logo mubaa
Logo Ittihad

DEWAN PIMPINAN PUSAT
IKATAN ALUMNI BATA-BATA

Kategori
Uncategorized

HUKUM SEORANG AKHWAL MENIKAHI SEORANG SYARIFAH

HUKUM SEORANG AKHWAL MENIKAHI SEORANG SYARIFAH

Asslamualaikum.
Deskripsi masalah

Nasab adalah Keturunan yang terhubung atau bersambung Kepada Nabi SAW yang kemudian di panggil dengan sebutan Sayyid atau Habib.!
Sedangkan Nasib adalah Bagian dari hasil usaha dengan mujahadah atau riyadhoh.!dengan Ilmu, Amal dan ketaqwaan yang tententunya butuh pembimbing atau guru yang sanatnya bersambung kepada Rasulullah karena tanpa adanya pembimbing sulit dapat mengantarkan pada tingkatan derajat yang mulia sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَمَنْ بَطَّأَ بِهِ عَمَلُهُ لَمْ يُسْرِعْ بِهِ نَسَبُهُ

“Barangsiapa yang lamban amalnya, maka nasabnya tidak bisa mengejarnya” [HR. Muslim no. 2699, dari Abu Hurairah]

Nasabnya itu tidak bisa mengejar derajat mulia di sisi Allah. Karena kedudukan mulia di sisi Allah adalah timbal balik dari amalan (Ilmu) yang baik dan benar, bukan dari nasab.Sebagaimana yang Allah Ta’ala sebutkan dalam ayat,

فَإِذَا نُفِخَ فِي الصُّورِ فَلَا أَنْسَابَ بَيْنَهُمْ يَوْمَئِذٍ وَلَا يَتَسَاءَلُونَ

“Apabila sangkakala ditiup maka tidaklah ada lagi pertalian Nasab di antara mereka pada hari itu, dan tidak ada pula mereka saling bertanya.” (QS. Al Mu’minun : 101).

Imam Nawawi rahimahullah menjelaskan,“Siapa saja yang amalnya itu kurang, maka kedudukan mulianya tidak bisa menolong dirinya” (Syarh Shahih Muslim, 17: 21).

Dalam hukum sosial karena cinta belas kasih kepada umat Muhammad saw, para anak keturunannya dipanggil sayyid atau Habib untuk penghormatan. Akan tetapi, ilmu, amal, taqwa dan akhlak tidak bisa diwarisi layaknya nasab keturunan. Ilmu, amal dan Taqwa adalah Hubungannya dengan “nasib”, bukan nasab. Harus diusahakan dengan cara menuntut ilmu, agar menjadi orang yang bertaqwa, disebutkan العلم بالتعلم لابالنسب .Jika tidak maka seorang keturunan Nabi Muhamad saw tidak akan dapat warisan ke utamaan ilmu dan Taqwa dari Nabi saw.
Dari kedua pengertian antara Nasab dan Nasib lalu timbul musykil sebagaimana yang terjadi dimasyarakat Indonesia sehingga terjadi pro dan kantra yaitu pernikahan antara syarifah dan Ahwal.

Pertanyaannya.
Bagaimana sebenarnya Hukum seorang Akhwal Menikahi seorang Syarifah atau pria keturunan biasa menikahi wanita dari kalangan syarifah menurut fiqh ?

Waalaikum salam.
Jawaban.

Boleh , namun sebaiknya jangan menikah dengan syarifah alasannya karena  termasuk adab (akhlak yang baik) bagi seorang laki-laki adalah tidak menikahi wanita bangsawan kecuali jika ia yakin pada dirinya sendiri bahwa ia akan berada di bawah perintah dan isyarat istrinya. 

Ditinjau dari sudut pandang fiqih bahwa dalam pernikahan bisa sah jika memenuhi syarat dan rukun nikah maka terkait dengan kasus diatas dijelaskan dalam leteratur fiqhul Islami Wadillah bahwa kufu’ ( kesepadanan ) dalam kasta keturunan bukan merupakan syarat untuk keafsahan penikahan, melainkan kufu’ sebagai syarat didalam mempertahankan pernikahan , lebih lanjut dalam sebuah literatur Fiqh yang diterbitkan oleh kementrian urusan waqaf dan agama Kuwait (al Mausu’ah al Fiqhiyah al Kuwaitiyah) dijelaskan bahwa diantara hal yang menjadi pertimbangan dalam kesepadanan (kufuah) menurut Ulama’ dari kalangan madzhab Hanafi, Syafi’i, dan Hambali adalah keturunan (nasab). Kalangan Hambali meredaksikannya dengan kalimat “al mansib”. Hal itu berdasar kepada pernyataan sayyidina Umar yang menyatakan “Sungguh aku akan mencegah farji wanita-wanita yang memiliki kasta keturunan, kecuali dari orang-orang yang sepadan.” Di dalam sebuah riwayat diungkapkan “Apa yang dimaksud dengan kesepadanan?”, beliau menjawab “Dalam hal keturunan”, dan karena kalangan arab memegang teguh kesepadanan dalam keturunan, mereka juga membanggakan diri dengan keluhuran nasab dan keturunan, memandang rendah dari menikahi budak, bahkan beranggapan bahwa hal itu merupakan aib dan cacat, dan karena kalangan arab memiliki kelebihan dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sedangkan yang menjadi pertimbangan dalam kontek “kasta keturunan” adalah bapak, karena mereka berbangga diri dengan para bapak, bukan para ibu. Orang yang memiliki garis keturunan mulia tidak sepadan dengan orang yang tidak memilikinya. Maka laki-laki yang bapaknya dari kalangan selain arab (bukan sayyid/habib) walaupun ibunya dari kasta arab (syarifah) tidak sepadan dengan wanita dari kasta arab walaupun ibunya dari kalangan selain arab, karena sesungguhnya Allah telah memilih kalangan arab dan membedakannya dari yang lain dengan keistimewaan yang melimpah, sebagaimana yang telah dilegitimasikan oleh beberapa hadits. Imam Malik dan Imam Sufyan al Tsauri lebih memilih untuk tidak menjadikan keturunan sebagai pertimbangan dalam kesepadanan. Diucapkan kepada Imam Malik “Sesungguhnya sebagian kalangan membedakan antara arab dan hamba, maka mereka memandang hal itu sebagai satu hal yang sangat penting.” Imam Malik menjawab “Penduduk Islam secara keseluruhan adalah sepadan antara sebagian dengan sebagian yang lain, hal ini berdasar kepada firman Allah di dalam al Qur’an “Surat Al-Hujurat ayat 13.

يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اِنَّا خَلَقْنٰكُمْ مِّنْ ذَكَرٍ وَّاُنْثٰى وَجَعَلْنٰكُمْ شُعُوْبًا وَّقَبَاۤىِٕلَ لِتَعَارَفُوْا ۚ اِنَّ اَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللّٰهِ اَتْقٰىكُمْ ۗاِنَّ اللّٰهَ عَلِيْمٌ خَبِيْرٌ – ١٣

Artinya: “Wahai manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan perempuan. Kemudian, Kami menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Teliti.”

Asbabun Nuzul Surat Al-Hujurat Ayat 13

Imam Suyuthi dalam kitab tafsirnya Al-Durr Al-Mantsur fi Tafsir Bil-Ma’tsur menyebutkan dua kisah turunnya surat al-Hujurat ayat 13:

‎أخرج ابْن الْمُنْذر وَابْن أبي حَاتِم وَالْبَيْهَقِيّ فِي الدَّلَائِل عَن ابْن أبي مليكَة قَالَ: لما كَانَ يَوْم الْفَتْح رقي بِلَال فَأذن على الْكَعْبَة فَقَالَ بعض النَّاس: هَذَا العَبْد الْأسود يُؤذن على ظهر الْكَعْبَة وَقَالَ بَعضهم: إِن يسْخط الله هَذَا يُغَيِّرهُ فَنزلت {يَا أَيهَا النَّاس إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ من ذكر وَأُنْثَى} الْآيَة
‎وَأخرج ابْن الْمُنْذر عَن ابْن جريج وَابْن مرْدَوَيْه وَالْبَيْهَقِيّ فِي سنَنه عَن الزُّهْرِيّ قَالَ: أَمر رَسُول الله صلى الله عَلَيْهِ وَسلم بني بياضة أَن يزوّجوا أَبَا هِنْد امْرَأَة مِنْهُم فَقَالُوا: يَا رَسُول الله أتزوّج بناتنا موالينا فَأنْزل الله {يَا أَيهَا النَّاس إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ من ذكر وَأُنْثَى}

Kisah pertama: pada saat Rasulullah memasuki kota Mekkah dalam peristiwa Fathu Makkah, Bilal bin Rabah naik ke atas Ka’bah dan menyerukan azan. Maka sebagian penduduk Mekkah (yang tidak tahu bahwa di Madinah Bilal bin Rabah biasa menunaikan tugas menyerukan azan) terkaget-kaget. Ada yang berkata: “Budak hitam inikah yang azan di atas Ka‘bah?” (dalam riwayat lain di kitab Tafsir al-Baghawi al-Harits bin Hisyam mengejek dengan mengatakan: “Apakah Muhammad tidak menemukan selain burung gagak ini untuk berazan?”). Yang lain berkata, “Jika Allah membencinya, tentu akan menggantinya.” Lalu turunlah ayat 13 surat al-Hujurat.

Kisah kedua: Abu Hind adalah bekas budak yang kemudian bekerja sebagai tukang bekam. Nabi meminta kepada Bani Bayadhah untuk menikahkan salah satu putri mereka dengan Abu Hind. Tapi mereka menolak dengan alasan: “Ya Rasul, bagaimana kami hendak menikahkan putri kami dengan bekas budak kami?” Lalu turunlah ayat 13 surat al-Hujurat.

Dari sinilah ayat yang berkaitan dengan kasus diatas untuk kita bahas:

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kalian dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, serta menjadikan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kalian saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah ialah orang yang paling takwa. Sesunggguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.”

Pesan ayat ditas begitu universal; ia menghapus “kasta” dalam masyarakat Arab; menegaskan kembali bahwa sebagai hamba Allah bukan nasab, harta, bentuk rupa atau status pekerjaan yang menentukan keutamaan hamba Allah, tetapi ketakwaan. Dan ketakwaan itu tidak bisa dibeli atau diraih dengan mengandalkan keutamaan nasab, suku atau marga,akan tetapi dengan ilmu amal shalih dan riyadhoh , sehingga mereka orang yang berilmu dan bertaqwa diangkat derajatnya , sayang belakangan ini malah banyak yang hendak mengembalikan “kasta” masyarakat Arab yang sudah dihapus Nabi ini.


‎أخرج مسلم وابن ماجه عن أبي هريرة رضي اللَّه عنه قال: قال رسول اللَّه صلّى اللَّه عليه وسلّم: إن اللَّه لا ينظر إلى صوركم وأموالكم، ولكن ينظر إلى قلوبكم وأعمالكم

Imam Muslim dan Ibn Majah meriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah bersabda: “Allah tidak memandang kepada penampilan dan harta kalian, akan tetapi Allah melihat kepada hati dan amal kalian”

Andaikan seseorang mempunyai nasab yang bagus, tentu patut disyukuri dengan ucapan alhamdulillah. Pakaian, kupyah, surban bisa dipakai ke mana-mana untuk menghiasi badan agar supaya lebih tanpan, namun jika amalnya jelek dan akhlak buruk, maka itu adalah sebuah keniscayaan oleh karena dikatakan dalam sebuah maqolah hakikat tanpan dan cantik “

ليس الجمال بأثواب تزيننا# ولكن الجمال جمال العلم والآداب

Tiadalah ketampanan/kecantikan itu dengan banyaknya pakaian yang kita kenakan # Akan tetapi ketampanan dan kecantikan yang sebenarnya adalah tampan ilmu dan adab.

Maka dari itu ingatlah dengan ayat di atas: bekas budak hitam legam seperti Bilal bin Rabah pun bisa jadi jauh lebih mulia. Semoga putihnya surban dan gamis kita itu juga seputih hati dan perbuatan kita. Amin ya Allah.

Potongan ayat di atas juga sangat ‘modern’ sekali: diciptakanNya kita berbeda suku bangsa untuk “saling mengenal”. Apa maksudnya? Keragaman itu merupakan sarana untuk kemajuan peradaban. Kalau seseorang hanya lahir di suku saja, tidak pernah mengenal budaya orang lain, tidak pernah bergaul dengan berbagai macam anak bangsa, dan hanya tahunya orang yang ada di sekitarnya saja, maka sikap dan tindak-tanduknya tentu tidak akan ada perkembangan, oleh karenanya Al-Qur’an mengenalkan konsep yang luar biasa: keragaman itu untuk saling mengenal satu sama lain. Dengan saling mengenal perbedaan seseorang bisa belajar membangun peradaban. Dengan saling tahu perbedaan di antara yang satu dan yang lainnya maka akan lebih menubuhkan sikap toleran; sehingga dapat kesempatan untuk belajar satu sama lain. Adapun Kesalah pahaman yang sering terjadi itu timbul karena tidak adanya atau belum saling mengenal keragaman di antara sesama manusia.

Imam Sufyan al Tsauri juga memberikan statement dengan menyatakan bahwa kesepadanan tidak dipertimbangkan dalam keturuanan, karena sesungguhnya manusia adalah sama berdasar sebuah hadits. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda “Tidak ada keistimewaan bagi orang arab atas selain arab, juga tidak bagi selain arab atas orang arab, juga tidak bagi orang berkulit merah atas orang berkulit hitam, juga tidak bagi orang berkulit hitam atas orang berkulit merah kecuali dengan taqwa”, dan hal itu diperkuat dengan firman Allah “Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu”.
Dari pendapat Imam Malik dan Imam Sufyan as-Stauri sesuai keterangan dalam Kitab Tafsir Thobari disebutkan : Bahwa yang paling taqwa itu yang paling utama dan paling mulia di sisi Allah SWT, tanpa memandang gelar dan Nasab tanpa menafikan kemulian-kemulian khusus yang dimiliki dzurriyah Rosul SAW.

كذا وكذا.

وقوله ( إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ ) يقول تعالى ذكره: إن أكرمكم أيها الناس عند ربكم, أشدّكم اتقاء له بأداء فرائضه واجتناب معاصيه, لا أعظمكم بيتا ولا أكثركم عشيرة.

حدثني يونس, قال: أخبرنا ابن وهب, قال: ثني ابن لهيعة, عن الحارث بن يزيد, عن عليّ بن رباح, عن عقبة بن عامر, عن رسول الله صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّم قال: ” النَّاسُ لآدَمَ وَحَوَّاءَ كَطَفِّ الصَّاعِ لَمْ يَمْلأوهُ, إنَّ اللّهُ لا يسألُكُمْ عَنْ أحْسابِكُمْ وَلا عَنْ أنْسابِكُمْ يَوْمَ القِيامَةِ, إن أكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللّهِ أتْقاكُمْ”.

“Dalam ensiklopedia fikih Kuwait (halaman 34-272), salah satu syarat yang dipertimbangkan dalam kesetaraan (kafā’ah) menurut mazhab Hanafi, Syafi’i, dan Hanbali adalah nasab (keturunan).

ب – النَّسَبُ:
٨ – مِنَ الْخِصَال الْمُعْتَبَرَةِ فِي الْكَفَاءَةِ عِنْدَ الْحَنَفِيَّةِ، وَالشَّافِعِيَّةِ، وَالْحَنَابِلَةِ النَّسَبُ، وَعَبَّرَ عَنْهُ الْحَنَابِلَةُ بِالْمَنْصِبِ، وَاسْتَدَلُّوا عَلَى ذَلِكَ بِقَوْل عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهُ: لأََمْنَعَنَّ فُرُوجَ ذَوَاتِ الأَْحْسَابِ إِلاَّ مِنَ الأَْكْفَاءِ، وَفِي رِوَايَةٍ قُلْتُ: وَمَا الأَْكْفَاءُ؟ قَال: فِي الأَْحْسَابِ (١) ؛ وَلأَِنَّ الْعَرَبَ يَعْتَمِدُونَ الْكَفَاءَةَ فِي النَّسَبِ وَيَتَفَاخَرُونَ بِرِفْعَةِ النَّسَبِ، وَيَأْنَفُونَ مِنْ نِكَاحِ الْمَوَالِي، وَيَرَوْنَ ذَلِكَ نَقْصًا وَعَارًا؛ وَلأَِنَّ الْعَرَبَ فَضَلَتِ الأُْمَمَ بِرَسُول اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ.
وَالاِعْتِبَارُ فِي النَّسَبِ بِالآْبَاءِ؛ لأَِنَّ الْعَرَبَ تَفْتَخِرُ بِهِ فِيهِمْ دُونَ الأُْمَّهَاتِ، فَمَنِ انْتَسَبَتْ لِمَنْ تَشْرُفُ بِهِ لَمْ يُكَافِئْهَا مَنْ لَمْ يَكُنْ كَذَلِكَ، فَالْعَجَمِيُّ أَبًا وَإِنْ كَانَتْ أُمُّهُ عَرَبِيَّةً لَيْسَ كُفْءَ عَرَبِيَّةٍ وَإِنْ كَانَتْ أُمُّهَا عَجَمِيَّةً؛ لأَِنَّ اللَّهَ تَعَالَى اصْطَفَى الْعَرَبَ عَلَى غَيْرِهِمْ، وَمَيَّزَهُمْ عَنْهُمْ بِفَضَائِل جَمَّةٍ، كَمَا صَحَّتْ بِهِ الأَْحَادِيثُ (٢) .
وَذَهَبَ مَالِكٌ وَسُفْيَانُ الثَّوْرِيُّ إِلَى عَدَمِ اعْتِبَارِ النَّسَبِ فِي الْكَفَاءَةِ، قِيل لِمَالِكٍ: إِنَّ بَعْضَ هَؤُلاَءِ الْقَوْمِ فَرَّقُوا بَيْنَ عَرَبِيَّةٍ وَمَوْلًى، فَأَعْظَمَ ذَلِكَ إِعْظَامًا شَدِيدًا وَقَال: أَهْل الإِْسْلاَمِ كُلُّهُمْ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ أَكْفَاءٌ، لِقَوْل اللَّهِ تَعَالَى فِي التَّنْزِيل: {إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِل لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ } ،
، ٢)قال صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: لاَ فَضْل لِعَرَبِيٍّ عَلَى عَجَمِيٍّ، وَلاَ لِعَجَمِيٍّ عَلَى عَرَبِيٍّ، وَلاَ لأَِحْمَرَ عَلَى أَسْوَدَ، وَلاَ أَسْوَدَ عَلَى أَحْمَرَ إِلاَّ بِالتَّقْوَى (٣) ، وَقَدْ تَأَيَّدَ ذَلِكَ بِقَوْلِهِ تَعَالَى: {إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ} ، (٤) وَلِجُمْهُورِ الْفُقَهَاءِ الْقَائِلِينَ بِاعْتِبَارِ النَّسَبِ فِي الْكَفَاءَةِ بَعْدَ اتِّفَاقِهِمْ عَلَى مَا سَبَقَ تَفْصِيلٌ:
قَال الْحَنَفِيَّةُ: قُرَيْشٌ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ أَكْفَاءٌ، وَالْعَرَبُ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ أَكْفَاءٌ، وَالْمَوَالِي بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ أَكْفَاءٌ، لِمَا رُوِيَ عَنْ رَسُول اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَال: قُرَيْشٌ بَعْضُهُمْ أَكْفَاءٌ لِبَعْضٍ، وَالْعَرَبُ بَعْضُهُمْ أَكْفَاءٌ لِبَعْضٍ، قَبِيلَةٌ بِقَبِيلَةٍ، وَرَجُلٌ بِرَجُلٍ، وَالْمَوَالِي بَعْضُهُمْ أَكْفَاءٌ لِبَعْضٍ، قَبِيلَةٌ بِقَبِيلَةٍ، وَرَجُلٌ بِرَجُلٍ إِلاَّ حَائِكٌ أَوْ حَجَّامٌ
وَقَالُوا: الْقُرَشِيُّ كُفْءٌ لِلْقُرَشِيَّةِ عَلَى اخْتِلاَفِ الْقَبِيلَةِ، وَلاَ يُعْتَبَرُ التَّفَاضُل فِيمَا بَيْنَ قُرَيْشٍ فِي الْكَفَاءَةِ، فَالْقُرَشِيُّ الَّذِي لَيْسَ بِهَاشِمِيٍّ كَالتَّيْمِيِّ وَالأُْمَوِيِّ، وَالْعَدَوِيُّ كُفْءٌ لِلْهَاشِمِيَّةِ لِقَوْلِهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: قُرَيْشٌ بَعْضُهُمْ أَكْفَاءٌ لِبَعْضٍ وَقُرَيْشٌ تَشْتَمِل عَلَى بَنِي هَاشِمٍ وَإِنْ كَانَ لِبَنِي هَاشِمٍ مِنَ الْفَضِيلَةِ مَا لَيْسَ لِسَائِرِ قُرَيْشٍ، لَكِنَّ الشَّرْعَ أَسْقَطَ اعْتِبَارَ تِلْكَ الْفَضِيلَةِ فِي بَابِ النِّكَاحِ مَا عَرَفْنَا ذَلِكَ بِفِعْل رَسُول اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَإِجْمَاعِ الصَّحَابَةِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَلأَِنَّ رَسُول اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ زَوَّجَ ابْنَتَيْهِ مِنْ عُثْمَانَ رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهُ، وَكَانَ أُمَوِيًّا لاَ هَاشِمِيًّا، وَزَوَّجَ عَلِيٌّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ ابْنَتَهُ مِنْ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ وَلَمْ يَكُنْ هَاشِمِيًّا بَل عَدَوِيًّا، فَدَل عَلَى أَنَّ الْكَفَاءَةَ فِي قُرَيْشٍ لاَ تَخْتَصُّ بِبَطْنٍ دُونَ بَطْنٍ.
وَاسْتَثْنَى مُحَمَّدٌ بَيْتَ الْخِلاَفَةِ، فَلَمْ يَجْعَل الْقُرَشِيَّ الَّذِي لَيْسَ بِهَاشِمِيٍّ كُفْئًا لَهُ، فَلَوْ تَزَوَّجَتْ قُرَشِيَّةٌ مِنْ أَوْلاَدِ الْخُلَفَاءِ قُرَشِيًّا لَيْسَ مِنْ أَوْلاَدِهِمْ، كَانَ لِلأَْوْلِيَاءِ حَقُّ الاِعْتِرَاضِ
وَقَال الْحَنَفِيَّةُ: الْعَرَبُ بَعْضُهُمْ أَكْفَاءٌ لِبَعْضٍ بِالنَّصِّ، وَلاَ تَكُونُ الْعَرَبُ كُفْئًا لِقُرَيْشٍ؛ لِفَضِيلَةِ قُرَيْشٍ عَلَى سَائِرِ الْعَرَبِ وَلِذَلِكَ اخْتُصَّتِ الإِْمَامَةُ بِهِمْ، قَال النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: الأَْئِمَّةُ مِنْ قُرَيْشٍ (١) .
وَالْمَوَالِي بَعْضُهُمْ أَكْفَاءٌ لِبَعْضٍ بِالنَّصِّ، وَلاَ تَكُونُ الْمَوَالِي أَكْفَاءً لِلْعَرَبِ، لِفَضْل الْعَرَبِ عَلَى الْعَجَمِ، وَمَوَالِي الْعَرَبِ أَكْفَاءٌ لِمَوَالِي قُرَيْشٍ، لِعُمُومِ قَوْلِهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: وَالْمَوَالِي بَعْضُهُمْ أَكْفَاءٌ لِبَعْضٍ رَجُلٌ بِرَجُلٍ وَمُفَاخَرَةُ الْعَجَمِ بِالإِْسْلاَمِ لاَ بِالنَّسَبِ، فَمَنْ لَهُ أَبَوَانِ فِي الإِْسْلاَمِ فَصَاعِدًا فَهُوَ مِنَ الأَْكْفَاءِ لِمَنْ لَهُ آبَاءٌ فِيهِ، وَمَنْ أَسْلَمَ بِنَفْسِهِ أَوْ لَهُ أَبٌ وَاحِدٌ فِي الإِْسْلاَمِ لاَ يَكُونُ كُفْئًا لِمَنْ لَهُ أَبَوَانِ فِي الإِْسْلاَمِ؛ لأَِنَّ تَمَامَ النَّسَبِ بِالأَْبِ وَالْجَدِّ، وَمَنْ أَسْلَمَ بِنَفْسِهِ لاَ يَكُونُ كُفْئًا لِمَنْ لَهُ أَبٌ وَاحِدٌ فِي الإِْسْلاَمِ (٢) .
وَقَال الشَّافِعِيَّةُ: غَيْرُ الْقُرَشِيِّ مِنَ الْعَرَبِ لَيْسَ كُفْءَ الْقُرَشِيَّةِ، لِخَبَرِ: قَدِّمُوا قُرَيْشًا وَلاَ تَقَدَّمُوهَا (٣) وَلأَِنَّ اللَّهَ تَعَالَى اصْطَفَى قُرَيْشًا مِنْ كِنَانَةَ، وَلَيْسَ غَيْرُ الْهَاشِمِيِّ وَالْمُطَّلِبِيِّ مِنْ قُرَيْشٍ كُفْئًا لِلْهَاشِمِيَّةِ أَوِ الْمُطَّلِبِيَّةِ، لِخَبَرِ: إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَى كِنَانَةَ مِنْ وَلَدِ إِسْمَاعِيل، وَاصْطَفَى قُرَيْشًا مِنْ كِنَانَةَ، وَاصْطَفَى مِنْ قُرَيْشٍ بَنِي هَاشِمٍ وَاصْطَفَانِي مِنْ بَنِي هَاشِمٍ (١) ، وَالْمُطَّلِبِيُّ كُفْءُ الْهَاشِمِيَّةِ وَعَكْسُهُ، لِحَدِيثِ: إِنَّمَا بَنُو هَاشِمٍ وَبَنُو الْمُطَّلِبِ شَيْءٌ وَاحِدٌ (٢) ، فَهُمَا مُتَكَافِئَانِ، وَمَحَلُّهُ إِذَا لَمْ تَكُنْ شَرِيفَةً، أَمَّا الشَّرِيفَةُ فَلاَ يُكَافِئُهَا إِلاَّ شَرِيفٌ، وَالشَّرَفُ مُخْتَصٌّ بِأَوْلاَدِ الْحَسَنِ وَالْحُسَيْنِ رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهُمَا وَعَنْ أَبَوَيْهِمَا. . نَبَّهَ عَلَى ذَلِكَ ابْنُ ظَهِيرَةَ، وَمَحَلُّهُ أَيْضًا فِي الْحُرَّةِ، فَلَوْ نَكَحَ هَاشِمِيٌّ أَوْ مُطَّلِبِيٌّ أَمَةً فَأَتَتْ مِنْهُ بِبِنْتٍ فَهِيَ مَمْلُوكَةٌ لِمَالِكِ أُمِّهَا، فَلَهُ تَزْوِيجُهَا مِنْ رَقِيقٍ وَدَنِيءِ النَّسَبِ، لأَِنَّ وَصْمَةَ الرِّقِّ الثَّابِتِ مِنْ غَيْرِ شَكٍّ أَلْغَتِ اعْتِبَارَ كُل كَمَالٍ مَعَهُ، مَعَ كَوْنِ الْحَقِّ فِي الْكَفَاءَةِ فِي النَّسَبِ لِسَيِّدِهَا لاَ لَهَا عَلَى مَا جَزَمَ بِهِ الشَّيْخَانِ.
أَمَّا غَيْرُ قُرَيْشٍ مِنَ الْعَرَبِ فَإِنَّ بَعْضَهُمْ أَكْفَاءُ بَعْضٍ. . نَقَلَهُ الرَّافِعِيُّ عَنْ جَمَاعَةٍ، وَقَال فِي زِيَادَةِ الرَّوْضَةِ إِنَّهُ مُقْتَضَى كَلاَمِ الأَْكْثَرِينَ.
وَقَالُوا: الأَْصَحُّ اعْتِبَارُ النَّسَبِ فِي الْعَجَمِ كَالْعَرَبِ قِيَاسًا عَلَيْهِمْ، فَالْفُرْسُ أَفْضَل مِنَ الْقِبْطِ، لِمَا رُوِيَ أَنَّهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَال: لَوْ كَانَ الدِّينُ عِنْدَ الثُّرَيَّا لَذَهَبَ بِهِ رَجُلٌ مِنْ فَارِسٍ (١) ،
وَبَنُو إِسْرَائِيل أَفْضَل مِنَ الْقِبْطِ، وَمُقَابِل الأَْصَحِّ: أَنَّهُ لاَ يُعْتَبَرُ النَّسَبُ فِي الْعَجَمِ؛ لأَِنَّهُمْ لاَ يَعْتَنُونَ بِحِفْظِ الأَْنْسَابِ وَلاَ يُدَوِّنُونَهَا بِخِلاَفِ الْعَرَبِ، وَالاِعْتِبَارُ فِي النَّسَبِ بِالأَْبِ، وَلاَ يُكَافِئُ مَنْ أَسْلَمَ أَوْ أَسْلَمَ أَحَدُ أَجْدَادِهِ الأَْقْرَبِينَ أَقْدَمَ مِنْهُ فِي الإِْسْلاَمِ، فَمَنْ أَسْلَمَ بِنَفْسِهِ لَيْسَ كُفْءَ مَنْ لَهَا أَبٌ أَوْ أَكْثَرُ فِي الإِْسْلاَمِ، وَمَنْ لَهُ أَبَوَانِ فِي الإِْسْلاَمِ لَيْسَ كُفْءَ مَنْ لَهَا ثَلاَثَةُ آبَاءٍ فِيهِ (٢) .
وَاخْتَلَفَتِ الرِّوَايَةُ عَنْ أَحْمَدَ، فَرُوِيَ عَنْهُ أَنَّ غَيْرَ قُرَيْشٍ مِنَ الْعَرَبِ لاَ يُكَافِئُهَا، وَغَيْرُ بَنِي هَاشِمٍ لاَ يُكَافِئُهُمْ، لِحَدِيثِ: إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَى كِنَانَةَ مِنْ وَلَدِ إِسْمَاعِيل، وَاصْطَفَى قُرَيْشًا مِنْ كِنَانَةَ، وَاصْطَفَى مِنْ قُرَيْشٍ بَنِي هَاشِمٍ، وَاصْطَفَانِي مِنْ بَنِي هَاشِمٍ، وَلأَِنَّ الْعَرَبَ فُضِّلَتْ عَلَى الأُْمَمِ بِرَسُول اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَقُرَيْشٌ أَخَصُّ بِهِ مِنْ سَائِرِ الْعَرَبِ، وَبَنُو هَاشِمٍ أَخَصُّ بِهِ مِنْ قُرَيْشٍ، وَكَذَلِكَ قَال عُثْمَانُ وَجُبَيْرُ بْنُ مُطْعِمٍ: إِنَّ إِخْوَانَنَا مِنْ بَنِي هَاشِمٍ لاَ نُنْكِرُ فَضْلَهُمْ عَلَيْنَا لِمَكَانِكَ الَّذِي وَضَعَكَ اللَّهُ بِهِ مِنْهُمْ.
وَالرِّوَايَةُ الثَّانِيَةُ عَنْ أَحْمَدَ أَنَّ الْعَرَبَ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ أَكْفَاءٌ، وَالْعَجَمَ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ أَكْفَاءٌ؛ لأَِنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ زَوَّجَ ابْنَتَيْهِ عُثْمَانَ، وَزَوَّجَ عَلِيٌّ عُمَرَ ابْنَتَهُ أُمَّ كُلْثُومٍ رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهُمْ (١) .
وَالْكَفَاءَةُ فِي النَّسَبِ غَيْرُ مُعْتَبَرَةٍ عِنْدَ الْمَالِكِيَّةِ (٢) .

b – Nasab (Keturunan):

8 – Salah satu syarat yang dianggap penting dalam kafa’ah (kesetaraan dalam pernikahan) menurut mazhab Hanafi, Syafi’i, dan Hanbali adalah nasab (keturunan). Dalam hal ini, mazhab Hanbali menyebutnya dengan istilah mansib (kedudukan). Mereka berdalil dengan perkataan Umar radhiyallahu ta’ala ‘anhu:

“Sungguh aku akan melarang pernikahan wanita-wanita yang memiliki kehormatan kecuali dengan laki-laki yang sepadan.”

Dalam riwayat lain disebutkan, “Aku bertanya: Siapa yang dimaksud dengan yang sepadan itu?” Umar menjawab: ‘Dalam kehormatan nasab.'” (1)

Hal ini karena bangsa Arab sangat memperhatikan kesetaraan dalam nasab dan merasa bangga dengan kemuliaan keturunan mereka. Mereka merasa hina dan enggan menikahkan wanita mereka dengan laki-laki dari kalangan budak atau keturunan non-Arab, dan mereka menganggapnya sebagai suatu kekurangan dan aib. Selain itu, bangsa Arab memiliki keutamaan karena diutusnya Rasulullah ﷺ di tengah-tengah mereka.

Dalam hal ini, yang menjadi pertimbangan nasab adalah dari pihak ayah, karena bangsa Arab merasa bangga dengan garis keturunan dari ayah, bukan dari ibu. Oleh karena itu, seseorang yang memiliki nasab mulia dari ayahnya tidak sepadan dengan orang yang tidak memiliki nasab serupa. Seorang laki-laki keturunan non-Arab dari ayah, meskipun ibunya orang Arab, tidak dianggap sepadan dengan perempuan Arab, meskipun ibunya non-Arab. Hal ini karena Allah Ta’ala telah memilih bangsa Arab di atas bangsa lainnya dan memberikan banyak keutamaan kepada mereka, sebagaimana yang telah ditegaskan dalam hadits-hadits yang shahih (2).

Namun, Imam Malik dan Sufyan Ats-Tsauri berpendapat bahwa nasab tidak termasuk syarat dalam kafa’ah. Diriwayatkan bahwa seseorang bertanya kepada Imam Malik tentang perbedaan antara laki-laki Arab dan laki-laki dari kalangan budak dalam pernikahan. Imam Malik dengan tegas menolak pandangan tersebut dan berkata:

“Seluruh umat Islam setara satu sama lain,”

seraya berdalil dengan firman Allah Ta’ala dalam Al-Qur’an:

“Sungguh Kami telah menciptakan kalian dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, dan Kami jadikan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kalian saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa di antara kalian.” (QS. Al-Hujurat: 13).

(2) Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: “Tidak ada keutamaan bagi orang Arab atas orang non-Arab, dan tidak ada keutamaan bagi orang non-Arab atas orang Arab, serta tidak ada keutamaan bagi orang berkulit merah atas orang berkulit hitam, dan tidak ada keutamaan bagi orang berkulit hitam atas orang berkulit merah kecuali dengan ketakwaan.” (3) Hal ini dikuatkan oleh firman Allah Ta’ala: {Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kalian.} (4) Mayoritas ulama fiqih yang berpendapat tentang pertimbangan nasab dalam kafa’ah (kesepadanan) setelah kesepakatan mereka tentang perincian yang telah disebutkan sebelumnya menyatakan:

Pendapat Hanafiyah:
Menurut Hanafiyah, sesama suku Quraisy adalah sekufu (setara) satu sama lain, sesama bangsa Arab adalah sekufu satu sama lain, dan sesama maula (bekas budak yang merdeka) juga sekufu satu sama lain. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam: “Quraisy satu sama lain sekufu, orang Arab satu sama lain sekufu, kabilah dengan kabilah, dan seorang lelaki dengan seorang lelaki, serta para maula satu sama lain sekufu, kabilah dengan kabilah, dan seorang lelaki dengan seorang lelaki, kecuali penenun atau tukang bekam.”

Mereka juga berpendapat bahwa seorang lelaki Quraisy sekufu dengan perempuan Quraisy, meskipun berbeda kabilah. Tidak ada keutamaan yang dipertimbangkan di antara Quraisy dalam hal kafa’ah. Maka seorang lelaki Quraisy yang bukan dari Bani Hasyim, seperti dari suku Taimiyah, Umayyah, atau ‘Adawiyah, dianggap sekufu dengan perempuan dari Bani Hasyim. Ini karena sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam: “Quraisy satu sama lain sekufu.”

Quraisy mencakup Bani Hasyim meskipun Bani Hasyim memiliki keutamaan yang tidak dimiliki oleh bagian Quraisy lainnya. Namun, syariat menggugurkan pertimbangan keutamaan tersebut dalam urusan pernikahan. Hal ini diketahui dari perbuatan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dan ijma’ para sahabat. Rasulullah menikahkan dua putrinya dengan Utsman bin Affan Radhiyallahu ‘Anhu yang berasal dari Bani Umayyah, bukan dari Bani Hasyim. Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘Anhu juga menikahkan putrinya dengan Umar bin Khattab Radhiyallahu ‘Anhu yang berasal dari Bani ‘Adi, bukan dari Bani Hasyim. Ini menunjukkan bahwa kafa’ah dalam suku Quraisy tidak terbatas pada satu cabang tertentu.

Namun, Imam Muhammad mengecualikan keluarga khalifah. Jika seorang perempuan dari keturunan khalifah menikah dengan lelaki Quraisy yang bukan dari keturunan khalifah, maka para wali berhak untuk mengajukan keberatan.

Pendapat Syafi’iyah:
Menurut Syafi’iyah, selain lelaki Quraisy dari bangsa Arab tidak sekufu dengan perempuan Quraisy. Ini berdasarkan hadis: “Dahulukan Quraisy dan jangan kalian mendahului mereka.” Allah Ta’ala juga memilih Quraisy dari Bani Kinanah, dan memilih Bani Hasyim dari Quraisy.

Selain itu, bukan dari Bani Hasyim atau Bani Muthalib di kalangan Quraisy tidak sekufu dengan perempuan dari Bani Hasyim atau Bani Muthalib, sebagaimana dalam hadis: “Sesungguhnya Allah memilih Kinanah dari keturunan Ismail, memilih Quraisy dari Kinanah, memilih Bani Hasyim dari Quraisy, dan memilihku dari Bani Hasyim.”

Bani Hasyim dan Bani Muthalib saling sekufu, sebagaimana hadis: “Sesungguhnya Bani Hasyim dan Bani Muthalib adalah satu kesatuan.” Hal ini berlaku jika perempuan tersebut bukan seorang syarifah (keturunan langsung Rasulullah). Adapun seorang syarifah, maka hanya seorang syarif yang dapat menjadi sekufunya.

Pendapat Hanabilah:
Terdapat dua riwayat dari Imam Ahmad:

1. Riwayat pertama: selain Quraisy dari bangsa Arab tidak sekufu dengan Quraisy, dan selain Bani Hasyim tidak sekufu dengan Bani Hasyim, berdasarkan hadis yang sama tentang keutamaan Quraisy dan Bani Hasyim.

2. Riwayat kedua: Bangsa Arab satu sama lain sekufu, dan bangsa non-Arab satu sama lain sekufu. Hal ini karena Rasulullah menikahkan kedua putrinya dengan Utsman, dan Ali menikahkan putrinya dengan Umar.

Pendapat Malikiyah:
Menurut Malikiyah, kafa’ah dalam nasab tidak dipertimbangkan.( tidak dianggap).

Penjelasan Singkat:
Teks di atas membahas tentang syarat kesetaraan (kafā’ah) dalam pernikahan menurut beberapa mazhab dalam Islam, khususnya mengenai peran nasab atau keturunan.
* Pendapat yang Mempertimbangkan Nasab: Mazhab Hanafi, Syafi’i, dan Hanbali berpendapat bahwa nasab adalah salah satu syarat kesetaraan dalam pernikahan. Mereka berargumen bahwa orang Arab sangat mementingkan keturunan yang mulia dan menganggapnya sebagai faktor penting dalam memilih pasangan hidup.
* Pendapat yang Tidak Mempertimbangkan Nasab: Malik bin Anas dan Sufyan ats-Tsauri berpendapat bahwa nasab tidak perlu dipertimbangkan dalam kesetaraan. Mereka berargumen bahwa semua umat Islam adalah saudara dan keutamaan seseorang terletak pada ketakwaannya, bukan pada nasabnya.
Referensi:

ﺇﻋﺎﻧﺔ ﺍﻟﻄﺎﻟﺒﻴﻦ ﻋﻠﻰ ﺣﻞ ﺃﻟﻔﺎﻅ ﻓﺘﺢ ﺍﻟﻤﻌﻴﻦ ‏(٣ /٣٧٧ )

ﻭﺿﺎﺑﻄﻬﺎ ﻣﺴﺎﻭﺍﺓ ﺍﻟﺰﻭﺝ ﻟﻠﺰﻭﺟﺔ ﻓﻲ ﻛﻤﺎﻝ ﺃﻭ ﺧﺴﺔ ﻣﺎ ﻋﺪﺍ ﺍﻟﺴﻼﻣﺔ ﻣﻦ ﻋﻴﻮﺏ ﺍﻟﻨﻜﺎﺡ ‏( ﻗﻮﻟﻪ ﻭﻫﻲ ‏) ﺃﻱ ﺍﻟﻜﻔﺎﺀﺓ ﻭﻗﻮﻟﻪ ﻣﻌﺘﺒﺮﺓ ﻓﻲ ﺍﻟﻨﻜﺎﺡ ﻻ ﻟﺼﺤﺘﻪ ﺃﻱ ﻏﺎﻟﺒﺎ ﻓﻼ ﻳﻨﺎﻓﻲ ﺃﻧﻬﺎ ﻗﺪ ﺗﻌﺘﺒﺮ ﻟﻠﺼﺤﺔ ﻛﻤﺎ ﻓﻲ ﺍﻟﺘﺰﻭﻳﺞ ﺑﺎﻹﺟﺒﺎﺭ ﻭﻋﺒﺎﺭﺓ ﺍﻟﺘﺤﻔﺔ ﻭﻫﻲ ﻣﻌﺘﺒﺮﺓ ﻓﻲ ﺍﻟﻨﻜﺎﺡ ﻻ ﻟﺼﺤﺘﻪ ﻣﻄﻠﻘﺎ ﺑﻞ ﺣﻴﺚ ﻻ ﺭﺿﺎ ﻣﻦ ﺍﻟﻤﺮﺃﺓ ﻭﺣﺪﻫﺎ ﻓﻲ ﺟﺐ ﻭﻻ ﻋﻨﺔ ﻭﻣﻊ ﻭﻟﻴﻬﺎ ﺍﻷﻗﺮﺏ ﻓﻘﻂ ﻓﻴﻤﺎ ﻋﺪﺍﻫﻤﺎ ﺍﻩ ﻭﻣﺜﻠﻪ ﻓﻲ ﺍﻟﻨﻬﺎﻳﺔ ﻭﻗﻮﻟﻪ ﺑﻞ ﺣﻴﺚ ﻻ ﺭﺿﺎ ﻣﻘﺎﺑﻞ ﻗﻮﻟﻪ ﻻ ﻟﺼﺤﺘﻪ ﻣﻄﻠﻘﺎ ﻓﻜﺄﻧﻪ ﻗﻴﻞ ﻻ ﺗﻌﺘﺒﺮ ﻟﻠﺼﺤﺔ ﻋﻠﻰ ﺍﻹﻃﻼﻕ ﻭﺇﻧﻤﺎ ﺗﻌﺘﺒﺮ ﺣﻴﺚ ﻻ ﺭﺿﺎ ﺍﻩ ﻉ ﺵ ‏) ﻭﺍﻟﺤﺎﺻﻞ ‏) ﺍﻟﻜﻔﺎﺀﺓ ﺗﻌﺘﺒﺮ ﺷﺮﻁ ﻟﻠﺼﺤﺔ ﻋﻨﺪ ﻋﺪﻡ ﺍﻟﺮﺿﺎ ﻭﺇﻻ ﻓﻠﻴﺴﺖ ﺷﺮﻃﺎ ﻟﻬﺎ …………. ﺍﻟﻰ ﺍﻥ ﻗﺎﻝ . ﻭﺫﻟﻚ ﻷﻧﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﺯﻭﺝ ﺑﻨﺎﺗﻪ ﻣﻦ ﻏﻴﺮ ﻛﻒﺀ ﻭﻻ ﻣﻜﺎﻓﻰﺀ ﻟﻬﻦ ﻭﺃﻣﺮ ﻓﺎﻃﻤﺔ ﺑﻨﺖ ﻗﻴﺲ ﻧﻜﺎﺡ ﺃﺳﺎﻣﺔ ﻓﻨﻜﺤﺘﻪ ﻭﻫﻮ ﻣﻮﻟﻰ ﻭﻫﻲ ﻗﺮﺷﻴﺔ ﻭﻟﻮ ﻛﺎﻧﺖ ﺷﺮﻃﺎ ﻟﻠﺼﺤﺔ ﻣﻄﻠﻘﺎ ﻟﻤﺎ ﺻﺢ ﺫﻟﻚ

Referensi:
I’anah al-Talibin ‘ala Hall Alfaẓ Fath al-Mu‘in (3/377)
**Dan kaidahnya adalah persamaan suami dengan istri dalam kesempurnaan atau kekurangan, kecuali keselamatan dari cacat nikah (perkataannya “dan itu adalah”, yaitu) kekafuan, dan perkataannya “diperhatikan dalam nikah, tetapi bukan untuk sahnya”, yaitu kebanyakan, maka tidak bertentangan bahwa ia bisa jadi diperhatikan untuk sahnya seperti dalam perkawinan dengan paksaan. Dan ungkapan at-Tahfīh, “dan itu diperhatikan dalam nikah, tetapi bukan untuk sahnya secara mutlak”, melainkan hanya jika tidak ada kerelaan dari wanita sendiri dalam hal jiwar dan ‘anah, dan hanya dengan wali terdekatnya, selain keduanya. Oh, dan serupa dengan itu di akhir, dan perkataannya “melainkan hanya jika tidak ada kerelaan” berlawanan dengan perkataannya “bukan untuk sahnya secara mutlak”, seakan-akan dikatakan “tidak diperhatikan untuk sahnya secara mutlak”, melainkan hanya diperhatikan jika tidak ada kerelaan. Oh, ‘ala syakh.” Dan hasilnya, kekafuan diperhatikan sebagai syarat untuk sahnya jika tidak ada kerelaan, dan jika tidak, maka bukan syarat baginya… sampai ia berkata. Dan itu karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menikahkan putrinya dengan orang yang bukan kafi’ dan tidak setara dengan mereka, dan memerintahkan Fatimah binti Qais menikahi Usamah, lalu ia menikahinya, padahal ia seorang maula dan ia seorang Quraisy. Dan jika itu merupakan syarat untuk sahnya secara mutlak, maka tidaklah sah hal itu.


لشيخ مؤمن الشبلنجي (1/130).
قال الإمام الشاطبي: وقد تقدم في هذه المنن أن من الأدب أن لا يتزوج أحدنا شريفة إلا إن عرف من نفسه أن يكون تحت حكمها وإشارتها ويقدم لها نعله ويقوم لها إذا وردت عليه ولا يتزوج عليها ولا يقتر عليها في المعيشة إلا إن اختارت ذلك اهـ نور الأبصار في مناقب آل النبي المختار.


(Referensi: Syekh Mumin asy-Syalanji, 1/130)
Imam asy-Syaṭibī berkata, “Telah disebutkan sebelumnya dalam berbagai kebaikan bahwa termasuk adab (akhlak yang baik) bagi seorang laki-laki untuk tidak menikahi wanita bangsawan kecuali jika ia yakin pada dirinya sendiri bahwa ia akan berada di bawah perintah dan isyarat istrinya. Ia harus mendahulukan sandal istrinya, berdiri jika istrinya datang, tidak menikah lagi, dan tidak pelit dalam memberikan nafkah, kecuali jika istrinya sendiri yang memilih demikian.” (Nur al-Absār fī Manāqib Āli an-Nabī al-Mukhtār)

Kategori
Uncategorized

HUKUM ALIH FUNGSI WAKAF UANG DIJADIKAN BARANG YANG BERBEDA DALAM SATU TUJUAN

HUKUM ALIH FUNGSI WAKAF UANG MENJADI BARANG YANG BERBEDA DALAM SATU TUJUAN

Masjid adalah baitullah yang dibangun sebagai sarana untuk ibadah shalat baca al-Qur’an zikir dll, maka seseorang yang bergerak membangun dan mewakafkan sebagian hartanya untuk pembangunanan Masjid tiadalah balasan kecuali Allah akan bangunkan baginya rumah disurga.
Di suatu daerah pedesaan dibangun Masjid At-Taqwa yang mana diperkirakan oleh para panitia dan juga Nadzir ( pengelola wakaf ) pembangunannya tersebut akan menelan biasanya 900 juta, maka dalam upaya untuk menyelesaikan pembangunan tersebut panitia menggalang sumbangan dana dari masyarakat setempat yang diantara mereka ada yang mendonasikan ( menyumbang ) uang agar dibelikan keramik ada semen dll.

Pertanyaan

Bolehkah sumbangan uang untuk keramik masjid tersebut dirubah kepada semen mengingat semen dibutuhkan terlebih dahulu?

Waalaikum salam .

Jawaban

Pertama yang perlu dipahami adalah hukum Wakaf uang dalam hal ini ulama berbeda pandang dikalang madzhab syafi’ie.

🅰️Pendapat pertama menyatakan bahwa wakaf uang (waqf an-nuqud) secara mutlak tidak diperbolehkan.

الفتاوى الهندية، بيروت-دار الفكر، ج، ٢، ص. ٣٦٢

وَأَمَّا وَقْفُ مَا لَا يُنْتَفَعُ بِهِ إلَّا بِالْإِتْلَافِ كَالذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْمَأْكُولِ وَالْمَشْرُوبِ فَغَيْرُ جَائِزٍ فِي قَوْلِ عَامَّةِ الْفُقَهَاءِ ، وَالْمُرَادُ بِالذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ الدَّرَاهِمُ وَالدَّنَانِيرُ وَمَا لَيْسَ بِحُلِيٍّ  -الشيخ نظام وجماعة من علماء الهند،

“Adapun wakaf sesuatu yang tidak bisa diambil manfaatnya kecuali dengan melenyapkannya seperti emas, perak, makanan, dan minuman maka tidak boleh menurut mayoritas fuqaha. Yang dimaksud dengan emas dan perak adalah dinar dan dirham dan yang bukan dijadikan perhiasan”. (Syaikh Nizham dan para ulama India, al-Fatawa al-Hindiyah, Bairut-Dar al-Fikr, tt, juz, 2, h. 362)

🅱️ Pendapat kedua menyatakan bahwa wakaf uang diperbolehkan. Hal ini sebagaimana pandangan Ibnu Syihab az-Zuhri yang memperbolehkan wakaf dinar sebagaimana dikutip al-Bukhari.

رسالة فى جواز وفق النقود،ابو سعود محمد بن محمد مصطفى العمادي الأفندي الحنفي، بيروت-دار ابن حزم، الطبعة الأولى، ١٤١٧هـ/١٩٩٧م، ص. ٢٠-٢١)

وَقَدْ نُسِبَ الْقَوْلُ بِصِحَّةِ وَقْفِ الدَّنَانِيرِ إِلَى إبْنِ شِهَابٍ الزُّهْرِيِّ فِيمَا نَقَلَهُ الْإِمَامُ مُحَمَّدُ بْنُ إِسَمَاعِيلَ البُخَارِيُّ فِى صَحِيحِهِ حَيْثُ قَالَ: قَالَ الزُّهْرِيُّ: فِيْمَنْ جَعَلَ أَلْفَ دِينَارٍ فِى سَبِيلِ اللهِ وَدَفَعَهَا إِلَى غُلَامٍ لَهُ تَاجِرٍ فَيَتَّجِرُ وَجَعَلَ رِبْحَهُ صَدَقَةً لِلْمَسَاكِينِ وَالْأَقْرَبِينَ وَهَلْ لِلرَّجُلِ اَنْ يَأْكُلَ مِنْ رِبْحِ تِلْكَ الْأَلَفِ وَاِنْ لَمْ يَكُنْ جَعَلَ رِبْحَهَا صَدَقَةً لِلْمَسَاكِينِ قَالَ لَيْسَ لَهُ اَنْ يَأْكُلَ مِنْهَا- 


“Telah dinisbatkan pendapat yang mensahkan wakaf dinar kepada Ibnu Syihab az-Zuhri dalam riwayat yang telah dikutip Imam Muhammad bin Isma’il al-Bukhari dalam kitab Shahihnya. Ia berkata, Ibnu Syihab az-Zuhri berkata mengenai seseorang yang menjadikan seribu dinar di jalan Allah (mewakafkan). Ia pun memberikan uang tersebut kepada budak laki-lakinya yang menjadi pedagang. Maka si budak pun mengelola uang tersebut untuk berdagang dan menjadikan keuntungannya sebagai sedekah kepada orang-orang miskin dan kerabat dekatnya. Lantas, apakah lelaki tersebut boleh memakan dari keuntungan seribu dinar tersebut jika ia tidak menjadikan keuntungannya sebagai sedekah kepada orang-orang miksin? Ibnu Syihab az-Zuhri berkata, ia tidak boleh memakan keuntungan dari seribu dinar tersebut” (Abu Su’ud Muhammad bin Muhammad Mushthafa al-‘Imadi al-Afandi al-Hanafi, Risalah fi Jawazi Waqf an-Nuqud, Bairut-Dar Ibn Hazm, cet ke-1, 1417 H/1997 M, h. 20-21).

Adapun cara kebolehan uang tunai bisa diwakafkan adalah bahwa hendaknya uang ditempatkan selayaknya, ain atau barang yang bisa disewakan.
Khilaf ini, sebagaimana telah disinngung oleh Iman Abu Ishaq az-Zirazi dalam kitabnya ,

إختلف أصحابنا فى الد راهيم والدنانير فإن أجاز إجارتها أجاز وقفها ومن لم يجز إجارتها لم يجز وقفها


Para Ash-Habus-Syafi’iy berbeda pendapat tentang dinar dan dirham, apabila keduanya bisa disewakan maka boleh dan sah diwakafkan, sebaliknya apabila keduanya tidak bisa disewakan maka tidak boleh dan tidak sah untuk diwakafkan. ( Abu Ishaq Az-Zirazi: Al-Muhadzzab fiy Fiqhil Imam As-Syafi’i Bairud : juz : 2: hal : 323)

Berdasar hal ini, maka uang ditempatkan posisinya layaknya perhiasan atau ( huliyyin ) yang bisa diambil manfaatnya untuk dijadikan hiasan sehingga Usulnya bisa ditahbis ( ditahan ).
Dengan demikian uang yang diwakafkan agar dibelikan keramik kemudian dialihkan ke semen atau yang lainnya sehingga menjadi bertahan dengan tujuan kemaslahatan yang kembali kepada Wakaf ( masjid ) maka hukumnya boleh . Ini berdasarkan sebuah kaidah :

الوسائل حكم المقاصد

Pelantara/ media menjadi hukum sebagima tujuan.artinya kerena niatan dan tujuan wakif adalah wakaf untuk masjid.

روضة الطالبين وعمدة المفتين ـ (ج ٥ / ص ٣٦١)
لا يجوز تغيير الوقف عن هيئته، فلا تجعل الدار بستانا، ولا حماما، ولا بالعكس، إلا إذا جعل الواقف إلى الناظر ما يرى فيه مصلحة للوقف، وفي فتاوى القفال : أنه يجوز أن يجعل حانوت القصارين للخبازين، فكأنه احتمل تغيير النوع دون الجنس.
نهاية المحتاج ـ (ج ٦ / ص ٣٩٦)
ولأهل الوقف المهايأة لا قسمته ولو إفرازا ولا تغييره كجعل البستان دارا وعكسه ما لم يشرط الواقف العمل بالمصلحة فيجوز تغييره بحسبها، قال السبكي : والذي أراه تغييره في غيره ولكن بثلاثة شروط : أن يكون يسيرا لا يغير مسماه، وأن لا يزيل شيئا من عينه بل ينقله من جانب إلى آخر، وأن يكون مصلحة وقف.
حاشية القليوبي ـ (ج ٣ / ص ١٠٨)
تنبيه : لا يجوز تغيير شئ من عين الوقف و لو لارفع منها فان شرط الواقف العمل بالمصلحة اتبع شرطه، و قال السبكي يجوز تغيير الوقف بشروط ثلاثة ان لا يغير مسماه، و ان يكون مصلحة له كزيادة ريعه، و ان لا تزال عبنه فلا يضر نقلها من جانب الى اخر .والله أعلم بالصواب .

Kategori
Uncategorized

TAWASSUL YANG LENGKAP DAN SEMPURNA

TAWASSUL FATIHAH YANG LENGKAP DAN SEMPURNA

Asslamualaikum

Deskripsi masalah.
Al-Qur’an adalah Kalam Allah ( Firman Allah ) yang diturunkan secara mutawatir kepada Nabi Muhammad SAW dengan perantara Malaikat Jibril yang diawali QS .Fatihah dan diakhiri dengan surat an-Nas yang membacanya dianggap ibadah. Al-Qur’an sebagai pedoman hidup dalam menjalankan perintah dan menjauhi larangannya sebagaimana diantara salah satu perintah pertama yang Allah abadikan dalam al-Qur’an adalah perintah untuk menunaikan ibadah, Qs.Al-Baqarah ayat 21:

 يَا أَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Wahai manusia! Sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dan orang-orang yang sebelum kamu, agar kamu bertakwa”.

Sehubungan dengan membaca ayat al-Qur’an adalah ibadah, maka ada salah satu tokoh yang mengatakan :” Bahwa jika ingin mengirim fatihah kepada seseorang, maka awali dengan mengirim fatihah dahulu kepada Allah.SWT.

Pertanyaannya

Apakah benar jika seseorang mengirim fatihah diawali dengan mengirim fatihah kepada Allah karena membaca fatihah termasuk ibadah?

Waalaikum salam

Jawaban.
Tidak lah benar jika seseorang mengirim fatihah kepada Allah SWT walaupun Allah menciptakan manusia dan memerintahkan hanya untuk beribadah kepada-Nya lalu mengirim fatihah kepada Allah, karena walaupun Allah memerintahkan manusia beribadah Itu bukan berarti bahwa Allah membutuhkan ibadah hamba-Nya, Lalu mengirim fatihah kepadanya, akan tetapi yang benar adalah, karena manusia lah yang butuh terhadap ibadah yang Allah perintahkan, maka ketika seseorang akan membaca fatihah niatkan membaca fatihah dengan tujuan untuk memperoleh ridho Allah, bukan dengan cara mengirim fatihah kepada Allah kerena Allah tidak butuh kiriman fatihah sebagimana makhluk yang meninggal sebab Allah mempunyai sifat mukhalafah lil hawadits .

Jadi Allah tidak membutuhkan ibadahnya kita melainkan Kita yang membutuhkan ibadah yang diperintah oleh Allah SWT yaitu diantaranya membaca al-Qur’an, ( الفاتحة) karena untuk memperoleh ridho Allah .


الفاتحة لرضاء الله تعالى


Kemudian tawassul fatihah kepada Nabi Muhammad SAW. ( Lihat dalam kitab Dalaailul Khairat cara wirid membaca sholawat dengan tawassul terlebih dahulu. ” Penyusun Sayyid Muhammad Bin Sulaiman al-Jazuliy Rahimahullah ” )

Manusia butuh ibadah kepada Allah, sedangkan Allah tidak butuh kepada ibadah hambanya.

Sebagaimana disebutkan
dalam sebuah Hadis Qudsi, Allah berfirman :

يا عبادي ! لو أن أولكم وآخركم وإنسكم وجنكم . كانوا على أتقى قلب رجل واحد منكم . ما زاد ذلك في ملكي شيئا . يا عبادي ! لو أن أولكم وآخركم . وإنسكم وجنكم . كانوا على أفجر قلب رجل واحد . ما نقص ذلك من ملكي شيئا


“Wahai hamba-Ku, andai seluruh manusia dan jin dari awal penciptaan sampai akhir penciptaan. Seluruhnya menjadi orang yang paling bertaqwa, hal itu sedikitpun tidak menambah kekuasaan-Ku. Wahai hamba-Ku, andai seluruh manusia dan jin dari awal penciptaan sampai akhir penciptaan. Seluruhnya menjadi orang yang paling bermaksiat, hal itu sedikitpun tidak mengurangi kekuasaan-Ku” (HR. Muslim, no.2577)
Dari hadis Qudsi inilah yang kemudian kita bisa memahami bahwa, walaupun semua manusia dan jin pun memiliki akhlak yang baik, ibadahnya luar biasa rajin, ataupun mereka memiliki level ketaqwaan yang paling tinggi. Itu semua tidak akan menguntungkan sama sekali bagi Allah.
Begitu juga walaupun semua makhluk hidup yang ada di permukaan bumi ini, mereka tidak pernah beribadah, selalu membuat kerusakan di muka bumi ini, membuat permusuhan dan kebencian, ataupun memiliki level kejahatan/kedzaliman paling tinggi. Maka itu tidak akan merugikan Allah sedikitpun.

Bahkan jikalaupun kita meminta apapun kepada Allah, baik harta kekayaan, prestasi yang menjulang, jabatan yang terhormat, ataupun keturunan yang banyak. Itu semua hanya diumpamakan seperti mengambil air laut dengan jarum, kemudian diangkat. Wallahu a’lam bish-shawab

Kategori
Uncategorized

HUKUM MENJUAL DAGING QURBAN

HUKUM MENJUAL DAGING KURBAN

Asslamualaikum.
Studi kasus.

Dalam waqiiyah telah terjadi disuatu daerah ada seseorang menerima qurban dibulan Dzulhijjah 3 ekor sapi katakanlah Nama dari pemilik qurban itu adalah Stamid dan Stamud , dan Mahmud sementara 3 ekor sapi tersebut dipasrahkan kepada K.Mahmudi . Ketika sampai waktu hari penyembelihan qurban yakni tgl 10 dua ( 2) sapi tersebut disembelih yang kemudian ditasharrufkan kepada orang-orang yang berhak sementara yang satunya disembelih pada tgl 13 oleh sipenerima pemasrahan qurban ( K.Mahmudi ). Namun demikian karena yang 2 ekor sudah dibagikan, maka yang satu itu dijual secara akad hutang oleh K.Mahmudi kepada tukang jagal ( jual daging sapi ) dengan cara ditimbang dulu misalkan 2 Kuintal alasannya karena K.Mahmudi punya hajatan acara sendiri pada tanggal 20 Dzul hijjah. Nah ketika sampai waktu nya acara tgl 20 Si pembeli ( Tukang jual daging) membayar daging juga dengan tanda kutip daging tersebut dihargai sebagaimana K.Mahmudi dan takarannya sama yaitu 2 Kuintal sama, tapi status Nama dagingnya sudah berubah ( Daging dari K.Mahmudi daging qurban sedangkan daging yang dari tugang jagal /dagang daging tidak bersetatus daging qurban )

Pertanyaannya.

Bagaimanakah hukumnya menjual daging qurban baik yang berquban maupun yang menerima mengingat dagingnya sudah beda nama yaitu yang dibayar bukan daging kurban lagi ?.

Walaikum salam.

Jawaban:
Sebelum merinci tentang hukum menjual daging qurban maka penting kami memberikan pemahaman mekanisme pembagian daging menurut aturan syariat Untuk mengetahui bisa diambil dari kisah Nabi Ibrahim dan juga pendapat ulama’ sebagaimana berikut:
Qurban satu sapi sebenarnya boleh sebagian dagingnya diberikan kepada satu orang (Muqobil/’orang fakir atau orang miskin ) namun demikian agar masyarakat sama- sama menikmati daging qurban tersebut perlu adanya pembagian secara adil, sedangkan yang dimaksud pembagian yang adil itu bukan harus disama ratakan, melainkan adil itu adalah meletakkan sesuatu sesuai dengan tempatnya ( sesuai dengan anjuran syariat Islam ) semisal orang tua meninggal dunia sementara dia tinggalkan dua anak laki-laki dan perempuan maka keduanya punya hak warisan akan tetapi cara pembagiannya tidak harus sama melainkan seorang anak laki-laki mempunyai hak 2/3 dari harta warisan sedangkan anak perempuan punya hak bagian warisan 1/3. Oleh karena itu penting kami jelaskan tentang pembagian daging qurban sebagaimana Ijtihadnya para fuqaha’ bahwa pembagian daging qurban setidaknya ada tiga pendapat :

  1. Disedekahkan seluruhnya kecuali sekedar untuk lauk-pauknya orang yang berqurban
  2. Dimakan sendiri separo dan disedekahkan separo
  3. Sepertiga dimakan sendiri, sepertiga dihadiahkan dan sepertiga lagi disedekahkan.(Kifayatul Akhyar)

الشرقاوى على التحرير: ص:٤٦٩
( قوله وأن يتصدق ) أى يسن ذلك لأنه أقرب للتقوى وأبعد عن حظ النفس وسن أن جمع بين الأكل والتصدق والإهداء أن يجعل أثلاثا فيصدق بثلث ويهدى ثلاثا ويبقى ثلاثا لأهل بيته
فإن لم يفعل وجب التصدق بما يتمول منها ولو جزأ يسيرا من لحمها بحيث ينطلق عليه الإسم
ويكفي الصرف لواحد من الفقراء أو المسكين
بخلاف سهم الصنف الواحد من الزكاة لايجوز صرفه لأقل من ثلاثةلأنه يجوز الإقتصار هنا على جزء يسير لايمكن صرفه لأكثر من واحد

Artinya; Dan disunnatkan untuk mensedekahkan semua daging qurban. Alasannya ialah karena mensedekahkan semua daging qurban itu lebih dekat kepada takwa, dan lebih menjauhkan diri dari bagian hawa nafsu.
Dan disunnatkan untuk mengumpulkan diantara makan ( 1/3 daging qurban) untuk orang yang berqurban dan untuk keluarganya orang yang berqurban, dan mensedekahkan(1/3 daging qurban), dan menghibahkan (1/3 daging qurban).
Lalu jika orang yang berqurban itu tidak bisa mengerjakan terhadap hal diatas, maka wajib bagi orang yang berqurban itu untuk mensedekahkan sebagian kecil dari daging qurban. Sekiranya bisa dinamakan menyedekahkan daging qurban bagi orang yang berqurban.
Dan dianggap mencukupi jika orang yang berqurban itu hanya memberikan daging qurbannya kepada seorang fakir atau miskin.
Berbeda dengan bagian satu kelompok dari zakat, itu tidak boleh mentashorrufkan ( memberikan ) zakat kepada kurang dari 3 orang. Karena didalam bab qurban, itu diperbolehkan mengambil cukup hanya mentashorrufkan ( membagikan ) daging qurban yang sedikit, yang mana daging qurban yang sedikit itu tidak mungkin bisa di bagikan kepada lebih dari seorang.

Kitab Qolyubi juz IV hal. 254 :

(وَاْلأَصَحُّ وُجُوبُ تَصَدُّقٍ بِبَعْضِهَا)

وَهُوَ مَا يَنْطَلِقُ عَلَيْهِ الاِسْمُ مِنْ اللَّحْمِ وَلاَ يَكْفِي عِنْهُ الْجِلْدُ وَيَكْفِي تَمْلِيكُهُ لِمِسْكِينٍ وَاحِدٍ، وَيَكُونُ نِيئًا لاَ مَطْبُوخًا.


(Kifayatul Akhyar, juz 2 : 241 ).

والصحيح الإستحباب

Allah berfirman dalam al-Qur’an;

(والبدن جعلناها لكم من شعائر الله )

جعلها الله سبحانه وتعالى لنا لاعلينا، وبالقياس على العقيقة ، والأفضل التصدق بالجميع إلا اللقمة أو اللقمتان يأكلها فإنها مسنونة ،وقال الإمام الغزالي التصدق بالكل أحسن على كل قول فلو لم يرد التصدق بالكل فماالذي يفعل ؟ قيل يأكل بالنصف ويتصدق بالنصف لقوله تعالى( فكلوامنها وأطعموا البائس الفقير ) فجعلها الله النصفين، وهذا نص عليه الشافعي رضي الله عنه فى القديم ، وقيل يأكل الثلث ويهدي الثلث ويتصدق بالثلث لقوله تعالى ( وأطعموا القانع والمعتر ) فجعلها لثلاثة ،والقانع الجالس فى بيته والمعتر السائل ، وقيل غير ذلك ، وهذا هو الجديد الأصح فعلى هذا فماالمراد بالذي يهدى إليهم ؟ قيل هم المجملون من الفقراء، ويرجع حاصله إلى التصدق بالثلثين،’وهذا ماحكاه أبوالطيب عن الجديد وصححه ،وقيل هم الأغنياء ،وقال الشيخ أبوا حميد يأكل الثلث ،ويتصدق بالثلث ،ويهدى الثلث للأغنياء والمجملين ،ولوا تصدق بالثلثين كان أحب ونقل البندنيجى كون الصدقة بالثلثين أفضل عن النص والله أعلم.

Adapun sipenerima (Kiyai Mahmudi ) baiknya memohon kerelaan orang yang berhak, atau mengambil pendapat yang no.1, kalau qurban diberikan seluruhnya maka boleh kiyai mengambil sekehendaknya, namun yang lebih baik mengambil yang biasa dilakukan oleh para penisepuh atau kiyai yaitu mengambil bagian satu sampel kaki kanan yang belakang ( mulai dari kaki sampai paha ) hal ini diqiyaskan pada Aqiqoh . Sebagaimana ibarah berikut dalam kitab Tanwirul Qulub lisayyid Muhammd Amin Al-Qudiy, Halaman:239

ويسن أن تطبخ كسائر الولائم إلا رجلها اليمنى إلى أصل الفخذ فتعطى نيئة للقابلة(أى الداية) تفاؤلا

Disunnatkan aqiqoh dimasak seperti halnya semua Walimah/ jamuan kecuali Sampel: red kaki kanan daging aqiqoh ( mulai dari kaki sampai pahanya ) maka berikan kepada sipenerima. Begitu juga halnya dengan qurban berikan kaki yang kanan hal ini diqiaskan pada aqiqoh, karena hukum aqiqoh sama dengan qurban ,namun demikian daging Qurban diberikan mentahnya sedangkan Aqiqoh yang utama berikan masaknya kecuali Kaki yang kanan sebagaimana tersebut.

Lalu bagaimana hukum menjual daging qurban ?
Maka Jawabannya ditafsil

🅰️Haram menjual sesuatu bagian/juz dari qurban adapun yang dimaksud adalah orang yang berkurban.

وَيَحْرُمُ الْإِتْلَافُ وَالْبَيْعُ لِشَيْءٍ من أَجْزَاءِ أُضْحِيَّةِ التَّطَوُّعِ وَهَدْيِهِ وَإِعْطَاءُ الْجَزَّارِ أُجْرَةً مِنْهُ بَلْ هُوَ عَلَى الْمُضَحِّي وَالْمُهْدِي كَمُؤْنَةِ الْحَصَادِ

 
Artinya: Dan haram menghilangkan dan menjual sesuatu yang termasuk bagian dari hewan qurban sunah dan hadiahkannya, dan haram pula memberikan upah kepada tukang jagalnya dengan sesuatu yang menjadi bagian dari hewan qurban tersebut. Tetapi biaya tukang jagal menjadi beban pihak yang berqurban dan Muhdi (orang yang berbakat) sebagaimana biaya manen. (Zakariya al-Anshari, Asna al-Mathalib Syarh Raudl ath-Thalib, Bairut-Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, cet ke-1, 1422 H/2000 M, juz, I, halaman: 545).

Kifayatul-Ahyar karya Abu Bakar bin Muhammad al-Husaini:

 وَاعْلَم أَن مَوضِع الْأُضْحِية الِانْتِفَاع فَلَا يجوز بيعهَا بل وَلَا بيع جلدهَا وَلَا يجوز جعله أُجْرَة للجزار وَإِن كَانَت تَطَوّعا …وَعند أبي حنيفَة رَحمَه الله أَنه يجوز بَيْعه وَيتَصَدَّق بِثمنِهِ

Artinya: “Dan ketahuilah bahwa fungsi hewan qurban adalah untuk dimanfaatkan. Oleh karena itu tidak diperbolehkan menjualnya, tidak diperbolehkan pula menjual kulitnya dan juga tidak boleh menjadikan hasil penjualan untuk upah tukang jagal meskipun qurban sunnat (bukan kurban nadzar) dst… Menurut Abi Hanifah, menjual daging qurban dan menyedekahkan uang hasil penjualannya hukumnya boleh.”
Seperti telah disampaikan di atas, kami menyarankan, panitia qurban menyiapkan biaya khusus yang dibebankan kepada orang yang berqurban atau keluarganya untuk biaya perawatan serta biaya-biaya operasinal lainnya. Itu pun jika diperlukan biaya, agar tidak perlu menjual daging qurban. 

🅱️ Boleh menjual daging qurban bagi sipenerima qurban ( Orang fakir) Yakni setelah daging qurban sampai kepada tangan mereka.

Dengan demikian sah jual belinya walaupun cara dihutangķan dan cara bayarnya juga dengan daging walau pun beda nama, namun tidak merubah setatus Nama zadnya , karena daging kurban itu batasannya tgl 13 walau masih ada yang tersisa dari daging qurban maka sudah bukan lagi daging qurban. Keabsahan cara bayarnya sama dengan orang hutang emas dibayar dengan emas yang terpenting takarannya sama

لقول النبي -صلى الله عليه وسلم-: الذهب بالذهب، وزنا بوزن، مثلا بمثل وإن زاده من دون

Akan tetapi jika cara bayarnya lebih namun tidak disebutkan dalam akad maka boleh tetapi jika disebutkan ketika akad maka termasuk riba ?

لقول النبي -صلى الله عليه وسلم-: إن خيار الناس أحسنهم قضاء

بشرى كريم ص ٧٠٠
ولفقير التصرف فيه ببيع وغيره، أي: لمسلم، بخلاف الغني إذا أرسل إليه شيء أو أعطيه، فإنما يتصرف فيه بنحو أكل وتصدق وضيافة؛ لأن غايته أنه كالمضحي.
والقول بأنهم -أي: الأغنياء- يتصرفون فيه بما شاؤوا ضعيف وإن أطالوا في الاستدلال له، وإنما جازت لهم؛ لآية (وَأَطْعِمُوا الْقَانِعَ وَالْمُعْتَرَّ) [الحج:٣٦].
قال (ع ش): لأنه أطلق القانع والمعتر، فشمل الغني وغيره، وجوز (م ر) كون الغني هنا من تحرم عليه الزكاة، والمسكين من تحل له.
ولا يجزئ ما يهديه عن الواجب، وفي وجه لا يجب التصدق بشيء منها.
ويكفيه في الثواب إراقة الدم، والأفضل في أضحية التطوّع أن يقتصر على أكل لقم منها، والأفضل كونها من الكبد

حاشية الشرقاوي ـ (ج ٢ / ٢١)
)قوله ولا بيع لحم اضحية الخ) ومثل اللحم الجلد والشعر والصوف ومحل امتناع ذلك فى حق المضحى اما من انتقل اليه اللحم او نحوه فان كان فقيرا جاز له البيع او غنيا فلا =إلى أن قال= ولا فرق فى الاضحية بين الواجبة والمندوبة اهـ

*كتاب إعانة الطالبين*
ويجب التصدق ولو على فقير واحد بشيئ نيئا. قوله : نيئا أي ليتصرف فيه المسكين بما شاء من بيع و غيره. فلا يكفي جعله طعاما ودعاء الفقير اليه، لان حقه فى تملكه لا فى اكله. قوله: من التطوع بها احترز به عن الواجبة، فيجب التصدق بها كلها، ويحرم أكل شيئ منها كما تقدم آنفا. قوله: والأ فضل التصدق بكله اي بكل المتطوع بها، وذلك لأنه أقرب للتقوى، وأبعد عن حظ النفس.والله تعالى أعلم بالصواب

Kategori
Uncategorized

HUKUM MENGUBURKAN JENAZAH DITANAH WAKAF MASJID

HUKUM MENGUBURKAN JENAZAH DITANAH WAKAF MASJID

Deskripsi masalah

Sebagaimana yang kita maklumi bahwa terkadang ketika seseorang meninggal penguburannya ditempatkan ditanah wakaf yang mimang diwakafkan untuk penguburan walaupun demikian ada juga terjadi dimasyarakat manakala sanak familinya meninggal dikuburkan ditanah peribadi, bagi orang awam bisa jadi memahami antara tanah wakaf masjid dan kuburan sama, karena sama-sama tanah wakaf sehingga terjadi penguburan seseorang diletakkan ditanah wakaf masjid, mungkin bagi mereka ada tujuan memudahkan untuk ziarah, dan hal tersebut terjadi atas dasar kesepakatan masyarakat.

Pertanyaannya.

Bagaimana hukumnya tanah masjid di gunakan untuk pemakaman berdasar kesepakatan masyarkat ? dan juga sebaliknya masjid dibangun ditanah wakaf kuburan

Waalaikum salam.

Jawaban

Tanah wakaf jika ditinjau dari undang-undang dan kegunaannya secara umum memang diperuntukkan untuk kepentingan umum, namun demikian terkadang ada qorenah atau batasan tertentu, oleh karenanya penting membedakan antara Masjid dan kuburan walaupun pada satu sisi memang serupa atau ada kesamaan tapi disisi yang lain berbeda . Kalau Masjid pasti .yang ditempati adalah Wakaf tetapi kuburan belum tentu Wakaf bukti tidak sedikit dimasyarakat mengkuburkan jenazah ditempat tanah peribadi, walaupun ada sebagian dikuburkan di tanah yang memang diwakafkan untuk maqbarah. Oleh karenanya walaupun sama-sama Wakaf yang bertujuan untuk kepentingan umum akan tetapi manfaatnya atau kegunaannya bisa berbeda yaitu Masjid dibangun ditanah wakaf untuk shalat sedangkan bumi/tanah yang diwakafkan untuk kuburan memang sebagai tempat untuk kuburan.

Dengan demikian maka hukum menguburkan jenazah ditanah wakaf masjid hukumnya haram. Alasannya karena tanah jika sudah diwakafkan untuk masjid sudah melik masjid. Akan tetapi jika membangun masjid diatas kuburan hukumnya makruh, sebagaimana dalam keterangan berikut:

[وهبة الزحيلي، الفقه الإسلامي وأدلته للزحيلي، ٥٥٣/١]
يكره أن يتخذ على القبر مسجد، لحديث صحيح: «قاتل الله اليهود، اتخذوا قبور أنبيائهم مساجد» (1).
وأما حفر القبر في المسجد، فحرام شديد التحريم.

keterangan dalam sebuah hadits.

عَنْ أَبِي سَعِيْدِ اْلخُدْرِي قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: اَ ْلأَرْضُ كُلُّهَا مَسْجِدٌ إِلاَّ اْلحَمَامُ وَاْلمَقْبَرَةُ. [رواه ابن حبان]

Artinya: “Diriwayatkan dari Abu Said al-Khudri, ia berkata: Rasulullah saw bersabda: Bumi itu seluruhnya adalah masjid (tempat sujud) kecuali kamar mandi dan kuburan.” [HR. Ibn Hibban]

Masjid adalah sebuah bangunan yang didirikan khusus untuk beribadah kepada Allah seperti i’tikaf, dzikir, shalat dan lain-lain. Sementara kuburan adalah tempat untuk mengebumikan mayat manusia. Seharusnya dua tempat itu dipisahkan dan tidak dicampurkan karena ada hadis yang menyatakan bahwa hal itu telah. dilakukan oleh orang Nasrani dan mereka dilaknat Allah karena hal itu. Hadisnya seperti berikut:

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا قَالَتْ لَمَّا اُشْتَكَى النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَكَرَتْ بَعْضُ نِسَائِهِ كَنِيْسَةً رَأَيْنَاهَا بِأَرْضِ اْلحَبَشَةِ يُقَالُ لَهَا مَارِيَةُ وَكَانَتْ أُمُّ سَلَمَةَ وَأُمُّ حَبِيْبَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا أَتَتَا أَرْضَ اْلحَبَشَةِ فَ ذَكَرَتَا مِنْ حُسْنِهَا وَتُصَاوِرَ فِيْهَا فَرَفَعَ رَأْسَهُ فَقَالَ أُولَئِكَ إِذَا مَاتَ مِنْهُمْ الرَّجُلُ الصَّالِحُ بَنُوْا عَلَى قَبْرِهِ مَسْجِدًا ثُمَّ. صَوَّرُوْا فِيْهِ تِلْكَ الصُّوْرَةَ أُولَئِكَ شِرَارُ اْلخَلْقِ عِنْدَ اللهِ. [رواه البخاري ومسلم والنسائى].

Artinya: “Diriwayatkan dari Aisyah ra, ia berkata: ‘Tatkala disampaikan kepada Nabi saw bahwa isteri-isteri beliau menyebut tentang gereja; kami melihat gereja di negeri Habasyah yang dinamakan Maria. Ummu Salamah dan Ummu Habibah pernah datang di negeri Habasyah, maka ia menyebut tentang kebagusannya dan gambar-gambar yang ada di dalamnya. Maka Rasulullah saw mengangkat kepalanya lalu bersabda: Mereka (orang Nashrani itu) jika di antara orang-orang shaleh mereka meningga.l dunia, mereka membangun gereja di atas kuburannya, kemudian melukis pelbagai lukisan di dalamnya, mereka adalah seburuk-buruk makhluq di sisi Allah’.” [HR. al-Bukhari, Muslim, dan an-Nasaa‘i].

Referensi

روضة الطالبين وعمدة المفتين الجزء ٢ صحـ : ٢٦٩ مكتبة الشاملة الإصدار الثاني
اَلسَّادِسَةُ لاَ يَجُوْزُ تَغْيِيْرُ اْلوَقْفِ عَنْ هَيْئَتِهِ فَلاَ تُجْعَلُ الدَّارُ بُسْتَاناً وَلاَ حَمَّاماً وَلاَ بِاْلعَكْسِ إِلاَّ إِذَا جَعَلَ اْلوَاقِفُ إِلىَ النَّاظِرِ مَا يَرَى فِيْهِ مَصْلَحَةً لِلْوَقْفِ وَفيِ فَتَاوَى اْلقَفَّالِ أَنَّهُ يَجُوْزُ أَنْ يُجْعَلَ حَانُوْتَ اْلقَصَّارِيْنَ لِلْخَبَّازِيْنَ فَكَأَنَّهُ احْتَمَلَ تَغْيِيْرُ النَّوْعِ دُوْنَ اْلجِنْسِ وَلَوْ هَدَمَ الدَّارَ أَوِ اْلبُسْتَانَ ظَالِمٌ أُخِذَ مِنْهُ الضَّمَانُ وَبُنِيَ بِهِ أَوْ غُرِسَ لِيَكُوْنَ وَقْفاً مَكَانَ اْلأَوَّلِ وَلَوِ انْهَدَمَ اْلبِنَاءُ وَانْقَلَعَتِ اْلأَشْجَارُ. اسْتَغَلَّتِ اْلأَرْضُ بِاْلإِجَارَةِ لِمَنْ يُزْرَعُهَا أَوْ يَضْرِبُ فِيْهَا خِيَامَهُ ثُمَّ تُبْنَى وَتُغْرَسُ مِنْ غُلَّتِهَا وَيَجُوْزُ أَنْ يُقْرِضَ اْلإِمَامُ النَّاظِرَ مِنْ بَيْتِ اْلمَالِ أَوْ يَأْذَنَ لَهُ فيِ اْلاِقْتِرَاضِ أَوِ اْلإِنْفَاقِ مِنْ مَالِ نَفْسِهِ عَلىَ اْلعِماَرَةِ بِشَرْطِ الرُّجُوْعِ وَلَيْسَ لَهُ اْلاِقْتِرَاضُ دُوْنَ إِذْنِ اْلإِمَامِ اهـ

Referensi

كتاب شرح الوصية الكبرى للتيمية الراجحي ص.١١.

[النهي عن اتخاذ القبور مساجد]
قال المؤلف رحمه الله تعالى: [ونهى النبي صلى الله عليه وسلم عن اتخاذ القبور مساجد، فقال في مرض موته: (لعن الله اليهود والنصارى اتخذوا قبور أنبيائهم مساجد، يحذر مما فعلوا)، قالت عائشة رضي الله عنها: ولولا ذلك لأبرز قبره، ولكن كره أن يتخذ مسجداً.
وفي الصحيح عنه صلى الله عليه وسلم أنه قال قبل أن يموت .بخمس: (إن من كان قبلكم كانوا يتخذون القبور مساجد، ألا فلا تتخذوا بيتي عيداً، ولا بيوتكم قبوراً، وصلوا علي حيثما كنتم فإن صلاتكم تبلغني).
ولهذا اتفق أئمة الإسلام على أنه لا يشرع بناء المساجد على القبور، ولا تشرع الصلاة عند القبور، بل كثير من العلماء يقول: الصلاة عندها باطلة].
من تحقيق النبي صلى الله عليه وسلم للتوحيد أنه نهى عن اتخاذ القبور مساجد، وكل شيء صلى فيه الإنسان فقد اتخذه مسجداً، فلا يجوز الصلاة في المقابر؛ لأن الصلاة في المقابر من اتخاذها مساجد، فقال في مرض موته عليه الصلاة والسلام: (لعن الله اليهود والنصارى اتخذوا قبور أنبيائهم مساجد)، يحذر مما فعلوا، قالت عائشة رضي الله عنها: ولولا ذلك لأبرز قبره، ولكن كره أن يتخذ مسجداً، فالنبي نهى عن اتخاذ القبور مساجد، والصلاة عندها من اتخاذها مساجد، فمن صلى عند القبور فقد اتخذها مساجد شاء أم أبى، والنبي صلى الله عليه وسلم لعن اليهود لأنهم اتخذوا القبور مساجد، فدل على أن اتخاذها مساجد من الكبائر، ومن وسائل الشرك العظيمة.
حتى إن النبي صلى الله عليه وسلم في مرض موته اهتم بذلك، وكان قبل أن يموت بخمس ليالٍ وهو في شدة المرض يطرح على وجهه خميصة فإذا اغتم كشفها، ثم يعيدها، فقال في هذه الحالة قبل أن يموت بخمس ليال: (لعن الله اليهود والنصارى اتخذوا قبور أنبيائهم مساجد).
قال الراوي: يحذر مما صنعوا، يعني: لا تفعلوا كفعلهم، فإن الله لعنهم على هذا الفعل، ومن فعل فعلهم أصابه ما أصابهم، قالت عائشة: (ولولا ذلك لأبرز قبر النبي صلى الله عليه وسلم)، وإنما دفن في بيته خشية أن يتخذ مسجداً.
وفي الصحيح عنه صلى الله عليه وسلم أنه قال قبل أن يموت بخمس ليال: (إن من كان قبلكم كانوا يتخذون القبور مساجد، ألا فلا تتخذوا بيتي عيداً ولا بيوتكم قبوراً).
يعني: لا تجعلوا بيتي كالعيد، وفي لفظ: (قبري عيداً)، والنبي صلى الله عليه وسلم مدفون في بيته، وقوله: (لا تتخذوه عيداً) يعني: لا تكرروا المجيء إليه كما يتكرر العيد، فالذي يكرر المجيء والزيارة في أوقات محددة يكون قد جعله كالعيد.
وقوله: (ولا تجعلوا بيوتكم قبوراً) يعني: لا تعطلوها من الصلاة والقراءة فتصبح كالقبور، فصلوا في بيوتكم.
وقوله: (وصلوا علي حيثما كنتم) يعني: في أي مكان من أرض الله، فإن صلاتكم تبلغني، أي: تبلغه الملائكة؛ ولهذا اتفق العلماء على أنه لا يشرع بناء المساجد على القبور، فإن بناء المساجد على القبور من وسائل الشرك، وهو حرام، ولا تشرع الصلاة عند القبور، فالكثير من العلماء يقول: الصلاة عندها باطلة، فإذا صلى الإنسان عند القبر تكون صلاته باطلة، ولا تصح الصلاة بمسجد فيه قبر.

[البكري الدمياطي، إعانة الطالبين على حل ألفاظ فتح المعين، ٢٢٧/١]

(و) كره صلاة في طريق بنيان لا برية، وموضع مكس، و (بمقبرة) إن لم يتحقق نبشها، سواء صلى إلى القبر أم عليه أم بجانبه، كما نص عليه في الام.
وتحرم الصلاة لقبر نبي أو نحو ولي تبركا أو إعظاما.

Kesimpulan dari keterangan diatas bahwa menggali kuburan /atau menguburkan jenazah ditanah wakaf masjid adalah haram walaupun atas dasar kesepakatan masyarakat karena kesepakatan dapat diwujudkan apabila tidak bertentangan dengan syariat, sedangkan membangun atau menjadikan masjid diatas kuburan adalah makruh .

Wallahu a’lam bish-shawab

Kategori
Uncategorized

SOLUSI MENIKAHI PEREMPUAN KEMBAR SIAM

Asslamualaikum.
Studi kasus.
Ada seseorang perempuan yang mana pada awalnya Allah ciptakan dengan bentuk tubuh yang berbeda dengan manusia biasa, yaitu berkepala dua namun tangannya dua sedangkan kakinya dua dan perutnya satu dan mungkin saja alat kelaminnya satu ini adalah sebuah keajaiban Allah untuk diperlihatkan kepada manusia yang lainnya, supaya menjadi bahan renungan , sehingga pada akhirnya, akan sampai pada titik kesimpulan bahwa Allah kuasa menciptakan sesuatu sesuai dengan kehendaknya, karena dibalik semua itu pasti ada hikmah didalamnya.

Pertanyaannya.

Bagaimana solusi terkait hukum nikahnya seseorang tersebut saat aqad nikah dihitung satu atau dua dua nya soal nya 2 badan satu jalur kaki dua ataukah dipisahkan ?

Mohon jawabannya

🙏🏻🙏🏻

Waalaikum salam.

Jawaban

Jika melihat dari kasus sebagaimana dalam deskripsi, maka sangat menarik untuk dibahas lebih medalam ditinjau dari sudut padang fiqh.

Dalam sebuah keterangan sebagai mana saya kutip dalam salah satu kitab diantara karangan ulama’ madzhab Syafi’ bahwa jika seseorang mempunyai dua Kepala yang bersambung dalam satu tubuh, maka salah satu solusi untuk menghukumi dua orang atau satu orang maka harus dilihat dari kondisi anggota tubuhnya begitu juga alat kelaminnya bahkan ditijau kondisi cara tidurnya yaitu jika dalam satu tubuh terdapat dua Kepala dan 4 kaki dan juga 4 tangan bahkan dua kelamin yang sama, sedangkan cara tidurnya tidak sama dalam arti jika Kepala yang satu tidur dan yang lainnya tidak tidur maka dihukumi dua orang dari semua aspek hukum, walaupun dalam kondisi tubuhnya bersambung ( melekat ). Dengan demikian maka ketika menikah atau dinikahi oleh seseorang akadnya harus dipisahkan dalam arti dia hanya bisa menggunakan yang satu sedangkan alat kelamin yang lainnya wajib ditutup semampunya .Akan tetapi jika seseorang mempunyai dua kepala dan dua tangan sedangkan kelaminnya satu , dan kondisi nya ketika tidur, maka tidurnya bersamaan, dalam arti jika Kepala yang satu tidur dan yang lainnya juga tidur maka dihukumi satu orang maka dalam kondisi tanda seperti ini ketika menikah cukup satu akad.

تحفة المحتاج ج ٦ ص ٣٩٧
وَلَوْ كَانَا مُلْتَصِقَيْنِ وَلِكُلٍّ رَأْسٌ وَيَدَانِ وَرِجْلَانِ وَفَرْجٌ إذْ حُكْمُهُمَا حُكْمُ الِاثْنَيْنِ فِي سَائِرِ الْأَحْكَامِ كَمَا نَقَلُوهُ عَنْ ابْنِ الْقَطَّانِ وَأَقَرُّوهُ وَظَاهِرٌ أَنَّ تَعَدُّدَ غَيْرِ الرَّأْسِ لَيْسَ بِشَرْطٍ بَلْ مَتَى عُلِمَ اسْتِقْلَالُ كُلٍّ بِحَيَاةٍ كَأَنْ نَامَ دُونَ الْآخَرِ كَانَا كَذَلِكَ

تحفة الحبيب علي شرح الخطيب ج ١ ص ٢٥٢٩
قال حج: وظاهر أن تعدد غير الرأس ليس بشرط، بل متى علم استقلال كل بحياة كأن نام أحدهما دون الآخر فالحكم كذلك اهــــ. وعبارة ق ل: ودخل بالثاني ما لو كانا ملتصقين وأعضاء كل منهما كاملة حتى الفرجين فلهما حكم اثنين في جميع الأحكام حتى إن لكل منهما أن يتزوج سواء كانا ذكرين أو أنثيين أو مختلفين، فإن نقصت أعضاء أحدهما فإن علم حياة أحدهما استقلالاً كنوم أحدهما ويقظة الآخر فكاثنين أيضاً وإِلا فكواحد اهــــ. قوله
(وغيرهما) كالنكاح، فيجوز لكل منهما أن يتزوج سواء كانا ذكرين أو أنثيين أو مختلفين، ويجب الستر والتحفظ ما أمكن


Tuhfat al-Muhtaj Juz 6 Halaman 397:
“Dan seandainya keduanya saling melekat dan masing-masing memiliki kepala, dua tangan, dua kaki, dan kemaluan, maka hukum keduanya adalah hukum dua orang dalam seluruh hukum, sebagaimana yang dinukil dari Ibn al-Qattan dan mereka (para ulama) menyetujuinya. Dan jelaslah bahwa banyaknya anggota badan selain kepala bukanlah syarat. Bahkan, kapan saja diketahui kemandirian masing-masing dalam hidup, seperti salah satunya tidur tanpa yang lain, maka keduanya dianggap dua orang.”
Tuhfat al-Habib ‘ala Syarh al-Khatib Juz 1 Halaman 2529:
“Hajjawi berkata: ‘Dan jelaslah bahwa banyaknya anggota badan selain kepala bukanlah syarat, bahkan kapan saja diketahui kemandirian masing-masing dalam hidup, seperti salah satunya tidur tanpa yang lain, maka hukumnya demikian.’
Ungkapan Qalyubi: ‘Dan termasuk dalam pengertian kedua adalah jika keduanya saling melekat dan anggota badan masing-masing sempurna hingga kedua kemaluannya, maka keduanya memiliki hukum dua orang dalam seluruh hukum, hingga masing-masing dari keduanya boleh menikah, baik keduanya laki-laki, perempuan, atau berbeda jenis. Jika anggota badan salah satunya kurang, maka jika diketahui kehidupan salah satunya secara mandiri, seperti salah satunya tidur dan yang lain bangun, maka keduanya juga dianggap dua orang. Jika tidak demikian, maka dianggap satu orang.’
Perkataannya: ‘(dan selain keduanya)’ seperti pernikahan, maka boleh bagi masing-masing dari keduanya untuk menikah, baik keduanya laki-laki, perempuan, atau berbeda jenis, dan wajib menutup aurat dan menjaga diri semaksimal mungkin.” Wallahu a’lam bishawab

Kategori
Uncategorized

MENGHIBAHKAN UTANG

MENGHIBAHKAN UTANG

Assalamualaukum wr wb.
Deskripsi masalah.

Manusia dalam menjalani hidup dan kehidupan didunia  terlebih bagi pasangan suami istri dalam kesehariannya tidaklah terlepas dari berbagai kebutuhan baik sandang maupun pangan bahkan terkadang mereka dihadapkan dengan kebutuhan ekonomi yang sangat mendesak sehingga dalam kondisi yang sedemikian tidak boleh tidak dia  harus ngampra (utang Uang) kebank katakanlah seorang bernama Yazid Nama samarannya dia PNS atau Mahmud seorang pengusaha ngampra  kebank  dengan agunan SK PNS atau sertifikat rumah atau tanahnya dengan ketentuan bilamana pengampra itu meninggal, maka uang tsb dianggap LUNAS, begitu juga hal nya Yazid pinjam/punya hutang kepada mahmud sementara Mahmud menghibahkannya, melepaskan hubungan hutang piutangnya kepada Yazid

Pertanyaannya:
Bagaimana dengan ketentuan tsb,? Sah atau tidk.??🙏🙏.

Waalaikum salam.

Jawaban

Ngampra ( utang uang ) di bank bagi seseorang yang berprofesi sebagai PNS biasanya cara  bayarnya gaji  tersebut dipotong tiap bulannya sesuai dengan jangka waktu yang ditentukan dan disepakati bersama dengan persyaratan-persyaratan yang lengkap, tetapi jika pengusaha atau lainnya ngampra kebank dengan jaminan sertifikat atau lainnya, secara hukum boleh menghibahkan utang (  ibra’ ) jika mereka meninggal boleh bebas dari hutang dengan catatan ditentukan dalam akad dan SK atau  Sertifikatnya hak milik sendiri  bukan atas nama milik istrinya atau sebaliknya tetapi jika milik istrinya  sementara yang pinjam suaminya tau orang lain  maka tetap harus membayar. Bigitu juga halnya Yazid pinjam kepada Mahmud sementara Mahmud menghibahkannya kepada Yazid dengan tanda kutip membebaskannya maka boleh, akan tetapi jika hutangnya Yazid dilemparkan/dialihkan/diberikan kepada orang lain (oleh Mahmud : pihak bank) kepada orang lain maka tidak sah hukumnya  menurut pendapat yang shih tidaklah sah.

Menghibahkan hutang.

( العزيز شرح الوجيز ج٦ ص ٣١٧)

ومنها هبة الدين وهي اما ان تقرض ممن عليه الدين او من غيره فان وهب ممن عليه الدين فهو إبراء الى ان قال …. وان وهب من غير من عليه فيبني على الخلاف في بيع الدين من غير من عليه ان ابطلناه فكذالك الهبة وهو الاصح اهـ.

Keterangan :
Hibatuddain mempunyai dua hukum,

– Bila mauhublah (sang penerima) adalah madin(yang mempunyai utang) hukumnya sah (termasuk ibra = pembebasan hutang).

– Bila mauhublah(orang yang dihibahi) adalah orang lain (bukan madin) hukumnya khilaf, namun menurut qaul ashoh(lebih sohih) hukumnya tidak sah. Wallah A’lam bisshowab

Kategori
Uncategorized

KEUTAMAAN BERQURBAN/AQIQOH ANTARA SAPI/KAMBING JANTAN DAN BETINA


KEUTAMAAN BERQURBAN/AQIQOH SAPI/KAMBING  ANTARA YANG JANTAN DAN BETINA

Asslamualaikum.
Sebelumnya saya mohon maaf kepada para Kiyai dan ust.

Langsung saja saya bertanya.

Apa ada ketentuan jenis hewan yang utama diqurbankan atau dijadikan aqiqoh  mohon penjelassannya.

Wa’alaikumusaalam warahmatullah.

JAWABAN :

Ketika seseorang  ada niatan untuk berkurban sapi atau ada niatan untuk mengaqiqohi untuk anaknya  baik dengan cara membeli atau hewan yang dipelihara sendiri  maka diperbolehkan dengan jenis kelamin jantan maupun betina Namun  demikian yang utama sunnah berqurban atau aqiqoh dengan hewan yang jantan, dari pada berqurban atau aqiqoh  dengan kambing yang berjenis betina. Alasannya karena hewan sapi/kambing yang jantan  dagingnya lebih enak, lebih banyak dagingnya,dan juga lebih segar, daripada yang betina, tapi ada yang mengatakan yang betina namun yang lebih shohih  menurut madzhab syafiiy berqurban/aqiqoh dengan hewan jantan,Sebagaimana dikatakan oleh Imam Nawawi:

التَّضْحِيَّةُ بالذَّكَرِ أَفْضَلُ مِنَ الْأُنْثَى عَلَى الْمَذْهَبِ


Artinya: “Berkurban dengan yang jantan lebih utama daripada betina dalam madzhab Syafi’i.”

Selain itu, Rasulullah SAW juga dulunya berkurban dengan dua ekor kambing jantan sehingga memilih hewan jantan untuk berkurban hukumnya menjadi sunnah. Hal ini bersandar pada hadits shahih yang dikutip dari kitab Sunan an-Nasai jilid 4 sebagai berikut:

أَخْبَرَنَا فَتَيَبةُ قَالَ: حَدَّثَنَا أَبُو عَوَانَةَ عَنْ قَتَادَةَ عَنْ أَنَسٍ قَالَ: ضَحَى النَّبِيُّ ﷺ بِكَبْشَيْنِ أَمْلَحَيْنِ أَمْرتَيْنِ، ذَعَهُمَا بِيَدِهِ وَسَمَّى وَكَبَّرَ وَوَضَعَ رِجْلَهُ عَلَى صِفَاحِهِمَا ق، تَقَدَّمَ آنفًا


Artinya: Qutaibah mengabarkan bahwa Abu Awanah mengatakan dari Qatadah dari Anas, ia berkata, “Rasulullah SAW berkurban dengan dua ekor kambing jantan yang berwarna putih, dan bertanduk dua. Beliau menyembelih dengan tangan beliau sendiri sambil membaca basmalah dan takbir, dan dengan meletakkan kaki beliau di atas sisi kambing itu.” (HR Muttafaq ‘alaih).

المجموع شرح المهذب بيروت دار الفكر ج ٨ص ٣٩٢

وإذا جاز ذلك في العقيقة بهذا الخبر دل على جوازه في الاضحية ولان لحم الذكر أطيب ولحم الانثى أرطب

Artinya: “Jika dalam hal aqiqah saja diperbolehkan dengan landasan hadits tersebut, maka hal ini menunjukkan kebolehan untuk menggunakan hewan berjenis kelamin jantan maupun betina dalam kurban. Karena daging jantan lebih enak dari daging betina, dan daging betina lebih lembab.”

مغني المحتاج ٤/٢٨٤

ويجوز ذكر وأنثى أى التضحية بكل منهما بالإجماع وإن كثر نزوان الذكر وولادة الأنثى ،نعم التضحية بالذكر أفضل على الأصح المنصوص لأن لحمه أطيب كذا قال الرافعي ونقل في المجموع في باب الهدي عن الشافعي أن الأنثى أحسن من الذكر لأنها أرطب لحما ولم يحك غيره ويمكن حمل الأول على ما إذا لم يكثر نزوانه والثاني على ما إذا كثر.

نهاية المحتاج (٨/ ١٣٣)

ويجوز ذكر وأنثى وخنثى لكن الذكر ولو بلون مفضول فيما يظهر أفضل لأن لحمه أطيب إلا أن يكثر نزواته فالأنثى التي لم تلد أفضل منه حينئذ وعلى ذلك حمل قول الشافعي والأنثى أحب إلي وحمله بعضهم على جزاء الصيد إذا قومت لإخراج الطعام والأنثى أكثر قيمة وخصي للاتباع

المجموع شرح المهذب

يَصِحُّ التَّضْحِيَةُ بِالذَّكَرِ وَبِالْأُنْثَى بِالْإِجْمَاعِ وَفِي الْأَفْضَلِ مِنْهُمَا خِلَافٌ (الصَّحِيحُ) الَّذِي نَصَّ عَلَيْهِ الشَّافِعِيُّ فِي الْبُوَيْطِيِّ وَبِهِ قَطَعَ كَثِيرُونَ أَنَّ الذَّكَرَ أَفْضَلُ مِنْ الْأُنْثَى وَلِلشَّافِعِيِّ نَصٌّ آخَرُ أَنَّ الْأُنْثَى أَفْضَلُ فَمِنْ الْأَصْحَابِ مَنْ قَالَ لَيْسَ مُرَادُهُ تَفْضِيلَ الْأُنْثَى فِي التَّضْحِيَةِ وَإِنَّمَا أَرَادَ تَفْضِيلَهَا فِي جَزَاءِ الصَّيْدِ إذَا أَرَادَ تَقْوِيمَهَا لِإِخْرَاجِ الطَّعَامِ قَالَ الْأُنْثَى أَكْثَرُ وَمِنْهُمْ مَنْ قَالَ الْمُرَادُ الْأُنْثَى الَّتِي لَمْ تَلِدْ أَفْضَلُ مِنْ الذَّكَرِ الذي كثر نزوانه فَإِنْ كَانَ هُنَاكَ ذَكَرٌ لَمْ يَنْزُ وَأُنْثَى لَمْ تَلِدْ فَهُوَ أَفْضَلُ مِنْهَا وَاَللَّهُ أَعْلَمُ

يَصِحُّ التَّضْحِيَةُ بِالذَّكَرِ وَبِالْأُنْثَى

Kategori
Uncategorized

HUKUMNYA KARYAWAN JUAL BELI BARANG DENGAN HARGA DILUAR SETANDAR TANPA SEIDZIN BOSNYA

HUKUMNYA KARYAWAN JUAL BELI BARANG DENGAN HARGA DILUAR SETANDAR TANPA SEIDZIN BOSNYA

Assalamualaikum.

Deskripsi masalah.

Ada seseorang dari karyawan yang disuruh atau diberi tugas oleh BOS nya untuk mengidarkan ( menjual) barang dagangannya semisal menjual baju dengan harga Rp.50.000 tapi oleh karyawan tersebut dijual rp70.000 .

Begitu juga halnya seorang karyawan disuruh oleh BOSnya untuk kolakan barang dagangannya ketoko namun karyawannya cerdik dia mendapatkan barang yang serupa dan membelinya, namun dengan harga yang lebih murah dari harga standar yang biasa. Semisal harganya barang yang biasa 70,000 tapi dia menemukan harga dibawah standar 70,000 yaitu 50,000.

Pertanyaannya.

  1. Bolehkah secara hukum seorang karyawan menjual barang dengan harga lebih tinggi dari standar Muwakkil ( BOS ) dengan tanpa seidzinnya.
  2. Bolehkah bagi Karyawan atau wakil dengan kecerdasannya mengambil sisa dari uang yang dibelanjakan (dikolak). Sebagaimana deskripsi ?

Waalaikum salam.

Jawaban disatukan.

Kalau tanpa seidzin muwakkil ( BOS ) maka tidak boleh /haram karyawan menjual dengan harga lebih tinggi dari harga yang setandar, karena haram maka hasilnya juga haram alasannya karena mengambil manfaat/keuntungan tanpa seidzin pemiliknya.

Menjual dengan harga lebih tinggi dari harga standar

إسعاد الرفيق.ج ١ص١٤٢مكتبة ” الهداية ” سورابيا

ويحرم إجماعا على كل مكلف ( أن يبيع ) شخصا ( عطبا) بضمتين أى قطنا كما فى القاموس ( او غيره من ) سائر ( البضائع) او يؤجره ملكه( ويقرض ) ذلك البائع او المؤجر ( المشترى ) او المستأجر منه ذلك القطن او الملك ( معه) أى البيع او الإستئجار ( فوقه) أى ذلك المبيع او الملك (دراهم ) او دنانير او غيرهما لكن لامطلقا بل إذا شرط أن يجر له نفعا بسبب ذلك كأن ( يزيد فى ثمن تلك البضاعة ) او فى أجرة ذلك الملك ( لأجل )ذلك ( القرض ) الذى أقرضه إياه فإن لم يشرط فإن لم يشرط ذلك كره عندنا وحرم عند كثير من العلماء قاله السبكي كما فى التحفة

Artinya:” Dan haram bagi setiap orang mukallaf secara ijma’ menjual kapas kepada seseorang atau barang lainnya, atau menyiwakan kepadanya barang miliknya, dan memberi hutang kepada pembeli atau penyiwa itu beberapa dinar, dirham atau lainnya atas pembelian atau penyewaan tersebut, namun tidak haram, secara mutlak, akan tetapi jika mensyaratkan meminta manfaat dengan sebab itu, seperti menambah harga barang yang dijual atau meminta ongkos sewa lebih banyak, maka makruh menurut kami dan haram menurut banyak ulama’ .Pendapat ini dikatakan Imam As-Subki sebagaimana keterangan Dalam kitab Tuhfah.

Begitu juga tidak boleh orang disuruh kolakan barang lalu ternyata dengan kecerdikannya dia menemukan barang yang harganya lebih murah dari yang biasa kemudian selebihnya uang itu diambil maka tidak boleh ( Pengambilan sisa harga).

( بجيرمي على المنهج ج ٢ ص.٤٤٢ )

ومنه يؤخذ امتناع ما يقع كثيرا من اختيار شخص حاذق لشراء متاع فيشتريه بأقل من قيمته لحذقه ومعرفته ويأخذ لنفسه تمام القيمة معللا ذلك بأنه هو الذي وفره لحذقه وبأنه فوت على نفسه أيضا زمنا كان يمكنه فيه الاكتساب فيجب عليه رد ما بقي لمالكه لما ذكر من إمكان مراجعته .والله أعلم بالصواب

Keterangan :
Pengambilan sisa tsaman (harga) bagi wakil, karena kecerdikannya sehingga mampu membeli barang dibawah harga standar adalah tindakan terlarang dan si wakil wajib mengembalikan sisa tsaman tersebut.

Kategori
Uncategorized

QURBAN DULU ATAU AQIQOH YANG UTAMA

QURBAN DULU ATAU AQIQOH YANG UTAMA

Asslamualaikum
Deskripsi masalah.
Sebagaimana yang kita maklumi bahwa hukum asal qurban dan aqiqoh adalah sama-sama sunnah artinya hukum dari kedua sama bersis namun bedanya hanyalah waktu dan pelaksanaannnya kalau qurban waktu dan pelaksanaanya pada bulan Dzul hijjah mulai tgl 10-13 sedangkan pelaksanaannya aqiqoh kapanpun saja, tidak terikat waktu yang penting ada kemampuan untuk mengaqiqohkan anaknya atau untuk dirinya sendiri, Namun ada musykil dari keduanya yaitu:

Pertanyaannya.

Lebih utama mana melaksanakan qurban dulu atau aqiqah dulu..?

Jawaban.

Keutamaan salah satu dari keduanya adalah Dikondisikan artinya disesuaikan dengan situasi dan kondisinya orang yang punya niatan .
Maksud dikondisikan artinya harus ditinjau dari hukumnya terlebih dahulu walaupun keduanya hukum asal adalah sunnah muakkad .Namun salah satu dari keduanya terkadang berubah menjadi wajib, itu bisa terjadi karena ada sebab, bisa karena ditakyin atau karena Nadzar.

Sebagaimana dijelaskan dalam kaidah

الحكم يدور مع علته وجودا وعداما

Hukum itu bisa berubah ada dan tidak ada beserta ellatnya

Misalkan dihadapkan pada dua kewajiban : Niatan aqiqoh nazar sedangkan qurbannya wajib , maka yang harus didahulukan adalah yang wajib dari pada nazar , apalagi dihadapkan pada dua maslahah semisal niatan kurban sunnah, sedangkan aqiqoh niatannya wajib, maka lebih utama wajib dari pada sunnah.
Dan sebaliknya jika kurbannya niat qurban wajib sedangkan niatannya aqiqoh hanya niatan sunnah tentu lebih utama yang wajib karena perkara wajib jika dilaksanakan berpahala dan jika ditinggalkan berdosa, sebagaimana kèterangan dalam kitab mabaadi’ul fiqh yaitu:

الواجب هو مايثاب على فاعله ويعاقب على تاركه


Berbeda dengan hukum sunnah jika dikerjakan berpahala dan jika ditingkatkan tidak berdosa.

المندوب هو مايثاب على فاعله ولايعاقب على تاركه


Begitu juga halnya dengan qurban wajb dan aqiqoh nadzar atau sebaliknya maka tetap diantara keduanya ada yang harus didahulukan yaitu yang wajib/fardhu.

Oleh karenanya Jika seseorang dihadapkan pada dua kemaslahatan maka lakukanlah ( dahulukannlah ) yang lebih tinggi nilai keutamaannya. Dan jika dihadapkan pada dua kerusakan maka lakukanlah yang ringan atau ambillah yang lebih ringan kerusakannya.

شرح رسالة مختصرة في أصول الفقه
قاعدة المصالح والمفاسد
وَإِذَا تَزَاحَمَتْ مَصْلَحَتَانِ؛ قُدِّمَ أَعْلاَهُمَا، أَوْ مَفْسَدَتَانِ لاَ بُدَّ مِنْ فِعْلِ إِحْدَاهُمَا؛ ارْتُكِبَتْ أَخَفُّهُمَا مَفْسَدَةً.
قال: (وإذا تزاحمت مصلحتان؛ قُدِّمَ أعلاهما أو مفسدتان لا بد من فعل إحداهما؛ ارْتُكِبَ أخفُّهما).
هذه القاعدة تسمى عند العلماء: قاعدة المصالح والمفاسد، وقاعدة المصالح والمفاسد لها ثلاث صور، ذكر الشيخ صورتين، وترك الصورة الثالثة.
الصورة الأولى: أن تتزاحم مصلحتان، والتزاحم معناه التعارض بين أمرين لا يمكن الجمع بينهما، فعندنا مصلحتان ولا يمكن الجمع بينهما، ولا بد أن نفعل مصلحة واحدة؛ فما الحكم؟!
قال الشيخ: إنه يختار أعلى المصلحتين؛ مثل شخص اجتمع عليه دين ونفقة مستحبة؛ كصدقة، فقضاء الدين مصلحة، والنفقة المستحبة على الفقراء والمساكين مصلحة، فأيهما يُقَدِّمُ؟ يقدم قضاء الدين؛ لأن قضاء الدين واجب، هذا الآن تعارض بين مصلحتين إحداهما واجبة والأخرى مستحبة.
طيب.. لو تعارضت مصلحتان واجبتان؛ مثل صلاة نذر وصلاة فرض، يُقدم صلاة الفرض على صلاة النذر؛ لأن الفرض ثبت بأصل الشرع، والنذر أوجبه المكلف على نفسه، وفي النفقة اللازمة للزوجات والأقارب تُقَدَّمُ نفقة الزوجات ثم الأقارب، إذا تعارض عند الزوجة أمر أبويها وأمر زوجها؛ يُقَدَّمُ أمر زوجها؛ لأنه آكد.
إذا اجتمعت مصلحتان مسنونتان؛ قُدِّمَ أفضلهما، ويقدم ما فيه نفع متعدٍّ، فلو تعارض عند إنسان طلب علم وصلاة نفل؛ يقدم طلب العلم. تعليم العلم مع صلاة نفل، تعليم العلم، المقصود من هذا: أن الأعلى في المصالح يختلف من مصلحة إلى أخرى.
ومن الأدلة على اختيار أعلى المصلحتين: ما ورد في الحديث الصحيح قول النبي -صلى الله عليه وسلم- كما في حديث ابن الزبير(١) عن عائشة قَالَ: «يَا عَائِشَةُ! لَوْلاَ قَوْمُكِ حَدِيثٌ عَهْدُهُمْ» قال ابن الزبير: بِكُفْرٍ، « لَنَقَضْتُ الْكَعْبَةَ، فَجَعَلْتُ لَهَا بَابَيْنِ: بَابٌ يَدْخُلُ مِنْهُ النَّاسُ وَبَابٌ يَخْرُجُونَ»(٢).
فهنا عندنا مصلحتان: المصلحة الأول: نقض الكعبة وجعل لها بابين، وإذا كان لها بابان يكون أخفَّ وأسهل من كون الناس يدخلون ويخرجون مع باب واحد، والمصلحة الثانية: تأليف قلوب قريش؛ لأنهم لا يزالون حدثاء عهد بكفر، فماذا قدم الرسول -صلى الله عليه وسلم- من المصلحتين؟ قدم المصلحة الثانية، وهي تأليف القلوب.
الصورة الثانية: إذا اجتمعت مفسدتان؛ ارتكب أخفهما، ومن أدلة هذا وأمثلته: ما ورد في الحديث الصحيح حديث أنس -رضي الله عنه- قال: جاء أعرابي فبال في المسجد فزجره الناس، فنهاهم النبي -صلى الله عليه وسلم-، فلما قضى بوله أمر بذنوب من ماء فأريق عليه(٣).
البول في المسجد مفسدة، والاستمرار على البول مفسدة، والصحابة -رضي الله عنهم- أرادوا أن يقطعوا على الرجل بوله، يعني أرادوا أن لا يستمر البول. والرسول -صلى الله عليه وسلم- أراد أن يستمر البول.
إذن: البول في المسجد مفسدة في حد ذاتها، واستمرار البول مفسدة، فأراد الرسول -صلى الله عليه وسلم- أن يقضوا على الاستمرار، فنَهوا هذا الرجل لأجل أن يقوم ويُكمل بوله خارجَ المسجد، لكن الرسول -صلى الله عليه وسلم- نهاهم. لماذا؟ لأن قطع البول مفسدته أعظم من مفسدة الاستمرار، والبول في المسجد، وكونه يستمر على بوله هذا أهون، وكونه يقوم ويخرج هذا أعظم، فارْتُكِبَتْ أدنى المفسدتين وأخف المفسدتين؛ لأنه إذا قام سيكون هناك ثلاث مفاسد:
المفسدة الأولى: حبس البول، والإنسان إذا أراد أن يبول وحَبَسَ البول هذا مُضِرّ.
المفسدة الثانية: أنه سينجس أكبر بقعة من المسجد، وبوله كانت بقعة معينة ما يعني تزيد على بضعة من السنتيمترات، لكن إذا قاموا وطردوه سيكون هناك شيء من البول يخرج هذه مفسدة ثانية.
المفسدة الثالثة: أن ثيابه ستتنجس، لكن إذا بقي البول بالمسجد حصل ستتلاشى المفاسد هذه.
إذن: الرسول -صلى الله عليه وسلم- لَمَّا نهاهم أراد ارتكاب أدنى المفسدتين في مقابل أعلاهما.
الصورة الثالثة: إذا تقابلت مصلحة ومفسدة وكانت المفسدة أعظم.. انظر الآن الصورة الأولى عندنا مصلحتان، والصورة الثانية عندنا مفسدتان، والصورة الثالثة عندنا مصلحة ومفسدة، ولكن المفسدة أعظم، فما الحكم؟ يُقدم دفع المفسدة ويُترك تحقيق المصلحة؛ لأن درء المفاسد مقدم على جلْب المصالح.
ومن أدلة هذا قول الله -تعالى: ﴿ وَلاَ تَسُبُّوا الَّذِينَ يَدْعُونَ مِن دُونِ اللَّهِ فَيَسُبُّوا اللَّهَ عَدْوًا بِغَيْرِ عِلْمٍ﴾(٤)، سبوا آلهة المشركين هذه مصلحة، وهي تحقير دينهم وعبادتهم، وسب الله -تعالى- هذه مفسدة، ولما كان سيترتب على هذه المصلحة التي هي سب آلهة المشركين سيترتب عليها مفسدة وهي سب الله -تعالى- تُركت هذه المصلحة، قال -تعالى: ﴿ وَلا تَسُبُّوا الَّذِينَ يَدْعُونَ مِن دُونِ اللَّهِ فَيَسُبُّوا اللَّهَ عَدْوًا بِغَيْرِ عِلْمٍ﴾.
ومن الأمثلة على هذا ما ورد من زَوَّارَات القبور(5)، فزيارة القبور للنساء فيها مصلحة، وهي الاتعاظ ولكن فيها مصلحة أعظم وهي مفسدة فتنة الأحياء من جهة، وإيذاء الأموات من جهة أخرى، فقُدِّمَ درء المفسدة على جلب المصلحة.
ومن الأمثلة أيضًا منْع الجار من أن يَتَصَرَّفَ في ملكه إذا أَدَّى إلى الإضرار بجاره، فكون الجار يتصرف في بيته هذه مصلحة، ولكن كونه يضر الجار هذه مفسدة.
يعني لو أن إنسانا يبيع الغنم، وقال: الحوش بعيد عني، وسأجعل الغنم عندي بالبيت، فوضعهم في بيته، وبجانبه جدار جاره، كونه الآن قَرَّبَ الغنم له في بيته مصلحة له، ولكن جاره تأذى من رائحة الغنم هذه مفسدة أيهما الذي يُقَدِّمُ؟ يُقدم درء المفسدة، نكتفي بهذا القدر والله -سبحانه وتعالى- أعلم.
يسأل أحد الإخوة؛ يقول: كيف نجمع بين قاعدة “الوسائل لها أحكام المقاصد” وبين قاعدة “الغاية لا تبرر الوسيلة”؟
أولا: العلماء يفرقون بين الوسيلة وبين الذريعة، وقد ذكرني السؤالُ، فقالوا: الوسيلة هي ما توصل إلى المقصود قطعا أو ظنا، والذريعة قد لا تُوصل إلى المقصود.
المثال الذي يوضح: مصاحبة شخص منحرف أو مصادقة ومحبة شخص منحرف، أيهما أبلغ في التأثر؟ المصادقة والمحبة أبلغ في التأثر؛ إذن: نقول: المصادقة هذه وسيلة، ومجرد مصاحبة بطريق مثلا هذه تعتبر ذريعة.
فالقول هنا بأن الغاية تبرر الوسيلة هذا عكس للقاعدة التي ذكرها العلماء؛ لأن العلماء ما يقولون: المقاصد لها أحكام الوسائل. إذن لا يُنظر إلى الغاية بحيث تبرر الوسيلة أو ما تبررها؛ وإنما يُنظر إلى الوسيلة نفسها هل تُؤدي إلى هذا المقصود أو لا.
ثم إن قضية الغاية تبرر الوسيلة قد يُستدل بهذا على التطرق إلى الأمور المحرمة، بينما قضية الوسائل لها أحكام المقاصد هذه تَمنع وُلوجَ هذا الباب، هذا الفرق بينهما.
يقول أيضًا: هل الوسائل لها أحكام المقاصد على إطلاقها؟ لأننا نرى أن الوفاء بنذر الطاعة واجب مع أن وسيلته -وهو النذر- مكروهة، فما توجيهكم؟
مسألة النذر هذه مسألة فيها خلاف بين العلماء، هو سأل عن النذر؟
أي نعم.
هذه فيها خلاف بين العلماء هل الوفاء بالنذر واجب أو مستحب أو محرم؟
المسألة فيها خلاف بين أهل العلم، لكن على القول بأن ابتداء النذر، فالوفاء بالنذر واجب في الطاعة، لكن ابتداء النذر من أهل العلم من قال: “إنه مكروه”، ومن أهل العلم من قال: “إنه مستحب”، ومن أهل العلم من قال: “إنه محرم”.
فالأقوال ثلاثة في ابتداء النذر وهذا يُشكل على هذه القاعدة فعلاً؛ لأنه على القول بأن ابتداء النذر مكروه، كيف يصير الوفاء بالنذر واجبا؟! هذا يعتبره العلماء مستثنى من القاعدة، والسبب في هذا أنه ورد أحاديث تنهى عن النذر؛ كما في حديث ابن عمر أن النبي -صلى الله عليه وسلم- نَهى عن النذر وقال: « إِنَّهُ لاَ يَأْتِي بِخَيْرٍ، وَإِنَّمَا يُسْتَخْرَجُ بِهِ مِنَ الْبَخِيلِ»(٦)، وجاءت أدلة أخرى في المقابل توجب الوفاء بالنذر.
فالحاصل من هذا أن القاعدة ليست على إطلاقها بالنسبة لمسألة النذر، ولهذا العلماء قالوا: “إن مسألة النذر تُشْكِلُ؛ كيف يُنهى عن الشيء، ثم يصير الوفاء به واجبا؟!
 
(١) عبد الله بن الزبير بن العوام بن خويلد بن أسد بن عبد العزي، القرشي، الأسدي. أبوه حواري رسول الله -صلى الله عليه وسلم-، وأمه بنت الصديق، وجدته صفية عمة رسول الله -صلى الله عليه وسلم-، وعمة أبيه خديجة بنت خويلد، وهو أول مولود ولد للمهاجرين بعد الهجرة. حنكه النبي -صلى الله عليه وسلم- وسماه باسم جده، وكناه بكنيته، وأحد من وَلِيَ الخلافة. قُتل -رضي الله عنه- في جمادى الأولى سنة ثلاث وسبعين من الهجرة. انظر: أسد الغابة (٣/١٣٨ ترجمة ٢٩٤٧)، الإصابة (٤/٨٩ ترجمة ٤٦٨٥).
(٢) متفق عليه: أخرجه البخاري: كتاب العلم، باب من ترك بعض الاختيار مخافة أن يقصر فهم بعض الناس عنه فيقعوا في أشد منه (١٢٦)، واللفظ له، مسلم: كتاب الحج ، باب نقض الكعبة وبنائها (١٣٣٣).
(٣) متفق عليه: أخرجه البخاري: كتاب الوضوء، باب ترك النبي والناس الأعرابي حتى فرغ من بوله في المسجد (٢١٩، ٢٢١، ٦٠٢٥)، ومسلم: كتاب الطهارة، باب: وجوب غسل البول وغيره من النجاسات إذا حصلت في المسجد وأن الأرض تطهر بالماء من غير حاجة إلى حفرها (٢٨٤، ٢٨٥) بنحوه من حديث أنس.
(٤) الأنعام: ١٠٨.
(٥) صحيح:أحمد في المسند (٨٤٤٩، ٨٤٥٢، ٨٦
الفقه


Referensi:Kaidah dengan redaksi yang sedikit berbeda ( bentuk jama’) namun tujuannya adalah sama:


[إذا تزاحمت المصالح قدمت الأعلى
وإذا تزاحمت المفاسد ارتكبت بالأدنى ]


Jika seseorang dihadapkan pada banyak kemaslahatan maka dahulukanlah yang lebih tinggi nilai keutamaannya.
Dan jika dihadapkan pada banyak kerusakan maka ambillah /lakukanlah yang lebih ringan .

كتاب شرح منظومة القواعد الفقهية للسعدي – حمد الحمد
[حمد الحمد]
الرئيسية
أقسام الكتب
علوم الفقه والقواعد الفقهية
فصول الكتاب
<<  <  ج:   ص:   >  >>
مسار الصفحة الحالية:
فهرس الكتاب  تزاحم المصالح والمفاسد  إذا تزاحمت المصالح قدمت الأعلى
 + – التشكيل
[إذا تزاحمت المصالح قدمت الأعلى ]
قال المصنف رحمه الله: [فإن تزاحم عدد المصالح يقدم الأعلى من المصالح] إذا تزاحمت عندنا المصالح فإنا نقدم الأعلى منها، عندنا مصلحة ومصلحة وتعارضتا عند هذا المكلف، فإما أن يفعل هذه المصلحة وإما أن يفعل المصلحة الأخرى، فيقدم الأعلى منهما.
إذا أتيت إلى المسجد وقد أقيمت صلاة الصبح فهل تشرع بنافلة الصبح القبلية أو تصلي الصبح؟ نقول: تصلي الفريضة مع الإمام؛ لأن النبي عليه الصلاة والسلام قال كما في صحيح مسلم: (إذا أقيمت الصلاة فلا صلاة إلا المكتوبة).إذاً: نقدم الفريضة على النافلة.وإذا كانت العبادة ذات نفع متعد كالعلم، وعارضتها عبادة ذات نفع لازم كصيام التطوع؛ فإنا نقدم العبادة ذات النفع المتعدي.
إذاً: نقدم الأعلى من المصالح.
إذا تزاحمت المفاسد ارتكبت الأدنى]
قال المصنف رحمه الله: [وضده تزاحم المفاسد يرتكب الأدنى من المفاسد] كذلك إذا تعارضت المفاسد وتزاحمت فإنا نرتكب الأدنى منها ونجتنب الأعلى، ولذا فإن النبي عليه الصلاة والسلام كما في الصحيحين من حديث أنس بن مالك: أنه لما بال الأعرابي في المسجد فزجره الناس، نهاهم النبي عليه الصلاة والسلام، وذلك لتعارض مفسدتين الأولى: البول في المسجد فينجس.
المفسدة الثانية: أن يحبس بوله فيتضرر، يعني: يلحق بدنه الضرر، وكذلك أيضاً قد ينتشر هذا في المسجد لأنه يقوم وتنتقل النجاسة إلى مواضع أخرى من المسجد.
فنهاهم النبي عليه الصلاة والسلام من باب الوقوع في المفسدة الصغرى، فإذا تعارضت عندنا مفسدتان قدمنا المفسدة الصغرى في الوقوع، فنقع في المفسدة الصغرى ونجتنب المفسدة الكبرى.
ومن ذلك قول النبي عليه الصلاة والسلام: (لولا أن قومك حديثو عهد بكفر لهدمت الكعبة وبنيتها على قواعد إبراهيم)، متفق عليه.
فهنا عندنا مفسدة، وهي بقاء الكعبة فيها نقص من الجهة التي فيها حجر إسماعيل، فإن قريشاً قصرت بهم النفقة فقصروا البناء من جهة حجر إسماعيل، فالنبي عليه الصلاة والسلام أراد أن يهدم الكعبة ويبنيها على قواعد إبراهيم كاملة؛ لكنه خشي مفسدة أعظم، وهي أن يرتد الناس عن الإسلام لأنهم كانوا حديثي عهد بكفر.

Dalil Hukumya Nadzar tidak boleh dibatalkan dan tidak boleh dirubah dan tidak boleh diganti pada posisi yang lain kecuali adanya dalil yang qoth’i dan dalam kondisi dloruroh sebagaimana keterangan pada ibaroh kata yang ditebalkan.
Referensi:

الموسوعة الفقهية – ٢٦٢٢٩/٣١٩٤
الاِتِّجَاهُ الثَّانِي: يَرَى أَنَّ مَنْ نَذَرَ الاِعْتِكَافَ فِي مَسْجِدٍ غَيْرِ الْمَسَاجِدِ الثَّلاَثَةِ فَإِنَّهُ يَتَعَيَّنُ بِالنَّذْرِ، وَلاَ يُجْزِئُ النَّاذِرَ أَنْ يَعْتَكِفَ فِي غَيْرِهِ، وَهَذَا قَوْل زُفَرَ وَوَجْهٌ فِي مَذْهَبِ الشَّافِعِيَّةِ وَرَأْيٌ عِنْدَ الْحَنَابِلَةِ سَوَاءٌ احْتَاجَ إِلَى شَدِّ الرِّحَال أَوْ لَمْ يَحْتَجْ (١) وَاسْتَدَل هَؤُلاَءِ بِأَنَّ الاِعْتِكَافَ حَقِيقَتُهُ الاِنْكِفَافُ فِي سَائِرِ الأَْمَاكِنِ وَالتَّقَلُّبِ، كَمَا أَنَّ الصَّوْمَ انْكِفَافٌ عَنْ أَشْيَاءَ فِي زَمَانٍ مَخْصُوصٍ، فَنِسْبَةُ الاِعْتِكَافِ إِلَى الْمَكَانِ كَنِسْبَةِ الصَّوْمِ إِلَى الزَّمَانِ، وَلَوْ عَيَّنَ النَّاذِرُ يَوْمًا لِصَوْمِهِ تَعَيَّنَ عَلَى الصَّحِيحِ، فَلْيَتَعَيَّنِ الْمَسْجِدُ بِالتَّعْيِينِ أَيْضًا (٢) .
وَقَالُوا: إِنَّ مَا أَوْجَبَهُ الْعَبْدُ عَلَى نَفْسِهِ مُعْتَبَرٌ بِإِيجَابِ اللَّهِ تَعَالَى، فَإِذَا كَانَ مَا أَوْجَبَ اللَّهُ أَدَاءَهُ مُقَيَّدًا بِمَكَانٍ فَلاَ يَجُوزُ أَدَاؤُهُ فِي غَيْرِهِ، كَالنَّحْرِ فِي الْحَرَمِ، وَالطَّوَافِ بِالْبَيْتِ، وَالسَّعْيِ بَيْنَ الصَّفَا وَالْمَرْوَةِ، فَكَذَلِكَ مَا أَوْجَبَهُ الْعَبْدُ عَلَى نَفْسِهِ بِالنَّذْرِ مُقَيَّدًا بِذَلِكَ (٣) .
وَأَضَافُوا: إِنَّ النَّاذِرَ قَدْ أَوْجَبَ عَلَى نَفْسِهِ اعْتِكَافًا فِي مَكَانٍ مَخْصُوصٍ، فَإِنْ أَدَّى فِي غَيْرِهِ لَمْ يَكُنْ مُؤَدِّيًا مَا عَلَيْهِ، فَلاَ يَخْرُجُ عَنْ عُهْدَةِ الْوَاجِبِ (٤) .
ثَانِيًا: نَذْرُ الاِعْتِكَافِ فِي الزَّمَانِ الْمُعَيَّنِ:
٤٥ – اخْتَلَفَ الْفُقَهَاءُ فِي حُكْمِ مَنْ عَيَّنَ زَمَانًا مُعَيَّنًا لاِعْتِكَافِهِ الْمَنْذُورِ، وَفِيمَا إِذَا كَانَ هَذَا الزَّمَانُ يَتَعَيَّنُ بِالتَّعْيِينِ أَمْ لاَ عَلَى اتِّجَاهَيْنِ:
الاِتِّجَاهُ الأَْوَّل: يَرَى أَنَّ الزَّمَانَ يَتَعَيَّنُ بِتَعْيِينِهِ، وَيَلْزَمُ النَّاذِرَ أَنْ يَعْتَكِفَ فِيهِ، فَلاَ يَعْتَكِفُ فِي غَيْرِهِ، وَلاَ يَجُوزُ لَهُ التَّقَدُّمُ عَلَى هَذَا الزَّمَانِ بِالاِعْتِكَافِ أَوِ التَّأَخُّرُ عَنْهُ، قَال بِهَذَا مُحَمَّدُ بْنُ الْحَسَنِ وَزُفَرُ مِنَ الْحَنَفِيَّةِ، وَالْمَالِكِيَّةُ، وَالشَّافِعِيَّةُ فِي الصَّحِيحِ الْمَشْهُورِ عِنْدَهُمْ، وَالْحَنَابِلَةُ (١) .
وَاسْتَدَلُّوا بِأَنَّ النَّذْرَ هُوَ إِيجَابُ مَا شُرِعَ فِي الْوَقْتِ نَفْلاً، وَقَدْ أَوْجَبَ النَّاذِرُ عَلَى نَفْسِهِ الاِعْتِكَافَ فِي وَقْتٍ مَخْصُوصٍ، فَلاَ يَجِبُ عَلَيْهِ قَبْل مَجِيئِهِ، فَإِذَا جَاءَ الْوَقْتُ الْمُعَيَّنُ لِلاِعْتِكَافِ تَعَيَّنَ لِلنَّذْرِ، وَوَجَبَ الاِعْتِكَافُ فِيهِ (٢) .
وَقَالُوا كَذَلِكَ: بِأَنَّ مَا أَوْجَبَهُ الْعَبْدُ عَلَى نَفْسِهِ بِالنَّذْرِ مُعْتَبَرٌ بِإِيجَابِ اللَّهِ تَعَالَى فَإِذَا عَيَّنَ اللَّهُ سُبْحَانَهُ لِعِبَادِهِ زَمَنًا مُعَيَّنًا لِعِبَادَتِهِ فِيهِ تَعَيَّنَ هَذَا الْوَقْتُ لِلْعِبَادَةِ، فَكَذَلِكَ مَا أَوْجَبَهُ الْعَبْدُ عَلَى نَفْسِهِ بِالنَّذْرِ مِنَ اعْتِكَافٍ فِي زَمَانٍ مُعَيَّنٍ، فَإِنَّهُ يَتَعَيَّنُ كَذَلِكَ لأَِدَائِهِ (٣) .
وَأَضَافُوا: إِنَّ النَّاذِرَ قَدْ أَوْجَبَ عَلَى نَفْسِهِ الاِعْتِكَافَ فِي زَمَانٍ مُعَيَّنٍ، فَإِنِ اعْتَكَفَ فِي غَيْرِ هَذَا الزَّمَانِ فَإِنَّهُ لاَ يَكُونُ مُؤَدِّيًا مَا أَوْجَبَهُ عَلَى نَفْسِهِ بِالنَّذْرِ فَلاَ يَخْرُجُ عَنْ عُهْدَةِ الْوَاجِبِ (١) .
الاِتِّجَاهُ الثَّانِي: يَرَى أَنَّ مَنْ عَيَّنَ زَمَانًا لاِعْتِكَافِهِ الْمَنْذُورِ فَإِنَّهُ لاَ يَتَعَيَّنُ بِالنَّذْرِ، وَيُجْزِئُ النَّاذِرَ أَنْ يَعْتَكِفَ فِي زَمَانٍ غَيْرِهِ قَبْل هَذَا الزَّمَانِ الْمُعَيَّنِ أَوْ بَعْدَهُ، قَال بِهَذَا أَبُو يُوسُفَ وَهُوَ وَجْهٌ فِي مَذْهَبِ الشَّافِعِيَّةِ (٢) .
وَاسْتَدَل أَصْحَابُ هَذَا الاِتِّجَاهِ بِأَنَّ وُجُوبَ الاِعْتِكَافِ ثَابِتٌ قَبْل الْوَقْتِ الَّذِي أُضِيفَ إِلَيْهِ النَّذْرُ، فَكَانَ أَدَاؤُهُ فِي الْوَقْتِ الْمُعَيَّنِ أَدَاءً بَعْدَ الْوُجُوبِ فَيَجُوزُ، وَالدَّلِيل عَلَى تَحَقُّقِ الْوُجُوبِ قَبْل الْوَقْتِ الْمُعَيَّنِ وَجْهَانِ:
أَحَدُهُمَا: أَنَّ الْعِبَادَاتِ وَاجِبَةٌ عَلَى الدَّوَامِ بِشَرْطِ الإِْمْكَانِ وَانْتِفَاءِ الْحَرَجِ؛ لِقَوْل الْحَقِّ سُبْحَانَهُ: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ارْكَعُوا وَاسْجُدُوا وَاعْبُدُوا رَبَّكُمْ (٣) ؛ وَلأَِنَّ الْعِبَادَةَ وَجَبَتْ شُكْرًا لِلنِّعْمَةِ، إِلاَّ أَنَّ الشَّرْعَ رَخَّصَ لِلْعَبْدِ تَرْكَهَا فِي بَعْضِ الأَْوْقَاتِ، فَإِذَا نَذَرَ فَقَدِ اخْتَارَ الْعَزِيمَةَ وَتَرَكَ الرُّخْصَةَ، فَيَعُودُ حُكْمُ الْعَزِيمَةِ.
وَالْوَجْهُ الثَّانِي: أَنَّهُ قَدْ وُجِدَ سَبَبُ الْوُجُوبِ لِلْحَال وَهُوَ النَّذْرُ، وَإِنَّمَا الأَْجَل تَرْفِيهٌ يُتَرَفَّهُ بِهِ فِي التَّأْخِيرِ، فَإِذَا عَجَّل فَقَدْ أَحْسَنَ فِي إِسْقَاطِ الأَْجَل فَيَجُوزُ؛ وَهَذَا لأَِنَّ صِيغَةَ النَّذْرِ لِلإِْيجَابِ، وَالأَْصْل فِي كُل لَفْظٍ مَوْجُودٍ فِي زَمَانٍ اعْتِبَارُهُ فِيهِ فِيمَا يَقْتَضِيهِ فِي وَضْعِ اللُّغَةِ، وَلاَ يَجُوزُ إِبْطَالُهُ وَلاَ تَغْيِيرُهُ إِلَى غَيْرِ مَا وُضِعَ لَهُ، إِلاَّ بِدَلِيلٍ قَاطِعٍ أَوْ ضَرُورَةٍ دَاعِيَةٍ، وَلاَ ضَرُورَةَ إِلَى إِبْطَال صِيغَةِ النَّذْرِ وَلاَ إِلَى تَغْيِيرِهَا وَلاَ دَلِيل سِوَى ذِكْرِ الْوَقْتِ، وَهُوَ مُحْتَمَلٌ، فَقَدْ يُذْكَرُ لِلْوُجُوب فيه ، كَمَا فِي بَابِ الصَّلاَةِ، وَقَدْ يُذْكَرُ لِصِحَّةِ الأَْدَاءِ كَمَا فِي الْحَجِّ وَالأُْضْحِيَّةِ، وَقَدْ يُذْكَرُ لِلتَّرْفِيهِ وَالتَّوْسِعَةِ كَمَا فِي وَقْتِ الإِْقَامَةِ لِلْمُسَافِرِ وَالْحَوْل فِي بَابِ الزَّكَاةِ، فَكَانَ ذِكْرُ الْوَقْتِ فِي نَفْسِهِ مُحْتَمَلاً، فَلاَ يَجُوزُ إِبْطَال صِيغَةِ الإِْيجَابِ الْمَوْجُودَةِ لِلْحَال مَعَ الاِحْتِمَال، فَبَقِيَتِ الصِّيغَةُ مُوجِبَةً، وَذِكْرُ الْوَقْتِ لِلتَّرْفِيهِ وَالتَّوْسِعَةِ، كَيْ لاَ يُؤَدِّيَ إِلَى إِبْطَال الثَّابِتِ بِيَقِينٍ إِلَى أَمْرٍ مُحْتَمَلٍ

المكتبة الشاملة
كتاب حاشية البجيرمي على شرح المنهج = التجريد لنفع العبيد
[البجيرمي]
  ج: ٤ ص:   ٣٠١

(فَصْلٌ) فِي الْعَقِيقَةِ قَالَ ابْنُ أَبِي الدَّمِ قَالَ أَصْحَابُنَا يُسْتَحَبُّ تَسْمِيَتُهَا نَسِيكَةً أَوْ ذَبِيحَةً وَيُكْرَهُ تَسْمِيَتُهَا عَقِيقَةً كَمَا يُكْرَهُ تَسْمِيَةُ الْعِشَاءِ عَتَمَةً وَهِيَ لُغَةً: الشَّعْرُ الَّذِي عَلَى رَأْسِ الْوَلَدِ حِينَ وِلَادَتِهِ، وَشَرْعًا مَا يُذْبَحُ عِنْدَ حَلْقِ شَعْرِهِ لِأَنَّ مَذْبَحَهُ يُعَقُّ أَيْ يُشَقُّ وَيُقْطَعُ وَلِأَنَّ الشَّعْرَ يُحْلَقُ إذْ ذَاكَ.
وَالْأَصْلُ فِيهَا أَخْبَارٌ كَخَبَرِ «الْغُلَامُ مُرْتَهَنٌ بِعَقِيقَتِهِ تُذْبَحُ عَنْهُ يَوْمَ السَّابِعِ وَيُحْلَقُ رَأْسُهُ وَيُسَمَّى» رَوَاهُ التِّرْمِذِيُّ وَقَالَ حَسَنٌ صَحِيحٌ وَالْمَعْنَى فِيهِ إظْهَارُ الْبِشْرِ وَالنِّعْمَةِ وَنَشْرِ النَّسَبِ وَهِيَ سُنَّةٌ مُؤَكَّدَةٌ وَإِنَّمَا لَمْ تَجِبْ كَالْأُضْحِيَّةِ بِجَامِعِ أَنَّ كُلًّا مِنْهُمَا إرَاقَةُ دَمٍ بِغَيْرِ جِنَايَةٍ وَلِخَبَرِ أَبِي دَاوُد «مَنْ أَحَبَّ أَنْ يَنْسُكَ عَنْ وَلَدِهِ فَلْيَفْعَلْ» وَمَعْنَى مُرْتَهَنٌ بِعَقِيقَتِهِ قِيلَ لَا يَنْمُو نُمُوَّ مِثْلِهِ حَتَّى يَعُقَّ عَنْهُ قَالَ الْخَطَّابِيُّ وَأَجْوَدُ مَا قِيلَ فِيهِ مَا ذَهَبَ إلَيْهِ أَحْمَدُ بْنُ حَنْبَلٍ أَنَّهُ إذَا لَمْ يَعُقَّ عَنْهُ لَمْ يَشْفَعْ فِي وَالِدَيْهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
(سُنَّ لِمَنْ تَلْزَمُهُ نَفَقَةُ فَرْعِهِ) بِتَقْدِيرِ فَقْرِهِ (أَنْ يَعُقَّ عَنْهُ) وَلَا يَعُقَّ عَنْهُ مِنْ مَالِهِ وَيُعْتَبَرُ يَسَارُهُ قَبْلَ مُضِيِّ مُدَّةِ النِّفَاسِ وَذِكْرُ مَنْ يَعُقُّ مِنْ زِيَادَتِي
(وَهِيَ) أَيْ الْعَقِيقَة (كَضَحِيَّةِ) فِي جَمِيعِ أَحْكَامِهَا مِنْ جِنْسِهَا وَسِنِّهَا وَسَلَامَتِهَا وَنِيَّتِهَا وَالْأَفْضَلُ الْأَكْلُ مِنْهَا وَالتَّصَدُّقُ وَحُصُولُ السُّنَّةِ بِشَاةٍ وَلَوْ عَنْ ذَكَرٍ وَغَيْرِهَا
ــ
[حاشية البجيرمي]
[فَصْلٌ فِي الْعَقِيقَةِ]
مِنْ عَقَّ يَعِقُّ بِكَسْرِ الْعَيْنِ، وَضَمِّهَا شَوْبَرِيٌّ، وَذَكَرهَا عَقِبَ الْأُضْحِيَّةِ؛ لِمُشَارَكَتِهَا لَهَا فِي أَحْكَامٍ كَثِيرَةٍ كَمَا سَيَأْتِي، وَيَدْخُلُ وَقْتُهَا بِانْفِصَالِ جَمِيعِ الْوَلَدِ. (قَوْلُهُ: وَيُكْرَهُ تَسْمِيَتُهَا عَقِيقَةً) أَيْ: لِمَا فِيهَا مِنْ التَّفَاؤُلِ بِالْعُقُوقِ، وَالْمُعْتَمَدُ عَدَمُ الْكَرَاهَةِ س ل؛ لِأَنَّهُ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – سَمَّاهَا عَقِيقَةً. (قَوْلُهُ: عَلَى رَأْسِ الْوَلَدِ) مِنْ النَّاسِ، وَالْبَهَائِمِ كَمَا فِي الْمُخْتَارِ.
(قَوْلُهُ: وَشَرْعًا مَا يُذْبَحْ إلَخْ) أَيْ: مِنْ النَّعَمِ. أَقُولُ: هُوَ غَيْرُ جَامِعٍ؛ لِأَنَّ مِنْ الْعَقِيقَةِ مَا يُذْبَحُ قَبْلَ حَلْقِ الشَّعْرِ، أَوْ بَعْدَهُ، وَمَا يُذْبَحُ وَلَا يَكُونُ هُنَاكَ حَلْقُ شَعْرٍ مُطْلَقًا فَإِنَّ الذَّبْحَ عِنْدَ حَلْقِ الشَّعْرِ إنَّمَا هُوَ عَلَى سَبِيلِ الِاسْتِحْبَابِ بِأَنْ يَكُونَ يَوْمَ السَّابِعِ وَلَيْسَ مُعْتَبَرًا فِي الْحَقِيقَةِ تَأَمَّلْ. سم. (قَوْلُهُ: لِأَنَّ مَذْبَحَهُ) عِلَّةٌ لِمُقَدَّرٍ أَيْ: وَإِنَّمَا سُمِّيَ مَا يُذْبَحُ بِذَلِكَ؛ لِأَنَّ مَذْبَحَهُ إلَخْ، وَالضَّمِيرُ فِي مَذْبَحِهِ رَاجِعٌ لِمَا ع ش قَالَ الرَّشِيدِيُّ: اُنْظُرْ هَذَا التَّعْلِيلَ وَلَا تَظْهَرُ لَهُ مُلَاءَمَةٌ بِمَا قَبْلَهُ، وَلَا يَصِحُّ جَامِعًا بَيْنَ الْمَعْنَى اللُّغَوِيِّ الَّذِي ذَكَرَهُ، وَبَيْنَ الْمَعْنَى الشَّرْعِيِّ، وَإِنَّمَا يَظْهَرُ عَلَى الْمَعْنَى الَّذِي ذَكَرَهُ ابْنُ عَبْدِ الْبَرِّ أَنَّ عَقَّ لُغَةً مَعْنَاهُ قَطَعَ فَلَعَلَّ هَذَا الْمَعْنَى أَسْقَطَتْهُ الْكَتَبَةُ مِنْ الشَّرْحِ بَعْدَ إثْبَاتِهِ فِيهِ مَعَ الْمَعْنَى الْمَذْكُورِ، فَيَكُونُ لَهَا فِي اللُّغَةِ مَعْنَيَانِ: الْقَطْعُ، وَالشَّعْرُ الَّذِي عَلَى رَأْسِ الْمَوْلُودِ، وَيَكُونُ الشَّارِحُ قَدْ أَشَارَ إلَى مُنَاسَبَةِ الْمَعْنَى الشَّرْعِيِّ لِكُلٍّ مِنْ الْمَعْنَيَيْنِ فَأَشَارَ لِمُنَاسَبَتِهِ لِمَعْنَى قَطَعَ بِقَوْلِهِ: لِأَنَّ مَذْبَحَهُ إلَخْ، وَلِمُنَاسَبَتِهِ لِمَعْنَى الشَّعْرِ بِقَوْلِهِ: وَلِأَنَّ الشَّعْرَ

إلَخْ. اهـ.

بِالْحَرْفِ. (قَوْلُهُ: يُحْلَقُ إذْ ذَاكَ) أَيْ: وَالشَّعْرُ لُغَةً يُسَمَّى عَقِيقَةً كَمَا تَقَدَّمَ ع ش. (قَوْلُهُ: كَخَبَرِ الْغُلَامُ مُرْتَهَنٌ) لَعَلَّ التَّعْبِيرَ بِهِ؛ لِأَنَّ تَعَلُّقَ الْوَالِدَيْنِ بِهِ أَكْثَرُ فَقَصَدَ الشَّارِعُ حَثَّهُمْ عَلَى فِعْلِ الْعَقِيقَةِ لَهُ، وَإِلَّا فَالْأُنْثَى كَذَلِكَ ع ش عَلَى م ر. (قَوْلُهُ: مُرْتَهَنٌ) أَيْ: مَرْهُونٌ، وَقَوْلُهُ: تُذْبَحُ حَالٌ مِنْ الْعَقِيقَةِ، وَقَوْلُهُ: وَيُحْلَقُ رَأْسُهُ مَعْطُوفٌ عَلَى الْخَبَرِ، وَهُوَ مُرْتَهَنٌ مِنْ الْإِخْبَارِ بِالْجُمْلَةِ بَعْدَ الْإِخْبَارِ الْمُفْرَدِ، وَكَذَا قَوْلُهُ: وَيُسَمَّى مَعْطُوفٌ عَلَى الْخَبَرِ أَيْضًا، وَيُقَدَّرُ فِيهِمَا يَوْمُ السَّابِعِ بِدَلِيلِ ذِكْرِهِ فِيمَا قَبْلَهُمَا. (قَوْلُهُ: وَالْمَعْنَى فِيهِ) أَيْ: وَالْحِكْمَةُ فِيمَا ذُكِرَ مِنْ الْأُمُورِ الثَّلَاثَةِ أَعْنِي الذَّبْحَ، وَتَالِيَيْهِ إظْهَارُ الْبِشْرِ، وَالنِّعْمَةِ رَاجِعٌ لِلْأَوَّلَيْنِ مِنْهَا، وَعَطْفُ النِّعْمَةِ تَفْسِيرٌ كَمَا فِي ع ش عَلَى م ر وَقَوْلُهُ: وَنَشْرُ النَّسَبِ رَاجِعٌ لِلثَّالِثِ.
(قَوْلُهُ: كَالْأُضْحِيَّةِ) أَيْ: قِيَاسًا عَلَيْهَا ح ل فَهُوَ جَوَابُ السُّؤَالِ. (قَوْلُهُ: وَلِخَبَرِ أَبِي دَاوُد) اُنْظُرْ لِمَ قَدَّمَ الْقِيَاسَ عَلَيْهِ؟ . اهـ. (قَوْلُهُ: أَنْ يُنْسَكَ) يُقَالُ: نَسَكَ يَنْسُكُ نُسْكًا بِفَتْحِ السِّينِ، وَضَمِّهَا فِي الْمَاضِي، وَبِضَمِّهَا فِي الْمُضَارِعِ، وَبِإِسْكَانِهَا فِي الْمَصْدَرِ شَوْبَرِيٌّ فَهُوَ مِنْ بَابِ قَتَلَ، أَوْ عَظُمَ. (قَوْلُهُ: وَمَعْنَى مُرْتَهَنٌ بِعَقِيقَتِهِ) الْأَوْلَى تَقْدِيمُهُ عَقِبَ الْحَدِيثِ. (قَوْلُهُ: لَمْ يَشْفَعْ فِي وَالِدِيهِ) أَيْ: لَمْ يُؤْذَنْ لَهُ فِي الشَّفَاعَةِ، وَإِنْ كَانَ أَهْلًا لَهَا لِكَوْنِهِ صَغِيرًا، أَوْ كَبِيرًا، وَهُوَ مِنْ أَهْلِ الصَّلَاحِ ع ش وَقِيلَ لَمْ يَشْفَعْ فِي، وَالِدَيْهِ مَعَ السَّابِقِينَ، وَانْظُرْ إذَا عَقَّ عَنْ نَفْسِهِ هَلْ يَشْفَعُ فِي أَبَوَيْهِ، أَوْ لَا شَوْبَرِيٌّ.
. (قَوْلُهُ: سُنَّ لِمَنْ تَلْزَمُهُ نَفَقَتُهُ) شَمَلَ الْأُمَّ فِي وَلَدِ الزِّنَا فَيُنْدَبُ لَهَا الْعَقُّ عَنْهُ وَلَا يَلْزَمُ مِنْ ذَلِكَ إظْهَارُهُ الْمُفْضِي لِظُهُورِ الْعَارِ كَمَا فِي شَرْحِ م ر. (قَوْلُهُ: بِتَقْدِيرِ فَقْرِهِ) إنَّمَا احْتَاجَ لِهَذَا؛ لِأَنَّهَا تُطْلَبُ مِنْ الْأَصْلِ، وَإِنْ كَانَ الْفَرْعُ مُوسِرًا بِإِرْثٍ، أَوْ غَيْرِهِ مَعَ أَنَّهُ فِي هَذِهِ الْحَالَةِ لَا تَلْزَمُ الْأَصْلَ نَفَقَتُهُ فَاحْتَاجَ لِقَوْلِهِ بِتَقْدِيرِ فَقْرِهِ لِإِدْخَالِ هَذِهِ الصُّورَةِ. (قَوْلُهُ: مِنْ مَالِهِ) أَيْ: الْفَرْعِ. (قَوْلُهُ: وَيُعْتَبَرُ يَسَارُهُ إلَخْ) أَيْ: يَسَارُ الْفِطْرَةِ م ر فَإِنْ أَيْسَرَ بَعْدَهَا فَلَا يُنْدَبُ لَهُ قَالَهُ فِي ع ب قَالَ فِي الْإِيعَابِ: وَهُوَ كَتَعْبِيرِهِمْ فَلَا يُؤْمَرُ بِهَا صَرِيحٌ فِي أَنَّ الْأَصْلَ الْمُوسِرَ بَعْدَ السِّتِّينَ أَيْ: أَكْثَرِ مُدَّةِ النِّفَاسِ لَوْ فَعَلَهَا قَبْلَ الْبُلُوغِ لَمْ تَقَعْ عَقِيقَةً بَلْ شَاةَ لَحْمٍ، وَقَوْلُهُمْ: لَا آخِرَ لِوَقْتِهَا مَحْمُولٌ عَلَى مَا إذَا كَانَ الْأَصْلُ مُوسِرًا فِي مُدَّةِ النِّفَاسِ، وَهَلْ فِعْلُ الْمَوْلُودِ لَهَا بَعْدَ الْبُلُوغِ كَذَلِكَ؟ ؛ لِأَنَّ أَصْلَهُ لَمَّا لَمْ يُخَاطَبْ بِهَا كَانَ هُوَ كَذَلِكَ، أَوْ تَحْصُلُ بِفِعْلٍ مُطْلَقًا؛ لِأَنَّهُ مُسْتَقِلٌّ فَلَا يَنْتَفِي الثَّوَابُ فِي حَقِّهِ بِانْتِفَائِهِ فِي حَقِّ أَصْلِهِ؟ كُلٌّ مُحْتَمَلٌ، وَظَاهِرُ إطْلَاقِهِمْ الْآتِي أَنَّ مَنْ بَلَغَ وَلَمْ يَعِقَّ أَحَدٌ عَنْهُ يُسَنُّ لَهُ أَنْ يَعِقَّ عَنْ نَفْسِهِ يَشْهَدُ لِلثَّانِي شَوْبَرِيٌّ.
(قَوْلُهُ: مُدَّةِ النِّفَاسِ) أَيْ: أَكْثَرِهَا
[أَحْكَام الْعَقِيقَة]
. (قَوْلُهُ:، وَحُصُولُ السُّنَّةِ بِشَاةٍ) أَيْ: فَلَا تَحْصُلُ بِغَيْرِ ذَلِكَ مِنْ غَيْرِ النَّعَمِ وَالظَّاهِرُ أَنَّهُ يُجْزِئُ كُلٌّ مِنْ الْبَقَرَةِ، وَالنَّاقَةِ عَنْ سَبْعَةٍ كَمَا فِي الْأُضْحِيَّةِ شَرْحُ م ر
……