logo mubaa
Logo Ittihad

DEWAN PIMPINAN PUSAT
IKATAN ALUMNI BATA-BATA

Kategori
Uncategorized

HUKUM BERDANDAN KETIKA UNDANGAN KARENA MENTAATI SUAMI

Assalamualaikum

Deskripsi Masalah

Kalau ada seorang ayah dengan dua orang anak menerima undangan sahabat karibnya. Dan keluarga tersebut bersemangat hadir untuk menghadiri acara tersebut, sebelum berangkat, dia memerintahkan istrinya untuk berdandan sebaik mungkin, seraya berucap “dek macako, Ben pantes”… Dan memang telah menjadi hal yang umum di masyarakat bahwa suami akan merasa mau jika istrinya berpenampilan kurang menarik ketika menghadiri suatu acara.

Selang beberapa bulan P. Yadi dan istri berkunjung ke rumah sahabatnya, seperti biasa, mereka asik mengobrol dengan diselingi canda tawa ringan, dengan nada bercanda pak Yadi berkata kepada sahabatnya : “segeralah memiliki momongan, jangan ditunda-tunda”. Kemudian ditimpali sahabatnya ” Beres… Lha kamu kapan nambah lagi?”.

Candaan tersebut ternyata membuat P. Yadi merasa tertantang, lantas ia mengajak istrinya untuk segera menambah keturunan lagi. Namung dengan alasan tertentu, istrinya tidak mengiyakan ajakan tersebut.

Pertanyaan :

  1. Bagaimana hukum seorang istri berdandan atas perintah suami sebagaimana deskripsi?
  2. Dalam kasus menambah keturunan, yaitu keinginan P. Yadi menambah lagi dan keinginan istri untuk menundanya, atau bahkan tidak mau lagi, siapakah yang dimenangkan antara keduanya menurut Syara’?

Waalaikum salam

Jawaban.No 1

  1. Hukum Istri Berdandan Atas Perintah Suami

Dalam Islam, istri dianjurkan untuk berhias atau berdandan demi menyenangkan suami, dengan syarat tidak melanggar aturan syariat. Berdandan untuk suami adalah salah satu bentuk pelayanan istri kepada suami yang diperbolehkan dan bahkan dianjurkan selama dalam batas yang wajar dan sesuai dengan norma agama. Rasulullah ﷺ bersabda:


وقد روى ابن المبارك عن سعيد بن ابي سعيد عن ابيه عن ابي هريرة , قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم :خير النساء امرأة إذا نظرت إليها سرتك, وإذا أمرت أطاعتك , وإذا غبت عنها حفظتك في ونفسها ومالك.


“Diriwayatkan dari Ibnu mubarak, dari Sa’id bin Abi Sa’id, dari Bapaknya, dari Abu Hurairah, berkata : Rasulullah SAW bersabda : Sebaik-baiknya perempuan adalah perempuan yang ketika kamu melihatnya ia membahagaiakanmu, saat kamu memerintahnya ia mentaatimu, dan saat kamu tidak ada maka ia akan menjaga harta dan dirinya.” (HR. An-Nasa’i)

Namun, dalam konteks menghadiri acara umum, istri tetap harus menjaga auratnya dan tidak berdandan secara berlebihan yang dapat menarik perhatian orang lain selain suaminya. Apabila suami meminta istrinya untuk berdandan dengan maksud menjaga penampilan yang pantas di hadapan orang lain, maka hal itu boleh saja, selama niatnya adalah untuk menjaga kehormatan keluarga dan tidak menimbulkan fitnah.

Jika tujuan suami memerintahkan istrinya berdandan adalah agar terlihat pantas dan menjaga martabat saat menghadiri undangan sosial, maka hal ini diperbolehkan, asalkan istri tetap menjaga adab berpakaian yang sesuai syariat dan tidak melanggar prinsip-prinsip Islam dalam berhias.artinya seorang istri tetap wajib mentaati suami kerena hal perintah itu bertujuan agar terlihat pantas untuk menjaga martabat ini penjelasan dalam kitab Mausu’ah Al-Fiqhiyah:

الطَّاعَةُ:
١٢ – يَجِبُ عَلَى الْمَرْأَةِ طَاعَةُ زَوْجِهَا، فَعَنْ أَنَسٍ: أَنَّ رَجُلاً انْطَلَقَ غَازِيًا وَأَوْصَى امْرَأَتَهُ أَنْ لاَ تَنْزِل مِنْ فَوْقِ الْبَيْتِ، وَكَانَ وَالِدُهَا فِي أَسْفَل الْبَيْتِ، فَاشْتَكَى أَبُوهَا، فَأَرْسَلَتْ إِلَى رَسُول اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تُخْبِرُهُ وَتَسْتَأْمِرُهُ فَأَرْسَل إِلَيْهَا: اتَّقِي اللَّهَ وَأَطِيعِي زَوْجَكِ، ثُمَّ إِنَّ وَالِدَهَا تُوُفِّيَ فَأَرْسَلَتْ إِلَيْهِ تَسْتَأْمِرُهُ، فَأَرْسَل إِلَيْهَا مِثْل ذَلِكَ، وَخَرَجَ رَسُول اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَرْسَل إِلَيْهَا: إِنَّ اللَّهَ قَدْ غَفَرَ لَكِ بِطَوَاعِيَتِكِ لِزَوْجِكِ. (١)وَقَال أَحْمَدُ فِي امْرَأَةٍ لَهَا زَوْجٌ وَأُمٌّ مَرِيضَةٌ، طَاعَةُ زَوْجِهَا أَوْجَبُ عَلَيْهَا مِنْ أُمِّهَا إِلاَّ أَنْ يَأْذَنَ لَهَا (٢) .وَقَدْ رَتَّبَ الشَّارِعُ الثَّوَابَ الْجَزِيل عَلَى طَاعَةِ الزَّوْجِ، كَمَا رَتَّبَ الإِْثْمَ الْعَظِيمَ عَلَى مُخَالَفَةِ أَمْرِ الزَّوْجِ، فَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَال: إِذَا دَعَا الرَّجُل امْرَأَتَهُ إِلَى فِرَاشِهِ فَلَمْ تَأْتِهِ فَبَاتَ غَضْبَانَ عَلَيْهَا لَعَنَتْهَا الْمَلاَئِكَةُ حَتَّى تُصْبِحَ. (٣)ثُمَّ إِنَّ وُجُوبَ طَاعَةِ الزَّوْجِ مُقَيَّدٌ بِأَنْ لاَ يَكُونَ فِي مَعْصِيَةٍ، فَلاَ يَجُوزُ لِلْمَرْأَةِ أَنْ تُطِيعَهُ
فِيمَا لاَ يَحِل مِثْل أَنْ يَطْلُبَ مِنْهَا الْوَطْءَ فِي زَمَانِ الْحَيْضِ أَوْ فِي غَيْرِ مَحَل الْحَرْثِ، أَوْ غَيْرَ ذَلِكَ مِنَ الْمَعَاصِي، فَإِنَّهُ لاَ طَاعَةَ لِمَخْلُوقٍ فِي
مَعْصِيَةِ الْخَالِقِ (٤) .

Ketaatan:

12 – Seorang istri wajib menaati suaminya. Dari Anas bin Malik, bahwa seorang lelaki pergi berperang dan berpesan kepada istrinya agar tidak turun dari atas rumah, sementara ayahnya tinggal di bagian bawah rumah. Suatu ketika, ayahnya jatuh sakit. Istrinya pun mengirim pesan kepada Rasulullah ﷺ, mengabarkan hal tersebut dan meminta izin. Rasulullah ﷺ mengirim pesan kembali, “Bertakwalah kepada Allah dan taatilah suamimu.” Kemudian ayahnya wafat, dan ia kembali mengirim pesan untuk meminta izin. Rasulullah ﷺ mengirim pesan yang sama. Ketika itu Rasulullah ﷺ keluar dan mengirim pesan kepadanya, “Sesungguhnya Allah telah mengampunimu karena ketaatanmu kepada suamimu.”

Imam Ahmad pernah ditanya tentang seorang perempuan yang memiliki suami dan ibunya sedang sakit, mana yang lebih wajib ditaati? Beliau menjawab, “Ketaatan kepada suaminya lebih wajib baginya daripada kepada ibunya, kecuali jika suaminya mengizinkannya.”

Syariat telah menetapkan pahala yang besar bagi istri yang menaati suaminya, sebagaimana juga telah ditetapkan dosa besar bagi istri yang melanggar perintah suaminya. Dari Abu Hurairah رضي الله عنه, Nabi ﷺ bersabda: “Jika seorang suami mengajak istrinya ke ranjang (untuk berhubungan suami istri) dan ia menolak, sehingga suaminya tidur dalam keadaan marah, maka para malaikat melaknatnya hingga pagi.”

Namun, kewajiban menaati suami terbatas pada hal-hal yang bukan merupakan maksiat. Tidak diperbolehkan bagi seorang istri untuk menaati suaminya dalam perkara yang haram, seperti jika suaminya meminta berhubungan suami istri saat istri sedang haid, atau di tempat yang tidak diperbolehkan, atau dalam perbuatan maksiat lainnya. Sebab, “Tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam bermaksiat kepada Sang Pencipta.”

Jawaban 2.

Hukum Menambah Keturunan: Keinginan Suami vs Keinginan Istri

Dalam hal menambah keturunan, Islam menganjurkan umatnya untuk memperbanyak keturunan dengan tujuan memperkuat umat. Rasulullah saw dalam haditsnya menganjurkan umatnya untuk berketurunan dan beranak pinak.

تناكحوا تناسلوا تكثروا فإنى مباهٍ بكم الأمم يوم القيامة

Artinya, “Rasulullah saw bersabda, ‘Menikahlah, maka kalian akan berketurunan dan menjadi banyak karena aku akan bangga dengan kalian di depan umat lain pada hari kiamat.’”

Rasulullah saw pada riwayat lain menganjurkan umatnya untuk menikah dan melarang keras mereka hidup menjomblo. 

كَانَ رَسُولُ اَللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – يَأْمُرُ بِالْبَاءَةِ , وَيَنْهَى عَنِ التَّبَتُّلِ نَهْيًا شَدِيدًا , وَيَقُولُ :” تَزَوَّجُوا اَلْوَدُودَ اَلْوَلُودَ . إِنِّي مُكَاثِرٌ بِكُمُ اَلْأَنْبِيَاءَ يَوْمَ اَلْقِيَامَةِ – رَوَاهُ أَحْمَدُ , وَصَحَّحَهُ اِبْنُ حِبَّانَ

Artinya, “Rasulullah saw memerintahkan untuk menikah dan melarang keras hidup menjomblo. Rasulullah bersabda, ‘Nikahlah dengan perempuan yang sayang dan berketurunan karena aku akan berbangga dengan kalian di depan para nabi pada hari kiamat,’” (HR Ahmad dan disahihkan oleh Ibnu Hibban).

Namun,dalam hal menambah keturunan, keputusan ini tidak sepenuhnya hanya bergantung pada keinginan salah satu pihak, baik suami maupun istri. Keduanya, suami dan istri, harus mencapai kesepakatan melalui musyawarah, dan tidak boleh memaksakan kehendak satu sama lain.

Dalam kasus di mana P. Yadi ingin menambah anak, namun istrinya menolak atau ingin menunda karena alasan tertentu, maka Islam mengajarkan agar suami dan istri bermusyawarah dalam mengambil keputusan ini.Sebagaimana firman Allah:(QS. Asy-Syura: 38)

وَالَّذِيْنَ اسْتَجَابُوْا لِرَبِّهِمْ وَاَقَامُوا الصَّلٰوةَۖ وَاَمْرُهُمْ شُوْرٰى بَيْنَهُمْۖ وَمِمَّا رَزَقْنٰهُمْ يُنْفِقُوْنَۚ

(juga lebih baik dan lebih kekal bagi) orang-orang yang menerima (mematuhi) seruan Tuhan dan melaksanakan salat, sedangkan urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarah di antara mereka. Mereka menginfakkan sebagian dari rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka.

Jika istri memiliki alasan yang sah, seperti kondisi kesehatan fisik atau mental, atau alasan lainnya yang diakui dalam syariat, maka suami harus mempertimbangkan hal tersebut dan tidak memaksakan kehendaknya. Kemaslahatan dan kesehatan istri juga menjadi faktor penting dalam syariat.

Hal sebagaimana dijelaskan dalam Kitab Mausu’atul fiqhiyah


٣) الْمَرَضُ:
١١ – ذَهَبَ الْفُقَهَاءُ إِلَى أَنَّ مِنْ مَوَانِعِ تَسْلِيمِ الْمَرْأَةِ إِلَى زَوْجِهَا الْمَرَضَ، وَالْمَقْصُودُ بِالْمَرَضِ هُنَا الْمَرَضُ الَّذِي يَمْنَعُ مِنَ الْجِمَاعِ، وَحِينَئِذٍ تُمْهَل الْمَرْأَةُ إِلَى زَوَال مَرَضِهَا، وَأَلْحَقَ الشَّافِعِيَّةُ بِالْمَرِيضَةِ مَنْ بِهَا هُزَالٌ تَتَضَرَّرُ بِالْوَطْءِ مَعَهُ (٣)

Penyakit:


Para ahli fiqih sepakat bahwa salah satu hal yang menghalangi seorang istri untuk diserahkan kepada suaminya adalah penyakit. Yang dimaksud dengan penyakit di sini adalah penyakit yang mencegah hubungan suami istri (jima’). Dalam kondisi seperti ini, istri diberi waktu hingga penyakitnya sembuh. Kaum Syafi’iyah menyamakan kondisi perempuan yang sakit dengan perempuan yang sangat kurus sehingga ia akan mendapat mudarat jika melakukan hubungan suami istri dalam kondisi tersebut.

Dalam QAWA’ID FIQHIYAH juga dijelaskan ;

لاَ ضَرَرَ وَلاَ ضِرَارَ

Tidak boleh melakukan sesuatu yang membahayakan diri sendiri ataupun orang lain

Kaidah yang mulia ini sesuai dengan lafadz sabda Rasulullah ﷺ bersabda: Dari Ibnu Abbâs Radhiyallahu anhu yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Ibnu Mâjah, dan lainnya:


لاَ ضَرَرَ وَلاَ ضِرَارَ

Tidak boleh melakukan sesuatu yang membahayakan diri sendiri ataupun orang lain.

Dari sini dapat kita ketahui bahwa dharar (melakukan sesuatu yang membahayakan) dilarang di dalam syari’at ini. Maka, tidak boleh bagi seorang Muslim mengerjakan sesuatu yang membahayakan dirinya sendiri atau membahayakan saudaranya sesama Muslim, baik berupa perkataan atau perbuatan, tanpa alasan yang benar. Dan semakin kuat larangan tersebut jika dharar itu dilakukan kepada orang-orang yang wajib dipergauli secara ihsân, seperti karib kerabat, isteri, tetangga, dan semisalnya.
Oleh karena itu, dalam kasus ini, jika istri memiliki alasan yang kuat dan syar’i untuk menunda atau tidak menambah keturunan, maka suami harus menghargai keputusan tersebut. Keduanya harus mencapai kesepakatan bersama demi kebaikan dan kesejahteraan keluarga.

Kesimpulan:

  • Istri boleh berdandan atas perintah suami selama sesuai dengan syariat.
  • Keputusan menambah keturunan harus disepakati bersama melalui musyawarah. Jika istri memiliki alasan yang kuat untuk menunda atau tidak menambah keturunan, maka keputusannya harus dihormati dan tidak boleh dipaksakan oleh suami.

Referensi:
1.Mausu’ah Al-Fiqhiyah .18974/31949
1.Fiqhus sunnah Sayyid Sabiq Lebanon Bairut Cetakan ke 4 th.1983 M. hal. 172
2.QS. Asy-Syura: 38
3.HR. Imam Ahmad 1/313. Ibnu Mâjah dalam Kitab Al-Ahkâm, Bab Man banâ bihaqqihi mâ yadhurru jârahu, No. 2341.
4.QOWAID FIQHIYAH

Kategori
Uncategorized

KONSEP “HAL”DALAM ILMU AGAMA

Konsep hal dalam Ilmu Agama

Assalamualaikum
Latar belakang
Konsep “hal” dalam ilmu agama memiliki akar yang memdalam dalam tradisi Islam, terutama dalam disiplin ilmu tasawuf (mistisisme Islam) dan fiqh (yurisprudensi Islam). Secara umum, “hal” merujuk pada kondisi atau keadaan sementara yang dialami manusia, yang berkaitan dengan aspek-aspek spiritual, ibadah, dan keyakinan. Adapun yang menjadi rumusan masalah adalah:

  1. Apakah yang dimaksud hal hanya sebatas kondisi atau keadaan sebagaimana penafsiran banyak orang ? Mohon penjelasan Kiyai

Waalaikum salam.
Jawaban.

Dalam kitab taklimul mutaallim ada lafadh علم الحال yang berarti Ilmu Usul dan ilmu fikih, akan tetapi yang dimaksudkan ” hal” disini adalah keadaan yang terjadi pada manusia, seperti kekufuran, keimanan, zakat, puasa, dan berbagai keadaan lainnya, bukanlah keadaan untuk masa depan sebagaimana dijelaskan dalam kitab Taklimul mutaallim.halaman 11


علم الحال هو علم أصول الدين وعلم الفقه والمراد من الحال هاهنا الأمر العارض للإنسان من الكفر والإيمان والزكاة والصوم وغير ها الأحوال لا الحال للمستقبل


Teks ini membahas konsep “hal” dalam ilmu agama, yang merujuk pada keadaan-keadaan yang dialami manusia dalam kaitannya dengan ibadah dan keyakinan. Dari hal ini kami akan jelaskan secara terperinci tentang konsep hal sebagai berikut:

1️⃣ . Tasawuf dan Hal sebagai Keadaan Spiritual:
Dalam tasawuf, konsep “hal” sering digunakan untuk merujuk pada keadaan spiritual sementara yang dialami oleh seorang sufi di sepanjang perjalanan menuju Allah . Para sufi membedakan antara “hal” dan “maqam”. “Hal” adalah pengalaman spiritual yang datang dan pergi, anugerah dari Allah yang tidak bisa diupayakan sendiri oleh manusia. Hal ini bisa berupa perasaan cinta kepada Allah, kekhusyukan, ketenangan batin, atau bahkan rasa takut dan kebingungan. Para ulama sufi seperti Al-Ghazali dan Ibn Arabi menyebut bahwa hal-hal ini sering kali dianggap sebagai bentuk bimbingan dari Allah. Misalnya, seorang sufi bisa merasakan keterbukaan hati saat mendekatkan diri kepada Tuhan melalui dzikir dan ibadah. Namun, karena sifatnya sementara, “hal” dianggap sebagai fase yang dilalui dalam perjalanan spiritual menuju “maqam”, yang lebih stabil dan permanen. Maqam adalah tingkat spiritual yang dicapai melalui usaha yang lebih konsisten.

2️⃣. Hal dalam Fiqh: Keadaan Hukum dan Ibadah:
Dalam fiqh, “hal” lebih berkaitan dengan keadaan seseorang yang mempengaruhi sah atau tidaknya ibadah dan status hukum lainnya. Contohnya, seseorang yang dalam keadaan junub (tidak suci) harus melakukan mandi wajib sebelum melaksanakan shalat, atau keadaan orang yang sedang sakit mempengaruhi kewajiban mereka dalam menjalankan puasa Ramadan.
Dengan demikian, “hal” dalam konteks fiqh merujuk pada kondisi-kondisi fisik atau spiritual seseorang yang mempengaruhi bagaimana hukum agama diterapkan padanya. Misalnya, seorang musafir (orang yang sedang bepergian) mendapatkan keringanan untuk menjamak (menggabungkan) atau mengqashar (memperpendek) shalat mereka.

3️⃣. Keadaan Iman dan Keyakinan:
“Hal” juga digunakan untuk menggambarkan keadaan keyakinan seseorang. Misalnya, seseorang dapat berada dalam keadaan iman atau kufur, bergantung pada keyakinan dan tindakan mereka. Keadaan spiritual ini mempengaruhi status hukum dan kedudukannya di hadapan syariat. Perubahan dari satu “hal” ke “hal” yang lain—misalnya dari kufur ke iman melalui taubat—membawa konsekuensi signifikan dalam hubungan mereka dengan Tuhan serta dalam penerapan hukum agama.

4️⃣. Implikasi dalam Kehidupan Ibadah:
Pemahaman tentang “hal” sangat penting dalam kehidupan sehari-hari seorang Muslim, karena keadaan spiritual dan fisik seseorang dapat mempengaruhi cara mereka melaksanakan ibadah. Misalnya, keadaan seseorang yang sedang sakit atau safar (bepergian) mempengaruhi bagaimana mereka berpuasa atau menjalankan shalat. Di sisi spiritual, “hal” juga memengaruhi kualitas ibadah; seseorang yang mengalami kekhusyukan yang mendalam dalam shalat akan mendapatkan kedekatan yang lebih besar dengan Allah dibandingkan seseorang yang terganggu oleh pikiran duniawi.

Kesimpulan:
Konsep “hal” dalam ilmu agama, baik dalam tasawuf maupun fiqh, mengacu pada kondisi spiritual dan fisik yang dialami manusia dalam hubungannya dengan Allah dan ibadah. Dalam tasawuf, “hal” adalah keadaan spiritual sementara yang mencerminkan perkembangan rohani seseorang dalam perjalanannya menuju Allah . Dalam fiqh, “hal” adalah keadaan yang memengaruhi pelaksanaan hukum-hukum syariat, seperti kewajiban ibadah. Keduanya memberikan gambaran tentang betapa dinamisnya hubungan manusia secara vertikal dengan Allah dalam berbagai stuasi dan kondisi yang mereka alami.


Referensi bisa dilihat :

  1. Syarah Taklimul mutaallim.
  2. Ihya Ulumuddin (إحياء علوم الدين) oleh Imam Al-GhazaliDalam kitab ini, Imam Al-Ghazali membahas banyak tentang keadaan spiritual dan batin seseorang Istilah الحال seringkali merujuk pada kondisi batiniah yang dialami oleh seorang sufi dalam perjalanan menuju Tuhan. Bagian yang terkait dengan علم الحال banyak dibahas dalam bab terkait dengan muraqabah (mengawasi hati) dan muhasabah (evaluasi diri)
  3. Risalatul Qusyairiyyah (الرسالة القشيرية) oleh Imam Al-Qusyairi. Kitab ini adalah salah satu rujukan utama dalam tasawuf yang membahas tentang tingkatan-tingkatan spiritual dan pengalaman-pengalaman batin yang dialami oleh para sufi, termasuk الحال dan المقام (maqam). الحال di sini dipahami sebagai kondisi spiritual yang datang dan pergi secara dinamis dalam hati seorang hamba, sementara maqam adalah posisi spiritual yang lebih stabil dan tetap.
  4. Al-Risalah al-Laduniyyah oleh Ibn Arabi. Dalam karya ini, Ibn Arabi membahas tentang pengalaman spiritual dan keadaan batin (الحال). Dia menjelaskan bahwa الحال adalah sesuatu yang diberikan Allah kepada seseorang di saat-saat tertentu dan bersifat sementara, tidak bisa diusahakan secara langsung, tetapi merupakan hasil dari kebersihan hati.
  5. Al-Hikam (الحكم العطائية) oleh Ibn Atha’illah As-Sakandari. Dalam Al-Hikam, Ibn Atha’illah banyak membahas tentang الحال sebagai kondisi spiritual atau keadaan batin seseorang yang diperoleh melalui perenungan, dzikir, dan kedekatan dengan Allah. علم الحالdalam konteks ini berarti ilmu yang mengarahkan seseorang untuk selalu sadar akan kondisi batinnya dan perubahan-perubahannya dalam perjalanan menuju Tuhan.
  6. Kitab-kitab Tasawuf Umum.Banyak kitab-kitab tasawuf lain yang menyebutkan علم الحال sebagai ilmu yang berhubungan dengan kondisi batin, seperti:
  7. Al-Luma’ oleh Abu Nasr As-Sarraj At-Tusi
  8. Qut al-Qulub oleh Abu Talib al-Makki
  9. Tabaqat as-Sufiyah oleh Abu Abd al-Rahman al-Sulami.
Kategori
Uncategorized

MENCIUM KENING NON MUSLIM DALAM PERSPEKTIF HUKUM ISLAM

Assalamualaikum.

Deskripsi Masalah:

Seorang Muslim mencium kening atau bagian tubuh lain dari non-Muslim (dalam konteks ini disebut kafir) sebagai bentuk persahabatan atau penghormatan. Tindakan ini menimbulkan berbagai pertanyaan di kalangan masyarakat Muslim terkait batasan interaksi sosial antara Muslim dan non-Muslim, khususnya yang berkaitan dengan nilai-nilai agama dan etika.
Dari perspektif agama, beberapa Muslim mungkin merasa bahwa tindakan tersebut bisa melanggar norma-norma Islam terkait batasan fisik, apalagi jika dilakukan antara laki-laki dan perempuan yang bukan mahram. Ada juga kekhawatiran bahwa hal ini bisa dianggap sebagai perbuatan yang mendekati sikap terlalu akrab, yang dalam beberapa pemahaman mungkin dianggap tidak sesuai dengan ajaran Islam yang mengatur interaksi dengan non-Muslim.

Namun, dari sudut pandang lain, tindakan tersebut bisa dianggap sebagai ekspresi penghormatan atau persahabatan tanpa niat negatif atau melanggar ajaran agama. Dalam masyarakat yang semakin global dan plural, banyak orang yang melihat interaksi semacam ini sebagai cara untuk menunjukkan keterbukaan, keramahan, dan saling menghormati antaragama yang menjadi pertanyaan adalah:

  1. Bagaimana menurut hukum agama orang islam mencium kening non muslim dengan tujuan bersahabatan atau penghormatan?

Waalaikum salam.

Jawaban.

Dalam konteks hukum Islam, mencium kening atau anggota tubuh seseorang (baik muslim maupun non-muslim) sebagai bentuk persahabatan atau penghormatan perlu dilihat dari sudut etika, adab, serta niat di balik tindakan tersebut. Secara umum, beberapa prinsip yang bisa diambil dari literatur hukum Islam adalah:

1️⃣. Niat

Niat dan Maksud: perkara itu bergantung niat dan tujuan, sebagaimana, Kaidah : الأمور بمقاصدها Maksud dari kaidah ini adalah bahwa hukum yang menjadi konsekuensi atas setiap perkara haruslah harus sesuai dengan yang menjadi tujuan sesuatu tersebut. Kaidah ini berasal dari banyak materi fiqih , karena didalam fiqih nilai suatu perbuatan tergantung pada niatnya . Kaidah tersebut diatas yang diambil dari sebuah hadits

عَنْ أَمِيرِ المُؤمِنينَ أَبي حَفْصٍ عُمَرَ بْنِ الخَطَّابِ رَضيَ اللهُ عنْهُ قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ: ) إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى، فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَِى اللهِ وَرَسُوْلِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُوْلِهِ، وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيْبُهَا، أَوْ امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا، فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ (. رَوَاهُ البخارى ومسلم


Dari Amirul Mukminin Abu Hafsh Umar bin Al Khaththab adia berkata: ‘Aku mendengar Rasulullah shalallahu alaihi wasalam bersabda: “Amalan-amalan itu hanyalah tergantung pada niatnya. Dan setiap orang itu hanyalah akan dibalas berdasarkan apa yang ia niatkan. Maka barang siapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya keapda Allah dan Rasul-Nya. Namun barang siapa yang hijrahnya untuk mendapatkan dunia atau seorang wanita yang ingin ia nikahi, maka hijrahnya kepada apa yang ia niatkan tersebut.” ( HR. Bukhari dan Muslim).

Niat adalah elemen penting dalam menentukan status hukum dalam suatu perbuatan . Dalam arti jika mencium kening dilakukan dengan niat untuk menunjukkan persahabatan, penghormatan, atau sebagai tanda keramahan, tanpa ada unsur penghinaan, pelecehan, atau niat yang bertentangan dengan syariat, maka tindakan tersebut bisa dianggap sebagai perbuatan mubah (diperbolehkan). Namun, jika tindakan yang dilakukan oleh seorang dengan niat yang mengarah pada penghinaan terhadap agama atau menyiratkan dukungan terhadap keyakinan yang bertentangan dengan Islam, maka hal ini bisa menjadi masalah dalam hukum syariah.hal ini berdasarkan pada sebuah kaidah


الحكم يدور مع علته وجود وعداما

Hukum berputar beserta iklannya ada dan tidak adanya

2️⃣. Hormat vs. Pengagungan Berlebihan:
Islam mengajarkan umatnya untuk menghormati semua manusia, termasuk non-Muslim, sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur’an tentang keadilan dan kasih sayang terhadap sesama manusia (QS. Al-Mumtahanah: 8).

لَا يَنْهٰىكُمُ اللّٰهُ عَنِ الَّذِيْنَ لَمْ يُقَاتِلُوْكُمْ فِى الدِّيْنِ وَلَمْ يُخْرِجُوْكُمْ مِّنْ دِيَارِكُمْ اَنْ تَبَرُّوْهُمْ وَتُقْسِطُوْٓا اِلَيْهِمْۗ اِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِيْن

Allah tidak melarang kamu berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tidak memerangimu dalam urusan agama dan tidak mengusir kamu dari kampung halamanmu. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil.
Dalam Tafsir Wajiz dijelaskan terkait ayat tersebut, bahwa Allah tidak melarang kamu berbuat baik dan berlaku adil, karena kebaikan dan keadilan itu bersifat universal, kepada orang-orang kafir yang tidak memerangi kamu karena agama dengan menekankan kebebasan dan toleransi beragama; dan tidak mengusir kamu dari kampung halaman kamu, karena kamu beriman kepada Allah. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil baik terhadap dirinya sendiri maupun terhadap orang lain.
Artinya selama tindakan tersebut ( mencium kening ) adalah bentuk penghormatan yang wajar dan bukan pengagungan yang berlebihan (misalnya, tindakan yang dapat dianggap sebagai tasyabbuh atau meniru kebiasaan yang khusus dari agama lain), hal itu dapat diterima.

Namun, jika mencium kening atau anggota tubuh dilakukan dalam konteks penghormatan berlebihan yang menyerupai bentuk ” ritual keagamaan”, maka tindakan ini harus dihindari karena bisa menyerupai syirik atau memberikan penghormatan kepada selain Allah dengan cara yang tidak sesuai dengan syariat.

3️⃣. Adab dan Etika dalam Interaksi:

Islam memberikan panduan dalam berinteraksi dengan sesama manusia, termasuk adab terhadap non-Muslim. Interaksi yang berlandaskan etika yang baik, keramahan, dan penghormatan adalah bagian dari ajaran Islam. Namun, tindakan-tindakan seperti mencium anggota tubuh harus diperhatikan dengan saksama agar tidak menimbulkan salah tafsir atau dianggap sebagai tindakan yang bertentangan dengan prinsip akidah.
Dengan terbitnya kitab Ihya’ Ulumiddin karya Imam al-Ghazali membawa Hikmah dalam Membela Al-Qur’an dengan Akhlak Mulia.
“Mari kita ngaji bersama untuk menguatkan dan keliru tafsir dengan jawaban pertanyaan penanya diatas itu”.halaman 162

‎كَانَ رَسُولُ الله صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَثِيرَ الضَّرَاعَةِ وَالِابْتِهَالِ دَائِمَ السُّؤَالِ مِنَ الله تَعَالَى أَنْ يُزَيِّنَهُ بِمَحَاسِنِ الْآدَابِ وَمَكَارِمِ الْأَخْلَاقِ فَكَانَ يَقُولُ فِي دُعَائِهِ اللهمَّ حَسِّنْ خُلُقِي وَخَلْقِي وَيَقُولُ اللهمَّ جَنِّبْنِي مُنْكَرَاتِ الْأَخْلَاقِ فَاسْتَجَابَ الله تَعَالَى دُعَاءَهُ وَفَاءً بِقَوْلِهِ عَزَّ وجل {ادعوني أستجب لكم} فأنزل عليه القرآن وأدبه به فكان خلقه القرآن ‎قال سعد بن هشام دخلت على عائشة رضي الله عنها وعن أبيها فسألتها عن أخلاق رَسُولِ الله صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَتْ أما تقرأ القرآن قلت بلى قالت كان خلق رسول الله صلى الله عليه وسلم الْقُرْآنَ


Nabi selalu memohon kepada Allah SWT supaya dihiasi dengan adab yang baik serta akhlak terpuji. Dalam doanya, beliau membaca: Ya Allah, baguskanlan rupa dan akhlakku. Dan beliau juga berdoa: “Ya Allah, jauhkan aku dari akhlak yang munkar,” maka Allah mengabulkan doa beliau sesuai dengan firmanNya “Berdoalah kepada-Ku niscaya Kuperkenankan (permintaan) kamu itu” (QS al-Mu’min: 60). Allah turunkan Al-Qur’an kepada Nabi Muhammad dan dijadikan Al-Qur’an itu bahan pengajaran adab, maka jadilah akhlak Nabi Muhammad itu (seperti isi) Al-Qur’an. Said bin Hisyam berkata, “Aku masuk menemui Siti Aisyah RA dan bertanya tentang akhlak Rasulullah Saw.” Aisyah menjawab dan bertanya, “Apakah engkau membaca Al-Qur’an?” Aku menjawab, “Iya.” Aisyah menjawab, “Akhlak Nabi SAW adalah Al-Qur’an.” Jika memang akhlak Nabi itu adalah Al-Qur’an maka mari kita simak sejumlah ayat Al-Qur’an untuk memahami akhlak beliau SAW”, Sebagai lanjutan kitab Ihya’: ‎

وَإِنَّمَا أَدَّبَهُ الْقُرْآنُ بِمِثْلِ قَوْلِهِ تَعَالَى {خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلِينَ} وَقَوْلِهِ {إِنَّ الله يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ} وَقَوْلِهِ {وَاصْبِرْ عَلَى مَا أَصَابَكَ إِنَّ ذَلِكَ من عزم الأمور} وقوله {ولمن صبر وغفر إن ذلك لمن عزم الأمور} وَقَوْلِهِ {فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاصْفَحْ إِنَّ الله يُحِبُّ المحسنين} وقوله {وَلْيَعْفُوا وَلْيَصْفَحُوا أَلَا تُحِبُّونَ أَنْ يَغْفِرَ الله لكم} وَقَوْلِهِ {ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ فَإِذَا الَّذِي بينك وبينه عداوة كأنه ولي حميم} وقوله {وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَالله يُحِبُّ المحسنين} وَقَوْلِهِ {اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بعضاً} ولما كسرت رباعيته وشج يوم أحد فجعل الدم يسيل على وجهه وهو يمسح الدم ويقول كيف يفلح قوم خضبوا وجه نبيهم بالدم وهو يدعوهم إلى ربهم فأنزل الله تعالى {ليس لك من الأمر شيء} تأديباً له على ذلك

Sungguh Al-Qur’an mengajarkan Rasulullah SAW adab kesantunan sebagaimana dalam ayat, “Jadilah Engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang ma’ruf, serta berpalinglah dari pada orang-orang yang bodoh.” (QS al-A’raf: 199) Di lain ayat, Allah berfirman, “Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan.” (QS al-Nah,: 90) Dan firman Allah, “Bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah).” (QS Luqman:17) Begitu juga dengan ayat “Orang yang bersabar dan memaafkan, sesungguhnya (perbuatan) yang demikian itu termasuk hal-hal yang diutamakan” (QS Asy-Syura: 43) dan “Maka maafkanlah mereka dan biarkan mereka, sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik” (QS al-Maidah:13). Kemudian, “Dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu?” (QS al-Nur:22). Lanjut dengan ayat “Dan yang sanggup menahan marahnya, serta orang- orang yang mema’afkan (kesalahan) orang lain. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebaikan” (QS Ali Imran:134) dan “jauhilah kebanyakan prasangka (kecurigaan), karena sebagian dari prasangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain” (QS al-Hujurat:12). Pada perang Uhud, gigi geraham Nabi patah sehingga darah mengucur keluar dan membasahi wajah beliau. Nabi berkata, “Bagaimana suatu kaum akan selamat jika mereka melumuri wajah Nabi mereka dengan darah, sedangkan Nabi mereka mengajak mereka kepada Tuhan” maka, Allah Swt menurunkan ayat, “Tak ada sedikitpun campur tanganmu dalam urusan mereka itu” (QS Ali Imran:128). Ayat-ayat ini bermakna membimbing Rasulullah SAW atas kejadian yang tengah dihadapinya. Lebih lanjut mari kita ngaji lanjutan ibarat kitab Ihya berikut’:

‎وَأَمْثَالُ هَذِهِ التَّأْدِيبَاتِ فِي الْقُرْآنِ لَا تُحْصَرُ وهو صلى الله عليه وسلم الْمَقْصُودُ الْأَوَّلُ بِالتَّأْدِيبِ وَالتَّهْذِيبِ ثُمَّ مِنْهُ يُشْرِقُ النُّورُ عَلَى كَافَّةِ الْخَلْقِ فَإِنَّهُ أُدِّبَ بِالْقُرْآنِ وَأَدَّبَ الْخَلْقَ بِهِ وَلِذَلِكَ قَالَ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الْأَخْلَاقِ ‎ ثُمَّ رغب الخلق في محاسن الأخلاق بما أوردناه في كتاب رياضة النفس وتهذيب الأخلاق فلا نعيده ثُمَّ لَمَّا أَكْمَلَ الله تَعَالَى خُلُقَهُ أَثْنَى عَلَيْهِ فَقَالَ تَعَالَى {وَإِنَّكَ لَعَلى خُلُقٍ عَظِيمٍ}

Ayat yang senada seperti di atas banyak dijumpai dalam Al-Qur’an. Semuanya itu dimaksudkan mula-mula yaitu untuk membimbing dan mengarahkan Nabi Saw. Dengan itu, maka sinar pelajaran dari Al-Qur’an dapat menyebar ke seluruh manusia. Itulah sebabnya Rasulullah SAW bersabda: “Aku diutus untuk menyempurnakan akhlak mulia”. Setelah Allah menyempurnakan akhlak beliau, lalu Allah memujinya: “Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung” (QS al-Qalam:4). Kemudian lompat ke lembaran berikutnya. ‎


لما أتى بسبايا طيء وقفت جارية في السبي فقالت يا محمد إن رأيت أن تخلي عني ولا تشمت بي أحياء العرب فإني بنت سيد قومي وإن أبي كان يحمي الذمار ويفك العاني ويشبع الجائع ويطعم الطعام ويفشي السلام ولم يرد طالب حاجة قط أنا ابنة حاتم الطائي ‎فقال صلى الله عليه وسلم يا جارية هذه صفة المؤمنين حقاً لو كان أبوك مسلماً لترحمنا عليه خلوا عنها فإن أباها كان يحب مكارم الأخلاق وإن الله يحب مكارم الأخلاق فقام أبو بردة بن نيار فقال يا رسول الله الله يحب مكارم الأخلاق فقال والذي نفسي بيده لا يدخل الجنة إلا حسن الأخلاق

Ketika didatangkan sekelompok tawanan Thayyi-in, di antara tawanan tersebut ada seorang gadis belia. Dia berkata, “Hai Muhammad, sudikah engkau membebaskan aku, dan tidak mengecewakan musuh-musuhmu serta tidak mempermalukan orang-orang Arab? Sesungguhnya, aku adalah putri seorang pemimpin di kaumku. Bapakku bertugas melindungi daerahku, membebaskan tawanan, memenuhi kebutuhan orang yang membutuhkan, memberi makan, menyebarkan salam dan tidak pernah mengusir seseorang yang datang kepadanya untuk suatu keperluan. Aku adalah putri dari Hatim al-Tha’i” Rasulullah Saw berkata, “Wahai budak perempuan, yang kamu sebut adalah semuanya sifat orang-orang mu’min. Andaikata bapakmu seorang Muslim, niscaya kami akan mendoakan rahmat baginya.” Nabi lalu memerintahkan, “Bebaskan dia, sesungguhnya bapaknya menyenangi budi pekerti yang mulia.” Lalu bangun berdiri Abu Bardah bin Niar, seraya-berkata : “Wahai Rasulullah! Allah menyukai akhlaq yang mulia!” Nabi Menjawab: “Demi Allah yang nyawaku dalam kekuatan-Nya! Tiada yang masuk surga kecuali orang yang bagus akhlaknya” ** “Sampai di sini, mengertikah kamu, Ujang, bahwa Nabi pun memghormati akhlak non-Muslim dan menyanjungnya. Kita tentu malu sekarang kalau non-Muslim lebih banyak yang mengamalkan akhlak mulia ketimbang kita para pengikut Nabi Muhammad,” lajutan ibarat selanjutnya-


‎عن معاذ بن جبل عن النبي صلى الله عليه وسلم قال إِنَّ الله حَفَّ الْإِسْلَامَ بِمَكَارِمِ الْأَخْلَاقِ وَمَحَاسِنِ الْأَعْمَالِ وَمِنْ ذَلِكَ حُسْنُ الْمُعَاشَرَةِ وَكَرَمُ الصَّنِيعَةِ وَلِينُ الْجَانِبِ وَبَذْلُ الْمَعْرُوفِ وَإِطْعَامُ الطَّعَامِ وَإِفْشَاءُ السلام وعيادة المريض المسلم براً كان أو فاجراً وتشييع جنازة المسلم وَحُسْنُ الْجِوَارِ لِمَنْ جَاوَرْتَ مُسْلِمًا كَانَ أَوْ كَافِرًا وَتَوْقِيرُ ذِي الشَّيْبَةِ الْمُسْلِمِ وَإِجَابَةُ الطَّعَامِ وَالدُّعَاءُ عَلَيْهِ وَالْعَفْوُ وَالْإِصْلَاحُ بَيْنَ النَّاسِ وَالْجُودُ والكرم والسماحة والابتداء بالسلام وكظم الغيظ والعفو عن الناس


Dari Muaz bin Jabal, Nabi Bersabda: “Sesungguhnya, Islam meliputi akhlak-akhlak yang terpuji dan perilaku yang baik.” Adapun contoh dari akhlak yang terpuji adalah pergaulan yang baik, perbuatan terpuji dan perkataan yang lemah lembut, melakukan perbuatan yang ma’ruf, memberi makan tamu, menyebarkan salam, menziarahi orang Muslim yang sakit baik yang akhlaknya baik maupun yang buruk, mengantarkan jenazah Muslim, berlaku baik kepada tetangga baik yang Muslim maupun yang Kafir, memuliakan yang lebih tua, menghadiri undangan perjamuan makan dan mendoakannya, suka memaafkan, senang mendamaikan, bersifat pemurah, mulia, toleran, memulai memberi salam, menahan amarah dan memberi maaf orang yang minta maaf. “Masih panjang pembahasan comtoh-contoh akhlak Nabi yang dijelaskan oleh Imam al-Ghazali dalam kitab Ihya’. Tapi intinya kita harus memahami betul terhadap akhlak Nabi yaitu Al-Qur’an. Maka jika kita bertekat membela Al-Qur’an maka kita harus membelanya lewat akhlak Nabi Muhammad yang digambarkan begitu indah dalam Al-Qur’an. Tentu mengherankan kalau kita hendak membela Al-Qur’an tapi dilakukan dengan cara yang jauh dari nilai-nilai akhlak yang terkandung dalam Al-Qur’an dan terwujud dalam contoh budi pekerti Nabi Muhammad yang agung.”

Kesimpulan:

Mencium kening atau bagian tubuh non-Muslim dengan niat persahabatan atau penghormatan tidak secara otomatis haram, selama hal itu tidak mengandung unsur pengagungan yang berlebihan, tidak terkait dengan ritual keagamaan yang bertentangan dengan Islam, dan dilakukan dengan niat yang baik serta adab yang benar. Namun, kehati-hatian dalam tindakan ini tetap dianjurkan agar tidak menimbulkan kerancuan atau penafsiran yang salah terkait dengan prinsip-prinsip agama.Hal ini berdasarkan sebuah hadits


حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا هَاشِمُ بْنُ الْقَاسِمِ حَدَّثَنَا أَبُو عَقِيلٍ حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ يَزِيدَ حَدَّثَنِي رَبِيعَةُ بْنُ يَزِيدَ وَعَطِيَّةُ بْنُ قَيْسٍ عَنْ عَطِيَّةَ السَّعْدِيِّ وَكَانَ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يَبْلُغُ الْعَبْدُ أَنْ يَكُونَ مِنْ الْمُتَّقِينَ حَتَّى يَدَعَ مَا لَا بَأْسَ بِهِ حَذَرًا لِمَا بِهِ الْبَأْسُ

Telah menceritakan kepada kami [Abu Bakar bin Abu Syaibah] telah menceritakan kepada kami [Hasyim bin Al Qasim] telah menceritakan kepada kami [Abu ‘Aqil] telah menceritakan kepada kami [Abdullah bin Yazid] telah menceritakan kepadaku [Rabi’ah bin Yazid] dan [‘Athiyah bin Qais] dari [‘Athiyah As Sa’di] -dan dia termasuk dari salah seorang sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam- dia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Seorang hamba belum mencapai derajat takwa sehingga ia meninggalkan sesuatu yang mubah (boleh) sebagai bentuk kehati-hatian dari sesuatu yang dilarang.”

[Ibnu Majah]

Referensi

  1. Ihya’ Ulumiddin halaman 163
  2. Al-Qur’an Surat Al-Mumtahanah: 8
  3. Hadits tentang Niat (HR. Bukhari dan Muslim)
  4. Imam Nawawi dalam Riyadhus Shalihin
  5. Kitab Fiqh Al-Mughnikarya Ibnu Qudamah.

Fatawa Ulama Kontemporer seperti dari Sheikh Yusuf al-Qaradawi juga menegaskan pentingnya bersikap baik kepada non-Muslim dalam konteks sosial, selama hal tersebut tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip dasar Islam.
Referensi-referensi ini menekankan pentingnya niat, adab, serta batasan dalam penghormatan terhadap non-Muslim, agar tetap dalam kerangka yang sesuai dengan ajaran Islam.

Kategori
Uncategorized

RELASI MURID ( ALUMNI)KEPADA GURU DALAM PERSPEKTIF ISLAM

RELASI MURID ( ALUMNI ) DAN GURU DALAM PERSEFEKTIF ISLAM

Pendidikan merupakan internalisasi sikap individu atau kelompok untuk mendewasakan manusia dengan pengajaran dan pelatihan guna mengembangan potensi aspek spritual, pengendalian diri, kepribadiaan, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara Dalam bahasa Arab, padanannya tarbiyah. Kata ini adalah bentuk mashdar(kata dasar) dari تربية –يربي – ربي.

Dalam bahasa Arab adalah tarbiyahsebagai kata dasar atau isim mashdar dari kata يَّبَر yang berarti,
“memelihara”, “menjaga”, dan “mendidik”. Kata يَّبَر dalam tasniyah digunakan beberapa kali dalam Alquran. Dalam dunia pendidikan tentu ada مُرَبِّي orang yang mendidik yaitu guru

Guru sebagai Pembimbing dan Mentor:Guru berperan sebagai pembimbing yang tidak hanya mengajarkan mata pelajaran, tetapi juga mengarahkan murid dalam mengembangkan karakter, nilai-nilai, dan keterampilan hidup. Guru menjadi panutan yang memberikan contoh bagaimana berperilaku dan berinteraksi dengan orang lain.
Murid sebagai Pembelajar Aktif selama belum menjadi alumi Murid diharapkan berperan aktif dalam proses belajar, baik dengan menerima pengetahuan yang diberikan oleh guru maupun dengan mengajukan pertanyaan dan berpikir kritis.Sementara Alumni adalah para lulusan yang telah meninggalkan sekolah, atau pondok, namun tetap memiliki hubungan atau ikatan emosional dan intelektual. Hubungan murid dan guru haruslah tetap terjalin dengan baik agar dapat meningkatkan motivasi murid untuk belajar dan mencapai potensi maksimal karena hubungan yang baik antara alumni dan guru dapat memberikan berbagai manfaat dan hikmah yang tidak kita ketahui.

Pertanyaannya.
Bagaimanakah yang dimaksud sambungan santri Alumni kepada Guru apa sebatas selaturrahim ataukah dengan istiqomah . tawassul? 🙏🙏🙏

Walaikum salam.

Menurut ulama sufi, konsep “sambungan” atau “Rabithoh” kepada guru memiliki makna yang mendalam dan berbeda dengan hubungan biasa antara murid dan guru. Dalam pandangan tasawuf, Rabithoh adalah hubungan batiniah yang melampaui sekadar interaksi fisik atau silaturrahim. Ini adalah sambungan hati yang kuat antara murid dan guru spiritualnya (mursyid).Rabithoh adalah cara murid untuk menghubungkan dirinya dengan sang guru secara spiritual, bahkan ketika mereka tidak bersama secara fisik. Dalam praktiknya, ini sering dilakukan dengan memvisualisasikan wajah atau kehadiran guru dalam hati dan pikiran murid selama meditasi, dzikir, atau saat-saat membutuhkan bimbingan spiritual. Tujuannya adalah agar murid selalu terhubung dengan energi, keberkahan, dan bimbingan rohani dari gurunya.Silaturrahim secara fisik tetap penting, namun dalam perspektif sufi, yang lebih penting adalah adanya “sambung hati” atau hubungan batin yang terus menerus dengan guru. Dengan Rabithoh, murid dapat selalu merasakan bimbingan dan pengaruh positif dari gurunya, yang pada akhirnya membantu dalam perjalanan spiritual mereka menuju Allah.

Dengan demikian hubungan murid dan guru secara syariat tetap terjalin melalui silarrahim namun secara Hakikat nyambung kepada guru adalah sambungan hati yang selalu istiqomah dalam bertawassul rabithoh dalam berdzikir, Namun demikian yang utama adalah tidak meninggalkan keduanya antara hubungan secara syariat maupun secara hakikat. Ini berdasarkan sebuah maqolah.Dalam kitab Tanwiril Qulub Syaikh Amin Al-Kurdiy

شريعة بلا حقيقة عاطلة وحقيقة بلا شريعة باطلة

Syariah tanpa hakikat, ATIL (Kosong tak bermakna). Hakikat tanpa syariat, BATIL.

Dan ada sebagian ulama ahli tasawuf mengatakan

الحقيقة بلا شريعة باطلة، والشريعة بلا حقيقة عاطلة

Hakikat tanpa bersyariat adalah pengangguran, bersyariat tanpa hakikat adalah pelanturan,”
Oleh karena penting kedua-keduanya bagi alumni untuk robitah ( menyambung) dalam setiap saat ini berdasarkan firman Allah Swt

Ini berdasarkan sebuah firman Allah Swt dalam Al-Qur’an

تفسير الطبري

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَابْتَغُوا إِلَيْهِ الْوَسِيلَةَ وَجَاهِدُوا فِي سَبِيلِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ (٨٥)

القول في تأويل قوله عز ذكره : يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَابْتَغُوا إِلَيْهِ الْوَسِيلَةَ
قال أبو جعفر: يعني جل ثناؤه بذلك: يا أيها الذين صدّقوا الله ورسوله فيما أخبرهم ووعَد من الثواب وأوعدَ من العقاب (128) ” اتقوا الله ” يقول: أجيبوا الله فيما أمركم ونهاكم بالطاعة له في ذلك، وحقِّقوا إيمانكم وتصديقكم ربَّكم ونبيَّكم بالصالح من أعمالكم (129) =” وابتغوا إليه الوسيلة “، يقول: واطلبوا القربة إليه بالعمل بما يرضيه. (130)


و ” الوسيلة “: هي” الفعيلة ” من قول القائل: ” توسلت إلى فلان بكذا “، بمعنى: تقرَّبت إليه، ومنه قول عنترة:
إنَّ الرِّجَــالَ لَهُــمْ إِلَيْــكِ وَسِـيلَةٌ
إِنْ يَــأْخُذُوكِ, تكَحَّــلِي وتَخَـضَّبي (131)
يعني بـ” الوسيلة “، القُرْبة، ومنه قول الآخر: (132)
إِذَا غَفَــلَ الوَاشُـونَ عُدْنَـا لِوَصْلِنَـا
وَعَــادَ التَّصَـافِي بَيْنَنَـا وَالوَسَـائِلُ (133)


وبنحو الذي قلنا في ذلك قال أهل التأويل.
ذكر من قال ذلك:
11899 – حدثنا ابن بشار قال، حدثنا أبو أحمد الزبيري قال، حدثنا سفيان= ح، وحدثنا ابن وكيع قال، حدثنا زيد بن الحباب، عن سفيان= عن منصور، عن أبي وائل: ” وابتغوا إليه الوسيلة “، قال: القربة في الأعمال.
 – حدثنا هناد قال، حدثنا وكيع= ح، وحدثنا سفيان قال، حدثنا أبي= عن طلحة، عن عطاء: ” وابتغوا إليه الوسيلة “، قال: القربة.
11901 – حدثني محمد بن عمرو قال، حدثنا أحمد قال، حدثنا أسباط، عن السدي: ” يا أيها الذين آمنوا اتقوا الله وابتغوا إليه الوسيلة “، قال: فهي المسألة والقربة. (134)
11902 – حدثنا بشر قال، حدثنا يزيد قال، حدثنا سعيد، عن قتادة قوله: ” وابتغوا إليه الوسيلة “، أي: تقربوا إليه بطاعته والعملِ بما يرضيه.
11902 – حدثني المثنى قال، حدثنا أبو حذيفة قال، حدثنا شبل، عن ابن أبي نجيح، عن مجاهد: ” وابتغوا إليه الوسيلة “، القربة إلى الله جل وعزّ.
11903 – حدثني المثني قال، حدثنا إسحاق قال، حدثنا عبد الرزاق قال، خبرنا معمر، عن الحسن في قوله: ” وابتغوا إليه الوسيلة “، قال: القربة.
11904 – حدثنا القاسم قال، حدثنا الحسين قال، حدثني حجاج، عن ابن جريج، عن عبد الله بن كثير قوله: ” وابتغوا إليه الوسيلة “، قال: القربة.
11905 – حدثني يونس قال، أخبرنا ابن وهب قال، قال ابن زيد في قوله: ” وابتغوا إليه الوسيلة “، قال: المحبّة، تحبّبوا إلى الله. وقرأ: أُولَئِكَ الَّذِينَ يَدْعُونَ يَبْتَغُونَ إِلَى رَبِّهِمُ الْوَسِيلَةَ [سورة الإسراء: 57].

Referensi

تفسير الطبري — ابن جرير الطبري (٣١٠ هـ)

﴿وَأَلَّوِ ٱسۡتَقَـٰمُوا۟ عَلَى ٱلطَّرِیقَةِ لَأَسۡقَیۡنَـٰهُم مَّاۤءً غَدَقࣰا ۝١٦ لِّنَفۡتِنَهُمۡ فِیهِۚ وَمَن یُعۡرِضۡ عَن ذِكۡرِ رَبِّهِۦ یَسۡلُكۡهُ عَذَابࣰا صَعَدࣰا ۝١٧﴾ [الجن ١٦-١٧]

القول في تأويل قوله تعالى: ﴿وَأَنْ لَوِ اسْتَقَامُوا عَلَى الطَّرِيقَةِ لأسْقَيْنَاهُمْ مَاءً غَدَقًا (١٦) لِنَفْتِنَهُمْ فِيهِ وَمَنْ يُعْرِضْ عَنْ ذِكْرِ رَبِّهِ يَسْلُكْهُ عَذَابًا صَعَدًا (١٧) ﴾
يقول تعالى ذكره: وأن لو استقام هؤلاء القاسطون على طريقة الحقّ والاستقامة ﴿لأسْقَيْنَاهُمْ مَاءً غَدَقًا﴾ يقول: لوسعنا عليهم في الرزق، وبسطناهم في الدنيا ﴿لِنَفْتِنَهُمْ فِيهِ﴾ يقول: لنختبرهم فيه.
واختلف أهل التأويل في تأويل ذلك، فقال بعضهم نحو الذي قلنا فيه. * ذكر من قال ذلك:
⁕ حدثني محمد بن سعد، قال: ثني أبي، قال: ثني عمي، قال: ثني أبي، عن أبيه، عن ابن عباس، قوله: ﴿وَأَنْ لَوِ اسْتَقَامُوا عَلَى الطَّرِيقَةِ لأسْقَيْنَاهُمْ مَاءً غَدَقًا﴾ يعني بالاستقامة: الطاعة. فأما الغدق: فالماء الطاهر الكثير ﴿لِنَفْتِنَهُمْ فِيهِ﴾ يقول: لنبتليهم به.
⁕ حدثنا ابن بشار، قال: ثنا مؤمل، قال: ثنا سفيان، عن عبيد الله بن أبي زياد، عن مجاهد ﴿وَأَنْ لَوِ اسْتَقَامُوا عَلَى الطَّرِيقَةِ﴾ طريقة الإسلام ﴿لأسْقَيْنَاهُمْ مَاءً غَدَقًا﴾ قال: نافعا كثيرا، لأعطيناهم مالا كثيرا ﴿لِنَفْتِنَهُمْ فِيهِ﴾ حتى يرجعوا لما كتب عليهم من الشقاء.
⁕ حدثنا إسحاق بن زيد الخطابي، قال: ثنا الفريابي، عن سفيان، عن عبيد الله بن أبي زياد، عن مجاهد مثله.
⁕ حدثنا ابن حميد، قال: ثنا مهران، عن سفيان، عن عبيد الله بن أبي زياد، عن مجاهد ﴿وَأَنْ لَوِ اسْتَقَامُوا عَلَى الطَّرِيقَةِ﴾ قال: طريقة الحقّ ﴿لأسْقَيْنَاهُمْ مَاءً غَدَقًا﴾ يقول مالا كثيرا ﴿لِنَفْتِنَهُمْ فِيهِ﴾ قال: لنبتليهم به حتى يرجعوا إلى ما كتب عليهم من الشقاء.
⁕ حدثنا ابن حميد، قال: ثنا مهران، عن سفيان، عن ابن مجاهد، عن أبيه، مثله.
⁕ قال: ثنا مهران، عن سفيان، عن علقمة بن مرثد، عن مجاهد ﴿وَأَنْ لَوِ اسْتَقَامُوا عَلَى الطَّرِيقَةِ﴾ قال: الإسلام ﴿لأسْقَيْنَاهُمْ مَاءً غَدَقًا﴾ قال الكثير ﴿لِنَفْتِنَهُمْ فِيهِ﴾ قال: لنبتليهم به.
⁕ قال ثنا مهران، عن أبي سنان، عن غير واحد، عن مجاهد ﴿مَاءً غَدَقًا﴾ قال الماء. والغدق: الكثير ﴿لِنَفْتِنَهُمْ فِيهِ﴾ حتى يرجعوا إلى علمي فيهم.
⁕ حدثني محمد بن عمرو، قال: ثنا أبو عاصم، قال: ثنا عيسى؛ وحدثني الحارث قال: ثنا الحسن، قال: ثنا ورقاء، جميعا عن ابن أبى نجيح، عن مجاهد، قوله: ﴿لأسْقَيْنَاهُمْ مَاءً غَدَقًا﴾ قال: لأعطيناهم مالا كثيرا، قوله: ﴿لِنَفْتِنَهُمْ فِيهِ﴾ قال: لنبتليهم.
⁕ حدثني أبو السائب، قال: ثنا أبو معاوية، عن بعض أصحابه، عن الأعمش، عن المنهال، عن سعيد بن جُبير في قوله: ﴿وَأَنْ لَوِ اسْتَقَامُوا عَلَى الطَّرِيقَةِ﴾ قال: الدين ﴿لأسْقَيْنَاهُمْ مَاءً غَدَقًا﴾ قال: مالا كثيرا ﴿لِنَفْتِنَهُمْ فِيهِ﴾ يقول: لنبتليهم به.
⁕ حدثنا بشر، قال: ثنا يزيد، قال: ثنا سعيد، عن قتادة، قوله: ﴿وَأَنْ لَوِ اسْتَقَامُوا عَلَى الطَّرِيقَةِ لأسْقَيْنَاهُمْ مَاءً غَدَقًا﴾ قال: لو آمنوا كلهم لأوسعنا عليهم من الدنيا. قال الله: ﴿لِنَفْتِنَهُمْ فِيهِ﴾ يقول: لنبتليهم بها.
⁕ حدثنا ابن عبد الأعلى، قال: ثنا ابن ثور، عن معمر، عن قتادة ﴿لأسْقَيْنَاهُمْ مَاءً غَدَقًا﴾ قال: لو اتقوا لوسع عليهم في الرزق ﴿لِنَفْتِنَهُمْ فِيهِ﴾ قال: لنبتليهم فيه.
⁕ حدثنا ابن حميد، قال: ثنا مهران، عن أبي جعفر، عن الربيع بن أنس ﴿مَاءً غَدَقًا﴾ قال: عيشا رَغدًا.
⁕ حدثني يونس، قال: أخبرنا ابن وهب، قال، قال ابن زيد، في قوله: ﴿وَأَنْ لَوِ اسْتَقَامُوا عَلَى الطَّرِيقَةِ لأسْقَيْنَاهُمْ مَاءً غَدَقًا﴾ قال: الغدق الكثير: مال كثير ﴿لِنَفْتِنَهُمْ فِيهِ﴾ لنختبرهم فيه.
⁕ حدثنا عمرو بن عبد الحميد الآملي، قال: ثنا المطلب بن زياد، عن التيمي، قال، قال عمر رضي الله عنه في قوله: ﴿وَأَنْ لَوِ اسْتَقَامُوا عَلَى الطَّرِيقَةِ لأسْقَيْنَاهُمْ مَاءً غَدَقًا﴾ قال: أينما كان الماء كان المال وأينما كان المال كانت الفتنة.
وقال آخرون: بل معنى ذلك: وأن لو استقاموا على الضلالة لأعطيناهم سعة من الرزق لنستدرجهم بها. * ذكر من قال ذلك:
⁕ حدثنا ابن عبد الأعلى، قال: ثنا المعتمر بن سليمان، قال: سمعت عمران بن حدير، عن أبي مجلز، قال: وأن لو استقاموا على طريقة الضلالة.
وقال آخرون: بل معنى ذلك: وأن لو استقاموا على طريقة الحق وآمنوا لوسعنا عليهم.

Kategori
Uncategorized

PROBLEMATIKA PENGGUNAN HANGER DAN BEJANA NON MUSLIM NAJISKAH?

PROBLEMATIKA PENGGUNAN HANGER DAN BEJANA/PIRING NON MUSLIM NAJISKAH?

Assalamualaikum.

DESKRIPSI MASALAH

Sebagaimana yang kita maklumi bahwa Diprovensi Bali mayoritas penduduknya beragama Hindu, dan sedikit ( minoritas) orang yang beragama Islam , sedangkan dirumahnya orang Hindu rata-rata terdapat anjing, suatu ketika Ahmad meminjam hanger atau tempat jemuran pakaian kepada orang Hindu,

Studi kasus yang serupa

Dalam waqiyah ada seorang muslimah bekerja kepada orang hindu/orang kristiani yang punya anjing dan iya bekerja memasak setiap harinya, dan belanja kepasar , namun demikian stiap harinya anjingnya keluar masuk kedalam kamar dapurnya.

Pertanyaannya.
Najiskah hanger, pakaian dan bejana , piring yang dipakai orang Muslim tersebut?

Waalaikum salam
Jawaban

Menggunakan hanger dan bejana Non Muslim ( orang kafir ) baik mereka ahlul kitab dan yang lainya, selama meyakini tidak adanya hal yang najis maka hukumnya boleh dan suci dengan alasan karena mengikuti terhadap hukum asal ( kesucian)-Nya.Hal ini berdasarkan kaidah yang berlaku bahwa “ketika bertentangan antara penilaian secara zahir dan hukum asal suatu perkara, maka yang menjadi pijakan adalah hukum asalnya.”
Bahwa sesungguhnya sesuatu yang asalnya suci lalu ia menduga kuat bahwa sesuatu itu najis, dikarenakan pada umumnya terkena najis pada hal sesamanya maka dalam hal ini berlaku dua pendapat yang dikenal dengan dua qoul ” yaitu asal dan dhahir atau ghalib (pada umumnya) maka dalam hal ini pendapat yang paling unggul ( kuat ) adalah sucinya sesuatu tersebut, karena berpijak pada pengamalan hukum asal yang diyakini, disebabkan hukum asal lebih konfrensif dibandingkan dari ghalib yang berbeda-beda berdasarkan kondisi dan waktu.

Jadi kesimpulan hanger pakaian dan piring yang digunakan oleh Ahmad dan Muslimah adalah suci karena berpijak pada hukum asal yang diyakini. Dengan demikian hukum menggunakannya boleh tanpa makruh kecuali nampak ada najisnya namun makruh menggunakan setelah disucikan menurut Imam Nawi .Wallahu A’lam bisshowab

فتح المعين هامش إعانة الطالبين ١٠٤/١

(قاعدة مهمة)

وهي أن ما أصله الطهارة وغلب على الظن تنجسه لغلبة النجاسة في مثله، فيه قولان معروفان بقولي الاصل والظاهر أو الغالب أرجحهما أنه طاهر، عملا بالاصل المتيقن، لانه أضبط من الغالب المختلف بالاحوال والازمان، (وذلك كثياب خمار وحائض وصبيان)، وأواني متدينين بالنجاسة، وورق يغلب نثره على نجس، ولعاب صبي، وجوخ اشتهر عمله بشحم الخنزير، وجبن شامي اشتهر عمله بإنفحة الخنزير. وقد جاءه صلى الله عليه وسلم جبنة من عندهم فأكل منها ولم يسأل عن ذلك ذكره شيخنا في شرح المنهاج.(قوله: وأواني متدينين بالنجاسة) أي أواني مشركين متدينين باستعمال النجاسة، كطائفة من المجوس يغتسلون بأبوال البقر تقربا.
(قوله: وجوخ إلخ) في المغني: سئل ابن الصلاح عن الجوخ الذي اشتهر على ألسنة الناس أن فيه شحم الخنزير ؟ فقال: لا يحكم بنجاسته إلا بتحقق النجاسة اهـ

حواشي الشرواني – (ج ١ / ص ١٢٧)
تتمة: يكره استعمال أواني الكفار وملبوسهم وما يلي أسافلهم أي مما يلي الجلد أشد وأواني مائهم أخف وكذلك المسلم الذي ظهر منه عدم تصوبه عن النجاسات ويسن إذا جن الليل تغطية الاناء ولو بعرض عود وألحق به ابن العماد البئر وإغلاق الابواب وإيكاء السقاء مسميا لله تعالى في الثلاثة وكف الصبيان والماشية أول ساعة من الليل وإطفاء المصباح للنوم ويسن ذكر اسم الله على كل أمر ذي بال كردي ومغني وقوله: (أواني الكفار) أي وإن كانوا يتدينون باستعمال النجاسة كطائفة من المجوس يغتسلون ببول البقر تقربا إلى الله تعالى قوله: (وكذلك المسلم الذي الخ) أي كمدمني الخمر والقصابين الذين لا يحترزون عن النجاسة مغني وشيخنا.

حواشي الشرواني – (ج ١ / ص ٥٥)
(قَوْلُهُ اسْتِعْمَالُهَا) أَيْ لَفْظَةُ يَنْبَغِي (قَوْلُهُ فِي الْمَنْدُوبِ تَارَةً وَالْوُجُوبِ أُخْرَى) ، وَتُحْمَلُ عَلَى أَحَدِهِمَا بِالْقَرِينَةِ نِهَايَةٌ بَقِيَ مَا لَوْ لَمْ تَدُلَّ قَرِينَةً وَيَنْبَغِي أَنْ تُحْمَلَ عَلَى النَّدْبِ إنْ كَانَ التَّرَدُّدُ فِي حُكْمٍ شَرْعِيٍّ، وَإِلَّا فَعَلَى الِاسْتِحْسَانِ وَاللِّيَاقَةِ وَمَعْنَاهَا هُنَا كَمَا قَالَ عَمِيرَةُ إنَّهُ يُطْلَبُ وَيَحْسُنُ شَرْعًا تَرْكُ خُلُوِّ الْكِتَابِ مِنْهَا ع ش قَوْلُ الْمَتْنِ (أَنْ يُخَلِّيَ) لَعَلَّهُ مِنْ الْإِخْلَاءِ

الأشباه والنظائر ٤٧
( والثالث ) ما يرجح فيه الاصل على الاصح وضابطهان يستند الاحتمال الى سبب ضعيف وامثلته لاتكاد تحصر منها الشئ الذى لا يتقين بنجاسته ولكن الغالب فيه النجاسة كاوانى وثياب مدنى الخمر والقصابين والكفار المتدينين بها كا المجوس ومن ظهر اختلاطه بالنجاسة وعدم اخترازه منها مسلمل كان او كافرا كما فى شرح المهذب عن الامام…….. الى ان قال وفى جميع ذلك قولان اصحهما الحكم بالطاهرة استصحابا للاصل اهـ

أسنى المطالب – (ج ١ / ص ١٣٧)
( فَرْعٌ إذَا غَلَبَتْ النَّجَاسَةُ ) فِي شَيْءٍ ( وَالْأَصْلُ ) فِيهِ أَنَّهُ ( طَاهِرٌ كَثِيَابِ مُدْمِنِي الْخَمْرِ وَ ) ثِيَابِ ( مُتَدَيِّنَيْنِ بِالنَّجَاسَةِ ) كَالْمَجُوسِ ( وَ ) ثِيَابِ ( صِبْيَانِ ) بِكَسْرِ الصَّادِ أَشْهَرُ مِنْ ضَمِّهَا ( وَمَجَانِينَ وَقَصَّابِينَ ) أَيْ جَزَّارِينَ ( حُكِمَ ) لَهُ ( بِالطَّهَارَةِ ) عَمَلًا بِالْأَصْلِ ، وَمَحَلُّ الْعَمَلِ بِهِ إذَا اسْتَنَدَ ظَنَّ النَّجَاسَةِ إلَى غَلَبَتِهَا ، وَإِلَّا عَمِلَ بِالْغَالِبِ كَمَا مَرَّ فِي بَوْلِ الظَّبْيَةِ ، وَذِكْرُ الْمَجَانِينِ مِنْ زِيَادَتِهِ ( وَمَا عَمَّتْ بِهِ الْبَلْوَى مِنْ ذَلِكَ كَعُرْفِ الدَّوَابِّ ، وَلُعَابِهَا ، وَلُعَابِ الصَّبِيِّ ، وَالْحِنْطَةِ ) الَّتِي ( تُدَاسُ ، وَالثَّوْرُ يَبُولُ ) عَلَيْهَا جُمْلَةٌ حَالِيَّةٌ ( وَالْجُوخُ ، وَقَدْ اُشْتُهِرَ اسْتِعْمَالُهُ بِشَحْمِ الْخِنْزِيرِ مَحْكُومٌ بِطَهَارَتِهِ ) ، وَالتَّصْرِيحُ بِهَذَا مِنْ زِيَادَتِهِ ، وَلَوْ قَالَ ، وَكَذَا مَا عَمَّتْ إلَخْ ، وَحَذَفَ قَوْلِهِ مَحْكُومٌ بِطَهَارَتِهِ كَانَ أَوْضَحَ ، وَأَخْصَرَ .( قَوْلُهُ وَمَا عَمَّتْ بِهِ الْبَلْوَى إلَخْ ) سُئِلَ ابْنُ الصَّلَاحِ عَنْ الْأَوْرَاقِ الَّتِي تُعْمَلُ وَتُبْسَطُ وَهِيَ رَطْبَةٌ عَلَى الْحِيطَانِ الْمَعْمُولَةِ بِرَمَادٍ نَجِسٍ فَقَالَ لَا يُحْكَمُ بِنَجَاسَتِهَا وَسُئِلَ عَنْ قَلِيلِ قَمْحٍ فِي سُفْلٍ وَقَدْ عَمَّتْ الْبَلْوَى بِزِبْلِ الْفَأْرِ وَأَمْثَالِ ذَلِكَ فَقَالَ لَا يُحْكَمُ بِنَجَاسَتِهِ إلَّا أَنْ تُعْلَمَ نَجَاسَةً فِي هَذَا الْحَبِّ الْمُعَيَّنِ.

مغني المحتاج إلى معرفة ألفاظ المنهاج – (ج ١ / ص ١٢٤)
وَلَوْ غَلَبَتْ النَّجَاسَةُ فِي شَيْءٍ ، وَالْأَصْلُ فِيهِ الطَّهَارَةُ كَثِيَابِ مُدْمِنِي الْخَمْرِ ، وَمُتَدَيِّنِينَ بِالنَّجَاسَةِ كَالْمَجُوسِ ، وَمَجَانِينَ ، وَصِبْيَانٍ بِكَسْرِ الصَّادِ أَشْهُرُ مِنْ ضَمِّهَا وَجَزَّارِينَ حُكِمَ لَهُ بِالطَّهَارَةِ عَمَلًا بِالْأَصْلِ ، وَكَذَا مَا عَمَّتْ بِهِ الْبَلْوَى مِنْ ذَلِكَ كَعَرَقِ الدَّوَابِّ وَلُعَابِهَا وَلُعَابِ الصَّبِيِّ وَالْحِنْطَةِ الَّتِي تُدَاسُ ، وَالثَّوْرُ يَبُولُ عَلَيْهَا وَالْجُوخُ ، وَقَدْ اشْتَهَرَ اسْتِعْمَالُهُ بِشَحْمِ الْخِنْزِيرِ ، وَمِنْ الْبِدَعِ الْمَذْمُومَةِ غَسْلُ ثَوْبٍ جَدِيدٍ وَقَمْحٍ وَفَمٍ مِنْ أَكْلِ نَحْوِ خُبْزٍ ، وَتَرْكُ مُؤَاكَلَةِ الصِّبْيَانِ لِتَوَهُّمِ نَجَاسَتِهَا قَالَهُ فِي الْعُبَابِ وَالْبَقْلُ النَّابِتُ فِي نَجَاسَةٍ مُتَنَجِّسٌ لَا مَا ارْتَفَعَ عَنْ مَنْبَتِهِ فَإِنَّهُ طَاهِرٌ ، وَلَوْ وَجَدَ قِطْعَةَ لَحْمٍ فِي إنَاءٍ أَوْ خِرْقَةٍ بِبَلَدٍ لَا مَجُوسَ فِيهِ فَطَاهِرَةٌ ، أَوْ مَرْمِيَّةً مَكْشُوفَةً فَنَجِسَةٌ أَوْ فِي إنَاءٍ أَوْ خِرْقَةٍ وَالْمَجُوسُ بَيْنَ الْمُسْلِمِينَ وَلَمْ يَكُنْ الْمُسْلِمُونَ أَغْلَبَ فَكَذَلِكَ وَإِنْ كَانَ الْمُسْلِمُونَ أَغْلَبَ فَطَاهِرَةٌ وَكَذَا إذَا اسْتَوَيَا فِيمَا يَظْهَرُ.

Menurut Imam Nawawi boleh dan tidak makruh kecuali mutanajis maka hukum menggunakannya makruh setelah dibasuh ( disucikan).

“أن استعمال أواني المشركين جائز لا كراهة فيه إلا إن كانوا يستعملونها في النجاسات، فلا تستعمل إلا بعد الغسل، واستعمالها والحال هذه مكروه، “

Kategori
Uncategorized

HUKUM MENGINJAK DEBU KAPUR TULIS YANG DIHAPUS DARI TULISAN AYAT AL-QUR’AN

HUKUM MENGINJAK DEBU KAPUR TULIS YANG DIHAPUS DARI TULISAN AYAT AL-QUR’AN

Assalamualaikum
Deskripsi
Dalam menjalani proses belajar mengajar sejak dahulu hingga sekarang ketika menulis pembelajaran tidak jarang bagi ustadz dan ustadzah dilembaga Keagamaan menulis ayat al-Qur’an walau kini telah memasuki zaman milinial yang serba elektronik namun sebagian masih menggunakan kapur hal itu berdasarkan kaidah

المحافظة على القديم الصالح والأخذ بالجديد الأصلح


“Menjaga hal-hal lama yang baik dan mengambil hal-hal baru yang lebih baik”

Nah ketika telah selesai menulis tidak jarang tulisan tersebut dihapus

Pertanyaannya
Bagaimana hukum menginjak kapur yang dihapus dari tulisan ayat tersebut?

Waalaikum salam
Jawaban.
Tidak haram jika menginjaknya bukan tujuan menghina atau meremehkannya, dengan alasan karena hal /kondisi tersebut (Debu kapur) sudah keluar atau bukan Qur’an ( bukan ayat Al-Qur’an) dan sudah terganti bentuk dan keadaannya, bahkan boleh menulis dengan kaki jika mimang tidak memungkinkan dengan tangan dalam kondisi darurat.

قرة العين ص ٢٣١
ماقولكم فى مصحف قد تحرب فأحرق، هل يجوز لأحد أن يطاء برجله رماد ذلك المصحف او أن يعلوه بها أولا؟

الجواب . إذا عرف أن ذلك التراب أو الرماد هو رماد المصحف ، فلايجوز له أن يطاء على وجه الإمتهان . وأما إذا لم يكن قصدا للإمتهان ولامعائدا ، فإن ذلك لايكون حراما ، لأنه قد خرج عن كونه قرآنا وتبدلت ذاته وصفته وشكله وهيئته . والله سبحانه وتعالى أعلم بالصواب

( جمل ج ٥ ص ١٢٣)
فائدة وقع السؤال عن شخص يكتب القرأن برجله لكونه لايمكنه ان يكتبه بيديه لمانع بهما فالجواب عنه كما اجاب به شيخنا الشوبري انه لايحرم عليه ذلك والحالة ما ذكر لأنه لايعد إزراء لإن الإزراء أن يقدر على الحالة االكاملة وينتقل عنها الى غيرها وهذا ليس كذلك

Kategori
Uncategorized

ADZAN KETIKA AKAN BERANGKAT HAJI, APAKAH MUADZZIN HARUS BERADA DIBELAKANG SAFIR


ADZAN KETIKA AKAN MUSAFIR HAJI  APAKAH MUADZZIN  HARUS DIBELAKANG MUSAFIR?

Assalamualaikum 

Deskripsi
Sudah lumrah Setiap rangkaian pemberangkatan haji dan umroh selalu di  adzani dan iqomah.
Pertanyaan

1. Apakah ada dalil yang memperbolehkan muadzin tidak dibelakang jamaah yang mau berangkat ?

Waalaikum salam.
Jawaban.

Perlu diketahui bahwa azan dan iqamah tidak hanya sunnah dikumandangkan untuk mendirikan shalat fardu saja, namun dalam kondisi-kondisi tertentu azan dan iqamah pun juga disunnnahkan. Salah satunya dilakukan ketika  orang yang hendak melakukan perjalanan, baik perjalanan untuk melakukan ibadah haji atau yang lainnya yang penting bukan perjalanan maksiat.

Adapun persoalan posisi muadzzin ketika mengadzani orang yang akan bepergian  tidak  ada  keterangan  harus berada  dibelakangnya saafir karena  adanya dalil hanya anjuran / sunnah  adzan dan tidak ada ketentuan harus dibelakang atau didepan walaupun ada keterangan خلف  yang berarti dibelakang  namun yang  dimaksudkan bukan posisi muadzzin harus berada dibelakang saafir  akan tetapi maksud dari خلف adalah adzan dan iqomah. Oleh karena terkadang makna kalimat dan interpretasi (penafsiran) itu berbeda yang terpenting jika mencari keutamaan dan sunnah adalah muadzzin menghadap kearah kiblat karena adanya hadits.


خير المجالس مااستقبل به القبلة ( رواه الطبرانى)


Artinya sebaik tempat adalah menghadap kearah kiblat.( lihat dalam kitab Tanwirul Qulub)

Dari Malik bin Al Huwairits, ia berkata,

أَتَى رَجُلاَنِ النَّبِىَّ – صلى الله عليه وسلم – يُرِيدَانِ السَّفَرَ فَقَالَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – « إِذَا أَنْتُمَا خَرَجْتُمَا فَأَذِّنَا ثُمَّ أَقِيمَا ثُمَّ لِيَؤُمَّكُمَا أَكْبَرُكُمَا »


“Ada dua orang yang pernah mengunjungi Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, mereka berdua ingin melakukan safar. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pun bersabda, “Jika kalian berdua keluar, maka kumandangkanlah azan lalu iqamah, lalu yang paling tua di antara kalian hendaknya menjadi imam.” (HR.Bukhari no.630).

Dalam Tuhfatul Habib disebutkan:

وَيُسَنُّ الأَذانُ والْإِقامَةُ أَيْضًا خَلْفَ المُسَافِرِ اهـ

Artinya, “Sunnah mengumandangkan azan dan iqamah juga di belakang orang yang hendak melakukan perjalanan.”

Berikut penjelasan interpretasi خلف  dalam kitab I’anatut Thalibin, juz 1, hal. 23 berikut ini:

قوله خلف المسافر—أي ويسنّ الأذان والإقامة أيضا خلف المسافر لورود حديث صحيخ فيه قال أبو يعلى في مسنده وابن أبي شيبه: أقول وينبغي أنّ محل ذالك مالم يكن سفر معصية

“Kalimat ‘menjelang bepergian bagi musafir’ maksudnya dalah disunnahkan adzan dan iqamah bagi seseorang yang hendak bepergian berdasar hadits shahih. Abu Ya’la dalam Musnad-nya dan Ibnu Abi Syaibah mengatakan: Sebaiknya tempat adzan yang dimaksud itu dikerjakan selama bepergian asal tidak bertujuan maksiat.” Dalil kedua diperoleh dari kitab yang sama:

فائدة: لم يؤذن بلال لأحد بعد النبي صلى الله عليه وسلم غير مرة لعمر حين دخل الشام فبكى الناس بكاء شديدا – قيل إنه أذان لأبي يكر إلي أن مات … الخ

“Sahabat Bilal tidak pernah mengumandangkan adzan untuk seseorang setelah wafatnya Nabi Muhammad kecuali sekali. Yaitu ketika Umar bin Khattab berkunjung ke negeri Syam. Saat itu orang-orang menangis terharu sejadi-jadinya. Tapi ada khabar lain: Bilal mengumandangkan adzan pada waktu wafatnya Abu Bakar.” Dalil ketiga, dalam Shahih Ibnu Hibban, juz II, hal 36:

من طريق أبي بكر والرذبري عن ابن داسة قال: حدثنا ابن محزوم قال حدثني الإمام على ابن أبي طالب كرم الله وجهه وسيدتنا عائشة رضي الله عنهم—كان رسول الله صلى الله عليه وسلم إذا استودع منه حاج أو مسافر أذن وأقام – وقال ابن سني متواترا معنوي ورواه أبو داود والقرافي والبيهقي

“Riwayat Abu Bakar dan Ar-Rudbari dari Ibnu Dasah, ia berkata: Ibnu Mahzum menceritakan kepadaku dari Ali dari Aisyah, ia mengatakan: Jika seorang mau pergi haji atau bepergian, ia pamit kepada Rasulullah, Rasul pun mengadzani dan mengomati. Hadits ini menurut Ibnu Sunni mutawatir maknawi. Juga diriwayatkan oleh Abu Dawud, al-Qarafi, dan al-Baihaqi.”

Imam An Naasyirii termasuk  ulama’ Syafiiyyah, di dalam kitab Al Idhoh berkata:
Disunnatkan adzan untuk menolak gangguan para jin,dan bagi orang yang sedih,dan untuk bayi ketika dilahirkan disunnatkan di adzani di telinga kanannya,dan di qomati telinga kirinya,dan disunnatkan adzan dan iqomah di belakang musafir(yang akan berangkat haji/umroh dan lain-lain).

Referensi:

وقال الناشري من الشافعية في الإيضاح يستحب الأذان لمزدحم الجن ، وفي أذن الحزين والصبي عندما يولد في اليمين ، ويقيم في اليسرى ، والأذان خلف المسافر والإقامة ، وفي فتاوى الأصبحي ، هل ورد في الأذان والإقامة عند إدخال الميت القبر خبر ؟ فالجواب : لا أعلم فيه ورود خبر ولا أثر إلا ما يحكى عن بعض المتأخرين ، ولعله مقيس على استحباب الأذان والإقامة في أذن المولود فإن الولادة أول الخروج إلى الدنيا وهذا أول الخروج منها وهذا فيه ضعف فإن مثل هذا لا يثبت إلا توقيفا انتهى .والله أعلم بالصواب.

Kategori
Uncategorized

HUKUM MENGGUNAKAN BEJANA YANG BERTULISKAN AYAT AL-QUR’AN

MENGGUNAKAN BEJANA YANG BERTULISKAN AYAT AL-QUR’AN

Assalamualaikum.
Deskripsi masalah.
Dalam Islam, Al-Qur’an dan Asma’ul Husna memiliki kedudukan yang sangat suci. Ayat-ayat Al-Qur’an merupakan firman Allah yang harus dihormati dan diperlakukan dengan penuh kehati-hatian. Begitu pula dengan Asma’ul Husna, yaitu 99 nama Allah yang melambangkan sifat-sifat-Nya yang agung. Dalam praktik sehari-hari, beberapa umat Muslim menggunakan perabot seperti piring, cangkir, atau benda-benda lain yang dihiasi dengan ayat-ayat Al-Qur’an atau Asma’ul Husna.

Secara umum, para ulama bersepakat bahwa ayat-ayat Al-Qur’an harus dijaga kesuciannya dan tidak boleh ditempatkan di tempat yang berpotensi menghinakannya, seperti di lantai, tempat kotor, atau pada benda yang akan digunakan untuk keperluan yang dianggap tidak layak. Namun, hal ini menimbulkan pertanyaan tentang :

Bagaimana hukum Islam memandang penggunaan perabot yang mengandung tulisan ayat suci tersebut.

Walaikum salam.
Jawaban.
Jika makan menggunakan piring yang bertuliskan ayat dengan tujuan meremehkan maka hukumnya kafir. Tetapi jika tidak ada tujuan meremehkan maka menurut imam Ibnu Hajar maka tidak jauh dari hukum haram.

Referensi:


إسعاد الرفيق ٥٩/١
وكذا كل موضع إستعمال فيه المكلف القرآن بذلك القصد أى بقصد الاستخفاف والاستهزاء، فإن كان قد استعمل بغيرذلك القصد ، بأن أطلق ولم يقصد شيأ فلا يكفر لكن قال الشيخ إبن حجر رحمه الله لاتعبد حرمته اى حرمة إستعمال ذلك إنتهى

Demikian berdosa ( kafir ) “Setiap tempat penggunaan di mana seorang mukallaf (orang yang telah mencapai beban kewajiban agama) menggunakan Al-Qur’an dengan maksud meremehkan dan mengejek, maka jika ia menggunakannya dengan tujuan tersebut, ia menjadi kafir. Namun, jika ia menggunakannya tanpa maksud tersebut, yakni digunakan tanpa maksud apa pun, maka ia tidak menjadi kafir. Akan tetapi, Syaikh Ibnu Hajar, rahimahullah, berkata bahwa hal itu tetap tidak menghilangkan keharamannya, yakni keharaman penggunaan tersebut tetap dianggap tercela.

Kategori
Uncategorized

WALIMATUL HAMLI DAN MEMANDINKAN ORANG YANG HAMIL

WALIMATUL HAMLI DAN MEMANDIKAN ORANG YANG HAMIL

Assalamualaikum,

Deskripsi masalah :

Rasulullah pernah bersabda bahwa anak adalah buah hati.
Bagi suami istri tentu merasa bahagia walaupun belum nampak anaknya dilahirkan namun sudah ada tanda kehamilan sehingga mentradisi, bila kehadiran buah hati mereka mengadakan acara-acara tertentu demi kebaikan sang buah hati, diantaranya: acara 4 bulanan dan 7 bulanan dengan cara mengundang sanak familinya baik keluarga yang dekat ataupun yang jauh lalu yang hamil didudukkan sementara yang diundang para wanita memandikannya dengan air yang dicampur kembang/bunga setaman atau bukhur dan sejenisnya, kemudian ada kelapa kuning ( kelapa kedding Red ) mereka satu-persatu menyirami kepalanya.
Ada sebagian mengundang acara istighasah dengan bacaan al-Qur’an atau sholawat untuk dan do’a untuk yang hamil agar selamat dan anaknya diharapkan menjadi anak yang sholeh sholehah.

Pertanyaan :

Adakah dasar dalam syariat tentang hal-hal di atas (acara memandikan , dan juga istighasah membaca al-Qur’an atau sholawat untuk yang hamil)?

Jawaban :

Secara khusus tidak ditemukan dasar dalam syariat. Hanya saja, dalam fikih disampaikan bahwa apabila dalam kegiatan tersebut tidak terdapat hal-hal yang dilarang agama bahkan merupakan kebajikan seperti sodaqoh, qiro’atul qur’an dan sholawat kepada Nabi serta tidak meyakini bahwa penentuan waktu itu adalah sunnah, maka hukumnya diperbolehkan.
Namun hal penting untuk diketahui adalah

Pertama: bahwa Walimah al-Hamli bukan tergolong walimah yang disyariatkan dalam Islam, namun selagi dalam pelaksanaannya tidak disertai hal-hal yang tercela maka tidak menjadi BID’AH yang QABIIH (tercela).

Kedua : Memandikan itu adalah bid’ah dan mungkin bid’ah madzmumah oleh karenana Syaikh Ismail al-Yamani menjawab dalam kitabnya: Dan Allah memberikan petunjuk kepada yang benar. Sesungguhnya Walimah kehamilan yang disebutkan dalam pertanyaan tersebut adalah bukanlah salah satu walimah yang dianjurkan ( memadikan orang yang hamil dengan air mawar dan sejenisnya yang ada kelapa yang kuning ) , jadi itu adalah bid’ah, dan mungkin bid’ah yang jelek karena adat istiadat yang tercela yang menyertainya, seperti misalnya. hal-hal yang disebutkan dalam pertanyaan itu, semua itu tercela, kecuali yang disebutkan terakhir dalam pernyataan penanya yaitu Ada yang cukup dengan membaca Al-Qur’an setelah selesai lalu bubar / pulang.

Adat istiadat yang jelek maka keburukannya harus diwaspadai dan orang yang mengamalkannya harus diberi nasehat. Apabila orang-orang awam menemukan penasehat yang jujur ​​dari kalangan ahli ilmu yang berniat dengan nasehatnya mencari wajah Allah, ( semata karena Allah) maka mereka akan menerima nasehatnya dengan penuh penerimaan dan itu akan menjadi tempat yang baik bagi mereka, dan orang-orang yang berilmu harus memberikan pengobatan atau masukan dengan perkara-perkara tersebut dengan nasehat yang baik, niat yang baik, dan metode/ cara-cara yang bermanfaat bagi kaum muslimin. Allah berfirman Maka berikanlah peringatan, sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang yang beriman. ….Dan Allah berfirman: Apakah kejalan Tuhanmu dengan cara hikmah ( mencontohkan) dan memberi peringatan yang terbaik.

قرة العين فتاوى الشيخ إسماعيل الزين اليمنى المكي ١٨٢

حول وليمة الحمل وغسل الحامل أمام عدد من النسوة

سؤال : ماقولكم سيدي فى حكم وليمة الحمل . ثم الذي يعتاده بعض أهل بلدنا فى تلك الوليمة أن الحامل يغسلها الحاضرات من النسوة المدعوات حينما أردن أن ينصرفن من بيتها وهى جالسة وبين يديها نرجيل أصفر وبيض وغيرها مما يعتقدون أنه لابد أن يكون معها فيصيبن على رأسها ماء ملخبطا بشيء من حانوط أونحوه .وبعضهم يكتفى بإطعام الطعام وقراءة ماتيسر من القرآن والصلاة على خير الأنام نسألكم عن حكمها مع تضمنته تلك الوليمة من الأمور المذكورة

الجواب.

والله الموفق للصواب أن الوليمة الحمل المذكورة فى السؤال ليست من الولائم المشروعة فهى بدعة ، وقد تكون بدعة قبيحة لما يصحبها من العادات الذمية كالأشياء التى ذكرت فى السؤال ، وكل ذلك مذموم إلا ماذكر آخرا من قول السائل .وبعضهن يكتفين بقراءة القرآن ثم ينصرفن .وأماماعدا ذلك فكله من المنكرات والعادات القبيحة التى ينبغي التنبيهُ على قبحها ونصيحة متعاطيها. فإن العوام إذا وجدوا ناصحا أمينا من أهل العلم يقصد بنصيحته إبتغاء وجه الله يتلقون نصيحته بالقبول وتقع منهم موقعا حسنا ، ويجب على أهل العلم معالجة مثل هذا الأمور بالموعظة الحسنة والنيةِ الصالحةِ والأساليب النافعة للمسلمين قال تعالى : فذكر فإن الذكرى تنفع المؤمنين .وقال : أدع إلى سبيل ربك بالحكمة والموعظة الحسنة …… والله سبحانه وتعالى أعلم

قَالَ الشَّافِعِيُّ ، رَحِمَهُ اللَّهُ : ” الْوَلِيمَةُ الَّتِي تُعْرَفُ : وَلِيمَةُ الْعُرْسِ ، وَكُلُّ دَعْوَةٍ عَلَى إِمْلَاكٍ أَوْ نِفَاسٍ أَوْ خِتَانٍ أَوْ حَادِثِ سُرُورٍ ، فَدُعِيَ إِلَيْهَا رَجُلٌ ، فَاسْمُ الْوَلِيمَةِ يَقَعُ عَلَيْهَا

Imam as-Syafi’i berkata “Walimah yang dikenal (dalam islam) adalah walimah ‘Urs dan setiap jamuan yang diadakan atas dasar mendapatkan sesuatu, persalinan, khitanan atau kebahagiaan yang baru diperoleh kemudian jamuan tersebut dijadikan undangan maka nama walimah layak disematkan padanya”. [ Al-Haawy fii Fiqh as-Syaafi’i IX/555 ].

ISTILAH-ISTILAH WALIMAH YANG DIKENAL DALAM ISLAM

ويقال لدعوة الختان إعذار ولدعوة الولادة عقيقة ولسلامة المرأة من الطلق خرس وقيل الخرس لطعام الولادة ولقدوم المسافر نقيعة ولإحداث البناء وكيرة ولما يتخذ للمصيبة وضيمة ولما يتخذ بلا سبب مأدبة

Jamuan khitanan disebut “ I’DZAAR ”, Jamuan kelahiran disebut “ AQIQAH “, jamuan terselamatkannya wanita dari jatuhnya talak disebut “ KHARS “ namun pendapat lain menyatakan khars adalah jamuan untuk kelahiran anak, Jamuan sampainya seseorang dari bepergian disebut “ NAQI’AH “, Jamuan seusai membangun rumah disebut “ WAKIIRAH “, jamuan selamat dari bencana disebut “ WADHIMAH “, dan jamuan yang diadakan tanpa alasan disebut “ MA’DABAH “. [ Raudhah at-Thoolibiin III/64 ].

وَالْوَلَائِمُ سِتٌّ : وَلِيمَةُ الْعُرْسِ : وَهِيَ الْوَلِيمَةُ عَلَى اجْتِمَاعِ الزَّوْجَيْنِ . وَوَلِيمَةُ الْخُرْسِ : وَهِيَ الْوَلِيمَةُ عَلَى وِلَادَةِ الْوَلَدِ . وَوَلِيمَةُ الْإِعْذَارِ : وَهِيَ الْوَلِيمَةُ عَلَى الْخِتَانِ . وَوَلِيمَةُ الْوَكِيرَةِ : وَهِيَ الْوَلِيمَةُ عَلَى بِنَاءِ الدَّارِ . قَالَ الشَّاعِرُ : كُلُّ الطَّعَامِ تَشْتَهِي رَبِيعَةُ الْخُرْسُ وَالْإِعْذَارُ وَالْوَكِيرَهْ وَوَلِيمَةُ النَّقِيعَةِ : وَهِيَ وَلِيمَةُ الْقَادِمِ مِنْ سَفَرِهِ ، وَرُبَّمَا سَمُّوا النَّاقَةَ الَّتِي تُنْحَرُ لِلْقَادِمِ نَقِيعَةً ، قَالَ الشَّاعِرُ : إِنَّا لَنَضْرِبُ بِالسُّيُوفِ رُءُوسَهُمْ ضَرْبَ الْقُدَارِ نَقِيعَةَ الْقُدَّامِ وَوَلِيمَةُ الْمَأْدُبَةِ : هِيَ الْوَلِيمَةُ لِغَيْرِ سَبَبٍ . فَإِنَّ خُصَّ بِالْوَلِيمَةِ جَمِيعُ النَّاسِ سُمِّيَتْ جَفَلَى ، وَإِنْ خُصَّ بِهَا بَعْضُ النَّاسِ ، سُمِّيَتْ نَقَرَى

Macam Walimah yang dikenal dalam Islam ada enam :

1.Walimah ‘Urs : Walimah yang diadakan atas dasar pertemuan dua insan dalam membentuk rumah tangga

2.Walimah Khurs : Walimah yang diadakan atas dasar lahirnya seorang anak

3.Walimah I’dzaar : Walimah yang diadakan atas dasar khitanan

4.Walimah Wakiirah : Walimah yang diadakan atas dasar membangun rumah

5.Walimah Naqii’ah : Walimah yang diadakan atas dasar kedatangan seseorang dari bepergian

6.Walimah Ma’dabah : Walimah yang diadakan atas dasar tanpa sebabBila undangan walimah tersebut mencakup semua lapisan masyarakat dinamakan ‘JAFLAA’, bila hanya sebatas kalangan tertentu saja dinamakan ‘NAQRAA’. [ Al-Haawy fii Fiqh as-Syaafi’i IX/555 ].

Jadi inti dari taradisi selama tidak menyalahi aturan maka hukumnya boleh sebagaimana dijelaskan dalam sebuah kaidah.

العادات محكمة مالم تخالف الشرع

Seperti mengundang tujuannya untuk sedekah istighasah dengan bacaan al-Qur’an dan sholat dan do’a untuk yang hamil agar dengan do’a diharapkan selamat dan memperoleh anak sholeh dan sholehah maka hukumnya bahkan dianjurkan memperbanyak do’a pada saat hamil terutama menjelang 4 bulanan sangat dibutuhkan, mengingat roh seluruh bani adam serta umur, rizqi pekerjaan dan nasibnya, oleh Allah swt. Diperintahkan untuk ditiupkan dan ditentukan pada saat umur janin 40 hari x 3 atau 120 hari dalam kandungan yang berarti berumur 4 bulan.

Sebagaimana keterangan dalam hadits :

ان احدكم يجمع خلقه في بطن امه اربعين يوما نطفة ثم… الحديث

Juga berdo’a untuk mendapatkan keturunan anak yang sholeh sangatlah dianjurkan, sebagaimana

Firman Allah :


رب هب لي من الصالحين

Dan memperbanyak do’a :

ربنا هب لنا من ازواجنا وذرياتنا قرة أعين واجعلنا للمتقين اماما. آمين يارب العالمين وصلى الله على سيدنا محمد وعلى آله وصحبه وسلم.

Kategori
Uncategorized

HUKUM MEROKOK DIDEKATNYA ORANG YANG MEMBACA AL-QUR’AN

Assalamualaikum.
Deskripsi masalah.
Dimasyarakat tak jarang kita menemukan banyak kegiatan undangan diantaranya adalah acara selamatkan Pemberangkatan Jemaah Haji, selamatkan pernikahan, selamatan kandungan 4 bulanan/7 Bulanan ataupun arisan yang didalam dikemas dengan Khatmil Qur’an, anehnya ketika salah satu dari Jemaah khatmil Qur’an selesai mereka merokok disisi atau disampingnya orang yang baca al-Qur’an sehingga mengakibatkan tidak nyaman bagi orang-orang yang berada dimajlis khatmil Qur’an

Pertanyaan :
Bagaimana hukumnya merokok disampingnya orang yang baca al-Qur’an ( tempat majlis khatmil qur’an) ?

Wa ‘Alaikumussalam Wa Rahmatullah Wa Barakatuh
Jawaban.

Ulama’ berbeda pendapat, tentang Hukum merokok ada yang mengatakan haram dan ada pula yang berpendapat makruh.
Adapun yang berpendapat makruh adalah madzhab Syafiiyah , namun jika merokok didekat orang membaca Al-Qur’an bisa berubah menjadi haram.
Sedangkan yang menghukumi haram secara mutlak adalah Syaikh Ismail Utsman Zain Al-Yamani Al-Makki, beliau berkata: “Merokok di samping majlis al-Qur’an, majlis ilmu hadits, majlis ilmu-ilmu syar’ie atau tempat-tempat yang harus di jaga adab dan ketenangannya hukumnya adalah haram karena termasuk su’ul adab (tidak sopan) dan meremehkan majlis-majlis yang harus di muliakan dan terlebih-lebih bila dilakukan di masjid yang merupakan rumah Allah SWT, dan termasuk bagian syi’ar-syi’ar Allah SWT. “Barang siapa yang mengagungkan syi’ar-syi’ar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketaqwaan hati”.

Syaikh As-Sabrowi As-Syafi’i : Beliau Berkata: “Guruku berkata masalah yang saya pasrahkan terhadap Allah SWT. Adalah keharaman merokok di majlis al-Qur’an dan tidak ada jalan bagi pendapat Makruh. Ketika berbincang-bincang urusan dunia di samping majlis al-Qur’an itu di larang, maka merokok dalam majlis itu lebih utama untuk di larang karena adanya bau yang tidak enak, walaupun pelakunya tidak merasakannya karena senang atau sudah terbiasa, seperti halnya orang yang bekerja di tempat-tempat kotoran maka mereka tak akan terganggu. Ketika orang-orang berakal mengetahui bahwa termasuk adab atau sopan santun menghadap raja di dunia dan mentri-mentrinya adalah tidak merokok, maka apakah mereka tidak mengetahui bahwa merokok ketika menghadap Allah dengan membaca al-Qur’an termasuk sesuatu yang merusak sopan santun ? Banyak sekali sesuatu ketika tidak menghadap raja, itu tidak dilarang tetapi ketika menghadapnya itu di larang. Atas dasar ini merokok itu makruh di luar majlis Al-qur’an, tapi ketika di majlis Al-Qur’an karena termasuk merusak sopan santun di hadapan kalam Allah maka hukumnya haram. Ketahuilah banya segala perbuatan di luar shalat itu di perbolehkan tapi ketika di tengah-tengah shalat maka hukumnya haram. Walaupun tidak membatalkannya, keharaman ini karena tidak adanya kesopanan di hadapan Allah SWT”

Al-Imam Al-Hifny. Beliau menukil dari beberapa gurunya, beliau berkata: “Merokok di majlis Al-Qur’an menghawatirkan penyebab SU’UL KHOTIMAH, semoga Allah melindungi kita semua”. Oleh karena itu atas segala keadaaan berhati-hatilah, karena berhati-hati (ikhtiath) adalah perbuatan orang-orang yang takut kepada Allah SWT.

Referensi:

قرة العين فتوى الشيخ إسماعيل الزين ص ٤٢

{ حول حديث يأتي أقوام فى آخرالزمان يداومون هذاالدخان}

سؤال: ماحكم شرب الدخان إذا نظرنا إلى حديث رسول الله صلى الله عليه وسلم ياأباهريرة يأتي أقوام فى آخر الزمان يداومون هذا الدخان وهم يقولون: نحن من أمة محمد وليسوا من أمتي، ولاأقول: هم أمة محمد،ولكنهم من السوام. ؟
الجواب:والله سبحانه وتعالى الهادى إلى الصواب. أن الدخان المذكور لم يكن فى زمن النبي صلى الله عليه وسلم والحديث المشار إليه فى السؤال لاشك أنه حديث موضوع مكذوب على رسول الله صلى الله عليه وسلم وكان حق السائل أن يبين من أخرجه. أما حكم الدخان المذكور فقد قال بعض العلماء بحرمته وقال بعضهم بكراهته هو مذهب الشافعية نعم قد يحرم عندهم لعارض كالإضرار بالبدن او الإسراف فى المال أو نحو ذلك. وعلى كل هو من الأشياء الخبيثة التى ينبغى إجتنابها ماأمكن. والله سبحانه وتعالى أعلم وصلى الله على سيدنا محمد وعلى آله وصحبه وسلم

Referensi:

(قرة العين بفتاوي اسماعيل الزين، صـ ٢٣١-٢٣٢)

. سؤال: ما حكم شرب الدخان فى المسجد وما حكم شرب الدخان عند قارئ القرآن وبينهما قدر ثلاثة اذرع فهل يعد فى مجلس القرآن فيحرم او لا؟ الجواب والله الموافق للصواب : أن شرب الدخان من حيث هو قد اختلف العلماء فيه فأكثرهم على التحريم وبعضهم قال انه مكروه كراهة تنزيه وهو معتمد مذهب الشافعية لكنهم اجمعوا على أنه قد يعرض له ما يصيره حراما. من ذلك اذا كان بحضرة قراءة القرآن أو حديث نبوي او مجلس علم شرعي أو نحو ذلك من المواضع التي تضم ما تستحقه الأدب والوقار فإن شرب الدخان فيه حينئذ حراما لما فيه من سوء الأدب والاستهتار بمجالس التعظيم –الى ان قال- (مسئلة) ما حكم شرب الدخان عند قارئ القرآن وبينهما قدر ثلاثة اذرع أهو جائز أم لا (الجواب) حرام حيث اعتد انهما فى مجلس واحد كما صرح بذلك فى السم القائل نقلا عن قول الشبراوى الشافعي فى شرح ورد السحر وعبارته قال شيخنا محمد السباعى الذي ندين الله عليه حرمة شرب الدخان فى مجلس القرآن ولا وجه للكراهة بل نقل الامام الحفنى عن بعض أشياخه العارفين أن شربه فى مجلس القرأن يخشى منه سوء الخاتمة اعاذنا الله تعالى منها بمنه وكرمه انه جواد كريم اهـ واذا كان هذا فى مجلس مجالس القرآن وان لم تكن فى المسجد ففى المسجد من باب اولى.

(يسئلونك فى الدين والحياة، جـ ٢، صـ ٩٨)

. ويؤخذ من إلحاق الدخان بالثوم والبصل كراهته تحريما فى المسجد للنهي الوارد فى الثوم والبصل وهو ملحق بهما والظاهر كراهة تعاطيه جال القراءة (يعنى قراءة القرآن) لما فيه من الإخلال بتعظيم كتاب الله تعالى ولا يليق بالمسلم أن يشرب الدخان الدخان وهو فى بيت من بيوت الله عز وجل كما أنه لا يليق به ان يدخل المسجد وما زالت رائحة الدخان تفوح من فمه وقد يكون من المناسب ان تذكر عبادة زاجرة قالها الشيخ الشبراوى نقلا عن شيخه السجاعي فى شرب الدخان فى عند قراءة القرآن وهي الذي ندين الله عليه هو حرمة شرب الدخان فى مجلس القرآن ولا وجه للقول بالكراهة واذا كان الحديث النبوي فى مجلس القرآن منهما عنه فشرب الدخان فى مجلسه اولى بالنهي لما فيه من الرائحة الكريهة

Referensi:

(مجموع فتاوى ورسائل الام السيد علوي المالكي الحسنى، صـ ١٧٨)

 لا ينبغى الاختلاف فى تحريم شربه فى مجالس القرآن وفى المساجد ومجالس الذكر ونهار شهر رمضان

Referensi:

(شرخ منظومة إرشاد الإخوان، صـ ٤٣-٨٠

(فى مجلس الدرس مع الإقراء # شربه مكروه بلا امتراء) (هذ اذا لم يقصد القبيحا # ولا الإهانة ولا المزاحا) (والاحتقار ثم سوء الأدب # لقارئ القرآن والكتاب) (وان يكن قصده ذالمذكور # يحرم بل يخشى عليه الكفر) الى ان قال (وقال فيها لم ار التصريحا # حكمه فى المسجد من اياحا) (لكن كلام الفقهاء قطعا # دل على حرمته فاستمعا) (وهذا إن حصل ما يؤدي # إلى أذى او تقذيرا لمسجد) فى مجلس الدرس مع الإقراء اي فى مجلس القراءة للقرآن…”هذا اذالم يقصد القبيحا” لعدم المبالاة بمجلس المذكور … “وان يكن قصده ذا المذكور” اي من القبيح وما بعده “يحرم” عليه شربه فى المجلس المذكور “وهذا” الذي يدل كلام عليه من الحرمة ليس مطلقا ولكن “ان حصل ما يؤدي الى أذى أو تقذيرا لمسجد” وهو ان فهم انه لم يحرم اذا لم يحصل به ذلك. والله أعلم بالصواب

Begitu juga haram orang yang membaca al-Qur’an disisinya orang yang sedang merokok

حكمة التشريع وفلسفته ص ٣٠٢
يحرم شرب الدخان فى مجلس القرآن الشريف خصوصا من القارئ نفسه أو من مجاوره حال القرآءة فى مجلس القرآن .قال شيخنا محمد السجاعى الذي ندين الله عليه حرمة شرب الدخان فى مجلس القرآن ولاوجه للقول بالكراهة .إنتهى

نفحات الإسلام ص ٢٤٨
ويحرم أيضا قرآءة القرآن بحضرة من شرب الدخان او يستنشق تبغا وفاعل ذلك ممقوت عند الله وعند المؤمنين وباالجملة فيجب على القارئ ان يحافظ على منزل القرآن ومكانته العظيمة كمايجب ذلك على السامع .إنتهى

Referensi : . حكمة التشريع وفلسفته ص : ٣٠٢


يحرم شرب الدخان في مجلس القرأن الشريف خصوصا من القارئ نفسه أو من مجاوره حال القرأة في مجلس القرأن. قال شيخنا محمد السجاعي : الذي ندين الله عليه حرمة شرب الدخان في مجلس القرأن ولا وجه للقول بالكراهة

الكتاب : فيض الخبير وخلاصة التقرير على نهج التيسير ص 147
ويحرم ايضاقراءة القرآن بحضرة من يشرب الدخان او يستنشق تابغا , وفاعل ذلك ممقوت عندالله وعند المؤمنين ,وبالجملة فيجب على القارئ أن يحافظ على منزلة القرآن ومكانته العظيم


Dalam kitab Hikmatut Tasyri’ wa Falsafatuhu halaman 302 disebutkan:

“Haram hukumnya merokok di majelis Al-Qur’an yang mulia, terutama bagi pembaca itu sendiri atau orang yang berada di dekatnya saat pembacaan Al-Qur’an berlangsung. Syaikh kami, Muhammad As-Suja’i, berkata: ‘Kami berkeyakinan di hadapan Allah bahwa haram hukumnya merokok di majelis Al-Qur’an, dan tidak ada alasan untuk mengatakan bahwa hukumnya hanya makruh.’”

Dalam kitab Faidul Khabir wa Khulasatut Taqrir ‘ala Nahj At-Taisir halaman 147 disebutkan:

“Haram juga membaca Al-Qur’an di hadapan orang yang sedang merokok atau menghirup tembakau. Orang yang melakukan hal tersebut dibenci oleh Allah dan juga oleh orang-orang beriman. Secara umum, seorang pembaca Al-Qur’an wajib menjaga kehormatan dan kedudukan Al-Qur’an yang agung.”

Lihat tambahan Referensi :

Al-Ghuror Al-Bahiyah Syarh Al-Bahjah,1/409.

Al-Mahally: 1/227.

Al-Anwar: 1/83.

Tukhfah Ma’a Syarwani: 1/23.

Asnal Matholib Iii/100.

Yas’alinaka Fi-Ad-Din Wa Al-Hayat,2/227.

Talk Khisul Murod: 96.

Syarh Mandhumah Arsyadul Ikhwan: 258-259.

Al-Wajiz: 1:59.Is’adur Rofiq: 1:59.

Bughyah Mustarsidin: 65

At-Turmusi,3/34-36