat mencukupi kebutuhannya” Seperti orang yang membutuhkan sepeluh dirham, dan dia hanya memiliki dua dirham. Dan orang tetap tergolong faqir dengan ia memiliki rumah, pembantu, pakaian yang fungsinya untuk memperindah diri (diluar kebutuhan pokok) meskipun jumlahnya banyak. Dalam hal ini sebagimana disampaikan imam Romli dalam kitab Syarah Hidayatun-Nashih.

والله تعالى أعلم بالصواب

Kategori
Uncategorized

HADITS KE 119 : CARA MENGHITUNG DARAH HAID BAGI PEREMPUAN MUSTAHADAH

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

BAB HAID

HADITS KE 119 :

وَعَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهَا; ( أَنَّ أُمَّ حَبِيبَةَ بِنْتَ جَحْشٍ شَكَتْ إِلَى رَسُولِ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم اَلدَّمَ فَقَالَ: اُمْكُثِي قَدْرَ مَا كَانَتْ تَحْبِسُكِ حَيْضَتُكِ ثُمَّ اِغْتَسِلِي فَكَانَتْ تَغْتَسِلُ كُلَّ صَلَاةٍ ) رَوَاهُ مُسْلِم

وَفِي رِوَايَةٍ لِلْبُخَارِيِّ: ( وَتَوَضَّئِي لِكُلِّ صَلَاةٍ ) وَهِيَ لِأَبِي دَاوُدَ وَغَيْرِهِ مِنْ وَجْهٍ آخَرَ.

Dari ‘Aisyah Radliyallaahu ‘anhu bahwa Ummu Habibah binti Jahsy mengadukan pada Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam tentang darah (istihadlah. Beliau bersabda: Berhentilah (dari shalat) selama masa haidmu menghalangimu kemudian mandilah. Kemudian dia mandi untuk setiap kali shalat. Diriwayatkan oleh Muslim.

Dalam suatu riwayat milik Bukhari: Dan berwudhulah setiap kali shalat. Hadits tersebut juga menurut riwayat Abu Dawud dan lainnya dari jalan yang lain.

MAKNA HADITS :

Kaum wanita pada masa permulaan Islam mempunyai perhatian yang amat besar untuk menanyakan apa-apa yang dianggap musykil dalam agama mereka. Tujuannya ialah supaya mereka dapat beribadah kepada Allah (s.w.t) dengan cara yang betul dan hati mereka dipenuhi dengan perasaan khusyuk kepada-Nya. Hal ini dapat dilihat dengan jelas dari pertanyaan yang diajukan oleh Ummu Habibah dan langkahnya untuk mandi setiap kali hendak mengerjakan sholat sebagai amalan sunat dan sikap berhati-hati dalam urusan agama, padahal mandi tidak diwajibkan ke atasnya setiap kali hendak mengerjakan solat, melainkan dia hanya diwajibkan berwudhuk saja.

FIQH HADITS :

Wanita yang beristihadhah diperintahkan untuk merujuk kepada pengetahuan berikut:

1. Kebiasaan yang telah dia alami sebelum istihadhah.

2. Kebiasaan haid bagi kaum wanita yang umurnya sebaya dengannya, yaitu selama enam atau tujuh hari. Masa haid yang paling minimum ialah sehari
semalam, kebanyakannya enam atau tujuh hari, sedangkan batasan
maksimumnya ialah lima belas hari.

3. Spesifikasi darah dilihat dari segi warna dan baunya.

4. Masa datang dan masa berhentinya. Maka dia wajib mandi pada masa haidnya berhenti manakala hukum mandi dan wudhuk sesudah itu, maka keterangannya diuraikan dalam hadits No.118 pada bagian fiqh hadits.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

Kategori
Uncategorized

N044. HUKUM PERNIKAHAN PASUTRI SETELAH BEDA AGAMA

PERTANYAAN :

Assalamu Alaikum Wr Wb.

Sebelumnya salam ta’dzim bagi semua Kiyai dan Ustad yg ada di Group ini. Sy ingin bertanya: Ada seorang Laki2 Kristen yg ingin mengawini wanita Islam, tpi sebelum kawin dia masuk Islam bahkan dia sudah melaksanakan Khitan. Tetapi selang beberapa Tahun si Laki Laki kembali ke Agama kristen lagi, tetapi dia tetap hidup sebagaimana biasanya suami Istri.

Pertanyaannya:

1. Apakah keluarga tersebut tidak termasuk Talak?

2. Jika melakukan hubungan suami istri apa tidak termasuk Zina?

3. Kalau dr hasil dari hubungan itu mempunyai anak, maka anak tersebut dihukumi anak apa?

JAWABAN :

Waalaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh..

Jawan No.1 :
Pernikahannya otomatis batal.

Referensi :

Allah ta’ala berfirman:

فإن علمتموهن مؤمنات فلا ترجعوهن إلى الكفار لا هن حل لهم ولا هم يحلون لهن.
(سورة الممتحنة: 10)

Maknanya: “…Maka jika kamu telah mengetahui bahwa mereka benar-benar beriman maka janganlah kamu kembalikan mereka kepada (suami-suami mereka) orang-orang kafir. Mereka tiada halal bagi orang-orang kafir itu dan orang-orang kafir itu tiada halal pula bagi mereka…”. (Q.S. al Mumtahanah :10)

-Assiroj alwahhaj juz 1 hal 377 :

ولو ارتد زوجان أو أحدهما قبل دخول تنجزت الفرقة بينهما أو بعده أي الدخول وقفت فان جمعهما الاسلام في العدة دام النكاح وإلا بأن لم يجمعها فالفرقة من الردة ويحرم الوطء في التوقف

Jika pasutri murtad atau salah satunya sebelum melakukan hubungan badan maka langsung berlaku hukum cerai di antara mereka, jika murtadnya setelah melakukan hubungan badan maka ditunggu dulu, jika mereka bisa kembali islam saat masih iddah maka hukum nikahnya masih tetap berlaku, jika tidak, maka hukum furqoh/cerai itu berlaku gara-gara murtad dan diharamkan berhubungan badan dalam masa-masa pemberhentiannya.

Jawaban No.2 :
Termasuk zina, karena nikahnya batal dan termasuk talaq roj’i, juga haram berhubungan badan selama iddah.

Referensi :

– fathul wahhab juz 2 hal 78 :

( وحرم وطء ) في مدة التوقف لتزلزل ملك النكاح بالردة ( ولا حد ) فيه لشبهة بقاء النكاح بل فيه تعزير وتجب العدة منه كما لو طلق زوجته رجعيا ثم وطئها في العدة.

Jawaban No.3 :

Termasuk anak hasil zina (bukan anak zina) karena tidak ada istilah anak zina/ haram dalam islam.

Yang dimaksud anak haram di masyarakat kita adalah anak zina. Akan tetapi istilah anak haram itu adalah istilah yang merendahkan kepada anak tersebut. Di dalam Islam tidak ada anak haram, yang haram adalah pekerjaan ibunya. Anak hasil zina tidak punya dosa, yang berdosa adalah ibunya, ia bersih dan kelak jika dewasa bisa menjadi kekasih Allah jika benar dalam pendidikanya. Awas jangan tertipu dengan hadits palsu “Bahwa anak zina tidak bisa masuk surga”. Itu adalah hadits palsu dan bohong yang sering dibawa oleh para penceramah. Jangan sampai kesalahan sang ibu kita tempelkan pada sang anak. Hal ini adalah kedholiman yang amat besar. Bahkan sebaliknya semestinya kita harus bisa menutupi dosa ibunya agar tidak diketahui sang anak.

قال النبي صلى الله عليه و سلم ( كل مولود يولد على الفطرة فأبواه يهودانه أو ينصرانه أو يمجسانه
رواه البخاري ومسلم

“Setiap anak dilahirkan dlm keadaan fitrah (Islam), maka kedua orang tuanyalah yg menjadikannya Yahudi, Nashrani atau Majusi.” (HR. al-Bukhari&Muslim)

Wallahu a’lamu bisshowab..

Kategori
Uncategorized

HADITS KE 118 : PENJELASAN DARAH ISTIHADAH

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

BAB HAID

HADITS KE 118 :

وَعَنْ حَمْنَةَ بِنْتِ جَحْشٍ قَالَتْ: ( كُنْتُ أُسْتَحَاضُ حَيْضَةً كَبِيرَةً شَدِيدَةً فَأَتَيْتُ اَلنَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم أَسْتَفْتِيهِ فَقَالَ: إِنَّمَا هِيَ رَكْضَةٌ مِنَ اَلشَّيْطَانِ فَتَحَيَّضِي سِتَّةَ أَيَّامٍ أَوْ سَبْعَةً ثُمَّ اِغْتَسِلِي فَإِذَا اسْتَنْقَأْتِ فَصَلِّي أَرْبَعَةً وَعِشْرِينَ أَوْ ثَلَاثَةً وَعِشْرِينَ وَصُومِي وَصَلِّي فَإِنَّ ذَلِكَ يُجْزِئُكَ وَكَذَلِكَ فَافْعَلِي كَمَا تَحِيضُ اَلنِّسَاءُ فَإِنْ قَوِيتِ عَلَى أَنْ تُؤَخِّرِي اَلظُّهْرَ وَتُعَجِّلِي اَلْعَصْرَ ثُمَّ تَغْتَسِلِي حِينَ تَطْهُرِينَ وَتُصَلِّينَ اَلظُّهْرَ وَالْعَصْرِ جَمِيعًا ثُمَّ تُؤَخِّرِينَ اَلْمَغْرِبَ وَتُعَجِّلِينَ اَلْعِشَاءِ ثُمَّ تَغْتَسِلِينَ وَتَجْمَعِينَ بَيْنَ اَلصَّلَاتَيْنِ فَافْعَلِي. وَتَغْتَسِلِينَ مَعَ اَلصُّبْحِ وَتُصَلِّينَ. قَالَ: وَهُوَ أَعْجَبُ اَلْأَمْرَيْنِ إِلَيَّ ) رَوَاهُ اَلْخَمْسَةُ إِلَّا النَّسَائِيَّ وَصَحَّحَهُ اَلتِّرْمِذِيُّ وَحَسَّنَهُ اَلْبُخَارِيّ

Hamnah binti Jahsy berkata: Aku pernah mengeluarkan darah penyakit (istihadlah) yang banyak sekali. Maka aku menghadap Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam untuk meminta fatwanya. Beliau bersabda: Itu hanya gangguan dari setan. Maka anggaplah enam atau tujuh hari sebagai masa haidmu kemudian mandilah. Jika engkau telah bersih shalatlah 24 atau 23 hari berpuasa dan shalatlah karena hal itu cukup bagimu. Kerjakanlah seperti itu setiap bulan sebagaimana wanita-wanita yang haid. Jika engkau kuat untuk mengakhirkan shalat dhuhur dan mengawalkan shalat Ashar (maka kerjakanlah) kemudian engkau mandi ketika suci dan engkau shalat Dhuhur dan Ashar dengan jamak. Kemudian engkau mengakhirkan shalat maghrib dan mengawalkan shalat Isya’ lalu engkau mandi pada waktu subuh dan shalatlah. Beliau bersabda: Inilah dua hal yang paling aku sukai. Diriwayatkan oleh Imam Lima kecuali Nasa’i. Shahih menurut Tirmidzi dan hasan menurut Bukhari.

MAKNA HADITS :

Syariat Islam menjelaskan hukum-hukum haid dan istihadhah sekaligus memberi peluang bagi kaum wanita untuk menanyakan berbagai hukum yang berkaitan dengan ihwal agama mereka. Oleh sebab itu, Islam menjelaskan perbedaan antaradarah haid dengan darah isrihadhah dalam segi tempat keluar, ciri danhukumnya. Tidak hanya itu, syariat Islam juga telah membolehkan merekamenjamak antara dua sholat yang waktunya saling berdekatan antara satu sama lain seperti sholat dzuhur dengan sholat Asar, sholat Maghrib dengan sholat Isyak dalam bentuk jamak formal yaitu mengerjakan sholat yang pertama di akhir waktu dan sholat yang kedua di awal waktu. Dengan demikian, setiap sholat dikerjakan tetap di dalam waktunya masing-masing. Ini merupakan satu kemudahan yang diberikan oleh agama Islam kepada kaum muslimin.

FIQH HADITS :

1. Diperbolehkan mendengar suara wanita bukan muhrim jika ada keperluan.

2. Diperbolehkan bertanya mengenai perkara-perkara yang dianggap malu untuk ditanyakan berkaitan agama, meskipun masalah itu dikemukakan kepada orang besar.

3. Orang yang ditanya, betapapun tinggi kedudukannya, diwajibkan menjawab persoalan penanya dan mengemukakan jawaban yang mudah difahami.

4. Seseorang mestilah berpegang dengan agama dan ilmunya dalam perkara-perkara yang tidak diketahui melainkan dengan dirinya.

5. Syaitan mampu menguasai manusia antara lain dengan cara menyepaknya yang ditujukan kepada salah satu otot wanita yang dinamakan al-‘adzil hingga otot itu mengeluarkan darah hingga orang tersebut senantiasa merasa ragu dalam urusan agamanya.

6. Wanita yang beristihadhah ketika sedang haid diharamkan mengerjakan sholat.

7. Darah haid itu najis dan begitu pula darah istihadhah.

8. Wajib menghilangkan benda yang menjijikkan.

9. Darah istihadhah tidak mencegah seorang wanita dari terus mengerjakan sholat dan puasa, bahkan dia wajib mengerjakan keduanya.

10. Tidak boleh menjamak dua sholat secara jamak hakiki di dalam waktu salah satu di antara keduanya, kerana adanya uzur (penyakit).

11. Rasulullah (s.a.w) tidak memperbolehkan wanita yang beristihadhah menjamak dua sholat, malah baginda menyuruh supaya tetap mengerjakan sholat tepat pada waktunya meskipun sholat pertama dikerjakan pada penghujung waktunya dan sgolat kedua pula dikerjakan pada permulaan waktunya.

12. Seorang mufti hendaklah memberikan bimbingan kepada orang yang meminta fatwa untuk melakukan perkara yang terbaik baginya.

13. Kebiasaan yang dialami oleh kaum wanita hendaklah dijadikan panduan dalam hal-hal haid yang berkaitan dengan mereka.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

Kategori
Uncategorized

N043. STATUS PERKATAAN (قطعتك) DALAM SHIGHAT TALAQ

PERTANYAAN :

Assalamualaikum ustadz..

Perkataan cerai dengan lafadz (قطعتك) apakah termasuk tolak shoreh atau kinayah?

JAWABAN :

Waalaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh..

Lafadz قطعتك itu termasuk tolak kinayah.

Alasannya ialah: Karena yang termasuk tolak shoreh adalah 3 lafal, yaitu :

(1)الطلاق

yaitu lafal yang di ambil dari الطلاق
seperti :
طلقتك, انت طالق ,يا مطلقۃ ,يا طالق,

(2)الفراق

yaitu lafal yang diambil dari الفراق
seperti :
فرقتك,فارقتك,يا مفارقۃ.

(3)السراح

yaitu lafal yang diambil dari السراح
seperti :
سرحتك,انت مسرحۃ, يا مسرحۃ,

(بجيرمي علی الخطيب,جز ٤,صحيفۃ ٢٧٤-٢٧٥)
(القول في الطلاق الصريح)
(فالصريح ثلاثۃ الفاظ)فقط كما قاله الاءصحاب(الطلاق)اي ما اشتق منه لاشتهاره فيه لغۃ وعرفا(و)كذا(الفراق والسراح)بفتح السين اي ما اشتق منهما علی المشهور فيهما لورودهما في القراءن بمعناه.وامثلۃ المشتق من الطلاق كطلقتك وانت طالق ويا مطلقۃ ويا طالق, لا انت طلاق والطلاق, فليسا بصريحين بل كنايتان;لاءن المصادر انما تستعمل في الاءعيان توسعا.ويقاس بما ذكر فارقتك وسرحتك فهما صريحان,وكذا انت مفارقۃ ومسرحۃ ويا مفارقۃ ويا مسرحۃ,وانت فراق والفراق وسراح والسراح كنايات.

Lafadz: قطعتك Terjemah bahasa indonesianya : “ku putuskan kamu”

Lafadz : قطعتك يا زوجتي الأن

Juga dengan lafadz bhs. indonesia:
“Wahai Istriku kuputuskan engkau sekarang”

Keduanya ini berbeda:

Kalau Yang memakai arab قطعتك maka jelas termasuk talaq kinayah. Sebab tidak termasuk dari lafadz talaq sharih serta tidak termasuk Terjemah dari lafadz thalaq seperti طلقتك.

Adapun yang kedua ( ku putuskan kamu atau ku END Kamu wahai istriku)
Maka perlu pentafshilan..

Sebab kata putuskan itu atau kata END itu bisa saja merupakan :

A. Terjemahan dari lafadz talak kinayah yaitu قطعتك

B. Terjemahan dari lafadz sharihnya talhaq yaitu kalimat طلقتك

Wallahu a’lamu bisshowab..

Kategori
Uncategorized

HADITS KE 117 : KETENTUAN BAGI WANITA HAID DAN ISTIHADAH

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

BAB HAID

HADITS KE 117 :

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ: ( إِنَّ فَاطِمَةَ بِنْتَ أَبِي حُبَيْشٍ كَانَتْ تُسْتَحَاضُ فَقَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم إِنَّ دَمَ اَلْحَيْضِ دَمٌ أَسْوَدُ يُعْرَفُ فَإِذَا كَانَ ذَلِكَ فَأَمْسِكِي مِنَ اَلصَّلَاةِ فَإِذَا كَانَ اَلْآخَرُ فَتَوَضَّئِي وَصَلِّي ) رَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ وَالنَّسَائِيُّ وَصَحَّحَهُ اِبْنُ حِبَّانَ وَالْحَاكِمُ وَاسْتَنْكَرَهُ أَبُو حَاتِم

وَفِي حَدِيثِ أَسْمَاءَ بِنْتِ عُمَيْسٍ عِنْدَ أَبِي دَاوُدَ: ( لِتَجْلِسْ فِي مِرْكَنٍ فَإِذَا رَأَتْ صُفْرَةً فَوْقَ اَلْمَاءِ فَلْتَغْتَسِلْ لِلظُّهْرِ وَالْعَصْرِ غُسْلاً وَاحِدًا وَتَغْتَسِلْ لِلْمَغْرِبِ وَالْعِشَاءِ غُسْلاً وَاحِدًا وَتَغْتَسِلْ لِلْفَجْرِ غُسْلاً وَتَتَوَضَّأْ فِيمَا بَيْنَ ذَلِكَ)

Dalam hadits Asma binti Umais menurut riwayat Abu Dawud: Hendaklah dia duduk dalam suatu bejana air. Maka jika dia melihat warna kuning di atas permukaan air hendaknya ia mandi sekali untuk Dhuhur dan Ashar mandi sekali untuk Maghrib dan Isya’ dan mandi sekali untuk shalat subuh dan berwudlu antara waktu-waktu tersebut.

Dari ‘Aisyah Radliyallaahu ‘anhu bahwa Fatimah binti Abu Hubaisy sedang keluar darah penyakit (istihadlah). Maka bersabdalah Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam kepadanya: Sesungguhnya darah haid adalah darah hitam yang telah dikenal. Jika memang darah itu yang keluar maka berhentilah dari shalat namun jika darah yang lain berwudlulah dan shalatlah. Riwayat Abu Dawud dan Nasa’i. Hadits shahih menurut Ibnu Hibban dan Hakim. Abu Hatim mengingkari hadits ini.

FIQH HADITS :

Islam memuatkan penjelasan berbagai hukum yang berkaitan dengan individu dan masyarakat, wanita maupun lelaki. Oleh itu, Islam menjelaskan segala sesuatu yang berkaitan dengan hukum haid, istihadah, nifas dan lain-lain yang berkaitan dengan fiqh wanita. Tujuannya adalah supaya wanita mengetahui perkara agamanya dan beribadah kepada Allah sesuai dengan ketetapan dan hukum yang telah digariskan oleh Islam. Faktor inilah yang mendorong kaum wanita Anshar dan Muhajirin berani melakukan penelitian dan mengemukakan pertanyaan supaya mereka mengetahui hukum-hukum syari’at. Bidang masalah ini sememangnya terbuka luas bagi mereka berkat akhlak Nabi (s.a.w) yang mulia dan kesungguhannya untuk memberikan pengajaran kepada mereka.

FIQH HADITS :

1. Perbedaan antara darah haid dengan darah istihadhah dipandang dari segi
tempat keluarnya, ketentuan hukum, dan sifatnya.

2. Wanita yang berhaid wajib meninggalkan sholat. Dengan kata lain, tidak boleh mengerjakan sholat selama dalam masa haid.

3. Masalah istihadhah diserahkan kepada orang yang bersangkutan untuk membedakannya sekali mengenal pastinya. Hadits ini menjadi pegangan Imam Malik dan Imam al-Syafi’i. Apabila darah telah dibedakan dan masa yang telah dikenali sudah berakhir, maka wanita berkenaan wajib mandi junub,
sedangkan darah yang tetap mengalir setelah itu hukumnya sama dengan
hadas, yaitu dia hanya wajib berwuduk setiap kali hendak mengerjakan sholat.
Menurut mazhab Hanafi dan Imam Ahmad dalam pendapat masyhur,
pembedaan ini tidak dapat dijadikan pegangan, sebaliknya apa yang mesti
diambil adalah adat kebiasaan, kerana berlandaskan kepada sabda Nabi (s.a.w) :

فإذا أقبلت الحيضة فدعي الصلاة، وإذا ادبرت فاغسلي عنك الدم وصلي.

“Jika masa haid datang, maka tinggalkanlah sholat. Apabila masa haid telah berakhir, maka mandilah kamu untuk membersihkan haid lalu sholatlah.”

4. Wanita yang beristihadhah memiliki ketentuan hukum yang berbeda dengan wanita yang berhaid. Wanita yang beristihadhah boleh disetubuhi, tidak boleh meninggalkan sholat dan puasa, serta wajib berwudhu setiap kali hendak mengerjakan sholat. Inilah menurut mazhab al-Syafi’i dan Imam Ahmad.
Menurut mazhab Hanafi pula, dia wajib berwudhu pada setiap waktu.
Sedangkan menurut mazhab Maliki, dia disunatkan berwuduk setiap kali
hendak mengerjakan sholat.

5. Perintah mandi bagi wanita beristihadhah sebanyak tiga kali dalam sehari semalam adalah bertujuan menggabungkan dua solat yang saling berhampiran waktunya. Jumhur ulama mengatakan disunatkan mandi, kerana tidak ada perintah yang menyuruh Fatimah supaya mandi dalam hadis ini dan hanya diperintah untuk berwudhu saja.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

Kategori
Uncategorized

N042. HUKUM MEMISAHKAN IJAB QOBUL DENGAN KALIMAT LAIN

PERTANYAAN :

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Pertanyaan :
Sahkah dalam akad nikah pempelai laki-laki sebelum قبلت mengucapka “Ya”

(نعم قبلت نكاحها وتزويجها بالمهر المذكور)؟

JAWABAN :

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

Hukumnya sah selama masih dalam satu majelis.

Dalam qobul tidak disayaratkan menyentuh (🤝). Jika majelis (tempat pertemuan) panjang dan qobulnya lambat dari ijab dan tidak ada yang timbul diantara keduanya sesuatu yang dapat berpaling, maka majelis tersebut menjadi terbatas.

Referensi :

فقه السنة :
ولا يشترط أن يكون القبول بعد الايجاب مباشرة.
فلو طال المجلس وتراخى القبول عن الايجب، ولم يصدر بينهما ما يدل على الاعراض، فالمجلس متحد.

Dalam hal ini Menurut madzhab Hanafi dan Hambali bependapat dijeladkan didalam kitab Mughni:

وإلى هذا ذهب الاحناف والحنابلة.
وفي المغني:

Apabila qobulnya lambat maka tetap sah dengan catatan selama kedunya masih berada di majlis.

إذا تراخى القبول عن الايجاب صح، ماداما في المجلس، ولم يتشاغلا عنه بغيره. لان حكم المجلس حكم حالة العقد، بدليل القبض فيما يشترط القبض فيه، وثبوت الخيار في عقود المعاوضات. فإن تفرقا قبل القبول بطل الايجاب، فانه لا يوجد معناه، فان الاعراض قد وجد من جهته بالتفرق، فلا يكون مقبولا. وكذلك أن تشاغلا عنه بما يقطعه: لان معرض عن العقد أيضا بالاشتغال عن قبوله. روي عن أحمد، في رجل مشى إليه قوم، فقالوا له: زوج فلانا. قال: قد زوجته على ألف. فرجعوا إلى الزوج فأخبروه، فقال: قد قبلت، هل يكون هذا نكاحا.
قال: نعم.

Menurut Syafi’iyah disyaratkan adanya qobul harus dilakukan dengan secepat munkin. Menurut mereka: Apabila terdapat pemisah diantara ijab dan qobul dengan “khathbah” seperti halnya wali mengatakan زوجتك kemudian pembelai putra mengatakan

بسم الله والحمد لله والصلاة والسلام قبلت نكاحها ،

Maka dalam hal ini terdapat dua halan:

1-Menurut Abu Hamid al-Asfaraayiiniy ucapan tersebut tidak membatalkan qobul (artinya qobulnya sah) dengan alasan karena khathbah diperintah karena akad, maka hal ini tidak dapat mencegah keabsahan qobul nikah sebagaimana tayammum didalam menjamak dua salat .

ويشترط الشافعية الفور.
قالوا: فان فصل بين الايجاب والقبول بخطبة بأن قال الولي: زوجتك، وقال الزوج: بسم الله والحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله، قبلت نكاحها، ففيه وجهان: (أحدهما) وهو قول الشيخ أبي حامد الاسفراييني، أنه يصح، لان الخطبة مأمور بها للعقد، فلم تمنع صحته: كالتيمم بين صلاتي الجمع.

2- Tidak sah. Dengan alasan karena ada pemisah antara ijab dan qobul, sebagaimana dipisahkannya ijab dan qobul dengan khathbah. Dan berbeda dengan tayammum maka ia diperintah diantara dua shalat. Sedangkan khatbah diperintah sebelum akad.

(والثاني) لا يصح، لانه فصل بين الايجاب والقبول.
فلم يصح. كما لو فصل بينهما بغير الخطبة.
ويخالف التيمم فإنه مأمور به بين الصلاتين، والخطبة مأمور بها قبل العقد.

Adapun menurut Imam Malik dalam akad boleh ucapan qobul lambat.

وأما مالك، فأجاز التراخي والسير بين الايجاب والقبول

Dalam ketetangan yang lain, ucapan…

بسم الله والحمد لله الخ.

adalah shah dalam rangka menaukitkan/nenguatkan ataupun memperbaiki akad maka akatnya tetap sah.

Referensi :

موسوعة الفقهية :

مغني المحتاج
(وَلَوْ خَطَبَ الْوَلِيُّ) وَأَوْجَبَ كَأَنْ قَالَ: الْحَمْدُ لِلَّهِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – زَوَّجْتُكَ إلَخْ (فَقَالَ الزَّوْجُ) قَبْلَ الْقَبُولِ (الْحَمْدُ لِلَّهِ وَالصَّلَاةُ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – قَبِلْتُ) نِكَاحَهَا إلَخْ (صَحَّ النِّكَاحُ) مَعَ تَخَلُّلِ الْخُطْبَةِ بَيْنَ لَفْظَيْهِمَا (عَلَى الصَّحِيحِ) لِأَنَّ الْمُتَخَلَّلَ مِنْ مَصَالِحِ الْعَقْدِ فَلَا يَقْطَعُ الْمُوَالَاةَ كَالْإِقَامَةِ بَيْنَ صَلَاتَيْ الْجَمْعِ. قَالَ فِي الرَّوْضَةِ وَبِهِ قَطَعَ الْجُمْهُورُ. وَالثَّانِي: لَا يَصِحُّ؛ لِأَنَّ الْفَاصِلَ لَيْسَ مِنْ الْعَقْدِ، وَصَحَّحَهُ الْمَاوَرْدِيُّ. وَقَالَ السُّبْكِيُّ: إنَّهُ أَقْوَى.
تَنْبِيهٌ: مَا ذَكَرَهُ مِنْ حَذْفِ الْوَصِيَّةِ بِالتَّقْوَى مِنْ هَذِهِ الْخُطْبَةِ مُوَافِقٌ لِتَصْوِيرِ الرَّوْضَةِ كَأَصْلِهَا الْمَسْأَلَةَ بِذَلِكَ لَكِنَّهُمَا بَعْدَ هَذَا ذَكَرَا اسْتِحْبَابَهَا عَنْ الْجُمْهُورِ وَاسْتَبْعَدَهُ الزَّرْكَشِيُّ، وَإِنَّمَا حَذَفَ الْمُصَنِّفُ مَدْخُولَ قَبِلْتُ اعْتِمَادًا عَلَى مَا يَذْكُرُهُ بَعْدَ ذَلِكَ مِنْ أَنَّهُ شَرْطٌ فِي الْقَبُولِ، وَلَوْ ذَكَرَهُ كَمَا قَدَّرْتُهُ كَانَ أَوْلَى (بَلْ يُسْتَحَبُّ ذَلِكَ) الذِّكْرُ بَيْنَهُمَا لِلْخَبَرِ الْمَارِّ (قُلْتُ: الصَّحِيحُ) وَصَحَّحَهُ

Sebgaimana perkataan wali aku nikahkan kamu dengan anakku jika kamu mau, Si membelai mengatan “ya” saya mau dan saya menerima.

Referensi :

موسوعة الغقهية

زَوْجْتُكَ ابْنَتِي إِنْ شِئْتَ فَقَال: قَدْ شِئْتُ وَقَبِلْتُ فَيَصِحُّ النِّكَاحُ

Dengan demikian dapat disimpulkan memisahkan قبلت dengan نعم (ya) dengan tujuan yang sama (menaukitkan) tidak dapat mempengaruhi terhadap keabsahan akad nikah, artinya akad nikahnya tetap sah.

والله أعلم بالصواب

Kategori
Uncategorized

HADITS KE 116 : TAYAMMUM HANYA UNTUK SATU SHALAT FARDHU

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

BAB TENTANG TAYAMUM

HADITS KE 116 :

وَعَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ: ( مِنْ اَلسُّنَّةِ أَنْ لَا يُصَلِّيَ اَلرَّجُلُ بِالتَّيَمُّمِ إِلَّا صَلَاةً وَاحِدَةً ثُمَّ يَتَيَمَّمُ لِلصَّلَاةِ اَلْأُخْرَى ) رَوَاهُ اَلدَّارَقُطْنِيُّ بِإِسْنَادٍ ضَعِيفٍ جِدًّا

Ibnu Abbas Radliyallaahu ‘anhu berkata: Termasuk sunnah Rasul adalah seseorang tidak menunaikan shalat dengan tayammum kecuali hanya untuk sekali shalat saja kemudian dia bertayammum untuk shalat yang lain. Riwayat Daruquthni dengan sanad yang amat lemah.

MAKNA HADITS :

Tayammum adalah bersuci dengan debu, tetapi kesuciannya masih dikategorikan lemah, kerana ia hanya boleh digunakan untuk sekali sholat fardu saja berikut sunat-sunat yang mengiringinya. Tayammum tidak seperti wuduk yang dapat menghilangkan hadas. Inilah pendapat jumhur ulama. Imam Abu Hanifah dan murid-muridnya mengatakan bahwa seseorang boleh melakukan sholat sesuka hatinya baik sholat fardu mahupun sholat sunat hanya dengan sekali tayammum,
sama halnya dengan wuduk. Mereka memandang dari segi keumuman makna hadirs di sampingmengqiyaskan solat fardu dengan sholat sunat.

FIQH HADITS :

Menurut jumhur ulama, bertayammum disyari’atkan untuk setiap kali hendak
mengerjakan sholat fardu. Dalam kaitan ini Imam Abu Hanifah berbeda pendapat dengan mereka.

KESIMPULAN :

Hadis yang terdapat dalam bab ini menunjukkan kesimpulan berikut:

1. Nabi (s.a.w) dan umatnya mempunyai beberapa keistimewaan yang tidak dimiliki umat-umat sebelum ini, dimana Allah (s.w.t) mengutus Nabi Muhammad (s.a.w) untuk seluruh umat manusia, Allah memberinya syafa’at
al-‘uzhma untuk membebaskan umat manusia dari huru-hara hari kiamat,
Allah menolongnya dengan rasa gentar yang mencekam dalam hati musuh-
musuhnya dan Allah menghalalkan harta ghanimah kepadanya dan umatnya serta boleh melakukan solat di tempat manapun di muka bumi ini tanpa ada ketentuan tempat yang khusus.

2. Diberi rukhsah boleh bertayammum ketika tidak ada air untuk berwuduk dan mandi dan ketika dalam keadaan darurat, seperti mengusap pembalut luka. Begitu pula ketika sakit serta apa saja yang membolehkan bertayammum. Menjelaskan mengenai tatacara tayammum. Satu kali tayammum hanya untuk satu kali sholat fardu, tetapi boleh digunakan untuk melakukan beberapa kali sholat sunat, mengikut semau kita.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

Kategori
Uncategorized

T028. HUKUM KOTORAN CICAK/ BURUNG YANG ADA DI DALAM MASJID

PERTANYAAN :

Assalamualaikum Ustadz..

Saya sering tenggok di dalam masjid ada tai burung/ cekcek langsung di pel gak di buang duluan tai burungnya. Bagaimana hukumnya hal tersebut?

JAWABAN :

Waalaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh..

Tentang masalah tahi cicak yang ada di masjid masih diselisihkan ulama :

Pertama :
Ulama menegaskan bahwa binatang yang tidak memiliki darah merah, seperti serangga, dan sebangsanya, bangkainya tidak najis. Demikian pula kotorannnya.

Ibnu Qudamah –ulama Madzhab Hanbali– mengatakan:

مَا لَا نَفْسَ لَهُ سَائِلَةٌ ، فَهُوَ طَاهِرٌ بِجَمِيعِ أَجْزَائِهِ وَفَضَلَاتِهِ

“Binatang yang tidak memiliki darah merah mengalir, dia suci, sekaligus semua bagian tubuhnya, dan yang keluar dari tubuhnya.” (al-Mughni, 3:252).

Hal yang sama juga disampaikan ar-Ramli –ulama Madzhab Syafii– dalam an-Nihayah:

ويستثنى من النجس ميته لا دم لها سائل عن موضع جرحها، إما بأن لا يكون لها دم أصلاً، أو لها دم لا يجري

“Dikecualikan dari benda najis (tidak termasuk najis), bangkai binatang yang tidak memiliki darah yang mengalir ketika dilukai, baik karena tidak memiliki darah sama sekali atau memliki darah, namun tidak mengalir.” (Nihayah al-Muhtaj, 1:237).

Kedua :
Ulama juga berbeda pendapat apakah cicak termasuk binatang yang darahnya mengalir atau tidak.

Mayoritas ulama mengatakan, cicak termasuk binatang yang tidak memiliki darah mengalir. An-Nawawi mengatakan:

وأما الوزغ فقطع الجمهور بأنه لا نفس له سائلة

“Untuk cicak, mayoritas ulama menegaskan, dia termasuk binatang yang tidak memiliki darah merah yang mengalir.” (al-Majmu’, 1:129)

Hal yang sama juga ditegaskan Ar-Ramli:

Dikecualikan dari benda najis (tidak termasuk najis), bangkai binatang yang tidak memiliki darah yang mengalir ketika dilukai, baik karena tidak memiliki darah sama sekali atau memliki darah, namun tidak mengalir. Seperti cicak, tawon, kumbang, atau lalat. Semuanya tidak najis bangkainya. (Nihayah al-Muhtaj, 1:237)

Sementara ulama lainnya mengelompokkan cicak sebagai binatang yang memiliki darah merah mengalir, sebagaimana ular.

An-Nawawi menukil keterangan al-Mawardi:

وَنَقَلَ الْمَاوَرْدِيُّ فِيهِ وَجْهَيْنِ كَالْحَيَّةِ وَقَطَعَ الشَّيْخُ نَصْرٌ الْمَقْدِسِيُّ بِأَنَّ لَهُ نَفْسًا سَائِلَةً

Dinukil oleh al-Mawardi, mengenai cicak ada dua pendapat ulama syafiiyah, (ada yang mengatakan) sebagaimana ular. Sementara Syaikh Nasr al-Maqdisi menegaskan bahwa cicak termasuk hewan yang memiliki darah merah mengalir. (al-Majmu’, 1:129)

Dari Madzhab Hanbali, al-Mardawi mengatakan:

والصحيح من المذهب: أن الوزغ لها نفس سائلة. نص عليه كالحية

“Pendapat yang benar dalam Madzhab Hanbali bahwa cicak memliki darah merah yang mengalir. Hal ini telah ditegaskan, sebagaimana ular.” (al-Inshaf, 2:28).

Ketiga :
Sebagian ulama memberikan kaidah, binatang yang memiliki darah merah mengalir dan dia tidak halal dimakan maka kotorannya najis.

Jika Anda menguatkan pendapat bahwa cicak termasuk binatang yang tidak memiliki darah merah mengalir, maka bangkai dan kotoran cicak tidak najis. Sebaliknya, jika Anda berkeyakinan bahwa cicak memiliki darah merah mengalir, maka kotorannya najis. Meskipun banyak ulama berpendapat bahwa najis sangat sedikit, yang menempel di badan, dari binatang yang sulit untuk dihindari, termasuk najis yang ma’fu (boleh tidak dicuci). Allahu a’lam.

Disebut juga dalam kitab i’anatuthalibin :

ﺇﻋﺎﻧﺔ ﺍﻟﻄﺎﻟﺒﻴﻦ – ﺍﻟﺒﻜﺮﻱ ﺍﻟﺪﻣﻴﺎﻃﻲ – ﺝ ١ – ﺍﻟﺼﻔﺤﺔ ١٢٦

ﻗﻮﻟﻪ: ﻭﻳﻌﻔﻰ ﻋﻤﺎ ﺟﻒ ﻣﻦ ﺫﺭﻕ ﺳﺎﺋﺮ ﺍﻟﻄﻴﻮﺭ. ﺫﻛﺮ ﺷﺮﻃﻴﻦ ﻟﻠﻌﻔﻮ ﻭﻫﻤﺎ ﺍﻟﺠﻔﺎﻑ ﻭﻋﻤﻮﻡ ﺍﻟﺒﻠﻮﻯ، ﻭﺑﻘﻲ ﺃﻥ ﻻ ﻳﺘﻌﻤﺪ ﺍﻟﻤﺸﻲ ﻋﻠﻴﻪ ﻛﻤﺎ ﻣﺮ. ﻭﻋﺒﺎﺭﺓ ﺍﻟﺘﺤﻔﺔ: ﻭﻳﺴﺘﺜﻨﻰ ﻣﻦ ﺍﻟﻤﻜﺎﻥ ﺫﺭﻕ ﺍﻟﻄﻴﻮﺭ ﻓﻴﻌﻔﻰ ﻋﻨﻪ ﻓﻴﻪ ﺃﺭﺿﻪ ﻭﻛﺬﺍ ﻓﺮﺍﺷﻪ ﻋﻠﻰ ﺍﻷﻭﺟﻪ، ﺇﻥ ﻛﺎﻥ ﺟﺎﻓﺎ ﻭﻟﻢ ﻳﺘﻌﻤﺪ ﻣﻼﻣﺴﺘﻪ. ﻭﻣﻊ ﺫﻟﻚ ﻻ ﻳﻜﻠﻒ ﺗﺤﺮﻱ ﻏﻴﺮ ﻣﺤﻠﻪ ﺇﻻ ﻓﻲ ﺍﻟﺜﻮﺏ ﻣﻄﻠﻘﺎ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻤﻌﺘﻤﺪ. ﺍﻫ

Ibarot lain :

وأما الوزغ فقطع الجمهور بأنه لا نفس له سائلة ، ممن صرح بذلك الشيخ أبو حامد في تعليقه والبندنيجي والقاضي حسين وصاحب الشامل وغيرهم . ونقل الماوردي فيه وجهين كالحية ، وقطع الشيخ نصر المقدسي بأن له نفسا سائلة قال : وقد ذكره أبو عبيد في كتاب الطهور ، وأنه قتل فوجد في رأسه دم ، وكذا رأيت أنا في كتاب الطهور لأبي عبيد : أن الوزغ والحية لهما نفس سائلة ، ودم في رءوسهما

Dikecualikan dari benda najis (tidak termasuk najis), bangkai binatang yang tidak memiliki darah yang mengalir ketika dilukai, baik karena tidak memiliki darah sama sekali atau memliki darah, namun tidak mengalir. Seperti cicak, tawon, kumbang, atau lalat. Semuanya tidak najis bangkainya. (Nihayah al-Muhtaj, 1:237).

( ويستثنى ) من النجس ( ميتة لا دم لها سائل ) عن موضع جرحها إما بأن لا يكون لها دم أصلا أو لها دم لا يجري كالوزغ والزنبور والخنفساء والذباب ( فلا تنجس مائعا ) كزيت وخل ، وكل رطب بموتها فيه ( على المشهور ) لمشقة الاحتراز عنها

– Kitab Al Majmu’ An-Nawawi :

وحكى الخراسانيون وجهاً ضعيفاً في طهارة روث السمك والجراد وما لا نفس له سائل، وقد قدمنا وجهاً عن حكاية صاحب «البيان» والرافعي أن بول ما يؤكل وروثه طاهران وهو غريب، وهذا المذكور من نجاسة ذرق الطيور كلها هو مذهبنا، وقال أبو حنيفة : كلها طاهرة إلا ذرق الدجاج لأنه لا نتن إلا في ذرق الدجاج، ولأنه عام في المساجد، ولم يغسله المسلمون كما غسلوا بول الآدمي. واحتج أصحابنا بما ذكره المصنف وأجابوا عن عدم النتن بأنه منتقض ببعر الغزلان، وعن المساجد بأنه ترك للمشقة في إزالته مع تجدده في كل وقت، وعندي أنه إذا عمت به البلوى وتعذر الإحتراز عنه يعفى عنه وتصح الصلاة كما يعفى عن طين الشوارع وغبار السرجين.

Fokus :

ولأنه عام في المساجد، ولم يغسله المسلمون كما غسلوا بول الآدمي. واحتج أصحابنا بما ذكره المصنف وأجابوا عن عدم النتن بأنه منتقض ببعر الغزلان، وعن المساجد بأنه ترك للمشقة في إزالته مع تجدده في كل وقت، وعندي أنه إذا عمت به البلوى وتعذر الإحتراز عنه يعفى عنه وتصح الصلاة كما يعفى عن طين الشوارع وغبار السرجين.

Wallahu a’lamu bisshowab..

Kategori
Uncategorized

HADITS KE 115 : BOLEH BERTAYAMUM APABILA DARURAT MENGGUNAKAN AIR DISEBABKAN LUKA

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

BAB TENTANG TAYAMUM

HADITS KE 115 :

وَعَنْ جَابِرٍ]بْنُ عَبْدِ اَللَّهِ] رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا فِي اَلرَّجُلِ اَلَّذِي شُجَّ فَاغْتَسَلَ فَمَاتَ -: إِنَّمَا كَانَ يَكْفِيهِ أَنْ يَتَيَمَّمَ وَيَعْصِبَ عَلَى جُرْحِهِ خِرْقَةً ثُمَّ يَمْسَحَ عَلَيْهَا وَيَغْسِلَ سَائِرَ جَسَدِهِ رَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ بِسَنَدٍ فِيهِ ضَعْفٌ وَفِيهِ اِخْتِلَافٌ عَلَى رُوَاتِه

Dari Jabir Radliyallaahu ‘anhu tentang seorang laki-laki yang terluka pada kepalanya lalu mandi dan meninggal. (Nabi bersabda: “Cukup baginya bertayammum dan membalut lukanya dengan kain kemudian mengusap di atasnya dan membasuh seluruh tubuhnya.” Riwayat Abu Dawud dengan sanad yang lemah. Di dalamnya ada perbedaan pendapat tentang para perawinya.

MAKNA HADITS :

Islam memerintahkan umat manusia supaya bertanya kepada ahli al-dzikr yang memahami al-Qur’an dan Sunnah untuk memecahkan masalah-masalah sukar yang mereka hadapi berdasarkan kajian teliti. Oleh itu Rasulullah (s.a.w) marah ketika mereka memberikan fatwa kepada seorang lelaki yang terluka bahwa tidak ada rukhsah baginya, hingga akhirnya itu menyebabkan kematiannya. Rasulullah (s.a.w) marah dengan adanya fatwa yang salah itu. Baginda bersabda: “Mengapa mereka tidak bertanya lebih dahulu apabila mereka tidak tahu?” Baginda menjelaskan bahawa bertanya merupakan ubat kebodohan. Dengan kata lain, malu bertanya pasti sesat di jalan.

FIQH HADITS :

1. Disyariatkan merujuk kepada pemimpin ketika berdepan dengan urusan-urusan penting.

2. Dilarang mencela fatwa tanpa ilmu pengetahuan, kerana sikap sebegitu
merupakan dosa besar.

3. Tidak ada qishas dan dhiyat ke atas seorang mufti apabila dia memberikan fatwa tanpa kebenaran, meskipun orang yang jelas-jelas melakukan kesalahan tidak dimaafkan. Nabi (s.a.w) mencela mereka, sebab mereka melakukan fatwa tanpa berlandaskan kepada ilmu dan baginda mendo’akan binasa kepada mereka dengan bersabda: “Semoga mereka dilaknat oleh Allah.”

4. Disyari’atkan bertayammum bagi orang yang merasa kawatir akan tertimpa mudharat apabila menggunakan air.

5. Boleh mengusap pembalut luka dan membasuh anggota tubuh yang lain
dengan air.

6. Menanyakan suatu masalah yang sukar kepada orang yang berilmu merupakan penawar bagi kebodohan.

7. Orang yang junub diwajibkan mandi.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..