logo mubaa
Logo Ittihad

DEWAN PIMPINAN PUSAT
IKATAN ALUMNI BATA-BATA

Kategori
Uncategorized

N046. MACAM-MACAM HUKUM MENIKAH

PERTANYAAN :

Assalamu Alaikum ustadz..

Saya punya teman pak ustadz dia laki-laki dan umurnya bisa di bilang kelewat mateng hingga sekarang dia belum menikah ternyata dia punya pendirian memang dia tidak berkeinginan untuk menikah setelah di tanya dia menjawab “karena menikah itu sunnah, dan aku akan melakukan sunnah Rosululloh yang lain tidak harus fokus pada sunnah menikah itu saja.

Terus bagai mana pak ustadz menurut pandangan syariat islam sendiri tentang jawaban teman saya ini?

JAWABAN :

Waalaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh..

Hukum nikah pada dasarnya adalah mubah artinya melaksanakan nikah/ menikah tidak diganjar dan meninggalkan nikah pun juga tidak diganjar. Namun dari hukum asal mubah itu bisa berubah mendi, wajib, sunnah, haram, makruh. Maka dari itu memberikan batasan atau menyipulkan hukum nikah yaitu terdapat lima :

1-Wajib
2-Sunnah
3-Makruh
4-Mubah
5-Haram.

Adapun perubahan hukum nikah tersebut diatas bergantung pada situasi dan kondisi baseorang.

As-Syaikh Al-‘Allaamah Al-Judaari menerangkan hukum menikah dengan beberapa bait syair yang terdapat dalam Kitab Qurratul ‘Uyuun berikut ini :

وواجب علي الذي يخشي الزنا • تزوج بكل حال امكنا

وزيد في النساء فقد المال • وليس منفق سوي الرجال

وفي ضياع واجب والنفقة • من الخبيث حرمة متفقة

لراغب اوراجي نليندب • وان به يضيع مالا يجب

ويكره ان به يضيع النفل • وليس فيه رغبة اونسل

وان انتفي ما يقتضي حكما مضي • جاز النكاح بالسوي المرتضي

Hukum menikah sangat tergantung pada keadaan orang yang hendak melakukannya, hukumnya dapat diklasifikasikan sebagai berikut :

1. WAJIB : Bagi orang yang telah mampu sedang dan bila ia tidak segera menikah amat di khawatirkan akan berbuat zina

2. SUNNAH : Bagi orang yang menginginkan sekali punya anak, tetapi ia masih mampu mengendalikan diri dari perbuatan zina, baik ia sudah berminat menikah atau belum walaupun jika menikah nanti ibadah sunnah yang sudah biasa ia lakukan akan sedikit terlantar.

3. MAKRUH : Bagi orang yang belum berminat punya anak, juga belum pernah menikah sedangkan ia mampu menahan diri dari berbuat zina padahal bila ia menikah amalan ibadah sunnahnya akan terlantar.

4. MUBAH : Bagi orang yang mampu menahan gejolak nafsunya dari berbuat zina, sementara ia belum berminat memiliki anak dan seandainya ia menikah ibadah sunnahnya tidak sampai terlantar.

5. HARAM : Bagi orang yang apabila ia menikah justru akan merugikan istrinya karena ia tidak mampu memberi nafkah lahir dan bathin atau jika menikah ia akan cari mata pencaharian yang di haramkan Allah SWT walaupun orang tersebut sudah berminat menikah dan mampu menahan gejolak nafsunya dari berbagai zina. Hukum menikah tersebut juga berlaku bagi kaum wanita. Ibnu Arafah menambahkan, bahwa bagi wanita hukum menikah wajib apabila ia tidak mampu menafkahi dirinya sendiri sedangkan jalan satu-satunya untuk menanggulangi nafkah tersebut adalah menikah.

Wallahu a’lamu bisshowab..

Kategori
Uncategorized

J019. HUKUM ANGGOTA BADAN YANG TERPISAH DARI RAGA MAYIT

PERTANYAAN :

Assalamualaikum Ustadz..

Bagaimana hukum anggota badan mayit yang sudah terpisah dari raganya, seperti orang yang kakinya putus disebabkan karena kecelakaan?

JAWABAN :

Waalaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh..

Hukumnya tetap wajib dirawat sebagaimana raga aslinya kecuali potongan badan tersebut milik orang yang masih hidup maka tidak wajib disholatkan.

Referensi :

Hasyiyah Bujairomi VI/98, I/455 :

قَوْلُهُ : ( وَلَوْ وُجِدَ جُزْءُ مَيِّتٍ ) أَيْ تَحَقَّقَ انْفِصَالُهُ مِنْهُ حَالَ مَوْتِهِ أَوْ فِي حَيَاتِهِ وَمَاتَ عَقِبَهُ فَخَرَجَ الْمُنْفَصِلُ مِنْ حَيٍّ وَلَمْ يَمُتْ عَقِبَهُ إذَا وُجِدَ بَعْدَ مَوْتِهِ فَلَا يُصَلَّى عَلَيْهِ ، وَيُسَنُّ مُوَارَاتُهُ بِخِرْقَةٍ وَدَفْنُهُ .ا هـ .

(Perkataan pengarang “Bila di ketemukan bagian dari janazah orang muslim”) dengan syarat bila diketahui pasti anggota tersebut milik mayit saat ia sudah mati/saat matinya, atau saat hidupnya kemudian mati setelahnya, berbeda dengan bagian tubuh yang terpisah dari orang hidup namun ia tidak mati setelah anggautanya terpisah dan baru diketemukan saat ia mati maka tidak wajib disholati”.

وَلَوْ وُجِدَ جُزْءُ مَيِّتٍ مُسْلِمٍ غَيْرِ شَهِيدٍ صُلِّيَ عَلَيْهِ بَعْدَ غُسْلِهِ وَسُتِرَ بِخِرْقَةٍ وَدُفِنَ كَالْمَيِّتِ الْحَاضِرِ ، وَإِنْ… كَانَ الْجُزْءُ ظُفْرًا أَوْ شَعْرًا لَكِنْ لَا يُصَلَّى عَلَى الشَّعْرَةِ الْوَاحِدَةِ

Bila di ketemukan bagian dari janazah orang muslim maka wajib di sholati setelah terlebih dahulu dimandikan dan dibungkus dengan kain, dan juga dikuburkan selayaknya janazah yang hadir, meskipun bagian tersebut hanyalah kuku atau rambut hanya saja bila hanya sehelai rambut tidak perlu disholati.

Wallahu a’lamu bisshowab..

Kategori
Uncategorized

M042. HUKUM BERSALAMAN DAN MENCIUM TANGAN PEJABAT

PERTANYAAN :

السلام عليكم ورحمۃ ﷲ وبركاته

Bagaimana hukumnya bersalaman dan juga mencium kepala dan tangannya pejabat?

JAWABAN :

وعليكم السلام ورحمۃ ﷲ وبركاته

Bersalaman dengan pejabat itu hukumnya boleh. Berdasarkan
hadits berikut ini

عن البراء بن عازب قال: قال رسول الله صلی ﷲ عليه وسلم:ما من مسلمين يلتقيان فيتصافحان الا غفر لهما قبل ان يتفرقا(سنن ابن ماجه,رقم ٣٦٩٣)

Dari Baro’ ibni ‘Azib,dia berkata: Bersabda Rosululloh SAW: Jika ada dua orang islam itu bertemu lalu keduanya itu bersalaman maka keduanya di ampuni oleh Allah sebelum keduanya berpisah(Hadits Riwayat ibnu Majah).

Adapun mencium kepala dan tangan pejabat maka hal tersebut dilarang kecuali yang tidak dilarang adalah mencium kepala dan tangan Nabi Muhammad dan mencium kepala dan tangan para ulama, habaib (keturunan Nabi Muhammad) dan para auliya’. Yang mana tujuan dari mencium kepala dan tangan Nabi Muhammad dan para ulama’, habaib dan para auliya’ itu adalah untuk tabarruk (للتبرك) mencari barokah yang diberikan oleh Allah kepada kita melalui perantara Nabi Muhammad, para ulama’, habaib, dan para auliya’), berdasarkan hadits berikut ini :

عن سيدنا يزيد بن الاءسود, انه صلی الصبح مع النبي صلی ﷲ عليه وسلم وقال,:ثم ثار الناس ياءخذون بيده يمسحون بها وجوههم,فاءخذت بيده فمسحت بها وجهي فوجدتها ابرد من الثلج واطيب ريحا من المسك (رواه الاءمام احمد في المسند, الرقم ١٧١٤٧)

Dari Yazid bin Aswad, bahwa dia sholat subuh bersama Nabi Muhammad SAW. lalu dia berkata: Kemudian orang-orang itu bangkit dan mengambil tangan Nabi Muhammad SAW. lalu mereka mengusapkan tangan Nabi Muhammad ke muka-muka mereka. Lalu aku mengambil tangan Nabi Muhammad, lalu aku mengusapkan tangan Nabi Muhammad ke mukaku. Lalu aku mendapati tangan Nabi Muhammad itu lebih dingin dari es dan baunya lebih harum dari minyak misik (Hadits Riwayat Ahmad).

والله أعلم بالصواب

Kategori
Uncategorized

D016. HUKUM MENJAWAB SALAM DI TEMPAT RAMAI

PERTANYAAN :

وعليكم السلام ورحمۃ الله وبركاته

Wajibkah menjawab salam ketika orang itu berada bersama orang banyak?

JAWABAN :

وعليكم السلام ورحمۃ الله وبركاته

Jika orang itu berada bersama orang banyak maka menjawab salam itu fardu kifayah bagi orang banyak. Jika ada seseorang di antara mereka yang menjawab salam maka orang yang selain penjawab itu tidak berdosa.

Jika semua orang banyak itu tidak menjawab salam maka mereka semua itu berdosa.

Dan jika semua orang banyak itu menjawab salam maka hal itu termasuk puncak di dalam kesempurnaan dan keutamaan.

(الاءذكار,تاءليف الاءمام النووي,صحيفۃ ٢١١)
واما رد السلام,فاءن كان المسلم عليه واحدا تسن عليه الرد,وان كانوا جماعۃ كان رد السلام فرض كفايۃ عليهم,وان رد واحد منهم سقط الحرج عن الباقين,وان تركوا كلهم اثموا كلهم,وان ردوا كلهم فهو النهايۃ في الكمال والفضيلۃ.

والله أعلم بالصواب

Kategori
Uncategorized

D015 : NAMA-NAMA YANG DILARANG DALAM ISLAM

PERTANYAAN :

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Bagamaimana hukumnya memberi nama anak dengan nama ajamiy (putra dan putri) ataupun nama selain ajamiy seperti halnya صاحب الرحمن؟

JAWABAN :

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

Memberi nama pada anak merupakan hak/ kewajiban orang tua terhadap anaknya, akan tetapi nama yang diberikan orang tua terhadap anaknya tidak sembarang nama, melaikan ia harus memberikan nama yang sesuai dengan nama yang dianjurkan oleh Nabi Muhammad SAW, ataupun perkataan atau pendapat ulama, baik nama itu ‘ajamiy ataupun nama yang bukan ‘ajamiy.

Oleh karena itu ulama memberikan batasan-batasan tentang hukumnya memberikan nama sebagaimana berikut:

1. Sunnah :

Adapun dasar hukum disunnahkannya memberikan nama , dengan nama yang bagus adalah berdasarkan hadits sebagaimana ibarah berikut:

Referensi :

الباجوري الجزء الثاني ص ٣٠٥
ويسن أن يحسن اسمه لخبر … إِنَّكُمْ تُدْعَوْنَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِأَسْمَائِكُمْ وَأَسْمَاءِ آبَائِكُمْ فَأَحْسِنُوا أَسْمَاءَكُمْ..

“Sunnah memberi nama yang bagus sesuai dengan hadits : kalian akan dipanggil pada hari kiamat dengan nama-nama kamu sekalian dan nama-nama bapakmu maka perbaguslah nama-nama kalian.

Dalam hadits yang lain dijelaskan

حق الولد على والده أن يحسن اسمه.

“Hak anak wajib atas orang tuanya adalah memberikan nama yang bagus. Artinya kewajiban orang tua terhadap anaknya adalah dia harus memberi nama anaknya dengan nama yang bagus. walaupun ‘ajamiy asalkan termasuk dalam katergori nama-nama nabi hukumnya sunnah. Berbeda dengan nama ‘ajamiy yang bukan nama para Nabi.

وقال النبي صلي الله عليه وسلم “تسمو بأسماء الأنبياء وأحب الأسماء إلى الله عبد الله وعبد الرحمن، وأصدقها حارث وهمام.

Dan Rasulullah SAW, bersabda : “Namakanlah dengan nama-nama para Nabi, dan paling dicintainya nama kepada Allah adalah عبد الله وعبد الرحمن dan sejenisnya حارث dan همام.

Bahkan bisa juga lebih afdhol karena itu dimudlofkan/ yang disandarkan pada asma Allah (أسماء الحسني) yang mana dalam ilmu tata bahasa disebut susunan idlofah. Sedangkn yang dimaksud idlofah adalah menggabungkan dua kata sehingga menjadi makna tertentu
seperti nama عبد الله dan عبد الرحمن, asalnya adalah dua kata yaitu عبد (hamba) dan lafadh الله (Allah) kemudian (digabung)
sehingga menjadi (عبد الله )
Yang berarti “hamba nya Allah”.

Referensi :

تحفة الحبيب على شرح الخطيب ٢٥٦/٥
قوله : وأفضل الأسماء عبد الله، وعبد الرحمن صلى الله عليه وسلم : والحاصل أن أفضل الأسماء عبد الله ثم عبد الرحمن (صلى الله عليه وسلم). ثم ما أضيف بالعبودية باسم من أسمائه ثم محمد ثم أحمد ما الأفضل منهما. فأجاب : بأن الأفضل بالنسبة لأهل الأرض محمد لشهرته عندهم بذلك وبالنسبة لأهل السماء أحمد لذلك وقال شيخنا س ل محمد أفضل مطلقا برماوي على الغزي.

2. Makruh :

“Makruh hukum memberi nama dengan memudlofkan kata عبد pada nama Nabi, ini adalah qaul yang mu’tamad, sebagaimana ibarah berikut:

وتكره بعبد النبي على المعتمد وما وقع في حاشية الرحماني من حرمة التسمية بعبد النبي ضعيف،

3. Haram :

“Haram memberi nama dengan memuhlofkan عبد kepada nama selain nama Allah yang terdapat dalam asma’ul husna seperti:
عبد العاطي
Dengan alasan karena العاطي bukan dimaksudkan pada nama Allah.

وصريح كلام الرحماني التسمية بعبد العاطي لانه لم يرد في أسمائه تعالى وهي توقيفية، وتكره التسمية أيضا بكل ما يتطير بنفيه أو إثباته كما قاله الشارح: كبركة ورحمة وغنيمة ونافع ويسار وحرب ومرة وشهاب وشيطان وحمار، وتشتد الكراهة بنحو ست الناس أو ست العلماء أو ست القضاة أوست العرب أو سيد العلماء أو سيد الناس.

Temasuk bagian nama yang haram dipakai adalah memudlofkan عبد kepada selain asma’ul husna seperti halnya dimudlofkan pada ka’bah, api, Ali, hasan. Dengan alasan karena mengesankan pada kesyirikan/ sekutu, sebagaimana ibarah:

Referensi :

الباجورى الجزء الثاني ص ٣١٤ :
وتحرم تسمية عبد الكعبة أو عبد الحسن أو عبد علي وكذا كل ماأضيف إليه بالعبودية بغير أسمائه تعالى لإيهامه التشريك كما في شرح الرملى إلا عبد النبي فتكره التسمية به على المعتمد خلافا لما وقع في حاشية الرحماني من حرمة التسمية به.

Demikian juga dengan nama ” صاحب الرحمن” maka hukumnya adalah haram baik shohib diartikan teman ataupun milik/ punya. Dimana bilamana nama “Shohiburrahmaan” diartikan menjadi temannya Allah yang bersifat Maha Penyayang.
Jadi hukumnya haram dengan alasan karena Allah tidak mempunyai teman dan tidak ada satupun orang yang sekutu/menyerupainya. Maka dicegah adanya makhluk yang menyamai (yang mengimbangi) kepada Allah didalam Sifat-Sifat kemuliyaan dan keagungan Allah.

مراح لبيد تفسير النواوى جز٢ ص٤٧٢
{ولم يكن له كفوا احد} اي لايشاركه احد من صاحبة وغيرها فيمتنع أن يكون شيء من الموجودات مساويا له تعالى في شيء من صفات الجلال والعظمة.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa penting memberi nama yang bagus karena seseorang dihari kiamat akan dipanggil dengan menyebutkan namanya. Bahkan dari saking pentingnya nama yang bagus, ulama mewajibkan mengubah nama yang haram dan mensunnahkan mengubah nama yang makruh.

Dengan kata lain bagi orang yang memakai nama yang haram maka hukumnya wajib dirubah. Begitu juga orang yang memakai nama yang makruh sunnah dirubah.

Referensi :

تنوير القلوب ص ٢٣٤
ويجب تغيير الأسماء المحرمة ويستحب تغيير الأسماء المكروهة

” Mengubah nama yang haram hukumnya wajib, dan nama-nama yang makruh adalah sunnah”.

والله تعالى أعلم بالصواب

Kategori
Uncategorized

HADITS KE 122 : BOLEH BERCUMBU DENGAN ISTRI YANG LAGI HAID KECUALI JIMAK

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

BAB HAID

HADITS KE 122 :

وَعَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ: ( كَانَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم يَأْمُرُنِي فَأَتَّزِرُ فَيُبَاشِرُنِي وَأَنَا حَائِضٌ ) مُتَّفَقٌ عَلَيْه

‘Aisyah Radliyallaahu ‘anhu berkata: Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam pernah menyuruh kepadaku mengenakan kain dan aku laksanakan lalu beliau menyentuhkan badannya kepadaku padahal aku sedang haid. Muttafaq Alaihi.

MAKNA HADITS :

Rasulullah (s.a.w) membolehkan kita bersenang-senang dengan isteri yang sedang berhaid, meskipun ia memiliki ketentuan terhad. Di sini baginda menyuruh isterinya memakai kain yang menutupi anggota tubuhnya antara pusar dengan lutut, sebab kawatir akan terlanjur melakukan persetubuhan yang diharamkan.

FIQH HADITS :

1. Seorang suami diperbolehkan bersenang-senang dengan isterinya yang sedang haid dengan berbagai cara sekalipun kecuali bersetubuh, tetapi dengan syarat istrinya memakai kain yang menutupi anggota tubuh antara pusat dan lutut hingga ke pahanya. Hal ini untuk menjaga agar tidak sampai terlanjur melakukan persetubuhan yang tidak dibolehkan.

2. Diperbolehkan bersentuhan kulit pada bagian anggota tubuh di atas pusar dan di bawah lutut secara mutlak, baik memakai penghalang ataupun tidak.

3. Tubuh wanita yang haid tetap dianggap bersih.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

Kategori
Uncategorized

HADITS KE 121 : BATAS LARANGAN BERCUMBU BERSAMA ISTRI YANG LAGI HAID

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

BAB HAID

HADITS KE 121 :

وَعَنْ أَنَسٍ رضي الله عنه ( أَنَّ اَلْيَهُودَ كَانُوا إِذَا حَاضَتْ اَلْمَرْأَةُ لَمْ يُؤَاكِلُوهَا فَقَالَ اَلنَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم اِصْنَعُوا كُلَّ شَيْءٍ إِلَّا اَلنِّكَاحَ ) رَوَاهُ مُسْلِم

Dari Anas Radliyallaahu ‘anhu bahwa orang yahudi jika ada seorang perempuan di antara mereka yang haid mereka tidak mengajaknya makan bersama. Maka Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: Kerjakanlah segala sesuatu kecuali bersetubuh. Diriwayatkan oleh Muslim.

MAKNA HADITS :

Allah menjadikan umat ini sebagai umat yang pertengahan dan agamanya pula merupakan semulia-mulianya agama. Oleh sebab itu, ia telah membolehkan bergaul dengan isteri yang sedang berhaid baik ketika makan, minum maupun tidur, tetapi dilarang bersetubuh dan bersenang-senang di antara pusar dengan lutut
sebagai langkah berjaga-jaga.

Ketentuan ini merupakan hukum yang adil dan pertengahan. Adapun orang Nasrani membolehkan untuk melakukan segala sesuatu ke atas isteri yang sedang haid termasuklah menyetubuhinya. Orang Yahudi pula menyiksa isteri mereka dengan cara mengasingkan mereka dalam segala keadaan. Lalu datanglah Islam sebagai agama yang adil dan pertengahan antara terlalu bebas dengan terlalu terkekang. Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.“`

FIQH HADITS :

1. Haram menyetubuhi isteri yang sedang haid.

2. Boleh bersenang-senang dengan isteri yang haid selain bersetubuh serta pada kawasan sekitar pusar dan lutut tanpa penghalang. Lain halnya dengan Imam Ahmad di mana beliau bersenang-senang dengan isteri secara mutlak selagi tidak bersetubuh.

3. Agama Islam adalah agama yang mudah lagi hanif (sentiasa membelas kebenaran).

4. Makruh menceritakan kepada orang muslim tentang perkara-perkara yang tidak disukainya atau yang membuatnya marah.

5. Disyariatkan marah kepada orang yang melakukan perkara-perkara yang tidak patut.

6. Tidak dibenarkan membuat musuh marah dengan perkara-perkara yang bertentangan dengan syariat.

7. Disyariatkan menerima hadiah dan disunatkan menyisihkan sebagiannya untuk orang lain.

8. Seorang muslim tidak patut secara berterusan marah kepada muslim yang lain.

9. Dianjurkan berdiam apabila seseorang melihat orang yang menjadi panutannya marah.

10. Disyariatkan bersikap lemah lembut dan menjalin hubungan yang baik sesudah
marah.

11. Dianjurkan menyalahi orang Yahudi dalam memperlakukan wanita yang sedang haid.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

Kategori
Uncategorized

N045. NIKAH BEDA AGAMA

PERTANYAAN :

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Deskripsi masalah:
Di Negara indonesia tercinta yang berazazkan pacasila sudah tentu penganut agamanya bermacam-macam.
Kasus yang tejadi ada seorang pemuda tanpan tertarik pada seorang wanita yang kaya dan juga cantik ternyata dibalik dari kekayaan dan kecantikannya ternyata si perempuan itu adalah orang kristen (kafir dzimmi), namun karena sudah terlanjur basah tertarik dengan kekayaan dan kecantikannya maka ia menikahinya.

Pertanyaannya:
Bolehkah dan sahkah orang islam menikahi orang karisten sementara keduanya berbeda agama?
Mohon jawabanya ust/Kyai..!!!

JAWABAN :

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

Jawaban : Orang islam menikahi orang non muslimah(kafir dzimmi) boleh, dengan catatan dzimmiayah tersebut adalah kitabiyyah, bangsa yahudiyah, ataupun bangsa nashroniyyah.
Akan tetapi berbeda dengan orang muslimah yang mengawini orang non muslim, baik itu musyrik, ataupun ahli kitab, semua ulama ittifak atas keharamannya (tidak halal), sebagaimna ibarah berikut.

Referensi :

موسوعة الفقهيه :

أَنْكِحَةُ أَهْل الذِّمَّةِ وَمَا يَتَعَلَّقُ بِهَا

34 – لاَ يَخْتَلِفُ أَحْكَامُ نِكَاحِ أَهْل الذِّمَّةِ عَنْ غَيْرِهِمْ مِنْ أَهْل الْكِتَابِ وَسَائِرِ الْكُفَّارِ، إِلاَّ أَنَّهُ يَجُوزُ لِلْمُسْلِمِ أَنْ يَتَزَوَّجَ كِتَابِيَّةً.
وَلاَ يَجُوزُ زَوَاجُ الْمُسْلِمَةِ مِنْ غَيْرِ الْمُسْلِمِ، وَلَوْ كَانَ ذِمِّيًّا أَوْ كِتَابِيًّا. وَذَلِكَ بِاتِّفَاقِ الْفُقَهَاءِ لِقَوْلِهِ تَعَالَى: {وَلاَ تُنْكِحُوا الْمُشْرِكِينَ حَتَّى يُؤْمِنُوا} (2) وَلِقَوْلِهِ تَعَالَى: {فَلاَ تَرْجِعُوهُنَّ إِلَى الْكُفَّارِ لاَ هُنَّ حِلٌّ لَهُمْ وَلاَ هُمْ يَحِلُّونَ لَهُنَّ} (3) وَلاَ يَجُوزُ زَوَاجُ مُسْلِمٍ مِنْ ذِمِّيَّةٍ غَيْرِ كِتَابِيَّةٍ، لِقَوْلِهِ تَعَالَى: {وَلاَ تَنْكِحُوالْمُشْرِكَاتِ حَتّٰى تُؤْمِنَّ.).

(1) وَيَجُوزُ لِلْمُسْلِمِ أَنْ يَتَزَوَّجَ ذِمِّيَّةً، إِذَا كَانَتْ كِتَابِيَّةً كَالْيَهُودِيَّةِ وَالنَّصْرَانِيَّةِ، لِقَوْلِهِ تَعَالَى: {الْيَوْمَ أُحِل لَكُمُ الطَّيِّبَاتُ} إِلَى قَوْله تَعَالَى: {وَالْمُحْصَنَاتُ مِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلِكُمْ} (2) وَتَفْصِيل ذَلِكَ فِي النِّكَاحِ وَغَيْرِهِ (3) .

(1) البدائع 6 / 280، والفتاوى الهندية 3 / 396، والخرشي على خليل 7 / 176، والمهذب 2 / 325، والمغني لابن قدامة 9 / 182 – 184. وحديث: ” أن النبي صلى الله عليه وسلم أجاز شهادة أهل الذمة بعضهم على بعض. . . ” أخرجه ابن ماجه (2 / 794 ح 2373، نشر دار إحياء الكتب – القاهرة 1372 هـ والبيهقي 10 / 165) قال الحافظ ابن حجر في تلخيص الحبير (4 / 198 نشر المكتبة الأثرية) : أخرجه ابن ماجه، وفي إسناده مجالد وهو سيء الحفظ.
(2) سورة البقرة / 221.
(3) سورة الممتحنة / 10.

Namun sebaliknya jika orang muslima mengawini orang yang tidak islam, baik adanyan lelakinya musyrik, ataupun ahli kitab ,maka semua ulama ittifaq tidak menghalalkanya. Sebagaimana ibarah berikut ini.

Referensi :

فقه السنة
زواج المسلمة بغير المسلم:
أجمع العلماء على أنه لا يحل للمسلمة أن تتزوج غير المسلم، سواء أكان مشركا أو من أهل الكتاب.
ودليل ذلك أن الله تعالى قال: ” يا أيها الذين آمنوا إذا جاءكم المؤمنات مهاجرات فامتحنوهن، الله أعلم بإيمانهن، فإن علمتموهن مؤمنات فلا ترجعوهن إلى الكفار، لاهن حل لهم ولاهم يحلون لهن (1) “.
وحكمة ذلك أن للرجل حق القوامة على زوجته، وأن عليها طاعته فيما يأمرها به من معروف، وفي هذا معنى الولاية والسلطان عليها.
وما كان لكافر أن يكون له سلطان على مسلم أو مسلمة.
(1) في هذه الآية أمر الله المؤمنين إذا جاءهم النساء مهاجرات ان يمتحنوهن فان علموهن مؤمنات فلايرجعوهن الى الكفار، لاهن حل لهم ولا هم يحلون لهن. ومعنى الامتحان أن يسألوهن عن سبب ما جاء بهن، هل خرجن حبا في الله ورسوله وحرصا على الاسلام؟..فان كان ذلك كذلك قبل ذلك منهن.

Perselisihannya adalah dalam masalah menikah dengan wanita Kristen. Jumhur ulama dari kalangan Hanafiyah, Syafi’iyyah, Malikiyah dan Hanabilah (pengikut madzhab yang empat) begitu pula sekelompok orang dari kalangan shahabat Radhiyallahu ‘Anhu dan mereka banyak berpendapat bolehnya seorang muslim menikah dengan wanita ahlul kitab dengan syarat wanita tersebut muhshan (wanita baik-baik), seperti yang difirmankan Allah Subhanahu Wa Ta’aala;
وَالمُحْصَنَاتُ مِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلِكُمْ إِذَا آتَيْتُمُوهُنَّ أُجُورَهُنَّ مُحْصِنِينَ غَيْرَ مُسَافِحِينَ وَلا مُتَّخِذِي أَخْدَانٍ
(Dan dihalalkan mengawini) wanita-wanita yang menjaga kehormatan di antara wanita-wanita yang beriman dan wanita-wanita yang menjaga kehormatan di antara orang-orang yang diberi Al Kitab sebelum kamu, bila kamu telah membayar mas kawin mereka dengan maksud menikahinya, tidak dengan maksud berzina dan tidak (pula) menjadikannya gundik-gundik” (Qs. Al Maidah; 5)
Dengan sifat ini, maka boleh menikahinya.
Ibnu Umar Radhiyallahu ‘Anhu seperti yang terdapat di dalam Shahih Al Bukhari dan sebagian fuqaha’ al hanafiyah berpendapat hal tersebut terlarang. Ibnu Umar Radhiyallahu ‘Anhu berdalil dengan keumuman ayat yang melarang menikahi wanita-wanita kafir diantaranya apa yang telah kami sebutkan “Dan janganlah kamu tetap berpegang pada tali (perkawinan) dengan perempuan-perempuan kafir” (Qs. Al Mumtahanah; 10). Ia berkata; “Saya tidak melihat kekufuran atau kesyirikan yang lebih dahsyat dari perkataan seorang wanita bahwa Rab-nya adalah Isa”. Ini terdapat di dalam Shahih Al Bukhari. Akan tetapi yang benar adalah pendapat pertama berdasarkan dalil-dalil ayat, keabsahan dan kejelasannya.
Akan tetapi saya katakan berkenaan dengan seorang lelaki mukmin, apabila Allah Subhanahu Wa Ta’aala memudahkan baginya seorang wanita mukminah yang wajib baginya adalah (samar) karena dikhawatirkan atas seseorang akan tersesat dan wanita ini akan menyimpangkan agamanya. Imran bin Hitthan al khariji adalah diantara pemimpin-pemimpin khawarij dahulu adalah seorang ahlussunnah, dahulu ia diatas sunnah menikah dengan seorang wanita dari kerabatnya ada yang mengatakan wanita tersebut adalah sepupunya. Wanita ini diantara pemimpin-pemimpin khawarij. Imran berkata; Saya akan menikahinya dan meluruskannya. Akan tetapi ketika ia menikahinya wanita tersebut malah yang menyesatkannya sehingga Imran menjadi pemimpin khawarij yang sebelumnya ia diatas sunnah.
Hal ini menandakan kepada kita barakallahu fiik kepada perkara yang penting sekali. Hati-hati kita diantara jari jemari Ar-Rahman bebas Ia membolak-baliknya. Maka seseorang seharusnya tidak merasa aman terhadap dirinya dari fitnah. Ibrahim Alaihissalaam berkata seperti yang Allah Subhanahu Wa Ta’aala firmankan;
وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ رَبِّ اجْعَلْ هَذَا الْبَلَدَ آمِنًا وَاجْنُبْنِي وَبَنِيَّ أَنْ نَعْبُدَ الأَصْنَامَ
“Dan (ingatlah), ketika Ibrahim berkata: “Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini (Mekah), negeri yang aman, dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku daripada menyembah berhala-berhala” (Qs. Ibrahim; 35)
Berkata Ibrahim At-Taimi; Siapa yang merasa aman dari bala’ setelah Ibrahim Alaihissalaam?! Maka dikhawatirkan atas seseorang bahwa wanita tersebut akan menyesatkannya. Adapun berkenaan dengan hukum permasalahan dan boleh tidaknya adalah seperti yang telah kami sebutkan keterangannya. Dan nasihat untuknya hendaknya ia menjauh dari perkara seperti ini, Allah Subhanahu Wa Ta’aala akan mencukupkan untuknya dengan wanita mukminah;
وَلَأَمَةٌ مُؤْمِنَةٌ خَيْرٌ مِنْ مُشْرِكَةٍ وَلَوْ أَعْجَبَتْكُمْ
“Sesungguhnya wanita budak yang mu’min lebih baik dari wanita musyrik, walaupun dia menarik hatimu” (Qs. Al Baqarah; 221)

والله أعلم بالصواب

Kategori
Uncategorized

HADITS KE 120 : CARA MEMBEDAKAN WARNA DARAH

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

BAB HAID

HADITS KE 120 :

وَعَنْ أُمِّ عَطِيَّةَ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ: ( كُنَّا لَا نَعُدُّ اَلْكُدْرَةَ وَالصُّفْرَةَ بَعْدَ اَلطُّهْرِ شَيْئًا ) رَوَاهُ اَلْبُخَارِيُّ وَأَبُو دَاوُدَ وَاللَّفْظُ لَه

Ummu Athiyyah Radliyallaahu ‘anhu berkata: Kami tidak menganggap apa-apa terhadap cairah keruh dan warna kekuningan setelah suci. Riwayat Bukhari dan Abu Dawud. Lafadznya milik Abu Dawud.

MAKNA HADITS :

Darah haid adalah darah kental berwarna merah kehitam-hitaman dan telah dikenali warna dan baunya di kalangan kaum wanita.

Jika seorang wanita telah suci sesudah keluarnya al-qushshah (cairan berwarna putih yang keluar sesudah haid) atau sesudah al-jufuf (sesuatu yang digunakan untuk menyumbat rahim seperti kapas atau lain-lain lalu ia keluar dalam keadaan kering), kemudian keluar lagi darah berwarna merah kekuning-kuningan atau berwarna keruh, maka itu tidak dianggap sebagai darah haid.

Adapun darah yang keluar sebelum datangnya masa suci, baik ia berwarna merah kekuning-kuningan atau berwarna keruh dalam masa haid, maka itu dianggap haid. Ini telah diketahui oleh Nabi (s.a.w) melalui keterangan beberapa
orang kaum wanita, lalu Nabi (s.a.w) menetapkan demikian ke atas mereka.

FIQH HADITS :

Hadits ini memiliki dua pengertian, yaitu; manthuq dan mafhum.

Pengertian hadis berdasarkan manthuq (makna tersurat) ialah darah yang keluar dari rahim sesudah suci dan habisnya masa haid yang telah dimaklumi tidak dinamakan haid. Sedangkan pengertian hadits berdasarkan mafhum (makna tersirat) ialah darah yang keluar berwarna kekuning-kuningan atau berwarna keruh sebelum masa suci dikategorikan sebagai darah haid.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

Kategori
Uncategorized

Z008. BATAS HARTA TIDAK MENCUKUPI BIAYA HIDUP

PERTANYAAN :

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Langsung saja saya mau tanya ust…
Sebatas manakah orang dikategorikan hartanya tidak mencukupi dari biaya hidupnya? (Apa satu tahun ataukah lebih). Mohon jawabannya..

JAWABAN :

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

Batasnya adalah untuk sisa hidupnya yang biasa yaitu 62 tahun di hitung dari kelahirannya.

Referensi :

(بجيرمي علی الخطيب,جز ٣,صحيفۃ ٧٩)
فالاءول الفقير وهو من لا مال له ولا كسب لائق به,يقع جميعهما (اي كل منهما علی انفراده) او مجموعهما (اي جملتهما,فالمراد بالمجموع هنا الاءمران بشرط اجتماعهما,والمراد بالجميع كل منهما بدلا عن الاءخر) موقعا من كفايته (اي لبقيۃ عمره الغالب وهو اثنان وستون سنۃ من ولادته انتهی ق ل .قال الشوبري: نعم يبقی النظر فيما لو كان عنده صغار ومماليك وحيوانات, فهل نعتبرهم بالعمر الغالب اذ الاءصل بقاوءهم وبقاء نفقتهم عليه او بقدر ما يحتاجه بالنظر للاءطفال ببلوغهم والی الاءرقاء بما بقي من اعمارهم الغالبۃ وكذلك الحيوانات؟ للنظر في ذلك مجال, وكلامهم يومیء الی الاءول, لكن الثاني اقوی مدركا, فاءن تعذر العمل به تعين الاءول حج انتهی,) مطعما وملبسا ومسكنا وغيرهما مما لا بد له منه علی ما يليق بحاله وحال ممونه, كمن يحتاج الی عشرۃ ولايملك اولا يكتسب الا درهمين او ثلاثۃ او اربعۃ, وسواء اكان ما يملكه نصابا ام اقل ام اكثر.الثاني المسكين وهو من له مال او كسب لاءق به يقع موقعا من كفايته ولا يكفيه, كمن يملك او يكسب سبعۃ او ثمانيۃ ولا يكفيه الا عشرۃ, والمراد انه لا يكفيه العمر الغالب.

Batas seseorang dikategorikan hartanya tidak mencukupi dari biaya hidupnya adalah untuk sisa hidupnya yang biasa yaitu 62 tahun di hitung dari kelahirannya.

Dan bagi orang yang mempunyai anak-anak yang masih kecil, atau yang memiliki budak atau yang memiliki hewan-hewan, maka ada dua pendapat:

1. Untuk sisa hidupnya yang biasa yaitu 62 tahun.

2. Sampai balighnya anak-anaknya yang masih kecil. Dan bagi budak-budak itu sampai dengan sisa hidup yang biasa dari budak itu yaitu 62 tahun. Dan bagi hewan itu sampai sisa hidupnya hewan.
Menurut imam ibnu hajar Al Haitami, jika sulit mengamalkan pendapat yang kedua maka hendaklah mengamalkan pendapat yang pertama.

والله أعلم بالصواب