Pertanyaan: Bagaimana hukumnya pekerja kurban diberi upah/diberi persen dengan dagingnya kurban , wahai kiyai? kemudian jika tidak boleh , bagaimana solusi secara islami?
Waalaikumsalam Warahmatullahi Wabarakatuh.
Jawaban: Panitia atau pekerja daging kurban hukumya tidak boleh diberi upah/dipersen dengan dagingnya kurban. Adapun solusinya adalah panitia atau para pekerja kurban itu boleh diberi dagingnya kurban.Tapi dengan syarat daging kurban yang diberikan kepada pekerja kurban itu harus diambilkan dari bagiannya orang yang berkurban dengan cara orang yang berkurban itu berniat sedekah daging kurban yang diberikannya kepada pekerja kurban( panitia).
Referensi:
المكتبة الشاملة كتاب كفاية الأخيار في حل غاية الاختصار [تقي الدين الحصني] فصول الكتاب ص: ٥٣٣
وَاعْلَم أَن مَوضِع الْأُضْحِية الِانْتِفَاع فَلَا يجوز بيعهَا بل وَلَا بيع جلدهَا وَلَا يجوز جعله أُجْرَة للجزار وَإِن كَانَت تَطَوّعا بل يتَصَدَّق بِهِ المضحي أَو يتَّخذ مِنْهُ مَا ينْتَفع بِهِ من خف أَو نعل أَو دلو أَو غَيره وَلَا يؤجره والقرن كالجلد وَعند أبي حنيفَة رَحمَه الله أَنه يجوز بَيْعه وَيتَصَدَّق بِثمنِهِ وَأَن يَشْتَرِي بِعَيْنِه مَا ينْتَفع بِهِ فِي الْبَيْت لنا الْقيَاس على اللَّحْم وَعَن صَاحب التَّقْرِيب حِكَايَة قَول غَرِيب أَنه يجوز بيع الْجلد وَيصرف ثمنه مصرف الْأُضْحِية وَالله أعلم
Ketahuilah bahwa sesungguhnya penempatan posinya kurban itu adalah kemanfaatan, Jadi tidak boleh menjualnya dan menjual kulitnya dan tidak boleh menjadikan upah kepada tukang jagal walaupun keadaannya kurban tathawwu’ bahkan hendaknya orang yang berkurban mensedekahkan kulit kurban dan menjadikan kulit kurban tersebut sesuatu yang bermanfaat diantaranya dijadikan muse, sandal , dan timba atau lainnya, dan tidak boleh diberi upah pembuatnya. Sedangkan tanduknya kurban itu sama seperti kulitnya.
Menurut pendapatnya Imam Abu Hanifah bahwa boleh menjual kulitnya kurban dan mesedekahkan dengan harganya dan boleh membelinya selama dapat digunakan didalam rumah.
(فرع)
مَحل التَّضْحِيَة بلد المضحي وَفِي نقل الْأُضْحِية وَجْهَان تخريجاً من نقل الزَّكَاة وَالصَّحِيح هُنَا الْجَوَاز وَالله أعلم
Artinya: Dan haram menghilangkan dan menjual sesuatu yang termasuk bagian dari hewan kurban sunah dan hadiahkannya, dan haram pula memberikan upah kepada tukang jagalnya dengan sesuatu yang menjadi bagian dari hewan qurban tersebut. Tetapi biaya tukang jagal menjadi beban pihak yang berkurban dan Muhdi (orang yang berbakat) sebagaimana biaya manen. (Zakariya al-Anshari, Asna al-Mathalib Syarh Raudl ath-Thalib, Bairut-Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, cet ke-1, 1422 H/2000 M, juz, I, halaman: 545) Adapun dalil hadits tidak yang memperbolehkan membayar ongkos kepada jagal atau panitia / pekerja yaitu hadits Nabi sebagaimana berikut:
Artinya: Dari Sayyidina Ali bin Abi Thalib Karramallahu Wajhah, ia berkata: Rasulullah SAW memerintahkan kepadaku untuk mengurusi hewan kurbannya kemudian aku membagikan jilal-nya (pakaian hewan yang terbuat dari kulit untuk menahan dingin) dan kulitnya, dan beliau memerintahkan kepadaku untuk tidak memberikan sedikit pun bagian tubuh dari hewan kurban tersebut (sebagai upah) kepada tukang jagal. Dan beliau bersabda: Kami akan memberikan upah tukang jagalnya dari harta yang ada pada kami. (lihat, Zakariya al-Anshari, Asna al-Mathalib Syarh Raudlath-Thalib, juz, I, halaman: 545)
Kenapa tidak diperbolehkan membayar jagal dengan sesuatu yang termasuk dari bagian anggota tubuh dari hewan kurban? Alasannya adalah bahwa pihak yang berkurban mengeluarkan kurbannya dalam rangka Taqarrub ( mendekatkan ) diri kepada Allah atau beribadah. Oleh karenanya ia tidak boleh menarik kembali hewan tersebut kecuali apa yang telah diperbolehkan yaitu memakannya sesuai aturan yang telah ditetapkan.
وَلِأَنَّهُ إنَّمَا أَخْرَجَ ذلك قُرْبَةً فَلَا يَجُوزُ أَنْ يَرْجِعَ إلَيْهِ إلَّا ما رُخِّصَ لَهُ فِيهِ وَهُوَ الْأَكْلُ وَخَرَجَ بِأَجْرِهِ إعْطَاؤُهُ منه لِفَقْرِهِ وَإِطْعَامُهُ مِنْهُ إنْ كان غَنِيًّا فَجَائِزَانِ
Artinya: Karena ia (orang yang berkurban) mengeluarkan kurbannya itu untuk mendekatkan diri kepada Allah (ibadah). Maka ia tidak boleh menarik kembali kurbannya kecuali apa yang telah diperbolehkan yaitu memakannya. (Zakariya al-Anshari, Asna al-Mathalib Syarh Raudlath-Thalib, juz, I, halaman: 545)
Adapun yang terpenting dari penjelasan di atas adalah adanya larangan untuk mengambil bagian dari hewan kurban untuk diberikan kepada orang yang memotongnya sebagai upah. Alasannya karena pemberian seperti kulit kambing kurban kepada tukang jagal itu selama bukan sebagai upah, tetapi karena ia adalah orang yang hidupnya pas-pasan, adalah diperbolehkan. Sebagaimana ibaroh berikut;
Artinya: Dan dikecualikan dengan upah jagal adalah memberi suatu bagian dari hewan kurban kepada si jagal karena kefakirannya atau memberinya makan dari hewan kurban tersebut jika ia orang yang mampu, maka kedua hal ini boleh. (Zakariya al-Anshari, Asna al-Mathalib Syarh Raudlath-Thalib, juz, I, halaman: 545). Begitu juga Syekh Nawawi Banten menjelaskan dalam kitabnya ;
ـ (ويحرم أيضا جعله) أي شيئ منها (أجرة للجزار) لأنه في معنى البيع (ولو كانت الأضحية تطوعا) فإن أعطى للجزار لا على سبيل الأجرة بل على سبيل التصدق جزءا يسيرا من لحمها نيئا لا غيره كالجلد مثلا، ويكفي الصرف لواحد منهم، ولا يكفي على سبيل الهدية
Artinya, “(Menjadikannya) salah satu bagian dari kurban (sebagai upah bagi penjagal juga haram) karena pemberian sebagai upah itu bermakna ‘jual’, (meskipun itu ibadah kurban sunnah). Jika kurbanis memberikan sebagian daging kurban mentah, bukan selain daging seperti kulit, kepada penjagal bukan diniatkan sebagai upah, tetapi diniatkan sebagai sedekah [tidak masalah]. Pemberian daging kurban kepada salah satu dari penjagal itu memadai, tetapi pemberian daging kepada penjagal tidak memadai bila diniatkan hadiah,” (Lihat Syekh M Nawawi Banten, Tausyih ala Ibni Qasim, [Beirut, Darul Fikr: 1996 M/1417 H], halaman 272). Berbeda dari Syekh M Nawawi Banten yang menganggap pemberian kepada tim jagal dengan niat hadiah itu tidak memadai, Syekh M Ibrahim Al-Baijuri berpendapat lain. Menurut Al-Baijuri, orang yang berkurban dilarang memberikan sesuatu dari hewan kurban kepada tim jagal dengan niat sebagai upah mereka. Kalau pemberian itu diniatkan sebagai sedekah atau hadiah untuk mereka, maka hal itu tidak masalah. ـ
(ويحرم أيضا جعله أجرة للجزار) لأنه في معنى البيع فإن أعطاه له لا على أنه أجرة بل صدقة لم يحرم وله إهداؤه وجعله سقاء أو خفا أو نحو ذلك كجعله فروة وله إعارته والتصدق به أفضل
Artinya, “(Menjadikan [daging kurban] sebagai upah bagi penjagal juga haram) karena pemberian sebagai upah itu bermakna ‘jual’. Jika kurbanis memberikannya kepada penjagal bukan dengan niat sebagai upah, tetapi niat sedekah, maka itu tidak haram. Ia boleh menghadiahkannya dan menjadikannya sebagai wadah air, khuff (sejenis sepatu kulit), atau benda serupa seperti membuat jubah dari kulit, dan ia boleh meminjamkannya. Tetapi menyedekahkannya lebih utama,” (Lihat Syekh M Ibrahim Baijuri, Hasyiyatul Baijuri, [Beirut, Darul Fikr: tanpa catatan tahun], juz II, halaman 311).
Kesimpulan. Dari beberapa ibaroh keterangan kitab di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa orang yang berkurban dilarang memberikan sesuatu dari hewan kurbannya kepada tim jagal dengan niat sebagai upah kerja mereka. Tetapi ketika tim jagal itu tidak lain adalah tim panitia kurban sendiri, orang yang berkurban tetap dapat memberikan daging atau kulit mereka dengan niat sedekah dari orang yang berqurban, bukan niat sebagai upah maka dalam hal ini boleh. Wallahu A’lam bisshowab.
Deskripsi masalah Sebelunya saya mohon maaf Kiyai, Satu tahun yang lalu dirumah (mushollah saya) itu ada Qurban namun cara pembagiannya disama ratakan baik sepenerima (Kiyai) panitia, dan yang lainya , karena ketika saya lihat para penisepuh dulu dan disebagian pengasuh musholla lainnya itu cara bagiannya tidak sama, maaf bukannya saya ingin bagian melebihi dari yang lain. Kami mohon penjelasannya kalau bisa sertakan dengan dalilnya.
Pertanyaan: 1- Bagaimana sebenarnya cara pembagian daging qurban berikut kepala menurut syariat
Waalaikum salam.
Alhamdulillah wassholatuwassamu ala Rasulillah.
Jawaban: Untuk mengetahui dan memahami cara pembagian daging qurban dan juga kepala dari quban menurut syariat, bisa diambil dari kisah Nabi Ibrahim dan juga pendapat ulama’ sebagaimana berikut:
Qurban satu sapi sebenarnya boleh sebagian dagingnya diberikan kepada satu orang (Muqobil/’orang fakir atau orang miskin ) namun demikian agar masyarakat sama- sama menikmati daging qurban tersebut perlu adanya pembagian secara adil, sedangkan yang dimaksud pembagian yang adil itu bukan harus disama ratakan, melainkan adil itu adalah meletakkan sesuatu sesuai dengan tempatnya ( sesuai dengan anjuran syariat Islam ) semisal orang tua meninggal dunia sementara dia tinggalkan dua anak laki-laki dan perempuan maka keduanya punya hak warisan akan tetapi cara pembagiannya tidak harus sama melainkan seorang anak laki-laki mempunyai hak 2/3 dari harta warisan sedangkan anak perempuan punya hak bagian warisan 1/3. Oleh karena itu penting kami jelaskan tentang pembagian daging qurban sebagaimana Ijtihadnya para fuqaha’ bahwa pembagian daging qurban setidaknya ada tiga pendapat :
Disedekahkan seluruhnya kecuali sekedar untuk lauk-pauknya orang yang berqurban
Dimakan sendiri separo dan disedekahkan separo
Sepertiga dimakan sendiri, sepertiga dihadiahkan dan sepertiga lagi disedekahkan.(Kifayatul Akhyar)
الشرقاوى على التحرير: ص:٤٦٩ ( قوله وأن يتصدق ) أى يسن ذلك لأنه أقرب للتقوى وأبعد عن حظ النفس وسن أن جمع بين الأكل والتصدق والإهداء أن يجعل أثلاثا فيصدق بثلث ويهدى ثلاثا ويبقى ثلاثا لأهل بيته فإن لم يفعل وجب التصدق بما يتمول منها ولو جزأ يسيرا من لحمها بحيث ينطلق عليه الإسم ويكفي الصرف لواحد من الفقراء أو المسكين بخلاف سهم الصنف الواحد من الزكاة لايجوز صرفه لأقل من ثلاثةلأنه يجوز الإقتصار هنا على جزء يسير لايمكن صرفه لأكثر من واحد
Artinya; Dan disunnatkan untuk mensedekahkan semua daging kurban. Alasannya ialah karena mensedekahkan semua daging kurban itu lebih dekat kepada takwa, dan lebih menjauhkan diri dari bagian hawa nafsu. Dan disunnatkan untuk mengumpulkan diantara makan ( 1/3 daging kurban) untuk orang yang berkurban dan untuk keluarganya orang yang berkurban, dan mensedekahkan(1/3 daging kurban), dan menghibahkan (1/3 daging kurban). Lalu jika orang yang berkurban itu tidak bisa mengerjakan terhadap hal diatas, maka wajib bagi orang yang berkurban itu untuk mensedekahkan sebagian kecil dari daging kurban. Sekiranya bisa dinamakan menyedekahkan daging kurban bagi orang yang berkurban. Dan dianggap mencukupi jika orang yang berkurban itu hanya memberikan daging kurban kepada seorang fakir atau miskin. Berbeda dengan bagian satu kelompok dari zakat, itu tidak boleh mentashorrufkan ( memberikan ) zakat kepada kurang dari 3 orang. Karena didalam bab kurban, itu diperbolehkan mengambil cukup hanya mentashorrufkan ( membagikan ) daging kurban yang sedikit, yang mana daging kurban yang sedikit itu tidak mungkin bisa di bagikan kepada lebih dari seorang.
(والبدن جعلناها لكم من شعائر الله ) جعلها الله سبحانه وتعالى لنا لاعلينا، وبالقياس على العقيقة ، والأفضل التصدق بالجميع إلا اللقمة أو اللقمتان يأكلها فإنها مسنونة ،وقال الإمام الغزالي التصدق بالكل أحسن على كل قول فلو لم يرد التصدق بالكل فماالذي يفعل ؟ قيل يأكل بالنصف ويتصدق بالنصف لقوله تعالى( فكلوامنها وأطعموا البائس الفقير ) فجعلها الله النصفين، وهذا نص عليه الشافعي رضي الله عنه فى القديم ، وقيل يأكل الثلث ويهدي الثلث ويتصدق بالثلث لقوله تعالى ( وأطعموا القانع والمعتر ) فجعلها لثلاثة ،والقانع الجالس فى بيته والمعتر السائل ، وقيل غير ذلك ، وهذا هو الجديد الأصح فعلى هذا فماالمراد بالذي يهدى إليهم ؟ قيل هم المجملون من الفقراء، ويرجع حاصله إلى التصدق بالثلثين،’وهذا ماحكاه أبوالطيب عن الجديد وصححه ،وقيل هم الأغنياء ،وقال الشيخ أبوا حميد يأكل الثلث ،ويتصدق بالثلث ،ويهدى الثلث للأغنياء والمجملين ،ولوا تصدق بالثلثين كان أحب ونقل البندنيجى كون الصدقة بالثلثين أفضل عن النص والله أعلم.
Adapun sipenerima (Kiyai) baiknya adalah mengambil pendapat yang no.1, kalau qurban diberikan seluruhnya maka boleh kiyai mengambil sekehendaknya, namun yang lebih baik mengambil yang biasa dilakukan oleh para penisepuh atau kiyai yaitu mengambil bagian satu sampel kaki kanan yang belakang ( mulai dari kaki sampai paha ) hal ini diqiyaskan pada Aqiqoh .sebagaimana ibarah berikut dalam kitab Tanwirul Qulub lisayyid Muhammd Amin Al-Qudiy, Halaman:239
ويسن أن تطبخ كسائر الولائم إلا رجلها اليمنى إلى أصل الفخذ فتعطى نيئة للقابلة(أى الداية) تفاؤلا
Disunnatkan aqiqoh dimasak seperti halnya semua Walimah/ jamuan kecuali Sampel: red kaki kanan daging aqiqoh ( mulai dari kaki sampai pahanya ) maka berikan kepada sipenerima. Begitu juga halnya dengan qurban berikan kaki yang kanan hal ini diqiaskan pada aqiqoh, karena hukum aqiqoh sama dengan qurban ,namun demikian daging Qurban diberikan mentahnya sedangkan Aqiqoh yang utama berikan masaknya kecuali Kaki yang kanan sebagaimana tersebut.
الموسوعة الفقهية – 2823/31949 ما يستحب وما يكره بعد التضحية: أ – يستحب للمضحي بعد الذبح أمور: 57 – منها: أن ينتظر حتى تسكن جميع أعضاء الذبيحة فلا ينخع (1) ولا يسلخ قبل زوال الحياة عن جميع جسدها. 58 – ومنها: أن يأكل منها ويطعم ويدخر، لقوله تعالى: {وأذن في الناس بالحج يأتوك رجالا وعلى كل ضامر يأتين من كل فج عميق ليشهدوا منافع لهم ويذكروا اسم الله في أيام معلومات على ما رزقهم من بهيمة الأنعام فكلوا منها وأطعموا البائس الفقير} . (2) وقوله عز وجل: {والبدن جعلناها لكم من شعائر الله لكم فيها خير فاذكروا اسم الله عليها صواف فإذا وجبت جنوبها فكلوا منها وأطعموا القانع والمعتر} . (3) ولقوله صلى الله عليه وسلم: إذا ضحى أحدكم فليأكل من أضحيته. (4) 59 – والأفضل أن يتصدق بالثلث، ويتخذ الثلث ضيافة لأقاربه وأصدقائه، ويدخر الثلث، وله أن يهب الفقير والغني، وقد صح عن ابن عباس رضي الله عنهما في صفة أضحية النبي صلى الله عليه وسلم قال: ” ويطعم أهل بيته الثلث، ويطعم فقراء جيرانه الثلث، ويتصدق على السؤال بالثلث “. (5)قال الحنفية: ولو تصدق بالكل جاز، ولو حبس الكل لنفسه جاز، لأن القربة في إراقة الدم، وله أن يزيد في الادخار عن ثلاث ليال، لأن نهي النبي صلى الله عليه وسلم عن ذلك كان من أجل الدافة، وهم جماعة من الفقراء دفت (أي نزلت) بالمدينة، فأراد النبي صلى الله عليه وسلم أن يتصدق أهل المدينة عليهم بما فضل عن أضاحيهم، فنهى عن الادخار فوق ثلاثة أيام. ففي حديث عائشة رضي الله عنها أنها قالت: قالوا يا رسول الله: إن الناس يتخذون الأسقية من ضحاياهم ويجعلون فيها الودك، قال: وما ذاك؟ قالوا: نهيت أن تؤكل لحوم الأضاحي بعد ثلاث، فقال: إنما نهيتكم من أجل الدافة التي دفت، فكلوا، وادخروا وتصدقوا. (1) وفي حديث سلمة بن الأكوع رضي الله عنه أنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: من ضحى منكم فلا يصبحن بعد ثالثة وفي بيته منه شيء، فلما كان العام المقبل. قالوا يا رسول الله نفعل كما فعلنا عام الماضي؟ قال: كلوا وأطعموا وادخروا، فإن ذلك العام كان بالناس جهد، فأردت أن تعينوا فيها. (2) وإطعامها والتصدق بها أفضل من ادخارها، إلا أن يكون المضحي ذا عيال وهو غير موسع الحال، فإن الأفضل له حينئذ أن يدخره لعياله توسعة عليهم، لأن حاجته وحاجة عياله مقدمة على حاجة غيرهم، لقوله صلى الله عليه وسلم: ابدأ بنفسك فتصدق عليها فإن فضل شيء فلأهلك، فإن فضل شيء عن أهلك فلذي قرابتك، فإن فضل عن ذي قرابتك شيء فهكذا وهكذا. (1) هذا مذهب الحنفية. (2) 60 – وهاهنا تنبيه مهم وهو أن أكل المضحي من الأضحية وإطعام الأغنياء والادخار لعياله تمتنع كلها عند الحنفية في صور. منها: الأضحية المنذورة، وهو مذهب الشافعية أيضا. وذهب المالكية والحنابلة إلى أن المنذورة كغيرها في جواز الأكل. ومنها: أن يمسك عن التضحية بالشاة التي عينها للتضحية بالنذر أو بالنية عند الشراء حتى تغرب شمس اليوم الثالث فيجب التصدق بها حية. ومنها: أن يضحي عن الميت بأمره فيجب التصدق بالأضحية كلها على المختار. ومنها: أن تلد الأضحية فيجب ذبح الولد على قول، وإذا ذبح وجب التصدق به كله، لأنه لم يبلغ السن التي تجزئ التضحية فيها، فلا تكون القربة بإراقة دمه، فتعين أن تكون القربة بالتصدق به، ولهذا قيل: إن المستحب في الولد التصدق به حيا
KISAH NABI IBRAHIM DAN PENYEMBELIHAN ISMAIL ALAIHISSALAM
Diceritakan bahwa penyembelihan Oleh Nabi Ibrahim adalah sebagai pelaksanaan Nadzar yang diucapkan oleh Nabi Ibrahim sendiri dengan kata-kata ” Demi Allah kalau aku memperoleh anak laki-laki akan aku sembelih dan aku jadikan Qurban untuk Allah “.Ia ucapkan nadzar itu ketika ia berqurban seribu kambing, tiga ratus ekor kerbau dan seratus unta. Orang-orang dan para Malaikat sangat taajjub/ mengagumi amal qurban Nabi Ibrahim itu, tetapi beliau sendiri merasa masih kurang dan ingin mengurbankan anaknya sendiri jika Allah menganugrahinya.
Sesudah beberapa waktu berselang sesuai harapan dan permohonannya, Allah mengaruniakannya seorang putra “Isma’il” setelah Isma’il mencapai usia /umur tujuh tahun ( atau dua belas tahun menurut lain riwayat) Nabi Ibrahim mendengar suara dalam mimpi ” أوف بنذرك ” Laksanakan lah nadzarmu “. Menurut riwayat Ibnu Abbas, ia pada mulanya merasa bimbang dan berfikir-fikir apakah perintah itu dari Allah atau dari syaitan. Akan tetapi suara itu berulang didengarnya pada malam kedua dan ketiga, sehingga ia tidak ragu-ragu lagi bahwa perintah itu adalah dari Allah yang menuntut pelaksanaan nadzarnya.
Tatkala Nabi Ibrahim hendak membawa putranya ketempat penyembelihan, ia berseru kepada istrinya Wahai ” Hajar” berilah pakaian kepada ISMAIL dengan bakaian yang terbaik karena dia akan aku ajak kesuatu jamuan, katanya. Dalam kondisi seperti itu, Iblis berusaha sekuat tenaga yang untuk menggagalkan rencana Nabi Ibrahim dengan mundur mandir mendatangi Nabi ISMAIL dan ibunya Sitti Hajar seraya membisik-bisikkan butuhkan dan rayuan dan fitnaan diantara hamba Allah itu, akan tetapi usahanya syaitan itu gagal dan mencapai maksud jahatnya itu, bahkan dia mendapat lembaran batu dari Nabi ISMAIL tepat mengenai mata kirinya, sehingga tercungkil. Palembang batu Nabi ISMAIL ini diperingati pada setiap kali orang melakukan i ada Haji, dan menjadi salah satu dari mana siknya .Sesampainya mereka di Mina, terjadilah tanya jawab antara Nabi Ibrahim dan putranya ISMAIL sebagaimana tercantum dalam Al-Qur’an surat ;ASSHAFFAT. Ayat;99-106
99: Dan dia (Ibrahim) berkata, “Sesungguhnya aku harus pergi (menghadap) kepada Tuhanku, Dia akan memberi petunjuk kepadaku.
100; Maka Kami beri kabar gembira kepadanya dengan (kelahiran) seorang anak yang sangat sabar (Ismail)
101:Maka ketika anak itu sampai (pada umur) sanggup berusaha bersamanya, (Ibrahim) berkata, “Wahai anakku! Sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu!” Dia (Ismail) menjawab, “Wahai ayahku! Lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu; insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang yang sabar.
102: Maka ketika keduanya telah berserah diri dan dia (Ibrahim) membaringkan anaknya atas pelipis(nya), (untuk melaksanakan perintah Allah).
103: Lalu Kami panggil dia, “Wahai Ibrahim!
104; Sungguh, engkau telah membenarkan mimpi itu.” Sungguh, demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.
105: Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata.
106: Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar.
Sebelum penyembelihan dilaksanakan, berkatalah ISMAIL kepada ayahnya :” Hai ayahku ! Ikatlah kedua tanganku agar aku tidak dapat bergerak sehingga mengganggumu, tengkurapkan wajahku diatas tanah agar kamu tidak terharu, sehingga timbul rasa kasih sayangmu kepadaku, jagalah pakaianmu agar tidak terkena cipratan darahku sehingga mengurangi pahala dan menyedihkan ibuku jika ia melihatnya, asahlah baik-baik pisaumu agar berlalu licin dan cepat dilahirkan sehingga meringankan rasa pedihku, bawalah pakaianku kepada ibuku sebagai tanda kenang- kenangan, sampaikanlah salamku kepadanya dan pesanan agar ia sabar menjalankan perintah Allah dan janganlah engkau beritahukan padanya, bagaimana kamu mengikuti serta menyembelihku dan janganlah membiarkan anak- anak remaja mendatangi ibuku agar tidak meringankannya kembali kepadaku sehingga ia menjadikan sedih dan susah.
Diceritakan bahwa pisau yang diletakkan pada leher ISMAIL menjadi rumput tidak berfungsi sehingga ISMAIL berkata pada ayahnya :” Wahai Ayahku kekuatanmu telah melemah disebabkan kecintaanmu kepadaku, sehingga engkau tidak berkuasa menyembelihku “. Kemudian Ibrahim pisaunya kepada sebuah batu yang ternyata dapat dipotongnya ( terbelah) menjadi dua, lalu berkata beliau ( Ibrahim) pada pisau yang dipegangnya ” engkau dapat memotong batu, tetapi tidak bisa memotong daging..?” Maka dijawab oleh pisaunya dengan kuasa Allah :” engkau memerintahkan aku memotong, sedangkan Allah Rabbul alamin melarangku, bagaimana àku dapat mematuhi perintahmu dan melangkar perintah Robku.
Sesudah nyata kesabaran dan ketaatan Ibrahim dan ISMAIL, maka Allah melarang menyembelih ISMAIL dan untuk meneruskan qurban, Allah menggantinya seekor kambing.
105: Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata.106: Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar.Yakni Idul Adha.
Diceritakan bahwa kambing yang dibawa oleh Jibril guna untuk menggantikan Ismail, Ialah kambing yang diqurbankan oleh Habil yang masih hidup di surga hingga saat diqurbankannya mengganti Ismail. Peristiwa ini menjadi dasar disyaratkannya Qurban yang dilakukan pada hari raya Haji.
Adapun takbiran yang dilakukan oleh ummat Islam dihari raya Haji, maka berasal dari cerita bahwa Malaikat Jibril tatkala melihat Nabi Ibrahim menggosokkan pisaunya pada leher Ismail, ia menngeleng kepalanya berta’jub, heran dan kagum, seraya mengucapkan takbir “Allahu Akbar – Allah Akbar ” lalu dijawab oleh Nabi Ibrahim ” Laailaha Illallahu Wallahu Akbar Walillahilhamdu” .
Berkata Ibnu Abbas; Andaikan penyembelihan Ismail Jadi dilaksanakan, maka penyembelihan anak sebagai qurban tentu menjadi sunnat dan syariat.
Diriwayatkan bahwa Nabi Ismail berkata kepada ayahnya sebagai peristiwa penyembelihan ” Wahai ayahku engkaulah yang murah hati atau aku ? Aku ! Jawab ayahnya ” tidak ayah tetapi Aku kata Ismail, karena ayah masih mempunyai putra lain, sedangkan aku hanya mempunyai satu nyawa. Lalu terdengar suara :” Akulah Allah yang lebih murah hati dari pada kamu berdua, karena Aku telah menggantikanmu dengan qurban dan menyelamatkan kamu dari siksa penyembelihan.
Diceritakan bahwa Allah berfirman kepada Malaikatnya yang sedang mengkagumi kemuliaan yang dimiliki oleh Nabi Ismail sehingga Allah mengirim kambing dari surga untuk menggantikannya sebagai qurban:” Demi keagungan dan kebesaranku andaikan semua Malaikat memanggul Qurban diatas punggungnya, niscaya tidak dapat mengembangi kata-kata Ismail ” Lakukanlah hai bapakku apa yang diperintahkan kepadamu, engkau akan mendapatkan aku Insyaallah dari mereka orang yang sabar. { Dikutip dari Kitab Dzurratunnashihin }.
Selanjudnya dijelaskan dalam kitab Syarqowi Alattahrir : bahwa ketika Nabi Ibrahim berqurban Dombanya Ismail (pengganti dari Nabi Ismail ) itu kedua tandukknya diikat atau digantungkan ditalang Ka’bah, sebagaimana keterangan dalam satu riwayat Ibnu Jubair dari Ibnu Abbas hingga terbakar rumah dibeberapa harinya Ibnu Zubair dan terbakar pula kedua tanduk domba . Adapun yang dimaksud dengan kedua tanduk yaitu kepala ( kepala domba ) sebagaimana para Ahli tafsir menginterpretasikan firman Allah ”
وَنَادَيْنٰهُ اَنْ يّٰٓاِبْرٰهِيْمُ (١٠٣)
Maksudnya sungguh benar mimpimu inilah Qurbanmu maka sembellilah qurban dari anakmu sebagai tebusan baginya , mereka para Malaikat berkata: maka dia membawa seekor domba yang diturunkan dari bukit gunung dan ia berkata : Wahai Nabi Allah ambillah aku dan sembellilah aku sebagai tebusan dari Anakmu karena saya lebih Haq untuk disembelih , dan sesungguhnya saya adalah Dombanya Habil putranya Nabi Adam , Lalu Nabi Ibrahim memuji kepada Tuhannya atas pemberiannya. Ketika Nabi Ibrahim selesai menyembelihnya lalu datanglah api dari langit dan membakar terhadap sembelihannya kecuali yang tidak terbakar hanya kepalanya ( Domba ) , Lalu Nabi Ibrahim dan putranya pergi dengan membawa kepala Domba kepada Ibunya ( Sitti Hajar ) dan keduanya memberikan kabar ( menceritakan tentang kejadiannya) Maka dia ( Sitti Hajar ) bersujud syukur kepada Allah. Selesai.
Dikutip dari kitab Nashihatul Muluk karangan Imam Al-Ghazali .Ketika Nabi Ibrahim selesai dari sembelihannya lalu dia mengupasnya lalu Nabi Ibrahim berkata/bertanya kepada Malaikat jibril Untuk apa yang aku lakukan daging Ini ? Maka Malaikat Jibri berkata: kepada Nabi Ibrahim ” Ambillah 1/3 Untuk ahli rumahmu ( keluargamu) dan Hadiahkan 1/3 untuk orang yang membutuhkan dan sedekahkan 1/3 untuk orang-orang fakir.
Referensi:
شرقاوي على التحرير: الجزء الثاني. ص ٤٦٣
قد صح فى الخبر أن قرني كبش إسماعيل كانا معلقين فى ميزاب الكعبة كماقال عليه رواية إبن جبير عن ابن عباس إلى أن احترق البيت فى أيام ابن الزبير واحترق البيت والمراد بالقرنين الرأس كماقاله المفسرين فى تفسير قوله تعالى وناديناه ياإبراهيم صدقت الرؤيا هذه ذبحتك فاذبحها عن ابنك فداء له قالوا فإذا هو بكبش ينحر من الجبل وهو يقول يانبي الله خذني فاذبحني فداء عن ولدك فأنا أحق بالصبح وأنا كبش هابيل ابن آدم عليه السلام فحمد ربه على ماأولاه ولما فرغ إبراهيم من ذبحه جاءت نار من السماء فأحرقته ولم تترك غير رأسه فذهب إبراهيم وابنه ومعهما رأس الكبش إلى أمه وأخبراها بما وقع فوجدت شكرا لله تعالى إنتهى ونقل عن نصيحة الملوك للإمام الغزالي أنه لما فرغ من ذبحه وسلخه قال جبريل ماأصنع بهذ اللحم فقال له جبريل خذ الثلث لأهل بيتك وأهد الثلث لمن تريد وتصدق بالثلث على الفقراء …الخ
Bagaimana halnya dengan kepala hewan apakah harus dihancurkan sebagaimana dagingnya..?
Jawabannya, Jika melihat dari kisah diatas maka yang berhak menerima bagiannya adalah orang yang berqurban, hal ini jika mudhohhiy berqurban sunnah, karena Nabi Ibrahim ketika berqurban hanyalah kepala qurbannya yang dibawa kerumahnya bersama putranya yaitu Nabi Ismail Alaihimassalam. Akan tetapi jika adanya qurban itu qurban wajib atau Nadzar maka tidak boleh menerima bagian apapun dari qurban, maka jika demikian yang layak untuk mendapatkan bagian kepala adalah sipenerima.
Demikian Kisah latar belakang disyariatkannya qurban serta dasar pembagian daging Qurban. Allahu A’lam bisshowab.
HUKUMNYA MEMBANGUN KANTOR SEKRETARIAT DI DALAM MASJID.
Assalamu’alaikum
Deskripsi masalah:
Akhir-akhir ini banyak kita jumpai masjid yang megah dan menawan, umat muslim berlomba-lomba membangun masjid untuk mendapatkan amal jariyyah, bahkan bisa dikatakan trend amal zaman sekarang adalah membangun dan memperindah masjid, namun tidak bisa dipungkiri, banyak kita temukan masjid yang didalamnya dibangun sebuah kantor sekretariat organisasi tertentu.
Pertanyaan:
1. Bagaimana hukumnya membangun kantor sekretariat di dalam masjid?
2. Bagaimana hukumnya pembangunan kantor di dalam masjid yang diambilkan dari kas Masjid?
JAWABAN;
Haram karena membuat sempit masjid serta mengganggu pelaksanaan ibadah sholat.
Tidak boleh, karena kas masjid hanya bisa digunakan untuk mimbar di masjid dan untuk imaroh masjid (pembanguan masjid ) seperti perbaikan dan renovasi fisik(perbaikan masjid),dan untuk masholih nya masjid(kemanfaatan masjid) seperti tagihan listrik dan air, honor muadzin / imam shalat, penyediaan air meneral dls. Sedangkan keberadaan kantor organisasi sama sekali tidak terkait dengan hal tersebut.
Referensi nomor satu:
بغية المسترشدين للسيد عبد الرحمن باعلوي. ص.٩٥ ( مسئلة)
يحرم وضع المنبر والخزائن والسرر فى المسجد وإن كان لطلبة العلم ولم يتضرر بها المصلين لأن فى ذلك تحجيرا وتضييقا على المصلين
Artinya : Haram meletakkan Mimbar didalam masjid ( Maksudnya masjid yang tidak digunakan sholat jum’at ) dan haram meletakkan banyak lemari dan tempat tidur, walaupun adanya untuk orang yang belajar ilmu, dan walaupun adanya lemari tidak memudhoratkan kepada orang-orang yang sholat Karena hal itu menghalangi dan menyempitkan kepada orang-orang sholat.
غايةتلخيص المراد من فتاوي إبن زياد هامش بغيةالمسترشدين ص ٩٧ ولا يجوز وضع خزانة فيه وإن كان لحاجة من يحيى فى المسجد او يدرس ولم تضيق على المصلين لأنه قد يتفق فيه الجمع ولأن فيه تحجيرا والناظر فى ذلك سواء ومثلها المنبر فى مسجد لا جمعة فيه
Dalam Kitab Ghayatu Talkhish dijelaskan: Bahwa yang dimaksud dari fatwa Ibnu ziyad Hamisy Bughiyatul Musytarsyidin halaman 98 Adalah dan tidak boleh meletakkan lemari didalam masjid, walaupun karena ada keperluannya orang yang hidup di masjid,atau karena keperluannya orang yang mengajar di masjid. Dan walaupun adanya lemari itu tidak mempersempit kepada orang-orang yang sholat. Alasannya ialah karena kadang-kadang secara kebetulan ada orang banyak di dalam masjid. Dan karena adanya lemari itu bisa menghalangi kepada orang yang akan masuk kedalam masjid. Dan nadzir ( takmir masjid ) juga tidak boleh meletakkan lemari didalam masjid. Dan tidak boleh meletakkan mimbar di masjid yang tidak ada sholat Jum’at nya di masjid itu.
احياء علوم الدين للغزالي ج ٢ ص ٣٣١ ومنها ما هو مباح خارج المسجد كالخياطة وبيع الادوية فهذا فى المسجد ايضا لا يحرم الا بعارض وهو ان يضيق المحل على المصلين ويشوش عليهم صلاتهم فان لم يكن شيئ من ذلك فليس بحرام والاولى تركه ولكن شرط اباحته ان يجري فى اوقات نادرة وايام معدودة فان اتخذ المسجد دكانا على الدوام حرم ومنع منهاهـ
Dan diantaranya sekretariat yang diperbolehkan diluar masjid adalah seperti tukang jahit dan jualan obat-obatan maka hal ini dimasjid juga, maka tidak haram kecuali menjadi penyebab sempitnya tempat pada orang-orang sholat, mengganggu kepada sholat mereka.Maka jika tidak ada sesuatu yang mengganggu dan menyempitkan kepada orang sholat, maka hukumnya tidak haram.Dan yang lebih Utama meninggalkan sesuatu yang dapat menyempitkan kepada orang-orang yang sholat.Akan tetapi disyaratkan kebolehannya yaitu harus berjalan pada waktu yang jarang ,dan beberapa hari yang ditentukan .Maka jika seseorang menjadikan masjid sebagai toko selamanya maka haram hukumnya, dan hendaklah dicegah dari menjadikan masjid sebagai toko selamanya
عمدة المفتي والمستفتي للعلامة جمال الدين محمد بن عبد الرحمن الأهدل ١/٦٤٣ وقد قال النووي : اتفق أصحابنا على أنه لا يجوز نقض المسجد بحال من الأحوال إلا في مسألة واحدة وهي ما إذا صار المسجد في موضع خراب وتعطل وخيف عليه من أهل الفساد فإنه يحفظ إلى حين إعادته فإن لم ترج إعادته جاز للحاكم أن يبني به مسجدا غيره والجدار المذكور وإن لم يسمى مسجدا لكنه جزء مسجد ولم تدع ضرورة إلى هدمه وقد قال ابن حجر في شرح العباب ” يحرم هدم جزء من المسجد لأن أجزاء المسجد وهواءه مملوكة له إذ هو حر يملك والإذن منه غير ممكن فلم يجز هدم جزء منه إلا إن ألجأت ضرورة محتمة إلى شيء من ذلك فيتقدر بقدرها “
Imam Nawawi berkata: Para ash haabusysyaafi’i sepakat, tidak boleh merobohkan masjid disebabkan oleh sebab apapun. Kecuali karena disebabkan oleh satu sebab, yaitu jika masjid itu berada di tempat yang akan longsor. Dan menjadi sebab masjid itu menjadi kosong. Dan dikhawatirkan pada masjid itu-gangguan dari ahli berbuat kerusakan. Maka masjid itu dijaga sampai dengan waktu membangun kembali masjid itu. Jika tidak mungkin untuk membangun lagi masjid itu , maka diperbolehkan bagi hakim untuk membangunkan masjid lain dari material masjid yang roboh itu,dan dari temboknya masjid yang roboh itu. Walaupun bangunan itu tidak dinamai masjid tapi dinamai bagian dari masjid. Dan walaupun tidak didorong oleh dorurot ( terpaksa ) untuk merobohkan masjid itu. Dan sungguh imam Ibnu Hajar berkata didalam Syarahnya kitab Al Ubbab: Diharamkan untuk merobohkan bagian dari masjid. Alasannya ialah karena bagian-bagian masjid dan udara diatas masjid itu dihukumi dimiliki oleh masjid.Alasannya ialah karena bagian-bagian masjid dan udara diatas masjid itu tidak dimiliki oleh siapapun selain Allah . Sedangkan idzin dari Allah untuk merobohkan masjid adalah tidak mungkin. Maka tudak boleh untuk merobohkan bagian dari masjid. Kecuali jika didorong oleh keterpaksaan yang pasti untuk merobohkan masjid.Maka dioerbolehkan merobohkan masjid sesuai dengan besarnya dorurot ( keterpaksaan ) itu.
Nihayat al Zain :273
ولايجوز إستبدال الموقوف عندنا وإن خرب خلافا للحنفية وصورته عندهم أن يكون المحل قد آل إلى السقوط فيبدل بمحل آخر أحسن منه بعد حكم حاكم يرى صحته و يمتنع قسمة الموقوف أو تغيير هيئته كجعل البستان دارا وقال السبكي يجوز بثلاثة شروط أن يكون يسيرا لا يغيره مسماه وعدم إزالة شيء من عينه إلا بعض نقض لجانبه آخر وأن يكون فيه مصلحة للوقف , ولو خربت البلد وكان فيها مسجد وعمرت مسجدا بمخل أخر جاز نقل وقفه للمحل الاخر حيث تعذر إجراؤه علي المسجد الاول بأن لم يصل فيه أحد
Tidak boleh mengganti barang wakaf menurut kami ( ulama madzhab Syafi`i ) walaupun telah rusak, berbeda dengan pendapat ulama madzhab Hanafi. Contoh penggantian barang wakaf menurut ulama madzhab Hanafi seperti: Ada tempat yang akan runtuh maka boleh diganti di tempat lain yang lebih baik bagus setelah adanya keputusan hakim yang menganggap keabsahannya. Dan tidak boleh membagi barang wakaf atau merubah keadaannya. Seperti halnya kebun dijadikan rumah, Imam As-Subkiy berkata: Boleh dengangan tiga syarat:
Adanya perubahan itu tidak samapai merubah nama wakaf
Tidak menghilangkan sesuatu dari dzatnya wakaf kecuali hanya sebagian yang rusak karena sisi yang lain
Adanya perubahan itu bertujuan untuk kemaslahatan wakaf
Dan andaikan suatu Negara hancur sedangkan didalamnya terdapat masjid, maka boleh memindahkan wakaf nya kemasjid lain dengan catatan masjid yang pertama tidak lagi membutuhkannya , dan tidak ada seorang yang shalat dimasjid tersebut.
Al Anwar li A’maali al Abraar I/438 لا يجوز تغيير الوقف عن هيئته فلا يجعل الدار بستاناً ولا حماماً ولا بالعكس ولا يبني في الأرض الموقوفة ولا يتخدها بستانا إلا إذا جعل الواقف إلي المتولي ما يري المصلحة ولو فعل كان متعديا و في فتاوي القفال أنه يجوز جعل حالفتي القصارين للخبازين قال في الشرح الكبير وكأنه احتمل تغيير النوع دون الجنس ولا يجوز دكان المسجد مسجدا
فتح الاله المنان ص ١٥٠ الموقوف على مصالح المساجد كما في مسئلة السؤال يجوز الصرف فيه البناء والتجصيص المحكم وفي أجرة القيم والمعلم والإمام والحصر والدهن وكذا فيما يرغب المصلين من نحو قهوة وبخور يقدم من ذلك الأهم فالأهم وعليه فيجوز الصرف في مسئلة السؤال لما ذكره السائل اذا فضل من عمارته ولم يكن ثم ما هو أهم منه من المصالح والله أعلم بالصواب
Deskripsi Masalah _Terkait Munakahat_ Sulaiman adalah santri pondok pesantren Tahfidzul Amin, Di usia nya yang ke 23 tahun ini dia sudah khatam 30 juz, bahkan dia sudah mengajar di suatu pondok Tahfiz, Namun karena materi yang belum memadai dia tak kunjung menikah.
Pertanyaan:
1. Bolehkah menikahi seorang perempuan dengan mahar(maskawin) hanya dengan bacaan Al-Qur’an bukan berbentuk uang..?
2. Bagaimana hukumnya bacaan Al-Quran di Jadikan bahan kepentingan duniawi seperti untuk pengobatan, ruqyah, dll ?
3. Musyrik kah Seseorang, Yang Meyakini bahwa Al-Qur’an yang menyembuhkan penyakit ?
➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖
Jawaban :
1. Akadnya sah, namun untuk hukum mahar(maskawin)nya tafshil :
☑️ Jika hanya Al Qur’an untuk diperdengarkan kepada mempelai wanita, maka tidak bisa dinamakan memberikan manfaat, sehingga tidak sah mahar(maskawin) bacaan Al Qur’an tersebut. Ketika mahar musamma(maskawin yang disebutkan ketika akad nikah) nya fasid/rusak, maka wajib mahar mitsil(jumlah maskawin yang biasa dijadikan maskawin, seperti misalnya uang seratus ribu rupiah). Jika Al Qur’an untuk diperdengarkan dengan maksud nantinya akan diajarkan juga kepada mempelai wanita, maka diperbolehkan, dikarenakan hal tersebut memberikan manfaat kepada mempelai wanita. 2. Bacaan Al-Qur’an boleh di gunakan sebagai sarana pengobatan dari berbagai penyakit atau ganguan Jin dan semacamnya. 3. Jika meyakini Al Qur’an lah yang menyembuhkan penyakit tersebut maka hal tersebut tidak diperbolehkan (musyrik). Baiknya, yang benar adalah ruqyah dengan dibacakan Al Qur’an tersebut dijadikan perantara atau wasilah kesembuhan dari Alloh SWT. _Catatan_ Ruqyah yang diperbolehkan harus memenuhi 3 syarat : 1. Menggunakan ayat Al Qur’an (kalamulloh), nama² Alloh atau sifat² Alloh. 2. Menggunakan bahasa Arab atau bahasa lain yang bisa dipahami. 3. Tidak meyakini bahwa ruqyah tersebut yang menyembuhkan, namun semua karena Alloh SWT. Mahar dalam bentuk harta benda lebih afdhol dari bacaan dan mengajar Al Qur’an, dikarenakan tidak ada khilaf tentang kesahan nya. 📎 Diperbolehkan nya bacaan dan mengajar Al Qur’an sebagai mahar itu dengan 2 syarat : 1. Mengetahui disyaratkan nya mengajar dengan 2 cara : 🔹 Pernyataan mampu nya mengajar dengan perkataan semua Al Qur’an atau sepertujuh awal atau sepertujuh akhir. 🔹 Memperkirakan waktu mengajar seperti akan mengajarinya selama sebulan dan mengajari segala sesuatu di dalam Al Qur’an sesuai dengan yang dimau. 2. Ada kadar kepayahan/beban/biaya (kulfah) dari apa yang diajarkan nya. Referensi *قرة العين بفتاوى اسماعيل الزين* ، ١٤٥
حول قراءة الفاتحة مهرا للزواج
منور سؤال: بسم الله الرحمن الرحيم، الحمد لله البصائر والصلاة والسلام على سيدنا محمد سيد الأوائل والأواخر وعلى آله وصحبه وتابعيهم إلى اليوم الآخر
أما بعد: فقد ورد على سؤال من بعض طلبة العلم من إخواننا الإندونسيين و حاصل ترجمته باللغة العرابية ما نصه: ما قولكم سيدي في عقد النكاح بمهر القراءة الفاتحة كقول الولى أنكحتك وزوجتك بنتي فلانة بمهر قراءة الفاتحة. فهل يصح عقد النكاح أولا. فإن قلتم بالأول فما يجب لها أمهر المثل أولا وكيف الحكم في ذلك وهل الأفضل امهار تعليم قراءة الفاتحة أو النقد المتعامل في البلد أفيدونا جوابا شافيا فإن المسألة واقعة الحال.
فالجواب: والله الموفق للصواب أن عقد النكاح في الصورة المذكورة صحيح. إذا وقع بمهر قراءة الفاتحة كما في السؤال، فإن أريد بقراءتها إقراؤها إياها وتعليمها إيها فإن ذلك صحيح ويكون هو المهر وهو من باب المنفعة، فكما يجوز المهر عينا يجوز أن يكون منفعة كتعليم شيء معلوم من القرآن وقد ورد بذلك نص الحديث الصحيح المشهور. وفي بعض ألفاظه في صحيح البخاري زوجتكها بما معك من القرآن والمعنى على أن يعلمها إياه. فإذا كان المراد بقراءة الفاتحة تعليمها إياه بحيث تستفيد من قراءتها. وكذا غير الفاتحة كاسماعها حديثا نبويا لتستفيد منه معرفة حكم أو ترغيبا أو ترهيبا وكاسماعها بعض الأشعار المتضمنة للزهد في الدنيا والترغيب في الآخرة أو نحو ذلك بحيث يصل إلى ذهنها فهم المعنى فإن ذلك جائز وحيث لم يوجد جميع ما ذكرناه من قراءة الفاتحة أو غيرها بقصد تعليمها إياها أو تعليم من شرطته هي كولدها وعبدها وكذا إذا لم يوجد
إستفادتها من قراءة غير القرآن فيجب حينئذ مهر المثل *لأن مجرد قراءة الفاتحة بحضرتها وهي تسمع لا يوصل إليها منفعة فلا يصح ان يكون ذلك مهرا* واذا فسد المهر المسمى فالمرجوع اليه مهر المثل.
*[ابن علان، دليل الفالحين لطرق رياض الصالحين، ٣٧٨/٦]* وفي «فتح الباري» أجمع العلماء على جواز الرقى عند اجتماع ثلاثة شروط أن يكون بكلام الله تعالى أو بأسمائه أو بصفاته وباللسان العربي أو بما يعرف معناه من غيره وأن يعتقد أن الرقية لا تؤثر بذاتها بل بتقدير الله تعالى. واختلفوا في كون الأخير شرطاً والراجح أنه لا بد من اعتبار الشروط الثلاثة. وقال الربيع: سألت الشافعي عن الرقي فقال: لا بأس أن يرقي بكتاب الله أو بما يعرف من ذكر الله.
*فتح الباري ج ١٠ ص* ١٩٥ وقد أجمع العلماء على جواز الرقى عند اجتماع ثلاثة شروط: أن يكون بكلام الله تعالى أو بأسمائه وصفاته، وباللسان العربي أو بما يعرف معناه من غيره، وأن يعتقد أن الرقية لا تؤثر بذاتها بل بذات الله تعالى. واختلفوا في كونها شرطا، والراجح أنه لا بد من اعتبار الشروط المذكورة، ففي صحيح مسلم من حديث عوف بن مالك قال: “كنا نرقى في الجاهلية، فقلنا: يا رسول الله كيف ترى في ذلك؟ فقال: اعرضوا علي رقاكم، لا بأس بالرقى ما لم يكن فيه شرك” وله من حديث جابر “نهى رسول الله صلى الله عليه وسلم عن الرقى، فجاء آل عمرو بن حزم، فقالوا: يا رسول الله إنه كانت عندنا
مختصر الرقية الشرعية ج ١ ص* ٦ أجمع العلماء رحمهم الله أنَّ الرُّقيةَ حتى تكون شرعية صحيحة يجب أنْ تتوفر فيها ثلاثة شروط ؛ هي: أولاً : أن تكون بكلام الله تعالى أو بأسمائه وصفاته . وثانياً : أن تكون باللسان العربي ، أو بما يعرف معناه ، لا بالألفاظ المجهولة والمُطَلْسَمة والتَمْتَمَات التي يقولها المشعوذون والدجالون خفية قاتلهم الله . وثالثاً : أن يُعتقد أن الرقية لا تؤثر بذاتها بل بفعل الله سبحانه ، وما هي والراقي إلا سبب .(2) *وقال النووي رحمه الله : ” وأما الرقى بآيات القرآن وبالأذكار المعروفة ، فلا نهي فيها ، بل هو سنة “*
قرة العين بفتاوى اسماعيل الزين، ١٤٦ وقول السائل: وهل الأفضل إمهار تعليم قراءة الفاتحة أو النقد المتعامل في البلد. فجوابه أن الأفضل إمهار نقد المتعامل في البلد لأن تعليم الفاتحة يعتبر من المنافع وكون المهر منفعة مختلف فيه. وأما إذا كان عينا نقدا أو غيره فمتفق على صحته ومجمع على جوازه.
Sebelumnya mohon maaf, saya Mahfudh Alumni Bata-bata dari Giligenting Sumenep mau bertanya Ust.
Deskripsi masalah. Disebagian masyarakat, ada seseorang yang berkemampun berqurban, namun qurbannya itu disembelih sendiri, sedangkan yang biasa hewan qurban itu diserahkan kepada Kiyai .
Pertanyaannya. Bagaimana hukumnya seseorang yang berqurban , namun qurbannya disembelih sendiri ?
Waalaikum salam.Wahai KH.Mahfudh. Jawaban : Boleh seseorang yang berqurban itu menyembelih qurbannya dengan dirinya sendiri bahkan itu lebih utama dari pada diwakilkan, namun jika tidak bisa misalkan karena tidak tahu cara-caranya menyembelih atau karena tidak tega dan lain sebagainya, maka boleh diwakilkan atau diserahkan kepada Kiyai atau orang yang mengetahui dan mememahami terhadap Syarat-syarat sahnya sembelihan hewan qurban, Adapun hal Qurban yang diserahkan kepada pengasuh pesantren atau mushollah atau takmir masjid itu semua, bertujuan agar lebih mudah dalam pelaksanaannya baik dari penyembelihannya atau pembagiannya daging qurban tersebut, sedangkan cara pembagian daging Qurban itu harus dengan cara syariat Islam dan telah disepakati para ulama baik hewan qurban itu disembelih sendiri atau diwakilkan atau diserahkan kepada Kiyai pengasuh musholla atau pengasuh pesantren dll, .
Adapun cara pembagian qurban menurut Ijtihad para fuqaha’ setidaknya yaitu ada tiga pendapat : (1) Disedekahkan seluruhnya kecuali sekedar untuk lauk-pauk (2) Dimakan sendiri separo dan disedekahkan separo (3) Sepertiga dimakan sendiri, sepertiga dihadiahkan dan sepertiga lagi disedekahkan. (Kifayatul Akhyar, juz 2 : 241). Dengan rincian sebagai berikut:
1/3 bagian daging kurban untuk yang berkurban dan keluarganya
, 1/3 bagian untuk fakir miskin, dan
1/3 sisanya untuk disedekahkan kepada orang-orang yang membutuhkannya
Adapun sipenerima (Kiyai) baiknya adalah mengambil pendapat yang pertama/no.1.karena qurban diberikan seluruhnya. Dengan demikian maka boleh kiyai mengambil sekehendaknya namun yang lebih baik mengambil yang lumrah yaitu satu sampel kaki kanan yang belakang hal ini diqiyaskan atau disamakan dengan Aqiqoh karena hukum aqiqoh sama seperti qurban, hanya saja kalau qurban diberikan mentahnya
تنوير القلوب .ص .٢٤٨
والأفضل أن يذبح الأضحية بنفسه فإن لم يحل وكل مسلما عالما بشروطها وحضر ذبحها ويقول الذابح: اللهم هذا منك وإليك فتقبل مني كما تقبلت من سيدنا محمد نبيك وإبراهيم خليلك . كتاب أحكام الأضحية والذكاة للعثمين .ص ٢١٧ الدليل الثاني: أن النبي صلى الله عليه وسلم ضحى عن أمته، فعن على بن الحسين عن أبي رافع رضي الله عنه أن النبي صلي الله عليه وسلم كان إذا ضحى؛ اشترى كبشين أقرنين سمينين أملحين، فإذا صلى وخطب؛ أتي بأحدهما وهو قائم في مصلاه فذبحه بنفسه بالمدية، ثم يقول: ((اللهم هذا عن أمتي جميعا من شهد لك بالتوحيد وشهد لي بالبلاغ)) ، ثم يؤتي بالآخر فيذبحه بنفسه ويقول: ((هذا عن محمد، وآل محمد)) . فيطعمها جميعا المساكين، ويأكل هو وأهله منهما، فمكثنا سنين ليس لرجل من بني هاشم يضحي قد كفاه الله المؤونة برسول الله صلى الله عليه وسلم والغرم. أخرجه أحمد والبزاز (٣) ، قال في مجمع الزوائد (٤) : وإسناده حسن، سكت عنه في التلخيص، وله شواهد عند أحمد، والطبراني، وأبن ماجه، والبيهقي، والحاكم (٥) .
الموسوعة الفقهية – 2799/31949
النوع الثاني: شرائط ترجع إلى المضحي يشترط في المضحي لصحة التضحية ثلاثة شروط: 35 – (الشرط الأول) : نية التضحية: لأن الذبح قد يكون للحم، وقد يكون للقربة، والفعل لا يقع قربة إلا بالنية، قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: إنما الأعمال بالنيات، وإنما لكل امرئ ما نوى. (2) والمراد بالأعمال القربات، ثم إن القربات من الذبائح أنواع كثيرة، كهدي التمتع والقران والإحصار وجزاء الصيد وكفارة الحلف وغير ذلك من محظورات الحج والعمرة، فلا تتعين الأضحية من بين هذه القربات إلا بنية التضحية، وتكفي النية بالقلب دون التلفظ بها كما في الصلاة، لأن النية عمل القلب، والذكر باللسان دليل على ما فيه. وقد اتفق على هذا الشرط الحنفية والمالكية والشافعية والحنابلة. (1) وصرح الشافعية باستثناء المعينة بالنذر، كأن قال بلسانه – من غير نية بقلبه – لله علي نذر أن أضحي بهذه الشاة، فإن نذره ينعقد باللفظ ولو بلا نية، ولا تشترط النية عند ذبحها، بخلاف المجعولة، بأن قال بلسانه: جعلت هذه الشاة أضحية، فإن إيجابه ينعقد وإن لم ينو عند النطق، لكن لا بد من النية عند ذبحها إن لم ينو عند النطق. وقالوا: لو وكل في الذبح كفت نيته ولا حاجة لنية الوكيل، بل لا حاجة لعلمه بأنها أضحية. وقالوا أيضا: يجوز لصاحب الأضحية أن يفوض في نية التضحية مسلما مميزا ينوي عند الذبح أو التعيين، بخلاف الكافر وغير المميز بجنون أو نحوه. (2) وقال الحنابلة: إن الأضحية المعينة لا تجب فيها النية عند الذبح، لكن لو ذبحها غير مالكها بغير إذنه، ونواها عن نفسه عالما بأنها ملك غيره لم تجزئ عنهما، أما مع عدم العلم فتجزئ عن المالك ولا أثر لنية الفضولي
الموسوعة الفقهية – 2823/31949
ما يستحب وما يكره بعد التضحية:
أ – يستحب للمضحي بعد الذبح أمور: 57 – منها: أن ينتظر حتى تسكن جميع أعضاء
الذبيحة فلا ينخع (1) ولا يسلخ قبل زوال الحياة عن جميع جسدها. 58 – ومنها: أن يأكل منها ويطعم ويدخر، لقوله تعالى: {وأذن في الناس بالحج يأتوك رجالا وعلى كل ضامر يأتين من كل فج عميق ليشهدوا منافع لهم ويذكروا اسم الله في أيام معلومات على ما رزقهم من بهيمة الأنعام فكلوا منها وأطعموا البائس الفقير} . (2) وقوله عز وجل: {والبدن جعلناها لكم من شعائر الله لكم فيها خير فاذكروا اسم الله عليها صواف فإذا وجبت جنوبها فكلوا منها وأطعموا القانع والمعتر} . (3) ولقوله صلى الله عليه وسلم: إذا ضحى أحدكم فليأكل من أضحيته. (4) 59 – والأفضل أن يتصدق بالثلث، ويتخذ الثلث ضيافة لأقاربه وأصدقائه، ويدخر الثلث، وله أن يهب الفقير والغني، وقد صح عن ابن عباس رضي الله عنهما في صفة أضحية النبي صلى الله عليه وسلم قال: ” ويطعم أهل بيته الثلث، ويطعم فقراء جيرانه الثلث، ويتصدق على السؤال بالثلث “. (5)قال الحنفية: ولو تصدق بالكل جاز، ولو حبس الكل لنفسه جاز، لأن القربة في إراقة الدم، وله أن يزيد في الادخار عن ثلاث ليال، لأن نهي النبي صلى الله عليه وسلم عن ذلك كان من أجل الدافة، وهم جماعة من الفقراء دفت (أي نزلت) بالمدينة، فأراد النبي صلى الله عليه وسلم أن يتصدق أهل المدينة عليهم بما فضل عن أضاحيهم، فنهى عن الادخار فوق ثلاثة أيام. ففي حديث عائشة رضي الله عنها أنها قالت: قالوا يا رسول الله: إن الناس يتخذون الأسقية من ضحاياهم ويجعلون فيها الودك، قال: وما ذاك؟ قالوا: نهيت أن تؤكل لحوم الأضاحي بعد ثلاث، فقال: إنما نهيتكم من أجل الدافة التي دفت، فكلوا، وادخروا وتصدقوا. (1) وفي حديث سلمة بن الأكوع رضي الله عنه أنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: من ضحى منكم فلا يصبحن بعد ثالثة وفي بيته منه شيء، فلما كان العام المقبل. قالوا يا رسول الله نفعل كما فعلنا عام الماضي؟ قال: كلوا وأطعموا وادخروا، فإن ذلك العام كان بالناس جهد، فأردت أن تعينوا فيها. (2) وإطعامها والتصدق بها أفضل من ادخارها، إلا أن يكون المضحي ذا عيال وهو غير موسع الحال، فإن الأفضل له حينئذ أن يدخره لعياله توسعة عليهم، لأن حاجته وحاجة عياله مقدمة على حاجة غيرهم، لقوله صلى الله عليه وسلم: ابدأ بنفسك فتصدق عليها
فإن فضل شيء فلأهلك، فإن فضل شيء عن أهلك فلذي قرابتك، فإن فضل عن ذي قرابتك شيء فهكذا وهكذا. (1) هذا مذهب الحنفية. (2) 60 – وهاهنا تنبيه مهم وهو أن أكل المضحي من الأضحية وإطعام الأغنياء والادخار لعياله تمتنع كلها عند الحنفية في صور. منها: الأضحية المنذورة، وهو مذهب الشافعية أيضا. وذهب المالكية والحنابلة إلى أن المنذورة كغيرها في جواز الأكل. ومنها: أن يمسك عن التضحية بالشاة التي عينها للتضحية بالنذر أو بالنية عند الشراء حتى تغرب شمس اليوم الثالث فيجب التصدق بها حية. ومنها: أن يضحي عن الميت بأمره فيجب التصدق بالأضحية كلها على المختار. ومنها: أن تلد الأضحية فيجب ذبح الولد على قول، وإذا ذبح وجب التصدق به كله، لأنه لم يبلغ السن التي تجزئ التضحية فيها، فلا تكون القربة بإراقة دمه، فتعين أن تكون القربة بالتصدق به، ولهذا قيل: إن المستحب في الولد التصدق به حيا
Referensi: Tanwirul Qulub no.239
ويسن أن تطبخ كسائر الولائم إلا رجلها اليمنى إلى أصل الفخذ فتعطى نيئة للقابلة(أى الداية) تفاؤلا
Para pemangku jabatan pemerintahan mulai dari presiden, menteri, gubernur, bupati, anggota dewan mulai dari pusat hingga daerah pasti mendapatkan fasilitas mobil dinas. Bahkan lurah atau kepala desa pun mendapatkan fasilitas sepeda motor. Beberapa waktu lalu masalah mobil dinas ini menjadi sorotan media massa, Pasalnya, mobil dinas yang seharusnya dimanfaatkan sebagai fasilitas untuk bekerja demi kepentingan rakyat, sering kali digunakan untuk kepentingan pribadi oleh sebagian oknum pejabat.
Pertanyaannya:
Apa status mobil dinas tersebut
Bagaimana hukum menggunakan mobil dinas di luar jam kerja.
Jawaban: No.1
Mobil dinas tersebut menurut Imam Asnawi statusnya adalah ‘ariyah(pinjaman).
Menggunakan mobil dinas di luar jam kerja diperbolehkan bila ada izin atau sesuai dengan ‘urf(adat kebiasaan). …….. الأشباه والنظائر ص: ۷۳ طبعة الحرمين.
Hal yang sudah lumrah di masyarakat ketika para pentakziah(orang yang melayat terhadap orang mati) datang, keluarga biasanya menyiapkan hidangan secukupnya kepada para pentakziah. Hal itu memang wajar dilakukan karena biasanya para pentakziah juga memberikan beras, uang dan barang lainnya.
Pertanyaan: Bolehkah memberikan hidangan tersebut?
Jawaban: Boleh bahkan sunnah jika hidangan tersebut tidak diambilkan dari harta mahjur ‘alaih atau ahli waris yang tidak diketahui ridlonya. (mahjur alaihi adalah ahli waris yang gila,atau ahli waris yang masih anak kecil,atau ahli waris yang bodoh).
Banyak hal yang dilakukan masyarakat muslim Indonesia untuk mengapresiasikan kecintaan dan menyemarakkan bulan Ramadhan. Mulai dari tadarusan, buka bersama, sedekah pada yatim piatu dll. Warung atau tempat yang biasanya digunakan untuk hal-hal yang berbau maksiat khusus di bulan Ramadhan pun untuk sementara waktu ditutup rapat-rapat. Yang lebih mengagumkan lagi adalah sebagian grup musik terutama yang beraliran koplo, khusus di bulan suci ini mereka mementaskan lagu-lagu yang berbau religi mulai “Tombo Ati” dan bermacam-macam shalawat. Namun, lagu yang mereka bawakan adalah nada musik beriramakan Ashololey/koplo dan biasanya dilantunkan oleh seorang vokalis perempuan. Mungkin karena terbawa kebiasaan, ketika shalawatan maka akan juga disertai sedikit tarian dan joget lenggak-lenggok.
Pertanyaan: Bagaimanakah hukum menyenandungkan lagu religi atau shalawatan yang diiringi dengan tabuhan irama koplo?
Jawaban: Hukumnya haram karena dalam realita di dalamnya terdapat unsur- unsur berikut ini:
Merusak bacaan
Terjadi tasyabbuh bil fussaq (menyerupai orang fasiq) 3. Mengandung istihza’ (meremehkan atau melecehkan).
Bila unsur-unsur tersebut di atas tidak terjadi, maka menurut Imam Romli dan Imam Zarkasyi masing-masing mempunyai hukum tersendiri, yakni:
Assalamualaikum ustadz maaf numpang nanya Bagaimana hukum seorang laki-laki yang tidak sholat jum’at berturut-turut di sebabkan ada pekerjaan yg tidak bisa di tinggalkan. Contoh halnya bekerja menjaga tandon PDAM kalo sampai di tinggalkan maka di khawatirkan ada aliran listrik yang mati.
Wa alaikumussalam. Jawaban: Shalat jum’at merupakan kewajiban yang harus dilaksanakan oleh setiap Muslim kecuali adanya udzur .
Rasulullah Shollallahu alaihi wasallam bersabda:
عن طارق بن شهاب عن النبي صلى الله عليه وسلم قال ،قال الجمعةُ حقٌّ واجبٌ على كلِّ مسلمٍ فى جَمَاعَةٍ إلاَّ أربعةً عبدٌ مملوكٌ أوِ امرأةٌ أو صبيٌّ أو مَرِيْض. (رواه الطبراني)
Artinya ;Jum’at itu adalah hak yang wajib atas setiap orang Islam kecuali empat; Budak, orang perempuan, anak kecil dan orang yang sakit.
Dalam Tafsir Ibnu Katsir dijelaskan , Allah Swt. telah memerintahkan kepada orang-orang mukmin untuk berkumpul guna mengerjakan ibadah kepada-Nya di hari Jumat. Maka Allah Swt. berfirman:
Hai orang-orang yang beriman, apabila diseru untuk menunaikan salat pada hari Jumat, maka bersegeralah kamu untuk mengingat Allah. (Al-Jumu’ah: 9)
Yakni tuluskanlah niat kalian, bulatkanlah tekad kalian, serta pentingkanlah oleh kalian untuk pergi guna menunaikan ibadah kepada-Nya. Pengertian yang dimaksud dengan sa’yu dalam ayat ini bukanlah menurut pengertian bahasanya ( yaitu berjalan ), melainkan makna yang dimaksud ialah mementingkan dan merealisasikannya. Seperti makna yang terdapat di dalam firman Allah Swt.:
Dan barang siapa yang menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha ke arah itu dengan sungguh-sungguh, sedangkan ia adalah ‘ mukmin. (Al-Isra: 19)
Tersebutlah bahwa sahabat Umar ibnul Khattab dan Ibnu Mas’ud r.a. membaca ayat ini dengan bacaan berikut: Famdu ila zikrillah, yang artinya ‘maka bergegas – gegaslah kamu untuk mengingat Allah.’
Adapun berjalan cepat menuju tempat salat, maka sesungguhnya hal itu dilarang, karena ada sebuah hadis di dalam kitab Sahihain yang diketengahkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim melalui Abu Hurairah, dari Nabi Saw. yang telah bersabda:
Apabila kamu mendengar iqamah, maka berjalanlah kamu menuju ke tempat salat, dan langkahkanlah kakimu dengan tenang dan anggun, dan janganlah kamu melangkahkannya dengan cepat-cepat. Maka apa saja bagian salat yang kamu jumpai, kerjakanlah dan apa yang terlewatkan olehmu, maka sempurnakanlah.
Menurut lafaz Imam Bukhari, dari Abu Qatadah, disebutkan bahwa ketika kami sedang shalat bersama Nabi Saw., tiba-tiba beliau mendengar suara gemuruh langkah kaum lelaki. Maka setelah shalat selesai, beliau Saw. bertanya, “Mengapa kalian?” Mereka menjawab, “Kami datang tergesa-gesa ke tempat shalat.” Nabi Saw. bersabda:
Jangan kamu ulangi perbuatan itu. Apabila kamu mendatangi tempat shalat, maka berjalanlah dan langkahkanlah kakimu dengan tenang. Apa saja bagian shalat yang kamu jumpai, kerjakanlah dan apa yang terlewatkan olehmu, sempurnakanlah.
Demikianlah menurut apa yang ditengahkan oleh Bukhari dan Muslim.
Abdur Razzaq mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ma’mar, dari Az-Zuhri, dari Sa’id ibnul Musayyab, dari Abu Hurairah r.a. yang mengatakan bahwa Rasulullah Saw. telah bersabda: Apabila iqamah untuk shalat diserukan, maka janganlah kamu mendatanginya dengan jalan cepat, tetapi datangilah ia dengan jalan biasa dan langkahkanlah kakimu dengan tenang dan anggun. Maka bagian mana pun yang kamujumpai, kerjakanlah; dan bagian mana pun yang terlewatkan darimu, maka sempurnakanlah.
Ayat dan hadits diatas sebagai dalil wajibnya shalat jum’at yang harus dilaksanakan kecuali adanya udzur.
Udzur sholat jum’at yang dimaksud perinciannya adalah:
أن أعذار الجمعة كأعذار الجماعة Udzur-udzur shalat Jum’at sama dengan udzur-udzur shalat berjamaah. [ I’aanah at-Tholibiin II/52 ]. فصل في أعذار الجمعة والجماعة أعذار الجمعة والجماعة المطر إن بل ثوبه ولم يجد كنا والمرض الذي يشق كمشقته وتمريض من لا متعهد له وإشراف القريب على الموت أو يأنس به ومثله الزوجة والصهر والمملوك والصديق والأستاذ والمعتق والعتيق ومن الأعذار الخوف على نفسه أو عرضه أو ماله وملازمة غريمه وهو معسر ورجاء عفو عقوبة عليه ومدافعة الحدث مع سعة الوقت وفقد لبس لائق وغلبة النوم وشدة الريح بالليل وشدة الجوع والعطش والبرد والوحل والحر ظهرا وسفر الرفقة وأكل منتن نيء إن لم يمكنه إزالته وتقطير سقوف الأسواق والزلزلة
Hujan yang dapat membasahi pakaiannya dan tidak diketemukan pelindung hujan
Sakit yang teramat sangat, adapun sakit ringan seperti pusing flu, demam biasa, maka tidak termasuk udzur
Sakitnya orang yang tidak terdapat yang mengurusinya
Mengawasi kerabat yang hendak meninggal atau berputus asa
Khawatir atas gangguan keselamatan jiwanya kehormatan jiwanya dan hartanya dari musuh dan lainnya
Orang-orang yang menghutangkan itu menetapi(terus-menerus)menagih kepada orang yang berhutang, dan orang yang berhutang itu berharap pengertian dari orang-orang yang menghutangkan, karena kemiskinannya orang yang berhutang.Maka dioerbolehkan bagi orang yang berhutang untuk meninggalkan sholat Jum’at (sholat berjamaah)
Menahan hadats sementara waktu masih senggang
Ketiadaan pakaian yang layak
Kantuk yang teramat sangat
Kelaparan, kehausan, kedinginan
Bepergiannya sahabat dekat
Memakan makanan busuk setengah matang yang tidak bisa dihilangkan baunya
Maka jika salah satu dari udzur diatas menimpa pada seseorang maka boleh meninggalkan sholat jum’at. Akan tetapi sebaliknya jika meninggalkan sholat tanpa ada nya udzur sampai tiga kali berturut-turut hukumnya berdosa dan dicatat sebagai orang munafik.
Berikut referensi tentang udzur-udzurnya sholat jum’at.
فقه العبادات على المذهب الشافعي – 427/793
أعذار الجمعة والجماعة:
المطر إن بل ثوبه ولم يجد كنّاً، وشدة الريح بالليل، والبرد والوحل،ال والحر في الظهر لحديث ابن عمر رضي الله عنهما قال: “إن رسول الله صلى الله عليه وسلم كان يأمر المؤذن إذا كانت ليلة ذات برد ومطر يقول: ألا صلوا في الرحال” (1) .
وعن عبد الله حارث قال: “خطبنا ابن عباس في يوم ذي رَدْغ (2) فأمر المؤذن لما بلغ حي على الصلاة قال: قل الصلاة في الرحال. فنظر بعضهم إلى بعض فكأنهم أنكروا، فقال: كأنكم أنكرتم هذا، إن هذا فعله من هو خير مني – يعني النبي صلى الله عليه وسلم – إنها عزمة (3) وإني كرهت أن أحرجكم” (4) . -2 – المرض الذي يشق معه الحضور. وتمريض من لا متعهد بتمريضه غيره، وإشراف قريب له أو شخص يأنس به على الموت لما روي عن ابن عمر رضي الله عنهما “أن سعيد بن زيد، وكان بدريا، مرض في يوم جمعة، فركب إليه بعد أن تعالى النهار واقتربت الجمعة، وترك الجمعة” (5) . -3 – الخوف على نفسه من عدو، وعلى عرضه أو ماله، والخوف من انقطاع عن رفقة يريد السفر المشروع معهم. لحديث ابن عباس رضي الله عنهما قال: “قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: (من سمع المنادي فلم يمنعه من اتباعه عذر) . قالوا: وما العذر؟ قال: (خوف أو مرض، لم تقبل منه الصلاة التي صلى) ” (6) . -4 – ملازمة غريمه إذا خرج إلى الجماعة، وهو معسر. -5 – رجاء رفع عقوبة عنه. -6 – مدافعة الحدث. -7 – فقد ما يليق به لبسه. -8 – غلبة النوم. -9 – شدة الجوع والعطش، لحديث ابن عمر رضى الله عنهما قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: (إذا كان أحدكم على الطعام فلا يعجل حتى يقضى حاجته منه، وإن أقيمت الصلاة) (7) . -10 – أكل منتن نيء إن لم يمكنه إزالة ريحه، لحديث ابن عمر رضي الله عنهما أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: (من كل هذه البَقْلة، فلا يقربن مساجدنا حتى يذهب ريحها) (8) يعني الثوم. -11 – تجهيز ميت. -12 – أن يحلف عليه غيره ألا يخرج خوفا عليه. -13 – فقد الأعمى لمن يقوده، لحديث عِتبان بن مالك رضي الله عنه “أنه قال لرسول الله صلى الله عليه وسلم: يا رسول الله إنها تكون الظلمة، والسيل، وأنا رجل ضرير البصر، فصل يا رسول الله في بيتي مكانا أتخذه مصلى، فجاءه رسول الله صلى الله عليه وسلم فقال: (أين تحب أن أصلي؟) ، فأشار إلى مكان من البيت، فصلى فيه رسول الله صلى الله عليه وسلم” (9) . فإن وجد متبرعاً لزمته، وكذلك لو وجده بأجرة المثل وهو واجدها. وفائدة الأعذار سقوط الإثم في حال وجودها. فإن كانت أمنيته أن يحضرها لولا العذر كتب له فضلها لحديث أبي بردة قال: “سمعت أبا موسى مرارا يقول: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: (إذا مرض العبد أو سافر كتب له مثل ما كان يعمل مقيما صحيحا) ” (10) . وللمعذور في ترك الجمعة، المتوقع زوال عذره ووجوب الجمعة عليه، أن يصلى الظهر قبل الجمعة، لكن الأفضل تأخيرها إلى اليأس من الجمعة لاحتمال تمكنه منها، ويحصل اليأس برفع الإمام رأسه من ركوع الثانية. أما من لا يرجو زوال عذره فيستحب له تعجيل الظهر في أول الوقت محافظة على فضيلته أول الوقت. وإذا صلى المعذور ثم زال عذره، وتمكن من الجمعة أجزأه ظهره ولا تلزمه الجمعة، لأن فرض المعذور الظهر، ثم هو مخير بين الظهر والجمعة؛ فإن صلى الظهر صحت وإن صلى الجمعة أجزأته عن الظهر. ولا تصح صلاة الظهر من الرجال غير المعذورين حتى يحصل لهم اليأس من إدراك الجمعة، ويكون ذلك برفع الإمام رأسه من ركوع الثانية. أما النساء فصلاتهن صحيحة من أول الوقت لأنهن غير مكلفات بالجمعة أصلا. ………………………………
(1) البخاري ج 1/كتاب الجماعة والإمامة باب 12/635. (2) الرَذْغ والرَدْغة: الماء والطين والوحل الشديد. (3) العَزْمة: الجمعة. (4) البخاري ج 1/كتاب الجماعة والإمامة باب 13/637. (5) البخاري ج 4/كتاب المغازي باب 8/3769. (6) أبو داود ج 1/كتاب الصلاة باب 47/551. (7) البخاري ج 1/كتاب الجماعة والإمامة باب 14/642. (8) مسلم ج 1/كتاب المساجد ومواضع الصلاة باب 17/69. (9) البخاري ج 1/كتاب الجماعة والإمامة باب 12/636. (10) البخاري ج 3/كتاب الجهاد باب 132/2834.
Dalil sabda Rosulullah tentang orang yang meninggalkan sholat jum’at tanpa adanya udzur
عن اسامة ابن زيد قال رسول الله:من ترك ثلاث جمعة من غير عذر كتب من المنافقين(رواه الطبراني)
Artinya: Barangsiapa yang meninggalkan tiga kali sholat Jum’at,dengan tanpa udzur ( tanpa alasan yang diterima oleh syariat Islam ), maka orang itu ditulis sebagai orang munafik ( Hadits Riwayat Thobroni).
Referensi:
ارشاد العياد،صخيفة ٢٥ عن ابي الجعد،قال رسول الله عليه وسلم:من ترك ثلاث جمع متهاونا طبع الله على قلبه(رواه احمد والحاكم)
artinya: Barangsiapa yang meninggalkan tiga kali sholat Jum’at, karena memandang rendah ( karena memandang remeh,karena memandang hina,karena memandang kecil ) kepada sholat Jum’at,maka Allah akan menutup hati orang itu. Sehingga hati orang itu tidak akan dimasuki hidayah ( petunjuk ) dari Allah ( Hadits Riwayat Ahmad dan Hakim ). Wallahu A’lam bisshowab.
Assalamualaikum . Deskripsi masalah. Ada seseorang yang ingin berqurban satu sapi, namun orangnya tidak sampai tujuh orang, maklum karena punya anak sedikit misalkan suami istri punya anak dua sementara orang tuanya sudah meninggal.
Pertanyaanya. Apakah boleh dan mencukupi untuk memenuhi tujuh orang diniatkan qurban untuk kerabat atau ahli yang sudah meninggal..?
Waalaikumsalam salam. Ulama fiqih berbeda pendapat tentang berqurban untuk orang yang meninggal .
1)• Menurut Pengikut Madzhab Imam AbuHanifah; Bahwa berqurban untuk orang yang meninggal hukumnya boleh karena kematian bukan penyebab tercegahnya ibadah taqarrub kepada Allah oleh karenanya boleh sedekah untuk Mayit, boleh haji untuk Mayit, dan boleh menyembelih qurban untuk mayit seperti berqurban untuk dirinya sendiri.
قال الكاساني الحنفي رحمه الله:
“وجه الاستحسان أن الموت لا يمنع التقرب عن الميت، بدليل أنه يجوز أن يتصدق عنه ويحج عنه، وقد صح أن رسول الله صلى الله عليه وسلم ضحى بكبشين أحدهما عن نفسه والآخر عمن لا يذبح من أمته، وإن كان منهم من قد مات قبل أن يذبح، فدل أن الميت يجوز أن يتقرب عنه” انتهى [انظر كتاب “بدائع الصنائع” (٥/ ٧٢).
ويقول ابن عابدين الحنفي رحمه الله:
“من ضحى عن الميت يصنع كما يصنع في أضحية نفسه من التصدق والأكل والأجر للميت والملك للذابح” [انظر كتاب “حاشية ابن عابدين” (٦/ ٣٢٦).
2)• Menurut Pengikut Madzhab Imam Malik
Menurut Madzhab Imam Malik berqurban untuk orang yang meninggal boleh, namun makruh dengan alasan takut riya’, bersaing, dsb
أما المالكية فقالوا بالجواز العام المشوب بالكراهة، كما جاء في “شرح مختصر خليل” للخرشي (٣/ ٤٢):
“يكره للشخص أن يضحي عن الميت خوف الرياء والمباهاة ولعدم الوارد في ذلك، وهذا إذا لم يعدها الميت وإلا فللوارث إنفاذها”.
3)• Menurut Pengikut Madzhab Imam Asy Syafi’iy
Menurut Madzhab Imam Asy Syafi’iy dikalangan pengikut mereka terdapat perberbedaan pendapat:
Pertama; Ada yang membolehkan, dengan alasan karena sedekah untuk Mayit bisa mengambil manfaatnya, dan pahalanya sampai kepadanya menurut kesepakatan.
عن عائشة رضي الله عنها قالت ما غرت على أحد من نساء النبي صلى الله عليه وسلم ما غرت على خديجة وما رأيتها ولكن كان النبي صلى الله عليه وسلم يكثر ذكرها وربما ذبح الشاة ثم يقطعها أعضاء ثم يبعثها في صدائق خديجة فربما قلت له كأنه لم يكن في الدنيا امرأة إلا خديجة. فيقول إنها كانت وكانت، وكان لى منها ولد.
“Diriwayatkan dari Aisyah, beliau berkata: Saya tidak cemburu kepada istri-istri Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam seperti cemburu saya kepada Khadijah, saya tidak pernah bertemu Khadijah. Tetapi Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam sering mengingat Khadijah. Terkadang Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam menyembelih kambing, memotongnya menjadi beberapa bagian, lalu mengirimnya ke teman-teman dekat Khadijah. Terkadang saya berkata kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam: “Seperti tak ada wanita lagi di dunia kecuali Khadijah”. Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda: “Khadijah telah ada, saya memiliki putra darinya.” (HR. Al-Bukhari).
Kedua; Tidak boleh berqurban untuk Mayit, kecuali ada wasiat.
[“المجموع” : ج ٨ ص ٣٨٠. للامام النووي الشافعي].
“أما التضحية عن الميت، فقد أطلق أبو الحسن العبادي جوازها؛ لأنها ضرب من الصدقة، والصدقة تصح عن الميت وتنفعه وتصل إليه بالإجماع. وقال صاحب “العدة” والبغوي: لا تصح التضحية عن الميت إلا أن يوصي بها، وبه قطع الرافعي”
Referensi:
مغنى المحتاج :ص .٢٩٢-٢٩٣
ولا تضحية عن الميت لم يوص بها لقوله تعالى “وأن ليس للإنسان إلا ماسعى فإن أوصى بها جاز. . .إلى أن قال وقيل تصح التضحية عن الميت وإن لم يوص بها لأنها ضرب من الصدقة وهي تصح عن الميت وتنفعه
Kitab Mughnil muhtaj: Tidak boleh berqurban untuk orang yang meninggal jika tidak ada wasiat dengan berdasarkan firman Allah : Sesungguhnya tidak ada bagi manusia kecuali apa yang ia kerjakan /usahakan.
Jadi jika orang yang meninggal itu berwasiat maka boleh, samapai pada perkataan………. Ada yang mengatakan bahwa berqurban untuk mayit hukumnya boleh dan sah baik ada wasiat atau tidak.
4)• Menurut Pengikut Madzhab Imam Ahmad
Berkurban untuk Mayit lebih utama dari pada berqurbannya orang yang masih hidup karena ketidak berdayaannya dan butuhnya terhadap pahala
[ “مطالب أولي النهى” : ج ٢ ص ٤٧٢].
أما الحنابلة فقالوا “التضحية عن ميت أفضل منها عن حي؛ لعجزه واحتياجه إلى الثواب، ويعمل بها كأضحية عن حي من أكل وصدقة وهدية”.
Adapun berqurban untuk orang yang mati itu ada tiga cara; Pertama : Orang yang meninggal itu harus diikutkan pada orang yang hidup, seperti halnya orang yang berqurban untuk dirinya dan ahlinya kemudian sebagian dari mereka diniatkan untuk orang yang meninggal. Sebagaimana Nabi Muhammad SAW penah berqurban atas nama dirinya dan umatnya dan atas nama dirinya dan ahlinya . Beliau bersabda:
اللهم هذا عن محمد وآل محمد –
Dan didalam ahli Nabi itu ada yang meninggal lebih duluan, begitu juga umatnya mencakup antara umat yang masih hidup dan umat yang meninggal.
Kedua: Seseorang harus berqurban untuk mayit karena kemerdekaan dan kontribusi ( sumbangan ) sebagaimana seseorang bersedekah dengan menyembelihkan hewan kurban untuk mayit yang muslim. Maka sungguh telah meng nash ( menerangkan dengan keterangan yang jelas) para ahli fikihnya hanabilah bahwa menyembelihkan hewan untuk mayit yang muslim itu termasuk kebaikan. Dan pahalanya hewan kurban itu sampai kepada mayit, dan mayit itu mendapatkan manfaat dari hewan qurban itu. Karena hal itu diqiyaskan dengan bersedekah untuk mayit. Dan menurut sebagian ulama’, jika seseorang berqurban hewan qurban untuk mayit itu harus ada wasiat dari mayit. Tapi, yang termasuk sesuatu yang salah adalah apa yang dikerjakan oleh sebagian orang-orang, pada hari ini, mereka menyembelih hewan qurban untuk orang-orang yang mati, karena berbuat sunnat atau karena ada wasiat dari orang-orang yang mati, kemudian mereka tidak menyembelih hewan qurban untuk diri mereka dan untuk keluarga mereka yang hidup. Lalu mereka meninggalkan terhadap petunjuk dari Sunnah. Dan mereka melarang terhadap diri mereka terhadap keutamaan berkurban. Dan hal ini termasuk kebodohan. Andai kata mereka mengetahui bahwa sunnahnya adalah seseorang itu berqurban untuk dirinya dan untuk keluarganya, maka keluarganya itu meliputi keluarganya yang hdup atau keluarganya yang mati.
Ketiga :- Berqurban untuk orang yang meninggal sebab adanya wasiat semata untuk memenuhi atau melestarikan terhadap wasiatnya
، كتاب الأضاحي باب ما جاء في الأضحية عن الميت، رقم (١٤٩٥) والأصل في الأضحية أنها للحي كما كان النبي صلي الله عليه وسلم وأصحابه يضحون عن أنفسهم وأهليهم خلافا لما يظنه بعض العامة أنها للأموات فقط. وأما الأضحية عن الأموات؛ فهي ثلاثة أقسام: القسم الأول: أن تكون تبعا للأحياء، كما لو ضحى الإنسان عن نفسه وأهله وفيهم أموات، فقد كان النبي صلي الله عليه وسلم يضحي ويقول: ((اللهم هذا عن محمد وعن آل محمد)) (٢) وفيهم من مات سابقا. القسم الثاني: أن يضحي عن الميت استقلالا تبرعا، مثل: أن يتبرع لشخص ميت مسلم بأضحية، فقد نص فقهاء الحنابلة على أن ذلك من الخير، وأن ثوابها يصل إلى الميت وينتفع به؛ قياسا على الصدقة عنه، ولم ير بعض العلماء أن يضحي أحد عن الميت إلا أن يوصي به. لكن من الخطأ ما يفعله بعض الناس اليوم يضحون عن الأموات تبرعا أو بمقتضى وصاياهم، ثم لا يضحون عن أنفسهم وأهليهم الأحياء، فيتركون ما جاءت به السنة، ويحرمون أنفسهم فضيلة الأضحية، وهذا من الجهل، وإلا فلو علموا بان السنة أن يضحي الإنسان عنه وعن أهل بيته فيشمل الأحياء والأموات، وفضل الله واسع. القسم الثالث: أن يضحي عن الميت بموجب وصية منه تنفيذا لوصيته، فتنفذ كما أوصى بدون زيادة ولا نقص، والأصل في ذلك قوله تعالى في الوصية: (فَمَنْ بَدَّلَهُ بَعْدَ مَا سَمِعَهُ فَإِنَّمَا إِثْمُهُ عَلَى الَّذِينَ يُبَدِّلُونَهُ إِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ) (البقرة: ١٨١) . وروي عن على بن أبي طالب رضي الله عنه أنه ضحى بكبشين وقال: إن رسول الله صلى الله عليه وسلم اوصاني أن أضحي عنه فأنا أضحي عنه. رواه أبو داود، ورواه بنحوه الترمذي وقال: غريب لا نعرفه إلا من حديث شريك (١*) . اهـ. قلت: وفي إسناده مقال. وإذا كانت الوصية بأضاحي متعددة ولم يكف المغل لتنفيذها مثل أن يوصي شخص بأربع ضحايا: واحدة لأمه، وواحدة لأبيه وواحدة لأولاده، وواحد لأجداده وجداته، ولم يكف المغل إلا لواحدة فإن تبرع الوصي بتكميل الضحايا الأربع من عنده فنرجو أن يكون حسنا، وإن لم يتبرع جمع الجميع في أضحية واحدة كما لو ضحى عنهم في حياته. وإن كانت الوصية في أضحية واحدة ولم يكف المغل لها فإن تبرع الوصي بتكميلها من عنده فنرجو أن يكون حسنا، وإن لم يتبرع أبقى المغل إلى السنة الثانية والثالثة حتى يكفي الأضحية فيضحي به، فإن كان المغل ضئيلا لا يكفي لأضحية إلا بعد سنوات يخشى من ضياعه في إبقائه إليها، أو من أن تزايد قيم الأضاحي فإن الوصي يتصدق بالمغل في عشر ذي الحجة ولا يبقيه؛ لأنه عرضة لتلفه، وربما تتزايد قيم الأضاحي كل عام، فلا يبلغ قيمة الأضحية مهما جمعه، فالصدقة به خير.
(١) رواه البخاري، كتاب الأطعمة باب ما كان السلف يدخرون في بيوتهم واسفارهم..، رقم (٥٤٢٣) . (٢) سبق تخريجه (١*) رواه أبو داود، كتاب الضحايا باب الأضحية عن الميت، رقم (٢٧٩٠) والترمذي،
الموسوعة الفقهية ص ٢٨٣٢/٣١٩٤٩
التضحية عن الميت – إذاأوصى الميت بالتضحية عنه، أو وقف وقفا لذلك جاز بالاتفاق. فإن كانت واجبة بالنذر وغيره وجب على الوارث إنفاذ ذلك. أما إذا لم يوص بهافأراد الوارث أو غيره أن يضحي عنه من مال نفسه، فذهب الحنفية والمالكية والحنابلة إلى جواز التضحية عنه، إلا أن المالكية أجازوا ذلك مع الكراهة. وإنما أجازوه لأن الموت لا يمنع التقرب عن الميت كما في الصدقة والحج.وقد صح أن رسول الله صلى الله عليه وسلم ضحى بكبشين أحدهما عن نفسه، والآخر عمن لم يضح من أمته. (١) وعلى هذا لو اشترك سبعة في بدنة فمات أحدهم قبل الذبح، فقال ورثته – وكانوا بالغين – اذبحوا عنه، جاز ذلك. وذهب الشافعية إلى أن الذبح عن الميت لا يجوز بغير وصية أو وقف. (٢)
Fatwa Fauzan Ulama’ Wahabipun memperbolehkan bequrban atas nama mayit berikut :
فتوى الأحكام الشرعية.ص٩٦٦١
كان النبي صلى الله عليه وسلم يفعله من ذبح الذبيحة والتصدق عن خديجة رضي الله عنها بعد وفاتها فقال:طبعا هذا من الصدقة نعم يؤخذ منه أنه يتصدق عن الميت إمابلحم وإمابطعام وإمابنقود أو بملابس يتصدق عن الميت هذا من الصدقة عنه أوبأضحية عنه فى وقت الأضحية هذا كله من الصدقة عن الميت يدخل فيه.
Artinya:” Nabi Muhammad SAW melakukan penyembelihan hewan dan menyedekahkannya untuk Khatijah setelah wafat: Syaikh berkata : ” Secara watak ini adalah sedekah .Dari dalil ini dapat diambil kesimpulan bahwa boleh bersedekah atas nama mayit baik berupa daging, makanan, uang atau pakaian, ini adalah sedekah, atau dengan Qurban saat Idul Adlha .Kesemua ini adalah sedekah atas Nama Mayit.
Kesimpulan : Setelah meneliti dan mencermati dari berbagai berbedaan pendapat dari kalangan ulama’ ahli ilmu dan hadits dan Ahli fiqh maka dapat disimpulkan pendapat yang lebih kuat sebagai berikut;
1- Banyak dalil Al-Quran dan hadits yang menunjukkan adanya kemanfaatan untuk orang orang yang meninggal dengan sebab usahanya orang yang masih hidup, sebagaimana banyaknya aneka ragam sedekah termasuk qurban, dan do’a, dll, oleh karena itu boleh qurban untuk orang yang meninggal . Diantaranya firman Allah dalam Al-Quran:
2- Adanya hadits bahwa Nabi pernah berqurban atas nama dirinya dan ummatnya, yang mencakup antara umat yang masih hidup dan umat yang telah meninggal.
3. Adanya hadits yang menganjurkan walaupun adanya hadits ada yang mengatakan dho’if, namun ulama ahli hadits sepakat memperbolehkan mengamalkan hadits dho’if Lifadhoilil a’mal ( untuk keutamaan amal ).
Dengan demikian boleh jika jumlah orang berquban kurang dari 7 orang menambah keluarganya yang telah meninggal dunia. Wallahu A’lam bisshowab.
Terkait
المفصل فى أحكام الأضحية المكتبة الشاملة ص ١٦٣- ١٨٦ المبحث الخامس الأضحية عن الميت اختلف أهل العلم في هذه المسألة على ثلاثة أقوال: القول الأول: يجوز للحي أن يضحي عن قريبه الميت وهذا قول الحنفية والحنابلة وطائفة من أهل الحديث (١). واختاره شيخ الإسلام ابن تيمية حيث قال: [والتضحية عن الميت أفضل من الصدقة بثمنها] (٢). وقال صاحب الدر المختار من الحنفية: [وإن مات أحد السبعة المشتركين في البدنة وقال الورثة اذبحوا عنه وعنكم صح عن الكل استحساناً لقصد القربة من الكل] (٣). قال أبو داود صاحب السنن: [باب الأضحية عن الميت] ثم ذكر حديث تضحية علي – رضي الله عنه – عن الرسول – صلى الله عليه وسلم – وسيأتي (٤). وقال الإمام الترمذي في سننه: [باب ما جاء في الأضحية عن الميت] ثم ذكر حديث علي – المشار إليه – ثم قال الترمذي: [وقد رخص بعض أهل العلم أن يضحى عن الميت ولم ير بعضهم أن يضحى عنه] (٥). وأجاز التضحية عن الميت الإمام ابن العربي المالكي (١). وقال القرافي: [قال صاحب القبس – هو ابن العربي – يستحب للإنسان أن يضحي عن وليه كما يستحب له الحج والصدقة. وفي الترمذي: قال علي – رضي الله عنه -: أوصاني رسول الله – صلى الله عليه وسلم – أن أضحي عنه. قال: وعندي أن الميت يصل إليه كل عمل يعمله الحي] (٢). وأجاز التضحية عن الميت الإمامان البغوي والعبادي من الشافعية (٣) والمباركفوري وصاحب غنية الألمعي من الحنفية (٤) والعلامة الشيخ عبد العزيز بن باز والعلامة محمد بن صالح العثيمين (٥) وغيرهم كثير. القول الثاني: قال المالكية تكره التضحية عن الميت، لعدم ورود دليل في ذلك، ولكن قالوا إن مات الشخص الذي اشترى أضحية قبل وقت التضحية، فيندب في حق الورثة التضحية عن الميت. قال القرافي: [واستحب ابن القاسم ذبح الورثة لها عنه تنفيذاً لما قصد من القربة] (٦). وأجاز المالكية الأضحية عن الحي والميت معاً (٧). القول الثالث: وقال الشافعية في المعتمد عندهم لا تصح الأضحية عن الميت إلا أن يوصي بها (٨). واختار هذا القول الشيخ عبد الله بن زيد آل محمود من علماء هذا العصر فقال:[أما الأضحية عن الميت فإنه بمقتضى التتبع والاستقراء لكتب الصحاح والسنن والمسانيد والتفاسير والسير، لم نجد دليلاً صريحاً من كتاب الله، ولا حديثاً صحيحاً عن رسول الله يأمر بالأضحية عن الميت أو يشير إلى فضلها ووصول ثوابها إليه ولم ينقل أحد من الصحابة والتابعين أنهم كانوا يضحون لموتاهم ولم يذكر فعلها عن أحد منهم … ] (١).
أدلة القول الأول:
١. احتجوا بما رواه أبو داود في باب الأضحية عن الميت بإسناده قال: (حدثنا عثمان بن أبي شيبة قال: أخبرنا شريك عن أبي الحسناء عن الحكم عن حنش قال: رأيت علياً – رضي الله عنه – يضحي بكبشين فقلت له ما هذا؟ فقال: إن رسول الله – صلى الله عليه وسلم – أوصاني أن أضحي عنه، فأنا أضحي عنه) والحديث سكت عنه أبو داود (٢).
ورواه الترمذي أيضاً ولفظه: (عن حنش عن علي – رضي الله عنه – أنه كان يضحي بكبشين أحدهما عن النبي – صلى الله عليه وسلم – والآخر عن نفسه فقيل له. فقال: أمرني به – يعني النبي – صلى الله عليه وسلم – فلا أدعه أبداً)، وقال الترمذي: [هذا حديث غريب لا نعرفه إلا من حديث شريك] (٣). وقد رواه الإمام أحمد في المسند باللفظين السابقين (٤). ورواه الحاكم وقال: [هذا حديث صحيح الإسناد ولم يخرجاه، وأبو الحسناء هذا هو الحسن بن حكم النخعي، وقال الذهبي: صحيح] (٥). ورواه البيهقي ثم قال: [ … وهو إن ثبت يدل على جواز التضحية عمن خرج من دار الدنيا من المسلمين] (٦).٢. واحتجوا أيضاً بما رواه مسلم بإسناده عن عائشة رضي الله عنها: (أن رسول الله – صلى الله عليه وسلم – أمر بكبش أقرن، يطأ في سواد ويبرك في سواد، وينظر في سواد، فأتي به ليضحي به، فقال لها: يا عائشة هلمي المدية، ثم قال: اشحذيها بحجر. ففعلت، ثم أخذها وأخذالكبش ثم أضجعه ثم ذبحه، ثم قال: باسم الله اللهم تقبل من محمد، وآل محمد ومن أمة محمد ثم ضحى به) رواه مسلم (١). فهذا الحديث يدل على أن النبي – صلى الله عليه وسلم – ضحى عن الميت؛ لأنه ضحى عن آل محمد وعن أمة محمد، ومنهم من كان قد مات.٣. واحتجوا بما جاء في الحديث عن جابر بن عبد الله – رضي الله عنه – قال: (ذبح النبي – صلى الله عليه وسلم – يوم الذبح كبشين أقرنين أملحين موجوئين، فلما وجههما قال: إني وجهت وجهي للذي فطر السموات والأرض على ملة إبراهيم حنيفاً، وما أنا من المشركين، إن صلاتي ونسكي ومحياي ومماتي، لله رب العالمين، لا شريك له وبذلك أمرت، وأنا من المسلمين، اللهم منك ولك، وعن محمد وأمته باسم الله والله أكبر ثم ذبح) رواه أبو داود والترمذي وابن ماجة وأحمد والدارمي وقد مضى. والشاهد في هذا الحديث كسابقه حيث إن فيه التضحية عن أمة محمد – صلى الله عليه وسلم -، ومن أمته – صلى الله عليه وسلم – من كان قد مات.٤. واحتجوا بما جاء في الحديث عن أبي رافع مولى رسول الله – صلى الله عليه وسلم -: (أن رسول الله – صلى الله عليه وسلم – كان إذا ضحى اشترى كبشين سمينين أقرنين أملحين، فإذا صلى وخطب الناس أتي بأحدهما وهو قائم في مصلاه فذبحه بنفسه بالمدية ثم يقول: اللهم هذا عن أمتي جميعاً، من شهد لك بالتوحيد وشهد لي بالبلاغ، ثم يؤتى بالآخر فيذبحه بنفسه ويقول: هذا عن محمد وآل محمد، فيطعمهما جميعاً المساكين ويأكل هو وأهله منهما، فمكثنا سنين ليس رجل من بني هاشم يضحي قد كفاه الله المئونة برسول الله – صلى الله عليه وسلم – والغرم) رواه أحمد (٢). وقال الهيثمي: وإسناده حسن (٣)، وحسنه الشيخ الألباني أيضاً (٤). وهذا الحديث له شواهد كثيرة ذكرها الهيثمي (٥). قال شارح العقيدة الطحاوية: [والقربة في الأضحية إراقة دم وقد جعلها لغيره] (١).
٥. وقالوا إن الميت ينتفع بسعي الحي وقد قامت الأدلة الكثيرة على ذلك. قال شارح العقيدة الطحاوية: [والدليل على انتفاع الميت بغير ما تسبب فيه الكتاب والسنة والإجماع والقياس الصحيح. أما الكتاب فقال الله تعالى:} وَالَّذِينَ جَاءُوا مِنْ بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ {سورة الحشر الآية ١٠. فأثنى عليهم باستغفارهم للمؤمنين قبلهم، فدل على انتفاعهم باستغفار الأحياء. وقد دلّ على انتفاع الميت بالدعاء، إجماع الأمة على الدعاء له في صلاة الجنازة والأدعية التي وردت بها السنة في صلاة الجنازة مستفيضة. وكذا الدعاء له بعد الدفن. ففي سنن أبي داود من حديث عثمان بن عفان – رضي الله عنه – قال: (كان النبي – صلى الله عليه وسلم – إذا فرغ من دفن الميت، وقف عليه فقال: استغفروا لأخيكم واسألوا له التثبيت فإنه الآن يسأل). وكذلك الدعاء لهم عند زيارة قبورهم كما في صحيح مسلم من حديث بريدة بن الحصيب قال: (كان رسول الله – صلى الله عليه وسلم – يعلمهم إذا خرجوا إلى المقابر أن يقولوا: السلام عليكم أهل الديار من المؤمنين والمسلمين وإنا إن شاء الله بكم لاحقون نسأل الله لنا ولكم العافية). وفي صحيح مسلم أيضاً عن عائشة رضي الله عنه: (سألت النبي – صلى الله عليه وسلم – كيف تقول إذا استغفرت لأهل القبور؟ قال: قولي السلام على أهل الديار من المؤمنين والمسلمين، ويرحم الله المستقدمين منا ومنكم والمستأخرين، وإنا إن شاء الله بكم لاحقون). وأما وصول ثواب الصدقة، ففي الصحيحين عن عائشة رضي الله عنها: (أن رجلاً أتى النبي – صلى الله عليه وسلم – فقال: يا رسول الله إني أمي افتلتت نفسها ولم توصِ، وأظنها لو تكلمت تصدقت أفلها أجر إن تصدقت عنها؟ قال: نعم). وفي صحيح البخاري عن عبد الله بن عباس رضي الله عنهما: (أن سعد بن عبادة توفيت أمه وهو غائب عنها، فأتى النبي – صلى الله عليه وسلم – فقال: يا رسول الله إن أمي توفيت وأنا غائب عنها فهل ينفعها إن تصدقت عنها؟ قال: نعم. قال: فإني أشهدك أن حائطي المخراف صدقة عنها) وأمثال ذلك كثيرة في السنة. وأما وصول ثواب الصوم ففي الصحيحين عن عائشة رضي الله عنها: (أن رسول الله – صلى الله عليه وسلم – قال: من مات وعليه صيام صام عنه وليه). وله نظائر في الصحيح، ولكن أبو حنيفة رحمه الله قال بالإطعام عن الميت دون الصيام عنه لحديث ابن عباس المتقدم والكلام على ذلك معروف في كتب الفروع. وأما وصول ثواب الحج، ففي صحيح البخاري عن أن عباس رضي الله عنهما: (أن امرأة من جهنية جاءت إلى النبي – صلى الله عليه وسلم – فقالت: إن أمي نذرت أن تحج فلم تحج حتى ماتت أفأحج عنها؟ قال: حجي عنها أرأيت لو كان على أمك دين أكنت قاضيته؟ اقضوا الله فالله أحق بالوفاء) ونظائره أيضاً كثيرة. وأجمع المسلمون على أن قضاء الدين يسقطه من ذمة الميت، ولو كان من أجنبي ومن غير تركته، وقد دل على ذلك حديث أبي قتادة: حيث ضمن الدينارين عن الميت فلما قضاهما قال النبي – صلى الله عليه وسلم -: (الآن برَّدت عليه جلدته) وكل ذلك جار على قواعد الشرع، وهو محض القياس، فإن الثواب حق العامل، فإذا وهبه لأخيه المسلم لم يمنع من ذلك، كما لم يمنع من هبة ماله في حياته، وإبرائه له منه بعد وفاته، وقد نبه الشارع بوصول ثواب الصوم، على وصول ثواب القراءة ونحوها من العبادات البدنية. يوضحه: أن الصوم كف النفس عن المفطرات بالنية، وقد نص الشارع على وصول ثوابه إلى الميت، فكيف بالقراءة التي هي عمل ونية؟!] (١). وقال شيخ الإسلام ابن تيمية: [ … وهو – أي الميت – ينتفع بكل ما يصل إليه من كل مسلم، سواء كان من أقاربه أو غيرهم، كما ينتفع بصلاة المصلين عليه ودعائهم له عند قبره] (٢). وقال العلامة ابن القيم: [هذه النصوص متظاهرة على وصول ثواب الأعمال إلى الميت، إذا فعلها الحي عنه، وهذا محض القياس، فإن الثواب حق للعامل فإذا وهبه لأخيه المسلم لم يمنع من ذلك، كما لم يمنع من ذلك من هبة ماله في حياته وإبرائه له من بعد موته] (١)
أدلة القول الثاني: قال الخرشي: [يكره للشخص أن يضحي عن الميت خوف الرياء والمباهاة ولعدم الوارد في ذلك] (٢) أي لعدم ورود دليل شرعي يدل على جواز الأضحية عن الميت. ولم أقف لهم على أدلة أخرى سوى ذلك. أدلة القول الثالث: قبل أن أذكر أدلة القول الثالث، ينبغي أن يعلم أولاً، أن الشيخ عبد الله بن زيد آل محمود رئيس المحاكم الشرعية والشؤون الدينية في دولة قطر يرحمه الله، قد بحث مسألة الأضحية عن الميت بحثاً مفصلاً، ويرى أن الأضحية عن الميت غير شرعية، وذهب إلى تفضيل الصدقة عن الميت على الأضحية عنه، وألَّف في ذلك رسالة بعنوان: [الدلائل العقيلة والنقلية في تفضيل الصدقة عن الميت على الضحية، وهل الضحية عن الميت شرعية أو غير شرعية؟] تقع في ١٥٧ صفحة. وقد خالفه في قوله عدد من أهل العلم، منهم الشيخ عبد العزيز بن ناصر بن رشيد، والشيخ إسماعيل الأنصاري من علماء نجد، ونشر كلٌ منهما مقالاً في الرد على الشيخ عبد الله بن زيد آل محمود، وقد ردَّ الشيخ عبد الله بن زيد آل محمود على الأول منهما في رسالة بعنوان [مباحث التحقيق مع الصاحب الصديق] تقع في ٤٥ صفحة. وردّ على الثاني في رسالة بعنوان [إعادة البحث الجاري مع الشيخ إسماعيل الأنصاري فيما يتعلق بالأضاحي عن الأموات] تقع في ٣٤ صفحة.كما أن الشيخ علي بن عبد الله الحواس من علماء نجد، ألف كتاباً موسعاً في الرد على الشيخ عبد الله بن زيد آل محمود وأبطل فيه رأيه وسماه [الحجج القوية والأدلة القطعية في الرد على من قال إن الأضحية عن الميت غير شرعية] ويقع في ٣٠٠ صفحة. كما أن الشيخ عبد الله بن محمد بن حميد يرحمه الله، من كبار علماء السعودية، كان قد ردَّ على رسالة الشيخ عبد الله بن زيد آل محمود (الدلاائل العقلية والنقلية .. ) ولكني لم أطلع عليه (١). وقد بيَّن الشيخ عبد الله بن زيد آل محمود رأيه في هذه المسألة فقال: [أما الأضحية عن الميت فإنه بمقتضى التتبع والاستقراء لكتب الصحاح والسنن والمسانيد والتفاسير والسير، لم نجد دليلاً صريحاً من كتاب الله، ولا حديثاً صحيحاً عن رسول الله – صلى الله عليه وسلم – يأمر بالأضحية عن الميت، أو يشير إلى فضلها ووصول ثوابها إليه، ولم ينقل أحد من الصحابة والتابعين أنهم كانوا يضحون لموتاهم، ولم يذكر فعلها عن أحد منهم، لا في أوقافهم ولا وصاياهم ولا في سائر تبرعاتهم، ولم يقع لها ذكر في كتب الفقهاء من الحنابلة المتقدمين، لا في المغني على سعته، ولا في الكافي، ولا المقنع، ولا في الشرح الكبير، ولا المحرر، ولا الإنصاف، ولا النظم، ولا في المنتقى والإلمام في أحاديث الأحكام، ولا في إعلام الموقعين، ولا في زاد المعاد، ولا في البخاري، ولا في شرحه فتح الباري، ولا في مسلم ولا في شرح مسلم للنووي، ولا في نيل الأوطار للشوكاني، ولا في سبل السلام للصنعاني، ولا في التفاسير المعتبرة، كابن جرير الطبري وابن كثير والبغوي والقرطبي، فتركهم لذكرها ينبئ على عدم العمل بها في زمنهم أو على عدم مشروعيتها عندهم. والظاهر من مذهب مالك والشافعي وأبي حنيفة عدم جواز فعلها عن الميت، لعدم ما يدل على مشروعيتها، وخص الإمام أبو حنيفة الجواز بما إذا عينها ثم توفي بعد تعيينها فإنها تذبح عنه تنفيذاً للتعيين. والقول الثاني: أنه لا يجوز ذبحها بل تعود تركة لكونه لا أضحية لميت، حكى القولين في المبسوط وبدائع الصنائع وأشار الطحاوي إليه في مختصره. ولم نجد عن الإمام أحمد نصاً في المسألة لا جوازاً ولا منعاً. فلا يجوز نسبة القول بالجواز إليه عند عدم ما يدل عليه إلا أن تؤخذ من مفهوم قوله: (الميت يصل إليه كل شيء) وهي كلمة تحتاج إلى تفصيل، إذ لا يصح أن يصل إلى الميت كل شيء من عمل الغير حتى عند الإمام أحمد نفسه، كما سيأتي بيانه فالقول: بأن جواز الأضحية عن الميت، هو ظاهر المذهب إنما يتمشى على الاصطلاح الحديث، من أن المذهب هو ما اتفق عليه الإقناع والمنتهى، وقد قالا بجواز ذلك أو استحبابه، فهذا شيء ونسبة القول به إلى الإمام أحمد شيء آخر. وأسبق من رأيناه طرق موضوع الكلام في المسألة هو أبو داود في سننه حيث قال: (باب الأضحية عن الميت، حدثنا عثمان بن أبي شيبة، حدثنا شريك عن أبي الحسناء عن الحكم عن حنش قال: رأيت علياً يضحي بكبشين فقلت له: ما هذا؟ فقال: إن رسول الله أوصاني أن أضحي عنه فلا أزال أضحي عنه) ورواه الترمذي في جامعه بلفظه ومعناه وقال: غريب لا نعرفه إلا من هذا الوجه. ثم قال صاحب تحفة الأحوذي على الترمذي: حنش هو أبو المعتمر الصنعاني وقد تكلم فيه غير واحد، قال ابن حبان البستي: كان كثير الوهم في الأخبار ينفرد عن علي بأشياء لا تشبه حديث الثقات حتى صار ممن لا يحتج به. وشريك هو أبو عبد الله القاضي فيه مقال وقد أخرج له مسلم في المتابعات. أهـ وأبو الحسناء: هو مجهول لا يعرف، قاله ابن حجر في التقريب، وقال ابن العربي في شرح الترمذي: هذا حديث مجهول.ثم قال الترمذي: قد رخص بعض أهل العلم أن يضحى عن الميت، ولم ير بعضهم أن يضحى عنه، وقال عبد الله بن المبارك: أحبُ إليَّ أن يتصدق عنه ولا يضحى، فإن ضحى فلا يأكل منها شيئاً ويتصدق بها كلها. وأخرجه البيهقي في سننه وقال: إن ثبت هذا كان فيه دلالة في التضحية عن الميت. ومن المعلوم عند أهل الحديث عدم ثباته وأنه ضعيف لا يحتج به. ثم قال صاحب تحفة على الترمذي قلت: إني لم أجد في التضحية عن الميت منفرداً حديثاً صحيحاً مرفوعاً، وأما حديث علي المذكور في هذا الباب فضعيف كما عرفت. وقد أخذ بعض الفقهاء بظاهر حديث علي، ولم ينظروا إلى ضعفه في سنده ومتنه ولا إلى عدم الإحتجاج به ولا إلى عدم عمل الصحابة بموجبه، لأن أكثر الفقهاء يتناقلون الأثر على علاته بدون تمحيص ولا تصحيح، وينقل بعضهم عن بعض حتى يشتهر وينتشر ويكون كالصحيح، وكل من تدبر أقوال الفقهاء القائلين بجواز الأضحية عن الميت مطلقاً أو بجوازها متى أوصى بها أو وقف وقفاً عليها، وجدهم يستدلون على ذلك بحديث علي هذا أن النبي أوصاه أن يضحي عنه، لظنهم أنه صحيح، لأن غالب الفقهاء لا يعرفون الصحيح من الضعيف معرفة تامة، فينشأ أحدهم على قول لا يعرف غيره، ولم يقف على كلام أهل الحديث في خلافه وضعفه فيظنه صحيحاً ويبني على ظنه جواز العمل به والحكم بموجبه، وقد استأنسوا في هذا الباب بما روي عن أبي العباس السراج وكان أحد مشايخ البخاري أنه قال: ختمت القرآن للنبي – صلى الله عليه وسلم – اثنتي عشرة ألف ختمة وضحيت عنه باثنتي عشرة ألف أضحية. ذكر هذه الحكاية ابن مفلح في الفروع في إهداء ثواب الأعمال إلى الموتى من آخر كتاب الجنائز، وهي حكاية شخص عن فعل نفسه، ليست بأهل أن يصاخ لها، وليس من المفروض قبول هذه المجازفة الخارجة عن جدول الحق والعدل، إذ ليس عندنا دليل يثبت إهداء الأضحية وتلاوة القرآن إلى رسول الله – صلى الله عليه وسلم -، ولو كان صحيحاً لكان صفوة أصحابه وخاصة أهل بيته أحق بالسبق إلى ذلك، ولم يثبت عن أحد منهم أنه حج عن رسول الله أو صام أو أهدى ثواب قراءته أو أضحيته إليه، وإنما الأمر الذي عهده رسول الله لأمته، هو اتباع هديه والإعتصام بكتاب الله وسنة رسوله، وأن يكثروا من الصلاة والتسليم عليهوأن يسألوا الله له الوسيلة والفضيلة، وأن يبعثه مقاماً محموداً الذي وعده. هذا هو الأمر الذي شرعه رسول الله لأمته، بخلاف إهداء ثواب القرب الدينية فقد قال شيخ الإسلام ابن تيمية – رحمه الله: [لا يستحب إهداء القرب الدينية إلى النبي – صلى الله عليه وسلم – بل هو بدعة] قاله في الاختيارات. فمتى كان أهل المعرفة بالحديث متفقين على أنه لا يوجد في الأضحية عن الميت حديث صحيح، يدل دلالة صريحة على الأمر بها، فضلاً عن أن يكون فيها أخبار متواترة أو مستفيضة، امتنع حينئذ التصديق بكون النبي – صلى الله عليه وسلم – أوصى بها أو شرعها لأمته، ولم ينقل فعلها عن أحد من الصحابة، ولا أهل بيته ولا التابعين، مع تكرار السنين وحرصهم على محبة الرسول – صلى الله عليه وسلم – واتباع سنته وتنفيذ أوامره، والعادة تقتضي نقل ذلك لو وقع إذ هي من الأمور الظاهرة التعبدية التي تتوفر الهمم والدواعي على نقلها وتبليغها، لكونهم أحرص الناس على فعل الخير، وإيصال ثوابه إلى الغير من موتاهم، فمتى كان الأمر بهذه الصفة، علمنا حينئذ أنها ليست بمشروعة، ولا مرغب فيها؟ والتعبدات الشرعية مبنية على التوقيف والاتباع. لا على الاستحسان والابتداع كما قال بعض السلف: كل عبادة لم يتعبدها رسول الله ولا أصحابه، فلا تتعبدوها فإن الأول لم يترك للآخر مقالاً. فإن قيل بم عرفتم أن الصحابة والتابعين لم يضحوا عن موتاهم؟ قيل: علمنا ذلك بعدم نقله عنهم، وهذه أسفار السنة على كثرتها لا تثبت عن أحد منهم فعلها، لا في سبيل تبرعاتهم لموتاهم ولا في أوقافهم ولا الوصايا الصادرة منهم، ومن المعلوم أن الأمور الوجودية يتناقلها الناس من بعضهم إلى بعض، حتى تشتهر وتنتشر كما نقلوا سائر السنن والمستحبات، أما الأمور العدمية التي لاوجود لفعلها، فإن الناس لا ينقلونها إلا عندما يحتاجون إلى ردها، وبيان الهدى من الضلال فيها، فلو نقل ناقل أن أصحاب رسول الله – صلى الله عليه وسلم – كانوا يحجون له أو يضحون له أو يقرأون القرآن ويهدون ثوابه إليه، لحكمنا بكذبه لعدم نقله، ولو فتح هذا الباب لاحتج كل واحد لبدعته بما يؤيدها فتفشوا البدع ويفسد الدين. والمقصود أن الأضحية عن الميت، لم يثبت في كتاب الله ولا في سنة رسول الله مشروعيتها، ولم ينقل عن رسول الله بطريق صحيح، الأمر بها لا بطريق التصريح ولا الإيماء، ولهذالم يفعلها أحد من الصحابة، فعدم فعلها يعد من الأمر المجمع عليه زمن الصحابة، واستصحاب حكم الإجماع في محل النزاع حجة. وكل خير في اتباع من سلف … وكل شر في ابتداع من خلف … ] (١). إذا علم هذا فإن الشيخ عبد الله بن زيد آل محمود ساق أدلة كثيرة على منع الأضحية عن الميت أذكر تلخيصاً لبعضها: الأول: إن الأضحية إنما شرعت في حق الحي فأول من فعلها إبراهيم عليه السلام حيث قال الله تعالى:} وَفَدَيْنَاهُ بِذِبْحٍ عَظِيمٍ {وهي أضحية أمر أن يذبحها يوم عيد النحر. ثم سنَّها رسول الله – صلى الله عليه وسلم – في أمته تشريفاً لعيد الأضحى الذي سمي باسمها، وشكراً لله على بلوغه، وإدخالاً للسرور على الأهل والعيال … وأنزل الله:} فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ {فالذين أمروا بصلاة العيد هم المأمورون بنحر الأضاحي وهم الأحياء، ولا علاقة لها بالأموات البتة. وأما أضحية النبي – صلى الله عليه وسلم – بالكبش عنه وعن أمته، فإن الله سبحانه وتعالى قد أثبت لنبيه الولاية التامة العامة على كافة أمته، وهي ولاية أحق وأخص من ولاية الرجل على عياله وأهل بيته … فمن ولايته أضحيته عن أمته كما يضحي أحدنا عن عياله وأهل بيته، بل أحق. الثاني: إنه توفي عدد من أقارب النبي – صلى الله عليه وسلم – في حياته، فتوفي ابنه إبراهيم وتوفي ثلاث من بناته وتوفيت زوجته خديجة … ومع هذا كله لم يضح عنها ولا عن أحد من ابنه وبناته، ولو كانت الأضحية عن الميت من شرعه لما بخل بها عن أحبابه وأقاربه ولفعلها ولو مرة واحدة، مع العلم أنه متصف بالجود والكرم، فكان يقسم الأضاحي بين أصحابه لتعميم العمل بسنة الأضحية. الثالث: إن الصحابة هم الذين حفظوا سنة رسول الله – صلى الله عليه وسلم – وبلغوها إلى الناس، ولم يحفظ عن أحد منهم أنه ضحى عن ميته، ولا أوصى أن يضحى عنه بعد موته، ولا وقف وقفاً له في أضحية وهم أحرص الناس على اتباع السنة وأبعدهم عن البدعة، فلو كانت الأضحية عن الميت سنة أو أن فيها فضيلة، أو أن نفعها يصل إلى موتاهم، لكانوا أحق بالسبق إليها ولو كان خيراً لسبقونا إليه. الرابع: إن جميع الصحابة الذين سألوا رسول الله – صلى الله عليه وسلم – عن أفضل ما يفعلونه لموتاهم إنما أرشدهم النبي – صلى الله عليه وسلم – إلى الدعاء والصدقة وصلة الأقارب وقضاء الواجبات من حج ونذر، فهذا سعد بن عبادة قال: يا رسول الله إني أمي أفتلت نفسها ولم توص، أفلها أجر إن تصدقت عنها؟ فقال: نعم، تصدق عن أمك. ولم يقل ضح عن أمك. وهذا أبو طلحة وضع بيرحاء بين يدي رسول الله … ولم يأمره أن يجعل فيها أضحية تذبح عنه بعد موته. وهذا عمر استشار رسول الله في مصرف وقفه … فأشار عليه رسول الله بأن يحبس أصلها ويتصدق بثمرها … ولم يجعل له فيها أضحية. الخامس: إن القائلين بمشروعية الأضحية عن الميت أخذاً من مفهوم أضحية النبي – صلى الله عليه وسلم – عنه وعن أمته أنه فهم غير صحيح ولا مطابق للواقع، فإن هذه الأضحية وقعت عن النبي – صلى الله عليه وسلم – بطريق الأصالة، وقد أشرك جميع أمته في ثوابها ولم يخص بذلك الأموات دون الأحياء، وهذه لا يقاس عليها لاعتبارها من خصائصه، فإن هذه الأضحية دخل في ثوابها الأحياء الموجودون من أمته وقت حياتهم، كما دخل فيها المعدمون ممن سيوجد من أمته إلى يوم القيامة، وهذا الفعل بهذه الصفة لا ينطبق على أضحية غيره … فدلت على الاختصاص به وعدم التشريع بها والحالة هذه. السادس: إذ لو كانت للتشريع كما يقولون، لاستحب لكل مقتدر أن يضحي عن أمة محمد الموجودين والمعدومين، كما فعل رسول الله – صلى الله عليه وسلم -، إذ هذا محض الأسوة به، ولم يقل بذلك أحد من العلماء فسقط الاستدلال بموجبه. السابع: إن أهل المعرفة بالحديث متفقون على أنه لا يوجد في الأضحية عن الميت حديث صحيح ولا حسن، يدل دلالة صريحة على الأمر بها، فضلاً عن أن يكون فيها أخبار متواترة أو مستفيضة، فمتى كان الأمر بهذه الصفة امتنع حينئذ التصديق بكون النبي – صلى الله عليه وسلم – أوصى بها وشرعها لأمته، ولم ينقل فعلها عن أحد من الصحابة ولا التابعين، مع تكرار السنين وحرصهم على محبة الرسول – صلى الله عليه وسلم – واتباع سنته وتنفيذ أوامره، والعادة تقتضي نقلذلك لو وقع منهم، إذ هي من الأمور الظاهرة التعبدية التي تتوفر الهمم والدواعي على نقلها وتبليغها لكونهم أحرص الناس على فعل الخير وإيصال ثوابه إلى الغير من موتاهم فمتى كان الأمر كذلك علمنا حينئذ أنها ليست بمشروعة ولا مرغب فيها، لأن عدم فعلها يعتبر من الإجماع السابق زمن الصحابة، واعتبار حكم الإجماع في محل النزاع حجة. الثامن: إن قدماء فقهاء الحنابلة من لدن القرن الثاني الذي فيه الإمام أحمد إلى القرن الثامن الذي فيه شيخ الإسلام، لم يحفظ عن أحد منهم ولم نجد في شيء من كتبهم القول بمشروعية الأضحية عن الميت، إلى أن نسب عن شيخ الإسلام ابن تيمية رحمه الله القول باستحبابها، ثم أخذها صاحب الإقناع والمنتهى فأدخلاها على المذهب في القرن الحادي عشر، حيث قالا: (وأضحية عن ميت أفضل منها عن حي)، وفي الإقناع: (وذبحها ولو عن ميت أفضل من الصدقة بثمنها). التاسع: مذاهب الأئمة الثلاثة، وهم مالك والشافعي وأبو حنيفة، كلهم متفقون على عدم استحباب الأضحية عن الميت، لعدم ما يدل على مشروعيتها … وحتى الإمام أحمد لم نجد عنه نصاً في استحباب الأضحية عن الميت العاشر: إن الصحابة التابعين لم ينقل عنهم فعل الأضحية عن موتاهم، فقد علمنا ذلك بعدم نقله عنهم وهذه أسفار السنة على كثرتها منشورة بين الناس وهي لا تثبت عن أحد منهم فعلها الحادي عشر: إن كل من تدبر النصوص الدينية من الكتاب والسنة وعمل الصحابة، فإنه يتبين له بطريق الجلية أن الأضحية إنما شرعت في حق من أدركه العيد من الأحياء شكراً لله عل بلوغه واتباعاً للسنة في إراقة الدم فيه لله رب العالمين، أشبه مشروعية صدقة الفطر عند عيد الفطر، لإغناء الطوافين من الفقراء والمساكين، فلو قال قائل بمشروعية صدقة الفطر عن الأموات، لعده العلماء مبتدعاً لعدم ما يدل على مشروعية ذلك، وهذا هو عين ما فهمه الصحابة من حكمة الأضحية، فكيف يمكن أن يقال بعد هذا إن النبي – صلى الله عليه وسلم – ضحى بالشاة عن نفسه وعن أمته ليفهم عنه جواز الأضحية عن الموتى والفعل لايحتمله ولا يمت له بصلة، ولم ينقل عن علماء الصحابة القول به ولا العمل بموجبه وهذا واضح جلي لا مجال للشك في مثله … ) (١)
مناقشة الأدلة: ردُّ المجيزين للأضحية عن الميت على المانعين: توسع العلماء المتأخرون الذين أجازوا الأضحية عن الميت في الردّ على المانعين، وعلى وجه الخصوص في ردّهم على الشيخ عبد الله بن زيد آل محمود، وسأذكر بإيجاز أهم ما أجابوا به عن أدلته: أولاً: قالوا في الجواب عن قول الشيخ عبد الله إن الأضحية شرعت في حق الحي لا الميت بدليل الكتاب والسنة وإجماع الصحابة … الخ. فالجواب: أن أقول لا شك أن مشروعية الأضحية دل عليها الكتاب والسنة والإجماع وقد تقدمت الأدلة على ذلك لكن قول الشيخ والأضحية إنما شرعت في حق الحي لا الميت خطأ واضح، لأن الذي شرعها في حق الحي ما منعها في حق الميت فعدم منعها فيحق الميت دليل على مشروعيتها في حقه أيضاً ولأن الأحاديث التي ورد الأمر فيها بالصدقة عن الميت والصيام والحج عنه والدعاء له وغير ذلك تدلنا على مشروعية الأضحية عنه كما شرعت تلك الأشياء عنه وأنها من جملتها. أما قول الشيخ بدليل الكتاب والسنة وإجماع الصحابة. فيقال للشيخ هل منع الكتاب والسنة وإجماع الصحابة الأضحية عن الميت؟ فإن قال: لا، فقد قامت عليه الحجة والدليل. وإن قال: نعم، فقد تقوَّل على الكتاب والسنة وإجماع الصحابة، ولأنه لا يمكنه أن يجد دليلاً ولو ضعيفاً من كتاب الله أو سنة رسول الله – صلى الله عليه وسلم – أو كلام الصحابة يمنع الأضحية عن الميت، وإذا لم يمكن أن يجد ما يستدل به على دعواه لا من كتاب الله ولا من سنة رسول الله ولا من كلام الصحابة فقد سقط قوله وانقطعت حجته … (١). وقالوا نحن لا ننكر مشروعية الأضحية في حق الحي لكننا نمنعها في حق الميت كما لا نمنع غيرها من جميع الأعمال الخيرية في حقه أيضاً، كالصيام والحج والصدقة والعتق والدعاء وغير ذلك من سائر القربات المشروعة، فكل ما شرع فعله للحي في نفسه من جميع القربات الخيرية مما يرجى ثوابه فإنه يشرع في حقه أن يهدي من ثوابه للأموات من المسلمين من أقاربه أو غير أقاربه ما ينفعهم ويثيبه الله تعالى على ذلك من عنده، كما ورد من أن النبي – صلى الله عليه وسلم – قال: (من دعا لأخيه بظهر الغيب قال الملك: آمين ولك بمثله) فهل يقال إن هذا خاص بالأحياء دون الأموات، لا يقال بهذا وإن كان ظاهر الحديث أن المراد بذلك الحي، ولكن المفهوم منه أنه عام للحي والميت، فإذا دعا المسلم لأخيه المسلم بظهر الغيب سواء كان حياً أو ميتاً، فإنه يحصل له ما ذكر في هذا الحديث من تأمين الملك ودعائه ويصل ثواب دعائه إلى من أهداه إليه من الأحياء والأموات إن شاء الله تعالى. وقالوا أيضاً إنه لا خلاف في مشروعية الأضحية وقد ورد بمشروعيتها الكتاب والسنة والإجماع كما تقدم، وكذلك ما يترتب عليها من الفضائل، وإن ذبحها أفضل من الصدقة بثمنها هذا كله مجمع عليه ولا يعتبر من شذ عن هذا وقال إن الصدقة بثمنها أفضل من ذبحها لمخالفته الكتاب والسنة والإجماع، لكن قول الشيخ في حق من أدركه العيد من الأحياء هذا تخصيص بلا مخصص فلا أدري ما الذي حمل الشيخ هداه الله ووفقه إلى الصواب على منعه لثواب هذه القربة العظيمة عن الأموات وتخصيصها في الأحياء هل هو تحجر لسعة فضل الله وإحسانه على خلقه؟ أم بخل على من هم في أشد حاجة إلى ثواب حسنة واحدة تهدى إليهم فينتفعون بها إما في تخفيف عذابهم أو في رفع درجاتهم لأن فضل الله عز وجل شامل لأحياء المسلمين وأمواتهم. وفي الأثر الإلهي يقول الله عز وجل: (يا عبادي لو أن أولكم وآخركم وإنسكم وجنكم قاموا في صعيد واحد فسألوني فأعطيت كل إنسان مسألته ما نقص ذلك مما عندي إلا كما ينقص المخيط إذا أدخل البحر) فما أدري ما هو الوجه الذي أخرج به الشيخ هداه الله أموات المسلمين من هذه القربة العظيمة، وهي إهراق الدم لله عز وجل التي تفضل الله بها على عباده وأمرهم بها لتكون سبباً لمغفرة ذنوبهم ورفع درجاتهم وخصص بها الأحياء دونهم لا أجد لهذا وجهاً واحداً ولا دليلاً من كتاب ولا سنة ولا إجماع ولا قياس ولا عقل بل ما ذكرنا يدل دلالة صريحة على اشتراك الأحياء والأموات في ثواب الأعمال الخيرية عموماً وإنما وصل نفعه إلى الأحياء من ثواب فإنه أيضاً يصل إلى الأموات (١). ثانياً: قالوا في الجواب عن قول الشيخ عبد الله: [ولم يقع للأضحية عن الميت ذكر في كتب الفقهاء من الحنابلة المتقدمين لا في المغني على سعته ولا في الكافي … الخ]. فالجواب: إن الإمام أبا داود صاحب السنن قد عقد للضحية عن الميت باباً في سننه، وهو كما أنه من المحدثين يعتبر من كبار أصحاب الإمام أحمد بن حنبل، صنّف كتاباً كاملاً في المسائل التي تلقاها من الإمام أحمد بن حنبل رحمه الله تعالى، وله ترجمة حافلة في طبقات الحنابلة لابن أبي يعلى، فلا وجه ما دام الأمر كذلك لقول الشيخ بأن هذه المسألة لم يقع لها ذكر في كتب الحنابلة المتقدمين. ثم يستفسر فضيلته عن سبب تلقيه حسبما يقتضيه كلامه كلام ابن القيم وابن كثير والشوكاني والصنعاني لو جاء عنهم شيء في هذا الباب، بينما نراه يرفض كلام شيخ الإسلام ابن تيمية الذي هو إمام الجميع. هذا مع أن جمهور فقهاء المذاهب الأربعة وغيرهم ذكروا ذلك في كتبهم فمنهم من صرَّح بذكر جواز الأضحية عن الميت، ومنهم من لم يصرح بذكرها بل أجملها مع غيرها من سائر القرب الخيرية، فممن صرح بذكرها عبد الله بن المبارك وأبو داود والترمذي وابن أبي شيبة والحاكم والقاضي ابن العربي وصاحب عون المعبود شرح سنن أبي داود والنووي وأبو الحسن العبادي وصاحب غنية الألمعي وصاحب مغني ذوي الأفهام وصاحب الإقناع وصاحب غاية المنتهى وصاحب كشّاف القناع وصاحب ردّ المحتار وصاحب الروضة وصاحب شرح الغاية وصاحب التوضيح وشيخ الإسلام ابن تيمية وابن القيم حيث قال: وقد نبّه الشارع بوصول ثواب الصدقة عن الميت على وصول ثواب سائر العبادات المالية ونبّه بوصول ثواب الصوم على وصول ثواب سائر العبادات البدنية وأخبر بوصول ثواب الحج المركّب من المالية والبدنية فالأنواع الثلاثة ثابتة بالنص والاعتبار (١). وقد سئل صاحب عون المعبود شرح سنن أبي داود هل ثبتت الأضحية عن الأموات ويصل ثوابها؟ فأجاب: الأضحية عن الميت سنة ويصل ثوابها إليه بلا مرية، ثم ساق الأحاديث الواردة في هذا الباب وهو ما روي عن النبي – صلى الله عليه وسلم – أنه كان يضحي عن أمته ممن شهد لله بالتوحيد وشهد له بالبلاغ وعن نفسه وعن أهل بيته ومن المعلوم أن بعض أمته – صلى الله عليه وسلم – ممن شهد لله بالتوحيد وله بالبلاغ قد ماتوا في عهده – صلى الله عليه وسلم – فالأموات والأحياء كلهم من أمته دخلوا في أضحية النبي – صلى الله عليه وسلم -، والكبش الواحد كما كان للأحياء من أمته فهو كذلك للأموات من أمته، بلا تفريق وهذا الحديث أخرجه الأئمة من طرق متعددة عن جماعات من الصحابة كجابر بن عبد الله وأبي طلحة الأنصاري وأنس بن مالك وعائشة أم المؤمنين وأبي هريرة وحذيفة بن أسيد وأبي رافع وعلي رضي الله عنهم أجمعين. والمقصود أن حديث أضحية النبي – صلى الله عليه وسلم – عن أمته روي من طرق متعددة وإسناد بعض طرقه صحيح، وبعض طرقه حسن قوي وبعض طرقه ضعيف، لكن لا يضر ضعف بعض الطرق فإن الطرق الضعيفة حينئذ تكون بمنزلة الشواهد والمتابعات، ثم إنه لو لم يأت في هذا الباب إلا رواية عائشة أم المؤمنين التي أخرجها أحمد ومسلم وأبو داود لكانت كافية للاحتجاج باستحباب التضحية عن الأموات ويؤيد هذه الرواية حديث جابر بن عبد الله وأبي طلحة الأنصاري وأنس بن مالك وأبي هريرة وحذيفة بن أسيد وأبي رافع وعلي بن أبي طالب، وهذه الأحاديث كلها تدل دلالة واضحة على أنه يجوز للرجل أن يضحي عنه وعن أتباعه وأهل بيته وعن الأموات ويشركهم معه في الثواب (١). ثالثاً: وأجابوا عن تضعيف الشيخ عبد الله بن زيد آل محمود لحديث تضحية علي – رضي الله عنه – عن النبي – صلى الله عليه وسلم – … الخ. قالوا: إن هذا الحديث قد ذكره أبو داود في سننه تحت عنوان (باب الأضحية عن الميت) وسكت عنه. وقد قال أبو داود عن سننه: أني ذكرت الصحيح وما يشبه ويقاربه وما كان فيه وهن شديد بينته وما لم أذكر فيه شيئاً فهو صالح وبعضها أصح من بعض. وروي عنه أنه قال: وما سكتُّ عنه فهو حسن. وقال أيضاً: ما ذكرت في كتابي يعني السنن، حديثاً اجتمع الناس على تركه. وكذلك ترجم الترمذي في جامعه حديث علي فقال – باب الأضحية عن الميت – إشارة إلى أن الحديث من أدلتهم، وقد قال الترمذي في كتاب العلل عن سننه: جميع ما في هذا الكتاب من الحديث معمول وبه أخذ به بعض أهل العلم ما عدا حديثين حديث جمع النبي – صلى الله عليه وسلم – بين الظهر والعصر … وحديث إذا شرب الخمر … في الرابعة فاقتلوه وأما الحاكم فقد جمع بين الاحتجاج بالحديث وبين تصحيحه. قال: وقد رويت أخبار في الأضحية عن الأموات ثم ساق حديث علي، وقد وافق الحاكم في تصحيحه لهذا الحديث الحافظ الذهبي في تلخيصه للمستدرك. وذكره الإمام أحمد في مسنده من غير وجه وعلق عليه الشيخ أحمد شاكر رحمه الله فقال: إن حديث علي صحيح. فتبين من ذلك أن حديث علي في نظر هؤلاء الأئمة الحفاظ وهم أبو داود والترمذي والحاكم والذهبي ليس كما هو في نظر فضيلة الشيخ من تضعيفه له. وقد قال ابن عبد البر: كل ما سكت عليه أبو داود فهو صحيح عنده لا سيما إن كان لم يذكر في الباب غيره. فظهر من ذلك عدم ضعف حديث علي عند أبي داود وأنه صالح للاحتجاج به لا سيما وقد عضده حديث أضحية النبي – صلى الله عليه وسلم – عن أمته الذي رواه ابن ماجة عن عائشة وأبي هريرة … والمقصود بيان أن حديث علي وإن تكلم في سنده من تكلم فيه من أهل العلم، فقد أورده بعضهم مورد الاحتجاج وصححه بعضهم، وتؤيده الأحاديث الصحيحة في أضحية النبي – صلى الله عليه وسلم – عن أمته منفردين ومشتركين معه. كما أن القاعدة الأصولية تنص على أن الحديث الضعيف أقوى وأفضل من رأي المجتهد هذا على فرض ضعف حديث علي فكيف وحديث علي صحيح (١). رابعاً: وأجابوا على قول الشيخ عبد الله بأن أهل المعرفة بالحديث متفقون على أنه لا يوجد في الأضحية حديث صحيح. الجواب أن يقال للشيخ من قال لك إن أهل الحديث متفقون على أنه لا يوجد في الأضحية عن الميت حديث صحيح، أو أخبار متواترة مستفيضة. هذه دعوى من فضيلة الشيخ غير صحيحة ومغالطة غير لائقة، فمن هم أهل الحديث الذين اتفقوا على أنه لا يوجد في الأضحية حديث صحيح أو خبر متواتر؟ لِمَ لمْ يذكرهم الشيخ لنا حتى نعرفهم؟ لكن عدم ذكر الشيخ لهم دليل واضح على عدم صحة هذا القول كيف وقد ورد بذلك، أعني الأضحية عن الميت – الحديث الصحيح الذي اتفق علماء الحديث والفقه على صحته، وهو حديث أضحية النبي – صلى الله عليه وسلم – لأمته فهو شامل للأحياء والأموات من أمته باتفاق أهل المعرفة بالحديث والفقه وكذلك الشيخ نفسه قد اعترف بذلك. وقد أورد في رسالته أحاديث أضحية النبي – صلى الله عليه وسلم – لأمته وذكر أن أضحية النبي – صلى الله عليه وسلم – لأمته شامل للأموات والأحياء كما سيأتي بيانه كيف والنبي – صلى الله عليه وسلم – هو المشرع؟ فإذا قال قولاً وعمل عملاً شرع للأمة العمل به إلا إذا دل الدليل على خصوصيته – صلى الله عليه وسلم – به فلا يشرع في حق أمته فعله وهذه قاعدة مطردة معروفة عند العلماء، فالأضحية عن الميت مشروعة في حقه كما هي مشروعة في حق الحي لفعل النبي – صلى الله عليه وسلم -إلا إذا أتى دليل قاطع يدل على أن أضحية النبي – صلى الله عليه وسلم – لأمته خاص به دون غيره، ولا سبيل إلى ذلك فكيف يقول الشيخ بعد ذلك أن أهل الحديث قد اتفقوا على أنه لم يرد في الأضحية عن الميت حديث صحيح يعتبر وأيضاً فذكر الشيخ أن أضحية النبي – صلى الله عليه وسلم – – صلى الله عليه وسلم – لأمته شامل للأموات والأحياء اعتراف منه بمشروعية الأضحية عن الميت وكذلك أيضاً حديث علي في أضحيته للنبي – صلى الله عليه وسلم -. وقد رأى جمهور الفقهاء والمحدثين أن حديث علي – رضي الله عنه – مقبول وهو أيضاً دليل على جواز الأضحية عن الميت (١).
ردّ المانعين للأضحية عن الميت على المجيزين: وقد ناقش الشيخ عبد الله المجيزين للأضحية عن الميت ورد على أجوبتهم عن أدلته بما يطول ذكره ولكني أذكر بعض أجوبته. ذكر الشيخ عبد الله كلام الشيخ عبد العزيز بن رشيد ونصه: الوجه الثاني: أن الأضحية عن الميت كالصدقة عنه وكالحج، وهذا جائز شرعاً. وهل الأضحية عن الميت إلا نوع من الصدقة يصله ثوابها كسائر القرب، وأي فرق بين وصول ثواب الصدقة والحج وبين وصول ثواب الأضحية وما هذه الخاصية التي منعت وصولثواب الأضحية، واقتضت وصول بقية الأعمال، وهل هذا إلا تفريق بين المتماثلات إلا أن يقول قائل: إن الأضحية ليست بقربة، وما أظن أحداً يتجرأ على ذلك، لأنها مكابرة فالجواب: أن نقول: أن الشارع الحكيم ورسول رب العالمين هو الذي فرَّق بين الصدقة والأضحية، لأن الحلال ما أحله الله ورسوله، والدين ما شرعه الله في كتابه وعن لسان نبيّه، وقد أمر النبي – صلى الله عليه وسلم – الأولاد بأن يتصدقوا عن آبائهم الميتين وأن يقضوا واجباتهم من حج وصوم ولم يأمر أحداً بأن يضحي عن والديه الميتين، ونحن متبعون لا مشرعون، لأن العبادات مبناها على التوقيف والاتباع، لا على الاستحسان والابتداع، ولهذا قال بعض السلف: كل عبادة لم يتعبدها رسول الله ولا أصحابه فلا تتعبدوها، فإن الأول لم يترك . للآخر مقالاً، والأضحية عن الميت بانفراده لم يفعلها رسول الله – صلى الله عليه وسلم – ولم يفعلها أحد من أصحابه، بخلاف الصدقة فقد ثبتت (١). ثم ذكر كلام الشيخ عبد العزيز بن رشيد ونصه: (إن النصوص تتظاهر على وصول ثواب الأعمال إلى الميت، إذا فعلها الحي عنه وهذا محض القياس، فإن الثواب حق للعامل، فإذا وهبه لأخيه المسلم لم يمنع من ذلك، كما لم يمنع من هبته ماله في حياته، وقد نبّه الشارع بوصول ثواب الصدقة على وصول سائر العبادات المالية ونبّه بوصول ثواب الصوم على وصول سائر العبادات البدنية، وأخبر بوصول الحج المركب بين المالية والبدنية.) فالجواب: أما قوله بقياس العبادات التي هي عند الله وأمرها إلى الله، على هبة المال الذي يملكه صاحبه في الدنيا ويتصرف فيه كيف يشاء، من بيع وعطاء، فإنه قياس مع الفارق حتى ولو قال به من قال، فإن الآيات المثبتة للجزاء على الحسنات والسيئات، تبطل دعوى ملكية الإنسان لثواب عباداته، لأنه عبد لله وأعماله مملوكة لله، وليس من شأنه أن يتصرّف في أعماله بهبتها لمن لا يعملها، لكون الجزاء على الأعمال ليست مملوكة للعامل، وإنما هي فضل من الله يتفضل به على من يشاء من عباده والناس منهم المقبول عمله ومنهم المردود، ومن نوقش الحساب يهلك، لأن الله سبحانه إذا بسط عدله على عبده وحاسبه على حسناته وسيئاته لم يبق له حسنة، وإذا بسط فضله على عبده، لم يبق له سيئة، والنبي – صلى الله عليه وسلم – قال: (ما منكم أحد يدخل الجنة بعمله، قالوا: ولا أنت يا رسول الله؟ قال: ولا أنا، إلا أن يتغمدني الله برحمته)، ولو جاز هبة الأعمال قياساً على هبة المال لجاز بيعها، إذ الهبة نوع من البيع، فالفرق بين هبة المال وبين هبة الأعمال كالفرق بين الدنيا والآخرة وكالفرق بين العبادات والعادات، وبهذا يتبين بطلان قوله: إن الثواب حق للعامل، فإذا وهبه لم يمنع منه، لأنه ليس للعامل حق ثابت على الله … (٢). وردّ الشيخ عبد الله بن زيد آل محمود في رسالته المسماة: [إعادة الحديث في البحث الجاري مع الشيخ إسماعيل الأنصاري فيما يتعلق بالأضاحي عن الأموات] على أدلة المخالفين له فنقل كلام الشيخ إسماعيل الأنصاري ونصه: وأما أبوبكر العربي، فقد قال في شرح الترمذي (ج٦ – ص٢٩٠) قال: اختلف أهل العلم: هل يضحى عن الميت، مع اتفاقهم أنه يتصدق عنه والضحية ضرب من الصدقة، أنها عبادة مالية وليست كالصلاة والصيام. وقال عبد الله بن المبارك: أحب إليَّ أن يتصدق عنه بثمن الأضحية ولا يضحي فإن ضحى فلا يأكل منها شيئاً. قال ابن العربي: الصدقة والأضحية سواء في الأجر عن الميت انتهى. فالجواب: أن أبا بكر بن العربي لمّا طرق موضوع هذا الحديث قال: وبالجملة، فهذا حديث مجهول. فابتلع الشيخ إسماعيل هذه الجملة في بطنه حيث استباح كتمانها وعدم بيانها، وهي متصلة بالكلام الذي ذكره كاتصال السبابة بالوسطى، وكان من واجب أمانة البحث أن يأتي بها ثم يتعقبها بما يشاء من التصحيح أو التضعيف، حسبما تقتضيه أمانة التأليف، فإن العلم أمانة والكتمان خيانة، والله لا يصلح كيد الخائنين، ومتى ثبتت جهالة هذا الحديث سقط الاحتجاج به ولم يبق سوى رأي أبي بكر بن العربي والراي يخطئ ويصيب وهو رجل ونحن رجال … (١). ويكفي هذا القدر من الردود لأن الوضع لا يحتمل التفصيل والتطويل في المناقشات والردود.
القول الراجح: بعد إجالة النظر والفكر في أقوال أهل العلم وأدلتهم في التضحية عن الميت، أختار وأرجح القول بجواز الأضحية عن الميت، ويؤيد هذا الترجيح عندي ما يلي:
أولاً: قد قامت الأدلة الكثيرة من كتاب الله وسنة رسوله – صلى الله عليه وسلم – على انتفاع الميت بسعي غيره، كما في قول الله عز وجل:} وَالَّذِينَ جَاءُوا مِنْ بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ {سورة الحشر الآية ١٠. وقد صحت الأحاديث بذلك كما في الدعاء للميت في صلاة الجنازة، وبعد الدفن وعند زيارة القبور. وكذلك الصدقة عن الميت كما في حديث سعد بن عبادة – رضي الله عنه – السابق، والأضحية عن الميت نوع من الصدقة عنه، فتصح عن الميت وينتفع بها إن شاء الله تعالى. ثانياً: ثبتت الأحاديث الصحيحة في أضحية النبي – صلى الله عليه وسلم – عن نفسه وعن أمته، كما في حديث عائشة رضي الله عنها عند مسلم، وحديث جابر – رضي الله عنه – في السنن، وحديث أبي رافع في المسند. وقد قال شارح العقيدة الطحاوية معلقاً على حديث أبي رافع في تضحية النبي – صلى الله عليه وسلم – بكبشين عنه وعن أمته: [والقربة في الأضحية إراقة دم، وقد جعلها لغيره] (١). ثالثاً: إن حديث علي بن أبي طالب – رضي الله عنه – في تضحيته عن النبي – صلى الله عليه وسلم – وأن الرسول – صلى الله عليه وسلم – أمره بذلك، الذي رواه أبو داود والترمذي وأحمد والبيهقي والحاكم، يصلح دليلاً للجواز مع أن بعض أهل الحديث قد ضعفه. ولكن أبا داود سكت عنه واحتج به وخاصة أنه لم يرو في الباب غيره. كما أن الحاكم قد صححه ووافقه الذهبي على ذلك، وصححه الشيخ أحمد محمد شاكر والتهانوي من علماء هذا العصر. ثم لو سلَّمنا ضعف حديث علي هذا، فإن الأحاديث الصحيحة في تضحية النبي – صلى الله عليه وسلم – عن أمته تشهد له. وكذلك فإنه وإن كان ضعيفاً فيصح العمل به في هذه الفضيلة من فضائل الأعمال، ألا وهي الأضحية عن الميت، فإن ذلك يدخل تحت أصل صحيح ثابت، وهو انتفاع الميت بسعي غيره والله أعلم بالصواب وإليه المرجع والمآب تم الكتاب بقلم مؤلفه الدكتور حسام الدين موسى عفانه فجر يوم الأحد المسفر عن اليوم الرابع عشر من شوال سنة ١٤١٩ هـ الموافق الحادي والثلاثين من كانون الثاني ١٩٩٩. والحمد لله الذي بنعمته تتم الصالحات