logo mubaa
Logo Ittihad

DEWAN PIMPINAN PUSAT
IKATAN ALUMNI BATA-BATA

Kategori
Uncategorized

Q.0010.HUKUM MENJUAL DAN MENGGANTI HEWAN QURBAN NADZAR MENURUT MADZHAB IMAM YANG EMPAT

Assalamu Alaikum

Deskripsi masalah.

Ahmad memiliki seekor sapi yang sedang hamil, namun kondisinya tidak sehat atau sakit. Dalam situasi tersebut, Ahmad bernadzar dengan mengucapkan, “Jika sapi saya ini sembuh, maka sapi ini akan saya kurbankan.” Beberapa hari kemudian, sapinya benar-benar sembuh dan bahkan melahirkan seekor anak. Namun, ketika Ahmad mengingat nadzarnya, ia merasa ragu untuk menyembelih sapi tersebut karena khawatir anak sapi yang baru lahir, yang usianya belum mencapai satu bulan, akan terancam keselamatannya.

Untuk mengatasi keraguan tersebut, Ahmad berpikir untuk menjual sapi induk yang telah dinadzarkan itu, lalu menggantinya dengan sapi lain yang lebih sehat dan berkualitas untuk memenuhi nazarnya. Langkah ini diambil Ahmad dengan tujuan memastikan kelangsungan hidup anak sapi tersebut sekaligus melaksanakan nazarnya.

Pertanyaannya.
Bolehkah qurban yang sudah dinadzarkan /takyin ( ditentukan) diganti sapi lain dengan tujuan karena merasa eman dan takut membahayakan terhadap anaknya

Waalaikum salam.
Jawaban .

Ulama fiqih berbeda pendapat terkait masalah hukum menjual dan mengganti hewan yang sudah dinadzarkan.

Menurut Malikiyah : Tidak boleh ( Haram) menjual dan mengganti barang yang dinadzarkan yang sudah ditakyin seperti halnya qurban, kecuali tidak ditentukan maka boleh namun makruh

Menurut Imam Syafi’ie : Hukumnya haram menjual dan mengganti hewan qurban nadzar atau hewan qurban yang telah ditentukan jenis maupun dzatnya.

Menurut Hanabilah : Boleh mengganti hewan kurban Nadzar dengan hewan lain yang lebih bagus.
Menurut Hanafiyah: Hukumnya makruh tahrim menjual dan mengganti hewan qurban yang telah dinadzarkan atau ditakyin.

الموسوعة الفقهية – ٢٨١٤/٣١٩٤٩

وقال المالكية: يحرم بيع الأضحية المعينة بالنذر وإبدالها، وأما التي لم تتعين بالنذر فيكره أن يستبدل بها ما هو مثلها أو أقل منها.
فإذا اختلطت مع غيرها واشتبهت وكان بعض المختلط أفضل من بعض كره له ترك الأفضل بغير قرعة. (٢)
وقال الشافعية: لا يجوز بيع الأضحية الواجبة ولا إبدالها ولو بخير منها، وإلى هذا ذهب أبو ثور واختاره أبو الخطاب من الحنابلة.
ولكن المنصوص عن أحمد – وهو الراجح عند الحنابلة – أنه يجوز أن يبدل الأضحية التي أوجبها بخير منها، وبه قال عطاء ومجاهد وعكرمة (٣) .
٤٧ – (الأمر الثالث) : – من الأمور التي تكره تحريما عند الحنفية قبل التضحية – بيع ما ولد للشاة المتعينة بالنذر أو بالشراء بالنية، وإنما كره بيعه، لأن أمه تعينت للأضحية، والولد يتبع الأم في الصفات الشرعية كالرق والحرية، فكان يجب الإبقاء عليه حتى يذبح معها. فإذا باعه وجب عليه التصدق بثمنه.
وقال القدوري: يجب ذبح الولد، ولو تصدق به حيا جاز، لأن الحق لم يسر إليه ولكنه متعلق به،

 “Menurut mazhab Maliki: Diharamkan menjual hewan kurban yang telah ditentukan melalui nazar dan menggantinya. Adapun hewan kurban yang belum ditentukan melalui nazar, maka makruh menggantinya dengan yang setara atau yang kurang darinya. Jika hewan tersebut bercampur dengan hewan lain sehingga tidak dapat dibedakan, dan sebagian hewan yang bercampur tersebut lebih baik dari yang lainnya, maka makruh meninggalkan yang lebih baik tanpa undian.

 Menurut mazhab Syafi’i: Tidak diperbolehkan menjual hewan kurban yang wajib ataupun menggantinya, meskipun dengan yang lebih baik. Pendapat ini juga dianut oleh Abu Tsaur dan dipilih oleh Abu al-Khattab dari kalangan Hanbali.

 Namun, pendapat yang masyhur dari Imam Ahmad—dan merupakan pendapat yang kuat dalam mazhab Hanbali—adalah bahwa diperbolehkan mengganti hewan kurban yang telah diwajibkan dengan yang lebih baik. Pendapat ini juga dipegang oleh ‘Atha, Mujahid, dan ‘Ikrimah.

Hal ketiga: Di antara perkara yang makruh tahrim (makruh mendekati haram) menurut mazhab Hanafi sebelum penyembelihan kurban adalah menjual anak hewan dari induk yang telah ditentukan untuk nazar atau yang dibeli dengan niat sebagai kurban. Penjualan anak hewan tersebut dimakruhkan karena induknya telah ditentukan sebagai kurban, dan anaknya mengikuti status induknya dalam hal sifat-sifat syar’i, seperti perbudakan atau kemerdekaan. Oleh karena itu, anak hewan tersebut harus dipertahankan hingga disembelih bersamanya. Jika anak tersebut dijual, maka wajib menyedekahkan harga jualnya.

 Menurut al-Quduri, wajib menyembelih anak hewan tersebut, tetapi jika anak tersebut disedekahkan dalam keadaan hidup, hal itu dibolehkan, karena hak nazar tidak sepenuhnya melekat pada anak tersebut, meskipun hak itu terkait dengannya.”

Referensi:

(الموسوعة الفقهية)

وصرح الشافعية بأن من نذر معينة، وبها عيب مخل بالإجزاء صح نذره، ووجب عليه ذبحها في الوقت، وفاء بما التزمه، ولا يجب عليه بدلها. ومن نذر أضحية في ذمته، ثم عين شاة بها عيب مخل بالإجزاء لم يصح تعيينه إلا إذا كان قد نذرها معيبة، كأن قال: علي أن أضحي بشاة عرجاء بينة العرج. وقال الحنابلة مثل ما قال الشافعية، إلا أنهم أجازوا إبدال المعينة بخير منها، لأن هذا أنفع للفقراء. ودليل وجوب الأضحية بالنذر: أن التضحية قربة لله تعالى من جنسها واجب كهدي التمتع، فتلزم بالنذر كسائر القرب، والوجوب بسبب النذر يستوي فيه الفقير والغني

(Al-Mausu‘ah Al-Fiqhiyyah)

 Mazhab Syafi’i menjelaskan bahwa seseorang yang bernazar untuk menyembelih hewan tertentu, tetapi hewan tersebut memiliki cacat yang menghalangi keabsahan penyembelihan, nazarnya tetap sah. Ia tetap wajib menyembelih hewan tersebut pada waktunya sebagai bentuk pelaksanaan kewajiban yang telah ia tetapkan. Namun, ia tidak diwajibkan untuk menggantinya.

 Jika seseorang bernazar untuk menyembelih hewan kurban secara umum (di dalam tanggungan), lalu ia menentukan seekor hewan tertentu yang memiliki cacat yang menghalangi keabsahan penyembelihan, maka penentuan hewan tersebut tidak sah, kecuali jika ia memang bernazar untuk menyembelih hewan yang cacat, seperti dengan mengatakan: “Saya bernazar untuk berkurban dengan seekor kambing yang pincang secara jelas.”

Mazhab Hanbali memiliki pendapat yang serupa dengan mazhab Syafi’i, tetapi mereka membolehkan mengganti hewan yang telah ditentukan dengan hewan yang lebih baik, karena hal ini lebih bermanfaat bagi para fakir miskin.

Dalil wajibnya kurban karena nazar adalah bahwa berkurban merupakan bentuk mendekatkan diri kepada Allah SWT, dan ibadah semacam ini ada yang bersifat wajib, seperti hady tamattu‘, sehingga berkurban menjadi wajib jika dinazarkan, sebagaimana ibadah-ibadah lainnya. Kewajiban karena nazar ini berlaku baik bagi orang miskin maupun orang kaya.

Referensi:


الياقوت النفيسة ص ٨٢٤

والأضحية كما ذكرنا سنة وتجب بالنذر ويجب التصدق بلحم المنذورة كلها لأنها خرجت بالنذر من ملكه إلى ملك الفقراء


Jika dalam perkataan pemilik hewan, dia bermaksud untuk memberi kabar (ikhbar, insyak), maka hukum hewannya tetap menjadi qurban sunnah, ini berarti hewannya boleh dijual maupun diganti yang lain. Namun jika dalam perkataannya pemilik bermaksud untuk kurban wajib (nadzar, iqror), maka hukum kurbannya juga menjadi wajib, hewan tersebut tidak boleh dijual maupun diganti dengan hewan lain, bila mati maka wajib mengganti.


المجموع شرح المهذب ج ٨ ص ٢٦٩
ـ ( الشرح ) قال أصحابنا : إذا لزم ذمته أضحية بالنذر أو هدي بالنذر أو دم تمتع أو قران ، أو لبس أو غير ذلك مما يوجب شاة في ذمته . فقال : لله علي أن أذبح هذه الشاة عما في ذمتي لزمه ذبحها بعينها لما ذكره المصنف ، ويزول ملكه عنها فلا يجوز له بيعها ولا إبدالها ، هذا هو المذهب ، وبه قطع المصنف والجمهور

 “Al-Majmu’ Syarh al-Muhadzdzab,” jilid 8, halaman 269:

 (Penjelasan) Para ulama mazhab kami (Syafi’iyyah) berkata: Jika dalam tanggungannya terdapat kewajiban menyembelih hewan kurban karena nazar, atau menyembelih hadyu karena nazar, atau menyembelih dam sebagai akibat pelanggaran ibadah seperti tamattu’, qiran, memakai pakaian (saat ihram), atau perkara lain yang mewajibkan menyembelih seekor kambing dalam tanggungannya, kemudian ia berkata, “Karena Allah, aku bernazar untuk menyembelih kambing ini atas apa yang menjadi tanggunganku,” maka ia wajib menyembelih kambing itu secara spesifik sebagaimana disebutkan oleh Imam al-Muzani.

Dengan ucapan tersebut, kepemilikannya atas kambing tersebut hilang, sehingga ia tidak diperbolehkan menjualnya atau menggantinya dengan kambing lain. Inilah pendapat yang menjadi mazhab, sebagaimana yang ditegaskan oleh Imam al-Muzani dan mayoritas ulama.

Berikut adalah dalil hadits tentang larangan mengganti dan menjual hewan yang sudah dinadzakan adalah hadits Nabi Muhammad SAW . riwayat Imam Albaihaqi dari Sayidina Umar, dia berkata;


اتيت رسول الله صلى الله عليه وسلم فقلت يارسول الله اني اوجبت على نفسي بدنة وقد طلبت مني بأكثر من ثمنها فقال انحرها ولا تبعها ولوطلبت بمئة بعير


“Saya mendatangi Rasulullah Saw., lalu saya berkata; ‘Wahai Rasulullah, saya mewajibkan kepada diriku untuk berkurban dengan unta namun unta tersebut mau dibeli dengan harga yang lebih mahal. Kemudian Rasulullah Saw. menjawab; ‘Sembelihlah dan jangan dijual meskipun mau diganti dengan seratus ekor unta.

Selanjudnya Orang yang bernadzar ( Ahmad ) tidak diperbolehkan ( haram) makan daging hewan yang telah ditakyin tersebut.

Referensi: Al-Bajuri Ala Ibuni Qosim.Halaman: 300-301


قوله ولايؤكل ) أى لايجوز له الأكل فإن أكلها شيأ غرمه وقوله المضحى وكذا من تلزمه نفقته وقوله من الأضحية المنذورة أى معينة عما فى الذمة أو حكما كما لوا قال هذه أضحية فهذه واجبة بالجعل لكنها فى حكم المنذورة كما مر فاندفع إعتراض المحشي بقوله لو قال الواجبة لكان أولى والهدى المنذور ودم الجبران كالأضحية المنذورة فلايجوز الأكل من ذلك كذلك العقيقة المنذورة والطبخة المنذورة والتخلص من ذلك أن يضحي بأخرى أو يهدى أخرى أو يطبخ طبخة أخرى زائدة على واجبة فيجوز له الأكل منها لأنها زائدة على الواجبة وله مع الكراهة كما قاله الماوردي شرب اللبن الفاضل عن ولد الأضحية ولو واجبة وله سقيه غيره بلاعوض وله أكل ولدهابعدذبحه وجوبا فى وقت الأضحية إن كان ولد الأضحية الواجبة على المعتمد لأنه من فوائدها كاللبن خلافاللشيخ الإسلام فى قوله بأنه لايجوز له أكله كما لايجوز له الأكل من أمه ويمكن حمله على ماإذا ماتت أمه فيجر لم عليه الأكل منه لقيامه مقامها حينئذ وليس فى ذلك تضحية بحامل فإن الحمل قبل انفصاله لايسمى ولدا فصورة المسألة أنه إنفصل منها قبل التضحية بها على أنه لو نذر التضحية بها وكانت حاملا أو جعلها أضحية كذلك أو طرأ حملها بعد ذلك فيهما لم يضر فإن جاء وقت الأضحية وهى حامل ذبحها أضحية وإن جعلها بعد انفصاله ذبحها وذبح ولدها جوبا ويجوز له أكله بخلاف مالوعين معافى الذمة حاملا فإنه لا يصح وما لو عين حائلا فحملت بعد ذلك ثم جاء وقت التضحية فلايذبحها وهى حامل وله جزء صوفها وبركاته وشعرها أن ضرها بقاؤه للضرورة وإلا فلايجزه إن كانت واجبة لانتفاع المساكين به عند الذبح… إلخ

“Ucapannya ( Mushonnif) ‘dan tidak dimakan’ berarti tidak boleh baginya ( orang yang bernadzar) memakan dagingnya. Jika ia memakan sesuatu darinya, maka ia harus menggantinya. Ucapannya ‘orang yang berkurban’ juga berlaku bagi orang yang nafkahnya menjadi tanggung jawabnya. Ucapannya ‘dari hewan kurban yang dinazarkan’ maksudnya adalah hewan kurban yang telah ditentukan secara spesifik, baik untuk memenuhi kewajiban di tanggungannya atau secara hukum, seperti jika seseorang mengatakan, ‘Hewan ini adalah kurbanku.’ Maka hewan itu menjadi wajib dengan pernyataan tersebut, meskipun hanya dalam status hukum sebagai nazar, sebagaimana dijelaskan sebelumnya. Hal ini menolak keberatan penulis hasyiyah yang mengatakan bahwa jika menggunakan istilah ‘wajib’ akan lebih tepat.

 Hewan sembelihan nazar, dam jabr (tebusan pelanggaran ibadah), memiliki hukum yang sama dengan hewan kurban nazar, sehingga tidak diperbolehkan memakan dagingnya. Begitu pula aqiqah yang dinazarkan dan masakan yang dinazarkan. Untuk menyelesaikan hal ini, seseorang dapat menyembelih hewan lain sebagai tambahan dari yang wajib, atau memasak masakan lain di luar yang dinazarkan. Maka, ia boleh memakan dari tambahan itu karena tidak termasuk dalam yang wajib.

 Ia juga boleh, meskipun makruh sebagaimana dikatakan oleh Imam Mawardi, meminum susu yang berlebih dari kebutuhan anak hewan kurban meskipun hewan itu wajib. Ia juga boleh memberikan susu itu kepada orang lain tanpa imbalan. Ia boleh memakan anak hewan itu setelah disembelih secara wajib pada waktu kurban jika anak itu lahir dari hewan kurban wajib, menurut pendapat yang kuat. Sebab, anak hewan itu dianggap sebagai bagian dari manfaatnya, seperti halnya susu. Pendapat ini berbeda dengan Syaikhul Islam yang mengatakan bahwa ia tidak boleh memakan anaknya sebagaimana tidak boleh memakan induknya. Pendapat ini bisa diterima jika induknya mati, sehingga anaknya menggantikan posisi induknya pada saat itu.

Tidak ada dalam syariat menyembelih hewan yang sedang hamil karena janinnya, karena janin sebelum lahir tidak dianggap sebagai anak. Kasusnya adalah jika janinnya lahir sebelum induknya disembelih. Jika seseorang bernazar menyembelih hewan yang sedang hamil, menjadikannya kurban, atau hewan itu hamil setelah ditentukan untuk kurban, maka hal itu tidak menjadi masalah. Jika tiba waktu kurban sementara induknya hamil, maka hewan itu tetap disembelih sebagai kurban. Namun, jika janinnya lahir sebelum induknya disembelih, maka ia harus menyembelih induknya dan anaknya secara wajib, dan ia boleh memakan anaknya.

 Hal ini berbeda dengan jika seseorang menentukan hewan yang masih di kandungan sebagai kurban; maka hal itu tidak sah. Begitu pula jika seseorang menentukan hewan yang tidak sedang hamil, lalu ia menjadi hamil, dan tiba waktu kurban, maka hewan itu tidak disembelih ketika sedang hamil. Ia boleh memanfaatkan bulunya, susunya, dan rambutnya jika keberadaannya tidak membahayakan hewan tersebut untuk keperluan darurat. Jika tidak darurat, maka tidak boleh memanfaatkannya karena hak fakir miskin atas manfaat hewan itu saat disembelih.”

Penjelasan singkat 
HEWAN QURBAN yang telah dinadzarkan dan sudah ditentukan tidak boleh dijual atau diganti walaupun dalam kondisinya Ahmad merasa eman terhadap anak sapi tersebut, karena bagaimanapun juga anaknya sapi itu wajib disembelih sebagaimana induknya ,karena anak sapi tersebut ikut pada induknya, sedangkan Ahmad sudah terlepas dari hak kepemilikan hewan tersebut disebabkan adanya ucapan nadzarnya.

Wallahu a‘lam bish-shawab.

Kategori
Uncategorized

MEWAKILKAN WALI NIKAH SATU MINGGU SEBELUM PELAKSANAAN

Assalamu alaikum warohmatullahi wabarokatuh.

Deskripsi masalah.

Sebagaimana yang kita maklumi dimasyarakat ketika pelaksanaan akad nikah Wali nikah mewakilkan haknya ( wali nikah ) kepada orang lain ditempat pelaksanaan, namun demikian saya punya kakak dia mau menikahkan anak perempuannya bernama Maimunah dengan seorang laki-laki bernama Farhan, karena kakak saya mengharap barokah dari salah satu gurunya yang bernama Kiyai Ahmad , lalu kakak saya mewakilkan Wali nikah satu minggu sebelum peksanaan akad nikah anaknya kepada gurunya tersebut.

Pertanyaannya

  1. Apakah taukil wali itu ada batas waktu nya, atau terbatas hanya dalam waktu akad saja.
  2. Apakah boleh seorang wali mewakilkan akad nikah anaknya ( mewakilkan wali nikah ) kepada ulama’ , satu minggu sebelum aqad nikah .
  • Wassalamu alaikum wr wb.

Waalaikum salam
Jawaban. No.1

Taukil wali nikah itu ada batas waktu yaitu mulai berlaku sejak pelaksanaan urusan yang diwakilkan dan berakhir setelah selesai apa yang telah dikerjakan.

Jawaban .No.2

Menurut pendapat mayoritas ulama’ fiqìh boleh dan sah mewakilkan sesuatu pada zaman mustaqbal atau waktu yang akan datang sebagaimana deskripsi wali nikah mewakilkan satu minggu sebelum pelaksanaan akad nikah, namun demikian wakil tersebut berlaku sejak waktu pelaksanaan urusan yang diwakilkan dan berakhir waktu menjadi wakil setelah selesai apa yang telah dikerjakan. Dengan kata lain wakil tidak boleh melaksanakan hal sesuatu yang diwakilkan sebelum waktu yang ditentukan dan juga tidak boleh melakukan diluar waktu yang ditentukan, melainkan wakil harus melaksanakan tugasnya sesuai waktu yang telah diizinkan oleh muwakkil , karena wakil ada batas waktunya.

Wallahu A’lam bisshowab.

الموسوعة الفقهية – ٥٨٦/٣١٩٤٩


أضاف عقد الوكالة إلى زمن مستقبل، وقد صرح جمهور الفقهاء بصحة ذلك (١) .
ومثال الثاني: ما جاء في السلم، من إضافة العين المسلم فيها إلى زمن معلوم لقوله صلى الله عليه وسلم: من أسلف في شيء فليسلف في كيل معلوم أو وزن معلوم إلى أجل معلوم(٢)

وَمِثَال الثَّالِثِ: مَا إِذَا بَاعَ بِثَمَنٍ مُؤَجَّلٍ فَإِنَّهُ يَصِحُّ؛ لِقَوْلِهِ تَعَالَى: {يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا تَدَايَنْتُمْ بِدَيْنٍ إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى فَاكْتُبُوهُ} . (٣))

*التَّوْقِيتِ* :
– وَهِيَ الْمُدَّةُ الْمُسْتَقْبَلَةُ الَّتِي يَسْتَمِرُّ فِيهَا تَنْفِيذُ الاِلْتِزَامِ حَتَّى انْقِضَائِهَا، وَذَلِكَ كَمَا فِي الْعُقُودِ الْمُؤَقَّتَةِ، كَمَا فِي الإِْجَارَةِ، فَإِنَّهَا لاَ تَصِحُّ إِلاَّ عَلَى مُدَّةٍ مَعْلُومَةٍ، أَوْ عَلَى عَمَلٍ مُعَيَّنٍ يَتِمُّ فِي زَمَنٍ، وَبِانْتِهَائِهَا يَنْتَهِي عَقْدُ الإِْجَارَةِ (4) وَمُدَّةُ عَقْدِ الإِْجَارَةِ تُعْتَبَرُ أَجَلاً. مِصْدَاقَ ذَلِكَ قَوْله تَعَالَى {قَال إِنِّي أُرِيدُ أَنْ أُنْكِحَكَ إِحْدَى ابْنَتَيَّ هَاتَيْنِ عَلَى أَنْ تَأْجُرَنِي ثَمَانِيَ حِجَجٍ فَإِنْ أَتْمَمْتَ عَشْرًا فَمِنْ عِنْدِكَ وَمَا أُرِيدُ أَنْ أَشُقَّ عَلَيْكَ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّالِحِينَ قَال ذَلِكَ بَيْنِي وَبَيْنَكَ أَيُّمَا الأَْجَلَيْنِ قَضَيْتُ فَلاَ عُدْوَانَ عَلَيَّ وَاللَّهُ عَلَى مَا نَقُول وَكِيلٌ} كَمَا أَنَّ اللُّغَةَ الْعَرَبِيَّةَ تَجْعَل ” التَّأْجِيل تَحْدِيدَ الْوَقْتِ ” ” وَالتَّوْقِيتَ تَحْدِيدَ الأَْوْقَاتِ، يُقَال: وَقَّتَهُ لِيَوْمِ كَذَا تَوْقِيتًا مِثْل أَجَّل “. (١)

الموسوعة الفقهية – ١٤٥٦٦/٣١٩٤٩

زيادة الوكيل عما حدده له الموكل:
– الوكيل لا يملك من التصرف إلا ما يقتضيه إذن موكله من جهة النطق أو جهة العرف؛ لأن تصرفه بالإذن فاختص بما أذن فيه، وهو مأمور بالاحتياط والغبطة، فلو وكله في التصرف في زمن مقيد لم يملك التصرف قبله ولا بعده؛ لأنه لم يتناوله إذنه مطلقا، ولا عرفا؛ لأنه قد يؤثر التصرف في زمن الحاجة إليه دون غيره (١) .
وتفصيل ذلك يذكره الفقهاء في الوكالة.

Referensi:


(مغني المحتاج)
(وَيُشْتَرَطُ) فِي الصِّيغَةِ (مِنْ الْمُوَكِّلِ لَفْظٌ) وَلَوْ كِنَايَةٌ (يَقْتَضِ رِضَاهُ) وَفِي مَعْنَاهَا مَا مَرَّ فِي الضَّمَانِ (كَوَكَّلْتُكَ فِي كَذَا أَوْ فَوَّضْته إلَيْك أَوْ أَنْتَ وَكِيلِي فِيهِ) أَوْ أَقَمْتُك مَقَامِي، أَوْ أَنَبْتُك، كَمَا يُشْتَرَطُ الْإِيجَابُ فِي سَائِرِ الْعُقُودِ؛ لِأَنَّ الشَّخْصَ مَمْنُوعٌ مِنْ التَّصَرُّفِ فِي مَالِ غَيْرِهِ إلَّا بِرِضَاهُ (فَلَوْ قَالَ: بِعْ أَوْ أَعْتِقْ حَصَلَ الْإِذْنُ) ؛ لِأَنَّهُ أَبْلَغُ مِمَّا سَبَقَ، وَإِنْ كَانَ كَمَا قَالَ الرَّافِعِيُّ لَا يُسَمَّى إيجَابًا وَإِنَّمَا هُوَ قَائِمٌ مَقَامَهُ، وَإِلَيْهِ يُشِيرُ قَوْلُ الْمُصَنِّفِ: حَصَلَ الْإِذْنُ (وَلَا يُشْتَرَطُ الْقَبُولُ) مِنْ الْوَكِيلِ (لَفْظًا) ؛ لِأَنَّ التَّوْكِيلَ إبَاحَةٌ وَرَفْعُ حَجْرٍ فَأَشْبَهَ إبَاحَةَ الطَّعَامِ، وَعَلَى هَذَا لَا يُشْتَرَطُ فِي صِحَّةِ الْوَكَالَةِ عِلْمُ الْوَكِيلِ بِهَا، فَلَوْ تَصَرَّفَ قَبْلِ عِلْمِهِ فَكَبَيْعِ مَالِ مُوَرِّثِهِ ظَانًّا حَيَاتَهُ فَبَانَ مَيِّتًا (وَقِيلَ يُشْتَرَطُ) فِيهِ كَغَيْرِهِ (وَقِيلَ يُشْتَرَطُ فِي صِيَغِ الْعُقُودِ كَوَكَّلْتُكَ، دُونَ صِيَغِ الْأَمْرِ كَبِعْ وَأَعْتِقْ) إلْحَاقًا لِصِيَغِ الْعَقْدِ بِالْعُقُودِ وَالْأَمْرِ بِالْإِبَاحَةِ.
تَنْبِيهٌ قَدْ يُشْتَرَطُ عَلَى الْأَوَّلِ الْقَبُولُ لَفْظًا فِيمَا لَوْ كَانَ لِإِنْسَانٍ عَيْنٌ مُعَارَةٌ أَوْ مُسْتَأْجَرَةٌ أَوْ مَغْصُوبَةٌ فَوَهَبَهَا لِآخَرَ فَقَبِلَهَا، وَأَذِنَ لَهُ فِي قَبْضِهَا، ثُمَّ إنَّ الْمَوْهُوبَ لَهُ وَكَّلَ فِي قَبْضِهَا الْمُسْتَعِيرَ أَوْ الْمُسْتَأْجِرَ أَوْ الْغَاصِبَ اُشْتُرِطَ قَبُولُهُ لَفْظًا، وَلَا يَكْفِي الْفِعْلُ، وَهُوَ الْإِمْسَاكُ؛ لِأَنَّهُ اسْتِدَامَةٌ لِمَا سَبَقَ، فَلَا دَلَالَةَ فِيهِ عَلَى الرِّضَا بِقَبْضِهِ عَنْ الْغَيْرِ، وَاحْتَرَزَ بِقَوْلِهِ لَفْظًا عَنْ الْقَبُولِ مَعْنًى فَإِنَّهُ إنْ كَانَ بِمَعْنَى الرِّضَا فَلَا يُشْتَرَطُ أَيْضًا عَلَى الصَّحِيحِ لِأَنَّهُ لَوْ أَكْرَهَهُ عَلَى بَيْعِ مَالِهِ، أَوْ طَلَاقِ زَوْجَتِهِ أَوْ نَحْوِ ذَلِكَ صَحَّ كَمَا قَالَهُ الرَّافِعِيُّ فِي الطَّلَاقِ، أَوْ بِمَعْنَى عَدَمِ الرَّدِّ فَيُشْتَرَطُ جَزْمًا، فَلَوْ قَالَ: لَا أَقْبَلُ أَوْ لَا أَفْعَلُ بَطَلَتْ، فَإِنْ نَدِمَ بَعْدَ ذَلِكَ جُدِّدَتْ لَهُ، وَمَرَّ أَنَّ الْمَفْهُومَ إذَا كَانَ فِيهِ تَفْصِيلٌ لَا يُرَدُّ، وَتَكْفِي الْكِتَابَةُ وَالرِّسَالَةُ فِي الْوَكَالَةِ.

Kategori
Uncategorized

LOMBA BALAPAN BURUNG MERPATI

HUKUM LOMBA BALAPAN BURUNG MERPATI DI GILIGENTING

Assalamualaikum Warohmatullahi Wabarakatuh.

Saya Mahfudh dari Giligenting, sebelumnya mohon maaf kepada para Kiyai dan para Asatidz saya mau bertanya .

Deskripsi Masalah
Pada masa setahun terakhir ini sangat marak dan berkembang kegiatan lomba balapan burung merpati di masyarakat khususnya di Giligenting. Tidak sedikit warga masyarakat berlomba-lomba untuk memelihara dan membeli burung merpati tersebut dengan harga yang sangat mahal dan fantastik demi untuk mengikuti lomba tersebut. Konon seekor burung merpati ada yang mencapai harga 15 juta sampai dengan 25 juta. Bagaimana tidak tertarik, hadiah yang ditawarkan oleh panitia pada setiap kegiatan lomba juga sangat menggiurkan. Sehingga peserta lomba balapan burung tidak hanya berasal dari masyarakat Giligenting saja tapi juga dari orang luar Giligenting.
Adapun teknis pelaksanaan lomba balapan burung merpati, infomasi yang disampaikan warga sebagai berikut: Setiap peserta yang mendaftar menyerahkan uang 100 ribu (sekedar contoh) sebagai uang pendaftaran. Hasil uang pendaftatan tersebut sebagai sumber hadiah untuk para pemenang lomba balapan burung, bisa berupa uang atau barang tergantung kesepakatan antara peserta dan panitia. Kriteria penilaian lomba balapan burung berdasarkan kecepatan burung terbang mencapai garis finish yang ditentukan.
Ada pula model lain dalam istilah mereka “LEK-LEKAN” di mana para peserta lomba mendaftar dengan bentuk barang sebagai hadiahnya seperti Kulkas, beras, binatang ternak dan sebagainya. Dengan demikian kegiatan lomba tersebut di satu sisi sangat menguntungkan bagi para pemenang/juara, dan sangat merugikan bagi para peserta lainnya.
Berdasarkan deskripsi masalah di atas, ada beberapa masalah yang bisa dirumuskan:
Apa hukumnya kegiatan balapan burung merpati menurut hukum Islam?
Apa hukumnya model/bentuk lomba balapan burung merpati menurut hukum Islam sebagaimana deskripsi masalah di atas?
Apakah model/bentuk praktik lomba balapan burung merpati tersebut termasuk kategori maisir (perjudian) atau bukan?

Wa’alaikumsalam.

Jawaban dari tiga pertanyaan kami satukan.
Adapun lomba sebagaimana deskripsi adalah kegiatan lomba balapan burung merpati hukumnya haram, karena adanya unsur penyiksaan dan termasuk bagian dari judi yang diharamkan ,dimana pada satu sisi menguntungkan sedangkan disisi lain merugikan.
Adapun lomba yang diperbolehkan adalah lomba yang tidak ada unsur penyiksaan dan tidak ada uang taruhan dan tidak dipungut biaya pendaftaran (‘iwadh) namum hukum kebolehannya makruh.

(فرع)

اتخاذ الحمام للبيض أو الفرخ أو الانس أو حمل الكتب أي على أجنحتها مباح ويكره اللعب به بالتطيير والمسابقة ولا ترد به الشهادة روض مع شرح

“Memelihara merpati untuk diambil telurnya atau anaknya atau untuk kesenangan saja atau sebagai kurir pembawa surat hukumnya mubah, dan dimakruhkan bermain-main dengannya dengan menerbang-nerbangkannya atau dengan diadu, dan tidak tertolak karenanya persaksian”. [ Asnaa al-Mathaalib IV/344 ].

فلا يجوز المسابقة علي غيرها كبقر وطير وكلاب ونحوها بعوض فتحرم مع العوض وتجوز بغير عوض

“Maka tidak diperkenankan mengadu hewan pada selainnya seperti sapi, burung, anjing dan sejenisnya, bila dengan uang aduan maka haram, bila tanpa uang aduan maka boleh”. [ Al-Baajuuri II/307 ].

Berikut Larangan mengadu hewan ini tampak pada hadits riwayat HR Abu Dawud dan At-Tirmidzi dari Sahabat Ibnu Abbas RA. Imam Bukhari dalam Kitab Adabul Mufrad juga meriwayatkan hadits serupa

. عن ابن عباس قال نَهَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنِ التَّحْرِيشِ بَيْنَ الْبَهَائِم

Artinya, “Dari sahabat Ibnu Abbas, ia berkata, Rasulullah SAW melarang  (kita) mengadu binatang,” (HR Abu Dawud dan At-Tirmidzi). Lalu bagaimana hukum mengadu hewan-hewan itu? Dari keterangan hadits tersebut, ulama Mazhab Syafi’i menyatakan keharaman tindakan mengadu domba hewan-hewan apa pun jenisnya karena tindakan tersebut diduga keras dapat menyakiti hewan aduan.

. قَالَ الْحَلِيمِيُّ وَيَحْرُمُ التَّحْرِيشُ بَيْنَ الْكِلَابِ وَالدُّيُوكِ لِمَا فِيهِ مِنْ إيلَامِ الْحَيَوَانِ بِلَا فَائِدَةٍ وَقَالَ ابْنُ سُرَاقَةَ فِي أَدَبِ الشُّهُودِ وَيَحْرُمُ تَرْقِيصُ الْقُرُودِ لِأَنَّ فِيهِ تَعْذِيبًا لَهُمْ وَفِي مَعْنَاهُ الْهِرَاشُ بَيْنَ الدِّيكَيْنِ وَالنِّطَاحُ بَيْنَ الْكَبْشَيْنِ

Artinya, “Al-Halimi mengatakan bahwa hukum mengadu anjing dan (menyabung) ayam haram karena menyakiti hewan tanpa manfaat. Ibnu Suraqah dalam Kitab Adabus Syuhud menyatakan, hukum memaksa kera menari haram karena di dalamnya mengandung unsur penyiksaan. Serupa dengan pengertian ‘memaksa menari’ adalah menyabung dua ekor ayam dan mengadu dua ekor kambing,” (Lihat Ibnul Muqri, Raudhatut Thalib, [Beirut, Darul Fikr: tanpa tahun], juz XXII, halaman 415).

Referensi unsur penyiksaan bisa dilihat juga dalam Syarah sullamuttaufiq

مرقاد صعود التصديق فى شرح سلم التوفيق. فى فصل معاصى اليدين

( والمثلة)

بضم الميم وسكون الثاء أو بفتح الميم وضم الثاء أى التعذيب بالحيوان كقطع أذنه .لما روى عن علي كرم الله وجهه أنه قال سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول إياكم والمثلة ولو بالكلب العقار.

وفى الصحيحين أنه صلى الله عليه وسلم قال عذبت إمرأة فى هرة حبستها حتى ماتت فدخلت فيها النار فلاهى أطعمتها وقتها لاهي تركتها تأكل من حشاس الأرض والحشاش الحشرات

Wallaahu A’lamu Bis Showaab.

Kategori
Uncategorized

SHOLAT JUM’AT DIGANTI DENGAN SHOLAT DZUHUR

Assalamualaikum wr wb

Deskripsi masalah .

Sudah lumrah disebagian masyarakat Jawa timur khususnya didaerah madura bekerja jualan sembako di Jakarta , Banten ada juga sebagian disurabaya dll menjaga Toko milik orang lain sedangkan yang menjaga dua orang secara Bergiliran maklum karena tokonya tidak tutup hal itu hawatir jika tidak dijaga kehilangan sehingga jika bertepatan pada hari jum’at harus giliran ( melaksanakan shalat jum’at).

Studi kasus yang serupa

Seorang petugas parkir ketika hari jum’at dia tidak bisa melakukan shalat jum’at dikarenakan menjaga kendaraan jamah sholat jum’at, yang kondisinya kebetulan sedang rawan terjadi pencurian,

Pertanyaan :
Bagaimana hukum seorang penjaga toko atau petugas parkir mengganti sholat jum’at dengan sholat dzuhur karena untuk tujuan menjaga keamanan dan keselamatan harta sebagaimana deskripsi?
Wassalamu’alaikum wr wb.

Jawaban :

Penjaga toko yang hawatir atas harta yang dititipkan oleh BOS atau pemilik Warung/toko begitu juga Satpam yang bekerja untuk menjaga sebuah masjid, kantor atau perusahaan tertentu tidak wajib baginya melaksanakan shalat Jumat apabila ia tidak memiliki kesempatan untuk menjalankan Jumat.Namun jika dua orang yang memungkinkan bergiliran maka boleh bagi yang tidak jum’at diganti dengan sholat dhuhur sebagian melakukan shalat Jum’at
Hal ini karena mempertimbangkan bahwa menjaga nyawa dan harta orang-orang yang dilindungi nyawanya merupakan kewajiban yang harus diprioritaskan.


Al-Imam al-Nawawi menegaskan:
ومنها أن يخاف على نفسه أو ماله أو على من يلزمه الذب عنه من سلطان أو غيره ممن يظلمه “

Di antara uzur-uzur (Jumat dan shalat jamaah) adalah adanya kekhawatiran atas nyawa atau harta, baik bagi dirinya sendiri atau pihak-pihak yang wajib dilindungi nyawanya baik dari pemerintah atau lainnya, dari orang zalim.”
(al-Imam al-Nawawi, Raudlatut Thalibin, juz.1, halaman 345)


Dalam perspektif mazhab Hanbali ditegaskan, termasuk uzur Jumat adalah kekhawatiran adanya kerugian dalam pekerjaan yang dibutuhkan untuk menghidupi keluarga atau dirampasnya harta yang ia disewa untuk menjaganya. Syekh Abu al-Hasan Ali bin Sulaiman al-Mardawi mengatakan:


ومما يعذر به في ترك الجمعة والجماعة خوف الضرر في معيشة يحتاجها أو مال استؤجر على حفظه


“Termasuk uzur dalam meninggalkan Jumat dan jamaah shalat adalah kekhawatiran kerugian dalam pekerjaan yang ia butuhkan, atau harta yang ia disewa untuk menjaganya.”

(Syekh Abu al-Hasan Ali bin Sulaiman al-Mardawi, al-Inshaf, juz 2, halaman 212).

Kategori
Uncategorized

Q.009.HEWAN QURBAN/AQIQOH MELAHIRKAN ANAK TANPA DISANGKA

Assalamualaikum
Deskripsi masalah.
Sebelunya saya mohon maaf para Kiyai Saya Nour Shorin saya bernadzar ingin berqurban dan beraqiqoh dan Jauh sebelum pelaksanaan saya telah mempersiapkan hewan dan kambing tersebut namun tanpa disangka-sangka hewan tersebut melahirkan anak.

Pertanyaannya.
1-Apakah anak dari hewan qurban tersebut wajib disembelih mengingatkan yang menjadi hewan nadzar adalah induknya.
2- Bagaimana hukumnya Mudhahhiy ( orang yang berqurban) memakan daging anak sapi/kambing tersebut..? Mohon jawabannya karena ini betul-betul terjadi..

Walaikum salam.
Jawaban dari dua pertanyaan kami satukan.
Pada dasarnya hukumnya” Mudhohhiy” memakan daging qurban yang telah dinadzarkan dan sudah ditentukan tidak boleh dimakan (hukumnya haram), karena sudah ditakyin dan sudah menjadi qurban wajib, tetapi jika hewan tersebut melahirkan anak dalam konteks hewan tersebut tidak diketahui kehamilanya kemudian hewan tersebut hamil tanpa disangka ( Maklum susunya tidak kelihatan besar/Kampor maling: red , lalu hewan tersebut melahirkan anak dan terlepas dari induknya , maka hukumnya wajib disembelih. Alasannya karena termasuk dari tambahan kewajiban, namun demikian boleh mudho’hhiy memakan daging anak tersebut, berbeda dengan hewan yang ditentukan dalam kondisi diketahui kehamilannya ( ketika bernadzar ) maka dalam hal ini, hukumnya tidak boleh ( haram) dimakan.

Referensi Al-Bajuri Ala Ibuni Qosim.Halaman: 300-301

قوله ولايؤكل ) أى لايجوز له الأكل فإن أكلها شيأ غرمه وقوله المضحى وكذا من تلزمه نفقته وقوله من الأضحية المنذورة أى معينة عما فى الذمة أو حكما كما لوا قال هذه أضحية فهذه واجبة بالجعل لكنها فى حكم المنذورة كما مر فاندفع إعتراض المحشي بقوله لو قال الواجبة لكان أولى والهدى المنذور ودم الجبران كالأضحية المنذورة فلايجوز الأكل من ذلك كذلك العقيقة المنذورة والطبخة المنذورة والتخلص من ذلك أن يضحي بأخرى أو يهدى أخرى أو يطبخ طبخة أخرى زائدة على واجبة فيجوز له الأكل منها لأنها زائدة على الواجبة وله مع الكراهة كما قاله الماوردي شرب اللبن الفاضل عن ولد الأضحية ولو واجبة وله سقيه غيره بلاعوض وله أكل ولدهابعدذبحه وجوبا فى وقت الأضحية إن كان ولد الأضحية الواجبة على المعتمد لأنه من فوائدها كاللبن خلافاللشيخ الإسلام فى قوله بأنه لايجوز له أكله كما لايجوز له الأكل من أمه ويمكن حمله على ماإذا ماتت أمه فيجر لم عليه الأكل منه لقيامه مقامها حينئذ وليس فى ذلك تضحية بحامل فإن الحمل قبل انفصاله لايسمى ولدا فصورة المسألة أنه إنفصل منها قبل التضحية بها على أنه لو نذر التضحية بها وكانت حاملا أو جعلها أضحية كذلك أو طرأ حملها بعد ذلك فيهما لم يضر فإن جاء وقت الأضحية وهى حامل ذبحها أضحية وإن جعلها بعد انفصاله ذبحها وذبح ولدها جوبا ويجوز له أكله بخلاف مالوعين معافى الذمة حاملا فإنه لا يصح وما لو عين حائلا فحملت بعد ذلك ثم جاء وقت الأضحية فلايذبحها وهي حامل …….إلخ

Kesimpulan Dari ibarah dan pemaparan diatas, bahwa boleh memakan daging anak qurban yang tidak diketahui kehamilan induknya ketika bernadzar atau mentakyin, berbeda dengan kurban yang diketahui atas kehamilan sebelumnya, karena hal itu termasuk dari bagian faedah qurban sebagaimana keboleh meminum susu yang lebih dari anak hewan qurban walaupun adanya hewan qurban itu masuk dalam kategori qurban wajib .
Wallahu A’lam bisshowab.

Kategori
Uncategorized

PARFOM BERALKOHOL

PARFUM BERALKOHOL

Diskripsi masalah:

Mengetahui kakak kelas Udin memakai parfum beralkohol sebelum shalat, si Udin kemudian berkata pada Sibro, kakak kelasnya.
“Mas, ini kan minyak beralkohol. Bukannya alkohol najis?”

Pertanyaan:
Bolehkah memakai parfum beralkohol untuk sholat?

Jawaban:
Boleh, karena di-ma’fu(di maafkan). Namun, lebih baik tidak memakai parfum beralkohol , dan memakai parfum yang tanpa alkohol.

Referensi:

شرح الياقوت النفيس صـ: ۱۰۰ طبعة دار المنهاج

حُكْمُ الْآدَوِيَّةِ وَالأعْطَارِ الْإِفْرَنجَيَّةِ وَأَمَّا حُكْمُ الخَمْرِ وَالْآدَوِيَّةِ وَالْأَعْطَارِ الْإِفْرَنجِيَّةِ الَّتِي تَحْتَوِي عَلَى الْكُحُوْلِ وَالْكُحُولُ رُوْحُ الْخَمْرِ فَبَعْضُ الْعُلَمَاءِ قَالُوْا بِنَجَاسَةِ الخَمْرِ وَقَالَ آخَرُوْنَ بِطَهَارَتِهَا وَأَظُنُّ مِنْهُمُ الحَسَنُ وَغَيْرُهُ ، وَإِنَّمَا ذَكَرَ الله مِثْلَ مَا ذَكَرَ الْأَنْصَابُ وَالْأَزْلَامُ ، فَالْخَمْرُ نَجَسَةٌ لُغَةٌ وَمَعْنَى ، وَالْإِمَامُ النَّوَاوِيُّ فِي الْمَجْمُوعِ عَلَى اسْتِدْلَالِ الشَّافِعِيَّةِ بِالآيَةِ. وبِنَاءً عَلَى مَا ذَكَرْنَا تَكُونُ هَذِهِ الْأَدَوِيَّةُ (الكولونيا) وَمَا أَشْبَهَ ذَلِكَ إِذَا تَحَقَّقْنَا وُجُوْدَ كُحُوْلٍ لَازِمٍ لَهَا يُعْفَى عَنْهَا إِذَا عَمَّتِ الْبَلْوَى وَلِلضَّرُورَةِ ، وَمَعَ هَذَا يَنْبَغِي لِلْمُسْلِمِ أَنْ يَتَجَنَّبَهَا مَا اسْتَطَاعَ (۱)
(1) قَالَ السَّيِّدُ عَبْدُ الْقَادِرِ بنْ سَالِمِ السَّقَافُ (الرَوْشُ) الإِجْمَاعُ الْفِعْليُّ اَحْسَنُ مِنَ الْإِجْمَاعِ الْقَوْلِيَ ، فَالنَّاسُ أَكْثَرُهُمْ يَسْتَعْمِلُوْنَ هَذِهِ الْأَعْطَارَ وَمُجْمِعُوْنَ عَلَى طَهَارِتِهَا ، قَالَ أُسْتَاذُنَا مُحَمَّدٌ بنْ أَحْمَدَ الشَّاطِرِيُّ وَهَلْ هَؤُلَاءِ عُلَمَاءُ قَالَ الرَوْشُ حَضَرَنَا مجْلِسَ عِلْمٍ وَرَشَّوْهُمْ بِهَذِهِ الْأَعْطَارِ وَلَا أَحَدٌ امْتَنَعَ مِنْهُ ، قَالَ الْأُسْتَاذُ الشَّاطِرِيُّ لَا بَأْسَ لَكِنَّ عُلَمَاءَ آخَرُونَ يَقُولُونَ بِنَجَاسِتِهِ ، وَأَنَا لَسْتُ مُشَدّدًا بَلْ هُوَ رَأْيُ بَعْضِ الْإِخْوَانِ بَلْ وَمِنَ الحاضِرِينَ ، وَمَنْ أَرَادَ أَنْ يَأْءخُذَ بِالْأَحوَطِ فَهُوَ الْأَحْسَنُ ، وَعَلَى كُل فَالتَّيْسِيرُ مَظْلُوبٌ وَلِلسَّيِّدِ الْغُرْبَانِي فَتَوَى مَوْجُوْدَةً يَقُوْلُ فِيْهَا بِطَهَارَتِهَا. اهـ

Kategori
Uncategorized

HUKUM BERJABATAN TANGAN SESAMA MUSLIM (LAIN JENIS DAN BUKAN MAHROMNYA)

HUKUM BERJABAT TANGAN(MENYENTUH) SESAMA MUSLIM DAN BUKAN MAHROMNYA.

Deskripsi masalah.

Sebelumnnya perkenalkan nama saya Abd.Hamid asli madura Palakpak , namun sekarang saya menetap di Aceh.

Sebagaimana yang kita maklumi, manakala lebaran tiba, baik hari raya Idul Fitri atau Idul Adha kerap dimasyarakat saling silaturrahim dan saling bersalaman (berjabatan tangan ) kepada sanak famili, kerabat yang dekat maupun yang jauh dan kepada teman-teman antara yang satu dengan yang lainnya, bahkan hal berjabatan tangan terkadang terjadi bukan hanya dihari raya, melaikan karena baru datang dari safar, dan lain sebagainya, namun anehnya terkadang diantara mereka berjabatan tangan lain jenis Muslim dan muslimah yang bukan mahramnya .

PERTANYAAN :
Assalamualaikum.
Bagaimana hukumnya laki-laki islam berjabat tangan(menyentuh) kepada perempuan islam yang bukan mahramnya?

JAWABAN :
Wa’alaikumussalaam. Hukum berjabat tangan non mahrom diperinci :

1️⃣Hukum berjabat tangan antar lawan jenis secara langsung adalah haram, kecuali bagi anak kecil atau yang sudah lanjut usia yang tidak berpotensi menimbulkan efek negatif (syahwat dan fitnah).Fitnah adalah zina dan pendahuluan zina.

2️⃣Hukum berjabat tangan antar lawan jenis non-mahram dengan menggunakan kaos tangan dan penutup sejenisnya, berhukum jawaz(boleh) asalkan tidak berpotensi menimbulkan syahwat dan fitnah.
Tambahan hukum berjabat tangan dengan orang tua. Hukum berjabat tangan baik antara perempuan muda dengan laki-laki tua, laki-laki muda dengan perempuan tua, perempuan tua dengan laki-laki tua haram menurut syafi’iyah dan malikiyah. Boleh menurut hanafiyah dan hanabilah (Mausu’ah Fiqhiyyah 37/359).
Sebagaimana dimaklumi persentuhan ini menurut versi yang membolehkan hanya jika tidak disertai syahwat. Seandainya kita hendak beralih madzhab dengan memilih halal berjabat tangan dengan orang tua maka tentunya harus mengetahui detail persoalan dalam perspektif madzhab tersebut. Ambillah contoh madzhab hanafi. ‘Ajuuz dalam hanafiyah diistilahkan dengan “kabir ma’mun minasy syahwat” alias orang tua yang terjaga dari disyahwati (Ibnu Najim al-Hanafi dalam Bahr al-Ra-iq 8/219). Berkata Ibnu ‘Abidin, yang dikehendaki syahwat dalam permasalahan melihat dan menyentuh adalah:

🅰️Bagi laki-laki : condongnya hati dimana terkadang organ vitalnya ikut bereaksi. Menurut qaul lain (dan inilah yang mu’tamad) cukup dengan condongnya hati tanpa embel-embel ikut bereaksinya organ vital pria. Lalu oleh Abdul Ghani dijelaskan: maksud dari tanpa ada syahwat seperti halnya kita memandang ajnabi/ajnabiyah seolah sama saja dengan memandang putra-putri kandung kita.

🅱️Bagi wanita : tergeraknya hati dalam artian ada gelagat menikmati jabat tangan itu. (Hasyiyah Ibnu ‘Abidin 1/407 & 3/33).
Kesimpulannya : masih diperbolehkan berjabat tangan dengan orang tua dengan mengikuti madzhab hanafi / hanbali. dengan memandang kriteria syahwat yang ketat di atas tentunya yang dimaksud orang tua di sini adalah kakek/nenek tua renta. Bukan bapak-bapak separuh baya.
Bersalaman dengan anak kecil hukumnya boleh menurut hanafiyah, hanabilah, syafi’iyah dalam qaul ashah, dan malikiyah dengan definisi tersendiri tentang ‘anak kecil’. Sebagaimana dimaklumi kebolehan ini terlaku jika tidak disertai syahwat. (al-Mausu’ah al-Fiqhiyyah 37/360-361, Bujairumi ‘ala Khatib 4/119-120).
Boleh melihat /menyentuh lain jenis karena ada hajat, dengan syarat harus ada mahrom yang menemani, tidak ada dokter yang sejenis dll, sebagaimana keterangan :

العزيز على شرح الوجيز الجزء السابع ص :٤٧٢
ومنها: انه يجوز النظر والمس للفصد والحجامة والمعالجة لعلة وليكن ذلك بحضور المحرم ويشترط فى جواز نظر الرجل الى المرأة أ لا يكون هناك امرأة تعالج وفى جواز نظر المرأة الى الرجل ألا يكون هناك رجل يعالجه كذلك ذكره ابو عبد الله الزبيري والقاضى الروياني ايضا وعن ابن القاص خلافه ثم اصل الحاجة كاف فى النظر الى الوجه واليدين ولذلك جاز النظر بسبب الرغبة فى النكاح وفى النظر الى سائر الأعضاء يعتبر التأكد وضبطه الإمام فقال مايجاوز الإنتقال بسببه من الماء الى التراب وفاقا او خلافا كشدة الضنى وما فى معنها يجوز النظر بسببه وفى النظر الى السوءتين يعتبر مزيد تأكد قال فى الوسيط :وذلك بأن تكون الحاجة بحيث لايعد التكشف بسببها هتكا للمروءة ويعذر فى العادات والى هذاالترتيب اشار فى تاكتاب بقوله: وليمن الظر الى السوءتين لحاجة مؤكدة.


الشروانى الجزء التاسع ص : ٣٩-٤١
ويباحان أي النظر المس لفصد وحجامة وعلاج للحاجة لكن بحضرة مانع خلوة كمحرم أو زوج أو إمرأة ثقة لحل خلوة رجل بامرأة ثقة لحل خلوة رجل بامرأتين ثقتين يحتشمها، إلى ان قال وبشرط عدم امرأة تحسن ذلك كعكسه وأن لا يكون غير أمين مع وجود أمين ولا ذميا مع وجود مسلم أو ذمية مع وجود مسلمة وبحث البلقينى إنه يقدم فى المرأة مسلمة فصبى مسلم غير مراهق فمراهق فكافر غير مراهق فمراهق فامرأة كافرة فمحرم مسلم فمحرم كافر فأجنبي مسلم فكافر اهـ ووافقه الأذرعى على تقديم الكافر على المسلم وفى تقديم المحرم نظر
والذى يتجه تقديم نحو محرم مطلقا على كافرة لنظره ما لا تنظر هى وممسوح على مراهق وأمهر ولومن غير الجنس والدين على غيره ووجود من لا يرضى إلا بأكثر من أجرة المثل كالعدم فيما يظهر ،بل لو وجد كافر يرضى بدونها ومسلم لا يرضى إلا بها احتمل ان المسلم كالعادم أيضا.


Semua madzhab mengharamkan jabat tangan pria-wanita non mahrom, berikut ta`birnya :
1). Madzhab Hanafiyah


تحفة الفقهاء لِعلاء الدين السمرقندي – (ج ٣ / ص ٣٣٣)
وأما المس فيحرم سواء عن شهوة أو عن غير شهوة وهذا إذا كانت شابة فإن كانت عجوزا فلا بأس بالمصافحة إن كان غالب رأيه أنه لا يشتهي ولا تحل المصافحة إن كانت تشتهي وإن كان الرجل لا يشتهي


2). Madzhab Malikiyah


حاشية الصاوي على الشرح الصغير – (ج ١١ / ص ٢٧٩)
وَلَا تَجُوزُ مُصَافَحَةُ الرَّجُلِ الْمَرْأَةَ أَيْ الْأَجْنَبِيَّةَ وَإِنَّمَا الْمُسْتَحْسَنُ الْمُصَافَحَةُ بَيْنَ الْمَرْأَتَيْنِ لَا بَيْنَ رَجُلٍ وَامْرَأَةٍ أَجْنَبِيَّةٍ، وَالدَّلِيلُ عَلَى حُسْنِ الْمُصَافَحَةِ مَا تَقَدَّمَ وَقَوْلُهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِمَنْ قَالَ لَهُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ الرَّجُلُ مِنَّا يَلْقَى أَخَاهُ أَوْ صَدِيقَهُ أَيَنْحَنِي لَهُ قَالَ : لَا


3). Madzhab Syafi’iyyah


حاشية البجيرمي على الخطيب – (ج ١٠ / ص ١١٣)
وَتُسَنُّ مُصَافَحَةُ أَيْ عِنْدَ اتِّحَادِ الْجِنْسِ، فَإِنْ اخْتَلَفَ فَإِنْ كَانَتْ مَحْرَمِيَّةً أَوْ زَوْجِيَّةً أَوْ مَعَ صَغِيرٍ لَا يُشْتَهَى أَوْ مَعَ كَبِيرٍ بِحَائِلٍ جَازَتْ مِنْ غَيْرِ شَهْوَةٍ وَلَا فِتْنَةٍ؛ نَعَمْ يُسْتَثْنَى الْأَمْرَدُ الْجَمِيلُ فَتَحْرُمُ مُصَافَحَتُهُ كَمَا قَالَهُ الْعَبَّادِيُّ ا هـ مَرْحُومِيٌّ

.
4). Madzhab Hambaliyah


الإقناع في فقه الإمام لأحمد الحجاوي- (ج ١ / ص٢٣٩)
ولا يجوز مصافحة المرأة الأجنبية الشابة وأن سلمت شابة على رجل رده عليها وإن سلم عليها لم ترده وإرسال السلام إلى الأجنبية وإرسالها إليه لا بأس به للمصلحة وعدم المحذور

Demikian jawaban dari pertanyaan Ust. Abd.Hamid Aceh. Wallahu A’lam bisshowab.

Kategori
Uncategorized

MENIKAHI PEREMPUAN PEZINA


Assalamu Alaikum.

Pertanyaan:
Bagaimana hukumnya menikahi terhadap wanita yang pernah berbuat zina.

Wa Alaikumussalam.
Jawaban:
Menikahi orang yang pernah berbuat zina hukumnya boleh / sah tapi makruh, karena dengan berzina ia termasuk kategori orang fasiq(orang yang gemar berbuat dosa):
 


.ومما يكره من الأنكحة نكاح من لم يحتج الى الوطئ مع فقده الاهبة__ و نكاح الفاسقة وبنت الفاسق. الشرقاوي ٢/٢٤٨قوله و دينة أى نكاح المرأة الدينة التي وجدت فيها صفة العدالة أولى من نكاح الفاسقة ولو بغير نحو الزنا. اعانة الطالبين ٣/٢٧٠

الأم ج ٥ ص ١٢-١٣
أَخْبَرْنَا سُفْيَانُ بْنُ عُيَيْنَةَ عَنْ هَارُونَ بْنِ رِئَابٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُبَيْدِ بْنِ عُمَيْرٍ قَالَ «أَتَى رَجُلٌ إلَى رَسُولِ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ إنَّ لِي امْرَأَةً لَا تَرُدُّ يَدَ لَامِسٍ فَقَالَ النَّبِيُّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – فَطَلِّقْهَا قَالَ إنِّي أُحِبُّهَا قَالَ فَأَمْسِكْهَا إذًا» وَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ الْمُشْرِكَاتِ مِنْ أَهْلِ الْأَوْثَانِ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ الزُّنَاةِ وَغَيْرِ الزُّنَاةِ أَخْبَرَنَا سُفْيَانُ عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِي يَزِيدَ عَنْ أَبِيهِ أَنَّ رَجُلًا تَزَوَّجَ امْرَأَةً وَلَهَا ابْنَةٌ مِنْ غَيْرِهِ وَلَهُ ابْنٌ مِنْ غَيْرِهَا فَفَجَرَ الْغُلَامُ بِالْجَارِيَةِ فَظَهَرَ بِهَا حَمْلٌ فَلَمَّا قَدِمَ عُمَرُ مَكَّةَ رُفِعَ ذَلِكَ إلَيْهِ فَسَأَلَهَا فَاعْتَرَفَا فَجَلَدَهُمَا عُمَرُ الْحَدَّ وَحَرَصَ أَنْ يَجْمَعَ بَيْنَهُمَا فَأَبَى الْغُلَامُ.
(قَالَ الشَّافِعِيُّ) : فَالِاخْتِيَارُ لِلرَّجُلِ أَنْ لَا يَنْكِحَ زَانِيَةً وَلِلْمَرْأَةِ أَنْ لَا تَنْكِحَ زَانِيًا فَإِنْ فَعَلَا فَلَيْسَ ذَلِكَ بِحَرَامٍ عَلَى وَاحِدٍ مِنْهُمَا لَيْسَتْ مَعْصِيَةُ وَاحِدٍ مِنْهُمَا فِي نَفْسِهِ تُحَرِّمُ عَلَيْهِ الْحَلَالَ إذَا أَتَاهُ قَالَ وَكَذَلِكَ لَوْ نَكَحَ امْرَأَةً لَمْ يَعْلَمْ أَنَّهَا زَنَتْ فَعَلِمَ قَبْلَ دُخُولِهَا عَلَيْهِ أَنَّهَا زَنَتْ قَبْلَ نِكَاحِهِ أَوْ بَعْدَهُ لَمْ تَحْرُمْ عَلَيْهِ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ أَخْذُ صَدَاقِهِ مِنْهَا وَلَا فَسْخُ نِكَاحِهَا وَكَانَ لَهُ إنْ شَاءَ أَنْ يُمْسِكَ وَإِنْ شَاءَ أَنْ يُطَلِّقَ وَكَذَلِكَ إنْ كَانَ هُوَ الَّذِي وَجَدَتْهُ قَدْ زَنَى قَبْلَ أَنْ يَنْكِحَهَا أَوْ بَعْدَمَا نَكَحَهَا قَبْلَ الدُّخُولِ أَوْ بَعْدَهُ فَلَا خِيَارَ لَهَا فِي فِرَاقِهِ وَهِيَ زَوْجَتُهُ بِحَالِهَا وَلَا تَحْرُمُ عَلَيْهِ وَسَوَاءٌ حُدَّ الزَّانِي مِنْهُمَا أَوْ لَمْ يُحَدَّ أَوْ قَامَتْ عَلَيْهِ بَيِّنَةٌ أَوْ اعْتَرَفَ لَا يُحَرِّمُ زِنَا وَاحِدٍ مِنْهُمَا وَلَا زِنَاهُمَا وَلَا مَعْصِيَةٌ مِنْ الْمَعَاصِي الْحَلَالَ إلَّا أَنْ يَخْتَلِفَ دِينَاهُمَا بِشِرْكٍ وَإِيمَانٍ.

يجوز نكاح الحامل من الزنا سواء الزاني وغيره و وطؤها حينئذ مع الكراهة. بغية المسترشدين ص ٢٠١

Wanita berzina tidak ada ‘iddahnya, tapi dilarang menjima’ terhadap wanita yang berzina jika hamil agar tidak bercampur aduk antara benih yang baik dengan benih hasil zina.
Madzhab Syafi’i berpendapat bahwasanya wanita yang berzina tidak memiliki masa ‘iddah, baik ia sedang hamil atau tidak hamil, tapi makruh menikahi terhadap wanita yang berzina. Sebab, disyari’atkannya iddah adalah untuk menjaga nasab, sedangkan zina tidak menyebabkan adanya hubungan nasab antara anak dengan laki-laki yang menghamili ibunya. Tapi masalah ini khilaf ulama’ tentang menjimak terhadap wanita hamil karena berzina. Ada ulama’ yang memperbolehkan menjimak terhadap wanita hamil karena berzina. Dan ada ulama’ yang tidak memperbolehkan menjimak terhadap wanita hamil karena berzina.

Referensi :

بداية المجتهد:ص،٥٣٦

فاختلفوا في الزنا هل يوجب من التحريم في هؤلاء ما يوجب الوطء في نكاح صحيح أو بشبهة؟ أعني الذي يدرأ فيه الحد، فقال الشافعي: الزنا بالمرأة لا يحرم نكاح أمها ولا ابنتها ولا نكاح أبي الزاني لها ولا ابنه؛ وقال أبي حنيفة: والثوري والأوزاعي: يحرم الزنا ما يحرم النكاح وأما مالك ففي المؤطأ عنه قول الشافعي أنه لا يحرم، وروى عنه ابن القاسم مثل قول أبي حنيفة أنه يحرم؛ وقال سحنون: أصحاب مالك يخالفون ابن القاسم فيها، ويذهبون إلى ما في المؤطأ؛ وقد روى عن الليث أن الوطء بشبهة لا يحرم وهو شاذ.

شرح المهذب ،ج، ١٦،ص:٢٤٢

إذا زنت المرأة لم يجب عليها العدة، سواء كانت حائلا أو حاملا، فإن كانت حائلا جاز للزاني ولغيره عقد النكاح عليها وإن حملت من الزنا فيكره.

كفاية الأخيار ، ص :٤٢٩

مذكور في العدد لو نكح شخص إمرأة حاملا من الزنا صح نكاحه بلا خلاف وهل له وطؤها قبل الوضع وجهان الأصح نعم إذ لا حرمة له ومنعه ابن الحداد والله أعلم

إعانة الطالبين: ص: ٢٨٢

قوله لامخلوقة من ماء زناه أى لايحرم نكاح مخلوقه من ماء زناه إذ لاحرمة من لماء الزنا لكن يكره نكاحها

Kategori
Uncategorized

Q.008.NIAT DAN DO’A QURBAN DAN AQIQOH

Assalamualaikum
Deskripsi masalah.
Saya Abdul Hamid Aceh ingin berqurban Wajib atau Nadzar, dan saudaraku sepupu ingin juga berqurban dengan qurban sunnah akan tetapi kami tidak tahu niatnya

Pertanyaannya.
Bagaimana niat dan do’a quban, baik qurban sunnah ataupun qurban wajib ? Mohon penjelasannya Kiyai

Waalaikum salam.

Jawaban:
Sesungguhnya setiap amalan itu bergantung pada niatnya. Setiap orang akan mendapatkan apa yang ia niatkan. Siapa yang hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya untuk Allah dan Rasul-Nya. Siapa yang hijrahnya karena mencari dunia atau karena wanita yang dinikahinya, maka hijrahnya kepada yang ia tuju.”
Sebagaimana Rasulullah Shollallahu alaihi wasallam bersabda:.


 عَنْ أَمِيْرِ الْمُؤْمِنِيْنَ أَبِيْ حَفْصٍ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه وسلم يَقُوْلُ : إِنَّمَا اْلأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى . فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُوْلِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُوْلِهِ، وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيْبُهَا أَوْ امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ . [رواه إماما المحدثين أبو عبد الله محمد بن إسماعيل بن إبراهيم بن المغيرة بن بردزبة البخاري وابو الحسين مسلم بن الحجاج بن مسلم القشيري النيسابوري في صحيحيهما اللذين هما أصح الكتب المصنفة.

“Dari Amirul Mu’minin, Abi Hafs Umar bin Al Khottob radiallahuanhu, dia berkata: Saya mendengar Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda : Sesungguhnya setiap  perbuatan tergantung niatnya.  Dan  sesungguhnya  setiap  orang  (akan dibalas) berdasarkan apa yang dia niatkan. Siapa yang hijrahnya karena (ingin mendapatkan keridhaan) Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada (keridhaan) Allah dan Rasul-Nya. Dan siapa yang hijrahnya karena dunia yang dikehendakinya atau karena wanita yang ingin dinikahinya maka hijrahnya (akan bernilai sebagaimana) yang dia niatkan”.
(Riwayat dua imam hadits, Abu Abdullah Muhammad bin Isma’il bin Ibrahim bin Al Mughirah bin Bardizbah Al Bukhori dan Abu Al Husain, Muslim bin Al Hajjaj bin Muslim Al Qusyairi An Naishaburi dan kedua kitab Shahihnya yang merupakan kitab yang paling shahih yang pernah dikarang) .
 
Catatan :
Hadits ini merupakan salah satu dari hadits-hadits yang menjadi inti ajaran Islam. Imam Ahmad dan Imam syafi’i berkata : Dalam hadits tentang niat ini mencakup sepertiga ilmu. Sebabnya adalah bahwa perbuatan hamba tergantung dari perbuatan hati, lisan dan anggota badan, sedangkan niat merupakan salah satu dari ketiganya. diriwayatkan dari Imam Syafi’i bahwa dia berkata : Hadits ini mencakup tujuh puluh bab dalam fiqh. Sejumlah ulama bahkan ada yang berkata : Hadits ini merupakan sepertiga Islam.
 
Adapun asbabul wurud dari Hadis ini, yaitu: ada seseorang yang hijrah dari Mekkah ke Madinah dengan tujuan untuk dapat menikahi seorang wanita yang konon bernama : “Ummu Qais”, bukan untuk mendapatkan keutamaan hijrah atau mengharap keridhaan Allah SWT. Maka orang itu kemudian dikenal dengan sebutan “Muhajir Ummi Qais” (Orang yang hijrah karena Ummu Qais).

Kemudian terkait pertanyaan sebagaimana deskripsi jika seseorang ingin berqurban wajib, atau sunnah atau qurban Nadzar maka dia harus berniat karena niat termasuk bagian dari syarat ,namun demikian penting sebelumnya kami berikan contoh ibarah yang menunjukan qurban sunnah yaitu sebagaimana berikut:

Kitab Sulaiman Kurdi juz 2 halaman 204

وَقَالَ العَلاَّمَةُ السَّيِّد عُمَرُ البَصْرِى فِى حَوَاشِ التُّحْفَة المحتاج ……….. كَذَالِكَ فِى نَازِلَةٍ وَقَعَتْ لِهَذَا الحَقِيْر وَهِيَ اشْتَرَى شَاةً لِلتَّضْحِيَةِ فَلَقِيَهُ شَحْصٌ آخَرَ فَقَالَ مَاهَذِهِ فَقَالَ أُضْحِيَتِى.

Al Allamah As Sayid Umar Al Bashriy berkata dalam komentar atas kitab Tuhfatul Muhtaj: Demikian pula dalam peristiwa yang terjadi pada seorang yang naif ini, yakni seseorang membeli kambing untuk digunakan qurban lalu bersua dengan seseorang lain kemudian bertanya: ‘Apa ini?’ Maka jawab si orang tadi: ‘Qurbanku.


Adapun niatnya adalah sebagaimana saya kutip dari kitab ” SYARQOWI SYARAH TAHRIR berikut :

Niat qurban sunnah

نويتُ الأضحية المسنونة لله تعالى


Saya niat qurban yang disunnahkan karena Allah Taala .

Atau memakai kalimat:

نويتُ أداءَ سُنّةِ التضحيةِ لله تعالى


Niat saya melaksanakan sunnah qurban karena Allah Ta’ala atau saya niat melaksanakan qurban sunnah karena Allah Ta’ala

Niat qurban wajib

نويتُ الأضحيةَ الواجبةَ لله تعالى

Saya niat qurban wajib karena Allah Ta’ala

Atau memakai kalimat:

نويتُ أداءَ واجبةِ التضحيةِ لله تعالى


Saya niat melaksanakan kewajiban qurban karena Allah Ta’ala .

NIAT QURBAN SEKALIGUS AQIQOH DIGABUNGKAN dengan mengikuti pendapatnya Imam Romli sah tetapi menurut Ibnu Hajar tidak sah berikut ibarohnya dan niatnya sebagai berikut:

مسئلة) لو نوي العقيقة والضحية لم تحصل غير واحد عند حج ويحصل الكل عند م ر اهـ


(Masalah) Apabila seseorang meniati aqiqah dan qurban, maka tidak hasil kecuali satu (niat) menurut Imam Ibnu Hajar , dan bisa hasil keseluruhannya(yaitu niat beraqiqoh dan niat berqurban) menurut Imam Muhammad Ramli. (Itsmid al-‘Ain Hal 77).

Ibarot senada bisa dilihat di : Bughyah alMustarsyidin 154, al-Baajuri II/304 dan al-Qalyubi IV/255.

Niat Qurban dan sekaligus aqiqoh Wajib

نويتُ الأضحيةَ والعقيقة الواجبتين لله تعالى

Niat Qurban dan sekaligus aqiqoh sunnah.

نويتُ الأضحية والعقيقة المسنونتين لله تعالى

Lalu bagaimana semisal seseorang yang mengatakan jika saya sukses dalam usaha bisnis (dagang ) maka saya nadzar akan berqurban, ternyata usahanya betul-betul sukses maka dia wajib berqurban yang tentunya dengan hewan tertentu, sedangkan contoh ungkapan yang bisa menjadikan makna Nadzar baik secara hakikat maupun secara hukum adalah sebagai berikut:

Referensi:

Kitab Bajuriy juz 2 halaman 310:

وَقَولُهُ مِنَ الأُضْحِيَّةِ المَنْذُورَةِ اى حَقِيْقَةً كَمَا لَو قَالَ: للهِ عَلَيَّ ان أُضْحِيَ بِهَذِهِ, فَهَذِهِ مُعَيَّنَةٌ بِالنَذْرِ إبْتِدَاءً, كَمَا لَو قَالَ للهِ عَلَيَّ أُضْحِيَّةٌ… أوْ حُكْمًا كَمَا لَوْ قَالَ هَذِه اُضْحِيَةٌ اَو جَعَلْتُ هَذِهِ اُضْحِيَةٌ فَهَذِهِ وَاجِبَةٌ بِالجَعْلِ لَكِنَّهَا فِى حٌكْمِ المَنْذُرَةِ.

Yang termasuk qurban nadzar sebenarnya adalah seperti apabila seseorang berkata: ‘Demi Allah wajib atasku berqurban dengan ini’ maka ucapan itu jelas sebagai nadzar sejak awal. Hal ini sebagaimana apabila seseorang berkata ‘Demi Allah wajib atasku qurban” atau secara hukum sebagai nadzar. Seperti bila seseorang berkata: Ini adalah hewan qurban’ atau diucapkan ‘Aku menjadikan ini sebagai hewan qurban’. Maka ini adalah wajib disebabkan kata ‘menjadikan’, akan tetapi dalam konteks hukum yang dinadzari.

Dari ibarah diatas tentang ucapan dengan kata tertentu maka hal ucapan tersebut hakikatnya adalah qurban nadzar sedang kata Ja’lu ( menjadikan ) maka dalam hal ini adalah berarti qurban wajib akan tetapi dalam konteks hukum yang dinadzarkan . Sedangkan niatnya walau qurban nadzar tetap mempunya arti wajib .Dengan demikian tidak perlu niat mandzuroh melainkan tetap niat qurban wajib sebagaimana contoh niat tersebut.


شرقاوي على شرح التحرير.ص ٤٦٥
ويشترط لها نية عند ذبح أو قبله عند تعيين لمايضحي به سواء كانت تطوعا أو واجبة بنحو جعلتها أضحية أو بتعيينها له عن نذر لا فى عين لها بنذر إبتداء فلايشترط لها نية ومعلوم أن النية بالقلب وتسن باللسان فيقول نويت الأضحية المسنونة أو أداء سنة التضحية فى المسنونة أو الواجبة .فإن قتصر على نحو الأضحية صارت واجبة يحرم الأكل منها ولو من جاهل قال م ر.

Niat dan Do’a Ketika menyembelih qurban dengan disembelih sendiri maka do’anya sebagai berikut:

بسم الله والله أكبر اللهم هذا منك وإليك فتقبل منّي كماتقبلتَ من سيدنا محمد نبيك ورسولك وإبراهيم خليلِك.


Jika menyembelih qurban diwakilkan kepada Kiyai atau tukang jagal maka niat dan Do’anya sebagai berikut:

بسم الله والله أكبر اللهم هذا منك وإليك فتقبلْ منّا كماتقبلت من سيدنا محمد نبيك ورسولك وإبراهيم خليلك.

Referensi:


تنوير القلوب:ص،٢٤٨
والأفضل أن يذبح الأضحية بنفسه فإن لم يحل وكل مسلما عالما بشروطها وحضر ذبحها ويقول الذابح اللهم هذا منك وإليك فتقبل منّي كماتقبلتَ من سيدنا محمد نبيك ورسولك وإبراهيم خليلِك

Begitu pula halnya dengan niat aqiqoh tinggal merubah kalimat qurban diganti aqiqoh karena hukumnya aqiqoh sama dengan qurban .misalnya ;

نويتُ العقيقة المسنونة عن ولدي…/بنتي…….. لله تعالى

نويتُ العققيةَ الواجبةَ عن ولدي…/بنتي……لله تعالى

Atau dengan melafadhkan niat Aqiqoh wajib sebagai berikut:

نويت العقيقة عن ولدي ….فرضا لله تعالى

Niat aqiqoh sunnat:

نويت العقيقة عن ولدي ….سنة لله تعالى

Referensi:


تنوير القلوب. ٢٤٨
واماالعقيقة للمولود فهى سنة مؤكدة تذبح يوم السابع، ويقول عند الذبح  بسم الله والله أكبر اللهم هذا منك وإليك  اللهم هذه عقيقة  فلان ..    ………


Namun demikian ada do’a disaat Aqiqoh  disebutkan dalam Risalatul Mu’asyarah Halaman 41  yang dikutip dari Kitab Qurratul Uyun lissyaikh Al-Imam Al-Alim Al-Allamah Al-Hammam Abi Muhammad Qosim bin Ahmad bin Musa   Ibnu Yamun Attalidy Al-Ahmasyi.

*Jika anak laki- yang diaqiqohkan do’anya begini.*

اللهم ربي إن هذه عقيقة فلان بن فلان دمها بدمه ولحمها بلحمه وعظمها بعظمه وجلدها بجلده وشعرها بشعره  اللهم اجعلها فداء لفلان بن فلان من النار.

*Jika anak perempuan- yang diaqiqohkan do’anya begini*

اللهم ربي إن هذه عقيقة فلان بن فلان دمها بدمها ولحمها بلحمها وعظمها بعظمها وجلدها بجلدها وشعرها بشعرها  اللهم اجعلها فداء لفلان بن فلان من النار.

_Artinya: Ya Allah Tuhanku sesungguhnya ini adalah Aqiqohnya.  sebut namanya yang diaqiqohi_ .. _Darahnya aqiqoh dengan darahnya ( fulan) dan dagingnya aqiqoh dengan dagingnya dan tulangnya aqiqoh dengan tulangnya dan kulitnya aqiqoh dengan kulitnya dan bulu-bulunya aqiqoh dengan bulunya/_ rambutnya, Ya Allah jadikanlah aqqoh ini _sebagai tebusan ………dari api neraka._

Catatan

Doa aqiqah yang disebutkan diatas secara eksplisit tidak ada dalam hadits yang sahih atau kitab-kitab rujukan utama seperti Shahih Bukhari, Shahih Muslim, atau kitab-kitab fiqih klasik yang banyak dikenal, seperti Al-Umm (Imam Syafi’i) atau Al-Mughni (Ibn Qudamah). Namun, doa tersebut dapat ditemukan dalam beberapa kitab fiqih atau kitab panduan pelaksanaan aqiqah yang berkembang dalam tradisi Islam.

Doa seperti ini biasanya diajarkan di beberapa kalangan umat Islam sebagai doa yang sifatnya doa ijtihad, artinya disusun oleh ulama-ulama terdahulu untuk memohon keberkahan dan kebaikan dalam prosesi aqiqah. Salah satu sumber yang memuat doa semacam ini adalah kitab-kitab fikih mazhab, seperti I’anatuth Thalibin, atau kitab-kitab panduan amalan sehari-hari yang lebih bersifat lokal atau tradisional.

Meskipun demikian, dalam Islam, doa yang dibaca saat aqiqah tidaklah harus baku seperti itu. Yang lebih penting adalah niat ikhlas dan doa agar anak yang diaqiqahkan diberi keberkahan.

Begitulah jawaban Untuk Ust. HAMID  ACEH.


والله أعلم بالصواب

Kategori
Uncategorized

ZAKAT ” HUTANG PIUTANG UANG

Assalamu Alaikum.

Maaf para kiyai,dimohon jawabannya.

Deskripsi masalah.
Ada orang ( yang bernama Ahmad ) bekerja merantau ke luar negri.Alhamdulillah hasilnya bekerja, Ahmad mempunyai uang lebih dari 100 juta.Tapi mohon maaf, uang yang 100 juta itu ada ditangan orang lain atau dihutangkan kepada orang lain dengan waktu yang lama, sehingga jika dihitung sampai melebihi dari satu tahun.

Pertanyaannya:

Apakah uang 100 juta dari hasil bekerja di luar negri sementara masih ada ditangan orang lain ( dihutangi ) Wajib zakat..?

Waalaikum salam

Jawaban: Ditafshil

Jika uang yang dipinjamkan diniatkan untuk modal usaha bisnis atau dangang maka dalam hal ini , Uang 100 juta dari hasil bekerja di luar negri tersebut wajib zakat, walaupun uang tersebut berada ditangan orang lain ( Da’in ). Tetapi jika orang yang meminjamkan uang bukan pedagang atau meminjamkan uang bukan tujuan modal melainkan semata-mata untuk membantu meringankan kesusahan orang yang berhutang maka Mudin ( orang yang menghutangkan ) dalam hal ini tidak wajib zakat uang .
Alasan yang wajib zakat jika diniatkan modal:
1: Karena di kitab Mughnil Muhtaj, disebutkan, bahwa
jika seseorang ( Ahmad ) memiliki uang ( harta dagangan) yang sampai satu nishob selama 6 bulan. Kemudian Ahmad menghutangkan uang ( harta dagangan ) itu kepada Umar, maka dianggap tidak putus haul nya. Jadi menurut imam Rofi’i didalam bab zakatnya tijaroh ( harta dagangan ), uangnya ( harta dagangannya ) Ahmad yang dihutang oleh Umar itu wajib dizakati.

2- Karena hutang tidak termasuk penghalang (menguragi) nishob zakat

Referensi:


(مغني المحتاج)
(وَشَرْطُ زَكَاةِ النَّقْدِ الْحَوْلُ) لِخَبَرِ أَبِي دَاوُد وَغَيْرِهِ «لَا زَكَاةَ فِي مَالٍ حَتَّى يَحُولَ عَلَيْهِ الْحَوْلُ» (1) نَعَمْ لَوْ مَلَكَ نِصَابًا سِتَّةَ أَشْهُرٍ مَثَلًا ثُمَّ أَقْرَضَهُ إنْسَانًا لَمْ يَنْقَطِعْ الْحَوْلُ كَمَا ذَكَرَهُ الرَّافِعِيُّ فِي بَابِ زَكَاةِ التِّجَارَةِ فِي أَثْنَاءِ تَعْلِيلٍ وَأَسْقَطَهُ مِنْ الرَّوْضَةِ.

Dalam madzhab Syafi’i, hutang tidak menghalangi kewajiban zakat. Jadi
Seseorang yang berdagang yang sudah sampai nishob , namun modalnya dapat dari hutangan itu tetap wajib mengeluarkan zakatnya dagangan.Alasannya ialah karena hutang tidak termasuk penghalang (pengurang) nishob zakat. Wallohu a’lam.

(مغني المحتاج،جز ١ ،صحيفة ٤١١)
ولا يمنع الدين وجوبها ) سواء أكان حالا أم لا

Hutang itu tidak menghalangi terhadap di wajibkannya zakat,sama saja hutangnya itu kontan atau kredit………..

(تحفة المحتاج في شرح المنهاج ، جز ١٣ ، صحيفة ٢٢)
( وَلَا يَمْنَعُ الدَّيْنُ ) الَّذِي فِي ذِمَّةِ مَنْ بِيَدِهِ نِصَابٌ فَأَكْثَرُ مُؤَجَّلًا أَوْ حَالًّا لِلَّهِ تَعَالَى أَوْ لِآدَمِيٍّ ( وُجُوبَهَا ) عَلَيْهِ ( فِي أَظْهَرِ الْأَقْوَالِ ) لِإِطْلَاقِ النُّصُوصِ الْمُوجِبَةِ لَهَا وَلِأَنَّهُ مَالِكٌ لِنِصَابٍ نَافِذِ التَّصَرُّفِ فِيهِ وَلَوْ زَادَ الْمَالُ عَلَى الدَّيْنِ بِنِصَابٍ وَجَبَتْ زَكَاتُهُ قَطْعًا كَمَا لَوْ كَانَ لَهُ مَا يُوفِيهِ غَيْرَ مَا بِيَدِهِ وَالثَّانِي يَمْنَعُ مُطْلَقًا

Dan hutang(yang ada di tangannya orang yang sudah mempunyai satu nishob,atau lebih dari satu nishob,sama saja hutang itu kontan atau kredit) itu tidak mencegah terhadap di wajibkannya zakat,menurut qoul ( pendapat ) yang lebih dhohir.

Referensi: Tentang Hutang piutang uang

فقه الزكاة للشيخ يوسف القرضاوى الجزء الثانى

وقت الوجوب: تجب زكاة الأوراق النقدية عند مضي الحول، وهو سنة كاملة من حين ملكه لها، والأيسر لضبط ذلك تحديد يوم في السنة، فإذا حل هذا اليوم فإن المسلم يحسب ما يملكه من النقود، وهذا يشمل كل ما في ملكه من الرواتب الشهرية وأجرة الدور وريع المستغلات التجارية التي لا تعد للبيع وجميع ما في الحساب الجاري من سيولة نقدية، ويخصم ما عليه من الديون الحالّة، ثم يُخرج مما تبقى ربع العشر (أي 2.5%).
ثالثاً: زكاة عروض التجارة
المقصود بعروض التجارة: ما ملكه المسلم بنية بيعه والمتاجرة فيه، فلا تشمل الزكاة الأعيان التي لا تُعد للبيع، ونصابها معتبر بقيمتها، ومقداره وكنصاب الورق النقدي، فإذا كانت قيمة العروض مساويةً لقيمة 595 جراماً من الفضة وجبت فيها الزكاة.
القدر الواجب إخراجه: ربع العشر من قيمة العروض التجارية في السوق عند مضي الحول، والمعتبر عند التقويم سعر البيع، فإذا كان البيع بالجملة المعتبر سعر الجملة، وإن كان البيع بالتجزئة فالمعتبر سعر التجزئة.
رابعاً: زكاة أسهم الشركات
– ١- ان يقصد بتملكها الاستثمار والحصول على الأرباح والعوائد: فإن كانت الشركة تخرج الزكاة (كما في السوق السعودي) فلا زكاة على مالك السهم، وإن شك في إخراج الشركة للزكاة كاملة فإن عليه إخراج ما تبرأ به ذمته.
وإن كانت الشركة لا تخرج الزكاة فيجب على مالك السهم تقدير الزكاة باحتساب ما تجب فيه من قيمة الموجودات، وإن شق عليه وأراد الاحتياط فيخرج 2.5% من القيمة الدفترية للأسهم التي يملكها بعد خصم الأصول الثابتة، القيمة الدفترية للسهم عبارة عن حقوق المساهمين مقسومة على عدد الأسهم المصدرة.
– ٢ -ان يقصد بتملك الأسهم المتاجرة أو المضاربة فيها للاستفادة من فروق أسعار الشراء والبيع: فهذا يزكي ما يملك من أسهم زكاة عروض تجارة، فإذا حال عليه الحول ينظر إلى قيمة الأسهم السوقية، ويزكيها زكاة عروض التجارة (2.5%).
خامساً: زكاة الصناديق الاستثمارية
يجب على من يملك وحدات في الصناديق الاستثمارية إخراج زكاتها إلا أن كان مدير الصندوق يخرج الزكاة نيابةً عن المساهمين.
وتُزكى وحدات الصناديق كزكاة عروض التجارة (2.5%) حسب قيمتها يوم الحول، ويخصم منها الموجودات غير الزكوية كالأصول الثابتة والأصول المعدة للتأجير إن وُجِدت.
سادساً: زكاة الأراضي
– ١-إن نوى بتملكها المتاجرة بها فإنه يخرج ربع العشر من قيمتها إذا حال الحول عليها وهي في ملكه سواء ملكها بإرث أو هبة أو معاوضة.
– ٢- إذا لم ينوِ المتاجرة بها عند تملكها فإنه لا زكاة فيها كما لو نوى أن يجعلها منزلاً أو استراحة أو مزرعة.
– ٣- إذا كانت الأرض معدة للإيجار أو للبناء عليها من أجل الإيجار فلا زكاة على مالكها في قيمتها، وإنما تجب الزكاة في أجرتها.
سابعاً: زكاة المساهمات العقارية
– ١- لأصل أن ما يوضع في هذه المساهمات من مال تجب زكاته كل عام مع ما تحقق من أرباح، وتجب الزكاة على كل مساهم بمقدار نصيبه، ويُعتبر ذلك بالقيمة التي تساويها عند الحول سواءً زادت عن رأس المال أو نقصت.
– ٢- لمساهمات المتعثرّة التي لا يمكن تصفيتها ولا يستطيع المساهم فيها الحصول على ماله لا تجب زكاتها على المساهمين من حين تعثرّها.

ثامناً: زكاة الديون
أ- الديون التي لك على الآخرين:
– ١- إن كان الدين على مليء باذل فإنه تجب زكاته مع سائر الأموال، ويجوز تأخير زكاته حتى يقبضه، فيزكيه لما مضى.
– ٢- إن كان الدين غير مرجو الوفاء كالدين على معسر أو جاحد أو مماطل فإنه لا تجب زكاته، وإذا قبضه فإنه يستأنف به حولاً جديداً، وإن زكاه عن سنة واحدة فحسن.
ب- الديون التي عليك:
– ١- إذا كان الدين يحل خلال حول الزكاة فإنه يخصم من المال الذي عندك مما تجب فيه الزكاة.
– ٢- إذا كان الدين مؤجلاً ففي خصمه من المال الزكوي خلاف مشهور بين الفقهاء، فمنهم من يرى أن الدين المؤجل يُخصم كاملاً، ومنهم من يرى أنه يُخصم بقيمته لو كان حالاً، ومنهم من يرى أنه لا يُخصم، وهذا الأخير هو ما يظهر لي رجحانه، والله أعلم.

Waktu kewajiban: Zakat atas uang kertas harus dibayar ketika telah lewat satu tahun, yaitu satu tahun penuh sejak dia memilikinya, dan cara yang paling mudah untuk mengontrolnya adalah dengan menentukan hari dalam setahun. eksploitasi yang tidak siap untuk dijual dan semua yang ada di rekening giro dalam hal likuiditas tunai, dan apa yang terhutang dikurangkan dari hutang yang belum dibayar, dan kemudian seperempat dari sepersepuluh (yaitu 2,5%) diambil dari sisanya .
Ketiga: Zakat penawaran dagang
Yang dimaksud dengan penawaran jual beli adalah barang yang dimiliki seorang muslim dengan niat untuk dijual dan diperjualbelikan, maka zakat tidak termasuk barang-barang yang tidak dipersiapkan untuk dijual, dan nisabnya diperhitungkan dalam nilai, jumlah dan sebagai nisab uang kertas. .
Jumlah yang harus dibayar: seperempat dari sepersepuluh dari nilai penawaran komersial di pasar ketika tahun telah berlalu, dan apa yang dipertimbangkan ketika menilai harga jual.
Keempat: Zakat atas saham perusahaan
1 – Bahwa pemilik bermaksud untuk berinvestasi dan memperoleh keuntungan dan pengembalian: Jika perusahaan membayar zakat (seperti di pasar Saudi) , maka tidak ada zakat pada pemilik saham.
Jika perusahaan tidak membayar zakat, maka pemilik saham harus menaksir zakat dengan menghitung apa yang menjadi haknya dari nilai harta ekspor.
2- Bahwa dia bermaksud dengan memiliki saham perdagangan atau berspekulasi di dalamnya untuk memanfaatkan selisih harga jual dan beli: orang ini membayar zakat atas saham yang dia miliki sebagai penawaran dagang, dan setelah lewat satu tahun dia melihat nilai pasar saham, dan membayar zakat padanya sebagai zakat penawaran dagang (2,5%) .
Kelima: Zakat dana investasi
Mereka yang memiliki unit dalam dana investasi harus membayar zakat padanya, kecuali pengelola dana membayar zakat atas nama pemegang saham.
Zakat atas satuan dana adalah zakat atas penawaran dagang (2,5%) menurut nilainya pada hari dalam setahun, dan harta yang tidak dapat dizakati seperti harta tetap dan harta yang dimaksudkan untuk disewakan, jika ada, dikurangkan darinya.
Keenam: Zakat atas tanah
1- Jika dia bermaksud untuk memilikinya untuk diperdagangkan, dia membayar seperempat dari sepersepuluh dari nilainya jika satu tahun telah berlalu ketika dia memilikinya, baik dia memilikinya melalui warisan, hadiah atau pertukaran .
2 – Jika dia tidak berniat untuk memperdagangkannya ketika memilikinya, maka tidak ada zakat atasnya, sebagaimana jika dia berniat menjadikannya rumah, rumah peristirahatan, atau tanah pertanian.

  1. Jika tanah itu disewakan atau dibangun di atasnya untuk disewakan, maka tidak ada kewajiban zakat atas nilainya kepada pemiliknya, tetapi wajib zakat atas sewanya.
    Ketujuh: Zakat kontribusi real estate
    1 – Prinsipnya adalah bahwa uang yang ditempatkan dalam kontribusi ini harus dizakatkan setiap tahun dengan keuntungan yang diperoleh, dan zakat wajib atas setiap pemegang saham sesuai dengan bagiannya, dan ini dianggap nilai yang sama dengan itu pada saat itu. tahun, apakah itu lebih dari modal atau kurang.
    2- Kontribusi macet yang tidak dapat dicairkan dan pemegang saham tidak dapat memperoleh uangnya Zakat tidak wajib bagi pemegang saham sejak mereka gagal bayar.
    Kedelapan: zakat utang
    A- Utang yang harus dibayar oleh orang lain:
    1- Jika hutang itu dipiutang oleh orang yang berutang uang, maka zakatnya harus dibayar bersama dengan sisa uangnya.
    2- Jika hutang tidak diharapkan untuk dibayar, seperti hutang orang yang bangkrut, tidak tahu berterima kasih, atau menunda-nunda, maka zakatnya tidak wajib.
    B- Hutang kamu:
    1- Jika hutang jatuh tempo dalam tahun zakat, maka itu dipotong dari uang yang kamu miliki untuk zakat.
    2- Jika utang ditangguhkan, maka dalam memotongnya dari uang zakat, ada perbedaan pendapat yang terkenal di antara para ahli fiqih.Sebagian dari mereka melihat bahwa utang yang ditangguhkan itu telah dipotong seluruhnya, dan sebagian dari mereka melihat bahwa itu dikurangi nilainya jika itu langsung, dan beberapa dari mereka melihat bahwa itu tidak dikurangi, dan yang terakhir inilah yang menurut saya lebih utama. Allah maha mengetahui

Wallahu A’lam bisshowab