logo mubaa
Logo Ittihad

DEWAN PIMPINAN PUSAT
IKATAN ALUMNI BATA-BATA

Kategori
Uncategorized

Hukum Istri Mengambil Uang Suami Tanpa Izin: Antara Hak dan Larangan dalam Islam

Hukum Istri Mengambil Uang Suami Tanpa Izin: Antara Hak dan Larangan dalam Islam

Assalamualaikum 

Deskripsi masalah.

Sebagaimana yang kita maklumi terkadang dalam kehidupan PASUTRI ( pasangan suami Istri ) istri mata duwitan sehingga diam-diam dia mengambil uang suami tanpa seidzinya ( suami ) sedangkan suami sudah menafkahi sebagaimana layaknya ( sesuai dengan kemampuannya ).

Pertanyaan.

Apakah istri termasuk korupsi dan berdosa dengan mengambil uang tanpa seidzin suami tersebut ? Mohon jawabannya sebagai tambahan ilmu Kiyai ?

Waalaikum salam 

Jawaban

Dalam Islam, mengambil harta orang lain tanpa izin merupakan tindakan yang dilarang, kecuali dalam kondisi tertentu yang dibenarkan syariat. Dalam kasus seorang istri yang mengambil uang suami tanpa izin, hukumnya tergantung pada beberapa faktor:

1. Jika Suami Tidak Mencukupi Nafkah Istri

Jika suami tidak memberikan nafkah yang cukup untuk kebutuhan dasar istri dan keluarganya, istri diperbolehkan mengambil secukupnya dari harta suami tanpa izinnya. Hal ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Aisyah radhiyallahu ‘anha:

هِنْدٌ بِنْتُ عُتْبَةَ قَالَتْ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، إِنَّ أَبَا سُفْيَانَ رَجُلٌ شَحِيحٌ، وَلَيْسَ يُعْطِينِي مَا يَكْفِينِي وَوَلَدِي، إِلَّا مَا أَخَذْتُ مِنْ مَالِهِ بِغَيْرِ عِلْمِهِ، فَهَلْ عَلَيَّ فِي ذَلِكَ مِنْ جُنَاحٍ؟ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: خُذِي مِنْ مَالِهِ بِالْمَعْرُوفِ مَا يَكْفِيكِ وَوَلَدَكِ

Hindun binti ‘Utbah berkata: Wahai Rasulullah, sesungguhnya Abu Sufyan adalah seorang lelaki yang pelit. Dia tidak memberiku nafkah yang cukup untukku dan anakku, kecuali jika aku mengambil dari hartanya tanpa sepengetahuannya. Apakah aku berdosa karena itu?

Rasulullah ﷺ menjawab: Ambillah dari hartanya dengan cara yang baik, sekadar untuk mencukupi kebutuhanmu dan anakmu.

(HR. Bukhari No. 5364 dan Muslim No. 1714)

Dari hadits ini, para ulama memahami bahwa seorang istri boleh mengambil harta suami tanpa izin hanya jika suami tidak mencukupi kebutuhan nafkahnya, dan itupun harus dalam jumlah yang wajar.

بغية المسترشدين ص ٢٤٢

منع الزوج أو القريب من تسليم المؤن الواجبة عليه أو سافر ولم يخلف منفقا ، جاز لزوجته وقريبه أخذها من ماله ولو بغير إذن الحاكم ، كما أن للأم وإن علت أن تأخذ للطفل من مال أبيه الممتنع أو الغائب أيضا ، لكن يتعين الأخذ من جنس الواجب فيهما إن وجد ، فإن لم يكن له مال أنفقت الأم من مالها ، أو اقترضت ورجعت على الطفل أو على من لزمته نفقته إن أذن القاضي لها في ذلك ، أو أشهدت على نية الرجوع عند فقده وإلا فلا رجوع وإن تعذر الإشهاد على الأوجه لندرته ، وكالأم فيما ذكر بقيده قريب محتاج وجد لطفل غاب أبوه أو امتنع ـ اهـ

(Bughiyatul Mustarsyidin, halaman 242)

Jika seorang suami atau kerabat menahan diri dari memberikan nafkah yang wajib atasnya atau melakukan safar (perjalanan) tanpa meninggalkan seseorang yang bertanggung jawab untuk menafkahi, maka diperbolehkan bagi istrinya atau kerabatnya untuk mengambil nafkah dari hartanya, meskipun tanpa izin hakim. Demikian pula, seorang ibu—baik ibu kandung maupun nenek—diperbolehkan mengambil harta ayah anaknya yang enggan memberi nafkah atau sedang bepergian, namun dengan syarat mengambil dalam bentuk yang sesuai dengan nafkah yang wajib diberikan, jika hartanya ada.

Apabila sang ayah tidak memiliki harta, maka ibu boleh menafkahi anaknya dari hartanya sendiri, atau berhutang dan nantinya menagih kepada anak atau kepada pihak yang wajib menafkahinya, dengan syarat mendapatkan izin dari hakim atau dengan bersaksi atas niat untuk menagih kembali ketika tidak ada hakim. Jika tidak ada izin hakim atau kesaksian, maka tidak ada hak untuk menagih kembali, kecuali dalam keadaan yang sangat sulit hingga tidak mungkin mendapatkan kesaksian.

Ketentuan ini juga berlaku bagi kerabat miskin yang mengasuh seorang anak yang ayahnya tidak ada atau menolak memberikan nafkah.

2. Jika Suami Sudah Mencukupi Nafkah

Jika suami sudah memenuhi kewajiban nafkahnya sesuai kemampuan, maka istri tidak boleh mengambil uang suami tanpa izin. Hal ini termasuk dalam kategori hianat karena tidak bisa menjaga harta suami  bahkan bisa menjadi ghasab (mengambil hak orang lain secara tidak sah), yang hukumnya haram.

Allah berfirman:

وَلَا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُم بَيْنَكُم بِالْبَاطِلِ

Dan janganlah kalian memakan harta di antara kalian dengan cara yang batil.

(QS. Al-Baqarah: 188)

Dalam fiqih Islam, mengambil sesuatu tanpa izin pemiliknya merupakan tindakan yang melanggar hak, kecuali ada alasan syar’i yang membolehkannya.

3. Apakah Ini Termasuk Korupsi?

Dalam konteks fiqih, korupsi (ghulul) umumnya terkait dengan penyalahgunaan amanah dalam jabatan publik. Namun, tindakan istri yang mengambil uang suami tanpa izin lebih dekat pada hianat  dengan ghasab dan hukumnya haram jika suami sudah memberikan nafkah yang cukup.

Jika istri melakukannya dengan sengaja dan berulang-ulang tanpa keperluan mendesak, maka ini termasuk dosa. Rasulullah ﷺ bersabda:

لَا يَحِلُّ مَالُ امْرِئٍ مُسْلِمٍ إِلَّا عَنْ طِيبِ نَفْسٍ مِنْهُ

Tidak halal harta seorang Muslim kecuali dengan kerelaan darinya.

(HR. Ahmad No. 20172, dishahihkan oleh al-Albani)

Kesimpulan Jika suami tidak memberikan nafkah yang cukup, istri boleh mengambil secukupnya tanpa izin, sebagaimana hadits Hindun binti ‘Utbah. Jika suami sudah menafkahi sesuai kemampuannya, istri tidak boleh mengambil uangnya tanpa izin. Ini termasuk ghasab dan hukumnya haram. Jika istri melakukannya secara terus-menerus, maka ia berdosa dan wajib bertaubat serta meminta maaf kepada suami.

(مرقاة صعود التصديق، ص ٧٥-٧٦).

والخيانة وهي ضد النصيحة فتشمل أي الخيانة الأفعال والأقوال والأحوال وقد يقال دلالة الحال أقوى من دلالة المقال قال الفيومي في المصباح وفرق العلماء بين الخائن والسارق والغاصب بأن الخائن هو الذي خان ما جعل عليه أمينًا والسارق من أخذ خفية من موضع كان ممنوعًا من الوصول إليه وربما قيل كل سارق خائن دون عكسه والغاصب من أخذ جهارًا معتدًا على قوته اهـ

(Sumber: Mirqāh Ṣu‘ūd at-Taṣdīq, hlm. 75-76).

Pengkhianatan adalah lawan dari nasihat, mencakup segala bentuk pengkhianatan baik dalam perbuatan, perkataan, maupun keadaan. Dikatakan bahwa indikasi keadaan (perbuatan) lebih kuat daripada indikasi ucapan.

Al-Fiymi dalam al-Mishbah menyebutkan bahwa para ulama membedakan antara pengkhianat, pencuri, dan perampas. Pengkhianat adalah orang yang berkhianat terhadap sesuatu yang ia dipercayakan untuk menjaganya.

Sedangkan pencuri adalah orang yang mengambil sesuatu secara diam-diam dari tempat yang dilarang untuk dimasuki.

Mungkin ada yang mengatakan bahwa setiap pencuri adalah pengkhianat, tetapi tidak setiap pengkhianat adalah pencuri.

Adapun perampas (ghashib) adalah orang yang mengambil sesuatu secara terang-terangan dengan menggunakan kekuatan 

Kategori
Uncategorized

ISTRI HUTANG TANPA SEPENGETAHUAN SUAMI

Assalaamu alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.

Deskripsi masalah.
Ada PASUTRI (pasangan suami Istri ) yang mana maeisyahnya (mata pencarian nya )dalam kehidupannya pas-pasan, maka dalam kondisi mendesak Istri berhutang tanpa sepengetahuan Suaminya karena semata untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, baik untuk dirinya atau anaknya .
Pertanyaannya;

1-Apakah Istri termasuk korupsi dengan berhutang tanpa sepengetahuan suami? Lalu siapakah yang bertanggung jawab membayar hutang istri tersebut.

Mohon dengan dalilnya!🙏Wa alaikumussalam.
Jawaban.
Berdasarkan referensi dibawah ini. Maka istri diperbolehkan berhutang untuk memenuhi kebutuhan dirinya , tanpa sepengetahuan suaminya.Dan istri yang berhutang itu tidak termasuk korups, karena yang masuk dalam kategori korupsi adalah istri mengambil uang suami tanpa idzin dari suami. Tapi dengan syarat jika suami itu tidak memberikan uang nafkah kepada istrinya.
……………………………….
Jika suami tidak mampu memberikan nafkah kepada istrinya,dan tidak mampu memberikan beras dan ikan kepada istrinya,dan tidak mampu memberikan baju kepada istrinya,dan tidak mampu memberikan nafkahnya pelayannya istri, maka semua nafkah itu menjadi hutang bagi suami. Dan jika istri berhutang untuk nafkahnya istri maka berhutangnya istri ini tidak termasuk korupsi. Walaupun suami tidak memberikan nafkahnya istri disebabkan karena ada udzur(alasan), dan walaupun hakim tidak mewajibkan kepada suami untuk membayarkan hutang nafkahnya suami kepada istri. Alasannya ialah karena diwajibkannya suami untuk membayar terhadap hutang nafkahnya suami kepada istri itu adalah sebagai balasan dari maunya istri di jima’ oleh suami.

Referensi

المكتبة الشاملة
كتاب أسنى المطالب في شرح روض الطالب
[زكريا الأنصاري]

فصول الكتاب
ج: ص: 440
مسار الصفحة الحالية:
فهرس الكتاب [الباب الثالث في الإعسار بنفقة الزوجة] [الطرف الثالث في وقت الفسخ الإعسار بالنفقة]

بِالْفَلَسِ لِإِمْكَانِ الشَّرِكَةِ فِي الْمَبِيعِ قَالَهُ ابْنُ الصَّلَاحِ فِي فَتَاوِيهِ، وَنَقَلَهُ عَنْهُ الْإِسْنَوِيُّ قَالَ وَتَوَقَّفَ فِيهِ ابْنُ الرِّفْعَةِ وَجَزَمَ الْبَارِزِيُّ بِخِلَافِهِ، وَكَلَامُ الْمُصَنِّفِ كَأَصْلِهِ يُوَافِقُهُ لِصِدْقِ الْعَجْزِ عَنْ بَعْضِهِ، وَاعْتَمَدَهُ السُّبْكِيُّ وَغَيْرُهُ قَالُوا؛ لِأَنَّ الْبُضْعَ لَا يَقْبَلُ التَّبْعِيضَ بَلْ هُوَ كَالطَّلَاقِ فِيمَا لَوْ سَأَلَتْهُ طَلْقَةً بِأَلْفٍ لَا نَقُولُ نِصْفُ الْأَلْفِ مُقَابِلٌ لِنِصْفِ الطَّلْقَةِ فَكَذَا لَا يُقَالُ: إنَّ بَعْضَ الْمَهْرِ مُقَابِلٌ لِبَعْضِ الْبُضْعِ بِخِلَافِ الْمَبِيعِ؛ لِأَنَّ الثَّمَنَ يَتَقَسَّطُ عَلَيْهِ فِي الْعَقْدِ فَيَتَقَسَّطُ عَلَيْهِ فِي الرُّجُوعِ عِنْدَ الْفَسْخِ بِخِلَافِ الْمَهْرِ لَا يَتَقَسَّطُ عَلَى الْبُضْعِ فِي النِّكَاحِ فَلَا يَتَقَسَّطُ عَلَيْهِ فِي الْفَسْخِ قَالَ الزَّرْكَشِيُّ: وَقَدْ يُقَالُ هَذَا هُوَ مَأْخَذُ ابْنِ الصَّلَاحِ؛ لِأَنَّهُ إذَا لَمْ يَقْبَلْ التَّبْعِيضَ، وَقَدْ أَدَّى بَعْضَ الْمَهْرِ فَقَدْ دَارَ الْأَمْرُ بَيْنَ أَنْ يَغْلِبَ عَلَيْهِ حُكْمُ الْمَقْبُوضِ أَوْ حُكْمُ غَيْرِهِ، وَالْأَوَّلُ أَوْلَى لِتَشَوُّفِ الشَّارِعِ إلَى بَقَاءِ النِّكَاحِ، وَلِذَلِكَ لَوْ ادَّعَى الْمَوْلَى، وَالْعِنِّينُ الْوَطْءَ قُبِلَ قَوْلُهُمَا، وَإِنْ كَانَ الْأَصْلُ عَدَمَ مَا ادَّعَيَاهُ.

(وَلَا) فَسْخَ لِلزَّوْجَةِ (بِنَفَقَةٍ) عَنْ مُدَّةٍ (مَاضِيَةٍ) أَيْ بِالْعَجْزِ عَنْهَا لِتَنْزِيلِهَا مَنْزِلَةَ دَيْنٍ آخَرَ حَتَّى لَوْ لَمْ تَفْسَخْ فِي يَوْمِ جَوَازِ الْفَسْخِ فَوَجَدَ نَفَقَةً بَعْدَهُ فَلَا فَسْخَ لَهَا بِنَفَقَةِ الْأَمْسِ وَمَا قَبْلَهُ
……………………………….


(بَلْ تَثْبُتُ نَفَقَةُ الْمُعْسِرِ) عَنْ الْمُدَّةِ الْمَاضِيَةِ (وَالْأُدْمِ، وَالْكِسْوَةِ) ، وَالْأَنِيَّةِ.
(وَنَفَقَةُ الْخَادِمِ دَيْنًا) فِي ذِمَّةِ الزَّوْجِ، وَإِنْ تَرَكَهَا بِعُذْرٍ أَوْ لَمْ يَفْرِضْهَا الْقَاضِي؛ لِأَنَّهَا فِي مُقَابَلَةِ التَّمْكِينِ، وَقَدْ حَصَلَ،

……………………………….
وَلَيْسَتْ كَنَفَقَةِ الْقَرِيبِ؛ لِأَنَّهَا تَجِبُ مُوَاسَاةً صِيَانَةً لَهُ عَنْ الْهَلَاكِ وَنَفَقَةُ الزَّوْجَةِ تَجِبُ عِوَضًا كَمَا مَرَّ، وَالتَّقْيِيدُ بِالْمُعْسِرِ مِنْ زِيَادَتِهِ، وَالْأَوْلَى تَرْكُهُ قَالَ الْبُلْقِينِيُّ: وَمَحَلُّ مَا ذُكِرَ فِي نَفَقَةِ الْخَادِمِ إذَا كَانَ الْخَادِمُ مَوْجُودًا فَإِنْ لَمْ يَكُنْ ثَمَّ خَادِمٌ فَلَا تَصِيرُ نَفَقَتُهُ دَيْنًا فِي ذِمَّةِ الزَّوْجِ (لَا السُّكْنَى) فَلَا تَثْبُتُ دَيْنًا؛ لِأَنَّهَا إمْتَاعٌ لَا تَمْلِيكٌ.

(الطَّرَفُ الثَّانِي فِي حَقِيقَةِ هَذِهِ الْفُرْقَةِ وَهِيَ فَسْخٌ لَا طَلَاقَ) فَلَا تُنْقِصُ عَدَدَ الطَّلَاقِ؛ لِأَنَّ الْعَجْزَ عَمَّا ذُكِرَ عَيْبٌ كَالْعُنَّةِ، وَالْجَبِّ بِخِلَافِ الْإِيلَاءِ؛ لِأَنَّ الْمَوْلَى لَا عَيْبَ بِهِ، وَإِنَّمَا قَصَدَ الْإِضْرَارَ بِهَا فَمَنَعَ وَأَمَرَ بِأَنْ يَفِيءَ أَوْ يُطَلَّقَ (وَيُشْتَرَطُ لِلْفَسْخِ) الرَّفْعُ إلَى (الْقَاضِي) كَمَا فِي الْعُنَّةِ؛ لِأَنَّهُ مَحَلُّ اجْتِهَادٍ فَلَا تَسْتَقِلُّ بِهِ الزَّوْجَةُ بَلْ يَفْسَخُهُ بِنَفْسِهِ أَوْ بِغَيْرِهِ بَعْدَ الثُّبُوتِ (أَوْ يَأْذَنُ لَهَا) فِيهِ، وَلَيْسَ لَهَا مَعَ عِلْمِهَا بِالْعَجْزِ الْفَسْخُ قَبْلَ الرَّفْعِ إلَى الْقَاضِي، وَلَا بَعْدَهُ قَبْلَ الْإِذْنِ فِيهِ قَالَ الْإِمَامُ: وَلَا حَاجَةَ إلَى إيقَاعِهِ فِي مَجْلِسِ الْحُكْمِ؛ لِأَنَّ الَّذِي يَتَعَلَّقُ بِهِ إثْبَاتُ حَقِّ الْفَسْخِ (فَإِنْ اسْتَقَلَّتْ بِالْفَسْخِ لِعَدَمِ حَاكِمٍ وَمُحَكِّمٍ) ثَمَّ أَوْ لِعَجْزٍ عَنْ الرَّفْعِ (نَفَذَ) ظَاهِرًا أَوْ بَاطِنًا لِلضَّرُورَةِ (وَإِلَّا) بِأَنْ قَدَرَتْ عَلَى حَاكِمٍ أَوْ مُحَكِّمٍ (فَلَا) يَنْفُذُ فَسْخُهَا ظَاهِرًا، وَلَا بَاطِنًا وَقِيلَ يَنْفُذُ بَاطِنًا، وَالتَّرْجِيحُ فِيهِ مِنْ زِيَادَتِهِ، وَبِهِ صَرَّحَ الْإِسْنَوِيُّ أَخْذًا مِنْ نَقْلِ الْإِمَامُ لَهُ عَنْ مُقْتَضَى كَلَامِ الْأَئِمَّةِ.

[الطَّرَفُ الثَّالِثُ فِي وَقْتِ الْفَسْخ الْإِعْسَار بِالنَّفَقَةِ]

(الطَّرَفُ الثَّالِثُ فِي وَقْتِ الْفَسْخِ يُمْهَلُ) الزَّوْجُ (بَعْدَ ثُبُوتِ الْإِعْسَارِ ثَلَاثَةَ أَيَّامٍ) ، وَإِنْ لَمْ يَسْتَمْهِلْ الْقَاضِي لِيَتَحَقَّقَ إعْسَارُهُ فَإِنَّهُ قَدْ يَعْسُرُ لِعَارِضٍ ثُمَّ يَزُولُ -ظ

[حاشية الرملي الكبير]

قَوْلُهُ: قَالَهُ ابْنُ الصَّلَاحِ فِي فَتَاوِيهِ إلَخْ) قَالَ ابْنُ الْعِمَادِ مَا قَالَهُ ابْنُ الصَّلَاحِ مَرْدُودٌ مِنْ أَوْجُهٍ أَحَدُهَا أَنَّ الْمَهْرَ فِي مُقَابَلَةِ مَنْفَعَةِ الْبُضْعِ فَلَوْ سَلَّطْنَاهُ عَلَى اسْتِيفَاءِ مَنْفَعَةِ الْبُضْعِ بِتَسْلِيمِ الْبَعْضِ لَأَدَّى إلَى إضْرَارِ الْمَرْأَةِ وَالضَّرَرُ لَا يُزَالُ بِالضَّرَرِ وَالثَّانِي أَنَّهُ إنَّمَا يَجِبُ بِتَسْلِيمِ بَعْضِ الْعِوَضِ إذَا لَمْ يَخْشَ تَلَفَ الْبَاقِي وَمَنْفَعَةَ الْبُضْعِ لَا يُمْكِنُ اسْتِيفَاءُ بَعْضِهَا إلَّا بِاسْتِيفَاءِ كُلِّهَا بِخِلَافِ الْمَبِيعِ الثَّالِثِ إنَّا لَوْ جَوَّزْنَا ذَلِكَ لَاتَّخَذَهُ الْأَزْوَاجُ ذَرِيعَةً إلَى إبْطَالِ حَقِّ الْمَرْأَةِ مِنْ حَقِّ حَبْسِ بُضْعِهَا بِتَسْلِيمِ دِرْهَمٍ وَاحِدٍ مِنْ صَدَاقٍ هُوَ أَلْفُ دِرْهَمٍ وَهَذَا فِي غَايَةِ الْبُعْدِ.

الرَّابِعُ أَنَّهُ مَنْقُوضٌ بِمَا إذَا اسْتَأْجَرَ دَارًا سَلَّمَ بَعْضَ الْأُجْرَةِ فَإِنَّهُ لَا يُلْزَمُ الْمَالِكُ بِتَسْلِيمِ الدَّارِ قَبْلَ تَسْلِيمِ الْبَاقِي. الْخَامِسُ أَنَّ قَوْلَهُ لَوْ جَوَّزْنَا لِلْمَرْأَةِ الْفَسْخَ لَعَادَ إلَيْهَا الْبُضْعُ بِكَمَالِهِ مُعَارَضٌ بِمِثْلِهِ وَهُوَ أَنَّا لَوْ أَجْبَرْنَاهَا عَلَى التَّسْلِيمِ لَفَاتَ عَلَيْهَا الْبُضْعُ بِكَمَالِهِ وَأَيْضًا فَإِنَّهُ لَا مَحْذُورَ فِي رُجُوعِ الْبُضْعِ إلَيْهَا بِكَمَالِهِ؛ لِأَنَّ الصَّدَاقَ يُرَدُّ عَلَى الزَّوْجِ بِكَمَالِهِ؛ لِأَنَّهُ عَلَى تَقْدِيرِ الْفَسْخِ يَجِبُ عَلَيْهَا رَدُّ مَا قَبَضَتْهُ. السَّادِسُ أَنَّ مَا ذَكَرَهُ مِنْ الرُّجُوعِ عِنْدَ التَّعَذُّرِ بِالْإِفْلَاسِ لَيْسَ وِزَانَ مَسْأَلَةِ الصَّدَاقِ بَلْ وِزَانُهَا مَا إذَا سَلَّمَ الْمُشْتَرِي لِلْبَائِعِ بَعْضَ الثَّمَنِ هَلْ يَجِبُ عَلَى الْبَائِعِ تَسْلِيمُ حِصَّةِ مَا سَلَّمَ إلَيْهِ مِنْ الْمَبِيعِ أَمْ لَا وَالْأَصَحُّ أَنَّهُ لَا يَلْزَمُهُ ذَلِكَ، وَأَمَّا مَسْأَلَةُ الْفَلَسِ الَّتِي قَاسَ عَلَيْهَا فَإِنَّ الْمَبِيعَ فِيهَا دَخَلَ تَحْتَ يَدِ الْمُشْتَرِي فَلَا يَصِحُّ قِيَاسُ مَسْأَلَةِ الصَّدَاقِ عَلَيْهَا، وَلَا تَنْظِيرُهَا بِهَا.

(قَوْلُهُ: وَجَزَمَ الْبَارِزِيُّ بِخِلَافِهِ إلَخْ) أَشَارَ إلَى تَصْحِيحِهِ وَكَتَبَ عَلَيْهِ، وَنَقَلَ الْأَذْرَعِيُّ التَّصْرِيحَ بِالْخِيَارِ عَنْ الْجَوْزِيِّ وَقَالَ: الْوَجْهُ مَا قَالَهُ الْبَارِزِيُّ نَقْلًا وَمَعْنًى. اهـ. وَعِبَارَةُ الْجَوْزِيِّ فِي الْمُرْشِدِ أَنَّهُ لَوْ كَانَ بَعْضُ الْمَهْرِ مُعَجَّلًا وَبَعْضُهُ مُؤَجَّلًا فَلَهَا الْخِيَارُ مَا لَمْ تَأْخُذْ الْمُعَجَّلَ فَإِذَا أَخَذَتْهُ فَلَا خِيَارَ لَهَا مَا لَمْ يَحِلَّ أَجَلُهُ، وَلَمْ يَدْخُلْ بِهَا فَإِذَا حَلَّ، وَلَمْ يَكُنْ دَخَلَ بِهَا فَلَهَا الْخِيَارُ عَلَى الْقَوْلَيْنِ كَمَا تَقَدَّمَ ذَكَرَهُ فِي أَصْلِ الْمَسْأَلَةِ فَصَرَّحَ بِثُبُوتِ الْخِيَارِ عِنْدَ حُلُولِ الْمُؤَجَّلِ قَبْلَ الدُّخُولِ مَعَ قَبْضِهَا لَا الْمُعَجَّلِ مِنْهُ، وَهُوَ نَصٌّ فِي خِلَافِ فَتْوَى ابْنِ الصَّلَاحِ. وَحَاصِلُهُ أَنَّ الْمَهْرَ إذَا كَانَ حَالًّا وَقَبَضَتْ بَعْضَهُ فَلَهَا الْفَسْخُ بِالْإِعْسَارِ بِالْبَاقِي مِنْ بَابِ أَوْلَى، وَهُوَ الْوَجْهُ نَقْلًا وَمَعْنًى. اهـ. وَبِهِ أَفْتَيْت

(قَوْلُهُ: وَمَحَلُّ مَا ذُكِرَ فِي نَفَقَةِ الْخَادِمِ إذَا كَانَ الْخَادِمُ إلَخْ) أَشَارَ إلَى تَصْحِيحِهِ

[الطَّرَف الثَّانِي فِي حَقِيقَة الْفُرْقَة بِالْإِعْسَارِ بِالنَّفَقَةِ]

(الطَّرَفُ الثَّالِثُ فِي وَقْتِ الْفَسْخِ) (قَوْلُهُ: يُمْهَلُ بَعْدَ ثُبُوتِ الْإِعْسَارِ ثَلَاثَةَ أَيَّامٍ) قَالَ الْأَذْرَعِيُّ: اعْلَمْ أَنَّ ظَاهِرَ كَلَامِهِمْ أَنَّ الْإِمْهَالَ ثَلَاثًا مُخْتَصٌّ بِالنَّفَقَةِ أَمَّا الْمَهْرُ فَلَا إمْهَالَ فِيهِ كَمَا أَشْعَرَ بِهِ سُكُوتُ الْجُمْهُورِ عَنْهُ.

وَبِهِ صَرَّحَ الْمَاوَرْدِيُّ وَالرُّويَانِيُّ حَيْثُ جَعَلَا الْفَسْخَ عَلَى الْفَوْرِ بَعْدَ التَّرَافُعِ إلَى الْقَاضِي، وَلَيْسَ ذَلِكَ بِالْوَاضِحِ بَلْ قَدْ يُقَالُ إنَّ الْإِمْهَالَ هُنَا أَوْلَى لِأَنَّهَا تَتَضَرَّرُ بِتَأْخِيرِ النَّفَقَةِ بِخِلَافِ الْمَهْرِ وَرَأَيْت شَارِحًا قَالَ تَفَقُّهًا الظَّاهِرُ أَنَّهُ لَا فَرْقَ فِي الْإِمْهَالِ بَيْنَ النَّفَقَةِ وَالْمَهْرِ حَيْثُ فَسَخَتْ بِالْإِعْسَارِ بِهِ. اهـ. قَالَ الْمُصَنِّفُ فِي شَرْحِ إرْشَادِهِ: مَا ذَكَرَهُ وَاسْتَدَلَّ بِهِ مِنْ ظَاهِرِ كَلَامِ الْجُمْهُورِ حَيْثُ جَعَلُوا الْخِيَارَ عَلَى الْفَوْرِ لَا يُنَافِي الْإِمْهَالَ وَالْمَعْنَى أَنَّهَا إذَا رَفَعَتْهُ إلَى الْقَاضِي وَقْتَ إعْسَارِهِ بَادَرَتْ بِطَلَبِ الْفَسْخِ؛ لِأَنَّ تَأْخِيرَهَا يَدُلُّ عَلَى رِضَاهَا

Kategori
Uncategorized

Hak dan Kewajiban orang tua terhadap anak Akibat Perceraian

Assalamualaikum wr wb
Mohon para kyai dan para ustadz,
Deskripsi masalah.

Ada suami istri bercerai, mereka sudah punya anak, dan anaknya ikut sama ibunya.

Pertanyaannya
Siapa yang bertanggung jawab menafkahi anaknya menurut syari’at Islam, kewajiban bapak atau ibu yg merawat anaknya?
Jika ada sertakan referensinya biar lebih lengkap

Waalaikum salam warahmatullahi wabarakatuh

Jawaban:
Yang lebih berhak mengasuh terhadap anak itu adalah ibunya.
Adapun nafaqoh ( memberi belanja ) terhadap anak itu adalah tetap kewajiban bapaknya.

Referensi:

المكتبة الشاملة
كتاب حاشية الجمل على شرح المنهج = فتوحات الوهاب بتوضيح شرح منهج الطلاب
[الجمل]

فصول الكتاب
  ج:  ص: 515

فهرس الكتاب  [كتاب النفقات]  [فصل في الحضانة]
   
(فَصْلٌ) فِي الْحَضَانَةِ وَتَنْتَهِي فِي الصَّغِيرِ بِالتَّمْيِيزِ وَمَا بَعْدَهُ إلَى الْبُلُوغِ تُسَمَّى كَفَالَةً كَذَا قَالَهُ الْمَاوَرْدِيُّ وَقَالَ غَيْرُهُ تُسَمَّى حَضَانَةً
أَيْضًا (الْحَضَانَةُ) بِفَتْحِ الْحَاءِ لُغَةً الضَّمُّ مَأْخُوذَةٌ مِنْ الْحِضْنِ بِكَسْرِهَا، وَهُوَ الْجَنْبُ لِضَمِّ الْحَاضِنَةِ الطِّفْلَ إلَيْهِ وَشَرْعًا (تَرْبِيَةُ مَنْ لَا يَسْتَقِلُّ) بِأُمُورِهِ بِمَا يُصْلِحُهُ وَيَقِيهِ عَمَّا يَضُرُّهُ وَلَوْ كَبِيرًا مَجْنُونًا كَأَنْ يُتَعَهَّدَ بِغَسْلِ جَسَدِهِ وَثِيَابِهِ وَدَهْنِهِ وَكَحْلِهِ وَرَبْطِ الصَّغِيرِ فِي الْمَهْدِ وَتَحْرِيكِهِ لِيَنَامَ (وَالْإِنَاثُ أَلْيَقُ بِهَا) ؛ لِأَنَّهُنَّ أَشْفَقُ وَأَهْدَى إلَى التَّرْبِيَةِ وَأَصْبَرُ عَلَى الْقِيَامِ بِهَا (وَأَوْلَاهُنَّ أُمٌّ) لِوُفُورِ شَفَقَتِهَا (فَأُمَّهَاتٌ لَهَا وَارِثَاتٌ) ، وَإِنْ عَلَتْ الْأُمُّ تُقَدَّمُ (الْقُرْبَى فَالْقُرْبَى فَأُمَّهَاتُ أَبٍ كَذَلِكَ) أَيْ وَارِثَاتٌ، وَإِنْ عَلَا الْأَبُ تُقَدَّمُ الْقُرْبَى فَالْقُرْبَى
بِاعْتِبَارِ مَصَّاتِهِ أَوْ تَحَوُّلِهِ مِنْ أَحَدِ ثَدْيَيْهَا إلَى الْآخَرِ، وَهَذَا مِنْ زِيَادَتِي وَبِهِ جَزَمَ فِي أَصْلِ الرَّوْضَةِ تَبَعًا لِلْجُمْهُورِ، وَإِنْ بَحَثَ فِيهِ الرَّافِعِيُّ (وَوُصُولُ لَبَنٍ جَوْفَهُ) احْتِرَازًا عَمَّا لَمْ يَصِلْهُ (وَيُعْرَفُ) وُصُولُهُ (بِنَظَرِ حَلَبٍ) بِفَتْحِ اللَّامِ (وَإِيجَارٍ وَازْدِرَادٍ) أَوْ قَرَائِنَ كَامْتِصَاصٍ مِنْ ثَدْيٍ وَحَرَكَةِ حَلْقِهِ بَعْدَ عِلْمِهِ أَنَّهَا ذَاتُ لَبَنٍ أَمَّا قَبْلَ عِلْمِهِ بِذَلِكَ فَلَا يَحِلُّ لَهُ أَنْ يَشْهَدَ؛ لِأَنَّ الْأَصْلَ عَدَمُ اللَّبَنِ وَلَا يَكْفِي فِي أَدَاءِ الشَّهَادَةِ ذِكْرُ الْقَرَائِنِ بَلْ يَعْتَمِدُهَا وَيَجْزِمُ بِالشَّهَادَةِ، وَالْإِقْرَارُ بِالرَّضَاعِ لَا يُشْتَرَطُ فِيهِ ذِكْرُ الشُّرُوطِ الْمَذْكُورَةِ؛ لِأَنَّ الْمُقِرَّ يَحْتَاطُ فَلَا يُقِرُّ إلَّا عَنْ تَحْقِيقٍ.
……………………………………………

Referensi:

Wajib bagi anak laki-laki atau anak perempuan untuk memberi nafkah ( belanja ) kepada bapaknya ( ibunya, kakeknya, neneknya ).
Tapi dengan syarat jika anak laki-laki atau anak perempuan itu mempunyai harta yang cukup.
Dan wajib bagi  bapak untuk memberi nafkah ( belanja ) kepada anak laki-lakinya (anak perempuannya, cucu laki-lakinya, cucu perempuannya ).Tapi dengan syarat jika bapak itu mempunyai harta yang cukup.

(مغني المحتاج)
[فَصْل فِي نَفَقَةِ الْقَرِيبِ وَالْمُوجِبُ لَهَا قَرَابَةُ الْبَعْضِيَّةِ فَقَطْ]
ْ (يَلْزَمُهُ) أَيْ الشَّخْصَ ذَكَرًا كَانَ أَوْ غَيْرَهُ (نَفَقَةُ الْوَالِدِ) الْحُرِّ (وَإِنْ عَلَا) مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى (وَالْوَلَدِ) الْحُرِّ (وَإِنْ سَفَلَ) مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى. وَالْأَصْلُ فِي الْأَوَّلِ قَوْله تَعَالَى: {وَصَاحِبْهُمَا فِي الدُّنْيَا مَعْرُوفًا} [لقمان: 15] ، وَمِنْ الْمَعْرُوفِ الْقِيَامُ بِكِفَايَتِهِمَا عِنْدَ حَاجَتِهِمَا، وَخَبَرُ: «أَطْيَبُ مَا يَأْكُلُ الرَّجُلُ مِنْ كَسْبِهِ وَوَلَدُهُ مِنْ كَسْبِهِ، فَكُلُوا مِنْ أَمْوَالِهِمْ» رَوَاهُ التِّرْمِذِيُّ وَحَسَّنَهُ الْحَاكِمُ وَصَحَّحَهُ. قَالَ ابْنُ الْمُنْذِرِ: وَأَجْمَعُوا عَلَى أَنَّ نَفَقَةَ الْوَالِدَيْنِ اللَّذَيْنِ لَا كَسْبَ لَهُمَا وَلَا مَالَ وَاجِبَةٌ فِي مَالِ الْوَلَدِ، وَالْأَجْدَادُ وَالْجَدَّاتُ مُلْحَقُونَ بِهِمَا إنْ لَمْ يَدْخُلُوا فِي عُمُومِ ذَلِكَ كَمَا أُلْحِقُوا بِهِمَا فِي الْعِتْقِ وَالْمِلْكِ وَعَدَمِ الْقَوَدِ وَرَدِّ الشَّهَادَةِ وَغَيْرِهِمَا، وَفِي الثَّانِي قَوْله تَعَالَى: {فَإِنْ أَرْضَعْنَ لَكُمْ فَآتُوهُنَّ أُجُورَهُنَّ} [الطلاق: 6] ، إذْ إيجَابُ الْأُجْرَةِ لِإِرْضَاعِ الْأَوْلَادِ يَقْتَضِي إيجَابَ مُؤْنَتِهِمْ، وَقَوْلُهُ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – لِهِنْدٍ:

«خُذِي مَا يَكْفِيكِ وَوَلَدَك بِالْمَعْرُوفِ» رَوَاهُ الشَّيْخَانِ، وَالْأَحْفَادُ مُلْحَقُونَ بِالْأَوْلَادِ إنْ لَمْ يَتَنَاوَلْهُمْ إطْلَاقُ مَا تَقَدَّمَ.

Kategori
Uncategorized

Hukum menggunakan Aset masjid

Pertanyaan:
Mau bertanya, bagaimana hukum menyewa aset masjid…misalnya masjid punya BOR air kemudian disalurkan ke warga tapi mereka bayar setiap bulan ,mohon pejelasan kalau bisa dengan dalilnya kyai.

Jawaban:
Diperbolehkan bagi seseorang untuk menyewa aset masjid sebagamana deskripsi, masjid punya BOR air (artinya Mesin BOR air beserta airnya) yang disalurkan kemasyarakat, dengan cara menarik uang atau membayar setiap bulan (Pengguna membayar setiap bulan) dengan alasan karena hasil dari pendayagunaan aset tersebut kembali kepada kemaslahatan masjid.

Sebagaimana Syekh Muhammad Bakhit al-Muthi’i mengatakan dalam kitab Takmilah al-Majmu’, juz 15, hal. 363).

وَوَظِيْفَةُ النَّاظِرِ حِفْظُ الْأُصُوْلِ وَثَمْرَتُهَا عَلَى وَجْهِ الْاِحْتِيَاطِ كَوَلِيِّ الْيَتِيْمِ كَمَا يَتَوَلَّى الْإِجَارَةَ وَالْعِمَارَةَ

“Kerja nadzir adalah menjaga pokok harta wakaf dan hasilnya atas jalan kehati-hatian seperti wali anak yatim, sebagaimana ia bekerja menyewakan dan membangun harta wakaf” Jika hasilnya barang wakaf itu lebih, apakah diperbolehkan untuk memperdagankan ( Menyiwakan) terhadap hasilnya ?

Jawaban: Sebagian dari ulama’ muta’akhkhiriin itu berfatwa tentang diperbolehkannya memperdagangkan (menyewakan)terhadap hasilnya barang wakaf.Tapi dengan syarat jika hasilnya barang wakaf itu milik masjid.

Referensi:

(قليوبي و عميرة – ج3 صــ 111)
فرع : فضل من ريع الوقف شيء هل يجوز الاتجار فيه ؟ أفتى بعض المتأخرين بالجواز إن كان للمسجد وإلا فلا . خاتمة : أراد بعض الناس ترميم الوقف وفي ريعه كفاية , نقل ابن دقيق العيد عن بعضهم منعه لما فيه من تعطيل غرض الواقف عليه من تحصيل الأجر . قال الزركشي : ولعله مفرع على أن الملك للواقف.
والله أعلم بالصواب……………
.

Kategori
Uncategorized

Q.003.KAMBING BERTANDUK DAN TIDAK BERTANDUK

Assalamualaikum.
Apakah boleh kambing yang tidak bertanduk atau yang terkena penyakit (sakit) di jadikan aqiqoh?

Jawaban:

Tidak diperbolehkan hewan yang terkena penyakit untuk dijadikan Aqiqoh atau dijadikan Qurban, atau hewan yang sangat kurus, hewan yang pincang, hewan yang cacat bagian tubuhnya seperti hewan yang cacat sebagian telinga atau yang cacat ekornya, sebagaimana tidak diperbolehkan juga hewan yang buta sebelah matanya, dan hewan yang buta kedua matanya, atau hewan yang terputus pantatnya. Akan tetapi diperbolehkan untuk dijadikan Aqiqoh atau Qurban yaitu hewan yang cacat tandukya dan juga hewan yang dikebiri.

Referensi:

( متن زبد ابن رسلان ص: 135-136 )

ولم تجز بينة الهزال # ومرض وعرج في الحال.

وناقص الجزء كبعض أذن # أو ذنب كعور في الأعين.

أو العمى أو قطع بعض الألية # وجاز نقص قرنها والخصية

Kitab kifayatul Ahyar :Juz 2, hal :237

وأربع لاتجزء فى الضحايا ،العورآء البين عورها والعرجاء البين عرجها والمريضة البين مرضها والعجفاء التى مخها من الهزال

Catatan :

1.Dikebiri: Kambing jantan yg biji zakarnya telah diambil, biasanya untuk dijadikan kambing potong; (arti)

2. Hukum Aqiqoh sama dengan qurban baik dari bidang hukum jenisnya, umurnya, keselamatannya (dari aib) maupun dari segi niatannya, hanya saja qurban waktunya tertentu yaitu harus dilaksanakan pada bulan Dzul hijjah ( Hari raya Aidul Adha ), sedangkan Aqiqoh tidak terikat pada waktu hari dan bulan.

Referensi:Syarqowi syarah Tahrir :Juz 2 hal.471

(قوله كالأضحية)

خبر لمحذوف أى وهي كالأضحية فى جميع أحكامها من جنسها وسنها وسلامتها ودنيتها ووجوبها أو بقول عند السؤال عنها مثلا هذه عقيقة وامتنان الأكل من والواجب…. الخ


Wallahu A’lam bisshowab.

Kategori
Uncategorized

SUAMI ISTRI SALING BERPEGANGAN TANGAN KETIKA THOWAF

Assalamu alaikum,
Mohon maaf sebelumnya para Kiyai dan Ust.

Deskripsi masalah.
Ketika saya melakukan ibadah Haji saya tahu sendiri terhadap jama’ah Indonesia terkadang sebagaian mereka bingung dengan hal apa yang mereka lakukan, akhirnya sebagian mereka itu ikut-ikutan orang timur tengah tanpa mengetahui ilmunya dan madzhab nya.

Sebagaimana yang kita maklumi, bahwa jam’aah Indonesia mayoritas bermadzhab Syafi’i, sedangkan orang-orang timur tengah hampir rata-rata tidak bermadzhab Syafii, oleh karenanya saya sering melihat Jamaah Indonesia ditegur oleh Jamaah timur tengah.
Haji itu kan merupakan ibadah yang mungkin kesempatannya hanya sekali seumur hidup.
Adapun yang sering saya lihat, ada suami istri saling berpegangan tangan (kedua kulitnya bersentuhan)dalam kondisi punya wudhu, hal itu mereka lakukan karena takut hilang dikarenakan sangat penuhnya jemaah, selain itu saya juga melihat seorang laki-laki menyentuh kepada kulitnya seorang perempuan yang bukan mahramnya ketika thowaf.
Pertanyaanya.
Batalkah wudhu’ mereka dan sahkah thowaf mereka dalam kondisi yang sedemikian itu ? Mohon jawabannya terimakasih

Waalaikum salam.

Jawaban: no.1
Seseorang yang memiliki wudhu menyentuh kepada orang lain jenis atau Ajnabiyah dan lain mahram ( orang yang boleh dinikahi ) maka dalam hal ini Ulama fiqih berbeda pendapat ;
1-Menurut Madzhab Abu Hanifah tidak membatalkan wudu’
2- Menurut Madzhab Syafi’iyah membatalkan wudhu dengan tanpa ha’il (penghalang).
3.Menurut Madzhab Malikiyah dan Ahmad Membatalkan wudhu dengan disertai syahwat.
Catatan dari dua pendapat secara mafhum mukhalafah berarti wudhu nya tidak batal manakala menyentuhnya tidak disertai dengan syahwat .
Referensi:

إبانة الأحكام. الجزء الأول .ص.١٢٩

لمس المرأة وتقبيلها لا ينقض الوضوء وبه أخذ أبو حنيفة،وقال الشافعي اللمس بدون حائل لغير محرم ينقض الوضوء،وعند أحمد ومالك اللمس بشهوة ينقض الوضوء.

             موسوعة الفقهية الكويتية:

.الأحكام المتعلّقة باللّمس :لمس المرأةبالنّسبة لنقض الوضوء :4 – اختلف الفقهاء في حكم لمس المرأة بالنّسبة لنقض الوضوء :فيرى الحنفيّة وأحمد في روايةٍ أنّ لمس الرّجلالمرأة والمرأة الرّجل لا ينقض الوضوء , وروي ذلك عن عليٍّ وابن عبّاسٍ وعطاءٍ وطاوسٍ والحسن ومسروقٍ .ثمّ اختلف الحنفيّة في المباشرة الفاحشة وهو أن يباشر الرّجل المرأة بشهوة وينتشر لها وليس بينهما ثوب ولم ير بللاً , فذهب أبو حنيفة وأبو يوسف إلى أنّه يكون حدثاً استحساناً ,والقياس أن لا يكون حدثاً وهو قول محمّدٍ, وهل تشترط ملاقاة الفرجين وهي مماسّتهما ؟ على قولهما لا يشترط ذلك في ظاهر الرّواية وشرطه في النّوادر , وذكر الكرخي ملاقاة الفرجين أيضاً .

فقه الإسلامى وأدلته

(واستدلوا بما يأتي:1 – قوله تعالى:}أو لا مستم النساء{ ]المائدة:6/5[، وحقيقة اللمس:ملاقاة البشرتين، أما الحنفية فأخذوا بما نقل عن ابن عباس ترجمان القرآن رضي الله عنهما: أن المراد من اللمس الجماع، وبما قال ابن السكيت:أن اللمس إذا قرن بالنساء يراد به الوطء، تقول العرب: لمست المرأة أي جامعتها، فيجب المصير في الآية إلى إرادة المجاز: وهو أن اللمس يراد به الجماع، لوجود القرينة وهيحديث عائشة الذي سيأتي.وأما المالكية والحنبلية الذين قيدوا اللمس الناقض بما إذا كان لشهوة: فجمعوا بين الآية والأخبار الآتية عن عائشة وغيرها.2 – حديث عائشة: »أن النبي صلّى الله عليه وسلم كان يُقبِّل بعض أزواجه، ثم يصلِّي ولا يتوضأ«)1( …

Referensi:

:
فقه العبادات,فقه حنفي:
واستدلوا بما يأتي:1 – قوله تعالى:}أو لا مستم النساء{ ]المائدة:6/5[، وحقيقة اللمس:ملاقاة البشرتين، أما الحنفية فأخذوا بما نقل عن ابن عباس ترجمان القرآن رضي الله عنهما: أن المراد من اللمس الجماع، وبما قال ابن السكيت:أن اللمس إذا قرن بالنساء يراد به الوطء، تقول العرب: لمست المرأة أي جامعتها، فيجب المصير في الآية إلى إرادة المجاز: وهو أن اللمس يراد به الجماع، لوجود القرينة وهيحديث عائشة الذي سيأتي.وأما المالكية والحنبلية الذين قيدوا اللمس الناقض بما إذا كان لشهوة: فجمعوا بين الآية والأخبار الآتية عن عائشة وغيرها.2 – حديث عائشة: »أن النبي صلّى الله عليه وسلم كان يُقبِّل بعض أزواجه، ثم يصلِّي ولا يتوضأ«)1( .

.. مس العورة لحديث طلق بن علي رضي الله عنه قال : قدمنا على نبي الله صلى الله عليه و سلم فجاء رجل كأنه بدوي فقال : يا نبي الله ما ترى في مس الرجل ذكره بعدما يتوضأ فقال : ( هل هو إلا مضغة منه أو قال : بضعة منه ) ( 17 )

  • مس امرأة غير محرم مطلقا لحديث عائشة رضي الله عنها ( أن النبي صلى الله عليه و سلم قبل امرأة من نسائه ثم خرج إلى الصلاة ولم يتوضأ ) ( 18 ) ولأن تفسير { أو لامستم النساء } ( 19 ) في الآية المقصود به الجماع لكن يندب الوضوء للخروج من الخلاف
  • Jawaban no 2
  • Menurut Madzhab Syafi’iyah syaratnya Thowaf harus suci dari hadats ini adalah qoul yang shahih dan mu’tamad,dengan demikian tidak sah Thowafnya,kecuali mereka taqlid kepada Ash-Habus-Syafi’i Yaitu Al-Muzanniy Thowaf nya sah walau dengan tanpa wudhu.(artinya berthowaf dengan tanpa wudhu tidak haram dan sah),atau taqlid kepada madzhab Hanafi atau Maliki atau Ahmad karena yang tidak diperbolehkan taqlid kepada selain Imam yang empat,dengan syarat dan ketentuan semua bab wudhu’ difahami dan tidak Talfiq.
وشروط الطواف ستة أحدها طهر عن حدث وخبث  إنتهى فتح المعين ص  ‏61‏   قوله طهر عن حدث هذا هو الصحيح المعتمد ولنا قول ضعيف ذكره المزني فى مختصره ان الطواف يصح مع الحدث   إنتهى  هامش فتح المعين ص  ‏61


Referensi tentang taqlid.

)قوله: لا غيرها( أي غير المذاهب الاربعة، وهذا إن لم يدون مذهبه، فإن دون جاز كمافي التحفة ونصها: يجوز تقليدكل من الائمة الاربعة، وكذا من عداهم ممن حفظ مذهبه في تلك المسألة ودون حتى عرفت شروطه وسائر معتبراته، فالاجماع الذي نقله غير واحد على منع تقليد الصحابة، يحملعلى ما فقد فيه شرط من ذلك.اه.)قوله: ثم له( أي ثم يجوز له الخ.قال ابن الجمال: )إعلم( أن الاصح من كلام المتأخرين – كالشيخ ابن حجر وغيره – أنه يجوز الانتقال من مذهب إلى مذهب من المذاهب المدونة ولو بمجرد التشهي، سواء انتقل دواما أو في بعض الحادثة، وإن أفتى أو حكم وعمل بخلافه ما لم يلزم منه التلفيق.اه.)قوله: وإن عمل بالاول( أي بالمذهب الاول كمذهب الشافعي.)قوله: الانتقال إلى غيره( أي غير الاول بالكلية: كأن ينتقل من مذهب الشافعي إلى مذهب أبي حنيفة رضي الله عنهما.)قوله: أو في المسائل( أي أو الانتقال في بعض مسائل لغيرمذهبه.)وقوله: بشرط الخ( مرتبط به: أي يجوز له أن يقلد في بعض المسائل بشرط أن لا يتتبع الرخص.)قوله: بأن يأخذ الخ( تصوير لتتبع الرخص.)قوله: فيفسق به( أي بتتبع الرخص، وهذا ما جرى عليه ابن حجر.أما ما جرى عليه الرملي فلا يفسق به، ولكنه يأثم، كما مر.)قوله: وفي الخادم الخ( هذا كالتقييد لما قبله، فكأنه قال محل اشتراط عدم تتبع الرخص فيمن لم يبتل بالوسواس، أماهو فيجوز له ذلك.)وقوله: عن بعض المحتاطين( أي الذين يأخذون بالاحوط في أعمالهم.)قوله: لئلا يزداد( أي الوسواس، وهو علة الاولوية،)وقوله: فيخرج( بالنصب عطف على يزداد: أي فيخرج بسبب زيادة الوسواس عن الشرع مثلا، وابتلى بالوسواس في النية في الوضوء، أو بقراءة الفاتحة خلف الامام، وصار يصرف أكثر الوقت في الوضوء أو في الصلاة، فله أن يترك النية ويقلد الامام أبا حنيفة فيه فإنها سنةعنده، أو يقلده في ترك الفاتحةخلف الامام، حتى يذهب عنه الوسواس.)قوله: ولضده( أي والاولى لضد من ابتلي بالوسواس، وهو الذي لم يبتل به.)قوله: الاخذ بالاثقل( أي بالاشد.)قوله: لئلا يخرج عن الاباحة( أي عن لمباح لو لم يأخذ بالاثقل.)قوله: وأن لا يلفق الخ( معطوف على قوله أن لا يتتبع الرخص: أي وبشرط أن لا يلفق: أي يجمع بين قولين.)قوله: يتولد الخ( أي ينشأ من القولين اللذين لفق بينهما حقيقة واحدة متركبة، كتقليد الشافعي في مسح بعض الرأس،

ومالك في طهارة الكلب،في صلاة واحدة، فلا يصح تقليده المذكور، لانه لفق فيه بين قولين نشأ منهما حقيقة واحدة، وهي الصلاة لا يقول بصحتها كلا الامامين.)قوله: وفي فتاوى شيخنا الخ( مؤيد لاشتراط عدم التلفيق.)قوله: لزمه أن يجري على قضية مذهبه( أي على ما يقتضيه مذهب ذلك الامام الذي قلده في تلك المسألة.)وقوله: وجميع ما يتعلق بها( أي بتلك المسألة: أي من استكمال شروطها، ومراعاة مصححاتها، واجتناب مبطلاتها

Demikian penjelasan terkait wudhu nya orang yang bersentuhan dengan lain jenis atau ajnabiyah dan bukan mahram ketika melakukan Thowaf Ibadah haji.
Wallahu A’lam bisshowab.

Kategori
Uncategorized

Q.002 HUKUMNYA QURBAN/AQIQOH AYAM

Assalamualaikum
Sebelumnya saya mohon maaf ustadz.
Apakah mencukupi syarat (sehat tanpa aib) dan boleh berqurban dengan ayam, karena tidak punya uang untuk membeli sapi atau unta atau kambing dengan mengamalkan ibarah dalam kitab Bughiyatul musytarsyidin, karena pengarang kitab tersebut Syaikh Abdurrahman bin Muhammad bin Husein bin Umar al-Masyhur Ba’Alawiy sebagaimana ibaroh berikut:

Referensi Bughiyah no.257

عن إبن عباس رضي الله عنهما أنه يكفى فى الأضحية إراقة الدم ولو من دجاجة و أوز كماقاله الميدانى وكان شيخنا يأمر الفقير بتقليده ويقيس على الأضحية العقيقة ويقول لمن ولد له مولود عق بالديكة على مذهب إبن عباس أه باجورى


Waalaikumsalam salam.
Jawaban.
Menurut mayoritas ulama dikalangan madzhab yang empat ( Hanafi, Maliki, Syaifi’ie dan Ahmad ) mereka sepakat bahwa diantara persyaratan sahnya qurban itu harus berupa An-Na’amu ( Unta, sapi dan kambing ) Selain dari hewan tersebut tidak mencukupi syarat, namun ada satu madzhab yaitu Ibnu Abbas yang memperbolehkan berqurban berupa ayam, sebagaimana penjelasan Al-Maidani Syaikhona ( Zakariya Al-Anshori ) mengintruksikan atau membolehkan bagi orang fakir yang betul-betul tidak berkemampuan untuk membeli sapi ataupun kambing mengamalkan pendapat tersebut, namun dengan syarat harus bertaqlid. Menurut Abdullah ibn Hijazi ibn Ibrahim asy-Syarqawi dalam kitabnya Syarqowi syarhu Tahrir mengatakan tidak boleh bertaqlid kepada madzhab Ibnu Abbas sebagaima bertaqlid kepada sebagian shohabat yang madzhabnya telah hijrah ( pindah/ditinggalkan ) karena tidak ada nya kesesuaian pendapat dan riwayat yang sampai kepada kami dari mereka dengan secara mutawatir, oleh karenanya madzhab mereka dimuhmalkan ( dipertimbangkan ) dengan bayak syarat yang tidak pernah kita lihat atau ketahui.

Dari penjelasan diatas dapat disimpulkan bawa tidak boleh berqurban ayam dengan mengamalkan sebagaimana Ibaroh dalam Kitab Bughiyatul Musytarsyidin dikarenakan tidak mencukupi syarat qurban menurut madzhab yang empat serta tidak dibolehkan bertaqlid ( mengikuti ) kepada pendapatnya Ibnu Abbas yang pendapatnya dianggap lemah dan telah hijrah karena tidak adanya kesesuaian dan riwayat yang mutawatir.

wallahu A’lam bisshowab.

Referensi


موسوعة الفقهية الكويتية

مِنْ مَذْهَبِ الجُمْهور.
شُروطُ صِحَّةِ الأُضْحيَّة:
لِلتَّضْحيَةِ شَرائِطُ تَشْمَلُها وتَشْمَلُ كُلَّ الذَّبائِحِ، ولِتَفْصيلِها (ر : ذَبائِحُ).
وشَرائِطُ تَخْتَصُّ بِها، وهي ثَلاثَةُ أنْواعٍ : نَوْعٌ يَرْجِعُ إلى الأُضْحيَّةِ، ونَوْعٌ يَرْجِعُ إلى المُضَحّي، ونَوْعٌ يَرْجِعُ إلى وقْتِ التَّضْحيَة. النَّوْعُ الأوَّلُ : شُروطُ الأُضْحيَّةِ في ذاتِها:
الشَّرْطُ الأوَّلُ: وهوَ مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ بَيْنَ المَذاهِب: أنْ تَكونَ مِنَ الأنْعامِ، وهيَ الإبِلُ عِرابًا كانَتْ أوْ بَخاتيَّ – العراب جمع عربي، والبَخاتيّ بفتح الباء وتشديد الياء مع كسر التَّاء، وقد تفتح التاء وتقلب الياء ألفًا، وهي الإبل الخراسانيَّة؛ القاموس، والمعجم الوسيط) والمراد هنا الإبل غير العربيَّة وواحدها بُختي بضم الباء وسكون الخاء وتشديد الياء – والبَقَرَةُ الأهْليَّةُ ومِنْها الجَواميسُ.
الشَّرْطُ الثَّاني: أنْ تَبْلُغَ سِنَّ التَّضْحيَةِ، بِأنْ تَكونَ ثَنيَّةً أوْ فَوْقَ الثَّنيَّةِ مِنَ الإبِلِ والبَقَر والمَعْزِ، وجَذَعَةً أوْ فَوْقَ الجَذَعَةِ مِنَ الضَّأْنِ، فَلا تُجْزِئُ التَّضْحيَةُ بِما دونَ الثَّنيَّةِ مِنْ غَيْرِ الضَّأْنِ، ولا بِما دونَ الجَذَعَةِ مِنَ الضَّأْنِ؛ لِقَوْلِ النَّبيِّ – صلَّى اللَّهُ عَلَيْه وسلَّم -: ((لا تَذْبَحوا إلا مُسِنَّةً، إلا أنْ يَعْسُرَ عَلَيْكُمْ، فتَذْبَحوا جَذَعَةً مِنَ الضَّأْن))، والمُسِنَّةُ مِنْ كُلِّ الأنْعامِ هيَ الثَّنيَّةُ فَما فَوْقَها، حَكاهُ النَّوَويُّ عَنْ أهْلِ اللُّغَة، ولِقَوْلِه – صلَّى اللهُ علَيْه وسلَّمَ -: ((نِعْمَتِ الأُضْحيَّةُ الجَذَعُ مِنَ الضَّأْنِ)).
وهَذا الشَّرْطُ مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ بَيْنَ الفُقَهاءِ، ولَكِنَّهُمُ اخْتَلَفوا في تَفْسيرِ الثَّنيَّةِ والجَذَعَةِ. فَذَهَبَ الحَنَفيَّةُ والحَنابِلَةُ إلى أنَّ الجَذَعَ مِنَ الضَّأْنِ ما أتَمَّ سِتَّةَ أشْهُرٍ، وقيلَ: ما أتَمَّ سِتَّةَ أشْهُرٍ وشَيْئًا، وأيًّا ما كانَ فَلا بُدَّ أنْ يَكونَ عَظيمًا بِحَيْثُ لَوْ خُلِطَ بِالثَّنايا لاشْتَبَه على النّاظِرينَ مِنْ بَعيدٍ، والثَّنيُّ مِنَ الضَّأْنِ والمَعْزِ ابْنُ سَنَةٍ، ومِنَ البَقَرِ ابْنُ سَنَتَيْنِ، ومِن الإبِلِ ابْنُ خَمْس سِنينَ. وَذَهَبَ المالِكيَّةُ إلَى أنَّ الجَذَعَ مِنَ الضَّأْنِ ما بَلَغَ سَنَةً (قَمَريَّةً) ودَخَلَ في الثّانيَةِ ولَوْ مُجَرَّدَ دُخولٍ، وفَسَّروا الثَّنيَّ مِنَ المَعْزِ بِما بَلَغَ سَنَةً، ودَخَلَ في الثّانيَةِ دُخولا بَيِّنًا، كَمُضيِّ شَهْرٍ بَعْدَ السَّنَةِ، وفَسَّروا الثَّنيَّ مِنَ البَقَرِ بِما بَلَغَ ثلاثَ سِنينَ، ودَخَلَ في الرّابِعَةِ ولَوْ دُخولا غَيْرَ بَيِّنٍ، والثَّنيَّ مِنَ الإبِلِ بِما بَلَغَ خَمْسًا ودَخَلَ في السّادِسَةِ ولَوْ دُخولا غَيْرَ بَيِّنٍ.
وَذَهَبَ الشّافِعيَّةُ إلَى أنَّ الجَذَعَ ما بَلَغَ سَنَةً، وقالوا: لَوْ أجْذَعَ بِأنْ أسْقَطَ مُقَدَّمَ أسْنانِهِ قَبْلَ السَّنَةِ وبَعْدَ تَمامِ سِتَّةِ أشْهُرٍ يَكْفي، وفسَّروا الثَّنيَّ مِنَ المَعْزِ بما بَلَغَ سَنَتَيْنِ، وكَذَلِكَ البَقَرُ. الشَّرْطُ الثّالِثُ: سلامتُها مِنَ العُيوبِ الفاحِشَة، وهيَ العُيوبُ الَّتي مِنْ شَأْنِها أنْ تنْقصَ الشَّحْمَ أوِ اللَّحْمَ إلا ما اسْتُثْنيَ.
وَبِناءً على هَذا الشَّرْطِ لا تُجْزِئُ التَّضْحيَةُ بِما يَأْتي: 1- العَمْياءُ. 2- العَوْراءُ البَيِّنُ عَوَرُها، وهيَ الَّتي ذَهَبَ بَصَرُ إحْدى عَيْنَيْها، وفَسَّرَها الحَنابِلَةُ بِأنَّها الَّتي انْخَسَفَتْ عَيْنُها وذَهَبَتْ؛ لأنَّها عُضْوٌ مُسْتَطابٌ، فَلَوْ لَمْ تَذْهَبِ العَيْنُ أجْزَأتْ عِنْدَهُمْ، وإنْ كانَ عَلَى عَيْنِها بَياضٌ يَمْنَعُ الإبْصارَ. 3- مَقْطوعةُ اللِّسانِ بِالكُلّيَّة. 4- ما ذَهَبَ مِنْ لِسانِها مِقْدارٌ كَثيرٌ، وقالَ الشّافِعيَّةُ: يَضُرُّ قَطْعُ بَعْضِ اللِّسانِ ولَوْ قَليلا. 5- الجَدْعاءُ وهيَ مَقْطوعَةُ الأنْفِ. 6- مَقْطوعَةُ الأُذُنَيْنِ أوْ إحْداهُما، وكذا السَّكّاءُ، وهيَ

: فاقِدةُ الأُذُنَيْنِ أوْ إحْداهُما خِلْقَةً وخالَفَ الحَنابِلةُ في السَّكّاء. 7- ما ذَهَبَ مِنْ إحْدى أُذُنَيْها مِقْدارٌ كَثيرٌ، واخْتَلَفَ العُلَماءُ في تَفْسيرِ الكَثيرِ، فَذَهَبَ الحَنَفيَّةُ إلَى أنَّهُ ما زادَ عَنِ الثُّلُثِ في رِوايَةٍ، والثُّلُثُ فَأكْثَرُ في رِوايَةٍ أُخْرَى، والنِّصْفُ أوْ أكْثَرُ، وهوَ قَوْلُ أبي يوسُفَ، والرُّبْعُ أوْ أكْثَرُ في رِوايَةٍ

رابِعَةٍ. وَقالَ المالِكيَّةُ: لا يَضُرُّ ذَهابُ ثُلُثِ الأُذُنِ أوْ أقلُّ.
وقالَ الشّافِعيَّةُ: يَضُرُّ ذَهابُ بَعْضِ الأُذُنِ مُطْلَقًا.
وقالَ الحَنابِلةُ: يَضُرُّ ذَهابُ أكْثَرِ الأُذُن.
والأصْلُ في ذَلِكَ كُلِّهِ حَديثُ: “إنَّ النَّبيَّ – صلَّى اللَّهُ علَيْه وسلَّم – نَهَى أنْ يُضَحّيَ بِعَضْباءِ الأُذُن”. 8- العَرْجاءُ البَيِّنُ عَرَجُها، وهيَ الَّتي لا تَقْدِرُ أنْ تَمْشيَ بِرِجْلِها إلى المَنْسَك – أيِ المَذْبَح – وفَسَّرَها المالِكيَّةُ والشّافِعيَّةُ بِالَّتي لا تَسيرُ بِسَيْرِ صَواحِبِها. 9- الجَذْماءُ وهيَ: مَقْطوعَةُ اليَدِ أو الرِّجْلِ، وكَذا فاقِدَةُ إحْداهُما خِلْقَةً. 10- الجَذَّاءُ وهيَ: الَّتي قُطِعَتْ رُؤوسُ ضُروعِها أوْ يَبِسَتْ.
وقالَ الشَّافِعيَّةُ: يَضُرُّ قَطْعُ بَعْضِ الضَّرْعِ، ولَوْ قَليلا.
وقالَ المالِكيَّةُ: إنَّ الَّتي لا تُجْزِئُ هيَ يابِسةُ الضَّرْعِ جَميعِه، فإنْ أرْضَعَتْ بِبَعْضِه أجْزَأتْ.
11- مَقْطوعةُ الألْيَةِ، وكذا فاقِدَتُها خِلْقَةً، وخالَفَ الشّافِعيَّةُ فقالوا بإجْزاءِ فاقِدةِ الألْيَةِ خِلْقَةً، بِخلافِ مَقْطوعَتِها. 12- ما ذَهَبَ مِنْ ألْيَتِها مِقْدارٌ كَثيرٌ، وقالَ الشّافِعيَّةُ: يَضُرُّ ذَهابُ بَعْضِ الألْيَةِ ولَوْ قَليلا. 13- مَقْطوعَةُ الذَّنَبِ، وكَذا فاقِدَتُهُ خِلْقَةً، وهيَ المُسَمّاةُ بِالبَتْراءِ، وخالَفَ الحَنابِلَةُ فيهِما فقالوا: إنَّهُما يُجْزِئان، وخالَفَ الشّافِعيَّةُ في الثّانيَةِ دونَ الأولَى. 14- ما ذَهَبَ مِنْ ذَنَبِها مِقْدارٌ كَثيرٌ، وقالَ المالِكيَّةُ: لا تُجْزِئُ ذاهِبَةُ ثُلُثِه فصاعِدًا. وقالَ الشَّافِعيَّةُ: يَضُرُّ قَطْعُ بَعْضِه ولَوْ قَليلا.
وقال الحَنابِلَةُ: لا يَضُرُّ قَطْعُ الذَّنَبِ كُلاًّ أوْ بَعْضًا.
15- المَريضَةُ البَيِّنُ مَرَضُها، أيِ الَّتي يَظْهَرُ مَرَضُها لِمَنْ يَراها. 16- العَجْفاءُ الَّتي لا تُنْقي، وهيَ المَهْزولَةُ الَّتي ذَهَبَ نَقْيُها، وهوَ المُخُّ الَّذي في داخِلِ العِظامِ، فَإنَّها لا تُجْزِئُ؛ لأنَّ تَمامَ الخِلْقَةِ أمْرٌ ظاهِرٌ، فَإذا تَبَيَّنَ خِلافُهُ كانَ تَقْصيرًا. 17- مُصَرَّمَةُ الأطِبّاءِ، وهيَ الَّتي عولِجَتْ حَتَّى انْقَطَعَ لَبَنُها. 18- الجَلالَةُ، وهيَ الَّتي تَأْكُلُ العَذِرَةَ ولا تَأْكُلُ غَيْرَها، مِمّا لَمْ تُسْتَبْرَأْ بِأنْ تُحْبَسَ أرْبَعينَ يَوْمًا إنْ كانَتْ مِنَ الإبِلِ، أوْ عِشْرينَ يَوْمًا إنْ كانَتْ مِنَ البَقَرِ، أوْ عَشْرَةً إنْ كانَتْ مِنَ الغَنَمِ. هَذِهِ الأمْثِلَةُ ذُكِرَتْ في كُتُبِ الحَنَفيَّة، وهُناكَ أمْثِلَةٌ أُخْرَى لِلأنْعامِ الَّتي لا تُجْزِئُ التَّضْحيَةُ بِها ذُكِرَتْ في كُتُبِ المَذاهِبِ الأُخْرَى. (مِنْها) ما ذَكَرَهُ المالِكيَّةُ حَيْثُ قالوا: لا تُجْزِئُ (البَكْماءُ) وهيَ فاقِدةُ الصَّوْتِ ولا (البَخْراءُ) وهيَ مُنْتِنَةُ رائِحَةِ الفَمِ، ولَمْ يُقَيِّدوا ذَلِكَ بِكَوْنِها جلالَةً، ولا (بَيِّنَة البَشَمِ)، وهوَ التُّخَمَةُ، ولا (الصَّمّاءُ) وهيَ الَّتي لا تَسْمَعُ…..

Dalil yang menjelaskan tidak mencukupi syarat Qurban Ayam:

الموسوعة الفقهية – 2784/31949
فمن ضحى بحيوان مأكول غير الأنعام، سواء أكان من الدواب أم الطيور، لم تصح تضحيته به، لقوله تعالى: {ولكل أمة جعلنا منسكا ليذكروا اسم الله على ما رزقهم من بهيمة الأنعام} (2) ولأنه لم تنقل التضحية بغير الأنعام عن النبي صلى الله عليه وسلم ولو ذبح دجاجة أو ديكا بنية التضحية لم يجزئ.

Penjelasan.

Orang yang berqurban dengan hewan yang bisa dimakan selain sapi, unta dan kambing, baik adanya dari banyak hewan berupa burung, maka tidak sah qurbannya.Karena berdasarkan firman Allah yang artinya:” Dan bagi setiap umat telah Kami syariatkan penyembelihan (kurban), agar mereka menyebut nama Allah atas rezeki yang dikaruniakan Allah kepada mereka berupa hewan ternak.Dan berqurban selain sapi, unta dan kambing tidak boleh dikarenakan tidak mangquul dari Nabi SAW, Dan andaikan seseorang menyembelih ayam betina atau menyembelih ayam jantan dengan diniatkan qurban, maka qurbannya tidak mencukupi.

Referensi Bughiyah hal.76/luarnya.

(مسئلة)

لاتجزء التضحية بغير الإبل و البقر والغنم لأنه لم ينقل

Satu persoalan.

Penjelasan.

Tidak mencukupi qurban selain sapi, unta, dan kambing dikarenakan tidak manquul.

Referensi : Syarqowi syarhu Tahrir.Juz;2 hal:463

قوله من النعم ]خرج به الدجاج والأوز وبقر الوحش. وقال إبن عباس بإجزاء الدجاج والأوز لا يجوز تقليده كبقية الصحابة التى هجرت مذاهبهم لعدم ضبطها ونقلها لنا عنهم بالتواتر فيحمل أنها مشروطة بشروط لم نطلع علينا

Adapun perkataan Mushonnif An-Naamu ( sapi unta dan kambing ) maka keluar hewan berupa ayam dan angsa dan sapi alas . Ibnu Abbas mengatakan bahwa ayam dan angsa itu cukup ( dijadikan qurban ) dan tidak boleh meniru mereka seperti para sahabat lainnya yang meninggalkan madzhabnya di karenakan tidak kuat ( lemah ) tidak adanya hujjah dan tidak mangqul/ turun kepada kita dari mereka dengan secara mutawatir, maka itu dipertimbangkan bahwa mereka menggantungkan pada syarat-syarat yang belum kita lihat )

Maksud dari ibaroh diatas :” Bahwa menurut Ibnu Abbas berqurban /Aqiqoh berupa ayam dan angsa boleh,( mencukupi), namun pendapat ini ditentang oleh Syaikh Zakariya al-Anshoriya:” Tidak boleh mengikuti pendapatnya Ibnu Abbas sebagaimana sahabat yang madzhabnya dianggap lemah karena tidak adanya hujjah ( dalil ) dan mangqul (turun ) kepada kita dari mereka dengan secara mutawatir, maka pendapatnya dipertimbangkan dengan banyak syarat yang belum kita lihat ( belum kita ketahui). Wallahu A’lambisshowab. .

Kategori
Uncategorized

Hukum Kurban Seekor Sapi Jika Untuk Lebih dari 7 Orang

Pertanyaan :

  1. Bagaimana hukum kurban bila lebih dari 7 orang untuk seekor sapi ?

Jawaban :

  1. Tafsil :
    a) Jika maksud lebih dari 7 orang itu memang bersekutu dalam berkurban, maka tidak mencukupi (tidak gugur hukum kesunnahan) kurbannya kecuali pendapat Abu Ishaq yang memperbolehkan hingga 10 orang. Akan tetapi orang yang berkurban tetap mendapatkan pahala shodaqoh sunnah.
    b) Jika maksud lebih dari 7 orang adalah bersekutu dalam pahala kurban, maka boleh secara mutlaq (tanpa hitungan), baik orang yang bersekutu sudah meninggal atau belum, menurut Syekh Khotib asy-Syirbini. Namun menurut Imam Ibnu Hajar, orang yang bersekutu tersebut khusus orang-orang yang sudah meninggal dunia.

Referensi jawaban no. 1 :
‏حاشية ﺍﻟﺒﺎﺟﻮﺭﻱ ـ (ﺝ 2 / ﺹ 297‏)
ﻭﺗﺠﺰﺉ ﺑﺪﻧﺔ ﻋﻦ ﺳﺒﻌﺔ ﺍﺷﺘﺮﻛﻮﺍ ﻓﻰ ﺍﻟﺘﻀﺤﻴﺔ ﺑﻬﺎ ‏( ﻭﻗﻮﻟﻪ ﺍﺷﺘﺮﻛﻮﺍ ﻓﻰ ﺍﻟﺘﻀﺤﻴﺔ ﺑﻬﺎ ‏) ﺍﻱ ﺑﺎﻟﺒﺪﻧﺔ ﻭﻣﺜﻠﻬﺎ ﺍﻟﻬﺪﻱ ﻭﺍﻟﻌﻘﻴﻘﺔ ﻭﻏﻴﺮﻫﻤﺎ . ﻓﺎﻟﺘﻘﻴﻴﺪ ﺑﺎﻟﺘﻀﺤﻴﺔ ﻟﺨﺼﻮﺹ ﺍﻟﻤﻘﺎﻡ ﺳﻮﺍﺀ ﺍﺗﻔﻘﻮﺍ ﻓﻰ ﻧﻮﻉ ﺍﻟﻘﺮﺑﺔ ﺍﻡ ﺍﺧﺘﻠﻔﻮﺍ ﻓﻴﻪ ﻛﻤﺎ ﺍﺫﺍ ﻗﺼﺪ ﺑﻌﻀﻬﻢ ﺍﻟﺘﻀﺤﻴﺔ ﻭﺑﻌﻀﻬﻢ ﺍﻟﻬﺪﻳﺔ ﻭﺑﻌﻀﻬﻢ ﺍﻟﻌﻘﻴﻘﺔ ﻭﻛﺬﻟﻚ ﻣﺎﻟﻮ ﺍﺭﺍﺩ ﺑﻌﻀﻬﻢ ﺍﻟﺘﻀﺤﻴﺔ ﻭﺑﻌﻀﻬﻢ ﺍﻻﻛﻞ ﻭﺑﻌﻀﻬﻢ ﺍﻟﺒﻴﻊ ﻭﻟﻮ ﻛﺎﻥ ﺍﺣﺪﻫﻢ ﺫﻣﻴﺎ ﻟﻢ ﻳﻘﺪﺡ ﻓﻴﻤﺎ ﻗﺼﺪﻩ ﻏﻴﺮﻩ ﻣﻦ ﺍﺿﺤﻴﺔ ﻭﻧﺤﻮﻫﺎ ﻭﻟﻬﻢ ﻗﺴﻤﺔ ﺍﻟﻠﺤﻢ ﻻﻧﻬﺎ ﻗﺴﻤﺔ ﺍﻓﺮﺍﺯ ﻋﻠﻰ ﺍﻻﺻﺢ ﻛﻤﺎ ﻓﻰ ﺍﻟﻤﺠﻤﻮﻉ ﻭﻟﻠﺠﺰﺍﺭ ﺑﻴﻊ ﺧﺼﺘﻪ ﺑﻌﺪ ﺫﻟﻚ ‏( ﻗﻮﻟﻪ ﻭﺗﺠﺰﺉ ﺍﻟﺒﻘﺮﺓ ﻋﻦ ﺳﺒﻌﺔ ﻛﺬﻟﻚ ‏) ﺍﻱ ﺍﺷﺘﺮﻛﻮﺍ ﻓﻰ ﺍﻟﺘﻀﺤﻴﺔ ﻓﻴﻬﺎ ﻣﻊ ﺍﻥ ﺫﻟﻚ ﻟﻴﺲ ﺑﻘﻴﺪ ﻛﻤﺎ ﻋﻠﻢ ﻣﻤﺎ ﻣﺮ . ‏( ﻗﻮﻟﻪ ﻭﺗﺠﺰﺉ ﺍﻟﺸﺎﺓ ﻋﻦ ﺷﺨﺺ ﻭﺍﺣﺪ ‏) ﺍﻱ ﻻ ﻋﻦ ﺍﻛﺜﺮ ﻣﻨﻪ ﻓﻠﻮ ﺍﺷﺘﺮﻙ ﻣﻊ ﻏﻴﺮﻩ ﻓﻴﻬﺎ ﻟﻢ ﺗﻜﻒ , ﻧﻌﻢ . ﻟﻮ ﺿﺤﻰ ﻋﻨﻪ ﻭﻋﻦ ﺍﻫﻠﻪ ﻓﻼ ﻳﻀﺮ ﻭﻋﻠﻰ ﺫﻟﻚ ﺣﻤﻞ ﺧﺒﺮ ﺳﻠﻢ ﺿﺤﻰ ﺍﻟﺦ .

‏ﻧﻬﺎﻳﺔ ﺍﻟﻤﺤﺘﺎﺝ ـ (ﺝ 4 / ﺹ 133‏)
ﻭﺗﺠﺰﺉ ﺍﻟﺒﻌﻴﺮ ﻭﺍﻟﺒﻘﺮﺓ ﻋﻦ ﺳﺒﻌﺔ ﻟﻠﻨﺺ ﻓﻴﻪ ﻛﻤﺎ ﻳﺠﺰﺉ ﻋﻨﻬﻢ ﺍﻟﺘﺤﻠﻞ ﻟﻺﺣﺼﺎﺭ ﻟﺨﺒﺮ ﻣﺴﻠﻢ ﻭﺳﻮﺍﺀ ﺍﺭﺍﺩ ﺑﻌﻀﻬﻢ ﺍﻟﺘﻀﺤﻴﺔ ﻭﺍﻵﺧﺮ ﺍﻟﻠﺤﻢ ﺍﻡ ﻻ ﻭﻟﻬﻢ ﻗﺴﻤﺔ ﺍﻟﻠﺤﻢ ﺍﺫ ﻫﻲ ﻗﺴﻤﺔ ﺍﻓﺮﺍﺯ . ﻭﺧﺮﺝ ﺑﺴﺒﻌﺔ ﻣﺎﻟﻮ ﺫﺑﺤﻬﺎ ﺛﻤﺎﻧﻴﺔ ﻇﻨﻮﺍ ﺍﻧﻬﻢ ﺳﺒﻌﺔ ﻓﻼ ﺗﺠﺰﺉ ﻋﻦ ﻭﺍﺣﺪ ﻣﻨﻬﻢ ﻭﺍﻟﺸﺎﺓ ﻋﻦ ﻭﺍﺣﺪ ﻓﻘﻂ ﺑﻞ ﺍﺷﺘﺮﻙ ﺍﺛﻨﺎﻥ ﻓﻰ ﺷﺎﺗﻴﻦ ﻓﻰ ﺗﻀﺤﻴﺔ ﺍﻭ ﻫﺪﻱ ﻟﻢ ﻳﺠﺰﺉ . ﻭﺍﻣﺎ ﺍﻟﺨﺒﺮ ” ﺍﻟﻠﻬﻢ ﻫﺬﺍ ﻣﻦ ﻣﺤﻤﺪ ﻭﺍﻣﺔ ﻣﺤﻤﺪ ” ﻣﺤﻤﻮﻝ ﻋﻠﻰ ﺍﻥ ﺍﻟﻤﺮﺍﺩ ﺍﻟﺘﺸﺮﻳﻚ ﻓﻰ ﺍﻟﺜﻮﺍﺏ .

ﺇﻋﺎﻧﺔ ﺍﻟﻄﺎﻟﺒﻴﻦ ـ (ﺝ 1 / ﺹ 332‏)
ﻭﻟﻮ ﺍﺷﺘﺮﻙ ﺃﻛﺜﺮ ﻣﻦ ﺳﺒﻌﺔ ﻓﻲ ﺑﺪﻧﺔ ﻟﻢ ﻳﺠﺰﺉ ﻋﻦ ﻭﺍﺣﺪ ﻣﻨﻬﻢ

حلية العلماء ـ (ج ٣ / ص ٣٢٩)
ﻭﻳﺠﻮﺯ ﺃﻥ ﻳﺸﺘﺮﻙ اﻟﺴﺒﻌﺔ ﻓﻲ ﺑﺪﻧﺔ ﻭﻓﻲ ﺑﻘﺮﺓ ﺳﻮاء ﻛﺎﻧﻮا ﻣﺘﻘﺮﺑﻴﻦ ﺃﻭ ﺑﻌﻀﻬﻢ ﻳﺮﻳﺪ اﻟﻠﺤﻢ ﺃﻫﻞ ﺑﻴﺖ ﻭاﺣﺪ ﻛﺎﻧﻮا ﺃﻭ ﻣﺘﻔﺮﻗﻴﻦ. ﻭﻗﺎﻝ ﻣﺎﻟﻚ ﺇﻥ ﻛﺎﻥ ﻣﺘﻄﻮﻋﺎ ﺟﺎﺯ ﺇﺫا ﻛﺎﻧﻮا ﺃﻫﻞ ﺑﻴﺖ ﻭاﺣﺪ. ﻭﻗﺎﻝ اﺑﻮ ﺣﻨﻴﻔﺔ ﺇﺫا ﻛﺎﻧﻮا ﻣﺘﻘﺮﺑﻴﻦ ﺟﺎﺯ. ﻭﻗﺎﻝ ﺇﺳﺤﺎﻕ ﺑﻦ ﺭاﻫﻮﻳﻪ اﻟﺒﺪﻧﺔ ﻋﻦ ﻋﺸﺮﺓ ﻭاﻟﺒﻘﺮﺓ ﻋﻦ ﻋﺸﺮﺓ.

الحاوى الكبير للماوردى – (ج ١٥ / ص ١٢٢)
مسألة : قال الشافعي : وإذا نحر سبعة بدنة أو بقرة في الضحايا أو الهدي كانوا من أهل بيت واحد أو شتى فسواء، وذلك يجزي وإن كان بعضهم مضحيا وبعضهم مهديا أو مفتديا أجزأ : لأن سبع كل واحد منهم يقوم مقام شاة منفردة، وكذلك لو كان بعضهم يريد بنصيبه لحما لا أضحية ولا هديا، وقال جابر بن عبد الله : نحرنا مع رسول الله – {صلى الله عليه وسلم} – يوم الحديبية البدنة عن سبعة، والبقرة عن سبعة قال الشافعي رحمه الله : وهم شتى.
قال الماوردي : أما البدنة في الضحايا والهدايا فهي عن سبعة وكذلك البقرة عن سبعة في الضحايا والهدي، ويقوم كل سبع مقام شاة وهو قول الجمهور.
وقال إسحاق بن راهويه : البدنة عن عشرة وكذلك البقرة، وبه قال بعض التابعين، وهو مروي عن ابن عباس احتجاجا برواية ابن عباس أنه قال : نحرنا البدنة عند عشرة، والبقرة عن عشرة، ولأن رسول الله – {صلى الله عليه وسلم} – قال : البدنة في الغنائم بعشر من الغنم فكذلك في الضحايا.
ودليلنا : ما روي عن مالك عن أبي الزبير عن جابر قال : نحرنا مع رسول الله – {صلى الله عليه وسلم} – عام الحديبية البدنة عن سبعة، والبقرة عن سبعة. وهذا لا يكون منهم إلا عن أمره، على أن الشافعي قد روى عن يحيى بن حسان، عن حماد بن سلمة، عن قيس بن سعد، عن عطاء، عن جابر أن النبي – {صلى الله عليه وسلم} – نحر البدنة عن سبعة والبقرة عن سبعة.
فأما حديث ابن عباس فهو موقوف وليس بمسند ومتروك، وغيره معمول به، وهو محمول على تعديلها في الغنائم بعشر من الغنم، ولا يجوز أن يصير ذلك في الضحايا أصلا، لأنه قد اختلف قتادة جعل بعشر وتارة بأقل وتارة بأكثر.

ﺑﻐﻴﺔ اﻟﻤﺴﺘﺮﺷﺪﻳﻦ ﻟﻠﺴﻴﺪ ﺑﺎﻋﻠﻮﻱ اﻟﺤﻀﺮﻣﻲ ـ (ص 257)
(ﻣﺴﺄﻟﺔ): ﻣﺬﻫﺐ اﻟﺸﺎﻓﻌﻲ ﻭﻻ ﻧﻌﻠﻢ ﻟﻪ ﻣﺨﺎﻟﻔﺎ ﻋﺪﻡ ﺟﻮاﺯ اﻟﺘﻀﺤﻴﺔ ﺑﺎﻟﺸﺎﺓ ﻋﻦ ﺃﻛﺜﺮ ﻣﻦ ﻭاﺣﺪ، ﻟﻜﻨﻬﺎ ﺳﻨﺔ ﻛﻔﺎﻳﺔ ﻋﻨﺪﻧﺎ، ﺑﻤﻌﻨﻰ ﺳﻘﻮﻁ اﻟﻄﻠﺐ ﻋﻦ ﺃﻫﻞ اﻟﺒﻴﺖ ﺑﻔﻌﻞ ﻭاﺣﺪ ﻻ ﺣﺼﻮﻝ اﻟﺜﻮاﺏ، ﺑﻞ ﻫﻲ ﺳﻨﺔ ﻟﻜﻞ ﺃﺣﺪ، ﻭاﻟﻤﺮاﺩ ﺑﺄﻫﻞ اﻟﺒﻴﺖ ﻣﻦ ﺗﻠﺰﻣﻪ ﻧﻔﻘﺘﻪ ﻛﻤﺎ ﻓﻲ اﻟﻨﻬﺎﻳﺔ، ﻧﻌﻢ ﻗﺎﻝ اﻟﺨﻄﻴﺐ ﻭ (ﻣ ﺭ) ﻭﻏﻴﺮﻫﻤﺎ: ﻟﻮ ﺃﺷﺮﻙ ﻏﻴﺮﻩ ﻓﻲ ﺛﻮاﺏ ﺃﺿﺤﻴﺘﻪ ﻛﺄﻥ ﻗﺎﻝ: ﻋﻨﻲ ﻭﻋﻦ ﻓﻼﻥ ﺃﻭ ﻋﻦ ﺃﻫﻞ ﺑﻴﺘﻲ ﺟﺎﺯ ﻭﺣﺼﻞ اﻟﺜﻮاﺏ ﻟﻠﺠﻤﻴﻊ، ﻗﺎﻝ ﻋ ﺷ: ﻭﻟﻮ ﺑﻌﺪ اﻟﺘﻀﺤﻴﺔ ﺑﻬﺎ ﻋﻦ ﻧﻔﺴﻪ، ﻟﻜﻦ ﻗﻴﺪ ﻓﻲ اﻟﺘﺤﻔﺔ ﺟﻮاﺯ اﻹﺷﺮاﻙ

Kategori
Uncategorized

Q.001.ANIKA RAGAM SEDEKAH

Assalamualaikum
Bolehkah hewan qurban di hukumi sedekah atau sebaliknya sedekah di hukumi kurban ? Mohon pencerahannya

Waalaikum salam.
Jawaban.

Hewan qurban boleh disebut sebagai sedekah, namun tidak semua sedekah dapat disebut qurban. Qurban memiliki sifat khusus, yaitu berupa an-na‘ām (unta, sapi, atau kambing) yang disembelih pada hari, tanggal, dan bulan tertentu, yaitu bulan Dzulhijjah dalam rangkaian ibadah Idul Adha. Sementara itu, sedekah bersifat umum dan tidak terbatas pada jenis harta tertentu maupun waktu tertentu.

Oleh karena itu, jika seseorang bersedekah dengan hewan di luar bulan Dzulhijjah, maka sedekah tersebut tidak disebut sebagai sedekah qurban, melainkan sedekah tathawwu‘ (sedekah sunnah), yang sifatnya lebih luas dan mencakup berbagai bentuk, baik berupa materi seperti hewan dan uang, maupun non-materi seperti ilmu dan bantuan lainnya.

Adapun keutamaan antara keduanya, meskipun sama-sama bernilai sedekah, sedekah qurban lebih utama dibandingkan sedekah tathawwu‘. Hal ini disebabkan oleh adanya perbedaan pendapat di kalangan ulama mengenai hukum qurban, di mana sebagian mewajibkannya dan sebagian lain menganggapnya sunnah muakkadah (sunnah yang sangat dianjurkan).

Wallāhu A‘lam bish-ṣawāb.

Referensi:


الباجورى على ابن قاسم. الجزء الثانى .ص :٢٩٦
والتضحية سنة مؤكدة.(قوله سنة مؤكدة )أى فى حقنا أما فى حقه صلى الله عليه وسلم واجبة والمخاطب بهاالمسلم البالغ العاقل الحر المستطيع وكذلك المبعض إذا ملك مالاببعضه الحر والمراد بالمستطيع من يقدر عليها فاضلة عن حاجته وحاجة ممنونه يوم العيد وأيام التشريك لأن ذلك وقتها ونظير ذلك زكاة الفطر فإنهم اشترطوا فيها أن تكون فاضلة عن حاجته يوم العيد وليلته لأن ذلك وقتها ويحتمل أنه يكفى أن تكون فاضلة عما يحتاجه فى ليلة العيد ويومه فقط كما فى الصدقة التطوع لأنها نوع صدقة ولذلك كانت من المكاتب متوفقة على إذن سيده كسائر تبرعات وهى أفضل من الصدقة التطوع للاختلاف فى وجوبها

“المجموع” : ج ٨ ص ٣٨٠. للامام النووي

اماالتضحية عن الميت، فقد أطلق أبو الحسن العبادي جوازها؛ لأنها ضرب من الصدقة، والصدقة تصح عن الميت وتنفعه وتصل إليه بالإجماع. وقال صاحب “العدة” والبغوي: لا تصح التضحية عن الميت إلا أن يوصي بها، وبه قطع الرافعي

Al-Bajuri ‘ala Ibn Qasim, Juz 2, Halaman 296 

Dan berkurban itu sunnah muakkadah.

(Perkataan “sunnah muakkadah”) – maksudnya adalah dalam hak kita (umat Islam), sedangkan dalam hak Nabi ﷺ, hukumnya adalah wajib. Orang yang diberi taklif untuk melaksanakannya adalah seorang Muslim yang baligh, berakal, merdeka, dan mampu. Demikian pula, seorang budak yang statusnya sebagian merdeka (muba‘adh) jika ia memiliki harta dari bagian dirinya yang merdeka.

Yang dimaksud dengan “mampu” adalah orang yang memiliki kemampuan berkurban dengan harta yang tersisa setelah memenuhi kebutuhannya dan kebutuhan orang-orang yang menjadi tanggungannya pada hari Idul Adha dan hari-hari Tasyriq, karena itu adalah waktu pelaksanaan kurban. Hal ini serupa dengan zakat fitrah, yang disyaratkan harus lebih dari kebutuhan hari raya dan malamnya, karena itu adalah waktunya.

Kemungkinan lain, cukup bagi seseorang untuk memiliki kelebihan dari kebutuhannya pada malam dan siang hari Idul Fitri saja, sebagaimana dalam sedekah sunnah, karena zakat fitrah juga termasuk jenis sedekah. Oleh karena itu, seorang budak mukatab yang ingin berkurban harus mendapatkan izin dari tuannya, sebagaimana dalam semua bentuk sedekah lainnya.

Berkurban lebih utama dibandingkan dengan sedekah sunnah karena ada perbedaan pendapat dalam masalah kewajibannya.

Al-Majmu‘, Juz 8, Halaman 380 – Imam An-Nawawi 

Adapun berkurban atas nama orang yang telah meninggal dunia, maka Abu al-Hasan al-‘Abadi membolehkan hal tersebut secara mutlak karena ia termasuk dalam kategori sedekah. Sedangkan sedekah bisa dilakukan atas nama orang yang telah meninggal dan memberikan manfaat serta sampai pahalanya kepadanya menurut ijma‘ (kesepakatan ulama).

Namun, menurut pemilik kitab Al-‘Uddah dan Imam al-Baghawi, kurban atas nama orang yang telah meninggal tidak sah kecuali jika ia telah berwasiat sebelumnya.

Apakah selain Udhiyah dari sekian banyak sedekah dapat menempati (mengantikan) maqomnya ( kedudukan qurban ) ?

Jawaban: Tidak ada yang dapat menggantikan dari sekian banyak sedekah terhadap kedudukan qurban, bahkan jika seseorang memberi sedekah dengan berupa domba yang hidup atau dengan harganya selama hari-hari kurban, itu tidak akan mencukupi baginya dibandingkan berkurban, apalagi jika adanya kurban itu wajib dan karena itulah kewajiban qurban itu berhubungan dengan menumpahkan darah, dan prinsipnya adalah jika perkara hukumnya terkait dengan perbuatan tertentu, maka tidak ada yang dapat menggantikan posisinya, seperti shalat dan puasa, selain zakat…………….

Referensi:

موسوعة الفقهية الكويتية.ج٥ص١٠٦

هل يقوم غير الأضحية من الصدقات مقامها؟
– لا يقوم غير الأضحية من الصدقات مقامها حتى لو تصدق إنسان بشاة حية أو بقيمتها في أيام النحر لم يكن ذلك مغنيا له عن الأضحية، لا سيما إذا كانت واجبة، وذلك أن الوجوب تعلق بإراقة الدم، والأصل أن الوجوب إذا تعلق بفعل معين لا يقوم غيره مقامه كالصلاة والصوم بخلاف الزكاة، فإن الواجب فيها عند أبي حنيفة والصاحبين أداء مال يكون جزءا من النصاب أو مثله، لينتفع به المتصدق عليه، وعند بعضهم الواجب أداء جزء من النصاب من حيث إنه مال لا من حيث إنه جزء من النصاب، لأن مبنى وجوب الزكاة على التيسير، والتيسير في الوجوب من حيث إنه مال لا من حيث إنه العين والصورة، وبخلاف صدقة الفطر فإنها تؤدى بالقيمة عند الحنفية، لأن العلة التي نص الشارع عليها في وجوب صدقة الفطر هي الإغناء. قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: أغنوهم عن الطواف في هذا اليوم، (١) والإغناء يحصل بأداء القيمة. (٢)

المفاضلة بين الضحية والصدقة:
٦٨ – الضحية أفضل من الصدقة، لأنها واجبة أو سنة مؤكدة، وشعيرة من شعائر الإسلام، صرح بهذا الحنفية والشافعية وغيرهم. (٣)
وصرح المالكية بأن الضحية أفضل أيضا من عتق الرقبة ولو زاد ثمن الرقبة على أضعاف ثمن الضحية. (٤)
وقال الحنابلة: الأضحية أفضل من الصدقة بقيمتها نص عليه أحمد، وبهذا قال ربيعة وأبو الزناد، وروي عن بلال رضي الله عنه أنه قال: لأن أضعه في يتيم قد ترب فوه فهو أحب إلي من أن أضحي، وبهذا قال الشعبي وأبو ثور، وقالت عائشة رضي الله عنها: لأن أتصدق بخاتمي هذا أحب إلي من أن أهدي إلى البيت ألفا.
ويدل لأفضلية التضحية أن النبي صلى الله عليه وسلم ضحى والخلفاء من بعده، ولو علموا أن الصدقة أفضل لعدلوا إليها، وما روته عائشة رضي الله عنها أن النبي صلى الله عليه وسلم قال: ما عمل ابن آدم يوم النحر عملا أحب إلى الله من إراقة دم، وأنه ليؤتى يوم القيامة بقرونها وأظلافها وأشعارها، وأن الدم ليقع من الله بمكان قبل أن يقع على الأرض، فطيبوا بها نفسا. (١)
ولأن إيثار الصدقة على الأضحية يفضي إلى ترك سنة سنها رسول الله صلى الله عليه وسلم فأما قول عائشة فهو في الهدي دون الأضحية وليس الخلاف فيه. (٢)

Apakah Sedekah Selain Kurban Bisa Menggantikan Kurban?

Sedekah selain kurban tidak bisa menggantikan kurban. Jika seseorang bersedekah dengan seekor kambing hidup atau dengan uang senilai kambing pada hari-hari penyembelihan, hal itu tidak mencukupi sebagai pengganti kurban, apalagi jika kurban tersebut hukumnya wajib. Sebab, kewajiban kurban berkaitan dengan penyembelihan hewan, dan pada prinsipnya, ketika suatu kewajiban ditentukan dengan tindakan tertentu, maka tindakan lain tidak bisa menggantikannya, seperti halnya shalat dan puasa. Berbeda dengan zakat, karena menurut Abu Hanifah dan kedua sahabatnya, kewajiban dalam zakat adalah menunaikan harta yang menjadi bagian dari nisab atau senilai dengannya agar bisa dimanfaatkan oleh penerima zakat. Sedangkan menurut sebagian ulama lainnya, kewajiban zakat adalah menunaikan bagian dari nisab karena nilainya sebagai harta, bukan karena ia merupakan bagian dari nisab itu sendiri. Sebab, dasar kewajiban zakat adalah kemudahan, dan kemudahan tersebut terletak pada kewajiban dalam bentuk harta, bukan dalam bentuk fisik atau jenis tertentu. Hal ini berbeda dengan zakat fitrah, yang menurut mazhab Hanafi boleh ditunaikan dalam bentuk nilai uang, karena alasan yang disebutkan oleh syariat dalam kewajiban zakat fitrah adalah untuk mencukupi kebutuhan penerimanya. Rasulullah ﷺ bersabda:

“Cukupkan mereka dari meminta-minta pada hari ini.” (HR. al-Baihaqi dan ad-Daraquthni)

Maka, tujuan mencukupi kebutuhan penerima zakat fitrah dapat tercapai dengan menunaikannya dalam bentuk uang.

Keutamaan Kurban Dibandingkan Sedekah

Kurban lebih utama daripada sedekah, karena kurban hukumnya wajib atau sunnah muakkadah serta merupakan salah satu syiar Islam. Hal ini ditegaskan oleh ulama Hanafiyah, Syafi’iyah, dan lainnya.

Mazhab Malikiyah juga menyatakan bahwa kurban lebih utama dibandingkan dengan membebaskan budak, meskipun harga seorang budak jauh lebih mahal daripada hewan kurban.

Menurut mazhab Hanbali, kurban lebih utama daripada sedekah senilai harga kurban. Imam Ahmad menegaskan hal ini, dan pendapat serupa juga dikemukakan oleh Rabi’ah dan Abu az-Zinad.

Diriwayatkan bahwa Bilal radhiyallahu ‘anhu berkata:

“Lebih aku sukai meletakkan harga kurban itu untuk seorang anak yatim yang kelaparan daripada aku berkurban.”

Pendapat ini juga disampaikan oleh asy-Sya’bi dan Abu Tsaur. Namun, Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata:

“Lebih aku sukai bersedekah dengan cincinnku ini daripada aku menghadiahkan seribu ekor hewan ke Baitullah.”

Dalil yang menunjukkan keutamaan kurban adalah bahwa Rasulullah ﷺ tetap melaksanakannya, demikian pula para khalifah setelah beliau. Seandainya sedekah lebih utama, tentu mereka akan beralih kepadanya.

Diriwayatkan dari Aisyah radhiyallahu ‘anha bahwa Nabi ﷺ bersabda:

“Tidak ada amalan yang dilakukan oleh manusia pada hari raya Idul Adha yang lebih dicintai oleh Allah daripada menyembelih hewan kurban. Sesungguhnya hewan kurban itu akan datang pada hari kiamat dengan tanduk, kuku, dan bulunya. Dan sesungguhnya darah kurban itu akan diterima oleh Allah sebelum jatuh ke tanah. Maka, berkurbanlah dengan hati yang lapang.” (HR. Tirmidzi, Ibnu Majah, dan al-Hakim)

Mengutamakan sedekah daripada kurban dapat menyebabkan ditinggalkannya suatu sunnah yang telah diajarkan oleh Rasulullah ﷺ. Adapun perkataan Aisyah radhiyallahu ‘anha, hal itu berkaitan dengan hadyu (hewan yang dikirim ke Makkah sebagai hadiah untuk disembelih di sana), bukan kurban. Dan perbedaan antara keduanya bukanlah masalah yang diperselisihkan.

شرح الأربعين النووية ص٩١

٢٥ – عن أبي ذر رضي الله عنه أيضا أن ناساً من أصحاب رسول الله صلى الله عليه وسلم قالوا للنبي صلى الله عليه وسلم: يا رسول الله ذهب أهل الدثور بالأجور: يصلون كما نصلي، ويصومون كما نصوم، ويتصدقون بفضول أموالهم. قال: “أوليس قد جعل الله لكم ما تصدقون؟ إن بكل تسبيحة صدقة، وكل تكبيرة صدقة، وكل تحميدة صدقة، وكل تهليلة صدقة، وأمر بمعروف صدقة، ونهي عن منكر صدقة، وفي بضع أحدكم صدقة”. قالوا: يا رسول الله أيأتي أحدنا شهوته ويكون له فيها أجر؟ قال: “أرأيتم لو وضعها في حرام أكان عليه وزر؟ فكذلك إذا وضعها في الحلال كان له أجر” رواه مسلم.

Hadits ke-25

Dari Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu, bahwa sekelompok sahabat Rasulullah ﷺ berkata kepada beliau:

“Wahai Rasulullah, orang-orang kaya telah pergi dengan membawa pahala. Mereka shalat sebagaimana kami shalat, mereka berpuasa sebagaimana kami berpuasa, dan mereka bersedekah dengan kelebihan harta mereka.”

Maka Rasulullah ﷺ bersabda:

“Bukankah Allah telah menjadikan bagi kalian sesuatu untuk kalian sedekahkan? Sesungguhnya setiap tasbih adalah sedekah, setiap takbir adalah sedekah, setiap tahmid adalah sedekah, setiap tahlil adalah sedekah, memerintahkan kebaikan adalah sedekah, mencegah kemungkaran adalah sedekah, dan bahkan di dalam persetubuhan salah seorang dari kalian terdapat sedekah.”

Mereka bertanya: “Wahai Rasulullah, apakah seseorang di antara kami mendatangi istrinya dengan syahwat lalu ia mendapatkan pahala darinya?”

Beliau menjawab:

“Bagaimana menurut kalian jika ia melampiaskannya dalam perkara haram, bukankah itu menjadi dosa baginya? Maka demikian pula jika ia melampiaskannya dalam perkara halal, maka baginya ada pahala.”

(HR. Muslim)

شرح الأربعين النووية ص٩٣
٢٦ – عن أبي هريرة رضي الله تعالى عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: “كل سُلامَى من الناس عليه صدقة، كل يوم تطلع فيه الشمس: تعدل بين اثنين صدقة، وتعين الرجل في دابته فتحمله عليها أو ترفع له عليها متاعه صدقة، والكلمة الطيبة صدقة، وبكل خطوة تمشيها إلى الصلاة صدقة، وتميط الأذى عن الطريق صدقة” رواه البخاري ومسلم.

قوله: “سلامى” بضم السين المهملة وتخفيف اللام: وهي المفاصل والأعضاء وقد ثبت في صحيح مسلم أنها ثلاثمائة وستون، قال القاضي عياض: وأصله عظام الكف والأصابع والأرجل ثم استعمل في سائر عظام الجسد ومفاصله. قال بعض العلماء: المراد صدقة ترهيب وترغيب لا إيجاب وإلزام.

وقوله: “يعدل بين الإثنين صدقة” أي يصلح بينهما بالعدل، وفي حديث آخر من رواية مسلم: “يصبح على كل سلامى من أحدكم صدقة، فكل تسبيحة صدقة، وكل تحميدة صدقة، وكل تهليلة صدقة وكل تكبيرة صدقة، وأمر بالمعروف صدقة، ونهي عن المنكر صدقة. ويجزى من ذلك ركعتان يركعهما من الضحى” أي يكفي من هذه الصدقات عن هذه الأعضاء ركعتان فإن الصلاة عمل لجميع أعضاء الجسد فإذا صلى فقد قام كل عضو بوظيفته والله أعلم.

Hadis ke-26

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ta’ala ‘anhu, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:

“Setiap persendian manusia memiliki kewajiban sedekah setiap hari ketika matahari terbit. Mendamaikan dua orang dengan adil adalah sedekah. Membantu seseorang menaiki kendaraannya atau mengangkat barangnya ke atas kendaraannya adalah sedekah. Ucapan yang baik adalah sedekah. Setiap langkah yang engkau langkahkan menuju shalat adalah sedekah. Menyingkirkan gangguan dari jalan adalah sedekah.” (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim).

Penjelasan:

Sabda Nabi ﷺ “سلامى” (salāmā) dengan huruf sīn yang didhammah dan lām yang ringan merujuk pada persendian dan anggota tubuh. Dalam Shahih Muslim disebutkan bahwa jumlahnya ada tiga ratus enam puluh. Al-Qadhi ‘Iyadh berkata: Asalnya adalah tulang-tulang di telapak tangan, jari-jari, dan kaki, kemudian istilah ini digunakan untuk seluruh tulang dan persendian tubuh. Sebagian ulama mengatakan bahwa sedekah yang dimaksud di sini bersifat anjuran (targhib) dan peringatan (tarhib), bukan kewajiban yang mengikat.

Sabda Nabi ﷺ “يعدل بين الاثنين صدقة” (mendamaikan dua orang dengan adil adalah sedekah), maksudnya adalah menengahi mereka dengan keadilan. Dalam riwayat Muslim disebutkan:

“Setiap persendian dari salah seorang di antara kalian memiliki kewajiban sedekah. Maka setiap tasbih adalah sedekah, setiap tahmid adalah sedekah, setiap tahlil adalah sedekah, setiap takbir adalah sedekah. Amar ma’ruf adalah sedekah, nahi mungkar adalah sedekah. Dan cukup sebagai ganti dari semua itu dua rakaat yang ia lakukan dari shalat Dhuha.”

Artinya, dua rakaat shalat Dhuha sudah cukup untuk memenuhi sedekah bagi semua persendian, karena dalam shalat, seluruh anggota tubuh berperan dalam menjalankan fungsinya. Dan Allah lebih mengetahui kebenarannya. Wallahu a’lam bish-shawab 

Kategori
Uncategorized

M122. JALAN JALAN SEHAT(JJS) BERHADIAH DENGAN MEMBELI KUPON

PERTANYAAN :

Assalamualaikum Warohamatullahi Wabarokatuh..

  1. Bagaimana hukum jalan sehat berhadiah dengan membeli kupon ?

JAWABAN :

Waalaikumussalam Warohamatullahi Wabarokatuh..

  1. Termasuk judi dan haram apabila semua peserta dipungut biaya, termasuk uang pendaftaran dan sebagainya, dan hadiahnya diambilkan dari hasil penjualan kupon tersebut.

Alasannya termasuk judi adalah karena tiap peserta lomba berada dalam keragu-raguan, antara seseorang itu menang dan kalah kepada peserta lainnya sehingga seseorang itu akan memperoleh untung jika menang, dan seseorang itu akan merasa rugi ketika kalah.

Solusinya ada dua pilihan:

(1) Pilihan pertama:

Kecuali ( bisa tidak haram ) apabila ada peserta yang di gratis kan ( dikasih kupon secara cuma-cuma ) namun memiliki peluang yang sama untuk menang

Referensi:

فتح القريب المجيب والباجورى ـ (ج 2 / ص 310)

وذكر المصنف الثاني في قوله: (وإن أخرجاه) أي العوض المتسابقان (معا لم يجز) أي لم يصح إخراجهما للعوض (إلا أن يُدخلا بينهما مُحلِّلا) بكسر اللام الأولى. وفي بعض النسخ «إلا أن يَدخل بينهما مُحَلِّلٌ»؛ (فإن سَبق) بفتح السين كلا من المتسابقين (أخذ العوض) الذي أخرجاه، (وإن سُبق) بضم أوله (لم يغرم) لهما شيئا

وذكر المصنف الثاني في قوله:


Pengarang kitab menguraikan :

(وإن أخرجاه) أي العوض المتسابقان


Apabila masing-masing peserta mengeluarkan biaya ( membeli kupon )

(معا لم يجز) أي لم يصح إخراجهما للعوض


Maka tidak boleh


(إلا أن يُدخلا بينهما مُحلِّلا) بكسر اللام الأولى

Kecuali ada peserta yang di gratiskan ( tanpa beli kupon namun peluang menang sama ), maka boleh

(فإن سَبق) بفتح السين كلا من المتسابقين (أخذ العوض) الذي أخرجاه

Apabila peserta (gratisan ini ) menang, maka ia memperoleh hadiah ( yang diambilkan dari hasil pembelian kupon peserta lain )

، (وإن سُبق) بضم أوله (لم يغرم) لهما شيئا.

Namun apabila peserta gratisan itu kalah, maka peserta gratisan itu tidak mendapatkan kerugian ( karena ia peserta gratisan; gratis kupon).

(2) Pilihan ke dua, yaitu:

  • Uang hasil penjualan kupon tidak dijadikan hadiah.
  • Hadiah tersebut harus diperoleh dari selain peserta, seperti yang boleh adalah jika hadiah tersebut diperoleh dari sponsor dll.
  • Jenis yang dilombakan tidak termasuk dalam larangan Syariat, seperti keterampilan dalam perang, jalan cepat, berenang, balap kuda, dll.

Sedangkan penjualan kupon tersebut tidak sah dan haram karena kupon itu tidak berharga atau tidak bermanfaat secara Syara’ dan ‘Urf (kebiasaan).

Solusinya, Penyelenggara lomba tersebut harus menyediakan :

a. Barang yang berharga atau barang yang bermanfaat secara Syara’, yang dijual kepada tiap peserta sesuai harga standar barang tersebut dan setiap pembelian barang itu dapat kupon. atau.

b. Kotak amal untuk pembangunan masjid, musholla, dll. dan setiap infaq dapat kupon tersebut.

Referensi :

فتح القريب المجيب والباجورى ـ (ج 2 / ص 310)
(وإن أخرجاه) أي العوض المتسابقان (معاً لم يجز) أي لم يصح إخراجهما للعوض (لا أن يدخلا بينهما محللاً) بكسر اللام الأولى، في بعض النسخ إلا أن يدخل بينهما محلل.
(قوله إلا أن يدخل بينهما محلل) أي يشترطا بينهما ثالثا يكون كفؤا لهما ودابته كفؤا لدابتيهما بحيث تكون دابته مساوية لكل واحدة منهما وسمي محللا لأنه حلل العقد بإخراجه عن صورة عن صورة القمار المحرم وهو كل لعب تردد بين غنم وغرم كاللعب بالورق أوغيره.

اسعاد الرفيق شرح سلم التوفيق ـ (ج 2 / ص 102)
(و) منها اللعب بنحو ذلك من (كل ما فيه قمار) وصورته المجمع عليها أن يخرج العوض من الجانبين مع تكافئهما، وهو المراد من الميسـر فى الآية، ووجه حرمته أن كل واحد متردد بين أن يغلب صاحبه فيغنم أو يغلبه صاحبه فيغرم، فان عدلا عن ذلك الى حكم السبق والرمي بأن ينفرد أحد اللاعبين باخراج العـوض ليأخذ منه ان كان مغلوبا وعكسه ان كان غالبا فالاصح حرمته أيضا، والفرق بينه وبين هنا وبين جوازه في المسابقة أن الغرض فيها الحذق في الفروسية والرماية بخلافه في نحو الشطرنج، إذ ليس فيه كبير غرض، واذا قامر لم يلزم المال المشروط فإن أمسكه ولم يرده فسق وردت شهادته، لأنه غاصب سواء الصورة الأولى والثانية فإن لم يأخذه لم يفسق بالثانية للخلاف فيها وكذا بالأولى ان قطع فيها بأن أحدهما غالب لزوال صورة القمار حينئذ فكل ما فيه قمار حرام.

حاشية الباجوري على فتح القريب ـ (ج 2 / ص 309)
ويجوز شرط العوض من غير المتسابقين من الامام أو الاجنبي كأن يقول الامام من سبق منكما فله علي كذ من مالي، او فله فى بيت المال كذا، او يكون ما يخرجه من بيت المال من سهم المصالح، وكأن يقول الاجنبي: من سبق منكما فله علي كذا، لانه بذل مال فى طاعة وليس لملتزم العوض ولو كان غير المسابقين زيادة فى العوض ولا نقص عنه.

الفقه المنهجي على مذهب الإمام الشافعي (ج 3 / ص 13) الفطرة سورابايا
٣- أن يكون منتفعا به شرعا وعرفا أي أن تكون له منفعة مقصودة عرفا ومباحة شرعا، فلايصح بيع الحشرات أوالحيوانات المؤذية التي لايمكن الإنتفاع بها أولاتقصد منفعتها عادة، وكذلك ألات اللهو التي يمنتع الإنتفاع بها شرعا، لأن بذل البدل مقابل مالانفع به إضاعة للمال، وقد نهى رسول الله صلى الله عليه وسلم عن إضاعة المال. (البخاري : الإستقراض، باب : ماينهي عن إضاعة المال، رقم ٢٢٧٧). ويجوز بيع الفهد للصيد، والفيل للقتال، والقرد للحراسة والنحل للعسل ونحوذلك، لأن فيها منفعة مقصودة عرفا ومباحة شرعا، ولم يرد نهي عن شيء منها بخصوصه كالكلب مثلا وكمالايصح بيع ماذكر من الأشياء لايصح جعلها ثمنا.

حاشية الجمل – (ج 4 / ص 326) دار الكتب العلمية الطبعة 2009
( قوله إذ لا نفع فيها يقابل بالمال ) أي لا نفع يعتبر ويقصد شرعا بحيث يقابل بمال لأنه المراد فالمدار على أن يكون فيه منفعة مقصودة معتد بها شرعا بحيث تقابل بالمال وإن لم تكن من الوجه الذي يراد الانتفاع به منه فلا يخالف ما سيأتي في الأصول والثمار من بيع الجزة الظاهرة والثمرة الظاهرة قبل بدو الصلاح بشرط القطع اهـ

حاشية البجيرمي على شرح المنهج ـ (ج ٢ / ص ١٧٧-١٧٨) المكتبة الشاملة
(قَوْلُهُ: وَنَفْعٌ بِهِ) أَيْ بِمَا وَقَعَ عَلَيْهِ الشِّرَاءُ فِي حَدِّ ذَاتِهِ فَلَا يَصِحُّ بَيْعُ مَا لَا يُنْتَفَعُ بِهِ بِمُجَرَّدِهِ وَإِنْ تَأَتَّى النَّفْعُ بِهِ بِضَمِّهِ إلَى غَيْرِهِ كَمَا سَيَأْتِي فِي نَحْوِ: حَبَّتَيْ حِنْطَةٍ إذْ عَدَمُ النَّفْعِ إمَّا لِلْقِلَّةِ كَحَبَّتَيْ بُرٍّ، وَإِمَّا لِلْخِسَّةِ كَالْحَشَرَاتِ ـــــ إلى أن قال ـــــ (قَوْلُهُ: إذْ لَا نَفْعَ فِيهَا يُقَابَلُ بِمَالٍ) أَيْ لَا نَفْعَ يُعْتَبَرُ، وَيُقْصَدُ شَرْعًا بِحَيْثُ يُقَابَلُ بِمَالٍ؛ لِأَنَّهُ الْمُرَادُ فَالْمَدَارُ عَلَى أَنْ يَكُونَ فِيهِ مَنْفَعَةٌ مَقْصُودَةٌ مُعْتَدٌّ بِهَا شَرْعًا بِحَيْثُ تُقَابَلُ بِالْمَالِ، وَإِنْ لَمْ يَكُنْ مِنْ الْوَجْهِ الَّذِي يُرَادُ الِانْتِفَاعُ بِهِ مِنْهُ فَلَا يُخَالِفُ مَا سَيَأْتِي فِي الْأُصُولِ، وَالثِّمَارِ مِنْ بَيْعِ الْجِزَّةِ الظَّاهِرَةِ، وَالثَّمَرَةِ الظَّاهِرَةِ قَبْلَ بُدُوِّ الصَّلَاحِ بِشَرْطِ الْقَطْعِ ح ل إهــ

الفقه الإسلامي وأدلته – (ج 4 / ص 398-402)
وأما المال عند جمهور الفقهاء غير الحنفية: فهو كل ما له قيمة يلزم متلفه بضمانه . وهذا المعنى هو المأخوذ به قانوناً، فالمال في القانون وهو كل ذي قيمة مالية. =إلى أن قال= المال المتقوم: كل ما كان محرزاً بالفعل، وأباح الشرع الانتفاع به كأنواع العقارات والمنقولات والمطعومات ونحوها.
وغير المتقوم: ما لم يحرز بالفعل، أو ما لا يباح الانتفاع به شرعاً إلا في حالة الاضطرار، مثال الأول: السمك في الماء والطير في الهواء والمعادن في باطن الأرض ونحوها من المباحات كالصيد والحشيش فهي غير متقومة عرفاً. ومثال الثاني: الخمر والخنزير بالنسبة للمسلم غير متقومين شرعاً، فلا يباح للمسلم الانتفاع بهما إلا عند الضرورة وبقدر الضرورة كدفع خطر جوع شديد أو عطش شديد يخشى معه الهلاك، ولا يجد الإنسان شيئاً آخر سواهما، فيباح له الانتفاع بأحدهما بقدر ما يدفع الهلاك عن نفسه.

الفقه الإسلامي وأدلته – (ج 4 / ص 400)
قال الإمام الشافعي رضي الله عنه: لايقع اسم مال إلا على ماله قيمة يباع بها ويلزم متلفه، وإن قلت، ومالا يطرحه الناس مثل الفلس وما أشبه ذلك ( راجع الأشباه والنظائر للسيوطي، ص258، ط مصطفى محمد ).

Wallahu A’lamu Bisshowab..