logo mubaa
Logo Ittihad

DEWAN PIMPINAN PUSAT
IKATAN ALUMNI BATA-BATA

Kategori
Uncategorized

BANGUN TIDUR CELANA/SARUNG BASAH TANPA MIMPI KELUAR MANI WAJIBKAH ADUS…?

BANGUN TIDUR CELANA /SARUNG BASAH TANPA MIMPI KELUAR MANI, WAJIBKAH ADUS/ MANDI?.

Assalamualaikum.

Deskripsi masalah.
Pada suatu malam saya tidur kemudian bangunnya saya temukan celana saya basah entah apa itu mazdi atau mani.
Tapi saya anggap itu bukan mani karena saya merasa tidak bermimpi jima’, karena saya tidak mimpi keluar mani maka saya cuman ambil wudhu dan kemudian saya sholat.

Pertanyaan nya.

Apakah anggapan saya itu bisa dibenarkan mohon penjelasannya juga antara keluarnya madza wadzi dan mani?


Untuk mentukan sangkaan ( anggapan) itu bisa dibenarkan sehingga dapat menyimpulkan wajib dan tidaknya seseorang mandi wajib ketika menemukan cairan yang membasahi sarungnya atau celananya ketika bangun tidur sementara dia tidak merasakan bermimpi keluar mani, maka dia harus melihat tanda-tanda mani dan sifatnya yaitu:
✔️keluar disertai syahwat (kenikmatan).
✔️ keluar dengan tersendat-sendat.
✔️jika basah baunya mirip adonan kue dan jika kering mirip putih telur.
Jika didapatkan salah satu dari tiga ciri di atas, diyakini cairan itu maninya sendiri, maka ia wajib mandi. Hal ini berlaku pada laki-laki dan perempuan dengan merujuk pada sebuah hadits riwayat Imam Muslim dalam Sahihnya:


إِنَّمَا الْمَاءُ مِنَ الْمَاءِ


“Sesungguhnya mandi itu karena keluar air (mani)” (HR. Muslim)
Dari hadis ini sebenarnya sudah jelas bahwa kewajiban mandi wajib/junub bukan karena mimpinya, melainkan karena keluarnya mani. Hal ini juga diperjelas oleh Mustafa al-Khin dan Mustafa al-Bugha dalam kitabnya, al-Fiqh al-Manhaji ala Madzhabi Imam as-Syafii, dengan mengutip hadis riwayat Abu Dawud berikut:


 عن عائشة رضي الله عنها قالت سئل رسول الله – صلى الله عليه وسلم – عن الرجل يجد البلل ولا يذكر احتلاماً؟ فقال ” يغتسل “. وعن الرجل يرى أن قد احتلم ولا يجد البلل؟ فقال: ” لا غسل عليه “. فقالت أم سليم: المرأة ترى ذلك، أعليها غسل؟ قال ” نعم ” النساء شقائق الرجال


“Dari Aisyah Ra. berkata bahwa Rasul pernah ditanyai oleh seorang laki-laki yang mendapati bajunya basah, dan ia tidak merasa ihtilam (mimpi melakukan hubungan seksual), kemudian Rasul menjawab, “Mandi.” Serta ada orang lain yang bertanya bahwa ia berihtilam, tapi tidak mendapati bajunya basah. Kemudian Rasul menjawab, “Tidak wajib mandi.” Kemudian Ummu Salamah bertanya, “Apakah perempuan saat seperti itu, apakah wajib mandi wahai Rasul?” Rasul pun menjawab, “Iya, karena perempuan menyerupai laki-laki.”
Sehingga bagi orang yang tidur, baik bermimpi ataupun tidak, tapi jika ia mengeluarkan mani, maka ia diwajibkan mandi.

Namun jika tiada-tanda bahwa yang basah itu bukan mani maka tidak wajib mandi berikut rincian Tanda dan perbedaan mani, madzi dan wadi.

MANI adalah cairan putih keluar dengan tersendat-sendat disertai syahwat serta menyebabkan loyo setelah keluarnya.
Hukumnya suci dan wajib mandi. Ciri-ciri mani ada 3, yaitu :
– keluar disertai syahwat (kenikmatan).
– keluar dengan tersendat-sendat.
– jika basah baunya mirip adonan kue dan jika kering mirip putih telur.
Jika didapatkan salah satu dari tiga ciri di atas, maka disebut mani. Hal ini berlaku pada laki-laki dan perempuan.
MADZI adalah cairan putih lembut dan licin keluar pada permulaan bergejolaknya syahwat. Istilah madzi untuk laki-laki, namun jika keluar dari perempuan dinamakan QUDZA.
Hukumnya najis dan membatalkan wudhu tapi tidak wajib mandi.
WADI adalah cairan putih keruh dan kental, keluar setelah melaksanakan kencing atau ketika mengangkat beban berat.
Hukumnya seperti madzi yaitu najis dan membatalkan wudhu’ tapi tidak wajib mandi.

KESIMPULAN :

  1. Jika cairan keluar mengandung salah satu ciri-ciri mani, maka dihukumi mani. Namun jika tidak ada dan keluarnya pada mulai gejolaknya syahwat atau sesudah syahwat, maka dihukumi madzi.
  2. Jika ragu yang keluar mani atau madzi ?, maka boleh memilih antara menjadikannya mani sehingga wajib mandi, atau menjadikannya madzi sehingga hukumnya najis, tidak wajib mandi namun batal wudhu’nya. Paling afdholnya menggabung keduanya yaitu mandi janabah dan menyucikan tempat yang terkena cairan tersebut.
  3. .Wanita juga mengeluarkan mani dengan ciri-ciri sebagaimana di atas. Namun menurut imam Al-Ghozali, mani wanita hanya bercirikan keluar disertai syahwat (kenikmatan).


التقريرات االسديدة في المسائل المفيدة ص ١١٥-١١٦
الفرق بين المني والمذي والودي :
المني : ماء أبيض يتدفق حال خروجه ويخرج بشهوة ويعقب خروجه فتور.
المذي : ماء أبيض رقيق لزج يخرج عند ثوران الشهوة بلا شهوة كاملة
الودي : ماء أبيض ثخين كدر يخرج بعد البول أو عند حمل شيئ ثقيل
الحكم عند خروج أحدها :
المني يوجب الغسل ولا ينقض الوضوء وهو طاهر
المذي والودي حكمهما كالبول فينقضان الوضوء وهما نجسان
علامة المني يجب الغسل إذا وجدت إحدى هذه العلامات ولا يشترط كلها والمرأة مثل الرجل في ذلك وهي ثلاثة :
١. التلذذ بخروجه أي يخرج بشهوة
٢. التدفق أي يخرج على دفعات
٣. الرائحة إذا كان رطبا كرائحة العجين أو الطلع ، وإذا كان جافا كرائحة بياض البيض
فليس من علامات المني كونه أبيضا أو يعقب خروجه فتور ولكن هذا على سبيل الغالب
كما قال صاحب صفوة الزبد :
ويعرف المني باللذة حين # خروجه وريح طلع أو عجن
مسألة : إذا شك هل الخارج مني ام مذي فما الحكم؟ يتخير فإن شاء جعله منيا فيجب عليه الغسل وإن شاء جعله مذيا فينتقض وضوؤه ويجب غسل ما أصابه منه والأفضل أن يجمع بينهما فيغتسل ويغسل ما اصابه منه .والله أعلم بالصواب

Kategori
Uncategorized

TANDA-TANDA SESEORANG MEMPEROLEH PREDIKAT HAJI YANG MABRUR DAN MARDUD

Asslamualaikum.

Deskripsi masalah.

Diera sekarang ini banyak masyarakat yang berlomba-lomba ingin melakukan ibadah haji, baik haji reguler, khusus yang resmi maupun eligal.
Untuk haji yang resmi, pasti sebelum berangkat ada bimbingan Manasik haji, sehingga diharapkan haji mereka mabrur, namun demikian tak jarang sebagian dari masyarakat, setelah haji biasa-biasa saja tingkah lakunya, bahkan sebagian bila ditanyakan misalkan sedatangnya dari makkah tidak tahu Mina ataupun arofah dan hanya melihat gunung .

Pertanyaannya.
Adakah tanda-tanda orang yang melakukan ibadah haji mendapatkan predikat mabrur atau mardud….?

Waalaikum salam
Jawaban.

Haji mabrur menurut bahasa adalah haji yang baik atau yang diterima oleh Allah SWT. Sedangkan menurut istilah syar’i, haji mabrur ialah haji yang dilaksanakan sesuai dengan petunjuk Allah dan Rasul-Nya, dengan memperhatikan berbagai syarat, rukun, dan wajib, serta menghindari hal-hal yang dilarang (muharramat) dengan penuh konsentrasi dalam niat tulus dan ikhlas yang didorong oleh iman dan semata-semata mengharap ridha Allah SWT.

Dalam hadits riwayat Bukhari, Rasulullah SAW memberikan penjelasan terkait pahala atau balasan bagi jamaah haji yang mendapatkan predikat mabrur.

الْحَجُّ الْمَبْرُورُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلَّا الْجَنَّةُ

Artinya, “Tidak ada balasan (yang pantas diberikan) bagi haji mabrur kecuali surga,” (HR Bukhari).

Predikat mabrur memang hak prerogatif Allah SWT untuk disematkan kepada hamba yang dikehendaki-Nya. Tetapi seseorang yang dapat meraih haji mabrur pasti memiliki ciri-ciri tersendiri, begitu juga halnya dengan haji yang makbul dan mardud sebagaimana dijelaskan dalam Al-Qur’an dan Hadits sebagai berikut: QS. Baqarah ayat 197:

الْحَجُّ أَشْهُرٌ مَعْلُومَاتٌ فَمَنْ فَرَضَ فِيهِنَّ الْحَجَّ فَلا رَفَثَ وَلا فُسُوقَ وَلا جِدَالَ فِي الْحَجِّ

Artinya: “(Musim) haji adalah beberapa bulan yang diketahui, barangsiapa yang menetapkan niatnya dalam bulan itu akan mengerjakan haji, maka tidak boleh rafats, berbuat fasik dan berdebat di dalam masa mengerjakan haji.”Namun, dalam ayat tersebut tidak dijelaskan secara rinci apa saja perbuatan atau hal yang termasuk dalam kategori rafats, fusuq, maupun jidal.

Untuk itu, para ulama mencoba memasukkan pembahasan kategori rafats, fusuq, dan jidal dalam karya-karya mereka dengan mengutip sabda Rasulullah maupun qaul sahabat.

Abu Ja’far at-Thahawi dalam kitab Syarh Musykilul Atsar menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan rafats adalah berhubungan seks, dan hal ini merusak ibadah haji. Berbeda dari fusuq dan jidal yang tidak sampai merusak ibadah haji.

قَوْلُ اللهِ عز وجل فَلاَ رَفَثَ وَلاَ فُسُوقَ وَلاَ جِدَالَ في الْحَجِّ فَجَمَعَ اللَّهُ تَعَالَى هذه الأَشْيَاءَ في آيَةٍ وَاحِدَةٍ وَنَهَى عنها نَهْيًا وَاحِدًا وَكَانَتْ مُخْتَلِفَةً في أَحْكَامِ ما نهى عنها فيه لأَنَّ الرَّفَثَ هو الْجِمَاعُ وهو يُفْسِدُ الْحَجَّ وما سِوَى الرَّفَثِ من الْفُسُوقِ وَالْجِدَالِ لاَ يُفْسِدُ الْحَجَّ

Artinya: “Firman Allah SWT tentang larangan haji (rafats, fusuq dan jidal), Allah mengumpulkan tiga hal tersebut dalam satu ayat dan melaranganya secara bersamaan. Namun, dalam segi hukum, ketiganya berbeda. Karena rafats adalah berhubungan seks dan hal itu merusak ibadah haji. Sedangkan selain rafats, yakni fusuq dan jidal tidak merusak haji.

Syekh Ahmad bin Abu Bakar bin Ismail al-Bushiri dalam karyanya berjudul Ithaf al-Khairah al-Mahrah bi Zawaid al-Masanid al-Asyrah yang merupakan salah satu kitab Zawaid dalam literatur kitab hadits, mengutip pendapat Ibnu Abbas ketika ditanya tentang rafats, fusuq, dan jidal.

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ , رَضِيَ الله عَنْهُمَا , قَالَ : {فَلاَ رَفَث} ؟ قَالَ : الرَّفَثُ : الْجِمَاعُ ؟ {وَلا فُسُوقَ} ؟ قال : الْفُسُوقُ : الْمَعَاصِي ، {وَلاَ جدَالَ في الحَجِّ} ؟ قال : الْمِرَاء.

Artinya“ Dari Ibnu Abbas Ra. berkata: rafats berarti berhubungan seks, sedangkan fusuq berarti maksiat, dan jidal berarti berbantahan.” Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda;”

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: “قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «إِذَا خَرَجَ الرَّجُلُ حَاجًّا بِنَفَقَةٍ طَيِّبَةٍ، وَوَضَعَ رِجْلَهُ فِي الْغَرْزِ، فَنَادَى: لَبَّيْكَ اللَّهُمَّ لَبَّيْكَ، نَادَاهُ مُنَادٍ مِنَ السَّمَاءِ: لَبَّيْكَ وَسَعْدَيْكَ، زَادُكَ حَلَالٌ، وَرَاحِلَتُكَ حَلَالٌ، وَحَجُّكُ مَبْرُورٌ غَيْرُ مَأْزُورٍ، وَإِذَا خَرَجَ بِالنَّفَقَةِ الْخَبِيثَةِ، فَوَضَعَ رِجْلَهُ فِي الْغَرْزِ، فَنَادَى: لَبَّيْكَ، نَادَاهُ مُنَادٍ مِنَ السَّمَاءِ: لَا لَبَّيْكَ وَلَا سَعْدَيْكَ، زَادُكَ حَرَامٌ وَنَفَقَتُكَ حَرَامٌ، وَحَجُّكَ غَيْرُ مَبْرُورٍ».. أخرجه الطبراني في الأوسط.

Artinya : Dari Abu Hurairoh dia berkata: Rasulullah saw bersabda:” Apabila seseorang keluar untuk melaksanakan haji dengan nafkah yang halal dan menapakkan kakinya di atas kendaraannya kemudian berucap: Ya Allah aku datang memenuhi panggilan-Mu, memangillah malaikat dari langit: kedatanganmu diterima dan amalmu diterima. Bekalmu halal, kendaraanmu halal dan hajimu mabrur (diterima) dan mendapatkan pahala serta bukan palsu. Dan apabila seseorang keluar untuk melaksanakan haji dengan nafkah yang kotor/ haram dan menapakkan kakinya di tanah kemudian berucap: Ya Allah aku datang memenuhi panggilan-Mu, memangillah malaikat dari langit: kedatanganmu ditolak dan amalmu tidak diterima, bekalmu haram dan nafkahmu haram, maka hajimu ditolak serta tidak mabrur” (HR. Tabrani).
Dalam hadits yang lain Rasulullah aw bersabda yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnad-nya.

قالوا: يَا رَسُولَ اللهِ، مَا الْحَجُّ الْمَبْرُوْرُ؟ قال: “إِطْعَامُ الطَّعَامِ، وَإِفْشَاءُ السَّلَامِ

Artinya, “Para sahabat berkata, ‘Wahai Rasulullah, apa itu haji mabrur?’ Rasulullah menjawab, ‘Memberikan makanan dan menebarkan kedamaian.’”
Walaupun hadits ini divonis munkar syibhul maudhu’ oleh Abu Hatim dalam kitab Ilal ibn Hatim, tetapi ada riwayat lain yang marfu’ dan memiliki banyak syawahid.
Bahkan divonis Shahihul Isnad oleh Al-Hakim dalam kitab Mustadrak-nya, walaupun Bukhari dan Muslim tidak meriwayatkannya. Sebagaimana dikutip Imam Badrudin Al-Aini dalam Umdatul Qari-nya.

سئل النبي ما بر الحج قال إطعام الطعام وطيب الكلام وقال صحيح الإسناد ولم يخرجاه

Artinya, “Rasulullah SAW ditanya tentang haji mabrur. Rasulullah kemudian berkata, ‘Memberikan makanan dan santun dalam berkata.’ Al-Hakim berkata bahwa hadits ini sahih sanadnya tetapi tidak diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim.”

Dari penjelasan diatas melalui dasar al-Qur’an dan hadits secara garis besarnya dapat disimpulkan, bahwa tanda-tanda haji yang mabrur adalah:

  1. Ketika berangkat niat haji dengan ikhlas semata melaksanakan kewajiban untuk memperoleh ridho Allah dengan menyempurnakan pelaksanaan syarat dan rukunnya nafkah/biaya yang disediakan diperoleh dengan cara yang baik dan halal.
  2. Ketika melaksanakan ibadah haji tidak melakukan apa yang dilarang, seperti jima’, berbuat fasik ( maksiat ) dan berbantahan.
  3. Ketika pulang dari makkah mengumpulkan teman-temanya dan sanak familinya dan tetangganya dengan memberikan makanan dan menebarkan kedamaian ( salam ) dan bertambah amal ketaatan kepada Allah maupun bertambahnya kebaikan yang berhubungan dengan sesama manusia
    Sedangkan Tanda-tanda haji yang mardud adalah sebaliknya.

لطائف المعارف .ص ٤١٠-٤١٧

وفى الحديث الصحيح عن النبي صلى الله عليه وسلم قال الحج المبرور ليس له جزاء إلا الجنة .وفى المسند ،أن النبي صلى الله عليه وسلم سئل : أى الأعمال أفضل ؟ قال: إيمان بالله وحده ثم الجهاد ،ثم حجة برّة تفضل سائر الأعمال كمابين مطلع الشمس إلى مغربها .وثبت عنه صلى الله عليه وسلم أنه قال : من حج هذا البيت فلم يرفث ولم يفسق خرج من ذنوبه كيوم ولدته أمه . فمغفرة الذنوب بالحج ودخول الجنة به مرتب على كون الحج مبرورا وإنما يكون مبرورا باجتماع أمرين فيه : أحدهما: الإتيان فيه باعمال البر والبر يطلق بمعنين:
أحدهما : بمعنى الإحسان على الناس ، كمايقال :البر والصلة .وضده العقوق. وفى صحيح مسلم .أن النبي سئل عن البر ، فقال البر حسن الخلق. وكان عمر رضي الله عنهما يقول : إن البر شيئ هينٌ، وجه طليق وكلام لين. وهذا يحتاج إليه فى إلحج كثيرا ، أعني معاملة الناس بالإحسان بالقول والفعل ……إلى أن قال –

وكان إبن المبارك يطعم أصحابه فى الأسفار أطيب الطعام وهو صائم ، وكان إذا أراد الحج من بلده مر وجمع أصحابه وقال : من يريد منكم الحج ؟ فيأخذ منهم نفقاتهم فيضعها عنده فى صندوق ويقفل عليه ، ثم يحملهم وينفق عليهم أوسع النفقة ، ويطعمهم أطيب الطعام ثم يشترى لهم من مكة مايريدون من الهدايا والتحف ، ثم يرجع بهم إلى بلده ، فإذا وصلوا صنع لهم طعاما ، ثم جمعهم عليه ، ودعا بالصندوق الذي فيه نفقاتهم فرد إلى كل واحد نفقته.

والمعنى الثانى : مما يراد بالبر فعل الطاعات كلها وضده الإثم ، وقد فسر الله تعالى البر بذلك فى قوله ( ولكن البر من آمن بالله واليوم الآخر والملائكة والكتاب والنبين وآتى المال على حبه ذوى القربى واليتمى والمساكين وبن السبيل والسائلين وفى الرقاب ) ..إلى أن قال
والأمر الثاني : ممايكمل به الحج إجتناب أفعال الإثم فيه ، من الرفث والفسوق والمعاصى .قال الله تعالى( فلا رفث ولافسوق ولاجدال فى الحج وما تفعلوا من خير يعلمه الله وتزودوا فإن خيرالزاد التقوى )
وفى الحديث الصحيح : ومن حج هذا البيت فلم يرفث ولم يفسق رجع كيوم ولدته أمه؛ وقد سبق حديث من لم يكن له ورع يحجزه عن معاصى الله فليس لله حاجة فى حجه .فما تزود حاج ولاغيره أفضل من زاد التقوى ولادعي للحاج عند توديعه أفضل من التقوى. والله تعالى أعلم بالصواب

Latâ’if al-Ma‘ârif (hal. 410-417)

Dalam hadis sahih, Nabi ﷺ bersabda, “Haji yang mabrur tidak ada balasan baginya kecuali surga.” Dalam Musnad disebutkan bahwa Nabi ﷺ pernah ditanya: “Amal apa yang paling utama?” Beliau menjawab: “Iman kepada Allah semata, kemudian jihad, lalu haji yang mabrur. Haji yang mabrur lebih utama dari seluruh amal seperti jarak antara terbitnya matahari hingga terbenamnya.” Juga diriwayatkan bahwa Nabi ﷺ bersabda: “Barang siapa yang berhaji ke Baitullah ini, lalu ia tidak berkata-kata kotor dan tidak berbuat maksiat, maka ia kembali dari dosa-dosanya seperti saat ia dilahirkan oleh ibunya.”

Maka, pengampunan dosa dalam haji dan masuknya seseorang ke surga karena haji bergantung pada haji yang mabrur. Haji disebut mabrur jika memenuhi dua hal:

Pertama: Melakukan amal-amal kebajikan

Kebajikan (al-birr) memiliki dua makna:

1.Berbuat baik kepada sesama manusia, seperti yang biasa disebutkan dalam istilah al-birr wa al-shilah (kebajikan dan silaturahmi), lawannya adalah durhaka (al-‘uquq). Dalam hadis sahih Muslim, Nabi ﷺ ditanya tentang apa itu kebajikan (al-birr), beliau menjawab: “Kebajikan adalah akhlak yang baik.” Umar radhiyallahu ‘anhu berkata: “Kebajikan itu hal yang mudah: wajah yang ceria dan ucapan yang lembut.” Hal ini sangat diperlukan dalam pelaksanaan haji, yakni dengan memperlakukan orang lain dengan baik melalui ucapan dan perbuatan.

Imam Ibnul Mubarak, misalnya, biasa menyediakan makanan terbaik untuk para sahabatnya dalam perjalanan meskipun ia sendiri sedang berpuasa. Ketika ia hendak berhaji, ia melewati rumah para sahabatnya dan berkata: “Siapa di antara kalian yang ingin berhaji?” Ia pun mengumpulkan uang perjalanan mereka, menyimpannya dalam sebuah kotak, lalu mengunci kotak tersebut. Setelah itu, ia membawa mereka, membelanjakan uang tersebut dengan penuh kemurahan hati, menyediakan makanan terbaik, serta membeli untuk mereka hadiah-hadiah dan cenderamata dari Mekah. Ketika kembali ke kota mereka, ia mengadakan jamuan untuk mereka, lalu mengembalikan uang perjalanan mereka masing-masing yang sebelumnya disimpan.

2.Melakukan seluruh bentuk ketaatan kepada Allah, lawannya adalah dosa (al-itsm). Allah menjelaskan makna kebajikan ini dalam firman-Nya:
(“Tetapi kebajikan itu ialah orang yang beriman kepada Allah, hari akhir, para malaikat, kitab-kitab, dan para nabi; dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir, orang-orang yang meminta-minta, dan untuk memerdekakan budak…”) (QS. Al-Baqarah: 177).

Kedua: Menjauhi perbuatan dosa

Hal ini meliputi menghindari rafats (ucapan atau perbuatan kotor), fusuq (kemaksiatan), dan segala dosa selama haji. Allah berfirman:
(“Maka tidak boleh rafats, tidak boleh berbuat fasik, dan tidak boleh berbantah-bantahan dalam haji. Dan apa saja kebajikan yang kamu lakukan, Allah mengetahuinya. Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa.”) (QS. Al-Baqarah: 197).

Dalam hadis sahih disebutkan: “Barang siapa yang berhaji ke rumah ini, lalu ia tidak berkata-kata kotor dan tidak berbuat fasik, maka ia kembali seperti hari ia dilahirkan oleh ibunya.”

Juga disebutkan dalam hadis lain: “Barang siapa yang tidak memiliki ketakwaan yang mencegahnya dari maksiat kepada Allah, maka Allah tidak membutuhkan hajinya.” Maka, tidak ada bekal yang lebih baik bagi seorang jamaah haji maupun selainnya selain bekal ketakwaan. Tidak ada doa yang lebih utama bagi jamaah haji saat perpisahan kecuali doa untuk menjadi orang yang bertakwa. Wallahu a‘lam.

Kategori
Uncategorized

HUKUM SHALATNYA ORANG YANG DILONCATI KUCING TERBAWA KEKITA SUJUD

Assalamualaikum.

Deskripsi masalah.

Kucing merupakan hewan yang banyak digemari oleh banyak orang sehingga tidak sedikit dalam rumah sepi dari kucing, dari gemarnya terkadang hingga beli kucing anggora bahkan sebagian diyakini kucing membawa berkah bagi pemiliknya.

Oleh karena itu bagi seseorang yang memiliki kucing hendaknya jangan sampai memukulnya apalagi mengurungnya melainkan peliharalah dengan baik yaitu dengan cara diberi makan dan minum jika bertemu dengannya .
Merawat kucing tidak hanya akan meningkatkan keberkahan dalam rumah, tetapi juga akan mendatangkan pahala sedekah bagi pemiliknya.
Katakanlah seorang Mahmud shalat dalam kondisi sujud tiba-tiba kucing peliharaannya meloncat berada dipunggungnya hingga i’tidal beralih naik didekat lehernya sedangkan Mahmud tetap tidak melemparkannya karena dia merasa kasihan.

Pertanyaan:
Bagaimana hukum shalatnya Mahmud sementara ketika shalat diloncati kucing dipunggungnya?

Sholatnya Mahmud tetap sah tanpa hilaf, selama kucing yang berada dipunggungnya tidak menanggung najis ( tidak terkena najis). Meski kucing rentan terkena najis, namun jika secara fisik dhohirnya tidak terlihat ada najisnya, maka ia dihukumi suci. Akan tetapi sebaliknya, jika jelas kucing ada najisnya maka hukum sholatnya batal.

المجموع شرح المهذب – ١٢٨٣/٩٧٩٢
قال المصنف رحمه الله
(وإن حمل حيوانا طاهرا في صلاته صحت صلاته لأن النبي صلى الله عليه وسلم حمل أمامة
بنت أبي العاص في صلاته ولأن ما في الحيوان من النجاسة في معدن النجاسة فهو كالنجاسة التي في جوف المصلي وإن حمل قارورة فيها نجاسة وقد سد رأسها ففيها وجهان أحدهما يجوز لأن النجاسة لا تخرج منها فهو كما لو حمل حيوانا طاهرا والمذهب أنه لا يجوز لأنه حمل نجاسة غير معفو عنها في غير معدنها فأشبه إذا حمل النجاسة في كمه)
(الشرح)
حديث أمامة رواه البخاري ومسلم وهي أمامة بنت زينب بنت رسول الله صلى الله عليه وسلم واسم أبي العاص مهشم بكسر الميم وإسكان الهاء وفتح الشين المعجمة وقيل لقيط وقيل ياسر وقيل القاسم بن الربيع بن عبد العزى بن عبد مناف القرشية كان النبي صلى الله عليه وسلم يحبها تزوجها علي بن أبي طالب بعد وفاة فاطمة وكانت فاطمة أوصته بذلك رضي الله عنهم (أما) حكم المسألة فإذا حمل حيوانا طاهرا لا نجاسة على ظاهره في صلاته صحت صلاته بلا خلاف وإن حمل حيوانا مذبوحا بعد غسل موضع الدم وما على ظاهره من النجاسة لم تصح صلاته بلا خلاف وفيه وجه في البحر صرح به الأصحاب منهم القاضي أبو الطيب لأن في باطنه نجاسة لا حاجة إلى استصحابها بخلاف الحي ولو تنجس منفذ الحيوان الحي كطائر ونحوه فحمله ففي صحة صلاته وجهان أصحهما عند الغزالي الصحة ويعفى عنه كالباقي على محل نجو المصلي وأصحهما عند إمام الحرمين لا يصح وبه قطع المتولي وهو الأصح لعدم الحاجة إلى احتمالها 
بغية المسترشدين
كل  عين لم تتيقن نجاستها لكن غلبت النجاسة في جنسها كثياب الصبيان و جهلة  الجزارين و المتداينين من الكفار بالنجاسة كأكلة الخنازير ارجح القولين  فيها العمل باﻷصل وهو الطاهرة

Setiap  sesuatu yang belum pasti kenajisannya, tapi biasa najis dalam sejenisnya seperti baju anak kecil dan tukang jagal yang bodoh, maka yang paling unggul dari dua pendapat ialah mengamalkan pendapat yang asal, yaitu suci.
Namun demikian, jika kucing tersebut terlihat ada najisnya, maka ia dihukumi terkena najis. Karenanya, ia menyentunya maka shalatnya tidak sah karena dinilai bersentuhan dengan najis. Namun jika kelihatannya kucing tersebut tidak terkena najis maka sholatnya tetap sah.
Ini merujuk pada ajaran dan praktik Rasulullah Muhammad SAW. Rasulullah pernah bersabda bahwa kucing bukanlah hewan najis, dan seringkali ditemui di sekitar manusia.
Nabi SAW pernah bersabda tentang hewan kucing. Dalam riwayat dari Abu Qatadah, Nabi bersabda: “Kucing itu tidaklah najis. Sesungguhnya kucing merupakan hewan yang sering kita jumpai dan berada di sekeliling kita.” (HR At-Tirmidzi, Abu Dawud, An-Nasa’i, Ibnu Majah, Ad-Darimi, Ahmad, Malik)
Hal ini menunjukkan pentingnya memberikan perhatian dan perawatan kepada makhluk tersebut, sebagaimana yang dilakukan Rasulullah dalam kehidupan sehari-hari. Kucing, seperti hewan lainnya, juga bertasbih kepada Allah SWT. Namun, manusia seringkali tidak memahami bahasa yang diucapkan oleh hewan-hewan tersebut.
“Tidak ada sesuatu pun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu tidak mengerti tasbih mereka,”
Hal ini menjadi sebuah refleksi akan pentingnya penghormatan terhadap kehidupan, termasuk keberadaan hewan di sekitar kita.

Bahkan dikisahkan Nabi tidak mengganggu kucing yang sedang tidur di atas sajadah atau kainnya, menunjukkan sikap lembut dan penyayang yang harus ditiru oleh umat Islam dalam memperlakukan hewan di sekitar mereka.
Menjaga kucing atau hewan lainnya juga merupakan bentuk ibadah kepada Allah SWT.
Merawat makhluk-makhluk ciptaan-Nya dengan baik dapat membawa berkah dan kebaikan dalam hidup seseorang.
Oleh karena itu, menjadikan kucing sebagai hewan peliharaan dan memberikan perhatian serta kasih sayang kepada mereka dianggap sebagai amalan yang dianjurkan dalam agama.Wallahu A’lam bisshowab.

Kategori
Uncategorized

HUKUM TRANSAKSI MAKANAN YANG TERSISA DIJUAL KEMBALI

Assalamualaikum.
Dalam waqiiyah tak sedikit kita menjumpai pedangang makanan mulai dari pedesaan sampai ke perkotaan, seperti nasi dengan aneka ragam masakan dan nama seperti Nasi pecel, Nasi goreng, Nasi rawon, soto biasa, soto cengor, dan aneka ragam Kaldu, bakso, mi ayam dll. sedangkan setiap harinya pedagang tersebut terkadang bisa menghabiskan apa yang dimasak, dan terkadang tersisa sampai menginap satu malam ataupun lebih dengan cara dimasukkan kekulkas dan ada sebagian tanpa kulkas, namun belum basi.

Pertanyaannya.

Bagaimana hukumnya berjualan makanan yang hari ini tidak habis laku di jual ( tersisa ) lalu dijual lagi pada hari besoknya lagi,?

Jawaban:

Selama barang itu masih bisa di jadikan manfaat ( bisa dikonsumsi ) dan tidak membahayakan badan dan akal , maka hukumnya boleh di jual, namun jika sudah tidak layak untuk dimakan semisal sudah basi/ berui,red: dan di yakini akan membahayakan pada badan dan akal maka hukum menjualnya adalah harom.

Dengan demikian hukum menjual kembali barang makanan yang tersisa dari penjualannya selama masih bisa dimanfaatkan walaupun dengan cara diawetkan dengan cara diletakkan dalam kulkas dan masih segar tidak basi maka hukumnya boleh menjualnya dan tidak masuk pada kategori penipuan, akan tetapi jika sudah dilihat tidak layak pakai dalam arti sudah basi/dzatnya berubah dan tidak bisa dimanfaatkan bahkan memudhoratkan pada dirinya dan orang lain maka hukum menjualnya adalah haram.

Referensi:

[البقرة:٢٩/ ٢]

[وهبة الزحيلي، الفقه الإسلامي وأدلته للزحيلي، ٣٠٢٩/٤]
والضابط عندهم: أن كل ما فيه منفعة تحل شرعاً، فإن بيعه يجوز، لأن الأعيان خلقت لمنفعة الإنسان بدليل قوله تعالى: {خلق لكم ما في الأرض جميعاً}


Referensi;


إسعاد الرفيق ١ / ١٣٧
ضابط الغش المحرم أن يعلم ذو سلعة من نحو بائع او مشتر فيها أشياء لو اطلع عليها ما يريد اخذها ما اخذها بذاك المقابل ويجب عليه أن يعلمه به ليدخل في اخذه على بصيرة ويجب على اجنبي علم أن السلعة عيبا أن يخبر به مريدا اخذها وان لم يسأله عنه كما يجب عليه إذا رأى انسانا يخطب امراة ويعلم بها او به عيبا او رأى انسانا يريد أن يخالط آخر لمعاملة او صدقة او قراءة نحو علم وعلم أن بأحدهما عيبا أن يخبر به وان لم يستتر فيه

Kriteria penipuan yang diharamkan adalah pemilik suatu barang, seperti penjual atau pembeli, mengetahui bahwa di dalamnya ada sesuatu yang jika dia melihatnya dia tidak akan mengambilnya dengan harga itu, dan dia harus memberitahukannya kepadanya agar ia dapat mengambil barang itu dengan penuh kesadaran, dan wajib atas orang yang berbeda yang mengetahui bahwa barang itu cacat, harus memberitahukannya kepada orang yang mengambilnya, meskipun ia tidak menanyakannya, sebagaimana ia juga wajib melakukannya jika ia melihatnya seseorang yang akan melamar seorang wanita dan mengetahui tentang hal itu atau bahwa dia mempunyai cacat, atau jika dia melihat seseorang yang ingin ( bermasalah (bergaul dengan orang lain) untuk bertransaksi, bersedekah, atau membaca ilmu, sedangkan dia mengetahui bahwa ada cacat pada dirinya atau salah satu dari keduanya, maka dia harus mengabarkannya, meski dia tidak menyembunyikannya.

Referensi;

إحياء علوم الدين ٢ / ٧٦
فكل ما يستضرّ به المعامل فهو ظلم وانما العدل ان لا يضروا لأخيه المسلم والضابط الكلي فيه أن لا يحبوا الا ما يحبوا لنفسه الى أن قال فأما تفسيره ففي أربعة امور أن لا يثني على السلعة بما ليس فيها وان لايكتم عيوبها وخفايا صفاتها شيئا اصلا وان لايكتم في وزنها ومقدارها شيئا وان لايكتم من سعرها مالو عرفه المعامل لامتنع عنه أما الأول فهو ترك الثناء وان وصفه للسلعة إن كان بما ليس فيها فهو كاذب فان قبل المشتري ذلك فهو تدليس وظلم مع كونه كاذبا اهـ

قال المصنف رحمه الله تعالى (والعيب الذي يرد به المبيع ما يعده الناس عيبا فإن خفي منه شيء رجع فيه إلى أهل الخبرة بذلك الجنس) (الشرح) لما تقدمت أحكام العيب احتاج إلى تعريفه فعقد هذا الفصل لذلك وبيان ما هو عيب وما ليس بعيب ولما كانت الأمثلة لا تنحصر قدم عليها الضابط فيها وما ذكره من الضابط سديد فإن المدرك في ذلك العرف ولولا ذلك واقتضى العرف سلامة المبيع حتى جعل ذلك كالمشروط لما ثبت الرد فلذلك جعل ضابطه راجعا إلى العرف فما عده الناس وأهل العرف عيبا كان عيبا وما لا فلا ولكن الإحالة على العرف قد يقع فيها في بعض الأوقات إلباس فلأجل ذلك ضبطه غير المصنف بضابط أبين وأحسن شيء فيه ما أشار له الإمام رحمه الله ولخصه الرافعي أن يقال: ما ثبت الرد بكل ما في المعقود عليه من منقص القيمة أو العين نقصا ما يفوت به غرض صحيح بشرط أن يكون في أمثال ذلك المبيع عدمه وأخصر من ذلك أن يقال: ما نقص القيمة أو العين نقصانا يفوت به غرض صحيح ويغلب على أمثاله عدمه وبعضهم قال: ما نقص القيمة أو العين من الخلقة التامة قال الرافعي: فإنما اعتبرنا نقصان
العين بمسألة الخصي يعني فإنه يرد به وإن لم
ينقص القيمة لكنه نقص العين وإنما لم يكتف بنقص العين واشترط فوات غرض صحيح لأنه لو قطع من فخذه أو ساقه قطعة يسيرة لا تورث شيئا ولا يفوت غرض لا يثبت الرد قال: ولهذا قال صاحب التقريب: إن قطع من أذن الشاة ما يمنع التضحية ثبت الرد وإلا فلا وفيه احتراز أيضا عما إذا وجد العبد والجارية مختونين فإنه فات جزء من أصل الخلقة لكن فواته مقصود دون بقائه فلا رد به إذا كان قد اندمل ; إلى أن قال- قول المصنف رجع فيه إلى أهل الخبرة بذلك الجنس قال صاحب التهذيب: إن قال واحد من أهل العلم به: إنه عيب ثبت الرد به وكذلك يقتضيه كلام صاحب العدة واعتبر صاحب التتمة شهادة اثنين: ولو اختلفا في بعض الصفات هل هو عيب ؟ وليس هناك من يرجع إليه فالقول قول البائع مع يمينه


Referensi;


الفتاوى الكبرى ٢ / ٢٥١
(وسئل)
عمن اشترى شيئا فرأى به عيبا ورضي به ثم قال إنما رضيت لأني ظننته العيب الفلاني وقد بان خلافه فهل تقبل دعواه ؟ (فأجاب) بقوله إن أمكن الاشتباه وكان ما بان دون ما ظنه أو مثله فلا رد وإن كان أعلى منه فله الرد

(المواهب السنية شرح الفرائد البهية مع حاشيته لمحمد ياسين الفاداني ص: ٢٤٦ – ٢٤٧ )
(لا ضَرَرَ) أَيْ لَا يُبَاحُ فِي الْإِسْلَامِ وَلَا ضِرارَ) وَفِي رِوَايَةٍ (وَلَا ضْرَارَ)وفي رواية ولا اضرار وَالْمَعْنَى لَا يُبَاحُ إِدْخَالُ الضَّرَرِ عَلَى إِنسَانٍ فِيمَا تَحْتَ يَدِهِ مِنْ مِلْكٍ أَوْ مَنْفَعَةٍ وَلَا يَجُوزُ لِأَحَدٍ أَنْ يُضر أَخَاهُ الْمُسْلِمَ (قَوْلُهُ وَلَا يَجُوزُ لِأَحَدٍ إِلخ) تَفْسِيرُ لِقَوْلِهِ وَلَا ضِرارَ أَي لا يُضِرُّ الرَّجُلُ أَخَاهُ فَيَنْتَقِصُ شَيْئًا مِنْ حَقِهِ وَيُجَازِيهِ عَلَى إِضْرَارِهِ بِإِدْخَالِ الضَّرَرِ عَلَيْهِ ، فَالضَّرَرُ فِعْل الْوَاحِدِ ، وَالضَّرَارُ فِعْلُ الاثْنَيْنِ.


Referensi:


(حاشية البجيرمي على المنهج الجزء الثاني ص: ٣٢٨)
وَيَحْرُمُ مَا يُضِرُّ الْبَدَنَ أَوِ الْعَقْلَ كَالحَجَرِ وَالتَّرَابِ وَالزُّجَاجِ وَالسُّمَ كَالْأَفِيُونِ وَهُوَ لَبَنُ الْخَشْخَاشِ لِأَنَّ ذَلِكَ مُضِرُّ وَرُبَّمَا يَقْتُلُ وَقَدْ قَالَ تَعَالَى ( وَلَا تُلْقُوا بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ) قَالَ الزَّرْكَشِيُّ فِي شَرْحِ التَّنْبِيهِ وَيَحْرُمُ أَكُلُ الشَّوَاءِ الْمَكْمُورِ وَهُوَ مَا يَكْفَأُء عَلَيْهِ غِطَاءُ بَعْدَ اسْتِوَائِهِ لِإِضْرَارِهِ بِالْبَدَنِ


Referensi :


(المجالس السنية،في الكلام على الحديث الاءربعين النبوية)
( عن الى سعيد سعد بن مالك بن سنان الخزرجي رضي الله عنه أن رسول الله قال لا ضرر ولا ضرار حدیث حسن رواه ابن ماجه والدارقطني وغيرهما مسندا ورواه مالك في الموطاءعن عمر و بن يحيى عن أبيه عن النبي مرسلا فأسقط أبا سعيد وله طرق يقوى بعضها بعضا )
اعلموا اخوانى وفقني الله واياكم لطاعته أن هذا الحديث حديث عظيم ( فقوله لا ضرر ولاضرار ) بكسر أوله من ضره وضار ره بمعنى و هو خلاف النفع كذا قاله الجوهري فالجمع بينهما للتأ كيد والمشهور أن بينهما فرقا قيل الأول الحاق مفسدة بالغير مطلقا والثاني الحاق مفسدة بالغير على وجه المقابلة أي كل منهما يقصد ضرر صاحبه من غير جهة الاعتداء بالمثل والانتصار بالحق وقال ابن حبيب الضرر عند أهل العربية الاسم والضرار الفعل فمعنى الأول لاتدخل على أخيك ضررا لم يدخله على نفسه و معنى الثاني لا يضار أحد بأحد وقيل الضرر أن على غيره ضررا بما ينتفع هو به والضرار أن يدخل على غيره ضررا بمالامنفعة له به كمن منع مالا يضره و يتضرر به الممنوع ورجح هـذا طائفة منهم ابن عبدالبر وابن الصلاح وقيل الاول مالك فيه منفعة وعلى جارك فيه مضرة والثاني مالا منفعة فيه لك وعلى جارك فيه مضرة وهو مجرد تحكم بلادليل وان قال غير واحد ان هذاوجه حسن المعنى في الحديث وفي رواية ولا اضرار من أضر به اضرارا اذا ألحق به ضررا قال ابن الصلاح هي على ألسنة كثير من الفقهاء والمحدثين ولاصحة لها ولذا أنكرها آخرون وخبر لا محذوف أي في ديننا أو في شر يعتنا وظاهر الحديث تحر يم سائر أنواع الضرر الا لدليل لان النكرة في سياق النفى نعم وفي الحديث بعثت بالحنيفية السمحة السهلة وقد صح حرم الله من المؤمن دمه وماله وعرضه وأن لا يظن به الا خيرا وصح ايضا  ان دماءكم واموالكم واعراضكم حرام عليكم.والله أعلم بالصواب.

Kategori
Uncategorized

HUKUM MENJUAL BARANG SEPARUH HARGA KOLAKAN

MENJUAL BARANG SEPARUH HARGA KOLAKAN

Assalaamualaikum.
Deskripsi masalah.

Sebagaimana yang kita maklum bahwa dalam dunia bisnis atau dagangan adalah tukar-menukar barang dengan harga tertentu dengan jalan saling ridho , maka dalam melakukan transaksi jual beli tentunya bagi pedangang siapapun itu  pasti tujuannya  butuh adanya hasil/laba dari kolakan, sedangkan pembeli tentu butuh dengan harga murah, namun terkadang seseorang penjual menjual barang dagangannya sampai separuh harga, bahkan melebihi separuh harga.

Pertanyaannya.
Bagaimana Hukumnya menjual barang hingga seperuh harga?

Waalaikum salam.

Mengambil keuntungan seperuh harga  dalam jual beli hukumnya boleh karena tidak ada batasan yang ditentukan dalam syariat  melebihi harga modal kolakan. Namun setiap transaksi yang baik dalam bermualah  adalah jika adanya keutungan harga penjualan   itu sedikit, inilah  yang cocok dalam adab Islam yang menganjurkan untuk menjual barang secara mudah.

موسوعة فقه المعاملات (الأبحاث، التطبيقات الفتوى المصطلحات) المؤلف مجموعة من المعلفين. ص١٤٤٢٢

[الربح الفاحش]
المصدر: كتاب الفتاوى الشرعية في المسائل الاقتصادية بيت التمويل الكويتي فتوى رقم (٥٠٢) السؤال:
ما الحكم الشرعي بالربح الفاحش؟ وهل هناك تحديد للربح؟ أم أن الدين الإسلامي حدد الربح بمقدار معين؟
الجواب:
ليس للربح حد معين ولكن كلما قل الربح كان ذلك تطبيقا للآداب الإسلامية التي تأمر بالسماحة في البيع والاستيفاء وحسن المعاملة

Referensi

[النووي ,المجموع شرح المهذب ,١٣/٣]
من اشترى سلعة جاز له بيعها برأس المال وبأقل منه وبأكثر منه، لقوله صلى الله عليه وسلم ” إذا اختلف الجنسان فبيعوا كيف شئتم ” ويجوز أن يبيعها مرابحة، وهو أن يبين رأس المال وقدر الربح بأن يقول: ثمنها مائة، وقد بعتكها برأس مالها وربح درهم في كل عشرة، لما روى عَنْ ابْنِ مَسْعُودٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّهُ كان لا يرى بأسا بده يازده وده دوازده (1) ولانه ثمن معلوم فجاز البيع به، كما لو قال: بعتك بمائة وعشرة ويجوز أن يبيعها مواضعة بأن يقول: رأس مالها مائة، وقد بعتك برأس ماله ووضع درهم (2) من كل عشرة لانه ثمن معلوم فجاز البيع به، كما لو قال: بعتك بمائة إلا عشره، ويجوز أن يبيع بعضه مرابحة، فان كان مما لا تختلف أجزاؤه كالطعام والعبد الواحد قسم الثمن على أجزائه وباع ما يريد بيعه منه بحصته، وإن كان مما يختلف كالثوبين والعبدين قومهما وقسم الثمن عليهما على قدر قيمتهما ثم باع ما شاء منهما بحصته من الثمن، لان الثمن ينقسم على المبيعين على قدر قيمتهما، ولهذا لو اشترى سيفا وشقصا بألف قسم الثمن عليهما على قدر قيمتهما، ثم أخذ الشفيع الشقص بما يخصه من الثمن على قدر قيمته.

Referensi:

المكتبة الشاملة

كتاب شرح الترغيب والترهيب للمنذرى ص ٢٧
الكتاب  الترغيب في السماحة في شرح حديث: (رحم الله عبدا سمحا إذا باع)

شرح حديث: (رحم الله عبداً سمحاً إذا باع)
جاء عن جابر رضي الله عنه ومثله عن عثمان وعن عبد الله بن مسعود، ولفظ حديث جابر: (رحم الله عبداً سمحاً إذا باع، سمحاً إذا اشترى، سمحاً إذا اقتضى)، والسماحة هي السهولة، فالإنسان عندما يسمح بماله، أي: يعطي ويبذل ماله ويسمح، فيكون سهلاً في عطائه، فقد دعا له النبي صلى الله عليه وسلم أو أخبره وكلا الأمرين حسن فإن دعا فدعوته مستجابة، أو أخبر عن حاله فهذا من المؤكد أن الله سبحانه قد رحمه.
وصفة هذا العبد السماحة في البيع فهو يبيع بسماحة وبطيب نفس، ويبذل ما عنده، ويعطي ولا يماري ولا يجاري ولا يغش ولا يخدع، وفيه سماحة في بيعه وعطائه فليس عنده تعنت، فإذا وجد المحتاج الذي لا يقدر على دفع المال فإنه يعطيه ويتسامح معه بطيب نفس وبطيب خلق، فرحم الله عبداً سمحاً إذا باع سمحاً إذا اشترى، فيشتري ولا يبخس السلعة قدرها ولا يجادل كثيراً، ولا يخاصم في ذلك، ولا يرفع صوته ولكن فيه سماحة في شرائه، وعلى قدر ما يكون الإنسان كذلك على قدر ما تكون المعاملة بينه وبين الله سبحانه على ذلك.
فلا تظن أبداً أن إنساناً يكون سمحاً في العطاء وأن الله يضيق عليه في الرزق فهذا مستحيل، ولا يكون أبداً، والجزاء من جنس العمل، فالإنسان الذي يشح ويبخل فهذا يضيق الله تبارك وتعالى عليه، حتى وإن كان رزقه أمام الناس واسعاً لكن تجده خائفاً على المال مستشعراً بالفقر وبأن المال سيضيع منه.
فصاحب البذل وصاحب السماحة تجد الله سبحانه وتعالى يوسع عليه في الرزق حتى وإن كان رزقه ضيقاً ولكنه يعطيه في قلبه غنى يشعر من خلاله أنه غني.
فإذا اشترى الشيء دفع فيه ثمن ما يماثله فلا يكثر من الجدال، ولكن ليس المعنى أن يُخدع في الشراء فإنه إذا خدع مرة لن يخدع كل مرة، ولكن المقصد أن يعطي الثمن الذي تستحقه هذه السلع دون بخس ودون زيادة، وعلى الإنسان ألا يتعود على كثرة الجدل وشراسة الخلق مع البائع، وهنا الدِّين يعلمنا اليسر والسهولة والسماحة في البيع والشراء، قال: (سمحاً إذا باع، سمحاً إذا اشترى، سمحاً إذا اقتضى).
واقتضى أي: طلب القضاء، فمن حق المؤمن أن يطلب ماله عند الناس ولكن إذا طلب فليكن طلبه بسماحة وبسهولة، فإذا وجد الإنسان الضعيف الفقير يتسامح معه، فإذا كان معه مال دفعه وإلا صر عليه قليلاً، فالصبر على المال أجره عجيب وعظيم.
فلو أن لك عندي مالاً ووعدتني بأن تدفع لي وترجع مالي يوم كذا بعد شهر مثلاً، فجئت بعد شهر أطالبه بالدين الذي لديه فإن أعطاني كان من الأجر كأني تصدقت بنصف مالي، جزاء أني دينت الرجل، فإذا سلفت إنساناً ألف جنيه مثلاً ودفع لك المال في وقته فأخذت الألف فكأنك تصدقت بخمسمائة جنيه جزاء دينك للمستدين.
ولو فرضنا أنه جاء السداد المتفق عليه، ولا يوجد معه مال يعطيك، فصبرت عليه فلم تأخذ مالك، ولو أن تاجراً يحسبها سيجد أن المال لو استثمره وكان ألف جنيه مثلاً فسيكون له من الربح مقدار مائة جنيه مثلاً، ولكن الله يعطيك جزاء صبرك على دين الرجل أكثر من ذلك بكثير، فيكتب لك في ميزان حسناتك كأنك تصدقت في كل يوم صبرت عليه بمثل هذا الربح، فلو صبرت عليه عشرين يوماً لكان لك من الأجر أجر صدقة ألفين جنيه.
وهذا الذي يصبر عشرين يوماً فكيف بمن ينتظر سنة أو سنتين لا شك أنه سيحصل على أجر كبير، وقد صح الحديث عن النبي صلى الله عليه وسلم في ذلك، وهذا الذي يجعل الإنسان المؤمن في راحة إذا لم يحصل على ماله المستدان، فإذا دفع لك بعد عشرين سنة المال فقد كسبت هذا الأجر كله من الله سبحانه، وليس معنى ذلك أن الإنسان إذا ما طله آخر ليس من حقه أن يرفع عليه دعوى في المحكمة ويحاكمه، بل هذا من حقه، ولكن ينظر هذا الإنسان هل هو معسر أم موسر؟ فإذا كان موسراً ومماطلاً فيستحق أن يعاقب.

[Keuntungan Berlebihan]

Sumber: Kitab Fatawa Syar’iyyah fi al-Masa’il al-Iqtisadiyah, Baitut Tamwil Kuwait, Fatwa Nomor 502

Pertanyaan: Apa hukum syar’i tentang keuntungan yang berlebihan? Apakah ada batasan keuntungan? Ataukah Islam telah menentukan keuntungan dengan kadar tertentu?

Jawaban: Tidak ada batasan tertentu untuk keuntungan. Namun, semakin kecil keuntungan yang diambil, maka hal itu lebih mencerminkan penerapan adab Islam yang memerintahkan kelapangan dalam jual beli, pemenuhan hak secara baik, dan interaksi yang baik dalam bermuamalah.

Referensi:

 [An-Nawawi, Al-Majmu’ Syarh Al-Muhadzdzab, 13/3]:
“Barang siapa yang membeli suatu barang, diperbolehkan baginya menjualnya sesuai harga pokok, kurang dari itu, atau lebih dari itu. Hal ini berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: ‘Jika kedua jenis barang berbeda, maka juallah sesuka kalian.’”
Dibolehkan juga menjualnya dengan akad murabahah (keuntungan diketahui), yaitu penjual menjelaskan modalnya dan besaran keuntungan. Misalnya, ia berkata: “Harganya seratus, dan aku menjualnya kepadamu dengan modalnya serta keuntungan satu dirham dari setiap sepuluh dirham.” Sebagaimana riwayat dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, beliau tidak mempersoalkan transaksi dengan keuntungan tertentu (contoh: “sepuluh jadi sebelas” atau “sepuluh jadi dua belas”). Transaksi tersebut memiliki harga yang jelas sehingga sah dalam jual beli. Begitu pula akad mudhara’ah (diskon), misalnya: “Modalnya seratus, dan aku menjualnya dengan modalnya serta mengurangi satu dirham dari setiap sepuluh dirham,” karena harga yang disepakati tetap diketahui. Jika menjual sebagian dari barang itu, maka jika barang tersebut homogen (seperti makanan atau seorang budak), harga dibagi sesuai bagian barangnya, kemudian ia menjual bagian yang diinginkan sesuai dengan harga bagiannya. Namun, jika barang tersebut heterogen (seperti dua pakaian atau dua budak), maka barang tersebut ditaksir dan harga dibagi berdasarkan nilai masing-masing, lalu ia menjual yang diinginkan sesuai bagiannya. Karena itu, jika seseorang membeli pedang dan tanah dengan harga seribu dirham, maka harga dibagi sesuai nilai masing-masing, dan syuf’ah hanya berlaku pada tanah sesuai bagiannya.”


 [Kitab Syarh Targhib wa Tarhib, Al-Mundziri, hlm. 27]:
Penjelasan hadis: “Semoga Allah merahmati seorang hamba yang lapang dada ketika menjual, membeli, dan menagih hutang.”
Hadis ini diriwayatkan dari Jabir radhiyallahu ‘anhu, juga dengan redaksi serupa dari Utsman dan Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhum. Lafaz hadis dari Jabir: “Semoga Allah merahmati seorang hamba yang lapang dada ketika menjual, lapang dada ketika membeli, dan lapang dada ketika menagih hutang.”
Makna “lapang dada” adalah kemudahan. Seorang manusia yang lapang dada dalam muamalahnya akan diberkahi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, baik melalui doa yang pasti dikabulkan atau pernyataan bahwa Allah merahmatinya.
Seorang yang lapang dada dalam jual beli tidak bersikap keras, menipu, atau memperdaya. Jika ia menghadapi pembeli yang kekurangan uang, ia bermurah hati dengan menurunkan harga atau memberi waktu dengan hati yang lapang. Begitu pula saat ia membeli, ia tidak membanting harga secara tidak wajar atau memperumit urusan. Dalam Islam, ini menunjukkan pengajaran agar bermuamalah dengan kelapangan dan kemudahan.

Rasulullah juga menjelaskan bahwa kemurahan hati dalam memberi, menjual, dan membeli merupakan ciri orang yang dirahmati. Barang siapa bersikap pelit atau kasar, Allah akan mempersempit rezekinya, meskipun tampak kaya di hadapan manusia. Sebaliknya, orang yang murah hati akan merasa kaya dengan kelapangan hati meskipun rezekinya sedikit.

Ketika seseorang menagih hutang, ia dianjurkan untuk bersikap lembut dan memberi kelonggaran jika yang berhutang kesulitan. Hal ini akan mendatangkan pahala besar, bahkan bisa lebih besar daripada keuntungan dari modalnya.

Dalam riwayat yang lain dengan redaksi sedikit berbeda adalah sebagaimana hadits berikut:

حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ عَيَّاشٍ حَدَّثَنَا أَبُو غَسَّانَ مُحَمَّدُ بْنُ مُطَرِّفٍ قَالَ حَدَّثَنِي مُحَمَّدُ بْنُ الْمُنْكَدِرِ عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ رَحِمَ اللَّهُ رَجُلًا سَمْحًا إِذَا بَاعَ وَإِذَا اشْتَرَى وَإِذَا اقْتَضَى.

“Telah menceritakan kepada kami ‘Ali bin ‘Ayyasy telah menceritakan kepada kami Abu Ghossan Muhammad bin Muthorrif berkata, telah menceritakan kepada saya Muhammad bin Al Munkadir dari Jabir bin ‘Abdullah radliallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Allah merahmati orang yang memudahkan ketika menjual dan ketika membeli dan juga orang yang meminta haknya”. (HR. Al-Bukhari no.1934). Hadis semisal juga diriwayatkan oleh Ibn Majah no. 2194, Tirmidzi no. 1241, Ahmad 390 dan Malik no. 1193).
Kata “Samhan” (سمحا) dalam hadis di atas adalah bentuk mashdar yang memiliki beberapa makna diantaranya adalah “Sahlan” yamg artinya kemudahan dan juga “Juudan” yang bermakna dermawan, hati yang lapang dan berjiwa mulia. Dengan demikian, Samhan (سمحان) adalah orang yang suka memberi kemudahan, berhati lapang, berjiwa mulia dan dermawan.
Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam memuji dan mendoakan agar Allah memberikan rahmat dan kasih sayang-Nya kepada orang yang “Samhan”, baik ketika posisinya sebagai pedagang, pembeli atau orang yang meminta haknya dikembalikan.
Contoh berlaku samhan bagi penjual adalah tidak mematok harga terlalu tinggi, tidak mengeruk keuntungan terlalu banyak, tidak “jutek” kepada pembeli dan lain sebagainya.
Samhan bagi pembeli adalah tidak terlalu banyak menawar apalagi dengan harga tawar yang “menyakitkan”, mencela barang yang akan dibeli, membatalkan transaksi dengan alasan yang tidak wajar dan tidak selalu merasa bahwa “Pembeli Adalah Raja”.
Samhan bagi orang yang meminta haknya adalah tidak memaksa dalam menagih hutang. Sebisa mungkin memberi tenggang waktu tambahan bagi yang berhutang ketika memang belum bisa membayar, bahkan lebih baik lagi membebaskan hutang jika mampu melakukannya. Allah berfirman :

وَإِن كَانَ ذُو عُسْرَةٍ فَنَظِرَةٌ إِلَىٰ مَيْسَرَةٍ وَأَن تَصَدَّقُوا۟ خَيْرٌ لَّكُمْ إِن كُنتُمْ تَعْلَمُونَ

“Dan jika (orang berutang itu) dalam kesulitan, maka berilah tenggang waktu sampai dia memperoleh kelapangan. Dan jika kamu menyedekahkan, itu lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui.” (Q.S. Al-Baqarah : 280)”
Apakah “Samhan” hanya terbatas pada tiga (hal) hal sebagaimana hadis di atas? Sepertinya tidak demikian. Bisa jadi Rasulullah tidak membatasi. Tiga hal di atas hanyalah contoh saja. Yang menjadi tekanan dalam hadis di atas adalah bagaimana seorang muslim harus memiliki karakter samhan dalam berinteraksi kepada siapa saja, terutama kepada sesama mu’min.

Kesimpulan: Dalam Islam, tidak ada batasan keuntungan tertentu. Namun, ajaran Islam menekankan sikap murah hati, adil, dan tidak memberatkan pihak lain dalam transaksi. Keuntungan yang tidak berlebihan sesuai dengan prinsip ini lebih mendatangkan keberkahan.

Wallahu A’lam bisshowab.

Kategori
Uncategorized

DO’A UNTUK AHLI KUBUR ANTARA MEMAKAI KALIMAT MUFROD ( قبر ) ATAU JAMA’ ( قبور)

DO’A UNTUK AHLI KUBUR ANTRA MEMAKAI KALIMAT MUFROD ( قبر ) ATAU JAMA’ ( قبور )

Assalamualaikum.
Deskripsi masalah.

Sudah lumrah dikalangan ahli sunnah wal jamaah ketika ada orang meninggal mengadakan tahlilan atau mengandakan haul baik khusushonnya satu orang atau terkadang lebih dari satu orang, namun ketika berdo’a tokoh agama yang mimpin tahlil  untuk satu orang mayat ( ahli kubur ) mengatakan:


  اللهم أجعل قبره


dan ada yang mengatakan


    اللهم أجعل قبوره

Begitu juga jika yang dikhususkan banyak (  ali kuburnya banyak ) maka yang memimpin do’a mengatakan

  اللهم أجعل قبرهم


dan ada yang mengatakan


  اللهم أجعل قبورهم


Sebagaimana  cotoh dalam do’a yang lain.

اللهم ارحمهم ولا تعذبهم اللهم اجعل قبرهم روضة من رياض الجنة ولا تجعل قبرهم حفرة من حفر النيران

Ya Allah, kasihanilah mereka dan jangan siksa mereka. Ya Allah, jadikan kuburan mereka sebuah taman dari taman-taman surga dan jangan Engkau jadikan kuburan mereka kubangan dari beberapa kubangan neraka.

Sebagaimana Rasulullah bersabda :

الأنبياء أحياء في قبورهم يصلون (أخرجه أبو يعلى والبيهقي وصححه وأبونعيم والسيوطي وحسنه وغيرهم عن أنس )

Para nabi hidup di kubur mereka seraya shalat (HR Abû Ya’lâ, al-Baihaqy, as-Suyûthy, Abû Nu’aim dari Anas).

Pertanyaan.
Mana yang benar susunan Idhofahnya ( Isim mudhof ) menggunakan jama’ dan menggunakan mufrod  yang disandingkan dengan dhomir tersebut.?

Waalaikum salam
Jawaban.

Dalam ushul fiqh, ketika isim mufrad dan jamak dimudlafkan pada isim makrifat, maka keduanya menjadi عام

karena عام maka bermakna kulliyyah (universal/syumul/meniap). Sehingga dari sisi kesyumulannya,  mufrad dan jama tersebut sama-sama bermakna “semua”, “seluruh” atau “setiap”.  Dalam lubbul ushul berbunyi kaidah

” *و مدلول العام كلية*”

Lalu apa bedanya isim mufrad dan jamak tersebut bila keduanya sama sama  عام؟

Adapun perbedaannya hanya dari kualitas dilalahnya pada asal maknanya. Dilalah عام  pada asal maknanya adalah qathiyyah, sedangkan pada semua afradnya adalah zhaniyyah.

Artinya, bila lafal عام berbentuk mufrad maka yang qathiy adalah satu, karena makna mufrad adlah satu.  Apabila berbentuk jamak, maka yang qathiy adalah tiga, karena asal makna jama adalah tiga. Kaidah ushul fiqhnya berbunyi :

دلالة العام علی اصل معناه قطعية وعلی كل فرد ظنية

Begitu juga boleh jamak bermakna mufrad , tetapi majaz, sebagaimana dijelaskan dalam
جمع  الجوامع  terdapat kaidah ,

وانه (اي الجمع) يصدق بالواحد مجازا

Dalam alquran  terdapat jamak yang bermakna mufrad, misalnya

وَإِنِّی مُرۡسِلَةٌ إِلَیۡهِم بِهَدِیَّةࣲ فَنَاظِرَةُۢ بِمَ یَرۡجِعُ ٱلۡمُرۡسَلُونَ

و مثل القاضي عزيزي في (البرهان) مجيء الجمع والمراد الواحد بقوله تعالى: {وإني مرسلة إليهم بهدية} فالهاء والميم للجمع، والمراد به سليمان وحده، وكذا قوله {بم يرجع المرسلون} والرسول واحد بدليل قوله: {ارجع إليهم}

Oleh karen Itu  boleh menggunakan  قبرهم atau قبورهم karena keduanya sama عام  dan bentuk jama’ dengan makna mufrod. Wallahu A’lam bisshowab.

Kategori
Uncategorized

JENAZAH SETELAH DIBUNGKUS KELUAR KOTORAN

JENAZAH SETELAH DIBUNGKUS KELUAR KOTORAN

Asslamualaikum.
Deskripsi masalah.
Dalam maslah Tajhizul jenazah , terkadang setelah selesai dimandikan dan diwudhu’in bahkan sudah dibungkus lalu keluar kotoran dari salah satu jalan yang dua.

Pertanyaannya.
Apakah mayat tersebut harus disucikan kembali mengingat keluar kotoran ?

Jawaban.

Jika keluar najis dari kemaluan mayat setelah dimandikan dan belum dikafani, maka harus dibersihkan tanpa ada perbedaan. Dalam masalah mengulangi pembersihannya (mandi) ada tiga pendapat yang terkenal, yang paling kuat adalah tidak diwajibkan apapun. Karena dia telah keluar dari taklif (beban kewajiban) dalam masalah batal suci. Juga diqiyaskan seperti orang terkena najis dari orang lain. Maka cukup dibersihkan tanpa ada perbedaan.” Akan tetapi jika keluar setelah dibungkus maka tidak perlu untuk dibasuh atu dihilangkan.

Kesimpulan jika keluar sebelum dibungkus maka wajib dibersihkan, tetapi jika keluarnya setelah dibungkus maka tidak perlu, dibasuh lagi.

Referensi;

{انظر كتاب المجموع شرح المهذب : ج ٥ ص ١٣٨. للإمام النووي الشافعي}.

وقال الامام النووي الشافعي رحمه الله في كتابه “المجموع شرح المهذب” :

” إذا خرج من أحد فرجي الميت بعد غسله وقبل تكفينه نجاسة وجب غسلها بلا خلاف , وفي إعادة طهارته ثلاثة أوجه مشهورة ” أصحها: لا يجب شيء; لأنه خرج عن التكليف بنقض الطهارة وقياساً على ما لو أصابته نجاسة من غيره، فإنه يكفي غسلها بلا خلاف ” ..” انتهى

Referensi.

[البكري الدمياطي، إعانة الطالبين على حل ألفاظ فتح المعين، ١٢٦/٢]

ولو خرج منه بعد الغسل نجس لم ينقض الطهر، بل تجب إزالته فقط إن خرج قبل التكفين، لا بعده:

إعانة الطالبين ج٢ ص ١١٠
ولو خرج منه بعد الغسل نجس لم ينقض الطهر بل تجب إزالته فقط إن خرج قبل التكفين لا بعده
( قوله ولو خرج منه ) أي من الميت ولو من السبيلين
( قوله ولم ينقض الطهر ) أي لم يبطله
( قوله بل تجب إزالته ) أي النجس الخارج
( وقوله فقط ) أي من غير إعادة غسله وذلك لسقوط الفرض بما وجد وحصول النظافة بإزالة الخارج
( قوله إن خرج قبل التكفين لا بعده ) هكذا عبارة شيخه في فتح الجواد إلا أنه أحالها فيه على إفتاء البغوي وجزم في التحفة بوجوبها أيضا بعد التكفين ونصها مع الأصل ولو خرج بعده أي الغسل أي وقبل الإدراج في الكفن نجس ولو من الفرج وجب إزالته تنظيفا له فقط لأن الفرض قد سقط بما وجد.

Referensi:

الفقه على مذاهب الأربعة ص ٤٦٣
إذا خرج من الميت بعد غسله نجاسة علقت ببدنه أو بكفنه فإنها تجب إزالتها، ولا يعاد الغسل مرة أخرى، باتفاق المالكية؛ والشافعية، أما الحنفية؛ والحنابلة، فانظر مذهبيهما تحت الخط (٢) .
[كيفية غسل الميت]
ذكرت كيفية غسل الميت مفصلة في المذاهب؛ فانظرها تحت الخط (٣) .
(١) الحنابلة قالوا: يسن قص شارب غير المحرم وتقليم أظافره إن طالما وأخذ شعر إبطيه إلا أنها بعد نزعها توضع معه في كفنه، أما حلق رأسه الميت فحرام، لأنه إنما يكون لنسك أو زينة، أما حلق عانته فهو حرام لا مكروه، لما قد يترتب على ذلك من مس عورته أو نظرها.
المالكية قالوا: ما يحرم فعله في الشعر مطلقاً حال الحياة يحرم بعد الموت، وذلك كحلق لحيته وشاربه، وما يجوز حال الحياة يكره بعد الموت

(٢) الحنفية قالوا: النجاسة الخارجة من الميت لا تضر، سواء أصابت بدنة أو كفنه، إلا أنها تغسل قبل التكفين تنظيفاً لا شرطاً في صحة الصلاة عليه، أما بعد التكفين فإنها لا تغسل، لأن في غسلها مشقة وحرج، بخلاف النجاسة الطارئة عليه، كأن كفن بنجس فإنها تمنع من صحة الصلاة عليه.
الحنابلة قالوا: إذا خرج من الميت نجاسة بعد غسله وجبت إزالتها وإعادة غسله إلى سبع مرات. فإن خرج بعد السبع وجب غسل الخارج فقط ولا يعاد الغسل.
هذا إذا كان خروج النجاسة قبل وضعه في الكفن، أما بعده فلا ينتقض الغسل ولا يعاد

(٣) الحنفية قالوا: يوضع الميت على شيء مرتفع ساعة الغسل – كخشبة الغسل – ثم يبخر حال غسله ثلاثاً أو خمساً أو سبعاً بأن تدار المجمرة حول الخشبة ثلاث مرات أو خمساً أو سبعاً، كما تقدم ثم يُجرد من ثيابه ما عدا ساتر العورة، ويندب أن لا يكون معه أحد سوى الغاسل ومن يعينه، ثم يلف الغاسل على يده خرقة، يأخذ بها الماء ويغسل قُبُله ودبره – الاستنجاء -، ثم يوضأ، ويبدأ في وضوئه وجهه، لأن البدء بغسل اليدين إنما هو للأحياء الذين يغسلون أنفسهم فيحتاجون إلى تنظيف أيديهم، أما اللميت فإنه يغسله غيره، ولأن المضمضة والاستنشاق لا يفعلان في غسل الميت، ويقوم مقامهما

Kategori
Uncategorized

PROSESI AKAD NIKAH BERSYARAT SAHKAH..?

PROSESI AKAD NIKAH BERSYARAT SAHKAH… ?

Assalamualaikum.

Sail Ust. Abd. Bari, S.Pd.I
Deskripsi masalah.
Waqiiyah ada seorang mengaku habib ( ngaku keturunan Habib ) yang endintitasnya / alamatnya diragukan ia mengaku dari SUKA BUMI yang datang dengan misi dakwah sholawat ( meyebarkan bacaan sholawat) kesuatu daerah kepulauan, setelah sampai ( 15 hari ) dia mau meminang seorang berawan berumur 13 tahun dan langsung dengan cara nikah sirri, Namun dari pihak wali mangajukan dua persyaratkan, dengan tujuan semata untuk nama baik dirinya, anaknya dan keluarganya , dan juga menjaga nama baik Habib dan ahli keluarganya.
Adapun persyaratan yang diungkapkan baik sebelum akad atau ketika prosesi akad nikah bahkan setelah akad sebagai berikut:

  1. Anaknya tidak boleh dibawa keluar daerah untuk ikut dibawa menyebarkan dakwah keluar daerah dengan alasan masih sekolah
  2. Anak sebelum diakad /ketika diakad bahkan setelah diakad nikah sirri tidak boleh digauli/ekapolong tedung red: madura. Maka silelaki ( Habib )sepakat, akhirnya pernikahan sirri terjadi dilangsungkan ( oleh walinya /ayahnya ), karena persyaratan sudah menjadi kesepakatan maka sampai hari ini tidak digauli.Namun si Habib memohon agar persyaratan tersebut dicabut.

Pertanyaannya.
Sahkah akad nikah dengan persyaratan sebagaimana deskripsi?
Mohon jawabannya dengan segera beserta referensinya.

Waalaikum salam.

Sebelumnya penting mujawwib menjelaskan Syarat korelasinya dengan akad ini berdasarkan firman Allah SWT dalam QS al-Maidah: 1 dan hadits sebagaimana berikut:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَوْفُوا بِالْعُقُودِ

“Wahai orang-orang yang beriman, penuhilah akad-akadmu.” Nabi Muhammad SAW juga bersabda, bahwa:

المسلمون عند شروطهم,

orang Islam itu harus senantiasa memperhatikan syaratnya (janjinya). Dalam kitab Fathul Bari, Syeikh Ibnu Hajar al-Asqalani menyebutkan bahwa hadits ini juga diriwayatkan oleh ‘Amru bin ‘Auf dengan tambahan lafadh:

إلا شرطا حرم حلالا أو أحل حراما ,

Artinya, kecuali syarat mengharamkan perkara halal atau menghalalkan perkara haram”. Walhasil, seorang muslim wajib hukumnya memperhatikan syarat /janji yang telah ia utarakan. Apakah “Syarat Tambahan” Bisa Mengubah Status Hukum Akad? Terkait dengan persoalan apakah syarat tambahan bisa mengubah status hukum akad, maka para ulama empat madzhab berbeda pendapat mengenai status hukumnya. Misalnya menurut pandangan ulama Madzhab hanbali.  Menurut kalangan madzhab Hanbali, syarat tambahan sebagaimana yang dimaksud dalam deskripsi dia atas, dengan maksud mengistimewakan kepada keduanya adalah diperbolehkan oleh syariat secara mutlak. Ulama Hanabilah hanya memberi catatan saja yakni kecuali “jika syarat tambahan tersebut bertentangan dengan kaidah syar’iyah.” Lebih lanjut, mereka memberikan ilustrasi, misalnya bila suatu pernikahan, ada seorang calon mempelai perempuan memberi syarat dalam akad nikah kepada calon suaminya bahwa jika telah sah menjadi suami isteri, si suami tidak boleh memaksa kepada si istri untuk tinggal di luar kampung kelahirannya, maka syarat semacam ini adalah dipandang sah. Atau misalnya contoh lain, adalah sah bagi calon mempelai perempuan memberi syarat kepada calon suami bahwa ia mau menikah dengan laki-laki tersebut, dengan catatan ia tidak boleh menikah lagi dengan wanita lain.  Dalam kasus sebagaimana contoh ini, maka ulama Hanabilah menetapkan bahwa jika ternyata di kemudian hari didapati suami perempuan tersebut memaksa ia untuk tinggal di luar tanah kelahirannya, atau si suami melakukan nikah lagi tanpa persetujuan dari istrinya, maka si isteri berhak untuk membatalkan/memfasakh nikah. Ini merupakan konsekuensi logis dari pendapatnya ulama Hanabilah dalam memandang syarat tambahan.  Keyakinan mereka ini didasarkan pada Dalil yang dipergunakan oleh kalangan Hanabilah ini adalah QS al-Maidah: 1 yang mana didalam ayat tersebut ada bentuk amar yang menunjukkan makna wajib menepati akad. Ayat ini ditangkap mereka sebagai dalil kemutlakan syarat bisa mengubah status akad. Adapun pandangan kalangan Hanafiyah, Malikiyah dan Syafi’iyah, terkait dengan status syarat tambahan bisa mengubah status akad atau tidak, maka para ulama dari ketiga madzhab ini memiliki cara pandang yang berbeda dari kalangan Hanabilah. Ketiga madzhab ini sama memiliki konsepsi yang sama dalam memandang syarat. Umumnya, dalam memandang akad, mereka membagi syarat dalam akad menjadi tiga, yaitu: ada (1) syarat sah, ada (2) syarat-syarat tidak sah dan ada (3) syarat-syarat batal. Seperti misalnya menurut Syekh Wahbah al-Zuhaili dalam Al-Fiqhu al-Islami wa Adillatuhu : 5/3317, beliau menyatakan: 


وشرائط الإنعقاد وهي ما يشترط تحققه لاعتبار العقد منعقداً شرعاً، وإلا كان باطلاً

Yang dimaksud syarat sah adalah perkara yang diharuskan realisasinya sehingga akad dipandang sah secara syara’, dan bila tidak terealisasi maka batal suatu akad. Kurang lebih maksud dari pernyataan Syekh Wahbah Al-Zuhaily ini adalah sebagai berikut: Syarat sah, merupakan syarat yang bisa memperkuat akibat (sangsi hukum) dalam syariat.   Sebuah syarat tambahan adalah boleh hukumnya diberikan oleh seorang sebagaimana kaidah:

الأصل في العقود والشروط الإباحة

“Prinsip dasar dalam penetapan akad dan syarat adalah dibolehkan.” Apabila syarat tersebut merupakan ketetapan yang diutarakan oleh salah satu pihak dalam proses transaksinya, atau memang sudah diumumkan secara pribadi oleh pedagang, maka berlaku kaidah:

الأصل في العقد رضا المتعاقدين ونتيجة ما التزاماه بالتعاقد

“Prinsip dasar dalam ketetapan akad adalah saling ridlanya dua orang yang bertransaksi dan sangsi hukum yang keduanya tetapkan selama bertransaksi” Berangkat dari dua kaidah ini, maka status hukum memberi syarat tambahan hukumnya adalah boleh dengan catatan adanya saling ridla di antara kedua pihak.  Lalu bagaimana dengan Permasalahan seorang Habib yang ingin menikah sirri yang mana orang tua wali mangajukan sendiri agar anaknya tidak boleh dijima’ dan itu sudah menjadi kesepakatan ?

Jawaban dari permasalahan ini, Para ulama fikih menegaskan bahwa akad nikah yang disertai dengan syarat tertentu berbeda pandang yaitu:

🅰️ Jika persyaratan diungkapkan ketika berlangsungnya akad Menurut Mayoritas Ulama fiqh dari kalangan Syafiiyah Malikiyah dan Hanabilah menyatakan syarat dan akadnya tidak sah. Alasannya karena melanggar terhadap syarat tujuan akad, sehingga perkawinan dianggap tidak ada artinya, melainkan seperti kontrak fiktif

🅱️ Menurut Hanafiyah akad nikahnya sah baik syarat disebutkan diluar akad ataupun didalam akad sedangkan syaratnya batal.

Penjelasan

Para ulama fikih menegaskan bahwa akad nikah yang disertai dengan syarat tertentu tetap dianggap sah.Sepanjang syarat tersebut berisi hal-hal yang memang menjadi esensi atau tujuan dari pernikahan dan tidak bertentangan Menurut Alquran, Sunnah.
Para Ulama menjelaskan, syarat- syarat yang sesuai dengan esensi pernikahan itu, misalnya, suami wajib memperlakukan istrinya dengan baik, memberinya nafkah lahir dan batin ( jima’). Syarat juga bisa berupa istri wajib taat kepada suami, tidak durhaka, tidak memasukkan orang asing ke dalam rumah, dan lain sebagainya.
Namun, apabila syarat-syarat itu bertentangan dengan tujuan atau esensi pernikahan yang ditetapkan dalam syariat, misalnya, Istri diwajibkan memberikan nafkah kepada suami atau suami dilarang melakukan hubungan seksual dengan istri tanpa ada uzur yang memberatkan, syarat semacam ini dilarang. Meskipun akad nikah itu sendiri tetap dianggap sah namun syarat yang diajukan adalah batal jika disebutkan sebelum akad Alasannya karena hanya menguntungkan salah satu pihak yaitu pihak istri dan tidak menguntungkan pada suami yaitu karena tidak adanya jima’, Akan tetapi jika persyaratan disebutkan dalam akad maka keduanya batal secara bersamaan menurut Syafiiyah Malikiyah dan Hanabilah , Sedangkan menurut Hanafiyah akad nikahnya sah sedangkan persyaratannya tidak sah ( batal ).

Referensi:

الموسوعة الفقهية الكويتية ص ٢٩٠٤٢-٢٩٤٤
ز – اشْتِرَاطُ عَدَمِ الْوَطْءِ أَوْ عَدَمِ حِلِّهِ فِي عَقْدِ النِّكَاحِ:
فَرَّقَ الْفُقَهَاءُ فِي حُكْمِ ذَلِكَ الاِشْتِرَاطِ بَيْنَ حَالَتَيْنِ، حَالَةِ اشْتِرَاطِ نَفْيِ حِل الْوَطْءِ، وَحَالَةِ اشْتِرَاطِ عَدَمِ فِعْلِهِ. وَبَيَانُ ذَلِكَ فِيمَا يَلِي:
٤٩ – إِذَا اشْتَرَطَ فِي عَقْدِ النِّكَاحِ نَفْيَ حِل الْوَطْءِ بَأَنْ تَزَوَّجَهَا عَلَى أَنْ لاَ تَحِل لَهُ، فَلاَ خِلاَفَ بَيْنَ أَهْل الْعِلْمِ فِي بُطْلاَنِ هَذَا الشَّرْطِ، وَلَكِنَّهُمُ اخْتَلَفُوا فِي تَأْثِيرِهِ عَلَى صِحَّةِ الْعَقْدِ، وَذَلِكَ عَلَى قَوْلَيْنِ:

أَحَدُهُمَا: لِجُمْهُورِ الْفُقَهَاءِ مِنَ الشَّافِعِيَّةِ وَالْمَالِكِيَّةِ وَالْحَنَابِلَةِ، وَهُوَ بُطْلاَنُ الشَّرْطِ وَالْعَقْدِ مَعًا، وَذَلِكَ لإِِخْلاَل ذَلِكَ الشَّرْطِ بِمَقْصُودِ الْعَقْدِ وَلِلتَّنَاقُضِ، إِذْ لاَ يَبْقَى مَعَهُ لِلزَّوَاجِ مَعْنًى، بَل يَكُونُ كَالْعَقْدِ الصُّورِيِّ (١) .

وَالثَّانِي: لِلْحَنَفِيَّةِ، وَهُوَ أَنَّ الشَّرْطَ فَاسِدٌ وَالْعَقْدَ صَحِيحٌ. إِذِ الْقَاعِدَةُ عِنْدَ الْحَنَفِيَّةِ أَنَّ النِّكَاحَ لاَ يَبْطُل بِالشَّرْطِ الْفَاسِدِ، وَإِنَّمَا يَبْطُل الشَّرْطُ دُونَهُ (٢) .

٥٣ – أَمَّا إِذَا شُرِطَ فِي عَقْدِ النِّكَاحِ عَدَمُ الْوَطْءِ، فَقَدِ اخْتَلَفَ الْفُقَهَاءُ فِي حُكْمِهِ عَلَى ثَلاَثَةِ أَقْوَالٍ:

أَحَدُهَا: لِلْحَنَفِيَّةِ وَالْحْنَابِلَةِ، وَهُوَ أَنَّهُ يَصِحُّ الْعَقْدُ وَيَلْغُو الشَّرْطُ. أَمَّا بُطْلاَنُ الشَّرْطِ، فَلأَِنَّهُ يُنَافِي مُقْتَضَى الْعَقْدِ، وَيَتَضَمَّنُ إِسْقَاطَ حُقُوقٍ تَجِبُ بِالْعَقْدِ لَوْلاَ اشْتِرَاطُهُ، وَأَمَّا بَقَاءُ الْعَقْدِ عَلَى الصِّحَّةِ، فَلأَِنَّ هَذَا الشَّرْطَ يَعُودُ إِلَى مَعْنًى زَائِدٍ فِي الْعَقْدِ فَلاَ يُبْطِلُهُ؛ وَالْقَاعِدَةُ عِنْدَ الْحَنَفِيَّةِ أَنَّ النِّكَاحَ لاَ يَبْطُل بِالشَّرْطِ الْفَاسِدِ، وَإِنَّمَا يَبْطُل الشَّرْطُ دُونَهُ (١) . وَالثَّانِي: لِلْمَالِكِيَّةِ، وَهُوَ أَنَّ الشَّرْطَ فَاسِدٌ وَالْعَقْدَ فَاسِدٌ لِوُقُوعِهِ عَلَى الْوَجْهِ الْمَنْهِيِّ عَنْهُ شَرْعًا (٢) .ثُمَّ اخْتَلَفَ الْمَالِكِيَّةُ فِيمَا يَتَرَتَّبُ عَلَيْهِ بَعْدَ الْوُقُوعِ، فَقِيل: يُفْسَخُ النِّكَاحُ قَبْل الدُّخُول وَبَعْدَهُ. وَقِيل: يُفْسَخُ قَبْل الدُّخُولِ، وَيَثْبُتُ بَعْدَهُ، وَيَسْقُطُ الشَّرْطُ، وَهَذَا هُوَ الْمَشْهُورُ فِي الْمَذْهَبِ (٣) .
وَالثَّالِثُ: لِلشَّافِعِيَّةِ، وَهُوَ أَنَّهُ إِذَا نَكَحَهَا بِشَرْطِ أَنْ لاَ يَطَأَهَا، أَوْ لاَ يَطَأَهَا إِلاَّ نَهَارًا أَوْ إِلاَّ مَرَّةً مَثَلاً، بَطَل النِّكَاحُ إِنْ كَانَ الاِشْتِرَاطُ مِنْ جِهَتِهَا، لِمُنَافَاتِهِ مَقْصُودَ الْعَقْدِ، وَإِنْ وَقَعَ مِنْهُ لَمْ يَضُرَّ؛ لأَِنَّ الْوَطْءَ حَقٌّ لَهُ، فَلَهُ تَرْكُهُ، وَالتَّمْكِينُ حَقٌّ عَلَيْهَا، فَلَيْسَ لَهَا تَرْكُهُ (١) .

تحفة المحتاح حاشية شروانى .ص ٣٢٣٠-٣٢٣٣

(وَلَوْ شَرَطَ) فِي صُلْبِ الْعَقْدِ إذْ لَا عِبْرَةَ بِمَا يَقَعُ قَبْلَهُ أَوْ بَعْدَهُ وَلَوْ فِي مَجْلِسِهِ بِخِلَافِ الْبَيْعِ فِي الْأَخِيرَةِ لِأَنَّهُ لَمَّا دَخَلَهُ الْخِيَارُ كَانَ زَمَنُهُ بِمَثَابَةِ صُلْبِ عَقْدِهِ بِجَامِعِ عَدَمِ اللُّزُومِ وَلَا كَذَلِكَ هُنَا (خِيَارًا فِي النِّكَاحِ بَطَلَ النِّكَاحُ) لِمُنَافَاتِهِ لِوَضْعِ النِّكَاحِ مِنْ الدَّوَامِ وَاللُّزُومِ (أَوْ) شَرَطَ خِيَارًا (فِي الْمَهْرِ فَالْأَظْهَرُ صِحَّةُ النِّكَاحِ) لِأَنَّهُ لِاسْتِقْلَالِهِ لَا يُؤَثِّرُ فِيهِ فَسَادُ غَيْرِهِ (لَا الْمَهْرِ) لِأَنَّ الصَّدَاقَ لَمْ يَتَمَحَّضْ لِلْعِوَضِيَّةِ بَلْ فِيهِ شَائِبَةُ النِّحْلَةِ فَلَمْ يَلْقَ بِهِ الْخِيَارَ لِأَنَّهُ إنَّمَا يَكُونُ فِي الْمُعَاوَضَةِ الْمَحْضَةِ فَيَجِبُ مَهْرُ الْمِثْلِ.
(وَسَائِرُ الشُّرُوط) أَيْ بَاقِيهَا (إنْ وَافَقَ مُقْتَضَى النِّكَاحِ) كَشَرْطِ الْقَسْمِ وَالنَّفَقَةِ (أَوْ لَمْ يَتَعَلَّقْ بِهِ غَرَضٌ) كَأَنْ لَا تَأْكُلَ إلَّا كَذَا (لَغَا) الشَّرْطُ أَيْ لَمْ يُؤَثِّرْ فِي صِحَّةِ النِّكَاحِ وَالْمَهْرِ لَكِنَّهُ فِي الْأَوَّلِ مُؤَكِّدٌ لِمُقْتَضَى الْعَقْدِ فَلَيْسَ الْمُرَادُ بِالْإِلْغَاءِ فِيهِ بُطْلَانَهُ بِخِلَافِ الثَّانِي وَمَا أَوْهَمَهُ كَلَامُ شَارِحٍ مِنْ اسْتِوَائِهِمَا فِي الْبُطْلَانِ وَكَلَامُ آخَرَ مِنْ اسْتِوَائِهِمَا فِي عَدَمِهِ غَيْرُ صَحِيحٍ (وَصَحَّ النِّكَاحُ وَالْمَهْرُ) كَالْبَيْعِ (وَإِنْ خَالَفَ) مُقْتَضَاهُ (وَلَمْ يُخِلَّ بِمَقْصُودِهِ الْأَصْلِيِّ) وَهُوَ الِاسْتِمْتَاعُ

[حاشية الشرواني]
لَهَا) مُتَعَلِّقٌ بِقَوْلِهِ أَنْ يُعْطِيَهُ أَيْ لِأَجْلِ الزَّوْجَةِ لِأَجْلِ أَبِيهَا (قَوْلُهُ غَيْرُ صَحِيحٍ) خَبَرٌ وَزَعْمُ الصِّحَّةِ إلَخْ قَالَ الْكُرْدِيُّ وَحَاصِلُ زَعْمِ الصِّحَّةِ أَنَّهُ يَجُوزُ أَنْ يَكُونَ الْمَشْرُوطُ هُوَ الْإِعْطَاءُ حَالَ كَوْنِهِ مَضْمُونًا وَمَا عَلَى الْأَلْفِ الْأَوَّلِ فَيُشْعِرُ بِأَنَّ الصَّدَاقَ أَلْفَانِ وَالزَّوْجُ نَائِبٌ عَنْهَا فِي دَفْعِ أَحَدِ الْأَلْفَيْنِ إلَى الْأَبِ نَائِبٌ عَنْهَا فِي الْقَبْضِ اهـ وَلَا يَخْفَى مَا فِيهِ مِنْ التَّكَلُّفِ (قَوْلُهُ مَا ذَكَرْنَاهُ) أَرَادَ بِهِ قَوْلَهُ أَنَّ الْإِعْطَاءَ يَقْتَضِي الِاسْتِحْقَاقَ وَالتَّمْلِيكَ كَاللَّامِ اهـ كُرْدِيٌّ (قَوْلُهُ لِإِرَادَةِ خِلَافِهِ) وَهُوَ الْإِعْطَاءُ لِلْأَبِ لِأَجْلِ بِنْتَهُ (قَوْلُهُ إرَادَتُهُمَا) أَيْ الْعَاقِدَيْنِ لَهُ أَيْ خِلَافُ مَا ذَكَرَهُ.
(قَوْلُهُ لِأَنَّهُ شَرْطٌ عَلَى الزَّوْجِ إلَخْ) يُؤْخَذُ مِنْهُ أَنَّ مَحَلَّ مَا ذُكِرَ إذَا لَمْ تَكُنْ الزَّوْجَةُ مَحْجُورَةً لِلْأَبِ وَإِلَّا فَقَدْ وُجِدَ شَرْطُ التَّسْلِيمِ لِمُسْتَحِقِّهِ اهـ سَيِّدُ عُمَرَ (قَوْلُهُ فِيهِمَا) أَيْ فِي صُورَتَيْ الْمَتْنِ (قَوْلُهُ وَإِلَّا) أَيْ بِأَنْ كَانَتْ مِنْ الْمَهْرِ (قَوْلُهُ فِي مُقَابَلَةِ إلَخْ) مُتَعَلِّقٌ بِالْتَزَمَهُ وَقَوْلُهُ لِغَيْرِ الزَّوْجَةِ مُتَعَلِّقٌ بِجَعْلِ إلَخْ (قَوْلُهُ وَمِنْهُ يُؤْخَذُ) أَيْ مِنْ التَّعْلِيلِ (قَوْلُهُ صَحَّ بِالْأَلْفَيْنِ) مُعْتَمَدٌ اهـ ع ش (قَوْلُهُ فَهُوَ وَعْدٌ مِنْهَا إلَخْ) لَعَلَّهُ بِالنَّظَرِ لِمُوَافَقَتِهَا إيَّاهُ وَإِلَّا فَهِيَ لَا يُتَصَوَّرُ مِنْهَا وَعْدٌ فِي صُلْبِ الْعَقْدِ الَّذِي الْكَلَامُ فِيهِ اهـ ع ش (قَوْلُهُ كَذَا قَالَهُ غَيْرُ وَاحِدٍ) مِنْهُمْ صَاحِبُ الْمُغْنِي وَقَوْلُهُ لِأَنَّهُ شَرْطُ عَقْدٍ إلَخْ قَدْ يُوَجَّهُ كَلَامُهُمْ بِأَنَّهُ فِي الصُّورَةِ السَّابِقَةِ وُجِدَ الْعَقْدُ الْمَشْرُوطُ بِوُجُوبِ الْإِيجَابِ مِنْ الْأَبِ وَالْقَبُولِ مِنْ الزَّوْجِ بِخِلَافِ مَا هُنَا فَإِنَّهُ لَمْ يُوجَدْ إلَّا أَحَدُ الطَّرَفَيْنِ وَهُوَ الْإِيجَابُ فَقَطْ فَلْيُتَأَمَّلْ ثُمَّ قَوْلُهُ وَأَيُّ فَرْقٍ إلَخْ قَدْ يُقَالُ الْفَرْقُ أَنَّ النَّفَقَةَ مِنْ مُقْتَضَى الْعَقْدِ بِخِلَافِ عَدَمِ إعْطَاءِ أَبِيهَا فَإِنَّهُ لَيْسَ مِنْ مُقْتَضَاهُ اهـ سَيِّدُ عُمَرَ (قَوْلُهُ وَفِيهِ نَظَرٌ إلَخْ) لَيْسَ فِيهِ مَا يَقْتَضِي اعْتِمَادَ مُقْتَضَى النَّظَرِ فَإِنَّ مُجَرَّدَ التَّوَقُّفِ فِي الْحُكْمِ لَا يُبْطِلُهُ وَإِنَّمَا يَقْتَضِي مُخَالَفَةَ الْأَوَّلِ لَوْ ذَكَرَ أَنَّ الثَّانِيَ هُوَ الْأَوْجَهُ أَوْ نَحْوُهُ وَمَعَ ذَلِكَ مُقْتَضَى النَّظَرِ هُوَ الْمُعْتَمَدُ اهـ ع ش (قَوْلُهُ بَلْ هُوَ) أَيْ الْوَعْدُ أَوْ شَرْطُ الْإِعْطَاءِ (قَوْلُهُ وَعَدَمُ نَفَقَتِهَا إلَخْ) أَيْ الْآتِي آنِفًا فِي الْمَتْنِ (قَوْلُهُ الْوَاجِبَةِ لَهَا) أَيْ عَلَى الزَّوْجِ (قَوْلُ الْمَتْنِ وَلَوْ شَرَطَ خِيَارًا فِي النِّكَاحِ إلَخْ) شَمِلَ ذَلِكَ مَا لَوْ شَرَطَهُ عَلَى تَقْدِيرِ عَيْبٍ مُثْبِتٍ لِلْخِيَارِ وَهُوَ الْأَوْجَهُ خِلَافًا لِلزَّرْكَشِيِّ اهـ نِهَايَةٌ عِبَارَةُ الْمُغْنِي وَهُوَ أَيْ مَا قَالَهُ الزَّرْكَشِيُّ مِنْ الصِّحَّةِ إذَا شَرَطَ ذَلِكَ عَلَى تَقْدِيرِ عَيْبٍ مُثْبِتٍ لِلْخِيَارِ مُخَالِفٍ لِإِطْلَاقِ كَلَامِ الْأَصْحَابِ اهـ قَالَ ع ش قَالَ فِي شَرْحِ الْإِرْشَادِ وَلَا يَضُرُّ شَرْطُ الْخِيَارِ عَلَى تَقْدِيرِ وُجُودِ عَيْبٍ كَمَا بَحَثَ لِأَنَّهُ تَصْرِيحٌ بِمُقْتَضَى الْعَقْدِ وَقِيَاسُهُ أَنَّهُ لَا يَضُرُّ شَرْطُ طَلَاقٍ عَلَى تَقْدِيرِ الْإِيلَاءِ أَوْ تَحْرِيمٍ عَلَى تَقْدِيرِ وَطْءِ الشُّبْهَةِ انْتَهَى وَلَا مَحِيصَ عَنْ ذَلِكَ لِلْمُتَأَمِّلِ وَإِنْ خَالَفَهُ م ر سم عَلَى حَجّ وَالْأَقْرَبُ مَا قَالَهُ سم وَهُوَ الْحَقُّ الَّذِي لَا مَحِيصَ عَنْهُ بَلْ مَأْخُوذٌ مِنْ عُمُومِ قَوْلِ الْمُصَنِّفِ وَسَائِرِ الشُّرُوطِ إلَخْ اهـ.
(قَوْلُهُ فِي الْأَخِيرَةِ) أَيْ بَعْدَ الْعَقْدِ فِي مَجْلِسِهِ (قَوْلُهُ لِمُنَافَاتِهِ) إلَى قَوْلِهِ لَكِنَّهُ فِي الْأَوَّلِ فِي الْمُغْنِي وَإِلَى التَّنْبِيهِ فِي النِّهَايَةِ (قَوْلُ الْمَتْنِ أَوْ فِي الْمَهْرِ) أَيْ كَأَنْ قَالَ زَوَّجْتُكهَا بِكَذَا عَلَى أَنَّ لَك أَوْ لِي الْخِيَارُ فِي الْمَهْرِ فَإِنْ شِئْت أَوْ شِئْت أَبْقَيْت الْعَقْدَ بِهِ وَإِلَّا فُسِخَ الصَّدَاقُ وَرَجَعَ لِمَهْرِ الْمِثْلِ مَثَلًا اهـ ع ش (قَوْلُهُ بَلْ فِيهِ شَائِبَةُ النِّحْلَةِ) لِأَنَّهَا تَسْتَمْتِعُ بِهِ كَمَا يَسْتَمْتِعُ بِهَا فَكَانَ الِاسْتِمْتَاعُ فِي مُقَابَلَةِ الِاسْتِمْتَاعِ وَالْمَهْرُ نِحْلَةٌ وَهِبَةٌ شَوْبَرِيُّ وَمُغْنِي (قَوْلُهُ فَيَجِبُ مَهْرُ الْمِثْلِ) تَفْرِيعٌ عَلَى الْمَتْنِ (قَوْلُهُ فِي الْأَوَّلِ) أَيْ فِي قَوْلِهِ إنْ وَافَقَ مُقْتَضَى النِّكَاحِ وَقَوْلُهُ لِمُقْتَضَى الْعَقْدِ أَيْ صِحَّةِ الْعَمَلِ بِمُقْتَضَاهُ اهـ ع ش.
(قَوْلُ الْمَتْنِ وَإِنْ خَالَفَ) يَحْتَمِلُ أَنَّ مَعْنَاهُ إنْ كَانَ بِخِلَافِ مَا ذُكِرَ أَيْ نَقِيضًا لَهُ فَيَصِيرُ مَعْنَاهُ إنْ لَمْ يَكُنْ مُوَافِقًا لِمُقْتَضَى الْحَالِ إلَخْ وَحِينَئِذٍ سَقَطَ الْإِشْكَالُ الْآتِي فِي التَّنْبِيهِ اهـ سَيِّدُ عُمَرَ وَلَا
ــ
[حاشية ابن قاسم العبادي]
(قَوْلُهُ فِي مُقَابَلَةِ) مُتَعَلِّقٌ بِجَعْلِ

. (قَوْلُهُ أَوْ شَرَطَ خِيَارًا فِي الْمَهْرِ) قَالَ فِي شَرْحِ الْإِرْشَادِ وَلَا يَضُرُّ شَرْطُ الْخِيَارِ عَلَى تَقْدِيرِ وُجُودِ عَيْبٍ كَمَا بُحِثَ لِأَنَّهُ تَصْرِيحٌ بِمُقْتَضَى الْعَقْدِ وَقِيَاسُهُ أَنَّهُ لَا يَضُرُّ شَرْطُ طَلَاقٍ عَلَى تَقْدِيرِ الْإِيلَاءِ أَوْ تَحْرِيمٍ عَلَى تَقْدِيرِ وَطْءِ الشُّبْهَةِ اهـ وَلَا مَحِيصَ عَنْ ذَلِكَ لِلْمُتَأَمِّلِ وَإِنْ خَالَفَهُ م ر.
سَوَاءٌ أَكَانَ لَهَا (كَشَرْطِ أَنْ لَا يَتَزَوَّجَ عَلَيْهَا أَوْ) عَلَيْهَا كَشَرْطِ أَنْ (لَا نَفَقَةَ لَهَا صَحَّ النِّكَاحُ) لِأَنَّهُ إذَا لَمْ يَفْسُدْ بِفَسَادِ الْعِوَضِ فَلَأَنْ لَا يَفْسُدَ بِفَسَادِ الشَّرْطِ الْمَذْكُورِ أَوْلَى (تَنْبِيهٌ) قَدْ يَسْتَشْكِلُ كَوْنُ التَّزَوُّجِ عَلَيْهَا مِنْ مُقْتَضَى النِّكَاحِ بِأَنَّ الْمُتَبَادَرَ أَنَّهُ لَا يَقْتَضِي مَنْعَهُ وَلَا عَدَمَهُ وَيُجَابُ بِمَنْعِ ذَلِكَ وَادِّعَاءِ أَنَّ النِّكَاحَ مَا دُونَ الرَّابِعَةِ مُقْتَضٍ لِحِلِّهَا بِمَعْنَى أَنَّ الشَّارِعَ جَعَلَهُ عَلَامَةً عَلَيْهِ.
(وَفَسَدَ الشَّرْطُ) لِأَنَّهُ مُخَالِفٌ لِلشَّرْعِ وَصَحَّ خَبَرُ «كُلُّ شَرْطٍ لَيْسَ فِي كِتَابِ اللَّهِ تَعَالَى فَهُوَ بَاطِلٌ» (وَالْمَهْرُ) إذْ لَمْ يَرْضَ شَارِطُ ذَلِكَ بِالْمُسَمَّى إلَّا عِنْدَ سَلَامَةِ شَرْطِهِ فَيَجِبُ مَهْرُ الْمِثْلِ (وَإِنْ أَخَلَّ) الشَّرْطُ بِمَقْصُودِ النِّكَاحِ الْأَصْلِيِّ (ك) شَرْطِ وَلِيِّ الزَّوْجَةِ عَلَى الزَّوْجِ (أَنْ لَا يَطَأَهَا) مُطْلَقًا أَوْ فِي نَحْوِ نَهَارٍ وَهِيَ مُحْتَمِلَةٌ لَهُ أَوْ أَنْ لَا يَسْتَمْتِعَ بِهَا (أَوْ) شَرَطَ الْوَلِيُّ أَوْ الزَّوْجُ أَنْ (يُطَلِّقَهَا) بَعْدَ زَمَنٍ مُعَيَّنٍ أَوْ لَا (بَطَلَ النِّكَاحُ) لِلْإِخْلَالِ الْمَذْكُورِ

[حاشية الشرواني]
يَخْفَى بُعْدُ ذَلِكَ الِاحْتِمَالِ بَلْ مُقَابَلَةُ قَوْلِ الْمَتْنِ وَإِنْ خَالَفَ لِقَوْلِهِ إنْ وَافَقَ مُقْتَضَى النِّكَاحِ كَالصَّرِيحِ فِيمَا سَلَكَهُ الشَّارِحُ كَالنِّهَايَةِ وَالْمُغْنِي وَالْمُحَلَّى مِنْ تَقْدِيرِ مُقْتَضَاهُ (قَوْلُهُ سَوَاءٌ أَكَانَ) أَيْ الشَّرْطُ الْمَخَالِفُ الْمُخِلُّ (قَوْلَ الْمَتْنِ أَوْ لَا نَفَقَةَ لَهَا) أَيْ عَلَى الزَّوْجِ اهـ ع ش عِبَارَةُ عُمَيْرَةَ قَوْلُهُ أَوْ لَا نَفَقَةَ لَهَا مِثْلُهُ فِيمَا يَظْهَرُ مَا لَوْ قَالَ لَا نَفَقَةَ لَهَا عَلَيَّ بَلْ عَلَى فُلَانٍ اهـ وِفَاقًا لِلشَّارِحِ وَخِلَافًا لِلنِّهَايَةِ وَالْمُغْنِي كَمَا يَأْتِي (قَوْلُهُ فَلَأَنْ لَا يَفْسُدُ إلَخْ) بِفَتْحِ اللَّامِ الْمُؤَكِّدَةِ اهـ ع ش (قَوْلُهُ مُقْتَضِيًا) كَذَا بِالنَّصْبِ فِيمَا اطَّلَعْنَاهُ مِنْ النُّسَخِ وَفِي هَامِشِ نُسْخَةٍ قَدِيمَةٍ مُصَحَّحَةٍ عَلَى أَصْلِ الشَّارِحِ بِلَا عَزْوِ قَوْلِهِ مُقْتَضِيًا كَذَا بِالنَّصْبِ فِي أَصْلِ الشَّارِحِ – رَحِمَهُ اللَّهُ تَعَالَى – اهـ وَلَعَلَّهُ مِنْ تَحْرِيفِ النَّاسِخِ وَلِذَا كَتَبَهُ ع ش فِيمَا نَقَلَ هَذَا التَّنْبِيهَ عَنْ الشَّارِحِ بِالرَّفْعِ (قَوْلُهُ مُقْتَضٍ لِحِلِّهَا) قَضِيَّتُهُ أَنَّ الْمُرَادَ التَّزَوُّجُ عَلَيْهَا حَلَّ ذَلِكَ فَيَكُونُ مُرَادُ الْمَتْنِ كَشَرْطِ أَنْ لَا يَحِلَّ التَّزَوُّجُ عَلَيْهَا وَفِيهِ نَظَرٌ اهـ سم وَقَدْ يُجَابُ بِأَنَّ الْمُرَادَ بِالْحِلِّ عَدَمُ الِامْتِنَاعِ فَيَكُونُ مَعْنَى الْمَتْنِ كَشَرْطِ الِامْتِنَاعِ مِنْ التَّزَوُّجِ عَلَيْهَا وَلَا مَحْذُورَ فِيهِ.
(قَوْلُهُ بِمَعْنَى أَنَّ الشَّارِعَ جَعَلَهُ إلَخْ) قَدْ يُوَضَّحُ بِأَنَّ نِكَاحَ الْوَاحِدَةِ مَثَلًا لَمَّا كَانَتْ مَظِنَّةَ الْحَجْرِ وَمَنَعَ غَيْرَهَا أَثْبَتَ الشَّارِعُ حِلَّ غَيْرِهَا بَعْدَ نِكَاحِهَا دَفْعًا لِتَوَهُّمِ عُمُومِ تِلْكَ الْمَظِنَّةِ لِمَنْعِ غَيْرِهَا فَصَارَ نِكَاحُ غَيْرِهَا مِنْ آثَارِ نِكَاحِهَا وَتَابِعًا لَهُ فِي الثُّبُوتِ فَلْيُتَأَمَّلْ فِيهِ سم عَلَى حَجّ اهـ ع ش (قَوْلُهُ لِأَنَّهُ مُخَالِفٌ) إلَى التَّنْبِيهِ فِي النِّهَايَةِ إلَّا قَوْلَهُ أَيْ حَتَّى إلَى وَلَا مُوَافَقَتهَا وَكَذَا فِي الْمُغْنِي إلَّا قَوْلَهُ وَلَا تَكْرَارَ إلَى أَمَّا إذَا إلَخْ فَإِنَّهُ قَالَ بِالتَّكْرَارِ (قَوْلُهُ لَيْسَ فِي كِتَابِ اللَّهِ) أَيْ بِأَنْ لَمْ يُوَافِقْ قَوَاعِدَ الشَّرْعِ بِخِلَافِ مَا وَافَقَهَا وَإِنْ ثَبَتَ بِغَيْرِ الْقُرْآنِ اهـ ع ش (قَوْلُهُ إذْ لَمْ يَرْضَ شَارِطُ إلَخْ) عِبَارَةُ الْمُغْنِي لِأَنَّ الشَّرْطَ إنْ كَانَ لَهَا فَلَمْ تَرْضَ بِالْمُسَمَّى وَحْدَهُ وَإِنْ كَانَ عَلَيْهَا فَلَمْ يَرْضَ الزَّوْجُ بِبَذْلِ الْمُسَمَّى إلَّا عِنْدَ سَلَامَةِ مَا شَرَطَهُ وَلَيْسَ لَهُ قِيمَتُهُ فَوَجَبَ الرُّجُوعُ إلَى مَهْرِ الْمِثْلِ اهـ.
(قَوْلُهُ إلَّا عِنْدَ سَلَامَةِ شَرْطِهِ) أَيْ وَلَمْ يَسْلَمْ نِهَايَةٌ (قَوْلُهُ كَشَرْطِ وَلِيِّ الزَّوْجَةِ إلَخْ) ظَاهِرُهُ وَلَوْ كَانَ الزَّوْجُ غَيْرَ مُتَهَيِّئٍ لِصِغَرٍ أَوْ نَحْوِهِ وَفِيهِ نَظَرٌ بَلْ الْأَقْرَبُ الصِّحَّةُ فِيهِ مَا دَامَ الزَّوْجُ غَيْرَ مُتَهَيِّئٍ لِلْوَطْءِ لِأَنَّهُ مُوَافِقٌ لِمُقْتَضَى النِّكَاحِ اهـ ع ش وَقَوْلُهُ مَا دَامَ الزَّوْجُ إلَخْ أَيْ إنْ أَرَادَ مَا دَامَ إلَخْ (قَوْلُهُ وَهِيَ مُحْتَمِلَةٌ لَهُ) سَيُذْكَرُ مُحْتَرَزُهُ (قَوْلُهُ أَوْ أَنْ لَا يَسْتَمْتِعَ إلَخْ) أَيْ وَلَوْ بِغَيْرِ الْوَطْءِ فَهُوَ مِنْ عَطْفِ الْعَامِّ عَلَى الْخَاصِّ.(قَوْلُ الْمَتْنِ أَوْ يُطَلِّقَهَا) أَيْ بِخِلَافِ شَرْطِ أَنْ لَا يُطَلِّقَهَا أَوْ لَا يُخَالِعَهَا فَلَا يُؤَثِّرُ كَمَا هُوَ ظَاهِرٌ لَكِنْ يَبْقَى الْكَلَامُ فِي أَنَّهُ مِنْ الْمُوَافِقِ لِمُقْتَضَى الْعَقْدِ أَوْ مِنْ الْمُخَالِفِ الْغَيْرِ الْمُخِلِّ سم عَلَى حَجّ وَالظَّاهِرُ الثَّانِي فَيَفْسُدُ الشَّرْطُ وَيَجِبُ مَهْرُ الْمِثْلِ اهـ ع ش (قَوْلُهُ مُعَيَّنٍ إلَخْ) الْأَوْلَى عَيْنٍ

[حاشية ابن قاسم العبادي]
(قَوْلُهُ فِي الْمَتْنِ أَوْ لَا نَفَقَةَ لَهَا) إنْ قِيلَ بِمَا يُفَارِقُ ذَلِكَ مَسْأَلَةُ الْإِرْثِ الْآتِيَةُ عَلَى قَوْلِ الْحَنَّاطِيِّ قُلْت الْإِرْثُ أَلْزَمُ لِلنِّكَاحِ بِدَلِيلِ ثُبُوتِهِ بِمُجَرَّدِ الْعَقْدِ الصَّحِيحِ بِخِلَافِ النَّفَقَةِ وَقَدْ يُعَارَضُ بِأَنَّ النَّفَقَةَ تَجِبُ مَعَ رِقِّهَا وَكُفْرِهَا دُونَ الْإِرْثِ اهـ.
(قَوْلُهُ مُقْتَضٍ لِحِلِّهَا) قَضِيَّتُهُ أَنَّ الْمُرَادَ بِالتَّزَوُّجِ عَلَيْهَا حِلُّ ذَلِكَ فَيَكُونُ مُرَادُ الْمَتْنِ كَشَرْطِ أَنْ لَا يَحِلَّ التَّزَوُّجُ عَلَيْهَا وَفِيهِ نَظَرٌ (قَوْلُهُ مُقْتَضٍ لِحِلِّهَا) لَا يُقَالُ حِلُّهَا قَبْلَ النِّكَاحِ مُطْلَقًا فَكَيْفَ يَكُونُ مُقْتَضِيًا لِلنِّكَاحِ بِمَعْنَى ثُبُوتِهِ وَتَبَعِيَّتِهِ لَهُ فِي الثُّبُوتِ لِأَنَّ التَّزَوُّجَ مَظِنَّةُ الْحَجْرِ عَلَى الزَّوْجِ وَلِهَذَا كَانَ تَزَوُّجُ الْوَاحِدَةِ مَانِعًا فِي شَرِيعَةِ عِيسَى – عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ – مِنْ تَزَوُّجِ مَا زَادَ عَلَيْهَا فَلَمَّا أَثْبَتَ الشَّارِعُ مَا زَادَ عَلَى الْوَاحِدَةِ بَعْدَ نِكَاحِهَا كَانَ الْحِلُّ وَعَدَمُ الْمَنْعِ مِمَّا زَادَ عَلَيْهَا مِنْ تَوَابِعِ نِكَاحِهَا وَالْأَحْكَامُ الثَّابِتَةُ بَعْدَهُ وَثُبُوتُ ذَلِكَ قَبْلَ النِّكَاحِ لَا يُنَافِي مَا ذُكِرَ أَلَا تَرَى أَنَّ السِّوَاكَ يُطْلَبُ فِي الْوُضُوءِ لِأَجْلِهِ مَعَ أَنَّهُ مَطْلُوبٌ قَبْلَ الْوُضُوءِ وَفِي كُلِّ حَالٍ فَطَلَبُهُ فِي كُلِّ حَالٍ لَا يُنَافِي أَنَّهُ مَطْلُوبٌ لِخُصُوصِ الْوُضُوءِ فَكَذَا ثُبُوتُ حِلِّ مَا زَادَ عَلَى الْوَاحِدِ قَبْلَ نِكَاحِهَا لَا يُنَافِي ثُبُوتَهُ تَبَعًا لِنِكَاحِهَا الَّذِي هُوَ مَظِنَّةُ الْحَجْرِ (قَوْلُهُ بِمَعْنَى أَنَّ الشَّارِعَ جَعَلَهُ عَلَامَةً عَلَيْهِ) قَدْ يَمْنَعُ بِأَنَّ الْعَلَامَةَ عَدَمُ تَزَوُّجِ الْأَرْبَعِ الصَّادِقِ بِعَدَمِ التَّزَوُّجِ رَأْسًا لَا خُصُوصُ تَزَوُّجِ الدُّونِ (قَوْلُهُ بِمَعْنَى أَنَّ الشَّارِعَ إلَخْ) قَدْ يُوَضَّحُ بِأَنَّ نِكَاحَ الْوَاحِدَةِ مَثَلًا لَمَّا كَانَ مَظِنَّةَ الْحَجْرِ وَمَنَعَ غَيْرَهَا أَثْبَتَ الشَّارِعُ غَيْرَهَا بَعْدَ نِكَاحِهَا دَفْعًا لِتَوَهُّمِ عُمُومِ تِلْكَ الْمَظِنَّةِ لِمَنْعِ غَيْرِهَا فَصَارَ نِكَاحُ غَيْرِهَا مِنْ آثَارِ نِكَاحِهَا وَتَابِعًا لَهُ فِي الثُّبُوتِ فَلْيُتَأَمَّلْ فِيهِ (قَوْلُهُ فِي الْمَتْنِ أَوْ يُطَلِّقُهَا) أَيْ بِخِلَافِ شَرْطِ أَنْ لَا يُطَلِّقَهَا أَوْ لَا يُخَالِعَهَا فَلَا يُؤَثِّرُ كَمَا هُوَ ظَاهِرٌ لَكِنْ يَبْقَى الْكَلَامُ فِي أَنَّهُ مِنْ الْمُوَافِقِ لِمُقْتَضَى الْعَقْدِ أَوْ مِنْ الْمُخَالِفِ غَيْرِ الْمُخِلِّ وَالظَّاهِرُ هُوَ الثَّانِي فَيَفْسُدُ الشَّرْطُ وَيَجِبُ مَهْرُ الْمِثْلِ وَلَا تَكْرَارَ فِي الْأَخِيرَةِ مَعَ مَا مَرَّ فِي التَّحْلِيلِ كَمَا يُعْلَمُ بِتَأَمُّلِهِمَا خِلَافًا لِمَنْ زَعَمَهُ أَمَّا إذَا كَانَ الشَّارِطُ لِعَدَمِ الْوَطْءِ هُوَ الزَّوْجَ فَلَا بُطْلَانَ كَمَا فِي الرَّوْضَةِ وَغَيْرِهَا لِأَنَّهُ حَقُّهُ فَلَهُ تَرْكُهُ وَلَمْ تُنَزَّلْ مُوَافَقَتُهُ فِي الْأَوَّلِ مَنْزِلَةَ شَرْطِهِ حَتَّى يَصِحَّ أَيْ حَتَّى يُعَارِضَ شَرْطَهَا وَيَمْنَعَ تَأْثِيرَهُ فَانْدَفَعَ مَا يُقَالُ شَرْطُهُ فَلَا يُتَخَيَّلُ هَذَا التَّنْزِيلُ حَتَّى يَحْتَاجَ لِدَفْعِهِ وَلَا مُوَافَقَتُهَا فِي الثَّانِي مَنْزِلَةَ شَرْطِهَا حَتَّى يَبْطُلَ تَغْلِيبًا لِجَانِبِ الْمُبْتَدِئِ لِقُوَّةِ الِابْتِدَاءِ فَأُنِيطَ الْحُكْمُ بِهِ دُونَ الْمُسَاعِدِ لَهُ عَلَى شَرْطِهِ دَفْعًا لِلتَّعَارُضِ وَأَمَّا إذَا لَمْ تَحْتَمِلْهُ فَشَرَطَتْ عَدَمَهُ مُطْلَقًا إنْ أَيِسَ مِنْ احْتِمَالِهَا لَهُ كَرَتْقَاءَ لَا مُتَحَيِّرَةٍ لِاحْتِمَالِ الشِّفَاءِ أَوْ إلَى زَمَنِ احْتِمَالِهِ أَوْ شِفَاءِ الْمُتَحَيِّرَةِ فَلَا يَضُرُّ لِأَنَّهُ تَصْرِيحٌ بِمُقْتَضَى الشَّرْعِ.
(تَنْبِيهٌ) نَقَلَ الشَّيْخَانِ عَلَى الْحَنَّاطِيِّ أَنَّ مِنْ هَذَا الْقِسْمِ مَا لَوْ شَرَطَ أَنْ لَا تَرِثَهُ أَوْ أَنْ يَرِثَهَا أَوْ أَنْ يُنْفِقَ عَلَيْهَا غَيْرُهُ ثُمَّ قَالَا وَفِي قَوْلٍ يَصِحُّ وَيَبْطُلُ الشَّرْطُ قَالَ جَمْعٌ مُتَأَخِّرُونَ وَهَذَا هُوَ الْأَصَحُّ لِأَنَّ الشَّرْطَ الْمَذْكُورَ لَا يُخِلُّ بِمَقْصُودِ الْعَقْدِ أَيْ وَهُوَ الِاسْتِمْتَاعُ وَأَقُولُ إنَّمَا سَكَتَا عَلَيْهِ لِأَنَّ ضَعْفَهُ مَعْلُومٌ مِنْ قَوْلِهِمَا كَالْأَصْحَابِ بِالصِّحَّةِ فِي شَرْطِ أَنْ لَا نَفَقَةَ لَهَا إذْ كَيْفَ يُتَعَقَّلُ فَرْقٌ بَيْنَ شَرْطِ عَدَمِ النَّفَقَةِ مِنْ أَصْلِهَا وَشَرْطِ كَوْنِهَا عَلَى الْغَيْرِ وَمَا يَتَعَقَّلُ مِنْ فَرْقٍ بَيْنَ ذَلِكَ خَيَالٌ لَا أَثَرَ لَهُ فَإِنْ قُلْت أَعْظَمُ غَايَةً لِلنِّكَاحِ الْإِرْثُ فَنَفْيُهُ مُسَاوٍ لِنَفْيِ نَحْوِ الْوَطْءِ قُلْت مَمْنُوعٌ إذْ لَا يَلْزَمُ مِنْ النِّكَاحِ الْإِرْثُ إذْ قَدْ يَمْنَعُهُ نَحْوُ رِقٍّ أَوْ كُفْرٍ بِخِلَافِ الْوَطْءِ فَإِنَّهُ لَازِمٌ
[حاشية الشرواني]
قَوْلُهُ وَلَا تَكْرَارَ فِي الْأَخِيرَةِ) أَيْ مَسْأَلَةِ شَرْطِ الطَّلَاقِ مَعَ مَا مَرَّ إلَخْ أَيْ لِأَنَّ مَا ذَكَرَهُ هُنَا وَقَعَ عَلَى سَبِيلِ التَّمْثِيلِ لِمَا يُخِلُّ بِمُقْتَضَى النِّكَاحِ وَمِثْلُهُ لَا يُعَدُّ تَكْرَارًا لِأَنَّهُ لَيْسَ مَقْصُودًا بِالذَّاتِ اهـ ع ش وَأَيْضًا أَنَّ مَا هُنَا يُفِيدُ الْعُمُومَ بِغَيْرِ الْمُحَلَّلِ بِخِلَافِ مَا مَرَّ وَقَالَ عُمَيْرَةُ لِأَنَّ السَّابِقَ شَرْطُ طَلَاقٍ بَعْدَ الْوَطْءِ وَمَا هُنَا أَعَمُّ مِنْ ذَلِكَ اهـ.
(قَوْلُهُ كَمَا فِي الرَّوْضَةِ) وَهُوَ الْمُعْتَمَدُ نِهَايَةٌ وَمُغْنِي (قَوْلُهُ مُوَافَقَتُهُ) أَيْ الزَّوْجِ لِوَلِيِّ الزَّوْجَةِ (قَوْلُهُ فِي الْأَوَّلِ) أَيْ فِيمَا إذَا كَانَ شَرْطُ عَدَمِ الْوَطْءِ مِنْ وَلِيِّ الزَّوْجَةِ (قَوْلُهُ حَتَّى يَصِحَّ) أَيْ النِّكَاحُ (قَوْلُهُ حَتَّى يُعَارِضَ) أَيْ شَرْطُهُ التَّنْزِيلِيَّ وَكَذَا ضَمِيرُ وَيَمْنَعُ إلَخْ وَقَوْلُهُ شَرْطَهَا أَيْ شَرْطَ وَلِيِّهَا كَمَا مَرَّ (قَوْلُهُ فَانْدَفَعَ إلَخْ) أَيْ بِقَوْلِهِ أَيْ حَتَّى إلَخْ (قَوْلُهُ شَرْطِهِ) أَيْ الزَّوْجِ عَدَمَ الْوَطْءِ (قَوْلُهُ فَلَا يُتَخَيَّلُ إلَخْ) تَفْرِيعٌ عَلَى نَفْيِ الِاقْتِضَاءِ وَقَوْلُهُ حَتَّى يَحْتَاجَ إلَخْ تَفْرِيعٌ عَلَى التَّخَيُّلِ (قَوْلُهُ وَلَا مُوَافَقَتَهَا) أَيْ وَلَمْ تَنْزِلْ مُوَافَقَةُ وَلِيِّهَا لِلزَّوْجِ كَمَا مَرَّ وَإِنَّمَا أَضَافَ الْمُوَافَقَةُ لَهَا نَظَرًا لِمُوَافَقَتِهَا لِلْوَلِيِّ وَإِلَّا فَلَا يُتَصَوَّرُ مِنْهَا مُوَافَقَةُ الزَّوْجِ فِي صُلْبِ الْعَقْدِ الَّذِي الْكَلَامُ فِيهِ كَمَا مَرَّ عَنْ الرَّشِيدِيِّ (قَوْلُهُ فِي الثَّانِي) أَيْ فِيمَا إذَا كَانَ شَرْطُ عَدَمِ الْوَطْءِ مِنْ الزَّوْجِ (قَوْلُهُ حَتَّى يَبْطُلَ) أَيْ النِّكَاحُ (قَوْلُهُ تَغْلِيبًا إلَخْ) عِلَّةٌ لِقَوْلَيْهِ وَلَمْ تَنْزِلْ مُوَافَقَتُهُ إلَخْ وَلَا مُوَافَقَتُهَا إلَخْ.
(قَوْلُهُ فَأُنِيطَ الْحُكْمُ) أَيْ الْبُطْلَانُ فِي الْأَوَّلِ وَالصِّحَّةُ فِي الثَّانِي بِهِ أَيْ بِالْمُبْتَدِئِ (قَوْلُهُ عَلَى شَرْطِهِ) أَيْ الْمُبْتَدِئِ (قَوْلُهُ دَفْعًا إلَخْ) عِلَّةٌ لِقَوْلِهِ فَأُنِيطَ الْحُكْمُ إلَخْ (قَوْلُهُ إنْ أَيِسَ إلَخْ) لَعَلَّ الْمُرَادَ بِحَسَبِ ظَاهِرِ الْحَالِ وَإِلَّا فَالْقَرْنَاءُ يُمْكِنُ زَوَالُ مَانِعِهَا اهـ ع ش (قَوْلُهُ أَوْ إلَى زَمَنِ إلَخْ) عَطْفٌ عَلَى مُطْلَقًا (قَوْلُهُ أَوْ شِفَاءِ الْمُتَحَيِّرَةِ إلَخْ) قَالَ الْأَذْرَعِيُّ وَلَوْ كَانَتْ مُتَحَيِّرَةً وَحَرَّمْنَا وَطْأَهَا وَشَرَطَتْ تَرْكَهُ اُحْتُمِلَ الْقَوْلُ بِفَسَادِ النِّكَاحِ لِتَوَقُّعِ شِفَائِهَا وَاحْتُمِلَ خِلَافُهُ أَيْ الْقَوْلِ بِالصِّحَّةِ لِأَنَّ الظَّاهِرَ أَنَّ الْعِلَّةَ الْمُزْمِنَةَ إذَا طَالَتْ دَامَتْ انْتَهَى وَهَذَا أَوْجَهُ نِهَايَةٌ وَمُغْنِي وَفِي سم عَنْ شَرْحِ الْإِرْشَادِ لِلشَّارِحِ مَا يُوَافِقُهُ قَالَ ع ش وَالرَّشِيدِيُّ قَوْلُهُ وَهَذَا أَوْجَهُ مَحَلُّهُ حَيْثُ أَطْلَقَ بِخِلَافِ مَا لَوْ شَرَطَ أَنْ لَا يَطَأَ وَإِنْ زَالَ الْمَانِعُ فَقِيَاسُ مَا يَأْتِي فِي الشَّارِحِ مِنْ الْبُطْلَانِ فِي شَرْحِ عَدَمِ إرْثِ الْكِتَابِيَّةِ بُطْلَانُهُ هُنَا اهـ.
(قَوْلُهُ نَقَلَ الشَّيْخَانِ إلَخْ) اعْتَمَدَهُ النِّهَايَةُ وَالْمُغْنِي خِلَافًا لِلشَّارِحِ كَمَا يَأْتِي (قَوْلُهُ أَنَّ مِنْ هَذَا الْقِسْمِ) أَيْ مِنْ الشَّرْطِ الْمُخِلِّ بِمَقْصُودِ النِّكَاحِ الْأَصْلِيِّ الْمُبْطِلِ لِلنِّكَاحِ (قَوْلُهُ مَا لَوْ شَرَطَ أَنْ لَا تَرِثَهُ إلَخْ) مَحَلُّ مَا تَقَرَّرَ فِي شَرْطِ نَفْيِ الْإِرْثِ كَمَا بَحَثَهُ فِي الْخَادِمِ فِي غَيْرِ الْكِتَابِيَّةِ وَالْأَمَةِ فَلَوْ تَزَوَّجَ كِتَابِيَّةً أَوْ أَمَةً عَلَى أَنْ لَا يَرِثَهَا فَإِنْ أَرَادَ مَا دَامَ الْمَانِعُ قَائِمًا صَحَّ النِّكَاحُ لِأَنَّهُ تَصْرِيحٌ بِمُقْتَضَى الْعَقْدِ وَإِنْ أَرَادَ مُطْلَقًا فَبَاطِلٌ لِمُخَالَفَتِهِ بِمُقْتَضَى الْعَقْدِ وَإِنْ أَطْلَقَ فَالْأَوْجَهُ الصِّحَّةُ لِأَنَّ الْأَصْلَ دَوَامُ الْمَانِعِ اهـ نِهَايَةٌ. (قَوْلُهُ أَوْ أَنْ لَا يَرِثَهَا إلَخْ) أَوْ أَنَّهُمَا لَا يَتَوَارَثَانِ اهـ مُغْنِي (قَوْلُهُ قَالَ جَمْعٌ إلَخْ) لَيْسَ مِنْ مَقُولِ الشَّيْخَيْنِ (قَوْلُهُ وَهَذَا) أَيْ الْقَوْلُ بِصِحَّةِ النِّكَاحِ وَبُطْلَانِ الشَّرْطِ (قَوْلُهُ وَهُوَ) أَيْ مَقْصُودُ الْعَقْدِ (قَوْلُهُ وَأَقُولُ إنَّمَا سَكَتَا إلَخْ) لَا يَخْفَى بُعْدُهُ عَنْ صَنِيعِ الشَّيْخَيْنِ (قَوْلُهُ عَلَيْهِ) أَيْ عَلَى مَا نَقَلَاهُ عَنْ الْحَنَّاطِيِّ (قَوْلُهُ وَمَا يَتَعَلَّقُ مِنْ فَرْقٍ إلَخْ) قَدْ فَرَّقَ بِأَنَّ شَرْطَ عَدَمِ النَّفَقَةِ أَهْوَنُ مِنْ شَرْطِهَا عَلَى الْأَجْنَبِيِّ فَإِنَّهُ عَهِدَ سُقُوطُ النَّفَقَةِ عَنْ الزَّوْجِ وَلَمْ يُعْهَدْ وُجُوبُهَا عَلَى الْأَجْنَبِيِّ وَأَمَّا نَحْوُ الْوَلَدِ فِي الْإِعْفَافِ فَهُوَ بِمَنْزِلَةِ الْوَالِدِ اهـ سم (قَوْلُهُ بِخِلَافِ الْوَطْءِ) قَدْ يُقَالُ كُلٌّ لَازِمٌ لِلذَّاتِ إلَّا لِعَارِضٍ إلَّا أَنْ يَدَّعِيَ أَنَّ مَانِعَ الْإِرْثِ
[حاشية ابن قاسم العبادي]
قَوْلُهُ مَعَ مَا مَرَّ فِي التَّحْلِيلِ) الَّذِي مَرَّ ثُمَّ أَنَّهُ إذَا نَكَحَ أَوْ أَنَّهُ إذَا وَطِئَ طَلَّقَ بَطَلَ (قَوْلُهُ أَوْ شِفَاءِ الْمُتَحَيِّرَةِ) فِي شَرْحِهِ لِلْإِرْشَادِ بِمَا تَقَرَّرَ يُعْلَمُ أَنَّ وَلِيَّ الْمُتَحَيِّرَةِ لَوْ شَرَطَ أَنَّهُ لَا يَطَؤُهَا فَأَرَادَ مُطْلَقًا بَطَلَ الْعَقْدُ أَوْ إلَى أَنْ يَزُولَ التَّحَيُّرُ فَلَا وَهَذَا أَوْجَهُ مِمَّا وَقَعَ لِلشَّارِحَيْنِ وَيَظْهَرُ أَنَّ الْإِطْلَاقَ هُنَا كَمَا لَوْ أَرَادَ إلَى زَوَالِ التَّحَيُّرِ لِأَنَّ الْأَصْلَ عَدَمُ الْفَسَادِ حَتَّى يَتَحَقَّقَ مُوجِبُهُ اهـ وَعَنْ الْأَذْرَعِيِّ لَوْ كَانَتْ مُتَحَيِّرَةً وَحَرَّمْنَا وَطْأَهَا وَشَرَطَتْ تَرْكَهُ احْتَمَلَ الْقَوْلُ بِفَسَادِ النِّكَاحِ لِتَوَقُّعِ شِفَائِهَا وَاحْتُمِلَ خِلَافُهُ لِأَنَّ الظَّاهِرَ أَنَّ الْعِلَّةَ الْمُزْمِنَةَ إذَا طَالَتْ دَامَتْ اهـ قَالَ م ر فِي شَرْحِهِ وَهَذَا أَوْجَهُ.
(قَوْلُهُ نَقَلَ الشَّيْخَانِ إلَخْ) اعْتَمَدَهُ م ر (قَوْلُهُ وَمَا يُتَعَقَّلُ مِنْ فَرْقٍ بَيْنَ ذَلِكَ خَيَالٌ لَا أَثَرَ لَهُ) قَدْ فَرَّقَ بِأَنَّ شَرْطَ عَدَمِ النَّفَقَةِ أَهْوَنُ مِنْ شَرْطِهَا عَلَى الْأَجْنَبِيِّ فَإِنَّهُ عُهِدَ سُقُوطُ النَّفَقَةِ عَنْ الزَّوْجِ وَلَمْ يُعْهَدْ وُجُوبُهَا عَلَى الْأَجْنَبِيِّ وَأَمَّا نَحْوُ الْوَلَدِ فِي الْإِعْفَافِ فَهُوَ بِمَنْزِلَةِ الْوَالِدِ عَلَى أَنَّهَا إنَّمَا لَزِمَتْ ذِمَّةَ الْوَالِدِ وَإِنْ وَجَبَ عَلَى الْوَلَدِ أَدَاؤُهَا عَنْهُ. (قَوْلُهُ بِخِلَافِ الْوَطْءِ فَإِنَّهُ لَازِمٌ إلَخْ) قَدْ يُقَالُ كُلٌّ لَازِمٌ لِلذَّاتِ لَا لِعَارِضٍ إلَّا أَنْ يَدَّعِيَ أَنَّ مَانِعَ الْإِرْثِ أَقْوَى لِذَاتِ النِّكَاحِ وَإِنْ مَنَعَ مِنْهُ نَحْوُ تَحَيُّرٍ عَلَى أَنَّهُ لَوْ نَظَرَ لِذَلِكَ كَانَ نَفْيُ النَّفَقَةِ كَذَلِكَ وَيُفَرَّقُ بَيْنَا نَحْوِ النَّفَقَةِ وَالْوَطْءِ بِأَنَّ الْمَقْصُودَ مِنْ شَرْعِ النِّكَاحِ التَّنَاسُلُ الْمُتَوَقِّفُ عَلَى الْوَطْءِ دُونَ نَحْوِ النَّفَقَةِ فَكَانَ قَصْدُهُ أَصْلِيًّا وَقَصْدُ غَيْرِهِ تَابِعًا. والله أعلم .

Kategori
Uncategorized

MASA IDDAHNYA PEREMPUAN YANG MENGALAMI KETENGGANGAN HAID

IDDAH BAGI PEREMPUAN YANG MENGALAMI KETENGGANGAN HAID

Assalamualaikum warahmatullahi wa barakaatuh..

Wanita yang sudah pernah bersuami dan juga pernah mengalami haid dan jima’ lalu terjadi ketenggangan dalam masalah haid yaitu berkisar 1 th tidak haid lalu terjadi haid maka dalam kondisi ketenggan seperti ini kemudian terjadi talak sedangkan umurnya berkisar 35-40 tahun, maka yang bisa haid biasanya ketika terjadi talak ada iddah nya yaitu 3x sucian.

Pertanyaannya

  1. Bagaimana seorang perempuan yg pernah haid lalau ada ketenggangan haidnya itu sampai 1 tahun sekali,apakah ia akan harus menunggu 3 tahun (3 kali suci).Untuk bisa menikah ?
  2. Apakah ada pendapat dari kalangan Syafi’iyah atau Mazhab lain yg memandang kebanyakan perempuan biasa saja, anggaplah cuma 3 bulan saja bisa nikahi orang lain tanpa harus menunggu 3 tahun.?.

Waalaikum salam.

Jawaban No.1

Jika seorang perempuan pernah haid lalu ada ketenggangan masa haidnya baik ada ellat penyakit ataupun ketenggangannya bukan karena sakit baik ketenggangannya 3 bulan atau 1 tahun atau lebih dari satu tahun maka ketika terjadi talak tetap ada iddahnya yaitu 3 Quru’ ( 3× sucian) tidak boleh memakai iddah bulan karena iddah bulan hanya dianjurkan dipakai bagi perempuan yang tidak pernah mengalami haid atau mengalami sinnul Ya’si ( masa menopause), bukan harus menunggu tiga tahun untuk menikah, atau menunggu sampai si sinnul ya’si ( masa menopause) yaitu umur 62 tahun dan ditambah 3 =62 Tahun 3 bulan untuk menikah.

Jawaban No.2

Menurut Madzhab Syafi’i dalam qaul jadidnya berpendapat tetap beriddah 3x sucian atau menunggu sampai menopause yaitu umur 62 tahun lalu ditambah 3 bulan= 62 tahun 3 bulan.
Menurut Qoul qodim Imam Syafi’i juga madzhab Maliki dan Imam Ahmad setelah ditalak maka harus menunggu 9 bulan setelah 9 sebulan lalu memakai iddah bulan yaitu 3 bulan. ( 12 bulan).
Sedangkan menurut Qoul qadim Imam Syafi’i harus menunggu 4 tahun, dan jika setelah 4 tahun haid maka masa iddah memakai iddah bulan ( menambah 3 bulan).
Namun qoul ini sudah tidak berlaku lagi kecuali ada beberapa hal saja yang bisa digunakan.

Kesimpulan.
Iddah bagi perempuan yang pernah haid kemudian ada ketenggangan waktu untuk haid baik ketenggan itu 4 bulan atau 1 th atau 2 tahun ataupun lebih maka iddahnya tetap tiga kali sucian atau menunggu sampai sinnul ya’si ( masa menopause umur 62 tahun). Artinya bisa memilih antara 3x sucian ( Quru’ ) atau menunggu sampai masa menopause ( umur 62 tahun ) dalam arti menambah dari 62 + menjadi iddah bulan / 3 bulan = 62 tahun 3 bulan

Referensi


أسنى المطالب في شرح روض الطالب الجزء السابع صـ : ٣٧٠ “دار الكتب العلمية” .
فصل ومن انقطع دمها لعارض كرضاع ونفاس ومرض وكذا لغير عارض لا تعتد قبل اليأس إلا بالأقراء لأن الأشهر إنما شرعت للتي لم تحض والآيسة وهذه غيرهما فتصبر إلى سن اليأس أي يأس كل النساء لا يأس عشيرتها فقط وهو اثنان وستون سنة ثم تعتد بالأشهر ولا يبالي بطول مدة الانتظار احتياطا وطلبا لليقين


Referensi:

نهاية المحتاج مع حاشية علي الشبراملسي الجزء السابع صـ : ١٣٢ ” دار الكتب العلمية”
( ومن ) ( انقطع دمها ) ( لعلة ) تعرف ( كرضاع ومرض ) وإن لم يرج برؤه كما شمله إطلاقهم خلافا لما اعتمده الزركشي ( تصبر حتى تحيض ) فتعتد بالأقراء ( أو ) حتى ( تيأس ف ) تعتد ( بالأشهر ) وإن طالت المدة وطال ضررها بالانتظار لأن عثمان رضي الله عنه حكم بذلك في المرضع ، رواه البيهقي ، بل قال الجويني : هو كالإجماع من الصحابة رضي الله عنهم ( أو ) انقطع ( لا لعلة ) تعرف ( فكذا ) تصبر لسن اليأس إن لم تحض ( في الجديد ) لأنها لرجائها العود كالأولى ولهذه ولمن لم تحض أصلا وإن لم تبلغ خمس عشرة سنة باستعجال الحيض بدواء ومن زعم أن ذلك استعجال للتكليف وهو ممنوع ليس في محله كما لا يخفى ( وفي القديم ) وهو مذهب مالك وأحمد ( تتربص تسعة أشهر ) ثم تعتد بثلاثة أشهر لتعرف براءة الرحم إذ هي غالب مدة الحمل ( وفي قول ) قديم أيضا تتربص ( أربع سنين ) لأنها أكثر مدة الحمل فتتيقن براءة الرحم ، ثم إن لم يظهر حمل ( تعتد بالأشهر ) كما تعتد بالأقراء المعلق طلاقها بالولادة مع تيقن براءة رحمها
( قوله : خلافا لما اعتمده الزركشي ) لعله يقول إن عدتها ثلاثة أشهر إلحاقا لها بالآيسة .والله أعلم بالصواب

Kategori
Uncategorized

HUKUM MENANAM TEMBAKAU

HUKUM MENANAM TEMBAKAU

Assalamualaikum
Deskripsi masalah.

Disebagian masyarakat cara kasabanya ( penghasilan ekonominya ) diantaranya adalah menanam tembakau, sedangkan tembakau sudah lumrah dikalangan masyarakat dijadikan rokok dan diracik dengan berbagai campuran oleh para ahli sehingga dengan racikan yang pas dapat menghasilkan rokok yang berkualitas sampai Nama tersebut mendunia.Semisal untuk mendapatkan rasa dan kualitas maksimal, maka mencampurkannya dengan beberapa bahan, seperti cengkeh, klembak, saus tembakau, dan kemenyan. Pencampuran biasa juga dilakukan antara daun tembakau dengan tembakau lain, sehingga menghasilkan rasa yang diinginkan pada waktu digunakan membuat rokok. Tembakau dikatakan tidak murni lagi jika sudah tercampur dengan tembakan lain, baik pencampuran itu dilakukan dengan tembakau yang sejenis maupun tembakan berbeda jenis. Tembakau inilah yang kemudian dikenal dengan tembakau oplos. Namun demikian dijelaskan dalam sebuah kitab bahwa tembakau itu termasuk bid’ah kobihah ( yang jelek ) dan orang yang memper baharuinya ( membuatnya) termasuk dilaknat sebagaimana berikut:

إعانة الطالبين على حل ألفاظ فتح المعين ج ٢٦٠/٢ ]
وفي البيجرمي: وأما الدخان الحادث الآن المسمى بالتتن – لعن الله من أحدثه – فإنه من البدع القبيحة

Pertanyaannya

Jika memang tembakau itu adalah benar bid’ah yang Qobiah bagaimana korelasinya dengan hukumnya orang yang menam tembakau dan menjualnya sebagai kasab .?

Waalaikum salam.
Jawabannya.

Menanam dan menjual tembakau adalah hukumnya dikembalikan kepada hukum merokok yang mana hukumnya diperselisihkan oleh ulama yaitu:

(1) ulama yang mengatakan haram secara mutlak
(2) ulama yang mengatakan halal secara mutlak
(3) ulama yang mengatakan bahwa hukumnya dapat berubah menjadi lima (halal, haram, mubah,makruh, dan sunah) menurut situasi dan kondisinya;dalam arti bisa :

{a} Haram, seperti merokok hanya karena sengaja untuk berhambur hamburan yang diharamkan atau akan menimbulkan bahaya .
{b} Makruh, seperti merokok tanpa tujuan apa apa dan tidak berbahaya dikarenakan merokokbtermasuk hal yang masih dikhilafkan ulama yang menyebabkan keraguan (hukumnya), padahal melakukan perkara yang masih diragukan halal dan haramnya adalah makruh .
{c} Wajib, (seperti) apabila punya penyakit / bahaya pada dirinya yang tidak bisa sembuh / hilang kecuali dengan merokok .
{d} Sunah, (seperti) apabila mempunyai penyakit yang berbahaya tetapi masih ada obat lain,dikarenakan berobat hukumnya sunah .
{e} Mubah, artinya dalam situasi makruh, sunah, dan wajib bisa dinamakan mubah.
Dengan demikian hukum menanam tembakau dikondisikan dengan hukumnya merokok, sedang jual belinya tetap sah.

Referensi:

ﺳﺒﻌﺔﻛﺘﺐ ﻣﻔﻴﺪﺓ ﺹ ١٣٥-١٣٧ }
ﻭﻋﺒﺎﺭﺓ ﺍﻟﺘﻨﺒﺎﻙ : ﺇﺫﺍ ﺗﻘﺮﺭ ﺫﻟﻚ ﻓﺎﻋﻠﻢ ﺃﻥ ﻣﺴﺌﻠﺔ ﺍﺳﺘﻌﻤﺎﻝﺍﻟﺘﻨﺒﺎﻙ ﺷﺮﺑﺎ ﻭﺳﻌﻮﻃﺎ ﻣﻦ ﺟﻤﻠﺔ ﺇﻓﺮﺍﺩ ﺍﻷﻣﻮﺭ ﺍﻟﻤﺘﺸﺒﻬﺎﺕ ﺍﻟﺘﻰﻓﺴﺮﻫﺎ ﺍﻟﻌﻠﻤﺎﺀ ﺭﺣﻤﻬﻢ ﺍﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ ﺑﻜﻞ ﻣﺎ ﻟﻴﺲ ﺑﻮﺍﺿﺢ ﺍﻟﺤﺎﻝﻭﺍﻟﺤﺮﻣﺔ ﻣﻤﺎ ﺗﻨﺎﺯﻋﺘﻪ ﺍﻷﺩﻟﺔ ﻭﺗﺠﺎﺫﺑﻨﻪ ﺍﻟﻤﻌﺎﻧﻰ ﻭﺍﻷﺳﺒﺎﺏﺍﻟﻰ ﺃﻥ ﻗﺎﻝ ﻭﻣﻦ ﺃﺟﻞ ﺫﻟﻚ ﺇﻧﻘﺴﻢ ﺍﻟﻌﻠﻤﺎﺀ ﻓﻰ ﺍﻟﻜﻼﻡ ﻋﻠﻰﺣﻜﻤﻪ ﺛﻼﺛﺔ ﻣﺬﺍﻫﺐﺍﻟﻤﺬﻫﺐ ﺍﻷﻭﻝ ﻣﺬﺍﻫﺐ ﻣﻦ ﺃﻃﻠﻖ ﺍﻟﻘﻮﻝ ﺑﺘﺤﺮﻳﻢ ﺍﺳﺘﻌﻤﺎﻟﻪ ﺇﻟﻰﺃﻥ ﻗﺎﻝﺍﻟﻤﺬﻫﺐ ﺍﻟﺜﺎﻧﻰ ﻣﺬﻫﺐ ﻣﻦ ﺃﻃﻠﻖ ﺍﻟﻘﻮﻝ ﺑﻌﺪﻡ ﺗﺤﺮﻳﻢ ﺍﺳﺘﻌﻤﺎﻝﺍﻟﺘﻨﺒﺎﻙ ﺍﻟﻤﺬﻛﻮﺭ ﺍﻟﻰ ﺃﻥ ﻗﺎﻝﺍﻟﻤﺬﻫﺐ ﺍﻟﺜﺎﻟﺚ ﻣﺬﻫﺐ ﻣﻦ ﻟﻢ ﻳﺮ ﺇﻃﻼﻕ ﺍﻟﻘﻮﻝ ﺑﺘﺤﺮﻳﻢﺍﺳﺘﻌﻤﺎﻝ ﺍﻟﺘﻨﺒﺎﻙ ﺃﻭ ﺗﺤﻠﻴﻠﻪ ﻷﻧﻪ ﻳﺮﻯ ﺃﻥ ﺍﻟﻤﻘﺎﻡ ﻣﻘﺎﻡ ﺗﻔﺼﻴﻞﻭﺍﻟﻘﺎﻋﺪﺓ ﺃﻥ ﺍﻹﻃﻼﻕ ﻟﻠﺤﻜﻢ ﻓﻰ ﻣﻘﺎﻡ ﺍﻟﺘﻔﺼﻴﻞ ﺧﻄﺎﺀ ، ﻓﻴﺮﻯﺃﻥ ﺟﻤﻴﻊ ﺍﻷﺣﻜﺎﻡ ﺍﻟﺸﺮﻋﻴﺔ ﺍﻟﺨﻤﺴﺔ ﺍﻟﺤﺮﻣﺔ ﻭﺍﻟﻜﺮﺍﻫﺔ ﻭﺍﻟﻮﺟﻮﺏ ﻭﺍﻟﻨﺪﺏ ﻭﺍﻹﺑﺎﺣﺔ ﺗﺠﺮﻱ ﻓﻰ ﻣﺴﺌﻠﺔ ﺍﺳﺘﻌﻤﺎﻝ ﺍﻟﺘﻨﺒﺎﻙ ﺑﺤﺴﺐﺍﻟﻤﻘﺘﻀﻴﺎﺕ ﺍﻟﻮﺿﻌﻴﺔ ﺍﻟﺸﺮﻋﻴﺔ ﺇﻟﻰ ﺃﻥ ﻗﺎﻝﻓﺎﻋﻠﻢ ﺃﻥ ﺃﻣﺜﻠﺔ ﺫﻟﻚ ﻻ ﺗﺪﺧﻞ ﺗﺤﺖ ﺍﻟﺤﺼﺮ ﻭﻟﻜﻦ ﻻ ﺑﺄﺱﺑﺎﻹﺷﺎﺭﺓ ﺍﻟﻰ ﺑﻴﺎﻥ ﺫﻟﻚ ﻓﻴﻤﺎ ﻧﺤﻞ ﺑﺼﺪﺩﻩ ﻣﻦ ﺟﻤﻴﻊ ﺍﻷﺣﻜﺎﻡﺍﻟﺨﻤﺴﺔ
ﻓﻤﻦ ﺃﻣﺜﻠﺔ ﺑﺎﺏ ﺍﻟﺤﺮﺍﻡ ﺃﻥ ﻳﻘﺎﻝ ﺇﺳﺘﻌﻤﺎﻝ ﺍﻟﺘﻨﺒﺎﻙ ﻟﻤﻦ ﻛﺎﻥﺍﺳﺘﻌﻤﺎﻟﻪ ﻟﻪ ﻟﻴﺲ ﺇﻻ ﻋﻠﻰ ﻭﺟﻪ ﺍﻹﺳﺮﺍﻑ ﺍﻟﻤﺤﺮﻡ ﺃﻭ ﺗﺮﺗﺐ ﻋﻠﻰﺍﺳﺘﻌﻤﺎﻟﻪ ﺿﺮﺭ ﻣﺤﺮﻡ ﻳﻜﻮﻥ ﺫﻟﻚ ﺣﻜﻤﺎ ﻭﺿﻌﻴﺎ ﻟﺤﺮﻣﺔﺍﺳﺘﻌﻤﺎﻝ ﺍﻟﺘﻨﺒﺎﻙ ﻓﻰ ﺣﻖ ﻣﻦ ﻫﺬﺍ ﺻﻔﺘﻪ ﺇﻟﻰ ﺃﻥ ﻗﺎﻝﻭﻣﻦ ﺃﻣﺜﻠﺔ ﺑﺎﺏ ﺍﻟﻤﻜﺮﻭﻩ ﺃﻥ ﻳﻘﺎﻝ ﺍﺳﺘﻌﻤﺎﻝ ﺍﻟﺘﻨﺒﺎﻙ ﺍﺧﺘﻠﻒﺍﻟﻌﻠﻤﺎﺀ ﺭﺣﻤﻬﻢ ﺍﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ ﻓﻰ ﺣﻜﻤﻪ ﻭﺍﺧﺘﻼﻓﻬﻢ ﻓﻰ ﺍﻟﺸﻲﺀﺣﻜﻢ ﻭﺿﻌﻲ ﻟﻜﺮﻫﺔ ﺍﻗﺘﺤﺎﻡ ﺍﻟﺮﻳﺐ ، ﻗﺎﻝ ﻋﻠﻴﻪ ﺍﻟﺼﻼﺓ ﻭﺍﻟﺴﻼﻡﺩﻉ ﻣﺎ ﻳﺮﺑﻚ ﺍﻟﻰ ﻣﺎ ﻻ ﻳﺮﺑﻚ ﺭﻭﺍﻩ ﺍﻟﻨﺴﺎﺉ ﻭﺍﻟﺘﺮﻣﺬﻯ ﻭﺍﻟﺤﺎﻛﻢﻭﺻﺤﺤﺎﻩﻭﻣﻦ ﺃﻣﺜﻠﺔ ﺃﻣﺜﻠﺔ ﺑﺎﺏ ﺍﻟﻮﺟﻮﺏ ﺃﻥ ﻳﻘﺎﻝ ﺩﻓﻊ ﺍﻟﻀﺮﺭ ﻋﻦ ﺍﻟﻨﻔﺲﺇﺫﺍ ﺗﻌﻴﻦ ﺣﻜﻢ ﻭﺿﻌﻲ ﻟﻮﺟﻮﺏ ﺍﺳﺘﻌﻤﺎﻝ ﻣﺎ ﻳﻘﻊ ﺑﻪ ﺍﻟﺪﻓﻊﻟﻤﻔﻬﻮﻡ ﻗﻮﻟﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ ﻭﻻ ﺗﻘﺘﻠﻮﺍ ﺍﻧﻔﺴﻜﻢ ـ ﺑﻞ ﻟﻮ ﻭﻗﻌﺖ ﺍﻟﺘﺠﺮﻳﺔﻓﻰ ﺃﻥ ﺍﻟﺪﻓﻊ ﻟﺬﻟﻚ ﺍﻟﻀﺮﺭ ﻟﻴﺲ ﺇﻻ ﺑﺘﻌﺎﻃﻰ ﺍﻟﻤﺤﺮﻡ ﺃﻛﻼ

ﻭﺷﺮﺑﺎﻭﺟﺐ ﻷﻧﻪ ﻣﻀﻄﺮ ﻓﻰ ﺑﻘﺎﺀ ﺭﻭﺣﻪ ﺇﻟﻰ ﺃﻥ ﻗﺎﻝﻭﻣﻦ ﺃﻣﺜﻠﺔ ﺑﺎﺏ ﺍﻟﻨﺪﺏ ﺃﻥ ﻳﻘﺎﻝ ﺩﻓﻊ ﺍﻟﻀﺮﺭ ﻋﻦ ﺍﻟﻨﻔﺲ ﻣﻦﻋﺎﺭﺽ ﺍﻟﺪﺍﺀ ﺣﻜﻢ ﻭﺿﻌﻲ ﻟﻨﺪﺏ ﺍﺳﺘﻌﻤﺎﻝ ﻣﺎ ﻳﻘﻊ ﺑﻪ ﺍﻟﻨﻔﻊﻣﻦ ﺗﻌﺎﻃﻰ ﺍﻟﺪﻭﺍﺀ ﻟﺘﻈﺎﻫﺮ ﺍﻷﺩﻟﺔ ﺍﻟﺴﻤﻌﻴﺔ ﺍﻟﻤﺘﻜﺎﺛﺮﺓ ﻋﻠﻰﻣﺸﺮﻭﻋﻴﺔ ﺍﻟﺘﺪﺍﻭﻯ ﺇﻟﻰ ﺃﻥ ﻗﺎﻝ
ﻭﻗﺪ ﺫﻛﺮ ﺍﻷﻃﺒﺎﺀ ﺍﻟﻤﺘﺄﺧﺮﻭﻥ ﺃﻧﻪ ﻳﻨﻔﻊ ﻷﻭﺟﺎﻉ ﺍﻟﻜﺒﺪ ﻭﻣﻦﺍﻟﺤﻤﻴﺎﺕ ﺍﻟﻐﻠﻴﻈﺔ ﻭﻣﻦ ﺍﻟﻤﻐﺾ ﻭﺍﻟﻴﺮﻓﺎﻥ ﻭﻟﺘﺠﻔﻴﻒ ﺍﻟﺮﻃﻮﺑﺎﺕﻭﻏﻴﺮ ﺧﺎﻑ ﺟﺮﻳﺎﻥ ﻣﺎ ﺫﻛﺮ ﻓﻰ ﺍﻟﺘﻨﺒﺎﻙ ﺳﻮﺍﺀ ﻗﻠﻨﺎ ﺑﺠﻮﺍﺯﺍﺳﺘﻌﻤﺎﻟﻪ ﺃﻭ ﺑﺤﺮﻣﺘﻪ ﻭﺃﻥ ﻛﺮﺍﻫﺔ ﺍﻟﺘﻨﺒﺎﻙ ﻭﻧﺪﺑﻪ ﻭﻭﺟﻮﺑﻪ ﻳﻄﻠﻖﻋﻠﻴﻪ ﺍﺳﻢ ﺍﻟﺠﺎﺋﺰ ﺑﻤﻌﻨﻰ ﻏﻴﺮ ﺍﻟﻤﻤﻨﻮﻉ ﻣﻦ ﻓﻌﻠﻪ
ﺇﻧﺘﻬﻰ ﺭﺳﺎﻟﺔ ﻓﻰ ﻗﻤﻊ ﺍﻟﺸﻬﻮﺍﺕ ﻋﻦ ﺗﻨﺎﻭﻝ ﺍﻟﺘﻨﺒﺎﻙ

Referensi:

الباجورى ج١ص٣٤٣

(قوله ولا بيع لا منفعة فيه) قيل منه الدخان المعروف لانه لا منفعة فيه بل يحرم استعماله لان فيه ضررا كبيرا وهذا ضعيف وكذا القول بانه مباح والمعتمد انه مكروه بل قد يعتريه الوجوب كما اذا كان يعلم الضرر بتركه وحينئذ فبيعه صحيح وقد تعتريه الحرمة كما اذا كان يشتريه بما يحتاجه لنفقة عياله او تيقن ضرره

Dan tidak sah jual beli yang tidak ada manfaatnya, ada yang berpendapat rokok itu termasuk tidak sah jual belinya karena termasuk barang yang tidak ada manfaatnya bahkan haram menggunakan / menghisapnya karena adanya dampak negatif dan pendapat ini dianggap lemah/dlo’if, begitu juga pendapat yang menyatakan rokok itu halal juga dianggap dloif / lemah, dan pendapat yang mu’tamad / yang bisa dibuat pegangan yaitu sesungguhnya hukum rokok itu makruh, bahkan bisa menjadi wajib jika tahu kalau meninggalkan rokok bisa berdampak negatif pada dirinya, kalau sudah begitu maka jual beli rokok tadi hukumnya sah..kadang juga hukumnya rokok tadi menjadi haram seperti membeli rokok dengan uang yang seharusnya untuk nafaqoh keluarganya atau ada keyakinan jika merokok akan langsung berdampak negatif pada dirinya. Wallahu a’lam bish-shawab